0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan9 halaman

Peningkatan Kosakata dengan Duolingo di SMPN 43

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa kelas VII SMPN 43 Jakarta Selatan dengan menerapkan aplikasi Duolingo. Penelitian ini menggunakan desain tindakan kelas dalam dua siklus dan menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus pertama sebesar 33,33% menjadi 79,41% pada siklus kedua. Jumlah siswa yang tuntas belajar juga meningkat dari 11

Diunggah oleh

karin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan9 halaman

Peningkatan Kosakata dengan Duolingo di SMPN 43

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa kelas VII SMPN 43 Jakarta Selatan dengan menerapkan aplikasi Duolingo. Penelitian ini menggunakan desain tindakan kelas dalam dua siklus dan menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus pertama sebesar 33,33% menjadi 79,41% pada siklus kedua. Jumlah siswa yang tuntas belajar juga meningkat dari 11

Diunggah oleh

karin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

e-ISSN 2961-9920

Volume 1, 2022
Hlm. 478-486

PENERAPAN APLIKASI DUOLINGO DALAM MENINGKATKAN


PENGUASAAAN KOSAKATA SISWA KELAS VII SMPN 43 JAKARTA SELATAN

Elsa Lovantika

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta


Pos-el: lovantikaelsa@[Link]

Abstrak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui cara menerapkan media Duolingo dalam meningkatkan
penguasaan kosakata siswa. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian tindakan kelas dengan subjek
penelitian siswa kelas VII yang berjumlah 36 siswa. Desain penelitian ini menggunakan metode Kemmis
dan Mc. Taggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus memiliki komponen tindakan yang
terdiri dari meyusun perencanaan, melaksanakan tindakan, melaksanakan pengamatan dan melakukan
refleksi. Teknik pencatatan data dengan menggunakan wawancara, catatan lapangan dan tes. Instrument
penelitiannya yaitu peneliti, kisi-kisi wawancara, observasi, dokumentasi (laporan siklus, RPP dan materi,
tes, foto kegiatan). Media pembelajaran dalam penelitian ini adalah media Duolingo. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukan bahwa penggunaan media Duolingo dapat meningkatkan kemampuan kosakata
siswa dengan hasil tes dari siklus I sebesar 33,33% dan siklus II sebesar 79,41%, terjadi peningkatan dari
siklus I ke siklus II sebesar 46,08%. Jumlah siswa tuntas belajar pada siklus I sebanyak 11 siswa dan pada
siklus II sebanyak 27 siswa.

Kata Kunci: Mengajar; Kosakata; Duolingo; Bahasa Inggris.

Abstract. The researcher aims to find out how the application of Duolingo media in improving students'
vocabulary mastery. This research is included in classroom action research with class VII research subjects
involving 36 students. The design of this study used the Kemmis and Mc. Taggart is implemented in two
cycles. Each cycle has an action consisting of planning, implementing, implementing, and reflecting. The
data recording technique used interviews, field notes, and tests. The research instrument was the
researcher, interview grids, observations, and documentation (cycle reports, lesson plans, materials, tests,
and photos of activities). The learning media in this research is Duolingo media. Based on the results of the
study showed that the use of Duolingo media can improve students' vocabulary skills with test results from
the first cycle of 33.33% and the second cycle of 79.41%, increasing from the first cycle to the second cycle
by 46.08%. The number of students who finished learning in the first cycle were 11 students and in the
second cycle as many as 27 students.

Keyword: Teaching; Vocabulary; Duolingo; English.

Creative Commons Attribution 4.0 International License

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


“Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital”
Jakarta, 27 Juli 2022

478
Volume 1, 2022
Hlm. 478-486

PENDAHULUAN
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, yang mana dalam UU No.
20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan, yaitu: (1) Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana (2) mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, (3)
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Sebagai pendidik, kita harus bisa mendidik siswa dengan memberikan ilmu yang
bermanfaat agar pendidikan di negara kita bisa lebih baik lagi serta dapat membangun
negara supaya lebih maju.

Menjadi seorang pendidik juga diwajibkan agar dapat mengikuti serta memanfaatkan
teknologi di zaman digital sekarang ini. Ditambah dengan adanya pandemi covid-19 yang
memaksa siswa untuk beradaptasi dengan belajar jarak jauh. Banyak manfaat dari
teknologi yang dapat digunakan dalam Pendidikan untuk mempelajari Bahasa asing,
salah satunya Bahasa Inggris. Bahasa Inggris sebagai bahasa asing sangat dibutuhkan di
zaman modern seperti sekarang ini. Karena Bahasa Inggris adalah bahasa universal yang
digunakan oleh sebagian besar di dunia.

Beberapa siswa di Indonesia tidak menyadari bahwa Bahasa Inggris adalah mata
pelajaran yang sangat penting yang sudah diajarkan sejak sekolah dasar. Menurut
mereka pelajaran Bahasa Inggris sulit untuk dipelajari. Itulah yang membuat mereka
tidak tertarik untuk belajar Bahasa Inggris. Penguasaan kosakata Bahasa Inggris yang
masih rendah adalah salah satu faktornya. Mempelajari penguasaan kosakata adalah
aspek dasar yang penting dalam mempelajari Bahasa Inggris. Menurut Coghill and Stacy
(2003:26) kosakata sebuah bahasa merupakan satu kumpulan aturan yang menata
bagaimana susunanya. Kosakata menentukan bagaimana kata-kata tersebut disusun
dalam bentuk unit-unit bahasa yang memiliki makna. Sedangkan Gorys Keraf (2010:80)
yang menyatakan bahwa kosakata adalah keseluruhan kata yang berada dalam ingatan
seseorang. Jika belajar Bahasa Inggris tanpa menguasai kosakatanya maka mereka akan
kesulitan untuk memahami perkataan yang di maksud.

kosakata merupakan kunci dasar yang harus dimiliki siswa untuk menguasai
keterampilan Bahasa Inggris. Menurut pernyataan Tarigan (2015:2) mengemukakan
bahwa kualitas keterampilan berbahasa yang dimiliki seseorang tergantung pada
kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya. Semakin banyak kosakata yang dimiliki
siswa semakin banyak pula ide atau gagasan yang siswa kuasai, sehingga siswa dapat
kemudahan dalam menyampaikan dan menerima informasi dengan jelas. Menurut
Barbara Dykes (2007:5) dalam bukunya yang berjudul Grammar for everyone
menyebutkan bahwa grammar atau kosakata adalah bahasa untuk mempelajari bahasa.
Berkomunikasi dengan bahasa tidak lepas kaitannya dengan mempelajari kosakata,

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


“Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital” 479
Jakarta, 27 Juli 2022
Penerapan Aplikasi Duolingo dalam Meningkatkan Penguasaaan Kosakata Siswa Kelas VII
SMPN 43 Jakarta Selatan
Elsa Lovantika

mulai dari kosakata serta fungsinya, ungkapan, pola kalimat, dan maknanya. Dari
pernyataan tersebut bisa diartikan bahwa belajar kosakata sangat penting
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 25 Maret 2022, peneliti sudah menemukan
masalah dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang dialami pada kelas VII-F SMPN 43
Jakarta Selatan dalam penguasaan kosakata. Terdapat dua permasalahan yang terjadi
yang dilihat oleh peneliti selama observasi berlangsung. Pertama, permasalahan dari
guru tersebut selama proses mengajar. Menurut peneliti, metode yang digunakan guru
selama proses pembelajaran kurang menarik perhatian siswa dan tidak ada kata-kata
motivasi sebelum pembelajaran di mulai, tujuannya supaya bisa membangkitkan
semangat siswa dalam belajar. Hal ini menyebabkan beberapa siswa pasif selama proses
pembelajaran berlangsung. Kedua, permasalahan dari siswa tersebut. Salah satu hal
yang menjadi permasalahannya adalah faktor kemauan dari diri sendiri/inisiatif siswa
tersebut. Karena pandemi yang cukup panjang terjadi pada tahun sebelumnya membuat
mereka kurang aktif untuk memperhatikan lebih selama proses pembelajaran terutama
pada kosakata.

Berdasarkan uraian diatas, perlu adanya solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Aplikasi pembelajaran yang menggunakan media menarik merupakan salah satu solusi
yang dapat membantu siswa tertarik untuk belajar bahasa Inggris. Yaitu dengan
penggunaan media Duolingo yang bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata
pada siswa serta meningkatkan keaktifan selama proses pembelajaran Bahasa Inggris.
Aplikasi Duolingo adalah salah satu media yang menarik untuk siswa belajar Bahasa
Asing, khususnya Bahasa Inggris. Menurut White (2017:16) dia percaya bahwa aplikasi
Duolingo merupakan program pembelajaran online yang memungkinkan untuk
mengambil kursus bahasa gratis. Aplikasi ini gratis yang dibuat oleh Luis Von Ahn and
Severin Hacker pada November 2011. Jaskova (2014:16) memiliki pendapat bahwa
Duolingo merupakan suatu program mutakhir dalam pembelajaran bahasa dan juga
dalam komunikasi global. Empat keterampilan dalam belajar bahasa seperti membaca,
menulis, mendengar dan berbicara ada selama proses pembelajaran di duolingo.
Berdasarkan penelitian Munday (2016:96) menyatakan bahwa Duolingo lebih disukai
dari pada tugas regular karena mudah digunakan, bermanfaat, dan menyenangkan.

Karena di dalam aplikasi duolingo terdapat teknik gamification yang bertujuan untuk
menarik siswa dalam meningkatkan kosakata mereka melalui sebuah game yang
pastinya lebih menarik dan tidak membosankan. (Kapp, 2013:2) berpendapat Teknik
gamifikasi lebih cepat serta lebih intensif dalam pengalaman belajar, dan penggunaan
teknik permainan membuat aktivitas lebih menarik dan menyenangkan. Dengan
memanfaatkan gambar dan suara yang memungkinkan siswa untuk memperoleh
kosakata lebih realistis. Aplikasi Duolingo memberi kemungkinan pada siswa untuk
mengulang dialog dan frase agar mencapai interpretasi yang lebih jelas tentang apa
dikomunikasikan.

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


480 “Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital”
Jakarta, 27 Juli 2022
Volume 1, 2022
Hlm. 478-486

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, peneliti akan melakukan penelitian untuk
meningkatkan penguasaan kosakata siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris
menggunakan media aplikasi Duolingo. Peneliti akan melakukan penelitian tindak kelas
yang berjudul “Penerapan Aplikasi Duolingo Dalam Meningkatkan Penguasaan Kosakata
Siswa Kelas VII SMPN 43 Jakarta Selatan”.

METODE
a. Subyek penelitian
Zainal Aqib (2011: 19) menyatakan bahwa subjek penelitian/Sampel Penelitian
ditentukan berdasarkan suatu permasalahan yang akan dijawab melalui suatu
tindakan. Berdasarkan pengamatan peneliti, subjek penelitian ini adalah siswa kelas
VII-F SMPN 43 Jakarta Selatan yang terdiri dari 36 peserta didik.

b. Rencana Tindakan
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan
desain penelitian model Kemmis dan Mc Taggart yang secara bersiklus terdiri dari
perencanaan, pelaksanaan, observasi dan rekleksi. Penelitian ini dilaksanakan pada
semester genap tahun ajaran 2021/2022, yaitu pada bulan Maret.

c. Teknik Pengumpulan data


Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah:
1) Wawancara. menurut Lexy J. Moleong (2012: 186) wawancara merupakan
kegiatan untuk melakukan percakapan dengan tujuan tertentu, yang mana
wawancara bisa dilakukan oleh dua orang atau lebih, yaitu oleh pewawancara
yang memberikan pertanyaan dan yang diwawancarai atau narasumber yang
telah merespon pertanyaan yang diberikan oleh pewawancara.
2) Observasi. Widoyoko (2014:46) menyatakan bahwa observasi adalah sebuah
pengamatan atau pencatatan yang tersusun secara sistematis terhadap unsur-
unsur yang terlihat dalam suatu gejala pada objek penelitian tersebut.
3) Dokumentasi. Sugiyono (2008:240) bahwa dokumentasi adalah catatan yang
sudah berlalu dalam berbentuk gambar, tulisan, atau karya-karya dari
seseorang.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Penelitian
1. Hasil Wawancara dan Observasi
Berdasarkan pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan selama 2 siklus sebanyak 4 kali
pertemuan, dapat diperoleh data bahwa siswa mengalami peningkatan penguasaan
kosakata. Peningkatan kosakata siswa diketahui dengan menerapkan penggunaan
media duolingo dalam pembelajaran. Hasil wawancara dan obervasi terhadap
penerapan aplikasi duolingo dapat dilihat pada diagram berikut:

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


“Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital” 481
Jakarta, 27 Juli 2022
Penerapan Aplikasi Duolingo dalam Meningkatkan Penguasaaan Kosakata Siswa Kelas VII
SMPN 43 Jakarta Selatan
Elsa Lovantika

Tabel 1 Hasil Wawancara


Pertanyaan Jawaban
Bagaimana keterampilan kosakata siswa pada kelas Karena PJJ yang cukup lama sebelumnya, lalu bertemu PTM
VIII-F? langsung yang menyebabkan respon siswa dan kemampuan
kosakata mereka minim.
Apa metode dan media yang digunakan untuk Metode yang digunakan didalam kelas yaitu blended learning
pembelajaran di dalam kelas? dan ceramah. Media pembelajaran menggunakan google
meet, power point, e-book, marker, dan papan tulis.
Bagaimana kondisi selama proses kegiatan belajar Kondisinya sedang-sedang saja. Beberapa siswa ada yang
mengajar? lumayan. Karena biasanya siswa yang non muslim
mempunyai les diluar sekolah yang menyebabkan mereka
memiliki kosakata yang lumayan.
Pada materi apa tingkat kesulitan pembelajaran Pada materi kata kerja/verb. Karena kelas 7 pembelajaran
Bahasa Inggris siswa? masih kata benda (noun) dan kata sifat (adjective). Kata kerja
juga belajar, tetapi lebih minim dari pada kata benda dan kata
sifat.
Sejauh mana tingkat pemahaman siswa dalam Sekitar 60% sampai dengan 70%
memahami kosakata?
Bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam Dengan cara menggunakan berbagai media seperti drilling
keterampilan kosakata? kosakata dengan membaca kata kerja irregular verbs diawal
pembelajaran. Siswa membawa kamus ketika pembelajaran
atau boleh memakai google translate dan mencatat list
vocabulary dibelakang buku masing-masing dan
membacanya.

Tabel 2 Hasil Observasi

Indikator Guru
Keterangan Guru Keterangan Siswa
dan Siwa

Membuka • Memberi salam • Mengucapkan salam


pembelajaran • Membaca irregular verbs bersama • Membaca irregular verbs secara bersama-
dengan peserta didik sama yang dipimpin oleh guru
• Absen • Menunggu panggilan absen
• Review sedikit materi sebelumnya • Memperhatikan review yang dijelaskan
oleh guru
Kegiatan inti • Google meet dikelas dengan siswa • Perwakilan siswa membagikan
pembelajaran 50% PJJ dan 50% PTM handphone kepada masing-masing siswa
• Menjelaskan materi tentang we love • Siswa memperhatikan/menyimak yang
what we do melalui power point dan dijelaskan guru
e-book di google meet • Beberapa siswa menjawab soal yang ada
• Memberikan beberapa soal dari di power point
power point dan jawab bersama- • Semua siswa memperhatikan serta
sama beberapa siswa menjawab dan
• Membacakan dialog tentang materi mengulangi kalimat guru
yang dibahas dengan menanyakan
beberapa kosakata. Guru
memberikan contoh kalimat secara
langsung dan meminta siswa untuk
mengulangi
Menutup • Guru menyimpulkan materi yang • Siswa mendengarkan kesimpulan yang
pembelajaran sudah dibahas sebelumnya dibacakan guru
• Guru memberikan soal latihan yang • Siswa menjawab soal yang telah dikirim
dikirim ke google classroom dan dengan siswa waktu kurang lebih 20
memberikan contoh 1 nomor menit
• Guru mengucapkan salam penutup • Siswa memberi salam penutup

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


482 “Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital”
Jakarta, 27 Juli 2022
Volume 1, 2022
Hlm. 478-486

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tabel diatas yang dilaksanaka pada hari
Jum’at, 25 Maret 2022 peneliti menyimpulkan bahwa metode yang digunakan kurang
menarik minat siswa, sehingga siswa kurang semangat, mengantuk, dan kurang
memperhatikan kosakata yang mereka tidak ketahui pada setiap proses
pembelajaran berlangsung. Faktor pandemi yang cukup panjang juga membuat siswa
menjadi kurang aktif selama proses pembelajaran, terutama pada penguasaan
kosakata. Selain itu, guru tidak menarik perhatian siswa sebelum masuk ke dalam
pembelajaran dan tidak membiasakan semua siswa untuk aktif dalam menjawab,
siswa hanya aktif dalam mendengarkan penjelasan guru. Berdasarkan pada masalah
yang ditemukan, peneliti dan guru merencanakan tindakan. Hal ini bertujuan untuk
memberikan keterangan yang lebih jelas tentang hal-hal yang harus dilakukan di
dalam kelas. Peneliti berdiskusi bersama guru Bahasa Inggris dan mendapatkan
kesempatan menerapkan metode pembelajaran dengan mengaplikasikan duolingo
untuk memperluas kosakata siswa pada kegiatan belajar mengajar.

2. Hasil penelitian siklus I dan II


Tahap siklus I dilaksanakan pada Jum’at, 1 April 2022 dan Rabu, 13 April 2022. Pada
siklus I pertemuan pertama masih pembelajaran jarak jauh, untuk pertemuan
selanjutnya sudah pembelajaran tatap muka. Tahap siklus II dilaksanakan pada Rabu,
20 April 2022 dan Rabu, 18 Mei 2022. Kedua siklus memiliki tema yang sama yaitu
“It’s a beautiful day” dengan materi tentang adjective, noun, and simple present
tense.

Tabel 3 Hasil Penelitian Siklus I dan II


Hasil Penelitian Siklus I Siklus II
Perencanaan Menyusun RPP, Membuat power point, Perencanaan tindakan pada siklus II disusun
soal latihan dan soal tes. berdasarkan perbaikan dari hasil analisis dan
refleksi pada siklus I.
Pelaksanaan 1. Pertemuan pertama 1. Pertemuan pertama
Peneliti menyajikan materi dengan Materi lebih diperluas lagi. Peneliti
powerpoint. Setelah itu peneliti memberikan motivasi sebelum memulai
memnjelaskan aplikasi duolingo pembelajaran. Peneliti mengganti media
serta cara mainnya. Lalu tambahan berupa beberaa vidio
memberikan soal latihan dan menarik yang berkaitan dengan materi.
meminta siswa untuk memainkan Peneliti merangkul siswa yang
duolingo dimanapun dan kapanpun. berpengetahuan rendah dengan
2. Pertemuan kedua menunjuk beberapa dari mereka untuk
Peneliti mengadakan soal tes yang menjawab maju kedepan kelas. Peneliti
terdiri dari 40 soal tentang materi lebih memberikan dorongan dengan
yang telah dijelaskan pada memperhatikan satu persatu siswa dan
pertemuan pertama. Setelah itu menegur bagi siswa yang tidak mencatat
peneliti meminta siswa untuk kosakata yang mereka dapat. Peneliti
memainkan duolingo kurang kebih lebih menertibkan siswa dengan cara
20 menit. membuat aturan yang telah disepakati
bersama. Peneliti meminta siswa untuk
mengerjakan soal latihan kelompok.
2. Pertemuan kedua
Sebelum mengerjakan, peneliti
menjelaskan kembali sedikit tentang
materi yang telah di jelaskan pada

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


“Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital” 483
Jakarta, 27 Juli 2022
Penerapan Aplikasi Duolingo dalam Meningkatkan Penguasaaan Kosakata Siswa Kelas VII
SMPN 43 Jakarta Selatan
Elsa Lovantika

pertemuan pertama. Siswa


mengerjakan soal tes yang terdiri dari 4o
soal. Setelah selesai, peneliti meminta
siswa untuk memainkan duolingo
kurang lebih 30 menit.
Observasi 1. Pengamatan terhadap siswa 1. Pengamatan terhadap siswa
Beberapa siswa masih terlihat tidak Siswa telah bersemangat dalam belajar
aktif belum menunjukkan adanya setelah diberikan dorongan motivasi
ketertarikan dan masih bingung apa sebelum belajar. Siswa memperhatikan
itu duolingo serta cara bermainnya. penggunaan media tambahan berupa
Terlihat adanya sedikit adanya vidio karena lebih tertarik dan tidak
peningkatan keaktifan dan mudah bosan. Dengan cara dirangkul
ketertarikan siswa pada pertemuan dan selalu memberikan pujian membuat
kedua yang dilihat selama proses siswa telah berani untuk mengeluarkan
pembelajaran berlangsung. pendapat ataupun bertanya. Siswa telah
rajin untuk menulis kosakata baru yang
2. Hasil tes kemampuan siswa siklus I mereka dapatkan dari duolingo ataupun
sebayak 33 siswa memiliki rata-rata dari selama proses belajar mengajar.
skor nilai 67,06. sebanyak 4 siswa Siswa telah tertib dari awal hingga akhir
dengan presentase 12,12%, siswa pembelajaran dengan adanya aturan
mendapatkan nilai 81-90. Sebanyak yang sudah disepakati bersama.
13 siswa dengan presentase 39,39%, 2. Hasil tes kemampuan siswa siklus II
siswa mendapatkan nilai 71-80. sebayak 34 siswa memiliki rata-rata skor
Sebanyak 7 siswa dengan presentase nilai 84,82. Sebanyak 14 siswa dengan
21,21%, siswa mendapatkan 61-70. presentase 41,18%, siswa mendapatkan
Sebanyak 3 siswa dengan presentase nilai 91-100. Sebanyak 12 siswa dengan
9,09%, siswa mendapat nilai 51-60. presentase 35,29%, siswa mendapatkan
Sebanyak 3 siswa dengan presentase nilai [Link] 4 siswa dengan
9,09%, siswa mendapat nilai 41-50. presentase 11,76%, siswa mendapatkan
Sebanyak 3 siswa dengan presentase nilai 71-80. Sebanyak 1 siswa dengan
9,09%, siswa mendapat nilai 31-40. presentase 2,94%, siswa mendapatkan
Siswa yang telah memenuhi kriteria nilai 51-60. Sebanyak 2 siswa dengan
sebanyak 11 siswa dengan presentase 5,88%, siswa mendapatkan
presentase 33,33%. nilai 41-50. Sebanyak 1 siswa dengan
presentase 2,94%, siswa mendapatkan
nilai 31-40. Siswa yang telah memenuhi
kriteria tindakan meningkat dari
sebanyak 11 siswa dengan presentase
33,33% pada siklus I, menjadi sebanyak
27 siswa dengan presentase 79,41%
pada siklus II.

Refleksi a. Beberapa siwa masih bermalas- Kegiatan pada siklus II menunjukkan bahwa
malasan untuk belajar. telah terjadi peningkatan aktivitas yang di
b. Dengan media tambahan lakukan siswa. kegiatan yang telah terjadi
menggunakan power point pada pada siklus II menunjukkan hasil yang sangat
pertemuan pertama kurang menarik baik bagi siswa dan telah mencapai target
siswa untuk lebih aktif. yang diinginkan. Adanya peningkatan pada
c. Hanya segelintir siswa yang berani penguasaan kosakata kosakata Bahasa Inggris
untuk menjawab soal pertanyaan. dengan aplikasi duolingo.
d. Keaktifan dalam kegiatan menulis Hal ini dilihat dari persentase ketuntasan
kosakata setelah bermain duolingo siswa yang mendapatkan hasil belajar lebih
masih rendah, siswa belum dari KKM 78 dari 33,33% yang memiliki nilai
sepenuhnya mencatat kosakata baru rata-rata 67,06 yang terjadi di siklus I telah
yang mereka dapatkan dari duolingo. meningkat menjadi 79,41% yang memiliki nilai
e. Beberapa siswa kurang tertib di akhir rata-rata 84,82 yang terjadi di siklus II. Yang
pembelajaran. mana terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus
II sebesar 46,08%.

Tabel 4 Peningkatan Nilai Siklus I dan Siklus II Dalam Penguasaan Kosakata Bahasa Ingris
No Rentang Nilai Siklus I Siklus II

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


484 “Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital”
Jakarta, 27 Juli 2022
Volume 1, 2022
Hlm. 478-486

1 91-100 0% 41,18%

2 81-90 12,12% 35,29%

3 71-80 39,39% 11,76%

4 61-70 21,21% 0%

5 51-60 9,09% 2,94%

6 41-50 9,09% 5,88%

7 31-40 9,09% 2,29%

Jumlah presentase siswa yang tuntas 33,33% 79,41%

Siswa yang tuntas 11 27

Siswa belum tuntas 22 7

Data tersebut diperoleh berdasarkan tes yang telah dilakukan pada siklus I dan siklus
II. Berdasarkan data hasil presentase kenaikan skor yang dialami siswa cukup
signifikan dan dapat dapat dikatakan berhasil dengan baik. Tanggapan yang diberikan
siswa terhadap penggunaan media sudah terbilang cukup baik. Siswa juga menjadi
lebih aktif pada saat latihan Bahasa Inggris menggunakan media duolingo. Hal ini
ditinjau melalui hasil dari catatan lapangan yang telah dilakukan peneliti sebelumnya.
Karena telah tercapainya hasil penelitian tindakan pada siklus II dan pelaksanaan
penelitian telah mendapatkan peningkatan yang signifikan maka penelitian ini tidak
perlu dilanjutkan ke siklus selanjutnya. Berdasarkan hasil tersebut penelitian
menghentikan penelitian pada siklus II.

SIMPULAN
Peneliti melakukan penulisan ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata
Bahasa Inggris pada siswa melalui media duolingo. Dengan media duolingo siswa dapat
lebih bersemangat untuk berlatihan mengenai kosakata Bahasa Inggris dengan
mengerjakan soal-soal pertanyaan yang ada di duolingo. Sehingga siswa mampu untuk
memahami kosakata Bahasa Inggris dengan lebih maksimal dan mampu untuk
memahami materi pembelajaran dengan lebih efektif. Jadi semakin baik proses
pembelajaran melalui media duolingo maka semakin luas penguasaan serta
pemahaman kosakata Bahasa Inggris siswa.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan oleh peneliti dapat
meningkatkan keaktifan, pemahaman materi dan hasil belajar, khususnya kosakata
Bahasa Inggris pada siswa kelas VII-F SMPN 43 Jakarta Selatan. Hal tersebut dapat dilihat
dari data yang sudah diperoleh setiap siklusnya, mulai dari siklus I dan siklus II. Rata-rata
skor nilai pada siklus I tercatat 67,06 dengan presentase keberhasilan sebesar 33,33%
sebanyak 11 siswa dan pada siklus II tercatat 84,82 dengan peningkatan presentase
keberhasilan sebesar 79,41% sebanyak 27 siswa.

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


“Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital” 485
Jakarta, 27 Juli 2022
Penerapan Aplikasi Duolingo dalam Meningkatkan Penguasaaan Kosakata Siswa Kelas VII
SMPN 43 Jakarta Selatan
Elsa Lovantika

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan observasi yang mana peneliti menyatakan
bahwa dengan adanya blended learning siswa masih kurang tertarik, tetapi ketika sudah
menggunakan duolingo hasil yang didapatkan berbeda. Peningkatan selama proses
pembelajaran menggunakan media duolingo terlihat dari peningkatan aktivitas siswa.
Setelah menggunakan media duolingo pada siklus I dan siklus II, peneliti lebih
memfokuskan kosakata dalam pembelajaran. Siswa yang menggunakan media duolingo
sangat terlihat antusias dan mampu untuk memahami materi dengan baik.

REFERENSI
Aqib, Zainal, dkk. (2011). Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB, dan TK.
Bandung: Yrama Widya
Coghill, J., & Stacy, M. (2003). English Grammar. New York: Wiley Publishing, Inc.
Depdiknas. (2003). Undang-undang RI No.20 tahun 2003. tentang system pendidikan
nasional.
Dykes, B. (2007). Grammar for Everyone: Vivtoria: Acer Press
Jaskova, V. (2014)." Duolingo as a New Language-Learning Website and Its Contribution
to e-Learning Education".
Kapp, K. (2013). The Gamification of Learning and Instruction: GameBased Methods and
Strategies for Training and Education. San Fransisco, CA : John Wiley & Sons.
Keraf, G. (2010). Argumentasi Dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia.
Moleong, L. J. (2001) Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya: Bandung
Munday, P. (2016). The Case for Using Duolingo as Part of the Language Classroom
Experience.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Tarigan. (2015). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.
White, K. (2017). “Duolingo: All the Buzz.” The linguistic. Vol/53 No/1 2014.
Widoyoko, E. P. (2014). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Seni, dan Sastra


486 “Bahasa, Seni, Sastra, dan Pengajarannya di Era Digital”
Jakarta, 27 Juli 2022

Anda mungkin juga menyukai