0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan7 halaman

Pengertian Fraud Menurut ACFE

Dokumen ini membahas pengertian fraud, fraud tree, manfaat fraud tree, dan jenis-jenis kecurangan. Fraud tree dibuat oleh ACFE untuk mengklasifikasi kemungkinan kecurangan yang dilakukan karyawan ke dalam tiga kategori utama yaitu korupsi, penyimpangan aset, dan pernyataan palsu.

Diunggah oleh

Vira Damayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan7 halaman

Pengertian Fraud Menurut ACFE

Dokumen ini membahas pengertian fraud, fraud tree, manfaat fraud tree, dan jenis-jenis kecurangan. Fraud tree dibuat oleh ACFE untuk mengklasifikasi kemungkinan kecurangan yang dilakukan karyawan ke dalam tiga kategori utama yaitu korupsi, penyimpangan aset, dan pernyataan palsu.

Diunggah oleh

Vira Damayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGERTIAN FRAUD, FRAUD TREE, MANFAAT FRAUD TREE, DAN JENIS-

JENIS KECURANGAN

Disusun Oleh Kelompok 6 / Kelas D

1. Sandra Dwi Maharani (20013010100)


2. Muchammad Thoriqul Ulum (20013010102)
3. Vira Damayanti (20013010115)
4. Rizal Amanullah (20013010126)
5. Aurelio Dicky S. (20013010295)

AKUNTANSI FORENSIK

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

2023
Nama : Aurelio Dicky S.
NPM : 20013010295

Pengertian Fraud
Fraud merupakan sesuatu tindakan yang melawan hukum dan dilakukan secara
disengaja yang diperangi oleh akuntansi forensik dan dibuktikan secara spesifik oleh audit
investigatif. Untuk itu akuntansi forensik dan audit investigatif merupakan cara yang terbaik
untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya fraud.

Fraud Dalam Perundangan Kita


Pengumpulan dan pelaporan statistik tentang kejahatan di suatu Negara dapat dilakukan
sesuai dengan klasifikasi kejahatan dan pelanggaran (atau tindak pidana)menurut ketentuan
perundang-undangan Negara tersebut. Melihat statistik kejahatan di Indonesia, perlu diingat
bahwa melaporkan kejahatan masih rendah. Banyak faktor yang menyebabkan masyarakat
enggan melaporkan kejahatan. Di antaranya, tercermin dari ungkapan sehari-hari “melapor
kehilangan kambing, berakhir kehilangan kerbau. Oleh karena itu, beberapa kajian luar negeri
tentang data kejahatan di Indonesia memberi peringatan “crimes may be unreported”.

Fraud Dalam KUHP


Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyebutkan beberapa pasal yang
mencakup pengertian fraud seperti:
a. Pasal 362 tentang Pencurian
b. Pasal 368 tentang Pemerasan dan Pengancaman
c. Pasal 372 tentang Penggelapan
d. Pasal 378 tentang Perbuatan Curang
e. Pasal 396 tentang Merugikan Pemberi Piutang dalam Keadaan Pailit
f. Pasal 406 tentang Menghancurkan atau Merusakkan Barang.
g. Pasal 209, 210, 387, 388, 415, 417, 418, 419, 420, 423, 425, dan 435 yang secara khusus
diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1999)
Nama : Rizal Amanullah
NPM : 20013010126

Pengertian Fraud Tree


Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) membuat suatu klasifikasi yang
disebut “Fraud Tree”, yaitu sistem klasifikasi mengenai kemungkinan kecurangan yang
dilakukan oleh karyawan di dalam suatu perusahaan. Para akuntan memahami istilah bahasa
Inggris dalam Fraud tree, karena itu adalah istilah yang lazim digunakan dalam buku teks
akuntansi dan auditing. Occupational Fraud tree mempunyai tiga cabang utama, yaitu Korupsi
(Corruption), Penyimpangan atas aset (Asset Missappropriation), Pernyataan Palsu (Fraudulent
Statements).
1. Corruption (Korupsi)
Korupsi merupakan tindakan yang dilakukan biasanya oleh satu atau lebih
orang yang saling menguntungkan. Berikut adalah 4 bentuk korupsi yang digambarkan
seperti gambar dalam ranting-ranting :
a. Conflict of interest atau konflik kepentingan sering dijumpai dalam berbagai hal
misalnya bisnis pejabat yang menjadi pemasok atau rekanan di Lembaga-
lembaga pemerintah ataupun didunia bisnis. Ciri-ciri terjadi conflict of interest
dalam hal ini yang bersangkutan menjadi pemasok atau rekanan adalah :
● Selama bertahun-tahun
● Nilai kontrak relatif lebih mahal
● Rekanan tertentu menguasai pangsa pembelian yang relative sangat
besar di suatu Lembaga
● Kemenangan dalam tender dicapai dengan cara-cara yang tidak wajar
● Hubungan antara penjual dan pembeli lebih dari sekedar hubungan
bisnis (nepotisme)
b. Bribery atau penyuapan melibatkan pemberian, penawaran, permohonan, atau
penerimaan sesuatu yang berharga untuk mempengaruhi seorang petugas dalam
melakukan pekerjaannya menurut hukum. Para petugas tersebut mungkin
dipekerjakan oleh pemerintah (atau pihak yang berwenang) atau oleh organisasi
swasta. Contoh :
1) Invoice Kickbacks (suap faktur) merupakan salah satu bentuk
penyuapan di mana si penjual "mengikhlaskan" sebagian dari hasil
penjualannya. Persentase yang diikhlaskan itu bisa diatur di muka, atau
diserahkan sepenuhnya pada "keikhlasan" penjual. Kickbacks
merupakan korupsi dalam hal pembelian.
2) Bid Rigging merupakan korupsi dalam hal penjualan yang merupakan
permainan dalam tender.
c. Illegal Gratuities atau persenan ilegal merupakan pemberian atau hadiah yang
merupakan bentuk terselubung dari penyuapan. Hal ini melibatkan pemberian,
penerimaan, penawaran, atau permohonan sesuatu yang berharga karena
tindakan resmi yang telah dilakukan. Ini mirip dengan suatu penyuapan,tetapi
transaksinya terjadi setelah fakta pekerjaan tersebut [Link] :
hadiah perkawinan, hadiah ulang tahun, hadiah perpisahan, hadiah kenaikan
pangkat dan jabatan,dll.
d. Economic Extortion atau pemerasan ekonomi merupakan penggunaan (atau
ancaman) kekuatan (termasuk sanksi ekonomi) oleh individual atau organisasi
untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Item yang berharga itu dapat berupa
aktiva keuangan atau ekonomi, informasi, atau kerjasama untuk mendapatkan
suatu keputusan yang menguntungkan atas pekerjaan atau hal tertentu yang
sedang ditangani.
2. Asset Misappropriation (Penyalahgunaan Aset)
Asset Misappropriation atau penyalahgunaan asset merupakan penyalahgunaan
terhadap aktiva tetap atau harta perusahaan yang digunakan untuk keuntungan pribadi.
Jenis yang paling umum dari penipuan dan sering terjadi sebagai penipuan karyawan.
Beberapa jenis penyalahgunaan aset yaitu :
a. Skimming
Biasanya cara ini terlihat dalam fraud yang sangat dikenal para auditor,
yakni lapping. Kalau uang sudah masuk kedalam Perusahaan dan kemudian
baru dijarah, maka fraud ini disebut larceny atau pencurian. Sekali arus uang
sudah terekam dalam atau sudah masuk ke sistem, maka penjarahan ini disebut
fraudulent disbursement yang lebih dekat dengan istilah penggelapan.
b. Larceny (Pencurian)
Bentuk penjarahan yang paling kuno dan dikenal sejak awal peradaban
manusia adalah pencurian. Peluang untuk terjadinya penjarahan jenis ini
berkaitan erat dengan lemahnya sistem pengendalian intern, khususnya yang
berkenaan dengan perlindungan keselamatan asset (safeguarding of assets).
c. Fraudulent Disbursements
Sebenarnya salah satu langkah lebih jauh dari pencurian. Sebelum tahap
pencurian, ada tahap perantara. Terdapat lima kolom (sub ranting pada
fraudulent disbursements, yaitu :
1) Billing schemes (kecurangan penagihan)
2) Payroll schemes (kecurangan pembayaran gaji)
3) Expense reimbursement schemes
4) Check tampering
5) Register disbursement
3. Fraudulent Statements (Pernyataan Palsu) Hal ini berkaitan dengan fraud manajemen.
Sementara semua fraud melibatkan bentuk penyimpangan laporan keuangan, untuk
memenuhi definisi di bawah kelas skema fraud,laporan itu sendiri harus memberi
keuntungan bagi pelakunya baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan kata
lain, laporan tersebut tidak sekadar sarana untuk menutupi atau mengaburkan tindakan
[Link] jenis Fraudulent Statements yang dapat dilakukan yaitu :
a. Financial
i. Asset/Revenue Overstatements
a) Timing Differences
b) Fictitious Revenues
c) Concealed Liabilities
d) Improper Disclosures
e) Improper Asset
ii. Asset/Revenue Understatements

b. Non-Financial
i. Employment Credentials
ii. Internal Documents
iii. External Documents
Nama : Sandra Dwi M.
NPM : 20013010100

Manfaat Fraud Tree


Fraud tree yang dibuat oleh The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE)
memetakan fraud dalam lingkungan kerja. Fraud tree sangat bermanfaat bagi seorang akuntan
forensik dalam memetakan fraud yang terjadi pada perusahaan maupun organisasi. Pemetaan
pada fraud tree sangat membantu akuntan forensik dalam mendiagnosis terjadinya fraud.
Dalam auditing terdapat gejala-gejala “penyakit fraud yang dikenal sebagai red flags. Seorang
akuntan forensik dapat dengan mudah untuk mendeteksi fraud apabila memahami gejala-gejala
“penyakit” fraud dan menguasai teknik-teknik audit investigatif.

Nama : Muchammad Thoriqul U.


NPM : 20013010102

Jenis-Jenis Fraud
Menurut The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) merupakan organisasi
profesional bergerak di bidang pemeriksaan atas kecurangan mengklasifikasikan fraud
(kecurangan) dalam tiga tingkatan yang disebut Fraud Tree, yaitu sebagai berikut (Albrech,
2009):
1. Penyimpangan atas aset (Asset Misappropriation)
Asset misappropriation meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau harta perusahaan
atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena
sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (defined value).
2. Pernyataan palsu atau salah pernyataan (Fraudulent Statement)
Fraud adalah juga kerap terkait dengan laporan atau kondisi keuangan sebuah
perusahaan. Ketika pejabat atau eksekutif–atau bahkan elite pemerintah–merekayasa
keuangan instansi, maka mereka sebenarnya telah melakukan fraud. Fraud ini disebut
dengan pernyataan palsu atau fraudulent statement. Tentu fraud yang satu ini lebih sulit
dideteksi. Perlu seorang ahli untuk mengetahui apakah laporan keuangan, misalnya,
telah sesuai dengan kenyataan atau tidak.
3. Korupsi (Corruption)
Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena menyangkut kerja sama dengan pihak
lain seperti suap dan korupsi, di mana hal ini merupakan jenis yang terbanyak terjadi di
negara-negara berkembang yang penegakan hukumnya lemah dan masih kurang
kesadaran akan tata kelola yang baik sehingga faktor integritasnya masih
dipertanyakan. Fraud jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena para pihak yang
bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis mutualisme). Termasuk didalamnya
adalah penyalahgunaan wewenang/konflik kepentingan (conflict of interest),
penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/illegal (illegal gratuities), dan
pemerasan secara ekonomi (economic extortion).

Fraud Triangle
Fraud Triangle adalah sebuah konsep yang digunakan untuk memahami motivasi di
balik tindakan kecurangan. Konsep ini terdiri dari tiga komponen yang saling terkait, yaitu
tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan pembenaran (rationalization). Berikut
penjelasan dari masing-masing komponen:
● Tekanan (Pressure), niat seseorang melakukan kecurangan. Seseorang yang
melakukan fraud pasti memiliki motivasi atau dorongan tersendiri.
● Kesempatan (Opportunity), kesempatan seorang pekerja untuk melakukan suatu
kecurangan. Hal ini dilakukan karna lemahnya kontrol dari suatu perusahaan.
● Pembenaran (Rationalization), pelaku akan memberikan alasan yang rasional
sebagai bentuk pembelaan diri.

Anda mungkin juga menyukai