ISBN 978-623-5394-16-9
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) KELOMPOK NELAYAN
TRADISIONAL SEGARA GUNUNG DESA PEMARON
1
I Made Kusuma Wijaya,2 I Ketut Indra Purnomo,3 IP Adi Wibowo
1Prodi Kedokteran FK UNDIKSHA; 2Prodi Kedokteran FK UNDIKSHA; 3Prodi Kedokteran FK UNDIKSHA
E-mail: imadekusumawijaya@[Link]
ABSTRACT
Traditional fishing groups are a marginal group that supplies nutrition to people whose
fate is not like that of employees in a company. If viewed from the level of education, the fishermen
who are members of the group on average only have elementary school education and these
fishermen do not have a national occupational Health and Safety program so that if they are
explained/socialized and given training on the urgency of occupational Health and Safety, of
course they really need it. The purpose of the training is to improve the empowerment of fishing
communities related to the implementation of physical, chemical, biological, or psychosocial risk
control efforts by providing knowledge and understanding and skills in implementing occupational
Health and Safety for members of the traditional fishing group Segare Gunung Pemaron Village.
Implementation training with a contextual approach to provide an understanding of OHS. The
result of increasing the knowledge and skills of the trainees in the application of occupational
safety and health as fishermen.
Keywords: OHS, fisherman, traditional
ABSTRAK
Kelompok nelayan tradisional merupakan kelompok marginal yang mensuplai gizi bagi
masyarakat yang mana nasibnya tidak seperti karyawan di sebuah perusahaan. Kalau dilihat dari
tingkat pendidikan, maka nelayan anggota kelompok rata rata hanya memiliki pendidikan sekolah
dasar dan nelayan-nelayan tersebut memang belum tersentuh program K3 secara nasional
sehingga jika dijelaskan/disosialisasikan dan diberikan pelatihan tentang urgensi K3 tentu mereka
sangat membutuhkannya. Adapun tujuan pelatihan adalah meningkatkan pemberdayaan
masyarakat nelayan terkait dengan pelaksanaan upaya pengendalian resiko bahaya K3 baik fisik,
kimia, biologi ataupun psikososial dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman serta
keterampilan pelaksanaan K3 bagi anggota kelompok nelayan tradisional Segare Gunung Desa
Pemaron. Pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan kontekstual untuk memberikan pemahaman
tentang K3. Hasil pelatihan menunjukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta
dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja sebagai nelayan.
Kata kunci: K3, nelayan, tradisional
PENDAHULUAN geografis Indonesia yang dikelilingi lautan
dari Sabang sampai dengan Merauke, sehingga
Sektor kelautan dan perikanan merupakan semua provinsi memiliki potensi laut yang
salah satu sektor yang berpotensi untuk sangat besar. Dengan potensi yang dimiliki
dikelola dan dimanfaatkan secara tersebut seharusnya dapat mensejahterakan
berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan masyarakat nelayan yang
pokok masyarakat dan menciptakan peluang menggantungkan hidup pada potensi kelautan
bagi masyarakat dalam meningkatkan (maritim) tersebut. Namun status Indonesia
produksi dan produktivitasnya serta menjadi sebagai negara maritim tampaknya tidak
keunggulan kompetitif untuk menggerakkan menjamin nelayan hidup dengan makmur.
perekonomian daerah. Dengan kondisi Sebuah riset yang menganalisis data Survey
Proceeding Senadimas Undiksha 2022 2101
ISBN 978-623-5394-16-9
Sosio Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun yang menyebabkan mereka berpindah-pindah
2017 menunjukkan nelayan sebagai salah satu (nomaden) dengan segala resiko yang dihadapi
profesi paling miskin di Indonesia. untuk memperoleh hasil dengan maksimal.
Kabupaten Buleleng merupakan salah satu Tidak dapat dipungkiri bahwa profesi nelayan
kabupaten yang memiliki panjang pantai memiliki segudang resiko bahaya yang sangat
terpanjang di Provinsi Bali dengan panjang besar dalam menjalankan aktivitasnya di
157,05 km. Dari total jumlah armada dan alat lautan. Mulai dari cuaca yang tidak menentu
penangkap ikan di Kabupaten Buleleng dimana cuaca ini bisa saja menghasilkan
sebanyak 14.663 pada tahun 2017, mampu gelombang laut yang sangat tinggi sehingga
menghasilkan jumlah tangkapan ikan dapat membuat kapal nelayan menjadi oleng
sebanyak 16.701,20 ton/tahun. Hasil ini bahkan bisa saja tenggelam. Apalagi
meningkat jika dibandingkan dengan hasil kebanyakan kapal nelayan di Indonesia tidak
tangkapan pada tahun 2016 sebanyak memerhatikan aspek keselamatan. Para
16.383,70 ton/tahun (BPS, 2018). Komposisi nelayan juga tidak membawa alat keselamatan
hasil tangkapan ikan di wilayah Kabupaten ketika melaut. Misalkan saja pelampung.
Buleleng sangat beragam mulai dari jenis ikan Padahal pelampung sangat berguna ketika
pelagis besar, pelagis kecil,dan ikan demersal. terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Lagi-
Ikan Tongkol, Tuna, Lemadang, Layang dan lagi ini merupakan faktor ekonomi, mereka
Cakalang hampir dapat ditemukan di semua tidak begitu peduli terkait keselamatan mereka
wilayah pesisir Kabupaten Buleleng, baik ketika melaut, asalkan bisa pergi menangkap
menjadi hasil tangkapan utama maupun hasil ikan saja menurut mereka sudah cukup.
tangkapan sampingan (Negara, 2019). Namun Urusan keselamatan menjadi urusan
potensi laut yang besar tersebut belum belakangan.
memberikan kontribusi yang maksimal Disamping masalah keselamatan, nelayan juga
terhadap perekonomian di Kabuipaten sering mengalami masalah kesehatan akibat
Buleleng. Pendapatan nelayan perbulan hanya pekerjaan mereka. Mengutip data hasil
berkisar 200.000 rupiah sampai dengan penelitian Kementerian Kesehatan (2006)
800.000 rupiah sehingga banyak dari mereka mengenai penyakit dan kecelakaan yang
juga mencari pekerjaan sampingan untuk terjadi pada nelayan dan penyelam tradisional,
memenuhi kebutuhan hidupnya. menyebutkan bahwa sejumlah nelayan di
Undang-undang nomor 45 tahun 2009 tentang Pulau Bungin, Nusa Tenggara Barat menderita
Perikanan Pasal 1 Angka 11 berbunyi: nyeri persendian (57,5%) dan gangguan
“Nelayan kecil merupakan orang yang mata pendengaran ringan sampai ketulian (11,3%).
pencahariannya melakukan penangkapan ikan Sedangkan, nelayan di Kepulauan Seribu, DKI
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Jakarta, mengalami kasus barotrauma
yang menggunakan kapal perikanan (41,37%) dan kelainan dekompresi (6,91%).
berukuran paling besar 5 (lima) grosston Sementara itu, hasil penelitian Fakultas
(GT)”. Jadi nelayan kecil atau nelayan Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas
tradisional (peasant-fisher) nelayan yang Airlangga (2006) di Kabupaten Lombok
mengunakan teknologi penangkapan Timur, Nusa Tenggara Barat menyatakan
sederhana, umumnya peralatan penangkapan bahwa penyakit yang kerap diderita nelayan
ikan dioperasikan secara manual dengan antara lain kurang gizi, kelainan kulit akibat
tenaga manusia, kemampuan jelajah paparan sinar matahari (hyperpigmentasi) baik
operasional terbatas pada perairan pantai. di muka maupun di tangan, gangguan
Secara sosiologis, masyarakat nelayan berbeda pendengaran akibat kebisingan yang
dengan masyarakat petani dalam menghadapi ditimbulkan mesin tempel perahu, serta
sumber daya alam, karena nelayan kelainan mata. Sebuah penelitian tentang
menghadapi sumber daya bersifat open acces keselamatan kerja di laut Indonesia, dilakukan
Proceeding Senadimas Undiksha 2022 2102
ISBN 978-623-5394-16-9
dengan mengambil contoh dari 66 unit kapal b. Lingkungan kerja, kebisingan,
perikanan di Tegal (pukat tarik), 29 penerangan dan lain-lain
Pekalongan (pukat cincin) dan Cilacap c. Proses produksi, waktu kerja, system
(longline mini dan jaring insang). Hasilnya kerja dan lain-lain
menunjukkan bahwa 68 orang nelayan d. Sifat kerja
meninggal dunia karena kecelakaan di laut. e. Cara kerja
Kecelakaan yang terjadi antara lain; kapal 2. Tindakan yang tidak aman (unsafe action)
tenggelam (46%), tercebur ke laut (27%), sakit yang berkaitan dengan:
dan kelelahan (20%) serta kecelakaan ketika a. Kurangnya pengetahuan dan
operasi penangkapan ikan (7%). Kecelakaan keterampilan
yang terjadi ketika operasi penangkapan ikan b. Karakteristik fisik
dilakukan dapat disebabkan oleh kurangnya c. Karakteristik mental psikologis
kompetensi nelayan dalam mengoperasikan d. Sikap dan tingkah laku yang tidak aman
alat tangkap, kurang atau tidak adanya Berdasarkan hasil observasi dan wawancara
informasi dan latihan penanggulangan keadaan dengan nelayan ditemukan beberapa kondisi
daruratserta kurangnya penerangan dalam bahaya dan tindakan tidak aman yaitu nelayan
operasi penangkapan ikan di malam hari tidak memiliki informasi tentang kondisi cuaca
(Suharyanto, 2016). Berdasarkan kondisi saat akan melaut, nelayan tidak menggunakan
tersebut mestinya nelayan tradisional layak baju pelampung, dan tidak tersedia
mendapat jaminan K3, namun sampai saat ini perlengkapan P3K sehingga dibutuhkan
nelayan tradisional belum tersentuh program adanya upaya untuk menghindari terjadinya
K3 secara nasional. kecelakaan atau penyakit akibat kerja pada
K3 merupakan salah satu upaya untuk nelayan di kabupaten Buleleng.
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, Berdasarkan permasalahan tersebut di atas
bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga maka sangat perlu adanya bentuk pelatihan
dapat mengurangi dan atau bebas dari keselamatan dan kesehatan kerja bagi nelayan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja tradisional di Desa Pemaron.
yang pada akhirnya dapat meningkatkan
efisiensi dan produktivitas kerja (Endang, METODE
2015). Indikator penyebab keselamatan kerja
adalah keadaan tempat lingkungan kerja, yang Metode dalam kegiatan pengabdian
meliputi: 1. Penyimpanan dan penyusunan masyarakat ini yaitu diawali dengan
barang-barang yang berbahaya yang kurang melakukan observasi dan wawancara ke
tepat pada posisinya dan membahayakan. 2. lapangan untuk mengumpulkan permasalahan
Ruang kerja yang terlalu padat 3. Pembuangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program
limbah yang tidak pada tempatnya 4. keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada
Pemakaian peralatan kerja, yang meliputi: a. kelompok nelayan tradisional Segare Gunung
Pengaman peralatan kerja yang sudah usang Desa Pemaron. Kemudian dilanjutkan dengan
atau rusak b. Penggunaan mesin, alat mengadakan penjajagan untuk melakukan
elektronik tanpa pengaman yang baik serta kerjasama dengan kelompok nelayan
pengaturan penerangan. tradisional Segare Gunung Desa Pemaron.
Penyebab terjadinya kecelakaan di tempat Selanjutnya pelatihan dilaksanakan dengan
kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan pemberian materi dan diskusi kepada peserta
menjadi 2, yaitu: pelatihan tentang K3 yaitu tentang berbagai
1. Kondisi bahaya (unsafe condition) yang resiko bahaya dalam pekerjaan sebagai
berkaitan dengan: nelayan baik fisik, kimia, biologis, maupun
a. Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain psikososial, tentang upaya pengendalian
bahaya, serta pertolongan pertama pada saat
Proceeding Senadimas Undiksha 2022 2103
ISBN 978-623-5394-16-9
terjadinya kecelakaan ataupun penyakit akibat b. Perencanaan mekanisme dan peserta
kerja. Selanjutnya demonstrasi pemateri kegiatan P2M
tentang cara penggunaan berbagai alat c. Penetapan waktu kegiatan p2m
pelindung diri serta pertolongan pertama pada d. Merumuskan hasil P2M untuk
kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan dijadikan dasar meningkatkan mutu
praktek oleh peserta. pengabdian masyarakat
Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan b). Tahap pelaksanaan kegiatan
pengabdian masyarakat ini dapat dilihat dari Beberapa tahapan kegiatan dilaksanakan
hasil evaluasi sepanjang pelaksanaan kegiatan dalam pelatihan dan pendampingan ini
yaitu: adalah sebagai berikut:
a. Ketekunan dan keterlibatan para peserta 1. Melaksanakan test awal untuk
dalam kegiatan pelatihan yang dapat mengetahui pemahaman peserta
diketahui dari keaktifan peserta dalam tentang keselamatan dan kesehatan
berdiskusi untuk menyampaikan pertanyaan kerja (K3). Kegiatan ini dilaksanakan
ataupun memberikan tanggapan. dengan memberikan pre-test kepada
b. Terjadinya peningkatan pengetahuan/ seluruh peserta pelatihan.
pemahaman tentang K3 pada anggota 2. Melaksanakan penyampaian materi
kelompok nelayan tradisional Segare tentang keselamatan dan kesehatan
Gunung Desa Pemaron. Dilakukan evaluasi kerja (K3) untuk mencegah/
melalui pre-test dan post-test yang mengurangi resiko terjadinya
diberikan di awal dan akhir dari pelatihan. kecelakaan ataupun penyakit akibat
c. Terjadinya peningkatan keterampilan melakukan aktivitas mereka sebagai
penggunaan berbagai alat pelindung diri nelayan
serta pertolongan pertama pada kecelakaan 3. Melaksanakan pelatihan langkah-
dan penyakit akibat kerja pada anggota langkah dalam mencari bantuan dan
kelompok nelayan tradisional Segare melakukan pertolongan pertama
Gunung Desa Pemaron. Dievaluasi dari apabila terjadi kecelakaan serta
observasi praktek yang dilakukan oleh penyakit akibat aktivitas sebagai
peserta pelatihan. nelayan.
c). Tahap Evaluasi
HASIL Dalam kegiatan pengabdian kepada
masyarakat ini, evaluasi terhadap pengetahuan
A. Deskripsi Pelaksanaan nelayan dilaksanakan dengan memberikan pre-
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini test pada awal kegiatan dan post-test pada
dilaksanakan dalam bentuk “Pelatihan akhir kegiatan. Evaluasi juga dilaksanakan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Bagi terhadap keaktifan peserta selama kegiatan
Kelompok Nelayan Tradisional Segara tersebut berlangsung. Disamping itu, evaluasi
Gunung Desa Pemaron, Kabupaten Buleleng”. juga dilaksanakan terhadap upaya yang
Kegiatan tersebut telah berjalan dengan baik, dilakukan oleh nelayan dalam
yang dilaksanakan dalam beberapa tahapan. mengimplementasikan keselamatan dan
a). Tahap perencanaan kegiatan kesehatan kerja pada setiap aktivitasnya
- Permohonan surat tugas dan surat ijin sebagai nelayan.
pelaksanaan kegiatan pengabdian
masyarakat dari LPPM Undiksha B. Hasil Kegiatan
- Melaksanakan pertemuan dengan Kegiatan pelatihan keselamatan dan kesehatan
ketua KUB Segara Gunung dalam upaya kerja (K3) bagi kelompok nelayan tradisional
koordinasi untuk membahas perihal: Segara Gunung Desa Pemaron, Kabupaten
a. Permohonan ijin pelaksanaan P2M Buleleng telah dilaksanakan pada hari selasa,
Proceeding Senadimas Undiksha 2022 2104
ISBN 978-623-5394-16-9
19 Juli 2022 yang bertempat di balai
pertemuan Kelompok Usaha Bersama (KUB)
Segara Gunung Desa Pemaron. Pada
kesempatan tersebut hadir seluruh tim P2m
Undiksha, ketua KUB Segara Gunung, serta
seluruh peserta pelatihan yang berjumlah 20
orang peserta. Kegiatan diawali dengan PEMBAHASAN
registrasi peserta, yang selanjutnya dengan
pembukaan yang dipandu oleh mahasiswa. OHSAS 18001:2007 menyatakan bahwa yang
Pembukaan diawali dengan doa, selanjutnya dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan
sambutan ketua KUB dan ketua pelaksana Kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor
P2M sekaligus membuka acara pelatihan. yang dapat berdampak pada keselamatan dan
Setelah acara pembukaan dilanjutkan dengan kesehatan kerja dari tenaga kerja maupun
pemaparan materi dan demonstrasi oleh tim orang lain. Dalam Undang Nomor 1 Tahun
pemateri yang menyampaikan materi tentang 1970 Tentang Keselamatan Kerja telah
keselamatan dan kesehatan kerja serta mengatur dengan jelas pelaksanaan K3 di
pertolongan pertama saat terjadinya semua tempat kerja dimana terdapat tenaga
kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja. kerja, hubungan kerja atau kegiatan usaha dan
Peserta pelatihan menunjukan terjadinya sumber bahaya baik di darat, didalam tanah, di
peningkatan pengetahuan dan pemahaman permukaan air, di dalam air maupun di udara
tentang tentang keselamatan dan kesehatan yang berada di dalam wilayah Indonesia.
kerja. Termasuk didalamnya terkait berbagai Adapun tujuan dari K3 tidak hanya untuk
resiko bahaya dalam pekerjaan sebagai memberikan perlindungan terhadap tenaga
nelayan baik fisik, kimia, biologis, maupun kerja dan orang lain yang berada di tempat
psikososial, tentang upaya pengendalian kerja agar terjamin keselamatannya, tetapi
bahaya, serta pertolongan pertama pada saat juga untuk mengendalikan resiko terhadap
terjadinya kecelakaan ataupun penyakit akibat peralatan, aset, dan sumber produksi sehingga
kerja. Siswa mendapatkan rata rata nilai 9 dari dapat digunakan secara aman dan efisien agar
sepuluh pertanyaan yang diberikan, terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat
sebelumnya mendapatkan rata rata 6 saat kerja.
mereka melakukan pre-test. Nelayan merupakan profesi yang memiliki
Peserta pelatihan juga menunjukan sikap segudang resiko bahaya yang sangat besar
antusias terhadap pelatihan ini yang tampak dalam menjalankan aktivitasnya di lautan.
dari keaktifan peserta dalam melakukan Mulai dari cuaca yang tidak menentu dimana
diskusi. Mereka sangat antusias untuk cuaca ini bisa saja menghasilkan gelombang
menyampaikan berbagai pengalaman mereka laut yang sangat tinggi sehingga dapat
selama melaksanakan aktivitasnya di laut membuat kapal nelayan menjadi oleng bahkan
sebagai nelayan dan menanyakan hal yang bisa saja tenggelam. Apalagi bila kapal
belum mereka pahami terkait pertolongan nelayan tersebut tidak memerhatikan aspek
pertama apabila terjadi kecelakaan ataupun keselamatan. Disamping masalah keselamatan,
menemukan kejadian terhadap rekan mereka nelayan juga sering mengalami masalah
di laut. kesehatan akibat pekerjaan mereka. Untuk
Peserta juga telah merancang program menjaga keselamatan dan kesehatan kerja
implementasi di tempat mereka masing masing nelayan diperlukan adanya upaya
serta di lingkungan sekitar untuk selalu pengendalian risiko bahaya di tempat kerja.
memperhatikan keselamatan dan kesehatan Berbagai risiko bahaya yang sudah
kerja (K3) dalam aktivitasnya sebagai nelayan diidentifikasi dan dilakukan penilaian, dalam
program K3 perlu langkah pengendalian untuk
Proceeding Senadimas Undiksha 2022 2105
ISBN 978-623-5394-16-9
menurunkan tingkat resiko bahaya-nya. dilatar belakangi oleh sikap dan tingkah laku
Pengendalian resiko tersebut merupakan yang tidak aman, kurangnya pengetahuan dan
sebuah hierarki yang dilakukan berurutan keterampilan (lack and knowledge skill), cacat
sampai dengan tingkat resiko/bahaya tubuh yang tidak terlihat keletihan dan
berkurang menuju titik yang aman. Hierarki kelesuhan (fatigue and boredom).
pengendalian tersebut antara lain ialah
eliminasi, substitusi, perancangan, SIMPULAN
administrasi dan alat pelindung diri (APD).
Berdasarkan hasil pelaksanaan
kegiatan pengabdian pada masyarakat yang
berupa “Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) Bagi Kelompok Nelayan
Tradisional Segara Gunung Desa Pemaron”
dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaksanaan
Dari gambar tesebut dapat kita jelaskan bahwa kegiatan tersebut telah berjalan dengan baik
pengendalian risiko/bahaya yang memiliki yang dapat diketahui dari hasil yaitu:
tingkat keefektifan, kehandalan dan proteksi 1. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman
tertinggi di antara pengendalian lainnya adalah nelayan tradisional yang tergabung dalam
eliminasi. Sedangkan pada urutan hierarki kelompok usaha bersama (KUB) Segara
setelahnya, maka tingkat keefektifan, Gunung tentang keselamatan dan
kehandalan dan proteksi akan semakin kesehatan kerja (K3) untuk
menurun. mencegah/mengurangi resiko terjadinya
Berbagai pengendalian risiko/bahaya kecelakaan ataupun penyakit akibat
dapat dilakukan oleh nelayan antara lain melakukan aktivitas mereka sebagai
dengan tidak melaut apabila diketahui terjadi nelayan.
cuaca buruk, menggunakan perahu yang telah 2. Peningkatan keterampilan nelayan
dilengkapi dengan peralatan keselamatan yaitu tradisional yang tergabung dalam
Pelampung penolong, Jaket Penolong, Lampu kelompok usaha bersama (KUB) Segara
cerlang, Bucket with rope, Tali ikat ke kapal, Gunung untuk melakukan langkah-
Dayung, Kompas, Peta laut, FM Radio, langkah dalam mencari bantuan dan
Pemadam kebakaran, Global Positioning melakukan pertolongan pertama apabila
System (GPS), Radio VHF, Mobile Phone. terjadi kecelakaan serta penyakit akibat
Disamping hal tersebut kemampuan nelayan aktivitas sebagai nelayan.
dalam menghadapi bahaya menjadi salah satu
faktor yang mempengaruhi keselamatan kerja, DAFTAR PUSTAKA
sehingga Pendidikan dan pelatihan terhadap
nelayan merupakan salah satu upaya K3. Hal Dharmawirawan DA, Modjo R. 2012.
ini sesuai dengan Suma’mur (1996) yang Identifikasi Bahaya Keselamatan dan
menjelaskan penyebab kecelakaan kerja Kesehatan Kerja pada Penangkapan Ikan
dikelompokan menjadi dua, yaitu: Nelayan Muroami. Kesmas, Jurnal
a. Kondisi yang berbahaya (unsafe condition), Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 6
yaitu: kondisi yang tidak aman dari mesin, International Labour Organisation (ILO).
pesawat, lingkungan, proses, sifat pekerjaan 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
dan cara kerja. di Tempat Kerja. Pedoman pelatihan untuk
b. Perbuatan manusia (unsafe action), manajer dan pekerja.
yaitu: perbuatan berbahaya dari manusia Kemenaker. 2018. Permenaker nomor 5 tahun
(human error) yang dalam beberapa hal dapat 2018 tentang keselamatan dan kesehatan
kerja lingkungan kerja.
Proceeding Senadimas Undiksha 2022 2106
ISBN 978-623-5394-16-9
Kemenkes. 2016. Permenkes Nomor 48 tahun
2016 tentang standar keselamatan dan
kesehatan kerja perkantoran.
Okhifun G. 2018. Workplace Stress: A Silent
Killer of Employee Health and
Productivity.
Santara AG, Purwangka F, dan Iskandar BH.
2014. Peralatan Keselamatan Kerja Pada
Perahu Slerek Di PPN Pengambengan,
Kabupaten Jembrana, Bali. Jurnal IPTEKS
PSP, Vol. 1 (1)
Sihaloho, RD dan Siregar, H. 2019. Pengaruh
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan pada PT. Super Setia Sagita
Medan. Jurnal Ilmiah Socio Secretum.
Volume 9 Nomor 2 Tahun 2019.
Sinaga, S. 2016. Pengaruh Lingkungan Kerja
Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan.
JOM FISIP Vol. 3 No. 2 Oktober 2016.
WHO. 2020. Occupational health: Stress at
the workplace
Proceeding Senadimas Undiksha 2022 2107