0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan228 halaman

Peraturan Barang Siapa dan Sanksi

Diunggah oleh

Edi Prayitno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan228 halaman

Peraturan Barang Siapa dan Sanksi

Diunggah oleh

Edi Prayitno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUDIDAYASAPIPERAH

JILID 2
Pasal72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta:

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasa12 ayat (1) atau Pasa149 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,OO(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,OO(lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaranHak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,OO(lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,OO(lima
ratus juta rupiah).
(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,OO(satu
miliar rupiah).
(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 29 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp150.000.000,OO(seratus lima puluh juta rupiah).
(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasa124 atau Pasa155 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp150.000.000,OO(seratus lima puluh juta rupiah).
(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal25 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,OO
(seratus lima puluh juta rupiah).
(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal27 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,OO
(seratus lima puluh juta rupiah).
(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal28 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,OO (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
Budi Daya
Sapi Perah
JILID 2

Drh. Budi Tri Akoso, [Link]., Ph.D


© 2012 Airlangga University Press
AUP AUP 600/27.454/11.12-CIE/l
Dilarang mengutip dan atau memperbanyak tanpa izin tertulis dari
Penerbit sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun, baik cetak,
fotoprint, mikrofilm dan sebagainya.

Cetakan pertama - 2012

Penerbit:
Pusat Penerbitan dan Pereetakan Unair (AUP)
Kampus C Unair, JI. Mulyorejo Surabaya 60115
Teip. (031)5992246,5992247 Fax. (031)5992248
E-mail: [Link].

Dicetak oleh: Pusat Penerbitan dan Pereetakan Unair (AUP)


(PNB.030/10.12/AUP-BIE)

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

BUD Budi Tri Akoso


b-II Budi Daya Sapi Perah / Budi Tri Akoso - Cet. 1 -
Surabaya: Pusat Penerbitan dan Pereetakan Universitas Airlangga, 2012
xix, 218 hlm.: ilus.; 15,8 x 23 em
Bibliografi: h 203-205
ISBN 978-602-8967-81-5 (jilid Iengkap)
ISBN 978-602-8967-83-9 (jilid 2)

1. Peternakan - sapi perah [Link]

636.2142

12 13 14 15 16 / 9 8 7 6 5 4 3 2 1

ANGGOTA IKAPI: 001 / JTI/95


Prakata

Protein hewani berupa susu, daging dan telur merupakan salah satu andalan
dalam membentuk jasmani yang siap menghadapi tantangan kehidupan
generasi penerus bangsa. Sapi perah sebagai penghasil susu adalah penyumbang
dan penyedia protein hewani yang merupakan kebutuhan penting bagi
kesehatan dan kebugaran tubuh serta meningkatan kecerdasan orang yang
mengkonsumsinya. Kemajuan bidang informasi teknologi telah membuka
pemahaman tentang kehidupan masyarakat modem yang semakin kompetitif
dan penuh tantangan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan konsumsi susu
yang semakin tajam, walaupun produksi domestik baru dapat memenuhi 30%
dari seluruh kebutuhan. Oleh sebab itu, peluang usaha budi daya sapi perah
masih sangat terbuka dan menjanjikan masa depan yang cerah. Teknologi
pengolahan susu untuk pemanfaatan faedahnya dengan ragam sajian dan
kelezatan telah berhasil melahirkan berbagai macam produk susu olahan yang
semakin hari semakin banyak variasinya. Tuntutan kebutuhan dan daya beli
masyarakat yang semakin meningkat memberikan jaminan pasar yang luas
dan semakin berkembang.
Buku ini dimaksudkan sebagai penghantar us aha budi daya sapi perah
di Indonesia yang selama ini berbeda dengan topik untuk temak yang lain
masih sangat jarang dijumpai di toko buku atau perpustakaan. Uraian yang
terkandung di dalam buku ini terutama didasari oleh pengalaman penulis
sebagai praktisi betemak sapi perah serta latar belakang profesi yang mewamai
setiap sajian tulisan secara seimbang dan dikemas dengan berbagai informasi
ilmiah diperoleh dari banyak sumber bahan bacaan cetak dan elektronik. Untuk
pemahaman lebih dalam sudah tentu masih dibutuhkan banyak masukan
dari para praktisi dan cendekiawan yang bersedia membagi pengalaman dan
bertukar pikiran demi kemajuan usaha persusuan yang masih jauh tertinggal
dari negara-negara lain di Asia dan benua lainnya bila dilihat dari konsumsi
susu per kapita dan pemenuhan kebutuhan nasional yang sebagian besar
masih tergantung dari imp or.

v
Ada berbagai macam jenis sapi perah yang dikenal di dunia, namun tidak
semuanya cocok dengan daerah tropis seperti Indonesia dan negara beriklim
panas lainnya. Jenis sapi perah yang sangat populer baik di negara subtropis
maupun tropis adalah sapi jenis Friesien Holstein (FH), walaupun nenek
moyangnya dari negara subtropis di negeri Belanda. Jenis sapi ini sangat disukai
sehingga mendominasi populasi sapi perah di Indonesia dan bahkan di negara
lain di dunia karena mudahnya beradaptasi dengan lingkungan, produktivitas
susunya yang tinggi dan relatif jinak sehingga mudah untuk dikelola.
Buku ini diharapkan dapat menjadi pegangan dasar bagi para peternak
sapi perah, mahasiswa kedokteran hewan dan peternakan, pelajar, paramedik
veteriner, inseminator, peternak atau petugas peternakan dan pelajar sekolah
kehewanan yang menaruh perhatian terhadap budi daya sapi perah, sebagai
sumbang sih penulis dalam berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman di
tengah-tengah keterbatasan yang dimilikinya. Penulis mencoba menguraikan
dengan bahasa yang sederhana dan lugas agar mudah untuk dipahami oleh
berbagai kalangan di masyarakat. Untuk kata yang sulit dicari padanannya
dalam bahasa Indonesia, disediakan rubrik khusus "Glosarium" atau kosakata
yang memberi sekilas pencerahan tentang makna kata yang dimaksud.
Tulisan ini saya dedikasikan kepada almarhum orang tuaku Bapak dan Ibu
Poejohadioetojo. Disadari bahwa betapapun besar keinginan penulis untuk
menguraikan informasi yang selama ini telah diperoleh, masih juga banyak
kekurangan dan keterbatasan karena nun jauh di sana masih terbentang luas
ilmu pengetahuan yang tidak mungkin untuk dijangkau semuanya. Semoga
setetes ilmu yang bisa kami bagikan ini dapat bermanfaat sebagai masukan bagi
masyarakat, pelajar, mahasiswa, praktisi dan ilmuwan yang memerlukan.

Yogyakarta

Budi Tri Akoso

vi Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Daftar lsi

Prakata v
Daftar Gambar xiii
Daftar Tabel................................................................................................. xix

BAB 1 SAPI PERAH BIBIT 1


Sumber Pengadaan 2
Sapi Perah Lokal................ 2
Sapi Perah Impor 4
Sapi Perah Keturunan Impor............................................. 4
Pengadaan Sapi Perah Bibit................................................... 5
Bangsa Sapi Perah untuk Bibit 5
Seleksi Sapi 5
Bakalan untuk Induk 6
Bentuk dan Proporsi Tubuh 6
Kemampuan Produksi........................................................ 9
Bakalan Pejantan...................................................................... 9
Proporsi Tubuh.................................................................... 10
Kesuburan 11
Uji Progeni.............. 11
Kesehatan 12
Faktor Perawatan................................................................. 12
Ancaman Penyakit Hewan Menular 12
Pengaruh Endemisitas Penyakit di Daerah Asal atau
Tujuan.................................................................................... 13
Pengaruh Bawaan karen a Cacat Lahir 13

BAB 2 PERAWATANSAPI DARA 15


Seleksi Dara Calon Induk 15
Seleksi Genetik..................................................................... 16

vii
Seleksi Fisik 17
Seleksi Kinerja...................................................................... 17
Manajemen Pakan 17
Pakan Pedet Umur 12 Minggu sampai 1 Tahun 18
Pakan untuk Sapi Dara Umur 1 Tahun sampai Masa
Bunting 19
Pakan untuk Dara Bunting sampai Menjelang Melahirkan . 20
Pakan Sapi Dara Bunting 20
Pakan Sapi Menjelang Melahirkan 20
Pola Pemeliharaan Sapi Dara 21
Pemeliharaan Ekstensif....................................................... 21
Pemeliharaan Intensif 21
Pemeliharaan Semi Intensif............ 22
Nutrisi dan Kesehatan 23
Nutrisi 23
Kesehatan 23
Hijauan dan Konsentrat 23
Fungsi Rumen dan Alat Pencernakan yang Lain 24
Formulasi Pakan 24
Konsentrat Tambahan......................................................... 24
Pengaruh Musim...................................................................... 24
Antisipasi Dampak Kemarau Panjang 25
Musim Penghujan................................................................ 25
Manajemen Reproduksi 25
Pengamatan Birahi 25
Awal Birahi pada Sapi Dara 25
Pencatatan Birahi 26

BAB 3 PERAWATAN SAPI LAKTASI 27


Dinamika Masa Laktasi...... 27
Awal dan Puncak Laktasi 29
Laktasi Tengah..................................................................... 31
Masa Laktasi Akhir 32
Masa Berhenti Laktasi atau Masa Kering 33
Manfaat Masa Kering.......... 33
Manfaat untuk Induk...... 34
Metoda Pengeringan 36
Penghentian Pemerahan Secara Bertahap 36
Penghentian dengan Pemerahan tidak Lengkap 36

viii Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Kesehatan Ambing di Masa Kering 37
Risiko terhadap Infeksi Patogen......... 37
Pencegahan........ 39

BAB 4 ANATOMI DAN FISIOLOGI AMBING............................. 41


Anatomi...................................................................................... 42
Tenunan Kelenjar................................................................. 42
Tenunan Pengikat 47
Fisiologi Ambing .. 48
Proses Pembentukan Air Susu.......... 49
Proses Pelepasan Air Susu 50
Proses Pelepasan Nutrisi ke dalam Lumen Alveolar 53

BAB 5 MANAJEMEN PEMERAHAN 55


Pedoman Waktu Pemerahan 55
Jadwal Pemerahan Sapi 56
Interval Waktu Memerah 56
Persiapan Memerah 56
Tempat 56
Peralatan 57
Sapi yang Diperah 59
Kebersihan............................................................................ 59
Proses Pemerahan 60
Petugas 60
Kebersihan dan Kerapian Petugas... 60
Kesehatan Petugas............................................................... 61
Teknik Memerah 61
Memerah Cara Manual....................................................... 61
Memerah Menggunakan Mesin 62
Mesin Perah Tunggal atau Ganda..................................... 63
Tindakan Setelah Pemerahan 65
Penanganan Alat.................................................................. 65
Penanganan Susu Hasil Perah 65
Perhatian Terhadap Kesehatan Sapi.... 67
Pengamatan Sebelum dan Saat Diperah 67
Mastitis Klinis 67
Pelatihan Juru Perah................................................................ 68
Pemahaman Titik Kritis Bahaya 68
Kehati-hatian Petugas 69

Daftar lsi ix
Ruang Penyimpanan Susu. 69
Tempat dan Kondisi Ruangan........................................... 69
Higiene dan Sanitasi 70
Tangki Pendingin............. 70
Catatan dan Evaluasi Produksi 71

BAB 6 PEMULIABIAKAN.................................................................. 73
Perkawinan Alami................................................................... 74
Tahap Terjadi Perkawinan............... 74
Tahap Terjadi Konsepsi... 74
Tahap Terbentuk Fetus 75
Inseminasi Buatan 75
Penanganan Semen 76
Pelaksanaan Inseminasi....... 78
Manfaat................................................................................. 79
Kelemahan....... 80
Kinerja Inseminasi............................................................... 81
Transfer Embrio........................................................................ 82
Sejarah................................................................................... 82
Teknik Pelaksanaan............................................................. 82
Selang Beranak......................................................................... 84
Perkawinan Kembali Sapi Pascamelahirkan 84
Jarak antara Dua Kelahiran................................................ 85
Dampak Panjang Selang Beranak .. 85
Permasalahan Terkait Selang Beranak 85
Gangguan Kesehatan Reproduksi Akibat Penyakit 86

BAB 7 KESEHATAN SAPI PERAH................ 87


Manajemen Kesehatan............................................................ 87
Kesehatan Pedet................................................................... 88
Kesehatan Sapi Dewasa atau Induk 89
Kesehatan Lingkungan....................................................... 91
Status Kesehatan dan Stabilitas Usaha 92
Perawatan 93
Pengenalan Kinerja Kesehatan 95
Kondisi Sapi Sehat........... 95
Kondisi Sapi Sakit................................................................ 96
Epidemiologi Veteriner........................................................... 99
Status Keberadaan dan Penyebaran Penyakit 99
Pencegahan Penyakit 100
Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit.. 102

x Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


BAB 8 PENYAKIT KARENA VIRUS 105
Penyakit Virus Endemis 105
Bovine Ephemeral Fever 106
Bovine Viral Diarrhea 108
Malignant Catarrhal Fever 110
Penyakit Viral Eksotis................ 112
Penyakit Mulut dan Kuku.................................................. 112
Penularan.............................................................................. 113
Rinderpest.............. 115
Bovine Spongiform Encephalopathy................................ 117
BAB 9 PENYAKIT KARENA BAKTERI 121
Penyakit Bakterial yang Rentan Terjadi pada Pedet......... 121
Infeksi Tali Pusar 122
Kolibasilosis septikemia..................................................... 123
salmonelosis........... 125
Penyakit Bakterial pada Umumnya 127
Enterotoksemia . 128
Mastitis.................................................................................. 129
Anthrax 132
Bruselosis 134
Tuberkulosis 136
Penyakit Ngorok.................................................................. 137

BAB 10 PENYAKITKARENA PARASIT............................................ 141


Penyakit Paras iter Karena Protozoa 141
Koksidiosis 142
Kriptosporoidiosis............................................................... 144
Penyakit surra...................................................................... 145
Penyakit Paras iter Karena Cacing............... 147
Nematoda............................................................................. 147
Trematoda 152
Cestoda 153

BAB 11 PENYAKIT GANGGUAN METABOLISME...................... 157


Demam Susu 157
Tetanus Rumput 161
Ketosis atau Asetonemia 164
Sindrom Hati Berlemak...................................................... 167
Sind rom Keasaman Laktik................ 168
Displasia Abomasum 170

Daftar lsi xi
Kembung Perut.................................................................... 171
Busung Ambing 175

BAB 12 DATA DAN INFORMASI 177


Kualitas Data........ 177
Ketepatan Data 178
Kemampuan Telusur 178
Identitas dan Sistem Pencatatan 178
Identitas Individual............................................................. 178
Tujuan Pemberian Identitas atau Tanda Pengenal 179
Sistem Pencatatan 180
Catatan Sederhana di Kandang 180
Pencatatan Inseminasi Buatan 181
Macam Penandaan 182
Tatoo...................................................................................... 182
Ear Notching atau Menakik Telinga 182
Memasang Kalung Leher 183
Pencatatan Data........ 184
Data Reproduksi.................................................................. 184
Data Produksi 186
Data Kesehatan Hewan .. 189

BAB 13 BIOGAS 193


Sejarah Perkembangan Biogas 194
Gas Metan............. 194
Terbentuknya Gas 194
Sumber Bahan Baku Gas 195
Manfaat................................................................................. 195
Pembuatan Biogas.................................................................... 196
Rancang Bangun 196
Wadah Penampung Gas 199
Pipa Saluran Gas.................................................................. 199
Manajemen Biogas................................................................... 199
Kegunaan.............................................................................. 200
Kewaspadaan.. 200
Biaya...................................................................................... 200
Komposisi Biogas 201

Daftar Pus taka 203


Glosarium.................................................................................................... 207

xii Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Daftar Gambar

Gambarl.l Pemilihan bibit sapi dimulai dan dievaluasi sejak


pedet atau sapi usia dini.. ............................................. 1
Gambarl.2 Salah satu contoh aktivitas sebuah pasar hewan
hewan khusus sapi perah di Nongkojajar, Kabupaten
Pasuruan ......................................................................... 3
Gambarl.3 Sapimilik petemak umumnya adalah turunan sapi FH
impor yang sudah lama beradaptasi .......................... 4
Gambarl.4 Penampilan bibit sapi dara perah betina keturunan
Friesien Holstein impor umur 14 bulan ..................... 6
Gambarl.5 Kesehatan ambing merupakan faktor penting
dalam menilai dan memilih bibit yang baik
untuk sapi perah ............................................................ 8
Gambarl.6 Penampilan seekor sapi perah FH jantan yang dewasa
dalam kondisi sehat dan tegap dengan proporsi
tubuh seimbang, punggung lurus, tubuh kokoh
berisi. Kondisi kulit bersih dan cerah ......................... 9
Gambar2.1 Pemeliharaan sapi dara cara ekstensif, dilakukan
di kawasan yang memiliki kecukupan lahan
dengan padang rumput luas ........................................ 21
Gambar2.2 Untuk perawatan sapi dara secara intensif dilakukan
berkelompok dalam kandang dengan penempatan
berdasar berat badan dan umur .................................. 22
Gambar3.1 Kurve kapasitas produksi susu pada siklus masa
laktasi ke-1, ke-2 dan ke-3 sejak melahirkan sampai
bulan ke-lO dan dua bulan masa kering .................... 28
Gambar3.2 Tahapan laktasi dengan dinamika perubahan
pada produksi susu, presentasi lemak susu, pakan
kering dikonsumsi dan berat badan ........................... 31
Gambar3.3 Frekuensi infeksi baru oleh bentuk Coli intra
mamaria selama laktasi ................................................. 37

xiii
Gambar3.4 Evolusi puting tanpa sumba tan keratin selama masa
kering . 38
Gambar3.5 Pelaksanaan invusi ambing dengan antibiotik
sangat penting dalam masa kering untuk mencegah
infeksi . 39
Gambar4.1 Melalui produk susunya, ambing dari seekor
induk sapi memiliki peranan besar dalam menjaga
kelangsungan hidup anak dengan penyediaan nutrisi
yang baik dan penjagaan kesehatan prima sejakpedet
dilahirkan sampai saatnya disapih . 41
Gambar4.2 Subbagian dalam dari ambing separo kiri dan kanan
serta kuartir muka dan belakang . 43
Gambar4.3 Suatu ilustrasi tali sendi yang memungkinkan
ambing sapi menggantung . 44
Gambar4.4 Penyempitan pada setiap cabang dari sistem
saluran menghalangi keluarnya susu dari
kemungkinan rembes ke dalam puting dan ambing
bagian bawah . 45
Gambar4.5 Komponen dari ambing sapi . 46
Gambar4.6 Ilustrasi keberadaan alveoli dengan alveolus
serta saluran kelenjar pada ambing . 48
Gambar4.7 Komponen ambing menunjukkan banyaknya
pembuluh darah yang diperlukan dalam pro des
produksi susu . 49
Gambar4.8 llustrasi pancaran air susu oleh pengaruh hormon
oksitosin melalui rangsangan saraf dan aliran
darah dalam tubuh sapi . 51
Gambar4.9 Refleks yang terjadi pada pancaran air susu keluar
dari ambing sapi . 52
Gambar5.1 Seorang juru perah memperagakan menimbang
susu menggunakan milk can dan alat timbang
sederhana . 58
Gambar5.2 Pelaksanaan pemerahan secara manual oleh seorang
peternak atau juru perah dengan menggunakan
ember almunium . 61
Gambar5.3 Mesin perah portable double yang dioperasikan
untuk dua ekor sapi sekali perah .. 63
Gambar5.4 Mesin perah multiple, dengan kapasitas perah satu
kali 12 ekor. Susu individual sapi yang masuk ke
dalam tabung gelas penampung, secara otomatis
tercatat . 64

xiv Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gambar5.5 Cawan putingyang dapat terangkatnaik oleh pengaruh
hampa udara cenderung menekan terbukanya saluran
dan menghentikan aliran susu keluar . 64
Gambar5.6 Petugas usai memerah, siap dengan air susu dalam
kaleng susu (milk can) untuk dimasukkan ke dalam
tangki pendingin atau dikirim ke KUD . 66
Gambar5.7 Tangki pendingin susu ditempatkan di ruangan
yang dijaga kondisi kebersihannya dan
sanitasinya . 70
Gambar6.1 Seekor fetus sapi berada di dalam uterus induk. . 75
Gambar6.2 Petugas memanen semen dari seekor sapi
pejantan FH dengan pancingan sapi betina
tiruan (B). Sperma ditampung melalui tabung
silinder (A) ke dalam wadah . 77
Gambar6.3 Sebuah tabung berisi nitrogen cair untuk
menyimpan semen . 77
Gambar6.4 Pelaksanaan IB oleh petugas inseminator. Semen
dimasukkan menggunakan "insemination gun" . 78
Gambar6.5 Ilustrasi cara inseminator memasukkan sperm a
jantan ke alat reproduksi sapi betina . 79
Gambar7.1 Contoh sapi jantan (kiri) dan betina (kanan) sedang
makan rumput, tampak dengan penampilan yang
tegap dan sehat, proporsi tubuh seimbang dan
ditopang keempat kaki yang kokoh . 95
Gambar8.1 (A) Sapi menderita Bovine Ephemeral Fever dengan
gejala lemah, sulit untuk berdiri dan demam; (B)Sapi
dengan penyakit yang sarna, dengan gejala keluar air
mata dan banyak keluar air liur berbuih . 107
Gambar8.2 (A) Seekor pedet bam lahir tidak bisa berdiri dan buta
oleh infeksi BVD;(B) Cacat hipoplasia serebelum terlihat
pada otak seekor pedet penderita BVD . 109
Gambar8.3 Tampilan klinis sapi MCF terlihat murung dengan
leleran hi dung dan mulut serta aspek kornea
mata keputihan . 111
Gambar8.4 (A) Leleran kental keluar dari hi dung dan mulut
dan (B) Lepuh dan tukak pada selaput lendir
mulut dan lidah sapi menderita PMK . 114
Gambar8.5 Pemusnahan bangkai sapi yang dibakar dalam
rangka pengendalian penyakit PMK . 114
Gambar8.6 Erosi terjadi pada langit-langit mulut, gusi dan
dasar gigi . 116

Daftar Gambar xv
Gambar 8.7 (A) Gejala seekor sapi menderita BSE
memperlihatkan kekakuan gerak waktu berjalan.
(B) J ejas degeneratif pada korteks serebri
dengan vakuolisasi neuron 118
Gambar 9.1 Diare di dalam kandang yang dipakai bersama
dapat menjadi bagian dari terjadinya pencemaran
di antara pedet 125
Gambar 9.2 (A)Seekor pedet menderita kekurusan dan diare yang
parah; (B) Tinja diare berwama kuning keputihan,
sedikit kelabu dan berbau busuk 127
Gambar 9.3 Usus sapi karena infeksi Clostridium perfingens. Jaringan
bagian kanan berwarna gelap karena nekrotik,
bandingkan dengan yang lebihterangwarnanyasebelah
kiri yangnormal. Kerusakanparahmengakibatkankolik
dan tidak sembuh dengan pengobatan 128
Gambar 9.4 Mastitis pada sapi perah laktasi. Perhatikan ambing
dan puting yang membengkak berubah warna
kemerahan dari normal karen a radang...................... 131
Gambar 9.5 Susu dalam gel as sebelah kiri sewaktu dipakai
untuk mendeteksi kasus sapi mastitis karena
E. coli yang mengandung eksudat. Bandingkan
dengan susu normal di kanan .. 131
Gambar 9.6 (A)Seekorsapi perah menderita anthrax kronis dengan
gejala penurunan kondisi tubuh, dungu, murung,
kurang nafsu makan. (B)Anthrax kulit pada orang
terlihatjejasmenciridibagian tangan dengan perubahan
jaringan nekrotik kehitaman di tengah 133
Gambar 9.7 (A) Seekor sapi sehabis keguguran mengeluarkan
transudat keruh kekuningan dari vagina;
(B) Fetus lahir prematur pada pertengahan
kebuntingan.................................................................... 135
Gambar 9.8 (A) Pembesaran kelenjar limfe paru karena
tuberkulosis; (B) Reaksi positif pada uji kulit
tuberkulinasi di pangkal ekor... 137
Gambar 9.9 (A) Pasteurellosis pada seekor sapi di mana terjadi
gejala depresi dengan leleran hi dung dan mulut
yang purulen; (B)penebalan pada selaput paru serta
lapisan serosa rongga dada 139
Gambar 10.1 Ilustrasi daur hidup coccidia pada sapi 143

xvi Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gambar 10.2 Slide darah sapi menderita Surra, terlihat dalam
pemeriksaan mikroskop beberapa organisme
renik "Trypanosoma evansi" sebagai penyebab
penyakit........................................................................... 146
Gambar 10.3 Ilustrasi daur hidup eacing nematoda pada seekor
sapi 148
Gambar 10.4 (A) Seekor sapi sedang batuk dalam upaya
mengeluarkan eacing dari saluran pernapasan
atas; (B) Sejumlah eacing berukuran keeil berwarna
putih tampak berada dalam trakhea 151
Gambar 10.5 Daur hidup eacing hati (Trematoda). Sisipan
adalah Irisan jaringan hati sapi yang terkena
infeksi eacing hati. Perhatikan saluran empedu
yang menebal dan terdapat bagian jaringan yang
nekrosis oleh lintasan eacing hati.................. 152
Gambar 10.6 Diagram daur hidup eacing pita Taenia saginata 154
Gambar 11.1 Seekor induk sapi perah dengan gejala Milk Fever, rebah
dan berbaring di samping kanan adalah anak pedetnya,
tubuh lemas malas untuk berdiri 160
Gambar 11.2 Ilustrasi kondisi seekor sapi ketosis subklinis
paseamelahirkan dengan situasi kurang asupan
makanan dalam waktu satu minggu sebelum dan
dua minggu setelah melahirkan normal 164
Gambar 11.3 Ilustrasi posisi abomasum normal dan abnormal
ketika terjadi displasia abomasum kiri.............. 171
Gambar 11.4 Seekor sapi perah menderita bloat atau timpani
dengan perut yang membesar 174
Gambar 11.5 Busung ambing pada seekor sapinampak pengaruhnya
sampai di perut bagian bawah 176
Gambar 12.1 Identitas sapi dinyatakan dalam nomor dan
dalam bentuk anting telinga dipasang sejak masih
pedet. 183
Gambar 12.2 Identitas seekor sapi dalam bentuk nomor terpasang
di kalung leher 183
Gambar 12.3 Penandaan sapi dengan metoda dingin beku
"freeze branding" pada kulit seekor sapi...................... 184
Gambar 13.1 Sebuah eontoh raneang bangun temp at produksi
biogas............................................................................... 197
Gambar 13.2 Sebuah contoh kubah dari instalasi produksi biogas
yang terlihat di atas permukaan tanah....................... 198

Daftar Gambar xvii


Gambar 13.3 Sebuah kantung plastik jumbo dipergunakan sebagai
penampung gas, (A) diletakkan di atas panggung
dari bambu dan (B)dalam tanah................................. 199

xviii Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Daftar Tabel

Tabel 6.1 Persamaan dan perbedaan penggunaan teknologi IB


dan ET sehubungan sasaran yang ingin dicapai 84
Tabe112.1 Data reproduksi................................................................... 185
Tabe112.2 Data produksi susu harian................................................. 187
Tabe112.3 Data produksi susu bulanan.............................................. 188
Tabe112.4 Data produksi susu selama masa pemeliharaan 188
Tabe112.5 Data harian kesehatan pedet 190
Tabe112.6 Data harian kesehatan sapi dewasa.................................. 190
Tabe112.7 Data kesehatan hewan tahunan berdasar jenis dan
jumlah kasus 191
Tabe113.1 Kandungan gas metan dalam tinja dan berbagai jenis
limbah organik....... 195
Tabe113.2 Komposisi dan persentase bahan kimia dalam biogas.. 201

xix
Bob
SAPI PERAH BIBIT
1

Keberhasilan usaha sapi perah di samping terletak pada produksi susu


yang banyak dan berkualitas, juga tidak kalah pentingnya kualitas bibit atau
genetik sapi serta tata laksana perawatan sejak masih pedet hingga dewasa
dan berproduksi. Bibit sapi perah adalah semua sapi perah hasil pemuliaan
temak yang memenuhi persyaratan untuk dikembangbiakkan. Oleh sebab itu,
perencanaan dimulai sejak dari pengadaan bibit sapi hams dilakukan secara
terencana dengan baik, serta pengembangan di kemudian hari yang diarahkan
pada regenerasi. Kegiatan ini merupakan proses peremajaan dan pengembangan
yang bisa dilakukan mulai dari pembelian bibit yang baik atau bila usaha telah
berjalan dengan pembesaran dan seleksi dari pedet keturunan di petemakan
sendiri. Pengetahuan dan keterampilan petugas dalam perawatan pedet dan
pembesarannya sampai taraf dara atau dewasa serta pemberian rangsum
pakan yang selaras dengan tingkat pertumbuhannya sangat penting sebagai
modal dasar bagi masa depan usaha. Pada dasamya untuk memperoleh kinerja

Gambar 1.1 Pemilihan bibit sapi dimulai dan dievaluasi sejak pedet atau sapi usia
dini

1
produksi sapi perah yang baik harus dipersiapkan sejak lahir atau pedet usia
dini dan diteruskan hingga saat produksi. Seleksimerupakan kegiatanmemilih
tetua untuk menghasilkan keturunan melalui pemeriksaan dan/atau pengujian
berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu dengan menggunakan metoda atau
teknologi tertentu.
Sebagai perolehan hasil optimal dalam usaha budi daya sapi perah,
diperlukan pertimbangan yang cermat dan mantap dalam memilih bibit
sebagai calon induk, termasuk bila diperlukan juga pemilihan calon pejantan
yang baik dengan pertimbangan genetik, serta silsilah atau asal-usul pejantan
yang dipakai sebagai pemacek atau silsilah sumber bibit semen bila dipilih
dari hasil inseminasi buatan. Ketidaktepatan dalam memilih bibit sapi akan
berimbas pada usaha yang tidak efisien dan pemborosan berkepanjangan
terhadap biaya pakan dan perawatan serta jaminan kesehatan yang telah
dikeluarkan dan berpotensi tidak terbayar oleh hasil produksi. Ditinjau dari
sisi induk dan pejantan dalam kaitannya dengan produksi susu, beberapa
faktor tertentu sangat penting untuk diperhatikan, antara lain adalah ciri dasar
tampilan anatomi tubuh sapi, kesuburan sperma dan mutu genetik sapi yang
telah menurunkannya.

SUMBER PENGADAAN
Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara tidak memilik jenis sapi
perah asli. Keberadaan sapi perah di Indonesia pada saat ini berkat kebijakan
impor sejak zaman Belanda terutama dari Eropa. Mengimpor sapi pedegree
yang diyakini memiliki keturunan genetik secara teruji sistem pembibitannya
merupakan upaya penting untuk dipertimbangkan agar memperoleh kinerja
sapi dengan produktivitas dan reproduktivitas yang bisa diandalkan. Masalah
yang perlu dipertimbangkan adalah analisis ekonomi usaha karena harga
sapi impor yang tinggi bila dibandingkan dengan sapi lokal keturunan. Sapi
imp or dengan jenis dan mutu genetik terpilih belum merupakan jaminan akan
menghasilkan sapi dengan produksi susu optimal, manakala cara perawatan
yang dilakukan kurang memadai sebagaimana seharusnya dilakukan, atau
yang tertuang dalam pedoman ''Cara beternak sapi perah yang baik". Ditinjau
dari segi asalnya, pada saat ini ada 3 kelompok sapi perah di Indonesia, yaitu
sapi perah impor, sapi keturunan impor dan sapi lokal (keturunan impor),
dan hampir semuanya berasal dari bangsa sapi Friesien Holstein.

Sapi Perah Lokal


Istilah lokal untuk sapi perah merupakan sebutan untuk sapi yang telah
lama ada secara turun- temurun, mengingat tidak ada sapi perah asli Indonesia.
Semuanya memiliki sejarah nenek moyang sapi asal impor. Namun demikian

2 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


karena keberadaannya telah lama secara turun-temurun, maka sapi perah
lokal turunan imp or, biasa disebut sebagai sapi perah lokal yang selama ini
telah banyak dijual di pasar dan diperdagangkan antardaerah. Sapi Grati yang
dianggap" sebagai sapi perah lokal karena diperoleh dari persilangan sapi
/I

lokal dengan FH, telah lama dikembangkan dan memperoleh pengakuan


internasional, namun saat ini kurang diperhatikan sebagai khasanah bangsa
baru sapi perah Indonesia, dan dengan makin diterimanya program IBsecara
luas maka ciri genetik sapi lokal pada sapi Grati di tingkat peternak menjadi
semakin memudar.
1. Pengadaan dari pasar. Pedet atau sapi dara keturunan lokal dapat dibeli
dari pasar hewan terutama di kawasan peternakan sapi perah, misalnya
di daerah Nongkojajar (Gambar 1.2),Pujon, Grati, Pengalengan, Boyolali
dan Lembang. Sapi perah yang dijual di pasar umumnya sudah sulit untuk
diketahui asal usulnya karena miskinnya data yang dimiliki peternak atau
pedagang sapi. Penilaian umumnya hanya berdasar dari bentuk tubuh
dan kriteria yang diyakini baik oleh pembeli.

Gambar 1.2 Salah satu contoh aktivitas sebuah pasar hewan khusus sapi perah di
Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan

2. Pengadaan dari peternak. Sapi dapat juga dibeli langsung dari peternak
(Gambar 1.3).Pada umumnya sapi dara atau dara bunting. Seperti halnya
dengan pengadaan dari pasar, sapi perah yang dibeli dari peternakpun
sulit untuk diketahui riwayat genetik yang dimiliki karen a minimnya
data. Untuk sapi hasil perkawinan IB, peternak biasanya memiliki kartu
IB yang diberi oleh petugas berisi catatan kapan dilakukan IB dan jenis
semen pejantan. Penting bagi pembeli untuk sebelumnya melakukan
seleksi pedet secara teliti termasuk kinerja produksi induk.

Bab 1 - Sapi Perah Bibit 3


Gambar 1.3 Sapi milik peternak umumnya adalah turunan sapi FH impor yang
sudah lama beradaptasi

Sapi Perah Impor


Sapi perah imp or di Indonesia hampir seluruhnya jenis FH. Keuntungan
sapi impor adalah dapat diperolehnya kualitas genetik, jenis, umur, status
kebuntingan dan kondisi kesehatan yang hampir seragam untuk sejumlah
yang diimpor. Namun demikian, faktor harga dan kemudahan mengimpor
dalam jumlah terbatas terutama untuk petemak usaha keeil sering menjadi
kendala karena tidak mungkin impor dalam jumlah sedikit.
Dengan perkembangan epidemiologi penyakit hewan dewasa ini di mana
penyakit menular termasuk yang bersifat zoonosis tersebar di berbagai kawasan
atau negara di dunia, Indonesia hanya mengimpor sapi perah dari Australia
atau Selandia Baru. Impor sapi perah terutama dilakukan oleh Gabungan
Koperasi Sapi Indonesia (GKSI) dan didistribusikan ke anggota Koperasi
Unit Desa (KUD)sapi perah. Beberapa petemak skala besar melakukan imp or
sapi perah sendiri terpisah dari program pemerintah atau KUD, namun
petemak yang mampu melakukan hal yang demikian jumlahnya masih sangat
terbatas. Beberapa tahun terakhir importasi diarahkan pada sapi dara bunting
3-4 bulan dengan harapan agar setibanya di tanah air menghasilkan keturunan
yang memiliki sifat genetik aslinya.

Sapi Perah Keturunan Impor


Sapi imp or telah lama berada di Indonesia dan telah menurunkan banyak
generasi dan mengalami adaptasi dengan kondisi alam dan lingkungan.
Perbaikan genetik dari sapi keturunan ini dieapai melalui program IB
menggunakan semen pejantan terpilih. Keturunan sapi imp or tersebar hampir
di seluruh Indonesia, baik keturunan yang telah lama beradaptasi maupun
yang baru. Sapi perah semaeam ini dapat diperoleh dari lingkungan kawasan

4 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


peternakan secara lokal atau dari kawasan peternakan lain. Melalui teknologi
IByang intinya mengawinkan sapi eks impor dengan semen pejantan yang asli
didatangkan dariAustralia atau New Zealand maka kualitas hasil peranakan
yang diperoleh dapat lebih terjaga.

PENGADAAN SAPI PERAH BIBIT


Pengadaan sapi bibit dapat dilakukan di kawasan petemakan sapi perah yang
mempunyai potensi pengembangan bibit dan secara terkonsentrasi dengan
mempertimbangkan agroekosistem,pasar,dukungan prasarana dan sarana yang
tersedia. Pedet atau sapi dara bakalan sebagai bibit dapat diperoleh dari anak
keturunan sapi milik sendiri yang dikelola dengan baik, dari petemak, dari
pasar atau impor. Sapi perah FH keturunan lokal, dengan pemberian pakan
nutrisi yang baik dan perawatan kesehatan yang memadai dapat tumbuh
menjadi induk dengan produktivitas memuaskan.

Bangsa Sapi Perah untuk Bibit


Langkah awal dimulai dengan penentuan bangsa sapi yang diinginkan,
dan dihindari memiliki jenis lain dalam satu peternakan. Khusus untuk jenis
sapi perah pilihan di Indonesia, persentase terbesar, atau hampir semuanya
peternak memilih jenis sapi FH atau keturunannya. Untuk sapi keturunan
atau sapi lokal dapat dibeli di pasar hewan atau langsung dari peternak.
Khusus untuk sapi perah biasanya dijumpai di pasar yang berdekatan
dengan sumber-sumber petemakan sapi perah. Peternak pemula disarankan
melakukan observasi sapi terlebih dahulu sebelumnya dan bila perlu minta
bantuan yang sudah berpengalaman karena kesalahan dalam memilih bibit
akan memengaruhi kinerja produksi yang berkepanjangan. Pemilihan bibit
yang baik sering memerlukan pengalaman dan kecermatan dalam mengamati
ciri khas sapi yang akan dipilih, terkait dengan faktor genetik, postur tubuh,
status kesehatan dan taksiran kemampuan produksi.

Seleksi Sapi
Sapi perah di Indonesia umumnya keturunan FH. Sapi-sapi tersebut telah
mengalami domestikasi melalui penyesuaian dengan lingkungan kehidupan
daerah tropis yang cukup lama. Berdasar pengalaman, dengan seleksi yang
tepat serta perawatan yang baik dapat diperoleh calon induk yang kualitas
produksinya baik.
Peternak yang berpengalaman telah mengenal dengan baik ciri-ciri fisik
dari bangsa sapi FH dan keturunannya yang memenuhi kriteria sebagai sapi
dengan hasil produksi yang memenuhi harapan. Ciri spesifik dapat terlihat

Bab 1 - Sapi Perah Bibit 5


pada proporsi tubuh, wama kulit serta temperamennya. Untuk jenis sapi FH
memiliki ciri khas dengan wama belang hitam-putih, wama putih di jidat dan
bulu ekor. Ciri yang lain dapat sangat bervariasi.

BAKALAN UNTUK INDUK


Ada berbagai macam kriteria yang perlu ditentukan untuk pemilihan induk
atau calon indukan sapi perah. Kondisi sapi perah yang baik antara lain dipilih
dari berbagai indikator melalui bentuk anatomi dan proporsi tubuh.

Gambar 1.4 Penampilan bibit sapi dara perah betina keturunan Friesien Holstein
impor umur 14 bulan

Banyak kriteria untuk menentukan apakah seekor sapi perah betina dapat
diharapkan memiliki potensi produksi susu yang baik. Kriteria untuk seleksi
memang tidak sederhana dan sering tidak hams memenuhi semua kondisi ideal
untuk mendapatkan sapi yang diharapkan. Penilaian juga bervariasi karen a
juga dipengaruhi oleh faktor umur dan tahap kebuntingan. Dalam melakukan
evaluasi perlu ditentukan prioritas dari kriteria, terutama ditinjau dari segi
kinerja organ penghasil susu dan kondisi kesehatan secara umum.

Bentuk dan Proporsi Tubuh


Bentuk dan proporsi tubuh harus jelas mengarah pada tipe perah terutama
tercermin dalam tampilan alat reproduksi khususnya pada alat kelamin,
kelenjar ambing dan dengan proporsi tubuh yang besar dan berimbang. Sapi
juga harus memiliki silsilah serta kriteria yang sesuai sebagaimana ciri dasar
dari rumpun asalnya. Untuk dapat mengenali ciri-ciri calon induk sapi perah

6 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


yang baik, diperlukan banyak pengalaman namun berikut ini dapat kiranya
dipakai sebagai pedoman.

Ciri Khusus
Memiliki dri khusus terhadap ras atau bangsanya. Sifat kebetinaan jelas
dengan perangai jinak bersahabat. Besar tubuh proporsional, ramping berisi
berbentuk menyudut. Dada lebar dan perut berukuran besar memanjang
seimbang dengan tubuhnya. Kulit kencang, halus, licin, lentur dan lunak
bila diraba, kuat dan tidak ada kerusakan atau luka, bulu halus pendek. Uji
terhadap daya lentur kulit baik.

Temperamen
Sapi dipilih yang jinak agar mudah dirawat, memberikan kenyamanan dan
ketenangan bagi petugas dan lingkungan kelompok sapi yang ada. Sapi yang
temperamental biasanya bersifat agresif bila berdekatan dengan sapi lain atau
bila ada provokasi dari luar sehingga mudah tergoda dan merasa tidak tenang
yang akan berpengaruh pada produksi pada saat diperah.

Kepala dan Dada


Kepala berbentuk simetris dan besamya seimbang dengan besar tubuh dan
memiliki dahi lebar, sedikit cekung. Mata besar bersinar, kelopak mata bersih.
Moncong selalu basah dan lubang hidung terbuka lebar sehingga memiliki
kesempatan asupan oksigen yang baik. Tulang rahang tampak kuat, nafsu
makan dan minum baik. Telinga panjang, sempit, tipis berambut halus. Dada
bidang dan lingkar dada lebar. Rongga dada yang lebar memberikan ruang
yang lapang bagi perkembangan jantung dan paru.

Badon
Bagian bahu tampak kokoh berisi dan berkulit bulu halus, punggung
lurus dan lebar. Mulai dari gumba sampai ke arah pinggang dan punggung
terkesan merupakan bentuk garis lurus rata dan panjang. Leher panjang, kuat,
berbentuk pipih, dengan lipatan kulit halus, bergelambir kedl dan bersih.
Pinggang pendek dan lebar. Tulang kemudi lebar mendekati bentuk segi tiga
dengan rongga pinggul yang luas sehingga memungkinkan proses kelahiran
anak menjadi mudah.

Kaki
Kaki belakang dan depan lurus dan kuat. J arak antara kedua kaki belakang
lebar membentuk segi empat simetris, sehingga ambing dapat berkembang

Bab 1 - Sapi Perah Bibit 7


optimal. Bila berjalan langkahnya tegap dan tidak pincang. Teracak kuat
tertutup rapat, pertumbuhan kuku normal, di antara belahan kuku utuh,
tidak tampak luka.

Ekor
Bentuk ekor ramping, panjang mudah bergerak dengan pangkal ekor
memiliki ketinggian yang lurus dengan garis punggung, berbulu halus dan lebat
pada ujung ekor. Pangkal ekor yang terjuntai terlalu tinggi dapat membentuk
cekungan yang berpotensi sebagai tempat lalat berkumpul dan bertelur.

Ambing
Penampilan ambing pada sapi perah betina memiliki peranan penting.
Oleh sebab itu, diperlukan perhatian khusus sewaktu mengamati. Pada
pedet atau sapi dara yang belum bunting tidak mudah untuk ditafsirkan
dari penampilan ambingnya. Karasteristik tipe sapi perah dapat dilihat lebih
jelas pada sapi yang lebih dewasa atau bunting. Letak ambing tampak kokoh,
berisi dan serasi di bawah dinding perut bagian belakang, berada di antara
kedua kaki belakang yang memberi ruang lebar, mengarah dari belakang
ke depan sampai bawah perut. Ukuran besarnya ambing pada sapi bunting
tergantung usia kebuntingan. Bentuk ambing simetris. Puting besar, panjang,
menggantung silindris penuh, terletak simetris dan seragam. Jumlah puting
empat buah atau dua pasang, tidak lebih ataupun kurang. Venasusunya jelas
tampak di bawah perut mulai dari dekat pusar sampai ke ambing. Konsistensi
vena terasa halus dan lemas dalam rabaan. Sewaktu masih muda venanya
kecil, dan semasa laktasi berkembang dengan jelas menjadi besar, panjang,

Gambar 1.5 Kesehatan ambing merupakan faktor penting dalam menilai dan memilih
bibit yang baik untuk sapi perah

8 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


bercabang, dan berkelok-kelok. Walaupun sapi dalam mas a kering, tampilan
demikian tak banyak berubah, sehingga dapat dipakai sebagai pedoman dalam
melakukan seleksi. Pengamatan ambing lebih mudah dilakukan pada sapi
bunting atau laktasi, terutama pad a laktasi kedua atau lebih. Tampilan bagian
depan dan belakang sarna besar, dan tidak terlihat jelas batas keempat bagian
ambing. Besar ambing mengisyaratkan banyaknya air susu yang mampu untuk
ditampung di dalamnya, sehingga dapat diharapkan semakin besar ambing,
produksi susu yang dihasilkan akan semakin banyak.

Kemampuan Produksi
Menilai kemampuan produksi selain berdasarkan kriteria proporsi dan
potongan tubuh juga diperlukan informasi khusus atas dasar catatan produksi
termasuk riwayat nenek moyangnya. Untuk pedet atau sapi dara dapat dilihat
dari silsilah atau pedegree dan riwayat perkawinan nenek dan kakeknya.
Seleksi juga dikaji dari catatan produksi kerabat. Semakin lengkap catatan
produksi kerabat akan semakin mudah dalam menentukan perkiraan kinerja
berdasar genetik potensialnya. Penilaian juga dilakukan dengan mengetahui
riwayat semen pejantan yang digunakan dalam inseminasi buatan. Catatan
tentang hal ini tersimpan baik di tempat produsen semen.

BAKALAN PEJANTAN
Pejantan sapi atau pemacek diperlukan untuk perkawinan alamoApa bila
perkawinan cara IBkurang berhasil atau bila sapi betina tidak memperlihatkan

Gambar 1.6 Penampilan seekor sapi perah FH jantan yang dewasa dalam kondisi
sehat dan tegap dengan proporsi tubuh seimbang, punggung lurus,
tubuh kokoh berisi. Kondisi kulit bersih dan cerah (Anonim, 2011)

Bab 1 - Sapi Perah Bibit 9


gejala birahi sesuai seharusnya terjadi, maka salah satu cara untuk mengatasi
masalah ini dengan menggunakan sapi pejantan. Sapijantan dewasa sangat peka
mengenali betina yang sedang birahi dengan mencoba untuk menaikinya.
Pejantan yang dipakai untuk keperluan ini perlu diseleksi agar bila mengawini
betina akan menghasilkan keturunan yang baik. Ditinjau dari sasaran sebagai
penghasil susu, sifat baik pejantan sapi perah selain dinilai dari asal-usul yang
menurunkannya juga dapat dilihat dari kinerja anak betina keturunannya.
Untuk menilai produksi susu anak keturunannya, harus dilakukan "Progeny
Testing", atau uji keturunan. Upaya ini memerlukan ketekunan, ketelitian
dan waktu yang panjang. Namun untuk peningkatan kualitas peternakan
di mas a datang hal ini perlu dilakukan melalui pencatatan secara baik dan
dilakukan evaluasi.

Proporsi Tubuh
Berbeda dengan penilaian untuk sapi betina, terhadap kinerja sapi jantan
utamanya dilihat dari proporsi tubuh, dan status kesehatan yang prima.
Indikasi lain yang termasuk penting dalam penilaian adalah riwayat atau
silsilah keturunan dan kualitas sperm a melalui uji kesuburan. Sapi pejantan
yang baik diyakini akan menurunkan sifat yang baik pada anaknya.
Tubuh sapi pejantan tegap, gagah, lingkar dada besar dan proporsional.
Perototan kuat berisi, dada lebar dan perut berukuran besar memanjang. Kondisi
badan sehat, ditandai antara lain dengan: nafsu makan dan minum baik, kulit
halus, tak ada luka dengan bulu halus mengkilat dan mata bersinar.
1. Kepala. Ukuran kepala relatif besar dan pendek, seimbang dengan besar
tubuhnya. Untuk jenis sapi FH terdapat warna bulu putih di jidat berbentuk
segitiga. Mata besar bersinar, kelopak mata bersih dan moncong selalu
basah. Tulang rahang tampak kuat, nafsu makan dan minum baik. Telinga
panjang, sempit, tipis berambut halus
2. Punggung. Perototan punggung kokoh, lebar dan kuat, pinggang lebar.
Leher padat berisi, besar dan perototan kokoh. Dada bidang, jarak antara
setiap tulang rusuk dada lebar, berukuran besar dan panjang.
3. Kaki. Posisi kaki muka dan belakang simetris lurus, kokoh dan kuat,
jarak antara kedua paha kanan dan kiri, muka dan belakang lebar, cukup
terpisah. Bila berjalan langkahnya tegap, tidak pincang. Teracak kuat
tertutup rapat, pertumbuhan kuku normal, di antara belahan kuku pada
keempat kakinya bersih dan tidak luka.
4. Testis. Sebagai pejantan, penting untuk melihat testis sekiranya ada kelainan
secara fisikoKedua testis terlihat lengkap, keduanya berada simetris dan
tidak ada kelainan bentuk.

10 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Kesuburan
Pejantan juga dinilai dari derajat keberhasilannya dalam membuahi sel
telur betina yang antara lain juga dipengaruhi oleh kualitas sperm a pejantan.
Evaluasi dilakukan dengan mempelajari persentase keberhasilan sewaktu
mengawini sapi betina birahi. Kajian tentang kesuburan pejantan memerlukan
kecermatan dan waktu pelaksanaan yang panjang, karena diperlukan hasil
dari dikawinkannya dengan sapi betina yang ditunjuk.
a. Kemampuan membuahi sel telur. Pemacek yang fertilitasnya tinggi
adalah sapi jantan yang mampu membuahi sel telur dengan persentase
keberhasilannya tinggi. Angka kebuntingan sapi betina yang dikawini
tinggi merupakan salah satu indikator kesuburan pejantan yang baik.
b. Kesuburan. Tingkat kesuburan pejantan dapat dikaji melalui analisis catatan
keberhasilan setelah dikawinkan dengan berpuluh sapi betina dan dihitung
persentase keberhasilannya dalam mengawini betina produktif.

Uii Progeni
Untuk menilai kemampuan produksi susu anak keturunannya dan membantu
dalam seleksi sapi yang akan dibudidayakan lebih lanjut, dapat dilakukan
"Progeny testing". Yang dimaksudkan dengan Progeny testing adalah kegiatan
uji kualitas genetik. Sapi calon pejantan yang akan diuji diberikan perlakuan
sarna dengan sapi pembanding, misalnya terhadap jumlah dan frekuensi
pemberian pakan, keadaan lingkungan kandang, suasana pemeliharaan, cara
perawatan kesehatan dan lain-lain.
a. Melakukan uji progeni. Progeny testing dapat dilakukan sendiri di peternakan
yang dimiliki dengan cara memilih calon pejantan muda yang diarahkan
menjadi pemacek dengan umur sekitar dua tahun. Seekor calon pejantan
muda yang telah mendapat perlakuan, kemudian dikawinkan dengan
beberapa induk hasil seleksi yang telah diketahui berproduksi tinggi.
Pedet hasil keturunan dengan pejantan yang diuji kemudian dikaji tentang
kualitas dan kuantitas produksi susu yang dihasilkan.
b. Pengamatan. Hasil produksi susu rata-rata sapi dalam uji coba dilakukan
pengamatan dan dibandingkan dengan kelompok sapi perah lain sebagai
pembanding untuk dikaji keunggulan produksinya. Untuk memperoleh
objektivitas penilaian, kedua kelompok dalam pengamatan diberi
perlakuan dan perawatan yang sarna. Hasilnya direkam untuk analisis.
Cara demikian memerlukan waktu cukup lama tetapi menarik untuk
dilakukan tanpa menghambat kegiatan beternak secara keseluruhan, dan
hasilnya menjadi pedoman dalam menentukan kelayakan seekor pejantan
untuk dipertahankan sebagai pemacek.

Bab 1 - Sapi Perah Bibit 11


KESEHATAN
Kondisi rawan untuk kesehatan pedet adalah pad a umur sejak dilahirkan
sampai di bawah tiga bulan (Batilan). Kondisi setelah menginjak dewasa
sangat dipengaruhi oleh faktor perawatan termasuk pemberian nutrisi yang
baik, perawatan kesehatan serta faktor eksternal peternakan tentang riwayat
epidemiologi penyakit di daerah asal dan perawatan yang dilakukan sebelumnya
bagi pedet berasal dari luar lingkungan peternakan.

Faktor Perawatan
Pedet umur "di bawah tiga bulan" (Batilan) perlu memperoleh perhatian
untuk perawatan ekstra karena kondisinya yang masih lemah dan belum
memiliki daya kebal cukup untuk melawan infeksi walaupun memiliki antibodi
induk yang diturunkan. Untuk mencegah investasi cacing,dilakukan pemberian
obat cacing pad a umur 2-3 bulan. Infeksi jasad renik patogen, kecacingan dan
gangguan metabolisme pada pedet dapat melanjut ke kematian, atau setelah
tumbuh dewasa menyebabkan tidak tercapainya produksi optimal atau kinerja
reproduksi yang kurang baik sehingga banyak sapi yang harus dikeluarkan
dan lebih lanjut akan mengganggu perhitungan ekonomi usaha.

Ancaman Penyakit Hewan Menular


Ada banyak penyakit menular pada sapi yang harus diwaspadai karen a
bersifat endemis. Beberapa penyakit tersebut antara lain: penyakit anthrax,
penyakit ngorok atau septicemia epizootica, salmonellosis, ephimeral fever,
mallignant catarrhal fever, diare ganas dan sebagainya. Terhadap penyakit­
penyakit tersebut perlu kewaspadaan baik secara klinis maupun laboratoris.

Pengenalan Secara Klinis

Sapi yang sakit dapat diketahui dari gejala klinisnya. Pengujian klinis
tentang penyakit menular menjadi dasar awal dalam memilih bibit. Namun
demikian penyakit yang dalam stadium inkubasi sering lepas dari pengamatan
klinis. Kasusnya baru muncul setelah beberapa hari atau minggu kemudian.
Oleh sebab itu hewan yang baru masuk sebaiknya diasingkan terlebih dahulu
sebelum dibiarkan berkumpul dengan hewan yang sudah lama berada di
peternakan.

Pengenalan Secara Laboratoris

Di samping penyakit tersebut di atas, brucellosis merupakan suatu


penyakit yang perlu diwaspadai karena sang at menular dan secara klinis tidak
memperlihatkan gejala sakit, bahkan mungkin saja kelihatan segar bugar.

12 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Brucellosis baru dicurigai setelah mengakibatkan keguguran fetus dalam
kandungan atau dampak yang mengakibatkan mandul. Penyakit ini sangat
merugikan dari segi ekonomi usaha karena tidak dapat diobati dan sekali
terjadi keguguran maka harus menunggu waktu lama untuk kebuntingan
berikutnya, atau bila menjadi steril tidak dapat menghasilkan anak dan akibat
lebih lanjut tidak berproduksi. Setiap pembelian sapi bibit harus diyakinkan
bebas dari brucellosis dengan melakukan uji laboratorium, terutama di daerah
endemis. Pengujian dapat dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Hewan
atau Laboratorium Veteriner terdekat.

Pengaruh Endemisitas Penyakit di Daerah Asal atau Tuiuan


Hal iniberlaku bagi pedet yang dibeli dari daerah lain, atau impor. Perhatian
terutama ditujukan pada keberadaan penyakit endemi di daerah atau negara
asal sebagai pertimbangan pencegahan terhadap kemungkinan penyakit yang
terbawa masuk ke kawasan peternakan. Kewaspadaan juga ditujukan terhadap
keberadaan penyakit di daerah tujuan, mengingat sapi yang didatangkan
belum memiliki antibodi terhadap penyakit di temp at yang baru sehingga
kemungkinan diperlukan vaksinasi atau tindakan yang lain.

Pengaruh Bawaan karena Cacat Lahir


Abnormalitas bawaan dari kondisi tubuh seharusnya dihindari baik pada
pedet betina maupun jantan, terutama yang langsung berhubungan dengan
kinerja produksi susu. Sebagai contoh adalah ambing yang kecil, puting susu
berjumlah lebih atau kurang dari empat, besar kuartir susu tidak seimbang
antara kuartir kanan dan kiri serta muka dan belakang. Pada sapi pejantan
juga diwaspadai kemungkinan terjadi cacat kriptorkidi, monorkidi atau
hernia skrotalis. Cacat sejak lahir ini dapat dilihat melalui pemeriksaan testis
di skrotumnya. Sapi mengidap cacat lahir demikian tidak memenuhi syarat
untuk dijadikan pejantan.

Bab 1 - Sapi Perah Bibit 13


Bob
PERAWATAN SAPI DARA
2

Sapi dara adalah pedet menjelang dewasa yang berumur antara 6-18 bulan
atau sampai sapi tersebut siap untuk kawin. Sapi bunting untuk pertama kali
pun disebut sebagai dara bunting. Dalam waktu dua setengah tahun seekor
pedet yang lahir hams sudah memasuki kelompok sapi laktasi atau berproduksi
sebagaimana diharapkan. Untuk mencapai harapan tersebut peternak perlu
menerapkan tata laksana pemeliharaan dengan perawatan kesehatan dan
pemberian rangsum pakan yang baik sejak pedet sampai dara dan tumbuh
dewasa. Sapi dara dari pembesaran sendiri merupakan generasi baru yang
perlu memperoleh perhatian khusus untuk memperoleh calon pengganti
sapi induk yang ada dan hewan afkir dengan harapan terjadi peningkatan
produktivitas dan mutu hasil produksi.
Membesarkan pedet hasil keturunan sapi milik sendiri, di samping terjamin
perawatan sejak mulai lahir, juga jelas pencatatan silsilah keturunannya. Cara
demikian lebih efektif untuk memperoleh bibit yang baik bila dibanding
dengan pengadaan dari pasar atau dari peternak yang belum jelas riwayat
tetuanya. Catatan kinerja dan kesehatan sejak lahir merupakan data seleksi
pembesaran untuk peremajaan. Peremajaan harus diperhitungkan berdasar
siklus produksi ketika susu yang dihasilkan sudah mulai menurun pada
laktasi ke-6 sehingga perlu penggantian yang sudah tidak produktip atau
tidak efisien antara biaya pakan dengan produktivitas, hewan menderita sakit
parah atau mati. Peremajaan memerlukan proses yang lama dan oleh sebab
itu hams terencana dengan baik agar tidak mengganggu kelestarian usaha.
Ada banyak cara untuk melakukan seleksi, tetapi yang paling utama adalah
unsur keturunan dan tidak adanya cacat bawaan.

SELEKSI DARA CALON INDUK


Sapi dara sebagai calon induk hams dipilih secara selektif sejak lahir. Sering
akibat seleksi maka seekor hewan hams sudah disingkirkan sejak pedet belum
menginjak dewasa. Sapi dara yang terpilih kemudian diberikan perawatan dan

15
pakan yang bermutu dengan jumlah pemberian nutrisi disesuaikan berdasar
tingkat pertumbuhan, berat badan dan umurnya.
Catatan tentang produktivitas dan kesuburan reproduksi induk serta jenis
semen pejantan yang dipakai, menjadi acuan penting dalam memperkirakan
kualitas genetik. Anak keturunan sapi sendiri merupakan prioritas untuk
regenerasi, kecuali pada kebutuhan mendesak atau membeli dari peternak
yang memiliki catatan asal usul keturunan yang setara atau bahkan lebih baik
dari yang dimiliki. Hasil dari seleksi dicatat dan diana lisis untuk evaluasi
kesesuaian antara kriteria yang diharapkan dengan kenyataan yang diperoleh,
sebagai evaluasi dan penentuan program seleksi selanjutnya.

Seleksi Genetik
Ditingkatpetemak tidak sederhana menemukan pedoman untuk menentukan
atau meramalkan kinerja produksi yang nantinya akan dicapai oleh seekor
sapi dara bila dikemudian hari menginjak dewasa dan berproduksi. Salah
satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengetahui jenis atau bangsa
sapi dan sifat genetik yang ada. Untuk seleksi genetik harus dilihat baik dari
sisi induk maupun bapaknya.

Seleksi dari Jalur Induk


Pendataan harus dilakukan sejak awal pada waktu pedet lahir, dengan
mencermati catatan produktivitas dan reproduktivitas induk, dengan asumsi
bahwa induk sapi akan menghasilkan anak yang kurang-lebih sarna atau melebihi
induknya karena pengaruh dari jalur pejantan. Anak sapi yang tidak memenuhi
syarat sebagai calon induk penghasil susu yang baik, disingkirkan keluar dari
peternakan. Kegiatan demikian dilakukan secara rutin dan berkesinambungan
pada setiap individu hewan agar nantinya diperoleh keturunan yang baik.
Persyaratan atau penetapan kriteria dimaksudkan untuk menentukan perkiraan
produktivitas dan kinerja yang paling efisien dan menguntungkan.

Seleksi dari Jalur Bapak


Pertimbangan faktor genetik dari jalur bapak juga sangat penting dalam
memperoleh keturunan yang baik. Pencatatan tentang silsilah dan kualitas
semen diperlukan untuk pertimbangan kemungkinan hasil perkawinan sapi
yang diharapkan. Informasi tentang jenis pejantan asal semen pada straw
yang dipilih untuk IB dapat diperoleh dari produsennya. Unsur genetik
dapat dioptimalkan kualitasnya melalui perawatan yang baik, nutrisi cukup
dan seleksi kinerja sapi yang tepat agar diperoleh generasi sapi perah yang
berkualitas. Mutu genetik yang baik bukan merupakan satu-satunya jaminan

16 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


produktivitas bila tidak disertai pemeliharaan yang memenuhi persyaratan
sehat dan kecukupan nutrisi.

Seleksi Fisik
Kelainan fisik atau cacat lahir misalnya pedet memiliki puting susu lebih
dari empat harus dilakukan pemotongan pada puting yang tumbuh tidak
sempurna (rudimenter), bahkan dilakukan sejak pedet masih muda. Puting
demikian nantinya akan mengganggu sewaktu pemerahan. Penghilangan puting
ekstra dapat dilakukan paling baik bersamaan dengan sewaktu pemotongan
tanduk atau paling tidak sebelum pedet berumur 6 bulan. Caranya dengan
mengikat erat puting sebelum kemudian dipotong dan dilakukan disinfeksi
dengan yodium tinctura.
Kelemahan fisik lainnya pada sapi dara atau kurang proporsional penilaian
tampilan tubuh yang diperkirakan akan berpengaruh pada produktivitas
sebagai induk sapi perah nantinya, perlu dihindari semaksimal mungkin
dengan mempertimbangkan untuk dikeluarkan sebagai calon induk.

Seleksi Kineria
Anak sapi yang tidak memenuhi syarat sebagai calon induk penghasil
susu yang baik, disingkirkan keluar dari peternakan. Kegiatan demikian
dilakukan secara rutin dan berkesinambungan agar pada akhirnya diperoleh
keturunan sapi yang memenuhi kriteria baik. Persyaratan atau penetapan
kriteria dimaksudkan untuk menentukan hasil produksi dan kinerja yang
paling efisien sehingga menguntungkan secara ekonomi dengan hasil produksi
yang memenuhi harapan. Upaya yang sarna dilakukan seleksi untuk memilih
kinerja pejantan, bagi peternakan yang memerlukannya.

MANAJEMEN PAKAN
Rangsum pakan sapi dara memiliki peranan penting dan nilai yang
strategis karena berada dalam situasi pertumbuhan yang cepat dan dengan
status pembentukan fisik anatomi, fisiologi serta perkembangan hayati yang
mendukung fungsinya sebagai hewan perah. Pemberian pakan untuk sapi
dara merupakan kelanjutan dari pemeliharaan pedet terutama setelah habis
sapih pada minggu ke-l1. Di samping nalurinya sebagai pembawa unsur
keturunan atau sifat genetik yang dimiliki dari jalur nenek atau induk, sapi
dara juga dapat ditingkatkan potensinya dengan perawatan serta pemberian
pakan dengan nutrisi yang baik dan berkualitas sejak menjelang mas a birahi,
bunting untuk pertama kalinya, sampai saatnya beranak.

Bab 2 - Perawatan Sapi Dara 17


Ketika sapi dara dipindahkan dari kelompok pedet setelah mas a sapih.
Kelompok mereka diselaraskan dengan ukuran kandang dalam kelompok
kecil sesuai berat badan agar tiap hewan memperoleh pakan hijauan dan
konsentrat secara cukup dalam setiap kelompok. Dengan adanya variasi
umur jenis kelamin dan tingkat pertumbuhan dalam satu kelompok hewan
diperlukan pencatatan individual dan analisis prakiraan perkembangan tubuh
yang sesuai standar kelayakan usaha.
Rangsum pakan sapi dar a hams diberikan dengan kandungan nutrisi yang
berimbang agar diperoleh rataan pertumbuhan cukup untuk mempertahankan
kondisi tubuh yang harmonis dengan pencapaian berat dan tinggi badan yang
diharapkan serta tercapai harapan produksi susu optimal. Perawatan sapi dar a
hams mampu mengantisipasi laju pertumbuhan ragawi yang dinamis sesuai
umur dan tingkat perkembangan hayati dari setiap individu atau kelompok.
Perawatan sapi dara dewasa diarahkan pad a pembentukan kondisi tubuh
dan kesehatan prima menjelang produksi, dan merupakan tahap awal untuk
tumbuh dan berkembang sehingga siap sewaktu bunting, melahirkan dan
berproduksi.

Pakan Pedet Umur 12 Minggu sampai 1 Tahun


Dalam periode ini sapi diberikan pakan hijauan dan konsentrat. Jumlah
konsentrat dan kandungan proteinnya ditentukan dari kualitas hijauan yang
diberikan. Penggembalaan di padang rumput sangat membantu dalam program
pemberian pakan namun tidak dapat memenuhi semua unsur yang dibutuhkan
bagi pembentukan tubuh pedet secara sempurna. Pemberian konsentrat yang
tepat sangat membantu dalam menjaga keseimbangan kebutuhan nutrisi.

Pemberian Konsentrat

Selama program pemberian pakan sapi dara, hindari konsentrat yang


berlebihan atau membiarkan pedet menjadi terlalu gemuk. Kondisi berlebihan
pada sapi dara menghasilkan lebih sedikit susu dalam akhir kehidupannya
dibanding yang diberi nutrisi yang moderat. Periode kunci dalam perkembangan
kelenjar ambing adalah antara umur 3-9 bulan. Pada periode ini kelenjar
ambing tumbuh 3,5 kali lebih cepat dari jaringan tubuh. Sapi dara yang diberi
pakan konsentrat tinggi pada masa pedet sampai dewasa membentuk jaringan
sekretori kelenjar ambing sedikit lebih baik dibanding ketika dipiara dalam
kondisi rata-rata pakan untuk normal pertumbuhan. Penggemukan dara
menjelang dewasa menimbulkan efek penghambat perkembangan sekretori dan
perubahan rangsangan hormonal pertumbuhan kelenjar ambing. Peningkatan
rata-rata pertumbuhan untuk dara umur 15bulan dan lebih tua tidak banyak
berpengamh pad a jaringan kelenjar ambing.

18 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Protein dalam Diet

Tingginya level protein dalam diet antara 14-16% dapat membantu


melindungi kondisi berlebihan ketika sapi dara diberi makan diet tinggi energi.
Apabila kandungan protein hijauan baik, hanya diperlukan sedikit suplemen
protein dalam campuran konsentrat. Campuran konsentrat yang diperuntukkan
kelompok laktasi dapat digunakan pada sapi dara sepanjang cocok kandungan
mineral dan vitamin. Monensin dapat diberikan dalam rangsum pada sapi
dara untuk meningkatkan kondisi susunan konsentrat.

Pakan untuk Sapi Dara Umur 1 Tahun sampai Masa Bunting


Sapi dara harus dapat mencapai tingkat pertumbuhan fisik rata-rata
0,75-1,1 kg tiap hari. Apabila pertumbuhan kurang memuaskan hams diimbangi
dalam pemberian konsentrat, tetapi biasanya konsentrat untuk sapi dara tidak
banyak yang diperlukan. Seiringdengan perhatian pada tingkatpertumbuhan fisik,
diperlukan juga perlakuan yang sepadan dengan tingkat perkembangan organ
reproduksi sehingga tepat waktu penetapan perkawinan sapi,pengaturan ransum
dalam masa laktasi, penentuan masa kering, persiapan kondisi menghadapi
proses kelahiran dan perencanaan kebuntingan berikutnya.

Pakan Hijauan Berkualitas

Sapi dara yang digembalakan di padangan dengan rumput yang bagus


kualitas nutrisi, biasanya tidak memerlukan konsentrat. Pakan hijauan dengan
kualitas baik, mungkin sudah cukup nutrisi sebagai pakan dara umur lebih
dari satu tahun. Imbuhan garam mineral dan kalsium fosfat dapat diberikan
dalam sediaan pilihan bebas. Begitu padangan mengering, atau telah terlalu
berlebihan di rumput, mungkin diperlukan konsentrat dan imbuhan pakan
yang lain sebagai tambahan. Sapi dara yang kekurangan energi, fosfor atau
vitamin A tidak akan mengalami birahi.

Pengaruh Pakan terhadap Pertumbuhan dan Masa Birahi

Pertumbuhan yang kurang baik juga akan berpotensi membuat kesulitan


beranak. Birahi pertama pada sapi dara dipengaruhi oleh kombinasi dari
besar dan berat sapi, terutama oleh berat. Sebagai pedoman umum bahwa
sapi dara akan memperlihatkan estrus pertama sewaktu mencapai 40% dari
ukuran berat sapi dewasa, yang seharusnya dapat dicapai sebelum umur 12
bulan. Kelebihan pakan atau pakan di bawah standar dapat memengaruhi
kelancaran siklus birahi.
1) Pemberian pakan di bawah standar. Pertumbuhan pada sapi dewasa
akan terhambat dan birahi pertama akan tertunda bila diberi pakan di
bawah standar. Akibatnya maka saat perkawinan akhirnya akan tertunda

Bab 2 - Perawatan Sapi Dara 19


sampai sapi tumbuh dengan ukuran ideal. Sapi dara dengan pemberian
pakan di bawah standar mungkin terjadi ovulasi tetapi tanda birahi akan
tertekan. Dalam kondisi pertumbuhan yang baik dan pencapaian berat
yang memuaskan akan lebih jelas mas a birahinya dan rataan konsepsi
tercapai lebih baik dibanding yang kekurangan nutrisi.
2) Kelebihan pemberian pakan. Kondisi pertumbuhan berlebihan atau terlalu
gemuk memerlukan rerata interval konsepsi lebih panjang dibanding
kondisi berat yang normal. Untuk sapi dara dengan pemberian pakan
sampai pada tingkat kondisi terlalu gemuk dapat menyebabkan masalah
pad a perkembang biakan dan kesulitan waktu melahirkan. Pemberian
pakan yang tinggi energi tetapi rendah protein sebelum mencapai pubertas
dapat menyebabkan penyusupan lemak ke kelenjar ambing yang pada
saatnya dapat menghambat pertumbuhan jaringan sekretori ambing, dan
akan menghambat kapasitas kemampuan produksi susu.

PAKAN UNTUK DARA BUNTING SAMPAI MENJELANG MELAHIRKAN


Sapi bunting memerlukan persiapan tubuh dengan perototan yang kuat
dalam memelihara kesehatan ragawi dan menghadapi kelahiran anaknya,
Terutama pada kebuntingan tua pertumbuhan fetus meningkat dan memerlukan
banyak nutrisi yang berkualitas.

Pakan Sapi Dara Bunting


Sebagai persiapan kondisi fisik dan fisiologis sapi maka beberapa bulan
menjelang melahirkan pemberian pakan konsentrat ditingkatkan agar
kebuntingan terjaga dengan baik sampai proses melahirkan. Sapi juga perlu
dilepas di padang rumput dalam beberapa jam dengan tujuan memberi
kesempatan untuk bergerak dan merumput, terutama di waktu pagi. Pada
sapi FH lama kebuntingan rata-rata adalah 278-279 hari.

Pakan Sapi Menielang Melahirkan


Penambahan konsentrat perlu sedikit ditingkatkan selama 2-3 minggu
sebelum melahirkan agar kondisi tubuh siap menghadapi proses kelahiran.
Tindakan menambah pakan konsentrat pad a 2-3 minggu sebelum melahirkan
perlu dilakukan dan perlakuan ini disebut "challencefeeding". Apabila kualitas
hijauan yang diberikan kurang baik, konsentrat diberikan sekitar 3-4 kg/ekor/
hari. Namun bila hijauan yang diberikan berkualitas baik maka konsentrat
yang diberikan cukup sekitar 2-3 kg/ekor/hari.

20 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


POLA PEMELIHARAAN SAPI DARA

Pemeliharaan sapi dara umumnya lebihbanyak mengikuti pad a ketersediaan


lahan. Suatu petemakan yang berlokasi di tempat yang masih memiliki padang
rumput luas, untuk sapi dara lebih disukai menggunakan cara pemeliharaan
ekstensif. Sebaliknya untuk lahan petemakan yang serba terbatas umumnya
dilakukan secara intensif, atau campuran dari kedua sistem pemeliharaan.

Pemeliharaan Ekstensif
Di daerah atau negara dengan populasi penduduk terbilang kedl atau
masih jarang dan area petemakan masih luas, umumnya petemakan sapi
perah dilakukan secara ekstensif terutama pada sapi dara. Sapi dilepas bebas
di padang rumput dengan dikendalikan faktor kecukupan nutrisinya. Pada
saat bunting tua mendekati kelahiran anak dan masa laktasi, sapi mulai
dikandangkan untuk memudahkan pengawasan dan penanganannya. Sistem
umbaran dilakukan sampai saatnya harus dikawinkan. Namun demkian,
perlu memperoleh perhatian bahwa cara pemeliharaan ini harus disertai
program perawatan ketersediaan rumput yang berkualitas dipadangan untuk
memastikan sapi-sapi tersebut memperoleh nutrisi yang memadai.

Gambar 2.1 Pemeliharaan sapi dara cara ekstensif, dilakukan di kawasan yang memiliki
kecukupan lahan dengan padang rumput luas (Nestle, 2010)

Pemeliharaan Intensif
Pemeliharaan sapi perah di Indonesia masih sebagian besar berada di
Jawa yang luasan lahannya sempit sehingga umumnya menggunakan cara
pemeliharaan intensif. Sapi tetap tinggal di kandang untuk sebagian besar atau

Bab 2 - Perawatan Sapi Dara 21


seluruh waktu hidupnya sedangkan pakan disiapkan oleh petemak dengan
mencarikan pakan hijauan dan tambahan konsentrat. Di luar J awa luasan lahan
masih banyak tersedia, tetapi petemakan sapi perah masih belum berkembang
luas, dan dalam praktik kalaupun ada masih dipiara secara intensif. Dengan
pola pemeliharaan intensif sapi memperoleh perlakuan secara rutin dan
teratur setiap saat mulai dari pemberian makan dan minum, waktu kawin dan
perawatan. Sebaiknya setiap hari diusahakan untuk melepaskan di padang
rumput selama (2-3) jam untuk memperoleh sinar matahari dan kesempatan
bergerak bebas. Sebelum dilepas sapi dimandikan terlebih dahulu. Setelah
dara dalam kondisi bunting melahirkan dan memasuki mas a laktasi umumnya
sapi perah dipiara secara intensif agar mudah perawatannya terutama pada
saat-saat diperah.

Gambar 2.2 Untuk perawatan sapi dara secara intensif dilakukan berkelompok
dalam kandang dengan penempatan berdasar berat badan dan umur

Pemeliharaan Semi Intensif


Pemeliharaan semi intensif menggunakan cara gabungan antara keduanya,
yaitu sapi dipiara dan disediakan pakan di dalam kandang, dan dalam waktu­
waktu tertentu dilepas di padang penggembalaan atau temp at umbaran.
Umumnya sapi dara dipiara di kandang kelompok sesuai umur untuk
memudahkan perawatan, dan bila ada yang sudah mulai birahi dapat lebih
mudah untuk dideteksi berdasar perilakunya berusaha naik di punggung
temannya.
Cara pemeliharaan semi intensif masih memerlukan sedikit area untuk
melepas sapi, dan kualitas pakan dikendalikan dengan baik terutama saat berada
di kandang kelompok. Keuntungan dengan cara semi-intensif memberikan
kesempatan hewan untuk bergerak, berjemur dan latihan otot secara rutin

22 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


dan teratur sehingga tetap terjaga kesehatannya. Sementara sapi dilepas
di pangonan, kandangnya bisa dibersihkan dan dibiarkan kering sehingga
lingkungan menjadi lebih sehat dibanding kandang yang terus-menerus basah
oleh tinja dan siraman air seni sapi.

NUTRISI DAN KESEHATAN


Dengan pemeliharaan secara intensif dibutuhkan pengaturan perawatan
dan pemberian pakan secara tepat untuk menjamin kecukupan nutrisi dan
kondisi kesehatan yang memadai sesuai tuntutan kebutuhan pertumbuhan
hayati dan harapan kapasitas produksinya. Hal ini berarti bahwa kesehatan,
kesejahteraan dan produktivitas sapi sangat tergantung dari bagaimana
peternak merawat sapinya.

Nutrisi
Sapi dara betina termasuk kelompok sapi muda yang laju pertumbuhannya
berlangsung cepat melebihi sapi yang lebih dewasa. Sapi bunting harus
memperoleh nutrisi cukup sehingga memenuhi tuntutan kebutuhan tubuh
dan anak yang dikandungnya, mampu berproduksi optimal serta persiapan
menghadapi kelahiran anak.
Protein sangat penting dalam diet sapi dara yang sedang tumbuh untuk
meyakinkan kecukupan ukuran kerangka tubuh, tinggi badan dan pertumbuhan.
Menghindari sapi pendek dengan menyeimbangkan pakan termasuk kecukupan
crude protein.

Kesehatan
Kesehatan reproduksi sapi merupakan faktor penting pada budi daya sapi
perah, karena besar pengaruhnya pada kinerja produksi susu dan keberhasilan
pemuliabiakan. Ternak untuk jangka panjang. Dalam kawasan peternakan
harus diupayakan semaksimal mungkin bebas dari penyakit brucellosis. Untuk
pemeliharaan ekstensif, yaitu hewan dilepas bebas di area padang rumput
yang luas maka perlu dilakukan deworming dua kali dalam setahun.

HIJAUAN DAN KONSENTRAT


Pertumbuhan sapi dara akan menjadi baik bila hijauan pakan dan konsentrat
diberikan secara seimbang. Artinya bahwa pakan yang diberikan memiliki
kandungan nutrisi cukup, berkualitas dan sesuai dengan tahapan kebutuhan
dalam setiap perkembangan anatomi dan fisiologinya.

Bab 2 - Perawatan Sapi Dara 23


Fungsi Rumen dan Alat Pencernakan yang Lain
Secarafisiologissapi dara sehat memiliki nafsu makan yang baik dan mampu
mencerna hijauan secara optimal karena ditopang oleh tingkat perkembangan
rumen sebagai organ lambung terbesar dan peranan alat pencernaan lainnya
yang semakin aktif. Menginjak saat sapi berumur 12bulan volume konsumsi
rumput harus ditingkatkan agar pertumbuhan menjadi semakin baik dan siap
menghadapi mas a birahi serta kebuntingan.

Formulasi Pakan
Terhadap sapi yang dipiara secara intensif, pakan yang diberikan terdiri
atas hijauan dan konsentrat dengan campuran berbagai bahan pakan antara
lain: jagung giling, dedak halus, brand pollard, bungkil kelapa, bungkil sawit,
bungkil kacang tanah, tetes, dan bahan baku lainnya. Peternak tertentu juga
memanfaatkan limbah industri produk pertanian skala kedl seperti: onggok,
ampas tahu dan kulit kedelai. Bahan pakan rumput atau leguminosae diberikan
kira-kira 10% dari berat badan. Sedangkan untuk pakan penguat diberikan
2-3 kg per ekor yang diberikan 2 kali sehari.

Konsentrat Tambahan
Kualitas rumput yang tumbuh di daerah tropis rata-rata tidak sebaik
rumput di daerah subtropis. Untuk memelihara laju kinerja pertumbuhan
sapi dara di daerah tropis perlu diberikan tambahan pakan konsentrat sejak
umur 12 bulan dengan pemberian sekitar satu kg konsentrat/lOO kg berat
badan/ekor/hari. Apabila hijauan diberikan secara bebas dan dengan kualitas
baik maka jumlah konsentrat yang diberikan dapat dikurangi agar sapi dara
tidak menjadi terlalu gemuk.

PENGARUH MUSIM
Berbeda dengan negara subtropis yang memiliki 4 musim, Indonesia
adalah negara tropis yang memiliki 2 musim. Sapi adalah hewan memamah
biak yang mebutuhkan banyak pakan hijauan sehingga faktor musim sangat
penting dalam upaya menjamin kecukupan makanan bagi ternak piaraan.
Pada musim penghujan tidak terlalu sulit untuk mendapatkan rumput atau
hijauan, tetapi pada musim kemarau masalah pakan hijauan memerlukan
pengaturan yang lebih baik.
Pada musim kemarau panjang, sapi sering kesulitan memperoleh hijauan
segar. Adakalanya sapi harus diberi hijauan awetan misalnya dalam bentuk
hay, silase atau jerami kering.

24 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Antisipasi Dampak Kemarau Paniang
Untuk mengantisipasi dampak kurang menguntungkan karen a kemarau
panjang sehingga pemberian pakan yang kurang baik kualitasnya karena
kelangkaan hijauan segar dan terpaksa sapi hanya diberi jerami kering, sebagai
kompensasinya volume pakan penguat yang kandungan gizinya telah diatur
dalam keadaan tinggi harus ditingkatkan jumlah pemberiannya.

Musim Penghuian
Pada musim penghujan, kebutuhan pakan hijauan lebih mudah diperoleh
dan dalam kondisi nutrisi yang baik. Sebagai persiapan datangnya musim
kemarau kelebihan rumput dapat dijadikan silase atau hay. Kualitas hijauan
di musim penghujan juga lebih baik dibanding dengan hijauan di musim
kemarau. Namun demikian pembuatan hay di musm penghujan memerlukan
pengaturan khusus karena terkendala dengan berkurangnya kesempatan
memperoleh sinar matahari yang diperlukan.

MANAJEMEN REPRODUKSI
Dalam pemeliharaan sapi perah, manajemen reproduksi merupakan kegiatan
yang sangat fital, bahkan kegagalan dalam hal ini dapat secara langsung
maupun tidak langsung berimbas pada kelestarian usaha. Dari sisi sapi dara,
keberhasilan reproduksi terutama diawali sejak mulai munculnya tanda birahi
dan penanganan seterusnya untuk kawin, terjadi konsepsi, kebuntingan dan
kelahian pedet.

Pengamatan Birahi
Sapi dara yang telah dewasa mulai dilakukan pengamatan siklus birahi.
Gejala birahi diamati melalui perubahan pada kelaminnya yang menunjukkan
perubahan kemerahan, bengkak, mengeluarkan lendir jemih, menjadi gelisah,
bila berkumpul berusaha menaiki temannya dan nafsu makan berkurang.

Awal Birahi pada Sapi Dara


Dengan pemberian ransum pakan yang baik sapi dara telah akan
menunjukkan tanda birahi pertama pada umur 9-10 bulan. Namun bila nutrisi
pakan kurang berkualitas maka gejala birahi dapat menjadi mundur sampai
umur 20bulan atau lebih. Kalau hal ini terjadi berarti suatu kerugian ekonomi
usaha. Rata-rata gejala birahi pertama pada sapi dara FH mulai terjadi pada
umur 12bulan. Namun demikian meski sapi telah menunjukkan tanda birahi
pertama, secara kedewasaan anatomi belum cukup siap untuk dikawinkan

Bab 2 - Perawatan Sapi Dara 25


atau dilakukan lB. Oleh sebab itu, sebaiknya sapi dara dikawinkan setelah
gejala birahi kedua.

Pencatatan Birahi
Untuk ketertiban manajemen reproduksi perlu dilakukan pencatatan
secara tertib mulai sapi memperlihatkan gejala birahi pertama sehingga dapat
dideteksi perkiraan birahi berikutnya dan kapan hams dilakukan [Link]
dilakukan sepanjang hidupnya untuk evaluasi selang kelahiran dan dinamika
tingkat pencapaian produksi. Catatan siklus birahi individual sapi sangat
penting sebagai data dasar dilakukan seleksi dari sisi reproduksi.

26 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Bob
PERAWATAN SAPI LAKTASI
3
Sapilaktasiadalah sapibetinainduk sewaktumulai menyusui pascamelahirkan,
dan seterusnya aktif memproduksi susu hingga akhirnya berhenti. Sewaktu
masa laktasi di dalam tubuh sapi terjadi perubahan tuntutan kebutuhan rutin
rangsum pakan harian dibanding sebelumnya karena untuk memproduksi
susu diperlukan kecukupan pakan dan nutrisi yang berkualitas sebagai
konsekuensi peningkatan aktivitas dan memenuhi kebutuhan organ kelenjar
ambing yang dirangsang oleh hormon secara berkesinambungan sepanjang
masa laktasi. Periode laktasi adalah waktu antara hewan melahirkan anak
sampai saat berhenti memproduksi air susu, sehingga memerlukan perawatan
secara khusus untuk memperoleh hasil yang optimal. Periode berhentinya
produksi susu disebut dengan mas a kering.

DINAMIKA MASA LAKTASI


Masa laktasi yang pertama dalam kehidupan seekor sapi induk dimulai
sejak mulai beranak. Peristiwa ini akan dialami sebagai suatu siklus berulang
dalam kehidupan hewan betina secara berkesinambungan, selama organ
reproduksi masih aktif. Segera setelah melahirkan, induk sapi akan mulai
mengeluarkan susu. Air susu yang pertama keluar memiliki karakteristik
berbeda dengan air susu bias a, tetapi dalam bentuk cairan susu khusus yang
disebut dengan "kolostrum Cairan kolostrum ini keluar dalam jumlah yang
fl.

relatif sedikit bila dibandingkan dengan nantinya sewaktu berproduksi susu.


Dalam satu periode laktasi, secara bertahap produksi akan meningkat cepat
dan terus berlanjut sampai pada saatnya secara perlahan turun dan menjadi
kering atau berhenti produksi. Kenaikan produksi terjadi karena dipengaruhi
oleh hormon yang berperan dalam laktasi, tetapi kemudian akan menurun
karena sapi bunting lagi sehingga secara bersamaan telah mulai aktif hormon
yang berperan untuk memelihara kebuntingan sehingga secara otomatis
akan menghambat stimulasi produksi air susu. Peningkatan produksi akan
mencapai puncak pada bulan ke-l sampai bulan ke-3 dari satu masa laktasi

27
(Gambar 3.1) dan kemudian turun pada pertengahan laktasi, serta istirahat
pad a masa kering. Bentuk kurve laktasi akan berbeda dari individu ke individu
dan dari spesies ke spesies hewan tetapi kesemuanya terdapat kemiripan
dengan kecenderungan produksi semakin meningkat untuk laktasi ke-2 dan
laktasi ke-3 sepanjang harapan hidupnya, kemudian akan terjadi penurunan
sampai berhenti produksi.
Pengaturan pakan dalam penyediaan nutrisi dan ketertiban perawatan
juga berpengaruh dalam produktivitas hasil susu pada saat laktasi. Secara
ideal, satu periode laktasi berlangsung selama 305hari atau lebih dan diakhiri
dengan dua bulan masa kering menjelang kelahiran pedet. Pada saat sapi
laktasi semaksimal mungkin harus dikurangi berbagai kondisi lingkungan
yang dapat menyebabkan terjadinya stres karena cuaca, suara, perlakuan atau
berkurang kenyamanannya terutama pada saat sapi sedang diperah.

o 5 6 7 8 9< 10 11

t BULAN
BERANAK

Gambar 3.1 Kurve kapasitas produksi susu pada siklus masa laktasi ke-1, ke-2 dan
ke-3 sejak melahirkan sampai bulan ke-lO dan dua bulan masa kering
(Hasan dan Voisin, 1999)

Dalam satu siklus, dapat dibedakan adanya empat fase terkait dengan
hasil produksi susu mulai dari saat laktasi aktif yaitu: (1) awal dan puncak
laktasi sewaktu mulai menghasilkan susu sampai pada produksi tertinggi;
(2) pertengahan laktasi atau laktasi tengah, yaitu sewaktu hasil produksi sudah

28 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


mulai menurun tetapi masih berada dalam pencapaian hasil rata-rata; (3) masa
akhir laktasi sewaktu produksi sudah semakin menurun landai hingga saatnya
berhenti dan memasuki masa kering. Selanjutnya sebagai kelanjutan siklus
adalah sewaktu tidak aktif laktasi yaitu (4) masa kering di mana selama fase ini
sapi istirahat dan tidak lagi menghasilkan susu. Masa kering ini diupayakan
terjadi atau dilakukan pada kurun waktu 2 bulan menjelang melahirkan. Di
setiap fase dalam siklus laktasi, susu yang dihasilkan memiliki karakteristik
kandungan nutrisi yang berbeda, terutama terhadap kadar protein dan lemak
sehingga perlu adanya antisipasi dengan pemberian nutrisi pakan yang
dibutuhkan oleh tubuh hewan tercukupi agar selaras antara hasil produksi,
nutrisi susu dan pengaruh pertumbuhan fetus dalam masa kebuntingan.

Awal dan Puncak Laktasi


Pada tahap-I, awallaktasi dimulai segera setelah sapi melahirkan, diawali
dengan keluarnya kolostrum selama 2-3 hari, dan selanjutnya pengeluaran
air susu. Terjadi perubahan fisiologi yang mencolok dalam tubuh sapi dengan
diawalinya produksi susu dan disusul peningkatan produksi. Faseini merupakan
saat paling kritis ketika ambing mulai menghasilkan susu dan dengan cepat
akan naik produksinya hingga mencapai puncak dalam suatu tahapan mas a
laktasi dan kemudian secara perlahan akan terjadi penurunan. Awal dan
puncak laktasi ini umumnya berlangsung pada periode laktasi bulan ke-I-3
setelah beranak.
Pada periode awallaktasi, produksi susu diusahakan secepatnya meningkat
hingga puncak produksi kurang lebih dicapai dalam waktu 4-8 minggu setelah
beranak. Pada saat ini asupan pakan rutin tidak dapat mengejar kebutuhan
nutrisi yang diperlukan untuk produksi susu, terutama dalam hal kebutuhan
energi, dan sebagai kompensasi maka jaringan tubuh akan dimobilisasi,
sehingga wajar bila pada periode awal setelah sapi beranak terjadi penurunan
berat badan (Gambar 3.2).
Sampai dengan 70 hari setelah melahirkan, sapi memerlukan perhatian
khusus karena pada kurun waktu tersebut hewan berada dalam kondisi
puncak aktivitas produksi. Apa bila dalam mas a puncak produksi diperoleh
hasil yang kurang dari yang seharusnya dicapai, maka rendahnya hasil puncak
produksi pada fase ini akan berdampak rendah pula pencapaian produksi
selama laktasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa kehilangan 0,5 kg susu
pada puncak produksi setara dengan kehilangan 110 kg dalam seluruh hasil
satu periode laktasi.

Rangsum Pakan pada Masa Laktasi


Penyesuaian rangsum sapi untuk mas a laktasi dengan meningkatkan
kualitas nutrisi merupakan langkah manajemen terbaik. Untuk mengantisipasi

Bab 3 - Perawatan Sapi Laktasi 29


agar penurunan berat badan tidak terjadi seeara drastis, maka pemberian
konsentrat sebaiknya ditambah 0,5--1kg per hari, tetapi diupayakan tidak sampai
berlebihan misalnya di atas 50% total bahan kering. Pemberian konsentrat
melebihi dari 50% di atas total bahan kering bahkan dapat menyebabkan
gangguan metabolisme berupa asidosis dan berpengaruh pula pada persentasi
kandungan lemak susu menjadi rendah.
1) Pemberian serat kasar. Kandungan serat kasar dalam rangsum harus
berada di atas 15%untuk memfasilitasi keberlangsungan proses fermentasi
di dalam rumen. Sapi diberi hijauan yang memiliki kualitas nutrisi tinggi.
Pemberian protein dalam rangsum dipertimbangkan dengan jumlah dan
kualitas hijauan yang diberikan pada saat itu. Protein yang diberikan
diupayakan berasal dari unsur protein yang bersumber bahan baku alami.
Ruminasi dan proses peneemaan normal akan dipertahankan bila lebih dari
20% hijauan dipotong dengan ukuran rata-rata 5 em atau lebih panjang.
Pakan yang halus berupa serbuk atau bentuk pelet akan menurunkan
efektivitas rangsangan ruminasi.
2) Pemberian konsentrat. Tingkatkan pemberian konsentrat seeara konstan
segera setelah sapi beranak dengan kandungan energi tinggi. Pemberian
ekstra 0,5 kg konsentrat (1 kg kedelai + bahan lain) bagi setiap 5 liter susu
yang dihasilkan oleh sapi dengan kemampuan produksi 25 liter per hari
atau lebih merupakan praktik pemberian substitusi yang efisienkarena pada
saat produksi meningkat biasanya sapi kehilangan keseimbangan energi.
Pemberian dilakukan seeara bertahap, karena peningkatan perubahan yang
terlalu eepat dapat berdampak pada penurunan nafsu atau penolakan
makan, dan berisiko terjadi asidosis atau displasia abomasum.

Pakan Tantang

Pada saat menjelang atau awallaktasi, hewan akan mengalami perubahan


tuntutan nutrisi yang meningkat seeara spontan. Pemberian konsentrat tertentu
sebagai pakan tantang dilakukan apabila diperkirakan sapi telah mengalami
kekurangan nutrisi pakan untuk diberikan pada saat sebelum dan sesudah
melahirkan.
1) Pemberian sebelum sapi melahirkan. Dua minggu sampai tiga minggu
sebelum melahirkan sapi diberi pakan tantang (challence feeding). Untuk
menjamin kondisi kesehatan yang baik antara lain perlu diperhatikan
imbangan nutrisi pakan yang dibutuhkan terutama kalsium. Pada masa­
masa ini kondisi sapi sangat kritis dan sering terjadi defisiensi kalsium.
Keadaan demikian dapat muneul dan terjadi seeara serius sewaktu atau
setelah sapi melahirkan dan dapat berakibat fatal.
2) Pemberian setelah sapi melahirkan. Setelah kelahiran pedet, induk sapi
diberikan konsentrat tan tang dengan takaran rangsum maksimum yang
bisa dimakan, tanpa mengurangi hijauan pakan di bawah 40-60% total

30 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


bahan pakan kering. Perlakuan ini diteruskan sampai mencapai puncak
produksi atau 10 minggu setelah beranak.

Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4


Prod u ksi susu 35
(kg) I
25 I
I
15 I I I
10 I I

LA>m~~~usu !'2,~1··,··
~T.-, i i 1..·..····..
,,···1
I
Makanan kering 3 ~ .I »> -. 4-. I
di konsumsi '
20"
,.'" I
I
I -..•" ......
I .-~ I
I

2'4 I I 1- -.
% berat badan' I I 1- ...-
(kg) 600 I j_ _ -- -- ...- I
--r- I I
550 I I I
o 4 8 12 20 24 32 36 44 52
Masa lak1asi (minggu)

Gambar 3.2 Tahapan laktasi dengan dinamika perubahan pada produksi susu,
presentasi lemak susu, pakan kering dikonsumsi dan berat badan.
(Hutjens dkk., 1977;Soetamo, 2006)

Laktasi Tengah
Pada tahap-2 atau laktasi tengah, yaitu minggu ke-1O-20setelah beranak,
sapi diusahakan agar supaya capaian produksi berlangsung selama mungkin
dengan memberi asupan nutrisi yang baik dan berkualitas. Pada periode
laktasi tengah ini terjadi konsumsi bahan kering yang meningkat dan paling
banyak, yaitu pada minggu ke-12 sampai minggu ke-14 pascamelahirkan.
Bahan kering hijauan yang dimakan paling sedikit sebanyak 1% berat badan
sapi, yang fungsinya terutama adalah untuk memelihara fungsi rumen dan
kandungan lemak. Pada fase ini sering terjadi gangguan penurunan produksi,
kadar lemak susu rendah, birahi tidak terdeteksi atau semu. Untuk perkuatan
kondisi hewan dalam fase laktasi tengah perlu diperhatikan hal-hal terkait
dengan penyediaan pakan termasuk konsentrat dan penanganan reproduksi
sebagai berikut.

Bab 3 - Perawatan Sapi Laktasi 31


Penyediaan Pakan

Pada umumnya dalam bulan ke-3, ke-4, ke-5 dan ke-6 produksi susu secara
berangsur-angsur setiap bulannya menurun masing-masing berturutan secara
proporsional berkisar antara 12%,12%,10%dan 10%.Pemberian pakan pada
fase laktasi tengah diarahkan agar sapi berada dalam kondisi yang prima
dan berat badan tidak menurun. Sapi diberi makanan bersumber bahan
pakan dengan kualitas terbaik. Pakan hijauan dan konsentrat dapat diberikan
beberapa kali sehari tanpa mengganggu atau harus menambah jatah harian
rutin. Bila dilakukan pemberian urea dibatasi tidak melebihi 2 kg per 100 kg
konsentrat.

Penambahan Konsentrat

Konsentrat yang dimakan dapat mencapai 2,5%berat badan sapi, misalnya


untuk sapi berat 500kg membutuhkan 12,5kg konsentrat. Untuk sapi dengan
produksi tinggi misalnya di atas 25 liter per hari perlu diimbangi dengan
pemberian asupan konsentrat tambahan agar berat badan tidak menjadi
menurun dengan penambahan konsentrat ± 0,5 kg untuk setiap peningkatan
5 liter susu yang dihasilkan. Pad a saat produksi meningkat, kadar lemak dan
protein susu mengalami penurunan. Hubungan produksi susu dan kadar
lemak terjadi korelasi negatif. Artinya pada saat produksi mencapai puncaknya
kadar lemak berada dalam posisi terendah. Di lain pihak pada saat terjadi
penurunan produksi, kadar lemak dan protein jadi meningkat.

Penanganan Reproduksi

Untuk target selang beranak (calving interval) yang pendek atau dalam
jangka waktu satu tahun, sapi harus segera dikawinkan 2-3 bulan setelah
melahirkan. Perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya birahi yang tidak
terdeteksi atau birahi tenang, dalam hal ini tidak tampak secara jelas gejala
klinis birahi yang bisa berakibat pada perpanjangan jarak selang beranak.
Kejelian petugas dalam pengamatan dan ketepatan waktu dalam pelaksanaan
IB sangat berperan dalam keberhasilan program penanganan reproduksi.
Pada periode laktasi tengah, sapi diharapkan mulai bunting, dan produksi
susu secara bertahap mulai menu run landai tapi pasti.

Masa Laktasi Akhir


Dalam Tahap-3, yaitu laktasi akhir, hewan diharapkan sudah bunting dan
produksi susu menjadi semakin menurun. Proporsi penurunan produksi pad a
bulan ke-7,ke-8,ke-9dan ke-IOmasing-masing secaraberturutan adalah 9%,8%,
7%dan 6%.Produksi akan berhenti pada akhir masa laktasi untuk selanjutnya
memasuki masa kering. Periode masa akhir laktasi berlangsung pada hari

32 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


ke-140-305 setelah melahirkan. Dengan pemberian imbangan nutrisi yang
baik diharapkan fase laktasi tengah tidak terjadi penurunan produksi secara
drastis. Sebagai pedoman, terjadinya penurunan produksi antara 8-10% dari
bulan sebelumnya dalam Periode ini masih terhitung dalam batas normal.
Pemberian konsentrat disesuaikan dengan jumlah produksi susu yang
dihasilkan. Sapi yang pada awallaktasi mengalami penurunan berat badan,
harus dibantu dengan pemberian nutrisi ekstra untuk menggantikan cadangan
energi tubuh, dan tidak dibiarkan menunggu sampai sapi memasuki mas a
kering. Sapi yang masih muda berumur 2 tahun diberi konsentrat tambahan
20% atau lebih untuk membantu pertumbuhan, sedangkan pada sapi berumur
3 tahun ke atas diberikan tambahan 10%atau lebih. Pada periode akhir laktasi
sampai mas a kering, tubuh sapi dijaga jangan sampai terlalu gemuk.

Masa Berhenti Laktasi atau Masa Kering


Dalam suatu masa tertentu produksi di tahap-4, produksi susu akan berhenti
atau sengaja dihentikan pemerahannya agar mas a laktasi berakhir dan tidak
diperah. Keadaan sewaktu sapi berhenti laktasi dan tidak lagi menghasilkan susu
disebut sebagai masa kering. Periode ini adalah periode istirahat, yaitu waktu
antara akhir penghentian mengeluarkan susu dan saat beranak berikutnya.
Masa kering susu penting bagi sapi perah dan mengakhiri masa laktasi karena
memasuki pertumbuhan fetus yang meningkat tajam sehingga sapi harus
memperoleh perawatan lebih baik. Penting untuk dipedomani bahwa akhir
masa kering harus diartikan sebagai persiapan dan pemulihan untuk dimulai
mas a laktasi bam dan bukan sebagai akhir laktasi yang telah lewat. Masa kering
diperlukan untuk memungkinkan ambing memasuki periode pemulihan dari
situasi laktasi semula menuju periode laktasi berikutnya dengan penguatan
kembali semua fungsi organ produksi susu dan meyakinkan agar sejumlah
sel-sel ambing berproliferasi dengan baik. Sapi membutuhkan makanan cukup
untuk pertumbuhan janin dan persediaan kebutuhan tubuh.

MANFAAT MASA KERING


Masa kering susu atau tindakan mengeringkan sapi pada bunting tua
merupakan langkah antisipasi penting agar ada kesempatan tubuh untuk
memanfaatkan nutrisi yang diterima setiap hari dari fokus pada produksi
menjadi pemulihan dan penguatan kondisi. Sebagaimana dimaklumi pada
kebuntingan bulan ke-7 terjadi percepatan pertumbuhan fetus di dalam rahim
yang memerlukan banyak energi dan nutrisi. Namun demikian diwaktu masa
kering juga perlu dibatasi dalam pemberian pakan tantang, yaitu tidak lebih 1%
dari berat badan dan dalam posisi berimbang antara energi, protein, mineral

Bab 3 - Perawatan Sapi Laktasi 33


dan vitamin. Periode mas a kering akan bermanfaat bagi keduanya, baik bagi
induk maupun anak.

Manfaat untuk Induk


Masa kering pada induk sewaktu akhir masa laktasi mulai dilakukan
setelah 7 bulan usia kebuntingan atau 50-60 hari sebelum laktasi berikutnya.
Alasan mempertahankan masa kering mendekati tidak kurang dari 60 hari
karena untuk memberikan waktu cukup bagi kelenjar ambing membangun
kembali kondisi, sedangkan masa kering terlalu lama akan menghasilkan
penguatan kondisi tubuh yang berlebihan. Masa pengeringan yang terlalu
pendek atau pembiaran sapi mengalami masa kering dengan sendirinya,
akan menyebabkan penurunan besar jumlah sel sekretori dalam pemulihan
kondisi kelenjar ambing. Walaupun peningkatan kebutuhan nutrisi tidak
terlalu tinggi, periode ini merupakan saat yang kritis bagi sapi di mas a
kering. Kesalahan perlakuan dapat memengaruhi produksi susu pada laktasi
berikutnya. Jumlah susu selama laktasi berikutnya dapat dipengaruhi oleh
panjangnya masa kering.
Tergantung pada individu setiap sapi, beberapa kajian menyatakan bahwa
sapi dengan masa kering 60 hari memberikan kira-kira 113 kg susu lebih
banyak pada laktasi yang berikut, dibanding dengan sapi yang dikeringkan
kurang dari 40 hari akan menghasilkan susu sekitar 225 kg kurang untuk
laktasi berikutnya. Masa kering lebih lama dari 60 hari memperlihatkan hanya
terjadi penurunan ringan pada produksi susu dibanding dengan yang kering
pada 60 hari sebelumnya. Beberapa manfaat masa kering pada induk adalah
sebagai berikut.

Memberikan Waktu Istirahat Kelenjar Ambing

Setelah selama masa laktasi sapi terus-menerus memproduksi susu perlu


diberikan waktu istirahat bagi tubuh untuk memulihkan kondisi kelenjar
ambing pada kondisi prima. Diperlukan waktu sekurang-kurangnya 6 minggu
bagi tubuh sapi untuk mengembalikan kondisi kelenjar ambing dan mengganti
persediaan energi. Oleh sebab itu, walaupun mungkin produksi susu masih
banyak, dua bulan menjelang kelahiran sapi tetap harus dikeringkan.

Mengembalikan Fungsi Optimal Kelenjar Susu


Kelenjar susu sejak awal mulai mengeluarkan susu sampai dengan
berakhimya masa laktasi telah banyak mengalami kehilangan alveoli susu.
Oleh karena itu, produksi akhir masa laktasi menjadi semakin menurun. Saat
dikeringkan tubuh sapi akan memiliki kesempatan membuat alveoli kembali
dan menggantikan sel yang rusak atau hilang agar produksi susu pada periode

34 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


laktasi berikutnya normal kembali, sedangkan pada induk sapi yang masih
muda diharapkan bisa menghasilkan susu lebih banyak dari masa laktasi
sebelumnya.

Persiapan Melahirkan

Seusai masa produksi seluruh nutrisi yang tersedia di dalam tubuh telah
dipakai secara maksimal. Sapi memerlukan nutrisi yang baik dan waktu
pemulihan yang cukup untuk persiapan melahirkan dan menghadapi mas a
laktasi berikutnya. Pad a sapi dara bunting, periode permulaan mengalami
masa laktasi juga memerlukan persiapan energi penuh untuk mengawali dan
mencapai puncak produksi.

Menjaga Keseimbangan Asupan Mineral dan Vitamin

Hewan pada saat laktasi memerlukan nutrisi cukup untuk produksi serta
pertumbuhan janin yang sudah semakin besar dan berkembang dengan
cepat. Produksi susu selama masa laktasi telah menguras persediaan Ca, P
dan mineral lainnya. Pemberian nutrisi diarahkan untuk dapat memenuhi
kebutuhan Ca dan P, tetapi menghindari pemberian terlalu banyak. Asupan
Ca 60-80 gram dan P 30-40 gram per hari adalah cukup untuk hampir setiap
sapi. Dalam keadaan demikian diperlukan imbangan mineral dan vitamin yang
serasi untuk memenuhi tuntutan pertumbuhan fetus yang semakin besar dan
menghadapi proses kelahiran. Ketidakseimbangan proporsi dan jumlah mineral
yang tidak sesuai dengan kebutuhan harus diimbangi melalui asupan pakan
karen a akan berpotensi terjadinya gangguan metabolisme terutama rentan
terhadap penyakit milk fever dan defisiensi vitamin. Rangsum sapi kering di atas
6% Ca dan 4% P (bahan kering) diyakini telah cukup mengatasi masalah milk
fever. Trace minerals, termasuk selenium perlu diberikan secara cukup dalam
imbuhan pakan.

Manfaat untuk Anak

Fetus dalam kandungan membutuhkan gizi baik dan cukup yang diperlukan
untuk perkembangan sebelum lahir dan segera setelah kelahiran. Memberikan
cukup jumlah vitamin A, 0 dan Ekepada induk akan meningkatkan ketahanan
hidup pedet setelah lahir serta menurunkan risiko terjadinya retensi plasenta
pada induk. Pemberian waktu yang cukup pada masa kering akan bermanfaat
bagi pertumbuhan fetus dan dalam pembentukan kolostrum.

Pertumbuhan Fetus
Menjelang kelahiran terutama pada kebuntingan bulan ke-7 dan seterusnya
pertumbuhan fetus berkembang dengan cepat yang membutuhkan nutrisi

Bab 3 - Perawatan Sapi Laktasi 35


cukup pada saat berada dalam kandungan induk. Waktu yang dibutuhkan
untuk percepatan perkembangan fetus harus seimbang dengan pemberian
waktu di mas a kering, yaitu 2 bulan sebelum kelahiran, ketika lebih dari
setengah ukuran besar fetus dicapai pada saat tersebut.

Kebutuhan Kolostrum

Kondisi induk yang siap menghadapi proses melahirkan berarti memberi


kepastian bahwa fetus yang lahir akan memperoleh jumlah kolostrum
cukup serta kandungan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi anak pada awal
kehidupannya. Ketersediaan kolostrum secara cukup dengan kualitas yang
baik akan sangat bermanfaat bagi anak yang baru dilahirkan.

METODA PENGERINGAN
Ada berbagai cara untuk menghentikan berlangsungnya produksi susu agar
masa kering yang terjadi dapat sesuai dengan jadwal program pengeringan
berdasar umur kebuntingan atau saat melahirkan. Apabila waktunya telah
tiba, pengeringan tetap dilakukan walaupun produksi masih tinggi. Perlu
dilakukan cara terbaik agar penghentian pemerahan tidak memicu terjadinya
mastitis. Selama masa kering sapi ditempatkan di kandang yang bersih dan
kering serta dipisahkan dari sapi laktasi.

Penghentian Pemerahan Secara Bertahap


Pengeringan sapi dengan cara penghentian pemerahan yang dilakukan
melalui pengaturan frekuensi pemerahan secara bertahap hingga keluarnya air
susu terhenti. Sapi yang biasanya diperah 2 kali dalam sehari, mulai dikurangi
menjadi 1 kali sehari dan secara berturut-turut terus frekuensinya dikurangi
sampai kemudian pemerahan dihentikan sarna sekali.

Penghentian dengan Pemerahan Tidak Lengkap


Proses pengeringan dilakukan dengan sengaja, yaitu sapi diperah secara
tidak tuntas. Perlakuan ini akan menjadikan sapi menurun produksinya hingga
mencapai hanya beberapa liter dan akhirnya dihentikan. Pada waktu pemerahan
dihentikan, tekanan intramamaria meningkat, produk susu terakumulasi pada
kelenjar, dan sekresi susu selanjutnya menjadi terhenti.

Penghentian Paksa Pemerahan


Sapi dipaksa untuk berhenti laktasi melalui manipulasi pemberian pakan.
Tiga hari sebelum jadwal sapi harus kering, semua pemberian konsentrat

36 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


dihentikan dan hijauan dikurangi sampai setengah atau tinggal sepertiga
jatah normalnya. Penurunan kondisi pakan secara kualitas dan kuantitas
akan berdampak pada penurunan produksi susu. Dengan cara demikian
diikuti dengan sapi tidak diperah selama 18jam atau lebih, kelenjar susu akan
berhenti berproduksi. Perlakuan demikian akan menurunkan ukuran ambing
dan memulai masa kering susu. Sangat penting untuk memberikan pakan
berimbang agar supaya tidak terjadi penurunan kondisi selama masa kering.
Kehilangan kondisi tubuh selama masa kering dapat berlanjut ke gangguan
metabolisme seperti milkfever, hati berlemak dan ketosis yang dapat berakibat
penurunan produksi pada laktasi berikutnya.

KESEHATAN AMBING DI MASA KERING


Masa kering merupakan salah satu tahapan penting untuk diperhatikan
terutama dilihat dari segi kesehatan ambing. Pada fase awal dan akhir mas a
kering merupakan waktu di mana terjadi peningkatan kerentanan terhadap
infeksi sehingga memerlukan perhatian lebih. Dua minggu pertama masa kering
merupakan risiko terbesar terjadi infeksi baru penyebab mastitis menular.

Risiko terhadap Infeksi Patogen


Pendedahan pada bagian ujung puting oleh jasad renik yang ada di
lingkungan secara berkesinambungan dan terus-menerus terjadi selama masa

KERING


KERING
Beranak

I
N
F
E
K
S
I

B
A
R~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~oTrrr
U MASA LAKTASI
KERING

Gambar 3.3 Frekuensi infeksi bam oleh bentuk Coli intra mamaria selama laktasi
(Bradely dkk. 2002)

Bab 3 - Perawatan Sapi Laktasi 37


kering. Data penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50-60% dari semua
infeksi bam selama laktasi disebabkan oleh patogen lingkungan yang
diperoleh sewaktu masa kering. Lebih dari 50% mastitis disebabkan oleh
bakteri coli yang terjadi dalam tempo 70 hari pertama laktasi sebagai hasil
dari infeksi pada masa kering, dan 20% di antaranya terjadi pada minggu
pertama laktasi.
Ada dua mas a kritis ketika kesehatan ambing berisiko terhadap infeksi
patogen, misalnya bakteri bentuk coli sebagaimana ilustrasi dalam Gambar
3.3 yaitu: minggu pertama setelah kering dan minggu menjelang beranak.
Selama masa kritis, secara alamiah ada mekanisme pertahanan ambing
di mana terbentuk segumpal keratin menyumbat saluran puting. Pada mas a
menjelang beranak sumbatan keratin secara perlahan menghilang dalam
rangka persiapan laktasi. Selama mas a kering sumbat keratin menghalangi
bakteri untuk memasuki saluran puting.
Ambing merupakan organ yang sangat rentan terhadap infeksi baru pada
permulaan dan akhir dari masa kering. Pembukaan secara bertahap akan
tertutup oleh sumbatan keratin (Gambar 3.4)sebagai mekanisme perlindungan
terhadap infeksi. Lebih lanjut beberapa sapi mung kin tidak membentuk
sumbat keratin pada saluran puting selama masa kering, sehingga selalu
rentan terhadap infeksi.
Manajemen hasil susu yang baik pada masa kering adalah penting karen a
hasil susu yang tinggi akan 100%meningkatkan risiko perkembangan infeksi

PEMBUKAAN PUTING

Masa kering 2 3 5 16
MlINGGU PADA MlASA KERIING
Gambar 3.4 Evolusi puting tanpa sumba tan keratin selama masa kering (Green dkk,
2002)

38 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


bam intra mamaria setelah kering. Volume residu susu di dalam ambing akan
merangsang sel darah putih berkonsentrasi menyerap reruntuhan selular
lemak susu dan menjadi kurang aktif dalam mencegah masuknya bakteri ke
ambing. Sebagai tambahan, sapi induk dengan volume hasil susu tinggi pada
saat kering memiliki sumbatan keratin lebih lemah bila dibanding dengan
sapi lainnya yang produksi lebih rendah disebabkan oleh keterlambatan
pembentukan sumbatan keratin dalam saluran puting.

Pencegahan
Untuk meminimalkan risiko perlu dilakukan prosedur pengeringan
yang benar untuk mencegah masuknya bibit penyakit dan infeksi patogen
semacam mastitis ke dalam kelenjar ambing. Umumnya disarankan langkah
pertama menghentikan konsentrat dari rangsum dan menurunkan suplai air
minum selama satu atau dua minggu menjelang masa kering, dan kemudian
diikuti penghentian memerah secara mendadak atau bertahap 50 atau 60 hari
sebelum perkiraan beranak. Perlakuan ini akan menurunkan produksi susu
secara drastis dalam periode tersebut. Sapi diobservasi secara baik dalam dua
minggu pertama setelah kering untuk memastikan bahwa perkembangan
kelenjar ambing terjadi kembali secara benar. Ambing yang dalam pengamatan
terindikasi radang kuartir hams segera diuji kemungkinan terjadi mastitis.
Menurunkan risiko infeksi selama masa kering dengan: (a) Higiene dan
sanitasi kandang yang baik akan mencegah pertumbuhan bakteri yang ada di
bahan alas kandang dan meminimalkan kontaminasi ambing ketika tiduran;
(b) Penyediaan rangsum pakan dengan imbangan energi, protein, mineral dan

Gambar 3.5 Pelaksanaan invusi ambing dengan antibiotik sangat penting dalam
masa kering untuk mencegah infeksi

Bab 3 - Perawatan Sapi Laktasi 39


vitamin yang baik adalah penting dalam menjaga sistem kebal sapi pada aras
yang optimal; (c) Meminimalkan stres, memberikan kenyamanan optimal dan
kesempatan latihan akan membantu kesehatan secara keseluruhan, termasuk
kesehatan ambing.

Pengendalian
Untuk mengendalikan masalah mastitis klinis maupun subklinis yang
sering terjadi di peternakan, dapat dilakukan infus ambing dengan antibiotik
(Gambar 3.5) pada awal mas a kering, saat mulai terjadi pemulihan kembali
kondisi kelenjar ambing. Sewaktu dilakukan infus, puting hams dibersihkan
dengan disinfektan secara baik dan benar sebelumnya. Apabila penanganan
tidak dilakukan secara benar maka organisme renik yang ada pada ujung puting
bahkan menjadi seolah dipaksakan masuk ke dalam ambing dan dapat berakibat
dengan infeksi berat terutama karena masuknya bakteri Gram negatif.

40 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


ANATOMIDAN Bob
FISIOLOGI AMBING 4

Kelenjar ambing terdiri atas sekumpulan banyak sel-selyang memproduksi


air susu. Unit dasar fungsi dalam kelenjar ambing adalah alveolus, yaitu
kumpulan sel-selberbentuk seperti buah anggur yang berfungsi memproduksi
susu. Unit demikian banyak terdapat pada kelenjar ambing. Letak ambing
berada di bagian bawah perut di antara kedua kaki belakang. Pancaran air
susu keluar dari ambing melalui liang saluran air susu yang berada tepat di
bagian ujung puting paling bawah dengan jumlah empat buah. Kelenjar supra
mamaria terletak pada jaringan lemak di dasar ambing.

Gambar 4.1 Melalui produk susunya, ambing dari seekor induk sapi memiliki peranan
besar dalam menjaga kelangsungan hidup anak dengan penyediaan
nutrisi yang baik dan penjagaan kesehatan prima sejak pedet dilahirkan
sampai saatnya disapih

41
ANATOMI
Ambing merupakan bagian dari kelenjar kulit (glandula integumentum).
Bagian luar ambing sapi diliputi oleh pertumbuhan bulu atau rambut yang
halus, kecuali pada bagian putingnya. Selaras dengan pertambahan umur,
ambing secara fisik akan berkembang menjadi semakin besar sewaktu hewan
tumbuh menjadi dewasa atau membengkak sewaktu bunting dan laktasi.
Berat ambing sapi tergantung pada pertambahan umur, mas a laktasi, volume
susu dalam ambing, dan faktor genetik. Berat ambing pada sapi dewasa rata­
rata ± 60,53-75,16 kg dengan kapasitas tampung bervariasi, dapat mencapai
kurang-Iebih 30,80kg susu. Kemampuan produksi puncak sapi perah terjadi
pada saat laktasi kedua dan ke-3, kemudian akan menurun ketika sapi sudah
mulai menua.
Sesuai dengan susunan anatomi dan peranan serta fungsi dalam berproduksi,
ambing sapi dapat dibedakan dalam 2 unsur jaringan utama yaitu 1) tenunan
kelenjar yang berfungsi sebagai penghasil susu dan 2) tenunan pengikat
sebagai kerangka yang memberikan bentuk serta penampilan fisik ambing.
Kedua unsur pokok tenunan kelenjar susu dan tenunan pengikat menyatu
terbungkus oleh kulit sebagai pelindung bagian luar.

Tenunan Keleniar
Ambing terdiri atas empat kelenjar susu, dan bergabung membentuk ruang
di sisi kanan dan sisi kiri tubuh dengan dipisahkan oleh lembar selaput tebal
pemisah dalam "Ligamentum suspensory tengah" atau tali sendi penggantung
tengah (Gambar 4.2).Talisendi ini pada ambing terletak dalam posisi menjulur
ke atas dan berfungsi sebagai penggantung atau pertautan ambing agar
berada pada tempatnya di dinding perut bagian bawah. Bagian luar ambing
terbungkus oleh pemisah luar "Ligamentum suspenspri luar" atau tali sendi
penggantung luar.

Ambing
Sebelum air susu dipancarkan keluar dari tubuh, seluruh susu sementara
ditampung di dalam kelenjar ambing. Walaupun pada umumnya sapi dengan
produksi tinggi memiliki ukuran ambing yang besar, tetapi besarnya ambing
tidak otomatis menggambarkan kemampuan produksi susu. Sapi tertentu
dapat memiliki ambing besar tetapi tidak sebanding dengan kinerja produksi.
Ambing yang besar adakalanya berisi jaringan ikat yang banyak sehingga
mengalami kekurangan ruangan untuk jaringan penghasil susu. Ambing yang
terlihat berkerut dan menjadi lunak setelah pemerahan karena berisi sedikit
jaringan ikat atau jaringan parut, atau akan mengempis setelah diperah karena
sebagian besar atau semua susu telah habis keluar.

42 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


a. Kuartir
Ambing memiliki empat kuartir (perempat bagian), setiap dua yang berada
di tubuh bagian kanan dan kiri. Bagian kanan dan kiri ambing terbagi lagi
menjadi kuartir depan dan kuartir belakang yang keduanya dipisahkan
oleh selaput tipis. Dengan demikian ambing terbagi dalam sekat empat
kuartir terpisah dan dengan sistem saluran tersendiri, sehingga setiap
kuartir menjalankan fungsi terpisah. Setiap kuartir tidak saling memiliki
ketergantungan satu sarna lain, terutama dalam hal suplai darah dan
saraf. Semua susu berasal dari puting kelenjar susu setiap kuartir. Dengan
demikian sebuah kuartir dapat tetap sehat walau kuartir yang lain terkena
radang ambing atau mastitis. Kuartir depan lebih kecil dan menghasilkan
susu 40% dari kemampuan produksi, sedang yang belakang 60%.

LIGAMENTUM
SUSPENSORI
TENGAH ATAU
DINDING TENG

ATAU DINDING LUAR

Gambar 4.2 Subbagian dalam dari ambing separo kiri dan kanan serta kuartir muka
dan belakang (Quinn, 1990)

b. Ligamentum suspensori atau tali sendi penggantung


Talisendi terdiri atas jaringan elastis kuat yang terbentang di antara paruh
ambingnya. Terdapat banyak cabang (lamellae) meluas dari tali sendi tengah
masuk ke dalam setiap kuartir. Ketika ambing berisi air susu, kuartir akan
mengembang dan membengkak menyerupai sebuah balon, karena ruangan
yang tersedia dipenuhi oleh air susu yang tersimpan di dalam ambing di
antara masa perah.
Elastisitas tali sendi tengah dapat menjadikan keadaan rasa kurang nyaman
bagi sapi yang hasil produksinya banyak. Tidak hanya karena ambingnya
menekan bagian belakang tengah kaki yang membuatnya sulit berjalan,
tetapi juga bagian tengah ambing menanggung beban karena menjadi

Bab 4 - Anatomi dan Fisiologi Ambing 43


Gambar 4.3 Suatu ilustrasi tali sendi yang memungkinkan ambing sapi
menggantung

menggantung lebih jauh dari bagian tubuh yang lain, serta memaksa
puting susu lebih menonjol keluar. Apabila penyokong tengah lemah, maka
ambing akan menjadi bergantungan dan putingnya mengarah ke luar­
tubuh yang bukan saja secara teknis menyulitkan sewaktu diperah tetapi
juga akan meningkatkan kerentanan untuk terjadi luka dan kontaminasi
oleh bakteri.
c. Rongga ambing
Sinus lactiferus atau kelenjar sistema adalah suatu rongga pada ambing
yang berfungsi sebagai penampungan sebagian dari susu di dalam kuartir
yang diproduksi di antara dua waktu pemerahan. Rongga ini terletak
di atas sistema puting dan sebagian dipisahkan oleh lipatan anular dari
jaringan. Sistema ambing bervariasi dalam bentuk dan besamya di antara
kuartir dari sapi, memiliki kemampuan menyimpan sekitar 500 ml susu.
d. Saluran susu utama
Major duct atau Saluran susu utama berjumlah sekitar 10-50 buah atau
lebih terletak pada dinding rongga ambing. Saluran susu utama berukuran
besar, tetapi berbentuk pendek dan lebar serta memiliki banyak cabang
berupa saluran-saluran lanjutan yang lebih kecil. Lebih lanjut saluran air
susu ini membentuk cabang-cabang lagi menjadi banyak ranting-ranting
yang ukurannya menjadi semakin kecil menyerupai akar tanaman.
Untuk menahan air susu yang berada di atas saluran, terdapat bentukan
penyempitan pada saluran yang berfungsi sebagai penahan keluamya

44 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


air susu sampai pada batas tekanan tertentu (Gambar 4.4). Alveoli atau
alveolus merupakan bentukan tenunan kelenjar susu di mana ranting­
ranting saluran air susu yang paling kedl akan berakhir. Fungsi dari sistem
saluran adalah mengumpulkan susu dari jaringan sekretori, menyimpan
bagian dari susu di antara perahan dan mengangkut susu ke dalam kelenjar
sisterna.

PENYEMPITAN 01
SETIAP CABANG

Gambar 4.4 Penyempitan pada setiap cabang dari sistern saluran rnenghalangi
keluamya susu dari kernungkinan rernbes ke dalarn puting dan arnbing
bagian bawah

Puting
Puting adalah organ berbentuk silindris memanjang atau berbentuk kerucut
dengan ujung tumpul terletak menggantung di bagian bawah dasar ambing.
Puting tidak ditumbuhi bulu dan dua di bagian depan umumnya lebih panjang
dari yang belakang. Jumlah puting sapi empat buah, tetapi dalam keadaan
abnormal bisa berjumlah lebih atau kurang dari empat. Kelebihan jumlah
puting biasanya tumbuh di sebelah belakang dari puting normal, dan tidak
berfungsi. Umumnya lebih kedl dan pendek dari normal. Beberapa ekstraputing
memiliki saluran masuk ke kelenjar ambing, tetapi umumnya tidak. Agar tidak

Bab 4 - Anatomi dan Fisiologi Ambing 45


mengurangi tampilan estetika dan kemungkinan membuka peluang sebagai
penyebab mastitis, puting abnormal ini seharusnya dipotong semasa masih
muda sebelum umur 1 tahun, atau bersamaan dengan pemotongan tanduk.
a. Rongga puting
Letak rongga ini berada di dalam puting, di bawah rongga ambing dan
berfungsi sebagai penampung susu paling bawah sebelum dikeluarkan
dengan daya tampung pad a sapi perah berkisar 100-150 g.
b. Ductus papillaris
Terletak pada ujung rongga bawah puting merupakan saluran yang
berakhir pada ujung puting dengan panjang 8-10 mm. Ujung ini memiliki
pengaman semacam cincin atau urat daging sirkulair (sphinckter) yang
elastis berfungsi menjaga agar susu tidak merembes atau bocor keluar.
Pada ujung akhir saluran terdapat semacam lemak yang dihasilkan oleh
sel-sel dinding saluran, berfungsi untuk menahan masuknya benda asing
atau jasad renik terutama bakteri ke dalam puting dan dapat larut ke dalam
air susu pada waktu proses pemerahan.
c. Krikoid
Bagian atas dari rongga puting terdapat penyempitan yang disebut lipatan

SALURAN

SISlERNA
PUliNG

Gambar 4.5 Komponen dari ambing sapi (Quinn, 1980)

46 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


krikoid. Penyempitan ini adakalanya menjadi buntu sehingga disebut
kuartir buntu atau "kuartir buta" karena keluamya air susu dari kuartir
menjadi terhalang atau tersumbat. Kebuntuan ini dapat diupayakan untuk
dibuka secara hati-hati menggunakan jarum khusus untuk puting.
d. Sistema Puting
Sistema atau rongga di dalam puting, terletak tepat di atas saluran akhir
susu (Gambar 4.5) disebut sebagai sistema puting, berfungsi menyimpan
susu yang menetes dari [Link] susu dalam sistema, banyaknya
tergantung pada besamya puting.

Tenunan Pengikat
Selaput tipis membungkus sekumpulan alveolus membentuk alveoli, dan
seterusnya membentuk lobulus-lobulus yang juga terbungkus oleh selaput
tipis membentuk lobuli. Membran tipis pembungkus alveoli dan lobuli dengan
seluruh jaringan pengikat pada tenunan kelenjar susu merupakan sistem
tenunan pengikat sebagai kerangka atau pembungkus yang membentuk
kelenjar susu.
a. Alveoli
Suatu bentukan terkedl sebagai bagian dalam tenunan pengikat dari
ambing yang merupakan kumpulan dari alveolus. Alveolus merupakan
unit produksi susu utama yang merupakan struktur renik bentuk lonjong
dengan permukaan luar tersusun oleh satu lapis epitelium (penghasil susu)
dan memiliki saluran keciluntuk memungkinkan susu menetes keluar yang
membentuk lumen menyerupai untaian buah anggur dengan rantingnya.
Lapisan luar juga berisi susunan menyerupai sel otot kedl disebut sel
mioepitelial. Alveoli merupakan komponen utama jaringan sekretori yang
tersusun atas alveolus-alveolus. Setiap bangunan berbentuk bulat dan
lumen di dalamnya berdiameter 0,1-0,3 mm. Tiap-tiap alveoli terdiri
atas deretan epitel di sekitar lumen yang berfungsi untuk menghasilkan
dan mengeluarkan air susu ke dalam lumen. Terdapat sel otot khusus
yang memungkinkan alveolus "meremas" susu ke luar alveoli ke dalam
ambing.
b. Lobulus
Alveoli dihubungkan oleh saluran kedl, dan kelompok alveoli membentuk
lobulus. Sekelompok lobulus kemudian membentuk lobuli utama dari setiap
kuartir (Gambar 4.6). Ambing sapi perah berisi sekitar 5 x 1012 sekretori
sel di dalam epithelium dari alveolar jaringan.
c. Lobuli
Sekumpulan lobulus-lobulus satu sarna lain terbungkus lagi oleh selaput
tipis dan terbentuklah lobuli. Sebagian besar ambing terdiri atas kumpulan
lobulus-lobulus yang menghasilkan dan menampung air susu dalam jumlah

Bab 4 - Anatomi dan Fisiologi Ambing 47


ALVEOLI

ALURAN BESAR SUSU


KELENJAR SlSTERNA
IT--:tfA---OTOT SPHINCTER
SISTERNAPUllNG
GARISKANAL

Gambar 4.6 Ilustrasi keberadaan alveoli dengan alveolus serta saluran kelenjar pada
ambing (Eusminger, 1969)

banyak maka bila ambing diraba menjelang diperah akan terasa adanya
semacam gumpalan dari hasil berkumpulnya air susu yang berada di
dalam lobuli. Setelah usai diperah, tenunan kelenjar susu akan mengempis
karen a telah kosong dan menjadi bentuk lipatan sehingga dalam rabaan,
ambing secara utuh akan teras a lunak dan halus. Bagian dari ambing yang
semula terasa menggumpal tidak lagi terasa dalam rabaan seperti waktu
sebelum diperah karena lobuli telah kosong dari keberadaan air susu.
d. Lobus
Sekumpulan lobuli-lobuli terbungkus oleh selaput tipis membentuk jaringan
disebut lobus. Saluran tersier lobus berturut-turut menumpahkan isinya
ke saluran sekunder dan kemudian mengumpulkannya ke saluran yang
lebih besar atau saluran primer. Saluran primer lebih lanjut mengalirkan
susu ke kelenjar sistema yang merupakan pusat pengumpulan dari semua
saluran yang berada di dalam ambing dan sebagai tempat penampungan
susu pada interval waktu pemerahan.

FISIOLOGI AMBING
Epitel alveolus menyerap substansi yang ada dalam darah, kemudian
disintese menjadi susu untuk dipancarkan ke lumen alveoli. Setelah pemerahan

48 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


sapi selesai tuntas, alveoli mengempis. Beberapa saat kemudian lapisan epitel
mulai aktif memproduksi susu kembali yang hasilnya dicurahkan ke dalam
lumen sehingga lama kelamaan menjadi penuh kembali.

Proses Pembentukan Air Susu


Air susu dihasilkan oleh epitel alveolus yang berkelompok menjadi alveoli
berasal dari substansi dalam aliran darah dengan kandungan spesifik bahan
pembentuk susu yang terkumpul melalui kapiler-kapiler darah. Sapi yang
sedang laktasi memiliki kurang-lebih 150-220 alveoli.
a. Epitel alveolus. Air susu yang dihasilkan oleh epitel ditampung di dalam
lumen alveolus, sedang zat-zat bukan pembentuk air susu yang tidak
diperlukan kemudian dikembalikan ke jantung melalui vena pudica externa
(vena susu). Untuk membentuk satu liter air susu diperlukan sebanyak
300-400 liter aliran darah masuk ke dalam ambing. Misalnya untuk sapi
dengan produksi 20 liter air susu memerlukan aliran darah satu hari satu

ARTERI (PUDENTAL EKSTERNAL) MAMARIA


VENA (PUDENTAL EKSTERNAL) MAMARIA
,1'!I-;l-1'l'"t::::s-, SALUF~ANLlMFE MAMARIA VENA (SUSU)
SUBKUTANEUS
ABDOMINAL

KUARTIR DE PAN

KELENJAR

S ISTERN A P UTING

~OSET DARI FURSTENBERG

'ARIS KANAL

Gambar 4.7 Komponen ambing menunjukkan banyaknya pembuluh darah yang


diperlukan dalam proses produksi susu (Frandson, 1986)

Bab 4 - Anatomi dan Fisiologi Ambing 49


malam sebanyak 6-8 ton.
b. Lumen alveolus. Lumen alveolus berfungsi untuk menampung sejumlah air
susu yang dihasilkan. Berbagai substansi sisanya yang tidak dipergunakan
dalam pembentukan air susu dikembalikan lagi ke jantung melalui vena
susu yang terletak di dinding rongga dada.

Proses Pelepasan Air Susu


Rangsangan pada ambing yang timbul pada saraf simpatikus saat sapi
diperah akan diteruskan dari ambing dan puting menuju otak sehingga terjadi
pelepasan air susu keluar dari ambing.
Rata-rata susu yang dihasilkan oleh epitelial adalah tinggi pada 10 jam
pertama setelah pemerahan. Setelah itu mulai menurun secara cepat dan
apabila sapi tidak diperah akan berhenti sekitar 35 jam setelah pemerahan
terakhir. Proses pengeluaran susu akan terhenti ketika tekanan didalam
alveolus menjadi tidak dapat dilakukan. Ini mungkin terjadi karena adanya
tekanan yang mempersempit pembuluh darah, dan menghentikan aliran dari
sel penghasil susu. Interval perah yang pendek adalah penting pada sapi muda.
Pemerahan yang tidak tuntas (misalnya tertinggal 2 kg susu dalam ambing
pada setiap pemerahan) menyebabkan hambatan pada produksi susu secara
permanen. Air susu dilepaskan atau dipancarkan ke luar karena pengaruh
beberapa faktor antara lain oleh hormon, lingkungan, waktu dan frekuensi
pemerahan.
a. Faktor hormonal
Di bawah lapisan epitel alveoliterdapat kapiler darah dan selapis susunan sel
berbentuk memanjang disebut mioepitel dengan tugas dan sifat selaku sel-sel
urat daging yang mampu berkontraksi melalui pengaruh hormon oksitosin.
Pengaruh ini dapat muncul sewaktu puting memperoleh rangsangan
mekanis karena rabaan juru perah pada waktu mencuci ambing atau saat
sapi diperah menggunakan tangan atau mesin. Pada Gambar 4.8. dapat
dicermati bahwa perahan tangan, sedotan langsung dari mulut seekor pedet
atau dari mesin perah, secara otomatis akan menimbulkan rangsangan
pad a simpul sara! yang mengirimkan pesan melalui sara! inguinal menuju
sumsum tulang belakang dan ke otak yang menyebabkan dikeluarkannya
hormon oksitosin dari hipofisis posterior (bagian belakang) di otak untuk
dicurahkan ke dalam aliran darah melalui cabang dari venajugularis menuju
jantung dan melalui darah arteri ke seluruh tubuh. Oksitosin dari jantung
menuju ambing melalui aorta dan memasuki arteri pudental eksternal.
Dalam ambing akan menyebabkan sel mioepitel berkontraksi menyebabkan
alveoli dan saluran-salurannya turut aktif berkontraksi mengakibatkan
air susu terpancar keluar dari lumen melalui saluran yang ada kemudian

50 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


masuk ke rongga ambing dan puting sapi yang sedang diperah.
Untuk seterusnya dalam proses pemerahan, air susu memanear keluar.
Adanya rangsangan terhadap saraf simpatikus akan membantu kelanearan
aliran dan pertambahan volume darah yang mengalir menuju ambing,
dengan demikian hormon oksitosin yang ikut dalam peredaran darah ke
ambing menimbulkan efek pelepasan air susu melalui pengaruhnya dalam
memperkuat kontraksi sel-sel mioepitel.

Gambar 4.8 Ilustrasi pancaran air susu oleh pengaruh hormon oksitosin melalui
rangsangan saraf dan aliran darah dalam tubuh sapi

Pengeluaran pasif air susu di dalam sistema terjadi sewaktu digunakan


mesin perah, impuls saraf lewat dari puting ke dalam otak dalam tanggap
terhadap rangsangan dari dilekatkannya mesin perah (Gambar 4.8).Pesan
lain tertangkap melalui hidung dan mata sapi juga diteruskan ke otak oleh
saraf. Informasi ini menyebabkan otak mengeluatkan hormon oksitosin
ke dalam aliran darah. Seterusnya oksitosin memengaruhi ambing dan
menyebabkan epitelial miosel sekitar alveoliberkontraksi. Sewaktu kontraksi
dari epitel miosel, alveoli mengempis dan susu diperas masuk ke dalam
saluran keeil. Saluran ini memendek dan melebar, dan susu disegerakan
mengalir ke dalam melalui kelenjar sistema. Hanya alveolar dan saluran
yang memengaruhi pengeluaran susu oleh pengaruh oksitosin pada

Bab 4 - Anatomi dan Fisiologi Ambing 51


mioepitelium. Tidak ada kontraksi dari saluran besar atau sistema.
b. Faktor lingkungan
Suasana lingkungan yang tenang sangat berperan dalam mendukung
kelancaran susu keluar dari ambing. Dalam situasi tertentu misalnya
sapi mengalami stres, kepanasan, gelisah atau ketakutan oleh adanya
provokasi dari luar, akan berpengaruh pada kontraksi mioepitel menjadi
terhambat atau bahkan dapat terhenti oleh pengaruh hormon adrenalin
atau hormon epinephrine sebagai reaksi terhadap situasi lingkungan yang
tidak nyaman. Secara langsung beraksi balik terhadap pengaruh oksitosin
pada kontraksi mioepitelial sehingga menghambat produksi susu. Hormon
adrenalin bekerja melawan oksitosin dengan menyumbatnya keluar dari
otak, menyempitkan pembuluh darah dan mencegah keluar susu dari
ambing. Sapi tidak bisa sengaja menahan susu untuk tidak keluar, tetapi
dapat terjadi oleh rangsangan saraf ketika diperlakukan kasar atau karena
terkejut. Agar supaya sapi dapat diperah dengan hasil susu seoptimal
mungkin maka saat pemerahan, suasana lingkungan kandang diupayakan
tenang tidak terganggu suara gaduh.

PEL EPASAN
AKTIVITAS
OKSITOSIN
STIMULASI OKSITOSIN
,MAMARIAI,

20 ~ 1! KONTRAKSI
ALVEOLAR
BERAKHIR

PANCARAN
PENARIKAN PASIF "'_'i-
SUSU

o 20 40 60 80 100 120
WAKTU (DETIK)

Gambar 4.9 Refleks yang terjadi pada pancaran air susu keluar dari ambing sapi
(Lishman, 2010)

52 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


c. Faktor waktu perah
Proses pelepasan air susu juga dipengaruhi oleh waktu lamanya pemerahan.
Pemerahan yang berlangsung terlalu lama akan mengurangi volume
pelepasan air susu dari ambing. Kesiapan ambing melepaskan air susu
terjadi dalam waktu yang relatif sangat singkat, yaitu ± 45-60 detik saja
setelah ambing sapi mendapat rangsangan, karena saat itu hormon oksitosin
telah tiba di ambing. Pengaruh hormon oksitosin dalam merangsang
dipancarkannya air susu hanya selama ± 7 menit. Bagi petugas pemerah
sapi yang berpengalaman biasanya dapat menyelesaikan pemerahan
dalam waktu 3 menit, sehingga tidak akan menghambat proses rangsangan
hormon yang diperlukan.
d. Faktor frekuensi pemerahan
Rata-rata susu yang dikeluarkan penting dalam menentukan berapa banyak
ekstra susu akan diproduksi ketika sapi diperah lebih sering dari dua
kali setiap hari. Secara rata-rata produksi akan ditingkatkan menjadi 20%
ketika dilakukan pemerahan 3 kali setiap hari bila dibanding dengan dua
kali sehari. Pemerahan 4 kali setiap hari menghasilkan kenaikan 5-10%.
Tambahan kenaikan terjadi karena sel penghasil susu beroperasi pada
kapasitas penuh secara lebih lama. Untuk sapi dengan produksi 20 liter
per hari lebih menguntungkan bila diperah 3 kali setiap hari dibanding
dengan pemerahan 2 hari. Penurunan jumlah pemerahan setiap hari
menyebabkan penurunan nyata dalam menghasilkan susu. Meninggalkan
satu kali pemerahan dalam seminggu mengurangi total penghasilan
5-10%, sedangkan pemerahan yang demikian setiap hari memo tong
penghasilan sampai setengah pada sapi beranak pertama dan 40% pada
sapi lebih tua.

Proses Pelepasan Nutrisi ke dalam Lumen Alveolar


Walaupun tempat untuk pembentukan susu adalah di epitel alveoli,
beberapa komponen susu seperti vitamin, mineral dan protein tertentu tidak
dibentuk di alveoli. Mereka secara sederhana disaring ke luar dari darah
ke dalam susu. Laktosa (gula susu),lemak (lemak mentega), danhampir semua
protein terutama kasein dibentuk di dalam epitel dari substrat yang dibawa
didalam darah. Proses di mana nutrisi susu (lemak, protein) untuk keluar
dari sel epitelial ke dalam ruang dari alveolus merupakan proses yang unik.
Di antara epitelial, lemak susu diproduksi dalam bentukan kedl, tetes lemak
yang jelas. Tetesan jadi membesar dengan masuk bersama dan bergabung
sewaktu bergerak menuju lumen pusat dari alveolus. Ketika tetes lemak lolos
dari selnya akan secara total dilingkupi oleh bagian dari dinding sel, dan pecah
di dalam bentuk lapisan ketika tetes lemak dipaksa keluar. Begitu juga kasein

Bab 4 - Anatomi dan Fisiologi Ambing 53


dan laktosa terkumpul bersama dalam kemasan gelembung pengeluaran
yang terbungkus oleh selaput. Ketika berada di dalam kantung lemak,
gelembung ini akan bergerak menuju lumen alveolus dan isinya dikeluarkan
ke ruang alveolar.

54 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


Bob
MANAJEMEN PEMERAHAN
5

Air susu merupakan salah satu produk biologis sebagai hasil rangkaian
proses reproduksi menyusul keberhasilan konsepsi dan lahimya seekor pedet.
Produksi susu dimulai dari saat anak lahir sampai induk mencapai masa kering
ketika air susu sudah tidak lagi dihasilkan atau sengaja dihentikan.
Proses pemerahan merupakan saat kritis untuk memperoleh hasil susu
yang banyak dan berkualitas. Oleh sebab itu pelaksanaan pemerahan harus
dilakukan secara baik dan benar agar diperoleh hasil optimal. Konsumen juga
mengharapkan susu mumi yang berarti tidak tercampur bahan lain, sehat tidak
mengandung cemaran mikroba ataupun zat kimia yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan bagi konsumen dan segar atau masih baru dan tidak
terjadi kerusakan.

PEDOMAN WAKTU PEMERAHAN


Sebelum diperah bila ambing sapi laktasi diraba akan teras a adanya
gumpalan, karena keberadaan air susu yang terkumpul dalam lobulus­
lobulus. Seusai diperah alveolus akan mengempis karena kosong dan tenunan
kelenjar menjadi berlipat-lipat. Dalam rabaan terasa lunak, halus dan tidak
teras a bagian yang menggumpal. Dalam keadaan abnormal ambing dapat
terasa kenyal karena perubahan patologis oleh jaringan ikat yang berkembang
karena infeksi kronis akibat mastitis atau masalah lain. Keadaan ambing yang
demikian biasa disebut dengan ambing daging.
Petemak biasanya memerah sapi dua kali dalam sehari, pagi dan sore. Bagi
petemakan yang hasil produksi sapinya secara individual rata-rata tinggi,
dapat memerah 3 kali sehari, atau kombinasi dengan memerah dua kali sehari,
tetapi terhadap sapi yang produksinya tinggi dikelompokan tersendiri untuk
diperah tiga kali.

55
Jadwal Pemerahan Sapi
Kegiatan memerah sapi perlu diatur sebaik-baiknya tentang tata car a
memerah dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Pelaksanaan
memerah menggunakan jadwal tetap, agar sapi menjadi terbiasa dan tidak stres,
misalnya perah pagi dan sore. Untuk disetor ke KUD, pemerahan disesuaikan
dengan waktu penerimaan setoran karena susu harus disetorkan segera setelah
diperah. Semakin lama tenggat waktu antara pemerahan dengan setoran ke
KUD akan semakin menurunkan kualitas karena meningkatnya jumlah bakteri
dalam susu. Bagi petemakan yang memiliki tangki pendingin, ketergantungan
antara waktu perah dengan saat pengiriman susu dapat diatur lebih baik.

Interval Waktu Memerah


Waktu perah sebaiknya dilakukan secara teratur dengan interval waktu
perah pertama dan kedua dalam satu hari berjarak waktu kurang-lebihnya
sarna. Sekiranya ada tangki pendingin jadwal perah dapat diatur lebih baik
dengan interval waktu seimbang antara perah pertama dan kedua masing­
masing 12jam. Dengan cara demikian mudah dilakukan pengaturan, terutama
bagi petugas.

PERSIAPAN MEMERAH
Perlu dilakukan berbagai persiapan menjelang pemerahan agar semua
berjalan lancar, praktis dan mengedepankan prinsip higiene dan sanitasi yang
benar baik terhadap tempat pelaksanaan memerah, lingkungan, peralatan,
dan pelaksana.
Berbagai cara baku pemerahan akan berkembang sejalan dengan waktu
dan pengalaman juru perah serta penyesuaian dengan kondisi setempat.
Memerah sapi diperlukan keterampilan, kedisiplinan, kesabaran dan ketekunan.
Pemerahan sapi yang dilakukan dengan persiapan yang baik dan benar akan
menjamin kualitas dan kinerja produksi optimal.
Umumnya sapi diperah di kandang di mana sapi dikelola setiap harinya.
Untuk petemakan tetentu ada yang menyediakan tempat khusus untuk memerah,
terutama yang menggunakan mesin untuk pemerahan secara berkelompok.
Sapi dihalau dari kandang menuju tempat pemerahan yang telah dipersiapkan,
sementara itu kandang bisa dibersihkan dengan baik.

Tempat
Hasil produksi, kualitas dan kesehatan susu sangat dipengaruhi oleh
kondisi kandang atau temp at di mana sapi diperah. Tempat perah harus bersih
dari segala macam kotoran, memiliki ventilasi udara yang terbuka, bersih,

56 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


segar dan dalam kondisi lingkungan yang tenang. Kandang yang kotor akan
mencemari susu hasil pemerah.

Kebersihan

Lingkungan tempat perah dipersiapkan dalam kondisi yang bersih, berlantai


semen dan beratap. Tempat yang kotor, becek, lembap, masih banyak tinja,
dan berbau tidak sedap sangat memengaruhi kenyamanan petugas dan sapi
yang diperah sehingga dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas susu hasil
perahan. Lantai dibersihkan menggunakan air bersih dengan penyemprotan,
lebih efisien menggunakan alat semprot berkekuatan tinggi. Dinding kandang
dalam keadaan bersih, bebas kotoran dan benda lain termasuk bila ada sarang
laba-laba.

Suasana Lingkungan Kandang


Sekitar kandang dikondisikan dalam suasana tenang, nyaman dan bebas
dari suara penyebab kegelisahan atau stres. Suara gaduh dan keras dari mesin
diesel pencacah rumput, suara mobil, atau orang bicara dan lalu-lalang,
harus dihindari sewaktu dalam proses pemerahan karena bisa menimbulkan
kegelisahan. Lokasi pemotongan rumput yang berdekatan dengan tempat
perah sebaiknya tidak dioperasikan sewaktu pemerahan sedang berlangsung.
Selama pemerahan dihindari masuknya pengunjung atau pegawai yang tidak
berkepentingan, atau dikondisikan agar bersikap tenang, dan mengenakan
pakaian serta sepatu boot yang bersih. Jumlah pengunjung dibatasi agar tidak
mengganggu ketenangan.

Peralatan
Peralatan yang lengkap sangat menunjang kesempurnaan pekerjaan. Semua
sarana yang diperlukan untuk proses pemerahan, merupakan satu paket kerja
yang harus tersedia secara lengkap. Kontaminasi alat karena kurang dijaga
kebersihannya dapat menyebabkan air susu menjadi asam, rusak atau berbau
kurang sedap. Semua alat yang diperlukan untuk memerah harus terlebih
dahulu dipersiapkan secara lengkap dan siap pakai. Keterpaksaan meninggalkan
tempat perah untuk mengambil alat yang tertinggal bisa memecah konsentrasi
dan membuka peluang terjadi kontaminasi. Semua perala tan disiapkan dalam
keadaan bersih dan kering.

Tempat Menampung Susu

Digunakan ember untuk menampung susu sementara sewaktu pemerahan


manual. Bahan terbuat dari almunium atau stainless steel. Penggunaan stainless
lebih baik karena bebas karat, permukaan licin tidak ada pori-pori dan mudah

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 57


dibersihkan. Ember plastik digunakan untuk menyimpan air hang at sewaktu
membersihkan ambing sebelum dan sesudah pemerahan.

Milk Can atau Kaleng Susu

Di daerah peternakan sapi perah alat ini mudah ditemukan di temp at


penjualan peralatan dengan bahan dari alumunium atau stainless steel,
berfungsi untuk menampung susu sementara sebelum diangkut ke tangki di
mang pendingin ataupun dibawa ke instalasi penampungan susu setempat.
Ada beberapa ukuran biasa dipakai misalnya 15 liter, 20 liter atau 30 liter.
Ukuran yang lebih besar lagi kurang disukai karena dasar kaleng sulit dijangkau
dengan tangan sewaktu dibersihkan.

Saringan

Disediakan kain atau alat saring stainless steel untuk menyaring susu hasil
perahan sewaktu dimasukkan ke dalam milk agar terbebas dari kotoran atau
bulu yang rontok. Saringan hams dalam kondisi kering, bersih, berwarna putih
agar terlihat bila ada bercak atau kotoran. Kain lap bersih juga disediakan
untuk membersihkan ambing sebelum dan sesudah diperah.

Timbangan
Untuk pencatatan produksi susu, dapat digunakan alat timbangan sederhana
yang dipasang tergantung di kandang pemerahan seperti pada Gambar 5.1.
Dengan demikian secara individual dapat dipantau dengan baik timbangan
berat produksi masing-masing setiap kali selesai diperah.

Gambar 5.1 Seorang juru perah memperagakan menimbang susu menggunakan


milk can dan alat timbang sederhana

58 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


Mesin Perah
Bila pemerahan menggunakan mesin, dipersiapkan dalam keadaan bersih
sesuai pedoman perawatan baku termasuk segala perlengkapannya. Kelalaian
dalam pembersihan mesin dapat berakibat pencemaran secara luas. Mesin
perah dapat menggunakan bentuk portable untuk ukuran satu atau dua ekor
sapi satu kali perah, atau multiple dengan variasi jumlah sapi diperah yang
beragam sesuai kebutuhan.

Cowan Pencelup Puting


Alat untuk dipping atau pencelup puting dapat berupa cawan atau tabung
dipergunakan untuk mencegah infeksi puting susu sehabis perah yang diisi
dengan desinfektan, atau dapat menggunakan alat penyemprot sederhana.
Cara pencelupan lebih efektif daya kerjanya dibanding hanya disemprotkan.
Alat pencelup puting disediakan lengkap dengan reagen disinfektan dan
dalam keadaan siap pakai.

SAPI YANG DIPERAH


Mempersiapkan sapi sebelum diperah berkaitan erat dengan hasil produksi
dan kesehatan susu. Pendekatan awal dengan memegang tubuh sapi secara
perlahan. Diusahakan sapi dalam keadaan tenang sewaktu diperah agar
pemerahan berlangsung lancar dan susunya keluar secara tuntas. Untuk
peternakan yang menggunakan tempat perah khusus, sapi biasanya dihalau
atau dibiarkan berjalan sendiri dengan pengawalan menuju tempat perah.

Kebersihan
Sapi harus dijaga kebersihannya untuk menghindari pencemaran susu oleh
kotoran yang melekat di tubuhnya. Untuk mengurangi tercemarnya tubuh sapi
setelah dibersihkan, harus didahului dengan terlebih dahulu membersihkan
lantai dan lingkungannya.
1. Bagian tubuh. Sebelum diperah, sapi dimandikan agar bersih dari segala
kotoran terutama di sekitar perut, pantat, lipat paha, ekor dan seluruh
tubuh. Pencucian lebih diutamakan bagian perut dan bagian tubuh antara
kedua pangkal kaki belakang, bagian ekor dan pantat.
2. Bagian ambing. Puting dan sekitar ambing dicuci bersih menggunakan
spon. Setelah bersih kemudian dikeringkan menggunakan handuk atau
lap kering yang lembut.

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 59


Proses Pemerahan
Supaya sapi tenang dan tidak banyak bergerak maka hewan tersebut
harus dalam kondisi kenyang dan tidak sedang diberi makan. Sesaat sebelum
diperah sapi diikat pendek menggunakan tali agar tidak banyak bergerak atau
berontak. Jika sapi ada kebiasaan menendang, siapkan tali untuk mengikat
kaki belakang, termasuk mengikat ekor agar tidak dikibaskan sehingga
mengganggu proses pemerahan. Selanjutnya diatur posisi untuk kenyamanan
dan keamanan pemerah. Di lingkungan tempat memerah dihindari atau
ditunda segala bentuk kegiatan yang menimbulkan kegaduhan suasana atau
menimbulkan ketakutan sapi.

PETUGAS
[uru perah harus telah siap dengan segala perlengkapan yang diperlukan.
Juru perah sewaktu bertugas juga harus fokus dengan pekerjaan dan
meninggalkan pemikiran dari segala masalah di luar tugas memerah. Peranan
seorang juru perah sangat besar dalam mencapai sasaran kualitas produk yang
handal. Pakaian dan keadaan anggota tubuh dapat bertindak sebagai sumber
pencemaran air susu.

Kebersihan dan Kerapian Petugas


[uru perah harus mengenakan pakaian rapi, bersih dan kering. Semua
cincin, arloji, dan gelang tangan yang dipakai harus dilepas selama bertugas
memerah. Petugas sebaiknya mengenakan topi yang rapat untuk menghindari
kerontokan rambut masuk ke dalam air susu.
1. Mandl sebelum memerah. Sarana kamar mandi petugas disediakan sesuai
keperluan. Sebelum memerah semua petugas harus mandi hingga benar­
benar bersih menggunakan sabun, dan berganti pakaian.
2. Cuci tangan dan kaki. Tangan dan kaki dicud bersih menggunakan sabun,
atau detergen. Fasilitas untuk cud tang an dan kaki disediakan di temp at
tidak jauh dari lokasi pemerahan. Kebersihan telapak tangan dilakukan
lebih cermat dan bersih menggunakan air hangat, terutama bila pemerahan
dilakukan secara manual. Seusai mencud tangan diusap kering dengan
kain lap tang an atau kertas tisue yang bersih terutama petugas yang
sebelumnya melakukan pekerjaan lain dengan objek yang "kotor" atau
mengandung bahan kimia. Kuku jari tangan tidak boleh panjang dan harus
selalu dipotong karena dapat melukai puting atau terdapat wama hitam
oleh kotoran yang terselip di antara kuku yang akan mencemari susu.

60 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


Kesehatan Petugas
[uru perah harus orang yang sehat jasmani, tekun dan teliti dalam
melaksanakan tugas. Ketekunan merupakan faktor penting karena memerah
sapi adalah pekerjaan yang monoton setiap hari, pagi dan sore. Sewaktu
bertugas harus tidak dalam kondisi sakit terutama penyakit menular, karena
air susu hasil perahan dapat terkontaminasi oleh penyakit yang diderita oleh
juru perah, dan bukan tidak mungkin sadar atau tidak telah menjadi perantara
penularan bibit penyakit kepada konsumen.

TEKNIK MEMERAH
Sapi dapat diperah dengan cara manual menggunakan tangan atau dengan
bantuan mesin. Dalam jumlah kepemilikan sapi sedikit, di samping harga mesin
yang relatif mahal juga memerlukan beban tenaga listrik tertentu sehingga tidak
efisien. Di lain pihak bila jumlah sapinya banyak, maka pemerahan manual
tidak lagi efisien karena faktor lambatnya pemerahan dan kebutuhan tenaga
kerja yang banyak sehingga lebih efisien dilakukan dengan mesin.

Memerah Cara Manual


Setelah semua persiapan memerah dilakukan dengan baik, maka seluruh
rangkaian kegiatan dapat dimulai. Lama memerah untuk setiap ekor sapi
harus tidak lebih dari 7 menit, karena pengaruh pelepasan hormon oksitosin
berlangsung sangat singkat. Pemerahan dengan teknik yang benar berlangsung
sekitar 3-5 menit.

Gambar 5.2 Pelaksanaan pemerahan secara manual oleh seorang petemak atau juru
perah dengan menggunakan ember almunium

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 61


Mulai Memerah
Jika semua prosedur telah dijalankan, berarti sapi siap diperah. Sediakan air
hangat-hangat kuku dan lap dari kain. Ambing dan sekitamya termasuk puting
di lap kering dengan lembut. Posisi ideal bagi pemerah adalah berada di sisi
sebelah kiri belakang sapi, agar tangan kanan dapat menahan kemungkinan
tendangan sapi. Setiap satu ekor sapi sebaiknya ditangani oleh satu orang saja.
Apabila jumlah sapi cukup banyak, tenaga pemerah susu harus ditambah, agar
jadwal perah dapat teratur dan tidak berpengaruh pada produksi susu.

Cora Memerah
Memerah ambing sapi menggunakan kelima jari. Puting dipegang antara
ibu jari dan keempat jari lainnya, dengan ketiga jari menekan dan diurut ke
bawah, hingga air susu terpancar keluar. Mula-mula diperah dengan pelan
dan secara bertahap menjadi lebih cepat. Satu-dua pancaran awal (stripping)
dibuang dengan asumsi kotor. Pemerahan diulang terus sampai air susu dalam
ambing diperkirakan telah habis keluar, ditandai dengan sudah tidak keluamya
air susu dari puting. Ambing yang kosong, dalam rabaan tidak lagi terasa ada
gumpalan susu. Secara alamiah, susu keluar dari puting ketika disedot mulut
anak yang dalam kondisi basah serta sedotan yang lembut dan konstan. Hal
demikian berbeda dengan sewaktu diurut oleh juru perah. Dalam keadaan
belum terbiasa urutan tang an dapat menimbulkan rasa nyeri dan iritasi pada
puting. Untuk mengurangi iritasi, telapak tangan pemerah dan puting sapi
terlebih dahulu dilumuri pelicin secukupnya menggunakan minyak kelapa
atau vaselin, terutama bagi sapi yang baru pertama kali diperah. Setelah selesai,
ambing dan puting dicuci dengan air hangat-hangat kuku, kemudian puting
dicelup atau disemprot menggunakan air dicampur yodium atau biosida.

Merangsang Keluarnya Air Susu


Khusus untuk sapi yang baru pertama diperah, kadang sukar atau masih
sedikit keluar air susunya. Untuk itu dapat dicoba dengan menyusukan anak
sapi ke induk sebagai awal pengenalan keluamya air susu, sehingga selanjutnya
diharapkan akan keluar dengan lancar. Pemerahan dilakukan secara bertahap,
yaitu sapi diperah sedikit demi sedikit, kemudian akan menjadi terbiasa. Sapi
yang sudah biasa, bila diperah akan mengikuti perlakuan dengan tenang.

Memerah Menggunakan Mesin


Memerah menggunakan mesin lebih menjamin kecepatan, kualitas, kesehatan
dan kebersihan susu, karena lang sung dialirkan ke wadah penampung susu
atau tangki pendingin. Kontak langsung dengan tangan juru perah yang
dikhawatirkan membawa jasad renik kontaminan dapat ditekan sampai batas

62 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


minimal. Mesin ini memiliki empat tabung penyedot air susu untuk setiap alat
sehingga satu ekor sapi keempat putingnya diperah secara bersamaan.

Mesin Perah Tunggal atau Ganda


Alat perah ini bentuknya portable, dapat dipindah dan hanya untuk kapasitas
satu atau dua ekor untuk satu kali waktu pemerahan. Alat ini dilengkapi alat
bantu beroda yang dapat ditarik dan dipakai secara bergantian dari sapi satu
ke sapi yang lain. Penggunaan mesin perah sering masih menyisakan susu
yang tidak keluar tuntas dari ambing. Dalam hal demikian dapat kemudian
dituntaskan secara manual. Air susu yang tersisa waktu pemerahan dapat
berpotensi menimbulkan mastitis.

Gambar 5.3 Mesin perah portable double yang dioperasikan untuk dua ekor sapi
sekali perah

Mesin Perah Multiple


Disediakan terutama untuk kapasitas beberapa ekor untuk satu kali waktu
perah. Alat ini tersedia dalam beberapa pilihan kapasitas perah. Yang banyak
dipasarkan adalah untuk dua ekor, enam ekor, 10ekor, 12 ekor sapi dalam satu
kali perah, atau dapat disesuaikan kapasitasnya dengan penambahan unit.
Cincin lipatan puting dapat menjadi penyebab masalah dalam pemerahan
apabila cawan puting dari mesin perah tergerak keatas karena kekuatan tarikan
keadaan vakum hingga posisinya menjadi semakin naik ke arah ambing yang
sedang dalam proses diperah. Akibatnya dapat menjepit cincin lipatan puting
dan menghentikan aliran susu keluar (Gambar 5.5). Pergerakan ke atas juga
dapat menyebabkan iritasi ke dalam jaringan sensitif ambing atau menjadi
penyebab luka atau mastitis.

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 63


Gambar 5.4 Mesin perah multiple, dengan kapasitas perah satu kali 12 ekor. Susu
individual sapi yang masuk ke dalam tabung gelas penampung, secara
otomatis tercatat

PENYANGGA
KELENJAR
ASESORIUS

ALIRAN ~u,~u,­
TERJEP IT OLEH
TERN GKATN YA
CAWAN PUTING

VAKUM
t

Gambar 5.5 Cawan puting yang dapat terangkat naik oleh pengaruh hampa udara
cenderung menekan terbukanya saluran dan menghentikan aliran susu
keluar (Quinn, 1980)

64 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


TlNDAKAN SETELAH PEMERAHAN
Mata rantai pengamanan dalam proses pemerahan termasuk tindakan
yang harus dilakukan seusai pemerahan, terutama dalam penanganan alat
perah dan susu yang dihasilkan. Kelengahan dalam penanganan alat dan susu
pascapanen dapat berpengaruh besar pada kualitas susu.

Penanganan Alat
Masalah penting dalam penanganan alat adalah memastikan bahwa dapat
beroperasi dengan baik pada saat dipakai serta dijamin bersih dan higienis.
Alat yang beroperasi dengan baik tetapi tanpa jaminan kebersihan dan sanitasi
maka hasil kualitas produknya tidak akan optimal.

Alat Kelengkapan Perah


Selesai memerah, semua alat yang dipakai segera direndam dalam air,
dicuci bersih dengan sabun, disucihamakan dan dikeringkan dengan dijemur
di tempat bersih. Setelah kering segera disimpan pada tempatnya dalam
keadaan siap untuk dipakai berikutnya. Dihindari untuk menunda pencucian
alat sampai menjelang waktu perah berikutnya.

Mesin Perah

Bila menggunakan mesin, sesegera mungkin mesin perah dicuci sesuai


prosedur baku. Penundaan pembersihan berpotensi perkembangbiakan
bakteri dalam setitik air susu yang masih tertinggal, yang dapat mencemari
hasil perahan berikutnya.

Penanganan Susu Hasil Perah


Susu merupakan produk yang mudah rusak oleh bakteri atau cuaca.
Penanganannya perlu diperhatikan mulai dari saat ditampung, dimasukkan
ke dalam tangki pendingin dan terlindung dari dampak cemaran ataupun
penggunaan obat dan terjaga kemurniannya.

Penampungan Susu

Susu ditampung di wadah kaleng khusus yang bersih, kering dan steril.
Dihindari mencampur susu hangat habis perah dengan susu dingin di dalam
satu wadah yang sarna karena dapat berakibat susu menjadi asam, kecuali
dalam hal pemasukan susu ke dalam tangki pendingin, susu hasil perah dapat
lang sung dimasukkan karena akan masuk dalam suatu proses pendinginan
dan lingkungan yang dingin.

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 65


Gambar 5.6 Petugas usai memerah, siap dengan air susu dalam kaleng susu (milk
can) untuk dimasukkan ke dalam tangki pendingin atau dikirim ke
KUD

Pendinginan
Susu adalah bahan pangan yang mudah rusak. Pada saat keluar dari
tubuh sapi, susu dalam kondisi hangat sesuai suhu tubuh sapi. Dalam suhu
susu yang demikian sangat cocok bagi bakteri berkembang biak, dan untuk
menekan perkembang biakan maka susu harus cepat didinginkan. Bakteri
akan cepat berkembang bila tidak didinginkan dalam waktu 1-2 jam dan
susu menjadi rusak terutama di musim panas atau kondisi suhu ruangan
panas dan lembap.

Kemurnian
Kemurnian susu harus dijaga sebaik mungkin. Jangan mengambil kepala
susu dan tidak dibenarkan menambah bahan lain untuk dicampurkan susu
termasuk air dan bahan pengawet dalam kondisi apapun juga. Penyimpangan
terhadap kemurnian susu dapat diungkap melalui pengujian laboratorium.

Residu Antibiotik
Dilarang mengirim susu untuk konsumen atau ke temp at penampungan
susu bila sapi dalam kondisi mastitis atau dalam perawatan dokter hewan yang
pengobatannya menggunakan antibiotik atau bahan lain yang menimbulkan
residu. Kaleng susu bekas dipakai menyimpan air susu yang mengandung
cemaran antibiotik harus disendirikan dan dicuci bersih sebelum dipakai
kembali untuk pemakaian normal.

66 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


Perlindungan terhadap Dampak Lingkungan

Lindungi susu dari situasi lingkungan yang tidak menguntungkan misalnya


dari sengatan sinar matahari langsung, lingkungan udara yang lembap atau
berdebu. Lingkungan yang berbau tidak sedap juga dapat memengaruhi
kualitas bau susu yang disimpan. Tabung pengangkut susu harus dalam
kondisi bersih dan bebas dari cemaran mikroba atau kimia.

PERHATIAN TERHADAP KESEHATAN SAP.


Juru perah wajib memperhatikan dan mengamati kesehatan sapi sebelum
diperah. Susu berasal dari sapi yang tidak sehat tidak boleh dikonsumsi.
Beberapa penyakit bukan saja menular antarsapi tetapi juga ke orang. Dalam
keadaan ragu, perlu konsultasi dengan dokter hewan.
Penekanan perlunya observasi rutin terhadap kemungkinan adanya sapi
yang sedang sakit, atau dikhawatirkan ada gangguan kesehatan sewaktu
akan diperah harus ditanamkan kepada petugas. Juru perah harus sekurang­
kurangnya memiliki kemampuan mengenal bila ada sapi yang kurang sehat,
terkena mastitis, menderita radang sendi kaki, menunjukkan gejala birahi,
untuk dilaporkan ke penanggung jawab kesehatan hewan agar menambah
kepekaan pemantauan kesehatan.

Pengamatan Sebelum dan Saat Diperah


Juru perah perlu melakukan pengamatan terhadap kondisi sapi sebelum
melakukan tugasnya. Pengamatan oleh juru perah dilakukan sekurang­
kurangnya dua kali dalam satu hari sehingga sangat membantu dalam deteksi
dini terhadap berbagai gejala gangguan seperti penurunan nafsu makan,
pincang kaki, kuku yang sudah waktunya harus dipotong, tinja yang lembek,
rasa nyeri ambing sewaktu diperah, perubahan wama atau kekentalan susu
atau penurunan produksi secara individual. Setiap ditemukan perubahan
atau kejanggalan pada perilaku sapi yang akan diperah harus dicatat dan
dilaporkan kepada penanggung jawab kesehatan hewan.

Mastitis Klinis
Mastitis merupakan penyakit yang banyak dijumpai pada sapi perah.
Juru perah dapat sangat membantu tugas pengenalan dini mastitis klinis. Air
susu sapi mastitis akan mencemari kumpulan air susu hewan sehat lainnya
dan meningkatkan angka total plate count (TPC) hingga dapat menurunkan
penilaian kualitas susu secara keseluruhan, dan berpengaruh dalam penurunan
produksi. Air susu sapi mastitis tidak layak konsumsi dan dilarang dijual.

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 67


Pengenalan terhadap kelainan kesehatan sedini mungkin sangat bermanfaat
sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Betapapun baiknya teknik untuk merawat sapi, pad a suatu saat bakteri
masih dapat masuk ke dalam ambing. Apabila ini terjadi, darah putih akan
datang di tempat infeksi untuk melawan bakteri. Hasil uji laboratorium susu
akan menunjukkan hitungan somatik sel tinggi yang berarti terdapat banyak
sel darah putih dalam air susu, yang mengindikasikan telah terjadi infeksi.
Dalam hal ini terjadi banyak kerusakan sel sehingga berpotensi menurunkan
produktivitas. Mempertahankan kandang yang bersih, kering dan menjaga
baik kebersihan peralatan serta melakukan dipping puting, akan menjamin
ambing tetap kuat dan sehat dan berarti menurunkan kemungkinan terjadi
mastitis. Susu sapi mastitis berubah wamanya menjadi kekuningan atau dalam
keadaan tertentu dapat kemerahan terutama bila penyakit sudah melanjut
karena terjadi perdarahan di dalam jaringan ambing.

PELATIHAN JURU PERAH


Keterampilan petugas merupakan jaminan kualitas dan keberhasilan
produktivitas usaha agar berbagai permasalahan dapat diantisipasi atau
dilakukan tindakan secara [Link] mengenali perilaku sapi secaraindividual
banyak dimiliki oleh juru perah karena ada kesempatan minimal dua kali
setiap hari berhubungan langsung secara dekat, sehingga kemampuannya
dan keterampilan yang dimiliki perlu ditingkatkan dan dalam waktu-waktu
tertentu dilakukan penyegaran. Di lain pihak petugas yang ada sering tidak
siap untuk melakukan pekerjaan sebagai juru perah yang mumpuni karen a
tidak memiliki latar belakang pendidikan cukup yang menunjang pekerjaannya.
Untuk meminimalkan kerusakan atau penurunan kualitas air susu, petugas
mesti memperoleh pemahaman yang baik tentang mengapa sesuatu hal harus
dilakukan atau tidak boleh dilakukan sehingga perlu pelatihan dan bimbingan
secara berkelanjutan.

Pemahaman Titik Kritis Bahaya


Seluruh kegiatan pemerahan sapi merupakan suatu rangkaian proses yang
saling terkait dan hams dijaga keamanannya mulai dari kandang sampai ke
meja makan dan minum. Juru perah harus paham sekali bagian titik-titik kritis
bahaya yang hams memperoleh perhatian lebih. Misalnya pada saat sehabis
diperah, puting sapi hams dicelup ke dalam larutan yodium. Bagipetugas yang
tidak paham letak manfaat dan risikonya bila tidak dilakukan, akan dengan
mudah menganggap kurang penting atau bahkan ada kecendemngan untuk
mengabaikan. Pencelupan hanya dipandang sebagai persyaratan kelengkapan
proses rutinitas belaka, tanpa dihayati mengapa perlu dilakukan.

68 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


[uru perah tidak cukup hanya memahami tug as sebagai rutinitas pekerjaan,
tetapi juga harus menghayati kaitan antara apa yang dikerjakan dan tujuan untuk
dilakukan atau tidak dilakukan. Perlu dihayati bahwa memerah sapi bukanlah
sekadar mengeluarkan susu dari ambing sapi tetapi juga untuk memperoleh
hasil produksi yang sehat dan berkualitas, sehingga harus memastikan untuk
melaksanakan seluruh rangkaian pemerahan sesuai prosedur baku.

Kehati-hatian Petugas
Petugas akan menjadi bersikap hati-hati bila memahami dampak bahaya
dari suatu pekerjaan. Latar belakang pendidikan yang dimiliki tidak cukup
misalnya untuk memahami bahwa dampak dari pelaksanaan dipping yang
tidak akurat bisa berpotensi sebagai penyebab mastitis, dan hasil akhir produksi
akan menyebabkan meningkatnya total plate count (TPC) secara keseluruhan
yang berpengaruh besar pada kualitas atau bahkan ditolaknya hasil produksi
oleh konsumen. Dengan diberikan pemahaman bahwa bila puting susu sehabis
perah tidak dicelup bisa berakibat pada terjangkit mastitis dan kualitas produksi,
serta penurunan layak jual produk, maka si pemerah akan mengerti bahwa
apa yang dihadapi tidak sesederhana seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Dengan demikian yang bersangkutan akan bertindak lebih berhati-hati dan
secara bertanggung jawab.

RUANG PENYIMPANAN SUSU


Sesaat setelah diperoleh hasil pemerahan dan sebelum didistribusikan atau
disetor ke tempat penampungan susu (TPS), terlebih dahulu ditampung di
dalam ruangan tempat penampungan, baik masih di dalam milk can maupun
tangki pendingin. Tempat penampungan dapat menjadi sumber kontaminasi,
sehingga perlu diperhatikan syarat sebagai berikut.

Tempat dan Kondisi Ruangan


Tempat untuk penyimpan susu disediakan di temp at khusus dengan
sistem dan drainase yang baik, kondisi ruangan bersih, bebas dari lalat, jauh
dari timbunan sampah, kandang ataupun tempat penyimpanan pakan atau
obat-obatan.
Ruangan harus selalu dalam keadaan bersih dan tertutup, bila tidak sedang
dalam proses pengisian atau pembersihan. Pemasukan susu ke dalam tangki
dilakukan secara hati-hati sehingga tidak terbawa kotoran ke dalamnya
dengan cara disaring dengan kain, termasuk dicegah pencemaran kotoran
oleh petugas. Di depan pintu masuk disediakan bak disinfektan untuk sepatu
petugas keluar-masuk ruangan.

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 69


Higiene dan Sanitasi
Lantai, Meja dan Peralatan

Lantai mangan pendingin hams selalu terjaga kebersihannya dan dalam


kondisi kering. Perhatian juga ditujukan pad a kebersihan meja atau rak untuk
meletakkan tabung susu dan alat-alat lainnya.

Petugas dan Tamu

Kebersihan peralatan petugas dan kelengkapannya hams terjaga dengan baik.


Orang yang tidak berkepentingan dilarang memasuki mang tangki pendingin,
terutama sewaktu dalam proses pengisian. Dilakukan pembatasan secara ketat
petugas dan pengunjung yang masuk, kecuali ada keperluan khusus.

Gambar 5.7 Tangki pendingin susu ditempatkan di ruangan yang dijaga kondisi
kebersihannya dan sanitasinya

Tangki Pendingin
Tangki pendingin adalah suatu wadah penampung susu terbuat dari bahan
stainles steel yang dilengkapi dengan sistem pendingin. Manfaatnya adalah
untuk menampung susu dalam jangka waktu lebih lama misalnya 12 jam,
dan terjamin kualitasnya karena keberadaan jasad renik di dalam air susu
terhambat perkembangannya sehingga lebih tahan lama. Umumnya dalam
bentuk kubus atau bentuk sisi samping melingkar, serta dirancang mudah
untuk dibersihkan. Jumlah produksi yang masih sedikit tidak perlu tangki
pendingin tetapi hams segera dikirim ke KUD atau TPS terdekat. Penyetoran
ke KUD oleh peternak tidak dipersyaratkan dalam keadaan dingin, tetapi
untuk penyerahan ke industri pengolahan susu biasanya hams dalam kondisi
dingin. Tangki pendingin dapat dipesan dengan ukuran kapasitas volume

70 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


bervariasi sesuai kebutuhan, biasanya antara 500-5000liter, disesuaikan dengan
kapasitas produksi dan kendaraan pengangkut susu.

Catatan dan Evaluasi Produksi


Hasil produksi dicatat dan dimonitor dengan baik untuk mengetahui kinerja
produksi dengan pengamatan yang akurat secara individual, dan terus diikuti
perkembangannya dalam rangka evaluasi perkembangan usaha. Susu ditimbang
atau diukur volume sebelum dimasukkan ke dalam tangki pendingin.

Monitoring Produksi
Hasil produksi total merupakan indikator yang baik untuk perhitungan
kasar penghasilan usaha budi daya. Dari catatan produksi individual dapat
dilakukan seleksi induk atau memilih pedet keturunan. Catatan produksi juga
dapat digunakan sebagai bahan perhitungan paling menarik ketika menghitung
dan mengatur susunan atau volume rangsum pakan harian.

Evaluasi Hasil Produksi


Berdasarkan hasil catatan secara individu, dapat dievaluasi total produksi
per hari/per pemerahan, puncak produksi dalam satu siklus laktasi serta
hasil keseluruhan produksi dalam satu tahun usaha. Evaluasi ini juga
dimaksudkan untuk seleksi anak yang dilahirkan apakah berasal dari induk
yang berproduksi baik, dengan harapan bahwa anak yang berasal dari induk
dengan produksi tinggi akan menghasilkan keturunan yang tidak jauh berbeda
dari induknya.

Bab 5 - Manajemen Pemerahan 71


Bob
PEMULIABIAKAN
6
Hewan berkembang biak untuk kelangsungan kehidupan melalui anak
keturunan yang dilahirkan dari waktu ke waktu. Dari seluruh rangkaian
perkembangbiakan inilah diharapkan terjadi proses pelestarian generasi
sehingga budi daya hewan dapat lestari dan berkembang secara berkelanjutan
untuk memperoleh kestabilan dan keuntungan usaha budi daya.
Berbagai faktor dapat memengaruhi perkembangbiakan hewan sehingga
perlu memperoleh perhatian khusus. Perhitungan dan ketepatan waktu
mengawinkan sapi, teknik dan metode mengawinkan, keberhasilan konsepsi
atau pembuahan, kelahiran pedet, hasil produksi susu dan biaya produksi
merupakan suatu rangkaian tata kelola yang menyatu dan saling memengaruhi
satu sarna lain sehingga perlu pemikiran secara utuh dan proporsional. Untuk
keperluan tersebut maka pemuliabiakan dalam budi daya sapi perah menjadi
sangat penting. Agar supaya budi daya dapat mendatangkan keuntungan secara
optimal, maka diperlukan pengaturan dan tata kelola reproduksi yang cermat
agar perkembangbiakan sapi berlangsung baik dan dengan pembiayaan yang
memenuhi skala usaha secara profesional.
Ada dua cara untuk mengawinkan sapi, yaitu kawin secara alami, dalam
hal ini sapi betina dikawinkan dengan sapi jantan secara langsung, atau
melalui bantuan teknologi dengan cara memasukkan sperm a awetan yang
dipertahankan hidup ke dalam alat reproduksi betina menggunakan alat bantu.
Cara terakhir ini disebut dengan Artificial insemination (AI), atau Inseminasi
buatan (IB),atau di kalangan masyarakat umum disebut dengan kawin suntik.
Istilah kawin suntik dipakai karena di dalam praktik, sperma dimasukkan ke
dalam alat kelamin betina oleh inseminator atau dokter hewan ke dalam alat
reproduksi sapi betina sehingga terkesan disuntikkan. Di samping itu, untuk
kepentingan meningkatkan mutu genetik dan pelestarian plasma nutfah, di
Indonesia telah dikenalkan teknologi Trasfer Embrio yang juga telah banyak
dikembangkan di banyak negara maju.

73
PERKAWINAN ALAMI
Ketika sapi jantan secara alami mengawini betina yang sedang birahi atau
berada dalam tahap ovulasi, maka pancaran sperma akan masuk ke dalam
vagina. Dalam keadaan ini berjuta-juta spermtozoa dikeluarkan pada setiap
kali pancaran akan berenang dan bergerak dalam getah selaput lendir vagina
hewan betina. Sebagian dari sperma dapat lolos melewati leher rahim yang
terbuka dalam kondisi hewan betina birahi, dan beberapa ekor di antaranya
menembus masuk dan bergerak sepanjang uterus menuju oviduk.

Tahap Teriadi Perkawinan


Mengawinkan sapi secara alami merupakan teknologi mengawinkan
konvensional yang sederhana dan mudah dilakukan. Sapi betina yang sedang
birahi siap dikawini pejantan secara langsung. Untuk pelaksanaan kawin alami
diperlukan kesiapan sebagai berikut.

Memelihara Pejantan

Peternak harus secara khusus memelihara sapi jantan yang difungsikan


sebagai pemacek. Dari segi efisiensi cara ini tidak ekonomis karena harus
memelihara pejantan yang berarti diperlukan biaya tersendiri untuk perawatan
termasuk penyediaan kandang.

Menyewa Pejantan

Peternak dapat menyewa pejantan dari peternak lain yang memiliki


pejantan pemacek atau dari kelompok. Dengan meminjam pejantan harus
dihindari kemungkinan penularan penyakit karena di samping berdampak
menular ke betina yang dikawinkan juga berarti membawa penyakit masuk
dan berkembang di lingkungan peternakan.

Tahap Teriadi Konsepsi


Konsepsi atau pembuahan terjadi ketika telur atau ovum yang masak
berhasil dibuahi oleh spermatozoa yang seterusnya akan melekat ke dinding
salah satu dari tanduk rahim hewan betina dan kemudiaan akan berkembang
lebih lanjut menjadi janin. Hanya sebuah sel telur yang telah masak di dalam
oviduk dapat dibuahi oleh satu ekor spermatozoa dan sel telur tersebut
kemudian menjadi tertunas.

74 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Tahap Terbentuk Fetus
Secara berangsur-angsur janin atau embrio yang terbentuk oleh bersatunya
telur dan spermatozoa kemudian akan terns berkembang di dalam uterus induk
dan tumbuh menjadi fetus yang pada saatnya nanti akan lahir sebagai anak.
Dalam perkembangan selanjutnya janin akan membentuk sebuah kantung
berisi cairan selaput janin yang antara lain berfungsi untuk melindunginya dari
pergesekan dengan jaringan tubuh sekitarnya. Pada sapi jumlah anak dalam
satu kelahiran hanya satu ekor, tetapi dalam beberapa kejadian bisa dua ekor.
Berikut adalah foto scekor embrio yang berada di dalam tanduk uterus.

Gambar 6.1 Seekor fetus sapi berada di dalam uterus induk (Smith, 2010)

INSEMINASI BUATAN
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau Artificial Insemination
(AI) adalah kegiatan pembuahan sapi betina oleh sperma sapi jantan dengan
menggunakan alat khusus yang disebut 'insemination gun'. Inseminasi Buatan
pad a hewan peliharaan telah lama dilakukan, yaitu sejak tahun 1322, ketika
seorang kepala suku bangsa Arab yang sedang berperang pada abad ke-14.
Pada peristiwa tersebut kuda tunggangannya sedang birahi. Di suatu mal am
dengan cerdik, dia mencuri semen dari dalam vagina seekor kuda musuh yang
barn saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya menggunakan
tampon [Link] kemudian dimasukkan ke dalam vagina kuda betina
miliknya yang sedang birahi dan ternyata berhasil bunting dan lahirlah kuda
baru yang gagah dan cepat larinya.
Penelitian ilmiah pertama dalam bidang IBpada hewan piaraan dilakukan
oleh seorang ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani
pada tahun 1780 yang berhasil menginseminasi hewan amfibi, dan atas
keberhasilannya kemudian melakukan percobaan pada anjing. Semen yang
dimasukkan langsung ke dalam uterus anjing yang birahi menggunakan

Bab 6 - Pernuliabiakan 75
sebuah spuit, ternyata berhasil membuahkan tiga ekor anak. Dengan berbagai
macam hasil penelitian, Spallanzani kemudian dikenal sebagai Bapak Inseminasi.
Tahun 1782, Rossi, P dalam percobaannya berhasil dengan baik mengulangi
apa yang telah dilakukan oleh Spallanzani. Keberhasilan dalam percobaan
tersebut memperkuat kesimpulan bahwa inseminasi dapat dilakukan dengan
cara buatan.
Di Indonesia Inseminasi Buatan pertama kali diperkenalkan pada awal tahun
lima puluhan oleh Prof B. Seit dari Denmark. Sebagai tindak lanjut kemudian
dibangun beberpa stasiun IB di beberapa provinsi misalnya di Provinsi Jawa
Tengah (Ungaran dan Mirit/Kedu Selatan), Jawa Timur (Pakong dan Grati),
Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan di Bali (Baturati) dan Bogor (Jawa barat).
Dewasa ini IB telah sangat populer di kalangan peternak termasuk peternak
tradisional, dan biasa dilakukan untuk mengawinkan sapi perah maupun
potong. Dalam kapasitas yang masih terbatas orang juga melakukannya pada
kambing dan ayam.
Dalam hal pelaksanaan inseminasi buatan, sapi jantan pemacek berperan
sebagai sapi pendonor sperma untuk betina, dan inseminasinya dilakukan melalui
perkawinan buatan (tidak langsung), dengan bantuan alat dan inseminator.
Jadi tidak ada perkawinan langsung antara pemacek dan sapi betina. Seek or
sapi jantan dalam satu tahun dapat mendonorkan spermanya kepada resipien
(penerima) sebanyak 20.000 ekor betina. Sebagai perbandingan, sapi pejantan
yang dikawinkan secara alamiah hanya dapat mengawini sapi betina sebanyak
120 ekor per tahun.

Penanganan Semen
Mengawinkan sapi dengan metode inseminasi buatan memerlukan kegiatan
dalam tiga tahap mulai dari pengambilan sperma, penyimpanan sesuai standar
prosedur baku dan pelaksanaan inseminasi. Dalam praktiknya, semen dapat
dipesan dan dibeli melalui koperasi yang telah menyimpannya sesuai prosedur
termasuk memberikan pelayanan oleh inseminator atau dokter hewan praktik
untuk melakukan lB.
a. Pengumpulan semen (sperm a)
Pemanenan sperma sapi pemacek dilakukan oleh perusahaan produsen
semen. Di Indonesia diakukan oleh instansi pemerintah (terutama) oleh Balai
Besar Inseminasi Buatan di Singosari (Jawa Timur) dan di Lembang (Jawa
Barat). Sapi jantan pemacek sudah mengalami seleksi sesuai genetik dan
status kesehatannya. Pada tahap awal sperma dikumpulkan menggunakan
bantuan vagina buatan berupa tabung silinder terbuat dari karet sebagai
timan yang ditempatkan pada suatu bentuk sapi timan (Gambar 6.2), agar
menimbulkan rangsangan bagi pemacek seperti terjadi pada perkawinan
alami dan dilengkapi alat ejakulasi elektrik untuk memacu keluarnya

76 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


sperma. Di dalam silinder karet dibuat sebuah rongga yang dapat diisi air
dengan suhu 40-450 C seperti suhu tubuh sapi. Di sisi ruang dalam silinder
diberikan pelumas untuk memungkinkan penetrasi penis sapi jantan dan
sperma yang terpancar ditampung dalam sebuah gelas yang terpasang di
ujung silinder karet. Untuk memancing sapi jantan agar timbul birahi dalam
pengambilan sperm a melalui cara tiruan dapat berjalan lancer digunakan
pancingan sapi betina yang sedang birahi.

Gambar 6.2 Petugas memanen semen dari seekor sapi pejantan FH dengan pancingan
sapi betina tiruan (B). Sperma ditampung melalui tabung silinder (A)
ke dalam wadah. (Anonim, 2011)

b. Penyimpanan semen. Semen disimpan dalam kondisi dingin agar tidak rusak
dan tahan lama. Sperma kemudian diencerkan dan dimasukkan ke dalam
pipet plastik kecil atau biasa disebut "straw" sebagai penampung dan disimpan
ke dalam alat penyimpan sangat dingin menggunakan nitrogen cair dengan
suhu -196° C. Untuk pengawetan di tingkat lapangan sewaktu petugas akan

Gambar 6.3 Sebuah tabung berisi nitrogen cair untuk menyimpan semen

Bab 6 - Pernuliabiakan 77
melakukan inseminasi digunakan tangki khusus yang lebih keeil atau termos
untuk menyimpan sementara. Setiap straw mengandung sedikitnya 10.000
sel sperma hidup. Untuk menjaga kelestarian hidup sperma dalam jangka
panjang, nitrogen eair diganti setiap 60-90 hari penyimpanan.

Pelaksanaan Inseminasi
Untuk keberhasilan pelaksanaan diperlukan petugas teknis inseminator
yang sudah berpengalaman. Di daerah peternakan sapi, termasuk sapi perah
biasanya sudah ada petugas inseminator pemerintah, petugas Koperasi Unit
Desa (KUD), atau inseminator mandiri bersertifikat melakukan IB, atau dokter
hewan mandiri. Kelengkapan yang dibutuhkan untuk perkawinan IB adalah
ketersediaan semen yang sudah diketahui jenis dan kualitasnya.
Inseminasi buatan merupakan teknologi perkawinan tidak langsung yang
telah terbukti memiliki banyak manfaat dalam mendorong kemajuan di bidang
perkembangbiakan hewan. Untuk meneapai sukses dalam pelaksanaannya,
perlu diperhatikan tentang keberadaan sperm a atau semen sebagai bahan baku
untuk inseminasi, petugas pelaksana dan teknologi dengan eara kerja sesuai
standar keterampilan dan kewenangan yang telah ditetapkan.

Gambar 6.4 Pelaksanaan IE oleh petugas inseminator. Semen dimasukkan


menggunakan "insemination gun"

Sperm a sebagai bahan utama dapat diperoleh atau dibeli dari pabrik at au
pusat pembuat semen, umumnya di Balai Inseminasi Buatan yang ditunjuk
pemerintah. Hams diyakinkan bahwa semen yang dipakai adalah dari jenis
sapi perah dan dengan rumpun sesuai yang diinginkan pemilik ternak. Di
dalam lingkup Koperasi Unit Desa (KUD), pelayanan IB biasa dilakukan oleh
petugas inseminator KUD.

78 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Oalam praktik IB, metode rektum sangat populer untuk dilakukan, yaitu
penempatan semennya dipandu melalui palpasi rektum. Pergunakan sarung
tangan panjang sampai menutup lengan sebelum melakukan eksplorasi rektal,
dimaksudkan untuk pengamanan utamanya terhadap penyakit bersifat zoonosis.
Sebagai pelicin sewaktu tangan memasuki rongga rektum digunakan vaselin.
Untuk selanjutnya tang an kanan memegang spuit alat penyemprot semen
atau insemination gun (senjata inseminasi). Spuit disusupkan memasuki vagina
secara hati-hati sampai mencapai serviks, dipandu tangan kiri yang sudah
masuk dan berada di dalam rektum. Oalam posisi keempat di dalam serviks,
semen yang sudah siap berada di dalam kateter ditiup keluar dari straw dan
IB telah berhasil dilakukan (Gambar 6.5). Oosis sperma yang dimasukkan ke
dalam uterus berkisar antara 0,25-0,5 cc.

Gambar 6.S Ilustrasi cara inseminator memasukkan sperma jantan ke alat reproduksi
sapi betina

Manfaat
Pemerintah telah sejak lama mendorong peternak untuk mengawinkan
sapi melalui cara IBdengan memberikan penyuluhan dan penyediaan petugas
inseminator terampil di lapangan dan pedesaan. Hal ini dilakukan karena
perkawinan dengan cara IB memiliki banyak keuntungan antara lain sebagai
berikut.
1. Tidak perlu memelihara pemacek. Peternak tidak perlu secara khusus
memelihara sapi jantan sebagai pemacek untuk ternaknya karena akan
memerlukan perawatan dan biaya tersendiri. Oengan demikian ada
penghematan karena harga dan biaya IB lebih murah dibanding biaya
pemeliharaan dan pemberian pakan sapi pejantan.
2. Meningkatkan mutu genetik. Sapijantan pemacek di lingkungan peternakan
jenis dan kualitasnya terbatas. Mengawinkan sapi betina secara IB dapat
menggunakan sperma sapi jantan unggul yang sudah terpilih secara baik

Bab 6 - Pernuliabiakan 79
dan diselenggarakan seeara profesional. Peternak memiliki pilihan berbagai
jenis genetik dan ras pejantan yang disediakan produsen dan bahkan
tersedia jenis-jenis sapi eksotik impor yang telah terseleksi dengan baik.
3. Optimalisasi penggunaanbibitunggul terpilih. Sapi pejantan unggul yang
baik, dapat dipertahankan oleh produsen semen untuk beberapa tahun
lamanya. Semen yang dihasilkan masih dapat tersimpan dengan aman,
meskipun seandainya pejantan yang bersangkutan telah mati atau tidak
lagi layak digunakan karena alasan kesehatan atau mengidap penyakit
menular termasuk yang ditularkan melalui semen.
4. Memperkecilrisiko kecelakaanfisik waktu kawin. Sapi kawin seeara alami
berpotensi terjadi keeelakaan fisik, terutama sapi betina dengan proporsi
tubuh keeil yang kawin dengan pejantan dengan tubuh besar. Keeelakaan
terjadi karena fisik pejantan yang melebihi kemampuan betina menahan
beban sapi jantan.
5. Memperkecil risiko penularanpenyakit. Hewan diharapkan terhindar dari
penularan penyakit terutama yang dapat ditularkan melalui hubungan
kelamin. Beberapa penyakit dapat ditularkan melalui kawin alami, baik
seeara mekanis melalui kontak langsung maupun biologis karena sifat
organisme patogen yang dapat ditularkan dari pejantan ke hewan betina
atau sebaliknya, misalnya pada penyakit Infectious Bovine Vulvo Vaginitis
dan Bovine ViralDiarrhea. Semen untuk IBtelah dipersiapkan melalui seleksi
pejantan yang diawasi kesehatannya seeara teratur mulai dari perawatan
sehari-hari sampai waktu diambil semennya dan pemeriksaan kesehatan
semen.
6. Membantu mengatur jarak kelahiran. Campur tangan manusia dalam
menentukan saat sapi kawin dapat mewujudkan upaya mengatur jarak
kelahiran ternak seeara lebih baik dan terprogram. Pelayanan IB yang
selalu tersedia di kawasan peternakan dan dilakukan dengan eepat dan
tepat, merupakan bentuk kemudahan yang dapat diperoleh peternak
sehingga membantu program pemuliabiakan ternak seeara baik. Ternak
yang berada dalam kondisi birahi dapat dilayani IB seeara tepat waktu.
Melalui pelayanan yang tepat akan dieapai peningkatan angka kelahiran
di kawasan peternakan yang membutuhkan.
7. Memperkecilrisiko [Link] banyaknya alternatif pilihan semen
pejantan yang tersedia, maka dapat meneegah terjadinya kawin sedarah
pad a sapi betina (inbreeding).

Kelemahan
Di samping faktor keuntungan terdapat juga sisi kelemahan yang perlu
memperoleh perhatian untuk memperkeeil risiko kerugian yang mungkin
dapat terjadi. Di antara faktor kerugian tersebut adalah sebagai berikut.

80 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


a. Risiko kesulitan kelahiran. Perusahan produsen semen umumnya
menyediakan jenis sapi-sapi unggul yang memiliki proporsi postur
tubuh prima dan besar yang biasa disukai peternak. Apabila semen yang
digunakan berasal dari pejantan dengan breed/turunan yang besar dan
diinseminasikan pada sapi betina keturunan kecil dapat terjadi kesulitan
pada saat melahirkan (distokia).
b. Risiko inbreeding. Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila
menggunakan semen beku pejantan yang sarna terus-menerus dalarn jangka
waktu lama, yang dapat berakibat pada penurunan kualitas keturunan.
c. Risiko penyebaran sifat genetik yang jelek. Menurunnya sifat-sifat genetik
yang jelek dapat terjadi apabila pejantan donor tidak dipantau sifat
genetiknya dengan baik (tidak melalui "progeny test"). Penyebaran sifat
genetik yang tidak baik akan berdampak secara luas melalui perkawinan
IB karena semen dapat tersebar ke banyak resipien.

Kineria Inseminasi
Sapi dikawinkan alami maupun melalui IB tidak dijamin keberhasilan
konsepsi dengan hanya satu kali kawin. Sesuai pengalaman, untuk perkawinan
dengan cara inseminasi buatan biasanya 2-3 kali baru berhasil atau bahkan
lebih. Mundurnya keberhasilan konsepsi akan merugikan peternak karena
biaya makan dan perawatan yang "hilang", sedangkan untuk periode birahi
berikutnya masih harus menunggu paling cepat 21 hari tahapan birahi
berikutnya. Berbagai penyebab ketidakberhasilan bunting melalui inseminasi
buatan yang dipengaruhi baik oleh faktor teknis maupun nonteknis antara
lain sebagai berikut.
1. Kualitas semen di bawah standar. Keadaan ini dipengaruhi oleh faktor
individu hewan jantan yang memiliki spermatozoa dalam kondisi lemah
sehingga tidak mampu bergerak dan memiliki kekuatan cukup menembus
dinding sel telur untuk dibuahi sehingga mengalami kegagalan pembuahan
dan membentuk janin.
2. Penyimpanan semen yang kurang baik. Faktor ini pada IBterutama terkait
dengan rantai dingin. Semen untuk pelaksanaan IBharus tersimpan dingin
sesuai prosedur baku sebelum dipakai. Penyimpangan terhadap prosedur
tetap akan mengakibatkan penurunan kualitas semen atau bahkan dapat
menyebabkan kematian spermatozoa.
3. Pengenalan atau deteksi masa birahi yang tidak tepat. Mendeteksi saat
sapi mengalarni birahi adalah sangat penting dan menentukan keberhasilan
pembuahan. Keterlambatan untuk melakukan IB sehingga tidak tepat
waktu dengan terjadinya ovulasi dan masaknya sel telur sapi betina akan
menyebabkan kegagalan dalam memperoleh hasil yang optimal.

Bab 6 - Pernuliabiakan 81
4. Embrio terhisap kembali oleh tubuh induk, atau gugur sebelum waktunya.
Dalam suatu proses fisiologis yang abnormal karena pengaruh hormonal,
nutrisi yang buruk, keadaan stres atau penurunan kondisi kesehatan
induk, sel telur yang telah dibuahi dapat terserap kembali oleh induk
dan mengakibatkan kegagalan untuk berkembang menjadi janin, atau
mengalami keguguran.

TRANSFER EMBRIO
Teknologi transfer embrio (TE) merupakan teknik pemuliabiakan yang
secara ilmu pengetahuan merupakan kemajuan dibanding IBkarena mampu
menghasilkan embrio lebih banyak yang siap ditanamkan ke temak penerima.
Teknologi TE dilakukan dengan cara pemindahan embrio yang diperoleh
secara in vivo yaitu embrio diambil dari hewan betina bunting sebagai donor.
Embrio dapat juga diperoleh secara in vitro yaitu fertilisasi dilakukan di luar
tubuh hewan donor. Baik fertilisasi in vivo maupun in vitro, embrio kemudian
dimasukkan ke uterus hewan betina lain sebagai resipien (betina penerima).

Seiarah
Transfer embrio (TE)mulai dikembangkan pada tahun (1970-1980)an. Di
Indonesia mulai diperkenalkan tahun [Link] pertama kalinya dipraktikkan
oleh Walter Heape di tahun 1890 dengan memindahkan dua embrio kelinci
Anggora ke Belgian doe bunting. Pada hewan pangan dimulai tahun 1930
menggunakan domba dan kambing. Tetapi TE yang berhasil baik dilaporkan
pada sapi dan babi oleh Jim Rowson di Cambridge England dan secara
komersiel dilakukan [Link] ini penting dalam rangka meningkatkan
mutu genetik dan pelestarian plasma nutfah.

Teknik Pelaksanaan
Untuk melakukan TE diperlukan beberapa tahapan yang harus dilakukan
secara berturutan mulai dari seleksi sapi yang akan dipakai sebagai pendonor
dan resipien, penyiapan betina resipien agar terjadi ovulasi, melakukan
sinkronisasi birahi, mengawinkan sapi donor, mengumpulkan embrio yang
sudah jadi dan menyeleksinya serta terakhir menanamkan embrio ke dalam
uterus resipien.
1. Seleksi sapi betina donor dan resipien. Sapi donor diseleksi untuk
memperoleh genetik dan sel telur berkualitas. Resipien diseleksi dan
dipersiapkan untuk nantinya dapat menerima pencangkokan embrio yang
akan ditanamkan di rahimnya dan melahirkan anak.

82 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


2. Super ovulasi. Agar dapat diperoleh pelepasan sel telur dalam jumlah
banyak dalam satu masa birahi dilakukan induksi dengan cara superovulasi
pada seekor sapi perah donor betina dengan memberi injeksi hormon
gonadotropin secara intra muskuler atau subkutan. Prinsip dasar dari
superovulasi adalah merangsang perkembangan folikuler secara ekstensif
menggunakan hormon. Hormon Gonadotropin yang bisa digunakan untuk
induksi super ovulasi adalah Folliclestimulating hormon (FSH),Pregnant mare
serum gonadotropin (PMSG),dan Human Chorionic Gonadothariopine (HCG).
Pemberian preparat Gonadotropin dilakukan pad a fase luteal, yaitu pada
hari ke-8-12 yang diikuti dengan pemberian preparat prostaglandin F2-alpha
(PGF 2a) untuk melisiskan korpus luteumnya pada fase proestrus, yaitu
pada hari ke-16 sampai siklus birahi tanpa diikuti pemberian PGF2a
3. Sinkronisasi birahi. Sinkronisasi estrus adalah upaya penyerentaan dalam
rangka pengendalian siklus birahi untuk mensinkronkan kondisi reproduksi
sapi sehingga birahi terjadi secara bersamaan antara sapi betina donor dan
resipien. Untuk penyerentaan birahi maka perlu diketahui siklus birahi
betina resipien karena korpus luteum sapi perah peka terhadap PGF2a hari
ke-5-14 siklus birahi. Jika korpus luteum peka terhadap perlakuan PGF2a,
maka birahi akan timbull-4 hari atau rata-rata 2 hari setelah penyuntikan
PGF2a• Apabila belum diketahui siklus birahi resipien, maka dilakukan
penyuntikan PGF2a sebanyak 2 kali dengan interval 10hari melalui aplikasi
intramuskuler.
4. Perkawinan hewan donor. Sapi perah betina donor yang telah disuntik
superovulasi, dapat dikawinkan alami atau IB. Pejantan atau semen yang
akan digunakan untuk mengawini betina donor merupakan pejantan
unggul dan dengan dosis dua kali lipat. Dosis pertama diberikan setelah
6 jam gejala birahi dan dosis kedua setelah 6 jam kemudian.
5. Koleksi embrio. Koleksi embrio dapat dilakukan pad a hari ke-6-8 setelah
perkawinan, ketika embrio sudah ada pada tanduk uterus. Sebelum
dilakukan panen embrio sapi donor dimasukkan ke kandang penjepit
agar mudah ditangani saat koleksi embrio.
6. Evaluasi dan seleksi embrio. Setelah koleksi embrio, kemudian dilakukan
evaluasi dan seleksi embrio. Tahap ini penting guna menyeleksi embrio yang
berkualitas dan siap ditransfer ke sapi betina resipien atau dibekukan untuk
disimpan. Selanjutnya embrio hasil seleksi dimasukkan ke dalam straw.
7. Metode transfer embrio. Transfer embrio dapat dilakukan dengan cara
pembedahan (surgical transfer) dan metode tanpa pembedahan (non-surgical
transfer). Metode tanpa pembedahan embrio dimasukkan menggunakan
straw dan gun insemination. Metode pembedahan dilakukan dengan membuat
sayatan di daerah tengah perut (laparatomy) atau sayatan samping perut
(flank incition).

Bab 6 - Pernuliabiakan 83
Ada perbedaansasaran dalam penggunaankedua teknologiperkembangbiakan
melalui IB atau TE, antara lain sebagaimana tersebut dalam TabeI6.1. Untuk
memperoleh derajad kemurnian dan perbaikan mutu genetik, TElebih memiliki
keunggulan, tetapi dari segi kepraktisan pelaksanaan di lapangan, IB lebih
mudah dan praktis untuk dilaksanakan secara rutin menggunakan teknologi
yang lebih sederhana.

Tabel 6.1 Persamaan dan perbedaan penggunaan teknologi IB dan ET sehubungan


sasaran yang ingin dicapai

No Inseminasi Buatan (lB) Transfer Embrio (TE)


1. Perbaikan mutu genetik hanya berasal Perbaikan mutu genetik dapat berasal
dari pejantan unggul tertentu. dari betina dan pejantan unggul
terpilih.
2. Untuk memperoleh derajat kemumian Untuk memperoleh derajat kemumian
mutu genetik, memerlukan waktu mutu genetik jauh lebih cepat dibanding
lama cara IB
3. Satu ekor induk menghasilkan satu ekor Satu induk donor mampu menghasilkan
pedet per tahun. lebih dari 20-30 ekor embrio per
tahun.
4. Tidak dalamkapasitas upayamemperoleh Memungkinkan upaya kelahiran kembar
kelahiran kembar (lebih dari satu ekor).
5. Keberhasilan untuk dilakukan pada Lebihmemungkinkan upaya keberhasilan
induk dengan kondisi reproduksi yang pada kondisi organ reproduksi induk
kurang subur sangat kedL yang kurang subur

SELANG BERANAK
Perhatian dan pengamatan khusus perlu dilakukan manakala sudah sampai
saatnya sapi mencapai usia dewasa kelamin dan memenuhi syarat fisik dan
fisiologis untuk dikawinkan serta tahapan-tahapan perkawinan dan kelahiran
selanjutnya semasa masih dalam usia produktif. Keterlambatan dalam mengatur
mata rantai pengembangbiakan akan berdampak menghambat kemajuan us aha
secara keseluruhan. Tata laksana yang baik dengan perencanaan program
reproduksi secara konsepsional dengan pengaturan selang beranak (calving
interfal) yang tepat akan menjamin efisiensi usaha.

Perkawinan Kembali Sapi Pascamelahirkan


Sapi dapat mulai dikawinkan kembali beberapa waktu sesudah beranak.
Untuk tidak mengurangi kesempatan memperoleh hasil produksi susu secara
optimal, maka dalam kurun waktu 60-90 hari setelah melahirkan, sapi induk
harus segera dikawinkan kembali. Penundaan atau keterlambatan akan
menyebabkan selang beranak menjadi terlalu panjang. Sebaliknya bila sapi

84 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


dikawinkan terlalu awal (kurang dari 40hari) karena ingin segera memanfaatkan
kesempatan dapat anak lagi, juga kurang bijak karena pada saat itu kerusakan
jaringan reproduksi akibat melahirkan masih belum pulih sempuma.

Jarak Antara Dua Kelahiran


Antara satu kelahiran dan kelahiran berikutnya selang beranak harus
diupayakan tidak lebih dari 1 tahun. Hal ini dapat dijadwalkan antara lain
denganmempertimbangkan perhitungan data (a) Lama birahi; (b) Siklus birahi
terulang kembali setiap 21 hari sekali; (c) Masa laktasi 10 bulan atau 305 hari;
(d) Masa kering 8 minggu atau 2 bulan dan (e)Lama kebuntingan kurang lebih
9bulan atau 280hari. Dari data-data tersebut dapat kemudian dibuat perhitungan
kapan dilakukan perkawinan kembali induk sapi pascamelahirkan.

Dampak Paniang Selang Beranak


Setelah kelahiran anak pertama, induk sapi biasa dikawinkan pad a hitungan
birahi kedua setelah kelahiran. Pada masa birahi pertama diperkirakan sapi
belum siap secara fisik untuk bunting lagi. Diharapkan agar setelah perkawinan
pad a saat birahi yang kedua atau ketiga, sapi langsung terjadi pembuahan
sehingga selang beranak tercapai pad a tingkat paling ideal. Apa bila hal ini
tidak tercapai akan terjadi penurunan efisiensi akibat dari pengurangan total
produksi susu dan kelahiran pedet dalam waktu harapan hidup sapi.
1. Penurunan efisiensi usaha. Tingkat efisiensi usaha sapi perah akan dapat
dicapai dengan baik bila selang beranak dapat diatur untuk tidak lebih
dari 365 hari berselang. Selang beranak yang mundur dari perhitungan
ideal dapat berakibat pada penurunan total produksi susu.
2. Pengurangan jumlah anak yang diperoleh. Dalam jangka panjang apa
bila masalah selang beranak menjadi berkepanjangan dapat berakibat
pada berkurangnya total perolehan anak dalam satu kurun waktu mas a
pemeliharaan hewan.

Permasalahan Terkait Selang Beranak


Ada berbagai macam faktor yang langsung ataupun tidak langsung dapat
menjadi sebab kurang efisiennya tat a laksana pengembangbiakan sapi perah
sehingga timbul masalah pada selang beranak yang panjang melebihi harapan
ideal. Beberapa faktor di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Faktor genetik. Suatu masalah bawaan yang diturunkan dari induk,
bapak atau jenis sapinya. Pembelian sapi untuk ditemakkan memerlukan
pengamatan asal-usul keturunan yang mampu menghasilkan keturunan
dengan selang beranak terbaik. Berbagai jenis sapi memiliki catatan selang

Bab 6 - Pernuliabiakan 85
beranak berbeda. [enis sapi dengan selang beranak pedet pendek lebih
banyak memberikan keuntungan dibanding yang panjang.
2. Faktor fisik dan kesehatan. Sapi dengan penampilan fisik dan kesehatan
prima dapat diharapkan hewan memiliki kinerja reproduksi optimal.
Keadaan fisik ini juga harus ditunjang dengan cara perawatan yang
memadai. Sapi yang dibeli dari pasar hams melewati pengamatan sesuai
kriteria sebagai calon sapi perah yang baik.
3. Faktor Nutrisi. Kandungan nutrisi pakan yang terjamin baik sangat
diperlukan dalam menjaga kesuburan reproduksi. Kekurangan nutrisi
dapat menyebabkan gangguan pada pencapaian dewasa kelamin dan
kesuburan alat reproduksi.
4. Faktor pengenalan birahi. Ketepatan perhitungan atau pengenalan masa
birahi sangat berpengaruh pada keberhasilan mengawinkan sapi dan selang
beranak. Ketepatan teknik mengawinkan temtama pada pelaksanaan IB
menjadi jaminan perolehan hasil yang optimal misalnya dalam memasukkan
sperm a ke organ genital sapi betina.

Gangguan Kesehatan Reproduksi Akibat Penyakit


Ada beberapa penyakit menular yang khusus mengakibatkan gangguan
pada alat reproduksi utamanya sapi betina yang bunting, misalnya penyakit
brucellosis, trikhomonosis dan tripanosomosis yang dapat mengakibatkan
keguguran pada janin.
Kegagalan dalam pembuahan dan mengakibatkan tidak terjadinya
proses kebuntingan secara normal untuk menghasilkan anak, mempakan
kemgian yang berarti karena hams menunggu kembali satu siklus mata rantai
perkembangbiakan yang panjang. Untuk mencegah atau mengurangi dampak
kemgian akibat kemunduran masa bunting yang diakibatkan oleh kegagalan
pembuahan, perlu dilakukan kajian yang cermat dengan mengingat berbagai
faktor yang mungkin telah terjadi sehingga kemgian tidak akan temlang dan
dapat ditanggulangi secara konsepsional.

86 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Bob
KESEHATAN SAPI PERAH
7

Kemampuan untuk mengenali, mengidentifikasi dan memonitor kondisi


hewan terhadap kemungkinan terjangkit penyakit merupakan modal dasar
yang penting dalam upaya mencegah dan menghindarkan dampak atau
kejadian munculnya penyakit. Sapi perah sehat akan berproduksi optimal dan
susu yang dihasilkan akan memberi harapan besar terhindar dari cemaran
patogen ataupun mikroba lain yang berarti jaminan kualitas produk susu
sebagaimana diharapkan. Setiap gangguan kesehatan, baik secara langsung
atau tidak langsung berpotensi antara lain memengaruhi kesehatan reproduksi
dan produktivitas sapi.
Gangguan reproduksi dapat berakibat mengurangi daya kemampuan
fertilitas hewan atau menyebabkan berbagai kegagalan proses pembuahan
antara lain tidak terjadi konsepsi, embrio mati dalam kandungan, anak lahir
lemah, atau pedet lahir mati. Kesehatan prima, kecukupan pakan, kebersihan
lingkungan, ketersediaan air dan udara yang bersih merupakan unsur penting
untuk pemenuhan kebutuhan hayati hewan secara normal dan berproduksi
optimal.
Sapi sehat memerlukan padang rumput yang menjamin ketersediaan
pakan secara kuantitas dan kualitas serta kandungan nutrisi yang cukup dan
lengkap sesuai tahap pertumbuhan dan kebutuhan produksi. Rumput terlalu
tua atau tumbuh di tanah yang tidak subur atau miskin hara kondisinya akan
juga miskin kandungan nutrisi untuk kebutuhan pakan dan kurang optimal
manfaatnya bagi tubuh. Di sisi lain, rumput yang terlalu muda untuk dipanen
kandungan nutrisi belum optimal serta tidak efisien untuk penyediaan hijauan
bahkan dapat menimbulkan gangguan pencemaan ring an sampai berat.

MANAJEMEN KESEHATAN
Pelaksanaan manajemen kesehatan yang baik dan benar tidak semata
mengutamakan tindakan pengobatan sapi sakit, tetapi lebih penting lagi
untuk menciptakan keadaan agar hewan tetap dalam kondisi sehat dan
tidak terkendala oleh gangguan kesehatan. Penyakit memerlukan perhatian

87
dan penanganan serius, namun manajemen pengelolaan hewan yang baik
dan benar harus lebih mengutamakan pada perkuatan kondisi, kebugaran
tubuh dan kinerja produksi yang memiliki sasaran jauh ke depan dengan
menciptakan kondisi kesehatan kelompok ternak dan lingkungan budi daya
yang prima.
Pengendalian kesehatan sapi perah bertujuan untuk memberikan perhatian
terhadap segala gangguan yang berpotensi memperlemah stabilitas kesehatan
baik secara individual maupun sekelompok hewan dan lingkungan budi daya.
Gangguan kesehatan bukan saja berdampak pada munculnya penyakit yang
terlihat secara klinis, tetapi juga subklinis yang menyimpan potensi kerugian
terutama bila menyangkut masalah kinerja reproduksi. Keseimbangan
kebersihan lingkungan, kecukupan pakan dan air serta udara yang bersih
merupakan unsur penting untuk pemenuhan kebutuhan hayati hewan secara
baik dan proporsional.
Jasad renik sebagai khasanah hayati semesta yang ada memiliki peranan
penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan di alam walaupun di
antaranya ada yang bertindak sebagai pembawa penyakit, tetapi banyak
pula yang memiliki peranan penting dalam membantu keberlangsungan
kehidupan makhluk di muka bumi. Oleh sebab itu, maka tidak semua penyakit
bisa dicegah atau diberantas tuntas, tetapi dapat dikendalikan dalam batas
keseimbangan alam yang bisa dilakukan oleh umat manusia melalui penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi bidang diagnostik patologi, epidemiologi,
imunologi dan pengobatan penyakit.
Daya tahan hewan terhadap penyakit dapat menjadi sangat menu run bila
ada muatan ekstra yang memengaruhi keseimbangan fisiologis sehingga
memicu ketidakberdayaan daya kebal tubuh hewan untuk mempertahankan
kondisi dalam batas normal. Pengaruh temperatur sebagai dampak lingkungan
yang berada di atas suhu normal, dan kelembapan udara yang tinggi dapat
menghalangi mekanisme pengendalian kondisi secara alami. Suhu udara
sekitar yang panas, berpengaruh pada berlangsungnya penguapan cairan
tubuh melalui kulit secara berlebihan atau asupan nutrisi yang kurang, akan
menyebabkan ketidakmampuan tubuh dalam memenuhi tuntutan kebutuhan
membentuk benteng pertahanan tubuh yang diperlukan. Akibatnya hewan
terpaksa menanggung beban tambahan karena tidak mampu menghadapi
setiap serangan agen penyakit atau cekaman yang terjadi.

Kesehatan Pedet
Pedet lahir dalam kondisi yang masih lemah dan tidak memiliki imunitas
cukup untuk menghadapi infeksi dalam dunia barunya di mana penuh
mikroba di sekitar kehidupan di dalam kandang yang kotor dan merupakan
ancaman bagi kesehatannya. Seekor pedet baru lahir memerlukan kondisi

88 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


siap menghadapi infeksi dan cekaman lingkungan. Secara alami kepada
mereka telah dilengkapi dengan ketersediaan kolostrum induk mengandung
zat kebal yang banyak membantu, namun sering semuanya belum cukup
lengkap karena kompleksitas permasalahan di lingkungan yang baru. Infeksi
oleh jasad renik patogen atau parasit tertentu paling sering menyebabkan
pedet menjadi lemah kondisi karena infeksi yang bersifat septikemik, pedet
menjadi diare, menderita sesak napas karena radang paru atau pedet mati
sebelum sempat memperoleh pertolongan pengobatan. Peristiwa terkait dengan
frekuensi dan distribusi agen penyebab penyakit di antara individu dalam
satu kelompok hewan merefleksikan telah terjadi gangguan keseimbangan
dan interaksi antara kekebalan yang dimiliki oleh pedet dan pengaruh kondisi
lingkungan. Penyelesaian terbaik untuk pengelolaan kesehatan pada individu
atau kelompok hewan yang terdampak oleh infeksi jasad renik sedikit banyak
akan tergantung pada praktik manajemen yang tidak mampu meningkatkan
kondisi kesehatan dalam mencegah kejadian penyakit. Pedet umur di bawah
tiga bulan (batilan) sangat rentan mengalami gangguan kesehatan dan kematian
yang sering dialami petemak sehingga pada umur tersebut perlu memperoleh
perhatian lebih. Pengobatan harus dipandang sebagai upaya terakhir untuk
penyelesaian masalah akibat penanganan kesehatan yang terlambat karena
tindakan pencegahan adalah lebih baik dan perlu untuk diutamakan.

Kesehatan Sapi Dewasa atau Induk


Berbeda dengan pada pedet, sapi dewasa telah memiliki kekuatan untuk
melawan beberapa organisme patogen karena pendedahan agen infeksi secara
alami yang terjadi setiap saat hingga terbentuk imunitas. Namun demikian karena
berbagai pengaruh lingkungan yang selalu berubah dan tuntutan kebutuhan
ketika terjadi peningkatan pertumbuhan yang cepat serta tuntutan produksi,
maka sapi dewasa rentan terhadap gangguan kesehatan karena infeksi jasad
renik, problematika diet dan gangguan reproduksi. Sapi perah dewasa yang
memiliki risiko gangguan kesehatan tertinggi adalah pada saat hewan sedang
atau sesaat sesudah melahirkan, dan mulai dengan produksi susu. Berbagai
jenis penyakit yang biasa dijumpai menyerang sapi perah dewasa atau induk di
antaranya adalah mastitis, metritis, plasenta tertinggal, demam susu, pincang
karena radang kuku, diare oleh infeksi patogen, ketosis, displasia abomasum,
rumen asidosis dan kecacingan. Kondisi tersebut umumnya dipengaruhi oleh
berbagai faktor berikut.

Faktor Infeksi oleh Patogen


Penyakit menular karena organisme patogen tertentu, kejadiannya sering
dipengaruhi oleh sifat dan endemisitas penyakit dalam suatu wilayah. Dalam
kondisi lingkungan kehidupan hewan yang memiliki banyak kelemahan karena

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 89


selalu terjadi pencemaran oleh kotoran kandang, infeksi dapat setiap saat
terjadi terutama bila ada faktor predisposisi seperti perubahan musim yang
tajam, adanya stres dan gangguan nutrisi, sehingga kerentanan tubuh terhadap
mikroba meningkat. Sapi laktasi awal memiliki risiko terpapar oleh infeksi
bakteri antara lain Salmonella sp., Escherichia coli, Staphylococcus, Streptococcus
dan lain-lain yang menyebabkan septikemia, mastitis atau metritis sebagai
akibat peningkatan kerentanan tubuh karena gangguan pembentukan sistem
imun. Pada saat pascamelahirkan, kemampuan sel darah putih memakan dan
membunuh bakteri, keberhasilan limfosit memproduksi antibodi, ketersediaan
imunoglobulin dalam serum darah dan komplemen semua terjadi penurunan.
Mungkin hal iniberhubungan dengan pelepasan dramatik level estrogen sesaat
setelah kelahiran. Mastitis merupakan penyakit yang paling merugikan pada
sapi perah dan paling banyak alasan untuk menggunakan antibiotik.

Faktor Pengaruh Nutrisi


Hal yang penting untuk mencapai tingkat kesehatan sapi yang prima serta
hasil produktivitas dan reproduktivitas yang optimal dalam pengelolaan
sapi perah, adalah dukungan pakan terutama ketersediaan padang rumput
yang cukup secara kuantitas dan kualitas serta memiliki kandungan nutrisi
yang berimbang. Rumput terlalu tua adalah miskin kandungan nutrisi dan
kurang manfaatnya bagi tubuh, sedang yang masih terlalu muda kandungan
nutrisi belum optimal dan tidak efisien dalam pemeliharaan hijauan. Pada saat
tersebut sapi dengan produksi tinggi mengalami keseimbangan energi negatif
dan berada dalam situasi harus memobilisasi lemak tubuh untuk memenuhi
kebutuhan. Transisi dari periode diet serat kasar tinggi menjadi diet untuk masa
laktasi dengan konsentrat tinggi dapat menyebabkan gangguan pencemaan
yang mungkin berakibat pada sapi berhenti makan. Setiap penurunan asupan
energi dapat berakibat hewan memobilisasi lemak tubuh ekstra dan hal ini
akan meningkatkan risiko terjadi ketosis atau kondisi hati berlemak.

Faktor Perubahan Kondisi Alat Reproduksi


Menjelang kelahiran pedet, uterus mengalami involusi secara cepat sehingga
terjadi risiko kontaminasi pada organ tersebut seputar kelahiran yang memicu
infeksi pada saluran genital, kondisi plasenta tertinggal dan radang uterus.
Toksin yang dilepaskan oleh bakteri dapat menyebabkan terjadi metritis,
hewan menjadi demam karena septikemia dan menjadi anoreksik. Setiap
kondisi yang menyebabkan sapi berhenti makan merupakan predisposisi
untuk penyimpangan proses pencemaan dan terjadi displasia abomasum
yang dalam kondisi tertentu memerlukan pembenahan dengan cara operasi.
Pencegahan metritis pad a sapi perah dilakukan dengan menyediakan diet yang
benar dan manajemen kesehatan reproduksi pada masa kering, serta merawat

90 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


lingkungan yang bersih dan sanitasi yang baik sebelum peristiwa kelahiran
terjadi untuk mencegah peradangan uterus dan plasenta tertinggal. Metritis
yang terjadi selama dua minggu pertama laktasi dapat menyebabkan sakit
berat dan bahkan kematian. Untuk mengatasi hal ini dapat diobati dengan
kombinasi antibiotik intrauterin dan pengobatan sistemik serta obat antiradang.
Tetrasiklin merupakan obat antibiotik yang paling sering digunakan, sedang
penisilin sering untuk pengobatan sistemik.

Kesehatan Lingkungan
Terutama pad a hewan yang selamanya hanya di kandangkan tanpa ada
kesempatan interaksi dengan temp at lain yang lebih segar, maka situasi
lingkungan sangat dominan dalam memengaruhi kondisi tubuh dan kemampuan
berproduksi. Suasana sekitar petemakan diusahakan secara maksimal dalam
keadaan bersih dan tenang tanpa banyak gangguan, aman dan terhindar dari
stres yang disebabkan oleh hewan kurang istirahat.
Untuk melindungi sapi dari pengaruh cuaca yang jelek di musim hujan,
angin bertiup kencang, hawa dingin menusuk, atau sinar matahari menyengat
secara berlebihan, harus disediakan pelindung cuaca dan peneduh. Harus
cukup cahaya sinar matahari masuk di kandang, dan diusahakan tidak terlalu
berlebihan. Kandang dan lingkungan selalu diusahakan dalam keadaan
bersih dan dilakukan disinfeksi secara teratur. Perlu diingat bahwa disinfeksi
kandang menjadi tidak banyak bermanfaat bila tidak didukung oleh kebersihan
lingkungan.

Suhu Lingkungan
Tinggi rendahnya suhu dan derajat kelembapan udara di berbagai kawasan
tidak selalu tetap, tergantung pada kondisi musim dan cuaca. Dalam situasi
demikian kesempatan hewan untuk memulihkan kondisi tubuh akan mengikuti
perubahan lingkungan yang ada dan mungkin juga dalam waktu bersamaan
dapat terjadi penurunan atau peningkatan populasi vektor di sekelilingnya
tanpa diketahui sebabnya yang berdampak pada kesehatan hewan. Perubahan
cuaca lingkungan dapat dipengaruhi oleh musim, atau mungkin pula mengikuti
perubahan suhu antara siang dan malam. Dalam kondisi yang stabil tanpa
banyak gangguan hewan berkesempatan memulihkan kondisi waktu istirahat
malam.

Situasi Iklim
Bagi negara iklim tropis seperti halnya Indonesia, keadaan cuaca yang
panas, sangat kering atau lembap akan memengaruhi status kesehatan hewan.
Variasi perubahan cuaca yang tidak stabil atau berubah menjadi ekstrem

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 91


akan memengaruhi fluktuasi tingkat prevalensi penyakit yang dalam kondisi
tertentu dapat mencapai titik intensitas sangat tinggi atau sebaliknya dapat pula
mencapai tingkat intensitas yang terendah, bahkan mungkin pula nyaris tak
berubah. Bila suhu dan kelembapan udara sangat tinggi, prevalensi penyakit
dapat berkembang dan meningkat sampai ke situasi kesehatan hewan tidak
dapat dipertahankan lagi keseimbangannya. Keadaan demikian sekurang­
kurangnya menyebabkan dua kemungkinan, yakni kemungkinan pertama
jasad renik tetap bertahan dan berkembang biak sebanyak-banyaknya di dalam
suasana lingkungan yang ada dan tidak terpengaruh oleh keadaan cuaca.
Kemungkinan kedua adalah bahwa lingkungan memiliki dampak merugikan
terhadap hewan yang bersangkutan terjadi perbanyakan organisme patogen,
dan meningkatkan kerentanan hewan terhadap penyakit.

Agen Patogen
Mikroba lingkungan umumnya dijumpai pada air kotoran kandang atau
tinja sapi yang dapat langsung mencemari ambing antara masa perah, karena
antara pemerahan terakhir dan pemerahan berikutnya puting memerlukan
perlindungan dari menyusupnya cemaran bakteria. Patogen lingkungan
termasuk di antaranya adalah jenis coliform dan streptococci. Beberapa kontaminan
lingkungan dapat menjadi patogen bila mereka cukup menginfeksi ambing
hewan yang berada dalam kelompok. Pencegahan mastitis melibatkan kegiatan
sebelum dan sesudah pemerahan mulai dari sewaktu disinfeksi puting,
perawatan mesin perah, manajemen lingkungan sapi untuk mempertahankan
kebersihan dan dalam kondisi kering, higiene pemerahan, sampai pada
pengobatan untuk sapi kering laktasi.

Status Kesehatan dan Stabilitas Usaha


Peternakan sapi perah dapat maju dan berkembang bila usahanya stabil
dan terjadi peningkatan hasil yang diterima oleh peternak dan produknya
berkualitas sehingga diminati konsumen secara baik. Salah satu faktor yang
berpengaruh besar adalah kesehatan sapi yang dipiara. Kualitas susu terutama
dinilai dari berat jenis, kandungan kuman, protein dan lemak susu. Sehat
memang bukan segalanya yang harus dipenuhi, tetapi tanpa jaminan sehat
sapi tidak akan berproduksi optimal. Kerugian ekonomi karena gangguan
kesehatan dapat disebabkan antara lain oleh salah satu atau beberapa faktor
sebagai berikut.

Faktor Efisiensi Usaha


Produksi yang tidak optimal dan tingginya biaya kesehatan hewan akan
menghasilkan produk secara tidak [Link] disebabkan oleh gangguan

92 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


kesehatan yang mengakibatkan penurunan tingkat kebugaran anatomi dan
fisiologi harus menjadi salah satu perhatian untuk diatasi oleh manajemen
peternakan sapi perah dengan optimalisasi pencegahan terjadinya penyakit
dan pengendaliannya. Masalah utama pada sapi perah adalah mastitis dan
penyakit reproduksi.

Faktor Nilai Jual Sapi


Sapiyang terlanjur sakit atau kondisi terganggu, nilaijualnya sangat merosot.
Penurunan nilai jual sapi tidak sehat untuk dipotong telah dijadikan tengkulak
atau jagal memperoleh nilai tawar yang tinggi dan paling menguntungkan
baginya. Harga jual sangat bervariasi dari individu ke individu tergantung
pada tingkat keparahan dan kemerosotan kondisi. Pertimbangan kondisi
sering merupakan faktor pilihan ketika harus menentukan apakah lebih
menguntungkan untuk menjual dan mengganti dengan nilai jual rendah
daripada mempertahankannya untuk tetap dipiara dan diperah.

Faktor Masa Afkir


Secara alami produksi susu di laktasi awal akan meningkat pada laktasi
berikutnya. Namun demikian setelah mencapai puncak masa produksi pada
laktasi ke-3 atau ke-4, secara bertahap akan semakin menurun pada laktasi
berikutnya. Sapi tidak diperah secara terus-menerus sepanjang masa hidupnya.
Pada saatnya harus diafkir untuk memperoleh keuntungan optimal dari
imbangan antara produksi susu yang masih bisa diperoleh secara ekonomis
dan harga jual sebagai hewan potong. Dalam kondisi normal, situasi ini harus
sudah masuk dalam perhitungan usaha. Namun demikian kehilangan nilai
pengembalian jangka panjang untuk regenerasi dapat merugikan bila sapi
harus diafkir karena gangguan kesehatan sebelum mencapai umur dengan nilai
ekonomi optimal. Misalnya sapi harus diafkir pada laktasi ke-2 semasa berada
dalam perhitungan puncak produksi karena masalah mastitis kronis, terpapar
brucellosis, infeksi penyakit bakterial ganas atau masalah lain. Mengafkir sapi
sebelum masa produktivitas secara ekonomi tercapai merupakan masalah
yang sedapat mung kin harus dihindari. Afkir sebelum melewati puncak
produktivitas kehidupan dan perhitungan batas akhir menguntungkan secara
ekonomi dapat dicapai oleh akibat gangguan kesehatan atau terkena penyakit,
sering merupakan jalan pintas yang pada saatnya tidak dapat dihindari. Dalam
situasi demikian yang terjadi adalah kerugian usaha.

Perawatan
Pada dasarnya sapi harus dirawat dengan baik dan diharapkan selalu dalam
kondisi sehat karena akan menghasilkan produk susu dan daging yang optimal

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 93


serta sehat untuk konsumsi karena terhindar dari cemaran mikroba dan cemaran
lainnya. Kinerja kualitas nutrisi di bawah standar dan keadaan lingkungan
yang kurang mendukung akan berpengamh pada kesehatan dan lebih lanjut
mengurangi kepuasan konsumen terhadap kualitas produk. Peternak perlu
jeli dalam mengenali gangguan kesehatan hewan secara lebih dini.

Ketersediaan Padang Penggembalaan

Pada saat tertentu hewan perlu dilepas di padangan agar memperoleh cukup
sinar matahari untuk membantu sintesis vitamin D, dan memberi kesempatan
gerakan perototan tubuh dengan melepas di alam tanpa batasan kandang
atau terikat oleh tali yang membatasi gerak tubuhnya serta terkungkung di
lingkungan kandang yang lembap oleh air seni dan tinja yang keluar dari
waktu ke waktu. Bagi petugas kandang, sewaktu hewan dilepas di padangan,
dapat diambil kesempatan untuk membersihkan kandang tanpa terganggu
oleh keberadaan sapi di temp at sehingga bisa dibersihkan dengan baik dan
pada waktu sapi kembali sudah dalam keadaan bersih dan kering.

Kualitas Pakan dan Air Minum

Selalu pastikan bahwa air minum yang diberikan adalah jernih, bersih,
segar dan diberikan tak terbatas atau ad libitum. Beberapa pemahaman salah
menganggap bahwa untuk hewan tidak memerlukan air yang bersih. Air untuk
hewan hams dalam kondisi yang baik dan seharusnya diberikan air bersih
seperti standar yang digunakan oleh orang, walaupun tidak memerlukan
untuk dimasak terlebih dahulu kecuali hewan dalam perawatan khusus.
Setiap pakan dan air yang diberikan hams memenuhi standar mutu yang
baik sesuai pemntukan dan pemberiannya dilakukan secara cukup sepuasnya
dan teratur.

Komposisi Rangsum

Keseimbangan unsur pakan, air dan udara sangat penting untuk pemenuhan
kebutuhan hayati ternak. Tingkat kesehatan yang baik dan hasil produksi
dan reproduksi yang optimal memerlukan ketersediaan padang rumput atau
hijauan yang cukup dan berkualitas. Usaha peternakan secara intensif untuk
produksi susu perlu diusahakan berbagai kebutuhan seperti pakan penguat
yang baik serta latihan bagi hewan yang cukup. Hewan perlu digembalakan
pada saat tertentu agar memperoleh sinar matahari secara cukup tapi tidak
juga berlebihan.

94 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


PENGENALAN KINERJA KESEHATAN

Mengukur kinerja kesehatan memerlukan pengalaman dan tidak lepas dari


misi suatu usaha untuk memperoleh keuntungan secara lebih rasional. Terutama
untuk seorang pemula, memerlukan masukan, saran dan pertimbangan dari
orang profesional dalam memilih sapi yang sehat, di samping syarat lain yang
diperlukan. Dimulai dari memperhatikan dan mengenal hewan sehat, orang
akan menjadi terlatih dan mengetahui bila terjadi penyimpangan terhadap
kondisi tidak sehat atau sakit.

Kondisi Sapi Sehat


Untuk mengetahui adanya gangguan kesehatan perlu terlebih dahulu
mengenal bagaimana tanda-tanda sapi yang sehat. Ternak tidak dapat
mengeluhkan kondisi tubuhnya selain dari peternak yang harus menaruh
banyak perhatian dan jeli dalam mengenali perilaku sapinya. Gangguan
kesehatan dan rasa sakit yang diderita, betapapun kecilnya akan berpengaruh
pada kenyamanan yang dapat melanjut pada penurunan nafsu makan dan
minum serta akan berdampak pada kinerja produksi.

Gambar 7.1 Contoh sapi jantan (kiri) dan betina (kanan) sedang makan rumput,
tampak dengan penampilan yang tegap dan sehat, proporsi tubuh
seimbang dan ditopang keempat kaki yang kokoh

Kondisi Umum
Tingkah laku, sikap, gerak-gerik, langkah kaki dan kinerja sapi dapat
memberikan gambaran secara utuh tentang kondisi kesehatannya. Sapi sehat
akan tampak segar dan memperlihatkan gerakan aktif serta sikap sigap terhadap
hal yang mencurigakan. Sapi sehat selalu dalam keadaan sadar dan tanggap
terhadap segala perubahan keadaan di sekitamya yang ia curigai, termasuk
gerakan petugas yang merawatnya. Suara napas terdengar halus dan teratur.
Ekor selalu aktif dikibaskan untuk mengusir lalat.

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 95


Tingkah Laku

Antara proporsi tubuh dan gerakan dalam keadaan seimbang, tidak terlalu
gemuk ataupun kurus, langkah kakinya man tap dan teratur. Bila sapi berjalan
gerakan kaki dilakukan secara wajar tidak sempoyongan, terlihat kaku atau
pincang. Sewaktu berdiri keseimbangan tubuhnya baik, mantap dan bertumpu
pada keempat kakinya dengan sarna rata. Perilaku hewan terlihat santai, garis
punggungnya tampak rata.

Kulit
Kulit halus dan bulu mengkilat,licin. Pertumbuhan bulu di permukaan tubuh
rata. Hal ini jelas diamati pada sapi perah yang berambut pendek misalnya sapi
FH. Di daerah beriklim dingin, karen a pengaruh cuaca harian, bulu menjadi
lebih panjang dan kasar, namun tetap bersih, berkilat dan rapi.

Mata
Dalam situasi sehat, bola mata bersinar, sudut mata tampak bersih tanpa ada
kotoran atau getah radang. Selaput lendir mata tidak terlihat adanya perubahan
warna misalnya menjadi kemerahan, kekuningan atau warn a lain.

Kondisi Sapi Sakit


Gangguan kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai keadaan, misalnya
karena infeksi agen penyakit (parasit internal semacam protozoa, riketsia,
virus, bakteri cacing atau eksternal misalnya caplak, dan jamur), defisiensi
nutrisi atau vitamin, dan gangguan metabolisme, atau ketidakseimbangan
asupan nutrisi. Bisa juga karena faktor genetik, karena kecelakaan, terluka
atau gabungan oleh beberapa penyebab. Dampak dari gangguan kesehatan
dapat teramati secara klinis atau tidak teramati (asimtomatis) tergantung
dari derajat keparahan dan sifat infektivitas agen penyakit. Deteksi terhadap
gangguan harus dilakukan secara saksama dan rutin untuk diketahui secara
dini dan ditangani dengan baik.

Pengamatan Rutin
Sapiperlu memperoleh pengawasan reguler dan teratur tentang kesehatannya
atau sekaligus pengamatan birahi. Perubahan kondisi kesehatan dapat muncul
secara tiba-tiba. Berbagai kegiatan pengamatan harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut.
1) Kondisi umum. Hewan diamati kondisi normal pada umumnya atas
kemungkinan terjadi perubahan misalnya kekurusan, bereaksi tidak normal
terhadap lingkungan dan gerakan yang tidak aktif berinteraksi dengan

96 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


lingkungan. Sikap sapi waktu berdiri atau berjalan juga dapat memberi
kesan kesehatan secara umum.
2) Kebiasaan makan dan minum. Makan dan minum adalah kebutuhan
hayati hewan yang harus terpenuhi dengan baik. Cara hewan makan dan
minum, serta gerakan mulut waktu mengunyah dan gerakan ruminasi
sesaat setelah istirahat makan. Aktivitas ruminasi dapat dilihat dengan
menekan ringan menggunakan kepalan tangan pada bagian atas dari
pinggang kiri.
3) Pedet menyusu. Untuk pedet yang masih menyusu, bila terlihat kurang
minum susu berarti ada sesuatu yang salah, atau merasakan sesuatu yang
kurang nyaman pada dirinya. Gangguan pencernaan menyebabkan diare
merupakan masalah yang sering diderita pedet. Perlu dipastikan bahwa alat
untuk minum susu selalu dalam keadaan bersih sebelum pemakaian dan
pedet tidak diberi minuman atau makanan sisa dari hari sebelumnya.

Rekam Medis
Sangatpenting dilakukan pencatatan tentang tanggal dan segalapermasalahan
kesehatan setiap individual berdasar nomor telinga berikut tindakan yang telah
dilakukan termasuk obat yang digunakan. Hasil evaluasi dari catatan medis
masing-masing individu merupakan evaluasi dari kesehatan kelompok.
1) Perlakuan medis individual. Catatan kesehatan akan mengingatkan juga
kapan telah dilakukan vaksinasi atau vaksinasi ulangan, dan mengingatkan
secara pasti apa yang telah terjadi terhadap kesehatan dari hewan tersebut
serta reaksi tubuh pada pengobatan yang diberikan. Informasi demikian
akan sangat membantu bahkan diperlukan sebagai catatan untuk melakukan
tindakan medis di tahun-tahun berikutnya.
2) Perlakuan medis kelompok hewan. Manfaat catatan medis individual tidak
terbatas hanya pad a hewan tersebut tetapi juga pada kesehatan kelompok
hewan, sekiranya telah terjadi penularan. Catatan kesehatan akan membantu
dalam mengingat peristiwa secara terperinci dan bila dibutuhkan dapat
dipelajari oleh petugas baru atau dokter hewan yang tidak terlibat pada
penanganan kasus sebelumnya di masa lamp au sehingga penanganannya
tidak terputus sewaktu muncul masalah baru.

Pengamatan Klinis
Walaupun sapi tidak mungkin mengeluhkan apa yang telah atau sedang
dirasakan ketika sakit, tetapi bisa dilihat dari ciri-ciri yang "dibaca" dan
diinterpretasikan dari perilaku, gerak tubuh, tumpuan kaki, langkah waktu
berjalan, ekspresi wajah, nafsu makan, perwujudan dari tinja atau air seni
yang keluar, respons terhadap perlakuan atau provokasi, warna selaput lendir
organ, suhu tubuh dan lain-lain.

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 97


1) Pengenalan gejala. Untuk mengenali secara lebih baik bahwa seekor sapi
sedang mengalami gangguan kesehatan atau menderita sakit,petemak hams
membiasakan diri mengenal penampilan sapi sehat. Setiap penyimpangan
terhadap perilaku normal, hams dicari tahu penyebabnya, karena mungkin
terjadi gangguan terhadap kesehatannya.
2) Gejala sakit. Suatu gejala penyakit yang perlu memperoleh perhatian
cepat untuk ditangani petemak antara lain adalah diare karena dalam
keadaan tersebut sapi kehilangan banyak cairan yang sangat mengganggu
keseimbangan tubuh dan kesehatan umum. Kasus demikian sering dijumpai
temtama pada pedet. Tindakan awal yang dapat dilakukan adalah pemberian
air masak yang disedu dengan garam dapur dan larutan gula dalam
keadaan hangat kuku untuk mencegah dehidrasi yang berkelanjutan.
3) Kepastian diagnosis. Dokter hewan dapat membantu memastikan terhadap
gangguan kesehatan dan penanganan selanjutnya baik melalui uji klinis
maupun diteguhkan oleh pemeriksaan laboratorium. Peternak wajib
mencurigai bila terjadi kelainan pada sapinya yang dijumpai di kandang,
dan dapat mengambil sikap apakah bantuan seorang dokter hewan sudah
waktunya perlu untuk dilakukan.

Uji Laboratorium
Dari uji atau pengamatan klinis masih memungkinkan tidak terdeteksi
gangguan kesehatan atau penyakit dari seekor hewan karena mungkin tidak
tampak gejala secara nyata atau menunjukkan gejala yang semu. Sebagai
contoh, seekor sapi menderita brucellosis tidak terlihat gejala dan nafsu
makan masih tetap baik. Sapi yang mengalami keguguran perlu diyakinkan
apakah ada kemungkinan menderita brucellosis atau penyakit penyebab
keguguran yang lain, dan perlu dilakukan pengujian laboratorium dengan
mengambil contoh uji serum darah. Masih banyak lagi penyakit yang hanya
bisa dipastikan setelah dilakukan uji laboratories, atau kombinasi antara
pengamatan klinis dan laboratorium. Penemuan Escherichia coli, masih hams
dilanjutkan pengujian untuk mengetahui apakah galur bakteri tersebut jenis
yang patogen. Kombinasi antara pengamatan klinis dan pengujian laboratorium
akan memberikan hasil diagnosis yang lebih pasti, sehingga pengobatan dapat
dilakukan secara tepat sasaran.

Pengobatan Antibiotik
Pengobatan antibiotik mastitis klinis pad a sapi laktasi merupakan hal
yang kontroversi, tetapi hampir setiap petemak sapi perah menggunakannya.
Sekitar sepertiga atau seperempat kasus tidak dapat diisolasi bakteri dari
sampel sebelum pengobatan. Hal ini membuat kesulitan dalam memutuskan
pemberian antibiotik yang tepat untuk sapi yang demikian. Beberapa organisme

98 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


gram positif seperti Staphylococcus aureus dan beberapa Streptococci lingkungan,
tahan terhadap pengobatan antibiotik. Pengobatan mastitis intramamaria
dipergunakan secara luas; semuanya mengandung antibiotik sehingga masalah
residu sering memerlukan kecermatan dalam penanganannya.

EPIDEMIOLOGI VETERINER
Epidemiologi veteriner adalah ilmu yang mempelajari adanya masalah
kesehatan hewan dalam suatu kelompok ternak atau yang berada di kawasan
tertentu, beserta modus penularan dan penyebarannya. Peternak harus mulai
siaga bila di dalam wilayahnya diketahui terjadi penyebaran berpenyakit
menular. Saran dokter hewan diperlukan untuk menentukan langkah apa
yang harus dilakukan agar ternaknya terhindar dari penyakit yang ada tidak
jauh dari peternakannya. Langkah yang akan dianjurkan bisa berbentuk
tindakan misalnya dengan melakukan vaksinasi atau pemberian obat untuk
pencegahan, memperketat biosekuriti, mengasingkan hewan karena diduga
menderita penyakit menular, mengambil contoh untuk pengujian laboratories,
atau tindakan-tidakan lain yang perlu dan harus dilakukan untuk mencegah
risiko yang lebih besar. Tindakan dilakukan bukan terbatas pada individu
hewan yang sakit tetapi juga pada keselamatan kelompoknya.

Status Keberadaan dan Penyebaran Penyakit


Manajemen kesehatan yang menangani hewan dalam jumlah yang cukup
banyak memerlukan kepekaan dalam mengantisipasi status keberadaan dan
penyebaran penyakit di lingkungan sekitar. Penerapan ilmu dan teknologi
pengendalian penyakit hewan modern mempunyai manfaat luas terhadap
cara penanganan banyak kasus dan pengamatan penyakit hewan yang bersifat
endemi.
Endemi. Yang dimaksud dengan penyakit dalam keadaan endemi adalah
penyakit yang telah ada dan muncul di salah satu daerah dengan intensitas
yang terkendali dan biasa terjadi setiap waktu setiap tahun di suatu daerah
atau lokasi. Namun demikian perlu diwaspadai bahwa dalam kondisi
tertentu penyakit endemik ada kalanya dapat berubah mewabah atau
menjadi epidemi.
Epidemi. Wabah penyakit atau epidemi adalah peristiwa di mana suatu
penyakit tertentu di suatu daerah terjadi lonjakan kasus melebihi dari kejadian
normal tahunan, atau munculnya suatu penyakit yang semula tidak ada di
daerah tertentu.
Pandemi. Yang dimaksud dengan pandemi adalah peristiwa letupan dan
penyebaran penyakit menular yang dapat menular dan menyebar secara cepat

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 99


meliputi kawasan yang luas melewati batas negara dan benua. Pandemi yang
pernah terjadi pada sapi, misalnya rinderpest dan PMK, dan saat ini masih
menjadi masalah besar di banyak negara di dunia terutama di Afrika, Amerika
Latin, dan beberapa negara di Asia. Indonesia telah lama dalam status bebas
dari kedua penyakit tersebut.

Pencegahan Penyakit
Mencegah terjadinya penyakit lebihbaik dibanding pengobatan. Menurunnya
kondisi kesehatan mungkin tidak terdeteksi sehingga kerugian berlangsung
terus secara berkelanjutan dan tidak mendapat penanganan yang semestinya.
Penurunan kondisi kesehatan cenderung kronis dan berlarut-larut tanpa
penanganan.
Sapi yang seumur hidupnya berada di kandang tanpa kesempatan bergerak
dan memperoleh sinar matahari, sering menderita arthritis atau radang sendi.
Rasa sakit dan tidak nyaman berdiri dapat menyebabkan kurang nafsu makan
dan engganan untuk berdiri yang akan berpengaruh pada produktivitas.
Penurunan produksi setiap hari dan terjadi pada banyak hewan secara kelompok
akan mengakibatkan kerugian cukup besar. Walaupun pengobatan dapat
menghilangkan penyebab penyakit secara efisien, namun penyebab penyakit
sudah membekas melukai tubuh.
Penghilangan dampak penyakit kalaupun bisa dilakukan memerlukan
waktu lama untuk mengembalikan ke kondisi semula. Sebagai akibatnya
maka kemerosotan atau penurunan produksi berlangsung terus-menerus
sampai sembuh sempuma. Kerugian karen a pertumbuhan yang kerdil pada
pedet akan mengakibatkan hambatan produksi susu. Untuk mengetahui status
kesehatan di suatu lokasi petemakan, paling baik adalah membicarakan dengan
otoritas veteriner atau dokter hewan penanggung jawab di daerah. Otorita
veteriner memiliki data terkini yang dapat dipedomani untuk melakukan
tindakan pence gahan, dan memberikan saran terbaik dalam memperkecil
risiko terhadap ancaman bahaya penyakit akibat penularan dari luar serta
langkah antisipasi termasuk perlunya vaksinasi. Berbagai langkah antisipasi
dalam memperkuat program pencegahan atau memperkecil risiko terhadap
berbagai masalah kesehatan antara lain sebagai berikut:

Vaksinasi
Beberapa penyakit tertentu memerlukan tindakan vaksinasi sebagai
pencegahan dan tubuh hewan dipersiapkan agar tahan terhadap serangan
agen. Dalam hal tertentu hewan yang divaksin bahkan menjadi imun untuk
waktu lama atau seumur hidup. Beberapa jenis vaksin memerlukan vaksinasi
ulang sebagai booster, sehingga manfaatnya hanya akan diperoleh secara
maksimal bila dilakukan. Namun demikian perlu dimaklumi bahwa vaksin

100 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


tidak tersedia untuk segala macam jenis penyakit. Untuk pelaksanaan vaksinasi
perlu memperoleh petunjuk dari dinas Kesehatan Hewan setempat terhadap
jenis penyakit yang endemik di suatu daerah, agar tepat sasaran sehingga
dapat mengurangi risiko tertular, dan efisien karena vaksin yang diberikan
tepat pada sasaran.
Di Indonesia, vaksin pada sapi yang biasa dilakukan (tergantung daerahnya)
adalah untuk: Septichaemia epizooticae (SE)atau penyakit ngorok, anthrax dan
bucellosis. Pemberian vaksin yang tidak tepat sesuai dengan epidemiologi
penyakit yang ada dapat menjadi pemborosan karena melakukan hal yang
tidak perlu. Di lain pihak, bila tidak dilakukan di daerah yang memang
endemik maka potensi bahaya bahkan dapat muncul penyakit baru, terutama
bila menggunakan vaksin hidup.

Karantina

Perlakuan karantina dalam pengertian sebuah petemakan berarti mengisolasi


hewan sehingga terpisah dan tidak bercampur di satu kandang yang sarna
dengan hewan lainnya. Hal ini dilakukan terhadap hewan sakit atau hewan
yang bam saja tiba dari tempat lain atau bam dibeli, untuk meminimalkan
kemungkinan terjadi penularan penyakit yang terbawa serta.
1) Karantina hewan sakit. Hewan sakit harus diisolasi dan yang sehat
hams terpisah dari yang sakit. Cara ini sering terkendala karena faktor
keterbatasan tempat, pada hal sangat membantu terutama untuk mencegah
agar tidak terjadi penularan ke hewan yang masih sehat. Hewan sakit
memerlukan perlakuan dan perawatan khusus. Perlu waspada terhadap
semua keluaran tubuh antara lain air seni, tinja, susu, darah dan material
keguguran karena dapat mengandung materi atau jasad renik yang bisa
menginfeksi hewan lainnya atau bahkan menular ke orang atau petugas,
misalnya penyakit tuberculosis, brucellosis, rabies dan anthrax sehingga
perlu diyakinkan penanganannya secara akurat. Dalam beberapa keadaan
dapat dilakukan pengobatan penyakit endemik sebelum terkena penyakit
misalnya dalam hal pemberian obat cacing sebelum musim penghujan tiba,
atau pengobatan tripanosomosis dengan dosis pencegahan ketika terjadi
wabah.
2) Karantina hewan baru tiba. Kondisi hewan yang baru tiba belum diketahui
secara pasti. Penyakit yang masih dalam masa inkubasi tidak menunjukkan
gejala, tetapi dapat timbul sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, karantina juga
perlu dilakukan untuk hewan yang baru tiba dari temp at lain atau dari
pasar dan akan dicampur dengan hewan yang sudah ada, agar terjadi
adaptasi secara bertahap dengan lingkungan dan memperkecil risiko
terbawanya mikroba dari temp at asal.

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 101


Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit

Yang dimaksud dengan pengendalian penyakit adalah upaya untuk


menekan kejadian penyakit di suatu daerah sampai pada batas wajar dapat
dikendalikan. Misalnya kasus mastitis pada sapi perah akan selalu terjadi
baik secara klinis maupun subklinis, karena keberadaan bakteri di lingkungan
yang tidak mungkin dihilangkan dan kesempatan terjadi infeksi sangat tinggi.
Pemberantasan adalah upaya untuk meniadakan penyebab penyakit. Hal ini
dilakukan terhadap penyakit menular yang tidak disebabkan oleh mikroba
lingkungan.

Pengendal ian

Keberadaan atau munculnya penyakit sering bukan merupakan keadaan


yang berdiri sendiri. Sekurang-kurangnya ada tiga faktor dominan yang saling
berkaitan satu sarna lain yaitu: (a) hewan sebagai induk semang penyebab
penyakit, (b)lingkungan sebagai penopang kehidupan hewan, dan (c)agen atau
jasad renik sebagai penyebab penyakit. Berbagai macam faktor harus menjadi
dasar dalam setiap upaya pengendalian penyakit, antara lain faktor iklim
atau cuaca, daya tahan tubuh hewan dan perubahan lingkungan; Pemenuhan
kebutuhan unsur pakan, air dan udara juga sangat penting untuk kelengkapan
kebutuhan hayati bagi hewan yang harus tersedia di lingkungan sekitar. Hewan
perlu digembalakan pada saat tertentu agar memperoleh rumput dan sinar
matahari secara cukup. Sapi yang dipiara di kandang harus diberi alas yang
baik, kering dan empuk.

Pemberantasan

Pemberantasan penyakit di suatu kawasan tertentu mungkin sulit dilakukan


walaupun telah bertahun-tahun berlangsung. Hal ini dapat terjadi karen a
sifat alamiah agen penyakit yang mampu untuk tetap bertahan hidup di luar
induk semangnya, atau terdapat induk semang yang karena sifatnya menjadi
temp at reservoir atau temp at berlindung bagi jasad renik. Di samping itu,
ada keterbatasan teknologi dalam membuat obat atau vaksin yang potensial
untuk langkah pemberantasan. Memberantas penyakit dalam suatu kawasan
bukan merupakan tugas dari peternak, tetapi tugas dari pemerintah. Namun
demikian peternak wajib untuk membantu sekurang-kurangnya tentang apa
yang terbaik harus dilakukan di peternakan miliknya.
1) Pengaruh lingkungan. Situasi dan kondisi wilayah tertentu sering membuat
pengendalian penyakit menjadi lebih sulit. Reservoir atau konservasi satwa
seperti pad a eagar alam memungkinkan terlindunginya juga berbagai
macam bibit penyakit sehingga tidak tersentuh oleh petugas. Dengan
demikian infestasi parasit dan mikroorganisme lain terus-menerus hidup,

102 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


berkembang dan menular ke hewan yang sehat. Cara pemeliharaan sapi
yang tidak memenuhi syarat juga memungkinkan penularan dari sapi
sakit ke yang sehat, bahkan ke lingkup ternak sapi yang lain.
2) Pencemaran lingkungan. Hewan yang ditemukan mati, tidak seharusnya
dibiarkan membusuk di suatu tempat tanpa penanganan yang baik
karena berpotensi menyebarkan penyakit. Hewan seharusnya dibakar
dan dikubur dalam sehingga tidak memungkinkan anjing atau satwa liar
bisa menggali dan memangsanya. Hewan yang diketahui sakit berat atau
sudah sangat lemah kondisinya harus tidak dijual atau dikonsumsi. Setelah
mati karkasnya harus dikubur sebagaimana yang dilakukan sewaktu
menemukan bangkai.
3) Potong paksa. Apabila dijumpai hewan dengan gejala sakit yang tidak
dapat disembuhkan tetapi terlihat masih dapat dilakukan potong paksa,
maka sebaiknya minta saran seorang dokter hewan agar tidak mengandung
risiko penularan pad a orang yang memakannya. Bila harus dipotong di
lokasi, perlu untuk penanganan yang lebih akurat, dan menyingkirkan
bagian tubuh yang harus dimusnahkan. Bila mencurigai kemungkinan
hewan menderita penyakit anthrax, dilarang keras untuk membuka atau
melukai hewan penderita atau bangkainya karena darah yang keluar bisa
sangat berbahaya bagi pencemaran lingkungan, dan bangkai harus dibakar
dan dikubur dalam.

Bantuan Profesional

Apabila dijumpai sesuatu tidak biasa terjadi pada kondisi hewan, tergantung
permasalahannya, peternak perlu meminta bantuan dokter hewan, atau dapat
juga paramedik veteriner atau petugas kesehatan hewan lain terdekat. Tempat
kedudukan peternakan mungkin sajajauh dari keberadaan dokter hewan. Dalam
hal demikian kumpulkan semua informasi dan apa saja yang ingin diketahui
dari permasalahan yang dijumpai, untuk kemudian dilakukan hubungan
dengan dokter hewan melalui telepon. Untuk memperoleh semua informasi
perlu dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh keadaan kesehatan yang
sebenamya sesuai kemampuan pengumpulan data dan analisis petugas yang
ada. Hal lain yang bisa dilakukan adalah minta saran seorang dokter hewan
untuk menunjuk atau memberi pandangan kemungkinan ada seorang asisten
dokter hewan di lokasi tersebut yang dapat memberi bantuan. Asisten dokter
hewan telah memperoleh latihan khusus untuk mengenali status kesehatan
hewan sehingga sekurang-kurangnya bisa melakukan tindakan sementara
untuk mengurangi risiko yang lebih besar akibat penyakit di petemakan.

Bab 7 - Kesehatan Sapi Perah 103


Bob
PENYAKIT KARENA VIRUS
8

Virus adalah agen infeksi berukuran kedl yang dapat memperbanyak diri
hanya di dalam sel hidup, berukuran kedl dan begitu kedlnya bahkan terlalu
kedl untuk dilihat dengan mikroskop biasa. Organisme ini menginfeksi semua
jenis hewan, tanaman, bakteri dan orang. Partikel virus disebut virion terdiri
atas tiga bagian, yaitu materi genetik yang terbentuk oleh adanya DNA atau
RNAyaitu: (a) molekul panjang yang membawa informasi genetik; (b) selimut
protein yang melindungi genetik; dan (c) dalam banyak hal amp lop lipida
yang mengelilingi selimut protein ketika berada di luar sel.
Dalam penyebarannya virus menggunakan berbagai macam cara antara lain
melalui udara, partikel air dalam udara, melalui makanan, minuman atau melalui
vektor. Di dalam tubuh hewan, keberadaan virus menstimuli terbentuknya
tanggap kebal atau imun. Tidak ada virus yang dapat memperbanyak diri
tanpa sel induk semang. Ada banyak macam penyakit karena virus pada sapi,
beberapa di antaranya endemik di Indonesia, dan beberapa penyakit bersifat
eksotik yang berperanan penting selain menimbulkan banyak kerugian juga
berdampak pada hambatan perdagangan internasional.

PENYAKIT VIRUS ENDEMIS


Banyak macam penyakit virusi menular ataupun tidak menular telah
ditemukan dan didiagnosis pada sapi di Indonesia, hingga memerlukan
tindakan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan. Di antara penyakit­
penyakit tersebut ada beberapa memiliki nilai strategis yang perlu memperoleh
perhatian dalam pengendaliannya karena sifat penyebaran dan akibat yang
ditimbulkan. Penyakit virusi menular strategis sapi perah memiliki dri khas
karena target produksi susu dengan kekhususan fisiologis dan anatomis dari
sapi sehingga perlu penanganan secara proporsional sesuai endemisitasnya
karena penyakitnyapun berbeda dalam hal patogenesitas yang memengaruhi
cara pencegahan dan pengendalian setiap penyakit. Di antara penyakit viral
sapi dengan status endemi di Indonesia antara lain adalah: Bovine ephemeral

105
fever (BEF), Bovine Viral Diarrhea (BVD) dan Malignant Catarrhal Fever (MCF),
sedangkan penyakit virusi penting pada sapi eksotik untuk Indonesia antara
lain adalah: Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Rinderpest, dan Bovine Spongiform
Encephalopathy (BSE).

Bovine Ephemeral Fever


Penyakit Bovine ephemeral fever (BEF) adalah penyakit virus pada sapi dan
kerbau yang penyebarannya karena ditularkan melalui serangga. Seeara
menciri penyakit ini hanya menyebabkan sakit beberapa hari sehingga disebut
sebagai "Three day sickness" atau "demam tiga hari". Dalam keadaan wabah
kejadian berlangsung eepat dan menyerang kelompok hewan dalam waktu
2-3 minggu. Morbiditas meneapai 80%, mortalitas keeil antara 1-2%, tetapi
dapat lebih tinggi pada sapi perah sedang laktasi. Walaupun hampir semua
sapi dalam satu kelompok dapat terserang, kematian akibat BEF tidak biasa
terjadi melebihi 1%. Sebagian keeil dari kasus dapat mengakibatkan paralisis
disebabkan oleh kerusakan sumsum tulang belakang dan terjadi kelumpuhan
permanen. Beberapa hewan mungkin hanya menderita ringan dan sembuh
dalam waktu 24 jam. Hewan sembuh dari BEF dapat terbentuk imunitas
sepanjang hidupnya, kecuali beberapa kasus bisa kehilangan imunitas terutama
pada hewan tua. Derajat kegawatan penyakit bervariasi antarhewan. Pada sapi
di bawah umur 12 bulan biasanya memiliki dampak lebih ringan.

Penyebab

Bovine Ephemeral Fever (BEF) disebabkan oleh sejenis virus dari kelompok
Rhabdovirus. Penyebarannya ditularkan melalui serangga dan biasanya terkait
dengan situasi musim. Karena penyebaran melalui serangga maka virus
penyebab penyakit ini juga dikenal sebagai kelompok arbovirus. Kebanyakan
sapi yang sembuh imunitasnya berlangsung seumur hidup. Virus tidak mampu
menembus plasenta atau mengakibatkan fertilitas.

Penularan

Penyakit demam tiga hari ditularkan oleh jenis serangga misalnya Culex
annulirostris dan berbagai jenis nyamuk. Tidak dapat dibuktikan adanya
penularan melalui muntahan oleh pesakit, dan virus tidak berada menetap
pada sapi yang sembuh. Penyebaran diduga juga dapat terjadi melalui angin.
Cullicoides mampu menyebarkan virus ini dalam jarak jauh kurang-lebih
meneapai jelajah 200 km. Kesembuhan spontan dapat terjadi hanya dalam
beberapa hari.

106 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gejala Klinis
Masa tunas BEFtidak diketahui secara pasti. Gejala penyakit muncul secara
mendadak dan bervariasi dalam hal kegawatan, antara lain: gemetaran, demam
tinggi dapat sampai 41 C, hewan menjadi dungu, keluar leleran hidung dan
0

air liur berbuih, lakrimasi, kurang nafsu makan, mal as bergerak (Gambar [Link]
dan B). Bila berjalan sapi dapat menjadi pincang. Suhu tubuh dapat kembali
normal dalam waktu 36jam. Kondisi hewan menjadi lemah, menderita radang
sendi dan kebanyakan rebah dan berbaring. Sapi perah produksi susu menjadi
turun dapat sampai 50% atau bahkan dapat terhenti dan umumnya produksi
kembali setelah 3 minggu. Sapi dengan produksi susu tinggi biasanya menderita
penyakit lebih berat. Setelah sapi sembuh sering produksi susu gagal mencapai
normal kembali. Sapi terinfeksi pada periode laktasi tua biasanya berkembang
menjadi kering susu. Air susu cenderung bening dan ada kalanya bercampur
darah. Pada hewan jantan kejadian penyakit lebih berat dari betina dan dapat
berlangsung sampai 5 bulan, mengakibatkan penurunan fertilitas. Hewan
berhenti makan, minum dan murung. Bagi sapi betina sedang bunting dapat
terjadi keguguran, bukan karena efek infeksi virus tetapi lebih cenderung
disebabkan oleh kondisi demam yang tinggi. Dalam waktu tiga hari hewan
berdiri kembali dan mulai makan, tetapi kelemahan dan pincang biasanya
berlangsung sampai tiga hari lagi ke depan. Adakalanya terjadi mastitis diikuti
dengan kenaikan mencolok pada somatic cell count.

Gambar 8.1 (A) Sapi rnenderita Bovine Ephemeral Fever dengan gejala lernah, sulit untuk
berdiri dan dernarn; (B) Sapi dengan penyakit yang sarna, dengan gejala
keluar air rnata dan banyak keluar air liur berbuih. (Fujita, 1994)

Pengendalian dan Pengobatan


Untuk upaya pencegahan hewan diistirahatkan agar tidak mudah terkena
serangan penyakit. Vaksin menggunakan virus yang dilemahkan dapat
dipergunakan, tetapi hanya untuk situasi daerah yang endemik. Manfaat
pengendalian vektor untuk pencegahan masih belum diketahui secara jelas
efektivitasnya. Pemberian obat anti radang selama 2-3 hari adalah efektif
untuk membantu percepatan kesembuhan. Untuk sapi tidak laktasi biasa tidak

Bab 8 - Penyakit karena Virus 107


diperlukan pengobatan kecuali ada infeksi sekunder. Sapi laktasi dan pejantan
yang terserang harus diobati secara tepat. Pemberian antibiotik untuk mencegah
infeksi sekunder dan diikuti dengan pemberian cairan isotonik sebaiknya
dilakukan untuk mengembalikan kondisi dari keadaan dehidrasi. Hewan yang
rebah di tempat terbuka harus dibantu dengan pemasangan peneduh yang
baik, disediakan pakan dan air minum cukup serta diberikan injeksi preparat
kalsium, untuk membantu kekuatan agar mampu berdiri. Hewan juga harus
sering dibalik posisi rebahnya untuk memberi jaminan sirkulasi darah perifer
dapat berlangsung secara normal. Apabila hewan dibiarkan berada pada panas
terik matahari tanpa peneduh biasanya akan berakibat fatal.

Bovine Viral Diarrhea


Penyakit Bovine viral diarrhea (BVD) atau di Indonesia disebut dengan
Diare ganas (DGs) adalah penyakit karena virus menyerang sapi pada semua
umur. Penyakit ini dapat mengakibatkan diare hebat dan merupakan masalah
yang tersebar luas pada kelompok sapi perah di daerah endemik, baik secara
klinis maupun subklinis. Hanya sekitar 5% dari sapi yang mengidap BVD
memperlihatkan gejala klinis. Namun demikian sapi terinfeksi virus BVD
menyebabkan daya tahan terhadap infeksi oleh jasad renik lain menjadi
berkurang. Misalnya ketika virus BVDmenyerang paru-paru hewan mungkin
gejala yang terjadi ring an atau tanpa gejala, tetapi kemampuan tubuh untuk
mengatasi infeksi bakteri yang ada di lingkungan sekitar misalnya terhadap
pasteurella hemolitica menjadi berkurang. Bakteri kemudian berpotensi
memperbanyak diri di paru dan akhimya melampaui batas ketahanan sehingga
memicu timbulnya "shipping fever". Komplikasi lain dapat terjadi disebabkan
oleh adanya efek imunosupresif.

Penyebab Penyakit
Diare ganas disebabkan oleh virus RNA genus pestivirus dari keluarga
[Link] ini memiliki kemampuan menggandakan diri menjadi banyak
varian. Keluarga virus BVDdibagi menjadi dua kelompok genotipe, yaitu tipe-I
dan tipe-2. Keduanya dibedakan berdasar pada keganasan dalam menyebabkan
penyakit pada sapi. Genotipe virus BVD tipe-2 bertanggung jawab untuk
pembentukan gejala menjadi lebih ganas dibanding tipe-I. Fetus yang terinfeksi
sejak dilahirkan akan tetap tinggal terinfeksi virus [Link] temperatur 56°C
atau dalam suasana asam virus menjadi nonaktif dalam beberapa menit.

Penularan
Penyakit ini merupakan masalah yang sulit diberantas dan dapat mudah
terjadi penularan silang ke hewan lain seperti domba, kambing, kijang, bison

108 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


dan kijang Afrika. J anin dalam kandungan yang tahan terhadap infeksi dan
lahir selamat akan tetap menyimpan virus seumur hidupnya. Infeksi sebelum
lahir terjadi melalui plasenta induk ke embrio, sedang pascakelahiran diperoleh
dari percikan ekskresi yang mencemari pakan atau air minum. Virus dapat
berada dalam semen dan ditularkan melalui aktivitas seksual. Penggunaan
jarum suntik secara berulang dengan hewan yang berbeda dan penyuntikan
vaksin dapat berpotensi menularkan penyakit.

Gejala
Ada beberapa variasi gejala klinis sehubungan dengan penyakit ini terutama
yang dipengaruhi oleh status kebuntingan hewan yaitu; (1) pad a sapi tidak
bunting mas a tunas berkisar antara tiga dan lima hari, ditandai dengan demam
ring an dan turun nafsu makan. Sapi dapat terjadi diare dan/atau dengan
adanya tukak di mulut; (2) pada sapi bunting terjadi penularan dari induk ke
fetus, yang pengaruhnya tergantung pada umur kebuntingan sewaktu terjadi
infeksi. Pada kebuntingan kurang dari 100hari, janin tidak mampu membentuk
zat kebal terhadap BVDdan tidak dapat membentuk antibodi sehingga pedet
lahir dengan membawa virus secara abadi. Pada kebuntingan 100-150 hari,
terjadi infeksi embrio lewat plasenta atau abnormalitas janin kongenital. Pedet
dapat terlahir bebas virus tetapi mengandung antibodi, walaupun belum
minum kolostrum induk. Fetus mati pada kebuntingan awal dapat menjadi
mummi atau membusuk dalam kandungan, tetapi virus tidak dapat diisolasi
dari fetus tersebut. Pada kebuntingan tua pedet dapat lahir selamat dan
mengandung virus. Pedet lahir yang selamat tetapi tetap terinfeksi biasanya
akan mati setelah nanti berumur 2 tahun. Pedet baru lahir dapat tidak bisa
berdiri dan buta akibat infeksi semasa fetus (Gambar 8.2 A). Infeksi BVDjuga
berkaitan dengan kelainan kongenital di mana otak kecil tidak berkembang
sempurna atau terjadi hipoplasia (Gambar 8.2 B) dan mengakibatkan pedet
sempoyongan bila berjalan.

Gambar 8.2 (A) Seekor pedet bam lahir tidak bisa berdiri dan buta oleh infeksi
BVD; (B) Cacat hipoplasia serebelum terlihat pad a otak seekor pedet
penderita BVD (Fujita, 1994)

Bab 8 - Penyakit karena Virus 109


Pengendalian dan Pengobatan

Perbaikan susunan pakan diusahakan untuk meningkatkan palatabilitas


dengan maksud agar hewan makan makanan dengan nutrisi yang lebih baik
dari biasa sehingga perbaikan kondisi diharapkan dapat membantu ketahanan
tubuh. Vaksinasi dapat dilakukan untuk pencegahan agar terbentuk imuitas
tubuh sebelum terjadi infeksi. Tidak ada pengobatan yang efektif untuk
infeksi virus BVD. Apabila diusahakan pengobatan, dapat diberi antibiotik
dan vitamin B dimaksudkan untuk mencegah infeksi sekunder dan memberi
bantuan perbaikan kondisi sewaktu pengobatan.

Malignant Catarrhal fever


Penyakit Ingus jahat atau Malignant Catarrhal Fever (MCF) adalah penyakit
infeksi virus yang menyebabkan demam tinggi dan biasanya berakibat fatal
pada sapi, kerbau dan kijang. Penyakit ini diketahui tersebar luas di berbagai
negara di dunia termasuk Indonesia. Kasus MCF biasa dilaporkan di daerah
tempat sapi dan domba digembalakan secara bersama dalam satu padangan
yang sarna.
Pada spesies hewan kuku belah tertentu seperti kambing dan domba,
virus yang sarna dapat menginfeksi tanpa menimbulkan gejala sakit. Virus
ditumpahkan oleh induk bersama anak kambing atau domba baru lahir
sehingga berisiko tertular sewaktu terjadi kontak dengan sapi atau kijang.
Penyakit biasa berakibat fatal pada individu yang rentan, tetapi dalam keadaan
jarang terjadi dapat mewabah dan memakan korban sampai mencapai separuh
jumlah temak.

Penyebab

Agen penyakit MCF adalah virus herpes yang dapat digolongkan menjadi
dua macam, yaitu: (1)alcephine virus (ACV-1)adalah virus dari wildebeest yang
merupakan anggota dari subfam gamma herpes virinae, famili hepes viridae.
(2) Sheep associated agent (SAA) adalah agen yang belum diketahui secara jelas
klasifikasinya dan diperkirakan utamanya ditularkan oleh domba betina.
Penyakit yang disebabkan oleh kedua macam agen penyebab inimenimbulkan
gejala klinis yang sarna dan keduanya dikenal sebagai penyebab MCF.

Penularan
Domba, kambing dan berbagai ruminan liar yang tertular tidak
memperlihatkan gejala tetapi diperkirakan menyebarkan agen penyakit
terutama pada saat melahirkan. Virus ACV-1 ditengarai mampu menerobos
plasenta hewan bunting dan memasuki janin. Virus yang terbebas dari dalam
sel bergerak menuju sekresi hidung dan mata fetus yang kemudian terinfeksi

110 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


segera setelah lahir. Induk semang akhir yaitu sapi, kerbau dan kijang menjadi
terdedah ketika menghirup percikan udara atau pakan tercemar dari anak
hewan tersebut. Cara penularan pada SAA masih belum jelas meskipun telah
diketahui adanya hubungan kasus MCF dengan peristiwa kelahiran anak
domba. Namun demikian telah dilaporkan pula bahwa beberapa kasus tidak
ditemukan indikasi keberadaan domba di sekitarnya. Pada sapi telah direkam
pula beberapa kasus infeksi transplasental.

Gejala Klinis
Masa tunas berlangsung kurang lebih 3 minggu. Kejadian wabah biasanya
musiman terutama dikaitkan dengan mas a kelahiran wildebeest atau domba.
Gejala mencolok adalah keluarnya ingus yang hebat dari hidung. Tanda klinis
sangat bervariasi diawali dengan bendung darah di mulut dan hidung, melanjut
keluar cairan bening yang berkembang menjadi kental dan mukopurulen,
serta pada kornea terjadi perubahan kekeruhan warna putih (Gambar 8.3).
Air liur terus menetes keluar dari mulut. Dalam keadaan infeksi berat dapat
meningkat menjadi buta. Hewan demam tinggi, terdapat jejas di moncong dan
rongga mulut kondisi menu run dan kurus. Hidung tersumbat kerak sehingga
terjadi kesulitan bernapas. Sapi dapat selamat selama satu atau dua minggu
setelah gejala, sedang pada kijang dan bison lebih rentan dan bertahan tidak
lebih dari beberapa hari. Kulit dapat terkena dermatitis diikuti penebalan dan
pengelupasan. Kelenjar limfe tepi tampak jelas dan membengkak. Moncong
kering, selaput lendir kering, retak dan terisi eksudat. Infeksi SAA sering
mengakibatkan sembelit, diikuti dengan diare berdarah. Gejala kelainan
saraf timbul akibat terjadi peradangan otak. Hewan menjadi lebih agresif,

Gambar 8.3 Tampilan klinis sapi MCF terlihat murung dengan leleran hidung dan
mulut serta aspek komea mata keputihan (O'Toole, 2011)

Bab 8 - Penyakit karena Virus 111


perototan gemetar, berjalan sempoyongan, tortikolis, merebahkan diri, terjadi
kelumpuhan dan melanjut hewan mengalami kematian.

Pengendalian dan Pengobatan

Untuk memperkecil risiko kemungkinan terjadi infeksi virus MCF maka


pemeliharaan domba harus terpisah dari sapi atau kerbau. Pada umumnya
hewan yang sakit tidak bisa diobati karena tidak ada pengobatan yang efektif
dan tidak ada vaksin tersedia. Usaha maksimal adalah dengan memberikan
injeksi antibiotik berspektrum luas untuk menghindari kemungkinan infeksi
sekunder. Hewan akan mati atau bila ditandai adanya gejala, dapat dikeluarkan
untuk dipotong.

PENYAKIT VIRAL EKSOTIS


Yang dimaksud dengan penyakit hewan eksotik adalah sejumlah penyakit
menular yang belum pernah terjadi di Indonesia. Ada banyak penyakit yang
status epidemiologinya eksotik, namun hanya beberapa yang penting untuk
sapi perah, di antaranya adalah: Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau Foot
and Mouth Disease (FMD), Rinderpest dan Bovine Spongiform Encephalopathy
(BSE) atau penyakit Sapi Gila. Walaupun dewasa ini penyakit-penyakit
tersebut tidak terjadi di Indonesia, tetapi perlu kesiagaan dan kehati-hatian
bila sewaktu-waktu terjadi penularan melalui kegiatan perdagangan hewan
dan produknya yang semakin terbuka kemungkinannya sebagai dampak
perdagangan bebas. Kondisi penyakit hewan dapat sewaktu-waktu berubah
secara drastis. Keberadaan penyakit ini menjadi hambatan dalam perdagangan
internasional atas hewan dan produknya.

Penyakit Mulut dan Kuku


Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)atau Foot and mouth disease (FMD) adalah
penyakit virusi yang sangat menular pada hewan berkuku belah termasuk
sapi. Gejala penyakit ini ditandai oleh demam tinggi dan menciri dengan
adanya lepuh berisi cairan di dalam atau sekitar mulut, lidah, bibir, dan celah
kuku. Pada hewan betina jejas serupa juga dapat terjadi pada ambing dan
puting. Walaupun PMK tidak menimbulkan dampak angka kematian yang
tinggi tetapi pada sapi perah dapat mengakibatkan penurunan produksi
susu secara nyata. Pembatasan terhadap lalu lintas dan perdagangan hewan
perlu diperketat untuk mencegah masuk dan tersebarnya penyakit. Kejadian
terakhir di Indonesia tahun 1983sejak keberadaan yang pertama dilaporkan
oleh Bosma tahun 1887di Malang dan melalui program pemberantasan yang
intensif dapat dibebaskan dengan pengakuan FAO tahun 1990.

112 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Penyebab
Penyakit disebabkan oleh enterovirus dari keluarga Picornaviridae. Virus
ini dibagi menjadi 7 tipe yang berbeda yaitu: 0, A, C, SAT-I, SAT-2,SAT-3
dan Asia-I. Dari tipe ini sekurang-kuragnya ada 61 subtipe yang berhasil
dibedakan menggunakan uji pengikatan eomplemen. Sifat dari virus ini labil
terhadap asam dan basa serta sensitif terhadap panas.

Penularan
Penularan dapat terjadi seeara langsung ataupun tidak langsung. Selain itu
penularan dapat pula terjadi melalui angin. Udara infektif dapat tahan sampai
beberapa jam di dalam kondisi yang sesuai, terutama bila kelembapan relatif
lebih besar dari 70% dan dalam suhu rendah. Udara yang tereemar dapat
terbawa angin sampai sejauh 250 km. penyebaran paling penting di negara
tropis adalah melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit. Pedet dapat
tertular penyakit sewaktu minum susu induk terinfeksi. Petugas teknis atau
paramedis harus berhati-hati dalam menangani sapi yang terinfeksi agar
tidak berpotensi menyebarkan seusai membantu menangani kasus. Setelah
hewan sembuh virus dapat tetap tinggal di kerongkongan sampai 2 tahun
kemudian. Manusia juga rentan dan dapat terkena PMK dengan gejala flu
ringan, namun jarang terjadi.

Gejala Klinis
Masa tunas penyakit adalah 3-8 hari. Pada awalnya demam ringan dan
nafsu makan menu run atau hilang, bulu kusam diikuti dengan peradangan
lidah dan mulut bagian dalam menyebabkan keluarnya air liur yang banyak
dan berbuih diikuti oleh keluarnya leleran hidung (Gambar 8AA). Pada gusi,
lidah serta pangkallidah terbentuk lepuh yang segera peeah dan menghasilkan
tukak (Gambar 8.4B)sehingga menyebabkan kesulitan dalam mengunyah dan
air liur terus menetes. Serangan penyakit yang serius menyebabkan selaput
lendir terkelupas. Pada tukak dapat terjadi infeksi sekunder yang menimbulkan
peradangan lebihhebat. Lepuh pada rongga hidung dan moncong dapat melebar
sampai berdiameter 2-5 em. Lepuh serupa juga terjadi di antara teraeak dan
di sekitar batas atas kuku sehingga menyebabkan rasa sakit dan pineang waktu
berjalan. Luka yang parah dapat menyebabkan terkelupasnya kuku. Pada
hewan betina lepuh atau tukak dapat terjadi di ambing dan puting. Hewan
terserang penyakit ini menolak makan, kondisinya eepat menurun dan pada
sapi perah produksi susu menurun drastis. Keguguran sering terjadi pada
hewan bunting. Pada hewan dewasa jarang terjadi kematian.

Bab 8 - Penyakit karena Virus 113


Gambar 8.4 (A) Leleran kental keluar dari hidung dan mulut dan (B) Lepuh dan
tukak pada selaput lendir mulut dan lidah sapi menderita PMK (Anonim,
2010)

Pengendalian dan Pengobatan

Sewaktu wabah PMK terakhir di Indonesia tahun 1983 pengendalian


diutarnakan pada pernotongan paksa, rnernperketat arus lalu lintas temak,
penutupan daerah dan vaksinasi rnassal dengan vaksin subtipe virus yang
sarna dengan penyebab wabah. Dalarn situasi wabah dilakukan pernusnahan
hewan yang tertular dengan dibakar (Garnbar 8.5) kernudian dikubur dalarn
untuk rnernbatasi penyebaran penyakit.

Gambar 8.5 Pemusnahan bangkai sapi yang dibakar dalam rangka pengendalian
penyakit PMK (Lucy, 2007)

114 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Rinderpest
Sampar sapi atau rinderpest adalah penyakit menular disebabkan oleh virus
dan berakibat fatal pada sapi, kerbau serta hewan berkuku belah lainnya.
Penyakit ini telah berabad-abad sangat ditakuti dalam industri temak dan
merupakan hambatan teknis dalam perdagangan intemasional. Penyakit
ditandai oleh demam, stomatitis erosif, gastroenteritis, limfoid nekrosis,
dehidrasi dan angka kematian tinggi. Penyakit rinderpest telah menyebabkan
wabah yang sangat luas dan tersebar di Afrika Barat dan Timur Dekat, Timur
Tengah serta sebagian dari Pakistan dan India. Indonesia telah lama bebas dari
rinderpest sejak awal abad xx.

Penyebab
Rinderpest disebabkan oleh genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxovirus
yang termasuk virus RNA. Virus ini sensitif terhadap panas dan cahaya, mudah
rusak dan cepat menjadi inaktif oleh panas dan sinar mata hari, tetapi tetap
tinggal hidup lama pad a suasana dingin atau jaringan beku. Induk semang
dan virulensi galur virus ini sangat bervariasi. Serum dari sapi yang sembuh
atau sapi divaksin bereaksi silang dengan semua galur pada uji netralisasi
dengan minimal perbedaan antigenik. Virus rinderpest berada dalam jumlah
kedl di dalam cairan hidung satu sampai dua hari sebelum demam; levelnya
tinggi dalam sekresi dan ekskresi sewaktu minggu pertama penyakit klinis
dan menurun secara cepat ketika hewan membentuk antibodi spesifik dan
mulai terjadi proses kesembuhan.

Penularan
Rinderpest ditularkan melalui tinja, hembusan pemapasan dan cairan mulut
dari hewan terinfeksi. Penularan dapat terjadi secara lang sung atau tidak
langsung. Pertumbuhan awal dalam penularan terjadi melalui nasofaring, virus
akan memperbanyak diri dalam kelenjar limfe dan menyebar melalui darah ke
selaput lendir gastrointestinal dan alat pemapasan atas. Virus dalam partikel
air di udara akan terhirup dan menembus selaput lendir alat pemapasan bagian
atas. Tidak ada status karier pada rinderpest;virus mempertahankan diri terhadap
penularan secara terus-menerus di antara hewan-hewan rentan. Di daerah
endemik sapi muda menjadi terinfeksi setelah imunitas induk menghilang dan
sebelum imunitas vaksin mulai terbentuk. Keberadaan virus kemungkinan
terbantu oleh siklus virus yang terjadi pad a domba, kambing, dan binatang
ungulata liar di lingkungan hidupnya. Di daerah epidemik, virus menginfeksi
hampir semua hewan rentan dan cenderung terbatas kecuali populasinya
cukup banyak untuk menyokong status endemisitas. Di samping sapi penyakit
ini juga dapat menjangkiti giraf, kijang, babi liar dan hewan berkuku belah

Bab 8 - Penyakit karena Virus 115


yang lain. Kerusakan jaringan akan terjadi karen a kematian sel. Antigen virus
memicu tang gap kebal potensial yang mengendalikan infeksi dan membuka
kemungkinan kesembuhan bila kerusakan jaringan tidak parah.

Gejala
Masa tunas penyakit 3-15 hari yang menimbulkan reaksi klinis perakut,
akut, subakut, atau tidak tampak. Keadaan ini diikuti oleh demam, anoreksi,
dan depresi. Sewaktu demam produksi susu menjadi menurun. Leleran
okulonasal muncul 1-2 hari kemudian. Dalam waktu 2-3 hari muncul jejas
nekrotik lembut, yang secara cepat membesar membentuk bercak jejasberlendir
di gusi, mukosa Iangit-langit dan lidah. Dalam keadaan perakut gejalanya
terjadi secara serentak, demam tinggi, selaput lendir bendung, pernapasan
dangkal dan cepat, keluar cairan encer dari hidung yang volumenya selalu
meningkat. Lendir okulonasal berkembang menjadi muko purulen, moncong
kering dan retak. Pada akhir gejala klinis muncul gejala sakit perut, diare cair
mengandung darah dan berlendir atau berwarna hitam-coklat dan berbau
busuk. Salivasi berlebihan, cairan mukopurulen keluar dari hidung diikuti
keluarnya cairan mata. Hidung dan mulut bercak kemerahan dan berkembang
menjadi ulser dangkal. Erosi terjadi di langit-Iangit mulut, gusi dan dasar gigi
(Gambar 8.6).

Gambar 8.6 Erosi terjadi pada langit-langit mulut, gusi dan dasar gigi (Callis, dkk,
1982; Akoso, BT,1996)

Penyakit melanjut hewan menjadi koma dan mati karena dehidrasi dalam
waktu 6-12 hari setelah gejala. Proses kesembuhan lama dan dapat terjadi
komplikasi oleh infeksi ikutan akibat imunosupresi. Di daerah endemik
morbiditas rendah dan tanda klinis sering terjadi secara ringan, tetapi di daerah
wabah morbiditas sering 100% dan mort alitas sampai 90%.

116 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Pengendalian. Negara yang memiliki risiko penularan rendah atau bebas
harus mempertahankan status dengan penerapan aturan karantina yang ketat
dan tidak mengimpor ternak dari negara tertular rinderpest. Rinderpest tidak
dilakukan pengobatan, tetapi dilakukan perawatan dengan cairan pembantu
dan pengobatan antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri sekunder. Imunitas
aktif biasanya bertahan lama. Pada pedet imunitas induk tahan sampai
6-11 bulan. Pengendalian di daerah endemik dilakukan imunisasi terhadap
semua sapi dan kerbau yang berumur lebih dari satu tahun menggunakan
vaksin kultur jaringan. Wabah dikendalikan dengan pelaksanaan karantina ketat,
pengawasan pergerakan hewan, program "vaksinasi cincin" dan pemotongan
hewan terduga terinfeksi.

Sovine Spongiform Encephalopathy


Penyakit Bovine spongiform ecephalopathy (BSE)atau sapi gila adalah penyakit
menular, disebabkan oleh agen menyerupai virus yang tidak menciri dan disebut
"Prion" yang bersifat neurodegeneratif dan fatal pad a sapi dewasa ditandai oleh
kerusakan sistern saraf pusat hewan, khususnya sapi. Laporan kasus pertama
pada sapi perah terjadi bulan November 1987 di Inggris, kemudian menyebar
ke berbagai lokasi berbeda. Wabah penyakit ini di Inggris mencapai puncak
pada tahun 1992 ketika dipastikan telah menyerang sapi dalam jumlah 37.000
kasus. Penyakit kemudian ditemukan di hampir seluruh negara di Eropa dan
akhirnya ditemukan pula diAmerika, Canada, Jepang, Hongkong dan Thailand.
Laporan kasus pertama di Amerika bagian utara adalah tahun 2003 sewaktu
ditemukan di Alberta, Canada, disusul penemuan di Amerika Serikat akhir
tahun yang sarna terhadap sapi berasal dari Canada.

Penyebab

Penyebab penyakit bukan virus tetapi prion yang sangat stabil, tahan dalam
kondisi dingin beku, pengeringan, pasteurisasi, sterilisasi, dan pemanasan
sampai 135° C. Penyakit BSE dan Scrapie disebabkan oleh agen penyebab yang
sarna, dan agen Scrapie juga kemungkinan sebagai agen penyebab BSE. Prion
juga agen penyebab "Transmissible Mink Encephalopathy (TME) dan merupakan
penyakit menahun berat dari mule, kijang dan elk.

Penularan

Masa inkubasi BSE panjang antara 4-5 tahun, dan hewan yang sakit
akan mati dalam beberapa minggu atau bulan setelah gejala penyakit. BSE
ditularkan melalui makanan sapi yang bahan bakunya terbuat dari tepung
daging dan tulang meet and bone mill (MBM) berasal dari sapi menderita BSE.
[ejas mikroskopis menggunakan uji secara histopatologis dari jaringan otak

Bab 8 - Penyakit karena Virus 117


terlihat vakuolisasi neuron dari korteks serebri (Gambar 8.7), medula dan
pusat substansi kelabu. Penyakit ini termasuk zoonosis yang menyerang
hewan maupun manusia dan dikelompokkan sebagai "Transmissible spongiform
encephalopathy. Penyakit kelompok ini pada manusia adalah "Kuru" dan
"Creutzfeldt-Jacob's disease" (CJD). Scrapy yang menyerang domba dan kambing
juga termasuk dalam kelompok ini. Karena mas a inkubasi yang lama, maka BSE
hanya teridentifikasi pada hewan dewasa dan kejadiannya dalam kelompok
adalah rendah. Bangsa, jenis kelamin atau tahun dan musim tidak terkait
dengan perkembangan penyakit, dan tidak juga terjadi penularan karena
kontak langsung.

Gejala
Masa inkubasi panjang antara 4-5 tahun, dan hewan sakit akan mati
dalam beberapa minggu atau bulan setelah gejala penyakit. Hewan terserang
memperlihatkan gejala termasuk: gangguan saraf, abnormal penampilan tubuh,
gerakan dan sensasi. Berat badan turun sementara terlihat nafsu makan baik,
produksi susu menurun. Penyakit klinis biasanya berlangsung untuk beberapa
minggu dan bervariasi dampak serta fatalitasnya. Perubahan tingkah laku
menjadi penakut dan agresif, menendang-nendang. Degenerasi saraf pusat
menyebabkan gejala saraf: acuh, gigi gemeretak, gemetaran, posisi berdiri
abnormal, tampak seperti kebingungan, kekakuan alat gerak (Gambar 8.7A),
melanjut terjadi kelumpuhan dan kematian. Jejas mikroskopik menggunakan
uji histopatologis dari jaringan otak terlihat lesi vakuolisasi neuron dari korteks
serebri (Gambar 8.7B) medula dan pusat substansi kelabu dari otak.

Gambar 8.7 (A) Gejala seekor sapi menderita BSEmemperlihatkan kekakuan gerak
waktu berjalan. (B) Jejas degeneratif pada korteks serebri dengan
vakuolisasi neuron (Anderson, 2011)

118 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Pengendalian

Peraturan hampir setiap negara melarang penggunaan produk tepung


daging dan tulang sebagai unsur protein hewani untuk makanan sapi, terutama
dari negara endemik BSE. Sapi menderita penyakit ini tidak diobati tetapi
hams dimusnahkan dan tidak digunakan untuk konsumsi manusia termasuk
susunya. Karkas dimusnahkan dengan dibakar menggunakan pemanasan
tinggi dan dikubur. Umumnya negara maju terutama Eropa, Amerika dan
Australia melarang otak sapi untuk dikonsumsi. Terhadap sapi yang positip
atau dicurigai menderita BSEhams dipotong untuk dimusnahkan di tempat
yang telah ditentukan oleh pemerintah dengan perlakuan pemusnahan khusus
dan pemberian kompensasi kepada pemilik.

Bab 8 - Penyakit karena Virus 119


PENYAKIT Bob
KARENA BAKTERI 9
Bakteri adalah sebuah benda hidup renik bersel tunggal yang tidak termasuk
tumbuhan atau hewan, dengan berbagai bentuk mulai dari sferikal, batang
sampai spiral. Ukurannya sangat kedl tidak lebih dari ukuran sel,berdiri sendiri
dan ada yang berpasangan atau berantai, tetapi dapat kemudian berkelompok
membentuk koloni dalam jumlah jutaan organisme melalui kemampuannya
memperbanyak diri secara cepat. Bakteri berada di alam dalam berbagai
lingkungan dan kondisi di bumi, dapat tumbuh di tanah, air, atau di tubuh
jasad hidup dari hewan, tumbuhan dan manusia. [enis bakteri tertentu dapat
atau hanya tumbuh di suasana lingkungan yang anaerobik.
Beberapa bakteri di alam bersifat patogenik sehingga menyebabkan penyakit
pada hewan dan manusia, termasuk di antaranya adalah bakteri Streptococcus,
Staphyllococcus, Anthrax, Brucella, Salmonella, Coli dan tuberkulosis. [enis bakteri
tertentu dapat membentuk pelindung diri dalam bentuk kapsul atau spora
yang memungkinkannya untuk bertahan hidup di lingkungan yang kurang
mendukung untuk kehidupannya.
Berbagai jenis penyakit bakterial menular telah dilaporkan kejadiannya pada
sapi perah di Indonesia baik yang terjadi secara sporadik, endemik maupun
menimbulkan wabah. Dari sisi kerentanan terhadap penyakit bakterial, pedet
baru lahir atau pedet muda lebih rentan terhadap infeksi bakteri lingkungan
dibanding yang dewasa.

PENYAKIT BAKTERIAL YANG RENTAN TERJADI PADA PEDET


Pedet baru lahir atau yang masih muda umur satu bulan sering mengalami
infeksi saluran pence rna an sehingga terjadi diare atau sesak nap as karena
pneumonia akibat infeksi saluran pernapasan. Keadaan ini akan lebih berat bila
sejak awal tidak memperoleh kolostrum dari induk, sehingga dengan keadaan
tersebut perlu dibuatkan kolostrum buatan. Dalam kondisi diare yang kronis,
bila diperlukan dapat diberi penguatan tubuh menggunakan cairan elektrolit
dikombinasikan dengan pemberian cairan melalui mulut. Untuk infeksi bakteri

121
pemberian antibiotik akan menolong dan bahkan sering menjadi cara yang
biasa dilakukan peternak. Banyak di antara kejadian diare yang seharusnya
tidak memerlukan pengobatan spesifik kecuali hanya dengan pengembalian
cairan tubuh dari kondisi dehidrasi.

Infeksi Tali Pusar


Sisa tali pusar merupakan salah satu dari infeksi yang sering dihadapi oleh
pedet baru lahir. Pedet umur kurang dari satu minggu paling sering terkena
infeksi umbilikus atau tali pusar karena untuk menjadi kering hingga bebas
infeksi memerlukan waktu 7-10 hari. Infeksi tali pusar dapat berlanjut menjadi
sepsis, yaitu bakteri masuk ke dalam aliran darah, dan dapat mengakibatkan
kematian.

Penyebab
Kuman yang paling sering sebagai penyebab infeksi pada pedet muda
adalah bakteri Gram negatif. Desinfeksi tali pusar sewaktu dipotong secara
tidak tepat dapat menjadi predisposisi pedet mudah menderita infeksi tali
pusar. Keberadaan tali pusar telah memberikan jalan bakteri untuk mudah
memasuki aliran darah pedet baru lahir dan masuk ke seluruh tubuh. Bakteri
membentuk koloni dan dengan mudah menyebar melalui tali pusar menuju
sirkulasi darah. Faktor predisposisi infeksi termasuk pecahnya tali pusar atau
pemotongan umbilikus terlalu pendek sehingga terlalu dekat ke dinding perut,
pembersihan tali pusar yang tidak baik misalnya tidak dilakukan pencelupan
ke disinfektan dalam beberapa hari setelah lahir, induk sapi melahirkan di
temp at yang kotor, pemberian kolostrum yang tidak cukup, atau tali pusarnya
diisap oleh pedet lain. Apabila bakteri menembus masuk ke dalam aliran
darah, kondisi ini disebut sepsis, yaitu agen terbawa ke daerah organ lain di
dalam tubuh. Sepsis demikian dapat berlanjut ke komplikasi hebat seperti
abses hati, hewan menjadi kolaps dan mengalami kematian.

Gejala
Salah satu gejala yang paling jelas adalah bengkak dan rasa sakit bagian
bawah dinding perut di sekitar tali pusar. Kebengkakan disebabkan oleh
reaksi terjadinya infeksi, dan bila tidak diobati dapat berkembang menjadi
demam atau mungkin terbentuk abses berisi nanah. Bila infeksi terjadi dalam
waktu lama dan menjadi semakin berat, dapat berkembang menjadi sepsis
dengan gelaja termasuk: kondisi lemah, malas bergerak, refleks menyedot susu
berkurang, denyut jantung meningkat, gangguan pencernaan, selaput lendir
mata merah, pernapasan tersengal-sengal, dan dapat kemudian infeksi pada

122 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


persendian mengakibatkan rasa sakit hebat. Infeksi bahkan dapat menyebar
ke otak, jantung dan hati.

Diagnosis

Untuk melakukan diagnosis terhadap infeksi tali pusar sering cukup


dapat dilakukan melalui pengujian secara klinis. Penemuan tali pusar yang
meradang, rasa sakit hebat pada pedet kelahiran bam yang disertai dengan
gejala tersebut di atas memperkuat dugaan infeksi tali pusar. Perlu dibedakan
antara infeksi tali pusar dengan kasus hernia umbilikalis.

Pencegahan

Cara pencegahan yang baik terkait dengan kebersihan. Suatu keadaan


yang kritis bahwa pedet hams dilahirkan dalam kondisi kandang yang
relatif bersih dan kering, untuk membatasi terjadinya kontaminasi di tempat
melahirkan. Penting juga untuk mengolesi atau mencelup umbilicus pedet
sehabis dilahirkan. Bila terjadi kerusakan tali pusar, hams diobati dengan
2% yodium atau khlorheksidin dua kali setiap hari sampai saatnya tali pusar
menjadi kering. Cara ini akan mencegah infeksi pascalahir. Pedet hams tidak
dipindahkan ke kandang yang basah apalagi kotor sampai dengan tali pusar
kering sempurna.

Pengobatan

Pedet harus dikandangkan terpisah dengan yang lain dan diberi pengobatan
antibiotik, antiradang non-steroid dan perawatan yang baik. Tindakan medis
dengan melakukan pengobatan dini merupakan faktor kunci sukses dalam
penanganan infeksi tali pusar.

Kolibasilosis Septikemia
Pedet muda sering terkena infeksi kolibasilosis yang septikemik, yaitu
jasad renik tersebut beserta toksinnya masuk ke dalam aliran darah dan
menyebar ke seluruh tubuh. Septikemia pada pedet biasanya terjadi karena
infeksi bakteri ketika fetus masih berada di dalam uterus atau segera setelah
lahir. J alur infeksi mungkin terjadi melalui darah induk atau infeksi plasenta,
melalui mulut atau pernapasan. Di samping coli baclilosis, septikemia pedet
dapat juga disebabkan oleh Salmonella sp. Pada kandang yang tidak bersih,
galur kuman tertentu dapat menyebabkan infeksi sistemik dengan memasuki
tali pusar pedet baru lahir yang tidak dipindahkan ke kandang observasi atau
kandang khusus yang disediakan untuk pedet baru lahir.

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 123


Penyebab

Septikemia adalah suatu sindroma klinis yang ditandai oleh adanya infeksi
dan perbanyakan bakteri dalam darah. Agen penyebab septikemia sangat
bervariasi tetapi bila terjadi pada pedet di bawah umur 5 hari, penyebab
yang paling memungkinkan adalah serangan bakteri Escherichia coli. Secara
normal di dalam usus pedet terdapat sangat banyak E. coli yang hidup secara
harmoni dengan induk semangnya tanpa menyebabkan gangguan. Namun
dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan penyakit ketika keseimbangannya
terganggu sehingga mengakibatkan jumlah bakteri meningkat tajam. Galur E.
coli tertentu tidak memasuki aliran darah tetapi melekatkan diri pada dinding
usus halus bagian atas di mana mereka memperbanyak diri dan memproduksi
sejumlah besar enterotoksin yang kemudian berakibat pada pengeluaran cairan
dan elektrolit, dan cairan tubuh lain sehingga terjadi dehidrasi berat serta
mengakibatkan gangguan keseimbangan metabolik.

Gejala
Pedet terserang kolibasilosis septikemia menjadi cepat depresi dan lemah,
karena diare berat dan dehidrasi. Ekor, pantat, perut bagian bawah dan kaki
kotor oleh tinja encer. Kondisi pedet melemah, merebahkan diri dan kemudian
mati. Persentase kematian biasanya tinggi disebabkan oleh pengaruh tekanan
endotoksik yang ditimbulkan oleh bakteri, dan pedet dapat mati dalam waktu
12jam setelah gejala. Kematian sering terjadi sangat mendadak hingga sering
hanya merupakan satu-satunya gejala yang dapat teramati. Pedet yang tahan
dalam situasi septikemia dapat seterusnya menderita infeksi persendian dengan
menimbulkan sindroma bengkak sendi, dan sering disebut dengan demam
sendi (joint ill). Radang pada sendi yang terjadi mengakibatkan rasa sakit yang
hebat. Pedet terserang penyakit yang berat walaupun akhimya sembuh, dalam
jangka panjang tidak menguntungkan untuk program regenerasi karena telah
banyak kerusakan pada selaput lendir usus, dan lebih baik diafkir dini.

Pencegahan
Kecurigaan terhadap terjadinya septikemia oleh bakteri hams diperhitungkan
ketika banyak kasus diare dan mengakibatkan kematian pada pedet di bawah
umur 5 atau 7 hari. Pedet yang mengalami kekurangan pemberian kolostrum
sangat rentan terhadap penyakit ini. Petemak yang kurang perhatian terhadap
pentingnya pemberian kolostrum pada pedet sering mengalami kerugian
karena kematian hewan. Pedet lahir di kandang bersih dan memperoleh
kolostrum cukup, jarang mengalami masalah septikemia. Begitu pedet lahir
harus dikandangkan tersendiri dan ditempatkan sejauh mungkin dari pedet
sakit. Desinfeksi tali pusar secara benar dan memindahkan pedet ke kandang

124 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


individual yang bersih dan kering akan membantu mencegah salah satu
penyebab septikemia.

Penularan

Penyakit dapat menyebar karena tertular melalui tinja dari hewan terinfeksi
(Gambar 9.1). Sewaktu terjadi penyakit, petugas yang menangani pedet sakit
terutama yang membersihkan kandang perlu diusahakan terpisah dengan
petugas yang bias a memberi makan dan merawat secara rutin. Ember atau
botol yang dipergunakan harus terpisah dan tidak menggunakan alat yang
sarna untuk semua pedet. Sanitasi yang baik dan memberi kolostrum pada
pedet baru lahir adalah penting untuk mencegah gejala diare.

Gambar 9.1 Diare di dalam kandang yang dipakai bersama dapat menjadi bagian
dari terjadinya pencemaran di antara pedet

Pengobatan

Pedet penderita gejala diare, harus segera diisolasi agar tidak menular
ke yang sehat dan menjadi sumber pencemaran lingkungan. Keberhasilan
pengobatan tergantung dari diagnosis dini, penanganan yang cepat dan
tingkat keparahan penyakit. Namun demikian pengobatan untuk penyakit
yang sudah terlanjur parah merupakan cara yang kurang efektif.

Salmonelosis
Salmonelosis adalah penyakit menular pada sapi dan hewan lainnya yang
disebabkan oleh infeksi salmonela, dicirikan oleh sindrom septikemia, enteritis
akuta atau enteritis menahun. Organisme ini memperbanyak diri di dalam usus
dan menyebabkan peradangan atau enteritis. Pada manusia dapat menyebabkan
enteritis dan gastroenteritis. Salmonella typhimurium yang menginfeksi sapi

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 125


merupakan masalah kedua dari kasus pada orang, yang salah satu galur di
antaranya merupakan hal yang dipandang penting untuk diperhatikan dalam
upaya pengendalian kesehatan pangan karena meningkatnya kejadian baik
pada orang maupun hewan. Infeksi pada manusia meningkat setiap tahun
yang penyebabnya diperkirakan bersumber dari binatang. Susu, pakan atau
peralatan yang terkontaminasi oleh tinja dari sapi tertular dapat menjangkit
ke pedet dan merupakan penyakit yang paling membahayakan.

Penyebab
Walaupun banyak spesies Salmonella yang telah ditemukan, tetapi
Salmonellosis pada sapi umumnya disebabkan oleh Salmonella dublin,
S. tiphymurium atau S. newport. Pada sapi perah umumnya S. dublin. Bakteri
ini berbentuk batang, tidak membentuk spora dan tidak berkapsul, motil dan
bersifat gram negatif. Invasi bakteri Salmonella ke dalam darah menyebabkan
septikemia. Organisme ini dapat bertahan hidup di area peternakan dalam
beberapa bulan pada temp at hangat dan basah. Binatang pengerat dan burung
liar dapat bertindak selaku sumber infeksi.

Penularan
Salmonela ditularkan melalui pakan atau minuman yang tercemar oleh
kuman yang kemudian memperbanyak diri di usus dan menyebabkan
enteritis. Penularan dapat terjadi karena kandang yang tercemar tinja dari
hewan terinfeksi atau secara intrauterin. Penyakit ini menyerang semua spesies
vertebrata dan merupakan masalah yang sering dijumpai pada sapi perah,
walau adakalanya juga pada sapi potong dan menimpa semua umur. Setelah
tiga bulan pencemaran pada tinja, kontaminan masih dapat menularkan ke
hewan rentan. Gudang pakan biasanya diatur dalam kondisi bahan pakan
yang terbuka sehingga burung atau tikus yang berhasil masuk dapat berperan
sebagai pencemar lingkungan.

Gejala
Secara klinis sering terlihat pada pedet muda atau sapi tua yang mengalami
kurang nutrisi. Pedet yang terserang secara akut oleh Salmonella menderita
demam, lesu, kurang nafsu makan, dan diare hebat. Paling sering timbul
gejala septikemia dan tipikal terjadi pada pedet umur 3-4 minggu. Kerentanan
pada pedet yang tinggi mungkin disebabkan oleh tingginya pH dalam perut
pedet dan ketiadaan flora yang stabil dalam usus. Pedet terinfeksi menjadi
berhenti minum susu, dehidrasi, kondisi lemah, diare cair dan sering berdarah
(Gambar 9.2), dan sering menjadi sempoyongan yang memberi kesan adanya
gangguan sistem saraf. Kematian dapat terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah

126 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


gejala sakit. Kematian pada pedet biasanya mencapai 25%,tetapi dalam kondisi
tertentu bisa sampai 100%.Pada hewan dewasa dapat mengalami septikemia,
enteritis dan hewan yang bunting dapat terjadi keguguran.

Gambar 9.2 (A) Seekor pedet menderita kekurusan dan diare yang parah; (B)Tinja
diare berwarna kuning keputihan, sedikit kelabu dan berbau busuk
(Fujita, 1994)

Pengobatan

Untuk pengobatan dilakukan dengan pemberian suntikan antibiotik


dan harus dilakukan pada awal kejadian. Pengobatan yang diberikan sudah
terlambat sering mengalami kegagalan. Pemberian obat pendukung untuk
mengatasi keluamya banyak cairan tubuh akan membantu penyembuhan
dan perbaikan kondisi.

Pencegahan

Hewan atau kelompok hewan yang terserang segera dipisahkan di kandang


tersendiri. Sanitasi yang baik dan isolasi pedet yang sakit dalam kandang
individual dapat membantu pencegahan terhadap penularan sewaktu terjadi
wabah. Susu dari induk tertular tidak boleh diberikan untuk minum pedet.
Semua alat-alat terutama yang berhubungan dengan pemberian makan dan
minum harus selalu didesinfeksi secara rutin. Bila tersedia, dapat dilakukan
vaksinasi.

PENYAKIT BAKTERIAL PADA UMUMNYA


Bakteri dapat menginfeksi sapi dalam berbagai situasi dan kondisi hewan.
Penyakit bakterial yang menyerang sapi dewasa pada umumnya dapat pula
menginfeksi hewan usia muda termasuk pedet. Perbedaan dimungkinkan
hanya pada faktor predisposisi pada organ tempat masuknya organisme
yang memengaruhi derajad kerentanan sebagai pemicu terjadinya penyakit.
Sebagai contoh penyakit menular berbahaya seperti anthrax dan septicemia

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 127


epizooticae (SE), dapat menyerang hewan dalam berbagai kondisi umur dan
situasi, sedang enterotoxemia lebih banyak dijumpai pada pedet muda karena
rumen belum berfungsi sempurna hingga semua makanan dalam bentuk
pati (starch) lepas dari proses pencernaan di rumen tetapi langsung masuk di
abomasum dan usus halus yang dapat menjadi media pertumbuhan mikroba
termasuk Clostridium perfingens. Penyakit tuberkulosis dan bruselosis hidup
di dalam sel yang memerlukan waktu untuk tumbuh dan berkembang lebih
lama hingga biasa dijumpai pada umur yang lebih dewasa, sedangkan mastitis
paling sesuai menyerang ambing sapi dewasa yang sedang laktasi.

Enterotoksemia
Enterotoksemia dapat terjadi sebagai wabah diare pada berbagai kelompok
umur sapi dengan mengakibatkan kematian sekitar 5%. Pada sapi muda
bunting yang tidak divaksin dapat menyebabkan kematian sampai 25%.Infeksi
pada pedet sering dijumpai pada umur satu sampai tiga bulan, walaupun
mungkin berada dalam perawatan yang baik. Clostridium perfingens tipe B
dan C menyebabkan enteritis berat, desentri, toksemia dan menyebabkan
kematian tinggi. Hewan diare adakalanya mendarah diikuti rasa sakit perut
yang hebat dan kejang-kejang. Terjadi peradangan hebat pada selaput lendir
usus halus serta seperempat atas usus besar akibat daya kerja toksin yang
terbentuk (Gambar 9.3).

Gambar 9.3 Usus sapi karen a infeksi Clostridium perfingens. Jaringan bagian kanan
berwama gelap karena nekrotik, bandingkan dengan yang lebih terang
wamanya sebelah kiri yang normal. Kerusakan parah mengakibatkan kolik
dan tidak sembuh dengan pengobatan antibiotik (O'Toole, 2011)

128 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Penyebab

Enterotoksemia disebabkan oleh Clostridium perfringens terutama tipe C


dan D. Organisme ini secara alamiah terdapat di tanah dan dapat berada di
usus pedet secara normal. Dalam keadaan tertentu memperbanyak diri dan di
dalam usus memproduksi enterotoksin ganas yang dapat merusak aliran darah
di otak serta jaringan lain. Faktor penyebab perbanyakan kuman ini belum
diketahui dengan jelas. Pemberian konsentrat secara berlebihan merupakan
salah satu penyebab terjadi perbanyakan cepat bakteri klostridia. Pedet yang
makan sejumlah besar konsentrat sewaktu masih menerima pakan susu secara
penuh akan memperparah berkembangnya penyakit ini.

Gejala
Dalam keadaan akut, gejala klinis berupa demam, lesu, kurang nafsu
makan dan pada sapi laktasi terjadi penurunan produksi susu. Hewan diare
berat, adakalanya mendarah dan berlendir. Kematian dapat terjadi dalam
3-4 hari atau dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu atau bulan.
Hewan dewasa yang sembuh dapat bertindak sebagai pembawa sifat. Kematian
secara mend adak tertinggi biasanya pada pedet umur 3-8 minggu. Pnemonia
sering terjadi pada pedet usia sapih sewaktu dipindah dari kotak individual
ke kandang kelompok. Hewan bunting dapat terjadi keguguran.

Pencegahan dan pengendalian


Vaksinasi dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin aktif. Sanitasi
serta kebersihan kandang dan lingkungannya dapat mengurangi terjadi
pencemaran. Penggunaan penggembalaan padang rumput dilakukan rotasi
untuk meminimalkan penyebaran mikroba. Sering gejala klinis terjadi secara
cepat dan hewan ditemukan sudah mati. Untuk pencegahan dapat dilakukan
vaksinasi.

Pengobatan
Sapi yang sakit diobati dengan antibiotik berspektrum luas melalui injeksi.
Pemberian antibiotik melalui mulut dikhawatirkan kontraproduktif karena
akan mematikan jasad renik dalam saluran pencemaan. Dalam kondisi yang
sudah parah sering gagal terhadap pengobatan antibiotik. Ketika pedet sudah
terjadi gejala klinis biasanya sudah terlambat untuk diselamatkan.

Mastitis
Mastitis atau radang ambing karena infeksi bakteri adalah penyakit yang
umum dan paling sering terjadi pada sapi perah laktasi. Penyakit ini sangat

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 129


merugikan karena dampak ekonomi yang besar berupa penurunan kuantitas
dan kualitas susu yang dapat berakibat ada ditolaknya hasil produksi. Di setiap
tahun peternakan sapi perah tidak ada yang terlepas dari masalah mastitis.
Hewan mastitis mengalami peradangan ambing dan rasa sakit yang hebat.
Sapi menjadi demam dan dalam keadaan berat dapat terjadi kematian.
Juru perah memiliki peranan penting dalam mencegah dan deteksi mastitis
klinis serta berperan kunci dalam membantu tugas pengawasan kesehatan
hewan. Faktor yang menjadi predisposisi adalah prosedur pemerahan yang di
bawah standar higiene, kebersihan lingkungan yang jelek, atau luka puting.

Penyebab

Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai jasad renik yang terdapat di alam
lingkungan sekitar kandang, umumnya oleh bakteri antara lain: Streprococcus
spp., Staphylococcus spp., Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, Pseudomonas
aeruginosa, dan mikoplasma. Dalam jumlah yang lebih jarang terjadi, mastitis
juga dapat ditimbulkan oleh infeksi jamur. Infeksi biasa terjadi ketika higiene
dan sanitasi kandang serta praktik pemerahan tidak dilakukan secara baik
dan benar.

Penularan

Mastitis biasa tertular dari pencemaran lingkungan yang menyebabkan


terjadinya infeksi akibat kondisi higiene dan sanitasi yang kurang atau tidak
baik. Kandang yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan sapi terpaksa
tiduran di lokasi becek, kotor atau lembap merupakan predisposisi. Juru
perah harus menghindari mendahulukan memerah sapi mastitis karena dapat
menularkan ke sapi lain yang sehat, atau lebih bijak bila dikerjakan oleh orang
yang berbeda.

Gejala

Sapi penderita mastitis ditandai dengan ambing dan puting membengkak,


permukaan luar ambing berwarna kemerahan (Gambar 9.4) atau untuk
penyakit yang sudah parah dapat kemudian berwarna merah hitam dan terjadi
ganggren. Bila diraba teras a keras dan rasa sakit terutama waktu diperah.
Dalam keadaan berat, sapi demam, dehidrasi, kehilangan nafsu makan dan
produksi menurun.

Pencegahan dan pengendalian mastitis

Mastitis memerlukan perhatian ekstra karen a paling sering terjadi di


antara kelompok sapi perah. Mastitis klinis ringan dan mastitis subklinis biasa
terjadi sampai 40% dari kelompok terinfeksi. Kasus mastitis mengandung

130 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gambar 9.4 Mastitis pada sapi perah laktasi. Perhatikan ambing dan puting yang
membengkak berubah warna kemerahan dari normal karena radang
(Dave, 2011)

konsekuensi biaya dan kerugian yang tidak ringan. Dengan pemerahan rutin
sesuai prosedur dan penggunaan peralatan perah yang memadai, jumlah
dari sapi terkena mastitis dapat ditekan rendah. Juru perah yang memiliki
banyak akses melihat kondisi ambing, wajib melaporkan berbagai kondisi
yang dicurigai tidak normal kepada petugas kesehatan.
Susu yang dihasilkan dari kuartir sapi mastitis membentuk semacam
gumpalan dan terjadi perubahan warna (Gambar 9.5). Untuk men genal
kelainan ini diperlukan pengenalan kondisi air susu dan ambing yang normal.
Sapi mastitis subklinis tidak terlihat gejala tetapi ambingnya terinfeksi dan
penghitungan kuman dalam air susu berada di atas batas normal.

Gambar 9.5 Susu dalam gelas sebelah kiri sewaktu dipakai untuk mendeteksi kasus
sapi mastitis karena E. coli yang mengandung eksudat. Bandingkan
dengan susu normal di kanan (Anonim, 2011)

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 131


Pengobatan
Deteksi bisa dilakukan menggunakan metode uji California Mastitis Test
(CMT)yang dilakukan secara periodik sehingga dapat diketahui sedini mungkin
bahkan sebelum terlihat gejala klinis. Pengobatan dengan menggunakan
antibiotik berspektrum luas. Sapi yang menderita mastitis kronis lebih baik
diafkir.

Anthrax
Penyakit radang limpa atau anthrax adalah penyakit menular akut atau
perakut menyebabkan demam pada hewan berdarah panas termasuk pada
manusia, disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini septikemik utamanya dicirikan
oleh dampak yang fatal. Anthrax ditemukan di berbagai negara di seluruh
dunia termasuk Indonesia menyebabkan kematian tinggi. Manusia bias a
terinfeksi melalui luka atau kulit yang tidak utuh, karena makan daging yang
tidak dimasak sempurna atau melalui pemapasan karena terhirupnya spora
anthrax.

Penyebab
Anthrax disebabkan oleh Bacillus anthraxis, yaitu bakteri berbentuk batang
bersifat Gram positip, non motil, tahan terhadap disinfektan, membentuk rantai
secara in vitro dan bila terkena udara membentuk spora yang tahan terhadap
pengaruh luar sampai puluhan tahun. Basilus ini memproduksi toksin edema
dan letal. Kedua toksin menerobos masuk sel melalui pengikatan protein,
antigen pelindung, yang memiliki fungsi membrana translokasi. Toksin dan
kapsul merupakan faktor virulen utama pada basilus anthraxis. Dalam kondisi
tanah berkapur spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif. Kuman ini
tersebar hampir di seluruh dunia terutama negara beriklim tropis termasuk
Indonesia.

Gejala Klinis
Masa inkubasi berlangsung 3-7 hari. Hewan terserang anthrax dapat mati
secaramendadak, menciri dengan perdarahan di lubang hidung, mulut dan anus.
Dalam kondisi penyakit yang menahun, sapi akan mengalami demam tinggi,
lesu (gambar 9.6A), kesulitan bernapas, gemetar, berjalan sempoyongan. Bila
penyakit berlanjut kemudian rebah dan berakhir dengan kematian. Diagnosis
melalui gejala klinis sering sulit untuk dapat memastikan. Perdarahan di lubang
kumlah sering dipakai sebagai pelita untuk memperkirakan kemungkinan
diagnosis, tetapi banyak kejadian anthrax yang tidak menciri dengan gejala
tersebut. Sapi mati mendadak yang ditemukan di daerah endemi, perlu
dicurigai kemungkinan anthrax.

132 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gambar 9.6 (A) Seekor sapi perah menderita anthrax kronis dengan gejala penurunan
kondisi tubuh, dungu, murung, kurang nafsu makan. (B)Anthrax kulit
pad a orang terlihat jejas menciri di bagian tangan dengan perubahan
jaringan nekrotik kehitaman di tengah luka, dikelilingi jaringan yang
meradang (Akoso, 2010)

Pengendalian

Anthrax sering terjadi secara akut dan berakibat fatal. Oleh sebab itu,
diagnosis dini merupakan cara terbaik untuk mencegah kematian temak karena
penyakit ini. Sapi terkena anthrax dilarang keras dipotong untuk konsumsi.
Bangkainya tidak boleh dilakukan autopsi atau bedah bangkai karena dapat
memicu pertumbuhan spora sehingga terjadi pencemaran lingkungan yang
berlangsung puluhan tahun. Vaksinasi dapat dilakukan di daerah endemik
atau ketika terjadi wabah. Daerah bebas anthrax tidak dilakukan vaksinasi.

Pengobatan
Dalam keadaan yang belum melanjut atau masih bersifat lokal, anthrax pada
hewan maupun manusia dapat diobati dengan pemberian injeksi antibiotik.
Dalam keadaan septikemia perakut, biasanya hewan mati sebelum diketahui
sakit atau dilakukan pengobatan.

Risiko Kesehatan Masyarakat

Penyakit ini bersifat zoonotik. Pada manusia bisa terjadi septikemia yang
berakhir dengan kematian atau bentuk lokal di mana terjadi luka di kulit
anggota tubuh dengan rasa sakit yang hebat (Gambar 9.6 B). Dalam keadaan
belum terlambat, anthrax pada manusia dapat secara efektif diobati dengan
pemberian antibiotik.

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 133


Bruselosis

Bruselosis atau penyakit keluron (keguguran) menular adalah penyakit


disebabkan oleh bakteri genus Brucella yang dapat mengakibatkan terjadi
keguguran pada hewan bunting, menjadi mandul, atau menyebabkan orkhitis
pada hewan jantan. Hewan bunting yang terserang jarang terjadi kematian tetapi
karena keguguran fetus yang dikandungnya dan penurunan produksi maka
dampak kerugian ekonomi cukup. Susu sapi terserang bruselosis dilarang untuk
diperjualbelikan. Penyakit ini telah tersebar di berbagai negara di dunia.

Penyebab
Bruselosis disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Ada 6 spesies dari genus
Brucella dan yang sering menyerang sapi adalah B. abortus. Kuman akan
memasuki uterus sewaktu hewan dalam keadaan bunting. Untuk pertama kali
jasad renik ini diisolasi oleh Bruce (1887),dan awalnya menyebut dengan nama
Micrococcus millitensis. Brucella suis yang menyerang babi dapat menginfeksi
sapi tetapi tidak terbukti penularannya antarhewan dalam kelompok.

Penularan
Infeksi dapat terjadi melalui saluran makanan, alat kelamin, selaput lendir
atau kulit yang luka, dan tersebar secara cepat dalam kelompok. Setelah
pendedahan bakteri akan menyebar cepat pada kelompok yang tidak divaksin.
Penularan juga dapat melalui perlakuan inseminasi buatan. Anak sapi betina
yang lahir dari induk terinfeksi akan terus menyimpan bibit penyakit sampai
mencapai usia dewasa. Penyakit ini menyerang berbagai jenis hewan termasuk
sapi dan juga manusia, ditandai antara lain oleh peradangan selaput lendir
alat kelamin yang mengakibatkan terjadi keguguran atau janin lahir prematur,
lahir lemah dan induk menjadi mandul. Manusia terjangkit bruselosis dapat
menyebabkan radang sendi, atau demam umdulant.

Gejala
Sebagai gejala paling menciri adalah keguguran janin (Gambar 9.7 A
dan B). Umumnya keguguran terjadi antara bulan ke-5-8. Kejadian penyakit
terutama dipengaruhi oleh umur sewaktu sapi terinfeksi, jumlah dan tingkat
virulensi kuman. Secara khas, keguguran pada sapi di daerah endemik
hanya terjadi satu kali, dan setelah itu menjadi normal, tidak lagi terjadi
keguguran. Pada kejadian tertentu anak sapi dapat lahir selamat tetapi lemah
atau plasenta tertinggal. Kelainan dengan tertinggalnya plasenta pada induk
dapat menyebabkan sapi menjadi steril. Hewan jantan yang tertular dapat
menyebabkan peradangan testis (orkhitis).

134 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gambar 9.7 (A) Seekor sapi sehabis keguguran mengeluarkan transudat keruh
kekuningan dari vagina; (B) Fetus lahir prematur pada pertengahan
kebuntingan (Fujita, 1994)

Pengobatan

Penyakit bruselosis tidak dapat dilakukan pengobatan, sehingga upaya


yang dapat dilakukan adalah pencegahan. Sapi yang mengalami keguguran
di daerah endemi harus dilakukan pengujian laboratorium atas kemungkinan
menderita burucellosis, dan hewan yang positip segera dikeluarkan dari
peternakan atau dipotong sebelum terjadi penularan ke hewan yang lain.

Pengendalian

Untuk mengendalikan bruselosis harus dilakukan secara sistematis


menyangkut kelompok, daerah, ataupun negara. Pada kelompok yang tertular
berat perlu dipertimbangkan untuk vaksinasi. Perlakuan vaksinasi perlu
disesuaikan dengan kebijakan pengendalian penyakit di kawasan secara lebih
luas yang disesuaikan dengan kebijakan umum pemerintah sesuai program
pemberantasan bruselosis di kawasan atau daerah tertentu.

Risiko Kesehatan Masyarakat

Pada sapi perah penyakit ini memiliki dampak kerugian yang sangat besar
dan mengancam kesehatan konsumen, karena bersifat zoonotik sehingga
menular ke manusia menyebabkan penyakit disebut dengan "undulan fever"
atau "demam malta ". Orang terinfeksi karena minum susu sapi terinfeksi
yang tidak dimasak sempurna. Ookter hewan atau petugas kesehatan dapat
tertular ketika menangani kelahiran, mengambil plasenta yang tertinggal atau
melakukan IB. Hewan reaktor dapat dipotong dan dikonsumsi dagingnya di
bawah pengawasan dokter hewan. Oaging dapat dijual setelah dilayukan.
J aringan sisa-sisa pemotongan dimusnahkan dengan dibakar dan dikubur.

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 135


Tuberkulosis
Tuberkulosis(TB) adalah penyakit yang kronis disebabkan olehmikobakterium
menyerang hampir semua jenis hewan dan manusia. Pad a sapi perah penyakit
ini sangat merugikan dan merupakan ancaman bagi kesehatan konsumen
karena dapat ditularkan melalui susu yang dihasilkannya.

Penyebab
Mycobacterium tuberkulosis bovis ditengarai sebagai penyebab penyakit.
Kuman tuberkulosis bersifat tahan asam yang dibedakan antara tipe human
(orang), bovine (bangsa sapi-kerbau), dan avian (unggas). Penyakit ini sering
dijumpai pada sapi perah tua terutama yang dikandangkan dengan sanitasi
dan kesehatan lingkungan yang tidak higienis dan lingkungan udara lembap.
Sapi sebaiknya ditempatkan di kandang terbuka dengan penyinaran matahari
yang baik. Biasanya kejadian kasus tuberkulosis relatif rendah.

Penularan
Hewan biasa tertular melalui hembusan udara pernapasan, langsung
terdedah oleh batuk penderita atau melalui makanan dan minuman tercemar.
Pedet dapat tertular dari minum air susu induk yang sakit. Risiko penyebaran
sangat tinggi bila air susu sapi yang sakit diminum oleh beberapa pedet di
lokasi peternakan. Tipe human juga dilaporkan dapat terjadi pada hewan
piaraan dan hewan di kebun binatang.

Gejala
Gejalanya hewan terkena tuberkulosis bervariasi tergantung pada intensitas
penularan dan jaringan tubuh yang terserang. Serangan infeksi pad a paru
berakibat terjadinya gangguan pernapasan, hewan menjadi batuk, kondisi
tubuh berangsur kurus, dan dalam keadaan parah dapat berlanjut ke kematian.
Secara makropatologi kelenjar limfe paru terbentuk benjol keras berwarna
keputihan karena mengalami pengapuran (Gambar 9.8A). Kelenjar ambing
yang terinfeksi membengkak, terasa keras dalam rabaan dan berbungkul.
Infeksi dapat ditemukan di alat pencemaan dan berakibat diare.

Pencegahan dan Pengendalian


Hewan penderita tuberkulosis harus segera diisolasi dan dimusnahkan agar
tidak bertindak sebagai sumber penularan. Pengujian terhadap kemungkinan
tuberkulosis dapat dilakukan secara serologis dengan uji kulit tuberkulinasi
(Gambar 9.8B)untuk deteksi dini sehingga dapat dilakukan tindakan sebelum
terjadi penyebaran. Kandang harus memiliki ventilasi yang baik dan dengan

136 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


penyinaran cukup. Konsumen jarang tertular melalui susu karena otomatis
telah direbus sebelum minum.

Gambar 9.8 (A) Pembesaran kelenjar limfe paru karena tuberkulosis; (B) Reaksi
positif pad a uji kulit tuberkulinasi di pangkal ekor (Fujita, 1994)

Pengobatan

Pengobatan terhadap sapi menderita tuberkulosis tidak efektif dan tidak


ekonomis karena memerlukan perawatan intensif dalam jangka waktu lama.
Sapi demikian berisiko tinggi menularkan penyakit pada orang atau petugas
yang merawat, sehingga perlu untuk segera dimusnahkan.

Risiko Kesehatan Masyarakat

Ketiga tipe Mycobacterium tuberculosis dapat menginfeksi orang. Penyebaran


pada orang dapat terjadi karena adanya kontaminasi oleh susu produk sapi
perah yang terinfeksi sehingga praktik pasteurisasi harus dilaksanakan secara
luas. Susu sapi terkena tuberkulosis dilarang untuk diedarkan atau dijual
kepada konsumsi.

Penyakit Ngorok
Penyakit ngorok atau Septicaemia Epizooticae (SE)atau disebut shipping fever
adalah penyakit pasteurelosis akut atau menahun yang terjadi secara septikemik
oleh infeksi bakteri. Penyakit ngorok biasa ditemukan secara sporadik di
daerah endemi. Pada kondisi tertentu penyakit dapat berkembang menjadi
wabah. Dijumpai pada sapi atau kerbau dan adakalanya pada kambing dan
domba. Selain sapi dan kerbau penyakit ngorok dilaporkan juga terjadi pada
bison, unta, gajah, dan kuda.

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 137


Penyebab

Penyakit ngorok atau SE disebabkan oleh Pasteurella multocida serotipe


B-2dan [Link] berbentuk kokoid, bipoler, berukuran relatif kecil, bersifat
aerobik, tidak membentuk spora dan Gram negatif. Pasteurella spp. tersebar
luas di dunia. Awal perbanyakan bakteri terjadi di daerah tonsil. Hewan
menjadi rentan karen a berbagai macam stres misalnya kondisi tubuh kurus,
pengangkutan yang jauh atau terjadi pada waktu kemarau panjang.

Penularan

Hewan dapat terjangkit SE melalui kontak langsung ataupun tidak


langsung. Sumber bakteri infektif adalah melalui nasofaring sapi penderita atau
hewan pembawa sifat. Infeksi alami diperoleh melalui hirupan hidung atau
tertelan melalui makanan. Di daerah endemik sekitar 5% sapi atau kerbau
berpotensi sebagai penyimpan penyakit. Hewan terserang akan mengalami
septikemi secara cepat dan menimbulkan kematian dalam waktu 8-24 jam
setelah terlihat gejala. Angka kematian tinggi ketika agen infeksi muncul
di suatu daerah yang semula dalam kondisi bebas penyakit. Sapi dengan
kualitas pakan jelek, habis melahirkan, pengangkutan jauh, atau penempatan
hewan di kandang yang penuh sesak dapat memicu terjangkitnya penyakit.

Gejala

Sapi menderita penyakit akut sering mati mendadak tanpa gejala klinis. Pada
penyakit kronis biasanya demam tinggi, malas bergerak, tidak mau makan,
keluar air liur dan ingus purulen dari hidung (Gambar 9.9A), diare dan bisa
diikuti diare mendarah. Busung terjadi di dalam tenggorokan menyebar ke
daerah parotidea, bagian leher, kepala, bagian bawah dada, kaki dan pangkal
ekor. Kerongkongan terjadi lesi yang meradang menyebabkan sesak bemapas,
kesulitan menelan dan timbul suara napas ngorok. Secara makroskopis nampak
selaput paru menebal (9,9B)sering diikuti penebalan serosa rongga dada. Lidah
mungkin bengkak dan menjulur keluar, selaput lendir mulut terjadi bendung
darah hewan menjadi lemah dan murung. Hewan merebahkan diri, dan kematian
terjadi karena toksemia akibat pelepasan endotoksin bakteri yang mungkin
terjadi 1-2 hari setelah gejala, dan kejadiannya tinggi pada hewan muda.

Pengobatan

Obat sulfonamid dan berbagai mac am antibiotik seperti tetrasiklin,


penisilin, dan kloramphenikol, adalah efektif untuk pengobatan sepanjang
dilakukan secara dini, karena cepatnya proses kejadian penyakit. Dalam
keadaan respons pemberian pengobatan yang cepat, biasanya penyakit dapat
cepat terkendali.

138 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gambar 9.9 (A) Pasteurellosis pad a seekor sapi di mana terjadi gejala depresi dengan
leleran hi dung dan mulut yang purulen; (B) penebalan pada selaput
paru serta lapis an serosa rongga dada (Fujita, 1994)

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya penyakit ngorok, vaksin SE inaktif telah banyak


digunakan. Tindakan ini terutama dilakukan sewaktu terjadi wabah atau adanya
temak yang telah terserang untuk mencegah terjadinya penularan. Pengobatan
diberikan sedini mungkin sewaktu terjadi gejala. Di daerah endemik perlu
dilakukan vaksinasi secara rutin setiap tahun.

Bab 9 - Penyakit karena Bakteri 139


PENYAKIT Bob
KARENA PARASIT 10

Parasit adalah organisme yang hidup pada atau di dalam induk semang
dan memperoleh makanannya atau atas beban dari induk semang. Beberapa
penyakit parasiter dapat diobati dengan mudah, sedangkan beberapa yang
lain tidak dapat, serta dapat ditemukan di kawasan tropis maupun subtropis.
Berbeda dengan predator, parasit umumnya jauh lebih kedl dibanding dengan
induk semangnya tetapi memperbanyak diri atau bereproduksi lebih cepat.
Parasit pada umumnya tidak menimbulkan penyakit separah bakteri menular
tetapi karena sering terabaikan maka dampak ekonomi yang ditimbulkan secara
kumulatif oleh penurunan produksi susu dan kemerosotan berat badan sangat
nyata. Parasit tertentu yang menjadi penyebab penyakit surra, theileriosis,
babesiosis,serta [Link] bahkan seringberdampak mematikan
dan mewabah hingga memerlukan perhatian ekstra dalam pencegahan dan
pengendaliannya. Dari segi pengetahuan praktis terhadap penyakit yang
menyerang sapi perah, uraian di bawah ini menyajikan contoh dari beberapa
penyakit oleh parasit yang sering dijumpai di peternakan sapi perah, untuk
peningkatan kewaspadaan.
Parasit merupakan organisme yang berada di alam, baik yang berpotensi
menguntungkan kehidupan sapi dan hewan lainnya, maupun yang bersifat
merugikan dan menimbulkan penyakit. Perhatian utama dalam pengelolaan
kesehatan hewan adalah terhadap organisme yang bersifat infektif, menular
dan menimbulkan kerugian karena hewan menjadi sakit atau mati agar dapat
dicegah, dikendalikan ataupun diobati.

PENYAKIT PARASITER KARENA PROTOZOA


Protozoa adalah organisme sel tung gal tersebar temp at-mana dan telah
diketahui memiliki 65.000 spesies. Banyak di antaranya dalam bentuk hidup
bebas, atau komensal kurang berbahaya atau dalam beberapa bentuk parasit
penting bagi orang atau hewan ada di hampir seluruh dunia. Ruminansia

141
memiliki sejumlah besar protozoa di dalam lambung dan ususnya tetapi
umumnya tidak merugikan. Namun beberapa spesies dapat menyebabkan
penyakit penting dan bahkan berpotensi zoonotik. Sebagai contoh dari
spesies protozoa tersebut antara lain adalah Eimeria sp. penyebab Koksidiosis,
Cryptosporoideum parvum penyebab kriptosporodiosis, Toxoplasma gondii penyebab
toxoplasmosis dan Trypanosoma evansi penyebab penyakit Surra. Berikut ini
beberapa contoh penyakit karen a protozoa pada sapi.

Koksidiosis
Koksidiosis merupakan penyakit yang menyerang secara akut dan merusak
selaput lendir usus oleh sebangsa protozoa genus Eimeria atau Isospora. Infeksi
dicirikan oleh demam, diare, kekurusan dan adakalanya mati. Koksidiosis
merupakan penyakit yang berat pada sapi, domba, kambing, unggas dan
kelinci.

Penyebab
Bentuk akut koksidiosis, disebabkan oleh protozoa yang ditandai dengan
diare berdarah dan anemia. Pedet umur 3 minggu sampai 6 bulan paling
rent an terhadap infeksi. Penyakit ini bias a menyerang pada usia sapih ketika
pedet dipindah ke kandang yang terlalu penuh, kotor dan basah. Pemberian
pakan hay di tanah mudah untuk terjadi kontaminasi material tinja yang
meningkatkan infeksi lingkungan. Bila tertelan sapi, koksidia menyerang dan
merusak lapis epitel usus.

Gejala
Gejalautama sewaktu sapi terkena serangan koksidiosis adalah terjadi diare,
adakalanya berdarah, dan akibatnya pedet terserang menderita kekurusan dan
anemia. Pedet yang bertahan dari infeksi akan memiliki imunitas yang lama.
Diagnosis ditegakkan berdasar pengujian tinja yang mengandung ookista
melalui uji mikroskopis.

Daur Hidup
Koksidia pada sapi mengalami kedua stadium di dalam dan di luar induk
semang. Stadium perkembangan pada sapi bermula dari telur parasit yang
disebut sebagai ookista yang keluar bersama tinja (Gambar 10.1). Dalam
kondisi suhu lingkungan kelembapan dan oksigen yang mendukung, ookista
berkembang dalam 3-7 hari dan mampu menginfeksi sapi. Pada stadium ini
ookista berisikan 8 buah sporosoit, setiap ookista mampu memasuki sel usus
hewan setelah tertelan.

142 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Ketika sporosoit memasuki sel, akan berubah menjadi meront dan membagi
diri sampai memproduksi lebih dari 100.000anak disebut merosoit. Jumlah
yang diproduksi tergantung pada spesies koksidia. Setiap anak mungkin
memasuki sellain dari usus. Daur ini diulangi beberapa [Link] perbanyakan
parasit ini sebagian besar sel usus rusak. Pada akhimya siklus berhenti dan
dihasilkan sel vegetatif jantan dan betina. Jant an mengawini betina untuk
memproduksi ookista, yang pecah dari sel usus dan keluar bersama tinja.
Ribuan ookista masing-masing berisikan 8 sporosoit dapat lepas dalam tinja
dan menginfeksi sapi.

OOKISTA

@
,__
I
"
,'.
_
MASAK
OOKISTA
Q
BELUM MASAK

!__
»: ...~:~

Gambar 10.1 Ilustrasi daur hidup coccidia pad a sapi (Kennedy, 2001)

Pencegahan

Agar sapi terlindung dari kemungkinan terjangkit penyakit koksidiosis


terutama dilakukan dengan perawatan kandang yang dijaga kering dan
dengan menggunakan sistem drainase secara cukup, serta dihindari situasi
kandang lembap atau terlalu penuh dihuni hewan. Sapi yang terindikasi terkena
Koksidiosis harus segera dipisahkan dengan hewan yang sehat.

Pengendalian dan pengobatan


Pemberian pakan konsentrat mengandung obat preparat sulfa atau
coccidiostat merupakan cara yang banyak digunakan untuk pengendalian dan

Bab 10 - Penyakit karena Parasit 143


pengobatan penyakit. Dijaga agar selama dalam pengobatan kandang selalu
kering dan tidak terlalu penuh, kotor atau basah.

Kriptosporoidiosis
Penyebab penyakit ini menyerupai coccidia, dan mampu menginfeksi
berbagai jenis hewan, begitu juga orang. Penyakit ini sering terjadi pada pedet
sampai umur satu bulan, paling sering sekitar 7-10 hari. Dikenal sebagai
penyebab bermacam derajad diare alami pada hewan baru lahir, anak kambing
(pedet) atau anak babi (genjik), termasuk menginfeksi orang. Organisme
penyebab sangat tahan terhadap hampir semua disinfektan dan hidup lama
dalam kondisi dingin dan lembap.

Penyebab
Penyakit kriptosporoidiosis disebabkan oleh protozoa Cryptosporoidium
parvum yang berukuran kecil, mampu merusak sel epitelium selaput lendir
usus halus. Ditularkan melalui mulut karena terjadi pencemaran oleh tinja
dari sapi sakit. Penyakit akan menekan kemampuan penyerapan permukaan
alat gastrointestinal dan menyebabkan diare cairoPedet menjadi kurus karena
ketidakmampuan menyerap dan mencema makanan. Kriptosporoidea dijumpai
pada usus pedet yang sehat, dan bila tidak memperoleh kolostrum secara cukup
berisiko menjadi infektif dan menyebabkan diare. Infeksi dapat ditemukan
sedini umur 5 hari dan diare paling banyak umur 5-15 hari. Kebanyakan
infeksi adalah asimtomatis. Sejumlah besar dikeluarkan pada periode paten
dan menyebabkan kontaminasi lingkungan. Infeksi langsung antarpedet atau
melalui muntahan atau air terkontaminasi.

Daur Hidup
Ada 6 proses pertumbuhan pada Cryptosporidium spp. Ketika ookista
tertelan terjadi pelepasan sporosoit infektif, merogoni (multiplikasi aseksual),
gametogoni (pembentukan gamet), fertilisasi, ookista (pembentukan dinding),
dan sporogoni (pembentukan sporosoit). Ookista Cryptosporoidium spp. dapat
bersporulasi di antara sel induk semang dan infektif ketika keluar bersama
tinja. Infeksi akan bertahan sampai tereliminasi oleh adanya imunitas.

Gejala Klinis
Pedet mengalami diare kekuningan, konsistensi tinja cair dan mengandung
lendir yang berlangsung beberapa hari. Hewan menjadi lesu, tidak nafsu makan,
dan kehilangan berat badan. Diare yang terjadi menyebabkan dehidrasi, lemah,
kekurangan tenaga dan untuk kondisi yang parah pedet mati dalam keadaan

144 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


kekurusan pada umur 3-4 minggu. Diagnosis berdasar sampel pengujian tinja
ditemukan ookista melalui uji mikroskopis.

Pengobatan

Tidak ada obat spesifik yang efektif. Organisme ini memiliki keterbatasan
dan pembatasan sendiri untuk berkembang. Pedet yang sakit dibantu dengan
pemberian cairan elektrolit melalui mulut atau injeksi sejumlah obat penguat
yang diperlukan. Pemberian pakan konsentrat mengandung obat preparat
sulfa akan membantu mencegah terjadinya infeksi. Susu segar perlu diberikan
beberapa kali dalam sehari dengan sejumlah keperluan maksimal untuk
mengoptimalkan daya kerja sistem pencemaan dan menghambat kemerosotan
kondisi.

Pengendalian

Penyakit ini sulit untuk dikendalikan. Setiap perlakuan yang berefek pada
penurunan populasi ookista yang mencemari lingkungan merupakan upaya
pengendalian yang baik. Pencegahan dapat diawali mulai saat pemberian
kolostrum dengan melaksanakannya sesuai prosedur, yaitu sejak hari pertama
kehidupan disertai dengan tindakan perlindungan umum terhadap infeksi.
Peningkatan kualitas dan kecukupan nutrisi akan sangat membantu. Organisme
initahan terhadap berbagai macam disinfektan, tetapi mungkin dapat terbunuh
di lingkungan yang diberi semprotan larutan amonia 5%.

Risiko Kesehatan Masyarakat

Keberadaan kriptosporoidea pada sapi atau temak lain dapat bertindak


sebagai reservoir terjadinya infeksi bagi orang yang rentan. Pada orang
menyebabkan diare ring an terutama pada anak-anak. Orang yang tidak
memiliki kekebalan akan menyebabkan diare yang mungkin dapat berkembang
menjadi parah. Orang dapat tertular dari orang sakit, tetapi dapat juga tertular
lang sung dari hewan. Juru rawat pedet berisiko tertular langsung dari hewan
yang dirawatnya.

Penyakit Surra
Penyakit Surra atau "Tripanosomosis"atau "Penyakit Mubeng" karena parasit
darah yang bersifat akut atau kronis menyerang berbagai jenis hewan terutama
kuda, sapi dan kerbau. Pada hewan lain dilaporkan tidak patogenik, dan hewan
yang demikian berperan sebagai pembawa sifat. Sapi perah yang terserang
penyakit ini akan menyebabkan kerugian karena penurunan produksi susu,
kemerosotan berat badan dan dapat melanjut ke kematian.

Bab 10 - Penyakit karena Parasit 145


Penyebab
Surra disebabkan oleh Trypanosoma evansi dengan tampilan parasit berbentuk
kumparan dengan bentuk ujung lancip di satu sisi dan tumpul disisi lain
(Gambar 10.2).Organisme ini merupakan parasit yang hidup di dalam darah
dan memperoleh glukosa dari darah induk semang sehingga kadar di dalam
induk semang menjadi turun di bawah normal.

Penyebaran
Penyakit inibiasa terjadi secara sporadik atau endemik dan dapat mewabah
dengan menimbulkan banyak korban kematian. Penularan dapat terjadi melalui
gigitan lalat pengisap darah dari genus Tabanidae, Stomoxis sp., Lyperosia sp.,
Chrysops sp., dan Hematobia sebagai vektor, atau jenis arthropoda seperti kutu
dan pinjal. Lalat berfungsi sebagai perantara penyebar mekanis dan bukan
hidup secara biologis di dalam tubuh lalat.

Gambar 10.2 Slide darah sapi menderita Surra, terlihat dalam pemeriksaan mikroskop
beberapa organisme renik "Trypanosoma evansi" sebagai penyebab
penyakit (Mercado, 2008)

Gejala
Sapi terdedah parasit ini akan timbul demam, hewan terlihat lesu, kondisi
tubuh lemah, nafsu makan berkurang, produksi susu menurun, anemia dan
kekurusan. Dalam beberapa keadaan mungkin berlangsung secara asimtomatis
atau tanpa gejala. Hewan yang mengalami stres karena kondisi tertentu
merupakan predisposisi untuk terjadi penularan secara lebih mudah. Sapi
terserang berjalan sempoyongan, kejang dan ambruk dengan gerakan berputar­
putar atau "mubeng" (bahasa Jawa) sehingga disebut penyakit mubeng oleh
karen a gangguan saraf pad a hewan terserang bila parasit masuk dalam cairan
serebro-spinal. Keadaan lebih parah akan berakhir dengan terjadi kematian.

146 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Pengendalian
Untuk memastikan terhadap terjadinya surra perlu dilakukan pengujian
sampel darah di laboratorium dengan ditemukannya Trypanosoma evansi.
Dalam keadaan wabah, sapi hams dilindungi dari gigitan vektor dan untuk
hewan yang sakit diasingkan di temp at terpisah agar tidak menular ke yang
lain. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat yang telah banyak tersedia
di pasaran antara lain naganol atau suramin, baik untuk tujuan pengobatan
maupun pencegahan bagi yang masih sehat.

PENYAKIT PARASITER KARENA CACING


Hewan terpapar infeksi oleh cacing atau penyakit helminthiasis akan
menjadi sakit, kehilangan berat badan dan sering menderita kelainan yang
disebut "pot belly" atau perut buncit atau membesar semacam pot. Pedet muda
terutama rentan untuk menderita infestasi cacing gastro intestinal sewaktu
merumput di padangan yang tercemar. Cacing hidup secara baik di bawah
kondisi panas dan lembap. Perawatan dan pembersihan kandang secara teratur
akan membantu menurunkan risiko infeksi. Untuk mengurangi terjadinya
infeksi perlu dihindari sapi merumput di tempat lembap atau pada pedet dapat
digunakan sistem kandang portable yang dapat dipindahkan atau dirotasi ke
padang pelepasan hewan yang kering. Deworming merupakan praktik yang
biasa dilakukan untuk hewan muda dari umur 2 bulan, kemudian diulang
setiap selang waktu 4 bulan hingga pedet berumur 2 tahun. Deworming baik
dilakukan sebelum atau sesudah musim penghujan karen a infeksi sering
terjadi di musim penghujan.

Nematoda
Infeksi nematoda atau cacing gilik pada sapi biasanya dimulai dengan
awal pemberian rumput. Hampir setiap hewan muda hanya memiliki sedikit
imunitas terhadap parasit, dan akan berkembang infeksi secara berlebihan
bila tidak dimonitor dengan baik. Pedet yang berhasil sembuh dari infeksi
biasanya akan memiliki imunitas yang berlangsung lama sampai menginjak
kehidupan dewasa.

Daur Hidup
Nematoda sebagai parasit cacing gastrointestinal tidak memerlukan induk
semang antara sebagaimana ilustrasi pada Gambar 10.3. Cacing dewasa
bertelur di dalam usus sapi yang keluar bersama tinja. Setelah waktu tertentu
yang bervariasi antara spesies, akan menetas menjadi dua stadium larva, yang
disebut larva (L), dan L2. Larva ini tumbuh dan berkembang menjadi stadium

Bab 10 - Penyakit karena Parasit 147


L3infektif. Larva L3tinggal menetap di tinja di tanah di sekitar tanaman diikuti
oleh turunnya air hujan. Sapi terinfeksi sewaktu merumput dan tertelan larva
L3. Larva L3di dalam usus berkembang lebih lanjut menjadi dewasa dan
memproduksi telur. Demikian daur akan terus terulang.

Gambar 10.3 Ilustrasi daur hidup cacing nematoda pad a seekor sapi

Macam (acing
Pada umumnya nematoda menyerang alat pencernaan makanan, yaitu
usus dan lambung. Di samping lambung dan usus ada spesies dari nematoda
yang menyerang paru sehingga secara target infeksi dapat dibedakan menjadi
(1) cacing yang menyerang lambung, (2) cacing yang menyerang usus dan
(3) cacing yang menyerang paru.
1) Cacinglambung. Berbagai jenis cacing yang termasuk nematoda umumnya
menyerang alat pencernaan gastrointestinaL Ostertagia ostertagi cenderung
paling patogenik dari kelompok parasit gastrointestinal dan oleh sebab
itu paling penting dari segi ekonomi. Stomach worms atau cacing lambung
yang merupakan masalah utama pada sapi adalah Ostertagia ostertagi,
Trychostrongylus axei dan Hemonchus contortus.
• Ostertagia ostertagi. Cacing ostertagia disebut juga sebagai cacing
perut coklat, mampu memasuki perut di abomasum atau adakalanya
juga di usus halus. Perkembangan cacing dapat istirahat selama enam
bulan. Hidup dengan cara menghisap darah induk semang dan sering
menyebabkan diare. Jumlah cacing umumnya sedikit sehingga jarang
menimbulkan kematian.

148 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


• Trichostrongylus sp. Genus trichostrongylus memiliki banyak jenis
dan tersebar luas di daerah tropis. Paling umum ditemukan untuk
jenis ini adalah T. axei. Ini merupakan jenis cacing yang menyebabkan
diare, penurunan berat badan, anemia ringan dan bulu menjadi kasar.
Cacing berukuran kecil, panjang yang jantan 5 mm dan betina 6 mm
sehingga sering lepas dari pengamatan sewaktu dilakukan nekropsi.
Cacing berwarna kemerahan atau coklat.
• Hemonchus cotortus. Cacing ini dijumpai di abomasum, dan disebut
juga cacing kawat. Cacing jantan berwarna merah darah berukuran
panjang 10-20 mm. Dapat ditemukan berenang di cairan abomasum
atau menempel pada dindingnya. Daur hidup terjadi secara langsung.
Setiap hari 5.000-10.000 butir telur cacing dikeluarkan bersama tinja.
Larva stadium 1 dan 2 tidak infektif dan sebagian besar mati karena
cuaca yang tidak sesuai. Stadium 3 dicapai dalam waktu 5 hari dalam
kondisi yang baik, dan tertelan oleh induk semang yang selanjutnya
berkembang memasuki stadium 4 dan menjadi dewasa. Larva bertahan
dalam beberapa minggu di rerumputan. Cacing ini mengisap darah
sehingga induk semang anemik dan menimbulkan kebengkakan rahang
bawah yang disebut sebagai rahang botol.
2) Cacing usus. Cacing dijumpai dalam usus termasuk di antaranya
adalah: Neoascaris vitulorum, Cooperia spp., Strongyloides papillosus,
Trychostrongylus colubriformis, Nematodirus helvetiantus, Bunostomum
phlebotonum, Oesophagustomum radiatum dan [Link]
cacinginidalam keadaan berat akan mengakibatkan proses pencernaan yang
jelek, kehilangan berat badan, diare, kerdil dan adakalanya batuk. Beberapa
jenis cacing ini menembus kulit dan migrasi ke paru atau jaringan lain.
Cacing yang lain mengisap darah dan menimbulkan berbagai kerusakan
usus. Pad a umumnya cacing-cacing ini tidak separah dibanding cacing
lambung.
• Neoascaris vitulorum. Jenis cacing neoascarisvitulorum ditemukan di
berbagai negara beriklim tropis yang menyerang usus halus. Cacing
betina berukuran panjang 30 mm dan lebar 6 mm, sedangkan cacing
jantan panjang 25 mm lebar 5 mm. Infeksi sering terjadi pada saat
menjelang kelahiran pedet. Infeksi pada pedet kejadiannya sangat
serius dibanding yang lebih dewasa. Daur hidup terjadi secara langsung
ketika telur tertelan dan menetas di dalam tubuh induk semang. Larva
menembus dinding usus untuk migrasi ke jaringan induk semang dan
melalui aliran darah diangkut melalui bilik kanan jantung menuju
paru. Larva di dalam paru memasuki alveoli, kemudian migrasi naik
melalui cabang batang tenggorok ke kerongkongan dan ditelan masuk
kembali ke usus. Setelah 8 hari cacing tumbuh dewasa di dalam usus

Bab 10 - Penyakit karena Parasit 149


dan mengeluarkan telur melalui tinja kurang lebih 2 bulan setelah
infeksi.
• Cooperia sp. Cacing Cooperia di antaranya C. punctata, C. oncophora
dan C. pectinata paling umum dijumpai di usus halus sapi. Cacing
berwarna merah, menyerang usus halus dan jarang ditemukan di
omasum. Cacing berbentuk kumparan, berukuran kecil yang jantan 5
mm dan eacing betina berukuran 6 mm. Dengan mata telanjang sulit
dapat terlihat sewaktu dilakukan nekropsi. Caeing ini tidak mengisap
darah. Dalam infestasi yang berat dapat menimbulkan anoreksia, diare
dan kekurusan.
• Strongyloides sp. Cacing usus benang atau Strongyloides papillosus,
memiliki daur hidup yang tidak biasa. Hanya betina yang berada
dalam fase parasitik dalam daur hidupnya. Mereka berukuran panjang
3,5-6 mm dan terbenam di dalam mukosa usus halus bagian atas. Telur
keeil berembrio keluar melalui tinja, menetas dengan eepat dan dapat
berkembang langsung menjadi larva infektif atau dewasa yang hidup
bebas. Anak dari yang hidup bebas dapat membentuk generasi lain
dari larva infektif atau hidup bebas. Induk semang terinfeksi melalui
mulut atau penetrasi kulit. Infeksi terutama pada sapi perah muda.
Dapat menyebabkan diare, kehilangan nafsu makan dan turun berat
badan. Adakalanya keluar tinja berlendir.
• Bunostomum phlebotonum. Cacingkait atau Bunostomum spp. Menyerang
usus halus. Alat kait terletak di punggung melengkung ke depan. Pada
sapi sering disebabkan oleh B. phlebostonum. Cacing jantan panjang
15 mm dan eacing betina panjang 25 mm, telurnya banyak berjumlah
sekitar 100 butir. Infeksi terjadi melalui larva yang menembus kulit
atau tertelan bersama makanan. Larva kemudian menuju paru temp at
menyebabkan terjadi rangsangan hingga akhirnya akan dibatukkan ke
kerongkongan dan ditelan masuk ke saluran peneernaan. Telur akan
keluar bersama tinja antara 30-36 hari setelah infeksi.
• Oesophagustomum radiatum. Cacing Oesophagustomum atau eacing
bungkul menyerang usus. Cacing berwarna keputihan. Cacing jantan
berukuran panjang 12-16 mm dan betina berukuran 14-18 mm. Larva
membentuk bungkul di dalam jaringan usus halus dan usus besar,
tetapi bentuk dewasa hanya di usus besar. Daur hidup terjadi seeara
langsung, yaitu telur menetas dan larva merayap ke pueuk daun
rumput yang di kemudian hari akan dimakan hewan. Larva kemudian
hid up di dinding usus selama 1 minggu, dan pada hewan yang lebih
tua dapat sampai 5 bulan. Beberapa larva mampu menembus dinding
lambung kanan dan memasuki peritoneum.
• Trichuris discoloratus. Caeing eambuk atau Trichuris spp. atau Whip
worms, dapat menginfestasi usus tetapi dianggap tidak [Link]

150 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


jantan dan betina berukuran panjang 50-80 mm. Cacing ini ditemukan
di dalam sekum induk semang. Ujung belakang dari cacing jantan
melengkung. Daur hidup terjadi secara langsung sewaktu telur tertelan
induk semang, sedang telur berisi larva infektif dalam 3 minggu dan
dapat tahan sampai 1 tahun. Telur akan menetas dan menjadi dewasa
dalam waktu 4 minggu.
3) Cacing paru. Yang dimaksud dengan cacing paru adalah Dictyocaulus
viviparous. Secara menciri infeksi cacing paru biasa terjadi pada sapi
muda kurang dari satu tahun yang menyerang paru sewaktu merum put
di padangan. Hewan yang menderita infeksi akuta akan membentuk
imunitas, tetapi kebanyakan sudah tidak produktif lagi karena kerusakan
paru yang permanen. Faktor iklim sangat memengaruhi kejadian penyakit.
Hampir seluruh kejadian dijumpai saat musim panas atau pergantian
musim. Pada awal penyakit hewan hanya menunjukkan gejala batuk
ringan. Lama kelamaan batuknya menjadi berat dan kesulitan bernapas.
Sapi akan menjulurkan leher dan kepala untuk membantu bernapas
(Gambar 10.4).Setelah~ minggu penyakit mencapai stadium ini, dan biasa
terjadi kematian. Sapi menelan larva sewaktu merum put. Sedikit berbeda
dengan nematoda yang lain, larva cacing paru akan menembus dinding
usus dan memasuki aliran darah, temp at kemudian akan terbawa ke paru.
Larva ini akan berkembang lebih lanjut di dalam bronkhi dan bronkhiolus
paru menjadi dewasa. Di sini akan bertelur yang akan dibatukkan dan
ditelan masuk ke dalam alat pencernaan. Telur kemudian menetaskan
larva di dalam usus yang akan dikeluarkan bersamaan tinja. Mereka akan
berkembang menjadi larva infektif dalam kotoran tinja dan tanah. Larva
dapat tinggal infektif beberapa bulan di dalam tinja atau tanaman dan
akan terbawa pindah sewaktu hujan turun.

Gambar 10.4 (A) Seekor sapi sedang batuk dalam upaya mengeluarkan cacing dari
saluran pemapasan atas; (B)Sejumlah cacing berukuran kecil berwama
putih tampak berada dalam trakhea (Fujita, 1994)

Bab 10 - Penyakit karena Parasit 151


Pengendalian nematodosis

Pemahaman tentang daur hidup menjadi dasar dari strategi pengendalian.


Cara pengendalian yang efektif adalah menggunakan obat cacing melalui
program deworming untuk memotong daur hidupnya, dan dalam kelompok
sesuai umur atau peniadaan cacing melalui pengobatan diikuti oleh strategi
pengaturan merumput di padangan yang digilir.

Trematoda
Infeksi Trematoda atau cacing hati ifasciolosis) biasa dijumpai di Indonesia.
Kasus ini sering bertanggung jawab secara ekonomi. Pada sapi perah kerugian
terutama karena adakalanya mati karena parasit ini, pertumbuhan terhambat,
konversi pakan rendah, penurunan produksi susu dan gangguan reproduksi.
Untuk sapi potong bagian dari jaringan hati harus dimusnahkan atau dibuang
karena tidak layak konsumsi. Penyakit ini sering menahun dan asimtomatis.

Daur Hidup

Daur lengkap dari cacing hati memerlukan kehadiran siput sebagai induk
semang perantara, yang biasa berada di tempat-tempat basah atau lembap.
Cacing hati dewasa berada di saluran empedu hati temp at akan bertelur dan
kemudian memasuki alat gastrointestinal bersama empedu. Telur ini keluar
bersama tinja dan menetas, melepaskan mirasidium hidup. Mirasidium

Gambar 10.5 Daur hidup cacing hati (Trematoda). Sisipan adalah Irisan jaringan hati
sapi yang terkena infeksi cacing hati. Perhatikan saluran empedu yang
menebal dan terdapat bagian jaringan yang nekrosis oleh lintasan cacing
hati

152 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


menginfeksi siput, berkembang menjadi serkaria yang kemudian meninggalkan
siput menjadi kista di tanaman sebagai metaserkaria. Ini adalah stadium infektif
untuk sapi yang menelan metaserkaria sewaktu merumput. Kemudian akan
menembus dinding organ gastrointestinal dan migrasi ke hati. Selama migrasi,
mereka berkembang terns menjadi cacing hati muda. Begitu mencapai hati
terus menembus hati dan mencapai kandung empedu temp at mereka menjadi
dewasa, menghisap darah dan mulai bertelur.

Pengobatan dan Pengendalian


Untuk meminimalkan ancaman terhadap infestasi cacinghati dapat dilakukan
dengan pengendalian populasi siput dan penggunaan obat cacing. Sewaktu
dilakukan nekropsi dapat ditemukan cacing pada hati dan meninggalkan
jejas nekrotik sebagaimana terlihat dalam Gambar [Link] mendiagnosis
sewaktu hewan hidup dapat dilakukan secara serologis dengan melihat antibodi
namun imunitas dapat bertahan sampai 6 bulan sehingga hasil positif belum
dapat memastikan bahwa hewan masih terinfeksi. Sebaliknya dengan melihat
telur cacing dalam pengujian tinja tidak akan banyak telur dapat ditemukan,
sehingga pengujian negatif tidak menjamin lepas dari sebenamya sakit.

Cestoda
Infeksi oleh cestoda atau cacing pita biasa dijumpai pada sapi dara muda
sewaktu awal musim merumput di padangan. Cacing pita pada sapi jarang
menyebabkan penyakit yang serius, tetapi dalam situasi infeksi yang berat
dapat terjadi tekanan pada rata-rata pertumbuhan.

Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh Moniezia expansa, M. benedini dan Taenia
saginata, yang berbentuk panjang, putih beruas-ruas, atau disebut cacing pita.
Untuk Taenia saginata, sapi pada hakikatnya sebagai induk semang antara
(Gambar 10.6)dari infeksi pada orang yang menjadi induk semang tetap. Pada
sapi berwujud sebagai larva, disebut Cystisercus bovis atau cacing gelembung.
Moniezia expansa sangat jarang menyerang sapi, dan lebih dikenal sebagai
cacing pita domba. Moniezia benedini dalam daur hidupnya memerlukan
perantara kutu (mites) yang menelan telur cacing. Ruas-ruas cacing memiliki
alat kelamin jantan dan betina yang dapat menghasilkan telur dalam jumlah
banyak. Ukuran kepala kecil memiliki alat pengisap yang adakalanya berkait
dan tidak memiliki mulut.

Bab 10 - Penyakit karena Parasit 153


Daur Hidup
Cacing pita tumbuh berbentuk ruas-ruas dan dalam penularannya
memerlukan induk semang perantara tungau yang akan tertelan oleh sapi
sewaktu makan rumput. Cacing menyerap nutrisi dari sari makanan yang ada
di usus halus. Pada sapi tua cacing ini tidak menimbulkan kerusakan berarti.
Dalam hal investasi Taenia saginata, sapi bertindak sebagai induk semang
antara. Telur cacing tidak akan menetas sampai tertelan induk semang antara.
Begitu tertelan sapi, telur akan menetas dan mengeluarkan larva heksakan,
yang bermigrasi melalui dinding usus untuk mencapai darah atau sistem
limfatik, kemudian diangkut ke jantung dan otot serta berkembang menjadi
sistiserkus atau cacing gelembung. Karnivora atau orang sebagai induk semang
tetap dapat terinfeksi karena makan daging setengah masak atau mentah yang
mengandung cacing gelembung. Dinding gelembung sistiserkus dicerna oleh
usus menyebabkan pelepasan skoleks parasit yang kemudian melekat pada
dinding usus dan tumbuh menjadi cacing pita dewasa. Ruas yang telah matang
akan putus dan keluar bersama tinja induk semang.

SAPI
INDUK SEMANG PERANTARA

Gambar 10.6 Diagram daur hidup cacing pita Taeniasaginata

Gejala
Sebagai induk semang antara, sapi yang mengidap cacing gelembung tidak
memperlihatkan gejala klinis tertentu dan tidak menimbulkan perubahan
patologis pada usus. Dalam proses pemotongan pad a lidah, diafragma,
jantung dan otot masester hewan pesakit ditemukan bungkul cacing kecil-kecil
berdiameter 6-8 mm berisi cairan dan cacing gelembung.

154 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Pengendalian

Pengobatan yang efektif tidak ada, dan tidak biasa dilakukan pada sapi.
Cacing ini akan menginfeksi orang, sebagai induk semang tetap. Untuk
memperkecil risiko penularan dan memotong rantai daur hidup cacing
maka dalam lingkungan permukiman, masyarakat harus membangun kakus
atau WC yang sesuai standar higiene dan sanitasi yang baik dan aman dari
pencemaran lingkungan.

Bab 10 - Penyakit karena Parasit 155


PENYAKIT GANGGUAN Bob
METABOLISME 11

Penyakit gangguan metabolisme adalah suatu kondisi yang terjadi pada


hewan akibat adanya hambatan atau gangguan proses metabolik yang sering
terjadi akibat kekurangan, kelebihan atau ketidakseimbangan nutrisi yang
diterima. Kondisi demikian sering menimbulkan gejala penyakit akut atau
menahun yang memerlukan perawatan atau pengobatan. Pada sapi, penyakit
metabolisme termasuk milk fever atau demam susu, ketosis, sind rom sapi
gemuk, hipomagnesemia, ketosis dll. Kejadian dan kerentanan terhadap
masalah metabolism paling banyak ditemui sewaktu hewan habis melahirkan
dan berlanjut pada puncak laktasi, saat kapan hewan sedang dalam kondisi
memerlukan kebutuhan nutrisi yang ideal. Bahaya kematian bias a meningkat
sebagai tanggap pada perubahan kinerja metabolisme sewaktu transisi
dari kebutuhan nutrisi yang secara relatif normal ring an sebelum laktasi
menjadi pemicu peningkatan tuntutan yang sang at besar secara cepat dengan
berlangsungnya masa laktasi. Bahasan berikut ini akan ditekankan pada
penyebab masalah, gejala, cara penanggulangan dan upaya pengobatan.

Demam Susu
Milk fever atau disebut "Demam susu" atau "Parturient paresis" pada sapi
adalah gangguan metabolisme yang sering terjadi pada sapi induk pada saat
atau setelah hewan melahirkan dengan ditengarai oleh kelumpuhan umum
dan ketidakmampuan sirkulasi darah, disebabkan oleh rendahnya kadar Ca
dalam darah (hipokalsemia), umumnya terkait dengan proses melahirkan
atau karena produksi susu tinggi. Penyakit ini juga terjadi karena tidak
seimbangnya kandungan mineral (potasium dan Ca) dalam tubuh menjelang
hewan melahirkan. Pada bulan akhir kebuntingan dan awallaktasi terjadi
penyerapan Ca darah yang tinggi untuk mensuplai perkembangan embrio serta
kelengkapan konstituen untuk kolostrum dan milk. Kejadian paling banyak
pad a saat menjelang melahirkan sampai dengan 10 hari setelah melahirkan,
atau dapat terjadi sampai dengan 3bulan setelah melahirkan terutama bila sapi
mengalami stres. Penyakit ini disebut juga hipokalsemia karena telah terjadi

157
penurunan tajam kadar Ca dalam darah di bawah normal secara mendadak.
Kejadian milk fever akan cenderung meningkat dengan pertambahan umur sapi
dan pengaruh situasi yang dialami pada sejumlah laktasi sebelumnya.
Penderita demam susu sering dijumpai pada sapi ketika terjadi tuntutan
kebutuhan Ca yang tinggi. Pada hakikatnya semua sapi setelah melahirkan
mengalami hipokalsemia dengan derajat ringan sehingga tidak menimbulkan
efek klinis, tetapi untuk beberapa di antaranya kekurangan Ca menjadi
begitu besar sehingga muncul gejala dan bahkan dapat berakibat fatal. Sapi
yang dipiara dengan pemberian hijauan berasal dari tanah yang tinggi level
potassium menjadi rentan terhadap demam susu.

Penyebab
Gangguan metabolisme yang menyebabkan demam susu karena tingginya
tuntutan kebutuhan Ca atau kehilangan Ca darah karena penyerapan tubuh
untuk mengimbangi produksi susu yang meningkat tajam pada waktu
atau saat mendekati sapi melahirkan dan dimulainya masa laktasi. Secara
fisiologis sapi tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan Ca karena terjadi
ketidakseimbangan nutrisi pakan yang diperlukan pada saat itu. Tuntutan
kebutuhan ini dalam situasi normal semestinya memerlukan waktu tertentu untuk
pemenuhannya, namun dalam situasi kebutuhan pascamelahirkan diperlukan
dalam waktu singkat karena peningkatan produksi susu juga berlangsung cepat.
Kadar Ca turun dari normalnya 10-12 mg/dl menjadi hanya 2-7 mg/dl.
Masa laktasi setelah melahirkan menyebabkan kehilangan Ca darah secara
nyata dan dimanifestasikan dengan perubahan fisiologi tubuh secara mendadak.
Tubuh sapi memiliki mekanisme penyesuaian diri terhadap kenaikan tuntutan Ca
darah dengan memobilisasi apa yang ada di dalam tubuh. Aktivasi penyerapan
Ca terjadi sebagai tanggap terhadap konsentrasi rendah atau tidak mampunya
tubuh mengimbangi tuntutan kebutuhan Ca darah. Kenaikan penyerapan Ca
dari usus secara nyata akan menyebabkan tubuh memobilisir simpanan yang
ada di dalam tulang. Apabila proses tidak terjadi dengan cepat, pemenuhan Ca
darah tidak mampu mengimbangi kebutuhan Ca dalam susu. Milk fever dapat
terjadi dalam berbagai situasi bila kekurangan Ca darah, tetapi paling sering
pada sapi dengan produksi tinggi. Sering terjadi ada peningkatan serum
magnesium dan serum fosfor menurun. Faktor penyebab lain yang mungkin
terjadi antara lain adalah tidak tercukupinya vitamin 0, miskin tanggap
hormonal terutama hormon dari kelenjar paratiroid, dan faktor umur sapi.
Semakin tua sapi semakin rentan terhadap kejadian demam susu. Penyakit
ini dapat terjadi di semua umur induk sapi, tetapi paling sering di atas lima
tahun. Jenis sapi yang sering mengalami keadaan ini adalah bangsa Jersey.

158 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Gejala

Sebutan nama /I demam susu" sebetulnya tidak terlalu tepat karena sapi
dalam kondisi penyakit ini tidak terjadi gejala demam. Penyakit pada umumnya
ditandai oleh perubahan perilaku, kelumpuhan umum, penurunan nafsu makan
diikuti dengan kesulitan hewan untuk bergerak dan gagal sirkulasi. Sapi
dengan kondisi penyakit klinis ringan biasanya tidak mampu bangkit berdiri,
terlihat ketidakberdayaan karena terjadi kelemahan otot, sapi menjadi terbaring
lemas, dan mungkin suhu tubuhnya menjadi abnormal. Ini disebabkan karena
berkurangnya peranan Ca sewaktu memacu terjadinya kontraksi otot. Dalam
keadaan hipokalsemia sapi kekurangan tegangan otot baik pada otot skeletal
maupun otot polos yang berpengaruh pula pada refleks yang lain misalnya untuk
menelan. Sapi yang berbaring lama dapat berkembang menjadi kembung perut
atau bloat yang merupakan faktor dominan sebagai pemicu terjadi kematian. Gejala
yang menciri biasa terlihat dalam kurun waktu 24-72 jam setelah melahirkan.
Ketika kandungan Ca darah merosot jatuh, otot anggota gerak menjadi gemetaran
dan terjadi kelumpuhan, diikuti sapi menjadi ambruk tidak mampu berdiri.
Gejala klinis dapat dikelompokkan menjadi 3 stadium.
1) Stadium satu. Dalam stadium satu periodenya pendek, sapi masih mampu
berdiri, kemudian mengalami kekakuan otot, menjadi hipersensitif, gelisah
dan tubuh menjadi gemetaran di bagian selangkang. Sapi malas bergerak,
turun nafsu makan dan kemudian kaki belakang menjadi kaku dan sapi
kejang-kejang. Kejadian ini berlangsung dalam waktu sangat pendek
sehingga sering tidak teramati. Apabila keadaan ini tidak segera teratasi,
penyakit akan cepat berkembang ke stadium dua.
2) Stadium dua. Sapi pada stadium ini tetap tinggal berbaring, tidak mampu
bangun untuk berdiri kembali dan stadium ini disebut /I stadium berbaring".
Hewan menjadi dungu dan bila diraba tubuh dan kaki-kakinya terasa
dingin, suhu tubuh sering subnormal, matanya kering dan membelalak.
Pemapasannya berat dan denyut jantung cepat. Terjadi kelumpuhan otot
polos melanjut menjadi hambatan gastrointestinal yang dimanifestasikan
dengan kesulitan berak dan urinasi.
3) Stadium tiga. Sapi berbaring pada sebelah tubuhnya dengan kaki terjulur
keluar (berbaring lateral) dan hampir tak sadarkan diri atau koma (Gambar
11.1). Penyakit sering berkembang menjadi kembung perut atau bloat
dan menyerdawakan isi rumen. Sapi dalam kondisi demikian masih
mungkin dapat cepat tertolong dalam beberapa jam. Namun bila tidak
segera mendapat penanganan medis yang cepat akan berakhir dengan
kematian. Milk Fever menjadi faktor predisposisi untuk terjadi gangguan
kesehatan atau penyakit yang lain, terutama proses kelahiran yang lambat
disebabkan oleh kelemahan perototan uterus, otot perut dan perototan di
bagian pelvis. Dapat terjadi prolaps uteri, plasenta tertinggal, dan infeksi
uterus. Kejadian tentang milk fever ini secara menciri dapat dijumpai di

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 159


petemakan sapi perah sekitar 8%. Apabila kejadian melebihi 8%, perlu
dilakukan kajian lebih saksama karena mungkin telah terjadi sesuatu
dalam susunan diet. Mungkin karena rasio diet Ca dan P berada di luar
kondisi nutrisi dari yang seharusnya disusun, diet terlalu alkalin atau ada
faktor lain misalnya karena pemberian rasio potassium atau magnesium
yang tidak tepat.

Gambar 11.1 Seekor induk sapi perah dengan gejala Milk Fever, rebah dan berbaring
di samping kanan adalah anak pedetnya, tubuh lemas malas untuk
berdiri (Anstis, 2011)

Penanggulangan
Perlu diyakinkan rasio normal Ca dan P dalam rangsum, pada waktu satu
bulan menjelang beranak. Hal ini dilakukan dengan menghindari terjadinya
kekurangan asupan Ca. Asupan Ca dapat berlebih bila menggunakan alfalfa
yang mengandung banyak Ca menjadi bahan pakan hijauan utama dalam
diet. Pakan dengan kadar P yang tinggi harus dihindarkan. Pertahankan level
potasium rendah, karena tingginya level potasium pada hijauan menjadi
faktor pendorong untuk terjadi milk fever, tidak terpengaruh oleh besaran
asupan Ca. Hijauan rendah akan potasium biasanya juga rendah Ca. Kunci
untuk mengurangi kejadian milk fever adalah menyiapkan dan memacu sapi
dalam menghadapi mobilisasi Ca pada saat melahirkan dan masa laktasi yang
menyebabkan terjadinya penyerapan Ca secara berlebihan dari kerangka tulang
dan menaikkan absorpsi oleh usus menjelang melahirkan sehingga mampu
mengimbangi dan memenuhi tuntutan peningkatan kebutuhan Ca.

160 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Pengobatan

Sapi menderita milk fever harus segera memperoleh pertolongan, dan bila
tidak akan ambruk, lumpuh atau dapat mati dalam beberapa jam. Pengobatan
dengan preparat Ca biasanya memiliki manfaat besar dan hewan akan selamat,
bangkit untuk berdiri dalam waktu singkat.
1) Kejadian ringan. Peternak dapat menggunakan obat berbentuk cairan
atau gelatin untuk mengobati hipokalsemia tahap awal. Cara pengobatan
melalui mulut ini dilakukan bila hewan masih menunjukkan refleks
menelan normal. Pengobatan juga dapat dicoba dengan memberikan
suntikan vitamin 03 dan metabolitnya karena telah dibuktikan efektif
untuk mencegah milk fever. Oosis tinggi vitamin 0 (20-30)6 ~ setiap
hari diberikan dalam pakan selama 5-7 hari sebelum melahirkan akan
mengurangi kejadian.
2) Kejadian sedang sampai berat. Oalam keadaan demam susu yang parah,
pengobatan diarahkan pada pengembalian aras Ca serum ke kondisi
normal sesegera mungkin untuk menghindari kerusakan otot dan saraf.
Pengobatan dilakukan dengan penyuntikan preparat garam Ca glukonat
secara intra vena terutama bila hewan telah rebah dan hanya berbaring.
Oalam kondisi yang masih baik pemberian pengobatan dapat dilakukan
secara subkutan atau intraperitoneal dengan dosis 1 gram Ca/45 kg berat
badan. Kondisi hewan akan tanggap secara cepat dalam hitungan menit
dan membaik, kecuali tahap hipokalsemia sudah terlalu parah atau terjadi
komplikasi.

Tetanus Rumput
Tetanihipomagnesemia atau tetnus rumput (grasstetany) atau "grass staggers"
adalah gangguan metabolisme yang kompleks ditengarai oleh hipomagnesemia
(plasma magnesium < 1,5mg/dl) dan penurunan dari konsentrasi magnesium
pada cairan serebrospinal < 1 mg/dl yang berakibat pada kegelisahan yang
hebat, kekakuan otot, kejang-kejang, rebah, lemas, dan melanjut menjadi
kematian. Masalah ini biasanya dijumpai pada induk sapi laktasi, yang selalu
dikaitkan dengan ketidakseimbangan komponen mineral dari serum darah
terutama terjadinya penurunan kandungan magnesium. Kasus grass tetany
jarang terjadi pada sapi nonlaktasi.

Penyebab

Penyebab penyakit adalah karena terjadi penurunan kadar Mg plasma


darah ketika penyerapan dari rangsum tidak mampu memenuhi tuntutan
untuk mempertahankan kadar Mg dalam darah 3 mg/kg berat badan dan
120 mg/kg milk untuk sapi mas a laktasi. Gangguan metabolisme Mg bisa

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 161


meningkat ketika terjadi penurunan asupan pakan karena gangguan cuaca,
transportasi, atau ketika sapi merumput yang didominasi oleh rumput alam
dengan kandungan nutrisi < 0,2%Mg atau dasar bahan kering. Grasstetany sering
terjadi pada sapi laktasi dalam beberapa bulan pertama setelah melahirkan.
Manifestasi terjadi dalam bentuk kekakuan otot dan kejang-kejangyang berakhir
dengan kematian. Karena Mg tidak disimpan di dalam tubuh, maka sapi hanya
tergantung pada asupan Mg harian untuk memenuhi kebutuhannya. Kondisi
yang menyebabkan penurunkan asupan kadar Mg darah dan meningkatkan
kemungkinan terjadi grass tetani antara lain sebagai berikut.
1) Asupan pakan yang dominan rumput atau bijian. Pemberian pakan
yang didominasi oleh rumput masih banyak dilakukan dalam praktik
petemakan tradisional. Kondisi demikian ini tidak akan mampu mensuplai
cukup mg yang dibutuhkan pada saat awallaktasi. Sapi dengan kondisi
hipomagnesemia sering terjadi tetapi tidak berkembang menjadi grass
tetany sampai dengan konsentrasi serum darah Mg turun di bawah
8 mg/dl. Keadaan terakhir ini umumnya dijumpai pada sapi yang makan
terlalu banyak bijian tanaman.
2) Penambahan rumput dengan potasium atau pupuk nitrogen. Pemberian
potasium dapat berdampak pada penurunan ketersediaan Mg oleh tubuh
karena potasium dan ammonia dapat menghambat penyerapan Mg.
Akibatnya akan terjadi kekurangan Mg dalam darah. Penyerapan Mg
rumen dapat menu run ketika asupan K dan N tinggi, serta asupan sodium
dan P rendah. Tanah dapat secara normal tinggi dalam kandungan K yang
mana hal ini dapat terjadi karena telah dipupuk dengan unsur K dan N
sehingga memiliki risiko tinggi untuk terjadi tetanus rum put.
3) Puasa atau cuaca yang tidak mendukung. Hewan terpaksa puasa akibat
tidak disediakan pakan secara cukup sewaktu sapi berada dalam umbaran
atau sewaktu dalam pengangkutan yang jauh, atau oleh adanya pengaruh
cuaca ekstrem sehingga menderita kedinginan, hewan menjadi basah
karena kehujanan tanpa diberi peneduh atau musim angin banyak bertiup
semuanya dapat menyebabkan sapi menderita grass tetany atau tetanus
rumput.

Gejala
Tanda klinis hipomagnesemia sangat mirip dengan milk fever atau ketosis.
Termasuk di antaranya adalah miskin koordinasi alat gerak, kaku otot dan
kejang-kejang. Gejala kejang mungkin terjadi berulang kali dalam interval
pendek dan bila melanjut hewan dapat mengalami kematian. Apabila dijumpai
gejala demikian perlu dipanggil dokter hewan untuk memberikan pengobatan
awal bagi hewan yang memiliki gejala atau pada kelompoknya yang mungkin
memiliki masalah yang sarna. Pada sapi yang digembalakan sering dijumpai
hewan telah mati karena kejadian yang akut.

162 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


1) Keadaan akut atau perakut. Pada kejadian perakut sapi penderita
mungkin awalnya nampak merumput seperti biasanya tetapi tiba-tiba
secara mendadak mengibaskan kepala ke atas, jatuh, dan kejang-kejang.
Kejadian yang sarna mungkin terus terulang di kelompok yang sarna dalam
jarak waktu pendek dan kematian terjadi dalam beberapa jam. Dalam
beberapa kejadian sapi dijumpai mati di padangan tanpa dilihat gejala,
namun bekas sewaktu kejang di tanah mungkin dapat diamati apa yang
terjadi menjelang kematian.
2) Keadaan subakut. Dalam keadaan yang kurang parah sapi pada awalnya
terlihat malas bergerak. Apabila berjalan nampak gerakan kaki kaku,
hewan menjadi sangat sensitif sewaktu disentuh atau mudah terganggu
terhadap suara yang berisik. Sapi menjadi sering kencing, dan biasanya
bila dalam 2-3 hari tidak mendapat pertolongan penyakit akan berlanjut
dan hewan menderita kejang-kejang.

Pengobatan

Hewan dengan gejala penyakit ini memerlukan pengobatan dengan segera


menggunakan kombinasi larutan Ca dan Mg. Pengobatan akan lebih efektif bila
dilakukan secara intravena secara perlahan sambil dimonitor detak jantungnya.
Penambahan MgSO4 dapat diberikan dengan aplikasi secara subkutan. Kejadian
grass tetani dapat dicegah melalui penyertaan suplemen Mg dalam pakan
dengan memberi unsur ini dalam pakan pada setiap induk sapi degan jumlah
10-15 gram/hari. Pemberian dimulai satu minggu menjelang sapi melahirkan.
Pemberian dilakukan terutama bagi yang berisiko tinggi karena unsur ini tidak
dapat diperoleh dan tidak tersedia di dalam tubuh hewan.

Pencegahan

Untuk mencegah agar tidak terjadi kekurangan magnesium dapat dilakukan


melalui beberapa upaya tergantung pad a cara pemeliharaan atau perawatannya.
Perlakuannya dibedakan antara sapi dipiara di kandang dengan sapi yang
dilepas bebas di padang rumput antara lain sebagai berikut.
1) Sapi yang dipiara di kandang. Terhadap sapi yang biasa diberi hay atau
konsentrat dapat dilakukan dengan menggunakan magnesium oksida tidak
larut yang ditaburkan pada hay atau ditambahkan di dalam konsentrat
dengan dosis 50 gram/induk/hari, atau dengan MgSO4 dilarutkan dalam air
minum dengan takaran 50 gram/liter/induk/hari, atau 60 gram/induk/hari
dicekokkan.
2) Sapi yang dilepas di padangan. Untuk sapi yang biasa dilepas, MgSO4
dapat ditaburkan ke rerumputan yang dipakai untuk penggembalaan
dengan takaran 50-75 gram/induk/hari. Magnesium dapat juga diberikan

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 163


menggunakan blok untuk jilatan, baik bagi yang dipiara di kandang atau
dilepas.

Ketosis atau Asetonemia


Ketosis adalah penyakit sindrom metabolik dicirikan dengan penurunan
berat badan, pika, tidak bernafsu makan, penurunan produksi susu dan
abnormal neurologis yang biasanya terjadi pada enam minggu pertama masa
laktasi. Nama ketosis diambil dari dasar diproduksinya keton, yaitu produk
samping dari metabolisme asam lemak yang larut dalam air. Termasuk sebagai
badan keton di antaranya adalah aseton. Biasanya hewan diwaspadai terhadap
kemungkinan mengalami ketosis atau asetonemia antara 2 minggu terakhir
dari kebuntingan dan 4 minggu pertama laktasi, terutama menciri pada induk
sapi laktasi kedua sampai ke empat.
Ada cara uji sederhana untuk meyakinkan adanya keluaran badan keton,
tetapi untuk peternak yang berpengalaman atau dokter hewan cukup mengenali
dengan mencium bau mulut sapi yang sakit. Ketosis dapat terjadi pada hewan
bersamaan dengan berbagai masalah yang terkait dengan kebuntingan atau
kelahiran antara lain: plasenta tertinggal, mastitis, metritis, dan displasia
abomasum. Sapi terkena ketosis harus diuji terhadap kemungkinan adanya
komplikasi lain.

Penyebab
Pada dasarnya ketosis terjadi karena adanya keseimbangan energi negatif
pada enam minggu pertama mas a laktasi. Sapi tidak mendapat rangsum

C)
z
iii: 22
w
lII:::
Z 20
~ iii: 18
~cC
~ ~ 16
CLlII:::
_._

-
::»
14
~ SEHAT
z 12
~
~ 10
-2 -1 o 1 2
MINGGU MELAHIRKAN

Gambar 11.2 Ilustrasi kondisi seekor sapi ketosis subklinis pascamelahirkan dengan
situasi kurang asupan makanan dalam waktu satu minggu sebelum dan
dua minggu setelah melahirkan normal (Harris, 2010)

164 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


mengandung nutrisi dengan energi cukup untuk mempertahankan produksi
susu dalam suatu periode ini. Oleh sebab itu, terjadi penurunan glukosa darah
dan terjadilah hipoglikemia. Badan keton (asam aseto-asetat, aseton, dan f3 hidroksi
butirat) diproduksi selama proses mobilisasi. Keadaan ini terjadi dalam derajat
terbatas terutama pada sapi yang berproduksi tinggi. Ketosis atau asetonemia
terjadi bila induk sangat tergantung pada simpanan lemak untuk energi selama
laktasi. Sangat sering pada induk diberi pakan rendah kalori pada awallaktasi.
Sapi mulai memproduksi susu tetapi kekurangan energi.
Ketika tidak cukup energi dalam pakan, untuk mencukupi kebutuhannya
sapi akan menarik energi ke tubuh untuk memenuhi kekurangan. Hewan
akan menggunakan lemak dalam tubuh untuk membantu produksi susu,
tetapi hati tidak dapat merubah lemak ke energi secara cepat. Simpanan
lemak mengandung keton, suatu sumber energi. Akibatnya benda keton akan
terakumulasi dalam darah dan menyebabkan terjadi ketosis. Ilustrasi pada
Gambar 11.2menyatakan kondisi seekor sapi ketosis subklinis pascamelahirkan
dalam situasi kurang asupan pakan dalam waktu dua sampai satu minggu
sebelum dan dua minggu setelah hewan melahirkan secara normal.
Keton sering dipergunakan oleh sapi untuk mensuplai energi pakan,
terutama dalam keadaan laktasi awal. Ketosis klinis akan terjadi bila produksi
dan absorpsi badan keton melampaui kebutuhan yang diperlukan tubuh
sebagai sumber energi. Keadaan ini meningkatkan keton darah, asam lemak
bebas atau nonesterified dan menurunkan glukosa darah. Benda keton utamanya
diproduksi di dalam hati dan dalam jumlah yang lebih sedikit di kelenjar mamae
dan dinding rumen.

Gejala
Berlangsungnya gejala biasanya secara bertahap dan pengujian secara teliti
ditemukan adanya benda keton. Peneguhan lebih lanjut biasanya memerlukan
keberadaan badan keton. Sapi yang ditaruh di kandang terbatas dan ditemukan
penurunan nafsu makan biasanya sebagai tanda awal terjadinya ketosis. Apabila
sapi dalam kelompok diberi makanan yang dicampur secara bersamaan, pada
sapi dengan ketosis biasanya menolak bijian sebelum pakan hijauan.
1) Keadaan ringan. Gejala awal termasuk penurunan ringan nafsu makan
dan meningkat menjadi tidak mau makan, tinja terbungkus mucus kental,
kondisi lemah, malas bergerak, penurunan produksi susu dan untuk
sebagian kedl kasus terjadi gejala abnormal saraf pusat. Sapi tidak mampu
memenuhi kebutuhan glukosa darah dan nutrisi yang diperlukan untuk
produksi susunya selama periode ini. Kejadian ini biasa dijumpai pada
enam minggu pertama masa laktasi. Pengujian fisik hewan demam
dan sedikit dehidrasi.
2) Keadaan lanjut. Sejalandengan kemajuan penyakit, penurunan berat badan
semakin nyata dalam hanya beberapa hari [Link] menjadi pika, menolak

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 165


bijian dan mencari pakan kasar seperti hay,jerami dan bahkan menjilat-jilat
tanah. Kemungkinan akan tercium bau aseton pada pemapasan, urine atau
susu. Sapi menjadi depresi dan pergerakannya terbatas. Apabila melanjut
ketosis tidak diobati, produksi susu akan sangat menurun dalam jumlah
yang nyata karena tidak tercukupinya energi untuk memproduksi. Hewan
berjalan menjadi abnormal dengan sempoyongan, berputar-putar, jatuh dan
kesulitan berdiri.

Diagnosis

Sangat penting untuk memperoleh riwayat lengkap bila dicurigai


kemungkinan ketosis. Perhatian khusus ditujukan saat masa kering, pakan
dan nutrisi yang diberikan pada masa tersebut, tanggal ketika melahirkan, dan
catatan produksi harian. Diagnosis klinis dari ketosis didasarkan pada faktor
risiko di saat laktasi awal, penurunan berat badan, gejala depresi, penurunan
nafsu makan, pika, penurunan produksi susu, suhu tubuh yang normal dan
dapat diperkuat dengan adanya badan keton di dalam air seni menggunakan
uji Rhotera's. Apabila telah didiagnosa ketosis, perlu dilakukan pengujian fisik
karena sering bahwa kejadian ketosis bersamaan dengan terjadinya penyakit
menjelang kelahiran yang lain sehingga perlu pengamatan lebih saksama.
Menyertai kejadian ketosis sering dijumpai displasia abomasum, plasenta
tertinggal dan metritis.

Pencegahan

Induk sapi harus dikondisikan dengan baik pada saat akhir mas a laktasi
dan mas a kering. Pencegahan ketosis dilakukan melalui manajemen nutrisi
yang baik, dengan menjaga sapi dalam kondisi bagus tetapi tidak terlalu gemuk
selama mas a kering. Asupan pakan perlu dimonitor dengan baik, perubahan
rangsum pakan menjelang melahirkan dan dalam enam minggu pertama
laktasi dilakukan secara bertahap. Setelah melahirkan konsumsi energi cepat
dinaikkan. Selama laktasi, diberi pakan yang baik dengan energi tinggi dan enak
dimakan. Rangsum diberikan konsentrasi karbohidrat nonserat kasar tetapi
cukup mengandung serat untuk mengaktifkan rumen. Pemilik petemakan
dengan prevalensi 15% kejadian ketosis harus berkonsultasi dengan dokter
hewan atau nutrisionis untuk petunjuk dalam pengendaliannya.

Pengobatan

Upaya pengobatan terutama dengan mengoreksi kondisi keseimbangan


energi negatif. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi dekstrosa atau dengan
penyuntikan intravena 50% glukosa 500 ml dan penyuntikan glukokortikoid
intramuskuler. Dalam beberapa hal dapat juga diberi glikol propilen 225 g

166 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


selama 2 hari diikuti oleh pemberian 100g setiap hari selama 2 hari berikutnya.
Pemberian glukosa mengakibatkan kenaikan dan segera perbaikan gejala
klinis dan penurunan produksi susu. Pemberian glukosa diulang sampai
24-28 hari. Setelah terapi glukokortikoid level glukosa darah kembali normal
dalam 24 hari. Pemberian glukokortikoid akan menurunkan produksi susu
secara sementara tetapi akan kembali meningkat berapa hari kemudian. Respons
terhadap pemberian glikol propilen lambat, dan oleh sebab itu sering dibantu
pemberian glukokortikoid dan glukosa.

Sindrom Hati Berlemak


Fatty liver syndrome (Sindrom hati berlemak), atau Fat Cow Syndrome
dianggap sebagai bentuk dari ketosis. Walaupun kejadian ini sering dianggap
sebagai kelainan pada pascamelahirkan, tetapi kondisi ini sebenarnya
berkembang pada sebelum dan saat kebuntingan. Perubahan endokrin yang
terkait dengan kehamilan dan laktogenesis berperan dalam perkembangan hati
berlemak. Pada dasarnya hewan ketosis yang telah mulai dengan penimbunan
banyak lemak dalam hati menyebabkan kegagalan hati. Kejadian ini sering
melibatkan /I sapi dengan kondisi terbaik" di dalam kelompok.

Penyebab
Hati berlemak terjadi selama masa di mana konsentrasi non esteric fatty acid
(NEFA) meningkat. Kenaikan paling mencolok terjadi pada saat melahirkan
ketika konsentrasi plasma sering melewati ambang batas. Kasus terjadi karena
pemberian pakan dengan energi terlalu tinggi pada konsentrat, silase jagung
dan beberapa hay, selama masa sapi kering. Hasilnya adalah induk sapi menjadi
terlalu gemuk saat melahirkan. Sapi demikian tidak efisien dalam memobilisasi
lemak ketika mereka memerlukannya. Kemungkinan lain adalah komponen
genetik yang membuat hewan rentan untuk terjadi penyimpangan.

Gejala
Tidak diketahui gejala yang jelas terhadap kasus sindrom hati berlemak.
Fat Cow Syndrome telah dikaitkan dengan rendahnya produksi susu, kenaikan
mastitis klinis, dan miskin kinerja reproduksi. Kasus ini juga menyebabkan
kondisi sapi induk yang tidak selaras dengan harapan produksi karena menjadi
terlalu gemuk sehingga tubuh tidak cukup memiliki kemampuan fisiologis
memobilisasi lemak tubuh secara efisien.

Pengobatan
Pengobatan untuk kasus ini sulit untuk dilakukan dan memakan waktu
yang lama. Upaya demikian akan melibatkan pemaksaan secara intensif dalam

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 167


pemberian pakan serta pemberian glukosa dengan atau tanpa insulin dan multi
vitamin. Sindrom yang sarna terjadi juga untuk jenis hewan lain misalnya
domba, kambing dan kuda terutama pony. Pada hewan-hewan tersebutpun
sulit diperoleh keberhasilan dalam pengobatan.

Pengendalian
Upaya pengendalian dilakukan melalui penerapan sistern manajemen
pakan dengan mengembalikan penurunan kondisi tubuh sewaktu dalam
periode laktasi akhir dan dipertahankan dalam posisi stabil sewaktu masa
kering agar hewan tidak menjadi terlalu gemuk. Sebagai gambaran, dengan
penilaian kondisi sapi induk antara skala asumsi kondisi satu sampai lima,
maka sapi untuk masa kering dipertahankan dalam skala 3,5.

Sindrom Keasaman Laktik


Pemberian serat kasar pada hewan ruminansia dalam jumlah besar tanpa
diberi waktu untuk adaptasi sering menghasilkan gangguan metabolisme
sindrom "lactic acidosis" atau keasaman laktik. Asidosis atau keasaman dapat
terjadi secara klinis apabila pH rumen menjadi turun sampai di bawah 5,0 atau
dapat muncul secara subklinis bila pH rumen turun sampai dengan 5,5 sehingga
berada dalam suasana asam. Sindrom asidosis laktik dimulai dari kenaikan besar
konsentrasi asam laktat rumen dan diikuti oleh penyerapan asam laktat ke cairan
tubuh. Patofisiologi asam laktat dapat berkisar dari kehilangan nafsu makan dan
diare sampai kelumpuhan kardiovaskuler dan respirasi. Kegawatannya terkait
dengan rataan absorpsi asam laktat. Masalah ini juga dapat terjadi ketika sapi
kurang dapat berbaring untuk istirahat sehingga menghabiskan waktu lama
berdiri, terutama bila berdiri di lantai keras dapat menderita masalah lebih besar
dengan rasa sakit pada kaki disebabkan oleh kondisi traumatik dan asidosis.
Sapi harus diusahakan dapat istirahat dan berbaring paling tidak delapan
jam setiap hari.

Penyebab dan Kondisi


Kegagalan manajemen pakan diperkirakan telah menjadi penyebab asidosis
subklinis yaitu sewaktu sapi tidak mempunyai akses yang cukup terhadap
makanan ketika mereka sedang lapar. Di sisi lain, sewaktu ada kesempatan
mereka makan berlebihan dan melebihi ukuran normalnya. Pemberian serat
kasar dalam jumlah yang banyak dengan rasio energi tinggi tanpa waktu adaptasi
sering menghasilkan laktik asidosis.
Konsep umum atas kasus ini adalah bahwa terjadi akumulasi asam laktat
di mana terjadi produksi asam laktat secara berlebihan menggunakan bakteria.
Dalam keadaan normal tidak banyak makanan ditelan dalam rumen « 1,0%)

168 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


difermentasi melalui asam laktat. Karbohidrat biasanya difermentasi seeara
glikolitik yang melibatkan produksi asam piruvat. Dengan demikian ketika
asam laktat terkumpul di dalam rumen memungkinkan bahwa rerata produksi
telah melampaui konversi piruvat, menjadi organisme memproduksi asam
laktat dan menyebabkan terjadi penimbunan. Di lain pihak bila sekiranya
penggunaan organisme yang memproduksi asam laktat menjadi meningkat ke
jumlah yang cukup memadai, asam laktat tidak akan berkembang menjadi level
yang toksik.
Penyebab lain di antaranya adalah ketika terjadi eekaman karena suhu
udara panas atau terik matahari menyengat sehingga sapi lebih menyukai
dalam posisi berdiri, atau sapi terlalu lama berdiri di suatu temp at yang bukan
merupakan kandangnya sewaktu menunggu giliran untuk diperah dengan
mesin perah, yang sudah tentu dalam penantian tidak berkesempatan makan
atauminum.

Gejala
Perubahan meneolok terjadi antara lain bahwa tinja sapi induk dengan
pemberian rangsum yang sarna kepadatannya bervariasi dari keras ke lunak.
Tinja dapat terlihat berbuih berisi gelembung atau mengandung lebih banyak
serat yang panjang tidak tereema lebih dari 1,2 em panjang. Pada sapi yang
diberi pakan bijian, tinja dapat berisi peeahan bijian yang tak tereema berukuran
kurang dari 3,5 em. Aktivitas ruminasi menurun dan kurang nafsu makan.
Gejala asidosis yang lain adalah rasa sakit pada kakinya, produksi susu rendah
dan efisiensi pakan menurun.

Diagnosis
Dugaan diagnosis berdasar gejala klinis hewan. Untuk mendukung
peneguhan diagnosis dilakukan pengujian lemak dan protein susu. Sapi
dalam kondisi asidosis laktik, dalam pengujian kondisinya akan terdeteksi
dengan hasil: uji lemak susu rendah berada di bawah 3,0-3,3% dan begitu
pula uji protein susu diperoleh hasil kandungan yang rendah.

Pengendalian
Untuk menghindari asidosis harus diberi konsentrat seeara bertahap
misalnya 0,5kg konsentrat/sapi/hari sehingga populasi mikroba rumen dapat
menyesuaikan dengan tipe fermentasi yang diperlukan, misalnya mungkin
diperlukan lebih banyak mikroba yang memfermentasi patioBerbeda individu
sapi akan berbeda tanggap terhadap pemberian pakan konsentrat. Beberapa
individu sapi dapat tahan mengkonsumsi 6 kg konsentrat/hari sedang sapi
yang lain akan menjadi sakit sewaktu menerima 3 kg/hari, dan selalu ada sapi

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 169


yang akan makan lebih dari taka ran yang seharusnya. Kunci keberhasilan
adalah membuat konsumsinya secara bertahap terjadi kenaikan setiap hari
dan mengamati kemungkinan gejala asidosis karena pemberian konsentrat.

Pengobatan
Pencegahan asidosis laktik biasanya merupakan cara terbaik untuk dilakukan.
Memberi minum buffer rumen misalnya sodium bikarbonat atau campuran
sodium bikarbonat dan sodium karbonat dapat membantu perubahan dengan
risiko gangguan ringan. Untuk mengatasi kondisi demikian dilakukan melalui
pembetulan kerja ruminal dan kemungkinan sistemik asidosisnya serta upaya
untuk menghindari produksi asam laktat yang berlebihan.
1) Menambah pakan serat kasar. Asidosisdapat diatasi dengan pemberian pakan
serat kasar lebih banyak. Cara demikian ini praktis untuk dilakukan namun
perlu pengamatan yang cermat karena dapat mengakibatkan pengurangan
nafsu makan, begitu juga akan berpengaruh pada penurunan hasil produksi
susunya.
2) Menstabilkan pH rumen. Bufer dapat disertakan dalam rangsum untuk
menstabilkan Ph rumen sehingga kondisi lingkungan rumen memberikan
peluang untuk pertumbuhan normal populasi mikroba. Oalam kondisi
tertentu beberapa hewan yang terkena mungkin memerlukan tindakan
operasi ruminektomi untuk mengambil isi rumen. Oalam praktik
pemberian pakan, sapi harus hanya diberi hay dan konsentrat dengan
cara mengenalkan sebelumnya secara bertahap selama beberapa hari.
Secara berangsur-angsur perubahan pemberian rangsum ditingkatkan
sesuai yang seharusnya diberikan.

Displasia Abomasum
Oalam sistem pencemakan makanan, abomasum terletak di sebelah kanan
dasar dari bagian perut tubuh sapi. Yang disebut dengan displasia abomasum
adalah kesalahan letak atau terpuntimya abomasum dari kedudukan normalnya
di sebelah kanan terdesak berpindah ke sebelah kiri. Kejadian paling banyak
(80%)terjadi dalam bulan pertama laktasi. Abomasum menjadi terisi gas, cairan,
atau keduanya, dan bergeser ke posisi abnormal. Umumnya bergerak ke kiri
dan ke depan, menempati posisi antara rumen dan dinding perut kiri (Gambar
11.3). Keadaan demikian ini disebut Displasia Abomasum Kiri (OAK).

Penyebab
Terjadinya salah letak dari posisi normal abomasum dapat disebabkan
oleh tingginya proporsi asupan konsentrat kering (bijian campur) dan rendah
akan serat kasar, stres fisik misalnya lantai licin dan masalah ikutan sekunder

170 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


misalnya pada peristiwa sapi menderita ketosis. Selama masa akhir kebuntingan
dan setelah melahirkan, sapi berpotensi meningkat risiko kemungkinan untuk
terjadi masalah. Proporsi tubuh sapi yang tambun diperkirakan juga berperan
dalam menyebabkan OAK, karena terdapat ruang lebih besar untuk terjadi
pergeseran gerak abomasum dari posisi normalnya.

POSISI NORMAL POSISI ABNORMAL

RUMEN

ABOMASUM
ABOMASUM 01 ABOMASUM 01
SEBELAH KANAN SEBELAH KIRI

Gambar 11.3 Ilustrasi posisi abomasum normal dan abnormal ketika terjadi displasia
abomasum kiri (Weaver and Moseley, 1988)

Gejala

Gejala klinis yang terjadi mirip dengan pada ketosis. Hewan makan, tetapi
kemudian berhenti, lalu makan lagi secara bergantian, gerakan perut lambat,
produksi susu menurun secara menciri menjadi 30-50%. Ini menghasilkan
keadaan klasik keluhan "berhenti makan dan turun susu" Sapi menderita
sakit perut, kondisi lemah dan rasa tidak nyaman. Oalam keadaan lebih sedikit
terjadi juga displasia abomasum di bagian kanan.

Pengobatan dan pengendalian

Sapi penderita displasia abomasum biasanya memerlukan tindakan operasi


untuk membetulkan letak ke posisi normal kembali. Penanganan biasanya
untuk mempertahankan posisi dengan dijahit, sehingga tidak akan kembali
menjadi masalah lagi. Operasinya bisa terbuka, atau dengan pin kait untuk
mempertahankan posisi abomasum sesuai semestinya. Tidak ada cara khusus
yang dapat dilakukan untuk menghindari displasia abomasum. Pemberian pakan
yang tepat sebelum dan setelah melahirkan akan mengurangi kemungkinan
terjadi OAK.

Kembung Perut
Kembung perut, "timpani" atau "Bloat" adalah terjadinya akumulasi gas
yang mengakibatkan tekanan berlebihan dari rumen dan retikulum oleh gas

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 171


dari hasil fermentasi. Ini sering merupakan masalah dari sapi tetapi dapat
juga ditemukan pada domba. Kerentanan dari individual sapi terhadap bloat
bervariasi dan ada pengaruh genetik.

Macarn Kernbung Perut

Bloat dapat terjadi dalam bentuk: (a) kembung perut karena rangsum pakan
menyebabkan timbulnya gas berbuih secara permanen dengan kondisi tetap
bercampur dengan gas disebut "bloat berbuih", atau (b) dalam bentuk bloat gas
bebas yang tidak ada hubungannya dengan bahan makanan karena pengaruh
ekstra ruminal misalnya penyumbatan esophagus yang berlanjut membentuk
banyak gas, dan disebut dengan "bloat gas bebas".
1) Bloat berbuih. Bloat berbuih disebabkan oleh tertahannya gas di dalam
masa isi makanan yang ditelan di dalam rumen. Tertinggalnya gas di
dalam rumen ini berlanjut menjadi pembentukan buih dan hewan tidak
mampu menyerdawakan karena tidak ada pembentukan kantong gas
pada bagian dorsal rumen. Bloat berbuih sering dikaitkan dengan diet
leguminose lunak seperti yang dipotong segar atau diet konsentrat akhir.
Bloat karena konsentrat dapat diminimalkan dampaknya dengan memberi
campuran pakan serat kasar.
2) Bloat gas bebas. Bloat gas bebas atau ruminal timpani biasanya terjadi
setelah hewan mengkonsumsi sejumlah pakan konsentrat lebih banyak
dari yang biasa diberikan untuk makan harian. Konsumsi pakan berlebihan
berlanjut ke fermentasi cepat di dalam rumen oleh bakteri rumen, produksi
asam organik mudah menguap dan peningkatan dalam asam laktat
dengan menurunkan pH dalam rumen. Dengan turunnya pH rumen akan
meningkatkan produksi asam organik mudah menguap, kapasitas absorpsi
rumen berlebih, dan kontraksi rumen terhambat yang memungkinkan
terjadinya akumulasi gas di kantung bagian dorsal rumen.

Rata-rata Kejadian

Bloat gas bebas dari kasus selain karena konsumsi leguminose basah dan
diet konsentrat tinggi terjadi secara sporadis, sedang bloat berbuih sering terjadi
mewabah. Bila kondisi tanaman mendukung pertumbuhan cepat tanaman,
mung kin akan meningkatkan kejadian bloat berbuih. Peternak sebaiknya
waspada ketika menempatkan sapi di tanaman waktu musim penghujan dengan
melengkapi serat kasar kering untuk mengendalikan kejadian bloat berbuih.

Penyebab dan Patogenesis

Pada timpani primer atau bloat berbuih penyebabnya adalah terperangkapnya


fermentasi gas normal di dalam gelembung yang stabil. Persenyawaan dari

172 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


gelembung keeil gas tertahan, dan tekanan dari dalam rumen meningkat karena
serdawa tidak dapat terjadi. Beberapa faktor baik pada hewan atau tanaman,
memengaruhi pembentukan gelembung yang stabil. Protein daun larut, saponin
dan hemiselulosa dipereaya menjadi agen gelembung utama dan membentuk
lapisan monomolekuler sekitar gelembung gas rumen yang memiliki stabilitas
terbesar pada sekitar pH 6,0. Musin air liur adalah anti gelembung, tetapi
produksi air liur berkurang dengan hijauan banyak mengandung air.
Rerumputan memproduksi bloat lebih eepat tereerna dan melepaskan
sejumlah besar partikel khloroplas keeil yang menangkap gelembung gas
dan menghalangi persenyawaannya. Dampak tengah dari pemberian pakan
mungkin mensuplai nutrisi untuk memeeahkan fermentasi mikroba. Namun
demikian, faktor utama yang menentukan apakah akan terjadi bloat adalah
isi rumen alami. lsi protein dan rataan peneernaan dan lintasan ruminal
merefleksikan potensi hijauan untuk menyebabkan bloat. Lebih dari mas a
24jam, hijauan penyebab bloat dan faktor hewan yang tidak diketahui bergabung
mempertahankan kenaikan konsentrasi dari partikel kecil pakan dan memicu
kerentanan terhadap bloat.
Bloat paling sering pada hewan makan pakan yang didominasi oleh
leguminose, terutama merumput alfalfa, tetapi juga ditemukan dengan
merumput daun tanaman bijian muda dan sayur leguminose. Hijauan alfalfa
memiliki persentase protein tinggi dan oleh sebab itu dicerna lebih eepat.
Leguminose yang tinggi dalam protein tetapi tidak menyebabkan bloat
mungkin karena mengandung tanin padat, yang mempresipitasikan protein
dan meneerna lebih lambat dari alfalfa. Bloat leguminose adalah paling biasa
terjadi ketika sapi ditempatkan pada padang rumput yang berair, terutama
yang didominasi oleh leguminose yang eepat tumbuh pada stadium awal
berkeeambah.

Gejala Klinis
Gejala termasuk rasa sakit bagian perut, peritonitis atau terjadi infeksi di
rongga perut, kembung air dalam perut, atau kandung urine peeah, akumulasi
air dalam uterus sewaktu bunting, displasia abomasum kanan atau kiri, usus
terpuntir, asites (akumulasi air di dalam rongga perut) atau pneumoperitonium
(akumulasi air di dalam rongga peritoneum). Bloat merupakan penyebab yang
biasa menimbulkan kematian. Sapi yang tidak teramati dengan baik terhadap
pakan atau padangan serta sapi dalam masa kering biasanya dijumpai telah
mati sebelum diketahui menderita timpani. Kembung perut dapat terbentuk
pad a hari pertama setelah ditempatkan di rerumputan dan berkembang
di hari ke dua atau ke tiga.

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 173


Gambar 11.4 Seekor sapi perah menderita bloat atau timpani dengan perut yang
membesar. (Clark dkk, 2011)

Pada bloat primer, rumen menjadi mengembang nyata secara mendadak, dan
pada pinggang kiri dapat begitu membengkak lebih besar dari sebelah kanan
(Gambar 11.4).Dispnea dan gemeretak sangat nyata diikuti oleh pemapasan
melalui mulut, lidah menjulur, kepala menjulur ke depan dan sering kencing.
Sering hewan muntah. Ruminasi tidak menurun sampai dengan bloat menjadi
semakin berat. Apabila kembung perut berkembang memburuk, hewan akan
ambruk dan mati. Kematian mungkin terjadi tiga sampai empat hari setelah
gejala klinis, biasanya mencapai 1%. Kerugian juga terjadi akibat penurunan
produksi susu.

Pengobatan dan Pengendalian

Untuk bloat gas bebas, menusukkan pipa lambung perut biasanya cukup
untuk membebaskan rasa tidak nyaman tekanan ring an atau moderat pada
rumen dengan gas bebas. Manipulasi dan penempatan posisi kembali dari pipa
lambung sewaktu memasuki rumen kadang-kadang memerlukan penggembesan
kantung gas. Apabila asidosis bertanggung jawab terjadinya bloat, diberikan
pengobatan antacida dalam bentuk sodium bikarbonat (baking soda 0,5 kg
dalam air dingin) yang dimasukkan menggunakan pipa lambung.

174 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Apabila gas tidak dibebaskan menggunakan pip a lambung, penyebab
bloat mungkin dari buih atau gelembung di dalam rumen. Pengobatan dalam
hal ini harus termasuk melengkapi pipa lambung dengan poloxalene, minyak
mineral atau tanaman, atau sabun piring. Produk semaeam ini akan membantu
memeeahkan buih di dalam rumen ke kantung gas yang lebih besar, hewan
dapat menyerdawakan atau melalui pipa lambung. Dalam keadaan tertentu
dokter hewan mungkin akan mempertimbangkan penggunaan trokar untuk
mempereepat proses pelepasan gas.

Busung Ambing
Dalam batas tertentu, kondisi di mana terjadi peristiwa busung, bendung
darah, atau terkumpulnya eairan darah di dalam ambing, sering terjadi dan
seeara fisiologinormal untuk sapi induk atau dara mendekati saat melahirkan.
Namun dalam kejadian berat dapat menghasilkan kebengkakan hebat di
bagian perut, ambing dan puting yang dapat mengganggu pedet sewaktu
mengisap puting induknya, ketika proses pemerahan susu, dan dapat menjadi
predisposisi terjadi kerusakan dari jaringan penyangga ambing. Apabila
keadaan berlanjut dan tidak teratasi dapat menjadi faktor utama penurunan
kemampuan produksi sapi seeara berkelanjutan.

Penyebab
Busung ambing terjadi utamanya sebagai hasil hambatan dalam aliran
darah dan limfe dari perut bagian bawah yang disebabkan oleh adanya tekanan
fetus pada rongga pelvis sewaktu masih dalam kandungan. Kondisi demikian
terjadi seeara sporadis hampir di setiap kelompok sapi meneapai puneak
masa kebuntingan menjelang terjadi kelahiran. Kecuali bila ada komplikasi
maka kesembuhan akan terjadi seeara spontan dalam waktu beberapa hari
setelah melahirkan. Dalam situasi di mana busung ambing menjadi masalah
kelompok, mungkin telah terjadi komplikasi dengan faktor lain termasuk
pemberian konsentrat seeara berlebihan dan terlalu banyak asupan sodium
dan/atau potasium. Kejadian pada sapi dara yang baru pertama kali melahirkan
eenderung menjadi masalah yang eukup serius dan memerlukan perhatian
khusus.

Gejala
Hipokalsemia, terjadi sebagai akibat dari pengambilan protein darah
karena pembentukan kolustrum telah diperkirakan sebagai penyebab busung
ambing, tetapi uji laboratoris tidak selaras dengan pandangan ini. Rataan
kejadian bervariasi tetapi kasus yang memerlukan pengobatan relatif keeil
atau kurang dari 3-5%.

Bab 11 - Penyakit Gangguan Metabolisrne 175


Gambar 11.5 Busung ambing pada seekor sapi nampak pengaruhnya sampai di perut
bagian bawah

Pengobatan

Busung ambing yang ringan biasanya akan sembuh dengan sendirinya.


Dalam kejadian yang terus berlanjut dan berat, dokter hewan mungkin
mempertimbangkan untuk memberi deuretika untuk mengurangi cairan tubuh
dan menyuntik kortikosteroid untuk menekan terjadi peradangan. Walaupun
kejadian ini bukan semata-mata masalah nutrisi, tetapi kehati-hatian dalam
penentuan pemberian konsentrat akan membantu pemulihan kondisi, terutama
pada kebuntingan tua.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya busung ambing (Gambar 11.5) maka pada


saat menjelang kelahiran, hewan disediakan temp at umbaran untuk dapat
latihan dan bergerak secukupnya. Melakukan pengurutan pada bagian
ambing, memerah sapi, atau memberi pengobatan deuretika dapat membantu
menanggulangi timbulnya kejadian ini. Melakukan pengurutan dan latihan
akan membantu kelancaran dari sirkulasi darah, sedang sewaktu pemerahan
akan terjadi stimulasi terhadap kelancaran sirkulasi darah dan mengurangi
dampak peradangan atau busung sehubungan dengan pembentukan air susu
yang banyak.

176 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Bob
DATA DAN INFORMASI
12

Kinerja usaha dapat tercermin dan dievaluasi dari catatan data, peristiwa
atau perubahan dari berbagai kejadian pada setiap tahapan waktu atau
program. Karena merupakan catatan tertulis dengan penandaan individual
yang jelas dan sistema tis maka data yang tersimpan baik akan mudah untuk
diingat, dipelajari serta dievaluasi. Keberadaan data juga tidak terbatas
hanya tersedia untuk orang atau kelompok tertentu tetapi dapat dipahami
dan ditindaklanjuti oleh orang lain sehingga terjadi komunikasi informasi
yang harmonis untuk diterapkan dan dikembangkan menjadi pemikiran atau
tindakan yang memberi manfaat secara objektif dan rasional. Pencatatan atau
recording menghasilkan bahan berupa data untuk diolah menjadi informasi
yang dapat dianalisis sebagai bahan dalam melakukan monitoring, evaluasi,
pengawasan dan perencanaan ke depan demi kemajuan usaha.
Agar supaya diperoleh informasi yang lengkap, pendataan dilakukan
secara sistematis sejak us aha dimulai hingga waktu yang tidak terbatas. Yang
penting untuk diperhatikan adalah bagaimana kita dapat memperoleh data
yang sederhana, mudah dipahami tetapi akurat dan berkualitas.

KUALITAS DATA
Setiap data sebaiknya disampaikan dalam catatan sederhana, dan dapat
dipertanggungjawabkan akurasinya dengan baik. Data yang tidak berkualitas
tidak akan memberi manfaat, bahkan data yang salah akan cenderung
menyesatkan bagi pembuat keputusan. Usaha petemakan yang tidak memiliki
data recording dan hanya berdasar daya ingat akan mengalami banyak
keterbatasan. Ketika usaha berkembang atau terjadi pergantian petugas,
permasalahan akan menjadi semakin kabur dan tidak jelas akurasinya.
Akibatnya kesinambungan informasi menjadi terkendala dan tidak banyak
dapat dperoleh pelajaran dari masa lalu untuk kesinambungan program.

177
Ketepatan Data
Data tepat adalah data yang akurat, sahih, trasparan sehingga bermanfaat
sebagai bahan evaluasi dan perencanaan. Data yang disimpan harus memang
diperlukan dan bentuknya sederhana. Terlalu banyak data yang tidak ada
manfaatnya akan membebani pekerjaan dan membuang waktu serta biaya
yang sia-sia. Oleh sebab itu, semua data yang direkam harus dapat dianalisis.
Catatan data harus mengandung kebenaran sesuai apa, di mana dan kapan
yangterjadi.

Kemampuan Telusur
Data harus dapat dipakai sebagai pedoman dalam pembuktian terbalik dan
harus "mampu telusur". Ini berarti bahwa kejadian di masa lampau harus bisa
dikaji atau ditelusur ulang dan dicari keterkaitannya dengan peristiwa yang
ingin dianalisis berdasar catatan dari setiap individu hewan. Semua masalah
terekam dengan baik sehingga dapat dicari tahu sekiranya perlu perbaikan
agar tidak terulang kembali, atau bahkan ditingkatkan bila dicapai suatu
keberhasilan dengan arah dan tujuan yang jelas.

IDENTITAS DAN SISTEM PENCATATAN


Identifikasi atau penandaan sapi perah diperlukan sejak awal dimulai
pencatatan. Untuk kepemilikan jumlah sedikit, hewan bisa di identifikasi
dengan memberikan nama, atau sebutan tertentu tergantung dari kemantapan
pemilik. Pada kepemilikan yang jumlahnya semakin banyak diperlukan
penandaan individual karena keterbatasan kemampuan seseorang untuk
mengingat, apa lagi bila orang yang terlibat dalam tanggung jawab semakin
banyak. Setiap ekor sapi diberi tanda untuk identifikasi setiap sejak pedet
dilahirkan. Penandaan biasanya menggunakan nomor dengan sistem atau
kode tertentu sehingga bentuknya sederhana, mudah dibaca dan dikenali
asal-usul keturunannya.

Identitas Individual
N omor diberikan kepada sapi secara individual, umumnya melalui
pemasangan anting telinga. Adanya identitas yang jelas maka seseorang atau
pemilik ternak bisa menunjuk atau menberikan instruksi kepada petugas
dan bahkan dapat melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain tentang
perlakuan yang diinginkan terhadap sapi di dalam suatu kelompok hanya
dengan menyebut nomor identitas. Juru perah dapat menindak lanjuti secara
pasti apa yang harus dilakukan terhadap individu sapi tertentu dengan
kesalahan minimal selama memerah, misalnya perlakuan khusus terhadap

178 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


susu yang diperoleh dari sapi dengan pengobatan antibiotik agar residu tidak
mencemari susu yang lain. Inseminator dapat mengenali sapi mana yang harus
dilakukan [Link] kandang dapat secara tepat memberi perlakuan khusus
tentang rangsum pakan yang ditujukan untuk individu sapi tertentu. Petugas
kesehatan dapat melakukan perawatan pada hewan sesuai yang seharusnya
dilakukan. Kesemuanya dapat dilaksanakan secara akurat sesuai catatan
berdasar identitas individual.

Yuiuan Pemberian Identitas atau Yanda Pengenal


Setiap hewan secara individual perlu diberikan tanda pengenal dan diikuti
oleh pembuatan catatan secara jelas sejak pedet. Catatan tentang segala sesuatu
yang pernah terjadi pada setiap individu hewan sangat bermanfaat untuk
dipakai dalam evaluasi dan penelusuran balik tentang apa yang pernah terjadi
di masa lalu. Sistem identifikasi sengaja dibuat sederhana dan mudah dibaca
atau dikenali baik dengan penandaan permanen atau nonpermanen. Anting
telinga atau kalung leher sangat populer dipakai walaupun dapat tidak tahan
lama karena kemungkinan hilang oleh gerak dari hewan sewaktu latihan
atau tersangkut semak ketika sapi makan rumput di tempat penggembalaan.
Identitas permanen yang tidak dapat hilang adalah dengan cap panas, cap
dingin-beku (freeze), tatoo, atau foto. Cara penandaan demikian telah kurang
digunakan karena sulit pelaksanaannya dalam mengaplikasikan cap dan tatoo.
Beberapa cara penandaan yang membekas di kulit cenderung dihindari karena
bila tidak tepat pelaksanaannya dapat menimbulkan bekas dan mengurangi
harga jual kulit dikemudian hari. Sekurang-kurangnya ada 3 tujuan penandaan
sebagai berikut.

Memudahkan Mengenal
Tata laksana yang baik memerlukan perhatian yang teliti pada setiap sapi.
Dengan adanya tanda pengenal pada setiap individu, maka petugas atau
pemilik akan dapat mengenali satu persatu dengan baik.

Seleksi Hewan
Menghadapi setiap perubahan pada setiap individu yang jumlahnya banyak,
membutuhkan sistem pencatatan yang baik. Dengan adanya catatan secara
individual maka akan lebih mudah bagi peternak untuk melakukan seleksi
berdasar catatan kinerja setiap individu. Apa lagi bila seleksi dimaksudkan
untuk mengeluarkan dari peternakan, agar tidak salah pilih dalam menentukan
kebijakan maka identitas yang diberikan harus tepat sehingga tidak salah
dalam melakukan tindakan.

Bab 12 - Data dan Inforrnasi 179


Catatan Kegiatan

Setiap kegiatan merupakan rangkaian pelaksanaan program yang saling kait­


mengait satu sarna lain, dan terurai pada eatatan seeara individual. Tindakan
petugas terhadap satu ekor sapi sering tidak terlepas atau merupakan kelanjutan
dari tindakan sebelumnya. Sebagai contoh dalam pemberian obat terhadap
seekor sapi mungkin merupakan kelanjutan dari pemberian obat terdahulu
sehingga perlu kesinambungan pelaksanaan. Dengan adanya eatatan kegiatan
yang dilakukan oleh petugas maka akan mempermudah untuk melanjutkan
atau menghentikan perlakuan terhadap hewan yang bersangkutan.

Pengaturan tata laksana perawatan rutin


Berdasar tanda pengenal yang ada pada setiap sapi, akan mempermudah
pelaksana untuk mengatur pengelompokan dalam pemberian pakan,
pengobatan, vaksinasi, eatatan produksi, pelaksanaan IB, ramalan birahi,
eatatan kebuntingan, masa pengeringan produksi dan kelahiran.

Sistem Pencatatan
Berdasar identitas individual dieiptakan sistem peneatatan tentang
produktivitas, reproduktivitas, kesehatan dan nutrisi, sehingga pada waktunya
dapat dilakukan evaluasi kinerja dan seterusnya dibuat keputusan pedoman
manajemen sesuai hasil analisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu pemberian
identitas dimaksudkan sebagai alat pendataan seeara tepat sehingga dapat
dibedakan kinerja setiap sapi sampai pada tingkat individual, termasuk
pendalaman terhadap segala permasalahan yang ada pada setiap sapi. Setiap
informasi perlu selalu diperbaharui seeara berkala dan dicatat dengan segera
menggunakan identitas setiap pada saat kejadian.
Setiappeniadaan atau penundaan eatatan dapat berlanjut menjadi pengabaian
masalah atau dapat berpotensi salah eatat sehingga mengurangi keakuratan atau
kelengkapan informasi. Suatu sistem peneatatan yang baik dilakukan seeara
lengkap sesuai kriteria yang diperlukan meliputi identifikasi permasalahan
dan dilakukan sedini mungkin ketika pedet baru lahir. Identifikasi sewaktu
lahir dilakukan dengan pemberian nama atau nomor telinga termasuk eatatan
tanggallahir, berat badan saat dilahirkan, nama atau nomor induk dan jenis
atau bangsa semen pejantan.

Catatan Sederhana di Kandang


Untuk membantu pengenalan kinerja setiap sapi seeara eepat pada hewan
dikandangkan, perlu dibuat papan eatatan keeil digantung di setiap kandang
setiap hewan yang berisi informasi tentang nama hewan atau nomor, umur,

180 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


status IB,tanggal beranak, rata-rata produksi, jenis pakan, perkiraan melahirkan
bagi yang bunting, perlakuan atau status kesehatan dan informasi penting
lainnya secara singkat, sederhana dan jelas. Catatan diperbaharui dengan
informasi mutakhir setiap satu minggu.

Pencatatan Inseminasi Buatan


Sistem pencatatan atau recording dimulai sesegera mungkin dalam sistem
catatan kelompok temak termasuk induk dan bapaknya yang dapat diketahui
dari catatan straw semen yang digunakan ketika [Link] dengan penandaan
individual sewaktu IB dicatat juga tentang kondisi kesehatan, kesulitan
lahir (bila ada), vaksinasi dan obat yang diberikan ditulis secara lengkap.
Setiap perkembangan dan perubahan data dicatat sampai seterusnya untuk
mempermudah penelusuran. Dengan sistem recording IB yang baik dapat
dilakukan pengamatan dan evaluasi rutin secara individual ataupun kelompok
sehingga diperoleh manfaat antara lain:

Seleksi Hewan
Dapat dilakukan seleksi dari sisi keturunan. Nenek moyang sebagai cikal
bakal genetik dapat terseleksi dan dalam jangka panjang diharapkan terhindar
dari kejadian in-breeding.

Evaluasi Bibit
Sapi dara dievaluasi untuk seleksi sebagai bibit yang diunggulkan
menggunakan kriteria pemilihan tertentu terutama asal-usul induk serta
penggunaan pejantan unggul atau semen IB yang dipakai.

Evaluasi Produksi
Produksi kelompok secara keseluruhan dapat dievaluasi menyeluruh
dengan mengamati kemampuan produksi setiap sapi. Dalam jangka panjang
dapat direncanakan penataan kepemilikan dengan melestarikan sapi produksi
tinggi dan mengeluarkan yang tidak mencapai batas minimal produksi.

Target Breeding
Sapi dara dapat dimonitor umur dan jadwal target yang akan dicapai untuk
pertama harus dikawinkan atau dilakukan [Link] demikian akan terhindar
dari kelalaian dalam mengawinkan dan untuk mengatur agar diperoleh selang
beranak yang menguntungkan.

Bab 12 - Data dan Inforrnasi 181


Pengamatan kelayakan pertumbuhan

Berdasar identitas pedet atau sapi dapat diamati pertumbuhannya dan berat
badannya untuk dinilai kelayakan antara umur dan peneapaian proporsi tubuh.
Atas dasar kelayakan pertumbuhan bisa ditentukan sapi tertentu yang layak
dijadikan bibit, dipertahankan atau harus dikeluarkan dari peternakan.

MACAM PENANDAAN
Untuk dapat mengenali dan membedakan sapi satu dengan lainnya dilakukan
penandaan yang jelas untuk dikenali dengan dibaea atau ditafsirkan pada
setiap individu hewan. Penandaan yang sering dilakukan antara lain dengan
menggunakan: tatoo, menakik telinga, memasang anting telinga, memasang
kalung di leher dengan penandaan, dan membuat cap seeara dingin beku
pada kulit.

Tatoo
Penandaan dengan membuat tatoo melukai bagian kulit tertentu seeara
tetap sesuai dengan identitas yang diberikan. Pemberian identitas dengan
eara ini kurang diminati karena akan menimbulkan caeat pada kulit dan
menurunkan harga kulit sewaktu dipotong. Bila diperlukan dapat dibuat tato
telinga berupa nomor, huruf atau kombinasi keduanya. Cara ini lebih mudah
dibuat dan tidak menimbulkan bekas atau kerusakan kulit pada tubuh yang
memiliki nilai jual, tetapi kelemahannya ukuran nomor identitas relatif keeil
sehingga memerlukan pembaeaan yang lebih eermat dan kurang praktis
untuk pengamatan.

Ear Notching atau Menakik Telinga


Tanda bagi setiap individu diberikan dengan mengiris atau mengerat
bagian telinga atau melukainya yang merupakan kode tertentu untuk
membedakan hewan satu dengan yang lain. Untuk melakukan hal ini tidak
memerlukan bahan khusus, tetapi eukup dengan mengerat telinga. Cara
ini sering menyulitkan dalam pengenalan karena menggunakan rumusan
tertentu untuk interpretasi nomor. Kesulitan akan semakin nyata bila jumlah
hewannya semakin banyak.

Memasang Anting Telinga


Ear tag atau nomor tanda telinga adalah tanda pengenal untuk setiap pedet
atau sapi yang dipasang di telinganya. Tanda telinga yang diberikan dapat
berupa anting dari plastik atau logam yang ditulis angka atau huruf sebagai

182 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


kode penandaan. Identitas sapi menggunakan anting telinga paling banyak
digunakan karena tahan lama, mudah dibaca dari tempat yang agak jauh dan
tulisan nomor tidak mudah luntur (Gambar 12.1).

Gambar 12.1 Identitas sapi dinyatakan dalam nomor dan dalam bentuk anting telinga
dipasang sejak masih pedet.

Memasang Kalung Leher


Penandaan sapi dengan mengalungkan tanda identitas biasanya terbuat
dari kulit, logam kayu atau benda lainnya di leher berupa peneng pad a
setiap individu (Gambar 12.2)dalam bentuk huruf atau angka. Cara ini tidak
banyak digunakan tetapi disukai karena posisi kalung leher kuat sehingga
tidak mudah lepas.

Gambar 12.2 Identitas seekor sapi dalam bentuk nom or terpasang di kalung leher

Bab 12 - Data dan Inforrnasi 183


Freeze Branding
Penandaan dilakukan dengan menggunakan cap dari logam tembaga yang
telah direndam dalam nitrogen cair -132° C memuat identitas sesuai yang
diinginkan, dan setelah logam berubah wama putih karena dingin beku, segera
tempel dan tekan beberapa menit pada bagian tubuh yang berbulu gelap.
Rambut kulit yang akan di "cap" sebelumnya dicukur, dan digosok alkohol.

Gambar 12.3 Penandaan sapi dengan metoda dingin beku "freezebranding" pada kulit
seekor sapi (Walker, 2011)

Cara ini tidak efektif dilakukan untuk sapi berkulit putih atau terang
karena bekas penandaan tidak jelas terlihat. Untuk sapi perah jenis FH dapat
diatasi dengan dipilih di bagian kulit berwama hitam. Beberapa hari rambut
bagian kulit yang terkena logam dingin akan tanggal dan tumbuh rambut baru
berwama putih dan membekas sesuai identitas yang diberikan.

PENCATATAN DATA
Setiap data ditulis sesuai identifikasi setiap hewan dan dilakukan segera
saat kejadian. Data yang dicatat dapat berupa informasi tentang: reproduksi,
produksi susu, kesehatan hewan dan catatan lainnya. Data secara individual
dapat kemudian digabungkan dan dianalisis menjadi data kelompok.

Data Reproduksi
Identifikasi data terkait masalah reproduksi dimaksudkan untuk memantau
dan memperbaiki manajemen perkembangbiakan sebagaibahan evaluasi,seperti:
tanggal sewaktu lahir, jenis semen yang digunakan oleh induk, pelaksanaan
IB,uji kebuntingan, saat pengeringan, dan proses kelahiran. Secara lebih luas

184 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


l-I
0
-
"'C
Q.I
Po.
Q.I

S0 !U
z :.::00

- ....- eo
Q.I
=
l-I
..=
- Q.I

"'C
Q.I
P-4
- !U

~Q.I ~
!:Q

><
Q.I
r:J)

l-I !U
o 00 ....
S.5 ;;
o ~
z_ (J'J

Bab 12 - Data dan Inforrnasi 185


akan diketahui hubungan antara rangsum pakan dan pemberian nutrisi dengan
keberhasilan reproduksi, mengidentifikasi pedet yang baik untuk dibesarkan,
menghubungkan kualitas genetik dengan riwayat nenek-moyang dan induk.
Catatan reproduksi diperlukan untuk mengatur pengembangbiakan sapi agar
jarak kelahiran diupayakan dalam kurun waktu 1 tahun.
Catatan reproduksi harus diperbaharui sesuai perkembangan terbaru, dan
selalu tersedia untuk dapat diakses dengan mudah oleh petugas yang terkait.
Seluruh data disediakan di temp at aman di kandang untuk dengan mudah
dilihat petugas sewaktu-waktu dan menyesuaikan dengan perubahan terkini.
Catatan sederhana juga disediakan untuk bisa diakses oleh dokter hewan,
teknisi IB, petugas penyuluhan dan siapa saja yang terkait dalam usaha.
Untuk memonitor kinerja reproduksi dibuatkan formulir khusus berisi
pencatatan data tentang aktivitas reproduksi hewan yang dituangkan secara
tertulis untuk diisi secara rutin beserta masalah yang terkait antara lain berisikan
data sebagaimana dalam TabeI12.1.
Model kartu dibuat untuk mencatat perkembangan program reproduksi
sapi di setiap saat, terutama menyangkut masalah pelaksanaan IB. Informasi
tentang hal ini berguna untuk memantau perkembang biakan dan peremajaan,
serta menentukan sapi yang harus dikeluarkan karena kegagalan reproduksi.
Kegagalan reproduksi merupakan kerugian yang cukup nyata dan banyak
di antara peternak belum memahami secara utuh. Kemunduran keberhasilan
IB merupakan suatu kerugian dalam hal efisiensi pemberian pakan untuk
kurun waktu tertentu yang besaran dampaknya tergantung dari berap a kali
kegagalan IB yang terjadi.
Informasi dikumpulkan tentang kapan sapi kawin, bunting dan melahirkan.
meliputi waktu pelaksanaan IB, pemeriksaan kebuntingan, berapa kali
keberhasilan IB,perkiraan beranak, rencana sapi kering, tanggal kering, tanggal
lahir anak, berat dan jenis kelamin pedet.

Data Produksi
Catatan produksi membantu peternak menentukan hewan mana
menyebabkan penurunan hasil produksi yang berdampak pad a penurunan
hasil usaha. Semakin banyak hewan dipiara, akan lebih sedikit pendekatan
insting untuk produksi individual hewan menjadi akurat. Ketika ada informasi
dasar pembayaran produksi susu (volume, lemak, protein, Berat [enis),
kemudian perhitungan tentang jumlah pakan yang dialokasikan per hewan
dan biayanya dapat dipakai untuk menentukan besaran keuntungan. Catatan
produksi dapat membantu perhitungan untuk meningkatkan produksi susu
melalui perencanaan dalam manajemen yang spesifik untuk hewan sampai
ke tingkat individual. Ini merupakan catatan manajemen yang sangat kuat

186 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


bagi petemak dan mekanisme untuk mempertahankan kualitas susu dengan
agen penampung dan industri pengolahan susu.
Data produksi susu dapat diperoleh dari catatan petemak sendiri dan
mengolah data dengan baik serta menindak lanjuti berbagai masalah yang
kemungkinan memerlukan perbaikan. Petemak akan mulai dengan sistem
catatan rutin. Walaupun hal ini memiliki keterbatasan, tetapi keuntungan bagi
petemak adalah membuat diri sendiri terbiasa dengan mendalami data yang
dimiliki sehingga memahami alasan pentingnya memiliki sistem pencatatan
yang baik. Petemak sapi perah perlu mengikuti perkembangan produksi
berdasar data harian, bulanan dan selama masa pemeliharaan hewan.
1) Data produksi harian. Produksi harian merupakan catatan kinerja produksi
setiap sapi setiap hari yang harus dicatat. Hasil produksi harian merupakan
salah satu faktor terpenting untuk memutuskan kebijakan dalam mencapai
target produksi. Hasil produksi susu dapat diukur volume atau timbangan
beratnya setiap hari dengan berbagai kelengkapan timbangan yang
ada baik secara manual dengan pengukuran setiap kali hewan diperah
ataupun automatik yang telah dilengkapi dalam mesin alat perah susu.
untuk memonitor produksi. Dari hasil produksi susu harian kemudian
ditentukan pemakaian konsentrat untuk setiap sapi agar kemampuan
produksi yang diharapkan setiap dapat dipantau dan diarahkan mencapai
target. Contoh pencatatan produksi harian sebagaimana tercantum dalam
Tabel 12.2berikut.

Tabe112.2 Data produksi susu harian


Bulan: Tahun 201---
Tanggal Jumlah
Nomor Tanggal 1 2 3 4 5 -- dst 30 31 (liter)
telinga beranak p S p S p S p S p S p S p S p S p S Total
Xl
X2

Dan seterusnya mencakur seluruh individual sari dari tanggall sid tanggal30/31
Catatan: P: pemerahan pagi; S: pemerahan sore

2) Data produksi bulanan. Data produksi susu bulanan (TabeI12.3)diperoleh


dari data harian. Mulai bulan ke-1 laktasi, ke-2 dan seterusnya sampai
bulan ke-10 dari setiap sapi. Data produksi susu bulanan juga penting
untuk memilih calon sapi muda pengganti generasi sapi induk yang
sudah tua atau kurang produktif berdasar kinerja produksi induk yang
menurunkannya.

Bab 12 - Data dan Inforrnasi 187


Tabe112.3 Data produksi susu bulanan

Bulan : , Tahun
Produksi susu Total per
No Beranak
No Sapi (bulan/liter) tahun
Urut
Tg Sex 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 (liter)
01 Y01
02 Y02

Dan seterusnya mencakup seluruh sapi laktasi

3) Data produksi selama masa pemeliharaan. Agar lebih objektif dalam


memberikan penilaian kinerja produksi sapi secara individual, perlu
dilakukan pengumpulan data informasi tentang prestasi produksi secara
keseluruhan, baik dalam kondisi harian maupun bulanan dan dirangkum
dalam penilaian seumur hidupnya (Tabel12.4).

Tabe112.4 Data produksi susu selama masa pemeliharaan

Nomor sapi: .
Tahun sid tahun: .
Lama waktu Produksi Kadar
Umur
Laktasi Frekuensi (hari) (liter) (%)
tahunl
ke IBllaktasi Jumlahl Rataanl
bulan kering laktasi Protein Lemak
laktasi hari

II
III
IV
V
Total _
------------------------------~
Masih mungkin bahwa seekor sapi pada tahun pertama terlihat
produktivitasnya kurang meyakinkan tetapi ternyata pada tahun-tahun
berikutnya memperlihatkan hasil produksi yang stabil tinggi terutama
dipengaruhi oleh faktor perawatan dan kualitas pakan. Begitu pula keadaan
sebaliknya, sehingga penilaian sepanjang hidupnya akan memberi gambaran
yang lebih akurat.

188 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


Data Kesehatan Hewan
Mengundang dokter hewan untuk melakukan pengobatan dan diagnosis
di peternakan sewaktu mengalami masalah kesehatan merupakan pendekatan
yang paling sering digunakan daripada untuk melakukan kunjungan reguler.
Dengan menggunakan catatan yang ada di peternakan, dokter hewan akan
memperoleh informasi tambahan untuk analisis tentang kemungkinan
penyebab penyakit pada setiap hewan sebagai tambahan informasi untuk
mendalami kasus dengan situasi di peternakan dalam setiap kunjungan.
Informasi tentang hasil produksi, kualitas susu, tanggal perubahan terakhir
dengan status reproduksi, dan saat laktasi dan informasi umum lainnya adalah
sangat bermanfaat sebagai tambahan dari observasi tentang kondisi umum
kepemilikan sapi.

Data Kesehatan Individual


Selaras dengan akses perolehan informasi ini adalah informasi pengobatan
penyakit yang juga dilaksanakan pada setiap ekor sapi dalam peternakan.
Tentang catatan formulir hewan mengenai vaksinasi, pengobatan dan
perlakuan medis lain secara individual, riwayat kelompok dan individual yang
meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah akan menjadi efektif.
Berbagai informasi penting dicatat antara lain adalah: (a) Catatan individual
tentang pengobatan sepanjang hidup hewan, (b) Diagnosis atau status kesehatan
yang dinyatakan oleh orang bertanggung jawab untuk keseluruhan kelompok,
(c) Kesehatan ambing, penyampaian grafik kasus mastitis dan (d) Catatan
penghitungan total kuman atau total plate count (TPC) pada pemerahan
terakhir.
1) Data harian kesehatan untuk pedet. Pedet sangat rentan terkena infeksi
bakteri karena belum memiliki sistem kebal yang mampu menolak infeksi
dari lingkungan yang ada. Kesehatan harian pedet perlu dicatat dan
dimonitor setiap hari, temasuk perlakuan dalam perawatan dan hasil
pemeriksaan laboratorium serta pengobatannya (TabeI12.5).
2) Data harlan kesehatan untuk sapi dewasa. Karena perkembangan fisiologis
anatomis antara pedet dan sapi dewasa berbeda maka mereka memiliki
bentuk atau macam penyakit yang berbeda. Di samping itu, data kesehatan
juga perlu dipisahkan antara keduanya karena masalah pengelompokan
sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Catatan kesehatan harian pada
sapi dewasa (TabeI12.6) sebagaimana dalam contoh berikut.
3) Data kesehatan hewan tahunan berdasar jenis kasus. Setiap tahun perlu
dilakukan evaluasi tentang kasus penyakit yang sering dijumpai pada
kelompok ternak untuk mengetahui endemisitas setiap penyakit yang
ada. Evaluasi dimaksudkan untuk menentukan program pencegahan
dan pengendalian penyakit terutama yang bersifat menular sebagaimana

Bab 12 - Data dan Inforrnasi 189


.... e=
._.J::
-
.=; ....0~
tel 0
:I:,.Q
tel
to-o:l

....

~ .~
~ =
.........
-=~

.s..tel
rIJ
e
Z

"2
=e
Z

190 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


dalam Tabel 12.7. memuat tentang jenis kasus, prevalensi dan kejadian
serta penanggulangan yang pernah dilakukan.

Tabe112.7 Data kesehatan hewan tahunan berdasar jenis dan jumlah kasus

Tahun
No Jumlah
Bulan Jenis kasus Keterangan
urut kasus

Data Kesehatan Kelompok Hewan

Walaupun tujuan pencatatan kesehatan dengan keperluan perkembangbiakan


memiliki peranan yang berbeda dan hanya ada keterkaitan kedl dari pandangan
seorang peternak terutama dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang
mempunyai kepentingan nyata untuk menjamin kestabilan status kesehatan
sapi dan menghindari penyakit reproduksi strategis serta terkait pula dengan
upaya peningkatan mutu genetik kelompok ternak.

Bab 12 - Data dan Inforrnasi 191


Bob
BIOGAS
13

Salah satu hasillimbah yang penting dan bermanfaat adalah pembuatan


biogas untuk sumber energi yang mampu mendukung berbagai aktivitas di
lokasi peternakan. Biogas adalah bahan bakar karbon netral yang terbentuk
secara alami ketika bakteri mendegradasi material hayati dalam ketiadaan
oksigen, yaitu suatu proses yang disebut sebagai pencernaan anaerobik. Proses
terjadi oleh adanya fermentasi material organik yang bisa dicerna seperti
berbagai barang hayati, tinja, limbah rumah tangga, buangan material tanaman,
energi tanaman atau sampah perkotaan.
Oalam hal kegiatan usaha sapi perah, bahan yang dipakai adalah limbah
berasal dari kandang berupa tinja, air seni, air limbah cucian hewan dan
limbah lainnya. Bahan bakar yang terbentuk utamanya berisi gas metan (CH4),
karbon dioksida (C02) atau mungkin juga sejumlah kedl hidrogen sulfida (HS)
dan siloksan. Di dalam suatu peternakan sebagai alternatif dari penggunaan
bahan bakar minyak yang sisa pembakarannya bahkan dapat berakibat pada
terbentuknya pemanasan global, biogas dapat digunakan sebagai bahan
bakar dengan harga murah untuk memasak, penerangan listrik dan untuk
pemanas air. Kemampuan menangkap metan dalam memproduksi biogas dan
menggunakannya sebagai sumber bahan bakar adalah penting karena metan
merupakan penyumbang terjadinya pemanasan global. Untuk kepemilikan
4 ekor sapi suatu keluarga kedl peternak dapat mencukupi kebutuhan bahan
bakar keluarga yang diperlukan sehari-hari.
Kelengkapan pembuatan biogas di negara maju dibuat lebih sempurna
dengan menggunakan digester stainless steel dan sistem pencampuran yang
terdiri atas dua buah propeler stainless steel, digerakkan dengan motor listrik
yang dioperasikan oleh inverter melalui panel pengawas. Di dalam digester
dilengkapi dengan sistem pengendalian panas dan pH sehingga dapat
mempermudah dilakukan pengawasan.

193
SEJARAH PERKEMBANGAN BIOGAS
Orang telah lama diketahui mulai menggunakan metoda digesti anaerobik
untuk pembakaran. Lebih dari 3.000 tahun yang lalu biogas telah digunakan
sebagai sarana untuk memanaskan air. Tahun 1776 Alessandro Volta telah
mengembangkan teknologi biogas dan menjadi orang pertama membuktikan
terbentuknya gas metan sebagai hasil proses fermentasi untuk bahan bakar.
Lebih lanjut dan Becham pada tahun 1868 menjadi orang pertama yang
menjelaskan peranan jasad renik dalam menghasilkan gas metan. Pada akhir
abad ke-19biogas mulai dikembangkan menggunakan teknologi tepat guna
yang diperoleh dari pengolahan fasilitas limbah lampu jalanan di Exeter,Devon
kerajaan Inggris. Pada tahun 1950-an biogas telah dirubah dan digunakan
untuk dipakai sebagai bahan bakar mobil di Jerman.
Di dalam abad ini biogas telah dipakai secara luas oleh masyarakat dunia
terutama di beberapa negara berkembang antara lain yang cukup menonjol
adalah di India, Cina dan Kostarika. Di Indonesia pemerintah telah sejak lama
memperkenalkan teknologi biogas kepada masyarakat peternak terutama di
tahun 1980-1990,namun dalam perkembangannya mengalami pasang surut, dan
sampai dewasa ini tidak berkembang dengan baik. Banyak percontohan biogas
yang diselenggarakan oleh pemerintah dan pada awalnya telah berfnngsi dengan
dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga atau dalam suatu kelompok
peternak, tetapi dalam perkembangannya telah ditinggalkan dan tidak lagi
dimanfaatkan. Salah satu kendala utama adalah tidak dilakukannya perawatan
digester beserta perlengkapan instalasinya dengan baik secara rutin. Namun
demikian, beberapa peternak sapi perah masih bertahan menggunakan biogas
untuk keperluan rumah tangganya, walaupun jumlahnya sangat sedikit.

GAS METAN
Secara alamiah limbah budi daya hewan tidak lepas dari terjadinya proses
fermentasi secara anaerobik dan terjadinya pelepasan gas metan ke udara
selama proses pembusukan berlangsung. Lepasnya gas metan ke udara
ini dapat dilakukan pengaturan untuk dimanfaatkan, di mana sebelumnya
dikumpulkan sementara di dalam suatu wadah penampung sebagai energi
bahan bakar.

Terbentuknya Gas
Melalui mekanisme pengaturan menggnnakan konstruksi digester pengolahan
limbah, gas metan dapat dipakai sebagai sumber energi untuk aktivitas rumah
tangga dan keperluan lainnya. Gas metan yang awalnya terjadi secara alami
ditangkap dan dialirkan masuk ke dalam suatu wadah penampung plastik
yang bisa mengembang kemudian dipergunakan sebagai sumber bahan bakar

194 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


yang bersih dan tidak beracun sehingga tidak menjadi ancaman terhadap
polusi lingkungan. Biogas juga dapat dibersihkan dan ditingkatkan menjadi
gas alami biometan.

Sumber Bahan Baku Gas


Gas metan dapat berasal dari berbagai sumber bahan baku dengan persentase
kandungan yang bervariasi, tergantung pada bahan pakan yang dimakan dan
jenis hewannya. Beberapa nilai kandungan gas metan pada tinja dari berbagai
macam hewan serta jenis limbah yang dipakai untuk biogas dapat disimak
di Tabel 13.1.

Tabel13.1 Kandungan gas metan dalam tinja dan berbagai jenis limbah organik

No. Bahan baku pembuatan gas Gas metan (%)


1. Tinja sapi 65%
2. Tinja ayam 60%
3. Tinja babi 67%
4. Tinja hewan piara 55%
5. Jerami 59%
6. Rumput 70%
7. Daun-daunan 58%
8. Limbah dapur 50%
9. Ganggeng 63%

Manfaat
Dengan dapat digunakannya gas metan sebagai sumber bahan bakar,
menjadikan biogas juga berfungsi sebagai alternatif energi yang murah dan
mengurangi tuntutan keperluan bahan bakar minyak bagi rumah tangga yang
menggunakannya. Beberapa manfaat yang diperoleh dengan penggunaan
biogas adalah sebagai berikut.
a. Mengurangi ketergantungan minyak bumi. Tersedianya bahan bakar biogas
dapat sedikit menggeser ketergantungan dari minyak bumi. Penggunaan
biogas juga dapat bermanfaat dalam penurunan emisi gas CO2.
b. Sebagai tenaga penggerak mesin dan motor. Dengan sentuhan teknologi,
biogas dapat dimampatkan seperti halnya pada gas alami, dan dipergunakan
untuk tenaga penggerak motor untuk kendaraan. Di Inggris produksi biogas
yang ada diperkirakan memiliki potensi sebesar 17% sebagai pengganti
bahan bakar kendaraan. Dalam perkembangannya diharapkan pada suatu
saat dapat mencukupi sebagian kebutuhan energi baru di beberapa belahan
dunia.
c. Hasil samping pembuatan biogas sebagai pupuk organik. Di dalam proses
produksi biogas juga dapat diperoleh hasil samping berupa pupuk kandang

Bab 13 - Biogas 195


organik yang kaya akan nutrisi untuk tanaman. Sluri yang melimpah keluar
dapat digunakan sebagai pupuk tanaman dan kaya akan kandungan
N, P dan K yang bermanfaat misalnya untuk memupuk rumput. Pada
petemakan dengan jumlah populasi sapi yang banyak, pupuk ini bila
dikelola dengan baik bahkan memiliki nilai jual yang menjanjikan. Salah
satu petemakan sapi perah di Karanganyar dan Sragen Provinsi Jawa
tengah bahkan berhasil mengarahkan produksi pupuk organik sebagai
tujuan utama usaha, di samping hasil samping susu.

PEMBUATAN BIOGAS
Petemakan sapi perah merupakan tempat yang ideal untuk membuat
biogas karen a memiliki limbah kandang yang banyak untuk diproses setiap
saat dan dengan kondisi limbah yang setengah cairoKonstruksi bangunan
untuk pembuatan biogas termasuk sederhana, dan tidak memerlukan teknik
pembuatan yang terlalu rumit, dan bisa dengan menggunakan batako. Yang
penting untuk diperhatikan adalah aliran limbah yang memfasilitasi dilakukan
pencampuran, aliran menuju digester,keluamya sluri dan luapannya. Di samping
itu, diberikan fasilitas "pembantu" untuk pengadukan campuran limbah
kandang sebelum masuk biodigester, dipasangnya aliran gas yang dihasilkan
serta tempat pengambilan dan pengeluaran luapan sluri.

Rancang Bangun
Ukuran bangunan untuk biogas bervariasi tergantung dari kebutuhan dan
ketersediaan limbah. Untuk ukuran rumah tangga atau komunitas kecil dapat
dengan hanya menggunakan bahan tinja sekitar 50 kg tiap hari yang berasal
dari sekitar 3 ekor sapi. Contoh rancang bangun suatu konstruksi untuk tangki
pembuatan biogas dapat dilihat pada Gambar 13.1.
Setiap hari limbah tinja bercampur air ditambahkan ke dalam sistem melalui
pintu masuk (inlet) yang tersedia. Apabila campuran tinja dan air dalam
tanki fermentasi ada pada level yang sarna dengan ruang atau pip a keluar,
campuran tinja-air yang dimasukkan ke dalam digester melalui inlet kemudian
akan meneruskan dorongan dan mendesak massa cair dengan volume yang
sarna, keluar melalui ruang keluar (outlet) dan masuk ke tangki luapan sluri
atau pengumpul. Massa yang keluar inilah yang telah dapat digunakan untuk
pupuk sebagai hasil yang diperoleh di samping biogas.
a. Tangki pencampur. Kotoran sapi yang masih segar, secara fisik terdiri atas
16% material padat dan 84% cairoSebelum masuk ke dalam biodigester,
semua limbah dari kandang seperti tinja, air seni dan air bekas untuk
membersihkan dan memandikan sapi disalurkan melalui selokan masuk
ke dalam tangki pencampur. Air diperlukan untuk merubah masa hayati

196 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


-? GAS KE LUAR
Kran untuk gas

Tangki
.....-__ ......
Iuapan

Gambar 13.1 Sebuah contoh rancang bangun tempat produksi biogas

pad at menjadi larutan dan ruangan digester yang tertutup rapat menciptakan
kondisi di dalamnya menjadi anaerobik.
b. Ruang pemasukan atau pintu masuk (inlet). Tergantung pad a kepadatan dan
homogenitas masa limbah yang masuk ke inlet, bila tidak tercampur secara
baik mungkin perlu dibantu dengan pengadukan untuk mempermudah
limbah masuk ke dalam. Di dalam inlet, limbah kandang diharapkan telah
tercampur sempurna antara bahan padat dan cair sehingga memungkinkan
sedikit demi desikit terjadi aliran limbah yang melanjut ke dalam
digester.
c. Biodigester. Pada tahap awal tinja dikumpulkan, dicampur air dan
dimasukkan ke dalam biodigester. Tangki digester adalah sumuran dibuat
di dalam tanah dengan bentukan kubah di bagian atasnya (Gambar 13.2)
dan dilengkapi pipa paralon atau galvanis serta dipasang kran pengatur
gas, terletak di ujung paling atas kubah untuk memfasilitasi gas yang
terbentuk dapat mengalir ke bagian yang dituju. Di dalam tangki inilah
terjadi proses fermentasi oleh organisme mikro pada setiap limbah atau
kotoran kandang yang berupa campuran tinja sapi dan air seni serta air
limbah yang lain, berasal dari tangki pencampur melewati inlet.
Sluri terbentuk setelah kotoran kandang berada di dalam digester dan
mengalami fermentasi membentuk gas. Sluri berbentuk menyerupai
bubur atau lumpur yang terbentuk setelah kotoran mengalami fermentasi

Bab 13 - Biogas 197


di dalam biodigester (alat pembuat biogas). Sluri memiliki bahan padat
sebanyak 8% dan air 92%.
Panas optimal biodigester adalah 36° C yang dengan kondisi temperatur
ini secara cepat berpengaruh pada peningkatan aktivitas mikroorganisme
anaerobik.
Proses ini memerlukan waktu bagi organisme mikro untuk memperbanyak
diri dan menyebar ke seluruh sluri. Bangunan biodigester dibentuk
sedemikian rupa sehingga hanya sluri yang telah tercerna sempurna
dapat meninggalkan ruangan ini dengan cara meyakinkan bahwa sluri
di dalam biodigester memiliki aliran yang terselenggara baik dan tidak
terjadi penyumbatan. Bakteri dapat terdistribusi di dalam sluri dengan
cara mengaduknya. Pengadukan tidak boleh terlalu sering dilakukan
karen a bakteri perlu waktu cukup untuk makan dan berbiak. Yang paling
baik adalah pengadukan secara perlahan dan dilakukan setiap kurang
lebih empat jam. Ketika tinja terfermentasi, gelembung metan cenderung
menekan sluri ke bawah. Gas yang terjadi akan naik menuju ke bagian atas
tangki temp at gas kemudian dapat diarahkan terkumpul dan dengan pipa
dialirkan menuju tempat yang diinginkan untuk dipergunakan sebagai
bahan bakar misalnya untuk kompor atau lampu penerangan.

Gambar 13.2 Sebuah contoh kubah dari instalasi produksi biogas yang terlihat di
atas permukaan tanah

Pintu/ruang keluar (outlet). Dengan semakin banyaknya gas metan


yang terbentuk oleh proses fermentasi limbah di dalam digester, sluri yang
terbentuk di dalam digester akan tertekan ke bawah masuk ke dalam outlet
yang dilengkapi dengan saluran masuk ke dalam tangki penampung luapan
dari digester. Sluri yang berada di dalam tangki luapan dapat dikumpulkan
menjadi pupuk organik yang berkualitas baik untuk tanaman.

198 Budi Daya Sapi Perah - Jilid 2


Wadah Penampung Gas
Tempat penampungan gas yang dihasilkan merupakan komponen kedua
yang penting dalam pemanfaatan gas yang dihasilkan. Wadah ini memiliki
elastisitas yang baik, biasanya terbuat dari plastik yang dapat mengembang,
sehingga mampu menampung banyak gas yang masuk ke dalam wadah
tersebut. Penempatannya dapat dengan ditaruh di atas bangunan semacam
panggung dari bambu atau kayu atau ditempatkan di dalam tanah seperti
dalam Gambar 13.3.

Gambar 13.3 Sebuah kantung plastik jumbo dipergunakan sebagai penampung gas,
(A) diletakkan di atas panggung dari bambu dan (B) dalam tanah

Pipa Saluran Gas


Pipa gas dipasang mulai dari kubah biodigester menuju tempat gas akan
dipergunakan. Pipa keluar dari biodigester dilengkapi dengan keran untuk
mengatur aliran gas dan bila dilakukan perbaikan saluran untuk keperluan
perawatan. Uap yang terjadi di dalam gas dilakukan mekanisme pengumpulan
atau perangkap air pada saluran gas. Pipa yang berada di temp at terbuka
harus tahan terhadap sinar ultraviolet.

MANAJEMEN BIOGAS
Semua bahan pakan terdiri atas sejumlah besar karbon (C) dan kandungan
nitrogen (N). Selama proses digesti gas nitrogen dirubah menjadi amonia
(NH3). Biogasmemiliki berat sedikit lebih ringan dibanding udara dan memiliki
temperatur pembakaran kmang lebih 700 C yang berarti 2 kali lipat lebih
0

tinggi dibanding minyak disel dan juga lebih tinggi dari minyak tanah dan
propane dengan panas sekitar 500 C. Panas dari api biogas adalah 870 C.
0 0

Secarakcseluruhan biogas terdiri atas sekitar 60%metan (CH4) dan 40%karbon

Bab 13 - Biogas 199


dioksida (C02) dan juga mengandung sejumlah keeil kandungan substansi
lain termasuk lebih dari 1% hidrogen sulfida (H2S).

Kegunaan
Biogas memiliki banyak keuntungan dan kegunaan untuk rumah tangga
dan komunitas. Pertama berfungsi ganda sebagai sumber bahan bakar murah
dan alat sanitasi limbah. Untuk peternakan sebagai salah satu upaya untuk
mengatasi pembuangan limbah, mengurangi bau dan menunjang pembuatan
pupuk organik yang laku jual. Biogas juga dapat dipakai untuk kompor.
Oleh karena biogas dinyalakan tanpa asap, untuk penggerak mesin diesel, di
peternakan untuk pendingin tanki susu atau memompa air. Tahun 2005, Cina
memiliki 17juta digester dan 50 juta orang pedesaan memperoleh keuntungan
dari membangun biogas. Karena biogas seeara fisik menyempai gas alam,
maka dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk kendaraan. Namun untuk
keperluan ini memerlukan sejumlah besar energi untuk memenuhi target
keluaran energi yang dapat digunakan.

Kewaspadaan
a. Gas mudah menguap. Kekurangan dan hambatan dari biogas rumah
tangga adalah masalah keselamatan oleh sifat dari bahan yang dapat dan
mudah menguap. Campuran biogas berisi lebih dari 50% metan adalah
mudah terbakar. Oleh sebab itu, api tidak boleh berada atau digunakan di
dekat digester atau alat listrik karena peka terhadap kemungkinan terjadi
ledakan. Sebagai tambahan, daerah digester hams memiliki ventilasi baik
untuk memperkedl risiko api dan terjadi letusan. Di temp at tersebut
sebaiknya dipasang tanda peringatan untuk tidak menggunakan api atau
merokok.
b. Potensi mengganggu kesehatan. Risikolain terkait dengan masalah kesehatan
petugas. Limbah eampuran air seni dan tinja adalah potensial untuk
penularan penyakit karena limbah hewan dapat bertindak selaku media
yang menularkan penyakit. Petugas hams berhati-hati dan menghindari
kontak langsung dengan isi digester dengan menggunakan sepatu boot
dan sarung tangan. Seusai penanganan digester, maka tangan dan kaki
hams dicud bersih atau mandi menggunakan sabun.

Biaya
Oleh karena biaya perawatan rendah, biaya utama untuk pembuatan biogas
rumah tangga adalah biaya konstruksi, pemasangan dan perawatan instalasi
dan penampung gas. Untuk ukuran kedl tidak diperlukan penampung gas
seeara khusus. Biayabervariasi berdasar lokasi, pereneanaan sistem dan ukuran.

200 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Perkiraan biaya untuk ukuran rumah tangga adalah Rp. 2.500.000,- (tahun
2009) tergantung pada situasi kondisi harga bahan dan tenaga di lokasi.

Komposisi Biogas
Komposisi biogas bervariasi tergantung dari sumber bahan yang dipakai.
Pengolahan limbah yang maju dapat memproduksi biogas dengan 55-75%
CH4 atau lebih menggunakan teknologi pemumian. Ketika diproduksi biogas
mengandung uap air. Dalam beberapa keadaan bisa mengandung siloksan
(siloxanes). Siloksan ini terbentuk dari pembusukan anaerobik seperti pada
material yang sering dijumpai di sabun dan detergen. Selamapembakaran biogas
terisi siloksan yang kemudian terjadi pelepasan silikon dan dapat bergabung
dengan oksigen bebas atau bervariasi elemen pada saat pembakaran gas.
rs,
Timbunan terutama mengandung silikon (SiO2) atau silikat x Oy) dan juga
dapat berisi Ca, S, Zn, P. Mineral putih ini tertimbun di permukaan dengan
ketebalan beberapa milimeter dan untuk membersihkannya harus dilepas
menggunakan bahan kimia atau secara mekanik.

Tabe113.2 Komposisi dan persentase bahan kimia dalam biogas

No Bahan Kima %
1. Methane CH4 50-75
2. Karbon dioksida CO2 25-50
3. Nitrogen N2 0-10
4. Hidrogen H2 0-1
5. Hidrogen sulfida H2S 0-3
6. Oksigen O2 0-0

Metan dari biogas dapat dikonsentrasikan menggunakan sebuah "peng­


upgrade biogas" menjadi bahan dengan standar yang sarna seperti gas alam
menjadi biometan.
Gas harus menjadi sangat bersih untuk mencapai saluran pipa, dan harus
berada dalam komposisi yang benar untuk diijinkan ke jaringan distribusi
lokal. Kalau ada karbon dioksida, air, hidrogen sulfida dan partikulat
harus dihilangkan. Apabila gas dikonsentrasikan dan dimampatkan dapat
digunakan juga untuk penggerak mesin transportasi kendaraan. Contoh
biogas yang dimampatkan telah digunakan secara luas di Eropa misalnya
Swedia, Switzerland dan Jerman. Kereta dengan kekuatan biogas telah dipakai
untuk pelayanan umum di Swedia sejak 2005. Tahun 1974 Inggris juga pemah
memakai bahan biogas untuk mobil dan diproduksi dari tinja babi sebagai
pembakaran mesin.

Bab 13 - Biogas 201


Daftar Pustaka

Akoso, Budi Tri dan Witono, S., Subekti, w., Wicaksono, S. [Link] Investigation of
anAnthrax dalam: Dairy Cattle and its Invironmental Effects. VI th International
Symposium WorldAssociation of VeternaryLaboratorium Diagnostician. Lyon,
Perancis: Palais des Congress Internationaux.
Akoso, Budi Tri. 1996. Kesehatan Sapi. Panduan bagi petugas teknis, mahasiswa,
penyuluh dan petemak. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Akoso, Budi Tri. 2011. Epidemiologi dan Pengendalian Anthrax. Penyakit Menular
pada Hewan dan Manusia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Anonim. 2008. Artificial Insemination. Portal. India. Tamil Nadu Agricultural
University.
Anstis, Amy. 2010. Metabolic diseases. Gatton. Queensland. Australia.
Department of Employment Economic Development and Innovation. University
of Queensland.
Anstis, Amy. 2010. Retained Placenta. Gatton. Queensland. Australia. Department
of Employment, Economic Development and Innovation. The State of
Queensland.
Black, David. 2007. Uterine Prolapse in the Cow. Penrith. Cumbria. Inggris. Paragon
Veterinary Group. The Pen talk Network Agricultural Hall.
Blood, D.C. dan Studert, V.P. [Link] Comprehensive Veterinary
Dictionary, 3rd ed. New York. Amerika Serikat. Amazon.
Bradely, A.J. Huxley, J.N dan Green, M.J. 2002. The Changing Role of Dry Cow
Therapy. Past, Present and Future. Cattle Practice. 10: 3, 191-196.
Clark, Gary., Neville Grace dan Ken Drew. 2011. Bloat. Diseases of sheep, cattle
and deer. New Zealand. The Encyclopedia of New Zealand.
Dave, T. [Link] Dairy CattleHealth in WetConditions. Southbank, Victoria.
Dairy Australia.
Dean Malvick. 2007. Aspergillus ear rot, caused by thefungus Aspergillusflavis. St.
Paul. Minesota Crop News. University of Minesota.
Del Voight, 2009. Corn Ear Molds and Leaf Diseases. Ames. Amerika Serikat. Iowa
State University.

203
Deublein, Dieter., Angelika Steinhauser. 2008. Biogas from Waste and Renewable
Resource. An [Link]. Jerman. John Wiley and Sons, Inc.
Fricke, Paul M. 2000. Managing Reproductive Disorders in Dairy Cows.
Disampaikan pada: ND Dairy Cow College. Madison. Amerika Serikat.
Department of Dairy Science. University of Wisconsin.
Fujita, Teruhide.1994. Color Atlas of Animal Diseases. Tokyo. Jepang. Animal
Health division. Bureau of Animal Industry.
Green dkk. 2002. Frequency of new coliform intramammary infections during the
lactation cycle. Richboro. Dairy Practice Council. Amerika Serikat.
Gunawan, Ediyati, W., Djodi, HS., Rohadi, W., Nasir, M., Anelia, E.,Fauziah MH.,
Rachmiyati, D. Tri, M dan Pancaputra, B. 2009. Prosedur Baku Pelaksanaan
Produksi Bibit pada Usaha pembibitan Sapi perah. Jakarta. Direktorat
Perbibitan Ditjen Peternakan.
Irsik, M.B., Courtney, c., dan Richey, R.D. 2008. The common liverfluke (Fasciola
hepatica) is recognized as one of the most damaging parasites in Florida cattle.
Florida. Amerika Serikat. University of Florida.
Kennedy, J.M. 2007. Coccidiosisis a Common parasitic Protozoan Disease in Cattle,
Particularly Weaned Calves. Alberta. Kanada Alberta Agriculture and Food.
Laven, Richard. 2011. BeefAnimal Health. Retained Placenta. CoffsHarbour, NSW.
Australia. Informed Farmers.
Lishman, A.W. 2010. The Cow's Udder and Milk Secretion. Kwazulu. Department
of Animal Science, University of Natal.
Malvick, Dean. [Link] ear rot, caused by the fungus Aspergillus flavis.
St. Paul. Amerika Serikat. Minesota Crop News, University of Minesota.
Mercado, Rafael T. 2008. Trypanosoma evansi. The agent of Surra. Mindanao.
Filipina. Mindanao Unified Surra Control.
Mills, Arlen. 2008. Colostrum Management. Pennsylvania. Amerika Serikat.
Pennsylvania State University.
Murray J. Kennedy, 2007. Coccidiosis in Cattle. Food Safety Division, Alberta,
Kanada. Agriculture and Food. Ropin The Web.
O'Toole, Donal. 2011. Malignant Catarrhal Fever. Wyoming. Amerika Serikat.
Veterinary Laboratory, Department of Veterinary Science. University of
Wyoming.
Porter, Valeria. 1996. Mason s World Dictionary of Livestock Breeds, Types and
[Link] Edition. [Link].B International.
Shearer, J.K dan VanHorn, H. H. 2011. Metabolic Diseasesof Dairy Cattle. Florida,
Amerika Serikat. College of Veterinary Medicine. Department of Animal
Sciences.
Wattiaux, M.A. 2011. Lactation and Milking. Dairy Essentials. Wisconsin. Amerika
Serikat. University of Wisconsin.
Weaver, David dan Moseley, Bonnard. 2012. Displaced Abomasum. Missouri.
Amerika Serikat. College of Veterinary Medicine. University of Missouri.

204 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Whittemore, C.T. 1980. Lactation of the dairy cow. New York, Amerika Serikat.
Longman.
Whittier, Jack C. 2011. Assisting the Beef Cow at Calving Time. Department of
Animal Sciences. Missouri, Amerika Serikat. Collegeof Veterinary Medicine,
University of Missouri.

Daftar Pustaka 205


Glosarium

Ungkapan kalimat dalam buku ini telah diupayakan untuk menggunakan


seminimal mungkin istilah asing agar mudah dipahami oleh pembaca yang
mungkin di luar bidang keahliannya atau bagi pemula melakukan pemahaman
dalam bidang kesehatan hewan dan peternakan khususnya masyarakat luas.
Beberapa istilah ada yang tidak dapat dihindari karena ada kata atau istilah
yang tidak lazim disampaikan atau diucapkan dalam bahasa Indonesia,
sehingga terpaksa disampaikan dalam istilah sesuai aslinya, umumnya istilah
medis, bahasa latin atau Inggris. Untuk membantu memahami berbagai istilah,
di bawah ini disajikan sejumlah istilah dalam rangkuman kosakata sebagai
penuntun untuk lebih memahami isi dari buku ini.

Abortus lahir perematur, lahir belum saatnya.


Abses absces; Pernanahan atau terdapatnya timbunan
nanah yang terkumpul dalam suatu ruangan atau
rongga di dalam jaringan, organ atau bagian dari
tubuh yang terbentuk karena terjadi kerusakan
jaringan. Sering hal ini disebabkan oleh infeksi
bakteri.
Adenopati suatu pembesaran kelenjarterutama nodus limfatikus
yang ditandai oleh pembengkakan dari kelenjar
limfe.
Aerobik suatu organisme mikro yang untuk kehidupannya
memerlukan udara atau oksigen bebas.
Akut kejadian penyakit yang prosesnya terjadi secara
cepat.
Anatomi ilmu urai tubuh.
Anthrasidal substansi yang mampu membunuh Bacillus
anthracis.
Asidosis kenaikan berlebihan derajat keasaman (dalam
rumen).

207
Bakteri atau bakterium; suatu organisme uniseluler yang
biasanya memiliki dinding kaku dan digolongkan
menjadi bentuk kokus, oval dan batang atau basilari
dan spiral atau spiroketal.
Bendung keadaan sewaktu darah tertahan secara berlebihan
dalam pembuluh.
Bibit sapi perah semua sapi perah hasil pemuliaan ternak
yang memenuhi persyaratan untuk
dikembangbiakkan.
Biosekuriti keamanan hayati; yaitu suatu perlakuan ditujukan
untuk menjaga kehidupan demi kelangsungan
kesehatan prima melalui tindakan kebersihan dan
desinfeksi sehingga memperkecil risiko ancaman
jasad renik terhadap individu yang dilindungi.
Birahi keadaan di mana hewan menunjukkan keinginan
dan siap kawin.
Bruselosis brucellosis: penyakit menular penyebab keguguran
atau abortus.
Bufer cairan tubuh (misalnyaAir liur) dari pakan tambahan
yang menurunkan keasaman dalam rumen; asam
sederhana dan larutan buffer alkalin menerangkan
cara kerjanya.
Busung atau udem; keadaan terdapat penyusupan atau
timbunan cairan tubuh secara berlebihan di dalam
jaringan, bagian dari jaringan atau rongga.
Chemoresistant kemoresisten; keadaan ketika jasad renik tidak lagi
peka terhadap bahan kimia yang dipakai untuk
mematikannya karena sudah tahan akibatpemakaian
yang berulang dan dalam waktu panjang.
CMT California Mastitis Test; sebuah uji cepat terhadap
mastitis.
CSF cerebro spinal fluid: cairan serebrospinal; cairan di
dalam ventrikel serebral dan di antara selaput
arachnoid, piamater otak dan sumsum tulang
belakang.
Dara sapi muda betina yang telah dewasa dan belum
pernah bunting.
Dehidrasi keadaan tubuh kekurangan cairan.
Dekontaminasi suatu tindakan, perlakuan, atau keadaan yang
bertujuan untuk penghilangan atau menawarkan
kontaminasi.

208 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Demam kenaikan suhu tubuh melebihi normal tergantung
pad a jenis hewan; Suhu tubuh normal pedet adalah
39,5° C atau 103,1°F; di atas umur 1 tahun sampai
dewasa 38,5° C atau 101,3°F.
Desinfektan substansiyangmemiliki kemampuanmenghancurkan
agen infeksi penyebab penyakit; atau berkhasiat
meniadakan infeksi.
Diagnosis penyimpulan berbagai temuan uji klinis, laboratoris
dan epidemiologis untuk mengungkapkan masalah
atau kondisi kesehatan hewan atau orang.
Distokia peristiwa kesulitan dalam proses melahirkan.
Digester struktur bangunan utama berbentuk tangki dalam
memfasilitasi terjadi fermentasi pada proses
pembuatan biogas.
Ekskreta material buangan yang dikeluarkan oleh organisme
atau tubuh hewan.
Eksitasi keadaan hewan mengalami kegelisahan yang
nyata.
Eliminasi usaha untuk menyisihkan atau mengeluarkan
hewan dengan kondisi kesehatan atau faktor syarat
tertentu dari kelompok.
Endemi (s) penyakit yang ada dan muncul di salah satu daerah
dengan intensitas yang kurang-lebih konstan, terjadi
setiap waktu atau tahun secara rata-rata.
Epidemi (s) status jenis penyakit tertentu di suatu daerah di mana
terjadi lonjakan kasus melebihi kejadian tahunan,
atau munculnya penyakit menular di suatu daerah
yang semula belum pernah terjadi.
Epidemiologi ilmu yang mempelajari kejadian dan penyebaran
penyakit dalam suatu populasi di suatu daerah
beserta faktor yang memengaruhi.
FAG singkatan dari: Food and Agriculture Organization
of the United Nations; Suatu organisasi dalam
struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang
mendokumentasikan statistik pertanian, terutama di
negara miskin di dunia berpusat di Roma, Italia.
Fagositosis peristiwa sebuah sel atau lebih mempunyai
kemampuan untuk menelan dan mencernakan
partikel lain atau yang asing atau sel yang
berpengaruh jahat pada tubuh.
Faringitis radang tenggorokan (faring).

Glosarium 209
Fatal sesuatu yang berakibat mematikan.
Fisiologi ilmu faal.
Fungi bentuk jamak dari fungus, yaitu tingkatan rendah
dari kehidupan tanaman dan merupakan bagian
dari Thallophytes bercirikan tanpa klorofil, termasuk
dalam kelompok kelas Phycomycetes, Ascomycetes,
Bacidiomycetes, dan Fungi imperfecti.
Gastroenteritis peradangan yang terjadi pada lambung dan usus.
Hemoglobinuria keluarnya atau bercampurnya hemoglobin bersama
urine.
Hemoragis perubahan keadaan jaringan yang mendarah.
Higiene ilmu yang terkait dengan kesehatan atau cara
menjaganya.
Higienis untuk menyatakan arah sehat atau menjaga
kesehatan.
Hiperemi bendung darah, yang ditandai oleh warn a merah
atau kemerahan pada jaringan akibat tertampungnya
darah secara berlebihan jumlahnya dalam
jaringan.
Hipersensitif reaksi tubuh yang menjadikan sangat sensitif
terhadap keadaan yang baru.
Hipotalamus organ di dalam otak berperan sebagai pusat
koordinasi aktivitas reproduksi dan berbagai bentuk
perubahan, bertanggung jawab untuk pembentukan
gonadotrophic releasing hormone (GnRH).
Histologi cabang ilmu hayati yang mempelajari tentang
struktur jaringan.
Homologous sarna dengan (dalam konteks vaksin) subtipe virus
penyebab penyakit.
Hormon bahan kimia diproduksi oleh kelenjar tertentu untuk
mengatur kerja dan fungsi tubuh.
Hospes inang; induk semang suatu badan organik atau
individu hewan atau orang temp at jasad renik atau
parasit hidup.
Imunitas kekebalan terhadap penyakit.
Inang hospes; induk semang; orang, hewan atau badan
organik tempat jasad renik atau parasit hidup.
Induk semang hospes; inang.
Indung telur ovarium.

210 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Infark perubahan patologik jaringan disebabkan oleh
penyumbatan aliran darah sehingga mengakibatkan
kerusakan atau kematian bagian jaringan yang
terhenti dari seharusnya menerima aliran darah.
Influenza penyakit infeksi pernapasan akuta atau menahun
yang disebabkan oleh virus, biasanya menimbulkan
wabah ditandai oleh sakit kepala, demam, keluar
ingus dan sesak nafas.
Inkubasi masa tunas; suatu masa sejak masuknya agen
penyakit sampai menjadi sakit dan menimbulkan
gejala klinis.
Insulin hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas,
fungsinya untuk mencerna gula dalam darah.
Interval beranak selang beranak; periode di antara dua kelahiran
pedet berturut-turut.
Intramuskuler sebutan untuk menyatakan keberadaannya di dalam
jaringan. Misalnya, penyuntikan dilakukan secara
intramuskuler, yang berarti dimasukkan ke dalam
jaringan otot.
Invivo menyatakan berada di dalam tubuh individu
hidup.
Iradiasi pengobatan melalui penyinaran, baik dilakukan
dengan menggunakan sinar x atau isotop radio.
II-! international unit. Suatu unit ukuran berlaku
internasional biasa digunakan untuk vitamin.
Jasad renik suatu organisme mikro atau sangat kedl sehingga
tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.
Jejas disebutjuga lesi;merupakan penyimpangan bentuk
struktur atau fungsi jaringan, atau organ atau bagian
organ dari keadaan normalnya disebabkan oleh
penyakit atau infeksi, biasanya dalam pengertian
perubahan morfologi.
Karantina isolasi hewan sakit; tempat sementara untuk hewan
yang masih bam tiba dan akan dimasukkan ke dalam
kumpulan kelompok; pengasingan hewan untuk
mencegah masuknya hewan lain ke dalam tempat
atau kandang atau daerah yang ditentukan.
Kasein protein susu.
Kemih air seni, urine.

Glosarium 211
Kering (masa) istilah banyak dipakai pada sapi perah yang
menyatakan suatu mas a atau waktu ketika sapi
tidak memproduksi susu lagi, dan hal ini terjadi
pada akhir masa laktasi.
Kolik rasa sakit yang sangat dan akuta pada bagian perut,
biasanya hewan sampai terguling-guling.
Kolostrum susu pertama yang dihasilkan oleh hewan setelah
melahirkan berwama kekuningan, kaya nutrisi dan
mengandung banyak vitamin, pencahar dan antibodi.
Berbeda dengan susu biasa, konsistensi kolostrum
lebih kental dan berwama kekuningan.
Konsistensi untuk menyatakan derajat kepadatan, kekenyalan
dan kelekatan.
Konstipasi sembelit; kondisi untuk pengosongan saluran
pencemaan memerlukan interval lama atau kesulitan
dalam buang air besar.
Konvulsi gejala gangguan saraf ditandai oleh kejang-kejang;
perubahan kontraksi perototan umum yang
dapat berupa tonik atau klonik, atau tonik diikuti
klonik.
Kronis bersifat menahun (penyakit); suatu penyakit atau
radang yang proses kejadiannya memerlukan
waktu lama.
Kumlah lubang alami di dalam tubuh hewan.
Laktasi periode antara saat hewan melahirkan anak sampai
saat berhenti memproduksi air susu.
Laring organ suara yang terletak di antara trakhea dan
pangkallidah.
Lesi jejas.
Limfe cairan tubuh yang berada di dalam saluran limfe.
Limpoglandula kelenjar limfe.
Lisis kerusakan integritas jaringan; kehancuran dari sel
atau jaringan.
Makroskopis dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa alat
bantu misalnya dengan mikroskop.
Mamalia jenis hewan menyusui.
Masa inkubasi waktu yang diperlukan jasad renik mulai dari
saat masuk ke organ atau jaringan tubuh sampai
menimbulkan gejala penyakit.
Meningitis peradangan di selaput otak.
Meningoensefalitis peradangan otak dan selaput otak.

212 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Mortalitas kematian.
Motil bergerak, atau kemampuan untuk bergerak.
Mikroba mikro organisme yang hidup dalam rumen dan
mencerna rangsum hijauan.
Mikroskopis menyatakan objek yang sangat kedl sehingga untuk
melihatnya memerlukan bantuan alat utamanya
mikroskop.
Miokarditis perubahan patologis berupa peradangan otot
jantung.
Morbiditas angka kesakitan akibat pendedahan oleh jasad renik
penyebab penyakit.
Mortalitas angka kematian yang terjadi sebagai akibat
penyakit.
Motilitas pergerakan.
Mudigah istilah Indonesia, yang berarti embrio, atau janin.
Suatu calon makhluk yang masih berada di tingkat
pertumbuhan awal
Mutasi terjadi perubahan bentuk atau sifat.
Nekropsi bedah bangkai, tindakan membedah bangkai atau
mayat yang bias a dilakukan oleh seorang patolog,
dimaksudkan untuk mengetahui perubahan jaringan
akibat penyakit atau kelainan jaringan tertentu.
Nekrosis kerusakan jaringan atau bagian jaringan yang
disebabkan oleh kematian sel-selyang menyusunnya
di dalam organisme hidup.
Nekrotis keadaan patologis ditandai kematian jaringan.
NH3 ammonia.
OIE Office International des Epizooties: Organisasi Kesehatan
Hewan Dunia berpusat di Paris, Prancis.
Otoritas Veteriner kewenangan yang dimiliki oleh dokter hewan atau
kelompok profesi dokter hewan untuk melakukan
kegiatan profesi atau memberikan keputusan medis
sesuai dengan kompetensinya.
Ovarium disebut juga indung telur pada hewan betina
berfungsi untuk memproduksi getah eksternal
dan internal. Getah eksternal dihasilkan oleh telur
(ovarium), sedangkan getah internal oleh folikel
yang berisi hormon estrogen.

Glosarium 213
Ovum atau sel telur adalah sel garnet betina yang dihasilkan
oleh ovarium. Ovulasi terjadi ketika salah satu atau
adakalanya dua sel telur di dalam folikel indung
telur telah masak sempuma dan melepaskan diri
dari ovarium.
Pandemi peristiwa letupan dan penyebaran penyakit menular
yang terjadi secara cepat dan melintas secara luas
melewati batas negara dan benua.
Paramedik veteriner paramedis kesehatan hewan: asisten medik bidang
kesehatan hewan atau bidang veteriner; padanan
kata sebutan pada kedokteran (manusia) yang
disebut paramedik.
Pasca mati setelah mati; suatu keadaan fisik tubuh, karkas atau
jaringan setelah meninggal atau mati.
Pasteurisasi perlakuan pengawetan makanan termasuk susu
dengan cara pemanasan untuk membunuh semua
atau sebagian dari organisme mikro dalam objek
atau jaringan tertentu. Misalnya perlakuan untuk
susu, dilakukan melalui pemanasan 60° C selama
30 menit.
Patogen setiap jasad renik yang memiliki kemampuan
untuk memproduksi penyakit, biasanya berupa
agenhidup.
Patogenisitas proses kemampuan suatu agen dalam menimbulkan
penyakit atau penyimpangan dari kondisi sehat.
Patologi cabang keilmuan medik tentang keadaan alamiah
penyakit, dengan mempelajari penyebab, proses
terjadinya infeksi dan reaksi serta dampaknya
terhadap tubuh.
Patologis sesuatu yang bersifat penyimpangan atau perubahan
dari keadaan normal atau patologi.
Patologi anatomi atau disebut perubahan makroskopis yaitu
perubahan patologik jaringan yang dapat dilihat
oleh mata telanjang.
Patologi Veteriner cabang keilmuan patologi tentang penyakit
hewan.
Pedet anak sapi sejak lahir sampai umur 6 bulan.
Pemberantasan upaya untuk membebaskan suatu daerah yang
semula tertular penyakit menjadi bebas, dan agennya
dapat ditiadakan.

214 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Pembibitan ternak kegiatan budi daya menghasilkan bibit temak untuk
keperluan sendiri atau untuk diperjual belikan.
Pemuliaan ternak serangkaian kegiatan untuk mengubah komposisi
genetik pada sekelompok temak dari status mmpun
atau galur guna mencapai tujuan tertentu.
Pendedahan exposure; terjadinya kontak antara agen penyakit
dengan target infeksi.
Pengendalian suatu tindakan yang ditujukan untuk membatasi
perkembangan penyakit sampai suatu tingkat yang
dapat diterima.
Penyidikan investigasi, yaitu suatu tindakan yang dilakukan
secara terencana untuk mengetahui lebih jauh
tentang kejadian sebenarnya dari suatu masalah
penyakit.
Perakut suatu proses terjadinya kasus yang sangat akut
atau mend adak.
Peritonitis perubahan patologis dengan kejadian peradangan
pada selaput dinding perut atau peritonium.
Pesakit penderita penyakit, orang atau hewan yang terserang
penyakit.
Petekhial perdarahan kedl berupa titik-titik mendarah.
pH suatu pengukuran keasaman atau kebasaan dalam
skala dari 1 sebagai ekstrim asam ke-14, ekstrem
basa.
Phage istilah untuk menyatakan adanya proses
fagositosis.
Pneumonia radang pam-pam.
Predisposisi keadaan menjadikan rentan terhadap infeksi agen
patogen tertentu.
Prevalensi frekuensi atau derajad keseringan kejadian penyakit
dalam suatu populasi tertular.
Progeni testing uji zuriat; metode pengujian untuk mengetahui
mutu genetik calon pejantan berdasarkan anak
ketumnannya.
Protozoa filum dari hewan uniseluler atau ber sel satu.
Proven bull pejantan yang sudah diseleksi sebagai pejantan
unggul berdasarkan kemampuan produksi dan
reproduksi keturunan (progeny) atau saudara
kandung/tiri atau garis ketumnannya (pedigree).
Pulmoner menyangkut masalah pam.

Glosarium 215
Rentan peka terhadap sesuatu (penyakit), atau mudah
terkena pengaruh terhadap suatu keadaan atau
infeksi.
Riketsia genus bakteria famili Rickettsiaceae.
Sanitari dan fitosanitari terkait dengan masalah kesehatan hewan, manusia
dan tanaman.
Sanitasi sesuatu yang berkaitan dengan kebersihan dan
kesehatan,atau terhadap pemeliharaan kelangsungan
kesehatan, atau terhadap kebersihan yang tidak
memungkinkan adanya organisme yang mengancam
kelangsungan kesehatan individu.
Sapi pejantan sapi jantan hasil seleksi yang mempunyai mutu
genetik tinggi disiapkan untuk calon pejantan;
performans tested bull.
Senjata biologis senjata hayati; dibuat dengan bahan baku hayati
yang mampu menimbulkan ancaman serius bagi
target serangan.
Septikemia sindrom klinis yang ditandai oleh infeksi dan
perbanyakan bakteri dalam darah; peristiwa sepsis
yang terjadi di dalam aliran darah.
Sertifikasi bibit penerbitan sertifikat bibit setelah melalui
pemeriksaan,pengujian,pengawasan, danmemenuhi
semua persyaratan untuk died ark an.
Shock trauma psikis, fisik atau emosional.
Sianosis menyatakan perubahan warna jaringan atau selaput
lendir yang seharusnya kemerahan menjadi kebiruan
karena warna CO2 di dalam darah yang lebih
dominan.
Sinar ultra violet radiasi dari sinar matahari yang secara cepat dapat
membunuh kebanyakan bakteri.
Sluri material berbentuk seperti bubur atau lumpur yang
terjadi sewaktu proses fermentasi dalam proses
pembuatan biogas.
Specific Pathogen Free hewan atau sekelompok hewan yang diusahakan
(SPF) sedemikian rupa sehingga bersih dan terbebas dari
segala macam jasad renik.
Spesimen setiap bahan sampel atau contoh dikirim untuk
pengujian laboratorium.
Splenomegali kebengkakan limpa.

216 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2


Spora dalam konteks bakteri adalah; perubahan
tubuh bakteri membentuk pelindung diri yang
mengakibatkan sangat tahan terhadap berbagai
kondisi lingkungan.
Sporadis kejadian suatu kasus yang muncul secara tidak
menentu dan tidak bisa diramalkan terjadinya,
dalam jumlah yang terbatas.
Standar bibit spesifikasi bibit yang dibakukan, disusun
berdasarkan konsensus semua pihak terkait, dengan
memperhatikan syarat-syarat kesehatan hewan,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta pengalaman, perkembangan masa kini dan
masa yang akan datang untuk memberi kepastian
manfaat yang akan diperoleh.
Subklinis kondisi terjangkitnya penyakit atau terjadi infeksi,
tetapi secara klinis tidak terlihat gejala.
Subkutan untuk menyatakan keberadaan atau keadaan di
bawah kulit.
Sumber bibit adalah suatu agroekosistem yang tidak dibatasi oleh
batas administrasi pemerintahan dan mempunyai
potensi untuk pengembangan bibit ternak dari
spesies atau rumpun tertentu.
Surveilans suatu penelitian cermat terhadap berbagai aspek
kejadian dan penyebaran penyakit yang ditujukan
pada upaya pengendalian penyakit secara efektif.
Susu segar susu hasil pemerahan tanpa dikurangi atau ditambah
apapun, diperoleh dari pemerahan sapi secara
kontinyu sampai habis.
Swab tampon atau kapas bertangkai yang biasa
dipergunakan untuk mengambil contoh dengan
mengusapkannya pada bagian tubuh atau jaringan
yang dicurigai mengandung benih infeksi.
Tinja feces; kotoran; tai.
Toksemia beredarnya toksin di dalam aliran darah.
Toksin racun
TPC Total Plate Count; suatu pengukuran kontaminasi
bakteri dari susu segar dalam juta unit terbentuknya
koloni bakteri per mili liter susu.
Trakheitis peradangan trakhea.

Glosarium 217
TS Total Solid; pengukuran komposisi yang dinyatakan
dalam persentase total susu solid antara lain lemak
susu, protein susu, laktosa dan mineral.
Tukak ulkus; kerusakan epitel permukaan karena
radang.
Uji perform an pengujian kinerja untuk memilih ternak bibit
berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif meliputi
pengukuran, penimbangan dan penilaian.
Urine kemih; air seni.
UV sinar ultra violet radiasi sinar matahari yang secara
cepat dapat memiliki daya merusak.
Vaksin suspensi jasad renik yang dimatikan atau dilemahkan,
atau suatu produk berasal dari bahan tersebut, yang
bila disuntikkan akan memacu produksi antibodi
terhadap penyakit yang disebabkan oleh jasad
renik yang sarna.
Vaksinasi kegiatan member atau menyuntikkan vaksin ke
hewan.
Vegetatif menyatakan berada di dalam stadium
pertumbuhan.
Vesikula bintil kedl.
Veterinarian dokter hewan.
Veteriner menyangkut tentang kesehatan dan kedokteran
hewan.
Viremia beredarnya virus dalam aliran darah.
Virulen menyatakan kemampuan menginfeksi.
Vomitus muntah
WHO World Health Organization; Organisasi Kesehatan
Dunia.
Zoonosis atau anthropozoonosis; penyakit hewan yang menular
dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Zoonotis menyatakan sifat zoonosis.

218 Budi Daya Sari Perah - Jilid 2

Anda mungkin juga menyukai