BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Air Susu Ibu (ASI)
1. Pengertian
Air Susu Ibu adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose, dan
garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai
makanan utama bagi bayi (Andina, 2018).
Komposisi ASI terdiri dari:
a. ASI kolostrum, yaitu ASI yang dihasilkan pada hari 1-3, berwarna kekuningan
dan agak kental, bentuk agak kasar karena mengandung butiran lemak dan sel
epitel. Manfaat kolostrum adalah sebagai berikut:
1) Sebagai pembersih selaput usus Bayi Baru Lahir (BBL), sehingga saluran
pencernaan siap untuk menerima makanan.
2) Mengandung kadar protein yang tinggi terutama gamma globulin sehingga
dapat memberikan perlindungan tubuh terhadap infeksi.
3) Mengandung zat antibodi sehingga mampu melindungi tubuh bayi dari
berbagai penyakit infeksi untuk jangka waktu sampai 6 bulan.
b. ASI peralihan, yaitu ASI yang dihasilkan mulai hari ke-4 sampai hari ke-10.
c. ASI mature, yaitu dihasilkan mulai hari ke-10 sampai seterusnya.
Susu awal tampak lebih bening dibandingkan dengan susu akhir, susu awal
dihasilkan dalam jumlah lebih banyak dan mengandung banyak protein, laktosa dan
zat gizi lainnya. Susu akhir kelihatan lebih putih dari susu awal karena mengandung
lebih banyak lemak.
7
2. Manfaat ASI
a. Manfaat ASI untuk bayi
ASI memiliki semua kandungan nutrisi yang diperlukan bayi seperti air, lemak,
trigliserida, karbohidrat, laktosa, protein, vitamin, mineral, kalsium dan fosfor yang
tidak dapat ditemukan di susu formula ataupun susu lainnya. ASI juga mengandung
sel imun, antibodi yang banyak terdapat dalam kolostrum, laktoferin dalam ASI
dapat menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya didalam usus dan komponen
lain dalam ASI dapat mendorong kematangan sistem pencernaan yang dapat
melindungi bayi dari berbagai penyakit karena beberapa bulan setelah lahir bayi
belum dapat membentuk sendiri respon imun tubuhnya dengan sempurna sehingga
dengan memberikan ASI dapat membantu bayi untuk terlindung dari berbagai
macam penyakit khususnya penyakit saluran pencernaan karena saluran pencernaan
bayi masih sangat sensitif, saluran ini lebih siap untuk mengolah susu manusia
dibanding susu formula sehingga bayi yang diberikan susu formula cenderung lebih
mudah mengalami gangguan pencernaan (Sherwood, 2012).
ASI yang pertama (kolostrum) mengandung beberapa antibodi yang dapat
mencegah infeksi pada bayi. ASI diperkirakan dapat mengirimkan limfosit ibu ke
dinding usus bayi dan memulai proses imunologik sehingga memberikan imunitas
pasif pada bayi terhadap penyakit infeksi tertentu hingga mekanisme itu
sepenuhnya berfungsi setelah 3 sampai 4 bulan. Bayi yang meminum ASI terbukti
jarang menderita gastroenteritis dan kemungkinan bayi menderita kejang oleh
karena hipokalsemia sangat sedikit (Sumarah, 2015).
Pemberian ASI ekslusif terbukti dapat meningkatkan sistem imun bayi.
Penelitian Haris (2011) menjelaskan bahwa terdapat perbedaan status imunitas bayi
8
yang diberikan ASI ekslusif dengan bayi yang tidak diberikan ASI ekslusif. Bayi
yang mendapatkan ASI ekslusif menunjukan status imunitas yang lebih baik dan
stabil dibandingkan dengan yang tidak diberikan ASI ekslusif. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Putri (2013) jika bayi yang diberikan ASI ekslusif lebih banyak
maka jumlah bayi yang menderita diare akan lebih sedikit. Dapat disimpulkan ada
hubungan antara pemberian ASI ekslusif dengan angka kejadian diare akut pada
bayi. Hal ini terjadi karena pada waktu lahir dan selama beberapa bulan sesudahnya
semua sekresi saluran cerna bayi yang mengandung enzim, terutama enzim yang
diperlukan untuk mencerna susu manusia belum bisa mencerna makanan yang lain
karena bayi baru memproduksi sedikit amilase saliva atau pankreas. Dengan
demikian, pencernaan bayi tidak siap mencerna karhohidrat kompleks yang
diperoleh dalam makanan padat sehingga dapat menimbulkan berbagai macam
masalah pencernaan (Bobak, 2010).
b. Manfaat ASI untuk Ibu
Pemberian ASI ke bayi dapat membantu ibu memulihkan diri dari proses
setelah persalinan. Pemberian ASI selama beberapa hari pertama membuat rahim
berkontraksi dengan cepat dan memperlambat perdarahan (isapan pada puting susu
merangsang dikeluarkannya oksitosin alami yang akan membantu kontraksi rahim).
Pemberian ASI adalah cara yang penting bagi ibu untuk mencurahkan kasih
sayangnya pada bayi dan membuat bayi merasa nyaman (Bahiyatun, 2013).
Menyusui bagi para ibu muda yang baru pertama melahirkan, sering kali masih
menjadi hal yang membingungkan. Seperti bagaimana cara menyusui, waktu
pemberian, maupun produksi asi yang lancar. Padahal sebenarnya menyusui adalah
proses yang sangat menyenangkan. Saat menyusui ibu melakukan kontak kepada
9
bayi seperti berbicara mendekap, atau mengelus bayi. Dari sisi kesehatan ibu,
menyusui juga terbukti dapat mencegah timbulnya kanker payudara juga mampu
mencegah perdarahan setelah persalinan sehingga ibu terhindar dari defisiensi zat
besi atau anemia.
Penghisapan oleh bayi dapat menekan siklus haid dengan menghambat sekresi
LH dan FSH, mungkin dengan menghambat GnRH. Karena dengan menyusui
sesering mungkin dapat meningkatkan produksi hormon prolaktin yang dapat
menghambat proses pematangan sel telur, karena itu laktasi cenderung mencegah
ovulasi, menurunkan kemungkinan kehamilan berikutnya meskipun bukan cara
kontrasepsi yang handal. Mekanisme ini memungkinkan semua sumber daya ibu
dicurahkan kepada bayinya dan bukan dibagi dengan mudigah baru (Sherwood,
2012).
c. Manfaat ASI untuk keluarga
Dalam budaya Indonesia kelahiran bayi adalah kebahagiaan bagi seluruh
keluarga besar. Jika ibu memberi ASI, keluarga tidak perlu dibuat repot dengan
menyediakan susu formula. Jika anak bangun dan ingin minum cukup menyediakan
diri. Menyusui adalah pemberian makan minum paling praktis. Pemberian ASI
dapat mengurangi biaya rumah tangga karena biaya untuk membeli susu formula
lumayan cukup mahal dan dapat mengurangi biaya pengobatan karna bayi yang
diberi ASI cenderung lebih jarang sakit (Yusrina, et al, 2016).
d. Manfaat untuk Negara
Semakin banyak ibu yang menyusui, Negara dapat menghemat biaya subsidi
untuk perawatan anak sakit dan pemakaian obat-obatan. Angka kematian bayi juga
dapat berkurang karena pemberian ASI. Negara juga berhemat dari biaya membeli
10
alias mengimpor susu formula dan perlengkapan menyusui. Menyusui akan
mengurangi polusi karena penggunaan susu formula menghasilkan sampah kaleng,
plastik, kardus, dan sebagainya. Sedangkan ASI tidak menghasilkan sampah
apapun, jika sebagian besar anak Indonesia minum ASI, Negara diuntungkan
karena memiliki generasi muda yang sehat dan pintar (Yusrina, et al, 2016).
B. Peran Bidan dalam Mendukung Pemberian ASI
Peran bidan sangat dibutuhkan oleh seorang ibu menyusui untuk mengajari
teknik menyusui yang benar. Petugas akan membantu karena masa-masa awal yang
kritis itu akan menentukan apakah ibu menyusui akan menyerah dalam memberi
ASI atau tidak.
Peran awal yang dapat diberikan bidan kepada ibu menyusui, adalah:
a. Penguatan psikologis pada ibu menyusui dengan meyakinkannya bahwa bayi
akan memperoleh makanan yang bernutrisi dan cukup hanya dari payudara ibunya.
b. Membantu ibu sehingga mampu menyusui bayinya sendiri dengan
mengajarinya teknik menyusui yang benar.
Disamping itu, peran pendukung yang diberikan bidan dalam pemberian ASI
adalah:
a. Biarkan bayi bersama ibunya segera setelah lahir selama beberapa jam pertama
membina ikatan atau hubungan.
b. Ajarkan merawat payudara yang sehat.
c. Hindari mengoleskan krim, minyak, alkohol atau sabun pada puting susu.
d. Bantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI dengan posisi menyusui yang
benar.
11
Adapun langkah menuju keberhasilan menyusui (Ten Steps to Success
Breastfeeding) oleh WHO dan UNICEF Tahun 1989 yang telah dikembangkan
oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan Badan Koordinasi Pelindung
dan Pendukung Air Susu Ibu (BKPPASI) adalah:
a. Membuat kebijaksanaan tertulis mengenai pemberian ASI yang secara rutin
dikomunikasikan kepada semua petugas pelayanan kesehatan.
b. Melatih semua petugas kesehatan untuk dapat melaksanakan hal-hal yang
disebutkan dalam kebijaksanaan tertulis mengenai pemberian ASI.
c. Memberitahu kepada ibu hamil tentang keuntungan pemberian ASI dan
manajemen laktasi.
d. Membantu para ibu mengawali pemberian ASI dalam setengah jam pertama
setelah melahirkan.
e. Menunjukkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan cara
mempertahankan laktasi. Walaupun mereka harus terpisah dari bayi mereka.
f. Jangan memberi makanan atau minuman lain kepada bayi yang baru lahir
selain ASI, kecuali ada indikasi medis yang jelas.
g. Mempraktikkan rawat gabung, biarkan ibu dan bayi tetap bersama dalam 24
jam sehari.
h. Menganjurkan pemberian ASI tanpa terjadwal (on demand).
i. Jangan memberi dot atau kempeng kepada bayi yang sedang menyusu.
j. Membantu perkembangan kelompok pendukung ASI dan merujuk ibu kepada
kelompok tersebut setelah ibu keluar dari rumah sakit.
Peran bidan pada ibu post SC untuk mendukung menyusui yaitu memberikan
edukasi dan motivasi untuk menyusui segera mungkin. Dukungan bidan bagi ibu
12
untuk melakukan inisiasi dini dan praktek rawat gabung. Bidan membantu
memberikan bayi untuk disusui dan melibatkan peran suami serta keluarga
(Wulandari, et al, 2014).
C. Cara Menyusui pada Ibu Post SC
Posisi menyusui pada ibu post SC, yaitu:
a. Posisi berbaring (lying down).
Posisi dengan merebahkan tubuh ibu pada salah satu sisi. Ibu bisa
menambahkan bantal di bagian punggung untuk menopang tubuh Ibu.
b. Duduk
Pada saat pemberian ASI dengan posisi duduk dimaksudkan untuk
memberikan topangan atau sandaran pada punggung ibu dalam posisi tegak lurus
(90o) terhadap pangkuannya. Posisi ini dapat dilakukan dengan bersila diatas tempat
tidur atau lantai, ataupun duduk dikursi.
c. Football hold
Football hold adalah posisi menyusui yang disarankan untuk ibu yang
melahirkan melalui persalinan SC. Posisi ini tubuh bayi digendong dengan salah
satu tangan ibu, letak kepala bayi berada tepat dibawah payudara dan membentuk
garis lurus dengan badan bayi. Posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang
masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini merupakan posisi yang
paling nyaman bagi ibu maupun bayinya.
13
Posisi duduk
Gambar 1 Posisi Ibu Menyusui Post SC (Andina, 2018)
D. Masalah -Masalah yang Sering Terjadi pada Menyusui
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya
beberapa masalah pada ibu maupun pada bayi, pada sebagian ibu yang tidak paham
masalah ini kegagalan menyusui sering dianggap problem pada anaknya saja.
Masalah dari ibu yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak sebelum
persalinan (periode antenatal), pada masa pasca persalinan dini, dan masa
persalinan lanjut. Masalah menyusui dapat pula diakibatkan karena keadaan
khusus, selain itu ibu mengeluhkan bayinya sering menangis atau menolak
menyusu yang sering diartikan bahwa air susunya tidak cukup, tidak baik dan tidak
enak sehingga menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui.
14
Masalah yang sering terjadi antara lain puting susu nyeri atau lecet, bendungan
ASI/bendungan ASI dan mastitis. Sekitar 45.6 % dari ibu yang menyusui
mengalami risiko sedang terjadinya mastitis, penyebabnya adalah kesalahan dalam
teknik menyusui. Teknik menyusui yang semakin baik akan mengurangi risiko
terjadinya mastitis (Hasanah, et al, 2017).
Masalah yang lain adalah adanya kontra indikasi menyusui, ibu post seksio
dengan komplikasi, ibu post SC dengan bayi tidak rawat gabung, bayi meninggal,
bayi dengan kelainan konginetal, teknik menyusui yang salah. Pada keadaan ini
sering proses menyusui dihentikan karena putingnya sakit, yang harus sering
dilakukan adalah dilihat dan dicek perlekatan antara ibu dan bayi saat menyusui
(Perinasia, 2011).
E. Bendungan ASI (Engorgement)
Bendungan ASI adalah terjadinya pembengkakan pada payudara karena
peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan air susu dan
rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan (Winkjosastro, 2010).
Bendungan ASI dapat disebabkan karena terlambat memulai menyusui,
perlekatan antara ibu dan bayi saat menyusui kurang baik dan adanya pembatasan
lama menyusui (Andina, 2018). Faktor-faktor penyebab lainnya yaitu, frekuensi
menyusui yang kurang, kondisi puting yang tidak baik , perlekatan menyusui yang
tidak baik, posisi menyusui tidak benar, dan perawatan payudara yang kurang
(Ardyan, 2014).
Untuk mencegah supaya hal ini tidak terjadi perlu dilakukan beberapa hal
seperti segera menyusui bayi setelah lahir, adanya perlekatan yang baik antara ibu
15
dan bayi saat menyusui dan menyusui secara on demand. Apabila payudara terlalu
tegang atau bayi tidak mau menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu
agar ketegangan menurun, jangan mengistirahatkan payudara. Untuk merangsang
refleks oksitosin dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Letakkan kompres hangat pada payudara atau mandi air hangat
b. Pijat tengkuk dan punggung ibu (sejajar daerah payudara) menggunakan ibu
jari dengan teknik gerakan memutar searah jarum jam selama kurang lebih 3 menit.
c. Bantu ibu untuk rileks.
d. Pijat ringan pada payudara yang bengkak (pijat pelan pelan kearah tengah).
e. Belai dengan lembut kedua payudara menggunakan minyak kelapa atau baby
oil.
f. Mandi pancuran dengan air hangat atau mandi berendam dengan air hangat
membuat ASI mengalir sehingga payudara lunak.
g. Lakukan stimulasi pada kedua puting dengan cara pegang puting dengan dua
jari pada arah yang berlawanan kemudian putar puting dengan lembut searah jarum
jam. Selanjutnya kompres dengan air hangat dan dingin untuk mengurangi oedema.
h. Pakai BH yang sesuai ukuran yang dapat menyangga payudara dengan baik
i. Bangun rasa percaya diri ibu, jelaskan bahwa ibu akan bisa segera menyusui
dengan nyaman.
Dampak dari masalah bendungan ASI pada ibu yaitu terjadinya oedema pada
payudara, tegang merah dan demam, dan pada bayi akan menimbulkan ikterus
sehingga akan meningkatkan kejadian ikterus pada bayi karena tidak mendapatkan
asupan ASI.
16
F. Pemberian ASI pada post SC
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada ibu post SC dapat disesuaikan dengan
kondisi ibu, misalnya dengan posisi berbaring (lying down), posisi duduk, dan
football hold. Football hold adalah posisi menyusui yang disarankan untuk ibu
yang melahirkan melalui persalinan SC. Posisi ini tubuh bayi digendong dengan
salah satu tangan ibu, letak kepala bayi berada tepat dibawah payudara dan
membentuk garis lurus dengan badan bayi. Posisi ini aman karena bagian bawah
perut ibu yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini merupakan
posisi yang paling nyaman bagi ibu maupun bayinya.
Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur RSUD Kabupaten Badung No 853
tahun 2017 tentang Kebijakan mengenai pemberian ASI termasuk Inisiasi Menyusu
Dini dan Surat Keputusan Direktur No 896 tahun 2017 tentang Kebijakan
membantu ibu menyusui sedini mungkin dalam setengah jam pertama setelah lahir.
Surat Keputusan Direktur RSUD Kabupaten Badung No 868 tahun 2017 tentang
kebijakan penerapan sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui dan semua
kebijakan tersebut sudah sesuai dengan diterbitkannya Standar Operasional
Prosedur (SPO).
Hubungan waktu menyusui dengan bendungan ASI yaitu pada saat mulai hamil
Air Susu Ibu sudah mulai diproduksi walaupun jumlahnya masih sedikit. Setelah
plasenta lahir dengan menurunnya hormone estrogen, progesterone dan human
placental lactogen hormone, maka hormone prolactin berfungsi membentuk ASI
dan mengeluarkan ke alveoli bahkan sampai ke duktus kelenjar ASI (Andina,
2018).
17
Rangsangan isapan mulut bayi pada puting susu akan dapat mengeluarkan Air
Susu Ibu secara baik dan sempurna tetapi saat ASI sudah diproduksi dan tidak dapat
dikeluarkan melalui isapan bayi maka akan terjadi penimbunan pada duktus
laktiferus yang menimbulkan bendungan ASI.
Hambatan pemberian ASI pada ibu post SC antara lain, faktor nyeri,
ketidaknyamanan, dan efek anastesi merupakan faktor yang menghambat proses
menyusui (Desmawati, 2013). Persalinan SC menimbukan rasa nyeri pada luka
bekas sayatan di perut bercampur rasa tebal disekitarnya keadaan ini menyebabkan
ibu merasa malas dan takut untuk menggerakkan tubuhnya (Andina, 2018).
18