STUDI TENTANG PELAKSANAAN PENGELOLAAN PENGAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR SWASTA 81
HUBBULWATHAN DURI KEC. MANDAU
A. Latar Belakang
Guru mempunyai peran yang sangat besar dalam meningkatkan mutu
pendidikan serta menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan itu sendiri.
Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk mendorong,
membimbing dan memberi fasilitas belajar bagi murid-murid untuk mencapai tujuan.
Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi didalam
kelas, untuk membantu proses perkembangan anak.
Tugas guru sacara terperinci adalah memberikan arah dan motifasi untuk
mencapai tujuan pengajaran baik jangka pendek maupun jangka panjang, memberi
fasilitas berupa pengalaman belajar yang memadai serta membantu siswa dalam
pengembangan diri seperti sikap, nilai dan penyesuaian diri 1
Tugas-tugas tersebut harus direalisasikan oleh guru dalam proses pengajarannya.
Didalam buku Proses Belajar Mengajar dituliskan bahwa pengajaran adalah :
“penciptaan sistem lingkungan yang saling mempengaruhi yaitu tujuan instruksional
yang ingin dicapai, materi yang diajarkan guru, siswa, kegiatan belajar mengajar dan
sarana”.2 Maka guru sabagai pelaksana pengajaran
1
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta,
Jakarta, 1991, Hal. 99.
2
J.J. Hasibuan dan Moejono, Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung,
1988, Hal. 3.
1
sangat dituntut untuk bisa mendukung terjadinya proses belajar yang datangnya dari
minat murid, bukannya terpaksa.
Sebagai pendidik guru harus memiliki kemampuan didalam pengelolaan
pengajaran, dalam rangka menciptakan serta mengantar anak didik kepada situasi
belajar yang baik. Nana Sudjana menjelaskan bahwa :
Keterpaduan proses balajar siswa dengan proses mengajar guru sehingga
terjadi interaksi belajar mengajar (terjadinya proses pengajaran) tidak datang
begitu sajadan tidak dapat tumbuh tanpa pengaturan dan perencanaan yang
seksama. Pengaturan sangat diperlukan terutama dalam menentukan
komponen dan variabel yang harus ada dalam proses pengajaran tersebut.
Perencanaan dimaksud merumuskan dan menetapkan interaksi sejumlah
komponen dan variabel sehingga memungkinkan terselenggaranya
pengajaran yanh efektif.3
Agar terselenggaranya pengajaran diperlukan adanya aktifitas-aktifitas
pengaturan dan perencanaan terhadap komponen- komponen pengajaran.
Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan pengajaran, sebagaimana dikatakan bahwa :
Pengajaran merupakan aktifitas proses yang sistematis dan sistematik yang
terdiri banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran tidak
bersifat patial (terpisah), atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan
secara teratur, saling bergantungan, komplementer, bersinambungan untuk itu
diperlukan pengelolaan pengajaran yang baik.4
Menurut Suparno, dalam Dimensi-dimensi Mengajar bahwa: “Pengelolaan
pengajaran adalah suatu aktifitas yang berhubungan langsung dengan pencapaian
tujuan pengajaran”.5 dan didalam buku Pengelolaan Pengajaran dikatakan bahwa
tugas dan tanggung jawab utama guru/pengajar adalah mengelola pengajaran
3
Nana Sudjana, Dasar-dasar proses belajar mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung,
1995, hal. 29
4
H. Abu Hamadi & Ahmad Rohani. H. M. Pengelolaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta,
Januari 1991, hal. 1
5
Suparno dkk., Dimensi-dimensi Mengajar, Sinar Baru, Bandung, 1987, hal. 78
2
Pendidikan agama mempunyai status yang sangat kuat dan merupakan mata
pelajaran yang wajib diikuti oleh para siswa dan mahasiswa dari sekolah dasar
sampai pertuguruan tinggi.
Pendidikan Islam disini diartikan :
Sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung
jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan
potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan
sebagaimana hakikat kejadiannya.6
Jadi dalam pengertian ini pendidikan Islam tidak dibatasi oleh institusi
(kelembagaan) atau pada lapangan pendidikan tertentu. Adapun yang bertanggung
jawab dalam pengertian diatas ialah : orang tua. Seiring dengan tanggung jawab itu
maka para orang tua dan para guru dalam pendidikan Islam berfungsi dan berperan
sebagai pembina, pembimbing, pengembang serta pengarah potensi yang dimiliki
seorang anak agar mereka menjdi pengabdi Allah yang taat dan setia, sesuai dengan
hakikat penciptaan manusia.
Firman Allah yang berbunyi :
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku”7
6
DR. Jalaluddin, Psikologi Agama, PT Raja Grafindo Persada, Ed-1, Cet-3, Jakarta, 1998,
hal. 19
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat Ad-Zari’at
7
59, Mahkota, Ed-Revisi , Surabaya, 1989, hal. 862
3
Disamping orang tua, guru agama mempunyai tugas yaitu ikut membina
pribadi anak disamping mengajarkan pengetahuan agama kepada anak. Setiap guru
agama harus menyadari, bahwa segala sesuatu pada dirinya merupakan unsur
pembinaan bagi diri anak didik. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh
Prof. DR. Zakiah Dradjad : “masa pendidikan di sekolah dasar, merupakan
kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak setelah orang
tua”.8
Pendidikan agama di sekolah dasar, merupakan dasar bagi pembinaan sikap
dan jiwa agama pada anak. Apabila guru agama mampu membina sikap positif
terhadap agama serta berhasil dalam membentuk pribadi anak dan akhlaknya, maka
ketika anak remaja ia telah memiliki bekal atau pegangan.
Patut diketahui bahwa agama pada anak-anak usia sekolah dasar, dalam pandangan
psikologi agama, tumbuh mengikuti pola “ideas concept on autority” dimana konsep
keagamaan pada diri anak masih dipengaruhi oleh unsur dari luar diri mereka, baik
orang tua, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekolah dimana anak menuntut
ilmu.9
Melihat dari tujuan dan fungsi pengajaran pendidikan agama Islam diatas,
maka dalam pelaksanaan pengajarannya guru diharapkan dapat mengelola dangan
baik, sehingga tujuan pengajaran yang diharapkan dapat tercapai.
8
Prof. DR. Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Cet-15, Jakarta, 1996,
hal. 57
Hidayat Syah, Psykologi Agama Bagian II (Diktat), Fakultas Ushuluddin, IAIN SUSQA,
9
Pekan Baru, 1993, hal. 3
4
Hal di atas relevan dengan apa yang dikemukakan S. Nasution : “mengajar
adalah suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan
mengembangkan dengan anak sehingga terjadinya proses belajar”.10
Sehubungan dengan hal diatas, maka tanpa kecuali Sekolah Dasar Swasta 81 yang
merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan kegiatan
belajar mengajar, tentunya guru dituntut untuk mengelola pengajaran dengan baik,
yang merupakan tugas dan tanggung jawabnya dalam kegiatan belajar mengajar, agar
aktifitas pengajaran dapat terlaksana dengan baik sehingga mencapai tujuan yang
harapkan.
Bila dilihat dari tenaga pengajar atau guru yang mengajar agama Islam di
Sekolah Dasar Swasta 81 , guru tersebut merupakan lulusan sarjana pendidikan dan
memiliki kemampuan dalam mengajar. Dengan demikian tentu guru tersebut telah
mengetahui dan memahami tentang bagaimana pelaksanaan tugasnya dalam
pengelolaan pengajaran.
Namun berdasarkan kenyataan empiris yang penulis temukan di Sekolah
Dasar Swasta 81 , dimana terdapat kesenjangan dalam pelaksanaan pengelolaan
pengajaran pendidikan agama Islam. Hal ini dapat terlihat dari gejala-gejala sebagai
berikut :
1. Masih ada guru yang tidak membuat satuan pelajaran sebelum mengajar
2. Guru sering tidak sempat menuntaskan materi palajaran karena karena kahabisan
waktu.
3. Guru tidak mempersiapkan bahan pelajaran sebelum masuk ke kelas.
4. Dalam mengajar guru jarang memakai metode yang bervariasi
10
S. Nasution, Didaktik dan Azas-azas Mengajar, Jemmars, Bandung, 1986, hal. 8
5
5. Guru kurang memberikan motivasi pada murid –murid.
Berdasarkan gejala di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
dalam masalah ini dengan judul : “Studi Tentang Pelaksanaan Pengelolaan
Pengajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta 81
Hubbulwathan Duri Kecamatan Mandau”.
B. Alasan Memilih Judul
1. Masalah ini menarik untuk diteliti, karena pengelolaan pengajaran adalah
merupakan aktivitas yang berhubungan langsung dengan pencapaian tujuan
pengajaran, maka apabila pengelolaan baik, akan baik pula pencapaian tujuan
pengajaran.
2. Masalah ini memerlukan pemecahan dan pemikiran yang sifatnya membangun
demi kelancaran proses pengajaran.
3. Masalah ini selaras dengan bidang studi yang penulis tekuni yaitu masalah
pendidikan, dalam hal ini penulis merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan
dan perkembangan pendidikan itu sendiri.
4. Penelitian ini terjangkau oleh peneliti baik dari segi waktu, tenaga dan biaya.
C. Penegasan Istilah
Untuk memahami kesalah pahaman dalam memahami judul penulisan ini,
maka perlu diberi penjelasan istilahnya sebagai berikut :
Studi adalah : “Kajian , telaah, penelitian yang bersifat ilmiah.11
11
J.S. Badudu, Prof. Sultan Mohammad Zein, Kamus Umum Bahsa Indonesia, PUstaka
Sinar Harapan, Jakarta, 1994, hal. 1358
6
Pelaksanaan adalah : “Prihal (perbuatan, usaha dan lain-lain), melaksanakan
(rancangan dan sebagainya)”.12 Pelaksanaan juga diartikan
dengan proses, cara, perbuatan melaksanakan (rancangan,
keputusan, dsb).13 Pelaksanaan yang dimaksudkan disini
adalah pelaksanaan tugas guru dalam pengelolaan
pengajaran pendidikan agama Islam
Pengelolaan adalah: “Proses, cara, perbuatan mengelola.14
Sehubungan dengan pengelolaan pengajaran, maka pengelolaan pengajaran adalah:
Suatu upaya untuk mengatur (memenej, mengendalikan) aktivitas pengajaran
berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengajaran untuk
mensukseskan tujuan pengajaran agar tercapai secara lebih efektif, efesien
dan produktif yang diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan,
diakhiri dengan penilaian, dan dari penilaian akan dapat dimanfaatkan
sebagai feed back (umpan balik) bagi perbaikan program lebih lanjut.15
Adapun pelaksanaan pengelolaan pengajaran pendidikan agama Islam yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah upaya guru pendidikan agama Islam untuk
mengatur dan mengendalikan kegiatan pengajaran berdasarkan konsep dan prinsip
pengajaran, diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan penilaian sebabai feed
back, sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.
D. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
a. Bagaimana pelaksanaan tugas guru dalam pengelolaan pengajaran
pendidikan agama Islam di SDS 81 Duri Kec. Mandau ?
12
W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1991,
hal. 22
13
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Balai Putaka, Jakarta, 1980, hal. 554
14
Ibid, hal. 470
15
H. Abu Ahmadi & Drs. Ahmad Rohami, H. M., Op, Cit., hal. 2
7
b. Bagaimana usaha guru dalam meningkatkan prestasi siswa dalam mata
pelajaran pendidikan agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec.
Mandau ?
c. Bagaimana minat siswa dalam mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam
di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec. Mandau ?
d. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan
pendidikan agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec. Mandau ?
e. Bagaimana kemampuan guru untuk menjalankan tugasnya dalam pengelolaan
pendidikan agama Islam di SDS 81 Duri Kec. Mandau ?
2. Pembatasan Masalah
Agar tidak terlalu luas pembahasan ini dan supaya tidak terjadi kesalahan
dalam memahaminya maka penulis membatasi pembahasan ini pada: Pelaksanaan
Pengelolaan Pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri
Kec. Mandau.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka dapat penulis rumuskan
permasalahan tersebut sebagai berikut: Bagaimanakah Pelaksanaan Pengelolaan
Pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec. Mandau,
dan apa faktor yang mempengaruhi pelaksanakan pengelolaan pengajaran
Pendidikan Agama Islam.
8
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang pelaksanaan
pengelolaan pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri
Kec. Mandau dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2. Manfaat atau Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat atau kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Sebagai sumbangan pemikiran yang ilmiyah terhadap ilmu pengetahuan.
b. Sebagai bahan informasi bagi guru-guru dan para pembaca khususnya
mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam tentang Pelaksanaan
Pengelolaan Pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Duri Kec.
Mandau.
c. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi akhir penulis
pada Jurusan Pendidikan Agama Islam di STAI Duri.
F. Kerangka Teoritis dan Konsep Operasional
1. Kerangka Teoritis
Untuk menghindari kesalahan dalam memahami kajian ini sebagai landasan
berpijak, maka perlu adanya kerangka teoritis yang berhubungan dengan kajian ini.
Pelaksanaan adalah: “prihal (perbuatan, usaha dan lain-lain), melaksanakan
(rancangan dan sebagainya)”[Link] ini difokuskan pada pelaksanaan yang
menjadi tanggung jawab seseorang, yaitu tanggung jawab tugas guru dalam
pengelolaan pengajaran.
16
W. J. S. Poerwadarminta, Loc, Cit., hal. 553
9
Sebelum membahas lebih lanjut tentang pengelolaan pengajaran perlu
diketahui bahwa di dalam melaksanakan tugasnya, seorang pengajar memerlukan
tiga hal penting, yaitu:
a. Bagaimana cara mengajar yang baik dan benar
b. Alat bantu mengajar yang dipakai
c. Cara evaluasi apa yang digunakan.17
Dengan mengetahui tiga hal penting di atas maka pengajar dalam mengajar
dapat terarah dan tujuan pengajaran yang diharapkan dapat juga tercapai dengan
baik. Di dalam kegiatan belajar mengajar guru harus dapat mengelola pengajaran
dengan baik, oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya guru tidak hanya
mengajar akan tetapi guru juga bertugas sebagai pengelola pengajaran. Adapun
pengelolaan pengajaran terdiri dari rangkaian dua kata yaitu pengelolaan dan
pengajaran. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia pengelolaan diartikan: “proses,
cara, perbuatan mengelola.18 Sedangkan pengajaran adalah: “penciptaan sistem
lingkungan yang saling mempengaruhi yaitu tujuan instruksional yang ingin di capai,
materi yang diajarkan guru, siswa, kegiatan belajar mengajar dan sarana”.19
Untuk lebih jelasnya sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ahmadi dan
Ahmad Rohani sebagai berikut:
Pengertian pengelolaan pengajaran adalah mengacu pada suatu upaya untuk
mengatur (memenrj, mengendalikan) aktifitas pengajaran berdasarkan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengajaran untuk mensukseskan tujuan
pengajaran agar tercapai secara lebih efektif, efesien dan produktif yang
diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan, diakhiri dengan
penilaian, dan dari penilaian akan dapat dimanfaatkan sebagai feet back
(umpan balik) bagi perbaikan program lebih lanjut.20
17
Sorkartawi, Meningkatkan Efektifitas Mengajar, Pustaka Jaya, Jakarta, Januari 1995, hal.
1
18
J. S. Badudu, Prof. Sultam Mohammad Zein, Loc. Cit., hal. 1358
19
J. J. Hasibuan & Moejono, Loc. Cit., hal. 3
20
Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani, Loc, Cit., hal. 2
10
Berdasarkan dari kutipan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan
pengajaran adalah upaya mengatur (memenej, mengendalikan) aktivitas pengajaran,
dimana aktivitas pengajaran itu adalah penentuan strategi dan penyusunan
perencanaan, memberikan informasi atau penyampaian materi, bertanya dan diahiri
dengan penilaian untuk mencapai tujuan pengajaran.
Maka dapatlah dikemukakan disisni tugas guru dalam pengelolaan
pengajaran secara garis besarnya adalah menyangkut dengan:
Menyususun perencanaan dan penentuan strategi pengajaran
Memberikan informasi/menyampaikan bahan pelajaran yang telah
direncanakan untuk melaksanakan rencana
Penilaian atau evaluasi
Untuk lebih jelasnya, dapat diuraikan beberapa hal yang menyangkut dengan
pelaksanaan tugas guru terhadap aktivitas pengajaran di dalam pengelolaan.
A. Perencanaan pengajaran (disain pengajaran) dan strategi pengajaran.
Persiapan/perencanaan merupakan tahap awal yang harus dilalui seorang
guru sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Dalam perencanaan/persiapan
ini, seorang guru menentukan strategi pengajaran sebagai langkah-langkah tindakan
atau taktik-taktik yang akan digunakan guru dalam proses belajar mengajar.
Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
1. Perencanaan Pengajaran/Disain Pengajaran
Pengajaran atau peoses belajar mengajar adalah proses yang diatur
sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaannya mencapai
hasil yang diharapkan. Demikikan halnya dengan pelaksanaan mengajar,
11
memperkirakan (memproyeksi) mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada
waktu melaksanakan pengajaran. Sebagaimana dikatakan bahwa:
Disain atau perencanaan adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk
melaksanakan suatu tugas/pekerjaan atau untuk mengambil suatu keputusan
terhadap apa yang akan dilaksanakan oleh seseorang untuk mencapai tujuan
tertentu sebagimana yang telah ditetapkan dengan melalui prosedur atau
langkah-langkah tang sistematis dan memperhatikan prinsip-prinsip
pelaksanaan tugas/pekerjaan tersebut.21
Mengenai perencanaan ini, H. Muhammad Ali menjelaskan bahwa
perencanaan itu meliputi:
1. Tujuan apa yang hendak dicapai, yaitu bentuk-bentuk tingkah laku apa
yang diinginkan dapat dicapai atau dapat dimiliki oleh siswa setelah
terjadinya proses belajar mengajar.
2. Bahan pelajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan.
3. Bagaimana proses belajar mengajar yang akan diciptakan oleh guru agar
siswa mencapai tujuan secara efektif dan efesien.
4. Bagaimana menciptakan dan menggunakan alat untuk mengetahui atau
mengukur apakah tujuan itu tercapai atau tidak.22
Untuk merencanakan hal di atas menurut Conny Setiawan, seorang guru
harus memikirkan hal-hal sebagai berikut:
o Siswa sebagai orang yang terlibat dalam situasi belajar mengajar
o Waktu yang digunakan dalam pengajaran
o Urutan bagaimana materi akan dibahas
o Rangkaian perkembangan proses berpikir dan ketrampilan yang akan di
tumbuhkan pada siswa
o Alat peraga yang akan digunakan
o Penilaian pengajaran yang diberikan.23
Salah satu bentuk perencanaan pengajaran adalah satuan pelajaran. Satuan
pelajaran adalah program belajar mengajar dalam satuan terkecil misalnya untuk 40
21
H. Abu Ahmadi & Drs. Ahmad Rohani. H. M., Op. Cit., hal. 63.
22
Muhammad Ali,Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, 1992, hal. 4-5.
23
Conny Seniawan dkk, Pendekatan Ketrampilan Proses, PT. Gramedia Widia Surana
Indonesia, Jakarta, 1992, hal. 35.
12
menit yang memuat tujuan instruksional, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar,
metode dan alat bantu mengajar serta evaluasi/penilaian hasil belajar.24
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa unsur yang harus ada dalam
perencanaan pelajaran atau satuan pelajaran adalah:
a. Tujuan instruksional
b. Bahan pengajaran
c. Kegiatan belajar
d. Metode dan alat bantu mengajar
e. Evaluasi/penilaian
Mengenai hal di atas dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Menentapkan tujuan instruksional
Tujuan pengajaran berkenaan dengan hasil belajar. Oleh karena itu isi tujuan
harus mengandung berbagai hasil belajar. Hasil belajar dibedakan menjadi tiga
katagori yakni kognitif, afektif dan psikomotor.
Ada beberapa syarat dalam merumuskan tujuan pengajaran khusus. Pertama,
rumusan tujuan harus berpusat pada perubahan tingkah laku sasaran didik/siswa.
Kedua, rumusan tujuan pengajaran khusus harus berisikan tingkah laku operasional.
Ketiga, rumusan tujuan berisikan makna dari pokok bahasan yang akan diajarkan
saat itu.
b. Menetapkan bahan pelajaran
24
Nana Sudjana, Op. Cit., hal. 137
13
Bahan pelajaran adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat
berlangsungnya proses belajar mengajar. Melalui bahan ini siswa diantarkan kepada
tujuan pengajaran.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bahan
pengajaran:
a. Bahan harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan
b. Bahan yang ditulis dalam perencanaan mengajar terbatas pada konsep
saja, atau berbentuk garis besar, bahan tidak pula diuraikan secara terinci.
c. Menetapkan bahan pengajaran harus serasi dengan urutan tujuan.
d. Urutan bahan hendaknya memperhatikan kesinambungan.
e. Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang komplek, dari yang
mudah menuju yang sulit, dari yang kongkret menuju yang abstrak.
f. Sifat bahan ada yang faktual dan yang konseptual.25
c. Menetapkan kegiatan belajar mengajar
Erat kaitannya dengan bahan pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar.
Kegiatan belajar mengajar mengacu kepada hal-hal yang berhubungan dengan
kegiatan siswa dalam mempelajari bahan yang sampaikan guru. Sedangkan kegiatan
mengajar berhubungan dengan cara guru menjelaskan kepada siswa.
Oleh karena itu kegiatan etar hubungannaya dengan metode mengajar. Maka
menetapkan kegiatan belajar mengajar: “Maksudnya membuat gambaran tentang
pokok-pokok kegiatan yang akan dilakukan oleh guru dan murid selama proses
mengajar itu berlangsung, sesuai dengan bahan yang telah disusun.26
d. Menetapkan metode dan alat bantu mengajar
1. Menetapkan/memilih metode mengajar
25
Ibid., Hal. 69-70
26
Imansjah Alipandie, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, Usaha Nasional, Jakarta, hal.
164.
14
Metode mengajar ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Metode yang baik
adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa.
Dalam hal ini guru ialah memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan
proses belajar mengajar. Ketepatan pemilihan dan penggunaan metode tersebut
sangat bergantung kepada tujuan, isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar
mengajar.
2. Menetapkan alat peraga
Maksudnya alat-alat yang akan digunakan selama proses kegiatan belajar
mengajar berlangsung seperti buku paket, gambar, bagan dan lain-lain termasuk
sumber-sumber kepustakaan, yang kesemuanya menunjang untuk tercapainya tujuan
instruksional. Alat pelajaran ini dapat membantu guru dalam mengajar, karena itu
juga dapat disebut sebagai alat bantu mengajar. Pada dasarnya alat bantu mengajar
dibedakan menjadi tiga katagori alat bantu sebagai media instruksional pengajaran
yaitu:
a. Media cetak;
b. Media elektronik;
c. Lainnya.27
Media cetak sebagai alat bantu pengajaran dapat berupa bahan tertulis dan
dicetak, seperti buku-buku teks, majalah, diktat, modul, atau bahan ajar yang lain.
Adapun media cetak disini dapat berupa self construction (dapat dipelajari tanpa
pengajar) dan bukan self construction/buku teks. Sedangkan media elektronik
sebagai alat bantu mengajar dapat berupa audio-visual, film strips, cassete, televisi,
radio, overhead projektor dan slide. Alat bantu mengajar yang lain dapat berupa
kapur tulis, pensil, fulpen, papan tulis dan benda-benda yang lain yang dapat di pakai
sebagai alat peraga atau alat bantu mengajar.28
e. Menetapkan alat evaluasi
27
Soekartawai, Op. Cit., hal 23
28
Ibid., hal. 24
15
Menetapkan alat evaluasi di sini dimaksudkan untuk menilai sampai di mana
para murid menguasai kemampuan-kemampuan yang akan diperolehnya sehubungan
dengan tujuan instruksional yang telah diperolehnya sehubungan dengan tujuan
instruksional yang telah dirumuskan baik umum maupun khusus, berikut bahan,
kegiatan serta alat-alat pelajaran yang telah ditetapkan.
Dalam hal ini terkebih dahulu harus ditentukan jenis tes apakah yang dipakai
(tes tertulis, tes lisan atau tes perbuatan). Setelah itu durumuskan pertanyaan (item)
untuk setiap tujuan. Mungkin sekali untuk satu tujuan instruksional khusus,
dirumuskan dalam beberapa pertanyaan tes dalam bentuk:
o Uraian atau essay
o Tes objrktif dapat dipilih antara lain: Bentuk pertanyaan betul atau salah,
pilihan ganda, memasangkan, isian dan jawaban singkat.29
2. Penentuan Strategi Pengajaran
Telah disebutkan di atas bahwa aktivitas guru dalam pengelolaan pengajaran
diantaranya adalah menentukan strategi pengajaran. Hal itu dilakukan juga pada saat
perencanaan atau persiapan.
Strategi belajar mengajar pada hakikatnya adalah merupakan rencana
krgiatan belajar mengajar yang dipilih oleh guru untuk dilaksanakan, baik oleh siswa
maupun guru dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Adapun kriteria yang biasanya di pakai dalam memilih strategi adalah: efesiensi,
efektivitas dan keterlibatan siswa.30
29
Imansjah Alipandie, Op. Cit, hal. 165
30
Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester SKS, Bumi Aksara,
Jakarta, Mei 1991, hal 126.
16
Didalam buku Slameto disebutkan strategi adalah suatu rencana tentang cara-
cara pendayagunaan dan penggunaan potensi dan semua yang ada untuk
meningkatkan efektifitas dan efesiensi (pengajaran).31
Sedangkan defenisi Strategi mengajar (pengajaran) adalah:
Taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar
(pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai
tujuan (TIK) secara efektif dan efesian.32
Didalam strategi mengajar terdapat beberapa hal yang terkait yaitu metode
belajar mengajar, teknik mengajar, dan alat bantu (media) pengajaran.
B. Memilih informasi/menyampaian bahan pelajaran yang telah direncanakan atau
melaksanakan rencana (pelaksanaan program).
Tugas guru selanjutnya dalam pengelolaan setelah menyusun rencana dan
penentuan strategi adalah melaksanakan rencana (pelaksanaan program) atau
menyampaikan bahan pelajaran pada waktu proses belajar mengajar berlangsung.
Di atas telah dijelaskan tugas guru sebelum menyampaikan bahan pelajaran adalah
menyusun rencana yang meliputi tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi atau
penilaian. Untuk itu dalam pengelolaan pengajaran masing-masing komponen itu
harus berjalan secara teratur, saling bergantungan, komplementer dan
berkesinambungan, maka tugas guru adalah berupaya mengatur atau mengendalikan
komponen-komponen pengajaran yang telah direncanakan (disusun), agar dapat
mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengaturan atau pengendalian komponen-komponen itu tergambar atau
terlaksana dengan strategi mengajar yang dilakukan guru, sebagaimana dikatakan
bahwa:
31
Ibid., hal. 90.
32
Nana Sudjana, Op. Cit, hal. 147.
17
Strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar.
Artinya, usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran
(tujuan, bahan, metode, dan alat serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi
para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.33
Dari kutipan di atas maka jelaslah bahwa tindakan guru melaksanakan
tindakan mengajar adalah dengan strategi mengajar, artinya bagaimana guru
mencapai tujuan yang telah ditetapkan, bagaimana memanfaatkan bahan,
menggunakan metode dan penerapan alat peraga, serta melaksanakan evaluasi untuk
mengukur pencapaian tujuan yang diharapkan pada siswa.
Untuk lebih jelasnya pengelolaan seluruh proses kegiatan belajar mengajar itu
sehubungan dengan strategi pengajaran, “Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan
guru dalam melaksanakan strategi mengajar. Pertama adalah tahapan mengajar.
Kedua adalah penggunaan model atau pendekatan mengajar. Ketiga penggunaan
prinsip mengajar.”34
1. Tahap Mengajar
Pada tahapan ini ada tiga tahapan pokok dalam strategi mengajar yakni tahap
pemula (pra instruksional), tahap pengajaran (instruksional), tahap penilaian dan
tindak lanjut.
A. Tahap Pra Instruksional
33
Ibid.
34
Nana Sudjana, Loc. Cit., hal. 147
18
Tahap pra instruksional adalah tahap yang ditempuh guru pada saat ia
memulai proses belajar mengajar. Kegiatan yang dilakukan guru adalah:
a. Guru menanyakan kehadiran siswa, dan memcatat siapa yang tidak hadir.
b. Bertanya kepada siswa, sampai di mana pembahasan pelajaran sebelumnya.
Bukan berarti guru telah lupa tetapi untuk mengingatkan, menguji atau
mengecek pelajaran yang telah diberikan.
c. Menyajukan pertanyaan kepada siswa sekelas atau siswa tertentu tentang
bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya, untuk mnegetahui sampai
dimana pemahaman materi yang telah diberikan.
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan
pelajaran yang belum dikuasainya dari pengajaran yang telah dilaksanakan
sebelumnya.
e. Mengulangi kembali bahan pelajaran yang lalu (bahan pelajaran
sebelumnya).35
B. Tahap Instruksional
Tahap ini adalah tahap pengajaran atau tahap inti yakni tahapan memberikan
bahan pelajaran yang telah disusun guru sebelumnya. Beberapa kegiatan yang
dilakukan ialah:
a. Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa.
Sebaiknya tujuan tersebut ditulis secara ringkas di papan tulis, sehingga
dapat dibaca dan dipahami oleh semua siswa.
b. Menuliskan pokok materi yang akan dibahas hari itu yaitu materi yang
sesuai dengan silabus dan tujuan pengajaran.
c. Membahas pokok materi yang telah dituliskan.
d. Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-
contoh kongkrit. Demikian pula siswa harus diberikan pertanyaan atau
tugas, untuk mengetahui tingkat pemahaman dari sertiap pokok materi
yang telah dibahas. Jika siswa belum memahaminya, maka guru harus
mengulang kembali materi yang diberikan.
e. Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan setiap
pokok materi sangat diperlukan.
f. Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi, dapat
dilakukan oleh guru, guru bersama siswa dan siswa secara bersama.36
C. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut
35
Ibid., hal, 148-149
36
Ibid., hal. 149-150
19
Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari
tahapan kedua (instruksional). Kegiatan yang dilakukan ialah:
a. Mengajukan pertanyaan kepada siswa sekelas, atau kepada
beberapasiswa, mengenai semua pokok materi yang telah dibahas pada
tahapan kedua.
b. Apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa,
kurang dari 70 % maka guru harus mengulangi kembali materi yang
belum dikuasai siswa.
c. Guru memberi tugas atau pekerjaan rumah yang ada hubungannya
dengan topik atau pokok materi yang telah dibahas.
d. Akhiri pelajaran dengan memjelaskan atau memberi tahu pokok materi
yang akan dibahas pada pengajaran berikutnya.37
2. Pendekatan Mengajar
Tinggi rendahnya kegiatan belajar banyak dipengaruhi oleh pendekatan
mengajar yang digunakan guru. Bruce Joyce mengemukakan empat kategori yakni:
Model informasi
Model personel
Model Intraksi Sosial
Model tingkah laku
3. Prinsip Mengajar
Prinsip mengajar merupakan usaha guru dalam rangka menciptakan dan
mengkondisikan situasi belajar mengajar sehingga siswa melakukan kegiatan belajar
mengajar secara optimal.38 Dalam menggunakan prinsip mengajar guru bisa
merencanakan sebelumnya dan guru juga bisa melaksanakan secara spontan pada
saat berlangsungnya proses belajar mengajar, terutama bila kondisi belajar siswa
37
Ibid., hal. 151-152
38
Ibid., hal. 160
20
menurun. Beberapa prinsip belajar yang paling utama harus digunakan guru antara
lain, prinsip motivasi, kooperasi dan kompetisi dan integrasi, aplikasi dan
transformasi, individualitas.39
4. Evaluasi/penilaian
Setelah menyusun perencanaan dan strategi serta penyampaian informasi atau
melaksanakan perencanaan tersebut, maka tugas guru sehubungan dengan
pengelolaan pengajaran selanjutnya adalah penilaian (evaluasi).
Pada umumnya ada tiga sasaran pokok penilaian, yaitu:
a. Segi tingkah laku
b. Segi pendidikan
c. Segi yang menyangkut proses mengajar dan belajar itu sendiri.
Adapun bentuk-bentuk evaluasi terhadap siswa biasanya dapat berupa, antara
lain, yaitu :
a. Evaluasi, bahwa siswa telah menyelesaikan seperangkat program yang
diberikan,
b. Ujin tertulis
c. Ujian lisan
d. Ujian memilih alternatif dari berbagai kemungkinan atau sering di sebut
dengan istilah ujian pilihan berganda,
e. Ujian memilih alternatif dari dua kemungkinan (memilih benar atau salah
yang biasanya dengan true – false – test),
f. Ujian penampilan (performance).40
Untuk mengetahui lebih jelas apa yang dimaksud evaluasi ini akan
dikemukakan beberapa pendapat para ahli;
Zuhairini mengatakan:
Yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan agama ialah suatu kegiatan untuk
menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan di dalam pedidikan agama.
39
Ibid
40
Soekartawi, Op. Cit., hal. 25
21
Evaluasi adalah alat untuk mengukur sampai dimana penguasaan murid
terhadap bahan pedidikan yang telah diberikan.41
Adapun teknik yang digunakan dalam melaksanakan evaluasi yaitu:
a. Teknik test;
b. Teknik bukan test.42
2. Konsep Operasional
Konsep operasional adalah untuk menjabarkan teori-teori dalam bentuk
kongkrit agar mudah diukur dilapangan serta mudah dipahami.
Adapun pelaksanaan tugas guru dalam pengelolaan pengajaran pendidikan agama
Islam dapat dikatakan baik melalui indikator-indikator di bawah ini:
1. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam membuat
perencanaan pelajaran (satpel)
2. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam sebelum
mengajar menertibkan kelas
3. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam sebelum
mengajar memberikan pree test kepada siswa.
4. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam
menyampaikan materi pelajaran dengan baik sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan baik TIU maupun TIK.
5. Guru pendidikan agama Islam dalam megelola pengajaran
menggunakan metode yang bervariasi sesuai dengan bahan dan tujuan
pengajaran.
6. Guru pendidikan agama Islam dalam megelola pengajaran
menggunakan alat bantu untuk mendukung proses pengajaran.
41
Zuhairini dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Usaha Nasional, Surabaya, 1981, hal.
154
42
H. Muhammad Ali, Op. Cit., hal. 116
22
7. Dalam mengelola pengajaran , guru pendidikan agama Islam
memberikan pertanyaan kepada siswa sewaktu proses belajar mengajar
berlangsung.
8. Guru pendidikan agama Islam dalam megelola pengajaran mengulang
kembali pelajaran yang belum dimengerti dan dipahami oleh siswa.
9. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam
menginformasikan kepada siswa bahan dan sumber pelajaran yang akan
dipelajari setelah pengajaran selesai.
10. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam sebelum
mengakhiri pengajaran memberikan post test kepada siswa.
G. Metode Penelitian
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan Duri
Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, penelitian ini dilakukan sejak bulan
Februari 2007.
2. Subjek dan Objek Penelitian
Adapun ynag menjadi subjek pada penelitian ini adalah guru Pendidikan
agama Islam sedangkan yang menjadi objek adalah pelaksanaan pengelolaan
pengajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan
Duri Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis.
3. Populasi dan Sampel
23
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar
pendidikan agama Islam Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan Duri Kecamatan
[Link] Jumlah guru tersebut adalah dua orang. Untuk itu dalam penelitian
ini penulis tidak mengambil sampel tetapi mengambil semua populasi yang ada.
Menurut Suharsimi Arikunto dalam penentuan besarnya sampel penelitian
“Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi”.43
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Didalam pengumpulan data ini penulis memperhatikan dan mengamati secara
langsung terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas guru dalam
mengelola pengajaran pada waktu proses belajar mengajar berlangsung di kelas.
b. Wawancara/interview
Didalam pengumpulan data ini penulis mengadakan wawancara langsung
kepada Kepala Sekolah Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan dan guru, sebagai
pelengkap data yang penulis butuhkan.
c. Dokumentasi
Instrument ini dipergunakan untuk mencari data-data tertulis yang berkaitan
dengan keadaan (profil, kurikulum, nilai siswa), data ini digunakan sebagai data
pendukung.
5. Teknik Analisa Data
43
Suharsimi Arikunto, Prosedur Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hal.
108
24
Karena sifat data dalam penelitian ini adalah deskriptif, maka data yang
sudah terkumpul dianalisa secara kwantitatif, yaitu dengan menjumlahkan dan
dibandingkan jumlah yang diharapkan dan diperoleh prosentase, kemudian
ditafsirkan dengan kalimat yang baik. Teknik ini sering disebut dengan teknik
deskriptif kwalitatif dengan persentase. Dengan demikian menggunakan standar
sebagai berikut:
1. Baik, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan Agama
Islam 76 % s/d 100 %
2. Cukup, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan
Agama Islam 56 % s/d 75 %
3. Kurang Baik, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan
Agama Islam 40 % s/d 55 %
4. Tidak Baik, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan
Agama Islam 40 %.44
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
. 2002. Prosedur Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka
Cipta.
44
Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, hal. 244
25
Badudu, J.S. 1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan.
Darajat, Zakiah. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang, Cet-15.
Departemen Agama RI. 1989. Alquran dan Terjemahannya. Surabaya : Surat Ad-
Zariat : 59, Mahkota, Ed-Revisi.
Hamadi, Abu & Rohani, Ahmad. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka
Cipta,
Hasibuan, J.J. dan Moejono. 1988. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Jalaluddin. 1998. Psikologi Agama. Jakarta : PT. Raju Grafindo Persada, Ed-1,
Cet-3,
Nasution, S. 1986. Didaktik dan Azas-azas Mengajar. Bandung : Jemmars.
Setiawan, Conny. dkk. 1992. Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta : PT.
Gramedia Surana Indonesia.
Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :
Rineka Cipta,
. 1991. Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester SKS,
Jakarta : Bumi Aksara.
Sorkartawi. 1995. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. Jakarta : Pustaka Jaya.
Sudjana, Nana. 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru
Algensindo.
Suparno. 1987. Dimensi-dimensi Menagajar. Bandung : Sinar Baru.
26
Syah, Hidayah. 1999. Psykologi Agama. Pekanbaru : Bagian II (Diktat), Fakultas
Ushuluddin, IAIN SUSQA.
Zuhairini, dkk. 1983. Metodik Khusus Pendekatan Agama. Surabaya : Usaha
Nasional.
27