100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
222 tayangan168 halaman

Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha)

Risha merupakan teknologi rumah instan sederhana sehat yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan perumahan dengan cepat dan murah melalui sistem prefabrikasi komponen. Teknologi ini menggunakan bahan bangunan ramah lingkungan dan mudah dirakit.

Diunggah oleh

perumahan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
222 tayangan168 halaman

Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha)

Risha merupakan teknologi rumah instan sederhana sehat yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan perumahan dengan cepat dan murah melalui sistem prefabrikasi komponen. Teknologi ini menggunakan bahan bangunan ramah lingkungan dan mudah dirakit.

Diunggah oleh

perumahan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Rumah lnstan Sederhana Sehat

RISHA
Tim Penyusun :
lr. Arief Sabaruddin, CES
Nana Puja Sukmana ST

Tim Penyunting :
Prof. DR. lr. Suprapto, MSc, FPE
lr. Johnny Rakhman, Dipl. [Link]
Rani Widyahantari, ST
Yuri Hermawan, ST, MT
Ade Erma, ST, Mec. Dev.
lr. Ida Yudiarti MT
lr. Budiono Sundara

iii
Daftar lstilah

01 Menjawab Pemenuhan Kebutuhan Rumah


dengan Risha
1.1. Mengenal Rumah lnstan Sederhana Sehat (Risha)
1.2. Keunggulan Risha
1.3. Pemanfaatan Risha

02 Mengupas Komponen Risha


2.1. Komponen Struktural Risha
2.2. Atap
2.3.
ral

ustrialisasi Komponen
I Risha
04 Merencanakan Perumahan Sistem Risha
4.1 Pertimbangan Perencanaan Site
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan
4.3 Ketentuan Lokasi Perumahan Sistem Risha
4.4 Ketentuan Kepadatan Kawasan
4.5 Ketentuan Komposisi Peruntukan
4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
4.8 Ketentuan Pola Kapling dan Penataan Pola Jalan
4.9 Ketentuan Pengolahan Lahan Berkontur

5.6
odul Risha ini disusun untuk menjawab kebutuhan

M masyarakat dalam mengetahui informasi secara umum


mengenai teknologi lnstan dan Knock Down yang diusung
oleh Sistem RISHA. Risha merupakan teknologi yang dikaji dan
diteliti oleh Puslitbang Permukiman pada tahun anggaran 2004, dan
diluncurkan kepada pasar pada tanggal 20 Desember 2004. Teknologi
ini telah diuji secara masal pembangunannya pada saat penanganan
peru mahan korban bencana gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh
Darussalam dan Nias.

Dengan sagala kerendahan hati, kami menyadari akan serba


kekurangan dan kelemahan dari sebuah temuan makhluk Allah SWT,
sehingga saran dan kritik membangun sangatlah kami nantikan,
demi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang digali oleh
sekelompok anak bangsa, dengan harapan melalui inovasi teknologi
kita tingkatkan kesejahteraan dan kemapanan bangsa ini. Amin.

Bandung, 2015
Penyusun

vi
vii
Agregat
adalah bahan pengisi adukan beton yang terdiri dari pasir dan kerikil.

PaneiAtap
adalah panel sebagai dinding pengisi yang permukaanya tertutup
dan tidak tembus pandang, sehingga panel ini digunakan sebagai
panel pemisah ruangan.

lkatangin
adalah suatu bahan kayu olehan yang terbuat dari bahan potongan
kayu tipis yang Iem bersama dengan jumlah lapisan tertentu.

Kuda-kuda
adalah suatu bidang yang digunakan sebagai pemisah ruangan,
dapat juga dilalui maupun tembus pandang.

Panel
adalah suatu bidang yang digunakan sebagai pemisah ruangan,
dapat juga dilalui, maupun tern bus pandang.

Resin
adalah suatu cairan kimia yang memberikan bentuk dan akan
mengeras apabila dicampurkan dengan bahan katalis.

Risha
adalah kependekan dari Rumah lnstan Sederhana Sehat, merupakan
teknologi konstruksi dari RSH (Rumah Sederhana Sehat) mengacu
pada Kepmen Kimpraswil No. 403/ 2002.

viii
Rumah instan
adalah rumah yang dibangun dengan sistem pabrikasi komponen-
komponennya, selanjutnya komponen-komponen tersebut dirakit
di lapangan tanpa mengalami modifikasi terhadap komponen-
komponen tersebut.

Rumah Sederhana Sehat (RSH)


adalah rumah sederhana sehat yang memenuhi ketentuan dasar
kenyamanan, kemananan, keselamatan, dan kesehatan bangunan
serta penghuninya.

Rumahinti
adalah unit rumah dengan satu ruang serbaguna yang selanjutnya
dapat dikembangkan oleh penghuni.
Simpul
adalah komponen Risha yang berfungsi sebagai joint dari panel-panel
STR 1 dan STR 2 serta dengan kuda-kuda.
Ukuran modular
adalah ukuran yang mengacu pada modul M, sesuai dengan SNI-
Ukuran modular.

Wire mash
adalah kawat yang dibuat bersilangan membentuk kotak dengan cara
dilas.

ix
01
Menjawab Pemenuhan
Kebutuhan Rumah
Dengan RISHA
1.1. Mengenal Rumah lnstan Sederhana Sehat (Risha)
1.2. Keunggulan Risha
1.3. Pemanfaatan Risha
umah merupakan kebutuhan dasar masyarakat, namun

R pemenuhan kebutuhan tersebut belum sepenuhnya


dapat dilakukan oleh masyarakat. Kondisi ideal setiap 1
KK menghuni 1 rumah belum dapat terpenuhi, karena
masih banyak 1 rumah dihuni lebih dari 1 keluarga. Pada tahun
2014 jumlah kebutuhan rumah di Indonesia mencapai 15 juta 1 •
Disisi lain pertumbuhan penduduk di Indonesia terus meningkat,
sehingga berpengaruh terhadap kebutuhan rumah yang juga
terus bertambah.

Mengatasi pemenuhan kebutuhan rumah yang sangat tinggi,


maka diperlukan suatu upaya penyediaan perumahan yang cepat
danberkualitas baik (layak) sesuai Standar Nasional Indonesia
(SNI). Penyediaan rumah sebaiknya juga dapat mengakomodasi
kebutuhan penghuni, seperti pertambahan jumlah penghuni
rumah. Berdasarkan hasil kegiatan evaluasi kebijakan Rumah Sehat
(RS) dan Rumah Sederhana Sehat (RSH) oleh Tim Puskim tahun
1996-2000, ditemukan bahwa 80% bangunan tempat tinggal telah
mengalami perubahan dari bentuk asli karena terjadi kerusakan
bangunan atau pertambahan jumlah penghuni rumah.

Dalam rangka mendukung upaya percepatan pembangunan


perumahan di Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum melalui
Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Permukiman
telah melaksanakan penelitian untuk menghasilkan teknologi
inovasi desain rumah sederhana sehat yang dapat diproduksi
dengan cepat. lnovasi tersebut berupa rancangan teknologi
konstruksi bangunan rumah tinggal dengan komponen yang
kompak dan berukuran modular serta menggunakan sistem
bongkar pasang/ knock down yang dapat disediakan secara
pabrikasi. Teknologi konstruksi inovatif ini dikenal dengan sebutan
Rumah lnstan Sederhana Sehat (Risha) yang telah dirilis pada 20
Desember 2004.

Data Dasar Peru mahan 2014, Kementerian Perumahan Rakyat

Menjawab Kebutuhan Rumah dengan RISHA 3


1.1 Mengenal Rumah lnstan Sederhana Sehat (Risha)

1.1
Mengenal Rumah lnstan Sederhana
Sehat (Risha)
Akronim D c. . .
RISHA e •• niSI

R umah tempat tempat tumbuh dan berkembangnya suatu


............................ ~~!~~:.~.?.............................................................................
langsung jadi (melalui perakitan komponen di
lapangan tanpa perlu melakukan proses pengerjaan
cor, pengelasan atau penyambungan)
l nstan
*dalam konteks teknologi konstruksi diartikan
sebagai pembangunan melalui pabrikasi komponen-
komponen bangunan
--------------------------- ----------------------------------------- ---------------------------------------------------
komponen-komponen yang dibuat secara sederha-
na dan seringan mungkin, sehingga tidak rumit dan
S ederhana cepat dikerjakan dilapangan serta memiliki kualitas
yang baik karena dibuat di pabrik dengan standar
sesuai ketentuan
suatu kond isi yang berjalan normal dan sesuai den-
seHat gan fungsinya

Konsep teknologi Risha terinspirasi dari permainan anak-anak,


yaitu lego. Karakter Risha identik dengan permainan tersebut
karena desain bangunan rumah dapat diubah-ubah sesuai dengan
keinginan atau kebutuhan dari penghuninya. Sarna seperti lego,
desain Risha adalah perwujudan sebuah desain modular, yaitu
konsep yang membagi sistem menjadi bagian-bagian kecil (modul)
dengan ukuran yang efisien agar dapat dirakit menjadi sejumlah
besar produk yang berbeda-beda.

[Link]

4 BAB · 01
1.2 Keunggulan Risha

1.2
Keunggulan Risha

Risha sebagai bentuk rekayasa teknologi knock downyang


digunakan pada bangunan rumah tinggal sederhana sehat,telah
sesuai dengan Kepmen Kimpraswil No. 403/ KPTS/ M/ 2003 tentang
Pedoman Teknis Rumah Sederhana Sehat. Teknologi Risha
yang menggunakan bahan beton bertulang dan tidak banyak
mengkonsumsi material dari alam sangat layak dikembangkan
karena ramah lingkungan dan memenuhi standar.

Keunggulan dari teknologi Risha , yaitu:


1. Sederhana

Prototipe Risha merupakan wujud teknologi tepat guna


yang memiliki kesederhanaan bentuk, ukuran dan bahan
bangunan.

Komponen utama Risha terdiri dari tiga jenis, yaitu:


komponen struktural, komponen non struktural/pengisi, dan
komponen utilitas.

2. Cepat

Waktu yang dibutuhkan dalam pemasangan komponen-


komponen Risha tipe Rumah Inti Tumbuh (RIT) sekitar 9 jam
untuk satu model dengan jumlah tenaga kerja 3 orang pada
kondisi tanah ideal atau keras.

Pembangunan di atas tanah lunak akan membutuhkan


proses tambahan untuk penstabilan lahan yang berdampak
kepada penambahan waktu.
3. Fleksibel

Teknologi Risha tidak hanya untuk rumah sederhana tetapi


dapat dikembangkan untuk rumah mewah, baik satu lantai
maupun dua lantai (dengan memperkuat bagian lantai bawah).
4. Ramah Lingkungan

Penggunaan material alam dalam teknologi Risha sangat


hemat karena pada dasarnya hanya digunakan pada kuda-
kuda, panel jendela, dan panel pintu.

Menjawab Kebutuhan Rumah dengan RISHA 5


1.2 Keunggulan Risha

Berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Permukiman


tentang konsumsi kayu pada berbagai jenis konstruksi rumah
menunjukkan bahwa Risha adalah rumah yang paling hemat
dalam konsumsi kayu.

label Perbandingan Konsumsi Kayu berbagai Tipe Rumah dengan Risha

Kayu Tidak Kayu


Panggung Panggung
0,17 0,08 0,08 0,08
0,45 0,56 0,56 0,56 1,04 m3
1,29 1.70 2,00 4,20 0,50 m3
1,22 1,22 3,15 3,60 0,08 m3

3,13 3,56 5.79 8,44 1,62 m3


Sumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman

5. Kuat dan durabel


Berdasarkan hasil pengujian (uji tekan, uji geser, uji
lentur,dan uji bangunan penuh pada bangunan Risha dua
lantai) yang telah dilakukan di laboratorium dan lapangan,
menunjukkan bahwa bangunan Risha memiliki keandalan
terhadap beban gempa sampai dengan daerah zonasi 6 (yaitu
daerah berisiko gempa paling tinggi di Indonesia).

6. Berkualitas
Teknologi Risha menggunakan sistem cetak sehingga
menghasilkan produk dengan ukuran dan spesifikasi yang
sama. Kualitas produk teknologi Risha terjamin karena mengacu
pada ketentuan yang berlaku dalam Standar Nasionallndonesia
(SNI).

6 BAB - 01
1.3 Pemanfaatan Risha

Keunggulan Teknologi Risha

RISHA
Estetika

KUAT dan AWET


Andal terhadap beban gempa dan tahan terhadap angin, panas dan hujan

1.3
Pemanfaatan Risha
Penggunaan teknologi Risha lebih ditujukan untuk pembangunan
rumah sederhana sehat bagi masyarakat berpenghasilan rendah
(MBR), penanganan perumahan pengungsi atau rumah darurat,
dan dapat digunakan untuk pembangunan bangunan tidak
permanen, seperti direksi kit.

Menjawab Kebutuhan Rumah dengan RISHA 7


1.3 Pemanfaatan Risha

Poliklinik bergaya arsitektur Minong

Rumah transmigrasi di Aceh

Menjawab Kebutuhan Rumah dengan RISHA 9


1 3 Pemanfaatan Risha

Risha bergaya kontemporer untuk perumahan rakyat

Salah satu Sekolah Dasar (50) di Kota Pariaman

10 BAB - 01
1.3 Pemanfaatan Risha

Risha bergaya kontemporer untuk perumahan rakyat

Risha dengan arsitektur Bali

Menjawab Kebutuhan Rumah dengan RISHA 11


Mengupas Komponen
RISHA
2.1. Komponen Struktural Risha
2.2. Komponen Atap
2.3. Komponen Pondasi
2.4. Komponen Non Struktural
2.5. Komponen Utilitas
2.1 Komponen Struktural Risha

Pane/P7 Pane/P2 Simpul

Partisi Pintu

Komponen RISHA

Komponen Komponen Komponen


struktural Partisi Jende/a
pondasi utilitas
Risha

• pondasi panel struktural tipe 1 • kamar mandi


panel struktural tipe 2 • jaringan air
panel penyambung bersih
• sistem plumbing
Partisi Masif

Komponen
non Komponen
struktural atap

panel partisi masif • kuda-kuda


panel partisi jendela
panel partisi pintu Kamarmandi

Kamarmandi

Kamarmandi

Mengupas Komponen RISHA 13


2.1 Komponen Struktural Risha

2.1
Komponen Struktural Risha
Komponen struktural adalah komponen yang mendukung
berdirinya bangunan (rumah tinggal). Jika komponen struktural
dihilangkan, maka bangunan akan terjadi kerusakan dan tidak
dapat berfungsi sebagai mana mestinya. Komponen struktural
dibagi menjadi tiga sistem, yaitu: sistem pondasi, sistem rangka,
dan sistem atap. Pada teknologi Risha, komponen struktural utama
terdiri dari 3 panel, yaitu: 1) panel struktural tipe 1 (P1 ), 2) panel
struktural tipe 2 (P2), dan 3) panel simpul atau penyambung (P3).
Ketiga panel Risha tersebut merupakan bagian darisistem rangka.

2.1.1. Panel Struktural


Panel struktural (P1 dan P2) berfungsi sebagai pemikul
beban yang bekerja, baik beban mati maupun beban hidup,
dimana permukaannya tertutup dan tidak tembus [Link]
struktural tersebut dapat digunakan sebagai kolom maupun balok,
dan sloof.

14 BAB- 02
2 1 Komponen Struktural Risha

Tabel Perbedaan Panel Struktural Tipe 1 dan Tipe 2

Ketentuan Panel Struktural Risha 1 Panel Struktural Risha 2


Ukuran (P1) , (P2)
Ukuran Tebal : 2,5 em Tebal . 2,5 em

Lebar · 30 em Lebar: 20 em

Tmggi 120 em Tingg1 : 120 em

Frame • Ukuran 6 em x 10 em· mengelilingi • Ukuran6 em x 10 em:


4 SISi mengehlmg1 3 s1si (1 sisi vert1kal
dan 2 s1si honsontal)

• Ukuran 6 em x 6 em. pada 1 s1si


vertikal
Angker • Lubang angker pada frame • Lubang angker pada frame
berdiameter 16 mm berd1ameter 16 mm

• 2 buah lubang angker untuk • 1 buah lubang angker untuk


masmg-mas1ng frame pendek mas1ng-masmg frame honsontal
(honsontal) berJarak 13,5 em antar yang d1tempatkan pada tengah-
as lubang yang d1tempatkan pada tengah Iebar
as panel
• 2 buah lubang angker untuk
• 2 buah lubang angker untuk frame vetnkal (ukuran 6 em x 10
masing-masmg frame panJang em) beqarak 15 em diukur dan
(vertikal) beqarak 15 em diukur dan UJung frame sampa1 dengan as
UJung frame sampai dengan as lubang
lubang
Tampilan fisik

Mengupas Komponen RISHA 15


2.1 Komponen Struktural Risha

- 8ftlh2tlm"n enlbl t lrwwn

~ =~~~,;_~

:::!~:~~~ .~~=-~··==r=·=-~~·~~
J!. ~ J t" · ~~ 1 4 r
~ .
L..

----------- . uoo
TAMPAKATAS
.....
Besl+6nvn - 8bh
-.. J
RANGKAIAN TUlANGAN PANEL
- - • - T ·- 100 -- - -- Ioo - ~

~ ~~:~;';=~--~.:.-;-;; ____~t-··-······-·····
:. ._::
• ~~-----~·-:o···c;:-~·::=::--==:::-:7-::--·~=-
---- ...
-:-:--;- --:-;;;;:-:-; ::·

= .. -.......::.... :..:.:..
. -· - .
-,
'-"'
.
. -· ..
···········-----------------·-··--,-
il
-
• !
-~· . r
TAMPAK SAMPING
RANGKAIAN lUlANGAN PANEL --~
_,._ ' '
' . "'
hsi tlmm • lbtl Besl+8nvn - 4bh

.I •

DETAIL lUIANGAN liTAMA

-=---..,.--1----
PENULANGAN PANEL RJSHA TIPE-2
:--
01
-:--
Gombar teknik panel struktur Pl

hsllxlt lnwn

-:::F=-,
t f'"i"
r.- 1" ~
~:J -· G
(., ~ j !._ _!':

TAMPAKATAS 6Bh 2Bh


RANGKAIAN TUlANGAN PANEL

- " •: _.!._'

TAMPAK SAMPJNG
RANGKAIAN lUlANGAN PANEL
!
:~--
Besi+Smm02bh

leRtl.- - lbft


- ' j

DETAIL TIJlANGAN liTAHA

____
Besl+6mm - 6 bll

.. PENUIANGAN PANEL RISHA TIPE-2


-------
Gombar teknik panel struktur P2

16 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha

2.1.2. Panel Penyambung


Panel penyambung berfungsi sebagai simpul atau
penyambung pemikul beban yang bekerja, baik beban mati
maupun beban hidup, dimana permukaannya tertutup dan tidak
tembus [Link] merupakan titik pertemuan konstruksi
antara kolom dan balok serta sloof, kaki kuda-kuda untuk atap.

label Spesifikasi Panel Penyambung

Ketentuan
Panel Penyambung
Uk uran
Ukuran Berbentuk L

Tebal : 2,5 em

Lebar: 30 em

Tinggi: 30 em
Frame • Ukuran 6 em x 10 em: mengelilingi semua (6) sisi
Angker • Lubang angker pada frame berdiameter 16 mm

• 2 buah lubang angker untuk semua frame berjarak 13,5 em antar


as lubang yang ditempatkan pada as panel

• 2 buah lubang angker untuk masing-masing frame panjang (ver-


tikal) berjarak 15 em diukur dari ujung frame sampai dengan as
lubang
Tampilan fisik

Mengupas Komponen RISHA 17


2.1 Komponen Struktural Risha

JOO .JlO

llS - 82.S -

* !1:·-
~

:: ::-
gt

!!
!: !l

:: ...
~ 1 ri -
- 100 200 - 100 200

TAMPAK TAMPAK
PANELPENGHUBUNG PEMBESIAN PANEL

-50-50-

~ !h
2
. ~
~

:1 ~
• • ~


:: - eo -
- eo -

::
lrf
• ~ •
.ft
"- 2

- 100 200

JOO
_,._,.,_
PENAMPANG CETAKAN
PANEL PENGHUBUNG PANEL PENGHUBUNG

Panel Penyambung Struktur! simpul

18 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha

8
(")

Perspektif Panel Penyambung Struktur/ simpul

Mengupas Komponen RISHA 19


2.1 Komponen Struktural Risha

Tata Cara Pengerjaan Panel Struktural Risha


Pengerjaan panel struktural Risha terdiri dari 3 (tiga) tahapan
inti, yaitu: 1) penulangan pokok dan sengkang, 2) pemasangan
tulangan dalam cet akan, 3) pelaksanaan pengecoran, 4)
pembukaan cetakan, dan 5) perawatan beton.

Tahapan Pengerjaan Panel Struktural Risha

1
penulangan pokok
dan sengkang 2 pemasangan tulangan
dalam cetakan

pembukaan
3 pelaksanaan
4 cetakan

perawatan •
5 bet on

20 BAB - 02
2. 1 Komponen Struktural Risha

A. Tahap Penulangan Pokok dan Sengkang

Pasang ke arah horisontal


menggunakan tulangan
polos berdiameter 6 mm
Tulangan frame pada setiap jarak 15 em,
yang pada kedua ujungnya
Pasang mengelilingi panel dibentuk sengkang dengan
menggunakan tulangan polos ukuran 4,5 em x 8 em.
diameter 8 mm sebanyak 4
buah.

Tulangan panel diletakkan

I pada eetakannya dengan


selimut beton berupa
lempengan beton ukuran 3 em
Gunakan tulangan polos \
berdiameter 6 mm dengan x 3 em, tebal 0, 5 em sebanyak
ukuran 4, 5 em x 8 em, yang kurang lebih 8 buah yang
berfungsi untuk mengikat ditempatkan menyebar.
tulangan frame arah horisontal,
masing-masing dipasang
sebanyak 3 buah.

Mengupas Komponen RISHA 21


2.1 Komponen Struktural Risha

B. Tahap Pelaksanaan Pengecoran


Hasil akhir dari tahapan ini adalah menghasilkan bahan
[Link] beton yang direncanakan adalah fc' 25 MPa atau
setara dengan mutu K 300 dengan nilai slump ±100 mm.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pengecoran,


meliputi: 1) persia pan, 2) penakaran, 3) pengadukan, 4)
pengecoran dan pemadatan.

3 4
Pengadukan Pengecoran
dan
Pemadatan

1. Persiapan

Tahap persiapan dilakukan untuk memastikan bahwa


pembuatan panel dapat berjalan lancar dan kualitas produk
akhir (beton panel) terjamin sesuai dengan standar. Kegiatan
pada tahap ini, yaitu: a) penyiapan bahan dan peralatan, dan
b) penyiapan lokasi.

a. Penyiapan Bahan dan Peralatan


Bahan yang harus dipersiapkan adalah:

1) Bahan agregat

Bahan agregat untuk pembuatan panel Risha


terdiri dari pasir beton dan kerikil.

22 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha

• Pasir beton yang digunakan adalah butiran-


butiran keras yang berukuran antara 0,075
sampai dengan 0,5 mm dan tidak mengandung
zat-zat organik yang dapat mengurangi mutu
beton (sesuai dengan SNI T-15-1991 -03).

• Kerikil yang digunakan adalah kerikil alam


atau batu pecah (butiran mineral keras) yang
sebagian besar butirnya berukuran antara 5
sampai dengan 20 mm, dengan kadar lumpur
maksimum 1% berat (sesuai dengan SNI T-15-
1991-03).
Batu Kerikil
2) Semen

Semen yang digunakan adalah semen hidrolis tipe


I atau tipe PCC.
3) Air

Air yang digunakan adalahair bersih yang tidak


berbau, berasa, dan berwarna, tidak mengandung Semen
lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang
dapat dilihat secara visual.

b. Penyiapan Lokasi

Langkah yang harus dilakukan dalam penyiapan lokasi


pengecoran adalah:

1) Pastikan ruang yang akan diisi adukan beton


bebas dari kotoran.

2) Pastikan pembukaan acuan akan mudah.


Lokasi Pembutan Komponen
Cara yang dapat dilakukan adalah dengan
Risha
melapisi permukaan dalam dari acuan dengan
bahan khusus, seperti: lapisan minyak mineral,
lapisan bahan kimia, lembaran plastik, atau bahan
lain yang sejenis.

3) Pastikan bahwa tulangan dalam keadaan bersih


dari segala lapisan penutup yang dapat merusak
beton atau mengurangi lekatan antara beton dan
tulangan.

Mengupas Komponen RISHA 23


2.1 Komponen Struktural Rtsha

2. Penakaran
Penakaran bahan (pasir, kerikil, semen portland, dan air)
didasarkan pada penakaran berat yang direncanakan
dengan nilai slump sebesar ±100 mm.

Proses penakaran

3. Pengadukan
Ketentuan dalam pengadukan adalah sebagai berikut:
a) Beton harus diaduk sedemikian hingga tercapai
penyebaran bahan yang merata dan semua hasil
adukannya harus dikeluarkan sebelum mesin
pengaduk diisi kembali.

Proses pengadukan

24 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha

b) Pengadukan harus dilakukan t idak kurang dari 1 Y2


men it untuk setiap lebih kecil atau sama dengan 1 m3
adukan. Waktu pengadukan harus d itambah Y2 menit
untuk setiap penambahan kapasitas 1 m3 adukan.

c) Pengadukan harus dilanjutkan minimal 1 Y2 menit


setelah semua bahan dimasukkan ke dalam mesin
pengaduk (atau sesuai dengan spesifikasi alat
pengaduk).

d) Selama pengadukan berlangsung, kekentalan


adukan beton harus diawasi terus menerus dengan
jalan memeriksa nilai slump (kelecakan) pada setiap
campuran beton yang baru.

Penilaian atau pengambilan contoh uji beton segar


untuk pemeriksaan mutu beton (fc') dan kekentalan
dilakukan sesuai dengan SNI-M-26-1990-03 tentang
Metode Pengambilan Contoh untuk Campuran Beton
Segar.

4. Pengecoran dan Pemadatan


Pengecoran dilakukan secara perlahan mulai dari bagian
frame dan dilakukan penggetaran dengan vibrator dalam
arah vertikal, sehingga beton mengalami pemadatan
yang maksimal, dengan memperhatikan batas waktu
penggetaranjangan sampai terjadi pemisahan campuran
beton.

Ketentuan dalam pengecoran adalah sebagai berikut:

a) Beton yang akan dicor harus pada posisi sedekat


mungkin dengan acuan untuk mencegah terjadinya
segregasi pada saat pengangkutan.

b) Tingkat kecepatan pengecoran beton harus diatur


agar beton selalu dalam keadaan plastik dan dapat
mengisi dengan mudah kedalam sela-sela diantara
tulangan.
c) Beton yang telah mengeras sebagian atau seluruhnya
tidak boleh digunakan untuk pengecoran.

d) Beton yang telah terkotori oleh bahan lain tidak


boleh dituangkan ke dalam acuan

Mengupas Komponen RISHA 25


2.1 Komponen Struktural Risha

e) Pengecoran beton harus dilaksanakan secara terus


menerus tanpa berhenti, mulai dari sekeliling bagian
frame kemudian panel kebagian ten~ah hingga
selesainya pengecoran satu panel.

f) Beton yang dicorkan harus dipadatkan secara


sempurna dengan alat yang tepat agar dapat mengisi
panel sepenuhnya.

Pemadatanbeton dilakukan dengan alat penggetar,


dengan ketentuan sebagai berikut:

a) Lama penggetaran untuk setiap titik harus dilakukan


sekurang-kurangnya 5 detik, maksimal 15 detik.

b) Batang penggetar tidak boleh mengenai cetakan


atau bagian beton yang sudah menggeras dan
tidak boleh dipasang lebih dekat dari 100 mm dari
beton yang sudah mengeras, serta diusahakan agar
tulangan tidak terkena batang penggetar.

26 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha

c. Tahap Pembukaan Cetakan


Cetakan dapat dibuka setelah 24 jam dari waktu pengecora n,
dengan cara perlahan dan hati-hati.

d. Tahap Perawatan Beton

Beton harus dipertahankan dalam kondisi lembab selama


paling sedikit 7 hari setelah pengecoran, disarankan panel
dibalik sehingga dapat dilakukan dengan memberi genangan
air pada panelnya.

Mengupas Komponen RISHA 27


2.2 Komponen Atap

2.1
Komponen Atap
Komponen st ruktur atap berupa kuda-kuda, yaitu rangka yang
menopang atap. Kuda-kuda yang d igunakan dalam teknologi
Risha dibuat dari bahan kayu.

Persyaratan bahan kayu untuk kuda-kuda, yaitu:

Kayu harus kering, Jenis kayu yang Ukuran kayu yang


berumur tua, digunakan adalah digunakan untuk
lurus dan tidak jenis kayu kelas II membuat kuda-kuda
retak, mempunyai atau kayu kamper, adalah balok kayu
kelembaban borneo super terpilih ukuran 5/10 degan
kurang dari 15% panjang 4,00.
dan memenuhi
persyaratan dalam
PKKI 1971-NI-5

ang
digunakan
adalahkayu
kelas II

Kayukamper Kayuborneo

28 BAB - 02
2 2 Komponen Atap

j Tata Cara Pengerjaan Kuda-kuda


5
Balok kayu dengan ukuran /
10
dan panjang 4 m diserut halus.

Untuk satu kuda-kuda menggunakan tiga batang. Dua batang tetap utuh,
sedangkan pada bagian atas dipotong sehingga saling bertemu dengan
pola potong 1
2 Batang ketiga dipotong dengan mengikuti pola potong 2 (memotong
diagonal), pola potong 3 (diagonal pendek), dan pola potong 4 (membagi
dua)
3 Sisa potongan ditempatkan sebagai klos pada bagian puncak batang 1 dan
2 pada sisi potongan 1 dengan cara memutar bagian potongan ditempat-
kan pada sisi bawah.

4 Seluruh bagian potongan dengan pola tersebut dihubungkan dengan


menggunakan mur dan baut, serta dilubangi untuk ikatan dengan Panel
Struktur Simpul Risha

··:.
'

/
'
• I

KUDA-KUDA

DETAil. 2 KUOA~UDA

DETAL t KUDA~UDA

Mengupas Komponen RISHA 29


2.4 Komponen Non Struktural

2.3
Komponen Pondasi
Sistem Risha juga diperlukan pondasi untuk menjaga agar panel
sruktural Risha dapat berdiri tegak dan menapak tanah dengan
baik atau tidak mudah bergeser.

Bahan dan cara pembuatan plat pondasi sama dengan


pembuatan panel struktural, yang berbeda hanyalah ukurannya.

2.4
Komponen Non Struktural
Komponen non struktural adalah komponen yang berfungsi
untuk menjalankan fungsi rumah sebagai tempat berlindung
dan memberi kenyamanan bagi penghuni. Jenis komponen non
struktural, yaitu: panel masif (dinding), panel jendela, dan panel
pintu.

Ketiga panel tersebut dalam teknologi Risha menggunakan


dua jenis bahan, yaitu bahan kayu dan bahan panel.

Persyaratan Bahan Kayu pada Komponen Non Struktural

Panel Panel Panel


Masif Jendela Pintu
1. Kayu harus kenng, berumur tua, lurus dan t1dak
retak, mempunya1 kelembaban kurang dan 15%
dan memenuh1 persyaratan dalam PKKI 1971-NI-5 v v v
2. Jen1s kayu yang d1gunakan adalah Jen1s kayu kelas II
atau kayu kamper, borneo super terp1lih v
3. Bahan rangka panel menggunakan bahan papan
dengan ukuran 3/1 0 v
4. Papan harus d1serut halus dan rata v v v
5. Rangka harus betul-betul kaku, lurus, kokoh, dan
rata agar dapat dengan mudah d1tutup buka v v v

30 BAB- 02
2.4 Komponen Non Struktural

Persyaratan Bahan Panel pada Komponen Non Struktural

! Panel
1 Persyaratan Masif

1. Panel pengisi menggunakan kayu lapis (yang beredar di


pasaran) berukuran 1 ,20 x 2.40 ..j ..j

2. Bahan penutup panel dari bahan lembaran panel kedap a1r


(seperti· calcium silica (calsi) board, GRC. atau bahan sekual1-
tas), kayu lapis/bambu anyam atau yang setara, atau bahan
lokal lainnya

3. Bahan lembaran panel untuk bagian ekstenor (luar) meng-


gunakan bahan-bahan yang kedap air, sedangkan bahan
lembaran panel pada bag1an Interior (dalam) dapat menggu-
nakan bahan-bahan yang tidak kedap a1r (sepert1: kayu lap1s,
gypsum, dsb.)

4. Bahan lembaran panel dapat menggunakan bahan kayu dar1


papan kayu m1nimal kelas Ill

5. Bahan-bahan la1nnya yang d1mungk1nkan untuk d1gunakan


adalah bahan alumm1um. baJa nngan

Penggunaannya baik untuk rangka panel maupun penutup


lembaran panel

6. Bahan penutup pmtu panel menggunakan bahan kayu lap1s


dengan ukuran pasaran kayu lap1s pmtu 80 x 200 em

Mengupas Komponen RISHA 31


2.4 Komponen Non Struktural

2.4.1. Panel Masif


Panel masif merupakan panel pengisi yang permukaanya
tertutup dan tidak tembus pandang, sehingga panel ini
digunakan sebagai panel pemisah ruangan.

Ukuran dan Oimensi

.,
"'

~
j N

"'"'

I I

-- J

120
TAMPAK SAMPING
TAMPAK DALAM

-- J

120

TAMPAK MUKA

32 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural

3/5

Tbl= 0.5- 0.6 mm

POTONGAN A-A
- - 3 Baut+ IOmm

T =0.5 - 0.6 mm

DETAIL -I

Mengupas Komponen RISHA 33


2.4 Komponen Non Struktural

Tata Cara Pengerjaan Panel Masif

• Gunakan paku atau pasak untuk penyambungan rangka panel masif


• Gunakan lem dan skrup pada rangka panel untuk pemasangan penutup
panel (kayu lapis/ bambu anyam)

2 Periksa sambungan rangka-rangka panel (harus rapi, tegak lurus, dan tidak ter-
dapat celah-celah).

3 • Pasang panel penutup (kalsiboard, GRC, atau kayu lapis/ bambu anyam) tepat
masuk ke dalam rangka dan diberi sedikit kelonggaran untuk penyusutan .
• Setiap pemasangan penutup panel harus diberi nat dan dilem serta diskrup.

4 Perhatikan cara pemasangan skrup pada panel dan rangka:


• Panel dan rangka dibor terlebih dahulu
• Setelah dibor, baru pasang skrup

5 • Pasang kalsiboard, GRC, atau kayu lapis/ bambu anyam sedemikian sehingga
tidak bocor, tertanam rapi dan kokoh .
• Bersihkan dan keringkan (dengan lap) bahan panel penutup yang telah
terpasang

6 Berikan alur-alur air pada permukaan rangka panel yang berhubungan dengan
panel struktur kolom/ balok

7 • Berikan lubang untuk angker pada sisi rangka panel (dipasang pada rangka
panel struktur dan sesama panel pengisi)
• Diameter baut yang akan digunakan untuk memasang panel adalah 10 mm

34 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural

2.4.2. Panel Jendela


Panel jendela adalah panel yang yang berfungsi sebagai
dinding pengisi yang permukaanya tertutup dan
dilengkapi dengan lubang jendela. Selain digunakan
sebagai pemisah ruang, panel jendela juga dapat
digunakan sebagai penghubung visual ruang dalam dan
ruang luar.

Ukuran dan Dimensi

~
I '"'

...,
i

I I

) -- 5HO

TAMPAK DALAM TAMPAK SAMPING

-- )

, lv

TAMPAKMUKA

Mengupas Komponen RISHA 35


2.4 Komponen Non Struktural

3/5

'~~h......
0::![Link]?""'w-~JI/ ~

POTONGAN A-A
- - 3
Baut 4> 10 mm

I '
\

T = 0.5 - 0.6 mm

DETAIL- I

36 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural

Tata Cara Pengerjaan Panel Jendela

1 Sambungkan rangka daun jendela dan rangka panel dengan menggunakan paku
atau pasak.
Pasang penutup panel (calcium silica board, calsiboard, GRC, kayu lapis/ bambu
anyam) dengan menggunakan lem dan diskrup.

2 Pastikan sambungan pada rangka-rangka panel telah rapi, tegak lurus, dan tidak
terdapat celah-celah.

Panel calcium silica board, calsiboard, GRC, kayu lapis/ bambu anyam atau bahan
yang setara dipasang secara tepat masuk ke dalam ra ngka dan diberi sedikit
kelonggaran (ruang) untuk penyusutan.
Pastikan setiap penutup panel yang terpasang telah diberi nat dan dilem serta
diskrup.

Sisi rangka panel diberi lubang untuk angker baut, yang dipasangkan pad a rangka
panel struktur dan sesama panel pengisi.
Diameter baut yang digunakan untuk memasang panel berukuran 10 mm.

Pastikan rangka jendela memiliki kondisi yang kaku, lurus, kokoh, dan rata agar
mudah dibuka dan ditutup.
Bahan penutup jendela yang terbuat dari bahan kaca dengan rangka papan kayu
harus memiliki kualitas baik, float glass, bening, dan tidak bergelembung, serta
dapat menahan angin berkekuatan 122 kg/ m 2
Kaca yang digunakan untuk jendela kaca, jendela, dan bovenlight memiliki tebal
3mm.
Kaca dipasang secara tepat dan memberi sedikit kelonggaran (ruang)untuk
penyusutan.
Setiap pemasangan harus diberi list.
Finishing harus dilakukan dengan rapi agar tidak menimbulkan bunyi ketika
terti up angin.

Engsel untuk jendela yang berhubungan dengan bagian luar maupun dalam
menggunakan engsel cabut tipe H, setara arch, ukuran 2 1f2'' x 3':
Setiap daun jendela dipasang sebanyak 2 buah.

1 hak angin terbuat dari logam (besi lapis kuningan/ tembaga) dengan ukuran
panjang 25 em dipasang pada setiap daun jendela pada bag ian tengah.

1 buah slot dengan ukuran panjang 5 em dipasang pada setiap daun jendela.

Mengupas Komponen RISHA 37


2.4 Komponen Non Struktural

2.4.3. Panel Pintu


Panel pintu merupakan panel pengisi yang berfungsi
sebagai pemisah ruangan yang dapat dilalui dengan cara
membuka dan menutup bidang pintu tersebut. Selain
sebagai pemisah ruangan, panel pintu juga digunakan
sebagai penghubung dua ruang.

Ukuran dan Dimensi

i i
N I N

8
N

"'"'

- 24 -

120

TAMPAK DALAM G

38 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural

-- 3
_I

- 24 -

1.20

TAMPAKATAS
- ----------

- - Baut cp 10 mm

--= I

\'-- T = 0.5- 0.6 mm

DETAIL- I
3 dari 5

Mengupas Komponen RISHA 39


2 4 Komponen Non Struktural

Tata Cara Pengerjaan Panel Pintu


Penyambungan rangka panel harus menggunakan pasak.
Pemasangan penutup panel {kayu lapis/ bambu anyam)dapat menggunakan lem
serta paku.

Bag ian penutup panel masif pada panel pintu terbuat dari bahan lembaran. Bag ian
ini dipasang pada rangka panel dengan menggunakan lem atau skrup.

Lembaranca/cium silica board, calsiboard, GRC atau kayu lapis/ bambu anyam
harus dipasang tepat masuk kedalam rangka, serta diberi sedikit kelonggaran
{ruang) untuk penyusutan.
Bahan calcium silica board, calsiboard, GRC atau kayu lapis/ bambu anyam yang
digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu agar dapat dipasang dengan
sempurna.

Lembaran kayu lapis, bambu anyam harus dipasang sebaik mungkin agar tidak
terjadi kebocoran.
Permukaan rangka panel yang berhubungan dengan panel struktur kolom/ balok
harus dibuat alur-alur air agar tidak merusak bahan rangka.

Sisi rangka panel diberi lubang, sebagai tern pat angker baut, untuk dipasang pada
rangka panel struktur dan sesama panel pengisi.

Engsel untuk pintu yang berhubungan dengan bagian luar maupun dalam
menggunakan engsel cabut tipe H atau setara arch, ukuran 2 W' x 3':
Setiap daun pintu dipasang sebanyak 2 buah.

Kunci pintu menggunakan 2 slag atau setara dengan kuda terbang.

Kaca untuk panel pintu adalah kaca yang mampu menahan angin berkekuatan
122 kg/ m 2
Ketebalan kaca adalah sebesar 3 mm.
Kaca dipasang secara tepat dan memberi sedikit kelonggaran (ruang)
untuk penyusutan.
Setiap pemasangan harus diberi list.
Finishing harus dilakukan dengan rapi agar tidak menimbulkan bunyi
ketika tertiup angin.

40 BAB - 02
2.5 Komponen Utilitas

2.5
Komponen Utilitas
Komponen utilitas adalah komponen pada bangunan yang
berfungsi sebagai sarana penunjang kegiatan penghuni dalam
suatu bangunan.

Komponen utilitas dalam teknologi Risha, dibatasi pada:


kamar mandi, sistem jaringan air bersih, dan sistem pengelolaan
air limbah.

2.5.1. Kamar Mandi

Jenis kamar mandi untuk sistem Risha adalah kamar mandi


kapsul, yaitu model kamar mandi yang dapat dibongkar
pasang. Model ini terdiri dari dua bagian utama (kapsul
atas dan bawah) dan dua bagian pendukung (pintu dan
bak mandi).

Persyaratan Bahan

Bahan dasar pembuatan kamar mandi kapsul adalah bahan fiber, yang
terdiri dari: unsur-unsur, resin, katalis dan mats/ serat fiber.

Bahan cetakan terbuat dari fiber dengan ketebalan 3 mm, terdiri dari komponen-
komponen cetakan dalam dan luar, serta komponen-komponen cetakan dalam
untuk bagian atas maupun bagian [Link] komponen bahan cetakan
disambung dengan menggunakan baut ukuran 7,5 mm yang ditempatkan pada
setiap jarak 20 em

Bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi ketentuan persyaratan bahan


fiber untuk bahan bangunan.

Mengupas Komponen RISHA 41


2.5 Komponen Utilitas

Komponen Kamar Mandi Kapsul

II Komponen Ketentuan
Kapsul bagian - Kloset jongkok (dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan)
bawah - Bak mandi
- Tempat sabun
- Flor drain
- Dinding dan lantai bahan fiber berpola lantai keramik
Seluruh komponen menyatu tanpa sambungan kecuali bak mandi
terpisah sebagai alternatif penggunaan.
Ketebalan kapsul bagian bawah minimal 3 mm, lantai minimal 7,5 mm,
dan bak minimal 3 mm.
2 Kapsul bagian atas - Lubang ventilasi yang dapat digunakan untuk vent
- Tangki air dengan kapasitas 250 liter
- Gantungan lampu untuk penerangan
Ketebalan kapsul bagian atas minimal 3 mm, termasuk ketebalan tangki
air Uuga disamakan).
3 Pintu - Engsel kupu-kupu
- Pegangan kunci pintu
Gantungan baju

·--~-------------.-
Setiap komponen
harus dilengkapi
dengan komponen
pengkait untuk
pemancangan/
pemasangan
(erection) bila akan
menggunakan alat
pengangkut pada
saat perakitan.

42 BAB · 02
2.5 Komponen Utilitas

Ukuran dan Oimensi

Ukuran kamar mandi kapsul mengacu pada standar kebutuhan


ruang kamar mandi untuk rumah tinggal sederhana, dengan
mempertimbangkan ruang gerak setiap aktivitas di dalamnya.

KOMPONEN KAMAR MANDl


SPESIFIKASI TEKNIS
....... [Link]'... ,_.. . _
...,....QIIOM)~,....­
...... CIM)N) ,.'fAa,...,_

-
'-W IO,.,...

TAMPAKA TAMPAKB
B

....
..,,
EJ
-·-
TAMPAKATAS

DENAH KAMAR MANDl FIBRE


DENAH
-.. ..
A

Mengupas Komponen RISHA 43


2.4 Komponen Non Struktural

kAPSULATAS .... -----.


........ ' .. "+-'
I

!
'

44 BAB- 02
2.4 Komponen Non Struktural

Tata Cara Pengerjaan Kamar Mandi Kapsul


- -~~- ~ -~-~-- ~--~

Mobilisasi komponen kamar mandi kapsul dapat dilakukan dengan


dua cara, yaitu:

Menggunakan a/at
Gunakan alat derek (crane), bila tidak memungkinkan
mengadakan alat bantu.

Tanpa Menggunakan a/at

Perhatikan dan pastikan Iebar tangga dan Iebar koridor siap untuk
mobilisasi modul kamar mandi kapsul dan dapat diangkat oleh
dua orang (berlaku bagi kedua cara tersebut).

2.5.2 Sistem Jaringan Air Bersih


Air bersih merupakan kebutuhan dasar untuk mendukung
aktivitas rumah tangga seperti penyediaan air minum,
memasak, mencuci, mandi dan sebagainya.

Sistem jaringan air bersih dalam teknologi Risha,


pada dasarnya menghubungkan antara sumber air bersih
dengan unit rumah tinggal (Risha).

• PDAM • dengan tangki air


I• air tanah • tanpa tangki
air (mengalir
langsung ke
keran-keran air)

Mengupas Komponen RISHA 45


2.5 Komponen Utilitas

Sumber Air Bersih dari PDAM


Cara penyediaan air ke rumah: dengan sambungan rumah (pipa)

Perlengkapan penyambungan:
1. Pipa air minum
- Jenis pipa: pipa besi, asbes semen, baja, HOVE, UPVC
- Pipa air bersih yang tertanam dalam tanah dapat memakai pipa PVC dengan diameter minimum
2,5 em
- Pipa air bersih yang dipasang di atas tanah dan tahan perlindungan dapat menggunakan pipa
besi (GIP) atau pipa lain dengan diameter 2,5 em.
2. Perlengkapan pipa
- Valve/ katup: membuka/ menutup ali ran pipa.
- Check valve: mencegah aliran balik (contoh : di pipa outlet pampa).
- Wast ouV blow off: mengeluarkan lumpur jika terpenrangkap dalam pipa (diameter !4 - Y2
diameter pipa)
3. Meter air
- Terbuat dari bahan bronze/ kun ingan
- Komponen : rumah meter, kotak bawah, sudut bergerak, kotak atas, ring plat anti magnit,
kotak bagian register, paking ka ret, paking plastic, dan tutup atas.
- Ukuran : W' untuk sambungan rumah %' dan Y2'

· gan air bersih dalam teknologi


apat menggunakan tangki air atau
tanpa tangki air

46 BAB- 02
2.5 Komponen Utilitas

Sumber Air Bersih dari Air Tanah


Cara penyediaan air ke rumah : Sumur gali (dengan atau tanpa pampa)
Komponen sumur gali:
• Dinding sumur bagian atas,
• Dinding sumur bagian bawah,
• Lantai sumur,
• Saluran pembuangan,
• Lapisan kerikil/ pecahan bata/ pecahan adukan PC/ pecahan marmer
PilihanTipe Sumur Gali
Tipe 1: Tipe II:

- Kondisi tanah tidak menunjukkan gejala mudah - Kondisi tanah menunjukkan gejala mudah
retak atau runtuh retak dan runtuh

Ketentuan bagi 2 Tipe Sumur Gali


Tipe 1: Tipe 1:

- Dinding atas: - Dinding atas:

Dinding dari pasangan bata/batako/batu belah Dinding dari pasangan batalbatakolbatu


dengan tinggi 80 em dari permukaan lantai belah dengan tinggi 80 em dari permukaan
lantai
- Dinding bawah :
- Dinding bawah sampai kedalam sumur:
Dinding dari bahan yang sama (dengan dinding
atas) atau pipa beton sedalam minimal 300 em Minimal 300 em dari permukaan lantai dari
dari permukaan lantai pipa beton kedap air. Sisanya, dari pipa be-
tan bertulang.

Ketentuan Sumur Gali dengan Pompa:


- Bibir sumur harus dilengkapi dengan tutup.
- Pada tutup disediakan lubang ventilasi .
- Pipa jambang/ pump house casing.
- Pipa buta/ blank pipe casing.
- Pipa saring/screen.
- Pipa observasi/ piezometer

Mengupas Komponen RISHA 47


2.5 Komponen Utilitas

gal iran Air di Unit Rumah (Risha) dengan Tangki Air


Ketentuan Perlengkapan:
• Tangki lebih dari 2 m3 diberi ventilasi dengan kasa nyamuk.
• Pipa inlet diameter 20 em, letak lubang inlet : 1.75 x 20 mm = 0,35 m diatas muka air maksimum. I
• Pipa outlet diameter = 10 em, letak lubang tepat di atas muka air minimum .
• Jarak saringan : 1, 5 x 100 mm = 0,1 5 m.
• Pipa peluap ukuran 25 mm untuk tangki < 18 m3 .
• Tinggi tangki gravitasi lebih t inggi dari lantai teratas bangunan

2.5.3 Sistem Pengolahan Air limbah


Air limbah rumah tangga adalah buangan {berbentuk
eair) dari proses/ aktivitas rumah tangga yang dapat
menimbulkan peneemaran.

Pengolahan air limbah dilakukan untuk melindungi


lingkungan hidup dari peneemaran.

Pengolahan air limbah untuk sistem Risha dapat


menggunakan dua metode, yaitu: pengolahan air buangan
kakus dan pengolahan air buangan non kakus.

Tangki Septik
dengan Up Flow
Filter

Up Flow Filter
Tangki Septik dengan Komunal
Bidang/ Sumur Biofilter
Resapan Saringan Vertikal -
Kaporit

48 BAB - 02
2.5 Komponen Utilitas

Ketentuan Penqolahan Air Buangan Kakus


Penggunaan sistem pengolahan air buangan kakus dibedakan menjadi sistem dengan
instalasi yang memakai tangkai sept ik dan tidak memakai tangkai septik {instalasi biofilter).

1 KK --> tangkt total 3,20 m 3 (P = 2,28 m; • 6-8 Jtwa -->volume= 1,61 m 3


L = 1,3 m; T = 1,25 m)
• 8- 12 Jtwa --> volume = 2,26 m 3
Penghubung antar kompartemen adalah ruang
berukuran 0,15 x 1,30 x 1,25 m
Ptpa inlet dan outlet berdtameter 4"
Lubang pemenksa dipasang di atas setiap kom-
partemen
Dtsinfeksi: tangki larutan chlor dtpasang pada
efluen
Keterangan:
(a)* pengola ha n air buangan kakus sist em inst alasi biofilt er

Ststem Pengolahan Atr Limbah Dengan lnstalasi Tangki Septik


Tangki Sept ik dengan Bidang/
Tangki Septik dengan Up Flow {b) *
Sumur Resapan {c)*
- Muka atr tanah <3 m - Muka atr tanah >3 m
- Ttdak tersedta lahan yang luas - Tersedta lahan yang luas
Bahan: pasangan bat a/ fiber
Ukuran tangki septik: Ukuran tangki septik:
- 1 KK --> 1 m 3 1 KK --> 1 m3
- 5 KK --> 11,5 m' - 5 KK --> 5 m 3
- 10 KK --> 21,8 m 1 10 KK -->9m3
100 KK -->234,5 m 3 - 100 KK --> 80m 3
-----
Bahan fiber (untuk 1 KK): Bidang/ sumur resapan:
- Tabung pengendap 250 L - Ukuran ditentukan berdasarkan hasil tes
- Tabung filter 250 L perkolasi tanah dan jenis tanah
Media penyaring: - Diberlakukan untuk jenis tanah dengan
- Kerikil diameter 2- 2,5 em dengan waktu permeabilitas {cepat lambatnya air
dttenst: 2 - 3 hari merembes ke tanah) 450 Um 11han.
(standar ukuran dapat dilihat dalam tabel di
bawah ini)
- - - - - - - - - - ---
Ket era ngan:
(b)*pengolahan air buangan kakus sistem instalasi tangki septik dengan up flow
(c)* pengo/a han air buangan kakus sistem insta/asi tangki septik dengan bidang/sumur resapan

Mengupas Komponen RISHA 49


2.4 Komponen Non Struktural

label Ukuran Bidang/ Sumur Resapan

Sumur Resapan Bidang Resapan


Jumlah
pemakai Jumlah Jumlah
Diameter Tinggi Panjang Lebar Tinggi
(orang) sumur bidang
(m) (m) (m) (m) (m)
(buah) (buah)

10
1:1

1,00 1,40
• • ••
0,60

0,75 1
15 1,20 1,40 2,00 0,60 0,75 2
20 1,40 1,50 2,50 0,60 0,75 2
25 1,50 1,80 3,00 0,60 0,75 2

Pada sistem pengolahan air buangan kakus dengan instalasi


tangki septik memerlukan kegiatan pemeliharaan secara khusus,
yaitu pemeliharaan terhadap tangki septik dan/ atau up flow filter.

Pemeliharaan Tangk1 Septik dan Up Flow Filter

Pemeliharaan tangki septik dan up flow filter meliputi kegiatan:


pemeriksaan, pengurasan, dan perbaikan. Pemeriksaan yang
dilakukan antara lain berupa pengukuran kualitas dan kuantitas
efluen (sisa buangan) instalasi dan akumulasi lumpur. Pengura san
dilakukan bagi tangki septik dan up flow filter. Perbaikan dilakukan
terhadap kondisi aliran dan media filter.

Kegiatan pemeliharaan tangki septik dan up flow filter

• kualitas dan • lumpur tangki media filter


kuantitas efluen septik
instalasi
• lumpur up flow
• akumulasi filter
lumpur

50 BAB - 02
2.5 Komponen Utilitas

Persyaratan umum pemeliharaan tangki septik dan up flow filter

Tangk1 septik dan up flow harus sudah terpasang dan berfungsi ba1k
Tersed1a tenaga pelaksana yang sesuai bidangnya
Ada penanggung jawab dalam pemellharaan mtalas1
Tersed1a b1aya untuk pemellharaan

Peralatanlbahan untuk pemeliharaan tangki septik dan up flow filter

Peralatan Bahan
Pompa lumpur A1r untuk pencuoan
Bak penampung lumpur Komponen med1a
Alat bantu mekanik
Pompa air

Kegiatan pemeriksaan

Item lndikator Penanganan

Kualltas dan kuantitas efluen Kualitas efluen tangk1 septik Lakukan pencuoan med1a
instalas1 dan up flow keol filter
Konsentras1 kualltas efluen Lakukan penambahan tebal
na1k media
Akumulasi lumpur (tangki Tingg1 lumpur pada ruang Lakukan pengurasan
sept1k) lumpur
Akumulasi lumpur (up flow Permukaan a1r di atas filter Lakukan pengurasan dan
filter) Kapas1tas penyanngan pencuoan

Pemeriksaan tangki septik dan up flow filter dijadwalkan secara berkala.

Pemeriksaan Uraian Pemeriksaan Jangka Waktu


TANGKI SEPTIK T1ngg1 lumpur pada ruang Sekal1 dalam 6 bulan
lumpur
UP FLOW FILTER Permukaan air d1 atas filter Sekali dalam 3 bulan
Kapasitas penyanngan Sekall dalam 6 bulan

Mengupas Komponen RISHA 51


2.5 Komponen Utllitas

Kegiatan Pengurasan

Kegiatan pengurasan dilakukan minimal dalam periode 1 - 2 tahun


sekali atau jika tinggi lumpur di dalam tangki telah meneapai
maksimum 1 meter di bawah pipa inlet.

Tata cara pengurasan:


A. Pengurasan lumpur Tangki Septik

1) Tutup pipa inlet ke tangki septik

2} Pindahkan aliran air limbah ke unit pengolah sementara

3) Kuras lumpur dengan menggunakan pompa lumpur

B. Pengurasan dan Pencucian Up Flow Filter


1) Kuras lumpur pada dasar filter

2) Gelontor permukaan media filte rdari permukaan atau hingga peneueian


media bersih

Kegiatan Perbaikan
1} Periksa ketebalan media filter. Jika kurang dari 60 em,
tambahkan media hingga tebal media minimum terpenuhi

2} Buka kembali penutup pipa inlet tangki septik

Ketentuan Pengolahan Air Buangan Non Kakus

Pengolahan Air Buangan Non Kakus


Up Flow Filter Komunal
Saringan Vertikal - Kaporit Tablet
(4 Kk)
Bahan fiber glass (ukuran: Tebal = 6 mm, Med1a:
D1ameter = 140 em, Tingg1 = 195 em)
- Med1a berbut1r (kenk1l) dengan diameter
Ukuran:
- Unit penangkap sampah --> d1mens1 47 x
2 - 3 em
96cm
- T1ngg1 minimal 60 em
- Unit penangkap pas1r --> d1mensi 96 x 47 x
35 em
Media penyanng
- Kerikil dengan d1ameter 2 - 3 em
- Tinggi mm1mal 60 em

52 BAB - 02
-:.. ......-an air limbah untuk sistem
Risha dapat menggunakan dua metode,
yaitu: pengo/ahan air buangan kakus dan
pengo/ahan air buangan non kakus.

Mengupas Komponen RISHA 53


03
Menuju lndustrialisasi
Komponen Struktur
RISHA
3.1 Prospek lndustri Risha
3.2 Standarisasi Cetakan (Molding)
3.3 Pengendalian Mutu (Quality Contron
3.4 Pengemasan (Packaging)
3 1 Prospek lndustri Risha

3.1
Prospek lndustri Risha

Program bantuan dalam bidang perumahan bagi MBRyang sering


dilakukan pemerintah daerah adalah berupa bantuan stimulan
material/ bahan [Link] akan lebih optimal manfaat
dan efektif jika bahan bangunan yang disediakan tidak dalam
bentuk bahan bangunan dasar (raw materian seperti: pasir, semen,
dan sebagainya, tetapi komponen bahan bangunan siap pakai,
seperti: kusen, pintu, dan sebagainya. Sistem bantuan bahan
bangunan siap pakai akan mengurangi resiko waste material
karena masyarakat melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM)
dapat memfasilitasi penyediaan komponen-komponen bangunan,
dimana selanjutnya komponen bisalangsung dirakit masyarakat
menjadi rumah yang layak huni.

Sistem Risha berpeluang untuk dilakukan dan


dikembangkan oleh BKM karena teknologi yang digunakan
sangat sederhana, dimana sejalan dengan Teknologi Tepat Guna
yang mengakomodasi ketepatan pelaksana dan kondisi daerah.
Selain itu, sistem Risha dapat mendorong pengembangan industri
menengah bahkan home industri yang berpotensi menciptakan
lapangan pekerjaan baru.

Sistem Rishajuga dapat membantu akselerasi pembangunan


dan penyediaan perumahan nasional karena secara teknis sistem
ini memiliki keunggulan dalam waktu pembangunan (jika kondisi
yang disyaratkan terpenuhi). Efisiensi biaya dan sumber daya atau
modal dapat dicapai dengan sistem ini karena waste material
dapat diminimalkan karena prototipe sistem Risha telah mengacu
kaidah koordinasi modular dan industrialisasi [Link]
ini dapat memberikan keuntungan materi dan keuntungan sosial
bagi [Link] dan pemasangan kembali rumah
dapat dilakukan dengan mudah oleh [Link] itu mereka
juga dapat mengembangkan rumahnya ke arah [Link]
pembangunan di lapangan t idak membutuhkan jumlah tenaga
kerja yang banyak karena cukup melakukan perakitan komponen
menjadi bangunan saja.

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 55


3.1 Prospek lndustri Risha

Akselerasi
Pembangunan 1

Rumah

, ''
'
'' '' I
I
'
Program Bantuan \
I
I
Menciptakan Home
I I

: Material Rumah bagi I I Jndistri! Lapangan


I

~~BR lebih tepat sa saran,: I Kerja


' , I
'' I '
' ''

Langkah awal yang strategis untuk membangun industrialisasi


komponen Risha adalah dengan mengembangkan sistem produksi
komponen Risha yang efisien dan [Link] produksi yang
perlu dipersiapkan dengan baik untuk mendukung industrialisasi
komponen Risha, yaitu: standarisasi cetakan komponen Risha,
pemeriksaan kualitas komponen Risha, dan pengemasan
komponen Risha.

Sistem Pendukung lndustrialisasi Komponen Struktural


Risha

56 BAB - 03
3.2 Standarisasi Cetakan (Mo/dmg)

3.2
Standarisasi Cetakan (Molding)
Cetakan panel struktural dengan ukuran terstandar menjadi kunci
penentu kualitas panel struktural Risha selalu konsisten dan reliabel.
Cetakan yang terstandar dapat digunakan kapan saja dan di mana
saja dan menghasilkan kualitas panel struktural yang konsisten.

Cetakan panel struktural dapat dibuat dari dua macam bahan,


yaitu: kayu dan baja.

3.2.1 Cetakan Panel Struktural dari Kayu


Kualitas cetakan panel struktural Risha dari bahan kayu
sangat ditentukan oleh jenis bahan yang digunakan dan
cara membuat cetakan kayu.

1. Kayu harus kering, berumur tua, lurus dan tidak retak atau bengkok,
mempunyai kelembaban kurang dari 15%,
memenuhi persyaratan dalam PKKI 1971 -NI-5

2. Jenis kayu yang digunakan adalah jenis kayu kelas II berdasarkan PKKI 1971 ,
minimum kelas E 11 berdasarkan PKKI 2002

1. Kayu lapis berukuran 1,20 m x 2,40 m dengan tebal 15 mm

2. Pralon listrrik berdiameter 5/ 8 inchi

3. Plastik bening (untuk pembungkus) tidak kusut atau robek

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 57


3.2 Standarisasi Cetakan (Molding)

Ukuran dan Dimensi Cetakan Kayu

UKURAN CETAKAN KAYU Pl

UKURAN CETAKAN KAYU P2

58 BAB - 03
3.2 Standarisasi Cetakan (Moldmg)

Cetakan kayu panel struktur yang sudah jadi

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 59


3.2 Standarisast Cetakan (Moldmg)

3.2.2 Cetakan Panel Struktural dari Baja


Kualitas cetakan panel struktural Risha dari bahan baja
sangat ditentukan oleh jenis bahan yang digunakan dan
cara membuat cetakan baja.

1. Spesifikasi jenis baja U 24 dengan ketentuan berupa profil ( [) kanal dengan ukuran [
adalah 100 x 50 x 5 mm
2. Pelat baja sebagai dasar cetakan dengan tebal 5 mm(memenuhi persyaratan dalam buku
tabel profil konstruksi ba a)

1. Baut dan mur sebagai pengunci antar panel dengan ukuran diameter 10 mm
2. Pralon dengan jenis pralon listrik berdiameter
3. Pelat baja dengan tebal 2 mm dan ukuran 4 x 6 em dan diberi lubang di tengah-tengah-
dengan diameter 5/ · i (sebagai pengaku lubang pralon)

Cetakan baja Panel P 7

60 BAB · 03
3.2 Standansas1 Cetakan (Mo/dmg)

l Jkurar 1 cian Otrnenst Cetakan Ba; 1

_ ..., ___________
- ----------~

• • •
.p
lr- .l
I

c-
1111

_____l

[.....,~
• • • . .. ~
--1
~ L
CETAKAN BAJA PANEL Pl
1010
4loO

=-J

UKURAN DAN DIMENSI Pl

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 61


3.2 Standansas1 Cetakan (Moldtng)

Ukuran dan Otmensi Cetakan BaJa

HOO

1100

lr Q. Q•

~ • •
~-~
1080

CETAKAN BAJA PANEL P1

UKURAN DAN DIMENSI P1

62 BAB - 03
3.2 Standarisasi Cetakan (Molding)

UKURAN DAN DIMENSI P-JOIN

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 63


3.3 Pengendalian Mutu (Quality Contron

3.3
Pengendalian Mutu (Quality ControO

Pengendalian mutu dalam rekayasa dan manufaktur pad a dasarnya


melibatkan pengembangan sistem untuk memastikan bahwa
produk dan jasa dirancang dan diproduksi untuk memenuhi atau
melampaui persyaratan dari pelanggan maupun produsen sendiri.

Pengendalian mutu (quality control) atau QC menjadi media


untuk meninjau atau mengontrol kualitas dari semua faktor yang
terlibat dalam kegiatan [Link] kontrol mencakup
inspeksi produk, di mana setiap produk diperiksa secara visual.

Penekanan QC terletak pada pengujian produk untuk


mendapatkan produk yang cacat. Dalam pemilihan produk yang
akan diuji, biasanya dilakukan pemilihan produk secara acak
(menggunakan teknik sampling). Hasil uji akandijadikan dasar
untuk membuat keputusan apakah produk dapat dirilis atau
ditolak. Hal ini dilakukan guna menjamin kualitas dan merupakan
upaya untuk meningkatkan serta menstabilkan proses produksi.
Dalam sistem Risha, semua komponen yang melekat atau menyatu
dalam bangunan Risha diuji kualitasnya.

Komponen Risha Yang Diuji


~ Panel struktur tipe 1 (P1) ~ Panel pintu

~ Panel struktur tipe 2 (P2) ~ Panel jendela

~ Panel simpul ~ Panel lantai


~ Kuda-kuda ~ Kamar mandi kapsul

~ Gording ~ lnstalasi listrik

~ Panel masif ~ Penutup atap

64 BAB - 03
3.3 Pengendalian Mutu (Quality Contra{)

Metode pengambilan sampel komponen Risha

Kuat tarik, dimensi


1 m3 5 buah Kuat lentur, MOE
3m 3 1 buah
f - - - - - - - - + - - - - - - 1 Kuat tekan silinder
Per hari 5 buah
Panel
50 buah 1 buah Keretakan, presisi
50 buah 1 buah Keretakan, presisi
20 buah 1 buah Keretakan, presisi
Kuda-Kuda dan Gording
Dimensi, jarak
10 bata Lubang dimensi
Partisi
10 panel 1 panel Ketebalan
Kaca 10 Iem bar 1 lembar Ketebalan
Rangka partisi (panel masif, 10 unit
1 unit panel Presisi
jendela, dan pintu) panel
KM dan we
10 unit 1 unit Presisi
lnstalasi Listrik
1 rol 1 buah Spesifikasi
10 buah 1 buah Spesifikasi
10 buah 1 buah Spesifikasi
Penutup Atap
10 lembar 1 lembar Ukuran dan ketebalan
Penutup lantai
Penutup lantai 10m2 1 buah Dimensi

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 65


3.4 Pengemasan (Packagmg)

Antara 5% - 20%
(5-20%)
.,

Perbaikan pada populas1 sampel UJi d1
sub kelompok yang gagal
Lebih dari 20% ditolak
(>20%) X

3.4
Pengemasan (Packaging)

Setelah produk dibuat, langkah selanjutnya adalah


mengantarkannya ke konsumen [Link] pengantaran
atau pendistribusian menjadi lebih mudah jika produk telah
ditata [Link] satu hal yang penting dalam penataan
produk adalah pengepakan/ pengemasan menurut ukuran dan
bentuk-bentuk tertentu sehingga memudahkan penyusunan
dan pengangkutan [Link] Risha melakukan pengemasan
khusus pada komponen panel struktural (Pl dan P2) dan panel
simpul.

Langkah pengemasan komponen Risha (panel struktural dan


panel simpul) adalah dengan membuat alas pengepakan terlebih
dahulu, baru selanjutnya melakukan pengepakan panel, baik panel
struktural maupun panel simpul.

Pengepakan
Panel ( Struktural
dan Simpul)

66 BAB - 03
3.4 Pengemasan (Packaging)

3.4.1 Pembuatan Alas Pengepakan


Alas pengepakan atau palet merupakan media untuk
memindahtempatkan komponen Risha yang telah
ditata. Penggunaan palet atau alas pengepakan akan
memudahkan dalam proses distribusi (bongkar muat),
penghitungan (jumla h komponen per palet), menghindari
kerusakan fisik komponen (benturan), mempermudah
proses pengawasan, mempermudah penataan dalam
gudang dan meningkatkan efisiensi sistem pergudangan
dan mengurangi jumlah tenaga kerja.

Proses Pembuatan Rangka dan Alas Pengepakan

Bahan:

Balok kayu: 3 buah


- Kelas kuat kayu: setara kelas Ill dan IV menurut
PKKI1971
- ukuran: 5 em x 7 em, panjang 65 em
Papankayu: --------------------------- Sesuai kebutuhan
- Kelas kuat kayu: setara kelas Ill dan IV menurut
PKKI 1971
- Tebal : antara 2 - 3 em
- Lebar : antara 5 - 15 em
- Panjang : 120 em
Paku -------------------------------- Minimal 2 buah untuk setiap
hubungan papan dengan balok
- ukuran panjang 5 em

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 67


3.4 Pengemasan (Packaging)

~ Cara Paemb.~aian Al~.s Pengepakan


"'~-"--~_..:;:,_ ~~ ,.___. ~. _-:>.lO!_:_~\:'""-!'r...L

Balok kayu diletakkan memanjang dengan posisi berdiri dengan jarak antar as
balok 57,5 em.
2 Papan kayu diletakkan tegak lurus arah melintang balok, mulai dari arah depan
segaris dengan penampang balok.

3 Paku dengan jumlah paku minimal 2 buah untuk setiap hubungan papan dengan
balok

4 Lakukan hal yang sama secara berturut-turut pada papan berikutnya, dipasang
rapat dengan papan sebelumnya .

5 Ulangi langkah yang sama dengan poin 2 - 4, hingga seluruh panjang balok terisi
papan.
6 Balik posisi rangka .
Lakukan langkah pekerjaan seperti pada poin 2- 5.

Tampak depan Tampak samping kanan


l.2t
I" ~ .I
'
' v, ~ ~ d
~ t:~=:J
~ ~

Tampak atas

I I I I
I I I I s
I
I I I I s
I I I I 5
I I I I s
I
I
I I
I I
I s
I I I I s
I
I
I I
I I
I
I
.,

t t
Arah Forkllp

68 BAB - 03
3.4 Pengemasan (Packaging)

3.4.2 Pengepakan Panel

I Langkah Pengepakan Panel Struktural

Siapkan alas pengepakan dengan posisi muka ke arah Iebar 120 em.

2 Untuk Panel Struktural Tipe 1 {P1)


• Letakkan panel seeara perlahan ke arah horisontal searah papan, dengan
posisi berdiri ke arah 30 em berjajar rapat, sebanyak 6 panel.
Untuk Panel Struktural Tipe 2 {P2)
1. Letakkan panel seeara perlahan ke arah horisontal searah papan, dengan
posisi berdiri ke arah 20 em berjajar rapat, sebanyak 3 panel.
2. Lakukan langkah yang sama dengan poin 1, tetapi dengan arah peletak-
kan panel berhadapan dengan 3 panel yang telah tertata sebelumnya.
3 Letakkan alas kardus ukuran Iebar sekitar 20 em dan panjang 65 em ke
arah melintang panel.
Sebanyak 2 lembar di kedua sisi dengan jarak as 20 em dari tepi panel.
Lembar ketiga di tengah-tengah panjang panel.
4 Lakukan ulang langkah poin ke-2, di atas tumpukan panel pertama.

5 lkat erat seluruh panel dengan tali paking plastik pada arah melintang panel
ke alas tengah pengepakan sebanyak 2 lokasi.
6 Angkut panel dengan menggunakan fork clip seeara perlahan ke gudang
penyimpanan.

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 69


3.4 Pengemasan (Packagmg)

PENGEPAKAN PANEL SIMPUL

70 BAB - 03
3 4 Pengemasan (Packag'"9'

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 71


3.4 Pengemasan (Packagmg)

Langkah Pengepakan Panel Simpul

Siapkan alas pengepakan dengan posisi muka ke arah Iebar 120 em.

2 Letakkan panel seeara perlahan dengan posisi muka (bentuk L) ke arah panjang 65
em dan permukaan tegak ke arah Iebar 120 em, berjajar rapat sebanyak 4 panel.

3 Letakkan alas kardus ukuran panjang 15 em dan Iebar 120 em pada permukaan
atas panel simpul dan permukaan tengah .

4 Letakkan panel simpul berikutnya di atas panel simpul sebelumnya, dengan arah
yang berlawanan dari arah vertikal.

5 Letakkan kardus di samping atas panel simpul ke arah Iebar 120 em.

6 Lakukan langkah pekerjaan seperti pada poin 2 - 4 untuk penataan panel


berikutnya.
7 lkat erat seluruh panel ke arah melintang panel ke alas tengah pengepakan
sebanyak 4lokasi .
8 Angkut panel dengan menggunakan fork clip seeara perlahan ke gudang
penyimpanan .

72 BAB- 03
3.4 Pengemasan (Packagmg)

PENGEPAKAN PANEL SIMPUL

Alas kardus ukuran Iebar sekitar 20 em panjang 65 em

Tali paking plastik

Alas pengepakan Iebar 120 em

Menuju lndustrialisasi Komponen Struktur Risha 73


04
Merencanakan
Perumahan Sistem
RISHA
4.1 Pertimbangan Perencanaan Site
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan
4.3 Ketentuan Lokasi Perumahan Sistem Risha
4.4 Ketentuan Kepadatan Kawasan
4.5 Ketentuan Komposisi Peruntukan
4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
4.8 Ketentuan Pola Kapling dan Penataan Pola Jalan
4.9 Ketentuan Pengolahan Lahan Berkontur
ebagaimana pembangunan perumahan pada umumnya,

S sistem Risha juga mengikuti kaidah perencanaan


[Link] adalah kumpulan rumah sebagai
bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun
perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas
umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni
(UU No.1 Tahun 2011 ).Esensi pembangunan peru mahan adalah
membangun sekumpulan atau kelompok rumah dalam suatu
bentang lahan tertentu,lengkap dengan prasarana sarana dasar
fisik [Link] demikian, pembangunan perumahan
sistem Risha harus disertai dengan kegiatan penyediaan prasarana
sarana dasar lingkungan yang sesuai dengan jumlah pemanfaat
(jiwa) atau jumlah rumah terbangun.

pertimbangan ketentuan jenis .ketentuan lo- _


perencanaan site prasarana sarana 'kasi Perumahan ·
(tapak) lingkungan ', sistem Risha

ketentuan
komposisi
peruntukan

ketentuan
pola kapling
dan pola
jalan

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 75


4.1 Pertimbangan Perencanaan Site

4.1
Pertimbangan Perencanaan Site
Perencanaan site (tapak) dimaksudkan untuk meletakkan
bangunan atau kelompok bangunan pada suatu tapak dengan
[Link] mendapatkan ketepatan yang diinginkan, maka
pertimbangan dan analisis terhadap kondisi rona awal tapak
harus [Link] fisik dan non fisik (sosial, ekonomi, dan
budaya) adalah aspek yang dipertimbangkan dan d ianalisis dalam
perencanaan site.

Pertimbangan dalam Perencanaan Site Perumahan Sistem Risha

Rona Kebutuhan Data Output (Hasil Analisis)


Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Kependudukan - Jumlah penduduk - Bentukl jenis sarana
- Jumlah penduduk menurut: usia, - Kebutuhan luas ruang dan luas
jenis kelamin, pendidikan, agama lahan sarana
- Jumlah kepala keluarga (KK)
- Jumlah anggota keluarga per KK
- Tingkat pendapatan penduduk
- Jenis pekerjaan penduduk
Sosial budaya - Karakteristik sosial budaya - Pola dan zoning lingkungan
penduduk
- Deskripsi historis - Kriteria dan karakter peruma-
han yang kontekstual pada
- Struktur dan pola hidup kemasyara-
karakter setempat
katan
- Pola tata ruang dari bangunan
- Deskripsi konteks dan karakter sosial
dan sarana
budaya setempat
- Kebutuhan jenis sarana
- Pola penyebaran penduduk
- Distribusi sarana

76 BAB- 04
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan

Aspek Fisik
Topografi - Kondisi fisik permukaan tanah - Pola tata ruang
- Kemiringan lahan - Pola pembatasan lahan yang
boleh terbangun
- Lapisan geologis tanah
- Pola alokasi kawasan lindung
- Kedalaman muka air tanah
- Pembentukan muka tanah
- Bentuk bangunan dankawasan
- Rancangan sistem drainase
- Rancangan pola jalan
- Rancangan sistem sanitasi
Geografi - Letak geografis lokasi perencanaan - Jarak sarana
terhadap kawasan lain
- Jumlah sarana
- Sarana di sekitar kawasan sesuai
- Radius/cakupan layanan sarana
dengan tata guna lahan
- Hubungan ketata ruangan
- Batas administrasi
lokasi perencanaan dengan
lingkungan sekitar
lklim - Orientasi matahari - Lokasi/ letak sarana
- Lama penyinaran matahari - Jenis penghubung antar ban-
gunan
- Temperatur rata-rata
- Bentuk bangunan
- Kelembaban
- Orientasi bangunan
- Curah hujan rata-rata
- Tata letak bangunan
- Musim
- Ventilasi
- lklim mikro
- Bukaan untuk penerangan
- Kecepatan angin
alami siang hari
- Hubungan sirkulasi antar ban-
gunan/sarana lingkungan
- Kriteria penyelesaian fisik dan
karakter bangunan dan sarana
Bencana - Angin puyuh - Tinggi muka tanah
- Gempa bumi - Struktur/konstruksi
- Banjir - Tata letak bangunan
- Longsor - Kriteria preservasi kawasan
lindung dan area cadangan
- Gunung meletus
- Bencana alam lainnya

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 77


4.2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan

4.2
Ketentuan Jenis Prasarana Sarana lingkungan
Prasarana dan sarana lingkungan merupakan pra syarat agar berbagai aktivitas masyarakat
di suatu lingkungan dapat berlangsung. Secara lebih detail, prasarana dan sarana lingkungan
berfungsi untuk melayani dan mendorong terwujudnya lingkungan permukiman dan
lingkungan usaha yang optimal sesuai dengan fungsi atau peruntukannya.

4.2.1 Prasarana Perumahan Sistem Risha


Ketentuan Prasarana Perumahan Sistem Risha

Jenis Ketentuan/Persysaratan Acuan


Transportasi - Lokasi perumahan mudah dicapai (diakses) oleh
kendaraan
- Jalan masuk utama sebaiknya cukup panjang untuk
memungkinkan pengaturan sementara kendaraan
menunggu masuk ke jalan utama
- Jalan utama terbuka secara visual untuk menjaga
keselamatan pengendara
Drainase - Saluran pembuangan air hujan harus direncanakan ber- - Tata Cara Perena
dasarkan frekuensi intensitas curah hujan 5 tahunan dan canaan Umum
daya resap tanah Drainase Perkotaan
(SNI 02-2406-1991 )
- Pada permukaan tanah di sekeliling bangunan harus
dibuat saluran air hujan atau selokan yang berhubungan
langsung dengan saluran air hujan lingkungan (drainase)
- Saluran air hujan menggunakan sistem terbuka, dengan
kedudukan terpisah dari saluran pembuangan air limbah/
air kotor kamar mandi, cuci, dan kakus
- Saluran pembuangan air hujan dapat merupakan saluran
terbuka atau tertutup.
Air Bersih - Ketersediaan air bersih dari perusahaan air atau sumber
lain (sesuai ketentuan) harus mencukupi kebutuhan
lingkungan perumahan
- Kapasitas minimum adalah 100 liter/orang/hari
- Tersedia jaringan lingkungan hingga sambungan rumah
- Sumber air bersih, antara lain: PDAM/PAM, sumur pan-
tek, artesis, mata air
Hidran - Jarak antara kran kebakaran di perumahan adalah - Tata Cara Pemasan-
maksimal 200 m gan Sistem Hidran
untuk Pencegahan
- Jika tidak memungkinkan kran, maka harus dibuat
Kebakaran pada
sumur resapan
Bangunan Rumah
dan Gedung (SNI 03-
1745-1989)

78 BAB - 04
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana lingkungan

A ir Kotor - Rembesan dari tangki septik dapat disambung pada - Tata Cara Perenca-
sistem pembuangan air limbah kota atau dengan cara naan Tangki Septik
pengolahan lain dengan Sistem Re-
sapan (SNI 03-2398-
- Pembuangan air limbahlair kotor dari kamar mandi dan 2002)
cuci harus dialirkan ke saluran pembuangan lingkungan
(riool) dengan sistem terbuka atau tertutup
- Pembuangan air limbah/air kotor dari kakus harus
dialirkan ke tangki septik yang dilengkapi dengan bak
rembesan
- Saluran dari kakus ke tangki septik maupun dari rembe-
san ke pembuangan lingkungan menggunakan sistem
tertutup
- Pada jarak tertentu atau pada sudut-sudut bangunan
rumah harus dibuatkan bak kontrol/bak pemeriksa
- Saluran pembuangan air limbahlair kotor dari kamar
mandi dan cuci dibuat terpisah dari saluran pembuangan
kakus.
Persampahan - Pada jalan lingkungan utama dan jalan lingkungan - Tata Cara Teknik Op-
pembagi atau tempat kegiatan umum harus disediakan erasional Pengolahan
tempat sampah berupa tong (bin) terbuat dari f iberglass. Sampah Perkotaan
Tong diberi warna biru untuk sampah basah (organik) (SNI 19-2454-2002)
dan kuning untuk sampah kering (non organik). Jarak
tempat sampah maksimum 25 m - Tata Cara Penge-
lolaan Sampah di
- Kapasitas tempat sampah lingkungan minimum ber- Permukiman (SNI
volume 2m 3 , berdasarkan jumlah rumah yang dilayani 03-3242-1994)
200 rumah. Penempatan sampah lingkungan setiap jarak
±150m
- Fasilitas pengangkutan sampah dapat berupa gerobak
dorong, becak, dan mobil pengangkut sampah
- Jumlah dan kapasitas angkut tergantung pada jumlah
dan frekuensi sampah yang diangkut
- Jangka waktu pengangkutan dari tiap-tiap rumah atau
tempat pengumpulan sampah harus diatur maksimum 2
hari sekali
- Setiap lingkungan permukiman minimum harus dise-
diakan 1 tempat pembuangan sampah sementara (TPS).
Lokasi TPS mudah dijangkau oleh petugas kebersihan
lingkungan (RT/RW) maupun perusahaan pengelola
sampah
- Volume TPS harus mampu menampung timbulan sam-
pah lingkungan dan harus dapat terangkut setiap hari ke
tempat pembuangan sampah akhir (TPA)
- TPS ditempatkan sedemikian sehingga tidak menimbul-
kan polusi bau dan mengganggu kesehatan lingkungan
- Lahan TPS harus mudah dibersihkan, kedap air, lantai
terbuat dari beton tumbuk, dan dapat dibebani oleh
kontainer atau truk pengangkut sampah

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 79


4.2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan

Jaringan Listrik - Perlu penyediaan lahan untuk pemasangan instalasi - Peraturan Umum
travo/gardu lnstalasi Listrik Indo-
nesia (SNI225-1987,
- Tiang listrik dipasang di daerah milik jalan, t idak meng-
UDC 621 .3)
ganggu pedestrian dan tidak dipasang pada kavling
rumah - lstilah Kelistrikan,
Bab 603: Pembang-
- Sumber daya listrik berasal dari PLN atau sumber lain
kitan, Penyaluran
- Setiap unit rumah harus dapat dilayani daya listrik mini- dan Pendistribusian
mal 90 VA per jiwa. Untuk sarana lingkungan 40% dari Tenaga Listrik -
total kebutuhan rumah tangga Perencanaan dan
Manajemen Sistem
- Lokasi permukiman bebas dari jaringan listrik tegangan Tenaga Listrik (SNI
tinggi. Apabila terdapat jalur tegangan tinggi, maka ren- 04-8287 .603-2002)
cana lingkungan permukiman mengacu pada peraturan
PLN
- Harus tersedia jaringan listrik lingkungan dan hunian,
dengan penempatan tiang listrik berada di daerah milik
jalan
- Dibutuhkan gardu listrik untuk setiap 200 KVA daya
listrik, yang ditempatkan pada lahan yang bebas dari
kegiatan umum
- Tersedia penerangan jalan dengan kuat penerangan 500
lux dan tinggi >5 m dari muka tanah
- Jarak antar tiang rata-rata 40 m. Untuk penyesuaian
dengan keadaaan permukaan tanah jalan dan sebagain-
ya, dapat diambil jarak antar tiang 30 - 45 m
- Jarak antar kawat penghantar (konduktor) terhadap
unsur-unsur di dalam lingkungan (bangunan, pohon,
jarak tiang, dll.) harus sesuai dengan peraturan PLN
yang berlaku . Penetapan tiang dan penarikan kawat
harus sempurna dan tinggi kawat minimum 7 m di atas
permukaan tanah
Jaringan - Pemasangan jaringan dan panel box telepon harus
Telepon dan disediakan pada lokasi dengan luas lahan yang
Komunikasi cukup untuk kegiatan pengawasan dan perbaikan
sambungan
- Setiap lingkungan Rukun Warga (RW) atau 40 unit
rumah disarankan tersedia 1 (satu) buah telepon
umum kartu atau koin
- Lokasi permukiman minimum tersedia 1 (satu)
buah warung telekomunikasi
- Kebutuhan sambungan telepon setiap lingkungan
rumah perlu dilayani sambungan telepon rumah
dan telepon umum
- Rasio penyediaan telepon adalah 0,13 sambungan
telepon rumah per jiwa atau dengan asumsi ber-
dasarkan tipe rumah
- Dibutuhkan minimum 1 (satu) sambungan telepon
umum untuk setiap 250 jiwa penduduk yang di-
tempatkan pada pusat-pusat kegiatan lingkungan

80 BAB - 04
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana lingkungan

4.2.2 Sarana/Fasilitas Umum Perumahan Sistem Risha


Sarana Pend1dikan
Sarana yang berfungsi menampung kegiatan peningkatan kualitas
pendidikan anak-anak dan remaja, berupa: TK, SD, SMP, SMU, dan
yang sederajat.

Penyediaan lahan untuk sarana pendidikan didasarkan pada


besaran kawasan yang akan dibangun.
Kebutuhan Lahan Sarana Pendidikan
Luas
Standar Radius
No Jenis Sarana Penduduk La han Lokasi
(jiwa) Minimal (m 2/jiwa) pencapaian
(m')
(m2)
Taman Kanak-
1.250 500 0,28 500 Di tengah kelom-
kanak
pok warga
2 Sekolah Dasar 1.600 2.000 1,25 1.000
3 SLTP 4 .800 9.000 1,88 1.000
4 SMU 4.800 12.500 2,6 3.000
5 Taman Bacaan Di tengah kelom-
2.500 150 0,09 1.000
pok w arga

Sarana Sosial, Rekreasi dan Ruang Terbuka


Sarana sosial, rekreasi dan ruang terbuka didirikan di atas lahan
yang tidak diizinkan mendirikan bangunan dan berfungsi sebagai
paru-paru lingkungan. Bangunan berupa: taman lingkungan,
tempat bermain anak, lapangan terbuka untuk olahraga.

Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah


penduduk.
Kebutuhan Lahan Sarana Olah Raga dan Ruang Terbuka

Taman/ tem- Di tengah kelom-


250 250 100
pat bermain pok tetangga
2 Taman/ tem- Di pusat kegiatan
2.500 1.250 0,5 1.000
pat bermain lingkungan
3 Taman dan
lapangan olah 30.000 9.000 0,3

4 au 15 Menyebar

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 81


4 2 Ketentuan Prasarana Sarana Lmgkungan

Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan didirikan di atas lahan difungsikan untuk
menampung kegiatan peningkatan kualitas kesehatan. Bangunan
berupa: posyandu, puskesmas, poliklinik, balai pengobatan, praktik
dokter, BKIA, apotek.

Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah


penduduk.

Kebutuhan Lahan Sarana Kesehatan

Posyandu 1.250 60 0,048 500


D1 tengah kelom-
2 Bala1 pengo-
2.500 300 0,12 1.000 pok tetangga
batan wa rga
3 Tempat prak-
5.000 1.500
ti k dokter

Sarana lbadah
Sarana ibadah didirikan di atas lahan yang berfungsi menampung
kegiat an peningkatan ritual sesuai ketentuan pemerintah.
Bangu nan berupa: mushola, masjid, gereja, wihara, dan lain
sejenisnya.

Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah


penduduk.

Kebutuhan Lahan Sarana lbadah


luas
Radius
Penduduk La han Standar
No. Jenis Sarana pencapaian lokasi
(jiwa} Minimal (m2/jiwa}

--- ..
(m'}
(m2)

. •••••
t-- - + --"-"---- - + - - - - - l - - - - - - - - 1 1 - - - - - - + - - - - - - - - 1 D1 pusat l1ngkungan
2 Bala1 pengo- 2.500 600 0,24 1 000
batan warga
3 Sarana 1badah Tergantung s1stem kekerabatan dan adat 1st1adat setempat
la1n

82 BAB- 04
4. 2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan

Sarana Perdagangan dan Niaga


Sarana perdagangan dan niaga berdiri di atas lahan yang
berfungsi menampung kegiatan peningkatan pelayanan ekonomi
dan kualitas produksi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
penghuni. Bangunan berupa: kiosatau warung kelontong, makanan
atau jajanan pasar, atau sembilan bahan pokok (sembako).

Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah


penduduk.

Kebutuhan lahan Sarana Perdagangan dan Niaga

1 Warung 250 100 0,4 100


01 pusat l1 ngkungan
2 Pertokoan 6.000 3.000 0,5 2.000
3 PerbelanJaan
(toko/pasar 30.000 10.000 0,33
kungan)

Sarana Pelayanan Administrasi Lokal


Sarana pelayanan administrasi lokal berdiri di atas lahan yang
berfungsi menampung kegiatan peningkatan kualitas pelayanan
administrasi lokal. Bangunan berupa: balai pertemuan warga,
ruang serba guna/ karang taruna.

Kebutuhan minimal luas lahan diatur berdasarkan jumlah


penduduk.
Kebutuhan lahan Sarana Pelayanan Administrasi lokal

Balai warga/
2.500 300 0,12 100
pertemuan
2 Balai serba Di pusat lmgkungan
guna/karang 30.000 500 0,017
taruna

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 83


4.3 Ketentuan lokasi Perumahan Sistem Risha

4.3
Ketentuan Lokasi Perumahan Sistem
Risha
1. Kondisi topografi dan geologi tanah proyek pembangunan
harus mampu mendukung fisik bangunan.

2. Prasaranadan sarana lingkungan perumahan memenuhi


persyaratan struktur/ konstruksi bangunan dan tanah yang
akan dibangun

3. Lokasi tidak berada pada kawasan lindung atau daerah


konservasi yang telah ditetapkan pemerintah, terutama di
daerah resapan air dan bersinggungan dengan hutan lindung
atau kawasan suaka alam dan margasatwa, atau disesuaikan
dengan Peraturan Daerah yang berlaku

4. Tersedianya tanah yang cukup untuk pembangunan peru mahan


dalam suatu lingkungan yang memiliki kelengkapan prasarana
dan sarana, serta utilitas bangunan dan lingkungannya
5. Apabila pembangunan perumahan dilakukan oleh industri
perumahan di lingkungan/ kawasan siap bangun (kasiba/
lisiba), maka sekurang-kurangnya 1000 unit rumah untuk lisiba
dan 3000 unit rumah untuk kasiba

6. Lokasi lahan proyek pembangunan perumahan harus


mempunyai akses yang mudah dihubungkan dengan jaringan
dasar, seperti air bersih, air kotor, drainase lingkungan, listrik,
telepon, dan jalan utama, misalkan jalan provinsi, jalam
kabupaten/ kota, dan jalan umum yang memudahkan arus
pergerakan kegiatan penghuni sehari-hari dengan kegiatan
pusat-pusat wilayah kabupaten/ kota

7. Lokasi lahan proyek pembangunan harus dilengkapi dengan


informasi data tanah seperti struktur tanah/ batuan, sondir, jenis
vegetasi, dan kemungkinan penyediaan sumber air apabila di
lokasi dan sekitar proyek tidak ada jaringan air bersih (PAM)
8. Lokasi bebas dari kawasan yang berdampak rawan bencana
seperti banjir musiman dan luapannya, gempa, erosi dan
longsor, angin, tsunami, polusi industri dan bencana lain

9. Lokasi lahan yang dibangun di atas tanah dengan kemiringan

84 BAB · 04
4.3 Ketentuari lokasi Perumahan Sistem Risha

tertentu, harus diatur sedemikian sehingga proyek


pembangunannya tidak akan menimbulkan kerusakan dan
dampak negatif terhadap lingkungan perumahan dan wilayah
disekitarnya

10. Untuk lokasi dengan ketinggian Ia han antara 750-1000 m diatas


permukaan laut, ditetapkan kemiringan lahan tidak melebihi
15%, dengan ketentuan tanpa rekayasa untuk kawasan
yang terletak pada lahan bermorfologi datar-landai dengan
kemiringan 0-8%, diperlukan rekayasa teknis kemiringan 8-15%
11. Persyaratan lingkungan peru mahan dan permukiman harus
didukung dengan:

• ketersediaan air bersih terjamin baik kualitas maupun


kuantitasnya,

• tidak terganggu polusi air, udara dan suara,

• mempunyai aksesibilitas yang mudah dan aman untuk


mencapai tempat kerja, sekolah dan pusat kegiatan
lainnya,

• tidak mengganggu jalur penerbangan

12. Lokasi proyek mudah dilalui kendaraan berat seperti buldoser,


escavator, dan truk agkutan bahan bangunan dan galian
13. Lingkunganperumahan harus dapat memberikan:

• kemudahan bagi setiap orang mencapai tempat/


bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan,

• kegunaan bagi setiap orang dapat menggunakan tempat


atau bangunan yang bersifat umum,

• keselamatan bagi setiap orang dapat menggunakan


tern pat atau bangunan yang bersifat umum,

• kemandirian bagi setiap orang dapat mencapai tempat


atau bangunan yang bersifat umum tanpa bantuan
orang lain

rafi dan geologi tanah horus mampu


mendukung fisik bangunan Risha

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 85


4.4 Ketentuan Kepadatan Kawasan

4.4
Ketentuan Kepadatan Kawasan
1. Luas lahan yang dapat dibagi kapling adalah 60% dari luas
total lahan, sedang 40% sisa digunakan untuk kebutuhan
sarana dan prasarana lingkungan atau mengikuti ketentuan
daerah yang berlaku

2. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah 60% dari luas


kapling.

3. Jika luas perumahan sangat luas, maka dimungkinkan


mengatur KDB bangunan sesuai dengan perencanaan,
namun KDB akhir tidak diperkenankan lebih dari 60%.

4. KDB digambarkan dalam blok-blok yang berbeda


peruntukannya

4.5
Ketentuan Komposisi Peruntukan
1. Blok peruntukan adalah bagian dari unit peruamahan
sebagai bentuk dari pemanfaatan ruang tertentu yang
dibatasi oleh jaringan pergerakan kegiatan kehidupan, serta
jaringan prasarana dan sarana pendukung lingkungannya

2. Blok peruntukan dapat dibentuk dengan pola penataan


kapling yang telah disesuaikan dengan kondisi fisik
geomorfologis lokasi lahan dan lingkungannya.

3. Blok peruntukan dan pol a penataan kaveling memperhatikan


estetika arsitektur dan lingkungan, sehingga terbentuk
suatu kawasan yang serasi dan kenyamanan dalam ruang.

4. Setiap blok peruntukan dimungkinkan memiliki perbedaan


KDB, namun total KDB akhir harus tetap 60% dari luas
kapling.

86 BAB - 04
4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan

Tabel Peruntukaan Pembangunan Perumahan Berdasarkan Kelerengan


Kemiringan b h Saran fungsi dan tipologi bangu-
5aran pem angunan 1a an .
lereng nan permuk1man
S1stem dramase sulit d1pecahkan, Kawasan rekreas1dan ruang terbuka
0-3 % sehmgga tldak digunakan pada pem-
bangunan skala besar
• Hamp1r semua Jenls/ t1pe bangunan • Semua tipe/ Jenis rumah dapat
dapat dilakukan dengan perataan d1bangun
tanah
3-8 % • Dapat digunakan blokl petak lahan
• Baik untuk bangunan sistem dengan tipe bangunan tunggal
dra1nase sederhana karena dra1nase
bekerJa optimalpada kemiringan 1n1
• D1perlukan turap (retam1ng wall) di • Seba1knya t1pe/ 1en1s bangunan
sekitar Jalan dan lahan park1r deret untuk permukiman padat
8- 15%
• KDB dibatasi • Tipe bangunan tunggal dan kopel
mas1h dapat d1gunakan dengan
pengawasan ketat.

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 87


4 6 Ketentuan Komposis1 Bangunan

4.6
Ketentuan Komposisi Bangunan
4.6.1 Risha Tunggal

Sebuah tempat tinggal lengkap. dimana:


- masa utama tidak diletakkan tepat pada salah satu
batas persil,

- atau tidak menyatu dengan sisi bangunan yang lain.

- keten tuan untuk masa tambahan dimungkinkan (sisi-sisi


masa tambahan berdempetan atau berhimpit dengan
salah satu atau dua sisi persil).

KETERANGAN:
A. Bangunan Turutan
II
B. Bangunan lnduk
II L. Jarak minimum bangunan turutan
[01 menurut peraturan setempat
GSB. Garis Sempadan Bangunan
GSP. Garis Sempadan Pagar

( SB

I Jalan
\.J;:) t I

RISHA TUNGGAL

88 BAB · 04
4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan

4.6.2 Risha Kopel

Dua tempat kediaman lengkap, dimana:


- kedua masa bangunan saling berdampingan dan menyatu pada
salah satu sisi kedua masa tersebut

- salah satu sisi bangunan induknya menyatu dengan sisi satu ban-
gunan lain atau satu tempat kediaman lain, dan masing-masing
mempunyai persil sendiri.

- dengan pertimbangan pengembangan,masing-masing masa ban-


gunan dimasa mendatang dapat memiliki dinding terpisah,

- antara dua pasangan dinding yang berdampingan tidak diperkuat


dengan spesi/ adukan.

! DD I
TAMPAKMUKA

GSB

Jalan

RISHAKOPEL

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 89


4.6 Ketentuan Kompos1s1 Bangunan

4.6.3 Risha Deret

Beberapabuah tempat tinggal, dimana:


- sisi-sisi masa bangunannya saling bergandengan.

- Panjang bangunan rumah deret sebanyak-banyaknya adalah 20


unit rumah tinggal

- atau panjang deretan rumah-rumah tersebut tidak lebih dari 75


meter.

TAMPAKMUKA

Jalan

RISHADERET

90 BAB - 04
4.6 Ketentuan KompoSISI Bangunan

4.6.4 Risha Maisonet

Deretan tempat tinggal, yang:


- masing-masing rumahnya memiliki jumlah lantai leb1h dan atau
sama dengan dua,

- pendekatan rumah maisonet ditekankan untuk kawasan dengan


lahan kecil tetapi memiliki kepadatan bangunan yang relatif tinggi,

- luas lahan minimum untuk maisonet (rumah sederhana susun)


minimum 36 m 2, atau dapat disesuaikan dengan peraturan daerah
setempat.

Jarak antara bangunan m1n1mum 12.00

ftft
meter bila mana dua masa yang berhadapan
sisi-sisinya memiliki bidang terbuka atau
jendela

Jarak antara bangunan minimum 6.00 meter


bila mana salah satu masa memiliki jendela
dana yang lainnya dinding tertutup

Jarak antara bangunan minimum 3.00 meter


bila mana dua masa yang berhadapan

ftft
sisi-sisinya tidak memiliki bidang terbuka
atau tertutup

RISHA MAISONET

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 91


4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan

4.7
Ketentuan Struktur Kawasan
4.7.1 Radial

- Bentuk ini memiliki sebuah pusat yang merupakan pusat perkem-


bangan unit-unit selanjutnya secara konsentrik

- Kepadatan berkurang ke arah luar pusat

Q
0

92 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan

4. 7.2 Kluster/ memusat

- Bentuk ini menghubungkan tiap kelompok ruang yang sama tinggi


kepada ruang terbuka

- Ruang terbuka dapat memisahkan atau mengikat kelompok-


kelompok

- Kelompok hunian dikaitkan oleh ruang terbuka

POLA CLUSTER

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 93


<1 7 Ketentuan Struktur Kawasan

4.7.3 Linier
- Bentuk tnl menyatukan perumahan yang sama tlnggmya dengan
s1rkulas1 dalam sebuah pola lm1er

-- - ·-
Llt··JIE R.

POLA LINIER

94 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan

4.7.4 Simpul

- Bentuk ini menghubungkan tiap kelompok dengan kelompoknya


sendiri dengan menggunakan ruang terbuka dengan fungsi
sebagai penyangga

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 95


4.7 Ketentuan Struktur Kawasan

4.8
Ketentuan Pola Kapling dan Penataan
Pola Jalan
4.8.1 Rectangular/Grid

- Dapat membagi lalu lintas secara merata

- Ukuran kapling lebih mudah untuk mendapatkan ukuran yang


seragam

- Kurang efisien bagi kondisi lahan berkontur

lti

••

4.8.2 loop

- Mengurangi persimpangan lalu lintas

- Membuka peluang kelancaran lalu lintas

- Sangat baik diterapkan pada kondisi lahan berkontur

Po/a Loop

96 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan

4.8.3 Culdesac

- Membatasi kendaraan

- Panjang jalan culdesac dianjurkan tidak lebih dari 300 m

- Lebih dimungkinkan pada kondisi topografi yang berkontur (peker-


jaan cut and fill dapat dikurangi)

I
. --
' - --

4.8.4 Offset
- Hampir sama dengan pola grid, hanya persimpangan dimofifikasi
menjadi pola pertigaan

- Dapat membagi lalu lintas secara merata

- Ukuran kapling lebih mudah untuk mendapatkan ukuran yang


seragam

- Kurang efisien bagi kondisi lahan berkontur

-.-
--- ·-·
Merencanakan Perumahan Sistem Risha 97
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan

4.8.5 Court
- Mengurangi persimpangan lalu lintas (membuka kelancaran lalu
lintas)

- Membuka ruang terbuka/taman di depan kapling

- Sangat baik diterapkan pada kondisi lahan berkontur

- Lebih boros lahan

4.8.6 Curvilinear
- Memberikan sequen visual yang baik pada lingkungan

- Sangat baik diterapkan pada kondisi lahan berkontur

98 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan

4.9
Ketentuan Pengolahan lahan Berkontur

1. Hindari penempatan bangunan pada puncak sebuah bukit


karena pada daerah ini memiliki angin yang cukup besar.

2. Penggunaan lahan berkontur harus disesuaikan dengan


ketentuan fungsi sesuai dengan kapasitasnya.

Alternatif Penanganan untuk Pembangunan di


Atas Lahan Berkontur
Land fill (pengurugan)
- Dilakukan penguruangan dengan tanah dari luar sampai
lahan permukaan menjadi relatif rata

2 Cut (pemotongan)
- Tanah dipotong sampai lahan datar
- Sisa tanah pemotongan dibuang

3 Cut and Fill(potong dan urug)


- Dilakukan pemotongan tanah
- Sisa tanah hasil pemotongan tidak dibuang keluar tetapi di-
tempatkan pada tempat landai sehingga lahan menjadi relatif
datar
4 Stepped (pondasi bertahap)
- Membuat beton yang bertrap

5 Pole (tiang pancang)


- Membuat tiang pancang bangunan

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 99


4.8 Penentuan Pola Kapling dan Penataan Pola Jalan

Area Fungsi Kemirinaan ( % )


Maks Min
Jalan, Pelayanan
berkendaraan, dan
Area Parkir 8.0 0.5

Pengumpul dan
pendekatan jalan kaki 10.0 0.5

Jalan masuk
1122ZZ~fl/M"~ 4.0 1.0

Ramp 15.0

Tempat bermain
• "*''"''~I. 1.. .)!1 J,,[Link]'*itlAW..... ~ 15.0 0.5

Area halaman
rumput
25.0 1.0

Tempat bermain 4.0 0.5


berumput

wales 10.0 1.0


berumput Kemiri
ngan
3: 1

ditanami Kemiri
ngan
2:1

KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN KEMIRINGAN LERENG

100 BAB · 04
4.8 Penentuan Pola Kapling dan Penataan Pola Jalan

Lokasi dengan ketinggian lahan antara 750 - 1.000 m di atas


permukaan laut, ditetapkan kemiringan lahan tidak melebihi 15%,
dengan ketentuan:

a) Tanpa rekayasa untuk kawasan yang terletak pada lahan


bermorfologi datar -landari dengan kemiringan 0-8%

b) Diperlukan rekayasa teknis untuk kemiringan 8- 15%

~ Galian

.·.·.·.·.·.-.-~-~-8-
.·.·.·.· ·.·.· ·.·.·,·. ~· ···· ...
. ·. ·. ·. · [Link] ·. ~ ·· .
:::::::::::::::::::::::~
::::-::::: -:<·:::. ::::: ·:.:::.:. :-:-::::: '
[Link] ·diatas tanah-::::::: ::::: :e~noG~~~ cii~ta:s:t~riati:::
· · ·a·aliiui · · · · · · · · · · · · · ·
~
timbunan

Bangunan:diatas:tanati ·Cta!ia:n: ·: ·: ·:
timbunan· · · · · · · · · · · · · · · · · ·

PENANGANAN LAHAN BERKONTUR

Merencanakan Perumahan Sistem Risha 101


05
Mewujudkan Risha
Ida man

5.1 Menghitung Kebutuhan Panel Risha


5.2 Persiapan Perakitan Risha
5.3 Pemeriksaan Pra Perakitan Risha
5.4 Perakitan Risha
5.5 Pemeriksaan Paska Perakitan Risha
5.6 Pemeliharaan Bangunan Risha
5.1
Menghitung Kebutuhan Panel Risha
Penghitungan kebutuhan material adalah hal yang wajib dilakukan
dalam membangun rumah agar anggaran pembangunan yang
dikeluarkan sesuai dengan bangunan jadi yang diharapkan. Begitu
pula dengan sistem Risha, cuma bedanya material utama yang
perlu dihitung adalah komponen-komponen Risha yang akan
terpakai. Banyak atau sedikitnya kebutuhan komponen Risha
sangat tergantung oleh tipe rumah yang akan dibangun.

5.1.1 Tipe 39
Rumah tipe 39 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.

Kebutuhan Panel Risha Rumah Tipe 39


I

No Jenis/ fungsi panel P1 P2 P3


1 Sloof 27 0 19
2 Kolom 38 38 0
3 Ringbalk 27 0 19
4 TiangAmpig 6 3 0
Jumlah 98 41 38

5.1.2 Tipe 36
Rumah tipe 36 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.

Mewujudkan Risha ldaman 103


5.1 Menghitl,Jng Kebutuhan Panel Risha

Kebutuhan Panel Risha Rumah Tipe 36

No Jenis/ fungsi panel P1 P2 P3


1 Sloof I
24 I 0 I
I
15
2 Kolom 30 I 30 I 0
3 Ringbalk 24 J 0 I 15
4 T1ang Ampig 6 I 3 I 0
Jumlah 84 I 33 I 30

5.1.3 Tipe 31
Rumah tipe 31 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.

Kebutuhan Panel Risha Rumah Tipe 31

No Jenis/ fungsi panel P1 P2 P3


1 Sloof I 21 0 12
2 Kolom I 24 24 0
3 Ringbalk I 21 0 12
4 Tiang Ampig 4 2 0
Jumlah I 70 26 24

5.1.4 Tipe 27
Rumah tipe 27 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.

Kebutuhan Panel Risha Rumah Tipe 27

No Jenis/ fungsi panel P1 P2 P3


1 Sloof 20 0 12
2 Kolom 24 24 0
3 Ring balk 20 0 8
4 Tiang Ampi g 4 2 8
Jumlah 68 26 24

104 BAB- 05
5.2 Persiapan Perakitan Risha

5.1 .5 Tipe 22
Rumah tipe 22 terd iri d ari 2 ruang kamar t idur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarg a/ ruang tamu.
Kebutuhan Panel Risha Rumah Tipe 22

No Jen1s1fungs1panel Pl P2 P3
1 Sloof 16 0 12
2 Kolom 16 24 0
3 Ringbalk 15 0 12
Jumlah 48 18 16

5.2
Persiapan Perakitan Risha
Sebelum melakukan perakitan Risha, seluruh komponen yang te lah
diperiksa kualitasnya dan peralatan bantu perakitan harus sudah
tersedia di lokasi pendirian bangunan. Lahan yang akandidirikan
bangunan dan tenaga pelaksana juga harus sudah siap.

Tenaga
La han Pelaksanana

Persia pan
Perakitan Risha
Komponen Peralatan
Bantu

Mewujudkan Risha ldaman 105


5.2 Persiapan Perakitan Risha

5.2.1 Lahan
Lahan harus telah sesuai dengan ketentuan lokasi
perumahan sistem Risha (atau mengacu pada Pedoman
Teknis tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Peru mahan Risha TC/Risha 01 ).

Pastikan lokasi pendirian bangunan Risha sudah siap


bangun.

JIKA KONDISI LAHAN TIDAK SESUAI DENGAN KETENTUAN ! !

maka harus dilakukan perbaikan terlebih dahulu agar


terkondisikan sesuai dengan ketentuan

5.2.2 Tenaga Pelaksana


Jumlah tenaga pelaksana yang diperlukan sekurang-
kurangnya 6 (enam) orang.

Tenaga pelaksana HARUS telah memiliki


kemampuan dan pemahaman khusus untuk
merakit Risha ! !

106 BAB - 05
5.2 Persiapan Perakitan Risha

5.2 .3 Peralatan Bantu


Peralatan yang digunakan untuk merakit 1 (satu} unit Risha
terdiri dari:

JENIS PERALATAN
Kunci pas 4 pasang
Kunci momen 1 buah
Tangga 1 unit
Perancah 1 unit
Water pass 1 unit
Pasekon kayu 1 unit
Pasekon baja 1 unit
Paku dan palu 1 unit
Ketam 1 unit
Benang 1 gulung

5.2.4 Komponen
1. Pastikan bahwa seluruh komponen yang terbuat dari
beton bertulang harus sudah mencapai umur 28 hari
dengan kekuatan tekan minimum 250 kg/cm 2·

2. Pastikan bahwa seluruh komponen yang terbuat dari


kayu, dalam kondisi kering dan telah diserut hingga
permukaan kayu rata dan halus dengan ukuran yang
akurat sesuai dengan ketentuan.

Mewujudkan Risha ldaman 107


5.2 Perstapan Perakttan Risha

Komponen bangunan yang dibutuhkan untuk membangun


1 (satu) unit Risha tipe-1 (RIT- 1I Rumah Inti Tumbuh -1) terdiri
dari:

Pondasi pelat
6 unit
Ukuran 65 x 65 em, t inggi 12 em
Panel penyambung
16 panel
Bentuk "L" [Link] em
Panel kolom beton bertulang
20 panel
Ukuran 30 x 120 x 10 em
Panel kolom beton bertulang
12 panel
Ukuran 20 x 120 x 10 em
Panel balok beton bertulang
28 panel
Ukuran 30 x 120 x 10 em
Panel d1nding
5 panel
Ukuran 120 x 240 em
Panel pintu
2 panel
(lengkap dengan daun pintu)
Panel Jendela
1 panel
(lengkap dengan daun jendela)
Panel ampig
4 panel

Panel lantai
18m 2
Ukuran 20 x 20 em
Kamar mandi dan kakus
1 unit
(kapsul dari fiberglass)
Cubluk dan instalasi
1 unit

Kaki kuda 4 batang,


Bahan dari kayu 5/1 0 em panjang 4 m
Goord1ng 6 batang,
Bahan dan kayu 5/1 0 em panJang 4 m
Seng gelombang kecil 12 lembar
Ukuran 90 x 240 em dan nok

108 BAB - 05
5.3 Pemeriksaan Pra Perakitan Risha

5.3
Pemeriksaan Pra Perakitan Risha
Sebelum dirakit, ketepatan dan keakuratan komponen-komponen
Risha harus diperiksa terlebih dahulu agar perakitan komponen
dapat presisi.

Pastikan bahwa semua komponen pembentuk bangunan Risha


memiliki presisi yang baik (ukuran maupun lubang-lubang baut,
dan baut yang tertanam pada komponen).Penyimpangan ukuran
hanya diperkenankan sebesar 3 mm.

5.3.1 Pemeriksaan Panel Beton


Semua komponen pembentuk bangunan Risha harus lurus
dan rata serta memiliki presisi yang baik.

Ukuran serta lubang-lubang baut dan tempatnya harus


memiliki jarak antar baut dan jarak baut dari pinggir panel
yang sesuai dengan gambar rencana.

Penyimpangan ukuran hanya diperkenankan sebesar 2


mm.

Mewujudkan Risha ldaman 109


5.3 Pemeriksaan Pra Perakitan Risha

Pemeriksaan Sudut Panel Beton 120 x 30 em dan 120 x 20 em


Langkah Sudut panel baik ( ..J)
1 H1mpitkan pasekon baJa pada setiap sudut S1si panel di arah vert1kal dan honson-
panel. tal rapat dengan s1s1 pasekon baJa d1
Geser di sepanjang tebal panel berulang kali sepanJang tebal panel
2 H1mpitkan pasekon baja pada bagian muka Sisi panel di arah vertikal dan honson-
panel. tal rapat dengan sisi pasekon baja d1
Geser di sepanjang Iebar panel berulang kali sepanjang Iebar panel
3 Lakukan pengukuran ini di setiap sudut dan
muka panel

Pemeriksaan Kelurusan dan Kerataan Permukaan Panel Beton 120 x 30


em dan 120 x 20 em

Himpitkan water pass pada sisi Iebar panel.


Geser ke atas dan bawah . air
2 Lakukan ukuran ini di setiap muka el

Ill Ill

110 BAB · 05
53 Pemenksaan Pra Perak1tan R1sha

Pemeriksaan Sudut Panel Simpul Beton

Langkah Sudut panel baik ( v)


Himpitkan pasekon baja pada salah satu sudut Permukaan panel di sudut selalu rata
bidang panel. dengan permukaan pasekon
Geser pasekon ke atas dan ke bawah atau ke
kiri dan ke kanan
2 Himpitkan water pass pada salah satu bidang Posisi gelembung air raksa selalu
panel. berada di tengah tabung air raksa
Geser di sepanjang Iebar panel berulang kali
3 Lakukan pengukuran ini di setiap sudut dan
muka panel

1...,.,., Ill

Pemeriksaan Panel Pondasi

Buat pola lubang baut pondasi dari tripleks. (pola lihat di bawah)
Tripleks berukuran 60 x 60 em an tebal minimum 6 mm.

Pondasi baik (V)


Lubang baut yang terpasang pada paenl pondasi seluruhnya masuk pada pola lubang tripleks.

Mewujudkan Risha ldaman 111


5.3 Pemenksaan Pra Perakitan Risha

5.3.2 Pemeriksaan Panel Dinding


langkah
Himpitkan pasekon baja pada setiap sudut panel.
Panel dinding baik (.J)

Sisi panel dan sisi pasekon berhimpit rapat

Sisi panel harus


berhimpit dengan
rata pada sisi
pasekon

Pasekon baja I

5.3.3 Pemeriksaan Papan Duga


langkah
Himpitkan pasekon kayu seg itiga siku (dengan panjang kaki si ku-siku 1,0 m) pada
setiap sudut papan duga.
Papan duga baik (~

Sisi siku-siku pasekon kayu berhimpit rapat dengan sisi papan duga

112 BAB - 05
5.3 Pemeriksaan Pra Perakitan Risha

5.3.4 Pemeriksaan Galian Pondasi


Langkah
Buat benang pola galian pondasi .

Benang direntangkan dari sisi kanan ke kiri atau dan dari tepi atas ke bawah tepat di
atas melewati tepi lubang pondasi .

Jarak rentang tali antar tepi lubang pondasi adalah 70 em

Buat rentang tali yang melewati as lubang pondasi (sehingga jarak as lubang pondasi
ke masing-masing tepi lubang pondasi adalah sebesar 35 em)
Galian pondasi baik (..j)

Tepi galian pondasi berada tepat di atas pola yang terbuat dari benang

Benang pola galian

N. dindinq banqunan

Benan g pola gali an

Mewujudkan Risha ldaman 113


5.3 Pemenksaan Pra Perakttan Rtsha

5.4
Perakitan Risha

; 1Pemaxmgan
· Panel
\\ Penyambung
J?ada Pondasl
·~ ...

Pemasangan Pemasangan Pengurugan masangan


Ampig sebagai Penutup dan Panel Dinding
· Kuda-kuda dan Atas dan Pemasangan .Jendela Pintu
Gording Lisplang lantai danAmpig

Pemasangan
Daun Pintu
dan Jendela

Skema Tahapan Perakitan Risha

11 4 BAB - 05
5.4 Perakitan Risha

5.4.1 Pembersihan Lokasi


Bersihkan lahan dari akar rumput dan humus atau hingga
tanah keras diperoleh.

Luas lahan yang dibersihkan untuk 1 (satu) unit


Rumah Sederhana Sehat dengan luas bangunan 18 m 2
(RSh -1) dan luas tanah 5 x 8 m (40 m2) diatur sebagai
berikut:

8.0 m
Luas lahan yang dibersihkan

Luas denah bangunan rencana

LUAS LAHAN YANG HARUS BERSIH DARI AKAR RUMPUT DAN HUMUS

Mewujudkan Risha ldaman 115


5.4 Perakitan Risha

5.4.2 Pengukuran dan Pemasangan Papan Duga

Bila lokasi bangunan berada di antara rumah-rumah yang telah ada, maka penguku-
ran mengikuti rumah yang telah ada.
Bila lokasi yang akan dibangun Risha berada di tempat yang baru atau jauh dari rumah-rumah
yang telah berdiri, maka pengukuran dan pemasangan papan duga mengikuti langkah-lang-
kah berikut:
1. Paneangkan 2 tiang kayu kaso sn tepat di pinggir jalan/gang (di sisi luar kereb jalan)
sedemikian, sehingga kaso berada sejajar sumbu memanjang jalan dan terpaneang den-
gan kokoh, tidak mudah dieabut.
Jarak antar 2 kaso yang dipaneang sekitar 5 m (sesuai dengan Iebar lahan yang telah
dibersihkan dari akar rumput dan humus)
2. Taneapkan paku 7 em di permukaan atas dari 2 tiang kaso tersebut, tarik benang melalui
paku-paku yang telah terpaneang sehingga benang sejajar dengan sumbu jalan.
3. Tarik benang ke arah sisi panjang dari denah reneana bangunan yang tegak lurus terhadap
benang yang sejajar sumbu jalan .
Gunakan pasekon untuk memastikan benang saling tegak lurus.
Rapatkan salah satu sisi pasekon ke benang yang sejajar sumbu jalan .
Atur benang pada sisi siku lainnya sehingga benang dan sisi siku-siku tersebut berhimpi-
tan.
Teruskan benang ini sejauh 8 m (sesuai dengan panjang lahan yang telah dibersihkan dari
akar rumput dan humus).
Paneangkan kolom-kollom kayu kaso 5/7 di sepanjang benang ini dengan jarak maksimum
antar kolom ke kolom 1,5 m .
Pastikan benang berhimpitan dengan sisi dalam dari tiang kayu kaso yang dipaneangkan.
4 . Pasang kayu papan 2/20 em pada kaso-kaso ini, untuk memperoleh satu bidang papan
duga pada arah panjang bangunan
5. Lakukan dengan eara yang sama untuk memperoleh bidang-bidang papan duga pada
arah lainnya dari bangunan
6. Sisi atas papan duga harus diketam hingga rata
Water pass dipasang pada tiang kaso sedemikian sehingga papan duga dalam posisi yang
rata, lurus, dan benar-benar horisontal
7. Elevasi sisi atas papan duga antara satu sisi dengan sisi lainnya harus diatur sedemikian
sehingga dalam satu elevasi yang sama .

Catatan:

Untuk memudahkan mengontrol kelurusan dan ketinggian yang sama pada saat pema-
sangan panel penyambung pada panel pondasi dan balok sloof, disarankan elevasi sisi
atas papan duga adalah 40 em di atas muka tanah.

116 BAB - 05
5.4 Perakitan Risha

'\ __Llj_
~\
~~"-
r

0 -
Sumbu
memanjanq jalan

___j
.

Pasekon kayu Kereb jalan


Potongan

PENGUKURAN UNTUK PEMBUATAN PAPAN DUGA

Sisi alas dari papan duga di ratakan dengan menggunakan ketam


sehin a ermukaan ini halus dan benar-benar horisontal.

-r- 150cm 150 em

PAPAN DUGA UNTUK SATU UNIT RUMAH RISHA TIPE-1

Mewujudkan Risha ldaman 11 7


5.4 Perakitan Risha

5.4.3 Penggalian Pondasi


Buat pola galian sebagai berikut:
1. Taneapkan 2 buah paku kira-kira 1 m dan 5 m dari ujung papan duga pada arah Iebar
bangunan.
Tarik benang dari kedua paku ke papan duga yang ada di hadapannya.
Gunakan pasekon untuk memastikan benang tegak lurus terhadap papan duga.
2. Gunakan eara yang sama dengan poin a) untuk papan duga pada arah panjang bangu-
nan .
Jumlah paku yang ditaneapkan adalah sebanyak 3 buah dengan jarak 1 m, 4 m, dan 7
m dari ujung papan duga .
3. Gunakan eara yang sama dengan poin a) dan b) untuk memperoleh garis-garis dari
benang yang membentuk denah reneana bangunan. (Garis dari benang merupakan
sumbu dinding bangunan)
Taneapkan 2 buah paku di sebelah kanan dan kiri paku as dinding bangunan dengan
jarak masing-masing 35 em.
Hubungkan paku-paku yang saling berhadapan dengan benang sedemikian, sehingga
membentuk pola galian pondasi setempat.
4. Gali tanah untuk pondasi dengan mengikuti pola galian pondasi hingga kedalaman 20
em dari permukaan tanah yang telah diratakan dan dibersihkan.

Benano oola aahan

~-----p~!!!!!!!!!!!f---="''-11rV Mdtoo::":aal~"
/ 35cm ~-------
~--~~-~~-~~~ ~
• ~ 35cm
---~--~....--4--A~
~~

PENGGALIAN PONDASI
Catatan:
Bila ketebalan tanah yang harus dibuang melebihi 20 em, maka lakukan penggalian
hingga ke dalam 40 em atau kedalaman galian diatur sedemikian sehingga elevasi
permukaan bawah dari panel penyambung di atas pondasi plat sama dengan el-
evasi permukaan tanah asli yang telah dibersihkan.

118 BAB - OS
5.4 Perakitan Risha

5.4.4 Pemasangan Pondasi


Langkah-langkah:

1. Hamparkan pasir urug pada galian pondasi dan padatkan sehingga diperoleh tebal
padat pasir urug di bawah pondasi sebesar 8 em.

2. Tempatkan pondasi plat pada masing-masing galian dan atur sedemikian sehingga
baut yang tertanam pada pondasi sejajar dengan benang as dinding bangunan baik
pada arah Iebar maupun arah panjang bangunan .

·-··--
~------~
Pondasi,
/ f"'l
~···L-(
l
~'ij(~
ke digeser kekakanan __j
dan kiri sedemikian
sehingga baut yang tertanam
pada pondasi tepa! berada
atau sejajar dengan benang
as dinding bangunan

PEMASANGAN PONDASI

Mewujudkan Risha ldaman 119


5 4 Perak1tan R1sha

5.4.5 Pemasangan Panel Penyambung pada Pondasi


Langkah-langkah:
1. Pasang panel-panel penyambung pada set1ap pondas1.
Cara.
- Masukkan baut-baut yang ada d1 pondas1 pada lubang yang tersed1a pada panel
penyambung
2. Past1kan baut yang d1gunakan adalah baut-baut yang segans dengan benang as dlnd-
mg bangunan.
3. Kencangkan mur pada set1ap baut penyambung h1ngga Y2 kekuatan dan yang seharus-
nya .
Catatan: Kekuatan penuh dari sambungan mur baut pada sambungan adalah
5,5 kgm(bila baut-baut tersebut dikencangkan dengan menggunakan
kunci momen).
Cara mengencangkan mur baut dengan kunci momen:

- Atur ]arum penunjuk pada kuno momen hmgga menunjukkan 5,5 kgm atau 2,75
kgm, mas1ng-masing untuk Y2 kekuatan dan kekuatan penuh sambungan.

- Gunakan kuno momen yang telah d1atur tersebut untuk mengencangkan mur hingga
terdengar "klik" maka penyambung mur baut telah mencapa1 kekuatan yang d11ng1nk-
an.

PEMASANGAN PANEL PENYAMBUNG PADA PONDASI

120 BAB 05
5.4 Perakitan Risha

5.4.6 Pemasangan Balok Sloof


langkah-langkah:

1. Pasang panel balok pada panel-panel penyambung yang telah terpasang pada pondasi .
Sambungkan dengan mur baut hingga Y2 kekuatan.

Sambungkan panel satu dengan panel lainnya dengan menggunakan sambungan mur
dan baut, juga dengan Y2 kekuatan.

2. Kencangkan sambungan mur baut hingga mencapai kekuatan penuh, bila seluruh
panel-panel balok telah terpasang .

Selama dilakukan pengencangan, harus selalu dilakukan pengecekan kelurusan dan


kerataan setiap balok, dengan berpedoman pada benang-benang as dinding yang ada.

~
:1!f'----~
----:<lta' r - -
J'•V':~
I.
I

PEMASANGAN PANEL BALOK UNTUK SLOOF

Mewujudkan Risha ldaman 121


5.4 Perakitan Risha

5.4.7 Pemasangan Kolom


Langkah-langkah:

1. Pasang panel-panel kolom , setelah panel balok sloof terpasang dan dikencangkan
dengan kekuatan penuh.

Sambungkan dengan menggunakan sambungan mur baut dengan Y2 kekuatan setelah


panel-panel kolom terpasang secara vertikal.

2. Gunakan water pass untuk mengecek panel-panel kolom terpasang secara vertika l.

0
0

IO

PEMASANGAN KOLOM

122 BAB - 05
5.4 Perak1tan Risha

5.4.8 Pemasangan Balok Atas


Langkah-langkah:

1. Sebelum sambungan pada kolom-kolom dikencangkan penuh, pasang panel-panel


penyambung .

Pasang panel-panel balok atas (ring balok)

2. Gunakan water pass untuk mengecek panel-panel kolom terpasang secara vertikal.

. . . . . ... ..... . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .... . . . . . . . .

PEMASANGAN BALOK AlAS

Mewujudkan Risha ldaman 123


5.4 Perakitan Rtsha

5.4.9 Pemasangan Ampig sebagai Kuda-kuda dan Gording


langkah-langkah:

1. Pasang panel kolom pada kolom tengah dari bangunan.

Kencangkan dengan menggunakan mur baut.

Pasang kuda-kuda dari kayu 5/10 em.

Gunakan baut untuk sambungan kaki kuda-kuda dengan kolom dan balok (pada kaki
kuda-kuda sudah tersedia lubang baut yang sesuai dengan lubang pada kolom dan
balok)

2. Pasang gording kayu 5/10 dengan menggunakan sambungan paku .

PEMASANGAN RANGKA AM PIG

124 BAB - OS
5.4 Perakitan Risha

5.4.1 0 Pemasangan Penutup Atap dan lisplang


Langkah-langkah:

1. Pasang penutup atap sebel um pekerjaan pemasangan dinding dan pekerjaan lantai.

- Bila menggunakan penutup atap asbes gelombang.

Disarankan menggunakan alat penghubung yang mudah dilepas tanpa merusak


asbes itu sendiri.

- Bila menggunakan penutup atap genteng (ba ik keramik maupun beton).

Pasang terlebih dahulu kaso sn dan reng %.


Catatan :

Pekerjaan penutup atap dilakukan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaan peker-
jaan lainnya (seperti: pekerjaan penquruqan). pekerja dapat terlindunq dari terik

. ...
.. .
. ..... . ................................................
. . . ... . . ... .. . .. . ... ... .. ... ... ... ... . . ' . ..
. . . ... . ..
. . .........
. . . . . . ...
.. ....
. ......
. . . . . ... .... . ... ...
. ...
. ..

PENTUP ATAP DAN LISPLANG SELESAI DIPASANG

Mewujudkan Risha ldaman 125


5 4 Perak1tan Risha

5.4.11 Pengurugan dan Pemasangan lantai


langkah-langkah:

1. Pekerjaan pengurugan dan pemadatan dilakukan melalui SNI 03- dengan tebal padat
20 em .

2. Sebarkan pasir urug dan padatkan hingga meneapai tebal padat 5 em.

3. Pasang lantai paving blok 20/20 em dari bahan eampuran tanpa adukan spesi.

Lantai di dalam bangunan Lantai teritisan disekeliling bangunan

/
/
/
/
.....
7
I

SETELAH PEKERJAAN PENGURUGAN DAN PEMASANGAN LANTAI

126 BAB - OS
5.4 Perakitan Risha

5.4.12 Pemasangan Panel Dinding, Panel Jendela,


Panel Pintu, dan Panel Ampig
1. Pasang panel dinding

2. Pasang panel jendela

3. Pasang panel pintu

4. Pasang panel ampig

r/ .......
// ...............

/
/ ..............................
/ I
I

I
I

SETELAH PEKERJAAN PEMASANGAN PANEL DIN DING, JENDELA DAN PINTU

Mewujudkan Risha ldaman 127


5.4 Perak1tan Risha

5.4.13 Pemasangan Daun Pintu dan Jendela


Langkah-langkah:

1. Pasang daun pintu dan jendela.

2. Lakukan pengaturan dan penyesuaian agar pintu dan jendela


dapat dibuka dan ditutup dengan mudah.

3. Pasang kaca pada jendela .

5.4.14 Pekerjaan Finishing dan Pembersihan


Pekerjaan finishing meliputi pekerjaan pengecatan dan pembersihan
lapangan.

1. Pekerjaan pengecatan dilakukan sesuai dengan SNI 03- tentang


Tata Cara Pekerjaan Pengecatan .

2. Pekerjaan pembersihan lapangan dilakukan untuk mempersiap-


kan rumah siap ditempati.

128 BAB - 05
5.4 Perakitan Risha

5.5
Pemeriksaan Pasca Perakitan Risha
Setelah dirakit, ketepatan dan keakuratan komponen-komponen
Risha harus diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan bahwa
perakitan komponen telah sesuai standar dan presisi.

Pastikan bahwa semua komponen pembentuk bangunan


Risha memiliki presisi yang baik. Penyimpangan ukuran hanya
diperkenankan sebesar 3 mm.

Mewujudkan Risha ldaman 129


5.5 Pemeriksaan Paska Perakitan Risha

5.5.1 Pemeriksaan Pondasi Terpasang


Langkah-langkah:
Pastikan benang selalu berada di atas as panel simpul, baik di sepanjang arah Iebar
bangunan atau di sepanjang arah panjang bangunan

BenanQ oola oalian

As dindino ballQunan

BenallQ oola oalian

PEMERIKSAAN PONDASI TERPASANG

130 BAB- 05
5 5 Pemeriksaan Paska Perak1tan R1sha

5.5.2 Pemeriksaan Balok Sloof Terpasang


Langkah-langkah:
Tempelkan water pass pada permukaan balok sloof secara vertikal dan horisontal
untuk memeriksa kelurusan dan tegaknya balok sloof.

Waterpas ditempelkan bada balok sloof dalam arah


vertikal dan horizontal, posisi gelembung air raksa
harus selalu berada ditengah tabung air raksa

Tempelkan pasekon kayu segitiga siku-siku 100 x 100 em pada setiap sudut
bangunan untuk memeriksa dinding saling tegak lurus.

Pasekon kayu segitaga siku-siku


dengan panjang sisiku-siku 100 x
100 em

Ukur kekencangan baut dengan menggunakan kunci momen.

Mewujudkan Risha ldaman 131


5.5 Pemeriksaan Paska Perak1tan R1sha

5.5.3 Pemeriksaan Kolom Terpasang


langkah-langkah:

1. Gunakan water pass untuk mengukur kelurusan komponen kolom.

2. Gunakan pasekon kayu untuk mengukur kolom tegak lurus terhadap bidang horisontal.
Catatan:

Kekuatan penuh dari sambungan mur baut pada sambungan adalah 5,5
kgm(bila baut-baut tersebut dikencangkan dengan menggunakan kunci mo-
men).
Cara mengencangkan mur baut dengan kunci momen:

- Atur jarum penunjuk pada kunci momen hingga menunjukkan 5,5 kgm atau 2, 75 kgm,
masing-masing untuk Y2 kekuatan dan kekuatan penuh sambungan.

- Gunakan kunci momen yang telah diatur tersebut untuk mengencangkan mur hingga
terdengar "klik" maka penyambung mur baut telah mencapai kekuatan yang diinginkan .

Waterpas ditempelkan pada


permukaan kolom untuk mengukur
kelurusan kolom.
Waterpas gigeser keatas dan
kebawah dan posisi gelembung air
harus berada ditengah tabung air
raksa.

PEMERIKSAAN KOLOM TERPASANG

132 BAB - 05
5.5 Pemenksaan Paska Perakitan Risha

5.5.4 Pemeriksaan Balok Ring Terpasang


Prinsip:

Pengukuran kelurusan dan kerapihan pemasangan balok ring sama seperti yang
dilakukan untuk balok sloof.
Catatan:

Gunakan tangga atau perancah, pada saat melakukan pengukuran.

PEMERIKSAAN BALOK RING TERPASANG

Mewujudkan Risha ldaman 133


5.5 Pemeriksaan Paska Perakitan Risha

5.5.5 Pemeriksaan Kuda-kuda dan Gording


langkah-langkah:

1. Gunakan baut berdiameter 12 mm dan panjang ±20 em untuk pengikat antara kaki kuda-
kuda (balok ampig).

2. Gunakan paku untuk sambungan gording dengan balok kaki kuda-kuda .

3. Pastikan bahwa lubang baut pada kuda-kuda mempunyai diameter dan jarak antar lubang
sesuai dengan ukuran di pedoman teknis.

4. Pastikan bahwa batang kayu kuda-kuda lurus dan tidak bengkok, baik dilihat secara visual
maupun dengan alat penggaris.

PEMERIKSAAN KUDA-KUDA DAN GORDING

134 BAB - 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

5.5.6 Pemeriksaan Penutup Atap dan Lisplang


Prinsip:

Pekerjaan penutup atap dilakukan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaan pekerjaan
lainnya (seperti : pekerjaan pengurugan), pekerja dapat terlindung dari terik matahari.
Catatan :

Gunakan sedikitnya 3 paku dalam satu baris pada setiap 1 lembar asbes atau seng
gelombang .

PEMERIKSAAN PENUTUP ATAP DAN LISPLANG

Mewujudkan Risha ldaman 135


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

5.5. 7 Pemeriksaan lantai dan Pengurugan Bawah lantai


Prinsip:

1. Permukaan lantai paving di dalam ruangan berada 3 em di bawah permukaan balok sloof.

2. Permukaan lantai teras berada 10 em di bawah permukaan balok sloof, dengan luas
sekurang-kurangnya 1 x 1,5 m.

Sisanya ditimbun dengan tanah dan pasir urug.

3. Lebar eelah diusahakan serapat mungkin .

Apabila terdapat eelah, harus tidak lebih dari 0,5 em, dan harus diisi pasir.

Lantai di dalam bangunan Lantai teritisan disekeliling bangunan

/
/

PEMERIKSAAN LANTAI DAN PENGURUGAN BAWAH LANTAI

136 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

5.5.8 Pemeriksaan Panel Dinding, Panel Jendela,


Panel Pintu, dan Panel Ampig
langkah-langkah:
1. Gunakan meteran untuk mengukur Iebar, panjang, maupun ketebalan dari: diameter rangka
panel jendela, panel pintu, dan panel dinding.
Pastikan semua ukuran sesuai dengan gambar teknis.
2. Pastikan bahwa kayu yang digunakan untuk rangka jendela, pintu, panel dinding, dan am-
pig lurus, tidak retak (terutama pada sambungan) dan sudah diserut halus.
Pastikan pula semua dimensi sudah sesuai dengan ketentuan teknis yang disyaratkan.
3. Pastikan bahwa semua siku tegak lurus bila dilihat dengan menggunakan pasekon.
4. Pastikan bahwa diameter lubang baut dan jarak antar baut sesuai dengan gambar pedoman
teknis.
5. Pastikan bahwa ketebalan hardplek atau triplek sesuai dengan ketentuan teknis.
6. Pastikan bahwa diameter kaca sesuai dengan diameter pada gambar teknis/gambar kerja .
7. Pastikan bahwa pada saat pemasangan tidak terdapat celah antar panel.
Bila terdapat celah, maka celah tidak boleh lebih dari 3 mm.

Mewujudkan Risha ldaman 137


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

138 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

5.6
Pemeliharaan Bangunan Risha
Pemeliharaan merupakan suatu cara atau teknik yang tepat untuk
menjaga kondisi/ komponen bangunan agar selalu dalam keadaan
prima sesuai dengan fungsinya .

Pemeliharaan bangunan Risha didasarkan kondisi terakhir bangu-


nan/ komponen bangunan Risha.

Mewujudkan Risha ldaman 139


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

5.6.1 Pemeliharaan Pondasi Bangunan


Pondasi bangunan berfungsi menahan beban bangunan yang ada di atasnya.
Prinsip Pemeliharaan :

1. Usahakan agar bangunan atau bagian yang dekat dengan badan pondasi bersih dari akar
pohon yang dapat merusak pondasi.

2. Usahakan agar tidak ada air yang menggenangi badan pondasi.

3. Jaga dasar pondasi dari penurunan yang melebihi persyaratan yang berlaku.

4. Usahakan drainase sekitar bangunan telah dirancang dan berjalan dengan baik selama ban-
gunan dioperasikan .

5. Jaga dasar pondasi sedemikian rupa sehingga air yang mengalir di sekitar pondasi tidak
mengikis tanah sekitar pondasi

5.6.2 Pemeliharaan Struktur Bangunan Beton


Bagian bangunan yang menggunakan Panel Struktur P1 , P2, dan Simpul pada bagian sloof,
kolom, balok dan kuda-kuda biasanya mengalami terpaan cuaca panas dan matahari. Kondisi
tersebut dapat menyebabkan retak rambut pada konstruksi beton sehingga air hujan aka n
meresap ke dalamnya.
Pemeliharaan yang Dilakukan:

1. Bersihkan kotoran yang menempel pada permukaan beton secara merata.

2. Cat kembali dengan cat emulsi atau cat yang tahan air dan asam pada permukaannya.

3. Untuk bagian kolom panel struktur P1 dan P2 yang rontok karena terkena benturan benda
keras:

Bersihkan dan buat permukaan tersebut dalam keadaan kasar, kemudian beri lapisan air se-
men dan plester kembali dengan spesi/mortar semen-pasir.

4. Pada retakan panel beton, dapat digunakan bahan epoxy grouts dengan sistem injeksi.

5. Pada permukaan panel/selimut beton, dapat diberi lapisan/overlay dengan lapisan pencam-
pur epoksi mortar yang tahan air.*)
Catatan:

*) Pemberian lapisan poin 5) dilakukan pada permukaan yang telah bersih dari : kotoran, sisa
bahan bangunan, bekas cat debu agar perekatan antara bahan pelapis dengan permukaan
beton menjadi sempurna.

140 BAB - 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

Pelengka p:

Pada bangunan Risha yang menginginkan komponennya diekspos (expose concrete) ,


seperti pada dinding luar bangunan, lapisan luar komponen panel.

Pemeliharaan yang dilakukan :

1. Bersihkan permukaan dinding dengan menggunakan sabun.

Bilas sampai bersih.

Lakukan sekurang-kurangnya 6 bulan sekali.

2. Lakukan pemberian cat transparan dengan warna " dof/unglossy" pada permukaan yang
ada sekurang-kurangnya 2 lapis.

5.6.3 Pemeliharaan Panel Partisi Masif, Partisi Jendela, dan Partisi Pintu
A. Rangka Partisi Kayu

Rangka panel partisi dengan kayu dipergunakan hanya pada komponen arsitektur/ interior.

Bagian ini perlu dipelihara agar interior bangunan tidak terkesan kusam.
Pemeliharaan yang dilakukan :

1. Bersihkan bagian permukaan kayu dari debu secara periodik, sekurangnya 1 bulan sekali.

2. Bila warna telah kusam karena usia pemakaian yang lama, lakukan pembersihan pada per-
mukaan .

Rawat permukaan yang telah dibersihkan dengan menggunakan politur atau teakoil yang
sesuai.

Lakukan dengan menggunakan kuas dan atau kain kaos secara merata beberapa kali berla-
pis.

B. Penutup Partisi Dalam dengan Kayu Lapis

Partisi bagian dalam yang ditutup oleh kayu lapis dengan finishing cat kayu.
Langkah-langkah pengecatan kembali setelah beberapa kali dicat ulang :

1. Tutup bagian yang tidak rata dengan plamuur kayu.

Ampelas dan berikan cat dasar.

2. Dapat menggunakan cat dasar minyak untuk kayu dan besi (alkyd gloss enamel, protective
coating), cat polyurethane atau epoksi untuk kayu .

3. Cat kembali dengan warna yang sesuai sebagai finishing akhir.

Mewujudkan Risha ldaman 141


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

C. Penutup Partisi Luar Kedap Air/Calsiboard

Dinding dengan lembaran panel umumnya memiliki ketebalan yang cukup tipis, sehingga lebih
mudah retak atau pecah bila terkena benturan, dan mudah basah atau kering bila terkena air.
Pemeliharaan yang dilakukan:

1. Beri cat minyak pada permukaan panel partisi.

Minimal tinggi 80 em dari sloof/panel P1 agar air tidak mudah meresap pada bagian lemba-
ran panel.

2. Beri mortar pada eelah antara lembaran panel dengan sloof/panel P1 agar tertutup, sehing-
ga lembaran terlindung dari aliran air.

Lakukan pengeeatan 1 tahun sekali.

D. Dinding Bata/Batako

Dinding pengisi hanya berfungsi sebagai partisi dan tidak bersifat sebagai penahan beban/ wall
bearing.

Pemeliharaan dinding tergantung dengan kondisi kerusakan yang dialami dinding.


Pemeliharaan pada dinding rembes air atau selalu basah:

1. Hilangkan plesteran dinding terlebih dahulu.

2. Ukur sekitar 15- 30 em dari panel P1/sloof dinding yang ada ke arah vertikal.

3. Korek dengan sendok mortar atau alat pahat, dan sebagainya pada ruang yang terdapat di
antara batu bata, setebal setengah dari ketebalan bata dengan arah horisontal sepanjang 1
m.

4. Gantikan mortar yang telah dikorek dengan mortar kedap air (eampuran 1 Pe : 3 Psr).

5. Bila telah mengering, lanjutkan ke arah horisontal.

6. Bila telah selesai 1 sisi dinding, lakukan pada sisi yang lain dengan hal serupa.

7. Plester kembali dinding dengan eampuran yang sesuai.


Pemeliharaan pada dinding retak:

1. Untuk retak rambut:

Korek bagian permukaan dinding.

Tambal dengan saus semen atau gunakan semen grouting khusus untuk retakan dinding.

2. Untuk retak konstruksi karena terjadi perubahan bentuk struktur utama bangunan:

Perbaikan yang dilakukan adalah perbaikan struktur atau perkuatan bagian struktur yang
bersangkutan.

142 BAB- 05
5 6 Pemenksaan Bangunan Risha

5.6.4 Pemeliharaan Cat


Cat dinding luar bangunan penting untuk penampilan bangunan.
Prinsip:

1. Sebaiknya dilakukan pengecatan ulang pada tembok bangunan setiap 2 atau 3 tahun.

2. Dapat menggunakan cat dasar tahan air.

3. Luar bangunan dapat menggunakan cat weather coat atau elastomeric wall coating.
Catatan :

Pemeliharaan cat juga harus dilakukan bila terjadi kerusakan cat pada bangunan.

A. Cat Menggelembung (blistering)

Penyebab cat menggelembung:

a. Pengecatan pada permukaan yang belum kering.

b. Pengecatan terkena terik matahari langsung .

c. Pengecatan atas permukaan yang lama sudah terjadi pengapuran .

d. Pengecatan atas permukaan yang kotor dan berminyak.

e. Bahan yang dicat menyusut/memuai karena permukaan yang dicat mengandung air atau
menyerap air.
Cara perbaikan :

1. Kerok lapisan cat yang menggelembung atau mengelupas.

2. Bersihkan dan haluskan permukaannya dengan kertas ampelas, hingga permukaan rata,
halus, dan kering.

3. Beri lapisan cat baru hingga seluruh permukaan tertutup rata.

B. Cat Berbintik (bittiness)

Penyebab cat berbintik:

a. Debu atau kotoran dari udara atau kuas/alat penyemprot kering sempurna.

b. Ada bagian-bagian cairan yang sudah mengering ikut tercampur/teraduk.


Cara perbaikan:

1. Tunggu lapisan cat sampai kering sempurna .

2. Gosok permukaan yang akan dicat dengan kertas ampelas halus dan bersihkan .

3. Beri lapisan cat yang baru hingga permukaan tertutup rata.

Mewujudkan Risha ldaman 143


5.6 Pemenksaan Bangunan Risha

C. Cat Retak-retak (crazing/cracking)

Penyebab cat retak-retak:

a. Umumnya terjadi pada lapisan cat yang sudah lama karena elastisitas berkurang.

b. Pengecatan pada lapisan cat pertama yang belum cukup kering.

c. Cat terlampau tebal dan pengeringan tidak merata.


Cara perbaikan:

1. Keroklah seluruh lapisan cat

2. Haluskan permukaannya dengan kertas ampelas, kemudian bersihkan.

3. Beri lapisan cat yang baru hingga permukaan tertutup rata.

D. Cat Berubah Warna (discoloration)

Penyebab perubahan warna cat:

a. Pigmen yang dipakai tidak tahan terhadap cuaca dan terik matahari.

b. Adanya bahan pengikat (binder) bereaksi dengan garam-garam alkali.


Cara perbaikan:

1. Pilih jenis cat lain

2. Lakukan kembali persiapan permukaan.

3. Lapisi dengan cat dasar (tahan alkali)

E. Cat Sukar Mengering (discoloration)

Penyebab cat sukar mengering:

a. Pengecatan dilakukan pada cuaca yang tidak baikl kurangnya sinar matahari.

b. Pengecatan pada permukaan yang mengandung lemak (wax polish), minyak atau berdebu.

144 BAB- 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

Cara perbaikan:

1. Hilangkan seluruh lapisan cat.

2. Bersihkan dan biarkan permukaan mengering.

3. Cat ulang dalam keadaan cuaca baik.

4. Seluruh lapisan cat dibersihkan.

5. Beri lapisan cat yang tahan alkali.

F. Cat Bergaris-garis Bekas Kuas (brush marks)

Penyebab cat bergaris-garis bekas kuas:

a. Kuas diulaskan terus pada saat cat mulai mengering.

b. Pemakaian cat terlalu kental.

c. Pemakaian kuas yang kotor.


Cara perbaikan:

1. Gosok lapisan cat yang mengering dengan ampelas.

2. Bersihkan dan dicat dengan cara pengecatan yang benar.

3. Cat ulang dengan cat yang kekentalannya cukup.

G. Daya Tutup Cat Berkurang (poor opacity)

Penyebab daya tutup cat berkurang:

a. Cat yang terlalu encer.

b. Pengadukan kurang baik.

c. Permukaan bahan yang akan dicat terlampau berpori-pori.


Cara perbaikan:

1. Encerkan cat sesuai anjuran.

2. Aduk cat secara merata.

3. Ulangi pengecatan sampai cukup rata.

Mewujudkan Risha ldaman 145


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

H. Lapisan Cat Menurun pada Beberapa Tempat (sagging)

Penyebab lapisan cat menurun pada beberapa tempat:

a. Pengecatan dilakukan tidak merata.


Cara perbaikan:

1. Biarkan cat mengering dengan baik.

2. Ratakan bagian-bagian yang menurun dengan kertas ampelas.

3. Lakukan pengecatan ulang.

I. Cat Kurang Mengkilap dari yang Seharusnya (loss of gloss)

Penyebab cat kurang mengkilap dari yang seharusnya:

a. Pengecatan dilakukan pada permukaan yang mengandung minyak atau lilin.

b. Pengecatan pada saat cuaca kurang baikllembab.

c. Pengecatan dilakukan pada cat yang sudah tua atau mulai mengapur.
Cara perbaikan :

1. Ampelas dan ulangi pengecatan pada lapisan cat yang sudah tua/kurang mengkilap.

2. Kerok seluruh lapisan cat dari permukaan sebelum melakukan pengecatan baru.

3. Untuk pengecatan dinding dalam bangunan dapat digunakan cat dengan vinyl silk.

5.6.5 Pemeliharaan Atap


A. Atap Seng, Fiber Semen dan Betumen Gelombang

Cara pemeliharaan:

1. Penutup atap dari bahan seng gelombang, sebaiknya dilakukan pengecatan dengan meni
sekurang-kurangnya setiap 4 tahun sekali .

2. Periksa paku atau anker pengikat, terutama pada karet seal untuk mencegah bocor

3. Ganti karet bila rusak .

4. Cat kembal i permukaan seng dengan meni secara rata .

146 BAB - 05
5.6 Pemenksaan Bangunan R1sha

B. Atap Genteng Metal

Cara pemeliharaan:

1. Bersihkan permukaan atas genteng metal dari kotoran secara periodik agar tidak berkarat.

2. Lakukan pemeriksaan setiap bulan.

3. Bersihkan dengan air dan sikat permukaan yang ada agar tampilan selalu rapi.

C. Atap Genteng Keramik

Cara pemeliharaan:

1. Periksa atap genteng keramik terutama pada bubung genteng, setiap 6 bulan

2. Bila terdapat retak:

Bersihkan permukaan dengan sikat sehingga bersih dari kotoran.

Segera tutup dengan cat anti bocor yang tahan cuaca.

3. Cat kembali pertemuan bubung genteng keramik dengan cat genteng yang sewarna.

4. Pastikan bahwa retakan pada bubung bukan karena penurunan kayu penyangga.

Bila karena penurunan kayu penyangga, sebaiknya konstruksi kayu penyangga tersebut
diperbaiki terlebih dahulu.

D. Atap Fiberglass

Cara pemeliharaan:

1. Periksa atap fiberglass terutama pada sambungan antar komponen fiberglass, setiap 6 bu-
lan.

2. Bersihkan kotoran yang melekat dengan menggunakan sikat yang lembut dan sabun atau
deterjen.

3. Bila terdapat retak:

Segera tutup dengan cat anti bocor.

Mewujudkan Risha ldaman 147


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

E. Listplank Kayu

Cara pemeliharaan:

1. Periksa listplank kayu setiap 6 bulan.

2. Bersihkan kotoran yang melekat dengan menggunakan sikat yang lembut dan sabun atau
deterjen.

3. Bila terdapat retak:

Retak ditutup dengan plamuur kayu.

Cat kembali.

4. Perbaikan yang sempurna dapat dilakukan dengan:

Mengerok sampai habis cat lama yang melekat.

Ampelas dan cat kembali dengan cat dasar serta cat penutup khusus untuk kayu.

5.6.6 Pemeliharaan Saniter


A. Saluran Air Kotor

Cara pemeliharaan:

1. Periksa saluran tegak air kotor pada bangunan, terutama saluran yang menggunakan bahan
PVC.

Periksa pada setiap sambungan yang menggunakan lem sebagai penyambungnya.

2. Bila ditemui terdapat kebocoran, segera tutup kembali .

3. Perbaiki kebocoran saluran air kotor pada sekitar bangunan :

Lem kembali dengan lem PVC sejenis dengan pipa atau balut dengan karet bekas ban dalam
motor untuk emergensi sehingga aliran tidak bocor.

Jalankan kembali aliran air bersih yang ada.

148 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

Cara Perbaikan Kebocoran:

Buat kasar permukaan yang retak atau ujung sambungan dengan menggunakan ampelas kasar.

Beri Iem PVC.

B. Kloset Duduk, Kloset Jongkok

Cara pemeliharaan:

1. Bersihkan setiap hari dengan sabun atau bahan pembersih lain yang tidak korosif.

2. Gosok dengan span plastik atau gunakan sikat yang lembut.

3. Bilas dengan air bersih.

4. Keringkan dengan kain lap yang bersih.

5. Lengkapi dengan tempat sampah ruangan kamar mandi yang tersedia.

C. Kran Air Ding in, Kran Air Panas

Cara pemeliharaan:

1. Periksa kran yang ada, sekurang-kurangnya setiap 2 bulan sekali.

2. Kencangkan baut pengencang putaran kran.

3. Ganti (bila perlu) seal/karet pada batang putar ulir kran.

4. Jangan gunakan bahan pembersih keramik untuk membersihkan lapisan pernekel agar
lapisan tersebut tidak rusak.

D. Septik Tank

Cara pemeliharaan:

1. Cegah setiap pembuangan bahan yang tidak larut ke dalam septik tank.

2. Jangan membuang air bekas mandi yang mengandung sabun atau deterjen ke dalam septik
tank.

3. Periksa bak kontrol, bila septik penuh.

4. Sedot setiap 6 bulan sekali.

Mewujudkan Risha ldaman 149


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

E. Talang Tegak dan Datar

Cara pemeliharaan:

1. Periksa talang datar pada atap bangunan setiap 1 tahun sekali.

2. Bersihkan talang datar dari kotoran.

Bersihkan dari bahan yang korosif terhadap seng talang datar.

3. Bersihkan lapisan meni setiap 2 tahun sekali agar seng talang tetap awet dan berfungsi baik.

4. Cat kembali talang tegak yang terbuat dari pipa besi atau PVC, sekurang-kurangnya 4 tahu n
sekali.

F. Saringan Air Lantai

Cara pemeliharaan:

1. Periksa saringan air yang terdapat pada lantai kamar mandi atau WC setiap hari .

2. Usahakan selalu terdapat air pada saringan yang bersangkutan untuk mencegah masuknya
hawa yang tidak sedap dalam ruangan (kamar mandi).

3. Perbaiki atau ganti tutup saringan bila telah rusak.

4. Bersihkan saringan air dari bahan yang menempel pada lubang ujung saluran .

5. Bersihkan saringan air lantai bila telah kotor.

5.6. 7 Pemeliharaan lantai


A. Lantai Keramik

Cara pemeliharaan :

1. Bersihkan permukaan lantai keramik dari kotoran setiap hari.

2. Bersihkan goresan ringan dengan menggunakan ampelas halus dengan sedikit air di atas
lantai.

3. Keringkan kembali permukaan.

4 . Tidak disarankan membersihkan permukaan dengan menggunakan air keras ka rena dapat
menyebabkan permukaan kusam.

150 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

B. Lantai Teraso

Cara pemeliharaan:

1. Bersihkan permukaan lantai teraso dari kotoran setiap hari dengan floor polishing machine.

2. Bersihkan goresan ringan dengan menggunakan ampelas halus dengan sedikit air di atas
lantai.

3. Keringkan kembali permukaan.

4. Tidak disarankan membersihkan permukaan dengan menggunakan air keras karena dapat
menyebabkan permukaan kusam.
Catatan:

Untuk menjaga permukaan teraso tetap mengkilap dan bersih:

Bersihkan permukaan dari kotoran.

Gosok dengan semir khusus teraso. Lakukan secara rutin setidaknya 3 bulan sekali.

C. Lantai Dilapisi Karpet

Cara pemeliharaan:

1. Bersihkan permukaan lantai keramik dari kotoran setiap hari dengan mesin penyedot debu.

2. Bila terdapat noda kotoran, bersihkan dengan air deterjen.

3. Keringkan kembali permukaan.

Mewujudkan Risha ldaman 151


5 6 Pemenksaan Bangunan Risha

D. Lanta1 Plasteran Semen Bertekstur dan Lantai Batu Kal i

Cara pemeliharaan :

1. Bers1hkan permukaan lantai dari kotoran setiap hari .

2. Semprot dengan air bertekanan agar kotoran pada sela tekstur lan tai hilang .

3. Keringkan kembali permukaan .

4 . Tidak disarankan membersihkan permukaan dengan menggunakan air keras karena dapat
menyebabkan permukaan kusam .

5.6.8 Pemeliharaan Langit-langit


A. Plafond Tripleks

Plafond tripleks akan rusak terutama pad abag ian luar bangunan setelah lebih dari 10 tahun pemakaian.
Cara pemeliharaan:

1. Bersihkan plafond tripleks dari kotoran yang melekat seku rangnya 3 bulan sekali.

2. Gunakan sikat atau kuas sebagai alat pembersihan .

3. Bila plafond rusak karena permukaan kebocoran air, segera ganti yang baru.

4. Bila mungkin, bekas bocoran ditutup dengan cat kayu dan cat kembali dengan cat emulsi/
cat tembok serupa.

Kerok cat lama.

Lakukan pengecatan ulang sebagai perbaikan.

B. Plafond Gypsum

Prinsip:

Perhatikan plafond yang berbahan gypsum pada sisi luar bangunan .

Bil a plafond gypsum terkena air dari bocoran atap, segera ganti baru atau perbaiki.

152 BAB - 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

Cara perbaikan:

1. Korek bagian yang telah rusak karena air.

2. Tutup dengan bahan gypsum powder yang telah diaduk dengan air.

3. Ratakan dengan menggunakan penggaris atau alat perata dari tripleks atau plastik keras
sampai rata dengan permukaan sekitarnya.

4. Tunggu hingga kering.

5. Ampelas dengan ampelas halus no.2

6. Tutup dengan plamuur tembok dan cat kembali sesuai dengan warna yang dikehendaki.

5.6.9 Pemeliharaan Kusen, Pintu, Engsel, dan Kunci


A. Kunci. Gerendel, Engsel

Cara pemeliharaan :

1. Periksa keadaan kunci, gerendel dan engsel pada pintu yang penggunaannya tinggi (seperti:
pintu keluar, pintu ruangan, pintu kamar, dan sebagainya).

2. Lumasi bagian yang bergerak dengan pelumas, sekaligus untuk menghilangkan ka rat yang
terbentuk karena kotoran dan cuaca/debu .

3. Lakukan pelumasan sekurangnya 2 bulan sekali.

4. Gunakan pelumas yang sesuai, yaitu pelumas pasta atau pelumas cair lainnya.

Mewujudkan Risha ldaman 153


5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha

B. Kusen Kayu

Cara pemeliharaan:

1. Bersihkan kusen kayu dari debu yang menempel setiap hari.

2. Bila kusen dipolitur,

Usahakan melakukan polituran kembali secara periodik, setiap 6 bulan sekali, untuk memeli-
hara permukaan.

3. Bila kusen dicat dengan cat kayu,

Usahakan pembersihan dengan deterjen atau sabun.

Gunakan spon untuk membersihkannya.

5.6.1 0 Pemeliharaan Sistem Sambungan


Sistem sambungan teknologi Risha menggunakan sistem sambungan kering dengan mur, baut,
dan plat.

Gangguan yang paling utama dalam sistem sambungan adalah pengurangan dimensi.

Untuk menghindari pengurangan dimensi yang terlalu cepat dan berlebihan, maka mur, baut,
dan plat diwajibkan menggunakan jenis galvanis.
Cara pemeliharaan :

1. Untuk memperpanjang usia sistem sambungan:

Lindungi sistem sambungan mur, baut, dan plat dengan cat minyak.

Perbarui cat setiap 1 tahun sekali.

2. Bila mur, baut, dan plat terlanjur mengalami korosi, segera oleskan anti karat *)

3. Bila mur, baut, dan plat telah mengalami gradasi yang lebih dari 10%, segera ganti dengan
yang baru.

4. Bila terdapat celah pada bagian sambungan antara panel struktur yang akan menyebabkan
air dan udara dapat keluar masuk pada bagian celah dan mengakibatkan korosi pada bagian
baut, segera tutup celah dengan cairan semen .

154 BAB - OS
Catatan 1:

perlindungan karat *)

a) Bersihkan bagian yang berkarat dari kotoran dan debu karat dengan cara mengupas
karat serta membersihkannya dengan sikat.

b) Oleskan larutan anti karat secukupnya dengan menggunakan kuas.

c) Biarkan sampai kering dan bila diperlukan dapat ditambahkan lagi secukupnya.
Catatan 2:

Untuk alat sambung di atas permukaan tanah:

a. Kondisi baut harus dalam keadaan kencang. Kekencangan setara 5 kgm untuk baut
struktural, sedangkan baut non struktural cukup hanya dengan dieratkan biasa.

b. Seluruh baut perlu dilakukan pengecekan minimal 10 tahun sekali untuk memastikan
kekencangan dan diameter masih dalam toleransi.
Catatan 3:

Untuk Risha permanen:

Mur, baut, dan plat pada sloof dan pondasi (panel P1 dan simpul) ditutup dengan mor-
tar kedap air secukupnya, kurang lebih setebal 10 em.

Anda mungkin juga menyukai