Peraturan Barang Siapa dan Sanksi
Peraturan Barang Siapa dan Sanksi
JILID 2
Pasal72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta:
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasa12 ayat (1) atau Pasa149 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan
pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling
sedikit Rp1.000.000,OO(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,OO(lima miliar rupiah).
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual
kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaranHak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,OO(lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk
kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,OO(lima
ratus juta rupiah).
(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,OO(satu
miliar rupiah).
(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 29 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp150.000.000,OO(seratus lima puluh juta rupiah).
(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasa124 atau Pasa155 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp150.000.000,OO(seratus lima puluh juta rupiah).
(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal25 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,OO
(seratus lima puluh juta rupiah).
(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal27 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp150.000.000,OO
(seratus lima puluh juta rupiah).
(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal28 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,OO (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
Budi Daya
Sapi Perah
JILID 2
Penerbit:
Pusat Penerbitan dan Pereetakan Unair (AUP)
Kampus C Unair, JI. Mulyorejo Surabaya 60115
Teip. (031)5992246,5992247 Fax. (031)5992248
E-mail: [Link].
636.2142
12 13 14 15 16 / 9 8 7 6 5 4 3 2 1
Protein hewani berupa susu, daging dan telur merupakan salah satu andalan
dalam membentuk jasmani yang siap menghadapi tantangan kehidupan
generasi penerus bangsa. Sapi perah sebagai penghasil susu adalah penyumbang
dan penyedia protein hewani yang merupakan kebutuhan penting bagi
kesehatan dan kebugaran tubuh serta meningkatan kecerdasan orang yang
mengkonsumsinya. Kemajuan bidang informasi teknologi telah membuka
pemahaman tentang kehidupan masyarakat modem yang semakin kompetitif
dan penuh tantangan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan konsumsi susu
yang semakin tajam, walaupun produksi domestik baru dapat memenuhi 30%
dari seluruh kebutuhan. Oleh sebab itu, peluang usaha budi daya sapi perah
masih sangat terbuka dan menjanjikan masa depan yang cerah. Teknologi
pengolahan susu untuk pemanfaatan faedahnya dengan ragam sajian dan
kelezatan telah berhasil melahirkan berbagai macam produk susu olahan yang
semakin hari semakin banyak variasinya. Tuntutan kebutuhan dan daya beli
masyarakat yang semakin meningkat memberikan jaminan pasar yang luas
dan semakin berkembang.
Buku ini dimaksudkan sebagai penghantar us aha budi daya sapi perah
di Indonesia yang selama ini berbeda dengan topik untuk temak yang lain
masih sangat jarang dijumpai di toko buku atau perpustakaan. Uraian yang
terkandung di dalam buku ini terutama didasari oleh pengalaman penulis
sebagai praktisi betemak sapi perah serta latar belakang profesi yang mewamai
setiap sajian tulisan secara seimbang dan dikemas dengan berbagai informasi
ilmiah diperoleh dari banyak sumber bahan bacaan cetak dan elektronik. Untuk
pemahaman lebih dalam sudah tentu masih dibutuhkan banyak masukan
dari para praktisi dan cendekiawan yang bersedia membagi pengalaman dan
bertukar pikiran demi kemajuan usaha persusuan yang masih jauh tertinggal
dari negara-negara lain di Asia dan benua lainnya bila dilihat dari konsumsi
susu per kapita dan pemenuhan kebutuhan nasional yang sebagian besar
masih tergantung dari imp or.
v
Ada berbagai macam jenis sapi perah yang dikenal di dunia, namun tidak
semuanya cocok dengan daerah tropis seperti Indonesia dan negara beriklim
panas lainnya. Jenis sapi perah yang sangat populer baik di negara subtropis
maupun tropis adalah sapi jenis Friesien Holstein (FH), walaupun nenek
moyangnya dari negara subtropis di negeri Belanda. Jenis sapi ini sangat disukai
sehingga mendominasi populasi sapi perah di Indonesia dan bahkan di negara
lain di dunia karena mudahnya beradaptasi dengan lingkungan, produktivitas
susunya yang tinggi dan relatif jinak sehingga mudah untuk dikelola.
Buku ini diharapkan dapat menjadi pegangan dasar bagi para peternak
sapi perah, mahasiswa kedokteran hewan dan peternakan, pelajar, paramedik
veteriner, inseminator, peternak atau petugas peternakan dan pelajar sekolah
kehewanan yang menaruh perhatian terhadap budi daya sapi perah, sebagai
sumbang sih penulis dalam berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman di
tengah-tengah keterbatasan yang dimilikinya. Penulis mencoba menguraikan
dengan bahasa yang sederhana dan lugas agar mudah untuk dipahami oleh
berbagai kalangan di masyarakat. Untuk kata yang sulit dicari padanannya
dalam bahasa Indonesia, disediakan rubrik khusus "Glosarium" atau kosakata
yang memberi sekilas pencerahan tentang makna kata yang dimaksud.
Tulisan ini saya dedikasikan kepada almarhum orang tuaku Bapak dan Ibu
Poejohadioetojo. Disadari bahwa betapapun besar keinginan penulis untuk
menguraikan informasi yang selama ini telah diperoleh, masih juga banyak
kekurangan dan keterbatasan karena nun jauh di sana masih terbentang luas
ilmu pengetahuan yang tidak mungkin untuk dijangkau semuanya. Semoga
setetes ilmu yang bisa kami bagikan ini dapat bermanfaat sebagai masukan bagi
masyarakat, pelajar, mahasiswa, praktisi dan ilmuwan yang memerlukan.
Yogyakarta
Prakata v
Daftar Gambar xiii
Daftar Tabel................................................................................................. xix
vii
Seleksi Fisik 17
Seleksi Kinerja...................................................................... 17
Manajemen Pakan 17
Pakan Pedet Umur 12 Minggu sampai 1 Tahun 18
Pakan untuk Sapi Dara Umur 1 Tahun sampai Masa
Bunting 19
Pakan untuk Dara Bunting sampai Menjelang Melahirkan . 20
Pakan Sapi Dara Bunting 20
Pakan Sapi Menjelang Melahirkan 20
Pola Pemeliharaan Sapi Dara 21
Pemeliharaan Ekstensif....................................................... 21
Pemeliharaan Intensif 21
Pemeliharaan Semi Intensif............ 22
Nutrisi dan Kesehatan 23
Nutrisi 23
Kesehatan 23
Hijauan dan Konsentrat 23
Fungsi Rumen dan Alat Pencernakan yang Lain 24
Formulasi Pakan 24
Konsentrat Tambahan......................................................... 24
Pengaruh Musim...................................................................... 24
Antisipasi Dampak Kemarau Panjang 25
Musim Penghujan................................................................ 25
Manajemen Reproduksi 25
Pengamatan Birahi 25
Awal Birahi pada Sapi Dara 25
Pencatatan Birahi 26
Daftar lsi ix
Ruang Penyimpanan Susu. 69
Tempat dan Kondisi Ruangan........................................... 69
Higiene dan Sanitasi 70
Tangki Pendingin............. 70
Catatan dan Evaluasi Produksi 71
BAB 6 PEMULIABIAKAN.................................................................. 73
Perkawinan Alami................................................................... 74
Tahap Terjadi Perkawinan............... 74
Tahap Terjadi Konsepsi... 74
Tahap Terbentuk Fetus 75
Inseminasi Buatan 75
Penanganan Semen 76
Pelaksanaan Inseminasi....... 78
Manfaat................................................................................. 79
Kelemahan....... 80
Kinerja Inseminasi............................................................... 81
Transfer Embrio........................................................................ 82
Sejarah................................................................................... 82
Teknik Pelaksanaan............................................................. 82
Selang Beranak......................................................................... 84
Perkawinan Kembali Sapi Pascamelahirkan 84
Jarak antara Dua Kelahiran................................................ 85
Dampak Panjang Selang Beranak .. 85
Permasalahan Terkait Selang Beranak 85
Gangguan Kesehatan Reproduksi Akibat Penyakit 86
Daftar lsi xi
Kembung Perut.................................................................... 171
Busung Ambing 175
xiii
Gambar3.4 Evolusi puting tanpa sumba tan keratin selama masa
kering . 38
Gambar3.5 Pelaksanaan invusi ambing dengan antibiotik
sangat penting dalam masa kering untuk mencegah
infeksi . 39
Gambar4.1 Melalui produk susunya, ambing dari seekor
induk sapi memiliki peranan besar dalam menjaga
kelangsungan hidup anak dengan penyediaan nutrisi
yang baik dan penjagaan kesehatan prima sejakpedet
dilahirkan sampai saatnya disapih . 41
Gambar4.2 Subbagian dalam dari ambing separo kiri dan kanan
serta kuartir muka dan belakang . 43
Gambar4.3 Suatu ilustrasi tali sendi yang memungkinkan
ambing sapi menggantung . 44
Gambar4.4 Penyempitan pada setiap cabang dari sistem
saluran menghalangi keluarnya susu dari
kemungkinan rembes ke dalam puting dan ambing
bagian bawah . 45
Gambar4.5 Komponen dari ambing sapi . 46
Gambar4.6 Ilustrasi keberadaan alveoli dengan alveolus
serta saluran kelenjar pada ambing . 48
Gambar4.7 Komponen ambing menunjukkan banyaknya
pembuluh darah yang diperlukan dalam pro des
produksi susu . 49
Gambar4.8 llustrasi pancaran air susu oleh pengaruh hormon
oksitosin melalui rangsangan saraf dan aliran
darah dalam tubuh sapi . 51
Gambar4.9 Refleks yang terjadi pada pancaran air susu keluar
dari ambing sapi . 52
Gambar5.1 Seorang juru perah memperagakan menimbang
susu menggunakan milk can dan alat timbang
sederhana . 58
Gambar5.2 Pelaksanaan pemerahan secara manual oleh seorang
peternak atau juru perah dengan menggunakan
ember almunium . 61
Gambar5.3 Mesin perah portable double yang dioperasikan
untuk dua ekor sapi sekali perah .. 63
Gambar5.4 Mesin perah multiple, dengan kapasitas perah satu
kali 12 ekor. Susu individual sapi yang masuk ke
dalam tabung gelas penampung, secara otomatis
tercatat . 64
Daftar Gambar xv
Gambar 8.7 (A) Gejala seekor sapi menderita BSE
memperlihatkan kekakuan gerak waktu berjalan.
(B) J ejas degeneratif pada korteks serebri
dengan vakuolisasi neuron 118
Gambar 9.1 Diare di dalam kandang yang dipakai bersama
dapat menjadi bagian dari terjadinya pencemaran
di antara pedet 125
Gambar 9.2 (A)Seekor pedet menderita kekurusan dan diare yang
parah; (B) Tinja diare berwama kuning keputihan,
sedikit kelabu dan berbau busuk 127
Gambar 9.3 Usus sapi karena infeksi Clostridium perfingens. Jaringan
bagian kanan berwarna gelap karena nekrotik,
bandingkan dengan yang lebihterangwarnanyasebelah
kiri yangnormal. Kerusakanparahmengakibatkankolik
dan tidak sembuh dengan pengobatan 128
Gambar 9.4 Mastitis pada sapi perah laktasi. Perhatikan ambing
dan puting yang membengkak berubah warna
kemerahan dari normal karen a radang...................... 131
Gambar 9.5 Susu dalam gel as sebelah kiri sewaktu dipakai
untuk mendeteksi kasus sapi mastitis karena
E. coli yang mengandung eksudat. Bandingkan
dengan susu normal di kanan .. 131
Gambar 9.6 (A)Seekorsapi perah menderita anthrax kronis dengan
gejala penurunan kondisi tubuh, dungu, murung,
kurang nafsu makan. (B)Anthrax kulit pada orang
terlihatjejasmenciridibagian tangan dengan perubahan
jaringan nekrotik kehitaman di tengah 133
Gambar 9.7 (A) Seekor sapi sehabis keguguran mengeluarkan
transudat keruh kekuningan dari vagina;
(B) Fetus lahir prematur pada pertengahan
kebuntingan.................................................................... 135
Gambar 9.8 (A) Pembesaran kelenjar limfe paru karena
tuberkulosis; (B) Reaksi positif pada uji kulit
tuberkulinasi di pangkal ekor... 137
Gambar 9.9 (A) Pasteurellosis pada seekor sapi di mana terjadi
gejala depresi dengan leleran hi dung dan mulut
yang purulen; (B)penebalan pada selaput paru serta
lapisan serosa rongga dada 139
Gambar 10.1 Ilustrasi daur hidup coccidia pada sapi 143
xix
Bob
SAPI PERAH BIBIT
1
Gambar 1.1 Pemilihan bibit sapi dimulai dan dievaluasi sejak pedet atau sapi usia
dini
1
produksi sapi perah yang baik harus dipersiapkan sejak lahir atau pedet usia
dini dan diteruskan hingga saat produksi. Seleksimerupakan kegiatanmemilih
tetua untuk menghasilkan keturunan melalui pemeriksaan dan/atau pengujian
berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu dengan menggunakan metoda atau
teknologi tertentu.
Sebagai perolehan hasil optimal dalam usaha budi daya sapi perah,
diperlukan pertimbangan yang cermat dan mantap dalam memilih bibit
sebagai calon induk, termasuk bila diperlukan juga pemilihan calon pejantan
yang baik dengan pertimbangan genetik, serta silsilah atau asal-usul pejantan
yang dipakai sebagai pemacek atau silsilah sumber bibit semen bila dipilih
dari hasil inseminasi buatan. Ketidaktepatan dalam memilih bibit sapi akan
berimbas pada usaha yang tidak efisien dan pemborosan berkepanjangan
terhadap biaya pakan dan perawatan serta jaminan kesehatan yang telah
dikeluarkan dan berpotensi tidak terbayar oleh hasil produksi. Ditinjau dari
sisi induk dan pejantan dalam kaitannya dengan produksi susu, beberapa
faktor tertentu sangat penting untuk diperhatikan, antara lain adalah ciri dasar
tampilan anatomi tubuh sapi, kesuburan sperma dan mutu genetik sapi yang
telah menurunkannya.
SUMBER PENGADAAN
Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara tidak memilik jenis sapi
perah asli. Keberadaan sapi perah di Indonesia pada saat ini berkat kebijakan
impor sejak zaman Belanda terutama dari Eropa. Mengimpor sapi pedegree
yang diyakini memiliki keturunan genetik secara teruji sistem pembibitannya
merupakan upaya penting untuk dipertimbangkan agar memperoleh kinerja
sapi dengan produktivitas dan reproduktivitas yang bisa diandalkan. Masalah
yang perlu dipertimbangkan adalah analisis ekonomi usaha karena harga
sapi impor yang tinggi bila dibandingkan dengan sapi lokal keturunan. Sapi
imp or dengan jenis dan mutu genetik terpilih belum merupakan jaminan akan
menghasilkan sapi dengan produksi susu optimal, manakala cara perawatan
yang dilakukan kurang memadai sebagaimana seharusnya dilakukan, atau
yang tertuang dalam pedoman ''Cara beternak sapi perah yang baik". Ditinjau
dari segi asalnya, pada saat ini ada 3 kelompok sapi perah di Indonesia, yaitu
sapi perah impor, sapi keturunan impor dan sapi lokal (keturunan impor),
dan hampir semuanya berasal dari bangsa sapi Friesien Holstein.
Gambar 1.2 Salah satu contoh aktivitas sebuah pasar hewan khusus sapi perah di
Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan
2. Pengadaan dari peternak. Sapi dapat juga dibeli langsung dari peternak
(Gambar 1.3).Pada umumnya sapi dara atau dara bunting. Seperti halnya
dengan pengadaan dari pasar, sapi perah yang dibeli dari peternakpun
sulit untuk diketahui riwayat genetik yang dimiliki karen a minimnya
data. Untuk sapi hasil perkawinan IB, peternak biasanya memiliki kartu
IB yang diberi oleh petugas berisi catatan kapan dilakukan IB dan jenis
semen pejantan. Penting bagi pembeli untuk sebelumnya melakukan
seleksi pedet secara teliti termasuk kinerja produksi induk.
Seleksi Sapi
Sapi perah di Indonesia umumnya keturunan FH. Sapi-sapi tersebut telah
mengalami domestikasi melalui penyesuaian dengan lingkungan kehidupan
daerah tropis yang cukup lama. Berdasar pengalaman, dengan seleksi yang
tepat serta perawatan yang baik dapat diperoleh calon induk yang kualitas
produksinya baik.
Peternak yang berpengalaman telah mengenal dengan baik ciri-ciri fisik
dari bangsa sapi FH dan keturunannya yang memenuhi kriteria sebagai sapi
dengan hasil produksi yang memenuhi harapan. Ciri spesifik dapat terlihat
Gambar 1.4 Penampilan bibit sapi dara perah betina keturunan Friesien Holstein
impor umur 14 bulan
Banyak kriteria untuk menentukan apakah seekor sapi perah betina dapat
diharapkan memiliki potensi produksi susu yang baik. Kriteria untuk seleksi
memang tidak sederhana dan sering tidak hams memenuhi semua kondisi ideal
untuk mendapatkan sapi yang diharapkan. Penilaian juga bervariasi karen a
juga dipengaruhi oleh faktor umur dan tahap kebuntingan. Dalam melakukan
evaluasi perlu ditentukan prioritas dari kriteria, terutama ditinjau dari segi
kinerja organ penghasil susu dan kondisi kesehatan secara umum.
Ciri Khusus
Memiliki dri khusus terhadap ras atau bangsanya. Sifat kebetinaan jelas
dengan perangai jinak bersahabat. Besar tubuh proporsional, ramping berisi
berbentuk menyudut. Dada lebar dan perut berukuran besar memanjang
seimbang dengan tubuhnya. Kulit kencang, halus, licin, lentur dan lunak
bila diraba, kuat dan tidak ada kerusakan atau luka, bulu halus pendek. Uji
terhadap daya lentur kulit baik.
Temperamen
Sapi dipilih yang jinak agar mudah dirawat, memberikan kenyamanan dan
ketenangan bagi petugas dan lingkungan kelompok sapi yang ada. Sapi yang
temperamental biasanya bersifat agresif bila berdekatan dengan sapi lain atau
bila ada provokasi dari luar sehingga mudah tergoda dan merasa tidak tenang
yang akan berpengaruh pada produksi pada saat diperah.
Badon
Bagian bahu tampak kokoh berisi dan berkulit bulu halus, punggung
lurus dan lebar. Mulai dari gumba sampai ke arah pinggang dan punggung
terkesan merupakan bentuk garis lurus rata dan panjang. Leher panjang, kuat,
berbentuk pipih, dengan lipatan kulit halus, bergelambir kedl dan bersih.
Pinggang pendek dan lebar. Tulang kemudi lebar mendekati bentuk segi tiga
dengan rongga pinggul yang luas sehingga memungkinkan proses kelahiran
anak menjadi mudah.
Kaki
Kaki belakang dan depan lurus dan kuat. J arak antara kedua kaki belakang
lebar membentuk segi empat simetris, sehingga ambing dapat berkembang
Ekor
Bentuk ekor ramping, panjang mudah bergerak dengan pangkal ekor
memiliki ketinggian yang lurus dengan garis punggung, berbulu halus dan lebat
pada ujung ekor. Pangkal ekor yang terjuntai terlalu tinggi dapat membentuk
cekungan yang berpotensi sebagai tempat lalat berkumpul dan bertelur.
Ambing
Penampilan ambing pada sapi perah betina memiliki peranan penting.
Oleh sebab itu, diperlukan perhatian khusus sewaktu mengamati. Pada
pedet atau sapi dara yang belum bunting tidak mudah untuk ditafsirkan
dari penampilan ambingnya. Karasteristik tipe sapi perah dapat dilihat lebih
jelas pada sapi yang lebih dewasa atau bunting. Letak ambing tampak kokoh,
berisi dan serasi di bawah dinding perut bagian belakang, berada di antara
kedua kaki belakang yang memberi ruang lebar, mengarah dari belakang
ke depan sampai bawah perut. Ukuran besarnya ambing pada sapi bunting
tergantung usia kebuntingan. Bentuk ambing simetris. Puting besar, panjang,
menggantung silindris penuh, terletak simetris dan seragam. Jumlah puting
empat buah atau dua pasang, tidak lebih ataupun kurang. Venasusunya jelas
tampak di bawah perut mulai dari dekat pusar sampai ke ambing. Konsistensi
vena terasa halus dan lemas dalam rabaan. Sewaktu masih muda venanya
kecil, dan semasa laktasi berkembang dengan jelas menjadi besar, panjang,
Gambar 1.5 Kesehatan ambing merupakan faktor penting dalam menilai dan memilih
bibit yang baik untuk sapi perah
Kemampuan Produksi
Menilai kemampuan produksi selain berdasarkan kriteria proporsi dan
potongan tubuh juga diperlukan informasi khusus atas dasar catatan produksi
termasuk riwayat nenek moyangnya. Untuk pedet atau sapi dara dapat dilihat
dari silsilah atau pedegree dan riwayat perkawinan nenek dan kakeknya.
Seleksi juga dikaji dari catatan produksi kerabat. Semakin lengkap catatan
produksi kerabat akan semakin mudah dalam menentukan perkiraan kinerja
berdasar genetik potensialnya. Penilaian juga dilakukan dengan mengetahui
riwayat semen pejantan yang digunakan dalam inseminasi buatan. Catatan
tentang hal ini tersimpan baik di tempat produsen semen.
BAKALAN PEJANTAN
Pejantan sapi atau pemacek diperlukan untuk perkawinan alamoApa bila
perkawinan cara IBkurang berhasil atau bila sapi betina tidak memperlihatkan
Gambar 1.6 Penampilan seekor sapi perah FH jantan yang dewasa dalam kondisi
sehat dan tegap dengan proporsi tubuh seimbang, punggung lurus,
tubuh kokoh berisi. Kondisi kulit bersih dan cerah (Anonim, 2011)
Proporsi Tubuh
Berbeda dengan penilaian untuk sapi betina, terhadap kinerja sapi jantan
utamanya dilihat dari proporsi tubuh, dan status kesehatan yang prima.
Indikasi lain yang termasuk penting dalam penilaian adalah riwayat atau
silsilah keturunan dan kualitas sperm a melalui uji kesuburan. Sapi pejantan
yang baik diyakini akan menurunkan sifat yang baik pada anaknya.
Tubuh sapi pejantan tegap, gagah, lingkar dada besar dan proporsional.
Perototan kuat berisi, dada lebar dan perut berukuran besar memanjang. Kondisi
badan sehat, ditandai antara lain dengan: nafsu makan dan minum baik, kulit
halus, tak ada luka dengan bulu halus mengkilat dan mata bersinar.
1. Kepala. Ukuran kepala relatif besar dan pendek, seimbang dengan besar
tubuhnya. Untuk jenis sapi FH terdapat warna bulu putih di jidat berbentuk
segitiga. Mata besar bersinar, kelopak mata bersih dan moncong selalu
basah. Tulang rahang tampak kuat, nafsu makan dan minum baik. Telinga
panjang, sempit, tipis berambut halus
2. Punggung. Perototan punggung kokoh, lebar dan kuat, pinggang lebar.
Leher padat berisi, besar dan perototan kokoh. Dada bidang, jarak antara
setiap tulang rusuk dada lebar, berukuran besar dan panjang.
3. Kaki. Posisi kaki muka dan belakang simetris lurus, kokoh dan kuat,
jarak antara kedua paha kanan dan kiri, muka dan belakang lebar, cukup
terpisah. Bila berjalan langkahnya tegap, tidak pincang. Teracak kuat
tertutup rapat, pertumbuhan kuku normal, di antara belahan kuku pada
keempat kakinya bersih dan tidak luka.
4. Testis. Sebagai pejantan, penting untuk melihat testis sekiranya ada kelainan
secara fisikoKedua testis terlihat lengkap, keduanya berada simetris dan
tidak ada kelainan bentuk.
Uii Progeni
Untuk menilai kemampuan produksi susu anak keturunannya dan membantu
dalam seleksi sapi yang akan dibudidayakan lebih lanjut, dapat dilakukan
"Progeny testing". Yang dimaksudkan dengan Progeny testing adalah kegiatan
uji kualitas genetik. Sapi calon pejantan yang akan diuji diberikan perlakuan
sarna dengan sapi pembanding, misalnya terhadap jumlah dan frekuensi
pemberian pakan, keadaan lingkungan kandang, suasana pemeliharaan, cara
perawatan kesehatan dan lain-lain.
a. Melakukan uji progeni. Progeny testing dapat dilakukan sendiri di peternakan
yang dimiliki dengan cara memilih calon pejantan muda yang diarahkan
menjadi pemacek dengan umur sekitar dua tahun. Seekor calon pejantan
muda yang telah mendapat perlakuan, kemudian dikawinkan dengan
beberapa induk hasil seleksi yang telah diketahui berproduksi tinggi.
Pedet hasil keturunan dengan pejantan yang diuji kemudian dikaji tentang
kualitas dan kuantitas produksi susu yang dihasilkan.
b. Pengamatan. Hasil produksi susu rata-rata sapi dalam uji coba dilakukan
pengamatan dan dibandingkan dengan kelompok sapi perah lain sebagai
pembanding untuk dikaji keunggulan produksinya. Untuk memperoleh
objektivitas penilaian, kedua kelompok dalam pengamatan diberi
perlakuan dan perawatan yang sarna. Hasilnya direkam untuk analisis.
Cara demikian memerlukan waktu cukup lama tetapi menarik untuk
dilakukan tanpa menghambat kegiatan beternak secara keseluruhan, dan
hasilnya menjadi pedoman dalam menentukan kelayakan seekor pejantan
untuk dipertahankan sebagai pemacek.
Faktor Perawatan
Pedet umur "di bawah tiga bulan" (Batilan) perlu memperoleh perhatian
untuk perawatan ekstra karena kondisinya yang masih lemah dan belum
memiliki daya kebal cukup untuk melawan infeksi walaupun memiliki antibodi
induk yang diturunkan. Untuk mencegah investasi cacing,dilakukan pemberian
obat cacing pad a umur 2-3 bulan. Infeksi jasad renik patogen, kecacingan dan
gangguan metabolisme pada pedet dapat melanjut ke kematian, atau setelah
tumbuh dewasa menyebabkan tidak tercapainya produksi optimal atau kinerja
reproduksi yang kurang baik sehingga banyak sapi yang harus dikeluarkan
dan lebih lanjut akan mengganggu perhitungan ekonomi usaha.
Sapi yang sakit dapat diketahui dari gejala klinisnya. Pengujian klinis
tentang penyakit menular menjadi dasar awal dalam memilih bibit. Namun
demikian penyakit yang dalam stadium inkubasi sering lepas dari pengamatan
klinis. Kasusnya baru muncul setelah beberapa hari atau minggu kemudian.
Oleh sebab itu hewan yang baru masuk sebaiknya diasingkan terlebih dahulu
sebelum dibiarkan berkumpul dengan hewan yang sudah lama berada di
peternakan.
Sapi dara adalah pedet menjelang dewasa yang berumur antara 6-18 bulan
atau sampai sapi tersebut siap untuk kawin. Sapi bunting untuk pertama kali
pun disebut sebagai dara bunting. Dalam waktu dua setengah tahun seekor
pedet yang lahir hams sudah memasuki kelompok sapi laktasi atau berproduksi
sebagaimana diharapkan. Untuk mencapai harapan tersebut peternak perlu
menerapkan tata laksana pemeliharaan dengan perawatan kesehatan dan
pemberian rangsum pakan yang baik sejak pedet sampai dara dan tumbuh
dewasa. Sapi dara dari pembesaran sendiri merupakan generasi baru yang
perlu memperoleh perhatian khusus untuk memperoleh calon pengganti
sapi induk yang ada dan hewan afkir dengan harapan terjadi peningkatan
produktivitas dan mutu hasil produksi.
Membesarkan pedet hasil keturunan sapi milik sendiri, di samping terjamin
perawatan sejak mulai lahir, juga jelas pencatatan silsilah keturunannya. Cara
demikian lebih efektif untuk memperoleh bibit yang baik bila dibanding
dengan pengadaan dari pasar atau dari peternak yang belum jelas riwayat
tetuanya. Catatan kinerja dan kesehatan sejak lahir merupakan data seleksi
pembesaran untuk peremajaan. Peremajaan harus diperhitungkan berdasar
siklus produksi ketika susu yang dihasilkan sudah mulai menurun pada
laktasi ke-6 sehingga perlu penggantian yang sudah tidak produktip atau
tidak efisien antara biaya pakan dengan produktivitas, hewan menderita sakit
parah atau mati. Peremajaan memerlukan proses yang lama dan oleh sebab
itu hams terencana dengan baik agar tidak mengganggu kelestarian usaha.
Ada banyak cara untuk melakukan seleksi, tetapi yang paling utama adalah
unsur keturunan dan tidak adanya cacat bawaan.
15
pakan yang bermutu dengan jumlah pemberian nutrisi disesuaikan berdasar
tingkat pertumbuhan, berat badan dan umurnya.
Catatan tentang produktivitas dan kesuburan reproduksi induk serta jenis
semen pejantan yang dipakai, menjadi acuan penting dalam memperkirakan
kualitas genetik. Anak keturunan sapi sendiri merupakan prioritas untuk
regenerasi, kecuali pada kebutuhan mendesak atau membeli dari peternak
yang memiliki catatan asal usul keturunan yang setara atau bahkan lebih baik
dari yang dimiliki. Hasil dari seleksi dicatat dan diana lisis untuk evaluasi
kesesuaian antara kriteria yang diharapkan dengan kenyataan yang diperoleh,
sebagai evaluasi dan penentuan program seleksi selanjutnya.
Seleksi Genetik
Ditingkatpetemak tidak sederhana menemukan pedoman untuk menentukan
atau meramalkan kinerja produksi yang nantinya akan dicapai oleh seekor
sapi dara bila dikemudian hari menginjak dewasa dan berproduksi. Salah
satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengetahui jenis atau bangsa
sapi dan sifat genetik yang ada. Untuk seleksi genetik harus dilihat baik dari
sisi induk maupun bapaknya.
Seleksi Fisik
Kelainan fisik atau cacat lahir misalnya pedet memiliki puting susu lebih
dari empat harus dilakukan pemotongan pada puting yang tumbuh tidak
sempurna (rudimenter), bahkan dilakukan sejak pedet masih muda. Puting
demikian nantinya akan mengganggu sewaktu pemerahan. Penghilangan puting
ekstra dapat dilakukan paling baik bersamaan dengan sewaktu pemotongan
tanduk atau paling tidak sebelum pedet berumur 6 bulan. Caranya dengan
mengikat erat puting sebelum kemudian dipotong dan dilakukan disinfeksi
dengan yodium tinctura.
Kelemahan fisik lainnya pada sapi dara atau kurang proporsional penilaian
tampilan tubuh yang diperkirakan akan berpengaruh pada produktivitas
sebagai induk sapi perah nantinya, perlu dihindari semaksimal mungkin
dengan mempertimbangkan untuk dikeluarkan sebagai calon induk.
Seleksi Kineria
Anak sapi yang tidak memenuhi syarat sebagai calon induk penghasil
susu yang baik, disingkirkan keluar dari peternakan. Kegiatan demikian
dilakukan secara rutin dan berkesinambungan agar pada akhirnya diperoleh
keturunan sapi yang memenuhi kriteria baik. Persyaratan atau penetapan
kriteria dimaksudkan untuk menentukan hasil produksi dan kinerja yang
paling efisien sehingga menguntungkan secara ekonomi dengan hasil produksi
yang memenuhi harapan. Upaya yang sarna dilakukan seleksi untuk memilih
kinerja pejantan, bagi peternakan yang memerlukannya.
MANAJEMEN PAKAN
Rangsum pakan sapi dara memiliki peranan penting dan nilai yang
strategis karena berada dalam situasi pertumbuhan yang cepat dan dengan
status pembentukan fisik anatomi, fisiologi serta perkembangan hayati yang
mendukung fungsinya sebagai hewan perah. Pemberian pakan untuk sapi
dara merupakan kelanjutan dari pemeliharaan pedet terutama setelah habis
sapih pada minggu ke-l1. Di samping nalurinya sebagai pembawa unsur
keturunan atau sifat genetik yang dimiliki dari jalur nenek atau induk, sapi
dara juga dapat ditingkatkan potensinya dengan perawatan serta pemberian
pakan dengan nutrisi yang baik dan berkualitas sejak menjelang mas a birahi,
bunting untuk pertama kalinya, sampai saatnya beranak.
Pemberian Konsentrat
Pemeliharaan Ekstensif
Di daerah atau negara dengan populasi penduduk terbilang kedl atau
masih jarang dan area petemakan masih luas, umumnya petemakan sapi
perah dilakukan secara ekstensif terutama pada sapi dara. Sapi dilepas bebas
di padang rumput dengan dikendalikan faktor kecukupan nutrisinya. Pada
saat bunting tua mendekati kelahiran anak dan masa laktasi, sapi mulai
dikandangkan untuk memudahkan pengawasan dan penanganannya. Sistem
umbaran dilakukan sampai saatnya harus dikawinkan. Namun demkian,
perlu memperoleh perhatian bahwa cara pemeliharaan ini harus disertai
program perawatan ketersediaan rumput yang berkualitas dipadangan untuk
memastikan sapi-sapi tersebut memperoleh nutrisi yang memadai.
Gambar 2.1 Pemeliharaan sapi dara cara ekstensif, dilakukan di kawasan yang memiliki
kecukupan lahan dengan padang rumput luas (Nestle, 2010)
Pemeliharaan Intensif
Pemeliharaan sapi perah di Indonesia masih sebagian besar berada di
Jawa yang luasan lahannya sempit sehingga umumnya menggunakan cara
pemeliharaan intensif. Sapi tetap tinggal di kandang untuk sebagian besar atau
Gambar 2.2 Untuk perawatan sapi dara secara intensif dilakukan berkelompok
dalam kandang dengan penempatan berdasar berat badan dan umur
Nutrisi
Sapi dara betina termasuk kelompok sapi muda yang laju pertumbuhannya
berlangsung cepat melebihi sapi yang lebih dewasa. Sapi bunting harus
memperoleh nutrisi cukup sehingga memenuhi tuntutan kebutuhan tubuh
dan anak yang dikandungnya, mampu berproduksi optimal serta persiapan
menghadapi kelahiran anak.
Protein sangat penting dalam diet sapi dara yang sedang tumbuh untuk
meyakinkan kecukupan ukuran kerangka tubuh, tinggi badan dan pertumbuhan.
Menghindari sapi pendek dengan menyeimbangkan pakan termasuk kecukupan
crude protein.
Kesehatan
Kesehatan reproduksi sapi merupakan faktor penting pada budi daya sapi
perah, karena besar pengaruhnya pada kinerja produksi susu dan keberhasilan
pemuliabiakan. Ternak untuk jangka panjang. Dalam kawasan peternakan
harus diupayakan semaksimal mungkin bebas dari penyakit brucellosis. Untuk
pemeliharaan ekstensif, yaitu hewan dilepas bebas di area padang rumput
yang luas maka perlu dilakukan deworming dua kali dalam setahun.
Formulasi Pakan
Terhadap sapi yang dipiara secara intensif, pakan yang diberikan terdiri
atas hijauan dan konsentrat dengan campuran berbagai bahan pakan antara
lain: jagung giling, dedak halus, brand pollard, bungkil kelapa, bungkil sawit,
bungkil kacang tanah, tetes, dan bahan baku lainnya. Peternak tertentu juga
memanfaatkan limbah industri produk pertanian skala kedl seperti: onggok,
ampas tahu dan kulit kedelai. Bahan pakan rumput atau leguminosae diberikan
kira-kira 10% dari berat badan. Sedangkan untuk pakan penguat diberikan
2-3 kg per ekor yang diberikan 2 kali sehari.
Konsentrat Tambahan
Kualitas rumput yang tumbuh di daerah tropis rata-rata tidak sebaik
rumput di daerah subtropis. Untuk memelihara laju kinerja pertumbuhan
sapi dara di daerah tropis perlu diberikan tambahan pakan konsentrat sejak
umur 12 bulan dengan pemberian sekitar satu kg konsentrat/lOO kg berat
badan/ekor/hari. Apabila hijauan diberikan secara bebas dan dengan kualitas
baik maka jumlah konsentrat yang diberikan dapat dikurangi agar sapi dara
tidak menjadi terlalu gemuk.
PENGARUH MUSIM
Berbeda dengan negara subtropis yang memiliki 4 musim, Indonesia
adalah negara tropis yang memiliki 2 musim. Sapi adalah hewan memamah
biak yang mebutuhkan banyak pakan hijauan sehingga faktor musim sangat
penting dalam upaya menjamin kecukupan makanan bagi ternak piaraan.
Pada musim penghujan tidak terlalu sulit untuk mendapatkan rumput atau
hijauan, tetapi pada musim kemarau masalah pakan hijauan memerlukan
pengaturan yang lebih baik.
Pada musim kemarau panjang, sapi sering kesulitan memperoleh hijauan
segar. Adakalanya sapi harus diberi hijauan awetan misalnya dalam bentuk
hay, silase atau jerami kering.
Musim Penghuian
Pada musim penghujan, kebutuhan pakan hijauan lebih mudah diperoleh
dan dalam kondisi nutrisi yang baik. Sebagai persiapan datangnya musim
kemarau kelebihan rumput dapat dijadikan silase atau hay. Kualitas hijauan
di musim penghujan juga lebih baik dibanding dengan hijauan di musim
kemarau. Namun demikian pembuatan hay di musm penghujan memerlukan
pengaturan khusus karena terkendala dengan berkurangnya kesempatan
memperoleh sinar matahari yang diperlukan.
MANAJEMEN REPRODUKSI
Dalam pemeliharaan sapi perah, manajemen reproduksi merupakan kegiatan
yang sangat fital, bahkan kegagalan dalam hal ini dapat secara langsung
maupun tidak langsung berimbas pada kelestarian usaha. Dari sisi sapi dara,
keberhasilan reproduksi terutama diawali sejak mulai munculnya tanda birahi
dan penanganan seterusnya untuk kawin, terjadi konsepsi, kebuntingan dan
kelahian pedet.
Pengamatan Birahi
Sapi dara yang telah dewasa mulai dilakukan pengamatan siklus birahi.
Gejala birahi diamati melalui perubahan pada kelaminnya yang menunjukkan
perubahan kemerahan, bengkak, mengeluarkan lendir jemih, menjadi gelisah,
bila berkumpul berusaha menaiki temannya dan nafsu makan berkurang.
Pencatatan Birahi
Untuk ketertiban manajemen reproduksi perlu dilakukan pencatatan
secara tertib mulai sapi memperlihatkan gejala birahi pertama sehingga dapat
dideteksi perkiraan birahi berikutnya dan kapan hams dilakukan [Link]
dilakukan sepanjang hidupnya untuk evaluasi selang kelahiran dan dinamika
tingkat pencapaian produksi. Catatan siklus birahi individual sapi sangat
penting sebagai data dasar dilakukan seleksi dari sisi reproduksi.
27
(Gambar 3.1) dan kemudian turun pada pertengahan laktasi, serta istirahat
pad a masa kering. Bentuk kurve laktasi akan berbeda dari individu ke individu
dan dari spesies ke spesies hewan tetapi kesemuanya terdapat kemiripan
dengan kecenderungan produksi semakin meningkat untuk laktasi ke-2 dan
laktasi ke-3 sepanjang harapan hidupnya, kemudian akan terjadi penurunan
sampai berhenti produksi.
Pengaturan pakan dalam penyediaan nutrisi dan ketertiban perawatan
juga berpengaruh dalam produktivitas hasil susu pada saat laktasi. Secara
ideal, satu periode laktasi berlangsung selama 305hari atau lebih dan diakhiri
dengan dua bulan masa kering menjelang kelahiran pedet. Pada saat sapi
laktasi semaksimal mungkin harus dikurangi berbagai kondisi lingkungan
yang dapat menyebabkan terjadinya stres karena cuaca, suara, perlakuan atau
berkurang kenyamanannya terutama pada saat sapi sedang diperah.
o 5 6 7 8 9< 10 11
t BULAN
BERANAK
Gambar 3.1 Kurve kapasitas produksi susu pada siklus masa laktasi ke-1, ke-2 dan
ke-3 sejak melahirkan sampai bulan ke-lO dan dua bulan masa kering
(Hasan dan Voisin, 1999)
Dalam satu siklus, dapat dibedakan adanya empat fase terkait dengan
hasil produksi susu mulai dari saat laktasi aktif yaitu: (1) awal dan puncak
laktasi sewaktu mulai menghasilkan susu sampai pada produksi tertinggi;
(2) pertengahan laktasi atau laktasi tengah, yaitu sewaktu hasil produksi sudah
Pakan Tantang
LA>m~~~usu !'2,~1··,··
~T.-, i i 1..·..····..
,,···1
I
Makanan kering 3 ~ .I »> -. 4-. I
di konsumsi '
20"
,.'" I
I
I -..•" ......
I .-~ I
I
2'4 I I 1- -.
% berat badan' I I 1- ...-
(kg) 600 I j_ _ -- -- ...- I
--r- I I
550 I I I
o 4 8 12 20 24 32 36 44 52
Masa lak1asi (minggu)
Gambar 3.2 Tahapan laktasi dengan dinamika perubahan pada produksi susu,
presentasi lemak susu, pakan kering dikonsumsi dan berat badan.
(Hutjens dkk., 1977;Soetamo, 2006)
Laktasi Tengah
Pada tahap-2 atau laktasi tengah, yaitu minggu ke-1O-20setelah beranak,
sapi diusahakan agar supaya capaian produksi berlangsung selama mungkin
dengan memberi asupan nutrisi yang baik dan berkualitas. Pada periode
laktasi tengah ini terjadi konsumsi bahan kering yang meningkat dan paling
banyak, yaitu pada minggu ke-12 sampai minggu ke-14 pascamelahirkan.
Bahan kering hijauan yang dimakan paling sedikit sebanyak 1% berat badan
sapi, yang fungsinya terutama adalah untuk memelihara fungsi rumen dan
kandungan lemak. Pada fase ini sering terjadi gangguan penurunan produksi,
kadar lemak susu rendah, birahi tidak terdeteksi atau semu. Untuk perkuatan
kondisi hewan dalam fase laktasi tengah perlu diperhatikan hal-hal terkait
dengan penyediaan pakan termasuk konsentrat dan penanganan reproduksi
sebagai berikut.
Pada umumnya dalam bulan ke-3, ke-4, ke-5 dan ke-6 produksi susu secara
berangsur-angsur setiap bulannya menurun masing-masing berturutan secara
proporsional berkisar antara 12%,12%,10%dan 10%.Pemberian pakan pada
fase laktasi tengah diarahkan agar sapi berada dalam kondisi yang prima
dan berat badan tidak menurun. Sapi diberi makanan bersumber bahan
pakan dengan kualitas terbaik. Pakan hijauan dan konsentrat dapat diberikan
beberapa kali sehari tanpa mengganggu atau harus menambah jatah harian
rutin. Bila dilakukan pemberian urea dibatasi tidak melebihi 2 kg per 100 kg
konsentrat.
Penambahan Konsentrat
Penanganan Reproduksi
Untuk target selang beranak (calving interval) yang pendek atau dalam
jangka waktu satu tahun, sapi harus segera dikawinkan 2-3 bulan setelah
melahirkan. Perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya birahi yang tidak
terdeteksi atau birahi tenang, dalam hal ini tidak tampak secara jelas gejala
klinis birahi yang bisa berakibat pada perpanjangan jarak selang beranak.
Kejelian petugas dalam pengamatan dan ketepatan waktu dalam pelaksanaan
IB sangat berperan dalam keberhasilan program penanganan reproduksi.
Pada periode laktasi tengah, sapi diharapkan mulai bunting, dan produksi
susu secara bertahap mulai menu run landai tapi pasti.
Persiapan Melahirkan
Seusai masa produksi seluruh nutrisi yang tersedia di dalam tubuh telah
dipakai secara maksimal. Sapi memerlukan nutrisi yang baik dan waktu
pemulihan yang cukup untuk persiapan melahirkan dan menghadapi mas a
laktasi berikutnya. Pad a sapi dara bunting, periode permulaan mengalami
masa laktasi juga memerlukan persiapan energi penuh untuk mengawali dan
mencapai puncak produksi.
Hewan pada saat laktasi memerlukan nutrisi cukup untuk produksi serta
pertumbuhan janin yang sudah semakin besar dan berkembang dengan
cepat. Produksi susu selama masa laktasi telah menguras persediaan Ca, P
dan mineral lainnya. Pemberian nutrisi diarahkan untuk dapat memenuhi
kebutuhan Ca dan P, tetapi menghindari pemberian terlalu banyak. Asupan
Ca 60-80 gram dan P 30-40 gram per hari adalah cukup untuk hampir setiap
sapi. Dalam keadaan demikian diperlukan imbangan mineral dan vitamin yang
serasi untuk memenuhi tuntutan pertumbuhan fetus yang semakin besar dan
menghadapi proses kelahiran. Ketidakseimbangan proporsi dan jumlah mineral
yang tidak sesuai dengan kebutuhan harus diimbangi melalui asupan pakan
karen a akan berpotensi terjadinya gangguan metabolisme terutama rentan
terhadap penyakit milk fever dan defisiensi vitamin. Rangsum sapi kering di atas
6% Ca dan 4% P (bahan kering) diyakini telah cukup mengatasi masalah milk
fever. Trace minerals, termasuk selenium perlu diberikan secara cukup dalam
imbuhan pakan.
Fetus dalam kandungan membutuhkan gizi baik dan cukup yang diperlukan
untuk perkembangan sebelum lahir dan segera setelah kelahiran. Memberikan
cukup jumlah vitamin A, 0 dan Ekepada induk akan meningkatkan ketahanan
hidup pedet setelah lahir serta menurunkan risiko terjadinya retensi plasenta
pada induk. Pemberian waktu yang cukup pada masa kering akan bermanfaat
bagi pertumbuhan fetus dan dalam pembentukan kolostrum.
Pertumbuhan Fetus
Menjelang kelahiran terutama pada kebuntingan bulan ke-7 dan seterusnya
pertumbuhan fetus berkembang dengan cepat yang membutuhkan nutrisi
Kebutuhan Kolostrum
METODA PENGERINGAN
Ada berbagai cara untuk menghentikan berlangsungnya produksi susu agar
masa kering yang terjadi dapat sesuai dengan jadwal program pengeringan
berdasar umur kebuntingan atau saat melahirkan. Apabila waktunya telah
tiba, pengeringan tetap dilakukan walaupun produksi masih tinggi. Perlu
dilakukan cara terbaik agar penghentian pemerahan tidak memicu terjadinya
mastitis. Selama masa kering sapi ditempatkan di kandang yang bersih dan
kering serta dipisahkan dari sapi laktasi.
KERING
•
KERING
Beranak
I
N
F
E
K
S
I
B
A
R~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~oTrrr
U MASA LAKTASI
KERING
Gambar 3.3 Frekuensi infeksi bam oleh bentuk Coli intra mamaria selama laktasi
(Bradely dkk. 2002)
PEMBUKAAN PUTING
Masa kering 2 3 5 16
MlINGGU PADA MlASA KERIING
Gambar 3.4 Evolusi puting tanpa sumba tan keratin selama masa kering (Green dkk,
2002)
Pencegahan
Untuk meminimalkan risiko perlu dilakukan prosedur pengeringan
yang benar untuk mencegah masuknya bibit penyakit dan infeksi patogen
semacam mastitis ke dalam kelenjar ambing. Umumnya disarankan langkah
pertama menghentikan konsentrat dari rangsum dan menurunkan suplai air
minum selama satu atau dua minggu menjelang masa kering, dan kemudian
diikuti penghentian memerah secara mendadak atau bertahap 50 atau 60 hari
sebelum perkiraan beranak. Perlakuan ini akan menurunkan produksi susu
secara drastis dalam periode tersebut. Sapi diobservasi secara baik dalam dua
minggu pertama setelah kering untuk memastikan bahwa perkembangan
kelenjar ambing terjadi kembali secara benar. Ambing yang dalam pengamatan
terindikasi radang kuartir hams segera diuji kemungkinan terjadi mastitis.
Menurunkan risiko infeksi selama masa kering dengan: (a) Higiene dan
sanitasi kandang yang baik akan mencegah pertumbuhan bakteri yang ada di
bahan alas kandang dan meminimalkan kontaminasi ambing ketika tiduran;
(b) Penyediaan rangsum pakan dengan imbangan energi, protein, mineral dan
Gambar 3.5 Pelaksanaan invusi ambing dengan antibiotik sangat penting dalam
masa kering untuk mencegah infeksi
Pengendalian
Untuk mengendalikan masalah mastitis klinis maupun subklinis yang
sering terjadi di peternakan, dapat dilakukan infus ambing dengan antibiotik
(Gambar 3.5) pada awal mas a kering, saat mulai terjadi pemulihan kembali
kondisi kelenjar ambing. Sewaktu dilakukan infus, puting hams dibersihkan
dengan disinfektan secara baik dan benar sebelumnya. Apabila penanganan
tidak dilakukan secara benar maka organisme renik yang ada pada ujung puting
bahkan menjadi seolah dipaksakan masuk ke dalam ambing dan dapat berakibat
dengan infeksi berat terutama karena masuknya bakteri Gram negatif.
Gambar 4.1 Melalui produk susunya, ambing dari seekor induk sapi memiliki peranan
besar dalam menjaga kelangsungan hidup anak dengan penyediaan
nutrisi yang baik dan penjagaan kesehatan prima sejak pedet dilahirkan
sampai saatnya disapih
41
ANATOMI
Ambing merupakan bagian dari kelenjar kulit (glandula integumentum).
Bagian luar ambing sapi diliputi oleh pertumbuhan bulu atau rambut yang
halus, kecuali pada bagian putingnya. Selaras dengan pertambahan umur,
ambing secara fisik akan berkembang menjadi semakin besar sewaktu hewan
tumbuh menjadi dewasa atau membengkak sewaktu bunting dan laktasi.
Berat ambing sapi tergantung pada pertambahan umur, mas a laktasi, volume
susu dalam ambing, dan faktor genetik. Berat ambing pada sapi dewasa rata
rata ± 60,53-75,16 kg dengan kapasitas tampung bervariasi, dapat mencapai
kurang-Iebih 30,80kg susu. Kemampuan produksi puncak sapi perah terjadi
pada saat laktasi kedua dan ke-3, kemudian akan menurun ketika sapi sudah
mulai menua.
Sesuai dengan susunan anatomi dan peranan serta fungsi dalam berproduksi,
ambing sapi dapat dibedakan dalam 2 unsur jaringan utama yaitu 1) tenunan
kelenjar yang berfungsi sebagai penghasil susu dan 2) tenunan pengikat
sebagai kerangka yang memberikan bentuk serta penampilan fisik ambing.
Kedua unsur pokok tenunan kelenjar susu dan tenunan pengikat menyatu
terbungkus oleh kulit sebagai pelindung bagian luar.
Tenunan Keleniar
Ambing terdiri atas empat kelenjar susu, dan bergabung membentuk ruang
di sisi kanan dan sisi kiri tubuh dengan dipisahkan oleh lembar selaput tebal
pemisah dalam "Ligamentum suspensory tengah" atau tali sendi penggantung
tengah (Gambar 4.2).Talisendi ini pada ambing terletak dalam posisi menjulur
ke atas dan berfungsi sebagai penggantung atau pertautan ambing agar
berada pada tempatnya di dinding perut bagian bawah. Bagian luar ambing
terbungkus oleh pemisah luar "Ligamentum suspenspri luar" atau tali sendi
penggantung luar.
Ambing
Sebelum air susu dipancarkan keluar dari tubuh, seluruh susu sementara
ditampung di dalam kelenjar ambing. Walaupun pada umumnya sapi dengan
produksi tinggi memiliki ukuran ambing yang besar, tetapi besarnya ambing
tidak otomatis menggambarkan kemampuan produksi susu. Sapi tertentu
dapat memiliki ambing besar tetapi tidak sebanding dengan kinerja produksi.
Ambing yang besar adakalanya berisi jaringan ikat yang banyak sehingga
mengalami kekurangan ruangan untuk jaringan penghasil susu. Ambing yang
terlihat berkerut dan menjadi lunak setelah pemerahan karena berisi sedikit
jaringan ikat atau jaringan parut, atau akan mengempis setelah diperah karena
sebagian besar atau semua susu telah habis keluar.
LIGAMENTUM
SUSPENSORI
TENGAH ATAU
DINDING TENG
Gambar 4.2 Subbagian dalam dari ambing separo kiri dan kanan serta kuartir muka
dan belakang (Quinn, 1990)
menggantung lebih jauh dari bagian tubuh yang lain, serta memaksa
puting susu lebih menonjol keluar. Apabila penyokong tengah lemah, maka
ambing akan menjadi bergantungan dan putingnya mengarah ke luar
tubuh yang bukan saja secara teknis menyulitkan sewaktu diperah tetapi
juga akan meningkatkan kerentanan untuk terjadi luka dan kontaminasi
oleh bakteri.
c. Rongga ambing
Sinus lactiferus atau kelenjar sistema adalah suatu rongga pada ambing
yang berfungsi sebagai penampungan sebagian dari susu di dalam kuartir
yang diproduksi di antara dua waktu pemerahan. Rongga ini terletak
di atas sistema puting dan sebagian dipisahkan oleh lipatan anular dari
jaringan. Sistema ambing bervariasi dalam bentuk dan besamya di antara
kuartir dari sapi, memiliki kemampuan menyimpan sekitar 500 ml susu.
d. Saluran susu utama
Major duct atau Saluran susu utama berjumlah sekitar 10-50 buah atau
lebih terletak pada dinding rongga ambing. Saluran susu utama berukuran
besar, tetapi berbentuk pendek dan lebar serta memiliki banyak cabang
berupa saluran-saluran lanjutan yang lebih kecil. Lebih lanjut saluran air
susu ini membentuk cabang-cabang lagi menjadi banyak ranting-ranting
yang ukurannya menjadi semakin kecil menyerupai akar tanaman.
Untuk menahan air susu yang berada di atas saluran, terdapat bentukan
penyempitan pada saluran yang berfungsi sebagai penahan keluamya
PENYEMPITAN 01
SETIAP CABANG
Gambar 4.4 Penyempitan pada setiap cabang dari sistern saluran rnenghalangi
keluamya susu dari kernungkinan rernbes ke dalarn puting dan arnbing
bagian bawah
Puting
Puting adalah organ berbentuk silindris memanjang atau berbentuk kerucut
dengan ujung tumpul terletak menggantung di bagian bawah dasar ambing.
Puting tidak ditumbuhi bulu dan dua di bagian depan umumnya lebih panjang
dari yang belakang. Jumlah puting sapi empat buah, tetapi dalam keadaan
abnormal bisa berjumlah lebih atau kurang dari empat. Kelebihan jumlah
puting biasanya tumbuh di sebelah belakang dari puting normal, dan tidak
berfungsi. Umumnya lebih kedl dan pendek dari normal. Beberapa ekstraputing
memiliki saluran masuk ke kelenjar ambing, tetapi umumnya tidak. Agar tidak
SALURAN
SISlERNA
PUliNG
Tenunan Pengikat
Selaput tipis membungkus sekumpulan alveolus membentuk alveoli, dan
seterusnya membentuk lobulus-lobulus yang juga terbungkus oleh selaput
tipis membentuk lobuli. Membran tipis pembungkus alveoli dan lobuli dengan
seluruh jaringan pengikat pada tenunan kelenjar susu merupakan sistem
tenunan pengikat sebagai kerangka atau pembungkus yang membentuk
kelenjar susu.
a. Alveoli
Suatu bentukan terkedl sebagai bagian dalam tenunan pengikat dari
ambing yang merupakan kumpulan dari alveolus. Alveolus merupakan
unit produksi susu utama yang merupakan struktur renik bentuk lonjong
dengan permukaan luar tersusun oleh satu lapis epitelium (penghasil susu)
dan memiliki saluran keciluntuk memungkinkan susu menetes keluar yang
membentuk lumen menyerupai untaian buah anggur dengan rantingnya.
Lapisan luar juga berisi susunan menyerupai sel otot kedl disebut sel
mioepitelial. Alveoli merupakan komponen utama jaringan sekretori yang
tersusun atas alveolus-alveolus. Setiap bangunan berbentuk bulat dan
lumen di dalamnya berdiameter 0,1-0,3 mm. Tiap-tiap alveoli terdiri
atas deretan epitel di sekitar lumen yang berfungsi untuk menghasilkan
dan mengeluarkan air susu ke dalam lumen. Terdapat sel otot khusus
yang memungkinkan alveolus "meremas" susu ke luar alveoli ke dalam
ambing.
b. Lobulus
Alveoli dihubungkan oleh saluran kedl, dan kelompok alveoli membentuk
lobulus. Sekelompok lobulus kemudian membentuk lobuli utama dari setiap
kuartir (Gambar 4.6). Ambing sapi perah berisi sekitar 5 x 1012 sekretori
sel di dalam epithelium dari alveolar jaringan.
c. Lobuli
Sekumpulan lobulus-lobulus satu sarna lain terbungkus lagi oleh selaput
tipis dan terbentuklah lobuli. Sebagian besar ambing terdiri atas kumpulan
lobulus-lobulus yang menghasilkan dan menampung air susu dalam jumlah
Gambar 4.6 Ilustrasi keberadaan alveoli dengan alveolus serta saluran kelenjar pada
ambing (Eusminger, 1969)
banyak maka bila ambing diraba menjelang diperah akan terasa adanya
semacam gumpalan dari hasil berkumpulnya air susu yang berada di
dalam lobuli. Setelah usai diperah, tenunan kelenjar susu akan mengempis
karen a telah kosong dan menjadi bentuk lipatan sehingga dalam rabaan,
ambing secara utuh akan teras a lunak dan halus. Bagian dari ambing yang
semula terasa menggumpal tidak lagi terasa dalam rabaan seperti waktu
sebelum diperah karena lobuli telah kosong dari keberadaan air susu.
d. Lobus
Sekumpulan lobuli-lobuli terbungkus oleh selaput tipis membentuk jaringan
disebut lobus. Saluran tersier lobus berturut-turut menumpahkan isinya
ke saluran sekunder dan kemudian mengumpulkannya ke saluran yang
lebih besar atau saluran primer. Saluran primer lebih lanjut mengalirkan
susu ke kelenjar sistema yang merupakan pusat pengumpulan dari semua
saluran yang berada di dalam ambing dan sebagai tempat penampungan
susu pada interval waktu pemerahan.
FISIOLOGI AMBING
Epitel alveolus menyerap substansi yang ada dalam darah, kemudian
disintese menjadi susu untuk dipancarkan ke lumen alveoli. Setelah pemerahan
KUARTIR DE PAN
KELENJAR
S ISTERN A P UTING
'ARIS KANAL
Gambar 4.8 Ilustrasi pancaran air susu oleh pengaruh hormon oksitosin melalui
rangsangan saraf dan aliran darah dalam tubuh sapi
PEL EPASAN
AKTIVITAS
OKSITOSIN
STIMULASI OKSITOSIN
,MAMARIAI,
20 ~ 1! KONTRAKSI
ALVEOLAR
BERAKHIR
PANCARAN
PENARIKAN PASIF "'_'i-
SUSU
o 20 40 60 80 100 120
WAKTU (DETIK)
Gambar 4.9 Refleks yang terjadi pada pancaran air susu keluar dari ambing sapi
(Lishman, 2010)
Air susu merupakan salah satu produk biologis sebagai hasil rangkaian
proses reproduksi menyusul keberhasilan konsepsi dan lahimya seekor pedet.
Produksi susu dimulai dari saat anak lahir sampai induk mencapai masa kering
ketika air susu sudah tidak lagi dihasilkan atau sengaja dihentikan.
Proses pemerahan merupakan saat kritis untuk memperoleh hasil susu
yang banyak dan berkualitas. Oleh sebab itu pelaksanaan pemerahan harus
dilakukan secara baik dan benar agar diperoleh hasil optimal. Konsumen juga
mengharapkan susu mumi yang berarti tidak tercampur bahan lain, sehat tidak
mengandung cemaran mikroba ataupun zat kimia yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan bagi konsumen dan segar atau masih baru dan tidak
terjadi kerusakan.
55
Jadwal Pemerahan Sapi
Kegiatan memerah sapi perlu diatur sebaik-baiknya tentang tata car a
memerah dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Pelaksanaan
memerah menggunakan jadwal tetap, agar sapi menjadi terbiasa dan tidak stres,
misalnya perah pagi dan sore. Untuk disetor ke KUD, pemerahan disesuaikan
dengan waktu penerimaan setoran karena susu harus disetorkan segera setelah
diperah. Semakin lama tenggat waktu antara pemerahan dengan setoran ke
KUD akan semakin menurunkan kualitas karena meningkatnya jumlah bakteri
dalam susu. Bagi petemakan yang memiliki tangki pendingin, ketergantungan
antara waktu perah dengan saat pengiriman susu dapat diatur lebih baik.
PERSIAPAN MEMERAH
Perlu dilakukan berbagai persiapan menjelang pemerahan agar semua
berjalan lancar, praktis dan mengedepankan prinsip higiene dan sanitasi yang
benar baik terhadap tempat pelaksanaan memerah, lingkungan, peralatan,
dan pelaksana.
Berbagai cara baku pemerahan akan berkembang sejalan dengan waktu
dan pengalaman juru perah serta penyesuaian dengan kondisi setempat.
Memerah sapi diperlukan keterampilan, kedisiplinan, kesabaran dan ketekunan.
Pemerahan sapi yang dilakukan dengan persiapan yang baik dan benar akan
menjamin kualitas dan kinerja produksi optimal.
Umumnya sapi diperah di kandang di mana sapi dikelola setiap harinya.
Untuk petemakan tetentu ada yang menyediakan tempat khusus untuk memerah,
terutama yang menggunakan mesin untuk pemerahan secara berkelompok.
Sapi dihalau dari kandang menuju tempat pemerahan yang telah dipersiapkan,
sementara itu kandang bisa dibersihkan dengan baik.
Tempat
Hasil produksi, kualitas dan kesehatan susu sangat dipengaruhi oleh
kondisi kandang atau temp at di mana sapi diperah. Tempat perah harus bersih
dari segala macam kotoran, memiliki ventilasi udara yang terbuka, bersih,
Kebersihan
Peralatan
Peralatan yang lengkap sangat menunjang kesempurnaan pekerjaan. Semua
sarana yang diperlukan untuk proses pemerahan, merupakan satu paket kerja
yang harus tersedia secara lengkap. Kontaminasi alat karena kurang dijaga
kebersihannya dapat menyebabkan air susu menjadi asam, rusak atau berbau
kurang sedap. Semua alat yang diperlukan untuk memerah harus terlebih
dahulu dipersiapkan secara lengkap dan siap pakai. Keterpaksaan meninggalkan
tempat perah untuk mengambil alat yang tertinggal bisa memecah konsentrasi
dan membuka peluang terjadi kontaminasi. Semua perala tan disiapkan dalam
keadaan bersih dan kering.
Saringan
Disediakan kain atau alat saring stainless steel untuk menyaring susu hasil
perahan sewaktu dimasukkan ke dalam milk agar terbebas dari kotoran atau
bulu yang rontok. Saringan hams dalam kondisi kering, bersih, berwarna putih
agar terlihat bila ada bercak atau kotoran. Kain lap bersih juga disediakan
untuk membersihkan ambing sebelum dan sesudah diperah.
Timbangan
Untuk pencatatan produksi susu, dapat digunakan alat timbangan sederhana
yang dipasang tergantung di kandang pemerahan seperti pada Gambar 5.1.
Dengan demikian secara individual dapat dipantau dengan baik timbangan
berat produksi masing-masing setiap kali selesai diperah.
Kebersihan
Sapi harus dijaga kebersihannya untuk menghindari pencemaran susu oleh
kotoran yang melekat di tubuhnya. Untuk mengurangi tercemarnya tubuh sapi
setelah dibersihkan, harus didahului dengan terlebih dahulu membersihkan
lantai dan lingkungannya.
1. Bagian tubuh. Sebelum diperah, sapi dimandikan agar bersih dari segala
kotoran terutama di sekitar perut, pantat, lipat paha, ekor dan seluruh
tubuh. Pencucian lebih diutamakan bagian perut dan bagian tubuh antara
kedua pangkal kaki belakang, bagian ekor dan pantat.
2. Bagian ambing. Puting dan sekitar ambing dicuci bersih menggunakan
spon. Setelah bersih kemudian dikeringkan menggunakan handuk atau
lap kering yang lembut.
PETUGAS
[uru perah harus telah siap dengan segala perlengkapan yang diperlukan.
Juru perah sewaktu bertugas juga harus fokus dengan pekerjaan dan
meninggalkan pemikiran dari segala masalah di luar tugas memerah. Peranan
seorang juru perah sangat besar dalam mencapai sasaran kualitas produk yang
handal. Pakaian dan keadaan anggota tubuh dapat bertindak sebagai sumber
pencemaran air susu.
TEKNIK MEMERAH
Sapi dapat diperah dengan cara manual menggunakan tangan atau dengan
bantuan mesin. Dalam jumlah kepemilikan sapi sedikit, di samping harga mesin
yang relatif mahal juga memerlukan beban tenaga listrik tertentu sehingga tidak
efisien. Di lain pihak bila jumlah sapinya banyak, maka pemerahan manual
tidak lagi efisien karena faktor lambatnya pemerahan dan kebutuhan tenaga
kerja yang banyak sehingga lebih efisien dilakukan dengan mesin.
Gambar 5.2 Pelaksanaan pemerahan secara manual oleh seorang petemak atau juru
perah dengan menggunakan ember almunium
Cora Memerah
Memerah ambing sapi menggunakan kelima jari. Puting dipegang antara
ibu jari dan keempat jari lainnya, dengan ketiga jari menekan dan diurut ke
bawah, hingga air susu terpancar keluar. Mula-mula diperah dengan pelan
dan secara bertahap menjadi lebih cepat. Satu-dua pancaran awal (stripping)
dibuang dengan asumsi kotor. Pemerahan diulang terus sampai air susu dalam
ambing diperkirakan telah habis keluar, ditandai dengan sudah tidak keluamya
air susu dari puting. Ambing yang kosong, dalam rabaan tidak lagi terasa ada
gumpalan susu. Secara alamiah, susu keluar dari puting ketika disedot mulut
anak yang dalam kondisi basah serta sedotan yang lembut dan konstan. Hal
demikian berbeda dengan sewaktu diurut oleh juru perah. Dalam keadaan
belum terbiasa urutan tang an dapat menimbulkan rasa nyeri dan iritasi pada
puting. Untuk mengurangi iritasi, telapak tangan pemerah dan puting sapi
terlebih dahulu dilumuri pelicin secukupnya menggunakan minyak kelapa
atau vaselin, terutama bagi sapi yang baru pertama kali diperah. Setelah selesai,
ambing dan puting dicuci dengan air hangat-hangat kuku, kemudian puting
dicelup atau disemprot menggunakan air dicampur yodium atau biosida.
Gambar 5.3 Mesin perah portable double yang dioperasikan untuk dua ekor sapi
sekali perah
PENYANGGA
KELENJAR
ASESORIUS
ALIRAN ~u,~u,
TERJEP IT OLEH
TERN GKATN YA
CAWAN PUTING
VAKUM
t
Gambar 5.5 Cawan puting yang dapat terangkat naik oleh pengaruh hampa udara
cenderung menekan terbukanya saluran dan menghentikan aliran susu
keluar (Quinn, 1980)
Penanganan Alat
Masalah penting dalam penanganan alat adalah memastikan bahwa dapat
beroperasi dengan baik pada saat dipakai serta dijamin bersih dan higienis.
Alat yang beroperasi dengan baik tetapi tanpa jaminan kebersihan dan sanitasi
maka hasil kualitas produknya tidak akan optimal.
Mesin Perah
Penampungan Susu
Susu ditampung di wadah kaleng khusus yang bersih, kering dan steril.
Dihindari mencampur susu hangat habis perah dengan susu dingin di dalam
satu wadah yang sarna karena dapat berakibat susu menjadi asam, kecuali
dalam hal pemasukan susu ke dalam tangki pendingin, susu hasil perah dapat
lang sung dimasukkan karena akan masuk dalam suatu proses pendinginan
dan lingkungan yang dingin.
Pendinginan
Susu adalah bahan pangan yang mudah rusak. Pada saat keluar dari
tubuh sapi, susu dalam kondisi hangat sesuai suhu tubuh sapi. Dalam suhu
susu yang demikian sangat cocok bagi bakteri berkembang biak, dan untuk
menekan perkembang biakan maka susu harus cepat didinginkan. Bakteri
akan cepat berkembang bila tidak didinginkan dalam waktu 1-2 jam dan
susu menjadi rusak terutama di musim panas atau kondisi suhu ruangan
panas dan lembap.
Kemurnian
Kemurnian susu harus dijaga sebaik mungkin. Jangan mengambil kepala
susu dan tidak dibenarkan menambah bahan lain untuk dicampurkan susu
termasuk air dan bahan pengawet dalam kondisi apapun juga. Penyimpangan
terhadap kemurnian susu dapat diungkap melalui pengujian laboratorium.
Residu Antibiotik
Dilarang mengirim susu untuk konsumen atau ke temp at penampungan
susu bila sapi dalam kondisi mastitis atau dalam perawatan dokter hewan yang
pengobatannya menggunakan antibiotik atau bahan lain yang menimbulkan
residu. Kaleng susu bekas dipakai menyimpan air susu yang mengandung
cemaran antibiotik harus disendirikan dan dicuci bersih sebelum dipakai
kembali untuk pemakaian normal.
Mastitis Klinis
Mastitis merupakan penyakit yang banyak dijumpai pada sapi perah.
Juru perah dapat sangat membantu tugas pengenalan dini mastitis klinis. Air
susu sapi mastitis akan mencemari kumpulan air susu hewan sehat lainnya
dan meningkatkan angka total plate count (TPC) hingga dapat menurunkan
penilaian kualitas susu secara keseluruhan, dan berpengaruh dalam penurunan
produksi. Air susu sapi mastitis tidak layak konsumsi dan dilarang dijual.
Kehati-hatian Petugas
Petugas akan menjadi bersikap hati-hati bila memahami dampak bahaya
dari suatu pekerjaan. Latar belakang pendidikan yang dimiliki tidak cukup
misalnya untuk memahami bahwa dampak dari pelaksanaan dipping yang
tidak akurat bisa berpotensi sebagai penyebab mastitis, dan hasil akhir produksi
akan menyebabkan meningkatnya total plate count (TPC) secara keseluruhan
yang berpengaruh besar pada kualitas atau bahkan ditolaknya hasil produksi
oleh konsumen. Dengan diberikan pemahaman bahwa bila puting susu sehabis
perah tidak dicelup bisa berakibat pada terjangkit mastitis dan kualitas produksi,
serta penurunan layak jual produk, maka si pemerah akan mengerti bahwa
apa yang dihadapi tidak sesederhana seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Dengan demikian yang bersangkutan akan bertindak lebih berhati-hati dan
secara bertanggung jawab.
Gambar 5.7 Tangki pendingin susu ditempatkan di ruangan yang dijaga kondisi
kebersihannya dan sanitasinya
Tangki Pendingin
Tangki pendingin adalah suatu wadah penampung susu terbuat dari bahan
stainles steel yang dilengkapi dengan sistem pendingin. Manfaatnya adalah
untuk menampung susu dalam jangka waktu lebih lama misalnya 12 jam,
dan terjamin kualitasnya karena keberadaan jasad renik di dalam air susu
terhambat perkembangannya sehingga lebih tahan lama. Umumnya dalam
bentuk kubus atau bentuk sisi samping melingkar, serta dirancang mudah
untuk dibersihkan. Jumlah produksi yang masih sedikit tidak perlu tangki
pendingin tetapi hams segera dikirim ke KUD atau TPS terdekat. Penyetoran
ke KUD oleh peternak tidak dipersyaratkan dalam keadaan dingin, tetapi
untuk penyerahan ke industri pengolahan susu biasanya hams dalam kondisi
dingin. Tangki pendingin dapat dipesan dengan ukuran kapasitas volume
Monitoring Produksi
Hasil produksi total merupakan indikator yang baik untuk perhitungan
kasar penghasilan usaha budi daya. Dari catatan produksi individual dapat
dilakukan seleksi induk atau memilih pedet keturunan. Catatan produksi juga
dapat digunakan sebagai bahan perhitungan paling menarik ketika menghitung
dan mengatur susunan atau volume rangsum pakan harian.
73
PERKAWINAN ALAMI
Ketika sapi jantan secara alami mengawini betina yang sedang birahi atau
berada dalam tahap ovulasi, maka pancaran sperma akan masuk ke dalam
vagina. Dalam keadaan ini berjuta-juta spermtozoa dikeluarkan pada setiap
kali pancaran akan berenang dan bergerak dalam getah selaput lendir vagina
hewan betina. Sebagian dari sperma dapat lolos melewati leher rahim yang
terbuka dalam kondisi hewan betina birahi, dan beberapa ekor di antaranya
menembus masuk dan bergerak sepanjang uterus menuju oviduk.
Memelihara Pejantan
Menyewa Pejantan
Gambar 6.1 Seekor fetus sapi berada di dalam uterus induk (Smith, 2010)
INSEMINASI BUATAN
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau Artificial Insemination
(AI) adalah kegiatan pembuahan sapi betina oleh sperma sapi jantan dengan
menggunakan alat khusus yang disebut 'insemination gun'. Inseminasi Buatan
pad a hewan peliharaan telah lama dilakukan, yaitu sejak tahun 1322, ketika
seorang kepala suku bangsa Arab yang sedang berperang pada abad ke-14.
Pada peristiwa tersebut kuda tunggangannya sedang birahi. Di suatu mal am
dengan cerdik, dia mencuri semen dari dalam vagina seekor kuda musuh yang
barn saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya menggunakan
tampon [Link] kemudian dimasukkan ke dalam vagina kuda betina
miliknya yang sedang birahi dan ternyata berhasil bunting dan lahirlah kuda
baru yang gagah dan cepat larinya.
Penelitian ilmiah pertama dalam bidang IBpada hewan piaraan dilakukan
oleh seorang ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani
pada tahun 1780 yang berhasil menginseminasi hewan amfibi, dan atas
keberhasilannya kemudian melakukan percobaan pada anjing. Semen yang
dimasukkan langsung ke dalam uterus anjing yang birahi menggunakan
Bab 6 - Pernuliabiakan 75
sebuah spuit, ternyata berhasil membuahkan tiga ekor anak. Dengan berbagai
macam hasil penelitian, Spallanzani kemudian dikenal sebagai Bapak Inseminasi.
Tahun 1782, Rossi, P dalam percobaannya berhasil dengan baik mengulangi
apa yang telah dilakukan oleh Spallanzani. Keberhasilan dalam percobaan
tersebut memperkuat kesimpulan bahwa inseminasi dapat dilakukan dengan
cara buatan.
Di Indonesia Inseminasi Buatan pertama kali diperkenalkan pada awal tahun
lima puluhan oleh Prof B. Seit dari Denmark. Sebagai tindak lanjut kemudian
dibangun beberpa stasiun IB di beberapa provinsi misalnya di Provinsi Jawa
Tengah (Ungaran dan Mirit/Kedu Selatan), Jawa Timur (Pakong dan Grati),
Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan di Bali (Baturati) dan Bogor (Jawa barat).
Dewasa ini IB telah sangat populer di kalangan peternak termasuk peternak
tradisional, dan biasa dilakukan untuk mengawinkan sapi perah maupun
potong. Dalam kapasitas yang masih terbatas orang juga melakukannya pada
kambing dan ayam.
Dalam hal pelaksanaan inseminasi buatan, sapi jantan pemacek berperan
sebagai sapi pendonor sperma untuk betina, dan inseminasinya dilakukan melalui
perkawinan buatan (tidak langsung), dengan bantuan alat dan inseminator.
Jadi tidak ada perkawinan langsung antara pemacek dan sapi betina. Seek or
sapi jantan dalam satu tahun dapat mendonorkan spermanya kepada resipien
(penerima) sebanyak 20.000 ekor betina. Sebagai perbandingan, sapi pejantan
yang dikawinkan secara alamiah hanya dapat mengawini sapi betina sebanyak
120 ekor per tahun.
Penanganan Semen
Mengawinkan sapi dengan metode inseminasi buatan memerlukan kegiatan
dalam tiga tahap mulai dari pengambilan sperma, penyimpanan sesuai standar
prosedur baku dan pelaksanaan inseminasi. Dalam praktiknya, semen dapat
dipesan dan dibeli melalui koperasi yang telah menyimpannya sesuai prosedur
termasuk memberikan pelayanan oleh inseminator atau dokter hewan praktik
untuk melakukan lB.
a. Pengumpulan semen (sperm a)
Pemanenan sperma sapi pemacek dilakukan oleh perusahaan produsen
semen. Di Indonesia diakukan oleh instansi pemerintah (terutama) oleh Balai
Besar Inseminasi Buatan di Singosari (Jawa Timur) dan di Lembang (Jawa
Barat). Sapi jantan pemacek sudah mengalami seleksi sesuai genetik dan
status kesehatannya. Pada tahap awal sperma dikumpulkan menggunakan
bantuan vagina buatan berupa tabung silinder terbuat dari karet sebagai
timan yang ditempatkan pada suatu bentuk sapi timan (Gambar 6.2), agar
menimbulkan rangsangan bagi pemacek seperti terjadi pada perkawinan
alami dan dilengkapi alat ejakulasi elektrik untuk memacu keluarnya
Gambar 6.2 Petugas memanen semen dari seekor sapi pejantan FH dengan pancingan
sapi betina tiruan (B). Sperma ditampung melalui tabung silinder (A)
ke dalam wadah. (Anonim, 2011)
b. Penyimpanan semen. Semen disimpan dalam kondisi dingin agar tidak rusak
dan tahan lama. Sperma kemudian diencerkan dan dimasukkan ke dalam
pipet plastik kecil atau biasa disebut "straw" sebagai penampung dan disimpan
ke dalam alat penyimpan sangat dingin menggunakan nitrogen cair dengan
suhu -196° C. Untuk pengawetan di tingkat lapangan sewaktu petugas akan
Gambar 6.3 Sebuah tabung berisi nitrogen cair untuk menyimpan semen
Bab 6 - Pernuliabiakan 77
melakukan inseminasi digunakan tangki khusus yang lebih keeil atau termos
untuk menyimpan sementara. Setiap straw mengandung sedikitnya 10.000
sel sperma hidup. Untuk menjaga kelestarian hidup sperma dalam jangka
panjang, nitrogen eair diganti setiap 60-90 hari penyimpanan.
Pelaksanaan Inseminasi
Untuk keberhasilan pelaksanaan diperlukan petugas teknis inseminator
yang sudah berpengalaman. Di daerah peternakan sapi, termasuk sapi perah
biasanya sudah ada petugas inseminator pemerintah, petugas Koperasi Unit
Desa (KUD), atau inseminator mandiri bersertifikat melakukan IB, atau dokter
hewan mandiri. Kelengkapan yang dibutuhkan untuk perkawinan IB adalah
ketersediaan semen yang sudah diketahui jenis dan kualitasnya.
Inseminasi buatan merupakan teknologi perkawinan tidak langsung yang
telah terbukti memiliki banyak manfaat dalam mendorong kemajuan di bidang
perkembangbiakan hewan. Untuk meneapai sukses dalam pelaksanaannya,
perlu diperhatikan tentang keberadaan sperm a atau semen sebagai bahan baku
untuk inseminasi, petugas pelaksana dan teknologi dengan eara kerja sesuai
standar keterampilan dan kewenangan yang telah ditetapkan.
Sperm a sebagai bahan utama dapat diperoleh atau dibeli dari pabrik at au
pusat pembuat semen, umumnya di Balai Inseminasi Buatan yang ditunjuk
pemerintah. Hams diyakinkan bahwa semen yang dipakai adalah dari jenis
sapi perah dan dengan rumpun sesuai yang diinginkan pemilik ternak. Di
dalam lingkup Koperasi Unit Desa (KUD), pelayanan IB biasa dilakukan oleh
petugas inseminator KUD.
Gambar 6.S Ilustrasi cara inseminator memasukkan sperma jantan ke alat reproduksi
sapi betina
Manfaat
Pemerintah telah sejak lama mendorong peternak untuk mengawinkan
sapi melalui cara IBdengan memberikan penyuluhan dan penyediaan petugas
inseminator terampil di lapangan dan pedesaan. Hal ini dilakukan karena
perkawinan dengan cara IB memiliki banyak keuntungan antara lain sebagai
berikut.
1. Tidak perlu memelihara pemacek. Peternak tidak perlu secara khusus
memelihara sapi jantan sebagai pemacek untuk ternaknya karena akan
memerlukan perawatan dan biaya tersendiri. Oengan demikian ada
penghematan karena harga dan biaya IB lebih murah dibanding biaya
pemeliharaan dan pemberian pakan sapi pejantan.
2. Meningkatkan mutu genetik. Sapijantan pemacek di lingkungan peternakan
jenis dan kualitasnya terbatas. Mengawinkan sapi betina secara IB dapat
menggunakan sperma sapi jantan unggul yang sudah terpilih secara baik
Bab 6 - Pernuliabiakan 79
dan diselenggarakan seeara profesional. Peternak memiliki pilihan berbagai
jenis genetik dan ras pejantan yang disediakan produsen dan bahkan
tersedia jenis-jenis sapi eksotik impor yang telah terseleksi dengan baik.
3. Optimalisasi penggunaanbibitunggul terpilih. Sapi pejantan unggul yang
baik, dapat dipertahankan oleh produsen semen untuk beberapa tahun
lamanya. Semen yang dihasilkan masih dapat tersimpan dengan aman,
meskipun seandainya pejantan yang bersangkutan telah mati atau tidak
lagi layak digunakan karena alasan kesehatan atau mengidap penyakit
menular termasuk yang ditularkan melalui semen.
4. Memperkecilrisiko kecelakaanfisik waktu kawin. Sapi kawin seeara alami
berpotensi terjadi keeelakaan fisik, terutama sapi betina dengan proporsi
tubuh keeil yang kawin dengan pejantan dengan tubuh besar. Keeelakaan
terjadi karena fisik pejantan yang melebihi kemampuan betina menahan
beban sapi jantan.
5. Memperkecil risiko penularanpenyakit. Hewan diharapkan terhindar dari
penularan penyakit terutama yang dapat ditularkan melalui hubungan
kelamin. Beberapa penyakit dapat ditularkan melalui kawin alami, baik
seeara mekanis melalui kontak langsung maupun biologis karena sifat
organisme patogen yang dapat ditularkan dari pejantan ke hewan betina
atau sebaliknya, misalnya pada penyakit Infectious Bovine Vulvo Vaginitis
dan Bovine ViralDiarrhea. Semen untuk IBtelah dipersiapkan melalui seleksi
pejantan yang diawasi kesehatannya seeara teratur mulai dari perawatan
sehari-hari sampai waktu diambil semennya dan pemeriksaan kesehatan
semen.
6. Membantu mengatur jarak kelahiran. Campur tangan manusia dalam
menentukan saat sapi kawin dapat mewujudkan upaya mengatur jarak
kelahiran ternak seeara lebih baik dan terprogram. Pelayanan IB yang
selalu tersedia di kawasan peternakan dan dilakukan dengan eepat dan
tepat, merupakan bentuk kemudahan yang dapat diperoleh peternak
sehingga membantu program pemuliabiakan ternak seeara baik. Ternak
yang berada dalam kondisi birahi dapat dilayani IB seeara tepat waktu.
Melalui pelayanan yang tepat akan dieapai peningkatan angka kelahiran
di kawasan peternakan yang membutuhkan.
7. Memperkecilrisiko [Link] banyaknya alternatif pilihan semen
pejantan yang tersedia, maka dapat meneegah terjadinya kawin sedarah
pad a sapi betina (inbreeding).
Kelemahan
Di samping faktor keuntungan terdapat juga sisi kelemahan yang perlu
memperoleh perhatian untuk memperkeeil risiko kerugian yang mungkin
dapat terjadi. Di antara faktor kerugian tersebut adalah sebagai berikut.
Kineria Inseminasi
Sapi dikawinkan alami maupun melalui IB tidak dijamin keberhasilan
konsepsi dengan hanya satu kali kawin. Sesuai pengalaman, untuk perkawinan
dengan cara inseminasi buatan biasanya 2-3 kali baru berhasil atau bahkan
lebih. Mundurnya keberhasilan konsepsi akan merugikan peternak karena
biaya makan dan perawatan yang "hilang", sedangkan untuk periode birahi
berikutnya masih harus menunggu paling cepat 21 hari tahapan birahi
berikutnya. Berbagai penyebab ketidakberhasilan bunting melalui inseminasi
buatan yang dipengaruhi baik oleh faktor teknis maupun nonteknis antara
lain sebagai berikut.
1. Kualitas semen di bawah standar. Keadaan ini dipengaruhi oleh faktor
individu hewan jantan yang memiliki spermatozoa dalam kondisi lemah
sehingga tidak mampu bergerak dan memiliki kekuatan cukup menembus
dinding sel telur untuk dibuahi sehingga mengalami kegagalan pembuahan
dan membentuk janin.
2. Penyimpanan semen yang kurang baik. Faktor ini pada IBterutama terkait
dengan rantai dingin. Semen untuk pelaksanaan IBharus tersimpan dingin
sesuai prosedur baku sebelum dipakai. Penyimpangan terhadap prosedur
tetap akan mengakibatkan penurunan kualitas semen atau bahkan dapat
menyebabkan kematian spermatozoa.
3. Pengenalan atau deteksi masa birahi yang tidak tepat. Mendeteksi saat
sapi mengalarni birahi adalah sangat penting dan menentukan keberhasilan
pembuahan. Keterlambatan untuk melakukan IB sehingga tidak tepat
waktu dengan terjadinya ovulasi dan masaknya sel telur sapi betina akan
menyebabkan kegagalan dalam memperoleh hasil yang optimal.
Bab 6 - Pernuliabiakan 81
4. Embrio terhisap kembali oleh tubuh induk, atau gugur sebelum waktunya.
Dalam suatu proses fisiologis yang abnormal karena pengaruh hormonal,
nutrisi yang buruk, keadaan stres atau penurunan kondisi kesehatan
induk, sel telur yang telah dibuahi dapat terserap kembali oleh induk
dan mengakibatkan kegagalan untuk berkembang menjadi janin, atau
mengalami keguguran.
TRANSFER EMBRIO
Teknologi transfer embrio (TE) merupakan teknik pemuliabiakan yang
secara ilmu pengetahuan merupakan kemajuan dibanding IBkarena mampu
menghasilkan embrio lebih banyak yang siap ditanamkan ke temak penerima.
Teknologi TE dilakukan dengan cara pemindahan embrio yang diperoleh
secara in vivo yaitu embrio diambil dari hewan betina bunting sebagai donor.
Embrio dapat juga diperoleh secara in vitro yaitu fertilisasi dilakukan di luar
tubuh hewan donor. Baik fertilisasi in vivo maupun in vitro, embrio kemudian
dimasukkan ke uterus hewan betina lain sebagai resipien (betina penerima).
Seiarah
Transfer embrio (TE)mulai dikembangkan pada tahun (1970-1980)an. Di
Indonesia mulai diperkenalkan tahun [Link] pertama kalinya dipraktikkan
oleh Walter Heape di tahun 1890 dengan memindahkan dua embrio kelinci
Anggora ke Belgian doe bunting. Pada hewan pangan dimulai tahun 1930
menggunakan domba dan kambing. Tetapi TE yang berhasil baik dilaporkan
pada sapi dan babi oleh Jim Rowson di Cambridge England dan secara
komersiel dilakukan [Link] ini penting dalam rangka meningkatkan
mutu genetik dan pelestarian plasma nutfah.
Teknik Pelaksanaan
Untuk melakukan TE diperlukan beberapa tahapan yang harus dilakukan
secara berturutan mulai dari seleksi sapi yang akan dipakai sebagai pendonor
dan resipien, penyiapan betina resipien agar terjadi ovulasi, melakukan
sinkronisasi birahi, mengawinkan sapi donor, mengumpulkan embrio yang
sudah jadi dan menyeleksinya serta terakhir menanamkan embrio ke dalam
uterus resipien.
1. Seleksi sapi betina donor dan resipien. Sapi donor diseleksi untuk
memperoleh genetik dan sel telur berkualitas. Resipien diseleksi dan
dipersiapkan untuk nantinya dapat menerima pencangkokan embrio yang
akan ditanamkan di rahimnya dan melahirkan anak.
Bab 6 - Pernuliabiakan 83
Ada perbedaansasaran dalam penggunaankedua teknologiperkembangbiakan
melalui IB atau TE, antara lain sebagaimana tersebut dalam TabeI6.1. Untuk
memperoleh derajad kemurnian dan perbaikan mutu genetik, TElebih memiliki
keunggulan, tetapi dari segi kepraktisan pelaksanaan di lapangan, IB lebih
mudah dan praktis untuk dilaksanakan secara rutin menggunakan teknologi
yang lebih sederhana.
SELANG BERANAK
Perhatian dan pengamatan khusus perlu dilakukan manakala sudah sampai
saatnya sapi mencapai usia dewasa kelamin dan memenuhi syarat fisik dan
fisiologis untuk dikawinkan serta tahapan-tahapan perkawinan dan kelahiran
selanjutnya semasa masih dalam usia produktif. Keterlambatan dalam mengatur
mata rantai pengembangbiakan akan berdampak menghambat kemajuan us aha
secara keseluruhan. Tata laksana yang baik dengan perencanaan program
reproduksi secara konsepsional dengan pengaturan selang beranak (calving
interfal) yang tepat akan menjamin efisiensi usaha.
Bab 6 - Pernuliabiakan 85
beranak berbeda. [enis sapi dengan selang beranak pedet pendek lebih
banyak memberikan keuntungan dibanding yang panjang.
2. Faktor fisik dan kesehatan. Sapi dengan penampilan fisik dan kesehatan
prima dapat diharapkan hewan memiliki kinerja reproduksi optimal.
Keadaan fisik ini juga harus ditunjang dengan cara perawatan yang
memadai. Sapi yang dibeli dari pasar hams melewati pengamatan sesuai
kriteria sebagai calon sapi perah yang baik.
3. Faktor Nutrisi. Kandungan nutrisi pakan yang terjamin baik sangat
diperlukan dalam menjaga kesuburan reproduksi. Kekurangan nutrisi
dapat menyebabkan gangguan pada pencapaian dewasa kelamin dan
kesuburan alat reproduksi.
4. Faktor pengenalan birahi. Ketepatan perhitungan atau pengenalan masa
birahi sangat berpengaruh pada keberhasilan mengawinkan sapi dan selang
beranak. Ketepatan teknik mengawinkan temtama pada pelaksanaan IB
menjadi jaminan perolehan hasil yang optimal misalnya dalam memasukkan
sperm a ke organ genital sapi betina.
MANAJEMEN KESEHATAN
Pelaksanaan manajemen kesehatan yang baik dan benar tidak semata
mengutamakan tindakan pengobatan sapi sakit, tetapi lebih penting lagi
untuk menciptakan keadaan agar hewan tetap dalam kondisi sehat dan
tidak terkendala oleh gangguan kesehatan. Penyakit memerlukan perhatian
87
dan penanganan serius, namun manajemen pengelolaan hewan yang baik
dan benar harus lebih mengutamakan pada perkuatan kondisi, kebugaran
tubuh dan kinerja produksi yang memiliki sasaran jauh ke depan dengan
menciptakan kondisi kesehatan kelompok ternak dan lingkungan budi daya
yang prima.
Pengendalian kesehatan sapi perah bertujuan untuk memberikan perhatian
terhadap segala gangguan yang berpotensi memperlemah stabilitas kesehatan
baik secara individual maupun sekelompok hewan dan lingkungan budi daya.
Gangguan kesehatan bukan saja berdampak pada munculnya penyakit yang
terlihat secara klinis, tetapi juga subklinis yang menyimpan potensi kerugian
terutama bila menyangkut masalah kinerja reproduksi. Keseimbangan
kebersihan lingkungan, kecukupan pakan dan air serta udara yang bersih
merupakan unsur penting untuk pemenuhan kebutuhan hayati hewan secara
baik dan proporsional.
Jasad renik sebagai khasanah hayati semesta yang ada memiliki peranan
penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan di alam walaupun di
antaranya ada yang bertindak sebagai pembawa penyakit, tetapi banyak
pula yang memiliki peranan penting dalam membantu keberlangsungan
kehidupan makhluk di muka bumi. Oleh sebab itu, maka tidak semua penyakit
bisa dicegah atau diberantas tuntas, tetapi dapat dikendalikan dalam batas
keseimbangan alam yang bisa dilakukan oleh umat manusia melalui penerapan
ilmu pengetahuan dan teknologi bidang diagnostik patologi, epidemiologi,
imunologi dan pengobatan penyakit.
Daya tahan hewan terhadap penyakit dapat menjadi sangat menu run bila
ada muatan ekstra yang memengaruhi keseimbangan fisiologis sehingga
memicu ketidakberdayaan daya kebal tubuh hewan untuk mempertahankan
kondisi dalam batas normal. Pengaruh temperatur sebagai dampak lingkungan
yang berada di atas suhu normal, dan kelembapan udara yang tinggi dapat
menghalangi mekanisme pengendalian kondisi secara alami. Suhu udara
sekitar yang panas, berpengaruh pada berlangsungnya penguapan cairan
tubuh melalui kulit secara berlebihan atau asupan nutrisi yang kurang, akan
menyebabkan ketidakmampuan tubuh dalam memenuhi tuntutan kebutuhan
membentuk benteng pertahanan tubuh yang diperlukan. Akibatnya hewan
terpaksa menanggung beban tambahan karena tidak mampu menghadapi
setiap serangan agen penyakit atau cekaman yang terjadi.
Kesehatan Pedet
Pedet lahir dalam kondisi yang masih lemah dan tidak memiliki imunitas
cukup untuk menghadapi infeksi dalam dunia barunya di mana penuh
mikroba di sekitar kehidupan di dalam kandang yang kotor dan merupakan
ancaman bagi kesehatannya. Seekor pedet baru lahir memerlukan kondisi
Kesehatan Lingkungan
Terutama pad a hewan yang selamanya hanya di kandangkan tanpa ada
kesempatan interaksi dengan temp at lain yang lebih segar, maka situasi
lingkungan sangat dominan dalam memengaruhi kondisi tubuh dan kemampuan
berproduksi. Suasana sekitar petemakan diusahakan secara maksimal dalam
keadaan bersih dan tenang tanpa banyak gangguan, aman dan terhindar dari
stres yang disebabkan oleh hewan kurang istirahat.
Untuk melindungi sapi dari pengaruh cuaca yang jelek di musim hujan,
angin bertiup kencang, hawa dingin menusuk, atau sinar matahari menyengat
secara berlebihan, harus disediakan pelindung cuaca dan peneduh. Harus
cukup cahaya sinar matahari masuk di kandang, dan diusahakan tidak terlalu
berlebihan. Kandang dan lingkungan selalu diusahakan dalam keadaan
bersih dan dilakukan disinfeksi secara teratur. Perlu diingat bahwa disinfeksi
kandang menjadi tidak banyak bermanfaat bila tidak didukung oleh kebersihan
lingkungan.
Suhu Lingkungan
Tinggi rendahnya suhu dan derajat kelembapan udara di berbagai kawasan
tidak selalu tetap, tergantung pada kondisi musim dan cuaca. Dalam situasi
demikian kesempatan hewan untuk memulihkan kondisi tubuh akan mengikuti
perubahan lingkungan yang ada dan mungkin juga dalam waktu bersamaan
dapat terjadi penurunan atau peningkatan populasi vektor di sekelilingnya
tanpa diketahui sebabnya yang berdampak pada kesehatan hewan. Perubahan
cuaca lingkungan dapat dipengaruhi oleh musim, atau mungkin pula mengikuti
perubahan suhu antara siang dan malam. Dalam kondisi yang stabil tanpa
banyak gangguan hewan berkesempatan memulihkan kondisi waktu istirahat
malam.
Situasi Iklim
Bagi negara iklim tropis seperti halnya Indonesia, keadaan cuaca yang
panas, sangat kering atau lembap akan memengaruhi status kesehatan hewan.
Variasi perubahan cuaca yang tidak stabil atau berubah menjadi ekstrem
Agen Patogen
Mikroba lingkungan umumnya dijumpai pada air kotoran kandang atau
tinja sapi yang dapat langsung mencemari ambing antara masa perah, karena
antara pemerahan terakhir dan pemerahan berikutnya puting memerlukan
perlindungan dari menyusupnya cemaran bakteria. Patogen lingkungan
termasuk di antaranya adalah jenis coliform dan streptococci. Beberapa kontaminan
lingkungan dapat menjadi patogen bila mereka cukup menginfeksi ambing
hewan yang berada dalam kelompok. Pencegahan mastitis melibatkan kegiatan
sebelum dan sesudah pemerahan mulai dari sewaktu disinfeksi puting,
perawatan mesin perah, manajemen lingkungan sapi untuk mempertahankan
kebersihan dan dalam kondisi kering, higiene pemerahan, sampai pada
pengobatan untuk sapi kering laktasi.
Perawatan
Pada dasarnya sapi harus dirawat dengan baik dan diharapkan selalu dalam
kondisi sehat karena akan menghasilkan produk susu dan daging yang optimal
Pada saat tertentu hewan perlu dilepas di padangan agar memperoleh cukup
sinar matahari untuk membantu sintesis vitamin D, dan memberi kesempatan
gerakan perototan tubuh dengan melepas di alam tanpa batasan kandang
atau terikat oleh tali yang membatasi gerak tubuhnya serta terkungkung di
lingkungan kandang yang lembap oleh air seni dan tinja yang keluar dari
waktu ke waktu. Bagi petugas kandang, sewaktu hewan dilepas di padangan,
dapat diambil kesempatan untuk membersihkan kandang tanpa terganggu
oleh keberadaan sapi di temp at sehingga bisa dibersihkan dengan baik dan
pada waktu sapi kembali sudah dalam keadaan bersih dan kering.
Selalu pastikan bahwa air minum yang diberikan adalah jernih, bersih,
segar dan diberikan tak terbatas atau ad libitum. Beberapa pemahaman salah
menganggap bahwa untuk hewan tidak memerlukan air yang bersih. Air untuk
hewan hams dalam kondisi yang baik dan seharusnya diberikan air bersih
seperti standar yang digunakan oleh orang, walaupun tidak memerlukan
untuk dimasak terlebih dahulu kecuali hewan dalam perawatan khusus.
Setiap pakan dan air yang diberikan hams memenuhi standar mutu yang
baik sesuai pemntukan dan pemberiannya dilakukan secara cukup sepuasnya
dan teratur.
Komposisi Rangsum
Keseimbangan unsur pakan, air dan udara sangat penting untuk pemenuhan
kebutuhan hayati ternak. Tingkat kesehatan yang baik dan hasil produksi
dan reproduksi yang optimal memerlukan ketersediaan padang rumput atau
hijauan yang cukup dan berkualitas. Usaha peternakan secara intensif untuk
produksi susu perlu diusahakan berbagai kebutuhan seperti pakan penguat
yang baik serta latihan bagi hewan yang cukup. Hewan perlu digembalakan
pada saat tertentu agar memperoleh sinar matahari secara cukup tapi tidak
juga berlebihan.
Gambar 7.1 Contoh sapi jantan (kiri) dan betina (kanan) sedang makan rumput,
tampak dengan penampilan yang tegap dan sehat, proporsi tubuh
seimbang dan ditopang keempat kaki yang kokoh
Kondisi Umum
Tingkah laku, sikap, gerak-gerik, langkah kaki dan kinerja sapi dapat
memberikan gambaran secara utuh tentang kondisi kesehatannya. Sapi sehat
akan tampak segar dan memperlihatkan gerakan aktif serta sikap sigap terhadap
hal yang mencurigakan. Sapi sehat selalu dalam keadaan sadar dan tanggap
terhadap segala perubahan keadaan di sekitamya yang ia curigai, termasuk
gerakan petugas yang merawatnya. Suara napas terdengar halus dan teratur.
Ekor selalu aktif dikibaskan untuk mengusir lalat.
Antara proporsi tubuh dan gerakan dalam keadaan seimbang, tidak terlalu
gemuk ataupun kurus, langkah kakinya man tap dan teratur. Bila sapi berjalan
gerakan kaki dilakukan secara wajar tidak sempoyongan, terlihat kaku atau
pincang. Sewaktu berdiri keseimbangan tubuhnya baik, mantap dan bertumpu
pada keempat kakinya dengan sarna rata. Perilaku hewan terlihat santai, garis
punggungnya tampak rata.
Kulit
Kulit halus dan bulu mengkilat,licin. Pertumbuhan bulu di permukaan tubuh
rata. Hal ini jelas diamati pada sapi perah yang berambut pendek misalnya sapi
FH. Di daerah beriklim dingin, karen a pengaruh cuaca harian, bulu menjadi
lebih panjang dan kasar, namun tetap bersih, berkilat dan rapi.
Mata
Dalam situasi sehat, bola mata bersinar, sudut mata tampak bersih tanpa ada
kotoran atau getah radang. Selaput lendir mata tidak terlihat adanya perubahan
warna misalnya menjadi kemerahan, kekuningan atau warn a lain.
Pengamatan Rutin
Sapiperlu memperoleh pengawasan reguler dan teratur tentang kesehatannya
atau sekaligus pengamatan birahi. Perubahan kondisi kesehatan dapat muncul
secara tiba-tiba. Berbagai kegiatan pengamatan harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut.
1) Kondisi umum. Hewan diamati kondisi normal pada umumnya atas
kemungkinan terjadi perubahan misalnya kekurusan, bereaksi tidak normal
terhadap lingkungan dan gerakan yang tidak aktif berinteraksi dengan
Rekam Medis
Sangatpenting dilakukan pencatatan tentang tanggal dan segalapermasalahan
kesehatan setiap individual berdasar nomor telinga berikut tindakan yang telah
dilakukan termasuk obat yang digunakan. Hasil evaluasi dari catatan medis
masing-masing individu merupakan evaluasi dari kesehatan kelompok.
1) Perlakuan medis individual. Catatan kesehatan akan mengingatkan juga
kapan telah dilakukan vaksinasi atau vaksinasi ulangan, dan mengingatkan
secara pasti apa yang telah terjadi terhadap kesehatan dari hewan tersebut
serta reaksi tubuh pada pengobatan yang diberikan. Informasi demikian
akan sangat membantu bahkan diperlukan sebagai catatan untuk melakukan
tindakan medis di tahun-tahun berikutnya.
2) Perlakuan medis kelompok hewan. Manfaat catatan medis individual tidak
terbatas hanya pad a hewan tersebut tetapi juga pada kesehatan kelompok
hewan, sekiranya telah terjadi penularan. Catatan kesehatan akan membantu
dalam mengingat peristiwa secara terperinci dan bila dibutuhkan dapat
dipelajari oleh petugas baru atau dokter hewan yang tidak terlibat pada
penanganan kasus sebelumnya di masa lamp au sehingga penanganannya
tidak terputus sewaktu muncul masalah baru.
Pengamatan Klinis
Walaupun sapi tidak mungkin mengeluhkan apa yang telah atau sedang
dirasakan ketika sakit, tetapi bisa dilihat dari ciri-ciri yang "dibaca" dan
diinterpretasikan dari perilaku, gerak tubuh, tumpuan kaki, langkah waktu
berjalan, ekspresi wajah, nafsu makan, perwujudan dari tinja atau air seni
yang keluar, respons terhadap perlakuan atau provokasi, warna selaput lendir
organ, suhu tubuh dan lain-lain.
Uji Laboratorium
Dari uji atau pengamatan klinis masih memungkinkan tidak terdeteksi
gangguan kesehatan atau penyakit dari seekor hewan karena mungkin tidak
tampak gejala secara nyata atau menunjukkan gejala yang semu. Sebagai
contoh, seekor sapi menderita brucellosis tidak terlihat gejala dan nafsu
makan masih tetap baik. Sapi yang mengalami keguguran perlu diyakinkan
apakah ada kemungkinan menderita brucellosis atau penyakit penyebab
keguguran yang lain, dan perlu dilakukan pengujian laboratorium dengan
mengambil contoh uji serum darah. Masih banyak lagi penyakit yang hanya
bisa dipastikan setelah dilakukan uji laboratories, atau kombinasi antara
pengamatan klinis dan laboratorium. Penemuan Escherichia coli, masih hams
dilanjutkan pengujian untuk mengetahui apakah galur bakteri tersebut jenis
yang patogen. Kombinasi antara pengamatan klinis dan pengujian laboratorium
akan memberikan hasil diagnosis yang lebih pasti, sehingga pengobatan dapat
dilakukan secara tepat sasaran.
Pengobatan Antibiotik
Pengobatan antibiotik mastitis klinis pad a sapi laktasi merupakan hal
yang kontroversi, tetapi hampir setiap petemak sapi perah menggunakannya.
Sekitar sepertiga atau seperempat kasus tidak dapat diisolasi bakteri dari
sampel sebelum pengobatan. Hal ini membuat kesulitan dalam memutuskan
pemberian antibiotik yang tepat untuk sapi yang demikian. Beberapa organisme
EPIDEMIOLOGI VETERINER
Epidemiologi veteriner adalah ilmu yang mempelajari adanya masalah
kesehatan hewan dalam suatu kelompok ternak atau yang berada di kawasan
tertentu, beserta modus penularan dan penyebarannya. Peternak harus mulai
siaga bila di dalam wilayahnya diketahui terjadi penyebaran berpenyakit
menular. Saran dokter hewan diperlukan untuk menentukan langkah apa
yang harus dilakukan agar ternaknya terhindar dari penyakit yang ada tidak
jauh dari peternakannya. Langkah yang akan dianjurkan bisa berbentuk
tindakan misalnya dengan melakukan vaksinasi atau pemberian obat untuk
pencegahan, memperketat biosekuriti, mengasingkan hewan karena diduga
menderita penyakit menular, mengambil contoh untuk pengujian laboratories,
atau tindakan-tidakan lain yang perlu dan harus dilakukan untuk mencegah
risiko yang lebih besar. Tindakan dilakukan bukan terbatas pada individu
hewan yang sakit tetapi juga pada keselamatan kelompoknya.
Pencegahan Penyakit
Mencegah terjadinya penyakit lebihbaik dibanding pengobatan. Menurunnya
kondisi kesehatan mungkin tidak terdeteksi sehingga kerugian berlangsung
terus secara berkelanjutan dan tidak mendapat penanganan yang semestinya.
Penurunan kondisi kesehatan cenderung kronis dan berlarut-larut tanpa
penanganan.
Sapi yang seumur hidupnya berada di kandang tanpa kesempatan bergerak
dan memperoleh sinar matahari, sering menderita arthritis atau radang sendi.
Rasa sakit dan tidak nyaman berdiri dapat menyebabkan kurang nafsu makan
dan engganan untuk berdiri yang akan berpengaruh pada produktivitas.
Penurunan produksi setiap hari dan terjadi pada banyak hewan secara kelompok
akan mengakibatkan kerugian cukup besar. Walaupun pengobatan dapat
menghilangkan penyebab penyakit secara efisien, namun penyebab penyakit
sudah membekas melukai tubuh.
Penghilangan dampak penyakit kalaupun bisa dilakukan memerlukan
waktu lama untuk mengembalikan ke kondisi semula. Sebagai akibatnya
maka kemerosotan atau penurunan produksi berlangsung terus-menerus
sampai sembuh sempuma. Kerugian karen a pertumbuhan yang kerdil pada
pedet akan mengakibatkan hambatan produksi susu. Untuk mengetahui status
kesehatan di suatu lokasi petemakan, paling baik adalah membicarakan dengan
otoritas veteriner atau dokter hewan penanggung jawab di daerah. Otorita
veteriner memiliki data terkini yang dapat dipedomani untuk melakukan
tindakan pence gahan, dan memberikan saran terbaik dalam memperkecil
risiko terhadap ancaman bahaya penyakit akibat penularan dari luar serta
langkah antisipasi termasuk perlunya vaksinasi. Berbagai langkah antisipasi
dalam memperkuat program pencegahan atau memperkecil risiko terhadap
berbagai masalah kesehatan antara lain sebagai berikut:
Vaksinasi
Beberapa penyakit tertentu memerlukan tindakan vaksinasi sebagai
pencegahan dan tubuh hewan dipersiapkan agar tahan terhadap serangan
agen. Dalam hal tertentu hewan yang divaksin bahkan menjadi imun untuk
waktu lama atau seumur hidup. Beberapa jenis vaksin memerlukan vaksinasi
ulang sebagai booster, sehingga manfaatnya hanya akan diperoleh secara
maksimal bila dilakukan. Namun demikian perlu dimaklumi bahwa vaksin
Karantina
Pengendal ian
Pemberantasan
Bantuan Profesional
Apabila dijumpai sesuatu tidak biasa terjadi pada kondisi hewan, tergantung
permasalahannya, peternak perlu meminta bantuan dokter hewan, atau dapat
juga paramedik veteriner atau petugas kesehatan hewan lain terdekat. Tempat
kedudukan peternakan mungkin sajajauh dari keberadaan dokter hewan. Dalam
hal demikian kumpulkan semua informasi dan apa saja yang ingin diketahui
dari permasalahan yang dijumpai, untuk kemudian dilakukan hubungan
dengan dokter hewan melalui telepon. Untuk memperoleh semua informasi
perlu dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh keadaan kesehatan yang
sebenamya sesuai kemampuan pengumpulan data dan analisis petugas yang
ada. Hal lain yang bisa dilakukan adalah minta saran seorang dokter hewan
untuk menunjuk atau memberi pandangan kemungkinan ada seorang asisten
dokter hewan di lokasi tersebut yang dapat memberi bantuan. Asisten dokter
hewan telah memperoleh latihan khusus untuk mengenali status kesehatan
hewan sehingga sekurang-kurangnya bisa melakukan tindakan sementara
untuk mengurangi risiko yang lebih besar akibat penyakit di petemakan.
Virus adalah agen infeksi berukuran kedl yang dapat memperbanyak diri
hanya di dalam sel hidup, berukuran kedl dan begitu kedlnya bahkan terlalu
kedl untuk dilihat dengan mikroskop biasa. Organisme ini menginfeksi semua
jenis hewan, tanaman, bakteri dan orang. Partikel virus disebut virion terdiri
atas tiga bagian, yaitu materi genetik yang terbentuk oleh adanya DNA atau
RNAyaitu: (a) molekul panjang yang membawa informasi genetik; (b) selimut
protein yang melindungi genetik; dan (c) dalam banyak hal amp lop lipida
yang mengelilingi selimut protein ketika berada di luar sel.
Dalam penyebarannya virus menggunakan berbagai macam cara antara lain
melalui udara, partikel air dalam udara, melalui makanan, minuman atau melalui
vektor. Di dalam tubuh hewan, keberadaan virus menstimuli terbentuknya
tanggap kebal atau imun. Tidak ada virus yang dapat memperbanyak diri
tanpa sel induk semang. Ada banyak macam penyakit karena virus pada sapi,
beberapa di antaranya endemik di Indonesia, dan beberapa penyakit bersifat
eksotik yang berperanan penting selain menimbulkan banyak kerugian juga
berdampak pada hambatan perdagangan internasional.
105
fever (BEF), Bovine Viral Diarrhea (BVD) dan Malignant Catarrhal Fever (MCF),
sedangkan penyakit virusi penting pada sapi eksotik untuk Indonesia antara
lain adalah: Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Rinderpest, dan Bovine Spongiform
Encephalopathy (BSE).
Penyebab
Bovine Ephemeral Fever (BEF) disebabkan oleh sejenis virus dari kelompok
Rhabdovirus. Penyebarannya ditularkan melalui serangga dan biasanya terkait
dengan situasi musim. Karena penyebaran melalui serangga maka virus
penyebab penyakit ini juga dikenal sebagai kelompok arbovirus. Kebanyakan
sapi yang sembuh imunitasnya berlangsung seumur hidup. Virus tidak mampu
menembus plasenta atau mengakibatkan fertilitas.
Penularan
Penyakit demam tiga hari ditularkan oleh jenis serangga misalnya Culex
annulirostris dan berbagai jenis nyamuk. Tidak dapat dibuktikan adanya
penularan melalui muntahan oleh pesakit, dan virus tidak berada menetap
pada sapi yang sembuh. Penyebaran diduga juga dapat terjadi melalui angin.
Cullicoides mampu menyebarkan virus ini dalam jarak jauh kurang-lebih
meneapai jelajah 200 km. Kesembuhan spontan dapat terjadi hanya dalam
beberapa hari.
air liur berbuih, lakrimasi, kurang nafsu makan, mal as bergerak (Gambar [Link]
dan B). Bila berjalan sapi dapat menjadi pincang. Suhu tubuh dapat kembali
normal dalam waktu 36jam. Kondisi hewan menjadi lemah, menderita radang
sendi dan kebanyakan rebah dan berbaring. Sapi perah produksi susu menjadi
turun dapat sampai 50% atau bahkan dapat terhenti dan umumnya produksi
kembali setelah 3 minggu. Sapi dengan produksi susu tinggi biasanya menderita
penyakit lebih berat. Setelah sapi sembuh sering produksi susu gagal mencapai
normal kembali. Sapi terinfeksi pada periode laktasi tua biasanya berkembang
menjadi kering susu. Air susu cenderung bening dan ada kalanya bercampur
darah. Pada hewan jantan kejadian penyakit lebih berat dari betina dan dapat
berlangsung sampai 5 bulan, mengakibatkan penurunan fertilitas. Hewan
berhenti makan, minum dan murung. Bagi sapi betina sedang bunting dapat
terjadi keguguran, bukan karena efek infeksi virus tetapi lebih cenderung
disebabkan oleh kondisi demam yang tinggi. Dalam waktu tiga hari hewan
berdiri kembali dan mulai makan, tetapi kelemahan dan pincang biasanya
berlangsung sampai tiga hari lagi ke depan. Adakalanya terjadi mastitis diikuti
dengan kenaikan mencolok pada somatic cell count.
Gambar 8.1 (A) Sapi rnenderita Bovine Ephemeral Fever dengan gejala lernah, sulit untuk
berdiri dan dernarn; (B) Sapi dengan penyakit yang sarna, dengan gejala
keluar air rnata dan banyak keluar air liur berbuih. (Fujita, 1994)
Penyebab Penyakit
Diare ganas disebabkan oleh virus RNA genus pestivirus dari keluarga
[Link] ini memiliki kemampuan menggandakan diri menjadi banyak
varian. Keluarga virus BVDdibagi menjadi dua kelompok genotipe, yaitu tipe-I
dan tipe-2. Keduanya dibedakan berdasar pada keganasan dalam menyebabkan
penyakit pada sapi. Genotipe virus BVD tipe-2 bertanggung jawab untuk
pembentukan gejala menjadi lebih ganas dibanding tipe-I. Fetus yang terinfeksi
sejak dilahirkan akan tetap tinggal terinfeksi virus [Link] temperatur 56°C
atau dalam suasana asam virus menjadi nonaktif dalam beberapa menit.
Penularan
Penyakit ini merupakan masalah yang sulit diberantas dan dapat mudah
terjadi penularan silang ke hewan lain seperti domba, kambing, kijang, bison
Gejala
Ada beberapa variasi gejala klinis sehubungan dengan penyakit ini terutama
yang dipengaruhi oleh status kebuntingan hewan yaitu; (1) pad a sapi tidak
bunting mas a tunas berkisar antara tiga dan lima hari, ditandai dengan demam
ring an dan turun nafsu makan. Sapi dapat terjadi diare dan/atau dengan
adanya tukak di mulut; (2) pada sapi bunting terjadi penularan dari induk ke
fetus, yang pengaruhnya tergantung pada umur kebuntingan sewaktu terjadi
infeksi. Pada kebuntingan kurang dari 100hari, janin tidak mampu membentuk
zat kebal terhadap BVDdan tidak dapat membentuk antibodi sehingga pedet
lahir dengan membawa virus secara abadi. Pada kebuntingan 100-150 hari,
terjadi infeksi embrio lewat plasenta atau abnormalitas janin kongenital. Pedet
dapat terlahir bebas virus tetapi mengandung antibodi, walaupun belum
minum kolostrum induk. Fetus mati pada kebuntingan awal dapat menjadi
mummi atau membusuk dalam kandungan, tetapi virus tidak dapat diisolasi
dari fetus tersebut. Pada kebuntingan tua pedet dapat lahir selamat dan
mengandung virus. Pedet lahir yang selamat tetapi tetap terinfeksi biasanya
akan mati setelah nanti berumur 2 tahun. Pedet baru lahir dapat tidak bisa
berdiri dan buta akibat infeksi semasa fetus (Gambar 8.2 A). Infeksi BVDjuga
berkaitan dengan kelainan kongenital di mana otak kecil tidak berkembang
sempurna atau terjadi hipoplasia (Gambar 8.2 B) dan mengakibatkan pedet
sempoyongan bila berjalan.
Gambar 8.2 (A) Seekor pedet bam lahir tidak bisa berdiri dan buta oleh infeksi
BVD; (B) Cacat hipoplasia serebelum terlihat pad a otak seekor pedet
penderita BVD (Fujita, 1994)
Penyebab
Agen penyakit MCF adalah virus herpes yang dapat digolongkan menjadi
dua macam, yaitu: (1)alcephine virus (ACV-1)adalah virus dari wildebeest yang
merupakan anggota dari subfam gamma herpes virinae, famili hepes viridae.
(2) Sheep associated agent (SAA) adalah agen yang belum diketahui secara jelas
klasifikasinya dan diperkirakan utamanya ditularkan oleh domba betina.
Penyakit yang disebabkan oleh kedua macam agen penyebab inimenimbulkan
gejala klinis yang sarna dan keduanya dikenal sebagai penyebab MCF.
Penularan
Domba, kambing dan berbagai ruminan liar yang tertular tidak
memperlihatkan gejala tetapi diperkirakan menyebarkan agen penyakit
terutama pada saat melahirkan. Virus ACV-1 ditengarai mampu menerobos
plasenta hewan bunting dan memasuki janin. Virus yang terbebas dari dalam
sel bergerak menuju sekresi hidung dan mata fetus yang kemudian terinfeksi
Gejala Klinis
Masa tunas berlangsung kurang lebih 3 minggu. Kejadian wabah biasanya
musiman terutama dikaitkan dengan mas a kelahiran wildebeest atau domba.
Gejala mencolok adalah keluarnya ingus yang hebat dari hidung. Tanda klinis
sangat bervariasi diawali dengan bendung darah di mulut dan hidung, melanjut
keluar cairan bening yang berkembang menjadi kental dan mukopurulen,
serta pada kornea terjadi perubahan kekeruhan warna putih (Gambar 8.3).
Air liur terus menetes keluar dari mulut. Dalam keadaan infeksi berat dapat
meningkat menjadi buta. Hewan demam tinggi, terdapat jejas di moncong dan
rongga mulut kondisi menu run dan kurus. Hidung tersumbat kerak sehingga
terjadi kesulitan bernapas. Sapi dapat selamat selama satu atau dua minggu
setelah gejala, sedang pada kijang dan bison lebih rentan dan bertahan tidak
lebih dari beberapa hari. Kulit dapat terkena dermatitis diikuti penebalan dan
pengelupasan. Kelenjar limfe tepi tampak jelas dan membengkak. Moncong
kering, selaput lendir kering, retak dan terisi eksudat. Infeksi SAA sering
mengakibatkan sembelit, diikuti dengan diare berdarah. Gejala kelainan
saraf timbul akibat terjadi peradangan otak. Hewan menjadi lebih agresif,
Gambar 8.3 Tampilan klinis sapi MCF terlihat murung dengan leleran hidung dan
mulut serta aspek komea mata keputihan (O'Toole, 2011)
Penularan
Penularan dapat terjadi seeara langsung ataupun tidak langsung. Selain itu
penularan dapat pula terjadi melalui angin. Udara infektif dapat tahan sampai
beberapa jam di dalam kondisi yang sesuai, terutama bila kelembapan relatif
lebih besar dari 70% dan dalam suhu rendah. Udara yang tereemar dapat
terbawa angin sampai sejauh 250 km. penyebaran paling penting di negara
tropis adalah melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit. Pedet dapat
tertular penyakit sewaktu minum susu induk terinfeksi. Petugas teknis atau
paramedis harus berhati-hati dalam menangani sapi yang terinfeksi agar
tidak berpotensi menyebarkan seusai membantu menangani kasus. Setelah
hewan sembuh virus dapat tetap tinggal di kerongkongan sampai 2 tahun
kemudian. Manusia juga rentan dan dapat terkena PMK dengan gejala flu
ringan, namun jarang terjadi.
Gejala Klinis
Masa tunas penyakit adalah 3-8 hari. Pada awalnya demam ringan dan
nafsu makan menu run atau hilang, bulu kusam diikuti dengan peradangan
lidah dan mulut bagian dalam menyebabkan keluarnya air liur yang banyak
dan berbuih diikuti oleh keluarnya leleran hidung (Gambar 8AA). Pada gusi,
lidah serta pangkallidah terbentuk lepuh yang segera peeah dan menghasilkan
tukak (Gambar 8.4B)sehingga menyebabkan kesulitan dalam mengunyah dan
air liur terus menetes. Serangan penyakit yang serius menyebabkan selaput
lendir terkelupas. Pada tukak dapat terjadi infeksi sekunder yang menimbulkan
peradangan lebihhebat. Lepuh pada rongga hidung dan moncong dapat melebar
sampai berdiameter 2-5 em. Lepuh serupa juga terjadi di antara teraeak dan
di sekitar batas atas kuku sehingga menyebabkan rasa sakit dan pineang waktu
berjalan. Luka yang parah dapat menyebabkan terkelupasnya kuku. Pada
hewan betina lepuh atau tukak dapat terjadi di ambing dan puting. Hewan
terserang penyakit ini menolak makan, kondisinya eepat menurun dan pada
sapi perah produksi susu menurun drastis. Keguguran sering terjadi pada
hewan bunting. Pada hewan dewasa jarang terjadi kematian.
Gambar 8.5 Pemusnahan bangkai sapi yang dibakar dalam rangka pengendalian
penyakit PMK (Lucy, 2007)
Penyebab
Rinderpest disebabkan oleh genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxovirus
yang termasuk virus RNA. Virus ini sensitif terhadap panas dan cahaya, mudah
rusak dan cepat menjadi inaktif oleh panas dan sinar mata hari, tetapi tetap
tinggal hidup lama pad a suasana dingin atau jaringan beku. Induk semang
dan virulensi galur virus ini sangat bervariasi. Serum dari sapi yang sembuh
atau sapi divaksin bereaksi silang dengan semua galur pada uji netralisasi
dengan minimal perbedaan antigenik. Virus rinderpest berada dalam jumlah
kedl di dalam cairan hidung satu sampai dua hari sebelum demam; levelnya
tinggi dalam sekresi dan ekskresi sewaktu minggu pertama penyakit klinis
dan menurun secara cepat ketika hewan membentuk antibodi spesifik dan
mulai terjadi proses kesembuhan.
Penularan
Rinderpest ditularkan melalui tinja, hembusan pemapasan dan cairan mulut
dari hewan terinfeksi. Penularan dapat terjadi secara lang sung atau tidak
langsung. Pertumbuhan awal dalam penularan terjadi melalui nasofaring, virus
akan memperbanyak diri dalam kelenjar limfe dan menyebar melalui darah ke
selaput lendir gastrointestinal dan alat pemapasan atas. Virus dalam partikel
air di udara akan terhirup dan menembus selaput lendir alat pemapasan bagian
atas. Tidak ada status karier pada rinderpest;virus mempertahankan diri terhadap
penularan secara terus-menerus di antara hewan-hewan rentan. Di daerah
endemik sapi muda menjadi terinfeksi setelah imunitas induk menghilang dan
sebelum imunitas vaksin mulai terbentuk. Keberadaan virus kemungkinan
terbantu oleh siklus virus yang terjadi pad a domba, kambing, dan binatang
ungulata liar di lingkungan hidupnya. Di daerah epidemik, virus menginfeksi
hampir semua hewan rentan dan cenderung terbatas kecuali populasinya
cukup banyak untuk menyokong status endemisitas. Di samping sapi penyakit
ini juga dapat menjangkiti giraf, kijang, babi liar dan hewan berkuku belah
Gejala
Masa tunas penyakit 3-15 hari yang menimbulkan reaksi klinis perakut,
akut, subakut, atau tidak tampak. Keadaan ini diikuti oleh demam, anoreksi,
dan depresi. Sewaktu demam produksi susu menjadi menurun. Leleran
okulonasal muncul 1-2 hari kemudian. Dalam waktu 2-3 hari muncul jejas
nekrotik lembut, yang secara cepat membesar membentuk bercak jejasberlendir
di gusi, mukosa Iangit-langit dan lidah. Dalam keadaan perakut gejalanya
terjadi secara serentak, demam tinggi, selaput lendir bendung, pernapasan
dangkal dan cepat, keluar cairan encer dari hidung yang volumenya selalu
meningkat. Lendir okulonasal berkembang menjadi muko purulen, moncong
kering dan retak. Pada akhir gejala klinis muncul gejala sakit perut, diare cair
mengandung darah dan berlendir atau berwarna hitam-coklat dan berbau
busuk. Salivasi berlebihan, cairan mukopurulen keluar dari hidung diikuti
keluarnya cairan mata. Hidung dan mulut bercak kemerahan dan berkembang
menjadi ulser dangkal. Erosi terjadi di langit-Iangit mulut, gusi dan dasar gigi
(Gambar 8.6).
Gambar 8.6 Erosi terjadi pada langit-langit mulut, gusi dan dasar gigi (Callis, dkk,
1982; Akoso, BT,1996)
Penyakit melanjut hewan menjadi koma dan mati karena dehidrasi dalam
waktu 6-12 hari setelah gejala. Proses kesembuhan lama dan dapat terjadi
komplikasi oleh infeksi ikutan akibat imunosupresi. Di daerah endemik
morbiditas rendah dan tanda klinis sering terjadi secara ringan, tetapi di daerah
wabah morbiditas sering 100% dan mort alitas sampai 90%.
Penyebab
Penyebab penyakit bukan virus tetapi prion yang sangat stabil, tahan dalam
kondisi dingin beku, pengeringan, pasteurisasi, sterilisasi, dan pemanasan
sampai 135° C. Penyakit BSE dan Scrapie disebabkan oleh agen penyebab yang
sarna, dan agen Scrapie juga kemungkinan sebagai agen penyebab BSE. Prion
juga agen penyebab "Transmissible Mink Encephalopathy (TME) dan merupakan
penyakit menahun berat dari mule, kijang dan elk.
Penularan
Masa inkubasi BSE panjang antara 4-5 tahun, dan hewan yang sakit
akan mati dalam beberapa minggu atau bulan setelah gejala penyakit. BSE
ditularkan melalui makanan sapi yang bahan bakunya terbuat dari tepung
daging dan tulang meet and bone mill (MBM) berasal dari sapi menderita BSE.
[ejas mikroskopis menggunakan uji secara histopatologis dari jaringan otak
Gejala
Masa inkubasi panjang antara 4-5 tahun, dan hewan sakit akan mati
dalam beberapa minggu atau bulan setelah gejala penyakit. Hewan terserang
memperlihatkan gejala termasuk: gangguan saraf, abnormal penampilan tubuh,
gerakan dan sensasi. Berat badan turun sementara terlihat nafsu makan baik,
produksi susu menurun. Penyakit klinis biasanya berlangsung untuk beberapa
minggu dan bervariasi dampak serta fatalitasnya. Perubahan tingkah laku
menjadi penakut dan agresif, menendang-nendang. Degenerasi saraf pusat
menyebabkan gejala saraf: acuh, gigi gemeretak, gemetaran, posisi berdiri
abnormal, tampak seperti kebingungan, kekakuan alat gerak (Gambar 8.7A),
melanjut terjadi kelumpuhan dan kematian. Jejas mikroskopik menggunakan
uji histopatologis dari jaringan otak terlihat lesi vakuolisasi neuron dari korteks
serebri (Gambar 8.7B) medula dan pusat substansi kelabu dari otak.
Gambar 8.7 (A) Gejala seekor sapi menderita BSEmemperlihatkan kekakuan gerak
waktu berjalan. (B) Jejas degeneratif pada korteks serebri dengan
vakuolisasi neuron (Anderson, 2011)
121
pemberian antibiotik akan menolong dan bahkan sering menjadi cara yang
biasa dilakukan peternak. Banyak di antara kejadian diare yang seharusnya
tidak memerlukan pengobatan spesifik kecuali hanya dengan pengembalian
cairan tubuh dari kondisi dehidrasi.
Penyebab
Kuman yang paling sering sebagai penyebab infeksi pada pedet muda
adalah bakteri Gram negatif. Desinfeksi tali pusar sewaktu dipotong secara
tidak tepat dapat menjadi predisposisi pedet mudah menderita infeksi tali
pusar. Keberadaan tali pusar telah memberikan jalan bakteri untuk mudah
memasuki aliran darah pedet baru lahir dan masuk ke seluruh tubuh. Bakteri
membentuk koloni dan dengan mudah menyebar melalui tali pusar menuju
sirkulasi darah. Faktor predisposisi infeksi termasuk pecahnya tali pusar atau
pemotongan umbilikus terlalu pendek sehingga terlalu dekat ke dinding perut,
pembersihan tali pusar yang tidak baik misalnya tidak dilakukan pencelupan
ke disinfektan dalam beberapa hari setelah lahir, induk sapi melahirkan di
temp at yang kotor, pemberian kolostrum yang tidak cukup, atau tali pusarnya
diisap oleh pedet lain. Apabila bakteri menembus masuk ke dalam aliran
darah, kondisi ini disebut sepsis, yaitu agen terbawa ke daerah organ lain di
dalam tubuh. Sepsis demikian dapat berlanjut ke komplikasi hebat seperti
abses hati, hewan menjadi kolaps dan mengalami kematian.
Gejala
Salah satu gejala yang paling jelas adalah bengkak dan rasa sakit bagian
bawah dinding perut di sekitar tali pusar. Kebengkakan disebabkan oleh
reaksi terjadinya infeksi, dan bila tidak diobati dapat berkembang menjadi
demam atau mungkin terbentuk abses berisi nanah. Bila infeksi terjadi dalam
waktu lama dan menjadi semakin berat, dapat berkembang menjadi sepsis
dengan gelaja termasuk: kondisi lemah, malas bergerak, refleks menyedot susu
berkurang, denyut jantung meningkat, gangguan pencernaan, selaput lendir
mata merah, pernapasan tersengal-sengal, dan dapat kemudian infeksi pada
Diagnosis
Pencegahan
Pengobatan
Pedet harus dikandangkan terpisah dengan yang lain dan diberi pengobatan
antibiotik, antiradang non-steroid dan perawatan yang baik. Tindakan medis
dengan melakukan pengobatan dini merupakan faktor kunci sukses dalam
penanganan infeksi tali pusar.
Kolibasilosis Septikemia
Pedet muda sering terkena infeksi kolibasilosis yang septikemik, yaitu
jasad renik tersebut beserta toksinnya masuk ke dalam aliran darah dan
menyebar ke seluruh tubuh. Septikemia pada pedet biasanya terjadi karena
infeksi bakteri ketika fetus masih berada di dalam uterus atau segera setelah
lahir. J alur infeksi mungkin terjadi melalui darah induk atau infeksi plasenta,
melalui mulut atau pernapasan. Di samping coli baclilosis, septikemia pedet
dapat juga disebabkan oleh Salmonella sp. Pada kandang yang tidak bersih,
galur kuman tertentu dapat menyebabkan infeksi sistemik dengan memasuki
tali pusar pedet baru lahir yang tidak dipindahkan ke kandang observasi atau
kandang khusus yang disediakan untuk pedet baru lahir.
Septikemia adalah suatu sindroma klinis yang ditandai oleh adanya infeksi
dan perbanyakan bakteri dalam darah. Agen penyebab septikemia sangat
bervariasi tetapi bila terjadi pada pedet di bawah umur 5 hari, penyebab
yang paling memungkinkan adalah serangan bakteri Escherichia coli. Secara
normal di dalam usus pedet terdapat sangat banyak E. coli yang hidup secara
harmoni dengan induk semangnya tanpa menyebabkan gangguan. Namun
dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan penyakit ketika keseimbangannya
terganggu sehingga mengakibatkan jumlah bakteri meningkat tajam. Galur E.
coli tertentu tidak memasuki aliran darah tetapi melekatkan diri pada dinding
usus halus bagian atas di mana mereka memperbanyak diri dan memproduksi
sejumlah besar enterotoksin yang kemudian berakibat pada pengeluaran cairan
dan elektrolit, dan cairan tubuh lain sehingga terjadi dehidrasi berat serta
mengakibatkan gangguan keseimbangan metabolik.
Gejala
Pedet terserang kolibasilosis septikemia menjadi cepat depresi dan lemah,
karena diare berat dan dehidrasi. Ekor, pantat, perut bagian bawah dan kaki
kotor oleh tinja encer. Kondisi pedet melemah, merebahkan diri dan kemudian
mati. Persentase kematian biasanya tinggi disebabkan oleh pengaruh tekanan
endotoksik yang ditimbulkan oleh bakteri, dan pedet dapat mati dalam waktu
12jam setelah gejala. Kematian sering terjadi sangat mendadak hingga sering
hanya merupakan satu-satunya gejala yang dapat teramati. Pedet yang tahan
dalam situasi septikemia dapat seterusnya menderita infeksi persendian dengan
menimbulkan sindroma bengkak sendi, dan sering disebut dengan demam
sendi (joint ill). Radang pada sendi yang terjadi mengakibatkan rasa sakit yang
hebat. Pedet terserang penyakit yang berat walaupun akhimya sembuh, dalam
jangka panjang tidak menguntungkan untuk program regenerasi karena telah
banyak kerusakan pada selaput lendir usus, dan lebih baik diafkir dini.
Pencegahan
Kecurigaan terhadap terjadinya septikemia oleh bakteri hams diperhitungkan
ketika banyak kasus diare dan mengakibatkan kematian pada pedet di bawah
umur 5 atau 7 hari. Pedet yang mengalami kekurangan pemberian kolostrum
sangat rentan terhadap penyakit ini. Petemak yang kurang perhatian terhadap
pentingnya pemberian kolostrum pada pedet sering mengalami kerugian
karena kematian hewan. Pedet lahir di kandang bersih dan memperoleh
kolostrum cukup, jarang mengalami masalah septikemia. Begitu pedet lahir
harus dikandangkan tersendiri dan ditempatkan sejauh mungkin dari pedet
sakit. Desinfeksi tali pusar secara benar dan memindahkan pedet ke kandang
Penularan
Penyakit dapat menyebar karena tertular melalui tinja dari hewan terinfeksi
(Gambar 9.1). Sewaktu terjadi penyakit, petugas yang menangani pedet sakit
terutama yang membersihkan kandang perlu diusahakan terpisah dengan
petugas yang bias a memberi makan dan merawat secara rutin. Ember atau
botol yang dipergunakan harus terpisah dan tidak menggunakan alat yang
sarna untuk semua pedet. Sanitasi yang baik dan memberi kolostrum pada
pedet baru lahir adalah penting untuk mencegah gejala diare.
Gambar 9.1 Diare di dalam kandang yang dipakai bersama dapat menjadi bagian
dari terjadinya pencemaran di antara pedet
Pengobatan
Pedet penderita gejala diare, harus segera diisolasi agar tidak menular
ke yang sehat dan menjadi sumber pencemaran lingkungan. Keberhasilan
pengobatan tergantung dari diagnosis dini, penanganan yang cepat dan
tingkat keparahan penyakit. Namun demikian pengobatan untuk penyakit
yang sudah terlanjur parah merupakan cara yang kurang efektif.
Salmonelosis
Salmonelosis adalah penyakit menular pada sapi dan hewan lainnya yang
disebabkan oleh infeksi salmonela, dicirikan oleh sindrom septikemia, enteritis
akuta atau enteritis menahun. Organisme ini memperbanyak diri di dalam usus
dan menyebabkan peradangan atau enteritis. Pada manusia dapat menyebabkan
enteritis dan gastroenteritis. Salmonella typhimurium yang menginfeksi sapi
Penyebab
Walaupun banyak spesies Salmonella yang telah ditemukan, tetapi
Salmonellosis pada sapi umumnya disebabkan oleh Salmonella dublin,
S. tiphymurium atau S. newport. Pada sapi perah umumnya S. dublin. Bakteri
ini berbentuk batang, tidak membentuk spora dan tidak berkapsul, motil dan
bersifat gram negatif. Invasi bakteri Salmonella ke dalam darah menyebabkan
septikemia. Organisme ini dapat bertahan hidup di area peternakan dalam
beberapa bulan pada temp at hangat dan basah. Binatang pengerat dan burung
liar dapat bertindak selaku sumber infeksi.
Penularan
Salmonela ditularkan melalui pakan atau minuman yang tercemar oleh
kuman yang kemudian memperbanyak diri di usus dan menyebabkan
enteritis. Penularan dapat terjadi karena kandang yang tercemar tinja dari
hewan terinfeksi atau secara intrauterin. Penyakit ini menyerang semua spesies
vertebrata dan merupakan masalah yang sering dijumpai pada sapi perah,
walau adakalanya juga pada sapi potong dan menimpa semua umur. Setelah
tiga bulan pencemaran pada tinja, kontaminan masih dapat menularkan ke
hewan rentan. Gudang pakan biasanya diatur dalam kondisi bahan pakan
yang terbuka sehingga burung atau tikus yang berhasil masuk dapat berperan
sebagai pencemar lingkungan.
Gejala
Secara klinis sering terlihat pada pedet muda atau sapi tua yang mengalami
kurang nutrisi. Pedet yang terserang secara akut oleh Salmonella menderita
demam, lesu, kurang nafsu makan, dan diare hebat. Paling sering timbul
gejala septikemia dan tipikal terjadi pada pedet umur 3-4 minggu. Kerentanan
pada pedet yang tinggi mungkin disebabkan oleh tingginya pH dalam perut
pedet dan ketiadaan flora yang stabil dalam usus. Pedet terinfeksi menjadi
berhenti minum susu, dehidrasi, kondisi lemah, diare cair dan sering berdarah
(Gambar 9.2), dan sering menjadi sempoyongan yang memberi kesan adanya
gangguan sistem saraf. Kematian dapat terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah
Gambar 9.2 (A) Seekor pedet menderita kekurusan dan diare yang parah; (B)Tinja
diare berwarna kuning keputihan, sedikit kelabu dan berbau busuk
(Fujita, 1994)
Pengobatan
Pencegahan
Enterotoksemia
Enterotoksemia dapat terjadi sebagai wabah diare pada berbagai kelompok
umur sapi dengan mengakibatkan kematian sekitar 5%. Pada sapi muda
bunting yang tidak divaksin dapat menyebabkan kematian sampai 25%.Infeksi
pada pedet sering dijumpai pada umur satu sampai tiga bulan, walaupun
mungkin berada dalam perawatan yang baik. Clostridium perfingens tipe B
dan C menyebabkan enteritis berat, desentri, toksemia dan menyebabkan
kematian tinggi. Hewan diare adakalanya mendarah diikuti rasa sakit perut
yang hebat dan kejang-kejang. Terjadi peradangan hebat pada selaput lendir
usus halus serta seperempat atas usus besar akibat daya kerja toksin yang
terbentuk (Gambar 9.3).
Gambar 9.3 Usus sapi karen a infeksi Clostridium perfingens. Jaringan bagian kanan
berwama gelap karena nekrotik, bandingkan dengan yang lebih terang
wamanya sebelah kiri yang normal. Kerusakan parah mengakibatkan kolik
dan tidak sembuh dengan pengobatan antibiotik (O'Toole, 2011)
Gejala
Dalam keadaan akut, gejala klinis berupa demam, lesu, kurang nafsu
makan dan pada sapi laktasi terjadi penurunan produksi susu. Hewan diare
berat, adakalanya mendarah dan berlendir. Kematian dapat terjadi dalam
3-4 hari atau dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu atau bulan.
Hewan dewasa yang sembuh dapat bertindak sebagai pembawa sifat. Kematian
secara mend adak tertinggi biasanya pada pedet umur 3-8 minggu. Pnemonia
sering terjadi pada pedet usia sapih sewaktu dipindah dari kotak individual
ke kandang kelompok. Hewan bunting dapat terjadi keguguran.
Pengobatan
Sapi yang sakit diobati dengan antibiotik berspektrum luas melalui injeksi.
Pemberian antibiotik melalui mulut dikhawatirkan kontraproduktif karena
akan mematikan jasad renik dalam saluran pencemaan. Dalam kondisi yang
sudah parah sering gagal terhadap pengobatan antibiotik. Ketika pedet sudah
terjadi gejala klinis biasanya sudah terlambat untuk diselamatkan.
Mastitis
Mastitis atau radang ambing karena infeksi bakteri adalah penyakit yang
umum dan paling sering terjadi pada sapi perah laktasi. Penyakit ini sangat
Penyebab
Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai jasad renik yang terdapat di alam
lingkungan sekitar kandang, umumnya oleh bakteri antara lain: Streprococcus
spp., Staphylococcus spp., Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, Pseudomonas
aeruginosa, dan mikoplasma. Dalam jumlah yang lebih jarang terjadi, mastitis
juga dapat ditimbulkan oleh infeksi jamur. Infeksi biasa terjadi ketika higiene
dan sanitasi kandang serta praktik pemerahan tidak dilakukan secara baik
dan benar.
Penularan
Gejala
konsekuensi biaya dan kerugian yang tidak ringan. Dengan pemerahan rutin
sesuai prosedur dan penggunaan peralatan perah yang memadai, jumlah
dari sapi terkena mastitis dapat ditekan rendah. Juru perah yang memiliki
banyak akses melihat kondisi ambing, wajib melaporkan berbagai kondisi
yang dicurigai tidak normal kepada petugas kesehatan.
Susu yang dihasilkan dari kuartir sapi mastitis membentuk semacam
gumpalan dan terjadi perubahan warna (Gambar 9.5). Untuk men genal
kelainan ini diperlukan pengenalan kondisi air susu dan ambing yang normal.
Sapi mastitis subklinis tidak terlihat gejala tetapi ambingnya terinfeksi dan
penghitungan kuman dalam air susu berada di atas batas normal.
Gambar 9.5 Susu dalam gelas sebelah kiri sewaktu dipakai untuk mendeteksi kasus
sapi mastitis karena E. coli yang mengandung eksudat. Bandingkan
dengan susu normal di kanan (Anonim, 2011)
Anthrax
Penyakit radang limpa atau anthrax adalah penyakit menular akut atau
perakut menyebabkan demam pada hewan berdarah panas termasuk pada
manusia, disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini septikemik utamanya dicirikan
oleh dampak yang fatal. Anthrax ditemukan di berbagai negara di seluruh
dunia termasuk Indonesia menyebabkan kematian tinggi. Manusia bias a
terinfeksi melalui luka atau kulit yang tidak utuh, karena makan daging yang
tidak dimasak sempurna atau melalui pemapasan karena terhirupnya spora
anthrax.
Penyebab
Anthrax disebabkan oleh Bacillus anthraxis, yaitu bakteri berbentuk batang
bersifat Gram positip, non motil, tahan terhadap disinfektan, membentuk rantai
secara in vitro dan bila terkena udara membentuk spora yang tahan terhadap
pengaruh luar sampai puluhan tahun. Basilus ini memproduksi toksin edema
dan letal. Kedua toksin menerobos masuk sel melalui pengikatan protein,
antigen pelindung, yang memiliki fungsi membrana translokasi. Toksin dan
kapsul merupakan faktor virulen utama pada basilus anthraxis. Dalam kondisi
tanah berkapur spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif. Kuman ini
tersebar hampir di seluruh dunia terutama negara beriklim tropis termasuk
Indonesia.
Gejala Klinis
Masa inkubasi berlangsung 3-7 hari. Hewan terserang anthrax dapat mati
secaramendadak, menciri dengan perdarahan di lubang hidung, mulut dan anus.
Dalam kondisi penyakit yang menahun, sapi akan mengalami demam tinggi,
lesu (gambar 9.6A), kesulitan bernapas, gemetar, berjalan sempoyongan. Bila
penyakit berlanjut kemudian rebah dan berakhir dengan kematian. Diagnosis
melalui gejala klinis sering sulit untuk dapat memastikan. Perdarahan di lubang
kumlah sering dipakai sebagai pelita untuk memperkirakan kemungkinan
diagnosis, tetapi banyak kejadian anthrax yang tidak menciri dengan gejala
tersebut. Sapi mati mendadak yang ditemukan di daerah endemi, perlu
dicurigai kemungkinan anthrax.
Pengendalian
Anthrax sering terjadi secara akut dan berakibat fatal. Oleh sebab itu,
diagnosis dini merupakan cara terbaik untuk mencegah kematian temak karena
penyakit ini. Sapi terkena anthrax dilarang keras dipotong untuk konsumsi.
Bangkainya tidak boleh dilakukan autopsi atau bedah bangkai karena dapat
memicu pertumbuhan spora sehingga terjadi pencemaran lingkungan yang
berlangsung puluhan tahun. Vaksinasi dapat dilakukan di daerah endemik
atau ketika terjadi wabah. Daerah bebas anthrax tidak dilakukan vaksinasi.
Pengobatan
Dalam keadaan yang belum melanjut atau masih bersifat lokal, anthrax pada
hewan maupun manusia dapat diobati dengan pemberian injeksi antibiotik.
Dalam keadaan septikemia perakut, biasanya hewan mati sebelum diketahui
sakit atau dilakukan pengobatan.
Penyakit ini bersifat zoonotik. Pada manusia bisa terjadi septikemia yang
berakhir dengan kematian atau bentuk lokal di mana terjadi luka di kulit
anggota tubuh dengan rasa sakit yang hebat (Gambar 9.6 B). Dalam keadaan
belum terlambat, anthrax pada manusia dapat secara efektif diobati dengan
pemberian antibiotik.
Penyebab
Bruselosis disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Ada 6 spesies dari genus
Brucella dan yang sering menyerang sapi adalah B. abortus. Kuman akan
memasuki uterus sewaktu hewan dalam keadaan bunting. Untuk pertama kali
jasad renik ini diisolasi oleh Bruce (1887),dan awalnya menyebut dengan nama
Micrococcus millitensis. Brucella suis yang menyerang babi dapat menginfeksi
sapi tetapi tidak terbukti penularannya antarhewan dalam kelompok.
Penularan
Infeksi dapat terjadi melalui saluran makanan, alat kelamin, selaput lendir
atau kulit yang luka, dan tersebar secara cepat dalam kelompok. Setelah
pendedahan bakteri akan menyebar cepat pada kelompok yang tidak divaksin.
Penularan juga dapat melalui perlakuan inseminasi buatan. Anak sapi betina
yang lahir dari induk terinfeksi akan terus menyimpan bibit penyakit sampai
mencapai usia dewasa. Penyakit ini menyerang berbagai jenis hewan termasuk
sapi dan juga manusia, ditandai antara lain oleh peradangan selaput lendir
alat kelamin yang mengakibatkan terjadi keguguran atau janin lahir prematur,
lahir lemah dan induk menjadi mandul. Manusia terjangkit bruselosis dapat
menyebabkan radang sendi, atau demam umdulant.
Gejala
Sebagai gejala paling menciri adalah keguguran janin (Gambar 9.7 A
dan B). Umumnya keguguran terjadi antara bulan ke-5-8. Kejadian penyakit
terutama dipengaruhi oleh umur sewaktu sapi terinfeksi, jumlah dan tingkat
virulensi kuman. Secara khas, keguguran pada sapi di daerah endemik
hanya terjadi satu kali, dan setelah itu menjadi normal, tidak lagi terjadi
keguguran. Pada kejadian tertentu anak sapi dapat lahir selamat tetapi lemah
atau plasenta tertinggal. Kelainan dengan tertinggalnya plasenta pada induk
dapat menyebabkan sapi menjadi steril. Hewan jantan yang tertular dapat
menyebabkan peradangan testis (orkhitis).
Pengobatan
Pengendalian
Pada sapi perah penyakit ini memiliki dampak kerugian yang sangat besar
dan mengancam kesehatan konsumen, karena bersifat zoonotik sehingga
menular ke manusia menyebabkan penyakit disebut dengan "undulan fever"
atau "demam malta ". Orang terinfeksi karena minum susu sapi terinfeksi
yang tidak dimasak sempurna. Ookter hewan atau petugas kesehatan dapat
tertular ketika menangani kelahiran, mengambil plasenta yang tertinggal atau
melakukan IB. Hewan reaktor dapat dipotong dan dikonsumsi dagingnya di
bawah pengawasan dokter hewan. Oaging dapat dijual setelah dilayukan.
J aringan sisa-sisa pemotongan dimusnahkan dengan dibakar dan dikubur.
Penyebab
Mycobacterium tuberkulosis bovis ditengarai sebagai penyebab penyakit.
Kuman tuberkulosis bersifat tahan asam yang dibedakan antara tipe human
(orang), bovine (bangsa sapi-kerbau), dan avian (unggas). Penyakit ini sering
dijumpai pada sapi perah tua terutama yang dikandangkan dengan sanitasi
dan kesehatan lingkungan yang tidak higienis dan lingkungan udara lembap.
Sapi sebaiknya ditempatkan di kandang terbuka dengan penyinaran matahari
yang baik. Biasanya kejadian kasus tuberkulosis relatif rendah.
Penularan
Hewan biasa tertular melalui hembusan udara pernapasan, langsung
terdedah oleh batuk penderita atau melalui makanan dan minuman tercemar.
Pedet dapat tertular dari minum air susu induk yang sakit. Risiko penyebaran
sangat tinggi bila air susu sapi yang sakit diminum oleh beberapa pedet di
lokasi peternakan. Tipe human juga dilaporkan dapat terjadi pada hewan
piaraan dan hewan di kebun binatang.
Gejala
Gejalanya hewan terkena tuberkulosis bervariasi tergantung pada intensitas
penularan dan jaringan tubuh yang terserang. Serangan infeksi pad a paru
berakibat terjadinya gangguan pernapasan, hewan menjadi batuk, kondisi
tubuh berangsur kurus, dan dalam keadaan parah dapat berlanjut ke kematian.
Secara makropatologi kelenjar limfe paru terbentuk benjol keras berwarna
keputihan karena mengalami pengapuran (Gambar 9.8A). Kelenjar ambing
yang terinfeksi membengkak, terasa keras dalam rabaan dan berbungkul.
Infeksi dapat ditemukan di alat pencemaan dan berakibat diare.
Gambar 9.8 (A) Pembesaran kelenjar limfe paru karena tuberkulosis; (B) Reaksi
positif pad a uji kulit tuberkulinasi di pangkal ekor (Fujita, 1994)
Pengobatan
Penyakit Ngorok
Penyakit ngorok atau Septicaemia Epizooticae (SE)atau disebut shipping fever
adalah penyakit pasteurelosis akut atau menahun yang terjadi secara septikemik
oleh infeksi bakteri. Penyakit ngorok biasa ditemukan secara sporadik di
daerah endemi. Pada kondisi tertentu penyakit dapat berkembang menjadi
wabah. Dijumpai pada sapi atau kerbau dan adakalanya pada kambing dan
domba. Selain sapi dan kerbau penyakit ngorok dilaporkan juga terjadi pada
bison, unta, gajah, dan kuda.
Penularan
Gejala
Sapi menderita penyakit akut sering mati mendadak tanpa gejala klinis. Pada
penyakit kronis biasanya demam tinggi, malas bergerak, tidak mau makan,
keluar air liur dan ingus purulen dari hidung (Gambar 9.9A), diare dan bisa
diikuti diare mendarah. Busung terjadi di dalam tenggorokan menyebar ke
daerah parotidea, bagian leher, kepala, bagian bawah dada, kaki dan pangkal
ekor. Kerongkongan terjadi lesi yang meradang menyebabkan sesak bemapas,
kesulitan menelan dan timbul suara napas ngorok. Secara makroskopis nampak
selaput paru menebal (9,9B)sering diikuti penebalan serosa rongga dada. Lidah
mungkin bengkak dan menjulur keluar, selaput lendir mulut terjadi bendung
darah hewan menjadi lemah dan murung. Hewan merebahkan diri, dan kematian
terjadi karena toksemia akibat pelepasan endotoksin bakteri yang mungkin
terjadi 1-2 hari setelah gejala, dan kejadiannya tinggi pada hewan muda.
Pengobatan
Pencegahan
Parasit adalah organisme yang hidup pada atau di dalam induk semang
dan memperoleh makanannya atau atas beban dari induk semang. Beberapa
penyakit parasiter dapat diobati dengan mudah, sedangkan beberapa yang
lain tidak dapat, serta dapat ditemukan di kawasan tropis maupun subtropis.
Berbeda dengan predator, parasit umumnya jauh lebih kedl dibanding dengan
induk semangnya tetapi memperbanyak diri atau bereproduksi lebih cepat.
Parasit pada umumnya tidak menimbulkan penyakit separah bakteri menular
tetapi karena sering terabaikan maka dampak ekonomi yang ditimbulkan secara
kumulatif oleh penurunan produksi susu dan kemerosotan berat badan sangat
nyata. Parasit tertentu yang menjadi penyebab penyakit surra, theileriosis,
babesiosis,serta [Link] bahkan seringberdampak mematikan
dan mewabah hingga memerlukan perhatian ekstra dalam pencegahan dan
pengendaliannya. Dari segi pengetahuan praktis terhadap penyakit yang
menyerang sapi perah, uraian di bawah ini menyajikan contoh dari beberapa
penyakit oleh parasit yang sering dijumpai di peternakan sapi perah, untuk
peningkatan kewaspadaan.
Parasit merupakan organisme yang berada di alam, baik yang berpotensi
menguntungkan kehidupan sapi dan hewan lainnya, maupun yang bersifat
merugikan dan menimbulkan penyakit. Perhatian utama dalam pengelolaan
kesehatan hewan adalah terhadap organisme yang bersifat infektif, menular
dan menimbulkan kerugian karena hewan menjadi sakit atau mati agar dapat
dicegah, dikendalikan ataupun diobati.
141
memiliki sejumlah besar protozoa di dalam lambung dan ususnya tetapi
umumnya tidak merugikan. Namun beberapa spesies dapat menyebabkan
penyakit penting dan bahkan berpotensi zoonotik. Sebagai contoh dari
spesies protozoa tersebut antara lain adalah Eimeria sp. penyebab Koksidiosis,
Cryptosporoideum parvum penyebab kriptosporodiosis, Toxoplasma gondii penyebab
toxoplasmosis dan Trypanosoma evansi penyebab penyakit Surra. Berikut ini
beberapa contoh penyakit karen a protozoa pada sapi.
Koksidiosis
Koksidiosis merupakan penyakit yang menyerang secara akut dan merusak
selaput lendir usus oleh sebangsa protozoa genus Eimeria atau Isospora. Infeksi
dicirikan oleh demam, diare, kekurusan dan adakalanya mati. Koksidiosis
merupakan penyakit yang berat pada sapi, domba, kambing, unggas dan
kelinci.
Penyebab
Bentuk akut koksidiosis, disebabkan oleh protozoa yang ditandai dengan
diare berdarah dan anemia. Pedet umur 3 minggu sampai 6 bulan paling
rent an terhadap infeksi. Penyakit ini bias a menyerang pada usia sapih ketika
pedet dipindah ke kandang yang terlalu penuh, kotor dan basah. Pemberian
pakan hay di tanah mudah untuk terjadi kontaminasi material tinja yang
meningkatkan infeksi lingkungan. Bila tertelan sapi, koksidia menyerang dan
merusak lapis epitel usus.
Gejala
Gejalautama sewaktu sapi terkena serangan koksidiosis adalah terjadi diare,
adakalanya berdarah, dan akibatnya pedet terserang menderita kekurusan dan
anemia. Pedet yang bertahan dari infeksi akan memiliki imunitas yang lama.
Diagnosis ditegakkan berdasar pengujian tinja yang mengandung ookista
melalui uji mikroskopis.
Daur Hidup
Koksidia pada sapi mengalami kedua stadium di dalam dan di luar induk
semang. Stadium perkembangan pada sapi bermula dari telur parasit yang
disebut sebagai ookista yang keluar bersama tinja (Gambar 10.1). Dalam
kondisi suhu lingkungan kelembapan dan oksigen yang mendukung, ookista
berkembang dalam 3-7 hari dan mampu menginfeksi sapi. Pada stadium ini
ookista berisikan 8 buah sporosoit, setiap ookista mampu memasuki sel usus
hewan setelah tertelan.
OOKISTA
@
,__
I
"
,'.
_
MASAK
OOKISTA
Q
BELUM MASAK
!__
»: ...~:~
Gambar 10.1 Ilustrasi daur hidup coccidia pad a sapi (Kennedy, 2001)
Pencegahan
Kriptosporoidiosis
Penyebab penyakit ini menyerupai coccidia, dan mampu menginfeksi
berbagai jenis hewan, begitu juga orang. Penyakit ini sering terjadi pada pedet
sampai umur satu bulan, paling sering sekitar 7-10 hari. Dikenal sebagai
penyebab bermacam derajad diare alami pada hewan baru lahir, anak kambing
(pedet) atau anak babi (genjik), termasuk menginfeksi orang. Organisme
penyebab sangat tahan terhadap hampir semua disinfektan dan hidup lama
dalam kondisi dingin dan lembap.
Penyebab
Penyakit kriptosporoidiosis disebabkan oleh protozoa Cryptosporoidium
parvum yang berukuran kecil, mampu merusak sel epitelium selaput lendir
usus halus. Ditularkan melalui mulut karena terjadi pencemaran oleh tinja
dari sapi sakit. Penyakit akan menekan kemampuan penyerapan permukaan
alat gastrointestinal dan menyebabkan diare cairoPedet menjadi kurus karena
ketidakmampuan menyerap dan mencema makanan. Kriptosporoidea dijumpai
pada usus pedet yang sehat, dan bila tidak memperoleh kolostrum secara cukup
berisiko menjadi infektif dan menyebabkan diare. Infeksi dapat ditemukan
sedini umur 5 hari dan diare paling banyak umur 5-15 hari. Kebanyakan
infeksi adalah asimtomatis. Sejumlah besar dikeluarkan pada periode paten
dan menyebabkan kontaminasi lingkungan. Infeksi langsung antarpedet atau
melalui muntahan atau air terkontaminasi.
Daur Hidup
Ada 6 proses pertumbuhan pada Cryptosporidium spp. Ketika ookista
tertelan terjadi pelepasan sporosoit infektif, merogoni (multiplikasi aseksual),
gametogoni (pembentukan gamet), fertilisasi, ookista (pembentukan dinding),
dan sporogoni (pembentukan sporosoit). Ookista Cryptosporoidium spp. dapat
bersporulasi di antara sel induk semang dan infektif ketika keluar bersama
tinja. Infeksi akan bertahan sampai tereliminasi oleh adanya imunitas.
Gejala Klinis
Pedet mengalami diare kekuningan, konsistensi tinja cair dan mengandung
lendir yang berlangsung beberapa hari. Hewan menjadi lesu, tidak nafsu makan,
dan kehilangan berat badan. Diare yang terjadi menyebabkan dehidrasi, lemah,
kekurangan tenaga dan untuk kondisi yang parah pedet mati dalam keadaan
Pengobatan
Tidak ada obat spesifik yang efektif. Organisme ini memiliki keterbatasan
dan pembatasan sendiri untuk berkembang. Pedet yang sakit dibantu dengan
pemberian cairan elektrolit melalui mulut atau injeksi sejumlah obat penguat
yang diperlukan. Pemberian pakan konsentrat mengandung obat preparat
sulfa akan membantu mencegah terjadinya infeksi. Susu segar perlu diberikan
beberapa kali dalam sehari dengan sejumlah keperluan maksimal untuk
mengoptimalkan daya kerja sistem pencemaan dan menghambat kemerosotan
kondisi.
Pengendalian
Penyakit ini sulit untuk dikendalikan. Setiap perlakuan yang berefek pada
penurunan populasi ookista yang mencemari lingkungan merupakan upaya
pengendalian yang baik. Pencegahan dapat diawali mulai saat pemberian
kolostrum dengan melaksanakannya sesuai prosedur, yaitu sejak hari pertama
kehidupan disertai dengan tindakan perlindungan umum terhadap infeksi.
Peningkatan kualitas dan kecukupan nutrisi akan sangat membantu. Organisme
initahan terhadap berbagai macam disinfektan, tetapi mungkin dapat terbunuh
di lingkungan yang diberi semprotan larutan amonia 5%.
Penyakit Surra
Penyakit Surra atau "Tripanosomosis"atau "Penyakit Mubeng" karena parasit
darah yang bersifat akut atau kronis menyerang berbagai jenis hewan terutama
kuda, sapi dan kerbau. Pada hewan lain dilaporkan tidak patogenik, dan hewan
yang demikian berperan sebagai pembawa sifat. Sapi perah yang terserang
penyakit ini akan menyebabkan kerugian karena penurunan produksi susu,
kemerosotan berat badan dan dapat melanjut ke kematian.
Penyebaran
Penyakit inibiasa terjadi secara sporadik atau endemik dan dapat mewabah
dengan menimbulkan banyak korban kematian. Penularan dapat terjadi melalui
gigitan lalat pengisap darah dari genus Tabanidae, Stomoxis sp., Lyperosia sp.,
Chrysops sp., dan Hematobia sebagai vektor, atau jenis arthropoda seperti kutu
dan pinjal. Lalat berfungsi sebagai perantara penyebar mekanis dan bukan
hidup secara biologis di dalam tubuh lalat.
Gambar 10.2 Slide darah sapi menderita Surra, terlihat dalam pemeriksaan mikroskop
beberapa organisme renik "Trypanosoma evansi" sebagai penyebab
penyakit (Mercado, 2008)
Gejala
Sapi terdedah parasit ini akan timbul demam, hewan terlihat lesu, kondisi
tubuh lemah, nafsu makan berkurang, produksi susu menurun, anemia dan
kekurusan. Dalam beberapa keadaan mungkin berlangsung secara asimtomatis
atau tanpa gejala. Hewan yang mengalami stres karena kondisi tertentu
merupakan predisposisi untuk terjadi penularan secara lebih mudah. Sapi
terserang berjalan sempoyongan, kejang dan ambruk dengan gerakan berputar
putar atau "mubeng" (bahasa Jawa) sehingga disebut penyakit mubeng oleh
karen a gangguan saraf pad a hewan terserang bila parasit masuk dalam cairan
serebro-spinal. Keadaan lebih parah akan berakhir dengan terjadi kematian.
Nematoda
Infeksi nematoda atau cacing gilik pada sapi biasanya dimulai dengan
awal pemberian rumput. Hampir setiap hewan muda hanya memiliki sedikit
imunitas terhadap parasit, dan akan berkembang infeksi secara berlebihan
bila tidak dimonitor dengan baik. Pedet yang berhasil sembuh dari infeksi
biasanya akan memiliki imunitas yang berlangsung lama sampai menginjak
kehidupan dewasa.
Daur Hidup
Nematoda sebagai parasit cacing gastrointestinal tidak memerlukan induk
semang antara sebagaimana ilustrasi pada Gambar 10.3. Cacing dewasa
bertelur di dalam usus sapi yang keluar bersama tinja. Setelah waktu tertentu
yang bervariasi antara spesies, akan menetas menjadi dua stadium larva, yang
disebut larva (L), dan L2. Larva ini tumbuh dan berkembang menjadi stadium
Gambar 10.3 Ilustrasi daur hidup cacing nematoda pad a seekor sapi
Macam (acing
Pada umumnya nematoda menyerang alat pencernaan makanan, yaitu
usus dan lambung. Di samping lambung dan usus ada spesies dari nematoda
yang menyerang paru sehingga secara target infeksi dapat dibedakan menjadi
(1) cacing yang menyerang lambung, (2) cacing yang menyerang usus dan
(3) cacing yang menyerang paru.
1) Cacinglambung. Berbagai jenis cacing yang termasuk nematoda umumnya
menyerang alat pencernaan gastrointestinaL Ostertagia ostertagi cenderung
paling patogenik dari kelompok parasit gastrointestinal dan oleh sebab
itu paling penting dari segi ekonomi. Stomach worms atau cacing lambung
yang merupakan masalah utama pada sapi adalah Ostertagia ostertagi,
Trychostrongylus axei dan Hemonchus contortus.
• Ostertagia ostertagi. Cacing ostertagia disebut juga sebagai cacing
perut coklat, mampu memasuki perut di abomasum atau adakalanya
juga di usus halus. Perkembangan cacing dapat istirahat selama enam
bulan. Hidup dengan cara menghisap darah induk semang dan sering
menyebabkan diare. Jumlah cacing umumnya sedikit sehingga jarang
menimbulkan kematian.
Gambar 10.4 (A) Seekor sapi sedang batuk dalam upaya mengeluarkan cacing dari
saluran pemapasan atas; (B)Sejumlah cacing berukuran kecil berwama
putih tampak berada dalam trakhea (Fujita, 1994)
Trematoda
Infeksi Trematoda atau cacing hati ifasciolosis) biasa dijumpai di Indonesia.
Kasus ini sering bertanggung jawab secara ekonomi. Pada sapi perah kerugian
terutama karena adakalanya mati karena parasit ini, pertumbuhan terhambat,
konversi pakan rendah, penurunan produksi susu dan gangguan reproduksi.
Untuk sapi potong bagian dari jaringan hati harus dimusnahkan atau dibuang
karena tidak layak konsumsi. Penyakit ini sering menahun dan asimtomatis.
Daur Hidup
Daur lengkap dari cacing hati memerlukan kehadiran siput sebagai induk
semang perantara, yang biasa berada di tempat-tempat basah atau lembap.
Cacing hati dewasa berada di saluran empedu hati temp at akan bertelur dan
kemudian memasuki alat gastrointestinal bersama empedu. Telur ini keluar
bersama tinja dan menetas, melepaskan mirasidium hidup. Mirasidium
Gambar 10.5 Daur hidup cacing hati (Trematoda). Sisipan adalah Irisan jaringan hati
sapi yang terkena infeksi cacing hati. Perhatikan saluran empedu yang
menebal dan terdapat bagian jaringan yang nekrosis oleh lintasan cacing
hati
Cestoda
Infeksi oleh cestoda atau cacing pita biasa dijumpai pada sapi dara muda
sewaktu awal musim merumput di padangan. Cacing pita pada sapi jarang
menyebabkan penyakit yang serius, tetapi dalam situasi infeksi yang berat
dapat terjadi tekanan pada rata-rata pertumbuhan.
Penyebab
Penyakit ini disebabkan oleh Moniezia expansa, M. benedini dan Taenia
saginata, yang berbentuk panjang, putih beruas-ruas, atau disebut cacing pita.
Untuk Taenia saginata, sapi pada hakikatnya sebagai induk semang antara
(Gambar 10.6)dari infeksi pada orang yang menjadi induk semang tetap. Pada
sapi berwujud sebagai larva, disebut Cystisercus bovis atau cacing gelembung.
Moniezia expansa sangat jarang menyerang sapi, dan lebih dikenal sebagai
cacing pita domba. Moniezia benedini dalam daur hidupnya memerlukan
perantara kutu (mites) yang menelan telur cacing. Ruas-ruas cacing memiliki
alat kelamin jantan dan betina yang dapat menghasilkan telur dalam jumlah
banyak. Ukuran kepala kecil memiliki alat pengisap yang adakalanya berkait
dan tidak memiliki mulut.
SAPI
INDUK SEMANG PERANTARA
Gejala
Sebagai induk semang antara, sapi yang mengidap cacing gelembung tidak
memperlihatkan gejala klinis tertentu dan tidak menimbulkan perubahan
patologis pada usus. Dalam proses pemotongan pad a lidah, diafragma,
jantung dan otot masester hewan pesakit ditemukan bungkul cacing kecil-kecil
berdiameter 6-8 mm berisi cairan dan cacing gelembung.
Pengobatan yang efektif tidak ada, dan tidak biasa dilakukan pada sapi.
Cacing ini akan menginfeksi orang, sebagai induk semang tetap. Untuk
memperkecil risiko penularan dan memotong rantai daur hidup cacing
maka dalam lingkungan permukiman, masyarakat harus membangun kakus
atau WC yang sesuai standar higiene dan sanitasi yang baik dan aman dari
pencemaran lingkungan.
Demam Susu
Milk fever atau disebut "Demam susu" atau "Parturient paresis" pada sapi
adalah gangguan metabolisme yang sering terjadi pada sapi induk pada saat
atau setelah hewan melahirkan dengan ditengarai oleh kelumpuhan umum
dan ketidakmampuan sirkulasi darah, disebabkan oleh rendahnya kadar Ca
dalam darah (hipokalsemia), umumnya terkait dengan proses melahirkan
atau karena produksi susu tinggi. Penyakit ini juga terjadi karena tidak
seimbangnya kandungan mineral (potasium dan Ca) dalam tubuh menjelang
hewan melahirkan. Pada bulan akhir kebuntingan dan awallaktasi terjadi
penyerapan Ca darah yang tinggi untuk mensuplai perkembangan embrio serta
kelengkapan konstituen untuk kolostrum dan milk. Kejadian paling banyak
pad a saat menjelang melahirkan sampai dengan 10 hari setelah melahirkan,
atau dapat terjadi sampai dengan 3bulan setelah melahirkan terutama bila sapi
mengalami stres. Penyakit ini disebut juga hipokalsemia karena telah terjadi
157
penurunan tajam kadar Ca dalam darah di bawah normal secara mendadak.
Kejadian milk fever akan cenderung meningkat dengan pertambahan umur sapi
dan pengaruh situasi yang dialami pada sejumlah laktasi sebelumnya.
Penderita demam susu sering dijumpai pada sapi ketika terjadi tuntutan
kebutuhan Ca yang tinggi. Pada hakikatnya semua sapi setelah melahirkan
mengalami hipokalsemia dengan derajat ringan sehingga tidak menimbulkan
efek klinis, tetapi untuk beberapa di antaranya kekurangan Ca menjadi
begitu besar sehingga muncul gejala dan bahkan dapat berakibat fatal. Sapi
yang dipiara dengan pemberian hijauan berasal dari tanah yang tinggi level
potassium menjadi rentan terhadap demam susu.
Penyebab
Gangguan metabolisme yang menyebabkan demam susu karena tingginya
tuntutan kebutuhan Ca atau kehilangan Ca darah karena penyerapan tubuh
untuk mengimbangi produksi susu yang meningkat tajam pada waktu
atau saat mendekati sapi melahirkan dan dimulainya masa laktasi. Secara
fisiologis sapi tidak mampu memenuhi tuntutan kebutuhan Ca karena terjadi
ketidakseimbangan nutrisi pakan yang diperlukan pada saat itu. Tuntutan
kebutuhan ini dalam situasi normal semestinya memerlukan waktu tertentu untuk
pemenuhannya, namun dalam situasi kebutuhan pascamelahirkan diperlukan
dalam waktu singkat karena peningkatan produksi susu juga berlangsung cepat.
Kadar Ca turun dari normalnya 10-12 mg/dl menjadi hanya 2-7 mg/dl.
Masa laktasi setelah melahirkan menyebabkan kehilangan Ca darah secara
nyata dan dimanifestasikan dengan perubahan fisiologi tubuh secara mendadak.
Tubuh sapi memiliki mekanisme penyesuaian diri terhadap kenaikan tuntutan Ca
darah dengan memobilisasi apa yang ada di dalam tubuh. Aktivasi penyerapan
Ca terjadi sebagai tanggap terhadap konsentrasi rendah atau tidak mampunya
tubuh mengimbangi tuntutan kebutuhan Ca darah. Kenaikan penyerapan Ca
dari usus secara nyata akan menyebabkan tubuh memobilisir simpanan yang
ada di dalam tulang. Apabila proses tidak terjadi dengan cepat, pemenuhan Ca
darah tidak mampu mengimbangi kebutuhan Ca dalam susu. Milk fever dapat
terjadi dalam berbagai situasi bila kekurangan Ca darah, tetapi paling sering
pada sapi dengan produksi tinggi. Sering terjadi ada peningkatan serum
magnesium dan serum fosfor menurun. Faktor penyebab lain yang mungkin
terjadi antara lain adalah tidak tercukupinya vitamin 0, miskin tanggap
hormonal terutama hormon dari kelenjar paratiroid, dan faktor umur sapi.
Semakin tua sapi semakin rentan terhadap kejadian demam susu. Penyakit
ini dapat terjadi di semua umur induk sapi, tetapi paling sering di atas lima
tahun. Jenis sapi yang sering mengalami keadaan ini adalah bangsa Jersey.
Sebutan nama /I demam susu" sebetulnya tidak terlalu tepat karena sapi
dalam kondisi penyakit ini tidak terjadi gejala demam. Penyakit pada umumnya
ditandai oleh perubahan perilaku, kelumpuhan umum, penurunan nafsu makan
diikuti dengan kesulitan hewan untuk bergerak dan gagal sirkulasi. Sapi
dengan kondisi penyakit klinis ringan biasanya tidak mampu bangkit berdiri,
terlihat ketidakberdayaan karena terjadi kelemahan otot, sapi menjadi terbaring
lemas, dan mungkin suhu tubuhnya menjadi abnormal. Ini disebabkan karena
berkurangnya peranan Ca sewaktu memacu terjadinya kontraksi otot. Dalam
keadaan hipokalsemia sapi kekurangan tegangan otot baik pada otot skeletal
maupun otot polos yang berpengaruh pula pada refleks yang lain misalnya untuk
menelan. Sapi yang berbaring lama dapat berkembang menjadi kembung perut
atau bloat yang merupakan faktor dominan sebagai pemicu terjadi kematian. Gejala
yang menciri biasa terlihat dalam kurun waktu 24-72 jam setelah melahirkan.
Ketika kandungan Ca darah merosot jatuh, otot anggota gerak menjadi gemetaran
dan terjadi kelumpuhan, diikuti sapi menjadi ambruk tidak mampu berdiri.
Gejala klinis dapat dikelompokkan menjadi 3 stadium.
1) Stadium satu. Dalam stadium satu periodenya pendek, sapi masih mampu
berdiri, kemudian mengalami kekakuan otot, menjadi hipersensitif, gelisah
dan tubuh menjadi gemetaran di bagian selangkang. Sapi malas bergerak,
turun nafsu makan dan kemudian kaki belakang menjadi kaku dan sapi
kejang-kejang. Kejadian ini berlangsung dalam waktu sangat pendek
sehingga sering tidak teramati. Apabila keadaan ini tidak segera teratasi,
penyakit akan cepat berkembang ke stadium dua.
2) Stadium dua. Sapi pada stadium ini tetap tinggal berbaring, tidak mampu
bangun untuk berdiri kembali dan stadium ini disebut /I stadium berbaring".
Hewan menjadi dungu dan bila diraba tubuh dan kaki-kakinya terasa
dingin, suhu tubuh sering subnormal, matanya kering dan membelalak.
Pemapasannya berat dan denyut jantung cepat. Terjadi kelumpuhan otot
polos melanjut menjadi hambatan gastrointestinal yang dimanifestasikan
dengan kesulitan berak dan urinasi.
3) Stadium tiga. Sapi berbaring pada sebelah tubuhnya dengan kaki terjulur
keluar (berbaring lateral) dan hampir tak sadarkan diri atau koma (Gambar
11.1). Penyakit sering berkembang menjadi kembung perut atau bloat
dan menyerdawakan isi rumen. Sapi dalam kondisi demikian masih
mungkin dapat cepat tertolong dalam beberapa jam. Namun bila tidak
segera mendapat penanganan medis yang cepat akan berakhir dengan
kematian. Milk Fever menjadi faktor predisposisi untuk terjadi gangguan
kesehatan atau penyakit yang lain, terutama proses kelahiran yang lambat
disebabkan oleh kelemahan perototan uterus, otot perut dan perototan di
bagian pelvis. Dapat terjadi prolaps uteri, plasenta tertinggal, dan infeksi
uterus. Kejadian tentang milk fever ini secara menciri dapat dijumpai di
Gambar 11.1 Seekor induk sapi perah dengan gejala Milk Fever, rebah dan berbaring
di samping kanan adalah anak pedetnya, tubuh lemas malas untuk
berdiri (Anstis, 2011)
Penanggulangan
Perlu diyakinkan rasio normal Ca dan P dalam rangsum, pada waktu satu
bulan menjelang beranak. Hal ini dilakukan dengan menghindari terjadinya
kekurangan asupan Ca. Asupan Ca dapat berlebih bila menggunakan alfalfa
yang mengandung banyak Ca menjadi bahan pakan hijauan utama dalam
diet. Pakan dengan kadar P yang tinggi harus dihindarkan. Pertahankan level
potasium rendah, karena tingginya level potasium pada hijauan menjadi
faktor pendorong untuk terjadi milk fever, tidak terpengaruh oleh besaran
asupan Ca. Hijauan rendah akan potasium biasanya juga rendah Ca. Kunci
untuk mengurangi kejadian milk fever adalah menyiapkan dan memacu sapi
dalam menghadapi mobilisasi Ca pada saat melahirkan dan masa laktasi yang
menyebabkan terjadinya penyerapan Ca secara berlebihan dari kerangka tulang
dan menaikkan absorpsi oleh usus menjelang melahirkan sehingga mampu
mengimbangi dan memenuhi tuntutan peningkatan kebutuhan Ca.
Sapi menderita milk fever harus segera memperoleh pertolongan, dan bila
tidak akan ambruk, lumpuh atau dapat mati dalam beberapa jam. Pengobatan
dengan preparat Ca biasanya memiliki manfaat besar dan hewan akan selamat,
bangkit untuk berdiri dalam waktu singkat.
1) Kejadian ringan. Peternak dapat menggunakan obat berbentuk cairan
atau gelatin untuk mengobati hipokalsemia tahap awal. Cara pengobatan
melalui mulut ini dilakukan bila hewan masih menunjukkan refleks
menelan normal. Pengobatan juga dapat dicoba dengan memberikan
suntikan vitamin 03 dan metabolitnya karena telah dibuktikan efektif
untuk mencegah milk fever. Oosis tinggi vitamin 0 (20-30)6 ~ setiap
hari diberikan dalam pakan selama 5-7 hari sebelum melahirkan akan
mengurangi kejadian.
2) Kejadian sedang sampai berat. Oalam keadaan demam susu yang parah,
pengobatan diarahkan pada pengembalian aras Ca serum ke kondisi
normal sesegera mungkin untuk menghindari kerusakan otot dan saraf.
Pengobatan dilakukan dengan penyuntikan preparat garam Ca glukonat
secara intra vena terutama bila hewan telah rebah dan hanya berbaring.
Oalam kondisi yang masih baik pemberian pengobatan dapat dilakukan
secara subkutan atau intraperitoneal dengan dosis 1 gram Ca/45 kg berat
badan. Kondisi hewan akan tanggap secara cepat dalam hitungan menit
dan membaik, kecuali tahap hipokalsemia sudah terlalu parah atau terjadi
komplikasi.
Tetanus Rumput
Tetanihipomagnesemia atau tetnus rumput (grasstetany) atau "grass staggers"
adalah gangguan metabolisme yang kompleks ditengarai oleh hipomagnesemia
(plasma magnesium < 1,5mg/dl) dan penurunan dari konsentrasi magnesium
pada cairan serebrospinal < 1 mg/dl yang berakibat pada kegelisahan yang
hebat, kekakuan otot, kejang-kejang, rebah, lemas, dan melanjut menjadi
kematian. Masalah ini biasanya dijumpai pada induk sapi laktasi, yang selalu
dikaitkan dengan ketidakseimbangan komponen mineral dari serum darah
terutama terjadinya penurunan kandungan magnesium. Kasus grass tetany
jarang terjadi pada sapi nonlaktasi.
Penyebab
Gejala
Tanda klinis hipomagnesemia sangat mirip dengan milk fever atau ketosis.
Termasuk di antaranya adalah miskin koordinasi alat gerak, kaku otot dan
kejang-kejang. Gejala kejang mungkin terjadi berulang kali dalam interval
pendek dan bila melanjut hewan dapat mengalami kematian. Apabila dijumpai
gejala demikian perlu dipanggil dokter hewan untuk memberikan pengobatan
awal bagi hewan yang memiliki gejala atau pada kelompoknya yang mungkin
memiliki masalah yang sarna. Pada sapi yang digembalakan sering dijumpai
hewan telah mati karena kejadian yang akut.
Pengobatan
Pencegahan
Penyebab
Pada dasarnya ketosis terjadi karena adanya keseimbangan energi negatif
pada enam minggu pertama mas a laktasi. Sapi tidak mendapat rangsum
C)
z
iii: 22
w
lII:::
Z 20
~ iii: 18
~cC
~ ~ 16
CLlII:::
_._
-
::»
14
~ SEHAT
z 12
~
~ 10
-2 -1 o 1 2
MINGGU MELAHIRKAN
Gambar 11.2 Ilustrasi kondisi seekor sapi ketosis subklinis pascamelahirkan dengan
situasi kurang asupan makanan dalam waktu satu minggu sebelum dan
dua minggu setelah melahirkan normal (Harris, 2010)
Gejala
Berlangsungnya gejala biasanya secara bertahap dan pengujian secara teliti
ditemukan adanya benda keton. Peneguhan lebih lanjut biasanya memerlukan
keberadaan badan keton. Sapi yang ditaruh di kandang terbatas dan ditemukan
penurunan nafsu makan biasanya sebagai tanda awal terjadinya ketosis. Apabila
sapi dalam kelompok diberi makanan yang dicampur secara bersamaan, pada
sapi dengan ketosis biasanya menolak bijian sebelum pakan hijauan.
1) Keadaan ringan. Gejala awal termasuk penurunan ringan nafsu makan
dan meningkat menjadi tidak mau makan, tinja terbungkus mucus kental,
kondisi lemah, malas bergerak, penurunan produksi susu dan untuk
sebagian kedl kasus terjadi gejala abnormal saraf pusat. Sapi tidak mampu
memenuhi kebutuhan glukosa darah dan nutrisi yang diperlukan untuk
produksi susunya selama periode ini. Kejadian ini biasa dijumpai pada
enam minggu pertama masa laktasi. Pengujian fisik hewan demam
dan sedikit dehidrasi.
2) Keadaan lanjut. Sejalandengan kemajuan penyakit, penurunan berat badan
semakin nyata dalam hanya beberapa hari [Link] menjadi pika, menolak
Diagnosis
Pencegahan
Induk sapi harus dikondisikan dengan baik pada saat akhir mas a laktasi
dan mas a kering. Pencegahan ketosis dilakukan melalui manajemen nutrisi
yang baik, dengan menjaga sapi dalam kondisi bagus tetapi tidak terlalu gemuk
selama mas a kering. Asupan pakan perlu dimonitor dengan baik, perubahan
rangsum pakan menjelang melahirkan dan dalam enam minggu pertama
laktasi dilakukan secara bertahap. Setelah melahirkan konsumsi energi cepat
dinaikkan. Selama laktasi, diberi pakan yang baik dengan energi tinggi dan enak
dimakan. Rangsum diberikan konsentrasi karbohidrat nonserat kasar tetapi
cukup mengandung serat untuk mengaktifkan rumen. Pemilik petemakan
dengan prevalensi 15% kejadian ketosis harus berkonsultasi dengan dokter
hewan atau nutrisionis untuk petunjuk dalam pengendaliannya.
Pengobatan
Penyebab
Hati berlemak terjadi selama masa di mana konsentrasi non esteric fatty acid
(NEFA) meningkat. Kenaikan paling mencolok terjadi pada saat melahirkan
ketika konsentrasi plasma sering melewati ambang batas. Kasus terjadi karena
pemberian pakan dengan energi terlalu tinggi pada konsentrat, silase jagung
dan beberapa hay, selama masa sapi kering. Hasilnya adalah induk sapi menjadi
terlalu gemuk saat melahirkan. Sapi demikian tidak efisien dalam memobilisasi
lemak ketika mereka memerlukannya. Kemungkinan lain adalah komponen
genetik yang membuat hewan rentan untuk terjadi penyimpangan.
Gejala
Tidak diketahui gejala yang jelas terhadap kasus sindrom hati berlemak.
Fat Cow Syndrome telah dikaitkan dengan rendahnya produksi susu, kenaikan
mastitis klinis, dan miskin kinerja reproduksi. Kasus ini juga menyebabkan
kondisi sapi induk yang tidak selaras dengan harapan produksi karena menjadi
terlalu gemuk sehingga tubuh tidak cukup memiliki kemampuan fisiologis
memobilisasi lemak tubuh secara efisien.
Pengobatan
Pengobatan untuk kasus ini sulit untuk dilakukan dan memakan waktu
yang lama. Upaya demikian akan melibatkan pemaksaan secara intensif dalam
Pengendalian
Upaya pengendalian dilakukan melalui penerapan sistern manajemen
pakan dengan mengembalikan penurunan kondisi tubuh sewaktu dalam
periode laktasi akhir dan dipertahankan dalam posisi stabil sewaktu masa
kering agar hewan tidak menjadi terlalu gemuk. Sebagai gambaran, dengan
penilaian kondisi sapi induk antara skala asumsi kondisi satu sampai lima,
maka sapi untuk masa kering dipertahankan dalam skala 3,5.
Gejala
Perubahan meneolok terjadi antara lain bahwa tinja sapi induk dengan
pemberian rangsum yang sarna kepadatannya bervariasi dari keras ke lunak.
Tinja dapat terlihat berbuih berisi gelembung atau mengandung lebih banyak
serat yang panjang tidak tereema lebih dari 1,2 em panjang. Pada sapi yang
diberi pakan bijian, tinja dapat berisi peeahan bijian yang tak tereema berukuran
kurang dari 3,5 em. Aktivitas ruminasi menurun dan kurang nafsu makan.
Gejala asidosis yang lain adalah rasa sakit pada kakinya, produksi susu rendah
dan efisiensi pakan menurun.
Diagnosis
Dugaan diagnosis berdasar gejala klinis hewan. Untuk mendukung
peneguhan diagnosis dilakukan pengujian lemak dan protein susu. Sapi
dalam kondisi asidosis laktik, dalam pengujian kondisinya akan terdeteksi
dengan hasil: uji lemak susu rendah berada di bawah 3,0-3,3% dan begitu
pula uji protein susu diperoleh hasil kandungan yang rendah.
Pengendalian
Untuk menghindari asidosis harus diberi konsentrat seeara bertahap
misalnya 0,5kg konsentrat/sapi/hari sehingga populasi mikroba rumen dapat
menyesuaikan dengan tipe fermentasi yang diperlukan, misalnya mungkin
diperlukan lebih banyak mikroba yang memfermentasi patioBerbeda individu
sapi akan berbeda tanggap terhadap pemberian pakan konsentrat. Beberapa
individu sapi dapat tahan mengkonsumsi 6 kg konsentrat/hari sedang sapi
yang lain akan menjadi sakit sewaktu menerima 3 kg/hari, dan selalu ada sapi
Pengobatan
Pencegahan asidosis laktik biasanya merupakan cara terbaik untuk dilakukan.
Memberi minum buffer rumen misalnya sodium bikarbonat atau campuran
sodium bikarbonat dan sodium karbonat dapat membantu perubahan dengan
risiko gangguan ringan. Untuk mengatasi kondisi demikian dilakukan melalui
pembetulan kerja ruminal dan kemungkinan sistemik asidosisnya serta upaya
untuk menghindari produksi asam laktat yang berlebihan.
1) Menambah pakan serat kasar. Asidosisdapat diatasi dengan pemberian pakan
serat kasar lebih banyak. Cara demikian ini praktis untuk dilakukan namun
perlu pengamatan yang cermat karena dapat mengakibatkan pengurangan
nafsu makan, begitu juga akan berpengaruh pada penurunan hasil produksi
susunya.
2) Menstabilkan pH rumen. Bufer dapat disertakan dalam rangsum untuk
menstabilkan Ph rumen sehingga kondisi lingkungan rumen memberikan
peluang untuk pertumbuhan normal populasi mikroba. Oalam kondisi
tertentu beberapa hewan yang terkena mungkin memerlukan tindakan
operasi ruminektomi untuk mengambil isi rumen. Oalam praktik
pemberian pakan, sapi harus hanya diberi hay dan konsentrat dengan
cara mengenalkan sebelumnya secara bertahap selama beberapa hari.
Secara berangsur-angsur perubahan pemberian rangsum ditingkatkan
sesuai yang seharusnya diberikan.
Displasia Abomasum
Oalam sistem pencemakan makanan, abomasum terletak di sebelah kanan
dasar dari bagian perut tubuh sapi. Yang disebut dengan displasia abomasum
adalah kesalahan letak atau terpuntimya abomasum dari kedudukan normalnya
di sebelah kanan terdesak berpindah ke sebelah kiri. Kejadian paling banyak
(80%)terjadi dalam bulan pertama laktasi. Abomasum menjadi terisi gas, cairan,
atau keduanya, dan bergeser ke posisi abnormal. Umumnya bergerak ke kiri
dan ke depan, menempati posisi antara rumen dan dinding perut kiri (Gambar
11.3). Keadaan demikian ini disebut Displasia Abomasum Kiri (OAK).
Penyebab
Terjadinya salah letak dari posisi normal abomasum dapat disebabkan
oleh tingginya proporsi asupan konsentrat kering (bijian campur) dan rendah
akan serat kasar, stres fisik misalnya lantai licin dan masalah ikutan sekunder
RUMEN
ABOMASUM
ABOMASUM 01 ABOMASUM 01
SEBELAH KANAN SEBELAH KIRI
Gambar 11.3 Ilustrasi posisi abomasum normal dan abnormal ketika terjadi displasia
abomasum kiri (Weaver and Moseley, 1988)
Gejala
Gejala klinis yang terjadi mirip dengan pada ketosis. Hewan makan, tetapi
kemudian berhenti, lalu makan lagi secara bergantian, gerakan perut lambat,
produksi susu menurun secara menciri menjadi 30-50%. Ini menghasilkan
keadaan klasik keluhan "berhenti makan dan turun susu" Sapi menderita
sakit perut, kondisi lemah dan rasa tidak nyaman. Oalam keadaan lebih sedikit
terjadi juga displasia abomasum di bagian kanan.
Kembung Perut
Kembung perut, "timpani" atau "Bloat" adalah terjadinya akumulasi gas
yang mengakibatkan tekanan berlebihan dari rumen dan retikulum oleh gas
Bloat dapat terjadi dalam bentuk: (a) kembung perut karena rangsum pakan
menyebabkan timbulnya gas berbuih secara permanen dengan kondisi tetap
bercampur dengan gas disebut "bloat berbuih", atau (b) dalam bentuk bloat gas
bebas yang tidak ada hubungannya dengan bahan makanan karena pengaruh
ekstra ruminal misalnya penyumbatan esophagus yang berlanjut membentuk
banyak gas, dan disebut dengan "bloat gas bebas".
1) Bloat berbuih. Bloat berbuih disebabkan oleh tertahannya gas di dalam
masa isi makanan yang ditelan di dalam rumen. Tertinggalnya gas di
dalam rumen ini berlanjut menjadi pembentukan buih dan hewan tidak
mampu menyerdawakan karena tidak ada pembentukan kantong gas
pada bagian dorsal rumen. Bloat berbuih sering dikaitkan dengan diet
leguminose lunak seperti yang dipotong segar atau diet konsentrat akhir.
Bloat karena konsentrat dapat diminimalkan dampaknya dengan memberi
campuran pakan serat kasar.
2) Bloat gas bebas. Bloat gas bebas atau ruminal timpani biasanya terjadi
setelah hewan mengkonsumsi sejumlah pakan konsentrat lebih banyak
dari yang biasa diberikan untuk makan harian. Konsumsi pakan berlebihan
berlanjut ke fermentasi cepat di dalam rumen oleh bakteri rumen, produksi
asam organik mudah menguap dan peningkatan dalam asam laktat
dengan menurunkan pH dalam rumen. Dengan turunnya pH rumen akan
meningkatkan produksi asam organik mudah menguap, kapasitas absorpsi
rumen berlebih, dan kontraksi rumen terhambat yang memungkinkan
terjadinya akumulasi gas di kantung bagian dorsal rumen.
Rata-rata Kejadian
Bloat gas bebas dari kasus selain karena konsumsi leguminose basah dan
diet konsentrat tinggi terjadi secara sporadis, sedang bloat berbuih sering terjadi
mewabah. Bila kondisi tanaman mendukung pertumbuhan cepat tanaman,
mung kin akan meningkatkan kejadian bloat berbuih. Peternak sebaiknya
waspada ketika menempatkan sapi di tanaman waktu musim penghujan dengan
melengkapi serat kasar kering untuk mengendalikan kejadian bloat berbuih.
Gejala Klinis
Gejala termasuk rasa sakit bagian perut, peritonitis atau terjadi infeksi di
rongga perut, kembung air dalam perut, atau kandung urine peeah, akumulasi
air dalam uterus sewaktu bunting, displasia abomasum kanan atau kiri, usus
terpuntir, asites (akumulasi air di dalam rongga perut) atau pneumoperitonium
(akumulasi air di dalam rongga peritoneum). Bloat merupakan penyebab yang
biasa menimbulkan kematian. Sapi yang tidak teramati dengan baik terhadap
pakan atau padangan serta sapi dalam masa kering biasanya dijumpai telah
mati sebelum diketahui menderita timpani. Kembung perut dapat terbentuk
pad a hari pertama setelah ditempatkan di rerumputan dan berkembang
di hari ke dua atau ke tiga.
Pada bloat primer, rumen menjadi mengembang nyata secara mendadak, dan
pada pinggang kiri dapat begitu membengkak lebih besar dari sebelah kanan
(Gambar 11.4).Dispnea dan gemeretak sangat nyata diikuti oleh pemapasan
melalui mulut, lidah menjulur, kepala menjulur ke depan dan sering kencing.
Sering hewan muntah. Ruminasi tidak menurun sampai dengan bloat menjadi
semakin berat. Apabila kembung perut berkembang memburuk, hewan akan
ambruk dan mati. Kematian mungkin terjadi tiga sampai empat hari setelah
gejala klinis, biasanya mencapai 1%. Kerugian juga terjadi akibat penurunan
produksi susu.
Untuk bloat gas bebas, menusukkan pipa lambung perut biasanya cukup
untuk membebaskan rasa tidak nyaman tekanan ring an atau moderat pada
rumen dengan gas bebas. Manipulasi dan penempatan posisi kembali dari pipa
lambung sewaktu memasuki rumen kadang-kadang memerlukan penggembesan
kantung gas. Apabila asidosis bertanggung jawab terjadinya bloat, diberikan
pengobatan antacida dalam bentuk sodium bikarbonat (baking soda 0,5 kg
dalam air dingin) yang dimasukkan menggunakan pipa lambung.
Busung Ambing
Dalam batas tertentu, kondisi di mana terjadi peristiwa busung, bendung
darah, atau terkumpulnya eairan darah di dalam ambing, sering terjadi dan
seeara fisiologinormal untuk sapi induk atau dara mendekati saat melahirkan.
Namun dalam kejadian berat dapat menghasilkan kebengkakan hebat di
bagian perut, ambing dan puting yang dapat mengganggu pedet sewaktu
mengisap puting induknya, ketika proses pemerahan susu, dan dapat menjadi
predisposisi terjadi kerusakan dari jaringan penyangga ambing. Apabila
keadaan berlanjut dan tidak teratasi dapat menjadi faktor utama penurunan
kemampuan produksi sapi seeara berkelanjutan.
Penyebab
Busung ambing terjadi utamanya sebagai hasil hambatan dalam aliran
darah dan limfe dari perut bagian bawah yang disebabkan oleh adanya tekanan
fetus pada rongga pelvis sewaktu masih dalam kandungan. Kondisi demikian
terjadi seeara sporadis hampir di setiap kelompok sapi meneapai puneak
masa kebuntingan menjelang terjadi kelahiran. Kecuali bila ada komplikasi
maka kesembuhan akan terjadi seeara spontan dalam waktu beberapa hari
setelah melahirkan. Dalam situasi di mana busung ambing menjadi masalah
kelompok, mungkin telah terjadi komplikasi dengan faktor lain termasuk
pemberian konsentrat seeara berlebihan dan terlalu banyak asupan sodium
dan/atau potasium. Kejadian pada sapi dara yang baru pertama kali melahirkan
eenderung menjadi masalah yang eukup serius dan memerlukan perhatian
khusus.
Gejala
Hipokalsemia, terjadi sebagai akibat dari pengambilan protein darah
karena pembentukan kolustrum telah diperkirakan sebagai penyebab busung
ambing, tetapi uji laboratoris tidak selaras dengan pandangan ini. Rataan
kejadian bervariasi tetapi kasus yang memerlukan pengobatan relatif keeil
atau kurang dari 3-5%.
Pengobatan
Pencegahan
Kinerja usaha dapat tercermin dan dievaluasi dari catatan data, peristiwa
atau perubahan dari berbagai kejadian pada setiap tahapan waktu atau
program. Karena merupakan catatan tertulis dengan penandaan individual
yang jelas dan sistema tis maka data yang tersimpan baik akan mudah untuk
diingat, dipelajari serta dievaluasi. Keberadaan data juga tidak terbatas
hanya tersedia untuk orang atau kelompok tertentu tetapi dapat dipahami
dan ditindaklanjuti oleh orang lain sehingga terjadi komunikasi informasi
yang harmonis untuk diterapkan dan dikembangkan menjadi pemikiran atau
tindakan yang memberi manfaat secara objektif dan rasional. Pencatatan atau
recording menghasilkan bahan berupa data untuk diolah menjadi informasi
yang dapat dianalisis sebagai bahan dalam melakukan monitoring, evaluasi,
pengawasan dan perencanaan ke depan demi kemajuan usaha.
Agar supaya diperoleh informasi yang lengkap, pendataan dilakukan
secara sistematis sejak us aha dimulai hingga waktu yang tidak terbatas. Yang
penting untuk diperhatikan adalah bagaimana kita dapat memperoleh data
yang sederhana, mudah dipahami tetapi akurat dan berkualitas.
KUALITAS DATA
Setiap data sebaiknya disampaikan dalam catatan sederhana, dan dapat
dipertanggungjawabkan akurasinya dengan baik. Data yang tidak berkualitas
tidak akan memberi manfaat, bahkan data yang salah akan cenderung
menyesatkan bagi pembuat keputusan. Usaha petemakan yang tidak memiliki
data recording dan hanya berdasar daya ingat akan mengalami banyak
keterbatasan. Ketika usaha berkembang atau terjadi pergantian petugas,
permasalahan akan menjadi semakin kabur dan tidak jelas akurasinya.
Akibatnya kesinambungan informasi menjadi terkendala dan tidak banyak
dapat dperoleh pelajaran dari masa lalu untuk kesinambungan program.
177
Ketepatan Data
Data tepat adalah data yang akurat, sahih, trasparan sehingga bermanfaat
sebagai bahan evaluasi dan perencanaan. Data yang disimpan harus memang
diperlukan dan bentuknya sederhana. Terlalu banyak data yang tidak ada
manfaatnya akan membebani pekerjaan dan membuang waktu serta biaya
yang sia-sia. Oleh sebab itu, semua data yang direkam harus dapat dianalisis.
Catatan data harus mengandung kebenaran sesuai apa, di mana dan kapan
yangterjadi.
Kemampuan Telusur
Data harus dapat dipakai sebagai pedoman dalam pembuktian terbalik dan
harus "mampu telusur". Ini berarti bahwa kejadian di masa lampau harus bisa
dikaji atau ditelusur ulang dan dicari keterkaitannya dengan peristiwa yang
ingin dianalisis berdasar catatan dari setiap individu hewan. Semua masalah
terekam dengan baik sehingga dapat dicari tahu sekiranya perlu perbaikan
agar tidak terulang kembali, atau bahkan ditingkatkan bila dicapai suatu
keberhasilan dengan arah dan tujuan yang jelas.
Identitas Individual
N omor diberikan kepada sapi secara individual, umumnya melalui
pemasangan anting telinga. Adanya identitas yang jelas maka seseorang atau
pemilik ternak bisa menunjuk atau menberikan instruksi kepada petugas
dan bahkan dapat melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain tentang
perlakuan yang diinginkan terhadap sapi di dalam suatu kelompok hanya
dengan menyebut nomor identitas. Juru perah dapat menindak lanjuti secara
pasti apa yang harus dilakukan terhadap individu sapi tertentu dengan
kesalahan minimal selama memerah, misalnya perlakuan khusus terhadap
Memudahkan Mengenal
Tata laksana yang baik memerlukan perhatian yang teliti pada setiap sapi.
Dengan adanya tanda pengenal pada setiap individu, maka petugas atau
pemilik akan dapat mengenali satu persatu dengan baik.
Seleksi Hewan
Menghadapi setiap perubahan pada setiap individu yang jumlahnya banyak,
membutuhkan sistem pencatatan yang baik. Dengan adanya catatan secara
individual maka akan lebih mudah bagi peternak untuk melakukan seleksi
berdasar catatan kinerja setiap individu. Apa lagi bila seleksi dimaksudkan
untuk mengeluarkan dari peternakan, agar tidak salah pilih dalam menentukan
kebijakan maka identitas yang diberikan harus tepat sehingga tidak salah
dalam melakukan tindakan.
Sistem Pencatatan
Berdasar identitas individual dieiptakan sistem peneatatan tentang
produktivitas, reproduktivitas, kesehatan dan nutrisi, sehingga pada waktunya
dapat dilakukan evaluasi kinerja dan seterusnya dibuat keputusan pedoman
manajemen sesuai hasil analisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu pemberian
identitas dimaksudkan sebagai alat pendataan seeara tepat sehingga dapat
dibedakan kinerja setiap sapi sampai pada tingkat individual, termasuk
pendalaman terhadap segala permasalahan yang ada pada setiap sapi. Setiap
informasi perlu selalu diperbaharui seeara berkala dan dicatat dengan segera
menggunakan identitas setiap pada saat kejadian.
Setiappeniadaan atau penundaan eatatan dapat berlanjut menjadi pengabaian
masalah atau dapat berpotensi salah eatat sehingga mengurangi keakuratan atau
kelengkapan informasi. Suatu sistem peneatatan yang baik dilakukan seeara
lengkap sesuai kriteria yang diperlukan meliputi identifikasi permasalahan
dan dilakukan sedini mungkin ketika pedet baru lahir. Identifikasi sewaktu
lahir dilakukan dengan pemberian nama atau nomor telinga termasuk eatatan
tanggallahir, berat badan saat dilahirkan, nama atau nomor induk dan jenis
atau bangsa semen pejantan.
Seleksi Hewan
Dapat dilakukan seleksi dari sisi keturunan. Nenek moyang sebagai cikal
bakal genetik dapat terseleksi dan dalam jangka panjang diharapkan terhindar
dari kejadian in-breeding.
Evaluasi Bibit
Sapi dara dievaluasi untuk seleksi sebagai bibit yang diunggulkan
menggunakan kriteria pemilihan tertentu terutama asal-usul induk serta
penggunaan pejantan unggul atau semen IB yang dipakai.
Evaluasi Produksi
Produksi kelompok secara keseluruhan dapat dievaluasi menyeluruh
dengan mengamati kemampuan produksi setiap sapi. Dalam jangka panjang
dapat direncanakan penataan kepemilikan dengan melestarikan sapi produksi
tinggi dan mengeluarkan yang tidak mencapai batas minimal produksi.
Target Breeding
Sapi dara dapat dimonitor umur dan jadwal target yang akan dicapai untuk
pertama harus dikawinkan atau dilakukan [Link] demikian akan terhindar
dari kelalaian dalam mengawinkan dan untuk mengatur agar diperoleh selang
beranak yang menguntungkan.
Berdasar identitas pedet atau sapi dapat diamati pertumbuhannya dan berat
badannya untuk dinilai kelayakan antara umur dan peneapaian proporsi tubuh.
Atas dasar kelayakan pertumbuhan bisa ditentukan sapi tertentu yang layak
dijadikan bibit, dipertahankan atau harus dikeluarkan dari peternakan.
MACAM PENANDAAN
Untuk dapat mengenali dan membedakan sapi satu dengan lainnya dilakukan
penandaan yang jelas untuk dikenali dengan dibaea atau ditafsirkan pada
setiap individu hewan. Penandaan yang sering dilakukan antara lain dengan
menggunakan: tatoo, menakik telinga, memasang anting telinga, memasang
kalung di leher dengan penandaan, dan membuat cap seeara dingin beku
pada kulit.
Tatoo
Penandaan dengan membuat tatoo melukai bagian kulit tertentu seeara
tetap sesuai dengan identitas yang diberikan. Pemberian identitas dengan
eara ini kurang diminati karena akan menimbulkan caeat pada kulit dan
menurunkan harga kulit sewaktu dipotong. Bila diperlukan dapat dibuat tato
telinga berupa nomor, huruf atau kombinasi keduanya. Cara ini lebih mudah
dibuat dan tidak menimbulkan bekas atau kerusakan kulit pada tubuh yang
memiliki nilai jual, tetapi kelemahannya ukuran nomor identitas relatif keeil
sehingga memerlukan pembaeaan yang lebih eermat dan kurang praktis
untuk pengamatan.
Gambar 12.1 Identitas sapi dinyatakan dalam nomor dan dalam bentuk anting telinga
dipasang sejak masih pedet.
Gambar 12.2 Identitas seekor sapi dalam bentuk nom or terpasang di kalung leher
Gambar 12.3 Penandaan sapi dengan metoda dingin beku "freezebranding" pada kulit
seekor sapi (Walker, 2011)
Cara ini tidak efektif dilakukan untuk sapi berkulit putih atau terang
karena bekas penandaan tidak jelas terlihat. Untuk sapi perah jenis FH dapat
diatasi dengan dipilih di bagian kulit berwama hitam. Beberapa hari rambut
bagian kulit yang terkena logam dingin akan tanggal dan tumbuh rambut baru
berwama putih dan membekas sesuai identitas yang diberikan.
PENCATATAN DATA
Setiap data ditulis sesuai identifikasi setiap hewan dan dilakukan segera
saat kejadian. Data yang dicatat dapat berupa informasi tentang: reproduksi,
produksi susu, kesehatan hewan dan catatan lainnya. Data secara individual
dapat kemudian digabungkan dan dianalisis menjadi data kelompok.
Data Reproduksi
Identifikasi data terkait masalah reproduksi dimaksudkan untuk memantau
dan memperbaiki manajemen perkembangbiakan sebagaibahan evaluasi,seperti:
tanggal sewaktu lahir, jenis semen yang digunakan oleh induk, pelaksanaan
IB,uji kebuntingan, saat pengeringan, dan proses kelahiran. Secara lebih luas
S0 !U
z :.::00
- ....- eo
Q.I
=
l-I
..=
- Q.I
"'C
Q.I
P-4
- !U
~Q.I ~
!:Q
><
Q.I
r:J)
l-I !U
o 00 ....
S.5 ;;
o ~
z_ (J'J
Data Produksi
Catatan produksi membantu peternak menentukan hewan mana
menyebabkan penurunan hasil produksi yang berdampak pad a penurunan
hasil usaha. Semakin banyak hewan dipiara, akan lebih sedikit pendekatan
insting untuk produksi individual hewan menjadi akurat. Ketika ada informasi
dasar pembayaran produksi susu (volume, lemak, protein, Berat [enis),
kemudian perhitungan tentang jumlah pakan yang dialokasikan per hewan
dan biayanya dapat dipakai untuk menentukan besaran keuntungan. Catatan
produksi dapat membantu perhitungan untuk meningkatkan produksi susu
melalui perencanaan dalam manajemen yang spesifik untuk hewan sampai
ke tingkat individual. Ini merupakan catatan manajemen yang sangat kuat
Dan seterusnya mencakur seluruh individual sari dari tanggall sid tanggal30/31
Catatan: P: pemerahan pagi; S: pemerahan sore
Bulan : , Tahun
Produksi susu Total per
No Beranak
No Sapi (bulan/liter) tahun
Urut
Tg Sex 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 (liter)
01 Y01
02 Y02
Nomor sapi: .
Tahun sid tahun: .
Lama waktu Produksi Kadar
Umur
Laktasi Frekuensi (hari) (liter) (%)
tahunl
ke IBllaktasi Jumlahl Rataanl
bulan kering laktasi Protein Lemak
laktasi hari
II
III
IV
V
Total _
------------------------------~
Masih mungkin bahwa seekor sapi pada tahun pertama terlihat
produktivitasnya kurang meyakinkan tetapi ternyata pada tahun-tahun
berikutnya memperlihatkan hasil produksi yang stabil tinggi terutama
dipengaruhi oleh faktor perawatan dan kualitas pakan. Begitu pula keadaan
sebaliknya, sehingga penilaian sepanjang hidupnya akan memberi gambaran
yang lebih akurat.
....
~
~ .~
~ =
.........
-=~
.s..tel
rIJ
e
Z
"2
=e
Z
Tabe112.7 Data kesehatan hewan tahunan berdasar jenis dan jumlah kasus
Tahun
No Jumlah
Bulan Jenis kasus Keterangan
urut kasus
193
SEJARAH PERKEMBANGAN BIOGAS
Orang telah lama diketahui mulai menggunakan metoda digesti anaerobik
untuk pembakaran. Lebih dari 3.000 tahun yang lalu biogas telah digunakan
sebagai sarana untuk memanaskan air. Tahun 1776 Alessandro Volta telah
mengembangkan teknologi biogas dan menjadi orang pertama membuktikan
terbentuknya gas metan sebagai hasil proses fermentasi untuk bahan bakar.
Lebih lanjut dan Becham pada tahun 1868 menjadi orang pertama yang
menjelaskan peranan jasad renik dalam menghasilkan gas metan. Pada akhir
abad ke-19biogas mulai dikembangkan menggunakan teknologi tepat guna
yang diperoleh dari pengolahan fasilitas limbah lampu jalanan di Exeter,Devon
kerajaan Inggris. Pada tahun 1950-an biogas telah dirubah dan digunakan
untuk dipakai sebagai bahan bakar mobil di Jerman.
Di dalam abad ini biogas telah dipakai secara luas oleh masyarakat dunia
terutama di beberapa negara berkembang antara lain yang cukup menonjol
adalah di India, Cina dan Kostarika. Di Indonesia pemerintah telah sejak lama
memperkenalkan teknologi biogas kepada masyarakat peternak terutama di
tahun 1980-1990,namun dalam perkembangannya mengalami pasang surut, dan
sampai dewasa ini tidak berkembang dengan baik. Banyak percontohan biogas
yang diselenggarakan oleh pemerintah dan pada awalnya telah berfnngsi dengan
dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga atau dalam suatu kelompok
peternak, tetapi dalam perkembangannya telah ditinggalkan dan tidak lagi
dimanfaatkan. Salah satu kendala utama adalah tidak dilakukannya perawatan
digester beserta perlengkapan instalasinya dengan baik secara rutin. Namun
demikian, beberapa peternak sapi perah masih bertahan menggunakan biogas
untuk keperluan rumah tangganya, walaupun jumlahnya sangat sedikit.
GAS METAN
Secara alamiah limbah budi daya hewan tidak lepas dari terjadinya proses
fermentasi secara anaerobik dan terjadinya pelepasan gas metan ke udara
selama proses pembusukan berlangsung. Lepasnya gas metan ke udara
ini dapat dilakukan pengaturan untuk dimanfaatkan, di mana sebelumnya
dikumpulkan sementara di dalam suatu wadah penampung sebagai energi
bahan bakar.
Terbentuknya Gas
Melalui mekanisme pengaturan menggnnakan konstruksi digester pengolahan
limbah, gas metan dapat dipakai sebagai sumber energi untuk aktivitas rumah
tangga dan keperluan lainnya. Gas metan yang awalnya terjadi secara alami
ditangkap dan dialirkan masuk ke dalam suatu wadah penampung plastik
yang bisa mengembang kemudian dipergunakan sebagai sumber bahan bakar
Tabel13.1 Kandungan gas metan dalam tinja dan berbagai jenis limbah organik
Manfaat
Dengan dapat digunakannya gas metan sebagai sumber bahan bakar,
menjadikan biogas juga berfungsi sebagai alternatif energi yang murah dan
mengurangi tuntutan keperluan bahan bakar minyak bagi rumah tangga yang
menggunakannya. Beberapa manfaat yang diperoleh dengan penggunaan
biogas adalah sebagai berikut.
a. Mengurangi ketergantungan minyak bumi. Tersedianya bahan bakar biogas
dapat sedikit menggeser ketergantungan dari minyak bumi. Penggunaan
biogas juga dapat bermanfaat dalam penurunan emisi gas CO2.
b. Sebagai tenaga penggerak mesin dan motor. Dengan sentuhan teknologi,
biogas dapat dimampatkan seperti halnya pada gas alami, dan dipergunakan
untuk tenaga penggerak motor untuk kendaraan. Di Inggris produksi biogas
yang ada diperkirakan memiliki potensi sebesar 17% sebagai pengganti
bahan bakar kendaraan. Dalam perkembangannya diharapkan pada suatu
saat dapat mencukupi sebagian kebutuhan energi baru di beberapa belahan
dunia.
c. Hasil samping pembuatan biogas sebagai pupuk organik. Di dalam proses
produksi biogas juga dapat diperoleh hasil samping berupa pupuk kandang
PEMBUATAN BIOGAS
Petemakan sapi perah merupakan tempat yang ideal untuk membuat
biogas karen a memiliki limbah kandang yang banyak untuk diproses setiap
saat dan dengan kondisi limbah yang setengah cairoKonstruksi bangunan
untuk pembuatan biogas termasuk sederhana, dan tidak memerlukan teknik
pembuatan yang terlalu rumit, dan bisa dengan menggunakan batako. Yang
penting untuk diperhatikan adalah aliran limbah yang memfasilitasi dilakukan
pencampuran, aliran menuju digester,keluamya sluri dan luapannya. Di samping
itu, diberikan fasilitas "pembantu" untuk pengadukan campuran limbah
kandang sebelum masuk biodigester, dipasangnya aliran gas yang dihasilkan
serta tempat pengambilan dan pengeluaran luapan sluri.
Rancang Bangun
Ukuran bangunan untuk biogas bervariasi tergantung dari kebutuhan dan
ketersediaan limbah. Untuk ukuran rumah tangga atau komunitas kecil dapat
dengan hanya menggunakan bahan tinja sekitar 50 kg tiap hari yang berasal
dari sekitar 3 ekor sapi. Contoh rancang bangun suatu konstruksi untuk tangki
pembuatan biogas dapat dilihat pada Gambar 13.1.
Setiap hari limbah tinja bercampur air ditambahkan ke dalam sistem melalui
pintu masuk (inlet) yang tersedia. Apabila campuran tinja dan air dalam
tanki fermentasi ada pada level yang sarna dengan ruang atau pip a keluar,
campuran tinja-air yang dimasukkan ke dalam digester melalui inlet kemudian
akan meneruskan dorongan dan mendesak massa cair dengan volume yang
sarna, keluar melalui ruang keluar (outlet) dan masuk ke tangki luapan sluri
atau pengumpul. Massa yang keluar inilah yang telah dapat digunakan untuk
pupuk sebagai hasil yang diperoleh di samping biogas.
a. Tangki pencampur. Kotoran sapi yang masih segar, secara fisik terdiri atas
16% material padat dan 84% cairoSebelum masuk ke dalam biodigester,
semua limbah dari kandang seperti tinja, air seni dan air bekas untuk
membersihkan dan memandikan sapi disalurkan melalui selokan masuk
ke dalam tangki pencampur. Air diperlukan untuk merubah masa hayati
Tangki
.....-__ ......
Iuapan
pad at menjadi larutan dan ruangan digester yang tertutup rapat menciptakan
kondisi di dalamnya menjadi anaerobik.
b. Ruang pemasukan atau pintu masuk (inlet). Tergantung pad a kepadatan dan
homogenitas masa limbah yang masuk ke inlet, bila tidak tercampur secara
baik mungkin perlu dibantu dengan pengadukan untuk mempermudah
limbah masuk ke dalam. Di dalam inlet, limbah kandang diharapkan telah
tercampur sempurna antara bahan padat dan cair sehingga memungkinkan
sedikit demi desikit terjadi aliran limbah yang melanjut ke dalam
digester.
c. Biodigester. Pada tahap awal tinja dikumpulkan, dicampur air dan
dimasukkan ke dalam biodigester. Tangki digester adalah sumuran dibuat
di dalam tanah dengan bentukan kubah di bagian atasnya (Gambar 13.2)
dan dilengkapi pipa paralon atau galvanis serta dipasang kran pengatur
gas, terletak di ujung paling atas kubah untuk memfasilitasi gas yang
terbentuk dapat mengalir ke bagian yang dituju. Di dalam tangki inilah
terjadi proses fermentasi oleh organisme mikro pada setiap limbah atau
kotoran kandang yang berupa campuran tinja sapi dan air seni serta air
limbah yang lain, berasal dari tangki pencampur melewati inlet.
Sluri terbentuk setelah kotoran kandang berada di dalam digester dan
mengalami fermentasi membentuk gas. Sluri berbentuk menyerupai
bubur atau lumpur yang terbentuk setelah kotoran mengalami fermentasi
Gambar 13.2 Sebuah contoh kubah dari instalasi produksi biogas yang terlihat di
atas permukaan tanah
Gambar 13.3 Sebuah kantung plastik jumbo dipergunakan sebagai penampung gas,
(A) diletakkan di atas panggung dari bambu dan (B) dalam tanah
MANAJEMEN BIOGAS
Semua bahan pakan terdiri atas sejumlah besar karbon (C) dan kandungan
nitrogen (N). Selama proses digesti gas nitrogen dirubah menjadi amonia
(NH3). Biogasmemiliki berat sedikit lebih ringan dibanding udara dan memiliki
temperatur pembakaran kmang lebih 700 C yang berarti 2 kali lipat lebih
0
tinggi dibanding minyak disel dan juga lebih tinggi dari minyak tanah dan
propane dengan panas sekitar 500 C. Panas dari api biogas adalah 870 C.
0 0
Kegunaan
Biogas memiliki banyak keuntungan dan kegunaan untuk rumah tangga
dan komunitas. Pertama berfungsi ganda sebagai sumber bahan bakar murah
dan alat sanitasi limbah. Untuk peternakan sebagai salah satu upaya untuk
mengatasi pembuangan limbah, mengurangi bau dan menunjang pembuatan
pupuk organik yang laku jual. Biogas juga dapat dipakai untuk kompor.
Oleh karena biogas dinyalakan tanpa asap, untuk penggerak mesin diesel, di
peternakan untuk pendingin tanki susu atau memompa air. Tahun 2005, Cina
memiliki 17juta digester dan 50 juta orang pedesaan memperoleh keuntungan
dari membangun biogas. Karena biogas seeara fisik menyempai gas alam,
maka dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk kendaraan. Namun untuk
keperluan ini memerlukan sejumlah besar energi untuk memenuhi target
keluaran energi yang dapat digunakan.
Kewaspadaan
a. Gas mudah menguap. Kekurangan dan hambatan dari biogas rumah
tangga adalah masalah keselamatan oleh sifat dari bahan yang dapat dan
mudah menguap. Campuran biogas berisi lebih dari 50% metan adalah
mudah terbakar. Oleh sebab itu, api tidak boleh berada atau digunakan di
dekat digester atau alat listrik karena peka terhadap kemungkinan terjadi
ledakan. Sebagai tambahan, daerah digester hams memiliki ventilasi baik
untuk memperkedl risiko api dan terjadi letusan. Di temp at tersebut
sebaiknya dipasang tanda peringatan untuk tidak menggunakan api atau
merokok.
b. Potensi mengganggu kesehatan. Risikolain terkait dengan masalah kesehatan
petugas. Limbah eampuran air seni dan tinja adalah potensial untuk
penularan penyakit karena limbah hewan dapat bertindak selaku media
yang menularkan penyakit. Petugas hams berhati-hati dan menghindari
kontak langsung dengan isi digester dengan menggunakan sepatu boot
dan sarung tangan. Seusai penanganan digester, maka tangan dan kaki
hams dicud bersih atau mandi menggunakan sabun.
Biaya
Oleh karena biaya perawatan rendah, biaya utama untuk pembuatan biogas
rumah tangga adalah biaya konstruksi, pemasangan dan perawatan instalasi
dan penampung gas. Untuk ukuran kedl tidak diperlukan penampung gas
seeara khusus. Biayabervariasi berdasar lokasi, pereneanaan sistem dan ukuran.
Komposisi Biogas
Komposisi biogas bervariasi tergantung dari sumber bahan yang dipakai.
Pengolahan limbah yang maju dapat memproduksi biogas dengan 55-75%
CH4 atau lebih menggunakan teknologi pemumian. Ketika diproduksi biogas
mengandung uap air. Dalam beberapa keadaan bisa mengandung siloksan
(siloxanes). Siloksan ini terbentuk dari pembusukan anaerobik seperti pada
material yang sering dijumpai di sabun dan detergen. Selamapembakaran biogas
terisi siloksan yang kemudian terjadi pelepasan silikon dan dapat bergabung
dengan oksigen bebas atau bervariasi elemen pada saat pembakaran gas.
rs,
Timbunan terutama mengandung silikon (SiO2) atau silikat x Oy) dan juga
dapat berisi Ca, S, Zn, P. Mineral putih ini tertimbun di permukaan dengan
ketebalan beberapa milimeter dan untuk membersihkannya harus dilepas
menggunakan bahan kimia atau secara mekanik.
No Bahan Kima %
1. Methane CH4 50-75
2. Karbon dioksida CO2 25-50
3. Nitrogen N2 0-10
4. Hidrogen H2 0-1
5. Hidrogen sulfida H2S 0-3
6. Oksigen O2 0-0
Akoso, Budi Tri dan Witono, S., Subekti, w., Wicaksono, S. [Link] Investigation of
anAnthrax dalam: Dairy Cattle and its Invironmental Effects. VI th International
Symposium WorldAssociation of VeternaryLaboratorium Diagnostician. Lyon,
Perancis: Palais des Congress Internationaux.
Akoso, Budi Tri. 1996. Kesehatan Sapi. Panduan bagi petugas teknis, mahasiswa,
penyuluh dan petemak. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Akoso, Budi Tri. 2011. Epidemiologi dan Pengendalian Anthrax. Penyakit Menular
pada Hewan dan Manusia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Anonim. 2008. Artificial Insemination. Portal. India. Tamil Nadu Agricultural
University.
Anstis, Amy. 2010. Metabolic diseases. Gatton. Queensland. Australia.
Department of Employment Economic Development and Innovation. University
of Queensland.
Anstis, Amy. 2010. Retained Placenta. Gatton. Queensland. Australia. Department
of Employment, Economic Development and Innovation. The State of
Queensland.
Black, David. 2007. Uterine Prolapse in the Cow. Penrith. Cumbria. Inggris. Paragon
Veterinary Group. The Pen talk Network Agricultural Hall.
Blood, D.C. dan Studert, V.P. [Link] Comprehensive Veterinary
Dictionary, 3rd ed. New York. Amerika Serikat. Amazon.
Bradely, A.J. Huxley, J.N dan Green, M.J. 2002. The Changing Role of Dry Cow
Therapy. Past, Present and Future. Cattle Practice. 10: 3, 191-196.
Clark, Gary., Neville Grace dan Ken Drew. 2011. Bloat. Diseases of sheep, cattle
and deer. New Zealand. The Encyclopedia of New Zealand.
Dave, T. [Link] Dairy CattleHealth in WetConditions. Southbank, Victoria.
Dairy Australia.
Dean Malvick. 2007. Aspergillus ear rot, caused by thefungus Aspergillusflavis. St.
Paul. Minesota Crop News. University of Minesota.
Del Voight, 2009. Corn Ear Molds and Leaf Diseases. Ames. Amerika Serikat. Iowa
State University.
203
Deublein, Dieter., Angelika Steinhauser. 2008. Biogas from Waste and Renewable
Resource. An [Link]. Jerman. John Wiley and Sons, Inc.
Fricke, Paul M. 2000. Managing Reproductive Disorders in Dairy Cows.
Disampaikan pada: ND Dairy Cow College. Madison. Amerika Serikat.
Department of Dairy Science. University of Wisconsin.
Fujita, Teruhide.1994. Color Atlas of Animal Diseases. Tokyo. Jepang. Animal
Health division. Bureau of Animal Industry.
Green dkk. 2002. Frequency of new coliform intramammary infections during the
lactation cycle. Richboro. Dairy Practice Council. Amerika Serikat.
Gunawan, Ediyati, W., Djodi, HS., Rohadi, W., Nasir, M., Anelia, E.,Fauziah MH.,
Rachmiyati, D. Tri, M dan Pancaputra, B. 2009. Prosedur Baku Pelaksanaan
Produksi Bibit pada Usaha pembibitan Sapi perah. Jakarta. Direktorat
Perbibitan Ditjen Peternakan.
Irsik, M.B., Courtney, c., dan Richey, R.D. 2008. The common liverfluke (Fasciola
hepatica) is recognized as one of the most damaging parasites in Florida cattle.
Florida. Amerika Serikat. University of Florida.
Kennedy, J.M. 2007. Coccidiosisis a Common parasitic Protozoan Disease in Cattle,
Particularly Weaned Calves. Alberta. Kanada Alberta Agriculture and Food.
Laven, Richard. 2011. BeefAnimal Health. Retained Placenta. CoffsHarbour, NSW.
Australia. Informed Farmers.
Lishman, A.W. 2010. The Cow's Udder and Milk Secretion. Kwazulu. Department
of Animal Science, University of Natal.
Malvick, Dean. [Link] ear rot, caused by the fungus Aspergillus flavis.
St. Paul. Amerika Serikat. Minesota Crop News, University of Minesota.
Mercado, Rafael T. 2008. Trypanosoma evansi. The agent of Surra. Mindanao.
Filipina. Mindanao Unified Surra Control.
Mills, Arlen. 2008. Colostrum Management. Pennsylvania. Amerika Serikat.
Pennsylvania State University.
Murray J. Kennedy, 2007. Coccidiosis in Cattle. Food Safety Division, Alberta,
Kanada. Agriculture and Food. Ropin The Web.
O'Toole, Donal. 2011. Malignant Catarrhal Fever. Wyoming. Amerika Serikat.
Veterinary Laboratory, Department of Veterinary Science. University of
Wyoming.
Porter, Valeria. 1996. Mason s World Dictionary of Livestock Breeds, Types and
[Link] Edition. [Link].B International.
Shearer, J.K dan VanHorn, H. H. 2011. Metabolic Diseasesof Dairy Cattle. Florida,
Amerika Serikat. College of Veterinary Medicine. Department of Animal
Sciences.
Wattiaux, M.A. 2011. Lactation and Milking. Dairy Essentials. Wisconsin. Amerika
Serikat. University of Wisconsin.
Weaver, David dan Moseley, Bonnard. 2012. Displaced Abomasum. Missouri.
Amerika Serikat. College of Veterinary Medicine. University of Missouri.
207
Bakteri atau bakterium; suatu organisme uniseluler yang
biasanya memiliki dinding kaku dan digolongkan
menjadi bentuk kokus, oval dan batang atau basilari
dan spiral atau spiroketal.
Bendung keadaan sewaktu darah tertahan secara berlebihan
dalam pembuluh.
Bibit sapi perah semua sapi perah hasil pemuliaan ternak
yang memenuhi persyaratan untuk
dikembangbiakkan.
Biosekuriti keamanan hayati; yaitu suatu perlakuan ditujukan
untuk menjaga kehidupan demi kelangsungan
kesehatan prima melalui tindakan kebersihan dan
desinfeksi sehingga memperkecil risiko ancaman
jasad renik terhadap individu yang dilindungi.
Birahi keadaan di mana hewan menunjukkan keinginan
dan siap kawin.
Bruselosis brucellosis: penyakit menular penyebab keguguran
atau abortus.
Bufer cairan tubuh (misalnyaAir liur) dari pakan tambahan
yang menurunkan keasaman dalam rumen; asam
sederhana dan larutan buffer alkalin menerangkan
cara kerjanya.
Busung atau udem; keadaan terdapat penyusupan atau
timbunan cairan tubuh secara berlebihan di dalam
jaringan, bagian dari jaringan atau rongga.
Chemoresistant kemoresisten; keadaan ketika jasad renik tidak lagi
peka terhadap bahan kimia yang dipakai untuk
mematikannya karena sudah tahan akibatpemakaian
yang berulang dan dalam waktu panjang.
CMT California Mastitis Test; sebuah uji cepat terhadap
mastitis.
CSF cerebro spinal fluid: cairan serebrospinal; cairan di
dalam ventrikel serebral dan di antara selaput
arachnoid, piamater otak dan sumsum tulang
belakang.
Dara sapi muda betina yang telah dewasa dan belum
pernah bunting.
Dehidrasi keadaan tubuh kekurangan cairan.
Dekontaminasi suatu tindakan, perlakuan, atau keadaan yang
bertujuan untuk penghilangan atau menawarkan
kontaminasi.
Glosarium 209
Fatal sesuatu yang berakibat mematikan.
Fisiologi ilmu faal.
Fungi bentuk jamak dari fungus, yaitu tingkatan rendah
dari kehidupan tanaman dan merupakan bagian
dari Thallophytes bercirikan tanpa klorofil, termasuk
dalam kelompok kelas Phycomycetes, Ascomycetes,
Bacidiomycetes, dan Fungi imperfecti.
Gastroenteritis peradangan yang terjadi pada lambung dan usus.
Hemoglobinuria keluarnya atau bercampurnya hemoglobin bersama
urine.
Hemoragis perubahan keadaan jaringan yang mendarah.
Higiene ilmu yang terkait dengan kesehatan atau cara
menjaganya.
Higienis untuk menyatakan arah sehat atau menjaga
kesehatan.
Hiperemi bendung darah, yang ditandai oleh warn a merah
atau kemerahan pada jaringan akibat tertampungnya
darah secara berlebihan jumlahnya dalam
jaringan.
Hipersensitif reaksi tubuh yang menjadikan sangat sensitif
terhadap keadaan yang baru.
Hipotalamus organ di dalam otak berperan sebagai pusat
koordinasi aktivitas reproduksi dan berbagai bentuk
perubahan, bertanggung jawab untuk pembentukan
gonadotrophic releasing hormone (GnRH).
Histologi cabang ilmu hayati yang mempelajari tentang
struktur jaringan.
Homologous sarna dengan (dalam konteks vaksin) subtipe virus
penyebab penyakit.
Hormon bahan kimia diproduksi oleh kelenjar tertentu untuk
mengatur kerja dan fungsi tubuh.
Hospes inang; induk semang suatu badan organik atau
individu hewan atau orang temp at jasad renik atau
parasit hidup.
Imunitas kekebalan terhadap penyakit.
Inang hospes; induk semang; orang, hewan atau badan
organik tempat jasad renik atau parasit hidup.
Induk semang hospes; inang.
Indung telur ovarium.
Glosarium 211
Kering (masa) istilah banyak dipakai pada sapi perah yang
menyatakan suatu mas a atau waktu ketika sapi
tidak memproduksi susu lagi, dan hal ini terjadi
pada akhir masa laktasi.
Kolik rasa sakit yang sangat dan akuta pada bagian perut,
biasanya hewan sampai terguling-guling.
Kolostrum susu pertama yang dihasilkan oleh hewan setelah
melahirkan berwama kekuningan, kaya nutrisi dan
mengandung banyak vitamin, pencahar dan antibodi.
Berbeda dengan susu biasa, konsistensi kolostrum
lebih kental dan berwama kekuningan.
Konsistensi untuk menyatakan derajat kepadatan, kekenyalan
dan kelekatan.
Konstipasi sembelit; kondisi untuk pengosongan saluran
pencemaan memerlukan interval lama atau kesulitan
dalam buang air besar.
Konvulsi gejala gangguan saraf ditandai oleh kejang-kejang;
perubahan kontraksi perototan umum yang
dapat berupa tonik atau klonik, atau tonik diikuti
klonik.
Kronis bersifat menahun (penyakit); suatu penyakit atau
radang yang proses kejadiannya memerlukan
waktu lama.
Kumlah lubang alami di dalam tubuh hewan.
Laktasi periode antara saat hewan melahirkan anak sampai
saat berhenti memproduksi air susu.
Laring organ suara yang terletak di antara trakhea dan
pangkallidah.
Lesi jejas.
Limfe cairan tubuh yang berada di dalam saluran limfe.
Limpoglandula kelenjar limfe.
Lisis kerusakan integritas jaringan; kehancuran dari sel
atau jaringan.
Makroskopis dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa alat
bantu misalnya dengan mikroskop.
Mamalia jenis hewan menyusui.
Masa inkubasi waktu yang diperlukan jasad renik mulai dari
saat masuk ke organ atau jaringan tubuh sampai
menimbulkan gejala penyakit.
Meningitis peradangan di selaput otak.
Meningoensefalitis peradangan otak dan selaput otak.
Glosarium 213
Ovum atau sel telur adalah sel garnet betina yang dihasilkan
oleh ovarium. Ovulasi terjadi ketika salah satu atau
adakalanya dua sel telur di dalam folikel indung
telur telah masak sempuma dan melepaskan diri
dari ovarium.
Pandemi peristiwa letupan dan penyebaran penyakit menular
yang terjadi secara cepat dan melintas secara luas
melewati batas negara dan benua.
Paramedik veteriner paramedis kesehatan hewan: asisten medik bidang
kesehatan hewan atau bidang veteriner; padanan
kata sebutan pada kedokteran (manusia) yang
disebut paramedik.
Pasca mati setelah mati; suatu keadaan fisik tubuh, karkas atau
jaringan setelah meninggal atau mati.
Pasteurisasi perlakuan pengawetan makanan termasuk susu
dengan cara pemanasan untuk membunuh semua
atau sebagian dari organisme mikro dalam objek
atau jaringan tertentu. Misalnya perlakuan untuk
susu, dilakukan melalui pemanasan 60° C selama
30 menit.
Patogen setiap jasad renik yang memiliki kemampuan
untuk memproduksi penyakit, biasanya berupa
agenhidup.
Patogenisitas proses kemampuan suatu agen dalam menimbulkan
penyakit atau penyimpangan dari kondisi sehat.
Patologi cabang keilmuan medik tentang keadaan alamiah
penyakit, dengan mempelajari penyebab, proses
terjadinya infeksi dan reaksi serta dampaknya
terhadap tubuh.
Patologis sesuatu yang bersifat penyimpangan atau perubahan
dari keadaan normal atau patologi.
Patologi anatomi atau disebut perubahan makroskopis yaitu
perubahan patologik jaringan yang dapat dilihat
oleh mata telanjang.
Patologi Veteriner cabang keilmuan patologi tentang penyakit
hewan.
Pedet anak sapi sejak lahir sampai umur 6 bulan.
Pemberantasan upaya untuk membebaskan suatu daerah yang
semula tertular penyakit menjadi bebas, dan agennya
dapat ditiadakan.
Glosarium 215
Rentan peka terhadap sesuatu (penyakit), atau mudah
terkena pengaruh terhadap suatu keadaan atau
infeksi.
Riketsia genus bakteria famili Rickettsiaceae.
Sanitari dan fitosanitari terkait dengan masalah kesehatan hewan, manusia
dan tanaman.
Sanitasi sesuatu yang berkaitan dengan kebersihan dan
kesehatan,atau terhadap pemeliharaan kelangsungan
kesehatan, atau terhadap kebersihan yang tidak
memungkinkan adanya organisme yang mengancam
kelangsungan kesehatan individu.
Sapi pejantan sapi jantan hasil seleksi yang mempunyai mutu
genetik tinggi disiapkan untuk calon pejantan;
performans tested bull.
Senjata biologis senjata hayati; dibuat dengan bahan baku hayati
yang mampu menimbulkan ancaman serius bagi
target serangan.
Septikemia sindrom klinis yang ditandai oleh infeksi dan
perbanyakan bakteri dalam darah; peristiwa sepsis
yang terjadi di dalam aliran darah.
Sertifikasi bibit penerbitan sertifikat bibit setelah melalui
pemeriksaan,pengujian,pengawasan, danmemenuhi
semua persyaratan untuk died ark an.
Shock trauma psikis, fisik atau emosional.
Sianosis menyatakan perubahan warna jaringan atau selaput
lendir yang seharusnya kemerahan menjadi kebiruan
karena warna CO2 di dalam darah yang lebih
dominan.
Sinar ultra violet radiasi dari sinar matahari yang secara cepat dapat
membunuh kebanyakan bakteri.
Sluri material berbentuk seperti bubur atau lumpur yang
terjadi sewaktu proses fermentasi dalam proses
pembuatan biogas.
Specific Pathogen Free hewan atau sekelompok hewan yang diusahakan
(SPF) sedemikian rupa sehingga bersih dan terbebas dari
segala macam jasad renik.
Spesimen setiap bahan sampel atau contoh dikirim untuk
pengujian laboratorium.
Splenomegali kebengkakan limpa.
Glosarium 217
TS Total Solid; pengukuran komposisi yang dinyatakan
dalam persentase total susu solid antara lain lemak
susu, protein susu, laktosa dan mineral.
Tukak ulkus; kerusakan epitel permukaan karena
radang.
Uji perform an pengujian kinerja untuk memilih ternak bibit
berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif meliputi
pengukuran, penimbangan dan penilaian.
Urine kemih; air seni.
UV sinar ultra violet radiasi sinar matahari yang secara
cepat dapat memiliki daya merusak.
Vaksin suspensi jasad renik yang dimatikan atau dilemahkan,
atau suatu produk berasal dari bahan tersebut, yang
bila disuntikkan akan memacu produksi antibodi
terhadap penyakit yang disebabkan oleh jasad
renik yang sarna.
Vaksinasi kegiatan member atau menyuntikkan vaksin ke
hewan.
Vegetatif menyatakan berada di dalam stadium
pertumbuhan.
Vesikula bintil kedl.
Veterinarian dokter hewan.
Veteriner menyangkut tentang kesehatan dan kedokteran
hewan.
Viremia beredarnya virus dalam aliran darah.
Virulen menyatakan kemampuan menginfeksi.
Vomitus muntah
WHO World Health Organization; Organisasi Kesehatan
Dunia.
Zoonosis atau anthropozoonosis; penyakit hewan yang menular
dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Zoonotis menyatakan sifat zoonosis.