0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
402 tayangan13 halaman

Program Ruang Arsitektur Pasar Klaten

Dokumen tersebut membahas program perencanaan dan perancangan arsitektur pasar Klaten. Terdapat penjelasan mengenai studi besaran tapak, program ruang untuk area perdagangan, pengelola, dan sarana pendukung seperti foodcourt dan toilet. Luas total area perdagangan dan pengelola yang dihasilkan dari program ruang tersebut adalah sekitar 9.898 m2.

Diunggah oleh

musang hitam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
402 tayangan13 halaman

Program Ruang Arsitektur Pasar Klaten

Dokumen tersebut membahas program perencanaan dan perancangan arsitektur pasar Klaten. Terdapat penjelasan mengenai studi besaran tapak, program ruang untuk area perdagangan, pengelola, dan sarana pendukung seperti foodcourt dan toilet. Luas total area perdagangan dan pengelola yang dihasilkan dari program ruang tersebut adalah sekitar 9.898 m2.

Diunggah oleh

musang hitam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB VI

PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR


6.1. Program Dasar Perencanaan
6.1.1. Studi Besaran Tapak
Tapak terpilih merupakan tapak eksisting yang telah ada dengan total luas lahan 14.387
m2, dengan ketentuan bangunan adalah sebagai berikut :
 Peruntukan kawasan : Perdagangan dan Jasa
 Tinggi bangunan sekitar : 4 lantai, minimum 1 lantai
 KDB : 60%
 Tata Hijau : sekurang-kurangnya 20 % dari ruang terbuka
 GSB : (½ x lebar jalan)+ 1 m
=(½ x 12 m)+ 1 m = 7 m dari tepi jalan
 GSJ : 7, 5 meter dari as jalan
 KTB : mengikuti luas semi basement eksisting,
dimana luas semi basement sama dengan lantai diatasnya. Basement diutamkan
tidak melanggar jarak GSB. Tidak mengganggu jaringan sarana dan prasarana
kota, dengan minimal jarak 2m dari GSJ. Minimal 2 buah tangga yang menuju ke
permukaan tanah, bila dipakai untuk umum salah satu harus berhubungan
dengan jalan, pekarangan atau lapangan terbuka.
 Jarak bebas/ set back area : 1-1,5 m untuk bangunan 1-3 lantai.

Prinsip perencanaan program ruang nantinya didasarkan pada prinsip optimasi ruang.
Secara umum optimasi berarti pencarian nilai terbaik (minimum atau maksimum) dari
beberapa fungsi yang diberikan pada suatu konteks. Optimasi juga dapat berarti upaya
untuk meningkatkan kinerja sehingga mempunyai kualitas yang baik dan hasil kerja yang
tinggi. Maka dari itu, sebelum merencanakan program ruang perlu diketahui
besaran/luasan lantai yang dapat/boleh dibangun untuk menentukan maksimal luas
bangunan, sebagai berikut :
Luas Lantai dasar bangunan = Luas Tapak x KDB
= 13.000 m2 x 0,60
= 7.800 m2
Jumlah lantai yang direncanakan adalah 3 lantai, jadi rencana total luas bangunan adalah
:
Luas total bangunan = luas lantai dasar x Jumlah Lantai
= 7.800 m2 x 3
= 23.400 m2

Luas tata hijau = Luas Tapak x 0,40 x 0,2


= 13.000 m2 x 0,40 x 0,2
= 1.040 m2

109
Daerah Sempadan Bangunan nantinya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan membangun
bangunan bukan gedung, bangunan penunjang, tempat parkir, taman, tanaman
penghijau, dan kegiatan-kegiatan yang bersifat insidental.

6.1.2. Program Ruang


Di dalam menentukan besaran ruang masing-masing kegiatan dipakai acuan standart
perencanaan dengan mengacu pada :
a) Ernst Neufert, Architect Data (DA)
b) Peraturan pemerintah/ Standar SNI (PD)
c) Dimensi Manusia dan Ruang Interior (DM)
d) Joseph de Chiara & Jhon Callende, Time Sarver Standart for building Type (TS)
e) Studi Banding (SB)
f) Studi Ruang/Analisa (AN)
g) Asumsi (AS)

Di dalam menghitung program ruang, sirkulasi/flow dibuat berdasarkan tingkat


kenyamanan, yaitu :

a) 5-10% : standar minimum


b) 20% : kebutuhan keluasan sirkulasi
c) 30% : kebutuhan kenyamanan fisik
d) 40% : tuntutan kenyamanan psikologis
e) 50% : tuntutan spesifik kegiatan
f) 70-100% : keterkaitan dengan banyak kegiatan
(Sumber: Time Saver Standart of Building Type, 2nd Edition)

Program ruang Pasar Klaten dikelompokkan menurut kelompok kegiatan yang ada,
sebagai berikut:
Tabel 6.1 Program ruang kelompok kegiatan utama
KELOMPOK KEGIATAN UTAMA
No Kebutuhan Kapasitas Standar Sumber Luas Jumlah Luas Total
ruang (m2) Ruang Ruang (L Ruang xjml)

AREA PENERIMAAN
1. Drop off area 2 unit 40 m2/1 SB 80 m2 1 80 m2
mobil unit (Pasar
mobil Sarijadi)
AREA PERDAGANGAN
2. Tempat 1 - AN 56 m2 1 56 m2
pemotongan pedagang
unggas hidup
3. Area penjualan 100 0,0450 DA 4,5 m² 4 18 m2
unggas hidup ayam/ 1 m²/ ekor (2002)
pedagang

110
4. Tempat 1 AN 28 m2 2 56 m2
penggilingan pedagang
daging
5. Pos ukur ulang 1 orang - AN 11 m2 2 22 m2
KIOS
6. Kios kecil 1 - SB 6 m2 110 660 m2
pedagang
7. Kios standart 1 - SB 9 m2 100 900 m2
type 1 pedagang
8. Kios standart 1 - SB 12 m2 100 120 m2
type 2 pedagang
9. Kios standart 1 - SB 16 m2 36 576 m2
type 3 pedagang
10. Kios sedang 1 - SB 20 m2 18 360 m2
type 1 pedagang
11. Kios sedang 1 - SB 24 m2 6 144 m2
type 2 pedagang
12. Kios besar type 1 - SB 32 m2 8 256 m2
1 pedagang
13. Kios besar type 1 - SB 36 m2 4 144 m2
2 pedagang
LOS
14. Los Tipe 1 1 - SB 3 m2 380 1.140 m2
pedagang
15. Los Tipe 2 1 - SB 4 m2 240 960 m2
pedagang
16. Los Tipe 3 1 - SB 6 m2 140 840 m2
pedagang
17. Los Tipe 4 1 - SB 8 m2 50 400 m2
pedagang
18. Lapak ikan 1 - SB 5,05m2 10 50,5 m2
pedagang
19. Lapak daging 1 - SB 5,05m2 10 50,5 m2
unggas pedagang
20. Lapak daging 1 - SB 5,05m2 40 202 m2
pedagang
21. Tempat untuk 1 2-3 m2 SB 3 m2 20 60 m2
pedagang tidak pedagang
tetap
FOODCOURT
22. Kios foodcourt 1 - SB 12 m2 10 120 m2
type 1 pedagang
23. Kios foodcourt 1 - SB 10 m2 10 100 m2
type 2 pedagang
24. Area makan 20 set 14,96 DM 299,20 1 299,20 m2
(foodcourt) meja (8 m2/1 set m2
meja +

111
orang/1 ruang
set meja) gerak
Jumlah 7.614,20 m2
Sirkulasi 30% 2.284,26 m2
Luas Total 9.898,46 m2
Sumber : Analisa Pribadi, Mei 2019

Tabel 6.2 Program ruang kelompok kegiatan pengelola


KELOMPOK KEGIATAN PENGELOLA
No Kebutuhan Kapasitas Standar Sumber Luas Jumlah Luas Total
ruang (orang) (m2) Ruang Ruang (L Ruang x
(m2) jml)
1. Ruang kepala 1 orang & 1 orang/ DA, 15 m2 1 15 m2
2
pasar 4 tamu 15 m 2002
2. Ruang BKP 1 orang & 1 orang/ DA, 12,50 m2 1 12,50 m2
2
(Bendahara 2 tamu 12, 50 m 2002
dan sekertaris)
3. Ruang staff 1 orang & 1 orang/ DA, 12,50 m2 1 12,50 m2
Adminsitrasi 2 tamu 12, 50 m2 2002
4. Ruang Kamtib 3 orang - AN 30,00 m2 1 30,00 m2
5. Pos Jaga 1 orang - SB 4 m2 4 16,00 m2
6. Ruang staff 9 orang 1 orang/ DA, 35,60 m2 1 35,60 m2
juru pungut 3,96 m2 2002
7. Ruang Tamu 1 sofa 3 - AN 12,50 m2 1 12,50 m2
seat, 1
meja, 2
sofa single
8. Pantry 2 orang - AN 8,00 m2 1 8,00 m2
9. Toilet
a Toilet Pria 1 orang 2,9 m2/ DA, 2,9 m2 1 2,9 m2
(urinoir, kloset orang 2002
wastafel)
b Toilet Wanita 1 orang 2,03 m2/ DA, 2,03 m2 1 2,03 m2
orang 2002
Jumlah 147,03 m2
Sirkulasi 30% 44,109 m2
Luas Total 191,139 m2
Sumber : Analisa Pribadi, Mei 2019

Tabel 6.3 Program Ruang Kelompok Kegiatan Penunjang


KELOMPOK KEGIATAN PENDUKUNG
No Kebutuhan Kapasitas Standar Sumber Luas Jumlah Luas Total
2
ruang (orang) (m ) Ruang Ruang (L Ruang x
jumlah)
1. Seating area 2 orang 1,85m2 PD 1,85m2 36 66,69 m2

112
2. Ruang 2 orang 8,75 m2 Standar 8,75 m2 2 17,5 m2
menyusui(Nur Toilet
sery Room) Indonesia
3. Pos kesehatan 4 orang 54 m2 AN 54 m2 1 54 m2
staff
4. ATM Center 1 orang 3m2/ SB 3 m2 5 15m2
orang
5. Musholla 8 orang - AN 18 m2 4 72 m2
6. Toilet Umum
a Toilet untuk orang Normal
Kubikal toilet 1 orang 1,65 m2/ Standar 1,65 m2 32 52,80 m2
orang Toilet
Umum
Indonesia
Wastafel dan 1 orang 0,975 DM 0,975 64 62,40 m2
ruang berdiri m2/orang m2
Ruang bebas 1 orang 0,80 DM 0,80 m2 64 51,20 m2
wastafel m2/orang
Urinoir dan 1 orang 0,52 m2/ DM 0,52 m2 24 8,88 m2
ruang berdiri orang
Ruang bebas 1 orang 1,5 m2/ DM 1,5 m2 24 36 m2
uinoir orang
c Family Toilet 2 orang - Standar 8 m2 1 8,00 m2
d. Toilet difabel 1 orang 4,84 m2/ toilet 4,84 m2 3 14,52 m2
orang indonesia
Jumlah 458,99 m2
Sirkulasi 30% 137,69 m2
Luas Total 596,68 m2
Sumber : Analisa pribadi, Mei 2019

Tabel 6.4 Program Ruang Kelompok Kegiatan Parkir Dan Bongkar Muat
KEGIATAN PARKIR DAN BONGKAR MUAT
No Kebutuhan Kapasitas Standar Sumber Luas Jumlah Luas Total
ruang (unit) (m2) Ruang Ruang (L Ruang x
jumlah)
AREA PARKIR PENGELOLA
1. Parkir Motor 28 2,76 DA, 2002 77,28 1 77,28 m2
2 2
m /unit m
2
2. Parkir mobil 2 13,35 m DA, 2002 26,70 1 26,70 m2
2
/unit m
AREA PARKIR PENGUNJUNG
3. Parkir motor 468 2,76 DA, 2002 1.291,8 1 1.291,80 m2
2 2
m /unit 0m
2
4. Parkir mobil 227 13,35 m DA, 2002 3.030,4 1 3.030,45 m2
2
/unit 5m
2
5. Parkir difabel 7 34,10 m PD 238,70 1 238,70 m2
2
/unit m

113
6. Parkir becak 10 2,25 m2/ Studi 22,5 m2 1 22,5 m2
1 unit lapangan
RECEIVING AREA&LOADING DOCK/BONGKAR MUAT
7. Mini truck 6 15,5 m2/ DA, 2002 93 m2 1 93 m2
unit
8. pickup 6 9,08 m2/ DA, 2002 54,48 1 54,48 m2
2
unit m
9. Area 1 - AN 138,51 1 138,51 m2
penerimaan m2
Jumlah 4.973,42 m2
Sirkulasi 100% 4.973,42 m2
Luas Total 9.946,48 m2
Sumber : Analisa Pribadi, Mei 2019

Tabel 6.5 Program Ruang Kelompok Kegiatan Servis Dan Me


KELOMPOK KEGIATAN SERVIS DAN ME
No Kebutuhan Kapasitas Standar Sumb Luas Jumlah Luas Total
2
ruang (orang) (m ) er Ruang Ruang (L Ruang x jml)
2
(m ) (m2)
GUDANG
1. Gudang 3 - AS 9 m2 4 96 m2
peralatan
2. Janitor 1 2 m2/ PD 2 m2 6 12 m2
Unit
LISTRIK
3. Ruang kontrol 1 - AS 12 m2 1 12 m2
(sound system
& cctv)
4. Ruang genset 1 - AN 21 m2 1 21 m2
2 2
5. Ruang Panel & 1 24 m / DA, 24 m 1 24 m2
Trafo unit 2002
6. Shaft listrik 1 - SB 1,6 m2 4 6,4 m2
DISTRIBUSI AIR BERSIH
7. Ruang pompa 1 25 m2/ DA, 25 m2 1 25 m2
unit 2002
8. Water tank 1 - AN 11 m2/ 1 11 m2
unit
9. Fire tank 1 - AN 2,2 m2/ 1 2,2 m2
unit
DISTRIBUSI AIR KOTOR
10. Sewage 120 orang P x l x t: Harto 5,35 m2 1 5,25 m2
Treatment 1,5 x3,5 no
Plant (IPAL) x 1,9 m Poerb
o,
2005
PEMBUANGAN SAMPAH

114
11. R. Bak Sampah 1 0,20- DPU 10 m2 1 10 m2
0,60 l/ ciptak
m2 per arya,
hari 2011
12. Shaft sampah 1 - AN 4 m2 4 16 m2
TRANSPORTASI VERTIKAL
13. Eskalator 1 - SB 38,4 m2 4 153,60 m2
14. Lift 1 - SB 8,91 m2 4 35,64 m2
pengunjung
15. Lift barang 1 - AS 2,25 m2 4 9 m2
500 kg single
opening
16. Tangga 3 orang - SB 14,4 m2 20 288 m2
perbaris
17. Ramp sepeda Tidak - SB 192 m2 4 768 m2
motor tentu
Jumlah 1.494,85 m2
Sirkulasi 30% 448,44 m2
Luas Total 1.943,305 m2
Sumber : Analisa Pribadi, Mei 2019

Tabel 6.6 Rekapitulasi Program Ruang


Kelompok kegiatan Luas
Kelompok kegiatan utama 9.898,46 m2
Kelompok kegiatan pengelola 191,139 m2
Kelompok kegiatan pendukung/penunjuang 596,68 m2
Kelompok Kegiatan Parkir dan Bongkar muat 9.946,48 m2
Kelompok kegiatan servis dan ME 1.943,305 m2
Jumlah 23.172,74 m2
Dibulatkan 23.173 m2
Sumber : Analisa Pribadi, Mei 2019

6.1.3. Perencanaan teknis


a. Sistem struktur bangunan
Perencanaan struktur yang akan digunakan adalah struktur komposit. Sistem
struktur bangunan menggunakan sistem gabungan antara sistem beton dan baja.
Detail penampang yang akan digunakan pada balok dan kolom adalah berupa baja
dengan profil WF yang dikompositkan dengan pelat beton. Dasar awal konsep
perancangan pasar ini diambil dari modul dasar berupa standar kios pedagang yaitu
4mx4m diikuti efisiensi penggunaan material lantai berupa ukuran keramik yaitu
40cmx40cm, terkonseplah rancangan dasar modul grid struktur 8mx8m atau 8mx6m.
Pelapis bangunan menggunakan sistem Double Skin yang mampu mereduksi
suhu panas yang masuk ke ruangan karena terdapat rongga udara diantara kedua kulit
bangunan. Penerapannya dengan memanfaatkan dua lapisan kaca atau 3 tiga lapisan

115
kaca yang berfungsi untuk mengurangi intensitas panas dan sinar matahari yang masuk
ke ruangan tanpa mengurangi intensitas cahaya yang diterima.
b. Struktur atap
Pasar Klaten III Lantai direncanakan akan menerapkan struktur rangka ruang/
space frame sebagai struktur atap. Struktur ini dipilih karena memiliki kekakuan yang
cukup tinggi meskipun menggunakan material struktur yang ringan serta memiliki
ketahanan tinggi dan umur relatif panjang (50-100 tahun). Selain itu, pembagian beban
pada struktur ini merata. Struktur space frame memiliki bentuk geometri yang teratur,
sehingga dapat dikesploitasi secara arsitektural untuk menghadirkan beberapa efek
dalam penerapannya.
Material yang umum digunakan untuk sistem struktur space frame adalah
baja. Material baja digunakan pada bagian-bagian adai struktur space frame yaitu
sambungan, bola, pipa, baut, konektor dan plat suport. Selain penggunaan material
baja untuk struktur space frame, material lain juga memungkinkan untuk digunakan
seperti halnya kayu, besi maupun alumunium. Sedangkan untuk material penutup atap
pada atap dengan struktur space frame, dapat digunakan material penutup atap
berupa Enamel Steel Panel , Zincalume Panel, Fiber Reinforced Plastic (FRP) dan
Bitumen Shingle.

6.1.4. Perencanaan Utilitas


a) Sistem Penghawaan
 Penghawaan Alami
Aplikasi Sistem penghawaan alami pada bangunan berupa penggunaan sistem
ventilasi silang/ cross ventilation. Digunakan pada ruang-ruang selain unit kantor,
musholla, pos Kesehatan, dan tempat penitipan anak.
Untuk mengkondisikan lingkungan sekitar agar dapat terjadi mekanisme angin
dengan sendirinya digunakan beberapa cara diantaranya membuat bangunan
semi terbuka guna memasukan penghawaan dari luar, dinding tidak seluruhnya
menutupi bangunan pasar sehingga memungkinkan ruang dalam terhubung
dengan lingkungan secara langsung. Atau bisa dengan memperbanyak bukaan
dengan menggunakan dinding yang berpori atau berlubang pada dinding
bangunan yang berlawanan atau berhadapan untuk sirkulasi udara ataupun
dengan cara meninggikan langit-langit. Selain itu dapat juga dengan
memperhatikan desain jendela, dihindari penggunaan jendela mati karena tidak
dapat berfungsi sebagai bukaan untuk mengalirkan udara. Peletakan kios dan los
juga turut diperhatikan untuk mengatur pemanfaatan udara dari luar yang masuk
melewati koridor los/kios pada pasar secara merata pada setiap sisi pasar dengan
optimal. ventilasi udara dengan batasan plafon yang cukup tinggi sehingga
memperlancar sirkulasi udara.

116
Gambar 6.1 Ilustrasi bangunan yang memperhitungkan sirkulasi udara
(Sumber : Lampiran II Permendagri No. 104/M-Dag/Per/12/2015)

Gambar 6.2 tata ruang terkait penghawaan


Sumber : (Wirajaya, 2015)
 Sistem penghawaan buatan
Jenis AC yang digunakan yaitu AC setempat. Disebut setempat karena udara
yang dikondisikan hanya pada salah satu ruangan, seperti pada retail dan
[Link] Setempat ini contohnya adalah AC split. AC hanya diterapkan pada
ruang pengelola, pos UKK, tempat penitipan anak dan musholla. Pemasangan AC
pada pos UKK berfungsi untuk mengurangi banyaknya debu. Sedangkan untuk
pengudaraan buatan pada area perdagangan digunakan kipas angin baling-baling
dan exhaust-fan dengan lubang angin, hal ini karena bentang terlalu lebar dan
bukaan yang tidak terlalu banyak.
Secara sederhana, diasumsikan berdasarkan luas ruangan, untuk masing-
masing kantor pengelola, ruangan dengan luas 14 m2, mampu didinginkan dengan
satu AC window ¾ PK dengan daya 7000 Btu/h. Untuk ruang Juru Pungut yang
memiliki luas 30 m2 dan ruang penitipan anak dengan luas 21 m2, diasumsikan
mampu didinginkan oleh satu AC Window 1 ½ PK dengan daya 12.000 Btu/h.
Ruang menyusui seluas 17,5 m2 dan musholla seluas 18 m2 diasumsikan masing-
masing mampu didinginkan oleh AC Window 1 PK dengan daya 9000 Btu/h. Ruang
periksa dengan luas 12 m2 dan ruang farmasi seluas 10,5 m2 pada pos kesehatan,
masing-masing diasumsikan mampu didinginkan oleh AC Window ¾ PK dengan
daya 7000 Btu/h dan AC Window ½ PK dengan daya 5000 Btu/h. Pada ATM Center,
untuk menghemat kebutuhan AC, maka mesin ATM tidak diletakkan per bilik,

117
namun akan diletakkan dalam satu ruangan yang sama seluas 15 m2 dengan AC
windows ¾ PK daya 7000 Btu/h.
Selain AC, penggunaan penghawaan buatan juga direncanakan digunakan
pada area dagang dengan menggunakan exhaust fan maupun kipas baling.

b) Sistem Pencahayaan
Sistem pencahayaan yang digunakan adalah sistem pencahayaan alami dan buatan.
Aplikasi untuk sistem pencahayaan alami ini diterapkan dengan cara menggunakan
bukaan-bukaan lebar pada dinding dan bukaan atap yang moduler, serta adanya
elemen pelindung matahari (sun shadding) selebar 1-2 m. Penggunaan dinding dari
material kaca akan membantu dalam memaksimalkan pemanfaatan cahaya matahari.
Selain itu, pemanfaatan cahaya matahari juga dapat menerapkan skylight pada atap,
untuk lebih dapat mengontrol silau dan radiasi matahari maka bahan yang digunakan
adalah berupa polycarbonate glazing dengan sistem twin wall glazing. Untuk
memperlancar pencahayaan dan penghawaan alami, bangunan menggunakan sistem
atrium, yaitu ruangan lantai yang terbuka menerus hingga ke atap. Pencahayaan alami
dioptimalkan pada area publik dan sirkulasi.

Gambar 6.3 Respon terhadap matahari


(Sumber : Analisa Penluis, Mei 2019)

Sedangkan sistem pencahayaan buatan diperoleh dengan menggunakan lampu TL


untuk area dagang dan area sirkulasi. Pencahayaan di dalam unit jual seperti kios dan
los bisa menggunakan lampu LED terutama untuk menerangi komoditas yang dijual.
Lampu dengan warna-warna hangat nantinya diterapkan pada area foodcourt.
Musholla diberikan lampu dengan warna temperatur warm white.

c) Sistem Instalasi air bersih


Sumber air berasal dari PDAM, sistem yang digunakan adalah sistem Down Feet karena
sistem ini efektif dilihat dari cara distribusinya yang memanfaatkan gravitasi bumi
untuk menyalurkan air ke seluruh ruangan. Selain itu, sumber air bersih juga
didapatkan dari proses rain water harvesting. Hal yang perlu diperhatikan jika
ingin memanfaatkan air yang tertampung dari hasil pemanenan air hujan sebagai

118
substitusi air dari PDAM adalah bahwa selama 5 menit pertama air hujan masih
mengandung asam yang berbahaya bagi tubuh, tapi setelah 5 menit, air hujan
sudah cocok untuk ditampung ke tempat penampungan. Sebagai tambahan, pada
tempat penampungan air hujan tersebut perlu juga diberikan Abate untuk
mencegah berkembangnya bintik-bintik nyamuk. Outlet air bersih harus disediakan di
tiap unit daging/ikan, sedangkan untuk komoditas sayur/buah satu outlet air bersih
bisa digunakan bersama-sama.

d) Sistem Air Limbah


a. Air hujan dari atap
Air hujan yang jatuh di atap sebagian akan di tampung untuk diolah dan
digunakan kembali dengan sistem Rain Water Harvesting, sedangkan sebagian
yang lain di alirkan ke bawah melalui pipa tegak yang langsung menuju ke bak
kontrol kemudian diresapkan ke dalam sumur resapan.
b. Air hujan dari lahan terbuka
Air hujan di lahan terbuka akan meresap ke dalam tanah atau mengalir ke
selokan dan menuju bak kontrol
c. Untuk penampungan limbah greywater dari lapak daging diberikan saluran
drainase yang melewati setiap area meja lapak. Drainase berupa saluran terbuka
yang disalurkan ke bak kontrol tertutup, kemudian disalurkan ke saluran kota
melalui saluran tertutup. Saluran drainase untuk membuang limbah cair yang
memiliki kemiringan 2 derajat.

e) Sistem Listrik
Berdasarkan studi banding, Pada setiap kios diasumsikan akan disediakan 1.300 VA.
Dan Instalasi listrik pada ruko sebesar 2.200 VA. Jaringan listrik berasal dari trafo
setempat yang mengalirkan listrik dari PLN, dan terdapat genset sebagai sumber listrik
cadangan dengan daya kurang lebih 300 KVA.

f) Sistem Transportasi vertikal


Sistem Transportasi vertikal di pasar Klaten direncanakan menggunakan tangga, ramp,
eskalator, travelator dan lift. Untuk kompleks pertokoan perlu disediakan 1lift per
10.000 m2 (Juwana, 2005). Pada perancangan Pasar Klaten III Lantai ini dengan luas
bangunan ± 25.896 m2, jadi dibutuhkan 2-3 lift. Data perencanaan lift penumpang :

Tabel 6.7 Perencanaan awal lift


Uraian Perencanaan awal Perencanaan awal
Fungsi Passenger lift (PL) Passenger lift (PL)
Kecepatan 105 mpm (1,75 m/s) 60 mpm (1m/s)
Jumlah unit lift 2 unit 2 unit
Kapasitas 1350 kg (20 orang) 1150 kg (17 orang)

119
Mesin traksi AC-VVVF AC-VVVF
Sistem bukaan lift Center Opening Center Opening
Ukuran bukaan lift 1000 mm x 2100 mm 1000 mm x 2100 mm
Ukuran Hoistway 2650 mm x 2200 mm 2350 mm x 2200 mm
Ukuran pit lift 2100 mm 1400 mm
Ukran overhead 5000 mm 4300 mm
Daya motor lift 15,9 kw 7,7 kw
(daya output)
Sumber : Analisa Pribadi, Mei 2019

g) Sistem Pencegahan dan Proteksi Kebakaran


Sistem proteksi kebakaran dilakukan secara manual. Untuk sistem proteksi aktif yang
digunakan adalah fire extinguisher berupa APAR dan Hidran Box serta jalur evakuasi.
Jaringan pemdam kebakaran berupa 4 hydrant di luar bangunan, APAR disetiap pintu
masuk (12 unit) dan di beberapa titik lainnya.

h) Sistem Penangkal Petir


Sistem penangkal petir yang digunakan adalah sistem Faraday mengingat massa ini
cukup besar dan memanjang serta relatif Landying Building. Faraday yang merupakan
sistem sangkar lebih luas melakukan proteksi. Sistem Faraday ini adalah dengan
menggunakan tiang setinggi 30 cm dari atap bangunan, dihubungkan dengan
konduktor yang jarak antar tiangnya berkisar 3,5m.

i) Sistem Keamanan
Sistem keamanan dilakukan secara manual dan mekanis . Manual menggunakan
bantuan petugas keamanan sedangkan mekanis menggunakan pantauan CCTV yang
dapat mengamati seluruh kondisi luar maupun dalam bangunan yang terpasang
kamera CCTV. Pos Keamanan ditempatkan dekat pintu masuk dan keluar pasar.
Kamera CCTV menggunakan jenis camera dome untuk area indoor. Kamera CCTV
diletakkan di tempat-tempat tertentu yang krusial dan dipadati oleh banyak
pengunjung, diantaranya adalah di area parkir & loading, dan di dalam bangunan
(area perdagangan).Sistem CCTV dilengkapi dengan alarm untuk pencegahan jika ada
yang mencoba melakukan pengrusakan sistem. Ruang kontrol cctv menjadi satu
dengan ruang kontrol untuk sound system. Petugas keamanan tetap melakukan
patroli secara berkala meskipun sudah disediakan cctv, melakukan pengawasan
daerah cctv untuk menghindari sabotase.

j) Sistem Audio dan Komunikasi Visual


Sistem komunikasi di dalam bangunan disediakan LAN dan untuk sistem audio
menggunkan sistem public address untuk mengumumkan informasi didalam
bangunan, terutama untuk memutar musik pada area foodcourt. Untuk jaringan
komunikasi digunakan pengeras suara untuk penyebaran informasi antar pihak

120
pengelola pasar dengan para pedagang dan pengunjung. Sedangkan komunikasi
internal menggunakan HT (Handy Talky).

k) Sistem Pembuangan Sampah


Tersedia tempat sampah di masing-masing meja saji dan ditempatkan di beberapa
titik sepanjang koridor antar los/kios, dengan jarak dan ukuran yang sesuai dengan
kebutuhan. Tempat pembuangan sampah merupakan tempat sampah tertutup,
dijaga sehingga tidak mudah didatangi hama dan dibersihkan secara teratur dan
dikosongkan tanpa menunggu benar-benar penuh. Tiap pedagang bertanggung
jawab terhadap kebersihan di areanya. Sampah akan diangkut ke TPS secara manual
oleh petugas kebersihan pada sore hari yang kemudian akan diangkut oleh Dinas Tata
Kota ke TPA.

6.2. Program Dasar Perancangan


6.1.2. Aspek Arsitektural
Konsep tema perancangan adalah ‘Reconnecting Urban Life with Nature Through
A Flowing Shopping Experience’. Penekanan desain bangunan ditekankan pada bangunan
barrier-free dengan gaya arsitektural yang digunakan berupa gaya arsitektur neo
vernakular yang dapat mengadopsi nilai-nilai tradisional dalam bentuk modern, sesuai
dengan perkembangan zaman namun tidak meninggalkan identitas lokal. Massa
bangunan mengambil bentukan dasar segi empat dan dipecah menjadi beberapa blok,
dengan perletakan massa bangunan diusahkan memberikan jarak 1-1,5 meter dengan
bangunan di sekitarnya. Orientasi Massa bangunan mengikuti tapak memanjang dari
utara-selatan. Vegetasi digunakan untuk menghalangi kebisingan dari arah pasar menuju
masjid dengan penggunaan pohon bertajuk lebat seperti pohon trembesi.

121

Anda mungkin juga menyukai