BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laboratorium klinik memiliki kewajiban untuk menjamin kualitas
hasil pemeriksaan. Kualitas hasil pemeriksaan yang baik tergantung pada
proses pengendalian setiap tahap pemeriksaan yang dilakukan. Faktor
yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama diantaranya pra analitik,
analitik, dan paska analitik. Kesalahan pra analitik memberikan kontribusi
terbesar yakni sekitar 61% dari total kesalahan laboratorium. Kesalahan
tahap pra analitik dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya
yaitu penanganan spesimen yang kurang tepat (Riswanto, 2013).
Berdasarkan survei penelitian yang dilakukan oleh Aulia (2020),
diketahui sering terjadi penundaan pemeriksaan maupun pengolahan
spesimen di laboratorium rumah sakit maupun puskesmas yang jumlah
bahan pemeriksaannya banyak. Penundaan dapat terjadi karena biasanya
sampel yang sudah diambil tidak langsung diolah, melainkan dikumpulkan
terlebih dahulu. Hal ini biasa dilakukan untuk mengefisiensi waktu dan
tenaga karena pemeriksaan dapat dilakukan secara bersamaan. Penundaan
pemeriksaan juga dapat terjadi karena proses pengiriman , kerusakan alat,
pemadaman listrik dan keterbatasan tenaga laboratorium. Sedangkan pada
penelitian yang dilakukan oleh Susyaminingsih (2018) di salah satu
Puskesmas, disebutkan bahwa penundaan pemeriksaan terjadi karena
1
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
2
adanya kegiatan Prolanis atau Antenatal Care (ANC) Terpadu yang rutin
dilakukan seminggu 3 kali. Pemeriksaan lainnya yang tidak terkait dengan
kegiatan tersebut biasanya dilakukan setelah kegiatan selesai, sehingga
memungkinkan terjadinya penundaan pengolahan spesimen salah satunya
yakni penundaan sentrifus.
Preparasi dalam pemisahan serum dari bekuan darah harus
dilakukan dengan benar, sehingga diperoleh sampel yang bermutu baik
(Tuck et al.,2009). Menurut Permenkes RI (2013) darah memerlukan
waktu 20-30 menit untuk membeku pada suhu kamar dan pemisahan
serum dilakukan paling lambat 2 jam setelah pengambilan spesimen,
karena kontak yang terlalu lama dengan sel-sel didalam tabung dapat
menyebabkan perubahan kimia dalam serum. Meskipun hal ini hanya
berdampak besar pada beberapa analit, dapat diasumsikan bahwa banyak
analit darah yang memburuk dalam hitungan jam dalam sampel yang tidak
dipisahkan dan disimpan pada suhu kamar (Clark et al., 2003). Beberapa
penelitian juga melaporkan waktu kontak serum yang terlalu lama dengan
sel mempengaruhi stabilitas beberapa analit. Ketidakstabilan analit ini
dilaporkan pada waktu dan suhu yang berbeda (Chaudhry et al., 2019). Sel
darah yang tidak segera dipisahkan juga cenderung mengalami lisis dan
melepaskan komponen seluler yang biasanya tidak ditemukan dalam
sampel serum jika didiamkan lebih dari 60 menit (Tuck et al.,2009).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
3
Serum yang diperoleh dari darah yang sudah didiamkan terlalu
lama berkemungkinan mengandung hemoglobin dan protein seluler lain
dari sel darah yang lisis. Terdapatnya sisa fibrinogen faktor koagulasi dan
protein seluler lain yang tidak termasuk protein serum dapat meningkatkan
kadar protein total karena dapat ikut bereaksi dengan reagen protein total
(Widmann, 2005).
B. Rumusan Masalah
Apakah terdapat perbedaan kadar protein total pada sampel darah
yang didiamkan 30 menit dan didiamkan 120 menit sebelum disentrifus?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan kadar protein total pada sampel darah
yang didiamkan 30 menit dan 120 menit sebelum disentrifus.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui rata-rata kadar protein total pada sampel darah yang
didiamkan 30 menit sebelum disentrifus.
b. Mengetahui rata-rata kadar protein total pada sampel darah yang
didiamkan 120 menit sebelum disentrifus.
c. Mengetahui selisih rata-rata antara kadar protein total pada sampel
darah yang didiamkan 30 menit dan didimakan 120 menit sebelum
disentrifus.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
4
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah bidang Teknologi
Laboratorium Medis khususnya subbidang Kimia Klinik.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memberikan informasi ilmiah dalam bidang Kimia Klinik
mengenai pengolahan sampel darah terhadap hasil pemeriksaan kadar
protein total.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi pedoman dalam
pengolahan darah untuk pembuatan serum terhadap pemeriksaan kadar
protein total.
F. Keaslian Penelitian
1. Fadhilah (2018) dengan judul “Perbedaan Hasil Pemeriksaan Kadar
Protein Total pada Darah Langsung dan Didiamkan 30 Menit Sebelum
Disentrifus”. Penelitian ini menggunakan sampel serum orang sehat,
kemudian diperiksa dengan metode biuret. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa kadar protein total pada darah yang langsung
disentrifus lebih tinggi dengan rata – rata selisih 0,31 g/dL (4,25%).
Peneliti akan melakukan penelitian serupa dengan persamaan pada
variabel terikat yakni kadar protein total. Perbedaan penelitian terletak
pada variabel bebas yakni pengolahan sampel darah langsung
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
5
disentrifus dan didiamkan 30 menit sedangkan pada penelitian yang
akan dilakukan pengolahan sampel dilakukan dengan penundaan
sentrifus selama 30 menit dan 120 menit.
2. Chaudhry et al. (2019) dengan judul “Effect of Delayed Centrifugation
on Serum Chemistry”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai
pengaruh penundaan sentrifugasi pada pemeriksaan kimia darah.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kadar protein total menunjukkan
stabilitas hingga 12 jam pada suhu kamar. Peneliti akan melakukan
penelitian serupa dengan persamaan pemeriksaan kadar protein total
serum dan perbedaan penelitian pada waktu penundaan sentrifus. Pada
penelitian ini sentrifugasi dilakukan segera dan dengan penundaan
selama 30 menit, 1 jam, 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam, dan 12 jam,
sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan hanya dilakukan
penundaan selama 30 menit dan 2 jam.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta