Analisis Puskesmas Sumanda 2017
Analisis Puskesmas Sumanda 2017
BAB II
ANALISIS SITUASI
A. Gambaran Umum
1. Wilayah Kerja Puskesmas
Puskesmas Sumanda Kecamatan Pugung terletak di Jalan Raya Sumanda Pekon
Sumanda Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus. Wilayah kerja Puskesmas
Sumanda pada awal berdirinya terdiri atas 9 (tujuh) pekon/desa, namun saat ini
beberapa pekon telah mengalami pemekaran wilayah sehingga saat ini wilayah kerja
Puskesmas Sumanda terdiri 12 (dua belas) pekon. Empat dari jumlah pekon tersebut
merupakan pekon yang memiliki daerah terpencil dan tertinggal serta memiliki
medan yang sulit untuk dijangkau. Untuk membantu pelaksanaan operasional dan
untuk memperluas jangkauan kegiatanya Puskesmas Sumanda mempunyai dua unit
puskesmas pembantu (Pustu) yaitu Pustu Ciherang dan Pustu Suka Mernah. Pustu
Suka Mernah membawahi dua pekon yaitu Pekon Suka Mernah dan Pekon
Darussalam, sedangkan Pustu Ciherang juga membawahi dua pekon yaitu Pekon
Ciherang dan Pekon Penanggungan.
2. Pemerintahan
Puskesmas Sumanda merupakan suatu organisai unit kerja di bawah naungan
Instansi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, yang didirikan pada tahun 2006 dan
mulai beroperasi pada bulan Februari 2007. Nama Sumanda digunakan karena
berdasarkan letak puskesmas di Pekon Sumanda, yaitu salah satu pekon yang ada di
Kecamatan Pugung dan merupakan satu-satunya puskesmas induk yang ada di
wilayah kecamatan ini. Kecamatan Pugung mulai berdiri pada awal tahun 2006,
melalui pemekaran wilayah dari Kecamatan Gisting dan Kecamatan Talang Padang
Kabupaten Tanggamus.
3. Geografis
Luas wilayah kerja Puskesmas Sumanda + 38.1 Km², yang terbagi menjadi 12
pekon dan empat dari jumlah pekon tersebut merupakan pekon tertinggal dan
terpencil, yaitu Pekon Darussalam, Pekon Suka Mernah, Pekon Ciherang dan Pekon
Way Halom. Jarak terjauh antara pekon dengan puskesmas induk sejauh 8 Km yang
dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 Menit, jarak puskesmas induk ke
Dinas Kesehatan di ibu kota kabupaten sekitar 20 Km dengan waktu tempuh dengan
kendaraan umum kurang lebih 45 menit, sedangkan jarak puskesmas dengan rumah
sakit tempat rujukan terdekat sekitar 30 Km dengan waktu tempuh menggunakan
kendaraan umum sekitar satu jam. Jarak tempuh dengan ibu kota Propinsi Lampung
2
sekitar 60 Km dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Adapun batas-batas wilayah kerja
Puskesmas Sumanda adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Puskesmas Talang Padang.
b. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Sumanda.
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Gisting.
d. Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Puskesmas Talang Padang.
Secara geografis dan luas wilayah Puskesmas Sumanda Kecamatan Pugung dapat
terlihat pada peta dan tabel berikut ini :
4. Geologi
3
Dari segi geologi wilayah kerja Puskesmas Sumanda sebagian besar merupakan
daratan sebagai tempat areal persawahan, perkebunan dan pemukiman penduduk.
Banyak irigasi di setiap pekon yang digunakan para petani untuk mengaliri sawah
mereka sehingga rawan menjadi tempat perindukan nyamuk dan vektor penyakit
lainnya. Sebagian kecil terdapat rawa-rawa dan lahan yang tidak produktif di sekitar
lingkungan tempat tinggal masyarakat. Pola penggunaan lahan di wilayah Puskesmas
Sumanda sebagian besar dimanfaatkan untuk areal kegiatan pertanian atau
persawahan 42%, perkebunan 8,6% dan peladangan kosong belum dimanfaatkan
17%, dan selebihnya 32,4% merupakan daerah pemukiman penduduk.
5. Topografi
Wilayah kerja Puskesmas Sumanda terdiri dari sekitar 60% dataran rendah yang
merupakan areal persawahan, perkebunan, kolam, rawa-rawa dan pemukiman
penduduk dan 40% terdiri dari perbukitan yang merupakan lahan perkebunan,
pertanian dan ladang bagi penduduk. Lahan persawahan atau pertanian sebagian
besar digunakan untuk menanam padi dan tanaman sayuran lainnya, sedangkan lahan
perkebunan digunakan untuk tanaman coklat, kopi, lada dan pisang.
6. Hidrologi
Di wilayah Puskesmas Sumanda mengalir sungai yang sangat penting bagi
kegiatan pertanian yaitu Way Tebu yang melintasi sebagian wilayahnya dan pada
umumnya sungai tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, selain itu ada
sebagian penduduk yang memanfaatkan air sungai ini untuk kebutuhan rumah tangga,
seperti mandi, cuci dan buang air besar. Selain ini di beberapa pekon terdapat irigasi
pertanian yang melintasi di beberapa areal pertanian dan pemukiman.
dalam 4.276 kepala keluarga (KK) dengan jumlah KK prasejahtra sebanyak 51,3%
dari jumlah kepala keluarga seluruhnya. Latar belakang pendidikan penduduk
mayoritas berpendidikan SD/sederajat sebesar 46,23%, SLTP/sederajat sebesar
27,49%, SLTA/sederajat sebesar 20,98% dan yang berpendidikan perguruan tinggi
sebesar 5,30%. Kegiatan ekonomi atau mata pencaharian penduduk mayoritas
disektor pertanian (54,2%), baik sebagai petani sendiri atau buruh tani. Keadaan
sosial masyarakat dipedesaan diwarnai dengan kekerabatan yang masih kuat. Budaya
adat istiadat mayoritas penduduk Suku Lampung, sedangkan sisanya terdiri dari Suku
Sunda dan jawa. Kondisi budaya dan keagamaan yang demikian sangat besar
pengaruhnya terhadap corak kepemimpinan. Pemimpin informal yang berlatar
belakang agama seperti Kyai dan Ketua Adat masih memiliki peran atau pengaruh
yang sangat besar dalam masyarakat. Demikian juga terhadap pengambilan
keputusan berperilaku dalam kesehatan.
Jumlah penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Sumanda tersebar dalam 12
pekon dengan kepadatan yang berbeda. Adapun data distribusi jumlah penduduk
berdasarkan tempat tinggal dan jenis kelamin sebagai berikut :
Kematian atau mortalitas merupakan salah satu prioritas masalah yang harus
terselesaikan dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak. Beberapa faktor yang
mempengaruhi tingkat mortalitas dan morbiditas diantaranya adalah sosial ekonomi
masyarakat, tingkat pendidikan, perilaku hidup sehat, lingkungan perumahan, upaya
kesehatan dan fertilitas. Selain itu angka kematian dapat digunakan sebagai indikator
dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan
kesehatan dalam suatu wilayah.
No Desa/Pekon Jumlah
1 Banjar Negeri 18
2 Sumanda 17
3 Ciherang 16
4 Way Halom 14
5 Suka Banjar 11
6 Suka Raja 13
7 Suka Mernah 11
8 Darussalam 10
9 Penanggungan 7
10 Suka Damai 9
11 Pariaman 8
12 Banjar Agung 7
Jumlah 141
Berdasarkan grafik diatas maka dapat diketahui bahwa angka kematian kasar
yang terbanyak di Pekon Banjar Negeri yaitu 18 orang dan yang paling sedikit
terjadi di Pekon Banjar Agung sebanyak 7 orang. Keadaan ini disebabkan oleh
faktor jumlah penduduk dan tingkat kepadatan penduduk.
Berdasarkan grafik diatas terlihat angka kematian kasar yang terus meningkat
setiap tahunnya dan yang terbanyak di tahun 2017. Penyakit jantung/hipertensi
yang merupakan penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian tertinggi
disetiap tahunnya, sedangkan penyakit infeksi dalam beberapa tahun terakhir
menjadi penyebab kematian yang terendah.
Jumlah
No Desa/Pekon
2014 2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 0 0 0 0
2 Sumanda 1 0 0 0
3 Ciherang 0 0 0 0
4 Way Halom 0 0 0 0
5 Suka Banjar 0 0 0 0
6 Suka Raja 0 0 0 1
7 Suka Mernah 0 0 0 0
8 Darussalam 0 0 0 0
9 Penanggungan 0 0 0 0
10 Suka Damai 0 0 0 0
11 Pariaman 0 0 0 0
12 Banjar Agung 0 0 0 0
Jumlah 1 0 0 1
(empat) kasus dari 331 jumlah persalinan hidup atau sebesar 12,1/1.000 kelahiran
hidup.
Jumlah
No Desa/Pekon
2014 2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 0 0 0 0
2 Sumanda 1 0 0 1
3 Ciherang 0 0 0 0
4 Way Halom 1 0 0 0
5 Suka Banjar 0 0 0 1
6 Suka Raja 1 0 0 1
7 Suka Mernah 1 0 0 0
8 Darussalam 0 0 0 0
9 Penanggungan 0 0 0 1
10 Suka Damai 1 0 0 0
11 Pariaman 0 0 0 0
12 Banjar Agung 0 0 0 0
Jumlah 4 0 0 4
tingkat permasalahan anak balita dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap
kesehatan balita seperti gizi balita, sanitasi dan penyakit-penyakit infeksi.
Kematian balita di Puskesmas Sumanda selama tiga tahun terakhir mengalami
peningkatan dengan penyebab kematian yang bervariatif. Pada tahun 2015 angka
kematian balita sebanyak 2 kasus dan di tahun 2016 kematian balita sebanyak 3
kasus. Kemudian di tahun 2017 terjadi peningkatan jumlah kasus kematian balita
menjadi 5 kasus atau sebesar 15,1/1.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian
balita ini diantaranya kelainan jantung, cacat bawaan dan pneomonia aspirasi.
Jumlah Kasus
No Desa/Pekon
2013 2014 2015 2016 2017
1 Banjar Negeri 1 0 0 0 0
2 Sumanda 1 1 0 0 0
3 Ciherang 0 1 0 0 0
4 Way Halom 2 1 0 0 0
5 Suka Banjar 0 0 0 0 0
6 Suka Raja 1 1 0 0 0
7 Suka Mernah 1 1 0 0 0
8 Darussalam 1 0 0 0 0
9 Penanggungan 1 0 0 0 0
10 Suka Damai 0 0 0 0 0
11 Pariaman 0 0 0 0 0
12 Banjar Agung 1 0 0 0 0
Jumlah 9 5 0 0 0
saluran pernafasan bagian atas, selama lima tahun terakhir menduduki urutan
tertinggi pada pola sepuluh besar penyakit di Puskesmas Sumanda dengan
kecenderungan terus meningkat. Pada tahun 2014 sebesar 26,54%, meningkat di
tahun 2015 menjadi 27,37%, kemudian di tahun 2017 menjadi 27,86%. Pola sepuluh
besar penyakit di tahun 201 masih didominasi penyakit-penyakit infeksi dan yang
terbanyak adalah nasopharing akut sebanyak 4.032 penderita (21,7%). Selain itu
angka kesakitan dan kematian penyakit menular berbasis lingkungan juga masih
banyak terjadi, seperti diare, demam berdarah (DBD), TB Paru dan malaria klinis.
5. Status Gizi
Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia dan
sekaligus dalam pengentasan kemiskinan adalah dengan meningkatkan gizi anak
terutama pada masa balita. Keadaan gizi pada balita sangat mempengaruhi tingkat
kecerdasan manusia, karena kecukupan gizi sangat diperlukan dalam pertumbuhan
otak terutama pada masa balita dan selanjutnya akan menghasilkan generasi yang
produktif dan berkualitas.
Balita yang ada di wilayah Puskesmas Sumanda tahun 2017 sebanyak 1.726
balita, rata-rata balita yang ditimbang setiap bulan atau D/S di diperoleh jumlah
sebanyak 1.454 balita atau sebesar 84,24% dari jumlah balita yang ada. Balita yang
naik timbangannya atau N/D diperoleh hasil 1.155 balita atau sebesar 79,44% dan
pencapaian N/S diperoleh hasil 66,91%. Pencapaian hasil kegiatan ini masih dibawah
target standar pelayanan minimal (SPM) yaitu 90%. Namun hasil ini meningkat
dibandingkan cakupan tahun 2016, dimana cakupan D/S sebesar 77,45%, cakupan
N/D sebesar 73,07% dan hasil cakupan N/S sebesar 56,59%.
Hasil pencapaian D/S perlu mendapatkan perhatian karena merupakan gambaran
tingkat partisipasi masyarakat berupa kehadiran balita di posyandu, sedangkan hasil
N/D merupakan gambaran tingkat keberhasilan pencapaian program gizi dalam suatu
unit pelayanan kesehatan. Permasalahan yang sering dijumpai dimana orang tua
balita enggan membawa anaknya ke posyandu ketika sudah berumur lebih dari satu
14
tahun karena tidak mendapatkan imunisasi lagi, oleh sebab itu diperlukan kegiatan
tambahan di tiap posyandu untuk menarik minat masyarakat dating ke posyandu.
a. Gizi Buruk
Balita gizi buruk merupakan titik puncak kekurangan zat gizi pada balita dan
tingkat keparahannya bisa menjadi marasmus, kwashiorkor atau marasmus dan
kwashiorkor. Pada keadaan ini balita akan mengalami “lost generation” yaitu
keadaan dimana kondisi fisik dan psikologis balita sangat tergantung pada orang
lain. Kondisi inilah yang tidak diharapkan oleh pemerintah dalam upaya
mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada tahap awal balita
mengalami gizi buruk adalah berat badan balita dibawah garis merah atau BGM.
Kasus gizi buruk atau marasmus dan kwashiorkor belum pernah terjadi di
Puskesmas Sumanda. Balita dengan BGM pada tahun 2017 sebanyak 4 orang atau
0,3%. Keadaan ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, dimana pada tahun
2016 tercatat jumlah BGM sebanyak 110 balita dan di tahun 2015 balita BGM
yang terpantau sebanyak 38 balita. Dengan keadaan seperti ini maka wilayah
Puskesmas Sumanda belum sepenuhnya bebas dari ancaman gizi buruk, terlebih
lagi dengan status sosial ekonomi masyarakat rendah.
Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka penanganan balita BGM dan
pencegahan kasus gizi buruk adalah melalaui pemberian Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI) bubur dan biskuit, pemberian paket gizi melalui aktivasi pojok gizi,
meningkatkan gerakan keluarga sadar gizi dan sosialisasi pada bidan desa serta
kader kesehatan tentang pentingnya zat gizi.
Kekurangan zat besi pada ibu hamil merupakan masalah yang masih muncul di
wilayah Puskesmas Sumanda. Keadaan anemia pada ibu hamil dapat berdampak
pada proses persalinan dan bayi yang akan dilahirkannya. Selain itu anemia gizi
besi merupakan salah satu faktor risiko tinggi pada kehamilan yang dapat
berdampak pada proses persalinan. Oleh karena itu pemberian tablet tambah darah
Fe sangat membantu untuk mencegah masalah tersebut.
Pada tahun 2017 ditemukan sebanyak 13 ibu hamil (3,57%) mengalami anemia
gizi besi. Menurun dari tahun 2016 dimana ditemukan 30 ibu hamil (6,45%) yang
mengalami anemia gizi besi, sedangkan pada tahun 2015 tercatat jumlah 18 ibu
hamil (3,87%) dengan anemia gizi besi. Sementara itu cakupan pemberian tablet
Fe1 pada ibu hamil sebanyak 364 (100%) dan cakupan Fe3 sebanyak 346
(95,05%) dari 364 jumlah bumil yang ada. Suplementasi pil besi atau tablet Fe ini
diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah dan menanggulangi kejadian anemia
gizi besi sebagai salah satu dari empat masalah gizi di Indonesia.
Tabel 9. Anemia Gizi Besi Ibu Hamil
Puskesmas Sumanda Tahun 2015-2017
e. Kekurangan Vitamin A
Kekurangan Vitamin A (KVA) merupakan salah satu dari empat masalah gizi
di Indonesia. Pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi merupakan salah satu upaya
yang dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangan kekurangan vitamin A.
Sasaran pemberian vitamin A adalah bayi usia 6 sampai 12 bulan yang
mendapatkan satu kapsul vitamin A warna biru dan anak balita usia 13 sampai 59
bulan yang mendapatkan satu kapsul vitamin A warna merah. Pemberian vitamin A
pada balita ini dilakukan dua kali selama satu tahun, yaitu pada bulan Februari dan
Agustus. Selain balita, ibu nifas juga merupakan sasaran pemberian vitamin A
yang diberikan sebanyak dua kapsul sekaligus pada saat pasca persalinan.
Hasil cakupan pemberian vitamin A pada anak balita di wilayah Puskesmas
Sumanda selama tahun 2017 sebanyak 1,349 orang (96,01%). Hasil ini mengalami
peningkatan dari tahun 2016 sebesar 75,39%, sedangkan ditahun 2015 hasil
pemberian vitamin A sebesar 80,01%. Cakupan ini masih dibawah target SPM
17
tambahan yang harus dicapai yaitu 100% untuk pemberian vitamin A pada anak
balita. Sedangkan cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas sebanyak 331
orang (100%) dari jumlah persalinan.
3. Rumah Sehat
Rumah adalah tempat berkumpul anggota keluarga dan untuk menghabiskan
sebagian besar waktunya, sehingga kondisi kesehatan perumahan sangat berperan
19
sebagai media penularan penyakit diantara anggota keluarga atau tetangga sekitarnya.
Beberapa ukuran sering digunakan untuk menilai rumah sehat antara lain luas lantai,
jenis lantai, ventilasi, dinding atap dan lain sebagainya. Selain itu ketersediaannya
sarana sanitasi dasar juga merupakan salah satu kriteria dalam penilaian tersebut.
Selama tahun 2017 telah dilakukan kegiatan pemeriksaan rumah atau bangunan
sehat terhadap 2.318 rumah (55,49%) dan dari hasil pemeriksaan tersebut didapatkan
hasil sebanyak 1.611 rumah (60,29%) yang memenuhi standar kesehatan. Keadaan
ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016 dimana jumlah rumah yang
diperiksa sebanyak 1.877 rumah (45,83%) dengan hasil sebanyak 1.061 rumah
(56,23%) rumah yang memenuhi syarat kesehatan.
4. Rumah Bebas Jentik
Pengendalian vektor bertujuan untuk mencegah terjangkitnya penyakit yang
disebabkan oleh vektor tersebut, seperti nyamuk, kecoa, lalat, tikus dan lain
sebagainya. Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor-vektor tersebut masih
menjadi masalah di wilayah Puskesmas Sumanda, seperti DBD, malaria klinis,
disentri, demam typoid dan diare. Pada tahun 2017 jumlah rumah atau bangunan
yang diperiksa jentik nyamuk sebanyak 2.318 rumah dan bangunan (86,75%) dan
dari hasil pemeriksaaan tersebut didapatkan 2.230 rumah yang bebas dari jentik
nyamuk aedes atau sebesar 96,20%. Upaya kegiatan yang selalu dilakukan di tiap
pekon untuk memantau jentik nyamuk yaitu melalui kegiatan pementauan jentik
berkala (PJB) yang dilakukan oleh kader beserta petugas kesehatan.
Jenis UKBM
No Desa/Pekon Posyandu Posyandu
Posbindu Poskesdes KP-KIA
Balita Lansia
1 Banjar Negeri 4 2 1 0 1
2 Sumanda 4 1 1 1 1
3 Ciherang 2 1 1 0 1
4 Way Halom 2 1 1 0 1
5 Suka Banjar 2 1 1 1 1
6 Suka Raja 2 2 1 0 1
7 Suka Mernah 2 2 1 0 1
22
8 Darussalam 1 1 1 1 1
9 Penanggungan 1 1 1 0 1
10 Suka Damai 1 1 1 0 1
11 Pariaman 2 2 1 0 1
12 Banjar Agung 1 1 1 0 1
Jumlah 24 16 12 3 12
Strata Posyandu
No Desa/Pekon
Pratama Madya Purnama Mandiri
1 Banjar Negeri 0 1 2 1
2 Sumanda 0 1 2 1
3 Ciherang 0 1 1 0
4 Way Halom 0 2 0 0
5 Suka Banjar 0 1 0 0
6 Suka Raja 0 1 0 0
7 Suka Mernah 0 2 1 0
8 Darussalam 0 0 1 0
9 Penanggungan 0 0 1 0
10 Suka Damai 0 0 1 0
11 Pariaman 0 2 0 0
12 Banjar Agung 0 1 1 0
Jumlah 0 12 10 2
Perilaku masyarakat dalam MCK termasuk juga personal hygiene dapat terlihat
dari kepemilikan sarana air bersih dan jamban disetiap rumahnya dan pada umumnya
penduduk sebagian besar telah memiliki SAB dan jamban, sehingga aktifitas mandi,
cuci dan kakus menggunakan sarana yang mamenuhi syarat kesehata. Pada tahun
2017 jumlah rumah yang memiliki jamban keluaraga (JAGA) sebanyak 3.325 rumah
(79,60%) dan jumlah jamban keluarga yang dilakukan sebanyak 2.318 rumah
(69,71%). Dari jumlah jamban keluarga yang telah dilakukan pemeriksaan tersebut
didapatkan hasil jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 1.611
jamban (69.49%). Angka ini mengalami peningkatan dari tahun 2016, dimana jumlah
jamban keluarga yang diperiksa sebanyak 1.877 rumah (65,61%) dan yang memenuhi
sayarat kesehatan sebanyak 1.163 rumah (61,96%).
E. Analisis Pelayanan Kesehatan
1. Fasilitas Kesehatan
a. Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah
Guna menunjang berbagai upaya kesehatan yang dijalankan, maka di
Puskesmas Sumanda dilengkapi oleh sarana pelayanan kesehatan berikut ini :
Tabel 13. Sarana Kesehatan Pemerintah
Puskesmas Sumanda Tahun 2017
b. Puskesmas
Puskesmas Sumanda berada di jalan lintas Pekon Sumanda Kecamatan Pugung
Kabupaten Tanggamus, merupakan satu-satunya Puskesmas induk yang ada di
kecamatan ini, mulai berdiri pada tahun 2006 dan diresmikan pada bulan Februari
2007. Berdiri diatas lahan seluas 800 m2 dengan luas bangunan sekitar 250 m2.
Pada akhir tahun 2017 telah dilakukan rehabilitasi total terhadap bangunan
puskesmas dengan penambahan jumlah ruangan dan luas bangunan.
24
c. Puskesmas Pembantu
Puskesmas Sumanda mempunyai dua unit puskesmas pembantu (pustu), yaitu
Pustu Ciherang yang menaungi pekon Ciherang dan Pekon Penanggungan dan
Pustu Suka Mernah yang menaungi Pekon Suka Mernah dan Pekon Darussalam.
Sampai akhir tahun 2017 kedua pustu tersebut dalam keadaan baik dan digunakan
sebagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat terdekat.
d. Poskesdes
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yang sudah terbentuk di wilayah Puskesmas
Sumanda saat ini sebanyak tiga poskesdes yang terdapat di Pekon Sumanda, Pekon
Banjar Agung dan Pekon Darussalam. Poskesdes merupakan tempat pemberian
pelayanan kesehatan dasar di tiap pekon dengan jenis pelayanan yang sama seperti
di puskesmas pembantu.
f. Alat Kesehatan
Ketersediaan alat kesehatan merupakan komponen penting dalam menunjang
keberhasilan program pelayanan kesehatan. Adapun kedaan peralatan kesehatan di
Puskesmas Sumanda dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Kondisi
No Alat Kesehatan Jumlah Ket
Baik Rusak
A Puskesmas (Dalam Gedung)
1 Tabung Oksigen 3 3 -
2 Peralatan 1 1 -
Poliklini
k Set
3 Peralatan 1 1 -
KIA
4 Peralatan 1 1 -
KB
25
5 Peralatan 1 1 -
Gigi
6 Peralatan 1 set 0 1
Laborato
rium
7 Peralatan Adm .kantor
- Mesin Tik 2 1 1
- 4 3 1
Compute
r
- Laptop 2 2 -
- Printer 4 3 1
8 Peralatan Penyuluhan
-Televisi 2 2 -
- DVD 1 - 1
Player
- 1 - 1
Proyecto
r
Overhea
d
- LCD 1 1 -
B Luar Gedung
1 Peralatan UKS Kit - - -
2 Peralatan - - -
UKGS
Kit
3 Peralatan 1 1 -
PHN Kit
4 Peralatan 1 1 -
Sanitaria
nt Kit
5 Peralatan - - -
Dukun
Kit
6 Peralatan Bidan Kit 2 2
7 Peralatan Posyandu Kit 3 3 -
8 Peralatan 2 1 1
[Link]
a Kit
9 Peralatan Pusling 1` -
C Puskesmas Pembantu
1 Peralatan Poliklinik Set 1 - 1
2 Peralatan 1 - 1
KIA/KB
Set
D Penunjang Kegiatan
1 Mobil Pusling 1 - 1 Rusak
2 Motor Dinas 8 7 1
Tahun
No Kader
2015 2016 2017
1 Kader Posyandu Balita 120 Orang 125 Orang 133 Orang
2 Kader Posyandu Lansia 42 Orang 48 Orang 59 Orang
3 Kader Posbindu 30 Orang 30 Orang 36 Orang
4 Kader Poskesdes 18 Orang 18 Orang 6 Orang
5 Kader Poskestren 3 orang 3 orang 5 orang
6 Kader SBH 30 orang 60 orang 80 orang
7 Kader KP-KIA 24 orang 24 orang 24 orang
8 Kader Jumantik 16 orang 20 orang 24 orang
Jumlah Kebutuhan
No Jenis Tenaga Kekurangan Keterangan
2017 2018
A Puskesmas Induk
1 Kepala Puskesmas 1 1 0 1 PNS
2 Doketer Umum 0 1 1 2 PTT
3 Dokter Gigi 0 1 1 0
4 Sarjana Keperawatan 2 3 1
5 SKM 0 1 1 3 honda
6 D4 Kebidanan 5 6 1 2 TKS
7 D4 Kesling 1 1 0
8 Akper 3 0 3 3 PNS
27
9 D3 Kebinan 2 3 1 1 TKS
10 D3 Kesehatan Gigi 1 1 0 5 honda
11 D3 Gizi 1 1 0 2 TKS
12 D3 Analis 0 1 1 1 TKS
13 D3 Farmasi 1 1 0 1 PNS
B Puskesmas Pembantu
1 Perawat 1 2 1 2 PNS
2 Bidan 1 2 1 1 Honda
3 Cleaning Service 1 1 0
C Bidan Desa 9 12 3 4 PTT
D Non Kesehatan
1 Administrasi 1 3 2 1 Honda
2 Sopir ambulan 1 2 1 1Honda
3 Cleaning service 3 3 0
4 Juru Masak 1 1 0 1 TKS
5 Tukang Cuci 1 1 0 1 TKS
6 Penjaga Malam 1 1 2 2 Honda
Jumlah 45 50 7
4. Pembiayaan
F. Data Khusus
a. Indikator Program Gizi