BUKU PEDOMAN MITRA
CARA MENENUN TOPE LE’LENG
Alat dan Bahan :
Nama Alat :
1. Boko-boko, alat ini berfungsi untuk menahan punggung ketika menenun. Boko-boko
berbentuk melengkuk, kegunaan alat ini agar penenun bisa menjaga keseimbangan
badannya.
2. Apik
3. Suruk
4. Balira, kegunaan alat ini untuk merapatkan dan menyentakkan benang.
5. Patakko
6. Pakarakkang
7. Gulungan
8. Pananrang
9. Tukrangan
10. Palliri, fungsi dari alat ini untuk merentangkan benang agar benang tidak kusut atau
terlilit.
11. Pappakang
12. Tanra ajeng, benang yang sudah direntangkan dan dimasukkan ke sisir. Selanjutnya
diletakkan di tanra ajeng ini. Tanra ajeng ibarat badan dari alat tenun ini, gunanya
untuk membuat benang berdiri atau horizontal.
13. Sulurang, fungsi alat ini untuk tempat keluarnya balira.
14. Taropo, fungsi dari alat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan benang hitam.
15. Kulit kerang, kulit kerang ini berfungsi untuk membuat kain mengkilap.
16. Bambu panjang, bambu ini digunakan untuk proses penggarusan. Kulit kerang yang
digunakan untuk menggarus diletakkan disalah satu ujung bambu.
17. Meja kayu, digunakan untuk meletakkan sarung selama proses penggarusan atau
mengkilapkan sarung.
18. Alat paturung, fungsi alat ini untuk meluruskan benang yang sudah dijemur.
Tujuannya agar benang tidak kusut dan lebih mudah ditenun.
Nama Bahan :
1. Benang putih
2. Daun tarum
3. Benang berwarna-warni untuk membuat dekorasi pada kain tenun.
Cara Pembuatan :
1. Hal yang paling pertama yang harus dilakukan yakni dengan mengumpulkan daun
tarum. Caranya dengan memetik daun tarum sebanyak-banyaknya. Untuk pewarnaan
satu benang biasanya menggunakan 3-4 baskom besar yang berisikan daun tarum.
2. Setelah mengumpulkan daun tarum, daun tersebut dijemur.
3. Tahap berikutnya yakni mencuci daun tarum. Daun tarum pertama-tama diletakkan
dalam baskom kemudian diberi air. Aduk daun tarum menggunakan tangan agar
semua daun basah terkena air.
4. Selanjutnya remas dan peras daun tarum tersebut. Namun tetap diwadah yang sama.
Begitu semua daun tarum selesai diperas. Daun tarum tersebut disaring agar sisa daun
tidak tercampur.
5. Berikutnya perasan daun tarum diletakkan di dalam ember.
6. Setelah memasukkan air perasan daun tarum. Berikutnya perasan daun tarum tersebut
diaduk-aduk selama beberapa menit. Setelah itu wadah tersebut ditutup.
7. Air perasan daun tarum ini dibiarkan bermalam selama beberapa hari. Sekitar 3-7 hari
barulah perasan daun tarum berubah menjadi warna hitam. Sambil menunggu menjadi
warna hitam. Sesekali air perasan daun tarum ini diaduk-aduk sampai berbusa.
Kemudian ditutup kembali.
8. Setelah perasan air daun tarum berubah menjadi warna hitam. Langkah berikutnya
melakukan a’nyila atau mencelupkan benang. Proses a’nyila hanya dilakukan dua
kali dalam sehari, yakni pada pagi hari dan sore hari.
9. Pada proses a’nyila, benang putih dicelupkan ke dalam wadah berisi perasan daun
tarum yang sudah berubah menjadi warna hitam. Proses mencelupkan benang ini
dilakukan sebanyak 10-12 kali. Sambil mencelup, sesekali benang tersebut diperas
agar warnanya semakin menyatu. Benang juga dibentangkan sesekali setelah dicelup.
10. Begitu selesai dicelupkan, benang tersebut diletakkan diatas batu kemudian dipukul
menggunakan pemukul kayu.
11. Setelah itu, benang dijemur dengan bambu panjang dibawah terik matahari. Benang
dijemur hingga benar-benar kering.
12. Setelah benang kering, proses selanjutnya memasukkan benang ke alat gulungan.
Proses ini disebut paturug. Benang yang sudah dijemur tadi, dimasukkan ke dalam
alat gulungan. Kemudian salah satu ujung benang digulung ke bambu kecil.
13. Setelah itu benang yang sudah terpasang dialat gulungan diputar-putar. Tujuan proses
ini untuk meluruskan benang yang sebelumnya kaku karena dijemur.
Hasil gulungan benang seperti gambar dibawah ini:
14. Setelah benang habis digulung, hasil gulungan tadi diletakkan ... . Kemudian tiap
helai benang dimasukkan ke dalam sisir tenun.
Benang yang sudah digulung dilletakkan pada ....
15. Pada proses ini, benang yang pertama kali direntangkan adalah benang berwarna
biru.. Proses merentangkan dan memasukkan benang ke sisir tenun ini disebut angae.
16. Angae dilakukan paling cepat satu hari, namun bisa menghabiskan waktu seminggu.
Tergantung dari kelincahan dan ketekunan orang yang melakukan proses angae ini.
17. Tahap berikutnya, setelah selesai melakukan proses angae. Benang dipindahkan ke
alat tenun tanra ajeng. Benang diletakkan secara vertikal.
18. Langkah selanjutnya,
19. .....
20. ....
21. .....
22. .....
23. .....
24. Begitu sarung selesai ditenun, sarung tersebut dicuci dan dijemur. Setelah kering akan
dilakukan kain sarung disatukan dengan dijahit. Langkah berikutnya melakukan
a’garusuk untuk mengkilapkan kain.
25. Untuk mengkilapkan kain, kain diletakkan diatas meja kayu. Seperti pada gambar
dibawah ini.
26. Tahap selanjutnya kulit kerang yang digunakan untuk a’garusuk diletakkan diujung
bambu. Ujung lain dari bambu tersebut digantung dibagian langit-langit rumah.
27. Pada saat menggosokkan kulit kerang pada sarung harus dilakukan dengan pelan-
pelan dan terus menerus. Kulit kerang tidak boleh diletakkan diatas sarung. Karena
hal tersebut dapat merobek kain sarung.
28. A’garusuk dilakukan selama beberapa menit, apabila kain sudah mengkilap proses
a’garusuk pun selesai.
29. Sarung tope le’leng pun selesai.