Peningkatan Kosakata dengan Duolingo di SMPN 43
Peningkatan Kosakata dengan Duolingo di SMPN 43
Volume 1, 2022
Hlm. 478-486
Elsa Lovantika
Abstrak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui cara menerapkan media Duolingo dalam meningkatkan
penguasaan kosakata siswa. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian tindakan kelas dengan subjek
penelitian siswa kelas VII yang berjumlah 36 siswa. Desain penelitian ini menggunakan metode Kemmis
dan Mc. Taggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus memiliki komponen tindakan yang
terdiri dari meyusun perencanaan, melaksanakan tindakan, melaksanakan pengamatan dan melakukan
refleksi. Teknik pencatatan data dengan menggunakan wawancara, catatan lapangan dan tes. Instrument
penelitiannya yaitu peneliti, kisi-kisi wawancara, observasi, dokumentasi (laporan siklus, RPP dan materi,
tes, foto kegiatan). Media pembelajaran dalam penelitian ini adalah media Duolingo. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukan bahwa penggunaan media Duolingo dapat meningkatkan kemampuan kosakata
siswa dengan hasil tes dari siklus I sebesar 33,33% dan siklus II sebesar 79,41%, terjadi peningkatan dari
siklus I ke siklus II sebesar 46,08%. Jumlah siswa tuntas belajar pada siklus I sebanyak 11 siswa dan pada
siklus II sebanyak 27 siswa.
Abstract. The researcher aims to find out how the application of Duolingo media in improving students'
vocabulary mastery. This research is included in classroom action research with class VII research subjects
involving 36 students. The design of this study used the Kemmis and Mc. Taggart is implemented in two
cycles. Each cycle has an action consisting of planning, implementing, implementing, and reflecting. The
data recording technique used interviews, field notes, and tests. The research instrument was the
researcher, interview grids, observations, and documentation (cycle reports, lesson plans, materials, tests,
and photos of activities). The learning media in this research is Duolingo media. Based on the results of the
study showed that the use of Duolingo media can improve students' vocabulary skills with test results from
the first cycle of 33.33% and the second cycle of 79.41%, increasing from the first cycle to the second cycle
by 46.08%. The number of students who finished learning in the first cycle were 11 students and in the
second cycle as many as 27 students.
478
Volume 1, 2022
Hlm. 478-486
PENDAHULUAN
Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, yang mana dalam UU No.
20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan, yaitu: (1) Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana (2) mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, (3)
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara. Sebagai pendidik, kita harus bisa mendidik siswa dengan memberikan ilmu yang
bermanfaat agar pendidikan di negara kita bisa lebih baik lagi serta dapat membangun
negara supaya lebih maju.
Menjadi seorang pendidik juga diwajibkan agar dapat mengikuti serta memanfaatkan
teknologi di zaman digital sekarang ini. Ditambah dengan adanya pandemi covid-19 yang
memaksa siswa untuk beradaptasi dengan belajar jarak jauh. Banyak manfaat dari
teknologi yang dapat digunakan dalam Pendidikan untuk mempelajari Bahasa asing,
salah satunya Bahasa Inggris. Bahasa Inggris sebagai bahasa asing sangat dibutuhkan di
zaman modern seperti sekarang ini. Karena Bahasa Inggris adalah bahasa universal yang
digunakan oleh sebagian besar di dunia.
Beberapa siswa di Indonesia tidak menyadari bahwa Bahasa Inggris adalah mata
pelajaran yang sangat penting yang sudah diajarkan sejak sekolah dasar. Menurut
mereka pelajaran Bahasa Inggris sulit untuk dipelajari. Itulah yang membuat mereka
tidak tertarik untuk belajar Bahasa Inggris. Penguasaan kosakata Bahasa Inggris yang
masih rendah adalah salah satu faktornya. Mempelajari penguasaan kosakata adalah
aspek dasar yang penting dalam mempelajari Bahasa Inggris. Menurut Coghill and Stacy
(2003:26) kosakata sebuah bahasa merupakan satu kumpulan aturan yang menata
bagaimana susunanya. Kosakata menentukan bagaimana kata-kata tersebut disusun
dalam bentuk unit-unit bahasa yang memiliki makna. Sedangkan Gorys Keraf (2010:80)
yang menyatakan bahwa kosakata adalah keseluruhan kata yang berada dalam ingatan
seseorang. Jika belajar Bahasa Inggris tanpa menguasai kosakatanya maka mereka akan
kesulitan untuk memahami perkataan yang di maksud.
kosakata merupakan kunci dasar yang harus dimiliki siswa untuk menguasai
keterampilan Bahasa Inggris. Menurut pernyataan Tarigan (2015:2) mengemukakan
bahwa kualitas keterampilan berbahasa yang dimiliki seseorang tergantung pada
kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya. Semakin banyak kosakata yang dimiliki
siswa semakin banyak pula ide atau gagasan yang siswa kuasai, sehingga siswa dapat
kemudahan dalam menyampaikan dan menerima informasi dengan jelas. Menurut
Barbara Dykes (2007:5) dalam bukunya yang berjudul Grammar for everyone
menyebutkan bahwa grammar atau kosakata adalah bahasa untuk mempelajari bahasa.
Berkomunikasi dengan bahasa tidak lepas kaitannya dengan mempelajari kosakata,
mulai dari kosakata serta fungsinya, ungkapan, pola kalimat, dan maknanya. Dari
pernyataan tersebut bisa diartikan bahwa belajar kosakata sangat penting
Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 25 Maret 2022, peneliti sudah menemukan
masalah dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang dialami pada kelas VII-F SMPN 43
Jakarta Selatan dalam penguasaan kosakata. Terdapat dua permasalahan yang terjadi
yang dilihat oleh peneliti selama observasi berlangsung. Pertama, permasalahan dari
guru tersebut selama proses mengajar. Menurut peneliti, metode yang digunakan guru
selama proses pembelajaran kurang menarik perhatian siswa dan tidak ada kata-kata
motivasi sebelum pembelajaran di mulai, tujuannya supaya bisa membangkitkan
semangat siswa dalam belajar. Hal ini menyebabkan beberapa siswa pasif selama proses
pembelajaran berlangsung. Kedua, permasalahan dari siswa tersebut. Salah satu hal
yang menjadi permasalahannya adalah faktor kemauan dari diri sendiri/inisiatif siswa
tersebut. Karena pandemi yang cukup panjang terjadi pada tahun sebelumnya membuat
mereka kurang aktif untuk memperhatikan lebih selama proses pembelajaran terutama
pada kosakata.
Berdasarkan uraian diatas, perlu adanya solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Aplikasi pembelajaran yang menggunakan media menarik merupakan salah satu solusi
yang dapat membantu siswa tertarik untuk belajar bahasa Inggris. Yaitu dengan
penggunaan media Duolingo yang bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata
pada siswa serta meningkatkan keaktifan selama proses pembelajaran Bahasa Inggris.
Aplikasi Duolingo adalah salah satu media yang menarik untuk siswa belajar Bahasa
Asing, khususnya Bahasa Inggris. Menurut White (2017:16) dia percaya bahwa aplikasi
Duolingo merupakan program pembelajaran online yang memungkinkan untuk
mengambil kursus bahasa gratis. Aplikasi ini gratis yang dibuat oleh Luis Von Ahn and
Severin Hacker pada November 2011. Jaskova (2014:16) memiliki pendapat bahwa
Duolingo merupakan suatu program mutakhir dalam pembelajaran bahasa dan juga
dalam komunikasi global. Empat keterampilan dalam belajar bahasa seperti membaca,
menulis, mendengar dan berbicara ada selama proses pembelajaran di duolingo.
Berdasarkan penelitian Munday (2016:96) menyatakan bahwa Duolingo lebih disukai
dari pada tugas regular karena mudah digunakan, bermanfaat, dan menyenangkan.
Karena di dalam aplikasi duolingo terdapat teknik gamification yang bertujuan untuk
menarik siswa dalam meningkatkan kosakata mereka melalui sebuah game yang
pastinya lebih menarik dan tidak membosankan. (Kapp, 2013:2) berpendapat Teknik
gamifikasi lebih cepat serta lebih intensif dalam pengalaman belajar, dan penggunaan
teknik permainan membuat aktivitas lebih menarik dan menyenangkan. Dengan
memanfaatkan gambar dan suara yang memungkinkan siswa untuk memperoleh
kosakata lebih realistis. Aplikasi Duolingo memberi kemungkinan pada siswa untuk
mengulang dialog dan frase agar mencapai interpretasi yang lebih jelas tentang apa
dikomunikasikan.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, peneliti akan melakukan penelitian untuk
meningkatkan penguasaan kosakata siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris
menggunakan media aplikasi Duolingo. Peneliti akan melakukan penelitian tindak kelas
yang berjudul “Penerapan Aplikasi Duolingo Dalam Meningkatkan Penguasaan Kosakata
Siswa Kelas VII SMPN 43 Jakarta Selatan”.
METODE
a. Subyek penelitian
Zainal Aqib (2011: 19) menyatakan bahwa subjek penelitian/Sampel Penelitian
ditentukan berdasarkan suatu permasalahan yang akan dijawab melalui suatu
tindakan. Berdasarkan pengamatan peneliti, subjek penelitian ini adalah siswa kelas
VII-F SMPN 43 Jakarta Selatan yang terdiri dari 36 peserta didik.
b. Rencana Tindakan
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan
desain penelitian model Kemmis dan Mc Taggart yang secara bersiklus terdiri dari
perencanaan, pelaksanaan, observasi dan rekleksi. Penelitian ini dilaksanakan pada
semester genap tahun ajaran 2021/2022, yaitu pada bulan Maret.
Indikator Guru
Keterangan Guru Keterangan Siswa
dan Siwa
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tabel diatas yang dilaksanaka pada hari
Jum’at, 25 Maret 2022 peneliti menyimpulkan bahwa metode yang digunakan kurang
menarik minat siswa, sehingga siswa kurang semangat, mengantuk, dan kurang
memperhatikan kosakata yang mereka tidak ketahui pada setiap proses
pembelajaran berlangsung. Faktor pandemi yang cukup panjang juga membuat siswa
menjadi kurang aktif selama proses pembelajaran, terutama pada penguasaan
kosakata. Selain itu, guru tidak menarik perhatian siswa sebelum masuk ke dalam
pembelajaran dan tidak membiasakan semua siswa untuk aktif dalam menjawab,
siswa hanya aktif dalam mendengarkan penjelasan guru. Berdasarkan pada masalah
yang ditemukan, peneliti dan guru merencanakan tindakan. Hal ini bertujuan untuk
memberikan keterangan yang lebih jelas tentang hal-hal yang harus dilakukan di
dalam kelas. Peneliti berdiskusi bersama guru Bahasa Inggris dan mendapatkan
kesempatan menerapkan metode pembelajaran dengan mengaplikasikan duolingo
untuk memperluas kosakata siswa pada kegiatan belajar mengajar.
Refleksi a. Beberapa siwa masih bermalas- Kegiatan pada siklus II menunjukkan bahwa
malasan untuk belajar. telah terjadi peningkatan aktivitas yang di
b. Dengan media tambahan lakukan siswa. kegiatan yang telah terjadi
menggunakan power point pada pada siklus II menunjukkan hasil yang sangat
pertemuan pertama kurang menarik baik bagi siswa dan telah mencapai target
siswa untuk lebih aktif. yang diinginkan. Adanya peningkatan pada
c. Hanya segelintir siswa yang berani penguasaan kosakata kosakata Bahasa Inggris
untuk menjawab soal pertanyaan. dengan aplikasi duolingo.
d. Keaktifan dalam kegiatan menulis Hal ini dilihat dari persentase ketuntasan
kosakata setelah bermain duolingo siswa yang mendapatkan hasil belajar lebih
masih rendah, siswa belum dari KKM 78 dari 33,33% yang memiliki nilai
sepenuhnya mencatat kosakata baru rata-rata 67,06 yang terjadi di siklus I telah
yang mereka dapatkan dari duolingo. meningkat menjadi 79,41% yang memiliki nilai
e. Beberapa siswa kurang tertib di akhir rata-rata 84,82 yang terjadi di siklus II. Yang
pembelajaran. mana terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus
II sebesar 46,08%.
Tabel 4 Peningkatan Nilai Siklus I dan Siklus II Dalam Penguasaan Kosakata Bahasa Ingris
No Rentang Nilai Siklus I Siklus II
1 91-100 0% 41,18%
4 61-70 21,21% 0%
Data tersebut diperoleh berdasarkan tes yang telah dilakukan pada siklus I dan siklus
II. Berdasarkan data hasil presentase kenaikan skor yang dialami siswa cukup
signifikan dan dapat dapat dikatakan berhasil dengan baik. Tanggapan yang diberikan
siswa terhadap penggunaan media sudah terbilang cukup baik. Siswa juga menjadi
lebih aktif pada saat latihan Bahasa Inggris menggunakan media duolingo. Hal ini
ditinjau melalui hasil dari catatan lapangan yang telah dilakukan peneliti sebelumnya.
Karena telah tercapainya hasil penelitian tindakan pada siklus II dan pelaksanaan
penelitian telah mendapatkan peningkatan yang signifikan maka penelitian ini tidak
perlu dilanjutkan ke siklus selanjutnya. Berdasarkan hasil tersebut penelitian
menghentikan penelitian pada siklus II.
SIMPULAN
Peneliti melakukan penulisan ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata
Bahasa Inggris pada siswa melalui media duolingo. Dengan media duolingo siswa dapat
lebih bersemangat untuk berlatihan mengenai kosakata Bahasa Inggris dengan
mengerjakan soal-soal pertanyaan yang ada di duolingo. Sehingga siswa mampu untuk
memahami kosakata Bahasa Inggris dengan lebih maksimal dan mampu untuk
memahami materi pembelajaran dengan lebih efektif. Jadi semakin baik proses
pembelajaran melalui media duolingo maka semakin luas penguasaan serta
pemahaman kosakata Bahasa Inggris siswa.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan oleh peneliti dapat
meningkatkan keaktifan, pemahaman materi dan hasil belajar, khususnya kosakata
Bahasa Inggris pada siswa kelas VII-F SMPN 43 Jakarta Selatan. Hal tersebut dapat dilihat
dari data yang sudah diperoleh setiap siklusnya, mulai dari siklus I dan siklus II. Rata-rata
skor nilai pada siklus I tercatat 67,06 dengan presentase keberhasilan sebesar 33,33%
sebanyak 11 siswa dan pada siklus II tercatat 84,82 dengan peningkatan presentase
keberhasilan sebesar 79,41% sebanyak 27 siswa.
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dan observasi yang mana peneliti menyatakan
bahwa dengan adanya blended learning siswa masih kurang tertarik, tetapi ketika sudah
menggunakan duolingo hasil yang didapatkan berbeda. Peningkatan selama proses
pembelajaran menggunakan media duolingo terlihat dari peningkatan aktivitas siswa.
Setelah menggunakan media duolingo pada siklus I dan siklus II, peneliti lebih
memfokuskan kosakata dalam pembelajaran. Siswa yang menggunakan media duolingo
sangat terlihat antusias dan mampu untuk memahami materi dengan baik.
REFERENSI
Aqib, Zainal, dkk. (2011). Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB, dan TK.
Bandung: Yrama Widya
Coghill, J., & Stacy, M. (2003). English Grammar. New York: Wiley Publishing, Inc.
Depdiknas. (2003). Undang-undang RI No.20 tahun 2003. tentang system pendidikan
nasional.
Dykes, B. (2007). Grammar for Everyone: Vivtoria: Acer Press
Jaskova, V. (2014)." Duolingo as a New Language-Learning Website and Its Contribution
to e-Learning Education".
Kapp, K. (2013). The Gamification of Learning and Instruction: GameBased Methods and
Strategies for Training and Education. San Fransisco, CA : John Wiley & Sons.
Keraf, G. (2010). Argumentasi Dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia.
Moleong, L. J. (2001) Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya: Bandung
Munday, P. (2016). The Case for Using Duolingo as Part of the Language Classroom
Experience.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Tarigan. (2015). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.
White, K. (2017). “Duolingo: All the Buzz.” The linguistic. Vol/53 No/1 2014.
Widoyoko, E. P. (2014). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.