PENGARUH DISPLIN KERJA DAN MOTIVASI KERJA
TERHADAP KINERJA KARYAWAN
PADA PUSKESMAS KOTA TANGERANG
PROPOSAL SKRIPSI
Ditulis Oleh
NURHIDAYAT
NIM: 2016053033
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PAMULANG
TANGERANG SELATAN
2022
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan proposal
skripsi ini. Proposal skripsi ini menganalisis PENGARUH DISPLIN KERJA
DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN.
Penulisan proposal skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana Ekonomi dan Bisnis dalam Ilmu Manajemen pada Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.
Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan, bimbingan, serta dorongan dari
berbagai pihak, dalam penyusunan proposal skripsi ini, sangatlah sulit bagi saya
untuk menyelesaikan proposal skripsi ini. Pada kesempatan ini saya ingin
menghaturkan rasa hormat dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. (H.C.). Drs. H. Darsono, selaku Ketua Yayasan Sasmita Jaya yang
telah mewujudkan mimpi-mimpi anak bangsa dengan mempelopori adanya
pendidikan dengan biaya terjangkau dan berkualitas.
2. Bapak Dr. E. Nurzaman AM, M.M., [Link]., selaku Rektor Universitas
Pamulang yang telah berupaya keras menjadikan Universitas Pamulang
semakin berkualitas.
3. Bapak Dr. H. Endang Ruhiyat, S.E., M.M., CSRA, CMA., selaku Dekan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang yang telah memajukan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi semakin baik.
4. Bapak Dr. Kasmad, S.E., M.M., selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen
ii
Universitas Pamulang yang telah menjadikan Prodi Manajemen semakin
berkualitas.
5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi S1
Manajemen yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat.
6. Bapak dan Ibu jajaran staf Universitas Pamulang terkhusus staf manajemen,
yang telah membantu memperlancar upaya saya dalam menyelesaikan studi
di Universitas Pamulang.
7. Kepada Orang Tua dan keluarga saya tercinta yang telah menjadi
penyemangat terbesar dan terbaik dalam hidup saya dan tidak pernah Lelah
memberikan dukungan, perhatian, kasih sayang dan doa yang tiada henti
untuk saya.
8. Semua pihak yang telah membantu kelancaran skripsi ini yang tidak bisa
disebutkan satu per satu. Terima kasih atas dorongan, motivasi, bantuan, dan
doa yang telah diberikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal skripsi ini masih jauh
dari yang diharapkan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun. Penulis berharap proposal skripsi ini dapat berguna
bagi para pembaca dan dunia ilmu pengetahuan.
Tangerang , 03 Maret 2022
Nurhidayat
2016053033
iii
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ............................................................................................................i
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 10
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 10
1.4 Manfaat Penelitian... ..................................................................... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................12
2.1 Landasan Teori ...............................................................................12
2.1.1 Manajemen ............................................................................12
2.1.2 Fungsi Manajemen... .............................................................. 13
2.1.3 Tingkatan Manajemen... ......................................................... 15
2.1.4 Unsur-Unsur Manajemen... .................................................... 15
2.1.5 Pnegertian Manajemen Sumber Daya Manusia... .................... 18
2.1.6 Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia... ......................... 25
2.1.7 Manfaat Manajemen Sumber Daya Manusia... ....................... 27
2.1.8 Komponen Manajemen Sumber Daya Manusia... ................... 28
2.1.9 Pengertian Disiplin Kerja... .................................................... 31
2.1.10 Macam – Macam Disiplin Kerja... ........................................32
2.1.11 Tujuan Disiplin Kerja... ........................................................ 33
2.1.12 Faktor-Faktor Disiplin Kerja... .............................................33
iv
2.1.13 Indikator Disiplin Kerja........................................................ 35
2.1.14 Pengertian Motivasi... .......................................................... 36
2.1.15 Teori-Teori Motivasi... ......................................................... 37
2.1.16 Jenis-Jenis Motivasi... .......................................................... 39
2.1.17 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivas Kerja... ...........39
2.1.18 Indikator Motivasi... ............................................................. 41
2.1.19 Pengertian Kinerja Karyawan... ............................................42
2.1.20 Ruang Lingkup Kinerja Karyawan... .................................... 44
2.1.21 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan... .....46
2.1.22 Indikator Kinerja... ............................................................... 46
2.2 Penelitian Terdahulu... ................................................................... 47
2.3 Kerangka Berfikir... ....................................................................... 52
2.4 Pengembangan Hipotesisi... ........................................................... 57
v
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 57
3.1 Jenis Penelitian ..............................................................................57
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................ 58
3.3 Operasional Variabel Penelitian ..................................................... 59
3.4 Populasi dan Sampel ......................................................................62
3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 63
3.6 Teknik Analisis Data .....................................................................65
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Disiplin Kerja PUSKESMAS Larangan Ciledug......................... 5
Tabel 1.2 Data Motivasi Kerja ...........................................................................7
Tabel 1.3 Data Kinerja Karyawan PUSKESMAS Larangan Ciledug .................. 9
Tabel 2.1 Penelitian Dahulu ...............................................................................48
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian ................................................................................ 58
Tabel 3.2 Operasional Variabel Penelitian .......................................................... 60
Tabel 3.3 Skala Likert ........................................................................................ 61
Tabel 3.4 Skala Nilai Alternatif Jawaban Kuesioner...............................................61
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir .......................................................................... 56
viii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut S. Samsudin (2015:15), kata manajemen berasal dari Bahasa
inggris yaitu “ management “ yang di kembangkan dari kata manag yang
artinya mengatur atau mengelola. Menurut Husaini Usaman (2015: 4),
manajemen juga berasal dari Bahasa latin yaitu asal kata “ manus “ berarti
tangan dan “ agree” berarti melakukan jadi setelah di gabung kata-kata itu
adalah managree yang artinya menangani dan apabila di terjemahkan dalam
Bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu proses yang mencakup
evaluasi terhadap kebutuhan sumber daya manusia, mendapatkan orang-orang
untuk mendapatkan itu dan mengoptimalkan pendayagunaan yang penting
tersebut dengan cara memberikan insentif dan penugasan yang tepat agar
sesuai dengan lebutuhan dan tujuan organisisai dimana sumber daya manusia
itu berada. Widodo (2015:2)
Manajemen Sumber Daya Manusia dapat diartikan sebagai
pendayagunaan sumber daya manusia didalam organisasi, yang dilakukan
melalui fungsi-fungsi perencanaan sumber daya manusia, rekrutmen dan
seleksi, pengembangan sumber daya, manusia, perencanaan dan
pengembangan karir, pemberian konpensasi dan kesejahteraan, keselamatan
dan kesehatan kerja, dan hubungan industrial. (Marwansyah 2016:4).
1
Menurut Sedarmayanti (2017 : 3-4) Berdasarkan beberapa pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia memeliki
peranan penting dalam memenuhi kebutuhan sumber daya manusia mulai dari
perencanaan hingga pemberhentian sumber daya manusia yang bertujuan
untuk dalam pencapaian tujuan organisasi.
Disiplin kerja dapat dilihat sebagai sesuatu yang besar manfaatnya, baik
bagi kepentingan organisasi maupun bagi karyawan. bagi organisasi adanya
disiplin kerja akan menjamin terpeliharnya tata tertib dan kelancaran
pelaksanaan tugas, sehingga diperoleh hasil yang maksimal. adapun bagi
karyawan akan diperoleh suasana kerja yang menyenangkan sehingga akan
menambah semangat kerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan
demikian, karyawan dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh kesadaran
serta dapat mengembangkan tenaga dan pikiran semaksimal mungkin dengan
terwujudnya tugas organisasi. Jika lingkungan kerja semuanya disiplin maka
seorang karyawan akan ikut disiplin, tetapi jika lingkungan kerja organisasi
tidak disiplin, maka seorang karyawan juga akanm ikut tidak disiplin. Untuk
itu sangat sulit sangat sulit bagi lingkungan kerja yang tidak disiplin tapi ingin
menerapkan kedisiplinan pegawai, karena lingkungan kerja akan menjadi
panutan para pegawai.
Menurut sutrisno (2016:89) Disiplin pegawai adalah perilaku seseorang
dengan peraturan, prosedur kerja yang ada atau disiplin adalah sikap, tingkah
laku, dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari organisasi baik tertulis
maupun tidak tertulis.
2
Keberhasilan Perusahaan dalam mengatur dan memberdayakan sumber
daya manusia yang merupakan aset perusahaan dapat meningkatkan
penghasilan sehingga perusahaan dapat bertahan di tengah gempuran
persaingan perusahaan lain yang sejenis. Kunci dari keberhasilan perusahaan
dalam hal ini tidak terlepas dari faktor manusia sebagai variabel yang
mempunyai pengaruh sangat besar dan menentukan maju tidaknya
perusahaan.
Manusia merupakan aset perusahaan yang harus terus dibina dan
diarahkan agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Pelaksanannya mengacu
pada tata tertib dan peraturan perusahaan yang telah dirumuskan dan disahkan
oleh manajemen perusahaan. Disiplin adalah suatu hal yang mutlak harus
ditanamkan pada setiap karyawan perusahaan baik ditingkat bawah sampai
ditingkat atas. Hal yang paling dasar adalah kedisiplinan karyawan adalah
manajemen waktu, dalam hal itu yaitu jam kerja. Apabila waktu tersebut
sering dilanggar, dapat dikatakan bahwa para karyawan menjadi tidak di siplin
sehingga mengaklibatkan penurunan produktivitas dan kualitas karyawan. Hal
ini tentu saja berdampak pada pemborosan waktu sehingga waktu yang
dikeluarkan menjadi berlipat-lipat dari biaya yang telah dilanggar.
Kedisiplinan adalah fungsi opratif keenam dari Manajemen Sumber Daya
Manusia. Kedisiplinan merupakan fungsi Opratif Manajemen Sumber Daya
Manusia yang terpenting karena semakin baik disiplin karyawan, semakin
tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanda disiplin karyawan yang
baikl, sulit bagi organisasi perusahaan mencapai hasil yang optimal.
3
Menurut Hasibuan (2016:193) Disiplin yang baik mencerminkan besarnya
rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan
kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja dan terwujutnya
tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Oleh karena itu, setiap manager
selalu berusaha agar para bawahannya mempunyai disiplin yang baik.
Seseorang manager dikatakan efektif dalam kepemimpinannya, jika para
bawahannya berdisiplin baik. Untuk memelihara dan meningkatkan
kedisiplinan yang baik adalah hal yang sulit, karena banyak faktor yang
mempengaruhinnya.
4
Table 1.1
Data Disiplin Kerja Pada PUSKESMAS KOTA TANGERANG
NO
Indikator Keterangan
1 Kehadiran Absensi Kehadiran
Kepatuhan Terhadap Peraturan Yang
2 Ketaatan Pada Peraturan Kerja
Berlaku
Kepatuhan Terhadap Pedoman Kerja Agar
3 Ketaatan Pada Standar Kerja
Kecelakaan Kerja Tidak Terjadi
4 Bekerja Etis Menaati Prinsip Moral dan Sistem Nilai
Sumber : PUSKESMAS KOTA TANGERANG
Dengan demikian disiplin kerja yang di tanamkan pada karyawan dapat
menimbulkan rasa tanggung jawab terhadap pekerjaanya karena menyadari
kewajibanya dan mengutamakan hasil kerja dengan baik dan sesuai dengan
standar yang telah di tetapkan.
Menurut Hasibuan Melayu S.P (2016:111) mengemukakan Motivasi
adalah pemberian daya daya penggerak ang menciptakan kegairan kerja
5
seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi
dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
Menurut Ernest J. McCornick (Mangkunegara, 2015:94) mengemukakan
motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh
membangkitkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang berhubungan
dengan lingkungan kerja. Oleh karna itu dapat juga di katakana bahwa motivasi
berarti membangkitkan motif, membangkitkan daya gerak atau menggerakan
seseorang atau diri sendiri untuk membuat sesuatu dalam rangka mencapai
suatu kepuasan tujuan. Motivasi kerja dalam sebuah perusahaan atau instansi
bertujuan untuk memacu karyawan agar lebih aktif agar lebih aktif dalam
melaksanakan pekerjaan guna mencapai hasil yang optimal. Pelaksanaan
motivasi kerja menitikberatkan pada factor manusia didalam melaksanakan
altifitasnya yaitu bekerja
Motivasi memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja yang di hasilkan
oleh karyawan dalam kerja. Jadi, motivasi bukan sekedar mendorong atau
memerintahkan seseorang melakukan sesuatu, melainkan sebuah seni yang
melibatkan berbagai kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri sendiri
dengan orang lain. Paling tidak kita mengetahui bahwa seseorang melakukan
sesuatu karena didiorong oleh motivasinya.
6
Tabel 1.2
Motivasi Kerja
NO Indikator Keterangan
Pemberian Sesuatu Atas Pekerjaan
1 Gaji
yang Diselesaikan Tidak Sesuai
2 Bonus Penghargaan Terhadap Pencapaian
Jaminan Kesejahteraan
3 Asuransi Pekerjaan
Karyawan
4 Perasaan Aman Lingkungan Yang Mendukung
5 Promosi Jenjang Karir
Sumber : PUSKESMAS KOTA TANGERANG
PUSKESMAS KOTA TANGERANG yang berada di daerah Tangerang,
Banten maka harusnya gaji yang diberikan harus sudah mengikuti ketentuan
pemberian gaji sesuai dengan UMK kota Tangerang. Karena gaji yang
diberikan masih dibawah UMK maka kinerja yang diberikan oleh karyawan
masih belum maksimal dikarenakan adanya perbedaan gaji yang diberikan dan
belum mencapai UMK. Pemberian gaji yang belum sesuai ketentuan membuat
kinerja karyawan tidak maksimal, karena tidak sesuai dengan apa yang mereka
berikan kepada perusahaan.
Menurut Rivai (2015:14) kinerja merupakan terjemahan dari kata
performance yang didefinisikan sebagai hasil atau tingkat keberhasilan
seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu untuk melaksanakan
tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,
7
target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah
disepakati bersama.
Anwar A (2016:67) yang menyatakan bahwa Kinerja (prestasi kerja)
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggug jawabyang
diberikan kepadanya.
Samsudin (2016:159) yang memberikan pengertian kinerja sebagai tingkat
pelaksanaan tugas yang dapat dicapai seseorang dengan menggunakan
kemampuan yang ada dan batasan-batasan yang telah ditetapkan untuk
mencapai tujuan organisasi.
Tabel 1.3
Data Kinerja Karyawan Pada PUSKESMAS KOTA TANGERANG
NO Indikator Keterangan
1 Kualitas Hasil Kerja Efektif dan Efisensi Kerja
Jumlah Siklus Aktivitas yang
2 Kuantitas Hasil kerja
Diselesaikan Karyawan
3 Tanggung Jawab Sikap dan Prilaku Dalam Bekerja
Kegiatan Antara Individu dan Kelompok
4 Kerjasama
Untuk Mencapai Tujuan Bersama
5 Inisiatif Ide Pokok Pikiran
Sumber :PUSKESMAS KOTA TANGERANG
8
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk dilakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan pada PUSKESMAS KOTA TANGERANG.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian diatas, faktor yang
menyebabkan kurang maksimalnya kinerja karyawan di PUSKESMAS KOTA
TANGERANG:
1. Bagaimana pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan pada
PUSKESMAS KOTA TANGERANG
2. Bagaimana pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan PUSKESMAS
KOTA TANGERANG
3. Bagaimana pengaruh disiplin kerja dan motivasi terhadap layawan pada
PUSKESMAS KOTA TANGERANG
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitan ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas hal-hal berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh disiplin terhadap kinerja karyawan
PUSKESMAS KOTA TANGERANG
2. Untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan
PUSKESMAS KOTA TANGERANG
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh disiplin dan motivasi
terhadap kinerja karyawan PUSKESMAS KOTA TANGERANG
9
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat diadakannya penelitian ini bagi semua instansi adalah:
1. Bagi Penulis
Dalam penelitian ini sangat berguna bagi penulis karena bahan
penelitian ini merupakan bahan penulisan skripsi yang merupakan salah
satu syarat untuk menempuh sidang Skripsi sarjana (S1) di program studi
manajemen sumber daya manusia yang terdapat di fakultas ekonomi
Universitas Pamulang.
2. Bagi Universitas
Penelitian ini sangat diharapkan agar dapat memberikan
pengetahuan yang lebih mendalam tentang pengaruh stres kerja dan
motivasi terhadap kinerja karyawan yang telah [Link] Pihak
Lain Penelitian ini juga sangat diharapkan agar bisa menjadi salah satu
informasi yang dapat bermanfaat dan sesuai kebutuhan bagi pihak lain.
3. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi perusahaan
agar dapat membenahi kekurangan-kekurangan yang ada.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata manage yang artinya
[Link] dilakukan melului proses dan diatur berdasarkan
urutan dari fungsi – fungsi manajemen itu. Jadi manajemen itu suatu
proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan. Ada beberapa definisi
tentang manajemen pada umumnya, yang ada didalamnya adalah sama.
Beberapa ahli mendeskripsikan bahwa manajemen adalah ilmu
seni, seperti yang diungkapkan George R. Terry, bahwa seorang manajer
adalah seorang ilmuwan dan seorang seniman. Untuk situasi tertentu
ilmu pengetahuan bahwa manajemen adalah ilmu seni,seperti yang
diungkapkan George R. Terry, bahwa seorang manajer adalah seorang
ilmuwan dan seorang seniman. Untuk situasi tertentu ilmu pengetahuan
dapat mengurangi jumlah seni manajemen yang diperlukan, tetapi hal itu
tidak pernah dapat mengeleminasinya. Seni manajemen senantiasa ada.
Menurut Hasibuan (2016:1), manajemen adalah ilmu dan seni
mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber –
sumber lainya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
12
Menurut Ghillyer (2016:4) Manajemen adalah proses untuk
menentukan cara terbaik untuk organisasi dalam penggunaan sumber
daya untuk menghasilkan barang atau jasa.
Menurut Afandi (2018:1) Manajemen adalah bekerja dengan
orang-orang untuk mencapai tujuan organisasi dengan pelaksanaan
fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan
kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling). Manajemen
adalah suatu proses khas, yang terdiri dari tindakan perencanaan,
pengorganisasian, pergerakan, dan pengendalian yang dilakukan untuk
menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan
melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya
lainnya.
Berdasarkan definisi – definisi dapat ditarik kesimpulan bahwa
manajemen adalah proses pengaturan dan pengelolaan melalui sumber
daya manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
2.1.2 Fungsi Manajemen
Fungsi – fungsi manajemen menurut Hasibuan (2016:21) tersebur
dijelaskan sebagai berikut :
a. Perencanaan (planning)
Perencanaan adalah proses penentuan tujuan dan pedoman
pelaksanaan, dengan memilih yang terbaik dari alternatif –
alternatif yang ada.
13
b. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan
pengelompokan, dan pengaturan bermacam – macam aktivitas
yang diperlukan untuk mencapai tujuan, mene,patkan orang –
orang disetiap aktivitas ini, menyediakan alat – alat yang
diperlukan, menetapkan wewenang secara relative didelegasikan
kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas –
aktivitas tersebut.
c. Pengarahan (actuating)
Pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok agar
mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairang
untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha –
usaha pengorganisasian.
d. Pengendalian (controlling)
Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhadap
pelaksanaan kerja bawahan agar rencana – rencana yang telah
dibuat ntuk mencapai tujuan – tujuan dapat terselenggaraan.
Dari devinisi diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi –
fungsi dari manajemen yaitu planning,organizing,actuating,dan
controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang
ditentukan dengan menggunakan manusia dan sumber daya
lainnya.
14
2.1.3 Tingkatan Manajemen
a. Manajemen Puncak (Top Manajemen)
Merupakan manajemen tingkat atas (manajer) bertanggung
jawab atas pengaruh yang ditimbulkan dari keputusan _ keputusan
manajemen keseluruhan dari organisasi.
b. Manajemen Tingkat Menengah (Middle Manajemen)
Manajemen tingkat menengah harus memiliki keahlian
interpersonal atau manusiawi, artinya untuk berkomunikasi,
bekerjasama dan motivasi orang lain.
c. Manajemen Tingkat Rendah (Lower Manajemen)
Manajemen tingkat rendah ,manajer bertanggung jawab
menyelesaikan rencana – rencana yang telah ditetapkan oleh para
manajer yang telah tinggi pada tingkatan ini juga memiliki keahlian
yaitu keahlian teknis.
2.1.4 Unsur - unsur Manajemen
Menurut Hasibuan (2016:2) manajemen terdiri dari enam unsur
(6M). Unsur – unsur manajemen diantaranya adalah 6M dimana setiap
unsur tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu :
a. Manusia (Man)
Dalam pendekatan ekonomi, sumber daya manusia adalah
salah satu factor produksi selain tanah, modal, dan keterampilan.
Pandangan yang menyamakan manusia dengan factor – factor
produksi lainya dianggap tidak tepat baik dilihat dari konsepsi,
15
filsafat, maupun moral. Manusia merupakan unsur manajemen
yang penting dalam mencapai tujuan perusahaan.
b. Uang (Money)
Uang selalu dibutuhkan dalam perusahaan, mulai dari
pendirian perusahaan hingga pengurusan perizinan pembangunan
gedung kantor, pabrik, peralatan, pembayaran tenaga kerja,
pembelian bahan mentah, dan transportasi. Pemilik modal
menyisihkan sebagian dari kekayaan untuk digunakan sebagai
modal dalam produksi. Dan demikian, uang merupakan salah satu
unsur pentig dalam melakukan produksi.
c. Bahan Baku (Material)
Perusahaan umumnya tidak menghasilkan sediri bahan
mentah yang dibutuhkan tersebut, melainkan membeli dari pihak
lain. Untuk itu,manajer perusahaan berusaha utuk memperoleh
bahan mentah dengan harga yang paling murah, dengan
menggunakan cara pengakuan yang murah dan aman. Diproses
sedemikian rupa sehingga dapat dicapai hasil secara efisien.
d. Mesin (Machine)
Mesin mulai memegang peran penting dalam proses
produksi setelah terjadinya revolusi industry dengan ditemukanya
mesin uap sehingga banyak pekerjaan manusia yang digantika oleh
mesin. Perkembangan tekologi yang begitu pesat, menyebabkan
penggunaaan mesin semakin menonjol, hal ini karena banyaknya
16
mesin – mesin baru ditemukan oleh para ahli sehingga
memungkikan peningkatan dalam prosuksi.
e. Metode (Methode)
Metode kerja sangat dibutuhkan agar mekanisme kerja
berjalan efektif. Metode kerja yang sesuai dengan kebutuhan
organisasi, baik yangmenyangkut proses produksi maupun
adimistrasi tidak terjadi begitu saja melainkan memerlukan waktu
yang lama. Bahkan sering terjadi, untuk memperoleh metode kerja
yang sesuai dengan keutuhan organisasi, pemimpin perusahaan
meminta bantuan ahi. Hal ini dilakukan karena menciptakan
metode kerja, mekanisme kerja, serta prosedur kerja yang sangat
besar manfaatnya.
f. Pasar (Market)
Pasar merupakan tempat kita memasarkan produk yang
telah diproduksi. Pasar sangat dibutuhkan dalam suatu perusahaan.
Pasar itu berupa masyarakat (pelanggan) itu sendiri. Tanpa adanya
pasar suatu perusahaan akan mengalami keangkrutan. Jadi
perusahaan seharusnya memikirkan manajemen pasar (pemasaran)
yang baik juga didukung oleh pasar yang tepat agar distribusi
produk dapat berjalan dengan lancer dan sesuai dengan apa yang
diharapkan.
17
2.1.5 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia merupakan bidang strategis dari
organisasi. Menajemen sumber daya manusia sangat penting bagi
perusahaan dalam mengelola, mengatur, dan memanfaatkan karyawan
sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan
perusahaan. Unsur Manajemen Sumber Daya Manusia adalah manusia
yang merupakan tenaga kerja pada perusahaan. Dengan demikian focus
yang dipelajari manajemen sumber daya manusia ini hanyalah masalah
yang berhubungan dengan tenaga kerja manusia saja, karena
keberhasilan perusahaan sangatlah tergantung pada produktivitas tenaga
kerja yang ada diperushaan.
Manusia selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan
organiisasi, karena manusia menjadi perencana, pelaku dan penentu
terwujudnya tujuan organisasi. Tujuan tidak mungkin terwujud tanpa
peran aktif karyawan meskipun alat – alat yang dimiliki perusahaan begitu
canggih. Alat – alat canggih yang dimiliki perusahaan tidak ada
manfaatnya bagi perusahaan jika peran karyawan tidak di ikut sertakan.
Mengatur karyawan adalah hal yang sulit dan kompleks, karena merekea
memiliki pikiran,perasaan,status,keinginan dan latar belakang yang
heterogen yang dibawa kedalam organisasi. Karyawan tidak dapat diatur
dan dikuasai sepenuhnya seperti mengatur mesin,modal atau gedung.
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah bagian dari manajemen
oleh karena itu, teori – teori manajemen umum menjadi dasar
18
pembahasanya. Manjemen Sumber Daya Manusia lebih memfokuskan
pembahasanya mengenai pengaturan peran manusia dalam mewujudkan
tujuan yang optimal. Pengaturan itu meliputi masalah perencanaan atau
(human resources planning) pengorganisasian, pengarahan, pengendalian,
pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemelihiaraan,
kedisiplinan dan pemberhentian tenaga kerja. Jelasnya manajemen sumber
daya manusia mengatur tenaga kerja manusia sedemikian rupa sehingga
terwujud tujuan perusahaan, kepusasan karyawan dan masyarakat.
Menurut Hasibuan (2016:10) Manajemen Sumber Daya Manusia
adalah bagian dari manajemen. Oleh karena itu teori – teori manajemen
umum menjadi dasar pembahasanya. Manajemen sumber daya manusia
lebih memfokuskan pembahasanya mengenai pengaturan peranan manusia
dalam meuwujudkan tujuan yang optimal. Pengaturan itu meliputi
pengarahan, pengendalian, pengadaan, pengembangan, kompensasi,
pengintegrasian, pemeliharan, kedisiplinan dan pemberhentian tenaga
kerja untuk membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan
masyarakat. Jelasnya Manajemen Sumber Daya Manusia mengatur tenaga
kerja manusia sedemikian rupa sehingga terwujudnya tujuan perusahaan,
kepuasan karyawan dan masyrakat.
Sementara menurut Irham Fahmi (2016:1) Manajemen Sumber
Daya Manusia (Human resources management) dalah rangkaian aktivitas
organisasi yang diarahkan untuk menrik, mengembangkan, dan
mempertahankan tenaga kerja yang efektif.
19
Adapun menurut Sutrisno (2016:5), manajemen sumber daya
manusia adalah merupakan bidang strategus dan organisasi. Manajemen
Sumber Daya Manusia harus dipandang sebagai perluasan dari pandangan
tradisional untuk mengelola tenaga perilaku manusia dan kemampuan
megelolanya.
Dari pendapat – pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa
manajemen sumber daya manusia adalah ilmu seni yang mempelajari
tentang selak beluk menegenasi keberadaan sumber daya manusia didalam
emenetapkan fungsi manajemen. Setiap indivisu sumber daya manusia
mampu dalam emngembangkan atau mengelola setiap fungsi manajemen
berupa perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, dan pengendalian
untuk mencapai tujuan organisasi.
Pada dasarnya, sumber daya manusia adalah suatu sumber daya
yang sangat dibutuhkan oleh suatu organisasi. Sebab, sumber daya
manusia adalah sumber yang berperan aktif terhadap jalanya suatu
organisasi dan proses pengambilan keputasan. Pengambilan suatu
keputusan yang terbaik dihasilkan oleh sumber daya manusia menunjukan
kinerja seseorang dengan kemampuanya untuk menganalisis suatu masalah
dalam lingkup kerja dan jabatanya.
Sumber daya manusia merupakan terjemahan dari “human
resources”, namun ada pula ahli yang menyamakan sumber daya manusia
dengan “manpower” (tenaga kerja). Bahkan sebagian orang menyetarakan
20
pengertian sumber daya manusia dengan personal (personalia,
kepegawaian, dan sebagainya).
Sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan perusahaan
tidak dapat dilihat dari sebagai bagian yang berdiri sendiri, tetapi harus
dilihat sebagai satu kesatuan yang tangguh memebentuk suatu sinergi.
Sumber daya manusia merupakan satu – satunya sumber daya yang
memiliki akal perasaan, keinginan, keterampilan, pengetahuan, dorongan,
daya, dan karya (rasio,rasa dan karsa). Semua potensi sumber daya
manusia tersebut berpengaruh terhadap upaya organisasi dalam mencapai
tujuan.
Bagi perusahaan, ada tiga sumber daya strategis yang mutlak harus
mereka miliki untuk dapat menjadi sebuah perusahaan unggul. Tiga
sumber daya kritis tersebut menurut ruki dalam Sutisno (2016:5) adalah :
1. Financial resource, yaitu sumber daya yang berbentuk dana atau modal
financial yang dimiliki
2. Human resource, yaitu sumber daya yang berbentuk dan berasal dari
manusia yang secara tepat disebut sebagai modal insani.
3. Informasional resource, yaitu diperlukan untuk membuat keputusan
strategis ataupun taktis.
4. Fungsi manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Hasibuan (2016:21), membagi fungsi – fungsi manajemen
sebagai berikut :
21
a. Fungsi Manajerial
1) Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara
efektif serta efisien agar sesuai dengan kebutuhan perushaan
dalam membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan dilakukan
dengan menetapkan program kepegawaian. Program
kepegawaian meliputi pengorganisasian, pengarahan,
pengendalian, pengadaan, pengembangan, kompensasi,
pengintegrasian, pemeliharaan, kedisilpinan, dan pemberhentian
karyawan. Program kepegawaian yang baik akan membantu
tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyrakat.
2) Pengorganisasian (Organising)
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasi
semua karyawan dengan menetatkan pembagisan kerja,
hubungan kerja, delegasi wewenang, integrasi, dan kordinasi
dalam bagan organisasi (Organitation chart) organisasi hanya
merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dengan organisasi yang
baik akan membantu terwujudnya tujuan secara efektif.
3) Pengarahan (Directing)
Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan,
agar mau bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam
membantu tercapainya tujuan perusahaan, karyawan, dan
22
masyrakat. Pengarahan dilakukan pimpinan dengan menugaskan
bawahan agar mengerjakan semua tugasnya dengan baik.
4) Pengendalian (Controlling)
Pengendalian adalaha kegiatan mengendalikan semua
karyawan, agar menaati peraturan – peraturan perusahaan dan
bekerja sesuai dengan rencana. Apabila terdapat penyimpangan
atau kesalahan, diadakan tindakan perbaikan dan
penyempurnnaan rencana. Pengendalian karyawan meliputi
kehadiran, kedisiplinan, perilaku, kerjasama, pelaksanaan
pekerjaan, dan menjaga situasi lingkungan pekerjaan.
b. Fungsi operasional
1) Pengadaan (Recruitment)
Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan,
orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai
dengan kebutuhan perusahaan, pengadaan yang baik akan
membantu terwujudnya tujuan.
2) Pengembangan (Development)
Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan
teknis, teoritis, knseptual, dan moral karyawan melalui
pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang
diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini
maupun masa depan.
23
3) Kompensasi (Compensation)
Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung (direct)
dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada karyawan
sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada perusaan. Prinsip
kompensasi adalah adil dan layak. Adil diartikan sesuai dengan
prestasi kerjanya, layak diartikan dapat memenuhi kebtuhan
primrnya serta berpedoman pada batas upah minimum
pemerintah dan berdasarkan internal dan eksternal konsistensi.
4) Pengintegrasian (Integration)
Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta
kerja yang sama serasi dan saling menguntungkan. Perusahaan
memperoleh laba, karyawan dapat memenuhi kebutuhan dari
hasil pekerjaanya. Pengintegrasian merupakan hal yang penting
dan sulit dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, karena
mempersatukan dua kepentingan yang bertolak belakang.
5) Pemeliharaan (Maintenance)
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau
meningkatkan kondisi fisik, mental, dan loyalitas karyawan, agar
mereka tetap mau bekerja sama sampai pension. Pemeliharaan
yang baik dilakukan dengan program kesejahteraan yang
berdasarkan kebutuhan sebagian besar karyawan serta
berpedoman kepada internal dan eksternal konsistensi.
24
6) Kedisiplinan (Discipline)
Kedisiplinan merupakan fungsi Manajemen Sumber Daya
Manusia yang terpenting dan kunci terwujudnya tujuan karena
tanpa disiplin yang baik sulit terwujud tjuan yang maksimal.
Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk menaatai
peraturan – peraturan perusahaan dan norma – norma social.
7) Pemberhentian (separation)
Pemberhentian adalah putusnya hubungan kerja seseorang
dari suatu perusahaan. Pemberhentian ini disebabkan oleh
keinginan karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja,
pension dan sebab – sebab lainya. Pelepasan ini diatur oleh
undang – undang No.12 Tahun 1964.
2.1.6 Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia
Tiap organisasi termasuk perushaan, menetapkan tujuan – tujuan
tertentu yang ingin dicapai dalammanajemen setiap sumber dayanya
termasuk sumber daya manusia. Tujuan manajemen sumber daya manusia
secara tepat sangatlah sulit untuk dirumuskan karena sifatnya bervariasi
dan bergantung pada penahan perkembangan yang terjadi pada masing –
masing organisasi.
Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia adalah memperbaiki
kontribusi produktif orang – orang atau tenaga kerja terhadap organisasi
atau perusahaan dengan cara yang bertanggung jawab secara strategis, etis,
dan social. Tujuan sumber daya manusia tidak hanya mencerminkan
25
kehendak manajemen senior, tetapi juga harus menyeimbangkan tantangan
organisasi, fungsi sumber daya manusia dan orang – orang terpengaruh.
Kegagalan melakukan tugas itu dapat merusak kinerja, produktifitas, laba,
bahkan kelangsungan hidup organisasi.
4 ( empat) tujuan manajemen sumber daya manusia :
a. Tujuan social
Tujuan social manajemen sumber daya manusia adalah agar
organisasi bertanggung jawab secara social dan etis terhadap
keutuhan dan tantangan masyrakat dengam meminimilkan dampak
negative.
b. Tujuan Organisasi
Tujuan Organisasi adalah sasran formal yang dibuat untuk
membantu organisasi mencapai tujuanya
c. Tujuan Fungsional
Tujuan fungsional adalah tujuan untuk mempertahankan
kontribusi departemen Sumber Daya Manusia pada tingkat yang
sesuai dengan kebutuhan organisasi.
d. Tujuan Individual
Tujuan Individual adalah tujuan pribadi tiap organisasi
yang hendapak mencapai tujuan melalui aktifitasnya dalam
organisasi.
Menurut Cushway dalam Edy Sutrisno (2016:7), tujuan manajemen
sumber daya manusia meliputi :
26
a. Memberi perintah manajemen dalam membuat kebijakan Sumber Daya
Manusia untuk memastikan bahwa organisasi memiliki pekerja yang
bermotivasi dan berkinerja yang tinggi, memiliki pekerja yang selalu siap
mengatasi perubahan dan memenuhi kewajiban pekerjaan secara legal.
b. Mengimplementasikan dan menjaga semua kebijakan dan prosedur sumber
daya manusia yang memungkinkan organisasi mampu mencapai tujuan.
c. Membantu dalam pengembangan arah keseluruhan organisasi dan strategi,
khusunya yang berkaitan dengan implikasi sumber daya manusia.
d. Berbagai krisis dan situsi sulit dalam hubungan antar pekerja untuk
meyakinkan bahwa merek tidak menghambat organisasi dalam mecapai
tujuanya.
e. Menyediakan, memberi dukungan dan kondisi yang akan membantu
manajer lini mencapai tujuanya.
f. Menangani media komunikasi antar pekerja dan amanejemn organisasi.
g. Bertindak sebagai pemelihara standar organisasional dan nilai dalam
manajemen sumber daya manusia.
2.1.7 Manfaat Manajemen Sumber Daya Manusia
Implementasi Manajemen Sumber Daya Manusia akan
memberikan manafaat yang baik pada organisasi. Berikut adalah manfaat
manajemen sumber daya manusia menurut Nawawi dalam Yani
(2017:144):
a. Organisasi atau perusahaan akan memiliki system informasi sumber
daya manusia.
27
b. Organisasi atau perusahaan akan memiliki hasil analisis pekerjaan
atau jabatan.
c. Organisasi atau perusahaan akan memiliki kemampuan dalam
menyusun dan menetapkan perencanaan sumber daya manusia.
d. Organisasi atau perusahaan akan mampu meningkatkan efisiensi dan
efektifitas rekrutmen dan seleksi tenaga kerja.
e. Organisasi atau perusahaan akan dapat melakukan pelatihan secara
efektif dan efisien.
f. Organisasi atau perusahaan akan dapat melakukan penilaian kerja
secara efektif dan efisien.
g. Organisasi atau perusahaan akan dapat melaksanakan program dan
pembinaan karier secara efektif dan efisien.
h. Organisasi atapu perusahaan akan dapat menyusun skala upah dan
mengatur kegiatan berbagi keuntungan atau manfaat lainya dalam
mewujudkan sitem balas jasa bagi para pekerja.
2.1.8 Komponen Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia terbagi menjadi tiga komponen
yakni perusahaan (pengusaha), pegawai (karyawan), dan pemimpin. Yang
dibedakan secara rinci adalah sebagai berikut :
a. Pengusaha (Pengusahaan)
Pengusaha adalah setiap orang yang menginvestasikan modalnya
untuk memperoleh pendapatan atau keuntungan dan besarnya
28
pendapatan itu tidak menentu tergantung keuntungan pada laba yang
dicapa perusahaan tersebut.
b. Pegawai (Karyawan)
Pegawai adalah meruapakan karyawan utama suatu perusahaan,
kerna tanpa keikut sertaan mereka, aktifitas perusahaan tidak akan
terjadi. Pegawai berperan aktif dalam menetapkan rencana, sisitem,
proses, dan tujuan yang ingin dicapai.
Pegawai adalah penjual jasa yang meliputi pikiran dan tenaga,
kemudia mendapat kompensasi yang besarnya telah ditetapkan terlebih
dahulu. Merkea wajib dan terkait untuk mengerjakanpekerjaan yang
diberikan dan berhak memperoleh kompensasi sesuai perjanjian. Posisi
pegawai dalam suatu perusahaan dibedekan atas pegawai operasional
dan pegawai manajerial (pemimpin).
1) Karyawan Operasional
Karyawan operasional adalah setiap orang yang secara
langsung harus mengerjakan sendiri pekerjaanya sesuai perintah
atasan.
2) Karyawan Manajerial
Karyawan manajerial adalah setiap orang yang berhak
memerintah bawahanya untuk mengerjakan sebagian
pekerjaanya dan dikerjakan sesua dengan perintah. Mereka
mencapai tujuanya melalui kegiatan – kegiatan orang lain.
Karyawan manajerial itu dibedakan meliputi :
29
a) Manajer lini
Manajer Lini adalah seseorang pemimpin yang
mempunyai wewenang lini, berhak dan bertanggung jawab
langsung merealisasi tujuan perusahaan.
b) Manajer Staf
Manajer staf adalah pemimpin yang mempunyai
wewenang staf yang hak berhak memberikan saran dan
pelayanan untuk memperlancar penyelesaian tugas – tugas
manajer lini.
c) Pemimpin
Pemimpin adalah seseorang yang mempergunakan
wewenang kepemimpinanya unutk mengarahkan orang lain
serta bertanggung jawab atas perusahaan tersebut dalam
mencapai suatu tujuan. Kepemimpinan adalah gaya
seseorang pemimpin dalam upaya memperngaruhi
bawahanya, agar mau bekerja sama dan bekerja efektif
sesuai perintahnya. Bertindak konsisten dan berperilaku
adil dan jujur. Setiap pemimpin adalah termasuk manajer
personalia, karena tugas manajer personalia yang menjadi
bawahanya.
2.1.9 Pengertian Disiplin Kerja
Menurut Singodimedjo dalam Buku Soetrisno (2016:86) yang
berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia Mengemukakan “Disiplin
30
adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan
menaati norma-norma peraturan yang berlaku disekitarnya. Disiplin
karyawan yang baik akan mempercepat tujuan perusahaan sedangkan
disiplin karyawan yang merosot akan menjadi penghalang dan
memperlambat pencapaian tujuan perusahaan”.
Disiplin menunjukan suatu kondisi atau sikap hormat yang ada
pada diri karyawan terhadap peraturan dan ketetapan [Link]
demikian bila peraturan atau ketetapan yang ada dalam perusahaan itu
diabaikan, atau sering dilanggar, maka karyawan mempunyai disiplin
kerja yang [Link], bila karyawan tunduk pada ketetapan
perusahaan, menggambarkan adanya kondisi disiplin yang [Link]
arti yang lebih sempit dan lebih banyak dipakai, disiplin berarti tindakan
yang diambil dengan penyeliaan (supervisor) untuk mengoreksi perilaku
dan sikap yang salah pada karyawan. Menurut Siagian dalam Sutrisno
(2016:86). Bentuk disiplin yang baik akan tercermin pada suasana, yaitu:
a. Tingginya rasa kepedulian karyawan terhadap pencapaian tujuan
perusahaan
b. Tingginya semangat gairah kerja dan inisiatif para karyawan dalam
melakukan pekerjaan
c. Besarnya rasa tanggung jawab para karyawan untuk melaksanakan
tugas dengan sebaik-baiknya
d. Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi
dikalangan karyawan
31
e. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja para karyawan
Menurut George R. Terry (dalam Sutrisno 2016:87), disiplin
merupakan alat penggerak [Link] tiap pekerjaan dapat berjalan
dengan lancar, maka harus diusahakan agar ada disiplin yang baik.
Menurut Davis (2015:129) Dalam buku mangkunegara Mengemukakan
bahwa “Discipline is management action to enforce organization
standards“.Berdasarkan Keith Davis, disiplin kerja dapat diartikan
sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman
organisasi.
2.1.10 Macam – Macam Disiplin Kerja
Ada 2 bentuk disiplin kerja, yaitu disiplin preventif dan disiplin korektif.
1) Disiplin preventif
Disiplin preventif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai
mengikuti dan mematuhi pedoman kerja, aturan-aturan yang telah
digaliskan oleh [Link] dasarnya adalah untuk
menggerakkan pegawai berdisiplin diri. Dengan cara preventif,
pegawai memelihara dirinya terhadap peraturan-peraturan
perusahaan.
2) Disiplin korektif
Disiplin korektif adalah suatu upaya menggerakkan pegawai dalam
menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi
peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada perusahaan.
Pada disiplin kolektif, pegawai yang melanggar disiplin perlu
32
diberikan sanksi sesuai dengan peraturan yang [Link]
pemberian sanksi adalah untuk memperbaiki pegawai pelanggar,
memelihara peraturan yang berlaku, dan memberikan pelajaran
kepada pelanggar.
2.1.11 Tujuan disiplin Kerja
Menurut Simamora dalam Sinambela (2016:243) tujuan utama
tindakan pendisiplinan adalah memastikan bahwa perilaku-perilaku
pegawai konsisten dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh organisasi.
Berbagai aturan yang disusun oleh organisasi adalah tuntunan untuk
mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan. Kedisiplinan juga dapat
membantu pegawai supaya menjadi lebih produktif, dengan demikian
dapat menguntungkannya dalam jangka waktu panjang. Tindakan
pendisiplinan yang tepat dapat mendorong pegawai untuk meningkatkan
kinerja yang pada akhirnya akan menghasilkan pencapaian individu.
2.1.12 Faktor – Faktor Disiplin Kerja
Baik buruknya disiplin seseorang dalam bekerja tidak muncul
begitu saja, melainkan dapat oleh beberapa faktor. Menurut
Singodimedjo (dalam Sutrisno, 2016:89) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi disiplin kerja pegawai yaitu:
a) Besar Kecilnya Pemberian Kompensasi
33
Besar kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya disiplin,
para karyawan akan mematuhi segala peraturan yang berlaku, bila ia
merasa mendapat jaminan balas jasa yang setimpal dengan balas jerih
payahnya yang telah dikontribusikan bagi perusahaan. Bila ia
menerima konpensasi yang memadai, mereka akan bekerja dengan
tenang dan tekun, serta selalu berusaha bekerja dengan sebaik-
baiknya. Bila konpensasi yang diterima jauh dari memadai, maka ia
akan berpikir mendua, dan berusaha mencari tambahan penghasilan
lain dari luar, sehingga menyebabkan ia sering mangkir dan sering
minta izin keluar. Namun demikian pemberian kompensasi yang
memadai belum tentu juga menjamin tegaknya disiplin.
b) Ada Tidaknya Keteladanan Pemimpin
Keteladanan pemimpin sangat penting sekali dalam menegakkan
kedisiplin pegawai, karena dalam linkungan kerja, semua pegawai
akan selalu memperhatikan dan mengikuti bagaimana pemimpin
menegakkan disiplin dirinya, dan bagaiman ia dapat mengendalikan
dirinya dari ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat merugikan
aturan disiplin yang sudah ditetapkan, misalkan aturan jam kerja,
maka pemimpin tidak akan masuk kerja terlambat dari waktu yang
sudah ditetapkan.
c) Ada Tidaknya Aturan Pasti yang Dapat Dijadikan Pegangan.
Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam perusahaan,
bila tidak ada aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan
34
pegangan bersama. Disiplin tidak mungkin dapat ditegakkan bila
peraturan yang dibuat hanya berdasarkan intruksi lisan yang dapat
berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi. Oleh sebab itu,
disiplin akan dapat ditegakkan dalam suatu perusahaan, jika ada
aturan tertulis yang telah disepakati bersama.
d) Keberanian Pimpinan Dalam Mengambil Tindakan.
Keberanian pemimpin untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan
tingkat pelangaran yang dibuatnya, dengan adanya tindakan terhadap
pelanggaran disiplin, sesuai dengan sanksi yang ada, maka semua
karyawan merasa terlindungi dan dalam hatinya berjanji tidak akan
berbuat hal yang serupa. Bila pimpinan tidak berani mengambil
tindakan padahal pegawai sudah terang-terangan melanggar disiplin,
maka akan sangat berpengaruh kepada suasana kerja dalam
perusahaan.
2.1.13 Indikator Disiplin Kerja
Veithzal Rivai dalam Sinambela (2017:355) menjelaskan bahwa disiplin
kerja memiliki beberapa komponen :
a. Kehadiran
Hal ini menjadi indikator yang mendasar untuk mengukur
kedisiplinan dan biasanya pegawai yang memiliki disiplin kerja
rendah terbiasa untuk terlambat dalam bekerja.
b. Ketaatan pada peraturan kerja
35
Pegawai yang taat pada peraturan kerja tidak akan melalaikan
prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang
ditetapkan perusahaan.
c. Ketaatan pada standar kerja
Hal ini dapat dilihat melalui besarnya tanggung jawab pegawai
terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya.
d. Bekerja etis
Beberapa pegawai mungkin melakukan tindakan yang tidak sopan ke
pelanggan atau terlibat dalam tindakan yang tidak [Link] ini
merupakan salah satu bentuk tindakan indisipliner sehingga bekerja
etis sebagai salah satu wujud dari disiplin kerja pegawai.
2.1.14 Pengertian Motivasi
David McClelland mengemukakan dalam Mangkunegara
(2016:94) bahwa Motivasi merupakan Kondisi jiwa yang mendorong
seseorang dalam mencapai prestasinya secara maksimal. Pendapat lain
yang dikemukakan oleh Winardi (2015:6) motivasi adalah suatu
kekuatan potensial yang ada di dalam diri seorang manusia, yang dapat
dikembangkannya sendiri atau dikembangkan oleh sejumlah kekuatan
luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter dan imbalan non
moneter, yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau
negatif, hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi
orang yang bersangkutan.
36
Sedangkan yang dikemukakan oleh Rivai (2016:837) bahwa
Motivasi merupakan serangkaian sikap dan nilai-nilai yang
mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan
tujuan individu. Gray, dkk dalam Winardi (2015:2) motivasi merupakan
hasil sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang
individu, yang menyebabkan timbulnya entusiasme dan presistensi dalam
melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
2.1.15 Teori – Teori Motivasi
Ada beberapa teori motivasi yang telah dikemukakan oleh
beberapa ahli yang menekuni kegiatan pengembangan teori motivasi.
Dikutip dalam buku Priansa (2015:212) beberapa. Teori ini mengikuti
teori jamak, yakni seseorang berperilaku atau bekerja, karena adanya
dorongan untuk memenuhi bermacam – macam kebutuhan. Karena
kebutuhan yang diinginkan pegawai berjenjang, artinya bila kebutuhan
yang pertama telah terpenuhi maka kebutuhan tingkat kedua akan menjadi
yang utama. Selanjutnya jika kebutuhan kedua telah terpenuhi maka
muncul tingkat ketiga dan seterusnya samapi tingkat kebutuhan kelima.
Teori motivasi yang dikembangkan oleh maslow yang menyatakan bahwa
setiap diri manusia itu sendiri terdiri atas lima tingkat atau hirarki
kebutuhan yaitu:
a) Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs)
37
Kebutuhan untuk kegunaan kemampuan, skill, potensi,
kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide – ide,
memberikan penilaian dan kritik terhadap sesuatu.
b) Kebutuhan akan Harga Diri atau Pengakuan ( Esteem Needs)
Kebutuhan ini berkaiatan dengan kebutuhan untuk
dihormati dan dihargai oleh orang lain dalam lingkungannya.
c) Kebutuhan rasa cinta memiliki dan dimiliki
Kebutuhan untuk mereka memiliki yaitu kebutuhan untuk
diterima dalam kelompok, berafiliasi, berinteraksi dan kebutuhan
untuk mencintai serta di cintai.
d) Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs)
Kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, pertentangan,
dan lingkungan hidup, tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga
mental, psikologikal dan intelektual.
e) Kebutuhan Fisiologis (physiological Needs)
Merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula
sebagai kebutuhan yang paling dasar. Misalnya kebutuhan untuk
makan, minum, dan bernapas.
2.1.16 Jenis – jenis Motivasi
Ada dua jenis motivasi menurut Hasibuan (2015:150), yaitu
motivasi positif dan motivasi negatif.
a. Motivasi positif ( Insentif positif )
38
Motivasi positif maksudnya manajer memotivasi (merangsang)
bawahan dengan memeberikan hadiah kepda mereka yang berprestasi
standar. Dengan memotivasi psitif, semangat kerja bawahan akan
meningkat karena umumnya manusia senang menrima yang baik –
baik saja.
b. Motivasi Negatif ( Insentif negative )
Motivasi negatif maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan
standar mereka akan mendapatkan hukuman. Dengan motifasi negative
ini semangat kerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan
meningkat karena mereka tetap dihukum, tetapi untuk jangka panjang
dapat berakibat kurang baik. Motivasi diatas sering digunakan oleh
suatu organisasi atau instansi. Dan dalam penggunanya harus tepat,
baik atau benar, dan juga seimbang agar dapat meningkatkan semngat
kerja bagi pegawai dan mencapai suatu keinginan atau kebutuha para
pegawai.
2.1.17 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Motivasi merupakan pendorong tingkah laku pegawai. Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi, menurut Donni Juni Priansa
(2016:220-222) ada beberapa faktor yang memepengaruhi motivasi kerja
pegawai antara lain adalah berkaitan dengan:
a. Keluarga dan Kebudayaan
Motivasi berprestasi pegawai dapat dipengaruhi oleh lingkungan
sosial seperti orang tua dan teman.
39
b. Konsep Diri
Konsep diri berkaitan dengan bagaimana pegawai berifikir tentang
dirinya.
c. Jenis Kelamin
Prestasi kerja di lingkungan pekerjaan umum diidentikan dengan
maskulinitas, sehingga ada perbedaan prestasi kerja antara pria dan
wanita.
d. Pengakuan dan Prestasi
Pegawai akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras apabila
dirinya merasa diperdulikan atau diperlakukan oleh pimpinan, rekan
kerja, dan lingkungan pekerjaan.
e. Cita – cita dan Aspirasi
Cita – cita atau aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai.
Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu
kegiatan yang mengandung makna bagi pegawai.
f. Kemampuan Belajar
Kemampuan ini meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat
dalam diri pegawai, dalam kemampuan belajar ini taraf
perkembangan berfikir pegawai menjadi ukuran.
g. Kondisi Pegawai
Kondisi fisik dan psikologis pegawai sangat mempengaruhi. Faktor
motivasi kerja, sehingga sebagai pemimpin organisasi harus lebih
cermat melihat kondisi fisik dan psikologis pegawai.
40
h. Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan merupakan suatu unsur – unsur yang dating
dari luar diri pegawai. Unsur – unsur ini dapat berasal dari
lingkungan keluarga, organisasi, maupun lingkungan masyarakat.
i. Unsur – unsur Dinamis dalam Pekerjaan
Unsur – unsur dinamis dalam pekerjaan adalah unsur – unsur yang
keberadaanya dalam proses pekerjaan tiak stabil, kadang – kadang
kuat ataupun sebaliknya.
j. Upaya Pimpinan Memotivasi Pegawai
Upaya yang dimaksud adalah bagaimana pimpinan mempersiapkan
strategi dalam memotivasi pegawai.
2.1.18 Indikator Motivasi
Manurut Zameer, Ali, Nisar, dan Amir (2014:297) menyatakan
bahwa indikator motivasi sebagai berikut:
a. Gaji
Pemberian upah secara tepat waktu dan penerapan gaji sesuai
dengan pekerjaanya maka akan membuat kebiasaan baik karyawan
meningkat.
b. Bonus
Bonus yang diberikan oleh perusahaan berdasarkan kinerja
karyawan tersebut akan meningkat produktivitas perusahaan.
c. Jaminan Kesejahteraan Karyawan
41
Jaminan tersebut meliputi hak cuti, jaminan kesehatan yang
ditanggung oleh perusahaan, hak mendapatkan jatah rumah, dan lain
sebagainya.
d. Perasaan aman memiliki Pekerjaan
Hal – hal yang dapat memicu motivasi akan membuat karyawan
merasa aman karena bekerja diperusahaan itu.
e. Promosi
Pengembangan dan peningkatan karir yang ditawarkan perusahaan
akan membuat seorang karyawan bertahan diperusahaan tersebut
dalam waktu yang lama atau bahkan sampai pension.
2.1.19 Pengertian Kinerja Karyawan
Istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual
performance (prestasi kinerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai
seseorang). Pengertian kinerja (prestasi kinerja) adalah “Hasil kinerja
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yangdiberikan
kepadanya: Mangkunegara,(2016:67).
Hasibuan (2016:34) mengemukakan kinerja (prestasi kinerja)
adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan
tugas – tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas
kecakapan pengalaman dang kesungguhan serta waktu.
42
Menurut Amir dalam Lestari (2016:36) Kinerja adalah suatu yang
ditampilkan oleh seorang atau suatu proses yang berkaitan dengan tugas
kerja yang ditetapkan. Kinerja bukan ujung terakhir dari serangkaian
proses kerja tetapi tampilan keseluruhan yang dimulai dari unsur
kegiatan input proses, output dan bahan outcome. Kinerja merupakan
perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang
dihasilkan sesuai dengan pernyataan dalam perusahaan. Kinerja
karyawan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam upaya
perusahaan untuk mencapai tujuanya.
Menurut sedarmayanti (2017:283) menjelaskan bahwa kinerja
sebagai berikut “Kinerja merupakan terjemahaan dari performance yang
berarti hasil kerja seorang pekerja, sebuah proses manajemen atau suatu
organisasi secara keseluruhan, dimana hasil kerja tersebut harus dapat
ditunjukan buktinya secara konkrit dan dapat diukur (dibandingkan
dengan standar yang telah ditentukan)”.
Kinerja merupakan perbandingan hasil kinerja yang dicapai oleh
karyawan dengan standar yang telah ditentukan mendefinisikan kinerjja
sebagai hasil kerja yang dicapai oleh individu sesuai dengan wewenang
atau tanggung jawab masing – masing pegawai selama periode waktu
tertentu.
2.1.20 Ruang Lingkup Kinerja Karyawan
Penilaian kinerja merupakan faktor penting untuk suksesnya
manajemen kinerja. Meskipun penilaian hanyalah salah satu unsur
43
manajemen kinerja, system tersebut penting karena mencerminkan secara
langsung rencana organisasi. Meskipun evaluasi atas kinerja tim penting
seiring dengan keberadaan tim – tim dalam suatu organisasi, focus
penilaian kinerja pada sebagian besar perusahaan tetap pada karyawan
individual. Sisitem penilaian yang efektif akan mengevaluasi prestasi dan
rencana – rencana untuk tujuan dan sasaran.
Adapun ruang lingkup penilaian kinerja mencapai dalam 5W 1H
(what, where, why, when, who dan how)
a. What (apa yang dinilai)
Yang dinilai prilaku dan prestasi kerja karyawan seperti kesetian,
kejujuran, kerja sama, kepemimpinan, loyalitas, [ekerjaan saat
sekarang, potensi akan dating, sifat, dan hasil kerja.
b. Why (kenapa dinilai)
Dinilai karena :
Untuk menambah tingkat kepuasan para karyawan dengan
memberikan pengakuan terhadap hasil kerjanya.
Untuk membantu kemungkinan pengembangan personil yang
bersangkutan.
Untuk memelihara potensi kerja.
Untuk mengukur prestasi kerja para karyawan.
Untuk mengukur kemampuan dana kecepatan karyawan.
Untuk mengumpulkan dan guna menenetapkan program
kepegawain selanjutnya.
44
c. Where (dimana penilaian dilakukan)
Ditempat penilaian dilakukan didalam pekerjaan (secara formal)
dan diluar pekerjaan (secara formal atau non formal).
d. When (kapan penilaian dilakukan)
Waktu penilaian dilakukan secara formal ( periodic ) dan informal
( dilakukan secara terus menerus ).
e. Who (siapa yang akan dinilai)
Yang akan dinilai yaitu semua ketenaga kerjaan yang melakuakan
pekerjaan diperusahaan. Yang menilai (appraiser) atasan
langsungnya, atasan dari atasan langsung semua tim yang dibentuk
perusahaan.
f. How (bagaimana penilaian)
Metode penilaian apa yang digunakan dan problem apa yang
dihadapi oleh penilai (appraiser) dalam melakukan penilaian.
2.1.21 Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan
Faktor yang mempegaruhi kinerja menurut anwar prabu
mangkunegara (2015:67-68)
a. Faktor kemampuan
Secara psikologi, kemampuan terdiri dari kemampuan potensi dan
kemampuan (knowledge + skill), pimpinan dan pegawai harus
memiliki pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil
dalam mengerjakaan pekerjaan sehari – hari, maka lebih mudah
mencapai kinerja maksimal.
45
b. Faktor Motivasi
Motivasi diartikan sebagai suatu skip yang dimiliki pimpinan dan
karyawan terhadap situasi kerja dilingkungan organisasiny, mereka
akan menunjukan nilai positif dan negative terhadap situasi kinerja,
dan semua itu bias memperhatikan bagaimana tingkat tinggi
rendahnya motivasi yang dimiliki pimpinan dan pegawai.
2.1.22 Indikator Kinerja
Menurut Mangkunegara (2015:75) menyatakan bahwa indikator
kinerja sebagai berikut:
a. Kualitas kerja
Kualitas kerja adalah seberapa baik seseorang karyawan
mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.
b. Kuantitas kerja
Kuantitas kerja adalah seberepa lama seorang pegawai kerja dalam
satu harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja
setiap pegawai itu masing – masing.
c. Pelaksanaan tugas
Pelaksanaan tugas adalah seberapa jauh karyawan mempu
melakukan pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
d. Tanggung jawab
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan
kewajiban karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan
perusahaan. Perusahaan harus benar – benar melakukan evaluasi dan
46
pengkajian kembali terhadap setiap tugas dan tanggung jawab yang
diberikan kepada karyawan.
e. Inisiatif
Merupakan adanya dari dalam diri anggota organisasi untuk
melakukan pekerjaan serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa
menunggu perintah.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini meliputi salah satu acuan penulis dalam
melakukan penelitian sehingga dapat memperkaya teori yang digunakan dalam
mengkaji penelitian yang dilakukan sekaligus sebagai perbandingan dan
gambaran yang dapat mendukung kegiatan penelitian berikutnya :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Metode Hasil penelitian
penelitian penelitian
1 Christian Pengaruh penelitian Hasil penelitian
Katiandagho, Disiplin kerja berjumlah 147 menunjukan secara
Silvya L. kepemimpina responden, simultan disiplin kerja,
Mandey, Lisbeth
n dan teknik sampling kepemimpinan dan
Mananeke
Jurnal Motivasi yang digunakan motivasimempunyai
EMBAVol.2 Terhadap purposive pengaruh signifikan
No.3 September Kinerja sampling terhadap kinerja
2014, Hal. 1592- Pegawai PT. dimana jumlah pegawai. Secara parsial
1602 PLN sampel 60 hanya disiplin kerja dan
ISSN 2303-1174 (Persero) responden kepemimpinan yang
Wilayah dihitung berpengaruh signifikan,
Suluttenggo menggunakan sedangkan motivasi
Area Manado rumus Slovin. tidak mempunyai secara
signifikan terhadap
kinerja pegawai.
Pemimpin sebagai salah
47
satu penentu arah dan
tujuan organisasi
sebaiknya mampu
mengontrol perilaku–
perilaku kerja dan
mengarahkannya pada
kepuasan kerja pegawai.
2 Ali Wairooy Pengaruh Berdasarkan Hasil penelitian
Jurnal Disiplin metode sampel menunjukkan bahwa
Administrare:Jur Kerja dan random, total disiplin kerja
nal Pemikiran Kompensasi sampel dalam berpengaruh positif dan
Ilmiah dan terhadap penelitian ini signifikan terhadap
Pendidikan Kinerja adalah 49 kinarja karyawan,
Administrasi Karyawan responden. kompensasi
Perkantoran, Pada PT. berpengaruh positif dan
Vol. 4, No. Pertamina signifikan terhadap
1,2017 (Persero), kinarja karyawandan
Tbk. disiplin kerja dan
Pemasaran kompensasi secara
Region VII simultan berpengaruh
Makassar positif dan signifikan
terhadap kinarja
karyawan. Hal ini
berarti ketika disiplin
kerja dan kompensasi
tinggi maka kinerja
karyawan akan
meningkat
3 Jundah Ayu Pengaruh Teknik sampel Hasil analisis regresi
Permatasari, Disiplin yang digunakan linier berganda
Mochammad Al Kerja dan dalam peneitian menunjukkkan bahwa
Motivasi
Musadieq, ini adalah secara simultan dan
Terhadap
Yuniadi Prestasi sampel jenuh. parsial variabel Disiplin
Mayowan. Kinerja Kerja dan Motivasi
Jurnal Karyawan Kerja mempunyai
Administrasi pada pengaruh yang
Bisnis (JAB) PT BPR signifikan terhadap
Vol. 25 No. 1 Gunung Prestasi Kerja
Ringgit Karyawan. Variabel
48
Agustus 2015 Malang yang memiliki pengaruh
dominan dalam
penelitian ini adalah
variabel disiplin kerja.
4 Mohammad Pengaruh Penelitian ini Hasilnya seluruh data
Iman Tindow, Disiplin dilakukan dinyatakanvalid dan
Peggy A. Mekel,Kerja, dengan metode reliabel. Hasil analisis
Greis M. Motivasi dan surveydan menunjukkandisiplin
Sendow. Jurnal Kompensasi dilaksanakan kerja, motivasi, dan
EMBAVol.2 Terhadap pada 59 kompensasi
No.2 Juni 2014,Kinerja karyawan. berpengaruh positif dan
Hal. 1594-1606 Karyawan signifikan terhadap
Pada PT. kinerja
ISSN 2303-1174 Bank Sulut [Link]
Cabang perusahaan sebaiknya
Calaka lebih meningkatkan
motivasi dan
kompensasi,sehinggaak
an tercipta disiplin kerja
yang baik untuk
meningkatkankinerja
karyawan
5 Patricia M. Pengaruh Metode analisis Hasil penelitian
Sahangggamu, Pelatihan menggunakan menunjukan bahwa
Silvya L. Kerja, analisis regresi pelatihan kerja,
berganda, motivasi, dan disiplin
Mandey. Jurnal Motivasi dan
populasi kerja secara bersama
EMBAVol.2 Disiplin penelitian 52 berpengaruh terhadap
No.4 Desember Kerja karyawandenga kinerja [Link]
2014, Hal. 514-Terhadap n sampel 50 Parsial disiplin kerja
523 Kinerja responden berpengaruhdominan
Karyawan terhadap kinerja
ISSN 2303-1174 Pada PT. [Link]
pimpinan PT. Bank
Bank
Dana Raya
Perkreditan meningkatkan disiplin
Rakyat Dana kerja pada karyawan
Raya bank sehingga akan
meningkatkan kinerja
bank.
49
6 Nur Avni Pengaruh Jenis penelitian Hasil regresi linier
Rozalia, Motivasi Dan yang digunakan berganda, menunjukkan
Hamida Nayati Disiplin adalah variabel motivasi kerja
Utami, Ika Kerja
penelitian berpengaruh secara
Ruhana. Terhadap
Jurnal Kinerja penjelasan signifikan terhadap
Administrasi Karyawan (explanatory kinerja karyawan
Bisnis (JAB) Pada research) dengan nilai t hitung
Vol. 26 No. 2 Karyawan dengan 5,925 > t tabel 1,990.
September 2015 PT. Pattindo pendekatan Variabel disiplin kerja
Malang kuantitatif. menunjukkan nilai t
Sampel yang hitung 4,651 > t tabel
digunakan 1,990 hal ini berarti
sebanyak 82 berpengaruh secara
responden signifikan terhadap
dengan teknik kinerja karyawan. Hasil
sampling jenuh. F hitung sebesar 50,605
> F tabel 3,112, bahwa
terdapat pengaruh yang
signifikan antara
variabel Motivasi Kerja
dan Disiplin Kerja
secara simultan
berpengaruh terhadap
Kinerja Karyawan.
50
2.3 Kerangka Berfikir
Menurut Sugiyono (2017) kerangka berpikir adalah sintesa yang
mencerminkan keterkaitan antara variabel yang diteliti dan merupakan
tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian serta merumuskan hipotesis
penelitian yang berbentuk bagan alur yang dilengkapi penjelasan kualitatif.
1. Disiplin kerja
Menurut Singodimedjo dalam Buku Soetrisno (2016:86) yang
berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia Mengemukakan “Disiplin
adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan
menaati norma-norma peraturan yang berlaku disekitarnya. Disiplin
karyawan yang baik akan mempercepat tujuan perusahaan sedangkan
disiplin karyawan yang merosot akan menjadi penghalang dan
memperlambat pencapaian tujuan perusahaan”.
Veithzal Rivai dalam Sinambela (2017:355) menjelaskan bahwa
disiplin kerja memiliki beberapa komponen :
a. Kehadiran
Hal ini menjadi indikator yang mendasar untuk mengukur
kedisiplinan dan biasanya pegawai yang memiliki disiplin kerja
rendah terbiasa untuk terlambat dalam bekerja.
b. Ketaatan pada peraturan kerja
Pegawai yang taat pada peraturan kerja tidak akan melalaikan
prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang
ditetapkan perusahaan.
51
c. Ketaatan pada standar kerja
Hal ini dapat dilihat melalui besarnya tanggung jawab pegawai
terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya.
d. Bekerja etis
Beberapa pegawai mungkin melakukan tindakan yang tidak sopan ke
pelanggan atau terlibat dalam tindakan yang tidak [Link] ini
merupakan salah satu bentuk tindakan indisipliner sehingga bekerja
etis sebagai salah satu wujud dari disiplin kerja pegawai.
2. Motivasi kerja
David McClelland mengemukakan dalam Mangkunegara
(2016:94) bahwa Motivasi merupakan Kondisi jiwa yang mendorong
seseorang dalam mencapai prestasinya secara maksimal.
Manurut Zameer, Ali, Nisar, dan Amir (2014:297) menyatakan bahwa
indikator motivasi sebagai berikut:
a. Gaji
Pemberian upah secara tepat waktu dan penerapan gaji sesuai dengan
pekerjaanya maka akan membuat kebiasaan baik karyawan
meningkat.
b. Bonus
Bonus yang diberikan oleh perusahaan berdasarkan kinerja karyawan
tersebut akan meningkat produktivitas perusahaan.
52
c. Jaminan Kesejahteraan Karyawan
Jaminan tersebut meliputi hak cuti, jaminan kesehatan yang
ditanggung oleh perusahaan, hak mendapatkan jatah rumah, dan lain
sebagainya.
d. Perasaan aman memiliki Pekerjaan
Hal – hal yang dapat memicu motivasi akan membuat karyawan
merasa aman karena bekerja diperusahaan itu.
e. Promosi
Pengembangan dan peningkatan karir yang ditawarkan perusahaan
akan membuat seorang karyawan bertahan diperusahaan tersebut
dalam waktu yang lama atau bahkan sampai pension.
3. Kinerja karyawan
Hasibuan (2016:34) mengemukakan kinerja (prestasi kinerja)
adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan
tugas – tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas
kecakapan pengalaman dang kesungguhan serta waktu.
Menurut Mangkunegara (2015:75) menyatakan bahwa indikator
kinerja sebagai berikut:
a. Kualitas kerja
Kualitas kerja adalah seberapa baik seseorang karyawan mengerjakan
apa yang seharusnya dikerjakan.
53
b. Kuantitas kerja
Kuantitas kerja adalah seberepa lama seorang pegawai kerja dalam
satu harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja
setiap pegawai itu masing – masing.
c. Pelaksanaan tugas
Pelaksanaan tugas adalah seberapa jauh karyawan mempu melakukan
pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
d. Tanggung jawab
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan
kewajiban karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan
perusahaan. Perusahaan harus benar – benar melakukan evaluasi dan
pengkajian kembali terhadap setiap tugas dan tanggung jawab yang
diberikan kepada karyawan.
e. Inisiatif
Merupakan adanya dari dalam diri anggota organisasi untuk
melakukan pekerjaan serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa
menunggu perintah.
54
Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai
PUSKESMAS Larangan Ciledug
H1
Disiplin Kerja (X1)
1. Kehadiran
2. Ketaatan Pada
Peraturan Kerja
3. Ketaatan Pada Standar
Kerja
4. Bekerja Etis
(Veithzal Rivai dalam Kinerja (Y)
Sinambela, 2017:355)
1. Kualitas Hasil Kerja
2. Kuantitas Hasil Kerja
H3 3. Tanggung Jawab
4. Kerja Sama
5. Inisiatif
(Anwar Prabu
Motivasi (X2)
Mangkunegara, 2015:57)
1. Gaji
2. Bonus
3. Jaminan Kesejahteraan
Karyawan
4. Perasaan aman
5. promosi
(Zamer, Ali, Nasir dan
Amir, 2014:297)
H2
Gambar 2.1
Kerangka Berfikir
55
2.4 Pengembangan Hipotesis
Menurut Sugiyono (2015:9) hipotesis merupakan jawaban sementara
terhadap rumusan penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah
dinyatakan dalam bentuk kalimat. Berdasarkan kerangka penelitian diatas
maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan
masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian dan kerangka
penelitian diatas, maka hipotesis penelitian dapat diajukan dalam penelitianini
dapat dirumuskan:
1. Ho :Disiplin Kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada
PUSKEMAS KOTA TANGERANG
H1 :Disiplin Kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada
PUSKEMAS KOTA TANGERANG
2. Ho :Motivasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada
PUSKEMAS KOTA TANGERANG
H2 :Motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada
PUSKEMAS KOTA TANGERANG
3. Ho :Disiplin Kerja dan Motivasi tidak berpengaruh terhadap kinerja
karyawan pada PUSKEMAS KOTA TANGERANG
H3 :Disiplin kerja dan Motivasi berpengaruh terhadap kinerja
karyawan pada PUSKEMAS KOTA TANGERANG
56
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengungkapkan
permasalah yang diteliti. Dalam penelitian Pengaruh Disiplin Kerja dan
Motivasi terhadap kinerja karyawan PUSKESMAS KOTA TANGERANG.
Ini digunakan metode deskriptif kuantitatif analisis dengan pendekatan survey
dan kuisioner, pendekatan kuantitatif memusatkan pada gejala – gejala yang
mempunyai karakteristik tertentu di dalam kehidupan manusia yang
dinamakannya sebagai variabel. Dalam pendekatan kuantitatif hakekat
hubungan diantara variabel – variabel dianalisis dengan menggunakan teori
yang obyektif.
Pengertian metode deskriptif menurut Sugiyono (2016:147) adalah
Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menganalisis
data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan
yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Menurut Kasiran dalam Sujarweni (2015:39) mendefinisikan penelitian
kuantitatif adalah suatu proses menenmukan pengetahuan yang menggunakan
data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang
ingin diketahui.
57
3.2 Tempat Dan Waktu Peneltian
3.2.1 Tempat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini adalah di PUSKESMAS KOTA
TANGERANG, di Jl. Inpres VI RT.003/RW.007, Larangan Utara,
Larangan, Kota Tangerang, Banten 15154
3.2.2 Waktu Penelitian
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian
Jadwal 2019 2020
kegiatan Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov
Seminar
Proposal
Skirpsi
Revisi
Proposal
Skripsi
Pengumpulan
Data
Anlisa Data
Penulisan
Skripsi
Sidang
Skripsi
Revisi
Skrpisi
Pengganaan
Skripsi
Penelitian dilakukan sejak bulan November 2019 sampai
dengan bulan Desember 2020. Langlah – langkah yang penulis
ambil dalam mengambil data pada penelitian ini dilakukan secara
bertahap mulai dari izin kepada pimpinan perusahaan yaitu HRD
untuk melakukan peelitian dan meminta data wawancara dengan
58
perwakilan dari perusahaan untuk mengetahui pengaruh stres kerja
dan motivasi terhadap kinerja karyawan dan juga untuk
mengetahui bagaimana cara yang baik dalam penyebaran kuisioner
yang ada pada perusahaan.
3.3 Operasional Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Peneltian
Menurut Sugiyono (2018:39), mengemukakan bahwa
variabel penelitian adalah suatu atribut, sifat, dan nilai dari orang
atau obyek kegiatan tang mempunyai variasi tertentu yang
ditetapkan oleh penelitian. untuk dipelajari dan ditarik
kesimpulanya. Dalam penelitian ini menggunakan tiga variabel.
Variabel bebas (Disiplin Kerja dan Motivasi) dan variabel terikat
(Kinerja).
3.3.2 Definisi Operasional Variabel
Menurut Definisi operasional variabel penelitian menurut
Sugiyono (2015:38) adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari
obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang telah
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Definisi variabel-variabel penelitian harus
dirumuskan untuk menghindari kesesatan dalam mengumpulkan
data. Dalam penelitian ini, definisi operasional variabelnya adalah
sebagai berikut :
59
1. Kinerja Karyawan
Kinerja menunjuk kepada hasil kerja yang dicapai para
karyawan dalam suatu kegiatan menurut kriteria tertentu dan
dalam wakru tertentu guna mewujudkan tujuan organisasi.
Adapun indikator kinerja karyawan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut.
Tabel 3.2
Kisi – kisi instrument dan variabel Kinerja (Y)
Indikator [Link] Skala
Pernyataan
Kualitas 1,2 L
Kauantitas 3,4 I
Pelaksanaan Tugas 5,6 K
Tanggung Jwab 7,8 E
Inisiatif 9,10 R
Jumlah 10 T
Sumber : Anwar Prabu Mangkunegara (2015:75)
2. Motivasi
Motivasi adalah sebuah fungsi dari pengharapan individu
bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang
pada giliranya akan membuahkan imbalan atau hasil yang
dikehendaki. Adapun indikator Motivasi berdasarkan teori
adalah sebagai berikut:
60
Tabel 3.3
Kisi – kisi instrument dan variabel Motivasi (X2)
Indikator No. Item Skala
Pernyataan
Gaji 1,2 L
Bonus 3,4 I
Kesejahteraan Karyawan 5,6 K
Perasaan aman memliki 7,8 E
Promosi 9,10 R
Jumlah 10 T
Sumber : Zameer, Ali, Nisar, dan Amir (2014:297)
3. Disiplin Kerja
Disiplin Kerja adalah sikap dan perilaku seseorang yang
menunujukan ketaatan, kepatuhan, kesetian, keteraturan dan
ketertiban pada peraturan perusahaan atau organisasi dan norma
– norma social yang berlaku.
Tabel 3.4
Kisi – kisi intrumen dan variabel Disiplin Kerja (X1)
Indikator No. Item Skala
Pernyataan
Kehadiran 1,2 L
Ketaatan Pada Peraturan 3,4 I
Kerja K
Ketaatan Pada Standar 5,6,7 E
Kerja R
61
Bekerja Etis 8,9,10 T
Jumlah 10
Sumber : Veithzal Rivai dalam Sinambela (2017:355)
3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2017:45), “Populasi adalah wilayah
generalisasi terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu dan ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan”.Berdasarkan
definsi diatas, penulis dapat mengambil kesimpulan populasi
merupakan obyek atau subyek yang berada pada suatu wilayah dan
memenuhi syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah dalam
[Link] dalam penelitian ini, yang menjadi populasi
adalah pegawai PUSKESMAS KOTA TANGERANG 45 orang.
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakterisitik yang
dimiliki oleh populasi tersebut Sugiyono (2017:81). Teknik
sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Teknik sampling
pada dasarnya dikelompokan menjadi dua yaitu probability
sampling dan nonprobability sampling.
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel
yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota)
populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan
62
Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang
tidak memberi peluang atau kesempatan bagi setiap unsur atau
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
Sedangkan menurut Arikunto (2016:134), apabila
subyeknya kurang dari 100 orang atau lebih baik diambil semua
sehingga penelitianya merupakan penelitian populasi atau disebut
dengan sampel jenuh. Sehingga sampel dalam penelitian ini
berjumlah 45 responden.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai
berikut :
3.5.1 Jenis Data
Menurut Lubis (2016:1) “Data adalah fakta – fakta yang
menggambarkan suatu kejadian yang sebenarnya pada waktu
tertentu”. Adapun jenis data dalam penelitian ini adalah:
1. Data Kualitatif, yaitu yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan
gambar seperti literature – literature serta teori – teori yang
berkaitan dengan penelitian penulis.
2. Data Kuantitatif, yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk
skala numeric atau angka, seperti: data kualitatif yang
diangkakan (skoring).
63
3.5.2 Sumber Data
Diperlukan data – data untuk mendukung suatu penelitian,
adapun sumber data dalam penelitian ini berupa:
1. Data Primer
Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari obyek
yang diteliti. Menurut Sugiyono (2017:193) data primer adalah
sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data, data primer diperoleh dari kuesioner yang
dilakukan.
2. Data Skunder
Data skunder menurut Sugiyono (2017:193) adalah sumber data
yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data,
misalnya lewat orang lain atau dokumen. Kemudian data
sekunder dalam penelitian ini:
a. Melalui pustaka teori, yakni dari buku – buku yang ada
kaitanya dengan variable penelitian, dan malah yang
diteliti.
b. Melalui pustaka hasil peneuan, yaitu dari skripsi, artikel,
jurnal, internet, publikasi pemerintah, dan serta
dokumentasi. Data yang diperlukan dalam penelitian ini
adalah data mengenai presepsi karyawan tentang pengaruh
stress kerja dan motivasi terhadap kinerja karyawan.
64
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
beberapa acara:
1) Kuesioner
Kuesioner adalah metode pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kepada
responden dengan panduan kuesioner.
2) Observasi
Observasi merupakan metode penelitian dimana
peneliti melakukan pengamatan secara langsung pada
obyek penelitian.
3) Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data
yang dilakukan dengan membaca buku – buku,
literature, jurnal – jurnal, referensi yang berkaitan
dengan penelitian ini dan penenlitian terdahulu yang
berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan.
3.6 Teknik Analisis Data
3.6.1 Metode Penelitian
Dalam melakukan analisis data diperlukan data yang akurat
dan dapat dipercaya yang anantinya akan digunakan dalam
penelitian yang dilakukan oleh penulis. Analisis data adalah proses
penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan
interprestasikan.
65
Adapun analisis data yang dianalisis merupakan data hasil
pendekatan survey alapangan dan penelitian kepustakaan. Adapun
anailisis data yang dilakukan penulis meliputi analisis deskriptif
yang digunakan berdasarkan rata – rata mean dari masing – masing
variable sedangkan untuk analisis asosiatif menggunakan metode
succeive interval dari regresi ganda dengan dibantu software excel
dan SPSS 25 (statistical product and service solution).
1. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif adalah analisis pengolahan data berbentuk
angka (numeric). Menurut Sugiyono (2017:14) menyebutkan
pengertian analisis kuantitatif sebagai berikut “Merupakan
metode yang berlandaskan pada filsafat positivism. Adapun
tahap – tahapnya adalah sebagai berikut:
a. Editing
Editing merupakan proses pengecekan data dan penyesuain
data yang sudah terkumpul berupa kelengkapan isisan,
keterbacaan tulisan, kejelasan jawaban, serta relevans
jawaban pada kuesioner.
b. Coding
Coding adalah proses pemberian kode tertentu terhadap
aneka ragam jawaban dari kuesioner untuk dikeleompokan
kedalam kategori yang sama.
66
c. Scoring
Scoring yaitu mengubah data yang bersifat kualitatif
kedalam bentuk kuantitaif (skor nilai). Dalam penentuan
skor nilai digunakan skala likert dengan lima kategori
penilaian. Tingkatan skala likert yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.5
Kategori Skor Penilaian
Alternative Pilihan Skor Jawaban
Jawaban Petanyaan
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Kurang Setuju 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1
Sumber : Sugiyono (2017:134)
Selanjutnya kategori tersebut diterapkan terhadap masing –
masing variable berdasarkan rata – rata skor yang diperoleh.
d. Tabulating
Tabulating yaitu memasukkan data – data yang sudah
dikelompokan kedalam tabel – tabel, agar mudah divbaca
dan dipahami.
67
3.6.2 Metode Analisi Data
Menurut Sugiyono (2016:243) analisi data merupakan
kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain
terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokan
data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data
berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap
variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab
rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji
hipotesis yang telah diajukan. Dalam penelitian ini, metode analisis
yang digunakan adalah analisis kuantitatif, yang mempunyai ciri
dapat dinilai dengan menggunakan angka. Metode analisis data
yang digunakan adalah sebagai berikut:
3.6.3 Uji Instrumen
Menurut Suharsini Arikunto (2016:134), uji Instrumen
adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam
kegiatanya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi
sistematis dan dipermudah olehnya.
1. Uji Validitas
Uji validitas merupakan pengujian yang ditujukan untuk
mengetahui apakah terdapat kesamaan antara data yang
terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek
yang diteliti. Menurut sugiyono (2016:121) validitas
menunjukan sejauh mana ketetapan dan kecermatan alat ukur
68
dalam melakukan fungsi ukuranya. Teknik yang digunakan
untuk mnegukur atau menguji validitas kuesioner adalah
menggunakan rumus korelasi product momen yaitu :
𝑁 ∑ 𝑋𝑌− (∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
𝑟𝑋𝑌 =
√{𝑁 .∑ 𝑥 2 − (∑𝑥) 2 }{𝑁 ∑ 𝑌 2 (∑ 𝑌)2}
Keterangan :
r = Koefisien Korelasi
x = Skor item kuesioner
y = Total item kuesioner
rxy = Koefisien korelasi produk momen antara skor akhir
Σy = jumlah skor total
N = Jumlah responden
Dengan ketemu Uji validitasnya adalah :
1) Apabila rhitung > rtabel ( pada taraf signifikan 5%), maka dapat dikatakan
valid
2) Apabila rhitung < rtabel ( pada taraf signifikan 5%), maka dapat dikatakan
tidak valid
2. Uji Realibilitas
Setelah menguji validitas kuesioner, langkah selanjutnya
adalah uji reliabilitas yang digunakan untuk mengetahui apakah
alat pengumpul data tersebut menunjukan tingkat ketetapan, tigkat
keakuratan kestabilan atau konsistensi dalam mengungkap gejala
dari sekelompok individu meskipun dilakukan pada waktu yang
berbeda. Dengan memperoleh nilai r dari uji validitas (menunjukan
69
hasil indeks korelasi), maka akan diketahui ada atau tidaknya
hubungan antara kedua instrument.
Menurut sugiyono (2016:267) reliabilitas berkenan dengan
derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Dalam
pandangan psitifstik (kuantitatif), suatu data dinyatakan reliable
apabila dua atau lebih peneliti dengan obyek yang sama
menghasilkan data yang sama, atau peneliti yang sama dalam
waktu yang berbeda menghasilkan data yang sama, atau
sekelompok data bila dipecah menjadi dua menunjukan data yang
tidak berbeda.
Tingkat reliabilitas instrument diuji dengan menggunakan rumus
Alpha Croanbach sebagai berikut :
1) Mencari varian butir
(∑ 𝑋)2
∑ 𝑋𝑖 2 −
𝑆𝑡 2 = 𝑛
𝑛
Keterangan :
N = jumlah sampel
ΣX = jumlah skor item
ΣX2 = jumlah kuadrat skor item
2) Mencari varian total
(∑ 𝑋𝑡)2
∑ 𝑋𝑡 2 −
𝑆𝑡 2 = 𝑛
𝑛
70
Keterangan :
n = Jumlah sampel
Σxt = Jumlah skor total
Σxt2 = jumlah kuadra skor total
3) Mencari reliabilitas
𝑘 𝛴𝑆𝑖
𝑟11 = ( ) (1 − )
𝑘−1 𝑆𝑡
Keterangan :
r11 = Nilai reliabilitas
k = Banyak butir pertanyaan
ΣSi = Jumlah varian butir
St = Varian total
Ketentuan uji reliabilitas ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Apabila nilai rhitung > rtabel , maka butir pertanyaan dikatakan reliabel.
Apabila nilai rhitung < rtabel , maka butir pertanyaan dikatakan tidak
reliabel.
3.6.4 Uji Asumsi Klasik
Untuk meyakinkan bahwa persamaan garis regresi yang
diperoleh adalah linier dan dapat dipergunakan (valid) untuk
mencari peramalan, maka akan dilakukan pengujian uji normalitas,
multikolineritas, heteroskedastisitas
71
1. Uji Normalitas
Uji normalitas data sebaiknya dilakukan sebelum data
diolah berdasarkan model – model statistika parametik.
Menurut Imam Ghozali (2016:154) tujuan dari uji normalitas
adalah untuk mengetahui apakah masing – masing variable
berdsitribusi normal atau tidak. Uji normalitas diperlukan
karena untuk melakukan pengujian – pengujian variable lainya.
Dengan mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti
distribusi normal. Jika asumsi dilanggar maka uji statistic
menjadi tidak valid dan statistic parametric tidak dapat
digunakan. Pada prinsipnya normalitas dapat terdeteksi dengan
melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik
atau dengan melihat histogram dari [Link] dasar
pengambilan keputusan sebagai berikut. Ghozali (2016:154).
a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti
arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi
normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak
mengikuti arah garis diagonal, maka model garis regresi
tidak memenuhi normalitas.
2. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah pada
sebuah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variable
72
independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat
problem multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya
tidak terjadi korelasi diantara variable independen. Jika terbukti
ada multilinieritas, sebaiknya salah satu variable independen
yang ada dikeluarkan dari model, lalu pembuatan model regresi
diulang kembali. Singgih (2015:194). Untuk mendeteksi ada
atau tidaknya multikolinieritas didalam model regresi, dapat
dilihat pada besaran variance inflacion factor (VIF) dan
Tolerance. Pedoman suatu model regresi yang bebas
multikolinieritas adalah mempunyai angka tolerance mendekati
1. Atas VIF adalah 10, jika nilai VIF dibawah 10. Maka tidak
terjadi gejala multikolinieritas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam
model regeresi terjadi ketidaksamaan variance dari resudal
suatu pengamatan ke pengamatan lainya. Ada beberapa cara
yang dapat dilakukan untuk melakukan uji heteroskedasitisitas,
yaitu uji grafik plot, uji park, uji glejser, dan uji white. Ghozali
(2016:134). Deteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat
juga dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu
(bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada grafik plot
(scatterplot) antara nilai prediksi variabel terkait (ZPRED)
dengan residualnya (SRESID).
73
4. Uji Autokorelasi (Run Test)
Uji autokorelasi yaitu uji untuk time series atau runtut
waktu. Uji ini bagian dari statistic non-parametrik dapat
digunakan untuk menguji apakah antar residul tidak terdapat
hubungan korelasi yang tinggi atau tidak. Jika antar residul
tidak terdapat hubungan korelasi maka dikatakan bahwa
residual adalah acak atau random. Dasar ketentuan untuk
mengetahui gejala autokorelasi yaitu jika nilai Asymp Sig (2
tailed) < dari 0,05 maka terdapat gejala Autokorelasi, namun
apabila nilai Asymp Sig (2 tailed) > dari 0,05 maka tidak
terdapat gejala Autokorelasi.
3.6.5 Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisis regresi linier sederhana merupakan hubungan
secara linier antara satu variabel independen dengan satu variabel
dependen. Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan variabel
satu dengan variabel lain. Model regresi linier sederhana. Menurut
Suliyanto (2011:50).
𝑌 = 𝑎 + 𝑏𝑋
Keterangan :
Y = Variabel dependen
X = Variabel independen
a = Konstanta (Nilai Y apabila X=0)
b = Koefisien regresi (Nilai peningkatan ataupun penurunan)
74
3.6.6 Analisis Regresi Linier Berganda
Menurut Sugiyono (2016:192) regresi berganda dilakukan
oleh peneliti, bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana
keadaan (naik turunya) variabel dependent, bila dua atau lebih
variabel independen sebagai faktor predictor manipulasi. Metode
ini menggunakan model regresi linier berganda dengan
menggunakan program SPSS 25 yang dapat dirumuskan sebagai
berikut :
Y = α + β1X1 + β2X2
Keterangan :
Y = Keputusan Pembelian
α = Nilai Bilangan Konstanta
β1 = Koefisien Regresi Variabel X1 (Stres Kerja)
β2 = Koefisien Regresi Variabel X2 (Motivasi)
X1 = Stres Kerja
X2 = Motivasi
3.6.7 Koefisien Determinasi
Menurut Iman (2014:53) koefisien determinasi (R2) pada
intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel independen. Nilai koefisien
determinasi adalah anatara nol dan satu. Semakin besar R2
(mendekati satu) semakin baik hasil regresi tersebut karena
variabel dependen sebaliknya mendekati angka nol berarti semakin
75
buruk hasil regresinya, karena variabel independen secara
keseluruhan tidak mampu menjelaskan variabel dependen.
Kriteria untuk analisis koefisien determinasi adalah :
a. Jika KD mendekati nilai 0, berarti pengaruh independen atau
variabel stres kerja (X1) dan motivasi (X2) terdapat dependen
atau variabel kinerja karyawan (Y) adalah lemah.
b. Jika KD mendekati nilai 1, berarti pengaruh independen atau
variabel stres kerja (X1) dan motivasi (X2) terdapat dependen
atau variabel kinerja karyawan (Y) adalah kuat.
3.6.8 Uji Signifikansi / Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan melalui model regresi linier
berganda. Tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah α = 10%.
1. Uji Simultan (Uji f )
Uji f adalah pengujian terhadap koefisien regresi secara
simultan. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh
semua variabel independen yang terdapat didalam model secara
bersama – sama (simultan) terhadap variabel dependen. Uji f
dalam penelitian ini digunakan untuk menguji signifikansi
pengaruh stres kerja dan motivasi terhadap kinerja karyawan
secara simultan dan parsial.
Ftabel dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Jika fhitung > ftabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima
76
b. Jika fhitung < ftabel , maka H0 diterima dan H1 ditolak
2. Uji Parsial (Uji t )
Uji t dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh
masing – masing variabel independen secara individual
terhadap variabel dependen. Hasil uji t ini pada output SPSS
dapat dilihat pada tabel coefficientsa. Menentukan taraf nyata,
taraf nyata yang digunakan adalah α = 0,10 nilai t hitung
dibandingkan t tabel dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Jika thitung > ttabel , maka H0 diterima dan H1 ditolak
b. Jika thitung < ttabel , maka H0 ditolak dan H1 diterima
77