0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
145 tayangan44 halaman

Konsep Dasar Peta dan Fungsinya

Kegiatan belajar ini membahas konsep dasar peta, sejarah, dan makna Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang diajarkan mencakup pengertian, fungsi, dan komponen peta, konsep sejarah, serta pentingnya memahami perbedaan dalam kesatuan dalam kehidupan sehari-hari. Capaian pembelajaran mencakup penjelasan konsep-konsep tersebut dan pemahaman nilai-nilai Bh

Diunggah oleh

ridhoelmuay82
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
145 tayangan44 halaman

Konsep Dasar Peta dan Fungsinya

Kegiatan belajar ini membahas konsep dasar peta, sejarah, dan makna Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang diajarkan mencakup pengertian, fungsi, dan komponen peta, konsep sejarah, serta pentingnya memahami perbedaan dalam kesatuan dalam kehidupan sehari-hari. Capaian pembelajaran mencakup penjelasan konsep-konsep tersebut dan pemahaman nilai-nilai Bh

Diunggah oleh

ridhoelmuay82
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEGIATAN BELAJAR 4: NILAI KONSEP DASAR PETA, KONSEP DASAR

SEJARAH, DAN MAKNA BHINNEKA TUNGGAL IKA DALAM KEHIDUPAN


SEHARI-HARI

A. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan

Setelah Anda mempelajari materi dalam kegiatan belajar ini, diharapkan


mampu untuk menjelaskan konsep dasar peta. Menjelaskan konsep dasar sejarah.
Memahami konsep hak dan kewajiban warga negara. Memaknai Bhinneka
Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

B. Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan

Adapun subcapaian dalam kegiatan pembelajaran ini adalah:

1. Menjelaskan Pengertian Peta;


2. Menjelaskan Fungsi Peta;
3. Menjelaskan Macam-Macam Peta;
4. Menjelaskan Komponen Peta;
5. Menjelaskan Simbol Dasar Peta;
6. Menjelaskan Pengertian Sejarah;
7. Menjelaskan Peran dan Fungsi Sejarah;
8. Menjelaskan Pengelompokkan Sejarah;
9. Menjelaskan Nilai Kegunaan Sejarah pada IPS SD/MI;
10. Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Sehari-hari.

C. Uraian Materi

Pada Kegiatan belajar 4, Bapak/Ibu akan belajar mengenai pengertian peta,


fungsi peta, macam-macam peta, komponen peta, simbol dasar peta, pengertian
sejarah, peran dan fungsi sejarah, pengelompokkan sejarah, nilai kegunaan
sejarah pada IPS SD/MI, makna Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-
hari. Berikut uraian materi pada kegiatan belajar 4.

1. Konsep Dasar Peta


a. Pengertian Peta
Mappa merupakan istilah pertama peta yang berasal dari Bahasa
Yunani, dan dalam Bahasa Inggris disebut map. Pada aplikasi di
smartphone yang dikembangkan google diberi nama google maps. Jauh
sebelum adanya aplikasi google maps pada smartphone, manusia
mengandalkan kemampuan manual dalam menentukan posisi dan
tujuan apabila sedang bepergian ke suatu daerah/wilayah. Mereka
memanfaatkan peta, karena peta memberikan sejumlah data dan

53
informasi terkait berbagai bentuk permukaan bumi dalam versi mini,
yang mampu memudahkan kita mengenali ciri atau tanda spesifiknya.
Peta merupakan alat bantu yang mempermudah pengguna untuk
mengetahui beragam informasi yang ada di bumi. Informasi tersebut
digambarkan dalam skala yang lebih kecil dan berisi sesuatu jenis
informasi tentang muka bumi yang dibutuhkan. Sebagai media, peta
berbentuk grafis yang disajikan dengan simbol-simbol, kata-kata,
gambar, dan garis yang dirancang untuk menunjukkan hubungan dan
menyatakan data suatu lokasi (Siddiq, dkk., 2008).
Dengan peta, gambar permukaan atau sebagian dari bumi, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mengungkapkan banyak
informasi, seperti jarak, lokasi suatu daerah, mengenai luasnya,
bentuknya, penyebaran penduduknya, daratan perairan, iklim, sumber
ekonomi serta hubungannya dengan yang lain (Mursiti, 2006). Sedangkan
atlas adalah sebutan bagi kumpulan peta dalam format sebuah buku dan
ilmu yang mempelajari pembuatan peta adalah Kartografi.
b. Syarat Peta
Peta disebut layak digunakan jika memenuhi syarat sebagai
berikut:

1) Conform, berarti kesesuian gambar peta dengan keadaan


sesungguhnya di lapangan;
2) Equidistance, berarti jarak sesuai dengan skala yang digunakan, dan
sesuai dengan jarak sesungguhnya di lapangan;
3) Equivalent, berarti bidang yang digambar pada sebuah peta ketika
dihitung dengan skala yang digunakan, sesuai dengan keadaan
sesungguhnya di lapangan.
c. Fungsi Peta
Peta berfungsi menampilkan dan menunjukkan lokasi suatu tempat
atau kenampakan alam pada permukaan bumi (Taneo dkk., 2009), luas,
dan bentuk kenampakan alam, beserta bentuk fenomena penyebarannya.
Selain itu, peta juga berfungsi sebagai berikut.

1) Arah dan jarak di bumi;


2) Menunjukkan posisi atau letak suatu tempat di permukaan bumi;
3) Menunjukkan letak suatu tempat dan hubugannya dengan tempat
lain;
4) Menunjukkan ukuran jarak, luas, atau arah sebenarnya;
5) Menggambarkan luas, bentuk dan penyebaran berbagai objek dan
gejala di permukaan bumi;
6) Perubahan sifat alami dan non alami;

54
7) Sebagai dokumen;
8) Menyajikan data tentang potensi suatu daerah.

Peta membantu baik sebagai teori maupun media dalam


pembelajaran IPS untuk mempelajari suatu wilayah, baik itu terkait letak,
luas, dan kenampakan alam serta fenomena sosial budaya yang ada pada
permukaan bumi, khususnya di Indonesia.
d. Macam-Macam Peta
Macam-macam peta dapat dilihat berdasarkan jenis, skala, isi,
maksud, dan tujuan.

1) Peta Menurut Skala


Berdasarkan skala, peta dapat dikategorikan sebagai berikut.
a) Skala sangat besar atau kadaster dengan skala 1:100-1:5000;
b) Skala besar dengan skala 1:5000-1:250.000;
c) Skala sedang dengan skala 1:250.000-1:500.000; 4) Skala kecil
dengan skala 1:500.000-1:1.000.000;
d) Skala sangat kecil dengan ketentuan skala lebih kecil dari
1:1.000.000.

2) Peta menurut isi


Berdasarkan isi, peta dapat dikategorikan sebagai berikut.
a) Peta umum, merupakan peta yang menggambarkan segala yang
terdapat pada suatu wilayah. Contoh peta umum sebagai berikut.
(1) Peta Topografi. Peta topografi adalah peta yang
menggambarkan permukaan dan relief bumi. Pada peta
topografi terdapat garis kontur. Kontur adalah garis yang
menghubungkan tempat-tempat yang memiliki ketinggian
sama.

55
Gambar 4.1 Peta Topografi

(2) Peta Korografi, yaitu peta yang menggambarkan permukaan


bumi, baik sebagian maupun seluruhnya, berskala sedang,
dan bersifat umum.

Gambar 4.2 Contoh Peta Korografi

b) Peta khusus (tematik), merupakan peta khusus menggambarkan


suatu kenampakan tertentu atau satu aspek saja, baik yang
berkenaan dengan kenampakan fisik maupun kenampakan sosial
budaya. Contoh peta tematik adalah peta kepadatan penduduk,
peta geologi, peta navigasi, peta pariwisata, peta kontur, peta
politik, peta militer, peta persebaran fauna, peta perhubungan,

56
peta kepadatan penduduk, peta pariwisata, peta komunikasi,
peta penyebaran hasil tambang, peta penggunaan lahan.

Gambar 4.3 Contoh Peta Tematik

e. Komponen Peta

Dalam peta terdapat petunjuk atau simbol dan bagian yang disebut
dengan komponen peta dan disesuaikan dengan tema dalam peta yang
bersangkutan. Komponen-komponen tersebut terdiri dari berikut ini.

1) Judul Peta. Judul digunakan untuk memberi nama pada peta atau
atlas, biasanya terletak di bagian atas atau sampul depan pada atlas.
Judul peta harus jelas, ditulis capital, dan sesuai dengan jenis dan
informasi peta yang ditampilkan.
2) Inset Peta. Inset peta merupakan peta mini yang berfungsi memberi
suatu penjelasan pada peta utama, biasanya terletak di kanan atau
kiri atas peta. Berdasarkan fungsi inset dibagi menjadi tiga, yaitu
sebagai berikut:
a) Menunjukkan lokasi relatif berskala lebih kecil dari suatu wilayah
yang memberi penjelasan suatu letak atau hubungan antara
wilayah dengan wilayah lainnya pada peta utama. Misalnya,
lokasi relatif pulau Kalimantan diantara provinsi lainnya pada
wilayah Indonesia;
b) Berfungsi memperbesar atau memperjelas sebagian kecil wilayah
yang terdapat pada peta utama dan memiliki skala lebih besar
daripada peta peta utama. Berguna untuk menjelaskan bagian
dari peta pokok yang dianggap penting. Seperti misalnya adalah

57
lokasi pemukiman yang penting yang terdapat pada suatu kota
akan diperbesar sehingga akan terlihat lebih jelas;
c) Berfungsi untuk menyambung wilayah pada peta utama dan
mempunyai skala sama besar dengan peta utama yang
disambung dan bertujuan untuk, menggambarkan wilayah pada
peta utama yang terpotong karena keterbatasan pada media
kertas atau halaman, menggambar wilayah yang terpencar.

Gambar 4.4 Judul Peta

Gambar 4.5 Inset Peta

3) Skala Peta. Skala adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak di


lapangan atau jarak sebenamya yang dinyatakan dengan bentuk baik
angka, grafis (batang), maupun verbal. Biasanya dalam sebuah peta
seluruh bentuk skala peta ditampilkan. Pada umumnya, di Indonesia
menggunakan satuan sentimete (cm) sedang ukuran sesungguhnya
dinyatakan dalam satuan kilometer (km).

58
a) Skala angka menunjukkan perbandingan jarak pada peta dalam
perhitungan angka;
b) Skala grafis (batang) menunjukkan perbandingan jarak pada peta
menggunakan grafis dalam bentuk batang garis lurus;
c) Skala verbal menunjukkan perbandingan jarak pada peta dengan
menggunakan kalimat langsung, singkat dan tegas, misalnya
skala peta yang telah ditentukan untuk 1 cm berarti 1 km.

Gambar 4.6 Skala Pada Peta

Gambar 4.7 Skala Pada Peta

d) Perhitungan Skala. Ada dua metode dalam menghitung skala,


yaitu dengan angka dan dengan garis.
(1) Perhitungan dengan skala angka. Dalam menghitung skala
dengan angka dapat menggunakan rumus Jarak
Sesungguhnya = Jarak Peta/Skala dan Skala = Jarak
sesungguhnya /Jarak pada peta.

Gambar 4.8 Menghitung Skala


(2) Perhitungan dengan skala batang. Pada skala batang
menggunakan ukuran pada grafis batang yang tercantum
dengan verbal, jika menggunakan satuan sentimeter (cm),
maka setiap ruas grafis batang memiliki panjang 1 cm.

59
4) Garis Peta, adalah garis-garis yang terdapat dalam peta seperti garis
tepi, garis tegak, dan garis datar. Garis tegak disebut disebut garis
bujur yang dibedakan menjadi Bujur Barat (BB) dan Bujur Timur (BT).
Garis mendatar disebut garis lingtang, dan dibedakan menjadi
Lintang Utara (LU) dan Lintang Selatan (LS). Garis lintang 00 disebut
garis ekuator (Khatulistiwa). Garis Tepi adalah garis pada bagian tepi
sebuah peta yang lebih tebal daripada garis bujur dan garis lintang.
Garis astronomi pada peta terdiri atas garis lintang dan garis bujur
atau meridian. Garis lintang 0° terdapat di sepanjang khatulistiwa.
Daerah di Indonesia yang dilewati garis lintang 0° misalnya
Pontianak (Kalimantan Barat) dan Bonjol (Sumatera Barat).
Sedangkan garis meridian 0° melewati kota Greenwich di Inggris.
Wujud garis bujur dalam peta yaitu garis vertikal yang
meng¬hubungkan sumbu Kutub Utara dengan sumbu Kutub
Selatan. Fungsi dari garis astronomis pada peta tematik adalah untuk
mengetahui posisi suatu titik di permukaan bumi.

Gambar 4.9 Jaring-Jaring Peta

5) Legenda, adalah keterangan simbol-simbol pada peta agar mudah


dimengerti oleh pembaca biasanya letak bagian legenda di sisi kiri
atau kanan bawah dan sebaiknya masuk di dalam garis tepi.

60
Gambar 4.10 Legenda pada Peta

6) Tanda Orientasi. Tanda orientasi peta adalah suatu simbol petunjuk


arah dan bukan semata-mata arah mata angin. Fungsinya untuk
menunjukkan arah utara, selatan, timur, atau barat, karena tidak
selamanya peta berorientasi utara. Oleh karena itu, pencantuman
tanda orientasi ini memiliki arti yang cukup penting bagi suatu peta,
yaitu untuk menghindari kekeliruan.

Gambar 4.11 Tanda Orientasi Peta

7) Daftar Isi. Daftar isi memuat beberapa keterangan, judul peta, beserta
nomor halaman dan biasanya terdapat pada atlas.
8) Indeks. Pada bagian akhir atlas terdapat indeks yang disusun urut
secara alfabetis dari atas ke bawah, penyusunan berdasarkan
kenampakan alam tertentu misalnya berdasarkan kota, gunung,
danau, sungai, pulau, dan lain sebagainya.
9) Sumber Pembuatan Peta. Sumber pembuatan peta perlu
dicantumkan untuk memberi kepastian kepada pemakai bahwa data
dan informasi yang disajikan dalam peta tersebut benar-benar absah
dan bukan data fiktif atau hasil rekaan.

61
10) Tahun Pembuatan Peta. Pencantuman Tahun pebuatan peta sangat
penting dalam membuat peta tematik. Hal ini disebabkan karena peta
suatu wilayah sering mengalami perubahan terutama kedudukan
sosial.

Gambar 4.12 Sumber dan Tahun Pembuatan Peta

f. Simbol Dasar Peta


Simbol peta adalah alat yang berfungsi untuk menggambarkan
keadaan medan dan posisi peta. Simbol yang baik adalah simbol yang
mudah dikenali dan dipahami oleh pembacanya. Syarat-syarat simbol
peta adalah sebagai berikut:

1) Sederhana;
2) Mudah digambar;
3) Mudah dibaca;
4) Mencerminkan ketelitian data;
5) Bersifat umum.

Simbol dasar yang biasa digunakan pada peta di antaranya sebagai


berikut:
1) Simbol Titik (Point Symbols). Simbol titik yang kualitatif dapat
berbentuk geometrik atau abstrak, piktorial, dan huruf;
2) Simbol Garis (Line Symbols). Simbol garis kualitatif
memperlihatkan gambaran dari unsur- unsur yang diwakilinya
dengan bentuk garis. Simbol garis dapat menyatakan penghubung
dua unsur (jalur), pemisah (batas), gerakan atau ams dari unsur yang
tidak mempunyai kepastian, baik tersendiri maupun bersama-sama.
Sebagai contoh simbol garis sungai, jalan, batas;
3) Simbol Bidang (Area Symbol). Simbol bidang atau luas yang
kuantitatif memperlihatkan gambaran tentang pembagian unsur-
unsur yang menempati suatu daerah, sebagai contoh simbol bidang
pada peta tanah dan peta pariwisata.

62
Gambar 4.13 Contoh Simbol pada Peta

Konsep dasar peta yang dipaparkan merupakan materi sederhana


untuk selanjutnya dapat membantu, menambah wawasan, dan
pengembangan kemampuan dasar yang minimal dikuasai para pendidik
dalam proses pembelajaran IPS SD/MI. Kemampuan dasar peta sangat
berkaitan dengan materi-materi yang disajikan pada IPS SD/MI,
misalnya tentang penampakan alam dan keragaman sosial budaya, dan
ekonomi, berkaitan juga dengan keanekaragaman suku bangsa dan
budaya, selain itu berkaitan dengan materi yang lainnya. Perkembangan
selanjutnya dapat mempelajari bagaimana membuat peta menggunakan
aplikasi terkini.

2. Konsep Dasar Sejarah dan Kegunaannya


a. Pengertian Sejarah
Banyak dari kita memahami, Sejarah hanya mempelajari tentang
nama-nama tokoh, pejuang, candi, prasasti, tanggal, waktu sehingga
makna sejarah sendiri menjadi sempit dan membosankan. Kata Sejarah
diadaptasi dari ‫( شجرة‬šajaratun) yang berarti pohon, kenapa pohon, karena
pohon mempunyai rentetan proses dari akar serta ranting dan daun yang
saling berkesinambungan sehingga dapat menggambarkan bidang kajian
ilmu sejarah. Sejarah dalam bahasa Yunani disebut historia (ἱστορία) yang
berarti mengusut atau menyelidiki, dalam bahasa Inggris disebut History,
dalam bahasa Arab disebut tarikh (‫ )تاريخ‬yang berarti dapat disebut
waktu/tanggal, dalam bahasa bahasa Prancis disebut historie, dalam
bahasa Italia disebut storia, dalam bahasa Jerman disebut geschichte, dan
dalam bahasa Belanda disebut gescheiedenis.

63
Setiap waktu baik detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang
telah kita lewati merupakan “sejarah”. Pada dasarnya sejarah itu
merupakan gambaran terkait peristiwa pada masa lampau yang terjadi,
kemudian diusut/diselidiki kebenarannya, diorganisasi secara ilmiah,
kemudian diberikan tafsiran dan analis kritis disertai nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya, sehingga dapat dipahami dan dimengerti untuk
menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia yang akan datang.
Pada hakikatnya peristiwa yang terjadi pada masa lampau,
menunjukkan proses bagaimana manusia berjuang untuk kehidupan
yang lebih baik (Sartini, 2011). Sesuai dengan pendapat Carr (1972) bahwa
“history is a continous process of interaction between the historian and his facts,
and unending dialogue between the present and the past”. Sehingga yang
menjadi kajian sejarah adalah peristiwa-peristiwa khusus dan penting
yang terdapat pengaruh besar pada masa lalu dan dapat membawa
perubahan pada masa berikutnya, sehingga tidak semua peristiwa pada
masa lampau menjadi kajian dalam sejarah. Sejarah berkenaan dengan
bagaimana kehidupan manusia pada masa lampau dalam konteks
sosialnya, sehingga Sejarah termasuk dari bagian ilmu-ilmu sosial (Social
Sciences).
Ilmu sejarah berusaha untuk menyelediki dan mengungkap
peristiwa masa lampau manusia berdasarkan sumber yang ditemukan
baik berupa fakta/data yang benar adanya, karena tujuannya adalah
kebenaran (Tjokrodikaryo, 1986). Hal ini sesuai dengan pendapat Sunnal
dan Haas (1993) yang menyatakan “history is a chronological study that
interprets and gives meaning to events and applies systematic methods to
discover the truth”.
Melalui sejarah, gambaran-gambaran peristiwa tersebut yang
semula seperti puzzle dapat dirangkai secara kolektif, sehingga mampu
menampilkan gambar yang “utuh” melalui pengamatan langsung,
penelitian, dan laporan-laporan (Sjamsudin, 2012). Salah satu yang
dikenal sebagai bapak Sejarah adalah Herodotus (Siska, 2016) yang
pertama kali bekerja mengumpulkan bahan dan menampilkannya secara
sistematis dan terstruktur dengan menguji akurasinya terlebih dahulu.
Maha karya Herodutus adalah catatan perang Yunani vs Persia (History
of the Greek and Persian Wars 1502).

64
Gambar 4.14 Bapak Sejarah Herodotus

Kata kunci dalam Sejarah adalah peristiwa pada masa lampau yang
betul dan benar terjadi. Semakin detail informasi dari suatu peristiwa
tersebut, maka semakin baik apabila didukung tingkat kearutan serta
kepercayaan sehingga sumber fakta sejarahnya dapat
dipertanggungjawabkan. Secara kontekstual dalam pembelajaran IPS
SD/MI, dalam mempelajari sejarah, siswa juga dapat diajak untuk
memaknai sejarah secara konstektual dengan cara misalnya
“menyelidiki” informasi-informasi yang beredar sangat cepat berkat
keterdukungan teknologi informasi, apakah informasi tersebut benar
atau tidak (hoax). Sehingga kemampuan keterampilan siswa dalam
literasi “penelusuran” sumber dapat ditingkatkan.
Sejarah yang baik, harus melalui serangkaian metode yang objektif,
akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan, tanpa harus dibumbui sisi
subjektifas dari pengusut/penyelidik secara berlebihan. Sehingga sejarah
sebagai mata pelajaran khusus maupun terpadu pada IPS dapat
menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan
dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau
hingga kini kepada siswa. Seorang pendidik, harus mampu melihat sisi
tersebut, sehingga dapat menyampaikan secara faktual berdasarkan data.
Bukankah dalam Islam kita telah diajarkan bagaimana ketatnya ilmu rawi
dan matan dalam ilmu Hadis, yang mampu menyelediki dan
menggambarkan “sejarah” seorang perawi mulai dari kelahirannya
sampai perilaku kesehariannya yang dapat dipertanggungjawabkan,
sehingga suatu hadits dapat dihukumi sahih sampai dengan maudu’.
b. Peran dan Kedudukan Sejarah
Sejarah mempelajari peristiwa kehidupan sejak lahirnya manusia
pertama sampai dengan sekarang. Peristiwa-peristiwa kehidupan

65
manusia tersebut baik secara lisan maupun tulisan untuk dipelajari
sehingga berperan membantu kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Sejarah juga menjadi penghubung pengalaman masa lampau dan masa
sekarang, berguna untuk mengambil sikap dan langkah kehidupan pada
masa sekarang dan akan datang. Misalnya dengan mempelajari sejarah
pada masa penjajahan, siswa dapat menyadari, bahwa penjajahan hanya
menyebabkan penderitaan dan kesedihan. Selain itu, siswa juga dapat
mengambil ibrah, bahwa bangsa Indonesia pada masa lampau pernah
mengalami puncak kejayaannya. Dari hal tersebut, Sejarah mempunyai
peran memberikan kesadaran waktu, keteladanan dan pelajaran,
memperkokoh rasa nasionalis dan kebangsaan, mempertegas identitas
nasional, dan sebagai sumber inspirasi.
Kedudukan Sejarah dapat dibagi menjadi 3 (Ismaun, 1993), yaitu: 1)
sejarah sebagai ilmu; 2) sejarah sebagai peristiwa; 3) sejarah sebagai cerita
dan seni.

Sebagai
Peristiwa

Sejarah
Sebagai Sebagai
Cerita Ilmu

Gambar 4.15 Kedudukan Sejarah

1) Sejarah Sebagai Ilmu


Sebagai ilmu berarti, segala peristiwa yang disajikan disusun
dan diorganisasikan secara sistematis melalui serangkaian
metodologis ilmiah, serta dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya, sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan.
Berdasarkan hal tersebut, fakta dan data yang didapatkan
berdasarkan peristiwa yang dikaji melalui sejarah, disampaikan ada
adanya dan tidak boleh dilebih-lebihkan. Hal ini berdasarkan
pernyataan Bury (dalam Abdullah, 1996) bahwa history of science no
less and no moer. Oleh karena itu, karena mempunyai metode dan
serangkaian uji data, sistematis, bersifat objektif, logis dan rasional,

66
sehingga sejarah dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu yang
berdiri sendiri.
Winddscuttle (Sjamsuddin, H. 1999), menyatakan terdapat 3
tujuan sejarah sebagai ilmu, yaitu sebagai berikut:

a) Mendokumentasikan kebenaran peristiwa yang terjadi pada


masa lalu;
b) Mengkonstruksi pengetahuan tentang peristiwa pada masa lalu;
c) Mempelajari peristiwa masa lalu dengan disiplin metodologis.

Secara sederhana, melalui serangkaian bukti bahwa apa yang


terjadi pada masa sekarang sangat berkaitan dengan masa lampau,
melalui bukti tersebut terdapat data dan fakta, maka di sanalah
sejarah berfungsi sebagai ilmu.

2) Sejarah Sebagai Peristiwa.


Sejarah dapat diartikan sebagai peristiwa-peristiwa dalam
kehidupan manusia yang betul-betul terjadi (real) pada masa lampau
dan hanya terjadi sekali, didukung oleh kuatnya evidensi-evidensi,
seperti adanya saksi mata (witness), peninggalan-peninggalan
(relics/remains), catatan (record), tulisan, dan dokumentasi yang dapat
dijadikan sebagai sumber sejarah (historical sources), baik secara lisan
(oral) yang terdiri dari yaitu penutur atau orang/generasi pertama
yang disebut oral reminiscence dan oral tradition sebutan bagi penutur
atau orang/generasi ke dua seterusnya. Dalam hal ini sejarah disebut
sebagai kenyataan dan serba objektif (Ismaun, 1993).
Walaupun sejarah dapat terjadi kemungkinan terulang, tapi
waktu, tempat, dan pelakunya tidaklah sama. Ciri-ciri sejarah sebagai
peristiwa, yaitu: 1) abadi; 2) unik; 3) penting, yang berarti peristiwa
tersebut berhubungan dengan kehidupan manusia berdasarkan
dimensi ruang dan waktu dan mempunyai aspek perubahan besar,
baik secara individu maupun kelompok. Contoh konkrit karya dari
sejarah sebagai peristiwa dapat kita telaah pada buku-buku pelajaran
di sekolah, perguruan tinggi, jurnal, dan karya ilmiah lainnya.

3) Sejarah Sebagai Cerita dan Seni


Disebut juga dengan sejarah subjek, karena terdapat
subjektivitas (kesan atau tafsiran) dari penulis pada suatu peristiwa,
dalam hal ini sejarah juga disebut sebagai suatu cerita dan seni.
Penulis sebagai subjek dengan sengaja memberikan sentuhan
estetika, seperti memberi bumbu, warna, rasa, kacamata, ataupun
selera yang mempengaruhi pada jalannya suatu peristiwa

67
(Kartodirjo, 1992). Misalnya ketika menggambarkan peristiwa
seorang pejuang kemerdekaan ditembak oleh penjajah dengan kata
“dor bunyi letusan senjata api dan dia menatap dengan gagah kematiannya”,
sehingga dengan adanya kata “dor.. dst” (sebagai bunyi tembakan dan
ilustrasinya), maka penulis memberikan “rasa” yang dapat
mempengaruhi interpretasi pembaca dan bahkan dapat membawa
seakan-akan merasakan langsung peristiwa tersebut, proses tersebut
bersifat imajinatif dan bernilai estetika. Sebagai contoh yang lain,
kisah Pangeran Antasari jika ditulis oleh orang pro Belanda, maka
setidaknya Pangeran Antasari diberi label pemberontak, akan tetapi
jika ditulis seorang yang anti penjajahan, maka Pangeran Antasari
adalah pahlawan perang Banjar. Apalagi jika peristiwa sejarah
dijadikan dalam sebuah film layar lebar.
Jadi, karena sebagai cerita dan seni, maka sifatnya bergantung
pada kemampuan seperti latar belakang, pendidikan, teknik,
kemampuan, memerlukan intuisi, imajinasi, dan gaya bahasa seorang
penulis, sehingga pada bagian ini disebut sejarah serba subyektif.
Bahkan terdapat banyak karya fiksi walaupun menggunakan nama
tokoh, waktu, dan tempat yang nyata.
c. Pengelompokkan Sejarah
Sejarah dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu: a) secara tematis; b)
berdasarkan periode waktu; dan 3) berdasarkan unsur ruang.

1) Berdasarkan tema. Sejarah dalam hal ini dikelompokkan


berdasarkan tema seperti: sejarah ekonomi, sejarah agama, sejarah
kebudayaan, dan sebagainya;
2) Berdasarkan periode waktu. Sejarah dalam hal ini dikelompokkan
berdasarkan waktu, misalnya Sejarah Indonesia yang dimulai dari
periode prasejarah, periode Hindu dan Budha, periode Islam, periode
kolonial Belanda, periode pendudukan Jepang, periode Proklamasi
Kemerdekaan, periode Reformasi, dan periode Demokrasi;
3) Berdasarkan unsur ruang. Sejarah dalam hal ini dikelompokkan
berdasarkan unsur ruang, seperti Sejarah Asia, Sejarah Eropa, Sejarah
Arab, dan lain sebagainya.
d. Metodologi dan Ilmu Bantu Sejarah
Secara sederhana, terdapat langkah metodologis dalam sejarah.
Ismaun (1993) mengemukakan bahwa metode sejarah meliputi berikut
ini:

1) Heuristik (pengumpulan sumber-sumber). Pada tahap ini


pengumpulan semua sumber yang dapat ditemukan dan diperoleh,

68
baik sumber lisan dan tertulis (Dienaputra, 2006), sumber benda,
dokumentasi baik rekaman, kaset, video. Berdasarkan sifat, terdapat
sumber primer dan sekunder, serta sumber tersier.
2) Kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal). Setelah sumber
semua dikumpulkan kemudian dianalis dan diverifikasi melalui dua
metode, pertama kritik intern untuk meneliti kredibilitas sumber dan
yang kedua kritik eksternal untuk meneliti otentisitas atau keaslian
sumber (Kuntowijoyo, 2003). Secara sederhana, pada tahap ini
merupakan pemilahan sumber yang otentik dengan sumber non
otentik, kemudian sumber-sumber yang mendukung
dikolaborasikan, dan pastikan sumber bersifat merdeka (Herlina,
2011). Sumber-sumber yang telah diseleksi disebut dengan fakta
sejarah. Terdapat 5 bentuk fakta sejarah, yaitu sebagai berikut.
a) Artifact. Artifact adalah fakta konkrit seperti patung, candi,
prasasti, dan sebagainya;
b) Manifact. Manifact adalah fakta abstrak, seperti keyakinan,
kepercayaan, dan lain sebagainya;
c) Sosio Fact. Sosio Fact adalah fakta yang berdimensi sosial seperti
interaksi sosial;
d) Hard Fact. Fakta keras adalah fakta yang tidak terdapat
perdebatan dan memiliki kesepakatan terhadapnya, seperti
tempat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia;
e) Soft Fact. Fakta lunak adalah fakta yang masih bersifat potensial
untuk didiskusikan serta diperdebatkan, seperti letak ibukota
kerajaan Sriwajaya, dan lain sebagainya;
f) Interpretasi. Pada proses interpretasi, fakta sejarah yang telah
diseleksi kemudian dirangkai agar terbentuk untuk diberi
tafsiran. Dalam proses memberikan tafsiran harus berdasar.
Dapat terjadi perbedaan tafsiran terhadap fakta sejarah, hal ini
dikarenakan latar belakang, Pendidikan, sudut pandang, tujuan,
dan sebagainya dari seorang penulis;
g) Historiografi (penulisan sejarah). Proses merekontruksi data
yang diperoleh setelah proses menguji dan menganalisis secara
kritis rekaman dan peninggalan masa lampau melaui penulisan
disebut Histiografi (Gottschalk, 1986). Beberapa yang perlu
diperhatikan dalam proses penulisan, adalah 1) penyeleksian
terhadap fakta melalui proses pemilihan berdasarkan peristiwa
dan kelayakannya; 2) menggunakan imajinasi yang digunakan
untuk merangkai fakta-fakta dalam merumuskan hipotesis
(Herlina, 2011); 3) kronologis.

69
Gambar 4.16 Metode Sejarah

Beberapa ilmu yang dapat membantu mengembangkan disiplim


ilmu sejarah, sebagai berikut.

a) Paleontologi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari


bentuk kehidupan masa purba, terutama terkait dengan fosil hewan
maupun tumbuhan;
b) Arkeologi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari
kebudayaan manusia masa lampau berdasarkan data
materi/bendawi yang ditinggalkan;
c) Paleoantropologi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari
perkembangan manusia purba berdasarkan fosil yang ditemukan.
d) Paleografi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari tulisan
kuno dan cara membacanya;
e) Epigrafi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari
tulisan/relief pada benda seperti prasasti;
f) Ikonografi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari
bagaimana mengindentifikas, mendeskripsikan, serta
menginterpretasi isi suatu gambar;
g) Genealogi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari
penelusuran suatu riwayat keturunan dan asal-usulnya;
h) Filologi, merupakan ilmu yang secara khusus mempelajari sumber-
sumber sejarah yang ditulis, seperti manuskrip-manuskrip kuno, dan
ilmu bantu lainnya.

70
e. Nilai Kegunaan Sejarah Indonesia pada IPS SD/MI
1) Materi Sejarah IPS SD/MI
Pada kurikulum 2013, materi IPS SD/MI yang berkaitan dengan
topik sejarah disajikan pada kelas IV, V, dan VI. Untuk lebih jelas,
materi sejarah yang terdapat pada SD/MI terperiodesasi sebagai
berikut:

a) Periode Hindu dan Budha di Indonesia;


b) Periode Islam di Indonesia;
c) Periode Penjajahan Bangsa Eropa;
d) Periode Pendudukan Jepang di Indonesia;
e) Periode Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia;
f) Periode Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Perhatikan tabel 4.1, pada huruf yang bergaris tebal merupakan


materi-materi Sejarah pada kurikulum 2013 SD/MI Revisi 2017 pada
kelas IV, V, VI.

Tabel 4.1 Tabel Peta Materi IPS SD/MI Kurikulum 2013 Revisi 2017
Kelas IV Kelas V Kelas VI

● Letak dan luas ● Letak dan luas Indonesia ● Posisi dan luas
kabupaten/kota, dan dalam peta wilayah ASEAN
provinsi dalam peta ● Kondisi alam wilayah pada peta Asia
● Kondisi/karakteristik Indonesia ● Karakteristik kondisi
alam ● Karakteristik alam kawasan ASEAN.
● Kondisi kependudukan kependudukan ● Karakteristik
● Kegiatan ekonomi ● Pengaruh negara maritim kependudukan kawasan
dalam pemanfaatan dan agraris terhadap ASEAN
sumber daya alam kehidupan sosial ● Negara-negara ASEAN
● Keragaman sosial ekonomi, budaya dan (11 negara)
budaya transportasi ● Posisi wilayah ASEAN
● Keragaman ekonomi, ● Interaksi sosial budaya dalam politik, ekonomi,
etnis, agama ● Sosialisasi/ enkulturasi sosial budaya
● Ketersediaan sumber- ● Pembangunan sosial ● Perubahan sosial budaya
sumber ekonomi budaya Pembangunan ● Modernisasi dalam
● Kegiatan ekonomi dan ekonomi bidang iptek, ekonomi,
lapangan kerja ● Kegiatan ekonomi untuk pendidikan, dan
● Lembaga ekonomi meningkatkan Demokrasi.
● Perniagaan untuk kesejahteraan bangsa ● Ekspor dan Impor
meningkatkan Indonesia. ● Pengiriman/pertu-
kesejahteraan ● Penjajahan bangsa karan tenaga kerja.
● Kerajaan Hindu- Eropa di Indonesia ● Masyarakat Ekonomi
Buddha ● Perlawanan bangsa ASEAN (MEA)
● Kerajaan Islam Indonesia terhadap ● SEAMEO
penjajah bangsa Eropa ● Sekretariat ASEAN

71
● Organisasi pergerakan ● Proklamasi
nasional kemerdekaan Indonesia
● Masa pendudukan ● Peran Soekarno-
militer Jepang di Hatta dalam
Indonesia proklamasi
● Tokoh-tokoh lokal ● Perjuangan
yang berjuang mempertahanka
melawan penjajahan n kemerdekaan .
Eropa dan Jepang ● Membangun kehidupan
kebangsaan yang
berdaulat (NKRI)
● Peran bangsa Indonesia
dalam membangun
kehidupan masyarakat .

f. Nilai Kegunaan Sejarah Indonesia bagi Siswa


Secara tegas Sjamsuddin (1999) menyatakan bahwa sejarah
berfungsi sebagai suatu pengajaran untuk masa kini dan peringatan bagi
masa yang akan datang. Polybius (198-117 SM) menyebutkan ada dua
cara untuk menjadi baik, yaitu berdasarkan pengalaman individu dan
pengalaman orang lain, hal ini sesuai dengan pendapatnnya bahwa
sejarah is philosophy teaching by example. Begitu pula Cicero (106-43 SM),
menurutnya sejarah merupakan cahaya kehidupan (historia magistra vitae)
sekaligus sejarah berfungsi agar takut mengatakan kebohongan, dan
setelahnya tidak takut mengatakan kebenaran (prima esse historiae legem ne
quid falsi dicere audeat, ne quid veri non audeat). Taciturs (120-55 SM) yang
bergelar sejarawan moralis, menyatakan fungsi sejarah adalah
memberikan jaminan kutukan terhadap perbuatan-perbuatan jahat oleh
generasi mendatang (Conkin & Stomberg dalam Sjamsuddin, 1999).
Notosusanto (1985) mengidentifikasi 4 jenis kegunaan sejarah yakni
sebagai berikut:

1) Kegunaan Edukatif, yang artinya bahwa sejarah menyampaikan


tentang nilai-nilai spiritual, kebenaran, keadilan, kebijakan,
kebijaksanaan, kearifan, baik dan buruk, antagonis dan protagonis,
nilai kepahlawanan, rela berkorban, perjuangan, dan sebagainya,
pada masa lampau untuk dapat dijadikan pelajaran bagi masa
sekarang dan akan datang. Historia Magistra Vitae Est, sejarah adalah
guru kehidupan dan jangan sekali- kali melupakan sejarah (JAS
MERAH).
2) Kegunaan Inspiratif, yang artinya dengan mempelajari sejarah dapat
memberikan inspirasi atau ilham. Inspirasi dapat berarti semangat,

72
motivasi, percaya diri, nasionalisme, etos kerja, disiplin, adil, dan lain
sebagainya.
3) Kegunaan Instruktif, yang artinya bahwa dengan belajar sejarah
menuntut untuk ketercapaian tujuan intruksional (kognitif, afektif,
dan psikomotorik) siswa pada sekolah.
4) Kegunaan Rekreasi, artinya sejarah dapat membawa kita melakukan
perjalanan imajinatif, menikmati nilai-nilai estetika, penghayatan,
refleksi, dan berwisata ke masa lampau.
5) Kegunaan Politik (memperkokoh rasa kebangsaan & nasionalisme)
artinya pada materi sejarah sejak dini merupakan sosialisasi dan
penanaman nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Dengan nilai-
nilai kebangsaan dan cinta tanah air, dapat menumbuhkan
kesadaran, rasa kebanggaan dan rasa memiliki siswa terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai tersebut erat kaitannya
dengan komunitas yang lebih besar (negara), sehingga kesadaran
kolektif dapat terbangun dalam kebersamaan, walaupun berbeda
agama, ras, etnik, suku, kelompok dan lainnya. Proses tersebut
merupakan titik awal dari timbulnya rasa harga diri, kebersamaan,
dan keterikatan (sense of solidarity), rasa keterpautan dan rasa
memiliki (sense of belonging), dan rasa bangga (sense of pride) terhadap
negara sendiri.

Gambar 4.15 Kegunaan Sejarah

Upaya menghargai rumitnya dalam meungkap peristiwa-peristiwa


masa lalu merupakan salah satu bagian dari kesadaran sejarah. Dengan
semangat kesadaran sejarah, dapat membantu siswa khususnya sebagai
generasi muda dalam membentuk masa depan yang lebih baik dalam
kebersamaan. Dengan kesadaran sejarah pula, kita dapat melakukan
renungan dan penghayatan kembali peristiwa-peristiwa masa lampau
(rethinking and reliving of past events) dan memikirkan dan menghayati
kembali tingkahlaku manusia pada masa lampau (Dasuki dkk., 2003).
Mengingat berkaitan dengan memori, dan sejarah merupakan
katalisator dalam mempertahankan memori kolektif manusia, sehingga
sejarah sangat bermanfaat untuk sosialisasi pertama kepada generasi

73
muda dalam upaya membangun identitas kolektif untuk sebuah
keutuhan bangsa. Dengan demikian, sejarah merupakan cerminan untuk
mengetahui siapa kita? Berasal dari mana? Siapa nenek moyang? Kapan
bangsa ini berjuang? Untuk apa bangsa ini bersatu? Pertanyaan dasar
tersebut sesuai dengan berbagai ungkapan dalam bangsa lain, seperti
dalam bahasa Yunani dengan ungkapan gnothi seuton (kenalilah dirimu
sendiri) dan cognose te ipsum (kenalilah dirimu sendiri) pada bangsa
Romawi. Secara universal proses belajar, termasuk belajar sejarah
bertujuan untuk self knowledge atau “tahu diri” (Collingwood, 1956).

3. Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Sehari- hari


Beberapa waktu yang lalu kita kembali dikejutkan dengan peristiwa
bom bunuh diri, maraknya ujaran kebencian, dan intoleransi yang terjadi di
negeri ini. Hal ini berakibat kepada munculnya “persepsi” baru berdasarkan
hasil interpertasi seseorang dalam menangkap peristiwa yang terjadi. Akibat
globalisasi yang dengan mudah dapat mempengaruhi watak karakter asli
masyarakat bangsa ini sekaligus melupakan sejarah masa lampau tentang
kesepakatan para pendahulu tentang Bhinneka Tunggal Ika.
Bhinneka Tunggal Ika (Unity of Diversity) merupakan istilah yang
terdapat pada kitab Sutasoma karya Mpu Tantular sekitar abad 14. Istilah
tersebut terdapat pada bait 5 pupuh 139, Rwāneka dhātu winuwus Buddha
Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan
Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Mpu Tantular
hidup pada periode Hindu dan Budha di Indonesia, tepatnya pada zaman
kerajan Majapahit, yang mana Agama Hindu dan Budha dapat
berdampingan dengan rukun dan damai di bawah paying kerjaaan. Oleh
karena itu istilah Bhinneka Tunggal Ika merujuk pada awalnya kepada
semangat toleransi agama antara Hindu dan Budha pada zamannya (Pursika,
2009). Dalam hal penamaan Kitab Sutasoma, menurut riwayatnya diambil
dari nama seorang pangeran yang konon ahli pada bidang sastra, tembang,
dan menyukai ajaran batin sekaligus dianggap penjelmaan Budha di dunia.
Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka
Tunggal Ika disepakati menjadi semboyan negara. Semboyan tersebut sangat
berdasar, karena bangsa ini merupakan bangsa multilkultural yang terdapat
beragam suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Semboyan tersebut
juga mengakui, bahwa perjuangan kemerdekaan tidak mungkin diraih tanpa
ada kebersamaan, dan menghilangkan perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika
merupakan pengakuan yang mendalam dengan dilandasi semangat jiwa
terhadap realitas bangsa yang majemuk, namun tetap menjunjung tinggi
persatuan dan kesatuan. Secara konstitusional diatur pada pasal 36A
Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1954) dan tertulis pada Burung Garuda,

74
sebagai lambang negara. Sebagai semboyan negara dalam berkehidupan
berbangsa, Bhinneka Tunggal Ika termanifestasi dalam berbagai realitas dan
aspek kehidupan. Menurut data SP2010 BPS terdapat 1331 suku dan 300 lebih
kelompok etnik yang tersebar diseluruh nusantara yang berkemajemukan.
Selain dan etnik, walaupun secara resmi terdapat 6 agama yang diakui
oleh negara, terdapat banyak aliran kepercayaan lokal di Indonesia, sebut saja
Permalim dan aliran Mulajadi Nabolon di Sumatera Utara, Kaharingan di
Kalimantan, Sunda Wiwitan di Banten, Djawa Sunda dan Buhun di Jawa
Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Timur, Wetu Telo di Lombok, Marapu di
Sumba, Aluk Todolo di Tana Toraja, Tolottang di Sulawesi Selatan, Naurus di
Pulau Seram, Tonaas Walian dan Pahkampetan di Sumatera Utara, dan lain
sebagainya.
Selain agama, terdapat 707 bahasa lokal yang ada di Indonesia, bahkan
provinsi Sumatera terdapat 21 ragam bahasa. Bahasa-bahasa daerah tersebut
digunakan dalam interaksi lokal masyarakat, sebut saja Bahasa Banjar bagi
orang Banjar dan sekitarnya, bahasa Jawa mulai dari tingkat “kasar” sampai
dengan yang “halus”, bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa
Bugis, dan lain sebagainya.
Bhinneka Tunggal Ika disepakati untuk menjadi cerminan logis nasional
untuk menjadi penyeimbang antara elemen perbedaan dari beragamnya
SARA di Indonesia. Dilihat dari struktur sosial keragaman tersebut dapat
dilihat dari diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial dari beragamnya SARA.
Hal ini terbukti dengan Yogyakarta yang menjadi daerah istimewa yang tetap
dipimpin oleh seorang raja sebagai gubernurnya.
Sebagai pernyataan terhadap pengakuan realitas bangsa yang majemuk,
Bhinneka Tunggal Ika merupakan cita-cita untuk mewujudkan kesatuan dan
persatuan terhadap NKRI. Berbeda merupakan keniscayaan, tidak ada
satupun di dunia ini yang dapat menghindari perbedaan. Dengan kesadaran
tentang perbedaan tersebut, gerakan Soempah Pemuda tahun 1928
merupakan konsensus bersama dan modal sosial yang dapat mempersatukan
berbagai perbedaan tersebut hingga akhirnya mampu melewati masa sulit
hingga masa sekarang di masa mempertahankan kemerdekaan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari
17.000 pulau, negara ini juga mempunyai ciri unik yaitu masyarakat yang
pluralis. Pluralis merupakan istilah yang merujuk kepada kehidupan
bersama masyarakat yang di dalamnya terdapat keberagama, baik suku, ras,
budaya, dan agama (John Titaley, 2013). Penekanan pada masyarakat pluralis
adalah pada pengakuan terhadap perbedaan untuk dapat saling bertoleransi,
menghargai, saling memberi, menerima, dan berpartisipasi dalam kehidupan
sosial (Effendi, 2013).

75
Walaupun demikian, kemajemukan selain sebagai suatu kekayaan juga
dapat menjadi permasalahan serius, yaitu rawan terjadi konflik baik verbal
maupun literatur khususnya dalam konflik agama (John Titaley, 2013).
Gesekan-gesekan terhadap miskinnya makna kemajemukan dapat berakibat
kepada intolerensi, ujaran kebencian, terorisme dan pertikaian baik secara
vertikal dan horizontal. Salah satunya adalah isu agama dan politik yang
menjadi permasalahan sangat serius dan sensitif di masa sekarang, di mana
orang-orang dengan sengaja mempropaganda menggunakan bahasa
“agama” untuk kepentingan kelompoknya dengan tidak segan mengadu
domba dengan cara menyebarkan informasi-informasi palsu (hoax) dan
ujaran kebencian baik melalui media sosial bahkan upload video. Seharusnya
dengan keanekaragaman dan kemajemukan tersebut diharapkan dapat
menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan rumusan tentang adanya
harmoni antara “hal satu” (the one) dan “hal banyak” (the many) (Rizal, 1995),
yang berarti berbeda-beda tetap satu. Berupaya untuk mempersatukan latar
belakang masyarakat yang beragama budaya (multikultural). Proses tersebut
tidak secara spontan terjadi, tapi melalui masa sejarah yang pancang untuk
dapat mengacu pada kesatuan yang uniformitas. Kesatuan di sini tidak
menghilangkan keberagaman, keberagaman mutlak pada satu sisi, tapi ketika
adanya perbedaan yang memuncak pada sisi keberagaman, maka
kesatuanlah yang dapat meredamnya (Rizal, 1995).
Sebagai negara yang pluralis dengan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan
Bhinneka Tunggal Ika sebagai empat pilar dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, masyarakat Indonesia walaupun secara primordial berbeda-beda
tetapi secara bersama hidup dalam satu wadah sistem dan kebudayaan
nasional yaitu berbangsa satu, berbahasa satu, bertanah air satu, tanah air
Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sudah seharusnya menjadi
karakter bangsa, bukan hanya sebatas semboyan, yang ketika dihadapkan
pada kepentingan kelompok menjadi luntur dan dapat mengakibatkan
konflik.
Untuk mempertahankan dan memaknai Bhinneka Tunggal Ika dalam
kehidupan sehari-hari dapat di lakukan dengan berbagai hal berikut:

a. Menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman dalam kehidupan


berbangsa dan bernegara;
b. Meyakini bahwasanya manusia diciptakan untuk saling bersilaturrahmi;
c. Menjunjung tinggi nilai toleransi & menghargai perbedaan;
d. Membangun budaya gotong royong dan kesadaran integrasi nasional;
e. Memperkuat rasa persaudaraan;
f. Terus belajar hingga akhir hayat.

76
Hal ini juga sesuai dengan Islam di mana terdapat beberapa dalil yang
menunjukkan tentang keterkaitannya dengan sikap seorang muslim terhadap
keanekaragaman, diantaranya:

a. Q.S Al-Kafirun ayat 1-6 tentang menghargai keyakinan;


b. Q.S An-Nahl ayat 93 tentang umat yang banyak;
c. Q.S Al-Hujarat ayat 13 tentang Penciptaan manusia berdasarkan jenis
kelamin dan berbangsa-bangsa serta bersuku-suku untuk saling
silaturrahmi (mengenal); dan
d. Q.S Al-Baqarah ayat 256 dan Q.S Yunus ayat 99 tentang tidak adanya
paksaan dalam keyakinan.
Oleh karena itu, perbedaan itu adalah kodrat dan persatuan serta
kesatuan adalah mutlak, sehingga jika diibaratkan seperti tubuh manusia, ada
satu bagian yang sakit yang lain ikut merasakan. Bangsa ini sudah mencatat
peristiwa besar, di mana tokoh-tokoh sudah bersepakat untuk menjadikan
Pancasila sebagai dasar negara. Oleh karena itu, pada pembelajaran IPS
SD/MI lebih menekankan serta mengintegrasikan nilai-nilai universal bangsa
Indonesia dalam setiap materi yang disajikan.

D. Latihan

Untuk memperdalam pemahaman terkait, silahkan Saudara mengerjakan


latihan berikut.

1. Jarak antara kota A ke kota B pada peta adalah 1,15 cm dengan skala peta
1:15.000. Hitunglah berapa jarak sebenarnya kota A ke kota B!
2. Dari berbagai materi sejarah yang ada di materi MI, silahkan anda
menganalisis salah satu disiplin ilmu sejarah yang dapat membantu dalam
mengembangkan materi sejarah dalam pembelajaran !
3. Dari berbagai niai kegunaan sejarah, bagaimanakah menganalisis nilai
kegunaan sejarah sebagai kegunaan edukatif dan kegunaan politik dalam
pembelajaran MI?
4. Berikan analisis saudara tentang penerapan dari salah satu indikator
moderasi beragama yang mungkin dilaksanakan dalam pembelajaran materi
di atas!

E. Referensi Tambahan

Anda dapat menggunakan tautan di bawah ini. Semoga dapat membantu


Anda dalam mempelajari materi pada kegiatan belajar ini. Selamat belajar semoga
bermafaat.

Presentasi:

77
● Dasar-Dasar Pemetaan (Sudarto):
[Link]
nfM/view?usp=sharing

Artikel/Jurnal/Buku:
● Jurnal 1:
[Link]
ppFile/1059/60
● Jurnal 2: [Link]
[Link]/[Link]/aldin/article/download/1183/752
● Jurnal 3:
[Link]
/364/246/
● Jurnal 4:
[Link]
12/0
● Modul:
[Link]
H4J/view?usp=sharing
● Buku:
[Link]
z/view?usp=sharing

Video:
● Video 1: [Link]
● Video 2: [Link]
● Video 3: [Link]

Selain itu Anda dapat menambah pengayaan materi melalui sumber lain
yang berkaitan dengan materi tersebut sehingga pemahaman Anda menjadi lebih
baik.

78
ANALISIS MATERI AJAR

Lembar Kerja Belajar Mandiri 1.1

Judul Modul Modul GKMI- IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Konsep Dasar Pendidikan Ilmu


Pengetahuan Sosial (IPS) Untuk
MI/SD

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Daftar peta konsep (istilah dan


definisi) pada Kegiatan Belajar
(KB) 1

2. Daftar materi yang sulit dipahami


pada Kegiatan Belajar (KB) 1

3. Daftar materi yang sering


mengalami miskonsepsi/tidak
dipahami pada Kegiatan Belajar
(KB) 1

79
Judul Modul Modul GKMI- IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 2. Ruang lingkup pendidikan ilmu


pengetahuan sosial di MI/SD

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Daftar peta konsep (istilah dan


definisi) pada Kegiatan Belajar
(KB) 2

2. Daftar materi yang sulit dipahami


pada Kegiatan Belajar (KB) 2

3. Daftar materi yang sering


mengalami miskonsepsi/tidak
dipahami pada Kegiatan Belajar
(KB) 2

80
Judul Modul Modul GKMI- IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 3. Hubungan Ilmu Pengetahuan Sosial


dengan Ilmu-Ilmu Sosial

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Daftar peta konsep (istilah dan


definisi) pada Kegiatan Belajar
(KB) 3

2. Daftar materi yang sulit dipahami


pada Kegiatan Belajar (KB) 3

3. Daftar materi yang sering


mengalami miskonsepsi/tidak
dipahami pada Kegiatan Belajar
(KB) 3

81
Judul Modul Modul GKMI- IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 4. Nilai konsep dasar peta, konsep dasar
sejarah, dan makna Bhinneka Tunggal
Ika dalam kehidupan sehari-hari

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Daftar peta konsep (istilah dan


definisi) pada Kegiatan Belajar
(KB) 4

2. Daftar materi yang sulit dipahami


pada Kegiatan Belajar (KB) 4

3. Daftar materi yang sering


mengalami miskonsepsi/tidak
dipahami pada Kegiatan Belajar
(KB) 4

82
Lembar Kerja Belajar Mandiri 1.2

Judul Modul Modul GKMI- IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 1. Konsep Dasar Pendidikan Ilmu


Pengetahuan Sosial (IPS) Untuk
MI/SD

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
pemecahan masalah dalam
memahami materi KB 1 yang
mengalami kesulitan

2. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
miskonsepsi pada materi KB 1

3. Hambatan yang dialami dalam


pembelajaran berbasis masalah
pada materi KB 1

4. Berdasarkan permasalahan diatas,


lakukan identifikasi materi yang
sulit di implementasikan dalam
pembelajaran sehari-hari di
sekolah

83
5. Analisis faktor lain yang
mempengaruhi permasalahan
yang muncul tersebut dalam
pembelajaran di kelas
(karakterisitk peserta didik, Sarana
dan prasarana, tingkat kesulitan
materi dll.)

6. Kembangkan materi ajar berbasis


masalah yang dianalisis dalam
pembelajaran di kelas

7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut

8. Uraikan tindak lanjut hasil


evaluasi yang dilakukan sehingga
berkesinambungan

9. Uraikan refleksi proses PBL yang


telah dilakukan

10. Hal yang dilakukan untuk


membantu diri dalam
pembelajaran berikutnya

84
Judul Modul Modul GKMI- IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 2. Ruang lingkup pendidikan ilmu


pengetahuan sosial di MI/SD

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
pemecahan masalah dalam
memahami materi KB 2 yang
mengalami kesulitan

2. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
miskonsepsi pada materi KB 2

3. Hambatan yang dialami dalam


pembelajaran berbasis masalah
pada materi KB 2

4. Berdasarkan permasalahan diatas,


lakukan identifikasi materi yang
sulit di implementasikan dalam
pembelajaran sehari-hari di
sekolah

5. Analisis faktor lain yang


mempengaruhi permasalahan
yang muncul tersebut dalam
pembelajaran di kelas
(karakterisitk peserta didik, Sarana
dan prasarana, tingkat kesulitan
materi dll.)

85
6. Kembangkan materi ajar berbasis
masalah yang dianalisis dalam
pembelajaran di kelas

7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut

8. Uraikan tindak lanjut hasil


evaluasi yang dilakukan sehingga
berkesinambungan

9. Uraikan refleksi proses PBL yang


telah dilakukan

10. Hal yang dilakukan untuk


membantu diri dalam
pembelajaran berikutnya

86
Judul Modul Modul GKMI-IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 3. Hubungan Ilmu Pengetahuan Sosial


dengan Ilmu-Ilmu Sosial

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
pemecahan masalah dalam
memahami materi KB 3 yang
mengalami kesulitan

2. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
miskonsepsi pada materi KB 3

3. Hambatan yang dialami dalam


pembelajaran berbasis masalah
pada materi KB 3

4. Berdasarkan permasalahan diatas,


lakukan identifikasi materi yang
sulit di implementasikan dalam
pembelajaran sehari-hari di
sekolah

5. Analisis faktor lain yang


mempengaruhi permasalahan
yang muncul tersebut dalam
pembelajaran di kelas
(karakterisitk peserta didik, Sarana
dan prasarana, tingkat kesulitan
materi dll.)

87
6. Kembangkan materi ajar berbasis
masalah yang dianalisis dalam
pembelajaran di kelas

7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut

8. Uraikan tindak lanjut hasil


evaluasi yang dilakukan sehingga
berkesinambungan

9. Uraikan refleksi proses PBL yang


telah dilakukan

10. Hal yang dilakukan untuk


membantu diri dalam
pembelajaran berikutnya

88
Judul Modul Modul GKMI-IPS

Judul Kegiatan Belajar (KB) 4. Nilai konsep dasar peta, konsep dasar
sejarah, dan makna Bhinneka Tunggal
Ika dalam kehidupan sehari-hari

No Butir Refleksi Respon/jawaban

1. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
pemecahan masalah dalam
memahami materi KB 4 yang
mengalami kesulitan

2. Uraikan hasil diskusi bersama


teman dan dosen mengenai
miskonsepsi pada materi KB 4

3. Hambatan yang dialami dalam


pembelajaran berbasis masalah
pada materi KB 4

4. Berdasarkan permasalahan diatas,


lakukan identifikasi materi yang
sulit di implementasikan dalam
pembelajaran sehari-hari di
sekolah

5. Analisis faktor lain yang


mempengaruhi permasalahan
yang muncul tersebut dalam
pembelajaran di kelas
(karakterisitk peserta didik, Sarana

89
dan prasarana, tingkat kesulitan
materi dll.)

6. Kembangkan materi ajar berbasis


masalah yang dianalisis dalam
pembelajaran di kelas

7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut

8. Uraikan tindak lanjut hasil


evaluasi yang dilakukan sehingga
berkesinambungan

9. Uraikan refleksi proses PBL yang


telah dilakukan

10. Hal yang dilakukan untuk


membantu diri dalam
pembelajaran berikutnya

90
Penilaian:

Partisipasi aktif dan penyelesian LK : 25% (skor maksimal 100)

Penyelesaian Self Assesment : 35% (skor maksimal 100)

Produk berupa materi ajar : 40% (skor maksimal 100)

Nilai Akhir diperoleh : (25% x a + x b + 40% x c)

91
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, T. 1996. Di Sekitar Pengajaran Sejarah yang Reflektif dan Inspiratif”. Dalam
Jurnal Sejarah Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi oleh Masyarakat Sejarawan
Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Akinlaye, F. A. (Ed.). 1996. Fundamentals of Social Studies Teaching. Pumark Nigeria


Limited.

Al-Muchtar. 2005. Pendidikan dan Masalah Sosial Budaya. Bandung: Gelar Pustaka
Mandiri.
Barr, Robert., Barth, James L. dan Shermis, Samuel. 1978. Konsep Dasar
Studi Sosial. Bandung: Sinar Baru.

Carr, E.H. 1972. What is History. New York: Alfred A Knopt.

Collingwood, R.C. 1956. The Idea of History. New York: Galaxy Book.

Dasuki dkk. (2003). Sejarah Indramayu (Cetakan Ketiga). Indramayu: Depdikbud.


Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka.
Dienaputra, R. D. 2006. Sejarah Lisan Konsep dan Metode. Bandung: Balatin Pratama.

Effendi, Djohan. 2013. Pluralisme dan Kebebasan Beragama. Yogyakarta: Andi.

Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.

Gunawan, Rudi. 2011. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta.

Hasan, H. S. 1995. Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga


Akademik.

Herlina, N. 2011. Metode Sejarah. Bandung: Satya Historika.

Ismaun. 1993. Modul Ilmu pengetahuan Sosial 9: Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta:
Universitas Terbuka.

Jarolimek, John. 1986. Social Studies in Elementary Education. New York: MacMillan.

Jones, Edward E., & Gerard, Harold B. 1967. Fundamentals of Social


Psychology. New York: John Wiley and Sons, Inc.
Kartodirjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

92
Kustina, R. & Novatma, R. 2016. Peningkatan Pemahaman Pengidentifikasian Fakta
dan Opini Harian Serambi Indonesia dengan Metode Kooperatif Learning
Menggunakan Teknik Numbered Heads Together (NHT) pada Siswa Kelas XI
IPA 2 SMA Inshafuddin Banda Aceh. Jurnal Metamorfosa, 4(2), 35-48.

Mukminan, dkk. 2002. Diktat Dasar-Dasar IPS. Yogyakarta. FISE UNY.

Mundiri. 1994. Logika. Jakarta: Rajawali Press.

Mursiti. 2006. Pengaruh Penggunaan Media Peta Terhadap Hasil Belajar Siswa
Pada Mata Pelajaran IPS Sejarah Di SD Sampangan 3 Semarang. Skripsi. Semarang:
FIS UNNES.

Nasution, Toni dan Lubis, Maulana Arafat. 2018. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial.
Yogyakarta: Samudra Biru.

Notosusanto, Nugroho. 1985. Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Penerbit: Sinar Harapan.


Jakarta.

Novak, J. D., & Gowin, D. B. 1985. Learning How to Learn. New York: Cambridge
University Press.

Nurhadi. 2003. Pendekatan Konstekstual (Contextual Teaching and Learning).


Jakarta: Depdiknas.

Prensky, M. 2001. Digital Natives, Digital Immigrants. MCB University Press, 9(5), 1–6.

Pursika, I Nyoman. 2009. Kajian Analitik terhadap Semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika”.
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 42, Nomor 1, hlm. 15-20.

Rizal, Mustansyir. 1995. Filsafat Analitik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persaada.

Salam, Rosdiah. dkk. 2017. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Kelas Tinggi. Makassar:
Syahadah Creative Media.

Sapriya. 2009. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Savage, V.T. & Armstrong, D.G. 1996. Effective Teaching in Elementary Social Studies.
London: Prentice-Hall.

Siddiq, M. D. dkk. 2008. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD. Jakarta: Dirjen Dikti
Depdiknas.

Siska, Yulia. 2016. Konsep Dasar IPS untuk SD/MI. Yogyakarta: Garudhawaca.

Sjamsuddin, Helius. 1999. Sejarah dan Pendidikan Sejarah. Mimbar Pendidikan, 2/XVIII,
12-17.

Sjamsudin, Helius. 2012. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Soemantri, Muhammad Numan. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

93
Solihatin, Etin dan Raharjo. 2007. Cooperative Learning Analisis Model
Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.

Sumaatmadja, Nursid. 2008. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sunal, C.S. & Haas, M. 1993. Social Studies and the Elementary/Middle School Student.
Fort Worth: Harcourt Brace Jovanovich College Publishers.

Supardi. 2011. Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Yogyakarta: Ombak.

Taneo, Silvester Petrus dkk. 2009. Kajian IPS SD. Jakarta: Dirjen Dikti
Depdiknas.
Tasrif. 2008. Pengantar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Yogyakarta: Genta Press.

Titaley, John A. 2013. Religiositas di Alinea Tiga: Pluralisme, Nasionalisme dan


Transformasi Agama-Agama. Salatiga: Satya Wacana University Press.
Tjokrodikaryo, Mulyono. 1986. Perencanaan Pelaksanaan Pengajaran IPS. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek.
Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Waterwroth. 2007. Social Studies and Project. Washington: National Commision on


Social Studies in The Schools.

Winataputra, Udin S. 2009. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas
Terbuka.

94
BIBLIOGRAFI

Aspek. Pemunculan atau penginterprestasian gagasan, masalah sebagai


pertimbangan dilihat dari berbagai sudut pandang.

Demokratis. Suatu ciri masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan secara adil


dan keputusan diambil bersama.

Fakta. Kesimpulan-kesimpulan yang diambil seseorang berdasarkan cara pandang


keilmuan terhadap data atau sekumpulan data. Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan
itulah maka data yang sudah dikumpulkan memiliki makna.

Fungsi Pelajaran IPS. mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan


sosial peserta didik agar dapat direfleksikan dalam kehidupan masyarakat, bangsa,
dan negara Indonesia.

Genaralisasi. Kesimpulan yang berkenaan dengan sifat dan jenis keterhubungan


antara dua konsep atau kebih dan kesimpulan itu dirumuskan dalam bentuk
pernyataanyang memiliki daya keberlakuan dalam berbagai ruang dan waktu. Dalam
kesimpulan yang dinamakan generalisasi itu terdapat juga struktur keterhubungan
antara konsep-konsep.

Interaksi. Hubungan timbal balik yang ditandai dengan sebuah Komunikasi Jasmani:
yang berhubungan dengan tubuh manusia.

IPS. 1) Mata pelajaran yang diajarkan pada peserta didik di tingkat sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP/MTs), 2) mengkaji mengenai kehidupan
manusia dalam masyarakat, 3) bahannya bersumber dari disiplin ilmu sosial.

Konsep. Abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat.
Dalam keterhubungan itu terdapat struktur yang menggambarkan keterhubungan
antara berbagai atribut suatu konsep. Konsep memiliki nama yang disebut label dan
memiliki isi yang dinyatakan dalam definisi.

NCSS. National Council for the Social Studies.

37
Peta. Pengecilan dari permukaan bumi pada suatu bidang datar dengan
menggunakan skala tertentu, serta memuat simbol-simbol.

Peta Umum. Peta yang menggambarkan semua ketampakan yang ada pada suatu
daerah secara umum, seperti peta topografi, peta chorografi, dan peta dunia.

Peta Khusus atau Tematik. Peta yang menggambarkan ketampakan-ketampakan


tertentu dari permukaan bumi, baik kondisi fisik maupun sosial budayanya, seperti
peta geologi, peta iklim, pete sebaran penduduk, dan lain-lain.

Suku Bangsa. Suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya


mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya yang memiliki garis keturunan yang
sama.

38

Anda mungkin juga menyukai