0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Pengelolaan Pengajaran Agama Islam SD

Studi ini bertujuan untuk meneliti pelaksanaan pengelolaan pengajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan Duri Kecamatan Mandau. Penelitian ini penting karena pengelolaan pengajaran berhubungan langsung dengan pencapaian tujuan pengajaran. Gejala yang mendorong penelitian ini adalah masih terdapatnya kekurangan guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan proses pengajaran.

Diunggah oleh

Vidya Nabila Rahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Pengelolaan Pengajaran Agama Islam SD

Studi ini bertujuan untuk meneliti pelaksanaan pengelolaan pengajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan Duri Kecamatan Mandau. Penelitian ini penting karena pengelolaan pengajaran berhubungan langsung dengan pencapaian tujuan pengajaran. Gejala yang mendorong penelitian ini adalah masih terdapatnya kekurangan guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan proses pengajaran.

Diunggah oleh

Vidya Nabila Rahma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI TENTANG PELAKSANAAN PENGELOLAAN PENGAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR SWASTA 81

HUBBULWATHAN DURI KEC. MANDAU

A. Latar Belakang

Guru mempunyai peran yang sangat besar dalam meningkatkan mutu

pendidikan serta menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan itu sendiri.

Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk mendorong,

membimbing dan memberi fasilitas belajar bagi murid-murid untuk mencapai tujuan.

Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi didalam

kelas, untuk membantu proses perkembangan anak.

Tugas guru sacara terperinci adalah memberikan arah dan motifasi untuk

mencapai tujuan pengajaran baik jangka pendek maupun jangka panjang, memberi

fasilitas berupa pengalaman belajar yang memadai serta membantu siswa dalam

pengembangan diri seperti sikap, nilai dan penyesuaian diri 1

Tugas-tugas tersebut harus direalisasikan oleh guru dalam proses pengajarannya.

Didalam buku Proses Belajar Mengajar dituliskan bahwa pengajaran adalah :

“penciptaan sistem lingkungan yang saling mempengaruhi yaitu tujuan instruksional

yang ingin dicapai, materi yang diajarkan guru, siswa, kegiatan belajar mengajar dan

sarana”.2 Maka guru sabagai pelaksana pengajaran

1
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta,
Jakarta, 1991, Hal. 99.
2
J.J. Hasibuan dan Moejono, Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung,
1988, Hal. 3.

1
sangat dituntut untuk bisa mendukung terjadinya proses belajar yang datangnya dari

minat murid, bukannya terpaksa.

Sebagai pendidik guru harus memiliki kemampuan didalam pengelolaan

pengajaran, dalam rangka menciptakan serta mengantar anak didik kepada situasi

belajar yang baik. Nana Sudjana menjelaskan bahwa :

Keterpaduan proses balajar siswa dengan proses mengajar guru sehingga


terjadi interaksi belajar mengajar (terjadinya proses pengajaran) tidak datang
begitu sajadan tidak dapat tumbuh tanpa pengaturan dan perencanaan yang
seksama. Pengaturan sangat diperlukan terutama dalam menentukan
komponen dan variabel yang harus ada dalam proses pengajaran tersebut.
Perencanaan dimaksud merumuskan dan menetapkan interaksi sejumlah
komponen dan variabel sehingga memungkinkan terselenggaranya
pengajaran yanh efektif.3

Agar terselenggaranya pengajaran diperlukan adanya aktifitas-aktifitas

pengaturan dan perencanaan terhadap komponen- komponen pengajaran.

Oleh sebab itu diperlukan pengelolaan pengajaran, sebagaimana dikatakan bahwa :

Pengajaran merupakan aktifitas proses yang sistematis dan sistematik yang


terdiri banyak komponen. Masing-masing komponen pengajaran tidak
bersifat patial (terpisah), atau berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berjalan
secara teratur, saling bergantungan, komplementer, bersinambungan untuk itu
diperlukan pengelolaan pengajaran yang baik.4
Menurut Suparno, dalam Dimensi-dimensi Mengajar bahwa: “Pengelolaan

pengajaran adalah suatu aktifitas yang berhubungan langsung dengan pencapaian

tujuan pengajaran”.5 dan didalam buku Pengelolaan Pengajaran dikatakan bahwa

tugas dan tanggung jawab utama guru/pengajar adalah mengelola pengajaran

3
Nana Sudjana, Dasar-dasar proses belajar mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung,
1995, hal. 29
4
H. Abu Hamadi & Ahmad Rohani. H. M. Pengelolaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta,
Januari 1991, hal. 1
5
Suparno dkk., Dimensi-dimensi Mengajar, Sinar Baru, Bandung, 1987, hal. 78

2
Pendidikan agama mempunyai status yang sangat kuat dan merupakan mata

pelajaran yang wajib diikuti oleh para siswa dan mahasiswa dari sekolah dasar

sampai pertuguruan tinggi.

Pendidikan Islam disini diartikan :

Sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung
jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan
potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan
sebagaimana hakikat kejadiannya.6

Jadi dalam pengertian ini pendidikan Islam tidak dibatasi oleh institusi

(kelembagaan) atau pada lapangan pendidikan tertentu. Adapun yang bertanggung

jawab dalam pengertian diatas ialah : orang tua. Seiring dengan tanggung jawab itu

maka para orang tua dan para guru dalam pendidikan Islam berfungsi dan berperan

sebagai pembina, pembimbing, pengembang serta pengarah potensi yang dimiliki

seorang anak agar mereka menjdi pengabdi Allah yang taat dan setia, sesuai dengan

hakikat penciptaan manusia.

Firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

menyembah-Ku”7

6
DR. Jalaluddin, Psikologi Agama, PT Raja Grafindo Persada, Ed-1, Cet-3, Jakarta, 1998,
hal. 19
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat Ad-Zari’at
7

59, Mahkota, Ed-Revisi , Surabaya, 1989, hal. 862

3
Disamping orang tua, guru agama mempunyai tugas yaitu ikut membina

pribadi anak disamping mengajarkan pengetahuan agama kepada anak. Setiap guru

agama harus menyadari, bahwa segala sesuatu pada dirinya merupakan unsur

pembinaan bagi diri anak didik. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh

Prof. DR. Zakiah Dradjad : “masa pendidikan di sekolah dasar, merupakan

kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak setelah orang

tua”.8

Pendidikan agama di sekolah dasar, merupakan dasar bagi pembinaan sikap

dan jiwa agama pada anak. Apabila guru agama mampu membina sikap positif

terhadap agama serta berhasil dalam membentuk pribadi anak dan akhlaknya, maka

ketika anak remaja ia telah memiliki bekal atau pegangan.

Patut diketahui bahwa agama pada anak-anak usia sekolah dasar, dalam pandangan

psikologi agama, tumbuh mengikuti pola “ideas concept on autority” dimana konsep

keagamaan pada diri anak masih dipengaruhi oleh unsur dari luar diri mereka, baik

orang tua, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekolah dimana anak menuntut

ilmu.9

Melihat dari tujuan dan fungsi pengajaran pendidikan agama Islam diatas,

maka dalam pelaksanaan pengajarannya guru diharapkan dapat mengelola dangan

baik, sehingga tujuan pengajaran yang diharapkan dapat tercapai.

8
Prof. DR. Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Cet-15, Jakarta, 1996,
hal. 57
Hidayat Syah, Psykologi Agama Bagian II (Diktat), Fakultas Ushuluddin, IAIN SUSQA,
9

Pekan Baru, 1993, hal. 3

4
Hal di atas relevan dengan apa yang dikemukakan S. Nasution : “mengajar

adalah suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan

mengembangkan dengan anak sehingga terjadinya proses belajar”.10

Sehubungan dengan hal diatas, maka tanpa kecuali Sekolah Dasar Swasta 81 yang

merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan kegiatan

belajar mengajar, tentunya guru dituntut untuk mengelola pengajaran dengan baik,

yang merupakan tugas dan tanggung jawabnya dalam kegiatan belajar mengajar, agar

aktifitas pengajaran dapat terlaksana dengan baik sehingga mencapai tujuan yang

harapkan.

Bila dilihat dari tenaga pengajar atau guru yang mengajar agama Islam di

Sekolah Dasar Swasta 81 , guru tersebut merupakan lulusan sarjana pendidikan dan

memiliki kemampuan dalam mengajar. Dengan demikian tentu guru tersebut telah

mengetahui dan memahami tentang bagaimana pelaksanaan tugasnya dalam

pengelolaan pengajaran.

Namun berdasarkan kenyataan empiris yang penulis temukan di Sekolah

Dasar Swasta 81 , dimana terdapat kesenjangan dalam pelaksanaan pengelolaan

pengajaran pendidikan agama Islam. Hal ini dapat terlihat dari gejala-gejala sebagai

berikut :

1. Masih ada guru yang tidak membuat satuan pelajaran sebelum mengajar

2. Guru sering tidak sempat menuntaskan materi palajaran karena karena kahabisan

waktu.

3. Guru tidak mempersiapkan bahan pelajaran sebelum masuk ke kelas.

4. Dalam mengajar guru jarang memakai metode yang bervariasi


10
S. Nasution, Didaktik dan Azas-azas Mengajar, Jemmars, Bandung, 1986, hal. 8

5
5. Guru kurang memberikan motivasi pada murid –murid.

Berdasarkan gejala di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian

dalam masalah ini dengan judul : “Studi Tentang Pelaksanaan Pengelolaan

Pengajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta 81

Hubbulwathan Duri Kecamatan Mandau”.

B. Alasan Memilih Judul

1. Masalah ini menarik untuk diteliti, karena pengelolaan pengajaran adalah

merupakan aktivitas yang berhubungan langsung dengan pencapaian tujuan

pengajaran, maka apabila pengelolaan baik, akan baik pula pencapaian tujuan

pengajaran.

2. Masalah ini memerlukan pemecahan dan pemikiran yang sifatnya membangun

demi kelancaran proses pengajaran.

3. Masalah ini selaras dengan bidang studi yang penulis tekuni yaitu masalah

pendidikan, dalam hal ini penulis merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan

dan perkembangan pendidikan itu sendiri.

4. Penelitian ini terjangkau oleh peneliti baik dari segi waktu, tenaga dan biaya.

C. Penegasan Istilah

Untuk memahami kesalah pahaman dalam memahami judul penulisan ini,

maka perlu diberi penjelasan istilahnya sebagai berikut :

Studi adalah : “Kajian , telaah, penelitian yang bersifat ilmiah.11

11
J.S. Badudu, Prof. Sultan Mohammad Zein, Kamus Umum Bahsa Indonesia, PUstaka
Sinar Harapan, Jakarta, 1994, hal. 1358

6
Pelaksanaan adalah : “Prihal (perbuatan, usaha dan lain-lain), melaksanakan

(rancangan dan sebagainya)”.12 Pelaksanaan juga diartikan

dengan proses, cara, perbuatan melaksanakan (rancangan,

keputusan, dsb).13 Pelaksanaan yang dimaksudkan disini

adalah pelaksanaan tugas guru dalam pengelolaan

pengajaran pendidikan agama Islam

Pengelolaan adalah: “Proses, cara, perbuatan mengelola.14

Sehubungan dengan pengelolaan pengajaran, maka pengelolaan pengajaran adalah:

Suatu upaya untuk mengatur (memenej, mengendalikan) aktivitas pengajaran


berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengajaran untuk
mensukseskan tujuan pengajaran agar tercapai secara lebih efektif, efesien
dan produktif yang diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan,
diakhiri dengan penilaian, dan dari penilaian akan dapat dimanfaatkan
sebagai feed back (umpan balik) bagi perbaikan program lebih lanjut.15
Adapun pelaksanaan pengelolaan pengajaran pendidikan agama Islam yang

dimaksud dalam penelitian ini adalah upaya guru pendidikan agama Islam untuk

mengatur dan mengendalikan kegiatan pengajaran berdasarkan konsep dan prinsip

pengajaran, diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan penilaian sebabai feed

back, sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.

D. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

a. Bagaimana pelaksanaan tugas guru dalam pengelolaan pengajaran

pendidikan agama Islam di SDS 81 Duri Kec. Mandau ?

12
W. J. S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1991,
hal. 22
13
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Balai Putaka, Jakarta, 1980, hal. 554
14
Ibid, hal. 470
15
H. Abu Ahmadi & Drs. Ahmad Rohami, H. M., Op, Cit., hal. 2

7
b. Bagaimana usaha guru dalam meningkatkan prestasi siswa dalam mata

pelajaran pendidikan agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec.

Mandau ?

c. Bagaimana minat siswa dalam mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam

di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec. Mandau ?

d. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pelaksanaan pengelolaan

pendidikan agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec. Mandau ?

e. Bagaimana kemampuan guru untuk menjalankan tugasnya dalam pengelolaan

pendidikan agama Islam di SDS 81 Duri Kec. Mandau ?

2. Pembatasan Masalah

Agar tidak terlalu luas pembahasan ini dan supaya tidak terjadi kesalahan

dalam memahaminya maka penulis membatasi pembahasan ini pada: Pelaksanaan

Pengelolaan Pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri

Kec. Mandau.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka dapat penulis rumuskan

permasalahan tersebut sebagai berikut: Bagaimanakah Pelaksanaan Pengelolaan

Pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri Kec. Mandau,

dan apa faktor yang mempengaruhi pelaksanakan pengelolaan pengajaran

Pendidikan Agama Islam.

8
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang pelaksanaan

pengelolaan pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Hubbulwathan Duri

Kec. Mandau dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. Manfaat atau Kegunaan Penelitian

Adapun manfaat atau kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Sebagai sumbangan pemikiran yang ilmiyah terhadap ilmu pengetahuan.

b. Sebagai bahan informasi bagi guru-guru dan para pembaca khususnya

mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam tentang Pelaksanaan

Pengelolaan Pengajaran Pendidikan Agama Islam di SDS 81 Duri Kec.

Mandau.

c. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan studi akhir penulis

pada Jurusan Pendidikan Agama Islam di STAI Duri.

F. Kerangka Teoritis dan Konsep Operasional

1. Kerangka Teoritis

Untuk menghindari kesalahan dalam memahami kajian ini sebagai landasan

berpijak, maka perlu adanya kerangka teoritis yang berhubungan dengan kajian ini.

Pelaksanaan adalah: “prihal (perbuatan, usaha dan lain-lain), melaksanakan

(rancangan dan sebagainya)”[Link] ini difokuskan pada pelaksanaan yang

menjadi tanggung jawab seseorang, yaitu tanggung jawab tugas guru dalam

pengelolaan pengajaran.

16
W. J. S. Poerwadarminta, Loc, Cit., hal. 553

9
Sebelum membahas lebih lanjut tentang pengelolaan pengajaran perlu

diketahui bahwa di dalam melaksanakan tugasnya, seorang pengajar memerlukan

tiga hal penting, yaitu:

a. Bagaimana cara mengajar yang baik dan benar


b. Alat bantu mengajar yang dipakai
c. Cara evaluasi apa yang digunakan.17

Dengan mengetahui tiga hal penting di atas maka pengajar dalam mengajar

dapat terarah dan tujuan pengajaran yang diharapkan dapat juga tercapai dengan

baik. Di dalam kegiatan belajar mengajar guru harus dapat mengelola pengajaran

dengan baik, oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya guru tidak hanya

mengajar akan tetapi guru juga bertugas sebagai pengelola pengajaran. Adapun

pengelolaan pengajaran terdiri dari rangkaian dua kata yaitu pengelolaan dan

pengajaran. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia pengelolaan diartikan: “proses,

cara, perbuatan mengelola.18 Sedangkan pengajaran adalah: “penciptaan sistem

lingkungan yang saling mempengaruhi yaitu tujuan instruksional yang ingin di capai,

materi yang diajarkan guru, siswa, kegiatan belajar mengajar dan sarana”.19

Untuk lebih jelasnya sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ahmadi dan

Ahmad Rohani sebagai berikut:

Pengertian pengelolaan pengajaran adalah mengacu pada suatu upaya untuk


mengatur (memenrj, mengendalikan) aktifitas pengajaran berdasarkan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengajaran untuk mensukseskan tujuan
pengajaran agar tercapai secara lebih efektif, efesien dan produktif yang
diawali dengan penentuan strategi dan perencanaan, diakhiri dengan
penilaian, dan dari penilaian akan dapat dimanfaatkan sebagai feet back
(umpan balik) bagi perbaikan program lebih lanjut.20

17
Sorkartawi, Meningkatkan Efektifitas Mengajar, Pustaka Jaya, Jakarta, Januari 1995, hal.
1
18
J. S. Badudu, Prof. Sultam Mohammad Zein, Loc. Cit., hal. 1358
19
J. J. Hasibuan & Moejono, Loc. Cit., hal. 3
20
Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani, Loc, Cit., hal. 2

10
Berdasarkan dari kutipan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengelolaan

pengajaran adalah upaya mengatur (memenej, mengendalikan) aktivitas pengajaran,

dimana aktivitas pengajaran itu adalah penentuan strategi dan penyusunan

perencanaan, memberikan informasi atau penyampaian materi, bertanya dan diahiri

dengan penilaian untuk mencapai tujuan pengajaran.

Maka dapatlah dikemukakan disisni tugas guru dalam pengelolaan

pengajaran secara garis besarnya adalah menyangkut dengan:

 Menyususun perencanaan dan penentuan strategi pengajaran

 Memberikan informasi/menyampaikan bahan pelajaran yang telah

direncanakan untuk melaksanakan rencana

 Penilaian atau evaluasi

Untuk lebih jelasnya, dapat diuraikan beberapa hal yang menyangkut dengan

pelaksanaan tugas guru terhadap aktivitas pengajaran di dalam pengelolaan.

A. Perencanaan pengajaran (disain pengajaran) dan strategi pengajaran.

Persiapan/perencanaan merupakan tahap awal yang harus dilalui seorang

guru sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Dalam perencanaan/persiapan

ini, seorang guru menentukan strategi pengajaran sebagai langkah-langkah tindakan

atau taktik-taktik yang akan digunakan guru dalam proses belajar mengajar.

Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :

1. Perencanaan Pengajaran/Disain Pengajaran

Pengajaran atau peoses belajar mengajar adalah proses yang diatur

sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaannya mencapai

hasil yang diharapkan. Demikikan halnya dengan pelaksanaan mengajar,

11
memperkirakan (memproyeksi) mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada

waktu melaksanakan pengajaran. Sebagaimana dikatakan bahwa:

Disain atau perencanaan adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk


melaksanakan suatu tugas/pekerjaan atau untuk mengambil suatu keputusan
terhadap apa yang akan dilaksanakan oleh seseorang untuk mencapai tujuan
tertentu sebagimana yang telah ditetapkan dengan melalui prosedur atau
langkah-langkah tang sistematis dan memperhatikan prinsip-prinsip
pelaksanaan tugas/pekerjaan tersebut.21

Mengenai perencanaan ini, H. Muhammad Ali menjelaskan bahwa


perencanaan itu meliputi:
1. Tujuan apa yang hendak dicapai, yaitu bentuk-bentuk tingkah laku apa
yang diinginkan dapat dicapai atau dapat dimiliki oleh siswa setelah
terjadinya proses belajar mengajar.
2. Bahan pelajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan.
3. Bagaimana proses belajar mengajar yang akan diciptakan oleh guru agar
siswa mencapai tujuan secara efektif dan efesien.
4. Bagaimana menciptakan dan menggunakan alat untuk mengetahui atau
mengukur apakah tujuan itu tercapai atau tidak.22

Untuk merencanakan hal di atas menurut Conny Setiawan, seorang guru


harus memikirkan hal-hal sebagai berikut:
o Siswa sebagai orang yang terlibat dalam situasi belajar mengajar
o Waktu yang digunakan dalam pengajaran
o Urutan bagaimana materi akan dibahas
o Rangkaian perkembangan proses berpikir dan ketrampilan yang akan di
tumbuhkan pada siswa
o Alat peraga yang akan digunakan
o Penilaian pengajaran yang diberikan.23

Salah satu bentuk perencanaan pengajaran adalah satuan pelajaran. Satuan

pelajaran adalah program belajar mengajar dalam satuan terkecil misalnya untuk 40

21
H. Abu Ahmadi & Drs. Ahmad Rohani. H. M., Op. Cit., hal. 63.
22
Muhammad Ali,Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, 1992, hal. 4-5.
23
Conny Seniawan dkk, Pendekatan Ketrampilan Proses, PT. Gramedia Widia Surana
Indonesia, Jakarta, 1992, hal. 35.

12
menit yang memuat tujuan instruksional, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar,

metode dan alat bantu mengajar serta evaluasi/penilaian hasil belajar.24

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa unsur yang harus ada dalam

perencanaan pelajaran atau satuan pelajaran adalah:

a. Tujuan instruksional

b. Bahan pengajaran

c. Kegiatan belajar

d. Metode dan alat bantu mengajar

e. Evaluasi/penilaian

Mengenai hal di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Menentapkan tujuan instruksional

Tujuan pengajaran berkenaan dengan hasil belajar. Oleh karena itu isi tujuan

harus mengandung berbagai hasil belajar. Hasil belajar dibedakan menjadi tiga

katagori yakni kognitif, afektif dan psikomotor.

Ada beberapa syarat dalam merumuskan tujuan pengajaran khusus. Pertama,

rumusan tujuan harus berpusat pada perubahan tingkah laku sasaran didik/siswa.

Kedua, rumusan tujuan pengajaran khusus harus berisikan tingkah laku operasional.

Ketiga, rumusan tujuan berisikan makna dari pokok bahasan yang akan diajarkan

saat itu.

b. Menetapkan bahan pelajaran


24
Nana Sudjana, Op. Cit., hal. 137

13
Bahan pelajaran adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat

berlangsungnya proses belajar mengajar. Melalui bahan ini siswa diantarkan kepada

tujuan pengajaran.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bahan

pengajaran:

a. Bahan harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan


b. Bahan yang ditulis dalam perencanaan mengajar terbatas pada konsep
saja, atau berbentuk garis besar, bahan tidak pula diuraikan secara terinci.
c. Menetapkan bahan pengajaran harus serasi dengan urutan tujuan.
d. Urutan bahan hendaknya memperhatikan kesinambungan.
e. Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang komplek, dari yang
mudah menuju yang sulit, dari yang kongkret menuju yang abstrak.
f. Sifat bahan ada yang faktual dan yang konseptual.25

c. Menetapkan kegiatan belajar mengajar

Erat kaitannya dengan bahan pelajaran adalah kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan belajar mengajar mengacu kepada hal-hal yang berhubungan dengan

kegiatan siswa dalam mempelajari bahan yang sampaikan guru. Sedangkan kegiatan

mengajar berhubungan dengan cara guru menjelaskan kepada siswa.

Oleh karena itu kegiatan etar hubungannaya dengan metode mengajar. Maka

menetapkan kegiatan belajar mengajar: “Maksudnya membuat gambaran tentang

pokok-pokok kegiatan yang akan dilakukan oleh guru dan murid selama proses

mengajar itu berlangsung, sesuai dengan bahan yang telah disusun.26

d. Menetapkan metode dan alat bantu mengajar

1. Menetapkan/memilih metode mengajar


25
Ibid., Hal. 69-70
26
Imansjah Alipandie, Didaktik Metodik Pendidikan Umum, Usaha Nasional, Jakarta, hal.
164.

14
Metode mengajar ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan

hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Metode yang baik

adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa.

Dalam hal ini guru ialah memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan

proses belajar mengajar. Ketepatan pemilihan dan penggunaan metode tersebut

sangat bergantung kepada tujuan, isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar

mengajar.

2. Menetapkan alat peraga

Maksudnya alat-alat yang akan digunakan selama proses kegiatan belajar


mengajar berlangsung seperti buku paket, gambar, bagan dan lain-lain termasuk
sumber-sumber kepustakaan, yang kesemuanya menunjang untuk tercapainya tujuan
instruksional. Alat pelajaran ini dapat membantu guru dalam mengajar, karena itu
juga dapat disebut sebagai alat bantu mengajar. Pada dasarnya alat bantu mengajar
dibedakan menjadi tiga katagori alat bantu sebagai media instruksional pengajaran
yaitu:
a. Media cetak;
b. Media elektronik;
c. Lainnya.27

Media cetak sebagai alat bantu pengajaran dapat berupa bahan tertulis dan

dicetak, seperti buku-buku teks, majalah, diktat, modul, atau bahan ajar yang lain.

Adapun media cetak disini dapat berupa self construction (dapat dipelajari tanpa

pengajar) dan bukan self construction/buku teks. Sedangkan media elektronik

sebagai alat bantu mengajar dapat berupa audio-visual, film strips, cassete, televisi,

radio, overhead projektor dan slide. Alat bantu mengajar yang lain dapat berupa

kapur tulis, pensil, fulpen, papan tulis dan benda-benda yang lain yang dapat di pakai

sebagai alat peraga atau alat bantu mengajar.28

e. Menetapkan alat evaluasi


27
Soekartawai, Op. Cit., hal 23
28
Ibid., hal. 24

15
Menetapkan alat evaluasi di sini dimaksudkan untuk menilai sampai di mana

para murid menguasai kemampuan-kemampuan yang akan diperolehnya sehubungan

dengan tujuan instruksional yang telah diperolehnya sehubungan dengan tujuan

instruksional yang telah dirumuskan baik umum maupun khusus, berikut bahan,

kegiatan serta alat-alat pelajaran yang telah ditetapkan.

Dalam hal ini terkebih dahulu harus ditentukan jenis tes apakah yang dipakai

(tes tertulis, tes lisan atau tes perbuatan). Setelah itu durumuskan pertanyaan (item)

untuk setiap tujuan. Mungkin sekali untuk satu tujuan instruksional khusus,

dirumuskan dalam beberapa pertanyaan tes dalam bentuk:

o Uraian atau essay


o Tes objrktif dapat dipilih antara lain: Bentuk pertanyaan betul atau salah,
pilihan ganda, memasangkan, isian dan jawaban singkat.29

2. Penentuan Strategi Pengajaran

Telah disebutkan di atas bahwa aktivitas guru dalam pengelolaan pengajaran

diantaranya adalah menentukan strategi pengajaran. Hal itu dilakukan juga pada saat

perencanaan atau persiapan.

Strategi belajar mengajar pada hakikatnya adalah merupakan rencana

krgiatan belajar mengajar yang dipilih oleh guru untuk dilaksanakan, baik oleh siswa

maupun guru dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Adapun kriteria yang biasanya di pakai dalam memilih strategi adalah: efesiensi,

efektivitas dan keterlibatan siswa.30

29
Imansjah Alipandie, Op. Cit, hal. 165
30
Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester SKS, Bumi Aksara,
Jakarta, Mei 1991, hal 126.

16
Didalam buku Slameto disebutkan strategi adalah suatu rencana tentang cara-

cara pendayagunaan dan penggunaan potensi dan semua yang ada untuk

meningkatkan efektifitas dan efesiensi (pengajaran).31

Sedangkan defenisi Strategi mengajar (pengajaran) adalah:

Taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar


(pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai
tujuan (TIK) secara efektif dan efesian.32
Didalam strategi mengajar terdapat beberapa hal yang terkait yaitu metode

belajar mengajar, teknik mengajar, dan alat bantu (media) pengajaran.

B. Memilih informasi/menyampaian bahan pelajaran yang telah direncanakan atau

melaksanakan rencana (pelaksanaan program).

Tugas guru selanjutnya dalam pengelolaan setelah menyusun rencana dan

penentuan strategi adalah melaksanakan rencana (pelaksanaan program) atau

menyampaikan bahan pelajaran pada waktu proses belajar mengajar berlangsung.

Di atas telah dijelaskan tugas guru sebelum menyampaikan bahan pelajaran adalah

menyusun rencana yang meliputi tujuan, bahan, metode dan alat, serta evaluasi atau

penilaian. Untuk itu dalam pengelolaan pengajaran masing-masing komponen itu

harus berjalan secara teratur, saling bergantungan, komplementer dan

berkesinambungan, maka tugas guru adalah berupaya mengatur atau mengendalikan

komponen-komponen pengajaran yang telah direncanakan (disusun), agar dapat

mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengaturan atau pengendalian komponen-komponen itu tergambar atau

terlaksana dengan strategi mengajar yang dilakukan guru, sebagaimana dikatakan

bahwa:
31
Ibid., hal. 90.
32
Nana Sudjana, Op. Cit, hal. 147.

17
Strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar.
Artinya, usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran
(tujuan, bahan, metode, dan alat serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi
para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.33

Dari kutipan di atas maka jelaslah bahwa tindakan guru melaksanakan

tindakan mengajar adalah dengan strategi mengajar, artinya bagaimana guru

mencapai tujuan yang telah ditetapkan, bagaimana memanfaatkan bahan,

menggunakan metode dan penerapan alat peraga, serta melaksanakan evaluasi untuk

mengukur pencapaian tujuan yang diharapkan pada siswa.

Untuk lebih jelasnya pengelolaan seluruh proses kegiatan belajar mengajar itu

sehubungan dengan strategi pengajaran, “Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan

guru dalam melaksanakan strategi mengajar. Pertama adalah tahapan mengajar.

Kedua adalah penggunaan model atau pendekatan mengajar. Ketiga penggunaan

prinsip mengajar.”34

1. Tahap Mengajar

Pada tahapan ini ada tiga tahapan pokok dalam strategi mengajar yakni tahap

pemula (pra instruksional), tahap pengajaran (instruksional), tahap penilaian dan

tindak lanjut.

A. Tahap Pra Instruksional

33
Ibid.
34
Nana Sudjana, Loc. Cit., hal. 147

18
Tahap pra instruksional adalah tahap yang ditempuh guru pada saat ia

memulai proses belajar mengajar. Kegiatan yang dilakukan guru adalah:

a. Guru menanyakan kehadiran siswa, dan memcatat siapa yang tidak hadir.
b. Bertanya kepada siswa, sampai di mana pembahasan pelajaran sebelumnya.
Bukan berarti guru telah lupa tetapi untuk mengingatkan, menguji atau
mengecek pelajaran yang telah diberikan.
c. Menyajukan pertanyaan kepada siswa sekelas atau siswa tertentu tentang
bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya, untuk mnegetahui sampai
dimana pemahaman materi yang telah diberikan.
d. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan
pelajaran yang belum dikuasainya dari pengajaran yang telah dilaksanakan
sebelumnya.
e. Mengulangi kembali bahan pelajaran yang lalu (bahan pelajaran
sebelumnya).35

B. Tahap Instruksional

Tahap ini adalah tahap pengajaran atau tahap inti yakni tahapan memberikan

bahan pelajaran yang telah disusun guru sebelumnya. Beberapa kegiatan yang

dilakukan ialah:

a. Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa.


Sebaiknya tujuan tersebut ditulis secara ringkas di papan tulis, sehingga
dapat dibaca dan dipahami oleh semua siswa.
b. Menuliskan pokok materi yang akan dibahas hari itu yaitu materi yang
sesuai dengan silabus dan tujuan pengajaran.
c. Membahas pokok materi yang telah dituliskan.
d. Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-
contoh kongkrit. Demikian pula siswa harus diberikan pertanyaan atau
tugas, untuk mengetahui tingkat pemahaman dari sertiap pokok materi
yang telah dibahas. Jika siswa belum memahaminya, maka guru harus
mengulang kembali materi yang diberikan.
e. Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan setiap
pokok materi sangat diperlukan.
f. Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi, dapat
dilakukan oleh guru, guru bersama siswa dan siswa secara bersama.36

C. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut

35
Ibid., hal, 148-149
36
Ibid., hal. 149-150

19
Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari

tahapan kedua (instruksional). Kegiatan yang dilakukan ialah:

a. Mengajukan pertanyaan kepada siswa sekelas, atau kepada


beberapasiswa, mengenai semua pokok materi yang telah dibahas pada
tahapan kedua.
b. Apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa,
kurang dari 70 % maka guru harus mengulangi kembali materi yang
belum dikuasai siswa.
c. Guru memberi tugas atau pekerjaan rumah yang ada hubungannya
dengan topik atau pokok materi yang telah dibahas.
d. Akhiri pelajaran dengan memjelaskan atau memberi tahu pokok materi
yang akan dibahas pada pengajaran berikutnya.37

2. Pendekatan Mengajar

Tinggi rendahnya kegiatan belajar banyak dipengaruhi oleh pendekatan

mengajar yang digunakan guru. Bruce Joyce mengemukakan empat kategori yakni:

 Model informasi

 Model personel

 Model Intraksi Sosial

 Model tingkah laku

3. Prinsip Mengajar

Prinsip mengajar merupakan usaha guru dalam rangka menciptakan dan

mengkondisikan situasi belajar mengajar sehingga siswa melakukan kegiatan belajar

mengajar secara optimal.38 Dalam menggunakan prinsip mengajar guru bisa

merencanakan sebelumnya dan guru juga bisa melaksanakan secara spontan pada

saat berlangsungnya proses belajar mengajar, terutama bila kondisi belajar siswa
37
Ibid., hal. 151-152
38
Ibid., hal. 160

20
menurun. Beberapa prinsip belajar yang paling utama harus digunakan guru antara

lain, prinsip motivasi, kooperasi dan kompetisi dan integrasi, aplikasi dan

transformasi, individualitas.39

4. Evaluasi/penilaian

Setelah menyusun perencanaan dan strategi serta penyampaian informasi atau

melaksanakan perencanaan tersebut, maka tugas guru sehubungan dengan

pengelolaan pengajaran selanjutnya adalah penilaian (evaluasi).

Pada umumnya ada tiga sasaran pokok penilaian, yaitu:

a. Segi tingkah laku

b. Segi pendidikan

c. Segi yang menyangkut proses mengajar dan belajar itu sendiri.

Adapun bentuk-bentuk evaluasi terhadap siswa biasanya dapat berupa, antara

lain, yaitu :

a. Evaluasi, bahwa siswa telah menyelesaikan seperangkat program yang


diberikan,
b. Ujin tertulis
c. Ujian lisan
d. Ujian memilih alternatif dari berbagai kemungkinan atau sering di sebut
dengan istilah ujian pilihan berganda,
e. Ujian memilih alternatif dari dua kemungkinan (memilih benar atau salah
yang biasanya dengan true – false – test),
f. Ujian penampilan (performance).40

Untuk mengetahui lebih jelas apa yang dimaksud evaluasi ini akan

dikemukakan beberapa pendapat para ahli;

 Zuhairini mengatakan:

Yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan agama ialah suatu kegiatan untuk
menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan di dalam pedidikan agama.
39
Ibid
40
Soekartawi, Op. Cit., hal. 25

21
Evaluasi adalah alat untuk mengukur sampai dimana penguasaan murid
terhadap bahan pedidikan yang telah diberikan.41
Adapun teknik yang digunakan dalam melaksanakan evaluasi yaitu:
a. Teknik test;
b. Teknik bukan test.42

2. Konsep Operasional

Konsep operasional adalah untuk menjabarkan teori-teori dalam bentuk

kongkrit agar mudah diukur dilapangan serta mudah dipahami.

Adapun pelaksanaan tugas guru dalam pengelolaan pengajaran pendidikan agama

Islam dapat dikatakan baik melalui indikator-indikator di bawah ini:

1. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam membuat

perencanaan pelajaran (satpel)

2. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam sebelum

mengajar menertibkan kelas

3. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam sebelum

mengajar memberikan pree test kepada siswa.

4. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam

menyampaikan materi pelajaran dengan baik sesuai dengan tujuan yang

ditetapkan baik TIU maupun TIK.

5. Guru pendidikan agama Islam dalam megelola pengajaran

menggunakan metode yang bervariasi sesuai dengan bahan dan tujuan

pengajaran.

6. Guru pendidikan agama Islam dalam megelola pengajaran

menggunakan alat bantu untuk mendukung proses pengajaran.


41
Zuhairini dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Usaha Nasional, Surabaya, 1981, hal.
154
42
H. Muhammad Ali, Op. Cit., hal. 116

22
7. Dalam mengelola pengajaran , guru pendidikan agama Islam

memberikan pertanyaan kepada siswa sewaktu proses belajar mengajar

berlangsung.

8. Guru pendidikan agama Islam dalam megelola pengajaran mengulang

kembali pelajaran yang belum dimengerti dan dipahami oleh siswa.

9. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam

menginformasikan kepada siswa bahan dan sumber pelajaran yang akan

dipelajari setelah pengajaran selesai.

10. Dalam mengelola pengajaran, guru pendidikan agama Islam sebelum

mengakhiri pengajaran memberikan post test kepada siswa.

G. Metode Penelitian

1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan Duri

Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, penelitian ini dilakukan sejak bulan

Februari 2007.

2. Subjek dan Objek Penelitian

Adapun ynag menjadi subjek pada penelitian ini adalah guru Pendidikan

agama Islam sedangkan yang menjadi objek adalah pelaksanaan pengelolaan

pengajaran pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan

Duri Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis.

3. Populasi dan Sampel

23
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar

pendidikan agama Islam Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan Duri Kecamatan

[Link] Jumlah guru tersebut adalah dua orang. Untuk itu dalam penelitian

ini penulis tidak mengambil sampel tetapi mengambil semua populasi yang ada.

Menurut Suharsimi Arikunto dalam penentuan besarnya sampel penelitian

“Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga

penelitiannya merupakan penelitian populasi”.43

4. Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Didalam pengumpulan data ini penulis memperhatikan dan mengamati secara

langsung terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas guru dalam

mengelola pengajaran pada waktu proses belajar mengajar berlangsung di kelas.

b. Wawancara/interview

Didalam pengumpulan data ini penulis mengadakan wawancara langsung

kepada Kepala Sekolah Sekolah Dasar Swasta 81 Hubbulwathan dan guru, sebagai

pelengkap data yang penulis butuhkan.

c. Dokumentasi

Instrument ini dipergunakan untuk mencari data-data tertulis yang berkaitan

dengan keadaan (profil, kurikulum, nilai siswa), data ini digunakan sebagai data

pendukung.

5. Teknik Analisa Data

43
Suharsimi Arikunto, Prosedur Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hal.
108

24
Karena sifat data dalam penelitian ini adalah deskriptif, maka data yang

sudah terkumpul dianalisa secara kwantitatif, yaitu dengan menjumlahkan dan

dibandingkan jumlah yang diharapkan dan diperoleh prosentase, kemudian

ditafsirkan dengan kalimat yang baik. Teknik ini sering disebut dengan teknik

deskriptif kwalitatif dengan persentase. Dengan demikian menggunakan standar

sebagai berikut:

1. Baik, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan Agama

Islam 76 % s/d 100 %

2. Cukup, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan

Agama Islam 56 % s/d 75 %

3. Kurang Baik, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan

Agama Islam 40 % s/d 55 %

4. Tidak Baik, apabila telah melaksanakan pengelolaan pengajaran Pendidikan

Agama Islam 40 %.44

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

. 2002. Prosedur Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka

Cipta.

44
Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, 1996, hal. 244

25
Badudu, J.S. 1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar

Harapan.

Darajat, Zakiah. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang, Cet-15.

Departemen Agama RI. 1989. Alquran dan Terjemahannya. Surabaya : Surat Ad-

Zariat : 59, Mahkota, Ed-Revisi.

Hamadi, Abu & Rohani, Ahmad. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka

Cipta,

Hasibuan, J.J. dan Moejono. 1988. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja

Rosdakarya.

Jalaluddin. 1998. Psikologi Agama. Jakarta : PT. Raju Grafindo Persada, Ed-1,

Cet-3,

Nasution, S. 1986. Didaktik dan Azas-azas Mengajar. Bandung : Jemmars.

Setiawan, Conny. dkk. 1992. Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta : PT.

Gramedia Surana Indonesia.

Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta :

Rineka Cipta,

. 1991. Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester SKS,

Jakarta : Bumi Aksara.

Sorkartawi. 1995. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. Jakarta : Pustaka Jaya.

Sudjana, Nana. 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru

Algensindo.

Suparno. 1987. Dimensi-dimensi Menagajar. Bandung : Sinar Baru.

26
Syah, Hidayah. 1999. Psykologi Agama. Pekanbaru : Bagian II (Diktat), Fakultas

Ushuluddin, IAIN SUSQA.

Zuhairini, dkk. 1983. Metodik Khusus Pendekatan Agama. Surabaya : Usaha

Nasional.

27

Anda mungkin juga menyukai