MAKALAH
TRANSFORMATOR IDEAL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kuliah
TRANSFORMATOR
Dosen Pengampu:
[Link] Sutopo, M.T.
Azmi Rizki Lubis, [Link]., M.T.
Disusun Oleh:
Liston romario sinaga Siti Maya Sari Siregar
(5223230014) (5223230034)
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2023
Kata Pengantar
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan
rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini bisa selesai dengan baik,
yang berjudul “TRANSFORMATOR”
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata
kuliah Rangkaian arus listrik searah yang telah memberikan tugas makalah ini sehingga, kami
dapat memambah wawasan dalam mencari materi dari jurnal ataupun dari buku referensi untuk
makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun
terlepas dari itu, kami tahu bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami
sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah
selanjutnya yang lebih baik.
Medan, 14 September 2023
Penulis
II
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................II
DAFTAR ISI..........................................................................................................III
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang...............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................1
C. Tujuan penulisan...................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Hubungan Rangkaian Wye dan
Delta...................................................................2
B. Transformasi rangkaian Wye dan delta................................................................4
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN..........................................................................................................8
III
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penting untuk memahami bahwa konsep transformator ideal adalah suatu idealisasi, suatu
model yang digunakan dalam analisis teoritis untuk menyederhanakan pemahaman kita tentang
prinsip kerja transformator. Dalam dunia nyata, tidak ada transformator yang benar-benar ideal
karena setiap transformator memiliki kerugian energi, kapasitansi, hambatan, dan induktansi
yang memengaruhi kinerjanya. Namun, konsep transformator ideal memberikan dasar yang kuat
untuk memahami dasar operasi transformator dan menjadi landasan bagi analisis sistem
kelistrikan yang lebih kompleks. Transformator ideal adalah model yang sangat sederhana,
terdiri dari dua gulungan kawat yang saling terhubung oleh medan magnetik. Gulungan ini
memiliki rasio putaran yang memungkinkan transformator untuk mengubah tegangan AC (Arus
Bolak-Balik) dari satu tingkat ke tingkat lainnya tanpa mengubah frekuensi sumber daya. Hal ini
memungkinkan untuk mentransfer energi listrik dengan efisiensi yang tinggi dalam jarak yang
jauh dan mengoptimalkan distribusi daya.
Dalam analisis sistem kelistrikan, transformator ideal memberikan dasar untuk
memahami bagaimana perubahan tegangan pada sisi masukan dapat memengaruhi tegangan pada
sisi keluaran sesuai dengan rasio putaran gulungan. transformator ideal juga memiliki peran
penting dalam pengukuran daya listrik, pemodelan sirkuit, dan pemahaman transien dalam
sistem [Link] dapat memahami lebih dalam mengenai prinsip kerja transformator
secara kenyataan (praktis), maka pertama-tama transformator akan dianggap sebagai suatu
transformator yang ideal.
IV
BAB II
PEMBAHASAN
A. Rasio tegangan transformator
Pada transformator ideal yang kumparan primernya dihubungkan dengan suatu sumber
tegangan ac (V 1), sementara kumparan sekundernya terbuka sebagaimana tergambar pada
gambar 1 A . Akan mengalir arus ac pada kumparan primer, (I). Karena kumparan sekunder belum
berbeban maka arus I 1 hanya akan mensuplai kebutuhan pembangkitan gaya gerak magnet (fluks
magnet) pada kumparan primer, sehingga arus ini disebut juga sebagai arus pemagnetan,
dilambangkan dengan I m yang bernilai sangat kecil (dibanding arus beban penuh transformator).
A B
Gambar 1
kumparan transformator ideal dianggap tidak memiliki rugi tembaga, ( I 2R = 0), dengan
I m 1, = I mmaka kumparan primer dapat dianggap tidak memiliki R (R = 0) sehingga menjadi
bersifat induktif murni. Akibatnya, arus ac yang ditarik oleh kumparan primer dari sumber akan
mensuplai beban induktif murni dan vektornya akan menjadi tertinggal (lagging) 90° secara
sudut fasa terhadap vector tegangan sumber V₁ sebagaimana tergambar pada Gambar 1B .
V
Arus akan menghasilkan timbulnya gaya gerak magnet (ggm) sekaligus aliran fluks
magnet (ф) ac pada kumparan primer dan inti besi, yang besarnya akan selalu proporsional
terhadap arus untuk sepanjang waktu (permeabilitas dari inti besi tak terhingga). aliran fluks
magnet ac yang bersirkulasi di dalam lintasan inti besi, maka berdasarkan hukum induksi
Faraday, akan terinduksi gaya gerak listrik (g.g.1) pada kumparan primer (E) yang secara sudut
dф
fasa akan selalu berlawanan arah 180° terhadap V1 (berdasarkan e 1 = -N ) sehingga disebut
dt
sebagai ggl lawan.
Selain itu aliran fluks magnet juga akan menginduksikan ggl pada kumparan sekunder ( E2) yang
secara sudut fasa juga akan berlawanan arah 110⁰ terhadap V 1 sebagai sumber fluks (e 2 = -N₂
dф
), sehingga, E akan sefasa dengan E₂ sebagaimana tergambar pada Gambar 1B
dt
Berdasarkan diagram vektor transformator ideal, maka dapat dilakukan penurunan persamaan
tegangan induksi yang ada pada transformator ideal. Bila fluks magnet ac yang ditimbulkan arus
pemagnetan ac pada kumparan primer dibuat persamaan fluks sesaatnya gelombang ac didapat
ф = фm cos ωt (weber)
Sehingga persamaan g.g.l yang diinduksikan oleh fluks tersebut pada kumparan primer
dф d (ф m cos ωt )
e 1=−N 1 =−N
dt dt
e 1 = N 1 ω фm sin ωt
karena sin ωt=¿ cos (ω t - 90°), contoh: sin 90° = cos 0° = 1
maka
VI
dф
e 1=N =N ω ф m cos (ωt−90°)
dt
e 1=e m 1 cos (ωt−90 ° ¿
Dimana
e m 1=N 1 ω фm
Apabila nilai efektif dari ggl maksimum dicari maka didapat
e m 1 N 1 ω ф m N 1 2 πf ф
E1= = = =4,44 N 1 f ф m
√2 √2 √2
Karena ω =2 πf radian
Dengan f = frekuensi dari tegangan sumber dan fluks ac (Hz)
Sementara pada kumparan sekumder, fluks magnet ac tersebut juga akan menginduksi ggl
dengan penurunan persamaan yang serupa dengan persamaan primer sehingga diperoleh,
E2=N 2 ω ф m cos ωt = N 2 ω ф m cos (ωt−90 ° )
E2=¿ e m 1 cos (ωt −90 °)
Dimana
e m 2=N 2 ω фm
Apabila nilai efektif dari ggl maksimun ini dicari
e m 2 N 2 ω фm N 2 2 πf ф
E 2= = = =4,44 N 2 f ф m
√2 √2 √2
VII
Sehingga berdasarkan persamaan diatas, dapat diketahui bahwa secara sudut fasa ggl kumparan
primer dan kumparan sekunder ( E1 dan E2 ) akan tertinggal 90 ° terhadap fluks , sehingga
persamaan nilai tegangan efektif dari ggl pada kumparan primer dan kumparan sekunder yaitu :
E1=¿ 4,44 N 1 f ф m
E2=¿ 4,44 N 2 f ф m
Dapat diperoleh nilai perbandingan tegangan induksi dan jumlah lilitan antara kumparan primer
dan kumparan sekunder umumnya disebut sebagai rasio transformasi yang dilambangkan dengan
a, yaitu:
E1=¿ 4,44 N 1 f ф m
E2=¿ 4,44 N 2 f ф m
E1 N 1
= =a
E2 N 2
Karena masih dianggap tidak terdapat jatuh tegangan antara V 1 ( tegangan sumber ac ) dengan
E1 demikian juga antara E2 dengan V 2 ( tegangan terminal kumparan sekunder ) sehingga V 1 = E1
sementara V 2 = E2 (secara besarannya saja tampa melihat sudut fasanya ) sehingga akan
diperoleh :
V 1 E1 N 1
= = =a
V 2 E2 N 2
Jika perbandingannya dibalik maka rasio transformasi bisa dilambangkan dengan K, yaitu
V 2 E2 N 2
= = =k
V 1 E1 N 1
VIII
B. Transformator ideal
Transformator ideal adalah suatu transformator yang :
1. Tidak memiliki rugi-rugi, baik rugi beban nol (terdiri dari rugi inti besi dan rugi tembaga
beban nol) maupun rugi beban penuh (terdiri dari rugi tembaga beban penuh).
2. Inti besinya memiliki permeabilitas yang tak terhingga (inti besi tak pernah jenuh),
sehingga pertambahan arus akan selalu proporsional/linier dengan pertambahan fluks
yang dihasilkan ( Φ ≈ N x I) untuk sepanjang waktu.
3. Tidak terjadi kebocoran fluks pada kumparannya, sehingga semua fluks bersirkulasi di
dalam inti besi.
Sesungguhnya adalah mustahil untuk menghasilkan transformator ideal seperti di atas, tetapi
hal ini perlu dianggap ada untuk kepentingan memudahkan pemahaman transformator aktual (tak
aktual) yang dilakukan secara bertahap. Untuk lebih mendekati kondisi transformator kennyataan
maka perlu dilakukan perubahan dimana transformator memiliki rugi- rugi beban nol yaitu rugi
inti besi dan rugi tembaga saat beban nol, yang dapat ditinjau pada 2 kondisi transformator, yaitu
1. Pada saat tanpa beban
2. Pada saat sudah berbeban
IX
1. TRANSFORMATOR IDEAL TANPA BEBAN
pada saat tanpa beban, sebenarnya arus beban nol (lo) yang ditarik transformator (khususnya
kumparan primer) dari sumber tegangan bukan hanya mensuplai pembangkitan fluks magnet saja
(sebagai arus pemagnetan) tetapi juga mensuplai :
1. Rugi inti besi, yaitu rugi histersesis dan rugi arus eddy.
2. Sejumlah kecil rugi tembaga (yang merupakan rugi tembaga beban nol) dari kumparan primer
saja (kumparan sekunder terbuka), karena arus beban nolnya juga sangat kecil.
Akibatnya, arus ac lo yang ditarik kumparan primer kini tidak lagi terbelakang 90° secara
sudut fasa terhadap tegangan sumber Vi, karena bebannya tidak lagi bersifat induktif murni (ada
sejumlah kea rug tembaga PR, sehingga R0) tetapi kini terbelakang dengan sudut < 90°.
Berdasarkan kenyataan di atas, arus le dapat dikatakan terdiri dari 2 bagian:
1. Bagian yang sefasa terhadap Vi, disebut sebagai artis aktif atau arus rugi inti besi
(disimbolkan dengan L karena bagian ini mensuplai rugi inti besi dan sejumlah kecil rugi
tembaga (rugi tembaga beban nol) pada kumparan primer, besarnya :
I C = I O cos φ 0
2. Bagian yang terbelakang 900 terhadap Vi, disebut sebagai arus reaktif atau arus
pemagnetan (Im), karena bagian ini mensuplai pembangkitan fluks magnet pada
kumparan primer, besarnya :
I m = I O sin φ 0
X
Sehingga, secara vektoris lo = le+ Im, sebagaimana tergambar dibawah
Diagram vektor transformator dengan rugi beban nol saat tanpa beban
Saat ini transformator dikatakan akan menarik daya masukan dari sumber tegangan ac
sebesar daya beban nol yaitu :
p0 = v1 I 0 cos φ 0
Dimana
cos φ 0 = faktor daya pada saat transformator beban nol
daya beban nol (watt) ini hanya akan mensuplai rugi inti besi dan sejumlah kecil rugi
tembaga pada kumparan primer saat beban nol saja, karena daya untuk pembangkitan fluks
magnet merupakan daya reaktif (VAR).
Harus diperhatikan bahwa:
1. Arus beban nol ini besarnya sangat kecil bila dibandingkan dengan arus kumparan primer
saat transformator diberi beban penuh, lo berkisar 1 % dari arus beban penuh.
2. Karena lo sangat kecil, maka rugi tembaga kumparan primer saat beban nol (1,2R) juga
akan menjadi sangat kecil, bahkan dapat diabaikan, sehingga dapat dikatakan bahwa daya
beban nol Po (watt) hanya mensuplai (besarnya sama dengan) rugi inti besi saja.
XI
2. TRANSFORMATOR IDEAL DENGAN BEBAN
Pada kenyataannya, pada saat transformator diberi beban, akan timbul arus pada
kumparan sekunder yaitu 1. Besar dan sudut fasa la terhadap tegangan pada beban yang
dipasang pada terminal kumparan sekunder, yaitu V2, adalah tergantung dari jenis
bebannya (resistif, induktif atau kapasitif).
Proses penentralisiran efek megnetis transformator dengan rugi beban 0 pada saat
berbeban
Gambar diatas menunujukkan urutan proses yang akan terjadi apabila transformator
diberi beban dengan anggapan rugi yang terjadi hanya rugi beban nol saja, yaitu:
XII
a. Kondisi pada saat transformator belum diberi beban
pada kumparan sekundernya. b. Setelah diberi beban maka aliran arus beban pada
kumparan sekunder, la ini akan menyebabkan pada kumparan sekunder akan
terbangkitkan adanya gaya gerak magnet (g.g.m) pada kumparan sekunder (= N2 x 12)
sekaligus aliran fluks magnet 2 yang arahnya berlawanan dengan arah fluks yang
dihasilkan arus pemagnetan lo pada kumparan primer. Oleh karena itu 2 itu akan
melemahkan dari kumparan primer, sehingga g.g.l yang diinduksikan oleh yaitu E dan E2
juga akan berkurang dari sebelum munculnya 02.
c. Dengan berkurangnya E, akan menyebabkan beda potensial antara sumber tegangan V,
dengan E, akan semakin besar, sehingga arus yang mengalir dari Vi ke E juga akan
bertambah besar mengalir pada kumparan primer dibanding sebelum berbeban.
Tambahan arus dari sumber tegangan saat berbeban tersebut diberi nama 12' (karena
timbul akibat munculnya Ia) yang merupakan komponen beban dari yang mengalir pada
kumparan primer (selain komponen pemagnetan yaitu Io). Dimana arah vektornya akan
berlawanan terhadap arah vektor 12 (karena 12' dihasilkan oleh fluks yang disebabkan 12
dan sesuai hukum induksi Faraday). Aliran 12' ini akan menyebabkan timbulnya g.g.m
Nil2' pada kumparan primer (selain Nilo yang sebelumnya telah ada) yang juga akan
menyebabkan timbulnya aliran fluks 2 yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan
terhadap 2 (tetapi searah dengan ).
d. Hasilnya, 2' akan mentralisir keberadaan 2, sehingga kini dalam inti besi fluks yang
mengalir adalah, sebagaimana sebelum adanya arus beban 12.
Kesimpulannya adalah efek magnetis (pelemahan ) akibat timbulnya 1½ pada saat
berbeban akan segera dinetralisir oleh timbulnya la'. Sehingga bagaimanapun kondisi
beban yang dipasang pada suatu transformator, fluks yang bersirkulasi dalam inti besi
akan selalu sama dengan pada saat beban nol. Akibatnya rugi inti besi transformator juga
akan selalu sama dengan saat beban nol (karena disebabkan oleh besarnya aliran fluks
XIII
pada inti besi yang selalu sama). Pada saat berbeban, kumparan primer akan dialiri 2
bagian arus primer yaitu o dan la', sehingga total arus primer adalah penjumlahan
vektor antara lo dengan I½' (keduanya tidak sefasa).
Karena = 0₂ maka N2l2 Nila' sehingga diperoleh
Sementara untuk diagram vektor transformator dengan rugi beban nol pada saat berbeban
(untuk berbagai jenis beban) dapat dilihat pada Gambar 1.25. Nilai a di sana dianggap 1
agar besar vektor tegangan primer dengan sekunder dapat dibuat sama (untuk
memudahkan penggambaran). Gambar a menggambarkan saat transformator berbeban
resistif sehingga 12 sefasa dengan V2 atau E2 (E2 V2 karena rugi tembaga kumparan
sekunder dianggap belum ada). Gambar b menggambarkan saat transformator berbeban
induktif sehingga 12 akan tertinggal sebesar sudut 2 terhadap E2. Sementara Gambar c
menggambarkan saat transformator berbeban induktif tetapi dengan lo yang diabaikan
(karena lo dianggap terlalu kecil dibanding 12', sehingga dianggap 1= 11), akibatnya
diperoleh bahwa persamaan dapat berubah menjadi :
N1 I2 I2
= = =a
N 2 I2 I1
XIV
Gambar diagram transformator ideal dengan beban
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
XV
Sekumpulan resistansi yang membentuk hubungan tertentu saat dianalisis ternyata bukan
merupakan hubungan seri ataupun hubungan paralel ,maka jika rangkaian resistansi tersebut
membentuk hubungan star atau bintang atau rangkaian tipe Y, ataupun membentuk hubungan
delta atau segitiga atau rangkaian tipe ∆, maka diperlukan transformasi baik dari star ke delta
ataupun sebaliknya.
Hubungan wye-delta ini sangat dapat digunakan untuk menyederhanakan rengkaian resistif.
Kedua rangkaian tersebut dapat saling menggantikan satu dengan yang lainnya. Setiap resistor
dalam jaringan Wye adalah produk dari dua resistor dari dua cabang Delta yang berdekatan
dibagi dengan jumlah dari tiga resistor Delta dan Setiap resistor dalam rangkaian adalah jumlah
dari semua yang mungkin dari resistor Wye yang diambil 2 sekaligus dibagi dengan Wye yang
berlawanan.
XVI