0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan145 halaman

Evaluasi Pengelolaan Air Tambang KalSel

Tugas akhir ini membahas evaluasi pengelolaan air tambang di kolam pengendapan Balimas milik PT Energi Batubara Lestari. Evaluasi ini meliputi perhitungan debit air masuk dan keluar kolam, dimensi kolam yang ideal, serta penurunan kadar Total Suspended Solid di setiap kolam. Hasilnya menunjukkan kolam mampu menurunkan kadar Total Suspended Solid sesuai baku mutu.

Diunggah oleh

resky46
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan145 halaman

Evaluasi Pengelolaan Air Tambang KalSel

Tugas akhir ini membahas evaluasi pengelolaan air tambang di kolam pengendapan Balimas milik PT Energi Batubara Lestari. Evaluasi ini meliputi perhitungan debit air masuk dan keluar kolam, dimensi kolam yang ideal, serta penurunan kadar Total Suspended Solid di setiap kolam. Hasilnya menunjukkan kolam mampu menurunkan kadar Total Suspended Solid sesuai baku mutu.

Diunggah oleh

resky46
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR

EVALUASI PENGELOLAAN AIR TAMBANG DI SETTLING POND BALIMAS


PT ENERGI BATUBARA LESTARI KECAMATAN BUNGUR
KABUPATEN TAPIN
PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Usulan Penelitian

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pada Program


Studi Teknik Pertambangan

Oleh:

ENDRO KUNCORO
1710813310002

KEMENTRIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
BANJARBARU
2022

i
LEMBAR PERSETUJUAN
EVALUASI PENGELOLAAN AIR TAMBANG DI SETTLING POND BALIMAS
PT ENERGI BATUBARA LESTARI KECAMATAN BUNGUR
KABUPATEN TAPIN
KALIMANTAN SELATAN

Oleh :
Endro Kuncoro
NIM. 1710813310002
Disetujui di Banjarbaru,.......................2022

Disetujui Oleh

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Yuniar Siska Novianti, S.T., M.T. Uyu Saismana, S.T., M.T.


NIP. 19870611 201504 2 002 NIP. 19731013 200312 1 001

Mengetahui,
Program Studi Teknik Pertambangan
Koordinator,

Agus Triantoro, S.T., M.T.


NIP. 19800803 200604 1 001

ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

EVALUASI PENGELOLAAN AIR TAMBANG DI SETTLING POND BALIMAS


PT ENERGI BATUBARA LESTARI KECAMATAN BUNGUR
KABUPATEN TAPIN
KALIMANTAN SELATAN

Oleh :
Endro Kuncoro
NIM. 1710813310002

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi dan dinyatakan LULUS


Pada Tanggal . . . . . . . . . 2022

Tim Penguji

Nama Tanda Tangan


1. Ketua : 1.
: NIP.
2. Sekretaris : 2.
: NIP.
3. Anggota : 3.
: NIP.
4. Anggota : 4.
: NIP.
5. Anggota : 5.
: NIP.

Koordinator Program Studi Wakil Dekan Bidang Akademik


Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik ULM

Agus Triantoro, S.T., M.T. [Link]. Meilana Dharma Putra, S.T., M.T., [Link].
NIP. 19800803 200604 1 001 NIP. 19820501 200604 1 014

iii
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan skripsi yang telah saya
buat ini merupakan hasil karya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak
terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali
sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang
lazim.
Demikian pertanyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak
dipaksakan.

Banjarbaru, 2022
Yang Menyatakan,

Endro Kuncoro

iv
LEMBAR PERSEMBAHAN

Sekian dan terimakasih


Tidak menyangka bisa lulus secepat ini 3 tahun 24 bulan

v
ABSTRAK
Evaluasi Pengelolaan Air Tambang di Settling Pond Balimas,
PT Energi Batubara Lestari Kecamatan Bungur
Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan

Endro Kuncoro
Program Studi Teknik Pertambangan, Universitas Lambung Mangkurat

Abstrak

Dengan adanya kegiatan aktivitas penambangan, maka akan


menimbulkan dampak terhadap kualitas lingkungan lebih khususnya pada
kualitas air. Manajemen air penting untuk diperhatikan dalam industri tambang,
sehingga dilakukan suatu metode sistem penyaliran tambang untuk penanganan
air yang akan mencemari sungai, danau, maupun lingkungan sekitar dengan
cara pembuatan kolam pengendapan (settling pond). Kolam pengendapan
berfungsi untuk mengendapkan lumpur atau material lain sehingga air yang
dialirkan dari kolam pengendapan ke sungai sudah jernih, selain itu hal ini juga
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pendangkalan sungai. Kolam
pengendapan juga dapat berfungsi sebagai tempat pengontrol kualitas dari air
yang akan dialirkan keluar kolam pengendapan.
Dari hasil perhitungan, debit yang didapatkan dari limpasan disposal
sebesar 1,005 m3/detik dan pompa sebesar 0,195 m3/detik dengan debit total
1,2 m3/detik. Dimensi kolam yang ideal, didapatkan waktu pemeliharaan kolam
sangat beragam, untuk pemeliharaan kolam waktu tercepat yaitu setelah 20 hari
sedangkan untuk waktu terlama yaitu 2.971 hari. Namun, kolam yang waktu
pemeliharaanya kurang dari 1 tahun yaitu kolam 1 memerlukan waktu selama 20
hari untuk sekali pengerukan, kolam 2 memerlukan waktu selama 40 hari untuk
sekali pengerukan, kolam 3 memerlukan waktu selama 192 hari untuk sekali
pengerukan, dan kolam 4 memerlukan waktu selama 352 hari untuk sekali
pengerukan.
Dengan nilai TSS 5.892 mg/l pada inlet kolam 1 dapat menurunkan nilai
TSS hingga 2.859,67 mg/l, pada outlet kolam 2, dapat turun hingga 1.412,798
mg/l, pada outlet kolam 3 dapat turun hingga 291,005 mg/l dan pada outlet kolam
4 dapat turun hingga 159,903 mg/l. Dari ke-4 kolam tersebut sebenarnya sudah
mampu menurunkan TSS dari 5.892 mg/l hingga sampai 159,903 mg/l dan
sudah sesuai dengan baku mutu PerGub KalSel No.36 tahun 2008 dengan nilai
TSS 200 mg/l.
Kata kunci: Kolam, Pengendapan Debit, Pemeliharaan, TSS

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-
Nya sehingga laporan tugas akhir ini dapat diselesaikan. Penyusunan laporan ini
merupakan syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik
Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat.
Pada kesempatan ini, perkenankan penyusun mengucapkan terima
kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Bani Noor Muhammad , S.T., M.T., selaku Dekan Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
2. Bapak Agus Triantoro, S.T., M.T., selaku Koordinator Program Studi Teknik
Petambangan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
3. Ibu Yuniar Siska Novianti, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing Pertama
Laporan Tugas Akhir.
4. Bapak Uyu Saismana, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing Kedua Laporan
Tugas Akhir.
5. Seluruh Dosen Program Studi S1 Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik,
Universitas Lambung Mangkurat
6. Bapak Bambang Octaryono selaku Kepala Teknik Tambang di PT Energi
Batubara Lestari.
7. Seluruh Staff dan Non Staff PT Energi Batubara Lestari.
8. Serta seluruh teman-teman Mahasiswa Program Studi S1 Teknik
Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat.
Penyusun sangat memohon maaf apabila masih terdapat banyak
kekurangan dan menyadari bahwa Laporan Tugas Akhir ini masih sangat jauh
dari sempurna, oleh karena itu penyusun meharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan Laporan Tugas Akhir ini. Atas
perhatian saya ucapakan terima kasih.
Banjarbaru, 2022

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Halaman
COVER......................................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN ......................................................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ......................................................................iii
LEMBAR PERNYATAAN.......................................................................................iv
LEMBAR PERSEMBAHAN ....................................................................................v
A B S T R A K ...........................................................................................................vi
KATA PENGANTAR .............................................................................................vii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................xi
DAFTAR TABEL ...................................................................................................xii
DAFTAR PERSAMAAN .......................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... I-1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... I-1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... I-2
1.3 Batasan Masalah ........................................................................................... I-2
1.4 Tujuan ............................................................................................................ I-2
1.5 Manfaat .......................................................................................................... I-3
1.6 Sistematika Penulisan.................................................................................... I-3
BAB II TINJAUAN UMUM ................................................................................... II-1
2.1 Kondisi umum Perusahaan........................................................................... II-1
2.1.1. Sejarah Perusahaan ......................................................................... II-1
2.1.2. Gambaran Umum Wilayah Perusahaan ........................................... II-2
2.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah .................................................................. II-2
2.3 Iklim dan Cuaca ............................................................................................ II-4
2.4 Kondisi Geologi Wilayah Perusahaan .......................................................... II-5
BAB III KAJIAN PUSTAKA ............................................................................... III-1
3.1 Siklus Hidrologi ............................................................................................ III-1
3.2 Sistem Penyaliran Tambang........................................................................ III-3
3.2.1. Rencana Penambangan .................................................................. III-3

viii
3.2.2. Curah Hujan ..................................................................................... III-3
3.2.3. Debit Limpasan ................................................................................ III-6
3.3 Saluran Penyaliran....................................................................................... III-9
3.4 Kolam Pengendapan ................................................................................. III-11
3.4.1. Bentuk Kolam Pengendapan (Settling Pond) ................................ III-11
3.4.2. Dimensi Kolam Pengendapan (Settling Pond) .............................. III-13
3.4.3. Persentase Pengendapan ............................................................. III-16
3.4.4. Total Suspended Solid ................................................................... III-18
3.4.5. Pemeliharaan Kolam Pengendapan (Maintenance Settling
Pond) .............................................................................................. III-19
BAB IV METODE PENELITIAN ......................................................................... IV-1
4.1 Diagram Alir Penelitian ................................................................................ IV-1
4.2 Metode Pengumpulan Data ......................................................................... IV-2
4.3 Metode Pengolahan Data ............................................................................ IV-2
4.4 Metode Analisis Data ................................................................................... IV-2
4.5 Kesimpulan dan saran ................................................................................. IV-3
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................... V-1
5.1 Deskripsi Data ............................................................................................... V-1
5.1.1. Data Curah Hujan.............................................................................. V-1
5.1.2. Saluran Terbuka ................................................................................ V-2
5.1.3. Data Topografi ................................................................................... V-3
5.1.4. Debit Pompa MultiFlo 420 ................................................................. V-3
5.1.5. Dimensi Kolam Pengendapan ........................................................... V-4
5.1.6. Data Pengukuran Total Suspended Solid (TSS)............................... V-5
5.2 Pengolahan Data .......................................................................................... V-6
5.2.1. Curah Hujan Rencana ....................................................................... V-6
5.2.2. Intensitas Curah Hujan ...................................................................... V-6
5.2.3. Koefisien Limpasan............................................................................ V-7
5.2.4. Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area).................................... V-7
5.2.5. Perhitungan Debit Limpasan Disposal .............................................. V-7
5.2.6. Debit Air Inlet Kolam Pengendapan .................................................. V-7
5.2.7. Persentase Pengendapan ................................................................. V-8
5.3 Pembahasan ............................................................................................... V-10
5.3.1. Kapasitas Kolam Pengendapan (Settling Pond) Terhadap Debit
Air .................................................................................................... V-10

ix
5.3.2. Persentase Pengendapan Terhadap Nilai Total Suspended Solid
(TSS) ............................................................................................... V-10
5.3.3. Rekomendasi Pemeliharaan (Maintenance) Kolam Pengendapan
(Settling Pond)................................................................................. V-12
5.3.4. Pengaruh Rekomendasi Dimensi Kolam Pengendapan Ideal
Terhadap Perubahan Nilai Total Suspended Solid (TSS).............. V-14
BAB VI PENUTUP .............................................................................................. VI-1
6.1 Kesimpulan .................................................................................................. VI-1
6.2 Saran ............................................................................................................ VI-1
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
Gambar 2.1 Peta Kesampaian Daerah ............................................................... II-3
Gambar 2.2 Peta Geologi Lokasi Penelitian ...................................................... II-7
Gambar 3.1 Siklus Hidrologi ............................................................................... III-1
Gambar 3.2 Zona Kolam Pengendapan ........................................................... III-12
Gambar 3.3 Aliran Air Pada Kolam Pengendapan........................................... III-18
Gambar 4.1 Diagram Alir Penelitian ................................................................... IV-1
Gambar 5.1 Ombrometer ..................................................................................... V-2
Gambar 5.2 Saluran Terbuka .............................................................................. V-2
Gambar 5.3 Peta Topografi Blok 3 ...................................................................... V-3
Gambar 5.4 MultiFlo 420 ..................................................................................... V-4
Gambar 5.5 Kolam Pengendapan ....................................................................... V-4
Gambar 5.6 Portable Water Quality Meter Partech 750w2 ................................. V-6
Gambar 5.7 Inlet Kolam Pengendapan ............................................................... V-8
Gambar 5.8 Diagram Persentase Pengendapan .............................................. V-11
Gambar 5.9 Open Channel Kolam Pengendapan ............................................ V-12
Gambar 5.10 Sketsa Ideal Letak Open Channel Kolam Pengendapan ........... V-12
Gambar 5.11 Waktu Pengerukan Kolam Pengendapan ................................... V-13
Gambar 5.12 Padatan yang Terendapkan ........................................................ V-13
Gambar 5.13 Pengaruh Dimensi Kolam Ideal Terhadap Nilai TSS ..................... 14

xi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
Tabel 2.1 Data Curah Hujan (mm) Bulan September–Desember Tahun 2021.. II-4
Tabel 3.1 Periode Ulang Hujan Rencana ........................................................... III-4
Tabel 3.2 Derajat Hujan ..................................................................................... III-7
Tabel 3.3 Koefisien Limpasan ............................................................................ III-8
Tabel 3.4 Penjabaran Dimensi Paritan ............................................................. III-10
Tabel 3.5 Nilai Kekasaran Manning Untuk Saluran ......................................... III-11
Tabel 3.6 Pembagian Kelas Sedimen .............................................................. III-14
Tabel 3.7 Viskositas Air Terhadap Temperatur ................................................ III-15
Tabel 5.1 Data Curah Harian Maksimum 2011-2022.......................................... V-1
Tabel 5.2 Dimensi Kolam Pengendapan ............................................................. V-5
Tabel 5.3 Pengukuran Total Suspended Solid Pada Kolam Pengendapan ....... V-6
Tabel 5.4 Waktu Partikel Untuk Mengendap ....................................................... V-8
Tabel 5.5 Kecepatan Air Dalam Kolam ............................................................... V-9
Tabel 5.6 Waktu Air Keluar .................................................................................. V-9
Tabel 5.7 Persentase Pengendapan ................................................................. V-10
Tabel 5.8 Baku Mutu Air Aktivitas Penambangan ............................................. V-14

xii
DAFTAR PERSAMAAN

Persamaan Halaman
Persamaan 3.1 .................................................................................................... III-4
Persamaan 3.2 .................................................................................................... III-5
Persamaan 3.3 .................................................................................................... III-5
Persamaan 3.4 .................................................................................................... III-5
Persamaan 3.5 .................................................................................................... III-5
Persamaan 3.6 .................................................................................................... III-6
Persamaan 3.7 .................................................................................................... III-6
Persamaan 3.8 .................................................................................................... III-6
Persamaan 3.9 .................................................................................................... III-7
Persamaan 3.10 .................................................................................................. III-7
Persamaan 3.11 .................................................................................................. III-9
Persamaan 3.12 ................................................................................................ III-13
Persamaan 3.13 ................................................................................................ III-13
Persamaan 3.14 ................................................................................................ III-13
Persamaan 3.15 ................................................................................................ III-16
Persamaan 3.16 ................................................................................................ III-16
Persamaan 3.17 ................................................................................................ III-17
Persamaan 3.18 ................................................................................................ III-17
Persamaan 3.19 ................................................................................................ III-17
Persamaan 3.20 ................................................................................................ III-18
Persamaan 3.21 ................................................................................................ III-19
Persamaan 3.22 ................................................................................................ III-19
Persamaan 3.23 ................................................................................................ III-19
Persamaan 3.24 ................................................................................................ III-19
Persamaan 3.25 ................................................................................................ III-19
Persamaan 3.26 ................................................................................................ III-19

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A DATA CURAH HUJAN HARIAN PT ENERGI BATUBARA


LESTARI SITE RANTAU TAHUN 2011-2021
LAMPIRAN B PERHITUNGAN CURAH HUJAN RENCANA
LAMPIRAN C MENENTUKAN STATISTIK SUATU DISTRIBUSI
LAMPIRAN D MENENTUKAN CURAH HUJAN RENCANA DENGAN
METODE DISTRIBUSI NORMAL DAN INTENSITAS HUJAN
LAMPIRAN E PETA SITUASI AREA DISPOSAL
LAMPIRAN F NILAI KOEFISIEN LIMPASAN
LAMPIRAN G PERHITUNGAN DEBIT YANG AKAN MASUK KE INLET
KOLAM PENGENDAPAN (SETTLING POND)
LAMPIRAN H PERHITUNGAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS)
LAMPIRAN I PERHITUNGAN KECEPATAN PENGEDAPAN PARTIKEL
LAMPIRAN J PERHITUNGAN PERSENTASE PENGENDAPAN
LAMPIRAN K PERHITUNGAN WAKTU PEMELIHARAAN KOLAM
PENGENDAPAN (MAINTENANCE SETTLING POND)
LAMPIRAN L PERHITUNGAN PENGARUH DIMENSI KOLAM
PENGENDAPAN (VOLUME) TERHADAP PERUBAHAN
NILAI TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS)
LAMPIRAN M SKETSA POSISI OPEN CHANNEL PADA KOLAM
PENGENDAPAN
LAMPIRAN M DOKUMENTASI LAPANGAN

xiv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan merupakan kegiatan memindahkan material alam


dibawah permukaan tanah ke atas permukaan tanah untuk pemanfaatan
ekonomis. kegiatan penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral atau
batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,
kontruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengakutan dan
penjualan, serta kegiatan pasca tambang.
PT Energi Batubara Lestari merupakan perusahaan pertambangan
yang merupakan badan perseroan terbatas dan berdomisili di Tapin Utara,
Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan. PT Energi Batubara Lestari
merupakan perusahaan yang bergerak di insustri pertambangan batubara
dengan sistem tambang terbuka dan metode penambangan open pit (PT Energi
Batubara Lestari, 2015).
Salah satu resiko kegiatan dari aktivitas penambangan adalah adanya
air limpasan yang masuk kedalam pit sehingga dapat menimbulkan air asam
tambang. Dalam pengelolaan air asam tambang maka di perlukan kolam
pengendanpan. Kolam pengendapan (settling pond) juga berfungsi untuk
mengendapkan lumpur atau material lain sehingga air yang dialirkan dari kolam
pengendapan ke sungai sudah jernih, selain itu hal ini juga dimaksudkan untuk
mencegah terjadinya pendangkalan sungai. Kolam pengendapan (settling pond)
juga dapat berfungsi sebagai tempat pengontrol kualitas dari air yang akan
dialirkan keluar kolam pengendapan.
Dalam proses pengelolaan air asam tambang pada ada beberapa
permasalahan yang menyebabkan pengelolaan belum dapat berja;an sesuai
dengan fungsinya. Permasalahan yang terjadi di lapangan yaitu air dari aktivitas
kegiatan penambangan yang belum terkelola dengan baik baik dari segi pH dan
TSS dan juga perawatan kolam yang belum berjalan dari segi pengerukan kolam
sehingga menimbulkan beberapa kolam sudah terisi hampir penuh dengan
material yang dimana nantinya bisa berdampak ke kolam selanjutnya.
Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, maka peneliti melakukan
penelitian dengan judul “Evaluasi Pengelolaan Air Tambang di Settling Pond
Balimas PT Energi Batubara Lestari Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin
Provinsi Kalimantan Selatan”

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Berapa debit air yang masuk pada inlet settling pond?
2. Berapa perbandingan kapasitas settling pond dengan debit air yang
masuk pada inlet?
3. Hari ke berapa kolam pengendapan untuk siap dilakukan pengerukan?
4. Bagaimana pengaruh rekomendasi dimensi ideal kolam pengendapan
terhadap nilai TSS?

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan-batasan masalah dalam kegiatan penelitian ini adalah


sebagai berikut :
1. Debit pompa MF240 yaitu 700 m3/jam dengan jam kerja 20 jam/hari.
2. Data total suspended solid (TSS) diambil pada inlet dan outlet settling pond
dengan 4 kali pengambilan.
3. Perhitungan kecepatan dan persentase pengendapan menggunakan gaya
gravitasi dan hukum stokes.
4. Tidak menghitung cost pengerukan settling pond.
5. Tidak memasukan disposal bagian sebelah barat sebagai catchment area.
6. Tidak menghitung pengeringan sump.
7. Tidak membahas jenis-jenis aliran air

1.4 Tujuan
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menghitung debit air yang masuk pada inlet settling pond.
2. Mengevaluasi perbandingan kapasitas settling pond dengan debit air yang
masuk pada inlet.
3. Merekomendasikan dimensi ideal dan waktu pengerukan pada setiap kolam.
4. Menganalisis pengaruh rekomendasi dimensi ideal settling pond terhadap nilai
TSS.

I-2
1.5 Manfaat

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagi Peneliti
Peneliti dapat menghitung pengolahan data curah hujan, mengetahui
dan mengevaluasi permasalahan yang terjadi pada kolam pengendapan.
2. Bagi Perusahaan
Manfaat penelitian bagi perusahaan adalah mendapatkan rekomendasi
waktu pengerukan kolam pengendapan dan efektifitas dimensi ideal kolam
pengendapan terhaap nilai total suspended solid (TSS).
3. Bagi Pembaca
Manfaat bagi pembaca adalah dapat memberikan informasi mengenai
pengolahan air dari kegiatan aktivitas penambangan sebelum di keluarkan ke
aliran bebas sesuai baku mutu yang telah ditetapkan.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan Tugas Akhir (TA) ini memuat uraian


secara garis besar dari tiap-tiap bab dalam laporan Tugas Akhir (TA), dijabarkan
sebagai berikut:
1. BAB I PENDAHULUAN
Mengemukakan mengenai latar belakang dilaksanakan penelitian
disertai identifikasi masalah, pembatasan masalah dan rumusan masalah
mengenai perencanaan kebutuhan material. Bab ini juga mengemukakan tujuan
dan manfaat penelitian ini yaitu untuk memberikan suatu hasil penelitian yang
berguna bagi perusahan pada umumnya dan penulis pada khususnya.
2. BAB II TINJAUAN UMUM
Mengemukakan tentang sejarah dan perkembangan perusahaan,
keadaan umum daerah, keadaan geologi, kegiatan yang terdapat di perusahaan
yang diambil dari literatur-literatur baik melalui data yang dimiliki perusahaan
maupun buku-buku yang berkenaan dengan materi penelitian penulis.
3. BAB III KAJIAN PUSTAKA
Mengemukakan tentang rujukan teori yang menunjang proses analisis
dan interpretasi yang diambil dari literatur-literatur baik itu melalui data yang
dimiliki oleh perusahaan maupun buku-buku yang berkenaan dengan materi
penelitian penulis
I-3
4. BAB IV METODE PENELITIAN
Mengemukakan tentang metode penelitian yang digunakan dalam
pembuatan laporan. Bab ini berisi rancangan penelitian, populasi dan sampel
penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
5. BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Mengemukakan tentang hasil penelitian dan pembahasan data-data
yang diperoleh di lapangan.
6. BAB VI PENUTUP
Mengemukakan tentang kesimpulan dan saran dari seluruh aktivitas
penelitian Tugas Akhir berdasarkan analisis data di pembahasan.

I-4
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Kondisi umum Perusahaan

2.1.1. Sejarah Perusahaan


Pada awalnya kegiatan pertambangan batubara di kecamatan
Lokpaikat, Piani, dan Bungur Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan
dengan kode wilayah KW 96PP0183 dan KW 98PP0112 dilaksanakan oleh
Koperasi Karya Merdeka berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan
Energi Nomor :579.K/2014/[Link]/1997 tanggal 26 Mei 1997 tentang pemberian
Kuasa Pertambangan Eksploitasi (KW 96PP0183) seluas 102,50 ha dan
Keputusan Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor:
588.K/24.01/DJP/2000 tanggal 3 November 2000 tentang Pemberian Kuasa
Pertambangan Eksploitasi (KW 98PP0112) seluas 1.792 Ha.
Pada tahun 2002, Kuasa Pertambangan Eksploitasi KW 96PP0183 dan
KW 98PP0112 dipindahkan dari Koperasi Karya Merdeka kepada Kalimantan.
Energi Batubara Lestari berdasarkan Keputusan Bupati Tapin Nomor: 95 Tahun
2002, tanggal 10 Agustus 2002 yang kemudian ditingkatkan menjadi Izin Usaha
Pertambangan Operasi Produksi dengan Keputusan Bupati Tapin Nomor :
188.45/239/KUM/2009 dan Keputusan Bupati Tapin Nomor :
188.45/241/KUM/2009, tanggal 14 Desember 2009 tentang Penyesuaian Izin
Usaha Pertambangan Operasi Produksi Kalimantan. Energi Batubara Lestari.
Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Bupati Tapin Kalimantan
188.45/61/KUM/2010 tanggal 03 Mei 2010, KW 96PP0183 seluas 102,50 Ha dan
KW 98PP0112 seluas 1.792 ha digabung menjadi satu dengan kode wilayah
Kalimantan10A01OP seluas 1.894,50 ha atas nama Kalimantan Energi Batubara
Lestari.
Sehingga dengan demikian,sejak tahun 2002 semua hak dan kewajiban
Koperasi Karya Merdeka sehubungan dengan kuasa pertambangan tersebut
beralih kepada Kalimantan Energi Batubara Lestari. Dalam rangka optimalisasi
pemanfaatan cadangan batubara dan untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan
pasar, maka Kalimantan. Energi Batubara Lestari meningkatkan kapasitas
produksinya hingga 15 juta ton / tahun pada areal seluas 1.894,50 ha
(Kalimantan10A01OP) sesuai persetujuan Studi Kelayakan dan AMDAL.
2.1.2. Gambaran Umum Wilayah Perusahaan
Lokasi kegiatan Pertambangan PT Energi Batubara Lestari secara
administratif berada di kecamatan Lokpaikat, Piani, dan Bungur Kabupaten
Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan dengan kode wilayah KW 96PP0183 dan KW
98PP0112 dilaksanakan oleh Koperasi Karya Merdeka.
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor
:579.K/2014/[Link]/1997 tanggal 26 Mei 1997 tentang pemberian Kuasa
Pertambangan Eksploitasi (KW 96PP0183) seluas 102,50 ha dan Keputusan
Direktur Jenderal Pertambangan Umum Nomor: 588.K/24.01/DJP/2000 tanggal 3
November 2000 tentang Pemberian Kuasa Pertambangan Eksploitasi (KW
98PP0112) seluas 1.792 Ha.
(PT Energi Batubara Lestari, 2015:I.1-II.11)

2.2 Lokasi dan Kesampaian Daerah

Untuk mencapai lokasi penelitian, dari Banjarbaru dapat ditempuh


menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat menuju desa Bungur
dengan jarak ± 72 kilometer dalam waktu tempuh sekitar 1,5 jam melalui jalan
darat seperti yang terlihat pada Gambar 2.1.

II-2
Gambar 2.1
Peta Kesampaian Daerah
II-3
2.3 Iklim dan Cuaca
Daerah penelitian termasuk daerah beriklim tropis, yang dicirikan oleh
adanya dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Musim hujan
mulai bulan Oktober dan berakhir bulan Juni. Musik kemarau terjadi pada bulan
Juli, Agustus dan September. Data curah hujan di lokasi penelitian dari bulan
September sampai dengan bulan Desember 2021 dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1
Data Curah Hujan (mm) Bulan September – Desember Tahun 2021

Bulan (mm)
Tanggal
September Oktober November Desember
1 - - 0.5 11.5
2 7.5 4 - -
3 2 29 2 16.5
4 7 1 23.5 4.5
5 4.5 21 3.5 4
6 - - - 6
7 1.5 0.5 126 33
8 - - - 0.5
9 - - 4.5 16
10 - 1 16 3
11 29 3 7.5 22.5
12 1.5 - 4.5 7
13 3 - 18 6.5
14 3.5 - 20 13
15 7.8 - 1 1
16 0.2 - 6.5 2
17 2.5 59 2.5 5
18 - - 37.5 1
19 - 34 4.5 10
20 - - - 31
21 10 - 5 1
22 - - 1 6.5
23 9.5 - 5 2.5
24 34 - 3.5 10
25 - 0.5 25 6.5
26 59.00 - 41.00 13.50
27 - 8.50 19.50 6.00
28 1.50 10.50 20.00 14.50
29 - 7.50 9.00 5.00
30 4.00 1.00 13.00 -
31 - - - 23.00
*Sumber: PT Enenrgi Batubara Lestari

II-4
2.4 Kondisi Geologi Wilayah Perusahaan

1. Morfologi
Sebagian besar satuan batuan di area PT Energi Batuabara Lestari
termasuk dalam Formasi Warukin yang tersusun dari batupasir kuarsa dan
batulempung serta lapisan batubara yang berumur Miosen Tengah sampai
Miosen Akhir. Sedangkan sebagian satuan batuan lainnya disisi barat termasuk
dalam Formasi Dahor yang tersusun dari batupasir kuarsa lepas berbutir sedang
terpilah buruk, konglomerat lepas dan batulempung lunak serta berumur Plio-
Plistosen. Formasi ini tersingkap di sebelah Barat laut daerah penyelidikan yang
sebarannya memanjang hampir Timurlaut-Baratdaya. Batuan penyusunnya
terdiri dari batulempung yang berselang–seling dengan lapisan-lapisan tipis
batupasir dan batulanau, sedangkan batubara dan bitumen padat terdapat
sebagai sisipan.
Batulempung berwarna abu-abu sampai abu-abu pucat, umumnya
lunak, dipermukaan 5ar ai menyerpih, 5ar ai sampai berlapis baik, setempat
mengandung pita-pita dan fragmen-fragmen batubara, kadang-kadang terdapat
oksida besi mengisi rekahan-rekahan halus. Tebal lapisan batu lempung antara
50 cm- 15 m. Batupasir kuarsa, berwarna abu-abu sampai abu-abu kecoklatan,
mudah hancur- keras, berbutir halus – kasar, bentuk butir menyudut-menyudut
tanggung, kemas tertutup, terpilah baik, didominasi oleh kuarsa dengan masa
dasar lempung dan oksida besi, setempat mengandung fragmen-fragmen
batubara; struktur sedimen yang teramati adalah silang siur. Ketebalan dari
lapisan batupasir ini berkisar antara 10 cm – 1 m.
2. Stratigrafi
Stratigrafi daerah penelitian yang hanya dibatasi pada Formasi
pembawa bitumen padat yaitu Formasi Dahor dan Formasi Warukin. Hasil
penyelidikan ini didasarkan pada hasil pemboran dan pemetaan geologi di
permukaan. Secara regional daerah penyelidikan termasuk kedalam Cekungan
Barito yang merupakan satu sistem fisiografi Pegunungan Meratus yang
terbentang dengan arah Baratdaya-Timurlaut. Batuan dasar dari Cekungan
Barito adalah batuan Pra-Tersier, sedangkan batuan Tersier pengisi Cekungan
Barito ini terdiri dari Formasi Tanjung, Formasi Berai, Formasi Warukin, Formasi
Dahor dan Endapan Kuarter (Aluvium).
Batuan Pra-Tersier yang tersingkap adalah Formasi Pitap yang terdiri
dari perselingan antara batulanau dengan batupasir halus sampai kasar dengan
II-5
sisipan konglomerat dan breksi, dimana sebagian telah terkersikan. Formasi ini
berumur Kapur Bagian Atas yang diendapkan dengan baik di Tapin.
(PT Energi Batubara Lestari, 2015:III.1-III.4).
Batuan Sedimen Tersier yang tersingkap di daerah penyelidikan terdiri
dari beberapa formasi batuan yang muda ke formasi yang tua yaitu:
1. Formasi Dahor (TQd)
Batupasir kuarsa lepas berbutir sedang terpilah buruk, konglomerat
lepas dengan komponen kuarsa berdiameter 1-3 cm, batulempung lunak,
setempat dijumpai lignit dan limonit, terendapkan dalam lingkungan fluviatil
dengan ketebalan sekitar 250 meter dan berumur Plio-Plistosen.
2. Formasi Warukin (Tmw)
Batupasir kuarsa dan batulempung dengan sisipan batubara,
terendapkan dalam lingkungan fluviatil dengan ketebalan sekitar 400 meter
dan berumur Miosen Tengah sampai dengan Miosen Akhir.
3. Formasi Berai (Tomb)
Batugamping mengandung fosil foraminifera besar seperti
orbitodeus, Spiroclypeus sp, dan lain-lain, yang menunjukan umur Oligosen-
miosen Awal dan bersisipan napal, terendapakan dalam lingkungan neritic
dan mempunyai ketebalan sekitar 1000 meter..
(Heriyanto dan Sanyoto,1994)

II-6
Gambar 2.2
Peta Geologi Lokasi Penelitian

II-7
BAB III
KAJIAN PUSTAKA

3.1 Siklus Hidrologi


Secara umum air di bumi ini mempunyai volume yang tetap, tetapi
berubahwujudnya sesuai dengan kondisi lingkungan keberadaannya membentuk
suatu siklus yang dikenal dengan siklus hidrologi (Gambar 3.1). Siklus hidrologi
merupakan proses kontinu dimana air bergerak dari bumi ke atmosfer melalui
proses konensasi, prepitasi, evaporasi dan transpirasi. Air di permukaan tanah
dan laut menguap ke udara. Uap air tersebut bergerak dan naik ke atmosfer,
yang kemudian mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air yang
berbentuk awan. Selanjutnya titik air tersebut jatuh sebagai hujan ke permukaan
laut dan daratan (Darwis, 2018: 39-40).
Hujan jatuh sebagian tertahan oleh tumbuhan (intersepsi) dan
selebihnya sampai ke permukaan tanah. Sebagian air akan meresap ke
permukaan tanah (infiltrasi) dan sebagian mengalir di atas permukaan tanah
(aliran permukaan/surface run off) mengisi cekungan tanah, danau, dan masuk
ke sungaidan akhirnya ke laut (Triatmodjo, 2008: 3).

Sumber: Darwis, 2018: 40

Gambar 3.1
Siklus Hidrologi

Melaui ilustrasi pada gambar 3.1 dapat dijelaskan bahwa proses siklus
hidrologi dapat dimulai darimana saja, mulai dari penguapan, hujan, peresapan
atau limpasan akan mengalami siklus yang sama. Proses siklus hidrologi
tersebut akana dapat berjalan secara cepat maupun lambat tergantung kondisi
fisik alam masing-masing daerah. Keberadaan air di daratan sangat tergantung
kemampuan daratan untuk menahan air agar tidak segera menjadi limpasan,
semakin besar kemampuan untuk menahan air, maka semakin banyak air yang
meresap ke dalam tanah dan akan berfungsi sebagai cadangan, demikian
dengan sebaliknya.
1. Presipitasi adalah curahan atau jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan
bumi dan laut dalam bentuk yang berbeda, yaitu hujan di daerah tropis dan
curah hujan serta salju di daerah yang beriklim sedang.
2. Infiltrasi adalah proses yang terjadi karena hujan yang jatuh di atas
permukaan tanah sebagian dan seluruhnya akan mengisi pori-pori tanah.
Curah hujan yang mencapai permukaan tanah akan bergerak sebagai air
limpasan permukaan atau sebagai infiltrasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi infiltrasi adalah:
a. Faktor tanah, terutama yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik tanah
seperti ukuran butir dan struktur tanah.
b. Vegetasi atau tumbuh-tumbuhan.
c. Faktor lain, seperti kemiringan tanah, kelembaban tanah dan suhu air.
3. Evapotranspirasi adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari permukaan
tanah, air dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer. Merupakan
gabungan dari evaporasi dan transpirasi. Evaporasi adalah proses
penguapan dari permukaan air yang terbuka. Transpirasi adalah proses
pernguapan pada tumbuh-tumbuhan melalui sel-sel stomata. Faktor-faktor
yang mempengaruhi evapotranspirasi adalah:
a. Radiasi matahari, karena proses perubahan air dari wujud cari menjadi
gas memerlukan panas (penyinaran matahari secara langsung).
b. Angin yang berfungsi membawa uap air dari suatu tempat ke tempat lain.
c. Suhu dan kelembaban relatif.
d. Jenis tumbuhan, karena evapotranspirasi dibatasi oleh persediaan
kelembaban air yang diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan serta ukuran
stomata.
e. Jenis tanah, karena kadar kelembaban tanah membatasi persediaan air
yang diperlukan tumbuhan.
(Darwis, 2018: 41-45)

III-2
3.2 Sistem Penyaliran Tambang

Pengertian dari sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang


diterapkan pada daerah penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau
mengeluarkan air yang masuk ke daerah penambangan (Gautama,2019:2).
Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah terganggunya aktivitas penambangan
akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada musim hujan.
Selain itu, sistem penyaliran tambang ini juga dimaksudkan untuk memperlambat
kerusakan alat serta mempertahankan kondisi kerja yang aman, sehingga alat-
alat mekanis yang digunakan pada daerah tersebut dapat beraktifitas dengan
optimal.
Dalam merancang suatu desain penyaliran tambang ada beberapa
parameter yang diperlukan guna mendesain sistem panyaliran yang dibutuhkan
untuk mengendalikan air limpasan. Adapun parameter-parameter yang
dibutuhkan, yaitu rencana penambangan (topografi), curah hujan, daerah
tangkapan hujan (catchmen area), dan air limpasan (run off). Berikut faktor-faktor
yang mempengaruhi sistem penyaliran tambang:
3.2.1. Rencana Penambangan
Rencana penambangan dibutuhkan untuk mengetahui sejauh apa
bukan lahan baru atau pergerakan tambang. Sehingga terjadi perubahan daerah
yang baik dari segi luasan area maupun elevasinya yang dapat mempengaruhi
pergerakan air atau masuknya air ke dalam area penambangan. Dengan
mengetahui rencana penambangan yang akan dilakukan maka dapat ditentukan
daerah tangkapan hujan (catchmen area) dan ketinggian dari area buangan air.
3.2.2. Curah Hujan
Pengertian curah hujan adalah ketinggian air hujan yang terkumpul
dalam suatu tempat yang datar dimana curah hujan 1 (satu) milimeter artinya
dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi
satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter (Triatmodjo, 2008: 24).
Analisa terhadap curah hujan ini dapat dilakukan dua metode. Annual
maksimum series yaitu metode dengan mengambil satu data maksimum setiap
tahunnya yang berarti bahwa hanya besaran maksimum setiap tahun saja yang
dianggap berpengaruh dalam analisa data penelitian. Partial Duration Series
yaitu metode dengan menentukan lebih dahulu batas awal tertentu curah hujan,
selanjutnya data yang lebih besar dari batas bawah tersebut diambil dan
dijadikan data yang akan dianalisa (Gautama, 2019: 5).
III-3
Pengolahan data curah hujan ini digunakan untuk menentukan curah
hujan rencana pada periode tertentu yang dapat digunakan untuk menentukan
suatu sistem penyaliran yang sesuai dengan kebutuhan tambang. Pengolahan
data curah hujan akan meliputi perhitungan periode ulang hujan dan perhitungan
hujan rencana atau forecast rainfall (Triatmodjo, 2008: 212).
a. Periode ulang hujan
Periode ulang hujan adalah waktu hipotetik dimana curah hujan atau
debit dengan besaran tertentu (xt) akan tercapai atau terlampaui pada periode
tersebut. Dari penentuan periode ulang hujan dapat diketahui bahwa semakin
besar penentuan periode ulang hujannya maka nilai curah hujannya akan
semakin tinggi dan probabilitas pencapaiannya akan semakin besar.
Kemungkinan terjadinya adalah satu kali dalam batas periode (tahun) ulang yang
ditetapkan (Triatmodjo, 2008: 216-217).
Berikut adalah tabel periode ulang hujan berdasarkan kondisi yang ada:

Tabel 3.1
Periode Ulang Hujan Rencana
Kondisi PUH (tahun)

Daerah terbuka 0,5

Sarana tambang 2-5

Lereng tambang dan penimbunan 5-10

Sumuran utama 10-25

Penyaliran keliling tambang 25

Pemindahan aliran sungai 100


Sumber: Gautama, 2019: 17

Hubungan antara periode ulang hujan dengan factor resiko adalah


sebagai berikut:

1 TL
Pt=1- (1- ) ……………………………………………………… Persamaan 3.1
Tt

Keterangan :
Pt = Resiko hidrologi
Tt = Periode ulang
TL = Umur tambang
(Regita, 2021)
III-4
b. Curah hujan rencana
Curah hujan rencana dilakukan untuk mengetahui curah hujan
maksimum yang akan terjadi dengan besaran tertentu sesuai dengan periode
ulang hujannya. Untuk menghitung curah hujan maksimal pada daerah sekitar
menggunakan metode Gumbel berdasarkan analisis frekuensi dari data curah
hujan maksimum.
Berikut rumus untuk menghitung curah hujan rencana:

Xt= X̅ + k . s …………………………………………………………… Persamaan 3.2


Keterangan :
Xt = Curah hujan rencana
X̅ = Curah hujan rata-rata
k = Faktor frekuensi
S = Standar deviasi
Untuk nilai S (standar deviasi) dapat dihitung dengan persamaan:

(Xi - X̅)
S=√ ………………………………………….……………… Persamaan 3.3
n-1

Keterangan :
S = Standar deviasi
Xi = Curah hujan tahunan
X̅ = Curah hujan rata-rata
n = Jumlah data
Nilai k atau faktor frekuensi dapat dihitung dengan persamaan:
Yt - Yn
k= …………………………………………………………… Persamaan 3.4
Sn
Keterangan :
k = Faktor frekuensi
Yt = Reduce variate
Yn = Reduce mean
Sn = Reduce Standar deviasi
Untuk perhitungan Yt (reduce variate) dapat menggunakan persamaan:
T-1
Yt= - ln (- ln- ) …………………………………………………. Persamaan 3.5
T
Keterangan :
Yt = Reduce variate
T = Waktu periode ulang hujan

III-5
Untuk perhitungan Yn (reduce mean) dapat menggunakan persamaan:

n+1-m
Yn = - ln (ln- m ) …………………………………………….. Persamaan 3.6
( )
n+1
Keterangan :
Yn = Reduce mean
n = Jumlah data
m = Peringkat curah hujan terbesar
Untuk perhitungan Sn (reduce standar deviasi) dapat menggunakan persamaan:

Ʃ(Yn - Yn̅)2
S=√ ……………………………………………………… Persamaan 3.7
n-1

Keterangan :
Yn = Reduce mean
Yn̅ = Reduce mean rata-rata
n = Jumlah data
3.2.3. Debit Limpasan
Debit Debit limpasan adalah air hujan yang mengalir bergerak dari
elevasi tinggi ke elevasi yang lebih rendah sebelum mencapai saluran. Untuk
mengetahui besarnya debit air limpasan itu menggunakan persamaan rasional,
yaitu:
Q = 0,278 . C . I . A ……………………………………………… Persamaan 3.8
Keterangan :
Q = Debit air limpasan maksimum (m3/detik)
C = Koefisien limpasan
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Luas daerah tangkapan hujan (km2)
Dalam hitungan debit limpasan terdapat beberapa parameter yang perlu
dihitung terlebih dahulu, diantaranya sebagai berikut:
a. Intensitas curah hujan
Intensitas akan mempengaruhi besarnya volume atau tingginya curah
hujan pada periode waktu tertentu. Sehingga dapat diketahui jumlah volume air
hujan yang akan terjadi perharinya. Perhitungan intensitas curah hujan ini
dilakukan dengan menggunakan rumus mononobe. Perhitungan intensitas ini
dilakukan untuk menentukan jumlah curah hujan yang terjadi per jam sehingga
dapat diketahui jumlah debit limpasan yang akan terjadi.

III-6
Persamaan Mononobe yaitu sebagai berikut:
2
R24 24 3
I= ( ) ……………………………………………………… Persamaan 3.9
24 t

Keterangan :
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
t = Lama waktu hujan (jam)
R24 = Curah hujan maksimum harian dalam 24 jam (mm)
Untuk menghitung curah hujan maksimum harian (R 24) dapat digunakan rumus:
S
R24 = X̅ + (Yt - Yn) …………………………………………… Persamaan 3.10
Sn
Keterangan :
R24 = Curah hujan maksimum harian dalam 24 jam (mm)
X̅ = Curah hujan rata-rata
S = Standar deviasi
Sn = Reduce Standar deviasi
Yt = Reduce variate
Yn = Reduce mean
(DPUTR, 2013)
Hasil dari intensitas curah hujan dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa parameter. Berikut hubungan antara derajat curah hujan dan intensitas
curah hujan dijelaskan pada tabel (3.2) sebagai berikut :

Tabel 3.2
Derajat Hujan

Intensitas Curah Hujan


Derajat Hujan Kondisi
(mm/jam)
Hujan lemah 0,02 – 0,05 Tanah basah semua
Hujan normal 0,02 – 0,05 Bunyi hujan terdengar
Air tergenang diseluruh
Hujan deras 0,25 – 1,00 permukaan dan terdengar bunyi
dari genangan
Hujan sangat Hujan seperti ditumpahkan,
>1,00
deras saluran pengairan meluap
Sumber: Gautama, 2019: 21

III-7
b. Koefisien Limpasan
Jenis-jenis material yang terdapat pada area tambang sangat
berpengaruh terhadap laju infiltrasi air limpasan. Karena setiap material memiliki
karakteristik atau nilai koefisien masing-masing. Semakin besar koefisien
limpasan berarti sifat dari material impermeable atau material sulit untuk
melakukan infiltrasi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi koefisien limpasan yaitu kondisi
tanah. Laju infiltrasi turun pada hujan yang terus menerus mengakibatkan
material jenuh sehingga tidak mampu melakukan infiltrasi dan juga dipengaruhi
oleh kondisi kejenuhan air sebelumnya. Faktor lain yang juga mempengaruhi
nilai C adalah air tanah, derajat kepadatan tanah, porositas tanah dan simpanan
depresi. Beberapa parameter untuk menentukan kebijakan limpasan ditunjukkan
pada tabel (3.3) sebagai berikut:
Tabel 3.3
Koefisien Limpasan

Kemiringan Tutupan/Jenis Lahan C

Sawah, rawa 0,2

<3% (datar) Hutan, perkebunan 0,3

Perumahan, kebun 0,4

Hutan, perkebunan 0,4

Perumahan, kebun 0,5


3% - 15% (sedang)
Tumbuhan jarang 0,6

Lahan terbuka, daerah penimbunan 0,7

Hutan 0,6

Perumahan, kebun 0,7


>15% (curam)
Tumbuhan jarang 0,8

Lahan terbuka, daerah tambang 0,9


Sumber: Gautama, 2019:13

c. Daerah Tangkapan Hujan (catchmen area)


Daerah tangkapan hujan merupakan suatu kawasan berupa cekungan
yang dibatasi oleh pembatas topografi berupa igir (punggungan bukit) (Linsley
R.K., 1975). Dengan kata lain, daerah tangkapan hujan merupakan batas wilayah

III-8
yang memungkinkan air masuk kedalam suatu area yang akan ditentukan
berdasarkan perbedaan elevasi. Dimana area yang akan masuk ke dalam
cakupan daerah tangkapan hujan merupakan area masuknya air ke dalam daerah
yang ditentukan sehingga akan membentuk polygon tertutup yang disesuaikan
dengan topografi.
Daerah tangkapan hujan ini dibatasi oleh pegunungan dan bukit-bukit
yang diperkirakan akan mengumpulkan air hujan sementara. Setelah daerah
tangkapan hujan ditentukan, maka diukur luasnya pada peta kontur, yaitu
dengan menarik hubungan dari titik-titik yang tertinggi disekeliling tambang
membentuk poligon tertutup, dengan melihat kemungkinan arah mengalirnya air
(Suwandhi, 2004:31). Dengan begitu maka luas dihitung dengan menggunakan
software (misal : Program Autocad, Minescape, Global Mapper).

3.3 Saluran Penyaliran

Saluran penyaliran diperuntukkan untuk menampung dan menyalirkan


air dari air limpasan sehingga mengalir menuju kolam. Desain saluran umumnya
disesuaikan dengan debit air, tipe material saluran, dan kemudahan dalam
pembuatan saluran yang sesuai dengan kondisi dilapangan serta mengacu pada
debit air yang masuk ke dalam saluran.
Untuk menghitung dimensi saluran yaitu dengan menggunakan rumus
Robert Manning, seperti:
1⁄ 1⁄
1 2 2
Q= .A. S .R ………………………………………… Persamaan 3.11
n

Keterangan :
Q = Debit (m3/detik)
n = Koefisien kekasaran Manning
A = Luas penampang basah (m2)
S = Gardien (%)
R = Jari-jari hidrolik = A/P (m)
Adapun untuk dimensi yang akan dibuat bisa bervariasi sesuai dengan
kebutuhan. Untuk penjabaran dimensi paritan dapat dilihat pada tabel 3.4.

III-9
Tabel 3.4
Penjabaran Dimensi Paritan

Rumus Manning
Luas (A) = (b + xy) . y

Keliling basah (P) = b + 2y.√1 + 𝑥2


(𝑏+𝑥𝑦).𝑦
Jari-jari hidrolik (R) =
𝑏+2𝑦 √1+𝑥2

Lebar puncak (T) = by + 2xy


(𝑏+2𝑥𝑦).𝑥𝑦
Faktor penampang (Z) =
𝑏+2𝑥𝑦
(𝑏+𝑥𝑦).𝑦
Kedalaman hidraulik (D) =
𝑏+2𝑥𝑦
2
Luas (A) = x.y

Keliling basah (P) = 2y.√1 + 𝑦2


Jari-jari hidrolik (R) = 𝑥.𝑦
2.√1+𝑥2

Lebar puncak (T) = 2.x.y


√2
Faktor penampang (Z) = . 𝑥𝑦1,5
2

Kedalaman hidraulik (D) = 1⁄2 . 𝑦

Luas (A) = 1.(∅ - sin ∅).D2


8

Keliling basah (P) = 1.∅D


2
sin ∅
Jari-jari hidrolik (R) = 1 (1 − .D
)
4 ∅
sin ∅
Lebar puncak (T) = .D
2

1,5
Faktor penampang (Z) = √2.(∅1 −𝑠𝑖𝑛∅
0,5
)
.D2,5
32.(𝑠𝑖𝑛 .∅)
2
(𝑏+𝑥𝑦).𝑦
Kedalaman hidraulik (D) =
𝑏+2𝑥𝑦

Luas (A) = b.y


Keliling basah (P) = b + 2y
Jari-jari hidrolik (R) = 𝑏. 𝑦
𝑏+2𝑦

Lebar puncak (T) = b


Faktor penampang (Z) = b.y1,5 Kedalaman
hidraulik (D) = y
Sumber: Chow, V.T., 1985

III-10
Untuk penentuan koefisien manning dapat ditentukan berdasarkan jenis
materialnya. Nilai koefisien manning dapat dilihat pada tabel 3.5.
Tabel 3.5
Nilai Kekasaran Manning Untuk Saluran

No. Tipe Dinding Saluran Nilai n


1 Semen 0,010-0,014
2 Beton 0,011-0.016
3 Batu 0,012-0,020
4 Besi 0,010,017
5 Tanah 0.020- 0,030
Sumber: Gautama, 2019: 20

3.4 Kolam Pengendapan

Kolam pengendapan (settling pond) untuk daerah penambangan,


adalah kolam yang dibuat untuk menampung dan mengendapkan partikel air
limpasan yang berasal dari daerah penambangan maupun daerah sekitar
penambangan. Nantinya air tersebut akan dibuang menuju tempat pembuangan,
seperti sungai, rawa, danau dan lainnya (Hartono, 2013: 1).
Kolam pengendapan (settling pond) digunakan sebagai tempat
penampungan air sementara untuk dilakukan treatment sebelum dialirkan ke
lingkungan maupun aliran air lainnya. Fungsi dari kolam pengendapan sendiri
adalah untuk mengendapkan lumpur atau material padatan tambang yang
bercampur dengan air limpasan yang disebabkan adanya aktivitas
penambangan, dan sebagai tempat pengontrol kualitas air yang akan dialirkan
keluar kolam pengendapan.
3.4.1. Bentuk Kolam Pengendapan (Settling Pond)
Bentuk kolam pengendapan (settling pond) biasanya hanya digambarkan
secara sederhana, yaitu berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Tetapi
sebernarnya bentuk tersebut dapat bermacam-macam disesuaikan dengan
keperluan dan keadaan lapangannya. Walaupun bentuk dapat bermacam-
macam, namum pada setiap kolam pengendapan akan selalu ada 4 zona penting
yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan (gambar 3.2).

III-11
Kolam pengendapan dibagi menjadi 4 zona pengendapan, yaitu:
a. Zona masukan (inlet zone)
Zona ini merupakan zona masuknya air limpasan yang masih bercampur
dengan material yang terbawa oleh air ke dalam kolam pengendapan.
b. Zona pengendapan (settlement zone)
Zona ini merupakan tempat dimana material-material padatan yang terbawa
oleh air limpasan mengendap.
c. Zona endapan lumpur (sediment zone)
Zona ini merupakan tempat material yang tercampur oleh air mengalami
proses sedimentasi.
d. Zona keluaran (outlet zone)
Zona ini merupakan tempat keluarnya air dari kolam pengendapan. Dimana
pada zona ini air sudah dalam kondisi sesuai dengan batas baku mutu yang
ditetapkan.

Sumber: Hartono, 2013: 3


Gambar 3.2
Zona Kolam Pengendapan

Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif,


harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti :
a. Sebaiknya bentuk kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok (zig-zag), agar
kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat
mengendap.
b. Geometri kolam pengendapan harus disesuaikan dengan ukuran alat yang
biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, seperti
mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam.

III-12
3.4.2. Dimensi Kolam Pengendapan (Settling Pond)
Luas kolam pengendapan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Keterangan:

Q total
A= ……………………………………………………… Persamaan 3.12
Vt
Keterangan:
A = Luas kolam pengendapan (m2)
Q total = Debit air total (m3/detik)
Vt = Kecepatan pengendapan (m/detik)
Untuk menentukan luas kolam pengendapan secara analitis dapat
dihitung berdasarkan parameter dan anggapan (asumsi) sebagai berikut:
a. Diameter partikel padatan yang keluar dari kolam pengendapan (settling
pond) tidak boleh lebih dari 9 x 10-6 m, karena akan menyebabkan
pendangkalan dan kekeruhan sungai.
b. Kekentalan air 1,3 x 10-6 kg/m3.
c. Partikel padatan dalam lumpur adalah material yang sejenis.
d. Kecepatan pengendapan material.
e. Perbandingan cairan padatan diketahui.
Kecepatan pengendapan dapat dihitung dengan menggunakan hukum
Stokes dan hukum Newton. Hukum Stokes berlaku bila padatannya kurang dari
40% sedangkan bila persen padatan lebih dari 40% berlaku hukum Newton,
seperti berikut:
Hukum Stokes

g . D2 (ρp - ρa)
Vt = ……………………………………………. Persamaan 3.13
18µ
Keterangan:
Vt = Kecepatan pengendapan partikel (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
D = Diameter partikel padatan (m)
ρp = Berat jenis partikel padatan (kg/m3)
ρa = Berat jenis air (kg/m3)
µ = Viskositas dinamik air (kg/m.s)
Hukum Newton:

4 . g . D (ρp - ρa 0,5
Vt = ( ) …………………………………… Persamaan 3.14
3Fg

III-13
Keterangan:
Vt = Kecepatan pengendapan partikel (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
D = Diameter partikel padatan (m)
ρp = Berat jenis partikel padatan (kg/m3)
ρa = Berat jenis air (kg/m3)
Fg = Nilai Koefisien Tahanan
(Hartono, 2013: 1-9)
Untuk diameter partikel dapat menggunakan ukuran diameter sedimen
daripembagian kelas sedimen pada yang terdapat di dalam air (Tabel 3.6).
Tabel 3.6
Pembagian Kelas Sedimen

Kelas Ukuran (mm)


Batu sangat besar 2000 – 4000
Besar 1000 – 2000
Sedang 500 – 1000
Kecil 250 – 500
Kerakal besar 130 – 250
Kecil 64 – 130
Kerikil sangat kasar 32 - 64
Kasar 16 – 32
Sedang 8 – 16
Halus 4–8
Sangat halus 2–4
Pasir sangat kasar 1–2
Kasar 0,5 – 1
Sedang 0,25 – 0,5
Halus 0,125 – 0,25
Sangat halus 0,062 – 0,125
Debu kasar 0,031 – 0,062
Sedang 0,016 – 0,031
Halus 0,008 – 0,016
Sangat halus 0,004 – 0,008
Liat kasar 0,0020 – 0,0040
Sedang 0,0010 – 0,0020
Halus 0,0005 – 0,0010
Sangat halus 0,00024 – 0,0005
Sumber: Wenworth, 1922
III-14
Karena semua sedimen berasal dari material batu. Oleh sebab itu
segala unsur material induk (parent material) dapat ditemukan di sedimen.
Sebagai contoh, fragmen dari induk batuan ditemukan di batu besar dan kerikil,
kuarsa pada pasir, silika pada lumpur, serta feldspars dan mika pada
tanah liat. Densitas dari kebanyakan sedimen yang lebih kecil dari 4 mm adalah
2,650 kg/m3 (graviti spesifik, s = 2,65). Densitas dari mineral lempung (clay)
berkisar dari 2,500 sampai 2,700 kg/m3.
Untuk besarnya massa jenis air (ρa) tidak tetap tergantung pada suhu,
tekanan dan larutan. Pada air tawar memiliki nilai ρa = 1000 kg/m3 dan air laut
memiliki nilai 20 ρa = 1025 kg/m3. Pada perhitungan angkutan sedimen,
pengaruh perbedaan kerapatan pada umumnya diabaikan.
Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar
kecilnya gesekan di dalam fluida. Makin besar viskositas fluida, makin sulit suatu
fluida mengalir dan makin sulit suatu benda bergerak di dalam fluida tersebut. Di
dalam zat cair, viskositas dihasilkan oleh gaya kohesi antar molekul zat cair,
sedangkan dalam gas, viskositas timbul sebagai akibat tumbukan antar molekul
gas. Untuk menentukan viskositas air kita dapat menggunakan tabel berikut:

Tabel 3.7
Viskositas Air Terhadap Temperatur

Viskositas
Temperatur (˚C)
(x 10-3 N.s/m2)
0 1,79 x 10-3
5 1,51 x 10-3
10 1,31 x 10-3
15 1,14 x 10-3
20 1,00 x 10-3
25 8,91 x 10-3
30 7,96 x 10-3
35 7,20 x 10-3
40 6,53 x 10-3
50 5,47 x 10-3
60 4,66 x 10-3
70 4,04 x 10-3
80 3,54 x 10-3
90 3,15 x 10-3
100 2,82 x 10-3
Sumber: Giancoli, 2001
III-15
Koefisien hambatan atau drag coefficient dalam mekanika fluida adalah
suatu bilang tak berdimensi yang menyatakan suatu hambatan atau resistant dari
suatu benda (object) yang berada di dalam suatu aliran. Semakin rendah nilai
drag coefficient, maka hambatan aerodinamik maupun hidrodinamiknya semakin
kecil. Dengan kata lain semakin kecil nilai drag coefficient, maka suatu benda
semakin memiliki bentuk aerodinamik sehingga hambatan udara maupun airnya
menjadi kecil dan fluida dapat dengan lancar melewati benda tersebut.
Untuk menghitung drag coefficient, maka dapat digunakan persamaan
di bawah ini:
2 Fd
Cd = …………………………………………………….. Persamaan 3.15
ρ ʋ2 A
Keterangan:
Cd = Coefficient drag
Fd = The drag force, yaitu gaya yang bekerja searah aliran fluida (N)
𝜌 = Massa jenis fluida (kg/m3)
ʋ2 = Kecepatan fluida (m/detik)
A = Luas area dari benda (m2)
Untuk menentukan dimensi dari kolam pengendapan, seperti panjang,
lebar, dan kedalaman sebaiknya ditentukan dengan melihat spesifikasi alat yang
digunakan untuk merawat kolam pengendapan tersebut.
3.4.3. Persentase Pengendapan
Perhitungan persentase pengendapan bertujuan untuk mengetahui
apakah kolam pengendapan (settling pond) yang akan dibuat dapat berfungsi
untuk mengendapkan partikel padatan yang terkandung dalam air limpasan
tambang. Waktu yang dibutuhkan partikel untuk mengendap dengan kecepatan
(Vt) sejauh (H) adalah:

H
tv = ……………………………………………………………... Persamaan 3.16
vt
Keterangan:
tv = Waktu partikel untuk mengendap (menit)
H = Kedalaman (m)
vt = Kecepatan pengendapan (m/detik)
Kecepatan horizontal pada kolam dapat dihitung dengan mengetahui
luasan penampang yang ada pada settling pond. Persamaan dapat dilihat pada
Persamaan 3.19.

III-16
Q
Vh = ……………………………………………………………. Persamaan 3.17
A
Keterangan:
Vh = Kecepatan air dalam kolam (m/detik)
Q = Debit total (m3/detik)
A = Luas penampang (m2)
Waktu yang dibutuhkan air keluar dari kolam dapat dihitung dengan
mengetahui panjang kolam dan kecepatan horizontal pada settling pond.
Persamaan dapat dilihat pada Persamaan 3.20.
p
Th = ………………………………………………………. Persamaan 3.18
Vh
Keterangan:
Th = Waktu yang dibutuhkan partikel keluar dari kolam (menit)
p = Panjang kolam (m)
Vh = Kecepatan air dalam kolam (m/detik)
Dalam proses pengendapan ini partikel mampu mengendap dengan
baik apabila tv tidak lebih besar dari th. Sebab, jika waktu yang diperlukan untuk
mengendap lebih kecil dari waktu yang diperlukan untuk mengalir ke luar kolam
pengendapan (settling pond) atau dengan kata lain proses pengendapan lebih
cepat dari aliran air maka proses pengendapan dapat terjadi (Hartono, 2013).
Persentase pengendapan dapat dihitung dengan dengan mengetahui
volume air dan volume padatan yang masuk ke settling pond.
Th
Pengendapan = x 100% …………………………… Persamaan 3.19
Th+tv
Keterangan:
Th = Waktu yang dibutuhkan partikel keluar dari kolam (menit)
tv = Waktu partikel untuk mengendap (menit)
Dari perumusan diatas, dapat disimpulkan bahwa semakin besar ukuran
partikel maka semakin cepat proses pengendapan serta semakin besar pula
persentase partikel yang berhasil diendapkan. Untuk arah aliran air pada kolam
pengendapan dapat dilihat pada Gambar 3.3.

III-17
Sumber: Hartono, 2013: 5
Gambar 3.3
Aliran Air Pada Kolam Pengendapan

Keterangan:
b = Lebar kolam pengendapan
Vh = Kecepatan mendatar partikel
Vt = Kecepatan pengendapan
H = Kedalaman kolam pengendapan
P = Panjang kolam pengendapan
(Hartono, 2013: 9-11)
3.4.4. Total Suspended Solid
Total suspended solid (TSS) atau muatan padatan tersuspensi adalah
bahan-bahan tersuspensi (diameter > 1µm) yang tertahan pada saringan
miliopere dengan diameter pori 0.45 µm. TSS terdiri dari lumpur dan pasir halus
serta jasad-jasad renik. Penyebab TSS diperairan yang utama adalah kikisan
tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. Konsentrasi TSS apabila
terlalu tinggi akan menghambat penetrasi cahaya ke dalam air dan
mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis. (Effendi, 2003).

(A-B)-1000
TSS = ……………………………………… Persamaan 3.20
Sampel Volume(ml)
Keterangan:
TSS = Total suspended solid
A = Berat cawan + Sampel + Filter
B = Berat cawan + Sampel + Filter yang sudah dikeringkan
Sampel volume = Volume dari sampel (ml)

III-18
3.4.5. Pemeliharaan Kolam Pengendapan (Maintenance Settling Pond)
Pembuatan kolam pengendapan (settling pond) dimaksudkan untuk
menampung lumpur yang terbawah oleh air dari hasil kegiatan penambangan.
Untuk upaya pemeliharaan (maintenance) kolam pengendapan (settling pond)
harus dilakukan dengan pengerukan lumpur pada kolam pengendapan (settling
pond) agar lumpur yang masuk ke dalam kolam pengendapan (settling pond)
tidak tertumpuk sehingga dapat menyebabkan pendangkalan pada kolam
pengedapan (settling pond) yang dapat menyebabkan air meluap.
Lumpur tersebut akan dikeruk oleh excavator sehingga kolam yang
dirancang harus dapat menampung volume lumpur yang akan masuk sebelum
dikeruk selama interval waktu tertentu. Waktu pemeliharaan kolam pengendapan
(settling pond) dapat dihitung dengan rumus:

Volume kolam pengendapan


T= ………………… Persamaan 3.21
Volume total padat yang terendapkan

Untuk menghitung volume total padatan yang berhasil diendapkan dapat


menggunakan rumus:
Volume Total Padatan = Volume padatan x 3600 detik/jam
x Jam hujan perhari x % ….. Persamaan 3.22
pengendapan

Untuk perhitungan volume padatan dapat menggunakan persamaan:

Berat solid (kg/jam)


Volume padatan = ……. Persamaan 3.23
ρ padatan (kg/Jam) x 3600 (m3/detik)

Untuk perhitungan volume air dapat menggunakan rumus:

Berat air (kg/jam)


Volume air = ………………. Persamaan 3.24
ρ air (kg/Jam) x 3600 (m3/detik)

Untuk perhitungan berat padatan dapat menggunakan rumus:

Berat padatan = % padatan x Q x ρ padatan ……………….. Persamaan 3.25

Untuk perhitungan berat air dapat menggunakan rumus:

Berat air = % air x Q x ρ air …………………………………… Persamaan 3.26

(Regita, 2021: 43-44)

III-19
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Diagram Alir Penelitian

Mulai

Studi Lapangan Persiapan Studi Literatur

Identifikasi Masalah

Perumusan Masalah

Data Data
Data
Sekunder Primer

Total Suspended Solid


Curah Hujan Peta Topografi Debit Pompa (TSS)

Curah Hujan Rencana Disposal


Persen Solid (%)

Intensitas Curah Hujan Koefisien Catchment Area


Hukum Stokes

Debit Limpasan
Ketetapan, Karateristik
Padatan dan Air
Total Volume
Debit Total
Padatan dan Air

Drainase

Dimensi Kecepatan
Settling Pond Pengendapan

Kecepatan Mendatar Waktu Partikel Waktu Pengendapan


Partikel Keluar Partikel

Persen Padatan (%)

Tidak
Total Suspended Solid
(TSS)

Ya
Sistem Maintanance
Settling Pond

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 4.1
Diagram Alir Penelitian

IV-1
4.2 Metode Pengumpulan Data

Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan beberapa tahapan


kegiatan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang benar-benar
representative yang dapat digunakan dalam penelitian ini. Tahapan-tahapan
pengumpulan data sebagai berikut :
1. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk memperoleh bahan-bahan Pustaka yang
menunjang kegiatan penelitian ini, sebagai dasar penelitian ataupun sebagai
pendukung dan referensi. Literatur diperoleh dari buku, jurnal, artikel dan
informasi mengenai topik yang sama dari perpustakaan atau perusahaan terkait.
2. Pengamatan Lapangan
Dilakukan dengan pengamat secara langsung untuk mengetahui kondisi
dilapangan, bentuk kolam pengendapan, jumlah kolam pengendapan dan
permasalahan kolam pengendapan.
3. Wawancara
Metode ini dilakukan dengan cara bertanya langsung dengan instruktur
lapangan serta orang-orang yang ahli dibidangnya.
4.3 Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan sofware Arcgis 10.8 dan


Minescape [Link] laporan disertai penyajian berupa peta, gambar,
grafik, dan tabel yang dapat membantu dalam penyampaian informasi hasil
penelitian.
4.4 Metode Analisis Data

Dari data yang telah diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan literatur


literatur yang berhubungan dengan masalah tersebut, yaitu sebagai berikut:
a. Memilah data curah hujan harian dalam tahunan dengan metode annual
maksimum series (AMS).
b. Menghitung data curah hujan dengan menggunakan metode normal dan
intensitas hujan dengan persamaan mononobe.
c. Menghitung debit total air yang masuk yang berasal dari debit limpasan dan
debit air pompa dari sump.
d. Menentukan sistem pemeliharaan (maintenance) pada kolam pengendapan
(settling pond).
e. Menghitung nilai TSS pada setiap kolam pengendapan.

IV-2
4.5 Kesimpulan dan saran

Kesimpulan diperoleh setelah dilakukan korelasi antara hasil


pengolahan data yang telah dilakukan dengan permasalahan yang
[Link] ini merupakan hasil akhir dari semua aspek yang telah
dibahas. Sedangkan saran adalah masukkan yang ditujukan kepada instansi-
instansi tertentu terkait hal-hal yang ditemukan pada saat penelitian.

IV-3
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Deskripsi Data


5.1.1. Data Curah Hujan
Curah hujan sangat berpengaruh terhadap sistem penyaliran tambang
karena besar kecilnya curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang
harus ditampung dalam bukaan tambang. Data curah hujan yang diperoleh dari
daerah penelitian adalah data curah hujan 11 tahun terakhir dari tahun 2011-
2021 (Lampiran A: 1-39). Pengambilan data curah hujan yaitu dengan metode
annual series, yaitu mengambil data curah hujan harian yang paling maksimum
dalam pertahun yang akan dijadikan data untuk mewakili setiap tahunya. Adapun
adata yang didapat dengan menggunakan metode annual series dapat dilihat
pada tabel 5.1 (Lampiran B: 1).

Tabel 5.1
Data Curah Harian Maksimum 2011-2022

Curah Hujan Harian max Durasi Hujan Max


No Tahun
(mm) (Jam)
1 2021 126 21
2 2020 113 19,6
3 2019 100 18,5
4 2018 115 18,7
5 2017 72 17
6 2016 85 15,2
7 2015 88 13,4
8 2014 83,4 18,5
9 2013 93 -
10 2012 78 -
11 2011 89,5 -
Total 1042,900
Sumber: Lampiran B: 1
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022
Gambar 5.1
Ombrometer

5.1.2. Saluran Terbuka


Dimensi saluran terbuka harus disesuaikan dengan debit air limpasan
yang akan masuk ke kolam pengendapan (settling pond) sehingga saluran yang
dibuat akan cukup untuk menampung debit air limpasan sehingga agar tidak
mengalami debit air yang overload. Saluran terbuka yang digunakan untuk
mengalirkan air dari pemompaan dan air limpasan disposal menuju ke kolam
pengendapan (settling pond) yaitu berbentuk trapesium, hal ini dikarenakan
dapat mengalir air dalam debit air yang besar dan juga mudah dalam pembuatan
serta perawatannya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022


Gambar 5.2
Saluran Terbuka

V-2
5.1.3. Data Topografi
Data topografi merupakan data yang berisi keterangan ketinggian suatu
wilayah yang di gambarakan dengan garis kontur. Data topografi ini diambil
untuk mengetahui kemajuan kegiatan penambangan ataupun kemajuan kegiatan
penimbunan over burden pada disposal. Pada gambar 5.3 merupakan data
topografi pada area penambangan blok 3.

Sumber: Pengolahan Data Pribadi, 2022


Gambar 5.3
Peta Topografi Blok 3

5.1.4. Debit Pompa MultiFlo 420


Air yang masuk di kolam pengendapan tidak dari air limpasan disposal
saja, akan tetapi berasal dari pompa juga. Pada daerah penelitian pompa yang
digunakan adalah pompa dengan type MultiFlow 420 dan mempunyai kecepatan
debit pada outlet pipa pemompaan adalah 702 m3/jam atau setara dengan 0,195
m3/detik. Waktu kerja pompa dalam sehari adalah 20 jam/hari. Pemompaan ini
dilakukan untuk mengeluarkan air yang berada pada pit Balimas Blok 3, pipa
pada outlet pemompaan terhubung ke paritan. Pada daerah penelitian
pengelolaan air pada aktivitas penambangan berasal dari pemompaan dan
limpasan dari disposal blok 3.

V-3
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022
Gambar 5.4
MultiFlo 420

5.1.5. Dimensi Kolam Pengendapan


Kolam pengendapan (settling pond) digunakan sebagai tempat
penampungan air sementara untuk dilakukan treatment sebelum dialirkan ke
lingkungan maupun aliran air lainnya. Fungsi dari kolam pengendapan sendiri
adalah untuk mengendapkan lumpur atau material padatan tambang yang
bercampur dengan air limpasan yang disebabkan adanya aktivitas
penambangan, dan sebagai tempat pengontrol kualitas air yang akan dialirkan
keluar kolam pengendapan.
Pada daerah penelitian, kolam pengendapan bebentuk trapezium
dengan kedalaman rata-rata 3 meter dari atas permukaan tanah. Kolam
pengedapan Balimas Blok 3 mempunya compartment sebanyak 13 kolam dan
dengan ukuran dimensi ukuran yang berbeda-beda.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022


Gambar 5.5
Kolam Pengendapan
V-4
Tabel 5.2
Dimensi Kolam Pengendapan

Permukaan Dasar
(meter) (meter) Kedalaman Volume
Kolam
(meter) (m3)
Panjang Lebar Panjang Lebar

1 119,5 10 114,5 5 3 2.651,25


2 115,5 10 110,5 5 3 2.651,25
3 104 34 98,5 29 3 9.588,75
4 93 10 88 5 3 2.055
5 83 10 79 5 3 1.837,5
6 83 10 79 5 3 1.837,5
7 83 10 79 5 3 1.837,5
8 83 10 79 5 3 1.837,5
9 109 26 104 21 3 7.527
10 134 18 131 13 3 6.199,5
11 132,5 18 128,5 13 3 6.083,25
12 108 18 103 13 3 4.924,5
13 75,3 18 71,5 13 3 3.426
Total 1.323,75 202 1.265,5 137 39 52.366,5
Sumber: PT Energi Batubara Lestari, 2015

5.1.6. Data Pengukuran Total Suspended Solid (TSS)


Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui nilai total suspended solid
(tss) pada air yang masuk (inlet) pada kolam pengendapan dan pada air yang
keluar dari kolam pengendapan. Nilai total suspended solid merupakan salah
satu parameter air dari aktivitas kegiatan penambangan yang nantinya apakah
air tersebut layak untuk dialirkan ke aliran bebas. Pada pengukuran nilai total
suspended solid menggunakan alat Portable Water Quality Meter type Partech
750w2. Pada saat pengukuran tss pompa pada pit dalam keadaan aktif, jadi air
yang masuk ke inlet kolam pengendapan merupakan gabungan air dari pompa
dan limpasan disposal.

V-5
Tabel 5.3
Pengukuran Total Suspended Solid Pada Kolam Pengendapan

Total Suspended Solid


No Hari/Tanggal (mg/l) Keterangan
inlet outlet
1 Rabu, 22 Desember 2021 6548 1670 Setelah Hujan
2 Kamis, 10 Februari 20222 6190 1670 Setelah Hujan
3 Selasa, 15 Februari 2022 4939 980 Cerah Berawan
4 Sabtu, 26 Februari 2022 5890 1457 Setelah Hujan
Rata-rata 5892 1444 -
Sumber: Pengukuran Pribadi, 2022

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022


Gambar 5.6
Portable Water Quality Meter Partech 750w2

5.2 Pengolahan Data


5.2.1. Curah Hujan Rencana
Data curah hujan maksimum setiap tahun selama 11 tahun dari 2011
sampai tahun 2021 dianalisis untuk mencari curah hujan rencana. Setelah
dilakukan perhitungan menggunakan metode normall, diperoleh nilai curah hujan
rencana sebesar 94.809 mm/hari dengan periode ulang hujan 2 tahun (Lampiran
B: 1).
5.2.2. Intensitas Curah Hujan
Perhitungan intensitas curah hujan dapat dilakukan dengan beberapa
metode salah satunya metode [Link] intensitas curah hujan
bertujuan untuk mengkonversikan curah hujan harian menjadi curah hujan per
jam. Dalam penelitian ini setelah didapatkan curah hujan rencana dan lamanya
waktu hujan yaitu data jam hujan maka intensitas curah hujan dapat dihitung
V-6
menggunakan rumus Normal. Setelah dilakukan perhitungan maka diperoleh
nilai intensitas hujan sebesar 4,318 mm/jam (Lampiran D: 2).
5.2.3. Koefisien Limpasan
Nilai koefisien limpasan (C)dipengaruhi oleh macam-macam permukaan
dan luas daerah tangkapan hujan, dimana tiap permukaan mempunyai nilai
koefisien limpasan masing-masing. Berdasarkan pengamatan di disposal
Balimas Blok 3, nilai koefisien dibagi menjadi 2 yaitu tumbuhan jarang
merupakan lahan reklamasi dan tanpa tumbuhan. Berdasarkan jenis tutupan
lahannya, nilai koefisienya pun berbeda, untuk tumbuhan jarang mempunyai nilai
koefisien 0,8 sedangkan untuk yang tidak ada tumbuhan mempunyai nilai
koefisien 0,9 serta memiliki nilai persen (%) kemiringan >15% (Lampiran F: 1).
5.2.4. Daerah Tangkapan Hujan (Catchment Area)
Daerah tangkapan hujan pada daerah penelitian yaitu berfokus pada
area Disposal Balimas Blok 3 yang dimana limpasan dari disposal ini yang akan
mengalir ke kolam pengendapan (settling pond). Namun pada area disposal
bagian sebelah berat tidak termasuk menjadi air limpaan yang akan mengalir
menuju kolam pengendapan. Penentuan pembentukan pola aliran air pun pada
area disposal dibentuk dengan bantuan Software Arcgis 10.8. Dari peta tersebut
didapatkan luasan daerah tangkapan hujan dengan tumbuhan jarang yaitu
0,178342 km2, sedangkan untuk luas daerah tangkapan hujan pada area
disposal tanpa tumbuhan yaitu 0,77169 km2 (Lampiran E: 4).
5.2.5. Perhitungan Debit Limpasan Disposal
Setelah dilakukan perhitungan dengan data yang berkaitan untuk
perhitungan, maka didapatakan untuk debit limpasan pada tumbuhan jarang
yaitu sebesar 0,171 m3/detik, sedangkan untuk debit limpasan pada lereng tanpa
tumbuhan yaitu sebesar 0,834 m3/detik. Jadi, total debit limpasan pada disposal
bagian sebelah barat adalah sebesar 1,005 m3/detik (Lampiran G: 1).
5.2.6. Debit Air Inlet Kolam Pengendapan
Adapun untuk debit air yang masuk pada inlet kolam pengendapan
adalah debit air yang berasal dari debit limpasan disposal Balimas Blok 3 dan
debit air dari pemompaan pit Balimas Blok 3. Untuk mengetahui debit air yang
masuk pada ke kolam pengendapan yaitu dengan menjumlahkan debit air
limpasan disposal ditambah dengan debit air pemompaan. Dari hasil perhitungan
maka didapatkan debit total sebesar 1,2 m3/detik (Lampiran G: 2).

V-7
Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022
Gambar 5.7
Inlet Kolam Pengendapan

5.2.7. Persentase Pengendapan


Dalam menetukan pesentase pengendapan, maka harus menghitung
waktu partikel untuk mengendap, untuk pengendapanya dipengaruhi dengan
kedalaman kolam. Adapun waktu yang dibutuhkan partikel untuk mengendap
dalam kedalaman 3 meter dengan kecepatan 0,00145 m/detik dapat dilihat pada
tabel 5.4 (Lampiran J: 2).
Tabel 5.4
Waktu Partikel Untuk Mengendap

Kolam Detik Menit


1 2.070 34
2 2.070 34
3 2.070 34
4 2.070 34
5 2.070 34
6 2.070 34
7 2.070 34
8 2.070 34
9 2.070 34
10 2.070 34
11 2.070 34
12 2.070 34
13 2.070 34
Sumber: Lampiran J: 2

V-8
Kecepatan horizontal pada kolam dapat dihitung dengan mengetahui
luasan penampang yang ada pada kolam pengendapan dan dapat dilihat pada
tabel 5.5 (Lampiran J: 2-4).
Tabel 5.5
Kecepatan Air Dalam Kolam

Vh
Kolam
(m/detik)
1 0,0533
2 0,0533
3 0,0127
4 0,0533
5 0,0533
6 0,0533
7 0,0533
8 0,0533
9 0,0170
10 0,0258
11 0,0258
12 0,0258
13 0,0258
Sumber: Lampiran J: 2-4

Waktu yang dibutuhkan air keluar kolam dihitung dengan mengetahui


panjang dan kecepatan horizontal kolam (Lampiran J: 5-6).
Tabel 5.6
Waktu Air Keluar
Waktu Tinggal (th)
Kolam Detik Menit Jam
1 2195 37
2 2120 35
3 7977 133
4 1698 28
5 1519 25
6 1519 25
7 1519 25
12
8 1519 25
9 6260 104
10 5156 86
11 5059 84
12 4090 68
13 2845 47
Total 43.476 725
Sumber: Lampiran J: 5-6

V-9
Adapun hasil pengolahan persentase pengendapan setiap kolam dapat
dilihat pada tabel 5.7 (Lampiran J: 6-9).
Tabel 5.7
Persentase Pengendapan

Persentase pengendapan
Kolam
(%)
1 51,465
2 24,557
3 19,038
4 2,226
5 1,149
6 0,663
7 0,382
8 0,220
9 0,226
10 0,053
11 0,015
12 0,004
13 0,001
Total 99,999
Sumber: Lampiran J: 6-9

5.3 Pembahasan

5.3.1. Kapasitas Kolam Pengendapan (Settling Pond) Terhadap Debit Air


Berdasarkan Perhitungan debit air yang masuk pada inlet kolam
pengendapan sebesar 1,2 m3/detik dan dengan jam hujan maksimal selama 21
jam sehingga menghasilkan debit air 90.678,91 m3/hari. Dimensi kolam
pengendapan mempunyai 13 kolam dengan durasi waktu untuk air bisa
memenuhi volume setiap kolam dan keluar dari inlet sampai ke outlet yaitu
selama 12 jam.
Volume total keseluruhan kolam pengendapan yaitu 52.366,50 m3,
setelah dilakukan perhitungan maka kolam pengendapan tersebut mampu
menampung debit air masuk sebesar 1,2 m3/detik dengan kondisi air yang masuk
pada setiap kolam pengendapan selanjutnya masih sama dengan debit air
masuk pada inlet.
5.3.2. Persentase Pengendapan Terhadap Nilai Total Suspended Solid (TSS)
Persentase pengendapan bertujuan untuk mengetahui apakah kolam
pengendapan (settling pond) yang dibuat dapat berfungsi untuk mengendapkan
partikel padatan yang terkandung dalam air limpasan tambang dengan baik.

V-10
Persentase pengendapan dipengaruhi oleh debit total air yang masuk menuju
kolam pengendapan (settling pond), lebar kolam, panjang kolam, kecepatan
pengendapan, serta kecepatan air di kolam pengendapan (settling pond).
Dalam proses pengendapan ini partikel padatan akan mengendap
dengan baik jika waktu yang dibutuhkan partikel untuk mengendap (tv) tidak lebih
besar dari waktu yang dibutuhkan partikel untuk keluar dari kolam pengendapan
atau tv (Regita, 2021: 59). Karena waktu pengendapan partikel padatan lebih
kecil dari pada waktu air keluar dari kolam pengendapan (setting pond), maka
proses pengendapan dapat terjadi didalam rancangan dimensi kolam
pengendapan (settling pond) ini. Persentase pengendapan yang terjadi pada
kolam pengendapan (settling pond) dan padatan yang berhasil diendapkan
(dalam waktu 21 jam sehari) dapat dilihat pada Gambar 5.12 (Lampiran J: 6-9).

0,220% 0,226% 0,015%


0,382% 0,004%
1,149% 0,053%
0,663% 0,001%
Nomor Urut Kolam
2,226%
1 2

3 4
19,038%
5 6

7 8
51,465%
9 10
24,557%
11 12

13

Sumber: Lampiran J:6-9


Gambar 5.8
Diagram Persentase Pengendapan

Berdasarkan data nilai total suspended solid (TSS) yang diambil pada
inlet kolam pengendapan, bahwa didapatkan nilai tss rata-rata yaitu 5.892 mg/l.
Sedangkan, nilai tss pada outlet kolam pengendapan dengan nilai rata-rata 1.444
mg/l. Jika dilihat pada nilai tersebut bahwasanya pengeloalaan kolam
pengendapan yang salah satunya berfungsi untuk menurunkan nilai tss, saat ini
masih belum berfungsi secara efektif dan maksimal.
Hal ini disebabkan karena sebagian besar outlet open chanel pada
setiap kolam berada pada kedalaman yang sama dengan kedalaman kolam
V-11
pengendapan. Sehingga proses pengendapan TSS tidak mempunyai waktu
tinggal yang cukup untuk dapat mengendapkan sedimen dari air yang masuk.

Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2022


Gambar 5.9
Open Channel Kolam Pengendapan

5.3.3. Rekomendasi Pemeliharaan (Maintenance) Kolam Pengendapan


(Settling Pond)

Sumber: Pengolahan Data Pribadi, 2022


Gambar 5.10
Sketsa Ideal Letak Open Channel Kolam Pengendapan

Berdasarkan perhitungan kolam pengendapan ideal, persentase


pengendapan pada sub bab 5.3.2. kolam tersebut mampu mengendapan
material secara baik. Namun, kondisi kolam pengendapan aktual belum dapat
bekerja dengan optimal, sehingga dibutuhkan rekomendasi dimensi kolam
pengendapan yang dapat membuat proses pengendapan sesuai dengan yang
diharapkan. Pembuatan open channel atau paritan antar kolam seharusnya
berada di ketinggian 50 - 70 cm dari permukaan kolam, sehingga air yang masuk
dapat mengendap dahulu (Gambar 5.10) dan dapat menurunkan nilai TSS.
V-12
Kegiatan pemeliharaan (maintenance) kolam pengendapan (settling
pond) harus dilakukan agar kolam pengendapan (settling pond) dapat berfungsi
dengan baik dan dapat dipergunakan lebih lama. Proses pemeliharaan
(maintenance) kolam pengendapan (settling pond) dapat dilakukan dengan cara
pembersihan partikel padatan yang mengendap pada kolam pengendapan
(settling pond) yaitu dengan mengeruk partikel padatan yang berhasil
mengendap di dasar kolam pengendapan (settling pond).
Waktu yang dibutuhkan untuk pemeliharaan (maintenance) kolam
pengendapan (settling pond) pada setiap kolam berbeda-beda. Hal ini
dikarenakan nilai persentase pengendapan dari setiap kolam berbeda-beda,
adapun untuk waktu pemeliharaan (maintenance) kolam pengendapan (settling
pond) dapat dilihat Gambar 5.11 (Lampiran K: 1-3).
1.200.000

1.000.000 1084442

800.000

600.000
Hari

400.000
456599
200.000
20 40 192 352
0 611 1059 153219
1836 3184 12743 44483
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Sumber: Lampiran J: 6-9


Gambar 5.11
Waktu Pengerukan Kolam Pengendapan

110 107,831

100
90
80
70
60
(m³/hari)
Padatan

51,451

50
39,890
40
30
20
10 4,664
2,407 1,388 0,800 0,462 0,473 0,111 0,032 0,009 0,003
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Sumber: Lampiran J: 10
Gambar 5.12
Padatan yang Terendapkan
V-13
5.3.4. Pengaruh Rekomendasi Dimensi Kolam Pengendapan Ideal Terhadap
Perubahan Nilai Total Suspended Solid (TSS)

6.000
TSS Pada Outlet
5.000
TSS Tertahan
Total Suspended Solid

4.000
(mg/l)

3.000

2.000

1.000

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kolam

Sumber: Lampiran L: 5
Gambar 5.13
Pengaruh Dimensi Kolam Ideal Terhadap Nilai TSS

Maka, setelah dilakukan evaluasi perhitungan terhadap dimensi ideal kolam


pengendapan, kolam tersebut dapat menurunkan nilai TSS.

Tabel 5.8
Baku Mutu Air Aktivitas Penambangan

KepMen LH No Peraturan Gubernur


Parameter Satuan
113 Tahun 2003 KalSel No.36 Tahun 2008
pH 6–9 6–9
Residu Tersuspensi mg/l 400 200
Besi (Fe) Total mg/l 7 7
Mangan (Mn) Total mg/l 4 4
Kadmium (Cd) mg/l - 0,05
Sumber: KepMen LH, 2003: 95 dan PerGub KalSel, 2008: 8

Berdasarkan Keputusn Menteri Lingkungan Hidup No.113 Tahun 2003,


baku mutu nilai TSS adalah 400 mg/l, dengan rekomendasi dimensi kolam
pengendapan yang ideal sampai pada outlet kolam 3 dapat menurunkan niai
TSS dari inlet 1.412,798 mg/l sampai menjadi 291,055 mg/l. Air tersebut

V-14
dikatakan aman untuk dilakukan pengaliran kebadan sungai atau dialirkan
bebas. Sedangkan berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan No.36
Tahun 2008 untuk baku mutu nilai TSS adalah 200 mg/l, dengan rekomendasi
kolam pengendapan yang ideal saat berada pada outlet kolam 4 dapat
menurunkan niai TSS dari inlet 291,05b 5 mg/l sampai menjadi 159,903 mg/l. Air
tersebut dikatakan aman untuk dilakukan pengaliran kebadan sungai atau
dialirkan bebas. Berdaarkan lokasi penelitian, PT Energi Batubara Lestari terletak
di Kalimantan Selatan jadi baku mutu yang dipakai adalah Peraturan Gubernur
Kalimantan Selatan No.36 Tahun 2008.

V-15
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Adapun yang dapat disimpulkan dari penelitian di PT Energi Batubara


Lestari adalah sebagai berikut:
1. Debit air yang masuk pada inlet settling pond adalah sebesar 1,2 m3/detik
yang berasal dari air pompa sebesar 0,195 m3/detik dan air limpasan
disposal sebesar 1,005 m3/detik.
2. Total kapasitas volume settling pond adalah 52.366,5 m3 dengan kolam
volume terkecil yaitu 1.837,5 m3 terdapat pada kolam 5 – 8 dan volume
terbesar yaitu 9.588,75 m3 terdapat pada kolam 3. Settling pond ini mampu
menampung dan mengalirkan debit air 1,2 m3/detik dengan volume
90.678,91 m3/hari. Dikatakan mampu karena sifat kolam yang apabila sudah
terisi penuh maka air akan mengalir ke kolam selanjutnya.
3. Direkomendasikan waktu pengerukan settling pond pada kolam 1 yaitu 20
hari, kolam 2 yaitu 40 hari, kolam 3 yaitu 192 hari dan kolam 4 yaitu 352 hari.
4. Settling pond dengan 13 kolam dengan dimensi ideal dapat menurunkan
nilai TSS dari 5.892 mg/l menjadi 2.859,675 mg/l pada outlet kolam 1,
1.412,798 mg/l pada kolam 2, 291,055 mg/l pada kolam 3 dan159,903 mg/l
pada kolam 4.

6.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan terhadap permasalahan penelitian


tentang settling pond yaitu sebagai berikut:
1. Melakukan pengerukan kolam pengendapan saat volume pengendapan
sudah mencapai 80% dari volume kolam dan dilakukan sesuai dengan
waktu yang telah diperhitungkan lalu direkomendasikan.
2. Pembuatan open channel antar kolam berada di ketinggian 50 - 70 cm dari
permukaan kolam, sehingga air yang masuk pada kolam dapat mengendap
terlebih dahulu dan dapat menurunkan nilai TSS.
DAFTAR PUSTAKA

Chow, V.T., 1985, “Hidrolika Saluran Terbuka” (Bahasa Indonesia), Erlangga,


Jakarta, Indonesia.

Darwis. P, 2018. “Pengelolaan Air Tanah”, Universitas Muhammadiyah


Makassar, Pena Indis

Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Tata Ruang dan Perumahan Kabupaten
Sambas, 2013. “Penyusunan Masterplan Drainase Kota Pemangkat”

Effendi, H. 2003. “Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan”. Yogyakarta: Kanisius

Gautama, R.S., 1994, “Diktat Kuliah Sistem Penyaliran Tambang”, Jurusan


Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral ITB, Pengantar
Penyaliran Tambang.

Gautama, R.S., 2019, “Kursus Air Asam Tambang dan Sistem Penyaliran
Tambang”, Institut Teknologi Bandung

Giancoli D.C., 2001, “Fisika Prinsip dan Aplikasi”, Jilid ke-1 Edisi ke-5,
Diterjemahkan Oleh Yuhilza Hanum, Erlangga, Jakarta.

Hartono, 2013, “Kuliah Sistem Penyaliran Tambang Kolam Pengendapan”,


Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN
“Veteran” Yogyakarta

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.113 Tahun 2003 tentang “Baku Mutu
Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara”
Lampiran II

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.1827 K/30/MEM/2018


tentang “Pedoman Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik”
pasal xvii Pengelolaan Air Tambang, ayat (ii): 95

Linsley, R.K., Kohler, M.A., Paulhus J.L.H., 1975, “Hidrology For Engineers”,
McGraw Hill Series in Water Resources and Environmental Engineering,
New York.

Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan, 2008, “Baku Mutu Air Limbah


Kegiatan Penambangan, Pengolahan dan Pencuian Batubara” Lampiran
II: 8

Prasetyo, E.E.E., 2012, “Rancangan Dimensi Settling Pond Berdasarkan Daerah


Tangkapan Hujan Pada Pit B2A PT. Sebuku Batubai Coal Pulau Laut
Tengah Kotabaru Kalimantan Selatan”, Prodi Teknik Pertambangan,
UPN “Veteran” Yogyakarta.
PT Energi Batubara Lestari, 2015, “Mine Dewatering Management“

PT Energi Batubara Lestari, 2015, “Studi Kelayakan “

R. Heriyanto dan P. Sanyoto,1994, “Peta Geologi Lembar Amuntai, Kalimantan”


Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi

Regita, C.S., 2021 “Rancangan Teknis Sistem Penyaliran Pada Kolam


Pengendapan (Settling Pond) di Pit Durian PT J Resources Bolaang
Mongondow Site Bakan, Sulawesi Utara” Program Studi Teknik
Pertambangan, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta.

Suripin, 2004. “Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan”. Yogyakarta:


Andi Offiset.

Suwandhi, A., 2004. “Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang”. Diklat


Perencanaan Terbuka, Unisba.

Triatmodjo, B., 2008, “Hidrologi Terapan”, Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada:
3.

Wenworth, C.K. 1922. “A Scaleof Grade and Class Term for Clastic Sediment”.
Geology

Wolley, L., 2009, “Sanitatin Details”, U.S.A: International Thomsom Publishing.


LAMPIRAN

A-1
LAMPIRAN A
DATA CURAH HUJAN HARIAN
PT ENERGI BATUBARA LESTARI SITE RANTAU TAHUN 2011-2021

A-1
Tabel A.1
Data Curah Hujan Tahun 2011

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 - 6,0 - 6,0 - - - - - 39,0 - 36,0
2 - 27,5 2,5 20,0 47,5 3,0 - - - - - 15,0

3 11,0 4,5 1,5 6,0 3,0 2,0 - - 2,5 - - 10,0


4 7,0 6,0 - 8,0 - - - - 32,0 - - -
5 - 7,0 - 5,0 - - - - - 8,0 - 8,0

6 - 5,0 1,5 4,5 4,5 - - - - 36,5 - 11,0


7 13,0 1,0 21,0 23,0 - - - - - - - -
8 - 3,0 2,0 20,0 4,3 - - - - - - 8,0
9 - - - 0,5 - - - - - - 16,5 8,5
10 19,0 5,0 6,0 74,0 - - - - - - - 38,0
11 5,5 - - 0,5 - - - - 0,5 - - 5,0

12 3,2 - - 20,5 3,5 - - - 1,0 - 15,0 32,0


13 32,5 - 45,5 5,0 - - - - - - - 3,0
14 1,0 - - - 4,5 - 3,0 - 5,0 - - 4,0
15 3,5 3,0 - 10,0 1,5 - 8,0 - - - 3,0 3,0

A-2
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 40,0 2,5 8,0 6,5 - - - - - - - 22,5
17 - 8,0 8,0 - - - 8,0 - - - - 17,5

18 13,0 - 4,5 10,0 - - - - - 8,0 - 45,0


19 4,0 - 5,0 6,4 89,5 - - - 3,0 - 3,5 3,0
20 1,0 - 3,0 9,5 3,2 - - - - - 30,0 8,0

21 2,0 - - 22,5 - - 5,0 - - - - -


22 2,5 - 8,5 - - - - - - 21,0 - -
23 - - 4,0 - - - - - - 13,0 20,0 -

24 29,5 - 30,0 7,0 - - - - - - - -


25 - - 44,0 - - 7,0 - - - 11,0 - -
26 12,5 0,5 79,5 - - 24,0 - - - 25,0 - -

27 8,0 21,0 - 9,0 - 8,5 - - - - 17,0 -


28 3,5 - 4,5 1,0 2,5 1,0 - - - - - -
29 9,0 - - 7,5 - - - - - - 65,0 20,5

30 8,0 - 39,0 21,0 - - - - - - - 4,0

31 5,5 - 5,0 - - - - - - - - -

A-3
Tabel A.2
Data Curah Hujan Tahun 2012

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 - 18,0 - - 8,7 5,0 - - - - - 3,5
2 1,0 24,5 - 17,5 - - - 2,0 0,1 - - 60,3

3 5,0 32,0 - 17,5 0,5 - - - - - - -


4 - 21,5 2,5 - - - - - - 1,0 - -
5 - - - 0,3 - - 3,0 - - - 0,5 8,8

6 25,0 - 4,0 5,5 32,5 - - - - 3,5 - 27,5


7 11,8 - 3,0 2,0 40,5 - 15,6 - - 6,0 7,0 25,5
8 4,2 - 1,5 - - 58,0 - - - 0,5 54,0 6,5
9 5,3 31,5 39,0 - - 22,0 - - - - 5,0 4,5
10 21,4 - 8,5 24,0 - - - 8,0 - - 25,0 6,5
11 15,0 - 4,5 25,0 - - - 4,0 - - 1,0 18,0

12 20,0 3,0 30,0 2,0 - - - - - 0,5 0,7 4,5


13 5,0 - 0,5 2,0 - - - - - 6,0 - -
14 14,5 30,0 - 9,0 3,7 - - - - - - 14,5
15 34,8 3,0 12,0 6,0 45,0 - - 6,0 - - - 3,0

A-4
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 0,4 2,0 - 8,6 15,0 - - - - - 38,0 1,9
17 - 0,5 - 2,0 - - - - - - 78,0 10,0

18 - 14,0 4,0 18,0 16,4 - - - - - 1,2 -


19 26,5 1,0 28,0 2,0 - - - - - - 48,5 9,5
20 51,0 11,0 - - 0,5 - - - - - 15,0 22,0

21 1,5 4,0 4,5 0,5 - - - 18,0 - - 35,0 1,0


22 - - 54,5 1,0 14,0 - 18,0 - - 1,5 7,0 -
23 - 10,0 5,5 - 2,5 - 6,5 - 25,0 - - 0,5

24 9,5 4,4 0,5 - 3,4 - - - - - - 66,0


25 11,5 31,0 - - - - - - - - 6,0 5,0
26 - - 5,0 - 26,0 - - - - - - 10,0

27 51,5 7,7 - - 4,0 - - - - 4,0 - 52,0


28 - 15,0 - - 1,0 - - - - - - -
29 38,3 - - - 21,0 - - - - - 32,0 -

30 19,0 - - - - - - - 25,0 - - -

31 28,3 - 6,0 - - - - - - - - -

A-5
Tabel A.3
Data Curah Hujan Tahun 2013

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 - 0,2 - 28,5 - - - 46,8 0,9 - 0,4 2,4
2 58,5 - - 1,5 10,5 - - 22,0 5,7 - - 9,0

3 2,0 13,8 - - - - 0,5 - 4,3 - 30,0 5,9


4 19,0 - 7,0 - 7,3 - - 0,8 9,0 - 15,0 4,7
5 10,6 8,0 10,5 0,5 13,0 0,1 - - - - 1,0 0,2

6 9,5 7,4 13,3 1,0 0,8 - - 3,0 38,5 - 23,8 37,0


7 17,3 - 7,8 2,5 8,5 15,5 27,0 1,0 35,5 - 0,7 11,3
8 6,6 5,2 - 68,5 0,8 14,0 4,0 5,0 0,2 19,0 35,8 21,1
9 54,8 - 2,7 1,5 61,0 - 8,0 11,6 2,8 - - 8,2
10 16,1 35,0 9,5 - 3,5 - 1,5 - - 1,0 2,2 -
11 0,5 15,0 2,5 - - - 12,7 - - 0,2 2,5 -

12 - - - 10,0 0,2 5,8 0,3 - 5,0 - - 4,2


13 - 12,5 1,0 3,0 - 15,5 5,0 1,2 - - 59,0 51,2
14 44,5 - 1,3 - 0,2 1,5 35,0 0,5 - - 10,5 1,0
15 0,1 8,2 - 9,0 - - 5,0 - - - 23,3 -

A-6
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 37,5 17,4 29,8 - - - 13,5 - 1,1 - 24,0 8,0
17 3,0 0,3 2,0 9,0 - 1,3 6,5 - 0,6 - 74,0 4,9

18 9,6 19,0 - - - 55,4 10,0 - - - 24,5 0,5


19 - 10,3 - 38,5 0,3 0,5 0,3 - - 3,5 - -
20 7,0 4,6 0,7 - 10,0 - - - - 2,0 9,2 -

21 8,0 27,0 59,5 - - - - - - - 0,5 -


22 - 5,0 0,5 1,0 0,7 - - - - - - -
23 48,0 - - 54,0 0,5 - - 3,7 - - 35,0 -

24 1,0 - 0,3 1,0 5,5 - 0,5 - - - 3,5 -


25 2,5 - - 3,5 - 0,5 5,2 4,0 - - 18,5 -
26 22,0 - 62,5 1,5 - - - - - - 26,0 -

27 7,0 - 18,5 - 12,8 - - - - 15,5 3,5 -


28 3,0 - 8,5 0,5 0,5 0,3 6,5 14,0 - - 22,6 -
29 8,4 - 0,8 - 0,2 93,0 - 5,5 - 6,0 4,6 -

30 2,0 - 1,0 4,0 0,5 0,3 - 11,2 - - 22,0 -

31 39,0 - - - - - - 0,6 - 1,0 - -

A-7
Tabel A.4
Data Curah Hujan Tahun 2014

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 57,0 - 10,5 - 1,5 23,0 10,0 - - - - -
2 3,7 - 83,0 - 5,8 22,0 - 3,0 - - - 5,5

3 19,9 - 28,0 14,0 6,0 21,0 - - - - - 3,0


4 5,2 - 5,2 26,0 10,0 - - 2,5 - - - 20,0
5 19,6 0,5 3,0 15,0 23,0 0,8 - - - - 11,1 7,5

6 23,5 1,6 - 80,0 22,0 31,0 - 1,0 - - - 7,0


7 12,0 - 2,5 18,0 13,0 4,0 - - - - 10,1 4,5
8 83,4 19,5 17,5 - 7,0 - - - - - 19,5 30,0
9 9,5 2,0 40,2 5,1 - 16,0 - 13,0 - - 0,5 15,0
10 0,6 - - 47,0 - 4,0 - - - - - 19,5
11 - 1,6 - - 41,0 71,0 - - - - 0,1 1,3

12 30,0 - 6,5 26,0 35,0 - 14,5 - - - 0,1 12,5


13 11,5 - 53,0 2,0 - - 0,2 - - - 16,5 2,0
14 1,0 1,4 - 7,0 9,0 - 18,0 - - - 1,5 -
15 7,0 3,9 30,1 14,0 2,0 13,0 - - - - - 2,0

A-8
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 0,6 3,5 0,8 8,0 7,5 - - - - - 5,5 0,5
17 17,0 0,0 - 2,0 10,0 - - - - - - 16,5

18 7,7 - 15,5 - 1,0 12,0 - - 75,0 - 22,5 5,5


19 3,8 17,0 13,0 12,0 - 2,0 22,5 4,0 - 3,0 4,0 -
20 - 20,5 68,0 - - 3,6 - 6,5 - - - 5,0

21 - 23,5 19,0 15,0 6,0 - - - - - - 41,5


22 - 0,5 20,0 54,0 - 5,2 - - - - - 5,0
23 27,8 2,4 10,0 - 0,1 - - - - 8,0 - 4,5

24 - - 25,0 33,0 8,0 17,0 - - - 13,0 0,0 -


25 9,5 17,5 - 1,2 - 0,1 - - - 1,0 1,5 -
26 23,5 2,8 29,0 - - 2,0 - - 3,0 - - 8,0

27 23,5 - 10,0 20,0 - 3,0 - - - - - 71,0


28 20,8 - 17,0 46,0 - 3,5 - - - - - 18,8
29 27,0 - 5,6 - 19,0 3,0 - - - 0,1 - 15,0

30 - - - - - 28,0 - - - - - 52,5

31 3,5 - 3,2 - - - - - - - - 5,0

A-9
Tabel A.5
Data Jam Hujan Tahun 2014

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 4,0 - 6,3 - - 0,2 5,5 - - - - -
2 6,3 - 10,2 - 0,4 0,3 - 1,3 - - - 5,5
3 7,3 - 13,0 0,3 0,2 0,3 - - - - - 4,5
4 4,3 - 10,2 0,5 0,0 - - 2,7 - - 0,4 9,8
5 9,1 0,5 8,2 0,4 0,1 0,0 - - - - 5,3 6,2
6 14,2 3,3 - 0,5 0,1 0,2 - 0,5 - - - 2,4
7 8,3 - 5,3 0,6 0,2 0,2 - - - - 3,5 3,6
8 15,5 4,1 8,2 - 0,1 - - - - - 2,3 10,0
9 9,2 1,5 9,4 0,2 - 0,1 - 8,8 - - 0,5 6,8
10 1,2 - - 0,2 - 0,3 - - - - 1,3 5,3
11 - 2,5 - - 0,2 0,4 - - - - 0,8 1,2
12 4,4 - 8,5 0,3 0,3 - 0,7 - - - 1,5 4,8
13 9,3 - 7,5 0,1 - - 1,5 - - - 5,7 3,1
14 0,3 3,3 - 0,1 0,1 - 9,7 - - - 2,2 -
15 16,0 3,3 5,4 0,5 0,2 0,6 - - - - - 4,2

A-10
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 2,3 3,0 0,5 0,4 0,2 - - - - - 2,1 1,0
17 5,5 0,2 - 0,1 0,1 - - - - - - 13,5

18 4,5 - 4,2 - 0,0 0,1 - - 6,2 - 2,8 4,5


19 2,3 3,0 7,5 0,1 - 0,2 5,5 1,8 - 0,7 2,9 -
20 - 4,5 7,0 - - - - 4,9 - - - 4,0

21 - 8,2 15,0 0,1 0,2 - - - - 1,8 0,8 5,7


22 - 1,2 8,1 0,3 - 0,2 - - - - - 4,2
23 5,0 9,4 5,1 - - - - - - 2,5 - 7,8

24 - - 4,4 0,3 0,3 0,1 - - - 1,0 1,0 -


25 6,3 5,4 - 0,1 - 0,0 - - - 1,8 2,8 -
26 3,0 4,1 3,0 - - 0,0 - - 1,8 - 1,4 3,8

27 3,0 - 9,5 0,1 - 0,1 - - - - 2,6 12,5


28 5,4 - 14,4 0,4 - 0,0 - - - - 1,7 18,5
29 14,0 - 4,0 0,0 0,1 0,2 - - - 0,3 0,5 14,5

30 9,1 - - - - 0,2 - - - - 11,5 10,3

31 2,3 - - - - - - - - - - 3,0

A-11
Tabel A.6
Data Curah Hujan Tahun 2015

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 41,5 14,5 - 0,5 - 68,0 - - - - - 7,5
2 9,0 - 31,5 4,0 7,0 - - - - - - 6,5

3 7,0 12,5 12,5 6,5 88,0 - - - - - - -


4 5,0 13,0 9,5 - - 10,0 - - - - - -
5 - - - - - 14,5 - - - - 5,0 13,0

6 5,0 12,0 - 0,4 - 20,5 - - - - 7,5 2,0


7 9,5 4,0 14,5 - - 12,5 - - - - 11,0 -
8 1,0 1,0 - - - 1,0 - - - - - -
9 9,5 3,0 - - - 3,0 - - - - - 2,0
10 7,5 49,0 - - - - - - - - 29,0 34,5
11 77,0 5,5 47,5 0,3 - - - - - - 33,0 61,5

12 - 6,0 70,5 2,6 29,0 2,0 - - - - 9,5 -


13 - 1,0 - - 22,0 - - - - 9,0 3,0 29,5
14 6,5 3,5 36,5 - - - - - - - 4,0 4,0
15 16,5 - 5,5 65,5 5,5 - - - - - 1,0 29,0

A-12
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 4,5 2,0 24,5 2,0 - - - - - - 9,5 2,5
17 38,5 30,5 16,5 - - 8,0 - - - - - 25,5

18 15,0 13,0 - - - - - - - - 53,0 -


19 17,5 8,5 - - - 2,1 - - - - 5,5 6,0
20 5,5 6,5 8,0 - 10,0 - - - - - 8,0 27,5

21 21,5 - 5,5 - - - 0,0 - - - 54,0 -


22 4,0 - 10,5 10,0 - - - - - - 7,5 -
23 - 2,5 - 24,5 - - - - - - - 12,5

24 - - 64,0 - 46,5 - - - - - - 2,5


25 56,0 5,0 - - - - - - - - - 87,5
26 - - - - - - - - - - 6,0 20,5

27 - - - - - - - 5,5 - - 11,5 -
28 35,5 6,5 11,0 15,5 - - - 6,5 - - 2,5 1,0
29 75,0 - - - - - - - - - - 12,0

30 13,0 - 20,0 - - - - - - - 1,0 -

31 - - 2,5 - - - - - - - - 5,0

A-13
Tabel A.7
Data Jam Hujan Tahun 2015

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

1 - 3,5 0,7 0,7 - 4,9 - - - - 1,6 2,8


2 3,9 0,2 7,2 5,8 3,2 1,2 - - - - - 4,3
3 3,2 4,2 5,5 6,3 3,4 - - - - - - -
4 0,5 5,4 5,6 - 5,2 1,4 - - - - 0,4 0,1
5 0,8 2,1 - 1,5 - 1,8 - - - - 2,2 7,6

6 3,2 2,4 - 0,6 1,8 3,7 - - - - 0,4 3,4


7 1,9 3,2 2,0 3,4 9,7 9,5 - - - - 2,6 0,4
8 1,3 2,5 - 0,8 - 1,3 - - - - - 0,4

9 5,0 1,6 - - 0,3 4,7 - - - - - 2,8


10 3,2 4,8 - 0,3 0,2 0,2 - - - - 7,3 8,4
11 5,0 13,2 2,8 2,3 - - - - - - 12,3 6,1

12 0,2 4,6 3,0 13,4 4,9 1,7 - - - - 1,9 5,6


13 0,1 - 2,0 - 4,0 - - - - 1,5 3,5 3,5
14 3,4 1,9 3,6 - - - - - - - 0,7 6,5

15 7,5 - 3,9 4,5 0,8 - - - - - 1,9 5,6

A-14
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

16 4,9 4,3 2,4 5,4 - - - - - - 2,4 2,0


17 9,1 2,9 0,5 0,2 - 3,8 - - - - - 8,5

18 8,7 - 0,6 - - - - - - - 4,2 -


19 5,7 6,4 - - - 0,8 - - - - 3,8 3,7
20 2,8 1,0 2,1 3,5 - - 0,3 - - - 2,6 6,3

21 2,7 - 5,5 4,9 - - 1,1 - - - 6,7 -


22 4,8 - 7,6 7,5 4,9 - 0,2 - - - 1,9 -
23 - 1,6 1,2 7,4 - - - - - - 0,6 1,4

24 - - 4,3 5,3 7,3 - - - - - - 4,2


25 7,9 5,5 0,5 7,7 - 1,3 - - - - - 9,1
26 5,5 - - - - - - - - - 3,8 2,8

27 - - - - 2,2 - - 2,0 - 0,6 1,4 -


28 6,2 3,2 0,7 9,3 - - - 1,0 - 0,8 5,0 2,0
29 2,4 - - - - - - - 0,3 - 0,8 2,5

30 1,8 - 3,3 - 1,3 - - - - 2,0 0,9 -

31 5,5 - 2,7 - 0,8 - - - - - - -

A-15
Tabel A.8
Data Curah Hujan Tahun 2016

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 - - - - - - 9,0 - - 36,0 - 1,5
2 0,5 9,5 - - 8,0 - - - - - 34,0 6,0

3 5,0 12,5 80,0 - 3,5 - - 2,0 - - 9,5


4 - - - - 1,0 25,0 - 17,0 6,5 54,0 - 15,0
5 - - 73,0 - 4,0 - - - 42,5 - - 26,0

6 0,5 5,0 - - - - - 2,0 - - 0,5 5,0


7 13,0 54,0 6,0 - - - - - - 3,5 7,5 -
8 1,0 - - - - - - - - 3,0 - -
9 1,0 - - - 52,0 - - - - 27,5 - 43,5
10 - 64,5 - - - - - - - - - -
11 20,0 - 11,0 - - 20,5 - - - 2,0 - 20,0

12 - - - - - 22,5 - - - - - 2,5
13 - - - - - 4,5 - 2,0 3,5 - 5,0 15,2
14 33,0 - 20,0 - - - - - - - 4,0 -
15 5,0 - - - - - - 0,5 12,5 - 7,5 19,0

A-16
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

16 - - 5,0 - - 40,5 - - 85,0 - 6,0 -


17 5,0 - - - - - - - - - 1,5 -

18 - - 6,0 - - - - - 26,0 - 12,5 -


19 1,0 - - - 2,5 - - - - 0,5 24,5 37,0
20 18,5 - - - - - - - 4,0 11,5 - 60,0

21 - - - - - - - - 15,0 - 59,0 22,0


22 24,0 - - - - - - - 14,5 5,5 27,0 29,0
23 0,5 - 9,0 - - 3,5 - - 28,0 51,5 - 13,5

24 30,0 - - - - - - 8,0 1,5 0,5 55,0


25 - - - - - 5,0 - 11,5 - - 5,0
26 - - - - - - - 7,0 - 12,0 10,0

27 - - - - - - 19,5 - 3,0 52,0 28,0


28 - - - - - 25,0 - 24,0 2,5 7,0 5,0 7,5
29 - - - - 6,0 - - - - - 58,0 31,0

30 - - - - 25,0 - 1,5 - - - 54,0 -


31 - - - - 2,0 - - - - 1,0 - -

A-17
Tabel A.9
Data Jam Hujan Tahun 2016

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

1 - - 0,1 - 0,6 2,6 4,8 0,8


2 1,3 0,8 7,7 - 1,7 2,3 9,7
3 5,7 8,1 - - 0,6 3,0 0,6 0,4 2,5
4 - - 7,2 - 1,9 11,0 8,3 3,2 9,8 4,5
5 - 1,9 1,8 - 3,0 1,2 11,6

6 1,3 5,3 3,3 - 1,2 0,1 5,6


7 1,4 6,7 4,0 - 10,8 3,5
8 1,3 - - - 2,1 1,1

9 2,1 2,9 - - 6,2 0,7 5,1 9,7


10 4,1 9,5 0,8 -
11 - - 11,1 - 0,5 0,9 0,7 1,7

12 - - 0,3 - 3,9 2,1 3,5


13 1,8 - - - 3,6 2,4 0,6 1,6 2,5 7,4
14 1,5 - 5,0 - 3,5 1,2 0,4

15 0,8 - 0,6 - 0,4 0,3 8,9 7,5 5,7

A-18
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

16 6,2 - 3,4 - 4,8 8,2 2,2


17 6,8 - - - 0,9 4,2 0,3

18 0,4 - 1,1 - 10,2 4,9 1,5 2,0


19 7,5 - - - 2,5 15,2 0,6 4,3 9,8
20 - - - - - 7,7 0,7 3,8 6,8

21 2,6 - - - 0,5 3,0 3,5 8,9 9,0


22 0,6 - 1,0 - 1,9 - 2,5 4,1 7,0 9,0
23 0,9 - 10,1 - - 0,8 - 1,7 5,0 - 6,5

24 4,7 - 0,6 - - - 2,6 2,9 1,0 7,4


25 - - - - - 0,4 - 1,2 - - 4,1
26 - - - - 1,7 3,6 - 5,4 4,7

27 - - - - 0,4 0,5 1,2 - 6,6 5,3


28 - - - - 4,7 5,3 0,4 - 3,4 9,7
29 - 0,8 - - 0,7 - - - 3,2 6,3

30 2,4 - - - 1,7 - 1,5 - - 8,5 5,0

31 - - - - 1,7 - - 0,5 - - -

A-19
Tabel A.10
Data Curah Hujan Tahun 2017

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 - 29,0 4,0 3,0 - 14,0 46,0 - - 4,0 55,0 26,0
2 10,5 25,0 16,0 - - 25,0 - - 7,0 -

3 33,0 - 8,0 - - 6,5 - - 6,0 1,0 5,0 -


4 65,0 - 19,0 10,5 - - 7,0 - - 34,0 -
5 65,0 - 54,0 4,5 - - 8,0 - - 17,5 - 32,0

6 - - 25,5 - - - 21,0 - 4,0 6,5 72,0


7 5,0 - 7,0 - 12,0 - 0,5 - 1,0 - 25,0 20,0
8 49,5 - - - - - - 14,0 - 27,0 8,0
9 0,5 - - 6,0 - - - - - - 7,0 20,0
10 23,5 - 2,0 - 1,0 - 15,5 - - - - -
11 15,0 4,5 - - 14,0 18,0 - - 3,0 24,0 2,0

12 - 13,0 23,0 35,0 12,0 26,0 12,0 5,0 24,0 6,0 4,5 3,0
13 17,0 7,5 2,5 9,5 13,0 5,0 4,0 - - 25,0 27,5
14 26,0 36,0 2,5 13,0 5,5 - 19,0 - - 24,0
15 32,0 - - 14,5 - 4,0 - - - 6,0 7,0

A-20
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 2,5 - - 7,5 3,5 - - - 7,0 2,5 - 25,0
17 - - - - 3,0 - - 39,5 5,0 - 4,0 18,0

18 7,5 - - 2,0 - 1,5 5,0 1,5 - - 49,0 25,0


19 0,5 - 1,5 17,0 45,0 - 7,0 - - 2,5 14,0
20 - 6,0 28,0 - 27,0 - - - - - 4,0 27,0

21 - 71,0 10,0 43,0 2,0 6,0 - - - - 22,0 34,0


22 5,0 - 9,3 - - - 17,0 2,0 - - 12,0
23 5,0 52,5 1,5 46,0 - - - - 1,0 - 29,5

24 16,5 5,0 11,0 - - - 17,0 1,0 - 43,0 2,0


25 40,0 - - 8,2 - - - 12,0 - 1,5 50,0 8,0
26 2,5 - 35,0 36,0 - - 1,0 - - 3,5 26,0 11,0

27 12,0 - - - 4,0 - - - 42,0 - - 18,0


28 14,5 4,5 - - 14,0 - 5,5 - - - 2,0 -
29 1,0 - - 8,0 49,0 - 6,0 7,0 - - 17,5 51,0

30 1,0 - 2,5 - 0,5 1,5 - - 22,0 - - -

31 9,5 - 7,0 - 8,0 - - - - 0,5 - -

A-21
Tabel A.11
Data Jam Hujan Tahun 2017

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

1 11,27 6,53 0,83 9,15 7,97 4,63 9,33 9,63


2 1,17 3,20 5,45 3,42 1,60 5,50 0,42 1,37 6,18
3 3,08 5,00 0,25 14,43 4,57 1,78 2,42
4 9,63 7,92 5,52 1,43 1,00 4,27 1,23
5 2,50 11,00 2,17 2,07 4,50 7,03 11,00

6 6,80 2,38 0,70 3,50 4,08 9,63


7 3,92 2,42 6,50 1,10 1,25 4,12 9,00
8 10,02 3,42 5,67 3,00 1,70

9 0,55 0,98 4,08 7,28


10 2,85 1,25 1,08 2,08 1,23 6,50
11 6,07 2,28 2,42 1,75 3,08 0,50 2,83 0,58 1,08

12 6,13 7,90 5,33 4,17 8,00 2,93 4,40 2,82 1,72 4,58 14,43
13 6,67 4,57 9,45 3,35 5,18 3,83 4,00 6,33 8,87
14 5,25 4,28 0,78 5,27 9,22 10,08 4,88

15 11,30 3,32 1,05 9,28 3,42

A-22
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 1,58 1,60 1,72 3,58 1,50 6,68
17 0,25 1,37 0,50 2,15 3,75 3,68

18 2,07 1,08 1,65 1,17 7,33 5,38 3,08


19 1,22 0,60 2,50 8,00 3,67 4,65 3,25 1,38 1,27 1,67
20 2,88 6,58 1,85 4,57 5,92

21 9,22 3,50 6,90 1,02 2,35 5,00 7,33


22 4,52 0,65 1,83 7,82 1,40 4,58
23 3,78 5,00 2,25 15,00 1,58 10,15 0,75 5,50

24 2,58 4,90 2,50 2,25 1,02 6,75 1,58


25 11,00 5,05 1,80 4,90 1,42 1,92 13,03 4,08
26 4,00 6,68 2,02 0,67 4,58 10,23 9,02

27 2,31667 1,18333 2,60 5,18 5,33


28 7,75 1,57 6,35 1,92 0,77
29 1,50 5,00 5,33 0,50 2,08 17,00 1,17

30 1 - 1,88 1,00 0,25 3,33

31 3,33333 - 4,40 - 3,23 - - 1,03 -

A-23
Tabel A.12
Data Curah Hujan Tahun 2018

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 1,0 - 16,5 - 3,0 - 6,0 43,5 - - 5,0 43,0
2 12,5 45,0 - - 77,0 - 10,0 1,5 1,0 - 16,0 2,0

3 4,0 - 82,5 2,0 - 2,0 - - - - 8,5


4 3,0 5,0 1,0 32,0 - - 5,5 - 1,0 - 2,0 3,5
5 32,0 6,5 4,0 8,0 - 6,5 - 0,5 - - - 7,0

6 27,5 30,0 5,0 3,0 - 6,0 - - 1,5 20,0 6,0 55,0


7 4,0 27,5 - - 3,0 - 15,5 - - - 8,0 51,0
8 - 8,5 6,0 - - 37,0 - - - 7,0 27,0
9 2,0 26,0 - 34,0 63,0 - - 0,5 6,0 - 3,0 3,0
10 4,0 31,0 1,0 4,5 - 12,0 - - 1,0 3,0 14,0 12,0
11 25,0 4,5 1,0 10,0 - 4,0 - - 26,5 14,5

12 - 6,5 9,0 10,0 - 7,5 - - - 5,0 - 1,0


13 3,5 - 22,0 0,5 - 2,5 - - - 31,0 - -
14 - 23,0 1,0 - - - - - 3,0 34,5 -
15 9,0 24,0 1,0 23,0 6,0 - - - - 1,0 8,0 3,0

A-24
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 3,0 12,0 - 8,0 - 27,0 - - - - - 18,0
17 5,0 5,0 2,0 - 45,0 - - - 7,0 - 39,0 -

18 5,0 - - 60,0 - - - - - - 19,0


19 24,0 47,0 - 40,0 10,0 - - - 50,5 1,5 - 11,0
20 23,0 - 2,0 4,5 - 5,0 - - - 3,0 - 20,5

21 18,0 7,5 115,0 1,0 - - - - - 7,0 7,0 4,5


22 - 5,0 22,0 - 5,0 - 27,5 2,0 - - 12,0 1,0
23 - 24,0 - 19,0 6,5 2,5 - - - - 5,0 11,5

24 - 5,0 8,0 25,0 6,5 - - - - - 3,0


25 25,0 - 20,0 39,5 13,5 38,5 - - - 15,0 30,0 11,0
26 - 20,0 7,0 20,0 18,0 26,0 17,5 1,0 - 20,0 - 29,0

27 7,0 - 23,0 - 6,5 34,0 - - - 24,0


28 56,0 6,5 6,5 - 26,0 - - 8,0 2,0
29 4,0 - 27,0 16,5 - 6,0 16,0 - - - 30,0

30 - - 18,0 - - 4,0 - - 4,5 5,5

31 - - 1,5 - - - 14,0 - - - 5,0

A-25
Tabel A.13
Data Jam Hujan Tahun 2018

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

1 2,33 6,50 6,57 1,25 3,67 6,43 6,50 2,70


2 3,75 4,20 9,05 11,17 0,25 0,27 1,17 3,42
3 4,00 11,02 0,75 1,50 4,47
4 1,93 1,58 0,42 1,80 3,23 1,50 1,92 0,12
5 3,75 3,85 2,67 0,97 3,73 0,33 0,58 4,33

6 7,58 18,68 7,80 2,33 3,00 1,45 1,57 2,13 4,90


7 7,63 11,00 0,75 1,00 3,27 2,05 2,62
8 7,58 3,07 0,08 3,67 6,28 6,62

9 2,00 11,35 1,17 3,67 0,17 3,17 4,50 0,42


10 3,82 6,33 1,22 1,50 2,47 1,33 2,95 4,30 8,58
11 5,35 1,00 0,47 1,45 2,45 11,92 3,78

12 1,67 6,27 1,37 6,12 3,55 1,42


13 2,92 8,85 1,58 0,47 7,35
14 0,50 8,82 0,42 3,50 2,62

15 11,52 8,10 0,58 6,87 5,75 1,50 4,75

A-26
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 3,53 1,50 1,63 4,48 5,40
17 6,83 0,32 1,25 0,58 3,00 2,67 0,67

18 4,70 2,00 4,00 4,30


19 16,30 5,40 0,58 2,75 1,75 5,42 1,00 7,00 6,50
20 5,20 1,92 5,05 1,00 8,00

21 5,83 1,50 10,00 1,50 0,83 5,00 3,37 4,28


22 2,50 1,82 1,50 6,30 0,35 1,33 1,03
23 4,78 6,17 1,78 1,00 11,50

24 4,32 1,42 3,70 1,00 1,20 4,60


25 0,75 12,83 7,32 2,10 1,25 5,17 3,50
26 2,83 3,00 6,00 2,93 7,78 0,58 3,23 5,40

27 3,53333 10,77 4,70 7,90


28 7,75 3,08 1,17 3,03 2,43
29 1,12 2,10 3,33 7,72 0,47 1,90 9,70

30 - 5,67 4,22 9,13

31 - 0,30 - 2,10 - - 0,65

A-27
Tabel A.14
Data Curah Hujan Tahun 2019

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 13,0 8,0 19,0 26,0 37,0 3,0 - - - - - 1,0
2 4,0 2,0 21,0 25,0 23,0 35,0 - - - 3,0 - -

3 3,0 24,0 38,0 - 8,0 - - - 8,5 - 5,0


4 21,0 26,0 11,0 15,0 - - 16,0 - - 3,5 - -
5 - 18,0 14,0 18,5 1,0 - - - - - - 0,5

6 10,0 19,0 15,5 7,0 - - - - - - - 51,0


7 31,0 10,0 - - - 6,0 - - - 45,0 - 10,0
8 7,5 100,0 - 8,5 - 27,0 - - - - - 0,2
9 33,0 3,0 - - - 1,0 - - - - 7,0 25,0
10 - 2,0 2,0 - - 1,0 - - - - 1,0 23,0
11 - 10,0 42,0 17,0 16,0 12,5 - - - 2,0 - 15,0

12 - 18,0 15,0 - - 3,0 - - - 12,5 - 3,0


13 50,0 - 9,0 18,0 3,0 10,0 - 2,5 - - 6,0 1,0
14 39,0 7,5 - 3,0 10,0 6,0 - - - - 16,0 1,0
15 45,0 2,5 11,0 - - - - - - 8,0 - 17,0

A-28
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 22,0 37,0 20,5 50,0 - - - - - - 3,0 3,0
17 - 100,0 40,0 9,5 - - - - - - - -

18 - 8,0 2,0 15,0 7,0 - - - - 22,0 4,5 39,0


19 7,0 - 10,0 3,0 - 35,0 2,0 - - 4,0 7,0 14,0
20 28,0 - - 13,0 - - 49,0 - - - 7,5 30,0

21 36,0 - - 15,5 - - 7,0 - 17,5 - 0,5 -


22 25,0 - - 7,0 - - - - - - 3,0 2,0
23 - - 6,0 12,5 5,0 - - - - - 2,0 7,0

24 0,6 31,0 12,0 6,0 - - - - - 0,5 3,0


25 9,9 - 2,0 - 2,0 - - - - - 0,5 5,5
26 31,0 20,0 20,0 - - - - - 0,5 16,0 - -

27 5,0 - 1,0 15,0 12,0 - 11,0 - - - - 6,0


28 42,0 20,0 6,5 25,0 4,5 - - - - - 1,0 35,0
29 2,6 - - 8,0 - - - - - - - -

30 - - 6,0 9,0 - - - - - - 5,0 -

31 - - 15,0 - 13,0 - - - - 1,0 - -

A-29
Tabel A.15
Data Jam Hujan Tahun 2019

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

1 7 3,20 6,70 12 2,13 0,70 5,53


2 3,32 5,00 0,00 3,17 1,68 14,00
3 4,38 4,75 3,41 1,70 7,00 4,50
4 3 4,68 6,10 5,2 7,21 6,00
5 0,00 2,30 5,12 6,17

6 7,02 6,67 3,42 1,8 2,42


7 2,47 7,00 1,43 12,00 3,58
8 3,08 5,10 9,65 1,82 10,00

9 5,1 11,33 3,73 2,75 6,83


10 1,03 3,67 9,45 8,37 5,33
11 2,00 4,33 5,6 3,30 1,33 9,40 1,17

12 1,00 6,77 4,70 5,57 4,75


13 3,75 7,10 4,92 3,12 0,18 1,30 3,50 3,13
14 7,33 6,93 4,03 2,21 0,13 6,45 1,40

15 11,93 0,50 4,58 7,34 5,58 4,22

A-30
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 17 4,63 8,30 0,25 2,00 0,95
17 1,75 1,20 0,18 8,50

18 7,37 5,92 0,83 0,42 3,00 4,50


19 4,42 4,02 3,07 0,25 9,00 3,73 3,75

20 4,78 1,08 6,26 4,00

21 15,15 0,17 2,10 5,67


22 6 4,91 4,17
23 1,00 0,43 1,38 7,75

24 0,2 0,88 1,60 7,33 4,21 9,75


25 7,5 5,08 0,54 9,08 13,53
26 7,5 0,75 5,33 3,20 4,00 2,75

27 8,83 5,17 2,17 5,50 1,56 12,50


28 9,78 5,77 5,37 0,20 2,00 18,50

29 2,75 2,50

30 - 10,47 1,3 3,00

31 - 1,60 - 7,40 - - 7,00 -

A-31
Tabel A.16
Data Curah Hujan Tahun 2020

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 - - 24,0 - 15,0 9,0 - - 0,8 9,0 - 0,5
2 65,0 2,0 0,5 3,0 55,0 4,0 10,0 0,5 8,0 - 0,5 -

3 32,5 37,0 11,0 37,5 6,0 6,5 22,0 5,0 14,0 - 37,5 4,0
4 4,5 6,5 0,5 - - - 7,0 - 15,0 - 2,0 0,5
5 18,0 100,0 67,0 10,0 - - - 42,0 5,0 - 0,5 -

6 - 10,0 6,0 15,0 0,5 4,0 7,5 2,0 38,0 - 1,0 5,0
7 2,0 55,0 - 7,5 - 0,5 1,0 - - 81,0 - -
8 - 2,0 - 28,0 5,0 - 10,0 - 6,0 - 5,0 -
9 10,0 25,5 1,0 2,0 11,5 - 17,0 25,0 7,0 6,0 - 20,0
10 29,5 - - 28,0 0,2 - 45,0 7,5 - - - 11,0
11 18,0 - - 21,0 78,0 - 29,0 - 9,0 - 16,5 12,5

12 25,0 - 3,0 - 28,0 - 6,0 6,5 - - - 8,0


13 27,0 - 7,0 - 8,0 - 10,0 11,0 - 3,0 - 12,0
14 2,0 8,5 - - 5,0 15,0 15,0 - 4,0 1,5 36,0 -
15 26,0 44,5 16,0 - 8,0 30,0 3,5 - - 15,0 7,5 11,0

A-32
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 - 20,5 47,0 - 0,5 5,0 - - - 10,0 - 12,0
17 59,0 21,5 - 49,0 16,0 - - - - 1,5 8,5 10,5

18 3,0 - - 24,5 11,0 0,5 30,0 - 1,0 12,0 - 11,0


19 2,0 7,0 0,5 8,5 10,0 2,5 41,0 - - 7,5 - 7,5
20 17,5 - 35,5 - - 47,0 - - - - - 11,0

21 4,0 - 35,0 - 23,0 15,0 - 0,5 9,0 - 7,0 32,0


22 1,0 - 1,0 14,0 - 1,0 9,5 - 8,0 0,5 15,5 10,5
23 1,5 2,0 46,3 2,0 - - 3,0 - - 12,5 37,5 47,0

24 4,0 1,5 0,5 8,5 - - - - 3,0 - 4,0 3,5


25 26,0 4,0 23,5 16,5 34,5 - - 9,0 - - 60,5 113,0
26 - 9,5 6,0 8,0 - - - - - 11,5 7,0 9,5

27 - - 1,0 34,0 8,0 1,0 - - 53,0 1,0 42,5 6,5


28 16,0 - 36,0 25,0 36,0 2,0 - 0,5 8,0 39,5 - 4,5
29 26,0 - 4,0 - - - - - 50,5 5,0 48,0 4,0

30 20,5 - 2,0 0,3 - 1,5 - - - 106,0 5,0 16,5

31 1,0 - 10,0 - 1,0 - - - - - - 2,0

A-33
Tabel A.17
Data Jam Hujan Tahun 2020

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

1 - - 3,23 - 2,58 2,17 - - 1,03 1,88 3,58 0,42


2 8,28 3,42 0,33 4,75 7,92 1,17 1,42 0,17 4,50 - 2,42 -
3 11,25 2,88 9,75 6,10 3,00 3,92 2,32 1,50 9,17 - 6,17 1,42
4 5,92 5,48 1,33 - - - 1,92 - 5,03 - 1,65 1,00
5 9,60 19,62 14,42 3,42 - - - 12,00 1,50 - 1,78 -

6 - 3,37 3,63 4,93 0,33 1,00 2,25 0,42 4,20 - 3,50 2,50
7 0,75 9,42 - 2,65 - 0,25 0,42 - - 5,35 - -
8 - 1,50 - 2,77 3,25 - 2,37 - 3,87 - 1,13 -

9 5,08 14,00 0,72 3,67 5,42 - 8,75 11,75 1,67 4,92 - 4,75
10 12,65 - - 4,33 0,25 - 6,75 5,08 - - - 0,83
11 16,12 - - 6,77 5,08 - 13,83 - 2,42 - 2,67 5,92

12 6,58 - 1,43 - 2,63 - 5,13 3,42 - - 0,50 9,03


13 2,57 - 5,17 - 5,58 - 2,67 2,75 - 0,53 - 5,50
14 0,38 2,50 - - 4,35 1,50 6,25 - 0,90 1,67 3,58 -

15 2,50 13,80 1,50 - 2,83 5,27 3,22 - - 6,33 2,02 4,03

A-34
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 - 9,72 9,03 - 0,50 2,50 - - - 6,42 - 6,88
17 8,97 9,92 - 5,92 11,95 - - - 2,25 2,08 3,17

18 1,25 - - 4,02 6,25 0,17 3,50 - 0,32 2,83 - 5,10


19 0,83 2,78 0,37 4,58 2,67 2,12 6,17 - - 4,15 0,12 4,25
20 9,42 - 5,87 - - 4,88 - - - - 1,50 4,42

21 2,18 - 5,63 - 9,67 2,95 - 0,53 1,27 - 7,53 6,22


22 0,33 - 1,33 1,00 - 0,22 5,47 - 2,08 1,00 10,13 11,33
23 2,50 1,37 9,28 1,60 - 2,18 - - 1,92 6,13 15,17

24 2,98 1,20 1,00 5,08 - - - 1,50 - 8,17 2,00


25 1,70 3,07 6,22 5,33 5,67 - 0,67 - 10,20 8,50
26 - 3,63 3,33 5,17 - - - - 5,42 4,00 4,98

27 - - 0,78 5,37 1,00 0,62 - 13,92 2,08 9,78 2,35


28 7,45 - 6,00 10,47 5,15 1,42 0,50 3,12 3,83 - 7,33

29 4,90 - 7,50 - - - - 2,47 1,78 12,92 1,50

30 13,25 - 1,25 0,75 - 1,50 - - 3,50 4,00 7,78

31 1,50 - 3,67 - 0,85 - - - 6,08 - 0,83

A-35
Tabel A.18
Data Curah Hujan Tahun 2021

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
1 - 2,5 1,0 57,0 1,5 - 18,0 - - - 0,5 11,5
2 - - 40,0 - 15,0 - 5,0 3,0 7,5 4,0 - -

3 44,0 36,0 11,0 - 2,0 - 14,0 33,0 2,0 29,0 2,0 16,5
4 1,5 30,0 10,0 24,0 33,0 - - - 7,0 1,0 23,5 4,5
5 - 10,5 - 13,0 3,5 - - - 4,5 21,0 3,5 4,0

6 - - 60,0 - 0,5 14,0 2,0 - - - - 6,0


7 36,0 5,0 30,0 26,0 - - 40,0 - 1,5 0,5 126,0 33,0
8 4,0 22,5 12,0 9,5 - - 0,5 32,0 - - - 0,5
9 42,0 - 12,0 - 25,0 - - - - - 4,5 16,0
10 50,0 1,5 0,5 7,0 21,0 1,5 - - - 1,0 16,0 3,0
11 0,6 35,0 - - 2,0 1,0 - 0,5 29,0 3,0 7,5 22,5

12 5,5 28,0 - - 27,5 11,0 1,5 5,0 1,5 - 4,5 7,0


13 70,0 21,5 19,0 - 1,8 - 36,0 12,5 3,0 - 18,0 6,5
14 18,5 13,5 23,0 - 9,1 26,5 - - 3,5 - 20,0 13,0
15 38,0 17,0 - - 0,5 - 1,5 - 7,8 - 1,0 1,0

A-36
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 3,5 42,0 - - 18,5 - - 1,5 0,2 - 6,5 2,0
17 20,5 5,0 - - 6,5 0,5 3,5 31,0 2,5 59,0 2,5 5,0

18 26,0 21,5 50,0 - 8,0 - - 0,5 - - 37,5 1,0


19 4,0 68,0 1,0 - - 5,5 - 2,0 - 34,0 4,5 10,0
20 - 2,0 23,5 - 6,5 15,0 - 25,0 - - - 31,0

21 - 8,0 13,0 - - 1,5 53,0 12,0 10,0 - 5,0 1,0


22 24,0 20,0 51,0 - - - - 5,0 - - 1,0 6,5
23 - 54,5 9,0 - - - - - 9,5 - 5,0 2,5

24 2,0 1,5 1,0 - 11,5 8,5 - - 34,0 - 3,5 10,0


25 1,5 - 7,5 - - 7,5 - 1,0 - 0,5 25,0 6,5
26 35,0 - - 0,5 6,5 10,0 - 7,0 59,0 - 41,0 13,5

27 65,0 - - - 1,5 - - 15,5 - 8,5 19,5 6,0


28 3,0 - - - - 5,5 - 2,0 1,5 10,5 20,0 14,5

29 - - - 38,0 2,5 2,5 - 12,5 - 7,5 9,0 5,0

30 - - - 1,5 - 1,0 5,2 0,5 4,0 1,0 13,0 -

31 16,0 - - - - - - 0,5 - - - 23,0

A-37
Tabel A.19
Data Jam Hujan Tahun 2021

Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des

1 - 4,70 - 15,00 0,90 - 6,00 - - - 1,00 4,80


2 0,40 - 6,00 - 1,30 - 5,40 3,40 6,90 8,50 - -
3 7,80 7,20 2,70 - 1,60 - 2,60 5,50 6,50 5,90 1,90 2,00
4 1,60 3,60 4,90 2,90 3,50 - 0,30 - 3,80 0,50 6,00 7,80
5 - 7,70 - 8,70 4,90 - - - 6,10 3,80 6,20 3,90

6 - 0,70 7,40 - 1,00 1,70 1,70 - - - - 5,10


7 11,80 2,30 3,00 13,20 - - 7,30 - 0,50 1,30 6,50 7,30
8 3,30 6,40 5,80 7,10 - - 1,10 3,30 0,70 - - 2,40

9 9,20 - 10,60 - 3,90 - - - - - 4,40 8,80


10 17,50 0,60 0,40 5,30 4,30 3,10 - - - 1,40 10,70 3,60
11 2,50 8,40 - - 3,50 0,70 - 0,30 5,70 3,20 8,10 5,90

12 5,60 10,00 - 0,20 0,70 4,90 1,70 5,00 3,70 - 10,40 5,90
13 16,50 11,20 9,20 0,40 4,50 - 6,30 5,40 2,70 - 5,00 8,30
14 21,00 6,00 8,40 - 2,80 6,20 - - 4,20 - 9,40 12,80

15 16,50 8,40 - - 0,40 - 2,40 - 5,70 2,30 2,80 0,70

A-38
Tanggal Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
16 1,50 3,70 0,50 - 3,00 - - 0,40 0,30 0,20 3,30 2,40
17 4,30 4,20 - - 3,00 1,60 1,70 3,50 1,00 12,00 1,50 2,60

18 11,00 3,20 6,70 - 4,20 - - 0,30 - - 7,10 1,60


19 3,20 10,00 0,80 - 3,00 3,60 - 1,30 - 4,20 1,40 4,90
20 - 3,50 4,90 0,40 1,60 6,20 - 2,90 1,20 - - 19,40

21 0,50 3,40 3,20 - - 3,70 10,20 6,20 9,30 - 4,20 2,90


22 6,70 12,00 7,60 - - - - 3,60 2,60 0,20 1,50 7,60
23 - 13,10 11,70 - 0,30 - - - 5,50 - 2,60 3,50

24 7,30 0,20 2,00 - 9,20 10,10 - 0,90 5,60 - 5,00 5,30


25 4,40 - - - - 3,80 - 2,70 0,40 1,10 12,90 3,90
26 3,40 - - 0,90 1,30 1,70 - 7,30 7,90 - 8,60 9,20

27 9,10 - 1,50 - 1,00 1,00 - 6,30 - 1,50 8,00 6,50


28 1,90 - 6,30 - - 3,80 - 8,00 0,90 3,70 18,70 2,10

29 - - 11,10 3,70 2,60 3,50 - 8,40 - 1,80 1,80 11,30

30 - - 9,90 1,60 - 3,00 2,30 0,20 3,20 2,20 4,00 -

31 2,60 - 13,60 - - - - 0,30 - - - 4,00

A-39
LAMPIRAN B
PERHITUNGAN CURAH HUJAN RENCANA
Dari data yang curah hujan harian dari tahun 2011 sampai dengan 2021
selanjutnya akan dianalisa. Analisa terhadap data curah hujan ini dapat
dilakukan dengan metode annual series yaitu metode dengan mengambil satu
data maksimum setiap tahunnya yang berarti bahwa hanya besaran maksimum
setiap tahun saja yang dianggap berpengaruh dalam analisa data penelitian.
Metode ini setidaknya harus mempunyai data curah hujan harian minimal
selama 10 tahun terakhir.
Tabel B.1
Data Curah Harian Max 2011-2022

Curah Hujan Harian max Durasi Hujan Max


No Tahun
(mm) (Jam)
1 2021 126 21
2 2020 113 19,6
3 2019 100 18,5
4 2018 115 18,7
5 2017 72 17
6 2016 85 15,2
7 2015 88 13,4
8 2014 83,4 18,5
9 2013 93 -
10 2012 78 -
11 2011 89,5 -
Total 1042,900

Berdasarkan data curah hujan harian maksimal tahunan, maka


didapatkan nilai curah hujan rata-rata nya adalah sebagai berikut:
Jumlah Curah Hujan
X̅ =
Banyaknya Data
1042,900 mm
X̅ =
11
X̅ = 94,809 mm

B-1
LAMPIRAN C
MENENTUKAN STATISTIK SUATU DISTRIBUSI

Dalam analisis frekuensi data hujan atau data debit guna memperoleh
nilai hujan rencana atau debit rencana, ada beberapa metode distribusi
probabilitas yang sering digunakan. Penentuan jenis distribusi probabilitas yang
sesuai dengan data dilakukan dengan mencocokkan parameter data tersebut
dengan syarat masing-masing jenis distribusi seperti pada tabel Persyaratan
Parameter Statistik Suatu Distribusi.
Tabel C.1
Menentukan Distribusi

Curah Hujan
No (Xi-X̅)2 (Xi-X̅)3 (Xi-X̅4
Tahunan Max
1 126 972.87 30344.787 946481.50
2 115 407.67 8231.285 166197.12
3 113 330.91 6019.539 109500.88
4 100 26.95 139.872 726.06
5 93 3.27 -5.921 10.71
6 89.5 28.19 -149.644 794.48
7 88 46.36 -315.695 2149.59
8 85 96.22 -943.814 9257.95
9 83.4 130.17 -1485.091 16943.54
10 78 282.55 -4749.334 79831.98
11 72 520.25 -11866.535 270664.88
Jumlah 1042.900 2845.41 25219.45 1602558.70

Berdasarkan data curah hujan harian maksimal tahunan, maka


dilakukan perhitungan sebagai berikut:
3. Curah Hujan Rata-rata
Jumlah Curah Hujan
X̅ =
Banyaknya Data
1042,900 mm
X̅ =
11
X̅ = 94,809 mm
4. Standar Deviasi

∑n (Xi - X̅) 2
√ i=1
S=
n-1

C-1
2845,41
S=√
11-1

S = 16,868
5. Cv(Koefisien Skewness)
S
Cv =

16,868
Cv =
94,809 mm
Cv = 0,178
6. Cs (Koefisien Skewness)
n
n 2
Cs= 3
∑ (Xi - X̅)
(n-1)(n-2)S i=1
11 x 25.219,45
Cs=
(11-1)(11-2)((16,868)3 )
Cs= 0,462
7. Ck
2
n . ∑ni=1 (Xi - X̅)
Ck=
(n-1)(n-2)S4
11 x 1.602.558,70
Cs=
(11-1)(11-2)((16,868)4 )
Cs=2,419
Berdasarkan perhitungan yag telah dilakukan, didapatkan nilai Ck 0,462
dan Cs 2,419. Dari nilai Ck dan Cs maka nilai tersebut mendekati dengan nilai
Ditribusi Normal.
Tabel C.2
Persyaratan Parameter Statistik Suatu Distribusi

No Distribusi Persyaratan
Cs = 1,14
1 Gumbel
Ck = 5,4
Cs = 0
2 Normal
Ck = 3
Cs = C3 + 3C
3 Log Normal
Ck = C8v + 6Cv6 + 15Cv4 + 16Cv2 + 3

4 Log Person III Selain dari nilai diatas

C-2
Jadi, prerhitungan hujan periode ulang dapat dilakukan dengan
menggunakan distribusi normal. Perhitungan hujan periode ulang dengan
metode distribusi normal dipengaruhi oleh nilai variabel resuksi gauss.
8. Jangkuan
Jangkauan = Curah Hujan Terbesar - Curah Hujan Terkecil
Jangkauan = 126 - 72
= 54
9. Jumlah Kelas
Jangkauan = 1+3,3 x Log (Jumlah data)
Jangkauan = 1+3,3 x Log (11)
= 4,437 ≈ 5 Kelas
10. Interval Kelas
Jangkauan
Interval =
Jumlah Kelas
54
Interval =
4,437
Interval = 12,171
Tabel C.3
Banyaknya Data

X Y
72-84 3
85-97 4
98-110 1
111-123 2
124-136 1

Grafik
5
Banyaknya data

4
3
2
1
0
72-84 85-97 98-110 111-123 124-136
Range Data

C-3
LAMPIRAN D
MENENTUKAN CURAH HUJAN RENCANA DENGAN
METODE DISTRIBUSI NORMAL DAN INTENSITAS HUJAN

Tabel D.1
Nilai Variabel Reduksi Gauss

Periode Ulang Hujan Peluang


No kT
(Tahun) (%)
1 1.001 0.999 -3.05
2 1.005 0.995 -2.58
3 1.01 0.99 -2.33
4 1.05 0.952 -1.64
5 1.11 0.901 -1.28
6 1.25 0.8 -0.84
7 1.33 0.752 -0.67
8 1.43 0.699 -0.52
9 1.67 0.599 -0.25
10 2 0.5 0
11 2.5 0.4 0.25
12 3.33 0.3 0.52
13 4 0.25 0.67
14 5 0.2 0.84
15 10 0.1 1.28
16 20 0.05 1.64
17 50 0.02 2.05
18 100 0.01 2.33
19 200 0.005 2.58
20 500 0.002 2.88
21 1000 0.001 3
Sumber: Bonnier, (1980) dalam Suripin, (2004)

Berdasarkan data yang telah didapatkan, maka curah hujan rencana


dapat dihitung sebagai berikut:
Diketahui
Curah Hujan Rata-rata (X̅) = 94,809 mm
Standar Deviasi (S) = 16,868
Faktor Frekuensi 2 Tahun (kT) = 0,000
Xt = X̅ + k . S
= 94,809 mm + 0,000 . 16,868
= 94,809 mm

D-1
Setelah didapatkan curah hujan rencana, kemudian dilanjutkan dengan
menghitung intensitas curah hujan berdasarkan persamaan mononobe, yaitu
sebagai berikut:
Diketahui:
Lama waktu hujan (t) = 21 jam
Curah hujan rencana 24 jam (R24) = 94,809 mm
2
R24 24 3
I= ( )
24 t

2
94,809 mm 24
I= ( )3
24 21Jam

I = 4,318 mm/jam
Tabel D.2
Curah Hujan Rencana Pada Periode Ulang Hujan dan Intensitas Curah Hujan
I (mm/jam)
T
kT xT (mm) 60 300 600 900 1200 1260
(tahun)
Menit Menit Menit Menit Menit Menit
2 0,000 94,809 32,868 11,241 7,081 5,404 4,461 4,318
5 0,840 108,978 37,781 12,921 8,140 6,212 5,128 4,964
10 1,280 116,401 40,354 13,801 8,694 6,635 5,477 5,302
20 1,640 122,473 42,459 14,521 9,148 6,981 5,763 5,578
50 2,050 129,389 44,857 15,341 9,664 7,375 6,088 5,893

Intensity-Duration-Frequency (IDF) Curve


50
Intensitas Hujan (mm/jam)

45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
Durasi Hujan (menit)
2 tahun 5 tahun 10 tahun 20 tahun 50 tahun

Gambar D.1
Intensity Duration Frequency (IDF)
D-2
Periode ulang huja dan resiko hidrologi dapat dihitung menggunakan
persamaan 3.1.
Diketahui:
Umur Pit Tambang = ±15 tahun
1 TL
Pt = 1- (1- ) x 100%
Tt
1 15
Pt = 1- (1- ) x 100%
2
Pt = 99,997%

Tabel D.3
Periode Ulang Hujan dan Resiko Hidrologi

Periode Ulang Hujan dan Resiko Hidrologi


(Proyeksi 15 Tahun Kedepan)

Umur Pit Tambang Periode Ulang Resiko Hidrologi


(tahun) (%)
15 2 99,997
15 5 96,482
15 10 79,411
15 20 53,671
15 50 26,143

D-3
LAMPIRAN E
PETA SITUASI AREA DISPOSAL

E-1
Gambar E.1
Peta Situasi Disposal

E-2
Gambar E.2
Peta Pola Aliran Air Disposal
E-3
Gambar E.3
Peta Nilai Koefisien Limpasan
E-4
LAMPIRAN F
NILAI KOEFISIEN LIMPASAN

Penentuan koefisien limpasan di are a disposal dipengaruhi oleh macam


permukaanya, dimana tiap permukaan mempunyai koefisien limpasan yang
berbeda. Manning membagi nilai koefisien limpasan berdasarkan kemiringan
lahan dan kegunaan lahan. Nilai koefisien tersebut dapat dilihat pada tabel
berikut ini:
Tabel F.1
Nilai Koefisien Limpasan

Kemiringan Tutupan/Jenis Lahan C

Sawah, rawa 0,2

<3% (datar) Hutan, perkebunan 0,3

Perumahan, kebun 0,4

Hutan, perkebunan 0,4

Perumahan, kebun 0,5


3% - 15% (sedang)
Tumbuhan jarang 0,6

Lahan terbuka, daerah penimbunan 0,7

Hutan 0,6

Perumahan, kebun 0,7


>15% (curam)
Tumbuhan jarang 0,8

Lahan terbuka, daerah tambang 0,9


Sumber: Gautama, R.S., 1994

Berdasarkan peta topografi area disposal, kemiringan lereng disposal


mempunyai kemiringan lebih dari 15% baik itu lereng yang tidak ada tumbuhan
maupun lereng yang mempunyai tumbuhan jarang.

F-1
LAMPIRAN G
PERHITUNGAN DEBIT YANG AKAN MASUK KE INLET KOLAM
PENGENDAPAN (SETTLING POND)

1. Debit Air Limpasan


Perhitungan debit air limpasan dilakukan dengan menggunakan rumus
rasional pada persamaan 3.
a. Lereng Tanpa Tumbuhan
Diketahui:
Koefisien Limpasan (C) = 0,9
Intensitas Curah Hujan (I) = 4,318 mm/jam
Luas Catchment Area (A) = 771.690 m2 ≈ 0,77169 km2
Debit Limpasan (Q1) = 0,278 . C . I . A
= 0,278 x 0,9 x 4,318 mm/jam x 0,77169 km2
= 0,834 m3/detik
b. Lereng dengan Tumbuhan Jarang
Diketahui:
Koefisien Limpasan (C) = 0,8
Intensitas Curah Hujan (I) = 4,318 mm/jam
Luas Catchment Area (A) = 178.342 m2 ≈ 0,178342 km2
Debit Limpasan (Q2) = 0,278 . C . I . A
= 0,278 x 0,8 x 4,318 mm/jam x 0,178342
km2
= 0,171 m3/detik
Debit Limpasan Total (Q Total) = Q1 + Q2
= 0,834 m3/detik + 0,171 m3/detik
= 1,005 m3/detik
2. Debit Pompa MultiFlo 420
Adapun untuk debit pompa MultiFlow 420 ini adalah data sekunder yang
mempunyai kecepatan debit pada outlet pipa pemompaan adalah 702 m3/jam
atau setara dengan 0,195 m3/detik. Waktu kerja pompa dalam sehari adalah 20
jam/hari. Pemompaan ini dilakukan untuk mengeluarkan air yang berada pada pit
Balimas Blok 3, pipa pada outlet pemompaan terhubung ke puritan. Pada daerah
penelitian pengelolaan air pada aktivitas penambangan berasal dari pemompaan
dan limpasan dari disposal blok 3.

G-1
3. Debit total
Pada daerah penelitian , kolam pengendapan mempunyai asal sumber
air dari disposal dan dari pemompaan pit.

Diketahui:
Debit Limpasan = 1,005 m3/detik
Debit Pompa MultiFlow 420 = 0,195 m3/detik
DebitTotal = Debit Limpasan + Debit Pompa
= 1,005 m3/detik + 0,195 m3/detik
= 1,2 m3/detik

G-2
LAMPIRAN H
PERHITUNGAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS)

Nilai TSS yang telah dilkaukan pengukuran pada inlet settling pond
Balimas Blok 3 PT Batubara Energi diambil langsung di lokasi penelitian dengan
menggunakan alat ukur TSS Meter. Nilai TSS tersebut dapat dilihat pada Tabel
H.1.
Tabel H.1
Pengukuran Total Suspended Solid Pada Kolam Pengendapan
Total Suspended Solid
No Hari/Tanggal (mg/l) Keterangan
inlet outlet
1 Rabu, 22 Desember 2021 6548 1670 Setelah Hujan
2 Kamis, 10 Februari 20222 6190 1670 Setelah Hujan
3 Selasa, 15 Februari 2022 4939 980 Cerah Berawan
4 Sabtu, 26 Februari 2022 5890 1457 Setelah Hujan
Rata-rata 5892 1444 -
Sumber: Pengukuran Pribdai, 2022

Besarnya TSS = 5892 mg/l


1 1
Besarnya TSS = 5892 mg/l ( )( ) gr/cm³
1000 1000
Besarnya TSS = 0,005892 gr/cm3

Tabel H.2
Debit Total Air Yang Masuk Kolam Pengendapan
Debit Limpasan Disposal Debit Pompa MF420 Debit Total Inlet
(m3/detik) (m3/detik) (m3/detik)

1,005 0,195 1,2

Air yang akan masuk ke kolam pengendapan (settling pond) adalah


debit air limpasan dari disposal dan debit air pompa MultiFlo 420.
Diketahui:
TSS = 0,005892 gr/cm3
Debit Total Inlet (Q) = 1,2 m3/detik ≈ 1.199.456 cm3/detik
Residu Tersuspensi = TSS x Q
= 0,005892 gr/cm3 x 1.199.456 cm3/detik
= 7.067,2 gr/detik

H-1
m
Dengan menggunakan persamaan ρ= diketahui massa jenis partikel
v
batulempung yaitu 2.550.000 g/m3. Maka, dapat diketahui volume padatan yang
masuk pada area kolam pengendapan yaitu:
m
v=
ρ
7.067,2 gr/detik
v=
2.550.000 gr/m³
v = 0,00277145 m3 /detik
Persentase padatan yang masuk terhadap total air dan padatan (pulp) adalah :
Solid:
v
%Solid = x100
Q
0,00277145 m3 /detik
%Solid = x100
1,2 m3 /detik
%Solid = 0,0023
Solid = 0,023%
Air:
Air = 100% - %Solid
Air = 100% – 0,023%
Air = 99,77%
Berdasarkan data perhitungan maka didapatkan persen padatan
0,023% dan persen air 99,77 % maka dapat di hitung volume padatan dan
volume air sebesar:
Diketahui:
ρ padatan = 2550 kg/m3
ρ air = 1000 kg/m3
Debit air yang masuk (Q) = 1,2 m³/detik
= 4.318,04 m³/jam
Persen padatan (%Solid) = 0,023%
Persen air (%Air) = 99,77%
Berat Padatan = Q x ρ partikel x %Solid
= 4.318,04 m³/jam x 2550 kg/m3 x 0,0023
= 25.441,911 kg/jam
Berat Air = Q x ρ air x %Air
= 4.318,04 m³/jam x 1000 kg/m3 x 0,9977
= 4.308.066,027 kg/jam

H-2
Berat Solid
Volume Padatan/detik =
ρ padatan x 3600
25.441,911 kg/jam
Volume Padatan/detik =
2550 kg/m3 x 3600
Volume Padatan/detik = 0,0028 m3detik
Berat Air
Volume Air/detik =
ρ air x 3600
431.794.347,435 kg/jam
Volume Air/detik =
1000 kg/m3 x 3600
Volume Air/detik = 1,197 m3detik
Total Volume/detik = Volume Padatan/detik + Volume Air/detik
= 0,0028 m3detik + 1,197 m3detik
= 1,2 m3detik

H-3
LAMPIRAN I
PERHITUNGAN KECEPATAN PENGEDAPAN PARTIKEL

Dalam merancang kolam pengendapan (settling pondi) terdapat


beberapa faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan, antara lain
ukuran dan bentuk partikel padatan, kecepatan aliran serta persen padatan. Hal
ini perlu dilakukan agar kolam pengendapan (settling pond) hasil rancangan
dapat digunakan secara optimal.
Berdasarkan perhitungan, persen padatan yang didapatkan adalah
0,023% dan persen air 99,77% dengan total volume padatan dan air yang masuk
sebesar 1,2 m3/detik. Maka untuk persen padatan yang kurang dari 40%
digunakan persamaan Stokes pada persamaan 3.12.

Vt = Kecepatan pengendapan partikel (m/s)


g . D2 (ρp - ρa)
Vt =
18µ
Diketahui:
Percepatan gravitasi (g) =9,8m/s2
Diameter partikel padatan (D) = 0,0000015 m
Berat jenis partikel padatan (ρp) = 2550 kg/m3
Berat jenis air (ρa) = 1000 kg/m3
Viskositas dinamik air (µ) = 0,00000131 kg/m.s
2
9,8 m/s2 . (0,0000015m) ) . (2550 kg/m3 - 1000 kg/m3)
Vt =
18 . (0,00000131 kg/m.s)
−12
9,8 m/s2 . (2,25x10m ) . (1550 kg/m3)
Vt = −5
2,358x10 kg/m.s
Vt = 0,00145 meter/detik

I-1
LAMPIRAN J
PERHITUNGAN PERSENTASE PENGENDAPAN

Perhitungan persentase pengendapan ini bertujuan untuk mengetahui


apakah kolam sedimen yang dibuat dapat berfungsi untuk mengendapkan partikel
padatan yang terkandung dalam air limpasan tambang. Waktu yang dibutuhkan
partikel untuk mengendap (tv) dengan kecepatan (vt) terhadap kedalaman (H)
adalah :
Tabel J.1
Dimensi Kolam Pengendapan

Permukaan Dasar
(meter) (meter) Kedalaman Volume
Kolam
(meter) (m3)
Panjang Lebar Panjang Lebar

1 119,5 10 114,5 5 3 2.651,25


2 115,5 10 110,5 5 3 2.651,25
3 104 34 98,5 29 3 9.588,75
4 93 10 88 5 3 2.055
5 83 10 79 5 3 1.837,5
6 83 10 79 5 3 1.837,5
7 83 10 79 5 3 1.837,5
8 83 10 79 5 3 1.837,5
9 109 26 104 21 3 7.527
10 134 18 131 13 3 6.199,5
11 132,5 18 128,5 13 3 6.083,25
12 108 18 103 13 3 4.924,5
13 75,3 18 71,5 13 3 3.426
Total 1.323,75 202 1.265,5 137 39 52.366,5

Waktu yang dibutuhkan partikel untuk mengendap (t v) dengan kedalam


kolam (h) adalah sebagai berikut:
Diketahui:
Kecepatan pengendapan partikel (Vt) = 0,00145 meter/detik
Kedalaman Kolam (H) = 3 meter

J-1
H
tv =
Vt
3 meter
tv =
0,00145 meter/detik
tv = 2.070 detik ≈ 34 menit
Jadi, waktu pengendapan partikel batulempung dengan kedalaman
kolam 3 meter adalah 2.070 detik atau setara dengan 34 menit.

Waktu Partikel Mengendap


40

35

30

25
menit

20

15

10

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Kompartemen

Gambar J.1
Grafik Waktu Partikel Mengendap

Dalam proses pengendapan ini partikel padatan akan mengendap


dengan baik jika waktu yang dibutuhkan partikel untuk mengendap (tv) tidak lebih
besar dari waktu yang dibutuhkan partikel untuk keluar dari kolam pengendapan
(th).
Kecepatan horizontal (Vh) pada kolam dapat dihitung dengan
mengetahui luasan penampang yang ada pada settling pond.
Q
Vh =
A
Keterangan:
Vh = Kecepatan air dalam kolam (m/detik)
Q = Debit total (m3/detik)
A = Luas penampang (m2)

J-2
Tabel J.2
Luas Penampang Kolam

Lebar Lebar Luas


Atas Bawah Kedalaman Penampang
Kolam (meter) (meter) (meter) Rumus
A
h
a b (m2)

1 10 5 3 22,50
2 10 5 3 22,50
3 34 29 3 94,50
4 10 5 3 22,50
5 10 5 3 22,50
6 10 5 3 22,50
1
7 10 5 3 ((a+b).h) 22,50
2
8 10 5 3 22,50
9 26 21 3 70,50
10 18 13 3 46,50
11 18 13 3 46,50
12 18 13 3 46,50
13 18 13 3 46,50

Diketahui:

Debit Total (Q) = 1,2 m3/detik

Luas Penampang Setiap Kolam Pada Tabel J.2.

Kolam 1, 2, 4, 5, 6, 7 dan 8

1,2 m³/detik
Vh =
22,5 m2
Vh = 0,053 m/detik
Kolam 3
1,2 m³/detik
Vh =
94,5 m2
Vh = 0,013 m/detik

J-3
Kolam 9
1,2 m³/detik
Vh =
70,5 m2
Vh = 0,017 m/detik
Kolam 10, 11, 12 dan 13
1,2 m³/detik
Vh =
46,5 m2
Vh = 0,026 m/detik

Tabel J.3
Perhitungan Kecepatan Horizontal

Luas Kecepatan
Debit Air
Penampang Horizontal
Kolam Q Rumus
3 A Vh
(m /detik)
(m2) (m/detik)
1 22,50 0,053
2 22,50 0,053
3 94,50 0,013
4 22,50 0,053
5 22,50 0,053
6 22,50 0,053
Q
7 1,2 22,50 Vh = 0,053
A
8 22,50 0,053
9 70,50 0,017
10 46,50 0,026
11 46,50 0,026
12 46,50 0,026
13 46,50 0,026

J-4
Kecepatan Air Dalam Kolam
0,060
0,0530,053 0,0530,0530,0530,0530,053
0,050

0,040
meter/detik
0,030
0,0260,0260,0260,026
0,020
0,017
0,013
0,010

0,000
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Kompartemen

Gambar J.2
Grafik Kecepatan Air Dalam Kolam

Sehingga, waktu yang dibutuhkan air dan partikel untuk keluar dari
kolam pengendapan (th) dengan kecepatan Vh adalah sebagai berikut:
Tabel J.4
Panjang Aliran Setiap Kolam

Panjang Panjang Kecepatan Panjang


Atas Bawah Horizontal Aliran
Kolam (meter) (meter) Rumus Th
Vh
a b (m/detik) Detik Menit
1 119,5 114,50 0,053 2195 37
2 115,5 110,50 0,053 2120 35
3 104,0 98,50 0,013 7977 133
4 93,0 88,00 0,053 1698 28
5 83,0 79,00 0,053 1519 25
6 83,0 79,00 0,053 1519 25
𝟏
(𝐚 + 𝐛)
7 83,0 79,00 0,053 𝟐 1519 25
𝐕𝐡
8 83,0 79,00 0,053 1519 25
9 109,0 104,00 0,017 6260 104
10 135,0 131,00 0,026 5156 86
11 132,5 128,50 0,026 5059 84
12 108,0 103,00 0,026 4090 68
13 75,3 71,50 0,026 2845 47

J-5
Waktu Air Keluar
133
140

120 104
100 86 84
80 68
Menit

60 47
37 35
40 28 25 25 25 25
20

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Kompartemen

Gambar J.3
Grafik Waktu Air Keluar

Dari perhitungan diatas didapatkan hasil bahwa tv< th. Dengan


membandingkan waktu keluarnya air dan material dan waktu pengendapan dapat
digunakan untuk mengetahui persentase pengendapan.
Th
%Pengendapan = x 100%
Th+tv
Kolam 1
37
%Pengendapan = x 100%
37+34
%Pengendapan = 51,465%
Kolam 2
35
%Pengendapan = x (100% - 51,465%)
35+34
%Pengendapan = 24,557%
Kolam 3
133
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557%)
133+34
%Pengendapan = 19,038%
Kolam 4
28
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038%)
28+34
%Pengendapan = 2,226%

J-6
Kolam 5
25
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226%)
25+34
%Pengendapan = 1,149%
Kolam 6
25
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
25+34
1,149%)
%Pengendapan = 0,663%
Kolam 7
25
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
25+34
1,149% - 0,663%)
%Pengendapan = 0,382%
Kolam 8
25
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
25+34
1,149% - 0,663% - 0,382%)
%Pengendapan = 0,220%
Kolam 9
104
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
104+34
1,149% - 0,663% - 0,382% - 0,220%)
%Pengendapan = 0,226%
Kolam 10
86
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
86+34
1,149% - 0,663% - 0,382% - 0,220% - 0,226%)
%Pengendapan = 0,053%
Kolam 11
84
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
84+34
1,149% - 0,663% - 0,382% - 0,220% - 0,226% - 0,053%)
%Pengendapan = 0,015%

J-7
Kolam 12
84
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
84+34
1,149% - 0,663% - 0,382% - 0,220% - 0,226% - 0,053% -
0,015%)
%Pengendapan = 0,004%
Kolam 13
84
%Pengendapan = x (100% - 51,465% - 24,557% - 19,038% - 2,226% -
84+34
1,149% - 0,663% - 0,382% - 0,220% - 0,226% - 0,053% -
0,015% - 0,004%)
%Pengendapan = 0,001%
Dari semua perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwasanya pengendapan partikel dari semua compartment dapat
terendapakan 99,999%.
Tabel J.5
Persentase Pengendapan

Persentase Pengendapan
Kolam
(%)
1 51,465
2 24,557
3 19,038
4 2,226
5 1,149
6 0,663
7 0,382
8 0,220
9 0,226
10 0,053
11 0,015
12 0,004
13 0,001
Total 99,999

J-8
0,220% 0,226%
0,382% 0,015%
1,149% 0,053% 0,004%
Nomor Urut Kolam 0,663%
0,001%
2,226%
1 2

3 4
19,038%
5 6

7 8
51,465%
9 10
24,557%
11 12

13

Gambar J.4
Diagram Persentase Pengendapan

Dengan persentase tersebut, maka material padatan yang terlarut


dalam air tidak semuanya terendapkan. Padatan yang berhasil
terendapkan dalam waktu sehari dengan jam hujan maksimal perhari
adalah 21 jam, maka:

Volume Padatan/hari = Volume padatan/detik . 3600 . Jam hujan Maks .


Padatan/hari
Diketahui:
Volume padatan/detik = 0,003 m3/detik
Jam hujan Maksimal = 21 jam/hari
Kompatment 1 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,51465
= 107,831 m3/hari
Kompatment 2 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,24557
= 51,451 m3/hari
Kompatment 3 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,19038
= 39,890 m3/hari
Kompatment 4 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,02226
= 4,664 m3/hari
Kompatment 5 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,01149
= 2,407 m3/hari
J-9
Kompatment 6 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00663
= 1,388 m3/hari
Kompatment 7 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00382
= 0,800 m3/hari
Kompatment 8 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00220
= 0,462 m3/hari
Kompatment 9 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00226
= 0,473 m3/hari
Kompatment 10 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00053
= 0,111 m3/hari
Kompatment 11 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00015
= 0,032 m3/hari
Kompatment 12 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00004
= 0,009 m3/hari
Kompatment 13 = 0,003 m3/detik . 3600 . 21jam/hari . 0,00001
= 0,003 m3/hari

107,831
110

100

90

80

70

60
(m³/hari)
Padatan

51,451

50
39,890
40

30

20

10 4,664
2,407 1,388 0,800 0,462 0,473 0,111 0,032 0,009 0,003
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Gambar J.5
Padatan yang Terendapkan dalam Sehari
J-10
Tabel J.6
Padatan yang Terendapkan dalam Sehari

Volume
Kolam (m3/hari)

1 107,831
2 51,451
3 39,890
4 4,664
5 2,407
6 1,388
7 0,800
8 0,462
9 0,473
10 0,111
11 0,032
12 0,009
13 0,003
Total 209,520

J-11
LAMPIRAN K
PERHITUNGAN WAKTU PEMELIHARAAN KOLAM PENGENDAPAN
(MAINTENANCE SETTLING POND)

Perhitungan waktu pengerukan lumpur pada kolam pengendapan


(settling pond) dimaksudkan untuk upaya pemeliharaan (maintenance) kolam
pengendapan (settling pond). Perhitungan waktu maintenance kolam
pengendapan (settling pond) menggunakan rumus pada persamaan 3.21.

Volume kolam pengendapan


T=
Volume total padat yang terendapkan

Menurut KepMen ESDM No.1827 K/30/MEM/2018 tentang “Pedoman


Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik” pasal xvii Pengelolaan Air
Tambang, ayat (ii) halaman 95 Pengendalian isi fasilitas penampungan dan
pengelolaan air tamang dilakukan apabila telah terisi 80% (delapan puluh
persen) atau lebih dari kapasitas penampungan sesuai ketentuan.
0,8 . 2.651,25 m³
Kolam 1 =
107,831 m³/hari
= 20 hari
0,8 . 2.561,25 m³
Kolam 2 =
51,451 m³/hari
= 40 hari
0,8 . 9.588,75 m³
Kolam 3 =
39,890 m³/hari
= 192 hari
0,8 . 2.055,00 m³
Kolam 4 =
4,664 m³/hari
= 352 hari
0,8 . 1.837,50 m³
Kolam 5 =
2,407 m³/hari
= 611 hari ≈ 1 tahun 8 bulan
0,8 . 1.837,50 m³
Kolam 6 =
1,388 m³/hari
= 1.059 hari ≈ 2 tahun 11 bulan
0,8 . 1.837,50 m³
Kolam 7 =
0,8 m³/hari
= 1.836 hari ≈ 5 tahun 4 bulan

K-1
0,8 . 1.837,50 m³
Kolam 8 =
0,462 m³/hari
= 3.184 hari ≈ 8 tahun 9 bulan
0,8 . 7.527,00 m³
Kolam 9 =
0,473 m³/hari
= 12.473 hari ≈ 34 tahun 11 bulan
0,8 . 6.199,5 m³
Kolam 10 =
0,111 m³/hari
= 44.483 hari ≈ 121 tahun 11 bulan
0,8 . 6.083,25 m³
Kolam 11 =
0,032 m³/hari
= 153.219 hari ≈ 419 tahun 9 bulan
0,8 . 4.924,50 m³
Kolam 12 =
0,009 m³/hari
= 456.599 hari ≈ 1251 tahun
0,8 . 3.426,00 m³
Kolam 13 =
0,003 m³/hari
= 1.084.442 hari ≈ 2.971 tahun 9 bulan

Waktu Pengerukan Kolam


1.200.000

1084442
1.000.000

800.000
Hari

600.000

400.000
456599

200.000

20 40 192 352 153219


0 611 1059 1836
1 3184 12743 44483
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Gambar K.1
Grafik Pengerukan Kolam

K-2
Tabel K.1
Waktu Pengerukan Kolam

Waktu
Kolam
(Hari) (Tahun)
1 20 -
2 40 -
3 192 -
4 352 -
5 611 1 tahun 8 bulan

6 1.059 2 tahun 11 bulan


7 1.836 5 tahun 4 bulan
8 3.184 8 tahun 9 bulan
9 12.743 34 tahun 11 bulan
10 44.483 121 tahun 11 bulan
11 153.219 419 tahun 9 bulan

12 456.599 1.251 tahun


13 1.084.442 2.971 tahun 9 bulan

K-3
LAMPIRAN L
PERHITUNGAN PENGARUH REKOMENASI DIMENSI KOLAM
PENGENDAPAN TERHADAP PERUBAHAN NILAI TOTAL SUSPENDED
SOLID (TSS)

Tabel L.1
Dimensi Kolam Pengendapan

Volume Endapan Waktu


Kolam Air Penuh
(m3/hari) (m3/jam) (m3/menit) (m3/detik) (Menit)
1 107,831 5,13479 0,085580 0,00142633 37
2 51,451 2,45007 0,040834 0,00068057 36
3 39,890 1,89950 0,031658 0,00052764 133
4 4,664 0,22209 0,003701 0,00006169 29
5 2,407 0,11463 0,001910 0,00003184 26
6 1,388 0,06610 0,001102 0,00001836 26
7 0,800 0,03812 0,000635 0,00001059 26
8 0,462 0,02198 0,000366 0,00000611 26
9 0,473 0,02250 0,000375 0,00000625 105
10 0,111 0,00531 0,000088 0,00000147 86
11 0,032 0,00151 0,000025 0,00000042 84
12 0,009 0,00041 0,000007 0,00000011 68
13 0,003 0,00012 0,000002 0,00000003 48

V . ρ padatan
TSS = ( ) x 1000
Qtotal
Keterangan:
TSS = Total Suspended Solid (mg/l)
V = Volume Endapan (m3/detik)
ρ padatan = Berat Jenis Material padatan (kg/m3)
Qtotal = Debit Air (m3/detik)
1000 = konversi dari kg/m3 ke mg/l
Diketahui:
Qtotal = 1,2 m3/detik
ρ padatan = 2550 kg/m3
L-1
Total Suspended Solid (TSS) yang Tertahan pada Setiap Kolam
Kolam 1
0,00142633 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 3.032,325 mg/l
Kolam 2
0,00068057 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 1.446,877 mg/l
Kolam 3
0,00052746 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 1.121,742 mg/l
Kolam 4
0,00006169 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 131,153 mg/l
Kolam 5
0,00003184 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 67,692 mg/l
Kolam 6
0,00001836 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 39,036 mg/l
Kolam 7
0,00001059 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 22,511 mg/l
Kolam 8
0,00000611 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 12,981 mg/l

L-2
Kolam 9
0,00000625 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 13,289 mg/l
Kolam 10
0,00000147 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 3,135 mg/l
Kolam 11
0,00000042 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 0,893 mg/l
Kolam 12
0,00000011 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 0,243 mg/l
Kolam 13
0,00000003 m3/detik . 2550 kg/m3
TSS = ( ) x 1000
1,2 m3/detik
TSS = 0,071 mg/l

L-3
Nilai Total Suspended Solid (TSS) pada Setiap Outlet Kolam
Untuk menghitung nilai tss pada setiap outlet compartment dapat menggunakan
persamaan sebagai berikut:

Nilai TSS Outlet = TSS Inlet - TSS Tertahan

Diketahui:
TSS Awal = 5.892 mg/l
Kolam 1
Nilai TSS Outlet = 5.892 mg/l - 3.032,325 mg/l
Nilai TSS Outlet = 2.859,675 mg/l
Kolam 2
Nilai TSS Outlet = 2.859,675 mg/l - 1.446,877 mg/l
Nilai TSS Outlet = 1.412,798 mg/l
Kolam 3
Nilai TSS Outlet = 1.412,798 mg/l - 1.121,742 mg/l
Nilai TSS Outlet = 291,055 mg/l
Kolam 4
Nilai TSS Outlet = 291,055 mg/l - 131,153 mg/l
Nilai TSS Outlet = 159,903 mg/l
Kolam 5
Nilai TSS Outlet = 159,903 mg/l - 67,692 mg/l
Nilai TSS Outlet = 92,210 mg/l
Kolam 6
Nilai TSS Outlet = 92,210 mg/l - 39,036 mg/l
Nilai TSS Outlet = 53,175 mg/l
Kolam 7
Nilai TSS Outlet = 53,175 mg/l- 22,511 mg/l
Nilai TSS Outlet = 30,664 mg/l
Kolam 8
Nilai TSS Outlet = 30,664 mg/l - 12,981 mg/l
Nilai TSS Outlet = 17,683 mg/l
Kolam 9
Nilai TSS Oulet = 17,683 mg/l- 13,289 mg/l
Nilai TSS Oulet = 4,394 mg/l

L-4
Kolam 10
Nilai TSS Outlet = 4,394 mg/l - 3,135 mg/l
Nilai TSS Outlet = 1,259 mg/l
Kolam 11
Nilai TSS Outlet = 1,259 mg/l - 0,893 mg/l
Nilai TSS Outlet = 0,365 mg/l
Kolam 12
Nilai TSS Outlet = 0,365 mg/l- 0,243 mg/l
Nilai TSS Outlet = 0,123 mg/l
Kolam 13
Nilai TSS Outlet = 0,123 mg/l - 0,071 mg/l
Nilai TSS Outlet = 0,052 mg/l

6.000
TSS Pada Outlet
5.000
TSS Tertahan
Total Suspended Solid

4.000
(mg/l)

3.000

2.000

1.000

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kolam

Gambar L.1
Pengaruh Nilai TSS terhadap Dimensi Kolam

L-5
LAMPIRAN M
SKETSA POSISI OPEN CHANNEL PADA KOLAM PENGENDAPAN

Gambar M.1
Sketsa Kolam Pengendapan Aktual

Gambar M.2
Sketsa Rekomendasi Kolam Pengendapan Ideal

M-1
LAMPIRAN N
DOKUMENTASI LAPANGAN

Gambar N.1
Ombrometer

Gambar N.2
Pengambilan Data TSS

Gambar N.3
Portable Water Quality Meter Partech 750w2

N-1
Gambar N.4
Open Channel

Gambar N.5
Inlet Settling Pond

Gambar N.6
Outlet Settling Pond

N-2

Anda mungkin juga menyukai