0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan37 halaman

Motivasi Belajar: Jenis dan Pengaruhnya

Bab ini membahas tentang landasan teori motivasi belajar. Motivasi belajar adalah daya penggerak siswa untuk belajar agar mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat dua jenis motivasi yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Fungsi motivasi belajar adalah sebagai penggerak, menentukan arah, dan menentukan aktivitas belajar. Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain budaya dan keluarga.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan37 halaman

Motivasi Belajar: Jenis dan Pengaruhnya

Bab ini membahas tentang landasan teori motivasi belajar. Motivasi belajar adalah daya penggerak siswa untuk belajar agar mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat dua jenis motivasi yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Fungsi motivasi belajar adalah sebagai penggerak, menentukan arah, dan menentukan aktivitas belajar. Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar antara lain budaya dan keluarga.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

23

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi merupakan salah satu komponen yang paling penting

dalam belajar karena ia merupakan faktor penggerak maupun dorongan

yang dapat memicu timbulnya rasa semangat dan mampu merubah tingkah

laku manusia atau individu untuk menuju pada hal yang lebih baik.

Hamzah B. Uno menjelaskan istilah motivasi berasal dari kata

motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri

individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.1

Sedangkan [Link] sebagaimana dikutip Sardiman mengartikan

motivasi sebagai perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai

dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap

adanya tujuan.2 Sehingga Motivasi dalam kegiatan belajar dapat dikatakan

sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang

menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan

belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan

yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.3 Motivasi juga

1
Hamzah [Link], Teori Motivasi dan Pengukurannya. (Jakarta: Bumi Aksara, 2013),
hlm. 3.
2
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012) hlm.
73.
3
Sardiman, Interaksi… [Link], hlm. 75.
24

dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan

perilaku manusia, termasuk perilaku belajar.4 Dan suatu keadaan yang

terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan

aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan”.5

Adapun belajar, Oemar Hamalik menegaskan bahwa belajar adalah

modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is

defined as the modification or strengthening of behaviour through

experiencing).6 Sehingga menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu

proses, suatu kegiatan dan bukan hasil belajar semata. Belajar bukan hanya

mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami sendiri.

Jadi, berdasarkan penjelasan pendapat teori – teori para ahli di atas

mengenai motivasi belajar dapat disimpulkan bahwa bahwa motivasi

belajar adalah daya penggerak seseorang yang dapat berasal dari dalam

maupun luar diri siswa yang menyebabkan mereka bertindak secara nyata

untuk belajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

2. Jenis - Jenis Motivasi Belajar

Menurut Muhibbin Syah, motivasi dapat dibedakan menjadi

motivasi dalam diri pribadi seseorang atau motivasi intrinsik dan motivasi

4
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm.
80.
5
Djaali, Psikologi Pendidikan. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 101.
6
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:
Bumi Aksara, 2005), 108.
25

yang berasal dari luar diri seseorang atau motivasi ekstrinsik.7 Adapun

pengertian dari kedua macam motivasi tersebut adalah sebagai berikut :

a) Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik merupakan hal dan keadaan yang berasal dari

dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan

belajar. terdapat dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan

menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut,

misalnya untuk kehidupan masa depan siswa tersebut.

b) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar

individu yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar.

Pujian dan hadiah, peraturan dan tata tertib sekolah, suri tauladan

orangtua, guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret

motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar.

Senada dengan pendapat di atas, Winkel sebagaimana dalam

Nyanyu khodijah juga berpendapat bahwa motivasi belajar terdiri atas

dua macam yaitu motivasi intrisnsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik

adalah motivasi yang timbul dari dalam diri orang yang bersangkutan

tanpa rangsangan atau bantuan orang lain. Misalnya, seorang siswa

belajar dengan giat karena ingin menguasai berbagai ilmu yang

dipelajari di sekolahnya. Motivasi intrinsik dapat berupa kepribadian,

sikap, pengalaman, pendidikan, atau berupa penghargaan dan cita-cita.

7
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 134 .
26

Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul karena

rangsangan atau bantuan dari orang lain. Motivasi ekstrinsik disebabkan

oleh keinginan untuk menerima ganjaran atau menghindari hukuman.

Misalnya, seorang siswa mengerjakan PR karena takut dihukum oleh

gurunya.8

Dari beberapa pendapat – pendapat ahli di atas, maka bisa

dipahami bahwasannya motivasi, baik intrinsik maupun ekstrinsik

sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar untuk mendorong

siswa agar semakin tekun dan termotivasi dalam belajar. Dalam

aktifitas belajar, motivasi intrinsik ini sangat diperlukan terutama jika

belajar sendiri. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang

positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan

dibutuhkan dan sangat berguna di masa kini dan mendatang. Begitu

pula dengan motivasi intrinsik, di mana individu membutuhkan

dorongan dan rangsangan dari luar, khususnya dari apa yang ada di

sekitarnya.

3. Fungsi Dan Peran Motivasi Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran, keberadaan motivasi sangatlah

penting, sebab akan menentukan intensitas usaha belajar bagi siswa

sekaligus hasil belajar juga akan memjadi optimal.9 makin tepat motivasi

8
Nyanyu Khodijah, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014),
hlm. 150.
9
Kompri. Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru dan Siswa, (Bandung: PT Rosda
Karya,2016), hlm. 237.
27

yang diberikan oleh guru, maka makin berhasil pula pelajaran itu.

Sehubungan dengan hal tersebut maka motivasi mempunyai fungsi yang

sangat penting. yaitu:

a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor

yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor

penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak

dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan

kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.

c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa

yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan.10

Selanjutnya Kompri, juga menjelaskan bahwa motivasi merupakan

hal yang sangat penting dalam belajar, di mana motivasi memberikan

semangat sseorang pelajar dalam kegiatan belajarnya dan sekaligus

memberikan petunjuk pada tingkah laku.11 Hamzah B. Uno, juga

menjelaskan bahwa motivasi memberi tiga fungsi dalam belajar adalah

yaitu :12

a) Mendorong untuk melakukan suatu aktivitas yang didasarkan atas

pemenuhan kebutuhan

b) Menentukan arah tujuan yang hendak dicapai

c) Menentukan perbuatan yang harus dilakukan.

10
Sardiman, Interaksi …, [Link]., hlm. 85.
11
Kompri. Motivasi …, op. cit. hlm. 233.
12
Hamzah [Link], Teori …, [Link]. hlm. 17.
28

Jadi, dari pendapat-pendapat para ahli di atas bisa ditarik

kesimpulan bahwa fungsi motivasi dalam belajar adalah untuk mendorong,

menggerakan dan mengarahkan aktivitas-aktivitas peserta didik dalam

belajar sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal

4. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Raymond

dan Judith, mengungkapkan ada empat pengaruh utama dalam motivasi

belajar seorang anak yaitu :13

a) Budaya, Masing-masing kelompok atau etnis telah menetapkan


dan menyatakan secara tidak langsung nilai-nilai yang
berkenaan dengan pengetahuan baik dalam pengertian akademis
maupun tradisional. Nilai-nilai itu terungkap melalui pengaruh
agama, undang-undang politik untuk pendidikan serta melalui
harapan-harapan orang tua yang berkenaan dengan persiapan
anak-anak mereka dalam hubungannya dengan sekolah. Hal–hal
ini akan mempengaruhi motivasi belajar anak.
b) Keluarga, Berdasarkan penelitian orang tua memberi pengaruh
utama dalam memotivasi belajar seorang anak. Pengaruh
mereka terhadap perkembangan motivasi belajar anak-anak
memeberi pengaruh yang sangat kuat dalam setiap
perkembangannya dan akan terus berlanjut sampai habis masa
SMA dan sesudahnya.
c) Sekolah, Ketika sampai pada motivasi belajar, para gurulah
yang membuat sebuah perbedaan. Dalam banyak hal mereka
tidak sekuat seperti orang tua. Tetapi mereka bisa membuat
kehidupan sekolah mnjadi menyenangkan atau menarik. Dan
kita bisa mengingat seorang guru yang memenuhi ruang kelas
dengan kegembiraan dan harapan serta membukakan pintu-pintu
kita untuk menemukan pengetahuan yang mengagumkan.
d) Diri anak itu sendiri, Murid-murid yang mempunyai
kemungkinan paling besar untuk belajar dengan serius, belajar
dengan baik dan masih bisa menikmati belajar, memiliki
perilaku dan karakter pintar, berkualitas, mempunyai identitas,
bisa mengatur diri sendiri sudah pasti mempengaruhi motivasi
belajarnya.
13
Raymond dan Judith, Motivasi Belajar, (Bandung: Grasindo, 2004), hlm. 24.
29

Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono,14 ada enam faktor

yang mempengaruhi motivasi belajar, yaitu ;

a) Cita – cita atau aspirasi siswa

Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu sangat lama, bahkan

sepanjang hayat. Cita-cita siswa untuk “menjadi seseorang” akan

memperkuat semangat belajar dan mengarahkan pelaku belajar. Cita-

cita akan memperkuat motivasi belajar instrinsik maupun ekstrinsik

sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.

b) Kemampuan belajar

Proses belajar membutuhkan berbagi kemampuan, dan kemampuan

tersebut meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa.

seperti pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir dan fantasi. Di dalam

kemampuan belajar ini, perkembangan berpikir siswa menjadi ukuran.

Sehingga siswa yang taraf perkembangan berpikirnya konkrit (nyata)

tidak sama dengan siswa yang berpikir secara operasional. Jadi siswa

yang mempunyai kemampuan belajar tinggi biasanya lebih termotivasi

dalam belajar, karena siswa seperti itu lebih sering memperoleh sukses

karena sukses memperkuat motivasinya.

c) Kondisi siswa

Factor kondisi siswa, meliputi kondisi jasmani dan rohani. Kedua

kondisi ini dapat mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang

sedang sakit, lapar, mengantuk atau kondisi emosional siswa seperti

14
Dimyati dan Mudjiono, Belajar .., op. cit., hlm. 97-101.
30

marah-marah akan mengganggu konsentrasi atau perhatian belajar

siswa.

d) Kondisi lingkungan siswa

Kondisi lingkungan merupakan unsur yang datang dari luar siswa.

Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat

tinggal atau keluarga, lingkungan pergaulan atau teman sebaya, dan

kehidupan masyarakat. Dengan lingkungan yang aman, tentram tertib

dan indah maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.

e) Unsure – unsure dinamis dalam pembelajaran

Unsur-unsur dinamis dalam belajar merupakan unsur-unsur yang

keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang lemah dan

bahkan hilang sama sekali. Dalam diri siswa, unsusr-unsur dinamis ini

terkait dengan kondisi siswa yang memiliki perhatian, kemauan dan

pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup yang

diberikan oleh lingkungan siswa.

f) Upaya guru dalam membelajarkan siswa

Upaya yang dimaksud disini adalah bagaimana guru

mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan

materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa, dan mengatur

tata tertib di kelas atau sekolah.15

15
Dimyati dan Mudjiono, Belajar .., op. cit., hlm. 40.
31

Berbeda dengan pendapat di atas, Syamsu Yusuf,16 secara lebih

rinci memaparkan bahwa motivasi belajar dapat timbul karena faktor

internal dan eksternal. Kedua factor tersebut, baik internal maupun

eksternal menjadi penentu timbulnya motivasi belajar siswa. Factor

internal dan eksternal tersebut adalah sebagaimana berikut :

a) Faktor internal

1) Faktot fisik

Faktor fisik merupakan faktor yang mempengaruhi dari tubuh

dan penampilan individu. Faktor fisik meliputi nutrisi (gizi),

kesehatan, dan fungsi-fungsi fisik terutama panca indera.

2) Faktor psikologis

Faktor psikologis merupakan faktor intrinsik yang berhubungan

dengan aspek-aspek yang mendorong atau menghambat aktivitas

belajar pada siswa. Faktor ini menyangkut kondisi rohani siswa.

b) Faktor eksternal

1) Faktor sosial

Merupakan faktor yang berasal dari manusia di sekitar

lingkungan siswa. Faktor sosial meliputi guru, konselor, teman

sebaya, orang tua, tetangga, dan lain-lain.

2) Faktor nonsosial

Faktor non-sosial merupakan faktor yang berasal dari keadaan

atau kondisi fisik di sekitar siswa. Faktor non-sosial Meliputi

16
Syamsu Yusuf, Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Bandung: Rizqi Perss,
2009), hlm. 23.
32

keadaan udara (cuaca panas atau dingin), waktu (pagi, siang, atau

malam), tempat (sepi, bising, atau kualitas sekolah tempat belajar),

dan fasilitas belajar (sarana dan prasarana).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada

banyak faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, baik yang

sifatnya intern maupun ekstern. Oleh karena itu bagi para guru hendaknya

memperhatikan faktor-faktor ini sehingga proses pembelajaran dapat

berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Motivasi

mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar, baik bagi

pendidik maupun siswa. Bagi pendidik mengetahui motivasi belajar dari

siswa sangat diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan semangat

belajar. Dan bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat

belajar, sehingga terdorong untuk melakukan kegiatan belajar.

5. Indikator Motivasi Belajar

Motivasi belajar adalah dorongan internal maupun eksternal pada

siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah

laku yang pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur-unsur

yang mendukung. Hamzah B. Uno, menyebutkan indikator motivasi

belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:17

a) Adanya hasrat dan keinginan berhasil

b) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar

17
Hamzah [Link], Teori …, [Link]., hlm. 23.
33

c) Adanya harapan atau cita-cita masa depan

d) Adanya penghargaan dalam belajar

e) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar

f) Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan

seorang siswa dapat belajar dengan baik.

Sedangkan Menurut Sardiman, motivasi yang terdapat dalam diri

siswa itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :18

a) Tekun menghadapi tugas, yaitu dapat bekerja terus menerus dalam

waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai.

b) Ulet menghadapi kesulitan, yaitu tidak mudah putus asa dalam

mengerjakan tugas untuk berprestasi sebaik mungkin.

c) Menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah, misalnya kritis

terhadap masalah pembangunan, agama, politik, ekonomi yang terjadi

disekitar.

d) Lebih senang bekerja mandiri, lebih menyukai untuk mengerjakan tugas

sendiri tidak melihat jawaban teman.

e) Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin, hal-hal yang bersifat

berulang-ulang kurang disukai karena tidak mengasah kreatifitas.

f) Dapat mempertahankan pendapatnya

g) Tidak mudah melepaskan hal yang sudah diyakini, dan

h) Senang mencari dan memecahkan masalah soal - soal.

18
Sardiman, Interaksi …, [Link]. hlm. 83.
34

Dapat disimpulkan dari pendapat Sardiman di atas bahwa terdapat

delapan macam indicator dalam motivasi belajar. Adapaun dalam

penelitian ini, peneliti akan menggunakan indicator - indikator motivasi

belajar tersebut sebagai indikator untuk mengukur motivasi belajar siswa

di Madrasah Aliyah Negeri 2 Ogan Komering Ilir.

B. Fasilitas Belajar

1. Pengertian Fasilitas Belajar

Fasilitas adalah hal-hal yang berguna atau bermanfaat, yang

berfungsi untuk mempermudah suatu kegiatan. Dalam kamus besar Bahasa

Indonesia, fasilitas diartikan sebagai sarana yang memudahkan dalam

melakukan tugas atau pekerjaan.19 fasilitas atau alat pendidikan juga

diartikan sebagai segala sesuatu yang digunakan untuk membantu

tercapainya tujuan pendidikan.20 Definisi serupa juga dikemukakan Binti

Maunah, yang menyatakan dari pendapat para ahli bahwa alat atau fasilitas

pendidikan adalah segala sesuatu yang berupa alat atau media pendidikan

yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.21

Dari definisi-definisi di atas terlihat bahwa fasilitas belajar identik

dengan sarana dan prasarana pendidikan, yakni semua perangkat,

peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam

proses pendidikan di sekolah dan prasarana pendidikan adalah semua

19
Kamisa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya: CV. Cahaya Agency, 2013). hlm.
166.
20
Dwi Siswoyo, dkk, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press. 2011), hlm. 146.
21
Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Penerbit Teras. 2009), hlm. 58.
35

perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang

pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.22

Dari pendapat-pendapat tentang definisi fasilitas di atas, maka

dapat diambil kesimpulan bahwa fasilitas belajar merupakan alat bantu

belajar yang dapat digunakan untuk membantu siswa melakukan proses

belajar sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efisien dan efektif. Hal ini

sesuai dengan pendapat yang dikemukakan Muhroji, yang menyatakan

bahwa fasilitas belajar merupakan semua yang diperlukan dalam proses

belajar mengajar baik bergerak maupun tidak bergerak agar tercapai tujuan

pendidikan dapat berjalan lancar, teratur, efektif, dan efisien.23

2. Jenis - Jenis Fasilitas Belajar

Fasilitas atau sarana dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :

a) Fasilitas fisik, yaitu segala sesuatu yang berupa benda atau fisik

yang dapat dibendakan, yang mempunyai peranan untuk

memudahkan dan melancarkan suatu usaha . Fasilitas fisik juga disebut

fasilitas materiil seperti perabot ruang kelas, perabot kantor TU,

perabot laboratorium, perpustakaan dan ruang praktek.

22
Barnawi dan [Link], Mengelola Sekolah Berbasis Entrepreneurship, (Yogyakarta:
Ar Ruzz Media, 2013), hal. 49.
23
Muhroji, dkk., Fasilitas Belajar Mengajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004),
hlm. 49.
36

b) Fasilitas Uang, yaitu segala sesuatu yang bersifat mempermudah suatu

kegiatan sebagai akibat bekerjanya nilai uang. Fasilias ini biasanya

dalammanajemen keuangan atau pembiayaan.24

Menurut Oemar Hamalik terkait fasilitas belajar sebagai unsur

penunjang belajar, bahwa Ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian kita,

yakni media atau alat bantu belajar, peralatan-perlengkapan belajar, dan

ruangan belajar. Ketiga komponen ini saling mengait dan mempengaruhi.

Secara keseluruhan, ketiga komponen ini memberikan kontribusinya, baik

secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap kegiatan dan

keberhasilan belajar.25

Menurut Wina Sanjaya, fasilitas belajar dibagi menjadi dua

macam, yaitu:26

a) Sarana

Sarana merupakan segala sesuatu yang berkaitan secara langsung

dengan peserta didik dan mendukung kelancaran serta keberhasilan

proses belajar peserta didik yang meliputi media pembelajaran, alat-alat

pelajaran, perlengkapan sekolah dan lain-lain. Disamping itu, sarana

pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan pendidik dalam

pelaksanaan pendidikan.27

24
Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, Manajemen Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya
Media, 2008), hal. 274.
25
Oemar Hamalik, ProsesBelajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hal. 102.
26
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana, 2009), hal. 55.
27
Zahra Idris dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan 1, (Jakarka: Grasindo, 1992), hal.
39.
37

Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang

secaralangsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan,

khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja

kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.28 Pengertian lain dari sarana

pendidikan yaitu perlengkapan yang secara langsung dipergunakan untuk

proses pendidikan, seperti meja, kursi, kelas dan media pengajaran.29

Sarana merupakan semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot

yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah.

Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu:30

a) Habis tidaknya dipakai

Habis tidaknya dipakaiHabis tidaknya sarana pendidikan ketika dipakai,

dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Sarana yang habis pakai, adalah bahan dan alat yang apabila

digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif [Link]:

kapur, tinta spidol, kertas, bahan kimia untuk praktik.

2) Sarana yang tahan lama, adalah bahan atau alat yang dapat

digunakan secara terus-menerus dalam waktu yang relatif lama

Contoh: meja, kursi, komputer, lemari, peta atlas, globe, papan tulis,

dan alat-alat olahraga.

b) Bergerak tidaknya saat digunakan

28
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan
Implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 49.
29
Sri Minarti, Manajemen Sekolah: Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal. 251.
30
Barnawi dan Mohammad Arifin, Intrumens Pembinaan, Peningkatan dan Penilaian
Kinerja Guru Profesional, (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2014), hal. 49.
38

Dari sisi ini, ada dua macam sarana yaitu :

1) Sarana bergerak, ialah sarana yang dapat dipindahkan atau

digerakkan sesuai dengan kebutuhan [Link]: meja,

kursi, lemari beroda, dan alat peraga sederhana.

2) Sarana tidak bergerak, ialah sarana yang tidak bisa atau relatif sulit

untuk dipindahkan. Contoh: saluran air, lampu permanen dan

jendela.

c) Hubungannya dengan proses belajar mengajar

Sarana pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:31

a) Alat pelajaran, merupakan alat yang digunakan secara langsung

dalam proses pembelajaran. Contoh: buku, alat tulis, dan alat praktik.

b) Alat peraga, merupakan alat bantu pembelajaran yang memiliki

kaitan langsung dengan materi [Link] sisi lain, alat peraga

adalah alat bantu bagi anak untuk mengingat pelajaran. Alat ini dapat

menimbulkan kesan dihati sehingga anak-anak tidak mudah


32
melupakannya. Contoh: alat peraga pemantulan cahaya dan alat

peraga rongga mulut.

c) Media pengajaran, merupakan sarana yang digunakan sebagai

perantara dalam pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas dan

efisiensi. Media pembelajaran merupakan segala bentuk perangsang

dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar secara

31
Barnawi dan Mohammad Arifin, Intrumens…Op. Cit. hal. 50.
32
Syaifurahman dan Tri Ujiati, Manajemen dalam Pembelajaran, (Jakarta Barat:
PT. Indeks, 2013), hal. 138.
39

cepat, mudah dan benar. Ada tiga jenis media, yaitu media audio,

media visual dan media audio visual.

b) Prasarana

Adapun prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak

langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran,

seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi

jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar,

seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah

sebagai sekaligus lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan

sarana pendidikan.33 Prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara

tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan, seperti halaman,

kebun, dan taman. Sarana dan prasarana pendidikan juga sering disebut

dengan fasilitas atau perlengkapan sekolah.

Prasarana merupakan segala sesuatu yang tidak secara langsung

berkaitan dengan peserta didik, namun dapat mendukung kelancaran

dan keberhasilan proses belajar peserta didik yang meliputi jalan

menuju ke sekolah, penerangan sekolah, dan kamar kecil. Prasarana

merupakansemua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak

langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.

Prasarana pendidikan di sekolah dapat diklasifikasikan menjadi dua

macam, yaitu:34

33
E. Mulyasa, Manajemen…. Op. Cit. hal. 49.
34
Syaifurahman dan Tri Ujiati, Manajemen… Op. Cit. hal. 138.
40

1) Prasarana yang secara langsung digunakan untuk proses

[Link]: ruang kelas, ruang praktik, ruang

perpustakaan, dan ruang laboratorium.

2) Prasarana yang tidak digunakan langsung untuk proses

[Link]: ruang kantor, kantin sekolah, UKS, ruang guru,

ruang kepala sekolah, ruang perpustakaan, laboratorium , taman, dan

tempat parkir. Fasilitas dan sumber belajar tersebut perlu dikembangkan

dalam mendukung suksesnya tujuan pembelajaran.

Adapun dari segi tempat dimana aktivitas belajar itu dilakukan.

maka fasilitas belajar dapat dikelompokan menjadi dua yaitu: (1) Fasilitas

belajar di sekolah dan (2) Fasilitas belajar di rumah.35

a) Fasilitas belajar di sekolah

Fasilitas belajar di sekolah merupakan sarana dan prasarana

yang harus tersedia untuk melancarkan kegiatan pendidikan di

sekolah.36 Sarana belajar meliputi segala sesuatu yang secara langsung

berpengaruh dengan proses belajar siswa, sedangkan prasarana belajar

adalah fasilitas pendukung yang tidak langsung berhubungan langsung

dengan proses belajar siswa.37 Fasilitas ataupun sarana prasarana

tersebut meliputi sebagai berikut :

1) Gedung atau bangunan sekolah

35
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran (Yogyakarta: Ar-
ruzz Media. 2008), hlm. 27-28.
36
Popi Sopiatin, Manajemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa, (Jakarta:Ghalia
Indonesia, 2010), hlm. 83.
37
Ibrahim Bafadal, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2004), hlm. 2.
41

Gedung atau bangunan sekolah merupakan salah satu

prasarana sekolah yang sangat penting. Bangunan sekolah

merupakan ruangan yang didirikan di atas lahan yang digunakan

untuk kepentingan pendidikan. Bangunan seolah meliputi ruang

kegiatan belajar/kelas, kantor, laboraturium, kantin, gudang dan

kamar mandi. Salah satu syarat untuk dapat belajar dengan sebaik-

baiknya ialah tersedianya ruang belajar/ruang kelas yang nyaman

bagi siswa. Ruang atau tempat belajar inilah yang digunakan oleh

siswa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Dengan ruang

atau tempat belajar yang memadai dan nyaman untuk belajar maka

akan meningkatkan kondisi belajar yang lebih baik.

2) Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan suatu alat bantu mengajar

yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai

suatu tujuan pengajaran yang telah ditetapkan oleh guru dan bersifat

sebagai pelengkap, jika dipandang perlu untuk mempertinggi mutu

proses belajar mengajar. Media pengajaran yang lazim digunakan

pada kegitan belajar mengajar yaitu seperti paper based (majalah dan

brosur), digitally based (komputer, proyektor, LCD), audio based

(CD player, tape, radio), dan lain-lain.

3) Perlengkapan sekolah

Perlengkapan sekolah diperlukan dalam upaya memberkan

pelayanan pendidikan yang baik dan terselenggaranya proses


42

pendidikan secara efektif dan efisien. Perlengkapan sekolah terbagi

menjadi dua macam yaitu benda-benda habis pakai meliputi; kertas,

kapur tulis, bahan untuk praktikum) dan benda-benda tahan lama

meliputui; kursi, meja, alat peraga, dan lain-lain.

4) Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan merupakan salah satu alat vital dalam setiap

pendidikan, pengajaran, dan penelitian. Perpustakaan adalah sebuah

bangunan gedung yang isinya berupa buku-buku dan bahan bacaan

lainnya serta berbagai sumber pengetahuan seperti film yang

disediakan untuk dimanfaatkan oleh para pengguna. Perpustakaan

berfungsi sebagai sumber informasi guna mempermudah siswa

dalam mengakses sumber belajar.

b) Fasilitas belajar di rumah

Selain fasilitas belajar di sekolah, dalam belajar juga perlu

ditunjang pula oleh kelengkapan fasilitas belajar di rumah, sehingga

siswa dapat belajar dengan baik pula di rumah. Menurut The Liang Gie,

bahwa agar dapat melakukan studi dengan sebaik-baiknya seorang

siswa ataupun mahasiswa hendaknya memiliki ruang studi,

perlengkapan sudi, dan perabotan studi dengan sebaik-baiknya sehingga

ia dapat melakukan konsentrasinya dengan penuh..38 Dari sini, dapat

disimpulkan bahwa ruang lingkup fasilitas belajar pribadi yang dimiliki

38
Gie The Liang, Cara Belajar yang Efisien, (Yogyakarta: Liberty. 2002), hlm. 33.
43

peserta didik meliputi tempat/ruang belajar, penerangan, perabot

belajar, dan peralatan tulis.

1) Tempat/ruang belajar

Seorang siswa hendaknya memiliki suatu tempat/ruang

studi khusus yang digunakan untuk belajar, karena tempat belajar

akan sangat mempengaruhi proses kegiatan belajar siswa di rumah.

Tempat/ruangan belajar tersebut dapat berupa ruangan tersendiri atau

meja khusus untuk belajar. Ruang studi yang baik tidak dicampur

untuk keperluan-keperluan lainnya seperti tidak ada radio, tidak ada

televisi dan tidak ada peralatan lainnya yang dapat mengganggu

perhatian dari belajar. Ruang studi yang baik memperhatikan

penataan letak meja dan kursi belajar serta penerangan cahaya.

2) Penerangan

Penerangan yang baik menjadi syarat selanjutnya untuk dapat

belajar dengan baik, terutama apabila siswa belajar pada malam hari.

Dengan penerangan yang cukup dan baik, maka siswa akan lebih

semangat dan belajar dengan baik.

3) Perabot belajar

Untuk dapat belajar dengan baik di rumah diperlukan pula

perlengkapan yang harus dimiliki oleh setiap siswa, yaitu berupa

perabot belajar. Perabotan belajar tersebut meliputi meja beserta

kursinya maupun tempat untuk menyimpan buku. Oleh karena itu


44

diperlukan rak buku agar siswa dapat menyimpan buku dengan baik

dan dapat mengambilnya lagi saat buku dibutuhkan.

4) Peralatan tulis

Peralatan tulis merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan

dalam belajar. Semakin lengkap alat-alat tulis, semakin dapat

seorang siswa belajar dengan baik. Selain buku-buku pelajaran, alat-

alat yang harus dimiliki sendiri oleh setiap siswa adalah pulpen,

pensil, mistar, karet penghapus, alat penajam pensil, perekat, ketas

tulis, dan buku catatan.

Dari berbagai macam fasilitas belajar yang telah disebutkan di atas

baik fasilitas belajar di sekolah maupun di rumah, antara satu dengan yang

lainnya pada prinsipnya saling melengkapi satu sama lain, sehingga tujuan

pendidikan dapat tercapai. Fasilitas belajar merupakan penentu kelancaran

dan semangat belajar siswa, Sehingga dengan kelengkapan fasilitas, baik

sarana maupun prasarana belajar akan mempermudah proses kegiatan

belajar siswa sehingga siswa semakin mudah menerima ilmu yang

diajarkan.39

Fasilitas belajar di sekolah yang meliputi bangunan sekolah, media

pengajaran, perlengkapan belajar, serta perpustakaan, dan fasilitas belajar

di rumah yang meliputi ruang studi, perabotan studi dan perlengkapan

studi selanjutnya dalam penelitian ini, akan peneliti gunakan sebagai

indikator fasilitas belajar.

39
The Liang Gie, Cara … , hlm. 22-47.
45

3. Peran Fasilitas Belajar Dalam Proses Pembelajaran

Fasilitas belajar merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan

dari proses pendidikan, baik yang berhubungan langsung dengan proses

pendidikan maupun yang tidak. Menurut The Liang Gie sebagaimana

dikutip Inayah,40 mengatakan bahwa untuk belajar yang baik hendaknya

tersedia fasilitas belajar yang memadai, antara lain ruang tempat belajar,

penerangan cukup, buku-buku pegangan dan kelengkapan peralatan

belajar. Dan dari berbagai macam fasilitas belajar tersebut semuanya

adalah saling melengkapi satu sama lain, sehingga tujuan pendidikan dapat

tercapai. Kelengkapan fasilitas baik sarana dan prasarana belajar akan

mempermudah proses kegiatan belajar siswa sehingga siswa semakin

mudah menerima ilmu yang diajarkan.

Fasilitas atau alat belajar memiliki fungsi atau peranan yang sangat

penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Di mana fasilitas

memiliki fungsi sebagai tempat terselenggaranya proses pendidikan,

seperti gedung dan laboratorium beserta perlengkapannya. Apabila proses

pendidikan dapat berjalan dengan baik, maka tujuan pendidikan juga akan

tercapai. Suatu tujuan tidak akan tercapai tanpa adanya alat, sehingga

fasilitas belajar ini perlu mendapat perhatian dari pihak pemerintah,

sekolah maupun keluarga.41

40
Ridaul Inayah, Trisno Martono dan Hery Sawiji “Pengaruh Kompetensi Guru, Motivasi
Belajar dan Fasilitas Belajar terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas
XI IPS SMA Negeri 1 Lasem Tahun Pelajaran 2011/2012”. Jurnal Pendidikan Insan Mandiri. Vol
1 No. 1 Tahun 2013.
41
Binti Maunah, Ilmu …, [Link]., hlm. 11.
46

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang

Standar Nasional Pendidikan, BAB VII Standar Sarana dan Prasarana,

pasal 42 dinyatakan bahwa :

a. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot,


peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar
lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan
untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
b. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi
lahan ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik,
ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang
bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan
jasa, tempat olahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat
berkreasi, dan ruang atau tempat lain yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.42
Dari uraian tersebut, menunjukkan bahwa beradaan akan fasilitas

atau sarana prasarana belajar sebagai penunjang kegiatan belajar tentulah

sangat penting, hal ini dikarenakan keberadaan serta kondisi dari fasilitas

belajar dapat mempengaruhi kelancaran serta keberlangsungan proses

belajar anak. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dalyono, yang

menyatakan bahwa, kelengkapan fasilitas belajar akan membantu siswa

dalam belajar, dan kurangnya alat-alat atau fasilitas belajar akan

menghambat kemajuan belajarnya.43 Pendapat senada juga dikemukakan

Moh. Surya, yang menyatakan bahwa keadaan fasilitas fisik tempat belajar

berlangsung di kampus/sekolah ataupun di rumah sangat mempengaruhi

efisiensi hasil belajar. Keadaan fisik yang lebih baik lebih menguntungkan

42
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Sarana
dan Prasarana, (Jakarta: 2005)
43
Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hlm. 241.
47

siswa belajar dengan tenang dan teratur. Sebaliknya lingkungan fisik yang

kurang memadai akan mengurangi efisiensi hasil belajar.44

Fasilitas belajar merupakan sarana penunjang proses belajar,

dengan fasilitas yang terpenuhi dan lengkap maka semangat belajar akan

bertambah. Begitu pula sebaliknya apabila fasilitas tersebut tidak terpenuhi

maka semangat belajar akan berkurang.45 Lengkapnya fasilitas belajar juga

akan membantu siswa dalam belajar, serta sebaliknya, kurangnya alat-alat

atau fasilitas belajar akan menghambat kemajuan belajarnya.46 Jadi

motivasi belajar akan lebih baik apabila di dalam kegiatan belajar

mengajar didukung oleh alat-alat pelajaran yang relevan. Dengan fasilitas

belajar yang lengkap maka dapat motivasi siswa akan terdorong dan

sebaliknya, jika fasilitas belajar tidak tidak memadai, maka siswa tidak

akan bisa belajar dengan baik.

4. Hubungan Fasilitas Belajar Dengan Motivasi Belajar

Fasilitas belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

motivasi belajar. Fasilitas belajar merupakan alat bantu belajar yang dapat

digunakan untuk membantu siswa melakukan proses belajar sehingga

kegiatan belajar menjadi lebih efisien, efektif dan menyenangkan. Apabila

fasilitas belajar tersedia dengan baik maka siswa akan semakin baik dalam

belajar, dan untuk dapat belajar dengan baik antara lain seorang siswa

44
Muhammad Surya, Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosda
Karya, 1999), hal. 80.
45
Yuliani Setiawati dan Sudarto, “Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Kelas
Unggulan Ditinjau Dari Aspek Pemilihan, Motivasi Belajar Dan Sarana Penunjang Pembelajaran”
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol. 24, No. 1, Juni 2014.
46
Dalyono, Psikologi …, [Link]., hlm. 241.
48

membutuhkan segala peralatan sekaligus kelengkapan fasilitas – fasilitas

belajar seperti gedung tempat belajar yang baik, meja tulis, kursi, media

pembelajaran maupun ketersediaaan buku - buku pelajaran. Ketika fasilitas

– fasilitas tersebut terpenuhi maka akan tercipta suasana tenang dalam

belajar dan ini akan dapat meningkatkan motivasi sekaligus prestasi siswa

dalam belajar.

Belajar merupakan suatu kegiatan di mana di dalamnya melibatkan

berbagai unsur, maka penyediaan fasilitas belajar juga akan sangat

menentukan berhasil tidaknya belajar itu sendiri. Bimo Walgito

mengatakan bahwa semakin lengkap alat-alat pelajaran semakin dapat

orang belajar dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya kalau alat-alat pelajaran

tidak lengkap, maka hal ini merupakan gangguan di dalam proses belajar

sehingga hasilnya akan mengalami gangguan.47 Oleh karena itu, Peranan

orang tua maupun sekolah sebagai pihak penyelenggara pendidikan formal

terhadap ketersediaan fasilitas belajar anak – anak ataupun siswa tentu

sangat diperlukan, sebab ketersediaan fasilitas belajar akan meningkatkan

motivasi belajar anak.

Senada dengan itu, Dalyono juga mengatakan bahwa kelengkapan

fasilitas belajar akan membantu siswa dalam belajar, dan kurangnya alat-

alat atau fasilitas belajar akan menghambat kemajuan belajarnya.48 Hal ini

diperkuat dengan pendapat Setiawati dan Sudarto, yang mengatakan

47
Bimo Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan Sekolah (Yogyakarta: Yayasan Penerbit
Fakultas Psikologi UGM, 1986), hlm. 123.
48
Dalyono, Psikologi …, [Link]., hlm. 241.
49

bahwa dengan fasilitas yang terpenuhi dan lengkap maka semangat

belajar akan bertambah. Begitu pula sebaliknya apabila fasilitas tersebut

tidak terpenuhi maka semangat belajar akan berkurang.49 Jadi motivasi

belajar akan lebih baik apabila di dalam kegiatan belajar mengajar

didukung oleh alat-alat pelajaran yang relevan. Fasilitas belajar

berpengaruh terhadap motivasi belajar, jika fasilitas belajar tidak tidak

memadai, maka siswa tidak akan bisa belajar dengan baik. Sebaliknya

jika siswa yang memiliki memiliki fasilitas belajar yang lengkap maka

dapat berhasil dalam pelajaran tersebut.

C. Iklim Sekolah

1. Pengertian Iklim Sekolah

Iklim merupakan suatu kondisi atau suasana.50 Sedangkan iklim

sekolah, Litwin dan Stringer secara umum menjelaskan bahwa iklim

sekolah didefinisikan secara bervariasi oleh para ahli sebagai hasil dari

persepsi subyektif terhadap sistem formal, gaya informal kepala sekolah,

dan faktor lingkungan penting lainnya yang mempengaruhi sikap,

kepercayaan, nilai dan motivasi individu yang berada pada sekolah

tersebut.51 Namun demikian dari beberapa variasi definisi iklim sekolah

tersebut apabila ditelaah lebih mendalam, maka akan mengerucut dalam

tiga pengertian. Pertama, iklim sekolah didefinisikan sebagai kepribadian

49
Yuliani Setiawati dan Sudarto, “Prestasi… [Link].
50
Kamisa, kamus … Op. Cit., hlm. 237.
51
Gunbayi Ilhan, School Climate and Teacher`s Perceptions on Climate Factors :
Research Into Nine Urban High Schools, The Turkish Online Journal of Educational Technology
(TOJET), 2007. hal. 1.
50

suatu sekolah yang membedakan dengan sekolah yang lain. Kedua, iklim

sekolah didefinisikan sebagai suasana yang mencakup berbagai norma

yang kompleks, nilai, harapan, kebijakan dan prosedur yang

mempengaruhi pola prilaku individu dan kelompok. Ketiga, iklim sekolah

didefinisikan sebagai persepsi individu terhadap kegiatan, praktik dan

prosedur serta persepsi tentang prilaku yang dihargai, didukung dan

diharapkan dalam suatu organisasi.

Definisi iklim sekolah juga dikemukakan Sergiovanni dan Starratt

sebagaimana dikutip oleh Hadiyanto, yang menyatakan bahwa Iklim

sekolah merupakan karakteristik yang ada yang menggambarkan ciri-ciri

psikologis dari suatu sekolah tertentu, yang membedakan suatu sekolah

dari sekolah yang lain, mempengaruhi tingkah laku guru dan peserta didik

dan merupakan perasaan psikologis yang dimiliki guru dan peserta didik

di sekolah tertentu.52 Iklim sekolah dapat juga didefinisikan sebagai

keadaan kehidupan yang berlangsung di sekolah dengan unsur-unsur yang

berada di dalamnya yaitu interaksi dalam kehidupan proses belajar

mengajar dan lingkungan.53

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa iklim sekolah

adalah situasi atau suasana yang muncul karena adanya hubungan antara

kepala sekolah dengan guru, guru dengan guru, guru dengan peserta didik

52
Hadiyanto, Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia.
(Jakarta: PT. Asdi Mahasarya, 2004), hlm. 178.
53
Rawita Sutisno, Mengelola Sekolah Efektif (Perspektif Managerial dan Iklim Sekolah).
Yogyakarta: Laks Bang Preesindo, 2013), hlm. 65.
51

atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khas sekolah yang

ikut mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah.

2. Aspek – aspek dan Dimensi Iklim Sekolah

a) Aspek – Aspek Iklim Sekolah

Iklim sekolah dipandang penting karena mempengaruhi

pengajaran dan pembelajaran, sikap dan moral, kesehatan mental

warga sekolah, produktivitas, perasaan mempercayai dan memahami,

pembaharuan dan perubahan. Iklim yang kondusif akan sangat baik

untuk pertumbuhan lingkungan belajar di sekolah.54 Oleh karena itu,

untuk dapat mewujudkan itu semua maka diperlukan sekolah yang

baik. Dan agar sekolah bisa berfungsi dengan baik dan sempurna,

diperlukan beberapa aspek iklim sekolah. Aspek iklim sekolah yang

perlu diperhatikan tersebut meliputi tiga hal, yaitu :55

1) Interaksi dengan indikator interaksi peserta didik dengan guru,

interaksi dengan karyawan, interaksi peserta didik dengan peserta

didik lain.

2) Proses belajar dengan indikator suasana demokratis, kepedulian,

keterbukaan dan kebersamaan.

3) Kondisi sekolah, maksudnya kondisi sarana dan prasarana sekolah

untuk menjalankan kegiatan keagamaan, meliputi sarana ibadah,

tempat diskusi, ceramah, seminar dan dialog, serta sarana lain yang

54
M. Zakariah, Iklim Sekolah yang Kondusif berbasis Konsep Manajemen Kelas. Jurnal
FIKRUNA Vol 2 No. 1 Januari –Juni 2013.
55
Rawita Sutisno, Mengelola …,Op. Cit., hlm. 65.
52

menunjang. Aspek kondisi sekolah memiliki indikator keamanan,

ketertiban, kebersihan, kesehatan, dan keindahan.

Tiga aspek iklim sekolah sebagaimana diuraikan di atas, yaitu

meliputi aspek interaksi, aspek proses belajar mengajar, dan kondisi

sekolah selanjutnya akan digunakan sebagai indikator dalam

mengukur variabel iklim sekolah dalam penelitian ini.

b) Dimensi Iklim Sekolah

Dimensi iklim sekolah dikembangkan atas dasar dimensi umum

yang dikemukakan oleh Moos dan Arter. Terdapat 4 dimensi

mengenai iklim sekolah sebagaimana dikemukakan Hadiyanto, yaitu

;56 1). Dimensi hubungan (relationship), 2). Dimensi

pertumbuhan/perkembangan pribadi (personal growth/development)

dan 3). Dimensi perubahan dan perbaikan sistem (system maintenance

and change). dan 4). Dimensi lingkungan fisik (physical

environment). Adapun keempat dimensi tersebut adalah sebagai

berikut :

1) Dimensi hubungan (relationship)

Dimensi hubungan mengukur sejauh mana keterlibatan

personalia yang ada disekolah seperti kepala sekolah, guru, dan

peserta didik, saling mendukung dan membantu, dan sejauh mana

mereka dapat mengekspresikan kemampuan mereka secara bebas

dan terbuka. Skala-skala yang termasuk dalam dimensi ini


56
Hadiyanto. 2004. Mencari … .[Link]., hlm. 179.
53

diantaranya adalah dukungan peserta didik, afiliasi, keretakan,

keintiman, kedekatan, dan keterlibatan.

2) Dimensi pertumbuhan/perkembangan pribadi (personal

growth/development)

Dimensi pertumbuhan pribadi yang disebut juga dimensi

yang berorientasi pada tujuan utama sekolah dalam mendukung

pertumbuhan/perkembangan pribadi dan motivasi diri guru untuk

tumbuh dan berkembang. Skala-skala iklim sekolah yang dapat

dikelompokkan ke dalam dimensi ini diantaranya adalah minat,

profesional (professional interest), halangan (hidrence),

kepercayaan (trust), standart prestasi (achievement standart), dan

orientasi pada tugas (task orientation).

3) Dimensi perubahan dan perbaikan sistem (system maintenance and

change)

Dimensi ini membicarakan sejauh mana iklim sekolah

mendukung harapan, memperbaiki kontrol dan merespon

perubahan. Skala-skala iklim sekolah yang termasuk dalam dimensi

ini diantaranya adalah kebebasaan (staff freedom), partisipasi dalam

pembuatan keputusan (participatory decision making), inovasi

(innovation), tekanan kerja (work pressure), kejelasan (clarity) dan

pengawasan (control).

4) Dimensi lingkungan fisik (physical environment)


54

Dimensi ini membicarakan sejauh mana lingkungan fisik

seperti fasilitas sekolah dapat mendukung harapan pelaksanaan

tugas. Skala-skala yang termasuk dalam dimensi ini diantaranya

adalah kelengkapan sumber (resource adequacy), dan kenyamanan

(physical comfort).

3. Peran dan Urgensi Iklim Sekolah Dalam Pembelajaran

Proses pembelajaran dalam implementasinya senantiasa selalu

mengalami perubahan dan perkembangan dengan system, model dan

pendekatan yang mungkin asing bagi guru yang terbiasa menggunakan

sistem klasikal. Hal ini terjadi karena dalam proses pembelajaran di era

modern senantiasa menuntut guru dan peserta didik bersikap toleran,

menjunjung tinggi sikap kebersamaan dan kebinekaan serta berpikiran

terbuka. Dengan demikian guru dan peserta didik dapat bersama-sama

belajar menggali kompetensinya masing-masing secara optimal. Untuk

kepentingan tersebut diperlukan iklim pembelajaran yang mendorong

kemandirian guru untuk berkreasi dalam setiap aspek pembelajaran. Oleh

karna itu, iklim sekolah merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa

ditawar lagi.

Menurut Mulyasa, iklim sekolah itu perlu, antara lain dapat dilihat

dari hal-hal sebagai berikut :57

57
Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara,
2001), hlm. 86.
55

a) Dalam era globalisasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan,

teknologi, dan seni berlangsung setiap saat. Begitu cepatnya

perkembangan tersebut sehingga sulit diikuti oleh “mata telanjang”.

Hal tersebut tentu besar pengaruhnya terhadap sistem pendidikan

disekolah, baik terhadap perencanaan, proses, hasil pendidikan dan

motivasi belajar siswa. Bagaimana sekolah dikondisikan agar dapat

mengikuti perkembangan dan perubahan tersebut, hal ini jelas perlu

adanya iklim sekolah yang kondusif.

b) Perkembangan penduduk yang cepat membutuhkan pelayanan

pendidikan yang besar. Untuk itu diperlukan biaya atau anggaran

pendidikan yang besar pula. Disamping itu, perlu pula strategi yang

tepat agar pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh warga negara

secara merata, baik kuantitas maupun kualitas. Dalam kerangka ini

pula diperlukan iklim sekolah yang kondusif dan menyenangkan, agar

semua warga sekolah dapat mengembangkan potensinya secara

optimal.

c) Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan modal dasar

sekaligus menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional jika

sumber-sumber daya manusia atau tenaga kerja indonesia dalam

jumlah yang besar tersebut dapat ditingkatkan mutu dan

pendayagunaan. Dengan begitu, dalam waktu yang relatif singkat

perekonomian indonesia akan tumbuh dan berkembang secara mantap

dan memberikan tingkat pendapatan nasional yang relatif tinggi. Hal


56

tersebut merupakan tantangan bagi sekolah, bagaimana menghasilkan

lulusan yang berkualitas, tidak saja mampu dan terampil melakukan

pekerjaan, tetapi juga mempunyai inovasi dan kreativitas tinggi serta

mempunyai daya pandang jauh kedepan. Untuk kepentingan tersebut,

sekolah perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian atau pembaruan-

pembaruan.

d) Perkembangan informasi dalam era globalisasi akhir-akhir ini, telah

menimbulkan berbagai pemikiran, bukan saja dalam dunia bisnisdan

ekonomi, melainkan juga dalam dunia pendidikan. Untuk menghadapi

tantangan masa depan sebagai akibat dari kemajuan dan

perkembangan teknologi, sekolah harus mengantisipasi hubungan

antar negara yang semakin erat, seakan tidak ada lagi batas.

Dari yang dikemukakan Mulyasa di atas, dapat dipahami bahwa

keberadaan iklim sekolah dalam proses pembelajaran di era sekarang

memegang peranan penting dalam pengaruhnya terhadap proses dan

pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh karna itu pengorganisasian dan

pengelolaan iklim sekolah sehingga menjadi baik dan kondusif, mutlak

perlu dilakukan oleh seluruh pengelola sekolah.

4. Ciri – Ciri Iklim Sekolah Yang Baik

Iklim sekolah yang baik penting diwujudkan dilingkungan sekolah.

Karena ia digunakan oleh siswa sebagai media belajar.58 Sehingga dari

media yang baik, diharapkan akan berimbas kepada kebaikan dalam diri
58
Rawita Sutisno, Mengelola …,Op. Cit., hlm. 63.
57

siswa. Siswa menjadikan iklim yang kondusif sebagai suatu perilaku,

nilai-nilai, sikap dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan

lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang persoalan dan struktur

yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi

untuk memenuhi suatu kebutuhan (pendidikan).

Menurut Hayman, mengatakan bahwa iklim yang kondusif antara

lain dapat mendukung :

a) Interaksi yang bermanfaat diantara siswa;

b) Memperjelas pengalaman-pengalaman guru dan siswa;

c) Menumbuhkan semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di

kelas maupun di sekolah berlangsung dengan baik

d) Mendukung saling pengertian antar guru dan siswa mendukung :59

Sedangkan menurut Peterson sebagaimana dikemukakan Sutisno,

sekolah yang mempunyai budaya yang positif memiliki ciri-ciri sebagai

berikut :

a) Staf yang memiliki sebuah tujuan bersama, mencurahkan perhatian

mereka untuk pembelajaran

b) Kebersamaan dalam membangun dan kerja belajaran

c) Merayakan acara ritual dan tradisi bersama-sama dengan murid dan

orang tua

d) Tidak kaku dan penuh humor.60

59
Hadiyanto. 2004. Mencari … .[Link]., hlm. 184.
60
Rawita Sutisno, Mengelola …,op. Cit., hlm. 65.
58

Dari pendapat - pendapat para ahli mengenai iklim sekolah yang

ideal tersebut dapat disimpulkan bahwa sekolah dengan iklim sekolah

yang baik dan kondusif memiliki ciri – ciri seperti ; adanya interaksi antar

semua anggota sekolah, guru memiliki komitmen yang tinggi untuk

mengajar, adanya keselarasan dan kebersamaan antar anggota sekolah,

terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, memiliki tujuan yang sama,

dan peraturan sekolah tidak bersifat kaku.

5. Hubungan Iklim Sekolah Dengan Motivasi Belajar

Motivasi belajar merupakan factor penting dalam menunjang

keberhasilan belajar. Motivasi seseorang dalam belajar dipengaruhi oleh

beberapa faktor. Faktor - faktor tersebut munculnya dari dalam diri siswa

itu sendiri maupun dari luar diri siswa. Dan salah satu faktor yang

berpengaruh tersebut adalah iklim sekolah, yakni segala sesuatu yang ada

di lingkungan sekolah yang dirasakan dan berpengaruh terhadap perilaku

individu yang terlibat di dalam sekolah meliputi interaksi antar warga

sekolah, proses belajar maupun kondisi lingkungan sekolah itu sendiri.

Iklim sekolah merupakan bagian dari lingkungan belajar yang akan

mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku seseorang, sebab dalam

melaksanakan tugas sekolahnya seorang siswa akan selalu berinteraksi

dengan lingkungan belajarnya termasuk guru di dalamnya. Sehingga iklim

sekolah memiliki peran yang penting dalam proses belajar mengajar di

sekolah. Guru sebagai salah satu komponen warga sekolah, memegang


59

peranan penting karena guru merupakan tenaga pendidikan dan pengajar

yang berhubungan langsung dengan siswa. Guru sebagai pengajar dan

pendidik tidak hanya berperan mentransformasikan ilmu pengetahuan

melalui proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut pembinaan

perkembangan kesadaran dan mental siswa.

Iklim sekolah menjadi factor yang penting dalam kegiatan

pembelajaran karena mempengaruhi pengajaran dan pembelajaran, sikap

dan moral, kesehatan mental warga sekolah, produktivitas, perasaan

mempercayai dan memahami, serta pembaharuan dan perubahan.

Sehingga keberadaan sebuah iklim yang baik mutlak diperlukan, karena

iklim sekolah yang tumbuh dan berkembang di sekolah digunakan oleh

para siswa sebagai media belajar. Sekolah dengan iklim sekolah yang baik

dan kondusif sangat baik untuk pertumbuhan lingkungan belajar di

sekolah.61 Selain itu, melalui keberadaan iklim sekolah yang baik dan

kondusif tersebut maka akan dapat mengurangi hambatan siswa pada saat

proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi

siswa,62 serta memajukan proses belajar mengajar dan meningkatkaan

pengajaran yang efektif.63

61
M. Zakariah, Iklim…, [Link].
62
Pashiardis, G. Toward …[Link]., hlm. 399-416.
63
Rapti, D. (2012). School … op. cit., hlm. 111-125.

Anda mungkin juga menyukai