0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
241 tayangan9 halaman

Contoh Perubahan Fonem dalam Bahasa

Fonologi membahas tentang bunyi bahasa, termasuk fonem dan fonotaktik. Fonem adalah bunyi yang membedakan makna, seperti /l/ dan /r/ dalam kata 'lupa' dan 'rupa'. Fonotaktik mengatur urutan fonem yang dimungkinkan dalam suatu bahasa. Bahasa Indonesia memiliki 6 vokal dan 18 konsonan dasar, ditambah beberapa dari bahasa asing. Aturan fonotaktik mengatur kombinasi fonem yang diperbole

Diunggah oleh

Azzahra Nabilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
241 tayangan9 halaman

Contoh Perubahan Fonem dalam Bahasa

Fonologi membahas tentang bunyi bahasa, termasuk fonem dan fonotaktik. Fonem adalah bunyi yang membedakan makna, seperti /l/ dan /r/ dalam kata 'lupa' dan 'rupa'. Fonotaktik mengatur urutan fonem yang dimungkinkan dalam suatu bahasa. Bahasa Indonesia memiliki 6 vokal dan 18 konsonan dasar, ditambah beberapa dari bahasa asing. Aturan fonotaktik mengatur kombinasi fonem yang diperbole

Diunggah oleh

Azzahra Nabilla
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kisi-kisi fonologi

1. Perubahan fonem: asimilasi


1. Asimilasi
Yang dimaksud dengan asimilasi yaitu pristiwa perubahan bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai
akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri
yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinnya.

Contoh asimilasi: Sabtu dalam bahasa Indonesia lazim disebutkan [saptu], di mana
terlihat [b] berubah menjadi [p] karena pengaruh [t].

2. Disimilasi
Yang dimaksuk disimilasi yaitu peristiwa perubahan bunyi yang menyababkan dua buah fonem yang
sama menjadi berbeda atau berlainan.
Contoh disimilasi:
Citra yang berubah menjadi kata cipta dan cinta, kita lihat bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi
bunyi [pt] pada kata cipta dan berubah menjadi bunyi [nt] pada kata cinta
3. Netralisasi
Yang dimaksud dengan netralisasi yaitu pristiwa perubahan bunyi yang menyebabkan batalnya fungsi
fonemik sebagai pembeda makna.
Contoh netralisasi :
Bunyi [lembab] dan [lembap], pada hakekatnya bunyi ini memiliki makna yang sama. Kita lihat /b/
dan /p/ di sini kehilangan fungsinya sebagai pembeda makna.
4. Akrifonem
Yang dimaksud dengan akrifonem yaitu satuan terkecil dalam kosakata yeng menetralisasikan oposisi
antara ciri-ciri makna beberapa leksem.
Contoh akrifonem :
Kata Jawab yang diucapkan /jawap/ atau diucapkan /jawab/, tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya
menjadi jawaban. Jadi, di sini ada /B/ yang realisasinya bisa menjadi /p/ atau /b/.
5. Metatesis
Yang dimaksud dengan metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang berada dalam satu kata dalam
bentuk lain dari fonem yang sama.
Contoh metatesis :
Pada kata batu, fonem /b/, /a/, /t/, dan /u/ dapat berubah menjadi bentuk kata lain, seperti : buta,
tuba, dan tabu.
6. Epentesis
Yang dimaksud dengan epentesis yaitu penambahan huruf dalam satu kata terutama kata pinjaman
tanpa mengubah arti untuk menyesuaikan pola fonologis bahasa peminjam.
Contoh epentesis :
Kata kampak, kita lihat bunyi [m] disisipkan ditengah kata kapak. Contoh lainnya
pada jumblah, bunyi [b] disisipkan di tengah kata jumlah.

asimilasi merupakan proses perubahan bunyi yang menyebabkannya mirip atau sama dengan
bunyi lain yang ada di dekatnya, seperti sabtu dalam bahasa Indonesia yang diucapkan [saptu].
Menurut pengaruhnya terhadap fonem, asimilasi dibagi menjadi dua yaitu:

 fonemis, yang menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem;


 fonetis, yang tidak menyebabkan perubahan identitas suatu fonem.
Menurut letak bunyi yang diubah, asimilasi dibagi tiga yaitu:

 progresif, jika bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi yang memengaruhinya;
 regresif, jika bunyi yang diubah terletak di depan;
 resiprokal, jika perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling memengaruhi.
2. Fonotaktik/fonem
Fonemik adalah kajian atau analisis bunyi bahasa dengan memperhatikan statusnya
sebagai pembeda makna.[1] Bunyi bahasa yang diucapkan oleh manusia akan memiliki
pembeda makna pada setiap bunyi bahasanya.[1] Objek kajian dari fonemik
adalah fonem, berbeda dengan objek kajian fonetik yang mengkaji fon.[1] Fonem adalah
bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna.[2] Fonem merupakan
abstraksi atau gambaran dari satu atau sejumlah fon, entah berupa huruf vokal atau
huruf hidup maupun huruf konsonan atau huruf mati.[1] Penulisan sebuah fonem atau
transkripsi fonem dituliskan dengan lambang /…./.[1], Untuk dapat menentukan sebuah
bunyi termasuk fonem atau bukan, proses pengkajian harus mencari sebuah kata yang
mengandung bunyi tersebut,lalu membandingkannya dengan kata lain yang mirip.[3] Jika
proses pengkajian tersebut menemukan perbedaan makna maka bunyi tersebut
merupakan sebuah fonem.[3] Dasar bukti identitas sebuah fonem adalah apa yang
disebut fungsi pembeda makna yang terkandung dalam satuan bunyi bahasa .[4] Semisal
pembedaan fonem dalam bahasa Indonesia yang terdapat kata lupa dan rupa. /l/ dan /r/
dalam bahasa Indonesia merupakan fonem yang berbeda identitias untuk membedakan
makna dari kata lupa dan kata rupa.[5].
Dalam penelitian suatu bahasa, para ahli fonologi mendaftarkan semua fonem di dalam
bahasa itu.[9] Keseluruhan fonem yang didaftarkan itu disebut khazanah fonem atau
perbendaharaan fonem.[9] Pengkhazanahan fonem dalam suatu sistem bahasa memang
memberikan pengertian serta kejelasan yang mendalam terhadap sistem bunyi-bunyi
pada bahasa yang bersangkutan.[9] Dalam bahasa Indonesia, khazanah fonem terdiri dari
enam buah fonem vokal (a,i,u,e,ә, dan o) dan delapan belas fonem konsonan
(p,t,c,k,b,d,j,g,m,ň,ŋ,n,s,h,r,l,w, dan y).[10] Kemudian terdapat penambahan empat fonem
yang berasal dari bahasa asing yaitu x,z,f, ʃ dan tiga fonem diftong yaitu ai, au dan oi.[11]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia fonotaktik adalah urutan fonem yang
dimungkinkan dalam suatu bahasa atau deskripsi urutan fonem. Sedangkan
menurut Kamus Linguistik fonotaktik adalah urutan fonem yang dimungkinkan dalam
suatu bahasa atau gramatika stratifikasi sistem dalam pengaturan stratum fonemik.
Gramatika stratifikasi adalah tingkatan gramatikal dimana gramatikal hanya terdapat
pada morfologi dan sintaksis, sedangkan fonotaktik hanya terdapat pada fonologi.
Ada pula yang mengatakan bahwa Fonotaktik adalah bidang fonologi atau fonemik
yang mengatur tentang penjejeran fonem dalam kata. Contohnya, kata pertandingan
memiliki 12 fonem. Jejeran fonem dari kata tersebut adalah /p,e,r,t,a,n,d,i,n,g,a,n/.
Maka dapat disimpulkan bahwa Fonotaktik ialah cabang fonologi yang berkenaan
dengan gabungan fonem yang dibenarkan dalam sebuah bahasa.
Kaidah fonotaktik merupakan kaidah-kaidah yang mengatur urutan atau hubungan
antara fonem-fonem suatu bahasa. Fonotaktik mempunyai pola yang terkait dengan
pola penyukuan kata dan pergeseran bunyi yang menimbulkan variasi bunyi satu
fonem yang sama.
Pola fonotaktik adalah kaidah pergeseran bunyi dalam pelafalan kata, baik kata dasar atau
kata turunan akibat pengaruh bunyi yang ada di lingkungannya (baik sebelum dan
sesudahnya). Pergeseran ini menimbulkan variasi bunyi dari satu fonem yang sama.
Umumnya, peraturan fonotaktik berkisar pada hierarki kenyaringan yang menetapkan
bahawa nukleus mempunyai kenyaringan yang maksimum, dengan kenyaringan menyusut
selaras dengan jaraknya daripada nukleus. Geseran aveolat tak bersuara [s] adalah lebih
rendah dalam hierarki kenyaringan, berbanding dengan malaran tak geser sisian aveolar [l]
dan justera itu, gabungan /sl/ dibenarkan untuk onset dan /ls/ dibenarkan untuk koda, tetapi
/ls/ tidak dibenarkan dalam onset dan /sl/ dibenarkan dalam koda. Oleh itu, slips /slɪps/ dan
pulse /pʌls/ adalah perkataan Inggeris yang mungkin, manakala *lsips dan *pusl tidak.
Dalam sesetengah kes, /s/ bersifat "tidak dapat dilihat" kepada hierarki kenyaringan.
Sebagai geseran, ia lebih nyaring berbanding dengan letupan /t/. Sebaliknya, gabungan
seperti [stil] yang mencabuli hierarki kenyaringan pernah dilihat, malahan amat biasa, dalam
bahasa Inggris. Sifat ini juga dilihat untuk /s/ dan /z/ dalam banyak bahasa yang lain dan
justera, merupakan sesuatu unsur sejagad manusia.
1. Deretan vokal dalam bahasa Indonesia
Deretan vokal biasa merupakan dua vokal yang masing-masing mempunyai satu
hembusan napas dan karena itu masing-masing termasuk dalam suku kata yang berbeda.
Deretan dua vokal yang terdapat dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
/iu/ : tiup, iur, nyiur
/io/ : kios, radio, biola
/ia/ : tiap, dia, giat
/ei/ : mei
/ea/ : beasiswa, kreasi
/eo/ : feodal, beo, pemeo
/ae/ : daerah
Deretan vokal di atas adalah deretan vokal yang lazim dan berterima dalam bahasa
Indonesia. Apabila ada bentuk/bunyi yang di dalamnya menggunakan deretan vokal tersebut
tidak akan terasa asing kita.
2. Deretan konsonan dalam bahasa Indonesia
Seperti halnya deretan vokal, deretan konsonan dalam bahasa Indonesia juga cukup
bervariasi. Adapun variasi dari deretan konsonan tersebut adalah :
a. Deretan konsonan dalam satu suku kata
1). Jika dua konsonan berderet dalam satu suku kata yang sama, maka konsonan yang pertama
hanyalah /p/, /b/, /t/, /k/, /g/, /f/, /s/, dan /d/, sedangkan konsonan yang kedua hanyalah /l/,
/r/, /w/, atau /s/, /m/, /n/, dan /k/
/pl/ : pleonasme, pleno, taplak
/bl/ : blangko, gamblang
/kl/ : klinik, klasik
/gl/ : global, gladi
/fl/ : flamboyan, flu
/sl/ : slogan, Slip
/br/ : brantas, obral, ambruk
/tr/ : tragedi, mitra
/dr/ : drama, drastis, adres
/kr/ : kriminal, akrab, krupuk
/gr/ : gram, granat
/fr/ : fragmen, diafragma, frustasi
2). Jika tiga konsonan berderet dalam satu suku kata, maka konsonan pertama selalu /s/, yang
kedua /t/ atau /p/, dan yang ketiga /r/ atau /l/.
/str/ : strategi, instruksi
/spr/ : sprei
/skr/ : skripsi, manuskrip
/skl/ : sklerosis
b. Deretan dua konsonan dalam suku yang berbeda adalah sebagai berikut :
/mp/ : empat, pimpin
/mb/ : ambil, gambar
/nt/ : untuk, ganti
/nd/ : indah, pandang
/ňc/ : lancar, kunci
/ňj/ : janji, banjir
/ŋk/ : engkau, mungkin
/ŋg/ : angguk, tinggi
/ŋs/ : bangsa, angsa, mangsa
/ns/ : insaf, insan, insang
/rb/ : kerbau, terbang, korban
/rd/ : merdu, merdeka, kerdil
/rg/ : harga, pergi, sorga
/rj/ : kerja, terjang, sarjana
Dua variasi deretan konsonan tersebut di atas adalah deretan konsonan yang lazim dan
berterima dalam bahasa Indonesia.
3. Deretan vokal dan konsonan dalam satu suku kata
Kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas satu suku kata atau lebih. Betapapun panjangnya
suatu kata, wujud suku kata yang membentuknya mempunyai struktur dan kaidah. Suku kata
dalam bahasa Indonesia terdiri atas vokal dan konsonan . Berikut adalah deretan vokal (V)
dan konsonan (K) yang membentuk suku kata dalam bahasa Indonesia beserta contoh
katanya:
a. V : a-mal, su-a-tu, tu-a
b. VK : ar-ti, ber-il-mu, ka-il
c. KV : pa-sar, sar-ja-na, war-ga
d. KVK : pak-sa, ke-per-lu-an, pe-san
e. KKV : slo-gan, kop-pra
f. KKVK : trak-tor, a-trak-si
g. KVKK : teks-til, kon-teks-tual, mo-dern
h. KKKV : stra-te-gi, stra-ta
i. KKKVK : struk-tur, in-struk-tur
j. KKVKK : kom-pleks
k. KVKKK : korps.
Deretan vokal dan konsonan yang membentuk satu suku kata seperti tersebut di atas
itulah yang berterima dalam bahasa Indonesia, selain itu tak berterima.

3. Konsonan a. Bilabial

Pengertian Bilabial
Bilabial adalah salah satu jenis suara dalam fonetik yang terbentuk dari bibir atau
kedua bibir. Bunyi ini sering ditemukan dalam bahasa-bahasa di seluruh dunia dan
sangat penting dalam pengucapan kata-kata yang tepat.
Bunyi bilabial merupakan jenis bunyi yang dihasilkan dari bibir atau kedua bibir. Konsonan
bilabial biasanya diucapkan dengan menggerakkan bibir atas dan bibir bawah sehingga
terjadi suara yang keluar dari mulut.
Contoh bunyi bilabial dalam bahasa Indonesia adalah “b” dan “p”. Ketika kita mengucapkan
“ba” atau “pa”, bibir kita akan bergerak dan menghasilkan suara yang berbeda.

Cara Melafalkan Bunyi Bilabial


Untuk melafalkan bunyi bilabial, pertama-tama kita harus menggerakkan bibir atas dan bibir
bawah. Kemudian kita harus mengeluarkan suara dengan meniupkan udara melalui bibir.
Untuk bunyi “b”, bibir kita harus ditutup rapat dan kita harus meniupkan udara melalui celah
di antara bibir. Sedangkan untuk bunyi “p”, bibir kita harus ditutup rapat dan kita harus
meniupkan udara dengan melepaskan bibir secara tiba-tiba.

1. Fonem [p]
Data : fonem [p-] → /pesta/ menjadi /ea/ /patung/menjadi /au/
Analisis : fonem [p] bilabial, hambat, tak bersuara menjadi hilang
Kesimpulan : Jadi, pasien tersebut menghilangkan fonem [p-] awal saat
mengucapkan kata pesta dan patung menjadi ea dan au
2. Fonem [m]
Data : fonem [-m] → /suram/ menjadi /ua/
Analisis : fonem [m] bilabial, nasal, bersuara menjadi hilang
Kesimpulan : Jadi, pasien tersebut menghilangkan fonem [-m] akhir saat
mengucapkan kata suram menjadi ua
Data : fonem [-m-] → /zamzam/ menjadi /jajam/ Analisis : fonem [m] bilabial, nasal,
bersuara menjadi hilang
Kesimpulan : Jadi, pasien tersebut menghilangkan fonem [-m-] tengah saat
mengucapkan kata zamzam menjadi jajam
4. Menulis dengan tulisan fonetik/kaitan dengan fonologi

Fonologi adalah cabang ilmu bahasa bidang linguistik yang mempelajari dan menyelidiki
sistem bunyi dan seluk beluk bunyi dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda
arti dari sudut suatu bahasa tertentu. Secara etimologis kata fonologi berasal dari gabungan
kata fon yang berarti bunyi, dan logi yang berarti pengetahuan. Bunyi yang dipelajari dalam
fonologi yaitu bunyi yang memiliki makna, bukan bunyi yang tanpa makna. Fonologi
merupakan ilmu yang mempelajari bunyi bahasa, dan diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari bunyi bahasa dengan dihasilkan oleh alat ucap manusia. Fonologi mempunyai
dua cabang ilmu yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik adalah bagian fonologi yang
mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi
oleh alat ucap manusia. Sedangkan fonemik adalah bagian fonologi yang mempelajari bunyi
ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti.

Fonologi juga diartikan sebagai kajian linguistik yang mempelajari, membahas,


membicarakan dan menganalisis bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-alat ucap
manusia. Fonologi merupakan syarat mutlak yang harus dikuasai oleh pengguna bahasa agar
dapat menunjang penguasaan tataran ilmu bahasa lainnya. Kajian fonologi dapat
dimanfaatkan untuk kajian cabang linguistik lainnya baik secara praktis maupun teoretis.
Cabang linguistik tersebut yaitu bidang morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi,
dialektologi, psikolinguistik, linguistik terapan, bahkan hingga dalam dunia klinis.

Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari tata bunyi yang tidak berkaitan dengan
pembeda makna. Sedangkan, fonologi sendiri cabang dari ilmu linguistik yang mempelajari bunyi
bahasa. Fonetik mengkaji tentang penyampaian, dan penerimaan bunyi bahasa. Fonetik berkaitan
erat dengan ilmu fisika, anatomi, dan psikologi. Dalam cabang linguistik, fonetik sebagai proses
mengkaji tentang bunyi bahasa yang tidak berkaitan dengan pembeda makna. Artinya, fonetik
tidak memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna, misalnya
proses pengucapan vokal [a, i, u], kosonan [b, p, g].

Jenis-jenis fonetik Beberapa jenis-jenis fonetik, antara lain:


- Fonetik artikulatoris, organis, atau fisiologi Fonetik artikulatoris bisa disebut juga sebagai
fonetik organis atau fonetik fisiologi. Pada jenis fonetik ini mempelajari bagaimana
proses alat-alat bicara yang ada di dalam tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa. Pada
jenis fonetik ini mengkaji mengenai peran dari organ wicara terhadap penghasilan bunyi
bahasa manusia dan mengkaji mengenai proses terjadinya bunyi bahasa yang dilakukan
oleh organ-organ wicara.
- Fonetik akustis Fonetik akustis mempelajari bunyi bahasa ketika merambat di udara,
berupa gelombang bunyi beserta frekuensi dan kecepatan ketika merambat di udara,
spektrum, tekanan, getarannya, amplitudo, istensitasnya, timbrenya, dan lain-lain,
- Fonetik auditoris atau persepsi Fonetik auditoris bisa disebut juga dengan fonetik
persepsi. Pada jenis fonetik ini mempelajari bagaimana proses telinga menerima bunyi
Bahasa sebagai getaran udara. Fonetik auditoris mengkaji tentang proses bunyi bahasa
yang diterima oleh indra pendengaran manusia sehingga bunyi bahasa tersebut mudah
untuk dipahami.

5. Fonemik
Fonem merupakan satuan linguistik yang membedakan makna. Menurt Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan
kontras makna (misalnya /i/ dan /u/ adalah fonem karena membedakan makna
kata bisa dan busa, /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena baku dan paku beda
maknanya.

 Dalam bahasa Indonesia ketiga fonem suprasegmental tersebut tidak termasuk yang dapat
membedakan arti (fonemis), tetapi apabila bergabung bersama akan membentuk intonasi yang
dapat membedakan arti. Konsonan hambat letup bilabial : [p, b]
 Konsonan hambat letup apiko dental : [t, d]
 Konsonan hambat letup apiko alveolar : [t, d]
 Konsonam hambat letup apiko-palatal : [t, d]
 Konsonan hambat letup medio palatal : [c, j]
 Konsonan hambat letup dorso velar : [k, g]
 Konsonan hamzah (glottal plosive, glottal stop) : (?)
 Konsonan geser atau frikatif: [f, v, s, z, x]

fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan
memperhatikan jika bunyi-bunyi tersebut berfungsi sebagai pembeda makna (Triadi
& Emha, 2021, hlm. 4). Sementara itu menurut Muslich (2018, hlm. 2) fonemik adalah
sub-bidang fonologi yang memandang bunyi-bunyi ujar sebagai bagian dari sistem
bahasa lazim. Lazim tentunya merujuk pada konteks yang sudah umum dari bahasa
individu yang dikajinya. Selanjutnya, menurut Keraf (2004) fonemik adalah ilmu yang
mempelajari bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Misalnya
perbedaan bunyi [p] dan [b] yang terdapat pada kata [paru] dan [baru]. Dapat
disimpulkan bahwa fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa
atau bunyi ujaran dengan memperhatikan fungsinya sebagai pembeda arti dari suatu
sistem bahasa.

Sebelumnya, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa fonem atau suatu transkripsi fonem
dilambangkan dengan simbol “/ /”, misalnya fonem /t/, /k/, /m/, /d/, dsb. Untuk menemukan
pembuktian empiris mengenai suatu fonem yang dapat membedakan makna, maka kita
dapat melakukan contoh pembandingan bentuk dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

Contoh fonem yang akan digunakan adalah /k/, /t/, /j/, /m/, /d/, /g/. Saat fonem tersebut
digunakan pada kata yang berbeda, maka kata tersebut berubah maknanya seperti pada
contoh di bawah ini.
[ka#lang] penyangga atau penunjang

[ta#lang] saluran air (dari buluh, seng, dan sebagainya) pada cucuran atap

[ja#lang] liar atau tidak dipelihara orang (tentang binatang) atau nakal (melanggar susila)

[ma#lang] bernasib buruk/celaka

da#lang] orang yang memainkan wayang

[ga#lang] menghimpun

Berdasarkan bukti empiris di atas, dapat diketahui bahwa fonem /k/, /t/, /j/, /m/, /d/, dan /g/
berfungsi membedakan makna terhadap bentuk satuan linguistik yang lebih besar, meskipun
fonem-fonem itu sendiri tidak memiliki makna.

Setidaknya terdapat empat premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni:

1. bunyi bahasa dipengaruhi lingkungannya;


2. bunyi bahasa itu simetris;
3. bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem
yang berbeda;
4. bunyi bahasa yang bersifat komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem
yang sama.

7. Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya
ditentukan oleh tiga faktor:

 tinggi-rendahnya posisi lidah (tinggi, sedang, rendah)


 bagian lidah yang dinaikkan (depan, tengah, belakang)
 bentuk bibir pada pembentukan vokal itu (normal, bundar, lebar/terentang)
Konsonan adalah bunyi bahasa yang arus udaranya mengalami rintangan dan kualitasnya
ditentukan oleh tiga faktor:

 keadaan pita suara (merapat atau merenggang - bersuara atau tak bersuara)
 penyentuhan atau pendekatan berbagai alat ucap/artikulator (bibir, gigi, gusi, lidah,
langit-langit)
 cara alat ucap tersebut bersentuhan/berdekatan
Artikulator adalah alat ucap yang bersentuhan atau yang didekatkan untuk membentuk bunyi
bahasa.
Daerah artiulasi adalah daerah pertemuan antara dua artikulator. Macamnya:

 Bilabial - bibir atas dan bibir bawah (kedua bibir terkatup), mis.: [p], [b], [m]
 Labiodental - bibir bawah dan ujung gigi atas, mis.: [f]
 Alveolar - ujung/daun lidah menyentuh/mendekati gusi, mis.: [t], [d], [s]
 Dental - ujung/daun lidah menyentuh/mendekati gigi depan atas
 Palatal - depan lidah menyentuh langit-langit keras, mis.: [c], [j], [y]
 Velar - belakang lidah menempel/mendekati langit-langit lunak, mis.: [k], [g]
 Glotal (hamzah) - pita suara didekatkan cukup rapat sehingga arus udara dari paru-
paru tertahan, mis.: bunyi yang memisahkan bunyi [a] pertama dan [a] kedua pada
kata saat
Cara artikulasi adalah cara artikulator menyentuh atau mendekati daerah artikulasi. Macamnya:

 Bunyi hambat - kedua bibir terkatup, saluran ke rongga hidung tertutup, kemudian
katup bibir dibuka tiba-tiba. Mis.: [p] dan [b]
 Bunyi semi-hambat - kedua bibir terkatup, udara dikeluarkan melalui rongga hidung.
Mis.: [m]
 Bunyi frikatif - arus udara dikeluarkan melalui saluran sempit sehingga terdengar
bunyi berisik (desis). Mis.: [f] dan [s]
 Bunyi lateral - ujung lidah bersentuhan dengan gusi dan udara keluar melalui
samping lidah. Mis.: [l]
 Bunyi getar - ujung lidah menyentuh tempat yang sama berulang-ulang. Mis.: [r]
Selain bunyi-bunyi di atas, ada bunyi yang cara pembentukannya sama seperti pembentukan
vokal, tetapi tidak pernah dapat menjadi inti suku kata. Mis.: [w] dan [y]

Anda mungkin juga menyukai