Pajak Bumi dan Bangunan: Panduan PBB
Pajak Bumi dan Bangunan: Panduan PBB
I. Pendahuluan .................................................................................................................. 1
1. Subjek Pajak Bumi dan Bangunan .......................................................................... 1
2. Objek Pajak Bumi dan Bangunan ........................................................................... 2
3. Klasifikasi Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perkebunan, Perhutanan dan
Pertambangan ............................................................................................................... 3
1) Sektor Perkebunan.............................................................................................. 4
2) Sektor Perhutanan .............................................................................................. 6
3) Sektor Pertambangan........................................................................................ 8
4) Latihan Soal dan Pembahasan.......................................................................... 14
a. Latihan Soal Subjek PBB ...................................................................................... 14
b. Latihan Soal Objek PBB ....................................................................................... 14
II. Dasar Pengenaan dan Penghitungan Pajak Bumi dan Bangunan ................................ 14
1. Dasar Hukum ........................................................................................................ 14
2. Nilai Jual Objek Pajak ........................................................................................... 15
3. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak .............................................................. 32
4. Nilai Jual Kena Pajak ............................................................................................ 33
5. Tarif Pajak Bumi Bangunan .................................................................................. 33
6. Latihan Soal Penghitungan PBB-P3 ..................................................................... 33
1) Perhitungan PBB Perkebunan ........................................................................... 33
2) Perhitungan PBB Perhutanan............................................................................ 35
3) Perhitungan PBB Pertambangan....................................................................... 37
III. Surat Pemberitahuan Objek Pajak, Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang, Surat
Ketetapan Pajak, dan Surat Tagihan Pajak (Pasal 9) ................................................... 39
1. Dasar Hukum ........................................................................................................ 39
2. Surat Pemberitahuan Objek Pajak ........................................................................ 39
3. Surat Pemberitahuan Pajak Terutang ................................................................... 44
4. Surat Ketetapan Pajak .......................................................................................... 45
5. Surat Tagihan Pajak ............................................................................................. 47
IV. Keberatan dan Banding................................................................................................ 48
1. Keberatan ............................................................................................................. 48
2. Banding ................................................................................................................ 52
i
I. Pendahuluan
Pajak Bumi dan Bangunan (“PBB”) adalah pungutan atas tanah dan bangunan
yang muncul karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi bagi
seseorang atau badan yang memiliki suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat
darinya.
PBB merupakan pajak yang dipungut dengan cara Official Assessment System dan
termasuk jenis pajak objektif. Artinya pajak yang pengenaan nya dengan
memperhatikan objek terlebih dahulu, yaitu berupa benda, keadaan, perbuatan,
peristiwa yang membuat hutang pajak, kemudian ditetapkan subjeknya, tanpa
mempersoalkan apakah subjek bertempat tinggal di Indonesia atau tidak. Semua
bumi dan semua bangunan pada dasarnya adalah objek PBB kecuali diatur lain
oleh peraturan perundang-undangan.
Subjek pajak yang dikenai pajak PBB adalah orang atau badan yang secara
nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan/atau memperoleh manfaat atas bumi,
dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan
(Pasal 4 Ayat (1) UU Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (“UU 12/1994”)).
Pengertian badan menurut UU KUP adalah sekumpulan orang dan atau modal
yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan
usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam
bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi masyarakat, organisasi sosial politik, atau
organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya
termasuk reksadana.
Dalam PBB, yang harus menjadi subjek pajak tidak harus memiliki objek PBB,
dan yang dapat dikenakan PBB tidak hanya sebatas Bumi nya saja namun bisa
atas Bangunan nya saja.
Apabila terdapat objek PBB yang tidak jelas diketahui siapa subjeknya, maka
Direktur Jenderal Pajak (“DJP”) dapat menentukan siapa subjek atas PBB
tersebut.
Terhadap penentuan ini, subjek yang ditentukan oleh DJP dapat memberikan
surat keterangan yang menerangkan bahwa ia bukanlah wajib pajak atas PBB
tersebut. Dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak diterimanya surat keterangan
tersebut, DJP menerbitkan keputusan sebagai berikut:
1
Tidak menyetujui, sehingga diterbitkan surat keputusan penolakan yang
disertai dengan alasan-alasannya; atau
Apabila telah telat jangka waktu 1 (satu) bulan tidak ada keputusan dari DJP,
maka surat keterangan dianggap disetujui.
PBB merupakan Pajak Objektif, yang berarti semua bumi dan semua bangunan
adalah Objek PBB.
Khusus untuk objek Perdesaan dan Perkotaan peraturan pajaknya diatur dalam
Undang-Undang No. 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (“UU
28/2009”) yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2010. Berdasarkan UU
28/2009, PBB Pedesaan dan Perkotaan (“PBB - P2”) merupakan pajak yang
dikelola oleh pemerintah daerah. Sedangkan sektor Perkebunan, Perhutanan
dan Pertambangan (“PBB - P3”) pemungutan nya masih dilakukan oleh
Pemerintah Pusat dan ketentuan nya diatur dalam Undang-undang No. 12/1985
diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 12/1994 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan (“UU 12/1994”).
Objek Pajak Bumi dan Bangunan adalah bumi dan/atau bangunan (Pasal 2
Undang-Undang No. 12/1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (“UU
12/1994”)). Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawah
nya. Sedangkan Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau
dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. Yang termasuk ke dalam
pengertian Bangunan diantaranya adalah: jalan tol, jalan lingkungan dalam suatu
komplek bangunan, kolam renang, pagar mewah, tempat olahraga, taman
mewah, galangan kapal, kilang minyak, menara, dan lain sebagainya. Namun
tidak semua objek bumi dan bangunan merupakan objek PBB.
Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang No. 12/1994 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan (“UU 12/1994”) Objek Bumi dan/atau Bangunan yang tidak termasuk
dalam objek PBB diantaranya adalah:
2
Hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah
penggembalaan yang dikuasai oleh desa dan tanah negara yang belum dibebani
suatu hak;
Bangunan yang digunakan oleh perwakilan diplomatik;
Bangunan yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional
yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
Objek pajak PBB yang digunakan oleh Negara dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan, pengenaan pajaknya diatur dalam suatu Peraturan Pemerintah.
Jadi pada dasarnya Bumi dan/atau Bangunan tersebut tetap merupakan objek
PBB, namun pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut dalam Peraturan
Pemerintah.
Adapun dasar hukum yang relevan dari PBB – P3 adalah sebagai berikut :
Pajak dan Tata Cara Penetapan Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan
Bangunan (“PMK 186/2019”);
3
Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, Dan Panas Bumi diubah
terakhir Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. 23/2021 Tentang Surat
Pemberitahuan Objek Pajak Pajak Bumi Bangunan (“PDJP 23/2021”);
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. 53/2016 tentang Tata Cara
Penatausahaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan Untuk
Pertambangan Mineral dan Batubara (“SEDJP 53/2016”).
1) Sektor Perkebunan
4
b. Objek PBB Sektor Perkebunan
PBB Perkebunan adalah pajak atas bumi dan bangunan yang berada di
dalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan.
Wilayah di luar hak guna usaha atau yang sedang dalam proses
mendapatkan hak guna usaha yang merupakan satu kesatuan yang digunakan
untuk kegiatan usaha perkebunan, merupakan wilayah yang secara fisik tidak
terpisahkan dengan areal yang dikenakan PBB Perkebunan.
Wilayah yang sedang dalam proses mendapatkan hak guna usaha meliputi:
Wilayah yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang hak guna
usahanya sedang dalam proses perpanjangan; dan
Wilayah yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan dan telah memiliki
izin usaha perkebunan yang hak guna usahanya wajib diselesaikan.
5
2) Sektor Perhutanan
PBB Perhutanan adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang berada
di dalam kawasan digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan.
6
Bangunan sebagaimana dimaksud merupakan konstruksi teknik yang ditanam
atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan.
areal yang memiliki 1 (satu) titik koordinat atau lebih, yang sama dengan titik
koordinat areal, dengan atau tanpa pembatas; atau
areal yang terhubung dengan areal lain melalui sungai, parit, jalan, atau
jembatan.
7
3) Sektor Pertambangan
b. Objek Pajak Bumi dan Bangunan dari Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi
PBB Migas adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang berada di
dalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan
Minyak Bumi dan Gas Bumi.
Tubuh bumi meliputi Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi sebagaimana
tercantum dalam Kontrak Kerja Sama.
8
Areal yang dikenakan Areal Offshore; dan Tubuh Bumi
PBB Migas, berupa: Areal Lainnya (yang
Eksplorasi; atau
Areal Produktif; tidak dikenakan PBB Tubuh Bumi
Areal Belum Minyak dan Gas Eksploitasi.
Produktif; Bumi).
Areal Tidak
Produktif; dan
Areal
Emplasemen;
Areal Lainnya (yang
tidak dikenakan PBB
Minyak dan Gas
Bumi).
Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi sebagaimana tercantum dalam Kontrak
Kerja Sama; dan
Areal di luar Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi sebagaimana dimaksud
dalam huruf a yang merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk
kegiatan usaha pertambangan minyak dan/atau gas bumi dan secara fisik
tidak terpisahkan.
areal yang memiliki 1 (satu) titik koordinat atau lebih, yang sama dengan titik
koordinat Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a, dengan atau tanpa pembatas; atau
9
areal yang terhubung dengan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a melalui sungai, jaringan pipa,
jalan, atau jembatan
PBB Panas Bumi adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang berada
di dalam kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan
Panas Bumi.
10
Wilayah Kerja Panas Bumi sebagaimana tercantum dalam Izin Panas Bumi,
Kuasa Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi, Kontrak Operasi Bersama
Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi, Izin Pengusahaan Sumber Daya
Panas Bumi, atau penugasan pengusahaan panas bumi; dan
areal di luar Wilayah Kerja Panas Bumi sebagaimana dimaksud dalam huruf
a yang merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk pengusahaan
panas bumi dan secara fisik tidak terpisahkan.
areal yang memiliki 1 (satu) titik koordinat atau lebih, yang sama dengan
titik koordinat Wilayah Kerja Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf a, dengan atau tanpa pembatas; atau
areal yang terhubung dengan Wilayah Kerja Panas Bumi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a melalui sungai, jaringan pipa, jalan, atau
jembatan.
PBB Mineral dan Batubara adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan
yang berada di kawasan yang digunakan untuk kegiatan pertambangan
mineral dan batubara.
tubuh bumi
11
Tubuh bumi meliputi wilayah sebagaimana tercantum dalam dokumen Izin
Usaha Pertambangan, Izin Usaha Pertambangan Khusus, Izin Pertambangan
Rakyat, Kontrak Karya, atau Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan
Batubara.
12
oleh Subjek Pajak atau Wajib Pajak dan digunakan untuk kegiatan usaha
pertambangan mineral atau batubara termasuk fasilitas dan penunjangnya.
Areal yang memiliki 1 (satu) titik koordinat atau lebih, yang sama dengan titik
koordinat areal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, dengan atau
tanpa pembatas; atau
Areal yang terhubung dengan areal sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf a melalui sungai, jaringan pipa, konveyor, jalan, atau jembatan.
PBB Sektor Lainnya adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan selain
objek pajak sektor perkebunan, sektor perhutanan, sektor pertambangan
minyak dan gas bumi, sektor pertambangan panas bumi, dan sektor
pertambangan mineral dan batubara, yang (i) berada di wilayah perairan
NKRI yang meliputi laut pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial,
Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, atau perairan di dalam Batas Landas
Kontinen Indonesia; dan (ii) selain objek PBB P2 (Pedesaan dan
Perkotaan).
Perikanan tangkap (yang telah diberikan Surat Izin Usaha Perikanan oleh
kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kelautan dan perikanan);
Pembudidayaan ikan (yang telah diberikan Surat Izin Usaha Perikanan oleh
kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kelautan dan perikanan);
Jaringan pipa;
Jaringan kabel;
Ruas jalan tol; atau
Fasilitas penyimpanan dan pengolahan meliputi Floating Storage dan
Offloading (“FSO”), Floating Production System (“FPS”), Floating
Processing Unit (“FPU”), Floating Storage Unit (“FSU”), Floating Production
and Offloading (“FPSO”), Floating Storage Regasification Unit (“FSRU”).
13
Jaringan pipa;
Jaringan kabel;
Ruas jalan tol; atau
Fasilitas penyimpanan dan pengolahan, FSO, FPS, FPU, FSU, FPSO,
FSRU.
1. Subjek pajak atau wajib pajak berkewajiban untuk 30 (tiga puluh) hari
menyampaikan SPOP LSPOP dalam Sektor (Dasar hukumnya Pasal
perkebunan ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama 6 PDJP 31/2014)
paling lama … setelah tanggal diterimanya SPOP
dan LSPOP oleh subjek pajak atau wajib pajak.
1. Dasar Hukum
14
Peraturan Menteri Keuangan No. 186/PMK.03/2019 tentang Klasifikasi dan
Penetapan Nilai Jual Objek Pajak sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan
Bangunan (“PMK 186/2019”);
Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Jual Objek Pajak. Besarnya PBB
terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Nilai Jual Kena
Pajak.
Dasar pengenaan PBB adalah Nilai Jual Objek Pajak (“NJOP”), yaitu harga rata-
rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan apabila
tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga
dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau nilai jual objek
pengganti.
NJOP PBB merupakan hasil penjumlahan antara NJOP bumi dan NJOP
bangunan. NJOP ditetapkan oleh Penilai Pajak meliputi NJOP bumi dan NJOP
bangunan untuk menilai objek PBB.
Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach) atau bisa juga disebut
dengan Metode Perbandingan Harga yaitu menentukan nilai suatu objek
(properti) dengan cara membandingkan objek yang dinilai dengan objek lain
yang sejenis yang telah diketahui nilai jualnya. Pasal 1 angka 6 Peraturan
Menteri Keuangan No. 186/PMK.03/2019 tentang Klasifikasi dan Penetapan
Nilai Jual Objek Pajak sebagai Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
(“PMK 186/2019”);
15
Penentuan NJOP tersebut hanya bertujuan untuk menentukan perhitungan PBB
terutang, sehingga tidak dapat dijadikan acuan untuk menentukan harga jual
suatu objek PBB tersebut. Hal ini dapat dilihat mengingat NJOP pada SPPT
(Surat Pemberitahuan Pajak Terutang) ditetapkan setiap tanggal 1 Januari tahun
pajak bersangkutan.
Areal Produktif Perkebunan merupakan NJOP Areal Produktif berupa (i) Tanah
areal yang telah ditanami tanaman ditentukan berdasarkan Perbandingan
perkebunan, meliputi tanah dan Harga dengan Objek Lain yang
pengembangan tanah berupa tanaman; Sejenis, dan (ii) Pengembangan Tanah
ditentukan berdasarkan penghitungan
Biaya Investasi Tanaman.
NJOP bumi untuk PBB Sektor Perkebunan merupakan penjumlahan NJOP bumi
untuk Areal Produktif Perkebunan, Areal Belum Produktif Perkebunan, Areal Tidak
Produktif Perkebunan, Areal Pengaman Perkebunan, dan Areal Emplasemen
Perkebunan.
16
NJOP bangunan untuk PBB Sektor Perkebunan ditentukan berdasarkan Nilai
Perolehan Baru.
Pendapatan kotor hasil hutan merupakan hasil perkalian jumlah produksi hasil
hutan dengan harga jual hasil hutan.
Jumlah Produksi x Harga Jual = Bruto
Jumlah produksi hasil hutan merupakan jumlah produksi hasil hutan kayu dan/atau
jumlah produksi hasil hutan bukan kayu, yang dihitung dalam tahun terakhir
sebelum Tahun Pajak PBB terutang.
Produksi Kayu Setahun + Produksi Bukan Kayu Setahun = Jumlah Produksi
17
Harga jual hasil hutan merupakan harga jual rata-rata hasil hutan kayu dan/atau
harga jual rata-rata hasil hutan bukan kayu, yang dihitung dalam tahun terakhir
sebelum Tahun Pajak PBB terutang.
Harga jual rata-rata hasil hutan kayu merupakan harga jual rata-rata hasil hutan
Harga Jual Rata-rata Kayu Setahun + Harga Jual Rata-rata Bukan Kayu Setahun = Harga Jual
kayu yang terjadi pada tempat penimbunan kayu (log pond atau log yard).
Biaya Produksi Perhutanan dihitung dengan mengalikan Rasio Biaya Produksi
dengan pendapatan kotor hasil hutan.
Rasio Biaya Produksi x Bruto = Biaya Produksi
Areal Belum Produktif Perhutanan NJOP bumi untuk Areal Belum Produktif
merupakan: Perhutanan ditentukan berdasarkan
Areal yang dapat ditebang selain Perbandingan Harga dengan Objek Lain
blok tebangan pada Hutan Alam yang Sejenis.
dengan IUPHHK-HA dan/atau
areal yang dapat dipanen selain
blok pemanenan pada Hutan
Alam dengan IUPHHBK-HA;
atau
Areal yang belum ditanami baik
areal yang belum diolah dan/atau
areal yang sudah diolah pada
Hutan Tanaman dengan
IUPHHK-HTI dan/atau
IUPHHBK-HT, atau penugasan
dari pemerintah kepada
Perusahaan Umum Kehutanan
Negara (Perum Perhutani)
berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Areal Tidak Produktif Perhutanan NJOP bumi untuk Areal Tidak Produktif
merupakan: Perhutanan ditetapkan dengan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
Areal pada Hutan Alam dengan
IUPHHK-RE yang belum tercapai
keseimbangan ekosistem dan
belum ada pemanfaatan hasil
hutan bukan kayu; dan/atau
Areal yang tidak dapat
diusahakan untuk kegiatan
usaha perhutanan, yang meliputi
18
areal tidak layak kelola, areal
pengelolaan sosial dan tanaman
kehidupan, areal yang
dimanfaatkan oleh selain Subjek
Pajak atau Wajib Pajak secara
tidak sah, serta areal yang
dimanfaatkan tidak sepenuhnya
oleh selain Subjek Pajak atau
Wajib Pajak secara sah.
Areal Perlindungan dan Konservasi NJOP bumi untuk Areal Perlindungan dan
Perhutanan, merupakan: Konservasi Perhutanan ditetapkan
Areal yang memiliki fungsi dan dengan Keputusan Direktur Jenderal
peruntukan sebagai Pajak.
perlindungan dan konservasi,
meliputi sungai, kawasan yang
memberikan perlindungan
kawasan bawahannya, kawasan
perlindungan setempat, kawasan
suaka alam dan cagar budaya,
zona penyangga (buffer zone),
dan
Areal hutan yang ditetapkan
sebagai hutan bernilai konservasi
tinggi (High Conservation Value
Forest).
NJOP bumi untuk PBB Sektor Perhutanan merupakan penjumlahan NJOP bumi
untuk Areal Produktif Perhutanan, Areal Belum Produktif Perhutanan, Areal Tidak
Produktif Perhutanan, Areal Pengaman Perhutanan, Areal Emplasemen Perhutanan,
dan Areal Perlindungan dan Konservasi Perhutanan.
19
Tata Cara Penetapan NJOP PBB
Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
20
bangunan serta fasilitas
penunjangnya.
NJOP bumi untuk Permukaan Bumi Onshore merupakan penjumlahan NJOP bumi
untuk Areal Belum Produktif Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, Areal Produktif
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, Areal Tidak Produktif Pertambangan Minyak
dan Gas Bumi, Areal Pengaman Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, dan Areal
Emplasemen Pertambangan Minyak dan Gas Bumi.
Tubuh Bumi
21
Pendapatan minyak dan/atau gas bumi merupakan penjualan kotor (gross sales)
minyak dan/atau gas bumi sebagaimana tertuang dalam Financial Quarterly Report
Penjualan Bruto FQR = Pendapatan Migas
(“FQR”) triwulan IV Wajib Pajak pada tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB
terutang.
Jika penjualan kotor menggunakan satuan mata uang selain mata uang Rupiah,
penjualan kotor harus dikonversi dalam satuan mata uang Rupiah berdasarkan kurs
mata uang pada tanggal 1 Januari Tahun Pajak PBB terutang sebagaimana
ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan mengenai penetapan nilai kurs
pajak.
NJOP bangunan untuk objek pajak PBB Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
ditentukan berdasarkan Nilai Perolehan Baru.
Areal Belum Produktif Pertambangan NJOP bumi untuk Areal Belum Produktif
untuk Pengusahaan Panas Bumi Pertambangan untuk Pengusahaan Panas
merupakan areal yang belum Bumi ditentukan berdasarkan
diusahakan untuk pengambilan hasil Perbandingan Harga dengan Objek Lain
produksi panas bumi. yang Sejenis.
Areal Tidak Produktif Pertambangan NJOP bumi untuk Areal Tidak Produktif
untuk Pengusahaan Panas Bumi Pertambangan untuk Pengusahaan Panas
merupakan areal yang tidak dapat atau Bumi ditentukan berdasarkan
telah selesai diusahakan untuk penyesuaian terhadap NJOP bumi per
pengambilan hasil produksi panas bumi. meter persegi untuk Areal Belum
Produktif Pertambangan untuk
Pengusahaan Panas Bumi.
22
Areal Pengaman Pertambangan untuk NJOP bumi untuk Areal Pengaman
Pengusahaan Panas Bumi merupakan Pertambangan untuk Pengusahaan Panas
areal yang dimanfaatkan sebagai Bumi ditentukan berdasarkan
pendukung dan pengaman kegiatan penyesuaian terhadap NJOP bumi per
pengusahaan panas bumi. meter persegi untuk Areal Belum
Produktif Pertambangan untuk
Pengusahaan Panas Bumi.
NJOP bumi untuk Permukaan Bumi Onshore merupakan penjumlahan NJOP bumi
untuk Areal Belum Produktif Pertambangan untuk Pengusahaan Panas Bumi, Areal
Produktif Pertambangan untuk Pengusahaan Panas Bumi, Areal Tidak Produktif
Pertambangan untuk Pengusahaan Panas Bumi, Areal Pengaman Pertambangan
untuk Pengusahaan Panas Bumi, dan Areal Emplasemen Pertambangan untuk
Pengusahaan Panas Bumi.
Tubuh Bumi
23
ditentukan berdasarkan nilai bumi per
meter persegi yang ditetapkan sebesar
Rp. 140 (seratus empat puluh rupiah)
NJOP Bumi untuk Tubuh Bumi
Eksploitasi ditentukan berdasarkan
Nilai Jual Pengganti yang merupakan
hasil perkalian pendapatan uap
(“KDJP 46/2021”)
dan/atau
Hasil produksi listrik dengan harga listrik
24
Hasil produksi uap merupakan hasil produksi uap yang terjual dalam tahun terakhir
sebelum Tahun Pajak PBB terutang.
Hasil produksi listrik merupakan hasil produksi listrik yang terjual dalam tahun
Harga uap dan harga listrik eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak Nomor KEP-93/PJ/2019 (“KDJP 93/2019”) sebesar :
Rata-rata harga uap sebesar Rp. 824 per kwh (delapan ratus dua puluh empat
rupiah per kilo watt hours); dan
Rata-rata harga listrik sebesar Rp. 1,137 per kwh (seribu seratus tiga puluh
tujuh rupiah per kilo watt hours)
NJOP bangunan untuk objek pajak PBB Sektor Pertambangan untuk Pengusahaan
Panas Bumi ditentukan berdasarkan Nilai Perolehan Baru.
25
diusahakan penambangan mineral terhadap NJOP bumi per meter persegi
atau batubara, atau yang telah selesai untuk Areal Belum Dimanfaatkan
diusahakan penambangan mineral Pertambangan Mineral atau Batubara.
atau batubara.
NJOP bumi untuk Permukaan Bumi Onshore merupakan penjumlahan NJOP bumi
untuk Areal Belum Dimanfaatkan Pertambangan Mineral atau Batubara, Areal
Cadangan Produksi Pertambangan Mineral atau Batubara, Areal Tidak Produktif
Pertambangan Mineral atau Batubara, Areal Pengaman Pertambangan Mineral atau
Batubara, dan Areal Emplasemen Pertambangan Mineral atau Batubara.
Bumi pada Permukaan Bumi Offshore NJOP bumi untuk Areal Offshore
berupa Areal Offshore Pertambangan Mineral atau Batubara
Pertambangan Mineral atau Batubara ditetapkan dengan Keputusan Direktur
merupakan areal berupa perairan Jenderal Pajak. Berdasarkan KEP-
yang digunakan untuk kegiatan usaha 93/PJ/2019 ditetapkan sebesar Rp11.458
pertambangan mineral atau batubara. (sebelas ribu empat ratus lima puluh
delapan rupiah) per meter persegi
Tubuh Bumi
26
NJOP bumi untuk Tubuh Bumi Operasi
Produksi ditentukan berdasarkan Nilai
Jual Pengganti yang merupakan hasil
perkalian pendapatan bersih mineral atau
Neto x Angka Kapitalisasi = Nilai Jual Pengganti
Pendapatan kotor mineral atau batubara merupakan hasil perkalian hasil produksi
mineral atau batubara dengan harga jual mineral atau batubara.
Jumlah Produksi x Harga Jual = Bruto
Hasil produksi mineral atau batubara merupakan jumlah mineral atau batubara
yang dihasilkan dalam tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang.
27
Jika harga jual rata-rata mineral logam lebih rendah dari Harga Patokan Mineral
(“HPM”) Logam rata-rata dalam tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB
terutang, maka harga jual mineral logam menggunakan HPM Logam rata-rata.
Jika Harga Jual Logam Rata-rata < HPM Logam, maka Harga Jual = HPM Logam Rata-rata
Jika tidak terdapat harga jual rata-rata mineral logam, maka harga jual mineral
logam menggunakan HPM Logam rata-rata dalam tahun terakhir sebelum Tahun
Pajak PBB terutang.
Jika harga jual rata-rata mineral bukan logam lebih rendah dari pada HPM Bukan
Logam rata-rata dalam tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang, maka
harga jual mineral bukan logam menggunakan HPM Bukan Logam rata-rata.
Jika Harga Jual Bukan Logam Rata-rata < HPM Bukan Logam, maka Harga Jual =
HPM Bukan Logam Rata-rata
Jika tidak terdapat harga jual rata-rata mineral bukan logam, maka harga jual
mineral bukan logam menggunakan HPM Bukan Logam rata-rata dalam tahun
terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang.
Jika harga jual rata-rata batuan lebih rendah dari pada Harga Patokan Batuan
rata-rata dalam tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang, maka harga
jual batuan menggunakan Harga Patokan Batuan rata-rata.
Jika Harga Jual Batubara Rata-rata < Harga Patokan Batuan, maka Harga Jual =
HP Batuan Rata-rata
Jika tidak terdapat harga jual rata-rata batuan, maka harga jual batuan
menggunakan Harga Patokan Batuan rata-rata dalam tahun terakhir sebelum
Tahun Pajak PBB terutang.
Jika harga jual rata-rata batubara lebih rendah dari pada Harga Patokan Batubara
(“HPB”) rata-rata dalam tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang, harga
jual batubara menggunakan HPB rata-rata.
Jika Harga Jual Batubara Rata-rata < HPM, maka Harga Jual = HPM Batubara Rata-rata
Jika tidak terdapat harga jual rata-rata batubara, maka harga jual batubara
menggunakan HPB rata-rata dalam tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB
terutang.
Jika tidak terdapat harga jual rata-rata mineral logam, mineral bukan logam,
batuan, atau batubara, dan tidak terdapat HPM Logam rata-rata, HPM Bukan
Logam rata-rata, Harga Patokan Batuan rata-rata, atau HPB rata-rata dalam tahun
terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang, maka harga jual mineral atau
batubara rata-rata dihitung oleh Penilai Pajak.
HPM Logam rata-rata, HPM Bukan Logam rata-rata, Harga Patokan Batuan rata-
rata, atau HPB rata-rata digunakan untuk komoditas galian tambang yang sejenis
dan setara.
28
HPM Logam rata-rata atau HPB rata-rata digunakan untuk penetapan harga jual
mineral logam atau batubara dengan titik serah penjualan (at sale point) secara
Free on Board di atas kapal pengangkut (vessel).
Jika titik serah penjualan dilakukan selain secara Free on Board di atas vessel,
maka penetapan harga jual mineral logam atau batubara dihitung berdasarkan
HPM Logam rata-rata dan HPB rata-rata dengan mempertimbangkan biaya
penyesuaian yang ditetapkan oleh kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral.
HPM Bukan Logam rata-rata atau Harga Patokan Batuan rata-rata digunakan
dalam penetapan harga jual mineral bukan logam atau batuan, dalam hal
penjualan dilaksanakan di lokasi tambang.
Jika penjualan mineral atau batubara dilakukan dengan selain cara yang
disebutkan di atas, maka harga jual rata-rata mineral atau batubara merupakan
harga jual rata-rata yang disepakati antara penjual dan pembeli dalam tahun
terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang.
Jika galian tambang merupakan batubara jenis tertentu, batubara untuk keperluan
tertentu, atau batubara untuk penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum,
penetapan harga jual batubara mengacu pada formula harga batubara yang
diatur oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang energi dan sumber daya mineral.
Jika harga jual mineral atau batubara menggunakan satuan mata uang selain
mata uang Rupiah, harga jual mineral atau batubara harus dikonversi dalam
satuan mata uang Rupiah berdasarkan kurs mata uang pada tanggal 1 Januari
Tahun Pajak PBB terutang sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Keuangan mengenai penetapan nilai kurs pajak.
Jenis mineral logam, mineral bukan logam atau batuan mengacu pada ketentuan
yang diatur oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang energi dan sumber daya mineral, atau kepala daerah.
Jika penghitungan PBB terutang menggunakan komponen penerimaan kotor hasil
operasi pertambangan sebagaimana diatur secara khusus berdasarkan Kontrak
Karya atau Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara, maka
penghitungan penerimaan kotor tersebut diperoleh dari perkalian hasil produksi
mineral atau batubara dengan harga jual mineral atau batubara.
Penilaian atas kewajaran biaya produksi mineral atau batubara dan hasil produksi
dan harga jual mineral atau batubara dilakukan oleh Penilai Pajak.
Biaya produksi mineral atau batubara merupakan biaya untuk memperoleh hasil
produksi mineral atau batubara dalam tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB
terutang.
Biaya produksi mineral atau batubara harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
29
Sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak
Penghasilan;
Sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha; dan
Merupakan biaya yang secara langsung berkaitan dengan kegiatan:
Pengupasan lapisan tanah;
Pengambilan hasil produksi mineral atau batubara;
Pengolahan dan/atau pemurnian hasil produksi mineral atau batubara;
dan/atau
Pengangkutan hasil produksi mineral atau batubara, pada tahap operasi
produksi.
Luas bumi untuk perikanan tangkap merupakan hasil perkalian jumlah kapal dengan
luas areal penangkapan ikan per kapal.
Jumlah Kapal x Luas Areal Penangkapan Ikat per Kapal = Luas Bumi untuk perikanan Tangkap
30
Luas areal penangkapan ikan per kapal ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak.
Luas bumi untuk pembudidayaan ikan merupakan luas yang tercantum dalam izin.
Luas bumi untuk jaringan pipa merupakan hasil perkalian panjang pipa dengan dua
kali diameter pipa.
Panjang Pipa x (2 x Diameter Pipa) = Luas Bumi untuk Jaringan Pipa
Luas bumi untuk jaringan kabel merupakan hasil perkalian panjang kabel dengan dua
kali diameter kabel.
Panjang Kabel x (2 x Diameter Kabel) = Luas Bumi untuk Jaringan Kabel
Luas bumi untuk ruas jalan tol merupakan hasil perkalian jumlah tapak dengan luas
pondasi tapak.
Jumlah Tapak x Luas Pondasi Tapak = Luas Bumi untuk Ruas Jalan Tol
Luas bumi untuk fasilitas penyimpanan dan pengolahan merupakan luas berdasarkan
izin yang dikeluarkan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang perhubungan.
Pendapatan kotor merupakan hasil perkalian jumlah produksi per jenis ikan dalam
tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang dengan harga jual rata-rata per
jenis ikan per satuan berat tertentu.
Biaya produksi merupakan hasil perkalian pendapatan kotor dengan Rasio Biaya
Produksi.
31
Jenis ikan mengacu pada ketentuan yang diatur oleh kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan dan perikanan.
NJOP bangunan untuk objek pajak PBB Sektor Lainnya ditentukan berdasarkan
Nilai Perolehan Baru.
Luas bangunan untuk jaringan pipa atau jaringan kabel merupakan hasil perkalian
panjang pipa atau kabel dengan diameter pipa atau kabel.
Atau
Luas bangunan untuk ruas jalan tol merupakan hasil perkalian panjang ruas jalan
tol dengan lebar ruas jalan tol.
Panjang Kabel x Diameter Kabel = Luas Bangunan untuk Jaringan Kabel
Panjang Ruas Jalan Tol x Lebar Ruas Jalan Tol = Luas Bangunan untuk Ruas Jalan Tol
Klasifikasi dan penetapan NJOP untuk tahun pajak sebelum Tahun Pajak
2020 dilaksanakan berdasarkan PMK 139/2014 dan peraturan pelaksanaannya.
Sedangkan klasifikasi dan penetapan NJOP untuk tahun pajak setelah Tahun
Pajak 2020 dilaksanakan berdasarkan PMK 186/2019.
Dalam penetapan besarnya PBB terutang, setiap wajib pajak diberikan Nilai Jual
Objek Pajak Tidak Kena Pajak (“NJOPTKP”).
Besarnya NJOPTKP adalah Rp. 12,000,000 (dua belas juta rupiah) untuk setiap
Wajib Pajak. Penyesuaian besarnya NJOPTKP ditetapkan pada PMK 23/2014.
Dasar perhitungan PBB adalah Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) yaitu suatu
persentase tertentu dari NJOP. Berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang No. 12
Tahun 1994 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan Dasar penghitungan pajak
adalah Nilai Jual Kena Pajak yang ditetapkan serendah-rendahnya 20% (dua
puluh persen) dan setinggi-tingginya 100% (seratus persen) dari nilai jual obyek
pajak (“UU 12/1994”).
32
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2002 ditetapkan untuk
objek pajak dengan nilai jual satu miliar atau lebih serta objek pajak sektor
perkebunan, perhutanan dan pertambangan NJKP sebesar 40% dari NJOP dan
untuk objek pajak lainnya sebesar 20% dari NJOP.
Nilai Jual Kena Pajak (“NJKP”) adalah nilai jual yang dipergunakan sebagai
dasar penghitungan pajak, yaitu persentase tertentu dari nilai jual sebenarnya.
Objek PBB perkebunan, kehutanan dan pertambangan sebesar 40% (empat puluh
persen) dari NJKP
33
Tanah
Areal kebun:
Usia tanaman 2 tahun: 200 Ha (kelas 178), dengan nilai dasar tanah = Rp. 1,700,
-/M2
SIT : Rp. 2,795,000,- per Ha Tanaman menghasilkan : 300 Ha (kelas 178), dengan
nilai dasar tanah = Rp. 1,700, -/M2
Kantor: 0,5 Ha (kelas 140), dengan nilai dasar tanah = Rp. 1,400, -/M2
Gudang: 1 Ha (kelas 147), dengan nilai dasar tanah = Rp. 10,000, - /M2
Pabrik: 2 Ha (kelas 147), dengan nilai dasar tanah = Rp. 10,000, -/M2
Bangunan
Kantor: 500 M2,(kelas 072) dengan nilai bangunan = Rp. 700,000, -/M2
Gudang: 1.000 M2, (kelas 078) dengan nilai bangunan = Rp. 505,000, -/M 2
Pabrik: 4.000 M2, (kelas 084) dengan nilai bangunan = Rp. 365,000, -/M2
Jawab:
Tanah
Areal kebun:
Areal emplasemen:
Bangunan
34
Gudang: 1,000 x 505,000 = Rp. 505,000,000
Total
Tanah
Areal produktif, tanah hutan blok tebangan : 200 Ha, kls A.49 (Rp. 200,-/m2)
Areal belum/tidak produktif, Tanah hutan non blok tebangan : 4.000 Ha, kls
A.49 (Rp. 200,-/m2)
Areal lainnya (rawa, payau) : 100 Ha, kls A.50 ( Rp. 140,- / M2 )
Areal Emplasemen :
Bangunan
35
Perumahan : 5.000 M2 ; kls A.9
Soal:
Hasil bersih sebelum tahun pajak berjalan adalah Rp. 1,000,000,000. Hitung PBB
Tahun 2014 yang menjadi kewajiban PT Budiharjo bila NJOPTKP = Rp.
10,000,000
Jawab:
NJOP Tanah
Area Produktif:
8,5 × Rp. [Link] = Rp. 8,500,000,000
Areal Belum Produktif:
4.000 × 10.000 × Rp. 200 = Rp. 8,000,000,000
Log Ponds:
10 × 10.000 × Rp. 2,7 = Rp. 270,000
Log Yards:
5 × 10.000 × Rp. 200 = Rp. 10,000,000
Area Lainnya:
100 × 10.000 × Rp. 140 = Rp. 140,000,000
Area Emplasemen:
Pabrik:
20.000 × Rp. 660 = Rp. 13,200,000
Gudang:
2.000 × Rp. 660 = Rp. 1,320,000
Kantor:
1.000 × Rp. 660 = Rp. 660,000
Perumahan:
10.000 × Rp. 910 = Rp. 9,100,000
Total NJOP Bumi Rp [Link]
NJOP Bangunan
Pabrik:
1.000 × Rp. 264,000 = Rp 264.000.000
Gudang:
500 × Rp. 264,000 = Rp 132.000.000
Kantor
200 × Rp. 310,000 = Rp 62.000.000
Perumahan:
5.000 × Rp. 310,000 = Rp [Link]
Total NJOP Bangunan Rp. 16,674,550,000
36
NJOP untuk perhitungan PBB Perhutanan Rp. 18,672,550,000
Rumus PBB:
0.5% × 40% × Rp. 18,672,550,000 Rp. 37,345,100
Tanah
Areal Emplasemen:
Bangunan
Berapa PBB yang menjadi kewajiban PT. Jaharah apabila NJOPTKP adalah
Rp10.000.000
37
Jawab:
NJOP Tanah
Tubuh Bumi Operasi Produktif:
9,5 x Rp1.000.000.000 = Rp. 9,000,000,000
Areal Produktif:
200 × 10.000 × Rp. 400 = Rp. 800,000,000
Areal Belum Produktif:
Pabrik:
20 × 10.000 × Rp. 1,200 = Rp. 240,000,000
Gudang:
2 × 10.000 × Rp. 1,200 = Rp. 24,000,000
Kantor:
1 × 10.000 × Rp. 5,000 = Rp. 50,000,000
Perumahan:
4 × 10.000 × Rp. 10,000 = Rp. 500,000,000
38
NJOPTKP Rp. 10,000,000
1. Dasar Hukum
Peraturan Menteri Keuangan No. 48/2021 tentang Tata Cara Pendaftaran dan
Pendataan Objek Pajak dan Subjek Pajak atau Wajib Pajak Bumi dan
Bangunan (“PMK 48/2021”);
Berdasarkan PMK 48/2021. Subjek Pajak atau Wajib Pajak wajib melakukan
Pendaftaran pada Direktorat Jenderal Pajak melalui KPP paling lama 1 bulan
setelah saat terpenuhinya persyaratan subjektif sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang PBB untuk diberikan SKT PBB.
Pendaftaran dilajukan melalui elektronik atau tertulis, Permohonan dibuat
dengan melampirkan dokumen Wajib Pajak dan Dokumen Objek Pajak.
39
Tanggal 1 Februari Tahun Pajak PBB terutang, untuk objek pajak PBB Sektor
Perkebunan, objek pajak PBB Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi,
dan objek pajak PBB Sektor Pertambangan untuk Pengusahaan Panas Bumi;
Tanggal 31 Maret Tahun Pajak PBB terutang, untuk objek pajak PBB Sektor
Perhutanan, objek pajak PBB Sektor Pertambangan Mineral atau Batubara,
dan objek pajak PBB Sektor Lainnya; atau
Tanggal Objek Pajak terdaftar sebagaimana tercantum dalam SKT PBB,
dalam hal Pendaftaran Objek Pajak diterbitkan SKT PBB setelah 1 Februari
Tahun Pajak PBB terutang sebagaimana dimaksud dalam huruf a atau
tanggal 31 Maret Tahun Pajak PBB terutang sebagaimana dimaksud dalam
huruf b, dan terpenuhi kondisi saat terutang PBB menurut keadaan Objek
Pajak pada 1 Januari Tahun Pajak PBB terutang.
SPOP wajib diisi dengan jelas, benar, dan lengkap serta ditandatangani oleh
Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak dan disampaikan kepada Direktorat
Jenderal Pajak melalui KPP tempat Objek Pajak terdaftar paling lama 30 (tiga
puluh) hari setelah tanggal diterimanya SPOP. Dokumen pendukung isian SPOP
sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut:
2. Laporan Perkembangan
Rencana Kerja Tahunan beserta Peta Kerja Tahun Pajak PBB terutang atau tahun
3.
terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang
Untuk SPOP untuk PBB Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
40
Dokumen kontrak yang ditandatangani oleh Pemerintah dan Kontraktor Kontrak Kerja
1.
Sama
Authorization for Expenditure (AFE), dan Financial Quarterly Report (FQR) triwulan IV
3.
tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang; dan
dokumen kontrak atau perjanjian jual beli gas untuk pertambangan gas bumi tahun
4.
terakhir sebelum Tahun Pajak PBB terutang
Dokumen izin, kuasa, atau penugasan yang diterbitkan oleh kementerian yang
1. menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral
atau dokumen kontrak;
Rencana Kerja dan Anggaran Biaya tahun terakhir sebelum Tahun Pajak PBB
2.
terutang
SPOP PBB Mineral untuk SPOP PBB Mineral SPOP PBB Mineral untuk
Onshore dilampiri untuk Offshore dilampiri Tubuh Bumi dilampiri
dengan: dengan dengan
41
Bangunan Umum; Batubara Bangunan LSPOP PBB Mineral dan
dan/atau Umum; dan/atau Batubara Bangunan
Khusus
LSPOP PBB Mineral LSPOP PBB
dan Batubara Mineral dan
Bangunan Khusus Batubara Bangunan
Khusus
* Jika terdapat dokumen pendukung isian SPOP yang belum dapat dilampirkan,
maka SPOP dianggap lengkap sepanjang Wajib Pajak melampirkan pernyataan
tertulis yang:
ditandatangani oleh Wajib Pajak, wakil Wajib Pajak, atau kuasa dari Wajib
Pajak; dan
a. Jika terdapat pengajuan pengembalian seluruh Wilayah Kerja Minyak dan Gas
Bumi atau seluruh Wilayah Kerja Panas Bumi kepada Pemerintah, Wajib Pajak
tidak perlu mengisi dan mengembalikan SPOP untuk Tahun Pajak setelah
Tahun Pajak pengajuan pengembalian Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi
atau Wilayah Kerja Panas Bumi.
b. Jika pengajuan pengembalian seluruh Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi
atau seluruh Wilayah Kerja Panas Bumi kepada Pemerintah ditolak oleh
kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang energi
dan sumber daya mineral, maka DJP menetapkan besarnya terutang sejak
Tahun Pajak setelah keputusan penolakan.
Jika tidak dapat menyampaikan SPOP dalam jangka 30 hari, Wajib Pajak
menyampaikan surat pemberitahuan penundaan pengembalian SPOP ke KPP.
Surat tersebut harus diterima oleh KPP sebelum jangka waktu 30 hari
penyampaian SPOP berakhir. Penundaan penyampaian SPOP dilakukan
maksimal 7 hari setelah jangka waktu 30 hari berakhir.
Jika SPOP yang tidak ditandatangani dianggap tidak dikembalikan atau tidak
disampaikan oleh KPP.
Jika SPOP belum dikembalikan setelah jangka waktu: 30 hari dan Subjek Pajak
atau Wajib Pajak tidak menyampaikan surat pemberitahuan penundaan
penyampaian SPOP; atau 7 hari, maka KPP menerbitkan surat teguran yang
disampaikan kepada Subjek Pajak atau Wajib Pajak.
42
Subjek Pajak atau Wajib Pajak wajib menyampaikan SPOP maksimal 7 hari
setelah tanggal tanda terima atau tanggal bukti pengiriman surat teguran.
Jika Subjek Pajak atau Wajib Pajak tidak menanggapi surat permintaan
klarifikasi, maka KPP tetap menuangkan dalam laporan pelaksanaan klarifikasi.
43
Format pernyataan tertulis tercantum dalam Lampiran PMK 48/2021.
Orang/Perusahaan
SPOP
Kantor Pelayanan
Pajak KPP
Analisa Pemeriksaan
SKP SPOP
dan Penelitian
SPPT diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 5 tahun setelah berakhirnya
Tahun Pajak PBB terutang dan diterbitkan untuk 1 Tahun Pajak.
Jika terhadap SPPT awal dilakukan upaya hukum sehingga terbit keputusan
atau putusan seperti disebutkan di atas, maka dilakukan penerbitan kembali
SPPT yang sesuai isi keputusan atau putusan.
Terhadap SPPT yang diterbitkan kembali, SPPT awal sebelumnya dinyatakan
tidak berlaku.
Penyampaian SPPT dari DJP kepada Wajib Pajak dapat dilakukan dengan cara
berikut:
Melalui pos, perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti
pengiriman surat; atau
44
Tanda terima penyampaian SPPT, dalam hal disampaikan secara langsung;
PBB terutang berdasarkan SPPT harus dibayar lunas oleh Wajib Pajak
maksimal 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh Wajib Pajak.
Terhadap penerbitan kembali atau penerbitan SPPT cetak ulang, jatuh tempo
pelunasan nya dihitung dari SPPT yang diterbitkan pertama kali. Jika PBB
terutang berdasarkan SPPT dinyatakan tidak atau kurang dibayar setelah
tanggal jatuh tempo pembayaran, maka Kepala KPP akan menerbitkan Surat
Tagihan Pajak (“STP”) yang dilakukan berdasarkan peraturan menteri keuangan
yang mengatur mengenai STP PBB.
Direktur Jenderal Pajak akan menerbitkan SKP dalam hal sebagai berikut :
SPOP tidak kembali. SPOP yang dikirim ke Wajib Pajak harus dikembalikan
dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterima oleh Wajib Pajak.
Apabila lewat waktu akan ditetapkan secara jabatan dengan mengeluarkan
SKP. Jumlah ketetapan pajak dalam SKP adalah jumlah pokok pajak
ditambah denda administrasi sebesar 25%. Jatuh tempo SKP adalah 1 (satu)
bulan. Apabila lewat jatuh tempo akan diberlakukan UU Penagihan Pajak.
Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat berakhirnya Tahun Pajak, DJP
dapat menerbitkan SKP PBB berdasarkan hasil Pemeriksaan atau Penelitian
PBB.
45
Hasil Penelitian PBB terhadap keterangan lain UU 12/1994 yang mencakup
sebagian atau seluruh data, keterangan, dan/atau bukti, mengenai Objek
Pajak dan/atau Wajib Pajak yang diperoleh dan/atau dimiliki DJP berupa:
Data, keterangan, dan/atau bukti, terkait dengan Wajib Pajak yang tidak
menyampaikan SPOP dan setelah ditegur secara tertulis Wajib Pajak tidak
menyampaikan SPOP sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran;
SPOP yang terindikasi diisi dengan tidak benar oleh Wajib Pajak
berdasarkan Analisis Risiko;
Data baru yang belum dan/atau tidak terungkap dalam Pemeriksaan atau
Penelitian PBB sebelumnya yang mengakibatkan penambahan jumlah
PBB yang terutang.
Jika jangka waktu 5 (lima) tahun DJP tetap dapat menerbitkan SKP PBB dalam
hal Wajib Pajak setelah jangka waktu tersebut dipidana karena melakukan tindak
pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara berdasarkan Putusan Pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap.
Jumlah PBB yang terutang dalam SKP PBB harus dilunasi paling lambat 1 bulan
sejak tanggal diterimanya SKP PBB oleh Wajib Pajak.
Tanggal tanda terima, dalam hal SKP PBB disampaikan secara langsung;
atau
46
Tanggal bukti pengiriman, dalam hal SKP PBB dikirim melalui pos atau jasa
pengiriman lainnya.
Nota penghitungan dibuat sesuai laporan hasil Pemeriksaan atau laporan hasil
Penelitian PBB.
Bentuk dan isi nota penghitungan dan SKP PBB dan SKKP PBB diatur
dengan PDJP 25/2020.
DJP menerbitkan STP PBB dalam hal terdapat PBB terutang dalam SPPT atau
SKP PBB yang tidak atau kurang dibayar setelah tanggal jatuh tempo
pembayaran.
STP PBB memuat PBB yang tidak atau kurang dibayar ditambah dengan denda
administrasi sebesar 2% per bulan dari PBB yang tidak atau kurang dibayar.
Denda administrasi dihitung dari saat jatuh tempo sampai dengan tanggal
pembayaran untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dan bagian dari bulan
dihitung penuh 1 bulan.
Setelah saat jatuh tempo SPPT atau SKP PBB terlewati; dan/atau
STP PBB ini memuat PBB terutang yang tidak atau kurang dibayar ditambah
dengan denda administrasi sebesar 2% per bulan yang dihitung dari saat jatuh
tempo SPPT atau SKP PBB sampai dengan tanggal diterbitkannya STP PBB.
STP PBB memuat denda administrasi sebesar 2% per bulan dari PBB
terutang yang tidak atau kurang dibayar yang dihitung dari:
Saat jatuh tempo SPPT atau SKP PBB sampai dengan tanggal pelunasan
pembayaran atas pokok PBB terutang, dalam hal belum pernah diterbitkan
STP PBB; atau
Saat jatuh tempo STP PBB sebagaimana dimaksud pada huruf b sampai
dengan tanggal pelunasan pembayaran atas pokok PBB terutang, untuk
jangka waktu paling lama 24 bulan STP PBB diterbitkan dalam jangka waktu
paling lama 5 tahun setelah saat berakhirnya tahun pajak.
Jumlah PBB yang terutang dalam STP PBB harus dilunasi paling lambat 1
(satu) bulan sejak tanggal diterimanya STP PBB oleh Wajib Pajak.
47
Tanggal tanda terima, dalam hal STP PBB disampaikan secara langsung;
atau
Tanggal bukti pengiriman, dalam hal STP PBB dikirim melalui pos atau jasa
pengiriman lainnya
Jumlah pajak yang terhutang berdasarkan STP PBB yang tidak dibayar pada
waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa.
1. Keberatan
Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas SPPT atau SKP PBB berkenaan
dengan :
Penerapan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP), Standar Investasi Tanaman (SIT);
Dilampiri dengan fotokopi SPPT atau SKP PBB yang diajukan keberatan;
Dikemukakan jumlah PBB yang terutang menurut penghitungan Wajib Pajak dan
disertai dengan alasan pengajuan keberatan;
Diajukan dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal diterimanya SPPT atau SKP
PBB, kecuali Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak
dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya dengan disertai bukti
pendukung;
48
Keadaan di luar kekuasaan meliputi:
Bencana alam;
Kebakaran;
Huru-hara/kerusuhan massal;
Ditandatangani oleh Wajib Pajak, atau dalam hal Surat Keberatan ditandatangani
oleh bukan Wajib Pajak, Surat Keberatan tersebut harus dilampiri dengan surat
kuasa khusus sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang perpajakan;
Pengurangan atau pembatalan SPPT atau SKP PBB yang tidak benar;
Apabila Surat Keberatan yang disampaikan tidak memenuhi persyaratan dalam huruf
a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, atau huruf g, Wajib Pajak dapat melakukan
perbaikan atas Surat Keberatan tersebut dan menyampaikan kembali sebelum
jangka waktu 3 (tiga) bulan (pada huruf f terlampaui).
Sedangkan terhadap Surat Keberatan yang dilakukan perbaikan oleh Wajib Pajak,
tanggal Surat Keberatan diterima yaitu:
49
Tanggal pengiriman Surat Keberatan yang telah diperbaiki sebagaimana
tercantum pada bukti pengiriman surat, dalam hal Surat Keberatan yang telah
diperbaiki disampaikan melalui pos atau jasa pengiriman.
Bukti penerimaan surat dan bukti pengiriman surat merupakan tanda bukti
penerimaan Surat Keberatan.
Secara langsung;
ditandatangani oleh Wajib Pajak, atau jika oleh Kuasa (harus dibuktikan
dengan surat kuasa khusus.
Penyelesaian Keberatan
50
Apabila Wajib Pajak tidak meminjamkan sebagian atau seluruh buku, catatan,
data, dan/atau informasi dan/atau tidak memberikan keterangan yang diminta,
DJP menyampaikan:
Meminta Wajib Pajak untuk memberikan keterangan terkait dengan materi yang
diajukan keberatan melalui penyampaian surat permintaan keterangan;
Meminta keterangan atau bukti terkait dengan materi yang diajukan keberatan
kepada pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan objek pajak dan/atau
Wajib Pajak sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
di bidang perpajakan;
Dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak tanggal surat keberatan
diterima, Kepala Kanwil DJP dan Direktur Jenderal Pajak memberikan
keputusan atas pengajuan keberatan.
51
Dalam hal Wajib Pajak mengajukan gugatan ke Pengadilan Pajak atas surat dari
Direktur Jenderal Pajak yang menyatakan bahwa keberatan Wajib Pajak tidak
dipertimbangkan, jangka waktu 12 bulan tertangguh, terhitung sejak tanggal
dikirim surat dari Direktur Jenderal Pajak tersebut kepada Wajib Pajak sampai
dengan Putusan Pengadilan Pajak diterima oleh Direktur Jenderal Pajak.
Apabila jangka waktu 12 bulan gugatan Wajib Pajak dikabulkan telah terlampaui
dan keputusan atas keberatan belum diterbitkan, keberatan yang diajukan oleh
Wajib Pajak dianggap diterima dan Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat
Keputusan Keberatan yang menerima keberatan Wajib Pajak dalam jangka
waktu paling lama 1 bulan terhitung sejak jangka waktu 12 bulan tersebut
berakhir.
Kepala KPP melakukan pembetulan atas SPPT atau SKP PBB secara
jabatan, dalam hal SPPT atau SKP PBB belum melewati jatuh tempo
pembayaran dan Wajib Pajak belum melakukan pembayaran.
Kepala KPP melakukan pembetulan STP PBB secara jabatan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, dalam hal
sudah diterbitkan STP PBB dan Wajib Pajak belum melakukan pembayaran.
2. Banding
Setiap satu surat pengajuan Banding hanya berlaku untuk satu SK Keberatan.
52
Jumlah pajak terutang harus dibayar lebih dahulu sebesar 50% (ketentuan lebih
lanjut diatur dalam UU Peradilan Pajak).
53