0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan21 halaman

Pengetahuan Pola Makan Ibu Menyusui dan Status Gizi

Ringkasan proposal ini adalah: 1. Proposal ini membahas hubungan tingkat pengetahuan tentang pola makan ibu menyusui dengan status gizi ibu menyusui bayi berusia 0-6 bulan di Puskesmas Mananga, Kabupaten Sumba Tengah. 2. Status gizi ibu menyusui dipengaruhi oleh pola makan dan pengetahuan gizi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara keduanya. 3. Hasil penelitian di

Diunggah oleh

Resmon
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan21 halaman

Pengetahuan Pola Makan Ibu Menyusui dan Status Gizi

Ringkasan proposal ini adalah: 1. Proposal ini membahas hubungan tingkat pengetahuan tentang pola makan ibu menyusui dengan status gizi ibu menyusui bayi berusia 0-6 bulan di Puskesmas Mananga, Kabupaten Sumba Tengah. 2. Status gizi ibu menyusui dipengaruhi oleh pola makan dan pengetahuan gizi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara keduanya. 3. Hasil penelitian di

Diunggah oleh

Resmon
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG POLA MAKAN IBU MENYUSUI


DENGAN STATUS GIZI IBU MENYUSUI BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS
MANANGA KABUPATEN SUMBA TENGAH TAHUN 2022

OLEH
ATRI YANTI ENGA LIKKA
2007010153

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

2022
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu dilakukan
penanganan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan. Untuk mengatasinya
diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang cukup bagi para ahli gizi dalam
pelayanan gizi untuk masyarakat. Peningkatan gizi di masyarakat memerlukan kebijakan
dari setiap anggota masyarakat untuk memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup
dan terjamin mutunya.
Status gizi ibu menyusui disebabkan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya
adalah pola makan atau asupan zat gizi ibu. Pola makan yang baik adalah pola makan
yang seimbang, memenuhi kebutuhan gizi ibu baik dari jenis maupun jumlah. Dalam
kehidupan sehari-hari, tidak jarang ditemukan ibu menyusui mengalami kekurangan
asupan zat gizi akibat adanya pantangan makanan tertentu yang berkaitan dengan
masalah budaya. Asupan zat gizi seseorang ditentukan oleh kebisaan makan dan
frekuensi makan. Asupan zat gizi ibu ditentukan oleh ketersedian makanan di tingkat
keluarga. Ketersediaan makanan atau ketahanan pangan tingkat keluarga atau rumah
tangga sangat ditentukan oleh kemampuan daya beli atau pendapatan keluarga tersebut.
Pada keluarga dengan tingkat pendapatan rendah akan sulit menyediakan makanan yang
bermutu sesuai dengan kebutuhan gizi anggota keluarganya, sehingga anggota
keluarganya menjadi rawan masalah gizi.
Kebutuhan gizi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu
proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak. Salah satu masalah
kesehatan dan sosial yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya status gizi masyarakat.
Status Gizi seseorang dapat dilihat dari berbagai masalah gizi, seperti kurang gizi,
anemia, kekurangan yodium dan vitamin. Keseimbangan antara zat gizi yang masuk dan
zat gizi yang dibutuhkan untuk kesehatan yang optimal sangatlah penting, termasuk bagi
seorang ibu yang dalam masa menyusui. Masa menyusui adalah masa yang sangat
penting dan berharga bagi seorang ibu dan tumbuh kembang bayi (Nadimin, 2016).
Kuantitas dan kualitas ASI dari ibu yang status gizi baiklebih optimal dari pada
ibu dengan statusgizi kurang. Ibu yang berstatus gizi baik memiliki cadangan zat gizi
yang cukup sehingga mampu memproduksi ASI dengan lancar karena kandungan gizi
yang cukup. Kesehatan bayi sedikit banyak juga tergantung pada kondisi ibunya,
demikian pula pada asupan, terutama bagi ibu yang menyusui. Makanan yang
seharusnya dikonsumsi ibu menyusui adalah makanan bergizi seimbang (Sujiyatini,
Djanah, Kurniati, 2017).
United Nations Children’s Fund (UNICEF), menyatakan sekitar 30 ribu kematian
anak Indonesia setiap tahunnya dapat dicegah melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI)
selama 6 bulan sejak kelahiran bayi, salah satu faktor yang mempengaruhi kuantitas dan
kualitas ASI adalah status gizi ibu menyusui. Status gizi ibu menyusui yang baik
memiliki cadangan zat gizi yang cukup sehingga lebih optimal mampu memproduksi
ASI dengan lancar daripada status gizi kurang. Status Gizi ibu menyusui mencerminkan
kondisi gizi dan kesehatan ibu pada saat masa menyusui dapat diukur dengan indikator
Indeks Massa Tubuh (IMT) (Ardiny, F. 2016).
Data SDKI 2019 menunjukkan persentase ibu menyusui di Indonesia dengan
risiko Kurang Energi Kronis sebanyak 34,6%, dan Ibu yang menyusui bayi umur 0-5
bulan memiliki risiko KEK 15,9%. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2019
menunjukkan bahwa sebagian besar ibu menyusui di Indonesia memiliki status gizi yang
kurang. Hal ini menunjukkan pemenuhan gizi bagi ibu menyusui akan berpengaruh
terhadap status gizi ibu menyusui (Riskesda , 2019).
Menurut Riskesdas (2019) menunjukkan persentase ibu menyusui di Sumatera
Utara dengan resiko Kurang Energi Kronis sebanyak 34,6%, dan Ibu yang menyusui
bayi 0-6 bulan memiliki resiko KEK 15,9 % yang disebabkan Ibu Menyusui memiliki
status gizi kurang (Riskesdas, 2019).
Masalah status gizi dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi
seperti pola makan dan gaya hidup. Faktor penunjang status gizi yang baik bagi ibu
menyusui sangat dipengaruhi oleh ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan
gizi ibu menyusui karena dengan pengetahuan yang cukup ibu menyusui dapat
memberikan kontribusi yang benar terhadap pemenuhan kebutuhan gizi selama ibu
menyusui (Nazri, S 2016).
Faktor penunjang status gizi yang baik bagi ibu menyusui sangat dipengaruhi oleh
pengetahuan gizi ibu menyusui karena dengan pengetahuan yang cukup ibu menyusui
dapat memberikan konstribusi yang benar terhadap pemenuhan kebutuhan gizi selama
ibu menyusui. sehingga pantangan-pantangan atau mitos-mitos yang dikenakan kepada
ibu menyusui dapat diperhatikan, jangan sampai pantangan tersebut merugikan kondisi
gizi ibunya maupun anak yang disusuinya (Inayati, 2018).
Berdasarkan latar belakang dan uraian diatas, tingkat pengetahuan tentang pola
makan ibu menyusui dengan status gizi ibu menyusui bayi 0-6 bulan masih kurang,
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Tingkat
Pengetahuan Tentang Pola Makan Ibu Menyusui dengan Status Gizi Ibu Menyusui Bayi
0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mananga Kabupaten Sumba Tengah Natal
Tahun 2022”.
1.2. RUMUAN MASALAH
“Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan tentang pola makan ibu menyusui
dengan status gizi ibu menyusui bayi 0-6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mananga
Kabupaten Sumba Tengah Tahun 2022”?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
a) Tujuan Umum
Menganalisis Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Pola Makan Ibu Menyusui
dengan Status Gizi Ibu Menyusui Bayi 0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mananga
Kabupaten Sumba Tengah Tahun 2022”?
b) Tujuan Khusus
Menganalisis Tingkat Pengetahuan Tentang Pola Makan Ibu Menyusui Bayi 0-6
Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mananga Kabupaten Sumba Tengah Tahun
2022”?
1.4. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian di harapkan dapat menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan tentang pentingnya Status Gizi Pada Ibu Menyusui Bayi 0-6 Bulan.
2. Bagi Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan Informasi dan data Pengetahuan Ibu
Menyusui yang memiliki bayi 0-6 bulan tentang pengetahuan pola makan ibu
menyusui dengan status gizi ibu menyusui bayi 0-6 bulan di wilayah kerja
Puskesmas Mananga kabupaten Sumba Tengah.
3. Bagi Peneliti merupakan pengalaman berharga dan wadah latihan untuk
memperoleh wawasan dan pengetahuan dalam penerapan ilmu pengetahuan serta
menganalisa masalah kesehatan terutama mengenai Hubungan Tingkat
Pengetahuan Tentang Pola Makan Ibu Menyusui Dengan Status Gizi Ibu
Menyusui Bayi 0-6 Bulan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Ada banyak ahli yang mendefenisikan pengetahuan, mengemukakan
bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan
tahu tersebut adalah hasil dari pada: kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai
(Salam, 2018).
Menurut Soeprapto “Ilmu” merupakan terjemahan dari kata Inggris
science. Kata science berasal dari kata Latin scientia yang berarti “pengetahuan”.
Kata scientia berasal dari bentuk kata kerja scire yang artinya “mempelajari”,
“mengetahui” (Sobur, 2016).
Menurut Oemarjoedi pengetahuan adalah faktor penentu bagaimana
manusia berpikir, merasa dan bertindak (Dulistiawati, 2017). Pengetahuan
menurut Reber (2016) dalam makna kolektifnya, pengetahuan adalah kumpulan
informasi yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok, atau budaya
[Link] secara umum pengetahuan menurut Reber (2016) adalah
komponen - komponen mental yang dihasilkan dari semua proses apapun, entah
lahir dari bawaan atau dicapai lewat pengalaman (Reber 2016).
Berdasarkan beberapa definisi tentang pengetahuan dapat disimpulkan
bahwa pengetahuan adalah kumpulan informasi yang didapat dari pengalaman
atau sejak lahir yang menjadikan seseorang itu tahu akan sesuatu.
2. Aspek-aspek pengetahuan
Aspek-aspek tentang pengetahuan menurut Sobur (2016) adalah sebagai berikut:
1) Pengetahuan
2) Penelitian
3) Sistematis Sedangkan menurut Bloom (Azwar, 2017) aspek dari
pengetahuan adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali terhadap rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab
itu “tahu” ini adalah merupakan tingkatan yang paling rendah.
b. Memahami
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan, menyimpulkan meramalkan terhadap objek yang akan
dipelajari
c. Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
misalnya yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya).
d. Analisis
Meliputi pemilahan informasi menjadi bagian-bagian atau meneliti
dan mencoba memahami struktur informasi.
e. Sintesis
Menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungi bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan
kata lain sintesis itu adalah suatu kemampuan untuk menyususn
formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada.
a. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
penilaian terhadap suatu materi objek. Pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi
yang ingin di ukur dari suatu objek penelitian atau responden. Dari
pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa aspek pengethauan bermula
dari tahu tentang materi yang sudah dipelajari yang kemudian dapat
dijelaskan secara benar tentang objek yang diketahui lalu kemampuan
atau pengetahuan itu di gunakan untuk menyusun
pengetahuanpengetahuan baru dari pengetahuan yang sudah ada,
kemudian penegtahuanpengetahuan ini di evaluasi atau dinilai terhadap
suatu objek.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang menurut
Notoatmodjo (2018) yaitu :
1) Umur
Umur adalah umur responden menurut tahun terakhir. Umur sangat erat
hubungannya dengan pengetahuan seseorang, karena semakin bertambah usia
maka semakin banyak pula pengetahuannya.
2) Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka diharapkan stok modal manusia
(pengetahuan, ketrampilan) akan semakin baik. Pendidikan secara umum
adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik
individu, kelompok masyarakat sehingga mereka memperoleh tujuan yang
diharapkan.
3) Pekerjaan
Kegiatan atau usaha yang dilakukan ibu setiap hari berdasarkan tempat dia
bekerja yang memungkinkan ibu hamil memperoleh informasi tentang
tandatanda persalinan. Pekerjaan sangat mempengaruhi ibu yang memiliki
pekerjaan diluar rumah lebih cepat dan mudah mendapatkan informasi dari
luar.
4) Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh
kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang telah
diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu.
5) Sumber informasi
Informasi adalah data yang telah diproses kedalam suatu bentuk yang
mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata dan terasa bagi
kepuasan saat ini atau kepuasan mendatang, informasi yang datang dari
pengirim pesan yang ditujukan kepada penerima pesan, seperti :
a. Media cetak, dan lain-lain.
b. Media elektronik, seperti televisi, radio, video, slide, dan lain-lain.
c. Non media, seperti dari keluarga, teman, dan lain-lain.
Faktor-faktor dari pengetahuan meliputi, umur seseorang, sebab umur seseorang
dapat sangat erat hubungannya dengan pengetahuan seseorang, kemudian
pendidikan, pendidikan yang semakin tinggi diharapkan dapat menjadi modal
manusia (pengetahuan) akan semakin baik. Selanjutnya adalah pekerjaan dan
pengalaman, semakin banyak orang bekerja pasti akan mendapatkan
pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak dan luas dari pada orang yang
tidak bekerja. Lalu yang terakhir adalah sumber informasi, pengetahuan dapat
diperoleh dari berbagai sumber informasi apapun, bukan hanya di lembaga
pendidikan saja, tapi pengetahuan juga dapat diperoleh dari media cetak, media
elektronik, bahkan termasuk keluarga dan teman-teman.
2.2 Konsep Ibu Menyusui
1. Pengetian Ibu Menyusui
Ibu adalah sebutan yang lazim untuk wanita yang telah melahirkan kita ke dunia.
Menyusui adalah proses pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi, dimana bayi
atau anak kecil dengan cara refleks menghisap dan menelan untuk mendapatkan
ASI (Roesli, 2016).
Menyusui bukan hanya bermanfaat untuk bayi akan tetapi juga memberikan
manfaat bagi ibu, dengan cara memberikan ASI Eksklusif tanpa makanan dan
minuman lain kepada bayi sejak lahir, kecuali obat dan vitamin. Pemberian ASI
eksklusif dapat berlangsung selama 0-6 bulan dan setelah berumur 6 bulan
diberikan makanan tambahan dengan nutrisi yang aman dan pemberian ASI
dilanjutkan sampai berumur 2 tahun (Depkes, 2017).
2. Manfaat Pemberian Air Susu Ibu (ASI
Manfaat untuk bayi adalah memberikan nutrisi terbaik untuk bayi, meningkatkan
daya tahan tubuh, meningkatkan jalinan kasih sayang meningkatkan kecerdasan.
Manfaat bagi ibu dapat mengurangi pendarahan paska melahirkan terjadinya
anemia, kemungkinan terjadinya kanker payudara, menjarangkan kelahiran, dapat
mengembalikan lebih cepat berat badan dan besarnya rahim ibu ke ukuran normal,
dan ekonomis (Suherni, 2016)
2.3 Pola Makan
Pola makan merupakan perilaku sangat penting yang dapat mempengaruhi
keadaan gizi. Hal ini disebabkan oleh kuantitas dan kualitas makanan dan minuman
yang dikonsumsi akan mempengaruhi tingkat kesehatan individu dan masyarakat. Gizi
seimbang sangat penting untuk pertumbuhan normal (KemenKes RI, 2017).
Ibu adalah orang yang memiliki peranan penting dalam menentukan makanan yang
akan diberikan kepada anak, karena pola pemberian makanan pada bayi 0-6 bulan
hanya bisa melalui Air Susu Ibu (ASI), maka dari itu, ibu harus memiliki pengetahuan
gizi dalam pemenuhan gizi seimbang (Supariasa, 2016).
Pola makan ibu menyusui yang tidak seimbang dapat mempengaruhi air susu ibu
(ASI) dan mempengaruhi status gizi pada bayi, karena ASI merupakan satu-satunya
makanan bagi bayi. Salah satu pemicu rendahnya status gizi pada usia 0-6 bulan yaitu
rendahnya pemberian ASI Eksklusif.
Pola makan yang seimbang akan menunjukkan status gizi yang baik. (Makhrajani,
2018)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2016) menganjurkan
pemenuhan gizi dengan :
1. Karbohidrat Saat bulan pertama menyusui, kebutuhan ibu meningkat sebesar
65 gr per hari atau setara dengan 1 ½ porsi nasi. Ibu menyusui dianjurkan
mengkonsumsi Nasi, ubi, kentang, singkong, bihun, mie, roti, makaroni dan
jagung.
2. Protein Sangat diperlukan untuk peningkatan produksi air susu. Ibu menyusui
membutuhkan tambahan protein 17 gr atau setara dengan 1 porsi daging (35gr)
dan 1 porsi tempe (50gr). Dianjurkan mengkonsumsi 2-3 kali sehari seperti
daging, telur, tempe dan kacang-kacangan.
3. Lemak Lemak berfungsi sebagai sumber tenaga dan berperan dalam produksi
ASI serta pembawa vitamin dalam ASI, dapat diperoleh dari Omega-3 dan
omega-6.
4. Vitamin dan Mineral Ibu menyusui membutuhkan lebih banyak vitamin dan
mineral, dan dapat diperoleh dari vitamin B1, B6, B2, B12, vit A, Yodium dan
Kalsium, jumlah vitamin dan mineral adalah 3 porsi sehari dari susu, sayuran
dan buah-buahan.
5. Cairan Ibu menyusui sangat membutuhkan cairan agar dapat menghasilkan air
susu dengan cepat, dianjurkan minum 2-3 liter air perhari atau lebih dari 8
gelas air sehari (12-13 gelas perhari).
2.4 Status Gizi
Kata gizi berasal dari bahas arab “gizzah” yang artinya zat makanan sehat. Gizi
adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal
melalui proses absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran
zat-zat yang tidak digunakan unutk mempertahankan kehidupan, dan fungsi normal
organ-organ serta menghasilakan energi. (Supariasa, 2016)
Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang
yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi makanan.
Masalah Gizi dipengaruhi banyak faktor dan saling mempengaruhi. Salah satunya
adalah faktor ekonomi, pendidikan, ketersediaan pangan ditingkat rumah tangga, pola
konsumsi makanan, kepercayaan, tradisi dan budaya. Indeks Massa Tubuh (IMT)
adalah penilaian untuk memantau status gizi dan ukuran sederhana untuk berat badan
terhadap tinggi badan yang umum digunakan untuk mengklarifikasikan berat badan
kurang, berat badan normal maupun berat badan lebih pada orang dewasa (Kemenkes
RI, 2017).
1. Macam-macam Zat Gizi Pangan dan Gizi sangat berkaitan erat karena gizi
seseorang sangat tergantung pada kondisi pangan yang dikonsumsinya.
Masalah pangan antara lain menyangkut ketersediaan pangan dan kerawanan
konsumsi pangan yang dipengaruhi oleh kemiskinan, rendahnya pendidikan,
dan adat/kepercayaan yang terkait dengan tabu makanan. (Yayuk, F 2016).
2. Gizi Seimbang Gizi Seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang
mengandung zatzat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan
dirinya sendiri dan pertumbuhan dan perkembangan bayi saat menyusui
sangat penting karena apa yang Ibu makan sangat erat kaitannya dengan
produksi air susu ibu (ASI). Gizi Seimabang mengandung 3 zat gizi utama
yaitu :
1) Zat Tenanga (yang terdiri dari karbohidrat dan lemak)
2) Zat Pembangun (yang terdiri dari protein)
3) Zat Pengatur (yang terdiri dari vitamin dan mineral). (Godam,2016)
3. Kebutuhan Gizi Ibu Menyusui Bayi 0-6 Bulan (Kemenkes RI, 2017)

Zat Gizi Wanita Tidak Hamil Ibu Menyusui 0-6 Bulan


Energi (Kalori) 2200 2090
Protein (gr) 48 62
Vitamin A (RE) 500 850
Vitamin D (mg) 7,5 15
Vitamin E (mg) 5 18
Vitamin K (mg) 55 55
Riboflavin (mg) 1,1 1,6
Vitamin B12 2,4 2,8
(mg)
Asam Folat 400 500
(mg)
Vitamin C (mg) 60 85
Kalsium (mg) 600 600
Fosfor (mg) 600 600

2.5 Penilaian Status Gizi


Status gizi seseorang dapat dilakukan dengan cara penilaian antropometri, yaitu
menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan
alat atau cara sederhana untuk memantau status gizi dengan menggunakan berat badan
dan pengukur tinggi badan. (Pusphadani, 2016)
Berat badan(kg)
IMT=
Tinggi badan(m )× Tinggi badan(m)

Batas Ambang Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk Indonesia.


Klarifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT) (kg/𝑚2 )
Sangat Kurus <17,0
Kurus 17,0 – 18,4
Normal 18,5 – 25,0
Berat Badan Lebih 25,1 – 27,0
Obesitas >27,0

1. Kerangka Konsep
Menurut Notoatmodjo (2018), kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara
konsep-konsep yang akan diukur maupun diamati dalam suatu penelitian. Sebuah
kerangka konsep haruslah dapat memperlihatkan hubungan antara variable-variabel
yang akan diteliti. Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan seperti di
bawah ini.
2. Kerangka Hubungan Antara Variabel
Berdasarkan pada landasan teori diatas, maka pada penelitian ini dirumuskan
kerangka konsep penelitian sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen

Status Gizi Ibu


Tingkat pengetahuan
Menyusui
ibu

Dari kerangka konsep di atas dapat dilihat variabel independen dan variabel dependen :

1. Variabel Independen adalah variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi.


Dalam penelitian ini termasuk dalam variabel independen adalah pengetahuan
Tingkat Pengetahuan Tentang pola makan Ibu Menyusui Status Gizi Ibu
Menyusui .
2. Variabel Dependen adalah variabel terikat atau yang dipengaruhi, yaitu tinkat
pengetahuan tentang Pola Makan Ibu Menyusui dengan Status Gizi Ibu
Menyusui Bayi 0-6 Bulan.
3. Hipotesis
Penelitian Hipotesis penelitian adalah suatu jawaban sementara dari pernyataan
penelitian dan merupakan pernyataan yang harus dibuktikan kebenarannya. Biasanya
hipotesis ini dihubungankan antara dua variabel bebas dan variabel terikat.
(Notootmodjo, 2016).

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka disusun dugaan sementara sebagai


berikut :

1. Ha = Ada Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Pola Makan Ibu Menyusui


Dengan Status Gizi Ibu Menyusui bayi 0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Mananga Kabupaten Sumba Tengah tahun 2022.
2. Ho = Tidak Ada Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Pola Makan Ibu
Menyusui Dengan Status Gizi Ibu Menyusui bayi 0-6 Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Mananga Kabupaten Sumba Tengah tahun 2022.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Penelitian Penelitian ini merupankan penelitian kuantitatif, dengan desain
penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi
(Notoatmodjo, 2016). Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional, artinya
semua variabel yang termasuk efek akan diteliti dan kumpulkan pada waktu yang
bersamaan yaitu untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang pola makan
ibu menyusui dengan status gizi ibu menyusui bayi 0-6 bulan. (Notootmodjo, 2016).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Mananga
Kabupaten Sumba Tengah pada bulan September sampai Februari 2023.
3.3 Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sejumlah besar subjek yang diteliti atau keseluruhan
subjek penelitian. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua Ibu
Menyusui yang memiliki bayi usia 0-6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Mananga Kabupaten Sumba Tengah pada Tahun 2023 yang berjumlah 80 orang
yang diperoleh Peneliti dari data Puskesmas Mananga Kabupaten Sumba Tengah.
2. Sampel
Menurut Arikunto (2016) sampel adalah sebagian atau wakil populasi
yang akan diteliti. Jika populasi 100 maka sampel diambil dengan menggunakan
simple random sampling, yaitu sebesar 25% dari jumlah populasi dan
pengambilan sampel secara acak sederhana yaitu dari setiap populasi memiliki
peluang yang sama untuk menjadi anggota sampel dengan cara mengundi anggota
populasi (Notootmodjo, 2016).
Rumus yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah :
n = 25% x N
n = 25 % x 80 = 20 orang
Keterangan :
n = Besar sampel
N = Besar populasi
3.4 Definisi Operasional
Defenisi operasional adalah mendefenisikan variabel secara operasional dan
berdasarkan pengetahuan yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan
observasi atau pengukuran dan penilaian terhadap Kuesioner suatu obyek atau
fenomena dengan cara membandingkan jumlah skor yang diharapkan (tertinggi)
kemudian dikalikan 100% dan hasilnya berupa presentase. (Notootmodjo, 2016).
Tabel 3.1 Defenisi Operasional

N Variabel Definisi Kriteria Objektif Cara Skala Hasil ukur


O Operasional ukur
1 Pengetahun Pemahan ibu Buruk: jika skor Koesione Ordinal 1. Kurang
tentang pola tentang pola responden≤dari r \
makan ibu makan pada nilai median 2. (≤ %)

menyusui saat menyusui sampel. 3. Baik

Baik : jika skor (56-100

responden > dari %)

nilai median
sampel.
Status Gizi Penilaian Buruk: jika skor Antopom Nomina 1. Kurang (
2 Ibu status gizi ibu responden≤dari etri l IMT <
menyusui menyusui yang nilai median 18,5)

meliputi IMT sampel. 2. Normal

Baik : jika skor ( IMT ≥

responden > dari 18,5

nilai median
sampel.

3.5 Jenis, Teknik Dan Instrumen Pengumpulan Data


a. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dala penelitian ni ada tiga metode,
yaitu: kuisoner, wawancara dan dokumentasi, adapun penjelasan metode tersebut:
1. Kuisoner
Kuisoner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang
memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku dan
karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh
oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.
2. Wawancara
Wawancara(bahasa Inggric interview) merupakan percakapan antara dua
orang ata lebih dan berlangsung antars narasumber dan pesawancara. Tujuan
dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang
pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang
yang diwawancara.
3. Dokumentasi
Dokumenta adalah mengampulkan data dengan cara mengalir mengambil
data-data dan catatan dokumentasi, ama yang se dengan masalah yang ditelin.
Dalam hal ini dokumentasi diperoleh melah dokumen-dokumen atau atsip
arsip dari lembaga yang di teliti.
b. Instrumen Pengumpulan Data
Data Alat pengumpulan data berupa lembar kuesioner dimana lembar
Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data tentang hubungan tingkat
pengetahuan tentang pola makan ibu menyusui dengan status gizi ibu menyusui 0-
6 bulan yaitu kuesioner dengan jawaban tertutup sehingga responden memilih
jawaban yang ada.
Kuesioner pengetahuan yang dibagikan terdiri dari kuesioner berjumlah 10
item pertanyaan dengan pilihan jawaban a,b,c apabila jawaban benar diberi nilai 1
dan jawaban salah diberi nilai 0 dengan kategori
1. Kurang (≤ 55 %)
2. Baik (56-100%)
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah
sebagai berikut.
Kuesioner ini diadopsi dari Hanifah (2018) Alat ukur yang sudah diuji
validitas dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment “Hubungan
Tingkat Pengetahuan Tentang Pola Makan Ibu Menyusui dengan Status Gizi Ibu
Menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Sukoharjo Kabupaten
Pringsewu Provinsi Lampung Tahun 2018”, yang mana telah diuji validitas, maka
peneliti mengadopsi kuesioner yang telah diuji peneliti sebelumnya oleh Sri
Handayani yang menunjukkan bahwa rxy > rtabel yaitu angka koefisien korelasi
sebesar 0,697 dan P value sebesar 0,000 dengan Z hitung 6,498. Hal ini
menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara Tingkat pengetahuan tentang
Pola Makan ibu menyusui dengan Status Gizi Ibu Menyusui Bayi 0-6 Bulan.
Realibilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur
dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil
pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang sama. (Notoatmodjo, 2016).
3.6 Teknik Pengolahan, Analisis Dan Penyajian Data
a. Pengolahan Data
Menurut Notootmodjo (2016) langkah-langkah pengolahan data secara manual
pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan Statistical Product and Service
Solutions (SPSS) komputerisasi, data yang didapat lalu diolah dengan langkah-
langkah berikut :
1. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang
diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap
pengumpulan data atau setelah data terkumpul.
2. Coding
Coding merupakan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang
telah dikumpulkan.
3. Entry Data
Entry data adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke
dalam master tabel atau data base computer sesuai variabel SPSS versi 17.0
kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan
membuat tabel kontingensi.
4. Cleaning Data
Cleaning data merupakan kegiatan memeriksa kembali data yang sudah
dientry, apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan mungkin terjadi pada
saat meng-entry data ke komputer.
b. Analisa Data
Analisa data penelitian merupakan media untuk menarik kesimpulan dari
seperangkat data hasil pengumpulan. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk
tabel distribusi frekuensi, untuk melihat hubungan antara dua variabel.
(Notootmodjo, 2016)
1. Analisa Univariat
Untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi dan persentase setiap variabel yang
diteliti.
2. Analisa Bivariat
Untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen dengan uji statistik menggunakan chi-square pada tingkat
kemaknaan 95% (α = 0,05) dimana nilai p < α yang artinya hipotesa alternatif
diterima. Maka terdapat hubungan yang berrmakna antara Tingkat
Pengetahuan tentang Pola Makan Ibu Menyusui dengan Status Gizi Ibu
Menyusui bayi 0-6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Mananga Kabupaten
Sumba Tengah tahun 2023. (Arikunto, 2016).

Rumus chi-square

c. Penyajian Data
Penyajian data merupakan upaya penyususnan sekumpulan informasi kedalam
suatu matriks yang mudah dipahami.
3.7 Organisasi Dan Personalia Penilitian
Organisasi saya mengambil tempat penelitian di Puskesmas Mananga Kecamatan
Mamboro Kabupaten Sumba Tengah dan saya mengambil personalia ibu menyusui di
piuskesmas tersebut.
3.8 Jadwal Kegiatan Penelitian
Untuk jadwal kegiatan ppenilitiannya di rencanakan pada bulan september 2023
mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Ardiny, F. and Rahayuni, A. (2013) ‘Hubungan Status Gizi Ibu Dengan Status Gizi Bayi Usia 5
– 6 Bulan Yang Mendapat Asi Eksklusif’, Journal of Nutrition College, 2(4), pp. 600–607.
doi:10.14710/jnc.v2i4.3820.

Oktarina, O.O. and Wardhani, Y.F. (2020) ‘Perilaku Pemenuhan Gizi pada Ibu Menyusui di
Beberapa Etnik di Indonesia’, Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 22(4), pp. 236–244.
doi:10.22435/hsr.v22i4.1550.

Rustiana, W. (2013) ‘Program studi diploma III kebidanan sekolah tinggi ilmu kesehatan kusuma
husada surakarta 2013’, Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Resiko Tinggi Kehamilan
di BPS Siti Mursidah Sumber Lawang Sragen Tahun 2013, 1(2013), pp. 1–64.

Anda mungkin juga menyukai