0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan59 halaman

Formulasi Salep Sulfur Precipitate

Laporan ini membahas tentang pembuatan sediaan salep dengan bahan aktif sulfur precipitate 2%. Salep dibuat dengan menggunakan vaselin album sebagai basis dan diuji organoleptik serta homogenitasnya.

Diunggah oleh

Madeline Hana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
120 tayangan59 halaman

Formulasi Salep Sulfur Precipitate

Laporan ini membahas tentang pembuatan sediaan salep dengan bahan aktif sulfur precipitate 2%. Salep dibuat dengan menggunakan vaselin album sebagai basis dan diuji organoleptik serta homogenitasnya.

Diunggah oleh

Madeline Hana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KN OLO GI SE DIA AN NO

M TE N
IK U G I ST
KT EK NO LO SED IAA N E R
R A AH T NO IL
P U LI N S I
A K TER
A T IL
M I

SALEP
Cynthia Alleviona
Kelompok 6 - 3B
PENDAHULUAN
Salep farmasi (disebut salep) berbentuk sistem setengah padat yang diterapkan secara eksternal,
terutama pada kulit dan juga pada selaput lendir, misalnya rektum, vagina/vulva, dan mata. Biasanya,obat salep
digunakan untuk pengobatan sepertiinfeksi, inflamasi, dan pruritus. Namun, non-medicated salep biasanya
digunakankarena properti emolien/pelumasnya (Jones,2008).
Formulasi topikal tumbuh secara eksponensial dipasarfarmasi karena kemudahan aksesibilitas,
ketersediaan, penerapan, dan tidak hanya kepatuhan [Link] formulasi topikal yang tersedia di pasar,
salah satunya yaitu formulasi salep tropis. Obat salep terdiri dari obat-obatan terlarut, tersuspensi, atau
teremulsi dalam basa. Salep secara topikal memiliki fungsi untuk beberapa tujuan seperti emolien, pelindung,
antipruritik, antiseptik, astringen, dan keratolitik. Basis salep kurang lebih bersifat anhidrat dan biasanya
mengandung satu atau lebih obat-obatan tersuspensi atau larut atau terdispersi dalam masing-masing
perumusan. Namun, sebagian besar basis yang digunakan dalam formulasi salep bisa berupa hidrokarbon
(berminyak), serap, water removal, dan water-soluble type. Aksesibilitas salep tergantung pada beberapa
reologiatau parameter fisikokimia dan terapeutik seperti: warna, bau, viskositas, stabilitas lingkungan, efek
samping paling sedikit, indeks terapeutik tinggi, dan lain sebagainya (Verma, dkk., 2021).
Preformulasi
Sulfur precipitate
Zat AKtif Utama
1. Rumus Molekul: S,
2. Berat Molekul: 32,06 g/mol
3. Rumus bangun:

4. Pemerian: Serbuk amorf atau serbuk hablur renik; sangat halus; warnakuning pucat; tidak berbau dan tidak berasa
(Farmakope Indonesia IV, 1995)
5. Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbondisulfida; sukar larut dalam minyak zaitun;
praktis tidak larut dalam etanol
6. pH: 4,2-6,2
7. Incompabilitas: Inkompatibel dengan logam alkali dan alkali tanah natrium,kalium, lithium, kalsium dan magnesium
logam', oksidator,ammonia.
8. Stabilitas: Stabil, polimerisasi berbahaya tidak akan terjadi, hindari suhutingga, nyala api terbuka, pengelasan,
merokok dan sumber penyalaan.
FORMULASI
DIGUNAKAN
R/
Komposisi Bahan
Sulfur Precipitate 2 %
Vaselin album 25
Sulfur Precipitate = 2 gram
Setil Alkohol 25
Vaselin album = 25 gram
Propilen glikol 12 Setil alkohol = 25 gram
Na Lauril sulfat 1 Propilen glikol = 12 gram
Aquadest 37 Na lauril sulfat = 1 gram
m.f ung. s.u.e Akuades = 35 ml
FORMULASI
DIGUNAKAN
Fungsi Bahan Perhitungan Formula

Na lauril sulfat: Zat pembasah Sulfur Precipitate = 2 % x 100 = 2 gram


Propilenglikol: Pelarut Vaselin album = 25 gram
Setil alkohol: Emolien Setil alkohol = 25 gram
Sulfur precipitate: Zat aktif Propilen glikol = 12 gram
Vaselin album: Basis salep Na lauril sulfat = 1 gram
Akuades ad = 100 - (2+25+25+12+1) = 35 ml
Metode
Pembuatan
PREFORMULASI
BAHAN TAMBAHAN
Propilen glikol
Pemerian: Cairan kental, jernih, tidak berwarna; rasa khas; praktis tidak berbau; menyerap
air pada udara lembab.
Kelarutan: Dapat bercampur dengan air, dengan aseton dan dengan kloroform; larut dalam
eter dan dalam beberapa minyak esensial; tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.
Kegunaan: Sebagai zat tambahan pemanis, juga sebagai pelarut campur untuk
meningkatkan kelarutan.

Na lauril sulfat
Pemerian: Serbuk atau hablur,warna putih atau kuning pucat, bau lemah dan khas
Kelarutan: Sangat mudah larut dalam air; larutan berkabut
Kegunaan: Sebagai zat tambahan pembasah
PREFORMULASI
BAHAN TAMBAHAN
Setil alkohol
Pemerian: Lilin, serpihan putih, granul atau kubus, berbau lemah dan rasa hambar
Kelarutan: Mudah larut dalam etanol (95%) dan eter,kelarutan meningkat dengan
meningkatnya suhu, praktis tidak larut dalam air
Kegunaan: Emolien

Vaselin album
Pemerian: Massa lunak, lengket,bening, putih, sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan
dibiarkan hinggadingin tanpa diaduk berfluorosensi lemah, juga jika dicairkan, tidak berbau,
hampir tidak berasa
Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) p, larut dalam kloroform p,
dalam eter p dan dalam eter minyak tanah p, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah
Kegunaan: Sebagai zat tambahan basis salep
EVALUASI BASIS YANG DIGUNAKAN PADA PEMBUATAN SEDIAAN SALEP INI ADALAH VASELIN
ALBUM YANG TERMASUK KE DALAM TIPE BASIS HIDROKARBON. BASIS HIDROKARBON

HASIL &
JUGA DAPAT DISEBUT SEBAGAI BASIS BERLEMAK. BASIS HIDROKARBON PADA
PENGGUNAANNYA TERHADAP KULIT, MEMILIKI EFEK MELEMBUTKAN, MENCEGAH
HILANGNYA, KELEMBAPAN, EFEKTIF SEBAGAI PENUTUP YANG OKLUSIF, DAPAT
BERTAHAN PADA KULIT UNTUK WAKTU YANG LAMA TANPA MENGERING DAN SUKAR
DICUCI DENGAN AIR KARENA KETIDAKLARUTANNYA DENGAN AIR

PEMBAHASAN UJI ORGANOLEPTIK MENGIDENTIFIKASI STABILITAS, BAU, DAN WARNA YANG DILAKUKAN
DENGAN CARA PENGAMATAN (LISNAWATI DKK., 2022). UJI ORGANOLEPTIK DILAKUKAN
UNTUK MEMERIKSA KESESUAIAN WARNA, DAN PENAMPILAN SALEP DIMANA SEDAPAT
MUNGKIN MENDEKATI DENGAN SPESIFIKASI SEDIAAN YANG TELAH DITENTUKAN SELAMA
FORMULASI. PRINSIPNYA ADALAH PEMERIKSAAN WARNA DAN PENAMPILAN
MENGGUNAKAN PANCA INDRA. UNTUK PENAFSIRAN HASILNYA UNTUK WARNA DAN
PENAMPILAN MEMENUHI SPESIFIKASI FORMULASI YANG DIBUAT (FATMAWATY DKK.,
2019). HASIL UJI ORGANOLEPTIK YANG DIDAPATKAN ADALAH BERBENTUK SEMI PADAT
YANG MUDAH DIOLESKAN, TIDAK BERBAU TENGIK, DAN BERWARNA PUTIH KEKUNINGAN.
HAL INI SESUAI DENGAN PERSYARATAN YANG TERTERA PADA FARMAKOPE INDONESIA
EDISI III, BAHWA SALEP ADALAH SEDIAAN SETENGAH PADAT YANG MUDAH DIOLESKAN
DAN DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT LUAR. BAHAN OBAT HARUS LARUT ATAU TERDISPERSI
HOMOGEN DALAM DASAR SALEP YANG COCOK SERTA UNTUK PEMERIAN SEDIAAN SALEP
TIDAK BOLEH BERBAU TENGIK

PENGAMATAN ATAS UJI HOMOGENITAS DILAKUKAN DENGAN MENGAMATI KESERAGAMAN


PARTIKEL PADA SELURUH FORMULA SERTA MENGAMATI ADA ATAU TIDAKNYA GUMPALAN
SERTA BUTIRAN KASAR YANG TERBENTUK SETELAH PENCAMPURAN BAHAN. PARAMETER
INI DAPAT MENGIDENTIFIKASI KETERCAMPURAN DARI SETIAP BAHAN YANG DIGUNAKAN.
SELURUH RACIKAN SALEP DIPASTIKAN HOMOGEN YANG DITUNJUKKAN DENGAN
TERCAMPURNYA SALEP DENGAN BAIK DAN MENGHASILKAN WARNA YANG SERAGAM.
SEDIAAN DIKATAKAN HOMOGEN APABILA WARNA YANG SRAGAM, TIDAK ADA GUMPALAN,
DAN HASIL PENGOLESAN DIDAPATKAN STRUKTUR YANG RATA (LISNAWATI DKK., 2022).
HASIL UJI HOMOGENITAS DIDAPATKAN BAHWA SEDIAAN SALEP ADALAH HOMOGEN,
WARNANYA TERCAMPUR RATA SERTA TIDAK ADA PARTIKEL KASAR.
Kesimpulan
Dan Saran
Kesimpulan
Pada praktikum kali ini, membuat sediaan salep dengan bahan akuades sebagai pelarut, natrium lauril sulfat
sebagai surfaktan, propilen glikol sebagai pelarut atau pengawet, setil alkohol sebagai peningkat viskositas,
sulfur precipitate untuk zat aktifnya,dan vaselin album sebagai basis salep.
Pada sediaan salep dilakukan uji organoleptik dan uji homogenitas. Kedua uji ini memenuhisyarat, dimana
pada uji organoleptik sediaan salep mudah dioleskan dan tidak berbau tengik, serta pada uji homogenitas
sediaan salep adalah homogen dan tidak memilikipartikel kasar
Syarat sediaan salep yang baik adalah salep harus berupa semi padat, mudah dioleskan, melindungi kulit
dan tidak berbau tengik

Saran:
Sebaiknya pada praktikum selanjutnya, dapat dilakukan pengujian lain pada salep, misalnyauji daya sebar
Sebaiknya pada percobaan selanjutnya, dapat digunakan odoris lainnya seperti oleum cinnamomii
THANK YOU
FOR COMING!
Hope you had fun!
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN NON STERIL I

“SALEP”

OLEH :

NAMA : CYNTHIA ALLEVIONA


NIM : 211501105
GRUP : 8
TANGGAL PERCOBAAN : 20 OKTOBER 2022
ASISTEN : EFIFHANI SIMAMORA

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2022
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

LEMBAR PENGESAHAN

SALEP

OLEH:

CYNTHIA ALLEVIONA

211501105

Medan, 14 November 2022

Asisten, Praktikan,

(Efifhani Simamora) (Cynthi Alleviona)

Kepala Lab Teknologi Farmasi

([Link] Hanum, [Link]., [Link]., Apt.)

NIP 197512082009122002

i
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................ i

DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii


BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Prinsip Percobaan .......................................................................................... 2
1.3 Tujuan Percobaan .......................................................................................... 2
1.4 Manfaat Percobaan ........................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 3


2.1 Uraian Bahan ................................................................................................. 3
2.1.1 Sinonim Bahan .............................................................................................. 3
2.1.2 Pemerian ........................................................................................................ 3
2.1.3 Kelarutan ....................................................................................................... 4
2.1.4 Efek Farmakologi .......................................................................................... 4
2.1.5 Golongan Obat ............................................................................................... 5
2.1.6 Dosis Maksimum ........................................................................................... 5
2.1.7 Fungsi Bahan ................................................................................................. 5
2.2 Uraian Umum ................................................................................................ 6
2.2.1 Pengertian Salep ............................................................................................ 6
2.2.2 Kualitas Dasar Salep ...................................................................................... 6
2.2.3 Penggolongan Dasar Salep ............................................................................ 7
[Link] Dasar Salep Hidrokarbon............................................................................... 7
[Link] Dasar Salep Serap .......................................................................................... 7
[Link] Dasar Salep yang Dapat Dicuci Dengan Air ................................................. 7
[Link] Dasar Salep Larut Dalam Air ........................................................................ 8
2.2.4 Evaluasi Sediaan Salep .................................................................................. 8

BAB III METODELOGI PERCOBAAN .................................................................. 9


3.1 Formulasi ....................................................................................................... 9
3.2 Alat dan Bahan .............................................................................................. 9
3.2.1 Alat ................................................................................................................ 9
3.2.2 Bahan ............................................................................................................. 9
3.3 Perhitungan Bahan ......................................................................................... 9
3.4 Perhitungan Dosis ........................................................................................ 10
3.5 Flowsheet ..................................................................................................... 11
3.5.1 Flowsheet Pembuatan Salep ........................................................................ 11
3.5.2 Flowsheet Evaluasi Homogenitas Salep...................................................... 12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 13


4.1 Hasil ............................................................................................................. 13
4.1.1 Uji Organoleptik .......................................................................................... 13

ii
Cynthia Alleviona
211501105
Salep
4.1.2 Uji Evaluasi ................................................................................................. 13
4.2 Pembahasan ................................................................................................. 13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 15


5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 15
5.2 Saran ............................................................................................................ 15

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 16

LAMPIRAN HASIL................................................................................................ 17

iii
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep
yang cocok. Menurut [Link], salep adalah gel dengan sifat deformasi plastis yang
digunakan pada kulit atau selaput lendir. Sediaan ini dapat mengandung bahan obat
tersuspensi, terlarut atau teremulasi. Salep dapat mengandung obat atau tidak
mengandung obat, yang disebutkan terakhir bisanya dikatakan sebagai "dasar salep"
(basis ointment) dan digunakan sebagai pembawa dalam penyimpan salep yang
mengandung obat (Elmitra, 2017).
Salep farmasi (disebut salep) berbentuk sistem setengah padat yang diterapkan
secara eksternal, terutama pada kulit dan juga pada selaput lendir, misalnya rektum,
vagina/vulva, dan mata. Biasanya, obat salep digunakan untuk pengobatan seperti
infeksi, inflamasi, dan pruritus. Namun, non-medicated salep biasanya digunakan
karena properti emolien/pelumasnya (Jones, 2008).
Formulasi topikal tumbuh secara eksponensial dipasar farmasi karena
kemudahan aksesibilitas, ketersediaan, penerapan, dan tidak hanya kepatuhan pasien.
Banyak formulasi topikal yang tersedia di pasar, salah satunya yaitu formulasi salep
tropis. Obat salep terdiri dari obat-obatan terlarut, tersuspensi, atau teremulsi dalam
basa. Salep secara topikal memiliki fungsi untuk beberapa tujuan seperti emolien,
pelindung, antipruritik, antiseptik, astringen, dan keratolitik. Basis salep kurang lebih
bersifat anhidrat dan biasanya mengandung satu atau lebih obat-obatan tersuspensi atau
larut atau terdispersi dalam masing-masing perumusan. Namun, sebagian besar basis
yang digunakan dalam formulasi salep bisa berupa hidrokarbon (berminyak), serap,
water removal, dan water-soluble type. Aksesibilitas salep tergantung pada beberapa
reologi atau parameter fisikokimia dan terapeutik seperti : warna, bau, viskositas,
stabilitas lingkungan, efek samping paling sedikit, indeks terapeutik tinggi, dan lain
sebagainya (Verma, dkk., 2021).

1
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

1.2 Prinsip Percobaan


Berdasarkan percobaan dimana salep adalah sediaan semi solid yang
mengandung zat aktif, dengan mencampurkan zat aktif sulfur precipitate dengan
proplen glikol, setil alkohol, dan natrium lauril sulfat, dengan vaselin album sebagai
basis salep. Kemudian dilakukan uji evaluasi sediaan. Uji evaluasi yang dilakukan
adalah uji organoleptik dan uji homogenitas.

1.3 Tujuan Percobaan


- Untuk mengetahui bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan salep
- Untuk mengetahui evaluasi pada sediaan salep
- Untuk mengetahui syarat sediaan salep

1.4 Manfaat Percobaan


- Agar praktikan mengetahui bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan
salep
- Agar praktikan mengetahui evaluasi pada sediaan salep
- Agar praktikan mengetahui syarat sediaan salep

2
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Bahan


2.1.1 Sinonim Bahan
- Akuades : Air murni
- Na lauril sulfat : Natrii lauril sulfate
- Propilen glikol : Propylenglycolum
- Setil alkohol : Alcohol cetylicus
- Sulfur precipitate : Belerang endap
- Vaselin album : Vaselin putih
(Depkes RI, 1995; Dirjen POM, 1979; Kemenkes, 2020).

2.1.2 Pemerian
- Akuades : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
- Na lauril sulfat : Serbuk atau hablur, warna putih atau kuning pucat, bau
lemah dan khas
- Propilen glikol : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa
agak manis, higroskopik
- Setil alkohol : Lilin, serpihan putih, granul atau kubus, berbau lemah
dan rasa hambar
- Sulfur precipitate : Tidak berbau, tidak berasa, serbuk lembek, bebas
butiran, kuning keabuan pucat, partikel hampir bulat
berkelompok, amorf
- Vaselin album : Massa lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap
setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin
tanpa diaduk berfluorosensi lemah, juga jika dicairkan,
tidak berbau, hampir tidak berasa
(Depkes RI, 1995; Dirjen POM, 1979; Kemenkes, 2020).

3
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

2.1.3 Kelarutan
- Akuades :-
- Na lauril sulfat : Sangat mudah larut dalam air, larutan berkabut, larut
sebagian dalam etanol (95%) p
- Propilen glikol : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) p dan
dengan kloroform p, larut dalam 6 bagian eter p, tidak
dapat bercampur dengan minyak tanah p dan dengan
minyak lemak
- Setil alkohol : Mudah larut dalam etanol (95%) dan eter, kelarutan
meningkat dengan meningkatnya suhu, praktis tidak
larut dalam air
- Sulfur precipitate : Praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam
karbondisulfida p, sukar larut dalam minyak zaitun p,
sangat sukar larut dalam etanol (95%) p
- Vaselin album : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) p,
larut dalam kloroform p, dalam eter p dan dalam eter
minyak tanah p, larutan kadang-kadang beropalesensi
lemah
(Depkes RI, 1995; Dirjen POM, 1979; Kemenkes, 2020).

2.1.4 Efek Farmakologi


- Akuades :-
- Na lauril sulfat :-
- Propilen glikol :-
- Setil alkohol :-
- Sulfur precipitate : Antiskabies
- Vaselin album :-
(Kemenkes RI, 2020).

4
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

2.1.5 Golongan Obat


- Akuades :-
- Na lauril sulfat :-
- Propilen glikol : Bebas
- Setil alkohol :-
- Sulfur precipitate : Keras
- Vaselin album :-
(Kemenkes RI, 2020).

2.1.6 Dosis Maksimum


- Akuades :-
- Na lauril sulfat :-
- Propilen glikol :-
- Setil alkohol :-
- Sulfur precipitate :-
- Vaselin album :-
(Kemenkes RI, 2020).

2.1.7 Fungsi Bahan


- Akuades : Pelarut
- Na lauril sulfat : Zat pembasah
- Propilen glikol : Pelarut
- Setil alkohol : Emolien
- Sulfur precipitate : Zat aktif
- Vaselin album : Basis salep
(Rowe dkk., 2009; Kemenkes RI, 2020).

5
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

2.2 Uraian Umum


2.2.1 Pengertian Salep
Salep adalah sedian setengan padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen ke dalam dasar salep
yang cocok. Tujuan pembuatan salep antara lain sebagai pengobatan pada kulit,
melindungi kulit (pada luka luar agar tidak terinfeksi) serta melembabkan kulit. Dasar
salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok : dasar salep
senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air,
dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep
tersebut (Elmitra, 2017).
Salep terdiri dari basis salep yang merupakan pembawa bersama kombinasi
bahan aktif. Agar salep dapat berkhasiat sebagai obat, maka bahan obat yang digunakan
harus terlepas dahulu dari basis salepnya. Salep memiliki keuntungan, diantaranya
tidak mengiritasi, memiliki daya lekat dan distribusi yang baik pada kulit serta tidak
menghambat pertukaran gas dan produksi keringat, sehingga efektivitasnya lebih tahan
lama (Lestari, dkk., 2017).

2.2.2 Kualitas Dasar Salep


Kualitas dasar salep yaitu : a) Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka
salep harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang
ada dalam kamar. b) Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk
menjadi lunak dan homogen. Sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi,
inflamasi dan ekskloriasi, c) Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang
paling mudah dipakai dan dibersihkan dari kulit, d) Dasar salep yang cocok yaitu dasar
salep harus kompatibel secara fisika dan kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar
salep tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi dari obat yang mampu melepas
obatnya pada daerah yang diobati, e) Terdistribusi merata, obat harus terdistribusi

6
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

merata melalui dasar salep padat atau cair pada pengobatan, f) Lembut, mudah
dioleskan serta mudah melepaskan zat aktif (Elmitra, 2017).
Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat yang
diinginkan, sifat obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, stabilitas dan ketahanan
sediaan jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal
untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya untuk obat-obat yang mudah
terhidrolisis, lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon dari pada dasar salep yang
mengandung air, meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang
mengandung air (Elmitra, 2017)

2.2.3 Penggolongan Dasar Salep


[Link] Dasar Salep Hidrokarbon
Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, antara lain vaselin putih
dan salep putih. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontal bahan obat
dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon
digunakan terutama sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak
berubah dalam waktu lama. Dasar salep hidrokarbon meliputi vaselin putih atau vaselin
kuning, campuran vaselin (malam putih/kuning), farafin cair dan farafin padat, minyak
tumbuhan, dan jelene (Elmitra, 2017).

[Link] Dasar Salep Serap


Dasar salep ini dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok pertama terdiri atas dasar
salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak,
kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan
sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar salep serap dapat berfungsi sebagai
emolien. Beberapa contohnya adalah adeps lane, unguenta simpleks, dan hydrofilic
fetrolerlum (Elmitra, 2017).

[Link] Dasar Salep yang Dapat Dicuci Dengan Air


Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain salep hidofilik atau
lebih tepat disebut krim. Dasar salep ini mudah dicuci dikulit atau dilap basah, sehingga

7
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

dapat dijadikan sebagai dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih
efektif apabila menggunakan dasar salep ini daripada dasar salep hidrokarbon.
Keuntungan lainnya adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan
yang terjadi pada kelainan dermatologik (Elmitra, 2017).

[Link] Dasar Salep Larut Dalam Air


Dasar salep larut dalam air disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari
konstituen larut air. Keuntungan dasar salep ini adalah dapat dicuci dengan air dan
tidak mengandung bahan yang tak larut dalam air seperti parafn, lanolin anhidrat atau
malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut sebagai gel. Beberapa contohnya yaitu PGA,
ciagacant dan PEG (Elmitra, 2017).

2.2.4 Evaluasi Sediaan Salep


Evaluasi salep dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : a) Pengujian
organoleptik, dengan mengamati sediaan salep dari bentuk, bau, dan warna sediaan.
Spesifikasi salep yang harus memiliki bentuk setengah padat, warna sesuai dengan
spesifikasi pada saat pembuatan awal salep dan bau tidak tengik, b) Uji Homogenitas
sediaan, dilakukan dengan mengamati hasil pengolesan salep pada plat kaca. Salep
yang homogen ditandai dengan tidak terdapat gumpalan pada hasil pengolesan, struktur
rata dan warna yang seragam dari titik awal pengolesan sampai titik akhir pengolesan.
Salep yang diuji diambil dari tiga tempat yaitu bagian atas, tengah dan bawah dari
wadah salep, c) Uji pH salep mengunakan alat uji pH universal yang dicelupkan ke
dalam salep. Nilai pH yang baik yaitu 4,5-6,5. pH terlalu asam dapat mengiritasi kulit
sedangkan pH terlalu basa membuat kulit bersisik, d) Uji daya sebar, dilakukan untuk
mengetahui luasnya penyebaran salep pada saat dioleskan di kulit. Daya sebar yang
baik menyebabkan kontak antara obat dengan kulit menjadi luas, sehingga absorbsi
obat ke kulit berlangsung cepat, e) Uji daya lekat, dilakukan untuk mengetahui
kekuatan salep melekat pada kulit, semakin lama salep melekat pada kulit maka
semakin efektif, f) Uji antimikroba dilakukan melalui zona uji penghambatan/uji difusi
sumur menggunakan protokol yang direferensikan dengan beberapa modifikasi
(Lestari, dkk., 2017; Lilyswati dan Sagala, 2019; Verma, dkk., 2021).

8
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Formulasi
R/ Sulfur Precipitate 2%
Vaselin album 25
Setil Alkohol 25
Propilen glikol 12
Na Lauril sulfat 1
Aquadest 37
m.f ung.
s.u.e

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum salep kali ini adalah anak timbangan
gram, anak timbangan miligram, batang pengaduk, beaker glass 100 ml (Pyrex), cawan
penguap, kertas perkamen potong, lumpang dan alu, penangas air, penara, penjepit
tabung, pinset, pipet tetes, serbet, spatula, sudip, timbangan halus, timbangan kasar,
tisu.

3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum salep kali ini adalah akuades, natrium
lauril sulfat, propilen glikol, setil alkohol, sulfur precipitate, dan vaselin album.

3.3 Perhitungan Bahan


Sulfur Precipitate = 2 % x 100 = 2 gram
Vaselin album = 25 gram
Setil alkohol = 25 gram
Propilen glikol = 12 gram
Na lauril sulfat = 1 gram
Akuades ad = 100 - (2+25+25+12+1) = 35 ml

9
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

3.4 Perhitungan Dosis


-

10
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

3.5 Flowsheet
3.5.1 Flowsheet Pembuatan Salep

Na lauril sulfat dan Setil alkohol, propilen


sulfur precipitate glikol, dan vaselin album
- Digerus natrium sulfat - Dimasukkan setil
1 gram di dalam alkohol 25 gram ke
lumpang hingga halus dalam cawan penguap
- Ditambahkan sulfur dan diencerkan di atas
penangas air
precipitate 2 gram ke
- Ditambahkan
dalam lumpang propilen glikol 12
- Digerus hingga gram perlahan dan
homogen diaduk hingga
mencair
- Ditambahkan vaselin
album 25 gram
perlahan dan diaduk
hingga larut

Massa I Massa II

- Dimasukkan massa II ke massa I sedikit


demi sedikit sambil digerus konstan hingga
homogen
- Ditambahkan akuades 35 ml perlahan dan
digerus konstan
- Dimasukkan ke dalam pot sampel

Sediaan salep

11
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

3.5.2 Flowsheet Evaluasi Homogenitas Salep

Sediaan Salep

− Diletakkan sedikit sediaan salep kedalam kertas


pekamen
− Dijepit perlahan dan dilihat apakah terdapat
partikel kasar

Hasil : Sediaan
Homogen 4

12
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Uji Organoleptik

Parameter Uji Hasil

Semi padat dan mudah dioleskan


Bentuk
Syarat: mudah dioleskan
Tidak berbau tengik
Bau
Syarat: tidak boleh berbau tengik

Warna Putih kekuningan

4.1.2 Uji Evaluasi


Evaluasi Hasil Keterangan

Memenuhi syarat
Homogenitas Salep homogen Syarat: tidak terdapat
partikel kasar

4.2 Pembahasan
Pada percobaan kali ini dilakukan pembuatan sediaan salep dengan bahan
akuades, natrium lauril sulfat, propilen glikol, setil alkohol, sulfur precipitate, dan
vaselin album. Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untul pemakaian topikal
pada kulit atau selaput lendir (Kemenkes RI, 2020).
Basis yang digunakan pada pembuatan sediaan salep ini adalah vaselin album
yang termasuk ke dalam tipe basis hidrokarbon. Basis hidrokarbon juga dapat disebut
sebagai basis berlemak. Basis hidrokarbon pada penggunaannya terhadap kulit,
memiliki efek melembutkan, mencegah hilangnya, kelembapan, efektif sebagai
penutup yang oklusif, dapat bertahan pada kulit untuk waktu yang lama tanpa
mengering dan sukar dicuci dengan air karena ketidaklarutannya dengan air

13
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

(Fatmawaty dkk., 2019). Basis salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien,
dan sukar dicuci sehingga memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan
bertindak sebagai pembalut penutup (Kemenkes RI, 2020).
Uji organoleptik mengidentifikasi stabilitas, bau, dan warna yang dilakukan
dengan cara pengamatan (Lisnawati dkk., 2022). Uji organoleptik dilakukan untuk
memeriksa kesesuaian warna, dan penampilan salep dimana sedapat mungkin
mendekati dengan spesifikasi sediaan yang telah ditentukan selama formulasi.
Prinsipnya adalah pemeriksaan warna dan penampilan menggunakan panca indra.
Untuk penafsiran hasilnya untuk warna dan penampilan memenuhi spesifikasi
formulasi yang dibuat (Fatmawaty dkk., 2019). Hasil uji organoleptik yang didapatkan
adalah berbentuk semi padat yang mudah dioleskan, tidak berbau tengik, dan berwarna
putih kekuningan. Hal ini sesuai dengan persyaratan yang tertera pada Farmakope
Indonesia Edisi III, bahwa salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan
dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen
dalam dasar salep yang cocok serta untuk pemerian sediaan salep tidak boleh berbau
tengik (Dirjen POM, 1979).
Pengamatan atas uji homogenitas dilakukan dengan mengamati keseragaman
partikel pada seluruh formula serta mengamati ada atau tidaknya gumpalan serta
butiran kasar yang terbentuk setelah pencampuran bahan. Parameter ini dapat
mengidentifikasi ketercampuran dari setiap bahan yang digunakan. Seluruh racikan
salep dipastikan homogen yang ditunjukkan dengan tercampurnya salep dengan baik
dan menghasilkan warna yang seragam. Sediaan dikatakan homogen apabila warna
yang sragam, tidak ada gumpalan, dan hasil pengolesan didapatkan struktur yang rata
(Lisnawati dkk., 2022). Hasil uji homogenitas didapatkan bahwa sediaan salep adalah
homogen, warnanya tercampur rata serta tidak ada partikel kasar.

14
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
- Pada praktikum kali ini, membuat sediaan salep dengan bahan akuades sebagai
pelarut, natrium lauril sulfat sebagai surfaktan, propilen glikol sebagai pelarut
atau pengawet, setil alkohol sebagai peningkat viskositas, sulfur precipitate
untuk zat aktifnya, dan vaselin album sebagai basis salep.
- Pada sediaan salep dilakukan uji organoleptik dan uji homogenitas. Kedua uji
ini memenuhi syarat, dimana pada uji organoleptik sediaan salep mudah
dioleskan dan tidak berbau tengik, serta pada uji homogenitas sediaan salep
adalah homogen dan tidak memiliki partikel kasar
- Syarat sediaan salep yang baik adalah salep harus berupa semi padat, mudah
dioleskan, melindungi kulit dan tidak berbau tengik

5.2 Saran
- Sebaiknya pada percobaan selanjutnya dapat dilakukan pengujian lain pada
salep, misalnya uji daya sebar
- Sebaiknya pada percobaan selanjutnya dapat digunakan odoris lainnya seperti
oleum cinnamomii

15
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Depkes RepuIik Indonesia.
Halaman 595.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Dirjen POM. Halaman 33
dan 633.
Elmitra. 2017. Dasar-Dasar Farmasetika dan Sediaan Semi Solid. Sleman: Penerbit
Deepublish. Halaman 84-89.

Fatmawaty, A., Nisa, M., dan Rizki, R. 2019. Teknologi Sediaan Farmasi. Yogyakarta:
Deepublish Publisher. Halaman 530 dan 557
Jones, D. 2008. Pharmaceutic-Dosage Form and Design. London: Pharmaceutical
Press. Halaman 77.
Kemenkes RI. 2020. Farmakope Indonesia. Edisi VI. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. Halaman 61, 69, 70, 268, 269, 1446 dan 1584.

Lestari, T., Yunianto, B., dan Winarso, A. 2017. Evaluasi Mutu Salep Dengan Bahan
Aktif Temugiring, Kencur dan Kunyit. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan
Nasional. 2(1): 9-11.
Lilyswati., dan Sagala, Z. 2019. Formulasi Salep Ekstrak Daun Pare (Momordica
charantia L.) dan Uji Aktivitas Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
Bacteria. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal. 3(2): 36 dan 39.
Lisnawati, E., Taurina, W., dan Andrie, M. 2022. Formulasi Salep Ekstrak Ikan Gabus
(Channa striata) dan Madu Kelulut (Heterotrigona itama) sebagai
Antioksidan. JSSCR. 4(3): 525, 526 dan 527.

Verma, H.K., Kumar, V., Ain, S., Kumar, B., dan Ain, Q. 2021. Optimization and
Evaluation of Developed Topical Ointment Formulation Containing Cefadroxil
and Its Antibacterial Activity. International Journal of Pharmaceutical
Research. 13(2): 3087 dan 3089.
Medan, 14 November 2022
Asisten, Praktikan,

(Efifhani Simamora) (Cynthia Alleviona)

16
Cynthia Alleviona
211501105
Salep

LAMPIRAN HASIL

Gambar Keterangan

Sediaan Salep

Uji Homogenitas

17
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner
CamScanner

Anda mungkin juga menyukai