As Sweet As Nasa [End]
KillMill
Published: 2023
Source: [Link]
Blurb
-The Sister Univers #2-
Melewati hari melelahkan di rumah sakit kemudian tidak
sengaja tertidur di ruang laki-laki asing yang tidak asing-
asing banget itu membuat Nasa dengan konyolnya
meninggalkan dua hartanya yang berharga-stetoskop dan
sebuah bra berwarna hitam. Berawal dari sana, pertemuan
Nasa dan Leo jadi lebih sering.
Nasa sering mendatangi Leo di waktu dini hari hanya untuk
sekedar mencicipi makanan manis buatan chef itu untuk
mengisi perutnya yang lapar. Leo adalah laki-laki yang
manis, semanis makanan yang dibuatnya. Membuat Nasa
tidak yakin bahwa hatinya mampu menahan pesonanya.
___________
Apa ini miskah?????
Cerita baru??!
Disaat cerita lain menumpuk?!
Seriously?????!!
Hahahahaha
Baru lempar blurb dulu kok 😌
Terus update nya kapan???
Tunggu Anin punya adik?
Mau tes ombak dulu siiiii
🤔
Rame lanjut, kalo sepi ya skip wkwkwk
Ya udh segitu aja dehh
Bye-bye 😘
SATU
Nasa merenggangkan tubuhnya begitu ia keluar
dari pintu rumah sakit. Merenggangkan sendi-sendinya dan
juga otot kepala yang mulai tegang. Hari sudah sangat
gelap. Melirik jamnya, sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Luar biasa. Di hari yang seharusnya Nasa pulang dari
rumah sakit pukul 9 malam, dia justru masuk ruang operasi
yang mengharuskannya menunda jadwal kepulangannya
hingga 5 jam kemudian. Ada pasien trauma akibat
kecelakaan mobil yang mengharuskan masuk ke ruang
operasi segera. Nasa yang sedang bertugas jaga di IGD pun
akhirnya ikut masuk ruang operasi meski tentu, dia
hanyalah membantu dokter spesialis di sana.
Dia mendapatkan shift siang. Mulai bekerja pukul 14.00
dengan waktu selesai pukul 21.00, Nasa seharusnya sudah
puas beristirhat. Kemarin hari Minggu. Dia bersantai di
rumahnya seharian dan di hari senin bahkan dia baru masuk
kerja pukul 2 siang. Tapi saat ini, Nasa sudah mengantuk
sekali. Bukan hanya itu, dia juga lapar!
"Nas, baru mau pulang?" Pintu IGD di belakangnya
terbuka, kemudian rekan sejawatnya sesama isip (sebutan
untuk dokter internsip) yang berbeda kelompok dengannya
menghampiri.
Nasa menoleh pada laki-laki yang sudah berada di
sampingnya. Mengangguk menatap Raga dengan wajah
datarnya seperti biasa.
"Udah tengah malem. Lo berani pulang sendiri?" tanya
laki-laki itu.
Nasa kembali melirik jam tangannya. Bukan tengah
malam lagi tapi sudah dini hari.
"Gue antar pulang gimana?" tawar laki-laki itu.
Nasa kemudian menggeleng. "Gue bawa mobil," tolaknya.
"Tapi rumah lo kan jauh, Nas. Gue antar pulang aja, ya?"
Nasa kembali menggeleng. "Nggak usah, gue berani
sendiri." Kemudian gadis itu mengangguk singkat seraya
berpamitan pada rekan sejawatnya itu sebelum kemudian
melangkahkan kaki menuju parkiran tempat mobilnya
terpakir.
Seperti yang Raga bilang barusan, rumahnya jauh dari
rumah sakit tempatnya melakukan internsip ini. Nasa pun
sedikit tidak jujur dengan Raga bahwa dia berani pulang ke
rumah di jam 2 dini hari. Dia tidak berani. Maka dari itu,
Nasa tidak pulang ke rumah. Lima belas menit dari rumah
sakit, ada apartemen milik Keanu—sepupunya—yang sering
Nasa tempati kalau dia pulang tengah malam dari rumah
sakit. Maka mengendarakan mobilnya menuju gedung itu
adalah yang kini Nasa lakukan.
*__*
Perutnya keroncongan.
Jika Nasa bahkan bisa menahan emosi walau dia sedang
sangat emosi, tapi Nasa tidak bisa menahan lapar kalau dia
sudah sangat kelaparan. Begadang di ruang operasi tentu
saja selain membuatnya lelah, tetapi juga membuatnya
lapar.
Nasa sudah memarkirkan mobil di parkiran apartemen.
Sebelum naik menuju unit tempat yang akan ditinggalinya,
Nasa memilih keluar mencari makanan dengan membawa
tas ransel miliknya. Dia berharap semoga masih ada
pedagang kaki lima ataupun restoran yang buka di dini hari
seperti ini.
Nasa menyebrang jalan. Dia tahu ada sebuah restoran di
sana. Restoran milik keluarga sahabatnya Sana—
kembarannya—yang bernama Adel. Dia melihat lampunya
masih menyala dan Nasa berdoa dalam hatinya restoran itu
buka 24 jam. Namun doanya itu tidak terkabul karena ketika
Nasa berada di sana, tanda close terpampang di pintu
masuk.
"Yah ..." Nasa mendesah kecewa. Kenapa juga diharus
diberikan harapan palsu dengan lampu yang menyala di
dalam?
Nasa hendak kembali pulang. Sepertinya dia akan
memasan makanan saja melalui ponselnya. Namun indra
penciumannya mencium harum yang lain. Harum
kesukaannya yang membuat Nasa pun memutuskan untuk
menyusuri sisi restoran itu dan dihadapkan dengan pintu
belakang yang terbuka.
Nasa mengintip sedikit. Terlihat seorang dengan rambut
sedikit panjang dan dikuncir belakang tengah berlalu lalang.
Membawa seluruh keberaniannya, Nasa mengetuk pintu
dan memasuki ruangan itu dengan pelan.
"Kakaknya Adel?" panggil Nasa atas seseorang yang
mungkin saja ia kenali dan mengenalinya itu.
Seseorang itu berbalik menatapnya. Seperti apa yang
pernah ada diingatannya tentang laki-laki yang merupakan
kakak dari sahabatnya Sana yang bernama Adel. Nasa
mungkin lupa siapa nama laki-laki itu. Tapi dia tidak lupa
bagaimana penampilan laki-laki berambot gondrong yang
suka diikat di belakang dan juga sebuah kalung rantai
panjang dengan liontinnya berbentuk persegi panjang yang
terdapat sebuah ukiran apa di sana.
"Nasa?" Kakaknya Adel yang barusan Nasa paggil itu
memanggil namanya.
Nasa tersenyum. Ternyata Kakaknya Adel masih
mengingatnya dan juga namanya. Ah, dia sedikit merasa
bersalah tidak mengingat nama laki-laki itu disaat namanya
justru diingat.
"Tadi aku lihat lampunya masih nyala. Aku pikir
restorannya masih buka jadi aku mampir." Nasa
menjelaskan keberadaannya di tempat ini.
Kakaknya Adel itu tampak mengangguk. "Mau pesan
makanan?" tanyanya.
"Iya, Kak. Tapi kayaknya udah tutup, ya?"
Kakaknya Adel mengangguk lagi. "Udah tutup dari jam 10.
Bahan dan makanannya juga udah disimpan. Walau aku
disini tapi sepertinya kamu tetap nggak bisa pesan juga."
Nasa mendesah lesu. Ia pikir dia bisa menggunakan jalur
dalam untuk bisa makan. Ah, perutnya benar-benar
keroncongan!
"Ya udah deh, Kak. Makasih ya." Sepertinya Nasa memang
harus menggunakan jasa aplikasi saja untuk memesan
makanan. Dan semoga masih ada restoran yang buka meski
Nasa harus menunggu lama untuk makanannya diantar.
"Aku lagi buat cookies. Kamu perlunya makan nasi atau
mau coba makan cookies?"
Suara itu menghentikan langkah Nasa yang hendak keluar
dari pintu. Berbalik lagi menatap Leo dan juga menatap
sebuah dapur mini yang ada di sebelah kanan dirinya.
Wangi itu adalah wangi yang diikutinya tadi.
"Boleh, Kak." Dan tentu menolak diberi makanan sedang
dia tahu bahwa Kakaknya Adel adalah pembuat makanan
manis handal adalah suatu penolakan yang bodoh.
*__*
Sambil menunggu cookies yang masih berada di dalam
oven matang, Kakaknya Adel menghidangkan Nasa
secangkir teh hangat yang sudah gadis itu sesap sedikit.
Pandangan Nasa kini mengitari seisi ruangan yang ia kira
adalah bagian belakang dari restoran. Namun sepertinya
bukan. Ruangan ini justru memiliki dapur mini sendiri dan
juga kitchen bar yang kini Nasa duduki. Di sebelah kiri dari
dapur ini, ada satu set sofa dengan karpet di bawahnya dan
juga TV yang ada di rak dinding.
"Ini ruangan pribadiku," kata Kakaknya Adel seraya
membaca pikiran gadis yang tengah menunggu
makanannya itu.
Nasa pun mengangguk-angguk. Ruangan ini memang
persis seperti ruangan pribadi seseorang.
"Kamu dari mana malam-malam?" tanya Kakaknya Adel
yang kini berdiri di depan Nasa dengan menumpukan
sebelah tangannya pada meja yang membatasi mereka.
"Baru pulang kerja," jawab Nasa balas menatap laki-laki di
depannya.
Kakaknya Adel pun mengangguk. Kemudian melangkah
menuju oven yang sudah berdenting membuat tatapan
Nasa antusias karena tahu makanannya sudah hampir jadi.
Nasa benar-benar menatap setiap jengkal yang Kakaknya
Adel lakukan saat membuka oven dan mengeluarkan
cookies menggugah selera itu dari dalam sana dan
memindahkannya beberpa keeping ke piring kecil.
Ah, dia benar-benar beruntung datang ke tempat ini
malam ini.
"Masih panas." Kakaknya Adel meletakan piring kecil itu
ke hadapan Nasa.
Tidak menghiraukan perkataan Kakanya Adel, Nasa
mengambil keping kue kering itu dengan meniup-niupnya
seraya menghalau panas meski kini tangannya juga
kepanasan.
"Masih panas, Nasa." Kakak Adel tersenyum kecil melihat
tingkah Nasa seperti anak kecil yang tidak sabar
menantikan makanannya.
Nasa sendiri hanya melirik sekilas pada Kakaknya Adel
dan mulai menggigit kue kering itu.
Ini benar-benar luar biasa!
*__*
Leo, namanya. Ditugaskan sang ayah mengurusi restoran
keluarga. Rumah Rasa. Sebuah restoran keluarga yang
menyajikan makanan khas nusantara. Biasanya, selepas
pegawai restoran pulang dan tersisa penjaga di pos satpam
yang mungkin saja terlewat saat Nasa—gadis yang ia tahu
sebagai saudara kembar sahabat adiknya itu datang dan
masuk ke dalam ruang pribadinya. Sebuah ruangan yang
berada di bagian belakang restoran—tempat biasa Leo
menghabiskan waktu bereksperimen dengan makanan-
makanan manis.
Mungkin sekitar setengah jam yang lalu, Nasa tampak
begitu antusias melahap keping-keping kue kering yang
malam ini menjadi salah satu eksperimennya. Setelah
selesai dengan eksperimennya, Leo membiarkan Nasa
menghabiskan seluruh keping kue kering yang dibuatnya
sedang laki-laki itu menuju kamar mandi untuk
membersihkan diri. Keluar dari sana, Leo justru dihadapkan
dengan Nasa yang tidur pulas di atas kitchen barnya.
"Nasa?" Leo memanggil nama gadis itu. Berkali-kali. Dan
berkali-kali juga tidak ada tanggapan dari dirinya.
Hampir pukul 3 dini hari dan Leo kebingungan dengan
keberadaan seorang gadis yang berada di ruangan
pribadinya ini. Kehadiran Nasa di sini tentu tidak mungkin
Leo tinggal begitu saja dan kembali ke apartemennya yang
berada di seberang restoran ini untuk beristirahat.
"Nasa?" Leo memanggilnya sekali lagi. Kali ini disertai
dengan menggoyangkan lengan gadis itu yang tampak
begitu damai dalam tidurnya.
Nasa tidak sedikitpun bergeming atas panggilannya.
Terlihat nyenyak padahal posisi tidurnya tentu tidaklah
nyaman.
Sekali lagi, pukul 3 dini hari. Rasanya tidak etis juga jika
Leo menghubungi Sana dan mengabarkan bahwa saudara
kembarnya ada di sini dan ketiduran setelah melahap
belasan keping kue kering buatannya.
Leo pun beranjak ke sofa panjang miliknya. Mengatur
bantal dan juga mengosongkan sofa dari ransel yang Nasa
letakan di sana dan juga jaket milik gadis itu. Leo pun
kembali pada Nasa dan menggendongnya kemudian
meletakan gadis itu yang masih sangat nyenyak tidurnya di
atas sofa. Lalu mengambil jaket milik Nasa untuk
digunakannya sebagai selimut gadis itu dan juga
mengambil jaketnya sendiri untuk menyelimuti kakinya.
Leo biarkan Nasa tidur dengan damai di atas sofa dan
laki-laki itu bergabung di sofa lainnya yang tidak selebar
sofa yang Nasa tiduri itu. Leo mendudukan dirinya di sana.
Melipat kedua tangannya di depan dada dan menaikkan
kakinya pada meja kemudian memejamkan matanya.
Dia sudah mengantuk dan tidak lagi memiliki tenaga
untuk membangunkan Nasa yang sepertinya tidak ingin
terbangun dari tidurnya hingga pagi menjelang.
.
.
.
To Be Continued
(11/05/2022)
Adaaaaw
akhirnya hari ini datang juga hahahahahahah
Mari kita sudahi
siapa yang masih setiap menanti-nanti cerita
ini????
gas jangan lupa tinggalkan banyak tanda di siniiiiii
seperti yang sudah aku umumkan di instagram ya,
As Sweet As Nasa akan update setiap hari Rabu dan
Sabtu menggantikan jadwal update Bumi Milik Sana!!
Karena Nasa ini dokter, jadi aku sedikit
mengangkat tema medis di cerita ini. dan karena aku
bukan orang medis, jadi pembaca sekalian, silakan
koreksi kalau aku ada salah-salah dalam istilah
ataupun penggambaran seputar medisnya yaaaa
sampai bertemu di hari Sabtu^^
DUA
Nasa terkejut dari tidur nyenyaknya saat
mendengar suara alarm super luar biasa bisingnya yang
bisa memekakkan telinganya itu. Dia sangat membenci
alarmnya ini tetapi juga sangat dibutuhkannya. Gadis itu
terjaga dari tidurnya yang baru beberapa jam itu untuk
mencari sumber suara. Ponselnya ada di atas meja,
diraihnya benda pipih itu dan Nasa menghentikan suara
berisiknya.
Lepas mematikan alarm ponselnya, Nasa kembali
merebahkan diri. Hendak kembali nyenyak dari tidurnya
sampai kemudian dia teringat bahwa hari ini dia sudah
bergantu untuk berganti shift dengan temannya.
"Shit!" Nasa mengumpat. Tidak jadi tidur dan langsung
berdiri.
Gadis itu awalnya merasa bingung. Ruangan ini jelas
bukan kamarnya yang berdinding coklat. Cat putih dan juga
sofa yang ternyata menjadi tempat tidurnya membuat Nasa
mengingat dimana keberadaannya. Ingatannya semakin
diperjelas saat dia menatap Kakaknya Adel yang bingung
memperhatikannya dari dalam dapur.
Nasa tidak punya waktu untuk ini semua. Alarm ponselnya
ketika Nasa datang bulan dinyalakan pukul 7 pagi.
Sedangkan dia masuk pukul 7 pagi. Seharusnya Nasa
langsung bertolak ke rumah sakit. Tapi tidak bisa. Dia tetap
harus masuk kamar mandi lebih dulu. Nasa pun terburu
membuka ranselnya mengambil pakaian ganti dan tentu
saja pembalut dan langsung mencari-cari keberadaan
kamar mandi yang ada di ruangan ini.
"Yang itu." Kakaknya Adel menunjuk sebuah pintu yang
berada paling ujung. Nasa pun bergegas masuk ke sana,
meninggalkan Kakaknya Adel yang masih berdiri di
tempatnya.
Pria itu juga sama terkejutnya dengan dering alarm ponsel
Nasa.
Tidak butuh waktu lama Nasa berada di toilet. Gadis itu
cukup dengan menyikat giginya dan berganti pembalut,
mencuci wajahnya dan berganti pakaian. Setelah itu, Nasa
keluar. Lupakan untuk mandi hari ini karena Nasa akan
semakin terlambat masuk rumah sakit.
Gadis itu mengambil sebuah handuk yang ada di dalam
etalase—yang entah milik siapa untuk mengeringkan
wajahnya. Dia ternyata lupa membawa handuknya. Nasa
langsung keluar dari kamar mandi sembari menguncir
rambut sebahunya. Tidak sempat sisiran. Nasa akan
melakukannya di dalam mobil. Gadis itu langsung menarik
ranselnya dan menuju kitchen bar tempat dimana Kakaknya
Adel berada.
"Cookies semalam masih ada, kak?" tanyanya. Nasa buru-
buru. Tapi dia lapar.
Kakaknya Adel yang semula membelakanginya itu lalu
balik badan dengan membawa sebuah tas bekal dan
meletakannya di atas meja.
"Kamu udah habisi semua tadi malam," jawabnya.
Nasa mendesah. Mau bagaimana lagi. Dia memang tidak
ditakdirkan memakan kue kering enak itu pagi ini.
"Ada pancake dan chacomile tea di dalam," kata
Kakaknya Adel lagi.
Nasa menatap tas bekal itu kemudian menunjuk dirinya
sendiri. "Buat saya?" tanyanya.
Kakaknya Adel mengangguk. Membuat Nasa tersenyum
senang dan langsung membawa tas bekal itu dengan wajah
berbinarnya.
"Thanks Kak." Nasa berlalu setelahnya.
Menyisakan Leo yang menatap kepergian gadis itu hingga
Nasa tidak lagi didapati matanya. Leo keluar dari dapur. Dia
harus ke restoran pagi untuk untuk mengawasi persiapan
pagi sebelum restoran buka. Pegawainya pasti sudah
berdatangan. Baru hendak menuju kamar mandi, mata Leo
melihat sesuatu di bawah sofa. Langkah kakinya pun
mendekat ke sana. Mengambil dua benda itu dengan
tangannya dan geleng kepala kemudian menghela
napasnya.
Sebuah stetoskop dan bra berwarna hitam.
*__*
Nasa bahkan tidak memiliki kesempatan untuk membuka
tas bekalnya. Dia sudah terlambat hampir tiga puluh menit.
Nasa benar-benar terburu-buru. Gadis itu bahkan berlari
menuju ruang ganti untuk memakai snelinya dan meletakan
ranselnya. Namun saat hendak mengambil stestoskopnya,
Nasa tidak mendapati benda itu ada di dalam tasnya.
"Ah sial!" Gadis itu mengumpat lagi. Pagi ini benar-benar
menyebalkan. Nasa mengantuk dan kelaparan tapi dia tetap
harus pergi berkerja.
Nasa keluar dari ruang ganti. Pandangannya lalu
mendapati Raga—rekan sejawatnya yang mungkin saja baru
selesai shiftnya itu melangkah mendekat dengan wajah
lelahnya. Nasa tidak punya waktu untuk basa-basi. Gadis itu
menarik stestoskop yang ada di leher Raga dan
mengalungkannya di lehernya sendiri.
"Pinjem dulu, ya." Nasa kemudian berlalu begitu saja.
Berlari kecil menuju IGD kemudian berhenti di depan
pintunya untuk sekedar menarik napasnya.
"Nas! Telat tiga puluh menit lo! Udah ada Dokter Gian di
dalam." Liana—rekan sejawatnya yang hari ini berjaga
menghampirinya. Dokter Gian adalah dokter umum yang
akan berjaga di IGD bersamanya.
Nasa kembali menghela napasnya. Mudah-mudahan
kejadian pagi ini tidak sampai di telinga dokter
pendampingnya.
Semua ini gara-gara Julian sialan yang menyogok Nasa
dengan setoples cookies untuk bertukar jadwal jaga. Juga
gara-gara Nasa yang tidak bisa menolak karena sogokan itu.
Nasa membuka pintu IGD. Perlahan masuk ke dalamnya
dan mendesah saat di pagi hari yang masih sejuk ini, pasien
sudah membanjiri isi ruangan dan dipastikan Nasa tidak
bisa melahap pancake lezat itu yang masih berada di dalam
tasnya. Dia hanya perlu bersyukur bisa menyesap
chamomile tea saat hendak keluar dari mobil di parkiran
tadi.
*__*
Nasa hanya dapat menyempatkan melahap satu gigit roti
yang ia minta dari salah seorang perawat. Bekerja seharian
dan ini bahkan sudah jam 2 siang. Nasa belum sarapan dan
tentu saja dia sangat kelaparan. Ouch! Nasa benar-benar
harus makan sekarang sebelum dia memakan orang-orang
yang berlalu lalang dihadapannya.
"Mau kemana?" Liana menghampirinya, membuat Nasa
berhenti melangkah sebentar untuk sekedar menatap
temannya itu sebelum melanjutkan kembali langkah
kakinya menuju cafeteria.
"Kantin," jawab Nasa.
"Ini stetoskopnya Raga, ya?" tanya Liana sembari
memegang stetoskop yang masih melingkar di leher Nasa.
Nasa menatap benda itu kemudian mengangguk. "Kok
tau?" tanyanya.
"Nih, ada namanya di deket earpiecesnya." Gadis di
samping Nasa itu memegang besi yang terdapat ukiran
nama Raga Zidan Oktava. "Punya lo kemana?" tanyanya.
"Ketinggalan." Mungkin ketinggalan di restoran
keluarganya Adel itu.
Nasa membuka stetoskop itu dan memerhatikannya
dengan jelas. Benar. Ada ukiran namanya di sana. Gadis itu
kemudian memasukan benda itu ke dalam kantung
snellinya saat mereka sudah memasuki cafeteria. Nasa
langsung mengantri untuk memesan sarapan beserta
makan siangnya. Dengan Liana yang setia mengekorinya.
Gadis di disampingnya ini cukup berisik dengan kini
bercerita apa-apa saja yang terjadi tadi di IGD.
Nasa hanya mendengarkan sekilas. Gadis itu
mengeluarkan ponselnya dan mengetikan beberapa pesan
untuk saudara kembarnya.
To : Twiny
|San, minta nomor Kakaknya Adel
*__*
Dua bulan sudah Nasa menjalani internsip di stase IGD.
Mendapatkan wahana di salah satu RUSD Jakarta yang
sebenarnya Nasa tidak ingin berada di sana. Ketika masa-
masa mendekati pemilihan wahana internsip, Nasa sudah
akan memilih salah satu rumah sakit yang ada di luar pulau
Jawa. Entah itu di Nusa Tenggara, Kalimantan, atau
Sumatera atau wilayah manapun yang jelas itu bukan pulau
Jawa. Namun takdir berkata lain karena Papi tercintanya
tidak mengijinkan Nasa untuk internsip sejauh itu.
Jangankan di luar pulau Jawa, di luar Jakarta saja Nasa tidak
berikan izin.
Awalnya Papinya bahkan memaksa Nasa untuk memilih
internsip di tempat Papinya itu berkerja. Namun tentu saja
Nasa menolaknya mentah-mentah. Meski belum tentu juga
dia berhasil mendapatkan internsip di sana karena RS
tempat Papinya bekerja itu popular dan pasti banyak
peminatnya, Nasa juga tidak mau berkerja satu rumah sakit
dengan Papinya.
Papinya yang bernama Rysaka Anugerah Aditama itu juga
merupakan seorang dokter. Dokter bedah umum dan
bahkan kini sudah menjadi kepala bedah umum di RS. Nasa
tidak mau berkerja di tempat yang sama dengan Papinya itu
karena dia tahu seperti apa Saka.
Papinya itu pasti akan memperkenalkan Nasa kepada
seluruh orang-orang yang ditemuinya dan diminta untuk
menjaga putrinya dengan baik. Tentu Nasa tidak bisa
terima. Dia tidak mau dibedakan oleh rekan sejawatnya
yang lain hanya karena Nasa adalah putri dari kepala bedah
umum di rumah sakit itu.
Hari ini badannya pegal-pegal sekali. Pukul 4 sore Nasa
langsung mengendarai mobilnya menuju rumah. Semalam
dia hanya tidur beberapa jam dan yang pasti itu kurang
sekali. Nasa harus segera mandi air hangat dan masuk ke
dalam kamarnya.
"Ya ampun kembaran gue, itu muka lecek banget."
Nasa mendengar suara decakan itu keluar dari bibir
saudara kembarnya. Namanya Sanalia Afiyah Anugera.
Mirip-mirip dengan namanya sendiri yaitu Nasafia Aliyah
Anugerah. Pemberian dari Papinya yang sepertinya tidak
mau repot memikirkan nama anak. Sana—panggilannya,
belum ada satu tahun menikah dengan sorang duda anak
satu yang tidak lain adalah mantan dosennya sendiri. Selain
menikah dan berkerja di klinik kecantikan Mami mereka,
saat ini Sana juga sedang menempuh pendidikan masternya
di salah satu universitas swasta.
"Lo nggak kerja?" tanya Nasa yang terus melangkah
memasuki rumah, menghampiri kembarannya yang sedang
duduk di atas sofa dengan santai.
"Cuti setengah hari. Habis dari kampu tadi."
"Gue chat lo nggak bales," kata Nasa lagi sembari ikut
duduk dan mengambil camilan yang sedang dimakan Sana.
"Chat apa?" Sana memeriksan ponselnya sendiri dan
melihat tidak mendapati satu pesanpun dari Nasa. "Nggak
ada tuh." Wanita itu mengulurkan ponselnya.
Nasa pun ikut melihat ponselnya. Ah, ternyata dia hanya
mengetik pesan itu dan belum mengirimkannya. Kemudian
segera, Nasa mengirimkan pesan itu pada kembarannya.
"Minta nomor Kak Leo? Untuk apa?" Kening Sana
mengerenyit bingung. Karena seingatnya, Nasa itu tidak
kenal-kenal amat dengan Kakak dari sahabatnya. Hanya
pernah bertemu beberapa kali saja ketika Sana mengajak
Nasa ke rumah Adel.
"Stetoskop gue ketinggalan di Rumah Rasa." Nasa
menyebutkan nama restorannya.
"Oh." Sana mengangguk-angguk. Rumah sakit tempat
Nasa berkerja memang dekat dengan Rumah Rasa. "Tapi
kayaknya Kak Leo ganti nomor deh. Gue nggak tau nomor
barunya. Nggak minta juga."
Nasa menghela napasnya. Ya sudah, mau bagaimana lagi.
Nanti saja kalau dia tidak malas, dia akan berangkat ke sana
sendiri mengambilnya. Saat ini Nasa harus segera tidur
meski bibirnya tidak bisa berhenti mengunyah.
*__*
Di dalam kamarnya, Nasa membongkar ranselnya.
Memasukan pakaian kotor ke dalam keranjang dan juga
memgambil tas bekal yang belum sempat ia buka isinya.
Nasa sudah mandi dan berganti pakaian. Gadis itu kini
duduk bersila di atas sofa di kamarnya dan mengeluarkan
tas bekal itu. Namun sebelum membuka isinya, Nasa masih
mencari-cari keberadaan satu benda lagi yang tadi tidak
didapatinya.
"Kok nggak ada?" gadis itu bergumam dengan tangannya
yang masih terus mencari.
Pencarian Nasa berakhir dengan dia yang sudah
membongkar seluruh isi tasnya namun tidak juga
menemukan apa yang dicarinya. Bra kotor berwarna hitam
yang dipakainya kemarin. Musatahil tidak ada karena Nasa
ingat memasukakkan ke dalam ransel selepas dia selesai
mandi.
Gadis itu kemudian terdiam, mencoba mengingat-ingat.
Nasa memang mandi di rumah sakit tadi. Bra kotornya yang
tadi dipakai di rumah sakit pun masih ada.
"Nggak mungkin jatuh di rumah sakit, kan?" Nasa masih
mencoba mengingat-ingat. "Nggak mungkin jatuh di Rumah
Rasa, kan?!"
Gadis itu panik. Tidak mungkin jatuh di ruangan pribadi
Kakaknya Adel yang baru Nasa ingat bernama Leo setelah
Sana menyebutkan namanya itu, kan?
Tidak mungkin benda sepribadi miliknya itu terjatuh di
ruangan pribadi milik kakak dari sahabat kembarannya yang
tidak terlalu Nasa kenal, kan?
Kalau iya ... kemana Nasa harus menyembunyikan
wajahnya?!
.
.
.
To Be Continue
(14/05/2022)
Yuhuuuu selamat akhir pekan bestieee!
Kalian jangan seperti Nasa, ya. letakan bra di
tempat yang benar! hahahaha
btw Sana muncul sedikit nih di sini hahahahaha
jangan lupa tinggalkan banyak jejak dan sampai
ketemu hari rabu^^
TIGA
Kembali pada rutinitasnya di rumah sakit.
Semalam, Sana memilih meminjam stetoskop Papinya untuk
dibawanya bekerja. Sebenarnya di rumah sakit pun
disediakan stetoskop, sih. Namun Nasa kurang suka. Dia
lebih suka miliknya sendiri atau milik Papinya yang dibeli
dengan harga dan merk yang sama. Nasa sudah memesan
stetoskop yang baru melalui onlines shop. Walau sudah
mendapatkan nomor Kakaknya Adel dari Sana yang
dimintanya pada Adel langsung, Nasa sudah tidak memiliki
muka hanya untuk sekedar menghubungi dan juga
bertanya.
Maaf, Kak. Stetoskop dan bra aku ketinggalan di ruangan
kamu nggak, ya?
Haruskah Nasa seperti itu? Tentu tidak mungkin!
Kalaupun Nasa memutuskan untuk hanya bertanya
stetoskop dan melupakan bra yang kemungkinan juga
terjatuh di ruangan Leo itu juga tidak mungkin. Bagaimana
nanti kalau seperti ini :
Nasa, sorry, bra kamu jatuh di ruangan aku.
Lebih gila, bukan? Lebih baik diikhlaskan saja stetoskop
dan bra itu. Nasa jelas bisa membelinya yang baru. Uang
Papinya masih banyak, kok.
"Weh ... tumben kau jam segini udah datang?" Julian
menghampirinya yang tengah ongkang-ongkang kaki duduk
di cafeteria.
Julian itu asal sumatera utara. Kuliah kedokteran di salah
satu universitas negeri di sana dan memilih wahana
internsip di Jakarta sehingga mereka akhirnya bertemu dan
berkenalan. Kebetulan juga berada di kelompok yang sama.
Kelompok Instalasi Gawat Darurat.
"Sekalin makan siang," jawab Nasa. Gadis itu tengah
makan siang sembari meminum secangkir kopi yang masih
mengepul di atas meja. Nanti jadwalnya sampai jam 9
malam. Nasa tentu tidak boleh mengantuk.
"Baru liat gue makan siang minumnya kopi." Julian yang
ikut duduk memegang gelas kopinya.
Nasa hanya melirik sekilas. Kemudian menyaksikan
bagaimana kepala Julian ditempeleng oleh rekan
sejawatanya yang lain. Namanya Tristan. Laki-laki itu berada
di kelompok berbeda dengan mereka dan bertugas di
bangsal bedah.
"Nggak usah ngomong gue-gue. Nggak cocok!" kata
Tristan.
Julian mendesis sinis. Balas menempeleng kepala Tristan
yang kini bergabung duduk di depan mereka
"Lo bukannya masih jaga? Kok udah ke kantin?" tanya
Nasa pada Julian.
"Tenang. Ada kawan cantikku di sana." Julian
menyebutkan Liana—rekan sejawat yang jadwal pagi
dengannya.
"Emang nggak tau diri. Udah jaga berdua, pake kabur-
kaburan." Tristan menatap Julian menyipit.
"Terus lo ngapain di sini?" tanya Nasa balik pada Tristan.
"Makan siang lah." Tristan tersenyum bangga.
Mendapatkan tugas di ruangan memang enak. Jam kerjanya
pasti dari jam 9 sampai 4 sore. Kalau siang, pasti istirahat
dulu. Kalau sudah tidak ada pasien, bisa pulang duluan.
Nasa melahap makan siangnya dengan tenang. Tanpa
peduli dengan Tristan dan Julian yang melanjutkan acara
ribut mereka. Tristan itu asal Banten dan berkuliah di
Malang kemudian internsip di Jakarta. Tristan dan Julian
menyewa kost di tempat yang sama walau berbeda kamar.
RSUD tempat mereka internsip tidak memfasilitasi tempat
tinggal. Hanya ada ruang istirahat yang sering dipakai
dokter residen yang tidak pulang-pulang untuk tidur di sana
hingga dokter intersip kadang merasa segan untuk
bergabung.
Di tengah keributan itu, Julian tidak sengaja menyenggol
piring Nasa hingga membuat makanan yang belum habis itu
tumpah. Nasa diam sebentar. Kemudian memandang wajah
Julian dan Tristan yang sudah menatapnya takut-takut. Nasa
terlihat tenang. Tapi kalau sudah marah ...
"Bodat kau!" Suaranya tidak keras. Namun sangat dalam
dan penuh penekanan. Dia bahkan sudah mengadopsi
umpatan kasar dari bahasanya Julian itu ke dalam
kamusnya. "Kau ganti makanan aku sebelum ku patahkan
leher mu itu."
Julian langsung ngacir. Memesan makanan baru sebelum
lehernya benar-benar dipatahkan oleh Nasa. Nasa terlihat
kalem dan pendiam. Tapi kenyataannya, gadis itu beringas
sekali kalau sudah marah. Apalagi kalau diganggu saat
sedang makan.
"Hehe gue nggak ikut-ikut, Nas." Tristan nyengir. Lalu
tanpa aling-aling, dia langsung ngacir. Tidak sanggup
menghadapi kemarahan Nasa yang beringas. Nasa hanya
memerhatikannya saja sembari menyesap kopinya.
Tidak lama, Julian kembali. Membawakan makanan yang
baru untuk Nasa. Dengan takut-takut meletakan piring itu
ke atas meja kemudian melarikan diri. Sepertinya ini adalah
hukuman karena Julian meninggalkan Liana berjaga
sendirian di IGD.
Nasa melanjutkan makannya dengan tenang seolah tidak
terjadi apa-apa. Tidak peduli juga melihat beberapa dokter
lain entah dari bagian apa dan bangsal apa yang semula
menatap kegaduhan mereka. Nasa tidak peduli. Dia hanya
mengisi perutnya dengan tenang dan nikmat. Hingga
selesai melahap makan siangnya, Nasa bangkit bersiap
untuk masuk ke IGD karena waktu sudah hampir
menunjukkan pukul 2 siang. Dia juga sudah memakai
snellinya dan stestoskopnya aman berada di kantong.
Gadis itu berjalan dengan perut kenyang. Kedua tangan
yang masuk ke dalam saku snelli setelah mengambil
stetoskop untuk dikalungkannya di leher. Di tengah
perjalannya itu, ponsel di sakunya bergetar. Membuat Nasa
mengambil benda pipih itu dan membaca pesan masuk
yang tertara di sana.
"Jancok!" Nasa mengumpat dengan bahasa yang lain.
Kalau saja Papinya tahu Nasa sering menyerap umpatan-
umpatan dengan bahasa asing dari teman-temannya, dia
pasti akan dimarahi selama satu tahun.
Tapi ... gimana ya ... gimana caranya Nasa tidak
mengumpat saat membaca pesan masuk di ponselnya?
From : Kak Leo
Nasa, ini Leo. Stetoskop kamu ketinggalan di ruanganku.
*__*
"Hai, Nas. Udah selesai jaga?"
Nasa berpapasan dengan Raga saat gadis itu hendak
menuju ruang ganti. Teman sejawatnya yang kedapatan
shift malam itu terlihat segar sekali saat datang ke rumah
sakit. Pasti Raga sudah tertidur seharian makanya punya
wajah segar begitu. Tidak seperti Nasa yang sudah kusut
bin kumal karena berjaga sampai malam di IGD.
"Iya, nih," balas Nasa seadanya. Dari keseluruhan rekan
sejawat yang dikenalnya, Raga ini yang paling suka
berbasa-basi. Masalahnya, Nasa bukanlah tipe orang yang
suka basa-basi.
Gadis itu bahkan melengos saja setelah membalas
seadaanya sapaan Raga. Tanpa menoleh sedikitpun meski
Raga masih menatapnya sepanjang jalan.
Nasa lelah sekali. Sudah jam setengah 10 malam. Dia
harus segera pulang ke rumah dan beristirahat. Namun
tetap, Nasa harus tetap mandi dulu sebelum pulang. Tentu
harus mensterilkan tubuh dan pakaiannya setelah seharian
berkutat dengan pasien. Dia tentu tidak mau membawa
penyakit ke rumah. Mandi dan cukup menghabiskan banyak
waktu. Bisa-bisa Nasa selesai mandi jam 10 malam.
Di tengah perjalannya itu, ponsel di dalam sakunya
bergetar. Menandakan satu pesan masuk di sana. Dari Sana,
kembarannya.
From : Twinny
Iya. Kak Leo minta. Kayaknya mau kembaliin stetoskop lu
yang ketinggalan itu.
Nasa menghela napas. Kenapa sih, pria itu pakai mencoba
menghubunginya segala? Nasa padahal sudah
mengikhlaskan stetoskop itu meski harganya mahal. Harga
dirinya jauh lebih penting. Dia saja bahkan tidak membalas
pesan dari Leo siang tadi yang langsung Nasa tanyakan
kepada Sana apakah pria itu meminta nomor teleponnya
karena Nasa sudah mendapatkan nomor Leo dan sudah
menyimpannya lebih dulu.
Sekali lagi, hari ini melelahkan sekali. Sebenarnya sama
saja melelahkannya seperti hari-hari kemarin. Bergaja di
IGD dengan pasien yang datang tiada henti. Menyetir ke
rumah perlu waktu 30 menit. Apa ... Nasa ke apartemen
Keanu saja, ya? Dia sudah sangat mengantuk dan
sepertinya tidak kuat menyetir sampai 30 menit lamanya.
Jarak rumah sakit tentu lebih dekat ke apartemen Keanu.
*__*
Nasa benar-benar memutuskan untuk pulang ke
apartemen Keanu yang sudah pasti tidak ada pemiliknya di
sana. Keanu itu anak Ibu. Punya apartemen tapi tetap
pulang ke rumah karena tidak bisa tidak bertemu Ibu sehari
saja. Makanya Nasa justru yang lebih sering tinggal di sana
dari pada Keanunya sendiri.
Gadis itu masuk ke dalam lift. Menekan lantai 30 dan
menyandarkan tubuhnya pada dinding kemudian
memejamkan matanya. Dia masih bisa tertidur sebentar
sebelum sampai di lantai tujuannya yang jauh sekali itu.
Di tengah matanya yang terpejam dan sepertinya gadis
itu sudah pulas tertidur, ada beberapa pengunjung lift yang
datang dan ikut masuk ke dalamnya. Salah satunya Leo
yang langsung mengenali gadis yang tengah bersandar
dengan mata terpejam itu.
Leo baru saja kembali dari Rumah Rasa yang sudah tutup.
Malam ini tidak ada eksperimen membuat makanan manis
sehingga laki-laki itu bisa beristirahat dengan tenang di
apartemennya. Namun tidak disangka, Leo justru bertemu
dengan gadis yang tidak membalas pesannya sejak siang.
Leo mengambil posisi berdiri di sebelah Nasa.
Memeperhatikan gadis itu yang masih terpejam dan
ranselnya yang masih ada dipundak. Nasa sepertinya baru
pulang kerja. Dia ikut berdiri memerhatikan satu persatu
pengunjung yang turun dari lift menuju lantai tujuan mereka
masing-masing.
"Nasa," panggil Leo pelan. Bukan bermaksud
mengganggu. Tapi ini sudah di lantai paling atas dan Nasa
tidak kunjung terbangun.
Gadis itu menuju lantai berapa sebenarnya? Lantai
apartemen Leo bahkan sudah terlewat.
"Nasa?" panggil Leo lagi. Saat ini lift sudah mulai turun ke
bawah. Sudah menuruni 10 lantai dan masih terus turun
tanpa berhenti untuk terbuka.
Leo harusnya turun di lantai 25. Tapi dia tidak tega
meninggalkan orang yang dikenalnya ketiduran di lift
seorang diri. Walau pengamanan apartemen ini ketat, tetap
saja. Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat?
"Nasa?" Kali ini Leo sudah menggoyangkan lengan gadis
itu.
Nasa masih asyik dalam tidurnya. Padahal sembari berdiri
tapi keliatannya nyenyak sekali.
"Nasa sudah mau sampai lantai dasar," kata Leo lagi.
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Saat itu lah, Leo sedikit
keras menggoyangkan lengan Nasa.
"Nasa!" panggilnya sedikit keras.
Nasa sontak membuka kedua matanya terkejut. Melihat
pintu lift yang terbuka dan gadis itu langsung berdiri tegap.
Nasa tiba-tiba keluar dari lift tanpa menoleh sedikitpun pada
Leo yang kebingungan menatapnya.
Gadis itu masih belum sadar.
Leo ikut keluar untuk menyusul Nasa yang ternyata
berjalan ke pintu keluar. Dikejarnya gadis itu dan Leo
menahan lengannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Leo.
Nasa seperti orang linglung. Gadis itu menatap sekeliling
dan menyadari bahwa dia tengah berada di loby apartemen
Keanu dan melihat keluar bahwa langit sudah gelap.
Ah, Nasa ingat. Dia kan mau menginap di apartemen
Keanu mala mini.
Pandangan Nasa kemudian menatap pada Leo yang masih
bingung memerhatikan tingkah linglung gadis di depannya
itu. Nasa lalu ikutan bingung.
Kenapa ada Leo di sini?
"Kamu tadi tidur di lift. Liftnya udah muter sampai lantai
atas tapi kamu nggak bangun. Udah aku bangunin kamu
nggak bangun-bangun. Kamu mau kemana emangnya?"
"Kamu ngapain ada di sini?" Nasa malah bertanya balik.
"Aku tinggal di sini," jawab Leo.
Nasa tidak menyembunyikan raut terkejutnya.
Dari keseluruhan tempat ... kenapa Leo ... orang yang
ingin dihindarinya, malah ....
Ouch! Nasa tidak akan lagi balik ke tempat ini!
.
.
.
Kamus :
Dokter residen : dokter yang sedang menempuh
pendidikan dokter spesialis
Bodat : umpatan bahasa medan
Jancok : umpatan bahasa jawa
Snelli : jas dokter
Stetoskop : alat medis untuk memeriksa tubuh pasien
Wahana internsip : sebutan untuk tempat atau daerah
atau lokasi yang akan dijadikan tempat internsip dokter
intersip
intersip : pendidikan profesi selama satu tahun utk
pemahiran dan pemandirian dokter setelah lulus pendidikan
dokter atau setelah co-ass.
kenapa internsip bukan internship? karena nama
programnya emang itu. Program Intersip Dokter
Indonesia. dari Sononya tulisannya begitu
kalau ada yang kelewat dan belum diartiin komen di sini
ya ... udah dua part aku lupa buat kamus-kamus ini :")
.
.
.
To Be Continue
(21-05-2022)
ada yang kaget nggak sama karakter Nasa?
hahahahaha cerita ini tuh sebenarnya bakalan gimana Mill?
sama aja sih kayak cerita kembarannya comedy dan
romance tipis-tipis. cuman karena Nasa itu dokter, mungkin
akan sedikit banyak seputar medisnya. tapi karena aku
bukan nakes dan hanya bermodalkan googling saja, mon
maap kalau2 ada yang salah dan kelewat. boleh banget
buat koreksi ya!
BTW BESTIEEEEE
IM SO SORRY KAYAKNYA NGGAK BISA DOUBLE UP
MALAM INI :((
BESOK INSYAALLAH UP LAGI YA UNTUK PENGGANTI
HARI RABU YANG LUPA UPDATE
SAMPAI KETEMU!
EMPAT
"Lo nemu apa, Li?" tanya Nasa memastikan
pendengarannya sekali lagi.
"BH, bra, beha. B-e-be h-a-ha, beha," ulang Liana sembari
memutar kedua bola matanya jengah. Nasa ini apa
pendengarannya bermasalaha, ya? Perasaan Liana sudah
mengulang berkali-kali.
"BH? Warna apa?" tanya Sana semakin pesaran.
"Nggak tau. Hitam kayaknya."
Nasa menahan senyum leganya. Kemungkinan besar bra
yang ditemui Liana di ruang ganti adalah miliknya. Itu
artinya, benda kramat milik Nasa tidak jatuh di ruangan
pribadi Leo, bukan?
"Terus lo kemanain?" tanya Nasa.
"Gue kasih Dek co-ass. Siapa tau punya temennya yang
habis jaga malam terus jatuh."
Nasa semakin mengulum senyumnya. Tidak peduli
sebenarnya benda itu akan berakhir di tangan siapa selain
di tangan laki-laki yang tau bahwa itu adalah miliknya.
Apalagi di tangan Leo. Sudah cukup Nasa mempermalukan
diri dengan langsung kabur begitu saja tadi malam saat
mereka bertemu di lobi apartemen.
"Kenapa emangnya?" tanya Liana heran.
Nasa geleng kepala. Tidak berminat menjelaskan pada
Liana. Toh enggak penting juga. Menutup lokernya, Nasa
kemudian melambaikan tangannya seraya berpamitan pada
Liana yang baru saja hendak mengambil pakaiannya. Gadis
itu hendak mandi setelah berkutat di IGD sejak pagi.
"Bye, Liana! Hati-hati di jalan." Nasa melambai dengan
perasaan riang sekali. Membuat Liana mengerutkan
keningnya heran. Nasa itu orang yang tidak suka berbasi-
basi. Tapi itu apa? Dadah-dadah?
Sepertinya dia terlalu banyak makan makanan manis.
Mungkin saja Nasa sedang mabok gula.
*__*
Hari Nasa berlalu seperti biasa. Berkutat di IGD dengan
berbagai macam pasien. Sudah pukul 9 malam. IGD pun
sudah tampak sepi. Hanya ada beberapa pasien saja yang
menunggu konfirmasi DPJP untuk pasien yang harus rawat
inap dan butuh tindakan lebih lanjut. Tugas Nasa di IGD
sudah selesai. Keluar dari IGD menuju ruang ganti sembari
merenggangkan otot-ototnya yang tegang.
Seperti biasa, di depan ruang ganti wanita, dia bertemu
dengan Raga yang sudah berseragam lengkap dengan snelli
dan stetoskopnya yang baru saja keluar dari ruang ganti
pria. Laki-laki itu tersenyum, mengangat tangannya seraya
menyapa Nasa.
"Hai, Nas."
"Yo." Nasa hanya membalas sekenanya sembari memukul-
mukul pundak belakangnya yang terasa pegal.
Tanpa melihat lagi Raga yang masih memerhatikannya
sampai masuk ruang ganti, Nasa menguap sembari
membuka lokernya. Mengeluarkan ranselnya dan
mengambil baju ganti sebelum kemudian masuk ke dalam
kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini terasa lelah sekali.
Nasa tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi. Yang
penting bersih dan mampu menyapu kuman-kuman yang
menempel di tubuh. Dia membiarkan kepalanya tidak
dikeramas. Nasa tidak sanggup jika harus keramas juga.
Besok saja, di rumah dia akan keramas sebelum berangkat
ke rumah sakit.
Gadis itu berdiri di depan lokernya seraya memakai
pakaian gantinya. Sudah jam 10 malam. Rumah sakit terasa
sepi sekali. Di ruangan ini juga hanya ada dirinya. Biasanya
ada dokter koas—yang lebih sering dipanggil Dek koas—
yang ikut berjaga di IGD dengannya dan mereka biasanya
akan berganti bersama sebelum pulang. Namun hari ini
juniornya itu mengambil jadwal liburnya.
Nasa menguap sekali lagi. Beriringan dengan suara
ketukan pintu terdengar di telinganya.
"Nas, ini Raga." Suara Raga.
"Kenapa?" tanya Nasa.
"Lo udah mau pulang, ya?"
"Kenapa?"
"Ada tabrakan beruntun, Nas. Delapan pasien luka-luka
lagi dibawa ke sini. Dokter jaga malam cuman gue sama
Yunita. Dokter Yudis libur." Yunita adalah dokter koas dan
dokter Yudis adalah dokter umum yang biasa jaga malam.
Tabrakan beruntun dan lima belas pasien luka-luka.
Alamat tidak bisa pulang ke rumahnya.
"Yo, otw," sahut Nasa pasrah. Mau bagaimana, ini
memang pekerjaannya. Nasa hanya berharap masih ada
beberapa residen dan dokter spesialis yang belum pulang.
Biasanya, pasien kecelakaan membutuhkan operasi darurat
yang harus dilakukan malam ini juga.
*__*
Pukul dua malam.
Sekali lagi, Nasa merenggangkan otot-otot tubuhnya. Hari
ini benar-benar luar biasa. Ada beberapa pasien yang luka
berat dari kecelakaan beruntun itu. Nasa bahkan harus ikut
masuk ke OR bersama dokter residen untuk mengoperasi
pasien.
Benar-benar hari yang luar biasa.
Nasa melangkah dengan memukul-mukul punggung
belakangnya yang sudah begitu tampak keras dan minta
diistirahatkan. Dia baru saja dari ICU dan kini hendak
kembali ke IGD untuk melihat kondisi di sana. Di IGD,
terlihat pasien sudah semua ditangani dengan Raga yang
juga terlihat sedang berbicara pada wali pasien yang
datang.
Nasa menyandarkan di depan nurse stasion. Terlihat ada
beberapa perawat jaga yang sedang sibuk dengan
pekerjaanya di sana. Salah satu perawat yang
memerhatikan Nasa itu tersenyum kepadanya.
"Capek ya, Dok?" tanyanya. Melihat wajah Nasa yang
sudah lima watt itu memang patut untuk dikasihani. Dia
bekerja dari jam 2 siang sampai 2 dini hari. Dua belas jam
nonstop. Dia bahkan belum makan malam.
"Saya punya pocari. Mau nggak Dok?" tanya perawat itu.
"Boleh deh, Mbak." Nasa mengiyakan. Tangannya
kemudian menerima sebotol pocari dari perawat dan
langsung dibukanya tutup itu. Nasa menenggaknya hingga
setengah.
Raga datang tidak lama menghampirinya. Tersenyum
manis seperti biasa dengan wajah yang masih segar bugar.
Dia pasti tidur seharian. Nasa iri sekali.
"Udah beres, Nas. Lo pulang deh. Capek banget itu muka,"
kata Raga.
Nasa pun mengangguk. Dia memang sudah lelah sekali.
"Gue duluan ya," pamit Nasa pada Raga. Kemudian
menatap pada perawat yang memberinya pocari. "Makasi
minumannya, Mbak," kata Nasa.
*__*
Nasa memang seharusnya pulang. Dia sudah mengantuk
dan butuh Kasur untuk tidur.
Tapi ... Nasa kelaparan.
Maka Nasa pun melipir setelah turun dari mobil yang
terparkir di apartemen Keanu. Dia melihat lampu belakang
Rumah Rasa yang masih menyala. Nasa berharap ada Leo di
sana. Karena rasa malunya sudah hilang karena Nasa yakin
bukan Leo yang menemukan bra miliknya, Nasa akan
menghampiri laki-laki itu untuk membeli beberapa
makanan. Karena sepanjang jalan tadi, Nasa tidak melihat
tukang makanan yang buka. Kalau pun ada, tidak sejalan
degan arah mobilnya dan Nasa harus putar balik lagi. Dia
malas dan sudah lelah menyetir.
Nasa mengetuk pintu yang tidak sepenuhnya tertutup itu
kemudian membukanya. Dan benar saja, Leo berada di
sana. Berdiri di depan oven yang langsung menoleh saat
mendengar suara ketukan pintunya.
"Hai, Kak," sapa Nasa. Gadis itu berjalan masuk mendekat
pada Leo yang berdiri di depan counter bar dapurnya. "Kak
lagi masak, ya? Boleh nggak aku beli masakannya? Di luar
nggak ada tukang makanan." Nasa langsung pada intinya.
Leo menatap pada oven kemudian menatap gadis di
depannya itu.
"Aku buat macaron," kata Leo.
Nasa ikut menatap oven dan seketika meneguk ludahnya.
Dia jadi semakin kelaparan.
"Boleh dibeli nggak, Kak?" tanya Nasa.
Leo terkekeh sekilas. "Nggak usah dibeli. Tunggu aja
bentar lagi mateng."
Nasa tersenyum bahagia. Ditariknya stool di depannya
dan duduk dengan manis menanti macaron yang dari
harumnya saja sudah lezat sekali itu.
Diperhatikannya Leo dengan rambut sedikit ikal panjang
yang dikuncirnya. Juga apron berwarna hitam yang dia
kenakan. Nasa suka sekali melihat laki-laki memasak. Dan
sepertinya dia akan sering ke tempat ini kalau terpaksa
harus kembali dini hari lagi.
"Kak Leo sering masak di sini tengah malem begini, ya?"
tanya Nasa membuka pembicaraan.
Leo menoleh sekilas kemudian mengangguk. "Aku suka
buat dessert dan makanan manis. Kalau Rumah Rasa masih
buka, nggak bisa. Nanti harumnya kecampur sama harum
makanan gurih khas Rumah Rasa."
Nasa mengangguk-angguk. Dia setuju untuk tidak
mencampurkan harum makanan rasa yang berbeda itu.
Gurih ya gurih, manis yam anis.
"Ruang kerja kamu bagus, Kak," puji Nasa. Dia benar-
benar memuji. Terlihat simpel dari desain dan juga
furniturnya. Tapi terasa nyaman dan hangat. Apalagi ada
dapur dengan peralatan masak yang lengkap.
"Dari pada ruang kerja, aku lebih suka nyebutnya dapur,"
kata Leo,
Nasa mengangguk-angguk lagi. Gadis itu pun tidak bicara
lagi dan hanya bertopak dagu menunggu macaronnya siap
disajikan. Hal itu pun tidak lama. Karena setelah mendengar
denting oven, Leo membuka ovennya, membiarkan uap
keluar dari sana dan harum macaron yang nikmat itu
semakin masuk ke penciuman Nasa.
Ah, harumnya saja sudah lezat!
Leo berkutat dengan masakannya itu. Beberapa bulatan
macaron di atas piring dan letakannya di depan Nasa yang
sudah menanti-nanti.
"Masih panas," kata Leo.
Nasa tidak memperdulikan. Dia menoel-noel sisi atas
macaron dan meniup-niupnya. Benar-benar sudah tidak
sabar menantikan kue lezat ini masuk ke dalam mulutnya.
"Oh ya, Nasa," panggil Leo.
Nasa menoleh.
"Barang-barang kamu ketinggalan di sini waktu itu."
Barang-barang? Maksudnya stetoskop doang, kan?
"Stetoskop kan, Kak?" Nasa memastikan.
Leo pun mengangguk.
"Stetoskop doang, kan?"
Leo diam sebentar sebelum kemudian mengangguk ragu-
ragu.
Nasa pun menghela napasnya lega. Senyumnya pun
terulas. Benda keramat itu memang tidak mungkin
ketinggalan di tempat ini.
"Tapi di apartemenku. Waktu itu ruangan ini lagi
dibersihkan jadi aku bawa pulang," kata Leo.
Masih mempertahankan senyumnya, Nasa menjawab,
"nggak apa-apa, Kak. Kapan-kapan aja aku ambilnya."
Leo pun mengangguk saja. Meski masih bimbang apakah
harus dikatakannya bahwa ada benda lain selain stetoskop
yang tertinggal di sini.
.
.
.
kamus :
co-ass : kepanjangannya co-assisten atau bisa
disebut juga dokter muda. mahasiwa kodekteran
yang habis wisuda terus belajar lagi di rumah sakit.
OR : Operating Room atau ruang operasi
ICU : intensive care unit. biasanya setelah operasi
pasien dibawa ke ICU.
Nurse station : tempat perawat
DPJP : Dokter Penanggung Jawab Pelayanan.
biasanya pasien dari IGD kalau harus rawat inap akan
diserahkan ke DPJP untuk tindakan selanjutnya
CMIIW ya gaisss....... bisi ada salahsalah hehehehe
.
.
.
To Be Continue
22-05-2022
Yuhuuuu sampai ketemu hari Rabu guys!
jangan lupa dua hari lagi Bumi Milik Sana open
PO^^
btw aku ganti blurb As Sweet As Nasa yaaa
LIMA
Nasa melirik Leo yang sedang memasukan krim
ke dalam piping bag. Ada dua warna krim yang Leo
masukkan ke sana. Putih dan coklat. Dengan membawa
kedua piping bag yang sudah siap dengan corongnya
masing-masing itu, Leo mendekat lagi pada Nasa yang
sudah melahap satu keping macaron meski belum
ditambahkan krim dan ditutup sebagai mana macaron
selayaknya di sajikan.
Melihat hal itu, Leo geleng kepala sembari terkekeh kecil.
"Kamu suka banget makan-makanan manis begini, ya?"
tanya laki-laki itu sembari kini membubuhkan krim di atas
keping macaron.
Nasa kemudian mengangguk. Dulu, entah satu dua atau
tiga tahun yang lalu, intinya Nasa sudah lupa kapan
tepatnya itu, Leo sering menitipkan desert untuk Nasa
melalui Sana. Nasa menerima dessert yang Leo buat setelah
Nasa bertengkar dengan Anin—anak sambung Sana—
karena rebutan makanan di rumah Leo. Memalukan
memang. Tapi gimana ya, Anin itu kecil-kecil nyebelin
banget.
Mungkin karena melihat itu, Leo merasa kasihan makanya
sering mengirimi Nasa makanan. Tapi tidak sering juga.
Hanya beberapa kali dan setelahnya tidak lagi. Makanya
Nasa juga sudah lupa dengan laki-laki itu karena sudah
berhenti memberikannya makanan. Lagi pula mereka tidak
pernah berkomunikasi secara langsung. Leo memberikan
makanan lewat Sana dan Nasa juga akan berterimakasih
lewat Sana. Dan ya, setelahnya udah. Gitu doang.
"Setelah makan jangan ketiduran lagi ya, nggak nyaman
pasti tidur di sofa," kata Leo lagi.
Nasa melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 3 pagi.
Tapi tidak apa-apa. Balik subuh pun dia masih bisa tidur
sepuasnya karena Nasa baru bekerja pukul 2 siang. Waktu
itu dia ketiduran karena lelah sekali. Sekarang lelah juga,
sih. Tapi Nasa belum mengantuk atau lebih tepatnya rasa
kantuknya hilang karena sudah melihat macaron yang unyu-
unyu begini.
"Kak Leo, biasanya masak sampai jam berapa?" tanya
Nasa.
"Sampai makanannya selesai," jawab Leo.
Nasa mengangguk-angguk. Masakan Leo sudah hampir
selesai.
"Habis ini selesai biasanya langsung tidur?" tanya Nasa
lagi.
"Bersihin dapur dulu, mandi, terus tidur."
Nasa mengangguk lagi.
"Pulangnya ke apartemen seberang dong?"
Leo mengangguk. "Kamu gimana? Pulang ke rumah?"
tanyanya.
"Pulang ke rumah kejauhan. Males juga nyetir malem-
malem," jawab Nasa. "Di seberang apartemen sepupu aku.
Biasanya aku tidur di sana kalau pulang terlalu malam."
"Iya, lagian nggak bagus juga perempuan nyetir malam."
Nasa mengangguk saja. Meski dalam hati tidak
menyetujuinya. Memang kenapa kalau perempuan nyetir
malam? Padahal Nasa biasa-biasa saja tuh. Dia juga kalau
tidak malas dan lelah, tengah malam begini masih berani
pulang ke rumah nyetir mobil. Tapi dari pada memelih
berdebat, Nasa memilih diam saja. Dia selalu menerapkan
metode diam ini sama seperti kalau Papinya sedang
mengomel. Terlihat menyetujui padahal enggak.
"Aku mandi dulu ya," kata Leo yang sudah menyelesaikan
pekerjaannya di dapur. "Nggak lama. Nanti ke apartnya
bareng aja."
Nasa mengangguk lagi, sambil menikmati macaron yang
entah sudah keberapa masuk ke dalam mulutnya.
*__*
"Kamu nggak bawa jaket?" tanya Leo saat mereka hendak
keluar dari dapurnya. Melihat Nasa yang hanya
mengenakan kemeja seperempat lengan dan juga celana
panjang, laki-laki itu menghentikan langkahnya saat akan
membuka pintu dapurnya.
Nasa menoleh pada Leo kemudian mengangguk. "Bawa
sih, tapi di ransel. Ranselnya di mobil."
"Mobilnya dimana?" tanya Leo.
"Diparkiran apartemen."
Leo langsung membuka jaketnya dan menyampirkannya
pada bahu Nasa yang menatap heran pada perilaku laki-laki
tersebut. Nasa menarik jaket Leo dari bahunya kemudian
mengembalikkannya pada laki-laki itu.
"Nggak usah, Kak," tolak Nasa.
"Udah hampir subuh." Leo tidak mau menerimanya.
"Nanti kamu flu."
"Aku udah biasa." Nasa tidak juga menurunkan lengannya
seraya mengembalikan jaket itu pada Leo.
Bukannya menerima, Leo malah melanjutkan niatnya
untuk membuka pintu. Menoleh ke belakang seraya
mengisyaratkan Nasa untuk keluar lebih dulu. Nasa
menatap tidak suka pada perilaku laki-laki itu. Bukan hanya
dengan Leo, tapi Nasa tidak suka dengan siapapun yang
memperlakukannya seperti ini.
Nasa tidak suka diperhatikan oleh orang lain.
"Yuk," ajak Leo saat Nasa masih menatapnya dengan
kening mengernyit.
Nasa ingin menyampaikan rasa tidak sukanya itu. Namun
gadis itu memilih diam dan keluar lebih dulu dengan
membawa jaket Leo di lengannya, tanpa memakainya. Ini
sudah malam dan dia malas berdebat. Apalagi setelah Leo
memberikannya macaron yang enak. Nasa akan
membiarkannya untuk hari ini.
Mereka berjalan beriringan menuju apartemen. Kemudian
tanpa Nasa duga, Leo meraih tangannya saat menyebrang
jalan yang langsung Nasa tepis.
"Sorry," kata Leo. "Aku kebiasan gandeng Adel kalau
nyebrang."
"Kalau aku biasanya nyebrang sendiri, Kak," balas Nasa.
Leo mengangguk. Melanjutkan perjalanan mereka dengan
dibiarkannya Nasa berjalan lebih dulu sedang laki-laki itu
mengikutinya dari belakang. Sampai kemudian mereka di
lobi apartemen, Nasa mengulurkan jaketnya pada Leo yang
tidak ia gunakan sama sekali. Leo menerima jaket itu tanpa
protes lagi. Laki-laki itu kemudian kembali mengikuti Nasa
masuk ke dalam lift.
"Lantai berapa?" tanya Leo.
"Tiga puluh."
Leo menekan lantai tiga puluh sesuai dengan yang Nasa
sebutkan. Laki-laki itu kemudian menyilangkan tangan di
depan dada dan membiarkan pintu lift tertutup, membuat
Nasa mengernyitkan keningnya bingung.
"Kak Leo di lantai 30 juga?" tanya Nasa.
Leo menggeleng. "Aku antar kamu dulu."
Nasa semakin tidak mengerti. Sepertinya dia tidak harus
diantarkan sampai ke depan pintu juga, kan? Nasa kan bisa
sendiri. Lagi pula apartemen ini penjagaannya bagus dan
Nasa pasti aman sampai di dalam unitnya dengan selamat.
"Maaf ya, Kak, bukan nggak sopan. Tapi aku kurang suka
diperlakukan seperti ini sama laki-laki asing yang baru
beberapa kali ketemu." Nasa pun menyuarakan pikirannya.
Oke, mungkin Nasa yang memang lebih dulu berbuat
tidak sopan pada Leo dengan masuk ke dapur pribadi laki-
laki itu. Meminta makanan, bahkan ketiduran di dalamnya.
Setelahnya, Nasa juga tetap kembali ke sana dan meminta
makanan lagi. Dia bahkan senang dibawakan bekal
makanan oleh Leo. Namun ya, karena itu makanan dimana
mustahil sekali Nasa menolaknya. Bahkan Nasa mau-mau
saja bertukar jadwal dengan Julian karena laki-laki itu
menyogoknya dengan makanan. Nasa akan merasa akrab
pada orang yang suka memberikannya makanan. Tapi kalau
orang itu punya maksud lain, makanan pun sudah tidak lagi
bisa mengatasinya.
Awalnya tentu Nasa biasa saja. Tapi melihat bagaimana
Leo memperlakukannya, Nasa tidak nyaman. Leo tidak
mungkin benar menyukainya, kan? Karena saat Leo dulu
sering mengiriminya makanan, Nasa sempat curiga kalau
Leo memang menyukainya. Maka dari itu Nasa tidak pernah
berterima kasih secara langsung walau dia tetap menerima
makanannya.
Nasa, tidak suka didekati oleh laki-laki.
Nasa melihat Leo terdiam. Membuat gadis itu pun
akhirnya menutup bibirnya meski Nasa masih kesal karena
Leo tidak menjawab ketidak sukaannya. Mereka saling diam
sampai tiba di lantai tiga puluh dan Nasa keluar dari lift
diikuti Leo di belakangnya. Bukannya menuju unitnya, Nasa
membalikan badan. Menatap Leo yang ikut berhenti.
Senyum kecil Leo terlihat di sudut bibirnya.
"Bukan ingin membuat kamu salah paham," kata Leo.
"Waktu itu kamu ketiduran di lift dan nggak turun-turun. Aku
cuman mau mastiin kamu nggak ketiduran lagi."
"Terimakasih," jawab Nasa. "Tapi sebenarnya nggak perlu,
kak. Aku udah sering kayak gitu dan aku bisa mengatasinya
sendiri."
Leo mengangguk. "Maaf buat kamu nggak nyaman."
Tanpa menjawab lagi, Nasa kemudian melangkah
meninggalkan Leo yang masih berdiri di tempatnya. Gadis
itu melangkah menuju unitnya. Memasukan beberapa
password dan membuka pintunya. Sebelum Nasa masuk,
dia melirik pada Leo yang masih diam di tempatnya
memerhatikan Nasa.
Leo tidak benar-benar menyukainya, kan?
...
To Be Continue
(2/6/2022)
Holaaaaaaaa
maafkeun kemarin agak padet jadi nggak sempet
nulis :((
Sampai ketemu di part selanjutnya dan jangan lupa
ramaikan lapak ini yeeesssss
baybaaaay
ENAM
Leo terbangun dari tidurnya saat mendengar
bunyi bel ditekan berkali-kali. Laki-laki berusia awal 30an itu
mengusap wajahnya sebelum kemudian bangkit dari
ranjang menuju pintu apartemennya yang terus-terusan
ditekan bell itu. Membuka pintu dan Leo dapati Bundanya
tengah menyipit menatap anak sulungnya.
"Kenapa lama banget bukanya?" Emila—Ibu angkat Leo—
langsung bertanya pada anaknya sesaat Leo membuka
pintu.
"Baru bangun, Bunda," jawab Leo.
"Begadang lagi kan, semalam?" Tanpa memperdulikan
putranya itu yang matanya masih terbuka setengah itu,
Emila langsung masuk ke dalam apartemen putranya.
Melihat ruangan itu yang cukup rapi dan bersih. Emila pun
menuju dapur, membuka kulkas dan mendapati kulkas yang
melompong bahkan sekedar air putih pun tidak ada.
"Kenapa kulkasnya kosong?" tanya Emila.
"Leo kan jarang di apartemen, Bunda. Kalau mau makan
kan tinggal ke seberang." Leo kemudian menatap jam di
dinding. Pukul 7 pagi dan Bundanya bertandang pagi-pagi
begini. Karyawan Rumah Rasa saja pasti belum pada
berdatangan.
"Bunda kenapa kesini pagi-pagi? Emangnya nggak dicariin
Ayah?" tanya Leo.
Emila tidak menjawab. Masih asyik inspeksi menjelajahi
apartemen putranya. Masuk ke dalam kamar Leo dan
mendapati ruangan itu hanya ranjang tidurnya saja yang
berantakan. Lalu menemukan plastik laundry berisi baju-
baju bersih yang belum dimasukan ke dalam lemari.
"Ini kok masih di sini?" tanya Emila.
"Belum sempet beresin, Nda," jawab Leo yang mengekori
ibunya.
Emila pun hendak membuka plastik laundry itu. Namun
sesaat, Leo mengingat bahwa selain pakaiannya, ada benda
lain yang bukan milikinya berada di dalam sana. Tersadar
dan Leo langsung menarik plastik itu dari bundanya.
"Nanti Leo beresin," kata Leo berusaha bersikap sesantai
mungkin agar Bundanya tidak curiga.
Emila sempat menyipit. Namun akhirnya membiarkan saja
plastik berisi baju-baju bersih itu diambil oleh Leo dan
disimpan di sisi lemari. Kini Emila jelajahi apartemen
putranya yang hanya terdiri dari dua ruangan itu. Hendak
keluar dari kamar Leo, Emila menemukan sebuah benda lain
yang menarik perhatiannya tergeletak di atas meja.
"Ini punya siapa?" tanya Emila mengambil stetoskop yang
jelas sekali pasti bukan milik putranya. Lagi pula, Leo itu
tidak begitu tertarik pada ilmu kesehatan.
"Punya temen Leo, Nda," jawab Leo.
Leo mendekat pada ibunya. Mengambil stetoskop milik
Nasa yang ia bawa ke apartemen lalu menyimpannya di
dalam laci. Setelah itu, laki-laki itu merangkul bundanya
untuk diajaknya keluar kamar. Bisa semakin bahaya kalau
Emila lama-lama berada di dalam kamarnya. Apalagi kalau
kembali meraih plastik laundry yang bukan hanya berisi
pakaiannya, tapi ada bra hitam milik Nasa yang tidak tahu
hendak Leo apakan karena si pemiliknya tidak mengakui
benda itu.
"Temen kamu yang mana?" Emila mengernyitkan
keningnya bingung. Seingatnya Leo tidak punya teman
seorang dokter.
"Ada. Teman baru. Belum lama kenal," jawab Leo.
"Cewek?"
"Cowok, Nda." Leo terpaksa harus sedikit berbohong. Di
usianya yang sudah kepala tiga ini Bundanya semakin rewel
masalah pendamping. Bisa berabe kalau Leo bilang itu milik
Nasa—seorang perempuan.
Emila pun mengangguk. Duduk di sofa depan TV yang
kemudian diikuti oleh Leo yang duduk di sofa berbeda. Dia
tidak menyangka hari ini Bundanya inspeksi dadakan
seperti ini. Masalahnya Leo belum mempersiapkan diri.
Apalagi setelah inspeksi, budanya itu akan melakukan
intrograsinya.
"Pulang ke apartemen jam berapa semalam?" tanya
Emila.
"Subuh, Nda." Leo menjawab jujur. Kalau tidak, Bundanya
tidak akan percaya. Apalagi melihat lingkaran hitam
dimatanya yang menandakan bahwa Leo kebanyakan
begadang.
Emila pun berdecak menatap putranya itu. Tahu sekali
dengan hobi Leo yang suka memasak makanan manis.
Sebenarnya bukan Emila mau melarang, tapi Leo itu
memasak sukanya di waktu dini hari dimana orang
seharusnya istirahat, bukan memasak.
"Pulang subuh, tidur nggak teratur, makan juga nggak
teratur, pakaian bersih didiamkan begitu aja di plastik
laundry, kulkas kosong." Emila menatap putranya kemudian
berdecak tidak suka. "Kan Bunda udah bilang, Leo, kalau
belum mau menikah, tinggal di rumah. Tinggal sendiri
begini nggak ada yang ngurusi kamu. Kalau sakit, siapa
nanti yang rawat?"
Leo diam saja, tidak menjawab.
"Dari awal Bunda nggak setuju kamu tinggal sendiri.
Nggak ada yang ngurusin kamu, Leo. Kalau memang nggak
mau tinggal sama Bunda lagi, kamu menikah, cari istri."
Kepindahan Leo ke apartemen ini tentu tidak mudah.
Bundanya itu melarang dengan sangat pada awalnya.
Syukurnya, Leo mendapat dukungan dari sang ayah yang
mengijinkannya untuk mandiri apalagi usianya sudah
matang seperti ini. Awalnya pun Leo tinggal di dapurnya di
Rumah Rasa. Namun Emila mengomel panjang lebar dan
membuat Leo akhirnya menyewa apartemen di seberang
restoran keluarganya itu.
"Kalau nggak bisa cari calon sendiri, biar Bunda cariin.
Kamu mau yang kayak gimana emang?" Bukan sekali tentu
saja Emila selalu membahas jodoh untuk Leo. Namun ya,
seperti biasa, Leo enggan unuk menanggapi.
"Bunda udah sarapan?" tanya Leo di luar dari topic.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan kamu. Bunda
bahas sekarang kamu yang nggak ke urus begini tinggal
sendiri. Pulang ke rumah, Leo. Tinggal di rumah. Atau cari
istri kalau kamu nggak mau lagi tinggal sama Bunda."
"Nda ..." Leo mendekat pada ibunya. Duduk di sofa yang
sama dan merangkul ibunya yang langsung melepaskan
tangan putranya itu dari pundak. Dia tidak akan kemakan
rayuan Leo.
"Leo bukan nggak mau tinggal sama Bunda," kata Leo.
"Leo cuman mau coba tinggal sendiri dulu, sekalian ngurus
Rumah Rasa. Tinggal di sini justru membuat Leo lebih
mudah mengontrol Rumah Rasa. Berangkat ke sekolah juga
dekat." Selain punya restoran keluarga, keluarga Leo pun
memiliki sebuah yayasan sekolah yang terdiri dari TK
sampai SMA. Saat ini masih dikelola oleh Ayahnya dan juga
Adel yang sudah ikut membantu. Leo ke sana hanya
sesekali kalau dibutuhkan.
Bundanya Leo itu berdecak. Selalu banyak alasan yang
Leo sampaikan.
"Udah lah, capek Bunda ngomong sama kamu." Emila pun
berdiri. Diikuti oleh Leo yang masih setia di sampingnya.
"Kamu mendingan siap-siap. Ayah suruh kamu ke yayasan
sekarang, Bunda pulang dulu," katanya.
"Iya, Nda," jawab Leo.
Emila pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu
keluar. Diikuti dengan Leo yang setia berjalan di
belakangnya. Membuka pintu, Emila menghentikan
langkahnya, berbalik badan dan menatap putranya.
"Kamu tau kan, adik kamu nggak akan menikah sebelum
kakaknya menikah?" Emila menatap Leo sungguh-sungguh.
Leo menghela napasnya. Permasalahan ini, lagi.
"Nda, Leo kan udah berkali-kali bilang, Leo nggak masalah
kalau Adel dan Gauda mau menikah duluan. Jangan pikirkan
Leo." Jawaban Leo masih sama seperti jawabannya yang
dulu-dulu.
"Nggak pikirin kamu gimana sih, Leo? Kamu itu kakaknya
Adel. Nggak mungkin adik kamu nggak mikirin kakaknya."
"Nda, Leo ini laki-laki. Menikah nanti-nanti juga nggak
masalah. Lagian Leo belum berniat menikah. Beda dengan
Adel. Mereka udah tunangan. Kenapa harus tunggu Leo dulu
kalau memang semuanya sudah siap?"
"Kamu tau kan Le—"
"Bunda kita udah bahas masalah ini berkali-kali." Leo
memotong ucapan ibunya. Dirangkulnya Emila untuk keluar
dari apartemnnya. "Ayo Leo antar ke bawah."
"Nggak usah." Emila menarik dirinya. Menatap Leo
dengan kesal karena Leo selalu menghindari percakapan ini.
"Bunda bisa pulang sendiri."
Tanpa menoleh lagi pada sang putra, Emila pun pergi
begitu saja.
*__*
Nasa terganggu dari tidurnya mendengar dering
ponselnya berbunyi. Meraih benda di atas nakas itu
kemudian menjawab panggilan yang masuk mengganggu
tidurnya itu. Pukul 11 siang dan Sana sudah heboh
meneleponnya entah untuk apa.
"Nas!" Suara Sana yang berisik masuk ke dalam
telinganya. "Lo lagi dimana, Nas?" tanyanya.
"Tidur di apartemen. Kenapa?" balas Nasa.
"Lo ke RS jam 2 kan, Nas?"
"Iya. Kenapa?"
"Nas gue titip Anin, dong. Mbak Anita mendadak harus ke
Jogja, Nas. Mas Bhumi juga lagi ke Bandung isi seminar. Ini
gue nggak bisa ninggalin kerjaan."
"Nitip gimana? Gue kan kerja?" Nasa mengernyitkan
kening.
"Bawa ke RS gimana, Nas? Sampai jam setengah 3 aja,
kok. Lo kan masuk kerja baru jam 2. Nanti jam setengah di
jemput Naka ke RS. Naka masih ada kelas sampai jam 2."
Nasa mengucak matanya. "Si Aninnya dimana sekarang?"
tanya gadis itu.
"Dia baru pulang sekolah, Nas. Tadi gue telepon Adel buat
titip si Anin, itu bocil malah ikut Kak Leo ke Rumah Rasa. Lo
bisa jemput Anin di sana nggak, Nas? Lo di apartemen
Keanu, kan? Cuman tinggal nyebrang doang. Gue udah
bilang Kak Leo titip Anin sebentar sampai lo datang. Dia
nggak bisa lama soalnya mau ke Bogor lagi, Nas."
Nasa menghela napasnya. Benar-benar si Sana. Anaknya
dititipkan kesana kemari. Si Anin juga kenapa pakai ikut Leo
segala ke Rumah Rasa. Padahal udah bener dia dititpin Adel
aja di sekolah sampai nanti Naka bisa menjemputnya. Di
sana pasti lebih banyak anak-anak ketimbang di rumah
sakit nanti.
"Nas, bisa kan?" tanya Sana lagi di seberang.
"Hm. Gue mandi dulu." Nasa langsung memutuskan
panggilannya. Dia harus segera bersiap menjemput si bocil
bau kencur itu ke Rumah Rasa.
Walau Anin nyeblelin dan mereka sering rebutan
makanan, tapi Nasa sejujurnya sayang juga sama makhluk
menyebalkan itu. Jadi Nasa pun segera bergegas
membenahi diri untuk menjemput keponakannya itu. Ya,
walau sebersit rasa tidak nyaman harus menemui Leo
kembali setelah apa yang ia perbuat pada Leo subuh tadi.
Kalau dipikir-pikir, kayaknya Nasa terlalu kasar ya dengan
laki-laki itu tadi? Padahal Leo sudah baik sekali mau
memberikannya makanan. Lagian, belum tentu juga Leo
beneran naksir padanya, kan?
*__*
"Wes, Nas! Tumben banget lo baru jam segini udah keluar
dari goa?"
Di Rumah Rasa, bukannya bertemu dengan Anin, Nasa
malah bertemu dengan teman-temannya yang lain. Terlihat
ke empat orang itu sedag makan siang di sana. Ada Tristan,
Haikal, Jeje dan ... Ivanka. Mereka berempat rekan
sejawatnya yang kini bertugas di bangsal bedah.
"Sini-sini, Nas!" Tristan kembali memanggilnya, hingga
mau tidak mau Nasa bergabung dengan ke empat orang itu.
Nasa duduk di samping Tristan. Mengabaikan sepenuhnya
wajah Ivanka yang menatapnya memutar kedua bola mata.
Ivanka itu teman SMA Nasa dulunya. Entah kenapa disetiap
bertemu Nasa, gadis itu selalu terlihat tidak menyukainya
padahal Nasa merasa tidak pernah mengganggunya. Kalau
temannya yang lain bilang, Ivanka tidak menyukai Nasa
karena cowok yang ditaksirnya justru menyukai Nasa yang
mana sebenarnya Nasa sangat tidak peduli.
"Lo sering makan siang di sini juga, Nas?" tanya Haikal
padanya.
Nasa hanya mengangguk singkat, malas menjelaskan
lebih jauh. Saat ini pandangannya berputar berusaha
mencari dimana keberadaan si bocil Anin keponakannya itu.
Tanpa peduli memikirkan Ivanka yang kini membuang wajah
ataupun memikirkan mengapa mereka memilih makan
siang di tempat ini yang berjarak 15 menit dari rumah sakit.
"Ganteng banget kan, Je? Gimana gue nggak naksir berat
coba?" Kemudian suara Ivanka yang terlihat sudah ikut
mengabaikan Nasa terdengar di telingnya. Bertepatan
dengan pandangan Nasa pada Leo yang baru saja keluar
dari dapur dengan Anin yang menggandeng tangannya.
"Gebetan lo duda, Van?" Suara tanya Haikal terdengar.
"Enggak! Bukan anaknya itu. Nggak tau anak siapa,"
jawab Ivaka tidak terima.
Nasa menoleh pada teman-temannya itu. Terutama pada
Ivanka yang juga menatap pada Leo yang kini berjalan ke
arah meja mereka dengan Anin yang sudah menatap Nasa
songong. Khas si bocil nakal itu.
"Aduh-aduh dia jalan ke sini. Aduh gue deg-degan." Suara
Ivanka terdegar lagi di telinganya.
"Dia mau nyapa lo kali, Van. Lo bilang orang tua kalian
saling kenal, kan?" Jeje menimpali.
"Iya. Gue bahkan pernah ke rumahnya waktu nganter
nyokap arisan."
Percakapan itu masuk ke dalam telinga Nasa namun tentu
diabaikannya begitu saja. Nasa tenang di mejanya, sampai
kemudian Anin mendekat dan melepaskan genggaman
tangan Leo dan berganti memegang tangan Nasa dengan
bibir mengerucutnya yang biasanya kalau-kalau wajah
seperti ini Anin hendak meminta sesuatu.
"Aku ikut Om Leo ya? Aku mau ke Bogor sama Om Leo,"
kata gadis kecil itu. Suaranya menjadi pusat perhatian dari
ke empat orang yang ada di meja itu termasuk Ivanka yang
mengernyit bingung saat Leo juga mendekat pada Nasa
bahkan tanpa menatapnya lebih dulu.
Ivanka dan Leo padahal saling kenal, kan? Ivanka bahkan
sering makan di sini, kok.
"Mumi kamu bilang kamu ikut aku ke rumah sakit," jawab
Nasa pada ponakannya itu.
Anin cemberut. Kini kembali menoleh pada Leo meminta
pertolongan.
"Aku mau ke Rumah Rasa yang di Bogor. Mungkin magrib
baru selesai. Aku nggak masalah kalau Anin mau ikut," kata
laki-laki itu.
Sebentar menatap Leo, Nasa kemudian menatap lagi pada
Anin.
"Kamu udah izin Papa kamu belum?" tanya Nasa.
"Kata Mumi suruh izin Tante Nasa," jawab Anin. Kalau
begini, Nasa tentu tahu bahwa sebenarnya Sana melarang
dan Anin semakin merengek tidak mau dilarang. "Boleh ya?
Aku cuman sebentar doang, aku mau ikut ke sana. Aku
belum pernah ke Bogor."
Nasa menatap datar gadis cilik yang pintar sekali
berbicara ini.
"Nggak usah. Om Leo mau kerja di sana nanti kamu
ngerepotin," larang Nasa. "Kamu ikut aku ke rumah sakit
nanti kamu dijemput Om Naka di sana."
Anin semakin cemberut. Namun kalau Nasa yang sudah
melarangnya, dia tidak bisa membantah. Nasa itu marahnya
lebih seram dari pada Sana. Walau Anin suka bertengkar
pada Nasa, tapi dia juga sedikit takut pada kembaran ibu
sambungnya itu.
"Nanti kapan-kapan Anin ikut Om ke Bogor. Ajak Mumi
sama Papa." Leo pun menengahi. Membantu Nasa untuk
membujuk Anin tetap tinggal. Bukan dia tidak mau
mengajak Anin. Tapi perjalanan ke sana kan cukup jauh dan
Leo baru selesai malam. Kasian Anin kalau harus diajak
padahal di sana Leo juga bekerja.
Masih cemberut. Anin pun kemudian mengangguk
menurut. Dihadiahi usapan lembut di kepalanya dari Leo.
"Tas Anin di mobil aku," kata Leo pada Nasa. "Kamu ke
rumah sakit bawa mobil? Atau mau aku antar sekalian?"
Penawaran itu tidak langsung Nasa jawab. Gadis itu justru
berdiri dari duduknya dan menggandeng tangan Anin untuk
beranjak dari sana. Menganggukkan kepalanya sedikit pada
teman-temannya tanpa berpamitan sebelum kemudian
berlalu diikuti dengan Leo di sampingnya.
Teman-teman Sana yang ditinggalkan itu masih tidak
bereaksi apa-apa. Masih bingung tentu saja. Mereka ke sini
diajak oleh Ivanka yang katanya punya rekomendasi rumah
makan yang enak sekaligus mau melihat gebetannya.
Namun ternyata ... Leo dan Nasa justru terlihat akrab.
Jangankan disapa, Ivanka bahkan tidak dilirik.
Sekali lagi, Nasa mengibarkan bendera perang padanya.
.
.
.
To Be Continued
(11/06/2022)
Haiiiii yampun lama nggak ketemuuuuuuu
Gesss aku mau infoin beberapa tentang jadwal
update ASAN yaaa....
btw part ini panjang nihhh sampai 2k kata lebihhh
so sorry gaisss sepertinya jadwal update ASAN
akan berubah. nggak akan update setiap Rabu &
Sabtu lagi nih kayaknya gaisss :"))
aku lagi agak sering keluar2 jadi waktu nulisnya
berkurang :"))
Terus updatenya kapan Mill????
Nggak ada waktunya gaissss hehehehe
updatenya kalau vote dan komennya udah banyak
ajaaa, biar aku bisa bersantai nulisnya wkwkwkwk
kita main challenge aja deeehhh
1,3k vote dan 130 komentar untuk next part
yeeess!!
see u^^
TUJUH
"Nasa, besok libur, kan?"
"Iya, Pi," jawab Nasa.
Nasa melangkahkan kaki usai selesai berganti pakaian.
Dengan tas ranselnya di punggung dan juga mengimpit
telepon di telinganya dengan bahu karena saat ini
tangannya sibuk membuka botol minum sembari
mendengarkan Papinya yang siang ini menghubungi.
"Kalau begitu pulang ke rumah, kan?" tanya Papinya lagi.
Nasa duduk sebentar pada salah satu bangku untuk
menenggak air minumnya. Sebelum kemudian berdiri lagi
sembari menutup tutup botol.
"Besok Pi, pulangnya. Malam ini di apartemen Mas Kean
dulu."
"Loh kok gitu? Bukannya hari ini kamu masuk pagi?" Hari
ini Nasa memang kembali berganti jadwal jaga dengan
Julian sehingga pukul tiga sore ini, Nasa sudah keluar dari
rumah sakit. Papinya itu tahu berkat Nasa yang
memberitahu Sana akan jadwalnya.
"Iya, Pi. Tapi besok aja lah pulangnya. Nasa pulang pagi
deh besok." Gadis itu melangkah menuju parkiran mobilnya.
"Kenapa besok, Nas? Ngapain juga kamu sendirian di
apartemen Keanu? Pulang aja. Besok hari Minggu, kita mau
kerja bakti." Setiap hari Minggu—jika Nasa kedapatan libur
di hari minggu karena hari liburnya tidaklah pasti—Saka
akan mengadakan kerja bakti yang mewajibkan seluruh
anggota keluarganya turun tangan.
"Mas Bhumi kan masih di Bandung, Pi," ujar Nasa
menyebut iparnya yang masih berada di luar kota.
"Ya nggak apa-apa. Besok Bhumi pulang. Kamu pulang
hari ini, Nasa. Udah berapa hari kamu tuh nggak pulang ke
rumah."
Nasa mengehntikan langkahnya.
"Pi...." Gadis itu merengek pada Papinya. "Nasa nggak
bisa pulang hari ini, Pi. Nasa mau ada kegiatan lagi, Pi."
"Kegiatan apalagi sih? Tumben banget kamu punya
kegiatan selain di rumah sakit?"
"Ya pokoknya ada deh, Pi. Nasa nggak bisa pulang hari ini
intinya. Besok pagi Nasa janji pulang ke rumah."
Saka berdecak di seberang sana. "Ya udah, besok pagi ya.
Besok Papi nggak terima alasan apapun dan kamu harus
pulang."
"Iya, Papi."
"Hm. Ya udah Papi tutup dulu. Kamu jangan lupa makan
siang."
"Iya, Papi juga."
Panggilan pun terputus dengan Nasa yang kemudian
melanjutkan tujuannya menuju mobil. Masuk ke dalamnya
dan bersiap duduk di kursi kemudi. Seperti yang sudah
dikatakannya pada sang Papi, Nasa ada kegiatan lain yang
mesti di lakukannya malam ini. Tepatnya pukul 7 malam
nanti. Maka dari itu, Nasa langsung menerima saja tawaran
berganti jadwal dari Julian hingga dia bisa mengikuti
kegiatan itu malam ini.
*__*
Sebelum pukul 7 malam dan Nasa sudah sampai pada
tempat yang ditujunya.
Gadis itu berjalan menuju ruang ganti pakaian dan
membuka loker dengan kunci yang sebelumnya diambil dari
meja penjaga. Nasa melepaskan jaket hitam miliknya dan
memasukannya ke dalam loker itu. Meninggalkan sport bra
berwarna hitam juga yang melapisi tubuhnya. Beserta
kemudian legging sebetis yang juga berwarna hitam yang
dikenakannya.
Nasa keluar dari ruang ganti. Menguncir rambut
sebahunya kemudian mengambil posisi untuk melakukan
peregangan. Gym malam ini tampak ramai. Banyak orang
yang sedang berolahraga dengan alat-alat yang ada di
sana. Malam ini kegiatan Nasa memang di dalam gym,
tetapi bukan untuk berolahraga dengan alat-alat berat itu.
Ada hal yang lain yang perlu Nasa lakukan.
"Nas! Ya ampun sibuk banget kayaknya baru keliatan."
Seseorang menghampirinya. Nasa tersenyum sekilas
kemudian menyudahi peregangannya.
"Makin rame, Mbak," kata gadis itu pada istri si pemilik
gym. Mbak Karina.
"Iya nih, Alhamdulillah. Member dari luar juga tambah
banyak."
Nasa mengangguk-angguk.
"Hari ini kamu depan ya?"
Nasa langsung menggeleng. "Jangan deh, Mbak. Udah
lama nggak zumba. Udah kaku."
Mbak Karina berdecak. "Kaku apanya. Udah kamu lah. Pas
kamu berhenti banyak banget yang cariin kamu tau."
Nasa tersenyum saja. Merengganggkan kedua tangan
beserta jemarinya yang dikaitkan di depan, Nasa pun
akhirnya mengangguk. Baiklah, malam ini dia akan
memandu kembali. Nasa pun selesai bersiap. Melangkah
menuju barisan depan tempat dimana anggota lain seakan
sudah bersiap menyambutnya. Menyalakan lagu dan Nasa
mulai menggerakkan tubuhnya.
"Semangat! Kita berkeringat malam ini!" teriak gadis itu
dibalas dengan teriakan lain dari para pengunjungnya.
Ini adalah pekerjaan sampingan yang pernah Nasa
lakukan sebelum dirinya tugas di rumah sakit. Tidak ada
yang tahu tentang hal ini kecuali Keanu si pemilik
apartemen. Sana dan bahkan seluruh anggota keluarganya
tidak tahu tentang hal ini. Nasa menjadi instruktur zumba di
salah satu gym yang terdapat di komplek apartemen
Keaunu.
Awal mula Nasa mendapatkan pekerjaannya itu hanya
iseng-iseng saja. Dia sebenarnya mengikuti zumba di
tempat lain sampai kemudian Nasa jadi sering menginap di
apartemen Keanu dan datang ke gym untuk berolahraga
yang ternyata ada zumbanya juga. Jadilah mendaftarkan
member zumbanya di sini dan ketika ada lowongan untuk
instruktur Zumba, Nasa langsung mendaftar.
*__*
Pukul 8 lewat 30 menit di waktu malam hari. Leo
terbangun dengan kepalanya yang terasa nyeri. Hari sudah
gelap tentu saja. Laki-laki itu menyadari bahwa dirinya
sedang tidak enak badan hari ini. Maka Leo hanya
beristirahat di dapurnya lepas magrib tadi. Tertidur sebentar
dan berharap sakit kepalanya segera menghilang. Namun
saat bangun, dia masih merasakan nyeri di kepalanya.
Tok tok tok ...
Pintu dapurnya diketuk kemudian terbuka dan
menampilkan wajah salah satu pegawai restorannya di
sana.
"Masih pusing, Pak?" tanya Haikal selaku asisten manajer
restoran ini.
Leo mengangguk singkat. Laki-laki itu berdiri dari
duduknya.
"Mau saya beliin obat, Pak?" tawar Haikal.
Leo menggeleng. "Saya mau balik ke apartemen aja. Saya
titip restoran ya. Nanti langsung tutup aja, laporan
hariannya kirim ke email saya," kata Leo.
"Siap, Pak." Haikal mengangguk. Leo pun berjalan
mengambil jaket mikiknya yang tergantung dan
memakainya sebelum keluar dari dapurnya melalui pintu
luar.
Laki-laki bersin setelah keluar dari dapurnya dan angina
malam menyentuh kulit wajahnya. Leo mengusap
hidungnya yang dirasa berair. Selain pusing, Leo juga
bersin-bersin. Dia bahkan merasa suhu tubuhnya lebih
hangat dari biasa.
Leo harus segera menuju apartemennya. Membeli
beberapa obat di apotek sebelum beristirahat kembali di
kamarnya. Di tengah langkahnya yang baru saja hendak
menyebrang jalan itu ponselnya bergetar. Sebuah panggilan
masuk dari Bundanya yang langsung Leo jawab. Bundanya
itu kuat sekali instingnya kalau Leo sedang tidak enak
badan begini. Pasti langsung menghubungi.
"Halo, Bunda?"
"Dimana Kak?" tanya Emila di seberang sana.
"Mau ke apartemen, Bunda. Kenapa, Nda?"
"Suara kamu kok bindeng gitu? Kamu sakit, kak?
"Cuman sedikit flu, Bunda."
"Tuh kan, Kak, kamu sakit. Pulang ke rumah Kak jangan ke
apartemen. Nggak ada yang ngurusin kamu di sana."
"Flu biasa, Bunda. Minum obat juga sembuh. Ini Leo mau
ke apotek mau beli obat."
"Leo, kamu sakit. Di sana nggak ada yang jaga. Bunda
masih belum bisa pulang. Di rumah ada Adel, seenggaknya
aada yang rawat kamu."
"Leo nggak apa-apa, Bunda. Minum obat juga sembuh."
"Kamu tuh emang nggak pernah nurut ya kalau
dibilangin." Terdengar suara kesal Bundanya di seberang
sana. "Ya udah kamu istirahat. Kalau sampai besok belum
sembuh juga kamu pulang ke rumah. Besok Bunda udah
pulang."
"Iya, Bunda."
Sambungan diputuskan begitu saja. Bundanya itu pasti
kesal sekali dengan Leo saat ini. Tapi ya mau bagaimana
lagi. Pulang ke rumah jelas bukan pilihan yang bagus. Lagi
pula Leo hanya flu biasa.
Laki-laki itu sudah memasuki apotek yang berada di salah
satu ruko di kawasan apartemennya. Memesan obatnya lalu
keluar dengan langkah yang pelan. Kepalanya bertambah
pusing. Pandangannya sedikit mengabur yang sebisa
mungkin Leo pertahankan kesadarannya. Sebentar lagi dia
akan memasuki lift dan menuju unitnya untuk beristirahat.
"Kak Leo?"
Leo menoleh ke belakang saat seseorang memanggilnya.
Di sana terlihat Nasa yang mengambil sebuah kantong
kresek di lantai dan menjalan mendekat padanya. Dengan
jaket hitam yang tidak terkancing hingga menampilkan
perut atasnya yang tidak tertutupi dan juga legging hitam
selututnya. Rambut pendeknya yang terikat menampilkan
leher jenjangnya yang berkeringat.
"Punya kamu?" gadis itu mengulurkan kantong plastik itu
padanya.
Leo melihat tangannya sendiri yang ternyata kosong. Dia
bahkan sampai tidak sadar sudah menjatuhkan barang
belanjaannya begitu saja. Leo pun tersenyum dan
mengangguk seraya mengambil kantong berisi obat
miliknya itu.
"Thanks, Nasa," ujar Leo.
Nasa pun mengangguk. Ikut masuk ke dalam lift bersama
Leo yang mencoba berdiri dengan tega di depan gadis itu.
"Kamu sakit?" tanya Nasa yang menyadari wajah pucat
laki-laki di depannya.
Leo membalikkan tubuhnya. Menatap Nasa dan sedikit
mengulas senyumnya.
"Sedikit nggak enak badan," kata laki-laki itu.
Nasa memerhatikan laki-laki itu. Terlihat bibirnya yang
pucat tetapi wajahnya sedikit memerah. Nasa pun
memajukan tubuhnya. Sedikit berjinjit dan mengulurkan
tangan seraya hendak menyentuh kening Leo.
"Sorry," kata gadis itu sebelum menempelkan telapak
tangannya pada kening Leo. "Kamu demam."
Leo tidak lagi mampu membalas tersenyum karena sakit
kepalanya semakin menjadi-jadi. Berdirinya tidak bisa tegap
lagi hingga Nasa secara refleks memegang lengan laki-laki
itu saat Leo sudah oleng dan hampir saja terjatuh.
"Demam tinggi," kata Nasa lagi. "Lantai berapa? Biar aku
antar ke kamar."
"Lima," gumam Leo pelan. Tubuhnya yang bertumpu pada
tubuh Nasa dengan lengan gadis itu yang melingkar di
pinggangnya seraya menahan tubuh besar Leo.
Nasa terlihat kecil sekali dibanding dengan tubuh Leo
yang tegap dan tinggi. Tetapi gadis itu ternyata kuat sekali
menjadi tumpuannya. Harum tubuhnya yang berkeringat
memasuki penciuman Leo. Terasa hangat dan manis.
Mengingatkan Leo dengan seseorang yang sangat
disayanginya.
.
.
.
To Be Continue
(22/06/2022)
Yuhuuu ketemu lagi sama Chef Leo yang lagi
cakitttt hihihi
'Mengingatkan Leo dengan seseorang yang sangat
disayanginya.' Siapa ituuuu?!!! HAHAHAHA
sampai bertemu lagi setelah 1,3 vote dan 200
komentar yaaaaa^^
Jangan lupa mampir dan follow instagram aku di
[Link] 77
DELAPAN
Pukul satu dini hari.
Nasa kembali mengulurkan tangan guna memeriksa suhu
tubuh Leo. Tidak hanya dengan itu, gadis itu kembali
mengukur suhu tubuh Leo dengan thermometer yang
ditemuinya di laci nakas kamar Leo agar lebih akurat.
Masih di angka 39.
Nasa pun memutuskan untuk kembali mengganti kompres
di kening Leo. Gadis itu juga memeriksa tanda vital seperti
denyut nadi dan detak jantungnya lagi. Beruntungnya, Nasa
menemukan stetoskopnya berada di kamar Leo hingga
gadis itu dapat memakainya untuk memeriksa pasien
barunya ini.
"HHhh..."
Leo tampak mendesah dan bergumam. Suhu tubuh yang
masih tinggi itu pasti membuatnya gelisah dalam tidur.
Sejak tadi seperti ini. Walau sudah minum obat tadi,
demamnya belum juga turun. Karena itu, Nasa belum bisa
kembali ke kamarnya sendiri. Dilihat dari hasil
pemeriksaannya, Leo ini kekurangan cairan dan juga dalam
kondisi tubuh yang kurang fit. Leo juga beberapa kali batuk-
batuk.
Setelah mengganti kompresnya, Nasa kemudian bangkit
dari duduknya. Gadis itu pergi menuju dapur saat merasa
air di baskom sudah mulai mendingin. Melihat kembali pada
kompor yang dan menyalakannya lagi. Tadi dia juga
melakukan ini sebelumnya. Dengan sangat berhati-hati
karena sejujurnya Nasa itu alergi sekali dengan kompor. Dia
cuman tau makan saja, tidak tahu bagaimana caranya
memasak.
Leo juga aneh sekali. Seorang chef dengan restoran
terkenal tapi bahkan di rumahnya tidak ada dispenser untuk
air hangat. Nasa jadi terpaksa merebus air dulu untuk laki-
laki itu.
Selepas selesai dengan kegiatannya, Nasa kembali lagi ke
kamar Leo. Langsung mengganti kompresnya yang ia
letakan di dahi, ketiak dan kaki.
"Dahh..."
"Hm?" Nasa mencoba mendengarkan seksama gumaman
Leo itu. Mendekatkan telinganya pada bibir Leo agar
mendengar gumaman itu lebih jelas.
"Bundahh..."
Nasa geleng kepala. Dibalik tubuh besar dari laki-laki ini
Leo ternyata hanya seorang anak laki-laki yang sedang sakit
memanggil Bunda. Nasa sering temukan itu pada pasien-
pasiennya. Bahkan pernah ada seorang pasien yang sudah
kepala 3 tidak mau disuntik kalau tidak memegang tangan
ibunya.
Memang benar ya, sebesar apapun seseorang, dia akan
tetap menjadi anak-anak bagi ibunya.
"Ndah... pusing." Leo bergumam lagi. Kali ini memegang
tangan Nasa yang sedang membenarkan kompresan di
ketiaknya. Leo juga tampak menggeliat tidak nyaman
dengan yang sedang Nasa lakukan.
"Pusing, Ndah..." Leo menggenggam telapak Nasa.
Menaruhnya di atas dadanya masih dengan matanya yang
terpejam.
Nasa menghela napasnya. Dicobanya melepaskan
tangannya dari Leo tapi genggaman laki-laki itu cukup erat
hingga Nasa kesulitan. Nasa pun akhirnya pasrah.
Membiarkan tangannya digenggam Leo dengan sebelah
tangan lainnya yang kini membenarkan posisi
kompresannya.
Dia memiliki pasien yang cukup manja hari ini.
*__*
Nasa terbangun dari tidurnya saat mendengar bel
berbunyi. Gadis itu meneggakkan tubuhnya yang tidak
nyaman karena tidur sembari terduduk bersandar pada
kepala ranjang. Nasa membuka matanya memandang
sekeliling kemudian menyadari bahwa gadis itu sedang
berada di kamar orang lain saat ini.
Pandangan Nasa kemudian beralih pada Leo yang masih
tampak nyenyak dalam tidurnya. Nasa mengelurkan lengan,
menyentuh kening Leo dan menghela napas lega saat
merasa suhu tubuhnya sudah menurun. Tidak lupa juga
Nasa mengambil thermometer untuk memeriksanya
kembali.
Masih belum normal. Tapi setidaknya sudah tidak sepanas
tadi malam.
Ding dong...
Suara bel kembali terdegar. Mengambil kompres yang ada
di tubuh Leo, Nasa pun beranjak menuju pintu apartemen
laki-laki itu. Membukanya dan menemukan seseorang
menatapnya di seberang sana dengan terkejut bingung.
"Nasa?"
Adel di sana. Menatap Nasa dengan raut bingungnya.
Memandangi pintu apartemen kakaknya dan juga melirik ke
dalam untuk memastikan bahwa dia tidak salah alamat.
"Lo ...?"
"Kak Leo masih tidur," jawab Nasa. "Masuk aja."
Gadis itu masuk ke dalam, meninggalkan Adel yang masih
terpaku di depan pintu sebelum kemudian menyusul masuk
ke dalam apartemen kakaknya sendiri. Mengikuti langkah
Nasa yang masuk ke dalam satu-satunya kamar yang
berada di sana.
Nasa tampak berbenah. Mengambil jaketnya yang ada di
sofa, ponsel, lalu stetoskopnya yang ada di atas meja.
Semua itu dipandangi oleh Adel dengan wajah terpakunya.
Seorang Nasa—kembaran dari sahabatnya yang selama ini
Adel tahu memang tidak banyak bicara dan sedikit jutek—
berada di dalam kamar kakak laki-lakinya hanya
mengenakan sport bra yang menampilkan perut bagian
atasnya dan juga legging tipis sebetis.
"Lo sama Kak Leo ...?" Adel membuka suaranya. Menduga
mengenai hubungan antara keduanya.
Nasa yang sudah selesai dengan barang-barangnya
menoleh pada Adel. Kemudian menggeleng membantah
semua praduga yang ada di kepala gadis itu yang bahkan
belum sempat Adel keluarkan. Nasa sudah lebih dulu dapat
menebaknya.
"Semalam nggak sengaja ketemu Kak Leo hampir pingsan
di depan lift. Terus gue antar ke unitnya dan ngeliat Kak Leo
yang bahkan nggak bisa berdiri tegak, setidaknya gue pikir
gue harus periksa dulu kondisinya," jelas Nasa. "Dia masih
demam. Tapi udah nggak sepanas semalam. Gue udah
resepin obat di atas nakas, nanti bisa dibeli di apotek
bawah. Dia kecapean, kekurangan cairan dan imunnya lagi
lemah. Seharusnya malam atau besok udah nggak demam
lagi. Boleh terus dikompres pakai air hangat di kening,
ketiak sama kakinya. Tapi kalau masih demam sampai 3
hari, tolong di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih
lanjut. Perbanyak minum air putih dan istirahat di kamar.
Pola makannya juga dijaga, jangan sampai telat makan. Gue
liat asam lambungnya juga naik."
Meski bingung, Adel pun mengangguk. Menyimak sedikit
apa yang Nasa ucapkan padanya. Panjang kali lebar.
"Kalau gitu gue pamit dulu." Nasa hendak undur diri.
Sebelum kemudian menatap Adel kembali dan mengangkat
tangannya memperlihatkan stetoskop miliknya pada Adel.
"Tolong bilangin sama Kak Leo, stetoskopnya udah gue
ambil."
Tanpa berlama-lama lagi, Nasa pun melangkah
meninggalkan unit Leo. Melangkah dengan santai
meninggalkan Adel yang bahkan masih terpaku di sana.
Lalu sepeninggalan Nasa dan mendengar bunyi pintu
tertutup, Adel buru-buru mengambil ponsel yang ada di
dalam tasnya. Menghubungi seseorang mengenai kejadian
hari ini.
"San! Kembaran lo pacaran sama kakak gue?!" todong
Adel langsung pada sahabatnya di seberang telepon.
"Hah?!"
*__*
Nasa tidak tahu, dari mana datangnya ilham hingga
membuat Papinya mencetuskan ide kerja bakti di hari
minggu ini. Kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu, tiba-tiba
saja Papinya mengumumkan soal minggu kerja bakti yang
wajib dilakukan oleh seluruh penghuni rumah. Bahkan
dengan jumawanya, Papi meliburkan seluruh pekerja di
rumah mereka.
Benar-benar majikan yang baik hati.
"Kamu tuh ya. Janji dateng pagi tapi ini udah mau jam
makan siang kamu baru dateng." Saka berkacak pinggang
menatap putri sulungnya itu. Mengenakan boothnya dan
juga topi rimba andalannya jika sedang mencabut rumput di
halaman.
Nasa melirik jam di tangannya. "Masih jam 10, Pi." Nggak
mungkin juga mereka makan siang di jam 10, kan?
Saka berdecak mendengar jawaban putrinya itu. Nasa tau
saja bagaimana menjawab ocehan orang tua.
"Ya udah, sana kamu. Kerja. Nggak kerja nggak Papi kasih
makan kamu," ancam pria paruh baya itu.
"Ampun deh kejam banget." Nasa geleng kepala. Namun
gadis itu akhirnya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan
Papinya di halaman depan yang kemudian terdengar
teriakannya memanggil sang menantu.
"Bhum! Sini gantiin Papi Bhum. Sakit banget ini pinggang
Papi cabutin rumput."
Nasa masuk ke dalam rumah. Yang pertama dilihatnya
adalah Naka dan Kana yang bertengkar hampir pukul-
pukulan dengan sapu dan kemoceng. Dilewatinya begitu
saja kedua adiknya itu. Nasa semakin masuk ke dalam
melihat Maminya sedang memasak di depan kompor.
Maminya itu bisa masak, memang. Tapi jujur saja, Nasa
lebih suka kalau Maminya tidak memasak. Karena Clarinna
suka bereksperimen menu macam-macam yang tidak enak
dimakan. Namun tentu harus dimakan karena Maminya
memaksa.
Begini lah, suasana keluarganya yang penuh kekurangan
itu.
"Ehm..."
Nasa menoleh ke belakang. Mendapati Sana bersedekap
menatapnya dengan menyipit. Nasa menaikkan alisnya
bingung menatap kembarannya itu.
"Ikut gue," perintah Sana begitu saja.
Nasa masih mengernyitkan keningnya bingung. Namun
tetap berjalan mengikuti Sana yang sudah memimpin di
depan.
"Mumi mau kemana? Aku ikut!" Kemudian suara Anin
menghentikan langkah mereka.
"Enak aja ikut-ikut," tolak Sana langsung. "Kerja kamu!
Jangan mentang-mentang masih bocil jadi kamu nggak mau
bantuin, ya!"
Anin cemberut menatap ibu sambungnya itu.
"Mumi goreng ikan-ikan kamu baru tau rasa kamu."
"Kakek! Aku dimarahin Mumi!" Anin pun lari, mengadu
pada kakeknya yang kemudian dibalas decakan dan
gelengan kepala oleh Sana.
"Bener-bener deh tuh anak. Kenapa jadi mirip banget gue
sih kelakukannya." Sana menggerutu. Langkahnya berlanjut
lagi menuju kamarnya di lantai atas.
Menaiki tangga, Sana kemudian berjalan menuju pintu
kamarnya semasa gadis. Membukanya dan masuk ke dalam
sana. Balik badan dan bersedekap menatap Nasa yang
masih menampilkan wajah santainya.
"Nggak pakai basa-basi. Lo pacaran sama Kak Leo?" tanya
Sana langsung.
Nasa menaikkan sebelah alisnya. Kenapa jadi Leo? Atau ...
ah! Adel pasti biang keroknya.
Nasa pun langsung menggeleng. Dia harus segera
meluruskan ini sebelum melebar kemana-mana.
"Gue sama Kak Leo engg—"
"Nggak usah ngeles." Sana memotong ucapannya.
"Buktinya udah jelas. Lo nginep di kamar Kak Leo. Apalagi
cuman pake BH doang sama legging."
Nasa berdecak. Namanya juga dia tidak sempat berganti
pakaian. "Gue abis zum—"
"Nggak usah ngeles." Sana memotong ucapannya lagi.
"Lo udah diselidikin sama Tante Emila. Satpam Rumah Rasa
bilang lo sering ke sana tengah malam bahkan pernah
nginep di sana sama Kak Leo. Lo nggak sampai di luar batas
kan, Nas? Lo tau kan Papi bisa bolongin kepala lo kapan
aja?"
Nasa memutar kedua bola matanya. Berlebihan sekali.
Lagian, kenapa satpam Rumah Rasa pakai lemes segela
mulutnya. Keberadaannya saat Nasa ada di sana saja tidak
tampak. Tampak tidak berkerja dengan benar sehingga
Nasa berkeliaran bebas tengah malam. Eh ini, malah
nyebar-nyebar gossip. Sampai ke Tante Emila pula.
"Adel udah kasih tau Tante Emila soal lo tadi malam
nginep di apartemen Kak Leo. Walaupun katanya masih
demam, Kak Leo tetep lagi disidang sama orang tuanya.
Gue kasih tau ya, Nas. Tante Emila itu ngebet banget anak
sulungnya biar cepet kawin. Mungkin dua tiga hari lagi Tante
Emila datang ke rumah buat ngelamar lo."
Ampun deh! Kenapa jadi seribet ini urusannya???
.
.
.
To Be Continue
(4/7/2022)
HAYO NASA! KALAU PAPI SAKA TAU ITU GIMANA
NAS? BISA-BISA DIKERANGKENG KAMU NGGAK BISA
KEMANA-MANA NAS.
ATAU MALAH LANGSUNG DIKAWININ AJA?
HAHAHAHAHA
DUA-TIGA HARI LAGI KATANYA SI MIL DATENG KE
RUMAH MAU NEGALAMAR NASA CENAH GAISSS ....
BAKALAN KEJADIAN GAK YA?!
YODAH TUNGGUIN AJA YA DI PART BERIKUTNYA!!
JANGAN LUPA 1,3 VOTE DAN 200 KOMENTAR UNTUK
LANJUT......
BAYBAY
LUV LUV
MILL
ig : kill.mill77
SEMBILAN
Heeeuuuu apa-apaan ini kenapa cepet banget
targetnya terpenuhi pliissss.....
ya udah deh happy reading!
....
Di kamar Sana yang luas itu, yang terdapat connecting
door yang menghubungkan dengan kamar Nasa yang tidak
kalah luasnya, Nasa memutar kedua bola matanya saat
mendengar cerocosan dari saudara kembarnya yang kalau
bicara memang suka sekali tanpa jeda. Bahkan tidak
mengijinkan Nasa membantah atas tuduhan-tuduhan tidak
masuk akalnya.
"Lo kalau emang bener pacaran sama Kak Leo ya jelas
gue dukung banget, Nas. Tapi nggak gini juga caranya.
Waktu gue baru punya perasaan secuil sama Mas Bhumi aja
gue cerita sama lo. Lah ini? Kalian tidur bareng loh, Nas!
Satu kamar! Bisa-bisanya lo nggak bilang apa-apa sama
gue!"
Sana nyerocos lagi. Jelas Nasa cukup terganggu dengan
tuduhan tidur bareng yang Sana tuduhkan padanya itu.
Seakan ada konotasi lain dari dua kata itu.
"Lo udah segitu jatuh cintanya sama Kak Leo ya, Nas? Gue
tau banget lo nggak pernah begini sebelumnya. Jadi jaman
SD sampai kita gede begini, lo tuh nggak pernah punya
pacar, Nas. Dideketin cowok aja lo ilfeel. Apa ini alasannya
lo nginep di apartemen Keanu terus dan nggak pulang-
pulang ke rumah?"
Melihat Sana yang akan melanjutkan lagi cerocosannya,
Nasa memilih diam saja. Membiarkan Sana menyelesaikan
segala hal yang mau dikeluarkannya dari bibir merah
mengkilap itu sembari melipat kedua tangannya di depan
dada. Biasanya kalau Sana sudah selesai, dia akan berhenti
sendiri.
Seperti saat ini. Setelah beberapa lagi paragraph kata
yang dikeluarkannya, akhirnya Sana berhenti juga.
"Pertama ..." Nasa pun mengambil alih. "Seperti kata lo,
gue nggak pernah pacaran. Sampai sekarang pun gue
nggak punya pacar."
Sana siap berucap lagi tetapi Nasa lebih dulu mengangkat
tangannya menutup mulut saudara kembarnya itu.
"Kedua," lanjut Nasa. "Gue akuin semalam gue tidur di
apartemen Leo. Tepatnya ketiduran. Dia lagi sakit dan
sendirian di sana. Demamnya tinggi. Udah tengah malem
dan gue nggak tega untuk tinggalin dia sendirian. Lo paham
kembaran lo ini dokter kan, San?"
"Itu bukan alasan, Nasa. Lo bisa hubungin keluarganya, lo
bisa hubungi gue."
"Yang pertama kali dokter lakukan saat melihat pasien
adalah melakukan pertolongan pertama, baru hubungi
keluarga. Itu yang gue lakukan," kilah Nasa. "Sayangnya,
gue emang nggak sempet hubungi keluarganya karena
demi Tuhan! Di apartemennya nggak ada dispenser dan gue
harus masak air panas untuk kompres dia! Lo tau separah
apa gue di depan kompor kan, San?"
"Tapi nggak kebakaran kan, Nas?" Sana menatap Nasa
khawatir.
Nasa tersenyum bangga dan menggeleng. "Gue berhasil.
Walau membutuhkan waktu lama."
Terlihat Sana menghela napas leganya.
"Karena lo tau sendiri gue nggak bisa nyerah gitu aja
apalagi cuman untuk nyalain kompor. Akhirnya gue berhasil
nyalain kompor. Gue periksa kondisinya dulu, kasih
pertolongan pertama. Dan saat mau telepon keluarganya ...
gue lupa."
"Lupa? Apa-apaan itu?!"
"Gue beneran lupa. Itu udah malem banget. Tengah
malem. Gue habis zumba dan gue capek banget mau
langsung tidur. Akhirnya selesai pertolongan pertama dan
Leo udah tidur nyenyak, gue ikut tidur."
"Ck!" Sana berdecak. "Nggak mungkin banget."
Nasa mengangguk. "Emang nggak mungkin. Gue tidur
lima menit bangun karena Leo gelisah. Dia ngigau. Terus ya,
gue lupa lagi untuk menghubungi keluarganya karena gue
sibuk rawat dia."
"Nggak mungkin banget, Nas. Lo nggak mungkin lupa
kecuali lo merasa bahwa menghubungi keluarganya nggak
terlalu diperlukan karena lo bisa melakukannya sendiri,
karena dia bukan orang asing dan lo bersedia ngerawat dia.
Bukan cuman karena dia pasien tapi karena lo dan dia udah
punya kedekatan emosional, Nas."
Nasa menghela napasnya. Namun rasanya kali ini dia sulit
membantah. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Nasa semalam
sama sekali tidak ingat untuk menghubungi keluarga Leo
karena dia bersedia merawatnya sendirian.
Tapi ... Nasa tau mengapa dia melakukannya demikian.
"Itu karena dia baik."
"Baik?" Sana terperangah.
"Dia suka buatin gue makanan. Gratis. Setiap pulang kerja
dan gue kelaparan, dia buatin gue makanan enak. Gue
kenyang, hati gue senang. Nggak ada salahnya balas budi
sama orang yang udah baik sama gue, kan?"
Sana semakin terperangah. Kali ini tidak bisa berkata-
kata. Sewaktu mereka kecil, Nasa bahkan pernah hampir
diculik karena diiming-imingin kue cokelat saat mereka
berada di taman bermain. Untung Sana pintar dan langsung
berteriak saat Nasa hendak dimasukan ke dalam mobil. Papi
dan Maminya pun langsung tersadar dan menyelamatkan
mereka. Sejak saat itu pula, Nasa jadi sulit diberi izin main
ke luar sampai dia SMA.
"Lo nggak perlu mikir macam-macam. Gue sama Leo
nggak ada hubungan apapun dan walaupun gue nginep di
apartemennya—"
"Lo nginep di apartemen siapa, Nas?!"
Suara lain itu masuk. Naka yang tiba-tiba muncul dari
connecting door membuat keduanya terkejut.
"Jawab Nasa! Lo nginep di apartemen cowok? Di
apartemen Leo kakaknya Kak Adel?"
Suara Naka cukup kencang. Takut semua penghuni rumah
mendengar, Nasa pun membekap mulut adik kurang
ajarnya itu yang tidak pernah memanggilnya kakak, takut-
takut suara kerasnya terdengar sampai ke telinga sang Papi
dan dipastikan riwayat Nasa akan tamat saat itu juga.
*__*
Hari ini hari liburnya.
Seharusnya begitu.
Nasa akan berdiam diri di rumahnya dan menghabiskan
waktu bersantai di atas ranjang. Atau juga bersantai di
taman belakang rumahnya sembari makan kue coklat dan
membaca buku. Namun satu pesan masuk yang ia dapati
dari Leo membuatnya kemudian berada kembali di
apartemen laki-laki itu sore hari ini.
Di depannya, Leo duduk tenang. Wajahnya pucat meski
tidak sepucat semalam. Tadi Leo mengajaknya bertemu di
luar tapi Nasa tolak karena sebagai dokternya, Nasa tidak
mengijinkan Leo kemana-mana lebih dulu dan menyuruhnya
untuk tetap istirahat di rumah.
"Tadi pagi Bunda dan Ayah ke sini. Adel juga." Leo
membuka suaranya.
Nasa mengangguk. "Tadi pagi aku yang bukain pintu
untuk Adel," sahutnya. "Hal itu jadi masalah, ya?"
Leo menghela napasnya. Tangannya terlihat memijat
kepalanya yang masih terasa pening. Tentu dia belum fit
benar. Tapi ini harus segera diselesaikan sebelum bundanya
benar-benar turun tangan.
"Aku disidang. Bunda memaksa aku mengaku kalau kita
pacaran." Masih jelas bagaimana susah payahnya Leo
mengelak dan Bundanya yang terus memaksa. Untung
ayahnya cukup pengertian karena melihat wajahnya yang
pucat dan meminta Emila untuk melanjutkan perbincangan
mereka kala Leo sudah sembuh.
Nasa mengangguk saja. Dia sudah tau dari Sana kalau Leo
langsung disidang saat itu juga. Bahkan sebelum Nasa
sampai di rumahnya.
"Aku udah cob— uhuk ..." Leo terbatuk. Selain kepalanya
yang pening, dia sudah mulai batuk-batuk. Bahkan bersin-
bersin juga.
"Resep obat yang aku tulis di atas meja itu udah dibeli?"
tanya Nasa. Dia ingat dia memberi tahu Adel tentang resep
itu.
"Udah," jawab Leo. Tadi pagi walaupun Leo disidang,
Bundanya tetap mengurusi dengan memberi Leo makan
dan juga obat.
"Untuk siang ini udah diminum?" tanya Nasa lagi.
Leo mengangguk lagi. Bundanya pulang siang tadi setelah
memastikan Leo makan dan minum obat. Sebenarnya
memaksa Leo juga untuk pulang yang langsung Leo tolak.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana bundanya yang
akan menerornya siang malam tentang hubungannya
dengan Nasa kalau Leo pulang ke rumah sebelum memiliki
rencana. Awalnya Emila memaksanya untuk tetap ikut
pulang atau bahkan tinggal di apartemen Leo sampai
putranya itu sembuh. Namun Leo menolak dan syukurnya
Adel mengajukan diri untuk menjaga Leo yang sedang sakit.
Adel memang belum pulang. Tapi gadis itu Leo suruh pergi
dulu karena Leo ingin berbicara berdua dengan Nasa.
Syukurnya Adel menurut.
"Kamu seharusnya masih istirahat, Kak." Nasa bangkit
dari sofa. Mendekat pada Leo dan mengulurkan tangan
menempelkannya pada kening. "Cek suhu terakhir berapa?"
tanya Nasa.
Leo menggeleng. "Nggak tau."
"Di kamar aja. Kamu harus istirahat total." Nasa
membantu Leo berdiri. Laki-laki itu yang sudah tidak banyak
lagi tenaganya pun menurut. Membiarkan Nasa
membawanya ke kamar dan membantunya berbaring di
atas ranjang.
Nasa telaten mengambil thermometer yang sebelumnya
ia dapati di laci nakas dan masih berada di sana.
Dikeluarkannya dan memeriksa suhu tubuh pasiennya itu.
Sudah menurun dari terakhir kali diperiksa. Namun masih
cukup tinggi melewati batas suhu tubuh normal.
"Hal ini dibicarakan nanti. Kamu harus istirahat dulu."
Nasa merapikan selimut pria itu. Hendak berlalu tetapi Leo
lebih dulu menahan tangannya.
"Maaf," kata pria itu.
Nasa mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Aku buat keputusan sendiri tanpa bertanya pada kamu
dulu," katanya. "Aku bilang Bunda kalau kita lagi
pendekatan."
Kening Nasa mengerut dalam, bersiap memprotes Leo
tentang hal yang baru saja disampaikan.
"Bunda nggak akan puas sebelum ada jawaban. Dan kalau
aku nggak jawab, Bunda akan menyangka kita benar-benar
pacaran. Kalau Bunda menyangka begitu, bisa-bisa
keluargaku datang ke rumah kamu untuk melamar besok."
Itu adalah keputusan yang paling bagus yang bisa Leo
lakukan.
"Kamu bisa jelasin yang sebenarnya kan, Kak?"
"Udah," jawab Leo. "Bunda nggak percaya. Dia lebih
percaya dengan satpam Rumah Rasa dari pada anaknya."
Nasa berdecak tidak suka. Jelas dia tidak ingin terlibat
skandal apapun dengan orang mana pun. Nasa ingin hidup
damai sejahtera.
"Tolong, biarkan begini dulu sampai aku bisa menjelaskan
semuanya sama Bunda." Leo menatap Nasa dengan
memohon.
Ada sesuatu yang tidak ia beritahu pada gadis itu.
Tentang keuntungan yang Leo dapati dari pengakuannya
sedang melakukan pendekatan dnegan Nasa. Hal itu,
membuat Emila setidaknya sedikit lebih tenang dan
melepaskan Leo menganggap bahwa putranya akan
berjuang mengejar Nasa. Padahal yang sedang Leo lakukan
adalah mengambil aman atas dirinya sendiri.
"Bantu aku. Minimal sampai Adel menikah."
Nasa terperangah. Adel menikah kapan dia tidak tahu.
Nasa jelas tidak mau membantu. Dia bukan orang yang
sebaik itu. Namun saat hendak membuka bibirnya
meluncurkan penolakannya itu, Leo menggenggam
tangannya begitu erat. Menatapnya dengan memohon belas
kasih.
"Pernikahan Adel terhalang karena aku belum punya
pasangan. Setidaknya kalau aku bilang sedang dekat
dengan perempuan, Bunda dan Adel bisa tenang. Adel bisa
melanjutkan rencananya untuk menikah." Tanpa lagi merasa
bersalah dengan kakaknya.
"Aku memang baik. Aku merawat kamu semalaman,
bahkan aku masih memperhatikan kamu sekarang. Tapi aku
bukan orang yang sebaik itu untuk bisa menolong kamu,
Kak." Nasa menolaknya. Melepaskan genggaman tangan
Leo dari tangannya. "Kamu bisa cari seseorang yang
sungguh-sungguh kamu dekati, Kak."
Leo menggeleng. "Nggak bisa," katanya.
Laki-laki itu kembali mencoba meraih tangan Nasa dan
menatapnya dengan matanya yang sangat sayu itu.
"Ada seseorang yag aku cintai tapi nggak bisa aku miliki,"
katanya.
Wow. Melankolis sekali. Hampir saja Nasa mendengkus
kalau tidak ingat sopan santun. Namun gadis itu masih
sabar meski kini sudah ingi menyebur Leo dengan
kemarahannya.
"Kamu pikir aku nggak ada?" Nasa menarik kembali
tangannya.
"Kamu punya seseorang?" tanya Leo.
"Aku juga," balas Nasa. "Ada seseorang yang aku cintai
dan sudah aku miliki. Diriku sendiri." Gadis itu menunjuk
dirinya sendiri dengan sungguh-sungguh. "Karena aku
mencintai diriku, aku nggak akan membiarkan diriku masuk
ke dalam kebohongan kamu itu."
"Nasa ... please ..." Leo menatap semakin memohon.
Namun Nasa itu keras. Dia tidak gampang luluh apalagi
untuk membantu kebohongan seseorang yang bisa saja
merugikannya di kemudian hari.
"Kamu tampan, kamu mapan, kamu bisa cari perempuan
yang sungguh-sungguh akan kamu cintai, Kak. Atau kamu
bisa kejar perempuan yang kamu cintai itu."
Leo menggeleng. Nasa tidak mengerti.
"Aku akan melakukan apapun yang kamu mau," bujuk
laki-laki.
Nasa menggeleng tegas. Berbalik dan hendak keluar dari
kamar laki-laki aneh itu. Baru Nasa ketahui kakak dari
sahabat kembarannya itu ternyata aneh sekali. Nasa tidak
akan lagi mau berurusan dengan orang itu.
"Aku akan buatin kamu kue cokelat setiap hari."
Nasa menghentikan langkah kakinya yang hendak
membuka pintu.
"Aku akan masakin semua makanan yang kamu mau. Kue
cokelat, macaron, choho-chesse cake, cupcake cokelat,
brownies cokelat, semuanya. Aku akan masakin semua
makanan kesukaan kamu. Kapanpun kamu mau. Aku bisa
masakin kamu pancake setiap pagi, aku akan stay di dapur
dan siapin kamu segala jenis aneka makanan manis setiap
kamu pulang kerja atau bahkan lembur malam. Aku juga
bisa bawakan kamu bekal ke rumah sakit. Nggak cuman
makanan manis. Aku bisa masakin kamu ayam rica-rica,
ayam taliwang, gulai ayam, segala jenis olahan ayam. Kamu
juga suka ayam, kan?"
Sialan! Penawaran ini benar-benar sangat menggodanya.
"Bantu aku. Hanya sampai Adel menikah."
Double sialan! Nasa benar-benar tidak sanggup
menolaknya.
.
.
.
To Be Continued
(7/7/2022)
🍭🍬
😭😭😭 🙏🙏🤬 😡🥞🍔🧇🥯🫓🍕🥪🍗🌮🍰🥧🎂🍮🍫🍩🍪🧁
Nasa tahan dengan godaan apapun kecuali makanannnnn
gimana ini bestieeeee
Nasa harus apaaa?!!!
Terima aja nggak tuh tawaran kakaknya Adel yang
pinter banget ngerayu ternyataaaa
Ya udah deh. sampai ketemu di 1,3 vote dan 200
komentar yaaaps!
jangan lupa follow ig aku karena ku sering kasih
spoiler di sana ya besteeeeii
see u!
SEPULUH
Pintu kamar Leo diketuk kemudian terbuka dan
muncullah wajah Adel yang masuk ke dalam kamarnya. Leo
tersenyum kecil menyambut adiknya itu sembari bersandar
pada sandaran ranjang.
"Nasa udah pulang?" tanya Adel yang mengambil duduk
di sisi ranjang kakaknya.
Leo mengangguk. "Baru aja," katanya.
Adik angkat Leo itu kemudian mengulurkan tangan,
menyentuh kening Leo untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Tidak lama, tangan Adel pun turun kembali. Kini tatapannya
tertuju pada Leo dengan serius.
"Nasa bilang apa?" tanya Adel.
"Apa?" Leo bertanya balik.
"Kondisi Kakak. Gimana? Tadi pagi Nasa bilang ini tuh
karena Kakak kecapean, kurang tidur dan makan nggak
teratur. Wajar banget bunda marah-marah dan suruh kakak
cepet-cepet nikah. Liat, Kakak tinggal sendiri sakit begini."
Mendengar omelan adiknya itu, Leo tersenyum.
"Kamu lama-lama mirip banget Bunda," sahut Leo.
Adel berdecak. Menatap kakaknya itu sedikit kesal.
Semakin bertambah usia, Leo jadi semakin menyebalkan.
Salah satunya seperti ini. Disuruh menjaga kesehatan saja
susah sekali.
"Kakak tau kalau aku sayang banget sama Kakak, kan?"
Adel semakin serius menatap kakaknya itu.
Leo mengangguk. Tersenyum lembut dan mengusap
kepala adiknya penuh sayang.
"Kamu juga tau jelas gimana perasaan kakak," balas Leo.
"Kak!"
Leo terkekeh. "Kakak tau, Adel."
"Kalau memang kakak lagi pendekatan sama Nasa, jangan
lama-lama. Langsung lamar aja ajak nikah. Nasa itu
anaknya nggak neko-neko dari dulu. Beda sama Sana yang
suka kesana kemari, Nasa itu anak rumahan. Dia cantik, dia
cerdas, dia juga dokter. Dia pasti bisa merawat kakak
dengan baik. Dan yang paling penting, dia suka makan.
Kakak suka kan liat perempuan yang doyan makan?"
Leo tersenyum kemudian mengangguk saja.
"Aku akan tunggu sampai kakak menikah sama Nasa,"
sambung Adel.
Kali ini Leo menggeleng. "Jangan tunggu Kakak. Kamu tau
Kakak nggak suka itu kan, Adel?"
"Aku bisa menunggu, Kak. Gauda juga. Kami lagi nggak
terburu-buru. Aku juga ingin kakak bahagia."
Leo kembali mengusap kepala adiknya penuh sayang.
"Kamu telah jelas hal apa yang membuat kakak bahagia.
Cukup melihat kamu, ayah dan bunda bahagia, kakak udah
bahagia."
"Aku semakin takut sama perasaan balas budi kakak itu."
Adel menatap kakaknya itu menyorot semakin kesal.
"Kenapa kakak harus selalu memikirkan kebahagiaan aku,
ayah dan bunda sedangkan kebahagiaan kakak sendiri
nggak kakak pikirkan? Kakak kira kami senang ngeliat kakak
yang begini?"
Leo menurunkan tangannya. Terdiam menatap adiknya
itu.
"Kenapa kakak harus selalu mendahulukan kebahagiaan
kami ketimbang perasaan kakak sendiri? Aku tau kakak
ingin buka toko kue sendiri tapi kakak harus terjebak di
Rumah Rasa karena ayah udah semakin tua. Kakak terjebak
juga di yayasan karena Oma minta kakak bantu aku di sana.
Kenapa kehidupan kakak harus selalu ditumbalkan untuk
keinginan kami? Kebahagiaan kami?"
Leo meneggakkan tubuhnya. Meraih tangan Adel dan
menggenggamnya dengan erat. Memandang adiknya itu
dengan dalam.
"Apa yang sudah ayah dan bunda kasih, kamu, oma dan
keluarga kita yang lain, lebih dari apa yang saat ini kakak
berikan pada mereka. Pada kalian. Ini nggak ada apa-
apanya, Adel. Kamu jelas tau bagaimana asal usul kakak
yang nggak jelas. Nggak tau asalnya dari mana, siapa ayah
dan ibu kandung kakak ... kakak cuman anak pungut, Adel.
Anak pungut yang beruntung bisa diterima di keluarga
kalian. Kakak nggak—"
"Terus kenapa kalau anak pungut?! Karena kakak anak
pungut jadi kakak selalu menuruti semua keinginan orang
lain? Kebahagiaan orang lain?"
"Kakak—"
"Kakak bahkan merasa jatuh cinta dengan aku cuman
karena Oma menjodohkan kakak dengan aku!"
Leo menggeleng. Semakin memajukan wajahnya dan
semakin erat menggenggam tangan adiknya. "Kakak
sungguh-sungguh cinta sama kamu, Adel. Bukan karena
Oma tapi kar—"
"Cium aku sekarang." Adel mendekatkan wajahnya.
Menatap Leo dengan begitu menantang. "Buktikan kalau
kakak cinta dengan aku dan memandangku sebagai
perempuan. Cium aku sekarang!"
Leo menarik wajahnya. Melepaskan genggaman
tangannya.
"Kamu nggak ngerti." Laki-laki tu bangkit. Meninggalkan
Adel yang masih memburu napasnya menahan amarah
yang begitu mendalam.
*__*
Tengah malam.
Lagi dan lagi Nasa harus keluar dalam keadaan tubuh
pegal-pegal dan perut keroncongan. Juga kelalahan dan
mengantuk. Nasa bahkan hampir tertidur di ruang operasi
karena tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Jam
kerjanya sudah lewat tapi Nasa lagi-lagi masih harus
bertahan di tempat ini karena satu dan lain hal seperti
biasnaya hingga Nasa tidak bisa pulang lebih dulu.
"Hai, Nas. Mau langsung pulang?"
Nasa menoleh. Terlihat Raga berjalan menyamai
langkahnya. Laki-laki itu wajahnya masih segar di jam 1 dini
hari seperti ini. Tidak seperti Nasa yang sudah kusut tidak
beraturan. Bahkan berkali-kali memukul pundak yang terasa
sangat pegal.
Atas pertanyaan Raga itu, Nasa mengangguk saja. Masih
melanjutkan jalannya dengan tas ransel yang sudah klop di
pundak dan melaju menuju pintu keluar.
"Nas," panggil Raga.
"Hm?" Nasa menyahut singkat.
"Besok pagi ada acara nggak?"
"Tidur," jawab Nasa langsung.
Raga mengangguk-angguk. Nasa masuk jam dua siang.
Jam segini belum pulang pasti dia sudah sangat ingin
beristirahat.
"Pulang naik mobil?" tanya Raga lagi.
Nasa mengangguk. Keluar dari IGD seorang diri sedang
Raga bertahan di dalam. Nasa menoleh sekilas. Terlihat
Raga melambaikan tangan kepadanya.
"Hati-hati, Nas," kata laki-laki itu.
"Yo." Nasa mengangguk. Segera berlalu menuju mobilnya
dan melaju membelah jalanan yang senggang.
Seperti biasanya, dia kelaparan. Dan kenapa pula setiap
kelaparan pikiran Nasa hanya tertuju pada satu tempat
yang saat ini menjadi tujuannya. Nasa benar-benar heran
dengan selera perutnya.
Mobil yang melaju beberapa menit di jalanan itu akhirnya
berhenti di tempat biasanya parkir. Nasa keluar dan kakinya
melangkah dengan sendirinya menuju suatu tempat yang
sudah masuk ke dalam pikirannya begitu saja.
Kemudian di sana lah Nasa berada. Duduk di sebuah stool
yang sudah akrab dengannya sembari memandangi laki-laki
berambut gondrong yang saat ini diikat kuda itu tengah
memanggang sebuah brownies di dalam oven.
Harum makanan ini luar biasa menggoda!
Leo, si koki yang baru saja membuka oven saat denting
oven menandakan kue buatannya sudah matang itu
mengelurkan Loyang dari dari dalam sana. Membiarkan
brownies berada di dalam Loyang tanpa repot-repot
mengeluarkannya apalagi menyajikannya ke hadapan tamu
tak undangnya ini.
"Kamu mau?" tanya Leo.
Nasa langsung mengangguk.
Leo tersenyum. Justru menjauhkan Loyang itu dari
hadapan Nasa. Laki-laki itu melangkah menuju gadis yang
memasang wajah protesnya itu. Menumpu kedua lengannya
pada meja bar dan pandangannya menatap Nasa dengan
berusaha menyembunyikan senyum tipisnya.
"Aku beli, bukan minta. Kenapa kamu pelit banget?" Nasa
memprotesnya. Dia sudah ditolak Leo saat datang ke
tempat ini tapi Nasa memaska masuk karena mencium
harum lezat dari dalam.
"Sayangnya aku nggak jual makanan ini."
"Aku beli dua kali lipat dari harga pasaran!"
Leo menggeleng.
"Tiga kali lipat?"
Leo menggeleng lagi.
"Terus maunya berapa kali lipat?"
Leo menarik sudut bibirnya. Kemarin Nasa menolaknya
dan kali ini Leo yang melakukannya. Leo sudah sangat
memohon pada gadis itu. Menurunkan seluruh harga dirinya
agar Nasa mau membantunya. Tapi yang terjadi? Nasa
hanya menghentikan langkahnya sementara tapi tidak
berbalik sama sekali.
"Kamu tau kan, bisa dibayar dengan apa brownies ini?"
Nasa berdecak. Selain aneh, Leo ini cukup menyebalkan.
Nasa juga bodoh sekali. Lebih tepatnya perutnya bodoh
sekali. Dari seluruh bakery yang ada di dunia ini, dari
seluruh banyaknya chef yang membuat makanan manis,
perutnya justru mengidolakan masakan Leo. Benar-benar
keterlaluan!
Namun untuk mengubah pikirannya, jelas tidak akan Nasa
lakukan. Dia sudah berpegang teguh. Walau tawaran dari
Leo itu teramat sangat menggodanya, tetapi Nasa tidak
akan luluh. Membuktikan pendiriannya itu, Nasa pun
bangkit. Menatap Leo dengan kesal sekali dan
menghentakkan kaki sebelum menarik ranselnya dan
melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Nasa sudah memegang handle pintunya. Namun kaki
gadis itu berhenti. Membalikkan tubuh dan kembali
memandang Leo yang masih setia pada posisinya.
"Cobain sedikit aja nggak boleh?" pinta gadis itu. Sedikit
memasang wajah memohonnya.
Namun ternyata, Leo itu tidak punya hati. Karena laki-laki
itu justru menggeleng menolaknya. Membuat Nasa
berdecak kesal dan benar-benar membuka pintu. Keluar dari
sana dengan membanting pintu menutupnya.
Leo geleng kepala di tempatnya. Senyum cukup lebar
terbit di bibirnya menatap bagaimana perilaku
menggemaskan dokter yang merawatnya kemarin itu.
Belum sempat menyurutkan senyumnya, pintu kembali
terbuka dan Nasa masuk ke dalam dengan langkah lebar
kembali mendekat menuju meja bar tempat Leo berada.
"Cuman sampe Adel nikah, kan?" tanyanya tiba-tiba.
Meski masih sedikit syok, tetapi Leo tetap mengangguk.
"Deal! Aku terima tawaran nggak masuk akal kamu." Nasa
mengulurkan tangannya, menatap Leo yang masih terpaku
di tempatnya dengan menggebu-gebu.
.
.
.
To Be Continue
9/7/2022
Ampun deeeeeh kok cepet banget???
Tapi makasi ya udah antusias dengan cerita ini
hehehehehe
aku nggak mau kasih target vote dulu ya ges
soalnya lagi di luar kota takut nggak bisa menepati
janji :')
sampai ketemu lagi bestie!!
selamat hari raya idhul adha juga!
luv luv
Mill
SEBELAS
"Jadi ..."
"Biarin aku makan dulu."
Leo pun menutup kembali bibirnya. Membiarkan Nasa
yang memakan brownies buatannya itu dengan tenang.
Gadis itu memakan lahap seperti biasa. Leo pun akhirnya
hanya berdiri sembari menopang dagu pada meja bar.
Menatap Nasa yang makan dengan tidak sama sekali mau
melihatnya.
Nasa yang sedang makan itu memiliki pikiran lain. Selain
lezatnya kue yang tengah dimakannya itu, Nasa juga
memikirkan keputusan mendadak yang baru saja dibuatnya.
Apakah keputusannya benar? Apa Nasa akan menyesalinya
kemudian hari?
Tapi ...
Sial! Kue sialan ini luar biasa lezat sehingga menit
berikutnya, Nasa sudah tidak memikirkannya lagi. Rasanya
memakan makanan Leo setiap hari mampu menutupi
seluruh rasa penyeselannya jika benar di suatu saat nanti
Nasa akan menyesalinya.
Leo mengulurkan serbet saat melihat Nasa yang sudah
menghabiskan brownies di dalam piringnya. Tidak sampai
satu Loyang persegi panjang yang Leo siapkan untuk gadis
itu meski sejak tadi Nasa kerap melirik-lirik. Leo tidak ingin
gadis itu kekenyangan hanya karena melahap satu Loyang
persegi panjangnya.
"Itu untuk kamu semua, tapi dimakan besok," kata Leo.
Nasa hanya diam saja. Mengambil serbet dan mengelap
mulutnya. Mengambil minum yang Leo sediakan kemudian
menandaskannya.
"Aku suka brownies yang hangat," ujar Nasa.
"Besok aku hangatkan di oven."
Nasa pun mengangguk. Gadis itu pun mulai bersiap untuk
mendengarkan perjanjian seperti apa yang sebenarnya tadi
ia setujui demi beberapa slice brownies?
"Bisa kita mulai?" Nasa sudah tidak sabar. Dia ingin
segera meninggalkan tempat ini dan menjatuhkan tubuh di
ranjang apartemen Keanu yang empuk.
Leo pun mengangguk. "Sebenarnya kamu nggak perlu
melakukan apapun. Kamu hanya perlu setuju untuk aku akui
sebagai gadis yang sedang aku dekati."
Nasa mengangguk-angguk. "Aku setuju."
"Tapi mungkin ... Bunda akan nekad menemui kamu." Leo
sebenarnya sedikit mengkhawatirkan hal ini. "Kamu nggak
perlu gimana-gimana. Cukup menjadi Nasa seperti
biasanya."
Nasa mengangguk lagi. Meski masih tidak mengerti arti
dari Nasa seperti biasanya itu seperti apa, tapi ya, akan
Nasa lakukan. Lagipula, tentu dia tidak sekali dua kali
bertemu ibunya Leo. Sebelum ini juga Nasa sering bertemu
apalagi dulu sewaktu Sana masih kuliah dan sering bermain
ke rumah Adel. Tidak jarang Nasa menjemputnya di sana.
"Ada lagi?" tanya Nasa.
"Besok kamu mau sarapan apa?"
Senyum Nasa terbit. Akhirnya Leo mengangkat
pembicaraan yang Nasa sukai juga.
"Besok aku masuk kerja jam 2 tapi biasanya jam 1 udah
berangkat. Kira-kira abis makan siang. Aku pemakan segala.
Tapi buat besok pagi, aku mau waffle with banana and
choco sauce."
"Deal."
"Dua porsi."
Kening Leo sedikit mengerut. "O—oke, deal."
Nasa tersenyum semakin sumeringah.
"Browniesnya gimana?" Mereka masih punya setengah
Loyang lagi bukan?
"Aku habisin sekarang aja nggak bisa?"
*__*
Bel apartemennya berbunyi. Nasa baru saja
menyelesaikan workout singkatnya sebelum kemudian
melangkah membuka pintu. Di sana Leo, terlihat rapi
dengan kemeja lengan panjangnya juga vest berwarna abu-
abu serupa dengan celananya dan juga dasi yang
melingkari leher. Rambut gondrongnya juga terikat rapi di
belakang. Ini pertama kalinya Nasa melihat Leo yang sering
mengenakan apron dan pakaian kasual menjadi Leo yang
formal seperti ini.
Well, lumayan.
"Sarapan kamu." Leo menyodorkan sebuah kotak bekal
pada Nasa.
Nasa semakin membuka lebar pintu apartemennya
sebelum menerima kotak bekal itu dari tangan Leo.
"Dua porsi, kan?" tanyanya. Kotak bekal ini terlihat kecil
soalnya.
Leo terkekeh singkat sebelum kemudian mengangguk.
"waffle with banana and choco sauce. Dua porsi sesuai
pesanan."
Nasa membuka kotak bekal itu memastikan kembali
isinya. Kemudian saat melihat waffle yang masih hangat
dan juga tampak menggirukan itu, Nasa benar-benar sudah
tidak sabar untuk melahapnya.
"Aku ada rapat di yayasan. Seharusnya sebelum jam
makan siang udah bisa balik ke restoran. Siang nanti kamu
masuk langsung ke dapurku aja," ujar Leo.
Nasa menutup kotak bekalnya kembali. Mengamati Leo
sekali lagi yang masih tetap tampan seperti tadi. Rapi dan
wangi. Tentu beda dengan Nasa yang masih mengenakan
short legging beserta sport branya dan juga masih
berkeringat. Ada treadmill milik Keanu di dalam yang Nasa
gunakan untuk membakar kalori.
"Aku mau ayam gulai," kata Nasa.
Leo mengangguk.
"By the way, Kak Leo tau dari mana aku suka ayam?" Ini
belum Nasa tanyakan sebelumnya. Well, dia cukup takjub
Leo mengetahui bahwa selain kue coklat, Nasa juga
menyukai ayam. Ayam itu ada tingkat kedua setelah
makanan manis yang Nasa sukai.
"Anin," jawab Leo.
"Anin?" Si bocil menyebalkan itu yang memberi tahu?
"Dia bilang Tante Nasa sering ambil jatah ayam
gorengnya."
"Enak aja!" Nasa jelas tidak terima. Si bocil menyebalkan
itu yang selalu mengambil jatah makanan Nasa. Bukan
hanya ayam, tapi juga kue-kue yang Nasa sediakan untuk
dirinya sendiri. Terpaksa harus berbagi dengan Anin yang
memiliki selera makanan yang sama dengannya. "Dia yang
selalu ambil jatah makanan aku asal Kak Leo tau!"
Leo terkekeh. Dia pernah melihat dengan mata kepalanya
sendiri Anin dan Nasa yang saling bertengkar berebut kue
coklat di rumahnya beberapa tahun yang lalu. Selain itu,
Anin juga kerap bercerita tentang Nasa jika mereka
bertemu. Meski Leo tidak lagi sering bertemu Nasa sebelum
ini, dia banyak tahu soal gadis itu dari Anin yang suka
bercerita banyak hal.
"Ya udah aku berangkat kerja dulu," pamit Leo.
"Kalau ketemu Anin di sekolah nanti, bilang sama dia ikan-
ikannya bakalan aku makan semua."
Leo terkekeh lagi. Sepertinya akhir-akhir ini dia banyak
tertawa.
"Aku pergi dulu." Leo pun balik badan. Beranjak
meninggalkan Nasa yang masih memasang wajah kesal
tidak terima atas pengaduan Anin yang jelas tidak sesuai
dengan kenyataan.
"Jangan lupa dibilangin Anin, Kak!" teriak Nasa pada Leo
yang hanya mengangkat tangannya tanpa menoleh.
Leo harus benar-benar menyampaikan itu agar Anin
merasa terancam dan was-was dengan ikan-ikan miliknya.
Nasa tidak main-main. Pokoknya dia harus berhasil
memakan ikan di depan Anin. Karena semenjak Sana
menikah dengan Bhumi dan Anin menjadi keluarganya juga,
di dapurnya jarang sekali tersedia ikan sebagai lauk makan.
Papinya sekarang sudah lebih mencintai Anin ketimbang
Nasa karena Saka lebih memilih menurut pada Anin untuk
tidak mengkonsumsi ikan saking sayangnya keponakan
nakalnya itu pada ikan-ikan yang ada di dunia ini.
*__*
"Nas," panggil Liana.
"Hm ..."
"Lo kenapa?"
"Sakit gigi," jawab Nasa. Gadis itu meringis memegangi
pipi sebelah kirinya. Giginya berulah lagi. Ini pasti karena
Nasa sudah kelepasan dan terlalu banyak makanan manis
sebulanan ini.
"Udah diperiksa?" tanya Liana.
"Nanti deh." Nasa menutup pintu lokernya. Kemudian
keluar dari ruang ganti dengan snelli dan juga stetoskopnya
yang bertengger di leher.
Gadis itu melangkah menuju IGD. Di sela langkahnya itu,
ponsenya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Leo yang
membuat senyum di bibirnya mengembang.
From : Kak Leo
Macaron?
To : Kak Leo
DEAL!
From : Kak Leo
Waiting you home :)
Setelah membaca balasan terakhir dari Leo, Nasa kembali
memasukan ponsel ke dalam saku snellinya. Sudah banyak
pasien menunggunya di IGD dan Nasa akan berkutat
dengan pekerjaannya sampai 7 jam kedepan sebelum
kemudian pulang.
Bukan ke rumahnya, tapi ke dapur pribadi Leo.
Dan semoga saja Nasa bisa pulang tepat waktu hari ini
karena dia sudah tidak sabar menyantap makanan manis
yang kali ini macaron yang Leo buatkan untuknya.
Kurang lebih tiga bulan terlewati. Nasa menajalani
perjanjian sebegai gadis yang sedang Leo dekati. Seperti
yang Leo katakan, Tante Emila memang mendatangi Nasa
beberapa kali. Tapi tentu berhasil Nasa lalui dengan baik.
Apalagi kedatangan Ibunya Adel dan Leo itu juga tidak
begitu menganggu. Emila hanya mengajak Nasa berbincang
ringan meski banyaknya lebih 'menjual' Leo di depannya.
Membeberkan segala sikap baik Leo pada Nasa.
Selain itu, Emila juga sering membawakan makanan kalau
datang. Maka dari itu tentu saja Nasa akan menyambutnya
dengan senang hati.
Tiga bulan yang dijalaninya ini ... terasa begitu manis
seperti makanan kesukaannya.
*__*
Nasa membuka pintu dan melihat Leo tengah terbaring di
atas sofa dengan sebuah majalan di tangannya. Laki-laki itu
menoleh dan tersenyum saat melihat kedatangan Nasa di
sana. Meletakan majalahnya dan menatap Nasa yang
melangkah mendekat penuh senyum. Dapat dilihat Nasa
juga Leo yang mengambil baby macaron di atas meja lalu
menjapitnya setengah dengan bibirnya.
"Baby macaron?" Nasa sudah mendekat. Sudah
meletakan ranselnya di sofa yang berbeda dan juga
melepaskan jaketnya. Gadis itu naik dan tengkurap di atas
tubuh Leo yang seakan sejak tadi menunggunya. Lalu tanpa
berlama-lama, Nasa mengambil alih macaron yang ada di
bibir Leo untuk masuk ke dalam mulutnya sendiri.
Leo mengamati gadis itu yang mengunyah di atas
tubuhnya. Mengusap pipinya yang menggembung juga
tidak lupa menyampirkan rambut pendek Nasa yang
terjatuh ke belakang telinga. Dia selalu menyukai Nasa jika
sedang mengunyah seperti saat ini.
"Makan sambil tiduran itu bisa memperlambat pergerakan
makanan untuk menuju lambung setelah ditelan dan lama
kelamaan menumpuk, yang pada akhirnya jadi
memperlambat kerja sistem pencernaan."
"Iya Bu Dokter." Leo terkekeh.
"Chef Leo nih nakal. Baby macaron mana bikin kenyang."
Nasa bangkit dari atas tubuh Leo. Duduk di pinggiran sofa
dan mengambil lagi satu buah macaron untuk kembali di
lahapnya.
Leo ikut duduk. Dengan kaki yang berselonjor di atas sofa
kemudian memeluk tubuh Nasa yang masih asyik
mengunyah dari samping. Terasa manis dan menenangkan.
Tidak lupa sesekali diciumnya pipi menggembung itu
dengan gemas.
"Sshh ..." Nasa mendesis sakit memegangi pipinya yang
baru saja Leo kecup sehingga menekannya cukup kencang.
"Kenapa?" Leo panik, menjauhkan wajahnya dan menatap
Nasa yang kemudian menelan makanannya.
"Sakit gigi."
Leo mengusap pipi gadis itu. "Udah periksa?" tanyanya.
"Belum."
"Ya udah, besok aku temani ke dokter gigi."
"Nggak usah," tolak Nasa. "Aku sendiri aja besok. Aku
kerja di rumah sakit kalau kamu lupa."
Leo menghela napasnya. Namun pada akhirnya
mengangguk mengijinkan. Dipeluknya lagi Nasa yang
kembali mencomot baby macaron buatannya.
"Puasa ya," ujar Leo. "Tiga hari aja."
Puasa yang dimaksud adalah puasa makanan manis. Ini
kerap Nasa lakukan kalau dia sudah sakit gigi seperti ini.
"Masih ada ayam. Aku masakin gulai ayam kesukaan
kamu."
Nasa cemberut. Menatap makanan lezat di depannya
dengan sedih. Jadi malam ini adalah terakhir kali dia bisa
merasakan lezatnya kue-kue ini.
"Coba sini liat." Leo memutar sedikit wajah Nasa untuk
berhadapan dengannya. Mengusap lagi pipi gadis di
depannya itu. Sebelum kemudian mengecup bibirnya
dengan lembut.
Tiga bulan ini ... mereka berada dalam sebuah hubungan
yang tidak biasa.
Tanpa nama,
Dan semoga saja ...
Juga tanpa rasa.
.
.
.
To Be Continue
(18/07/2022)
Whoaaaa apa-apaan ini Mil?!!!
HAHAHAHAHA
Chef Leo kenapa jadi beginiiiiii
Nasa jugaaaaa
kira-kira kenapasiiiii???
dah lah capek!
apaan sih aku gajelas wkwkwk
ya udah intinya ...
sampai ketemu nanti!!
mau challenge vote komen lagi nggak?
1,4 vote dan 200 komen untuk next deh!
bay bay!!!
Luv Luv
Mill
ig : kill.mill77
DUABELAS
Flashback on.
Satu bulan yang lalu ...
"Ayah dan Bunda belum cukup untuk Kak Leo?" Adel
mengikuti kesana kemari langkah Leo yang sejak tadi
sedang bersiap. Merapikan rambutnya di depan cermin
setelah memasang dasi dan juga vestnya.
Leo masih pada kegiatannya. Tidak menghiraukan Adel
yang ia tahu tengah memasang wajah marahnya di sana.
Leo tau Adel marah dan sangat tidak menyukai apa yang
akan Leo lakukan setelah ini. Tapi ini adalah keharusan yang
Leo lakukan. Tidak ada yang bisa menghalanginya termasuk
itu adalah Adel sekalipun.
"Kak, lihat aku!" Adel memotong langkah Leo yang akan
berlalu dari depan cermin. "Aku juga nggak cukup untuk
kakak? Kami belum cukup untuk kakak?"
Leo menatap adiknya itu. Mengulurkan tangan dan
mengusap kepala Adel penuh sayang.
"Kamu tau seberapa besar rasa sayang kakak ke kamu,
Adel," ujar laki-laki itu.
Adel menggeleng. "Kalau kakak sayang, kenapa kakak
masih begini?"
Leo menghela napasnya. Menarik tangan dari kepala Adel
dan mengambil tas kerjanya sebelum kemudian keluar dari
kamarnya. Dia sudah terburu-buru.
Leo tau Adel kecewa padanya. Ayah dan Bundanya juga
pasti akan kecewa kalau saja tau apa yang Leo lakukan di
belakang mereka. Tetapi Leo tidak memiliki pilihan lain. Ini
adalah hal yang harus dilakukannya. Tidak ada siapapun
yang bisa menghalanginya termasuk itu ayah, bunda, atau
bahkan Adel.
Laki-laki itu melangkah menuju basement untuk menuju
kendarannya. Turun dari lift dan mencari mobilnya. Bukan
mobil yang Leo lihat, laki-laki itu justru berpapasan dengan
Nasa yang baru saja keluar dari mobilnya. Leo mendekat,
menghampiri gadis itu dan tersenyum sebisanya.
"Berangkat seperti biasa?" tanya Leo.
Nasa mengangguk dengan datar. Dia baru saja
mengambil barangnya yang ketinggalan di mobil. Gadis itu
memerhatikan Leo yang terlihat rapi tidak seperti biasanya.
Penampilan yang Nasa lihat seperti dua bulan lalu di depan
apartemennya.
"Mau ke yayasan?" tanya Nasa.
Leo menggeleng. "Ada urusan di tempat lain."
Nasa mengangguk saja. Berhenti bertanya basa-basi yang
pasti basi sekali. Lagi pula dia tidak ingin tahu kemana Leo
akan pergi dengan pakaian serapi ini kecuali ke yayasan.
"Nasa maaf, sepertinya aku nggak bisa masak makan
siang untuk kamu nanti," kata Leo.
Wajah Nasa terlihat hendak protes. Namun pada akhirnya
hanya cemberut saja. Dua bulan ini dia sudah terbiasa
memakan makanan Leo baik itu sarapan ataupun makan
siang, ataupun makan malam. Bahkan tadi pagi Leo masih
membawakan sarapan ke unit apartemnnya.
Nasa kecewa. Namun ya, Leo pasti memiliki kesibukan lain
selain hanya memasak makanan untuknya, kan? Jadi ya
sudah. Nasa pun hanya mengangguk saja walau sedikit
tidak ikhlas.
"Ini kunci dapur." Leo mengulurkan sebuah kunci yang
baru saja laki-laki itu ambil dari saku celananya. "Di kulkas
ada choco cake untuk kamu. Tapi jangan dimakan sekaligus
ya. Untuk siang atau nanti malam aja. Kamu juga baru
sarapan tadi."
Nasa langsung menerima kuncinya. Baiklah, tidak apa-apa
jika tidak makan siang buatan Leo karena pria itu masih
cukup mengingat membuat kue coklat kesukaannya.
Apalagi, dua minggu lalu terpaksa Nasa harus puasa makan
makanan manis karena sakit giginya kumat.
"Aku nggak tau pulang kapan. Bisa jadi nggak pulang.
Kamu bisa langsung masuk aja untuk ambil makanan," kata
Leo lagi.
Nasa mengangguk. Gadis itu bersiap melangkah pergi
sebelum kemudian tangan Leo justru meraih lengannya.
"Kenapa?" tanya Nasa. Melepaskan tangan Leo dari
lengannya.
"Sorry." Leo menarik tangannya. Dia ingat jelas Nasa tidak
pernah suka disentuh sembarangan.
"Nasa," panggil Leo.
"Hm?"
"Ada hal yang harus aku lalui hari ini. Bisa kamu yakinkan
aku bahwa semuanya akan baik-baik aja?"
Nasa menatap laki-laki di depannya itu seolah menerka
apa yang baru saja Leo katakana. Tatapan Leo, seakan
menyimpan sebuah hal lain yang sebenarnya tidak ingin
Nasa ketahui lebih dalam. Namun sorot kesendirian dari
matanya membuat Nasa tidak tega.
Gadis itu tersenyum. Menepuk pelan lengan kekar Leo.
"Kalau pun semua nggak berjalan dengan baik, kamu
masih punya tempat untuk bersandar, kamu masih punya
rumah untuk pulang. Kamu nggak sendiri, Kak."
Setelahnya, Nasa benar-benar melangkah pergi
meninggalkan Leo yang terpaku di tempatnya. Laki-laki itu
merasakan hawa baru yang memasuki jiwanya.
*__*
Seperti biasa, sepulang kerja Nasa akan memarkirkan
mobilnya di parkiran apartemen sebelum kemudian
menyebrangi jalan menuju Rumah Rasa. Pukul 9 lewat kira-
kira. Lampu Rumah Rasa masih menyala. Nasa juga sempat
bertemu dengan satpam penjaga yang kalau bertemu
dengannya memasang wajah cemas-cemas takut. Tidak
heran. Satpam itu pernah Nasa pelototi karena bisa-bisanya
mengadu pada Bundanya Leo bahwa Nasa sering datang ke
dapur pribadi putra sulung pemilik restoran itu.
Nasa merogoh kunci yang tadi pagi Leo berikan
kepadanya. Leo tidak mengirimi pesan padanya malam ini
dan kemungkinan besar, Leo tidak ada di dapur. Tapi siapa
peduli. Nasa hanya butuh mengambil choco cake buatan
chef itu dan melahapnya dengan nikmat.
Nasa temui kegelepan saat membuka dapur. Seperti
dugaannya, Leo tidak ada di dalam. Gadis itu masuk dan
menyalakan lampu. Langsung menuju kulkas dan
sumeringah saat melihat choco cake kesukaannya ada di
sana. Masih full bulatannya. Harusnya Nasa memakannya
semua malam ini. Tapi tidak bisa. Nasa tidak mau sakit gigi
lagi. Jadi yang dilakukannya hanyalah mengambil piring dan
juga garpu beserta pisau. Nasa hanya bisa memakan tiga
slice saja. Baiklah, dua slice saja.
Gadis itu pun duduk santai di atas sofa. Memakan
makanan dengan suasana sedikit hening di luar sana.
Pegawai masih ada beberapa dilihat dari lampu yang masih
menyala. Mungkin sedang closing dan bersiap untuk pulang.
Ruangan ini terasa sepi meski ada beberapa orang di luar.
Nasa sendirian.
Leo.
Kemudian kesendiriannya mengingatkan Nasa pada
tatapan Leo di basement pagi tadi. Gadis itu berhenti
menyuap. Dua bulan ini, mereka rutin bertemu. Apalagi saat
malam hari. Karena Nasa tidak mungkin absen untuk
datang. Meski seringnya saat Nasa datang Leo ada di
Rumah Rasa untuk closing bersama para pegawainya. Nasa
dibiarkan sendiri makan di dapur dan Leo baru akan datang
saat pegawainya sudah berpulangan.
Mereka dekat, tapi tidak akrab. Bersama hanya saling
diam karena Nasa sibuk makan dan Leo sibuk entah
melakukan apa Nasa tidak tahu. Namun keberadaan Leo di
sekitarnya, cukup membuat Nasa merasa familiar dan
terbiasa. Leo yang kalem dan tenang membiarkannya
makan. Tidak banyak bicara dan membuat Nasa betah
berlama-lama di dekatnya. Leo yang selalu tersenyum dan
menatapnya dengan mata yang mau tidak mau Nasa akui
dia menyukainya.
Leo memiliki mata jernih dan indah. Mata yang tadi pagi
dilihatnya seperti kehilagan arah.
Pintu terbuka dan Nasa menatap sedikit terkejut ke sana.
Dihadapkan dengan Leo yang datang dengan wajah babak
belur. Nasa mengedip beberapa kali menatap laki-laki itu.
Leo tanpa senyum, berjalan masuk menuju kitchen bar dan
mengambil segelas air putih. Menenggaknya hingga tandas
sebelum mendudukan diri pada kursi bar dan menjatuhkan
wajahnya di atas meja.
Dia tidak tersenyum dan dia tidak menyapa Nasa seperti
biasa.
Nasa membiarkan Leo yang seperti itu beberapa saat
sebelum gadis itu pun bangkit dari kursi. Berjalan menuju
Leo dan tanpa kata meraih tubuhnya untuk dibawanya ke
atas sofa. Leo memejamkan matanya. Namun Nasa tau dia
masih tersadar dengan langkah diam mengikuti Nasa yang
membopongnya menuju sofa.
Nasa mengambil kotak obat yang ada di dapur. Kembali
lagi pada sofa untuk mengobati memar-memar di wajah
tampan chef favoritnya itu. Mereka diam. Sampai Nasa
selesai dengan kegiatannya dan Leo membuka kedua
matanya.
"Semuanya nggak berjalan baik," kata laki-laki itu.
Nasa diam mengamati mata Leo yang tampak sangat
sayu.
"Bisa peluk aku, Nasa? Aku nggak punya tempat untuk
bersandar."
Tanpa kata, Nasa menariknya ke dalam dekapan.
Membiarkan pria ini menyandarkan kepala pada dadanya
dan melingkarkan lengan di pinggangnya.
"Never be mine. But feels like home," gumam Leo.
*__*
Pagi hari Nasa terbangun dalam dekapan Leo. Tidur di
atas sofa tanpa ia sadari sebelumnya. Piring berisi kue
coklat yang baru Nasa makan separuh masih ada di atas
meja. Gadis itu pun bangkit. Turun dari sofa dan mengambil
piring itu kemudian diciumnya kue coklat itu.
Semoga masih bisa dimakan.
Dengan membawa piring, Nasa berjalan menuju dapur.
Memasukan kue pada kulkas sebelum kemudian melangkah
menuju kamar mandi. Gadis itu membasuh wajah.
Mengambil sikat gigi baru yang ada di dalam etalase di
kamar mandi. Setelah selesai bebersih, Nasa keluar.
Dilihatnya Leo masih pulas di atas sofa.
Gadis itu mendekat. Mengamati memar-memar di wajah
tampan pria di hadapannya. Semakin membiru sesuai
prediksinya. Tadi malam Nasa hanya memberikannya salep
saja. Juga mengobati luka robek di bibirnya.
Sebenarnya siapa yang memukuli Leo sampai bonyok
begini?
Nasa memeriksa tubuh pria itu. Memegang punggung
belakang Leo dan terdengar rintihan pria itu. Tadi malam
Nasa tidak sempat memeriksanya karena Leo memeluknya
erat sekali seakan tidak mau ditinggal. Nasa pun membuka
sedikit kemeja Leo agar bisa melihat memar di punggung
belakang laki-laki itu juga. Kemudian memeriksa semua
kondisi bagian tubuh lain dan kembali mengambil kotak
obat dan kembali mengobati memar di punggung pria itu.
"Sshh ..." Leo mendesah nyeri. Matanya kini terbuka dan
mencoba membalikan tubuhnya tetapi tidak berhasil karena
Nasa menahannya.
"Diam," larang gadis itu.
Leo pun diam. Membiarkan Nasa menyelesaikan
pekerjaannya sebelum kemudian pria itu duduk. Saat Leo
sudah duduk tegap, hal itu dimanfaatkan Nasa dengan
membuka seluruh kancing kemejanya dan melepaskan
pakaian yang melekat pada tubuh pria itu. Memeriksa sekali
lagi tubuh Leo dengan jelas.
"Water heaternya udah aku nyalain. Mandi dulu," ujar
gadis itu.
"Boleh aku cium kamu?" Leo justru bertanya hal yang
kurang ajar.
Jika biasanya Nasa akan langsung memukul orang kurang
ajar seperti ini tanpa ampun, namun kini Nasa hanya
menggeleng menjawab Leo dengan mata indahnya itu yang
masih terlihat sendiri. Kesepian, sendirian, hilang arah, dan
ketakutan.
"Aku nggak mau dicium dengan orang yang ada luka di
bibirnya," jawab Nasa.
Leo menyentuh sudut bibirnya yang robek. Pria itu
membangun senyum tipisnya. Kemudian berdiri dan
meninggalkan Nasa melangkah menuju kamar mandi.
Sepeninggalan Leo, Nasa berjalan menuju kulkas. Dia
kembali mengambil kue coklat yang tadi baru ditaruhnya.
Mencium kue itu dan mencicipinya sedikit. Setelah dirasa
kue ini masih bisa dimakan, Nasa kembali melahapnya.
Ah, akhirnya dia bisa memakan kue lezat ini setelah
kedatangan Leo yang babak belur tadi malam menunda
Nasa melakukannya. Gadis itu memakan dengan lamat-
lamat. Sembari juga mengambil susu di dalam kulkas. Nasa
menuang susunya. Juga susu untuk Leo. Dia sebenarnya
ingin menyajikan yang hangat. Tapi Nasa tidak berani
menyalakan kompor di sana. Lagi pula, susu dingin juga
nikmat.
Waktu demi waktu yang terlewati dengan Nasa yang
hampir menghabisi tiga slice choco cake kesukaannya itu di
pagi hari. Nasa pikir dirinya cukup hanya memakan
beberapa sendok sambil menunggu Leo memasak sarapan
untuk mereka. Tapi ternyata perutnya tidak bisa menunggu.
Sampai Leo keluar kamar mandi dengan bathrobe mandinya
pun Nasa masih mengunyah makanannya.
"Susu." Nasa menggeser gelas susu yang tadi ia siapkan
untuk Leo.
Leo mendekat. Tersenyum tipis di sisi Nasa dan
menenggak susu itu setengah. Laki-laki itu lalu
memiringkan tubuhnya. Menatap Nasa yang asyik melahap
cake nya. Sangat nikmat menyisakan sisa-sisa coklat di
sudut bibirnya.
Leo terkekeh kecil. Mengulurkan tangan dan mengusap
sudut bibir Nasa yang berlumur coklat. Gadis itu sontak
memundurkan wajah, membuat Leo menyadari
kelakuannya.
"Sorry." Leo kembali teringat dengan Nasa yang tidak
suka disentuh sembarangan. Ah, kenapa dia selalu lupa hal
itu?
Nasa menatap wajah bersalah Leo. Kemudian mengambil
sesendok kue dan melahapnya lagi. Kali ini, Nasa sengaja
menyisakan sisa-sisa coklat di bibirnya, lalu memajukan
wajah menatap Leo yang kembali tersenyum.
Leo kembali mengulurkan tangan. Mengusap sudut bibir
Nasa yang kali ini tidak refleks memundurkan kepala. Gadis
itu menerima usapan tangan Leo dengan senang hati.
Membiarkan tangan itu berlama-lama di atas bibirnya.
Mengelusnya dan memerhatikannya dengan tatapan lain.
"Boleh aku cium kamu?" bisik Leo kecil.
Nasa meraih dagu Leo dengan tangannya. Membawa
wajah itu ke atas dan memandanginya. Melihat sudut bibir
Leo yang robek. Pria itu pun menyadari arah tatapan Nasa.
Menyentuh sudut bibir terlukanya dengan pasrah.
"Nggak boleh, ya?" Nasa tadi sudah melarangnya. Dia
tidak mau dicium dengan laki-laki yang ada luka di bibirnya.
"Boleh." Namun Nasa kini berkata lain.
Nasa mengamati jelaga jernih di hadapannya. Seakan ia
ingin menyelam di sana. Menggantikan semua perasaan
buruk yang Leo rasakan. Kemudian diam menerima
sentuhan bibir Leo pada bibirnya. Sebelum akhirnya
menutup mata dan meresapi semua rasa yang ia rasakan.
Ini ciuman pertamanya dan Nasa ... menyukainya.
.
.
.
To Be Continued
(19/07/2022)
🌝🌝
Gercep banget ya kalian
Baru mau bikin part baca duluan di KaryaKarsa eh
malah udh tembus aja :"))
Sehari tembus loh 😭😭😭
Mantap sekali lah emg bala2 Nasa 😭😭
🥲
Part selanjutnya gak pakai target lagi deh
Sampai ketemu Minggu depan!
🥳🥳
Ingetin aku hari Selasa harus update wkwkwkwk
Pantengin ig juga karena bakalan ada spoiler
See u^^
Luv Luv
Mill
Ig : kill.mill77
TIGABELAS
Di pagi hari yang cerah ini seharusnya Nasa tidak berada di
sini.
Di sebuah dapur bersama dengan seorang chef yang
wajahnya babak belur. Ini hari liburnya. Seharusnya Nasa
pulang ke rumah untuk bertemu keluarganya walau
sebenarnya dia pasti hanya akan bermalas-malasan di
kamar atau menonton pertengkaran Naka dan Kana yang
susah sekali akurnya.
Tapi Nasa berkutat di sini. Mengamati si chef wajah babak
belur itu yang kini sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk
mereka. Nasa masih setia mengamati. Dengan duduk di
stool bar dan menopang wajahnya dengan tangan.
"Udah laper, ya?" Leo menoleh ke belakang. Kemudian
membawa pancake buatannya yang sudah siap menuju
tempat Nasa berada.
Hari ini hanya ada pancake. Nasa sih suka saja meski
kemarin dia juga makan pancake. Ya, dia akan
memakluminya karena insiden yang Leo alami sepertinya
cukup berat. Gadis itu sebenarnya tidak suka pilih-pilih
makanan yang Leo buat karena semuanya enak. Nasa saja
kini sudah tidak sabar menyantap makanan lezat itu yang
kini sedang Leo tuangkan maple syrup ke atasnya.
Leo yang melihat bagaimana mata berbinar gadis di
depannya itu tersenyum. Dia selalu menyukai wajah
antusias Nasa terhadap makanannya. Tidak mau membuat
Nasa menunggu lebih lama lagi, Leo menyajikan maha
karyanya pada gadis itu. Diterima Nasa dengan sangat
bersemangat bak anak kecil yang menerima hadiah.
Masakan Leo memang seperti hadiah untuk Nasa.
"Makannya pelan-pelan," kata Leo yang ikut mengambil
duduk di sisi gadis itu. Mengamati Nasa yang sedang
makan. Seakan semua permasalahan yang menimpanya
kemarin bagaimana awan putih yang lambat namun tetap
akan berlalu.
Pemandangan itu didapatinya sampai Leo mendengar
suara panggilan masuk di ponselnya. Laki-laki itu meraih
ponsel dan menjawab panggilan dari adik tersayangnya.
"Kakak di mana?!" Suara tidak santai Adel langsung
memasuki telingnya.
"Dapur," jawab Leo santai.
"Jangan kemana-mana. Aku ke sana sekarang."
"Nggak usah," larang Leo. "Aku mau pergi."
"Kemana?"
Leo melirik Nasa. "Pergi dengan Nasa."
Adel tampak diam sebentar di seberang sana sebelum
kemudian berbicara kembali, "aku mau bicara dengan
Nasa."
Leo mengulurkan ponsel pada Nasa yang sudah menoleh
saat Leo mengucapkan namanya. Gadis itu menerima
ponsel Leo dan menempelkannya pada telinga.
"Ya?"
"Kamu benar lagi sama Kak Leo?" tanya Adel.
"Ya."
"Di dapur?"
"Ya."
"Kalian mau pergi?"
Nasa menoleh pada Leo. Mereka tidak membicarakan ini
sebelumnya. Melihat tatapan Leo yang hanya diam saja,
Nasa pun mengangguk.
"Ya."
Dia tidak lupa perannya masih sebagai perempuan yang
sedang dekat dengan Leo sampai Adel menikah yang entah
kapan itu terjadinya.
Adel terdengar diam lagi beberapa saat. Sebelum
kemudian hela napasnya menyela di antaranya.
"Nasa," panggil gadis itu.
"Ya?"
"Aku titip Kakakku."
Nasa mengernyitkan kening. Kemudian tanpa dia bisa
membalas lagi, Adel memutuskan sambungan begitu saja.
Nasa serahkan kembali ponsel itu pada Leo dengan
kernyitan masih di keningnya.
"Adel titip kamu sama aku," kata Nasa. "Padahal aku
bukan tempat penitipan orang."
Leo terkekeh meresponnya. Kosa kata Nasa seringnya
tidak banyak. Namun entah bagaimana caranya, setiap kata
yang keluar dari bibirnya selalu mampu membuat Leo
tersenyum.
"Nasa," panggil Leo.
Nasa yang sudah melanjutkan kembali makannya hanya
menoleh singkat.
"Bisa kamu ajak aku ke suatu tempat?"
"Kemana?"
"Kemanapun. Tempat yang kamu pikir cocok untuk isi
kepalaku saat ini."
*__*
Permintaan Leo sebenarnya cukup berat. Meminta dibawa
ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran. Biasanya cara
ampuh Nasa menenangkan pikiran adalah membaca buku
dan makan. Tapi mungkin saja itu tidak berlaku untuk Leo
karena sepenglihatan Nasa, Leo hanya suka masak tidak
untuk makan. Kemudian membaca buku, tidak semua orang
menyukainya.
Tapi syukurnya, ada sebuah tempat yang bisa Nasa
berikan pada Leo untuk menenangkan pikiran.
"Iya, Mas. Ini aku udah sampai di rumah. Nggak perlu
bilang Papa Daffa atau Papi. Aku nggak lama."
"...."
"Hm. Makasih, Mas."
Nasa menutup teleponnya sebelum kemudian turun dari
mobil. Diikuti oleh Leo yang menatap bingung pada rumah
megah di depannya.
"Ini rumah siapa, Nas?" tanya Leo, mengekori Nasa masuk
ke dalam rumah.
"Omku. Kakaknya Papa," beritahu Nasa.
"Kita ngapain ke sini?"
Nasa membuka pintu yang tidak terkunci itu. Kemudian
menoleh sakilas pada Leo seraya menyuruh laki-laki itu
masuk lebih dulu. Meski bingung, Leo pun menurutinya.
Masuk ke dalam rumah dan menemukan sebuah bingkai
foto berukuran besar. Potret sebuah keluarga yang
terpajang di sana.
"Itu keluarga Omku. Aku panggilnya Papa. Yang tadi aku
telepon, Mas Darren. Sepupuku. Sebenarnya usianya lebih
muda dari aku, tapi karena dia anak kakak Papaku, aku
dipaksa manggil Mas. Yang perempuan, adiknya Mas
Darren. Namanya Mbak Anyelir. Dia jauh-jauh lebih muda
dari pada aku. Tapi ya, seperti yang aku jelaskan tadi. Terus
satu lagi Mama Alea, istrinya Omku."
Leo menyimak penjelasan Nasa itu. Kemudian tersenyum.
Meski masih bingung, Leo merasa begitu hangat saat Nasa
menjelaskan keluarga besarnya pada Leo.
"Sembilan tahun lalu mereka pindah ke Jogja selepas
Eyangku meninggal. Sekarang Mas Darren yang tinggal di
sini sendirian. Dia kerja di Jakarta. Tapi orangnya lagi pergi.
Tenang aja, aku izin bawa temanku ke sini."
Nasa berjalan lagi. Semakin memasuki rumah itu lebih
dalam hingga mereka keluar dari sebuah pintu menuju
halaman belakang. Sebuah halaman yang begitu luas dan
terdapat taman bunga di sana. Leo hanya mengikuti Nasa
yang kemudian berjalan menuju sebuah gazebo yang ada di
sisi taman. Kemudian duduk di sana dengan tenang.
Gadis itu memejamkan mata seraya menghirup suasana
taman yang sejuk. Leo pun ikut duduk di sisinya. Mengamati
Nasa yang kemudian ikut menoleh padanya.
"Aku nggak tau mau bawa kamu kemana. Tapi tempat ini
mungkin bisa membuat pikiran kamu jauh lebih tenang,"
kata gadis itu.
Leo mengamati sekitarnya. Tempat ini sangat asri dan
indah. Membuktikan bahwa meski pemiliknya tidak berada
di rumah, tempat ini selalu terawat. Di gerbang tadi, Leo
juga melihat dua orang satpam yang menjaga rumah ini.
"Itu kebun anyelir," beritahu Nasa. Gadis itu lalu
tersenyum tipis memandanginya. Senyum tipis yang
membuat Leo menatapnya lamat-lamat. Jarang sekali Nasa
tersenyum seperti ini.
"Aku nggak pernah tau apa itu cinta. Tapi setiap berada di
sini, aku seakan bisa merasakannya. Ketenangan,
kedamaian, keindahan, dan hari panjang yang akan berlalu
dengan perasaan hangat."
Leo semakin menelik wajah itu dalam-dalam.
"Papa buat kebun ini sebagai hadiah ulang tahun untuk
istrinya, dia bahkan tanam sendiri beberapa bunga di sini.
Mereka suka berkebun sama-sama, termasuk Mas Darren
dan juga Mbak Anyelir yang sampai sekarang masih sangat
suka berkebun," lanjut Nasa. "Nama Anyelir juga diambil
dari kebun bunga ini. Anyelir Putih."
Leo mengalihkan tatapannya. Balik memandang
hamparan bunga anyelir putih yang indah. Nasa benar.
Melihat kebun ini, membuat perasaannya tenang dan
damai.
Nasa pun masih melakukan hal yang sama. Dia tidak
terlalu menyukai cerita romansa. Tapi setiap melihat kebun
bunga ini, Nasa merasa bahwa tantenya sangat beruntung.
Dihadiahi sebuah kebun bunga yang indah.
Di kemudian hari, apa Nasa akan menemukan seseorang
yang bisa membuatkan istana coklat sebagai bukti cinta
untuknya?
Seperti yang dilakukan Papa Daffa pada istrinya, Mama
Alea.
Nasa masih merasakan pemandangan di depannya.
Sampai kemudian tidak sadar bahwa Leo berhasil mendekap
jari-jarinya. Lalu ketika Nasa menyadarinya, gadis itu
melepaskannya. Dia menggeser duduknya menjauh dari
Leo.
"Kamu berubah lagi," kata Leo melihat akan respon Nasa.
"Kamu tolak, kamu terima, kamu tolak, kamu terima, terus
sekarang kamu tolak lagi."
Nasa menatap Leo dengan wajah datarnya.
"Sebenarnya kamu suka nggak kalau aku sentuh tangan
kamu kayak gini?" Leo kembali mengambil tangan Nasa.
"Pelukan kamu? Ciuman kita tadi pagi?"
Nasa terlihat berpikir. Dia juga sedang mencari
jawabannya.
"Aku mau tau, sebenarnya batas kita itu sampai mana?"
tanya Leo.
Batas mereka? Sebenarnya Nasa juga tidak tahu.
Kedekatan seperti ini ini dengan laki-laki baru Nasa lakukan
bersama Leo.
"Aku nggak biasa disentuh orang lain." Nasa pun
membuka suaranya. "Tapi kadang, aku juga suka. Ciuman
kita tadi pagi ... aku suka."
Leo tersenyum. Tentu itu bukanlah perbuatan sepihak.
Mereka melakukannya atas kehendak sama-sama.
"Kalau sekarang?" Leo mendekatkan wajahnya.
Nasa otomatis memudurkan wajah dan menggeleng.
Mendorong tubuh Leo menjauh. Laki-laki itu terlihat kecewa,
tetapi juga penasaran kenapa Nasa menolaknya lagi.
"Kalau sekarang nggak mau," ujar Nasa.
"Jadi gimana aku bisa dapat sign antara mau dan
enggaknya kamu?"
Nasa menggeleng. "Aku juga nggak tau," katanya.
"Apa karena tadi pagi karena kamu merasa kasihan
denganku?"
Nasa mengedikkan bahunya. Dia sebenarnya mudah
berempati. Tapi tentu bukan empati seperti membiarkan
orang lain menciumnya. Bukan empati yang seperti itu
tentu saja.
"Kamu pikirin aja sendiri aku nggak tau."
Leo semakin mengernyitkan kening. Emosi Nasa ini susah
sekali ditebaknya. Hanya satu ekspresi yang sangat Leo
hafal dari Nasa. Ketika gadis itu bertemu makanannya.
*__*
Leo sedang berpikir.
Memikirkan apa yang tadi Nasa suruh Leo berpikir sendiri.
Tentang sebuah tanda yang bisa Nasa berikan padanya.
Tidak terlihat, tapi Leo harus tahu. Tidak dipungkiri, Leo
tertarik pada Nasa. Pada kepribadian gadis itu, pada
pemikiran gadis itu, dan ... pada fisik gadis itu.
Nasa cantik. Dia juga manis dan meski seringnya
berwajah datar, Nasa memiliki sisi menggemaskannya
sendiri yang membuat Leo betah memandanginya lama-
lama. Leo tahu dia sudah memiliki ketertarikannya sendiri
pada Nasa.
Dia menyukai Nasa.
"Kenapa?" Leo menoleh ke samping saat melihat Nasa
gelisah di tempatnya. Laki-laki itu kemudian mengamati
arah pandang Nasa yang menatap penjual permen kapas di
pinggir jalan. "Mau itu?" tanya Leo.
Nasa mengangguk.
Leo pun meminggirkan mobilnya. Mematikan mesin
dengan Nasa yang langsung turun dari mobil. Laki-laki itu
ikut keluar. Hendak meraih tangan Nasa untuk
digandengnya menyebrang tapi Nasa lebih dulu melipat
tangannya. Gadis itu pun menyebrang dengan Leo yang
tersenyum berjalan di sisinya.
"Satu, Pak," ujar Leo kepada si penjual.
Transaksi jual beli mereka berjalan cukup lancar meski
Nasa sempat ingin membayar sendiri tapi Leo lebih dulu
mengeluarkan uangnya. Permen kapas pun sudah berada di
tangan kanan Nasa. Lalu mereka kembali menyebrang jalan
dengan Leo yang kini berhasil menggandeng tangan gadis
itu.
Nasa tidak menolak Leo mengandeng tangannya
menyebrang. Gadis itu diam saja dengan permen kapas di
tangannya yang lain. Leo terpukau.
Benar begini caranya?
Nasa benar-benar luar biasa.
.
.
.
To Be Continued
(26/07/2022)
Asiiiikkk keluarga cemara nyempil sebentar disana
hahahahaha
komentar kaliaaan 🥰🥰
Yuk jangan lupa ramaikan dengan vote dan
Ketemu setelah 1,5 vote dan 250 komen yaaaa
Bay bay^^
EMPATBELAS
"Benar di sini tempatnya?"
Nasa mengangguk. Leo pun mematikan mesin mobilnya
dan membiarkan Nasa keluar lebih dulu sebelum laki-laki itu
menyusul di belakangnya. Nasa bilang, dia hendak
mengajak Leo ke suatu tempat lagi tetapi harus mampir ke
sini terlebih dahulu.
"Toko buku?" tanya Leo yang sudah berdiri di sisi Nasa.
Nasa menoleh kemudian mengangguk. Gadis itu kembali
melajukan langkahnya. Membuka pintu bertepatan dengan
seseorang yang membukanya lebih dulu.
"Eh Mbak Nasa udah sampai," sapa laki-laki 40an tahun.
"Sebentar ya, Mbak. Barangnya sudah siap. Tinggal angkut
aja."
"Saya bantu, Pak." Nasa pun ikut masuk. Dengan Leo
yang masih setia mengekor di belakang gadis itu menuju
sebuah pintu lain yang terdapat beberapa kardus di
dalamnya.
"Yang ini, Pak?" tanya Nasa menunjuk pada beberapa
tumpukan kardus.
"Iya, Mbak."
Nasa bersiap mengangkat. Tetapi Lebih dulu sigap
mengambil kardus itu.
"Pelan-pelan," kata Nasa melihat Leo yang seperti akan
terjatuh.
Leo bukan lemah. Dia hanya terkejut dan tidak sigap
bahwa ternyata kardus ini lebih berat dari pada yang ia
duga.
"Isinya buku. Dua puluh kilo," ujar pemilik toko.
Leo kembali membenarkan posisi pegangannya.
Membawa kardus itu keluar dari gudang menuju mobilnya.
Membuka pintu tengah mobilnya dan meletakan itu ke
dalamnya. Leo hendak kembali ke gudang untuk
mengangkut yang lainnya, tetapi tanpa dia sangka, Nasa
sudah berdiri di belakangnya dengan membawa satu kardus
lainnya yang beratnya setara dengan kardus pertama.
"Sini." Leo langsung mengambil alih. Memasukkan kardus
itu berikut kardus lain yang dibawa oleh si pemilik toko.
Leo mengatur posisi kardusnya di dalam mobil.
Membiarkan Nasa melanjutkan obrolannya dengan si
penjaga toko sebelum kemudian mereka masuk kembali ke
dalam mobil dan Leo duduk di kursi kemudinya.
"Jadi kita mau kemana?" tanya Leo.
"Sebentar." Nasa terlihat mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya. Lalu menatap Leo dan meraih wajah laki-laki
itu dengan tangannya.
Leo memperhatikan apa yang sedang Nasa lakukan.
Membuka sebuah produk kosmetik berbentuk krim lalu
mengoleskannya pada wajah lebam Leo yang warnanya
keunguan. Setelah selesai, Nasa kembali memasukkan
benda itu ke dalam tasnya.
Leo meraih ponselnya dan bercermin lewat layar
ponselnya itu. Lebam-lebamnya sudah tersamarkan dengan
krim yang Nasa oleskan padanya. Leo pernah melihat
produk kosmetik itu di dalam pouch milik Adel. Kalau tidak
salah, Adel bilang namanya concealer.
"Kamu malu ya, keluar sama orang yang mukanya lebam-
lebam kaya gini?" tanya Leo.
Nasa hanya mengedikkan bahunya. Gadis itu kini
memasukkan alamat tujuan mereka ke dalam layar navigasi
yang ada di mobil Leo.
*__*
"Kak Nasa bawa buku lagi?" Seorang gadis kecil
bersedekap dengan wajah cemberutnya menatap Nasa
yang baru saja membawa kardus bukunya ke dalam sebuah
ruangan yang penuh dengan buku-buku.
"Biar pintar," jawab Nasa.
"Bulan kemarin udah bawa buku. Sekarang buku lagi,"
protes gadis kecil itu lagi. "Ina nggak suka baca buku tau,
Kak."
"Ina, buku itu sumber informasi dan pengetahuan yang
kita butuhkan. Dengan baca buku ki—"
"Duh, Kak Nasa, Ina masih kecil." Gadis kecil itu kemudian
berlalu dari hadapan Nasa. Keluar dari ruangan penuh buku
meninggalkan Nasa yang geleng-geleng kepala.
Leo yang sejak tadi memerhatikan interaksi mereka itu
kemudian terkekeh.
"Ina usia berapa?" tanya Leo.
"Delapan tahun. Dia kelas 3 SD tapi nggak suka baca
buku," gerutu Nasa.
Leo terkekeh lagi. Nasa mengajaknya ke sebuah panti
asuhan. Dengan membawa ketiga kardus buku itu ke
sebuah perpustakaan. Nasa belum menjelaskan lebih lanjut
tentang panti asuhan ini dan mengapa dia mengajak Leo ke
sini. Hanya saja, di pintu masuk tadi, Leo menemukan
sebuah bingkai besar berisi potret sebuah keluarga yang
tadi dilihatnya di rumah om-nya Nasa.
"Ayo anak-anak, bantuin Kak Nasa susun bukunya ke rak."
Sebuah suara lain yang masuk membuat Leo menoleh.
Di sana ada ibu panti yang sempat bertegur sapa dengan
Leo di depan kini tengah memberikan komando kepada
beberapa anak panti asuhan ini yang ikut masuk ke dalam
perpustakaan. Mendekat pada Nasa yang sudah membuka
kardus bukunya.
"Jangan lupa ya, ditaruhnya sesuai kategori dan warna
buku. Di depan bukunya sudah ada label kategori-
kategorinya. Jangan sampai salah," ujar Nasa pada anak-
anak itu.
"Iya, Kak!" Semunya menjawab kompak. Kemudian
langsung menuruti komando Nasa memasukkan buku-buku
yang baru datang itu ke dalam rak.
"Mas Leo ayo duduk di depan aja. Ibu buatin minum," kata
Ibu panti kepada Leo.
Nasa ikut menoleh mendengar suara ibu panti. Dia hampir
saja melupakan bahwa dirinya kemari bersama orang lain.
Nasa terlalu antusias dengan buku-buku yang dibawanya.
"Aku mau beresin buku-buku ini dulu. Kak Leo ke depan
aja minum teh nggak apa-apa," kata Nasa mendukung
ajakan ibu panti.
"Aku bantu?" tawar Leo.
Nasa menggeleng. "Nggak usah. Udah banyak yang
bantu, kok."
Leo pun mengangguk. Akhirnya laki-laki itu mengikuti ibu
panti keluar dari perpustakaan dan menuju ruang tamu.
Duduk di sana dengan secangkir kopi dan juga
perbincangan hangat dengan ibu panti selagi menunggu
Nasa selesai dengan buku-bukunya.
*__*
"Rumah ini tadinya juga punya Papa Daffa. Kemudian
keluarga mereka pindah ke rumah yang baru dan rumah ini
diwakafkan untuk panti asuhan," beritahu Nasa pada Leo.
Informasi ini sudah Leo dengar sebelumnya dari ibu panti.
Kembali diberitahu Nasa selepas gadis itu selesai dengan
buku-bukunya dan ibu panti yang pamit dulu ke belakang.
Ibu panti juga bercerita tentang Nasa yang dari dulu suka
sekali membawa buku-buku kemari. Bahkan beberapa buku
sudah disumbangkan ke tempat lain karena perpustakaan di
panti sudah penuh sekali.
"Kak Nasa, Ina punya mainan baru, dong." Suara lain
masuk di antara mereka. Ina, gadis kecil yang Leo temui
tadi di perpustakaan menghampiri keduanya.
"Kata Ibu kamu remedial ulangan matematika kemarin,
ya?" Nasa memberikan pertanyaan di luar topik yang
membuat Ina kembali cemberut.
"Aduh Ina lupa nih, belum mandi sore." Gadis kecil itu
kembali melarikan diri yang membuat Nasa geleng kepala.
Sudah dipatenkan, anak kecil memang menyebalkan.
Tidak Anin, tidak Ina, sama-sama menyebalkan. Untung saja
terkadang mereka memiliki sisi menggemaskannya sendiri
yang walaupun Nasa sering dibuat kesal akan tingkahnya,
tapi juga dibuat gemas bersamaan.
"Tegar!" panggil Nasa pada seorang anak laki-laki yang
baru saja memasuki ruang tamu.
Anak laki-laki itu tampak berlari menghampiri Nasa.
Kemudian bertos ria seolah menunjukkan keakraban
mereka. Sebenarnya, Nasa memang lebih mudah akrab
dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Apalagi
anak laki-laki yang suka membaca buku seperti Tegar ini.
"Kamu dari mana?" tanya Nasa. Nasa tidak melihatnya di
perpustakaan tadi.
"Aku tadi habis kerjain PR, Kak," jawab Tegar.
"Kak Nasa bawa buku tentang planet Mars pesanan
tegar," kata Nasa pada anak laki-laki itu.
Tegar tampak berbinar-binar matanya. "Benar, Kak?"
Nasa mengangguk. Membuat Tegar semakin gembira.
"Liat sana di perpustakaan."
Tanpa lebih banyak berkata lagi, Tegar pun berlalu menuju
perpustakaan. Sudah sangat tidak sabar membaca buku
tentang planet-planet kesukaannya.
"Dia yang paling pintar di sini," beritahu Nasa pada Leo.
"Usianya delapan tahun. Masuk panti dari umur empat
tahun. Dia suka banget baca buku apalagi tentang benda-
benda angkasa."
Leo mengangguk. "Orang tuanya?" tanya laki-laki itu.
"Dia ditinggal di dufan," jawab Nasa. "Awalnya dikira anak
hilang yang ke pisah dengan orang tuanya. Tapi ternyata
Tegar benar-benar ditinggal karena nggak ada sama sekali
orang yang cari dia. Orang tuanya nggak bisa ditemukan
dimanapun."
Leo terhenyak.
"Anaknya baik dan penurut. Dia sama sekali nggak nakal
dan rajin belajar," ujar Sana lagi. "Hebatnya, dia nggak
pernah tanya orang tuanya sama sekali. Seakan-akan udah
paham bahwa dia tinggalkan. Kasihan, dia. Dia pasti
ketakutan ditinggal di tempat seramai itu."
Kasihan, dia.
Dia pasti kebingungan dan ketakutan.
Sama seperti Leo saat dibuang di Disney Land Tokyo
sebelum kemudian dipungut oleh sepasang suami istri baik
hati yang mengadopsinya.
Jika dia tidak dipungut oleh orang tua angkatnya saat itu,
apa Leo akan berada di tempat seperti ini juga?
.
.
.
To Be Continued
(28/07/2022)
Nasa itu tukang angkat galon di rumah, Chef Leo.
Nggak usah shock gitu hahahahaha
Sampai ketemu hari Selasa gengs!!
Kalo gak sabar Selasa hari Minggu aku post part
baca duluan di KaryaKarsa yes!!
Mpe ketemu^^
💕
Luv Luv
Mill
LIMABELAS
"Nasa?"
"Hm?"
"Kamu sering ke sana?"
"Ke panti?"
Leo mengangguk.
"Ehm ... biasanya memang rutin, sih, sebulan sekali.
Kadang sama Papi kadang sendiri."
Leo mengangguk paham. Melihat bagaimana akrabnya
interaksi Nasa dengan anak-anak panti yang lain
menggambarkan jelas sekali kedekatan mereka.
Mereka saat ini dalam perjalanan pulang setelah
menghabiskan waktu cukup lama sampai makan siang di
sana. Ini hampir petang dan Leo benar-benar merasakan
perjalanan yang luar biasa bersama Nasa hari ini. Melihat
hamparan anyelir putih, kemudian bertolak ke panti asuhan
yang tidak pernah Leo kunjungi sebelumnya.
Semestinya hari ini menjadi hari yang sempurna dan Leo
dapat melupakan apa yang terjadi kemarin. Namun dering
ponselnya yang berbunyi dan nama bundanya terpampang
di layar, Leo tahu semuanya belumlah selesai.
"Ya, Bunda?" Leo menjawab panggilan itu.
"..."
"Di jalan Bunda, sama Nasa."
"..."
"Nggak bisa, Bunda. Leo mau antar Nasa pulang dulu."
"..."
"Nggak bisa dong, Bunda."
"..."
"Iya-iya."
Leo mematikan sambungan mereka kemudian menoleh
pada Nasa. Gadis itu pun menatapnya sejak tadi namanya
disebutkan oleh Leo dalam percakapan teleponnya dengan
sang ibu.
"Nasa," panggil Leo. "Kalau kamu ikut aku ke rumah Oma
dulu bagaimana?"
"Kak Leo diminta ke sana, ya?"
Leo mengangguk.
"Nggak apa-apa aku diturunin di sini aja."
Leo menggeleng. "Bunda minta kamu datang juga ke
sana."
"Aku?" Nasa menunjuk dirinya sendiri. Dia pernah ke
rumah Leo beberapa kali bersama Sana. Namun ke rumah
Omanya Leo, tentu Nasa belum pernah. "Untuk apa?" tanya
gadis itu.
"Oma mau ketemu kamu juga."
Nasa terlihat berpikir.
"Ya? Bantu aku." Leo menatap Nasa penuh permohonan.
Menghela napas, akhirnya Nasa pun mengangguk. Sudah
seharian ini dia bersama Leo. Ya sudah, sekalian saja
dihabiskan sampai malam. Nasa akan meminta Leo
membuatkannya makanan enak lainnya sebagai bayaran
atas hari ini.
"Thanks, Nasa." Leo tersenyum kecil. Masih ada raut
kekhawatiran di wajahnya.
Perjalanan itu berlanjut dengan Leo yang masih melirik
Nasa sesekali. Ada hal yang ingin disampaikannya
mengenai nanti kedatangannya di rumah Oma. Omanya
sudah mengetahui mengenai Leo yang sedang dekat
dengan Nasa. Juga mengetahui bahwa Leo menginginkan
Adel untuk menikah lebih dulu. Dan tentu saja, Oma tidak
menyukainya.
"Nasa," panggil Leo.
Nasa menoleh. Namun Leo tidak mengatakan apapun. Dia
hanya, tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada
Nasa hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi di rumah
Omanya nanti.
*__*
"Kamu larang-larang bunda terus, Mil. Apa salahnya
bunda mau makan gorengan?"
"Bunda, kolesterol Bunda tinggi. Kemarin juga Mil larang
bunda diam-diam kan beli gorengan lewat depan rumah?"
Nasa dan Leo memasuki rumah besar itu dengan suara
perdebatan Mil dan mertuanya memasuki telinga mereka.
"Assalamualaikum, Oma." Leo menghentikan perdebatan
itu. Mendekat pada Omanya yang duduk di atas sofa
dengan wajah cemberut. Namun begitu Sarah—Oma Leo—
tetap menerima pelukan dari cucu lelaki satu-satunya itu.
"Ke mana aja kamu? Baru inget punya Oma?" Sarah
menyambut dengan ketus cucunya.
Leo melepaskan pelukan mereka dan tersenyum menatap
Omanya. Kemudian beralih pada Bundanya yang memasang
wajah kesalnya di sana. Pertengkarannya dengan sang
mertua membuat mood Bunda Leo itu ikut memburuk.
"Oma kamu tuh, bandel. Ini masih aja ngotot makan
gorengan padahal kolesterolnya tinggi. Kemarin juga Oma
kamu diam-diam makan gorengan tanpa sepengetahuan
orang rumah," cerita Emila pada putranya.
Sarah yang diadukan oleh menantunya itu hanya
mengalihkan pandangannya. Kemudian jatuh pada seorang
gadis yang menarik atensinya.
"Siapa ini?" tanya wanita tua itu.
Leo dan Emila sama-sama menoleh dengan seseorang
yang dimaksud oleh Sarah. Emila yang tersenyum lebar
menyadari keberadaan Nasa dan langsung memeluknya
penuh bahagia. Sedang Sarah, menatap Nasa dengan
menyidik tidak suka.
"Ini Nasa loh, Bunda. Pacarnya Leo," beritahu Emila.
Nasa gatal ingin mengoreksi statusnya itu tapi melihat
raut tidak menyenangkan dari Sarah, Nasa akhirnya
memilih diam saja. Sarah terlihat tidak menyukainya.
"Nasa ini kembarannya Sana, temannya Adel. Bunda
pernah ketemu Sana, kan?"
Sarah menatap Nasa tanpa minat sama sekali. Justru
membuang wajah dan menolak Nasa yang baru saja ingin
bersalaman dengan nenek itu. Nasa pun menarik kembali
tangannya dan memasang wajah santainya seperti biasa.
Tidak sama sekali merasa sakit hati atas penolakan
barusan.
"Nasa ini dokter," beritahu Emila lagi. "Nasa tolong
bilangin nih sama nenek tua ini bahayanya kolesterol itu
apa. Ini sudah kolesterol tinggi masih mau makan
gorengan."
"Kenapa? Kamu mau bilang kalau karena kolesterol saya
tinggi, saya bisa stroke, sakit jantung, terus mati?" sinis
Sarah pada Nasa. Semakin tidak suka saja Sarah pada Nasa
saat tahu bahwa gadis itu adalah seorang dokter.
"Kadar kolesterolnya berapa Tante?" tanya Nasa.
Kan, kan, lihat. Baru bertemu pertama kali sudah belagu
menanyakan kolesterol orang. Dokter tidak punya etika
sama sekali. Sama seperti anak teman arisan Emila yang
pernah datang dan sok berperan sebagai dokter dan
melarang Sarah ini itu. Sarah benar-benar membenci
seorang dokter.
"220, sudah di atas normal, Nas. Bagaimana Bunda nggak
suka ngomel sama nenek yang satu ini masih suka makan
gorengan aja," beritahu Emila.
Nasa tersenyum tipis. Gadis itu menundukkan tubuhnya
dan menatap Sarah serta mengulurkan tangannya pada
wanita tua itu.
"Oma, aku Nasa," ujar Nasa memperkenalkan dirinya.
Sarah menatap Nasa tidak suka. Tanpa menjawab uluran
tangan itu, wanita tua itu berbicara dengan ketus, "sampai
kapan pun saya nggak akan terima kamu jadi cucu menantu
saya. Leo sudah punya calonnya sendiri asal kamu tau."
"Oma!"
"Bunda!"
Leo dan Emila memprotes bersamaan. Namun Sarah
sama sekali tidak terpengaruh dan kini membuang
wajahnya dari Nasa.
Nasa menegakkan tubuhnya dan menatap Emila serta Leo
seraya mengisyaratkan tidak apa-apa. Gadis itu mendekat
pada Leo dan berbisik di telinganya.
"Tolong beliin gorengan."
Leo menatap Nasa tidak mengerti. Namun Nasa
mengangguk bahwa permintaannya serius.
"Leo dan Adel sudah saya jodohkan. Mereka bukan
saudara kandung perlu kamu tahu. Sampai kapan pun, saya
tidak terima siapapun jadi istrinya Leo atau suaminya Adel
karena mereka berdua sudah saya jodohkan."
"Bunda!"
Suara protesan yang terdengar lagi dari Emila tidak
membuat kerenyit di kening Nasa berkurang. Butuh
bertahan beberapa lama mencerna apa yang baru saja
dikatakan oleh Sarah.
Jadi ... Leo dan Adel bukan saudara kandung?
Gadis itu langsung menatap Leo yang kini memasang
wajah piasnya. Dia tidak pernah tahu berita ini bahkan dari
Sana sekalipun. Namun ketimbang meminta penjelasan Leo,
Nasa justru kembali menyuruh Leo mengabulkan
permintaan yang tadi.
"Agak banyak, ya. Aku juga mau soalnya," kata gadis itu.
Tidak lupa Nasa mendorong lengan Leo agar segera
membeli gorengan yang Nasa minta.
*__*
"Kolesterol Oma lagi tinggi. Nggak apa-apa makan
gorengan?" tanya Leo sangsi melihat Sarah yang kini
melupakan emosinya sejenak dan sibuk memakan gorengan
di depannya.
Nasa yang duduk di sisi Leo itu menggeleng. "Oma kamu
bandel," cicit Nasa.
Leo menoleh pada gadis itu.
"Oma akan terus ngotot makan gorengan dan bisa jadi
diam-diam makan goreng lagi karena merasa keinginannya
itu belum terpenuhi. Biarin sekarang Oma makan gorengan
dulu. Biar nanti nggak kepingin makan gorengan lagi."
"Kalau besok masih minta gorengan lagi? Terus makan
diam-diam lagi bagaimana?"
Nasa menggeleng. "Mudah-mudahan enggak."
Leo menatap Nasa sangsi.
"Mendiang eyangku begini. Semakin dilarang semakin
nakal. Lebih baik dituruti tapi diawasi dari pada diam-diam
makan sendiri gorengan yang nggak tau belinya di mana
dan jumlahnya banyak. Tapi biasanya kalau permintaannya
udah dituruti, nggak akan kepingin lagi."
Leo masih merasa tidak yakin.
"Ya, paling nanti ada permintaan lain yang bikin sakit
kepala." Nasa terkekeh kecil.
Leo semakin tidak mengerti.
"Oma tinggal sama siapa di rumah ini?" tanya gadis itu.
"Sama ART dan Nanynya. Sebenarnya ada Tanteku yang
tinggal di sini. Tapi dia lagi di luar negeri dan Oma jadi
tinggal sendiri."
Nasa mengangguk. "Oma kamu lagi caper aja. Sering-
sering dikunjungi dan diajak ngobrol."
"Ngapain kamu bicara bisik-bisik kayak begitu? Lagi
ngomongin saya, ya?!" Suara ketus terdengar memecah
percakapan Nasa dan Leo.
Nasa langsung menoleh pada nenek tua itu.
"Aku lagi tanya sama Kak Leo, Oma suka olahraga apa."
Nasa beralasan.
"Kenapa kamu tanya-tanya?" Sarah masih ketus.
"Soalnya Oma keliatan bugar banget. Masih keliatan muda
padahal cucunya sudah seumuran Kak Leo dan Adel. Pasti
sering olahraga, ya?"
Sarah tersenyum jumawa. "Begini-begini saya aktif
aerobik dan zumba asal kamu tahu."
"Masa, sih?"
Sarah mencebikkan bibirnya. "Memangnya kamu. Dokter
kayak kamu pasti cupu, hobinya sibuk di kamar baca buku.
Iya, kan?"
Nasa mengangguk membenarkan. Dia memang hobi baca
buku di kamarnya.
"Tapi aku instruktur zumba loh, Oma," beritahu Nasa.
Sarah tertawa meremehkan. "Kamu pikir saya percaya?"
Nasa mengeluarkan ponselnya. Kemudian menunjukkan
jadwal melatih zumbanya dari gym tempat Nasa kerja
sambilan dulu dan menunjukkannya pada Sarah.
"Aku dulu part time di sini, Oma," kata gadis itu.
Sarah menatap layar ponsel Nasa itu masih dengan raut
tidak percayanya. Namun wanita tua itu belum berkomentar
apapun selain menampilkan wajah sombongnya.
"Sekarang udah berhenti sih, memang. Tapi masih sering
ikut zumba juga. Bulan lalu sempat jadi instruktur sekali."
"Nggak percaya," kata Sarah.
"Ya nggak apa-apa kalau nggak percaya." Nasa menarik
kembali ponselnya. Duduk kembali di tempatnya dan
memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
"Saya perlu bukti," ujar Sarah. "Biasanya hari Minggu ada
zumba di taman komplek. Saya kenal penyelenggaranya.
Kalau kamu berani, kamu jadi instrukturnya. Berani nggak?"
"Oke, deal," terima Nasa tanpa babibu. Tidak
mengacuhkan wajah protes Leo di sampingnya.
.
.
.
To Be Continued
(02/08/2022)
Di Perempuan Merah Jambu (cerita Emila dan Leon-
-emak bapaknya Leo) Tante Sarah mertua idaman
🤣🤣
banget. Tapi udah oma-oma jadi agak rese gini ya 🤣
Ini kira2 Nasa bisa ngadepin ini oma2 nggak ya 🌝
Mana rahasia Adel-Leo bukan saudara kandung
udah dibongkar jga sama si Oma 😌
Btw, ini part masih flashback yah Gais..... Ada
beberapa part lagi baru lompat lagi ke tiga bulan
kemudian.... Semoga tidak bingung yaaa 😁😁😁
Sampai ketemuyuu^^
💕
Luv luv
Mill
ENAMBELAS
Still flashback.
Suasana pagi yang masih cukup gelap ini. Suhu Jakarta
yang masih sejuk tetapi berbeda dengan suhu di dalam
rumah keluarga Nasa yang sudah memanas. Suara Tuan
Rumah terdengar mengomel di lantai bawah. Nasa
melongok sekilas dari lantai. Alamat dia akan kesulitan
mendapat izin kalau begini caranya.
Gadis itu belum berani turun ke bawah untuk berangkat
ke rumah Omanya Leo pagi ini untuk menuaikan janji
mereka yang akan zumba bersama di taman kompleks. Tadi
malam, Nasa pulang dan tidur di rumah. Terlihat kondusif
karena dia kembali cukup malam. Orang-orang rumah pun
sepertinya sudah pada tidur. Nasa tidak tahu kalau ternyata
pagi buta ini akan terjadi keributan.
"Kana sudah besar, Pi. Kenapa Papi selalu pilih kasih
antara Kana dan Kakak-kakak yang lain? Kak Sana bebas
jalan-jalan sama temennya, nggak pulang berhari-hari. Kak
Nasa juga Papi bolehin tinggal di apartemen Mas Keanu.
Papi juga nggak pernah ngelarang Mas Naka kalau mau
menginap di rumah temannya. Kenapa Kana baru hari ini
nginep di rumah teman aja Papi susul Kana pagi-pagi buta
ke rumah teman Kana?"
Ah, Nasa paling sebal kalau permasalahan ini dibahas.
Kana itu kalau sedang dimarahi selalu menyangkut pautkan
saudara-saudaranya yang lain yang membuat mereka akan
kena juga getahnya nanti.
"Mereka sudah dewasa, Adek. Kakak kamu Kak Sana
sudah menikah. Bukan tanggung jawab Papi lagi. Kak Nasa
sudah 25 tahun. Tempat kerjanya dari rumah jauh dan dia
sering lembur malam. Mas Nakamu itu laki-laki. Kamu ini
masih kecil. Jelas Papi nggak—"
"Sebelum mereka dewasa juga mereka pernah ada di usia
Kana, Papi." Suara Kana terdengar memotong ucapan
Papinya. "Papi izinin Kak Sana party ke Bali bahkan liburan
ke luar negeri bareng teman-temannya. Papi juga nggak
pernah larang Kak Nasa kalau dia mau pulang ke Jogja
sendiri atau ke rumah PakDe Bima di Surabaya. Sedangkan
Kana? Kana harus selalu didampingi Mas Naka ke mana pun
Kana mau pergi? Kana ini sebenarnya anak Papi atau
tawanan, sih!"
"Kamu masih kecil, Adek. Kamu nggak mengerti juga?
Papi begini karena Papi sayang sama Adek. Kakak-kakak
kamu Papi izinin bukan berarti Papi nggak pantau mereka.
Papi—"
"Papi tetap pilih kasih!" Suara tangis Kana sudah
terdengar. "Apa karena Kana yang paling bodoh di antara
mereka jadi Papi larang Kana sendirian? Takut Kana
dibodohi orang lain? Takut Kana diapa-apain orang karena
Kana paling bodoh, kan? Karena Kana nggak pintar kayak
mereka, kan?"
Nasa pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk
menuruni lantai tangga. Gadis itu masuk lagi ke dalam
kamarnya dan memasuki kamar Sana lewat connecting door
yang ada di kamarnya sebelum kemudian mengambil
tangga yang biasa Sana gunakan untuk pergi diam-diam
dari kamarnya saat Papi melarangnya keluar.
Sebenarnya Nasa ingin turut andil membela masalah yang
menimpa adik bungsunya itu. Tapi melawan Papinya
masalah ini adalah hal yang akan sia-sia dan akan berakhir
Nasa kena getahnya juga. Bisa-bisa Nasa tidak akan lagi
diizinkan menginap di apartemen Kenau dan harus pulang
ke rumah. Bisa-bisa juga, Papinya akan mempekerjakan
sopir untuk mengantar jemputnya.
Ouch! Jelas Nasa tidak mau.
Papi mereka ini sebenarnya memang protektif. Bukan
hanya pada Kana sang anak bungsu. Tapi pada semuanya.
Hanya saja Kana memang yang paling polos dan kurang
pintar dalam menggocek Papinya sendiri. Kana juga yang
paling penurut. Sana sering keluar-keluar rumah liburan
sana-sini bebas seperti itu bukan karena Papi memberi izin
sepenuhnya. Tapi karena Sana nakal dan licik. Dia bahkan
tidak segan-segan pergi diam-diam kalau tidak diberi izin.
Untung saja sekarang gadis nakal itu sudah menikah dan
mendapatkan suami yang disiplin dan bisa membimbingnya
lebih baik seperti Bhumi.
Kemudian Nasa. Nasa itu sebenarnya anak yang paling
mageran ke mana-mana kalau tidak penting. Pergi ke Jogja
atau Surabaya untuk mengunjungi Eyang atau PakDenya
saja karena Nasa dipaksa oleh Keana—saudara kembar
Keanu yang saat ini tinggal di Surabaya juga. Juga karena
Nasa butuh ke sana karena Budehnya—Irene—juga
merupakan seorang dokter spesialis anak yang gemar sekali
baca buku. Nasa mendapatkan banyak buku baru dari
budehnya itu.
Lalu Naka. Dia laki-laki dan memang lebih bebas. Papinya
itu memang sedikit kolot, sih. Lebih protektif dengan anak
perempuannya dari pada anak laki-lakinya.
Tapi untuk memikirkan urusan keluarganya, lebih baik
nanti dulu. Karena kini, Nasa sudah harus buru-buru
bergegas ke rumah Omanya Leo sebelum nenek tua itu
mencibirnya karena Nasa telat datang. Nanti saja dia beri
hadiah pada Kana untuk memperbaiki mood adik kecilnya
itu.
*__*
Nasa sedang bersiap. Dipersilakan Omanya Leo masuk ke
dalam salah satu kamar tamu untuk berganti pakaian. Gadis
itu datang dengan si hitam—mobil kesayangannya ke
rumah ini. Sudah siap dengan ransel berisi pakaian kerjanya
juga karena setelah ini Nasa akan langsung berangkat ke
rumah sakit. Di hari Minggu ini, Nasa kebagian jadwal jaga.
Gadis itu membuka jaket yang melapisi tubuhnya.
Membuka ransel untuk mengambil kaosnya, pintu kamar
terbuka begitu saja. Menampilkan wajah Leo yang langsung
masuk ke dalam kamar dengan menatapnya kesal.
"Kok kamu datang duluan ke sini nggak kabarin aku? Aku
ketuk pintu apartemen kamu nggak dibuka-buka," kesal
laki-laki itu pada Nasa.
"Aku tidur di rumah semalam," jawab Nasa santai.
"Kenapa nggak bilang?"
Nasa mengernyit bingung. Biasanya juga nggak pernah
bilang, kan?
"Aku telepon kamu nggak angkat. Kalau Oma nggak
kabarin aku kamu udah di sini, aku masih cari-cari kamu
sampai sekarang."
"Aku nggak tau kamu mau dateng ke sini juga," kata
Nasa.
Leo menatap gadis itu tidak percaya.
"Kamu datang ke rumah oma aku, Nasa."
"Iya karena aku janji mau zumba bareng sama Oma.
Bukan sama kamu."
Leo semakin menatap gadis itu tidak percaya. Laki-laki itu
menghela napasnya mencoba untuk lebih bersabar. Dekat
dengan Nasa beberapa bulan ini membuat Leo sedikit demi
sedikit bisa menerka sifat dan karakter gadis itu meski
terkadang Leo masih sering dibuat terkejut juga. Pada
akhirnya, laki-laki itu pun mengalah dan memilih untuk tidak
memperpanjang perdebatan mereka.
"Tolong, lain kali kabari aku. Apalagi kalau mau ketemu
Oma," ujar Leo yang sudah menurunkan suaranya kembali.
Nasa pun mengangguk saja.
"Aku keluar dulu."
Nasa mengangguk lagi.
Sebelum keluar, Leo sempatkan memandangi gadis itu
dengan leging selututnya dan juga sport bra yang pernah
Leo lihat sebelumnya Nasa menggunakan itu untuk
olahraga.
"Kamu pakai itu untuk zumba?" tanya laki-laki yang
mengurungkan niat untuk keluar.
Nasa pun menarik kembali crop top miliknya dan
dipakainya. Meski biasa hanya mengenakan leging dan
sport bra untuk berolahraga, Nasa juga masih tahu di mana
tempat dia akan olahraga nanti. Maka dari itu masih Nasa
lapisi dengan crop top ocean blue miliknya.
Leo mendekat, menarik kaos itu semakin ke bawah yang
sayangnya tetap tidak ketarik juga. Tangan Nasa yang
bergerak membuat kaos longgar itu ikut bergerak dan
menampakkan perutnya.
"Ini nggak bisa diturunin lagi bajunya. Perutnya masih bisa
keliatan," kata Leo.
"Ya nggak bisa lah, Kak. Modelnya aja crop top."
Leo berdecak. "Kamu jadi instruktur loh, Nasa dilihat
banyak orang."
"Ya terus?"
"Ya perut kamu bisa keliatan."
"Oma kamu aja pakai baju jaring-jaring." Nasa bertemu
dengan Oma Leo yang sudah siap dengan pakaiannya di
ruang tamu. Mengenakan pakaian olahraga dengan model
baju jaring-jaring.
"Oma kan udah nenek-nenek."
"Ya terus?"
"Aku pinjamkan kaos Tanteku, ya?"
Nasa langsung menggeleng. Meminjam barang orang lain
bukanlah dirinya sama sekali.
"Hey! Sudah jam berapa ini?! Cepat! Lelet banget kamu!"
Suara Oma Sarah yang terdengar tidak sabar di depan
mengalihkan atensi keduanya. Nasa segera melepaskan
tangan Leo dari kaosnya sebelum keluar dari kamar.
Meninggalkan Leo yang kembali menghela napasnya di
ruangan itu seorang diri.
*__*
Sepulang senam, Nasa sarapan di rumah Oma Leo. Duduk
di meja makan bersama dengan Leo dan juga Oma Sarah.
Hanya ada mereka bertiga di meja itu sebab Tante Leo yang
tinggal bersama Oma Sarah belum pulang. Sedang Bunda
dan Ayah Leo tentu saja tinggal di rumah mereka sendiri.
Sejak tadi, tidak henti pandangan Sarah tertuju pada Nasa
yang melahap sarapannya dengan nikmat. Tidak bisa
dipungkiri bahwa Nasa cukup lihai dalam berolahraga. Gadis
itu memimpin senam pagi dengan begitu semangat meski
terdapat sedikit distraksi di lapangan tadi. Ada salah satu
peserta senam yang hampir pingsan dan tanpa disangka,
Nasa menyadarinya dan langsung membawa peserta itu ke
pinggir, memeriksanya sebentar, dan menyerahkan kepada
petugas keamanan sebelum kemudian melanjutkan
berjalannya senam.
Gadis itu terlihat cuek dengan sekitar tapi ternyata cukup
peka dengan hal-hal kecil. Bahkan posisi peserta yang
hampir pingsan itu berada di baris ketiga paling ujung yang
mana itu cukup jauh dari tempat Nasa berada.
Well, Sarah cukup kagum. Sedikit. Tapi tentu sampai
kapan pun, Nasa tidak bisa diterimanya sebagai cucu
menantu karena dia tidak akan melepaskan Leo pada gadis
lain selain Adel dan begitu sebaliknya.
"Masuk kerja seperti biasa?" tanya Leo pada Nasa
membuka pembicaraan di ruang makan itu.
Nasa mengangguk menjawabnya.
"Aku antar," kata Leo lagi.
Nasa menggeleng. "Aku bawa mobil."
"Mobil kamu tinggal di sini aja. Pulang kerja nanti aku
jemput untuk ambil mobil kamu."
Nasa menggeleng lagi. "Repot, bolak-balik. Aku pergi
pakai mobil sendiri aja."
Leo masih ingin memprotesnya. Tetapi mengingat di mana
keberadaan mereka saat ini, laki-laki itu pun memilih diam.
*__*
"Aku sedikit kesal sama sikap kamu pagi ini." Mobil
berhenti tepat di parkiran rumah sakit. Leo menarik rem
tangan sebelum kemudian memiringkan tubuhnya menatap
pada Nasa yang ikut memerhatikannya. "Tapi terima kasih,
udah temani Oma olahraga." Laki-laki itu kemudian
tersenyum menatap Nasa.
Leo merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu
dari sana. Sebuah lolipop warna-warni dan memberikannya
pada Nasa.
"Maaf, aku nggak bisa buatin kamu bekal makan siang.
Nggak bisa temani kamu makan siang juga. Ada agenda
penting di Rumah Rasa siang ini."
Nasa menerima lolipop itu dari Leo. Wajahnya terlihat
cerah saat menerimanya. Seperti wajah biasanya kalau Leo
memberikannya makanan.
"It's okay. Aku bisa makan di kantin RS nanti."
"Pulang nanti aku jemput. Aku buatin makanan spesial
untuk kamu juga."
Nasa mengangguk. "Aku mau dessert yang spesial juga,"
pinta Nasa. Gadis itu membuka lolipopnya dan langsung
memasukkan permen itu ke dalam mulutnya. Wajah
menggemaskan Nasa saat sedang makan membuat Leo ikut
tersenyum lebar.
"Dessert yang paling spesial untuk dokter Nasa," balas
Leo. "Tapi, Nasa ..."
"Hm?"
"Kalau aku telepon, jawab ya? Aku chat juga tolong
dibalas." Nasa itu lama sekali membalas pesan. Bahkan bisa
tidak dibalas. Di telepon juga jarang diangkat. Terkadang
Leo merasa ini sebuah karma karena Leo juga seperti ini
sebelumnya. Tidak peduli bahkan Sana pernah memprotes
karena Leo membalas pesannya seminggu kemudian.
Diabaikan bahkan hanya lewat ponsel ternyata sangat
tidak menyenangkan.
"Ya?" pinta Leo sekali lagi.
Nasa terlihat berpikir. Namun sesaat gadis itu
mengangguk saat Leo kembali mengeluarkan lolipop dari
saku celananya dan menyerahkannya pada Nasa.
Leo tersenyum lebar akan hal itu. Kemudian dia
membiarkan Nasa bersiap untuk turun dari mobil. Sebelum
benar-benar turun, Leo menarik tangannya. Menatap Nasa
dan mengusap tangan gadis itu yang ada di
genggamannya.
"Selamat bekerja. Aku pinjam dulu mobilnya, ya?"
Nasa mengangguk. Gadis itu juga membiarkan Leo
mengusap kepalanya dengan lembut sebelum kemudian
membiarkan Nasa turun dari mobilnya.
Senyum di wajah Leo masih tidak pudar. Laki-laki itu
memang tidak berhasil mengantar Nasa ke rumah sakit
dengan mobilnya. Namun Leo berhasil mengambil alih
kemudi mobil Nasa bahkan meminjam mobilnya dengan
sedikit ... paksaan dan sogokan.
Mungkin sejak saat itulah, hubungan keduanya mulai naik
ke taraf lebih dari pada sebelumnya. Nasa yang tidak terlalu
membatasi diri dengan Leo. Nasa yang mau membalas
pesannya, Nasa yang mau menjawab teleponnya, Nasa
yang mau meminjamkan mobilnya karena Nasa masih
susah untuk diantar jemput dengan mobil Leo.
Juga ... Nasa yang tidak lagi menolak sentuhannya.
Flashback off.
.
.
.
To Be Continued
(05/08/2022)
Yuhuuuu ketemu Nasa dan Chef Leo lagiiiiiii
Flashbacknya selesai sampai sini ya. Part
selanjutnya loncat lagi ke tiga bulan kemudian yang
part makan macaron hahahahahahaha
Ada Papi Saka yang lagi ngomel2 numpang lewat
juga tuh di atas hahahahaha
Part ini panjang bangeeet loh btw. Vote dan
komennya harus buanyaaak sih ini :D
Kita main target lagi lah yaa....
1,6 vote + 400 komen buat update, gas nggak?
TUJUHBELAS
Votenya belum terpenuhi tapi aku udah nggak sabar
update part ini. Tadinya mau update baca duluan di
KaryaKarsa tapi aku ingin kalian tercengang
bersama-sama hwehehehehe
.....
"Sshh ..." Nasa mendesis sakit memegangi pipinya yang
baru saja Leo kecup sehingga menekannya cukup kencang.
"Kenapa?"
"Sakit gigi."
Leo mengusap pipi gadis itu. "Udah periksa?" tanyanya.
"Belum."
"Ya udah, besok aku temani ke dokter gigi."
"Nggak usah," tolak Nasa. "Aku sendiri aja besok. Aku
kerja di rumah sakit kalau kamu lupa."
Leo menghela napasnya. Namun pada akhirnya
mengangguk mengijinkan. Dipeluknya lagi Nasa yang
kembali mencomot baby macaron buatannya.
"Puasa ya," ujar Leo. "Tiga hari aja."
Puasa yang dimaksud adalah puasa makanan manis. Ini
kerap Nasa lakukan kalau dia sudah sakit gigi seperti ini.
"Masih ada ayam. Aku masakin gulai ayam kesukaan
kamu."
Nasa cemberut. Menatap makanan lezat di depannya
dengan sedih. Jadi malam ini adalah terakhir kali dia bisa
merasakan lezatnya kue-kue ini.
"Coba sini liat." Leo memutar sedikit wajah Nasa untuk
berhadapan dengannya. Mengusap lagi pipi gadis di
depannya itu. Sebelum kemudian mengecup bibirnya
dengan lembut.
Ciuman Leo sebenarnya berpengaruh sedikit. Nasa
merasa sakit giginya berkurang dengan kecupan lembut
laki-laki itu di pipi dan bibirnya. Namun setelahnya, Nasa
kembali menatap nelangsa pada macaron di atas meja. Juga
di tangannya yang kemudian Leo ambil dan diletakannya
kembali pada piring. Ada satu lagi di pikiran Nasa yang
membuatnya lebih nelangsa.
"Mau boba," gumam gadis itu. Rencana Nasa adalah
membeli boba besok. Tapi kalau begini ...
"Boba apa lagi sakit gigi gini." Leo mengusap kembali pipi
gadis itu lembut.
Nasa menghela napasnya. Pada akhirnya, dia harus
merelakan keinginan dan rencananya untuk membeli boba
besok. Harus puas malam ini hanya makan sedikit macaron.
Leo itu ternyata bawel sekali. Bawel yang sudah hampir
menyamai Papi dan Naka kalau Nasa sedang sakit gigi. Akan
melarangnya ini itu tidak karuan dan juga memantaunya
seperti Nasa adalah buronan.
"Tiga hari saja," kata Leo. Menyadari wajah tidak
bersemangat Nasa yang sudah harus berpisah dengan
makanan-makanan manisnya. Meski hanya sementara.
"Kamu pulang ke mana hari ini? Apartemen atau rumah?"
tanya Leo. Berusaha mengalihkan perhatian Nasa dari
kesedihan yang baru saja menimpanya.
"Mulai besok aku tugas di ruangan," ujar Nasa.
Leo mengerutkan keningnya sedikit tidak mengerti.
"Harusnya aku dapat jadwal 3 bulan di IGD, 3 bulan di
ruangan, terus setelah itu pindah ke puskesmas. Tapi ada
beberapa hal jadi baru kebagian ruangan di hampir bulan ke
lima."
Leo mengangguk, menyimak penjelasan Nasa.
"Kalau di ruangan, jam kerjanya teratur. Terima pasien
dari jam 9 sampai jam 3. Kemungkinan aku berangkat jam 8
dan pulang sekitar jam 4."
"Bagus dong? Kamu jadi nggak usah kerja sampai malam
lagi."
Nasa mengangguk. "Tapi karena itu ... Papi nggak izinin
aku lagi tinggal di apartemen Keanu. Harus tinggal di
rumah."
Nasa mendesah lemah. Ini semua hasil rembetan
pertengkaran Papinya dan Kana yang tidak berkesudahan.
Adik bungsunya itu masih saja meminta keadilan sehingga
Nasa jadi kena getahnya. Dia sudah tidak diizinkan lagi
menginap di apartemen Keanu dan harus pulang ke rumah.
Nasa terlihat tidak bersemangat. Begitu juga dengan Leo.
Kalau Nasa akan kembali tinggal di rumah, waktu
kebersamaan mereka pasti lebih sedikit dari biasanya. Nasa
tidak bisa lagi menemaninya di dapur sampai tengah malam
atau bahkan menginap. Mereka juga tidak bisa sarapan
bersama lagi.
"Nggak ada solusi lain?" tanya Leo. "Untuk kamu biar
tetap bisa tinggal di apartemen?"
Nasa menggeleng. Solusi itu sayangnya tidak ada.
Papinya sudah tidak bisa dibantah. Bahkan Naka sudah
tidak diperbolehkan lagi menginap di rumah temannya. Ini
semua gara-gara Kana.
"Kamu ..." Nasa menatap Leo. "Punya rekomendasi?"
"Rekomendasi?"
"Papi bilang Kana bisa bebas keluar rumah kalau udah
menikah. Kamu ada orang yang bisa aku kenalin ke Kana
nggak?"
Leo menatap Nasa terperangah. "Adik kamu itu kan masih
kelas 3 SMA?"
Nasa mengangguk. "Dia bilang mau menikah muda biar
nggak jadi tawanan Papi lagi."
Leo terkekeh geli. Nasa banyak bercerita tentang yang
menimpanya akhir-akhir ini. Terkhususnya masalah Kana
yang sering bertengkar dengan sang Papi. Laki-laki itu pun
kembali membawa Nasa masuk ke dalam pelukan.
Menjatuhkan tubuh bersandar pada sandaran sofa dengan
Nasa yang ikut bersandar dalam pelukannya. Mendekap
gadis itu selalu menjadi hal yang paling Leo sukai.
"Berarti kita akan jarang ketemu?" bisik Leo kecil. Nasa
mengangguk. Ikut menyamankan tubuhnya di sana. "Malam
ini nginap ya? Di apartemenku?"
Nasa mengangguk. Dia sepertinya memang harus mengisi
energi banyak-banyak sebelum waktu pertemuannya
dengan Leo jadi dipersingkat.
*__*
"Papi itu anak kedua. Punya Kakak yang pernah kita
kunjungi rumahnya yang ada kebun anyelirnya itu. Kamu
masih ingat, kan?"
Leo mengangguk. "Yang setelah itu kita ke panti, terus ke
rumah Oma."
"Papi juga punya adik perempuan, namanya Tante Erien.
Tante Erien punya anak namanya Mas Laskar. Mereka
tinggal di Jogja juga. Mas Laskar itu arsitek, kayak Papanya.
Sekarang sudah menikah sama Mbak Lunar. Mbak Lunar itu
Kakaknya Mas Bhumi, suaminya Sana. Lucu, ya? Kayaknya
kok jodoh mereka nggak jauh-jauh orangnya."
Nasa tertawa kecil. Diikuti oleh Leo yang masih setia
mendengarkan juga mengusap kepala Nasa yang bersandar
pada dadanya.
"Mas Laskar itu orang galak. Sana yang paling sering kena
omelan sama dia. Saking galaknya, bahkan aku nggak bisa
protes setelah aku sadar kenapa aku harus panggil dia 'Mas'
sedangkan menurut silsilah, Mamanya justru adiknya Papi.
Padahal aku tetap disuruh panggil Mas sama Mas Darren
karena Papi adik Papanya Mas Darren. Menurut silsilah dia
yang paling muda tapi dia sama sekali nggak mau
dimudain. Dia bahkan nggak mau panggil Darren pakai
Mas."
Leo terkekeh. "Memang umurnya Mas Laskar berapa?"
"Ehm, berapa, ya?" Nasa terlihat berpikir. "Lupa, deh. Tapi
mungkin lebih tua dari kamu setahun atau dua tahun?"
"Ya pantes. Usia kalian selisih jauh. Apalagi kalau sama
Darren."
"Iya juga, sih." Nasa mengangguk-angguk.
Gadis itu lalu melanjutkan kembali ceritanya. Kali ini
bercerita tentang keluarga dari ibunya yang memiliki satu
orang kembaran dan satu orang kakak tiri. Juga bercerita
tentang sepupu-sepupunya dari saudara kembar Maminya
yang justru kebanyakan merantau ke Jawa. Diizinkan pula.
Coba kalau anak-anaknya Saka. Mana mungkin dapat izin.
"Ya wajar sih, Kana sering protes. Papi memang
seprotektif itu," sambung Nasa.
Nasa menceritakan banyak hal pada Leo. Tentang
keluarganya terutama. Dia sendiri tidak mengerti kenapa
bisa Nasa seluwes ini bercerita pada orang lain di mana
biasanya Nasa malas sekali membuka suara. Namun
bercerita dengan Leo itu ternyata menyenangkan. Laki-laki
itu menyimak dengan baik dan juga meresponnya dengan
baik. Leo benar-benar pendengar yang baik.
"Kalau kamu?" Nasa bertanya balik. "Keluarga kamu
gimana?"
Leo tampak berpikir sebentar sebelum memulai ceritanya.
Ini memang kebiasaan mereka setiap menginap bersama.
Saling bercerita berbagai hal. Paling sering cerita tentang
makanan. Tapi karena mulai malam ini Nasa puasa manis,
jadi topik itu sengaja mereka hilangkan.
"Kalau aku ... Ayah itu anak bungsu." Leo pun mulai
menceritakan keluarganya. "Anak pertama laki-laki juga.
Om Rey. Omku pilot. Sekarang tinggal di Banjarmasin sama
istrinya, Tante Dira. Terus yang kedua, Tanteku, Tante Tiana
yang tinggal dengan Oma. Tanteku pelukis. Dia sebenarnya
paling sering jalan-jalan dan jarang di rumah. Tadinya Oma
tinggal sama kami. Tapi karena Tanteku ini nggak pulang-
pulang, jadi Oma putuskan untuk tinggal sendiri supaya
Tante pulang ke rumah dan temani Oma di rumah. Kalau
Opa, Opaku sudah meninggal sebelum ayah dan bunda
menikah."
"Sepupu kamu?" tanya Nasa.
Leo menggeleng. "Aku nggak punya sepupu. Om Rey dan
Tante Dira nggak ada anak dan Tante Tiana nggak menikah."
Nasa berpikir sebentar, kemudian mengangguk
mencernanya.
"Aku kagum sekali dengan Tante Tiana. Dia nggak
menikah tapi dia kelihatan bahagia sekali. Pergi ke mana
pun yang dia mau dan seperti nggak memiliki tanggungan
dan beban apa pun dan hidupnya begitu bebas. Suatu saat
nanti, aku ingin seperti Tante Tiana."
"Seperti Tante Tiana?" Nasa mengulangnya.
Leo mengangguk. Senyumnya terbit saat membahas
Tantenya itu. Matanya seolah menerawang membayangkan
hidup seperti apa yang akan dijalaninya nanti.
"Aku nggak ingin menikah."
Leo hanya akan menikah dengan Adel. Selain dengan
Adel, dia tidak akan menikah dengan siapa pun. Suatu saat
nanti, dia akan mewujudkan kehidupan bebasnya seperti
Tante Tiana. Melakukan apa pun yang diinginkannya tanpa
khawatir oleh apa pun itu.
*__*
"Jam 4 nanti aku udah di parkiran."
Nasa mengangguk. Membiarkan Leo menarik tangannya
dan memeluknya singkat. Tidak lupa mengecup kepalanya
sebelum kemudian Nasa keluar dari mobil. Pagi tadi Nasa
berangkat dari rumah. Sengaja berangkat lebih awal agar
bisa sarapan bersama Leo di dapur pribadi laki-laki itu
sebelum kemudian Leo mengantarnya ke rumah sakit.
Nasa berjalan melewati lorong-lorong. Kemudian terhenti
saat menemukan Liana yang melambai padanya. Gadis itu
tersenyum dan berlari mengejar Nasa.
"Semangat banget yang kebagian jaga ruangan hari ini?"
Liana menyapanya.
Nasa tersenyum sekenanya. Dia memang lebih
bersemangat hari ini. Mendapatkan tugas bergabung
dengan tim kardiologi. Tentu saja harus semangat karena
Nasa sudah menentukan akan mengambil spesialis apa
nantinya.
"Lo di bangsal anak?" tanya Nasa.
Liana mengangguk. "Dokter gue belum dateng," kata
Liana.
Nasa mengangguk saja. Mereka tentu tidak langsung
menangani pasien melainkan mendampingi dokter spesialis
untuk bertugas. Apalagi ini hari pertama. Masih harus lebih
banyak untuk belajar.
"By the way, Nas. Lo punya pacar, ya?" tanya Liana.
Nasa menggeleng. "No," jawab gadis itu langsung.
"Tapi gue liat akhir-akhir ini lo sering diantar jemput?
Sama siapa? Adik? Bokap? Sopir? Sepupu? Temen?"
"No."
"Terus siapa?"
Nasa yang semula sudah berjalan kini kembali
menghentikan langkahnya.
Siapa?
Dia bahkan tidak menemukan kata yang tepat untuk
mengenalkan Leo kepada orang-orang. Leo itu ... siapa?
Memikirkan Leo, Nasa mengingat apa yang mereka lalui
tadi malam. Pagi ini Nasa bersemangat. Semangat yang
didapatkan setelah usaha besar melupakan apa yang Leo
katakan tadi malam.
Laki-laki itu tidak ingin menikah.
Nasa kepikiran. Tidak dipungkiri bahwa hal itu ternyata
mempengaruhi pemikirannya. Gadis itu pun tidak mengerti
kenapa dia harus memikirkannya. Nasa bahkan belum
memikirkan untuk menikah dalam waktu dekat ini.
Perjalanan kariernya untuk menjadi dokter jantung dan
pembuluh darah masih panjang. Menikah, tentu belum
masuk ke dalam bagian rencananya dalam waktu dekat.
Tapi bukan berarti Nasa tidak ingin menikah.
Dia ingin menikah. Menemukan seseorang seperti Papinya
yang begitu mencintai Mamanya. Kedua orang tuanya
menikah di usia yang tidak lagi muda. Nasa pikir, nasibnya
akan sama dengan kedua orang tuanya nanti. Menikah di
usia 30an tahun di saat karier sudah matang. Dia
memasukkan rencana menikah meski tidak dalam waktu
dekat.
Ini aneh. Ini sangat aneh. Nasa tahu dirinya dan Leo tidak
memiliki hubungan apa pun. Jadi kenapa sebenarnya Nasa
harus merasa terganggu dengan rencana hidup laki-laki itu
sedangkan Nasa juga memiliki rencana hidupnya sendiri?
Apa karena dalam rencana Leo, tidak ada Nasa di
dalamnya?
Tapi ... memangnya dalam rencana hidup Nasa, ada Leo di
dalamnya? Nasa berencana menikah. Dengan orang yang
dicintai dan mencintainya. Dan tentu saja ... itu bukan Leo,
kan?
Nasa ... tidak jatuh cinta pada Leo, kan?
"Nas? Kok bengong?"
Nasa tersentak lamunannya sendiri saat Liana
menyenggol lengannya. Gadis itu tersadar. Tidak
seharusnya Nasa melamun di tempat ini. Tempat yang
menjadi satu dari bagian-bagian lain perjalanan mimpi
Nasa.
Gadis itu menggeleng. Nasa harus fokus. Menghilangkan
segala sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkannya.
Menikah masih lama. Tidak harus dipikirkan sekarang.
Usianya masih 25 tahun. Masih panjang perjalanannya
untuk sampai ke tahap itu. Nasa bahkan tidak berminat
untuk pacaran agar bisa fokus dengan kariernya. Kenapa
sekarang Nasa harus terdistraksi hanya karena seorang laki-
laki?
"Nas?" panggil Liana.
"Hm?" Nasa menoleh sekilas. Menyamankan mimik
wajahnya dan kembali melanjutkan langkah.
"Kalau lo nggak punya pacar, lo nggak berminat gitu,
sama Raga? Dia keliatan udah suka sama lo dari pertama
kita di rumah sakit ini, loh."
Pandangan Nasa kini menuju pada laki-laki yang baru saja
disebutkan namanya oleh Liana. Raga. Teman satu
kelompoknya di IGD. Laki-laki dengan senyum manis yang
selalu menyempatkan diri untuk menyapanya. Menawarkan
makan siang bersama bahkan menawarkan tumpangan
untuk pulang.
Laki-laki itu kini melambaikan tangannya. Berjalan sedikit
cepat menghampiri Nasa. Berdiri di hadapannya.
"Hai, Nas." Raga tersenyum manis.
Raga seorang dokter. Laki-laki itu juga keturunan dokter.
Seperti Papi dan Mami Nasa yang seorang dokter. Dulu,
Nasa berpikir untuk menikah dengan dokter. Merencanakan
itu dengan Raga, seharusnya bukan suatu hal yang buruk,
kan?
Tapi... tapi kenapa Nasa tidak berminat bahkan hanya
untuk sekedar beramah tamahdengan laki-laki itu?
.
.
.
To Be Continued
(06/08/2022)
Mulai masuk di part Chef Leo yang sudah mulai
agak-agak hahahaha
Di sini udah ada clue juga sih sebenarnya kenapa
Oma maunya Leo nikah sama Adel hehehehehe
ada yang bisa tebak nggak??
Sama Raga kalian masih inget, kan? inget dong.
masa dokter ganteng nan manis kayak Raga kalian
lupain xixixixi
Sampai ketemu next part!!
Aku minta 1,7 vote + 500 komen boleee?
Yang ini mah gak usah buru2 kok wkwkwk
Sampai ketemu^^
Luv Luv
Mill
DELAPANBELAS
Nasa merasa benar-benar tidak mampu.
Hanya menatap Liana yang sedang memakan crepe cake
rainbow yang terlihat begitu nikmat sedangkan Nasa hanya
menelan ludah penuh rasa nelangsa. Dia tidak bisa
melakukan apa pun karena janjinya dengan Leo dan juga
dirinya sendiri bahwa Nasa masih dalam puasa manisnya.
Bahkan ini baru hari pertama.
"Kenapa, Nas? Mau?" Liana menawarkan makanannya
tiba-tiba.
Nasa langsung mengalihkan pandangan pada makan
siang miliknya sendiri dan menggeleng. Makan siang normal
berupa nasi dan lauk pauk 4 sehat lima sempurna. Jelas saja
Nasa terpaksa menolak padahal dia ingin sekali makanan
yang sedang dimakan oleh rekan sejawatnya itu.
"Kau, orang macam Nasa kau tawari makanan manis-
manis." Julian yang ikut makan bersama mereka menimpali.
"Emangnya kenapa?" tanya Liana.
Julian menoleh pada Nasa yang dibalas tatapan datar oleh
gadis itu. "Nasa itu sukanya yang pedas-pedas. Sepedas
wajah dan ucapannya." Julian tertawa heboh sekali.
Nasa semakin menatap datar dan tidak berminat pada
laki-laki itu. Bukan Julian memang kalau tidak buat kesal.
Pergantian tugas dari IGD menuju jaga ruangan membuat
Nasa bisa menikmati makan siang bersama seperti ini
dengan teman-temannya yang lain. Saat ini, dia sedang
makan bersama Liana, Julian dan juga Raga. Ah, ada satu
lagi yang bergabung. Tristan, yang sedang menunggu
pergantian jadwal IGD jam 2 nanti.
"Dihajar Nasa baru tau rasa, Lo. Jule Jule." Tristan
menimpali juga. Setelah ikut tertawa tentu saja. Mereka
berdua memang paling cocok untuk membuat suasana
ramai.
"Lo memang nggak suka makanan manis, Nas?" tanya
Raga yang duduk di depannya.
Nasa menatap laki-laki itu. Menatap makanannya sendiri
kemudian mengedikkan bahunya.
"Biasa aja," jawab Nasa.
"Nasa itu sukanya yang pahit-pahit. Sepahit perjuangan
cinta Raga yang nggak nampak hilal kepekaan dari calon
mempelai wanitanya." Julian sudah berulah lagi. Tertawa
keras sekeras otot-otot di lengannya. Diikuti oleh orang lain
yang tidak bukan adalah Tristan. Parahnya, Liana juga
malah ikutan tertawa.
Nasa memutar kedua bola matanya atas guyonan yang
sama sekali tidak lucu itu. Gadis itu sempat menatap pada
Raga yang sedang menatap tajam pada Julian. Laki-laki itu
kemudian menatap Nasa dan mengusap tengkuk
belakangnya mengalihkan pandangan.
Tidak jelas.
*__*
"Tadi ngobrol sama siapa?"
"Yang mana?"
"Di pintu masuk tadi?"
Nasa tampak berpikir atas pertanyaan yang Leo
lemparkan itu.
"Oh. Raga?" Ketika menunggu kedatangan Leo tadi, Raga
menghampirinya dan mengajak Nasa berbicara beberapa
hal.
"Raga?" Leo bertanya balik.
Nasa mengangguk.
"Dia siapa?"
"Teman."
"Akrab?"
"Biasa aja."
"Kok tadi kayaknya seru banget ngobrolnya. Ngobrolin apa
memang?"
"Pasien."
"Oh." Leo mengangguk. Laki-laki itu melirik Nasa sekilas
yang tampak tenang duduk di tempatnya.
Seperti rutinitas yang dilaluinya sebulan lebih ini, Leo
akan mengantar jemput Nasa ke rumah sakit. Dimulai hari
ini juga, jam pulang Nasa yang biasanya malam berubah
jadi sore. Laki-laki itu membawa mobil Nasa yang berangkat
dari rumah menuju Rumah Rasa dan menjemput Leo
kemudian membiarkan Leo membawanya ke rumah sakit.
Awalnya Nasa menolak. Tapi Leo itu cukup keras kepala
hingga Nasa membiarkan saja Leo melakukan sesukanya.
Untung saja Rumah Rasa searah dengan jalan Nasa ke
rumah sakit. Dan juga, Nasa diuntungkan karena Leo jadi
semakin bervariasi membuatkannya aneka makanan
kesukaannya.
"Aku nggak langsung pulang," kata Nasa membuka lagi
pembicaraan mereka.
"Mau ke mana?" tanya Leo.
"Mau ke apartemen dulu. Mau ambil beberapa barang."
Leo mengangguk. Laki-laki itu mengemudikan mobilnya
menuju apartemen. Bergabung dengan kendaraan lain yang
memenuhi jalan. Sore ini padat merayap. Bahkan mobil bisa
berhenti dengan waktu yang cukup lama karena kemacetan.
Jelas sekali jam pulang kerja seperti ini berbeda dengan
jalanan lenggang yang biasa Nasa lalui saat malam.
"Macet banget," ujar Nasa.
Leo menoleh. "Bosen ya?"
Nasa menggeleng. "Besok aku berangkat sendiri, ya? Sore
pasti restoran lagi ramai. Kamu jadi buang-buang waktu
antar jemput aku begini padahal aku bisa sendiri."
"Karyawan Rumah Rasa juga ramai," balas Leo.
"Kalau sewaktu-waktu kamu dibutuhkan di sana
bagaimana?"
Leo menggeleng.
"Besok aku berangkat sendiri." Nasa kekeh pada
pendiriannya.
Leo menoleh lagi. Menatap gadis itu sembari menarik rem
tangannya saat mobil kembali bergabung dengan lampu
merah.
"Memang kenapa nggak mau aku anterin lagi?" tanya pria
itu.
"Repot. Waktu kamu kesita banyak cuman untuk antar
jemput aku."
"Kalau aku nggak antar jemput kamu kita ketemunya
kapan? Kamu udah nggak tinggal di apartemen lagi."
"Memangnya harus ketemu terus?"
"Memangnya nggak mau makan masakan aku lagi?"
"Kan lagi puasa."
"Jadi kalau lagi puasa manis nggak mau ketemu aku?"
"Ah, pokoknya besok aku pergi sendiri. Repot."
Leo tidak langsung menjawab. Laki-laki itu terdiam
bersama kemacetan menikmati bunyi klakson kendaraan.
"Aku udah jarang pulang malam. Kalau sore, banyak
bakery yang masih buka." Nasa kembali membuka
suaranya.
"Kenapa? Sudah nggak mau ketemu aku lagi?"
Nasa terlihat berpikir. Dia merasa pulang pergi dengan
Leo itu merepotkan untuk laki-laki itu padahal Nasa bisa
melakukannya sendiri. Apalagi jalanan yang macet baik
pergi atau pulang. Leo juga memiliki pekerjaannya sendiri.
"Aku ada buat salah? Kamu keliatan beda hari ini," ujar
Leo lagi. "Atau menu masakan yang aku masak buat kamu
bosan?"
Nasa jelas masih menginginkan menikmati sajian lengkap
laki-laki itu. Namun selain karena kini Nasa sedang puasa
manis, rasanya tidak seantusias sebelumnya untuk Nasa
menanti-nantikan berbagai menu yang Leo hidangkan
untuknya.
Atau sebenarnya ... Nasa ini kenapa?
*__*
Nasa selesai mengemasi beberapa barang-barangnya
yang ada di apartemen Keanu. Lebih banyaknya buku-buku
dan juga jurnal yang masih ia baca. Ada beberapa pakaian
juga meski Nasa juga masih meninggalkan beberapa di
sana. Beberapa barang-barang yang dibawanya itu,
ternyata sampai memenuhi satu koper.
"Kamu harus bawa semua ini?" tanya Leo yang
mengambil alih koper coklat milik Nasa ke dalam
genggamannya. Rasanya aneh sekali Nasa mengeluarkan
koper ini dari unit apartemen yang pernah beberapa kali Leo
kunjungi.
Nasa mengangguk saja. Menatap kopernya lalu menutup
pintu.
"Kamu ..."Leo menjeda kalimatnya. "Kamu kayak nggak
mau balik ke sini lagi."
Nasa tidak menimpali. Gadis itu hanya menatap Leo
sebentar sebelum berjalan lebih dulu. Melangkah
meninggalkan lantai apartemen milik Keanu yang sudah
menjadi rumah kedua baginya. Berjalan menuju lift bersama
dengan Leo yang mengekorinya dari belakang. Mereka
bersama dalam diam menuruni lantai demi lantai kotak besi
itu. Berjalan menuju mobil sampai Leo berhasil
memasukkan koper coklat itu ke dalam bagasi.
"Kunci mobilku?" Nasa mengulurkan tangannya. Meminta
kunci mobil yang masih berada dalam genggaman Leo.
Tidak langsung Leo berikan apa yang Nasa minta. Laki-laki
itu menatap kunci di tangannya kemudian menatap Nasa
yang tangannya masih terulur.
"Aku antar ke rumah, ya?"
Nasa menggeleng. "Nanti kamu pulangnya bagaimana?"
"Aku bisa pesan taksi."
Nasa menggeleng lagi. "Repot."
"Aku nggak masalah kalau harus repot."
"Aku nggak suka merepotkan orang lain."
Leo menatap wajah gadis itu dalam. Nasa terlihat
menutup diri lagi. Seperti saat awal-awal pertemuan
mereka. Bukan seperti Nasa-nya yang biasa.
"Nggak bisa kamu buat pengecualian untukku? Aku nggak
masalah kalau kamu repotkan. Dalam apapun itu." Leo
mengambil tangan gadis itu. Menggenggamnya dan
menatap Nasa mencoba membaca apa yang gadis itu
pikirkan.
Leo merasa ... Nasa sedang marah dengannya.
"Aku antar pulang, ya?"
Menghela napasnya, Nasa pun akhirnya memilih untuk
membiarkan Leo mengambil alih kemudi mobilnya.
Membiarkan Leo menggenggam tangannya masuk ke dalam
mobil.
*__*
Nasa meminta Leo menghentikan mobil di depan sebuah
mini market. Memarkirkan mobil di sana agar Leo bisa
memesan taksinya. Syukurnya, Leo tidak memaksa untuk
mengantarkan Nasa sampai rumah setelah Nasa begitu
tegas memintanya untuk tidak mengantar sampai rumah.
Nasa jelas tidak mau membuat kehebohan kalau ada salah
satu penghuni rumahnya yang tahu.
"Nasa," panggil Leo yang masih duduk di depan kursi
kemudi.
"Hm?" Nasa ikut menoleh pada laki-laki itu.
Leo tersenyum tipis. Mengambil tangan gadis itu untuk
digenggamnya. Diusapnya tangan Nasa dengan lembut.
"Aku ada buat salah ya?" Leo bertanya lagi.
Nasa mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu mikir
begitu?"
"Kamu kelihatan lagi marah sama aku."
"Marah? Kenapa?"
"Kamu nggak balas chat aku siang ini. Kamu juga reject
telepon aku. Terus kamu juga nggak mau lagi diantar
jemput. Kamu juga ... mulai membatasi diri lagi."
Apa benar Nasa seperti itu? Jujur saja, siang tadi Nasa
sengaja mengabaikan chat dari Leo dan juga telepon laki-
laki itu. Entah kenapa, Nasa tidak memiliki semangat seperti
biasanya. Hari ini Nasa memang harusnya bersemangat
karena ini adalah hari pertamanya bertugas di ruangan. Tadi
pagi Nasa sudah bersemangat. Namun saat memikirkan
beberapa hal yang membuat pikirannya cukup terganggu
itu ... semangat Nasa seakan menguap begitu saja.
Atau karena Nasa tidak bisa memakan makanan manis
untuk beberapa hari ini?
Ya, pasti itu jawabannya.
"Mungkin lusa moodku membaik lagi?"
"Lusa?" Leo mengernyitkan keningnya.
"Lusa aku bisa makan makanan manis lagi."
Laki-laki itu tersenyum. "Lusa, aku akan buatkan menu
spesial untuk kamu."
Nasa mengangguk. Gadis itu membiarkan Leo menarik
tubuhnya dan mengecup keningnya pelan. Nasa meresapi
apa yang tengah Leo lakukan padanya saat ini. Dia tidak
bisa mengelak bahwa berada dalam pelukan Leo selalu
membuatnya merasa nyaman dan hangat.
Dia menyukai berada di dalam dekapan laki-laki itu. Dia
juga ... menyukai Leo yang sering mengecup keningnya
dengan lembut. Mungkin rasa tidak bersemangatnya hari ini
memang hanyalah karena Nasa harus menahan diri dari
makanan manis yang menggugah selera itu.
Tentu saja bukan karena Nasa terpengaruh dengan hal-hal
selain itu. Khususnya, dengan hal-hal yang berkaitan
dengan ke tidak inginan Leo terkait dengan pernikahan.
.
.
.
To Be Continued
(11/08/2022)
Yuhuuuu bertemu kembali dengan Nasa dan
Leooooo
jangan lupa tinggalin jejak banyak2 yaaa^^
LuvLuv
Mill
SEMBILANBELAS
"Ya ampun jauh banget Jule makan siang doang
sampai ke Rumah Rasa segala." Liana memprotes ide Julian
yang menginginkan makan siang mereka hari ini tidak di
kantin rumah sakit lagi. Katanya dia bosan makan makanan
yang ada di sana.
"Sekali-sekali, Lian. Lagian cuman 10 menit perjalanan aja
kok. Aku udah tahu jalan pintas ke sana. Sepuluh menit juga
nggak sampai. Jam istirahat kita kan lumayan juga."
Liana berdecak. Gadis itu menoleh pada Raga dan Nasa
yang diam saja tidak membantunya sama sekali soal ide
Julian yang terkadang suka mengada-ngada.
"Kalian mau, makan siang di sana?" tanya Liana pada
keduanya.
Nasa tampak berpikir. Julian bilang dia menemukan jalan
pintas menuju Rumah Rasa yang Nasa belum tahu. Gadis itu
pun akhirnya mengangguk.
"Gue masalah." Dia juga butuh tahu jalan pintas ke sana
untuk diberitahukannya pada Leo.
"Gue juga." Raga ikut mengangguk.
Julian bersorak gembira saat dia memiliki dukungan dari
dua lainnya. Tidak peduli wajah Liana yang tampak
menghela napasnya pasrah karena tidak memiliki
dukungan.
"Kita naik mobilku." Julian melenggang duluan. Diikuti
dengan Nasa yang berjalan menyusul dan terlihat
bersemangat. Sudah dua hari ini dia tidak bertemu Leo.
*__*
"Hai! Kamu nggak bilang mau ke sini." Leo menghampiri
Nasa yang duduk di salah satu meja tamu restorannya.
Nasa berdiri. Menyambut pelukan singkat Leo padanya.
"Aku makan siang sama teman-teman," kata gadis itu.
Pandangan Leo pun beralih menatap teman-teman Nasa
yang duduk ikut memerhatikan mereka. Terutama Julian
yang menatap keduanya dengan mulut terbuka. Dia ingat
pernah ke sini bersama Ivanka dan yang lainnya. Masih
ingat juga bahwa Ivanka bilang dia sedang mengincar Leo.
"Leo." Leo mengulurkan tangannya pertama kali pada
Raga. Memperkenalkan diri dan langsung dibalas oleh laki-
laki itu.
"Raga."
Leo tersenyum kecil. Mengeratkan genggaman tangannya
pada Raga sebelum melepaskannya dan beralih kepada dua
teman Nasa yang lain. Dia tidak mungkin lupa dengan
wajah Raga yang berbicara cukup akrab dengan Nasa dua
hari yang lalu.
"Kalian sudah pesan?" tanya Leo.
"Ini lagi mau pesan." Nasa yang menjawab.
Leo menolehkan kepalanya. Mencari-cari pegawainya
sebelum mengangkat tangannya kepada salah satu
pegawainya seakan mengisyaratkan untuk datang kemari.
"Kalian pesan apa pun. Saya yang traktir hari ini," kata
Leo pada Nasa dan teman-temannya.
Ketiga teman Nasa terlihat belum cukup menguasai
keadaan. Masih sama-sama terpaku dengan kedatangan Leo
dan tiba-tiba. Apalagi gesturnya yang terlihat dekat dan
akrab dengan Nasa. Nasa yang terkenal tidak mau dekat-
dekat dengan orang lain.
"Aku ke dapur dulu. Lagi ada Adel di sana," kata Leo pada
Nasa.
Nasa mengangguk. Membiarkan Leo menepuk kepalanya
sebentar sebelum menganggukkan kepala pada teman Adel
yang lain untuk berpamitan.
"Pesan apa pun, ya. Jangan sungkan. Saya permisi dulu,"
pamit Leo sebelum benar-benar meninggalkan meja ke
empatnya.
Orang-orang yang ada di sana terdiam sebentar sebelum
menatap Nasa secara bersamaan.
"I—itu cowok yang sering antar jemput lo kan, Nas?" cecar
Liana langsung.
"Pacar lo, Nas?" tanya Raga pelan.
Nasa menggeleng. "Bukan," jawabnya.
"Terus?" Liana tidak paham.
Nasa hanya mengangkat bahunya tak acuh. Tidak berniat
menjelaskan lebih lanjut pada teman-temannya yang
merasa sangat penasaran itu.
"Dia anak pemilik restoran ini, kan? Pacarnya Ivanka,
kan?" tanya Julian.
"Bukan!" Nasa langsung menyanggahnya. Enak saja pacar
Ivanka. Nasa tahu jelas Leo tidak memiliki pacar mana pun.
Kalau Leo memilikinya, Leo tentu tidak akan meminta
bantuan untuk berpura-pura di depan keluarganya.
"Santai jawabnya lah." Julian menyipit menatap Nasa.
Laki-laki itu kemudian menoleh pada Raga yang tidak
mengalihkan pandangannya pada Nasa sedikit pun.
Sedang Nasa, gadis itu terlihat santai kembali dan
membaca-baca buku menu.
*__*
"Loh ada Nasa?" tanya Adel saat Leo kembali memasuki
dapur pribadinya. Tadi laki-laki itu pamit sebentar ke
restoran saat salah satu pegawainya memanggil.
Leo mengangguk. "Lagi makan siang sama teman-
temannya," jelas Leo lagi setelah tadi ia memberitahukan
pada Adel bahwa Nasa datang ke restorannya.
Adel menepuk-nepuk lengan Gauda yang duduk di sisinya.
"Kamu ambilin tas untuk Sana dong. Kita titipin sama Nasa
aja. Aku males lagi nganterin ke rumahnya. Biar dia ambil
sendiri ke kembarannya."
"Iya-iya sebentar." Gauda pun bangkit. Berjalan keluar
dari dapur pribadi Leo menuju parkiran mobilnya.
Leo menatap sebentar pada Adel sebelum kemudian ikut
duduk di sofa single yang sempat ia duduki sebelumnya.
"Tas apa?" tanya laki-laki itu.
"Sana nitip tas waktu Gauda di Paris. Aku beli juga.
Kembaran sama Sana tasnya. Lucu deh kak, tasnya."
Leo mengangguk-angguk. Dia tidak mengerti
permasalahan tas. Namun setahunya, Gauda memang dari
luar negeri dan baru kembali dua hari yang lalu. Leo dan
Adel pun lanjut berbicara sampai kemudian Gauda kembali
memasuki dapur. Menyerahkan sebuah paper bag kepada
kekasihnya itu.
"Mau kamu titipin sama Kakak?" tanya Leo.
Adel menggeleng. "Mau aku kasih langsung aja. Udah
lama nggak ketemu calon kakak ipar." Adel menyengir lebar.
Hanya dibalas senyum kecil oleh Leo yang terlihat hanya
sekilas.
Gadis itu bangkit dari duduknya. "Aku pamit pulang deh,
Kak. Habis ini mau ke rumah Oma juga."
Leo mengangguk. Mengikuti Adel berdiri dan keluar dari
dapurnya melalui pintu yang terhubung ke restoran.
Berjalan di belakang Adel yang langsung menemukan
keberadaan meja Nasa dan teman-temannya.
"Nas!" panggil Adel.
Nasa menoleh. Gadis itu menatap Adel yang berjalan
menghampirinya.
"Aku ganggu sebentar maaf ya." Adel menoleh pada
teman-teman Nasa dan menganggukkan kepalanya. "Ini gue
mau nitip buat Sana," kata gadis itu pada Nasa.
Nasa berdiri. Menyingkir sebentar dari teman-temannya.
"Ini tas. Titipan Sana." Adel menyerahkan paper bag pada
Nasa.
Nasa menerimanya. Membukanya sekilas dan menatap isi
tas berwarna coklat itu sebelum kemudian menoleh kembali
pada Adel dan mengangguk.
"Dia kalau gue suruh ambil ke rumah pasti nggak mau.
Tapi kalau lo yang suruh pasti nggak bisa nolak dia." Adel
terkekeh. Tahu betul watak Sana yang suka meresahkannya
itu. Dia yang menitip tapi Adel yang harus
mengantarkannya ke rumahnya. Namun Adel juga tahu
pasti bahwa Sana tidak akan membantah perintah Nasa.
Lagian, ketimbang dengan Papinya, Sana itu lebih takut
pada Nasa.
"Thanks ya, Nas. Gue mau langsung pulang ya." Adel
kemudian menoleh pada Leo. Memeluk kakaknya itu sekilas
dan memberikan Leo mengecup kepalanya.
"Hati-hati," kata Leo.
Adel mengangguk. "Kakak jangan lupa pulang."
Leo hanya tersenyum kecil.
"Pulang dulu, Kak." Gauda ikut berpamitan.
"Hati-hati, Gauda. Lo jangan keseringan nyusahin adik
gue."
Gauda dibuatnya cemberut. Apalagi mendengar kekehan
Adel di sebelahnya.
Kedua orang itu pun berlalu dan Leo kembali menoleh
pada Nasa yang tampak kembali mengintip isi paper
bagnya.
"Kenapa?" tanya Leo.
"Tasnya warna cokelat. Mirip brownies."
"Kamu suka?"
Nasa mengangguk.
"Sebentar." Leo kemudian pergi begitu saja. Sedikit
mengerutkan keningnya, Nasa pun memilih kembali menuju
mejanya. Makanannya belum habis.
*__*
"Del, sebentar!"
Adel menoleh saat namanya dipanggil oleh sang Kakak.
Begitu juga Gauda yang baru saja akan masuk ke dalam
mobil. Keduanya menatap Leo yang berlari mendekat.
"Kenapa, Kak?" tanya Adel.
Leo berdiri tepat di depan sang adik. Menatap Adel
dengan tersenyum manis seperti biasanya.
"Del, Minggu lalu kan kamu abis beli tas juga. Boleh nggak
tas kamu yang ini kakak bayarin untuk Nasa? Dia suka.
Tasnya mirip brwonies katanya."
Adel sempat terdiam. Sedikit menganga cukup terkejut
dengan permintaan Leo yang tiba-tiba.
"O—oh. Boleh, Kak. Sebentar." Adel membuka pintu mobil.
Mengeluarkan paper bag berisi tas miliknya dan
menyerahkannya pada Leo. "Haha aku nggak tau ternyata
Nasa suka tas beginian juga. Kalo tau kan aku suruh Gauda
beli tiga." Adel tertawa sedikit dipaksakan. Sedikit tidak rela
juga menyerahkan tas miliknya pada Leo.
Leo menerima tas itu dengan senyum semakin
mengembang. Membayangkan akan selebar apa senyum
Nasa nanti saat menerima tas ini.
"Makasih, ya. Nanti Kakak kirim ke rekening kamu.
Sekalian tambahan uang jajan," ujar Leo.
"Hehe. Iya makasih, Kak. Kalau bisa uang jajanku
tambahin ya, Kak."
"Iya, nanti Kakak tambahin. Makasih ya, Dek." Leo
mengusap kepala Adel sekilas sebelum kemudian berlari
lagi memasuki Rumah Rasa.
Benar-benar tidak sabar memberikan tas ini kepada Nasa.
Lain dengan wajah berbinar Leo, wajah ketidakrelaan
semakin terlihat jelas di wajah Adel. Gadis itu menaiki mobil
milik kekasihnya, duduk, memakai seat belt dan berteriak
sembari mengacak rambutnya. Membuat Gauda yang baru
saja memasuki kursi kemudi ikut terkejut.
"Ahh Gauda! Tas aku!!"
"Loh tadi siapa suruh kamu kasih." Dengan takut-takut,
Gauda memasang seat beltnya.
"Ini pertama kalinya dia punya pacar. Pertama kalinya
juga dia minta sesuatu sama aku. Sedangkan aku kalau
minta apa aja sama dia pasti dikasih. Masa dia cuman minta
tas aja nggak aku kasih."
"Ya udah sabar aja, Babe."
"Ah Gauda ini semua salah kamu!"
Gauda terkejut lagi karena Adel yang kembali berteriak.
"Loh kok salah aku? Kan kamu sendiri yang punya ide
titipin tasnya sama Nasa."
"Iya salah mantan pacar kamu! Salah kamu juga! Kenapa
kamu pakai update-update di sosmed kalau mau ke Paris.
Kan Sana jadi tau."
Gauda hanya dapat pasrah menerima kekesalan pacarnya
itu padahal jelas bukan dia yang salah.
"Gauda kamu pilih!"
"Apa lagi sih, Babe?" Gauda semakin nelangsa.
"Kamu pilih balik lagi ke Paris beliin aku tas lagi atau kamu
pilih aku gigit."
Rasanya Gauda ingin melarikan diri saja.
"Cepat!"
"Iya-iya." Dengan tatapan nyawa yang seakan melayang
dari raganya, Gauda mengulurkan tangannya pada Adel
yang sudah bersiap menggigitnya.
"Aw! Sakit Babe!" Gaudaa memekik kesakitan. "Ayah dan
Kakak kamu yang namanya singa tapi kenapa kamu yang
suka gigit orang kaya gini, sih."
Gauda menarik lagi tangannya dan semakin nelangsa saat
bekas gigitan Adel tercipta di sana. Astaga kenapa Gauda
harus dikirimkan pacar jelmaan singa begini? Untuk saja
Gauda cinta, ya Tuhan.
.
.
.
To Be Continued
(16/08/2022)
🥳🥳
Yuhuuuuuwww bertemu lagi sama Chef Nasa dan
Dokter Leo
putih 🤣
(Kalau sadar kebalik berarti kalian udah minum air
)
Btw, couple Adel dan Gauda nongol dikit tuh
hahahaha
Kalian yg mau baca kisah Adel dan Gauda bisa baca
Book Of Romance (Adel & Gauda) di KaryaKarsa ya!
Bentuknya short story Dan cuman 6 part langsung
tamat!
Mauu infoooo
Berhubung aku udh sedikit lowong, As Sweet As
Nasa akan update teratur lagi nih!
Jadwal update nya 2 kali seminggu di Selasa dan
Jumat ya^^
Jangan lupa tungguin Nasa dan Leo di Selasa
Jumat!
Tapi...... Ketemu di Selasa Jumat kalau jumlah
komentarnya lebih dari 500 😌
Sampai ketemu di hari Jumat kalau begitu!
💕
Luv luv
Mill
DUAPULUH
"Oh udah mau pulang?" Leo bertanya pada teman-
teman Nasa yang tampak sudah selesai dengan makan
siang mereka.
"Iya Bang. Udah hampir habis jam makan siang." Julian
yang menjawab.
Leo tersenyum tipis.
"Ini kami benar ditraktir kan, Bang? Makasih loh Bang.
Memang terbaiklah Rumah Rasa."
Leo tersenyum lagi. "Jangan sungkan datang ke sini ya,"
jawab pria itu. Pandangan Leo lalu beralih pada Nasa yang
hanya diam sejak tadi.
"Aku antar ke rumah sakit, ya?" kata Leo pada Nasa.
Nasa terlihat berpikir. Menoleh pada teman-temannya
yang jelas sekali memasang raut wajah sangat ingin tahu
itu. Mereka pasti belum puas dan semakin penasaran
dengan hubungan Nasa dan Leo yang terlihat begitu akrab.
Malas diinterogasi di perjalanan pulang nanti, Nasa pun
akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan Leo.
Gadis itu pamit sekilas pada teman-temannya begitu juga
dengan Leo sebelum mereka berjalan lebih dulu.
*__*
"Tumben makan siangnya jauh banget sampai Rumah
Rasa?" Di balik kemudinya, Leo menoleh sekilas pada Nasa
yang duduk di kursi penumpang.
"Julian ketemu jalan pintas ke Rumah Rasa. Nanti
pertigaan depan beloknya ke kiri, ya."
"Belok kiri ke perumahan?"
Nasa mengangguk. "Bisa lewat perumahan. Keluarnya
pintu selatan RS. Tinggal puter balik terus sampai."
Pertigaan depan masih cukup jauh. Leo hanya
mengangguk saja mengikuti instruksi gadis di sampingnya
itu. Memerhatikan jalan tidak lupa sesekali menoleh pada
Nasa. Sejak dua hari yang dia tidak lagi mengantar Nasa ke
rumah sakit dan mereka tidak bertemu, rasanya Leo ingin
menatap Nasa berlama-lama hari ini. Meski komunikasi
mereka secara daring tidak putus, tapi tetap saja berbeda
dengan bertemu secara langsung.
"Hari Minggu besok, kamu ada kegiatan nggak?" tanya
Leo.
"Kerja bakti di rumah."
"Kerja bakti?"
Nasa mengangguk. "Setiap Minggu dan kalau anggota
keluarga nggak ada yang berhalang hadir, Papi bikin kerja
bakti di rumah." Kebetulan hari Minggu besok semua
anggota keluarganya dapat hadir mengikuti kegiatan itu.
Mulai besok juga, para pekerja di rumah sudah diliburkan.
Leo mengangguk mendengar penjelasan Nasa. Berarti
rencananya mengajak Nasa jalan-jalan tidak bisa
terlaksana.
"Kalau kerja bakti biasanya lama?" tanya pria itu lagi.
Mencoba mencari celahnya.
"Em ... lumayan. Kemungkinan selesai habis makan
siang."
"Habis makan siang berarti free?"
Nasa menggeleng. "Masih harus dengerin petuah Papi."
Besok pasti banyak yang akan Papinya bicarakan pada
mereka. Apalagi sejak insiden Kana yang menginap di
rumah temannya dan dijemput pagi-pagi buta. Setelah itu,
Papi mengubah peraturan di rumah untuk siapa pun yang
tidak boleh lagi menginap di luar karena Kana merasa
dibedakan dengan kakak-kakaknya yang lain.
Dipikir-pikir, keluarganya memang penuh drama.
"Kenapa?" Nasa menoleh menatap Leo.
"Tadinya aku mau ajak jalan-jalan."
"Ke mana?"
"Ke mana pun kamu mau."
"Minggu nggak bisa. Kalau besok bisa." Besok masih
Sabtu dan Papinya ada pekerjaan. Nasa sedikit lowong kalau
Leo mau mengajaknya jalan-jalan.
"Besok aku yang nggak bisa. Besok jadwalku visit ke
Rumah Rasa yang di Lembang." Leo menghela napasnya
tidak bersemangat.
"Ya udah kapan-kapan aja."
Leo menghela napasnya lagi tidak bersemangat. Mereka
saling diam setelahnya. Membiarkan mobil melaju dengan
sesekali Nasa memberikan instruksi jalan pintas yang baru
saja ia ketahui dari Julian. Ternyata memang menghemat
waktu tempuhnya.
Mobil Leo berhenti di parkiran rumah sakit. Pria itu lalu
menoleh menatap Nasa yang sedang membuka sabuknya.
Tangan Leo kemudian terulur ke kursi belakang. Mengambil
sebuah paper bag berisi tas yang sebelumnya ia minta dari
Adel. Diserahkan Leo benda itu pada Nasa yang dengan
bingung menerimanya.
"Untuk kamu," kata Leo.
Nasa jelas mengenali paper bag ini karena sama dengan
paper bag yang ia bawa. Titipan dari Adel untuk Sana.
Menerima benda yang sama lagi dari Leo tentu
membuatnya bingung.
"Kamu bilang suka tasnya," ujar Leo lagi.
Nasa semakin mengernyitkan kening. Seleranya dan Sana
jelas berbeda. Nasa tidak menyukai barang-barang branded
seperti kembarannya itu. Tidak juga menyukai tas-tas lucu
seperti yang ada di tangannya kini. Nasa bahkan hanya
memiliki dua tas tangan yang sering dipakainya selain
untuk ke rumah sakit karena Nasa akan selalu memakai
ransel untuk bekerja.
"Kenapa?" tanya Leo saat melihat wajah Nasa yang
tampak tidak begitu menyukai pemberiannya. Jelas sangat
berbeda dengan yang Leo bayangkan sebelumnya.
Nasa menggeleng. Melihat lagi isi paper bagnya lalu
menatap wajah Leo yang semula berseri itu kini
menatapnya bingung.
"Kamu suka tasnya, kan? Kamu bilang tasnya mirip
brownies."
"Warnanya cokelat mirip brownies. Yang aku suka
browniesnya."
Leo mengerjap beberapa kali. Ini tidak seperti yang ada di
bayangannya.
Kemudian tanpa bisa Leo cegah, Nasa mengembalikan
paper bag itu kepadanya. Menatap Leo kemudian
tersenyum tipis.
"Jam makan siang aku udah habis. Aku masuk dulu." Nasa
membuka pintu kemudian berlalu begitu saja meninggalkan
Leo yang masih terpaku di tempatnya.
Nasa keluar dengan kening mengerut bingung. Kenapa
juga Leo memberikannya tas? Padahal hari ini Nasa sudah
terbebas dari puasa manisnya. Ketimbang tas, kenapa Leo
tidak memberikannya brownies? Bukannya pria itu berjanji
membuatkannya makanan manis yang spesial?
*__*
Seharian ini Leo tidak ada menghubunginya. Lebih
tepatnya sejak kemarin pria itu mengantarkan Nasa ke
rumah sakit. Itu adalah interaksi terakhir mereka. Leo tidak
lagi mengirimnya pesan ketika Nasa pulang bekerja. Leo
juga tidak lagi meneleponnya sebelum tidur.
Kemarin, pria itu bilang hari ini dia akan pergi ke
Lembang. Biasanya kalau mau keluar kota, Leo akan
mengabari Nasa dan bertanya Nasa mau oleh-oleh apa.
Kenapa ini tidak ada, ya?
Apa Leo marah?
Tapi ... kenapa?
Nasa pusing sekali memikirkan segala kemungkinan yang
menyebabkan Leo tidak menghubunginya hari ini. Ingin
menghubungi lebih dulu tapi kok ... Nasa gengsi, ya? Ah,
perasaan wanita yang seperti ini memang menyebalkan
sekali. Selama ini, Nasa memang tidak pernah
menghubungi Leo lebih dulu.
Apa Nasa hubungi duluan saja, ya? Menagih janji Leo yang
berkata akan membuatkan makanan manis yang spesial?
Tapi masa harus Nasa yang menagih? Bukannya Leo yang
berjanji?
"Nanas!"
Nasa menoleh saat pintu kamarnya terbuka begitu saja.
Suara nyaring khas kembarannya berikut juga orangnya
menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
"Tas gue mana?" todong Sana langsung.
"Tuh." Nasa menunjuk sebuah paper bag yang ada di atas
sofa.
Sana bergegas mengambilnya. Memeriksa dan memekik
melihat benda kesayangannya itu sebelum kembali ke atas
ranjang tempat di mana Nasa sedang membaca buku.
"Punya lo juga sama banget kayak gini, Nas?" tanya Sana.
"Sama apa?" Nasa justru mengernyit bingung.
"Adel bilang Kak Leo bayarin tasnya buat dikasih ke elo."
Nasa semakin mengernyitkan kening. Kenapa juga Leo
harus mengambil tas adiknya sendiri untuk dikasih ke Nasa?
"Jangan-jangan nggak lo terima ya, Nas?!" tuduh Sana
yang tepat sasaran. Tanpa Nasa membenarkan Sana sudah
tahu jelas. "Pantes gue bingung banget waktu Adel bilang
Kak Leo bayarin tasnya buat lo. Sejak kapan juga makhluk
ini suka tas cantik begini."
Nasa diam saja.
"Tapi jangan ditolak begitu juga dong, Nas. Kak Leo minta
langsung ke Adel loh itu. Parah lo."
Nasa tidak menyahut.
"Yah, tapi gue sedikit maklumlah. Ini pertama kali lo
pacaran juga, kan?"
"Gue nggak pacaran," koreksi Nasa langsung.
Sana berdecak, "Segala nggak ngaku sama gue. Gue udah
tau semuanya. Adel udah bilang. Tenang, gue nggak akan
bocor ke Papi sama Mami kalau lo nggak mau Papi Mami tau
dulu."
Nasa menghela napasnya. Dia tentu tidak cerita apa pun
pada Sana tentang kedekatannya dengan Leo. Apalagi
tentang Nasa yang membantu Leo untuk berbicara pada
keluarganya bahwa mereka sedang dekat. Hanya dekat.
Bukan berarti pacaran. Lagian, baik sungguhan atau pura-
pura, mereka tidak pacaran.
"Kita nggak pacaran," tegas Nasa lagi.
Sana diam. Menelik ekspresi kembarannya itu yang
terlihat sungguh-sungguh. Mereka sebenarnya memang
jarang sekali berbagi cerita. Mungkin karena karakter
mereka sangat bertolak belakang. Sedari kecil juga Nasa
lebih sering bercerita dengan Keanna dan Sana dengan
Ariana, sepupu mereka. Sayangnya dua orang itu kini sudah
tidak tinggal di samping rumah sejak mereka sama-sama
kuliah. Ariana betah di Jogja, Keanna sekarang kerja di
Singapura. Sudah begitu, sejak menikah Sana juga jarang
bertemu dengan Nasa.
"Jadi Kak Leo bertepuk sebelah tangan?" duga wanita itu.
Nasa langsung menoleh. Bertepuk sebelah tangan apa
maksudnya?
"Ck! Memang ya, kadar kepekaan lo tuh minim banget!"
Sana bersungut-sungut. "Sekali ngeliat juga gue tau Kak Leo
suka sama lo."
Suka?
Leo?
Leo suka dengannya?
Leo menyukainya?
Leo yang tidak mau menikah itu menyukai Nasa?
Sana pasti melindur.
"Sejak awal gue bawa lo ke rumahnya Adel dan ketemu
Kak Leo, gue udah tau banget nih orang pasti naksir
kembaran gue."
"Bukannya dulu lo suka sama Kak Leo?" Nasa sempat
tahu. Sempat dengar juga Sana yang menggerutu karena
pesannya tidak dibalas-balas oleh Kakaknya Adel yang Nasa
sempat melupakan siapa namanya.
Sana kemudian mengangguk. "Lo kan tau gue gampang
suka sama cowok ganteng."
"Terus?"
"Terus apa? Ya nggak ada respon. Karena nggak ada
respon, ya gue cari mangsa baru."
Nasa menatap Sana tidak yakin.
"Kalau nggak suka, dia nggak mungkin suka kirim-kirim
makanan ke elo, Nanas. Nggak mungkin juga dia minta
nomor lo ke Adel."
"Minta nomor gue?"
Sana mengangguk. Itu sudah lama sekali sih sebenarnya.
Ketika mereka masih kuliah. Awal-awal Sana baru dekat juga
dengan Bhumi. Pertama kalinya Sana membawa Nasa ke
rumah Adel dan kebetulan ada Leo di sana. Sebelum itu
memang Sana juga sudah sempat TP-TP dengan Leo yang
tidak kunjung dapat balasan sampai Sana sudah silih
berganti pacar.
"Waktu Kak Leo udah nggak lagi ngirimin lo makanan dan
respon lo datar-datar aja, gue kira nggak berhasil. Eh,
ternyata sekarang kalian malah dekat."
Nasa masih terdiam. Leo meminta nomor ponselnya?
"Kak Leo minta nomor gue? Kapan?" tanya Nasa.
"Udah lama banget lah! Tiga tahun yang lalu? Empat
tahun? Lupa gue! Udah lama banget lah pokoknya. Memang
dulu dia nggak ngechat lo?"
Sudah bertahun-tahun yang lalu? Kalau benar Leo
meminta nomor ponselnya empat tahun yang lalu, kenapa
Leo tidak pernah menghubunginya?
"Lo parah juga sih, Nas. Dikirimin makanan bukannya
ditemuin siapa yang ngirim, bilang makasih kek. Ini lo
makan makanannya orangnya ditanya juga enggak."
Nasa tahu Kakaknya Adel sering mengirimi makanan ke
rumahnya. Namun saat itu, Nasa jelas tidak berpikir bahwa
kue-kue manis yang Leo kirimkan adalah untuknya. Nasa
kira Leo memberikannya untuk keluarga mereka. Lagi pula
Papinya saat itu cukup sering bertemu dengan Ayahnya
Adel. Mereka bahkan sering bermain golf bersama. Jadi Nasa
pikir, cukup Sana atau Papinya saja yang berterima kasih.
Lagi pula, Sana yang lebih mengenalnya.
Nasa bahkan tidak ingat siapa nama Kakaknya Adel waktu
itu.
Tapi ... apa benar begitu?
Apa yang Sana bilang itu benar bahwa Leo menyukainya
sejak dulu?
.
.
.
To Be Continued
(19/08/2022)
Wow wow wow ada yg gelisah nih gara2 gak di chat
hahahahaha
Nasa udah lagi uring2an di tambah Sana bikin
overthinking grgr berita baru hmz......
Yuk sampai ketemu hari Selasa!!
💕
Luv luv
Mill
DUAPULUHSATU
Semua orang sedang sibuk.
Termasuk juga Anin—si kecil yang sedang membantu ibu
sambungnya itu menyikat kolam renang. Ya, tidak salah
baca. Kolam renang. Papinya semakin mengada-ngada
dengan menyuruh seluruh anggota keluarga kerja bakti
sampai membersihkan kolam renang juga yang biasanya
dikerjakan oleh pekerja di rumah mereka. Kini sampai kolam
renang pun Saka menyuruh keluarganya membersihkan.
Setelah menguras air kolam sampai surut kemudian disuruh
menyikati dinding-dinding kolam. Yang mendapatkan
pekerjaan itu adalah Sana dan anak sambungnya. Ada juga
Bhumi yang membantu mereka di sana.
"Yang bener itu, Bestie, kamu nyikatinnya. Nggak bener
nanti ikan-ikan kamu Mumi panggang."
"Ih, ancemannya ikan terus. Papa itu Mumi nakal!" Anin
menyahut dengan cemberut.
Beralih lagi pada kegiatan yang lain, ada pula Naka dan
Kana yang kebagian bertugas di kebun. Keduanya sedang
mencabuti rumput dan menyiram tanaman. Sesekali ribut
entah memperdebatkan apa saja.
"Ih, Kana nggak mau! Bagian Kana udah selesai itu bagian
Mas Naka!"
"Ya karena kamu sudah selesai makanya bantuin Mas
sekarang."
"Ih nggak mau! Papi Mas naka curang!!"
Keributan itu sudah terbiasa terjadi. Rasanya memang
sulit melihat Naka dan Kana berada di satu tempat tanpa
pertengkaran. Anehnya, mereka selalu ke mana-mana
berdua.
Melihat lagi masuk ke dalam rumah, ada Papinya yang
sedang mengepel lantai. Tidak selesai-selesai sejak tadi
karena kepala keluarga di rumah itu lebih banyak
memandori anak-anaknya yang ia takut tidak
menyelesaikan pekerjaan dengan benar. Sekali-sekali juga
melerai pertengkaran Naka dan Kana atau membela cucu
kesayangannya dari kekejaman ibu tirinya itu. Atau sesekali
juga, Saka menghampiri sang istri yang kerap
memanggilnya untuk meminta bantuan mengambilkan ini-
itu. Ah, ibu negara mereka sedang memasak. Entah
memasak apa. Berdoa saja semoga makanannya dapat
dimakan.
"Pi! Tolong ini Pi liatin Mami lagi goreng tempe ini ada
telepon masuk takut gosong tempenya!" Kemudian suara
teriakan Maminya lagi memanggil sang Papi kembali
terdengar.
"Oke Mami. Papi otw."
Saka pun masuk ke dalam rumah, menghampiri sang istri
tercinta.
Semua orang punya pekerjaannya masing-masing. Berikut
juga Nasa yang sedang menyapu dedaunan di halaman.
Dedaunan yang kering yang diangkatnya ke dalam gerobak
lalu dimasukkannya ke tempat sampah. Selain menyapu
halaman dan taman belakang, Nasa juga mendapatkan
tugas memberesi gudang sebelum ini. Sudah selesai ia
lakukan dan kini gudang di bagian belakang rumah mereka
sudah rapi dan bersih.
Ada hal lain lagi yang Nasa kerjakan selain dua hal itu.
Sebelum membenahi gudang tadi, Nasa beberes di dalam
rumah. Mengelap debu-debu dan juga merapikan isi rumah.
Nasa bahkan selesai mencuci piring tadi.
Hari ini, Nasa lebih rajin dari pada yang lain.
Kini, pekerjaan Nasa menyapu halaman sudah selesai.
Gadis itu merenggangkan pinggang dan masuk ke dalam
rumah mencari keberadaan Papinya untuk laporan.
Terlihatlah Saka di sana sedang mengamati kuali di atas
kompor.
"Pi," panggil Nasa. "Nasa udah selesai ya, Pi."
Saka menoleh menatap anak sulungnya itu. "Halamannya
bersih?"
Nasa mengangguk.
"Gudang?"
"Udah rapi."
"Kolam renang?"
"Itu kan bagian keluarga Mas Bhumi, Pi."
"Kebun?"
"Bagian Naka sama Kana."
"Jadi bagian kamu sudah beres semua?"
Nasa mengangguk.
"Nasa nggak mau bantu yang lain lagi." Langsung
menyerobot menolak segala jenis permintaan lain lagi dari
Papinya. Karena Nasa memiliki sesuatu lagi setelah ini.
Saka sedikit menyipit menatap putrinya itu.
"Nasa mau izin Pi, mau keluar," pamit Nasa.
"Ke mana?"
Gadis itu sempat terdiam sebentar, menimbang-nimbang
tempat yang hendak ia kunjungi.
"Apartemen Keanu. Nggak ikut makan siang di rumah.
Lagian kerjaan Nasa paling banyak dari pada yang lain."
Saka menyipit lagi. Pantas Nasa sangat rajin hari ini.
Ternyata dia memiliki hal untuk dimintanya dari sang Papi.
"Hm. Jangan lama." Saka pun tidak kuasa lagi
melarangnya.
Berhasil mengantongi izin, Nasa pun langsung melipir. Dia
hendak mandi dan membersihkan diri. Harus wangi dan rapi
setelah membabu seharian ini.
*__*
Nasa tidak berbohong soal izin dengan sang Papi ke
apartemen Keanu. Ada yang perlu dia lakukan di sana.
Sebenarnya keperluan ke apartemen ini adalah permintaan
Keanu yang sudah pernah Nasa tolak. Laki-laki itu
kehilangan kartu aksesnya sehingga harus mengurus lagi.
Nasa yang kena getah di perintah karena Keanu katanya
sibuk. Nasa sempat menolak. Namun hari ini, dia berbaik
hati untuk datang sendirinya ke apartemen dan
mengurusinya. Lepas dari apartemen, Nasa hendak makan
siang.
Tujuan yang cocok untuk tempat makan siang adalah
sebuah restoran. Ketimbang memilih salah satu tempat
makan yang ada di kawasan apartemen, Nasa tentu lebih
memilih melangkah ke sebuah dapur pribadi seorang chef
yang masakannya tidak diragukan lagi. Nasa membuka
pintu, kemudian masuk ke dalam dapur itu seakan-akan
sudah sangat terbiasa.
Leo tidak ada di tempat.
Nasa tidak memikirkan itu. Mereka memang tidak
berkomunikasi lagi sejak hari Jumat yang juga menjadi hari
terakhir pertemuan mereka. Leo tidak menghubungi lewat
ponsel dan Nasa juga tidak melakukannya. Hari ini, gadis itu
memilih datang langsung untuk menemuinya.
"Tasnya ada di sini." Nasa memegang tas cokelat brownies
yang kemarin di tolaknya itu. Ternyata berada di atas sofa
dapur pribadi Leo.
Nasa mengambilnya. Membuka tas itu dari kotaknya dan
membuka juga sarungnya. Nasa melihat-lihat keseluruhan
isinya lebih jelas dari pada waktu lalu gadis itu hanya
melihat dari dalam sarungnya saja. Tas ini desainnya simpel.
Dipikir-pikir, sepertinya Nasa akan menyukainya. Lagi pula,
tas tangannya yang hanya dua buah itu sudah lama sekali
dipakai. Nasa kayaknya perlu memiliki tas baru.
"Loh kamu di sini?" Pintu hubung dapur dan Rumah Rasa
terbuka. Leo si pemilik dapur sedikit terkejut melihat
keberadaan Nasa di sana.
Laki-laki itu melangkah mendekat. Mengamati Nasa yang
duduk di atas sofa dengan memangku tasnya. Tas brownies
itu juga tidak luput dari penglihatan Leo. Tas yang sudah
ditolak Nasa dua hari yang lalu.
"Katanya ada kerja bakti di rumah?" tanya Leo lagi.
Nasa mengangguk. Melihat pada Leo yang ikut duduk di
sisinya.
"Udah selesai," ujar gadis itu.
Leo menatap jam tangannya. Masih pukul 1 siang.
"Petuahnya juga udah selesai?"
Nasa tidak menjawab. Dia tidak mau memberitahu Leo
bahwa hari ini Nasa izin mendengarkan petuah Papi di meja
makan.
"Aku belum makan siang," kata gadis itu membahas hal
lain.
"Mau makan?" tanya Leo.
Nasa mengangguk.
"Mau makan di sini atau di restoran?"
"Di sini aja."
Leo mengangguk. Pengamatan laki-laki itu tidak berhenti
dari tas brownies yang masih berada di pangkuan Nasa.
"Tasnya jadi buat aku, kan?" Nasa mengetahui arah
pandang Leo.
"Katanya nggak mau?"
"Sekarang mau."
Leo mengatupkan bibirnya. Menatap Nasa kemudian
mengambil tas brownies itu dari pangkuannya.
"Kalau sekarang udah nggak gratis," kata laki-laki itu.
"Kok begitu?"
"Kalau sekarang mau tasnya, harus bayar."
"Bayar berapa?"
Bukannya menyebutkan harga, Leo justru menyentuh
pipinya dengan jari. Menatap Nasa dengan senyum
manisnya seakan mengisyaratkan sesuatu. Tahu apa yang
Leo inginkan, gadis itu langsung memajukan wajahnya,
mengecup pipi Leo sesuai permintaannya. Membuat chef
muda itu mengulum senyumnya.
"Udah cukup?" tanya Nasa.
Leo justru menggeleng. Laki-laki itu kini menunjuk
bibirnya. "Yang ini juga."
Tanpa basa-basi, Nasa juga mengecup bibir merah muda
itu sesuai dengan permintaannya. Nasa hanya sekedar
mengecupnya. Tapi tentu Leo tidak membiarkan hanya
'sekedar mengecup' karena laki-laki itu langsung mengambil
alihnya. Menyatukan bibir mereka sedikit lama sebelum
kemudian menjauhkan sedikit wajahnya. Hanya wajah
mereka yang berjauhan. Karena tangan Leo yang entah
kapan bereaksi itu masih menyangkut di pinggang ramping
Nasa hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
"Mau makan apa siang ini?" tanya laki-laki itu.
"Em ..." Nasa terlihat berpikir. Wajah berpikir yang
menggemaskan hingga Leo tidak tahan mengusap pipinya
yang memerah. Gadis itu selalu bersemu selepas mereka
bermesraan.
"Cantik banget," gumam Leo.
"Siapa?"
"Kamu."
Pipi Nasa semakin memerah.
.
.
.
To Be Continued
(23/08/2022)
Chef Leo bisa ae bikin anak orang blushing
hahahaha
Nasa semakin maju jalan nih kayaknyaa... terus
Leonya gimanaaa donggg
Yaudahlah sampai ketemu ntar lagiiii bay bayyyyy
Luv Luv
Mill
DUAPULUHDUA
Nasa sedang menunggu di antara keramaian. Tapi
yang ramai bukan hanya suasana di sekitarnya melainkan
juga isi kepalanya. Ada banyak sekali yang menari-nari di
sana. Banyak hal menari hanya untuk memikirkan
seseorang. Dia tidak mengerti, kenapa besar sekali rasanya
kontribusi nama Leo di kepalanya?
Gadis itu menggeleng. Mencoba untuk mengusir
bagaimana wajah tampan pria itu, wajah manisnya, suara
lembutnya, belaian tangannya, dan juga ... rasa
masakannya. Hell! Nasa tidak pernah memikirkan orang
sebanyak ini sebelumnya!
Nasa mengecek ponsel. Kemudian menatap ke depan dan
sedikit berdecak saat seseorang yang ditunggunya tidak
juga datang.
"Lama banget," gerutu gadis itu.
Gerutuannya lalu berakhir saat seseorang yang
ditunggunya itu datang. Keluar dari sebuah pintu kaca
bening dengan menggeret kopernya. Membuka kaca mata
hitamnya dan melambaikan tangannya pada Nasa.
Bertepatan dengan itu, ponsel Nasa bergetar. Menandakan
sebuah pesan masuk di sana.
From : Leo
|Udah ketemu Keanna nya?
Sebelum ke sini, Nasa memberi kabar pada Leo soal
tempat yang ia kunjungi. Sekaligus mengabari bahwa Nasa
tidak bisa mampir ke Rumah Rasa karena harus menuju
bandara selepas pulang bekerja. Keanna akan kembali dari
Singapura hari ini.
To : Leo
|Udah. Baru saja keluar
Tidak lama setelah mengetikan balasan dan mengirimnya
pada Leo, balasan lainnya langsung Nasa terima di
ponselnya.
From : Leo
|Langsung pulang, kan? Hati-hati nyetirnya ya. Jangan
ngebut. Jangan lupa makan ya. Nanti malam aku telepon.
Aku mau kerja dulu
Nasa tidak bisa tidak tersenyum membaca balasan dari
pria itu. Dia banyak tersenyum akhir-akhir ini. Apalagi,
sekarang senyumnya tidak hanya keluar saat Nasa
mencicipi makanan enak. Membaca pesan dari Leo saja
ternyata mampu menciptakan senyum di bibirnya.
"Chatting sama siapa, itu?"
Nasa mematikan layar ponselnya sebelum sempat
membalas saat tiba-tiba Keanna sudah sampai saja di
dekatnya dan mengintip layar miliknya. Nasa berdehem
sebentar kemudian menggeleng. Hal itu justru menimbulkan
raut curiga di wajah sepupunya itu.
"Punya pacar ya, lo?!" duga Keanna langsung.
Nasa menggeleng.
"Terus itu kenapa senyum-senyum kaya orang gila?"
Nasa menatap Keanna. Menimbang-nimbang sebentar
kemudian menggeleng kembali.
"Nanti aja gue ceritain." Dia sepertinya memang butuh
seseorang untuk berkonsultasi.
*__*
"Papi Saka makin menjadi-jadi ya, sekarang." Keanna
menggelengkan kepalanya heran. Gadis itu mengambil
duduk di atas ranjang tempat di mana Nasa sudah berada di
sana lebih dulu. "Terus kalian nggak ada yang protes gitu?
Naka gimana? Dia kan cowok, tuh. Pasti lah banyak
kegiatannya di luar."
Nasa menggeleng. "Naka sama Keanu apa bedanya?
Mereka anak Mami." Naka dan Keanu sama-sama anak
rumahan. Mana bisa jauh dari ibu mereka masing-masing.
Keanna berdecak lagi. "Terus Kana?"
"Ya ini semua kan karena protesan Kana. Papi jemput dia
subuh-subuh waktu dia lagi nginap di rumah temannya. Dia
protes karena ngerasa dibeda-bedain makanya semua jadi
kena getahnya."
Keanna menganga tidak habis pikir. Rencana gadis itu
adalah hari ini langsung pulang ke apartemen Keanu karena
rumahnya pun sedang kosong. Kedua orang tuanya tengah
ke Jogja. Menginap di sana dengan Nasa baru besok pagi
pulang ke rumah. Setidaknya dia bisa bertemu dengan
kembarannya kalau malam ini tinggal di apartemen karena
Keanu sedang menginap di sana. Lagi pula jarak bandara
lebih dekat ke sana. Tapi bukannya diberi izin, Saka malah
mengomelinya panjang kali lebar. Ini pun Keanna tidak
diberi izin tinggal di rumahnya yang padahal berada persis
di samping rumah keluarga Nasa. Keanna justru diwajibkan
menginap di rumah Nasa sampai Ayah dan Ibunya kembali.
Benar-benar diperlakukan persis seperti bayi.
"Ck! Bener-bener Papi." Keanna masih menggerutu.
"Sekarang lo cerita deh cepetan lo lagi pacaran sama
siapa."
"Nggak pacaran," koreksi Nasa.
"Ya ya ya apapun sebutannya itu. Intinya siapa cowok ini."
Nasa menegakkan duduknya. Menatap Keanna lurus dan
bersiap menceritakan tentang Leo pada wanita itu.
"Dia kakaknya Adel, temennya Sana." Nasa pun
memulainya. Kemudian gadis itu melanjutkan ceritanya
tentang bagaimana mereka bisa pertemu pertama kali. Juga
bagaimana akhirnya Leo yang meminta bantuannya untuk
berpura-pura sebagai perempuan yang sedang melakukan
pendekatannya padanya di depan ibunya.
Nasa menceritakan hampir segalanya. Tentang bagaimana
kemudian hubungan keduanya yang dekat. Komunikasi
intens yang mereka jalani sekarang. Juga tentang
bagaimana Nasa merasa nyaman dalam hubungan tanpa
nama yang sedang mereka jalani kini meski ada hal
mengganjel tentang rencana hidup Leo yang tidak ingin
menikah.
"Kayaknya, Na ... gue jatuh cinta deh sama Leo." Nasa
menunduk saat mengakuinya. Rasanya dia memang sudah
tidak bisa membohongi perasaannya lagi bahwa Nasa
benar-benar sudah terpikat oleh pria itu. Segala kebaikan
dan sikap Leo padanya benar-benar membuat Nasa
terperdaya.
"Waktu dia nggak ngehubungi gue setelah gue tolak tas
pemberian dia, gue gelisah. Bener-bener gelisah."
Keanna mengangguk-angguk. "Karena itu juga lo tiba-tiba
datangi dia dan ambil lagi tas pemberian dia yang lo tolak
itu."
Nasa menghela napasnya. Dia juga menceritakan soal
kejadian tas itu pada Keanna.
"Terus lo maunya gimana, Nas?" tanya Keanna.
"Gimana apanya?"
"Ya kelanjutan hubungan lo sama Leo."
Nasa menggeleng. Dia tidak tahu. Tapi untuk lepas dari
Leo saat ini rasanya mustahil. Nasa sudah terlanjur
melibatkan perasaannya sendiri.
Keanna memerhatikan adik sepupunya yang berbeda dua
tahun darinya itu. Kemudian mencubit lengannya yang
membuat Nasa langsung memekik.
"Apaan sih kok dicubit!" protes gadis itu.
"Gemes gue, Nas." Keanna mencubit Nasa lagi. Nasa yang
kembali memekik sakit kemudian berdiri menatap kesal
pada Keanna yang tiba-tiba menyerangnya seperti ini.
"My dear Nasa, dengar, ya. Nggak semua orang sebaik
diri kita. it's too naive kalau Lo menganggap semua orang
akan memperlakukan hal yang sama seperti apa yang Lo
lakukan. Memberi hal yang sama seperti apa yang pernah
Lo berikan. Bukan begitu siklus kehidupan berjalan. Lo harus
tau bahwa banyak bangsat-bangsat yang berkeliaran di
antara kita. Dan si Leo ini, makhluk terbangsat yang pernah
datang ke kehidupan lo asal lo tau."
"Apaan sih! Kok lo jadi ngehina-hina Leo begitu!" Nasa
tidak terima.
"Tuh tuh, liat. Bisa-bisanya lo ngebela dia. Tanpa ketemu
orangnya gue udah tau kalo dia bangsat. Bisa-bisanya dia
mainin lo begini. Cium-cium lo terus seenak dengkulnya
bilang kalau dia nggak mau menikah."
"Tapi dia baik banget, Na. Dia bikinin gue makanan, dia
perhatian, dia ... pokoknya dia banget."
Keanna berdecak. Nasa ini benar-benar sudah terjerat.
"Ya sudah kalau lo memang udah terjerat banget sama
dia, kita nggak punya pilihan lain."
"Pilihan lain?"
Keanna mengangguk.
"Buat dia sama terjeratnya sama lo." Gadis itu menatap
Nasa dengan serius. "Nggak ada sejarahnya keturunan
Prastya nggak bisa menjerat laki-laki."
Prasetya adalah nama belakang ibu mereka. Dua
bersaudara yang memiliki suami-sumi bucin takut istri.
"Caranya?"
Keanna justru tersenyum misterius. "Minimal sampai dia
kasih status yang benar buat lo."
"Caranya?"
Keanna masih tersenyum. "Lo harus pastiin, dia nggak
bisa tanpa lo. Lo pastiin dia nggak bisa berkutik dari lo."
"Caranya?"
Keanna berdecak. "Ya pikirin sendiri lah. Lo kan pinter."
Nasa cemberut. Dia tidak bisa banyak memikirkan apa
pun. Nasa tidak pernah menjerat laki-laki dengan sengaja
sebelum ini.
"Pokoknya, Nas. Lo harus pastiin, dia tergila-gila sama lo."
"Caranya Keanna! Gue nggak tau caranya!"
Keanna memutar kedua bola matanya. Gadis itu
mengambil ponsel Nasa yang bergetar di atas ranjang.
Membaca id caller dengan nama Leo yang membuat smirk
di bibirnya muncul dengan rapi.
"Jawab. Turuti apa semua yang dia mau. Ambil semua apa
yang dia kasih. Perlakukan dia sebaik mungkin. Tapi jangan
pernah memberi apa yang nggak dia minta."
Nasa menerima ponselnya dengan kening mengerut. Dia
tidak mengerti. Namun ketimbang berpikir lebih dalam
untuk mencerna ucapan Keanna, Nasa lebih memilih
melangkah menuju connecting door dan menumpang
sebentar di kamar Sana yang kosong untuk menjawab
panggilan video dari Leo.
"Hai."
Wajah penuh senyum Leo muncul di layar. Membuat Nasa
mengulum untuk tidak balas tersenyum dengan begitu lebar
menatap wajah tampan chef kesayangannya itu di sana.
.
.
.
To Be Continued
(26/08/2022)
Wowwww Nasa udah terjerat duluan nih bestie!
gimana dong!! semoga dengan kedatangan keanna
Nasa tetap berada di jalur yang benar yaaa
sampai ketemu lagi!
DUAPULUHTIGA
"Pertama, yang lo harus tahu adalah porsi ketertarikan Leo
ke elo. Seberapa besar tertariknya dia sama lo."
"Cara taunya gimana?"
"Karena lo suka main angka, ayo kita pakai angka. Di
angka 15% kalau Leo suka bantu lo dari hal terkecil, kayak
misalnya bukain tutup botol, bukain pintu, dan lainnya.
Terus 15% lagi kalau Leo suka kasih hadiah kecil-kecil ke
elo. Misal kayak kasih makanan, tas, dan lainnya. Di 15%
lagi kalau Leo suka sengaja atau pun enggak, kontak fisik
sama lo. Misal kayak usap kepala, peluk, gandengan
tangan, dan lainnya. Tambah 15% lagi kalau Leo
menyisakan waktunya untuk menghabiskan waktunya
bareng sama lo di tengah-tengah kesibukannya. Kayak
antar jemput lo kerja, kirim pesan, telepon, dan lainnya.
Dan, tambah 15% lagi kalau Leo suka puji lo. Bilang lo
cantik dan sebagainya. Terus ini, yang terakhir dan yang
paling besar nilainya, 25% kalau Leo bilang langsung bahwa
dia suka sama lo.
Kalau lo dapetin semuanya, 100% itu. Ya, berarti 100%
Leo bener suka sama lo. Bantar-bantar harusnya lo punya
75% untuk ambil kesimpulan Leo suka sama lo atau enggak.
75 itu pas KKM."
"Itu rumus dari mana, Na?"
"Ngarang." Keanna menjawab santai. "Ngarang yang
pakai logika, sih. Lo tau kan, Ibu itu penulis novel romance?
Ya, sebagai anaknya jiwa-jiwa roman ibu nyampe lah ya ke
gue."
Itu adalah sepenggal percakapan Nasa dengan Keanna
tadi malam. Mengenai rencana Keanna dan Nasa untuk
menjerat Leo. Langkah pertama, mengetahui apakah Leo
menyukai Nasa atau tidak. Kalau mengikuti rumus Keanna,
Nasa tentu sudah memiliki 75%nya. Hanya tinggal 25%
terakhir itu belum Nasa dapatkan karena Leo sendiri tidak
pernah menyatakan perasaannya.
"Terus yang ke dua, kenali diri lo. Coba cari tau hal apa
kira-kira yang ada dalam diri lo yang Leo sukai. Kalau lo
punya 75%, itu artinya Leo udah punya ketertarikan sama
lo, kan?"
"Caranya?"
"Lo bisa tanya diri lo sendiri hal apa yang menarik di elo
atau lo bisa tanya orang lain."
Langkah ke dua adalah mengenali diri. Nasa tidak tahu
apa yang menarik dari dirinya. Justru yang Nasa tahu, lebih
banyak hal yang tidak menariknya dari pada menariknya.
Nasa itu membosankan. Tidak bisa diajak santai apalagi
bersenang-senang. Bersenang-senang ala Nasa adalah
makan dan membaca buku. Dan itu bukanlah kesenangan
orang-orang yang ada di sekitarnya.
Nasa juga tidak terlalu merasa dirinya cantik. Dia tidak
pandai memoles kosmetik seperti Sana atau pun bergaya
dengan penampilan yang modis. Penampilan Nasa
cenderung biasa-biasa saja. Dia bahkan tidak pandai
memilih pakaian yang menarik dan rata-rata pakaian
miliknya berwarna senada—coklat. Nasa juga tidak suka
memakai aksesoris seperti cincin, gelang, kalung dan
sebagainya. Satu-satunya aksesoris yang sering Nasa pakai
adalah kunciran di rambutnya. Juga sebuah anting yang
sejak kecil sudah dipakaikan di telinganya dan Maminya
sendiri yang mengganti setiap dua tahun sekali.
Nasa pintar, tapi tentu lebih banyak yang pintar dan
cerdas dari pada dirinya. Contohnya Liana. Dia bahkan ikut
akselerasi dua kali ketika SD dan SMP. Mau pintar lagi ya,
Maminya. Maminya juga loncat kelas ketika duduk di bangku
kuliah. Kepintaran Nasa masih ditahap standar untuk
seseorang yang rajin belajar dan membaca buku. Lulus
kuliah 3,5 tahun tentu bukan hanya dirinya yang
mendapatkan pencapaian itu. Untuk kuliah kedokteran, 3,5
tahun adalah angka yang normal dan wajar.
Lalu, apa yang menarik dari Nasa sebenarnya?
"Nas?"
Suara Raga menyapanya. Kemudian mengambil duduk di
hadapannya. Laki-laki itu tersenyum manis menatap Nasa
yang masih diam di tempatnya.
"Tumben lo ajak gue makan siang bareng?" tanya laki-laki
itu.
Nasa mengangguk. Ini adalah salah satu rencananya.
Orang-orang bilang, Raga menyukainya. Nasa ingin tahu
apa yang membuat Raga menyukainya meski Nasa tidak
sepenuhnya percaya Raga menyukainya karena laki-laki itu
bahkan tidak memenuhi 50% dari rumus yang Keanna
berikan.
"Lo nggak pesan makan juga? Atau udah?" Raga bertanya
lagi.
Nasa menatap Raga sembari mengetuk-ngetukkan jemari
tangannya di atas meja. Laki-laki itu datang dengan
membawa makan siangnya sedang Nasa hanya duduk
sendiri tanpa hidangan apa pun. Nasa baru saja memesan
makanannya dan sepertinya belum siap.
"Raga," panggil Nasa.
"Ya?"
"Lo suka sama gue, kan?"
Raga tersedak. Padahal dia belum mengunyah
makanannya.
"Gi—gimana, Nas?"
"Liana, Julian, mereka bilang lo suka sama gue."
Raga tampak salah tingkah. Laki-laki itu mengusap
tengkuk belakangannya dan menghindari tatapan Nasa
yang seolah hanya terpusat pada dokter muda itu.
"Hal apa yang buat lo suka sama gue, Ga?" tanya Nasa
lagi. Langsung gas tanpa memberi kesempatan Raga untuk
mengatasi suasana yang sepertinya hanya canggung
untuknya saja.
Raga melirik Nasa. Berdehem, kemudian menenggak air
minumnya. Laki-laki itu pun memberanikan diri menatap
gadis di depannya yang masih tidak mengalihkan
pandangannya sejak tadi.
"Kok lo tiba-tiba tanya begini, Nas?" Raga baru bisa
membuka suaranya.
"Gue ingin tau hal apa yang orang lain sukai dari gue."
Raga mengusap leher belakangnya lagi.
"Em ... apa, ya? Ditanya begini gue juga jadi bingung."
Laki-laki itu meringis kecil.
Nasa mencondongkan tubuhnya tiba-tiba, membuat Raga
sedikit tersentak dan memundurkan diri.
"Coba lo perhatiin lagi. Kira-kira bagian diri gue mana
yang menurut lo menarik?"
Raga berdehem lagi. Rasanya tenggorokannya sangat
kering berhadapan dengan Nasa seperti ini. Lebih-lebih dari
berhadapan dengan dokter spesialis yang bertanya
mengenai penyakit pasien tiba-tiba.
"Ca—cantik?"
Nasa memundurkan wajahnya lagi. Cantik. Dia pernah
mendengar hal serupa dari Leo. Laki-laki itu juga memujinya
cantik. Apa Nasa benar cantik? Baiklah. Dia akan mencatat
salah satu kelebihannya itu. Cantik.
"Terus apa lagi?" tanya Nasa lagi.
"Kalau boleh jujur ..." Raga menatap wajah Nasa. "Bukan
itu yang buat gue suka sama lo."
"Terus?"
Laki-laki itu membangun senyumnya.
"Awal-awal kenal lo, lo kelihatan sangat apatis. Kelihatan
orang yang nggak pedulian dan suka sendiri aja. Lo juga
nggak suka nimbrung basa-basi ngobrol sama yang lain.
Bahkan lo nggak pernah hadir kalau diajakin kumpul sama
yang lain."
Hal yang Raga sebutkan itu, hal yang buruk, kan?
"Tapi ternyata gue salah. Lo cuek. Suka sendirian, dan
nggak banyak omong. Tapi ketimbang yang lain, ternyata lo
yang paling peka sama sekitar. Bukan cuman ke pasien, tapi
ke orang-orang yang ada di sekitar lo juga. Waktu lo
gendong anak kecil yang ibunya kecelakaan. Lo ajak dia
main, lo kasih dia gulali. Waktu lo jenguk anaknya suster
Rini yang masuk RS. Waktu lo kasih hadiah untuk anaknya
suster Mega yang ulang tahun. Waktu Liana lagi ada
masalah dan lo diam-diam membantu dia, dampingi dia,
ada di sekitar dia. Lo keliatan nggak peduli, tapi ternyata lo
sangat perhatian. Lo bahkan nggak pernah protes atau pun
misuh-misuh setelahnya kalau ada pasien yang rewel."
Apa iya Nasa begitu?
Gadis itu berpikir sembari menatap wajah Raga yang
tersenyum saat berbicara tentangnya. Semua yang
dikatakan Raga memang pernah terjadi, sih. Nasa juga ingat
saat dia menggendong anak pasien, menjenguk anaknya
suster Rini dan lainnya. Tapi ... masa hal seperti itu menjadi
sebuah keunggulan?
"Gue suka sama lo karena ada satu hal dalam diri lo yang
membuat lo terlihat sangat menarik di mata gue."
Satu hal yang menarik di dalam diri.
"Untuk mengetahui apa yang membuat seseorang
menyukai kita mungkin aja jawabannya akan beda-beda,
Nas. Karena setiap orang punya perspektifnya masing-
masing. Gue suka lo yang begini, bisa aja orang lain suka lo
dalam hal yang berbeda."
Nasa mengangguk-angguk mendengarnya. Apa yang
Raga katakan ada benarnya. Itu Nasa dalam sudut pandang
Raga. Lalu dalam sudut pandang Leo bagaimana?
"Tapi yang pasti, Nas. Kalau seseorang yang benar-benar
menyukai lo, dia akan menyukai dan menerima seluruh hal
tentang lo, termasuk itu kekurangan lo."
Seluruhnya? Apa Leo menyukai seluruh hal yang ada di
dalam diri Nasa?
"Kalau lo?" Nasa bertanya lagi.
"Gue? Gue belum sampai ke tahap itu karena lo sendiri
nggak mau membuka diri lo untuk gue."
"Nggak membuka diri?"
Raga mengangguk. "Lo nggak tertarik sama gue, kan?"
Nasa mengangguk, membuat Raga tersenyum.
Sebenarnya Nasa memang mudah sekali terbaca.
"Ini tentang anak pemilik Rumah Rasa yang waktu itu, ya?
Yang sering antar jemput lo ke RS juga?"
"Kok lo tau?" Nasa menatap Raga bingung.
Raga tersenyum lagi. Nasa itu seperti buku ajaib yang
terbuka yang dimasukkan ke dalam lemari kaca. Mudah
terbaca setiap halaman-halamannya dari luar. Tapi tidak
bisa dibaca seluruhnya karena berada di dalam lemari.
"Sekali lihat, orang-orang tau kalau dia suka sama lo."
Ini adalah kedua kalinya Nasa dengar. Sekali lihat, orang-
orang tahu Leo menyukainya. Tapi kenapa Nasa tidak bisa
melihatnya?
"Perasaan seseorang nggak cuman bisa dilihat pakai
mata, tapi juga pakai hati. Pelan-pelan, lo akan paham
seberapa besar perasaan orang itu untuk lo."
Apakah Nasa harus percaya?
Percaya bahwa Leo sebegitu menyukainya sampai orang-
orang melihatnya?
*__*
Setelah memiliki poin 75% itu dan dipastikan bahwa Leo
memiliki sebuah ketertarikan pada Nasa, langkah kedua
yang perlu Nasa lakukan adalah mencari tahu. Mencari tahu
tujuan dari Leo mendekatinya, memperlakukannya dengan
begitu baik hingga Nasa bisa memperoleh angka 75% itu.
"Cowok itu suka kamuflase. Dia bisa dengan mudah
memperlakukan perempuan dengan sangat baik. Membuat
perempuan merasa sangat spesial dan sangat dicintai.
Beberapa di antara mereka bahkan bisa dengan mudah
mengumbar-ubar kata-kata sayang, kata-kata cinta, kata-
kata seberapa mereka butuh kita, hingga benar-benar
membuat perempuan terlena. Tapi setelah dia dapat apa
yang dia mau, apa yang dia tuju, semua itu bisa lenyap
seketika."
Yang kedua, tujuan. Nasa harus mengetahui tujuan dari
Leo melakukan ini padanya. Jika hanya untuk mengelabui
keluarganya seperti awal yang laki-laki itu minta, tidak akan
sejauh ini juga, bukan? Leo memperlakukan Nasa sebegini
baiknya bukan hanya di depan keluarganya tapi bahkan di
saat mereka hanya berdua.
"Tujuannya itu bisa bermacam-macam. Seperti misalnya
lagi cari pendamping yang pasti udah lo harus coret karena
Leo bahkan nggak mau menikah. Bisa juga hanya untuk
temani kesepiannya. Bisa juga karena dia cuman main-main
dan berniat melarikan diri saat udah bosan. Atau ... bisa
juga dia tertarik secara seksual dan menginginkan hal yang
lebih dari si perempuan. Dan tugas lo, cari tau tujuan itu
biar kita bisa masuk ke step selanjutnya."
Tujuan.
Nasa harus segera mencarinya.
Leo terlihat bukan orang yang suka bermain-main dan
mudah bosan begitu saja. Laki-laki itu banyak di kelilingi
perempuan. Kalau hanya sekdar ingin bermain-main, Leo
akan menarik salah satunya yang lebih bisa membuatnya
senang. Kemudian apa Leo kesepian? Dia tidak tahu pasti
mengenai hal ini. Segala tentang Leo sebenarnya masih
sangat abu-abu di kepalanya. Nasa bahkan tidak tahu jelas
asal-usul laki-laki yang sebenarnya setelah Nasa tahu
bahwa Leo bukanlah anak kandung dari kedua orang
tuanya.
Lalu ... ketertarikan seksual.
Sebenarnya ini cukup menganggu Nasa. Mereka
bergandengan tangan, berpelukan, dan berciuman. Nasa
belum bisa menerka apakah Leo menginginkan hal yang
lebih dari pada itu.
"Nasa?"
Suara Leo memanggil namanya. Nasa menoleh, menatap
laki-laki itu yang baru saja masuk ke dalam dapur
pribadinya setelah Nasa menunggu cukup lama karena Leo
sibuk di dapur Rumah Rasa. Sesekali, chef itu memang ikut
memasak di sana.
"Hey? Kenapa nggak kabarin aku kalau mau ke sini? Kan
aku bisa jemput kamu di RS." Leo mendekat padanya,
mengambil duduk di sisinya dan menatap Nasa dengan
wajah tampannya. "Aku nggak akan tau kamu ke sini kalau
Mira nggak kasih tau. Kenapa nggak temui aku di dapur?
Kamu nunggu lama?" Mira adalah salah satu pegawainya
yang tadi sempat berpapasan dengan Nasa di parkiran.
"Sudah makan?" Leo bertanya lagi.
Laki-laki itu benar-benar super perhatian.
Nasa perhatikan pahatan indah laki-laki itu. Keningnya,
yang datar, alisnya yang tebal, hidung bangirnya, bibirnya
yang tipis dan merah.
"Aku boleh nginap di apartemen kamu malam ini?" tanya
gadis itu.
.
.
.
To Be Continue
(30/08/2022)
Wooooww agak tengah malam ya gengsss....
masih ada yang menungu kah?
Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya dan
sampai ketemu part selanjutnyaaaa^^
DUAPULUHEMPAT
"Papi kamu benar izinin kamu keluar?"
Nasa yang mulutnya penuh dengan kue coklat itu
menoleh pada Leo. Menatap pria itu sembari mengunyah
makanan kesukaannya yang coklatnya terasa begitu lumer
di mulut. Gadis itu pun mengangguk, menjawab pertanyaan
yang pria itu lontarkan kepadanya. Leo sendiri sedang
duduk di atas stool bar bertopang dagu dan menatap Nasa
yang sedang makan dengan begitu syahdu.
"Kamu izinnya gimana? Kok bisa dibolehin?" tanya Leo
lagi.
Nasa menelan makanan di mulutnya. Membiarkan Leo
yang kemudian mengambil tisu untuk membersihkan
beberapa lelehan coklat di sudut bibir.
"Papi masih di RS waktu aku izin. Terus aku bilang pulang
dari RS aku ke rumah Sana. Papi tanya ngapain aku bilang
main."
"Kamu bohong?!" Leo menatap gadis itu melotot terkejut.
Nasa mengerjap sebentar kemudian mengangguk.
"Karena cuman rumah Sana tempat teraman untuk aku
dapat izin Papi keluar rumah." Mereka kembar. Terkadang
Saka memahami bahwa kedua putri kembarnya itu sering
menginginkan waktu untuk berduaan.
"Kenapa harus bohong?" Leo tidak tahu ternyata Nasa
bisa berbohong juga. "Siapa yang ngajarin bohong, hm?"
Pria itu mencubit pipi Nasa pelan.
"Sana."
Sana kembarannya yang nakal itu suka sekali mengelabui
Papinya sebelum menikah dulu. Nasa biasanya hanya diam
mengamati saja. Dia sendiri tidak menyangka akal bulus
Sana kini ia pergunakan juga untuk kepentingannya.
"Aku antar pulang aja, ya? Nanti Papi kamu marah kalau
tau kamu bohong."
Mereka sudah berada di apartemen Leo saat ini. Dengan
Nasa yang membawa kue coklat buatan pria itu dari dapur
pribadinya. Atas tawaran Leo itu, Nasa menggelengkan
kepalanya. Dia sudah berusaha begitu maksimal untuk bisa
menginap malam ini dan Nasa tidak akan mau menyia-
nyiakannya begitu saja.
"Aku mau nginap," kekeh Nasa.
Leo menatap gadis itu menimbang sebentar. Kemudian
saat melihat wajah menggemaskan Nasa yang sudah mulai
kembali menyuap kue coklatnya, laki-laki itu pun akhirnya
kalah. Dia tidak kuasa menolak si menggemaskan yang ada
di hadapannya ini.
"Habisin makanannya habis itu sikat gigi, cuci kaki, cuci
muka, tidur."
Nasa mengangguk. Membuat Leo tersenyum dan
mengusap kepalanya dengan lembut. Gadis ini benar-benar
sangat menggemaskan.
*__*
"Kalau tinggal sendiri itu enak nggak sih?" tanya Nasa.
Leo menatap gadis yang ada di pelukannya itu. Wajah
Nasa yang menatapnya penuh rasa penasaran. Tangannya
melingakar di tubuhnya dan kepalanya menengadah
berusaha menatap wajahnya.
"Em ... tergantung," jawab Leo. "Ada enaknya ada
enggaknya."
"Kamu pernah merasa kesepian, nggak?"
Leo diam sebentar sebelum menjawabnya. "Kadang-
kadang."
"Biasanya kalau kamu merasa kesepian kamu ngapain?"
"Masak?"
"Masak?"
Leo mengangguk. "Saat orang bosan, kesepian, pasti cari
sebuah kegiatan menyenangkan untuk membunuh waktu,
kan?"
"Maksud aku kesepian karena merasa nggak ada orang di
sekitar kamu."
Leo mengatupkan bibirnya. Kesulitan laki-laki itu
menjawabnya. Karena bukan hanya saat tinggal sendiri Leo
merasa kesepian, tapi dia sering merasa kesepian
sepanjang waktu. Dia memiliki keluarga tapi sebenarnya
tidak. Dia sendirian di dunia ini. Bagaimana caranya agar
berkata bahwa Leo merasa tidak kesepian?
"Sekarang nggak kesepian." Leo memilih menjawab hal
lainnya. "Karena ada kamu di sini."
Bukannya merasa tersanjung, Nasa justru mengernyitkan
keningnya. Jadi ... apa keberadaan Nasa hanya untuk
mengisi rasa sepi pria itu?
"Kalau aku nggak ada, kamu kesepian?" tanya gadis itu
lagi.
Leo diam lagi. Dia merasa kesulitan untuk menjawabnya.
Keberadaan Nasa di sekitarnya memang sangat ampuh
mengusir rasa sepi yang sepanjang hidupnya terus
bersemayam di dalam diri.
"Atau ada orang lain yang bisa bikin kamu merasa nggak
kesepian lagi selain aku?"
Pertanyaan gadis itu sudah menambah lagi. Orang lain
yang membuatnya tidak merasa sepi? Ada. Beberapa.
Namun tentu itu hanya bersifat sementara. Seperti misalnya
kepada Ayah, Bunda, Adel, dan keluarganya yang lain.
Kehadiran mereka tentu saja sangat berarti untuk mengisi
jiwanya yang sepi. Namun begitu, meski tengah bersama
mereka, sewaktu dua waktu Leo masih merasa kosong dan
sendiri.
"Udah malam. Kita tidur, ya." Leo menutup pembicaraan.
Menarik selimut menutupi tubuh mereka dan juga
mematikan lampu tidur. Dia hanya perlu bersyukur
malamnya ini tidak akan sedingin malam-malam biasanya
karena Nasa berada di pelukannya.
Berada dalam selimut yang sama dengan pria itu dengan
pertanyaan yang belum terjawab. Nasa menurunkan
selimutnya. Menjauhkan sedikit tubuhnya dari Leo yang
begitu erat mendekapnya. Dia belum menemukan
jawabannya dan Nasa tidak mau malam ini akan sia-sia.
"Aku belum ngantuk," kata gadis itu.
Nasa memberanikan diri. Mengusap sisi wajah Leo dengan
tangan lentiknya hingga laki-laki itu kembali membuka
matanya. Tatap mereka yang bertemu dan Nasa kembali
memberanikan diri untuk mengecup bibir pria itu. Tidak
sekali. Beberapa kecupan lainnya hingga dia mendapatkan
sambutan yang baik dari Leo.
Bibir mereka yang bertautan dan tubuh yang kini saling
menempel tanpa jarak. Nasa merasakan hawa yang
berbeda malam ini menyerangnya. Ini hampir jauh. Hampir
jauh dan semua kejauhan itu diputus sepihak oleh Leo.
Napas keduanya yang terengah. Leo yang kemudian
membubuhkan kecupannya pada kening Nasa.
"Friend don't kiss, Chef Leo."
"But we're not friend, Doctor Nasa."
"So why did you kiss me?"
"Because you're sweet. As sweet as Nasa."
Leo membubuhkan kecupannya sekali lagi. Laki-laki itu
lalu bangkit dari ranjang. Keluar kamar dan meninggalkan
Nasa begitu saja.
Seperti biasa, Leo tidak akan melewati batas aman
mereka.
*__*
Kira-kira 15 menit setelah Leo keluar dari kamar. Nasa pun
memilih untuk menyusul laki-laki itu. Leo duduk di sofa
dengan TV yang menyala di depannya. Segera Nasa
hempaskan duduknya di pangkuan laki-laki itu yang
menerimanya dengan senyum di bibirnya. Tangan Leo juga
bergerak mengusap pipi Nasa yang kemerahan di bawah
cahaya lampu TV yang menjadi satu-satunya penerang
mereka.
"Kenapa ikut ke sini?" tanya Leo lembut.
"Aku belum ngantuk."
Nasa menyamankan tubuhnya. Merebahkan kepalanya
pada pundak Leo dan tangannya yang melingkar di tubuh
laki-laki itu. Dia belum menemukan jawabannya. Namun
berada dalam dekapan Leo seperti ini membuatnya terasa
hangat dan kantuknya yang perlahan menyerang. Meski
begitu, Nasa mencoba untuk membuka matanya yang
sudah mengerjap untuk terbuka lebar-lebar.
"Ada yang mau kamu bicarakan sama aku?" tanya Leo
lagi. Nasa tidak biasanya begini. Gadis itu tidak biasanya
bermanja seperti ini padanya.
Apalagi ... tentang pertanyaan-pertanyaannya tadi.
"Aku nggak suka melakukan hal yang sia-sia." Nasa
membuka suaranya lagi.
"Hm?"
"Rencana hidupku seharusnya adalah fokus sama karirku.
Selesaikan internsip, ambil spesialis, kemudian menikah.
Tapi sekarang aku seperti melakukan sesuatu yang sia-sia."
Leo terdiam. Sesuatu yang sia-sia.
"Semua yang kamu lakukan sama aku ... sia-sia?"
Nasa mengangkat kepalanya. Menatap Leo tepat di kedua
matanya. Namun tidak lama. Gadis itu kembali menarik
wajahnya dan tidak tahan bertatapan dengan sorot mata
yang menyorotnya begitu dalam. Gadis itu kembali
merebahkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya.
"Aku nggak tau apa yang sedang kita lakukan saat ini.
Atau saat-saat kemarin. Yang aku tau, aku mengijinkan
kamu untuk bilang sama Bunda kamu kalau kita sedang
masa pendakatan hanya sampai Adel menikah dan kamu
akan memasakkan makanan-makanan enak untuk aku. Tapi
sudah hampir 6 bulan, aku bahkan nggak tau kapan Adel
menikah dan aku merasa sudah sangat terjebak sama
kamu. Kita berpelukan, kita berciuman."
Leo diam. Dia mulai mengerti ke mana Nasa membawa
arah pembicaraan mereka.
"Aku nggak suka melakukan suatu hal yang sia-sia. Tapi
kamu nggak mau menikah. Bukan berarti aku mau menikah
sekarang atau aku menuntut kamu untuk menikahi aku. Tapi
kalau kamu terus seperti ini, baik sama aku, membuat aku
merasa seolah-olah sangat dicintai, bukankah itu nggak adil
untuk aku? Gimana caranya nanti saat aku sudah harus
menikah dan aku masih terjebak dengan kamu seperti ini?"
Leo tahu itu. Ini sangat tidak adil untuk Nasa. Dia tahu itu.
Semua perilakunya selama ini, bisa membuat hal yang
menyakitkan untuk Nasa. Leo mengambil langkah untuk
memberi tahu gadis itu rencana hidupnya di depan agar
Nasa tidak berharap lebih padanya. Dia berusaha agar Nasa
tidak berharap lebih padanya tapi Leo sama sekali tidak
mau berusaha melepaskan gadis itu.
Membayangkan Nasa pergi dari kehidupannya sangatlah
menyakitkan.
Dilihatnya Nasa yang kembali mengangat wajahnya.
Bertemu tatap dengannya. Matanya yang terlihat begitu
jernih, yang selalu membuatnya terhanyut. Tangan gadis itu
yang kini mengusap wajahnya dengan lembut.
"Aku nggak mau terlalu jatuh cinta dengan kamu. Jadi ...
kapan kamu bisa melepaskan aku?"
"Nggak bisa kita seperti ini aja? Menikmati segala hal sia-
sia seperti yang kamu katakan? Berpelukan seperti ini." Leo
mendekap gadis itu kian erat. "Berciuman seperti ini."
Mengecup bibir gadis itu dengan lembut. "Nggak bisa kita
terus seperti ini?"
"Aku nggak tau kapan bisa melepaskan kamu. Aku bahkan
nggak tau apakah aku bisa melepaskan kamu."
Nasa mendapatkan jawabannya. Leo hanyalah laki-laki
yang kesepian sepanjang hidupnya.
.
.
.
To Be Continued
(02/09/2022)
Whoaaaa Chef Leo, jadinya anda tuh maunya
seperti apa ya?
Neng Nasa nggak suka tuh katanya melakukan hal
yang sia-sia.
Ayo pembaca sekalian, kita ramaikan part ini!!!
Nasa juga katanya udah dapet jawabannya tuh.
Terus kalau udah dapet jawabannya mau gimana
dok?
Coba bantuin Nasa gais langkah selanjutnya harus
gimana hahahahahah
Sampai ketemuuuuu^^
Luv Luv
Mill
DUAPULUHLIMA
"Kasih aku waktu."
Tatap mereka yang menyatu itu kemudian terpisah. Nasa
yang memutuskannya lebih dulu. Mengalihkan pandangan
dari jelaga Leo yang lembut yang kali ini menatapnya
dengan sorot takut di sana. Dia tidak tahu apa yang sedang
laki-laki itu takutkan.
"Waktu untuk?" tanya Leo atas perkataan Nasa yang tiba-
tiba.
Gadis itu menarik napasnya dalam. Menyandarkan
kembali kepala pada pundak Leo yang kokoh. Tangannya
melingkar pada tubuh pria itu. Meresapi suhu hangat yang
diciptakan dari sana.
"Aku perlu waktu untuk mengambil keputusan."
"Keputusan untuk meninggalkan aku?"
Nasa tidak membalas. Agendanya malam ini hanyalah
mencari jawaban. Dia sudah menemukan dan seharusnya
selesai sampai di sana. Keputusan selanjutnya tentu tidak
harus dipikirkan saat ini. Sekarang, Nasa hanya butuh untuk
menyandarkan kepala dengan mata yang perlahan
memejam.
*__*
"Sorry, Nas. Gue nggak tau kalau lo mau keluar dan bilang
ke rumah gue. Lo nggak bilang apa-apa juga, sih."
Sana menatapnya tidak enak sekaligus merasa bersalah.
Di hari sabtu ini, keluarga kecil Sana bertandang pagi-pagi
ke rumah Papinya. Katanya Sana ingin sekali sarapan bubur
ayam yang ada di dekat rumah dan Bhumi pun
mengabulkannya. Mereka membeli bubur ayam kemudian
makan di rumah keluarga Sana. Saka yang tidak melihat
keberadaan Nasa tentu saja bertanya-tanya.
Alhasil, kebohongan Nasa terbongkar begitu saja.
Nasa menghela napasnya. Dia baru saja turun dari
mobilnya. Pagi-pagi dikejutkan oleh telepon Sana yang
mengabarkan bahwa Papi marah besar karena Nasa
berbohong. Gadis itu terburu-buru pulang ke rumahnya
bahkan tanpa menunggu Leo bangun lebih dulu. Nasa
hanya meninggalkan secarik kertas untuk memberitahukan
kepergiannya.
Gadis itu melangkah ke dalam rumah. Papinya sudah
duduk di sofa ruang keluarga dengan tatapan seolah ingin
mengeksekusi putri sulungnya itu. Nasa yang jelas tidak
sebanyak Sana tingkahnya tapi justru berbohong di usianya
yang sudah memasuki dewasa.
"Dari mana?" Suara tegas Saka menguar menyambut
kedatangannya.
Nasa sedikit gugup. Namun dia berusaha untuk tetap
tenang agar sidang ini tidak dilewatinya dengan berat.
"Kamu udah pintar bohong sekarang? Bilang ke rumah
Sana tapi mana? Tidur di mana kamu semalam?"
Nasa duduk di sofa dengan tenang. Menatap Saka
berusaha menyembunyikan wajah gugupnya. Ada Maminya
yang juga duduk di sofa depannya. Sedang anggota
keluarga yang lain, sengaja tidak ikut duduk di sana karena
seperti inilah memang suasana eksekusi Saka kalau ada
anak-anaknya yang nakal. Biasanya Sana yang sering kena.
Tapi kini, Nasa tidak menyangka bahwa dirinya akan berada
di situasi ini.
"Maaf, Pi."
Hanya satu kata itu yang bisa Nasa ucapkan. Dia salah
karena sudah berbohong dengan Papinya.
"Tidur di mana kamu semalam?"
Nasa memilih diam. Jika Nasa menjelaskan lebih banyak
lagi, Papinya akan lebih marah dan kecewa.
"Nasa, nggak mau jawab Papi?"
Nasa masih membisu. Membuat Saka terlihat geregetan
menatap putrinya itu. Nasa selalu begini jika dimarahi sejak
dulu. Dulu, Nasa sering menutup-nutupi perbuatan nakal
Sana yang sering pergi diam-diam. Ditanya berulang kali,
Nasa tidak akan menjawab dan hanya menutup mulutnya
untuk melindungi saudara kembarnya itu.
"Nasa ..." Saka kembali memanggilnya.
Clarinna yang melihat Nasa diam sejak tadi itu mengusap
tangan suaminya. "Anak kita sudah besar, Pi. Mereka punya
kehidupan pribadinya sendiri."
"Kehidupan pribadi seperti apa yang bohong sama
Papinya dan nggak mau bilang tidur di mana semalam?"
Clarinna menatap putrinya. Nasa yang masih diam di
tempatnya tidak mau membuka suara.
"Mami percaya Nasa. Nasa nggak akan mengecewakan
Mami dan Papi kan, Kak?"
Kali ini Nasa mengangkat kepalanya. Menatap Maminya
dengan sorot tegas dan teduh terlihat menyatu di sana.
Gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya.
"Nggak akan lagi, Mi."
Clarinna tersenyum. Wanita paruh baya yang masih
tampak begitu energik dan segar itu kemudian mengamit
tangan suaminya. Membawa Saka berdiri meski diikuti
ogah-ogahan dengan pria kesayangannya itu.
"Ayo kita ke ruang tamu. Sana dan Bhumi mau kasih
pengumuman."
Nasa menghembuskan napasnya lega. Gadis itu melihat
kepergian sang Papi yang masih menggerutu tapi tidak
melepaskan lengan istrinya yang membelit tangannya.
Papinya terlihat selalu takluk dengan sang Mami.
Sedominan apa pun Maminya terlihat, Nasa tidak pernah
mendapati suaranya Maminya lebih keras dari sang Papi.
Biar Saka selalu terlihat menurut pada sang istri, tapi tidak
pernah Nasa temui Maminya yang berbuat semena-mena
dan selalu menghormati serta melayani Papinya dengan
baik.
Melihat kepergian dua orang kesayangannya itu, Nasa
menatapnya begitu dalam. Keduanya tampak saling
menyayangi dan mencintai. Di usia yang sudah tidak muda
ini tentu saja. Kini, dia justru membayangkan hal yang sama
terjadi padanya suatu saat nanti. Naasnya, dia justru
membayangkannya bersama dengan Leo.
*__*
"Ini benar ada cucu Papi di dalam sini, Sana?"
Saka menatap penuh haru sembari mengusap perut sang
putri yang baru saja usai mengumumkan kehamilan
pertamanya. Kehamilan pertamanya setelah hampir
memasuki 3 tahun usia pernikahan.
"Dulu kamu sekecil ini, San." Saka menunjukkan jari
kelingkingnya. "Sekarang udah ada cucu Papi di sini."
"Papi! Enak banget anaknya disamain sama kelingking!"
Suara protes Sana terdengar.
Nasa menatap seluruh anggota keluarganya yang
memasang wajah senyum sekaligus haru. Termasuk
Maminya yang Nasa lihat diam-diam mengusap air
matanya. Sana anak mereka yang paling nakal dan sering
melawan kini sudah menjadi seorang wanita hamil. Sana si
nakal yang sering kabur-kaburan itu memang sangat
berbeda setelah menikah. Sana hanya keluar untuk bekerja
dan menghabiskan waktu di rumah. Dia bahkan lebih
senang bertengkar dengan Anin di rumahnya dari pada
diajak Ariana shopping ke mall.
Nasa tahu perubahan saudara kembarnya itu tidak luput
dari campur tangan Bhumi. Pria dewasa yang terkadang
suka kelewat baik. Pria sederhana yang mencintai Sana
dengan cara sederhananya yang penuh dengan makna.
Bagaimana rasanya dicintai seperti itu, ya?
Nasa tahu jelas, bagaimana sifat-sifat Sana yang kadang
suka membuat orang naik darah. Tapi Bhumi bisa menerima
itu semua. Mereka menikah. Terlihat sangat hidup bahagia
hingga kini Sana diberikan kepercayaan kembali untuk
memiliki seorang anak lagi—adiknya Anin.
Kenapa ... kini Nasa justru membayangkan hal yang sama.
Gadis itu mengusap perutnya sendiri. Naasnya, Nasa
kembali membayangkan Leo adalah orang yang berada di
sampingnya.
Nasa tidak pernah iri dengan saudara kembarnya sendiri.
Tapi kini ... Nasa merasakannya.
*__*
"Ingat, ya. Jangan sering begadang, makan teratur. Yang
paling penting ... jangan kebanyakan makan coklat!"
Nasa mengangguk berkali-kali. "Iya, Papi," jawabnya.
"Papi pulang dulu. Harus hubungi Papi kalau ada apa-apa."
"Iya, Pi." Nasa mengangguk lagi.
Gadis itu kemudian melambaikan tangannya pada sang
Papi yang sudah memasuki mobilnya. Bersiap melaju
dengan sopir pribadinya yang mengemudi. Setelah
kendaraan roda empat itu hilang dari pandangannya, Nasa
menghela napasnya dan masuk ke dalam sebuah gedung
kos-kosan yang akan menjadi tempat tinggalnya kurang
lebih 6 bulan ke depan.
Setelah 6 bulan melakukan internsip di rumah sakit, 6
bulan berikutnya Nasa akan melakukan internesip di sebuah
puskesmas. Puskesmas yang menjadi tempat kerjanya kini
berada cukup jauh dari rumah, juga dari apartemen Keanu.
Tidak memiliki pilihan lain selain mencari kos-kosan sendiri.
Kemudian bertemulah Nasa di dengan sebuah kos-kosan
eksklusif bernama Homey's House yang akan menjadi
tempat tinggalnya. Meski sebelumnya harus menghadapi
diskusi alot dengan sang Papi yang justru memerintah
pulang pergi dengan sopir dan juga Kana yang masih tidak
rela Nasa pergi dari rumah sedangkan dia masih tidak boleh
ke mana-mana.
Gadis itu masuk ke dalam gedung. Masuk ke dalam lift
dan menuju lantai 3 tempat kamarnya berada. Kos-kosan ini
hanya terdiri dari 8 kamar yang semuanya ada di lantai 3.
Lantai dasar hanya dijadikan tempat parkir, lantai dua
sebagai tempat umum yang terdapat gym, ruang tamu,
ruang TV, ruang karoke dan dapur. Kemudian di lantai 4
adalah lantai pribadi pemilik Homey's House ini dan lantai
lima adalah taman terbuka dan kolam renang. Ada
beberapa kebun sayur milik pemilik kos-kosan ini yang
tinggal bersama suaminya di sana.
Tempat ini cukup eksklusif dan menenangkan.
Nasa turun dari lift. Masuk ke dalam kamarnya dan
merebahkan tubuhnya di sana. Terdengar dering ponselnya
dan menandakan sebuah panggilan video yang masuk.
"Hai." Wajah Leo muncul di layar.
Nasa tersenyum kecil. Menatap wajah yang hampir
sebulan ini tidak dilihatnya secara langsung. Leo cukup
berubah. Ada kumis-kumis tipis yang menghiasi wajahnya
sekarang.
"Papi kamu udah pulang?" tanya laki-laki itu.
Nasa mengangguk. "Baru aja."
Leo tersenyum. "I miss you too. Aku juga ingin menemui
kamu."
"Jauh," balas Nasa. "Kamu pasti banyak pekerjaan."
Leo tersenyum lagi. Sejak Nasa berkata memerlukan
waktu untuk berpikir, mereka tidak pernah bertemu lagi.
Lebih tepatnya, Nasa yang selalu tidak bisa diajak bertemu.
Gadis itu juga menolak Leo yang berkata hendak
menemuinya sebentar di rumah sakit. Tapi setidaknya, Leo
harus puas Nasa tidak mengabaikan pesan dan mau
menjawab panggilannya.
*__*
"Nas, ada tamu untuk kamu."
Nasa yang baru saja keluar dari kamarnya menoleh saat
namanya disebut. Di sana Raissa--pemilik kosan berjalan
dengan kucing kesayangannya yang ikut serta. Gaya
pakaiannya yang khas, hitam-hitam, turut menjadi
pandangan Nasa sebelum kemudian gadis itu
menyeluruhkan atensi pada si pemilik kos yang mungkin
usianya berada di akhir 20.
"Udah aku suruh tunggu di ruang tamu," kata Raissa lagi.
Wanita itu lalu berlalu begitu saja dan berjalan memasuki
lift.
Nasa menyusul kemudian. Menunggu di depan lift yang
sudah lebih dulu pergi mengantarkan Raissa sebelum gadis
itu masuk menuju lantai dua tempat tamunya berada.
Seorang tamu. Nasa cukup takjub dengan keberadaan tamu
itu di tempat ini, saat ini.
Lift berhenti di lantai dua dan Nasa keluar dari sana.
Masuk ke sebuah pintu kaca dan melangkah menuju ruang
tamu. Lantai dua ini tampak begitu sepi. Nasa hanya
melihat satu penghuninya yang berada di dalam gym.
"Hai."
Senyum seseorang terpatri di wajahnya. Tamu Nasa yang
menunggu dan terlihat sangat sumeringah mendapati
kehadirannya. Leo--tamu tak diundang yang sebenarnya
sudah lebih dulu izin untuk datang. Nasa iyakan saja tapi
tidak dia beri tahu alamat kosnya. Cukup Nasa beritahu
nama daerah dan ciri-cirinya. Selebihnya, Leo mencari
sendiri.
Dan ya, laki-laki itu ternyata menemukannya.
"Aku bawa brownies kesukaan kamu." Leo menunjukkan
sebuah paper bag yang ada di tangannya.
Nasa melihat buah tangan yang laki-laki itu. Tidak
mungkin bisa menyembunyikan senyumnya saat yang Leo
bawa adalah makanan kesukaannya. Gadis itu tersenyum
lebar dan langsung menarik hadiahnya.
"Miss me?"
Nasa mengangguk, tapi kemudian menggeleng.
"Aku lebih rindu makanan ini."
Leo tersenyum atas jawaban gadis itu. Tidak kuasa untuk
mengusap kepala Nasa dengan gemas. Memerhatikan
bagaimana tingkah gadis itu yang sangat bersemangat
mengeluarkan browniesnya dari dalam kantung dan
membuka kotaknya. Mengambil sendok yang sudah
disediakan Leo di sana kemudian menikmati makanan
manis itu.
"Suka?" tanya Leo.
Nasa menoleh sekilas kemudian mengangguk. Pria itu
tersenyum lagi. Seakan kegundahannya berminggu-minggu
ini tersisir semua. Seluruh pasokan energinya terisi penuh.
Bibirnya yang semula sangat sulit untuk tersenyum lebar
kini lebih lebar dari pada yang sebelum-sebelumnya.
Ouch, betapa Leo sangat merindukan gadis ini.
"I miss you," bisik pria itu seraya memeluk Nasa dari
samping.
"I know. Kamu udah bilang berkali-kali." Nasa menjawab
seadanya.
Nasa juga rindu, kok. Dia juga sudah mengatakannya.
Di dalam hati.
.
.
.
To Be Continued
(06/09/2022)
Nasa lebih rindu brownies katanya gaisss >.<
Leo sabar ya, kamu pasti selamanya akan menjadi
nomor dua bagi Nasa karena yang pertama tetep kue
coklat hahahaha.
Btw, ada yang kangen Raissa sama si Mas Tomat
gakk? hahaha
Jangan lupa tinggalkan jejak gaisss
Sampai ketemu lagi!!!
Luv Luv
Mill
ig : kill.mill77
DUAPULUHENAM
"Ck ck ck." Sana berdecak, menatap saudara kembarnya
tidak percaya.
Ibu hamil itu mengusap perutnya yang belum seberapa
terlihat. Usia kandungannya masihlah tiga bulan. Tapi untuk
berjaga-jaga, Sana mengusap perutnya dan berdoa agar
anaknya kelak tidak bloon seperti Nasa.
"Bisa-bisanya lo minta saran sama Keanna padahal dia
pernah pacaran aja enggak," ujar wanita itu. Masih tidak
habis pikir dengan saudara kembarnya sendiri karena
mempercayai permasalahan cintanya pada orang yang
bahkan tidak pernah terlibat hubungan asmara.
"Gue juga nggak pernah pacaran," respons Nasa. Menatap
Sana yang sedang berselonjor di atas sofa dengan sepiring
puding cokelat di tangannya. Di tangan Nasa juga ada piring
berisi puding yang sama.
"Nah itu. Lo nggak pernah pacaran makanya lo merasa
butuh konsultasi ke orang lain tentang percintaan lo ini. Tapi
bloonnya, kenapa lo konsultasi ke Keanna, Nanas? Padahal
jelas-jelas lo punya kembaran yang mantannya berjejer di
setiap kota. Bisa-bisanya lo lebih mengandalkan Keanna dan
baru cerita sama kembarannya sekarang?"
Nasa menyuap potongan terakhir. Meletakan piring di atas
meja dan mengambil air di dalam gelas. Menenggaknya
kemudian menurunkan kaki Sana yang dengan kurang
ajarnya berpangku di atas kakinya. Nasa bangkit, berpindah
tempat duduk ke sofa yang lain.
"Gue mau cerita sama lo. Tapi gue takut lo nggak objektif
karena Leo itu kakaknya sahabat lo dan lo deket sama dia."
Nasa membela diri.
"Sedekat apa pun gue sama Adel atau Kak Leo tetap lo
prioritas gue lah, Nas. Ini anak kadang-kadang pinter tapi
bego. Astagfirullah—" Sana langsung beristigfar. Mengingat
tadi dia berkata kasar padahal sedang mengandung.
"Maafin Mami, Dek. Jangan bilang-bilang Papa ya tadi Mami
ngomong kasar. Ini gara-gara tante kamu, nih." Sana
menggerutu sendiri.
"Terus gue harus gimana ini?" tanya Nasa tanpa rasa
bersalah. Hadirnya dia di rumah Sana sore hari ini tidak lain
dan tidak bukan adalah untuk berkonsultasi setelah Keanna
—konsultannya kembali begitu saja ke Singapura padahal
urusan mereka belum selesai.
Sana berdecak lagi melihat kembarannya itu. Urusan
perlaki-lakian tentu saja Nasa sangatlah bloon. Sana jelas
lebih unggul dalam hal ini.
"Sekarang gini deh, gue tanya, lo maunya apa?" Sana
langsung ke intinya. "Ya kalau pakai logika, cowok modelan
Leo begitu mah langsung dihempaskan cantik. Lo bisa cari
yang lain."
Nasa menatap kembarannya itu seolah berpikir.
"Tapi karena cinta suka nggak pakai logika, makanya gue
tanya lo maunya apa?" tanya Sana lagi.
"Mau gue?" Nasa bertanya balik. Lebih tepatnya bertanya
pada dirinya sendiri. Sebenarnya apa maunya?
Tepat dua minggu dia memutuskan untuk tinggal di kos-
kosan sendiri. Hubungannya dan Leo mulai menciptakan
jarak meski pria itu selalu berusaha menyerobot masuk.
Seperti dua hari yang lalu Leo tiba-tiba datang ke kosannya
dan membawakan brownies kesukaannya.
"Gue mau dia," gumam Nasa. Semakin memikirkannya,
semakin dia menginginkannya.
Sana menghela napas menatap kembarannya itu.
"Dia nggak baik, gue tau itu. Tapi dia nggak
menyembunyikan ke-tidak baikannya. Dari awal, dia sudah
kasih tau gue soal ketidak baikkanya itu. Tapi semakin gue
tahu nggak baiknya dia, kenapa gue semakin
menginginkannya?"
Nasa tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Ini
pertama kalinya dia menginginkan sesuatu sekuat ini. Dia
menciptakan jarak. Tapi tentu tidak sepenuhnya. Nasa
masih tidak bisa mengabaikan Leo begitu saja. Dia
membalas pesannya, menjawab panggilannya, bahkan tidak
menolak Leo mengirimkannya makanan.
"Well, gue nggak heran karena kita kembar. Kita sama-
sama bucin, sih." Sana menimpali dengan santai. Sebelum
dengan Bhumi, bahkan Sana tetap bucin pada mantan-
mantannya yang lain. Meski tentu saja dengan Bhumi-lah
dia paling merasa jatuh cinta. Dan paling merasa dicintai.
"Terus gue harus bagaimana?" tanya Nasa lagi.
Sana terlihat berpikir. "Bagaimana kalau kita terapin
metode yang diajarin Mas Bhumi?"
"Metode apa?"
"Soal belanja. Mas Bhumi ngajarin gue soal metode
belanja. Ya, lo tau kan gue cinta belanja? Nah, Mas Bhumi
punya satu metode yang bisa mengontrol keinginan-
keinginan gue menghabiskan uang."
"Caranya?"
"Simpan keinginan lo selama 24 jam. Sebenarnya jangan
lama-lama, tapi karena lo masalahnya percintaan, lo gue
kasih waktu tiga hari. Simpan keinginan lo maksimal 5 hari.
Dalam lima hari itu, lo mikir. Kuras otak lo sebanyak
mungkin. Pagi, siang, malem lo pikirin. Apa iya, lo benar-
benar menginginkan Leo? Lo tulis, plus-minusnya. Setelah
maksimal tiga hari, buat keputusan. Itu yang sering gue
lakuin kalau mau beli-beli sesuatu. Apa iya gue bener-bener
ingin beli. Apa iya nantinya benda yang gue beli itu akan
berguna untuk gue? Nggak cuman puasin hawa nafsu gue
saja, nggak cuman habis-habisin uang aja. Lo pertimbangin
semuanya."
"Tapi gue udah mikir berbulan-bulan dan belum ketemu
tuh, jawabannya. Lo masih menginginkan dia aja."
"Itu karena lo nggak beneran mikir," sanggah Sana. "Lo
harus mikir jernih dan nggak boleh ada intervensi. Lo masih
berhubungan sama Kak Leo kan? Nah, mulai sekarang
jangan. Pokoknya hentikan segala komunikasi apa pun
dengan dia. Oke?"
Nasa tidak menyahut. Namun tentu dia sedang
memikirkannya.
Sana pun hanya memerhatikan kembarannya itu sembari
melanjutkan suapan pudingnya. Hari sabtu sore yang cerah
ini, dia mendapatkan murid baru bernama Nasafia yang
memiliki masalah tentang percintaannya. Yang tidak Sana
sangka bahwa Nasa yang tidak pernah terlihat jatuh cinta
itu kini benar-benar jatuh cinta. Mana dengan laki-laki yang
pernah Sana sukai dulu, lagi.
"Mumi!" Pintu rumah terbuka terdengar lumayan keras.
Membuat Nasa dan Sana sama-sama menoleh.
"Anin, kan kebiasaan buka pintu nggak pelan-pelan! Nanti
rusak lagi pintunya gimana?" Sana melotot menatap anak
sambungnya itu yang malah tertawa menyebalkan
menatapnya. Sudah lebih dari dua kali pintu rumah mereka
rusak karena Anin. Semakin besar, si bocil bau kencur itu
semakin nakal saja.
"Mumi aku mau puding juga." Anin mendekat, berusaha
menyerobot piring Sana yang langsung dialihkan oleh
wanita itu.
"Enak aja mau puding. Sini kamu." Sana menaruh
piringnya. Membawa Anin naik ke atas pangkuannya dan
mencium pipi tembamnya dengan gemas. "Main terus
seharian mentang-mentang nggak sekolah. Kamu tuh belum
cium Mumi dari pagi tau nggak!"
Anin memekik kegelian. Berusaha menjauhkan wajah dan
tubuhnya dari Sana yang menciumnya bertubi-tubi.
"Lepas Mumi! Aku udah dewasa nggak mau dicium-cium
lagi!" pekik gadis kecil itu.
"Sana, kamu lagi hamil kok angkat-angkat Anin begitu.
Turunin!" Kemudian Bhumi muncul dari balik pintu. Berjalan
cepat menuju istrinya dan menurunkan Anin dari pangkuan
Sana.
Di tengah interaksi Sana, Bhumi dan Anin, Nasa hanya
menatap datar ketiganya. Bahkan pikirannya tidak berada di
sana karena di kepala gadis itu kini penuh dengan Leo saja.
*__*
Nasa melakukan yang Sana perintahkan.
Terhitung tiga hari ini, dia tidak membalas pesan Leo,
tidak menjawab panggilannya, dan yang terparah, Nasa
memblokir sementara nomor ponsel laki-laki itu. Kemarin,
Leo datang ke tempatnya, Nasa tidak menerima kunjungan
itu dan tidak menemuinya sama sekali. Bahkan saat Leo
datang ke Puskesmas tempatnya bekerja, Nasa sama sekali
tidak mau menemuinya dan malah meminta satpam untuk
menyuruh Leo pulang.
Dan setelah itu semua ... Nasa justru merasa dirinya
sangat kejam.
Malam ini, gadis itu gelisah sendiri di dalam kamarnya.
Ada banyak sekali pikiran yang memenuhi isi kepalanya.
Semua pikiran itu, hanya berpusat pada Leo seorang.
Apalagi setelah Nasa menerima telepon dari Adel siang tadi.
Gadis itu malah bertanya soal keberadaan Leo padanya.
"Gue nggak bisa hubungi Kakak. Gue cari di apartemen
dan di Rumah Rasa juga nggak ada. Kalau Kakak ada
hubungi lo, tolong kabari gue ya, Nas."
Pria itu tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Bersamaan dengan
hari ini, Leo juga tidak datang ke puskesmas atau
menghampirinya ke Homey's House. Nasa juga sudah
membuka blokiran pria itu dan ternyata Leo tidak ada
menghubunginya sama sekali.
"Gue bener-bener nggak suka kalau Kakak lagi kayak
begini."
Kemudian ucapan terakhir itu benar-benar
mengganggunya. Seakan-akan mengatakan bahwa ini
bukanlah yang pertama. Lalu Nasa teringat dengan
beberapa bulan lalu saat Leo datang malam-malam ke
dapur pribadinya dengan wajah babak belur. Sampai saat ini
pun, Nasa tidak tahu kenapa pria itu bisa pulang dalam
keadaan habis dipukuli seperti itu. Leo cukup tertutup
dengan kehidupan pribadinya.
Nasa juga teringat lagi bagaimana Adel yang terdengar
sama paniknya seperti saat dia menghubungi Leo dulu dan
meminta bicara dengan Nasa.
Gadis itu bangkit dari ranjang tidurnya. Tidak peduli waktu
sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Nasa besok masih
harus bekerja. Gadis itu harus memastikan keadaan Leo
dengan mata kepalanya sendiri.
*__*
Keadaan Rumah Rasa gelap. Nasa sempat bertemu
dengan satpam jaga di luar tadi. Juga mendapati mobil Leo
terparkir di sana. Gadis itu yakin, Leo ada di dalam
dapurnya. Nasa pun melangkah, menuju tempat penuh
harum makanan itu. Membuka pintu dan di hadapkan oleh
kegelapan.
Ruangan yang gelap tapi tidak mengalihkan pandangan
dari siluet seseorang yang meringkuk di atas sofa. Nasa
memilih tidak menyalakan lampu. Ada sedikit cahaya
temaram dari celah-celah ventilasi udara. Hanya kakinya
yang melangkah dan menghampiri orang itu.
"Geser, aku mau tidur juga," ujar Nasa sebelum
menyelinap masuk ke tengah-tengah sofa. Melingkarkan
lengannya pada tubuh Leo yang dingin. Gadis itu
memejamkan mata. Cukup merasakan hela napas Leo yang
menyambut kepalanya.
Leo tidak bicara apa pun. Meski begitu, Nasa tahu laki-laki
itu tidak tertidur. Terdengar sedikit ringisannya saat Nasa
menyelinap di antara sofa dan tubuhnya tadi. Laki-laki itu
pasti babak belur lagi. Nasa memundurkan kepalanya.
Menatap wajah Leo yang terhalang oleh gelapnya cahaya.
"Boleh nggak, kasih tau aku dari mana kamu dapat luka-
luka ini?" tanya Nasa berbisik pelan.
Namun Leo justru menggeleng menjawabnya.
Nasa menghela napasnya. Gadis itu turun dari atas sofa.
Menyalakan lampu dan mengambil kotak obat. Kemudian
memandang punggung Leo yang masih terbaring
membelakanginya. Gadis itu menarik napasnya. Mendekat,
kemudian mengusap kepala Leo dengan lembut.
Nasa kemudian teringat dengan pesan yang ia kirimkan
pada Sana sebelum datang ke tempat ini. Rasanya, Nasa
tidak akan menyesali keputusannya.
To : Sanalia
Dia nggak melakukan hal-hal yang nggak bisa gue tolerir.
Dia nggak suka main perempuan, dia bukan pemabuk dan
dia bahkan bukan perokok. Dia cuman tukang masak, right?
Dia jago masak dan buatin gue makanan-makanan lezat.
Dia bukan orang yang kasar dan justru sebaliknya dia
sangat-sangat lembut memperlakukan gue ataupun orang
lain. Dia laki-laki yang pekerja keras terbukti dengan Rumah
Rasa semakin berkembang di tangannya.
Well, dia memang penakut. Mungkin dia ... mungkin dia
juga sedikit nggak bisa mengambil tanggung jawab soal
pernikahan. Tapi nggak apa-apa. Lo tau gue orang yang
sangat-sangat-sangat pemberani. Kalau dia yang nggak
bisa, gue yang akan tanggung.
Kalau dia nggak mau menikahi gue, gue yang akan
menikahi dia. Hidup itu tentang pilihan, kan? Dan ini pilihan
gue.
Masih banyak hal yang nggak gue tau tentang dia dan
gue akan pelan-pelan untuk kenal dengan dia lebih jauh.
Because i love him so much.
.
.
.
To Be Continued
(09/09/09)
Bestieeeeee akhirnya Nanas berguru sama si bumil
hahahahaha
Si kembar emg kalo bucin udah gak ada obat ya 😭
😭😭
Btw btw, aku buat dua part baca duluan (part 27 &
28) di KaryaKarsa nih!
Yang mau tancap gas duluan nggak sabar nunggu
part mingdep bisa langsung gas ke KaryaKarsa ya!
Bisa kamu akses seharga Rp. 5000 atau 50 kakoin
aja!
Aku kasih spoiler dikit deh....
Part 27
Part 28
Hmhmm segitu ajaaaa
Kalau begitu sampai ketemu mingdep!!!
DUAPULUHTUJUH
"Kamu menghilang tiga hari ini. Nggak bisa aku temui di
mana pun. Kamu blokir nomor aku, kamu nggak bisa aku
temui di puskesmas atau pun di kosan."
Mobil melaju cukup luang di subuh ini. Nasa sengaja
meminta pulang pagi-pagi buta karena dia tidak membawa
pakaian untuk bekerja. Dia harus pulang dulu sebelum
berangkat ke puskesmas. Kemudian setelah semalam
mereka lalui dalam hening—Nasa yang ikut tertidur setelah
mengobati memar-memar di wajah tubuh Leo—pria itu baru
membuka suaranya pagi ini.
Membahas mengenai Nasa yang tidak dapat dijangkaunya
selama tiga hari ini.
"Aku pikir kamu memutuskan untuk meninggalkan aku,"
ujar pria itu lagi.
Nasa menoleh. Menatap Leo yang wajahnya masih terlihat
memar. Gadis itu tidak berkata banyak selain pamit pulang
saat suara alarmnya terdengar. Sengaja dia pasang agar
tidak terlambat bangun dan pergi bekerja. Niatnya pun Nasa
pulang sendiri dengan mobilnya. Namun Leo memaksa
untuk mengantarkannya.
"Aku sedang berpikir," jawab gadis itu.
Leo menyimak. Tidak dapat dipungkiri bahwa pembatas
yang Nasa beri pada mereka akhir-akhir ini sangat
membuatnya takut dan panik. Kemudian saat Nasa
memutuskan komunikasi dengannya, Leo pikir wanita itu
akhirnya benar-benar menyerah.
Nasa sudah sepantasnya menyerah.
Leo tersenyum kecil di sudut bibirnya. Lagi pula, bagian
mana dari dirinya yang pantas diperjuangkan? Tidak ada.
"Aku berpikir panjang." Nasa berbicara lagi. "Aku sangat-
sangat menyukai kamu. Rasanya melepaskan kamu
sekarang seharusnya lebih baik sebelum aku semakin
sangat-sangat-sangat menyukai kamu, kan?"
Leo diam. Pria itu diam meski tidak mampu menutup
taman hatinya yang bermekaran mendengar pengakuan
Nasa. Gadis itu menyukainya.
"I made a deal. Dengan diriku sendiri." Itulah yang Nasa
lakukan sampai dia memutuskannya. "Aku akan
menganggap kamu menaruh hubungan kita ini hanya
sekedar bersenang-senang. Menemani waktu luang kamu,
waktu sepi kamu. Kalau begitu, aku juga akan bersenang-
senang. Anggap aja kita lagi tanding tinju. Sakit, tapi bukan
cuman aku yang merasakannya. Lawanku juga harus sama
sakitnya."
Mereka menoleh bersamaan. Saling pandang seolah
mengantarkan perasaan masing-masing.
"Untuk pemenang, hanya akan tau saat pertandingan
usai, kan?"
Leo mengalihkan tatapannya lagi. Memandang jalan raya
di depannya. Memutus kontak mata mereka seakan tidak
sanggup menampung keseluruhan yang Nasa sampaikan di
dalamnya. Terlihat tegas, bersungguh-sungguh, dan tanpa
bantahan.
"Aku nggak akan membiarkan diriku sakit sendirian, Leo.
Aku senang, kamu juga senang. Aku sakit, kamu juga harus
sakit."
Nasa mengatakannya seperti ancaman. Tapi entah
kenapa, Leo sangat-sangat lega mendengarnya. Setidaknya
Nasa tidak akan meninggalkannya begitu saja. Segala
kesenangan atau pun kesakitan yang gadis itu tawarkan,
Leo akan menampung segalanya. Toh, selama ini dia sudah
merasakan kesakitan yang mendalam.
"Aku cinta kamu dan kamu juga harus cinta aku.
Bagaimana pun caranya."
Suasana ini seharusnya terasa menenggangkan. Kalimat
Nasa yang begitu tegas dan sarat ancaman. Suhu pendingin
mobil yang terasa sangat dingin, suara kendaraan,
kemudian gemuruh langit yang mendung. Seharusnya
terasa mencengkam. Namun Leo sangat menikmatinya.
Serasa ia tengah digenggam erat-erat oleh seseorang.
Tubuhnya menghangat. Beberapa beban seolah mengelupas
dari kulitnya.
Jantungnya berdebar-debar. Ternyata begini rasanya.
Diinginkan seseorang sebegitu besar.
*__*
Nasa asyik mengunyah di tengah keluarganya yang
sedang berkumpul. Akhir pekan dan seperti biasanya, Saka
mengadakan pertemuan keluarga setelah kerja bakti
mingguan. Papinya itu duduk di kepala sofa. Dengan sang
ibu suri alias kanjeng ratu Clarinna Ayu Putri Prasetya yang
duduk di sofa sebelahnya. Kemudian ada ada Kana dan
Naka yang duduk berdampingan, keluarga kecil Sanalia lalu
juga Nasa dengan makanan-makanannya.
"Papi ada pengumuman penting," kata kepala keluarga di
rumah ini.
Semuanya manggut-manggut. Ada yang tidak juga, sih.
Yaitu Kana dan Naka yang kini masih saling mencubit. Ribut
adalah makanan mereka sahari-hari.
"Adek sama Naka bisa akur dulu? Papi ada pengumuman
penting," ujar Saka melerai tingkah kedua anaknya. Bahkan
Anin saja bisa anteng duduk di pangkuan Bhumi. Sangat
mengherankan Kana dan Naka tidak pernah ada akurnya.
"Kalau kalian nggak bisa tenang, pindah duduknya. Naka
kamu pindah ke samping Nasa. Kalian ini. Nggak pernah aku
berbarengan terus."
Suara Saka itu lah baru menghentikan perdebatan tidak
jelas mereka.
"Pengumuman apa sih, Pi? Tumben banget sampe Papi
misahin si upin-ipin." Sana menimpali. Karena tentu tidak
biasanya Saka melerai kedua anaknya yang hobi bertengkar
itu.
Saka pun fokus lagi. Menatap seluruh anggota
keluarganya, berdehem sekilas, kemudian menegakkan
tubuhnya.
"Papi habis diskusi sama Papa Daffa," mulai pria paruh
baya itu. "Seperti yang kalian tau, usia Papi ini nggak muda
lagi. Apalagi Papa Daffa yang lebih tua dari Papi."
"Pasti tentang perusahaan, nih." Kana memotong tiba-
tiba. Remaja itu sudah mendapat bocoran lebih dulu karena
berhasil mencuri dengar perbincangan sang Papi dengan
Maminya.
Saka pun mengangguk. Tidak akan menutup-nutupi
terkait perusahaan keluarga yang kini dikelola oleh Daffa—
anak tertua di keluarganya karena Saka memilih untuk
menjadi seorang dokter dan sama sekali tidak bergabung
dengan perusahaan.
"Naka, kamu kan sebentar lagi sudah mau semester akhir,
kalau beres kuliah kamu bantu Mas Darren di perusahaan
bagaimana?" Saka menatap anak lelaki satu-satunya lebih
dulu.
"Di perusahaan Papa Daffa ada lowongan dokter gigi, Pi?"
timpal Naka.
Saka berdecak. "Kamu ini!"
"Ya kan Papi tau Naka juga kuliahnya kedokteran gigi, Pi."
"Kan bisa belajar dulu sama Mas Darren, sama Papa Daffa.
Kamu kan nggak akan ditempatin di posisi tinggi langsung,
Naka. Mulai dari awal juga." Saka menatap serius anak
lelakinya. "Lagian itu bukan cuman perusahaan Papa Daffa.
Itu punya kita semua."
Naka tidak menyahut.
"Papi udah banyak bebanin Papa Daffa selama ini karena
nggak membantu sama sekali. Sekarang Papa Daffa tanya
ke Papi di antara kalian siapa yang mau bantuin Mas Darren
di perusahaan. Minimal untuk mengelola cabang Jakarta
dulu. Nggak harus Naka. Sana, Nasa, dan Kana kalau mau
ke sana juga boleh. Kalian semua juga boleh."
Clarinna langsung menggeleng, memegang tangan
suaminya. "Nggak untuk Sana, Pi. Nanti klinik Mami mau
diterusin sama siapa kalau Sana ke perusahaan?"
"Sana juga nggak mau." Sana membela sang Papi.
Langsung menggeleng dengan tegas.
Sana menghela napasnya. Pria itu kemudian menoleh
pada Nasa.
"Nasa jelas enggak, Papi. Papi tau Nasa mau langsung
lanjut spesialis." Anak sulung di keluarga itu mengatakan
penolakannya.
"Adek bagaimana?" tanya Saka pada si bungsu.
"Yang lain boleh pilih jalannya sendiri, terus Kana nggak
boleh gitu?" Kana langsung sewot. Anak remaja satu ini
semakin keras kepala saja setiap harinya. "Pokoknya Kana
yang akan nentuin hidup Kana sendiri!"
"Nggak usah ngegas. Papi kan nanyanya baik-baik.
Ngapain lo nanggepinnya ngegas begitu? Emangnya Papi
maksa-maksa lo apa?!" Naka langsung mengomeli adiknya.
"Udah-udah, nggak usah ribut. Papi nggak akan maksa
kalian. Papi cuman mau kalian pertimbangkan." Pria paruh
baya kemudian menoleh pada menantu pertama di keluarga
itu. "Kamu bagaimana, Bhum? Papi nggak akan menolak
kalau kamu berminat."
"Pi, Bhumi—"
"Ya ya ya. Papi tau kamu bakalan nolak juga."
Bhumi tersenyum. Tentu saja dia punya rencana kariernya
sendiri. Apalagi biro psikologi rintisannya baru saja
berkembang. Belum lagi pekerjaannya sebagai dosen.
Bhumi tentu tidak bisa memasukkan kegiatan lain lagi dan
semakin menyibukkan diri sedang dia lebih menyukai
menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
"Sebenarnya Papi punya opsi penawaran lain." Saka
menatap lagi anaknya satu persatu. "Di antara kalian
bertiga ..." Saka menatap ketiga anaknya—Kana, Nasa, dan
Naka. "Siapa yang mau Papi jodohin?"
"Hah?!" Naka langsung melongo. "Jodohin apaan, Pi?"
"Ya Papi jodohin aja. Sama siapa kek. Anaknya direktur
keuangan kek, pegawai di Aditama Group yang masih muda
kek. Siapa kek. Pokoknya yang bisa berkontribusi buat
perusahaan lah."
"Pi, ini udah tahun berapa kali, Pi." Naka menatap Papinya
penuh penolakan. "Naka nggak mau!" Laki-laki itu langsung
menolaknya.
"Adek juga nggak mau!" Kana ikut-ikutan. "Walaupun
Adek mau nikah muda, tapi Adek nggak mau nikah sama
pilihan Papi. Pasti orangnya sama kayak Papi. Suka ngatur-
ngatur, ngelarang ini-itu. Nggak mau, pokoknya Adek nggak
mau."
Saka menatap putri bungsunya itu kesal.
"Papi nggak maksa. Papi cuman nawarin," bela pria paruh
baya itu. "Lagian Adek nggak akan Papi kasih nikah muda.
Kasian nanti suaminya punya istri tukang ngambek."
Kana semakin cemberut.
Saka kemudian menoleh sama Nasa yang diam sejak tadi.
"Nasa gimana? Mau kalau Papi cariin jodoh?"
Nasa terlihat berpikir sembari mengunyah makanannya.
"Kamu sebutin deh kriteria kamu kaya bagaimana. Nanti
Papi cariin."
Kriteria idaman?
"Tinggi? Kulitnya sawo mateng? Ke arab-arab-an, ke china-
china-an? Yang bagaimana? Coba sebutin biar Papi cariin
nanti."
Yang bagaimana, ya?
"Ehm ..." Nasa menimbang-nimbang. "Yang tinggi,"
katanya.
"Oke, tinggi. Terus apa lagi?"
"Putih. Rambutnya gondrong. Senyumnya manis, matanya
sedikit sipit dan teduh. Hidungnya bangir, bibirnya tipis
warna pink. Bahunya lebar. Perlakuannya lembut, suaranya
juga lembut. Dan ... jago masak. Dia harus bisa masak. Itu
syarat utama."
"Terlalu spesifik, Nas. Susah ini Papi carinya begini. Pakai
syarat jago masak pula. Kamu nyalain kompor aja nggak
bisa. Lagian pekerja kantoran jarang yang rambut gondrong,
Nas. Kamu nih."
Nasa hanya mengangkat bahunya. Disuruh sebutkan
kriteria, ya kriterianya memang begitu. Dan semua kriteria
yang Nasa sebutkan yang Papinya katakan akan susah
mencarinya itu sebenarnya tidak susah. Semua ciri-ciri itu
ada pada Leo. Nasa tersenyum kecil saat mengingatnya.
"Tapi nggak apa-apa. Papi tetap cariin. Yang jelas intinya
kamu bersedia kan, Nas, kalau Papi jodohin?"
Nasa tidak menjawabnya.
.
.
.
To Be Continued
(13/09/2022)
Sorry Gais kemalaman 🥲🥲
Btw, Nasa kalo bucin agak serem ya wkwkwkwkwk
Nasa jodoh katanya 🤧
Itu juga Papi Saka sok ngide banget mau cariin
Padahal semua kriteria yg Nasa sebutin udh ada di
satu org gasih wkwkwkwk
Ya udah deh sampe ketemu Jumat ya!
Hari Jumat juga bakalan update di KaryaKarsa lagi
2 bab baca duluan.... So, yg Minggu ini merasa
hampa gak ada bab baru ASAN gak usah khawatir
duluannya 😬😬
yaaaaaa mudah2an bisa rutin update bab baca
Btwbtw, mo numpang promo lah
Novelku lagi promo nih Gais! Biasa, masalah
permantanan. Tentang artis yg lagi kena skandal
pelakor tapi malah kabur, ketemu mantan, eh ngajak
balikan 😣
Emg gak ada yg bener kayaknya karakter cewek di
universe KillMill77 ini ya 😩😩
Ya udah langsung gas aja ya check out di shopee
grassmediaofficial dan bawa pulang mantannya! Eh,
💕
maksudnya bukunya hahahaha
See u
DUAPULUHDELAPAN
Nasa sungguh-sungguh dengan rencananya. Semakin dia
yakin dengan rencananya, semakin dia menginginkannya.
Meski banyak sekali tentang pria itu yang belum Nasa
ketahui, gadis itu akan tetap pada rencana awalnya.
Menarik Leo semakin mendekat ke dalam pelukannya.
Membuat pria itu tidak akan bisa lepas darinya dan tidak
memiliki pilihan lain untuk menikah dengannya nanti.
Nasa sudah mengambil ancang-ancangnya. Dengan
sedikit taktik yang Sana berikan, Nasa rasa ilmu
percintaannya sudah sedikit berkembang.
"Buat dia tahu bahwa keberadaannya masih di ambang-
ambang. Buat dia berpikir bahwa sewaktu-waktu, lo bisa
menjauh kapan aja. Buat dia tau apa yang lo inginkan tanpa
benar-benar mengatakannya."
Sepenggal ilmu dari Sana. Tidak tahu apakah bekerja atau
tidak. Tapi Nasa akan memastikan bahwa dia akan berhasil
nantinya.
"How was your day?" tanya Leo saat Nasa baru saja
memasuki mobilnya. Pria itu menjemputnya pulang bekerja
hari ini.
"Not bad. Pasien banyak seperti biasanya. Ada anak-anak,
dewasa, bahkan sampai lansia."
Leo tersenyum kecil. Mengusap kepala gadis itu lembut
sebelum kembali melajukan mobilnya. Mereka akan bertolak
ke Rumah Rasa hari ini. Katanya Leo sudah membuatkan
Nasa makanan manis kesukaan gadis itu.
"Oh ya, Adel bagaimana?" tanya gadis itu.
"Adel?"
"Persiapan lamaran." Nasa mendapatkan info dari Sana
bahwa Adel sudah mulai siap-siap untuk lamaran.
"Oh." Leo tersenyum tipis. "Sejauh ini lancar. Rencananya
bulan depan sudah mulai lamaran."
"Berarti nggak lama lagi menikah dong, ya?"'
Leo mengangguk.
"Berarti nggak lama lagi perjanjian kita berakhir dong,
ya?"
Pria itu langsung menoleh. Raut tidak suka jelas
terpampang di wajahnya.
"Kamu bilang akan stay sama aku."
"Ehm." Nasa mengangguk. "Tapi aku nggak bilang akan
stay selamanya sama kamu, kan? Kamu sendiri yang
menjanjikan perjanjian ini cuman sampai Adel menikah."
Leo tidak menyahut. Namun wajahnya terlihat pias.
"Aku bilang akan stay sama kamu. Kita sama-sama
bersenang-senang. Tapi nggak selamanya aku cuman mau
senang-senang. Aku juga mau menikah, Leo."
"Kamu tau aku nggak bisa kasih itu sama kamu, kan?"
"Iya aku tau. Aku nggak pernah maksa kamu untuk
menikahi aku. Aku juga nggak pernah meminta kamu
menikahi aku. Seperti yang aku bilang, kita hanya akan
bersenang-senang. Sampai perjanjian yang kamu katakan
itu berakhir."
Leo tidak mampu menoleh. Bahkan tidak mampu
menatap sedikit pun raut wajah Nasa yang tegas seperti
biasanya.
"Kamu bilang kamu mau lanjut spesialis. Seharusnya itu
bisa sampai tiga, empat, bahkan lima tahun lagi, kan?"
"Terus kamu berharap di waktu tiga, empat, lima tahun itu
aku akan selalu sama kamu?"
Leo tidak menyahut.
"Aku nggak perlu waktu bersenang-senang selama itu,
Leo."
Leo menyugar rambutnya. Menatap jalan raya yang padat
kendaraan kemudian berhenti saat lampu sedang merah.
Biasanya, dia akan menoleh pada Nasa. Mengusap kepala
gadis itu atau membelai wajahnya. Tapi tidak untuk kali ini.
Dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menoleh.
"Keluarga besarku punya perusahaan keluarga yang saat
ini dikelola oleh Omku. Minggu kemarin Papi tanya soal
kesediaan anak-anaknya untuk membantu di perusahaan
dan ternyata nggak ada yang bersedia termasuk aku. Terus
Papi menawarkan hal lain."
Leo masih diam. Tidak berniat menoleh.
"Papi menawarkan perjodohan."
Kali ini Leo langsung menoleh.
"Kamu mau dijodohin?"
Nasa hanya mengangkat bahunya. "Aku belum ambil
keputusan apa pun. Tapi nggak menutup kemungkinan, aku
akan mengiyakan. Mungkin kalau itu benar terjadi, waktu
bersenang-senang aku dengan kamu sudah cukup."
*__*
Nasa menatap bola-bola kecil berwarna-warni yang
ditusukkan ke tusuk sate itu. Ada beberapa tusuk yang Leo
hidangkan di atas piringnya. Suasana kacau mereka di
dalam mobil sudah ditinggalkan di sana. Lalu saat
memasuki dapur pribadi Leo, keduanya sudah bersikap
seperti biasa. Seakan perbincangan panas di dalam mobil
tadi hanyalah angin lalu. Meski tentu saja, baik Nasa
maupun Leo bersungguh-sungguh. Nasa dengan
perkataannya dan Leo dengan ingatannya yang mengingat
jelas setiap hal yang Nasa sampaikan.
"Dango?" tanya Nasa menatap Leo yang baru saja
menuangkan teh hijau ke dalam gelasnya.
"Kamu tau dango?" timpal laki-laki itu.
Nasa mengangguk. "Aku pernah makan beberapa kali di
Jepang. Sekilas rasa dan teksturnya mirip mochi."
"Ehm. Bahan utamanya sama-sama tepung ketan. Tapi
dango ditambah pakai tepung beras dan lebih simpel dari
pada mochi." Leo duduk di stool bar samping Nasa. "Yang ini
namanya hanami angko dango. Di dalamnya ada selai
kacang merah."
Nasa mengambil satu tusuk. Melahap bulatan pertama
dan mengunyahnya pelan. Tidak usah diragukan karena ini
adalah masakan Leo yang pasti sangat lezat. Merasakan
kekenyalan yang nikmat sekali saat dikunyah.
"Enak?" tanya Leo.
Nasa langsung mengangguk. Membuat bibir pria itu
melengkung tersenyum.
"Aku pikir kamu akan bikin brownies lagi hari ini," ujar
Nasa.
"Kamu nggak bosan kalau aku buatnya brownies terus?"
Nasa menggeleng. Mana ada kata bosan dalam makanan.
Walau memang Leo lebih senang membuat brownies karena
Nasa berkata paling menyukai makanan itu di antara yang
lain. Apalagi brownies isi cokelat yang lumer di mulut.
Leo tertawa kecil melihat gelengan gadis itu. "Aku buat
makanan lain biar ada variasinya. Biar kamu nggak bosan.
Tapi ternyata nggak bosan ya makan brownies?"
"Aku suka brownies," timpal Nasa. "Tapi dango juga aku
suka. Waktu ke Jepang, aku liat kudapan ini di salah satu
kedai. Karena bentuk dan warnanya lucu, jadi aku beli.
Pemilik kedainya sempat tawarin dango yang lain juga, yang
pakai soy sauce. Tapi aku nggak terlalu suka. Rasanya
hambar dan walau sausnya sedikit manis, tapi tetap kurang
manis."
"Itu namanya mitarashi dango. Dango pertama yang
dibuat. Mitarashi itu nama kedai teh tempat pertama kali
dango dibuat. Kamo Mitarashi. Dari mitarashi dango itu
terciptalah beberapa jenis dango yang lain. Ada hanami
dango yang kamu makan sekarang ini, kusa dango, bocchan
dango, kinako dango, yaki dango."
Nasa manggut-manggut saja mendengar penjelasan chef
tampan di depannya. Leo tampak mahir sekali menjelaskan
beraneka dango itu. Bahkan penyebutan-penyebutan nama-
nama Jepangnya tampak lancar sekali. Seperti yang Nasa
dengar ketika pemilik kedai di Jepang yang ia datangi itu
menjelaskannya.
"Aksen Jepang kamu bagus, ya. Kamu bisa bahasa Jepang
ya?" tanya gadis itu.
Leo tersenyum kemudian menggeleng. "Bahasa Jepang
aku nggak bisa. Cuman waktu kecil aku pernah tinggal di
Jepang."
"Oh ya? Aku baru tahu."
Leo tersenyum lagi. "Mungkin saat usia 4, 5 atau 6 tahun
aku baru balik ke Indonesia."
Nasa manggut-manggut lagi.
"Di sana juga pertama kalinya aku ketemu sama orang
tua angkatku."
"Tante Emila dan Om Leon?"
Leo menggeleng. Senyum kecilnya tercipta di sudut bibir.
"Sebelum dengan Bunda dan Ayah, aku punya orang tua
lain. Aku bertemu mereka di Jepang. Makanan pertama yang
diberikan oleh ibu angkat pertamaku adalah hanami dango.
Makanan warna-warni ini."
Nasa benar-benar baru tahu informasi ini. "Jadi kamu
aslinya orang Jepang?" Mata Leo sedikit sipit. Tapi
sebenarnya Nasa tidak melihat wajah pria itu seperti pria
Jepang.
"No." Leo menggeleng. "Aku nggak terlalu banyak
mengingat masa sebelum bersama orang tua angkatku. Tapi
yang pasti, aku orang Indonesia. Aku nggak bisa bahasa
Jepang dan aku masih ingat dengan jelas bagaimana
leganya hatiku saat ada orang yang bicara bahasa
Indonesia saat aku ditinggalkan di negara itu dulu."
Leo ... ditinggalkan?
"Mama Naila dan Papa Emir. Waktu itu Papa Emir kerja di
Jepang dan aku ditemukan oleh mereka. Aku juga punya
adik, loh, namanya Zahra. Nama Adel yang sekarang juga
ada Zahranya, diambil dari nama adikku dulu."
"Oh ya? Terus di mana mereka sekarang?"
"Sudah nggak ada." Leo menggeleng. Tersenyum kecil
menatap Nasa sekilas sebelum mengalihkan pandangannya.
"Mama, Papa, dan Zahra kecelakaan mobil. Mereka
meninggal di tempat."
*__*
Nasa hampir tidak bisa tidur. Jarum jam menunjukkan
pukul 11 malam dan Nasa belum bisa terpejam. Wajah
tersenyum Leo saat menceritakan masa lalunya dulu masih
terngiang-ngiang di ingatannya. Jelas itu kisah yang tragis.
Dia tidak tahu berapa usia Leo saat itu. Tapi mengingat
nama Adel di ambil dari nama adiknya Leo, kemungkinan
kejadian tragis itu terjadi sebelum Adel lahir. Sebelum Nasa
lahir.
Wajah hampa pria itu benar-benar terngiang jelas di
dalam ingatannya. Membuat rasa bersalah dalam diri Nasa
karena sudah terlalu menekan laki-laki itu ketika mereka
dalam perjalanan menuju Rumah Rasa.
Fakta bahwa Leo anak angkat Emila dan Leo yang tidak
sengaja Nasa dengar saat berkunjung ke rumah Oma pria
itu saja sudah membuat Nasa sedikit terkejut. Kemudian
fakta lainnya tentang keluarga angkat pertama Leo yang
mengalami kecelakaan maut lebih membuat Nasa terkejut
lagi. Dia bahkan kehabisan kata saat mendengar cerita Leo
tadi.
Pria itu sangat di luar prediksi.
Kemudian Nasa mengingat kembali lebam-lebam di wajah
dan tubuh Leo beberapa waktu lalu. Tentu itu bukan yang
pertama kali Nasa mendapatinya. Pria itu jelas-jelas dipukul
seseorang hingga babak belur.
"Ini bukan apa-apa. Mungkin aku memang pantas
mendapatkannya."
Itu adalah kalimat yang diucapkan Leo saat Nasa
mengobati luka babak belurnya. Kemudian gadis itu juga
teringat bagaimana Leo yang kemudian mengusap
wajahnya. Menatapnya begitu dalam.
"Aku seperti punya dokter pribadi."
Dokter pribadinya.
Leo sungguh di luar ekspektasi.
Gadis itu meraih ponselnya. Mencari satu kontak yang
menjadi daftar nomor satu seseorang yang sering
dihubungi. Men-dial-nya dan tidak lama mendengar suara
seseorang di seberang sana.
"Hai. Kok belum tidur?"
Suara lembut Leo membuat sudut bibirnya tertarik. Nasa
tersenyum sedikit.
"Belum ngantuk," kata gadis itu.
"Besok kan masih harus kerja?"
"Ehm." Nasa mengangguk. "Tapi belum ngantuk."
Dia tahu Leo sengaja tidak menghubunginya malam ini.
Nasa baru sampai rumah pukul sembilan malam dan Leo
langsung menyuruh gadis itu untuk beristirahat saja. Namun
tidak disangka, Nasa justru menghubungi lebih dulu.
"Kamu bisa nyanyi, nggak?" tanya gadis itu.
"Nyanyi?"
"Ehm."
"Tapi suaraku nggak bagus."
"Yah. Ya udah deh."
Tidak terdengar suara Leo di seberang sana.
"Kalau aku nyanyi, kamu bisa tidur?"
"Mungkin ya, mungkin enggak."
"Kok begitu?"
"Siapa tau suara kamu ternyata bagus dan merdu dan
buat aku bisa tidur. Tapi siapa tau juga suara kamu beneran
nggak bagus dan buat aku nggak tidur semalaman karena
ketakutan."
Suara tawa Leo terdengar di seberang sana.
"Suaraku nggak bagus. Tapi nggak menyeramkan. Aku
bisa jamin."
Nasa tersenyum. "Kalau begitu nyanyi. Aku mau denger
se-nggak bagus apa suara kamu."
"Oke. Tapi dengan syarat, kamu yang harus nyanyi untuk
aku suatu saat nanti."
"Deal. Suaraku bagus. Kamu pasti terpesona."
Leo tertawa lagi. Nasa semakin hari semakin interaktif
dalam pembicaraan mereka. Ada saja tingkah dan
keinginannya yang diajukan kepada Leo.
"Tapi aku yang mau request lagunya."
"Oke. Kamu mau lagu apa?"
"Kokoro no tomo."
"Lagu jepang?"
"Hm. Aksen Jepang kamu bagus. Walau kamu bilang suara
kamu jelek, tapi aksen kamu bagus."
Leo tertawa lagi.
"Lagu itu dari aku."
"Hm?"
"Kamu yang nyanyi. Tapi lagu itu, dari aku. Untuk kamu."
Hening Nasa dengar dari seberang sana. Sebelum
kemudian, suara Leo mulai mengalunkan sebuah nada.
"Anata kara kurushi mi o ubaeta sono toki ...
Watashi nimo ikite yuku, yuki nga wa ite kuru
Anata to de au made wa kodoku nasasurati bito
Sono te no nukumori o kanji sasete
Ai wa itsumo rarabai
Tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to watashi o yonde."
Leo mengakhiri nyanyiannya. Namun Nasa belum juga
dapat memejamkan matanya. Gadis itu justru menikmati
bagaimana alunan yang Leo nyanyikan untuknya.
"Ternyata suaranya bagus," ujar Nasa.
"Tapi belum bisa tidur?"
"Mungkin karena terlalu bagus? Jadi mau dengar lagi."
"Kamu pinter gombal sekarang. Belajar dari Sana, ya?"
"Iya." Nasa mengangguk.
Tawa kecil Leo terdengar lagi di seberang sana.
"Nasa," panggil pria itu.
"Hm?"
"Terima kasih. Untuk lagunya."
***
Terjemahan Lirik (Kokoro No Tomo by Matsumi
Itsuwa)
Saat itu mampu kulepaskan kepedihan dari hatimu
Semangatku pun bergelora menapaki jalan hidup ini
Sebelum berjumpa denganmu, kesepian aku berkelana
Biar kurasakan hangatnya jemarimu
Cinta senantiasa meninabobokan
Tatkala lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati
.
.
.
To Be Continue
(16/09/2022)
Yuhuuuu selamat hari jumat semuanyaaaaa!!!
Selamat membaca lanjutan kisah Nasa dan Leo
jugaa^^
Part 29-30 baca duluan udah ready di karyakarsa
yes!
See u^^
DUAPULUHSEMBILAN
"Yang ini bagaimana?"
Nasa menatap tanpa minat sebuah foto yang sang Papi
sodorkan padanya. Gadis itu diam mengunyah kacang
goreng dengan mata yang kemudian mengalihkan
pandangan dari objek yang semula ia tatap.
"Dia anaknya direktur keuangan. Baru selesai pendidikan
di London. Bulan depan mau pulang ke Indonesia. Namanya
Robi. Papi udah cari tau tentang dia. Anaknya pinter, nggak
neko-neko. Dia hobi baca buku juga kayak kamu."
Nasa mendengarkan tetapi tidak begitu menyimak.
"Nanti dia mau coba ngelamar di kantor. Padahal Papanya
dirut keuangan tapi anaknya tetap mau masuk perusahaan
sesuai prosedur loh."
Nasa mengangguk-angguk saja.
"Dia di London sendiri. Pasti dia mandiri. Masak juga pasti
bisa," sambung Saka.
"Papi di Jerman sendiri tetap nggak bisa masak," sahut
Naka yang duduk di sisi Nasa.
Saka mendelik menatap putra satu-satunya itu. Sahutan
yang sangat tidak membantu dalam meyakinkan kakaknya.
"Papi sibuk di rumah sakit. Nggak punya waktu untuk
belajar masak," bela pria paruh baya itu. Membela dirinya
dengan jujur saat mengambil spesialis dulu di luar negeri,
Saka adalah orang yang tekun dan rajin.
Nasa yang mendengar perdebatan itu hanya menyimak
dalam diam.
"Bagaimana, Nas? Ganteng loh dia. Dari sosmednya juga
keliatan dia orang yang sopan." Saka tentu sudah
mengamatinya. Walau berniat menjodohkan anaknya, dia
tidak akan mau salah pilih.
"Rambutnya nggak gondrong, Pi," sahut Nasa.
Saka berdecak. Menatap putrinya mendelik kesal. "Kamu
tuh serius mau cowok yang rambut gondrong?" tanyanya.
Nasa mengangguk yakin. Membuat Saka terperangah
menatap putrinya itu. Dia kira Nasa hanya asal sebut saja.
"Cowok rambut gondrong keliatannya nggak rapi loh, Nas.
Kamu kan suka yang rapi-rapi."
"Gateng kok," sahut Nasa lagi. "Berkarisma."
Saka benar-benar tidak mengerti jalan pikiran putrinya.
"Ini atau coba kamu liat yang ini dulu." Saka kemudian
mengeluarkan foto lainnya. "Indra. Karyawan di AG Jogja.
Masih muda dia. Tapi orangnya tekun. Umurnya masih 30
tahun tapi udah jadi team leader loh dia. Nggak gampang
jadi team leader di AG. Orang kepercayaan Papa Daffa
langsung dia."
Nasa melihat sebentar dengan tangan yang masuk ke
dalam toples dan mengambil beberapa genggaman kacang
sebelum dimasukkan kembali ke dalam mulutnya.
"Kakaknya punya restoran padang di Jogja. Jago masak
Kakaknya. Kalau Kakaknya jago, Adeknya juga jago pasti."
"Ibu Sasa jago masak tapi Mami nggak jago masak tuh.
Padahal Mami sama Ibu kan saudara kembar," sambar Naka,
menggelar fakta bahwa Mami mereka memang tidak jago
masak. Tidak peduli setelahnya sang Mami mencubit
pinggangnya.
"Kamu ini!" Saka menatap putra satu-satunya itu kesal.
"Kamu dari pada ngeribetin di sini mending masuk kamar
sana!"
Naka malah senyum tiga jari. Tidak memedulikan usiran
dari sang papi.
"Bagaimana, Nas? Mau coba ketemu dulu? Kalau sama
Indra ini, kamu bisa ketemu langsung. Papi bisa minta Papa
untuk suruh Indra ke Jogja."
Nasa menggeleng. "Belum tentu bisa masak dan
rambutnya nggak gondrong."
"Rambut gondrong lagi." Saka berdecak lagi. "Memang
apa bagusnya sih rambut gondrong?"
"Indra atau Robi nggak ada yang sesuai sama kriteria
Nasa," ujar putri sulung Saka itu. "Oh iya, Papi. Satu lagi.
Nasa punya satu kriteria lagi."
"Kriteria apa lagi sih, Nanas? Kriteria yang kemarin-
kemarin aja Papi belum ketemu."
"Nasa mau yang bisa buatin Nasa istana coklat."
Naka tertawa begitu keras. Berbanding terbalik dengan
Sang Papi yang makin menatap putrinya terperangah. Dia
tahu terkadang pikirannya absurd. Tapi tidak menyangka ke-
absurd-annya malah menurun ke anaknya.
"Ini kamu niat nggak sih mau Papi jodohin?!" Saka jadi
kesal sendiri.
Nasa hanya mengedikkan bahunya saja. Antara niat dan
tidak. Dia sudah mendeklarasikan diri untuk mengejar Leo.
Tapi tentu tidak akan menutup kemungkinan dengan
peluang-peluang yang lain. Bisa saja, kalau Nasa yang
bertemu dengan yang seperti Leo, dia bisa memindahkan
hatinya begitu mudah. Karena terkadang, Nasa merasa
bahwa mendapatkan Leo adalah keinginan yang begitu sulit
untuk dia jangkau.
*__*
Nasa menyadari. Makin banyak teka-teki Leo yang perlu
dia pelajari. Jelas, pria itu memiliki pengalaman kecil yang
buruk. Pria itu ditinggalkan di negara asing seorang diri.
Anak sekecil itu sendirian di sana. Dia pasti sangat
ketakutan. Hal itu saja sudah sangat membuat Nasa sedih
saat membayangkannya. Kemudian dia juga harus
membayangkan bagaimana Leo yang kembali ditinggalkan
orang tua angkat pertamanya. Beserta dengan adiknya
dalam kecelakaan maut.
Pria itu banyak menyimpan luka.
Ketidakinginan Leo dalam pernikahan tentu tidak hanya
sebuah keinginan yang keluar secara refleks begitu saja
tanpa berpikir panjang. Dilihat sekilas, Leo tampan, dia juga
mapan. Nasa menyadari juga banyak gadis-gadis di luar
sana yang menginginkannya. Memilih untuk tidak menikah
tentu pilihan yang bukan hanya sekali saja dipikirkan. Leo
pasti memiliki alasannya sendiri—atau lebih tepatnya,
ketakutannya sendiri. Pria itu lantang sekali mengatakan
tidak akan menikah seolah itu hal yang sangat sepele.
Mungkin bagi sebagian orang, menikah bukanlah apa-apa.
Tapi tentu tidak bagi Nasa. Dia penyendiri. Suka sendiri. Tapi
pernikahan adalah salah satu hal yang Nasa rencanakan
untuk masa depan kehidupannya. Dan dia menginginkan
Leo untuk menjadi pengantinnya, teman hidupnya di masa
depan.
"Jadi Oma belum setuju Adel mau menikah?" tanya Nasa
di sela-sela kebersamaan mereka. Dengan Nasa yang tidur
beralasan paha Leo sebagai bantalannya.
Laki-laki itu mengangguk, membersihkan serat-serat jeruk
sebelum memasukkannya ke dalam mulut Nasa.
"Oma nggak setuju sama Gauda," kata Leo.
"Kenapa?" Nasa mengunyah buahnya. Kemudian
menelannya dengan tatapan masih menatap pada Leo yang
masih sibuk membersihkan serat-serat jeruknya. "Waktu
pacaran sama Sana, dia memang keliatannya serampangan,
sih. Begajulan. Tukang gombal, pula. Tapi dia keliatannya
lebih baik sekarang."
"Kok bilang tukang gombal? Kamu pernah digombalin?"
Nasa mengerjap-ngerjapkan matanya. Terlihat pura-pura
berpikir keras. Membuat Leo menyipit menatap gadis di
pangkuannya itu.
"Jangan-jangan dulu Gauda modusin kamu, ya?"
Nasa semakin pura-pura berpikir keras. Membuat Leo
gemas dan menjawil hidungnya. Menyadari aksi Nasa yang
ternyata sedang mempermainkannya.
"Gauda sekarang udah nggak bisa berpaling dari Adel.
Sudah kena peletnya Adel dia," tambah Leo.
"Wah, Adel ke dukun mana? Aku mau alamatnya juga
dong."
"Mau apa?"
"Mau melet orang. Biar tergila-gila sama aku."
"Nggak usah pakai pelet juga udah tergila-gila."
Nasa menyipit menatap pria itu. "Siapa?" tanyanya.
"Aku."
"Siapa yang bilang kalau mau melet kamu?"
Leo tertawa kecil. Menjapit hidung Nasa gemas. Kemudian
dibubuhkannya beberapa kecupan pada hidung Nasa
sebagai ganti karena Nasa mengerungkan alisnya berpura-
pura sakit dengan apa yang Leo perbuat.
Leo tertawa kecil lagi. Mengambil kembali jeruk yang
semula diletakannya untuk kembali dibersihkan serabut-
serabutnya. Nasa bilang serabut itu bervitamin dan
bermanfaat, tetapi Nasa tidak suka. Ya, tidak semua yang
bermanfaat memang disukai orang.
"Kamu tau nggak aku lagi mikirin apa?" tanya Nasa tiba-
tiba.
"Hm..." Leo terlihat pura-pura berpikir. "Aku tahu!"
"Apa?"
"Pasti kamu lagi mikirin, Leo besok masak apa yang untuk
aku."
Nasa tertawa. Ya, sebenarnya Leo tidak salah. Selain Leo
sendiri, makanan adalah hal yang tidak pernah hilang dari
pikiran Nasa. Bahkan di alam bawah sadarnya. Dulu, ketika
Nasa habis operasi usus buntu dan masih belum sadar
sepenuhnya karena obat bius, gadis itu menyebutkan nama-
nama makanan dari huruf A sampai Z. Mengejanya dengan
disenandungkan bagai lagu anak-anak.
"Makanan untuk kamu besok, rahasia. Aku akan buat
makanan yang super-duper-duper enak untuk kamu."
Nasa tersenyum lebar. Padahal, semua masakan Leo itu
super-duper-luper enak menurut Nasa. Tidak salah memang
dia meletakan hati pada laki-laki yang mampu memenuhi
ekspektasi dan kepuasan lidahnya.
Mereka kembali bercanda beberapa kali. Menikmati
penghujung hari dengan saling tertawa. Akhir pekan setelah
Nasa pulang dari rumah Papinya untuk kerja bakti. Tentu dia
tidak pulang ke kos-kosannya. Dia melarikan diri ke Rumah
Rasa untuk bertemu sang pujaan hati.
"Leo," panggil Nasa. Buah yang sedang Leo kupas sudah
berganti, dari jeruk menjadi belimbing.
"Hm?"
"Aku masih penasaran deh," kata gadis itu.
"Tentang?"
"Kenapa Oma kamu nggak setuju sama Gauda?" Dia
ingat, Omanya Leo justru menginginkan Leo untuk menikah
dengan Adel. Apa karena itu? "Apa karena ... Oma maunya,
Adel ... sama kamu?"
Dilihat dari raut wajah Leo yang berubah dan senyum
manis itu menghilang dari bibirnya, sepertinya Nasa
menemukan jawabannya. Kemudian tanpa diduganya, Leo
mengangguk.
"Kenapa, ya, Oma malah mau jodohin kamu sama Adel?"
tanya Nasa.
Gadis itu menerka wajah Leo yang masih terlihat berbeda.
Lebih tegang dari pada sebelumnya. Padahal mereka
sedang dalam perbincangan hangat yang penuh canda.
Kemudian tidak lama, wajah jenaka Leo kembali
dimunculkan. Atau lebih tepatnya, memaksa untuk pria itu
tampilkan.
"Mungkin karena aku ganteng?" Leo mencoba kembali
mencairkan suasana mereka.
Nasa memunculkan senyumnya. Terlihat jelas sekali Leo
tidak ingin sepenuhnya terbuka dengannya. Namun tidak
apa. Nasa akan mencobanya pelan-pelan.
"Tapi masih kalah ganteng dengan seseorang," sahut
Nasa.
"Oh ya? Siapa?"
"Rysaka Anugerah."
Leo berpikir keras. "Siapa itu?"
Nasa mengulum senyumnya. "Pria paling tampan sejagad
raya. My first love."
Leo mengerungkan keningnya. Menatap Nasa meminta
penjelasan. "Rysaka Anugerah? Your first love?" tanya Leo
lagi. Kali ini lebih serius dari sebelumnya.
Nasa mengangguk sangat yakin.
Rysaka Anugerah. Apa laki-laki itu akan merebut Nasa
suatu saat darinya?
.
.
.
To Be Continue
(20/09/2022)
Setuju nggak sih kalau Rysaka Anugerah itu cowok
terganteng sepanjang masa???
Ini si Rysaka pasti kembang kempis hidungnya
dipuji-puji sama Nanas hahahahaha
Kira-kira kalau Rysaka ketemu sama Leo bakalan
gimana ya???
sampai ketemu part selanjutnya!!
Sstt... udah add cerita si bungsu rysaka ke
perpustakaan belum?
Kalau sudah, berarti tandanya??? nabung dari
sekarang ya!!! hehehehe
masih lumayan lama sih. masih beberapa bulan lagi
hahaha tapi yuuuk menabung dari sekarang biar bisa
bawa pulang A'a Leo dan Mbak Dokter!
TIGAPULUH
"Kakak, Om tanya siapa namanya." Raissa—sang
ibu menarik lembut putri kecilnya untuk menampakkan diri.
Leo semakin tersenyum saat gadis kecil itu terlihat mulai
berani mendekat. Pria itu segera berlutut di depan sang
gadis kecil dan tersenyum semakin manis.
"Eugenia," cicit gadis kecil itu menyebutkan namanya.
"Tapi dipanggilnya Eugen aja."
"Dipanggilnya Eugen aja. Bagus namanya, ya." Leo
memujinya. "Eugen suka cake? Om Leo bawa choco cake."
Eugenia menatap ibunya sebentar kemudian seolah
mendapatkan persetujuan, gadis kecil itu kembali menatap
pada Leo dan menganggukkan kepalanya malu-malu. Leo
tersenyum lagi, kemudian memberikan box berisi kue yang
dibawanya itu kepada si gadis kecil.
"Makasi, Om," cicit Eugenia.
"Sama-sama."
Eugenia menatap lagi ibunya. Menggandengkan tangan
dengan sang ibu seraya mengajaknya kembali ke rumah
mereka, tidak sabar untuk segera membuka bingkisan yang
Leo berikan. Raissa kemudian menatap pada Leo,
menganggukkan kepalanya seraya pamit pulang.
Kepergian ibu dan anak itu lalu membuat atensi Leo
beralih lagi kepada Nasa yang sejak tadi berdiri diam
memerhatikan mereka. Kemudian Leo tersentak saat
melihat tatapan Nasa yang berbeda dari biasanya. Tampak
sekali kekesalan yang tidak bisa disembunyikannya. Bahkan
tangannya sudah bersedekap sejak Raissa dan putrinya
meninggalkan mereka.
"Bukannya choco cake itu untuk aku?" tanya Nasa tajam.
Kedatangan Leo ke sini seharusnya untuk membawakan
Nasa makanan bukan?
Bukannya takut, Leo justru terkekeh gemas menatap
gadis di hadapannya. Bahkan tidak bisa membiarkan
tangannya untuk tidak mencubit kedua pipi gadis
menggemaskan di hadapannya ini.
"Choco cake itu sengaja aku bawa untuk Eugen," aku Leo.
Dia beberapa kali tidak sengaja bertemu anak dari pemilik
Homey's House ini saat mengunjungi Nasa. Jadi
disengajakan kunjungannya kali ini membawakan bingkisan
untuk gadis kecil itu.
"Jadi ke sininya mau ketemu Eugen?" sinis Nasa.
Leo terkekeh lagi. "Mau ketemu kamu?"
"Tapi bawa makanannya untuk Eugen."
Nasa ini benar-benar tidak menahan gemasnya.
"Untuk kamu juga bawa. Ada di mobil." Leo kemudian
meraih tangan Nasa ke dalam genggamannya. "Ayo,
sekalian aku mau ajak kamu makan di suatu tempat."
*__*
"Itu sebabnya aku nggak akur sama anak-anak."
"Kenapa? Karena suka berebut makanan?"
Nasa mendelik menatap Leo tidak terima. "Bukan rebutan.
Tapi anak kecil selalu mau menang sendiri. Yang dewasa
terus disuruh ngalah. Bukannya seharusnya mereka sudah
belajar sejak dini cara menghargai hak milik orang lain?
Kalau bukan miliknya, kenapa harus diminta? Kan nggak
semua hal bisa dimiliki juga."
"Tapi Eugen kan nggak minta. Aku yang kasih."
Nasa masih cemberut.
"Ini di tangan kamu udah ada makanan juga. Lebih spesial
dari punya Eugin. Kenapa masih manyun bibirnya?"
"Makanan Eugin warnanya coklat aku enggak."
Ah! Gemas sekali Leo rasanya. Yang Leo berikan pada
Nasa memang bukan kue coklat seperti yang ia berikan
pada Eugenia.
"Lagian apa yang super-duper-duper spesial dari nasi
ayam teriyaki? Buat di kos juga bisa." Kekesalan Nasa itu ia
tumpahkan dalam sekali suapan sendok itu ke dalam
mulutnya.
Leo diam mendengarkan ocehan kesal gadis itu.
Memerhatikan Nasa yang makan sembari menggerutu.
Namun tetap mengunyah makanannya dengan semangat
dan terlihat sangat menikmati. Baru setelah makanan di
tempatnya habis dilahap semua, Leo mengulurkan lengan,
mengusap bibir Nasa yang terdapat beberapa rempahan
makanan di sudutnya. Memberikan air mineral pada gadis
itu yang Nasa langsung terima dan menenggaknya.
"Kamu kan habis pulang kerja. Harus makan makanan
yang bergizi dan mengenyangkan dulu. Baru nanti aku kasih
main course-nya."
Mata Nasa tampak langsung berbinar saat
mendengarnya. "Ada makanan yang lain?" tanya gadis itu
antusias.
Ah, benar-benar menggemaskan sekali gadis ini!
Leo mengacak pelan rambut Nasa menyalurkan rasa
gemasnya. Laki-laki itu kemudian bangkit turun dari bagasi
belakang mobilnya yang pintunya ia buka berikut juga
bangkunya sehingga ia dan Nasa bisa berselonjor duduk di
sana. Pria itu berjalan menuju kursi tengah untuk
mengambil menu spesial yang ia janjikan pada Nasa. Saat
di mobil, Nasa tidak melihatnya dan Leo bersyukur atas hal
itu.
Tidak butuh lama Leo untuk mengambil hidangan
utamanya untuk Nasa. Langsung kembali ke sisi gadis itu
dan membuka sebuah box coklat yang di dalamnya
terdapat sebuah choco lava cake yang langsung membuat
mata Nasa berbinar-binar.
"Ini spesial untuk kamu," kata pria itu.
Nasa meraih sendok, menyendok sebelah sisi dan
membuat coklat lumer keluar dari dalamnya. Tanpa basa-
basi, gadis itu melahap makanannya dengan nikmat.
"Enak?" tanya Leo.
Nasa mengangguk. Senyumnya mengembang menatap
Leo dengan makanan yang masih dikunyah di dalam mulut.
Leo selalu menyukai ekspresi Nasa yang seperti ini.
Mengunyah makanan dengan begitu nikmatnya.
Malam itu tidak sunyi. Leo dan Nasa berada di sebuah
taman kota yang cukup ramai pengunjung. Ada
pertunjukkan kembang api malam ini dan Leo sengaja
membawa Nasa untuk menontonnya bersama. Tidak perlu
turun dari mobil dan cukup duduk di belakang dengan pintu
yang terbuka lebar. Menyaksikan beberapa kembang api
yang sedikit demi sedikit sudah menghiasi langit malam.
*__*
"Suaminya Mbak Raissa itu news anchor. Namanya Mas
Wian. Kalau Mbak Raissa penulis novel. Mereka punya kebun
sayur di roof top. Ada kebun tomat, cabai, bayam. Dulu,
kata Mas Andy—tetangga kamarku, Mbak Raissa tanam
strawberry juga. Tapi udah nggak lagi."
Leo mengangguk-angguk mendengar Nasa bercerita
tentang pemilik kosnya.
"Mereka punya dua anak. Eugen si sulung dan ada si
bungsu satu lagi. Namanya Vigna. Kamu tau nggak sih, arti
nama dua anak mereka?" tanya Nasa menatap Leo.
"Apa?"
Bukan langsung menjawab, Nasa justru terkekeh.
Mengingat nama lengkap kedua anak Raissa dan Wian. Saat
pertama kali diberi tahu oleh Andy nama lengkap keduanya
Nasa sudah merasa sangat familiar. Kemudian saat
mengetahui artinya ... dia terperangah.
"Nama lengkapnya Eugenia Aquea dan Vigna Radiata."
Leo mengerutkan alisnya mendengar dua nama lengkap
itu.
"Merasa aneh atau familiar?"
"Seperti nama latin?" Leo bertanya balik.
Nasa mengangguk. "Nama latinnya tumbuhan. Eugenia
Aquea itu jambu air. Kalau Vigna Radiata itu kacang hijau."
"Serius?" Leo ikut terperangah.
Nasa mengangguk sambil tertawa. "Saking sukanya
mereka sama tumbuhan, anak-anaknya dikasih nama
tumbuh-tumbuhan. Bahkan, Mas Wian sudah siapkan nama
calon anak mereka yang entah masih ada di dimensi mana
karena Mbak Raissa aja belum hamil lagi."
"Siapa?" Leo terkekeh tapi tetap bertanya.
"Solanum Lycopersicum kalau laki-laki dan Oryza Arizae
kalau perempuan."
"Solaliko apa?"
"Solanum Lycopersicum. Artinya tomat. Mas Wian suka
banget sama tomat katanya," beritahu Nasa. "Kalau Oryza
Arizae itu padi. Sola dan Oryza. Tapi lucu juga."
Nasa tertawa. Diikuti dengan Leo yang benar-benar tidak
menyangka dengan dua nama yang baru didengarnya itu.
"Ternyata ada yang lebih unik kasih nama untuk anak. Aku
kira cuman Rysaka aja."
Kening Leo mengerut. Nama itu lagi didengarnya. Rysaka.
Sebenarnya siapa laki-laki itu? Dua kali Nasa membawa
Rysaka ke dalam pembahasan mereka.
"Rysaka itu ... kamu masih berhubungan sama dia?" tanya
Leo.
Nasa menoleh dan mengangguk ringan.
"Sampai sekarang?"
Nasa mengangguk.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?" Nasa mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa masih berhubungan? Kalian kan sudah putus."
"Putus?"
Leo malah mengalihkan pandangannya. Dia benar-benar
tidak suka dengan fakta Nasa dengan Rysaka itu yang
masih berhubungan.
"Sejak kapan aku bilang kita sudah putus?"
"Jadi kamu belum putus?!" Leo refleks menoleh.
Nasa mengulum senyumnya. "Nggak mungkin putus lah."
Mana mungkin dia memutuskan hubungan dengan Papinya
sendiri. Bisa digantung iya.
Nasa kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Leo.
Ingin menambah rasa gelisah dan kecemasan yang saat ini
sedang didera oleh pria itu. Dia tidak akan membiarkan Leo
merasa aman dengan ke tidak jelasan hubungan mereka ini.
"Waktu untuk bersama kamu ada limitnya, Leo. Kalau
suatu saat aku lelah menghadapi kamu, aku akan pulang ke
Rysaka. Dan saat aku sudah dalam pelukan Rysaka, dia
nggak akan mengijinkan kamu bertemu denganku sedetik
pun. Aku bisa menjamin itu."
Leo seperti menggigil. Rasanya, Nasa benar-benar
menjungkir balikkan dunianya.
.
.
.
To Be Continued
(23/09/2022)
🥳🥳🥳
Yuhuuuuuwww ketemu Mbak Dokter dan Mas Chef
lagiii
Btw, keluarga tomat mampir lagi dimari ya
hahahahaha
Katanya Leo udh jungkir balik nih grgr si Nanas
hahahaha rasain kamu cef, nanas gak akan bikin
hidup kamu tenang karena kamu nakal 😡😡
Kalau gitu sampe ketemu Minggu depan!!!
Btw, part 31&32 baca duluan udh tayang di
KaryaKarsa yes!
Nih aku kasih spoiler dikit deh
Hayooo m
ulut comelnya Sana udh beraksi nih hahahaha
Itu jga ngapain Nana sama Leo bahas2 rysaka
Bye bye!
🤣
TIGAPULUHSATU
"Aku benar diundang ke acara lamarannya Adel?"
tanya Nasa.
Leo mengangguk. "Bunda sendiri yang mengundang kamu
secara langsung, bukan?"
Memang benar. Emila sendiri yang menghubungi Nasa
untuk meminta gadis itu datang ke acara lamaran Adel
minggu depan. Namun Nasa masih sedikit bimbang. Acara
lamaran Adel itu cukup privat dan hanya mengundang
keluarga besar. Bukan sebuah acara besar-besaran yang
mengharuskan mengundang orang. Teman saja, Adel hanya
mengundang Sana. Itu pasti jelas karena Sana adalah satu-
satunya teman akrab gadis itu.
Kemudian Nasa ....
Jelas dia dan Adel tidak sedekat itu untuk menghadiri
acara lamaran. Lebih terasa khusus lagi karena Bundanya
Adel langsung yang mengundang. Menekankan beberapa
kalimat agar Nasa benar-benar datang.
"Kamu ..." Nasa menatap Leo dengan kening mengernyit.
"Menurut kamu aku harus datang?"
"Memang kenapa harus nggak datang? Kamu ada acara?"
tanya Leo.
Bukan itu. Bukan karena ada acara. Lamaran Adel
diadakan sore hari di hari Minggu. Nasa tentu ada agenda
keluarga pada Minggu tetapi tidak akan sampai sore. Sudah
begitu, Sana kan juga hadir. Kalau Sana hadir, itu artinya
sudah sepaket beserta anak dan suaminya. Mami Papinya
juga pasti tahu kalau Sana akan hadir di acara lamaran
Adel.
"Tapi aku nggak diundang sama Adel?" Ya, Adel bahkan
tidak mengatakan apa pun pada Nasa. Mereka memang
jarang saling menghubungi. Terakhir saat Adel bertanya
perihal keberadaan Leo padanya.
"Kan sudah diundang sama Bunda. Apa bedanya?" Leo
bertanya balik. "Adel juga sudah tahu, kok. Acaranya
memang nggak ada undangan resmi kaya undangan cetak
atau semacamnya. Hanya dari mulut ke mulut aja. Keluarga
besar juga nggak sepenuhnya datang."
Bedanya? Nasa juga tidak mengerti. Dia tidak dekat
dengan Adel. Semakin merasa aneh kalau datang saat tahu
bahkan tidak sepenuhnya keluarga besar. Hanya keluarga
inti beserta kakek nenek dan tante om yang masih memiliki
ikatan dekat saja yang datang.
"Kalau nggak ada acara, harus datang. Nanti Bunda sedih
kalau kamu nggak datang."
Nasa belum menjawab. Dia hanya diam memerhatikan
Leo yang mengemudi di sampingnya. Membawa
kendaraannya menuju Homey's House setelah menjemput
Nasa pulang dari puskesmas.
"Lusa seragam kamu jadi. Nanti aku antar ke kos," kata
Leo lagi.
Nasa langsung menoleh.
"Ada seragamnya juga?"
Leo mengangguk. "Warna coklat. Kamu pasti suka."
Nasa semakin bimbang. Dia sampai dapat seragam jujur
saja Nasa bingung kenapa dia harus mendapatkannya?
*__*
Nasa dan Leo tidak sempat makan malam bersama. Pria
itu hanya menjemputnya dari puskesmas sekalian hendak
membeli beberapa bahan kue di toko. Leo bilang ada tamu
yang akan berkunjung ke dapurnya dan dia harus memasak
segera mungkin.
Selepas makan malam di dapur umum lantai dua, Nasa
langsung masuk kamar. Melihat ponselnya yang sedang di
charger dan terdapat beberapa panggilan tak terjawab. Dari
Adel. Gadis itu pun segera menghubungi balik Adel yang
tidak biasanya menghubunginya seperti ini.
"Tadi lo telepon, ya? Gue nggak cek hp tadi," kata Nasa
begitu panggilannya dijawab.
"Iya, Nas. Mau ingetin lo aja, sih. Bunda sama Kak Leo
udah ngabarin soal lamaran gue, kan? Jangan lupa ya, Nas,
hari minggu besok. Harus dateng loh."
Nasa tidak langsung menyahut. Sedikit bingung
bagaimana menimpali Adel yang kini benar-benar secara
langsung mengundangnya.
"Del ..." Nasa membuka suaranya. "Maaf nggak
bermaksud menyinggung lo. Tapi gue beneran harus
dateng? Katanya acaranya cuman untuk keluarga inti aja?"
Nasa sedikit ragu saat mengatakannya. "Del, tapi kita
kayaknya nggak sedeket itu, kan?"
Dia hanya mengenal Adel sebagai teman dekat Sana.
Hanya sebatas itu. Sebelum Nasa mengenal Leo, mereka
bahkan tidak banyak berkomunikasi. Apalagi Adel bukan
orang yang senang mengobrol ngalor ngidul seperti Sana.
Gadis itu cukup pendiam orangnya. Jadi Nasa masih merasa
aneh untuk datang ke acara lamaran Adel yang sangat
privat itu.
Namun mendengar pemaparan Nasa, Adel justru tertawa.
"Kita kayaknya harus jadwalin hang out bareng nih, Nas."
Hang out bareng? Untuk apa?
"Sebagai teman kita memang nggak akrab, sih. Gue akuin
itu. Tapi lo kan pasangan Kakak gue, Nas. Nggak mungkin
dong lo nggak datang?"
Pasangan?
Pasangan Kakaknya Adel?
Pasangan Leo?
Sejak kapan?
"Del tapi ki—"
"Ya ya ya apa pun itu nama hubungan lo sama Kakak gue
sekarang whatever deh. Walaupun gue dan Bunda sama-
sama bingung tiap ditanya Kakak bilangnya nggak pacaran
tapi senyumnya lebar banget waktu Bunda bilang udah
buatin seragam juga buat lo. Pokoknya, lo harus dateng ke
lamaran gue ya, Nas? Kasian Kakak nanti sendirian nggak
ada pasangan di acara lamaran adeknya sendiri. Oke Kakak
Ipar?"
Kakak ipar? Apalagi itu?
"Ditunggu ya Kakak ipar. Good night!"
Adel memutuskan panggilan begitu saja. Ah, akhirnya
Nasa merasakan apa yang sering Sana keluhkan. Adel yang
suka memutuskan panggilan tiba-tiba. Ternyata memang ini
hobi gadis itu.
*__*
"Loh Nasa ikut juga?" Saka menatap putri sulungnya yang
sedang berbenah itu.
Nasa menatap sang Papi dari dalam kamarnya kemudian
mengangguk.
"Kok kalian berdua diundang Papi enggak?" Saka berkacak
pinggang di depan pintu kamar Nasa tidak terima.
Dia tahu Sana, Bhumi dan bahkan Anin akan pergi ke
acara lamaran Adel. Maka dari itu putrinya yang nakal itu
meminta dispensasi untuk tidak kerja berat-berat. Selain
lagi hamil, Sana juga mau ke acara lamaran Adel. Saking
niatnya, dia sampai memanggil penata rias ke rumah
papinya. Tidak disangka, putri sulungnya mengenakan
seragam dengan motif sama seperti yang Sana pakai dan
sedang berhias juga.
"Selain keluarga inti, yang diundang teman dekatnya Adel
sama Gauda aja. Memangnya Papi teman dekatnya Adel?"
sahut Sana dari dalam kamar Nasa juga. Ibu hamil itu belum
selesai make upnya.
"Lah, Nanas? Sejak kapan Nanas teman dekatnya Adel
juga?" Tentu Saka tahu satu-satunya teman akrab putri
sulungnya itu adalah Keanna—sepupunya sendiri.
"Papi nih ketinggalan info atau bagaimana, sih?" Sana
menyahut lagi. "Ya masa Nanas nggak ikut? Nanas kan
pendampingnya Kak Leo, Papi."
"Leo? Leo Kakaknya Adel? Anaknya Leon yang chef itu?"
tanya Saka melotot. Terkejut dengan info terbaru yang baru
saja putri nakalnya katakan.
Nasa langsung menyorot Sana tidak suka. Si comel itu
akhirnya berkoar-koar juga. Nasa kira Sana sudah tobat
untuk tidak bawel lagi. Ternyata sama saja. Sudah begitu,
tanpa rasa bersalah Sana justru tertawa.
"Nanas kamu pacaran sama Leo? Kok Papi nggak tau?
Suruh Leo ke rumah!" Saka langsung nyelonong masuk ke
kamar putrinya. Menatap Nasa yang sedang di curly rambut
pendeknya oleh hair stylist yang juga Sana undang ke
rumah mereka.
Nasa belum menjawab apa pun. Kembali menatap pada
cermin melihat wajah sang papi dari sana yang sedang
duduk di atas sofa. Tampak berpikir setelah berbicara
dengan berapi-api.
"Rambut gondrong, pinter masak? Hah!" Saka tiba-tiba
berteriak. "Pantes ya kamu minta dicariin cowok modelan
begitu. Ternyata udah punya. Ngapain lagi kamu minta
cariin Papi? Nambahin kerjaan Papi aja."
Nasa hanya mengangkat bahunya. "Kan Papi yang
nawarin."
"Kalau tau kamu sudah punya pacar apa juga Papi tawarin
perjodohan? Emangnya kamu pikir Papi ini bapak-bapak
kolot yang protes sana-sini perihal jodoh anak? Papi ini
bapak-bapak modern ya, Nas asal kamu tau. Siapapun laki-
laki itu selama kamu suka dan dia baik untuk kamu, Papi
nggak akan larang."
"Kakek-kakek modern mungkin maksudnya, Pi," timpal
Sana yang langsung mendapat delikan dari sang Papi.
Nasa hanya kembali menatap lagi Papinya dari cermin.
"Papi setuju asal kamu bawa dulu Leo ke rumah," tambah
Leo lagi.
Nasa menghela napasnya. Membawa Leo ke rumah tentu
hal yang mustahil. Leo juga mana mau dikenalkan oleh
Papinya di tengah hubungan mereka yang tidak memiliki
masa depan. Ya, sebenarnya bisa saja Nasa hanya
mengenalkan Leo sebagai pacarnya. Toh, hanya pacar. Saat
Nasa sudah menyerah atau bahkan Leo yang bilang bosan
padanya, gadis itu bisa katakan hubungan mereka sudah
berakhir.
Tapi masalahnya ... Leo pasti tidak akan mau. Dia tidak
akan mau menanggung tanggung jawab besar seperti itu.
Nasa tahu laki-laki yang disukainya ini seorang pengecut.
Pengecut yang sayangnya dicintainya begitu besar.
Cinta memang benar-benar buta.
*__*
"Bunda kan sudah bilang, Kak. Bunda nggak suka kamu
ketemu mereka!"
"Bunda, mereka keluarga aku juga."
"Keluarga apanya? Keluarga apanya yang memukuli
keluarganya sendiri? Kamu pikir Bunda nggak sakit hati
setiap kamu memaksakan diri datang ke rumah itu dan
berakhir pulang babak belur? Kamu pikir bunda nggak sakit
hati melihat anak yang bunda besarkan, bunda sayangi
sepenuh hati dipukuli seperti itu?"
"Leo—"
"Apa? Kamu pikir Bunda nggak tau? Bunda tau! Bunda tau
segalanya! Bunda selama ini diam karena Bunda
menghargai kamu. Tapi tentu Bunda nggak bisa diam
selamanya, Leo. Bunda nggak mau liat kamu bertemu
keluarga itu lagi!"
"Nenek yang datang dengan sendirinya, Bunda. Leo
nggak ke sana."
"Ya, dan setelah itu kamu antar dia pulang dan kamu
babak belur lagi. Iya, kan?"
Leo, babak belur lagi?
Percakapan itu tidak sengaja Nasa dengar dari dalam bilik
kamar mandi. Ada Leo dan Bundanya di depan. Suara
perdebatan mereka yang tidak sengaja Nasa dengar.
Tentang seseorang dan Leo yang babak belur. Nasa tidak
tahu bahwa laki-laki itu babak belur, lagi. Leo hanya
mengatakan padanya akan keluar kota selama beberapa
hari dan mereka tidak bertemu lagi sampai hari ini Leo
menyambutnya di depan pintu rumah keluarga laki-laki itu.
"Nenek cuman mau ngobrol-ngobrol aja, Bunda. Le—"
"Bunda nggak peduli! Bunda nggak peduli apa pun alasan
nenek peot itu mendatangi kamu. Dia yang mendatangi
kamu kenapa dia membiarkan kamu dibuat babak belur
sama anak-anaknya yang biadab itu? Bunda nggak terima
Leo! Sekali lagi Bunda tau kamu dihabisi sama mereka,
mereka yang habis di tangan Bunda. Bunda nggak akan
segan-segan melaporkan mereka ke polisi kalau mereka
macam-macam dengan kamu lagi." Suara Emila lalu
terdengar memelan dan kembali melanjutkan, "Berapa kali
Bunda bilang, Leo? Kasih semuanya sama mereka. Kamu
nggak butuh itu. Apa Bunda, Ayah, Adel, nggak cukup untuk
kamu?"
Setelahnya, langkah kaki yang perlahan menjauh Nasa
dengar. Juga helaan napas panjang yang masuk ke
telinganya.
Dari awal, gadis itu tidak berniat bersembunyi. Hanya saja
menginterupsi saat itu juga tentu bukan pilihan yang baik.
Maka Nasa segera membuka pintu. Menampakkan wajah
Leo yang menatapnya begitu saja.
Nasa mendekat pada lelaki itu. Memeriksa mimik
wajahnya. Sudah hampir seminggu sejak pria itu
menghilang. Nasa tidak mendapati luka memar yang jelas di
wajah pria itu. Namun begitu, Nasa tetap mengusap
wajahnya.
"Aku nggak sengaja dengar," kata Nasa.
Leo hanya tersenyum tipis. Mengambil tangan Nasa yang
berada di wajahnya dan menggenggamnya lembut.
"Jadi siapa orang-orang biadab yang memukuli kamu itu?"
tanya gadis itu.
Leo menghela napasnya. Menatap wajah Nasa yang
terlihat menantikan jawabannya.
"Keluarga orang tua angkatku sebelumnya," jawab Leo.
"Kenapa mereka memukuli kamu?" tanya Nasa lagi.
"Mungkin karena aku nggak memberikan apa yang
mereka mau."
"Apa yang mereka mau?"
Leo terlihat ragu-ragu saat menjawabnya. Namun melihat
wajah teduh Nasa, pria itu pun membuka suaranya, "Papa
meninggalkan seluruh harta kekayaannya untuk aku.
Seluruhnya. Tanpa tersisa sedikit pun untuk mereka. Mereka
menginginkan itu."
"Itu milik kamu. Kenapa mereka menginginkan itu?"
"No." Leo menggeleng. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya
anak kecil yang diambil di jalanan."
.
.
.
To Be Continued
(27/09/2022)
Woowwww Sana akhirnya buka mulut juga! Papi
Saka jadi tau deh tentang Leo sama Nanas :")
Kira2 bakalan jadi bencana atau anugerah nih buat
kelanjutan hubungan keduanya???
Leo juga sekarang udh mulai terbuka sedikit sedikit
ya ke Nanas soal keluarganya dulu walau hasil Nanas
nggak sengaja nguping juga :")
dan lebam2 itu ......😭
So, prediksi2 kalian yg bilang Leo ikut MMA
ternyata salah ya gais wkwkwk
Kalau begitu sampe ketemu next part ya!
Eh bentar ......
Mau promosi bentar hahahaha
Book Of Romance II ada couple baru nih! Udah pada
tau belum?
Aku spill di sini deh ya
Book Of Romance II (Anita & Edgar)
Tag : Pernikahan, mantan, 19+
Jumlah part : 5
Harga : IDR 15.000
Link : [Link]
edgar-1
Blurb
Anita adalah seorang wanita oportunis. Dia tidak
segan-segan memanfaatkan apa pun untuk
kepentingannya pribadi. Termasuk memanfaatkan
Edgar—pria yang pernah terlibat hubungan satu
malam dengannya dan juga ayah kandung dari
anaknya—yang kemudian mengajaknya menikah
setelah hampir 7 tahun pria itu baru sadar bahwa dia
memiliki seorang putri.
Tujuannya hanya dua saat itu. Anita tidak lagi
pusing memikirkan uang untuk makan besok dan
juga bisa membelikan banyak makanan dan mainan
untuk putrinya yang semala ini ia sia-siakan.
....
Kisah Mama Papanya si Bestie Anin nih! Yang mau
intip cerita mereka gas merapat ke KaryaKarsa ya!
TIGAPULUHDUA
Nasa memandangi foto dirinya dan Leo di depan layar.
Layar laptopnya yang sudah ia ganti wallpaper nya menjadi
foto dirinya dan Leo saat di acara lamaran Adel. Bukan
hanya ada di layar laptop, tapi wallpaper ponselnya juga
terdapat foto yang sama. Keduanya tersenyum menatap
kamera dengan Leo yang melingkarkan tangannya pada
pinggang Nasa.
Acara lamaran Adel tiga hari yang lalu berjalan dengan
lancar. Meski sepanjang acara Oma Sarah hanya memasang
wajah cemberutnya. Juga melototi Nasa yang terkadang
sengaja mengajak ribut Oma dengan selalu berada di
samping Leo dan merangkul tangannya. Wanita tua itu pasti
merasa kesal padanya. Dan entah kenapa, wajah kesal Oma
Sarah justru membuat Nasa semakin suka menjahilinya.
Acara lamaran Adel tiga hari lalu itu terasa begitu syahdu.
Benar-benar hanya dihadiri beberapa orang saja yang
sepenuhnya berasal dari keluarga inti. Dengan keluarga
kecil Sana dan Nasa lah sebagai orang luar yang turut hadir
di sana. Nasa juga melihat Tante Emila yang tampak begitu
haru sampai menitikan air matanya. Meski begitu, wanita itu
juga menampilkan raut bahagianya meski terlibat sedikit
cekcok dengan Leo sebelum acara dimulai. Begitu juga Leo
yang berhasil menghilangkan raut begitu sendu usai
membicarakan keluarga angkatnya yang lain itu.
"Lagi mikirin apa, hm?" Sebuah tangan memeluk lehernya
dari belakang.
Leo pelakunya. Kini menopangkan dagunya pada kepala
Nasa dan ikut menatap objek yang sejak tadi Nasa
perhatikan dalam diam.
"Kamu cantik sekali rambut seperti itu," ujar pria itu.
Penampilan Nasa yang berkali-kali lipat lebih cantik dari
biasanya saat datang ke lamaran Adel. Rambut lurus
sebahunya yang biasanya diikat separuhnya ke belakang
kini digerai dan diberi hiasan jepit rambut berbentuk
bintang.
"Jadi biasanya nggak cantik?" sahut Nasa.
Leo tersenyum. Dia pernah mendengar hal yang seperti
ini di antara Adel dan Gauda. Tidak menyangka bahwa kini
dia mengalami hal yang calon adik iparnya itu alami juga.
"Tetap cantik," jawab Leo.
Nasa membalikkan tubuhnya melepaskan lengan Leo dari
lehernya lalu gadis itu berpindah posisi dengan memeluk
tubuh Leo yang berdiri di hadapannya. Nasa rasa, hubungan
mereka perlahan-lahan bergerak maju. Leo mulai terbuka
dengan masa lalunya. Dia bahkan sudah menceritakan
tentang keluarga angkat sebelumnya. Cerita yang
diceritakan dengan mimik lembut tetapi penuh tatap sedu.
Selepas kepergian Papa, Mama dan Adik angkatnya itu,
Leo sempat tinggal bersama neneknya—ibu dari ayah
angkatnya. Di rumah itu, bukan hanya ada neneknya, tapi
juga ada Om dan Tantenya—adik dari ayahnya. Di sanalah,
awal penyiksaan Leo bermula. Laki-laki kecil itu sering
dipukuli dan dikunci di dalam kamar mandi. Keluarga itu
begitu murka dengan Leo karena Emir—ayah angkat
pertama Leo—meninggalkan seluruh hartanya atas nama
Leo. Membuat sebuah wasiat bahwa seluruh asetnya dari
ruko, rumah, mobil, kebun, perhiasan, dan juga sebuah
perusahaan yang dirintisnya atas nama Leo. Tidak
menyisakan sedikit pun untuk keluarganya yang lain.
Leo sendiri tidak mengerti mengapa Emir justru
meninggalkan itu semua untuknya. Leo menyadari bahwa
dia hanyalah seorang anak angkat. Sampai sekarang Leo
bahkan tidak paham kapan Emir menyiapkan itu semua.
"Leo," panggil Nasa.
"Hm?"
"Kamu pernah nggak berpikir untuk mencari keluarga
kandung kamu?" tanyanya.
Leo terdiam sebentar. Tampak berpikir sebelum kemudian
menjawabnya, "pernah," katanya. "Tapi kemudian aku
berpikir lagi. Sepertinya lebih baik tidak usah dicari. Mereka
membuangku itu artinya mereka nggak menginginkan aku.
Aku sudah banyak merasa tidak inginkan dan aku nggak
mau memperjelas perasaan itu dengan mencari
keberadaannya."
Nasa semakin mengeratkan pelukannya.
Mereka sama-sama terdiam meresapi pelukan masing-
masing. Pelukan mereka baru terlepas saat dering ponsel
Nasa memenuhi ruangan.
"Ya, Pi?" Nasa langsung menjawab panggilannya.
"Nanas Papi mau makan malam di Rumah Rasa, ya. Kamu
siap-siap."
"Hah? Gimana sih Pi maksudnya?" Nasa terkejut
mendengarnya. "Pi, nggak usah aneh-aneh deh. Makan di
rumah aja."
"Pokoknya Papi mau makan malam di Rumah Rasa. Titik."
Nasa menghela napas mendengar penuturan keras kepala
Papinya itu.
"Papi on the way ke kos kamu. Papi jemput kamu di
sana," tambah Papinya Nasa lagi.
"Nasa nggak di kos, Pi," jawab Nasa. Sepulang kerja tadi,
Leo menjemputnya dan membawanya ke Rumah Rasa.
"Nasa lagi sama Leo."
"Oh ya bagus. Kalau begitu kalian berdua langsung ke
Rumah Rasa aja kita ketemu di sana."
"Pi ..." Nasa benar-benar tidak mengerti lagi dengan jalan
pikiran Papinya itu. "Memang Papi harus melakukan ini?"
"Harus dong! Pokoknya Papi sebentar lagi sampai. Bilang
Leo suruh siapkan meja spesial untuk keluarga Anugerah.
Adik-adik kamu ikut datang juga. Bhumi dan si peri ikan
juga ikut. Kita makan malam sama-sama."
Saka memutuskan panggilan begitu saja.
Nasa mendesah lagi. Menatap ponselnya yang sudah
tidak terhubung itu. Dia benar-benar tidak menyangka
Papinya akan senekat ini hingga memutuskan untuk datang.
Gadis itu kemudian menoleh pada Leo yang tampak
mengamatinya sejak tadi.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Papi," jawab Nasa. "Papi on the way ke Rumah Rasa.
Katanya mau makan di sini."
"Oh ya?" Bukannya ikut kebingungan seperti Nasa, Leo
justru tampak antusias. "Sebentar. Aku bilang pegawaiku
untuk menyiapkan meja."
Pria itu keluar begitu saja dari dapur pribadinya.
*__*
"Om Leo!" Si peri ikan alias Anin langsung berlari begitu
matanya menangkap keberadaan Leo. Gadis kecil itu
tersenyum riang menampilkan giginya bawahnya yang baru
saja ompong. Modus-modus mendekat pada Leo hingga
akhirnya Leo peka dan mengangkatnya ke dalam
gendongan.
"Om Leo kolam ikan aku warnanya baru," cerita gadis
kecil. Nasa memutar kedua bola mata mendengarnya.
Seakan tidak ada hal lain yang Anin ceritakan selain tentang
ikan-ikannya yang selalu bertambah itu.
"Oh ya? Warna apa kolamnya?" timpal Leo.
"Warna pink." Anim terkekeh. Kembali menampilkan gigi
ompongnya.
Gadis itu masih asyik ingin bercerita sebelum kemudian
ibu sambungnya alias Sana menginterupsi tingkah putri
kecilnya itu.
"Ikan melulu diocehin. Ayo makan dulu. Adik kamu udah
tendang-tendang perut Mumi nih minta makan."
"Itu mah cacing bukan adik aku!" sahut Anin. "Kalau adik
aku mah baik kayak aku. Nggak nakal."
"Nggak nakal apanya? Lupa kamu tadi pagi abis pecahin
piring?"
Perdebatan itu mestinya masih panjang. Hanya saja, Saka
ikut mendekat pada mereka. Langsung merangkul pundak
Leo dan menepuk-nepuknya cukup kuat. Bahkan tidak
memberikan jeda untuk Leo berbasa-basi menyapanya.
"Meja spesial untuk kami sudah siap kan, Leo? Om sudah
lapar sekali ini," ujar pria paruh baya itu.
Leo tampak kesulitan untuk menyalami Saka sebab selain
tangan Saka yang masih berada di pundak belakangnya,
Anin juga masih berada di gendongannya. Akhirnya Leo pun
hanya memasang senyum terbaiknya menyapa Saka,
Clarinna juga adik-adik Nasa yang lain beserta Bhumi.
"Sudah, Om. Mari saya antar."
*__*
"Jadi, udah berapa lama kalian pacaran?" tanya Saka
tanpa basa-basi. Pria itu mengusap mulutnya selepas
menghabiskan makan malamnya.
Leo yang merasa ditanya menoleh pada Nasa dengan
bingung. Dia tentu tidak mengerti dengan pertanyaan yang
dilontarkan Saka padanya. Namun Nasa, justru mengalihkan
pandangannya seakan sama sekali tidak mau
membantunya.
"Belum terlalu lama, Om." Leo pun memilih jawaban yang
paling aman.
"Belum terlalu lama itu berapa lama? Kapan dimulainya?
Tanggal berapa? Hari apa? Jam berapa?" Saka bertanya
beruntun.
"Papi nih wartawan?" timpal sang istri menatap suaminya
itu.
"Ya kan Papi mau tau detailnya." Saka membela diri. "
Selama ini kan Papi nggak tau apa-apa. Capek-capek Papi
cariin cowok sesuai kriteria Nanas yang macem-macem itu
tapi nggak ada yang cocok eh tau-tau dia sudah punya
pacar. Nambah-nambahin kerjaan Papi saja."
Nasa menatap sang Papi jengah. Begitu saja Papinya
perhitungan. Padahal Nasa tidak meminta dicarikan juga.
Papinya lah yang menawarkan.
"Leo kamu tahu nggak pacar kamu ini minta dicarikan
jodoh sama Om?" Saka menatap Leo serius.
Leo tampak salah tingkah. Pria itu justru menoleh pada
Nasa lagi. Tentu saja dia tahu, Nasa pernah
memberitahunya. Hal yang membuatnya tidak bisa tidur
semalaman.
"Kriterianya susaaaaah banget. Mau yang rambutnya
gondrong, pinter masak lah, apa lah. Sampai yang bisa
buatin dia istana coklat lah. Eh tahu-tahunya semua kriteria
ada di kamu."
"Istana coklat?" Leo menimpali.
"Pacar kamu tuh aneh."
"Sama kayak Papinya," timpal Nasa tidak terima dijelek-
jelekkan oleh Papinya sendiri di hadapan Leo.
Saka hanya mendelik menatap putri sulungnya itu.
"Kok kamu mau sih, Leo, sama anak Om yang aneh ini?"
Saka mulai lagi.
Leo justru tersenyum lembut. Menatap Nasa dengan
begitu dalam. Dia tidak menyangka Nasa menjadikannya
sebuah kriteria laki-laki idamannya.
"Dia ini boring banget orangnya Leo," kata Saka lagi.
"Nggak pernah pacaran. Taunya belajaaaar aja. Baca buku
doang jagonya. Kaget Om tau dia punya pacar."
Leo mengernyitkan keningnya. Tidak pernah pacaran?
Lalu ...
"Rysaka?" Leo bergumam pelan.
"Rysaka? Kenapa Rysaka?" Namun ternyata Clarinna
mendengarnya. "Apa apa dengan Rysaka?" tanya Ibu dari
Nasa itu.
Leo mengalihkan pandangannya menatap Clarinna. "Saya
kira Nasa sempat punya pacar. Namanya Rysaka. Laki-laki
paling tampan sedunia. Cinta pertamanya." Leo menatap
Nasa yang menatapnya begitu tajam.
Semua orang yang ada di meja itu terdiam. Begitu juga
dengan Saka yang justru mengambil ponselnya. Mengutak-
atiknya sebelum kembali meletakan di atas meja. Saka
menatap Nasa penuh haru.
"My darling, Nasa. Papi nggak tau ternyata Nanas secinta
itu sama Papi." Saka berdiri, kemudian berjalan ke arah
Nasa dan memeluk putrinya tiba-tiba. Tidak lupa menciumi
kepala Nasa yang sudah memberontak meminta dilepaskan.
"Cek banking kamu. Papi kirim 50 juta."
"Hah 50 juta?" Sana berdiri dari duduknya. "Papi my first
love my love love, Sana juga mau dikasih uang jajan."
"Naka juga mau Papi! Naka mau Pi! Mau-mau!"
"Adek juga mau, Papi! Masa Papi nggak adil cuman Kak
Nasa doang yang dikasih Adek enggak!"
Suara-suara protes itu tentu berasal dari ketiga anak Saka
yang lain yang tidak terima Nasa diberikan uang tiba-tiba.
Kacau sekali suasana ruang privat Rumah Rasa malam itu.
"Pi, Mami juga mau Pi! Tas yang kemarin belum Mami beli
gara-gara Papi ngomel duluan Mami belanja terus." Nyonya
Saka bahkan ikut-ikutan.
"Kakek, aku juga mau jajan Kakek. Aku mau beli ikan lagi."
Juga si peri ikan yang ikut mendekat kepada sang Kakek.
Hanya Bhumi yang terdiam di meja itu memerhatikan
keluarga istrinya yang penuh dengan kebisingan. Juga tentu
saja Leo yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang
terjadi.
Bhumi lalu menoleh pada Leo. Sedikit kasihan melihat
wajahnya yang terlihat sangat kebingungan. Namun begitu,
Bhumi justru tertawa kecil di sudut bibirnya.
"Welcome to the club, Leo. Lama-lama juga lo terbiasa liat
yang kayak gini," kata suaminya Sana itu.
.
.
.
To Be Continued
(30/09/2022)
Yuhuuuu hampir jam 11 malem nihh! masih ada
yang menunggu??
Btw, enak banget ya jadi anaknya Papi Saka. muji
dikit, masuk ke rekening 50 juta hahahahaha
tapi kasian juga si Papi jadi dipalakin sampai peri
ikan juga ikut malak wkwkwk
sabar ya Pi. kalau nggak kuat lambaikan tangan
aja. aku bersedia kok menampung Papi di rumah
hehehehe
Sampai ketemu minggu depan!
Part baca duluan udah aku update di karyakarsa
yes!
nih aku kasih spoiler dikit hihi
Sampai ketemu!
TIGAPULUHTIGA
"Nasa, ingat. Sebelum 10 Papi video call kamu.
Kalau kamu masih berkeliaran di luar, Papi seret kamu
pulang." Saka menatap putri sulungnya penuh peringatan.
"Iya, Pi." Nasa menjawab datar.
Laki-laki paruh baya itu kemudian menatap seseorang lagi
yang berdiri di sisi putrinya. Pria yang sejak tadi Saka amati
curi-curi pandang pada gadis cantiknya. Saka menyipit
menatap si pria gondrong itu. Membuat Leo yang sadar
tengah diperhatikan kemudian salah tingkah.
"Dan kamu." Saka menunjuk Leo. Menatapnya tajam dan
penuh peringatan. "Belum dapat restu karena kamu belum
ke rumah saya."
Leo menggaruk tengkuk belakangnya. Kebingungan harus
meresponnya.
"Makan malam ini cuman karena Om lapar. Nggak maksud
apa-apa. Cuman karena lapar dan lihat Leon posting di
whatsApp ada menu baru di Rumah Rasa. Ingat ya, Leo.
Kamu belum dapat restu." Saka menekankan kalimat
akhirnya sekali lagi.
Saka kemudian mengalihkan lagi pandangannya pada
sang putri yang hanya menatapnya tanpa banyak ekspresi.
Khas Nasa sekali. Kadang Saka merasa kesal karena Nasa
sering sekali memasang wajah seperti ini. Tidak seperti
Sana atau Kana yang ekspresif dan mudah ditebak apa yang
sedang ada di pikirannya. Nasa justru lebih sulit di cari tahu
isi kepalanya. Ekspresi paling mudah dibaca dari Nasa
hanyalah saat dia sedang makan. Menggambarkan bahwa
makanannya begitu nikmat.
"Nanas," panggil Saka.
Nasa menatap Papinya. Saka menyipit. Menatap Nasa dan
Leo yang berdiri bersisian namun menyisakan jarak yang
cukup banyak. Tentu tidak seperti Sana yang saat sedang
masa pendekatan saja, jaraknya hanya beberapa cm dari
Bhumi. Itu juga diberi jarak karena Bhumi yang minggir-
minggir menjauh.
Well, Nasa tentu tidak seagresif Sana. Dan sepertinya, Leo
sedikit bisa dipercaya.
"Jangan kebanyakan makan," sambung Saka. Membuat
Nasa menatap Papinya malas. "Ya sudah, Papi pulang dulu.
Ingat pesan Papi." Saka pun pamit. Masuk ke dalam
mobilnya sendiri tepat di mana sang istri sudah masuk lebih
dulu.
Dilihat Nasa sang Mami melambaikan tangan dari mobil.
Dibalasnya sembari menatap sang Papi yang menyipit
menatap Leo seiring dengan mobil yang melaju. Kemudian
di susul oleh mobil Bhumi yang membunyikan klakson
seakan pamit dan juga mobil yang dibawa Naka yang
berisikan Kana.
Nasa dan Leo masih berdiri di tempatnya masing-masing.
Sampai kemudian ketiga mobil itu sudah tidak terlihat mata,
Leo menoleh. Menatap Nasa kemudian mengulurkan tangan
merangkul pinggang gadis itu membawanya mendekat.
"Jadi sekarang kita pacaran?" tanya pria itu.
"Kata siapa?" balas Nasa bertanya balik.
"Papi kamu."
Nasa hanya mengedikkan bahu. Menyembunyikan
senyumnya yang ingin muncul. Gadis itu malah
mengalihkan pandangan saat Leo mengecup pipinya cukup
lama.
Well, mungkin prediksi Saka salah. Jika hubungan Bhumi
dan Sana Saka hanya perlu mengkhawatirkan putrinya yang
genit, tapi tentu tidak pada Nasa dan Leo. Karena bukan
hanya Leo yang sering memanfaatkan kesempatan, kini
Nasa justru dengan berani mengecup bibir pria itu lalu
melipir begitu saja meninggalkan Leo yang menatapnya
penuh senyum lebar.
*__*
"Aku masuk dulu." Nasa melepas seatbeltnya. Bersiap
untuk membuka pintu dan keluar dari mobil. Namun
sebelum berhasil melakukannya, Leo memegang lengannya
lebih dulu.
Nasa menatap pria itu seolah bertanya.
"Aku merasa bodoh," ujar pria itu. Tertawa kecil menatap
Nasa.
Nasa menaikkan sebelah alisnya kurang mengerti.
"Papi kamu. Rysaka. Aku pikir ...." Leo tertawa lagi. Dia
benar-benar merasa bodoh sekali. Si bodoh yang sekarang
bisa bernapas lega. Jika dengan Rysaka, Leo rela Nasa
dibagi dua.
"Aku mau makasih. Berkat kamu aku dapat 50 juta." Nasa
ikut terkekeh. Lumayan, dia dapat uang jajan tambahan. Dia
bisa banyak membeli makanan setelah ini.
Leo tersenyum menatap gadis di depannya. Nasa memiliki
keluarga yang hangat. Dia dibesarkan dengan penuh kasih
sayang. Leo bersyukur Nasa dilimpahkan banyak cinta dan
kasih.
"Jadi ..." Pria itu kembali berbicara. "Kita ... sekarang
pacaran?"
Nasa mengerjapkan matanya beberapa kali. Wajah Leo
yang terlihat sedikit ... grogi?
"Kamu ajak aku pacaran?" Nasa justru bertanya balik.
"Kamu mau?"
"Memang kamu suka aku?"
"A—aku ...."
"Kamu aja nggak mau nikah. Untuk apa kita pacaran?"
Nasa tahu, Leo seakan sedang di atas sekarang. Sikap
ramah sang Papi padanya membuat laki-laki itu merasa
aman. Nasa tidak mau Leo terlalu lama merasakannya.
"A—aku ...."
"Nggak usah ambil pusing ucapan Papi. Sama seperti
keluarga kamu anggap hubungan kita, biar keluargaku
menganggap hal yang sama."
"Nasa, aku ..." Leo memegang kembali lengan Nasa.
"Kamu apa?"
"Aku akan mengusahakannya."
"Apa yang kamu usahakan?"
"Semuanya. Aku akan mengusahakannya. Bisa kamu
tungg—"
"Usahakan apa? Aku mau yang jelas."
"Semua yang kamu mau. Tentang pernikahan dan juga ...
cinta."
Nasa tersenyum kecil. Menatap Leo yang menundukkan
pandangannya. Pelan, pria itu menaikkan kepalanya.
Menatap Nasa dengan tatapnya yang begitu lembut.
Menyorot seolah-olah hanya terlihat Nasa di dalamnya.
"Kamu mau tunggu aku? Aku akan berusaha."
Nasa mengangguk. "Aku tunggu."
Senyum Leo melebar. Pria itu menarik Nasa ke dalam
pelukannya. Memeluk dengan erat dan memejamkan
matanya. Dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi
pikirannya yang bergejolak saat ini. Tentang sebuah
keputusan yang baru saja diambilnya. Namun untuk
sekarang, dia hanya mau memeluk Nasa seperti ini.
"Aku akan sabar menunggu kamu." Nasa
mengucapkannya lagi. "Tapi semisal kamu berubah pikiran,
kapan pun itu, tolong beri tahu aku."
Nasa melepas pelukan mereka. Menatap Leo dengan
keseriusannya.
"Aku nggak mau memaksa kamu. Jangan pikirkan apa
pun. Jangan pikirkan aku, keluargaku, bahkan keluarga
kamu. Tolong, utamakan untuk memikirkan diri kamu. Apa
yang kamu mau, apa yang membuat kamu bahagia."
Lengan Nasa terulur, mengusap wajah Leo yang tampan.
Chef tampan kesayangannya.
"Jangan merasa terbebani. Aku nggak berniat membebani
kamu. Tapi aku nggak suka digantung seperti ini. Apa pun
yang jadi keputusan kamu, aku akan terima. Asal itu
datangnya dari diri kamu sendiri."
Lengan Nasa yang lain ikut naik. Merangkum wajah Leo
dengan kedua telapak tangannya.
"Aku tahu, kamu selalu mencoba untuk membuat aku
senang. Tapi kamu tahu apa yang paling membuat aku
senang? Saat kamu bicara. Saat kamu membagi apa yang
kamu pikirkan. Pahit atau pun manis.
Kamu tahu aku sangat suka cokelat? Rasa asli cokelat
yang pahit. Atau saat dia sudah diberi gula dan susu
kemudian jadi manis. Aku menyukai kamu seperti aku
menyukai cokelat, aku mencintai kamu seperti aku
mencintai cokelat. Pahit atau manis. Aku terima semuanya."
Tatapan Nasa yang begitu hangat. Juga tangannya yang
merangkum hangat wajahnya.
"Kebahagiaan itu milik siapa saja. Siapa saja berhak
bahagia asal dia mau. Kamu boleh egois, kalau memang itu
harus."
Leo banyak menyimpan lukanya sendiri. Berusaha
menyembunyikannya di jurang tak berdasar. Terus menerus
jatuh ke dalam. Berusaha untuk tidak ditemukan siapa pun.
Gadis itu teringat, dengan bagaimana Emila yang berbicara
padanya saat lamaran Adel beberapa waktu lalu.
"Dia selalu menekan dirinya untuk nggak bahagia. Dia
selalu berpikir bahwa tugasnya hanya membahagiakan
orang lain. Dia beranggapan bahwa dia nggak perlu
bahagia."
Nasa memang belum tahu banyak. Namun dengan atau
pun tanpanya, Nasa akan memastikan Leo untuk meraih
bahagianya.
.
.
.
To Be Continued
(04/10/2022)
katanyaaaa GAISSS 😬😬
Yuhuuuuuu akhirnya Chef udah mau mencoba
Btw, ada rumus kejar cinta ala Nasa di Instagram
percintaan kamu 🤭
aku! Yuuuuk liaaat siapa tau bisa jadi inspirasi
Sampai ketemu hari Jumat!
💕
Luv Luv
Mill
Ig : kill.mill77
TIGAPULUHEMPAT
"Sudah jam 9. Ayo, aku antar pulang." Leo berusaha
bangkit. Membuat Nasa yang sedang berbaring
memeluknya ikut terduduk di atas ranjang.
Gadis itu berdecak tidak suka. "Aku mau nginap. Besok
hari Minggu. Besok kamu antar aku langsung ke rumah Papi.
Aku bawa baju di mobil."
Leo justru menggeleng, menolak gagasan yang baru saja
Nasa sampaikan. "Harus pulang. Papi kamu bilang sebelum
jam 10 kamu harus sudah di kamar."
"Ini kan di kamar."
"Bukan kamar aku, Nasa. Kamar kamu."
Ya, kamar Leo. Nasa berada di apartemen Leo saat ini.
Menghabiskan Sabtu dengan bermalas-malasan. Mengekor
Leo sejenak di Rumah Rasa, menunggu laki-laki itu bekerja,
makan, menyemil, menonton TV di dapur pribadi Leo.
Mengintip sibuknya pelayan-pelayan yang membawa piring,
sampai Leo selesai bekerja dan menemaninya di apartemen
saat sore hari. Leo memasak untuknya, Nasa makan lagi,
ngemil lagi, nonton TV lagi. Sampai malam sampai film
mereka tamat di televisi.
"Ayo, aku antar pulang." Leo bangkit dari ranjangnya.
Namun Nasa tidak bergerak. Menatap Leo dengan kesal
karena dia sekarang sama menyebalkannya dengan sang
Papi.
"Kenapa sih kamu harus setakut itu sama Papi aku?"
"Bagaimana aku nggak takut, Nasa? Papi kamu bilang
akan gorok leher kita kalau kita melanggar aturannya. Aku
nggak masalah. Tapi kamu? Aku nggak mau kamu kenapa-
kenapa."
Nasa menatap Leo terperangah. Komunikasi yang
sepertinya rutin antara Leo dan sang Papi sudah membuat
pria itu ketularan Papinya yang lebay.
"Kamu percaya? Kamu percaya Papi bakalan gorok kita?
Gorok leher aku? Kamu kira Papiku pembunuh? Psikopat?"
"Bukan begitu." Leo menghela napasnya. Pesan yang
Saka kirimkan pukul 8 tadi masih terngiang-ngiang di
kepalanya. Saka benar-benar menerornya. "Sudah,
pokoknya sekarang aku antar kamu pulang."
Leo berjalan menuju sofa. Mengambil jaket Nasa dan
memakaikan jaket perempuan yang masih duduk di atas
ranjang itu. Nasa terlihat sangat ogah-ogahan. Bahkan tidak
berniat sama sekali membantu Leo atau hanya sekedar
mempermudah pria itu memakaikan jaketnya.
"Tas kamu ... di mana tas kamu?" Usai jaket, kini Leo
berjalan mondar-mandir mencari tas Nasa yang tadi entah
diletakan di mana oleh gadis itu. "Tas kamu di mana, Nas?"
tanya Leo menyerah tidak mendapati tas Nasa di dalam
kamarnya.
"Di luar," jawab Nasa. Ketus. Membuang wajahnya dari
Leo. Jangan dipikir Nasa tidak bisa merajuk dan kesal. Nasa
masih manusia dan tentu dia bisa melakukannya.
Tanpa menghiraukan kekesalan Nasa, Leo justru keluar
kamar. Mencari tas Nasa kemudian masuk kembali ke dalam
kamar saat sudah mendapatinya. Mengulurkan tas
selempang itu kepada pemiliknya.
"Ayo," ajak Leo.
Nasa masih membuang wajahnya. Tidak menatap Leo
sedikit pun. Dia kesal karena Leo sekarang sangat menurut
dengan Papinya.
"Aku akan telepon kamu nanti. Kita video call sampai pagi
kalau perlu."
"Nggak perlu," jawab Nasa ketus.
Leo melirik jam tangannya. Sudah hampir setengah 10.
Perjalanan ke Homey's House bisa memakan waktu hampir
setengah jam.
"Nas. Ayok." Leo menyentuh pundak Nasa yang langsung
dihempaskan oleh gadis itu.
Nasa sangat menunjukkan penolakannya dan Leo yang
selalu ingin menyenangkannya itu tidak luluh. Leo lebih
luluh dengan Papinya Nasa.
"Aku gendong keluar, hm? Aku gendong sampai mobil
kalau perlu." Leo mengulurkan kedua tangannya.
Nasa menoleh. Wajahnya masih kesal namun terlihat
sedikit lebih lunak. Sepertinya dia menyambut baik tawaran
terakhir Leo itu.
Leo pun tersenyum. Mengalungkan tas Nasa pada
lehernya sebelum kemudian berikan punggungnya pada
Nasa. Nasa menerimanya. Membawa tubuhnya jatuh pada
punggung Leo yang kokoh. Mengalungkan kedua lengannya
pada leher Leo, juga dagunya yang ia letakan pada pundak
pria itu dengan manja.
"Gendong aku sampai mobil."
"Yes, sweetheart."
Nasa mengulum senyumnya.
Sweetheart?
Kedengaran alay dan seakan dimabuk cinta. Tapi Nasa ...
menyukainya. Panggilan sayang pertama Leo untuknya.
*__*
"Ini foto keluarga pertamaku."
Leo menunjukkan sebuah potret berbingkai pada Nasa.
Pada waktu sore di hari Minggu setelah Leo dikejutkan
kedatangan Nasa yang tiba-tiba di dapur pribadinya. Gadis
itu tidak menjawab pesannya sama sekali terkait Leo yang
menanyakan apakah Nasa masih di rumahnya atau sudah
pulang ke kosannya. Tiba-tiba Nasa datang seperti sebuah
hadiah yang menghiburnya di depan pintu.
Nasa memerhatikan potret yang Leo berikan. Berisi
sebuah gambar keluarga besar. Salah satunya, ada seorang
nenek tua yang sebelumnya berpapasan dengan Nasa di
pintu masuk dapur pribadi laki-laki itu. Leo ada di dalamnya.
Dengan wajah suntuk menatap potret yang saat ini
dibaginya pada Nasa.
"Ini Nenek, yang berpapasan dengan kamu di pintu tadi.
Dia Ibunya Papa Emir."
Nasa mengamatinya. Tidak tahu banyak tentu saja.
Mereka hanya saling menatap sebentar kemudian wanita
tua itu pergi begitu saja.
"Dua laki-laki ini adiknya Papa Emir. Dan ini istri mereka,
ini anak mereka."
Nasa juga diperlihatkan dua orang laki-laki, dua orang
perempuan, dan juga masing-masing berdiri di depannya
satu anak laki-laki.
"Ini Mama Naila, Papa Emir, dan ini Zahra, adikku. Dia
masih bayi." Leo terlihat senyumnya saat menunjuk Mama,
Papa beserta adiknya.
Senyum Nasa pun ikut terulas. "Kamu menggemaskan."
Wajah Leo di potret itu tidak tersenyum lebar. Justru
terlihat sedikit takut dengan memeluk erat ibunya yang
berdiri di samping.
"Saat itu mungkin belum ada satu tahun aku menjadi
anak mereka. Ketika menemukan aku, Mama Naila sedang
hamil Adik Zahra."
Nasa mengangguk mendengarkan cerita Leo.
"Mamaku sangat cantik, kan?"
Nasa mengangguk setuju. Tidak hanya untuk menghibur
Leo tapi juga menyatakan kebenarannya. Naila terlihat
sangat cantik dan keibuan.
"Mama cantik dan Papa terlihat sangat gagah. Dulu, ketika
aku baru menjadi anak mereka, aku sangat takut sama
Papa. Tatapannya tajam, suaranya tegas. Aku selalu berpikir
bahwa Papa nggak suka keberadaanku. Papa menolak aku.
Papa juga selalu menjauhkan aku dari Mama. Tapi pernah
suatu ketika saat kami akan pindah ke rumah baru, Papa
memanggil aku. Seorang diri tanpa Mama. Aku ketakutan
sekali saat itu. Takut Papa marah, takut Papa mengusir aku
karena Mama sedang pergi.
Aku duduk di sofa. Nggak berani menatap Papa. Tapi kamu
tahu apa yang Papa katakan kepadaku?"
"Apa?" tanya Nasa.
"Kamu suka warna apa? Kamu suka kartun apa? Apa
kamu suka batman? Spiderman? Papa tanya itu semua
dengan suara yang berat dan tegas. Suara yang sering
membuat aku deg-degan kalau Papa bicara. Ternyata dia
cuman tanya kesukaanku untuk dekorasi kamar. Itu pertama
kalinya aku bicara hanya berdua dengan Papa."
Nasa melihat senyum Leo di sudut bibirnya. Matanya yang
seakan menerawang menatapi gambar di depannya.
"Pernah juga ketika Adik Zahra mau lahir dan Papa
kelihatan sangat resah karena Mama harus operasi saat
melahirkan Zahra. Saat itu, pertama kalinya Papa memeluk
aku. Dia memeluk aku saaaangat erat. Dia bilang, sebentar
lagi kamu akan jadi Kakak. Akan ada dua wanita yang harus
kita jaga di rumah. Bantu Papa, ya. Kita jaga Mama dan Adik
sama-sama. Sebelumnya Papa nggak pernah meminta apa
pun padaku. Bahkan nggak pernah menyuruhku untuk
melakukan ini-itu. Permintaan pertama Papa untukku adalah
menjaga Adik dan Mama. Saat itu, aku sangat bahagia
karena ternyata Papa menerimaku menjadi anaknya."
Leo mengalihkan tatapannya. Menatap Nasa dengan
matanya yang berkaca-kaca. "Saat Papa, Mama dan Adik
Zahra pergi, aku merasa gagal menjaga mereka. Menjaga
Mama, menjaga Adik Zahra. Dan menjaga Papa. Tapi di satu
waktu, aku juga merasa bahwa mereka memilih pergi
bertiga dan meninggalkan aku sendirian di sini karena aku
bukan bagian dari mereka.
Atau juga seperti yang diucapkan Nenek atau Om-omku
yang lain. Kehadiranku adalah kesalahan. Semuanya akan
baik-baik saja kalau aku nggak hadir dalam kehidupan
Mama dan Papa. Kecelakaan itu terjadi saat mereka akan
datang menjemputku di sekolah."
.
.
.
To Be Continue
(07/10/2022)
Yuhuuu siapa yang menunggu Mas Chef dan Mbak
Dokter iniiii?
Btw, aku mau kasih liat visual charachter mereka
nih! udah aku spill di ig sih sebelumnya hihihi
Nasa dan Leo nih^^
Kalau begitu sampai ketemua part selanjutnya ya!
Seperti biasa, part baca duluan (35-36) udah
update di karyakarsa yes!
dan ini spoilernyaa......
......
"Iya, Om. Leo antar pulang sekarang." Leo terburu-buru.
Tidak peduli lagi Nasa yang kesal karena dia sudah
menggandeng tangan gadis itu untuk dibawanya keluar dari
dapur pribadinya.
"Sweetheart, please. Kali ini tolong bantu aku." Leo tidak
memiliki banyak waktu.
.....
TIGAPULUHLIMA
"Apa aku boleh tahu, kenapa Nenek kamu datang
ke sini tadi?" tanya Nasa. Tangannya mengusap lembut
dada bidang Leo yang sebelah tubuhnya ia jadikan tempat
bersandar. Kedua netranya mengamati bagaimana
pandangan Leo yang melihat jauh ke depan.
"Akhir-akhir ini Nenek sering berkunjung. Dia nggak
banyak bicara. Hanya minta dibuatkan makanan, lalu Nenek
makan dengan diam sampai selesai. Setelah itu pamit
pulang."
"Nenek ke sini sama siapa?" tanya Nasa lagi.
"Sendiri," jawab Leo.
"Sendiri?" Nasa mengernyitkan kening. Melihat bagaimana
sosok Nenek yang sudah berusia lanjut, Nasa mengira
wanita paruh baya itu bersama orang lain ke sini.
Leo mengangguk, membenarkan lagi jawabannya. "Nenek
naik taksi. Aku udah memaksa untuk antar Nenek pulang
tapi Nenek nggak mau." Leo tersenyum sekilas.
Membayangkan bagaimana beberapa waktu lalu dia
kembali dipukuli saat mengantarkan Neneknya pulang.
Mungkin karena itu Nenek tidak mau diantar lagi pulang
olehnya.
"Papa Emir bukan berasal dari keluarga berada. Papa
orang yang sangat pekerja keras dari usia belia. Beliau juga
cerdas. Hingga sampai sebelum menikah dengan Mama
Naila, sudah memiliki beberapa aset bahkan mendirikan
perusahaan kecilnya sendiri. Tapi ketika aku SMP,
perusahaan itu gulung tikar."
Leo tidak banyak tahu tentang perusahaan itu. Ketika
Emir dan Naila meninggal dunia dan Leo sempat beberapa
waktu tinggal di rumah Nenek, Emila dan Leon—orang tua
angkatnya yang sekarang langsung membawa Leo pergi
saat tahu Leo disiksa di rumah itu.
"Saat ini, ada beberapa aset dari Papa Emir yang nggak
bisa mereka otak atik sama sekali karena itu semua atas
namaku." Berkali-kali Leo dipaksa untuk menyerahkan
semuanya, tapi dia tidak mau. Dia tidak mau
menyerahkannya begitu saja dan menghapus semua jejak
bahwa dia pernah menjadi bagian dari Emir dan Naila. Meski
Emila selalu menyuruh Leo menyerahkan saja semua itu
pada mereka agar Leo tidak diganggu lagi, pria itu tetap
tidak mau. Karena hanya dengan nama-namanya tercatat
sebagai pemilik aset dari mendiang kedua orang tuanyalah,
Leo merasa bahwa dia masih menjadi anak sulung dari Emir
dan Naila.
Mereka diam setelahnya. Leo yang kembali mengenang
bagaimana dirinya bisa berada di posisi sekarang, juga Nasa
yang diam mencerna keseluruhan cerita yang Leo ceritakan.
Keduanya menyesapi tubuh mereka yang saling berpelukan.
Menghangatkan diri di tengah suara gemuruh hujan deras
yang baru saja turun beberapa puluh menit yang lalu.
*__*
"Ayo, aku antar pulang."
Nasa menyipit Leo kesal sekali. Dia benar-benar tidak tahu
bahwa dia bisa sekesal ini dengan Leo hanya karena disuruh
pulang. Sebab biasanya, Leo lah yang mau terus berlama-
lama dengannya. Tidak sama sekali mempermasalahkan
berapa lama waktu yang Nasa habiskan di dekatnya meski
itu bahkan sampai hari yang berganti.
Namun kini, Leo sudah bersiap memakai jaketnya dan
meraih kunci mobilnya. Bahkan Rumah Rasa saja belum
tutup tetapi Nasa sudah diusir dari dapur pribadinya. Nasa
memang tidak berniat menginap malam ini. Tetapi dengan
Leo yang mengusirkan kejam sekali, membuat hati Nasa
mendidih. Rasanya ingin menyesal membiarkan Papinya
mengenal Leo sebagai kekasihnya.
"Pakai jaketnya dulu, biar nggak kedinginan." Tanpa
menghiraukan tatapan tajam Nasa, Leo memakaikan jaket
pada tubuh gadis di depannya. Hujan yang deras sore tadi
membuat suasana malam ini lebih dingin dari biasanya.
Nasa diam dengan sorot kekesalan yang terus menghujam
Leo. Namun pria itu seakan tidak memperdulikannya
membuat Nasa ingin mengamuk rasanya.
"Besok, aku jemput di kosan. Aku antar ke puskesmas,"
kata Leo lagi.
"Nggak perlu," tolak Nasa langsung. "Kamu usir aku
malam ini jangan harap aku mau diantar jemput kamu lagi
ke depannya."
"Nasa ..." Leo berdiri tegak, menatap Nasa seakan-akan
diminta untuk dimengerti.
Nasa bukan orang yang tidak pengertian. Tapi untuk yang
satu ini, Nasa tidak berusaha untuk menyembunyikan rasa
kesalnya. Dia tidak pernah sekesal ini dengan Leo, atau
bahkan Papinya. Tapi kini, bukan hanya pada Leo, Nasa juga
kesal dengan Papinya.
"Mana handphone kamu?" Nasa mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?" Kening Leo mengernyit bingung.
"Mana?"
Dengan sedikit ragu, Leo pun menyerahkan ponselnya
pada Nasa. Memperhatikan gadis itu yang memeriksa
ponselnya. Membuka pesan masuk di salah satu aplikasi
chat, kemudian membuka satu ruang obrolan yang
membuat Leo sedikit ketar ketir.
Om Rysaka
Lapor, Om. Nasa di Rumah Rasa sekarang. (17.00)
Hm. Jangan lupa pulangin sesuai jam pulang. (17.15)
Siap Om. (17.15)
Sudah jam 7 malam. (19.00)
Siap Om. Saya antar Nasa pulang sekarang. (19.00)
Ya. (19.03)
"Kamu kira kamu apa? Satpam? Polisi? Kenapa pakai
lapor-lapor segala?" Membaca percakapan itu, rasanya Nasa
kesal sekali. Leo pakai laporan segala dengan Papinya.
Leo yang merasa dipelototi oleh Nasa itu, hanya bisa
mengusap belakang lehernya sembari meringis. Juga kini
berusaha meraih ponselnya dari tangan Nasa. Namun tentu,
Nasa tidak akan menyerahkannya semudah itu. Dia justru
semakin menjauhkannya dari jangkauan Leo. Menghapus
ruang percakapan itu dan juga menghapus nomor Papinya
sendiri dari ponsel Leo. Barulah, Nasa mengembalikan
benda pipih itu pada pemiliknya.
"Nomor Papi udah aku hapus. Kamu nggak akan bisa
lapor-laporan lagi sama Papiku." Nasa menatap Leo sedikit
berbangga.
Leo menerima ponsel sembari menghela napasnya berat.
"Nas, jangan begitu. Nanti aku nggak dikasih ketemu lagi
sama kamu."
"Ya udah, nggak usah ketemu. Ketemu juga diusir terus."
"Nasa ... aku bukan ngusir kamu. Tapi Papi kamu benar
juga, nggak baik terlalu malam kamu di sini."
"Kenapa nggak baik? Kamu takut kebablasan? Takut kita
melewati batas? Terus selama ini apa? Bukannya kita
memang sudah melewati batas? Kamu cium aku, kamu
peluk aku, kamu sentuh-sentuh aku, kita bahkan tidur
bareng satu ranjang. Terus apa? Kamu pikir itu nggak
melewati batas yang udah ditetapkan sama Papi? Atau perlu
aku yang buat laporan ke Papi kita udah ngapain aja selama
ini? Biar sekalian kamu nggak dibolehin lagi ketemu aku."
Nasa jarang berbicara panjang kali lebar. Namun kali ini,
dia sudah melewati batas kesalnya.
Leo yang melihat Nasa kemudian mengulurkan
tangannya. Meraih Nasa ke dalam dekapannya. Memeluk
gadis itu berusaha meredamkan kekesalannya. Tidak
bertemu Nasa tentu Leo tidak bisa. Tidak mencium Nasa,
juga tidak bisa. Tidak memeluk Nasa, juga lebih tidak bisa.
"Maaf, udah buat kamu kesal."
"Hm. Kamu memang harus minta maaf."
Leo memeluk Nasa begitu erat. Sebelum kemudian
menjauhkan sedikit tubuh mereka. Menatap wajah cantik
Nasa yang mampu membuatnya tersihir. Memajukan
wajahnya, memagut bibir merah muda Nasa yang tampak
merona. Tentu Leo mendapat sambutan baik dari si pemilik
bibir merona itu. Mereka berpagutan dengan kedua mata
yang memejam. Seakan meresapi malam yang dingin dan
kehangatan yang tercipta di antara keduanya.
Lama. Pagutan bibir keduanya yang cukup lama itu
terlepas oleh sebuah dering ponsel yang semula Leo lempar
ke atas sofa. Berdering mengisi ruangan yang khas aroma
makanan itu. Membuat Leo langsung menoleh dan
menjauhkan tubuh mereka sepenuhnya demi menjawab
panggilannya. Nomornya sudah Nasa hapus, tetapi Leo
tentu tidak akan lupa foto profilnya.
"Iya, Om. Leo antar pulang sekarang." Leo terburu-buru.
Tidak peduli lagi Nasa yang kesal karena dia sudah
menggandeng tangan gadis itu untuk dibawanya keluar dari
dapur pribadinya.
"Sweetheart, please. Kali ini tolong bantu aku." Leo tidak
memiliki banyak waktu.
.
.
.
To Be Continued
(11/10/2022)
Leoooo kamu sudah membuat Nasa kesaaaal
hati2 Leo, Nasa bisa ngamuk juga loh kalau kamu
terlalu buat dia kesal hahahahaha
Sampai bertemu hari Jumat Bestie!
TIGAPULUHENAM
Hubungannya dan Leo terus berjalan. Melewati hari demi
hari bahkan bulan demi bulan. Sudah banyak waktu yang
gadis itu lewati bersama dengan Leo—chef kesayangannya.
Meresapi berbagai macam rasa makanan yang begitu
nikmat di lidah. Juga, kebersamaan mereka waktu ke waktu.
Genap 1 tahun Nasa berhasil menempuh internsipnya.
Setelah melalui 6 bulan di rumah sakit umum, kemudian 6
bulan di puskesmas, Nasa berhasil menyelesaikannya.
Bertepatan juga, hampir kurun satu tahun kebersamaannya
dengan Leo.
"Berarti kamu akan balik tinggal di rumah lagi?" Di balik
kemudinya, Leo bertanya pada Nasa. Menoleh sekilas pada
gadis itu.
Nasa tidak langsung menjawab. Terlihat berpikir sebentar.
"Aku bingung," katanya.
"Kenapa?"
"Papi minta aku langsung ambil PPDS, tapi aku masih
bingung."
"PPDS itu ...?"
"Pendidikan dokter spesialis," jelas Nasa.
Leo manggut-manggut. Pria itu kembali menoleh pada
Nasa. "Terus bingung kenapa? Bukannya kamu memang
mau langsung spesialis? Kardiologi bukan?"
Nasa mengangguk. Ya, Leo benar. Dia memang pernah
menceritakan kepada pria itu tentang rencananya. "Tiba-
tiba aku kepikiran untuk kerja satu tahun dulu. Ada
lowongan di rumah sakit tempat aku internsip kemarin."
Leo mengamati Nasa sekilas. Raut gadis itu yang biasa
datar memunculkan sedikit kerenyitnya yang tampak ragu-
ragu.
"Masih ada beberapa hal yang ingin aku observasi. Dan
sebenarnya, aku suka kerja di IGD. Melelahkan. Tapi aku
suka."
"Kalau memang kamu belum yakin, lakukan apa yang
membuat kamu yakin." Leo tersenyum. Dibalas Nasa
dengan senyum yang sama. "Aku yakin, apa pun yang
menjadi keputusan kamu, itu pasti yang terbaik."
Leo mengambil tangan Nasa. Menggenggamnya dengan
erat dan mengecupnya dalam. Membuat Nasa menatap pria
di sisinya itu dengan tatapan yang tidak kalah dalamnya.
Jantungnya yang bertalu-talu membuat gadis itu selalu
merasa bahwa dia sudah sangat jatuh.
"Dua minggu lagi ulang tahun kamu. Kamu mau kado
apa?" tanya Leo.
"Kamu tahu ulang tahun aku?" Nasa tidak mengingat
bahwa dia pernah membagi tanggal ulang tahunnya pada
Leo.
Leo mengangguk. Tersenyum pada Nasa. "Sana buat
heboh. Ngerepotin Adel minta kado ulang tahun ini-itu."
Sana dan Nasa kembar, pasti ulang tahunnya sama.
Nasa tertawa kecil. Kembarannya itu tidak pernah
berubah. Dia selalu antusias dengan perayaan ulang tahun
dan juga hadiah. Tidak pernah bosan dengan hari
kelahirannya itu padahal sejak usia satu tahun sampai
berada di usia 20-an pun, Papi mereka selalu membuat
perayaan.
"Jadi ... mau kado apa?" tanya Leo lagi.
"Em ..." Nasa terlihat berpikir. Dia tidak pernah
menyebutkan hadiah apa yang ia inginkan pada orang lain.
Entah itu Papi-Maminya, saudara-saudaranya, bahkan Om-
Tante dan sepuou-sepupunya. Nasa tentu tidak begitu
menyukai barang-barang mewah atau pernak-pernik lainnya
dia lebih menyukai—
"Tolong kali ini jangan minta kue coklat. Hampir setiap
hari aku buatin kamu kue-kue itu."
Nasa cemberut. Leo seakan bisa membaca pikirannya. Dia
baru saja ingin menyebutkan makanan yang ada di
kepalanya saat ini.
"Kalau begitu aku nggak tau apa."
Leo menoleh lagi. Menatap wajah Nasa yang tampak
sedikit cemberut. Membuatnya gemas dan mencubit pelan
pipinya yang menggemaskan.
"Selain makanan, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?"
Nasa menggeleng. Memang tidak ada. Selain makanan,
dia tidak menginginkan apa pun.
"Yang ada di kepalaku saat ini bagaimana lezatnya cokelat
lumer saat aku gigir roti empuk yang melapisinya."
Leo terkekeh. Nasa benar-benar sangat manis.
Pria itu pun memutuskan untuk tidak lagi bertanya apa
yang Nasa inginkan untuk hadiah ulang tahunnya. Karena
kini, di kepalanya sudah ada sebuah hal yang Leo ingin
persembahkan untuk gadis manis di sampingnya itu. Leo
tentu masih ingat dengan jelas apa yang dikatakan oleh
Rysaka.
Istana coklat?
Leo akan mewujudkannya.
"Sudah sampai." Pria itu menarik rem tangan mobilnya
yang sudah berhenti melaju. Mematikan mesin dan menoleh
ke samping pada Nasa yang membuka sabuk
pengamannya.
"Oma kamu suka nggak ya, sama yang aku bawa?" Nasa
bertanya pelan. Hari ini, Leo mengajaknya mengunjungi
Oma. Gadis itu justru membawa ramuan herbal sebagai
buah tangannya.
"Oma pasti suka." Leo meyakinkan Nasa.
Kunjungan mereka kali ini sebenarnya sudah diagendakan
oleh Leo beberapa waktu yang lalu. Sedikit
mempertimbangkan hal besar karena Leo akan melakukan
sesuatu yang besar juga. Nasa tidak tahu banyak. Dia hanya
tahu Leo mengajaknya datang karena sudah lama tidak
berkunjung kemari. Terakhir Nasa bertemu pun, saat
lamaran Adel.
"Yuk. Oma pasti sudah menunggu kita." Leo membuka
pintu mobilnya. Belakangan ini, Leo banyak sekali
melakukan hal untuk membuat hati sang Oma luluh
padanya.
*__*
"Sudah Oma bilang laki-laki itu nggak baik, Adel! Kamu
nggak pernah percaya ucapan Oma. Lihat apa yang terjadi
sekarang? Kamu diselingkuhi, kan, Adel?!"
Napas Sarah memburu saat mengatakannya. Menatap
cucunya yang terduduk menangis. Adel menunduk dengan
air mata yang bercucuran.
"Selingkuh? Siapa yang selingkuh?" Leo berjalan cepat
menuju keduanya. Menatap Adel yang menangis dan wajah
Omanya yang penuh emosi. "Gauda selingkuh dari kamu?"
tanya Leo menatap adiknya serius.
"Ya. Laki-laki yang kalian percaya itu, laki-laki yang kamu
percaya. Justru menyakiti Adel. Kamu liat sendiri Leo, Adel
menangis karena laki-laki itu! Ini yang kamu janjikan bahwa
Adel akan bahagia dengan pilihannya?"
Leo menatap Oma Sarah. Kemudian menatap Adel yang
masih tertunduk dan suara tangisnya yang terdengar.
"Adel jawab kakak. Gauda selingkuh?" Leo menunduk di
depan adiknya. Memegang kedua pundak Adel berusaha
menatap wajah gadis itu.
Adel tidak menjawab apa pun selain menangis. Bahkan
menolak menatap Kakaknya yang ada di hadapannya.
Hatinya begitu sesak untuk menjawab apa pun pertanyaan-
pertanyaan itu setelah berita perselingkuhan Gauda masuk
ke telinganya. Melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Sudah, nggak usah menangis. Syukur ditunjukkan
sekarang dan kalian belum menikah." Oma Sarah menatap
kedua cucunya. "Sekarang batalkan pertunangan kalian dan
menikah sama Leo."
Leo langsung menoleh pada Omanya.
"Kamu menolak? Kamu lupa apa yang kamu janjikan pada
Oma? Kamu bilang Adel akan bahagia dengan pilihannya.
Tapi ini apa? Kamu justru menyerahkan Adel pada orang
yang salah. Kamu bilang kamu cinta sama Adel. Buktikan
kalau kamu memang cinta sama Adel."
Nasa diam mengamati apa yang terjadi di hadapannya.
Tangisan Adel, suara Oma Sarah yang penuh emosi, dan
wajah kalut Leo mendapati sang adik menangis. Pria itu
bahkan langsung melepaskan genggaman tangannya dari
Nasa saat mendengar suara tangis Adel masuk ke
telinganya.
Kemudian ... apa Nasa salah mendengar tentang
pernyataan terakhir Oma Sarah itu?
"Menikah sama Adel. Kamu sendiri yang bilang kamu cinta
sama dia. Sudah Oma katakan sejak dulu, kalian memang
ditakdirkan bersama."
Leo tidak menjawab apa pun. Pria itu justru kembali
menatap Adel yang masih terus menunduk dan menangis.
Bahkan tidak membantah apa pun yang Oma Sarah
katakan. Tidak juga menatap Nasa yang berdiri di sana.
"Adel, jawab Kakak! Gauda selingkuh? Dia menyakiti
kamu? Dia buat kamu nangis? Adel liat Kakak! Adel!"
Leo tampak sangat kalut. Bahkan jelas sekali tergambar di
wajahnya hanya ada Adel di pikirannya.
"Kalian saling cinta. Oma tahu dari dulu. Kalian bukan
saudara kandung, nggak ada salahnya kalian menikah."
Leo tidak membantah. Begitu juga Adel. Tidak ada yang
melirik kehadiran Nasa sedikit pun di tempat ini. Bahkan itu
Leo. Pria itu seolah lupa dengan rencananya. Juga
keberadaan Nasa yang dibawanya ke tempat ini.
"Ada seseorang yang aku cintai tapi nggak bisa aku
miliki."
Kemudian Nasa teringat, dengan hal yang Leo ucapkan
padanya dulu. Dulu, sebelum hubungan mereka sejauh ini.
Jadi, maksud dari ada wanita lain yang tidak bisa ia miliki
adalah adiknya sendiri?
Kenapa Nasa terlena dengan melupakan fakta sebesar
itu? Ada wanita lain yang Leo inginkan sejak awal. Dan jelas,
itu bukanlah Nasa.
.
.
.
To Be Continued
(14/10/2022)
Leooooo kamu kenapasih Leooooooo
Ayo yang ingin mengeluarkan kata-katanya untuk
Leo aku persilahkan!!!
Kalau begitu sampai bertemu hari selasaaaa yaaa
seperti biasa, part baca duluan sudah update di
karyakarsa!
Spoiler sedikittttt
TIGAPULUHTUJUH
Coba bacanya sambil dengerin lagu yang ada di
media!
Selamat menggalau ria bareng Nasa ^^
.....
"Nasa?"
"Nas?"
"Nasa?"
Nasa menoleh terkejut saat seseorang menyentuh
pundaknya. Di depannya, berdiri laki-laki yang
memerhatikannya dengan bingung.
"Kamu ngapain di sini sendirian?" tanya pria itu.
Nasa menatap laki-laki itu. Tatapan kosong yang bahkan
dia sendiri tidak tahu apa yang saat ini ada di dalam
kepalanya. Hanya saja ... rasanya ... Nasa ingin melarikan
diri.
"Ayo, masuk mobil."
Gadis itu bahkan diam saja saat laki-laki itu—Bhumi—
menarik tangannya entah hendak ke mana. Nasa mengikut
saja sampai dia didudukkan di sebuah kursi kemudian
terdengar pintu mobil yang tertutup.
"Nasa?" Suara Bhumi memanggilnya lagi. Nasa menoleh.
Menatap Bhumi dengan masih tatapan yang sama.
"Kamu mau kemana?" tanya pria itu lagi. "Mau ke Puri?"
Puri adalah daerah rumahnya—rumah Papi dan Maminya.
Nasa kemudian menggeleng. Sudah sedikit mengerti
dengan kondisi yang terjadi sekarang bahwa kini dia
bertemu dengan Bhumi dan masuk ke dalam mobil laki-laki
itu. Duduk sudah dengan sabuk pengaman yang sudah
terpasang ditubuhnya. Mobil pun kini melaju dengan pelan
membelah jalan.
"Kamu mau ke mana? Biar Mas antar," kata Bhumi lagi.
Nasa menatap Bhumi cukup lama. Gadis itu lalu
mengalihkan pandangannya ke depan. Menghadap pada
jalan dan tiba-tiba membuka sabuk pengamannya.
"Aku turun di sini aja, Mas." Nasa bersiap membuka pintu
mobil yang masih melaju itu. Bersyukur, Bhumi lebih
tanggap sudah menguncinya lebih dulu. Pria itu dibuat deg-
degan dengan Nasa perilaku Nasa yang seperti orang tidak
sadar.
"Nas, kamu habis dihipnotis?" Bhumi pun meminggirkan
mobilnya.
Nasa menatap Bhumi lagi. Dia sendiri tidak tahu dengan
keadaannya saat ini. Namun yang pasti, Nasa merasa
dadanya begitu sesak.
"Hey? Nasa?" Bhumi mencoba menarik atensi gadis itu
sepenuhnya. "Lihat Mas, kamu kenapa?" tanyanya lagi.
Nasa kemudian menggeleng. Gadis itu membuang wajah
menatap jendela. Beriringan dengan satu tetes air matanya
yang meluncur begitu saja. Dia tidak tahu kapan terakhir
kali dia menangis sebelum ini.
Bhumi yang seakan menerka kondisi iparnya yang tidak
baik-baik saja saat ini itu pun akhirnya memilih menutup
mulutnya kembali. Tanpa suara menarik sabuk pengaman
dan kembali memasangkannya pada tubuh Nasa. Pria itu
lanjut melajukan mobilnya. Namun sebelum itu, tangannya
cekatan menyalakan radio mobilnya dan sebuah lagu
memutar di udara.
*__*
Nasa berada di rumah saudara kembarnya saat ini.
Setidaknya itulah yang ia tahu. Dinding bercorak pink
dengan bingkai foto-foto ikan yang ada di atas meja jelas
menandakan siapa pemilik kamar ini.
Nasa meringkuk di atas ranjang kecil milik Anin.
Menenggelamkan tubuhnya dalam selimut. Dia tahu saat
Bhumi membawanya ke rumahnya. Kemudian seolah sudah
berkoordinasi dengan sang istri, Sana langsung membawa
Nasa masuk ke kamar Anin kemudian meninggalkannya di
dalam begitu saja.
Nasa memang butuh untuk menyendiri.
Gadis itu melewati waktu demi waktu hingga kamar Anin
yang semula terang oleh cahaya matahari itu pun kini
gelap. Membawa Nasa pada waktu di mana matahari sudah
tidak menampakkan diri. Gadis itu kemudian menarik
selimutnya turun. Duduk bersandar di atas ranjang sejenak.
Kemudian menoleh saat pintu kamar terbuka.
"Eh, Nanas udah bangun?" Suara Sana yang berdiri di
depan pintu terdengar di telinganya. "Makan malam dulu,
yuk? Gue masak ayam gulai. Kesukaan lo."
Nasa menatap kembarannya cukup lama, kemudian
menggeleng.
"Kenapa?" Sana menatap sangat heran. Ini adalah
pertama kalinya Nasa menolak ditawarkan makanan.
Apalagi makanan itu adalah makanan kesukaannya.
"Kenyang," Nasa menjawab singkat.
Alis Sana naik sebelah. "Kenyang bagaimana? Lo kan di
sini dari siang. Belum makan. Ayo makan dulu. Keburu
dihabisin Anin loh gulainya."
Nasa masih kekeh menggelengkan kepalanya. Dia tidak
ingin makan. Selain tidak lapar, rasanya hanya dengan
membayangkan makanan justru mengingatkan Nasa
dengan seseorang.
Sana menghela napasnya menyerah. Dia tidak akan
memaksa lagi. "Ya udah, nanti kalau udah laper ke dapur
ya."
Nasa mengangguk saja. Sana pun berlalu, menutup pintu
dan kembali meninggalkan Nasa seorang diri di dalam
kamar yang hanya diterangi sedikit cahaya dari celah-celah
ventilasi jendela dan pintu. Gadis itu masih tidak
menyangka, dari seluruh rangkaian kejadian dalam
hidupnya, Nasa melewati hari ini.
Hari patah hatinya.
Nasa tahu perasaan itulah yang saat ini tergambar di
wajahnya, hatinya, juga di kepalanya. Melihat dengan
langsung bagaimana pria yang begitu ia dambakan, tidak
jarang membuatnya khawatir dengan keadaannya, ternyata
mendambakan dan mengkhawatirkan orang lain. Seseorang
yang tidak bisa ia miliki.
Nasa tertawa getir. Hari ini benar-benar terjadi pada
harinya.
*__*
"Tante Nasa tidur di kamar aku?"
"Iya, Tante Nasa nginep. Kamu tidur di kamar Mumi sama
Papa."
Nasa baru saja keluar kamar mandi saat mendengar
percakapan ibu dan anak itu. Gadis itu juga melihat wajah
Anin yang cemberut karena kamarnya disabotase orang lain
malam ini. Nasa tentu tidak berniat ke Puri—rumah Papi dan
Maminya. Juga tidak berniat kembali ke kosannya apalagi
apartemen Keanu yang biasa menjadi tempat pelariannya.
Maka dari itu, dia memilih menginap di rumah saudara
kembarnya.
"Nanas," Sana memanggilnya.
Nasa menoleh. Menatap si ibu hamil yang perutnya sudah
lebih terlihat dibalik daster tidur yang dikenakannya itu.
"Beneran nggak laper?" tanyanya.
Nasa menggeleng. Dia benar-benar tidak lapar sama
sekali.
Sana terlihat tidak yakin. Namun wanita hamil itu pun
akhirnya menghela napasnya pasrah. "Kalau nanti lapar,
masih ada lauk di kulkas. Nanti lo hangatin dulu aja kalau
mau makan di microwave. Bisa kan pakai microwave? Kalau
nggak bisa nanti bangunin gue atau Mas Bhumi aja, ya."
Nasa mengangguk saja. Meski dia sama sekali tidak
berniat melakukannya.
"Mana tadi cookiesnya?" Sana lalu menoleh pada
putrinya. Kemudian dengan bibir manyunnya, Anin
menyerahkan toples yang ada di tangannya pada sang ibu.
Sana pun kembali menatap pada Nasa. Mengulurkan
toples itu pada kembarannya. "Ini juga ada cookies
kesukaan lo kalau nanti mau ngemil."
Nasa memerhatikan toples itu cukup lama. Tidak juga
diambilnya, gadis itu menggelengkan kepala. Dia
menolaknya.
Nasa tidak ingin gulai ayam. Nasa juga tidak ingin
cookies. Karena dua hal itu, hanya akan mengingatkannya
pada orang itu.
*__*
Pukul 1 dini hari.
Itu yang Nasa dapati di layar ponselnya. Gadis itu kembali
meringkuk di dalam selimut sembari menatap layar di
depannya. Nasa tahu perasaannya sangat sedang tidak baik
saat ini. Dia menghindari makanan yang mengingatkannya
pada orang itu, tapi Nasa justru dengan bodohnya masih
menunggu panggilan masuk di ponselnya yang sayangnya
sama sekali tidak ia dapati.
Air matanya turun lagi yang langsung Nasa usap dengan
kasar. Dia benci saat menjadi lemah seperti ini. Nasa benci
harus menampung perasaan sesak seperti ini. Orang itu
menyakitinya, tapi Nasa masih menunggunya.
Nasa masih menunggu teleponnya di saat dia melihat
dengan mata kepalanya sendiri Leo yang mengabaikannya
ketika melihat Adel menangis.
Nasa masih menunggunya saat dia tahu dengan jelas
bahkan Leo tidak repot-repot mengejarnya yang melarikan
diri begitu saja keluar dari rumah Oma siang tadi.
Nasa masih menunggunya bak orang bodoh yang sangat-
sangat-sangat bodoh.
"Nas?"
Nasa menghapus lagi air matanya saat mendengar suara
pintu terbuka. Juga suara Sana yang masuk ke telinganya.
Gadis itu lalu menurunkan selimut. Duduk di atas ranjang
dan menatap Sana yang mendekat.
"Lo belum tidur?" tanya kembarannya itu. Sana duduk di
sisi ranjang, menatap Nasa di bawah cahaya yang temaram.
"Lo kebangun?" Nasa justru bertanya balik.
Sana mengangguk. Mengusap perutnya yang membuncit.
"Suka kebangun tengah malam. Tiba-tiba suka kepengen
makan lagi." Sana menyengir lebar.
Nasa ikut tersenyum kecil.
"Tiba-tiba gue kepengen makan indomie, coba. Ini
kayaknya anak gue bakalan mirip lo nih, Nas, doyan
makan." Sana tertawa.
Nasa masih hanya tersenyum kecil membalasnya.
"Lo mau indomie juga nggak? Biar gue bilang Mas Bhumi
biar bikin dua mangkuk?"
"Mas Bhumi bangun juga?" Nasa balas bertanya.
Sana mengangguk. "Dia gue gerak sedikit aja bangun,
Nas." Sana terkekeh menceritakannya.
Nasa ikut tersenyum lagi. Kali ini sedikit sendu senyum itu
ada di bibirnya. Nasa jarang sekali iri dengan Sana. Mungkin
hampir tidak pernah. Tapi sekarang, dia sangat-sangat-
sangat iri dengan Sana. Nasa juga ingin dicintai seperti
Sana. Bagaimana Bhumi yang mencintai kembarannya itu
dengan begitu dalam. Nasa ingin merasakannya. Dijadikan
ratu di dalam istananya.
Dia ingin orang itu mencintainya.
Dia ingin Leo mencintainya.
Tapi ... kenapa harus Adel orangnya? Kenapa bukan Nasa?
Selama ini, Nasa yang ada di sisi Leo. Nasa yang dengan
tangan terbuka menyambutnya, memeluknya,
mendambanya. Nasa yang ada di sisinya tapi kenapa Adel
yang Leo inginkan? Nasa yang mencintainya, tapi kenapa
Adel yang Leo cintai?
Apa selama ini, Nasa hanya terlalu percaya diri? Percaya
diri bahwa dia bisa membuat Leo mencintainya
sebagaimana Nasa mencintai laki-laki itu?
Nasa bodoh sekali. Bagaimana bisa gadis tidak
berpengalaman seperti dirinya membuat pria seperti Leo
mencintainya? Semua kenyataan yang datang padanya ini
benar-benar mengguncangnya dengan sangat dahsyat. Leo
sudah memberi tahunya sejak awal. Namun Nasa yang
nekat untuk tetap memperjuangkannya. Bahkan, pria itu
dengan gamblang mengatakan ada wanita lain yang
didambanya tetapi Nasa tidak mengindahkan itu semua.
Leo tidak mengharapkannya selama ini bukan karena pria
itu takut. Tapi karena ada wanita lain di hatinya.
.
.
.
To Be Continued
(18/10/2022)
Bahkan makanan sudah nggak mampu membuat
Nasa tersenyum.
Leo, kamu di mana?
TIGAPULUHDELAPAN
"Ngapain sih, pada ke sini semua?" Sana berkacak
pinggang, menatap kedua adiknya yang sedang sikut-
sikutan.
"Tau lo! Ngapain sih lo ngikutin gue terus?" Naka menyikut
Kana yang sedang berebut sofa dengan dirinya.
Kana tentu tidak mau kalah. Gadis itu balik mendorong
Naka dengan keras. Wajah kesal terang-terangan ia
tunjukkan pada sang kakak.
"Heh, kalau ribut di luar aja sana!" Sana masih berkacak
pinggang menatap keduanya. Suaranya kali ini berteriak
lebih keras yang akhirnya membuat keduanya
menghentikan pertengkaran mereka. Wajah bersungut-
sungut tercipta di sana.
"Adek mau nginep di sini," ujar Kana menjawab sang
kakak.
"Tumben banget mau nginep di sini. Dalam rangka apa?"
tanya Sana balik.
"Ya enggak dalam rangka apa-apa. Kan Mas Bhumi lagi ke
Bandung. Adek sekalian mau main sama Anin."
Sana berdecak, geleng kepala. Wanita hamil itu lalu
menatap pada saudara laki-laki satu-satunya yang ia miliki.
"Lo ngapain di sini, Naka? Mau nginep juga?"
Naka mengangguk. "Mas Bhumi lagi nggak ada. Jadi
sebagai anak laki-laki satu-satunya yang berbudi pekerti
luhur, gue akan nginep di sini."
Sana menatap Naka seolah mencemooh. Tentu tidak
biasanya adiknya yang paling tampan ini mau menginap
meski pun itu di rumah Kakaknya sendiri. Naka itu anak
Mami. Sebelum tidur saja harus dikeloni Mami dulu.
Melihat Naka dan Kana yang bersungguh-sungguh, Sana
pun akhirnya pasrah. Meski tidak mengatakannya secara
langsung, tapi Sana tahu kedua adiknya menginap di
rumahnya hari ini selain karena Bhumi yang sedang keluar
kota, juga karena ada Nasa yang tengah patah hati.
Gadis yang patah hati itu sedang duduk memeluk
lututnya di atas sofa di depan TV. Menatap pada TV yang
menyala dengan tatapan yang masih sama seperti
sebelumnya—terlihat tidak bernyawa. Di hari Minggu ini,
Nasa alfa datang ke rumah Papinya untuk kerja bakti.
Jadilah dia tinggal di rumah Sana seorang diri. Dan setelah
pulang dari kerja bakti di rumah Papi juga Bhumi yang
langsung pamit ke Bandung, Sana pulang diekori oleh dua
adiknya yang mengkhawatirkan kondisi sang Kakak sulung
yang sudah Sana spill sedikit bahwa Nasa sedang galau.
"Ya udah ya udah. Kana tidur sama Anin di kamar Anin.
Nasa tidur sama gue. Dan lo Arjuna Nakal—" Sana menunjuk
Naka. "Lo tidur di ruang tamu."
"Loh kok begitu!" Naka berdecak tidak terima.
"Ya terus mau tidur di mana? Kamar di rumah gue cuman
dua."
"Ya tidur sama lo sama Nasa, kek. Atau sama Anin sama
Kan—"
"Adek nggak mau tidur sama dia!" Kana langsung
menolak terang-terangan.
Naka berdecak, melotot menatap adiknya itu.
"Udah-udah pokoknya lo tidur di sofa. Enak aja mau tidur
sama gue sama Nanas. Lo pikir lo anak bayi? Kasurnya
nggak muat!" Sana kemudian berlalu menghampiri Nasa.
Merangkul pelan lengan kembarannya itu. "Nanas my lovely,
ayo kita tidur. Udah malem."
Nasa menoleh. Kemudian pasrah dengan Sana yang
menarik tangannya memasuki kamar.
*__*
"Udah kaya ikan sarden kita tidurnya malam ini."
Sana terlentang menatap langit-langit kamar. Menarik
napasnya yang terasa sesak karena tidur berhimpitan di
atas ranjang. Posisi tidur yang sudah diaturnya tadi tidak
berjalan sesuai dengan rencananya. Anin tiba-tiba datang
ke kamarnya dan mengeluh ingin tidur dengan Sana. Begitu
juga dengan Kana yang tidak mau tidur sendiri di kamar
Anin dan kemudian mereka ber-4, tidur di satu ranjang yang
sama. Kemudian tidak berselang lama, Naka ikut masuk ke
dalam. Merebahkan diri di atas sofa dan memejamkan mata
menghiraukan Sana yang berteriak mengusirnya ke luar.
Akhirnya, wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain
membiarkan anak sambung dan kedua adiknya tidur di
kamar ini juga.
Wanita itu kemudian memiringkan tubuhnya. Menghadap
Nasa yang tengah meringkuk dengan mata terpejam kuat.
Matanya terpejam, tapi Sana melihat ada bulir air mata
yang keluar dari sudutnya. Wanita itu lalu mendesak Nasa
ke dalam pelukannya. Memeluk saudara kembarnya yang
tidak juga membuka matanya.
Sana tahu, ini pertama kalinya Nasa jatuh cinta. Dan juga
pertama kalinya Nasa patah hati.
"It's okay, Nanas. Setiap orang akan mengalami waktu
patah hatinya. Begitu juga elo." Wanita itu berbisik pelan.
Mendengar bisikan Sana yang tidak seberapa keras itu,
tangis Nasa justru mengeras. Air matanya keluar lebih
banyak. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk menahannya
lebih lama. Nasa menahan tangisan ini sejak kemarin.
Mencoba untuk menguatkan diri sebisa mungkin. Tapi
ternyata, dia gagal juga.
Nasa patah hati. Bukan hanya sekedar menangisi patah
hatinya, tapi Nasa juga menangisi kebodohannya yang
sampai detik ini, masih menunggu telepon Leo yang tidak
kunjung didapatinya.
Suasana di kamar itu hanya diselimuti oleh suara tangis
Nasa. Bahkan Anin juga terdiam dengan matanya yang
terbuka dan tidak berani menoleh pada Tantenya yang suka
berebut makanan darinya. Juga Kana yang pura-pura
terpejam sembari memeluk Anin, dan Naka yang menatap
langit-langit kamar dengan tangannya yang mengepal di sisi
tubuh.
*__*
Hari ke tujuh patah hati.
Seminggu yang dilalui itu, Nasa hampir terbiasa
menjalaninya. Menjalani hari-hari kelabu yang bertamu.
Malam-malam yang dingin, atau perasaan yang mulai tidak
asing yang membuat rongga dadanya menyempit. Rasanya,
Nasa sudah mulai bisa untuk melangkah berdamai dengan
keadaannya.
Nasa tentu harus melanjutkan kehidupannya. Meski agak
sedikit berat karena kesibukannya berkurang setelah Nasa
menyelesaikan masa internsipnya di puskesmas. Gadis itu
pun sudah kembali ke rumahnya dan mengakhiri masa
kosnya di Homey's House yang nyaman. Seminggu ini, gadis
itu rehat dari rutinitasnya. Jika biasanya hari libur Nasa
lakukan dengan membaca buku di kamar, kali ini tidak.
Membaca buku ternyata dapat membuatnya mengingat
kenangannya dengan orang itu. Jadilah Nasa memilih
aktivitas di luar ruangan yang dapat menyita pikirannya.
Hampir setiap hari selama seminggu ini Nasa bermain ke
panti dan membantu ibu panti mengurus anak-anak di sana.
Kemudian malam ini, Nasa memiliki kegiatan lain.
"Wuihhh ... makin bening aja kau Nas."
Nasa mengabaikan tatapan menggoda dari Julian dan
duduk di bangkunya. Malam ini, dia memiliki acara reuni
bersama teman-teman internsipnya di rumah sakit dulu.
Biasanya Nasa tidak pernah suka acara perkumpulan
macam ini. Namun tentu, kali ini dia pasti bergabung.
"Naik apa ke sini, Nas?" tanya Raga—tersenyum ramah
menyambut kedatangannya.
"Diantar adik gue," jawab Nasa. Iya, Naka menjelma
menjadi sopir pribadinya selama seminggu ini. Dia rela
mengantar jemput Nasa ke panti di sela-sela waktu
kuliahnya. Juga mengantarkan Nasa datang ke reuninya
malam ini.
"Adik lo yang bening itu, Nas? Yang mirip siapa tuh, Jefri
Nichol?" Liana menyahut.
Nasa geleng kepala saja. Padahal tentu adiknya lebih
bening dari itu. Meski menyebalkan dan suka rese, tapi gen
Papi dan Maminya tidak main-main. Naka memang tampan
di luar dari sifat menyebalkannya.
"Kok nggak disuruh masuk, Nas?" sambung Liana lagi.
"Sekalian gitu, Nas, kenalin sama gue. Gue availble nih
sama brondong juga."
"Si Liana terang-terangan kali, bah." Julian merespon
geleng-geleng kepala. "Liat lah cewek kau, Raga. Bertingkah
dia."
Nasa sontak menoleh pada Raga yang hanya tersenyum
menatap Liana. Tunggu ... rasanya kenapa ada yang Nasa
lewatkan?
"Lagi pedekatean mereka, Nas. Si Raga katanya udah
move on dari kau."
Julian mendapat gaplokan dari Liana di kepalanya.
Nasa geleng kepala melihat tingkah temannya yang tidak
bisa diam mulutnya itu. Gadis itu kemudian menatap Raga
yang tidak sengaja juga menatapnya tersenyum kecil. Nasa
tentu tidak sakit hati Raga berpindah hati. Dia justru
senang, Raga menemukan orang lain di hatinya.
Melihat Raga yang sudah melupakan dirinya membuat
Nasa ikut berpikir optimis. Raga saja bisa melakukannya.
Pasti Nasa juga bisa. Dia akan cepat melupakan Leo dan
mencari laki-laki lain, seperti apa yang Raga lakukan. Raga
bisa, Nasa juga pasti bisa.
Perbincangan teman-temannya kemudian bertambah
panjang saat rekan-rekan sejawatnya dari kelompok lain ikut
datang dan bergabung. Reuni malam ini sebenarnya hanya
untuk kelompoknya saja. Mengundang kelompok yang lain
agar lebih ramai katanya. Ivanka juga ikut datang. Dia
datang dengan gandengannya dan menunjukkan wajah
angkuhnya pada Nasa.
Well, Nasa tidak peduli sebenarnya. Justru rasa optimis
Nasa juga kembali bertambah. Gadis itu tahu Ivanka pernah
menyimpan perasaan dengan Leo sebelum ini. Namun
melihat Ivanka yang datang membawa gandengan, Nasa
semakin optimis bahwa dia juga bisa melakukannya. Ivanka
bisa, Nasa juga pasti bisa.
Dikeluti dengan semua pemikiran yang ada di kepalanya
ini, Nasa memikirkan hal lain selain bagaimana caranya
move on dengan cepat dari Leo. Perkataan Naka di mobil
tadi terbayang-bayang di ingatannya.
"Gue kan belum sumdok ya, Nas. Kalau gue pukulin orang,
gue nggak wajib untuk mengobati dia, kan? Lagian, gue kan
calon dokter gigi."
Kalimat Naka itu terngiang-ngiang di kepalanya. Adiknya
itu memukuli siapa memangnya? Naka memang memegang
sabuk hitam taekwondo. Tapi tentu Nasa sangsi Naka akan
memanfaatkan ilmu bela dirinya ke sembarang orang.
Apalagi untuk membuat orang babak belur seperti yang
dikatakannya.
Tapi kalau memang iya, Naka memukuli siapa?
Jawaban atas pertanyaannya itu tidak lama Nasa temukan
saat membaca sebuah pesan masuk yang baru saja adiknya
kirimkan. Terburu, gadis itu bangkit dari duduknya. Dia
harus pergi saat ini juga.
"Nas mau ke mana?" teriakan Liana memanggilnya yang
sudah akan berlalu.
"Sorry guys, pamit duluan. Urgent." Nasa menjawab
terburu-buru.
From : Nakala Anugerah
Sebenarnya gue nggak mau kasih tau lo. Tapi gue takut
masuk penjara kalau orangnya beneran mati. Tadi gue bikin
Leo babak belur. Nggak tau deh, tapi kayaknya dia pingsan.
.
.
.
To Be Continued
(21/10/2022)
Masih ada yang belum tidur?
Uploadnya agak malem nih, semoga galaunya Nasa
nanti nggak kebawa mimpi yang baca ya hehehe
Dan seperti biasa, part baca duluan udh update di
KaryaKarsa ^^
Sampai bertemu di part selanjutnya!
TIGAPULUHSEMBILAN
Sehari sebelum reuni ...
"Nanas ...!"
Nasa menoleh saat Papinya memanggil. Gadis itu
menutup kulkas dengan memegang botol kaca berisi air
mineral di tangannya. Beralih ke meja dapur dan mengambil
gelas lalu menuangnya ke sana. Membiarkan Papinya yang
ikut masuk ke dapur.
"Nanas hari ini ke panti lagi?" tanya Saka.
Nasa mengangguk. Hampir seminggu dia rutin
mengunjunginya.
"Pergi sama Naka?" tanya Saka lagi.
Nasa mengangguk lagi. "Kenapa, Pi?"
"Jangan pulang malem-malem, ya."
Belakangan ini Nasa memang pulang malam. Dia
keasyikan menyusun buku atau mengajari anak-anak panti
pelajaran sekolahnya.
"Memangnya kenapa, Pi?" tanya Nasa lagi. Biasanya
Papinya itu tidak mempermasalahkan. Toh, Saka tahu Nasa
ada di mana dan Naka lah yang mengantar jemputnya.
"Nanti malem Papi mau ajak Nanas pacaran."
Nasa terkekeh kecil. "Pacaran ke mana? Nanti Mami
cemburu."
Saka berdecak. "Udah pokoknya sebelum magrib nanti
harus udah sampai rumah. Papi mau ajak kamu kencan."
Setelah itu, Saka pergi dari dapur, meninggalkan Nasa
seorang diri.
Nasa mengambil duduk di stool bar dapurnya. Sembari
meminum air dingin dan menatap lurus ke depan dengan isi
kepala yang berlalu lalang di tempat lain. Papinya tidak
berkata apa-apa selama hampir seminggu ini setelah
kepulangan Nasa dari rumah Sana. Juga bersikap seolah
biasa saja saat Nasa mengemasi barang-barangnya dari kos
dan membawa pulang ke rumah.
Kecil kemungkinan Papinya tidak tahu apa yang terjadi
dengannya. Apalagi, Naka dan Kana yang ikut menginap di
rumah Sana beberapa waktu lalu untuk menemaninya.
Papinya itu sangat protektif dengan anak-anaknya—apalagi
dengan si bungsu. Bahkan untuk menginap di rumah Sana,
Kana perlu menulis alasan terperincinya. Jadi, dipastikan
Saka tahu tentang permasalahannya. Masalah hati,
maksudnya.
Nasa meminum lagi air dinginnya. Ikut terasa dingin
sampai ke kepala. Biasanya saat-saat seperti ini, Nasa butuh
es krim. Namun sejak hari patah hati terbesarnya itu, Nasa
mendadak tidak menyukai makanan manis. Dan juga ...
ayam. Gadis itu kehilangan banyak selera makannya. Makan
seadanya saja hanya agar tubuhnya tetap sehat. Dia juga
sudah tidak lagi mengemil.
Patah hati ternyata sedahsyat itu mengguncangnya.
*__*
"Ternyata begini rasanya jadi anak muda." Saka
bergumam, mengamit pop corn dan juga cola yang baru
saja dibelinya.
Nasa mengambil satu keping berondong jagung itu dan
mengunyahnya. Sembari menatap sang Papi yang sibuk
duduk di kursi tunggu sedang memfoto makanan ringan itu.
"Buat laporan ke Mami kamu," katanya.
Nasa diam saja mengamati. Hanya menaikkan kedua
jarinya berbentuk 'v' saat Saka mengarahkan kamera
kepadanya. Setelah itu, Papinya sibuk kembali dengan
ponsel.
Malam ini, Saka ternyata mengajaknya menonton bioskop
berdua. Membeli tiket yang masih akan tayang 30 menit
lagi sehingga mereka duduk di kursi tunggu sembari
mengemil popcorn yang Nasa pastikan akan habis sebelum
mereka masuk ke dalam teater nanti.
"Mami kamu pasti iri, nih, nggak Papi ajak ke sini," ujar
Saka lagi.
"Lagian kenapa malah ajak Nasa? Kenapa Papi nggak ajak
Mami aja nonton bareng?"
Saka menatap Nasa. Mengambil berondong jagung dan
menyuapkannya pada sang putri. "Kan planning Papi hari ini
mau kencan sama anak gadis Papi yang cantik ini. Lagian
Mami kan lagi sibuk banget tuh, sampe kalo Papi chat
balesnya lama."
Nasa terkekeh tipis.
"Nanas, mau bagaimana? Internsip kamu udah selesai.
Mau lanjut spesialis, kan? Mau ke mana? Ke UI?"
Nasa mengunyah makanannya kemudian menggeleng.
"Mau rehat dulu, Pi."
"Rehat gimana maksudnya? Mau kerja dulu? Mami bilang
kamu cerita ke Mami mau kerja dulu satu tahun?"
Nasa tidak menyahut.
"Boleh kalau mau kerja dulu. Di rumah sakit Papi buka
lowongan. Atau kalau mau di klinik, klinik teman Papi lagi
buka untuk dokter umum."
Nasa menyedot kolanya. Gadis itu lalu mengeluarkan
ponsel, mengotak atiknya sebentar dan menyerahkannya
pada Saka.
"Nasa mau ikut ini."
Saka menerima ponsel itu kemudian mengernyit saat
menatap isinya. "Relawan medis?" pria itu menatap Nasa
meminta konfirmasi lebih lanjut.
Nasa mengangguk yakin.
Saka yang geleng kepala. "Enggak, Nasa. Papi nggak
kasih izin." Pria itu mengembalikan lagi ponselnya pada
sang putri.
"Pi ... Nasa udah yakin."
"Yakin bagaimana? Kamu ambil keputusan ini saat lagi
patah hati, kan? Enggak! Papi nggak kasih izin. Nggak bisa
dibantah lagi." Saka menatap Nasa tegas. Bagaimana dia
bisa memberikan izin Nasa menjadi relawan medis ke
negara konflik?
"Pi, nggak langsung berangkat. Masih ada tiga bulan lagi
untuk pembekalan. Lagi pula akan ada seleksi dulu. Nasa
ambil keputusan ini bukan semata-mata lagi patah hati.
Nasa memang mau, ke sana, Pi."
Saka kekeh menggeleng. "Enggak, Nasa. Papi nggak kasih
izin."
Pria empat anak itu menatap putrinya lemas. Siapa juga
yang tidak akan lemas mendengar anaknya mau menjadi
relawan medis ke negara konflik yang sewaktu-waktu bisa
diserang senjata.
"Papi nggak akan minta kamu untuk tetap di Jakarta kalau
memang kamu nggak mau di sini. Atau kamu mau lanjut
PPDS di UGM? Papi akan langsung hubungi Papa Daffa. Dia
pasti senang kamu tinggal di sana. Di Surabaya juga nggak
apa-apa. Ada Budeh Irene di sana. Atau kamu mau kost di
Semarang? Papi kasih izin. Bahkan kalau kamu mau tinggal
sama Keanna dan lanjut spesialis di Singapura juga Papi
kasih. Tapi nggak untuk jadi relawan medis di negara
konflik."
"Pi ..."
"Enggak, Nasa. Enggak. Kamu nggak kasihan sama Papi?
Papi udah tua, Nas. Kamu mau buat Papi nggak bisa tidur
sepanjang hari karena mikirin kamu di sana?"
Nasa menunduk. Selama hampir seminggu ini, Papinya
memang terlihat biasa saja. Namun Nasa tahu, Papinya
sering bangun di tengah malam dan membuka pintu kamar
Nasa hanya untuk memastikannya baik-baik saja di dalam
sana.
*__*
"Memangnya lo harus ya, Nas, ikutan relawan itu?" Naka
menatap Kakaknya sembari mengemudikan mobilnya.
Nasa menghela napasnya. Kabar mengenai info Nasa
yang ingin menjadi relawan medis ke negara konflik sudah
menyebar ke seisi rumah. Tentu saja ulah Papinya. Saka
memberi tahu seluruh anggota keluarganya agar bersama-
sama membujuk Nasa untuk mengurungkan niatnya itu.
"Kan ada kegiatan lain yang bisa lo ikutin, Nas." Naka
melirik kakaknya lagi. "Lo kan suka belajar, ya lo belajar aja.
Ya gue tau sih, lo pinter. Tapi kan ujian masuk PPDS juga
susah, Nas. Mending lo belajar aja."
Nasa tidak menyahut.
"Atau ya kalau mau kerja, lo kerja. Kalau nggak mau di
rumah sakit tempat Papi, di mana kek yang buka loker. Papi
bahkan udah acc kalau lo mau lanjut spesialis ke luar kota
atau bahkan luar negeri. Kalau memang mau keluar negeri,
ya udah lanjut spesialis aja. Ke Singapura sama Keanna."
Nasa masih tidak menyahut. Baru saja info itu menyebar
tadi malam. Pagi-pagi tadi, Maminya sudah masuk ke
kamarnya mengkonfirmasi hal itu. Memang belum bicara
banyak, tapi dari raut wajahnya, Nasa meyakini bahwa
Mami juga sulit memberikan izin.
"Lagian kenapa bisa kepikiran sampai mau ke sana
segala, sih, Nas?" Naka saja bahkan tidak mengerti dengan
jalan pikiran kakaknya sendiri.
Well, rencana Nasa ingin menjadi relawan medis ini tentu
sudah hasil pemikirannya yang matang. Awalnya, dia
melihat info penerimaan relawan medis ini dari Liana
bahkan sebelum masa internsipnya usai. Awalnya pun, Nasa
hanya meliriknya sekilas karena dia sama sekali belum
terpikiran untuk gabung. Tidak dipungkiri alasan
terbesarnya untuk gabung adalah karena Nasa patah hati.
Ya, Papinya benar.
"Memangnya nggak bisa, lo kayak Sana aja? Belanja,
liburan, party-party di Bali, ngabisin duit Papi. Gue rasa, Papi
nggak akan marah sama sekali kalau lo habisin uangnya,"
ujar Naka lagi. Mengingat kembali bagaimana Sana yang
kalau patah hati pasti mengeruk kekayaan Papi mereka
dengan dalih ingin healing dan menyembuhkan diri dari
sakit hati. Bedanya, Nasa baru sekali ini patah hati
sedangkan Sana, sering. Mantan pacarnya banyak soalnya.
Nasa masih tidak menyahut membuat Naka diam kembali.
Malam ini, ia berkendara membawa mobil kesayangannya
untuk mengantar Nasa ke acara reuni bersama teman-
temannya. Sesekali, anak lelaki satu-satunya di keluarganya
itu melirik sang Kakak yang wajahnya terlihat datar seperti
biasa. Namun Naka tentu tahu, banyak hal yang Nasa pikiri
di dalam sana.
"Oh ya, Nas." Naka memanggil Kakaknya lagi, membuat
Nasa menoleh sebentar. "Besok gue ada kegiatan di kampus
jadi nggak bisa anterin lo ke panti. Lo di antar sama sopir
aja besok."
"Gue pergi sendiri aja," sahut Nasa.
Naka menggeleng. "Diantar sopir. Gue udah bilang Pak
Budiman buat antar lo ke panti besok. Pulangnya gue bisa
jemput."
Nasa hanya menghela napasnya pasrah. Ya sudah, lagi
pula, Nasa sedang tidak ingin menyetir sendiri. Mereka diam
lagi, sampai kemudian sebuah kalimat yang Naka ucapkan
menjadi kalimat terakhir dari perbincangan senyap mereka
sebelum Nasa turun dari mobil dan masuk ke dalam
restoran tempat acara reuninya.
"Gue kan belum sumdok ya, Nas. Kalau gue pukulin orang,
gue nggak wajib untuk mengobati dia, kan? Lagian gue kan
calon dokter gigi."
*__*
Nasa terburu-buru datang ke apartemen Leo. Usai
membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya dari sang
adik. Menyetop taksi di jalan dan segera bergegas. Gadis itu
langsung menaiki lift dan menuju lantai tempat di mana unit
apartemen Leo berada. Hingga kini, Nasa justru terdiam di
depan pintu merasa bimbang apakah akan membunyikan
belnya atau tidak.
Satu minggu, dia tidak bertemu dengan laki-laki itu. Tidak
ada juga komunikasi yang tercipta di antara keduanya. Leo
masih tidak menghubunginya sama sekali.
Nasa masih diam di depan pintu. Namun saat mendengar
sedikit suara di baliknya seolah akan ada orang yang
datang, Nasa justru berlari. Memilih bersembunyi di balik
tembok di ujung lorong agar tidak terlihat. Gadis itu
mengintip sedikit. Terlihat Adel baru saja keluar dari
dalamnya, di antar Leo sampai depan pintu.
Ah, Nasa bodoh sekali.
Untuk apa dia datang ke tempat ini? Leo memiliki Adel
yang bisa mengobati luka-lukanya. Leo memiliki gadis yang
dicintainya. Nasa sama sekali tidak diperlukan.
Gadis itu kembali bersembunyi. Membiarkan Adel lebih
dulu masuk ke dalam lift. Kemudian dengan gontai, Nasa
justru membuka pintu tangga darurat yang ada di
sampingnya. Gadis itu akan turun dengan tangga saja.
"Nasa, tunggu!"
Nasa membalikkan tubuhnya saat suara keras seseorang
memanggilnya. Kemudian sebuah tangan yang menahan
lengannya dengan deru napas yang tidak beraturan. Leo
berdiri di depannya. Dengan wajah babak belur yang
tampak sudah diobati.
"Lukaku belum sembuh. Masih ada beberapa yang harus
diobati."
.
.
.
To Be Continued
(25/10/2022)
Tidak bisa ber-word-word lagi.....
Silakan tuangkan kegundahan kalian dengan Nasa
atau pun Leo di sini
Boleh juga kekaguman karena sangat mengagumi
Rysaka yang is the best hehehehe
Sampai ketemu jumat!
Eh lupa, kirain spoiler ini udah keluar di jumat
kemarin ternyata belum wkwkwk
Spoiler buat hari jumat yang udah aku posting di
KaryaKarsa liat di instagramku aja yaa hihi
Sampai ketemu!
EMPATPULUH
Nasa dapat melihat bekas salep di luka-luka wajah
Leo. Pria itu bonyok lagi. Dan Nasa tahu, kali ini karena
perbuatan adiknya sendiri. Gadis itu memutuskan untuk
mengikuti Leo masuk ke apartemennya saat Leo memegang
lengannya tadi. Memeriksa sekali lagi luka-luka di wajahnya
yang sebenarnya tidak begitu banyak. Dia juga hanya
memerhatikan dari jauh, tidak seperti biasanya yang akan
mengusap wajah Leo dengan lembut.
Suasa hening meliputi keduanya. Nasa yang dalam
diamnya mengamati wajah Leo dan begitu juga sebaliknya.
Namun bedanya, Nasa mengamati Leo untuk memastikan
luka-lukanya sedang Leo ... Nasa tidak mau berpikir apa arti
tatapan laki-laki itu. Yang dia tahu, ada orang lain—gadis
yang dicintai Leo—yang telah mengobati memar-memar ini.
"Maaf." Leo bergumam pelan.
Nasa menatap matanya. Beradu tatap antara mereka
sebelum Nasa memutuskannya lebih dulu. Gadis itu
menarik tubuhnya menjauh. Bersiap pergi setelah
memastikan tidak ada kondisi yang begitu
mengkhawatirkan dari babak belur Leo di wajahnya. Naka
masih cukup baik tidak memukulnya di area-area fatal.
"Maaf, Nasa." Leo memegang tangannya lagi, seraya
menghentikan Nasa yang sudah akan undur diri.
Gadis itu diam. Sebisa mungkin menahan seluruh apa
yang sedang ditahannya saat ini. Lalu dengan seluruh
pertahanannya, Nasa kembali menatap mata indah milik
laki-laki tampan di hadapannya.
"Mau kamu apa, Leo?" tanya Nasa pelan. Berusaha
melepaskan tangannya dari pegangan Leo yang cukup erat.
"Aku mau kamu di sini."
"Untuk apa?"
Leo menunduk. Menarik napasnya dalam masih dengan
tidak membiarkan Nasa melepaskan tangannya.
"Aku ingin bersama kamu, Nasa," kata pria itu.
"Aku nggak mengerti maksud kamu."
Leo menaikkan kepalanya, menatap Nasa dengan
tatapannya yang seakan dapat membuat gadis itu
terhanyut hingga Nasa memilih untuk membuang wajah.
"Aku ingin bersama kamu. Tapi aku mohon, tunggu aku
sebentar lagi."
Nasa memejamkan matanya. Dia benci perasaan saat dia
merasa begitu lemah di hadapan orang lain seperti ini.
Bibirnya yang sedikit demi sedikit bergetar menahan tangis.
Nasa tidak suka menangis. Dia tidak menghendaki dirinya
untuk menangis.
"Maaf, Nasa. Aku tahu permintaanku terlalu banyak. Aku
juga sudah menyakiti kamu. Tapi aku mohon, kasih aku satu
kesempatan lagi. Aku mohon tunggu aku sebentar lagi. Aku
... ingin terus bersama kamu."
Nasa menarik tangannya lagi. Kali ini lebih keras dan
tegas dari sebelumnya. Gadis itu lalu merogoh tasnya.
Mengambil sebuah plester luka yang kemudian dibukanya.
Nasa mengambil tangan Leo, menempelkan plester itu pada
punggung tangannya.
"Ini terakhir kalinya aku mengobati luka kamu," kata gadis
itu pelan. "Kamu bisa cari dokter lain. Atau sebenarnya
nggak perlu karena kamu sudah memiliknya."
Leo menggeleng. Kembali menggenggam tangan Nasa
begitu erat. "Enggak, Nasa. Aku nggak butuh orang lain. Aku
butuh kamu."
Nasa tersenyum tipis lalu berujar, "kalau begitu, kamu
harus belajar untuk mengobati diri sendiri. Aku pikir aku
cukup pintar untuk menjadi seorang dokter. Tapi sekarang,
aku justru ikut terluka dengan pasienku sendiri."
Atau mungkin ... juga lebih dari itu.
"Aku sudah bertahan semampuku. Aku juga perlu untuk
mengobati diriku sendiri."
"Nasa ... maaf. A—aku ...."
Nasa menggeleng. "Tolong, jangan minta maaf. Jangan
katakan apapun lagi. Jangan berbuat apa pun lagi."
Karena saat ini, Nasa berada di tahap dia tidak butuh Leo
untuk melakukan apa-apa. Penjelasan, pembelaan,
pemujaan, atau bahkan permintaan maafnya. Semua hal
yang dilakukan Leo hanya akan terasa salah. Nasa seakan
dapat kembali merasakan sakitnya.
Dia tidak mau Leo melakukan apa pun karna itu hanya
akan semakin melukainya.
"Tolong, jangan lakukan apa pun. Apa pun. Kecuali satu,
tolong, jangan terluka lagi. Bagaimana pun, tolong, hidup
dengan baik."
Nasa pergi setelah itu. Tidak lagi berniat menatap wajah
Leo untuk yang terakhir kalinya. Dia hanya ingin segera
pergi dari sini. Menangisi hati dan perasaannya yang
dengan bodohnya masih tidak bisa untuk tidak peduli
dengan pria itu.
Seharusnya Nasa mengoyak Leo, mencabik-cabik
tubuhnya sebagai balasan atas sakit hati yang ia rasakan.
Seperti apa yang ia janjikan pada dirinya sendiri dulu saat
memutuskan untuk jatuh cinta dan merasakan sakit
setelahnya. Tapi dari semua itu, Nasa masih tidak ingin Leo
terluka—terlepas dari apa yang pria itu lakukan padanya.
Dia ingin Leo hidup dengan baik. Meski tanpanya, dan tanpa
Nasa bisa melihat itu semua.
*__*
"Besok ulang tahun kamu dan Sana. Tapi kamu malah
mau pergi seperti ini." Saka menatap putrinya begitu sedih.
Koper-koper Nasa yang sudah disiapkan dan tinggal dibawa
gadis itu pergi.
Nasa berdiri dari duduknya. Menghampiri tempat Papinya
duduk dan memeluk pria paruh baya itu begitu erat.
"Anak gadis Papi sudah sebesar ini."
Nasa tahu tubuh Papinya bergetar. Begitu juga yang ia
rasakan dan air matanya yang jatuh menetes mengenai
pipi. Nasa berubah jadi gadis cengeng sekarang.
Buru-buru gadis itu mengusap pipinya. Menghilangkan
jejak air matanya di sana.
"Nggak bisa, kamu tunda besok aja perginya? Kita
rayakan ulang tahun kamu dan Sana bareng-bareng seperti
biasanya," pinta Saka selepas pelukan mereka.
Nasa tersenyum kecil. "Kita masih punya tahun depan,
Papi."
Saka menarik napasnya dalam. Menggenggam tangan
putri sulungnya begitu erat. Begitu takut kehilangan.
"Kapan pun. Kapan pun kamu mau pulang, hubungi Papi.
Kapan pun, jam berapa pun, sejauh apa pun, Papi akan
datang menjemput kamu." Saka sedikit menyeka matanya.
"Baik-baik di sana. Jangan lupa makan, tidur yang nyenyak.
Jangan lupa ibadah. Sehat-sehat terus ya, Sayang. Terus
hubungi Papi kapan pun kamu bisa."
Nasa mengangguk. Senyumnya menguar lagi
menyampaikan pada sang papi bahwa dia akan menepati
janjinya.
"Papi juga. Jangan begadang. Jaga kesehatan. Jangan
pikirin Nasa terus. Nasa janji akan baik-baik aja di sana."
Nasa memeluk lagi ayahnya.
Gadis itu lalu menatap anggota keluarganya satu persatu.
Berkumpul semua seakan mengantar kepergiannya.
Maminya yang kemudian tersenyum sembari membuka
lebar tangannya. Menyambut Nasa untuk masuk ke dalam
pelukannya.
"Kamu nggak perlu khawatirkan Papi, khawatirkan Mami,
adik-adik kamu. Selama kamu baik-baik aja di sana, kami
juga akan juga akan baik-baik di sini."
Nasa mengangguk mendengar bisikan kecil dari Maminya.
Lalu kini, gadis itu beralih menatap adik laki-laki satu-
satunya, juga adik bungsunya yang berdiri bersebelahan.
Nasa langsung memeluk keduanya bersamaan.
"Jaga Papi dan Mami. Jaga adik kamu juga," ujar Nasa.
Naka mengangguk, balas memeluk Kakaknya.
"Adek juga jangan sering ngambek. Kasian Papi pusing
kalau Adek ngambek terus," petuah Nasa pada adiknya
yang lain.
Kana cemberut. Namun meski begitu, gadis remaja itu
mengangguk. Mengusap air matanya yang jatuh seakan
sedih akan berpisah dari sang Kakak.
Selepas memeluk kedua adiknya, Nasa kini beralih
menatap saudara kembarnya yang sudah menangis begitu
kuat. Air matanya turun begitu banyak. Nasa tersenyum
kecil. Dia tidak pernah berpisah dari Sana lama-lama. Walau
Sana sering kelayapan liburan sana sini, tapi tidak pernah
sampai satu minggu. Tapi kini, mereka akan berpisah
selama beberapa bulan.
"Nanti kalau gue lahiran lo belum pulang bagaimana?
Anak gue nggak bisa ketemu Tantenya," kata wanita hamil
itu sesenggukan. Sana sudah memasuki trimester kedua
kandungannya.
Nasa menggeleng, memeluk kembarannya. "Gue janji,
akan di samping lo saat lo lahiran nanti."
Tangis Sana semakin deras. Begitu juga Nasa yang
kembali meneteskan air matanya. Dia tahu, bagaimana
Sana yang ikut pusing dengan masalahnya. Masalah Adel.
Wanita itu tentu berada di tengah-tengah antara kembaran
dan sahabat satu-satunya. Meski Nasa sudah meminta Sana
untuk tidak ikut pusing akan masalahnya. Dia juga meminta
Sana untuk tidak bertanya apa pun pada Adel terkait
masalahnya.
Nasa memaksa lepas dari pelukan Sana saat dirasa
wanita hamil itu semakin memeluknya begitu erat dan
menangis semakin keras. Sampai Bhumi membantu
menarik tubuh Sana yang memeluk Nasa. Mencoba
menenangkan istrinya yang sedang hamil. Nasa tersenyum
menatapnya. Dia tidak begitu mengkhawatirkan Sana
karena dia yakin, Bhumi akan menjaganya dengan baik.
Kini, Nasa menatap Anin. Merunduk dan memeluk
ponakannya itu dengan sayang.
"Jangan kebanyakan beli ikan. Kasian nanti ikan-ikan kamu
desek-desekan di dalam kolam."
Anin malah cemberut.
Kemudian Nasa beralih pamitan pada Bhumi. Meminta
laki-laki itu menjaga baik saudara kembarnya. Dan
setelahnya, Nasa benar-benar pamit. Membawa kopernya
keluar dari rumah dan memasuki mobil dengan sang sopir
yang sudah siap di dalam sana. Sengaja Nasa menolak
untuk diantarkan ke bandara oleh keluarganya. Dia ingin
menikmati perjalanannya ini seorang diri.
"Nasa pamit, ya. Sampai ketemu lagi."
*__*
"Pak, Bu, ada tamu di luar yang cari Non Nasa." Salah satu
ART di rumahnya menghampiri Saka dan Clarinna yang
sedang bersantai menonton TV di ruang keluarga.
"Siapa, Bi?" tanya Clarinna.
"Kurang tahu, Bu. Laki-laki, rambutnya panjang."
Tanpa bertanya lagi, Saka langsung bangkit. Melangkah
menuju pintu rumahnya untuk menemui tamu tidak diudang
itu. Keluar dari pekarangan rumah menuju gerbang tempat
di mana tamu itu berada. Tanpa bertanya, Saka sudah tahu
siapa tamu yang datang ke rumah. Kurang ajar sekali tamu
itu. Bisa-bisanya dia datang di hari ulang tahun Nasa seperti
ini.
"Ngapain kamu ke sini?!" Saka membentak tamunya yang
berkunjung.
"Om." Leo—si tamu itu menatap kedatangan Saka
tersenyum tipis. "Saya mau ketemu Nasa, Om."
"Mau ketemu Nasa kamu bilang?!" Wajah Saka diliputi
amarah. Mencengkram kerah baju yang Leo kenakan.
"Berani kamu mau ketemu anak saya?"
Saka benar-benar tidak mampu menahan amarahnya.
Seharusnya, malam ini ada pesta perayaan ulang tahun di
rumahnya. Namun kepergian Nasa kemarin membuat pesta
itu tidak diadakan.
"Pi ... lepas." Clarinna menyusul, menarik suaminya
menjauh. "Mami nggak mau ada keributan."
Saka awalnya tidak mau menurut. Namun istrinya kekeh
menarik tangannya. Juga putri bungsunya yang menyusul
dan memasang wajah takut melihat wajah ayahnya diliputi
amarah.
"Lebih baik kamu pulang sekarang." Clarinna berkata
pada Leo.
Saka hendak maju lagi, tetapi Kana, berhasil menarik
tangan Leo lebih dulu.
"Mas Leo pulang sekarang. Tolong. Kesehatan Papi
menurun. Kana nggak mau Papi kenapa-kenapa karena
marah sama Mas Leo." Kana menarik Leo menjauh dari
pagar. Berikut juga Clarinna yang sudah membawa
suaminya masuk.
"Aku ..."
"Kak Nasa nggak ada di rumah. Mas Leo nggak bisa
ketemu Kak Nasa selama beberapa bulan ini. Kana nggak
bohong. Percuma Mas Leo ke sini karena Kak Nasa nggak
ada di sini."
"Nasa ke mana?"
Tanpa sempat Kana menjawab, gadis remaja itu semakin
mendorong Leo menjauh ke arah mobilnya sendiri saat dia
melihat suara mobil Naka yang perlahan mendekat.
"Please, Mas Leo pulang aja. Itu mobil Mas Naka. Kana
nggak suka lihat orang bertengkar. Please."
Melihat wajah hampir menangis Kana, Leo pun akhirnya
memilih untuk menurut. Dia tahu kedatangannya ini
mungkin tidak akan disambut baik. Tapi setidaknya, Leo
harus melakukannya. Hari ini hari ulang tahun Nasa. Dia
ingin melihat wajah perempuan yang dicintainya itu.
.
.
.
To Be Continued
(28/10/2022)
Sampai ketemu hari selasaa!!!
Part baca duluan udh tayang di karyakarsa yaa^^
EMPATPULUHSATU
Dua Minggu Yang Lalu ....
Kedatangan Leo ini tentu dikejutkan dengan tangisan
adiknya juga wajah murka Oma di ruang tamu siang hari itu.
Oma berkata bahwa Gauda—tunangan adiknya telah
berselingkuh. Juga Oma yang langsung menuntut Leo soal
janji bahwa Adiknya akan bahagia bersama pilihannya.
Leo tentu khawatir dengan adiknya yang menangis. Dua
puluh lima tahun menjadi Kakaknya Adel, Leo jarang
mendapati adiknya itu menangis apalagi sejak dia
menginjak usia remaja. Apalagi, menangisi laki-laki. Leo
tentu tahu, Gauda adalah pacar pertama adiknya. Dan
mungkin saja, juga cinta pertamanya. Mereka tampak
bahagia selama ini. Menjalin kasih, bertunangan, dan
kemudian saat ini sedang menyiapkan acara pernikahan
mereka yang akan dilangsungkan beberapa bulan
kemudian.
Ini tidak seperti apa yang seharusnya terjadi. Hari ini Leo
memiliki agenda besarnya sendiri. Dengan ... Nasa.
"Nasa?" Leo menoleh. Hampir lupa dengan keberadaan
gadis yang datang bersamanya itu karena melihat adiknya
menangis. Juga khawatir tentang hal-hal lain yang sudah
disusunnya harus berantakan.
"Nasa?" Leo melihat gadis itu keluar dari pekarangan
rumah Omanya. Leo hendak mengejarnya, tetapi lengan
tangannya di tahan oleh Oma yang menatapnya dengan
marah.
"Kamu mau tinggalin Adel yang sedang menangis, Leo? Ini
yang kamu bilang kamu Sayang dengan dia dan mau dia
bahagia?"
Leo mengurungkan niatnya. Rencananya tentu sudah
hancur berantakan. Rencana untuk meminta restu Oma
sekali lagi untuk menjalin hubungan serius bersama Nasa.
Kini semua tidak pada semestinya. Suara tangis Adel, raut
amarah Oma, dan juga Nasa yang pergi.
Leo menarik napasnya dalam. Dia tidak bisa
menjangkaunya sekaligus.
"Lihat foto-foto ini!" Oma melemparkan beberapa lembar
foto ke atas meja. "Kamu masih nggak percaya kalau cowok
itu brengsek?!"
Leo mengambil lembaran foto itu. Melihat potret Gauda
dan gadis yang bermesraan di sana. Tentu itu bukan Adel.
Foto bukti perselingkuhan Gauda yang dikirim alih-alih ke
rumah Adel, justru ke rumah Omanya. Leo mengamati foto
itu. Kemudian mengamati adiknya yang terus menangis.
"Kamu percaya dengan foto-foto ini, Adel?" Leo menatap
adiknya lagi.
"Bagaimana nggak percaya?! Di situ jelas sekali kelihatan
bajingannya laki-laki itu!" Suara Oma terdengar lagi.
Leo menarik napasnya dalam. Sekali lihat, Leo paham
kalau foto ini editan. Dia lulusan IT dan bisa
mengoperasikan photoshop. Meski tidak terlalu mahir dan
mendalami ilmunya, tapi editan di foto ini tidak begitu
mulus dan terlihat tergesa-gesa saat melakukannya.
Leo tidak mengerti, Adiknya yang dewasa, kenapa justru
terlihat percaya dengan foto ini?
"Telepon Gauda sekarang! Kakak bicara sama dia,"
perintahnya pada sang Adik.
Adel hanya menangis. Tidak menyahuti apa pun dan
hanya menangis.
"Adel." Leo kembali mendekat pada sang adik.
Menggoyangkan pundaknya berupaya agar Adel
menatapnya.
Adel tidak melakukannya. Hanya terus menangis dan
mengabaikan panggilan Leo kepadanya. Suara di dalam
ruangan itu seakan bersahut-sahutan. Suara tangis Adel,
suara frustrasi Leo, dan suara marah Oma.
"Semuanya berakhir Kak! Semuanya berakhir!" Adel tiba-
tiba berteriak. Membuat Leo menjauhkan tubuhnya sedikit
terkejut. "Gauda pergi. Dia putusin hubungan ini begitu aja."
Adel melemparkan ponselnya ke atas sofa. Kemudian
berlari keluar dari rumah Omanya.
Leo mengambil benda pipih itu. Menyalakan layar dan
mendapati room chat antara Gauda dan Adel dan pesan
yang terakhir dikirimnya.
From : Sayang
Aku selingkuh. Maaf. Kamu bisa cari yang lebih baik.
*__*
Hampir seminggu ini, kepala Leo dipenuhi oleh berbagai
hal. Namun fokus utamanya adalah membawa Gauda
kembali dan berlutut pada adiknya. Dia harus mendapatkan
laki-laki itu untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang
terjadi sebenarnya. Leo percaya, Gauda tidak sebrengsek
itu untuk meninggalkan Adel. Atau lebih tepatnya, Leo
sudah sangat frustrasi dan mencari Gauda adalah solusi
untuk menyelesaikan semuanya.
Hari ini, dia akan kembali lagi melanjutkan pencariannya.
Namun sebelum itu, ada satu hal yang harus Leo lakukan.
Satu hal yang menjadi rutinitasnya belakangan ini. Pria itu
masih mengendarai mobilnya. Menuju satu tempat yang
sejak kemarin didatanginya. Sebuah rumah besar yang
hanya bisa diamatinya dari luar. Namun belum sampai
tempat tujuannya, Leo mendadak meminggirkan mobilnya
dan keluar dari sana.
"Kana?" Leo memanggil seorang gadis yang tadi
dilihatnya di jalan. Sedang berjalan kaki diikuti oleh seorang
laki-laki dan tampak sangat ketakutan.
"Mas Leo." Kana berlari kecil, memegang lengan Leo
begitu erat seolah menyembunyikan diri di sana.
"Lo siapa?" Leo bertanya pada laki-laki yang mengikuti
Kana. Bukannya menjawab, laki-laki itu kemudian pergi
begitu saja.
Leo kemudian berbalik badan. Menatap Kana yang
menunduk begitu dalam. Jari-jarinya saling bertautan di
depan tubuhnya.
"Dia mengganggu kamu?" tanya Leo.
Kana tidak menjawab.
"Ayo, aku antar ke rumah."
Kana menurut saja. Masuk ke dalam mobil Leo, begitu
juga pria itu yang langsung duduk di kemudinya.
Melanjutkan laju mobilnya bergerak ke tempat tujuan
awalnya. Mereka saling diam di dalam mobil sampai Leo
menghentikan mobilnya di seberang rumah besar yang rutin
dikunjunginya ini.
"Kana benci Mas Leo udah buat Kak Nasa menangis. Tapi
terima kasih sudah menolong Kana hari ini."
Leo menoleh ke samping tempat di mana Kana duduk
menatapnya serius.
"Nasa ..." Leo bergumam pelan.
"Kana tahu Mas Leo sering datang ke rumah. Mas Leo juga
suka ikutin Kak Nasa ke panti diam-diam. Kak Nasa masih
tunggu Mas Leo untuk datang. Tapi kenapa Mas Leo nggak
datang juga?"
Leo mengalihkan tatapannya. Kembali memandangi
rumah besar yang terlihat dari balik kaca mobilnya. Rumah
yang hampir seminggu ini dikunjunginya dan diamatinya
dari kejauhan.
"Apa Nasa udah makan?" Leo bergumam pelan.
Tatapannya menyorot begitu dalam.
"Kak Nasa sekarang nggak suka makan. Harus disuapin
Mami dulu baru makan. Kak Nasa juga udah nggak suka kue
cokelat."
Leo menunduk. Memejamkan matanya. Dia sudah
menyakiti Nasa.
"Kana turun dulu." Kana hendak membuka pintu mobil,
namun tangan Leo lebih dulu menghentikannya.
"Laki-laki tadi, sering ganggu kamu?" tanya laki-laki itu.
Kana menunduk. "Dia teman sekolah Kana." Gadis remaja
itu kemudian kembali menatap Leo. "Mas Leo tolong jangan
bilang-bilang sama siapa pun. Kana udah lulus SMA dan
sebentar lagi mau masuk kuliah. Dia pasti berhenti ganggu
Kana setelah ini. Kana nggak suka ribut-ribut."
Leo mengambil kartu namanya dari dalam kantong dan
menyerahkannya pada Kana. "Ini nomor teleponku. Kamu
bisa hubungi aku kalau dia ganggu kamu lagi."
Kana menerima kartu ini. Menatapnya sekilas, menatap
Leo, lalu membuka pintu mobilnya. Sebelum menyeberang
jalan dan membuka pagar rumahnya, Kana kembali
menatap mobil itu. Leo jahat, tapi dia baik. Kana ... bingung.
*__*
Leo tidak tahu bahwa bukan hanya Kana yang
mengetahui keberadaannya, tapi juga Naka, yang saat ini
menatapnya dengan tajam. Adik laki-laki Nasa itu tiba-tiba
saja mendatangi mobilnya yang Leo parkiran beberapa
meter jarak dari rumah besar keluarganya itu. Mengetuk
kaca mobilnya dan menyuruh Leo keluar dari sana.
"Gue pengen banget lakuin ini dari kemarin." Tanpa Leo
bisa menghindarinya lebih dulu, Naka memukul wajahnya
begitu saja. Berkali-kali dan bertubi-tubi.
Hingga beberapa saat Leo mampu menahan tangannya,
barulah laki-laki itu menarik diri. Kembali menatap wajah
babak belur Leo akibat ulahnya masih dengan berapi-api.
Naka hendak memukulnya lagi, tapi kali ini Leo berhasil
menghindar. Menyingkirkan kepalan tangan itu agar tidak
mengenai wajahnya.
"Aku nggak suka wajah kamu babak belur begini.
Pokoknya, mulai detik ini, kalau kamu babak belur lagi, aku
nggak akan mau mencium kamu lagi."
Suara amarah namun terdengar merdu itu mengalun di
telinganya. Membuat Leo semakin berani menangkis tangan
Naka dan menghindari lagi pukulannya. Lagi-lagi, suara
merdu itu berhasil membuat Leo mampu untuk menangkis
pukulan seseorang. Pukulan om-omnya yang sudah tidak dia
biarkan lagi mengenai tubuhnya, dan kini pukulan Naka—
meski Leo harus terkena beberapa dulu karena dia tidak
siap dengan serangan mendadak dan bertubi-tubi itu.
"Gue kasih satu kesempatan. Lo tahan Nasa di sisi lo
sekarang atau lo nggak akan pernah liat dia lagi
selamanya."
Naka kemudian pergi begitu saja setelah mengucapkan
apa yang ingin diucapkannya. Ancaman sekaligus
permintaannya pada Leo. Laki-laki itu juga sudah hampir
kehabisan akal tentang bagaimana agar Kakaknya
mengurungkan niat menjadi relawan medis ke negara
konflik. Dan semoga saja, Leo benar-benar mampu
menghentikan niatnya.
Namun Leo tentu tidak mengerti dengan apa yang Naka
ucapkan. Soal keinginan Nasa yang hendak mendaftarkan
diri menjadi relawan medis. Dia tentu berkeinginan untuk
menempatkan Nasa berada di sisinya, selamanya. Tapi itu,
bukan sekarang. Dia perlu beberapa waktu lagi untuk
menemui Nasa dan memberikan hal terbaik yang bisa ia
tawarkan.
*__*
"Kakak dipukuli lagi? Kakak dipukuli lagi sama orang-
orang itu?" Adel mengekori Kakaknya dan bertanya dengan
khawatir. Mendapati wajah Leo yang babak belur di
apartemennya sendiri tentu bukanlah hal yang baik.
"Enggak, Adel. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan."
Adel berdecak. Gadis itu pergi mencari kotak obat dan
kembali untuk mengobati luka-luka yang ada di wajah
Kakaknya.
"Kakak tadi ketemu Naka," beritahu Leo.
"Naka? Adiknya Sana?"
Leo mengangguk. "Kakak ketahuan dan tiba-tiba dia
pukuli Kakak begini." Leo tersenyum kecil. "Nggak apa-apa.
Kakak memang layak mendapatkannya."
"Lebih baik Kakak berhenti." Adel menunduk. "Kakak
harus mulai cari kebahagiaan Kakak sendiri. Berhenti pikirin
aku. Dan berhenti cari laki-laki bajingan itu."
"Adel kamu tau kalau foto itu nggak benar." Leo menatap
Adiknya serius.
"Apa pun alasannya, artinya cuman satu. Dia sudah nggak
menginginkan aku lagi."
Leo menarik napasnya dalam.
"Keadaannya udah semakin buruk. Sana udah benci sama
aku, dia juga benci Kakak." Dua hari setelah kejadian itu,
Sana mendatangi rumahnya. Berniat mencari tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Namun bukan bertemu dengan Adel
atau Leo, Sana malah bertemu dengan Oma Sarah.
Kemudian tanpa bisa dicegah, Oma Sarah mengatakan apa
yang ada di dalam kepalanya.
Sana tentu murka mendengarnya. Merasa dibodohi
dengan sahabatnya sendiri. Merasa sangat bersalah karena
sudah mendukung Leo dengan saudara kembarnya karena
ternyata, dari yang Oma Sarah katakan padanya, Leo
mencintai Adel sejak dulu. Saat itu, Sana juga bertemu
dengan Leo saat hendak pulang. Dia juga sempat
menampar wajah Leo dan hendak akan melayangkan
pukulan tangannya lagi sebelum kemudian Sana merasakah
sakit pada perutnya. Bhumi yang mendampinginya saat itu
langsung membawa Sana pergi dan melarang Leo untuk
menemui istrinya.
Sejak kejadian itu juga, Sana memblokir nomor Adel. Dan
Bhumi juga melarang Adel untuk menemui Sana sementara
waktu karena kandungannya melemah. Sana ikut resah
dengan masalah Nasa dan Bhumi mau istrinya untuk
istirahat total dulu.
"Kakak nggak perlu pikirin Oma. Nggak perlu pikirin aku.
Cukup pikirkan diri kakak aja. Aku janji, tanpa laki-laki sialan
itu, aku akan bahagia."
Leo tersenyum kecil. Mengusap kepala adiknya dengan
sayang. Tentu dia tidak bisa hanya memikirkan dirinya
sendiri.
"Udah malam. Kakak lebih baik istirahat." Adel menutup
kotak obatnya usap mengobati luka-luka di wajah kakaknya
itu.
Gadis itu berdiri. Diantar Leo menuju pintu keluar. Adel
kemudian berpamitan. Beriringan dengan harum familiar
yang terasa khas tercium indra penciumannya.
Nasa ada di sini. Leo tahu itu.
.
.
.
To Be Continued
(01/11/2022)
Akhirnya POV Leo ini muncul juga!!!
Jadi tau kan alasan Naka bilangin kakaknya kalau
dia pukulin Leo hahahaha
Bujang satu itu emg baik sekali tapi sayang
jodohnya belum ketemu :")
Panjang sekali loh part ini 😁😁
Sampai ketemu hari Sabtu bestie!
EMPATPULUHDUA
Sudah berapa lama dia tidak menatap wajah cantik ini dari
dekat?
Satu minggu ini Leo hanya bisa berpuas dengan
mengamati Nasa dari jauh. Mengikuti kegiatan gadis itu
yang bermain dengan anak-anak panti di sela-sela
kegiatannya mencari Gauda. Rasanya, hari demi hari yang
berlalu tanpa mendengar suara Nasa sangatlah tidak bagus.
Leo sangat merindukan segalanya yang ada pada
perempuan itu.
Dia tahu, dia sudah menyakiti Nasa. Membuat Nasa
kecewa dengan membiarkannya pergi begitu saja. Leo tahu
dia bersalah dan tidak memiliki pembelaan apa pun dengan
itu semua. Dia terlalu memikirkan bagaimana adiknya yang
menangis dan juga rencananya yang dipastikan gagal total.
Padahal inti dari rencana itu adalah gadis cantik di
depannya ini.
"Ini terakhir kalinya aku mengobati luka kamu," kata gadis
itu pelan. "Kamu bisa cari dokter lain. Atau sebenarnya
nggak perlu karena kamu sudah memiliknya."
Leo menggeleng. Dia sudah hampir benar-benar sehat.
Nasa adalah dokternya yang sangat kompeten. Mengobati
segala hal yang bersarang di diri Leo sejak dulu.
"Aku sudah bertahan semampuku. Aku juga perlu untuk
mengobati diriku sendiri."
Tapi kini, dia yang justru menikam dokternya sendiri.
Dia tahu dia menyakiti Nasa. Tapi dia masih tetap egois
untuk memintanya menunggu sebentar lagi. Benar-benar
sebentar lagi sampai dia bisa memberikan segala hal
terbaik di dunia ini untuk dunia mereka.
"Tolong, jangan minta maaf. Jangan katakan apa pun lagi.
Jangan berbuat apa pun lagi."
Dia benar-benar sudah sangat mengecewakan Nasa.
"Tolong, jangan lakukan apa pun. Apa pun. Kecuali satu,
tolong, jangan terluka lagi. Bagaimana pun, tolong, hidup
dengan baik."
Bahkan pun begitu, Nasa tetap mengharapkan yang
terbaik untuknya.
Leo berjanji, ini tidak akan lama. Dia akan datang kembali
dan berlutut pada Nasa. Leo sangat menginginkan gadis itu.
Sejak dulu. Sejak pertama kali Leo menemukannya.
*__*
"Bunda jangan seperti ini. Mereka adik kakak. Mil tahu
Bunda sayang dengan Leo dan Adel. Tapi bukan seperti ini,
Bunda. Mereka punya kehidupan masing-masing."
Suasana dalam ruangan itu terasa begitu mencengkam.
Emila yang masih berusaha membujuk mertuanya dan Oma
Sarah yang terlihat keras dengan pendiriannya.
"Mil juga sayang dengan Adel. Mil juga ingin yang terbaik
untuk Adel. Kalau itu memang bukan Gauda, ya sudah,
nggak apa-apa. Adel masih muda. Perjalanannya masih
panjang. Dia akan bertemu laki-laki baik nanti yang bisa
mendampingi dia. Tapi bukan Leo. Bukan Kakaknya. Leo
punya hidupnya sendiri. Dia punya cintanya sendiri."
Wajah Sarah masih mengeras. Sama seperti pendiriannya
yang tetap kekeh menginginkan Leo dan Adel untuk
bersama.
"Bunda kenal Nasa. Nasa gadis yang baik. Kita kenal
dengan keluarganya. Mereka orang yang baik, Bunda. Dan
yang paling penting, dia gadis yang diinginkan Leo. Dia
gadis yang dicintai Leo."
"Leo cinta dengan Adel. Itu yang dia katakan pada
Bunda." Sarah menatap menantunya keras.
Emila mengangguk. "Iya. Leo sangat mencintai
keluarganya. Leo sangat mencintai kita. Dia mencintai Adel
seperti dia mencintai Bunda, seperti dia mencari Mil. Bunda
tentu paham dengan itu. Jangan begini, Bunda. Mil sayang
dengan Adel dan Leo sama besarnya. Mil juga sayang
dengan Bunda. Tolong, jangan begini."
"Keputusan Bunda tetap sama."
"Kenapa Oma nggak pernah benar-benar pikirin perasaan
aku dan Kakak? Apa Oma benar-benar sayang dengan aku
dan Kakak?" Adel ikut berujar. Menatap Sarah dengan
matanya yang memerah. "Yang Oma sayang itu aku dan
Kakak atau ego Oma?"
Sarah menatap cucunya, mulutnya terbuka hendak
membalas ucapan Adel sebelum gadis itu memotongnya
lebih dulu.
"Apa Oma nggak pernah pikirin perasaan Kakak setiap
Oma bilang ke semua orang bahwa aku dan kakak bukan
saudara kandung? Apa Oma nggak pernah kira bagaimana
perasaan Kakak setiap kali Oma bicara begitu? Bicara
seakan-akan Kakak adalah orang asing? Apa itu yang Oma
namakan sayang?"
Air mata gadis itu jatuh perlahan dan Adel mengusapnya
dengan cepat. Gadis itu berdiri semakin kecewa menatap
neneknya.
"Aku nggak bisa sama sekali merasakan kasih sayang
yang Oma berikan itu." Bibirnya sudah bergetar. Dengan
tangan yang mengepal di kedua sisi tubuhnya. "Apa Oma
tahu? Aku jijik setiap Oma menyuruh aku menikah dengan
Kakak. Menikah dengan Kakakku sendiri."
Adel kemudian melarikan diri.
*__*
Leo mengetuk pintu kamar adiknya. Kemudian
membukanya dan masuk ke dalam. Menemukan Adel yang
tengah meringkuk di atas ranjangnya. Laki-laki itu
mendekat. Duduk di sisi ranjang dan mengusap rambut
sang adik dengan sayang.
"Bukan hanya Oma. Kakak juga menyakiti aku," gumam
Adel pelan.
Leo menunduk. Dia tidak tahu bahwa selama ini, bukan
hanya dirinya yang menderita atas permintaan Oma
mereka, tapi juga adiknya.
"Aku seperti nggak kenal lagi dengan kakakku sendiri,"
ujar Adel lagi. Teringat dengan bagaimana Leo yang tiba-
tiba meminta Adel untuk menikah dengannya 4 tahun lalu.
"Kakak—"
Adel bangkit tiba-tiba. Duduk di atas ranjang dan menatap
Leo dengan wajahnya yang memerah penuh air mata.
"Kita sama-sama tahu siapa yang kakak sukai." Adel
masih ingat, bagaimana wajah berbinar Leo yang tiba-tiba
masuk ke dalam kamarnya. Menodongnya meminta nomor
seorang gadis. "Aku nggak mengerti, kenapa Kakak tiba-tiba
berubah seperti itu."
Leo menunduk. Seakan tidak mampu menjelaskan
semuanya.
"Sebenarnya apa yang Oma katakan pada kakak sampai
kakak seperti itu?"
"Maaf." Leo tidak mampu mengucapkan apa pun. Laki-laki
itu lalu membuang wajahnya. Tidak sanggup menatap
wajah sang adik lebih lama. Kemudian seperti biasanya, Leo
menarik diri. Bersembunyi seperti yang biasa laki-laki itu
lakukan.
Leo masih pengecut seperti dulu.
*__*
"Bunda benar-benar gagal menjadi ibu yang baik untuk
kamu dan Adel."
Leo menggeleng. Menggenggam erat tangan Bundanya
dan mengecupnya hangat.
"Bunda adalah hal terbaik yang pernah Leo dapatkan di
dunia ini." Leo yang semula duduk di sisi Bundanya itu
kemudian menjatuhkan diri di bawah. Tepat di samping kaki
sang ibu. Kemudian menjatuhkan kepalanya pada pangkuan
Emila yang langsung mengusap kepala putranya dengan
sayang.
"Bunda nggak tahu bahwa perkataan Oma begitu
membekas di kamu." Bibir wanita itu bergetar. Dia pikir,
selama ini keluarga baik-baik saja. Perilaku sang ibu mertua
yang dia anggap hanya karena sudah semakin tua. "Bunda
menggampangkan semuanya dan justru membuat kamu
dan Adel jadi terluka seperti ini."
Leo tidak berkata apa pun. Hanya memejamkan matanya
dan meresapi bagaimana usapan tangan sang ibu yang
begitu hangat dan lembut di kepalanya.
"Ayah pulang nanti, kita bicarakan ini lagi bersama-sama.
Kita selesaikan ini bersama-sama." Sejak seminggu yang
lalu Leon—suaminya Emila—sedang melakukan perjalanan
dinas. Emila hanya memberikan tahu garis besar
permasalahan yang sedang terjadi di keluarga mereka dan
pria itu janji akan segera pulang untuk menyelesaikannya.
"Setelah itu, kamu nggak boleh pikirin kami lagi. Kamu
harus pikirkan kebahagiaanmu sendiri."
Leo menggeleng. Mana bisa dia seperti itu. Di luar dari dia
merasa balas budi dengan keluarga ini, Leo benar-benar
menyayangi mereka dan ingin memberikannya yang
terbaik.
"Kamu sudah sangat berbakti, Leo." Emila menahan
kepala putranya agar menatap padanya. "Bakti kamu yang
selanjutnya adalah bawakan Bunda menantu yang kamu
cintai dan berbahagia. Kamu harus tahu, kebahagiaan
seorang ibu adalah melihat anak-anaknya bahagia."
Leo tersenyum tipis.
"Jangan pikirkan perkataan Oma. Siapa pun itu, siapa pun
gadis yang kamu pilih, Bunda akan terima. Bunda janji akan
jadi ibu mertua yang baik untuk dia. Bunda akan
mendukung semua pilihan kamu."
Leo mengerjapkan matanya. Mengambil tangan sang ibu
dan menggenggamnya dengan erat. Wanita ini bukan hanya
sekedar ibunya, tapi juga malaikatnya.
*__*
Leo tahu suasana di dalam keluarga mereka menjadi
dingin. Adel yang tidak mau lagi mengunjungi rumah Oma
dan juga Sarah yang tampak rapuh dan menyendiri di
kamarnya sendiri. Wanita tua itu hampir tidak mau keluar
dari kamarnya. Bahkan untuk makan pun, harus dibawakan
ke dalam kamar oleh perawatnya.
Siang ini, Leo memutuskan untuk datang ke rumah Oma.
Dia tentu khawatir dengan kondisi kesehatan Omanya yang
menurun sejak peristiwa itu. Sarah bahkan tidak lagi bisa
dibujuk oleh anak laki-lakinya yang baru kembali kemarin.
"Oma di dalam, Sus?" Leo bertemu dengan perawat Sarah
yang baru keluar dari kamarnya.
"Iya, Mas. Baru selesai makan. Tapi nggak habis," jawab
perawat itu. Dia juga menunjukkan nampan berisi makan
siang Sarah yang masih tersisa banyak. "Dari kemarin Ibu
makannya sedikit, Mas."
Leo tersenyum tipis. "Nggak apa-apa. Nanti saya coba
bujuk Oma, ya. Tekanan darah Oma bagaimana Sus?
Katanya kemarin naik lagi?"
"Iya, Mas. Tapi tadi saya cek lagi alhamdulillah sudah
turun walau masih tinggi."
Leo mengangguk. "Sus, semisal saya ajak Oma keluar
rumah, ke taman dekat sini bisa?"
"Nggak apa-apa, Mas. Asal Ibu jangan terlalu capek. Ibu
juga dari kemarin di kamar dan mungkin udara segar bisa
buat moodnya membaik."
Leo tersenyum tipis dan mengangguk. "Terimakasih ya,
Sus."
Pria itu lalu masuk ke dalam kamar Sarah. Menemukan
sang nenek yang terbaring menyamping di atas ranjangnya.
Leo mendekat. Duduk di kursi yang ada di sana dan
mengambil lengan Oma untuk dipijitnya.
"Sus Yuni bilang Oma makannya sedikit. Dari kemarin
nggak mau keluar kamar," ujar pria itu.
Sarah kemudian membalikkan badannya. Menoleh saat
mendengar suara cucunya.
"Kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu benci dengan
Oma? Kamu dan Adel pasti benci dengan Oma, kan?"
"Mana mungkin Leo benci dengan Oma." Leo melepaskan
pijitannya. Pria itu membantu Omanya yang berniat duduk
dan bersandar pada kepala ranjang. "Leo justru ke sini mau
ajak Oma jalan-jalan ke luar. Bagaimana? Oma mau?"
Sarah tidak menjawab. Tapi Leo anggap itu sebagai
persetujuan.
"Oke kalau begitu, ayo kita jalan-jalan." Leo menarik kursi
roda yang ada di dekat sana. Membawanya ke dekat
ranjang dan membantu neneknya untuk duduk di sana.
"Pakai topi, ya. Biar Oma nggak kepanasan." Leo juga
mengambilkan topi bundar milik sang Oma dan
memasangkannya di kepalanya.
Hari ini, dia akan mencoba memperbaiki kembali
hubungan mereka. Dia sayang dengan Omanya dan Leo
yakin, Oma juga demikian.
Selain itu, Leo ini juga merupakan salah satu rencananya
untuk menetapi janji yang ia ikrarkan pada Nasa sebelum
membawa gadis itu kembali. Dia ingin memberikan segala
hal terbaik di dunia ini untuk dunia mereka.
Nasa berasal dari keluarga baik-baik. Dia dibesarkan
dengan penuh kasih sayang. Dia disayangi oleh seluruh
anggota keluarganya. Leo ingin memberikan hal yang sama.
Dia tidak akan membiarkan Nasa mengalami kesulitan
karena tidak disukai oleh satu pun keluarga Leo. Dia akan
menunjukkan pada Oma, bagaimana selama ini dia
memandang Nasa. Dengan begitu, Leo percaya Oma juga
akan memandangnya dengan sama.
Karena Nasa, layak mendapatkan banyak cinta.
.
.
.
To Be Continued
(04/11/2022)
Masih di POV Leo yaa!
Btw, kalian jangan galak2 sama Adel, dia juga lagi
patah hati :"))
Part baca duluan udh tayang di karyakarsa ya! Sampai
ketemu hari selasa ^^
EMPATPULUHTIGA
Leo membawa Oma Sarah ke taman yang ada di
dekat rumah mereka. Menikmati udara sore yang hangat
dan juga suasana ramai pengunjung yang hadir di sana.
Mereka berhenti di salah satu bangku taman. Leo yang
membantu Oma Sarah untuk ikut duduk di sisinya kemudian
mereka bersama-sama menikmati udara sore hari itu.
Banyak orang yang berlalu lalang. Ada juga penjual gulali
yang langsung masuk dalam radar pandang Leo. Semenjak
bersama Nasa, radarnya mudah menangkap penjual
makanan-makanan manis dan saat itu juga, dia langsung
terbayangkan oleh Nasa.
"Nasa suka gulali," bisik Leo kecil yang ternyata
tertangkap dalam indra pendengaran Oma Sarah. Wanita
paruh baya itu menoleh pada Leo. Menatap cucunya dengan
tatapan penuh arti.
Leo yang merasa diperhatikan pun menoleh. Tersenyum
pada Omanya. Ini bukan pertama kalinya Leo memberi tahu
Oma Sarah bahwa Nasa menyukai gulali.
"Oma mau itu?" tawar Leo.
Oma Sarah menggeleng. "Oma nggak suka makanan
manis."
Leo tertawa kecil. "Bunda dan Adel juga nggak suka
makanan manis. Ayah juga nggak suka."
Di keluarga mereka, hampir semuanya tidak ada yang
begitu suka dengan makanan manis. Itu kenapa setiap Leo
membuatkan dessert yang manis-manis, sering tidak habis.
Itu kenapa juga, Leo senang sekali saat Nasa hadir di
hidupnya. Melihat seseorang yang dengan lahap menyantap
makanan buatannya hingga habis.
"Di taman ini kan waktu Oma zumba bareng Nasa?" Leo
membuka pembicaraan lagi.
Tidak menjawab, Oma Sarah justru mengalihkan
pandangannya.
"Nasa bilang Oma keren banget, masih energic di usia
sekarang."
"Dia pasti bilang Oma sudah tua bangka, kan? Dasar."
Leo menoleh. Omanya sering sewot kalau dia
membicarakan perihal Nasa. Namun begitu, Oma Sarah
tidak pernah memotongnya saat Leo sedang bicara tentang
gadis itu.
"Nasa itu nggak pintar basa-basi. Dia juga nggak suka
banyak bicara. Tapi begitu, dia sangat hangat. Dia baik dan
manis." Leo tersenyum saat mendeskripsikan gadis itu.
"Kadang Leo pikir, Nasa itu mirip Oma."
"Jangan kamu mirip-miripin Oma sama dia, ya!" Oma
Sarah menyanggah tidak suka.
Leo terkekeh kecil. Mereka diam setelahnya. Mengamati
apa yang ada di depan mereka. Sampai kemudian, Leo
mendengar Oma Sarah kembali bicara,
"Oma nggak benci dia."
Leo menoleh.
"Dia gadis yang baik, Oma tau itu." Pandangan Oma Sarah
masih lurus ke depan. "Tapi tetap, Oma mau kamu bersama
Adel. Oma nggak mau kehilangan kamu."
"Oma takut kehilangan Leo karena Leo bukan cucu
kandung Oma?"
Oma Sarah menatap cucunya kemudian kembali
mengalihkan pandangannya.
"Oma sudah banyak kehilangan." Sarah sudah kehilangan
suaminya sejak lama. Anak perempuan satu-satunya yang
jarang di rumah dan suka menjelajah dunia juga anak
sulungnya yang tinggal di pulau yang berbeda dengannya.
"Hanya kamu dan Adel cucu Oma. Oma ingin yang terbaik
untuk kalian."
"Bukannya akan lebih baik kalau Adel menikah dengan
laki-laki lain, begitu juga dengan Leo? Oma akan punya dua
cucu lagi."
Oma Sarah menghela napasnya.
"Oma sudah menerima Gauda tapi apa? Dia justru
menyakiti cucu kesayangan Oma."
"Leo yakin Gauda bukan orang yang seperti itu. Dia
sangat sayang dengan Adel dan Leo percaya itu."
"Kalau dia sayang dengan Adel dia nggak ak—"
Ucapan Oma Sarah terhenti saat melihat sosok yang
datang ke hadapan mereka. Berdiri menatap tajam
padanya. Membuat Sarah terkaku dan bibirnya yang
bergetar mendapati kehadiran orang itu.
"Kamu benar-benar sudah merebut cucuku."
Sarah terlihat semakin ketakutan.
"Nenek?"
*__*
Leo menatap foto seorang perempuan di tangannya.
Kemudian ingatan lampau itu kembali berputar bagai rol
film di kepalanya. Suara-suara yang masuk seakan kembali
membawa Leo pada masa-masa yang sudah ia lupakan.
Masa-masa yang sangat menyakitkan.
Dia sudah melupakan perempuan ini. Leo juga yakin dia
sudah melupakan rasa sakitnya. Tapi ketika dia menatapnya
lagi, kenangan beserta rasa sakit itu semerbak masuk
kembali ke dalam kepalanya. Dia seharusnya tidak
mengingat ini.
"Karena kamu. Karena kamu hadir di dunia ini hidupku
jadi hancur seperti ini. Kamu adalah kesalahan terbesar di
hidupku."
Leo memejamkan matanya. Menarik napasnya begitu
panjang. Kata-kata itu berputar lagi di kepalanya.
Membawanya terdampar pada sebuah keramaian yang
menakutkan. Lalu lalang banyak orang, suara tawa yang
perlahan berubah menjerit. Juga suara tangisnya yang
kebingungan. Suara asing yang bertanya padanya dengan
bahasa yang tidak Leo mengerti. Sampai sebuah suara yang
ia mengerti baru bisa membuatnya menarik napas dengan
lega.
"Kamu ke sini sama siapa, Nak?"
"Kamu sudah makan?"
"Nggak apa-apa. Sini ikut dengan Tante. Kita beli kue, ya.
Kamu mau?"
Selama ini, Leo hanya mengingat kenangan kecil dari
orang tua angkat sebelumnya juga orang tua angkatnya
yang sekarang. Dia melupakan ingatan kecilnya tentang
bagaimana dia bisa berada di sana—tempat pertama kali ia
ditemukan. Dia melupakan itu karena rasanya sangat
menyakitkan. Kini, setelah dia menatap foto ini kembali, Leo
mengingat semuanya.
Perempuan itu.
Memakai baju warna biru dan berambut panjang.
Seseorang yang dipanggilnya Mama, yang selalu berusaha
melepaskan gandengan tangannya. Seseorang yang
meninggalkannya di tempat asing saat ia baru berusia
empat tahun.
Ibu kandungnya.
Ibu kandungnya yang ternyata adik kandung dari ayah
angkat pertamanya.
Leo tertawa getir. Selama ini, Emir dan Naila tahu siapa
dirinya. Emir memberikan semua hartanya pada Leo karena
dia tahu Leo adalah keponakan kandungnya. Kemudian Oma
Sarah adalah orang kedua yang mengetahui informasi itu.
Menutupinya rapat-rapat dan merahasiakannya sebagai
mungkin sampai Neneknya—nenek kandungnya—mencium
rahasia itu.
Tiga hari yang lalu di taman itu, Nenek mendatanginya
dan Oma Sarah. Kemudian Oma Sarah yang menariknya
pulang menjauh dari Nenek. Terlihat tampak ketakutan dan
membuat Leo kebingungan. Bahwa ternyata, Oma Sarah
sudah tahu tentang asal usul Leo sejak empat tahun yang
lalu. Awal mula mengapa wanita paruh baya itu mulai
berubah dan memaksa Leo agar menikah dengan Adel.
Dia benar-benar takut untuk kehilangan cucunya.
"Kamu benar-benar mirip dengan dia."
"Kamu sangat mirip dengan ibumu."
Dua kalimat yang benar-benar mengganggunya.
Neneknya mengatakan itu padanya. Dia juga datang ke
rumah. Bertemu dengan Leon dan Emila untuk mengatakan
segalanya bahwa dia sudah tahu tentang rahasia itu
beberapa bulan yang lalu. Menghardik Oma Sarah karena
sudah menyembunyikan kenyataan ini.
Leo menutup foto itu. Kemudian kembali mengambil
sebuah surat dan kembali membacanya. Sebuah surat yang
tidak sengaja Oma Sarah temukan empat tahun lalu dan
menyimpannya seorang diri.
Untuk Mas Emir.
Halo, Mas. Ini Prita, adikmu yang diusir karena hamil di
luar nikah. Kamu masih ingat, kan, bagaimana kamu
mengusir aku enam tahun yang lalu?
Aku sudah melahirkan saat ini, Mas. Anaknya laki-laki.
Anak laki-laki yang kamu dan istrimu temui di taman
bermain enam bulan lalu. Kamu benar-benar hebat, ya, Mas.
Kamu membuang adikmu tapi kamu mengambil anak asing
dan membawanya pulang.
Tapi bagaimana pun, aku berterima kasih karena kamu
sudah mau mengambilnya. Terserah mau kamu apakan dia.
Dia lahir tanggal 30 Juli dan aku biasa memanggilnya Leo.
Madaleo Kalandra.
Tolong jangan cari aku setelah ini.
*__*
Leo menyendiri di apartemennya. Tidak melakukan apa
pun dan menolak siapa pun untuk datang. Dia
membutuhkan waktunya sendiri. waktu bersama kegelapan
dan ingatan yang kembali terulang di kepalanya. Leo juga
menolak semua panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Karena kamu. Karena kamu hadir di dunia ini hidupku
jadi hancur seperti ini. Kamu adalah kesalahan terbesar di
hidupku."
"Ini semua salah kamu! Karena kamu anak, menantu dan
cucuku mati!"
Semua itu berputar di kepalanya. Sampai kemudian, suara
alarm ponselnya menyala, mengisi bunyi di seluruh
ruangan.
Tomorrow : Nasa's birthday
Leo melirik itu sekilas. Mematikan suara alarm ponselnya
dan menampilkan wallpaper foto seorang gadis yang
sedang tersenyum menatap kamera.
"You are so loved, Leo. Kamu sangat dicintai. Jangan
biarkan orang lain menilai kamu sebuah kesalahan karena
kamu adalah orang yang sangat berharga."
Senyum kecil Leo terulas beriringan dengan setetes air
mata yang mengenai pipinya. Terakhir kali dia menangis
adalah saat kecelakaan mobil yang merenggut nyawa Emir
dan Naila beserta adiknya—Zahra waktu itu.
Leo bangkit dari duduknya. Mengambil kunci mobilnya
dan keluar dari ruangan gelap itu. Besok ulang tahun Nasa.
Dia harus menyiapkan istana coklatnya.
*__*
"Berani kamu mau ketemu anak saya?!"
"Lebih baik kamu pulang sekarang."
"Mas Leo pulang sekarang. Tolong. Kesehatan Papi
menurun. Kana nggak mau Papi kenapa-kenapa karena
marah sama Mas Leo."
"Kak Nasa nggak ada di rumah. Mas Leo nggak bisa
ketemu Kak Nasa selama beberapa bulan ini. Kana nggak
bohong. Percuma Mas Leo ke sini karena Kak Nasa nggak
ada di sini."
Leo kehilangan kesempatannya bertemu dengan Nasa.
Laki-laki itu masih diam di mobilnya. Menoleh pada sebuah
kotak berisi cake berbentuk istana coklat yang ia siapkan
semalaman. Tapi rupanya, Leo terlambat. Dia benar-benar
terlambat.
Nasa pergi meninggalkannya.
.
.
.
To Be Continued
(08/11/2022)
Btw, jadi jarak Nasa patah hati ke dia pergi itu 2
minggu ya gais, bukan seminggu. Dan inilah yang
terjadi dengan Leo selama dua minggu itu :")
Next part masih part Leo! Tapi part setelah
kepergian Nasa
Sampai ketemu^^
EMPATPULUHEMPAT
Leo tidak tahu kenapa kakinya melangkah ke
tempat ini.
Dia hanya ... dia hanya tidak tahu ke mana lagi harus
pergi. Dapur dan wewangian kue sudah tidak bisa
membuatnya tenang. Juga apartemennya yang penuh
kenangan dengan Nasa. Pikirannya kacau balau. Leo hanya
ingin untuk sejenak, membuang segala hal-hal yang
mengganggu di kepalanya.
Tentang dirinya.
Tentang keluarganya.
Tentang Nasa.
Semuanya.
Semuanya yang hampir membuat kepalanya ingin
meledak. Maka itu lah, Leo datang ke tempat hingar bingar
ini. Jujur saja, ini bukan pertama kalinya Leo berada di sini.
Dulu, empat tahun lalu saat akan memutuskan untuk
melupakan Nasa, Leo juga ke sini. Memesan minuman
sampai tidak sadarkan diri.
Dia ingin melupakan segalanya.
Suara hingar bingar musik dan juga manusia didengarnya.
Namun laki-laki itu tentu abai dengan itu semua. Dia tidak
ingin mendengar apa pun. Dia hanya ingin melupakan
semuanya. Apa pun itu. Untuk satu kali ini.
Leo menyesap kembali minumannya. Seteguk demi
seteguk yang justru membawa ingatannya kembali ramai-
ramai. Kali ini, tentang Nasa sepenuhnya. Leo tersenyum
kecil. Ingatan tentang gadis itu semuanya indah, kecuali
yang terakhir tentang bagaimana Nasa meninggalkannya.
Leo tahu ini bukan salah Nasa. Ini adalah kesalahannya
yang memaksakan segalanya. Membuat Nasa masuk ke
dalam hidupnya dan berujung menyakitinya. Leo hanya
memberikan rasa sakit untuk gadis itu.
"Kamu Kak Leo, ya? Kakaknya Adel? Aku Nasa.
Kembarannya Sana. Aku lihat foto kamu di pajang di ruang
tamu."
Leo ingat saat itu. Saat pertama kali Nasa datang ke
rumahnya bersama dengan Sana. Gadis itu mengulurkan
tangannya, menyapanya dengan raut datar tetapi terlihat
begitu cantik. Ada sedikit lelehan coklat di sekitar bibirnya.
Ingatannya tentang pertemuan pertama mereka tidak
bisa Leo lupakan. Bagaimana wajah Nasa yang
membuatnya terngiang-ngiang dengan lelehan coklat. Juga
bagaimana Leo yang menatap penuh ketertarikan saat
melihat gadis itu melahap habis makanan buatannya.
"Nasa suka cake-nya, ya? Mau Tante bungkus untuk
dibawa pulang? Leo buat banyak tapi di kita justru nggak
ada yang begitu suka makanan manis. Si chef yang hobi
buatnya juga sama."
Leo juga ingat bagaimana Nasa yang mengangguk penuh
antusias saat itu. Menerima tanpa ragu buah tangan dari
Bundanya. Dan setelah itu, tanpa ragu juga Leo menitipkan
beberapa makanan untuknya. Setiap dia kembali dari luar
kota atau setiap Leo bereksperimen di dapurnya, wajah
Nasa adalah yang pertama kali terbayangkan untuk
memakan makanan-makanan itu.
Dia tahu dia menyukai gadis itu. Memerhatikannya dari
waktu-waktu dan mencoba untuk percaya diri untuk mulai
menjalin komunikasi. Namun semuanya gagal sebelum Leo
berhasil memulai.
"Kamu sayang dengan Oma kan, Leo? Kamu juga pasti
sayang dengan Adel, Bunda dan Ayah kamu. Begitu juga
kami. Kami sayang dengan kamu, terutama Oma. Jadi Leo,
boleh Oma meminta satu hal?"
Oma Sarah tidak pernah menuntut apa pun darinya.
Namun malam itu, malam di mana semua cintanya harus
dihapuskan sebelum bersemi. Oma memintanya menikah
dengan Adel. Omanya yang sangat menyayanginya.
Mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya. Tidak
pernah memarahinya dan menuntutnya apa-apa. Itu adalah
permintaan yang tidak bisa ditolaknya.
"Oma nggak menginginkan apa pun lagi. Bahkan jika Oma
mati sekarang, Oma akan mati dengan damai kalau kamu
dan Adel menikah."
"Kamu tentu tahu bagaimana Adel. Kamu sayang dengan
dia. Kalau kamu mau mengenali diri kamu lebih dalam lagi,
Oma yakin, kamu juga cinta dengan Adel."
Sejak saat itu, Leo harus percaya bahwa dia memang
cinta dengan Adel seperti yang Omanya katakan. Dia
mengajak Adel menikah sesuai dengan yang Oma
perintahkan. Tapi ternyata, Adel menolaknya. Adel
menolaknya dan beberapa hari kemudian, Adel membawa
pulang seorang laki-laki yang diakuinya sebagai kekasihnya
; Gauda.
Bertemu dengan Gauda, Leo melihat jelas bagaimana
tatapan penuh damba laki-laki itu kepada adiknya. Dia juga
menjaga Adel dengan baik. Adel tampak bahagia
bersamanya. Adiknya sudah bahagia dengan laki-laki lain
tapi tentu tidak untuk Leo. Leo tidak bisa melakukan hal
yang sama. Leo tidak bisa mengejar cintanya.
"Kalau tidak dengan Adel, Oma nggak akan melepas kamu
untuk perempuan mana pun, Leo."
Saat ultimatum itu dikatakan, dia tahu, garis di antara
dirinya dengan Nasa tidak akan pernah terhubung. Tapi
setidaknya, untuk sekali saja, dan rasa egoisnya kerap
meminta beberapa kali, Leo berharap garis mereka akan
terus bersinggungan.
"Kakaknya Adel?"
Suaranya pada malam itu terngiang kembali di dalam
kepalanya. Wajahnya yang tampak kelaparan menatapnya
penuh harap seolah-olah hanya Leo yang bisa menuntaskan
rasa laparnya. Leo tentu langsung mengenalinya meski
Nasa tidak mengingat namanya.
"Tadi aku lihat lampunya masih nyala. Aku pikir
restorannya masih buka jadi aku mampir. Apa masih ada
makanan yang bisa aku pesan?"
Saat itu, di kepalanya, Leo sudah terbayang beberapa
menu yang bisa ia hidangkan untuk gadis pujaannya.
Seseorang yang dicintainya tapi tidak bisa Leo miliki
adalah Nasa. Dari dulu, empat tahun lalu, hanya gadis itu.
Bukk ...
Leo tersungkur saat seseorang menjatuhkan badannya
padanya. Laki-laki itu tampak sudah sempoyongan semakin
terkejut saat seseorang tidak sadarkan diri menimpa
tubuhnya. Leo berusaha untuk membebaskan diri.
Menyingkirkan laki-laki yang mabuk itu dari atas tubuhnya.
"Gauda?"
Leo menatapnya samar-samar. Tapi dia tidak akan
mungkin lupa dengan wajah laki-laki yang sudah membuat
adiknya itu menangis.
*__*
Leo terbangun bersama Gauda di apartemennya. Tadi
malam, dengan sedikit sisa-sisa kesadarannya, dia berhasil
membawa tubuh mereka masuk ke dalam taksi dan pulang
ke unitnya dengan aman. Kini saat pagi menyapa dan Leo
sudah membenahi diri, membuat hidangan jahe hangat
yang kemudian di hidangkannya di atas meja, menunggu
Gauda untuk bangun dari tidurnya.
Tidak lama, laki-laki itu bangun. Menatap sekeliling sedikit
linglung namun pada akhirnya menyadari di mana
keberadaannya. Leo pandangi orang yang sangat
menyusahkan itu. Berhari-hari dicarinya tetapi Leo tidak
temukan di mana pun. Bahkan keluarganya juga sedang
mencarinya dan meminta bantuan Leo untuk mengabari jika
menemukannya lebih dulu.
Leo membiarkan Gauda untuk menyadarkan dirinya
terlebih dahulu. Mencuci wajahnya, meminum teh jahe
buatannya dan duduk dengan begitu kikuk di bawah
tatapannya yang tajam.
"Lo ngedit di mana foto-fotonya?" Leo membuka
pembicaraan mereka.
Gauda menunduk, tidak menjawab pertanyaan kakak dari
tunangannya.
"Setidaknya kalau mau bohong, lo sewa jasa profesional."
Gauda semakin menunduk. Namun tidak lama, laki-laki itu
mengangkat kembali pandangannya. Menatap Leo
kemudian menghela napasnya dengan dalam.
"Gue mandul." Suara Gauda terucap pelan. "Sebulan yang
lalu, seharusnya gue dan Adel chek-up bareng ke rumah
sakit. Tapi ada beberapa kendala dan akhirnya gue check-up
duluan. Dan salah satu hasilnya, gue mandul."
Gauda menunduk lagi. Kembali menghela napasnya
begitu dalam. Tentu itu adalah hal yang sangat berat.
Gauda tahu Adel adalah satu-satunya keturunan di dalam
keluarganya. Jika mereka menikah dan tidak memiliki anak,
tidak ada lagi penerus dari keluarga Adel. Dia juga sengaja
merekayasa semuanya. Mengedit foto dan mengirimkannya
ke rumah Oma Sarah alih-alih rumah Adel langsung. Gauda
tahu, Oma Sarah tidak begitu menyukainya. Membuat Oma
Sarah semakin tidak menyukainya akan mempermudah
langkah Gauda untuk pisah dengan Adel.
Tentu, Gauda tidak bisa mengatakan yang sebenarnya
pada Adel. Gauda yakin Adel tidak akan mau berpisah
hanya karena alasan Gauda yang mandul. Maka dari itu,
Gauda yang harus mengatur semuanya.
Itulah yang ia jelaskan pada Leo hingga membuat laki-laki
itu menghela napasnya dengan berat. Masalahnya benar-
benar semakin banyak.
"Adel sebentar lagi datang. Kalian bicara. Gue tinggal
dulu." Leo berdiri. Beranjak dari tempat duduknya dan
membuka pintu keluar—bertepatan dengan kedatangan
adiknya.
Adel menatap kakaknya cukup dalam. Semenjak
terbongkarnya rahasia itu, Leo tidak pulang ke rumahnya.
Dia berkata membutuhkan waktu untuk menyendiri. Namun
beberapa menit yang lalu, Leo meminta Adel datang untuk
ke apartemennya. Hal yang tidak disangka-sangka Leo
justru memintanya datang untuk mempertemukan Adel
dengan Gauda.
*__*
Hari ini, Leo baru saja bertemu dengan ayahnya di
yayasan. Mereka bertemu sebentar yang Leo tahu, ayahnya
hanya ingin mengecek keadaannya dengan alibi bertanya
soal restoran saat pertama memintanya untuk datang.
Mereka tidak bicara banyak. Leon hanya berpesan pada
putranya untuk menjaga kesehatan dan meminta Leo
pulang kapan pun laki-laki itu siap.
Leo mengiyakan saja. Dia sendiri tidak tahu kapan dirinya
siap untuk pulang ke rumah dan menghadapi masalahnya.
Leo hanya, dia hanya masih memerlukan beberapa waktu
lagi.
Di tempat ini, Leo justru kembali dipertemukan dengan
Kana yang baru saja pulang sekolah. Laki-laki itu mengambil
kesempatan, mengajak Kana bicara beberapa hal.
"Kana udah janji dengan Papi nggak akan kasih tau Mas
Leo di mana keberadaan Kak Nasa."
Kana tampak teguh dengan pendiriannya. Menutup
mulutnya rapat-rapat. Leo menghela napasnya.
"Tapi ... Nasa baik-baik aja, kan?" Dia hanya ingin tahu
kabar gadis itu. Dia hanya ingin memastikan bahwa Nasa
dalam kondisi baik.
Kana masih tutup mulut. Mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Kana juga nggak boleh kasih tahu kabar Kak Nasa sama
Mas Leo."
Papi mereka memberikan ultimatum secara jelas untuk
tidak membagi apa pun tentang Nasa pada Leo dan
keluarganya. Bahkan hanya sekedar kabarnya.
Leo tersenyum pasrah.
"Mas Leo keliatan lebih berantakan dari pada beberapa
waktu lalu." Kana membuka lagi suaranya.
Leo menunduk, menatap penampilannya lalu tersenyum
kecil. Tentu saja dia semakin berantakan. Sudah tidak ingat
untuk merawat penampilannya sendiri. Rambutnya yang
semakin panjang tidak diikatnya. Juga beberapa rambut-
rambut kecil yang mulai muncul di sekitar rahangnya.
"Kak Nasa pasti nggak mau ketemu Mas Leo yang
berantakan kayak gini."
Ya, Nasa pasti tidak suka. Dia suka Leo dengan rambut
panjangnya yang rapi dan wangi. Selepas mandi tadi, Leo
sama sekali tidak ingat memakai parfumnya.
"Kalau Mas Leo udah rapi kayak biasanya, Kana mau
bantu Mas Leo kirim surat untuk Kak Nasa." Kana berdiri
tiba-tiba.
Leo mengerjap beberapa kali. Ikut bangkit dan menarik
lengan gadis itu menghentikannya untuk pergi.
"Maksud kamu?"
Kana menatap Leo dengan tatapannya yang sedikit ragu.
"Sebagai rasa terima kasih Kana sama Mas Leo karena udah
tolongin Kana waktu itu."
"Kamu mau bantu aku?"
Kana mengangguk. "Kana cuman bisa bantu kirimkan
surat Mas Leo untuk Kak Nasa. Hanya kirim surat." Surat di
secarik kertas yang nanti akan Kana kirimkan lewat kantor
pos. Dia sudah menimbang-nimbang dan mengeluarkan
seluruh keberaniannya untuk melawan Papinya kali ini.
Leo tersenyum lebar. Kali ini benar-benar lepas dengan
binar matanya yang perlahan muncul kembali seolah baru
saja melihat cahaya setelah terkurung dalam kegelapan.
"Terima kasih, Kana. Terima kasih."
.
.
.
To Be Continued
(11/11/2022)
Masih ada yang belum tidurrrrr????
EMPATPULUHLIMA
Setelah pertemuannya dengan Kana di sekolah dan
secercah harapannya itu datang, Leo langsung kembali ke
apartemennya. Pria itu terburu memasuki kamar mandi
untuk kembali membersihkan diri. Dia juga berdiri di depan
cerminnya dan bercukur. Kemudian terdiam sebentar
menatap pantulan dirinya dengan rambutnya yang sudah
semakin panjang.
Apa Leo harus memotong rambutnya juga?
"Kriterianya susaaaaah banget. Mau yang rambutnya
gondrong, pinter masak lah, apa lah. Sampai yang bisa
buatin dia istana coklat lah. Eh tahu-tahunya semua kriteria
ada di kamu."
Leo menggeleng. Tidak-tidak. Nasa menyukai laki-laki
berambut gondrong. Leo kemudian tersenyum menatap
pantulan dirinya di cermin. Dia tidak akan memotong
rambutnya.
Selesai dengan kegiatannya di kamar mandi itu, Leo
keluar dari sana. Membuka lemarinya dan mencari pakaian
yang rapi untuknya. Tidak lupa memakai wewangian. Nasa
itu wangi sekali dan dia menyukai orang yang wangi. Leo
tersenyum lagi saat kembali menghadap cermin. Menyisir
rambut dan menyemprotkan sedikit hair mist ke kepalanya.
Laki-laki itu lalu keluar kamar. Saat hendak kembali keluar
dari apartemennya, Leo menemukan sesuatu di atas
mejanya. Mendekat dan mengambil rantang makanan yang
ada di sana berikut juga sepucuk kertas yang tergeletak.
Meski Kakak tahu masakan Bunda nggak enak, dimakan
ya. Bunda sudah siapin ini dari jam 3 pagi.
Leo tersenyum kecil. Saat Adel datang pagi tadi, Leo tidak
menyadari bahwa adiknya juga membawa rantang makanan
itu. Akhirnya, Leo pun memutuskan duduk. Membuka
rantang dan mengambil alat makannya.
*__*
Pria itu menarik napas panjangnya saat baru saja keluar
dari rumah itu. Rumah neneknya dan juga tempat ibu
kandungnya dulu tinggal di sana. Di sana, bukan hanya
bertemu dengan sang nenek, Leo juga bertemu dengan om-
omnya seperti apa yang sudah ia rencanakan. Sengaja ia
menghubungi keluarga besar itu untuk berkumpul sebentar.
Leo menyerahkan surat kuasa atas warisan yang
ditinggalkan Emir kepadanya. Dia tidak membutuhkannya.
Leo ingin hidup dengan tenang. Juga, sebagai langkah
menciptakan dunia terbaik yang bisa ia berikan pada Nasa
tanpa huru-hara seperti dunianya sebelumnya.
"Kami baru tahu kalau kamu anaknya Prita."
"Ibu kamu menemui Nenek beberapa bulan yang lalu dan
dia memberi tahu nenek tentang kamu. Maaf nenek nggak
langsung memberi tahu om-om kamu dan menyimpan ini
sendirian."
Ya, ibunya datang. Menemui neneknya tapi tidak
menemuinya. Tidak apa-apa. Karena semenjak Leo
ditinggalkan 25 tahun yang lalu, dia sudah memutuskan
untuk tidak lagi mau mencari tahu kabar wanita itu. Leo
berusaha dengan keras melupakannya. Lagi pula, wanita itu
sudah bahagia dengan kehidupan barunya.
Hari ini, dia datang ke sana adalah untuk menyelesaikan
segala sengketa yang terjadi. Setelah Leo tahu mengapa
Emir memberikannya semua harta itu dalam wasiatnya.
Laki-laki itu merasa bersalah karena sudah mengusir
adiknya yang hamil di luar nikah. Merasa bersalah juga
dengan keponakannya yang terlantar dan dibuang oleh ibu
kandungnya sendiri.
Leo tidak membenci kedua orang tua angkatnya yang
pertama itu. Bagaimana pun, dia banyak memiliki kenangan
manis bersama mereka. Dengan Mama Naila yang baik hati
yang selalu membacakannya dongeng setiap malam, juga
Papa Edgar yang walau terlihat dingin, tidak jarang setiap
malam berkunjung ke kamarnya untuk memastikan Leo
sudah tertidur nyenyak di dalam sana tanpa mimpi buruk
yang biasa menghantuinya saat baru-baru tinggal bersama
mereka.
Kini, Leo berdiri di depan pintu rumah Oma Sarah. Mereka
tidak menjalin komunikasi lagi setelah kejadian itu. Leo yang
membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan Oma
Sarah juga mungkin seperti itu. Omanya sudah tua dan Leo
tidak mau menambah pikirannya lebih banyak. Dia hanya
berharap Omanya berumur panjang dan selalu diberikan
kesehatan agar dapat menyaksikan cucu-cucunya bahagia.
"Oma ada, Sus?" Leo bertanya pada perawat Oma Sarah
yang membukakan pintu untuknya.
"Ada, Mas. Lagi di kamarnya."
Leo tersenyum tipis. Masuk ke dalam dan langsung
menuju kamar sang nenek. Sekali lagi dia mendapati Oma
Sarah sedang meringkuk di ranjang tidurnya. Namun tidak
lama, nenek tua itu bangun saat melihat kedatangannya. Air
mata yang langsung tumpah ruah menyambutnya.
"Maafkan Oma, Leo. Maafkan Oma."
*__*
Setelah berkutat dengan seluruh masalah yang kini sudah
terselesaikannya itu, Leo pulang ke rumahnya. Rumah Ayah
dan Ibunya. Dia memutuskan untuk kembali tinggal di sana
bersama keluarganya. Tentu Ayah dan Ibunya menyambut
dengan sangat baik dirinya. Bundanya yang langsung
memasak lagi makanan yang tidak begitu enak—seperti
yang Adel katakan. Well, kemampuan memasak Bundanya
memang cukup mengkhawatirkan. Tapi tentu itu bukan
masalah. Leo melahap dengan nikmat makanan yang
tersajikan di atas meja makan.
Kini, laki-laki itu duduk di sebuah kursi. Di depannya
terdapat meja yang di atasnya ada secarik kertas. Leo
memegang pulpennya. Namun berhenti sejenak saat dia
mulai bingung kata pertama apa yang harus ia tuliskan di
dalam suratnya.
Di perjalanan tadi, Leo sudah banyak memiliki kata-kata
yang akan ia kirimkan untuk Nasa. Tapi setelah dihadapkan
secara langsung, Leo justru terpaku di tempatnya.
Kertasnya masih kosong dan semua kata-kata yang ada di
kepalanya seakan menghilang.
Apa cukup dengan ini?
Apa Nasa akan memaafkannya hanya dengan ini?
Leo sudah membuat gadis itu menangis. Nasa bahkan
menyembunyikan keberadaannya agar Leo tidak
menemukannya. Gadis itu tidak mau Leo menemukannya.
Leo menghela lagi napasnya. Dia meletakan pulpennya di
atas meja dan malah menarik ponselnya. Membuka galeri
dan memandangi beberapa foto kebersamaannya dengan
Nasa.
Nasa-nya yang manis. Kenangan mereka selama hampir
satu tahun ini sangatlah indah. Apa Leo mau kehilangannya
begitu saja?
Tentu tidak.
Leo mau Nasa-nya yang manis.
Ponselnya bergetar. Menandakan sebuah pesan masuk di
sana.
From : 08223771922
Mas Leo, ini Kana. Besok Kana tunggu di taman sekolah
untuk suratnya, ya.
Leo menarik napasnya lagi. Dia tidak akan menyia-
nyiakan kebaikan Kana untuknya. Laki-laki itu kembali
mengambil pulpennya. Mulai menggerakkannya dan
membuat beberapa kata-kata di sana.
Dear Nasa ...
*__*
"Kakak nggak bisa kirim suratnya setiap hari untuk Nasa?"
"Nggak bisa Kak Leo. Kalau setiap hari kirim surat yang
ada Kana ketahuan sama Papi."
Leo menghela napasnya menatap gadis remaja di
depannya. Ini minggu ke dua dia bertemu Kana untuk
mengirim suratnya. Panggilan gadis itu padanya sudah
berubah dari 'Mas' menjadi 'Kakak' sesuai permintaan Leo
yang lebih nyaman dipanggil Kakak oleh orang yang sudah
dianggapnya sebagai adiknya. Sama seperti Sana yang
memanggilnya demikian.
"Atau Kakak boleh minta alamat Nasa biar Kakak yang
kirim suratnya sendiri?" tawar Leo lagi.
Kana kekeh menggeleng. "Nggak bisa. Kana nggak bisa
melanggar perintah Papi sebanyak itu."
Baiklah, sepertinya Leo harus puas dengan hanya
mengirim surat seminggu sekali pada gadisnya yang entah
berada di belahan bumi mana.
"Nggak ada balasan apa pun dari Nasa untuk dua surat
yang udah kakak kasih?" tanya Leo lagi.
Kana menggeleng. "Kana kirim surat lewat kantor pos dan
alamat pengirimnya alamat Kak Leo. Kana nggak mau Kak
Nasa tahu kalau Kana bantu Kak Leo. Kana takut Kak Nasa
bilangin ke Papi."
Leo mengangguk. Dia tidak akan meminta lebih banyak
lagi pada gadis remaja baik yang sudah sangat baik
membantunya ini.
"Atau begini aja. Kak Leo tulis suratnya setiap hari dan
kasih ke Kana seminggu sekali dan Kana akan kirim
suratnya sekaligus." Kana memberikan ide kepadanya.
Leo tersenyum kecil kemudian mengangguk. Setelah
sekali mengirimkan surat pada Nasa, jadi banyak sekali
kalimat-kalimat yang bertebaran yang berada di kepalanya
untuk Nasa. Tapi keterbatasan pengiriman surat itu
membuat Leo harus berpuas untuk menulis hanya selembar
kertas kepada gadis pujaannya.
*__*
"Gue nggak tahu harus gimana lagi. Tapi untuk bicara lagi
dengan dia gue belum sanggup. Mamanya menemui gue
beberapa kali. Bahkan saat dia ngilang begitu aja. Mamanya
baik. Dia sayang dengan gue."
"Tapi lo udah dengar penjelasan dia kan waktu itu?"
"Udah. Tapi masih sulit rasanya untuk bicara lagi setelah
itu. Tingkah dia sebelum foto-foto itu datang ke rumah Oma
benar-benar membuat gue hampir yakin kalau dia udah
nggak cinta lagi sama gue."
"Ya udah, nggak apa-apa. Ambil waktu sebanyak yang lo
mau. Si bego itu memang harus dikasih pelajaran sesekali."
Leo mendengarkan percakapan itu tempatnya duduk
sembari minum teh hangat saat ini. Sana berada di
rumahnya sedang berbincang dengan Adel. Setelah
pertengkaran mereka beberapa waktu lalu, Adel dan Sana
akhirnya berbaikan. Adel sudah menceritakan semua yang
terjadi pada Sana dan dengan kemurahan hatinya, Sana
mau mendengarkan dan akhirnya memaafkan Adel.
Memaafkan Adel tapi tidak untuk memaafkan Leo. Dia
masih memandang Leo dengan sinis dan tidak mau
menyapanya. Tidak apa-apa. Leo sudah bersyukur Sana
mau berteman lagi dengan Adel. Bagaimana pun, Sana
satu-satunya teman dekat yang Adel miliki di dunia ini. Leo
bersyukur Sana mau kembali bersahabat dengan adiknya.
"Sudah mau pulang?" Leo berdiri menyapa Sana yang
bangkit dari duduknya. Bukannya menjawab, Sana
melengos begitu saja. Hanya berpamitan dengan Adel dan
tanpa menyapanya.
Leo hanya tersenyum tipis menanggapi wanita hamil itu.
Bagaimana pun dia sudah membuat kembarannya
menangis dan bersedih.
Selepas kepergian Sana, kini tersisalah Adel yang
menatap Kakaknya cukup prihatin. Dia sudah menjelaskan
pada Sana kondisi Leo dan Adel hingga terjebak dalam
permintaan Oma yang tidak masuk akal. Sana terlihat sudah
mengerti walau dia masih tidak terima karena Leo membuat
kembarannya pergi.
"Kamu—"
Adel menggeleng. "Sana belum mau bicara apa-apa."
Leo menghela napasnya. Ada permintaan tidak tahu diri
yang ia minta pada adiknya. Ya itu bertanya pada Sana
tentang keberadaan Nasa.
"Kakak tenang aja. Aku akan terus bujuk Sana supaya
mau kasih tahu di mana keberadaan Nasa."
Leo tersenyum. Mengusap lembut kepala adiknya penuh
sayang.
"Makasih ya, Dek."
*__*
Matanya masih berbinar-binar. Memandangi sebuah
amplop yang berada di tangannya saat ini. Dia masih tidak
percaya, bisa mendapatkan amplop ini di tangannya.
"Nasa benar kirim surat balasan untuk Kakak?" Lagi-lagi
Leo bertanya pada gadis remaja di depannya.
"Benar, Kak Leo." Kana menjawab lagi dengan gemas.
Sudah dijawab berkali-kali Leo masih bertanya hal yang
sama. "Kak Nasa juga kayaknya tahu kalau Kana yang bantu
Kak Leo kirim surat untuk dia. Tapi Kana bersyukur, Kak
Nasa nggak ngaduin hal ini ke Papi."
Leo tersenyum. "Makasih ya, Kana. Sudah membantu
Kakak."
Kana mengangguk dan balas tersenyum padanya. "Kalau
gitu Kana pamit pulang dulu."
Gadis remaja itu pun bangkit dari bangku taman
sekolahnya. Melangkah meninggalkan Leo yang masih
duduk di sana memandangi surat yang baru saja di
dapatkannya. Baru saat Leo akan pergi, dia tidak sengaja
mendapati seorang laki-laki yang berjalan mengikuti Kana di
belakangnya.
Laki-laki itu lagi.
Leo sudah menghubungi kepala sekolah SMA ini untuk
mengurus hal ini. Setidaknya agar laki-laki itu lagi
mengganggu atau mengikuti Kana. Kepala sekolah sudah
memanggil siswanya. Namun laki-laki itu tidak mengaku
dengan hal yang dibuatnya. Kelakuannya di sekolah juga
terbilang baik dan berprestasi membuat kepala sekolah
sedikit kebingungan untuk memberikan hukuman. Dan yang
terlebih, Kana tidak mengadukan apa pun dan menyangkal
mengenai laki-laki itu yang menguntitnya. Dia juga menolak
surat pemanggilan orang tua dan berkata bahwa dirinya
baik-baik saja.
*__*
From : Kana
Kak Leo ingkar janji!
Gara-gara Kak Leo, Papi jadi semakin mengekang Kana
lagi. Sekarang pergerakan Kana nggak bebas dan harus
diikuti bodyguard ke mana-mana.
Kana nggak mau bantu Kak Leo lagi!!!!!!
Leo sedikit khawatir mendapatkan pesan masuk dari Kana
itu. Dia sudah tahu akan seperti ini akhir dari perbuatannya.
Leo sengaja mengadukan apa yang terjadi pada Kana
kepada Sana. Dan tentu saja, Sana langsung mengadukan
hal itu pada Papinya.
Tapi tidak apa-apa. Leo tidak menyesal melakukannya.
Keluarga Kana memang harus tahu agar Kana tetap aman
dan terlindungi.
Tapi masalahnya ... bagaimana Leo akan mengirim surat-
suratnya lagi? Nasa baru saja membalas suratnya dan Leo
tidak lagi memiliki seseorang yang bisa mengirimkan surat
ini kepada Nasa.
Bagaimana kalau Nasa menunggu surat darinya?
Bagaimana kalau Nasa berpikir Leo tidak akan mengiriminya
surat lagi.
Leo gusar di tempatnya. Laki-laki itu keluar dari
kamarnya. Menghampiri Sana yang berada di kamar
adiknya dan bertekad untuk memohon bantuan pada wanita
itu. Bagaimana pun caranya, surat-suratnya harus sampai di
tangan Nasa.
"Kakak mohon, Sana. Nasa baru aja kirim surat
balasannya. Sekali ini, aja. Kakak mohon." Leo menatap
Sana penuh permohonan.
Sana menghela napas. Sedikit tergugah. Apalagi Leo
sudah memberi tahu apa yang terjadi dengan Kana pada
mereka. Meski dengan konsekuensi Kana tidak mau lagi
membantunya. Well, karena itu juga, Sana jadi tahu bahwa
selama ini Kana membantu Leo untuk berkomunikasi
dengan Nasa.
"Oke, Sana bantu untuk sekali ini."
Leo tersenyum semringah mendengarnya.
"Cuman satu kali ini."
Leo mengangguk. "Nggak apa-apa. Terimakasih, Sana."
Dia akan menulis begitu banyak surat untuk Nasa pada
kesempatan terakhirnya ini.
"Tapi sebenarnya, bukan cuman Nasa yang perlu Kak Leo
bujuk. Apa Kak Leo nggak tahu kalau restu Papi untuk Kak
Leo sudah dicabut?"
.
.
.
To Be Continued
(15/11/2022)
Ya ampun Leeeeee baru aja kamu dapat angin
segar si bungsu mau bantuin.... eh udah bertingkah
aja kamu Le, Le. Untung Sana yang cantik baik hati
dan tidak sombong masih mau bantuin kamu juga
Leo.
Tapi nggak apa2 ya Chef, siapa tahu dengan kasih
tahu Sana dan off course infonya nyampe ke Papi
Saka juga kalau si bungsu kesayangannya digangguin
orang, kamu punya nilai + lagi sedikit....
Ya udah deh, selamat berjuang lagi Leo!!!!
Btw gais! Aku upload spoiler As Sweet As Nasa di
instagram ku yaaaawww
Silakan mampirrr ^^
EMPATPULUHENAM
Tentu saja Leo tahu.
Dia tahu dengan jelas bahwa tangan terbuka yang
Papinya Nasa untuk dirinya sudah tertutup rapat-rapat. Dia
sudah menyakiti putri kesayangannya dan jelas, Leo tidak
akan bisa dimaafkan dengan mudah. Leo tahu dengan
sangat jelas bagaimana Nasa begitu dicintai oleh
keluarganya.
Selama ini, Leo tidak memiliki wajah untuk memulai
sesuatu atau bahkan sekedar memohon maaf oleh pria yang
sangat Nasa cintai itu. Pria hangat yang bukan hanya
hangat dengan keluarganya, tapi dengan siapa saja. Saka
begitu mudah membuka tangannya menerima Leo dan Leo
justru mengecewakannya seperti ini.
Mendapatkan maaf dari Saka tentu sama sulitnya seperti
mendapatkan maaf dari Nasa.
Leo menghela napasnya panjang. Dia banyak berpikir
sepanjang perjalanan menuju yayasan. Laki-laki itu
menghentikan pikirannya sejenak untuk memarkirkan mobil
di salah satu lokasi kolam renang yang ada di sekolah
keluarganya itu. Ayahnya meminta bertemu siang ini.
Laki-laki itu masuk ke dalam, kemudian menemukan sang
ayah yang tampak sedang berbincang dengan pegawainya
yang lain. Leon lalu menghentikan pembicaraannya saat
melihat sang putra menghampirinya.
"Nanti laporkan lagi progresnya."
"Baik, Pak."
Dua pegawai ayahnya itu lalu undur diri. Menyisakan Leon
dan Leo yang saat ini berada di salah satu kolam renang
putra.
"Duduk dulu." Leon duduk lebih dulu di salah satu kursi
yang ada di sana.
Leo mengikutinya. Duduk di kursi lainnya kemudian ikut
menatap arah pandang sang ayah yang mengamati kolam
renang di depan mereka.
"Bagaimana? Kamu jadi ambil tanahnya?" tanya Leon
memulai pembicaraan.
Leo mengangguk. "Jadi, Ayah. Lokasinya cukup strategis.
Ada SMA dan satu sekolah yang baru mau dibangun di sana.
Leo juga liat masih sedikit coffee shop yang buka."
"Desainnya sudah kamu siapkan? Konsepmu itu unik, Leo.
Untuk desain bangunannya harus sama uniknya. Ayah ada
beberapa kenalan arsitek dan kontraktor. Nanti Ayah kasih
ke kamu kontaknya."
"Iya, Ayah. Terima kasih."
"Kalau butuh apa-apa lagi, langsung hubungi Ayah."
"Iya, Ayah."
Leo sedang merencanakan sesuatu. Beberapa waktu yang
lalu, dia membeli sebuah tanah. Rencana ini sebenarnya hal
yang sudah ia impikan sejak lama. Tapi hanya di dalam
mimpinya karena Leo belum memiliki alasan dan kekuatan
untuk mewujudkannya.
Tapi saat ini, dia ingin mewujudkannya.
Sebuah istana cokelat untuk Nasa.
Ayah dan anak itu kembali diam dengan pikiran masing-
masing. Menatap pada kolam renang yang ada di depan
mereka. Suasana sepi meresapi keduanya. Ini sudah jam
pulang sekolah dan tidak ada siswa lagi yang menggunakan
kolam renang ini.
"Dulu lokasi kolamnya bukan seperti ini. Kolam renang
untuk laki-laki dan perempuan digabung. Sekarang di
pisah." Leon mulai bicara kembali.
"Kenapa begitu, Yah?"
Leon menoleh pada putranya. Tersenyum kecil seraya
mengingat masa lalunya.
"Ayah cemburu waktu liat guru olahraga memperhatikan
Bunda kamu yang lagi mengajar siswanya berenang."
Leo ikut tersenyum. Dia tahu dulu Bundanya seorang guru
juga di salah satu sekolah di yayasannya.
"Bunda kamu dan pesonanya memang luar biasa." Leon
kembali bicara. "Bunda kamu itu dulu pemalas sekali.
Semua serba malas bahkan sampai makan pun dia malas.
Harus Ayah omelin dulu baru dia makan."
Leo mendengarkan.
"Dia nggak bisa memasak. Masakan Bundamu yang
sekarang sudah ada perkembangan. Dulu, masak air aja
bisa sampai pancinya gosong. Kalau pun berhasil,
tangannya beset-beset kena pisau. Membersihkan rumah
juga nggak bisa. Pokoknya banyak lah nggak bisanya." Leon
terkekeh lagi. Mengingat bagaimana sang istri dan masa-
masa awal pernikahan mereka. "Tapi begitu, Bunda kamu
orang yang sama hebat. Dia adalah orang yang menjadi
alasan Ayah untuk bertahan dan berani menghadapi
masalah."
Leon lalu menoleh lagi pada putranya sebelum
melanjutkan, "terkadang, kita memerlukan satu saja alasan
untuk bertahan dan melanjutkan hidup bahkan berani untuk
memperbaiki hidup. Dan untuk Ayah, Bunda kamu adalah
alasannya.
Bunda kamu adalah wanita yang hebat. Karena dia, ayah
yang pengecut ini berhasil menghadapi masalah dan
ketakutannya. Tapi menurut ayah, gadis itu juga nggak
kalah hebat. Dia mendampingi kamu tanpa perlu ada di
samping kamu."
Leo tersenyum. Ayahnya benar. Dia mampu bertahan dan
menghadapi ini semua karena Nasa. Bukan hanya sekedar
bertahan tapi berani untuk melanjutkan dan memperbaiki
hidupnya.
Leon mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya
kemudian menyerahkannya pada putranya.
"Ini."
"Ini apa, Ayah?" Leo menerima pemberian ayahnya itu
dengan bingung.
"Kartu keanggotaan golf. Saka di sana setiap Jumat sore,"
ujar Leon. "Ayah juga punya anak perempuan. Ayah tahu
jelas perasaannya. Mungkin kamu akan mengalami
kesulitan saat menghadapinya nanti. Tapi Saka adalah orang
yang bijaksana. Mungkin lebih bijaksana dari pada Ayah."
Leo menatap ayahnya tidak berkedip. Dia jelas menyadari
bagaimana sang ayah yang begitu marah dengan Gauda
yang sudah menyakiti putri tercintanya. Leon bahkan
menolak kehadiran keluarga Gauda dan memutuskan segala
bentuk komunikasi dengan mereka.
"Anak perempuan ayah disakiti oleh laki-laki tapi ayah
dengan egois masih berharap anak laki-laki ayah dimaafkan
meski sudah menyakiti anak perempuan ayah yang lain."
Leo menggenggam kartu itu erat. Ayahnya itu bukan
orang yang ramah dan suka bercerita banyak hal. Tapi
begitu, ayahnya adalah orang yang sangat hebat.
Leo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya
ini.
*__*
Leo sudah tiga puluh menit berada di tempat itu. Tidak
dianggap sama sekali keberadaannya oleh Saka. Pria itu
benar-benar mengabaikannya seolah Leo tidak ada di sana.
Menolak segala bentuk interaksi yang coba Leo bangun
dengannya.
Saka terlihat menyelesaikan permainannya lebih awal. Dia
mengemasi barang-barangnya dan hendak berlalu begitu
saja. Kemudian dengan nekat, Leo menahannya. Dia tidak
akan menyerah kali ini meski wajahnya harus babak belur
lagi.
"Kamu!" Saka menatapnya begitu tajam. "Jangan kurang
ajar kamu ya!"
"Saya mohon, Om. Kasih saya satu kesempatan lagi." Leo
tidak peduli dengan kemarahan pria itu. Dia akan memohon
sampai Saka memberikan apa yang laki-laki itu pinta.
Kesempatannya.
Wajah Saka tampak mengeras menatap laki-laki di
depannya. Laki-laki yang dipilih oleh putri kesayangannya
dan dengan kurang ajar malah membuat putrinya pergi.
Saka menunjuk Leo dengan jari telunjuknya. Dia benar-
benar kecewa. Dia kecewa dengan laki-laki di depannya ini
dan dengan dirinya sendiri karena sudah salah memberi
kepercayaan untuk orang lain.
"Kamu adalah kesalahan terbesar yang pernah Nasa pilih
dalam hidupnya."
Leo memejamkan matanya. Kata-kata tajam itu tentu kini
bermain di kepalanya.
"Ini semua salah kamu! Karena kamu, anak, menantu dan
cucuku mati!"
"Karena kamu! Karena kamu hadir di dunia ini hidupku
jadi hancur seperti ini! Kamu adalah kesalahan terbesar
dalam hidupku."
Beserta kalimat-kalimat lain yang kembali hadir
menghantuinya. Leo menarik napasnya dalam. Menguatkan
diri dan kembali membuka matanya. Menatap Saka dengan
begitu tegas dan penuh tekad.
"You are so loved, Leo. Kamu sangat dicintai. Jangan
pernah biarkan orang lain menilai kamu sebuah kesalahan
karena kamu adalah orang yang sangat berharga. Orang
yang pantas mendapatkan banyak cinta. And I love you. So
in love with you."
Nasa mencintainya. Nasa memilihnya. Dia orang yang
berharga. Dan pilihan Nasa ....
"Saya bukan kesalahan, Om." Leo mengatakannya dengan
tegas. "Saya bukan kesalahan dan Nasa nggak pernah salah
sudah memilih saya."
Pilihan Nasa tidak pernah salah. Leo menjamin hal itu.
"Izinkan saya membuktikan itu pada Om. Berikan saya
satu kesempatan untuk membuktikan bahwa Nasa, anak
Om, memang nggak pernah berbuat kesalahan apalagi
kesalahan karena sudah memilih saya."
.
.
.
To Be Continued
(18/11/2022)
Hufftttt .....
Akhirnya Leo ketemu juga sama Papi Saka....
Ada yang kangen Nasa nggak sih?
Part depan kita bakalan ketemu Nasa nih!
Sekarang aku kasih bonus pict dari si dokter cantik
dulu
Sampai ketemu^^
EMPATPULUHTUJUH
Leo tidak mampu menahan senyum di bibirnya. Udara pagi
ini terasa begitu sejuk untuk dihirupnya. Laki-laki itu sudah
siap untuk pekerjaan barunya hari ini. Keluar dari mobil dan
menghadap kaca mobilnya dulu untuk melihat
penampilannya sendiri. Leo mengenakan pakaian yang
sangat rapi hari ini. Harus tampil serapi mungkin untuk
menyambut pekerjaan baru ini.
Leo pun melangkahkan kakinya. Menuju pintu utama
sebuah rumah megah yang baru kali ini dia datangi.
Menekan bel dan tidak lama, ART keluar dari sana. Leo
dipersilakan masuk. Duduk di ruang tamu dan menunggu
bos barunya untuk keluar dari rumah. Katanya masih
sarapan pagi.
"Pagi, Om." Leo berdiri tidak lama bos barunya itu
menampakkan diri. Menyapa dengan wajah berbinarnya.
"Hm." Saka—bos baru Leo—hanya membalas sapaannya
sekilas. Pria empat anak itu justru kini memandangi Leo dari
ujung kepala sampai ujung kaki. Membuat Leo merasa
sedikit salah tingkah.
"Mami!" Saka lalu memanggil istrinya. Menggerutu dan
menatap jam yang terus berjalan itu dengan kesal. "Mi,
kamu jangan lama-lama Papi ada meeting sama direktur
rumah sakit pagi ini."
"Sabar dong, Pi. Ampun deh bawel banget." Kemudian
Clarinna keluar dengan terburu-buru. Dengan
penampilannya yang mewah seperti biasanya.
"Ayo. Papi bisa telat ini nanti." Saka pun menarik istrinya
keluar dari rumah.
Leo mengekor di belakangnya. Berjalan menuju mobil
pribadi Saka yang biasa pria itu bawa untuk bekerja. Sudah
ada pekerja lain di sana yang tengah memanaskan mobil
Saka. Kemudian menyingkir saat dua majikannya dan Leo
datang.
"Jangan sampai lecet," peringat Saka pada Leo.
"Siap, Om!" Leo menjawab hormat. Tidak lupa lengannya
lihat membuka pintu belakang dan mempersilakan Saka dan
istri masuk ke dalamnya. Setelah itu, Leo ikut masuk ke
dalam kursi kemudi bersiap untuk meninggalkan rumah.
Ketika berangkat pagi tadi menuju rumah Saka, jalanan
sudah sangat padat. Tidak heran saat mobil Saka
bergabung dengan mobil-mobil lainnya, langsung terjebak
macet.
"Antar saya ke rumah sakit dulu, baru setelah itu antar
istri saya," perintah Saka.
"Siap, Om."
Leo mengemudi dengan sigap. Langsung mengambil
celah jalanan dan mengemudikannya masuk ke jalan tol
yang tidak begitu macet seperti jalanan yang tadi
dilewatinya. Sesekali, laki-laki itu memasang telingnya
mendengarkan percakapan sepasang suami istri yang sudah
menikah puluhan tahun itu.
"Ini dasi Papi udah bener belum sih, Mi? Kok kayak nyekek
begini." Saka menarik-narik dasinya sendiri.
"Tuh, kan. Makanya tadi aku bilang tunggu tuh tunggu.
Liat nih, sekalinya pakai dasi sendiri jadi kekencengan
begini, kan?" Clarinna menggerutu. Namun tangannya lihat
memperbaiki dasi sang suami.
"Dulu juga aku sering pakai sendiri nggak kenapa-kenapa
tuh."
"Itu kan dulu. Hidupmu sekarang sudah ketergantungan
sama aku. Tahu?"
"Iya-iya."
"Jadi apa lah kamu tanpa aku, Saka."
"Aku tanpa kamu?" tanya Saka. "Butiran debu, Rina."
Clarinna menghela napas panjang dan geleng kepala
menanggapi gombalan suaminya yang sangat picisan sekali
ini.
Dari balik kemudinya, Leo justru mengulum senyumnya.
Saka yang sangat garang beberapa waktu lalu kepadanya
itu ternyata pria yang bucin dengan istrinya. Well, Saka
memang tidak sesangar itu juga, sih. Dia masih berbaik hati
memberikan Leo kesempatan penebusan dosanya pada
Nasa dengan menjadi sopir pribadi Saka selama sopirnya
yang asli selesai cuti dari kampungnya.
Meski ... Leo harus menjalani beberapa hal mengerikan
terlebih dulu.
"Kalau mau jadi sopir Saya, kamu harus potong rambut."
"Tapi Om—"
"Nggak ada tapi. Kalau nggak mau ya sudah. Saya nggak
maksa."
Ya, itu adalah sepenggal percakapan syarat agar Saka
mau mempertimbangkan Leo kembali. Menjadi sopir
pribadinya dengan syarat mencukur rambutnya lebih dulu.
*__*
"Kak, Kak, Kak! Gawat!!" Adel berlari kencang menuju
kakaknya yang baru saja masuk rumah.
"Gawat kenapa?" Leo bertanya heran.
"Nasa ... Sana bilang, Nasa jadi relawan ke Afghanistan."
Leo mengerjap beberapa kali. "Maksud kamu?"
"Iya, aku berhasil tanya sama Sana, Nasa itu ke mana?
Terus Nasa bilang, Sana jadi relawan medis ke Afghanistan."
"Afghanistan? Kamu yang bener, Del?" Wajah Leo tampak
sangat panik. Tentu tidak jauh berbeda dengan wajah Adel
yang mendengar kabar itu langsung dari Sana.
"Sana bilang Nasa izin sama Papinya untuk jadi relawan
medis ke Afghanistan."
"Tapi ... semudah itu ke Afghanistan? Di sana baru selesai
perang, Dek."
"Kak, Nasa dokter. Sana bilang Nasa mau ikut program
apa begitu aku kurang jelas. Teleponnya keburu mati
soalnya Anin nangis."
"Kakak hubungi Tante Tiana sekarang." Leo terburu
mengambil ponselnya. Laki-laki itu langsung masuk ke
dalam rumah sembari mengutak-atik ponselnya
menghubungi sang tante yang suka berkeliling dunia dan
tidak jarang ikut menjadi relawan di negara-negara timur
sana.
"Kak, Kakak mau nyusul Nasa?" Adel mengekori Kakaknya.
"Ya terus menurut kamu? Nasa sendirian di sana. Nggak
mungkin Kakak bisa tenang di sini." Leo akan meminta
bantuan tantenya untuk mempermudah perizinannya
berangkat ke sana. Tiana pasti memiliki akses lebih untuk
hal itu. Kalau bisa, hari ini juga Leo harus berangkat.
Dia tidak bisa menunggu lama. Dia benar-benar tidak bisa
menunggu lebih lama.
*__*
Udara Jakarta.
Nasa menghirup udara kota kelahirannya ini yang sudah
lama ia tinggali. Kurang lebih selama tiga bulan Nasa tidak
datang ke sini. Dia berada di sebuah pulau yang begitu
menakjubkan dan membuatnya seakan tidak mau pulang
dari sana. Namun sudah tiga bulan dan program bakti sosial
yang diikutinya sudah habis.
Tiga bulan ini, setelah Papinya menolak mentah-mentah
keinginan Nasa untuk bergabung dengan relawan medis ke
Afghanistan, Nasa mendapatkan sebuah angin segar saat
melirik brosur lain. Liana mengirimkannya sebuah kegiatan
berbasis pengabdian masyarakat yang terbuka untuk
umum. Saat itu, sebenarnya pendaftaran sudah tutup.
Namun bersyukurnya Nasa ada salah satu peserta yang
mengundurkan diri sehingga Nasa bisa menggantikannya di
sana.
Nasa pun pergi ke pulau yang sangat indah itu. Banda
Neira. Salah satu pulau di kepulauan Banda yang terletak di
Maluku. Nasa berada di sana selama tiga bulan. Mengikuti
beberapa kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat
yang sudah disiapkan oleh panitia kegiatan. Dia juga banyak
bersenang-senang di sana. Bercengkrama dengan
masyarakat setempat, bermain dengan anak-anak. Dan
kegiatan yang paling Nasa suka, dia bisa berdongeng.
Setelah sekian lama Nasa tidak begitu menyukai anak-
anak, sekarang dia dibuat sangat mencintai makhluk-
makhluk mungil itu. Suatu saat, Nasa berjanji akan kembali
ke sana.
"Halo?" Nasa menjawab panggilan dari saudara
kembarnya yang masuk ke ponsel saat gadis itu baru saja
keluar dari gate kedatangannya.
"Nas! Gawat Nas!" Suara Sana terdengar panik.
"Gawat kenapa?"
"Kak Leo! Kak Leo salah paham! Dia kira lo beneran ke
Afghanistan. Dia mau nyusulin lo ke sana!"
"Maksud lo?"
"Iya, aduh. Pokoknya begitu deh." Suara Sana sedikit tidak
jelas. "Lo udah keluar pesawat kan? Tolong dong, Nas,
susulin Kak Leo. Gue sama Adel lagi otw bandara. Tapi
takutnya Kak Leo udah masuk pesawat duluan."
Nasa langsung mematikan ponsel. Gadis itu berlari dari
tempatnya sekarang menuju kemungkinan tempat Leo
berada saat ini. Nasa bahkan melupakan kopernya yang
belum ia ambil begitu saja.
*__*
Suana ini tampak begitu canggung.
Nasa sudah menemukan Leo dan membatalkan niat laki-
laki itu untuk pergi. Untung saja, Leo belum check-in dan
cepat datang ke bagian informasi saat Nasa meminta
petugas bandara untuk memanggilnya. Nasa masih
mengingat dengan jelas bagaimana Leo yang tadi begitu
kencang menubruk dan memeluk dirinya.
Sama sekali tidak canggung seperti sekarang.
Leo duduk di kursi belakang bersama dengan Nasa dan
membiarkan Adel yang menyetir serta Sana yang duduk di
kursi depan. Keadaan di antara Leo dan Nasa tampak
canggung. Lebih tepatnya, Leo yang canggung.
Pandangan laki-laki itu hanya lurus ke depan dan
duduknya begitu tegap di pojok kursi sampai menempel
pada pintu. Kontras sekali dengan Nasa yang terlihat santai
di sampingnya.
"Duh, untung Kakak belum jadi berangkat." Adel
membuka pembicaraan. "Elo sih, San, ngasih info setengah-
setengah."
"Ya lo aja yang nggak konfirmasi lagi. Info langsung
ditelan bulat-bulat begitu aja. Gue kan belum selesai
ngomong. Keburu Anin pulang nangis-nangis berantem lagi
sama temennya."
"Lagian bisa-bisanya ke Afghanistan segampang itu,"
tambah Sana.
"Sebenarnya Kakak nggak langsung ke Afghanistan, sih.
Ngurus paspor sama tiketnya susah. Dia tuh mau ke India
dulu ketemu Tante Tiana. Nanti baru sama Tante Tiana
diurus ke sana."
"Tante Tiana? Bukannya beberapa hari yang lalu masih di
Jakarta?" tanya Sana.
Adel mengangguk. "Udah pergi lagi dia."
"Bener-bener ya, Tante lo. Padahal waktu gue ke rumah lo
dan ada Tante lo di sana, dia kan sama cowok. Gue kira
calon Om lo."
"Emang pacarnya Tante gue." Adel tersenyum bangga
menatap Nasa. "Kayaknya kali ini Tante Tiana mau deh,
nikah. Keluarganya Om Adwen di India. Terus katanya
mereka ke sana mau ketemu keluarganya."
"Serius, lo? Tante Tiana mau nikah?"
Adel mengangguk senang. "Oma lagi bahagia banget
waktu tahu Tante Tiana sama Om Adwen ada rencana ke
sana."
"Tante Tiana? Tante Tiana yang bukannya punya rencana
nggak akan menikah itu?" Nasa ikut menimbrung. Tentu, dia
sangat hafal nama Tantenya Adel yang belum pernah dia
temui itu bahkan saat hari pertunangan Adel dan Gauda.
Adel menoleh pada Nasa lewat spion mobilnya.
"Lo tahu, Nas?" timpal Adel.
"Em." Nasa mengangguk. Gadis itu kemudian melirik Leo
yang sudah tampak lebih tegang di tempatnya. "Leo yang
cerita. Dia bilang dia pengen kayak Tante Tiana-nya. Hidup
bebas dan nggak menikah."
Adel dan Sana langsung menutup mulut. Sedang Leo, dia
kini tampak kelabakan. Menoleh pada Nasa dengan takut-
takut.
"Aku mau menikah kok, Nasa," katanya.
Nasa hanya menatap laki-laki itu dengan datar.
"Benar. Aku mau menikah. Aku benar-benar mau
menikah."
Nasa mengangguk saja.
"Oh," timpalnya.
Adel dan Sana menahan tawa di kursi depan. Tentu saja
menertawakan kepanikan Leo yang suaranya saja bahkan
ikut bergetar saat mengatakannya.
"Kakak potong rambut loh, Nas. Gimana menurut kamu
style rambut baru kakak?" tanya Adel mengganti topik
pembicaraan mereka.
Nasa melirik lagi pada Leo sebelum mengomentari,
"jelek."
Lagi, Leo tampak gelagapan. Menoleh pada Nasa dengan
panik.
"Nanti bisa panjang lagi, kok. Aku udah beli vitamin
rambut."
Nasa mengangguk singkat.
"Oh." Dia kembali menatap ke depan.
.
.
.
To Be Continued
(22/11/22)
Panik-panik Leo panik hahahaha akhirnya heeeey
mereka ketemu lagi juga :")
Leo terkecoh gais. Nasa nggak jadi relawan medis
ke negara lain dia cuman lagi ikut kegiatan sosial
ajaaaaa hehehehehe
Lagi mana Papi bakalan ngizinin Nanas pergi ke
sana :"))
Btw tanggalnya bagus euyyyyy ada yg merayakan
hari bagus juga kah? :D
Oh iya, mau info nih, ASAN minggu depan selesai
nih sepertinyaaaa hehehehehe
Sudah menabung untuk peluk versi cetak,
kaaaaan?
Udh dong masa belum :P
Sampai ketemu jumat!
EMPATPULUHDELAPAN
Pagi-pagi buta, Leo sudah berkunjung ke rumah orang lain.
Laki-laki itu membawa bahan makanan di tangannya
sembari menunggu pintu rumah yang baru saja dibunyikan
belnya itu terbuka. Kemudian saat PRT membukakan pintu
dan menatap Leo terkejut, laki-laki itu hanya tersenyum
lebar.
"Mas Leo pagi begini kok sudah datang? Bapak nggak
bilang mau berangkat subuh-subuh," kata Bi Mirna—salah
satu PRT di sana.
"Memang enggak, Bi. Saya sengaja datang pagi mau
masak," balas Leo.
"Masak?"
Leo mengangguk. Kemudian tanpa menunggu Bi Mirna
menyelesaikan rasa terkejutnya, laki-laki itu main
nyelonong saja masuk ke dalam rumah besar itu.
"Saya pinjam dapurnya ya, Bi," izin Leo yang tidak benar-
benar memerlukan izin.
Dengan cepat, Leo langsung mengambil alih dapur di
rumah keluarga Rysaka Anugerah itu. Membiarkan Bi Mirna
dan beberapa PRT lain menatap apa yang tengah
dilakukannya dengan begitu lihai di dapur itu. Empat PRT
yang semuanya perempuan itu menatap Leo begitu takjub.
Punggung tegapnya yang sandarable terlihat dari belakang.
Belum lagi, bagaimana pria itu yang begitu lihai memainkan
pisau tengah memotong-motong daging.
"Pada ngapain?" Nyonya rumah datang dengan heran
menatap PRTnya yang berdiri berjejer berpangku tangan
pada bar dapur rumahnya.
Ke empat PRT itu langsung membalikkan badan dan
menatap Clarinna kemudian menunjuk apa yang tengah
terjadi di dalam dapur itu.
"Ada chef keren lagi atraksi, Bu."
Clarinna menatap pada objek yang dituju. Kemudian
melangkah memasuki dapur dan menyaksikan Leo—sopir
baru suaminya itu tengah menguasai tetorialnya. Padahal,
niat hati Clarinna ingin memasak sarapan pagi hari ini.
"Tante." Leo membalikkan badan, menyapa Clarinna.
Clarinna melongok apa yang tengah Leo kerjakan.
Kemudian mengangguk-angguk saat melihat pekerjaan Leo
yang tentu saja lebih baik dari pada Clarinna yang
mengerjakan. Potongan wortel yang normal dan juga
potongan daging ayam yang sesuai porsinya.
"Mau masak apa?" tanya Clarinna.
"Gulai ayam, Tante."
"Gulai ayam? Kamu yang bener aja pagi-pagi makan
santen."
"Tapi Nasa suka gulai ayam."
"Jadi kamu masak buat Nasa doang?"
"Untuk semuanya, kok, Tan."
Clarinna geleng kepala. "Saya lagi diet, Leo. Lagi kurangi
makanan yang berkolesterol tinggi. Saka juga sudah harus
menjaga pola makannya."
"Menu saya nggak cuman satu kok, Tante. Saya buatkan
juga sup ayam untuk Om dan Tante."
Clarinna menyipit menatap laki-laki itu. Tangannya
bersedekap di depan dada hampir membuat Leo salah
tingkah. Ternyata, gaya mengamati orang lain sampai
membuat orang mati gaya Nasa itu turunan dari Maminya.
Benar-benar mirip sekali. Wajah datar tetapi matanya tajam
menatap.
"Harus enak. Kalau nggak enak, kamu nggak boleh masak
di sini lagi."
Leo langsung mengangguk dengan tersenyum lebar. Dia
akan menjamin rasa masakannya akan sangat enak dan
membuat Nasa makan dengan lahap.
Clarinna yang selesai menginvestigasi koki baru di
dapurnya itu kemudian bersiap untuk melangkah keluar.
Pagi ini, dia tidak jadi memasak. Well, Clarinna masih punya
banyak waktu untuk bersantai sebelum bersiap pergi
bekerja.
"Tante," panggil Leo yang membuat Clarinna
menghentikan langkah, berbalik badan menatapnya.
"Terima kasih, sudah mengizinkan saya masak. Terima
kasih juga, sudah melahirkan Nasa."
Clarinna malah memutar kedua bola matanya.
"Lebay kamu. Mirip suami saya."
*__*
Hari ini, Leo benar-benar tidak dapat menyembunyikan
senyumnya. Karena kebaikan hati Saka, Leo diizinkan
bergabung sarapan pagi bersama mereka. Dia juga
diizinkan duduk di samping Nasa yang membuatnya luar
biasa bahagia. Sepertinya Saka sudah sedikit luluh. Karena
kemarin, saat pertama kali Nasa kembali ke rumahnya, Saka
langsung menyuruh Leo jauh-jauh dan tidak boleh
mendekati putrinya. Sepertinya harum masakannya
membuat Saka luluh pagi ini.
"Makan yang banyak." Leo dengan berani memberikan
Nasa buah jeruk yang sudah dikupasnya di bawah tatapan
tajam dari Saka yang tidak begitu laki-laki itu pedulikan.
Anggota keluarga lain sudah menyelesaikan makanan
mereka begitu juga Nasa dan Leo.
Dia sudah memiliki sedikit trik untuk meluluhkan hati
Saka.
"Papi itu orangnya gampang luluh. Asal kalau mau
dapatkan hati Papi harus serius dan pantang mundur.
Jangan menye-menye. Walau Papi keliatan nggak suka,
terobos aja terus. Selama Papi masih mau mengur atau
marahin Kak Leo, berarti Papi masih mau kasih kesempatan
untuk Kak Leo. Kalau Papi udah mengabaikan Kak Leo dan
nggak mau bicara sama sekali, baru Kak Leo harus panik
karena tandanya, Papi udah pasang tanda 'X' untuk Kak
Leo."
Karena Saka masih bawel memarahinya ini-itu, Leo masih
berada di jalur aman. Hanya butuh beberapa trik dan
keberanian lagi untuk benar-benar meluluhkan hati pria itu.
"Nasa." Saka memanggil putrinya. Pria itu lalu
mengeluarkan beberapa lembar foto dan memberikannya
pada Nasa.
Leo ikut melirik.
"Ada 3 kandidat yang udah memenuhi kriteria Papi.
Menurut Papi, kriteria kamu juga masuk," ujar Saka.
Nasa menjejerkan empat foto itu di atas meja.
Menatapnya satu persatu tiga foto laki-laki yang berada di
sana. Kemudian tatapannya jatuh pada foto yang berada
tepat di depannya.
"Yang itu Arkana. Dia selebriti Chef. Jago masak udah
pasti. Rambutnya juga panjang."
Leo ikut menatap pada foto itu walau perasaannya tidak
enak.
"Dia pernah jadi chef tamu di Rumah Rasa. Orangnya
genit. Sehari di sana, dia berhasil ajak pegawaiku kencan,"
timpalnya. Ini tidak bohong. Dia memang mengenal Arkana
si Selebriti Chef itu yang pernah menjadi chef tamu di
restorannya.
Pandangan Nasa lalu beralih kepada foto berikutnya.
"Yang itu Pamungkas. Dia penyanyi sekaligus pemilik
restoran. Bisa masak dan rambutnya juga panjang,"
beritahu Saka lagi.
"Kamu nggak begitu suka musik. Kamu kan lebih suka
tempat yang tenang. Iya, kan?" timpal Leo.
Saka berdecak di tempatnya. "Kamu nggak perlu ikut
campur lagi, Leo. Kalian sudah putus."
"Kita nggak putus, Om," sanggah Leo langsung. Menatap
pada Nasa yang hanya memutar bola matanya jengah.
Memang nggak putus karena mereka nggak pernah
pacaran.
"Saat Nasa pergi tiga bulan lalu, itu sudah saya anggap
hubungan kamu dan Nasa berakhir." Saka menenggak air
minumnya sampai tandas kemudian berdiri.
"Ayo, Mi. Kita berangkat," ajak Saka pada istrinya.
Saka berlalu bersama sang istri yang mengikutinya.
Kemudian tersisa Nasa dan Leo di sana yang masih duduk
tenang di kursi makan. Sarapan pagi ini memang hanya ada
mereka ber-4. Naka ada kuliah pagi dan Kana tentu saja
sudah berangkat sekolah.
"Kamu hari ini ada acara?" tanya Leo pada Nasa.
"Leo! Cepat!" Belum sempat Nasa menjawab, suara
teriakan Saka memanggil Leo sudah terdengar.
Leo pun bangkit. Tidak mau membuat Saka menunggu
semakin lama. Namun sebelum itu, dia menarik ketiga
lembar foto di depan Nasa itu dan menyengir menatap Nasa
yang terkejut dengan tingkahnya.
"Kamu nggak perlu ini."
Aw! Menggemaskan!
Nasa geleng kepala sembari tersenyum sendiri.
*__*
Hari Minggu tiba.
Hari di mana keluarga Rysaka Anugerah memiliki agenda
rutinnya. Minggu kerja bakti. Semua orang sudah sibuk
dengan pekerjaannya masing-masing begitu juga dengan
Leo yang sukarela datang sendiri untuk membantu. Saka,
Clarinna, Bhumi, Naka dan Kana bahkan Anin sudah siap
dengan pekerjaannya masing-masing. Hanya Sana yang
sedang hamil besar tidak diizinkan untuk ikut serta dan kini
tengah bersantai-santai di ruang TV. Juga Nasa, yang
kemarin mengalami musibah terpeleset di kamar mandi
panti asuhan yang ia datangi hingga harus merelakan
tangannya di gips.
"Lo beli buku apaan aja sih, Kana. Berat banget ini!" Suara
gerutuan Naka terdengar kala laki-laki itu mendorong
sebuah kardus yang baru saja diterimanya dari kurir.
"Ih! Mas Naka jangan didorong begitu nanti rusak isinya!"
Kana tidak terima. Membuat Naka berdecak dan menjauhi
kardus itu.
"Ya udah sana angkat sendiri ke kamar lo!" Naka malah
melenggang begitu saja. Membuat Kana mengerucutkan
bibirnya kesal karena Kakaknya yang sangat menyebalkan
itu.
Leo kemudian mendekat. Ini adalah kesempatan untuk
mendapatkan hati Kana kembali setelah Kana benar-benar
memusuhinya dari sejak Leo memberi tahu masalahnya
kepada Sana.
"Mau Kak Leo bantu?" tawar Leo pada remaja itu.
Kana menatap Leo masih dengan wajah kekinya. Namun
tidak kuasa menolak bantuan itu karena tentu, dia tidak bisa
membawa kardus ini ke kamarnya seorang diri. Akhirnya,
Kana pun mengangguk.
"Tapi jangan diseret," ujarnya.
Leo tersenyum. Mengangkat kardus yang lumayan berat
itu ke dalam gendongannya.
"Kamar Kana di lantai dua dari tangga belok kanan
samping tempat main PS."
Leo pun mengangguk. Membawa masuk kardus berat itu
ke dalam rumah. Melewati Sana yang cekikikan menonton
TV sembari mengemil. Laki-laki itu naik ke lantai dua.
Melihat beberapa pintu kamar dan menuju salah satunya
seusai arahan Kana—dekat tempat main PS. Leo
menemukan sebuah TV besar dan juga kaset-kaset PS yang
masih berhamburan di sana.
Membuka pintu itu, Leo justru terkejut. Membalikkan
tubuh hingga kardus yang dibawanya jatuh ke bawah.
"Maaf, aku nggak lihat."
Nasa yang sedang berusaha memakai kemejanya itu
berdecak. Dia juga terkejut dengan kedatangan Leo yang
tiba-tiba itu.
"Aku mau bawa kardus ini ke kamarnya Kana," kata Leo.
"Kamar Kana di depan."
Leo mengangguk. Mengambil lagi kardus di
gendongannya dan bersiap untuk keluar kamar. Namun
sebelum itu, Leo terdiam sebentar.
"Butuh aku panggilkan Sana untuk bantu kamu pakai
baju? Kayaknya kamu kesulitan." Tangannya di gips dan Leo
sempat melihat sebentar Nasa kesulitan memakai
pakaiannya.
"Sana nggak boleh naik ke lantai dua. Dia lagi hamil
besar."
Leo mengangguk. "Kalau gitu—"
"Kalau mau kamu aja yang bantuin."
Leo menurunkan lagi kardusnya. Balik badan, dia berjalan
dengan sedikit deg-degan menuju Nasa yang diam di
tempat menatapnya dengan datar. Pelan, Leo pun
membantu Nasa memasukkan tangannya ke dalam lengan
tangan kemeja yang sebelahnya sudah berhasil Nasa
masukkan sendiri.
Sekarang, tugasnya tinggal membantu Nasa mengancingi
kemejanya itu.
Leo meneguk ludahnya sendiri. Tentu ini tugas yang berat.
Perut telanjang Nasa terpampang di depan matanya dan
juga ... ouch! Pikiran Leo kotor sekali. Dia serasa pernah
melihat bra yang sama yang Nasa kenakan saat ini di
lemarinya.
Ya, bra satu tahun lalu yang Nasa tinggalkan di dapurnya
masih tersimpan rapi di dalam lemari.
"Kamu ngeliat ke mana?" tegur Nasa menatap pandangan
Leo yang sembarangan.
Leo menaikkan pandangannya. Menatap wajah Nasa
dengan gagu. "Yy—ya?"
Dia kira, dengan melihat pada wajah Nasa akan
membuatnya aman dari godaan. Namun bola mata
nakalnya malah memandang pada bibir merah muda Nasa
yang tampak merona dan menggoda. Membuat Leo
kehilangan pikiran dan kendali tubuhnya. Laki-laki itu
menyapukan telapak tangannya pada wajah Nasa yang
cantik. Memajukan wajahnya dan siap menyambut bibir
merona itu.
Namun ... Leo malah menarik wajah.
"Kenapa?" tanya Nasa saat Leo menghentikannya.
"A—aku ..."
"Takut sama Papi?"
Leo mengerjap. Ya, Nasa tidak salah. Bayangan Saka tiba-
tiba lewat begitu saja. Sangat menyeramkan membuat Leo
ketakutan.
Nasa berdecak. Dengan tangannya yang sehat, gadis itu
menarik wajah Leo dan memberikan kecupan pada bibirnya.
"Karena udah bantuin aku pakai baju." Nasa tersenyum
tipis.
Leo kembali terpancing. Bersiap memagut bibir merah
muda itu tetapi kembali gagal saat mendengar suara
teriakan dari luar kamar Nasa.
"Kak Nasa! Kak Sana mau melahirkan!!"
.
.
.
To Be Continued
(25/11/2022)
Maaf ya Nasa Leo mesra-mesraan kalian harus
ditunda dulu karena dedeknya Anin mau lahirrrr
wkwkwkwk
Btw, sisa dua part lagi nih!
Dan..... seperti yang sudah aku infokan juga, untuk
dua part akhir ini nggak ada part baca duluan di
karyakarsa ya bestieeee
Dua part akhir mari kita tunggu sama-sama di
wattpad^^
Tapi tenangggg..... jumat ini akan tetap ada
update-an di karyakarsa yaitu surat Leo untuk Nasa
waktu Nasa masih di Banda Naira dan juga surat
balasan dari Nasa hihi
Yang kepo dan mau tahu isi suratnya, langsung gas
ke karyakarsa yaaa harganya IDR 2.000 atau 20
kakoin aja!
Ada 7 surat dari Leo dan 1 surat balasan dari Nasa.
Okaaay kalau begitu sampai ketemu minggu depan!
Jangan lupa komentar di cerita ini banyak-
banyaaaaak yaaa
EMPATPULUHSEMBILAN
Nyala Sakti Putrabumi dan Sargiya Anakku Jelita.
Putra dan putri dari Sanalia Afiyah Anugerah dan Bhumi
Sargio Darmawangsa. Nasa tengah melihat dua ponakan
barunya itu dengan senyum yang sangat manis di bibirnya.
Memegang tangan kecil itu seolah mengabarkan bahwa ia
adalah tante mereka.
Tidak disangka, seminggu setelah kepulangannya dari
Banda Naira, Nasa disambut dengan kehadiran ponakan
barunya yang sangat menggemaskan. Meski tidak bisa
menggendong karena tangannya masih dalam gips. Nasa
yang tidak bisa diam itu sudah ingin berkunjung saja ke
panti asuhan setelah lama tidak berkunjung ke sana.
Membawa banyak buku dan juga oleh-oleh serta mainan
untuk anak panti. Terlalu antusias hingga membuatnya
terpeleset saat di kamar mandi. Terlebih parah, dia
terpeleset saat sedang menggendong salah satu anak asuh
di sana. Membuat Nasa merelakan pergelangan tangannya
untuk menopang tubuhnya dan juga si anak hingga
mengakibatkan cedera yang lumayan parah.
"Mirip banget sama si Sana."
Nasa menoleh. Menatap adik laki-lakinya yang berada di
sisinya.
"Semoga kelakuannya enggak kayak ibunya, deh,"
sambung Naka.
"Kamu ini!"
"Aw!" Naka meringis saat mendapatkan cubitan dari
Papinya. "Anak Papi itu anak baik. Emangnya kenapa kalau
mirip ibunya? Orang ibunya kok."
Nasa terkekeh. Setelah tadi malam Sana melahirkan dan
kini sudah berada di ruang rawatnya, Saka sangat
memanjakannya. Diciuminya Sana terus-terusan bahkan
tidak memberi kesempatan Bhumi untuk berada di samping
sang istri karena Saka melakukan apa pun untuk Sana dan
juga Mami mereka yang tidak mau berpindah tempat untuk
juga ikut di sisi Sana. Papi dan Mami mereka itu sangat
terharu karena putrinya kini menjadi seorang ibu. Ketika
keluar dari ruang bersalin pun, yang ditanyakan Saka pada
dokter bukanlah cucu-cucunya, melainkan anaknya.
Saka kadang-kadang memang bisa se-sweet itu.
Nasa menegakkan berdirinya. Menatap seisi ruangan yang
kemudian mendapati Leo yang berada di belakangnya ikut
menatap pada si bayi kembar yang baru lahir itu. Sejak
kemarin siang Sana masuk rumah sakit dan malamnya
melahirkan hingga pagi kini, Leo masih berada di sana ikut
mendampingi Nasa dan keluarganya.
"Kamu bukannya hari ini ada visit ke Lembang?" tanya
Nasa.
Leo menoleh kemudian mengangguk. Dia memang
memberi tahu agendanya pada Nasa dengan sukarela.
Sekaligus meminta izin karena tidak bisa menjadi sopir Saka
ketika ada pekerjaan yang tidak bisa dialihkan.
"Aku bisa ke sana siang," jawab Leo.
Nasa menoleh pada jam tangannya. "Udah jam 9. Kamu
belum sarapan, belum mandi, belum siap-siap. Kamu pulang
dulu."
Leo menatap gadis di hadapannya. Sebenarnya dia ingin
tetap tinggal tapi Nasa malah menyuruhnya pulang. Dan
untuk membantah, Leo masih belum berani. Akhirnya laki-
laki itu pun mengangguk. Didampingi Nasa berpamitan
pada keluarga Nasa yang lain kemudian keluar dari ruang
rawat Sana.
*__*
"Hai, Mas." Nasa memeluk Darren—sepupunya—yang
tidak sengaja bertemu di lobi rumah sakit. Laki-laki itu
membawa bingkisan di tangannya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Darren.
"Ini aku mau keluar. Sekalian cari makan. Mas langsung
aja ke kamar. Lengkap semua kumpul di sana."
Darren pun mengangguk. Mengusap kepala Nasa
sebentar, melirik Leo dan mencoba bersikap sopan meski
tidak mendapatkan tanggapan bagus, kemudian berlalu
begitu saja.
Tanggapan Leo tentu tidak bagus. Bagaimana dia bisa
menanggapi bagus laki-laki yang baru datang langsung
memeluk Nasa di depannya?
"Ayo." Namun tampaknya, Nasa tidak begitu peka. Gadis
itu justru melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar
rumah sakit. Membiarkan Leo yang menghela napas
menatap Nasa dengan tatapan kesalnya.
Nasa baru menoleh pada Leo saat mereka sedang berada
di depan pintu keluar.
"Kenapa?" tanya gadis itu.
"Siapa itu?"
Nasa tampak sedikit bingung. "Yang tadi?"
Leo mengangguk.
"Darren."
"Dia siapa?"
"Bukannya kamu pernah lihat dia di foto?"
Leo tampak berpikir. Kemudian ingatannya beralih pada
tiga jajaran foto yang Saka sodorkan pada Nasa beberapa
waktu lalu. Ada Arkana si selebriti chef, Pamungkas si
penyanyi, dan satu lagi ... ah! ternyata itu. Darren. Leo
melihatnya sekilas waktu itu.
"Ya udah kamu pulang deh, sana. Aku mau ke kantin dulu
cari makan." Nasa berlalu begitu saja.
*__*
Nasa mencari-cari keberadaan Leo yang tidak ia temui.
Padahal, seluruh keluarganya ada di sini. Dari Ibunya,
ayahnya, adiknya, bahkan sampai Omanya ikut datang
untuk menjenguk Sana dan anak-anaknya. Keluarga Leo
tampak antusias bertemu bayi-bayi menggemaskan itu.
"Pacar kamu lagi sakit."
Nasa menoleh.
"Uring-uringan dari kemarin. Nggak mau makan."
"Sakit apa, Oma?" tanya Nasa.
"Kamu periksa sana. Di suruh ke dokter nggak mau."
Nasa mengernyitkan kening. Bukankah kemarin Leo baik-
baik saja?
"Iya, aduh, Nasa ... Leo sakit. Demam dia. Kemarin dia
pulang dari Lembang terus malem-malem malah keluar
motoran hujan-hujanan. Tadi pagi demam."
"Cih, baru kena hujan aja demam." Sindiran itu berasal
dari Saka. Si kepala keluarga yang sebenarnya tadi ramah
menyambut tamu-tamunya. Namun entah kenapa
mendadak menyindir seperti ini saat mendengar
pembicaraan mereka.
Oma yang tadi berdiri di sisi Nasa itu berjalan menuju
Saka yang duduk di sofa dengan Leon yang ada di sofa
sebelahnya.
"Kamu jangan jahat-jahat sama calon menantumu. Leo itu
anak yang baik. Dia ganteng, jago masak, pintar. Dia juga
sayang sama Nasa. Jangan dipersulit, lah. Orang mereka
sama-sama suka kok. Saya yang jamin kamu nggak akan
kecewa punya menantu seperti cucu saya." Oma Sarah
menceramahi Saka. "Namanya penyakit ya enggak ada
yang tahu kapan saja bisa datang. Kamu ini kan dokter.
Masa begitu saja perlu diajari sama nenek-nenek?"
Nasa mengulum senyumnya. Papinya terlihat tidak
membantah. Dia justru berdiri dan mempersilakan Oma
Sarah yang berdiri untuk duduk di tempatnya. Inilah yang
Saka ajarkan pada anak-anaknya untuk selalu menghormati
orang tua. Terlihat dari Saka yang misuh-misuh langsung
terdiam dan kini tersenyum manis menyambut Oma Sarah.
Hubungan Oma Sarah dan Nasa?
Baik.
Ada rahasia yang mungkin saja tidak Leo atau siapa pun
ketahui kecuali Sana dan Nasa. Karena diam-diam, Oma
Sarah ikut mengirimkan surat pada Nasa bersamaan
dengan surat terakhir yang Leo titipkan pada Sana. Dia
menjelaskan semuanya dan juga ... meminta maaf. Orang
tua yang meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada
yang lebih muda, itu suatu hal yang sangat luar biasa.
Nasa sama sekali tidak bisa membenci atau tidak
menyukai Oma Sarah yang keren itu. Selain itu, di dalam
suratnya Oma Sarah juga banyak bercerita tentang Leo.
Tentang bagaimana Leo yang sangat menyukai Nasa.
Ditutup dengan ajakan zumba bareng kalau Nasa sudah
pulang.
Surat dari Oma Sarah adalah alasan lain selain Leo dan
juga surat-suratnya yang membuat Nasa semakin yakin
ingin bersama laki-laki itu. Meski harus mengikuti perintah
Papi untuk membiarkan Leo berjuang lebih keras lagi
mendapatkan restu dari cinta pertama Nasa itu.
*__*
"Kamu tuh lagi sakit bukannya ke rumah sakit malah ke
Rumah Rasa. Ngapain di sini?" Nasa berkacak pinggang
melihat Leo yang sedang rebahan di atas sofa bed di dapur
pribadinya itu.
Dapur pribadi mereka yang sudah Leo permak dengan
banyak hal seperti yang laki-laki itu pernah katakan di
dalam suratnya. Cat temboknya diganti berwarna cokelat
dan juga ada sebuah sofa bed di depan TV—bukan hanya
sofa seperti sebelumnya. Ada beberapa hiasan dinding
berupa kue-kue-an dan juga bingkai-bingkai foto
kebersamaan mereka.
Well, Nasa cukup terkesan.
"Ayo, makan dulu. Oma bilang kamu nggak mau makan."
Nasa meletakan telapak tangannya pada kening Leo. Terasa
lebih hangat memang.
Gadis itu lalu mengangkat tubuh Leo, membantu laki-laki
itu bersandar pada kepala sofa.
"Aku tahu kamu belum memaafkan dan menerima aku
sepenuhnya. Tapi bisa nggak kamu jangan dekat-dekat
sama laki-laki lain? Beberapa waktu lalu kamu pulang sama
laki-laki dari panti asuhan. Terus kemarin? Kamu pelukan
sama laki-laki yang mau Papi kamu kenalkan sama kamu.
Sudah seminggu lebih sejak kepulangan kamu aku bahkan
belum pernah peluk kamu lagi. Kalian pasti sudah bertemu
sebelumnya, kan? Kalian kelihatan akrab."
"Kita udah ciuman dua hari yang lalu," sahut Nasa.
"Ciuman apa? Itu cuman kecupan!" Leo malah tidak
terima.
Nasa mengangkat bahunya tak acuh. "Sama aja."
"Beda, Nasa! Setelah kamu pulang aku hampir nggak
punya kesempatan bicara sama kamu karena kamu pergi-
pergi terus ke panti dan aku nggak boleh ikut. Di rumah
kamu juga Papi kamu selalu ngehalangin aku untuk berdua
sama kamu. Kamu nggak izinin aku antar jemput kamu ke
panti tapi kamu pulang sama laki-laki lain."
"Aku ke sini juga sama laki-laki lain itu. Yang kamu lihat
antar aku pulang dari panti waktu itu."
Leo menganga. Menatap Nasa tidak percaya. Sesantai itu
Nasa bicara?
"Mau aku kenalin?"
Leo malah menjatuhkan tubuhnya lagi pada sofa bed.
Mengubur dirinya dengan selimut. Hal itu membuat Nasa
berusaha menahan tawanya keras-keras. Ah, sungguh,
menggemaskan sekali!
Nasa pun ikut menjatuhkan dirinya di sana. Memeluk
tubuh Leo yang berbalut selimut.
"Yang antar aku ke sini hari ini dan antar aku pulang dari
panti waktu itu namanya Keannu, sepupuku, your neighbor,
my neighbor juga, sih. Rumahnya di samping rumahku. Aku
nebeng sama dia ke sininya karena dia mau ke apartemen.
Aku lagi malas nyetir. Kamu tuh sekali-sekali harus
bersosialisasi sama tetangga. Masa sama Keannu nggak
kenal," bisik Nasa.
Leo memunculkan sedikit wajahnya dari selimut. Menatap
Nasa meminta konfirmasi sekali lagi. Nasa pun
mengangguk.
"Dan Darren. Dia sepupuku. Kamu kan sudah pernah lihat
fotonya waktu aku bawa kamu ke rumah dia dulu. Yang di
belakang rumahnya ada kebun anyelir. Masa kamu bertamu
udah lupa sama wajah tuan rumahnya."
Leo terduduk. Secara otomatis, Nasa ikut duduk juga.
"Tapi di foto yang Papi kamu kasih ..." Leo sedikit bingung.
Nasa malah terkekeh. "Papi cuman mau jahilin kamu. Dia
udah kehabisan stok cowok lagi."
Leo menghela napasnya. "Bener sepupu kamu?"
Nasa mengangguk.
"Kamu punya berapa banyak sepupu laki-laki?"
"Em ... berapa, ya?" Nasa berpikir. "Lima? Mas Alaska dan
Keannu, mereka anaknya Tanteku, saudara kembarnya
Mami. Terus Mas Laskar anak adiknya Papiku. Terus Mas
Darren, anak kakaknya Papi, terus juga Dikta anak Kakaknya
Mami yang di Surabaya."
"Aku mau kenal semuanya," balas Leo.
"Untuk apa?"
"Biar nggak salah paham lagi."
Nasa tertawa kecil, mencubit pipi Leo dengan gemas.
"Sekarang, apa aku boleh peluk kamu?"
Nasa membuka lebar tangannya, membiarkan Leo masuk
ke sana. Leo tentu tidak menyiakan kesempatan ini. Dia
memeluk Nasa begitu erat. Laki-laki itu sangat-sangat-
sangat merindukannya.
"Aku minta maaf, karena sudah buat kamu sedih,"
bisiknya.
Nasa mengangguk. "Aku juga minta maaf karena nggak
ada di saat-saat masa sulit kamu."
Leo memejamkan matanya. Semakin memeluk Nasa
dengan erat. Erat, sangat erat. Membuat Nasa menepuk-
nepuk lengannya meminta lepaskan pelukan mereka.
"Kamu peluknya terlalu kuat, Leo."
Leo melepaskan pelukannya. Laki-laki itu tiba-tiba bangkit
dari sofa bed kemudian berlalu menuju sebuah lemari yang
ada di sana. Mengambil sesuatu dan kembali lagi duduk di
samping Nasa. Membuka kotak hitam kecil yang dibawanya
tadi.
"Menikah dengan aku, Nasa?"
Nasa terpaku untuk sesaat. Tidak menduga Leo akan
mengatakan ini padanya.
"Le—leo. Itu hal yang beda. Aku—"
Leo menggeleng. Dia mengambil cincinnya dari kotak,
membuka telapak tangan Nasa dan meletakkan cincin itu di
dalamnya.
"Nggak perlu dijawab sekarang," katanya. "Aku cuman
mau kamu tahu bahwa aku serius dalam hubungan ini. Aku
nggak akan membuat kamu berada dalam hal yang nggak
pasti lagi. Kalau kamu nggak siap sekarang, aku bisa
menunggu. Kapan pun. Kapan pun sampai kamu siap. Aku
hanya ingin kamu tahu bahwa aku serius sama kamu. Aku
ingin terus bersama kamu."
Dan juga ... agar Nasa tidak diambil orang. Leo tentu
harus mengambil ancang-ancang.
.
.
.
To Be Continued
(29/11/2022)
Yuhuuuuu dua episode terakhir nih!!!
Chef Leo kejebak juga sama ide jahilnya Papi saka
wkwkwkwk
Ada Darren juga muncul di sini. Cung yang kangen
Darren siapa?
Sisa satu part lagi dan Leo sedang mengeratkan
sabuknya nih. Takut Nasa diambil orang katanya
hahahaha
bonus pict, si Aa' Chef yang udah potong rambut
Kiyowo mana sama rambut panjang?
Sampai ketemu hari jumat!
Harus banget komen yang banyak sih ini
LIMAPULUH [Ending]
Leo memasuki dapur pribadinya dan tersenyum saat
mendapati Nasa yang tertidur di atas sofabed dengan
sebuah jurnal yang menutupi wajahnya. Laki-laki itu berlutut
di bawah sofa. Mengambil jurnal dari wajah Nasa dan
menyingkirkan anak-anak rambut yang turut menutupi
wajah cantik gadis itu. Diusapnya wajah Nasa pelan dan
lembut. Namun meskipun Leo berusaha sepelan dan
selembut mungkin menyentuhnya, kedua mata Nasa yang
terpejam itu tetap terbuka pada akhirnya.
"Hai," bisik Leo pelan.
Nasa mengerjap beberapa kali. Lalu bangun dan
mendudukkan diri. Gadis itu sudah sadar meski kini
matanya kembali memejam. Tangannya yang terulurlah
yang menandakan Nasa sudah sadar sepenuhnya.
Senyum Leo semakin melebar saat melihat isyarat tangan
Nasa yang memintanya mendekat. Laki-laki itu duduk di sisi
Nasa dan memeluknya. Menepuk-nepuk punggung Nasa
pelan.
"Aku capek banget," gumam Nasa.
"Capek?"
Nasa mengangguk. "Nggak ngapa-ngapain seharian
ternyata buat capek."
Leo tertawa kecil. "Tapi kan kamu baca buku?"
"Bosan."
Leo melepaskan pelukan mereka. Menatap Nasa dengan
kening berkerut.
"Kamu bosan baca buku? How can?"
Nasa menghela napasnya. Lalu kembali merebahkan diri
dengan kali ini menjadikan pangkuan Leo sebagai
bantalannya.
"Seminggu. Kamu bayangin. Seminggu kerjaanku cuman
baca buku. Papi larang aku ke panti, Papi juga larang aku
zumba, Papi bahkan larang aku pakai treadmill cuman
karena pergelangan tangan patah ini yang udah sembuh."
Nasa menunjukkan tangannya yang semula terluka.
Gipsnya memang sudah lepas. Namun Nasa belum bisa
berkativitas normal seperti sedia kala-setidaknya menurut
Saka. Nasa hanya diizinkan diam di rumah atau ikut Leo ke
Rumah Rasa dengan catatan tidak melakukan apa-apa di
sana selain membaca buku.
Well, Saka sudah sedikit melunak pada Leo akhir-akhir ini.
Sudah resmi juga Leo berhenti menjadi sopir pribadinya.
Karena kini, atensi Saka sedikit teralihkan dengan hadirnya
cucu baru. Hampir setiap pulang kerja, Saka akan
bertandang untuk bertemu cucunya-Nyala dan Lita. Meski
ya, tidak berhasil juga mengalihkan perhatian dari Nasa dan
Kana karena Saka benar-benar menempatkan bodyguard di
rumah mereka. Selain untuk mengawasi Kana, juga
mengawasi Nasa agar tidak melanggar perintahnya.
Nasa kira, ikut Leo ke Rumah Rasa adalah pilihan yang
baik. Tapi ternyata sama membosankannya karena Leo
sibuk mengurusi restoran dan Nasa ditinggal sendirian.
"Minggu depan kan kamu udah mulai kerja di klinik, kan?"
Leo tahu Nasa sempat melamar di sebuah klinik dan gadis
itu sudah diterima bekerja.
Nasa mengangguk mengiyakan. "Tapi masih 5 hari lagi.
Lima hari lagi aku harus melewati waktu-waktu
membosankan itu karena Papi nggak izinin aku sampai aku
masuk kerja nanti."
"Sana pernah bilang, kamu pernah menghabiskan liburan
semester hanya dengan baca buku di perpustakaan. Tapi,
sekarang, kamu ... bosan?" Leo sedikit tidak percaya.
Nasa terlihat berpikir. Ini memang sedikit aneh. Nasa
sudah tidak terlalu menikmati kesendiriannya seperti dulu.
Menghabiskan waktu dengan buku-bukunya.
"Sepertinya novel Ibu Sasa ada benarnya," ujar gadis itu.
"Novel Ibu Sasa?"
Nasa mengangguk. "Cinta bisa sedikit membuat orang
jadi lebih manusiawi?"
Leo terkekeh.
Tapi Nasa tidak bercanda. Sebelum ini, tujuan hidupnya
sangat jelas. Belajar dan belajar tanpa peduli distraksi apa
pun. Dia akan menjadi dokter yang hebat. Tapi sekarang,
Nasa bahkan seorang pengangguran. Dia baru mengajukan
surat lamaran di sebuah klinik karena Papi terus menerus
menyodorkan brosur-brosur universitas untuk Nasa
melanjutkan pendidikannya. Karena Nasa masih ingin untuk
sedikit 'leluasa' jadi dia masih menunda untuk mengambil
spesialisnya dan ingin bekerja lebih dulu.
"Rasanya aku mau balik lagi deh, ke Banda Naira." Di sana
menyenangkan. Menjadi relawan di sebuah pulau yang
sangat indah. Berinteraksi dengan masyarakat setempat.
"Don't you dare to leave me. Again. Not agin. Aku nggak
akan biarkan itu terjadi, Nasa."
Nasa menghela napasnya. Menatap Leo yang rautnya
sudah berubah sangat serius kali ini.
"Siapa juga yang ninggalin kamu. Aku ke sana kan
sekalian liburan. Kalau kamu mau ikut, ya ayo."
Wajah Leo melunak. "Aku boleh ikut?"
"It's up to you. Banda Naira bukan cuman milik aku."
"Kalau begitu, ke mana pun kamu pergi, aku ikut."
Nasa menghela napasnya, geleng kepala.
*__*
"Makan yang banyak."
Nasa menatap sepotong ayam yang baru saja Oma Sarah
letakan ke dalam piringnya. Gadis itu kemudian menoleh
pada Adel yang cemberut. Adel cemberut karena Oma
Sarah merebut ayam terakhir di atas wadah yang baru saja
Adel ingin ambil dan malah meletakkan pada piring Nasa
yang padahal, masih ada satu potong di atas sana.
"Aku yang ambil duluan kenapa Oma kasih ke Nasa?" Adel
protes.
"Adel ambil punya Ayah." Kemudian Leon, meletakan
ayam miliknya ke atas piring putrinya.
Nasa tersenyum tipis. Dia juga menyaksikan Adel yang
kembali tersenyum lebar disertai tangan Leon yang
mengusap kepalanya. Tidak seramai meja makan di
rumahnya, tetapi meja makan ini sama hangatnya.
"Lagian kamu kan udah makan satu tadi." Oma Sarah
membela diri.
"Nasa udah tiga." Adel tidak terima. Nasa memang
mendapatkan tiga. Satu dia ambil sendiri, satu diambilkan
Leo, dan satu lagi diambilkan Oma Sarah.
"Kamu kan udah sering makan masakan kakakmu. Nasa
kan baru ini," balas Oma Sarah.
"Siapa bilang Nasa baru ini? Asal Oma tahu ya mereka itu
kerjaannya pacaran terus. Nanti juga kalau Nasa udah
menikah sama Kakak, setiap hari dia makan masakan
kakak. Kalau Adel yang menikah nanti, kan belum tentu."
"Memangnya kamu kapan mau menikah? Sama siapa?
Gauda aja sudah nggak kamu tanggapi."
Adel menunduk menusuk-nusuk ayam dengan garpunya.
"Memangnya Oma setuju kalau aku menikah sama dia?"
ujarnya pelan.
"Yang menikah kan kamu, kenapa tanya sama Oma?" Oma
Sarah mengedikkan bahunya. "Lagian Oma nggak mau ikut
campur lagi. Oma sudah tua. Mau hidup yang damai-damai
saja."
"Cih, kemarin yang maksa-maksa suruh aku menikah
sama kakak siapa?"
"Adel," peringat Emila. "Nggak usah ungkit yang sudah-
sudah."
Oma Sarah terdiam di tempatnya. Begitu juga Adel yang
ikut diam. Meja makan ini hening setelahnya.
"Perkedel kesukaan Oma. Harus makan yang banyak." Leo
meletakkan perkedel kentang kepada piring Oma Sarah.
Oma Sarah mengangkat kepalanya, menatap Leo yang
tersenyum padanya. Nenek itu pun akhirnya ikut
tersenyum. Makan malam kembali dilanjutkan dengan
nyaman.
*__*
"Makasih loh, Nasa, sudah mau ikut makan malam di sini."
Emila menggenggam tangan Nasa yang duduk di sisinya.
"Nasa nggak bisa nolak diajak makan, Tante," balas Nasa
sedikit bercanda.
Emila terkekeh. "Kamu persis seperti yang Leo katakan."
Nasa hanya tersenyum tipis.
"Bicara tentang Leo, Bunda jadi ingat bagaimana dulu
saat kami pertama bertemu sebagai Ibu dan anak. Leo
seperti tenggelam di dasar laut saat kepergian kedua orang
tua angkatnya yang pertama. Kemudian Bunda dan Ayah
datang, mengangkat dia sedikit ke permukaan. Tapi kami
nggak berhasil membawa dia naik ke daratan. Hanya bisa
membantunya sedikit menghirup napas. Maka dari itu,
beban sekecil apa pun yang menghantamnya, akan
membuat dia kembali tenggelam perlahan-lahan. Dan
bodohnya, Bunda telat menyadari itu."
Nasa diam mendengarkan Emila sembari memandangi
langit malam yang diterangi lampu-lampu taman di
halaman belakang rumah keluarga Leo.
"Kemudian kamu datang. Kamu bukan hanya menariknya
naik ke daratan tapi kamu juga memberinya pelampung.
Lalu saat dia terdorong lagi ke lautan, dia nggak bisa
tenggelam karena pelampungnya."
Emila tersenyum. Semakin menggenggam tangan Nasa
dengan erat.
"Nggak ada lagi selain terima kasih yang ingin Bunda
sampaikan pada kamu karena sudah hadir dalam kehidupan
Leo. Terima kasih banyak."
Selama ini, Leo banyak tenggelam oleh kata-kata. Dan
dengan kehadiran Nasa, dia seolah dibangkitkan lagi
dengan setiap ucapan tulus yang Nasa sampaikan padanya.
Nasa menggeleng. Ikut menggenggam tangan Emila
dengan erat. "Nasa nggak ada apa-apanya dibanding
kehadiran Tante, Om, Oma dan Adel dalam kehidupan Leo.
Dia sangat mencintai keluarganya."
Emila mengangguk. "Bunda tahu. Dan Bunda juga tahu,
dia sangat mencintai kamu."
*__*
"I have a big news."
"Apa?"
Nasa bangkit dari tidurannya yang berbantalkan perut
Leo. Menatap laki-laki yang menyandarkan kepala pada sofa
dengan serius. Ini hari Kamis dan Nasa tidak ada jadwal jaga
di klinik. Gadis itu pun memanfaatkan waktu luangnya
bertandang ke dapur pribadi mereka dan berduaan dengan
Leo yang kini sedang memanfaatkan jam makan siangnya.
"Raga dan Liana putus," ujar Nasa.
"Raga dan Liana teman intern kamu?"
Nasa mengangguk. "Aku lagi chat sama Julian dan dia
ngasih tahu kalau mereka putus. Mereka pacaran hampir
satu tahun tapi putus."
"Kenapa putus?"
"Mereka LDR, nggak ada komunikasi dan putus. Raga
lanjut spesialis di Singapura dan Liana lanjut di Jakarta."
"Jakarta-Singapura seberapa jauh sampai mereka putus?"
Nasa menggeleng. "Bukan itu intinya. Intinya mereka
sama-sama sibuk dan nggak ada waktu untuk masalah
percintaan."
Leo mengangguk.
"So, how about us?"
"Us? Apa hubungannya sama kita?" Leo mengernyit tidak
mengerti.
"Kontrak kerjaku di klinik sudah hampir habis. Dan Papi
mulai bawel sodor-sodorin aku brosur universitas untuk
lanjut spesialis. Bahkan brosur universitas luar negeri. Di
tasku, masih ada brosur salah satu kampus di Jepang."
Leo mengangguk lagi. "Aku nggak masalah."
"Maksud kamu?"
"Aku nggak masalah kalau kamu memang mau lanjut
spesialis ke luar negeri. Ke Jepang? Itu juga nggak masalah."
"Kamu serius? Liana dan Raga yang LDR Jakarta-Singapur
saja bisa putus. Aku akan sangat sibuk nantinya dan
mungkin akan sulit untuk komunikasi dengan kamu. Belum
lagi perbedaan waktu Jepang dan Jakarta."
Leo menegakkan duduknya. Memegang kedua bahu Nasa
dan menatapnya dengan tatapnya yang lembut.
"Nasa, dengar. Aku nggak akan menghalangi apa pun
pilihan kamu. Asal-"
"Apa?"
"Kamu juga nggak boleh menghalangi pilihanku."
Nasa mengernyitkan kening tidak mengerti.
"Kamu nggak boleh menghalangi aku untuk ikut ke mana
pun kamu pergi. Ke Jepang? Nggak masalah. Kita bisa buka
Rumah Rasa cabang Jepang." Leo menjawil hidung kecil
Nasa.
Nasa tersenyum. "Serius kamu mau ikut?"
"Em." Leo mengangguk. "Aku nggak akan menghalangi
apa pun pilihan kamu, cita-cita kamu."
Nasa semakin tersenyum. Hampir satu tahun luntang-
lantung menjadi pengangguran tentu membuatnya bosan.
Meski tidak sepenuhnya bosan karena di awal-awal setelah
selesai intersip Nasa menjadi relawan sosial. Setelah itu, dia
kembali dan justru banyak menghabiskan waktu dengan
sekitarnya. Dengan keluarganya, ponakan barunya, anak-
anak di panti, dan tentu saja juga dengan Leo. Apalagi,
pekerjaan di klinik tidak begitu banyak. Nasa hanya
mendapatkan jadwal jaga ruangan 3 hari per-minggu dan
dia tidak mencari klinik lain seperti yang teman-temannya-
yang belum mengambil spesialis seperti dirinya-lakukan.
Saat ini, dia merasa sudah puas dengan semua itu dan
ingin melanjutkan kembali impiannya-menjadi dokter
jantung.
"Kamu membahas masa depan dengan aku itu artinya-"
Leo mendekatkan wajahnya. "Kamu terima lamaran aku?"
Nasa memundurkan wajahnya. Gadis itu malah cemberut
yang membuat Leo menatapnya bingung.
"Aku mau pulang." Nasa bangkit. Meraih tasnya dan
bersiap meninggalkan Leo di sana.
Tentu Leo langsung kelabakan. Dia langsung bangkit
mengejar Nasa yang sudah hampir sampai pintu keluar
dapur pribadinya.
"Aku salah ya? Maaf. Aku nggak bermaksud memaksa
kamu. Nggak apa-apa, kalau kamu belum terima. Aku akan
tunggu."
Nasa menghela napasnya. Wajah kesal tidak bisa juga
hilang dari sana.
"Kamu tuh, benar-benar, ya."
Leo semakin bingung.
Melihatnya, dengan gemas Nasa mengangkat tangannya.
Menunjukkan jemarinya yang sudah terdapat cincin di jari
manis.
"Aku pakai ini. Dari seminggu yang lalu. Kamu nggak
sadar juga?"
Leo terpaku. Sedikit tergagu dan gemetar mengambil
tangan Nasa dan menatap jari manis yang dilingkari cincin
pemberiannya itu.
"Ka-kamu terima lamaran aku?"
Nasa mengangguk.
"Bisa-bisanya kamu nggak sadar?"
"A-aku terlalu sibuk dengan sesuatu. A-aku ... Nasa, aku."
Seminggu ini, Leo sedang disibukkan dengan persiapan
hadiah kejutannya untuk Nasa. Karena itu, dia sampai tidak
sadar ada sesuatu di jari manis gadis itu.
Leo terlihat begitu terharu. Matanya memerah dan berair.
Laki-laki itu lalu menarik Nasa ke dalam pelukannya.
Nasa tersenyum di balik tubuh Leo yang hangat.
Diusapnya punggung pria itu dengan lembut.
"Maaf, aku malah nggak sadar kamu sudah pakai
cincinnya. Thank you, Sweetheart. Terima kasih sudah mau
terima aku."
"Tapi kamu harus berjanji satu hal dengan aku."
Leo melepaskan pelukan mereka. Menunggu Nasa kembali
melanjutkan ucapannya.
"Love yourself and then others."
Leo menggeleng tapi kemudian mengangguk. "Ini adalah
caraku, mencintai diri ini. Mencintai kamu adalah bentuk
mencintai diriku sendiri."
Ini adalah pertama kalinya Leo berjuang. Berjuang untuk
dirinya sendiri alih-alih untuk orang lain seperti yang biasa
ia lakukan. Dia mencintai Nasa, memperjuangkan Nasa,
bukan hanya untuk gadis itu tapi juga untuk dirinya sendiri.
Terkadang, ada sedikit beberapa kekeliruan dalam
mengartikannya. Berhenti memperjuangkan hal-hal yang
diinginkan karena dia merasa takut dan tidak mampu
bahkan sebelum mencobanya. Terkadang, orang yang takut
untuk melangkah merasa sudah baik-baik saja.
Padahal diri ini berhak mendapatkan yang lebih baik dari
sekedar bertahan; berjuang.
*__*
"Istana coklat ini saya persembahkan sebagai hadiah
ulang tahun untuk gadis cantik yang ada di samping saya,
calon istri saya, Nasa."
Leo menatap Nasa yang berdiri di sampingnya. Diiringi
tepuk tangan orang-orang yang berdatangan menyaksikan
grand opening sebuah kedai makanan manis berbentuk
istana berwarna coklat. Istana coklat yang menjual
makanan-makanan manis berbahan dasar coklat dengan
menu-menu yang luar biasa.
"Hari ini, As Sweet As Nasa terbuka gratis untuk
pengunjung yang datang." Leo membuka pintu masuk
istana coklat itu. Mempersilakan pengunjung memasukinya
dan memesan makanan dengan para pegawai yang sudah
berdiri di posisinya masing-masing.
"Jadi ini ... istana coklatnya?" tanya Nasa menatap Leo.
Leo tersenyum manis. Mengangguk dan mengecup kepala
Nasa sekilas.
"Happy birthday, Sweetheart. Aku benar-benar bahagia di
ulang tahun kamu ini akhirnya aku bisa kasih kamu
hadiahnya. Your istana coklat."
Nasa tersenyum. Mereka masih berdiri di luar, di depan
pintu masuk. Suara ribut-ribut di dalam tidak membuat
keduanya melepas pandangan. Tahun lalu Nasa memiliki
ulang tahun yang tidak menyenangkan. Dia berada di
daerah asing yang tidak dikenalinya dan juga ... sedang
patah hati.
Tahun ini, setelah Nasa dan Leo merayakan ulang tahun
Nasa di rumah gadis itu pagi tadi, sore hari Leo berhasil
mengantongi izin untuk membawa Nasa ke tempat ini.
Istana mereka.
"Mau masuk? Aku mau menunjukkan kamu isi dari istana
kita." Leo menggenggam tangan Nasa, melangkah
memasuki istana coklat dengan papan nama As Sweet As
Nasa itu di atas pintu.
Membawa Nasa mengelilingi keseluruhan isi berbaur
dengan tamu-tamu. Nasa belum pernah masuk ke dalamnya
dan ternyata ini luar biasa. Dari luar, dia tampak manis
dengan bangunan berbentuk istana coklat. Namun dari
dalam, Nasa dibuat terkejut dengan interiornya yang seperti
membawanya ke antariksa, ke luar angkasa.
"Sesuai namanya. As Sweet As Nasa. Manis dan seakan
bisa membawa penikmatnya terbang sampai ke luar
angkasa."
Leo menggenggam tangan Nasa begitu hangat.
Mengangkatnya dan mengecupnya dengan dalam.
"Sekali lagi, happy birthday sweetheart. My sweety Nasa."
Nasa menatap penuh haru. Pandangannya seolah tidak
mau beranjak ke mana-mana. Namun jarak mereka
terpaksa putus saat seseorang lewat begitu saja-seolah
memaksa menjauhkan keduanya.
"Lebay! Pacaran nggak tahu tempat. Nggak lihat ini
tempat umum?"
Rysaka Anugerah Aditama-cinta pertama Nasa juga salah
satu pengunjung istana coklat ini berkacak pinggang
menatap keduanya.
.
.
.
The End
(02/12/2022)
Btw, author note kali ini sedikit panjang. Semoga
mau baca sampai akhir yaaa hehehe
Pertama,
Tarik napaaasss.....
Hembuskan.
Whoaaaaaah!
Akhirnya cerita ini sampai di part terakhir
jugaaaa!!!
Bersyukur bisa menutup satu kisah lagi!!
Selain aku berterimakasih sama diri ini, tentu aku
berterimakasih sama semuanya yang sudah ikutin
perjalanan Nasa dan Leo sampai mereka menemukan
ending di cerita mereka sendiri.
Tentunya, aku tahu cerita ini masih banyak
kekurangannya. Tapi walaupun begitu, aku berharap
bahwa cerita ini bisa memberikan kalian sebuah
kesan yang nggak mudah terlupakan. Apa pun itu 😊
Sekali lagi, terima kasih sudah mengikuti cerita Leo
dan his sweety Nasa hahahaha
Dari cerita ini semoga tersampaikan kepada
pembaca semua, bahwa sekecil apa pun ucapan yang
kita berikan pada orang lain, bisa menjadi arti yang
begitu besar untuk mereka. Baik atau buruk.
Seperti Leo yang tenggelam begitu dalam hanya
karena ucapan-ucapan tidak baik dari ibu yang
melahirkannya, nenek kandungnya, om-omnya,
bahkan Oma Sarah yang sangat sayang dengan dia
dan gak sama sekali berpikir bahwa ucapannya bisa
membuat orang yang dia sayang tenggelam. Atau
juga seperti ucapan-ucapan sederhana dari Nasa tapi
punya arti yang begitu dahsyat yang bisa membuat
Leo sedikit demi sedikit naik ke permukaan.
Atau bahkan, seperti Emila dan Leon yang
menganggap bahwa selama ini Leo dan keluarga
mereka baik-baik aja. Menganggap ucapan dan
permintaan Oma Sarah cuman angin lalu yang nggak
serius tapi justru menghantam Leo lebih dahsyat dan
membuat Oma Sarah berharap lebih banyak.
Orang yang abai, juga berperan sangat penting
bagi orang di sekitarnya.
Untuk orang yang rentan seperti Leo, sangat butuh
bukan hanya sekedar pelukan tapi juga kata-kata
yang hangat yang bisa menenangkan dan
membimbing dia.
Nasa semudah itu memaafkan Leo?
Bukan mudah atau tidak mudah. Tapi karena Nasa
tahu value dari seorang Leo. Laki-laki pertama yang
membuat dia jatuh cinta. Seperti yang Leo katakan
'pilihan Nasa nggak akan salah'.
Sosok Nasa di sini aku gambarkan sebagai
perempuan yang punya karakter kuat dan juga
memegang teguh ajaran dari orang tuanya soal
mencintai diri sendiri. Mencintai dan memilih Leo,
bukan hanya untuk laki-laki itu tapi juga untuk
dirinya sendiri seperti yang Leo lakukan.
Dia laki-laki yang hangat, penyayang, dan berbakti
di luar dari segala karakter buruk dia yang pengecut
dan hatinya yang rentan. Kalau masih ada yang
mengharapkan Leo terpuruk lebih dalam, nggak apa-
apa itu pilihan kalian. Tapi kalau pilihanku, aku akan
peluk dia erat-erat dan beribu kali aku ucapkan
untuk dia bahwa dia sangat berharga. Bahwa dia
layak mendapatkan banyak kasih dan cinta.
Cause Leo deserve more than love.
Bukan cuman Leo, tapi kita semua. We deserve
more than love <3
Sebelum akhir .....
Boleh isi beberapa pertanyaan berikut?
1. Kesan kalian saat baca cerita ini?
2. Karakter yang paling disukai dari cerita ini dan
alasannya?
3. Tau cerita ini dari mana?
4. Momen terfavorit dari cerita ini?
5. Adakah pelajaran yang bisa diambil dari cerita
ini?
6. Pesan yang ingin disampaikan?
Segitu saja pertanyaannya hehehehe
Yang bertanya-tanya extra part, seperti biasa,
extra part nggak akan tayang di wattpad ya bestie.
Extra part akan ada di dalam buku nantinyaa
Ditunggu Nasa dan Leo versi novelnya, yaaa
Karena akan ada banyak kejutan di sana.
Jangan lupa follow instagram aku untuk update
cerita-ceritaku yang lain dan juga info cetak ASAN ya
See You
Luv,
Mill
(ig : kill.mill77)
Bonus
Vote Cover
Yuhuuuuuw bestieeee hari selasa niiiih!
Tapi selasa ini aku hadir nggak mau update lagi kan
soalnya udah tamat yaa hahahaha
Aku mau minta bantuan kalian nih untuk vote cover untuk
novel As Sweet As Nasa
Ada dua pilihan yang bisa kalian pilih nih bestieee
Kalian tim Leo atau tim Nasa nih???
Dannn......
ada satu lagi nih bestieee
aku mau ngespill sedikit buat ASAN versi novelnya
hehehhee
Pertama, pasti akan ada extra partnya dong yaaa
Kedua, part ending wp dan novel beda. Versi novel akan
ada 2 part tambahan lagi sebelum endingnyaaa niiihhh
Yang baca Bumi Milik Sana versi novel pasti relate
hehehehe
Di versi novel penyelesaian konfliknya akan lebih smooth
dan clear lagiii
Okedeeeh spoilernya cukup segitu ajaaaa
Thank you udah bantu aku vote cover dan sampai ketemu
lagi!!
Jangan lupa follow Instagram aku biar nggak ketinggalan
info yaaa
Love,
Mill
Ig : kill.mill77
KANA DAN SPOILER
HALOOOOWWWWWW
UDAH HARI SELASA LAGI NIH!
SENGAJA AKU PAKE CAPSLOCK SEMUA KARENA MAU BAWA
SEBUAH KABAR NIHH HAHAHAHAA
SEPERTI JUDUL DI ATAS, DI MANA ADA NAMA KANA DI
SANA, AKU MAU KASIH TAU KAALU ANAK BUNGSUNYA PAPI
SAKA JUGA PUNYA CERITANYA SENDIRI NIH!
UDAH ADA YANG MASUKIN WORKNYA KE LIBRARY??
KALAU BELUM, BIAR AKU KASIH TAU YA
JUDUL : THE PRINCESS'S RUSH WEDDING
GENRE : ROMANCE-CHICKLIT
TEMA : MARRIED LIFE, OFFICE LIFE
BLURB :
Aruna Kanala Anugerah, berusia 23 tahun yang masih
diperlakukan seperti bayi. Dijaga ketat dan hampir tidak
memiliki kebebasannya sendiri hanya karena ia anak
bungsu. Papinya bilang, beliau tidak akan ikut campur atau
melarangnya ini-itu setelah Aruna menikah nanti. Jadi yang
Aruna lakukan adalah mengadakan pesta pernikahan
secepatnya sebelum Adam--lelaki tanpa senyum yang Aruna
tarik untuk menikah dengannya melarikan diri.
Kemudian setelah semuanya sesuai rencana, apa yang
terjadi setelahnya?
...."Bang Adam, kita tuh beneran udah menikah, ya?"
"Iya. Kan kamu yang menyiapkan semuanya."
........
YUK GASSS JANGAN LUPA DIMASUKKAN KE
PERPUSTAKAAN YAAA
BTW BTW ADA SATU LAGIIII
YAITU, SPOILER AS SWEET AS NASA VERSI NOVEL
NIH!
YANG BERTANYA-TANYA BAGAIMANA KEADAAN SI HITAM
MILIK NASA ITU, TERNYATA MASIH AMAN SENTOSA ADA DI
DALAM LEMARI LEO GAIS HAHAHAHAHA
DAN AKHIRNYA TERUNGKAP JUGA NIH SI HITAM YANG
SUDAH NASA LUPAKAN ITU!
JANGAN LUPA DITUNGGU PRE ORDER AS SWEET AS NASA
VERSI CETAKNYA YA!
SAMPAI KETEMU LAGI!!
BAWA PULANG LEONASA SEKARANG!
Gais gais gais!!!
Akhirnya hari ini datang juga!
Hahahahahaha
Tanpa basa basi, aku langsung kasih poster aja deh yaaaa
Ada tiga paket yang bisa kamu check-out nih bestie!
Diskonnya 10% loh di masa PO ini! Kapan lagi gasiiiiiie??
Terus jugaaaa aku mau kasih tau nih bestie
bedanya versi novel dan wattpad apaan
Ini dia bedanya bestie!
Pokoknya part-part akhirnya di versi novel tuh beda
deh sama versi wattpad. Dan versi tambahan ini
cuman ada di novel ya (di karyakarsa juga gak akan
ada).
Pokoknya 4 part tambahan itu bedaa dehhh...
bukan lanjutan dari part 50 di wattpad tapi ada yang
aku ubah hehhehe. aku buat lebih smooth lagi di
sana.
Terus dan yang pastiiiii .... ada extra part! Tiga
ekstra part tambahan ini salah satunya berkaitan
dengan si hitam yang aku spoiler sebelumnya
hahahaha
Extra part bakalan di karyakarsa gak Mill?
Akan ada di KK. Tapi..... nanti ya bestie setelah
buku-bukunya terdistribusi yang mana itu sekitar
sebulan lagi :")
BTW sekali lagi, diskon 10% ini cuman ada di masa
PO doang. Selepas PO bukunya harga normal dan gak
ada merch nya lagiiiii
Bakalan ada di gramedia gak Mill?
Jawabannya tidak ada ya kawan.
Aku self publishing jadi cuman jual di online shop
aja.
Sengaja pilih SP karena ini novel tuh sampe 450 hal
dan tebel bangetttt mirip2 lah sama Bumi Milik Sana.
Kalau sama penerbit, bakalan ada dua kemungkinan,
naskahnya di cut banyak atau harganya bakalan
mahal bangeeet
Dan karena aku gak mau ada yang di cut isi
ceritanya supaya gak terlalu tebel, jadi aku putusin
SP aja hehehehe biar bisa ngatur harga juga biar
lebih murah.
Bukan berarti kalau novel di penerbit harganya
kemahalan ya bestie. cuman tuh kalau di penerbit
yang kerja bukan si penulis aja. banyak antek-
anteknya kayak editor, layouter, marketing dsb. kalau
sp, kukerjakan sendiri biar hemat budget
hahahahaha
Yuk, gas deh buruan jangan sampe ketinggalan.
Eh, Mill, ini ordernya ke mana?
Ordernya ke sini bestie!
Atau kalau mau gampang gas lah kunjungin
instagram ku ajaah tinggal touch link hihihihi
Extra Part - ASAN
Holaaaaaaaa
Mill menyapa di siniii
Bagaimana kabar kaliaaan?
Semoga selalu baik dan sehat ya!
Btw, paket As Sweet As Nasa-nya udah sampai di rumah,
kan????
Berhubung semua paket As Sweet As Nasa sudah aku
kirimkan, jadi sekarang saatnya untuk upload extra part di
karyakarsa!!!!
Sudah tersedia ya gaiss.... bisa kalian baca seharga IDR
20.000 atau 200 Kakoin
Oh ya noted dulu, ya. Di karyakarsa hanya ada extra
partnya aja. khusus untuk 3 part tambahan menuju ending
hanya ada di versi novelnya aja yaa dan nggak akan aku
upload ke platform online^^
Untuk kalian yang belum punya bukunyaa dan mau
beliiiii
silahkan check out langsung di shopee millsshopping
yaaaaa atau bisa juga whatsApp ke no 085864404073
tapi untuk ready stock ini aku cuman sisain sedikit doang
dan kayaknya cuman sisa 5-6 pcs ajaaaa :")
So grab it fast gaissssss
As Sweet As Candy
Holaaaaaa
Apa kabar semuanyaaaaa
Aku mau membawa kabar gembira niiiiih
hehehehehehehe
Setelah menimbang dan memutuskan, berhubung
Bumi Milik Sana--cerita kembarannya Nasa--punya
sekuel yang berjudul Setelah Bumi Milik Sana dan
penggemar Nasa-Leo merasa tidak adil dan minta
dibikinin sekuel juga, akhirnya aku memutuskan
untuk buat sekuel ASAN berjudul As Sweet As
Candy!!!
Ceritanya tentang apa, Mill?
BLURB :
Di usia pernikahannya yang ke-5 bulan dengan Leo, Nasa
mengandung buah hati mereka. Hal tersebut membuatnya
gagal melanjutkan pendidikan spesialisnya dan
mengharuskannya untuk tetap di rumah.
Nasa kira, menjalani kehamilan pertamanya ini akan
tenang-tenang saja sebagaimana pernikahannya yang
sudah berjalan 5 bulan ini. Tanpa pertengkaran besar dan
tanpa hanya diisi oleh hal-hal manis seperti makanan manis
kesukaannya. Namun tidak ada yang bisa mengira bahwa
ketentraman rumah tangga mereka diterpa oleh seorang
gadis remaja ketus, songong, dan minim sopan santun yang
tiba-tiba hadir ke dalam kehidupan keduanya. Hania—adik
satu Ibu suaminya.
Karena kehadiran Hania, Leo dan Nasa tidak bisa
bermesraan lagi!
**
"Candy? Panggilan apaan, tuh? Alay banget."
.....
Tapi tenang aja ... walau blurbnya agak terbaca
nyebelin tapi kalian bakalan banyak dapat permen
bertebaran di cerita iniiiii hehehehehe
As Sweet As Candy akan tayang setiap hari Selasa,
Rabu, dan Kamis hanya di KaryaKarsa yaaa!
Mohon maaf karena tayangnya di karyakarsa, jadi
untuk ASAC ini akan berbayar yaaaa 1 partnya
sebesar IDR 2.500 atau 25 kakoin sama kayak cerita
Setelah Bumi Milik Sana yang juga tayang di
karyakarsa.
Walau keliahtannya berat, ceritanya nggak akan
berat2 kok gaisssssss tenang aja hahahahah dan
partnya juga nggak akab banyaak gais dan
kemungkinan di bulan ini juga udah selesaiiiiiiii
khusus untuk part 1, aku sediakan gratis untuk
kaliaaaaaaann
syudah tayang di karya karsa dan cuss yuk baca!