[Link] [Link].
id
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Tinjauan tentang Pengembangan Soft Skills
a. Pengertian Soft Skills
Secara umum soft skills diartikan sebagai kemampuan di luar
kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan
intra dan interpersonal (Prastiwi, 2011: 3). Menurut Berthal dalam
Muqowim (2012: 5) “Soft skills diartikan sebagai perilaku personal dan
interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja
manusia”. Sedangkan menurut Putra dan Pratiwi (2005: 5) “Soft skills
adalah kemampuan-kemampuan tak terlihat yang diperlukan untuk sukses,
misalnya kemampuan berkomunikasi, kejujuran/integritas dan lain-lain”.
Sucipta (2009: 8) berpendapat, “Soft skills adalah skill yang
berkaitan dengan hubungan antara manusia, seperti bagaimana melakukan
conflict resolution, memahami personal dynamics, dan melakukan
negosiasi”. Menurut Widhiarso (2009: 1) “Soft skills adalah seperangkat
kemampuan komunikasi efektif, berpikir kreatif dan kritis, membangun
tim, serta kemampuan lainnya yang terkait kapasitas kepribadian
individu”. Soft skills membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa
di tengah masyarakat. Dengan soft skills seseorang akan memiliki
keterampilan akan berkomunikasi, keterampilan emosional, keterampilan
berbahasa, keterampilan berkelompok, memiliki etika dan moral, santun,
dan keterampilan spiritual (Elfindri, 2010:67). Lebih lanjut Elfindri
menjelaskan bahwa soft skills merupakan keterampilan dan kecakapan
hidup yang harus dimiliki baik untuk sendiri, berkelompok, atau
bermasyarakat, serta berhubungan dengan Sang Pencipta.
Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa soft skills sangat
diperlukan untuk kecakapan hidup seseorang dan betapa pentingnya soft
commit to user
7
[Link] [Link]
skills bagi setiap orang. Giblin dan Sailah dalam Sucipta (2009: 1)
menyatakan, “Soft skills merupakan kunci menuju hidup yang lebih baik,
sahabat lebih banyak, sukses lebih besar, dan kebahagiaan yang lebih
luas”. Diperkuat dengan pendapat Kaipa dan Milus (2005: 3) bahwa “Soft
skills adalah kunci untuk meraih kesuksesan, termasuk di dalamnya
kepemimpinan, pengambilan keputusan, penyelesaian konflik,
komunikasi, kreativitas, kemauan presentasi, kerendahan hati dan
kepercayaan diri, kecerdasan emosional, integritas, komitmen, dan
kerjasama.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat dirangkum
bahwa soft skills merupakan kemampuan-kemampuan yang ada di dalam
diri seseorang yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata yang digunakan
untuk mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia untuk
kesuksesan hidup.
b. Komponen-komponen Soft skills
Menurut Sharma dalam Sucipta (2009: 3), komponen-komponen
soft skills yang baik untuk dimiliki antara lain :
1) Kemampuan berkomunikasi (communicative skill)
2) Kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah (thinking skill dan
problem solving skill)
3) Kerja dalam tim (team work)
4) Belajar sepanjang hayat dan pengelolaan informasi (life-long learning
and information management)
5) Kemampuan wirausaha (entrepreneur skill)
6) Etika, moral dan profesionalisme (ethics, moral and professionalism)
7) Kemampuan kepemimpinan (leadership skill)
Sedangkan menurut Purwandari (2007: 11) komponen soft skills
meliputi etos kerja, sopan santun, kerjasama, disiplin dan percaya diri,
penyesuaian diri terhadap norma-norma, serta kecakapan berbahasa.
Penjelasan dari etos kerjacoymaimtuitdtaopuatsemr engikuti instruksi
yang diberikan
[Link] [Link]
sasaran atas atau supervisor. Sopan santun berarti kebiasaan mengucapkan
“silakan, terimakasih, maaf, bolehkan saya membantu anda dalam
berhubungan dengan customer, supervisor, dan kolega?”. Kerjasama yaitu
kemampuan untuk bertanggung jawab, saling memberi dengan orang lain,
komitmen pada rasa hormat, saling membantu untuk mengerjakan tugas,
dan mencari bantuan jika diperlukan. Disiplin dan percaya diri yaitu
kemampuan mengatur tugas-tugas untuk performance yang lebih baik,
belajar dari pengalaman, bertanya dan mengoreksi kesalahan, mampu
menyerap kritik dan petunjuk tanpa perasaan bersalah, marah dan benci
atau merasa terhina. Penyesuaian diri terhadap norma-norma berarti
kemampuan untuk mengatur cara berbusana, rapi, bahasa tubuh, nada
bicara, dan pemilihan kata sesuai dengan bagian budaya kerja, serta
kecakapan berbahasa yaitu kemampuan bertutur kata, membaca dan
menulis standar biasa.
Komponen atau elemen soft skills memang sangat kompleks,
hampir semuanya tentang karakter yang ada pada diri manusia. Elfindri
(2010: 95) mengatakan, komponen soft skills yang membuat sempurna
adalah:
1) Taat beribadah
2) Keterampilan berkomunikasi
3) Terbentuknya sifat tanggungjawab
4) Kejujuran dan tepat waktu
5) Pekerja keras
6) Berani mengambil resiko
7) Terbiasa bekerja kelompok
8) Berketerampilan rumah tangga
9) Visioner
Berbeda dengan pendapat Sailah dalam Panduan Pengembangan
Soft skillss Mahasiswa (2010: 2), berdasarkan penelitian yang dilakukan di
commit to user
negara-negara Inggris, Amerika, dan Kanada terdapat dua puluh tiga (23)
[Link] [Link]
10
komponen soft skills yang mendominasi lapangan kerja, yaitu inisiatif,
etika, berpikir kritis, kemauan belajar, komitmen, motivasi, bersemangat,
dapat diandalkan, komunikasi lisan, kreatif, kemampuan analisis, dapat
mengatasi stress, manajeman diri, menyelesaikan persoalan, dapat
meringkas, berkompetensi, fleksibel, kerja dalam tim, mandiri,
mendengarkan, tangguh, beragumentasi logis dan manajemen waktu.
c. Jenis-jenis Soft skills
Coates dalam Rais (2010: 3) membedakan jenis soft skills menjadi
dua (2) yaitu intra personal dan inter personal. Penjelasan dari intra
personal yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang dalam dirinya sendiri,
seperti manajemen waktu, manajemen stress, manajemen perubahan,
karakter transformasi, berpikir kreatif, memiliki acuan tujuan positif, dan
teknik belajar cepat. Sedangkan inter personal merupakan kemampuan
berhubungan atau berinteraksi dengan lingkungan kelompok
masyarakatnya dan lingkungan kerjanya serta interaksi dengan individu
manusia sehingga mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal,
kemampuan memotivasi, kemampuan memimpin, kemampuan negosiasi,
kemampuan presentasi, kemampuan komunikasi, kemampuan menjalin
relasi, dan kemampuan berbicara di muka umum. Keunggulan dari kedua
karakteristik personal ini akan membedakan seseorang dengan orang lain
ketika berinteraksi dalam lingkungannya.
Sedangkan Widhiarso (2009: 3) menjelaskan beberapa jenis soft
skills yang terkait dengan kesuksesan dalam dunia kerja berdasarkan dari
hasil-hasil penelitian, antara lain :
1) Kecerdasan emosi
2) Gaya hidup sehat
3) Komunikasi efektif
Kecerdasan emosi yang dimaksud yaitu seberapa besar
keterampilan seseorang mampu mengelola dirinya dan interaksi dengan
orang lain. Kecerdasan emcoomsimjiutgtao museelriputi sejumlah
keterampilan yang
[Link] [Link]
11
berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan
orang lain, dan kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi,
merencanakan, dan meraih tujuan hidup. Gaya hidup sehat bearti sehat
secara utuh tak terpisahkan antara rohani dan jasmani. Gaya hidup yang
sehat akan mempengaruhi tingginya ketahanan, fleksibilitas, dan konsep
diri yang sehat yang mana itu semua berpengaruh pada tingginya
partisipasi dalam berkomunitas/bermasyarakat. Serta komunikasi efektif
yaitu keterampilan komunikasi baik komunikasi langsung maupun tidak
langsung. Secara tidak langsung, keterampilan komunikasi akan
mempengaruhi tingkat kepercayaan diri dan dukungan sosial.
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan dan Pengembangan
Soft skills
Swiderski dalam Soelistyowati (2008) berpendapat bahwa, “soft
skills terdiri atas tiga (3) faktor utama, yaitu kemampuan psikologis,
kemampuan sosial, dan kemampuan komunikasi”. Kemampuan psikologis,
yakni kemampuan yang dapat membuat seseorang bertindak atas
pertimbangan pemikiran sehingga tercipta perilaku yang sesuai dengan apa
yang ada di pikirannya, termasuk kemampuan kontrol diri dan konsep diri.
Kemampuan psikologis lebih pada apa yang ada di dalam diri manusia,
yang dapat membantu seseorang tersebut untuk mengerti diri sendiri dan
orang lain dalam hubungannya dengan orang lain dan lingkungannya.
Kemampuan sosial yaitu kemampuan seseorang untuk berinteraksi dan
membawa diri dalam pergaulan dalam kelompoknya dan kemampuan
komunikasi berarti kemampuan yang meliputi upaya pencapaian pesan dan
informasi baik yang tertulis, tidak tertulis, verbal maupun non verbal.
Adapun dalam pengembangan soft skills tersebut ada beberapa cara
yang dapat dilakukan. Rasyid dalam Shinta (2012) menyatakan bahwa
pengembangan soft skills dapat dilakukan dengan bermacam cara, seperti:
1) Pertama, learning by doing
2) Kedua, mengikuti pelatihan atau seminar-seminar
c om m it to us e r
3) Ketiga,berinteraksi dan m el ak uk an a k tivitas
dengan orang lain.
[Link] [Link]
12
Learning by doing yaitu belajar yang mana peserta didik perlu
terlibat dalam proses belajar secara spontan. Dari rasa keingintahuan
peserta didik akan hal-hal yang belum diketahuinya mendorong
keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses belajar. Learning by doing
berguna untuk menumbuhkan kemampuan pada diri peserta didik dan juga
menggali potensi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan,
keterampilan serta pengalaman. Di perguruan tinggi, learning by doing ini
biasanya diterapkan dalam pelaksanaan kerja praktik (magang). Kemudian
selanjutnya dengan mengikuti pelatihan atau seminar-seminar, berarti
melakukan interaksi dan aktivitas dengan orang lain. Seringnya melakukan
interaksi dan aktivitas dengan orang lain secara tidak langsung dapat
meningkatkan kemampuan komunikasi individu. Salah satunya yaitu
dengan mengikuti kegiatan ekstra kurikuler atau organisasi
kemahasiswaan. Karena dalam suatu organisasi individu akan bertemu dan
berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai sifat dan karakternya
masing-masing.
Diperkuat dengan pendapat Sailah (2008 : 21) yang menyatakan
bahwa, “soft skills di perguruan tinggi dapat dilakukan melalui kegiatan
proses pembelajaran dan juga kegiatan kemahasiswaan dalam kegiatan
ekstra kurikuler atau ko-kurikuler”. Dari pernyataan tersebut dapat
dikatakan bahwa soft skills bukanlah bahan hafalan dan juga bukan sesuatu
yang stagnan melainkan dapat dikembangkan dengan cara dipraktekkan
oleh individu yang belajar atau yang ingin mengembangkannya. Sailah
menambahkan pengembangan soft skills dalam proses pembelajaran dapat
dilakukan melalui kegiatan belajar melalui tatap muka di dalam kelas
maupun praktek di lapangan seperti kerja praktek, atau di perguruan tinggi
biasa disebut dengan magang.
Dari uraian di atas dapat dirangkum bahwa yang dimaksud dengan
pengembangan soft skills dalam penelitian ini adalah kemampuan-
kemampuan yang dimilikicoomlemhitsetotiaupseirndividu yang tidak
dapat dilihat
[Link] [Link]
13
dengan kasat mata yang mana digunakan untuk mengembangkan dan
memaksimalkan kinerja manusia untuk kesuksesan hidup, dengan
indikator komunikasi, kejujuran, kerja dalam tim, interpersonal, inisiatif,
mampu beradaptasi, kepemimpinan, percaya diri, bijaksana dan
sopan/beretika (Elfindri, 2010:156).
2. Tinjauan tentang Pelaksanaan Magang
a. Pengertian Magang
Magang merupakan suatu proses pembelajaran yang mengandung
unsur belajar sambil bekerja. Menurut Sudjana (2000: 16) “magang
merupakan salah satu unsur belajar tertua di dunia yang sampai era
informasi ini masih tetap bertahan keberadaannya”. Sudjana
mengemukakan lebih lanjut bahwa magang adalah hubungan langsung
antara seorang dengan orang lain dalam penyampaian dan penerimaan
informasi. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam magang, interaksi
pembelajaran terjadi melalui komunikasi secara langsung antara pemberi
dan penerima pesan. Bagi yang memberikan informasi adalah
membelajarkan, sementara bagi yang menerima informasi adalah belajar.
Dalam Undang-undang No.13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, magang diartikan sebagai bagian dari sistem pelatihan
kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga
pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan
pengawasan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman dalam
proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan atau instansi, dalam
rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Sedangkan Darwis
(1993: 71) berpendapat bahwa magang sebagai fenomena pendidikan yang
berkaitan dengan pembukaan lapangan kerja, dapat diasumsikan sebagai
inti dari pendidikan kewiraswastaan.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat dirangkum bahwa
magang merupakan proses kegiatan pembelajaran yang mana berpengaruh
pada perubahan dan pembceonmtumkaitntpoeurislearku tertentu, yang
dilakukan secara
[Link] [Link]
14
langsung antara seorang ahli (instruktur) dengan yang belum ahli atau
disebut pemagang.
b. Tujuan dan Manfaat Magang
Menurut Mangkunegara (2009: 240), tujuan dari magang
(pelatihan) yaitu :
1) Meningkatkan penghayatan jiwa dan ideologi.
2) Meningkatkan produktivitas kinerja warga belajar (pemagang).
3) Meningkatkan kualitas kerja.
4) Meningkatkan sikap moral dan semangat kerja.
5) Meningkatkan perkembangan skill pemagang/pegawai.
Sedangkan menurut Zurnali (2004) tujuan diadakannya magang
adalah agar warga belajar (pemagang) dapat menguasai pengetahuan,
keahlian, dan perilaku yang ditekankan dalam instansi/perusahaan, dan
juga untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun manfaat magang menurut Noe dkk dalam Zurnali (2004)
adalah:
1) Meningkatkan pengetahuan warga belajar atas budaya dan para
pesaing luar.
2) Membantu warga belajar yang mempunyai keahlian untuk bekerja
dengan teknologi baru.
3) Membantu warga belajar untuk memahami bagaimana bekerja secara
efektif dalam tim untuk menghasilkan jasa dan produk yang
berkualitas.
4) Mempersiapkan warga belajar untuk dapat menerima dan bekerja
secara lebih efektif.
Sedangkan manfaat magang (pelatihan) menurut Simamora (2007:
7) yaitu meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas, meningkatkan
sikap, loyalitas dan kerja sama dalam tim yang lebih menguntungkan, serta
membantu warga belajar dalam peningkatan dan pengembangan pribadi
mereka. commit to user
[Link] [Link]
15
c. Komponen-komponen Magang
Kamil (2002: 48) berpendapat bahwa “proses pembelajaran
magang (learning by doing) memiliki beberapa komponen yang perlu
mendapat perhatian, agar proses tersebut dapat meningkatkan kemandirian
warga belajar (pemagang)”. Adapun komponen-komponen tersebut
adalah:
1) Pemagang (orang yang belajar bekerja)
Pada konteks pemagang ini ada beberapa unsur yang perlu
diperhatikan, diantaranya adalah:
a) Bakat dan minat. Hal ini perlu diperhitungkan karena
mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan magang, sebab seseorang
yang mengikuti magang tetapi tidak sesuai dengan bakat yang
dimiliki serta minat yang dikehendaki, kemungkinan besar akan
mengalami kesulitan baik dalam proses belajar bekerja maupun
pencapaian tujuan.
b) Kebutuhan. Kebutuhan ini perlu diperhitungkan baik yang
berkaitan dengan kebutuhan individu pemagang (need assessment)
atau dengan kebutuhan pasar kerja, agar tidak mengalami kesulitan
selesai magang.
c) Kemampuan dimaksudkan di sini adalah kemampuan mengikuti
magang untuk menyadap pengetahuan, ketrampilan dan sikap
mental yang diberikan sumber magang, maupun kemampuan untuk
membiayai dirinya dalam mengikuti magang.
d) Faktor lain yang perlu dipertimbangkan bagi pemagang adalah
kesediaan untuk mandiri setelah selesai magang.
2) Sumber magang (orang yang dimagangi atau permagang)
Pada komponen ini ada tiga (3) hal yang perlu mendapatkan perhatian
diantaranya adalah:
a) Kesediaan. Permagang yang memiliki kesediaan untuk dimagangi
akan menularkan pengetahuan sikap dan keterampilan yang
c o m m i t t o u se r
dimilikinya kepada p e m a g a n g d e ngan atau tanpa
imbalan.
[Link] [Link]
16
b) Kemampuan dalam arti terpercaya pada bidangnya dan bisa
menularkan ilmu yang dimilikinya.
c) Kemauan dalam arti memiliki dorongan untuk melakukan interaksi
edukatif dengan pemagang dalam berbagai pendekatan.
3) Pola magang
Proses pembelajaran dalam pendidikan luar sekolah, baik dalam
bentuk magang atau dalam bentuk lainnya harus dilakukan melalui
berbagai pola yang mendukung terhadap proses dan keberhasilan dari
proses tersebut.
Magang dikaji sebagai suatu sistem yang dapat dilihat dari
komponen-komponen yang berlaku dalam sub sistem pendidikan luar
sekolah. Sudjana (2000: 34) menyatakan bahwa “pendidikan luar sekolah
sebagai sub sistem pendidikan nasional memiliki komponen-komponen
yang sama dengan pendidikan nasional yang mana antar komponen saling
mengisi dan saling mempengaruhi satu sama lain”. Adapun komponen-
komponen tersebut adalah masukan lingkungan, masukan sarana, masukan
mentah, proses, keluaran (output), dan pengaruh atau dampak.
1) Komponen masukan lingkungan (environmental input) terdiri atas
unsur-unsur lingkungan yang menunjang atau mendorong berjalannya
program pendidikan luar sekolah. Unsur-unsur ini meliputi lingkungan
keluarga, lingkungan sosial seperti teman bergaul dan teman bekerja,
lapangan kerja, kelompok sosial dan sebagainya, dan lingkungan alam
mencakup sumber daya hayati (biotic), sumber daya non hayati
(abiotic).
2) Masukan sarana (instrumental input) meliputi keseluruhan sumber dan
fasilitas yang memungkinkan bagi seseorang atau kelompok dapat
melakukan kegiatan belajar. Kedalam masukan ini termasuk tugas
belajar, belajar pembelajaran, metode serta evaluasi kurikulum,
pendidik, tenaga kependidikan lainnya, fasilitas dan alat, biaya, dan
pengelolaan program.
commit to user
[Link] [Link]
17
3) Masukan mentah (raw input) yaitu peserta belajar (pemagang) dengan
berbagai ciri yang dimilikinya, yaitu karakteristik internal dan
karakteristik eksternal. Karakteristik internal meliputi atribut fisik (jenis
kelamin, usia, tinggi dan berat badan), psikis (pengalaman, sikap,
minat, ketrampilan dan sebagainya), dan fungsional (pekerjaan, status
sosial ekonomi, kesehatan). Sedangkan karakteristik eksternal berkaitan
dengan lingkungan kehidupan peserta belajar (pemagang) seperti
keadaan keluarga dalam segi ekonomi, pendidikan, status sosial, teman
bergaul dan bekerja, serta cara dan kebiasaan belajar di masyarakat.
4) Komponen proses ini menyangkut interaksi edukasi antara masukan
sarana terutama pendididk, dengan masukan mentah yaitu warga
belajar. Proses ini terdiri atas kegiatan pembelajaran, bimbingan
penyuluhan dan atau pelatihan serta evaluasi.
5) Komponen output mencakup kuantitas lulusan yang disertai kualitas
perubahan tingkah laku yang didapat melalui kegiatan belajar bekerja
(magang). Perubahan tingkah laku ini mencakup ranah kognitif, afektif,
dan psikomotor yang sesuai dengan kebutuhan belajar yang mereka
perlukan.
6) Pengaruh atau dampak (outcome atau impact) merupakan tujuan akhir
program belajar bekerja (magang) yang meliputi meningkatkan
keterampilan warga belajar, membelajarkan kepada orang lain terkait
hasil belajar yang telah dimiliki, dan peningkatan partisipasinya dalam
kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat baik dalam bentuk
pikiran, tenaga, harta benda maupun dana.
d. Ciri-ciri Magang
Sudjana (2000: 22) mengatakan “magang dapat dilakukan di
berbagai tempat dan situasi serta memanfaatkan berbagai fasilitas yang
cocok dan tersedia”.
Sedangkan Diklusepora (1990: 5) dalam Kamil (2002: 48)
mengemukakan bahwa ciri-ciri magang adalah sebagai berikut:
commit to user
[Link] [Link]
18
1) Proses magang adalah permagang dan pemagang (sumber magang
atau orang yang dimagangi) berada dalam tempat permagang bekerja..
2) Proses magang adalah para pemagang sebaiknya bekerja dan belajar,
belajar bekerja sesuai dengan urutan pekerjaan yang dikerjakan
pemagang.
3) Bahwa pemagang belajar bekerja dan bekerja belajar tidak diawali
oleh teori, melainkan langsung praktik, langsung bekerja.
4) Dilihat dari sudut sumber magang (permagang), sumber magang tidak
perlu orang yang mengetahui teori. Sumber magang atau permagang
adalah orang yang pintar dan biasa melaksanakan pekerjaan yang
dimagangi.
5) Dilihat dari sudut pemagang, pemagang bukan hanya memperoleh
pengetahuan, keterampilan, kemahiran dan sikap mental saja,
melainkan dapat terampil melaksanakan pekerjaan.
Berdasarkan butir-butir yang terkandung pada alinea di atas maka
dapat disintesiskan bahwa yang dimaksud dengan pelaksanaan magang
dalam penelitian ini adalah proses kegiatan pembelajaran yang mana
berpengaruh pada perubahan dan pembentukan perilaku tertentu, yang
dilakukan secara langsung antara seorang ahli (instruktur) dengan yang
belum ahli atau disebut pemagang, dengan indikator sebagai berikut:
1) Kemampuan penguasaan ilmu dan penerapannya
2) Ketrampilan dalam kegiatan magang
3) Keahlian dan kepribadian (Suharyanti,2013).
3. Tinjauan tentang Keikutsertaan dalam Berorganisasi
a. Pengertian Organisasi
Menurut Siswanto (2007: 73) “organisasi dapat didefinisikan
sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama
untuk merealisasikan tujuan bersama”. Organisasi sering dipahami sebagai
kelompok orang yang berkcuommpmuilt dtoanubseerkerja sama dengan
cara terstruktur
[Link] [Link]
19
untuk mencapai tujuan atau sejumlah sasaran tertentu yang telah
ditetapkan bersama (Poerwanto, 2008: 10).
Bernerd dalam Tika (2006: 3) berpendapat bahwa Organisasi
adalah kerjasama dua orang atau lebih, suatu sistem dari aktivitas-aktivitas
dan kekuatan-kekuatan perorangan yang dikoordinasikan secara sadar.
Sementara Atmosudirjo (Hasibuan, 2003:26) mengatakan “organisasi
adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja
antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerja sama secara
tertentu untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan tertentu”.
Dari penjelasan di atas maka dapat dirangkum bahwa organisasi
adalah kerjasama antara dua orang atau lebih yang bekerja secara
terstruktur untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
b. Prinsip-prinsip Organisasi
Menurut Waren dan Joseph dalam Wursanto (2003), terdapat
empat (4) macam prinsip organisasi, yaitu:
1) Prinsip kesatuan perintah (unity of command)
2) Prinsip rentang kendali atau rentang pengawasan (span of control)
3) Prinsip pengecualian (the exeption principle)
4) Prinsip hirarki (the scala principle)
Sementara Fayol (Wursanto, 2003) mengemukakan empat belas
(14) prinsip organisasi yaitu pembagian kerja, wewenang dan tanggung
jawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan langkah, subordinasi minat di
bawah minat pada umumnya, pemberian hadiah, sentralisasi atau
pemusatan, jenjang hirarki, ketertiban, kesamarataan, stabilitas jabatan
pegawai, inisiatif, dan kesatuan jiwa kops.
c. Ciri-ciri Organisasi
Dalam membentuk atau menentukan sebuah organisasi harus
diperhatikan ciri-ciri yang ada. Adapun ciri-ciri organisasi menurut
Siswanto (2007: 73) adalah :
commit to user
[Link] [Link]
20
1) Suatu organisasi adalah adanya sekelompok orang yang
menggabungkan diri dengan suatu ikatan norma, peraturan, ketentuan
dan kebijakan yang telah dirumuskan dan masing-masing pihak siap
untuk menjalankannya dengan penuh tanggungjawab.
2) Dalam suatu organisasi yang terdiri dari sekelompok orang tersebut
saling mengadakan hubungan timbal balik, saling memberi dan
menerima juga saling bekerjasama untuk melahirkan dan
merealisasikan maksud (purpose), sasaran (objective), dan tujuan
(goal).
3) Dalam suatu organisasi yang terdiri atas sekelompok orang yang
saling berinteraksi dan bekerjasama tersebut diarahkan pada suatu titik
tertentu, yaitu tujuan bersama dan ingin direalisasikan.
Menurut Sudarman (2004: 34) tentang organisasi yang diikuti oleh
mahasiswa atau yang biasa disebut dengan Ormawa atau organisasi
kemahasiswaan mengemukakan :
“Pada dasarnya, ormawa di suatu perguruan tinggi,
diselenggarakan atas dasar prinsip dari oleh dan untuk mahasiswa
itu sendiri. Organisasi tersebut merupakan wahana dan sarana
pengembangan mahasiswa ke arah perluasan wawasan peningkatan
ilmu dan pengetahuan serta integritas kepribadian mahasiswa.
Ormawa juga sebagai wadah pengembangan kegiatan
ekstrakurikuler mahasiswa di perguruan tinggi yang meliputi
pengembangan penalaran, keilmuan, minat, bakat, dan kegemaran
mahasiswa itu sendiri”.
d. Macam-macam Organisasi
Menurut Wursanto (2003) macam-macam atau jenis organisasi
dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain :
1) Pucuk Pimpinan
Jenis organisasi dari segi pucuk pimpinan terdiri dari dua macam,
yakni :
a) Organisasi tunggal, apabila pucuk pimpinan organisasi tersebut
berada pada tangan satu orang.
commit to user
[Link] [Link]
21
b) Organisasi jamak, apabila pucuk pimpinan berada di tangan
beberapa orang, contohnya : Dewan Pimpnan Pusat (DPP), DPD,
dll.
2) Keresmian
Jenis organisasi dari segi keresmian terdiri dari dua, yaitu :
a) Organisasi formal, apabila kegiatan dilakukan oleh beberapa orang
yang tergabung dalam suatu kelompok secara sadar
dikoordinasikan guna tercapainya tujuan yang telah ditetapkan,
sehingga orang-orang yang tergabung dalam kelompok itu
mempunyai struktur yang jelas.
b) Organisasi informal, organisasi disusun secara bebas dan spontan
dan keanggotaannya diperoleh secara sadar atau tidak sadar.
3) Tujuan
Menurut segi tujuan yang hendak dicapai, contohnya organisasi niaga
atau ekonomi yang mempunyai tujuan untuk mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya.
4) Luas Wilayah
Menurut luas wilayahnya organisasi dibagi menjadi empat (4) macam
yaitu :
a) Organisasi daerah (local organization)
b) Organisasi regional (regional organization)
c) Organisasi nasional (national organization)
d) Organisasi internasional (international organization)
5) Kebutuhan sosial/Kemasyarakatan
Organisasi kemasyarakatan semua organisasi atau perhimpunan yang
dibentuk atas secara sukarela oleh anggota masyarakat warga negara
Reublik Indonesia yang keanggotaannya terdiri dari warga negara
Indonesia dan warga negara asing, namun dalam pelaksanaannya
harus tunduk pada ketentuan dan Undang-Undang Republik
Indonesia.
commit to user
[Link] [Link]
22
e. Manfaat Organisasi
Organisasi merupakan kegiatan yang tidak wajib atau merupakan
pilihan mahasiswa selama melaksanakan study. Dengan mengikuti
kegiatan organisasi mahasiswa akan memperoleh banyak manfaat dan
wawasan yang luas sehingga mampu mempersiapkan mahasiswa untuk
terjun ke dunia kerja.
Menurut Sukirman (2004: 69) manfaat mengikuti kegiatan
organisasi adalah :
1) Melatih bekerjasama dalam bentuk tim kerja multi disiplin.
2) Membina sikap mandiri, percaya diri, disiplin, dan bertanggungjawab.
3) Melatih berorganisasi.
4) Melatih berkomunikasi dan menyatakan pendapat di muka umum.
5) Membina dan mengembangkan minat bakat.
6) Menambah wawasan.
7) Meningkatkan rasa kepedulian dan kepekaan pada masyarakat dan
lingkungan mahasiswa.
8) Membina kemampuan kritis, produktif, kreatif, dan inovatif.
f. Pengertian Organisasi Mahasiswa dan Macam-macam Organisasi
Mahasiswa
Organisasi kemahasiswaan adalah perkumpulan, kesatuan
mahasiswa yang sudah terlembaga, mempunyai tujuan yang jelas guna
mengembangkan peran serta dan fungsi mahasiswa (Desmawangga, 2013).
Sedangkan Sukirman (dalam Ardi & Aryani, 2010) berpendapat bahwa,
“organisasi kemahasiswaan merupakan bentuk kegiatan di perguruan
tinggi yang diselenggarakan dengan prinsip dari, oleh, dan untuk
mahasiswa”. Hal tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang aktif
dalam berorganisasi adalah orang yang memberikan kontribusi bagi
dirinya sendiri dan orang lain.
Berdasarkan Kepmen Dikbud nomor :155/U/1998 tentang pedoman
umum organisasi kemahacsoimswmaiat nto (udsaelram Widayanti
2005), organisasi
[Link] [Link]
23
kemahasiswaan merupakan salah satu elemen yang sangat penting dalam
proses pendidikan di peguruan tinggi. Keberadaan organisasi mahasiswa
merupakan wahan dan sarana pengemvangan diri mahasiswa ke arah
perluasan wawasan, integritas kepribadian dan meningkatkan kerjasama
serta menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan.
Menurut As’ari (2007), ada dua bentuk organisasi kemahasiswaan
yaitu organisasi intra kampus dan organisasi ekstra kampus.
1. Organisasi Kemahasiswaan Intra Kampus
Organisasi intra kampus yaitu organisasi yang berada di dalam
kampus yang ruang lingkup kegiatan dan anggotanya hanya terbatas
pada mahasiswa yang ada di kampus tersebut. Adapun bentuk-bentuk
organisasi kemahasiswaan itu antara lain:
a. Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi, merupakan wadah atau badan
normatif dan perwakilan tertinggi mahasiswa dengan tugas pokok
mengkoordinasikan kegiatan ekstrakurikuler pada tingkat perguruan
tinggi.
b. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), merupakan wadah aktivitas
kemahasiswaaan luar kelas (ekstrakurikuler) di perguruan tinggi
yang bertujuan untuk mengembangkan minat, bakat, dan keahlian
tertentu. Adapun di UNS sendiri juga terdapat UKM pada tingkat
Universitas antara lain Voca Erudita, Kopma, KSR PMI, LPM
Kentingan, Taekwondo, dan lain-lain.
2. Organisasi Kemahasiswaan Ekstra Kampus
Organisasi ekstra kampus merupakan organisasi yang berada di luar
kampus, dimana ruang lingkup dan anggotanya adalah mahasiswa
seperguruan tinggi atau lintas perguruan tinggi, seperti Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
(GMNI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan lain-lain.
commit to user
[Link] [Link]
24
Berdasarkan butir-butir yang terkandung pada alinea di atas maka
dapat disintesiskan bahwa yang dimaksud dengan keikutsertaan dalam
berorganisasi dalam penelitian ini adalah keterlibatan seseorang dalam
suatu kerjasama yang mana bekerja secara terstruktur untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan dengan indikator sebagai berikut:
1) Kegiatan organisasi sebagai sarana pengembangan diri
2) Kegiatan organisasi sebagai peningkatan ilmu dan pengetahuan
3) Kegiatan organisasi dapat meningkatkan intelegensi kepribadian
mahasiswa (Amzar Yulianto, 2015).
B. Kerangka Berpikir
1. Pengaruh pelaksanaan magang terhadap pengembangan soft skills mahasiswa
Pendidikan Administrasi Perkantoran
Pelaksanaan magang adalah proses pembelajaran yang mana dalam
penerapannya mahasiswa akan lebih banyak berinteraksi dan berkomunikasi
dengan banyak orang, dan juga mahasiswa akan mengetahui lebih banyak
tentang dunia kerja. Pelaksanaan magang diduga berpengaruh positif yang
signifikan terhadap pengembangan soft skills apabila diterapkan dengan baik
oleh mahasiswa. Sebaliknya, pelaksanaan magang diduga tidak berpengaruh
positif yang signifikan terhadap pengembangan soft skills apabila tidak
diterapkan dengan baik oleh mahasiswa.
Dari uraian di atas patut diduga bahwa terdapat pengaruh pelaksanaan
magang terhadap pengembangan soft skills mahasiswa Pendidikan
Administrasi Perkantoran.
2. Pengaruh keikutsertaan dalam berorganisasi terhadap pengembangan soft
skills mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran
Organisasi merupakan wadah bagi mahasiswa untuk menyalurkan
minat dan bakat, sehingga dalam organisasi tersebut mereka akan lebih
banyak belajar tidak hanya kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan untuk
mengelola diri sendiri dan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain.
c o m m it t o u s e r
Keikutsertaan mahasiswa da l a m b e r or g a n isasi diduga
berpengaruh positif
[Link] [Link]
25
yang signifikan terhadap pengembangan soft skills apabila mahasiswa terlibat
secara baik dalam organisasi tersebut. Sebaliknya, keikutsertaan mahasiswa
dalam berorganisasi diduga tidak berpengaruh positif yang signifikan
terhadap pengembangan soft skills apabila mahasiswa tidak terlibat secara
baik dalam organisasi tersebut.
Dari uraian di atas patut diduga bahwa terdapat pengaruh
keikutsertaan dalam berorganisasi terhadap pengembangan soft skills
mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran.
3. Pengaruh pelaksanaan magang dan keikutsertaan dalam berorganisasi secara
bersama-sama terhadap pengembangan soft skills mahasiswa Pendidikan
Administrasi Perkantoran
Magang dan berorganisasi adalah kegiatan yang dalam
pelaksanaannya mahasiswa dituntut untuk berkomunikasi dan berinteraksi
dengan banyak orang. Pelaksanaan magang dan keikutsertaan dalam
berorganisasi secara bersama-sama diduga berpengaruh positif yang
signifikan terhadap pengembangan soft skills mahasiswa apabila kegiatan
tersebut diterapkan dengan baik oleh mahasiswa. Sebaliknya, pelaksanaan
magang dan keikutsertaan dalam berorganisasi secara bersama-sama diduga
tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap pengembangan soft skills
mahasiswa apabila kegiatan tersebut tidak diterapkan dengan baik oleh
mahasiswa. Mahasiswa yang mempunyai soft skills yang baik akan merasa
lebih percaya diri sehingga memudahkan dirinya dalam kehidupan sosialnya
atau dalam bermasyarakat.
Dari uraian di atas patut diduga bahwa terdapat pengaruh pelaksanaan
magang dan keikutsertaan dalam berorganisasi secara bersama-sama terhadap
pengembangan soft skills mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran.
Dalam penelitian ini kerangka berpikir dalam bentuk bagan akan
tampak seperti berikut:
commit to user
[Link] [Link]
26
Pelaksanaan
Magang (X1)
Pengembangan
Soft Skills (Y)
Keikutsertaan dalam
Berorganisasi
(X2)
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian.
Hipotesis pada penelitian ini dibuat berdasarkan hasil dari kajian teoritis. Adapun
hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh positif yang signifikan pelaksanaan magang terhadap
pengembangan soft skills mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran
UNS angkatan 2014.
2. Terdapat pengaruh positif yang signifikan keikutsertaan dalam berorganisasi
terhadap pengembangan soft skills mahasiswa Pendidikan Administrasi
Perkantoran UNS angkatan 2014.
3. Terdapat pengaruh positif yang signifikan pelaksanaan magang dan
keikutsertaan dalam berorganisasi secara bersama-sama terhadap
pengembangan soft skills mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran
UNS angkatan 2014.
commit to user