SIPNBP I User Manual
Perhutanan Sosial
BUKU PANDUAN
SISTEM INFORMASI PENERIMAAN
NEGARA BUKAN PAJAK (SIPNBP)
UNTUK PEMEGANG PERSETUJUAN
PERHUTANAN SOSIAL
DIREKTORAT IURAN DAN PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN HUTAN LESTARI
SIPNBP I User Manual
Perhutanan Sosial
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI........................................................................................ 1
KATA PENGANTAR.................................................................................. 2
PENDAHULUAN ...................................................................................... 3
MATERI
A. Perhutanan Sosial............................................................................... 3
B. Penatausahaan Hasil Hutan .............................................................. 2
C. Penerimaan Negara Bukan Pajak Pemanfaatan Hutan.................... 3
D. Alur PUHH dan PNBP Pemanfaatan Hutan....................................... 2
MODUL PENDAFTARAN SIPNBP ........................................................... 8
A. Alur Pendaftaran SIPNBP ................................................................... 5
B. Tata Cara Pendaftaran SIPNBP ......................................................... 6
MODUL TRANSAKSI PNBP PEMANFAATAN HUTAN ........................... 9
A. Alur Transaksi PNBP Pemanfaatan Hutan ........................................ 8
B. Tata Cara Transaksi PNBP Pemanfaatan Hutan .............................. 10
PENUTUP ................................................................................................ 11
SIPNBP I User Manual
Perhutanan Sosial
KATA
PENGANTAR
Buku Panduan Sistem Informasi Penerimaan Negara Bukan
Pajak (SIPNBP) disusun dengan berpedoman pada
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor
8 Tahun 2021 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan di Hutan
Lindung dan Hutan Produksi bidang Penatausahaan Hasil
Hutan dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pengelolaan
Perhutanan Sosial.
Buku Panduan Sistem Informasi Penerimaan Negara Bukan
Pajak (SIPNBP) ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Wajib
Bayar PNBP Pemanfaatan Hutan khususnya Pemegang
Persetujuan Perhutanan Sosial. Diharapkan dari adanya
buku panduan ini, pemahaman masyarakat terhadap
kewajiban Pembayaran PNBP menjadi meningkat yang akan
meningkatkan potensi PNBP dari sektor kehutanan.
Jakarta, Desember 2022
Direktur Iuran dan
Penatausahaan Hasil Hutan,
Ade Mukadi, [Link], [Link]
PENDAHULUAN
Sistem Informasi Penerimaan Negara Bukan Pajak
(SIPNBP) merupakan aplikasi berbasis web yang berfungsi
untuk melakukan pencatatan, penyimpanan, dan
pemantauan data PNBP. SIPNBP
PERHUTANAN SOSIAL
Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui pengelolaan hutan, saat
ini pemerintah telah mengadakan Program
Perhutanan Sosial. Program ini menjadi fokus
utama dari Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan untuk lebih menyejahterakan
masyarakat yang tinggal disekitar hutan.
Pengertian Perhutanan Sosial
Perhutanan Sosial (PS) adalah sistem
pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan
dalam kawasan hutan negara atau hutan hak
/ hutan adat oleh masyarakat sekitar hutan
atau masyarakat hukum adat sebagai pelaku
utama untuk tujuan kesejahteraan,
keseimbangan lingkungan dan dinamika
sosial budaya demi mewujudkan Hutan Desa,
Hutan Tanaman Rakyat, Hutan
Kemasyarakatan, Hutan Rakyat, Hutan Adat
dan Kemitraan Kehutanan.
Program PS ini adalah legal dan membuat
masyarakat dapat turut mengelola hutan dan
memperoleh manfaat ekonomi. Tujuan dari PS
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui proses pemberdayaan
dengen berpegang pada aspek kelestarian
hutan
Selain itu, program dari pemerintah ini juga
bertujuan sebagai solusi atas permasalahan
tenurial dan keadilan bagi masyarakat
sekitar hutan dalam memanfaatkan hutan
untuk kesejahteraan dan pelestarian melalui
prinsip keadilan, keberlanjutan, kapasitas
hukum, partisipatif, dan bertanggung gugat.
Pelaku Perhutanan Sosial
Pada pelaksanaannya, program ini dilakukan
oleh:
Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD)
Lembaga Adat
Kelompok Tani
Gabungan kelompok Tani (Gapoktan)
Koperasi
Masyarakat Hukum Adat (MHA)
Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)
Perseorangan
Skema Perhutanan Sosial
Akses legal dalam mengelola kawasan hutan
dibuat dalam lima skema yang memiliki inti
atau tujuan yang sama, antara lain:
Skema Hutan Desa (HD), yaitu hutan
negara yang hak pengelolaannya
diberikan kepada lembaga desa bagi
kesejahteraan desa.
Skema Hutan Kemasyarakatan (HKm),
yaitu hutan negara yang hak
pemanfaatan utamanya ddiberikan untuk
pemberdayaan masyarakat setempat.
Skema Hutan Tanaman Rakyat (HTR/IPHS),
berupa hutan tanaman pada hutan
produksi yang dibuat oleh sekelompok
masyarakat untuk meningkatkan potensi
dan kualitas hutan produksi melalui
sistem silvikulur demi menjamin
kelestarian hutan.
Skema Hutan Adat (HA), yakni hutan yang
berada di wilyah masyarakat hutan adat.
Skema Kemitraan Kehutanan adalah
adanya kerjasama antara masyarakat
sekitar hutan dengan pengelola hutan,
sperti pemegang Izin Usaha Pemanfaatan
Hutan, jasa hutam izin pinjam pakai
kawasan hutan atau pemegang izin usaha
industri primer hasil hutan.
Pengelola atau pemegang perizinan
berusaha Pemanfaatan Hutan dalam
Persetujuan Kemitraan Kehutanan wajib:
melaksanakan pemberdayaan
Masyarakat Setempat melalui
Persetujuan Kemitraan Kehutanan;
membayar penerimaan negara bukan
pajak dari kegiatan Persetujuan
Kemitraan Kehutanan; dan
melindungi mitranya dari gangguan
perusakan lingkungan hidup dan
kehutanan.
Pemegang Persetujuan Pengelolaan HD,
HKm dan HTR, wajib:
melaksanakan pengelolaan hutan sesuai
dengan prinsip pengelolaan hutan
lestari.
menjaga arealnya dari perusakan dan
pencemaran lingkungan;
memberi tanda batas areal kerjanya;
menyusun rencana pengelolaan hutan,
rencana kerja usaha, dan rencana kerja
tahunan, serta menyampaikan laporan
pelaksanaannya kepada pemberi
Persetujuan Pengelolaan Perhutanan
Sosial;
melakukan penanaman dan
pemeliharaan hutan di areal kerjanya;
melaksanakan penatausahaan hasil
hutan;
membayar penerimaan negara bukan
pajak dari hasil kegiatan Pengelolaan
Perhutanan Sosial sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
melaksanakan perlindungan hutan.
PENATAUSAHAAN
HASIL HUTAN
Setiap hasil Hutan yang berasal dari kegiatan
pemanfaatan Hutan Negara wajib dilakukan
PUHH, yang meliputi pencatatan dan
pelaporan:
Rencana produksi;
Realisasi produksi, meliputi
pemanenan/penebangan, pengukuran,
pengujian, penandaan;
Pengangkutan atau peredaran hasil Hutan;
dan
Pengolahan dan pemasaran hasil Hutan.
Pencatatan dilakukan pada setiap segmen
PUHH melalui Sistem Informasi
Penatausahaan Hasil Hutan (SIPUHH).
Objek Penatausahaan Hasil Hutan Kayu
PUHH kayu dilakukan terhadap:
Kayu Bulat hasil kegiatan pemanfaatan
pada Hutan Alam dan Hutan Tanaman
pada Hutan Produksi;
Kayu Bulat tumbuh alami hasil kegiatan
pemanfaatan pada areal yang telah
dibebani hak atas tanah; dan
Kayu Olahan berupa kayu gergajian,
veneer dan serpih pada tempat
Pengolahan Hasil Hutan Kayu.
Objek Penatausahaan Hasil Hutan Bukan Kayu
(HHBK)
PUHH HHBK dilakukan terhadap:
HHBK dari kegiatan pemanfaatan Hutan dan
pemungutan hasil Hutan berupa hasil Hutan
hayati selain kayu;
HHBK dari kegiatan Pemanfaatan Kawasan
dan jasa lingkungan berupa produk fisik
selain kayu.
Kegiatan Penatausahaan Hasil Hutan Kayu dan
Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Penatausahaan Hasil Hutan Kayu dan Bukan
Kayu meliputi:
1. Pencatatan Rencana Produksi
Pencatatan rencana produksi melalui tahapan-
tahapan sebagai berikut:
Pemegang persetujuan pengelolaan
perhutanan sosial melakukan pencatatan
rencana produksi tahunan, yang didasarkan
atas hasil inventarisasi pohon/Timber
Cruising yang direncanakan akan ditebang;
Timber cruising dan identifikasi potensi
dilaksanakan oleh Tenaga Teknis
Pengelolaan Hutan (GANISPH) atau tenaga
profesional di bidang kehutanan;
Apabila dalam pelaksanaan Timber Cruising
dan identifikasi potensi yang belum memiliki
GANISPH, maka dapat difasilitasi dengan
penugasan Penugasan GANISPH, sarjana
kehutanan pada Dinas, KPH (Kesatuan
Pengelolaan Hutan), Unit Pelaksana Teknis
(UPT) atau pendamping perhutanan sosial
2. Pencatatan Produksi Hasil Hutan
Realisasi produksi meliputi
pemanenan/penebangan, pengukuran,
pengujian, penandaan. Produksi kayu dan
HHBK dilakukan Pengukuran dan
Pengujian oleh GANISPH, dan dicatat
pada buku ukur sebagai dasar
pembuatan Laporan Hasil Produksi. LHP
dibuat paling lambat setiap akhir bulan.
3. Pencatatan Pengangkutan atau
Peredaran
Setiap pengangkutan Hasil Hutan Kayu
dilengkapi bersama dokumen angkutan
berupa Surat Keterangan Sahnya Hasil
Hutan Kayu (SKSHHK) yang hanya
berlaku untuk satu kali pengangkutan
dengan satu kali tujuan, Nota Angkutan,
atau Nota Perusahaan;
Setiap pengangkutan HHBK dari
pemegang PS/pengumpul terdaftar
dilengkapi Surat Keterangan Sahnya Hasil
Hutan Bukan Kayu (SKSHHBK) dan Daftar
Hasil Hutan.
Pengukuran dan Pengujian oleh GANISPH
Pengukuran dan Pengujian Hutan Negara,
Hutan Hak, dan Perhutanan Sosial.
Pelaksana kegiatan pengukuran dan
pengujian yang dilakukan pada hutan
negara, hutan hak dan perhutanan sosial
atas semua hasil hutan adalah sebagai
berikut: (a) Hutan Negara oleh GANISPH
dan (b) Hutan Hak oleh Pemilik Hutan Hak
Perhutanan Sosial oleh GANISPH/
Pendamping Perhutanan Sosial.
Semua hasil Hutan yang berasal dari Hutan
Negara, Hutan Hak, dan Perhutanan Sosial
dilakukan pengukuran dan pengujian
meliputi volume/ berat, penghitungan
jumlah, dan penetapan jenis.
Pengukuran dan pengujian Hutan Negara
sebagai dasar Pengenaan PNBP atas
Pemanfaatan Hutan.
Dalam hal terdapat hasil Hutan yang
tumbuh alami sebelum terbitnya hak atas
tanah pada Hutan Hak, pengukuran dan
Pengujian dilakukan oleh Tenaga Teknis
Pengelolan Hutan.
Pengukuran dan Pengujian Hasil Hutan
dilakukan dengan menggunakan alat ukur
atau alat uji yang standar/baku.
Pengukuran dan Pengujian Hasil Hutan
dilakukan berdasarkan metode sesuai
dengan SNI.
PENERIMAAN NEGARA
BUKAN PAJAK
Dasar Hukum Penerimaan Negara Bukan Pajak
Pemanfaatan Hutan:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun
2018 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak;
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2014 tentang
Jenis Dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang
Berlaku Pada Kementerian Kehutanan;
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2020 tentang
Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak;
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Nomor 8 Tahun 2021 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan , serta
Pemanfaatan Hutan di Hutan Lindung dan Hutan
Produksi; dan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 155 Tahun 2021
tentang Tata Cara Pengelolaan Negara Bukan Pajak.
Penerimaan Negara Bukan Pajak
Pemanfaatan Hutan
Setiap pemanfaatan sumber daya Hutan
Negara wajib dikenakan Penerimaan Negara
Bukan Pajak (PNBP). PNBP merupakan
pungutan yang dibayar oleh orang pribadi
atau badan dengan memperoleh manfaat
langsung maupun tidak langsung atas
layanan atau pemanfaatan sumber daya dan
hak yang diperoleh Negara berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan,
yang menjadi penerimaan Pemerintah Pusat
di luar penerimaan perpajakan dan hibah
dan dikelola dalam mekanisme anggaran
pendapatan dan belanja Negara.
Pihak yang menggunakan, memperoleh
manfaat, dan memiliki kaitan dengan
kewajiban PNBP merupakan Wajib Bayar yang
berkewajiban membayar PNBP.
Jenis PNBP Pemanfaatan Hutan:
Jenis PNBP atas pemanfaatan Hutan
meliputi:
Iuran Perizinan Berusaha Pemanfaatan
Hutan (IPBPH) adalah pungutan yang
dikenakan kepada pemegang Perizinan
Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH);
Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) adalah
pungutan yang dikenakan sebagai
pengganti nilai intrinsik dari hasil Hutan
dan/atau hasil usaha yang dipungut dari
Hutan Negara;
Dana Reboisasi (DR) adalah dana yang
dipungut atas pemanfaatan kayu yang
tumbuh alami dari Hutan Negara;
Dana hasil usaha penjualan tegakan yang
berasal dari Hutan tanaman hasil
rehabilitasi, PNBP ini dikenakan kepada
pihak yang memanfaatkan Hasil Hutan
Kayu dari Hutan tanaman hasil rehabilitasi
berdasarkan hasil cruising yang
dituangkan ke dalam Rekapitulasi Laporan
Hasil Cruising (RLHC);
Denda Pelanggaran Eksploitasi Hutan
(DPEH), PNBP ini dikenakan terhadap
pelanggaran eksploitasi Hutan di dalam
areal PBPH, persetujuan pemerintah, atau
perizinan lainnya berdasarkan keputusan
pengenaan denda administratif yang
diterbitkan Direktur Jenderal atau Kepala
Dinas;
Penerimaan dari pelayanan dokumen
angkutan hasil hutan, PNBP ini dikenakan
kepada PBPH, persetujuan pemerintah,
PBPHH dan perizinan lainnya yang
menggunakan dokumen angkutan hasil
Hutan terhadap setiap penerbitan
dokumen angkutan hasil Hutan. Pungutan
ini dikecualikan atas penerbitan dokumen
angkutan hasil Hutan yang dilakukan dari
kegiatan pengelolaan perhutanan sosial;
Penerimaan dari pelayanan dokumen
Penjaminan Legalitas Hasil Hutan, PNBP
ini dikenakan kepada pengguna layanan
melalui Lembaga Penerbit dokumen
Penjaminan Legalitas Hasil Hutan yang
memanfaatkan fasilitas pelayanan
dokumen Penjaminan Legalitas Hasil
Hutan terhadap setiap penerbitan
dokumen Penjaminan Legalitas Hasil
Hutan;
Ganti Rugi Tegakan dikenakan kepada
pelaku tindak pidana terhadap
eksploitasi Hutan berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memiliki kekuatan
hukum tetap (inkracht); dan
Denda administratif terhadap kegiatan
usaha perkebunan kelapa sawit yang
terbangun di dalam Kawasan Hutan
yang memiliki izin lokasi dan/atau izin
usaha di bidang perkebunan yang tidak
memiliki perizinan di bidang kehutanan
akibat tidak menyelesaikan persyaratan
perizinan di bidang kehutanan.
ALUR PUHH DAN PNBP PEMANFAATAN
HUTAN PADA PEMEGANG PERSETUJUAN
PERHUTANAN SOSIAL
Alur PUHH dan PNBP Pemanfaatan Hutan pada
Perhutanan Sosial:
Masyarakat memperoleh izin persetujuan PS
(HD, HKm, HTR, dan Kemitraan Kehutanan).
Masyarakat berhak mendapat pendampingan
oleh Pendamping PS untuk membuat rencana
pengelolaan hutan.
Pemegang Persetujuan PS wajib
mendaftarkan diri ke SIPUHH (Sistem
Informasi Penatausahaan Hasil Hutan) dan
SIPNBP (Sistem Informasi PNBP), untuk
mendapatkan user id dan password SIPUHH
dan SIPNBP.
Pemegang Persetujuan PS wajib melakukan
penatausahaan hasil hutan.
Pemegang persetujuan PS menghitung sendiri
besar manfaat hutan yang diperoleh dan
membuat Laporan Hasil Produksi (LHP).
Pemegang persetujuan PS menginput LHP ke
SIPUHH.
Setelah LHP terinput ke SIPUHH, otomatis akan
terintegrasi dengan SIPNBP, dan SIPNBP akan
menerbitkan kode billing untuk pembayaran
kewajiban PNBP Pemanfaatan Hutan.
Pemegang Persetujuan PS dapat membayar
PNBP Pemanfaatan Hutan tersebut melalui
Bank, ATM, Mobile Banking.
Sistem akan menerbitkan dokumen SKSHH
untuk menyertai angkutan hasil hutan
Hasil hutan sudah legal dan dapat dilakukan
pengangkutan ke industri atau lainnya.
SISTEM INFORMASI
PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN
Sistem Informasi Penatausahaan Hasil Hutan
(SIPUHH) adalah sistem informasi berbasis web
yang digunakan sebagai sarana pencatatan
dan pelaporan secara elektronik dalam
pelaksanaan penatausahaan hasil Hutan.
TATA CARA
PENDAFTARAN SIPNBP
Langkah-langkah pendaftaran SIPNBP sebagai
berikut:
1. Membuka laman web [Link] maka
akan muncul tampilan seperti di bawah ini.
2. Klik menu register dan masukkan username,
email, beserta password yang akan digunakan
sebagai user id dan password akun SIPNBP.
3. Langkah selanjutnya adalah melakukan
verifikasi melalui pesan yang dikirimkan lewat
email sesuai dengan alamat email yang
dituliskan pada saat registrasi.
4. Setelah verifikasi email, maka user id dan
password sudah dapat digunakan untuk login
akun SIPNBP
5. Tampilan setelah login akan seperti ini, akun
yang telah dibuat belum aktif. Untuk
mengaktifkan akun, klik edit pada kolom
informasi user di pojok kanan atas.
6. Setelah itu, mengisi data-data personal
seperti nama, email, nomor Handphone,
provinsi, mengupload file KTP. Untuk user role
pilih yang personal.
7. Setelah data-data tersebut diisi, pemegang
izin PS juga wajib mengisi kelengkapan
registrasi dengan klik tanda (edit) pada kolom
actions.
8. Berikut tampilan detil kelengkapan data
registrasi yang harus pemegang izin PS isi
dengan benar.
9. Setelah mengisi seluruh data-data yang
diminta, seperti Data Operator dan Data Badan
Usaha/ Wajib Bayar, klik save untuk menyimpan
seluruh data.
10. Apabila data sudah tersimpan, maka akan
muncul tampilan seperti di bawah ini.
11. Admin Pusat akan mengaktifkan user id
pemegang izin PS dan akan mengaktifkan modul
apa saja yang dapat diakses sesuai dengan
user role.
12. Berikut modul-modul yang dapat diakses
oleh user yaitu modul Aplikasi, modul Pelacakan
dan Modul Monitoring.
TATA CARA
TRANSAKSI PNBP
PEMANFAATAN HUTAN
1. Pemegang izin Persetujuan PS menginput
sendiri Laporan Hasil Produksi (LHP) ke dalam
SIPUHH. Buka menu Aplikasi pilih LHP dan Add
New.
2. Input data-data LHP meliputi tahun tebang,
No. LHP, Status RKT, Objek/Loka, Pembuat LHP
dan lain sebagainya seperti gambar dibawah
ini.
3. Setelah selesai menginput data LHP, maka
akan muncul tampilan seperti ini. Status SPP
akan muncul belum bayar. Untuk membayar
PSDH dan DR dari LHP tersebut, Pemegang izin PS
dapat mengaksesnya di SIPNBP.
4. Pemegang Izin PS dapat mengakses SIPNBP
dengan user ID dan password yang telah
diverifikasi Admin Pusat.
5. Pada menu Aplikasi, klik Kewajiban UM maka
akan muncul tampulan seperti di bawah ini.
6. Untuk melihat detil LHP, klik tanda + yang ada
di samping Nomor Unit Management.
7. Setelah klik tanda +, akan muncul tampilan
seperti gambar di bawah. Terdapat 2 kolom
yaitu Kewajiban dan Status Pembayaran dan
Detil Hasil Hutan. Pada kolom Detil Hasil Hutan
memuat informasi data LHP yang telah diinput
di SIPUHH.
8. Pemegang Izin PS mengecek kesesuaian data
antara hasil input LHP pada SIPUHH dan data
pada SIPNBP. Data LHP ini akan menjadi dasar
pengenaan kewajiban PNBP Pemanfataan Hutan
berupa PSDH dan DR.
9. Setelah itu, pada kolom Kewajiban dan Status
Pembayaran, Pemegang Izin PS dapat meng klik
Request Kode Billing SIMPONI untuk
mendapatkan rincian tagihan PNBP
Pemanfaatan Hutan yang harus dibayarkan.
10. Akan muncul pop up seperti gambar di
bawah ini. Request Kode Billing SIMPONI pada
jenis PNBP DR dan PSDH. Jika sudah muncul kode
billingnya, maka Pemegang Izin PS dapat
membayar PSDH dan DR tersebut menggunakan
kode billing yang didapatkan.