2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Margarin
Sesuai SNI tahun (2002), margarin adalah produk makanan berbentuk
emulsi (w/o), baik semi padat maupun padat yang dibuat dari lemak makan dan
atau minyak makan nabati dengan atau tanpa perubahan kimiawi, termasuk
hidrogenasi, interesterifikasi, dan telah melalui proses pemurnian, sebagai bahan
utama serta mengandung air dan bahan tambahan pangan yang diizinkan. Pada
awalnya pembuatan margarin dimaksudkan untuk menggantikan mentega (butter)
dari bahan hewani dengan ciri-ciri yaitu penampakan, bau, konsistensi, rasa, dan
nilai gizi yang hampir sama dengan mentega dengan titik beku yang tinggi (di atas
suhu kamar) dan titik cair sekitar suhu badan. Pada suhu kamar (250 C) margarin
mempunyai sifat plastis (semi padat) sehingga dapat digunakan sebagai bahan
pengoles makanan (Wahyuni dan Made, 1998). Syarat-syarat minyak nabati yang
digunakan sebagai bahan baku margarin yaitu mempunyai bilangan iod yang
tinggi, flavour minyak yang baik, asam lemak yang stabil, titik cair tidak lebih dari
410C, padat pada suhu kamar, dan minyak nabati tersebut harus banyak terdapat
di suatau daerah (Ketaren, 2008). Lebih lanjut Lawson (1994), margarin
merupakan makanan olesan yang terbuat dari lemak atau minyak dengan
ditambah bahan lain seperti air, garam, emulsifier, flavour, lesitin, dan vitamin A.
Menurut O’Brien (2009), jenis minyak dan lemak dalam formulasi
pembuatan margarin merupakan bahan yang dianggap sangat penting karena
minyak dan lemak merupakan faktor penting yang berkaitan dengan kualitas
produk. Jenis minyak yang digunakan mempunyai pengaruh terhadap karakteristik
kristalisasi selama produksi margarin (Andarwulan 2014). Lemak margarin adalah
lemak yang digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan margarin. Lemak
5
margarin ini umumnya berasal dari lemak nabati dan lemak hewani. Lemak yang
digunakan pada proses pembuatan margarin secara fisik maupun kimiawi memiliki
sifat-sifat yang sama dengan lemak lainnya (Ramayana, 2003).
Syarat mutu margarin yang dijinkan beredar di Indonesia harus sesuai
dengan standart nasional Indonesia (SNI 01 – 2970 – 1999). Syarat mutu margarin
dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut:
Table 1. Standar Mutu Margarin
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1. Kadar air %b/b Max 16,0
2. Lemak %b/b Min 80
3. Derajat asam ml N Lindi/100 g Max 0,3
4. Bilangan peroksida mg oks/100 g lemak Max 1,0
5. Bilangan peroksida setelah mg oks/100 g lemak Max 8,0
disimpan 1 bulan
6. Garam %b/b 2–4
7. Logam berbahaya Negatif
8. Pengawet kecuali NaCl dan Negatif
benzoat
9. Asam benzoat atau Na %b/b Max 0,2
Benzoat dihitung sebagai
asam benzoat
10. Bau, rasa dan warna Normal
Kata mentega selalu berkaitan dengan susu sapi, jadi mentega itu adalah
produk minyak hewani, bukan produk nabati. Inilah bedanya mentega dengan
margarine. Margarine adalah produk tiruan mentega yang dibuat dari minyak
nabati, jadi dapat berasal dari minyak kelapa, kelapa sawit, minyak kedelai, jagung
dan sebagainya (Astawan, 1989). Menurut Noveria et al., (2013), Mentega adalah
produk olahan susu yang bersifat plastis, diperoleh melalui proses pengocokan
(Churning) sejumlah krim dan harus mengandung lemak minimal 80%. Kadar air
maksimal 16%, kadar protein maksimal 1% dan MSNF (Milk Solids-Non-Fat) tidak
lebih dari 2 %. Warna kuning pada mentega disebabkan oleh zat warna β karoten
dalam krim. Nilai gizi mentega banyak tergantung pada kandungan lemak dan
vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Mentega merupakan sumber vitamin A
6
yang sangat baik dan merupakan makanan yang berenergi tinggi (7-9 kalori/g),
tidak mengandung laktosa dan mineral serta berprotein rendah.
Mentega diperoleh dan dibuat dari krim melalui proses yang disebut
churning (pengkocokan). Krim tersebut diaduk dan dikocok, sehingga
menghancurkan lapisan membran yang menyelubungi butir-butir lemak. Terjadilah
pemisahan dua phase; yaitu fase lemak terdiri dari lemak mentega, dan phase air
yang melarutkan berbagai zat yang terdapat dalam susu. Gumpalan-gumpalan
lemak susu dipisahkan bagian lain dan dicuci dengan air dingin yang beberapa kali
diganti dengan air baru untuk menghilangkan susunya dan biasanya diberi garam,
untuk mengeluarkan air yang tersisa dalam lemak susu (Buckle et. al.,1987).
Syarat mutu mentega yang dijinkan beredar di Indonesia harus sesuai
dengan standart nasional Indonesia (SNI 01 – 2970 – 1999). Syarat mutu mentega
dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut:
Table 1. Standar Mutu Mentega
No Kriteria Uji Satuan Persyaratan
Keadaan:
1 Bau
1.1 Rasa Normal
1.2 Penampakan pada suhu Normal
1.3 dibawah 300C Normal
2 Air Maks. 16,0
3 Lemak susu %, b/b Min. 80,0
Asam lemak bebas sebagai
4
asam butirat %, b/b Maks. 0,5
5 Bilangan Reichert Meissel %, b/b 23-32
6 Bilangan Polenske 1,6-3,5
7 Garam dapur (NaCl) Maks.4
Sesuai SNI 01-0222-1995
8 dan Peraturan MenKes
Bahan Tambahan Makanan %, b/b no.722/MenKes/Per/IX/88
9 Cemaran Logam
9.1 Besi (Fe) mg/kg Maks. 1,5
9.2 Tembaga (Cu) mg/kg Maks. 01
9.3 Timbal (Pb) mg/kg Maks. 01
9.4 Seng (Zn) mg/kg Maks. 40,0
9.5 Raksa (Hg) mg/kg Maks. 0,03
9.6 Timah (Sn) mg/kg Maks. 40,0/250*
10 Arsen (As) mg/kg Maks. 0,1
11 Cemaran mikroba
11.1 S. aureus Koloni/g Maks. 1,0 x 102 Negative
11.2 Salmonella Koloni/100g
7
2.2 Pembuatan Margarin
Pada prinsipnya persyaratan dasar yang harus dipenuhi pada pembuatan
margarin adalah kandungan lemak padat dan titik cair serta bilangan
peroksidanya. Standar mutu margarin internasional menetapkan maksimum
bilangan peroksida 3-20 meq/100g untuk masuk kedalam kategori minyak layak
konsumsi. Bilangan peroksida merupakan suatu ukuran kandungan peroksida
dalam margarin yang sangat menentukan stabilitas oksidatif lemak margarin.
Sedangkan titik cair margarin berkaitan dengan nilai nutrisi dan kemampuan darah
membawa zat makanan yang terkandung dalam margarin (Ramayana, 2003).
Pembuatan margarin menurut Siregar (2009), dilakukan dengan membuat
emulsi antara fase minyak (minyak nabati, emulsifier, vitamin, zat warna) dan fase
cair (garam, sodium benzoate, asam benzoate atau potassium sorbat, air).
Pembuatan emulsi dilakukan dengan cara pengadukan Emulsi tersebut kemudian
dikristalkan sebagian melalui proses pendinginan secara cepat yang dilanjutkan
dengan proses plastisasi atau teksturisasi. Sedangkan menurut Hasibuan, (2009)
Tahapan prosesnya meliputi formulasi lemak atau minyak, pencampuran fase
minyak dengan fase air, pendinginan untuk membuat margarin menjadi plastis
atau teksturisasi, tetapi tidak padat, tahan sampai tekanan tertentu, tidak mengalir,
tetapi mudah dicampur dan dioleskan. Bahan-bahan dasar pembuatan margarin
dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Margarin
Komposisi Nilai (%)
Lemak / minyak 80
Vitamin A 0,0005
β – karoten 0,0005
TBHQ 0,015
Garam dapur (NaCl) 4 maks
Natrium benzoat (Na2CO3) 0,09
Air 16,2
Lesitin 0,1 – 0,5
Sumber : Shahidi (2005).
8
Sedangkan menurut Hasibuan (2015), margarin pada umumnya terbuat
dari bahan baku lemak nabati seperti minyak kelapa, minyak kelapa sawit atau
minyak kedelai. Kandungan terbesar pada margarin komersial yang umumnya
dibuat dari minyak kelapa sawit adalah asam lemak jenuh, dimana pada proses
menjadi margarin perlu melalui cara hidrogenasi yang memerlukan peralatan dan
teknologi tinggi (Lestari, 2010). Proses hidrogenasi pada pembuatan margarin
dilakukan dengan cara parsial, akan tetapi proses tersebut telah menjadi perhatian
utama dunia berkaitan dengan isu kesehatan, karena proses hidrogenasi parsial
pada minyak akan membentuk asam lemak trans yang tidak dikehendaki (O’Brien,
2009). Pembentukan asam lemak trans dapat diminimalkan dengan
menghilangkan proses hidrogenasi, namun hal ini mengakibatkan margarin yang
dihasilkan tidak bisa memadat pada suhu ruang. Oleh karena itu, diperlukan
penambahan bahan yang memiliki kemampuan untuk membuat produk menjadi
padat pada suhu ruang yaitu stearin.
Lestari (2010) telah membuat margarin dari minyak ikan patin dengan cara
mencampur minyak dengan stearin untuk membentuk sifat plastis seperti
margarin. Penelitian tersebut menghasilkan margarin minyak ikan patin dengan
mutu sesuai dengan syarat mutu yang tertera pada SNI 01-3541-2002 dan
memiliki nilai nutrisi yang lebih baik dari margarin komersial.
Umunya pada proses pembuatan margarin komersial, vitamin A yang
ditambahkan berasal dari bahan sintetis yang kurang baik bagi tubuh apabila
dikonsumsi dalam jangka panjang (Marliyati, 2010). Oleh karena itu diperlukan
upaya lain untuk mendampingi dan menunjang upaya penanggulangan yang
sudah ada sehingga perlu adanya pengembangan sumber vitamin A yang berasal
dari bahan alami. Salah satu sumber vitamin A alami yang bisa didapat dari minyak
hati ikan hiu.
9
2.3 Minyak hati Ikan Hiu Cucut
Ikan hiu dianggap sebagai ikan ekonomis penting karena hampir semua
bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan. Hati ikan hiu dapat dijadikan minyak ikan
yang digunakan sebagai minyak pelumas di pabrik dan bahan industri obat-obatan
serta kosmetik karena mengandung Vitamin A. Selain itu, minyak hati ikan dapat
dimanfaatkan sebagai bahan bakar pesawat terbang dan minyak pelumas di
daerah yang dingin (Pangemanan, 1995).
Salah satu jenis ikan cucut yang diambil hatinya untuk diekstrak menjadi
minyak ialah cucut botol (Moeljanto, 1992). Minyak ikan merupakan salah satu
sumber yang kaya akan asam lemak omega-3, terutama asam eikosapentaenoat
(EPA) dan asam dokosaheksaenoat (DHA) yang sangat bermanfaat bagi
kesehatan yaitu menurunkan kadar trigliserida dan kadar kolesterol darah,
membentuk eikosanoid yang menurunkan trombosis dan penting bagi
perkembangan otak dan retina (Estiasih dan Ahmadi 2012). Kekurangan asam
lemak ini dapat menimbulkan perkembangan psikomotorik menjadi terlambat,
sejak masa bayi prenatal sampai dewasa (Astawan 1998). Menurut Haris (2004),
konsumsi EPA dan DHA dalam jangka waktu panjang terbukti berdampak positif
terhadap penderita penyakit jantung coroner, yaitu mampu menurunkan resiko
kematian mendadak hingga 45 % jika dibandingkan terhadap penderita yang tidak
mengkonsumsi EPA dan DHA.
Selain merupakan sumber protein, ikan juga merupakan sumber lemak
yaitu asam lemak jenuh dan tak jenuh, dan juga kandungan vitamin A pada minyak
hatinya sangatlah baik bagi anak-anak (Kearen, 2008). Menurut Ruslie, (2012)
vitamin A adalah salah satu jenis vitamin larut dalam lemak yang sangat diperlukan
tubuh, berperan penting dalam proses penglihatan dan kesehatan mata, menjaga
sistem imun dalam tubuh, membantu pertumbuhan tulang, juga berperan penting
10
dalam sistem kekebalan tubuh. Lebih lanjut menurut Almatsier et al. (2011), Jenis
vitamin A retinol, retinal dan retinoid yang ada di alam umumnya dapat ditemukan
dari sumber hewani. Sumber yang paling tinggi kandungan retinolnya adalah
minyak hati ikan, hati hewan lainnya, lemak susu dan kuning telor sedangkan
karoten di dalam pangan nabati (sayur dan buah berwarna kuning jingga).
Saat ini kekurangan vitamin A merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di negara berkembang, WHO menyatakan bahwa kekurangan vitamin
A diderita oleh sekitar 40% populasi dunia, terutama pada ibu hamil dan anak-
anak (Aini et al., 2013). Menurut Marliyati et al. (2010), kekurangan vitamin A dapat
menyebabkan kegagalan dalam fungsi sistemik, yang dicirikan dengan kelainan
perkembangan janin, gangguan penglihatan, dan lemahnya fungsi imun. Akan
tetapi kelebihan vitamin A juga kurang baik bagi tubuh karena akan mengakibatkan
terjadinya penimbunan vitamin A dalam organ tubuh yang akan mengakibatkan
nafsu makan menjadi menurun, rambut rontok, kulit menjadi gatal, tulang tangan
dan kaki berasa sakit, terutama dari vitamin berbahan sintatik (Triana, 2006).
Sampai saat ini penanggulangan kekurangan vitamin A dilakukan melalui
beberapa cara salah satunya yaitu suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi,
tetapi dengan cara ini tingkat keberhasilan masih rendah dan orang sulit dipaksa
minum obat (Ball, 1988). Tidak selamanya penanggulangan kekurangan vitamin A
harus bergantung pada upaya tersebut mengingat vitamin yang digunakan masih
menggunakan fortifikasi vitamin A sintetik yang apabila dikonsumsi
berkepanjangan kurang baik bagi kesehatan.
Salah satu sumber vitamin A alami yang dapat digunakan adalah minyak
hati ikan hiu. Menurut Sudjoko (1991), hati ikan cucut diketahui banyak
mengandung minyak dan squalen yang dapat digunakan sebagai bahan obat-
obatan. Menurut Wetherbe, (2000), minyak ikan cucut juga mengandung squalene
11
83%, vitamin A yang sangat baik bagi kesehatan. Squalene memiliki fungsi yang
sangat penting bagi tubuh manusia, yaitu untuk penguat stamina tubuh,
menyembuhkan penyakit liver, kencing manis dan mencegah penyakit degeneratif
(Kelly 1999). Minyak hati ikan cucut pada umumya dikenal sebagai sumber vitamin
A. Menurut Raharjo et al., (1972), vitamin A pada minyak hati ikan hiu memiliki
kadar sekitar 20-60%, dengan kandungan vitamin A pada minyak sekitar 2.000-
15.300 IU/gram.
Angka kecukupan gizi vitamin A yang dianjurkan untuk usia anak-anak di
indonesia dapat di tunjukan Tabel 4.
Tabel 4. Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Untuk Vitamin A
Usia Vitamin A (IU/gram)
Bayi 0 – 1 tahun 625
Anak-anak 1 – 3 tahun 666
Anak-anak 4 – 6 tahun 750
Anak-anak 7 – 9 tahun 1000
Anak-anak 10 – 12 tahun 1000
Anak-anak 13 – 15 tahun 1000
Anak-anak 16 – 18 tahun 1000
Sumber: Departemen Kesehatan (2013)
Profil asam lemak pada minyak hati ikan cucut meliputi asam lemak jenuh
dan asam emak tak jenuh. Pada penelitian Rozi (2016), Total asam lemak
jenuh/SFA (saturated fatty acid) pada minyak hati ikan hiu cucut yaitu 18,46% dan
didominasi oleh asam palmitat (12,59%). Kandungan total asam lemak tak jenuh
tunggal/MUFA (mono unsaturated fatty acid ) yaitu 24,54%, didominasi oleh asam
oleat (17,86%), sedangkan pada asam lemak tak jenuh majemuk/PUFA (poly
unsaturated fatty acid) yaitu 19,11% didominasi DHA (14,35%). Menurut Buckle et
al., (2007), asam lemak tak jenuh pada ikan hiu cucut meliputi asam oleat 25,2%,
asam linoleat 2,3%, asam linolenat 0,4%, asam stearidonat 1,4%, asam gondorat
9,2%, asam arachidonat 3,1%, EPA 9,2%, asam erukat 6,6%, DPA 3,4% dan DHA
7,3%.
12
Menurut Estiasih (2009), jenis asam lemak yang paling penting dalam
minyak ikan adalah asam eikosapentaenoat (EPA) atau C20 : 5ω dengan posisi
ikatan rangkap pada atom C nomor 5, 8, 11, 14, 17. Struktur EPA adalah sebagai
berikut:
CH3-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-
CH2-CH2-COOH
Gambar 1. Struktur asam eikosapentaenoat (EPA)
Selain EPA juga terdapat asam eikosaheksaenoat (DHA) atau C22 :6ω-3
dengan posisi ikatan rangkap pada atom C nomor 4, 7, 10, 13, 16, 19. Struktur
DHA adalah sebagai berikut :
CH3-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-CH=CH-CH2-
CH=CH-CH2-CH2-COOH
Gambar 2. Struktur asam dokosaheksaenoat (DHA)
Proses produksi minyak hati ikan hiu meliputi proses ekstraksi dan
pemurnian. Ekstraksi yang banyak digunakan adalah ekstraksi basah (wet-
rendering) yang meliputi pemasakan ikan dengan uap air panas (steam) untuk
merusak struktur sel dan pengepresan terhadap minyak yang telah dipanaskan
(Estiasih 2009). Sedangkan menurut Damongilala (2008), cara mengekstraksi
minyak hati ikan hiu yaitu dengan proses pemanasan.
2.4 Ekstraksi Minyak Hati Ikan Hiu Cucut
Ekstraksi adalah cara untuk memisahkan minyak dari bahan yang diduga
mengandung minyak (Ketaren, 1986). Minyak ikan hiu dapat diperoleh dengan
cara mengekstrak hatinya. Cara mengekstrak hati ikan hiu ini dapat dengan
berbagai macam cara, yaitu :rendering, pressing dan solvent extraction
(Weiss,1983). Pada proses ekstraksi hati ikan hiu digunakan 2 macam cara yakni
rendering basah (wet rendering), dan rendering kering (dry rendering). Prinsip
13
ekstraksi dengan rendering basah adalah perebusan dan pengepresan
menggunakan air, sedangkan ekstraksi rendering kering tidak menggunakan air
untuk melepaskan minyaknya, sebaliknya mengeluarkan air dari dalam materinya
sehingga diharapkan minyak yang didapatkan lebih banyak (Eka et al., 2016).
Menurut Winarno (1980), menyatakan bahwa rendering merupakan cara yang
biasa atau peling sederhana dalam mengaolah hati ikan hiu. Sedangkan pressing
pengepresan ini dilakukan dengan perlakukan pendahuluan, yaitu : hati ikan hiu
dipotong terlebih dahulu kemudian dipres dengan tekanan tinggi menggunakan
hidrolik atau screw press.
2.5 Pemurnian Minyak hati Ikan
Pemurnian minyak bertujuan untuk menghilangkan rasa, bau, warna yang
tidak menarik serta memperpanjang masa simpan sebelum dikonsumsi
ataudigunakan sebagai bahan baku dalam industri (Ketaren, 1986). Tahapan-
tahapan pemurnian minyak ikan, yaitu penyaringan, degumming, netralisasi,
pemisahan sabun, pemucatan dan deodorisasi (Irianto, 2002).
Penyaringan
Pada tahap penyaringan, minyak ikan yang diperoleh sebagai hasil
samping pengolahan tepung ikan atau ikan kaleng disaring terlebih dahulu dengan
penyaring kawat untuk memisahkan kotoran-kotoran visual seperti sisa daging dan
gumpalan protein. Minyak yang telah bebas dari kotoran visual ditentukan
kandungan asam lemak bebasnya (free fatty acid/FFA) (Irianto, 2002).
Degumming
Degumming merupakan proses pemisahan kotoran yang berupa lendir
yang terdiri dari fosfatida, sisa protein, karbohidrat, air dan resin, tanpa
mengurangi jumlah asam lemak dalam minyak (Ketaren, 1986). Degumming dapat
dilakukan dengan beberapa cara antara lain pemanasan, hidrasi, penyerapan,
14
bahan kimia dan elektrolisis (Chamidah et al., 1996). Bahan kimia yang umumnya
digunakan dalam proses degumming yaitu asam sulfat, asam sitrat, asam klorida,
asam borat, asam salisilat, asam tartrat, pospat organik dan natrium khlorida
(Codd et al., 1975)
Netralisasi
Netralisasi sebagai salah satu tahapan proses pemurnian yang bertujuan
untuk menetralkan asam lemak bebas dan mengurangi gum yang masih tertinggal,
memperbaiki rasa dan mengurangi warna gelap dari minyak tersebut (Swern,
1979). Netralisasi dilakukan dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan
basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun. Menurut Hendrix (1990),
kotoran yang akan dibuang dalam netralisasi adalam asam lemak bebas fosfatida,
ion logam, zat warna, karbohidrat, protein, hasil samping oksidasi, hidrokarbon,
dan zat padat.
Pemucatan
Pemucatan merupakan suatu proses pemurnian minyak yang bertujuan
untuk menghilangkan atau memucatkan warna yang tidak disukai dalam minyak.
Menurut Ketaren (1986 proses pemucatan bertujuan untuk memisahkan zat warna
yang terdapat di dalam minyak atau lemak. Proses pemucatan ini didahului oleh
pengeringan minyak untuk mengeluarkan uap air yang masih terdapat di dalam
minyak atau lemak. Proses pemucatan dilakukan dengan menggunakan absorben
yang akan menyerap zat warna dalam minyak. Pada proses ini sabun yang
tertinggal, komponen logam dan peroksida dapat dipisahkan dengan baik
sedangkan kandungan asam lemak bebas akan bertambah secara lambat (Swern,
1979). Komponen yang dihilangkan pada pemucatan adalah karotenoid, klorofil
dan produk dekomposisinya serta bahan beracun misalnya hidrokarbon aromatis
polisiklis (Astutik, 2012).
15
Dalam proses pemucatan diperlukan adanya bahan pemucat (bleaching
agents). Bahan pemucat merupakan bahan yang dapat memudarkan warna suatu
substrat melalui proses fisika atau kimia. Absorben yang umum digunakan adalah
arang aktif yang biasa digunakan untuk menghilangkan zat warna yang kurang
polar (Kirk, 1985).
2.6 Stearin
Minyak sawit terdiri dari dua fraksi yaitu olein dan stearin. Stearin
merupakan fraksi bentuk padat. Fraksi ini merupakan produk samping yang
diperoleh dari minyak sawit selain fraksi olein. Untuk memisahkan kedua fraksi
dilakukan fraksinasi. Prinsip fraksinasi berdasarkan titik beku dari kedua jenis
fraksi tersebut. Stearin memiliki slip melting point pada kisaran 45 - 600 C,
sedangkkan olein pada kisaran 13 - 230 C. Hal ini menunjukan bahwa sterain yang
memiliki slip melting point lebih tinggi akan berada dalam bentuk padat pada suhu
kamar (Pantzaris, 1994)
Menurut O’Brien (2004), stearin sawit memiliki titik leleh sekitar 40 – 560C,
densitas pada 60/250C sekitar 0,88 – 0,89, angka iodin sebesar 22 – 49,9 dan
untuk angka penyabunan sebesar 193 – 206. Sedangkan untuk indeks lemak
padat pada suhu 100C sebesar 54 – 91%, pada suhu 200C sebesar 31 – 87%,
pada suhu 300C sebesar 16 – 74% dan untuk suhu 400C sebesar 7 – 57%.
Sterain pada umumnya digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan
shortening dan margarin karena sifat fisik yang dimiliki stearin yaitu bersifat plastis.
Stearin mempunyai sifat plastis dan beku pada suhu ruang karena tingginya
kandungan asam lemak palmitate pada stearin (Ketaren, 2008).
16
Tabel 5. Komposisi Asam Lemak Stearin Sawit
Komposisi Asam Lemak Nilai Pengukuran (%)
Miristat (C14:0) 1–2
Palmitat (C16:0) 47 – 74
Stearat (C18:0) 4–6
Oleat (C18:1) 16 – 37
Linoleat (C18:2) 3 – 10
Sumber : O’Brien (1998).
17