STANDAR OPERATING PROSEDURE (SOP) RUANG BERSALIN (VK)
NO DAFTAR SOP VK HAL
1. KRITERIA PASIEN GINEKOLOGI /KANDUNGAN
2. KRITRIA PASIEN OBSTETRI / KEBIDANAN
3. PROSEDUR PENANGANAN PASIEN PARTUS NORMAL
4. PROSEDUR PENANGANAN PASIEN PARTUS INDUKSI
5. PROSEDURPENANGANAN PASIEN DENGAN RENCANA SC
6. PROSEDUR PENANGANAN PARTUS PATOLOGIS DENGAN SUNGSANG
PROSEDUR PENANGANAN PARTUS PATOLOGIS DENGAN DISTOSIA
7.
BAHU
8. PROSEDUR PENANGANAN PASIEN DENGAN RETENSIO PLASENTA
9. PROSEDUR PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI VK
10. PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOLOGI/USG DI VK
11. TATA CARA RESUCITASI PASIEN GAWAT DARURAT DI RUANGAN VK
12. PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING DI VK
13. PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING NATRIUM BICARBONAT DI VK
14. PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING DOPAMIN DI VK
15. PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING SULFAS ATROPIN DI VK
16. PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING MgSO4 DI VK
17. PENGGUNAAN OBAT OKSITOSIN DI VK
18. PENGGUNAAN OBAT METHILERGOMETRIN DI VK
19. INFORMED CONCENT DI VK
20. KEWENANGAN & TANGGUNG JAWAB DOKTER JAGA DI VK
21. KEWENANGAN &TANGGUNG JAWAB DOKTER KONSULEN DI VK
22. KEWENANGAN & TANGGUNG JAWAB KEPALA RUANGAN VK
23. KEWENANGAN & TANGGUNGJAWAB KEPALA SHIFF
24. KEWENANGAN & TANGGUNGJAWAB BIDAN PELAKSANA
KEWENANGAN DOKTER JAGA DALAM TINDAKAN MEDIS PADA
25.
PASIEN GAWAT DARURAT DI VK
26. DOKTER PENANGGUNG JAWAB PASIEN
27. TATA CARA KONSUL
28. PROSEDUR KONSULTASI RAWAT BERSAMA & ALIH RAWAT
29. PENGATURAN ROTASI PERAWAT RUANGAN VK
30. PENGATURAN JADWAL DINAS PERAWAT VK
31. PENGATURAN ROTASI JADWAL JAGA DI VK
32. PENGATURAN PENGGANTIAN PETUGAS BERHALANGAN JAGA VK
33. PROSEDUR PENDAFTARAN DAN IDENTIFIKASI PASIEN VK
34. PROSEDUR PELAYANAN APOTEK RAWAT VK
35. PROSEDUR PEMBAYARAN RAWAT VK
KRITERIA PASIEN RAWAT BAGIAN
KANDUNGAN & KEBIDANAN
No. dokumen : No. Revisi : Halaman :
1 dari 2 halaman
Tanggal Terbit : Di tetapkan oleh
Ka RSIA Maria As-syifa
STANDARD OPERATING
PROSEDUR
[Link]
PENGERTIAN pelayanan dokter spesialis kebidanan dan kandungan
kepada pasien rawat INAP
TUJUAN Melayani pasien dengan memberikan pelayanan yang
terbaik dan ramah dalam bersikap sesuai kompetensi
dokter.
KEBIJAKAN Memberikan pelayanan kepada jenis kelamin perempuan
hamil atau tidak hamil yang berhubungan dengan
kebidanan dan kandungan di rawat inap.
PROSEDUR 1. Pasien dating mendaftar kebagian pendaftaran rawat
jalan dan IGD
2. perawat rawat jalan bagian perawatan ranap
menerima pasien
3. Pasien masuk ke VK dan dokter spesialis kandungan
melakukan pemeriksaan
4. Petugas penunjangmedis (laboratorium dan radiologi)
lakukan indakan/pemeriksaan jika memang dokter
rawat inap memerlukannya.
5. Melakukan informed concent untuk persetujuan rawat
inap dan tindakan
6. Pasien memilih ruangan perawatan
UNIT TERKAIT 1. Pasien
2. Petugas pendaftaran
3. Petugas rawat inap
4. Dokter spesialis kandungan
5. Petugas laboratorium
6. Petugas radiologi
7. Petugas apotik
DOKUMEN TERKAIT Status rawat inap
KRITERIA PASIEN RAWAT BAGIAN
PERINATOLOGI
No. dokumen : No. Revisi : Halaman :
1 dari 2 halaman
Tanggal Terbit : Di tetapkan oleh
Ka RSIA Maria As-syifa
STANDARD OPERATING
PROSEDUR
[Link]
PENGERTIAN pelayanan dokter spesialis anak kepada pasien rawat INAP
TUJUAN Melayani pasien dengan memberikan pelayanan yang
terbaik dan ramah dalam bersikap sesuai kompetensi
dokter.
KEBIJAKAN Memberikan pelayanan kepada semua jenis kelamin usia 0
s/d 28 hari di rawat inap.
PROSEDUR 1. Pasien dating mendaftar kebagian pendaftaran rawat
jalan ,IGD ,VK atau OK
2. perawat rawat jalan bagian perawatan ranap
menerima pasien
3. Pasien masuk ke ruang perinatoloi dan dokter
spesialis anak melakukan pemeriksaan
4. Petugas penunjangmedis (laboratorium dan radiologi)
lakukan indakan/pemeriksaan jika memang dokter
rawat inap memerlukannya.
5. Melakukan informed concent untuk persetujuan
rawat inap dan tindakan
6. Pasien memilih ruangan perawatan
UNIT TERKAIT 1. Pasien
2. Petugas pendaftaran
3. Petugas rawat inap
4. Dokter spesialis anak
5. Petugas laboratorium
6. Petugas radiologi
7. Petugas apotik
DOKUMEN TERKAIT Status rawat inap
KRITERIA PASIEN RAWAT BAGIAN ANAK
No. dokumen : No. Revisi : Halaman :
1 dari 2 halaman
Tanggal Terbit : Di tetapkan oleh
Ka RSIA Maria As-syifa
STANDARD OPERATING
PROSEDUR
[Link]
PENGERTIAN pelayanan dokter spesiais anak kepada pasien rawat INAP
TUJUAN Melayani pasien dengan memberikan pelayanan yang
terbaik dan ramah dalam bersikap sesuai kompetensi
dokter.
KEBIJAKAN Memberikan pelayanan kepada semua jenis kelamin usia
28 hari s/d < 14 tahun di rawat inap.
PROSEDUR 1. Pasien dating mendaftar kebagian pendaftaran rawat
jalan dan IGD
2. perawat rawat jalan bagian perawatan ranap
menerima pasien
3. Pasien masuk ke ruangan dan dokter spesialis anak
melakukn pemeriksaan
4. Petugas penunjangmedis (laboratorium dan radiologi)
lakukan indakan/pemeriksaan jika memang dokter
rawat inap memerlukannya.
5. Melakukan informed concent untuk persetujuan
rawat inap dan tindakan
6. Pasien memilih ruangan perawatan
UNIT TERKAIT 1. Pasien
2. Petugas pendaftaran
3. Petugas rawat inap
4. Dokter anak
5. Petugas laboratorium
6. Petugas radiologi
7. Petugas apotik
DOKUMEN TERKAIT Status rawat inap
KRITERIA PASIEN RAWAT BAGIAN PENYAKIT
DALAM
No. dokumen : No. Revisi : Halaman :
1 dari 2 halaman
Tanggal Terbit : Di tetapkan oleh
Ka RSIA Maria As-syifa
STANDARD OPERATING
PROSEDUR
[Link]
PENGERTIAN pelayanan dokter spesialis PENYAKIT DALAM kepada
pasien rawat INAP
TUJUAN Melayani pasien dengan memberikan pelayanan yang
terbaik dan ramah dalam bersikap sesuai kompetensi
dokter.
KEBIJAKAN Memberikan pelayanan kepada semua jenis kelamin usia >
14 tahun di ruang rawat inap.
PROSEDUR 1. Pasien dating mendaftar kebagian pendaftaran rawat
jalan dan IGD
2. perawat rawat jalan bagian perawatan ranap
menerima pasien
3. Pasien masuk ke ruangan dan dokter spesialis
penyakit dalam melakukan pemeriksaan
4. Petugas penunjangmedis (laboratorium dan radiologi)
lakukan indakan/pemeriksaan jika memang dokter
rawat inap memerlukannya.
5. Melakukan informed concent untuk persetujuan
rawat inap dan tindakan
6. Pasien memilih ruangan perawatan
UNIT TERKAIT 1. Pasien
2. Petugas pendaftaran
3. Petugas rawat inap
4. Dokter penyakit dalam
5. Petugas laboratorium
6. Petugas radiologi
7. Petugas apotik
DOKUMEN TERKAIT Status rawat inap
KRITERIA PASIEN RAWAT BAGIAN BEDAH
No. dokumen : No. Revisi : Halaman :
1 dari 2 halaman
Tanggal Terbit : Di tetapkan oleh
Ka RSIA Maria As-syifa
STANDARD OPERATING
PROSEDUR
[Link]
PENGERTIAN pelayanan dokter spesialis bedah kepada pasien rawat
INAP
TUJUAN Melayani pasien dengan memberikan pelayanan yang
terbaik dan ramah dalam bersikap sesuai kompetensi
dokter.
KEBIJAKAN Memberikan pelayanan kepada semua jenis kelamin dan
semua usia di ruang rawat inap.
PROSEDUR 1. Pasien dating mendaftar kebagian pendaftaran rawat
jalan dan IGD
2. perawat rawat jalan bagian perawatan ranap
menerima pasien
3. Pasien masuk ke ruangan dan dokter spesialis bedah
melakukan pemeriksaan
4. Petugas penunjangmedis (laboratorium dan radiologi)
lakukan indakan/pemeriksaan jika memang dokter
rawat inap memerlukannya.
5. Melakukan informed concent untuk persetujuan
rawat inap dan tindakan
6. Pasien memilih ruangan perawatan
UNIT TERKAIT 1. Pasien
2. Petugas pendaftaran
3. Petugas rawat inap
4. Dokter bedah
5. Petugas laboratorium
6. Petugas radiologi
7. Petugas apotik
DOKUMEN TERKAIT Status rawat inap
TATA CARA KONSUL DI VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN 1. Dokter jaga adalah dokter yang bertanggung
jawab atas pelayanan medis yang diberikan baik
secara mandiri maupun sebagai coordinator tim
2. Konsultasi masalah cara meminta pendapat dari
para ahli yang berkompeten dibidangnya.
Pemohon konsultasi dari seorang dokter ke
dokter lain harus dilakuan secara tertulis.
Konsultasi dilakukan bila seorang staf medis
merasa tidak mampu secara kompetensinya
atau diluar kewenangan (clinical preveleges)
yang dimilikinya. Untuk melengkapi pelayanan
medis yang berikutnya.
TUJUAN Pelayanan medis yang diberikan di RSIA MARRIA ASSYIFA
Indramayu dalam bentuk yang sebaik baiknya.
KEBIJAKAN 1. Pelayanan medis pasien diRSIA MARIA ASSYIFA
Indramayu bersifat komperhensif
2. Program kerja yang di tetapkan dan di
berlakukan oleh Komite Medis bertujuan untuk
peningkatan mutu peayanan staf medis di RSIA
MARIA ASSYIFA Indramayu
PROSEDUR 1. Permintaan konsultasi harus dilakukan oleh
dokter penanggung jawab pasien
2. Permintaan konsultasi harus tertulis
3. Konsultasi bisa hanya satu kali saja atau dalam
bentu permintaan rawat bersama.
4. Jawaban atas konsultasi harus tertulis
UNIT TERKAIT SMF Terkait
PROSEDUR INFORM CONCENT DI VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Setiap tindakan medis / operasi yang mengandung resiko
yang dilakukan kepada pasien harus mendapatkan
persetujuan tertulis.
TUJUAN 1. Memberikan kejelasan dan persetujuan kepada
pasien tentang diagnose penyakit, therapy
tindakan, prognosa penyakit serta akibat lanjut.
2. Melindungi tenaga medis dari kesalah pahaman
3. Sebagai perlindungan hukum
KEBIJAKAN Prosedur tetap ini berlaku untuk pasien dan keluarganya
agar dapat menerima informasi selengkap-lengkapnya
dari dokter.
PROSEDUR 1. Setelah pasien diperksa oleh dokter petugas, bila
diperlukan suatu tindakan medis, maka dokter
harus memberikaninformasi selengkapa-
lengkapnya, kecuali bila dokter menilai bahwa
informasi tersebut dapat merugikan kepentingan
kesehatan pasien
2. Dokter memberikan penjelasan kepada pasien
mengenai :
a. Tujuan dan prospek keberhasilan tindakan
medis yang akan di lakukan
b. Tata cara tindakan medis yang akan
dilakukan
c. Resiko komplikasi yang aan terjadi
d. Alternatif tindakan medis lain yang tersedia
dan resikonya masing-masing
e. Prognosis penyakit apabila tindakan medi
tersebut dilakukan atau tidak di lakukan
f. Diagnosis
3. Informed consent dianggap benar bila
persetujuan atau penolakan tindakan medis :
a. Diberikan tanpa paksaan
b. Diberikan setelah mendapat informasi dan
penjelasan yang diperlukan
c. Dilakukan oleh pasien dewasa yang sehat
mental ( lebih dari 21 tahun ) atau sudah
menikah
d. Untuk pasien dewasa yang mengalami
ganguan mental, persetujuan di berian oleh
orangtua
e. Untuk pasien dibawah umur 21 tahun dan
tidak mempunyai orangtua atau wali, atau
orangtuwali berhalangan, persetujuan
diberikan oleh mereka menurut urutanhak
sebagai berikut :
- Ayah / ibu addopsi
- Saudara-saudara kandung
- Induk semang
4. Persetujuan tindakan medis ini diperlukan untuk
tindakan medis bedah yang menggunakan
narkose tindakan medis beresiko tinggi, tindakan
medis pada pasien gawat darurat dan tidak
sadar dan semua tindakan medis
5. Bila pasien menolak dilakukan tindakan medis
terhadapnya, setelah diberikan penjelasan yang
cukup maka pasien harus menandatangani Surat
Penolakan Tindakan Medis.
6. Pada tindakan beresiko tinggi dan tindakan
medis, bedah, infoermed consent harus
ditandatangani oleh pasienitu sendiri, dokter
yang bertanggung jawab dan dua orang saksi
7. Untuk pasien yang tidak sadar serta tidak di
damping oleh keluarga terdekat dan secara
medis dalam keadaan gawat darurat yang
memerlukan tindakan medis segera untuk
kepentingannya, msks Lembar Persetujuan
dapat ditandatangani oleh dua orang dokter
yang menangani pasien tersebut atas
sepengetahuan Direktur.
8. Perluasan tindakan medis atau operasi selain
tindakan medis yang telah tidak dibenaran
dengan alas an apapun juga, kecuali apabila
perluasan tindakan medis tersebut terpaksa
dilakukan untu menyelamatkan jiwa pasien.
9. Setelah perluasan tindakan medis/operasi
sebagai mana dimaksud dalam butir 8 di
lakukan, dokter harus memberikan informasi
kepada pasien atau keluarganya.
10. Dokter yang akan melakukan tindakan medis
mempunyai tanggung jawab utama memberikan
informasi dan penjelasan yang diperlukan
apabila berhalangan informasi dan penjelasan
yang harus diberikan dapat dapat diwakilkan
kepada Dokter lain dengan sepengetahuan
dokter yang bersangkutan.
UNIT TERKAIT 1. Pasien
2. Keluarga pasien
3. Dokter
4. Perawat
5. Pendaftaran
6. Rekam medic
DOKUMEN TERKAIT Lembar informed consent
Konsultasi Rawat Bersama dan Alih Rawat
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN 1. Konsultasi adalah permintaan pendapat, saran dan
instruksi lebih lanjut yang dilakukan oleh dokter
umum / dokter ahli kepada dokter ahli lainnya
sehubungan dengan keadaan sakit atau sidera yang
diderita pasien yang di rawatnya membutuhkan
penanganan yang lebih khusus oleh dokter ahli
2. Rawat bersama adalah perawatan pasien yang di
rawat inap, oleh lebih dari satu orang yang berbeda
keahliannya (kompetensinya)
3. Alih rawat adalah perawatan pasien yang dirawat
inap dari dokter penanggung jawab epada dokter lain
yang berbeda keahliannya (kompetensinya) dan
untuk selanjutnya semua perihal pasien ini adalah
menjadi tanggung jawab dokter penerima pengalihan
tersebut.
TUJUAN Suatu acuan penerapan langkah langkah melakukan
permohonan konsultasi, rawat bersama dan alih rawat,
sehingga pasien mendapatkan penanganan medis yang
lebih komprehensif
KEBIJAKAN Pelayanan medis di RSIA MARIA ASSYIFA Indramayu
UNIT TERKAIT 1. Kelompok staff medis (KSM)
2. Dokter Spesialis
3. Dokter Umum
PROSDUR 1. Pasien yang dirawat di VK di RSIA MARIA ASSYIFA
Indramayu dilayani oleh seorang dokter penanggung
jawab pelayanan (DPJP)
2. Apabila pasien membutuhkn penanganan medis lain
yang berbeda bidang keahliannya (kompetensi) maka
DPJP dapat melakukan
*Permohonan Konsultasi
*Rawat bersama
*Alih rawat
3. Dalam melaukan proses diatas DPJP mengisi formulir
permintaan konsultasi, rawat bersama, alih rawat jika
DPJP berhalangan, pengisian forulir dapat dilakukan
oleh dokter jaga rawat inap / dokter jaga IGD / dokter
jaga atas instruksi DPJP
4. Dokter konsultan menuliskan hasil pemeriksaan serta
advisnya pada status rawat inap pada kasus biasa,
dokter konsultan dapat melihat pasien fan atau
memberikan advis sementara melalui telepon
5. Pada kasus cito, dokter ahli / konsultan harus dating
dan memeriksa pasien
6. Pengisian Rekam Medis adalah menjadi tanggung
jawab DPJP.
KEWENANGAN & TANGGUNGJAWAB
DOKTER JAGA DI VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Dokter jaga adalah dokter yang bertugas melakukan
pelayanan profesi kedokteran terhadap pasien yang
datang
TUJUAN Terlaksananya pelayanan medis tepat, cepat serta
nyaman kepada pasien yang di rawat RSIA Marria
Assyifa indramayu
KEBIJAKAN Dokter jaga adalah Dokter umum yang telah yang
mempunyai pengalaman di bidang perawatan DI VK
selama 2 tahun.
PROSEDUR TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DOKTER JAGA
1. Dokter jaga bertanggung jawab kepada karumkit
melalui kepala Ruangan Ranap dan komite medik
2. Melakukan serah terima pasien ranap dan laporan
diagnosa dari dokter jaga lama kepada dokter jaga
baru
3. Melakukan pemeriksaan, pengobatan, tindakan
medis dan observasi terhadap semua pasien yang di
rawat
4. Melakukan konsultasi kepada dokter spesialis untuk
penatalaksanaan pasien lebih lanjut.
5. Dokter jaga harus menjalankan tugas dengan penuh
rasa tanggungjawab
6. Dokter jaga boleh melakukan tindakan – tindakan
yang ada di VK sesuai dengan kompetensinya.
HAK DOKTER JAGA di VK
1. Dokter jaga berhak mendapatkan libur setelah
melaksanakan tugas jaga baik pada hari kerja
maupun libur, kecuali dokter pengganti atas kemauan
sendiri.
2. Dokter jaga VK berhak menggunakan telepon dinas
yang ada untuk keperluan konsuktasi.
UNIT TERKAIT Dokter jaga VK
DOKUMEN TERKAIT
KEWENANGAN DOKTER KONSULEN DI
RUANG VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN 1. Dokter konsulen adalah dokter spesialis yang
ada di RSIA Maria assyifa indramayu
2. Dokter yang jaga konsulen adalah dokter
konsulen yang jaga pada jam kerja dan diluar
jam kerja serta diatur oleh koordinator SMF
masing-masing.
TUJUAN Melayani dan merawat pasien-pasien yang memerlukan
pelayanan spesialis
KEBIJAKAN 1. Dalam meningkatkan mutu pelayanan di VK
berhak dan berkewajiban untuk
mengkonsultasikan pasien yang memeperlukan
pelayanan spesialis
2. Tugas kerja konsulen dibuat oleh masing-masing
koordinator SMF yang disahkan karumkit.
PETUGAS Dokter spesialis sesuai dengan masing-masing bidang:
1. Spesialis Penyakit Dalam
2. Spesialis Bedah Umum
3. Spesialis obtetri dan Ginekologi
4. Spesialis Anak
PROSEDUR 1. Tata Cara Konsul
1.1 didalam jam kerja
konsulen dikontak lewat telepon, SMS,
dokter atau perawat dengan membawa
status menemui dokter konsulen.
1.2 Diluar jam kerja
1.2.1 Konsul melalui telepon, SMS, Fax
oleh dokter jaga (daftar telepon
terlampir)
1.2.2 Konsul melalui SMS isi beritanya
ditulis oleh dokter isi menjelaskan
secara singkat mengenai keadaan
umum pasien, pemeriksaan
penunjang dan hasilnya yang telah
dilakukan, serta terapi dan tindakan
medik emergency yang telah
dilakukan.
Contoh : pasien laki/perempuan,
umur, keadaan umum, dengan
kemungkinan diagnosa, sementara
telah dilakukan
pemeriksaan......dengan
hasil.......dan telah diberikan terapi,
mohon penatalaksanaan selanjutny.
Kalau 15-30 menit belum ada jawaban SMS
diulang.
Jam konsul dan hasil konsul supaya di tulis di
status pasien.
2. Konsulen berkewajiban untuk emberikan
jawaban konsultasi dari VK baik tertulis maupun
lewat SMS, fax dan telepon.
3. Bila pasien memerlukan tindakan medik intensif
lebih lanjut dan diluar kemampuan atau
kesanggupan dan berwenang dokter jaga
RUANGAN maka konsulen jaga terkait wajib
untuk hadir atau datang ke Ruangan Rawat Inap
4. Bila dokter konsulen tidak dapat dihubungi atau
berhalangan maka konsulen bersangkutan harus
melakukan tuker jaga dengan konsulen lain serta
memberitahukan kepada kepala Ruangan
5. Pelanggaran terhadap aturan-aturan diatas
dievaluasi oleh kepala Ruangan RANAP dalam
bentuk laporan evaluasi bulanan yang
disampaikan kepada [Link] keperawatan dengan
tembusan karumkit
6. Bila pasien yang dikonsulkan adalah pasien
umum maka konsululen akan mendapat jasa
konsul sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh
karumkit RSIA Marria Assyifa
UNIT TERKAIT Bidan VK, Dokter Jaga, Dokter Konsulen
DOKUMEN TERKAIT Status pasien
KEWENANGAN & TANGGUNGJAWAB BIDAN
KEPALA DI RUANG VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
NAMA JABATAN Bidan Kepala di Ruang VK
PENGERTIAN Seorang tenaga profesional yang bertanggung jawab dan
berwenag dalam mengelola pelayanan keperawatan
diruang Ruang VK
PERSYARATAN 1. Sehat jasmani dan rohani
2. Pendidikan DIII Kebidanan atau lulusan SPK ditambah
pengalaman kerja minimal 5 tahun
3. Memiliki sertifikat APN
4. Memiliki sertifikat pelatihan kegawat daruratan
5. Mempunyai pengalaman kerja di ruang di VK selama
5 tahun
6. Memiliki kemampuan memimpin
7. Mau dan mampu mengembangkan diri sesuai dengan
perkembangan IPTEK
TANGGUNG JAWAB Secara operasional bertanggung jawb kepada kepala
instalasi
PROSEDUR TUGAS 1. Melaksanakan fungsi perencaaan
2. Menetukan macam, mutu dan jumlah pegawai yang
dibutuhkan diruang VK
3. Bersama staff menentukan jumlah pegawai yang
dibutuhkan di ruang VK
4. Membagi tugas harian dengan memperlihatkan
jumlah dan tingkat kemampuan tenaga perawat
5. Menyusun dan mengusulkan program
pengembangan staff dengan penddikan
6. Berperan aktif menyusun prosedur atau tata kerja
diruang VK
7. Membuat dan menyusun program dan orientasi bagi
pegawai baru
8. Mentaati peraturan dan kebijakan yang telah
ditetapkan rumah sakit
9. Melaksanakan peraturan penggerakan dan pelaksaan
10. Memantau seluruh staff dalam penerapan dan
pelaksaan peraturan /etika yang berlaku diruang VK
11. Mengatur pelayanan keperawatan dengan kebutuhan
dan kemampuan tenaga
12. Membuat jadwal kegiatan pelatihan
13. Mengatur pemanfaatan sumber daya secara tepat
guna dan hasil guna
14. Melaksanankan fungsi pengawasan , pengendalian
dan penilaian
15. Mengawasi pelaksanaan tugas masing-masing
pegawai
16. Mengawasi , mempertahankan dan mengatur alat –
alat agar selalu siap pakai dan tepat guna
17. Mengawasi pelaksaan inventarisasi secara periodik
18. Mengawasi kinerja Bidan dan perawat
UNIT TERKAIT
DOKUMEN TERKAIT
KEWENANGAN & TANGGUNGJAWAB KEPALA
SHIFF VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Seorang tenaga keperawatan profesional yang
bertanggung jawab dan berwenang untuk mengetahui
sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan kepada sekelompok pasien di unit
gawat darurat
PERSYARATAN 1. sehat jasmani dan rohani
2. pendidikan DIII keperawatan atau DIII Kebidanan atau
SPK ditambah pengalaman minimal 5 tahun
3. memiliki sertifikat pelatihan PPGD untuk perawat ,
APN untuk bidan
4. mempunyai pengalaman kerja selama di ruangan VK
selama 5 tahun
5. mempunyai kemampuan dan mampu
mengembangkan didi sesuai dengan perkembangan
IPTEK
TANGGUNG JAWAB Secara operasional bertanggungjawab kepada kepala
ruangan
PROSEDUR URAIAN TUGAS 1. bersama kepala ruangan melakukan serah terima
tugas dan pergantian dinas
2. mengkoordinir kegiatan pelayanan keperawatan
digrupnya
3. melaksanakan asuhan keperawatan dan kebidanan
4. menganalisa masalah dan melakukan tindak lanjut
5. membuat laporan
6. mengawasi kerja perawat dan bidan anggota grupnya
7. menjaga dam memelihara lingkungan kerja agar
tetap bersih dan rapih
8. menciptakan kerjasama serta koordinasi yang
harmonis antara sesama perawat dan tim kesehatan
lain
9. mentaati peraturan dan kebijakan yang telh di
tetapkan rumah sakit.
UNIT TERKAIT
DOKUMEN TERKAIT
KEWENANGAN & TANGGUNGJAWAB
PERAWAT/BIDAN PELAKSANA RUANG VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
NAMA JABATAN Perawat/bidan pelaksana RUANG VK
PENGERTIAN Seorang tenaga keperawatan yang bertanggungjawab
dan diberi wewenang, memberikan pelayanan
keperawatan di VK
PERSYARATAN 1. Berijazah formal Kebidanan keperawatan dari semua
tingkat kependidikan yang disahkan oleh pemerintah
2. Memiliki sertifikat PPGD untuk perawat dan APN
untuk bidan
3. Tanggap dan cekatan terhadap masalah yang
dihadapi
TANGGUNG JAWAB Secara operasional bertanggung jawab kepada ketua
shift/kepala ruangan VK
URAIAN TUGAS 1. Melaksanakan serah terima setiap pergantian dinas
yang mencakup pasien dan peralatan
2. Melakukan asuhan kebidanan dan keperawatan
pasien:
2.1 mengkaji keadaan pasien
2.2 membuat rencana keperawatan
2.3 melakukan tindakan keperawatan
2.4 melakukan evaluasi
2.5 melakukan pencatatan dan dokumentasi
3. menyiapkan , memelihara serta menyimpan
peralatan agar selalu siap pakai
4. mampu melakukan asuhan partus normal
5. melakukan dinas rotasi sesuai jadwal yang sudah
dibuat oleh kepala ruang rapat
6. memelihara lingkungan VK untuk kelancaran
pelayanan
7. melaksanakan program orientasi kepda pasien
tentang VK dan lingkungannya, peraturan / tata tertib
yang berlaku, fasilitas yang ada dan cara
penggunaanya
8. menciptakan hubungan kerja sama yang baik dengan
anggota tim kesehatan
9. membatu merujuk pasien kepada petugas kesehatan
lain yang lebih mampu untuk meyelesaikan masalah
kesehatan yang dapat ditanggulangi
10. mengikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh
dokter penanggung jawab VK
11. menyiapkan pasien yang akan keluar meliputi
11.1 menyediakan formulir untuk menyelesaian
administrasi seperti
1. surat izin pulang
2. surat keterangan sakit
3. petunjuk diit
4. Resep obat untuk dirumah jika diperlukan
5. Surat rujukan atau pemeriksaan ulang
6. Surat keterangan lunas pembayaran uang
11.2 Memberikan penyuluhan kesehatan kepada
pasin dan keluarganya sesuai dengan keadaan
dan kebutuhan pasien, mengenai:
1. Diet
2. Pengobatan yang diperlu dilanjutkan dan
obat tambahan dengan cara
penggunaanny
3. Pentingnya pemeriksaan ulang dirumah
sakit, puskesmas, institusi pelayanan
kesehatan lainny.
12. Mentaati peraturan dan kebijakan yang tealah
ditetapkan Rumah Sakit
UNIT TERKAIT
DOKUMEN TERKAIT
PENGATURAN JADWAL DINAS RUANG VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN 1. Suatu sistem dalam pembagian tugas 24 jam di bagi 3
shiff
2. Pengaturan jadwal jaga merujuk pola shiff
- PAGI : ( 7 jam) mulai 07.00 s/d 14.00 wib
- SORE : (7 jam) mulai 14.00 s/d 21.00 wib
- MALAM : (10 jam) mulai 21.00 s/d 07.00 wib
TUJUAN 1. Agar perawat dan bidan mengetahui jadwal dinas
masing-masing
2. Agar tercapai pelayanan perawatan per 24 jam
KEBIJAKAN 1. Kepala ruangan membuat jadwal dinas satu bulan
sekali
2. Setiap jaga harus ada perawat yang berkualitas
dengan kriteria AKPER/ BIDAN pengalaman 2 tahun
3. Ada perawat/bidan pengganti untuk perawat yang
brhalangan dinas
PROSEDUR 1. Ka Ruangan membuat jadwal jaga dalam satu bulan
sekali
2. Pembuatan jadwal jaga dilakukan satu minggu
sebelum tutup bulan
3. Jadwal jaga dibuat satu bulan satu kali dalam
formuilir yang sudah di tentukan
4. Copy daftar dinas disampaikan ke bagian urmin
UNIT TERKAIT 1. Urmin
2. Ruangan rawat Inap
3. UGD
DOKUMEN TERKAIT Formulir jadwal dinas
ROTASI PERAWAT dan BIDAN di VK
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Persyaratan petugas yang bertugas di ruangan VK
TUJUAN Sebagai acuan dalam menetapkan tenaga perawat dan
bidan di unit perawat khusus
KEBIJAKAN Setiap shiff dalam menetapkan tenaga yang mempunyai
sertifikat pelatihan khusus
PROSEDUR 1. Perawat dan bidan yang memiliki sertifikat pelatihan
PPGD/APN
2. Perawat dan bidan bersedia jaga pagi, sore, malam
dan hari libur
3. Perawat dan bidan mampu melakukan dokumentasi
asuhan keperawatan
UNIT TERKAIT VK
DOKUMEN TERKAIT 1. Sertifikat pelatihan
2. Dokumentasi asuhan keperawatan
ROTASI JADWAL JAGA RANAP
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Pergantian dinas perawat DAN BIDAN pagi, sore dan
malam yang bertugas diruang VK
TUJUAN 1. Sebagai acuan langkah –langkah dalam melaksanakan
jaga pagi,sore, malam dan hari libur
2. Merubah partner dalam dinas di ruang VK
3. Meninngkatkan dan mempercepat kerjasama diantar
perawat dalam satu ruang VK
KEBIJAKAN Pelayanan kebijakan ryang VK berlangsung 24 jam dan di
bagi dalam 3 shiff
PROSEDUR 1. Perawat dan bidan dinas pagi melimpahkan tugas
bertanggungjawab keperawatan kepada dinas sore
2. Perawat dan bidan dinas sore melimpahkan tugas
dan tanggung jawab ke dinas malam
3. Perawat dan bidan dinas malam melimpahkan tugas
dan tanggung jawab ke dinas pagi
UNIT TERKAIT 1. Rawat inap
2. UGD
3. Perinatologi
4. VK
DOKUMEN TERKAIT 1. Daftar dinat tiap unit terkait
2. Daftar hadir perawat tiap hari
PENGGANTIAN PETUGAS BERHALANGAN JAGA
RANAP
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Adanatanya kekosongan petugas diruang VK yang
disebabkan perawat jaga tidak masuk atau berhalangan
hadir
TUJUAN Sebagai acuan dalam melaksanakan tugas pengaturan
perawat untuk melancarkan pelayanan keperawatan
KEBIJAKAN KepalaVK menetapkan kebijakan perawat atau BIDAN
pengganti
PROSEDUR 1. Untuk kepala Ruangan
1.1 kepala ruangan memberitahukan kepada sub
seksi asuhan keperawatan
1.2 sub seksi keperawatan memberitahukan kepada
kepala seksi keperawatn
1.3 kepala seksi keperawatan menentukan perawat
pengganti dan membuat SK sementara
2. Unit pelaksana
1.1 pelaksanaan perawat m dan bidan
memberikan kepada kepala ruangan
1.2 kepala ruangan memberitahukan kepada sub
seksi perawatan asuhan keperawatan
UNIT TERKAIT 1. rawat inap
2. UGD
3. Perinatologi
4. VK
5. poliklinik
DOKUMEN TERKAIT 1. surat keterangan ijin/sakit
2. buku catatan komite medis kepala ruangan
3. standar waktu ijin bagi perawat
PENGGUNAAN OBAT LIVE SAVING
ADRENALIN DI VK
No. Dokumen: No. RevisI : Halaman:
Tanggal terbit : Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
STANDARD PROCEDURE
OPERSIONAL
[Link]
PENGERTIAN 1. Obat-obat yang digunakan untuk
menyelamatkan pasien.
2. Obat-obat untuk keperluan resusitasi
TUJUAN Untuk kemudahan dalam proses pelayanan kesehatan
KEBIJAKAN 1. Semua pengadaan obat life saving di VK telah
diketahui oleh pegawai VK
2. Ka. Ruang VK selalu memantau penggunaan dan
ketersediaan obat life saving ini di VK
3. Pengadaan obat life saving ini bekerjasama
dengan unit terkait dilinhkungan RSIA MARIA
ASSYIFA indramayu
PROSEDUR SEDIAAN : 1mg/10 ml dalam 1ml ampul.
a. INDIKASI
1. Cardiac arrest :VF, pulselees VT , asystole,
pulselees, pectrical active, ty
2. Syntomatic bradicardia : setelah pemberian
antropine atau transcutaneus unspacing
3. Anaplikasis / reaksi aliergy yang berat (diberian
bersama-sama pemberian cairan dalam jumlah
besar)
b. PERINGATAN
Meningkatkan tekanan darah dan heart rate
yang dapat mengakibatkan : ischemia mycord,
angine dan meningkatkan kebutuhan oksigen
pada otot jantung
c. DOSIS
1. Cardiae arrest
- Dosis awal
1,0 mg TV push, dapat 3-5 mg IV push
2. Alternative rigmen pada pemberian kedua :
- Intermediate : 2 – 5 mg IV push
Escalating : 1mg, 3mg, 5mg, IV push, setiap
pemberian dengan selang 3 menit
- Dosis tinggi : 0,1 mg/kg IV setiap 3 – 5 menit
- Pemberian melalui endoctrachheal
3. Profound brodikard:
2-10 mg/menit tambahan 1 mg dari 1/100
ke dalam 500 ml normal saline, infuse
dengan kecepatan 1-5 ml/menit
UNIT TERKAIT 1. Dokter RUANGAN
2. Perawat RUANGAN
3. Inst. Farmasi
DOKUMEN TERKAIT
PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING SULFAS
ATROPIN DI VK
No. Dokumen: No. RevisI : Halaman:
Tanggal terbit : Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
STANDARD PROCEDURE
OPERSIONAL
[Link]
PENGERTIAN 1. Obat-obat yang digunakan untuk
menyelamtkan pasien.
2. Obat-obat untuk keperluan resusitasi
TUJUAN Untuk kemudahan dalam proses pelayanan kesehatan
KEBIJAKAN 1. Semua pengadaan obat life saving di VK
telah diketahui oleh pegawai VK
2. Ka. Ruang VK selalu memantau penggunaan
dan ketersediaan obat life saving ini di VK
3. Pengadaan obat life saving ini bekerjasama
dengan unit terkait dilinhkungan RSIA
MARIA ASSYIFA indramayu
PROSEDUR SEDIAAN : 0,1 mg dalam 10 ml (total = )
1. INDIKASI
a. Sebagai obat pilihan pertama pada
symptomatic braddicardi
b. Sebagai obat pilihan kedua pada asystole
dan brodicardi pulseles actyviti
2. PERINGATAN
a. Gunakan dengan hati-hati pada myocardinal
isehemia dan hypoxia
b. Meningkatkan kebutuhan oksigen pada otot
jantung
c. Hindari pemakaiannya
3. DOSIS
a. Asystole / pulseless electrical activity
1. IV push
2. Ulangi tiap 3-5 menit (bila asystole
menetap) sampai dosis maksimal
sebesar 0,03 – 0,04 mg/kg
b. Bradikardi
1. 0,5 -1,0 mg IV setiap 3-5 menit esuai
dengan keperluan dosis tidak boleh
melebihi 0,03-0,04 mg/kg
2. Gunakan dosis interval terendah
(3menit) dan dosis tinggi 90,04 mg/kg
pada posisi klinik berat
c. Penggunaan melalui endotrachheal
2-3 mg diencerkan dalam 10 normal saline
UNIT TERKAIT 1. Dokter RUANGAN
2. Perawat RUANGAN
3. Inst. Farmasi
DOKUMEN TERKAIT
PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING
DOPAMIN
No. Dokumen: No. RevisI : Halaman:
Tanggal Di tetapkan Oleh :
terbit : Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
STANDARD PROCEDURE
OPERSIONAL
[Link]
PENGERTIAN 1. Obat-obat yang digunakan untuk
menyelamatkan pasien.
2. Obat-obat untuk keperluan resusitasi
TUJUAN Untuk kemudahan dalam proses pelayanan kesehatan
KEBIJAKAN 1. Semua pengadaan obat life saving di VK telah
diketahui oleh pegawai VK
2. Ka. Ruang VK selalu memantau penggunaan dan
ketersediaan obat life saving ini di VK
3. Pengadaan obat life saving ini bekerjasama
dengan unit terkait dilinhkungan RSIA MARIA
ASSYIFA indramayu
PROSEDUR a. Tidak dianjurkan untuk penggunaan secara
rutin pada pasien cardiae arrest
4. DOSIS
a. IV infusion
b. 1 mEq / kg IV / bolus
c. Ulangi pemberian sepuluh menit kemudian
dengan dosis separuhnya
d. Lakukan pemeriksaan bloodgas analisis
untuk control terapi bicarbonate (kalkulasi
base deficit atau onsenrasi bicarbonate)
UNIT TERKAIT 1. Dokter RUANGAN
2. Perawat RUANGAN
3. Inst. Farmasi
DOKUMEN TERKAIT
PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING
NATRIUM BICARBONATE
No. Dokumen: No. RevisI : Halaman:
Tanggal Di tetapkan Oleh :
terbit : Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
STANDARD PROCEDURE
OPERSIONAL
[Link]
PENGERTIAN 1. Obat-obat yang digunakan untuk menyelamtkan
pasien.
2. Obat-obat untuk keperluan resusitasi
TUJUAN Untuk kemudahan dalam proses pelayanan kesehatan
KEBIJAKAN 1. Semua pengadaan obat life saving di VK telah
diketahui oleh pegawai VK
2. Ka. Ruang VK selalu memantau penggunaan dan
ketersediaan obat life saving ini di VK
3. Pengadaan obat life saving ini bekerjasama
dengan unit terkait dilinhkungan RSIA MARIA
ASSYIFA indramayu
PROSEDUR 1. INDIKASI
Indikasi spesifik penggunaan sodium
bicarbonate adalah sebagai berikut :
Class I :
Bila diketahui adanya hyperkalemia
Class II :
a. Bila diketahui adanya bicarbonate respon
asidosis (diabetic ketoasidosis) trisiklik
antidepresan overdosis : alkalinasi arine
pada overdosis aspirin
b. Resusitasi yang berkepanjangan dengan
ventilasi yang memadai : setelah sirkulasi
pulih dari keadaan long arrest interval.
Class III (membayangkan)
Pada keadaan hypoxic lactiv acidosi (misalnya :
pada cardiae arrest yang dilakukan resusitasi
jantung paru tanpa dilakukan intubasi)
2. PERINGATAN
a. Ventilasi yang adequate dan cepat buan
bicarbonatic yang mem buffect agent pada
cardiacarest
UNIT TERKAIT 1. Dokter RUANGAN
2. Perawat RUANGAN
3. Inst. Farmasi
DOKUMEN TERKAIT
PENGGUNAAN OBAT LIFE SAVING
EPINEPRIN
No. Dokumen: No. RevisI : Halaman:
Tanggal Di tetapkan Oleh :
terbit : Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
STANDARD PROCEDURE
OPERSIONAL
[Link]
PENGERTIAN 1. Obat-obat yang digunakan untuk menyelamtkan
pasien.
2. Obat-obat untuk keperluan resusitasi
TUJUAN Untuk kemudahan dalam proses pelayanan kesehatan
KEBIJAKAN 1. Semua pengadaan obat life saving di VK telah
diketahui oleh pegawai VK
2. Ka. Ruang VK selalu memantau penggunaan dan
ketersediaan obat life saving ini di VK
3. Pengadaan obat life saving ini bekerjasama
dengan unit terkait dilinhkungan RSIA MARIA
ASSYIFA indramayu
PROSEDUR SEDIAAN : 1 mg/10 ml dalam 1 ml ampul
a. INDIKASI
1. Cardiac arrest : VF, pulseless VT, asystole,
pulseless, pactricl active, ty
2. Syntomatic bradicardia : setelah pemberian
antropine atau transcutaneus unspacing
3. Anaplikasis/ reaksi alyergy yang berat (diberikan
bersama-sama pemberian cairan dalam jumlah
besar)
b. PERINGATAN
Meningkatkan tekanan darah dan heart rate
yang dapat mengakibatkan : ischemia myocard,
angine dan meningkatkan kebutruhan oksigen
pada otot jantung.
c. DOSIS
1. Cardiae arrest
- Dosis awal
1,0 mg TV push, dapat 3-5 menit
2. Alternative rigmen pada pemberian kedua :
- Intermediate : 2 – 5 mg IV pusn
Escalating : 1 mg, 3mg, 5 mg, IV push, setiap
pemberian selang 3 menit
UNIT TERKAIT 1. Dokter RUANGAN
2. Perawat RUANGAN
3. Inst. Farmasi
DOKUMEN TERKAIT
PENGGUNAAN OBAT OKSITOSIN
No. Dokumen: No. RevisI : Halaman:
Tanggal Di tetapkan Oleh :
terbit : Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
STANDARD PROCEDURE
OPERSIONAL
[Link]
PENGERTIAN 1. Obat-obat yang digunakan untuk menyelamtkan
pasien.
2. Obat-obat untuk keperluan resusitasi
TUJUAN Untuk kemudahan dalam proses pelayanan kesehatan
KEBIJAKAN 1. Semua pengadaan obat –obatan di VK telah
diketahui oleh pegawai VK
2. Ka. Ruang VK selalu memantau penggunaan dan
ketersediaan obat life saving ini di VK
3. Pengadaan obat life saving ini bekerjasama
dengan unit terkait dilinhkungan RSIA MARIA
ASSYIFA indramayu
PROSEDUR SEDIAAN : 1 mg/10 ml dalam 1 ml ampul
INDIKASI
1. Untuk pertolongan saat partus
2. Untuk induksi persalinan normal letak kepala
UNIT TERKAIT 4. Dokter RUANGAN
5. Perawat RUANGAN
6. Inst. Farmasi
DOKUMEN TERKAIT
PROSEDUR INFORM CONCENT DI UGD
No Dokumen No Revisi Halaman :
STANDAR OPERATING PROCEDURE Tanggal Terbit Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Setiap tindakan medis / operasi yang mengandung resiko
yang dilakukan kepada pasien harus mendapatkan
persetujuan tertulis.
TUJUAN 4. Memberikan kejelasan dan persetujuan kepada
pasien tentang diagnose penyakit, therapy
tindakan, prognosa penyakit serta akibat lanjut.
5. Melindungi tenaga medis dari kesalah pahaman
6. Sebagai perlindungan hukum
KEBIJAKAN Prosedur tetap ini berlaku untuk pasien dan keluarganya
agar dapat menerima informasi selengkap-lengkapnya
dari dokter.
PROSEDUR 11. Setelah pasien diperksa oleh dokter petugas, bila
diperlukan suatu tindakan medis, maka dokter
harus memberikaninformasi selengkapa-
lengkapnya, kecuali bila dokter menilai bahwa
informasi tersebut dapat merugikan kepentingan
kesehatan pasien
12. Dokter memberikan penjelasan kepada pasien
mengenai :
g. Tujuan dan prospek keberhasilan tindakan
medis yang akan di lakukan
h. Tata cara tindakan medis yang akan
dilakukan
i. Resiko komplikasi yang aan terjadi
j. Alternatif tindakan medis lain yang tersedia
dan resikonya masing-masing
k. Prognosis penyakit apabila tindakan medi
tersebut dilakukan atau tidak di lakukan
l. Diagnosis
13. Informed consent dianggap benar bila
persetujuan atau penolakan tindakan medis :
f. Diberikan tanpa paksaan
g. Diberikan setelah mendapat informasi dan
penjelasan yang diperlukan
h. Dilakukan oleh pasien dewasa yang sehat
mental ( lebih dari 21 tahun ) atau sudah
menikah
i. Untuk pasien dewasa yang mengalami
ganguan mental, persetujuan di berian oleh
orangtua
j. Untuk pasien dibawah umur 21 tahun dan
tidak mempunyai orangtua atau wali, atau
orangtuwali berhalangan, persetujuan
diberikan oleh mereka menurut urutanhak
sebagai berikut :
- Ayah / ibu addopsi
- Saudara-saudara kandung
- Induk semang
14. Persetujuan tindakan medis ini diperlukan untuk
tindakan medis bedah yang menggunakan
narkose tindakan medis beresiko tinggi, tindakan
medis pada pasien gawat darurat dan tidak
sadar dan semua tindakan medis
15. Bila pasien menolak dilakukan tindakan medis
terhadapnya, setelah diberikan penjelasan yang
cukup maka pasien harus menandatangani Surat
Penolakan Tindakan Medis.
16. Pada tindakan beresiko tinggi dan tindakan
medis, bedah, infoermed consent harus
ditandatangani oleh pasienitu sendiri, dokter
yang bertanggung jawab dan dua orang saksi
17. Untuk pasien yang tidak sadar serta tidak di
damping oleh keluarga terdekat dan secara
medis dalam keadaan gawat darurat yang
memerlukan tindakan medis segera untuk
kepentingannya, msks Lembar Persetujuan
dapat ditandatangani oleh dua orang dokter
yang menangani pasien tersebut atas
sepengetahuan Direktur.
18. Perluasan tindakan medis atau operasi selain
tindakan medis yang telah tidak dibenaran
dengan alas an apapun juga, kecuali apabila
perluasan tindakan medis tersebut terpaksa
dilakukan untu menyelamatkan jiwa pasien.
19. Setelah perluasan tindakan medis/operasi
sebagai mana dimaksud dalam butir 8 di
lakukan, dokter harus memberikan informasi
kepada pasien atau keluarganya.
20. Dokter yang akan melakukan tindakan medis
mempunyai tanggung jawab utama memberikan
informasi dan penjelasan yang diperlukan
apabila berhalangan informasi dan penjelasan
yang harus diberikan dapat dapat diwakilkan
kepada Dokter lain dengan sepengetahuan
dokter yang bersangkutan.
UNIT TERKAIT 7. Pasien
8. Keluarga pasien
9. Dokter
10. Perawat
11. Pendaftaran
12. Rekam medic
DOKUMEN TERKAIT Lembar informed consent
SOP MENGHITUNG DJJ
PROSEDUR TETAP No. Dok: No. Rev: [Link] :
1
Ditetapkan tanggal Di tetapkan Oleh :
: Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN
TUJUAN
PROSEDUR pelaksanaan
1. Cek catatan Klien
2. Cuci tangan
3. Siapkan alat ( Jam tangan, fetoscope/pinard
stethoscope)
4. Berikan salam dan panggil klien dengan namanya
5. Jelaskan prosedur dan tujuan dari tindakan
6. Tentukan lokasi untuk mendengarkan DJJ.
Dengan memastikan posisi punggung janin atau
pada area garis tengah fundus 2-3 cm diatas
simphisis terus kearah kuadran dibawahnya.
7. Letakan fetoscope/pinrd sthetoscope di area yang
telah di tentukan
8. Hitung DJJ.
9. Evaluasi hasil kegiatan ( subyektif dan obyektif)
10. Beri reinforcement positif pada klien.
11. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya.
12. Akhiri dengan cara yang baik.
13. Lakukan pendokumentasian nama klien, waktu,
dan hasilnya.
UNIT TERKAIT
SOP PENANGANAN ABORTUS
PROSEDUR TETAP No. Dok: No. Rev: [Link] :
1
Ditetapkan Di tetapkan Oleh :
tanggal : Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup diluar kandungan, dan
sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat badan anak kurang dari 1000 gram.
Abortus komplit:
Adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu.
Abortus inkomplit:
Adalah sebagian konsepsi telah keluar dari vakum uteri,
sebagian lagi masih tertinggal.
Abortus insipiens:
Adalah abortus yang sedang mengancam dimana serviks
telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan
tetapi hasil konsepsi masih di dalam kavum uteri.
Abortus imminens:
Adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi
pendarahan per vaginam ostium masih tertutup dan
hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
Missed Abortion :
Adalah abortus dimana embrio atau fetus telah
meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 0
minggu, akan hasil konsep seluruhnya masih tertahan
dalam kandungan selama 8 minggu atau lebih.
Abortus habitualis:
Adalah keadaan dimana terjadinya abortus tiga kali
berturut-turut atau lebih.
Abortus Infeksiosus:
Abortus yang mengalami infeksi
KRITERIA DIAGNOSTIK Ada terlambat haid atau amenorea kurang dari 20
minggu . Pendarahan per vaginam, mungkin disertai
jaringan hasil konsepsi. Rasa sakit atau keram perut di
daerah atas simpisis.
DIAGNOSA BANDING 1. Kehaliman ektopik
2. Hipermenore
3. Abortus mola hidatidosa
4. Mioma uteri bertangkai
PEMERIKSAAN PENUNJANG Diperlukan pada abortus imminens, abortus habitualis
dan missed abortion
a. pemeriksaan doppler atau USG untuk menentukan
apakah janin masih hidup, menentukan prognosis
b. Pemeriksaan darah
Abortus imminens
TERAPI a. Istilah baring, tidur baring merupakan unsur
penting dalam pengobatan karena cara ini
menyebabkan bertambahnya aliran darah ke
uterus dan berkurangnya rangsang mekanis.
b. Penobarbital 3 x 30 mg sehari dapat diberikan
untuk menenangkan penderita.
c. Tokolitik
d. Preparat progesterone 2-3x 1 tab setiap 8-12 jam
e. Antiprostaglandin 3x500mg
Abortus insipiens :
Bila kehamilan >12 minggu kuret atau drip oksitosin
Methylergometrin maleat 3×1 5 hari
Amoxycicillin 4×500 5 hr
Abortus inkompletus
1. Perbaiki KU
2. Kosongkan uterus
3. Methylergometrin maleat 3×1 5 hari
4. Amoxycicillin 4×500 5 hr
Abortus kompletus
Tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya menderita
anemis perlu diberikan sulfas ferrosus dan dianjurkan
supaya makanannya banyak mengandung protein,
vitamin dan mineral.
Missed abortion
Mengeluarkan jaringan nekrosis
SOP Cuci Tangan
PROSEDUR TETAP No. Dok: No. Rev: [Link] :
1
Ditetapkan tanggal Di tetapkan Oleh :
: Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN
TUJUAN
PROSEDUR 1. Mendekatkan bahan dan alat yang dibutuhkan seperti
sabun serta handuk bersih dan kering.
2. Melepas semua perhiasan yang ada ditangan dan jari
tangan meletakkanya di tempat yang aman/ saku
baju / celana.
3. Membuka kran air memakai tangan.
4. Menggosok tangan di bawah air mengalir.
5. Mengambil sabun cair dengan menekankan siku pada
penutup sabun cair.
6. Menggosok tangan dengan sabun secara merata pada
celah jari tangan.
7. Mengulangi kegiatan di atas secara berulang-ulang
minimal 7 kali.
8. Menggosok juga pergelangan tangan dengan
melingkarkan jari-jari satu tangan ke tangan satunya.
9. Membersihkan kuku dan bawah kuku sampai bersih
( dapat digunakan sikat yang lembut dan menyikat
searah ke arah distal ).
10. Mencuci tangan dan dan telapak tangan dari arah jari-
jari ke arah pergelangan hingga bersih.
11. Mengeringkan jari tangan dan pergelangan tangan
dengan handuk bersih dan kering. Atau biarkan
mengering dengan sendirinya ( jika handuk tidak
tersedia ).
UNIT TERKAIT
SOP ALAT TENUN
PROSEDUR TETAP No. Dok: No. Rev: [Link] :
1
Ditetapkan tanggal : Di tetapkan Oleh :
Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Suatu alat yang berupa bahan dasar yang dapat menyerap keringat dan
mudah dibersihkan guna
mendukung pelayanan keperawatan dan kebidanan yang efektif dan
efisien .
TUJUAN 1. Mencegah terjadinya infeksi silang.
2. Memelihara peralatan dalam keadaan siap pakai
KEBIJAKAN Tersedianya alat tenun yang memadai untuk mencapai tujuan pelayanan
keperawatan dan kebidanan.
PROSEDUR 1. SPREI BESAR
1.1 Ukuran = 2,80 x 2m
1.2 Terbuat dari bahan kuat dan tahan lama,
1.3 Warna sejuk, sehingga kelihatan apabila kelihatan kotor.
1.4 Penggunaan :
1.4.1 Dipakai pada setiap tempat tidur bila akan menerima
pasien baru.
1.4.2 Sprei besar dipasang
Garis tengah lipatan sprey harus tepat ditengah-tengah
kasur. Bagian atas sprey dimasukkan rata dibawah kasur
sedalam lebih kurang 30 cm , demikian juga sprei pada
bagian kaki estela ditarik
setegang mungkin. Pada ujung sisi-sisi kasur dibuat sudut
segitiga (L 900), lalu seluruh tepi sprei besar dimasukkan
kebawah kasur dengan rapid an tegang. Demikian juga
sisi yang satu lagi.
1.5 Pemeliharaan :
1.5.1 Sprei yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan
menjadi satu. Pada saat akan dicuci, sebelumnya
dipisahkan menurut jenis dan warnanya, serta dipisahkan
lagi untuk sprei yang digunakan oleh pasien yang
mempunyai penyakit menular. Dan direndam
menggunakan disenfektan. Lalu dicuci menggunakan
mesin cuci. Kemudian dijemur di tempat terbuka dan di
bawah terik matahari yang telah disediakan
1.5.2 Setelah sprei kering, lalu disetrika dan disusun menurut
pemakaiannya.
2. GORDYN
Ukuran menyesuaikan dengan bentuk dan panjang ruangan.
Terbuat dari bahan yang kuat dan tahan lama,
Warna terang agar penglihatan terang dan sejuk.
Penggunaan :
1. Dipakai pada setiap jendela, pintu, dan pembatas pasien
2. Gordyn dipasang dengan mengaitkan masing-masing biji gordyn
pada pasangannya. Lalu dipasang sesuai fungsinya secara rapid an
teratur.
Pemeliharaan :
1. Gordyn yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan menjadi
satu. Dicuci dengan frekuensi 2 minggu sekali . pada saat akan dicuci ,
sebelumnya dipisahkan menurut jenis dan warnanya, serta dipisahkan
lagio gordyn yang digunakan oleh pasien yang mempunyai penyakit
menular. Dan direndam menggunakan disinfektan. Lalu dicuci
menggunakan mesin cuci. Kemudian dijemur ditempat terbuka dan
dibawah terik matahari yang telah disediakan.
2. Setelah gordyn kering, lalu disetrika dan disusun menurut
pemakaiannya.
3. SELIMUT BIASA
1. Ukuran biasa
2. Terbuat dari bahan katun yang kuat dan tahan lama.
Penggunaan :
1. Selimut dilipat 4 secara terbalik, dipasang pada kasur bagian kaki,
bagian atas yang terbalik dimasukkan lebih 10 cm. pada ujung sisi-
sisinya dimasukkan kebawah kasur.
2. Kemudian pada sisi kaki dibuat sudut segitiga (1,900)
Pemeliharaan :
1. Selimut yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpiulkan menjadi
satu. Pada saat akan dicuci, sebelumnya dipisahkan menurut jenis dan
warnanya, serta dipisahkan lagi untuk sprei yang digunakan oleh
pasien yang mempunyai penyakit menular. Dan direndam
menggunakan disinfektan. Lalu dicuci menggunakan mesincuci.
Kemudian dijemur di tempat terbuka dan dibawah terik matahari yang
telah disediakan.
2. Setelah selimut kering, lalu disetrika dan disusun menurut
pemakaiannya.
4. SARUNG BANTAL
1. Ukuran disesuiakan dengan bantalnya.
2. Terbuat dari bahan yang sama dengan sprei.
Penggunaan :
1. Bantal dipasangkan sarungnya, sudut-sudut bantal dimasukkan
benar-benar kedalam sudutsudut
2. bantalnya. Letakkan pada tempat tidur bagian kepala dan bagian
sarung bantal yang terbuka jangan
3. menghadap kearah pintu masuk.
Pemeliharaan :
1. Bantal yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpiulkan menjadi
satu. Pada saat akan dicuci, sebelumnya dipisahkan menurut jenis
dan warnanya, serta dipisahkan lagi untuk sarung bantal yang
digunakan oleh pasien yang mempunyai penyakit menular. Dan
direndam menggunakan disinfektan. Lalu dicuci menggunakan
mesincuci. Kemudian dijemur di tempat terbuka dan dibawah terik
matahari yang telah disediakan.
2. Setelah sarung bantal kering, lalu disetrika dan disususn menurut
pemakaiannya.
5. TAPLAK MEJA
1. Ukuran disesuaikan dengan meja
2. Terbuat dari bahan katun
Penggunaan :
1. Taplak meja dipasangkan dimeja pasien. Sisi kiri dan sisi kanan
harus sama dan sejajar
Pemeliharaan :
1. Taplak meja yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan
menjadi satu. Pada saat akan dicuci, sebelumnya dipisahkan
menurut jenis dan warnanya, serta dipisahkan lagi untuk taplak
meja yang digunakan oleh pasien yang mempunyai penyakit
menular. Dan direndam menggunakan disenfektan. Lalu dicuci
menggunakan mesin cuci. Kemudian dijemur di tempat terbuka
dan di bawah terik matahari yang telah disediakan.
2. Setelah taplak meja kering, lalu disetrika dan disusun menurut
pemakaiannya.
6. WASLAP
Ukuran standar
Terbuat dari bahan handuk
Penggunaan :
1. Waslap digunakan sesuai dengan kebutuhan apakah untuk
mengelap pasien atau untuk mengompres pasien
2. Waslap digunakan dengan membasahi secukupnya jangan terlalu
basah dan jangan terlalu kering.
Pemeliharaan :
1. Waslap yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan menjadi
satu. Pada saat akan dicuci, sebelumnya dipisahkan menurut jenis
dan warnanya, serta dipisahkan lagi untuk waslap yang digunakan
oleh pasien yang mempunyai penyakit menular. Dan direndam
menggunakan disenfektan. Lalu dicuci menggunakan mesin cuci.
Kemudian dijemur di tempat terbuka dan dibawah terik matahari
yang telah disediakan.
2. Setelah waslap kering, lalu disetrika dan disusun menurut
pemakaiannya..
7. MASKER
Ukuran standar
Terbuat dari bahan katun
Penggunaan :
1. Masker digunakan sesuai dengan kebutuhan pada saat kita
berhadapan atau melakukan tindakan kepada pasien
2. Masker digunakan dengan menaruh masker pada mulut dan
hidung lalu mengkaitkan tali masker pada kedua telinga
Pemeliharaan :
Masker yang sudah dipakai langsung dibuang ke pembuangan yang
sudah ditentukan.
8. DUK DAN DUK BOLONG
Ukuran disesuaikan dengan jenis luka
Terbuat dari bahan katun yang kuat dan tahan lama
Penggunaan :
1. Duk dipasangkan pada daerah luka yang akan dilakukan tindakan
2. Letakkan pada bagian luka dan bagian yang terbuka, untuk
menjaga kesterilan luka.
Pemeliharaan :
1. Duk yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan menjadi
satu.
2. Pada saat akan dicuci, sebelumnya dipisahkan menurut jenis dan
warnanya, serta dipisahkan lagi untuk duk yang digunakan oleh
pasien yang mempunyai penyakit menular. Dan direndam
menggunakan disenfektan.
3. Lalu dicuci menggunakan mesin cuci. Kemudian dijemur di tempat
terbuka dan di bawah terik matahari yang telah disediakan.
4. Setelah duk kering, lalu disetrika dan disusun menurut
pemakaiannya.
9. PAKAIAN OPERASI
1. Ukuran standar :
2. Terbuat dari bahan katun, yang kuat dan tahan lama.
Penggunaan :
1. Pakaian operasi digunakan sesuai dengan kebutuhan, pada saat
akan melakukan tindakan operasi ke pasien.
2. Pakaian digunakan seperti menggunakan pakaian biasa lainnya,
namun pemakaiannya tidak diperbolehkan keluar dari ruang steril.
Pemeliharaan :
1. Pakaian yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan
menjadi satu. Pada saat akan dicuci, sebelumnya dipisahkan
menurut jenis dan warnanya, serta dipisahkan lagi untuk pakaian
yang digunakan oleh pasien yang mempunyai penyakit menular.
2. Dan direndam menggunakan disenfektan. Lalu dicuci
menggunakan mesin cuci. Kemudian dijemur di tempat terbuka
dan di bawah terik matahari yang telah disediakan.
3. Setelah pakaian kering, lalu disetrika dan disterilkan
menggunakan autoklaf..
UNIT TERKAIT Petugas Sarana
Petugas Keperawatan
SOP ALAT KESEHATAN DI RUANG
KEBIDANAN
PROSEDUR TETAP No. Dok: No. Rev: [Link] :
1
Ditetapkan Di tetapkan Oleh :
tanggal : Kepala RSIA Maria Assyifa
Indramayu
[Link]
PENGERTIAN Suatu alat kesehatan yang digunakan untuk penunjang
tindakan medis ke pasien guna mendukung
pelayanan keperawatan dan kebidanan yang efektif dan
efisien.
TUJUAN Mencegah terjadinya infeksi silang.
Memelihara peralatan dalam keadaan siap pakai
KEBIJAKAN Tersedianya alat kesehatan yang memadai dan mendukung
pelayanan keperawatan dan kebidanan yang efektif dan
efisien.
PROSEDUR
1. PARTUS SET
Terdiri dari :
1. Pinset serugis 1
2. Pinset anatomis 1
3. Gunting lurus 1
4. Nall pooder
5. Gunting episiotomy
6. Klem koher 2
7. Kateter metal 1
8. Kom betadin 1
Penggunaan :
Digunakan sesuai dengan kebutuhan dengan jenis
tindakan yang akan dilakukan
Pemeliharaan :
1. Alat yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan
menjadi satu. Dan direndam
2. menggunakan larutan bayklin salama 15 menit. Lalu
dicuci menggunakan sikat sampai bersih di air
mengalir. Kemudian dilap. Lalu dimasukkan ke dalam
autoklaf untuk disterilkan selama 30 menit.
3. Untuk alat-alat yang sudah menghitam atau berkarat
dibersiohkan dengan larutan
4. Setelah alat-alat disterilkan disusun kedalam tempat
yang sudah disiapkan.
2. HEATING SET
Terdiri dari :
1. Pinset serugis 1
2. Pinset anattomis 1
3. Gunting up heating 1
Penggunaan :
Digunakan sesuai dengan kebutuhan dengan jenis
tindakan yang akan dilakukan
Pemeliharaan :
1. Alat yang sudah dipakai atau sudah kotor
dikumpulkan menjadi satu. Dan direndam
menggunakan larutan bayklin salama 15 menit. Lalu
dicuci menggunakan sikat sampai bersih di air
mengalir. Kemudian dilap. Lalu dimasukkan ke dalam
autoklaf untuk disterilkan selama 30 menit.
2. Untuk alat-alat yang sudah menghitam atau berkarat
dibersiohkan dengan larutan
3. Setelah alat-alat disterilkan disusun kedalam tempat
yang sudah disiapkan.
4. PERDARAHAN POST PARTUM SET
Terdiri dari :
1. Pinset serugis 1
2. Pinset anattomis 1
3. Gunting up heating 1
4. Speculum sim 1
5. Pinset sim
6. Tampon tang
7. Sendok kuret plasenta No. 1
8. Heating set
Penggunaan :
Digunakan sesuai dengan kebutuhan dengan jenis
tindakan yang akan dilakukan
Pemeliharaan :
1. Alat yang sudah dipakai atau sudah kotor
dikumpulkan menjadi satu. Dan direndam
menggunakan larutan bayklin salama 15 menit. Lalu
dicuci menggunakan siskat sampai bersih di air
mengalir. Kemudian dilap. Lalu dimasukkan ke dalam
autoklaf untuk disterilkan selama 30 menit.
2. Untuk alat-alat yang sudah menghitam atau berkarat
dibersiohkan dengan larutan
3. Setelah alat-alat disterilkan disusun kedalam tempat
yang sudah disiapkan.
5. ALAT VACUM
Terdiri dari :
1 set alat vacum (mangkuk, selang, Pompa)
1 set partus set
Penggunaan :
Digunakan sesuai dengan kebutuhan dengan jenis
tindakan yang akan dilakukan
Pemeliharaan :
1. Alat yang sudah dipakai atau sudah kotor
dikumpulkan menjadi satu. Dan direndam
menggunakan larutan bayklin salama 15 menit. Lalu
dicuci menggunakan sikat sampai bersih di air
mengalir. Kemudian dilap. Lalu dimasukkan ke dalam
autoklaf untuk disterilkan selama 30 menit.
2. Untuk alat-alat yang sudah menghitam atau
berkarat dibersiohkan dengan larutan
3. Setelah alat-alat disterilkan disusun kedalam tempat
yang sudah disiapkan.
6. ALAT KURET
Terdiri dari :
Speculum sim
Pinset klem
Sendok kuret no.1,2,3,4,5,6
Kogel tang
Busi No.4,5,9,12,13,18
Sonde uterus
Abortus tang
Penggunaan :
Digunakan sesuai dengan kebutuhan dengan jenis
tindakan yang akan dilakukan
Pemeliharaan :
1. Alat yang sudah dipakai atau sudah kotor
dikumpulkan menjadi satu. Dan direndam
menggunakan larutan bayklin salama 15 menit. Lalu
dicuci menggunakan sikat sampai bersih di air
mengalir. Kemudian dilap. Lalu dimasukkan ke dalam
autoklaf untuk disterilkan selama 30 menit.
2. Untuk alat-alat yang sudah menghitam atau berkarat
dibersiohkan dengan larutan
3. Setelah alat-alat disterilkan disusun kedalam tempat
yang sudah disiapkan.
ALAT PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
Terdiri dari :
a. Pinset serugis 1
b. Pinset anatomis 1
c. Gunting up heating 1
Penggunaan :
Digunakan sesuai dengan kebutuhan dengan jenis tindakan
yang akan dilakukan
Pemeliharaan :
1. Alat yang sudah dipakai atau sudah kotor dikumpulkan
menjadi satu. Dan direndam menggunakan larutan
bayklin salama 15 menit. Lalu dicuci menggunakan sikat
sampai bersih di air mengalir. Kemudian dilap. Lalu
dimasukkan ke dalam autoklaf untuk disterilkan selama
30menit.
2. Untuk alat-alat yang sudah menghitam atau berkarat
dibersiohkan dengan larutan
3. Setelah alat-alat disterilkan disusun kedalam tempat
yang sudah disiapkan.
BENGKOK
Penggunaan :
Digunakan sesuai dengan kebutuhan dengan jenis tindakan
yang akan dilakukan
Pemeliharaan :
1. Alat yang sudah dipakai atau sudah kotor
dikumpulkan menjadi satu. Dan direndam
menggunakan larutan bayklin salama 15 menit. Lalu
dicuci menggunakan sikat sampai bersih di air
mengalir. Kemudian dilap. Lalu dimasukkan ke dalam
autoklaf untuk disterilkan selama 30 menit.
2. Untuk alat-alat yang sudah menghitam atau berkarat
dibersiohkan dengan larutan
3. Setelah alat-alat disterilkan disusun kedalam tempat
yang sudah disiapkan.
UNIT TERKAIT