0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan67 halaman

Gastroenteritis Anak: Panduan Klinik

Diunggah oleh

Nira Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
182 tayangan67 halaman

Gastroenteritis Anak: Panduan Klinik

Diunggah oleh

Nira Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

No.

Formulir :
CLINICAL PATHWAY KSM ANAK Tgl. Berlaku :
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :

RUMAH SAKIT GASTROENTERITIS PADA ANAK ICD :


CUT MEUTIA
DENGAN DEHIDRASI SEDANG
No. RM :
Nama Pasien : BB : Kg
Jenis Kelamin : TB : Cm
Tanggal Lahir : [Link] : Jam : wib
Diagnosa Masuk RS : [Link] : Jam : wib
Penyakit Utama : Kode ICD : Lama Rawat : Hari
Penyakit Penyerta : Kode ICD : Rencana Rawat : 4 Hari
Komplikasi : Kode ICD R. Rawat/ kelas :

HARI RAWAT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 4 KETERANGAN

1. ASESMEN AWAL

Dokter IGD Pasien masuk melalui IGD


ASESMEN AWAL MEDIS
Dokter Spesialis Anak Pasien masuk melalui RJ

Perawat Primer:

Alasan utama masuk rumah sakit,


riwayat penyakit, status psikologis,
mental, sosial, ekonomi dan budaya
ASESMEN AWAL pemeriksaan fisik, tingkat kesadaran,
KEPERAWATAN tanda-tanda vital, riwayat alergi,
skrining gizi, nyeri, status fungsional:
bartel index, risiko jatuh, risiko
decubitus, kebutuhan edukasi dan
Discharge Planning

2. LABORATORIUM

Darah Lengkap
Urin Lengkap
Feses Rutin O
Serum Elektrolit O
3. RADIOLOGI/IMAGING

4. KONSULTASI

Varian

5. ASESMEN LANJUTAN

Dokter DPJP Visite harian/ Follow up


a. ASESMEN MEDIS
Dokter non DPJP/dr. Ruangan O O O O Atas Indikasi/ Emergency
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM ANAK Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA GASTROENTERITIS PADA ANAK ICD :
DENGAN DEHIDRASI SEDANG
b. ASESMEN
Perawat Penanggung jawab Dilakukan dalam 3 Shift
KEPERAWATAN
Lihat risiko malnutrisi melalui skrining gizi
dan mengkaji data antropometri, biokimia,
c. ASESMEN GIZI Tenaga Gizi (Nutrisionis/Dietisien) fisik/ klinis, riwayat makan termasuk alergi
makanan serta riwayat personal. Asesmen
dalam waktu 48 jam.

Telaah Resep
d. ASESMEN FARMASI
Rekonsiliasi Obat
6. DIAGNOSIS

a. DIAGNOSIS MEDIS Gastroenteritis

b. DIAGNOSIS Nyeri Akut


KEPERAWATAN Ketidakseimbangan nutrisi
Peningkatan kebutuhan zat gizi
energi berkaitan dengan
meningkatnya kebutuhan untuk
c. DIAGNOSIS GIZI
menjaga suhu tubuh ditandai
dengan asupan tidak adekuat,
demam
7. DISCHARGE PLANNING
Identifikasi Kebutuhan Edukasi &
Latihan Selama Perawatan
Identifikasi kebutuhan di rumah
Hand Hygiene
8. EDUKASI TERINTEGRASI

Oleh semua pemberi asuhan berdasarkan


Penjelasan Diagnosis kebutuhan dan juga berdasarkan Discharge
Planning.
a. EDUKASI/
INFORMASI MEDIS Pengisian formulir informasi dan edukasi
Rencana terapi
terintegrasi oleh pasien dan atau keluarga

Informed Consent Edukasi gizi dilakukan saat awal masuk dan atau
b. EDUKASI & Diet lambung bentuk saring atau pada hari ke 4 atau hari ke 5
KONSELING GIZI lambung
Konseling nutrisi/pola makan
c. EDUKASI Pola istirahat
KEPERAWATAN
Pola hidup sehat
Informasi Obat
d. EDUKASI FARMASI
Konseling Obat

PENGISIAN FORMULIR
INFORMASI DAN Lembar Edukasi Terintegrasi
EDUKASI TERINTEGRASI

9. TERAPI/ MEDIKAMENTOSA

Antibiotik (Ceftriaxon) O O O O
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM ANAK Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA GASTROENTERITIS PADA ANAK ICD :
DENGAN DEHIDRASI SEDANG

a. INJEKSI
Antipiretik
(Paracetamol/Metamizole) O O O O Varian
Ranitidin O O O O
Ondansetron O O O O
b. CAIRAN INFUS Cairan Kristaloid
Zinc
Varian
[Link] ORAL Probiotik
Cotrimoxazole O O O O
10. TATA LAKSANA/INTERVENSI
a. TATA LAKSANA/
INTERVENSI MEDIS
Vital Sign Monitoring
Fluid Management
Infection Control
b. TATA Medication Management
LAKSANA/
INTERVENSI Nutrition Therapy
KEPERAWATAN
Nutritional Counseling
Nutritional Monitoring
Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi/gizi Bentuk makanan, kebutuhan zat gizi
c. TATA
Diet Makanan Lunak atau Makanan disesuaikan dengan usia dan kondisi klinis,
LAKSANA/
Saring (Diet Lambung) secara bertahap
INTERVENSI GIZI
d. TATA LAKSANA/
Rekomendasi kepada DPJP Sesuai dengan hasil monitoring
INTERVENSI FARMASI
11. MONITORING & EVALUASI
Asesmen Ulang & Review Verifikasi
a. DOKTER DPJP Rencana Asuhan Monitor perkembangan pasien

Monitoring tanda-tanda vital pasien


Monitoring status hidrasi pasien
meliputi balance cairan
Monitoring tindakan pencegahan
Infeksi
Monitoring pemberian obat
b. KEPERAWATAN antipiretik
Monitoring status nutrisi pasien dan
nilai balance intake dan outtake
Monitoring tanda-tanda kurang
Nutrisi
Monitoring penurunan skala nyeri
Monitoring asupan makanan
Monitoring Antropometri
Sesuai dengan masalah gizi dan tanda
c. GIZI
Monitoring Biokimia gejala yang akan dilihat kemajuannya.

Monitoring Fisik/klinis terkait gizi


Monitoring Interaksi Obat

d. FARMASI Monitoring Efek Samping Obat


No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM ANAK Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA GASTROENTERITIS PADA ANAK ICD :
DENGAN DEHIDRASI SEDANG
Pemantauan Terapi Obat
12. MOBILISASI /REHABILITASI
Program mobilisasi bertahap dari
a. MEDIS bedrest di hari rawat 0/1 hingga
b. KEPERAWATAN Dibantu sebagian / mandiri
Tahapan mobilisasi sesuai kondisi pasien
c. FISIOTERAPI
13. OUTCOME/HASIL
Tegaknya diagnosis berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik
Diagnosis definitive dengan
a. MEDIS
pemeriksaan kultur feses
Evaluasi tanda-tanda vital dan
komplikasi
Tanda Vitasl dalam Batas Normal
Indek Output Seimbang

Integritas kualitas perianal baik


b. KEPERAWATAN Tanda-tanda vital normal (Suhu <
37,50C)
Nyeri terkontrol
Intake oral cairan adekuat
Status Gizi berdasarkan antropometri,
c. GIZI Asupan makan > 80% biokimia, fisik/klinis
Terapi obat sesuai indikasi
d. FARMASI Meningkatkan kualitas hidup pasien
Obat rasional

14. KRITERIA PULANG


Umum: Hemodinamik stabil, Intake
Baik
Khusus: BAB padat atau BAB encer Status pasien/tanda vital sesuai dengan PPK
< 2 x sehari, Tidak ada nyeri perut,
Demam turun, kesadaran baik, tidak

15. RENCANA PULANG/EDUKASI PELAYANAN LANJUTAN

Resume Medis dan Keperawatan


Pasien membawa Resume Perawatan/ Surat
Penjelasan diberikan sesuai dengan
keadaan umum pasien Rujukan/ Surat Kontrol/Homecare saat
pulang.
Surat pengantar kontrol

Jakarta, ........... / .......... / ...............


Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat Penanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

VARIASI PELAYANAN
TANGGAL ALASAN
YANG DIBERIKAN
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM ANAK Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA
GASTROENTERITIS PADA ANAK ICD :

DENGAN DEHIDRASI SEDANG

Keterangan : Yang Harus Dilakukan √ Bila sudah dilakukan


Bisa Dilakukan / Bisa
O Tidak X Bila tidak dilakukan
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM ANAK
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT DIARE AKUT PADA ANAK
CUT MEUTIA

1 PENGERTIAN Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan
konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 1 minggu. Menurut Riset
kesehatan Dasar 2007, diare merupakan penyebab kematian pada 42%
bayi dan 25,2% anak usia 1 – 4 tahun.
2 ANAMNESIS 1. Lama berlangsungnya diare, frekuensi diare sehari, warna feses, adakah
lendir atau lendir darah dalam feses
2. Adakah muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun,
kapan buang air kecil terakhir, demam, sesak nafas, kejang, perut
kembung
3. Jumlah cairan yang masuk selama diare
4. Jenis makanan dan minuman yang dimakan/minumselama diare
5. Apakah mengkonsumsi makanan minuman yangtidak biasa
6. Apakah terdapat penderita diare disekitarnya
7. Bagaimana dengan sumber air minum
3 PEMERIKSAAN 1. Keadaan umum, tanda vital dan kesadaran :
FISIK Tanda Utama :
 gelisah, rewel, lemah/ letargi/ coma, tampak haus, turgor kurang
atau buruk
Tanda tambahan :
 Mulut bibir lidah kering, mata dan UUBcekung, keluar air
mata
2. Nafas cepat dan dalam (nafas Kuszmaull) tandaasidosis metabolik
3. Kejang karena gangguan keseimbangan elektrolit (hipo atau
hipernatremia), kembung (hipokalemia)
4. Berat Badan
5. Penilaian derajat dehidrasi
4 KRITERIA 1. Diare akut tanpa dehidrasi : Tidak ditemukan tanda utama maupun
DIAGNOSIS tambahan, kehilangan cairan tubuh < 5%BB. KU baik sadar, UUB tak
cekung, mukosa mulut dan bibir basah, turgor baik atau cukup, bising
usus normal, akral hangat
2. Diare akut dengan dehidrasi ringan /sedang: Kehilangan cairan
5-10% BB, terdapat 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda

Hal 1 dari 3
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM ANAK
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT DIARE AKUT PADA ANAK
CUT MEUTIA

tambahan. KU gelisah atau cengeng. Turgor kurang, akral masihhangat


3. Diare akut dengan dehidrasi berat : kehilangancairan >10% BB,
terdapat 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda tambahan. KU letargi
atau koma, UUB sangat cekung, mata sangat cekung,
mukosa mulut dan bibir kering. Turgor sangat kurang akral dingin.

5. DIAGNOSIS Diare akut dengan atau tanpa dehidrasi


KERJA
6. DIAGNOSIS 1. Keracunan makanan
BANDING 2. Disentri baksiler
3. Disentri amuba
7. PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan feses lengkap
PENUNJANG 2. Analisis elektrolit pada kondisi dehidrasi
3. Analisis gas darah bila perlu pada dehidrasi berat dengan asidosis
8. TATALAKSANA 1. Cairan kristaloid (Kaen 3A, Kaen 3B, D51/4NS) 175 cc – 200 cc/ kg
bb/ hari.
2. Seng dibawah 6 bulan 10 mg perhari, diatas 6 bulan 20 mg perhari.
3. Probiotik 2x 1 po.
4. Oralit setiap BAB cair.
5. Antibiotika : trimetoprim (4 mg/kg bb/ x) 2 x 1 po, cefixim (3 – 5
mg/kgbb/x) 2x1 po, ceftriaksone inj 1 x 50-80 mg/kgbb/hari.
6. Paracetamol 10 mg/kgbb/kali, maksimal 5 kali.
7. Domperidon 0,3 mg/kgbb/kali atau Ondansetron 0,15
mg/kgBB/kali.
9. EDUKASI 1. Edukasi hygiene lingkungan : jamban yg bersih, selalu memasak
makanan dan minuman dan hygiene pribadi: cuci tangan sebelum
makan atau memberikan makanan
2. Edukasi : ASI tetap diberikan, makanan sapihan, imunisasi
rotavirus bila ada dan masih dalam usia < 6 bulan, imunisasi campak

10. PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam / malam


Ad sanationam : dubia ad bonam / malam Ad
fungtionam : dubia ad bonam / malam

Hal 2 dari 3
11. TINGKAT EVIDENS II
12. TINGKAT B
REKOMENDASI
13. PENELAAH KRITIS
14. INDIKATOR 1. BAB frekuensi, konsistensi normal
(OUTCOME) 2. intake oral baik

3. kondisi hemodinamik baik


15. KEPUSTAKAAN 1. Ditjen PPM,PLP depkes [Link] ajar diare.1996.

2. [Link] mangement of acute gastroenteritisin young children. Pediatric


1996 ; 97 : 1-20.
3. [Link] care for children. Geneva.2005
4. Duggan C, santosham M<glass [Link] management of acute
diarrhea in children: oral rehidration, maintenance and nutritional
[Link].1992 ; 41 : 1-20

Hal 3 dari 5
No. Formulir :
CLINICAL PATHWAY KSM PENYAKIT DALAM Tgl. Berlaku :
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA
DIABETES MELLITUS ICD :

No. RM :
Nama Pasien : BB : Kg
Jenis Kelamin : TB : Cm
Tanggal Lahir : [Link] : Jam : wib
Diagnosa Masuk RS : [Link] : Jam : wib
Penyakit Utama : Kode ICD : Lama Rawat : Hari
Penyakit Penyerta : Kode ICD : Rencana Rawat : 4 Hari
Komplikasi : Kode ICD R. Rawat/ kelas :
HARI RAWAT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 4 KETERANGAN

1. ASESMEN AWAL

Dokter IGD Pasien masuk melalui IGD


ASESMEN AWAL MEDIS
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Pasien masuk melalui RJ

Perawat Primer:
Alasan utama masuk rumah sakit,
riwayat penyakit, status psikologis,
mental, sosial, ekonomi dan budaya
ASESMEN AWAL pemeriksaan fisik, tingkat kesadaran,
KEPERAWATAN tanda-tanda vital, riwayat alergi,
skrining gizi, nyeri, status fungsional:
bartel index, risiko jatuh, risiko
decubitus, kebutuhan edukasi dan
Discharge Planning
2. LABORATORIUM

Darah Rutin
GD Puasa
Ureum Creatinin
HbA1c
3. RADIOLOGI/IMAGING

Rontgen Thorax O
EKG O
4. KONSULTASI

Sp Saraf O
Sp Ginjal dan Hipertensi O
Varian
Sp Jantung O
Sp Mata O
5. ASESMEN LANJUTAN

Dokter DPJP Visite harian/ Follow up


a. ASESMEN MEDIS
Dokter non DPJP/dr. Ruangan O O O O Atas Indikasi/ Emergency

Hal 4 dari 5
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM PENYAKIT DALAM Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS ICD :
TTV
pantau
b. ASESMEN Penurunan kesadaran
Dilakukan dalam 3 Shift
KEPERAWATAN Hipoglikemi
Hiperglikemi
Nyeri dada
Skrining gizi dan mengkaji data antropometri,
biokimia, fisik/ klinis, riwayat makan termasuk
c. ASESMEN GIZI Tenaga Gizi (Nutrisionis/Dietisien) alergi makanan serta riwayat personal.
Asesmen dalam waktu 48 jam.

Telaah Resep
d. ASESMEN FARMASI
Rekonsiliasi Obat
6. DIAGNOSIS
a. DIAGNOSIS MEDIS Diabetes Melllitus
b. DIAGNOSIS Ketidakstabilan gula darah
KEPERAWATAN berhubungan dengan peningkatan
kadar insulin
Infeksi berhubungan dengan
pengingkatan leukosit
Prediksi seoptimal mungkin asupan
energi berkaitan penyakit DM ditandai
c. DIAGNOSIS GIZI
dengan asupan energi lebih
rendah dari kebutuhan
7. DISCHARGE PLANNING
Gula Darah terkontrol (target
Gula Darah Puasa < 130 mg/dL,
Keluhan terkait hiperglikemia
berkurang
8. EDUKASI TERINTEGRASI
Oleh semua pemberi asuhan berdasarkan
Penjelasan Diagnosis kebutuhan dan juga berdasarkan Discharge
Planning.
a. EDUKASI/
INFORMASI MEDIS Pengisian formulir informasi dan edukasi
Rencana terapi
terintegrasi oleh pasien dan atau keluarga
Informed Consent Edukasi gizi dilakukan saat awal masuk dan atau
b. EDUKASI & pada hari ke 4 atau hari ke 5
KONSELING GIZI Kemampuan melakukan ADL

Manajeman Nyeri
Konseling nutrisi/pola makan
selama perawatan
Pola istirahat
c. EDUKASI
KEPERAWATAN Pola hidup sehat
Support sistem terhadap krisis
situasi
Hand hygine
Informasi Obat
d. EDUKASI FARMASI
Konseling Obat

Hal 5 dari 5
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM PENYAKIT DALAM Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT DIABETES MELLITUS :
ICD
CUT MEUTIA
PENGISIAN FORMULIR
INFORMASI DAN Lembar Edukasi Terintegrasi
EDUKASI TERINTEGRASI

9. TERAPI/ MEDIKAMENTOSA
Insulin long acting/ short acting/
a. INJEKSI premixed insulin dosis sesuai
b. CAIRAN INFUS Nacl 0,9/RL/Assering
Metformin O O O O
Varian
[Link] ORAL Glimepirid O O O O
Simptomatik apabila diperlukan
sepert anti nyeri apabila diperlukan O O O O
10. TATA LAKSANA/INTERVENSI
a. TATA LAKSANA/
INTERVENSI MEDIS Echocardiografi dan funduscopy O
Identifikasi penyebab hiperglikemia
Monitor tanda gejala hiperglikemia
Anjurkan patuh terhadap diet rendah
b. TATA Gula
LAKSANA/ Monitor jika ada tanda dan gejala
INTERVENSI infeksi lokal dan sistemik
KEPERAWATAN Monitoring Tanda-Tanda Vital
Kalaborasi pemberian insulin
Diet biasa secara bertahap. Bentuk makanan, kebutuhan zat gizi
c. TATA
Diet Rendah Gula selama disesuaikan dengan usia dan kondisi klinis,
LAKSANA/
pemulihan secara bertahap
INTERVENSI GIZI
d. TATA LAKSANA/
Rekomendasi kepada DPJP Sesuai dengan hasil monitoring
INTERVENSI FARMASI
11. MONITORING & EVALUASI
Asesmen Ulang & Review Verifikasi
a. DOKTER DPJP Rencana Asuhan Monitor perkembangan pasien

Monitoring tanda-tanda vital pasien


Monitoring status hidrasi pasien
meliputi balance cairan, terapi
intravena dan tanda-tanda dehidrasi
Monitoring tindakan pencegahan
infeksi yang harus dilakukan oleh
pasien dan keluarga selama
perawatan
Monitoring pemberian obat
b. KEPERAWATAN
antipiretik
Monitoring status nutrisi pasien dan
nilai balance intake dan outtake
Diet yang diberikan tepat dan tidak
ada gejala kontipasi atau diare
Monitoring tanda-tanda kurang
nutrisi
Kolabirasi pemberian Insulin
Monitoring asupan makanan Sesuai dengan masalah gizi dan tanda

c. GIZI
Monitoring Antropometri O O O gejala yang akan dilihat kemajuannya.
Hal 6kedari
Monev pada hari ke 4atau 5
5 kecuali
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM PENYAKIT DALAM Tgl. Berlaku :

PT. PERTAMEDIKA IHC No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS :
ICD

Monitoring Biokimia O O O asupan makanan


Mengacu pada IDNT (Internasional Dietetic
Monitoring Fisik/klinis terkait gizi & Nutrition Terminology)
Monitoring Interaksi Obat

d. FARMASI Monitoring Efek Samping Obat


Pemantauan Terapi Obat
12. MOBILISASI /REHABILITASI
a. MEDIS O O O O
Mobilisasi bertahap dari miring kiri
Tahapan mobilisasi sesuai kondisi pasien
b. KEPERAWATAN
dan kanan, duduk bersandar di tempat
tidur,duduk berjuntai, berdiri O O O O
dan berjalan
c. FISIOTERAPI O O O O
13. OUTCOME/HASIL
[Link] darah Sewaktu < 200 mg/dL
a. MEDIS [Link] terkait hiperglikemia
berkurang mual, muntah dll
Normal Vital Signs
Gula darah terkontrol
Peningkatan pemahaman dan
b. KEPERAWATAN partisipasi dalam perubahan gaya
hidup
Peningkatan aktivitas secara
bertahap
Asupan makan > 80% Status Gizi berdasarkan antropometri,
c. GIZI
Optimalisasi status gizi biokimia, fisik/klinis

Terapi obat sesuai indikasi


d. FARMASI Meningkatkan kualitas hidup pasien
Obat rasional
14. KRITERIA PULANG

Umum: Hemodinamik stabil,

Gula darah Sewaktu < 200 mg/dL


Gula darah puasa < 180 mg/dL, Status pasien/tanda vital sesuai dengan PPK
Gula darah 2 jam setelah makan <
200 mg/dL
Keluhan terkait hiperglikemia
berkurang
15. RENCANA PULANG/EDUKASI PELAYANAN LANJUTAN

Resume Medis dan Keperawatan


Pasien membawa Resume Perawatan/ Surat
Penjelasan diberikan sesuai dengan
keadaan umum pasien Rujukan/ Surat Kontrol/Homecare saat
pulang.
Surat pengantar kontrol

Jakarta, ........... / .......... / ...............


Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat Penanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

Hal 7 dari 5
No. :

CLINICAL PATHWAY KSM PENYAKIT DALAM Formulir :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA Tgl. Berlaku :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS No. Revisi :

ICD

VARIASI PELAYANAN
TANGGAL ALASAN
YANG DIBERIKAN

Keterangan : Yang Harus Dilakukan √ Bila sudah dilakukan

Bisa Dilakukan / Bisa


O Tidak X Bila tidak dilakukan

Hal 8 dari 5
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS
1 PENGERTIAN Suatu kelompok penyakit metabolic yang ditandai oleh hiperglikemia
akibat defek:
1. Kerja insulin (resistensi insulin) di hati (peningkatan produksi glukosa

hepatic) dan di jaringan perifer (otot dan lemak).


2. sekresi insulin oleh sel beta pankreas.

3. atau keduanya.

2 ANAMNESIS  Keluhan khas DM : poliuria, polipsia, polifagia, penurunan berat


badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
 Keluhan tidak khas DM : lemah, kesemutan, gatal, mata kabur,
disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulva pada wanita.
Anamnesis secara umum meliputi :1,3
 Gejala yang timbul sesuai keluhan
 Pola makan, status nutrisi, status aktifitas fisik, dan riwayat perubahan
berat badan
 Riwayat tumbuh kembang pada pasien anak/dewasa muda
 Pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya secara lengkap, termasuk
terapi gizi medis dan penyuluhan yang telah diperoleh tentang perawatan
DM secaramandiri
 Pengobatan yang sedang dijalani, termasuk obat yang digunakan,
perencanaan makan dan
program latihan jasmani
 Riwayat komplikasi akut (ketoasidosis diabetic,
hiperosmolar hiperglikemia, hipoglikemia)
 Riwayat infeksi sebelumnya, terutama infeksi kulit, gigi,dan traktus
urogenital
 Gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik padaginjal, mata,
jantung dan pembuluh darah, kaki, saluran pencernaan, dll
 Pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap glukosa darah
 Faktor risiko: merokok, hipertensi, riwayat penyakit jantung koroner,
obesitas, dan riwayat penyakit keluarga (termasuk penyakit DM dan
endokrin lain)
 Riwayat penyakit dan pengobatan di luar DM

Hal 1 dari 9
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS
 Karakteristik budaya, psikososial, pendidikan, danstatus ekonomi
 Kehidupan seksual, penggunaan kontrasepsi, dankehamilan

3 PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik :2,3,4

FISIK  Pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkarpinggang


 Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jari
 Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid
 Pemeriksaan jantung
 Evaluasi nadi, baik secara palpasi mau pun denganstetoskop
 Pemeriksaan tekanan darah, Ankle Brachial Index (ABI)
 Pemeriksaan funduskopi
 Pemeriksaan kulit dan pemeriksaan neurologis.
 Tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe lain
4 KRITERIA
DIAGNOSIS Tabel 1. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus:2,3,4
Pemeriksaan glukosa plasma puasa > 126 mg/dl. Puasa adalah kondisi
tidak ada asupan kalori minimal 8 jam. (B)

atau

Pemeriksaan glukosa plasma > 200 mg/dl 2 jam setelah tes Tolerasi
Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram. (B)

atau

Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu > 200mg/dl dengan keluhan klasik

atau

Pemeriksaan HbA1c > 6,5 dengan mengguakan metode yang


terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Programe
(NGSP). (B)

Catatan:
Saat ini tidak semua laboratorium di Indonesia memenuhi standard NGSP, sehingga harus hati-hati dalam
membuat interpretasi terhadap hasil pemeriksaan HbA1c. Pada kondisi tertentu seperti: anemia, hemoglobinopati,
riwayat transfusi darah 2-3 bulan terakhir, kondisi- kondisi yang mempengaruhi umur eritrosit dan gangguan
fungsi ginjal maka HbA1c tidak dapat dipakai sebagai alat diagnosis maupun evaluasi.

Hal 2 dari 9
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS
Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM
digolongkan ke dalam kelompok prediabetes yang meliputi Toleransi Glukosa
Terganggu (TGT) dan Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT)2,3,4
 Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT):
Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100-125mg/dl dan
pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2 jam <140mg/dl
 Toleransi Glukosa Terganggu (TGT):
Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2 jam setelah TTGO antara 140- 199
mg/dl dan glukosa plasma puasa <100 mg/dl
 Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
 Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan
HbA1c yang menunjukkan angka 5,7- 6,4%

Tabel 2. Kadar Tes Laboratorium Darah Untuk Diagnosis


Diabetes Dan Prediabetes2,3
HbA1C (%) Glukosa darah puasa Glukosa Plasma 2 jam
([Link]) setelah TTGO (mg/dl)

Diabetes > 6,5 > 126 > 200


Pre Diabetes 5,7 - 6,4 100 -125 140 -199
Normal <5,7 70 - 99 70-139

Pemeriksaan penyaring dilakukan untuk menegakkan diagnosis Diabetes Melitus


Tipe-2 dan Prediabetes pada kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan
gejala klasik DMyaitu:
1. Kelompok dengan berat badan lebih (Indeks Massa Tubuh(IMT) ≥23 kg/m2)
yang disertai dengan satu atau lebih faktorrisiko sebagai berikut:
 Aktivitas fisik yang kurang
 First-degree relative DM (terdapat faktor keturunanDM dalam
keluarga)
 Kelompok ras/etnis tertentu
 Perempuan yang memiliki riwayat melahirkan bayi dengan BBL
>4 kg atau mempunyai riwayat Diabetes Melitus Gestasional

Hal 3 dari 9
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS
(DMG)
 Hipertensi (≥140/90 mmHg atau sedang mendapat terapi untuk
hipertensi)
 HDL <35 mg/dL dan atau trigliserida >250 mg/dL
 Wanita dengan sindrom polikistik ovarium
 Riwayat prediabetes
 Obesitas berat, akantosis nigrikans
 Riwayat penyakit kardiovaskular

Usia >45 tahun tanpa faktor risiko di atas


Catatan:

Kelompok risiko tinggi dengan hasil pemeriksaan glukosa plasma normal


sebaiknya diulang setiap 3 tahun, kecuali pada kelompok prediabetes pemeriksaan
diulang tiap 1 tahun

Pada keadaan yang tidak memungkinkan dan tidak tersedia fasilitas pemeriksaan
TTGO, maka pemeriksaan penyaring dengan mengunakan pemeriksaan glukosa
darah kapiler, diperbolehkan untuk patokan diagnosis DM2,3

5. DIAGNOSIS Diabetes Mellitus Tipe 2


KERJA
6. DIAGNOSIS 1. Hiperglikemia Reaktif

BANDING 2. Pre-Diabetes

7. PEMERIKSAAN Pemeriksaan Penunjang:2,3

PENUNJANG 1. Evaluasi Laboratorium :


 Glukosa Darah Puasa dan 2 jam Post Prandial

 HbA1c

2. Penapisan Komplikasi :2,3

Hal 4 dari 9
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS

 Profil Lipid Pada Keadaan Puasa : Kolesterol Total, High Density


Lipoprotein (HDL), Low DensityLipoprotein (LDL), dan Trigliserida
 Tes Fungsi Hati

 Tes Fungsi Ginjal : Kreatinin Serum dan Estimasi GFR

 Tes Urin Rutin


 Albumin Urin Kuantitatif

 Rasio Albumin-Kreatinin Sewaktu

 Elektrokardiogram

 Foto Rontgen Thoraks (Bila Ada Indikasi : TBC,Pneumonia,


Penyakit Jantung Kongestif)
 Pemeriksaan Kaki Secara Komprehensif
 Pemeriksaan Funduskopi untuk melihat retinopatidiabetik

8. TATALAKSANA TERAPI NONFARMAKOLOGIS2,3,4


 Edukasi
 Terapi Gizi Medis
 Pemenuhan Kebutuhan Kalori (Berdasarkan BB Ideal Pasien DM dengan
Menggunakan Rumus Brocca yang dimodifikasi) dan berdasarkan Indeks
Masa Tubuh (IMT)

Faktor- faktor yang menentukan kebutuhan kalori:


 Umur
40-59 tahun dikurangi 5%
60-69 tahun dikurangi 10%
>70 tahun dikurangi 20%
 Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Istirahat +10%
Aktivitas ringan +20%
Aktivitas sedang +30% Aktivitas sangat
berat +50%
 Berat Badan
Kegemukan dikurangi 20-30%

Hal 5 dari 9
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS
Kurus +20-30%

 Stres metabolik: +10-30%

TERAPI FARMAKOLOGIS2,3,4

 Obat Antihiperglikemia Oral


 Obat Antihiperglikemia Suntik (Insulin)
 Terapi Kombinasi

Tabel 3. Obat Antihiperglikemia


OralYang Tersedia di
Indonesia2

Obat Antihiperglikemia Suntik (Insulin)2,5


Insulin digunakan pada keadaan:

 HbA1C saat diperiksa >7,5% dan sudah menggunakan satuatau dua obat
antidiabetes
 HbA1C saat diperiksa >9,5%
 Penurunan berat badan yang cepat
 Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
Hal 6 dari 9
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS

 Krisis Hiperglikemia
 Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal
 Stress berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokardakut, stroke)
 Kehamilan dengan DM/Diabetes Melitus Gestasional (GMT) yang tidak
terkendali dengan perencanaan makan.
 Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
 Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
 Kondisi perioperatif sesuai dengan indikasi
 Sasaran Kendali Glukosa Darah: HbA1C <7% (Individualisasi)

Gambar 1. Algoritma Tatalaksana DM Tipe 2 (2019)2

Hal 7 dari 9
ZY
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
CUT MEUTIA DIABETES MELLITUS

Tabel [Link] Pengendalian DM2,3

9 EDUKASI Edukasi meliputi:2-5


 Mengenal dan mencegah penyulit akut DM
 Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM
 Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain
 Rencana untuk kegiatan khusus (olahraga prestasi)
 Kondisi khusus yang dihadapi (hamil, puasa, hari-hari sakit)
 Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologimutakhir
tentang DM
 Pemeliharaan/perawatan kaki
10 PROGNOSIS Diabetes menyebabkan kematian pada 3 juta orang setiap
tahun (1,7-5,2% kematian di dunia)
11 TINGKAT I/II/III

EVIDENS
12 TINGKAT A/B/C

REKOMENDASI
13. PENELAAH KSM PENYAKIT DALAM

KRITIS

Hal 8 dari 9
14. INDIKATOR  Terdeteksi DM, komorbid dan komplikasi pada ginjal,jantung, mata,

(OUTCOME) syaraf, vaskuler dan kaki.


 Intervensi sesuai kondisi pasien, diet, obat-obatan dan pola hidup
15. KEPUSTAKAAN 1. Powers A. Diabetes Mellitus. ln: Longo Fauci Kasper, Harrison's Principles of
lnternal Medicine 18th edition. United States of America. Mcgraw Hill. 2012
2. Soelistijo SA, dkk. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus
Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes MelitusTipe 2 di lndonesia. PB
PERKENI. Jakarta 2019
3. Soelistijo SA, dkk. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus
Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes MelitusTipe 2 di Indonesia. PB
PERKENI. Juli 2015
4. Alwi I, Salim S, Hidayat R, Kurniawan J, Tahapary D,editors. Panduan
Praktik Klinis Penatalaksanaan di Bidangilmu Penyakit Dalam. Diabetes
Melitus Tipe 2. Indonesia. Interna Publishing. Cetakan ke-4. Februari 2019.
P47-59
5. American Diabetes Association. Standards of Medical Carein Diabetes 2019.
Diabetes Care Volume 42, Supplement 1,January 2019. Available online at:
[Link]
8/12/17/42.Supplement_1.DC1/DC_42_S1_2019_UPDAT [Link]

RUMAH SAKIT No. Formulir :


CUT MEUTIA
CLINICAL PATHWAY KSM KEBIDANAN Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :

PERSALINAN SECTIO CAESARIA ICD :

No. RM :
Nama Pasien : BB : Kg
Jenis Kelamin : TB : Cm
Tanggal Lahir : [Link] : Jam : wib
Diagnosa Masuk RS : [Link] : Jam : wib
Penyakit Utama : Kode ICD : Lama Rawat : Hari
Penyakit Penyerta : Kode ICD : Rencana Rawat : 3 Hari
Komplikasi : Kode ICD R. Rawat/ kelas :

HARI RAWAT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 KETERANGAN

1. ASESMEN AWAL

Dokter IGD Pasien masuk melalui IGD


ASESMEN AWAL MEDIS
Dokter Spesialis Pasien masuk melalui RJ

Perawat Primer: TTV BJJ


Alasan utama masuk rumah sakit,
riwayat penyakit, status psikologis,
mental, sosial, ekonomi dan budaya
pemeriksaan fisik, tingkat kesadaran,
ASESMEN AWAL tanda-tanda vital, riwayat alergi,
KEPERAWATAN skrining gizi, nyeri, status fungsional:
bartel index, risiko jatuh, risiko
decubitus, kebutuhan edukasi dan
Discharge Planning

Darah Lengkap

BT/CT

GDA

HbSAg

UR/CR
2. LABORATORIUM
Urin Lengkap

HIV

Serologi Sifilis O dilakukan di faskes tingkat 1 (saat ANC)

Rapid Test COVID O Selama periode pandemi

Doppler

3. RADIOLOGI/ IMAGING USG

EKG
Dokter Anastesi
4. KONSULTASI
Dokter lain O
5. ASESMEN LANJUTAN

Dokter DPJP Visite harian/ Follow up


a. ASESMEN MEDIS
Dokter non DPJP/dr. Ruangan O O O Atas Indikasi/ Emergency
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM KEBIDANAN Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA PERSALINAN SECTIO CAESARIA ICD :

b. ASESMEN KEPERAWATAN Perawat Penanggung Jawab Dilakukan dalam 3 Shift

c. ASESMEN GIZI Tenaga Gizi (Nutrisionis/Dietisien)

Telaah Resep
d. ASESMEN FARMASI
Rekonsiliasi Obat O
6. DIAGNOSIS

a. DIAGNOSIS MEDIS Persalinan Section Sesarea


b. DIAGNOSIS
KEPERAWATAN
c. DIAGNOSIS GIZI
7. DISCHARGE PLANNING

Asesmen awal

Asesmen lanjutan
8. EDUKASI TERINTEGRASI
Penjelasan Diagnosis, Oleh semua pemberi asuhan berdasarkan
penatalaksanaan, komplikasi dan
Prognosis
O O kebutuhan dan juga berdasarkan Discharge
Planning.
a. EDUKASI/ INFORMASI
MEDIS Rencana terapi O O Pengisian formulir informasi dan edukasi
terintegrasi oleh pasien dan atau keluarga
Informed Consent
b. EDUKASI & KONSELING
GIZI Asupan nutrisi post op dan busui

Manajeman nyeri

c. EDUKASI KEPERAWATAN Tanda-tanda infeksi

Mobilisasi pasca operasi SC

Informasi Obat pasca SC


d. EDUKASI FARMASI
Konseling Obat
PENGISIAN FORMULIR
INFORMASI DAN EDUKASI Lembar Edukasi Terintegrasi
TERINTEGRASI
9. TERAPI/ MEDIKAMENTOSA
Profilaksis: Cefuroxime atau
Ceftriaxone 2 gram
Terapi post op:

Ceftriaxone O
Metronidazol 3x1 O O O
Ranitidin 2x1 amp O O O
Metoklopramid 3x1 O O O
a. INJEKSI
Asam tranexamat 3x1 amp O O O
Analgetik:

Ketorolac O O O
Tramadol drip 3x1 amp O O O
Suprafenidsup O O O
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM KEBIDANAN Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA PERSALINAN SECTIO CAESARIA ICD :

Ureterotonika :
drip oxitosin 2 amp
b. CAIRAN INFUS RL / NaCl 0.9 O O O
Cefixime / Cefadroxil O O O
[Link] ORAL Asam mefenamat / Meloxicam O O O Varian

Tramadol / Dexketoprofen O O O
Chromic, PGD, Polyglactin
Benang
Silk

Obat Anastesi
Spinal Anastesi O O O Varian
GA Anastesi O O O
10. TATA LAKSANA/INTERVENSI

a. TATA LAKSANA/ Section cesarean


INTERVENSI MEDIS Pemasangan kateter urin

Observasi TTV, DJJ


b. TATA LAKSANA/ Manejem nyeri
INTERVENSI KEPERAWATAN
Perawatan luka
Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi/gizi
c. TATA (TKTP) disesuaikan dengan asupan nutrisi untuk post
LAKSANA/ Monitoring asupan makan op dan busui
INTERVENSI GIZI
d. TATA LAKSANA/
INTERVENSI FARMASI pemantauan terapi Sesuai dengan hasil monitoring

11. MONITORING & EVALUASI

a. DOKTER DPJP Asesmen Ulan Monitor perkembangan pasien

Monitoring tanda-tanda vital pasien

Monitoring nyeri
Monitoring tindakan pencegahan
infeksi luka operasi yang harus
b. KEPERAWATAN dilakukan oleh pasien dan keluarga
selama perawatan
Monitoring pemberian obat

Monitoring perdarahan

Monitoring asupan makanan Sesuai dengan masalah gizi dan tanda


Monitoring Antropometri O gejala yang akan dilihat kemajuannya.
Monev pada hari ke 4atau ke 5 kecuali
c. GIZI
Monitoring Biokimia asupan makanan
Mengacu pada IDNT (Internasional Dietetic
Monitoring Fisik/klinis terkait gizi & Nutrition Terminology)
Monitoring Interaksi Obat

d. FARMASI Monitoring Efek Samping Obat

Pemantauan Terapi Obat


12. MOBILISASI /REHABILITASI

Mobilisasi bertahap post op hari ke 2


a. MEDIS
dampai KRS
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY KSM KEBIDANAN Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA PERSALINAN SECTIO CAESARIA ICD :

dengan pendampingan dari miring kiri Tahapan mobilisasi sesuai kondisi pasien
dan kanan, duduk bersandar di tempat
b. KEPERAWATAN
tidur,duduk berjuntai, berdiri O O
dan berjalan
c. FISIOTERAPI
13. OUTCOME/HASIL
[Link] luka operasi terkontrol
derajat 0 - 1
[Link] hari pertama pasca
a. MEDIS operasi (early mobilisasi) dengan
pendampingan

[Link] Operasi baik (tidak ada


tanda infeksi)

TTV dalam batas normal


b. KEPERAWATAN Nyeri tidak ada dan keadaan luka
baik
Status Gizi berdasarkan antropometri,
c. GIZI Asupan makan > 80% biokimia, fisik/klinis
Terapi obat sesuai indikasi
d. FARMASI
Obat rasional

Tidak ada nyeri daerah operasi


14. KRITERIA PULANG
Luka operasi tidak ada tanda infeksi
Resume Medis dan Keperawatan
15. RENCANA Penjelasan diberikan sesuai Pasien membawa Resume Perawatan/ Surat
PULANG/EDUKASI dengan keadaan umum pasien Rujukan/ Surat Kontrol/Homecare saat
PELAYANAN LANJUTAN pulang.
Surat pengantar kontrol
Jakarta, ........... / .......... / ...............
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat Penanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

VARIASI PELAYANAN YANG


TANGGAL ALASAN
DIBERIKAN

Keterangan : Yang Harus Dilakukan √ Bila sudah dilakukan


Bisa Dilakukan / Bisa
O Tidak X Bila tidak dilakukan
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA PERSALINAN SECTIO CAESARIA

1 PENGERTIAN Suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada
perut dan dinding rahim (segmen bawah uterus = SBR) dengan syarat dalam
keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram
2 ANAMNESIS Indikasi :
A. Ibu :
1. Panggul sempit
2. DKP / Disproporsi Kepala Panggul
3. Ruptura uteri iminens
4. Plasenta previa
5. Stenosis serviks / vagina
6. Tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi
B. Janin :
1. Kelainan letak
2. Gawat janin
3. Kelainan kongenital

3 PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan Keadaan umum, vital sign, status kesadaran


FISIK 2. Status Obstetri

Leopold I, menentukan usia kehamilan dan juga untuk


mengetahui bagian janin apa yang terdapat di fundus uteri
(bagian atas perut ibu).
Leopold II, menentukan di mana letak punggung ataupun
kaki janin pada kedua sisi perut ibu.
Leopold III, menentukan bagian janin apa (kepala atau
bokong) yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta
apakah bagian janin tersebut sudah
menyentuh pintu atas panggul.
Leopold IV, mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin

Hal 1 dari 3
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA PERSALINAN SECTIO CAESARIA

telah memasuki pintu atas panggul.


Evaluasi HIS, DJJ, Bundle ring
3. Status Ginekologi
Inspeskulo : dalam kasus-kasus tertentu
Vaginal Toucher : Menilaitanda-tanda persalinan dan
mengevaluasi kemajuan persalinan.
4 KRITERIA 1. Anamnesis
DIAGNOSIS 2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Abdomen.
4. Pemeriksaan Ginekologi

5. DIAGNOSIS Diagnosis yang memerlukan tindakan operasi section caesaria baik


KERJA emergency atau elektif
6. DIAGNOSIS 1. Dalam persalinan
BANDING 2. Belum dalam persalinan
7. PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan laboratorium lengkap seperti Lab darah lengkap, Gol.
PENUNJANG Darah, HbSAg, PT/APTT, GDS, HIV rapid, GDS. LDH, SGOT, SGPT, Ur,
Cr, Albumin, Elektrolit pada kasus-kasus tertentu
2. Pemeriksaan Ultrasonografi untuk membantu dalam menentukan
jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, jumlah janin serta kelainan
janin.
3. Pemeriksaan CTG
4. Pemeriksaan EKG, pada kasus-kasus tertentu
8. TATALAKSANA 1. Pemeriksaan laboratorium lengkap seperti Lab darah
lengkap, Gol. Darah, HbSAg, PT/APTT, GDS, HIV rapid,
GDS. LDH, SGOT, SGPT, Ur, Cr, Albumin, Elektrolit pada
kasus- kasus tertentu
2. Pemeriksaan Ultrasonografi untuk membantu dalam
menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan,

Hal 2 dari 3
jumlah janin serta kelainan janin.
3. Pemeriksaan CTG.
4. Pemeriksaan EKG, pada kasus-kasus tertentu
9. EDUKASI 1. Adanya resiko durante operasi antara lain : perdarahan, trauma
usus/organ abdomen. Pengangkatan rahim/histerektomi, emboli,
kematian di meja operasi
2. Adanya resiko post operasi yaitu adanya perdarahan,
dehisensi luka operasi
3. Adanya resiko tindakan pembiusan
10. PROGNOSIS Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fumgsionam : dubia
11. TINGKAT I / II / III / IV
EVIDENS
12. TINGKAT A/B/C
REKOMENDASI
13. PENELAAH -
KRITIS
14. INDIKATOR 1. Nyeri luka operasi terkontrol 0 - 1
(OUTCOME) 2. Mobilisasi hari pertama pasca operasi (early mobilisasi) dengan
pendampingan
3. Luka Operasi baik (tidak ada tanda infeksi)
15. KEPUSTAKAAN Cunningham. Et all. 2010. Williams Obstetrics. 23 the
CLINICAL PATHWAY KSM BEDAH/ No. Formulir :
BEDAH PLASTIK REKONSTUKSI Tgl. Berlaku :
PT. PERTAMEDIKA IHC No. Revisi :
RUMAH SAKIT LUKA BAKAR DERAJAT II-III >10% dan < 30% ICD :
CUT MEUTIA

No. RM :
Nama Pasien : BB : Kg
Jenis Kelamin : TB : Cm
Tanggal Lahir : [Link] : Jam : wib
Diagnosa Masuk RS : [Link] : Jam : wib
Penyakit Utama : Kode ICD : Lama Rawat : Hari
Penyakit Penyerta : Kode ICD : Rencana Rawat : 8 Hari
Komplikasi : Kode ICD : R. Rawat/ kelas :

HARI RAWAT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 4 5 6 7 8 KETERANGAN

1. ASESMEN AWAL

Dokter IGD Pasien masuk melalui IGD


ASESMEN AWAL MEDIS
Dokter Spesialis Pasien masuk melalui RJ

Anamnesis & pemeriksaan fisik


Periksa tanda- tanda vital
Penilaian luas & kedalaman luka
Perawat Primer:

Keluhan utama:
Nyeri, sesak nafas.

Penyerta
kardiovaskuler, paru, DM,
neurologis atau penyalahgunaan
obat dan alkohol

Tanggapan keluarga mengenai


masalah kesehatan, riwayat
psikososial, stress, rasa cemas dan
takut.
Aktivitas:
penurunan kekuatan, tahanan;
keterbatasan rentang gerak pada area
yang sakit; gangguan massa otot,
perubahan tonus, sikurlasi, tanda
(dengan cedera luka

penurunan nadi perifer distal pada


ekstremitas yang cedera; vasokontriksi
ASESMEN AWAL perifer umum dengan kehilangan nadi, Dilanjutkan dengan asesmen bio, psiko-
KEPERAWATAN kulit putih dan dingin (syok listrik); sosial, spiritual dan budaya

takikardia (syok/ansietas/nyeri);
disritmia (syok listrik);
Pembentukan oedema jaringan
(semua luka bakar).
CLINICAL PATHWAY KSM BEDAH/ No. Formulir :

BEDAH PLASTIK REKONSTUKSI Tgl. Berlaku :

PT. PERTAMEDIKA IHC No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA LUKA BAKAR DERAJAT II-III >10% dan < 30% ICD :

Integritas ego, gejala: masalah


tentang keluarga, pekerjaan,
keuangan, kecacatan, ansietas,
menangis, ketergantungan,
menyangkal, menarik diri, marah,
Eliminasi; diuresis (setelah
kebocoran kapiler dan mobilisasi
cairan ke dalam sirkulasi);

Penurunan bising usus/tak ada;


khususnya pada luka bakar
kutaneus >20% sebagai stress
penurunan mobilitas/peristaltik
gastrik

2. LABORATORIUM

Darah lengkap

SGOT, SGPT
Ureum /creatinin
Gula darah sewaktu
Albumin
Eletrolit
PT/APTT
3. RADIOLOGI/IMAGING

Ro Thorax (setiap 5 hari)

4. KONSULTASI
Sp. Bedah Platik O
Sp. Anaestesi O
Sp. Gizi Klinik O
Sp. Kedokteran Jiwa O Varian

5. ASESMEN LANJUTAN

Dokter DPJP Visite harian/ Follow up


a. ASESMEN MEDIS
Dokter non DPJP/dr. Ruangan O O O O O Atas Indikasi/ Emergency
Perawat Penanggungjawab
Pemeriksaan fisik, keadaan umum,
TTV, pemeriksaan kepala dan leher,
kepala dan rambut, mata, hitung, mulut,
b. ASESMEN telinga, leher, pemeriksaan thorak/dada, Dilakukan dalam 3 Shift
KEPERAWATAN abdomen, urogenital, musculoskeletal,
pemeriksaan neurologi

Lihat risiko malnutrisi melalui skrining gizi


dan mengkaji data antropometri, biokimia,
c. ASESMEN GIZI Tenaga Gizi (Nutrisionis/Dietisien) fisik/ klinis, riwayat makan termasuk alergi
makanan serta riwayat personal. Asesmen
dalam waktu 48 jam.
CLINICAL PATHWAY KSM BEDAH/ No. Formulir :

BEDAH PLASTIK REKONSTUKSI Tgl. Berlaku :

PT. PERTAMEDIKA IHC No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA LUKA BAKAR DERAJAT II-III >10% dan < 30% ICD :

Telaah Resep
d. ASESMEN FARMASI
Rekonsiliasi Obat
6. DIAGNOSIS

a. DIAGNOSIS MEDIS Luka Bakar


Ketidakefektifan pola nafas b.d
deformitas dinding dada, keletihan
otot-otot pernafasan hiperfentilasi
Kerusakan integritas kulit b.d luka
bakar terbuka
Nyeri akut berhubungan dengan
syaraf yang terbuka, kesembuhan
b. DIAGNOSIS Resiko tinggi kekurangan volume
KEPERAWATAN cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan melalui rute
abnormal luka
Resiko tinggi terhadap infeksi
berhubungan dengan pertahanan
primer tidak adekuat; kerusakan
perlindungan kulit

Peningkatan kebutuhan zat gizi


energi berkaitan dengan
meningkatnya kebutuhan untuk
c. DIAGNOSIS GIZI
menjaga suhu tubuh ditandai
dengan asupan tidak adekuat,
demam
7. DISCHARGE PLANNING
Identifikasi Kebutuhan Edukasi &
Latihan Selama Perawatan
Identifikasi kebutuhan di rumah
Hand Hygiene

8. EDUKASI TERINTEGRASI
Penjelasan kepada pasien & Oleh semua pemberi asuhan berdasarkan
keluarga tentang perawatan luka kebutuhan dan juga berdasarkan Discharge
Planning.
Tentang tindakan yang akan
dilakukan selama rawat di RS Pengisian formulir informasi dan edukasi
terintegrasi oleh pasien dan atau keluarga
a. EDUKASI/ INFORMASI
MEDIS Hygiene
O O O O
Mobilisasi
O O O O
Edukasi gizi dilakukan saat awal masuk dan
b. EDUKASI & Diet Tinggi Energi dan Tinggi
atau pada hari ke 4 atau hari ke 5 pada saat
KONSELING GIZI Protein
pasien dipulangkan
Konseling nutrisi/pola makan Pengisian formulir informasi dan edukasi
terintegrasi oleh pasien dan/ atau
c. EDUKASI Pola istirahat keluarga
KEPERAWATAN
Pola hidup sehat
CLINICAL PATHWAY KSM BEDAH/ No. Formulir :

BEDAH PLASTIK REKONSTUKSI Tgl. Berlaku :

PT. PERTAMEDIKA IHC No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA LUKA BAKAR DERAJAT II-III >10% dan < 30% ICD :

Informasi Obat Meningkatkan kepatuhan pasien


d. EDUKASI FARMASI meminum/menggunakan obat
Konseling Obat

PENGISIAN FORMULIR DTT


INFORMASI DAN Lembar Edukasi Terintegrasi Keluarga/pasien
EDUKASI TERINTEGRASI

9. TERAPI/ MEDIKAMENTOSA

Caitan Elektrolit
CAIRAN INFUS
Albumin 5% Varian

Albumin 5% , cairan elektrolit


Antibiotik : dapat diberikan
Meropenem / Ceftriaxone
Analgetik: dpat dibeikan
Ketorolac/Pethidin/ Morfin Varian
OBAT Metilprednisolon (bila ada edema
wajah) maksimal 5 hari
Multivitamin
Sukralfat / PPI
10. TATA LAKSANA/INTERVENSI
a. TATA LAKSANA/ CVC (combutio >20% atau dan
INTERVENSI MEDIS pemakaian parenteral nutrisi
Escharotomy segera dilakukan di
IGD Mohon saran
Nekrotomi debridement
(< 72 jam pertama) escharotomy
1) Management Airway
2) Management Pressure
3) Management Nyeri
4) Perawatan Luka
b. TATA
LAKSANA/ 5) Management Therapy Oksigen
INTERVENSI
KEPERAWATAN 6) Management Stress
7) Management Nutrisi
8) Management Pemulihan
Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi/gizi Bentuk makanan, kebutuhan zat gizi
c. TATA
Diet Makanan Lunak atau Makanan disesuaikan dengan usia dan kondisi klinis,
LAKSANA/
Saring (Diet Lambung) secara bertahap
INTERVENSI GIZI
d. TATA LAKSANA/
Rekomendasi kepada DPJP Sesuai dengan hasil monitoring
INTERVENSI FARMASI
11. MONITORING & EVALUASI
Asesmen Ulang & Review Verifikasi
a. DOKTER DPJP Rencana Asuhan Monitor perkembangan pasien
Monitoring tanda-tanda vital
pasien
CLINICAL PATHWAY KSM BEDAH/ No. Formulir :

BEDAH PLASTIK REKONSTUKSI Tgl. Berlaku :

PT. PERTAMEDIKA IHC No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA LUKA BAKAR DERAJAT II-III >10% dan < 30% ICD :

Monitoring status hidrasi pasien


meliputi balance cairan, terapi
intravena dan tanda-tanda
dehidrasi
Monitoring tindakan pencegahan
infeksi yang harus dilakukan oleh
pasien dan keluarga selama
perawatan
Monitoring pemberian obat
antipiretik
b. KEPERAWATAN Monitoring status nutrisi pasien
dan nilai balance intake dan
outtake
Diet yang diberikan tepat dan tidak
ada gejala kontipasi atau diare

Monitoring tanda-tanda malnutrisi

Monitoring hasil laboratorium yang


meliputi nilai albumin, protein total,
hemoglobin, imfosit dan elektrolit
Monitoring stress dan adaptasi
Monitoring asupan makanan Sesuai dengan masalah gizi dan tanda
Monitoring Antropometri gejala yang akan dilihat kemajuannya.
Monev pada hari ke 4 atau ke 5 kecuali
c. GIZI
Monitoring Biokimia asupan makanan
Mengacu pada IDNT (Internasional Dietetic
Monitoring Fisik/klinis terkait gizi & Nutrition Terminology)
Monitoring Interaksi Obat

d. FARMASI Monitoring Efek Samping Obat


Pemantauan Terapi Obat
12. MOBILISASI /REHABILITASI
a. MEDIS
Mobilisasi bertahap dari miring kiri
dan kanan, duduk bersandar di tempat Tahapan mobilisasi sesuai kondisi pasien
b. KEPERAWATAN
tidur,duduk berjuntai, berdiri
O O O O O O O O
dan berjalan
c. FISIOTERAPI
13. OUTCOME/HASIL
Perbaikan rehidrasi, tanda-tanda
vital
a. MEDIS
Eksudat berkurang O
Thermoregulation
Hydration
Infection Saverity
Medication Responses
b. KEPERAWATAN Vital Signs
Nutritional Status
CLINICAL PATHWAY KSM BEDAH/ No. Formulir :

BEDAH PLASTIK REKONSTUKSI Tgl. Berlaku :

PT. PERTAMEDIKA IHC No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA LUKA BAKAR DERAJAT II-III >10% dan < 30% ICD :
Nutritional Status: biochemical
measures
Nutritional energy
Asupan makan > 80% Status Gizi berdasarkan antropometri,
c. GIZI
Optimalisasi status gizi biokimia, fisik/klinis

Terapi obat sesuai indikasi


d. FARMASI Meningkatkan kualitas hidup pasien
Obat rasional

14. KRITERIA PULANG


Umum: Hemodinamik stabil, Intake
baik Status pasien/tanda vital sesuai dengan PPK
Khusus: Demam turun, kesadaran
baik, tidak ada komplikasi
15. RENCANA PULANG/EDUKASI PELAYANAN LANJUTAN
Penjelasan kepada pasien &
keluarga tentang perawatan luka
Tentang tindakan yang akan
dilakukan selama rawat di RS Pasien membawa Resume Perawatan/ Surat
Rujukan/ Surat Kontrol/Homecare saat
Hygiene pulang.
Mobilisasi

Jakarta, ........... / .......... / ...............


Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat Penanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

VARIASI PELAYANAN
TANGGAL ALASAN
YANG DIBERIKAN

Yang Harus Dilakukan


Keterangan : √ Bila sudah dilakukan
Bisa Dilakukan / Bisa
O Tidak X Bila tidak dilakukan
PANDUAN PRAKTEK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM BEDAH/BEDAH PLASTIK
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA LANGSA
RUMAH SAKIT LUKA BAKAR DEWASA
CUT MEUTIA

1 PENGERTIAN Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh terpaparpaparan


suhu extreme panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit,
mukosa dan jaringan yang lebih dalam.
2 ANAMNESIS 1. Riwayat Trauma
2. Keadaan Saat Terjadinya Cedera/ Mekanisme Trauma
3. Penyebab Luka bakar :
a. Api,
b. Cairan Panas,
c. Bahan Kimia
d. Listrik
e. Luka ledakan
4. Waktu terjadinya cedera dan lamanya kontak dengan sumber panas.
5. Riwayat Medis: Peny. Kronik yang diderita sebelum trauma,
Habitasi.

3 PEMERIKSAAN FISIK Primary Survey : ABCDE, utamanya saluran nafas, dengankecurigaan trauma
inhalasi.
Secondary Survey :

- Pemeriksaan Fisik general (Head to Toe examination)

- Pemeriksaan khusus luka bakar

• ada tidaknya kompartemen sindrome, bila ada Eschar


ectomy segera.
• ada tidaknya trauma inhalasi.

• ada tidaknya luka bakar pada organ yang perlu penanganan khusus
: mata, perineum, luka bakar sirkular pada ekstremitas, dada,
leher, kembali kepoint satu.
- Menentukan tingkat keparahan luka

• Luas Luka Bakar

• Kedalaman Luka Bakar


4 KRITERIA DIAGNOSIS Terdapat luka yang disebabkan suatu trauma yang disebabkanoleh panas,
arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa
dan jaringan yang lebih dalam.

Hal 1 dari 4
PANDUAN PRAKTEK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM BEDAH/BEDAH PLASTIK
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA LANGSA
RUMAH SAKIT LUKA BAKAR DEWASA
CUT MEUTIA

Hal 2 dari 4
PANDUAN PRAKTEK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM BEDAH/BEDAH PLASTIK
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA LANGSA
RUMAH SAKIT LUKA BAKAR DEWASA
CUT MEUTIA

5. DIAGNOSIS Luka Bakar

KERJA
6. DIAGNOSIS Cold injury

BANDING
7. PEMERIKSAAN Laboratorium: darah rutin, elektrolit, gula darah, ureum, kreatinin, pt/aptt,

PENUNJANG procalcitonin, AT3, BNP, AGD bila ada kecurigaan trauma inhalasi atau
inhalasi CO.
Cek laboratorium diulang setiap 3 hari atau sesudah dilakukan koreksi terhadap
hasil laboratorium sebelumnya
Rontgen thorax tiap minggu atau bila ada indikasi tambahan.
Rontgen bagian lain yang terkena trauma benturan (pada blast injury) atau
adanya trauma lain.
8. TATALAKSANA Prinsip-prinsip Penanganan Awal pada luka bakar
a. Hentikan Proses Pembakaran
b. Tindakan Pencegahan Universal → APD
c. Pemulihan Cairan/ Resusitasi
• Total cairan yang diperlukan dalam 24 jam adalah :

• 2-4 ml/x/total area tubuh yang terkena luka bakar (%)/x/berat badan
(kg).
• Pada 8 jam pertama diberikan 50% cairan dan 50% sisanya diberikan
dalam 16 jam selanjutnya, sesuai perhitungan cairan.
• Maintenance pada anak adalah 4 ml/kg untuk 10 kgBB pertama, 2
ml/kg untuk 10 kgBB kedua dan 1 ml/kg untuk BB > 20 kg.
• Setelah 24 jam, infus koloid diberikan dengan kecepatan 0,5 ml x
(total burn surface area (%)) x (berat badan (kg)), dan kristaloid
maintenance dilanjutkan dengan kecepatan 1,5 ml x (burn area) x
(berat badan). Parameter yang dipantau adalah pengeluaran urin 0,5-
1,0 ml/kg/jam
• Jenis Cairan yang digunakan: Albumin 5% sebanyak 500-1.000 cc dan
Elektrolit.
d. Tanda-tanda Vital

e. Bila perlu dilakukan pemasangan Selang Nasogastrik, Kateter Urin,

Hal 3 dari 4
PANDUAN PRAKTEK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM BEDAH/BEDAH PLASTIK
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA LANGSA
RUMAH SAKIT LUKA BAKAR DEWASA
CUT MEUTIA

capillary filling + saturasi O₂, monitor pernafasan, tatalaksana nyeri &


PTSD.
f. Bila timbul SIRS atau Sepsis dilakukan tatalaksana SIRS dan Sepsis.
Medikamentosa : Sesuai kondisi pasien.
 Antibiotika : digunakan antibiotika broad spectrum, sopirom,
 ceftriaxon atau meropenem.
 Analgetika : digunakan analgetik kuat sampai dengan jenis morfin bila
diperlukan.
 Nutrisi : bila nutrisi enteral tidak cukup, dapat ditambah dengan
nutrisi parenteral terutama dalam 5 hari pertama diperlukan mandatori
nutrisi parenteral.
 Antiulcer : pelapis mukosa saluran cerna (sukralfat), dan Proton Pump
Inhibitor.
 Multivitamin
 Koreksi Hb, trombosit, elektrolit, albumin.
 Obat lain sesuai kebutuhan klinis.

Operasi :
• Early Tangensial Eksisi dilakukan dalam waktu kurang dari72 jam
sejak onset luka bakar.
• Debridement dapat diulang lagi bila jaringan nekrotik masih ada.
Teknik operasi :

 Identifikasi kedalaman luka.

 Eksisi jaringan nekrotik dengan dermatome atau pisaubedah.


 Cegah infeksi pada luka.

 Percepat/ tingkatkan proses penyembuhan luka.


 Bila perlu penutupan dengan tandur kulit pada luka bakarderajat dua
dalam dan tiga dan luas dengan metodemeshed graft.
 Operasi tandur kulit dapat dilakukan dalam waktu < 1. minggu bila
preparasi bed luka sudah tidak terdapat eskar/jaringan
nekrotik lagi.

Hal 4 dari 4
Perawatan luka setelah sebagian luka telah epitelisasi :fisioterapi.
Perawatan luka setelah semua luka telah epitelisasi :
• pressure garment s/d 6 bulan.
• silikon sheet/gel s/d 6 bulan.
• injeksi untuk keloid s/d 6 bulan
• Medikamentosa pencegahan kontraktur & keloid.
9. EDUKASI - Inform consent kepada pasien bahwa sesudah luka kering (epitelisasi)
proses penyembuhan luka belum selesai. masihterdapat kemungkinan
terjadi kontraktur hingga 6 - 12 bulan sesudah luka epitelisasi.
- Untuk mencegah terjadinya kontraktur, diperlukan terapi pressure
garment dan terapi lainnya.

10. PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam/ malam


Ad sanationam : dubia ad bonam/ malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam/ malam .
11. TINGKAT EVIDENS
12. TINGKAT
REKOMENDASI
13. PENELAAH KRITIS
14. INDIKATOR • Tidak terjadi kontraktur
(OUTCOME) • Tidak terjadi keloid

15. KEPUSTAKAAN 1. Herndon : Total Burn Care

2. Moenadjat, Yefta. 2003. Luka Bakar: Pengetahuan Klinik


Praktis, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
3. Moenadjat Y. Luka bakar masalah dan tatalaksana. Jakarta:Balai
penerbit FKUI;2009.
4. Grunwald TB, Garner WL. Acute Burns. Plast Reconstr Surg.2008
5. Hettiaratchy S, Papini R. Initial management of a major burn:II-
assesment and resuscitation. 2004.
CLINICAL PATHWAY No. Formulir :
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG Tgl. Berlaku :
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :
RUMAH SAKIT HIPERTENSI ESENSIAL ICD :
CUT MEUTIA

No. RM :
Nama Pasien : BB : Kg
Jenis Kelamin : TB : Cm
Tanggal Lahir : [Link] : Jam : wib
Diagnosa Masuk RS : [Link] : Jam : wib
Penyakit Utama : Kode ICD : Lama Rawat : 3 Hari
Penyakit Penyerta : Kode ICD : Rencana Rawat : Hari
Komplikasi : Kode ICD R. Rawat/ kelas :

HARI RAWAT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 KETERANGAN

1. ASESMEN AWAL

Dokter IGD Pasien masuk melalui IGD


ASESMEN AWAL MEDIS
Dokter Spesialis Pasien masuk melalui RJ

Perawat Primer: TTV

Alasan utama masuk rumah sakit,


riwayat penyakit, status psikologis,
mental, sosial, ekonomi dan budaya
ASESMEN AWAL pemeriksaan fisik, tingkat kesadaran,
KEPERAWATAN tanda-tanda vital, riwayat alergi,
skrining gizi, nyeri, status fungsional:
bartel index, risiko jatuh, risiko
decubitus, kebutuhan edukasi dan
Discharge Planning

2. LABORATORIUM

Darah lengkap

GDA O
BUN/SK O
Ur, Cr O
3. RADIOLOGI/IMAGING

Thorax PA O
EKG O
4. KONSULTASI

Dokter lain O
5. ASESMEN LANJUTAN

Dokter DPJP Visite harian/ Follow up


a. ASESMEN MEDIS
Dokter non DPJP/dr. Ruangan O O O Atas Indikasi/ Emergency
b. ASESMEN TTV dan Status nutrisi: nafsu
Dilakukan dalam 3 Shift
KEPERAWATAN makan
CLINICAL PATHWAY No. Formulir :

KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI ESENSIAL ICD :

Lihat risiko malnutrisi melalui skrining gizi


dan mengkaji data antropometri, biokimia,
c. ASESMEN GIZI Tenaga Gizi (Nutrisionis/Dietisien) fisik/ klinis, riwayat makan termasuk alergi
makanan serta riwayat personal. Asesmen
dalam waktu 48 jam.

Telaah Resep
d. ASESMEN FARMASI
Rekonsiliasi Obat
6. DIAGNOSIS

a. DIAGNOSIS MEDIS Hipertensi esensial


Ketidakseimbangan nutrisi : kurang
dari kebutuhan tubuh
b. DIAGNOSIS
KEPERAWATAN Gangguan pola tidur

Penurunan curah jantung

Intake mineral tidak adekuat


berhubungan dengan kurangnya
c. DIAGNOSIS GIZI pengetahuan tentang makanan
sumber mineral dibuktikan dengan
tekanan darah tinggi

7. DISCHARGE PLANNING
Identifikasi Kebutuhan Edukasi &
Latihan Selama Perawatan
Identifikasi kebutuhan di rumah
Hand Hygiene
8. EDUKASI TERINTEGRASI
Oleh semua pemberi asuhan berdasarkan
Penjelasan Diagnosis kebutuhan dan juga berdasarkan Discharge
Planning.
a. EDUKASI/ Pengisian formulir informasi dan edukasi
INFORMASI MEDIS Rencana terapi
terintegrasi oleh pasien dan atau keluarga

Informed Consent O O Edukasi gizi dilakukan saat awal masuk dan atau
b. EDUKASI & Diet lambung bentuk saring atau pada hari ke 4 atau hari ke 5
KONSELING GIZI lambung
Konseling nutrisi/pola makan
c. EDUKASI Pola istirahat
KEPERAWATAN
Pola hidup sehat
Informasi Obat
d. EDUKASI FARMASI
Konseling Obat

PENGISIAN FORMULIR
INFORMASI DAN Lembar Edukasi Terintegrasi
EDUKASI TERINTEGRASI

9. TERAPI/ MEDIKAMENTOSA
CLINICAL PATHWAY No. Formulir :
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG Tgl. Berlaku :
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI ESENSIAL ICD :

a. INJEKSI
Furomemid O
Nicardipin/Diltiazem O Varian

b. CAIRAN INFUS RL/ NaCl 0,9

Captopril/Clonidine/Amlodipin/candesa
c. OBAT ORAL
rtan/bisoprolol/losartan/ramipril O O O
Varian
Captopril/Clonidine/Amlodipin/candesa
d. Obat Pulang
rtan/bisoprolol/losartan/ramipril

10. TATA LAKSANA/INTERVENSI


a. TATA LAKSANA/
INTERVENSI MEDIS
Fluid Management
Infection Control
Medication Management
b. TATA Vital Sign Monitoring
LAKSANA/
INTERVENSI Nutrition Therapy
KEPERAWATAN
Nutritional Counseling
Nutritional Monitoring
Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi/gizi Bentuk makanan, kebutuhan zat gizi
c. TATA
disesuaikan dengan usia dan kondisi klinis,
LAKSANA/ Diet rendah garam secara bertahap
INTERVENSI GIZI
d. TATA LAKSANA/
INTERVENSI FARMASI
Rekomendasi kepada DPJP O O O Sesuai dengan hasil monitoring

11. MONITORING & EVALUASI


Asesmen Ulang & Review Verifikasi
a. DOKTER DPJP Rencana Asuhan Monitor perkembangan pasien

Monitoring tanda-tanda vital pasien


Monitoring status hidrasi pasien
meliputi balance cairan, terapi
intravena dan tanda-tanda dehidrasi
Monitoring tindakan pencegahan
infeksi yang harus dilakukan oleh
pasien dan keluarga selama
perawatan
Monitoring pemberian obat
b. KEPERAWATAN antipiretik
Monitoring status nutrisi pasien dan
nilai balance intake dan outtake
Diet yang diberikan tepat dan tidak
ada gejala kontipasi atau diare
Monitoring tanda-tanda kurang
nutrisi
Monitoring hasil laboratorium yang
meliputi nilai albumin, protein total,
hemoglobin, imfosit dan elektrolit
Monitoring asupan makanan Sesuai dengan masalah gizi dan tanda
CLINICAL PATHWAY No. Formulir :
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG Tgl. Berlaku :
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA :
No. Revisi
RUMAH SAKIT HIPERTENSI ESENSIAL
CUT MEUTIA ICD :

c. GIZI
Monitoring Antropometri O O gejala yang akan dilihat kemajuannya.
Monev pada hari ke 4atau ke 5 kecuali
Monitoring Biokimia O O asupan makanan

Monitoring Fisik/klinis terkait gizi O O Mengacu pada IDNT (Internasional Dietetic


& Nutrition Terminology)
Monitoring Interaksi Obat

d. FARMASI Monitoring Efek Samping Obat


Pemantauan Terapi Obat
12. MOBILISASI /REHABILITASI
a. MEDIS
Tahapan Mobilisasi sesuai kondisi
pasien. bertahap dari miring kiri dan
b. KEPERAWATAN kanan, duduk bersandar di tempat
tidur,duduk berjuntai, berdiri dan
O O O
berjalan
c. FISIOTERAPI

13. OUTCOME/HASIL

[Link] darah terkontrol.


a. MEDIS
[Link] minimal
Hydration
Infection Saverity
Medication Responses
Vital Signs
b. KEPERAWATAN
Nutritional Status
Nutritional Status: biochemical
measures
Nutritional energy
Asupan makan > 80% Status Gizi berdasarkan antropometri,
c. GIZI
Optimalisasi status gizi biokimia, fisik/klinis

Terapi obat sesuai indikasi


d. FARMASI Meningkatkan kualitas hidup pasien
Obat rasional

14. KRITERIA PULANG


Umum: Hemodinamik stabil, Intake
baik Status pasien/tanda vital sesuai dengan PPK
Perbaikan nilai rujukan laboratorium

15. RENCANA PULANG/EDUKASI PELAYANAN LANJUTAN

Resume Medis dan Keperawatan


Penjelasan diberikan sesuai dengan Pasien membawa Resume Perawatan/ Surat
keadaan umum pasien Rujukan/ Surat Kontrol/Homecare saat
pulang.
Surat pengantar kontrol
CLINICAL PATHWAY No. Formulir :

KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG Tgl. Berlaku :

No. Revisi :
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI ESENSIAL ICD :

Jakarta, ........... / .......... / ...............


Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat Penanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

VARIASI PELAYANAN
TANGGAL ALASAN
YANG DIBERIKAN

Keterangan : Yang Harus Dilakukan √ Bila sudah dilakukan


Bisa Dilakukan / Bisa
O Tidak X Bila tidak dilakukan
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
1 PENGERTIAN Hipertensi adalah keadaan di mana Tekanan Darah (TD) sama atau melebihi 140
mmHg sistolik dan atau sama atau lebih dari90 mmHg diastolik pada seseorang
yang tidak sedang minum obat antihipertensi1,2,3

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah


Berdasarkan Joint National Committee Vll2

Dikutip dari: The Seventh Report of Joint National Committee on Prevention, Detection,Evaluation and
Treatment Of High Blood Pressure (JNC VII)

Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah


Berdasarkan Joint National Committee VllI4

TDS = Tekanan Darah Sistolik; TDD = Tekanan Darah Diastolik. Dikutip dari ESC/ESH Hypertension
Guidelines 2018

Hal 1 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
2 ANAMNESIS Anamnesis1,2,3
1. Durasi hipertensi\
2. Riwayat terapi hipertensi sebelumnya dan efek sampingnya bila ada
3. Riwayat hipertensi dan kardiovaskular pada keluarga
4. Kebiasaan makan dan psikososial
5. Faktor risiko lainnya: kebiasaan merokok, perubahan berat badan, dislipidemia,
diabetes, inaktivitas fisik
6. Bukti hipertensi sekunder: riwayat penyakit ginjal, perubahan penampilan,
kelemahan otot (palpitasi, keringatberlebih, tremor), tidur tidak teratur,
mengorok, somnolen disiang hari, gejala hipotiroidisme atau hipertiroidisme,
riwayat konsumsi obat yang dapat menaikkan tekanan darah
7. Bukti kerusakan organ target: riwayat TIA, stroke, buta sementara, penglihatan
kabur tiba-tiba, angina, infark miokard, gagal jantung, disfungsi seksual
Tabel 3. Etiologi Hipertensi Sekunder2,3

Penyakit parenkim, kista renalis (termasuk


Renal
penyakit ginjal polikistik), tumor renal, uropati
obstuktif
Renovaskuler Arteriosklelosis, displasia fibromuscular
Aldosteronisme primer, sindrom Cushing, defisiensi
17a-hydroxylase, defisiensi 11β-hydroxylase,
Adrenal
defisiensi 11Hydroxysteroid dehidrogenase (licorice),
pheochromocytoma
Koartaksio aorta
Obstruktive sleep
apneu
Preeklamsi/eklamsi
Psikogenik, sindroma diensefalik, disotomia
Neurogenik
familial, poloneuritis, peningkatan TIK
akut
Kelainan endokrin
Hipotiroidisme, hiperkalsemia, akromegali
lainnya
estrogen dosis tinggi, steroid, dekongestan,
Obat-obatan penekan nafsu makan, siklosporin, antidepresan
trisiklik, kokain, NSAID, eritropoetin
Hipertensi bentuk
Jarang
Mendelian

Hal 2 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
3 PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik1,2,3

FISIK 1. Pengukuran tinggi dan berat badan, tanda-tanda vital


2. Metode auskultasi pengukuran TD:
 Semua instrumen yang dipakai harus dikalibrasi secararutin untuk
memastikan keakuratan hasil
 Posisi pasien duduk di atas kursi dengan kakimenempel di lantai dan
telah beristirahat selama 5 menit dengan suhu ruangan yang nyaman
 Dengan sfigmomanometer, oklusi arteri brakialis dengan pemasangan
cuff di lengan atas dan diinflasi sampai di atas TD sistolik. Saat deflasi
perlaha-lahan, suara pulsasi aliran darah dapat dideteksi dengan
auskultasi dengan stetoskop tipe bell/genta di atasarteri tepat dibawah
cuff.
 Klasifikasi berdasarkan hasil rata-rata pengukuran tekanan darah yang
dilakukan minimal 2 kali tiap kunjungan pada 2 kali kunjungan atau
lebih dengan menggunakan cuff
 Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5.
 Pengukuran pertama harus di kedua sisi lengan untuk menghindarkan
kelainan pembuluh darah perifer.
 Pengukuran tekanan darah pada waktu berdiri diindikasikan pada pasien
dengan risiko hipotensi postural (lanjut usia, pasien DM, dll)
3. Palpasi leher apabila terdapat pembesaran kelenjar tiroid
4. Palpasi pulsasi arteri femoralis, pedis
5. Auskultasi bruit karotis, bruit abdomen
6. Funduskopi
7. Evaluasi gagal jantung dan pemeriksaan neurologis.

Hal 3 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
4 KRITERIA Penilaian Awal Klinis Hipertensi

DIAGNOSIS Penilaian awal klinis hipertensi sebaiknya meliputi tiga hal yaituklasifikasi
hipertensi, menilai risiko kardiovaskular pasien, dan mendeteksi etiologi
hipertensi sekunder yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Penilaian awal
tersebut diperoleh darianamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah
rutin,spesimen urin pagi, dan EKG 12-lead saat istirahat. Padapasien tertentu,
pemantauan TD berjalan dan ekokardiografi dapat memberikan informasi
tambahan mengenai beban sistem kardiovaskular berdasarkan urutan waktu1-4

Indikasi Pemantauan TD berjalan (Ambulatory Blood Pressure


Monitoring)4
1. Kecurigaan hipertensi white coat
2. Kecurigaan white coat aggravation pada pasien denganhipertensi
tidak terkontrol secara medis
3. Kecurigaan hipertensi nokturnal atau hipertensiterselubung
(masked hypertension)
4. Hipertensi pada kehamilan
5. Kecurigaan hipertensi ortostatik atau kegagalan otonom

Penapisan dan Deteksi Hipertensi4


Penapisan dan deteksi hipertensi direkomendasikan untuk semua pasien berusia
>18 tahun
 Pada pasien berusia >50 tahun, frekuensi penapisan hipertensi
ditingkatkan sehubungan dengan peningkatan angka prevalensi tekanan
darah sistolik.
 Perbedaan TDS >15 mmHg antara kedua lengan sugestif suatu penyakit
vaskular dan berhubungan erat dengan tingginya risiko penyakit serebro-
kardiovaskular

Hal 4 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI

Gambar 1. Penapisan dan Diagnosis Hipertensi4,5


ABPM = Ambulatory Blood Pressure Monitoring; HBPM = Home Blood PressureMonitoring; TD = Tekanan
Darah. Dikutip dari 2018 ESC/ESH Hypertension Guidelines.

Konfirmasi diagnosis hipertensi tidak dapat hanya mengandalkan pada satu kali
pemeriksaan, kecuali pada pasien dengan TD yang sangat tinggi, misalnya
hipertensiderajat 3 atau terdapat bukti kerusakan target organ akibat hipertensi
(HMOD = Hypertension Mediated Organ Damage) misalnya retinopati
hipertensif dengan eksudat dan perdarahan, hipertrofi ventrikel kiri, atau
kerusakan ginjal4,5

Hal 5 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI

Tabel 4. Penilaian HMOD4,5

5. DIAGNOSIS Hipertensi

KERJA
6. DIAGNOSIS 1. White coat hypertension
2. Hipertensi Terselubung
BANDING 3. Rasa nyeri
4. Peningkatan Tekanan Intraserebral
5. Ensefalitis
6. Akibat Obat

Hal 6 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
7. PEMERIKSAAN Pemeriksaan Penunjang:1,2,3

PENUNJANG  Urinalisis
 Tes Fungsi Ginjal
 Ekskresi Albumin
 Serum BUN, Kreatinin
 Gula Darah
 Elektrolit
 Profil Lipid
 Foto Toraks.

 EKG; sesuai penyakit penyerta: asam urat, aktivitas renin plasma


aldosterone, aktivitas renin plasma, katekolamin urine, USG pembuluh darah
besar, USG ginjal, ekokardiografi
8. TATALAKSANA Intervensi Pola Hidup
Pola hidup sehat dapat mencegah ataupun memperlambat awitan hipertensi dan
dapat mengurangi risiko kardiovaskular. Pola hidup sehat juga dapat
memperlambat ataupun mencegahkebutuhan terapi obat pada hipertensi derajat
1, namun sebaiknya tidak menunda inisiasi terapi obat pada pasien dengan
HMOD atau risiko tinggi kardiovaskular4,5
1. Pembatasan konsumsi garam.
Terdapat bukti hubungan antara konsumsi garam dan hipertensi.
Konsumsi garam berlebih terbukti meningkatkantekanan darah dan
meningkatkan prevalensi hipertensi. Rekomendasi penggunaan natrium
(Na) sebaiknya tidak lebih dari 2 gram/hari (setara dengan 5-6 gram
NaCl perhariatau 1 sendok teh garam garam dapur).
2. Perubahan pola makan
Pasien hipertensi disarankan untuk konsumsi makanan seimbang yang
mengandung sayuran, kacang- kacangan, buah-buahan segar, produk
susu rendah lemak, gandum, ikan, dan asam lemak tak jenuh (terutama
minyak zaitun), serta membatasi asupan daging merah dan asam lemak
jenuh.
3. Penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal
4. Olah raga teratur.

Hal 7 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
Pasien hipertensi disarankan untuk berolah raga setidaknya
30 menit latihan aerobik dinamik berintensitas sedang (seperti: berjalan,
joging, bersepeda, atau berenang) 5-7 hari per minggu.
5. Berhenti merokok.

Penentuan Batas Tekanan Darah Untuk Inisiasi Obat Penatalaksanaan


medikamentosa pada penderita hipertensimerupakan upaya untuk menurunkan
tekanan darah secaraefektif dan efisien4,5

Tabel 5. Ambang Batas Tekanan DarahUntuk Inisiasi Obat4,5


Usia Ambang Batas TDS di TDD di
Klinik Untuk Inisiasi Obat Klinik
(mmHg) (mmHg)
Hiper- + + + +
tensi Diabetes PGK PJK Stroke
/ TIA
18-65 > 140 > 140 > 140 > 140 > 140 > 90
Tahun

65-79 > 140 > 140 > 140 > 140 > 140 > 90
Tahun

> 80 > 160 > 160 > 160 > 160 > 160 > 90
Tahun

TDD di > 90 > 90 > 90 > 90 > 90


Klinik
(mmHg)

TD = Tekanan Darah; TDD = Tekanan Darah Diastolik; TDS = Tekanan Darah Sistolik, PGK = Penyakit Ginjal
Kronik, PJK = Penyakit Jantung Koroner, TIA = Transient Ischemic Attack. Dikutip dari: ESC/ESH Hypertension
Guidelines 2018

Hal 8 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI

Gambar 2. Alur Panduan Inisiasi Terapi ObatSesuai


dengan Klasifikasi Hipertensi4,5
HMOD = Hypertension Mediated Organ Damage; PJK = Penyakit Jantung Koroner; PKV = Penyakit
Kardiovaskular; TD = Tekanan Darah
*Inisiasi terapi obat pada kelompok pasien ini disarankan untuk dikonsultasikan kepada spesialis dengan target
tatalaksana disesuaikan dengan panduan penyakit spesifik. Dikutip dari: ESC/ESH Hypertension Guidelines
2018

Tabel 6. Target Tekanan Darah4,5

Hal 9 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
PGK = Penyakit Ginjal Kronik; PJK = Penyakit Jantung Koroner; TIA = Transient Ischemic Attack; TD =
Tekanan Darah; TDD = Tekanan Darah Diastolik; TDS = Tekanan Darah Sistolik
*Untuk stroke lakunar: target penurunan TDS 120-130 mmHg Dikutip dari: ESC/ESH Hypertension Guidelines
2018

PENGOBATAN HIPERTENSI – TERAPI OBAT


Strategi pengobatan yang dianjurkan pada panduan penatalaksanaan hipertensi
saat ini adalah dengan menggunakan terapi obat kombinasi pada sebagian besar
pasien, untuk mencapai tekanan darah sesuai target. Bila tersedia luas dan
memungkinkan, maka dapat diberikan dalambentuk pil tunggal berkombinasi
(single pill combination), dengan tujuan untuk meningkatkan kepatuhan pasien
terhadappengobatan4,5

Hal 10 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
ACE = Angiotensin-Converting Enzyme; ARB = Angiotensin Receptor Blocker; CCB =Calcium Channel
Blocker; OROS = Osmotic-Controlled Release Oral Delivery System;IR = Immediate Release; LA =
Long- Acting; SR = Sustained Release. Dikutip dari: ACC/AHA Guideline of Hypertension 2017

Gambar 3. Strategi Penatalaksanaan


HipertensiTanpa Komplikasi 4,5
ACEi = Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor; ARB = Angiotensin Receptor Blocker; CCB = Calcium
Channel Blocker; MI = Myocardial Infarction. Dikutip dari: ESC/ESH Hypertension Guidelines 2018

Gambar 4. Strategi Pengobatan pada Hipertensidan


Penyakit Arteri Koroner4,5

ACEi = Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor; ARB = Angiotensin Receptor Blocker; CCB = Calcium
Channel Blocker; CVD = Cardiovascular Disease; MI = Myocardial Infarction, BB = Beta Bloker. Dikutip
dari: ESC/ESH Hypertension Guidelines 2018

Hal 11 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI

Gambar 5. Strategi Pengobatan pada Hipertensidan PGK4,5


ACEi = Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor; ARB = Angiotensin Receptor Blocker;
CCB = Calcium Channel Blocker; MI = Myocardial Infarction

a
PGK didefinisikan sebagai eLFG <60 ml/menit/1,72 m2 dengan atau tanpa proteinuria bGunakan loop diuretic
jika eLFG <30/ml/menit/1,72 m2, karena thiazide/thiazide-like diuretic efektivitasnya lebih rendah/tidak efektif
pada eLFG yang serendah ini cPeringatan: risiko hiperkalemia dengan spironolakton, terutama jika eLFG <45
ml/menit/1,72 m2 atau nilai awal K+ >4,5 meq/L

Gambar 6. Strategi Pengobatan Hipertensi


Dan Gagal Jantung dengan Fraksi Ejeksi Menurun4,5

Jangan menggunakan CCB non-dihidropiridin (yaitu verapamil atau diltiazem). ACEi =


Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor; ARB = Angiotensin Receptor Blocker; CCB
= Calcium Channel Blocker; MRA = Mineralocorticoid Receptor Antagonist

a
Pertimbangkan angiotensin receptor/neprilysin inhibitor daripada ACEi atau ARB sesuai ESC Heart Failure
Guidelines
b
Diuretik yang dimaksud adalah thiazide/thiazide-like diuretic. Pertimbangkan loop diuretic sebagai obat
pilihan lain pada pasien edema
c
MRA (spironolakton atau eplerenon)
Dikutip dari: ESC/ESH Hypertension Guidelines 2018

Hal 12 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI

Gambar 7. Strategi Pengobatan


Hipertensidan Fibrilasi Atrial4,5

ACEi = Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitor; ARB = Angiotensin Receptor Blocker; CCB = Calcium
Channel Blocker; CHA2DS2- VASc = Cardiac failure, Hypertension, Age >75 (Doubled), Diabetes, Stroke
(Doubled) – Vascular disease, Age 65 – 74 and Sex Category (Female); DHP = dihidropiridin
a
CCB non-DHP (yaitu verapamil atau diltiazem). Dikutip dari: ESC/ESH Hypertension Guidelines 2018
9. EDUKASI Edukasi tentang :
 Diagnosis dan derajat hipertensi serta
penatalaksanaannya
 Kemungkinan penyebab hipertensi sekunder
 Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan hipertensi (gaya
hidup, obat-obatan atau riwayat keluarga)
 Faktor risiko kardiovaskular (termasuk gaya hidup dan riwayat keluarga)
 Ada tidaknya HMOD (Hypertension Mediated Organ Damage) atau
penyakit kardiovaskular, serebrovaskular atau ginjal

10. PROGNOSIS Hipertensi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan terapi yang
sesuai. Terapi kombinasi obat dan modifikasi gaya hidup umumnya dapat
mengontrol tekanan darah agar tidak merusak organ target. Oleh karena itu, obat
antihipertensi harus terus diminum untuk mengontrol
tekanan darah dan mencegah komplikasi

Hal 13 dari 15
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS
KSM PENYAKIT DALAM/JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA HIPERTENSI
11. TINGKAT I/II/III

EVIDENS
12. TINGKAT A/B/C

REKOMENDASI
13. PENELAAH KSM PENYAKIT DALAM

KRITIS
14. INDIKATOR  Target tekanan darah tercapai
(OUTCOME)  Hemodinamik stabil
 Menentukan ada tidaknya HMOD (Hypertension Mediated Organ
Damage) atau penyakit kardiovaskular, serebrovaskular atau ginjal yang
sudah ada sebelumnya, untuk stratifikasi risiko.
 Mencegah kerusakan target organ akibat hipertensi (HMOD =
Hypertension Mediated Organ Damage)
15. KEPUSTAKAAN 1. Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, Casey Jr DE, Collins KJ,
Himmelfarb CD, et al. 2017 ACC / AHA / AAPA / ABC /ACPM / AGS/
APhA / ASH / ASPC / NMA /PCNA Guideline for the Prevention,
Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in
Adults: Executive Summary: A Report of the American College of
Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice
Guidelines. Hypertension. 2018;71:1269-1324
2. Alwi I, et al. Hipertensi. Dalam: Panduan Praktik Klinis. Penatalaksanaan Di
Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Cetakan ke-4. Februari 2019. Hal 408-414
3. Unger T, et al. 2020 International Society of Hypertension Global
Hypertension Practice Guidelines. 6th May 2020. Hypertension.
2020;75:1334–1357. Available at:
[Link]
4. Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019.
Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia. Editor: Antonia Anna Lukito, Eka
Harmeiwaty, Ni Made Hustrini. Jakarta; Februari 2019.
5. Williams B, Mancia G, Spiering W, Agabiti RE, Azizi M, Burnier M, et
al. ESC Scientific Document Group. 2018 ESC/ESH Guidelines for

Hal 14 dari 15
The Management of Arterial Hypertension. Eur Heart J. 2018;39:3021-
3104. Available at: [Link]
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY SMF BEDAH Tgl. Berlaku :


RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :
RUMAH SAKIT APPENDIKSITIS AKUT ICD :
CUT MEUTIA

No. RM :
Nama Pasien : BB : Kg
Jenis Kelamin : TB : Cm
Tanggal Lahir : [Link] : Jam : wib
Diagnosa Masuk RS : [Link] : Jam : wib
Penyakit Utama : Kode ICD : Lama Rawat : Hari
Penyakit Penyerta : Kode ICD : Rencana Rawat : 3 Hari
Komplikasi : Kode ICD R. Rawat/ kelas :
HARI RAWAT
KEGIATAN URAIAN KEGIATAN 1 2 3 KETERANGAN

1. ASESMEN AWAL

Dokter IGD Pasien masuk melalui IGD


ASESMEN AWAL Dokter Spesialis Pasien masuk melalui RJ
MEDIS
Dokter Anastesi
Perawat Primer
Alasan utama masuk rumah sakit,
kondisi umum, riwayat penyakit,
status psikologis, mental, sosial,
ekonomi dan budaya pemeriksaan
ASESMEN AWAL fisik, tingkat kesadaran, tanda-
KEPERAWATAN tanda vital, riwayat alergi, skrining
gizi, nyeri, status fungsional: bartel
index, risiko jatuh, risiko decubitus,
kebutuhan edukasi dan Discharge
Planning

Darah Lengkap

2. LABORATORIUM Faal Hemostais


Plano (wanita)
3. RADIOLOGI USG Abdomen

4. KONSULTASI
5. ASESMEN LANJUTAN

Dokter DPJP Visite harian/ Follow up


a. ASESMEN MEDIS
Dokter non DPJP/dr. Ruangan Atas Indikasi/ Emergency
TTV dan Status nutrisi: nafsu
b. ASESMEN
makan, mual, muntah, diare, Dilakukan dalam 3 Shift
KEPERAWATAN konstipasi
Risiko intoleransi Aktifitas
Tenaga Gizi (Nutrisionis/Dietisien)
c. ASESMEN GIZI
kkal/hari
Telaah Resep

d. ASESMEN FARMASI
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY SMF BEDAH Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA APPENDIKSITIS AKUT ICD :

Rekonsiliasi Obat
6. DIAGNOSIS

a. DIAGNOSIS MEDIS Appendisitis Akut


b. DIAGNOSIS Nyeri akut
KEPERAWATAN
Hipertermia
Mual O O O
Resiko intoleransi aktifitas O O O
Prediksi sub optimal asupan energi
berkaitan rencana tindakan
c. DIAGNOSIS GIZI bedah/operasi ditandai dengan asupan
energi lebih rendah dari kebutuhan
O O O
(NI-1.4)
Identifikasi Kebutuhan Edukasi &
Latihan Selama Perawatan
7. DISCHARGE
Identifikasi kebutuhan di rumah
PLANNING
Hand Hygiene
8. EDUKASI TERINTEGRASI
Penjelasan Diagnosis Oleh semua pemberi asuhan berdasarkan
O O kebutuhan dan juga berdasarkan Discharge
Planning.
a. EDUKASI/
INFORMASI MEDIS Rencana terapi
O O Pengisian formulir informasi dan edukasi
terintegrasi oleh pasien dan atau keluarga
Informed Consent
O O
b. EDUKASI &
KONSELING GIZI
Diet nasi tim/nasi
O O Edukasi gizi dilakukan saat awal masuk
dan atau pada hari ke 4 atau hari ke 5
Paham pemberian edukasi gizi
O O
Cara menurunkan nyeri
O O
Perawatan luka
O O
c. EDUKASI
KEPERAWATAN
Pengontrolan infeksi
O O
Mobilisasi bertahap
O O O
Aktivitas di rumah
O O O
d. EDUKASI FARMASI
Informasi Obat O O O
Konseling Obat O O
PENGISIAN FORMULIR
INFORMASI DAN
EDUKASI TERINTEGRASI
Lembar Edukasi Terintegrasi O O
9 . TERAPI/ MEDIKAMENTOSA

[Link] INFUS RL / NaCl 0.9


Anti nyeri (Ketorolac 30 mg,
Tramadol) O O O
Anti pendarahan (Asam traneksamat)
O O O
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY SMF BEDAH Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :
CUT MEUTIA APPENDIKSITIS AKUT ICD :
Antibiotik profilaksis (Ceftriaxone 1 gr,
Gentamicin, Cefoperazone,
c. FARMASI Cefotaxim)
Antibiotik (Ciprofloxacin tab 250 mg,
Cefadroxil tab 500 mg, Cefixime tab
200 mg)
Anti nyeri (Asam mefenamat tab 500
mg, Paracetamol tab 500 mg,
Tramadol tab)
Pembiusan umum gas:
O
Isofluran 1-2%

Pembiusan umum
injeksi: O
Atracurium 0,2-0,5mg/kg

Midazolam 1-5 mg

d. ANASTESI Morphine 3-5 mg iv Varian

Petidine 25-50 mg

Pembiusan regio-lokal:
O
Bupivakain 5-20 mg

Lidodex 20-40 mg

10. TATA LAKSANA/INTERVENSI


a. TATA LAKSANA/ Appendektomi
INTERVENSI MEDIS
Perawatan luka
O O
kaji status nyeri (PQRST)
Berikan posisi yang nyaman
O O O
Kaji tingkat kecemasan

Temani pasien
O O O
Kolaborasi tim medis pemberian
analgesik O O
b. TATA
Fluid Management O
LAKSANA/ Infection Control
INTERVENSI
KEPERAWATAN Medication Management
Vital Sign Monitoring
Nutrition Therapy
Nutritional Counseling O O
Nutritional Monitoring O O
c. TATA LAKSANA/ Pemenuhan kebutuhan gizi Nutrisi O Bentuk makanan, kebutuhan zat gizi
disesuaikan dengan usia dan kondisi klinis,
INTERVENSI GIZI Diet makanan sesuai dengan kondisi
pasien O secara bertahap
d. TATA LAKSANA/
INTERVENSI FARMASI
Rekomendasi kepada DPJP O O O Sesuai dengan hasil monitoring
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY SMF BEDAH Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA APPENDIKSITIS AKUT ICD :

11. MONITORING & EVALUASI


Asesmen Ulang & Review
a. DOKTER DPJP Monitor perkembangan pasien
Verifikasi Rencana Asuhan

Monitoring tanda-tanda vital pasien


Monitoring status hidrasi pasien
meliputi balance cairan, terapi
intravena dan tanda-tanda
dehidrasi
Monitoring tindakan pencegahan
infeksi yang harus dilakukan oleh
pasien dan keluarga selama O O
perawatan
Monitoring pemberian obat
b. KEPERAWATAN antipiretik O O
Monitoring status nutrisi pasien
dan nilai balance intake dan
outtake
O O
Diet yang diberikan tepat dan tidak
ada gejala kontipasi atau diare O O
Monitoring tanda-tanda kurang
nutrisi O O
Monitoring hasil laboratorium yang
meliputi nilai albumin, protein total,
hemoglobin, imfosit dan elektrolit
O O
Monitoring asupan makanan O O Sesuai dengan masalah gizi dan tanda

c. GIZI
Monitoring Antropometri O O gejala yang akan dilihat kemajuannya.
Monev pada hari ke 4atau ke 5 kecuali
Monitoring Biokimia O O asupan makanan

Monitoring Fisik/klinis terkait gizi O O Mengacu pada IDNT (Internasional Dietetic


& Nutrition Terminology)
Monitoring Interaksi Obat O O
d. FARMASI Monitoring Efek Samping Obat O O
Pemantauan Terapi Obat O O
12. OUTCOME/HASIL
[Link] nyeri 3

a. MEDIS
O O
[Link] pasca operasi
O O
a. TTV
O O
b. Status nyeri
O O
c. Kondisi Luka
O O
Thermoregulation O O
Hydration O O
b. KEPERAWATAN Infection Saverity O O
Medication Responses O O
Vital Signs O O
No. Formulir :

CLINICAL PATHWAY SMF BEDAH Tgl. Berlaku :

RUMAH SAKIT CUT MEUTIA No. Revisi :


RUMAH SAKIT APPENDIKSITIS AKUT ICD :
CUT MEUTIA
Nutritional Status O O
Nutritional Status: biochemical
measures O O
Nutritional energy O O
c. GIZI
Asupan makan > 80% O O Status Gizi berdasarkan antropometri,
Optimalisasi status gizi O O biokimia, fisik/klinis

d. FARMASI
Terapi obat sesuai indikasi O O Meningkatkan kualitas hidup pasien
Obat rasional O O
Umum: Hemodinamik stabil,
Intake baik, mobilisasi baik Status pasien/tanda vital sesuai dengan
12. KRITERIA PULANG Khusus: pemeriksaan fisik dan
PPK
pemeriksaan penunjang kembali
normal/perbaikan

Resume Medis dan Keperawatan


13. RENCANA Pasien membawa Resume Perawatan/
PULANG/EDUKASI Penjelasan diberikan sesuai Surat Rujukan/ Surat Kontrol/Homecare
PELAYANAN LANJUTAN dengan keadaan umum pasien saat pulang.
Surat pengantar kontrol

Jakarta, ........... / .......... / ...............


Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Perawat Penanggung Jawab Pelaksana Verifikasi

VARIASI PELAYANAN
TANGGAL ALASAN
YANG DIBERIKAN

Keterangan : Yang Harus Dilakukan √ Bila sudah dilakukan


Bisa Dilakukan / Bisa
O Tidak X Bila tidak dilakukan
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
TALAKASANA KASUS KSM BEDAH
RUMAH SAKIT CUT MEUTIA
RUMAH SAKIT
CUT MEUTIA
APPENDICITIS ACUTA
1 PENGERTIAN Suatu proses keradangan akut dan atau sumbatan pada saluran
appendiks / usus buntu
2 ANAMNESIS 1. Nyeri perut tiba tiba sisi kanan bawah,
2. Nyeri / rasa tidak nyaman bisa berawal dari ulu hati dan
berpindah dirasakanmenetap di sisi kanan bawah,
3. Bisa disertai gejala lain seperti diare atau bahkan sembelit,
4. Rasa mual dan kadang muntah
5. Demam
3 PEMERIKSAAN 1. Nyeri tekan pada titik Mc Burney,
FISIK 2. Bising usus meningkat atau bahkan menghilang,
3. Pada pemeriksaan ‘colok dubur’ didapatkan rangsang nyeri pada jam 9-11,
4. Suhu badan meningkat dari suhu normal

4 KRITERIA 1. Anamnesis
DIAGNOSIS 2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan penunjang
5. DIAGNOSIS Keradangan akut pada usus buntu
KERJA
6. DIAGNOSIS 1. Keradangan pada organ genetalia (wanita)
BANDING 2. Kehamilan ektopik terganggu (wanita)
3. Batu Ureter kanan
4. Tumor sekum
5. Chron’s disease
6. Colitis
7. PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan Darah Lengkap
PENUNJANG 2. Pemeriksaan Urine Lengkap (wanita ditambahkan plano test)
3. USG perut bawah (tidak rutin)
8. TATALAKSANA 1. Appendektomi
2. Antibiotik
3. Analgetik
9. EDUKASI 1. Dampak sakit bila tidak dilakukan tindakan operasi,
2. Resiko tindakan operasi,
3. Perawatan setelah tindakan operasi
10. PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam

Hal 1 dari 2
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam
11. TINGKAT IV
EVIDENS
12. TINGKAT A
REKOMENDASI
13. PENELAAH -
KRITIS
14. INDIKATOR 1. Nyeri perut kanan bawah menghilang,
(OUTCOME) 2. Demam berkurang,
3. Bising usus kembali normal,
4. Penderita telah flatus
15. KEPUSTAKAAN 1. Buku teks Ilmu bedah Surgery Basic Science and Clinical
Evidence, ed. Jeffrey A. Norton, Springer Verlag 2000, pg. 647 –
666
2. Buku Ajar Ilmu Bedah ed. De Jong W, Sjamsuhidayat. 2nd ed.
EGC. 2005, pg. 522, pg. 639 – 646
3. Buku teks Ilmu Bedah Schwartz, Principles of Surgery
4. Maingot’s Abdominal Operations, 11th ed, ed. Michael J. Zinner, Mc
Graw Hill 2007, pg. 589 – 612
5. Hamilton Bailey’s Emergency Surgery 8th ed, Brian W. Ellis, KM
Varghese Co., Mumbay 2000, pg. 394 – 395

Anda mungkin juga menyukai