0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan33 halaman

Analisis Puskesmas Sumanda 2017

Dokumen ini memberikan gambaran umum tentang situasi di Puskesmas Sumanda, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus. Puskesmas ini melayani 12 pekon dengan total populasi 18.066 jiwa yang sebagian besar berpendidikan SD dan bekerja di sektor pertanian. Wilayahnya terdiri atas dataran rendah dan perbukitan serta sumber daya alam berupa hutan, persawahan dan perkebunan.

Diunggah oleh

Neni Nurlia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan33 halaman

Analisis Puskesmas Sumanda 2017

Dokumen ini memberikan gambaran umum tentang situasi di Puskesmas Sumanda, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus. Puskesmas ini melayani 12 pekon dengan total populasi 18.066 jiwa yang sebagian besar berpendidikan SD dan bekerja di sektor pertanian. Wilayahnya terdiri atas dataran rendah dan perbukitan serta sumber daya alam berupa hutan, persawahan dan perkebunan.

Diunggah oleh

Neni Nurlia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB II
ANALISIS SITUASI

A. Gambaran Umum
1. Wilayah Kerja Puskesmas
Puskesmas Sumanda Kecamatan Pugung terletak di Jalan Raya Sumanda Pekon
Sumanda Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus. Wilayah kerja Puskesmas
Sumanda pada awal berdirinya terdiri atas 9 (tujuh) pekon/desa, namun saat ini
beberapa pekon telah mengalami pemekaran wilayah sehingga saat ini wilayah kerja
Puskesmas Sumanda terdiri 12 (dua belas) pekon. Empat dari jumlah pekon tersebut
merupakan pekon yang memiliki daerah terpencil dan tertinggal serta memiliki
medan yang sulit untuk dijangkau. Untuk membantu pelaksanaan operasional dan
untuk memperluas jangkauan kegiatanya Puskesmas Sumanda mempunyai dua unit
puskesmas pembantu (Pustu) yaitu Pustu Ciherang dan Pustu Suka Mernah. Pustu
Suka Mernah membawahi dua pekon yaitu Pekon Suka Mernah dan Pekon
Darussalam, sedangkan Pustu Ciherang juga membawahi dua pekon yaitu Pekon
Ciherang dan Pekon Penanggungan.

2. Pemerintahan
Puskesmas Sumanda merupakan suatu organisai unit kerja di bawah naungan
Instansi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, yang didirikan pada tahun 2006 dan
mulai beroperasi pada bulan Februari 2007. Nama Sumanda digunakan karena
berdasarkan letak puskesmas di Pekon Sumanda, yaitu salah satu pekon yang ada di
Kecamatan Pugung dan merupakan satu-satunya puskesmas induk yang ada di
wilayah kecamatan ini. Kecamatan Pugung mulai berdiri pada awal tahun 2006,
melalui pemekaran wilayah dari Kecamatan Gisting dan Kecamatan Talang Padang
Kabupaten Tanggamus.

3. Geografis
Luas wilayah kerja Puskesmas Sumanda + 38.1 Km², yang terbagi menjadi 12
pekon dan empat dari jumlah pekon tersebut merupakan pekon tertinggal dan
terpencil, yaitu Pekon Darussalam, Pekon Suka Mernah, Pekon Ciherang dan Pekon
Way Halom. Jarak terjauh antara pekon dengan puskesmas induk sejauh 8 Km yang
dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 Menit, jarak puskesmas induk ke
Dinas Kesehatan di ibu kota kabupaten sekitar 20 Km dengan waktu tempuh dengan
kendaraan umum kurang lebih 45 menit, sedangkan jarak puskesmas dengan rumah
sakit tempat rujukan terdekat sekitar 30 Km dengan waktu tempuh menggunakan
kendaraan umum sekitar satu jam. Jarak tempuh dengan ibu kota Propinsi Lampung
2

sekitar 60 Km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Adapun batas-batas wilayah kerja
Puskesmas Sumanda adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Puskesmas Talang Padang.
b. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Sumanda.
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Gisting.
d. Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Puskesmas Talang Padang.
Secara geografis dan luas wilayah Puskesmas Sumanda Kecamatan Pugung dapat
terlihat pada peta dan tabel berikut ini :

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

Tabel 1. Luas Wilayah Puskesmas Sumanda


Tahun 2017

NO Nama Pekon Luas (Km²)


1 Banjar Negeri 16.5
2 Sumanda 12.2
3 Ciherang 10.4
4 Way Halom 9.5
5 Suka Banjar 8,3
6 Suka Raja 7.9
7 Suka Mernah 7.3
8 Darussalam 6.7
9 Penanggungan 5.3
10 Suka Damai 4.5
11 Pariaman 3.8
12 Banjar Agung 2.6
Jumlah 38.1

4. Geologi
3

Dari segi geologi wilayah kerja Puskesmas Sumanda sebagian besar merupakan
daratan sebagai tempat areal persawahan, perkebunan dan pemukiman penduduk.
Banyak irigasi di setiap pekon yang digunakan para petani untuk mengaliri sawah
mereka sehingga rawan menjadi tempat perindukan nyamuk dan vektor penyakit
lainnya. Sebagian kecil terdapat rawa-rawa dan lahan yang tidak produktif di sekitar
lingkungan tempat tinggal masyarakat. Pola penggunaan lahan di wilayah Puskesmas
Sumanda sebagian besar dimanfaatkan untuk areal kegiatan pertanian atau
persawahan 42%, perkebunan 8,6% dan peladangan kosong belum dimanfaatkan
17%, dan selebihnya 32,4% merupakan daerah pemukiman penduduk.

5. Topografi

Wilayah kerja Puskesmas Sumanda terdiri dari sekitar 60% dataran rendah yang
merupakan areal persawahan, perkebunan, kolam, rawa-rawa dan pemukiman
penduduk dan 40% terdiri dari perbukitan yang merupakan lahan perkebunan,
pertanian dan ladang bagi penduduk. Lahan persawahan atau pertanian sebagian
besar digunakan untuk menanam padi dan tanaman sayuran lainnya, sedangkan lahan
perkebunan digunakan untuk tanaman coklat, kopi, lada dan pisang.

6. Hidrologi
Di wilayah Puskesmas Sumanda mengalir sungai yang sangat penting bagi
kegiatan pertanian yaitu Way Tebu yang melintasi sebagian wilayahnya dan pada
umumnya sungai tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, selain itu ada
sebagian penduduk yang memanfaatkan air sungai ini untuk kebutuhan rumah tangga,
seperti mandi, cuci dan buang air besar. Selain ini di beberapa pekon terdapat irigasi
pertanian yang melintasi di beberapa areal pertanian dan pemukiman.

7. Sumber Daya Alam


Dalam wilayah Puskesmas Sumanda terdapat berbagai sumber daya alam yang
dapat diperbaharui yang disebut juga Non Exhoustible atau Flow Resources, seperti
hutan, perkebunan atau ladang, persawahan, ikan dan air. Sumber daya alam tersebut
banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber mata pencaharian penduduk sehari-
hari. Perkebunan dimanfaatkan untuk tanaman kopi, coklat, cengkeh, lada dan pisang.
Sedangkan lahan persawahan dikelola sebagai areal pertanian bahan makanan pokok
yaitu padi dan suyuran.
8. Demografi
Penduduk di wilayah Puskesmas Sumanda pada akhir tahun 2017 sebesar 18.066
jiwa berdasarkan data dari survey penduduk antar sensus (SUPAS) yang terhimpun
4

dalam 4.276 kepala keluarga (KK) dengan jumlah KK prasejahtra sebanyak 51,3%
dari jumlah kepala keluarga seluruhnya. Latar belakang pendidikan penduduk
mayoritas berpendidikan SD/sederajat sebesar 46,23%, SLTP/sederajat sebesar
27,49%, SLTA/sederajat sebesar 20,98% dan yang berpendidikan perguruan tinggi
sebesar 5,30%. Kegiatan ekonomi atau mata pencaharian penduduk mayoritas
disektor pertanian (54,2%), baik sebagai petani sendiri atau buruh tani. Keadaan
sosial masyarakat dipedesaan diwarnai dengan kekerabatan yang masih kuat. Budaya
adat istiadat mayoritas penduduk Suku Lampung, sedangkan sisanya terdiri dari Suku
Sunda dan jawa. Kondisi budaya dan keagamaan yang demikian sangat besar
pengaruhnya terhadap corak kepemimpinan. Pemimpin informal yang berlatar
belakang agama seperti Kyai dan Ketua Adat masih memiliki peran atau pengaruh
yang sangat besar dalam masyarakat. Demikian juga terhadap pengambilan
keputusan berperilaku dalam kesehatan.
Jumlah penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Sumanda tersebar dalam 12
pekon dengan kepadatan yang berbeda. Adapun data distribusi jumlah penduduk
berdasarkan tempat tinggal dan jenis kelamin sebagai berikut :

Tabel 2. Distribusi Penduduk Puskesmas Sumanda


Tahun 2017

Jumlah Jumlah Klasifikasi Penduduk


No Nama Pekon
Rumah KK Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Banjar Negeri 772 782 1628 1516 3144
2 Sumanda 630 647 1414 1316 2730
3 Ciherang 417 426 976 908 1884
4 Way Halom 387 393 858 799 1657
5 Suka Banjar 335 341 766 712 1478
6 Suka Raja 318 329 756 703 1459
7 Suka Mernah 296 307 695 646 1341
8 Darussalam 241 253 566 527 1093
9 Penanggungan 237 248 517 481 998
10 Suka Damai 215 226 477 444 921
11 Pariaman 194 182 427 398 825
12 Banjar Agung 135 142 278 258 536
Puskesmas 4177 4276 9358 8708 18066

Grafik 1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan


Puskesmas Sumanda Tahun 2017
5

Berdasarkan grafik komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di


Puskesmas Sumanda tahun 2017, dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan
penduduk yang terbanyak pada SD/Sederajat yaitu 46,23%, sedangkan yang paling
sedikit pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi yaitu, 5,30%.

Grafik 2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Golongan Umur


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

Berdasarkan grafik komposisi penduduk berdasarkan golongan umur di


Puskesmas Kwdaloman tahun 2017, maka dapat diketahui bahwa distribusi
penduduk berdasarkan golongan umur yang terbanyak umur 22-44th sebanyak 7313
orang dan paling sedikit pada golongan umur 0-<1 tahun sebanyak 321 orang.

B. Analisis Derajat Kesehatan


6

Kesehatan merupakan tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat,


pemerintah dan swasta. Apapun upaya yang dijalankan pemerintah, hanya sedikit yang
akan tercapai tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk secara mandiri menjaga
dan meningkatkan kesehatan mereka. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud derajat kesehatan yang optimal.
Derajat kesehatan merupakan pencerminan kesehatan perorangan, kelompok
maupun masyarakat yang dapat digambarkan dengan tingkat mortalitas atau angka
kesakitan, morbiditas atau angka kesakitan, umur harapan hidup dan status gizi
masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, bukan hanya bebas dari
suatu penyakit tetapi juga tercapainya kesejahteraan baik fisik, sosial maupun mental.
Kesehatan yang optimal dapat dilihat daribeberapa unsur, diantaranya umur harapan
hidup, mortalitas, morbiditas dan status gizi.

1. Umur Harapan Hidup (UHH)


Meningkatnya status kesehatan masyarakat selain dilihat dari menurunnya angka
kesakitan, kematian dan status gizi masyarakat, juga dapat dilihat dengan
meningkatnya umur harapan hidup. Berdasarkan data dari frofil kesehatan Kabupaten
Tanggamus tahun 2016, menunjukkan terdapatnya kecenderungan peningkatan umur
harapan hidup penduduk di Kabupaten Tanggamus. Dimana pada tahun 2012 umur
harapan hidup Kabupaten Tanggamus 66,69 tahun meningkat menjadi 67,61 di tahun
2016. Umur harapan hidup tersebut menjadi acuan bagi setiap puskesmas di
Kabupaten Tanggamus. Namun demikian, peningkatan umur harapan hidup di
Kabupaten Tanggamus ini belum memenuhi target dalam Standar Pelayanan Minimal
(SPM) tambahan Dinas Kesehatan.

Grafik 3. Umur Harapan Hidup Kabupaten Tanggamus


dan Puskesmas Sumanda Tahun 2012-2016

2. Angka Kematian (Mortalitas)


7

Kematian atau mortalitas merupakan salah satu prioritas masalah yang harus
terselesaikan dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak. Beberapa faktor yang
mempengaruhi tingkat mortalitas dan morbiditas diantaranya adalah sosial ekonomi
masyarakat, tingkat pendidikan, perilaku hidup sehat, lingkungan perumahan, upaya
kesehatan dan fertilitas. Selain itu angka kematian dapat digunakan sebagai indikator
dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan
kesehatan dalam suatu wilayah.

a. Angka Kematian Kasar


Angka kematian umum selama tahun 2016 di wilayah Puskesmas Sumanda
sebanyak 141 orang, meningkat jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,
dengan penyebab kematian yang beragam, diantaranya disebabkan oleh penyakit
degeneratif/penyakit tidak menular, penyakit infeksi, usia lanjut dan kecelakaan,
seperti yang terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3. Angka Kematian Kasar


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

No Desa/Pekon Jumlah
1 Banjar Negeri 18
2 Sumanda 17
3 Ciherang 16
4 Way Halom 14
5 Suka Banjar 11
6 Suka Raja 13
7 Suka Mernah 11
8 Darussalam 10
9 Penanggungan 7
10 Suka Damai 9
11 Pariaman 8
12 Banjar Agung 7
Jumlah 141

Berdasarkan grafik diatas maka dapat diketahui bahwa angka kematian kasar
yang terbanyak di Pekon Banjar Negeri yaitu 18 orang dan yang paling sedikit
terjadi di Pekon Banjar Agung sebanyak 7 orang. Keadaan ini disebabkan oleh
faktor jumlah penduduk dan tingkat kepadatan penduduk.

Grafik 4. Penyebab Angka Kematian Kasar


Puskesmas Sumanda Tahun 2014-2017
8

Berdasarkan grafik diatas terlihat angka kematian kasar yang terus meningkat
setiap tahunnya dan yang terbanyak di tahun 2017. Penyakit jantung/hipertensi
yang merupakan penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian tertinggi
disetiap tahunnya, sedangkan penyakit infeksi dalam beberapa tahun terakhir
menjadi penyebab kematian yang terendah.

b. Angka Kematian Ibu (AKI)


Angka kematian ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) adalah
kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari
sejak akhir kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan, yaitu kematian yang
disebabkan oleh kehamilannya atau penanganannya, tetapi bukan karena sebab-
sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh. Biasanya kematian ibu dalam suatu
wilayah digambarkan dengan angka kematian ibu (AKI) per 100.000 kelahiran
hidup. AKI merupakan salah satu indikator dalam menetukan derajat kesehatan
suatu bangsa. AKI juga dapat menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu,
kondisi kesehatan lingkungan dan tingkat pelayanan kesehatan.
Di wilayah Puskesmas Sumanda selama empat tahun terakhir terjadi kasus
kematian ibu maternal secara berfluktuatif. Pada tahun 2014 terdapat satu kasus
kematian ibu dari 393 jumlah persalinan atau sebesar 254,4/100.000 kelahiran
hidup. Sedangkan pada tahun 2015 dan 2016 tidak terjadi kasus kematian ibu.
Kemudian pada tahun 2017 terjadi lagi satu kasus kematian ibu dari 331 jumlah
persalinan atau sebesar 302,1/100.000 kelahiran hidup. Kematian ibu ini terjadi di
Pekon Suka Raja Kecamatan Pugung dengan penyebab kematian eklampsia.

Tabel 4. Angka Kematian Ibu Puskesmas Sumanda


Tahun 2014-2017
9

Jumlah
No Desa/Pekon
2014 2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 0 0 0 0
2 Sumanda 1 0 0 0
3 Ciherang 0 0 0 0
4 Way Halom 0 0 0 0
5 Suka Banjar 0 0 0 0
6 Suka Raja 0 0 0 1
7 Suka Mernah 0 0 0 0
8 Darussalam 0 0 0 0
9 Penanggungan 0 0 0 0
10 Suka Damai 0 0 0 0
11 Pariaman 0 0 0 0
12 Banjar Agung 0 0 0 0
Jumlah 1 0 0 1

c. Angka Kematian Neonatal


Angka kematian neonatal (AKN) adalah angka kejadian pada bayi sebelum
berumur satu bulan atau 28 hari per 1.000 kelahiran hidup (KH) pada satu tahun
tertentu. Berdasarkan hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2012 secara nasional angka kematian neonatal sebesar 19/1.000 kelahiran
hidup, sedangkan SDKI tahun 2007 menunjukkan angka 68/1.000 kelahiran hidup.
Selama empat tahun terakhir di Puskesmas Sumanda terjadi kematian neonatus
dengan jumlah yang bervariasi. Pada tahun 2014 terjadi angka kematian neonatus
sebanyak 4 (empat) kasus atau sebesar 10,2/1.000 kelahiran hidup. Sedangkan
pada tahun 2015 dan 2016 tidak terjadi angka kematian neonatus. Kemudian pada
tahun 2017 terjadi lagi kematian neonates sebanyak 4 (empat) kasus dari 331
jumlah persalinan hidup atau sebesar 12,1/1.000 kelahiran hidup.

d. Angka Kematian Bayi


Angka kematian bayi (AKB) atau sering disebut juga Infant Mortality Rate
(IMR) merupakan tingkat kematian bayi diukur dengan banyaknya kematian bayi
sebelum bayi berumur satu tahun. AKB juga merupakan salah satu indikator yang
menentukan derajat kesehatan suatu masyarakat. AKB di wilayah Puskesmas
Sumanda selama empat tahun terakhir terjadi secara berfluktuatif. Pada tahun 2014
terjadi angka kematian bayi sebanyak 4 (empat) kasus atau sebesar 10,2/1.000
kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2015 dan 2016 tidak terjadi angka
kematian bayi. Kemudian pada tahun 2017 terjadi lagi kematian bayi sebanyak 4
10

(empat) kasus dari 331 jumlah persalinan hidup atau sebesar 12,1/1.000 kelahiran
hidup.

Tabel 5. Angka Kematian Bayi Puskesmas Sumanda


Tahun 2014-2017

Jumlah
No Desa/Pekon
2014 2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 0 0 0 0
2 Sumanda 1 0 0 1
3 Ciherang 0 0 0 0
4 Way Halom 1 0 0 0
5 Suka Banjar 0 0 0 1
6 Suka Raja 1 0 0 1
7 Suka Mernah 1 0 0 0
8 Darussalam 0 0 0 0
9 Penanggungan 0 0 0 1
10 Suka Damai 1 0 0 0
11 Pariaman 0 0 0 0
12 Banjar Agung 0 0 0 0
Jumlah 4 0 0 4

Grafik 5. Penyebab Kematian Bayi


Puskesmas Sumanda 2017

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa penyebab kematian bayi


tahun 2017 paling banyak dikarenakan kelainan jantung sebanyak 2 kasus dan
karena cacat bawaan serta aspirasi masing-masing 1 kasus.
e. Angka Kematian Balita
Angka kematian balita adalah jumlah kematian yang terjadi pada anak sebe;um
mencapai usia lima tahun yang dinyatakan dengan angka per 1.000 kelahiran
hidup dalam satu tahun tertentu. Angka kematian balita ini menggambarkan
11

tingkat permasalahan anak balita dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap
kesehatan balita seperti gizi balita, sanitasi dan penyakit-penyakit infeksi.
Kematian balita di Puskesmas Sumanda selama tiga tahun terakhir mengalami
peningkatan dengan penyebab kematian yang bervariatif. Pada tahun 2015 angka
kematian balita sebanyak 2 kasus dan di tahun 2016 kematian balita sebanyak 3
kasus. Kemudian di tahun 2017 terjadi peningkatan jumlah kasus kematian balita
menjadi 5 kasus atau sebesar 15,1/1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian
balita ini diantaranya kelainan jantung, cacat bawaan dan pneomonia aspirasi.

f. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat lahir
kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Berat lahir adalah
berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. Jumlah kasus BBLR di
Puskesmas Sumanda selama lima tahun terakhir mengalami jumlah yang
fluktuatif, namun menunjukkan trend yang menurun setiap tahunnya. Pada tahun
2013 ditemukan bayi BBLR sebanyak 9 kasus dari 424 persalinan dan di tahun
2014 sebanyak 5 kasus BBLR. Pada tahun 2015 sampai 2017 tidak ditemukan
kasus kelahiran dengan bayi BBLR.

Tabel 6. Data Kasus BBLR Puskesmas Sumanda


Tahun 2013-2017

Jumlah Kasus
No Desa/Pekon
2013 2014 2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 1 0 0 0 0
2 Sumanda 1 1 0 0 0
3 Ciherang 0 1 0 0 0
4 Way Halom 2 1 0 0 0
5 Suka Banjar 0 0 0 0 0
6 Suka Raja 1 1 0 0 0
7 Suka Mernah 1 1 0 0 0
8 Darussalam 1 0 0 0 0
9 Penanggungan 1 0 0 0 0
10 Suka Damai 0 0 0 0 0
11 Pariaman 0 0 0 0 0
12 Banjar Agung 1 0 0 0 0
Jumlah 9 5 0 0 0

3. Angka Kesakitan (Morbiditas)


Morbiditas adalah angka kesakitan dapat berupa angka insiden ataupun angka
prevalensi dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam
suatu populasi dan pada kurun waktu tertentu. Angka kesakitan merupakan salah satu
indikator yang menentukan derajat kesehatan masyarakat. Infeksi akut lain pada
12

saluran pernafasan bagian atas, selama lima tahun terakhir menduduki urutan
tertinggi pada pola sepuluh besar penyakit di Puskesmas Sumanda dengan
kecenderungan terus meningkat. Pada tahun 2014 sebesar 26,54%, meningkat di
tahun 2015 menjadi 27,37%, kemudian di tahun 2017 menjadi 27,86%. Pola sepuluh
besar penyakit di tahun 201 masih didominasi penyakit-penyakit infeksi dan yang
terbanyak adalah nasopharing akut sebanyak 4.032 penderita (21,7%). Selain itu
angka kesakitan dan kematian penyakit menular berbasis lingkungan juga masih
banyak terjadi, seperti diare, demam berdarah (DBD), TB Paru dan malaria klinis.

4. Data Sepuluh Penyakit


Pada tahun 2017 kunjungan kasus baru yang tercatat di Puskesmas Sumanda
sebanyak 18.583 yang dicakup melalui kunjungan dalam gedung yaitu Balai
Pengobatan (BP) maupun luar gedung melalui kegiatan puskesmas keliling
(Pusling). Dalam pola sepuluh besar penyakit di Puskesmas Sumanda masih
didominasi oleh penyakit-penyakit infeksi berbasis lingkungan, sehingga perlu
mendapatkan perhatian dan penanggulangan melaui kerjasama lintas program
terkait. Sementara itu penyakit degeneratif dan tidak menular seperti hypertensi
juga menunjukkan peningkatan.

Tabel 7. Pola 10 Besar Penyakit Puskesmas Sumanda


Tahun 2017

No Jenis Penyakit Kode Jumlah %

1 Nasoparing akut J00 4032 21.7


2 Influenza J118 2885 15.5
3 Gasteritis K29 2894 15.6
4 Reumatik Artritis M06 2176 11.7
5 Diare A09 1432 7.7
6 Febris R50.9 1163 6.3
7 Tukak Lambung K25 1074 5.8
8 Dermatitis Atopik L20 749 4.0
9 Dermatitis kontak L23 631 3.4
10 Hipertensi J10 472 2.5
Penyaki - 1075 5.8
Jumlah 18583 100

Grafik 6. Sepuluh Besar Penyakit Puskesmas Kedaloamn


Tahun 2017
13

Berdasarkan grafik diatas dapat terlihat bahwa pola 10 besar penyakit di


Puskesmas Sumanda masih didominasi oleh penyakit-penyakit infeksi dan
penyakit yang terbanyak adalah nasoparing akut dengan jumlah 4.032 penderita,
sedangkan penyakit yang paling sedikit yaitu hipertensi dengan jumlah 472
penderita. Sementara itu penyakit menular berbasis lingkungan juga masih banyak
yang masuk dalam urutan penyakit terbanyak tersebut.

5. Status Gizi
Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia dan
sekaligus dalam pengentasan kemiskinan adalah dengan meningkatkan gizi anak
terutama pada masa balita. Keadaan gizi pada balita sangat mempengaruhi tingkat
kecerdasan manusia, karena kecukupan gizi sangat diperlukan dalam pertumbuhan
otak terutama pada masa balita dan selanjutnya akan menghasilkan generasi yang
produktif dan berkualitas.
Balita yang ada di wilayah Puskesmas Sumanda tahun 2017 sebanyak 1.726
balita, rata-rata balita yang ditimbang setiap bulan atau D/S di diperoleh jumlah
sebanyak 1.454 balita atau sebesar 84,24% dari jumlah balita yang ada. Balita yang
naik timbangannya atau N/D diperoleh hasil 1.155 balita atau sebesar 79,44% dan
pencapaian N/S diperoleh hasil 66,91%. Pencapaian hasil kegiatan ini masih dibawah
target standar pelayanan minimal (SPM) yaitu 90%. Namun hasil ini meningkat
dibandingkan cakupan tahun 2016, dimana cakupan D/S sebesar 77,45%, cakupan
N/D sebesar 73,07% dan hasil cakupan N/S sebesar 56,59%.
Hasil pencapaian D/S perlu mendapatkan perhatian karena merupakan gambaran
tingkat partisipasi masyarakat berupa kehadiran balita di posyandu, sedangkan hasil
N/D merupakan gambaran tingkat keberhasilan pencapaian program gizi dalam suatu
unit pelayanan kesehatan. Permasalahan yang sering dijumpai dimana orang tua
balita enggan membawa anaknya ke posyandu ketika sudah berumur lebih dari satu
14

tahun karena tidak mendapatkan imunisasi lagi, oleh sebab itu diperlukan kegiatan
tambahan di tiap posyandu untuk menarik minat masyarakat dating ke posyandu.

Grafik 14. Cakupan Penimbangan Balita


Puskesmas Sumanda Tahun 2015-2017

a. Gizi Buruk
Balita gizi buruk merupakan titik puncak kekurangan zat gizi pada balita dan
tingkat keparahannya bisa menjadi marasmus, kwashiorkor atau marasmus dan
kwashiorkor. Pada keadaan ini balita akan mengalami “lost generation” yaitu
keadaan dimana kondisi fisik dan psikologis balita sangat tergantung pada orang
lain. Kondisi inilah yang tidak diharapkan oleh pemerintah dalam upaya
mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada tahap awal balita
mengalami gizi buruk adalah berat badan balita dibawah garis merah atau BGM.
Kasus gizi buruk atau marasmus dan kwashiorkor belum pernah terjadi di
Puskesmas Sumanda. Balita dengan BGM pada tahun 2017 sebanyak 4 orang atau
0,3%. Keadaan ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, dimana pada tahun
2016 tercatat jumlah BGM sebanyak 110 balita dan di tahun 2015 balita BGM
yang terpantau sebanyak 38 balita. Dengan keadaan seperti ini maka wilayah
Puskesmas Sumanda belum sepenuhnya bebas dari ancaman gizi buruk, terlebih
lagi dengan status sosial ekonomi masyarakat rendah.
Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka penanganan balita BGM dan
pencegahan kasus gizi buruk adalah melalaui pemberian Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI) bubur dan biskuit, pemberian paket gizi melalui aktivasi pojok gizi,
meningkatkan gerakan keluarga sadar gizi dan sosialisasi pada bidan desa serta
kader kesehatan tentang pentingnya zat gizi.

b. Anemia Gizi Besi


15

Kekurangan zat besi pada ibu hamil merupakan masalah yang masih muncul di
wilayah Puskesmas Sumanda. Keadaan anemia pada ibu hamil dapat berdampak
pada proses persalinan dan bayi yang akan dilahirkannya. Selain itu anemia gizi
besi merupakan salah satu faktor risiko tinggi pada kehamilan yang dapat
berdampak pada proses persalinan. Oleh karena itu pemberian tablet tambah darah
Fe sangat membantu untuk mencegah masalah tersebut.
Pada tahun 2017 ditemukan sebanyak 13 ibu hamil (3,57%) mengalami anemia
gizi besi. Menurun dari tahun 2016 dimana ditemukan 30 ibu hamil (6,45%) yang
mengalami anemia gizi besi, sedangkan pada tahun 2015 tercatat jumlah 18 ibu
hamil (3,87%) dengan anemia gizi besi. Sementara itu cakupan pemberian tablet
Fe1 pada ibu hamil sebanyak 364 (100%) dan cakupan Fe3 sebanyak 346
(95,05%) dari 364 jumlah bumil yang ada. Suplementasi pil besi atau tablet Fe ini
diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah dan menanggulangi kejadian anemia
gizi besi sebagai salah satu dari empat masalah gizi di Indonesia.
Tabel 9. Anemia Gizi Besi Ibu Hamil
Puskesmas Sumanda Tahun 2015-2017

Anemia Gizi Besi


No Desa/Pekon
2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 2 3 2
2 Sumanda 2 4 1
3 Ciherang 2 3 1
4 Way Halom 1 3 1
5 Suka Banjar 2 2 1
6 Suka Raja 1 2 1
7 Suka Mernah 2 4 1
8 Darussalam 1 1 1
9 Penanggungan 2 2 1
10 Suka Damai 1 3 1
11 Pariaman 1 2 1
12 Banjar Agung 1 1 1
Jumlah 18 30 13

c. Bumil Kurang Energi Kronis (KEK)


Kurang energi kronis merupakan masalah gizi pada ibu hamil yang masih
perlu mendapat perhatian khusus, karena selain menanggung dirinya juga janin
yang dikandungnya. Indikator yang digunakan dalam menentukan ibu hamil KEK
yaitu dengan ukuran lingkar lengan atas (LILA) kurang dari 23,5cm. Pada tahun
2017 di wilayah Puskesmas Sumanda ditemukan 6 ibu hamil (1,65%) yang
mengalami KEK. Jumlah ini menurun dari dari tahun 2016, dimana tercatat ibu
hamil KEK sebanyak 30 orang (6,45%) dari semua ibu hamil yang ada.

Tabel 10. Ibu Hamil KEK


Puskesmas Sumanda Tahun 2015-2017
16

Ibu Hamil KEK


No Desa/Pekon
2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 2 3 1
2 Sumanda 1 4 1
3 Ciherang 1 3 0
4 Way Halom 1 3 0
5 Suka Banjar 1 2 0
6 Suka Raja 1 2 1
7 Suka Mernah 2 4 2
8 Darussalam 1 1 0
9 Penanggungan 1 2 0
10 Suka Damai 1 3 0
11 Pariaman 1 2 1
12 Banjar Agung 1 1 0
Jumlah 14 30 6

d. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium


Wilayah Puskesmas Sumanda bukan merupakan daerah endemis Gondok, tapi
bukan berarti tidak ada kemungkinan masyarakat mengalami gangguan akibat
kekurangan yodium, untuk itu masih perlu dilakukan pemberian kapsul yodium
kepada anak SD, ibu hamil, ibu nifas dan wanita usia subur (WUS) khususnya
yang bertempat tinggal di daerah yang berada di perbukitan atau yang
bersebelahan dengan daerah tetangga yang endemik gondok. Pada tahun 2017
tidak ada pelaksanaan kegiatan pemberian kapsul yodium, dikarenakan tidak
tersedianya logistik dan anggaran.

e. Kekurangan Vitamin A
Kekurangan Vitamin A (KVA) merupakan salah satu dari empat masalah gizi
di Indonesia. Pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi merupakan salah satu upaya
yang dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan kekurangan vitamin A.
Sasaran pemberian vitamin A adalah bayi usia 6 sampai 12 bulan yang
mendapatkan satu kapsul vitamin A warna biru dan anak balita usia 13 sampai 59
bulan yang mendapatkan satu kapsul vitamin A warna merah. Pemberian vitamin A
pada balita ini dilakukan dua kali selama satu tahun, yaitu pada bulan Februari dan
Agustus. Selain balita, ibu nifas juga merupakan sasaran pemberian vitamin A
yang diberikan sebanyak dua kapsul sekaligus pada saat pasca persalinan.
Hasil cakupan pemberian vitamin A pada anak balita di wilayah Puskesmas
Sumanda selama tahun 2017 sebanyak 1,349 orang (96,01%). Hasil ini mengalami
peningkatan dari tahun 2016 sebesar 75,39%, sedangkan ditahun 2015 hasil
pemberian vitamin A sebesar 80,01%. Cakupan ini masih dibawah target SPM
17

tambahan yang harus dicapai yaitu 100% untuk pemberian vitamin A pada anak
balita. Sedangkan cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas sebanyak 331
orang (100%) dari jumlah persalinan.

f. Pemberian ASI Eksklusif


Pemberian ASI Eksklusif merupakan perilaku yang hanya memberikan ASI
saja pada bayi sampai bayi berumur enam bulan tanpa penambahan makanan
lainnya. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran para ibu menyebabkan pencapaian
kegiatan ini sulit diatasi, disamping faktor lain yang sulit dihindari, seperti
penyakit, kebiasaan dan lain sebagainya. Cakupan pemberian ASI Eksklusif di
Puskesmas Sumanda selama tahun 2017 sebanyak 113 orang (67,26%), sedikit
mengalami penurunan dari tahun 2016 yang mencapai 68,69%.

C. Analisis Lingkungan Kesehatan


Salah satu upaya Puskesmas Sumanda dalam meningkatkan kualitas lingkungan
yaitu dengan program penyehatan lingkungan pemukiman penduduk. Program
penyehatan lingkungan pemukiman merupakan salah satu bagian dari pembangunan
kesehatan yang menitikberatkan pada pemecahan masalah kesehatan lingkungan dalam
rangka mewujudkan kualitas lingkungan yang lebih sehat. Lingkungan yang sehat dapat
melindungi masyarakat dari segala kemungkinan kejadian yang dapat menimbulkan
gangguan dan atau bahaya kesehatan menuju derajat kesehatan keluarga dan masyarakat
yang lebih baik. Upaya peningkatan kesehatan lingkungan dilakukan dengan
memutuskan mata rantai penularan penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan
terutama pengawasan kualitas air, perumahan sehat, tempat tempat umum serta
pengendalian pencemaran air dan lingkungan.

1. Akses dan Persediaan Air Bersih

Masyarakat di wilayah keraja Puskesmas Sumanda dengan tempat tinggal


mempunyai Sarana Air Bersih (SAB) sebanyak 3.472 rumah atau sebesar 83,12%
dari 4.177 rumah yang ada. Masyarakat yang telah memanfaatkan sarana air bersih
sebanyak 14.185 jiwa atau 78,52% dari 18.066 jiwa yang ada, hal ini karena masih
ada masayarakat yang tinggal di dekat aliran sungai dan keadaan ekonomi rendah
sehingga masyarakat enggan untuk membuat sumur sebagai sarana air bersih untuk
keperluanya sehari-hari. Upaya-upaya yang telah dilakukan berupa stimulan
pembuatan sarana air bersih, rehabilitasi sumur dan cincin sumur, peragaan
pembuatan sistem penyaringan air bersih, perpipaan melaui program Penyediaan Air
Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) dan penyuluhan.
18

2. Keluarga dengan Kepemilikan Sanitasi Dasar


Faktor lingkungan terutama lingkungan sehat merupakan salah satu faktor dalam
memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Sarana air bersih, jamban keluarga dan
sistem pembuangan air limbah berhubungan erat dengan risiko penularan penyakit
khususnya penyakit saluran pencernaan dan kulit. Perilaku masyarakat dalam
menjaga kebersihan lingkungan dapat dilihat dari bagaimana kondisi tempat
pembuangan limbah manusia dan air.
Selama dua tahun terakhir jumlah kepemilikan sanitasi dasar di wilayah
Puskesmas Sumanda Kecamatan Pugung meningkat cukup signifikan, karena telah
digalakkannya program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat
(PAMSIMAS), kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan desa Oven
Defication Free (ODF). Fasilitas sanitasi yang layak berupa fasilitas pembuangan
tinja (jamban) yang digunakan sendiri atau bersama yang efektif untuk memutuskan
mata rantai penularan penyakit harus dilengkapi dengan septik tank. Semua kegiatan
ini sangat membantu masyarakat dalam menyediakan fasilitas sanitasi di perumahan
penduduk.
Tahun 2017 Puskesmas Sumanda telah melakukan survey kepemilikan sanitasi
dasar diperoleh data jumlah rumah yang memiliki jamban keluaraga (JAGA)
sebanyak 3.325 rumah (79,60%) dan jumlah jamban keluarga yang dilakukan
sebanyak 2.318 rumah (69,71%). Dari jumlah jamban keluarga yang telah dilakukan
pemeriksaan tersebut didapatkan hasil jamban keluarga yang memenuhi syarat
kesehatan sebanyak 1.611 jamban (69.49%). Angka ini mengalami peningkatan dari
tahun 2016, dimana jumlah jamban keluarga yang diperiksa sebanyak 1.877 rumah
(65,61%) dan yang memenuhi sayarat kesehatan sebanyak 1.163 rumah (61,96%).
Saluran pembuangan air limbah (SPAL) merupakan upaya dalam pengelolaan
limbah yang bertujuan untuk mencegah risiko munculnya penyakit atau gangguan
kesehatan berbasis lingkungan. Pada tahun 2017 jumlah rumah yang memiliki SPAL
sebanyak 2.672 rumah (63,97%) dan yang dilakukan pemeriksaan sebanyak 2.328
rumah (86,75%). Dari jumlah SPAL yang dilakukan pemeriksaan tersebut didapatkan
hasil yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 1.611 rumah (60,29%). Jumlah ini
meningkat dari tahun 2016, dimana SPAL yang dilakukan pemeriksaan sebanyak
1.887 rumah (76,73%). didapatkan hasil SPAL yang memenuhi syarat kesehatan
sebanyak 1.061 rumah (56,23%).

3. Rumah Sehat
Rumah adalah tempat berkumpul anggota keluarga dan untuk menghabiskan
sebagian besar waktunya, sehingga kondisi kesehatan perumahan sangat berperan
19

sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya.
Beberapa ukuran sering digunakan untuk menilai rumah sehat antara lain luas lantai,
jenis lantai, ventilasi, dinding atap dan lain sebagainya. Selain itu ketersediaannya
sarana sanitasi dasar juga merupakan salah satu kriteria dalam penilaian tersebut.
Selama tahun 2017 telah dilakukan kegiatan pemeriksaan rumah atau bangunan
sehat terhadap 2.318 rumah (55,49%) dan dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan
hasil sebanyak 1.611 rumah (60,29%) yang memenuhi standar kesehatan. Keadaan
ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 dimana jumlah rumah yang
diperiksa sebanyak 1.877 rumah (45,83%) dengan hasil sebanyak 1.061 rumah
(56,23%) rumah yang memenuhi syarat kesehatan.
4. Rumah Bebas Jentik
Pengendalian vektor bertujuan untuk mencegah terjangkitnya penyakit yang
disebabkan oleh vektor tersebut, seperti nyamuk, kecoa, lalat, tikus dan lain
sebagainya. Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor-vektor tersebut masih
menjadi masalah di wilayah Puskesmas Sumanda, seperti DBD, malaria klinis,
disentri, demam typoid dan diare. Pada tahun 2017 jumlah rumah atau bangunan
yang diperiksa jentik nyamuk sebanyak 2.318 rumah dan bangunan (86,75%) dan
dari hasil pemeriksaaan tersebut didapatkan 2.230 rumah yang bebas dari jentik
nyamuk aedes atau sebesar 96,20%. Upaya kegiatan yang selalu dilakukan di tiap
pekon untuk memantau jentik nyamuk yaitu melalui kegiatan pementauan jentik
berkala (PJB) yang dilakukan oleh kader beserta petugas kesehatan.

5. Tempat Tempat Umum Sehat


Terjadinya peristiwa keracunan dan penularan penyakit akut yang sering
membawa kematian dan kesakitan banyak bersumber dari Tempat Pembuatan dan
Penjualan Makanan (TP2M), Tempat Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan
Pestisida (TP2). Tempat-tempat tersebut perlu dilakukan pengawasan kesehatannya,
seperti air, jamban, pembuangan limbah dan sampah serta ventilasinya untuk
menghindari penularan penyakit yang disebabkan oleh terkontaminasinya makanan
dan minuman karena bakteri atau jamur penyebab penyakit, seperti diare, disentri,
keracunan dan sebagainya.
Tempat-tempat umum yang ada di wilayah Puskesmas Sumanda Kecamatan
Pugung sebanyak 61 lokasi dan yang telah diperiksa selama tahun 2017 sebanyak 35
lokasi atau 57,38% dengan hasil sebanyak 29 lokasi atau sebesar 82,86% yang
memenuhi syarat kesehatan. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2016 dengan
jumlah TTU yang diperiksa sebanyak 31 lokasi atau 80% dengan hasil 25 lokasi atau
80,64% yang memenuhi syarat kesehatan.
20

Selain tempat-tempat umum pembinaan kesehatan juga dilakukan pada tempat


pengolahan dan penjualan makanan (TP2M) dan tempat pengolahan pestisida (TP2).
Pada tahun 2017 tempat pengolahan dan penjualan makanan (TP2M) yang ada di
wilayah Puskesmas Sumanda sebanyak tiga tempat dan telah dilakukan pemeriksaan
dan pembinaan dengan hasil semua TP2M tersebut memenuhi syarat kesehatan.
Sementara itu tempat pengolahan pestisida (TP2) yang ada sebanyak 4 tempat dan
yang diinspeksi dan pengawasan oleh petugas kesehatan pada tahun 2017 sebanyak 3
tempat atau 75,00% dengan hasil 3 tempat atau 100% dari jumlah yang telah
diperiksa tersebut memenuhi syarat kesehatan.

D. Analisis Perilaku Kesehatan


1. Perilaku Pencarian Pengobatan
Jumlah kunjungan baru Puskesmas Sumanda selama tahun 2017 sebanyak 10.158
jiwa (56,23%) dari jumlah penduduk dalam wilayah kerja puskesmas, dengan jumlah
kasus baru rawat jalan sebanyak 18.583 kasus. Keadaan ini sudah cukup
menggambarkan bahwa tingkat kepercayaan penduduk dalam mencarai pertolongan
pengobatan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan semakin membaik, namun masih
ada sebagian kecil penduduk yang sakit berobat ke paranormal atau dukun.

2. Perilaku Pencarian Pertolongan Persalinan


Selama tiga tahun terakhir cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
di Puskesmas Sumanda cenderung mengalami peningkatan dan telah mencapai target
standar pelayanan minimal. Pada tahun 2017 cakupan persalinan yang ditolong oleh
tenaga kesehatan sebanyak 331 persalinan (95,11%) dari target yang ditetapkan.
Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2016 dimana jumlah persalinan oleh tenaga
kesehatan sebanyak 399 persalinan (89,87%) dari target yang ditetapkan dan pada
tahun 2015 jumlah persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 393 persalinan
(88,91%) dari target yang ditetapkan.
Sementara itu pelayan antenatal care untuk kunjungan ibu hamil selama tahun
2017, didapatkan hasil K1 sebanyak 364 ibu hamil (100%) dan kunjungan K4
sebanyak 346 ibu hamil (96,06%). Cakupan ini meningkan dibandingkan tahun 2016,
dimana cakupan kunjungan K1 sebanyak 465 ibu hamil (100%) dan kunjungan K4
sebanyak 441 ibu hamil (94,84%), sedangkan pada tahun 2015 tercatat kunjungan K1
sebanyak 459 bumil (99,14%) dan kunjungan K4 sebanyak 428 bumil (92,44%).

3. Rumah Tangga ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)


Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan upaya untuk memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga,
21

kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi


dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku dalam
rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Pada tahun 2017
diketahui bahwa dari 925 rumah tangga yang dipantau kesehatannya, terdapat
sebanyak 385 rumah tangga yang ber-PHBS atau hanya sebesar 41,62%. Angka ini
meningkat dari cakupan tahun 2016 dimana dari 728 rumah tangga yang dipantau dan
telah dilakukan survey, hanya sebanyak 244 rumah tangga (33,52%) rumah tangga
yang ber-PHBS.

4. Peranserta Masyarakat Dalam Posyandu


Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat
(UKBM) yang paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyelenggarakan
minimal lima program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, KB, perbaikan gizi,
imunisasi dan penanggulangan diare. Peran serta masyarakat dalam wilayah
Puskesmas Sumanda dapat terlihat dari jumlah posyandu balita 24 posyandu dan
posyandu usia lanjut berjumlah 16 posyandu dengan jumlah kader posyandu aktif
sebanyak 192 orang. Selain itu terdapat juga pos kesehatan desa (poskesdes)
sebanyak 3 poskesdes dengan jumlah kader 6 orang. Terdapat juga pos kesehatan
pesantren (poskestren) sebanyak 1 poskestren dengan jumlah kader 5 orang.
Disamping itu terdapat kelompok KP-KIA berjumlah 12 kelompok, posbindu
berjumlah 12 posbindu dan jumlah pondok sayang ibu (PSI) sebanyak 1 pondok.
Pembinaan kegiatan Saka Bhakti Husada (SBH) sebanyak 3 kelompok dengan
jumlah anggota seluruhnya sebanyak 80 orang.

Tabel 11. Data Kegiatan UKBM


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

Jenis UKBM
No Desa/Pekon Posyandu Posyandu
Posbindu Poskesdes KP-KIA
Balita Lansia
1 Banjar Negeri 4 2 1 0 1
2 Sumanda 4 1 1 1 1
3 Ciherang 2 1 1 0 1
4 Way Halom 2 1 1 0 1
5 Suka Banjar 2 1 1 1 1
6 Suka Raja 2 2 1 0 1
7 Suka Mernah 2 2 1 0 1
22

8 Darussalam 1 1 1 1 1
9 Penanggungan 1 1 1 0 1
10 Suka Damai 1 1 1 0 1
11 Pariaman 2 2 1 0 1
12 Banjar Agung 1 1 1 0 1
Jumlah 24 16 12 3 12

5. Posyandu Purnama dan Mandiri


Dalam perkembangan sebuah posyandu dapat dilihat dari telaah kemandirian
posyandu, dengan menggunakan delapan indikator yaitu frekuensi penimbangan
dalam satu tahun, rerata kader, rerata D/S, cakupan komulatif KIA, cakupan
komulatif KB, cakupan imunisasi, program tambahan dan dana sehat. Posyandu
balita yang ada dalam wilayah kerja Puskesmas Sumanda sebanyak 24 posyandu
terdiri dari posyandu madya sebanyak 12 posyandu, posyandu purnama sebanyak 10
posyandu dan posyandu mandiri 2 posyandu serta tidak terdapat strara posyandu
pratama. Selain posyandu balita di Puskesmas Sumanda terdapat juga posyandu usia
lanjut (lansia) sebanyak 16 posyandu lansia. Pelayanan usia lanjut merupakan salah
satu sasaran prioritas dalam program kesehatan, dengan pelayanan kesehatan meliputi
pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan rujukan.

Tabel 12. Data Strara Posyandu


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

Strata Posyandu
No Desa/Pekon
Pratama Madya Purnama Mandiri
1 Banjar Negeri 0 1 2 1
2 Sumanda 0 1 2 1
3 Ciherang 0 1 1 0
4 Way Halom 0 2 0 0
5 Suka Banjar 0 1 0 0
6 Suka Raja 0 1 0 0
7 Suka Mernah 0 2 1 0
8 Darussalam 0 0 1 0
9 Penanggungan 0 0 1 0
10 Suka Damai 0 0 1 0
11 Pariaman 0 2 0 0
12 Banjar Agung 0 1 1 0
Jumlah 0 12 10 2

6. Perilaku Masyarakat Dalam MCK (Personal Higyene)


23

Perilaku masyarakat dalam MCK termasuk juga personal hygiene dapat terlihat
dari kepemilikan sarana air bersih dan jamban disetiap rumahnya dan pada umumnya
penduduk sebagian besar telah memiliki SAB dan jamban, sehingga aktifitas mandi,
cuci dan kakus menggunakan sarana yang mamenuhi syarat kesehata. Pada tahun
2017 jumlah rumah yang memiliki jamban keluaraga (JAGA) sebanyak 3.325 rumah
(79,60%) dan jumlah jamban keluarga yang dilakukan sebanyak 2.318 rumah
(69,71%). Dari jumlah jamban keluarga yang telah dilakukan pemeriksaan tersebut
didapatkan hasil jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 1.611
jamban (69.49%). Angka ini mengalami peningkatan dari tahun 2016, dimana jumlah
jamban keluarga yang diperiksa sebanyak 1.877 rumah (65,61%) dan yang memenuhi
sayarat kesehatan sebanyak 1.163 rumah (61,96%).
E. Analisis Pelayanan Kesehatan
1. Fasilitas Kesehatan
a. Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah
Guna menunjang berbagai upaya kesehatan yang dijalankan, maka di
Puskesmas Sumanda dilengkapi oleh sarana pelayanan kesehatan berikut ini :
Tabel 13. Sarana Kesehatan Pemerintah
Puskesmas Sumanda Tahun 2017

No Jenis Sarana Jumlah Keterangan


1 Puskesmas Induk 1 Baik
2 Puskesmas Pembantu 2 Rusak Ringan
3 Perumahan Dokter 1 Rusak Ringan
4 Posyandu Balita 24 Baik
5 Posyandu Lansia 16 Baik
6 Perumahan Paramedis 2 Baik
7 Puskesmas Keliling 1 Rusak Ringan
8 Sepeda Motor 8 Rusak Ringan
9 Poskesdes 3 Baik

b. Puskesmas
Puskesmas Sumanda berada di jalan lintas Pekon Sumanda Kecamatan Pugung
Kabupaten Tanggamus, merupakan satu-satunya Puskesmas induk yang ada di
kecamatan ini, mulai berdiri pada tahun 2006 dan diresmikan pada bulan Februari
2007. Berdiri diatas lahan seluas 800 m2 dengan luas bangunan sekitar 250 m2.
Pada akhir tahun 2017 telah dilakukan rehabilitasi total terhadap bangunan
puskesmas dengan penambahan jumlah ruangan dan luas bangunan.
24

c. Puskesmas Pembantu
Puskesmas Sumanda mempunyai dua unit puskesmas pembantu (pustu), yaitu
Pustu Ciherang yang menaungi pekon Ciherang dan Pekon Penanggungan dan
Pustu Suka Mernah yang menaungi Pekon Suka Mernah dan Pekon Darussalam.
Sampai akhir tahun 2017 kedua pustu tersebut dalam keadaan baik dan digunakan
sebagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat terdekat.

d. Poskesdes
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang sudah terbentuk di wilayah Puskesmas
Sumanda saat ini sebanyak tiga poskesdes yang terdapat di Pekon Sumanda, Pekon
Banjar Agung dan Pekon Darussalam. Poskesdes merupakan tempat pemberian
pelayanan kesehatan dasar di tiap pekon dengan jenis pelayanan yang sama seperti
di puskesmas pembantu.

e. Kendaraan Roda Dua dan Roda Empat


Puskesmas Sumanda dilengkapi dengan kendaraan roda empat atau
puskesmas keliling, saat ini dalam keadaan baik dan digunakan terutama untuk
kegiatan pelayanan pengobatan keliling, kegiatan luar gedung puskesmas dan
sebagai sarana transportasi rujukan pasien ke rumah sakit. Disamping puskesmas
keliling terdapat juga kendaraan roda dua (sepeda motor) sebanyak delapan unit,

f. Alat Kesehatan
Ketersediaan alat kesehatan merupakan komponen penting dalam menunjang
keberhasilan program pelayanan kesehatan. Adapun kedaan peralatan kesehatan di
Puskesmas Sumanda dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 14. Ketersediaan Alat Kesehatan


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

Kondisi
No Alat Kesehatan Jumlah Ket
Baik Rusak
A Puskesmas (Dalam Gedung)
1 Tabung Oksigen 3 3 -
2 Peralatan 1 1 -
Poliklini
k Set
3 Peralatan 1 1 -
KIA
4 Peralatan 1 1 -
KB
25

5 Peralatan 1 1 -
Gigi
6 Peralatan 1 set 0 1
Laborato
rium
7 Peralatan Adm .kantor
- Mesin Tik 2 1 1
- 4 3 1
Compute
r
- Laptop 2 2 -
- Printer 4 3 1
8 Peralatan Penyuluhan
-Televisi 2 2 -
- DVD 1 - 1
Player
- 1 - 1
Proyecto
r
Overhea
d
- LCD 1 1 -
B Luar Gedung
1 Peralatan UKS Kit - - -
2 Peralatan - - -
UKGS
Kit
3 Peralatan 1 1 -
PHN Kit
4 Peralatan 1 1 -
Sanitaria
nt Kit
5 Peralatan - - -
Dukun
Kit
6 Peralatan Bidan Kit 2 2
7 Peralatan Posyandu Kit 3 3 -
8 Peralatan 2 1 1
[Link]
a Kit
9 Peralatan Pusling 1` -
C Puskesmas Pembantu
1 Peralatan Poliklinik Set 1 - 1
2 Peralatan 1 - 1
KIA/KB
Set
D Penunjang Kegiatan
1 Mobil Pusling 1 - 1 Rusak
2 Motor Dinas 8 7 1

2. Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta


Selain sarana pelayanan kesehatan pemerintah, masyarakat Kecamatan Pugung
juga memanfatkan sarana pelayanan kesehatan milik swasta. Adapun sarana
pelayanan kesehatan swasta tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 15. Sarana Pelayanan Kesehatan swasta


26

Puskesmas Sumanda Tahun 2017

No Nama Pelayanan Jumlah Keterangan


1 Rumah Sakit 0
2 Dokter Praktek 0
3 Balai Pengobatan 1
4 Bidan Praktek Swasta 6
5 Rumah Bersalin 4
6 Apotik 0
7 Toko Obat 0
3. Sumber Daya Kesehatan
a. Sumber Daya Kader Kesehatan
Keberadaan kader kesehatan merupakan salah satu bentuk dukungan dan
partisipasi masyarakat dalam kegiatan kesehatan. Selain itu juga keberadaan kader
kesehatan sangan membantu terlaksananya upaya-upaya kesehatan. Adapun
jumlah kader kesehatan yang ada di Puskesmas Sumanda sebagai berikut :

Tabel 16. Data Kader Kesehatan


Puskesmas Sumanda

Tahun
No Kader
2015 2016 2017
1 Kader Posyandu Balita 120 Orang 125 Orang 133 Orang
2 Kader Posyandu Lansia 42 Orang 48 Orang 59 Orang
3 Kader Posbindu 30 Orang 30 Orang 36 Orang
4 Kader Poskesdes 18 Orang 18 Orang 6 Orang
5 Kader Poskestren 3 orang 3 orang 5 orang
6 Kader SBH 30 orang 60 orang 80 orang
7 Kader KP-KIA 24 orang 24 orang 24 orang
8 Kader Jumantik 16 orang 20 orang 24 orang

b. Sumber Daya Tenaga Kesehatan


Jumlah Tenaga Kesehatan yang bekerja di lingkup Puskesmas Sumanda sampai
dengan akhir tahun 2017 masih kurang, sehingga perlu mendapatkan tambahan,
untuk menjalankan program secara maksimal. Adapun jumlah ketenagaan di
Puskesmas Sumanda dapat terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 17. Data Ketenagaan
Puskesmas Sumanda Tahun 2017

Jumlah Kebutuhan
No Jenis Tenaga Kekurangan Keterangan
2017 2018
A Puskesmas Induk
1 Kepala Puskesmas 1 1 0 1 PNS
2 Doketer Umum 0 1 1 2 PTT
3 Dokter Gigi 0 1 1 0
4 Sarjana Keperawatan 2 3 1
5 SKM 0 1 1 3 honda
6 D4 Kebidanan 5 6 1 2 TKS
7 D4 Kesling 1 1 0
8 Akper 3 0 3 3 PNS
27

9 D3 Kebinan 2 3 1 1 TKS
10 D3 Kesehatan Gigi 1 1 0 5 honda
11 D3 Gizi 1 1 0 2 TKS
12 D3 Analis 0 1 1 1 TKS
13 D3 Farmasi 1 1 0 1 PNS
B Puskesmas Pembantu
1 Perawat 1 2 1 2 PNS
2 Bidan 1 2 1 1 Honda
3 Cleaning Service 1 1 0
C Bidan Desa 9 12 3 4 PTT
D Non Kesehatan
1 Administrasi 1 3 2 1 Honda
2 Sopir ambulan 1 2 1 1Honda
3 Cleaning service 3 3 0
4 Juru Masak 1 1 0 1 TKS
5 Tukang Cuci 1 1 0 1 TKS
6 Penjaga Malam 1 1 2 2 Honda
Jumlah 45 50 7

4. Pembiayaan

Pembiayaan program pembangunan dan pelayanan kesehatan di Puskesmas


Sumanda tahun 2017 bersumber antara lain dari dana Bantuan Operasional Kesehatan
(BOK), Jaminan Kesehatan Nasionan (JKN), APBD Kabupaten, APBD Propinsi dan
APBN, seperti yang tertera dalam tabel berikut ini.

Tabel 18. Sumber Pembiayaan Kesehatan


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

No Sumber Pembiayaan Jumlah (Rp)


1 ADUM
2 Bantuan Operasional Kesehatan Rp. 521.902.000,-
3 JKN Rp. 650.895.015,-
4 APBD Kabupaten
Jumlah

F. Data Khusus
a. Indikator Program Gizi

Tabel 19. Cakupan Program Gizi


Puskesmas Sumanda Tahun 2017

Target Pencapaian Kesenjangan


No Jenis Kegiatan
Abs % Abs % Abs %
1 D/S Rata-Rata 1726 100 1454 84,3 272 15,7
2 N/D Rata-Rata 1726 100 1155 79,5 299 20,5
3 Bumil dapat 90 tablet Fe 364 100 346 95,1 18 4,9
4 Vitamin A Bufas 331 100 331 100 0 0
5 Vitamin A Balita 1726 100 1349 96 56 4
6 Balita kurus Dapat MP-
703 100 703 100 0 0
ASI
7 Bumil KEK dapat PMT 73 100 4 1,1 0 0
28

8 Bumil Anemia 73 29,9 13 3,6 0 0


9 Balita BGM 17 1,18 4 0,3 0 0
10 Balita Gizi Buruk dapat
0 100 0 0 0 0
perawatan
11 Bayi 6 bulan dapat ASI
168 100 113 67,3 21 2,7
Eksklusif
12 Balita punya buku KIA 1726 100 1726 100 0 0
13 Rematri dapat tablet Fe 787 100 497 63,2 290 36,8
14 Rumah tangga dengan
360 100 360 100 0 0
garam yodium
15 Bayi Baru lahir dapat
331 100 346 95,1 18 4,9
IMD
16 Bayi dengan BBLR 29 100 0 0 29 100
17 Balita tidak naik
29 100 19 63,2 10 36,8
timbangannya 1 kali
18 Balita tidak naik
29 100 19 63,2 10 36,8
timbangannya 2 kali

b. Cakupan Program Gizi

Grafik 15 . Cakupan D/S


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 16 . Cakupan N/D


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 17 . Cakupan Bumil dapat 90 Tablet Fe


Puskesmas Sumanda tahun 2017
29

Grafik 18 . Cakupan Vitamin A Bufas


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 19 . Cakupan Vitamin A Balita


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 20 . Cakupan Balita Kurus dapat MP ASI


Puskesmas Sumanda tahun 2017
30

Grafik 21 . Cakupan Ibu hamil KEK


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 22 . Cakupan Ibu hamil Anemia


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 23 . Cakupan Balita BGM


Puskesmas Sumanda tahun 2017
31

Grafik 24 . Cakupan ASI Eksklusif


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 25 . Cakupan Balita punya buku KIA


Puskesmas Sumanda tahun 2017
32

Grafik 26 . Cakupan Rematri dapat tablet Fe


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 27 . Cakupan Rumah tangga dengan Garam beryodium


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 28 . Cakupan BBL di IMD


Puskesmas Sumanda tahun 2017
33

Grafik 29 . Cakupan Balita tidak naik 1 kali (T)


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Grafik 29 . Cakupan Balita tidak naik 2 kali (2T)


Puskesmas Sumanda tahun 2017

Anda mungkin juga menyukai