Proses Kerja dalam Process Costing
Dalam metode ini, biaya produksi dikumpulkan tiap bulan atau periode.
Penentuan harga pokok produk per unit dihitung dengan cara membagi total
biaya produksi yang telah dikeluarkan selama bulan atau periode tertentu dengan jumlah satuan
produk yang dihasilkan selama bulan atau periode yang
bersangkutan. Tujuan dari kalkulasi biaya proses adalah untuk menentukan
jumlah biaya dari unit-unit yang diproduksi dalam suatu periode. Metode biaya
proses digunakan untuk barang-barang yang diproduksi melalui pengolahan yang
berkesinambungan atau melalui proses produksi masal. Ciri – ciri biaya proses
(Daljono , 2004) adalah :
1. Biaya dibebankan ke rekening barang dalam proses pada setiap departemen
2. Laporan biaya produksi digunakan untuk mengumpulkan, mengikhtisarkan dan
menghitung biaya perunit dan biaya total.
3. Barang dalam proses pada akhir periode akan dinilai kembali dalam satuan unit
ekuivalen.
4. Biaya-biaya dari unit barang jadi pada suatu departemen akan ditransfer ke
departemen pengolahan berikutnya agar dapat diketahui total biaya untuk
barang jadi selama satu periode dan biaya yang harus dibebankan ke barang
dalam proses.
Sedangkan Garrison (2006) mengungkapkan bahwa process costing adalah :
1. Seluruh unit produk identik dan diproduksi secara kontinu (terus menerus).
2. Biaya dihitung per Departemen.
3. Laporan departemen produksi merupakan dokumen penting yang menunjukkan
akumulasi biaya per departemen.
4. Biaya per unit dihitung per departemen.
Tujuan utama dari kedua sistem tersebut adalah membebankan biaya
bahan baku, tenaga kerja dan overhead ke produk dan memberikan mekanisme
penghitungan biaya per unit. Kedua sistem menggunakan rekening yang sama
termasuk overhead pabrik, bahan Baku, Barang dalam Proses, dan Barang Jadi.
Aliran biaya melalui rekening-rekening manufaktur pada dasarnya sama untuk
kedua sistem itu.
Aliran Biaya Dalam Perhitungan Biaya Berdasarkan Process Costing
Dalam perusahaan manufaktur, produksi dapat terjadi di beberapa
departemen. Setiap departemen melakukan suatu operasi tertentu untuk menyelesaikan produk.
Sebagai contoh, departemen pertama biasanya melakukan
proses pekerjaan tahap permulaan atas produk seperti memotong, mencetak, atau
membentuk produk atau komponen-komponennya. Jika pekerjaan di departemen
pertama selesai, unit-unit tersebut ditransfer ke departemen kedua. Departemen
kedua kemudian melaksanakan tugasnya. Mulai dari perakitan, pengamplasan,
pengecatan, atau pengepakan, lalu mentransfer unit-unit tersebut ke departemen
berikutnya, yang kemudian melaksanakan tugasnya, demikian seterusnya, sampai
unit-unit tersebut akhirnya selesai dan ditransfer ke gudang barang jadi.
Perhitungan biaya berdasarkan proses digunakan saat produk dihasilkan
dalam kondisi proses yang kontinu atau metode produksi masal dimana produk-
produk yang dihasilkan dalam suatu departemen atau pusat biaya lain bersifat
homogen. Kondisi ini sering kali terdapat pada industri-industri yang
memproduksi komoditas seperti kertas, kayu, pipa, plastik, minyak, tekstil, semen,
tepung, dan gula. Perhitungan biaya berdasarkan proses juga digunakan di
perusahaan-perusahaan yang memproduksi suku cadang sederhana atau alat-alat
listrik sederhana seperti paku, mur, baut, dan bola lampu.
Dalam beberapa hal, process costing memiliki kesamaan dan perbedaan
dengan job order costing. Tujuan utama dari kedua sistem tersebut adalah
membebankan biaya bahan baku, tenaga kerja dan overhead ke produk dan
memberikan mekanisme penghitungan biaya per unit. Kedua sistem menggunakan
rekening yang sama termasuk overhead pabrik, bahan Baku, Barang dalam
Proses, dan Barang Jadi. Aliran biaya melalui rekening-rekening manufaktur pada
dasarnya sama untuk kedua sistem itu.
Process costing adalah suatu sistem penetapan biaya produk yang
mengakumulasikan biaya-biaya menurut proses-proses atau departemen-
departemen dan membebankan biaya-biaya tersebut kepada sejumlah besar
produk-produk yang sama. (Blocher,2008:404). Sistem process costing digunakan
dalam perusahaan yang memproduksi satu jenis produk dalam jumlah besar dalam
jangka panjang (Bamber, Braun, and Harrison, 2007).
Tipe perusahaan yang menggunakan proses costing adalah perusahaan
yang proses produksinya telah distandardisasi (seringkali produksi massal) untuk
membuat produk-produk homogen. Perusahaan yang memproduksi suatu jenis produk dalam
jumlah besar
dalam jangka panjang menggunakan system process costing ( Bamber, Braun, and
Harrison, 2007 ). Sistem proses costing digunakan di banyak perusahaan industri
seperti mesin, oli, tekstil, cat, tepung, baja, kaca, semen, kulit, dan sebagainya.
Proses costing dapat juga digunakan pada organisasi jasa dengan jasa yang
homogen serta proses yang berulang-ulang seperti proses cek di bank atau sortir
surat oleh kurir.
Ada tiga bentuk arus produk yang berkaitan dengan metode harga pokok
proses yaitu arus berurutan, sejajar dan selektif. (Daljono, 2006) :
1. Arus produk berurutan (sequential product flow)
Dalam arus produk berurutan setiap produk diproses melalui rangkaian langkah
yang sama. Bahan yang diolah di departemen I kemudian dipindahkan ke
departemen berikutnya. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :
2. Arus produk sejajar (parallel product flow)
Dalam arus produk sejajar produk diproses di berbagai departemen secara
bersamaan dan kemudian dikerjakan dalam departemen yang sama supaya
menjadi produk jadi.
Pemakaian bahan setiap departemen yang berbeda. Hal ini dapat digambarkan
sebagai berikut:
3. Arus produk selektif (selective product flow)
Dalam arus produk selektif, beberapa jenis barang jadi dihasilkan dari bahan
yang sama yang diproses di departemen awal dan kemudian diproses di
departemen yang berbeda. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Tujuan utama process costing adalah adalah membebankan biaya bahan
baku, tenaga kerja dan overhead ke produk dan memberikan mekanisme
penghitungan biaya per unit. (Garrison/Noreen, 2006) Aliran unit dalam sistem
process costing bersifat kontinu, biaya diakumulasikan per departemen dan
membebankan biaya ini secara merata ke seluruh unit yang melewati departemen
tersebut selama satu periode.
Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan proses, bahan baku, tenaga
kerja, dan overhead pabrik umumnya dibebankan ke departemen produksi, tetapi
jika suatu departemen diorganisasi menjadi dua pusat atau lebih, perhitungan
biaya berdasarkan proses tetap dapat digunakan, selama unit-unit produk yang
dihasilkan selama periode tersebut bersifat homogen. Misalnya, suatu departemen
produksi yang memiliki empat lini perakitan, dimana setiap lini m nghasilkan
produk yang berbeda, dapat menggunakan perhitungan biaya berdasarkan proses.
Setiap lini perakitan dapat diperlakukan sebagai pusat biaya yang terpisah.
Hal ini mengharuskan adanya catatan yang terpisah untuk mencatat biaya
yang terjadi di setiap lini perakitan. Meskipun perhitungan biaya berdasarkan
proses didiskusikan dan diilustrasikan dalam konteks suatu departemen, konsep
ini juga berlaku untuk bentuk-bentuk lain dari organisasi manufaktur. Kriteria
utama untuk menggunakan perhitungan biaya berdasarkan proses adalah
identifikasi atas suatu unit bisnis yang memproduksi hanya satu jenis produk
setiap kalinya.
Mencatat Transaksi Perusahaan, Menghitung Harga Pokok Produksi dan
Menyusun Laporannya Menggunakan Process Costing
Biaya Produksi Pada PT. Conbloc Indonesia Surya
Berdasarkan data yang telah penulis peroleh di perusahaan, maka yang menjadi biaya produksi
pada PT. Conbloc Indonesia Surya terbagi menjadi 3 yaitu: biaya bahan baku, biaya tenaga
kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
1. Biaya bahan baku
Bahan baku merupakan bahan yang tercampur langsung pada produk jadi yang
akan dihasilkan. Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan sebuah paving
pada PT. Conbloc Indonesia Surya adalah semen, pasir halus, pasir kasar, abu batu
dan split 10/5. Berikut merupakan penyajian langsung yang ditampilkan dalam
bentuk tabel.
Seperti yang dilihat pada tabel di atas perusahaan mengeluarkan Rp.
417.120.000 untuk total biaya bahan baku dalam satu bulan pembuatan paving.
Lebih jelasnya PT Conbloc Indonesia Surya mengggunakan 16 kapsul semen untuk
setiap bulan dan 1 kapsul terdiri dai 300 sak semen maka 16 kapsul semen terdiri
4.800 sak semen dengan harga satuan Rp. 58.000, 24 dam pasir halus per bulan
dengan harga satuan Rp. 180.000, 120 dam pasir kasar untuk penggunan setiap
bulan dengan harga satuan Rp. 140.000, abu batu 72 dam perbulan dengan harga
satuan Rp. 1.050.000, serta split (ukuran 10/5) 50 dam perbulan dengan harga
satuan Rp. 875.000.
2. Biaya tenaga kerja langsung
Yang termasuk dalam baya tenaga kerja langsung adalah semua tenaga kerja yang
terlibat scara langsung dalam kegiata produksi untuk sehari harinya atau pekerja
pabrik. Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk membayar upah tenaga kerja
langsung dimasukan sebagai bagian dai biaya produk yang membentuk harga pokok
produksi.
Pemberian gaji pada karyawan [Link] Indonesia Surya ditentukan
berdasarkan jabatan masing masing
Berikut adalah ketentuan mengenai biaya tenaga kerja langsung pada PT. Conbloc
Indonesia Surya:
a. Gaji pokok untuk tenaga kerja langsung Rp. 86.000 per hari
b. Tunjangan-tunjangan yang diberikan untuk setiap karyawan adalah sebagai
berikut:
a. Tunjangan ansunransi sebesar Rp. 35.000 perbulan
b. Tunjangan tranportasi dan makan Rp. 20.000 perhari
sehingga dapat dihitung biaya tenaga kerja langsung pada PT Conbloc
Indonesia Surya untuk bulan November 2015 adalah sebagai berikut
Biaya tenaga kerja langsung (26 orang)
a. Gaji pokok @Rp. 86.000(25 hari)
Rp. 86.000 x 26 orang x 25 hari Rp. 55.900.000
b. Tunjangan asuransi
Rp. 35.000 x 26 orang Rp. 910.000
c. Tunjangan transportasi dan makan
Rp. 20.000 x 26 orang x 25 hari Rp. 13.000.000
TOTAL Rp. 69.810.000
3. Biaya overhead pabrik
Selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung tentunya ini merupakan
salah satu biaya yang tidak dapat dipisahkan ketika proses produksi. Pada PT.
Conbloc Indonesia Surya ada juga biaya-biaya yang dapat di kategorikan sebagai
biaya overhead pabrik seperti biaya tenaga kerja tidak langsung,biaya minyak,
biaya oli, biaya reserpasi, dan pemeliharan mesin, biaya listrik maupun telepon dan
masih ada beberapayang lainnya. Biaya overhead ini sulit untuk diidenfitifikasi
maka harus dapat dianalisa sebaik mungkin oleh perusahaan sesuai dengan
informasi informasi yang ada. Berikut merupakan penyajian langsung yang di
tampilkan pada tabel di bawah:
Seperti yang di lihat pada tabel di atas, perusahaan mengeluarkan Rp. 193.626.000
untuk total biaya overhead pabrik dalam 1 bulan pembuatan paving, untuk biaya
operasional perusahaan menggunakan 6 unit mobil dam truk yang di bagi menjadi 2
bagian, yaitu 3 unit mobil dam truk dipakai untuk mengangkut material seperti pasir
dan spilt, dan 3 unit mobil dam truk di pakai untuk membawa pesanan yang akan
dikirim ke konsumen, yang termasuk biaya operasional adalah membayar upah sopir,
upah kenek, dan bahan bakar minyak. Cara perhitungannya yaitu setiap mobil dalam
satu hari mengangkut material maupun pengantar pesanan kepada konsumen sebanyak
3 kali (3 ret), jadi total dalam 1 hari 6 unit mobil dam truk melakukan tugasnya
sebanyak 18 kali
Penetapan Harga Pokok Produksi
Setelah setiap elemen-elemen yang timbul dari jumblah yang di perhitungkam dalam
penentuan harga pokok paving yang di hasilkan perusahaan, maka berikut akan penyajian
metode perhitungan yang di terapkan perusahaan dengan menggunakan metode variable
costing dalam laporan harga pokok produksi paving.
Laporan perhitungan harga pokok produksi paving bulan November 2015.
a. Biaya bahan baku Rp. 417.129.000
b. Biaya tenaga kerja langsung Rp. 69.810.000
c. Biaya overhead pabrik Rp. 193.626.000
Total biaya produksi Rp.680.556.000
Jadi, harga pokok per unit adalah : HPP = 680.556.000/559.000= Rp. 1.217,452 yang
di bulatkan menjadi Rp. 1.250/buah
Penetapan Harga Jual Paving
Seperti yang diketahui harga jual atau selling price merupakan harga yang di bebankan
kepada konsumen yang di peroleh atau dihitung dari biaya produksi di tambahkan dengan laba
yang di harapkan. Untuk menetapkan harga harga jual produk ada beberapa hal yang harus di
ketahui mengenai presentase keuntungan yang diharapkan sehingga pemecahan dalam
menetapkan keuntungan yang tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah, karena dapat
membuat konsumen beralih pada perusahaan lain yang sejenis, namun jika terlalu rendah
makan laba yang akan diperoleh tidak akan sesuai dengan apa yang di harapkan Dalam hal
ini perusahaan menetapkan laba sebesar 40% daro total biaya per unit. pada PT. Conbloc
Indonesia Surya, dalam menetapkan harga jual menggunakan formula sebagai berikut.
Harga Jual = Total Biaya per Unit + Laba Yang Diharapkan
Berdasarkan informasi harga pokok produk yang diperoleh dari perusahaan
makan perhitungan harga jual paving dapat dihitung sebagi berikut.
Biaya per unit= 680.556.000/559.000= Rp. 1.217.452 yang dibulatkan menjadi Rp. 1.250
Laba yang di harapkan 40% x Rp. 1.250 = Rp. 500nHarga jual perunit = 1.250 + 500=
Rp.1.750.