MAKALAH PENGANTAR STUDI ISLAM
Tentang
PENDEKATAN KONTEKS STUDI ISLAM
OLEH:
DIVA EFRENDI
DOSEN PENGAMPU:
SELLA RAUDHATUL QOLBI, [Link]., M.H
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM KUANTAN SINGINGI
(UNIKS)
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tidak lupa pula penulis ucapkan shalawat
dan salam kepada nabi Muhammad SAW karena beliaulah yang telah mengantarkan kita dari
zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh berkah. Adapun judul makalah yang akan dibahas
adalah “Pendekatan Konteks Studi Islam” dan penulis sangat berharap semoga dengan
adanya makalah ini penulis dapat membahas sedikit gambaran dan memperluas wawasan
ilmu yang penulis miliki.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang
telah membantu hingga selesainya makalah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Akhirnya kritik saran yang bersifat membangun penulis harapkan dari semua pihak demi
sempurnanya makalah. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang
berkepentingan.
Kuantan Singingi, 29 September 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................................
B. Rumusan masalah............................................................................................................
C. Tujuan Makalah...............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAAN
A. Pengertian pendekatan kontekstual dalam studi Islam.....................................................
B. Batasan kontekstualisasi dalam studi Islam.....................................................................
C. Studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian Alquran................................
D. Studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian hadis Nabi Saw……............
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................................................
B. Saran.................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw tidak
hidup dalam ruang yang hampa. Islam sebagai agama dengan Alquran dan Hadis Nabi
Saw sebagai sumber utama berperan penting dalam mengatur dan mengarahkan
manusia agar hidup dalam jalan yang lurus, bahkan Nabi Saw dalam hadisnya
menyatakan: "ketika kita berpegang dengan kedua nya yakni Alquran dan Hadis Nabi
Saw, kita tidak akan pernah tersesat". 1 Oleh karena itu, sebagai sebuah agama, Islam
sebagaimana bahasa Quraish Shihab, harus dibumikan dalam dunia ini menjadi Islam
yang membawa rahmat bagi manusia.
Pembumian ajaran agama Islam menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan
manusia. Islam sebagai sebuah ajaran agama yang membawa rahmat bagi manusia,
diharapkan dapat memecahkan berbagai persoalan-persoalan yang di hadapi dalam
kehidupan manusia yang seiring berjalan nya waktu banyak persoalan yang harus
dijawab oleh ajaran Islam Dengan adanya banyak persoalan di masyarakat yang
belum terakomodasi dalam regulasi normatif ajaran Islam pada masa Nabi Saw masih
hidup. banyak pula dari persoalan-persoalan itu yang menuntut pemahaman lebih
dalam, tidak hanya dalam pemahaman yang bersifat tekstual, tapi juga kontekstual
dari masalah- masalah yang belum muncul pada masa Nabi Saw dan mengkonstruksi
ulang yang sudah ada agar tetap relevan dengan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Tuntutan terhadap ajaran agama Islam yang demikian, dapat dijawab
manakala pemahaman agama Islam dengan menggunakan berbagai macam
pendekatan-pendekatan yang dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang
timbul salah satunya adalah dengan pendekatan kontekstual. Pemahaman agama Islam
dengan pendekatan kontekstual ini merupakan upaya melacak unsur-unsur sejarah
yang melingkupi sebuah teks hukum, kemudian memberi pengaruh bagi unsur-unsur
1
Al-Tirmidzi, Sunam al-Tirmidzi bab managih ahlu nabi Saw, Juz 5, hadis no: 3788, dalam Maktabab
Syamilah
itu bagi pemahaman atau penerapan sebuah teks atau hukum. Hal ini dilakukan agar
tidak terjadi pemahaman yang keliru dalam memahami teks dalam agama Islam
sebagai sumber hukum. Oleh karena ini lah pemahaman studi Islam dengan
pendekatan kontekstual menjadi penting untuk dikaji.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian pendekatan kontekstual dalam studi Islam?
2. Apa batasan kontekstualisasi dalam studi Islam?
3. Bagaimana studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian Alquran?
4. Bagaimana studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian hadis
Nabi Saw?
C. Tujuan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan manfaat bagi penulis,
pembaca, dan pihak-pihak yang terkait didalamnya. Secara teoritis makalah ini
disusun agar si pembaca atau pihak lainnya mendapatkan ilmu pengetahuan dan
wawasan yang luas pada makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian pendekatan kontekstual dalam studi Islam
Kontekstual berasal dari bahasa Inggris yaitu context yang diindonesiakan
dengan kata "konteks" yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ini setidaknya
memiliki dua arti: pertama, bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung
atau menambah kejelasan makna, dan kedua, situasi yang ada hubungannya dengan
suatu kejadian. Menurut Safrudin yang mengutip pendapat Noeng Muhadjir
menegaskan bahwa kata kontekstual setidaknya memiliki tiga pengertian:
1) Upaya pemaknaan dalam rangka mengantisipasi persoalan dewasa ini
umumnya mendesak, sehingga arti kontekstual identik dengan situasional,
2) Pemaknaan yang melihat keterkaitan masa lalu, masa kini, dan masa
mendatang atau memaknai kata dari segi historis, fungsional, serta prediksinya
yang dianggap relevan,
3) mendudukkan keterkaitan antara teks Alquran dan terapannya.2
Dengan demikian, kontekstual adalah memahami Islam dengan
menghubungkan teks-teks Islam dengan keadaan sosial. Pendekatan Islam secara
kontekstual berarti memahami islam sesuai dengan keadaan, dalam hal ini tentu saja
keadaan akan selalu berubah, keadaan dulu dengan sekarang pasti memiliki
perbedaan, maka dari itu pendekatan kontekstual ini muncul untuk menyesuaikan
keadaan.
Pendekatan kontekstual merupakan pembahasan yang sangat penting yang
menjadi perhatian para ulama. Hal ini karena pendekatan kontekstual berkenaan
dengan kajian sebuah teks, misalnya seperti yang diungkapkan Buzaid al-Rahimun
tentang teks bahasa, yang mana tujuan akhir dari bahasa adalah al-wushul ila al-
2
Saffudin Paradigma Tafsir Tekstual dan Kontekstual Usaha Memahami Kembali Pesan Alquran,
Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Tahun 2009. Hal. 48.
makna (sampainya suatu kata kepada maknanya). Untuk memahami konteks makna
yang terjadi dalam sebuah teks bahasa, maka dibutuhkan pemahaman yang mendalam
tentang teks bahasa tersebut.3
Ibnu Qoyyim dalam kitab Plam al-Muwaqqi in juga memberikan perhatian
khusus tentang pemahaman kontesktual yang terjadi dalam sebuah fatwa di bab:
فصل في تغير الفتوى واختالفها بحسب تغير األزمنة واألمكنة واألحوال والنيات
والعواىد
Yakni bahwa fatwa dapat berubah dan berbeda sesuai dengan perubahan zaman,
tempat, niat dan tradisi. Perubahan hukum ini terjadi karena memahami konteks yang
terjadi dalam sebuah teks atau masalah, sehingga perlu perubahan fatwa.
B. Batasan kontekstualisasi dalam studi Islam
Walaupun dalam studi Islam membolehkan dan bisa terjadi kontekstulisasi
untuk memahami teks ajaran Islam, akan tetapi ada batasan-batasan yang perlu
diperhatikan dalam kontekstualisasi studi Islam yakni:
a. Untuk bidang ibadah murni (ibadah mahdhah) dan aqidah, tidak ada
kontekstualisasi. Secara umum ibadah mahdlah dapat diartikan ibadah untuk
memenuhi tuntutan yang diminta, seperti kewajiban melaksanakan sholat. Maka
dengan kewajiban tersebut seluruh muslim wajib melaksanakan perintah tersebut
dan tidak bisa dirubah. Hal ini memiliki arti bahwa, penambahan maupun
pengurangan untuk kepentingan penyesuaian dalam konteks lingkungan tertentu,
karena yang demikian berarti membuat bid’ah, khurafat, dan tahayyul yang jelas-
jelas dilarang dalam Islam.
b. Untuk bidang di luar ibadah murni dan aqidah, kontekstualisasi dilakukan dengan
tetap berpegang pada moral ideal nash, untuk selanjutnya dirumuskan legal
spesifik baru yang menggantikan legal spesifik lamanya. Moral ideal nash tidak
akan mengalami perubahan, sedangkan legal spesifik (pelaksanaan yang
disesuaikan dengan situasi) akan mengalami perubahan sesuai dengan kondisi
sosial yang sedang berjalan. 4
Adapun dalam kontekstualisasi aqidah, dapat dilakukan semata-mata
dalam beberapa hal:
3
Buzaid Rahimun al-Dalalah al-Siyaqiyah Lil Qishash al-Qur’ani, al-Bahtzul Ilmi Linail Magister t Qismi
Lughah wa Adab al-Arabi fi Jamiah Farhat Abbas, Tahun 2010/2011, Hal. I.
4
M. Saad Ibrahim. Menyaring Dimensi Tasyri Hadits (Jurnal Online Metodologi Tarjih Muhammadiyah, Edisi
1, No. 1, 2012 (PSIF-UMM)
1) Pemberian argumen ilmiah dan atau filosofis untuk mendapatkan kepuasan
intelektual, di samping intuitif imani
2) Proporsionalisasi pemahaman, misalnya keyakinan bahwa Nabi Muhammad
Saw adalah nabi terakhir, adalah dalam konteks di bumi kita ini, bukan di
bumi lain
3) Kepentingan penafsiran untuk perluasan pemahaman, misalnya hadits-hadits
tentang isra mi'raj, ditafsirkan dengan mengkontekstualisasikan pada ilmu
pengetahuan, teknologi dan filsafat.5
Dengan batas-batas seperti itu, tampak bahwa teks-teks Islam tidak akan
kehilangan cetak birunya yang terletak pada norma-norma bidang ibadah murni
dan aqidahnya serta terletak pada moral ideal bidang di luar keduanya.
C. Studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian Alquran
1) Kontekstualisasi Tentang Hukum Potong Tangan Dalam Alquran
Hukum potong tangan bagi pencuri baik itu laki-laki dan
perempuan,terdapat dalam surat al-Maidah ayat 38, Allah Swt berfirman:
ّٰل ّٰل ِد
َو ا لَّس ا ِر ُق َو ا لَّس ا ِر َقُة َفا ْقَطُعْۤو ا َاْي َيُه َم ا َجَز ٓاًء ِۢب َم ا َك َس َبا َنـَك ا اًل ِّمَن ال ِه ۗ َو ا ل ُه َعِز ْيٌز
ِك
َح ْيٌم
“Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan
keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai
siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
Dalam teks ayat di atas dengan jelas menyebutkan bahwa pencuri laki-
laki dan perempuan dipotong kedua tangannya. Kontekstulisasi ayat ini pernah
dilakukan oleh Umar bin Khattab yang mana dia (Umar) tidak menghukum
pencuri dengan potong tangan. Muhammad Abdul Aziz al-Hallawi dalam
kitab Fatawa wa Aqdhiyyah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab menutip
sebuah hadis berikut:6
Menceritakan kepada saya dari Malik bin Syihab dari al-Saib bin
Yazid: bahwa Abdullah bin Amru bin al-Khadhromi datang dengan seseorang
laki-laki yang menjadi pembantunya kepada Umar bin Khatthab, kemudian
5
M. Suad Ibrahim, Menyaring Dimensi Tasyri Hadits, Hal. 62-64.
6
Muhammad Abdul Aziz al-Hallawi, Fatawa wa Aadhiyyah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab Kairo:
Maktabah Qur'ani, [Link]. Hal. 178,
dia berkata: potonglah tangan laki-laki ini wahai Umar, karena dia telah
mencuri. Umar berkata kepada nya (al-Khadhromi): apa yang dia curi? dia
menjawab: dia telah mencari cermin punya istri saya yang harganya 60
Dirham, Umar menjawab: lepaskan lah, laki-laki yang menjadi pembantumu
tidak berhak untuk dipotong, dia hanya mencuri kesenangan mu.
Dalam menerapkan hukum potong tangan yang dilakukan oleh Umar
bin Khatthab ini, dilakukan dengan tidak sembarangan, dilakukan dengan
tidak langsung melihat teks hukuman potong tangan yang secara eksplisit
menyebutkan:ايديها فقطعــواkemudian lantas langsung memberikan hukuman
potong tangan, padahal Umar memiliki posisi yang sangat bisa untuk
memberikan instruksi tersebut, akan tetapi Khalifah kedua ini melihat nominal
barang pencurian hanya sekedar cermin, maka diputus bebas dari hukuman
potong tangan.
2) Kontekstualisasi Tentang Hukum Zina Dalam Alquran
Dalam bab hukuman perzinahan, Muhammad Abdul Aziz al-Hallawi 7
mengungkapkan kontekstualisasi juga terjadi ketika zamannya Khalifah kedua
Umar bin Khatthab, yakni,
Saksi Kurang Dari 4 Orang.
Dalam Alquran surat an-Nisa' ayat 15, disebutkan bahwa
wanita yang melakukan perbuatan keji yakni zina, harus ada 4 orang
saksi yang melihat kejadian tersebut. Namun Umar bin Khatthab
memberikan pandangan hukum baru, ketika terjadi peristiwa
perzinaan, namun yang menjadi saksi hanya 3 orang, maka hukuman
pun tetap dilaksanakan sebagaimana hadis yang diriwayatkan al-
Baihaqi sebagai berikut:
Dikhabarkan kepada kami Abu Salamah dari Auf dari
Qasamah bin Zuhair berkata: ketika saya bersama Abu Bakrah dan al-
Mughirah yang menyatakan sebuah peristiwa perzinaan, saya berkata:
saya panggil para saksi yakni Abu Bakrah, Syibl bin Ma'bad dan Abu
Abdullah Nafi, Umar berkata: ketika yang dihadirkan hanya 3 saksi
ini, saya kesulitan untuk menghukum nya, kemudian Ziyad berkata:
kalau ada yang bersaksi melihat peristiwa perzinaan ini, saya yakin
7
Muhammad Abdul Aziz al-Hallawi, Fatawa wa Aqdhiyyah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab
Kairo: Maktabah Qur’ani, [Link]. Hal. 166-168.
InsyaAllah benar. Adapun dengan perzinaan ini, saya (Ziyad) tidak
melihat, akan tetapi menurut saya. perzinaan ini merupakan perkara
yang sangat buruk. Umar pun berkata: Allahu Akbar, hukumlah
mereka (yang berzina) dengan hukuman cambuk. 8
Hukuman yang diberikan Umar bin Khatthab terhadap pelaku
perzinaan yang hanya terdiri dari 3 saksi walaupun sebenarnya dalam
teks Alquran eksplisit menyebutkan bahwa saksi adalah 4 orang, akan
tetapi keyakinan Umar begitu yakin melaksanakan instruksi hukuman
dengan melihat bahwa perzinaan merupakan perbuatan yang sangat
buruk sebagaimana komentar atau pendapat dari Ziyad dalam teks
hadis di atas.
D. Studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian hadis Nabi Saw
Kontekstualisasi Tentang Larangan Bepergiannya Wanita Tanpa Mahram
Wanita dalam sebuah teks hadis Nabi Saw dilarang untuk bepergian sendirian
kecuali dengan mahramnya, sebagaimana hadis Nabi Saw berikut:
ال تسافر املرأة ثالث إال ونعها ذو حمرم: عن عبيد اهلل أخربين َناِفٌع َعن اْبن ُعمر َأَّن َرُس وَل اِهلل – صلى اهلل عليه وسلم قال
ال تسافر املرأة ثالث إال ونعها ذو حمرم: وسلم قال
Dari Ubaidillah, menceritakan kepada saya Nafi dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah
Saw bersabda: janganlah seorang wanita bepergian selama 3 hari kecuali bersama
dengan mahramnya.
Ketika melihat teks hadis di atas, dengan jelas bahwa wanita dilarang
bepergian kecuali dengan mahramnya. Dalam syarahnya, Imam al-Nawawi yang
mengutip pendapat al-Baihaqi juga menyebutkan:
وسجل، ال: فقال، كأنه صلى اهلل عليه وسلم شيل عن المرأة تسافر ثالث بغير محرم: قال البيهقي
ال: وسبل عن سفرها يونا فقال، ال: فقال: عن سفرها يومين بغير محرم
Berkata al-Baihaqi: dalam hadis ini, sepertinya Nabi Saw di tanya tentang Wanita
yang bepergian dengan tanpa mahram selama 3 hari. Dijawab: Bukan seperti itu.
8
Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra lil Bailagi, hab zuhud al-zinaIz lam
valamily, Juz 8. Hal 234.
Dikatakan: apakah Nabi Saw ditanya tentang wanita Yang bepergian dengan tanpa
mahram selama 2 hari. Dijawab: bukan seperti itu. Dikatakan: apakah Nabi Saw
ditanya tentang wanita yang bepergian dengan tanpa mahram selama 1 hari.
Dijawab: bukan seperti itu.
Dari syarah al-Nawawi di atas, dengan jelas bahwa larangan bepergian ini
tidak sekedar bilangan hari, larangan ini berlaku walaupun hanya 1 hari bagi wanita
yang bepergian dengan tanpa mahram. Akan tetapi ketika memahami teks hadis ini
tidak hanya sekedar bunyi matan (teks hadis) tersebut, begitu juga dengan memahami
teks penjelasan (syarh) dari hadis yang dijelaskan oleh Imam Nawawi di atas, tidak
hanya sekedar pendapat yang dilontarkan oleh Imam al-Baihaqi yang dikutip tersebut.
Perlu dilacak lebih dalam, konteks hadis ini terjadi dalam hal yang bagaimana.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan, bahwa Pendekatan kontekstual
merupakan pembahasan yang sangat penting yang menjadi perhatian para ulama. Hal
ini karena pendekatan kontekstual berkenaan dengan kajian sebuah teks, misalnya
seperti yang diungkapkan Buzaid al-Rahimun tentang teks bahasa, yang mana tujuan
akhir dari bahasa adalah al-wushul ila al- makna (sampainya suatu kata kepada
maknanya). Untuk memahami konteks makna yang terjadi dalam sebuah teks bahasa,
maka dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang teks bahasa tersebut.
Batasan kontekstualisasi dalam studi Islam yakni,
a. Untuk bidang ibadah murni (ibadah mahdhah) dan aqidah, tidak ada
kontekstualisasi.
b. Untuk bidang di luar ibadah murni dan aqidah, kontekstualisasi
dilakukan dengan tetap berpegang pada moral ideal nash, untuk
selanjutnya dirumuskan legal spesifik baru yang menggantikan legal
spesifik lamanya.
Studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian Alquran yakni
Kontekstualisasi Tentang Hukum Zina Dalam Alquran. Dalam bab hukuman
perzinahan, Muhammad Abdul Aziz al-Hallawi mengungkapkan kontekstualisasi
juga terjadi ketika zamannya Khalifah kedua Umar bin Khatthab, diantaranya; Saksi
Kurang Dari 4 Orang. Dalam Alquran surat an-Nisa’ ayat 15, disebutkan bahwa
wanita yang melakukan perbuatan keji yakni zina, harus ada 4 orang saksi yang
melihat kejadian tersebut. Namun Umar bin Khatthab memberikan pandangan hukum
baru, ketika terjadi peristiwa perzinaan, namun yang menjadi saksi hanya 3 orang,
maka hukuman pun tetap dilaksanakan.
Terakhir, Studi Islam dengan pendekatan kontekstual dalam kajian hadis Nabi
Saw, Kontekstualisasi Tentang Larangan Bepergiannya Wanita Tanpa Mahram.
Wanita dalam sebuah teks hadis Nabi Saw dilarang untuk bepergian sendirian kecuali
dengan mahramnya
B. SARAN
Dalam makalah ini mungkin masih banyak terdapat kekurangan, karena
keterbatasan pengetahuan dan sumber informasi yang penulis miliki. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritikan dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini, serta diharapkan kepada pembaca untuk membaca dari
sumber yang relevan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra lil Bailagi, hab zuhud
al-zinaIz lam valamily.
Al-Tirmidzi, Sunam al-Tirmidzi bab managih ahlu nabi Saw, Juz 5, hadis no: 3788, dalam
Maktabab Syamilah.
Buzaid Rahimun al-Dalalah al-Siyaqiyah Lil Qishash al-Qur’ani, al-Bahtzul Ilmi Linail
Magister t Qismi Lughah wa Adab al-Arabi fi Jamiah Farhat Abbas, Tahun 2010/2011.
Muhammad Abdul Aziz al-Hallawi, Fatawa wa Aqdhiyyah Amirul Mukminin Umar bin
Khattha Kairo: Maktabah Qur’ani, [Link].
Muhammad Abdul Aziz al-Hallawi, Fatawa wa Aadhiyyah Amirul Mukminin Umar bin
Khatthab Kairo: Maktabah Qur’ani, [Link].
M. Saad Ibrahim. Menyaring Dimensi Tasyri Hadits (Jurnal Online Metodologi Tarjih
Muhammadiyah, Edisi 1, No. 1, 2012 (PSIF-UMM).
M. Suad Ibrahim, Menyaring Dimensi Tasyri Hadits.
Saffudin Paradigma Tafsir Tekstual dan Kontekstual Usaha Memahami Kembali Pesan
Alquran,Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Tahun 2009.