LAPORAN PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DIGITAL
DECODER DAN ENCODER
Disusun oleh Kelompok 1:
Nama : Ristia Mutiara Gultom
NIM : A1C320016
Kelas : Reguler A
Asisten Dosen:
1. Eni Setianingsi Napitu (A1C319027)
2. Yanvito Sullyfan Purba (A1C319031)
3. Dedek Darmatiara (A1C319043)
4. Fadhira Insani Putri (A1C319061)
5. Adriyan Ardi Rahman (A1C319073)
6. Aldi Muhamat Kurniawan (A1C319083)
LABORATORIUM PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2022
I. Judul : Decoder Dan Encoder
II. Hari / Tanggal : Kamis/ 31 Maret 2022
III. Tujuan :
Adapun tujuan dari praktikum elektronika digital dengan judul decoder
dan encoder adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengenal macam-macam Rangkaian Decoder dan Encoder.
2. Dapat Membedakan Decorder dan Encoder
3. Dapat Menganalisis prinsip kerja Decoder dan Encoder
IV. Landasan Teori
Sistem digital adalah kesatuan dari beberapa rangkaian digital/logika, dan
elemen/gerbang logika untuk suatu tujuan pengalihan tenaga/energi. Contoh
sistem digital dalam bidang komputasi adalah komputer digital. Komputer digital
merupakan kesatuan dari beberapa rangkaian digital/logika, dan elemen/gerbang
logika untuk tujuan pengalihan tenaga dalam bidang [Link] besaran
digital yang lain dalam bidang elektronika adalah keadaan piranti diode dan
transistor. Diode dalam keadaan menghantar (conducting) menunjukkan keadaan
level logika 1 dan diode dalam keadaan tak tak menghantar (nonconducting)
menunjukkan keadaan level logika 0.
Diode merupakan piranti elektronika yang terbuat dari bahan
semikonduktor yang memiliki dua buah elektrode yakni anode dan katode. Sifat
diode adalah jika anode diberi tegangan yang lebih tinggi dari pada katodenya
maka diode dalam keadaan menghantar. Keadaan tak menghantar akan terjadi jika
tegangan pada kedua elektrodenya sama atau tegangan anode lebih rendah dari
tegangan katodenya. Jika besaran digital direpresentasikan dengan sifat transistor,
maka ketika transistor dalam keadaan jenuh dapat dianggap merepresentasikan
level logika 1 karena bersifat seperti saklar tertutup, dan apabila transistor berada
pada keadaan mati dapat dianggap mereperesentasikan level logika 0 karena
bersifat seperti saklar terbuka (Muchlas, 2013).
Adaptive Huffman coding pertama kali diperkenalkan oleh Faller dan
Gallager (Faller 1973, Gallaber 1978). Knuth memberikan kontribusi dengan
peningkatan pada algoritmanya (Knuth 1985) dan menghasilkan algoritma yang
dikenal dengan algoritma FGK. Versi terbaru dari Adaptive Huffman Coding
diperkenalkan oleh Vitter (Vitter 1987). Semua metode yang ditemukan
merupakan skema define-word menentukan mapping dari pesan sumber menjadi
codeword di dasari pada perkiraan probabilitas pesan sumber. Kode bersifat
adaptif, berganti sesuai dengan perkiraan optimalnya pada saat itu. Dalam hal ini,
Adaptive Huffman Code merespon lokalitas. Dalam pengertian, encoder
mempelajari karakteristik dari sumber. Decoder harus mempelajari kesamaan
dengan encoder dengan memperbaharui pohon Huffman sehingga sinkron dengan
encoder (Spandi, 2020).
Analog circuits process continuous signals, which exist in almost all
electronics systems and provide important function of interfacing real-world
signals with digital systems. Analog IC design hasa large number of circuit
parameters to tune, which is highly difficult for several reasons. First,the
relationship between the parameters and performance is subtle and uncertain.
Designers havefew explicit patterns or deterministic rules to follow. Analog
Circuits Octagon characterizes strong coupled relations among performance
metrics. Therefore, improving one aspect always incurs deterioration of another.
A proper and intelligent trade-off between those metrics requires rich design.
Artinya: Sirkuit Analog memproses sinyal terus-menerus, yang ada dalam hampir
semua sistem elektronik dan menyediakan fungsi penting dari interfacing dunia
sinyal dengan sistem digital. Analog IC desain telah Sejumlah besar parameter
sirkuit untuk tune, yang sangat sulit untuk beberapa alasan. Pertama, Hubungan
antara parameter dan kinerja adalah halus dan tidak pasti. Perancang telah Hanya
sedikit pola jelas atau aturan penentu yang harus diikuti. Sirkuit Analog Octagon
menjadi ciri utama keterkaitan erat antara metrik kinerja. Oleh karena itu,
meningkatkan satu aspek selalu menimbulkan keburukan lain. Pertukaran yang
tepat dan cerdas antara metrik itu membutuhkan desain yang bagus (Wang & Lee,
2020).
Pengkodean kanal telah banyak diperkenalkan pada penelitian-penelitian
sebelumnya, diantaranya Hammingcodeyang digunakan untuk mendeteksi dan
mengoreksikesalahanbit tunggal dan Reed Solomon (RS) code memperkenalkan
teknik error dan erasure correction. Pada penelitian ini, encoder-decoder berbasis
angka sembilan digunakan pada pengkodean kanal atau teknik koreksi kesalahan
pada sistem transmisi informasi digital. Encoder-decoder berbasis angka sembilan
telah dilakukan penelitian awal pada model transformasi digital dengan metode
encoder-decoder perkalian angka sembilan, dalam bentuk model transmisi
informasi digital. Ide atau penelitian awal tersebut akan dikembangkan lebih
lanjut dalam bentuk simulasi encoder-decoder dan evaluasi kinerja transmisinya.
Untuk itu, penelitian ini akan merancang dan simulasi transmisi informasi digital
melalui encoder-decoder berbasis angka sembilan. Sejauh ini, perancangan
encoder-decoder berbasis angka sembilan ini belum pernah diperkenalkan sebagai
teknik pendeteksi dan pengkoreksi kesalahan untuk transmisi informasi digital.
Gambar 1 menunjukkan encoder-decoder dari kode Hamming dan dapat diketahui
cara menghitung bit paritas pada transmisi, yaitu:
Modul aritmatika generator encoder:
r 0 =a2 +a 1+ a0 r 1=a3 +a2 + a1 r 2=a1 +a0 + a3
Menghitung sindrom pada penerima:
s0 =b2 +b1 +b 0 s1=b3 +b2 +b 1 s2=b1+ b0 +b 3
Pengkodean kanal yang menggunakan encoder-decoder berbasis angka
sembilan seperti yang diusulkan pada penelitian ini merupakan hasil pendekatan
secara matematis untuk mendapatkan kode-kode biner. Kode yang diusulkan
dapat menjadi salah satu kode yang baru dari keluarga kode Hamming dan kode
Reed Solomon. Namun demikian, proses pembangkitan kode dan pengkodean
serta pendekodean kode berbasis angka Sembilan berbeda dengan kodekode
tersebut. Kode angka Sembilan dimulai dari pendekatan matematis kemudian
dirancang ke dalam model encoder-decoder untuk sistem transmisi informasi
digital. Usulan ini merupakan salah satu alternative baru untuk encoder-decoder
pada sistem komunikasi digital. Model rancangan encoder-decoder tersebut akan
divisualisakan menggunakan tool Microsoft Visual Basic 6.0 Enterprise
(Yuhanda, 2015).
Pemodelan sistem coded OFDM yang ditunjukkan pada Gambar 6
merupakan pemodelan seperti pada Gambar 5. Namun, terdapat perbedaan pada
sisi pengirim dan penerima. Perbedaan tersebut ialan terdapat penambahan blok
Encode pada sisi pengirim dan blok Decode pada sisi penerima. Berikut
penjelasan dari kedua blok tersebut:
1. Convolutional Encode
Pada penelitian ini, Constraint Length yang digunakan sebanyak 3 bit. Bit
informasi sebagai masukan secara kontinyu di mapping kedalam urutan bit output
encoder. Dengan laju kode sebesar ½, berarti setiap 1 masukan akan
menghasilkan 2bit keluaran.
2. Viterbi Decode
Kemudian pada blok decode, digunakan dekoder yaitu algoritma Viterbi. Proses
dekoding dilakukan dengan membandingkan deretan bit yang diterima dengan
semua kemungkinan bit terkode (Utomo, 2015).
Phase Encoding and Decoding From equation 3.2 and Theorem 1.3 can be
determined the encoding pattern of an indexed operator. When considering some
fixed target bit t, operator Aj is decoded by the indexed form of the same
operators that decode A. the structure of an indexed operator is characterized by
the linear combination of an identifier from E X n and a “not” operator from Y n ..
The latter of these operators can in turn be decomposed into the product of an
operator from E X n , which encodes the phase changes of the operator, and a
permutation operator, which encodes the basis changes. By understanding the
composition of these n qubit basis operators, the composition of the linear
combinations of these operators can be evaluated more easily.
Artinya: Fase Encoding dan Decoding Dari persamaan 3.2 dan Teorema 1.3
dapat ditentukan pola encoding dari operator berindeks. Saat mempertimbangkan
beberapa tetap bitt target, operator Aj didekodekan oleh bentuk terindeks dari
operator yang sama yang mendekode A. struktur operator terindeks dicirikan oleh
kombinasi linier dari pengidentifikasi dari E X n dan operator "bukan" dari Y n ..
Operator terakhir ini pada gilirannya dapat didekomposisi menjadi produk
operator dari E X n yang mengkodekan perubahan fase operator, dan operator
permutasi, yang mengkodekan perubahan basis. Dengan memahami komposisi
operator-operator basis qubit ini, komposisi kombinasi linear dari operator-
operator ini dapat dievaluasi lebih mudah (Raychev, 2015).
Encoder adalah suatu program yang berfungsi untuk mengubah (kompresi)
bentuk sinyal decimal menjadi biner. Macam-macam encoder akan saya ulas di
bawah ini:
Helix Producer (RTSP, RTP)
VLC (RTSP. RTP. UDP)
QT Broadcaster (RTP)
Flash Media Live Encoder (RTMP)
FFMPEG (RTSP, RTP, UDP. RTMP)
Wirecast (RTSP, RTMP)
Windows Media Encoder (MMS)
Kebalikan dari encoder adalah Decoder. Decoder adalah suatu program yang
berfungsi untuk mengubah (kompresi) bentuk sinyal biner menjadi decimal.
Macam-macam decoder:
VLC Player
Real Player
Quick Time Player (Johandri A., 2015).
1. Decoder (IC)
Resistor Resistor adalah komponen elektronik yang digunakan untuk
membatasi aliran arus listrik. Besarnya nilai tahanan dinyatakan dengan satuan
ohm dilambangkan dengan Ω. Nilai tahanan resistor dilambangkan dengan
rangkaian warna yang terdapat pada badan resistor. Light Emitting Diode (LED)
terbuat dari berbagai material setengah penghantar campuran seperti gallium
arsenida fosfida (GaAsP), gallium fosfida (GaP), dan gallium aluminium arsenida
(GaAsP). Karakteristiknya yaitu jika diberi panjaran maju, pertemuannya
mengeluarkan cahaya dan warna cahaya bergantung pada jenis dan kadar material
pertemuan. Ketandasan cahaya berbanding lurus dengan arus maju yang
mengalirinya. Dalam kondisi menghantar, tegangan maju pada LED merah adalah
1,6 sampai 2,2 volt, LED kuning 2,4 volt, LED hijau 2,7 volt. Sedangkan
tegangan terbaik maksimum yang dibolehkan.
Pengertian Decoder adalah alat yang di gunakan untuk dapat
mengembalikan proses encoding sehingga kita dapat melihat atau menerima
informasi aslinya. Pengertian Decoder juga dapat di artikan sebagai rangkaian
logika yang di tugaskan untuk menerima input- input biner dan mengaktifkan
salah satu outputnya sesuai dengan urutan biner tersebut. Kebalikan dari decoder
adalah encoder. Fungsi Decoder adalah untuk memudahkan kita dalam
menyalakan seven segmen. Itu lah sebabnya kita menggunakan decoder agar
dapat dengan cepat menyalakan seven segmen. Output dari decoder maksimum
adalah 2n. Jadi dapat kita bentuk n-to-2n decoder. Jika kita ingin merangkaian
decoder dapat kita buat dengan 3-to-8 decoder menggunakan 2-to-4 decoder.
Sehingga kita dapat membuat 4-to-16 decoder dengan menggunakan dua buah 3-
to-8 decoder. Beberapa rangkaian decoder yang sering kita jumpai saat ini adalah
decoder jenis 3 x 8 (3 bit input dan 8 output line), decoder jenis 4 x 16, decoder
jenis BCD to Decimal (4 bit input dan 10 output line) dan decoder jenis BCD to 7
segmen (4 bit input dan 8 output line).
Khusus untuk pengertian decoder jenis BCD to 7 segmen mempunyai
prinsip kerja yang berbeda dengan decoder-decoder lainnya, di mana kombinasi
setiap inputnya dapat mengaktifkan beberapa output linenya. Salah satu jenis IC
decoder yang umum di pakai adalah 74138, karena IC ini mempunyai 3 input
biner dan 8 output line, di mana nilai output adalah 1 untuk salah satu dari ke 8
jenis kombinasi inputnya. Jika kita perhatikan, pengertian decoder sangat mirip
dengan demultiplexer dengan pengecualian yaitu decoder yang satu ini tidak
mempunyai data input. Sehingga input hanya di gunakan sebagai data control.
Decoder dapat di bentuk dari susunan gerbang logika dasar atau menggunakan IC
yang banyak jual di pasaran, seperti decoder 74LS48, 74LS154, 74LS138,
74LS155 dan sebagainya. Dengan menggunakan IC, kita dapat merancang sebuah
decoder dengan jumlah bit dan keluaran yang di inginkan. Contohnya adalah
dengan merancang sebuah decoder 32 saluran keluar dengan IC decoder 8 saluran
keluaran (Tjahjono, 2016).
It is convenient to analytically describe the decoding procedure using the
matrix, where each row will represent decoding of single PC symbol This matrix
C can be composed as a matrix of code symbols received at the SC decoder. For
each transmitted PC vymbol q, the u-th line of the matrix C will hold values
generated at the corresponding outputs of SC decoder at time moment T, after
appearance of symbol q, at the input of the SC encoder Size of this matrix
conicides with size of matris B: ng nows by n columns. The matrix 5 contains ng
rows and K columns. Let's define its rows as S. ISSN Further on, the matrix 5 will
be analysed on now-by-tow basis. The line 5, characterizes the symbol 4, of the
PC code word Q. Each element defines the degree of conformity of the received
result to the SC code word A, (and to the PC symbol i respectively). More
precisely, the element numerically equal to the number of units in C, which match
corresponding unary bits in A.
Artinya: Lebih mudah untuk menggambarkan secara analitis prosedur
decoding menggunakan matriks, di mana setiap baris akan mewakili decoding
simbol PC tunggal Matriks C ini dapat disusun sebagai matriks simbol kode yang
diterima di dekoder SC. Untuk setiap simbol PC yang ditransmisikan q, garis ke-u
dari matriks C akan menyimpan nilai yang dihasilkan pada output yang sesuai dari
dekoder SC pada saat T, setelah munculnya simbol q, pada input dari enkoder SC
Ukuran matriks ini berisi dengan ukuran matriks B:n sekarang dengan n
[Link] perkalian matriks untuk menghitung kesamaan matriks 5 harus
dilakukan pada bidang numerik bilangan bulat Z, tidak seperti semua perhitungan
sebelumnya yang dilakukan pada bidang bilangan biner Z, Jadi dalam kasus
umum matriks 5 akan menjadi non-biner (Svetlov & Klenov, 2017).
2. Encoder
Aktivitas encode tree terdapat 2 proses yaitu encode random dan encode
manual. Encode random merupakan proses memilih jumlah titik tree yang akan
diacak kemudian diubah menjadi sebuah tree dan mendapatkan kode Blob dari
tree yang telah dirandom tersebut, sedangkan encode manual merupakan proses
menginput kode tree yang kemudian akan diubah menjadi bentuk tree dan didapat
kode Blobnya. Encode adalah suatu proses untuk melakukan pengkodean ulang
terhadap suatu data, sehingga data tersebut apabila dilihat tidak akan sama dengan
aslinya, dengan tanpa merusak informasi di dalamnya. Decode adalah suatu
metode pembacaan suatu data yang telah dikirimkan dalam bentuk sandi,
kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bentuk aslinya(Hijriani & Candra,
2015).
With a non-systematic encoder providing its output in a suitable order, we
now present the architecture and imple mentation results for the proposed
systematic encoder. As proved in Sections III and IV, the proposed systematic
encoder can present its output with parity bits in bit-ceversed or natural order
locations-even with the non-systematic encoder providing its output in natural
order-by changing the location Systematic Encoder Implementation of the frozen
bits. We therefore usean n max ¿ P × P memory to store the fruzen-bit mask,
enabling the encoder to support both parity-bit locations, in addition to rate
flexibility.
Artinya: Dengan encoder non-sistematis yang memberikan outputnya
dalam urutan yang sesuai, sekarang kami menyajikan arsitektur dan hasil
implementasi untuk encoder sistematis yang diusulkan. Sebagaimana dibuktikan
dalam Bagian III dan IV, encoder sistematis yang diusulkan dapat menyajikan
outputnya dengan bit paritas di lokasi urutan bit atau urutan alami-bahkan dengan
encoder non-sistematis memberikan outputnya dalam urutan alami-dengan
mengubah lokasi Encoder Sistematik Implementasi bit beku. Oleh karena itu kami
menggunakan memori n max ¿ P × P untuk menyimpan topeng fruzen-bit,
memungkinkan encoder untuk mendukung kedua lokasi bit paritas, selain untuk
menilai Bexibility (Sarkis et al., 2016).
Design of an 8-of-3 encoder
The propened self-leaming logic circuit is used for calcu lating various
multi-fan-in logic operations. The circuit can he applied to different types of
digital computations according to this logic. In this section, an 8-of-3 encoder
and a 3-of-8 decoder based on the proposed logic circuit are presented. In
particular, the encoder and decoder proposed in this paper are aimed at digital
system, which can be implemented by combinatorial logic circuit. An arti trasy
number of encoders and decoders can also be achieved with the same layout
mechanism using the universal logic circuit design.
Desain encoder 8-dari-3
Rangkaian logika self-leaming propened digunakan untuk menghitung
berbagai operasi logika multi-kipas-masuk. Rangkaian tersebut dapat ia terapkan
pada berbagai jenis komputasi digital sesuai dengan logika ini. Pada bagian ini,
encoder 8-of-3 dan decoder 3-of-8 berdasarkan rangkaian logika yang diusulkan
disajikan. Secara khusus encoder dan decoder yang diusulkan dalam makalah ini
ditujukan untuk sistem digital, yang dapat diimplementasikan oleh rangkaian
logika kombinatorial. Sejumlah enkoder dan dekoder arti tary juga dapat dicapai
dengan mekanisme tata letak yang sama menggunakan logika terbalik
[Link] utama encoder adalah mengubah makna tertentu dari informasi
menjadi kode biner (Hong, 2020).
V. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
sebagai berikut:
a. Alat
1. Power Supply
b. Bahan
1. Gerbang AND, NAND dan NOT
2. LED
3. Jumper
4. Kabel Secukupnya
VI. Prosedur Kerja
6.1 Prosedur Percobaan
1. Decorder 2 to 4
a. Dipastikan catu daya dalam posisi OFF. Pasangkan IC TTL 7404 (NOT) dan
7408 (AND) pada projectboard. Pasangkan kabel untuk memberi catu daya
pada IC tersebut.
b. Disusun rangkaian seperti pada gambar. Sinyal-sinyal masukan
dihubungkan dengan saklar-saklar masukan, dan sinyal-sinyal
keluarandengan peraga LED.
c. Divariasikan nilai masukan I0 dan I1 berurutan seperti yang tertera pada
tabel, dan amati keluarannya. Tuliskan hasil pengamatan pada tabel yang
telah disediakan.
2. Encoder 4 to 2
d. Dipastikan catu daya dalam posisi OFF. Pasangkan IC TTL 7432 (OR)
pada projectboard. Pasangkan kabel untuk memberi catu daya pada IC
tersebut.
e. Disusun rangkaian seperti pada gambar. Sinyal-sinyal masukan
dihubungkan dengan saklar-saklar masukan, dan sinyal-sinyal keluaran
dengan peraga LED.
f. Divariasikan nilai masukan A3, A2, A1 dan A0 berurutan seperti yang
tertera pada tabel, dan amati keluarannya. Tuliskan hasil pengamatan pada
tabel yang telah disediakan.
VII. Hasil dan Pembahasan
7.1 Hasil
Tabel decoder 2 to 4
I0 I1 D0 D1 D2 D3
0 0 - - - -
0 1 - - - -
1 0 - - - -
1 1 - - - -
Tabel Encoder 4 to 2
A3 A2 A1 A0 Y1 Y2
0 0 0 1 0 0
0 0 1 0 0 1
0 1 0 0 1 0
1 0 0 0 1 1
0 0 0 0 0 0
7.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu decoder dan encoder dengan tujuan
mengenal, membedakan serta memahami prinsip dari decoder dan encoder. Pada
praktikum kali ini ada 2 percobaan yaitu satu dari decoder dan satu lagi dari
encoder, dimana percobaan decoder yaitu rangkaian decoder 2 to 4 sedangkan
dari rangkaian encoder 4 to 2. Rangkaian tersebut mengggunakan IC AND dan
NOT, dimana decoder memakai AND dan NOT sedangkan decoder hanya 1 saja
yaitu NOT.
RNN encoder memproses kalimat dalam kata bahasa sumber dari kata
demi kata dan menghasilkan representasi kalimat masukan. RNN decoder atau
model bahasa mengambil output dari encoder sebagai masukan dan menghasilkan
terjemahan kata masukan kata demi kata. Keuntungan dari arsitektur encoder-
decoder adalah sistem memproses keseluruhan masukan sebelum mulai
menerjemahkan. Ini berarti bahwa decoder dapat menggunakan apa yang telah
dihasilkan dan keseluruhan kalimat sumber saat membuat kata berikutnya dalam
terjemahan (Abidin, 2017).
Decoder merupakan suatu rangkaian kombinasional yang berfungsi untuk
mengkodekan kembali kode pada proses input menjadi data pada outputnya.
Decoder juga dapat diartikan sebagai suatu rangkaian digital yang merubah
bilangan biner menjadi bilangan decimal dimana Rangkaian logika decoder
menerima input-input dalam bentuk biner dan mengaktifkan salah satu outputnya
sesuai dengan urutan biner inputnya. Pada dasarnya decoder merupakan
kumpulan gerbang logika AND sehingga dapat digunakan sebagai pembangkit
fungsi. Pada umumnya decoder biasanya memiliki saluran enable. Saluran enable
berfungsi untuk mengaktifkan dan menonaktifkan decoder. Didalam Decoder
Terdapat 2 jenis pengkaktifan yaitu: aktif high dan aktif low. Pada decoder
dengan saluran enable aktif high, jika enable = 0 maka decoder off. Berarti semua
saluran output akan bernilai nol. Jika enable = 1 maka decoder on dan sesuai
dengan inputnya, saluran output yang aktif akan 1, dan yang lainnya 0.
Percobaaan decoder yaitu decoder 2 to 4, dalam percobaan tersebut
menggunakan IC AND dan NOT dimana percobaan yang praktikan lakukan gagal
yang terlihat pada output (LED) yang tidak sesuai dengan tabel kebenaran.
Rangkaian decoder sebenarnya terdiri dari beberapa macam yakni:
Decoder 3 x 8 dimana input line-nya berjumlah 3 dan output-nya
berjumlah 8.
Decoder 4 x 16, dimana inputnya berjumlah 4 dan outputnya berjumlah 8.
Decoder BCD to Decimal, maksudnya rangkaian ini memiliki 4 bit input
dan juga 8 bit output.
Decoder BCD to seven segment, dimana rangkaian ini hadir dengan 4
input dan juga 8 output line.
Ada hal penting yang juga tidak boleh diabaikan. Khusus untuk rangkaian
BCD to seven segment, ia memiliki prinsip dan cara kerja yang tidak sama dengan
jenis rangkaian decoder lainnya. Kombinasi dari setiap input yang dimilikinya
tersebut nanti bisa mengaktifkan beberapa output yang artinya tidak hanya berasal
dari satu line saja. Sebuah Decoder adalah rangkaian logika yang menerima input-
input biner dan mengaktifkan salah satu output-nya sesuai dengan urutan biner
input-nya. Blok Diagram dari rangkaian Decoder diberikan pada gambar 13-1.
Decoder adalah rangkaian kombinasi yang memiliki jalur input 'n' dan
output jalur maksimum 2n. Salah satu dari output ini akan menjadi "Aktif Tinggi"
berdasarkan kombinasi dari input yang ada ketika decoder diaktifkan.
Dengan kata lain bahwa decoder adalah rangkaian yang mampu mendeteksi kode
tertentu. Output dari decoder tidak merupakan syarat minimum dari variabel baris
input 'n', ketika diaktifkan. Saat proses decoding, decoder umumnya
menempatkan logika 1 di salah satu outputnya untuk membuat kode yang tepat.
Untuk kombinasi input biner n bit yang berbeda, akan menghasilkan output 2n bit
data. Output dari decoder dihasilkan berdasarkan dari setiap masukan input
binernya. Decoder biner 2 ke 4 memiliki 2 input biner dan 4 output berkode.
Diagram blok dan diagram rangkaiannya ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
A dan B adalah dua input dan output yang dihasilkan adalah salah satu dari kedua
input tersebut.
Diagram rangkaian memiliki dua inverter, yang akan menyediakan
kelengkapan dari dua input A dan B. Setiap gerbang AND akan menghasilkan
salah satu properti input sebagai output. Ketika enable (EN) diatur pada logika 1,
salah satu output (Y0, Y1, Y2, Y3) akan aktif untuk input yang diberikan. Output
yang lainnya akan mempunyai logika 0 atau LOW. Dengan melihat tabel
kebenaran di atas, operasi dari decoder dapat lebih dipahami. Ketika kedua input
A dan B adalah 0, Y 0 akan aktif “HIGH” atau logika 1 dan pin output yang tersisa
akan menjadi “LOW” atau logika 0.
Mengkonversi sebuah n-bit code kedalam sebuah 1 (satu) output yang
aktif (low/high).
Rangkaiannya dapat dibentuk menggunakan AND atau OR gate.
Jumlah masukan (input) < Jumlah Keluaran (Output)
Hanya satu output yang aktif (low/high) dari banyak input yang diberikan
Encoder merupakan rangkaian digital yang dapat mengubah bilangan
decimal menjadi biner. Encoder dalam rangkaian digital adalah rangkaian
kombinasi gerbang digital yang memiliki input banyak dalam bentuk line input
dan memiliki output sedikit dalam format bilangan biner. Encoder akan
mengkodekan setiap jalur input yang aktif menjadi kode bilangan biner. Dalam
teori digital banyak ditemukan istilah encoder seperti “Desimal to BCD Encoder”
yang berarti rangkaian digital yang berfungsi untuk mengkodekan line input
dengan jumlah line input desimal (0-9) menjadi kode bilangan biner 4 bit BCD
(Binary Coded Decimal). Atau “8 line to 3line encoder” yang berarti rangkaian
encoder dengan input 8 line dan output 3 line (3 bit BCD).
Percobaan encoder yaitu rangkaian encoder 4 to 2 dengan menggunakan
IC TTL 74032 (OR), dimana memiliki 6 gerbang dimana rangkaian tersebut
menghasilkan output yang sesuai dengan teori. Ketika hasil output adalah 1 dan 0
itu merupakan kode bahwa LED yang digunakan dengan hasil output logika 1
(hidup) dan output logika 0 (mati), begitu juga sebaliknya. Pada percobaaan yang
telah dilakukan dengan input 0,0,0,1 menghasilkan output 0 dan 0, pada
percobaan dengan input 0,0,1,0 menghasilkan output 0 dan 1, pada percobaan
dengan input 0,1,0,0 menghasilkan output 1 dan 0, pada percobaan input 1,0,0,0
menghasilkan output 1 dan 1. Sehingga hasil percobaan dinyatakan berhasil dan
sesuai dengan teori.
Encoder melakukan operasi kebalikan dari decoder. Encoder
menghasilkan output dalam bentuk bit. Syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa
input harus berupa word biner yang ekivalen dengan bilangan decimal 2
(1,2,4,6,16,..) sehingga encoder hanya berguna dalam bentuk priority encoder
yang hanya memperoleh prioritas data tertinggi untuk di kodekan. Suatu decoder
atau pendekode adalah system yang menerima kata M bit akan menetapkan
keadaan 1 pada salah satu (dan hanya satu) dari 2m saluran keluaran yang
tersedia. Dengan kata lain fungsi suatu decoder adalah mengidentifikasi atau
mengenali suatu kode terntu. Proses kebalikannya disebut pengkodean (encoding).
Suatu pengkode atau encoder memiliki sejumlah masukan, dan pada saat tertemtu
hanya salah satu dari masukan masukan itu yang berada pada keluaran 1 dan
sebagai akibatnya suatu kode Nbit akan dihasilkan sesuai dengan masukan khusus
yang dieksitasi.
Mengkonversi 2n input dan dikeluarkan kedalam bentukn bit output
Banyak digunakan untuk kompresi data
Dapat dibangun menggunakan AND atau OR Gate;
Jumlah masukan (input) > Jumlah Keluaran (Output)
Prinsip cara kerja encoder yakni, dari semua input yang terpasang hanya satu
kaki input yang diberikan logic 1 atau high dalam satu waktu. Dan encoder akan
mengubah signal tersebut ke format kode bit-bit biner dengan tiap-tiap kaki input
memiliki output kode tertentu. Jenis -jenis rangkaian encoder adalah sebagai
berikut:
4 to 2 Encoder, dimana ini terdiri dari 4 input Y3, Y2, Y1 dan Y0 dan dua
output A1 dan A0.
8 to 3 Encoder (Octal To Binary), dimana memiliki 8 input yang dimulai dari
Y0,Y1,Y2 sampai Y7 dan 3 output A2, A1 dan A0.
Decimal to BCD Encoder (10 to 4 Encoder), dimana ini terdiri dari 10 input
dan 4 output.
Encoding adalah proses menempatkan urutan karakter tertentu (huruf, angka,
tanda baca, dan simbol tertentu) ke dalam format khusus untuk transmisi yang
efisien atau penyimpanan. Sebuah encoder mengambil data yang masuk
bersamaan dengan beberapa metadata (seperti signal yang yang mengindikasikan
apakah data mewakili data yang sesungguhnya atau control character) dan
menghasilkan sebuah nilai yang sudah ter-encode. Decoding adalah proses yang
berlawanan, konversi dari format yang disandikan kembali ke urutan asli dari
karakter. Encoding dan decoding digunakan dalam komunikasi data, jaringan dan
penyimpanan. (Setiawan & Pasaribu, 2020).
Sebuah decoder melakukan fungsi berlawanan dari encoder, membalikkan
proses encoding membuat mengkonversi informasi ke format sebelumnya atau
format lain yang dapat diakses. Misalnya, dalam elektronik jika sinyal dikodekan
menggunakan Konverter Analog ke Digital untuk tujuan transmisi, penerima
harus mendekode sinyal menggunakan Konverter Digital ke Analog untuk
mengambil sinyal analog asli. Dalam hal ini, ADC bertindak sebagai encoder dan
DAC bertindak sebagai decoder. Rangkaian logika decoder menerima input-input
dalam bentuk biner dan mengaktifkan salah satu outputnya sesuai dengan urutan
biner inputnya. rangkaian digital yang dapat mengubah bilangan decimal menjadi
biner. Encoder melakukan operasi kebalikan dari decoder. Encoder menghasilkan
output dalam bentuk bit.
VIII. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan “Decoder Dan
Encoder” adalah sebagai berikut:
1. Decoder umumnya menempatkan logika 1 di salah satu outputnya untuk
membuat kode yang tepat. Untuk kombinasi input biner n bit yang berbeda,
akan menghasilkan output 2n bit data. Jenis -jenis rangkaian decoder yaitu:
Decoder 3 x 8 dimana input line-nya berjumlah 3 dan output-nya
berjumlah 8.
Decoder 4 x 16, dimana inputnya berjumlah 4 dan outputnya
berjumlah 8.
Decoder BCD to Decimal, maksudnya rangkaian ini memiliki 4 bit
input dan juga 8 bit output.
Decoder BCD to seven segment, dimana rangkaian ini hadir dengan 4
input dan juga 8 output line.
Encoder melakukan operasi kebalikan dari decoder. Encoder menghasilkan
output dalam bentuk bit. Syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa input harus
berupa word biner yang ekivalen dengan bilangan decimal 2 (1,2,4,6,16,..)
sehingga encoder hanya berguna dalam bentuk priority encoder yang hanya
memperoleh prioritas data tertinggi untuk di kodekan. Jenis- jenis rangkaian
encoder yaitu:
4 to 2 Encoder, dimana ini terdiri dari 4 input Y3, Y2, Y1 dan Y0 dan
dua output A1 dan A0.
8 to 3 Encoder (Octal To Binary), dimana memiliki 8 input yang
dimulai dari Y0,Y1,Y2 sampai Y7 dan 3 output A2, A1 dan A0.
Decimal To BCD Encoder (10 to 4 Encoder), dimana ini terdiri dari 10
input dan 4 output.
2. Decoder merupakan suatu rangkaian kombinasional yang berfungsi untuk
mengkodekan kembali kode pada proses input menjadi data pada outputnya.
Decoder juga dapat diartikan sebagai suatu rangkaian digital yang merubah
bilangan biner menjadi bilangan decimal dimana rangkaian logika decoder
menerima input-input dalam bentuk biner dan mengaktifkan salah satu
outputnya sesuai dengan urutan biner inputnya. Sedangkan, encoder
merupakan rangkaian digital yang dapat mengubah bilangan decimal menjadi
biner. Encoder dalam rangkaian digital adalah rangkaian kombinasi gerbang
digital yang memiliki input banyak dalam bentuk line input dan memiliki
output sedikit dalam format bilangan biner.
3. Prinsip kerja decoder sebagai berikut:
Mengkonversi sebuah n-bit code kedalam sebuah 1 (satu) output yang
aktif (low/high).
Rangkaiannya dapat dibentuk menggunakan AND atau OR gate.
Jumlah masukan (input) < Jumlah Keluaran (Output)
Hanya satu output yang aktif (low/high) dari banyak input yang diberikan
Prinsip kerja encoder sebagai berikut:
Mengkonversi 2n input dan dikeluarkan kedalam bentukn bit output
Banyak digunakan untuk kompresi data
Dapat dibangun menggunakan AND atau OR Gate;
Jumlah masukan (input) > Jumlah Keluaran (Output)
DAFTAR ISI
Abidin, Z. (2017). Penerapan Neural Machine Translation untuk Eksperimen
Penerjemahan secara Otomatis pada Bahasa Lampung – Indonesia.
Prosiding Seminar Nasional Metode Kuantitatif, 978, 53–68.
Hijriani, A., & Candra, A. (2015). Pengembangan Aplikasi Encode dan Decode
Tree Menggunakan Blob Code. Jurnal Komputasi, 2(2), 68–77.
Hong, Q. (2020). Memristive self-learning logic circuit with application to
encoder and decoder. Neural Computing and Applications, 0123456789.
[Link]
Johandri A., J. (2015). Hacking Streaming. Elex Media Komputindo.
[Link]
Muchlas, M. T. (2013). Dasar-Dasar Rangkaian Digital. UAD PRESS.
[Link]
Raychev, N. (2015). Indexed formalized operators for n-bit chains. International
Journal of Scientific and Engineering Research, 6(5), 1477–1480.
[Link]
Sarkis, G., Tal, I., Giard, P., Vardy, A., Thibeault, C., & Gross, W. J. (2016).
Flexible and low-complexity encoding and decoding of systematic polar
codes. IEEE Transactions on Communications, 64(7), 2732–2745.
[Link]
Setiawan, A. E., & Pasaribu, A. (2020). Penerapan Steganografi Pada Citra
Digital Menggunakan Metode Least Significant Bit ( LSB ) Kombinasi RC4
Berbasis Mobile Android. Aisyah Journal of Informatics and Electrical
Engineering, 2(1).
Spandi. (2020). Penerapan Algoritma Adaptive Huffman Coding Pada Aplikasi
Kumpulan Komik Berbasis Android. Pelita Informatika : Informasi Dan
Informatika, 9(2), 136–141.
Svetlov, M. S., & Klenov, D. V. (2017). Algorithms of Coding and Decoding for
Code with Code Signal Feature. IEE, 17(3), 0–4.
Tjahjono, M. H. K. H. (2016). Rancang bangun led cube sebagai alat bantu media
promosi. SNAPTI.
Utomo, F. L. H. (2015). Analisis Unjuk Kerja Coded Ofdm Menggunakan. E-
Journal Spektrum, 2(2), 154–160.
Wang, H., & Lee, H. (2020). Learning to Design Circuits. [Link], 18(12), 1–7.
Yuhanda, B. (2015). Desain dan Simulasi Encoder-Decoder Berbasis Angka
Sembilan Untuk Transmisi Informasi Digital. Jurnal Buana Informatika,
6(3), 163–172.
LAMPIRAN
Lampiran Gambar
Rangkaian Encoder 4 To 2
Adaptor Vin= 4,5 Volt Input (0,0,0,1) Dan Output (0 Dan 0)
Input (0,0,1,0) Dan Output (0 Dan 1)
Input (0,1,0,0) Dan Output (1 Dan 0) Input (1,0,0,0) Dan Output (1 Dan 1)
Lampiran Buku Dan Jurnal
Yuhanda, B. (2015). Desain dan Simulasi Encoder-Decoder Berbasis Angka
Sembilan Untuk Transmisi Informasi Digital. Jurnal Buana Informatika, 6(3),
163–172
Utomo, F. L. H. (2015). Analisis Unjuk Kerja Coded Ofdm Menggunakan. E-
Journal Spektrum, 2(2), 154–160.
Hijriani, A., & Candra, A. (2015). Pengembangan Aplikasi Encode dan Decode
Tree Menggunakan Blob Code. Jurnal Komputasi, 2(2), 68–77.
Spandi. (2020). Penerapan Algoritma Adaptive Huffman Coding Pada Aplikasi
Kumpulan Komik Berbasis Android. Pelita Informatika : Informasi Dan
Informatika, 9(2), 136–141.
Tjahjono, M. H. K. H. (2016). Rancang bangun led cube sebagai alat bantu media
promosi. Snapti.
Raychev, N. (2015). Indexed formalized operators for n-bit chains. International
Journal of Scientific and Engineering Research, 6(5), 1477–1480.
[Link]
Sarkis, G., Tal, I., Giard, P., Vardy, A., Thibeault, C., & Gross, W. J. (2016).
Flexible and low-complexity encoding and decoding of systematic polar codes.
IEEE Transactions on Communications, 64(7), 2732–2745.
[Link]
Hong, Q. (2020). Memristive self-learning logic circuit with application to
encoder and decoder. Neural Computing and Applications, 0123456789.
[Link]
Svetlov, M. S., & Klenov, D. V. (2017). Algorithms of Coding and Decoding for
Code with Code Signal Feature. IEE, 17(3), 0–4.
Wang, H., & Lee, H. (2020). Learning to Design Circuits. [Link], 18(12), 1–7.
Muchlas, M. T. (2013). Dasar-Dasar Rangkaian Digital. UAD PRESS.
[Link]
Johandri A., J. (2015). Hacking Streaming. Elex Media Komputindo.
[Link]