BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Jeruk Lemon
1. Klasifikasi jeruk lemon
Menurut Nurlaely (2016), Klasifikasi botani tanaman jeruk lemon sebagai
berikut :
Regnum : Plantae
Divisio : Spermathophyta
Subdivisio : Angiospermae
Classis : Dicotylodeneae
Subclassis : Dialypetalae
Ordo : Rutales
Familia : Rutaceae
Genus : Citrus
Species : Citrus Limon (L.) Burm. f.
Gambar 1. Jeruk Lemon
(Sumber : Dokumentasi Pribadi)
2. Deskripsi jeruk lemon
Jeruk lemon merupakan pohon perdu, batang berduri panjang tetapi tidak
rapat, tegak, percabangan simpodial. Daun berwarna hijau dengan tepi rata,
tunggal, berseling, lonjong, ujung dan pangkal meruncing, panjang 7 – 8 cm, lebar
4 – 5 cm, tangkai silindris, permukaan licin. Kelopak bunga berbentuk bintang
dan berwarna hijau. Benang sari panjang sekitar 1,5 cm, kepala sari bentuk ginjal
berwarna kuning, tangkai putik silindris, panjang kurang lebih 1 cm, kepala putik
bulat berwarna kuning, mahkota lima helai yang berbentuk bintang, dan berwarna
putih keuningan (Indriani, Mulqie, dan Hazar, 2015). Buah jeruk lemon berkulit
kasar, berwarna kuning, berbentuk bulat telur dengan panjang 5 - 8 cm dan
dasarnya menonjol, tebal kulitnya 0,5 - 0,7 cm, bijinya kecil dengan bentuk
ovoid, dan banyaknya rata – rata 10 - 15 dan permukaan biji halus (Nurlaely,
2016).
3. Kandungan jeruk lemon
Buah jeruk lemon dikenal sebagai sumber vitamin C. Satu cangkir jus
lemon terdapat 55 g vitamin C atau lebih dari 70% dari kecukupan gizi yang
dianjurkan untuk wanita. Selain itu jeruk lemon mengandung potassium dan
beberapa jumlah kalsium dan zat besi. Selain itu juga mengandung protein, lemak,
fosfor, niasin, kalium, dan pektin (Susanto, 2016).
Setiap 100 g yang setara dengan dua buah jeruk lemon ukuran sedang
terdapat 29 kalori, 1,1 g protein, 0,3 g lemak, 2,9 g gula alami, dan 2,8 g serat.
Jeruk lemon memiliki kandungan utama gula dan asam sitrat. Kandungan jeruk
antara lain asam folat, vitamin (C, A, B1, dan P), dan mineral (kalium,
magnesium). Jeruk lemon juga mengandung bioflavonoid, asam dan minyak -
7
minyak volatil pada kulitnya, α-terpinen, α-pinen, β-pinen dan citral (Indriani,
Mulqie, dan Hazar, 2015). Perasan buah jeruk lemon mengandung banyak
senyawa bioaktif seperti asam sitrat, flavonoid, saponin, limonoid, tanin, dan
terpenoid. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam jeruk lemon masing – masing
memiliki sifat antibakteri (Handayani, 2009).
a. Flavonoid
Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder
yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman. Kandungan flavonoid
pada sitrus memiliki aktivitas biologis yang luas,termasuk sebagai antibakteri,
antijamur, antidiabetes, antikanker, dan aktivitas antivirus. Flavonoid dapat
berfungsi sebagai antioksidan langsung dan menangkap radikal bebas, serta
memiliki kapasitas dalam memodulasi aktivitas enzim dan menghambat
proliferasi sel (Batubara, 2017). Flavonoid menyebabkan terganggunya fungsi
dinding sel bakteri sebagai pemberi bentuk sel dan melindungi sel dari lisis.
Senyawa ini merupakan antimikroba karena membentuk senyawa kompleks
dengan protein ekstraseluler, mengubah sifat fisik dan kimiawi sitoplasma, dan
mendenaturasi dinding sel bakteri dengan cara melalui ikatan hidrogen. Aktivitas
ini akan mengganggu fungsi permeabilitas selektif, fungsi pengangkutan aktif, dan
pengendalian susunan protein sehingga menyebabkan kematian pada bakteri.
Terganggunya dinding sel akan menyebabkan lisis pada sel (Ramadhinta, Nahzi,
dan Budiarti, 2016).
Selain itu, flavonoid memiliki aktivitas antibakteri melalui hambatan
fungsi DNA gyrase sehingga kemampuan replikasi bakteri dihambat. Senyawa ini
akan melakukan kontak dengan DNA pada inti sel bakteri. Adanya perbedaan
8
kepolaran antara lipid penyusun DNA dengan gugus alkohol pada senyawa
flavonoid menyebabkan kerusakan struktur lipid DNA bakteri sehingga bakteri
akan lisis dan mati (Aida, Suswati, dan Misnawi, 2016).
b. Tanin
Tanin merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
dengan cara menghambat enzim reverse transkriptase dan DNA topoisomerase
yang berfungsi pada proses transkripsi dan replikasi, sehingga sel bakteri tidak
dapat terbentuk. Tanin juga memiliki aktivitas antibakteri yang berhubungan
dengan kemampuannya untuk menginaktifkan adhesin sel mikrobia,
menginaktifkan enzim, dan menggangu transport protein pada lapisan dalam sel
bakteri. Tanin juga mempunyai target pada polipeptida dinding sel sehingga
pembentukan dinding sel menjadi kurang sempurna. Hal ini menyebabkan sel
bakteri menjadi lisis karena tekanan osmotik maupun fisik sehingga sel bakteri
akan mati (Ngajow, Abidjulu, dan Kamu, 2013).
c. Terpenoid
Terpenoid merupakan turunan terpena atau senyawa-senyawa yang
strukturnya mirip terpena. Molekul terpenoid dapat mengandung gugus karboksil,
hidrosil, formil, atau gugus yang lain. Aktivitas antibakteri terpenoid diduga
melibatkan pemecahan membran oleh komponen – komponen lipofilik. Selain itu,
senyawa fenolik dan terpenoid memiliki target utama yaitu membran sitoplasma
yang mengacu pada sifat alamnya yang hidrofobik (Ngajow, Abidjulu, dan Kamu,
2013).
9
d. Saponin
Saponin adalah sekelompok glikosida tanaman yang dapat larut dalam air
dan dapat menempel pada steroid lipofilik (C27) atau triterpenoid (C30). Senyawa
ini memiliki struktur asimetri hidrofobikidrofi, yang menyebabkan senyawa ini
memiliki kemampuan untuk menurunkan tegangan permukaan dan bersifat seperti
sabun. Saponin ada pada seluruh tanaman dan ditemukan dengan konsentrasi
tinggi pada bagian-bagian tertentu yang dipengaruhi oleh varietas tanaman dan
pertumbuhan (Illing, Safitri dan Erfiana, 2017).
Mekanisme kerja saponin sebagai antibakteri adalah menurunkan tegangan
permukaan sel bakteri sehingga terjadi kebocoran sel bakteri dan mengakibatkan
keluarnya senyawa intraseluler. Saponin akan berdifusi melalui membran luar dan
dinding sel yang rentan, lalu mengikat membran sitoplasma dan mengganggu dan
mengurangi kestabilan sel bakteri. Hal ini menyebabkan sitoplasma bocor keluar
dari sel yang mengakibatkan kematian bakteri (Ngajow, Abidjulu, dan Kamu,
2013).
e. Minyak Atsiri
Minyak atsiri yang aktif sebagai antibakteri pada umumnya mengandung
gugus fungsi hidroksil (-OH) dan karbonil (Parwata dan Dewi, 2008). Minyak
atsiri terdiri atas berbagai senyawa yang mudah menguap. Salah satu komponen
minyak atsiri yang banyak dalam jeruk lemon yaitu limonene (±70%) (Indriani,
Mulqie, dan Hazar, 2015). Adanya limonoid pada spesies sitrus, yang dianggap
mampu melawan bakteri yang terisolasi secara klinis (Batubara, 2017).
Mekanisme kerja minyak atsiri dalam membunuh bakteri adalah dengan cara
mengubah permeabilitas membran sel, menghilangkan ion-ion dalam sel,
10
menghalangi proton-pump, dan menurunkan produksi ATP. Minyak atsiri bersifat
lipofilik yang dapat melewati dinding bakteri karena dinding bakteri terdiri atas
polisakarida, asam lemak, dan fosfolipid. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan
dinding sel sehingga dapat membunuh bakteri (Dewi, 2015).
f. Asam Organik
Kandungan utama perasan buah jeruk lemon adalah asam sitrat. Asam
sitrat merupakan asam organik yang terkandung paling banyak pada perasan buah
jeruk lemon yang mempunyai aktivitas antibakteri. Kandungan vitamin C dan
asam sitrat membuat derajat keasaman (pH) perasan buah jeruk lemon menjadi
asam. pH asam dapat mengakibatkan pH internal sel bakteri menurun sehingga
dapat mengganggu aktivitas sel bakteri dan pertumbuhan bakteri menjadi
terhambat (Berti, 2015). Asam sitrat sebesar 7-7,6% yang dapat mendenaturasi
protein sel bakteri dengan cara mengacaukan jembatan garam dengan adanya
muatan isotonik. Mekanisme kerja dari senyawa tersebut yaitu dengan merusak
dinding sel bakteri dan masuk ke dalam inti sel bakteri, mengganggu proses
respirasi sel menghambat aktivitas enzim bakteri, dan menekan terjemahan dari
regulasi produk gen tertentu (Batubara, 2017).
4. Manfaat jeruk lemon
Jeruk lemon merupakan sumber vitamin C dan kalsium yang sangat baik.
Fungsi utama Vitamin C adalah berperan dalam sintesis kolagen, proteoglikan,
dan zat organik lainnya misalnya pada tulang, gigi, dan endotel kapiler. Selain itu,
jeruk lemon juga bisa digunakan sebagai cooling drink jika mengalami demam.
Jeruk lemon juga merupakan astringent yang bagus dan bisa digunakan untuk
lotion dalam kasus sunburn. Selain digunakan untuk kesehatan, minyak dari kulit
11
jeruk lemon dapat digunakan untuk perasa dan aroma, seperti pada deterjen,
shampoo, sabun, dan parfum. Jeruk lemon juga dapat mengubah warna gigi
menjadi lebih putih karena mengandung asam malat. Asam malat adalah
dikarboksilat yang mempunyai kemampuan memutihkan gigi dengan cara
mengoksidasi permukaan email gigi (Wijaya, 2008). Di Afrika Selatan, jus lemon
telah digunakan dalam pengobatan oral thrush pada pasien HIV/AIDS
(Damayanti, 2014).
Jeruk lemon juga bermanfaat dalam kesehatan seperti sebagai antikanker
karena mengandung antioksidan, mengatasi masalah pencernaan dan membantu
memperbaiki saluran pencernaan, mampu mencegah infeksi, pembersih racun
alami, menurunkan berat badan, baik bagi jantung sehat dan mencegah terjadinya
penyakit jantung, dan baik untuk kecantikan (Susanto, 2016). Selain itu, jeruk
lemon dapat berfungsi sebagai pembersih racun alami, memperindah kulit,
mencegah sepsis, dan membantu menangkal radikal bebas (Nuraini, 2017).
Masyarakat Mesir kuno percaya bahwa mengonsumsi lemon sangat
penting untuk melindungi mereka dari racun dan dalam buku “You Are What You
Eat”, Dr. Gillian McKeith juga menjelaskan, segelas air hangat dengan perasan
lemon di pagi hari setelah bangun tidur dapat membersihkan berbagai lendir tidak
berguna dalam tubuh sehari sebelumnya (Susanto, 2016). Jeruk lemon juga
digunakan sebagai salah satu bahan dari produk kecantikan wajah khusus untuk
kulit berminyak dan berjerawat seperti pembersih wajah antiacne, penyegar,
bahan facial untuk wajah, facial wash maupun yang lainnya. Hal tersebut
dikarenakan jeruk lemon mempunyai khasiat sebagai antioksidan, mencegah
penuaan dini, anti jerawat, mencerahkan wajah, dan menghilangkan minyak di
12
wajah (Hasan, Rasyid, dan Ririn, 2017). Sebagai obat jerawat alami, jeruk lemon
bisa membantu mengurangi iritasi dan pembengkakan kulit dan menetralisir rasa
sakit akibat jerawat sehingga membantu menyembuhkan sekaligus memperhalus
kulit (Mayuna, 2013).
B. Bakteri Propionibacterium acnes
1. Klasifikasi bakteri Propionibacterium acnes
Menurut Putri (2010), bakteri Propionibacterium acnes memiliki
klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Bacteria
Phylum : Actinobacteria
Class : Actinobacteridae
Order : Actinomycetales
Family : Propionibacteriaceae
Genus : Propionibacterium
Spesies : Propionibacterium acnes
Gambar 2. Morfologi Bakteri Propionibacterium acnes
(Sumber : Abate, 2013)
13
2. Morfologi dan fisiologi bakteri Propionibacterium acnes
Propionibacterium acnes adalah flora normal kulit terutama di wajah yang
tergolong dalam kelompok bakteri Corynebacteri. Propionibacterium acnes
merupakan bakteri anaerob yang tumbuh dengan lambat dan bersifat gram positif
(Radji, 2010). Bakteri ini berperan pada patogenesis jerawat yang dapat
menyebabkan inflamasi. Inflamasi timbul karena perusakan stratum corneum dan
stratum germinativum dengan mensekresikan bahan kimia yang menghancurkan
dinding pori (Saraswati, 2015).
Bentuk selnya batang dan non motil. Bakteri ini memiliki ukuran yang
kecil dngan lebar 0,5 µm dan panjang 1,5 µm. Pada pewarnaan gram, spesies ini
sangat pleomorfik, menunjukkan ujung yang melengkung, berbentuk runcing,
bentuk panjang dengan pewarnaan yang tidak rata seperti manik – manik dan
terkadang berbentuk kokoid atau sferis. Bakteri ini dapat tumbuh di udara dan
tidak menghasilkan endospora serta bakteri ini tipikal bakteri anaerob gram positif
yang toleran terhadap udara (Indriani, Mulqie, dan Hazar, 2015).
Meskipun organisme ini termasuk ke dalam organisme anaerob,
Propionibacterium acnes dapat mentoleransi saturasi oksigen hingga saturasinya
mencapai 100% dengan laju pertumbuhan organisme yang menurun. Pada in
vitro, organisme ini mampu bertahan selama 8 bulan dalam keadaan anaerob
tanpa subkultur, menunjukkan bahwa Propionibacterium acnes juga dapat
bertahan pada jaringan – jaringan tubuh manusiadalam keadaan oksidasi yang
rendah. Propionibacterium acnes memiliki kemampuan resistensi terhadap
fagositosis dan dapat bertahan di dalam makrofag. Resisten terhadap fagositosis
14
disebabkan struktur dinding sel organisme yang kompleks dan memiliki lapisan
fibrilar pada permukaannya (Oktavia, 2014).
3. Patogenesis bakteri Propionibacterium acnes
Patogenesis Propionibacterium acnes yang utama terfokus pada
kemampuan organisme ini untuk memproduksi produk eksoseluler bioaktif dan
interaksinya dengan system imun. Propionibacterium acnes memiliki komponen
yang bersifat kemoatraktan (penarikan leukosit oleh suatu kemotaktik factor) dan
organisme ini sendiri dapat mengaktifkan komplemen melalui pathway klasik
maupun alternatif yang menyebabkan pembentukan factor kemotaktin C5-
dependen (Beylot dkk, 2013).
Propionibacterium acnes ialah bakteri agen utama etiologi inflamasi
jerawat. Ia merangsang pelepasan IL-1, IL-8, TNF-α dan mengaktifkan sistem
komplemen. Propionibacterium acnes merusak stratum corneum dan germinat
pada kulit. Bakteri Propionibacterium acnes menggunakan sebum yang
diproduksi di folikel sebagai sumber utama makanan. Dengan menggunakan
enzim khusus, bakteri ini menghasilkan asam lemak bebas melalui hidrolisis
trigliserida kelenjar sebasea oleh lipasenya. Asam lemak ini dapat mengakibatkan
inflamasi jaringan ketika berhubungan dengan sistem imun dan mendukung
terjadinya jerawat (Khan, Assi, dan Moore, 2009). Selain itu, Propionibacterium
acnes menghasilkan enzim ekstraseluler, seperti protease, yang dapat
berpartisipasi dalam inflamasi oleh kerusakan matriks dan pelepasan proteolitik
oleh keratinosit folikel. Bakteri ini dapat juga menyebabkan blepharitis dan
endophthalmitis kronis bahkan sering sekali diikuti dengan operasi atau
pembedahan intraokular. Genom dari bakteri ini dirangkai dan penelitian dari
15
genom bakteri ini menunjukkan beberapa gen yang dapat menghasilkan enzim-
enzim untuk menurunkan kondisi kulit dan proteinprotein yang mungkin
immunogenik (sistem kekebalan aktif) (Rosyad, 2009).
C. Antimikroba dan Mekanisme Kerja Antimikroba
1. Definisi antimikroba
Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba khususnya mikroba yang
merugikan manusia. Obat antimikroba yang ideal memperlihatkan toksisitas
selektif artinya obat atau zat tersebut harus bersifat toksik terhadap
mikroorganisme penyebab penyakit tetapi tidak toksik terhadap jasad inang
atau hospes. Berdasarkan jenis mikroorganisme yang dimatikan atau dihambat
pertumbuhannya, antimikroba terbagi menjadi antibakteri, antifungi, antivirus,
dan antiprotozoa (Aziz, 2010). Obat - obat atau bahan yang digunakan untuk
memberantas infeksi mikroba pada manusia termasuk diantaranya antibiotika,
antiseptik, disenfektasia, dan preservatif (Hidayah, 2016).
2. Sifat antimikroba
Menurut Damayanti (2014) sifat antimikroba terdiri dari :
a. Bakteriostatik yaitu menghambat atau menghentikan pertumbuhan bakteri
sehingga bakteri yang bersangkutan menjadi stationer dan tidak terjadi
multiplikasi atau perkembangbiakan. Antimikroba yang termasuk dalam
kelompok ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, enteromisin,
novobiosin, para amino salisilat, linkomisin, kindamisin, dan nitrofuratoin
(dalam suasana basa dengan konsentrasi rendah).
b. Bakterisida yaitu membunuh bakteri. Antimikroba yang masuk kedalam
kelompok ini adalah penisilin, sefalosporin, streptomisin, eritromisin,
16
neomisin, kanamisin, gentamisin, novobiosin, polimiksin, kolistin,
kotrimokazol, isoniasid, vankomisin, basitrasin, dan nitrofurantoin (dalam
suasana asam dengan konsentrasi tinggi).
3. Mekanisme kerja antimikroba
Menurut Damayanti (2014) berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba
dibagi dalam lima kelompok yaitu :
a. Menghambat metabolisme sel
Asam folat dibutuhkan oleh bakteri untuk kelangsungan hidupnya. Asam
folat tersebut didapatkan dari asam para amino benzoat (PABA) yang kemudian
disintesis sendiri oleh bakteri untuk kebutuhan hidupnya. Untuk mengganggu
kehidupan dari bakteri, sulfonamid yang memiliki kemiripan struktur dengan
PABA akan berkompetisi untuk ikut dalam pembentukan asam folat, sehingga
terbentuk analog asam folat yang non fungsional. Akibatnya, kehidupan bakteri
akan terganggu. Antibakteri yang termasuk dalam kelompok ini adalah
sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS), dan sulfon. Dari
mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik.
b. Menghambat sintesis dinding sel
Dinding sel bakteri memiliki tekanan osmotik internal yang tinggi dan
berfungsi untuk mempertahankan bantuk dan ukuran sel. Maka ketika terjadi
kerusakan pada dinding sel, ini akan menyebabkan terjadinya lisis. Mekanisme
kerja ini diperoleh efek bakterisidal. Obat yang termasuk dalam kelompok ini
adalah penisilin, sefalosporin, bacitrasin, vankomisin, dan sikloserin.
17
c. Mengganggu keutuhan membran sel
Membran sitoplasma memiliki peranan yang penting bagi sel, karena
berfungsi sebagai sawar permeabilitas yang selektif, melakukan transport aktif,
dan mengontrol komposisi dalam sel. Ketika membrane sitoplasma sel mengalami
kerusakan, maka menyebabkan keluarnya makromolekul seperti protein, asam
nukleat, nukleotida, dan ion – ion penting lain. Mekanisme kerja ini diperoleh
efek bakterisidal. Obat yang termasuk kelompok ini adalah polimiksin, golongan
polien serta berbagai antibakteri kemoteraupetik, seperti antiseptik surface active
agents.
d. Menghambat sintesis protein sel
Bakteri membutuhkan protein untuk kelangsungan hidupnya. Sintesis
protein sel berlangsung di dalam ribosom dengan bantuan mRNA dan tRNA.
Bakteri memiliki ribosom yang terdiri dari 2 subunit, 30S dan 50S. Kemudian
kedua komponen tersebut menyatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom
70S agar dapat digunakan untuk sintetis protein. Kerusakan atau penghambatan
pada proses tersebut menyebabkan gangguan pada protein sel. Obat yang
termasuk dalam kelompok ini adalah aminoglikosid, makrolid, linkomisin,
tetrasiklin, dan kloramfenikol.
e. Menghambat sintesis asam nukleat sel
Antibakteri yang termasuk dalam kelompok ini adalah rifampisin dan
golongan kuinolon. Rifampisin berikatan dengan enzim polimerase-RNA
sehingga menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut. Golongan
kuinolon menghambat anzim DNA gyrase pada kuman yang fungsinya menata
18
kromosom yang sangat panjang menjadi bentuk spiral sehingga muat dalam sel
kuman yang kecil.
D. Uji Aktivitas Antimikroba
Uji aktivitas antimikroba digunakan untuk mengukur kemampuan zat
antibakteri untuk menghambat pertumbuhan bakteri in vitro. Kemampuan ini
dapat diperkiran melalui metode dilusi atau difusi (Vandepitte dkk, 2010).
Potensi dari suatu antimikroba diperkirakan dengan membandingkan
penghambatan pertumbuhan terhadap mikroorganisme yang sensitif dari hasil
penghambatan suatu konsentrasi antibiotik uji dibandingkan dengan antibiotik
referensi (Aziz, 2010). Meetode uji antimikroba terdiri dari :
1. Metode difusi
Cakram kertas yang telah diresapi sejumlah tertentu antimikroba,
ditempatkan pada media yang telah ditanami organisme yang akan diuji secara
merata. Tingginya konsentrasi dari zat antimikroba yang terbentuk oleh difusi dari
cakram dan pertumbuhan organisme uji dihambat penyebarannya sepanjang difusi
antimikroba (terbentuk zona jernih disekitar cakram), sehingga bakteri tersebut
merupakan bakteri yang sensitif terhadap antimikroba (Vandepitte dkk, 2010).
Media difusi menggunakan kertas disk yang berisi antibiotik dan telah diketahui
konsentrasinya (Aziz, 2010). Pada metode difusi, media yang dipakai adalah
Mueller Hinton Agar. Ada beberapa cara pada metode difusi, yaitu:
a. Disk diffusion (Kirby-Bauer)
Metode ini digunakan untuk menentukan aktivitas agen antimikroba.
Cakram kertas saring yang berisi jumlah obat yang terukur ditempatkan pada
permukaan media padat yang permukaannya telah diinokulasikan organisme uji.
19
Setelah inkubasi, diameter zona hambat yang jelas di sekitar cakram ditentukan
sebagai ukuran daya hambat obat melawan jenis organisme uji tertentu. Metode
ini subjektif pada berbagai faktor fisik dan kimia selain interaksi sederhana antara
obat dan organisme (misalnya sifat medium, diffusibility, ukuran molekul, dan
stabilitas obat) (Jawetz, Melnick dan Adelberg’s, 2013).
Dari metode ini terdapat dua zona yang akan terbentuk. Zona hambat
dibagi menjadi zona radikal dan iradikal. Zona radikal merupakan suatu daerah di
sekitar cakram yang sama sekali tidak ditemukan adanya pertumbuhan bakteri.
Potensi antibiotik diukur dengan mengukur diameter zona radikal. Sementara itu,
zona iradikal adalah suatu daerah di sekitar cakram yang menunjukkan
pertumbuhan bakteri dihambat oleh antibiotik tersebut. Di zona iradikal ini akan
terlihat adanya pertumbuhan kurang subur atau lebih jarang dibanding dengan
daerah di luar pengaruh antibiotik tersebut (Aziz, 2010).
b. Sumuran
Serupa dengan disk diffusion, dimana dibuat sumur pada media agar
yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi
antimikroba yang akan diuji (Aziz, 2010).
2. Metode dilusi
Metode dilusi terdiri dari dua teknik pengerjaan, yaitu teknik dilusi
perbenihan cair dan teknik dilusi agar yang bertujuan untuk penentuan aktivitas
antimikroba secara kuantitatif. Antimikroba dilarutkan kedalam media agar atau
kaldu, yang kemudian diinokulasi dengan bakteri yang akan diuji. Setelah
diinkubasi semalam, konsentrasi terendah yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri disebut dengan konsentrasi hambatan minimum / KHM (minimal
20
inhibitory concentration / MIC) zat tersebut. Nilai MIC dapat pula dibandingkan
dengan konsentrasi obat yang diketahui tercapai dalam serum dan cairan tubuh
lainnya (Vandepitte dkk, 2010). Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Metode dilusi cair
Metode ini digunakan untuk mengukur Konsentrasi Hambat Minimum
(KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Cara yang dilakukan adalah dengan
membuat seri pengenceran agen antibakteri pada medium cair yang ditambahkan
dengan bakteri uji. Larutan uji agen antibakteri pada kadar terkecil yang terlihat
jernih tanpa adanya pertumbuhan bakteri uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan
yang ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang pada media cair
tanpa penambahan bakteri uji ataupun agen antibakteri, dan diinkubasi selama 18
– 24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah diinkubasi ditetapkan
sebagai KBM (Prayoga, 2013).
b. Metode dilusi padat
Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan media
padat. Pada dilusi padat tiap konsentrasi obat dicampurkan dengan media agar lalu
ditanami bakteri dan diinkubasi. Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi
agen antibakteri yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa bakteri uji
(Prayoga, 2013).
Penentuan daya hambat zat antibakteri pada suatu bahan alam dapat
ditentukan dengan cara melihat ukuran dari zona hambat yang dihasilkan dan
dikategorikan pada Tabel 1 berikut ini.
21
Tabel 1
Kategori Daya Hambat Zat Antibakteri
Diameter Zona Hambat Kategori Daya Hambat
≥ 21 mm Sangat Kuat
11 – 20 mm Kuat
6 – 10 mm Sedang
≤ 5 mm Lemah
Sumber : Yanti dan Mitika (2017)
E. Faktor – Faktor Yang Memengaruhi Aktivitas Antimikroba
Menurut Vandepitte dkk (2010) terdapat beberapa faktor yang
memengaruhi aktivitas antimikroba, berikut merupakan hal – hal yang harus
dipertimbangkan karena akan memengaruhi hasil pemeriksaan yaitu :
1. Kepekatan inokulum
Jika inokulum terlalu encer, zona hambatan akan menjadi lebih lebar
walaupun kepekatan organismenya tidak berubah. Galur yang relatif resisten
mungkin dilaporkan sebagai sensitif. Sebaliknya, jika inokulum terlalu pekat,
ukuran zona akan menyempit dan galur yang sensitif dapat dilaporkan sebagai
resisten. Biasanya hasil optimal didapat dengan ukuran inokulum yang
menghasilkan pertumbuhan yang hampir menyatu (konfluen).
2. Waktu pemasangan cakram
Jika setelah ditanami dengan galur uji, lempeng agar dibiarkan pada suhu
ruang lebih lama dari waktu baku, perkembangbiakan inokulum dapat terjadi
sebelum cakram dipasang. Ini menyebabkan zona diameter mengecil dan dapat
menyebabkan suatu galur sensitif dilaporkan resisten.
22
3. Suhu inkubasi
Uji kepekaan biasanya diinkubasi pada suhu 35oC unruk pertumbuhan
optimal. Jika suhu diturunkan, waktu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan efektif
akan memanjang dan dihasilkan zona yang lebih besar. Jika galur Staphylococcus
aureus yang heteroresisten diuji dengan metisilin (oksasilin), bagian yang resisten
dapat dapat dideteksi pada suhu 35oC atau lebih rendah, koloni yang resisten
tumbuh di dalam zona hambatan. Koloni – koloni yang resisten dapat dilihat lebih
mudah bila agar dibiarkan selama beberapa jam pada suhu ruang sebelum
pembacaan hasil. Koloni – koloni tersebut harus selalu diidentifikasi untuk
memeriksa apakaha merupakan pencemar.
4. Waktu inkubasi
Kebanyakan teknik menerapkan masa inkubasi antara 16 – 18 jam.
Walaupun demikian, pada keadaan darurat, laporan pendahuluan dapat dibuat
setelah 6 jam. Ini tidak dianjurkan secara rutin dan hasil – hasilnya harus selalu
dipastikan setelah masa inkubasi konvensional.
5. Ukuran lempeng, ketebalan media agar, dan pengaturan jarak cakram
antimikroba
Uji kepekaan biasanya dikerjakan menggunakan cawan petri ukuran 9 – 10
cm dan tidak lebih dari 6 atau 7 cakram antimikroba pada tiap lempeng agar. Jika
jumlah antimikroba yang harus diuji lebih banyak, lebih disukai menggunakan
dua lempeng atau satu lempeng agar berdiameter 14 cm. Zona hambatan yang
sangat besar mungkin terbentuk pada media yang sangat tipis, dan sebaliknya
berlaku untuk media yang tebal. Perubahan kecil dalam ketebalan lapisan agar
efeknyadapat diabaikan. Pengaturan jarak cakram yang tepat sangat penting untuk
23
mencegah tumpang tindihnya zona hambatan deformasi di dekat tepi – tepi
lempeng.
6. Potensi cakram antimikroba
Diameter zona hambatan terkait dengan jumlah obat dalam cakram. Jika
potensi obat berkurang akibat rusak selama penyimpanan, zona hambatan akan
menunjukkan pengurangan ukuran yang sesuai.
7. Komposisi media
Media memengaruhi ukuran zona melalui efeknya terhadap kecepatan
pertumbuhan organisme, kecepatan difusi obat antimikroba, dan aktivitas obat.
Penggunaan media harus sesuai dengan metode tersebut.
F. Antibiotik Kloramfenikol
Antibiotik ialah suatu bahan kimia yang dikeluarkan oleh jasad renik atau
hasil sintesis atau semisintesis yang mempunyai struktur yang sama dan zat ini
dapat merintangi atau memusnahkan jasad renik yang lainnya. Antibiotik dibagi
menjadi dua golongan berdasar kegiatannya yaitu antibiotik yang memiliki
kegiatan luas (Broad Spectrum), yaitu antibiotik yang dapat mematikan gram
positif dan bakteri gram negatif. Antibiotik jenis ini diharapkan dapat mematikan
sebagian besar bakteri, termasuk virus tertentu dan protozoa. Tetrasiklin dan
derivatnya, kloramfenikol serta ampisillin merupakan golongan broad spectrum.
Golongan kedua adalah antibiotik yang memiliki kegiatan sempit (Narrow
spectrum). Antibiotik golongan ini hanya aktif terhadap beberapa jenis bakteri.
penicillin, streptomisin, neomisin, basitrasina (Wasitaningrum, 2009).
Antibiotik kloramfenikol atau kloramisetin dihasilkan oleh jamur
Streptomyces venezuelae. Kloramfenikol sukar larut dalam air tetapi mudah larut
24
dalam metanol, etanol, etil asetat, dan aseton; serta tidak larut dalam benzena
(Wasitaningrum, 2009). Kloramfenikol adalah antibiotik bakteriostatik
berspektrum luas yang aktif melawan organisme aerob maupun anaerob gram
positif dan gram negatif. Mekanisme kerja antibiotik ini melalui penghambatan
sintesis protein mikroba. Kloramfenikol berikatan dengan subunit 50S ribosom.
Kloramfenikol menghambat ikatan asam amino baru pada rantai peptide yang
memanjang karena kloramfenikol menghambat enzim peptidil transferase.
Kloramfenikol bersifat bakteriostatik dan bakteri bias tumbuh lagi jika pengaruh
obat dihilangkan. Mikroorganisme resisten terhadap kloramfenikol menghasilkan
enzim kloramfenikol asetil transferase yang merusak aktivitas obat. Produksi
enzim ini biasanya di bawah kontrol plasmid (Jawetz, Melnick dan Adelberg’s,
2013).
25