Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha)
Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha)
RISHA
Tim Penyusun :
lr. Arief Sabaruddin, CES
Nana Puja Sukmana ST
Tim Penyunting :
Prof. DR. lr. Suprapto, MSc, FPE
lr. Johnny Rakhman, Dipl. [Link]
Rani Widyahantari, ST
Yuri Hermawan, ST, MT
Ade Erma, ST, Mec. Dev.
lr. Ida Yudiarti MT
lr. Budiono Sundara
iii
Daftar lstilah
ustrialisasi Komponen
I Risha
04 Merencanakan Perumahan Sistem Risha
4.1 Pertimbangan Perencanaan Site
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan
4.3 Ketentuan Lokasi Perumahan Sistem Risha
4.4 Ketentuan Kepadatan Kawasan
4.5 Ketentuan Komposisi Peruntukan
4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
4.8 Ketentuan Pola Kapling dan Penataan Pola Jalan
4.9 Ketentuan Pengolahan Lahan Berkontur
5.6
odul Risha ini disusun untuk menjawab kebutuhan
Bandung, 2015
Penyusun
vi
vii
Agregat
adalah bahan pengisi adukan beton yang terdiri dari pasir dan kerikil.
PaneiAtap
adalah panel sebagai dinding pengisi yang permukaanya tertutup
dan tidak tembus pandang, sehingga panel ini digunakan sebagai
panel pemisah ruangan.
lkatangin
adalah suatu bahan kayu olehan yang terbuat dari bahan potongan
kayu tipis yang Iem bersama dengan jumlah lapisan tertentu.
Kuda-kuda
adalah suatu bidang yang digunakan sebagai pemisah ruangan,
dapat juga dilalui maupun tembus pandang.
Panel
adalah suatu bidang yang digunakan sebagai pemisah ruangan,
dapat juga dilalui, maupun tern bus pandang.
Resin
adalah suatu cairan kimia yang memberikan bentuk dan akan
mengeras apabila dicampurkan dengan bahan katalis.
Risha
adalah kependekan dari Rumah lnstan Sederhana Sehat, merupakan
teknologi konstruksi dari RSH (Rumah Sederhana Sehat) mengacu
pada Kepmen Kimpraswil No. 403/ 2002.
viii
Rumah instan
adalah rumah yang dibangun dengan sistem pabrikasi komponen-
komponennya, selanjutnya komponen-komponen tersebut dirakit
di lapangan tanpa mengalami modifikasi terhadap komponen-
komponen tersebut.
Rumahinti
adalah unit rumah dengan satu ruang serbaguna yang selanjutnya
dapat dikembangkan oleh penghuni.
Simpul
adalah komponen Risha yang berfungsi sebagai joint dari panel-panel
STR 1 dan STR 2 serta dengan kuda-kuda.
Ukuran modular
adalah ukuran yang mengacu pada modul M, sesuai dengan SNI-
Ukuran modular.
Wire mash
adalah kawat yang dibuat bersilangan membentuk kotak dengan cara
dilas.
ix
01
Menjawab Pemenuhan
Kebutuhan Rumah
Dengan RISHA
1.1. Mengenal Rumah lnstan Sederhana Sehat (Risha)
1.2. Keunggulan Risha
1.3. Pemanfaatan Risha
umah merupakan kebutuhan dasar masyarakat, namun
1.1
Mengenal Rumah lnstan Sederhana
Sehat (Risha)
Akronim D c. . .
RISHA e •• niSI
[Link]
4 BAB · 01
1.2 Keunggulan Risha
1.2
Keunggulan Risha
2. Cepat
6. Berkualitas
Teknologi Risha menggunakan sistem cetak sehingga
menghasilkan produk dengan ukuran dan spesifikasi yang
sama. Kualitas produk teknologi Risha terjamin karena mengacu
pada ketentuan yang berlaku dalam Standar Nasionallndonesia
(SNI).
6 BAB - 01
1.3 Pemanfaatan Risha
RISHA
Estetika
1.3
Pemanfaatan Risha
Penggunaan teknologi Risha lebih ditujukan untuk pembangunan
rumah sederhana sehat bagi masyarakat berpenghasilan rendah
(MBR), penanganan perumahan pengungsi atau rumah darurat,
dan dapat digunakan untuk pembangunan bangunan tidak
permanen, seperti direksi kit.
10 BAB - 01
1.3 Pemanfaatan Risha
Partisi Pintu
Komponen RISHA
Komponen
non Komponen
struktural atap
Kamarmandi
Kamarmandi
2.1
Komponen Struktural Risha
Komponen struktural adalah komponen yang mendukung
berdirinya bangunan (rumah tinggal). Jika komponen struktural
dihilangkan, maka bangunan akan terjadi kerusakan dan tidak
dapat berfungsi sebagai mana mestinya. Komponen struktural
dibagi menjadi tiga sistem, yaitu: sistem pondasi, sistem rangka,
dan sistem atap. Pada teknologi Risha, komponen struktural utama
terdiri dari 3 panel, yaitu: 1) panel struktural tipe 1 (P1 ), 2) panel
struktural tipe 2 (P2), dan 3) panel simpul atau penyambung (P3).
Ketiga panel Risha tersebut merupakan bagian darisistem rangka.
14 BAB- 02
2 1 Komponen Struktural Risha
Lebar · 30 em Lebar: 20 em
~ =~~~,;_~
:::!~:~~~ .~~=-~··==r=·=-~~·~~
J!. ~ J t" · ~~ 1 4 r
~ .
L..
----------- . uoo
TAMPAKATAS
.....
Besl+6nvn - 8bh
-.. J
RANGKAIAN TUlANGAN PANEL
- - • - T ·- 100 -- - -- Ioo - ~
~ ~~:~;';=~--~.:.-;-;; ____~t-··-······-·····
:. ._::
• ~~-----~·-:o···c;:-~·::=::--==:::-:7-::--·~=-
---- ...
-:-:--;- --:-;;;;:-:-; ::·
= .. -.......::.... :..:.:..
. -· - .
-,
'-"'
.
. -· ..
···········-----------------·-··--,-
il
-
• !
-~· . r
TAMPAK SAMPING
RANGKAIAN lUlANGAN PANEL --~
_,._ ' '
' . "'
hsi tlmm • lbtl Besl+8nvn - 4bh
.I •
-=---..,.--1----
PENULANGAN PANEL RJSHA TIPE-2
:--
01
-:--
Gombar teknik panel struktur Pl
hsllxlt lnwn
-:::F=-,
t f'"i"
r.- 1" ~
~:J -· G
(., ~ j !._ _!':
- " •: _.!._'
TAMPAK SAMPJNG
RANGKAIAN lUlANGAN PANEL
!
:~--
Besi+Smm02bh
leRtl.- - lbft
•
- ' j
____
Besl+6mm - 6 bll
16 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha
Ketentuan
Panel Penyambung
Uk uran
Ukuran Berbentuk L
Tebal : 2,5 em
Lebar: 30 em
Tinggi: 30 em
Frame • Ukuran 6 em x 10 em: mengelilingi semua (6) sisi
Angker • Lubang angker pada frame berdiameter 16 mm
JOO .JlO
llS - 82.S -
* !1:·-
~
:: ::-
gt
!!
!: !l
:: ...
~ 1 ri -
- 100 200 - 100 200
TAMPAK TAMPAK
PANELPENGHUBUNG PEMBESIAN PANEL
-50-50-
~ !h
2
. ~
~
:1 ~
• • ~
•
:: - eo -
- eo -
::
lrf
• ~ •
.ft
"- 2
- 100 200
JOO
_,._,.,_
PENAMPANG CETAKAN
PANEL PENGHUBUNG PANEL PENGHUBUNG
18 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha
8
(")
1
penulangan pokok
dan sengkang 2 pemasangan tulangan
dalam cetakan
pembukaan
3 pelaksanaan
4 cetakan
perawatan •
5 bet on
20 BAB - 02
2. 1 Komponen Struktural Risha
3 4
Pengadukan Pengecoran
dan
Pemadatan
1. Persiapan
1) Bahan agregat
22 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha
b. Penyiapan Lokasi
2. Penakaran
Penakaran bahan (pasir, kerikil, semen portland, dan air)
didasarkan pada penakaran berat yang direncanakan
dengan nilai slump sebesar ±100 mm.
Proses penakaran
3. Pengadukan
Ketentuan dalam pengadukan adalah sebagai berikut:
a) Beton harus diaduk sedemikian hingga tercapai
penyebaran bahan yang merata dan semua hasil
adukannya harus dikeluarkan sebelum mesin
pengaduk diisi kembali.
Proses pengadukan
24 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha
26 BAB - 02
2.1 Komponen Struktural Risha
2.1
Komponen Atap
Komponen st ruktur atap berupa kuda-kuda, yaitu rangka yang
menopang atap. Kuda-kuda yang d igunakan dalam teknologi
Risha dibuat dari bahan kayu.
ang
digunakan
adalahkayu
kelas II
Kayukamper Kayuborneo
28 BAB - 02
2 2 Komponen Atap
Untuk satu kuda-kuda menggunakan tiga batang. Dua batang tetap utuh,
sedangkan pada bagian atas dipotong sehingga saling bertemu dengan
pola potong 1
2 Batang ketiga dipotong dengan mengikuti pola potong 2 (memotong
diagonal), pola potong 3 (diagonal pendek), dan pola potong 4 (membagi
dua)
3 Sisa potongan ditempatkan sebagai klos pada bagian puncak batang 1 dan
2 pada sisi potongan 1 dengan cara memutar bagian potongan ditempat-
kan pada sisi bawah.
··:.
'
/
'
• I
KUDA-KUDA
DETAil. 2 KUOA~UDA
DETAL t KUDA~UDA
2.3
Komponen Pondasi
Sistem Risha juga diperlukan pondasi untuk menjaga agar panel
sruktural Risha dapat berdiri tegak dan menapak tanah dengan
baik atau tidak mudah bergeser.
2.4
Komponen Non Struktural
Komponen non struktural adalah komponen yang berfungsi
untuk menjalankan fungsi rumah sebagai tempat berlindung
dan memberi kenyamanan bagi penghuni. Jenis komponen non
struktural, yaitu: panel masif (dinding), panel jendela, dan panel
pintu.
30 BAB- 02
2.4 Komponen Non Struktural
! Panel
1 Persyaratan Masif
.,
"'
~
j N
"'"'
I I
-- J
120
TAMPAK SAMPING
TAMPAK DALAM
-- J
120
TAMPAK MUKA
32 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural
3/5
POTONGAN A-A
- - 3 Baut+ IOmm
T =0.5 - 0.6 mm
DETAIL -I
2 Periksa sambungan rangka-rangka panel (harus rapi, tegak lurus, dan tidak ter-
dapat celah-celah).
3 • Pasang panel penutup (kalsiboard, GRC, atau kayu lapis/ bambu anyam) tepat
masuk ke dalam rangka dan diberi sedikit kelonggaran untuk penyusutan .
• Setiap pemasangan penutup panel harus diberi nat dan dilem serta diskrup.
5 • Pasang kalsiboard, GRC, atau kayu lapis/ bambu anyam sedemikian sehingga
tidak bocor, tertanam rapi dan kokoh .
• Bersihkan dan keringkan (dengan lap) bahan panel penutup yang telah
terpasang
6 Berikan alur-alur air pada permukaan rangka panel yang berhubungan dengan
panel struktur kolom/ balok
7 • Berikan lubang untuk angker pada sisi rangka panel (dipasang pada rangka
panel struktur dan sesama panel pengisi)
• Diameter baut yang akan digunakan untuk memasang panel adalah 10 mm
34 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural
~
I '"'
...,
i
I I
) -- 5HO
-- )
, lv
TAMPAKMUKA
3/5
'~~h......
0::![Link]?""'w-~JI/ ~
POTONGAN A-A
- - 3
Baut 4> 10 mm
I '
\
T = 0.5 - 0.6 mm
DETAIL- I
36 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural
1 Sambungkan rangka daun jendela dan rangka panel dengan menggunakan paku
atau pasak.
Pasang penutup panel (calcium silica board, calsiboard, GRC, kayu lapis/ bambu
anyam) dengan menggunakan lem dan diskrup.
2 Pastikan sambungan pada rangka-rangka panel telah rapi, tegak lurus, dan tidak
terdapat celah-celah.
Panel calcium silica board, calsiboard, GRC, kayu lapis/ bambu anyam atau bahan
yang setara dipasang secara tepat masuk ke dalam ra ngka dan diberi sedikit
kelonggaran (ruang) untuk penyusutan.
Pastikan setiap penutup panel yang terpasang telah diberi nat dan dilem serta
diskrup.
Sisi rangka panel diberi lubang untuk angker baut, yang dipasangkan pad a rangka
panel struktur dan sesama panel pengisi.
Diameter baut yang digunakan untuk memasang panel berukuran 10 mm.
Pastikan rangka jendela memiliki kondisi yang kaku, lurus, kokoh, dan rata agar
mudah dibuka dan ditutup.
Bahan penutup jendela yang terbuat dari bahan kaca dengan rangka papan kayu
harus memiliki kualitas baik, float glass, bening, dan tidak bergelembung, serta
dapat menahan angin berkekuatan 122 kg/ m 2
Kaca yang digunakan untuk jendela kaca, jendela, dan bovenlight memiliki tebal
3mm.
Kaca dipasang secara tepat dan memberi sedikit kelonggaran (ruang)untuk
penyusutan.
Setiap pemasangan harus diberi list.
Finishing harus dilakukan dengan rapi agar tidak menimbulkan bunyi ketika
terti up angin.
Engsel untuk jendela yang berhubungan dengan bagian luar maupun dalam
menggunakan engsel cabut tipe H, setara arch, ukuran 2 1f2'' x 3':
Setiap daun jendela dipasang sebanyak 2 buah.
1 hak angin terbuat dari logam (besi lapis kuningan/ tembaga) dengan ukuran
panjang 25 em dipasang pada setiap daun jendela pada bag ian tengah.
1 buah slot dengan ukuran panjang 5 em dipasang pada setiap daun jendela.
i i
N I N
8
N
"'"'
- 24 -
120
TAMPAK DALAM G
38 BAB - 02
2.4 Komponen Non Struktural
-- 3
_I
- 24 -
1.20
TAMPAKATAS
- ----------
- - Baut cp 10 mm
--= I
DETAIL- I
3 dari 5
Bag ian penutup panel masif pada panel pintu terbuat dari bahan lembaran. Bag ian
ini dipasang pada rangka panel dengan menggunakan lem atau skrup.
Lembaranca/cium silica board, calsiboard, GRC atau kayu lapis/ bambu anyam
harus dipasang tepat masuk kedalam rangka, serta diberi sedikit kelonggaran
{ruang) untuk penyusutan.
Bahan calcium silica board, calsiboard, GRC atau kayu lapis/ bambu anyam yang
digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu agar dapat dipasang dengan
sempurna.
Lembaran kayu lapis, bambu anyam harus dipasang sebaik mungkin agar tidak
terjadi kebocoran.
Permukaan rangka panel yang berhubungan dengan panel struktur kolom/ balok
harus dibuat alur-alur air agar tidak merusak bahan rangka.
Sisi rangka panel diberi lubang, sebagai tern pat angker baut, untuk dipasang pada
rangka panel struktur dan sesama panel pengisi.
Engsel untuk pintu yang berhubungan dengan bagian luar maupun dalam
menggunakan engsel cabut tipe H atau setara arch, ukuran 2 W' x 3':
Setiap daun pintu dipasang sebanyak 2 buah.
Kaca untuk panel pintu adalah kaca yang mampu menahan angin berkekuatan
122 kg/ m 2
Ketebalan kaca adalah sebesar 3 mm.
Kaca dipasang secara tepat dan memberi sedikit kelonggaran (ruang)
untuk penyusutan.
Setiap pemasangan harus diberi list.
Finishing harus dilakukan dengan rapi agar tidak menimbulkan bunyi
ketika tertiup angin.
40 BAB - 02
2.5 Komponen Utilitas
2.5
Komponen Utilitas
Komponen utilitas adalah komponen pada bangunan yang
berfungsi sebagai sarana penunjang kegiatan penghuni dalam
suatu bangunan.
Persyaratan Bahan
Bahan dasar pembuatan kamar mandi kapsul adalah bahan fiber, yang
terdiri dari: unsur-unsur, resin, katalis dan mats/ serat fiber.
Bahan cetakan terbuat dari fiber dengan ketebalan 3 mm, terdiri dari komponen-
komponen cetakan dalam dan luar, serta komponen-komponen cetakan dalam
untuk bagian atas maupun bagian [Link] komponen bahan cetakan
disambung dengan menggunakan baut ukuran 7,5 mm yang ditempatkan pada
setiap jarak 20 em
II Komponen Ketentuan
Kapsul bagian - Kloset jongkok (dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan)
bawah - Bak mandi
- Tempat sabun
- Flor drain
- Dinding dan lantai bahan fiber berpola lantai keramik
Seluruh komponen menyatu tanpa sambungan kecuali bak mandi
terpisah sebagai alternatif penggunaan.
Ketebalan kapsul bagian bawah minimal 3 mm, lantai minimal 7,5 mm,
dan bak minimal 3 mm.
2 Kapsul bagian atas - Lubang ventilasi yang dapat digunakan untuk vent
- Tangki air dengan kapasitas 250 liter
- Gantungan lampu untuk penerangan
Ketebalan kapsul bagian atas minimal 3 mm, termasuk ketebalan tangki
air Uuga disamakan).
3 Pintu - Engsel kupu-kupu
- Pegangan kunci pintu
Gantungan baju
·--~-------------.-
Setiap komponen
harus dilengkapi
dengan komponen
pengkait untuk
pemancangan/
pemasangan
(erection) bila akan
menggunakan alat
pengangkut pada
saat perakitan.
42 BAB · 02
2.5 Komponen Utilitas
-
'-W IO,.,...
TAMPAKA TAMPAKB
B
....
..,,
EJ
-·-
TAMPAKATAS
!
'
44 BAB- 02
2.4 Komponen Non Struktural
Menggunakan a/at
Gunakan alat derek (crane), bila tidak memungkinkan
mengadakan alat bantu.
Perhatikan dan pastikan Iebar tangga dan Iebar koridor siap untuk
mobilisasi modul kamar mandi kapsul dan dapat diangkat oleh
dua orang (berlaku bagi kedua cara tersebut).
Perlengkapan penyambungan:
1. Pipa air minum
- Jenis pipa: pipa besi, asbes semen, baja, HOVE, UPVC
- Pipa air bersih yang tertanam dalam tanah dapat memakai pipa PVC dengan diameter minimum
2,5 em
- Pipa air bersih yang dipasang di atas tanah dan tahan perlindungan dapat menggunakan pipa
besi (GIP) atau pipa lain dengan diameter 2,5 em.
2. Perlengkapan pipa
- Valve/ katup: membuka/ menutup ali ran pipa.
- Check valve: mencegah aliran balik (contoh : di pipa outlet pampa).
- Wast ouV blow off: mengeluarkan lumpur jika terpenrangkap dalam pipa (diameter !4 - Y2
diameter pipa)
3. Meter air
- Terbuat dari bahan bronze/ kun ingan
- Komponen : rumah meter, kotak bawah, sudut bergerak, kotak atas, ring plat anti magnit,
kotak bagian register, paking ka ret, paking plastic, dan tutup atas.
- Ukuran : W' untuk sambungan rumah %' dan Y2'
46 BAB- 02
2.5 Komponen Utilitas
- Kondisi tanah tidak menunjukkan gejala mudah - Kondisi tanah menunjukkan gejala mudah
retak atau runtuh retak dan runtuh
Tangki Septik
dengan Up Flow
Filter
Up Flow Filter
Tangki Septik dengan Komunal
Bidang/ Sumur Biofilter
Resapan Saringan Vertikal -
Kaporit
48 BAB - 02
2.5 Komponen Utilitas
10
1:1
1,00 1,40
• • ••
0,60
•
0,75 1
15 1,20 1,40 2,00 0,60 0,75 2
20 1,40 1,50 2,50 0,60 0,75 2
25 1,50 1,80 3,00 0,60 0,75 2
50 BAB - 02
2.5 Komponen Utilitas
Tangk1 septik dan up flow harus sudah terpasang dan berfungsi ba1k
Tersed1a tenaga pelaksana yang sesuai bidangnya
Ada penanggung jawab dalam pemellharaan mtalas1
Tersed1a b1aya untuk pemellharaan
Peralatan Bahan
Pompa lumpur A1r untuk pencuoan
Bak penampung lumpur Komponen med1a
Alat bantu mekanik
Pompa air
Kegiatan pemeriksaan
Kualltas dan kuantitas efluen Kualitas efluen tangk1 septik Lakukan pencuoan med1a
instalas1 dan up flow keol filter
Konsentras1 kualltas efluen Lakukan penambahan tebal
na1k media
Akumulasi lumpur (tangki Tingg1 lumpur pada ruang Lakukan pengurasan
sept1k) lumpur
Akumulasi lumpur (up flow Permukaan a1r di atas filter Lakukan pengurasan dan
filter) Kapas1tas penyanngan pencuoan
Kegiatan Pengurasan
Kegiatan Perbaikan
1} Periksa ketebalan media filter. Jika kurang dari 60 em,
tambahkan media hingga tebal media minimum terpenuhi
52 BAB - 02
-:.. ......-an air limbah untuk sistem
Risha dapat menggunakan dua metode,
yaitu: pengo/ahan air buangan kakus dan
pengo/ahan air buangan non kakus.
3.1
Prospek lndustri Risha
Akselerasi
Pembangunan 1
Rumah
, ''
'
'' '' I
I
'
Program Bantuan \
I
I
Menciptakan Home
I I
56 BAB - 03
3.2 Standarisasi Cetakan (Mo/dmg)
3.2
Standarisasi Cetakan (Molding)
Cetakan panel struktural dengan ukuran terstandar menjadi kunci
penentu kualitas panel struktural Risha selalu konsisten dan reliabel.
Cetakan yang terstandar dapat digunakan kapan saja dan di mana
saja dan menghasilkan kualitas panel struktural yang konsisten.
1. Kayu harus kering, berumur tua, lurus dan tidak retak atau bengkok,
mempunyai kelembaban kurang dari 15%,
memenuhi persyaratan dalam PKKI 1971 -NI-5
2. Jenis kayu yang digunakan adalah jenis kayu kelas II berdasarkan PKKI 1971 ,
minimum kelas E 11 berdasarkan PKKI 2002
58 BAB - 03
3.2 Standarisasi Cetakan (Moldmg)
1. Spesifikasi jenis baja U 24 dengan ketentuan berupa profil ( [) kanal dengan ukuran [
adalah 100 x 50 x 5 mm
2. Pelat baja sebagai dasar cetakan dengan tebal 5 mm(memenuhi persyaratan dalam buku
tabel profil konstruksi ba a)
1. Baut dan mur sebagai pengunci antar panel dengan ukuran diameter 10 mm
2. Pralon dengan jenis pralon listrik berdiameter
3. Pelat baja dengan tebal 2 mm dan ukuran 4 x 6 em dan diberi lubang di tengah-tengah-
dengan diameter 5/ · i (sebagai pengaku lubang pralon)
60 BAB · 03
3.2 Standansas1 Cetakan (Mo/dmg)
_ ..., ___________
- ----------~
• • •
.p
lr- .l
I
•
c-
1111
_____l
[.....,~
• • • . .. ~
--1
~ L
CETAKAN BAJA PANEL Pl
1010
4loO
=-J
HOO
1100
lr Q. Q•
~ • •
~-~
1080
62 BAB - 03
3.2 Standarisasi Cetakan (Molding)
3.3
Pengendalian Mutu (Quality ControO
64 BAB - 03
3.3 Pengendalian Mutu (Quality Contra{)
Antara 5% - 20%
(5-20%)
.,
•
Perbaikan pada populas1 sampel UJi d1
sub kelompok yang gagal
Lebih dari 20% ditolak
(>20%) X
3.4
Pengemasan (Packaging)
Pengepakan
Panel ( Struktural
dan Simpul)
66 BAB - 03
3.4 Pengemasan (Packaging)
Bahan:
Balok kayu diletakkan memanjang dengan posisi berdiri dengan jarak antar as
balok 57,5 em.
2 Papan kayu diletakkan tegak lurus arah melintang balok, mulai dari arah depan
segaris dengan penampang balok.
3 Paku dengan jumlah paku minimal 2 buah untuk setiap hubungan papan dengan
balok
4 Lakukan hal yang sama secara berturut-turut pada papan berikutnya, dipasang
rapat dengan papan sebelumnya .
5 Ulangi langkah yang sama dengan poin 2 - 4, hingga seluruh panjang balok terisi
papan.
6 Balik posisi rangka .
Lakukan langkah pekerjaan seperti pada poin 2- 5.
Tampak atas
I I I I
I I I I s
I
I I I I s
I I I I 5
I I I I s
I
I
I I
I I
I s
I I I I s
I
I
I I
I I
I
I
.,
t t
Arah Forkllp
68 BAB - 03
3.4 Pengemasan (Packaging)
Siapkan alas pengepakan dengan posisi muka ke arah Iebar 120 em.
5 lkat erat seluruh panel dengan tali paking plastik pada arah melintang panel
ke alas tengah pengepakan sebanyak 2 lokasi.
6 Angkut panel dengan menggunakan fork clip seeara perlahan ke gudang
penyimpanan.
70 BAB - 03
3 4 Pengemasan (Packag'"9'
Siapkan alas pengepakan dengan posisi muka ke arah Iebar 120 em.
2 Letakkan panel seeara perlahan dengan posisi muka (bentuk L) ke arah panjang 65
em dan permukaan tegak ke arah Iebar 120 em, berjajar rapat sebanyak 4 panel.
3 Letakkan alas kardus ukuran panjang 15 em dan Iebar 120 em pada permukaan
atas panel simpul dan permukaan tengah .
4 Letakkan panel simpul berikutnya di atas panel simpul sebelumnya, dengan arah
yang berlawanan dari arah vertikal.
5 Letakkan kardus di samping atas panel simpul ke arah Iebar 120 em.
72 BAB- 03
3.4 Pengemasan (Packagmg)
ketentuan
komposisi
peruntukan
ketentuan
pola kapling
dan pola
jalan
4.1
Pertimbangan Perencanaan Site
Perencanaan site (tapak) dimaksudkan untuk meletakkan
bangunan atau kelompok bangunan pada suatu tapak dengan
[Link] mendapatkan ketepatan yang diinginkan, maka
pertimbangan dan analisis terhadap kondisi rona awal tapak
harus [Link] fisik dan non fisik (sosial, ekonomi, dan
budaya) adalah aspek yang dipertimbangkan dan d ianalisis dalam
perencanaan site.
76 BAB- 04
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan
Aspek Fisik
Topografi - Kondisi fisik permukaan tanah - Pola tata ruang
- Kemiringan lahan - Pola pembatasan lahan yang
boleh terbangun
- Lapisan geologis tanah
- Pola alokasi kawasan lindung
- Kedalaman muka air tanah
- Pembentukan muka tanah
- Bentuk bangunan dankawasan
- Rancangan sistem drainase
- Rancangan pola jalan
- Rancangan sistem sanitasi
Geografi - Letak geografis lokasi perencanaan - Jarak sarana
terhadap kawasan lain
- Jumlah sarana
- Sarana di sekitar kawasan sesuai
- Radius/cakupan layanan sarana
dengan tata guna lahan
- Hubungan ketata ruangan
- Batas administrasi
lokasi perencanaan dengan
lingkungan sekitar
lklim - Orientasi matahari - Lokasi/ letak sarana
- Lama penyinaran matahari - Jenis penghubung antar ban-
gunan
- Temperatur rata-rata
- Bentuk bangunan
- Kelembaban
- Orientasi bangunan
- Curah hujan rata-rata
- Tata letak bangunan
- Musim
- Ventilasi
- lklim mikro
- Bukaan untuk penerangan
- Kecepatan angin
alami siang hari
- Hubungan sirkulasi antar ban-
gunan/sarana lingkungan
- Kriteria penyelesaian fisik dan
karakter bangunan dan sarana
Bencana - Angin puyuh - Tinggi muka tanah
- Gempa bumi - Struktur/konstruksi
- Banjir - Tata letak bangunan
- Longsor - Kriteria preservasi kawasan
lindung dan area cadangan
- Gunung meletus
- Bencana alam lainnya
4.2
Ketentuan Jenis Prasarana Sarana lingkungan
Prasarana dan sarana lingkungan merupakan pra syarat agar berbagai aktivitas masyarakat
di suatu lingkungan dapat berlangsung. Secara lebih detail, prasarana dan sarana lingkungan
berfungsi untuk melayani dan mendorong terwujudnya lingkungan permukiman dan
lingkungan usaha yang optimal sesuai dengan fungsi atau peruntukannya.
78 BAB - 04
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana lingkungan
A ir Kotor - Rembesan dari tangki septik dapat disambung pada - Tata Cara Perenca-
sistem pembuangan air limbah kota atau dengan cara naan Tangki Septik
pengolahan lain dengan Sistem Re-
sapan (SNI 03-2398-
- Pembuangan air limbahlair kotor dari kamar mandi dan 2002)
cuci harus dialirkan ke saluran pembuangan lingkungan
(riool) dengan sistem terbuka atau tertutup
- Pembuangan air limbah/air kotor dari kakus harus
dialirkan ke tangki septik yang dilengkapi dengan bak
rembesan
- Saluran dari kakus ke tangki septik maupun dari rembe-
san ke pembuangan lingkungan menggunakan sistem
tertutup
- Pada jarak tertentu atau pada sudut-sudut bangunan
rumah harus dibuatkan bak kontrol/bak pemeriksa
- Saluran pembuangan air limbahlair kotor dari kamar
mandi dan cuci dibuat terpisah dari saluran pembuangan
kakus.
Persampahan - Pada jalan lingkungan utama dan jalan lingkungan - Tata Cara Teknik Op-
pembagi atau tempat kegiatan umum harus disediakan erasional Pengolahan
tempat sampah berupa tong (bin) terbuat dari f iberglass. Sampah Perkotaan
Tong diberi warna biru untuk sampah basah (organik) (SNI 19-2454-2002)
dan kuning untuk sampah kering (non organik). Jarak
tempat sampah maksimum 25 m - Tata Cara Penge-
lolaan Sampah di
- Kapasitas tempat sampah lingkungan minimum ber- Permukiman (SNI
volume 2m 3 , berdasarkan jumlah rumah yang dilayani 03-3242-1994)
200 rumah. Penempatan sampah lingkungan setiap jarak
±150m
- Fasilitas pengangkutan sampah dapat berupa gerobak
dorong, becak, dan mobil pengangkut sampah
- Jumlah dan kapasitas angkut tergantung pada jumlah
dan frekuensi sampah yang diangkut
- Jangka waktu pengangkutan dari tiap-tiap rumah atau
tempat pengumpulan sampah harus diatur maksimum 2
hari sekali
- Setiap lingkungan permukiman minimum harus dise-
diakan 1 tempat pembuangan sampah sementara (TPS).
Lokasi TPS mudah dijangkau oleh petugas kebersihan
lingkungan (RT/RW) maupun perusahaan pengelola
sampah
- Volume TPS harus mampu menampung timbulan sam-
pah lingkungan dan harus dapat terangkut setiap hari ke
tempat pembuangan sampah akhir (TPA)
- TPS ditempatkan sedemikian sehingga tidak menimbul-
kan polusi bau dan mengganggu kesehatan lingkungan
- Lahan TPS harus mudah dibersihkan, kedap air, lantai
terbuat dari beton tumbuk, dan dapat dibebani oleh
kontainer atau truk pengangkut sampah
Jaringan Listrik - Perlu penyediaan lahan untuk pemasangan instalasi - Peraturan Umum
travo/gardu lnstalasi Listrik Indo-
nesia (SNI225-1987,
- Tiang listrik dipasang di daerah milik jalan, t idak meng-
UDC 621 .3)
ganggu pedestrian dan tidak dipasang pada kavling
rumah - lstilah Kelistrikan,
Bab 603: Pembang-
- Sumber daya listrik berasal dari PLN atau sumber lain
kitan, Penyaluran
- Setiap unit rumah harus dapat dilayani daya listrik mini- dan Pendistribusian
mal 90 VA per jiwa. Untuk sarana lingkungan 40% dari Tenaga Listrik -
total kebutuhan rumah tangga Perencanaan dan
Manajemen Sistem
- Lokasi permukiman bebas dari jaringan listrik tegangan Tenaga Listrik (SNI
tinggi. Apabila terdapat jalur tegangan tinggi, maka ren- 04-8287 .603-2002)
cana lingkungan permukiman mengacu pada peraturan
PLN
- Harus tersedia jaringan listrik lingkungan dan hunian,
dengan penempatan tiang listrik berada di daerah milik
jalan
- Dibutuhkan gardu listrik untuk setiap 200 KVA daya
listrik, yang ditempatkan pada lahan yang bebas dari
kegiatan umum
- Tersedia penerangan jalan dengan kuat penerangan 500
lux dan tinggi >5 m dari muka tanah
- Jarak antar tiang rata-rata 40 m. Untuk penyesuaian
dengan keadaaan permukaan tanah jalan dan sebagain-
ya, dapat diambil jarak antar tiang 30 - 45 m
- Jarak antar kawat penghantar (konduktor) terhadap
unsur-unsur di dalam lingkungan (bangunan, pohon,
jarak tiang, dll.) harus sesuai dengan peraturan PLN
yang berlaku . Penetapan tiang dan penarikan kawat
harus sempurna dan tinggi kawat minimum 7 m di atas
permukaan tanah
Jaringan - Pemasangan jaringan dan panel box telepon harus
Telepon dan disediakan pada lokasi dengan luas lahan yang
Komunikasi cukup untuk kegiatan pengawasan dan perbaikan
sambungan
- Setiap lingkungan Rukun Warga (RW) atau 40 unit
rumah disarankan tersedia 1 (satu) buah telepon
umum kartu atau koin
- Lokasi permukiman minimum tersedia 1 (satu)
buah warung telekomunikasi
- Kebutuhan sambungan telepon setiap lingkungan
rumah perlu dilayani sambungan telepon rumah
dan telepon umum
- Rasio penyediaan telepon adalah 0,13 sambungan
telepon rumah per jiwa atau dengan asumsi ber-
dasarkan tipe rumah
- Dibutuhkan minimum 1 (satu) sambungan telepon
umum untuk setiap 250 jiwa penduduk yang di-
tempatkan pada pusat-pusat kegiatan lingkungan
80 BAB - 04
4.2 Ketentuan Prasarana Sarana lingkungan
4 au 15 Menyebar
Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan didirikan di atas lahan difungsikan untuk
menampung kegiatan peningkatan kualitas kesehatan. Bangunan
berupa: posyandu, puskesmas, poliklinik, balai pengobatan, praktik
dokter, BKIA, apotek.
Sarana lbadah
Sarana ibadah didirikan di atas lahan yang berfungsi menampung
kegiat an peningkatan ritual sesuai ketentuan pemerintah.
Bangu nan berupa: mushola, masjid, gereja, wihara, dan lain
sejenisnya.
--- ..
(m'}
(m2)
. •••••
t-- - + --"-"---- - + - - - - - l - - - - - - - - 1 1 - - - - - - + - - - - - - - - 1 D1 pusat l1ngkungan
2 Bala1 pengo- 2.500 600 0,24 1 000
batan warga
3 Sarana 1badah Tergantung s1stem kekerabatan dan adat 1st1adat setempat
la1n
82 BAB- 04
4. 2 Ketentuan Prasarana Sarana Lingkungan
Balai warga/
2.500 300 0,12 100
pertemuan
2 Balai serba Di pusat lmgkungan
guna/karang 30.000 500 0,017
taruna
4.3
Ketentuan Lokasi Perumahan Sistem
Risha
1. Kondisi topografi dan geologi tanah proyek pembangunan
harus mampu mendukung fisik bangunan.
84 BAB · 04
4.3 Ketentuari lokasi Perumahan Sistem Risha
4.4
Ketentuan Kepadatan Kawasan
1. Luas lahan yang dapat dibagi kapling adalah 60% dari luas
total lahan, sedang 40% sisa digunakan untuk kebutuhan
sarana dan prasarana lingkungan atau mengikuti ketentuan
daerah yang berlaku
4.5
Ketentuan Komposisi Peruntukan
1. Blok peruntukan adalah bagian dari unit peruamahan
sebagai bentuk dari pemanfaatan ruang tertentu yang
dibatasi oleh jaringan pergerakan kegiatan kehidupan, serta
jaringan prasarana dan sarana pendukung lingkungannya
86 BAB - 04
4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan
4.6
Ketentuan Komposisi Bangunan
4.6.1 Risha Tunggal
KETERANGAN:
A. Bangunan Turutan
II
B. Bangunan lnduk
II L. Jarak minimum bangunan turutan
[01 menurut peraturan setempat
GSB. Garis Sempadan Bangunan
GSP. Garis Sempadan Pagar
( SB
I Jalan
\.J;:) t I
RISHA TUNGGAL
88 BAB · 04
4.6 Ketentuan Komposisi Bangunan
- salah satu sisi bangunan induknya menyatu dengan sisi satu ban-
gunan lain atau satu tempat kediaman lain, dan masing-masing
mempunyai persil sendiri.
! DD I
TAMPAKMUKA
GSB
Jalan
RISHAKOPEL
TAMPAKMUKA
Jalan
RISHADERET
90 BAB - 04
4.6 Ketentuan KompoSISI Bangunan
ftft
meter bila mana dua masa yang berhadapan
sisi-sisinya memiliki bidang terbuka atau
jendela
ftft
sisi-sisinya tidak memiliki bidang terbuka
atau tertutup
RISHA MAISONET
4.7
Ketentuan Struktur Kawasan
4.7.1 Radial
Q
0
92 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
POLA CLUSTER
4.7.3 Linier
- Bentuk tnl menyatukan perumahan yang sama tlnggmya dengan
s1rkulas1 dalam sebuah pola lm1er
-- - ·-
Llt··JIE R.
POLA LINIER
94 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
4.7.4 Simpul
4.8
Ketentuan Pola Kapling dan Penataan
Pola Jalan
4.8.1 Rectangular/Grid
lti
•
••
4.8.2 loop
Po/a Loop
96 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
4.8.3 Culdesac
- Membatasi kendaraan
I
. --
' - --
4.8.4 Offset
- Hampir sama dengan pola grid, hanya persimpangan dimofifikasi
menjadi pola pertigaan
-.-
--- ·-·
Merencanakan Perumahan Sistem Risha 97
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
4.8.5 Court
- Mengurangi persimpangan lalu lintas (membuka kelancaran lalu
lintas)
4.8.6 Curvilinear
- Memberikan sequen visual yang baik pada lingkungan
98 BAB - 04
4.7 Ketentuan Struktur Kawasan
4.9
Ketentuan Pengolahan lahan Berkontur
2 Cut (pemotongan)
- Tanah dipotong sampai lahan datar
- Sisa tanah pemotongan dibuang
Pengumpul dan
pendekatan jalan kaki 10.0 0.5
Jalan masuk
1122ZZ~fl/M"~ 4.0 1.0
Ramp 15.0
Tempat bermain
• "*''"''~I. 1.. .)!1 J,,[Link]'*itlAW..... ~ 15.0 0.5
Area halaman
rumput
25.0 1.0
ditanami Kemiri
ngan
2:1
100 BAB · 04
4.8 Penentuan Pola Kapling dan Penataan Pola Jalan
~ Galian
.·.·.·.·.·.-.-~-~-8-
.·.·.·.· ·.·.· ·.·.·,·. ~· ···· ...
. ·. ·. ·. · [Link] ·. ~ ·· .
:::::::::::::::::::::::~
::::-::::: -:<·:::. ::::: ·:.:::.:. :-:-::::: '
[Link] ·diatas tanah-::::::: ::::: :e~noG~~~ cii~ta:s:t~riati:::
· · ·a·aliiui · · · · · · · · · · · · · ·
~
timbunan
Bangunan:diatas:tanati ·Cta!ia:n: ·: ·: ·:
timbunan· · · · · · · · · · · · · · · · · ·
5.1.1 Tipe 39
Rumah tipe 39 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.
5.1.2 Tipe 36
Rumah tipe 36 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.
5.1.3 Tipe 31
Rumah tipe 31 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.
5.1.4 Tipe 27
Rumah tipe 27 terdiri dari 2 ruang kamar tidur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarga/ ruang tamu.
104 BAB- 05
5.2 Persiapan Perakitan Risha
5.1 .5 Tipe 22
Rumah tipe 22 terd iri d ari 2 ruang kamar t idur, 1 kamar
mandi dan ruang keluarg a/ ruang tamu.
Kebutuhan Panel Risha Rumah Tipe 22
No Jen1s1fungs1panel Pl P2 P3
1 Sloof 16 0 12
2 Kolom 16 24 0
3 Ringbalk 15 0 12
Jumlah 48 18 16
5.2
Persiapan Perakitan Risha
Sebelum melakukan perakitan Risha, seluruh komponen yang te lah
diperiksa kualitasnya dan peralatan bantu perakitan harus sudah
tersedia di lokasi pendirian bangunan. Lahan yang akandidirikan
bangunan dan tenaga pelaksana juga harus sudah siap.
Tenaga
La han Pelaksanana
Persia pan
Perakitan Risha
Komponen Peralatan
Bantu
5.2.1 Lahan
Lahan harus telah sesuai dengan ketentuan lokasi
perumahan sistem Risha (atau mengacu pada Pedoman
Teknis tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Peru mahan Risha TC/Risha 01 ).
106 BAB - 05
5.2 Persiapan Perakitan Risha
JENIS PERALATAN
Kunci pas 4 pasang
Kunci momen 1 buah
Tangga 1 unit
Perancah 1 unit
Water pass 1 unit
Pasekon kayu 1 unit
Pasekon baja 1 unit
Paku dan palu 1 unit
Ketam 1 unit
Benang 1 gulung
5.2.4 Komponen
1. Pastikan bahwa seluruh komponen yang terbuat dari
beton bertulang harus sudah mencapai umur 28 hari
dengan kekuatan tekan minimum 250 kg/cm 2·
Pondasi pelat
6 unit
Ukuran 65 x 65 em, t inggi 12 em
Panel penyambung
16 panel
Bentuk "L" [Link] em
Panel kolom beton bertulang
20 panel
Ukuran 30 x 120 x 10 em
Panel kolom beton bertulang
12 panel
Ukuran 20 x 120 x 10 em
Panel balok beton bertulang
28 panel
Ukuran 30 x 120 x 10 em
Panel d1nding
5 panel
Ukuran 120 x 240 em
Panel pintu
2 panel
(lengkap dengan daun pintu)
Panel Jendela
1 panel
(lengkap dengan daun jendela)
Panel ampig
4 panel
Panel lantai
18m 2
Ukuran 20 x 20 em
Kamar mandi dan kakus
1 unit
(kapsul dari fiberglass)
Cubluk dan instalasi
1 unit
108 BAB - 05
5.3 Pemeriksaan Pra Perakitan Risha
5.3
Pemeriksaan Pra Perakitan Risha
Sebelum dirakit, ketepatan dan keakuratan komponen-komponen
Risha harus diperiksa terlebih dahulu agar perakitan komponen
dapat presisi.
Ill Ill
110 BAB · 05
53 Pemenksaan Pra Perak1tan R1sha
1...,.,., Ill
Buat pola lubang baut pondasi dari tripleks. (pola lihat di bawah)
Tripleks berukuran 60 x 60 em an tebal minimum 6 mm.
Pasekon baja I
Sisi siku-siku pasekon kayu berhimpit rapat dengan sisi papan duga
112 BAB - 05
5.3 Pemeriksaan Pra Perakitan Risha
Benang direntangkan dari sisi kanan ke kiri atau dan dari tepi atas ke bawah tepat di
atas melewati tepi lubang pondasi .
Buat rentang tali yang melewati as lubang pondasi (sehingga jarak as lubang pondasi
ke masing-masing tepi lubang pondasi adalah sebesar 35 em)
Galian pondasi baik (..j)
Tepi galian pondasi berada tepat di atas pola yang terbuat dari benang
N. dindinq banqunan
5.4
Perakitan Risha
; 1Pemaxmgan
· Panel
\\ Penyambung
J?ada Pondasl
·~ ...
Pemasangan
Daun Pintu
dan Jendela
11 4 BAB - 05
5.4 Perakitan Risha
8.0 m
Luas lahan yang dibersihkan
LUAS LAHAN YANG HARUS BERSIH DARI AKAR RUMPUT DAN HUMUS
Bila lokasi bangunan berada di antara rumah-rumah yang telah ada, maka penguku-
ran mengikuti rumah yang telah ada.
Bila lokasi yang akan dibangun Risha berada di tempat yang baru atau jauh dari rumah-rumah
yang telah berdiri, maka pengukuran dan pemasangan papan duga mengikuti langkah-lang-
kah berikut:
1. Paneangkan 2 tiang kayu kaso sn tepat di pinggir jalan/gang (di sisi luar kereb jalan)
sedemikian, sehingga kaso berada sejajar sumbu memanjang jalan dan terpaneang den-
gan kokoh, tidak mudah dieabut.
Jarak antar 2 kaso yang dipaneang sekitar 5 m (sesuai dengan Iebar lahan yang telah
dibersihkan dari akar rumput dan humus)
2. Taneapkan paku 7 em di permukaan atas dari 2 tiang kaso tersebut, tarik benang melalui
paku-paku yang telah terpaneang sehingga benang sejajar dengan sumbu jalan.
3. Tarik benang ke arah sisi panjang dari denah reneana bangunan yang tegak lurus terhadap
benang yang sejajar sumbu jalan .
Gunakan pasekon untuk memastikan benang saling tegak lurus.
Rapatkan salah satu sisi pasekon ke benang yang sejajar sumbu jalan .
Atur benang pada sisi siku lainnya sehingga benang dan sisi siku-siku tersebut berhimpi-
tan.
Teruskan benang ini sejauh 8 m (sesuai dengan panjang lahan yang telah dibersihkan dari
akar rumput dan humus).
Paneangkan kolom-kollom kayu kaso 5/7 di sepanjang benang ini dengan jarak maksimum
antar kolom ke kolom 1,5 m .
Pastikan benang berhimpitan dengan sisi dalam dari tiang kayu kaso yang dipaneangkan.
4 . Pasang kayu papan 2/20 em pada kaso-kaso ini, untuk memperoleh satu bidang papan
duga pada arah panjang bangunan
5. Lakukan dengan eara yang sama untuk memperoleh bidang-bidang papan duga pada
arah lainnya dari bangunan
6. Sisi atas papan duga harus diketam hingga rata
Water pass dipasang pada tiang kaso sedemikian sehingga papan duga dalam posisi yang
rata, lurus, dan benar-benar horisontal
7. Elevasi sisi atas papan duga antara satu sisi dengan sisi lainnya harus diatur sedemikian
sehingga dalam satu elevasi yang sama .
Catatan:
Untuk memudahkan mengontrol kelurusan dan ketinggian yang sama pada saat pema-
sangan panel penyambung pada panel pondasi dan balok sloof, disarankan elevasi sisi
atas papan duga adalah 40 em di atas muka tanah.
116 BAB - 05
5.4 Perakitan Risha
'\ __Llj_
~\
~~"-
r
0 -
Sumbu
memanjanq jalan
___j
.
~-----p~!!!!!!!!!!!f---="''-11rV Mdtoo::":aal~"
/ 35cm ~-------
~--~~-~~-~~~ ~
• ~ 35cm
---~--~....--4--A~
~~
PENGGALIAN PONDASI
Catatan:
Bila ketebalan tanah yang harus dibuang melebihi 20 em, maka lakukan penggalian
hingga ke dalam 40 em atau kedalaman galian diatur sedemikian sehingga elevasi
permukaan bawah dari panel penyambung di atas pondasi plat sama dengan el-
evasi permukaan tanah asli yang telah dibersihkan.
118 BAB - OS
5.4 Perakitan Risha
1. Hamparkan pasir urug pada galian pondasi dan padatkan sehingga diperoleh tebal
padat pasir urug di bawah pondasi sebesar 8 em.
2. Tempatkan pondasi plat pada masing-masing galian dan atur sedemikian sehingga
baut yang tertanam pada pondasi sejajar dengan benang as dinding bangunan baik
pada arah Iebar maupun arah panjang bangunan .
·-··--
~------~
Pondasi,
/ f"'l
~···L-(
l
~'ij(~
ke digeser kekakanan __j
dan kiri sedemikian
sehingga baut yang tertanam
pada pondasi tepa! berada
atau sejajar dengan benang
as dinding bangunan
PEMASANGAN PONDASI
- Atur ]arum penunjuk pada kuno momen hmgga menunjukkan 5,5 kgm atau 2,75
kgm, mas1ng-masing untuk Y2 kekuatan dan kekuatan penuh sambungan.
- Gunakan kuno momen yang telah d1atur tersebut untuk mengencangkan mur hingga
terdengar "klik" maka penyambung mur baut telah mencapa1 kekuatan yang d11ng1nk-
an.
120 BAB 05
5.4 Perakitan Risha
1. Pasang panel balok pada panel-panel penyambung yang telah terpasang pada pondasi .
Sambungkan dengan mur baut hingga Y2 kekuatan.
Sambungkan panel satu dengan panel lainnya dengan menggunakan sambungan mur
dan baut, juga dengan Y2 kekuatan.
2. Kencangkan sambungan mur baut hingga mencapai kekuatan penuh, bila seluruh
panel-panel balok telah terpasang .
~
:1!f'----~
----:<lta' r - -
J'•V':~
I.
I
1. Pasang panel-panel kolom , setelah panel balok sloof terpasang dan dikencangkan
dengan kekuatan penuh.
2. Gunakan water pass untuk mengecek panel-panel kolom terpasang secara vertika l.
0
0
IO
PEMASANGAN KOLOM
122 BAB - 05
5.4 Perak1tan Risha
2. Gunakan water pass untuk mengecek panel-panel kolom terpasang secara vertikal.
Gunakan baut untuk sambungan kaki kuda-kuda dengan kolom dan balok (pada kaki
kuda-kuda sudah tersedia lubang baut yang sesuai dengan lubang pada kolom dan
balok)
124 BAB - OS
5.4 Perakitan Risha
1. Pasang penutup atap sebel um pekerjaan pemasangan dinding dan pekerjaan lantai.
Pekerjaan penutup atap dilakukan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaan peker-
jaan lainnya (seperti: pekerjaan penquruqan). pekerja dapat terlindunq dari terik
. ...
.. .
. ..... . ................................................
. . . ... . . ... .. . .. . ... ... .. ... ... ... ... . . ' . ..
. . . ... . ..
. . .........
. . . . . . ...
.. ....
. ......
. . . . . ... .... . ... ...
. ...
. ..
1. Pekerjaan pengurugan dan pemadatan dilakukan melalui SNI 03- dengan tebal padat
20 em .
2. Sebarkan pasir urug dan padatkan hingga meneapai tebal padat 5 em.
3. Pasang lantai paving blok 20/20 em dari bahan eampuran tanpa adukan spesi.
/
/
/
/
.....
7
I
126 BAB - OS
5.4 Perakitan Risha
r/ .......
// ...............
/
/ ..............................
/ I
I
I
I
128 BAB - 05
5.4 Perakitan Risha
5.5
Pemeriksaan Pasca Perakitan Risha
Setelah dirakit, ketepatan dan keakuratan komponen-komponen
Risha harus diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan bahwa
perakitan komponen telah sesuai standar dan presisi.
As dindino ballQunan
130 BAB- 05
5 5 Pemeriksaan Paska Perak1tan R1sha
Tempelkan pasekon kayu segitiga siku-siku 100 x 100 em pada setiap sudut
bangunan untuk memeriksa dinding saling tegak lurus.
2. Gunakan pasekon kayu untuk mengukur kolom tegak lurus terhadap bidang horisontal.
Catatan:
Kekuatan penuh dari sambungan mur baut pada sambungan adalah 5,5
kgm(bila baut-baut tersebut dikencangkan dengan menggunakan kunci mo-
men).
Cara mengencangkan mur baut dengan kunci momen:
- Atur jarum penunjuk pada kunci momen hingga menunjukkan 5,5 kgm atau 2, 75 kgm,
masing-masing untuk Y2 kekuatan dan kekuatan penuh sambungan.
- Gunakan kunci momen yang telah diatur tersebut untuk mengencangkan mur hingga
terdengar "klik" maka penyambung mur baut telah mencapai kekuatan yang diinginkan .
132 BAB - 05
5.5 Pemenksaan Paska Perakitan Risha
Pengukuran kelurusan dan kerapihan pemasangan balok ring sama seperti yang
dilakukan untuk balok sloof.
Catatan:
1. Gunakan baut berdiameter 12 mm dan panjang ±20 em untuk pengikat antara kaki kuda-
kuda (balok ampig).
3. Pastikan bahwa lubang baut pada kuda-kuda mempunyai diameter dan jarak antar lubang
sesuai dengan ukuran di pedoman teknis.
4. Pastikan bahwa batang kayu kuda-kuda lurus dan tidak bengkok, baik dilihat secara visual
maupun dengan alat penggaris.
134 BAB - 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
Pekerjaan penutup atap dilakukan terlebih dahulu agar dalam pelaksanaan pekerjaan
lainnya (seperti : pekerjaan pengurugan), pekerja dapat terlindung dari terik matahari.
Catatan :
Gunakan sedikitnya 3 paku dalam satu baris pada setiap 1 lembar asbes atau seng
gelombang .
1. Permukaan lantai paving di dalam ruangan berada 3 em di bawah permukaan balok sloof.
2. Permukaan lantai teras berada 10 em di bawah permukaan balok sloof, dengan luas
sekurang-kurangnya 1 x 1,5 m.
Apabila terdapat eelah, harus tidak lebih dari 0,5 em, dan harus diisi pasir.
/
/
136 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
138 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
5.6
Pemeliharaan Bangunan Risha
Pemeliharaan merupakan suatu cara atau teknik yang tepat untuk
menjaga kondisi/ komponen bangunan agar selalu dalam keadaan
prima sesuai dengan fungsinya .
1. Usahakan agar bangunan atau bagian yang dekat dengan badan pondasi bersih dari akar
pohon yang dapat merusak pondasi.
3. Jaga dasar pondasi dari penurunan yang melebihi persyaratan yang berlaku.
4. Usahakan drainase sekitar bangunan telah dirancang dan berjalan dengan baik selama ban-
gunan dioperasikan .
5. Jaga dasar pondasi sedemikian rupa sehingga air yang mengalir di sekitar pondasi tidak
mengikis tanah sekitar pondasi
2. Cat kembali dengan cat emulsi atau cat yang tahan air dan asam pada permukaannya.
3. Untuk bagian kolom panel struktur P1 dan P2 yang rontok karena terkena benturan benda
keras:
Bersihkan dan buat permukaan tersebut dalam keadaan kasar, kemudian beri lapisan air se-
men dan plester kembali dengan spesi/mortar semen-pasir.
4. Pada retakan panel beton, dapat digunakan bahan epoxy grouts dengan sistem injeksi.
5. Pada permukaan panel/selimut beton, dapat diberi lapisan/overlay dengan lapisan pencam-
pur epoksi mortar yang tahan air.*)
Catatan:
*) Pemberian lapisan poin 5) dilakukan pada permukaan yang telah bersih dari : kotoran, sisa
bahan bangunan, bekas cat debu agar perekatan antara bahan pelapis dengan permukaan
beton menjadi sempurna.
140 BAB - 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
Pelengka p:
2. Lakukan pemberian cat transparan dengan warna " dof/unglossy" pada permukaan yang
ada sekurang-kurangnya 2 lapis.
5.6.3 Pemeliharaan Panel Partisi Masif, Partisi Jendela, dan Partisi Pintu
A. Rangka Partisi Kayu
Rangka panel partisi dengan kayu dipergunakan hanya pada komponen arsitektur/ interior.
Bagian ini perlu dipelihara agar interior bangunan tidak terkesan kusam.
Pemeliharaan yang dilakukan :
1. Bersihkan bagian permukaan kayu dari debu secara periodik, sekurangnya 1 bulan sekali.
2. Bila warna telah kusam karena usia pemakaian yang lama, lakukan pembersihan pada per-
mukaan .
Rawat permukaan yang telah dibersihkan dengan menggunakan politur atau teakoil yang
sesuai.
Lakukan dengan menggunakan kuas dan atau kain kaos secara merata beberapa kali berla-
pis.
Partisi bagian dalam yang ditutup oleh kayu lapis dengan finishing cat kayu.
Langkah-langkah pengecatan kembali setelah beberapa kali dicat ulang :
2. Dapat menggunakan cat dasar minyak untuk kayu dan besi (alkyd gloss enamel, protective
coating), cat polyurethane atau epoksi untuk kayu .
Dinding dengan lembaran panel umumnya memiliki ketebalan yang cukup tipis, sehingga lebih
mudah retak atau pecah bila terkena benturan, dan mudah basah atau kering bila terkena air.
Pemeliharaan yang dilakukan:
Minimal tinggi 80 em dari sloof/panel P1 agar air tidak mudah meresap pada bagian lemba-
ran panel.
2. Beri mortar pada eelah antara lembaran panel dengan sloof/panel P1 agar tertutup, sehing-
ga lembaran terlindung dari aliran air.
D. Dinding Bata/Batako
Dinding pengisi hanya berfungsi sebagai partisi dan tidak bersifat sebagai penahan beban/ wall
bearing.
2. Ukur sekitar 15- 30 em dari panel P1/sloof dinding yang ada ke arah vertikal.
3. Korek dengan sendok mortar atau alat pahat, dan sebagainya pada ruang yang terdapat di
antara batu bata, setebal setengah dari ketebalan bata dengan arah horisontal sepanjang 1
m.
4. Gantikan mortar yang telah dikorek dengan mortar kedap air (eampuran 1 Pe : 3 Psr).
6. Bila telah selesai 1 sisi dinding, lakukan pada sisi yang lain dengan hal serupa.
Tambal dengan saus semen atau gunakan semen grouting khusus untuk retakan dinding.
2. Untuk retak konstruksi karena terjadi perubahan bentuk struktur utama bangunan:
Perbaikan yang dilakukan adalah perbaikan struktur atau perkuatan bagian struktur yang
bersangkutan.
142 BAB- 05
5 6 Pemenksaan Bangunan Risha
1. Sebaiknya dilakukan pengecatan ulang pada tembok bangunan setiap 2 atau 3 tahun.
3. Luar bangunan dapat menggunakan cat weather coat atau elastomeric wall coating.
Catatan :
Pemeliharaan cat juga harus dilakukan bila terjadi kerusakan cat pada bangunan.
e. Bahan yang dicat menyusut/memuai karena permukaan yang dicat mengandung air atau
menyerap air.
Cara perbaikan :
2. Bersihkan dan haluskan permukaannya dengan kertas ampelas, hingga permukaan rata,
halus, dan kering.
a. Debu atau kotoran dari udara atau kuas/alat penyemprot kering sempurna.
2. Gosok permukaan yang akan dicat dengan kertas ampelas halus dan bersihkan .
a. Umumnya terjadi pada lapisan cat yang sudah lama karena elastisitas berkurang.
a. Pigmen yang dipakai tidak tahan terhadap cuaca dan terik matahari.
a. Pengecatan dilakukan pada cuaca yang tidak baikl kurangnya sinar matahari.
b. Pengecatan pada permukaan yang mengandung lemak (wax polish), minyak atau berdebu.
144 BAB- 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
Cara perbaikan:
c. Pengecatan dilakukan pada cat yang sudah tua atau mulai mengapur.
Cara perbaikan :
1. Ampelas dan ulangi pengecatan pada lapisan cat yang sudah tua/kurang mengkilap.
2. Kerok seluruh lapisan cat dari permukaan sebelum melakukan pengecatan baru.
3. Untuk pengecatan dinding dalam bangunan dapat digunakan cat dengan vinyl silk.
Cara pemeliharaan:
1. Penutup atap dari bahan seng gelombang, sebaiknya dilakukan pengecatan dengan meni
sekurang-kurangnya setiap 4 tahun sekali .
2. Periksa paku atau anker pengikat, terutama pada karet seal untuk mencegah bocor
146 BAB - 05
5.6 Pemenksaan Bangunan R1sha
Cara pemeliharaan:
1. Bersihkan permukaan atas genteng metal dari kotoran secara periodik agar tidak berkarat.
3. Bersihkan dengan air dan sikat permukaan yang ada agar tampilan selalu rapi.
Cara pemeliharaan:
1. Periksa atap genteng keramik terutama pada bubung genteng, setiap 6 bulan
3. Cat kembali pertemuan bubung genteng keramik dengan cat genteng yang sewarna.
4. Pastikan bahwa retakan pada bubung bukan karena penurunan kayu penyangga.
Bila karena penurunan kayu penyangga, sebaiknya konstruksi kayu penyangga tersebut
diperbaiki terlebih dahulu.
D. Atap Fiberglass
Cara pemeliharaan:
1. Periksa atap fiberglass terutama pada sambungan antar komponen fiberglass, setiap 6 bu-
lan.
2. Bersihkan kotoran yang melekat dengan menggunakan sikat yang lembut dan sabun atau
deterjen.
E. Listplank Kayu
Cara pemeliharaan:
2. Bersihkan kotoran yang melekat dengan menggunakan sikat yang lembut dan sabun atau
deterjen.
Cat kembali.
Ampelas dan cat kembali dengan cat dasar serta cat penutup khusus untuk kayu.
Cara pemeliharaan:
1. Periksa saluran tegak air kotor pada bangunan, terutama saluran yang menggunakan bahan
PVC.
Lem kembali dengan lem PVC sejenis dengan pipa atau balut dengan karet bekas ban dalam
motor untuk emergensi sehingga aliran tidak bocor.
148 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
Buat kasar permukaan yang retak atau ujung sambungan dengan menggunakan ampelas kasar.
Cara pemeliharaan:
1. Bersihkan setiap hari dengan sabun atau bahan pembersih lain yang tidak korosif.
Cara pemeliharaan:
4. Jangan gunakan bahan pembersih keramik untuk membersihkan lapisan pernekel agar
lapisan tersebut tidak rusak.
D. Septik Tank
Cara pemeliharaan:
1. Cegah setiap pembuangan bahan yang tidak larut ke dalam septik tank.
2. Jangan membuang air bekas mandi yang mengandung sabun atau deterjen ke dalam septik
tank.
Cara pemeliharaan:
3. Bersihkan lapisan meni setiap 2 tahun sekali agar seng talang tetap awet dan berfungsi baik.
4. Cat kembali talang tegak yang terbuat dari pipa besi atau PVC, sekurang-kurangnya 4 tahu n
sekali.
Cara pemeliharaan:
1. Periksa saringan air yang terdapat pada lantai kamar mandi atau WC setiap hari .
2. Usahakan selalu terdapat air pada saringan yang bersangkutan untuk mencegah masuknya
hawa yang tidak sedap dalam ruangan (kamar mandi).
4. Bersihkan saringan air dari bahan yang menempel pada lubang ujung saluran .
Cara pemeliharaan :
2. Bersihkan goresan ringan dengan menggunakan ampelas halus dengan sedikit air di atas
lantai.
4 . Tidak disarankan membersihkan permukaan dengan menggunakan air keras ka rena dapat
menyebabkan permukaan kusam.
150 BAB - OS
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
B. Lantai Teraso
Cara pemeliharaan:
1. Bersihkan permukaan lantai teraso dari kotoran setiap hari dengan floor polishing machine.
2. Bersihkan goresan ringan dengan menggunakan ampelas halus dengan sedikit air di atas
lantai.
4. Tidak disarankan membersihkan permukaan dengan menggunakan air keras karena dapat
menyebabkan permukaan kusam.
Catatan:
Gosok dengan semir khusus teraso. Lakukan secara rutin setidaknya 3 bulan sekali.
Cara pemeliharaan:
1. Bersihkan permukaan lantai keramik dari kotoran setiap hari dengan mesin penyedot debu.
Cara pemeliharaan :
2. Semprot dengan air bertekanan agar kotoran pada sela tekstur lan tai hilang .
4 . Tidak disarankan membersihkan permukaan dengan menggunakan air keras karena dapat
menyebabkan permukaan kusam .
Plafond tripleks akan rusak terutama pad abag ian luar bangunan setelah lebih dari 10 tahun pemakaian.
Cara pemeliharaan:
1. Bersihkan plafond tripleks dari kotoran yang melekat seku rangnya 3 bulan sekali.
3. Bila plafond rusak karena permukaan kebocoran air, segera ganti yang baru.
4. Bila mungkin, bekas bocoran ditutup dengan cat kayu dan cat kembali dengan cat emulsi/
cat tembok serupa.
B. Plafond Gypsum
Prinsip:
Bil a plafond gypsum terkena air dari bocoran atap, segera ganti baru atau perbaiki.
152 BAB - 05
5.6 Pemeriksaan Bangunan Risha
Cara perbaikan:
2. Tutup dengan bahan gypsum powder yang telah diaduk dengan air.
3. Ratakan dengan menggunakan penggaris atau alat perata dari tripleks atau plastik keras
sampai rata dengan permukaan sekitarnya.
6. Tutup dengan plamuur tembok dan cat kembali sesuai dengan warna yang dikehendaki.
Cara pemeliharaan :
1. Periksa keadaan kunci, gerendel dan engsel pada pintu yang penggunaannya tinggi (seperti:
pintu keluar, pintu ruangan, pintu kamar, dan sebagainya).
2. Lumasi bagian yang bergerak dengan pelumas, sekaligus untuk menghilangkan ka rat yang
terbentuk karena kotoran dan cuaca/debu .
4. Gunakan pelumas yang sesuai, yaitu pelumas pasta atau pelumas cair lainnya.
B. Kusen Kayu
Cara pemeliharaan:
Usahakan melakukan polituran kembali secara periodik, setiap 6 bulan sekali, untuk memeli-
hara permukaan.
Gangguan yang paling utama dalam sistem sambungan adalah pengurangan dimensi.
Untuk menghindari pengurangan dimensi yang terlalu cepat dan berlebihan, maka mur, baut,
dan plat diwajibkan menggunakan jenis galvanis.
Cara pemeliharaan :
Lindungi sistem sambungan mur, baut, dan plat dengan cat minyak.
2. Bila mur, baut, dan plat terlanjur mengalami korosi, segera oleskan anti karat *)
3. Bila mur, baut, dan plat telah mengalami gradasi yang lebih dari 10%, segera ganti dengan
yang baru.
4. Bila terdapat celah pada bagian sambungan antara panel struktur yang akan menyebabkan
air dan udara dapat keluar masuk pada bagian celah dan mengakibatkan korosi pada bagian
baut, segera tutup celah dengan cairan semen .
154 BAB - OS
Catatan 1:
perlindungan karat *)
a) Bersihkan bagian yang berkarat dari kotoran dan debu karat dengan cara mengupas
karat serta membersihkannya dengan sikat.
c) Biarkan sampai kering dan bila diperlukan dapat ditambahkan lagi secukupnya.
Catatan 2:
a. Kondisi baut harus dalam keadaan kencang. Kekencangan setara 5 kgm untuk baut
struktural, sedangkan baut non struktural cukup hanya dengan dieratkan biasa.
b. Seluruh baut perlu dilakukan pengecekan minimal 10 tahun sekali untuk memastikan
kekencangan dan diameter masih dalam toleransi.
Catatan 3:
Mur, baut, dan plat pada sloof dan pondasi (panel P1 dan simpul) ditutup dengan mor-
tar kedap air secukupnya, kurang lebih setebal 10 em.