Konsep Dasar Peta dan Fungsinya
Konsep Dasar Peta dan Fungsinya
C. Uraian Materi
53
informasi terkait berbagai bentuk permukaan bumi dalam versi mini,
yang mampu memudahkan kita mengenali ciri atau tanda spesifiknya.
Peta merupakan alat bantu yang mempermudah pengguna untuk
mengetahui beragam informasi yang ada di bumi. Informasi tersebut
digambarkan dalam skala yang lebih kecil dan berisi sesuatu jenis
informasi tentang muka bumi yang dibutuhkan. Sebagai media, peta
berbentuk grafis yang disajikan dengan simbol-simbol, kata-kata,
gambar, dan garis yang dirancang untuk menunjukkan hubungan dan
menyatakan data suatu lokasi (Siddiq, dkk., 2008).
Dengan peta, gambar permukaan atau sebagian dari bumi, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mengungkapkan banyak
informasi, seperti jarak, lokasi suatu daerah, mengenai luasnya,
bentuknya, penyebaran penduduknya, daratan perairan, iklim, sumber
ekonomi serta hubungannya dengan yang lain (Mursiti, 2006). Sedangkan
atlas adalah sebutan bagi kumpulan peta dalam format sebuah buku dan
ilmu yang mempelajari pembuatan peta adalah Kartografi.
b. Syarat Peta
Peta disebut layak digunakan jika memenuhi syarat sebagai
berikut:
54
7) Sebagai dokumen;
8) Menyajikan data tentang potensi suatu daerah.
55
Gambar 4.1 Peta Topografi
56
peta kepadatan penduduk, peta pariwisata, peta komunikasi,
peta penyebaran hasil tambang, peta penggunaan lahan.
e. Komponen Peta
Dalam peta terdapat petunjuk atau simbol dan bagian yang disebut
dengan komponen peta dan disesuaikan dengan tema dalam peta yang
bersangkutan. Komponen-komponen tersebut terdiri dari berikut ini.
1) Judul Peta. Judul digunakan untuk memberi nama pada peta atau
atlas, biasanya terletak di bagian atas atau sampul depan pada atlas.
Judul peta harus jelas, ditulis capital, dan sesuai dengan jenis dan
informasi peta yang ditampilkan.
2) Inset Peta. Inset peta merupakan peta mini yang berfungsi memberi
suatu penjelasan pada peta utama, biasanya terletak di kanan atau
kiri atas peta. Berdasarkan fungsi inset dibagi menjadi tiga, yaitu
sebagai berikut:
a) Menunjukkan lokasi relatif berskala lebih kecil dari suatu wilayah
yang memberi penjelasan suatu letak atau hubungan antara
wilayah dengan wilayah lainnya pada peta utama. Misalnya,
lokasi relatif pulau Kalimantan diantara provinsi lainnya pada
wilayah Indonesia;
b) Berfungsi memperbesar atau memperjelas sebagian kecil wilayah
yang terdapat pada peta utama dan memiliki skala lebih besar
daripada peta peta utama. Berguna untuk menjelaskan bagian
dari peta pokok yang dianggap penting. Seperti misalnya adalah
57
lokasi pemukiman yang penting yang terdapat pada suatu kota
akan diperbesar sehingga akan terlihat lebih jelas;
c) Berfungsi untuk menyambung wilayah pada peta utama dan
mempunyai skala sama besar dengan peta utama yang
disambung dan bertujuan untuk, menggambarkan wilayah pada
peta utama yang terpotong karena keterbatasan pada media
kertas atau halaman, menggambar wilayah yang terpencar.
58
a) Skala angka menunjukkan perbandingan jarak pada peta dalam
perhitungan angka;
b) Skala grafis (batang) menunjukkan perbandingan jarak pada peta
menggunakan grafis dalam bentuk batang garis lurus;
c) Skala verbal menunjukkan perbandingan jarak pada peta dengan
menggunakan kalimat langsung, singkat dan tegas, misalnya
skala peta yang telah ditentukan untuk 1 cm berarti 1 km.
59
4) Garis Peta, adalah garis-garis yang terdapat dalam peta seperti garis
tepi, garis tegak, dan garis datar. Garis tegak disebut disebut garis
bujur yang dibedakan menjadi Bujur Barat (BB) dan Bujur Timur (BT).
Garis mendatar disebut garis lingtang, dan dibedakan menjadi
Lintang Utara (LU) dan Lintang Selatan (LS). Garis lintang 00 disebut
garis ekuator (Khatulistiwa). Garis Tepi adalah garis pada bagian tepi
sebuah peta yang lebih tebal daripada garis bujur dan garis lintang.
Garis astronomi pada peta terdiri atas garis lintang dan garis bujur
atau meridian. Garis lintang 0° terdapat di sepanjang khatulistiwa.
Daerah di Indonesia yang dilewati garis lintang 0° misalnya
Pontianak (Kalimantan Barat) dan Bonjol (Sumatera Barat).
Sedangkan garis meridian 0° melewati kota Greenwich di Inggris.
Wujud garis bujur dalam peta yaitu garis vertikal yang
meng¬hubungkan sumbu Kutub Utara dengan sumbu Kutub
Selatan. Fungsi dari garis astronomis pada peta tematik adalah untuk
mengetahui posisi suatu titik di permukaan bumi.
60
Gambar 4.10 Legenda pada Peta
7) Daftar Isi. Daftar isi memuat beberapa keterangan, judul peta, beserta
nomor halaman dan biasanya terdapat pada atlas.
8) Indeks. Pada bagian akhir atlas terdapat indeks yang disusun urut
secara alfabetis dari atas ke bawah, penyusunan berdasarkan
kenampakan alam tertentu misalnya berdasarkan kota, gunung,
danau, sungai, pulau, dan lain sebagainya.
9) Sumber Pembuatan Peta. Sumber pembuatan peta perlu
dicantumkan untuk memberi kepastian kepada pemakai bahwa data
dan informasi yang disajikan dalam peta tersebut benar-benar absah
dan bukan data fiktif atau hasil rekaan.
61
10) Tahun Pembuatan Peta. Pencantuman Tahun pebuatan peta sangat
penting dalam membuat peta tematik. Hal ini disebabkan karena peta
suatu wilayah sering mengalami perubahan terutama kedudukan
sosial.
1) Sederhana;
2) Mudah digambar;
3) Mudah dibaca;
4) Mencerminkan ketelitian data;
5) Bersifat umum.
62
Gambar 4.13 Contoh Simbol pada Peta
63
Setiap waktu baik detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang
telah kita lewati merupakan “sejarah”. Pada dasarnya sejarah itu
merupakan gambaran terkait peristiwa pada masa lampau yang terjadi,
kemudian diusut/diselidiki kebenarannya, diorganisasi secara ilmiah,
kemudian diberikan tafsiran dan analis kritis disertai nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya, sehingga dapat dipahami dan dimengerti untuk
menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia yang akan datang.
Pada hakikatnya peristiwa yang terjadi pada masa lampau,
menunjukkan proses bagaimana manusia berjuang untuk kehidupan
yang lebih baik (Sartini, 2011). Sesuai dengan pendapat Carr (1972) bahwa
“history is a continous process of interaction between the historian and his facts,
and unending dialogue between the present and the past”. Sehingga yang
menjadi kajian sejarah adalah peristiwa-peristiwa khusus dan penting
yang terdapat pengaruh besar pada masa lalu dan dapat membawa
perubahan pada masa berikutnya, sehingga tidak semua peristiwa pada
masa lampau menjadi kajian dalam sejarah. Sejarah berkenaan dengan
bagaimana kehidupan manusia pada masa lampau dalam konteks
sosialnya, sehingga Sejarah termasuk dari bagian ilmu-ilmu sosial (Social
Sciences).
Ilmu sejarah berusaha untuk menyelediki dan mengungkap
peristiwa masa lampau manusia berdasarkan sumber yang ditemukan
baik berupa fakta/data yang benar adanya, karena tujuannya adalah
kebenaran (Tjokrodikaryo, 1986). Hal ini sesuai dengan pendapat Sunnal
dan Haas (1993) yang menyatakan “history is a chronological study that
interprets and gives meaning to events and applies systematic methods to
discover the truth”.
Melalui sejarah, gambaran-gambaran peristiwa tersebut yang
semula seperti puzzle dapat dirangkai secara kolektif, sehingga mampu
menampilkan gambar yang “utuh” melalui pengamatan langsung,
penelitian, dan laporan-laporan (Sjamsudin, 2012). Salah satu yang
dikenal sebagai bapak Sejarah adalah Herodotus (Siska, 2016) yang
pertama kali bekerja mengumpulkan bahan dan menampilkannya secara
sistematis dan terstruktur dengan menguji akurasinya terlebih dahulu.
Maha karya Herodutus adalah catatan perang Yunani vs Persia (History
of the Greek and Persian Wars 1502).
64
Gambar 4.14 Bapak Sejarah Herodotus
Kata kunci dalam Sejarah adalah peristiwa pada masa lampau yang
betul dan benar terjadi. Semakin detail informasi dari suatu peristiwa
tersebut, maka semakin baik apabila didukung tingkat kearutan serta
kepercayaan sehingga sumber fakta sejarahnya dapat
dipertanggungjawabkan. Secara kontekstual dalam pembelajaran IPS
SD/MI, dalam mempelajari sejarah, siswa juga dapat diajak untuk
memaknai sejarah secara konstektual dengan cara misalnya
“menyelidiki” informasi-informasi yang beredar sangat cepat berkat
keterdukungan teknologi informasi, apakah informasi tersebut benar
atau tidak (hoax). Sehingga kemampuan keterampilan siswa dalam
literasi “penelusuran” sumber dapat ditingkatkan.
Sejarah yang baik, harus melalui serangkaian metode yang objektif,
akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan, tanpa harus dibumbui sisi
subjektifas dari pengusut/penyelidik secara berlebihan. Sehingga sejarah
sebagai mata pelajaran khusus maupun terpadu pada IPS dapat
menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan
dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau
hingga kini kepada siswa. Seorang pendidik, harus mampu melihat sisi
tersebut, sehingga dapat menyampaikan secara faktual berdasarkan data.
Bukankah dalam Islam kita telah diajarkan bagaimana ketatnya ilmu rawi
dan matan dalam ilmu Hadis, yang mampu menyelediki dan
menggambarkan “sejarah” seorang perawi mulai dari kelahirannya
sampai perilaku kesehariannya yang dapat dipertanggungjawabkan,
sehingga suatu hadits dapat dihukumi sahih sampai dengan maudu’.
b. Peran dan Kedudukan Sejarah
Sejarah mempelajari peristiwa kehidupan sejak lahirnya manusia
pertama sampai dengan sekarang. Peristiwa-peristiwa kehidupan
65
manusia tersebut baik secara lisan maupun tulisan untuk dipelajari
sehingga berperan membantu kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Sejarah juga menjadi penghubung pengalaman masa lampau dan masa
sekarang, berguna untuk mengambil sikap dan langkah kehidupan pada
masa sekarang dan akan datang. Misalnya dengan mempelajari sejarah
pada masa penjajahan, siswa dapat menyadari, bahwa penjajahan hanya
menyebabkan penderitaan dan kesedihan. Selain itu, siswa juga dapat
mengambil ibrah, bahwa bangsa Indonesia pada masa lampau pernah
mengalami puncak kejayaannya. Dari hal tersebut, Sejarah mempunyai
peran memberikan kesadaran waktu, keteladanan dan pelajaran,
memperkokoh rasa nasionalis dan kebangsaan, mempertegas identitas
nasional, dan sebagai sumber inspirasi.
Kedudukan Sejarah dapat dibagi menjadi 3 (Ismaun, 1993), yaitu: 1)
sejarah sebagai ilmu; 2) sejarah sebagai peristiwa; 3) sejarah sebagai cerita
dan seni.
Sebagai
Peristiwa
Sejarah
Sebagai Sebagai
Cerita Ilmu
66
sehingga sejarah dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu yang
berdiri sendiri.
Winddscuttle (Sjamsuddin, H. 1999), menyatakan terdapat 3
tujuan sejarah sebagai ilmu, yaitu sebagai berikut:
67
(Kartodirjo, 1992). Misalnya ketika menggambarkan peristiwa
seorang pejuang kemerdekaan ditembak oleh penjajah dengan kata
“dor bunyi letusan senjata api dan dia menatap dengan gagah kematiannya”,
sehingga dengan adanya kata “dor.. dst” (sebagai bunyi tembakan dan
ilustrasinya), maka penulis memberikan “rasa” yang dapat
mempengaruhi interpretasi pembaca dan bahkan dapat membawa
seakan-akan merasakan langsung peristiwa tersebut, proses tersebut
bersifat imajinatif dan bernilai estetika. Sebagai contoh yang lain,
kisah Pangeran Antasari jika ditulis oleh orang pro Belanda, maka
setidaknya Pangeran Antasari diberi label pemberontak, akan tetapi
jika ditulis seorang yang anti penjajahan, maka Pangeran Antasari
adalah pahlawan perang Banjar. Apalagi jika peristiwa sejarah
dijadikan dalam sebuah film layar lebar.
Jadi, karena sebagai cerita dan seni, maka sifatnya bergantung
pada kemampuan seperti latar belakang, pendidikan, teknik,
kemampuan, memerlukan intuisi, imajinasi, dan gaya bahasa seorang
penulis, sehingga pada bagian ini disebut sejarah serba subyektif.
Bahkan terdapat banyak karya fiksi walaupun menggunakan nama
tokoh, waktu, dan tempat yang nyata.
c. Pengelompokkan Sejarah
Sejarah dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu: a) secara tematis; b)
berdasarkan periode waktu; dan 3) berdasarkan unsur ruang.
68
baik sumber lisan dan tertulis (Dienaputra, 2006), sumber benda,
dokumentasi baik rekaman, kaset, video. Berdasarkan sifat, terdapat
sumber primer dan sekunder, serta sumber tersier.
2) Kritik atau analisis sumber (eksternal dan internal). Setelah sumber
semua dikumpulkan kemudian dianalis dan diverifikasi melalui dua
metode, pertama kritik intern untuk meneliti kredibilitas sumber dan
yang kedua kritik eksternal untuk meneliti otentisitas atau keaslian
sumber (Kuntowijoyo, 2003). Secara sederhana, pada tahap ini
merupakan pemilahan sumber yang otentik dengan sumber non
otentik, kemudian sumber-sumber yang mendukung
dikolaborasikan, dan pastikan sumber bersifat merdeka (Herlina,
2011). Sumber-sumber yang telah diseleksi disebut dengan fakta
sejarah. Terdapat 5 bentuk fakta sejarah, yaitu sebagai berikut.
a) Artifact. Artifact adalah fakta konkrit seperti patung, candi,
prasasti, dan sebagainya;
b) Manifact. Manifact adalah fakta abstrak, seperti keyakinan,
kepercayaan, dan lain sebagainya;
c) Sosio Fact. Sosio Fact adalah fakta yang berdimensi sosial seperti
interaksi sosial;
d) Hard Fact. Fakta keras adalah fakta yang tidak terdapat
perdebatan dan memiliki kesepakatan terhadapnya, seperti
tempat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia;
e) Soft Fact. Fakta lunak adalah fakta yang masih bersifat potensial
untuk didiskusikan serta diperdebatkan, seperti letak ibukota
kerajaan Sriwajaya, dan lain sebagainya;
f) Interpretasi. Pada proses interpretasi, fakta sejarah yang telah
diseleksi kemudian dirangkai agar terbentuk untuk diberi
tafsiran. Dalam proses memberikan tafsiran harus berdasar.
Dapat terjadi perbedaan tafsiran terhadap fakta sejarah, hal ini
dikarenakan latar belakang, Pendidikan, sudut pandang, tujuan,
dan sebagainya dari seorang penulis;
g) Historiografi (penulisan sejarah). Proses merekontruksi data
yang diperoleh setelah proses menguji dan menganalisis secara
kritis rekaman dan peninggalan masa lampau melaui penulisan
disebut Histiografi (Gottschalk, 1986). Beberapa yang perlu
diperhatikan dalam proses penulisan, adalah 1) penyeleksian
terhadap fakta melalui proses pemilihan berdasarkan peristiwa
dan kelayakannya; 2) menggunakan imajinasi yang digunakan
untuk merangkai fakta-fakta dalam merumuskan hipotesis
(Herlina, 2011); 3) kronologis.
69
Gambar 4.16 Metode Sejarah
70
e. Nilai Kegunaan Sejarah Indonesia pada IPS SD/MI
1) Materi Sejarah IPS SD/MI
Pada kurikulum 2013, materi IPS SD/MI yang berkaitan dengan
topik sejarah disajikan pada kelas IV, V, dan VI. Untuk lebih jelas,
materi sejarah yang terdapat pada SD/MI terperiodesasi sebagai
berikut:
Tabel 4.1 Tabel Peta Materi IPS SD/MI Kurikulum 2013 Revisi 2017
Kelas IV Kelas V Kelas VI
● Letak dan luas ● Letak dan luas Indonesia ● Posisi dan luas
kabupaten/kota, dan dalam peta wilayah ASEAN
provinsi dalam peta ● Kondisi alam wilayah pada peta Asia
● Kondisi/karakteristik Indonesia ● Karakteristik kondisi
alam ● Karakteristik alam kawasan ASEAN.
● Kondisi kependudukan kependudukan ● Karakteristik
● Kegiatan ekonomi ● Pengaruh negara maritim kependudukan kawasan
dalam pemanfaatan dan agraris terhadap ASEAN
sumber daya alam kehidupan sosial ● Negara-negara ASEAN
● Keragaman sosial ekonomi, budaya dan (11 negara)
budaya transportasi ● Posisi wilayah ASEAN
● Keragaman ekonomi, ● Interaksi sosial budaya dalam politik, ekonomi,
etnis, agama ● Sosialisasi/ enkulturasi sosial budaya
● Ketersediaan sumber- ● Pembangunan sosial ● Perubahan sosial budaya
sumber ekonomi budaya Pembangunan ● Modernisasi dalam
● Kegiatan ekonomi dan ekonomi bidang iptek, ekonomi,
lapangan kerja ● Kegiatan ekonomi untuk pendidikan, dan
● Lembaga ekonomi meningkatkan Demokrasi.
● Perniagaan untuk kesejahteraan bangsa ● Ekspor dan Impor
meningkatkan Indonesia. ● Pengiriman/pertu-
kesejahteraan ● Penjajahan bangsa karan tenaga kerja.
● Kerajaan Hindu- Eropa di Indonesia ● Masyarakat Ekonomi
Buddha ● Perlawanan bangsa ASEAN (MEA)
● Kerajaan Islam Indonesia terhadap ● SEAMEO
penjajah bangsa Eropa ● Sekretariat ASEAN
71
● Organisasi pergerakan ● Proklamasi
nasional kemerdekaan Indonesia
● Masa pendudukan ● Peran Soekarno-
militer Jepang di Hatta dalam
Indonesia proklamasi
● Tokoh-tokoh lokal ● Perjuangan
yang berjuang mempertahanka
melawan penjajahan n kemerdekaan .
Eropa dan Jepang ● Membangun kehidupan
kebangsaan yang
berdaulat (NKRI)
● Peran bangsa Indonesia
dalam membangun
kehidupan masyarakat .
72
motivasi, percaya diri, nasionalisme, etos kerja, disiplin, adil, dan lain
sebagainya.
3) Kegunaan Instruktif, yang artinya bahwa dengan belajar sejarah
menuntut untuk ketercapaian tujuan intruksional (kognitif, afektif,
dan psikomotorik) siswa pada sekolah.
4) Kegunaan Rekreasi, artinya sejarah dapat membawa kita melakukan
perjalanan imajinatif, menikmati nilai-nilai estetika, penghayatan,
refleksi, dan berwisata ke masa lampau.
5) Kegunaan Politik (memperkokoh rasa kebangsaan & nasionalisme)
artinya pada materi sejarah sejak dini merupakan sosialisasi dan
penanaman nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Dengan nilai-
nilai kebangsaan dan cinta tanah air, dapat menumbuhkan
kesadaran, rasa kebanggaan dan rasa memiliki siswa terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai tersebut erat kaitannya
dengan komunitas yang lebih besar (negara), sehingga kesadaran
kolektif dapat terbangun dalam kebersamaan, walaupun berbeda
agama, ras, etnik, suku, kelompok dan lainnya. Proses tersebut
merupakan titik awal dari timbulnya rasa harga diri, kebersamaan,
dan keterikatan (sense of solidarity), rasa keterpautan dan rasa
memiliki (sense of belonging), dan rasa bangga (sense of pride) terhadap
negara sendiri.
73
muda dalam upaya membangun identitas kolektif untuk sebuah
keutuhan bangsa. Dengan demikian, sejarah merupakan cerminan untuk
mengetahui siapa kita? Berasal dari mana? Siapa nenek moyang? Kapan
bangsa ini berjuang? Untuk apa bangsa ini bersatu? Pertanyaan dasar
tersebut sesuai dengan berbagai ungkapan dalam bangsa lain, seperti
dalam bahasa Yunani dengan ungkapan gnothi seuton (kenalilah dirimu
sendiri) dan cognose te ipsum (kenalilah dirimu sendiri) pada bangsa
Romawi. Secara universal proses belajar, termasuk belajar sejarah
bertujuan untuk self knowledge atau “tahu diri” (Collingwood, 1956).
74
sebagai lambang negara. Sebagai semboyan negara dalam berkehidupan
berbangsa, Bhinneka Tunggal Ika termanifestasi dalam berbagai realitas dan
aspek kehidupan. Menurut data SP2010 BPS terdapat 1331 suku dan 300 lebih
kelompok etnik yang tersebar diseluruh nusantara yang berkemajemukan.
Selain dan etnik, walaupun secara resmi terdapat 6 agama yang diakui
oleh negara, terdapat banyak aliran kepercayaan lokal di Indonesia, sebut saja
Permalim dan aliran Mulajadi Nabolon di Sumatera Utara, Kaharingan di
Kalimantan, Sunda Wiwitan di Banten, Djawa Sunda dan Buhun di Jawa
Barat, Kejawen di Jawa Tengah dan Timur, Wetu Telo di Lombok, Marapu di
Sumba, Aluk Todolo di Tana Toraja, Tolottang di Sulawesi Selatan, Naurus di
Pulau Seram, Tonaas Walian dan Pahkampetan di Sumatera Utara, dan lain
sebagainya.
Selain agama, terdapat 707 bahasa lokal yang ada di Indonesia, bahkan
provinsi Sumatera terdapat 21 ragam bahasa. Bahasa-bahasa daerah tersebut
digunakan dalam interaksi lokal masyarakat, sebut saja Bahasa Banjar bagi
orang Banjar dan sekitarnya, bahasa Jawa mulai dari tingkat “kasar” sampai
dengan yang “halus”, bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa
Bugis, dan lain sebagainya.
Bhinneka Tunggal Ika disepakati untuk menjadi cerminan logis nasional
untuk menjadi penyeimbang antara elemen perbedaan dari beragamnya
SARA di Indonesia. Dilihat dari struktur sosial keragaman tersebut dapat
dilihat dari diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial dari beragamnya SARA.
Hal ini terbukti dengan Yogyakarta yang menjadi daerah istimewa yang tetap
dipimpin oleh seorang raja sebagai gubernurnya.
Sebagai pernyataan terhadap pengakuan realitas bangsa yang majemuk,
Bhinneka Tunggal Ika merupakan cita-cita untuk mewujudkan kesatuan dan
persatuan terhadap NKRI. Berbeda merupakan keniscayaan, tidak ada
satupun di dunia ini yang dapat menghindari perbedaan. Dengan kesadaran
tentang perbedaan tersebut, gerakan Soempah Pemuda tahun 1928
merupakan konsensus bersama dan modal sosial yang dapat mempersatukan
berbagai perbedaan tersebut hingga akhirnya mampu melewati masa sulit
hingga masa sekarang di masa mempertahankan kemerdekaan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari
17.000 pulau, negara ini juga mempunyai ciri unik yaitu masyarakat yang
pluralis. Pluralis merupakan istilah yang merujuk kepada kehidupan
bersama masyarakat yang di dalamnya terdapat keberagama, baik suku, ras,
budaya, dan agama (John Titaley, 2013). Penekanan pada masyarakat pluralis
adalah pada pengakuan terhadap perbedaan untuk dapat saling bertoleransi,
menghargai, saling memberi, menerima, dan berpartisipasi dalam kehidupan
sosial (Effendi, 2013).
75
Walaupun demikian, kemajemukan selain sebagai suatu kekayaan juga
dapat menjadi permasalahan serius, yaitu rawan terjadi konflik baik verbal
maupun literatur khususnya dalam konflik agama (John Titaley, 2013).
Gesekan-gesekan terhadap miskinnya makna kemajemukan dapat berakibat
kepada intolerensi, ujaran kebencian, terorisme dan pertikaian baik secara
vertikal dan horizontal. Salah satunya adalah isu agama dan politik yang
menjadi permasalahan sangat serius dan sensitif di masa sekarang, di mana
orang-orang dengan sengaja mempropaganda menggunakan bahasa
“agama” untuk kepentingan kelompoknya dengan tidak segan mengadu
domba dengan cara menyebarkan informasi-informasi palsu (hoax) dan
ujaran kebencian baik melalui media sosial bahkan upload video. Seharusnya
dengan keanekaragaman dan kemajemukan tersebut diharapkan dapat
menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan rumusan tentang adanya
harmoni antara “hal satu” (the one) dan “hal banyak” (the many) (Rizal, 1995),
yang berarti berbeda-beda tetap satu. Berupaya untuk mempersatukan latar
belakang masyarakat yang beragama budaya (multikultural). Proses tersebut
tidak secara spontan terjadi, tapi melalui masa sejarah yang pancang untuk
dapat mengacu pada kesatuan yang uniformitas. Kesatuan di sini tidak
menghilangkan keberagaman, keberagaman mutlak pada satu sisi, tapi ketika
adanya perbedaan yang memuncak pada sisi keberagaman, maka
kesatuanlah yang dapat meredamnya (Rizal, 1995).
Sebagai negara yang pluralis dengan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan
Bhinneka Tunggal Ika sebagai empat pilar dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, masyarakat Indonesia walaupun secara primordial berbeda-beda
tetapi secara bersama hidup dalam satu wadah sistem dan kebudayaan
nasional yaitu berbangsa satu, berbahasa satu, bertanah air satu, tanah air
Indonesia. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sudah seharusnya menjadi
karakter bangsa, bukan hanya sebatas semboyan, yang ketika dihadapkan
pada kepentingan kelompok menjadi luntur dan dapat mengakibatkan
konflik.
Untuk mempertahankan dan memaknai Bhinneka Tunggal Ika dalam
kehidupan sehari-hari dapat di lakukan dengan berbagai hal berikut:
76
Hal ini juga sesuai dengan Islam di mana terdapat beberapa dalil yang
menunjukkan tentang keterkaitannya dengan sikap seorang muslim terhadap
keanekaragaman, diantaranya:
D. Latihan
1. Jarak antara kota A ke kota B pada peta adalah 1,15 cm dengan skala peta
1:15.000. Hitunglah berapa jarak sebenarnya kota A ke kota B!
2. Dari berbagai materi sejarah yang ada di materi MI, silahkan anda
menganalisis salah satu disiplin ilmu sejarah yang dapat membantu dalam
mengembangkan materi sejarah dalam pembelajaran !
3. Dari berbagai niai kegunaan sejarah, bagaimanakah menganalisis nilai
kegunaan sejarah sebagai kegunaan edukatif dan kegunaan politik dalam
pembelajaran MI?
4. Berikan analisis saudara tentang penerapan dari salah satu indikator
moderasi beragama yang mungkin dilaksanakan dalam pembelajaran materi
di atas!
E. Referensi Tambahan
Presentasi:
77
● Dasar-Dasar Pemetaan (Sudarto):
[Link]
nfM/view?usp=sharing
Artikel/Jurnal/Buku:
● Jurnal 1:
[Link]
ppFile/1059/60
● Jurnal 2: [Link]
[Link]/[Link]/aldin/article/download/1183/752
● Jurnal 3:
[Link]
/364/246/
● Jurnal 4:
[Link]
12/0
● Modul:
[Link]
H4J/view?usp=sharing
● Buku:
[Link]
z/view?usp=sharing
Video:
● Video 1: [Link]
● Video 2: [Link]
● Video 3: [Link]
Selain itu Anda dapat menambah pengayaan materi melalui sumber lain
yang berkaitan dengan materi tersebut sehingga pemahaman Anda menjadi lebih
baik.
78
ANALISIS MATERI AJAR
79
Judul Modul Modul GKMI- IPS
80
Judul Modul Modul GKMI- IPS
81
Judul Modul Modul GKMI- IPS
Judul Kegiatan Belajar (KB) 4. Nilai konsep dasar peta, konsep dasar
sejarah, dan makna Bhinneka Tunggal
Ika dalam kehidupan sehari-hari
82
Lembar Kerja Belajar Mandiri 1.2
83
5. Analisis faktor lain yang
mempengaruhi permasalahan
yang muncul tersebut dalam
pembelajaran di kelas
(karakterisitk peserta didik, Sarana
dan prasarana, tingkat kesulitan
materi dll.)
7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut
84
Judul Modul Modul GKMI- IPS
85
6. Kembangkan materi ajar berbasis
masalah yang dianalisis dalam
pembelajaran di kelas
7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut
86
Judul Modul Modul GKMI-IPS
87
6. Kembangkan materi ajar berbasis
masalah yang dianalisis dalam
pembelajaran di kelas
7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut
88
Judul Modul Modul GKMI-IPS
Judul Kegiatan Belajar (KB) 4. Nilai konsep dasar peta, konsep dasar
sejarah, dan makna Bhinneka Tunggal
Ika dalam kehidupan sehari-hari
89
dan prasarana, tingkat kesulitan
materi dll.)
7. Sebutkan langkah-langkah
pengukuran/evaluasi
ketercapaian perbaikan atas
permasalahan tersebut
90
Penilaian:
91
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, T. 1996. Di Sekitar Pengajaran Sejarah yang Reflektif dan Inspiratif”. Dalam
Jurnal Sejarah Pemikiran, Rekonstruksi, Persepsi oleh Masyarakat Sejarawan
Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Al-Muchtar. 2005. Pendidikan dan Masalah Sosial Budaya. Bandung: Gelar Pustaka
Mandiri.
Barr, Robert., Barth, James L. dan Shermis, Samuel. 1978. Konsep Dasar
Studi Sosial. Bandung: Sinar Baru.
Collingwood, R.C. 1956. The Idea of History. New York: Galaxy Book.
Gunawan, Rudi. 2011. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta.
Ismaun. 1993. Modul Ilmu pengetahuan Sosial 9: Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Jarolimek, John. 1986. Social Studies in Elementary Education. New York: MacMillan.
92
Kustina, R. & Novatma, R. 2016. Peningkatan Pemahaman Pengidentifikasian Fakta
dan Opini Harian Serambi Indonesia dengan Metode Kooperatif Learning
Menggunakan Teknik Numbered Heads Together (NHT) pada Siswa Kelas XI
IPA 2 SMA Inshafuddin Banda Aceh. Jurnal Metamorfosa, 4(2), 35-48.
Mursiti. 2006. Pengaruh Penggunaan Media Peta Terhadap Hasil Belajar Siswa
Pada Mata Pelajaran IPS Sejarah Di SD Sampangan 3 Semarang. Skripsi. Semarang:
FIS UNNES.
Nasution, Toni dan Lubis, Maulana Arafat. 2018. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial.
Yogyakarta: Samudra Biru.
Novak, J. D., & Gowin, D. B. 1985. Learning How to Learn. New York: Cambridge
University Press.
Prensky, M. 2001. Digital Natives, Digital Immigrants. MCB University Press, 9(5), 1–6.
Pursika, I Nyoman. 2009. Kajian Analitik terhadap Semboyan ”Bhinneka Tunggal Ika”.
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jilid 42, Nomor 1, hlm. 15-20.
Rizal, Mustansyir. 1995. Filsafat Analitik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persaada.
Salam, Rosdiah. dkk. 2017. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD Kelas Tinggi. Makassar:
Syahadah Creative Media.
Sapriya. 2009. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Savage, V.T. & Armstrong, D.G. 1996. Effective Teaching in Elementary Social Studies.
London: Prentice-Hall.
Siddiq, M. D. dkk. 2008. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD. Jakarta: Dirjen Dikti
Depdiknas.
Siska, Yulia. 2016. Konsep Dasar IPS untuk SD/MI. Yogyakarta: Garudhawaca.
Sjamsuddin, Helius. 1999. Sejarah dan Pendidikan Sejarah. Mimbar Pendidikan, 2/XVIII,
12-17.
93
Solihatin, Etin dan Raharjo. 2007. Cooperative Learning Analisis Model
Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Sunal, C.S. & Haas, M. 1993. Social Studies and the Elementary/Middle School Student.
Fort Worth: Harcourt Brace Jovanovich College Publishers.
Taneo, Silvester Petrus dkk. 2009. Kajian IPS SD. Jakarta: Dirjen Dikti
Depdiknas.
Tasrif. 2008. Pengantar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Yogyakarta: Genta Press.
Winataputra, Udin S. 2009. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas
Terbuka.
94
BIBLIOGRAFI
Interaksi. Hubungan timbal balik yang ditandai dengan sebuah Komunikasi Jasmani:
yang berhubungan dengan tubuh manusia.
IPS. 1) Mata pelajaran yang diajarkan pada peserta didik di tingkat sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP/MTs), 2) mengkaji mengenai kehidupan
manusia dalam masyarakat, 3) bahannya bersumber dari disiplin ilmu sosial.
Konsep. Abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat.
Dalam keterhubungan itu terdapat struktur yang menggambarkan keterhubungan
antara berbagai atribut suatu konsep. Konsep memiliki nama yang disebut label dan
memiliki isi yang dinyatakan dalam definisi.
37
Peta. Pengecilan dari permukaan bumi pada suatu bidang datar dengan
menggunakan skala tertentu, serta memuat simbol-simbol.
Peta Umum. Peta yang menggambarkan semua ketampakan yang ada pada suatu
daerah secara umum, seperti peta topografi, peta chorografi, dan peta dunia.
38