0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan9 halaman

Relasi Manusia dengan Tuhan dan Sesama

Dokumen tersebut membahas relasi manusia dengan diri sendiri, sesama, lingkungan dan Tuhan. Relasi ini penting namun seringkali terganggu karena manusia lupa akan kodratnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan menjadi sombong. Untuk membangun relasi yang seimbang diperlukan pengenalan diri, penghargaan terhadap sesama, kepedulian terhadap lingkungan, serta hubungan yang jujur dengan Tuhan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan9 halaman

Relasi Manusia dengan Tuhan dan Sesama

Dokumen tersebut membahas relasi manusia dengan diri sendiri, sesama, lingkungan dan Tuhan. Relasi ini penting namun seringkali terganggu karena manusia lupa akan kodratnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan menjadi sombong. Untuk membangun relasi yang seimbang diperlukan pengenalan diri, penghargaan terhadap sesama, kepedulian terhadap lingkungan, serta hubungan yang jujur dengan Tuhan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

RELASI MANUSIA DENGAN DIRI SENDIRI, SESAMA,


LINGKUNGAN DAN TUHAN

Pengantar

Pada zaman ini, manusia seringkali mengalami kehilangan


orientasi hidup dan pandangan yang menyeluruh tentang
kehidupan. Manusia juga sering mengalami pergumulan,
persoalan dasar khususnya dalam membangun relasi dengan
diri, sesama, lingkungan dan Tuhan.
Efifectus: Bukan masalah itu yang mengganggu anda, tetapi
bagaimana anda memandang masalah itu. Cara pandang
manusia menentukan relasinya dengan diri, sesama, lingkungan
dan Tuhan.
Sebagai citra Allah, anda diharapkan menghayati panggilan
dan perutusan manusia sebagai citra Allah yang bermartabat
luhur, terbuka, jujur dalam membangun relasi dengan diri
sendiri, sessama, lingkungan dan Tuhan.,

A. Proses Menelusuri Relasi Manusia Dengan Diri Sendiri,


Sesama, Lingkungan dan Tuhan

Memaknai cerita tentang: Kehidupan Yang Berkualitas

Kita tidak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan


pijakan yang terakhir, sehingga kita belajar untuk melakukan
segala sesuatu yang sanggup kita lakukan tatkala
mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang kita
ayunkan merupakan sebuah dunia baru.

B. Persoalan Dasar dalam Membangun Relasi dengan Diri


Sendiri, Sesama, Lingkungan dan Tuhan
Menggali isi cerita:
1. Apa yang bisa anda tanyakan terhadap ralph sehingga ia
bisa membangun hidup yangberkualitas
2. Mengapa Ralph dapat membangun hidup yang berkualitas
3. Anda diminta untuk mengidentifikasikan persoalan dasar
yang anda hadapi dalam membangun relaasi dengan diri,
sesama, lingkungan dan Tuhan

C. Menggali sumber argumentasi Relasi Manusia dengan


Diri Sendiri, Sesama, Lingkungan dan Tuhan
1. Hubungan Manusia Dengan Dirinya Sendiri
• Manusia dianugerahi kemampuan akal budi, hati
nurani dan kebebasan
• Dalam perjalanan, manusia sering lupa diri akan
kodratnya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang
memiliki keterbatasan dan ketergantungan dengan
Sang Penciptanya
• Kesombongan ini mengakibatkan hubungan manusia
dengan dirinya sendiri menjadi terganggu yakni
keterasingan diri manusia itu sendiri
• Kitab Kej 3:7 mengungkapkan tentang perbuatan
manusia yang melanggar tatanan surgawi yang
mengakibatkan manusia malu dan telanjang. Hal ini
menandakan bahwa ketika manusia menjadi asing di
hadapan Allah sesungguhnya ia menjadi asing dengan
dirinya sendiri. Ia kehilangan hakikatnya sebagai
gambar Allah, ia malu dan telanjang
• Persoalan mendasar adalah ketika manusia tidak
mengenal dirinya sendiri dengan baik mengakibatkan
ketidakmampuannya untuk menerima dirinya apa
adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang
ada pada dirinya
• Pengenalan dan penerimaan diri yang baik akan
menentukan sikap dan tindakannya yang baik
terhadap sesama, lingkungan dan Tuhan.
• Semuanya mempunyai keterkaitan, bahwa
barangsiapa mengenal dirinya, sesungguhnya dia
akan mengenal Allah, manusia akan mengetahui
bahwa selain Allah tidak ada makhluk lain yang bisa
menciptakan dirinya dan alam semesta ini menuju
kesempurnaan

2. Hubungaan manusia dengan Sesamanya


• Sebagai makhluk sosial, harkat dan martabat
manusia sebagai individu diakui secara penuh dalam
kebahagiaan bersama
• Masyarakat adalah wadah bagi setiap individu untuk
mengadakan interaksi sosial dan interelasi sosial.
• Sebagai pribadi sosial, hidup dalam kebersamaan
tidak mudah karena seringkali terjadi konflik
kepentingan antara satu dengan yang lain. Oleh
karena itu sangat dibutuhkan sikap saling
menghormati, saling pengertiann dan kerjasama
menuju suatu tatanan hidup yang lebih baik.
• Solidaritas dan subsidiaritas merupakan dua ciri
utama yang menekankan semangat manusia sebagai
pribadi sosial
• Mentalitas egosentrisme harus diwaspadai dan
dihindari karena mental ini sangan mengutamakan
dan mengukur segala sesuatu dengan Ke-AKU-an
yang melampaui batas kewajaran (egois)
• Kisah manusia Kain menunjukan ketidakmampuan
manusia untuk menerima kelebihan sesamanya
(Habel), Kain merasa berada pada subordinasi Habel,
sehingga ia mengambil keputusan untuk mengakhiri
hak kemanusiaan saudaranya untuk hidup.
• Kehidupan yang berdasar pada ketidakseimbangan
inilah yang melahirkan kebencian, permusuhan
bahkan pembunuhan manusia oleh manusia
• Manusia harus menyadari bahwa orang lain bukanlah
ancaman bagi pribadinya dan mengakui sesamanya
sebagai engkau yang dipanggil bersama membangun
relasi personal. Aku menjadi aku karena engkau. Dan
engkau tampil bagi saya sebagai suatu rahmat.
• CINTA menjadi syarat dan sikap dasar yang ideal
dalam kehidupan bersama

3. Hubungan Manusia dengan Lingkungannya


• Dalam Kitab Suci terungkap manusia sebagai
penguasa seluruh dunia (Kej. 1:28; Kej. 1:27; Sir.
17:3-10)
• Kesadaran manusia sebagai gambar Allah, wakil Allah,
pusat dunia dapat menyeret manusia menjadi
pengisap alam semesta, penguasa sewenang-wenang
terhadap ciptaan lain
• Kesadaran itu seharusnya mengundang manusia ikut
serta mengatur, memelihara, menciptakan kembali
dunianya. Manusia hanyalah bagian dari seluruh
ciptaan, hidupnya disangga oleh alam semesta. Oleh
karena itu, manusia harus menyadari dan
menempatkan dirinya sebagai pelayan dalam
keterarahan dunia kepada Allah.
• Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk
menaklukan alam agar manusia dapat hidup dan
tetap berlangsung. Manusia dan alam tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Manusia membutuhkan
alam untuk hidup, alam membutuhkan manusia agar
tetap terpelihara.

4. Hubungan Manusia Dengan Tuhan


• Manusia terbatas, Allah tidak terbatas
• Manusia tdk hanya mengalami perbedaan radikal
dengan Tuhan, lebih dari itu manusia sangat
tergantung pada Tuhan. Manusia dan alam semesta
seluruhnya diberi hidup oleh Allah.
• Sebagai makhluk sempurna manusia bisa berpikir,
bertindak, berusaha dan bisa menentukan mana yang
baik dan benar.
• Di pihak lain manusia menyadari bahwa ia memiliki
kekurangan dan keterbatasan. Manusia sering merasa
dan berkehendak untuk menjadi penguasa. Hal inilah
yang menjatuhkan manusia ke dalam kesombongan
sehingga ia merasa tidak membutuhkan penciptanya
lagi. Manusia menjadi pencipta bagi dirinya sendiri,
berkuasa atas dirinya dalam ciptaan yang lain.
• Tindakan dan sikap sebagai penguasa inilah yang
mengakibatkan rusaknya identitas atau dapat
dikatakan krisis identitas. Arttinya manusia tidak lagi
menjadi manusia sebagai ciptaan yang diciptakan
sesuai dengan gambar Allah, Imago Dei
• Kondisi ini membuat manusia tidak mampu untuk
keluar dari lingkaran kesombongannyanya sehingga ia
sendiri tidak sanggup membebaskan dirinya.
• Allah sangat mencintai ciptaanNYa termasuk
manusia. Allah berinisiatif untuk memperbaiki
ciptanNya atau memulihkan manusia. Allah yang
tidak terhampiri itu menghampiri manusia untuk
memprakarsai tindakan pemulihan , agar manusia
kembali menjadi manusia yang hidup dalam relasi
yang benar dan utuh dengan pencipta-Nya, sesama
dan lingkungannya serta dengan dirinya sendiri
• Tindakan pemulihan citra oleh Allah ini dilakukan
dengan menghampiri manusia. Allah yang menjadi
manusia (inkarnasi) dan bukan manusia yang menjadi
Allah. Allah hadir dlm diri manusia Yesus Kristus.
• Pada hakikatnya manusia memiliki hubungan yang
perlu dijalankan yaitu hub secara vertikal dan
horisontal. Dalam hub secara vertikal nampak relasi
antara manusia dengan Tuhan. Hubungan ini sangat
pribadi, individual dan spiritual. Hanya manusia dan
Tuhan yang tahu seberapa besar kedekatan itu. Yang
menjadi persoalan pada zaman ini adalah manusia
sering menjalankan relasi ini dalam kepura-puraan
dan formalisme belaka. Relasi vertikal ini pun
ditentukan oleh relasi dengan sesama dan alam
ciptaan lain. Dalam berelasi dengan Tuhan, terkadang
manusia kurang jujur dan takut membuka jati diri
yang sebenarnya. Relasi seperti inilah yang mesti
dipulihkan kembali agar manusia dapat hidup dan
berelasi dengan Tuhan (dengan telanjang aku keluar
dari rahim ibuku, dengan telanjang juga aku datang
menghadap Tuhan.
• Relasi yang jujur, terbuka apa adanya dengan segala
kekurangan dan keterbatasan, manusia datang
kepada Tuhan untuk mencari dan menemukan apa
kehendak Tuhan dalam dirinya.

D. Mengkomunikasikan Relasi Manusia Dengan Diri Sendiri,


Sesama, Lingkungan dan Tuhan
• Kenyataan bahwa manusia dalam hatinya yang
terdalam memiliki suatu kepekaan terhadap hal-hal
yang bersifat gaib, transenden dan mengatasi dirinya.
• Kenyataan ini yang akhirnya membuat manussia
mampu terbuka terhadap hal-hal yang bersifat illahi,
bahkan yang membuatnya mampu mencari dan
mengakui adanya Tuhan serta mengimaninya. Namun
dalam ketrbatasannya, manusia masuk dalam
pencarian yang tak pernah selesai, karena apa yang
menjadi objek pencariannya itu tidak pernah bisa
dilakukan sepenuhnya. Itulah sebabnya usaha
pencarian manusia menjadi sebuah sikap tunduk dan
penyerahan diri kepada Sang Gaib.
• Yang dimaksud dengan gaib disini adalah sesuatu
yang dipercayai oleh manusia sebagai sesuatu yang
nyata adanya namun tidak kelihatan di mata, bersifat
supranatural, adikodrati, suatu realitas yang
melampaui kenyataan duniawi semata yang dalam
pengertian kepercayaan manusia primitif, maupun
dalam kepercayaan manusia beragama modern
disebut sebagai Tuhan atau Allah.
• Pengalaman hidup manusia ada yang menyenangkan
dan ada juga yang mengecewakan. Yang
menyenangkan mendatangkan kekaguman pada diri
manusia, sebaliknya yang mengecewakan dan
menyedihkan membuat manusia untuk merenung
lebih dalam mengenai dirinya sendiri. (Cth. Kisah ttg
Petrus yang mau tenggelam dalam perahu bersama
Yesus. Pengalaman Petrus ini membuatnya kagum
dan mengikuti Yesus)
• Keterbatasan manusia ini membuka hatinya untuk
berelasi dengan sesamanya, lingkungan hidupnya dan
dengan Sang Kuat Kuassa yan mengatasi dirinya yaitu
Tuhan.
• KERINDUAN
Ada seorang pemuda yang mendekati seorang pertapa dengan permintaan,
tunjukkan kepadaku bagaimana saya dapat menemukan Tuhan”. Pertapa itu
bertanya, “Berapa besar kerinduanmu ini ?”. Orang muda itu menjawab,
“Lebih dari apa pun di dunia ini”. Pertapa itu membawa orang muda tersebut
ke tepi sebuah danau dan mereka masuk ke dalam air danau sampai danau
mencapai leher. Kemudian pertapa itu mengangkat tangannya dan menekan
kepala orang muda itu ke dalam air. Orang muda itu berjuang dengan susah
payah, tetapi pertapa itu tidak melepaskannya sampai dia hampir tenggelam.
Ketika mereka kembali ke tepi danau, pertapa itu bertanya kepada orang
muda tersebut, “Anakku, ketika engkau berada di dalam air, apa yang engkau
inginkan lebih dari segala yang lain ?” Tanpa ragu orang muda itu menjawab,
“Udara”. “Baik, ketika engkau ingin menemukan Tuhan seperti engkau
menginginkan udara, maka matamu akan terbuka terhadap keajaiban Tuhan”.
(Paul J. Wharton)
• Keterbukaan manusia membangun relasi dengan
sesama merupakan ungkapan dari sikap perilaku baik
dengan diri sendiri. Jika digali lebih dalam lagi,
keterbukaan dalam berelasi harus dilandasi relasi
yang baik dengan Tuhan. Semua relasi yang baik pada
akhirnya akan mendorong tumbuhnya sikap yang baik
terhadap dunia nyata yakni dalam memperlakukan
alam tempat manusia berpijak serta penyerahan
manusia pada Tuhan.
E. Rangkuman dan Afirmasi Relasi Manusia Dengan Diri
Sendiri, Sesama, Lingkungan dan Tuhan
• Moralitas, Kesadaran Moral dan Kewajiban Moral.
• Moralitas adalah suatu tindakan yang dilakukan semata
mata karena anda berkendak baik bukan karena ada
perhitungan atau karena paksaan. Suara hatilah yang
merupakan kesadaan moral ketika berhadapan dengan
situasi konkret. Kewajiban moral merupakan sikap orang
yang membuka hati dan tangannya kepada saudaranya.
• Hati nurani harus menjadi pedoman dalam membangun
relasi dengan diri sendiri, sesama, lingkungan dan Tuhan.
Hati nurani menyuarakan tuntutan mutlak untuk selalu
memilih yang baik dan menolak yang buruk. Itu berarti
dalam hati nurani anda bertemu dengan realitas mutlak
yang menuntut anda memperhatikan anda, dan anda
merasa malu apabila anda mengelak dari tuntutannya.
• Yesus menegaskan siapa yang membuka hatinya bagi
sesamanya, membuka hatinya terhadap Yesus yang dalam
keyakinan Kristiani adalah Allah di antara kita, wajah yang
mutlak.
• Manusia diberikan kemampuan untuk bertindak bijaksana
dalam mengatasi persoalan dasar yang sulit, tidak hanya
sekedar menggunakan kemampuan berpikir rasional-
intelektual semata. Kebijaksanaan membuat seseorang
terhindar dari kesalahan dalam memutuskan atau
melakukan sesuatu. Kebijaksanaan bukan hanya
membutuhkan olah pikiran atau kecerdasan intelektual
akan tetapi terutama olah hati yang merupakan accesn
manusia kepada the higher knowledge yakni Tuhan sendiri.
• Masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan setiap
hari tidak selalu bisa diselesaikan dengan hanya
mengandalkan kemampuan intelektual semata, karena ada
hal-hal yang memerlukan kemampuan spiritual atau
kebijaksanaan.
• Penulis Amssal: Berbahagialah orang yang mendapat
hikmat dan memperoleh kebijaksanaan. Sebab lebih baik
mendapat kebijaksanaan daripada memperoleh perak dan
emas murni. Lebih berbahagialah hikmat daripada
permata, dan lebih mahal daripada harta benda. Apapun
yang diinginkan hati tak mungkin mengimbangi
kebijaksanaan (Amsal 3:13-15)

----------------------------------------------------

Common questions

Didukung oleh AI

Humanity's ability to act wisely transcends intellectual reasoning by integrating spiritual discernment and moral introspection. Divine guidance enriches decision-making processes, offering higher insights and truth beyond human intellect. Relying on spiritual wisdom ensures that decisions align with moral and ethical values, leading to holistic and impactful actions .

The narrative of Cain and Abel illustrates social relationship challenges through themes of jealousy and the inability to accept others' strengths. Cain's perception of subordination to Abel led to destructive behavior, ultimately resulting in violence and the deterioration of brotherly ties. This story highlights the need for solidarity and mutual acceptance to foster healthy social relationships .

Conscience plays a pivotal role in cultivating moral relations with the self, others, and God. It acts as an internal guide, prompting individuals to adhere to moral principles that promote goodness and fairness. Through conscience, individuals meet the demand of the absolute reality, which guides moral decisions and fosters honest relationships. A well-formed conscience leads people to respect others, recognize their divine image, and live in accordance with God's will, thereby enhancing moral integrity across personal, social, and spiritual domains .

External religious practices can undermine true personal spiritual experiences by fostering a focus on formalism rather than genuine relationship with the divine. When practices become routine or performative, they may distract from sincere introspection and direct engagement with God's presence. This can lead to spiritual stagnation, where individuals fulfill religious obligations without authentic personal transformation. The challenge lies in balancing ritual observance with personal spiritual growth to maintain a meaningful connection with God .

Solidarity and subsidiarity are crucial in overcoming egocentrism by promoting unity and mutual support in social interactions. Solidarity ensures that individuals recognize shared goals and responsibilities, while subsidiarity supports empowering individuals and communities to make decisions that affect them. Together, they counteract self-centered attitudes by fostering cooperation, understanding, and respect, leading to a more just and harmonious society .

Human relationships with others often mirror their relationship with themselves. When humans fail to understand and accept their own identity and limitations, they may project these insecurities onto others, leading to conflict. A healthy self-relationship is marked by self-awareness and acceptance, facilitating respectful and compassionate interactions with others. This self-awareness is crucial to avoiding the pitfalls of egocentrism and fostering a more harmonious social environment .

The dual nature of human relationships—vertical (with God) and horizontal (with others)—implies that personal faith develops in a complex interplay of divine and interpersonal interactions. The vertical relationship, deeply individual, relies on sincerity and transparency before God, while the horizontal connection requires empathy and solidarity with others. Disharmony or formality in either dimension can hinder true faith development. Cultivating faith demands balancing intimate personal spirituality with ethical social engagement, reflecting the interconnectedness of love for God and neighbor .

Perceived autonomy from God leads to a crisis of identity, where humans become self-reliant and forget their limitations and dependence on the Creator. This results in pride and moral decline, damaging the inherent relationship with God. Addressing this requires acknowledging human limitations, seeking divine intervention for restoration, and fostering a sincere spiritual relationship through humility and openness to divine guidance .

Formal and superficial relationships with God pose problems by fostering insincerity and lack of true spiritual engagement. These relationships often result from societal pressures and fail to offer authentic spiritual satisfaction. Deepening such relationships requires honesty, vulnerability, and openness to divine guidance, transforming them into genuine connections that reflect true spiritual fulfillment and understanding of God's will .

Humanity's relationship with the environment reflects a dual role of stewardship and exploitation. As stewards, humans are tasked with managing and preserving the environment as an integral part of life and creation. However, this relationship is often marred by exploitative tendencies, where humans dominate and exhaust resources. Such actions betray the intended balance of being custodians of creation, leading to environmental degradation .

Anda mungkin juga menyukai