0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Kedudukan Hadits dalam Ajaran Islam

Hadits sebagai sumber ajaran agama Ringkasan: 1) Hadits memiliki kedudukan penting sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. 2) Hadits berperan menjelaskan dan memperinci ajaran Al-Qur'an. 3) Umat Islam wajib mempercayai dan mengikuti hadits sebagaimana diperintahkan oleh Al-Qur'an.

Diunggah oleh

Fran evan Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Kedudukan Hadits dalam Ajaran Islam

Hadits sebagai sumber ajaran agama Ringkasan: 1) Hadits memiliki kedudukan penting sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. 2) Hadits berperan menjelaskan dan memperinci ajaran Al-Qur'an. 3) Umat Islam wajib mempercayai dan mengikuti hadits sebagaimana diperintahkan oleh Al-Qur'an.

Diunggah oleh

Fran evan Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

HADITS SEBAGAI SUMBER AJARAN AGAMA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terskstruktur

Dalam Mata Kuliah Ulumul Hadits

Disusun Oleh :
KELOMPOK 2
FRAN EVAN CAHYO MURADI ( 2010102078 )
DENDY ARHOFI BUANA ( 1910102049 )
Dosen Pembimbing :
YUDY HUDAEBY, [Link]., [Link]

MAHASISWA JURUSAN SYARI’AH


PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) KERINCI
TA. 2020 / 2021

i
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut bahasa (lughat), hadits dapat berarti baru, dekat (qarib) dan cerita( khabar).
Sedangkan menurut istilah ahli hadist ialah “segala ucapan Nabi, segala perbuatan beliau dan
segala keadaan beliau”. Akan tetapi para ulama Ushul Hadits, membatasi pengertian hadits
hanya pada ”Segala perkataan, segala perbuatan dan segala taqrir Nabi Muhammad SAW, yang
bersangkut paut dengan hukum.
Beranjak dari pengertian-pengertian di atas, menarik dibicarakan tentang kedudukan
Hadits dalam Islam. Seperti yang kita ketahui, bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum
utama atau primer dalam Islam. Akan tetapi dalam realitasnya, ada beberapa hal atau perkara
yang sedikit sekali Al-Qur’an membicarakanya, atau Al-Qur’an membicarakan secara global saja
atau bahkan tidak dibicarakan sama sekali dalam Al-Qur’an. Nah jalan keluar untuk memperjelas
dan merinci keuniversalan Al-Qur’an tersebut, maka diperlukan Hadits atau Sunnah. Di sinilah
peran dan kedudukan Hadits sebagai tabyin atau penjelas dari Al-Qur’an atau bahkan menjadi
sumber hukum sekunder atau kedua setelah Al-Qur’an.

PEMBAHASAN
A. Kedudukan Hadits Sebagai Sumber Ajaran Islam
Hadits dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat urgen. Dimana hadits merupakan
salah satu sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Al-Qur’an akan sulit dipahami tanpa
intervensi hadits. Memakai Al-Qur’an tanpa mengambil hadits sebagai landasan hukum dan
pedoman hidup adalah hal yang tidak mungkin, karena Al- Qur’an akan sulit dipahami tanpa
menggunakan hadits. Kaitannya dengan kedudukan hadits di samping Al-Qur’an sebagai
sumber ajaran Islam, maka Al-Qur’an merupakan sumber pertama, sedangkan hadits merupakan
sumber kedua. Bahkan sulit dipisahkan antara Al-Qur’an dan hadits karena keduanya adalah
wahyu, hanya saja Al-Qur’an merupakan wahyu matlu (wahyu yang dibacakan oleh Allah SWT,
baik redaksi maupun maknanya, kepada Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan bahasa
arab) dan hadits wahyu ghoiru matlu ( wahyu yang tidak dibacakan Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW secara langsung, melainkan maknanya dari Allah dan lafalnya dari Nabi
Muhammad SAW.

1
Ditinjau dari segi kekuatan di dalam penentuan hukum, otoritas Al-Qur’an lebih tinggi
satu tingkat daripada otoritas Hadits, karena Al-Qur’an mempunyai kualitas qath’i baik secara
global maupun terperinci. Sedangkan Hadits berkulitas qath’i secara global dan tidak secara
terperinci. Disisi lain karena Nabi Muhammad SAW, sebagai manusia yang tunduk di bawah
perintah dan hukum-hukum Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW tidak lebih hanya penyampai Al-
Qur’an kepada manusia.
Rasulullah SAW adalah orang yang setiap perkataan dan perbuatannya menjadi pedoman
bagi manusia. Karena itu beliau ma’shum (senantiasa mendapat petunjuk Allah SWT). Dengan
demikian pada hakekatnya Sunnah Rasul adalah petunjuk yang juga berasal dari Allah. Kalau Al
Qur’an merupakan petunjuk yang berupa kalimat-kalimat jadi, yang isi maupun redaksinya
langsung diwahyukan Allah, maka Sunnah Rasul adalah petunjuk dari Allah yang di ilhamkan
kepada beliau, kemudian beliau menyampaikannya kepada umat dengan cara beliau sendiri.

ّ ‫ك‬
ِ ّ‫الذ ْك َر لِتُبَي َّن لِلن‬
‫اس َما نُ ّز َل ِإلَ ْي ِه ْم‬ َ ‫ت َوال ّزب ُِر َوَأ ْن َز ْلنَا ِإلَ ْي‬
ِ ‫بِ ْالبَيّنَا‬
‫َولَ َعلّهُ ْم يَتَفَ ّكرُون‬
Artinya : “ kami telah menurunkan peringatan ( Al-Qur’an ) kepada engkau ( Muhammad )
supaya kamu menerangkan kepada segenap manusia tentang apa-apa yang diturunkan kepada
mereka” (QS. An-Nahl 44).

ُ َّ‫َو َما آتَا ُك ُم ال َّرسُو ُل فَ ُخ ُذوهُ َو َما نَهَا ُك ْم َع ْنهُ فَا ْنتَهُوا َوات‬
‫ق‬
Artinya : “Apa-apa yang didatangkan oleh Rasul kepada kamu, hendaklah kamu ambil dan apa
yang dilarang bagimu hendaklah kamu tinggalkan”. ( QS. Al-Hasyr 7 ).

Ayat-ayat diatas menjelaskan bahwa sunnah / hadits merupakan penjelasan Al-Qur’an.


Sunnah itu diperintahkan oleh Allah untuk dijadikan sumber hukum dalam Islam. Dengan
demikian, sunnah adalah menjelaskan Al-Qur’an, membatasi kemutlakannya dan mentakwilkan
kesamarannya. Allah menetapkan bahwa seorang mukmin itu belum dapat dikategorikan
beriman kepada Allah sebelum mereka mengikuti segala yang diputuskan oleh Rasulullah SAW
dan dengan putusannya itu mereka merasa senang.

2
B. Dalil Kehujjahan Hadits
Yang dimaksud dengan kehujjahan Hadits ( hujjiyah hadits ) adalah keadaan Hadits yang
wajib dijadikan hujah atau dasar hukum ( al-dalil al-syar’I ), sama dengan Al-Qur’an
dikarenakan adanya dalil-dalil syariah yang menunjukkannya. Hadits adalah sumber hukum
Islam (pedoman hidup kaum Muslimin) yang kedua setelah Al-Qur’an. Bagi mereka yang telah
beriman terhadap Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam, maka secara otomatis harus percaya
bahwa Hadits juga merupakan sumber hukum Islam. Bagi mereka yang menolak kebenaran
Hadits sebagai sumber hukum Islam, bukan saja memperoleh dosa, tetapai juga murtad
hukumnya.
Alasan lain mengapa umat Islam berpegang pada hadits karena selain memang di
perintahkan oleh Al-Qur’an juga untuk memudahkan dalam menentukan (menghukumi) suatu
perkara yang tidak dibicarakan secara rinci atau sama sekali tidak dibicarakan di dalam Al
Qur’an sebagai sumber hukum utama.
Apabila hadits tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum Muslimin akan
mendapatkan kesulitan-kesulitan dalam berbagai hal, seperti tata cara shalat, kadar dan ketentuan
zakat, cara haji dan lain sebagainya. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal ini tersebut hanya
berbicara secara global dan umum. Dan yang menjelaskan secara terperinci justru Sunnah
Rasulullah. Selain itu juga akan mendapatkan kesukaran-kesukaran dalam hal menafsirkan ayat-
ayat yang musytarak (multi makna), muhtamal (mengandung makna alternatif) dan sebagainya
yang mau tidak mau memerlukan Sunnah untuk menjelaskannya. Dan apabila penafsiran-
penafsiran tersebut hanya didasarkan kepada pertimbangan rasio (logika) sudah barang tentu
akan melahirkan tafsiran-tafsiran yang sangat subyektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Imam-imam pembina mazhab semuanya mengharuskan kita umat Islam kembali kepada As-
Sunnah dalam menghadapi permasalahannya.
Asy-Syafi’i berkata :

ِ ‫ُول هللاِ فَقُولُوا بِ ُسنَّ ِة َرس‬


ِ‫ُول هللا‬ ِ ‫ف ُسنَّ ِة َرس‬ َ َ‫ِإ َذا َو َج ْدتُ ْم فِي ِكتَابِي ِخال‬
‫ فَاتَّبِعُوهَا َوالَ تَ ْلتَفِتُوا ِإل َى قَ ْو ِل َأ َح ٍد‬-‫وفي رواية‬- ‫ت‬ ُ ‫َو َد ُعوا َما قُ ْل‬

3
Artinya : “Apabila kamu menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlawanan dengan sunnah
Rasulullah Saw. Maka berkatalah menurut Sunnah Rasulullah Saw, dan tinggalkan apa yang
telah aku katakan.”

Perkataan imam Syafi’i ini memberikan pengertian bahwa segala pendapat para ulama
harus kita tinggalkan apabila dalam kenyataannya berlawanan dengan hadits Nabi SAW. Dan
apa yang dikategorikan pengertian bahwa segala pendapat para ulama harus kita tinggalkan
apabila dalam Asy-Syafi’i ini juga dikatakan oleh para ulama yang lainnya. Tetapi Tidak semua
perbuatan Nabi Muhammad merupakan sumber hukum yang harus diikuti oleh umatnya, seperti
perbuatan dan perkataannya pada masa sebelum kerasulannya.
Untuk mengetahui sejauh mana kedudukan hadits sebagai sumber hukum Islam, dapat
dilihat dalam beberapa dalil, baik dalam bentuk naqli ataupun aqli :
1. Dalil Al-Qur’an
Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang kewajiban mempercayai dan
menerima segala yang datang dari Rasulullah Saw untuk dijadikan pedoman hidup. Diantaranya
adalah :
Firman Allah Swt dalam surah Ali Imran ayat 179 yang berbunyi :

‫يث ِم َن‬ َ ِ‫ين َعلَى َما َأ ْنتُ ْم َعلَ ْي ِه َحتَّى يَ ِمي َز ْال َخب‬ َ ِ‫ان هَّللا ُ لِيَ َذ َر ْال ُمْؤ ِمن‬
َ ‫َما َك‬
‫ب َولَ ِك َّن هَّللا َ يَجْ تَبِي ِم ْن ُر ُسلِ ِه‬ ْ ‫ان هَّللا ُ لِي‬
ِ ‫ُطلِ َع ُك ْم َعلَى ْال َغ ْي‬ َ ‫ب َو َما َك‬ ِ ِّ‫الطَّي‬
‫َم ْن يَ َشا ُء فَآ ِمنُوا بِاهَّلل ِ َو ُر ُسلِ ِه َوِإ ْن تُْؤ ِمنُوا َوتَتَّقُوا فَلَ ُك ْم َأجْ ٌر َع ِظي ٌم‬
Artinya : “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan
kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk ( munafik ) dari yang baik ( mu'min ).
Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi
Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah
kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala
yang besar.”(QS:Ali Imran:179)

Dalam Surat An-Nisa ayat 136 Allah Swt berfirman:

4
‫ب الَّ ِذي نَ َّز َل َعلَى َرسُولِ ِه‬ ِ ‫ين آ َمنُوا آ ِمنُوا ِباهَّلل ِ َو َرسُولِ ِه َو ْال ِكتَا‬ َ ‫يَا َأيُّهَا الَّ ِذ‬
‫ب الَّ ِذي َأ ْن َز َل ِم ْن قَ ْب ُل َو َم ْن يَ ْكفُرْ بِاهَّلل ِ َو َمالِئ َكتِ ِه َو ُكتُبِ ِه َو ُر ُسلِ ِه‬
ِ ‫َو ْال ِكتَا‬
‫ضالال بَ ِعي ًدا‬
َ ‫ض َّل‬ ِ ‫َو ْاليَ ْو ِم‬
َ ‫اآلخ ِر فَقَ ْد‬
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan
sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”
(QS : An – Nisa : 136 ).
Dalam QS. Ali Imran di atas, Allah memisahkan antara orang-orang mukmin dengan
orang-orang yang munafiq, dan akan memperbaiki keadaan orang-orang mukmin dan
memperkuat iman mereka. Oleh karena itulah, orang mukmin dituntut agar tetap beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan pada QS. An-Nisa, Allah menyeru kaum Muslimin agar
mereka tetap beriman kepada Allah, rasul-Nya (Muhammad SAW), al-Qur’an, dan kitab yang
diturunkan sebelumnya. Kemudian pada akhir ayat, Allah mengancam orang-orang yang
mengingkari seruan-Nya.
Selain Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam agar percaya kepada Rasulullah
Saw. Allah juga memerintahkan agar mentaati segala peraturan dan perundang-undangan yang
dibawanya. Tuntutan taat kepada Rasul itu sama halnya dengan tuntutan taat dan patuh kepada
perintah Allah Swt. Banyak ayat al-Qur’an yang mnyerukan seruan ini.

Perhatikan firman Allah SWT. Dalam surat Ali-Imran ayat 32 dibawah ini :

‫قُلْ َأ ِطيعُوا هَّللا َ َوال َّرسُو َل فَِإ ْن تَ َولَّ ْوا فَِإ َّن هَّللا َ ال ي ُِحبُّ ْال َكافِ ِرين‬
Artinya :“Katakanlah:"Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir ". (QS : Ali Imran : 32).

Juga dalam Surat An-Nur ayat 54 yang berbunyi:

5
‫قُلْ َأ ِطيعُوا هَّللا َ َوَأ ِطيعُوا ال َّرسُو َل فَِإ ْن تَ َولَّ ْوا فَِإنَّ َما َعلَ ْي ِه َما ُح ِّم َل َو َعلَ ْي ُك ْم‬
ُ ِ‫غ ْال ُمب‬
‫ين‬ ُ ‫ُول ِإال ْالبَال‬
ِ ‫َما ُح ِّم ْلتُ ْم َوِإ ْن تُ ِطيعُوهُ تَ ْهتَ ُدوا َو َما َعلَى ال َّرس‬
Artinya : “ Katakanlah: " Ta'at kepada Allah dan ta'atlah kepada rasul; dan jika kamu
berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan
kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu
ta'at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan
menyampaikan (amanat Allah) dengan terang ".( An - Nu r : 54 ).
Masih banyak lagi ayat-ayat yang sejenis menjelaskan tentang permasalahan ini. Dari
beberapa ayat di atas telah jelas bahwa perintah mentaati Allah selalu dibarengi dengan perintah
taat terhadap Rasul-Nya. Begitu juga sebaliknya dilarang kita durhaka kepada Allah dan juga
kepada Rasul-Nya.
Dari sinilah jelas bahwa ungkapan kewajiban taat kepada Rasulullah Saw dan larangan
mendurhakainya, merupakan suatu kesepakatan yang tidak dipersilihkan umat Islam.

2. Dalil Hadits
Dalam salah satu pesan yang disampaikan baginda Rasul berkenaan dengan kewajiban
menjadikan hadits sebagai pedoman hidup disamping Al-Qur’an sebagai pedoman utamanya,
adalah sabdanya:

‫اب هللاِ َو ُسنَّةَ َرس ُْولِ ِه‬ ِ َ‫ت فِ ْي ُك ْم َأ ْم َري ِْن لَ ْن ت‬


َ َ‫ ِكت‬: ‫ضلُّ ْوا َما تَ َم َّس ْكتُ ْم بِ ِه َما‬ ُ ‫تَ َر ْك‬
Artinya : “ Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, dan kalian tidak akan tersesat selam-
lamanya, selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan Sunnah Rasul-
Nya.” ( HR. Malik ).

Hadits di atas telah jelas menyebutkan bahwa hadits merupakan pegangan hidup setelah
Al-Qur’an dalam menyelesaikan permasalahan dan segalah hal yang berkaitan dengan kehidupan
khususnya dalam menentukan hukum.

6
3. Kesepakatan Ulama’ ( Ijma’ )
Umat Islam telah sepakat menjadikan hadits menjadi sumber hukum kedua setelah Al-
Qur’an. Kesepakatan umat muslimin dalam mempercayai, menerima, dan mengamalkan segala
ketentuan yang terkandung di dalam hadits telah dilakukan sejak jaman Rasulullah, sepeninggal
beliau, masa khulafaurrosyidin hingga masa-masa selanjutnya dan tidak ada yang
mengingkarinya.
Banyak peristiwa menunjukkan adanya kesepakatan menggunakan Hadits sebagai
sumber hukum Islam, antara lain adalah peristiwa dibawah ini :
a. Ketika Abu Bakar di baiat menjadi khalifah, ia pernah berkata “ Saya tidak meninggalkan
sedikitpun sesuatu yang diamalkan / dilaksanakan oleh Rasulullah, sesungguhnya saya takut
tersesat bila meninggalkan perintahya. “
b. Saat Umar berada di depan Hajar Aswad ia berkata: “ Saya tahu bahwa engkau adalah batu.
Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu, saya tidak akan menciummu “.
c. Pernah ditanyakan kepada ‘Abdullah bin Umar tentang ketentuan shalat safar dalam al –
Qur’an. Ibnu Umar menjawab: “ Allah SWT. Telah mengutus Nabi Muhammad SAW.
Kepada kita dan kita tidak mengetahui sesuatu. Maka sesungguhnya kami berbuat
sebagaimaa duduknya Rasulullah SAW., saya makan sebagaimana makannya Rasulullah
dan saya shalat sebagaimana shalatnya Rasul “.
d. Diceritakan dari Sa’id bun Musayyab bahwa ‘Usman bin ‘Affan berkata: “ Saya duduk
sebagaimana duduknya Rasulullah SAW., saya makan sebagaimana makannya Rasulullah
dan saya shalat sebagaimana shalatnya Rasulul “.

Masih banyak lagi contoh-contoh yang menunjukkan bahwa yang diperintahkan,


dilakukan, dan diserukan oleh Rasulullah SAW, selalu diikuti oleh umatnya, dan apa yang
dilarang selalu ditinggalkan oleh umatnya.

4. Sesuai dengan Petunjuk Akal ( Ijtihad )


Kerasulan Muhammad SAW, telah diakui dan dibenarkan oleh umat Islam. Di dalam
mengemban misinya itu kadangkala beliau menyampaikan apa yang datang dari Allah SWT,
baik isi maupun formulasinya dan kadangkala atas inisiatif sendiri dengan bimbingan wahyu dari

7
Tuhan. Namun juga tidak jarang beliau menawarkan hasil ijtihad semata-mata mengenai suatu
masalah yang tidak dibimbing oleh wahyu.
Menurut Abdul Ghoni bin Abdul Kholiq dalam bukunya Hujjiyah al-Sunnah, kehujjahan
hadits paling tidak dapat dipahami dari 7 aspek, yaitu
1. ‘Ishamah (Keterpeliharaan Nabi dari Kesalahan)
Tugas Rasul sebagai penyampai wahyu mengharuskan beliau untuk selalu ekstra hati-
hati dalam bertindak
2. Sikap Sahabat terhadap sunnah
Sikap para sahabat yang selalu patuh dan tunduk dengan perintah Rasulullah SAW
memberikan satu indikasi akan kebenaran apa yang dilakukan dan diucapkan oleh beliau, dan
sekaligus dapat dijadikan hujjah.
3. Al-Qur’an
Banyak ayat yang memerintahkan untuk patuh, taat dan mengambil apa yang dilakukan
Nabi SAW.
4. Al-Sunnah
Selain Al-Quran, terdapat banyak pula hadits yang menjelaskan kehujjahan al-Sunnah
5. Kebutuhan al- Qur’an terhadap al-Sunnah
Al-Qur’an tidak akan dapat dipahami secara sempurna tanpa ada bantuan al-Sunnah
6. Realitas-Sunnah sebagai wahyu
Wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada Nabi ada yang berupa wahyu dhohir ( yang
berstatus terjaga dan terpelihara dari segala bentuk kesalahan)
7. Ijma’
Kesepakatan untuk mengambil hadits sebagai hujjah dan landasan hukum

C. Fungsi Hadits sebagai Sumber Ajaran Islam


Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman hidup, sumber hukum dan ajaran dalam islam,
antara satu dengan yang lainya tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan. Al-
qur’an sebagai sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan
global. Oleh karena itu kehadiran hadis, sebagai sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan
keumuman isi al-Qur’an tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

8
‫¦ز َل ِإلَ ْي ِه ْم َولَ َعلَّهُ ْم‬ َ ¦‫الزب ُِر َوَأ ْن َز ْلنَا ِإلَ ْي‬
ِ َّ‫ك ال ¦ ِّذ ْك َر لِتُبَي َِّن لِلن‬
ِّ ¦ُ‫اس َم¦¦ا ن‬ ِ ‫بِ ْالبَيِّنَا‬
ُّ ‫ت َو‬
‫يَتَفَ َّكرُون‬
Artinya : “ Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan pada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan “. (QS. An-
Nahl : 44)
Dalam hubungan dengan Al-Qur’an, hadis berfungsi sebagai penafsir, pensyarat dan
penjelas dari ayat-ayat Al-Qur’an. Apabila disimpulkan tentang fungsi hadis dalam hubungan
dengan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
a. Bayan Tafsir
Yang dimaksud dengan bayan At -Tafsir adalah menjelaskan maksud dari Al-Qur’an
Fungsi hadist dalam hal ini adalah merinci ayat secara global( bayan al mujmal), membatasi
ayat yang mutlak ( taqyid al muthlaq), mengkhususkan ayat yang umum ( takhshish al’am) dan
menjelaskan ayat yang dirasa rumit ( taudhih al musykil). Diantara contoh bayan At -Tafsir
mujmal adalah seperti hadist yang menerangkan kemujmalan ayat-ayat tentang perintah Allah
SWT untuk mengerjakan shalat, puasa, zakat, dan haji. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan
tentang beribadah tersebut masih bersifat global atau secara garis besarnya saja. Contohnya kita
diperintahkan shalat, namun Al-Qur’an tidak menjelaskan bagaimana tata cara shalat, tidak
menerangkan rukun-rukunnya dan kapan waktu pelaksanaannya. Semua ayat tentang kewajiban
shalat tersebut dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dengan sabdanya :

َ ‫صلُّوا َك َما َرَأ ْيتُ ُمونِى ُأ‬


‫صلِّى‬ َ
Artinya : “Sholatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menjelaskan bagaimana mendirikan shalat. Sebab dalam Al-Qur’an tidak
menjelaskan secara rinci. Salah satu ayat yang memerintahkan shalat adalah :
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'.” (QS.
Al-Baqoroh: 43)

b. Bayan Taqrir

9
Bayan At-Taqrir atau sering juga disebut bayan ta’kid ( penegas hukum) dan bayan al-
itsbat adalah hadist yang berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan Al-Qur’an.
Dalam hal ini, hadis hanya berfungsi untuk memperkokoh isi kandungan Al-Qur’an. Suatu hadis
yang diriwayatkan muslim dari Ibnu Umar, yang berbunyi sebagai berikut :

‫ِإ َذا َرَأ ْيتُ ُم ْوهُ فَص ُْو ُم ْوا َوِإ َذا َرَأ ْيتُ ُم ْوهُ فََأ ْف ِطرُوا‬
Artinya : “Apabila kalian melihat (ru’yah) bulan, maka berpuasalah, juga apabila melihat
(ru’yah) itu maka berbukalah.” (HR. Muslim)
Hadis ini datang men-taqrir ayat al-Qur’an di bawah ini yang artinya :
“Maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, hendaklah ia berpuasa...”
(QS. Al-Baqoroh: 185)

c. Bayan Tasyri’
Yang dimaksud dengan bayan at-tasyri’ adalah menjelaskan hukum yang tidak
disinggung langsung dalam Al-Qur’an. Bayan ini juga disebut dengan bayan zaid ‘ala Al-Kitab
Al-Karim. Hadits merupakan sebagai ketentuan hukum dalam berbagai persoalan yang tidak ada
dalam Al-Qur’an.

d. Bayan An-Nasakh
Secara bahasa an-naskh bisa berarti al-ibthal (membatalkan), al-ijalah (menghilangkan),
at-tahwil (memindahkan) atau at-tagyar (mengubah). Menurut Ulama’ mutaqaddimin, yang
dimaksud dengan bayan an-nasakh adalah adanya dalil syara’ yang datang kemudian. Dan
pengertian tersebut menurut ulama’ yang setuju adanya fungsi bayan an nasakh, dapat dipahami
bahwa hadis sebagai ketentuan yang datang berikutnya dapat menghapus ketentuan-ketentuan
atau isi Al-Qur’an yang datang kemudian. Menurut ulama mutaqoddimin mengartikan bayan an-
nasakh ini adalah dalil syara’ yang dapat menghapuskan ketentuan yang telah ada, karena
datangnya kemudian. Imam Hanafi membatasi fungsi bayan ini hanya terhadap hadits-hadits
muawatir dan masyhur saja. Sedangkan terhadap hadits ahad ia menolaknya.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
a. Hadits merupakan sumber hukum kedua bagi umat Islam setelah Al-Quran sebagai sumber
utama, hadits juga sebagai pedoman hukum serta ajaran- ajaran yang terdapat dalam Al-
Qur’an. Hadits adalah sumber hukum Islam (pedoman hidup kaum Muslimin) yang kedua
setelah Al-Qur’an. Bagi mereka yang telah beriman terhadap Al-Qur’an sebagai sumber
hukum Islam, maka secara otomatis harus percaya bahwa Hadits juga merupakan sumber
hukum Islam. Bagi mereka yang menolak kebenaran Hadits sebagai sumber hukum Islam,
bukan saja memperoleh dosa, tetapai juga murtad hukumnya.
b. Kedudukan hadits sebagai sumber hukum Islam, dapat dilihat dalam beberapa dalil, baik
dalam bentuk naqli ataupun aqli : dalil Al-Qur’an, dalil Hadits, Ijma’ dan Ijtihad.
Kehujjahan hadits dapat dipahami dari 7 aspek yaitu: Ishmah, sikap sahabat terhadap
sunnah, Al-Qur’an, Al- Sunnah, Kebutuhan Al-Qur’an terhadap al-sunnah, realitas – sunnah
sebagai wahyu dan Ijma’
c. Fungsi hadits terhadap Al-Qur’an yaitu: bayan tafsir, bayan taqrir, bayan tasyri’ dan bayan
an-nasakh

B. Saran
Demikianlah tugas penyusunan makalah ini kami persembahkan. Harapan kami untuk
mengembangkan potensi yang ada dengan harapan dapat bermanfaat dan bisa dipahami oleh para
pembaca. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca, khususnya dari Bapak
Dosen yang telah membimbing kami dan para Mahasiswa demi kesempurnaan makalah ini.
Apabila ada kekurangan dalam penyusunan makalah ini, kami mohon maaf yang sebesar-
besarnya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shiddieqy, H. (1980). Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist. Jakarta: Bulan Bintang.

Muhamad Ali, D. H. (2019). Jurnal pendidikan dan Studi Islam. PERAN HADITS SEBAGAI
SUMBER AJARAN AGAMA, 125-132.

Smeer, Z. B. (2008). Ulumul Hadis : Pengantar Studi Praktis. Malang: UIN-Malang Press.

12

Anda mungkin juga menyukai