0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Penerapan Punishment Pendidikan Terhadap Pelanggaran Kedisiplinan Siswa Sekolah Dasar

Diunggah oleh

Yeti Yarsa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Penerapan Punishment Pendidikan Terhadap Pelanggaran Kedisiplinan Siswa Sekolah Dasar

Diunggah oleh

Yeti Yarsa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Copyright © Rahmawati 2021

Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021

Penerapan Punishment Pendidikan terhadap Pelanggaran


Kedisiplinan Siswa Sekolah Dasar

Rahmawati
Institut Agama Islam Negeri Palopo

Rahmawati12@[Link]

Abstract
Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang berbentuk deskriptif kuantitatif yang
menganalisis data secara mendalam berdasarkan angka/persentase dalam menganalisis
data. yang menjadi populasi dalam penelitian ini seluruh guru PAI, Seorang Kepala Sekolah,
dan Siswa sebanyak 63. Jadi jumlah sampel dari penelitian ini adalah sebanyak 23 orang
yang terdiri dari 17 siswa kelas VI (enam), 1 orang kepala sekolah 5 guru yang ada di SDN
635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. Adapun hasil penelitian
yakni: 1 Tidak semua guru yang ada di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang
Kabupaten Luwu setuju dengan penerapan punishment pendidikan. 2. Bentuk punishment
yang diterapkan di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu
yaitu: Hukuman berupa penundaan dalam memberikan penghargaan, Hukuman berupa
pencabutan hak istimewa siswa, Hukuman berupa mengeluarkan dari kelas atau time out,
Hukuman berupa skorsing. 3. Kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan punishment
pendidikan terhadap pelanggaran kedisiplinan siswa di SDN 635 pasapa desa tampa
kecamatan ponrang kabupaten luwu yaitu: kurangnya dukungan dari orang tua atas
penerapan punishment pendidikan, sulitnya memahami karakter anak, dan adanya pro dan
kontra di kalangan guru yang ada di SD 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang
Kabupaten Luwu.
Keywords: Punishment Pendidikan, Kedisiplinan, Siswa SDN 635 Pasapa

Introduction
Pendidikan merupakan kegiatan seni yang sangat kreatif untuk membangun kepribadian anak
manusia, yang berlangsung sejak terwujudnya embrio anak manusia, melalui masa dewasa
sampai akhir hayatnya. Dalam upaya ini jelas ada kegiatan membentuk, membimbing, menuntun
dan mengarahkan anak manusia pada kehidupan yang membahagiakan serta mencapai tujuan-
tujuan edukatif tertentu yang diselaraskan dengan tujuan hidup manusia. Tujuan pokoknya
ialah meningkatkan kualitas segenap unsur kepribadiannya atau menjadi manusia paripurna
(utuh, bulat). Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut diperlukan alat-alat pendidikan guna
mendukung kelancaran proses pendidikan.
Alat pendidikan yang cukup penting dan perlu dibahas ialah hukuman (punishment)
pendidikan, yang banyak diterapkan di sekolah-sekolah, di rumah, maupun di tengah
masyarakat. Hukuman diberikan agar individu menyadari kekeliruannya lalu ikut merasakan duka
nestapa yang kita rasakan sebagai akibat dari perbuatan anak atau orang tadi. Jadi dalam
pemberian hukuman itu terkandung tujuan etis (moril, susila, baik, benar). Hukuman diberikan
karena ada anak atau orang yang berbuat salah, dan dimaksudkan agar si pelaku menghentikan
[Link]
198
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

atau meninggalkan perbuatan yang tercela, kemudian tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Dengan demikian, anak atau orang yang bersangkutan menjadi jera.
Hukuman berarti suatu bentuk kerugian atau kesakitan yang ditimpakan kepada orang yang
berbuat salah tersebut. Untuk menjadi efektif hukuman itu haruslah tidak menyenangkan, jadi
bersifat beberapa bentuk kehilangan, kesakitan, atau penderitaan. Namun kecenderungan-
kecenderungan pendidikan modern sekarang memandang hukuman itu tabu dan sudah tidak
layak lagi digunakan dalam pendidikan.
Hukuman akan dijumpai dalam setiap lapisan tatanan dan dimensi kehidupan manusia mulai
di dalam keluarga, di sekolah, dan di masyarakat luas. Secara psikologis hukuman dapat
dipandang sebagai sumber motivasi dalam keseluruhan perilaku manusia. Misalnya seorang
anak menghindari tidak menyontek dalam ujian karena tahu bahwa perbuatan menyontek
itu tidak baik, dapat dikenakan hukuman antara lain tidak lulus. “Tidak lulus” suatu keadaan
yang tidak menyenangkan dan harus dihindari dan sebaliknya “lulus” adalah suatu keadaan
yang menyenangkan sehingga harus dikejar. Dari sudut pandang pendidikan, hukuman
merupakan alat pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah, yaitu sebagai alat dalam
proses upaya mengembangkan kepribadian peserta didik.
Tidak ada bukti yang mendukung gagasan bahwa hukuman itu buruk bagi anak, dalam teknik
disiplin manapun. Semua hukuman bisa efektif jika diterapkan dengan benar, tetapi menjadi
tidak efektif jika tidak diterapkan dengan benar. Mengenai hukuman ini, hukuman dalam
pendidikan harus mengandung tujuan membangun keinsyafan batin, atau menumbuhkan
dan mempertajam hati nurani.
Pemberian hukuman kepada peserta didik merupakan jalan terakhir setelah diberi nasehat
dan peringatan keras. Begitu juga para ahli dalam pendidikan Islam telah memberikan
pendapatnya tentang penerapan hukuman untuk mendidik anak-anak, yaitu hukuman yang
edukatif. Sejak lama hukuman memang sudah diberlakukan untuk anak-anak, remaja bahkan
orang tua yang melakukan pelanggaran-pelanggaran. Sebagian pakar pendidikan
menganggap hukuman untuk anak dan remaja masih diperlukan dan masih bisa diandalkan.
SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu merupakan Sekolah
Dasar yang jauh dari ibu kota kecamatan, sebahagian besar orang tua siswanya bermata
pencaharian petani/kebun. Dengan profesi orang tua tersebut sehingga didikannya pun
terpengaruh sampai pada pergaulan yang dilakukan di lingkungan sekolah. Hal ini tidak menutup
kemungkinan mendapati anak yang bandel, nakal, dan susah diatur karena faktor lingkungan
yang begitu keras sehingga hukuman pun diharapkan dapat membantu tujuan proses
pembelajaran.

Method
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan sekaligus, yakni pendekatan psikologis dan
pendekatan paedagogis. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang berbentuk deskriptif
kualitatif yang menganalisis data secara mendalam berdasarkan angka tentang Pengaruh
Punishment Pendidikan Terhadap Pelanggaran Kedisiplinan Belajar Siswa SDN 635 Pasapa Desa
Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. Adapun lokasi penelitian ini berada pada SDN 635
Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. Sumber data dalam penelitian ini
dibedakan menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data

199
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

primer penelitian ini berasal dari data lapangan yang diperoleh melalui wawancara terstruktur
terhadap informan yang berkompeten dan memiliki pengetahuan tentang penelitian ini. Adapun
yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah mereka yang ikut terlibat dalam
kegiatan pengajaran di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu.
Sumber data sekunder diperoleh melalui penelusuran berbagai referensi, baik bersumber dari
buku-buku, atau sumber referensi lainnya yang berkaitan dengan tema pembahasan skripsi ini.
Populasi dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, lima orang guru dan tujuh belas siswa
kelas VI (enam) dengan sampel penelitian ini sebanyak 23 orang yang terdiri dari 17 siswa kelas
VI (enam), 1 orang kepala sekolah 5 guru yang ada di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan
Ponrang Kabupaten Luwu. Instrumen yang penulis pergunakan pada penelitian di lapangan
sesuai dengan obyek pembahasan penelitian ini adalah angket, wawancara serta catatan
observasi. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode library research dan field
research. Metode penelitian, yakni metode induktif, metode deduktif, metode komparatif.

Results
Penerapan Punishment Terhadap Pelanggaran Kedisiplinan Belajar Siswa di SDN 635 Pasapa
Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu
Dalam dunia pendidikan, punishment merupakan hal yang sangat esensial dan besar
pengaruhnya terhadap proses pendidikan, sebab dengan adanya punishment pendiidkan, maka
dapat memacu belajar siswa di sekolah, khususnya SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan
Ponrang Kabupaten Luwu. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa dalam pendidikan harus ada
punishment pendidikan sehingga kedisiplinan dapat berkait dalam pembelajaran.
Wawancara terhadap narasumber menginformasikan bahwa penerapan punishment
pendidikan di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu sangat
dibutuhkan sehingga penerapan tersebut dibenarkan oleh Umar selaku kepala sekolah di SD
tersebut. Pernyataan narasumber menerangkan bahwa memang punishment pendidikan
diterapkan di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. akan tetapi
berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis tidak semua guru yang ada di SDN 635
Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu setuju dengan adanya punishment
dalam pendidikan. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa ternyata tidak semua guru
yang ada di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu setuju dengan
penerapan punishment pendidikan.

Bentuk Punishment yang Diterapkan di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang
Kabupaten Luwu
Banyak bentuk punishment yang diberikan guru kepada siswanya, dari yang mulai
menggunakan kekerasan sampai pada hal yang lebih mendidik. Adapun hukuman yang
diterapkan di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu adalah sebagai
berikut:
a. Hukuman berupa penundaan dalam memberikan penghargaan
SDN 635 merupakan sekolah yang dapat dibilang usianya masih sangat mudah hal ini tentu
mempengaruhi jumlah siswa, sehingga daya saing dalam pelajaran untuk memperoleh prestasi

200
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

tidak begitu menonjol. Di sekolah ini ada beberapa siswa yang masuk dalam kategori berprestasi
namun sering membuat pelanggaran dalam pembelajaran, hal ini merupakan pengaruh dari
lingkungan tempat tinggal siswa yang kurang positif sehingga pergaulan terbawa pada saat
mengikuti pelajaran di sekolah. Setiap siswa yang berprestasi di SDN 635 akan mendapatkan
hadiah setiap tahunnya dari pihak sekolah, namun jika siswa tersebut memiliki pelanggaran
dalam proses belajar mengajar maka hadiahnya akan ditahan oleh Kepala Sekolah sebagai
bentuk punishman pendidikan sehingga anak tersebut termotivasi untuk memperbaiki kesalahan
yang telah dilakukannya.
Narasumber menjelaskan bahwa siswa akan berusaha mendapatkan hadiahnya sehingga
akan berusaha pula untuk segera memperbaiki kesalahan/prilakunya. Sayangnya, kelemahan
dari punishment ini secara tidak langsung akan bergantung pada pemberian reward, apalagi jika
reward yang diberikan tidak profesional. Namun, hukuman ini telah disepakati oleh para siswa
dan guru di SDN 635 Pasapa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu seperti pada tabel presentase
berikut
Tabel 1. Penerapan Hukuman Berupa Penundaan dalam Memberikan Penghargaan
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat setuju 13 56,6%
2. Setuju 5 21,7%
3. Kurang setuju 5 21,7%
4. Tidak setuju 0 0
Jumlah 23 100

Tabel 1 di atas menggambarkan bahwa guru dan siswa sangat setuju dengan penundaan
hadiah terhadap siswa yang berprestasi karena telah melakukan pelanggaran. Hal ini terbukti
berdasarkan pengakuan responden melalui angket yang diedarkan dengan dengan kategori
jawaban “sangat setuju” mendapat persentase sebesar 56,6 persen, dan yang “setuju”
memperoleh hasil persentase sama dengan kurang setuju yaitu sebesar 21,7 persen, dan tidak
ada responden yang menjawab tidak setuju.
b. Hukuman berupa pencabutan hak istimewa siswa
Penerapan punishman pendidikan yang lain di SDN 635 Pasapa yaitu mencabut hak istimewa
pada siswa. Setiap siswa dalam sebuah lembaga pendidikan memiliki hak istimewa diantara hak
istimewa tersebut yaitu: memiliki waktu untuk istirahat. Jika terdapat siswa melanggar peraturan
dalam sekolah/pembelajaran di SDN 635 Pasapa maka salah satu hukumannya adalah tidak
memberikan waktu istirahat kepada siswa tersebut melainkan memberikan tugas lain sebagai
hukuman dari pelanggaran yang mereka lakukan, sebagai contoh memberikan hukuman untuk
membersihkan WC, kamar mandi, atau ruangan kelas pada saat teman-temannya istirahat. Siswa
yang dihukum dengan mencabut hak istimewanya sejauh pengamatan saya sangat efektif karena
siswa akan jera melakukan pelanggaran yang kedua kalinya.
Siswa akan merasa rugi karena hak istimewanya dicabut dan umumnya ia akan berusaha
memperbaiki kesalahan atau prilakunya dengan segera untuk mendapatkan kembali hak
istimewanya. Lemahnya, jika sekali saja guru lalai akan konsekuensi dan konsistensi penerapan
hukuman tersebut maka tidak akan memberikan hasil apa-apa dalam menerapkan disiplin pada
siswa. Adapun presentase dari responden tentang penerapan punishment pendidikan tersebut.

201
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

Tabel 2. Penerapan Hukuman Berupa Pencabutan Hak Istimewa Siswa


No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat setuju 10 43,5%
2. Setuju 10 43,5%
3. Kurang setuju 3 13%
4. Tidak setuju 0 0
Jumlah 23 100

Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat diketahui bahwa responden yang menjawab sangat
setuju dan setuju bernilai sama yaitu 10 orang atau sekitar 43,5 persen, yang menjawab kurang
setuju 3 orang atau 13 persen, dan yang tidak ada responden yang menjawab tidak setuju.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa para guru sangat setuju atau setuju untuk penerapan
punishment pendidikan berupa pencabutan hak istimewa siswa yang melakukan pelanggaran di
sekolah disetujui oleh siswa dan guru di sekolah.
c. Hukuman berupa mengeluarkan dari kelas atau time out
Dalam proses belajar mengajar, tidak semuanya berjalan dengan lancar. Terkadang seorang
guru menjelaskan di depan para siswa terdapat siswa yang sibuk di belakang membahas hal
diluar materi pelajaran. Seorang guru akan memperingatinya 2 kali, namun jika tetap tidak
mengindahkan peringatan tersebut maka guru akan mengeluarkan anak tersebut dari ruangan.
Siswa akan merasa tidak nyaman karena diasingkan keruangan yang sepi dan tidak diajak
berinteraksi karena diabaikan atau ditinggal oleh guru untuk beberapa menit sampai ia tenang
dan siap untuk kembali ke kelas. Namun, kelamahan dari metode ini diantara siswa-siswa
tertentu di SDN 635 Pasapa justru mengharapkan dirinya dibawa keluar kelas agar bisa “bebas”.
Untuk itu sebaiknya guru mengatasinya dengan tetap dengan memberikan tugas yang harus
diselesaikan oleh siswa selama waktu time out sebelum ia diperbolehkan kembali ke dalam kelas.
Sehubungan dengan itu, dari hasil angket yang menjawab sangat setuju bernilai 2 orang atau 9
persen, sedangkan yang menjawab setuju yaitu 1 orang saja atau 4 persen, sementara yang
menjawab kurang setuju dipilh oleh 3 orang atau 13 persen dan yang menjawab tidak setuju 17
orang atau sekitar 74 persen. Dengan demikian dapat diketahui bahwa penerapan punishman
dalam bentuk mengeluarkan siswa dari kelas atau time out tidak disetujui oleh responden.
Tabel 3. Penerapan Hukuman Berupa Hukuman Mengeluarkan dari Kelas atau Time Out
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat setuju 2 9%
2. Setuju 1 4%
3. Kurang setuju 3 13%
4. Tidak setuju 17 74%
Jumlah 23 100

d. Hukuman berupa skorsing


Setiap lembaga pendidikan tentu memiliki siswa yang dapat dikatakan sebagai siswa yang
“bandel” namun sebagai lembaga pendidikan sangat tidak dianjurkan untuk membenci atau
mengabaikan siswa tersebut. Begitu pun dengan SDN 635 Pasapa Kecamatan Ponrang
Kabupaten Luwu memiliki beberapa siswa yang tidak mau mengikuti peraturan yang berlaku di
sekolah. Punishman pendidikan berupa pemberian skorsing bagi kami terutama di SDN 635
Pasapa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu dilakukan apabila pelanggaran siswa tersebut tidak
dapat ditolelir lagi, sebagai contoh anak tersebut tidak pernah masuk kelas/belajar selama

202
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

seminggu, siswa berkelahi dalam proses belajar mengajar, dan lain sebagainya yang termasuk
pelanggaran yang berat.
Dengan adanya Punishman terebut dapat memberi waktu pada siswa untuk merenungi
kesalahanya dengan tidak mengizinkan mengikuti pembelajaran disekolah dengan harapan ada
perasaan malu dan rugi, sehingga murit mau memperbaiki kesalahanya. Kekurangannya hampir
sama dengan penerapan hukuman time out dimana untuk siswa-siswa tertentu mengharapkan
diskorsing atau tidak diperbolehkan masuk sekolah untuk beberapa hari shingga bisa “bebas”
dari tanging jawab sekolah. Untuk itu penanganannya juga sama yaitu sekolah memberikan tugas
yang harus diselesaikan selama siswa diskorsing dan ikut melibatkan orang tua untuk
memantaunya.
Tabel 4. Penerapan Hukuman Berupa Skorsing
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat setuju 2 9%
2. Setuju 10 43,5%
3. Kurang setuju 10 43,5%
4. Tidak setuju 1 4%
Jumlah 23 100

Tabel tersebut menginformasikan bahwar esponden yang menjawab sangat setuju bernilai 9
persen, yang menjawab setuju dan kurang setuju bernilai sama yaitu 43,5 persen dan yang
menjawab tidak setuju 4 orang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan
punishment pendidikan di SDN 635 berupa skorsing dengan jawaban responden yakni setuju
dan kurang setuju.
Khusus untuk hukuman skorsing untuk anak yang melanggar di sekolah merupakan
punishment terakhir dan melalui rapat yang diadakan antara orang tua siswa dan paran guru di
sekolah.

Kendala yang Dihadapi Oleh Guru dalam Menerapkan Punishment Pendidikan Terhadap
Pelanggaran Kedisiplinan Siswa
Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang guru adalah kemampuannya untuk
merangsang, menggairahkan, mendorong dan memotivasi siswa untuk belajar secara aktif,
efektif dan efisien. Kemampuan dasar ini membekali guru dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya sebagai pengajar. Kedisiplinan sangat penting dalam rangka merangsang
kegairahan dan kemauan siswa untuk belajar tidak hanya dalam proses belajar mengajar di kelas.
Akan tetapi juga dalam setiap aktivitas belajar yang dilakukan di luar sekolah, termasuk kegiatan
belajar di rumah harus ada disiplin belajar.
Dari hasil wawancara dengan narasumber menunjukkan bahwa peranan kedisiplinan belajar
dalam proses belajar mengajar sangat besar. Keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan
sistem pembelajaran bergantung pada upaya guru dalam membangkitkan disiplin belajar siswa-
siswanya. Besar kecilnya disiplin akan menentukan tinggi atau rendahnya prestasi belajar yang
diperoleh seorang siswa.
Penuturan narasumber mengindikasikan bahwa keberhasilan belajar yang optimal dapat
tercapai jika terjadi disiplin dalam pembelajaran. Dengan disiplin maka siswa akan termotivasi
dalam proses belajar mengajar. Motivasi belajar merupakan suatu sifat kejiwaan seseorang

203
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

menimbulkan rasa semangat dan dorongan dari dalam nurani seseorang untuk mau melakukan
kegiatan belajar. Motivasi ini muncul atas adanya pengaruh baik pengaruh dari luar diri
seseorang maupun pengaruh yang datang dari dalam diri seseorang itu. Pemunculan motivasi
dalam melakukan aktivitas belajar ini sangat penting, karena tanpa motivasi, kegiatan atau
keinginan untuk melakukan kegiatan belajar pun tidak akan pernah muncul.
Untuk mengetahui tingkat kedisiplinan belajar PAI dalam mendorong prestasi belajar Siswa
di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu, berikut ini akan
ditampilkan peranan kedisiplinan itu sendiri dalam bentuk tabel prekuensi.
Tabel 5. Kedisiplinan dalam Pembelajaran dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
No Kategori Jawaban Frekuensi Persentase
1. Sangat setuju 10 43,5%
2. Setuju 13 56,5%
3. Kurang setuju 0 0
4. Tidak setuju 0 0
Jumlah 23 100

Tabel di atas menggambarkan bahwa siswa yang memiliki disiplin belajar akan bersemangat
dan bergairah untuk secara terus-menerus belajar. Hal ini terbukti berdasarkan pengakuan
responden melalui angket yang diedarkan dengan pertanyaan disiplin belajar mendorong siswa
untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi dengan kategori jawaban “setuju” mendapat
persentase sebesar 43,5 persen, dan yang “sangat setuju” memperoleh hasil persentase
sebesar 56,5 persen. Pada kategori jawaban “kurang setuju” dan “tidak setuju” keduanya tidak
mendapat jawaban dari responden.
Pembangkitan disiplin belajar bagi siswa di SDN 635 Pasapa Kecamatan Ponrang Kabupaten
Luwu sangat penting dan merupakan sesuatu yang sangat essensial dalam proses belajar
mengajar. Disiplin belajar merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dengan
kegiatan belajar siswa SDN 635 Pasapa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu seperti yang
tampak pada siswa kelas IV, V, dan VI SDN 635 Pasapa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu.
Tabel 6. Dengan Punishment Pendidikan Kedisiplinan Siswa Menjadi Lebih Baik
No Kategori Jawaban Prekuensi Persentase
1. Sangat setuju 15 65,2%
2. Setuju 4 17,4%
3. Kurang setuju 4 17,4%
4. Tidak setuju 0 0
Jumlah 23 100

Tabel empat di atas menunjukkan bahwa 65, persen responden yang “sangat setuju”
sedangkan pendapat yang mengatakan setuju dan kurang setuju bernilai sama. Jawaban yang
mengatakan tidak setuju tidak ada. Jadi dari persentase tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa
dengan punishment pendidikan kedisiplinan siswa akan lebih baik. Berhasil atau gagalnya dalam
membangkitkan dan mendayagunakan motivasi dalam proses pembelajaran berikaitan dengan
pembinaan disiplin kelas. Masalah disiplin kelas tidak dapat timbul karena kegagalan dalam
penggerakan motivasi belajar.
Hasil wawancara mengindikasikan bahwa dalam proses belajar mengajar suasana kelas ikut
mempengaruhi cepat atau lambatnya muncul minat, semangat, gairah atau motivasi untuk
belajar secara optimal. Kedisiplinan merupakan salah pendukung bersemangatnya siswa untuk
melakukan kegiatan belajar. Oleh karena itu, kedisiplinan kelas harus dijadikan prioritas utama

204
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

dalam mendorong dan memotivasi siswa untuk belajar secara optimal, sedangkan disiplin dapat
dijaga dengan menerapkan punishment pendidikan. dalam menerapkan punishment pendidikan
terhadap pelanggaran kedisiplinan siswa di sdn 635 Pasapa Desa Tampa kecamatan ponrang
kabupaten luwu berbagai macam kendala yang dihadapi guru yaitu:
1. Kurangnya dukungan dari orang tua
Punishment diberikan agar anak mentaati peraturan, memberikan punishment bukan berarti
membuat orang menderita secara jasmani atau rohani, tetapi meneguhkan peraturan yang
hendak digoncangkan oleh pelanggaran itu. Hal tersebut digunakan apabila memang tidak ada
upaya lain untuk mengatasi masalah, yaitu terjadinya pelanggaran yang melanggar peraturan
dan tata tertib. Kedisiplinan merupakan kekuatan dari dalam maupun dari luar individu yang
menyangkut adanya kebutuhan terhadap peraturan dan tata tertib yang berlaku.
Penerapan punishment yang sering kali menuai protes dari pihak orang tua, hingga sering
ada kasus seorang guru yang dipolisikan. Apalagi pemberian hukuman berupa pukulan, hal ini
telah dihilangkan dari sekolah sehingga siswa tidak takut untuk melanggar aturan yang ada
disekolah. Sikap orang tua yang selalu mendukung anak-anaknya dan tidak setuju dengan
pemberian punishment seringkali terjadi di SDN 635 Pasapa hal tersebut terjadi disebabkan
laporan siswa yang tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya sehingga orang tua
mendatangi pihak sekolah dalam keadaan emosi dan memaki-maki guru yang memberikan
punishment tersebut tanpa berkomunikasi dan mencari tahu hal yang sebenarnya. Berdasarkan
wawancaraa tersebut dapat diketahui bahwa orang tua kadang membela anaknya jika diberikan
punishment pendidikan dari gurunya.
2. Karakter siswa yang berbeda-beda
Setiap siswa memiliki karekter yang berbeda-beda ada siswa yang memang tidak senang
melanggar aturan dan ada pula yang senang dan tidak takut untuk melanggar atauran di sekolah,
karakter tersebut sangat menyulitkan pihak sekolah/guru dalam menerapkan punishment
pendidikan sehingga tujuan dari punishment pendidikan tersebut tidak terealisasi.
3. Adanya Pro dan kontra di kalangan guru
Pendapat guru yang kontra mengatakan bahwa pendidikan yang dijalankan dengan
menanamkan rasa takut kepada si anak, akan membuat si anak seperti robot yang harus
mengikuti suatu perintah. Proses pendidikan seperti itu sangat membahayakan perkembangan
jiwa si anak, karena akan melahirkan anak-anak yang bermental budak yang harus tunduk
terhadap segala perintah.
Dalih lain menurut kelompok tersebut bahwa hukuman itu sama sekali tidak mendidik, sebab
hukuman itu tidak menghilangkan motivasi buruknya. Memang ia akan mengurungkan niatnya
karena perasaan takut, tapi di dalam batinnya keinginan itu tetap ada. Ketika rasa takut itu hilang
si anak akan kembali mengulangi perbuatan buruknya. Pukulan itu mungkin dihadapi oleh si
anak dengan pura-pura berjanji akan menghentikan kebiasaan buruknya. Karena itu patut diingat
statemen mereka bahwa hukuman juga akan melahirkan anak-anak yang asosial, penakut serta
pasif.
Guru yang setuju penerapan punishment mengatakan bahwa memang anak-anak tidak boleh
dididik dengan sistem perbudakan, tapi tidak semua hukuman itu akan melahirkan kondisi
demikian. Kalau hukuman itu dijalankan dengan benar dan dengan memperhatikan seluruh
syarat-syaratnya maka tidak akan lahir anak-anak seperti itu. Seorang anak yang terus-menerus

205
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

melakukan perbuatan yang buruk padahal sudah sering kali diperingatkan agar tidak melakukan
perbuatan tersebut mau tidak mau harus dihentikan dengan hukuman, sebab kalau kebiasaan
buruknya tidak segera dihentikan, maka sang anak malah akan semakin berani. Tentunya
hukuman itu harus ringan dan mengena kepada sasaran.
Berdasarkan dari hasil wawancara tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kendala yang
dihadapi guru dalam menerapkan punishment pendidikan terhadap pelanggaran kedisiplinan
siswa di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu, yaitu kurangnya
dukungan dari orang tua atas penerapan punishment pendidikan, sulitnya memahami karakter
anak, dan adanya pro dan kontra di kalangan guru yang ada di SDN 635 Pasapa Desa Tampa
Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu.

Discussion
Dari hasil penelitian yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa terdapat pro dan kontra
dalam hal penerapan punishment pendidikan yang dilakukan SDN 635 Pasapa Desa Tampa
Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. Namun, dari sisi manfaat penerapannya punishment
sangat membantu dalam meningkatkan disiplin belajar siswa. Sehingga dengan disiplin tersebut
siswa akan tepat dalam pembelajaran yang tentu akan berpengaruh pula pada peningkatan hasil
belajar siswa.
Penerapan punishment pendidikan terutama di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan
Ponrang Kabupaten Luwu. Selama ini bertujuan untuk mendidik anak untuk tidak melakukan
pelanggaran dalam proses pendidikan yang tentunya akan mempengaruhi teman-temannya
untuk melakukan pelanggaran yang sama. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja maka proses
pembelajaran tentunya akan kacau.

Conclusion
1. Tidak semua guru yang ada di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang Kabupaten
Luwu setuju dengan penerapan punishment pendidikan.
2. Bentuk punishment yang diterapkan di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang
Kabupaten Luwu, yaitu Hukuman berupa penundaan dalam memberikan penghargaan,
Hukuman berupa pencabutan hak istimewa siswa, Hukuman berupa mengeluarkan dari kelas
atau time out, Hukuman berupa skorsing.
3. Kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan punishment pendidikan terhadap
pelanggaran kedisiplinan siswa di SDN 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan Ponrang
Kabupaten Luwu yaitu: kurangnya dukungan dari orang tua atas penerapan punishment
pendidikan, sulitnya memahami karakter anak, dan adanya pro dan kontra atas pemberian
punishment pendidikan di kalangan guru yang ada di SD 635 Pasapa Desa Tampa Kecamatan
Ponrang Kabupaten Luwu.

206
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

References
Ahmadi. Abu, Pengantar Metode Didaktik Untuk Guru dan Calon Guru, Bandung: Armico, 1989.
Alfian, E., Kaso, N., Raupu, S., & Arifanti, D. R. (2020). Efektivitas Model Pembelajaran
Brainstorming dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa. Al Asma: Journal
of Islamic Education, 2(1), 54-64.
Aly. Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999.
Arifin. M., Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan
Interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Amini. Ibrahim, Agar Tak Salah Mendidik, Jakarta: al-Huda, 2006.
Arikunto. Suharsimi, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek) Cet. X; Jakarta: Rineka
Cipta, 2002.
B. Hurlock. Elizabeth, , Perkembangan Anak, jilid II, Jakarta: Erlangga, 1989.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. III; Jakarta: Balai
Pustaka, 2008.
Durkheim. Emile, Pendidikan Moral, Suatu Study Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan,
Jakarta: Erlangga, 1961.
Efendi, E., Nurdin, K., & Baderiah, B. (2020). Humanist Education: Its Implementation on
Scavengers Children’s at TPA Mancani Palopo City. International Journal of Asian
Education, 1(3), 155-168.
Fatmawati, F., Hasbi, H., & Nurdin, K. (2020). Dampak Implementasi Manajemen Musyawarah
Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Terhadap Profesionalitas Guru SMP Negeri di
Palopo. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 9(3), 369-383.
Hakim. Lukman, Kamus Ilmiah Istilah Populer, Cet. I; Surabaya: Terbit Terang, 1994.
Ilham, D. (2019). Implementing Local Wisdom Values in Bride and Groom Course at KUA Bara
SubDistrict, Palopo City. Jurnal Konsepsi, 8(1), 1-9.
Ilham, D. (2019). Menggagas Pendidikan Nilai dalam Sistem Pendidikan Nasional. Didaktika:
Jurnal Kependidikan, 8(3), 109-122.
Kartono. Kartini, Pengantar Ilmu Pendidikan Teoritis (Apakah Pendidikan Masih
Diperlukan), Bandung: Mandar Maju, 1992.
Kaso, N., Aswar, N., Firman, F., & Ilham, D. (2019). The Relationship between Principal
Leadership and Teacher Performance with Student Characteristics Based on Local
Culture in Senior High Schools. Kontigensi: Jurnal Ilmiah Manajemen, 7(2), 87-98.
Mujib. M. Abdul, dkk., Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.
Moleong. Lexi J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. XXIX; PT. Remaja Rosdakarya, 2011.
Muchtar. Heri Jauhari, Fiqh Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2005.
Nur. Muhammad, Abdul Hafidh Suwaid, Mendidik Anak bersama Nabi, Solo: Pustaka Arafah,
2004.
Nurdin, K., Muh, H. S., & Muhammad, M. H. (2019). The implementation of inquiry-discovery
learning. IDEAS: Journal on English Language Teaching and Learning, Linguistics and
Literature, 7(1).
Nizar. Samsul, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta:
Ciputat Pers, 2002.
Purwanto. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoris dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Rifuddin, B., Ilham, D., & Nurdin, K. (2020). Academic Services in Islamic Education
Management Study Program The Actualization of the Basic Values of the State Civil

207
Jurnal Konsepsi, Vol. 9, No. 4, Februari 2021
pISSN 2301-4059
eISSN xxxx-xxxx

Apparatus at IAIN Palopo. International Journal of Asian Education (IJAE) by READ


Institute, 1(2), 81-94.
Sastrapraja. M., Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, Surabaya: Usaha Nasional, 1981.
Scaefer. Charles, Bagaimana Mendidik dan Mendisiplinkan Anak, Medan: Kompas IKIP, 1979.
Surya. Mohammad, Bina Keluarga, Semarang: Aneka Ilmu Anggota IKAPI, 2003.
Surya. Muhammad, Bina Keluarga, Semarang : Aneka Ilmu Anggota IKAPI, 2003.
Sujana, Metodik Statistik, Cet. V ; Bandung : PN. Tarsito, 1993.
Sumanto¸ Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Cet. I; Yogyakarta: Andi Offset, 1995

208

Common questions

Didukung oleh AI

The forms of punishment at SDN 635 Pasapa include delaying rewards, revoking privileges, time-outs, and suspensions . These methods aim to correct behavior by providing immediate consequences and motivating students to adhere to school norms. However, their effectiveness is debated among educators. While some teachers and students agree with these methods, claiming they prevent repeat offenses by creating disincentives for misbehavior , others believe the punishments are not universally supported and might not be effective without appropriate follow-through and consistency . Additionally, challenges such as inconsistent support from parents and varying individual student responses further complicate their effectiveness .

Long-term effects of educational punishment on students can be multifaceted, influencing both psychological and academic development. Psychologically, consistent punishment can reinforce a sense of discipline and internalize the importance of following rules, potentially resulting in enhanced self-regulation . Academically, when fear of punishment motivates students to adhere to school regulations and focus on their studies, it may lead to improved academic performance . However, if punishment is applied inconsiderately—without coupling with positive reinforcement—it can lead to anxiety, disengagement, and a negative attitude towards education, potentially harming the student's educational journey in the long run .

The use of educational punishment at SDN 635 Pasapa is intended to enhance students' learning discipline by motivating them to avoid undesirable behaviors that could detract from the educational environment . Implementing punishments such as the withholding of rewards when misconduct occurs aims to increase students' awareness of the consequences of their actions and encourages better discipline . This, in turn, is believed to improve their learning outcomes as discipline drives their motivation .

At SDN 635 Pasapa, several forms of punishment are applied, including delaying rewards for good performance, revoking students' privileges, removing them from the classroom (time-out), and suspending them . These punishments aim to discipline students by making them aware of the negative consequences of their actions . Delaying rewards is designed to motivate students to rectify their behavior to receive positives outcomes eventually . Revoking privileges serves as a direct consequence that encourages students to adhere to rules to regain their privileges . Suspending students is seen as a last resort to help them reflect on their behavior with parental involvement to encourage a change .

Teachers at SDN 635 Pasapa have varied perceptions regarding the relationship between punishment and educational discipline. While some teachers believe in the necessity of punishment as a tool for instilling discipline and encouraging adherence to school norms , others are hesitant, reflecting the broader pedagogical debate around ethical and effective disciplinary strategies . These divergent views underscore the complexity of implementing punishment uniformly and highlight the need for cohesive strategies that align with ethical educational practices .

Educators face multiple challenges when implementing punishment-based disciplinary measures at SDN 635 Pasapa. One primary challenge is the lack of parental support, as many parents do not agree with the punishment system and often come into conflict with teachers . Additionally, understanding the diverse character traits of students also presents a challenge, as not all students respond equally to punitive measures . Furthermore, there is a division among teachers themselves regarding the appropriateness of using punishment as a disciplinary tool .

Inconsistent parental support critically undermines the effectiveness of disciplinary measures at SDN 635 Pasapa. When parents do not align with the school's disciplinary policies or when they confront teachers about punishment decisions, it sends mixed messages to students regarding authority and consequences . This can weaken the enforcement of disciplinary actions and reduce their deterrent effect, as students may exploit parental resistance to avoid consequences . Moreover, without parental reinforcement of school rules at home, the values intended to be taught by the school may not be effectively integrated into the students' overall behavior .

The study on educational punishment at SDN 635 Pasapa employed both qualitative and quantitative methodologies, including structured interviews, surveys, and observations, to gather comprehensive data . The use of quantitative analysis allowed for the assessment of general attitudes towards punishment through statistical insights, while qualitative approaches, such as interviews, provided depth in understanding personal experiences and perceptions of those involved . These methodologies were suitable because they offered a well-rounded view of the effects and perceptions of disciplinary measures, incorporating both numerical assessments and personal narratives to capture the complexity of the issue .

The community environment surrounding SDN 635 Pasapa, mainly consisting of families involved in agriculture, influences student behavior significantly. The harshness of the environment and the lack of focus on academic pursuits can lead to students displaying stubborn, unruly, and difficult-to-manage behavior at school, prompting the need for clear disciplinary measures . The school employs punishment to help mitigate these behaviors and maintain an effective learning atmosphere, hoping that the consequences delivered in school counterbalance the less structured aspects of their external environment .

From a psychological perspective, punishment is seen as a motivational tool that can influence behavior by establishing clear consequences for actions . This view argues that, when applied correctly, punishment can effectively deter negative behaviors by associating them with undesirable outcomes, thus building internal guidelines for acceptable behavior. It reinforces discipline by creating an internal consciousness about the importance of following rules, which is believed to enhance learning discipline and personal responsibility .

Anda mungkin juga menyukai