LAPORAN PRAKTIKUM
GEOFISIKA EKSPLORASI
METODE MAGNETIK
Disusun oleh:
Kyla Alifiya Siregar
21100121120015
LABORATORIUM GEOTEKNIK, GEOTHERMAL, DAN
GEOFISIKA
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
MEI 2023
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Maksud
a) Mempelajari prinsip dasar metode magnetik
b) Mempelajari proses akuisisi data metode magnetik
c) Mempelajari konsep dan penerapan metode magnetik dalam bidang geologi
d) Menginterpretasi data magnetik
1.2 Tujuan
a) Praktikan dapat memahami prinsip dasar metode magnetik
b) Praktikan dapat memahami proses akuisisi data metode magnetik
c) Praktikan dapat memahami penerapan anomaly medan magnetic dalam bidang
geologi
d) Praktikan dapat mengetahui aplikasi metode magnetik dalam aktivitas geologi
1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum geofisika eksplorasi acara Metode Magnetik telah dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Kamis, 11 Mei 2023
Waktu : 19.00-selesai
Tempat : Ruang 103 Gedung Pertamina Sukowati
BAB II
LANGKAH KERJA
2.1 Pengolahan Data Excel
1) Konversi kolom waktu menjadi Waktu “jam” dengan rumus
=CONVERT(…,”day”,”hr”)
2) Mengisi kolom “selisih waktu” dengan rumus =Waktu pengukuran 1-waktu base 1
3) Menghitung rata-rata nilai pembacaan (Tobs) dengan rumus =AVERAGE(…:…)
4) Menghitung nilai Delta dengan rumus =(rata-rata akhir-rata-rata base)/(waktu akhir-
waktu base) pada masing-masing base
5) Menghitung nilai BD dengan rumus =rata-rata akhir-rata-rata base pada masing
masing base
6) Menghitung nilai Tvh dengan rumus =(Delta*selisih waktu x)+BD, dilakukan pada
masing-masing base
7) Menghitung anomaly magnetic total dengan rumus =rata-rata-Tvh-koreksi IGRF
8) Copy paste nilai UTM X, UTM Y, dan anomaly total dari sheet data ke sheet anomali
2.2 Pengolahan Data Surfer
1) Melakukan grid data dengan cara klik tab home → grid data → pilih file excel yang
dimaksud →pilih sheet yang akan digunakan datanya, dalam hal ini adalah sheet
anomaly → klik finish
2) Membuat peta kontur dari data grid tersebut dengan klik contour map pada tab home
lalu pilih file grid yang telah dibuat
3) Lalu mengatur fill contour dengan pengaturan yang ada di ujung kiri bawah layar
2.3 Kontinuitas ke Atas
1) Membuka aplikasi MagPick → klik file.. → open data grid → pilih file grid yang
telah diolah di Surfer
2) Melakukan upward continuity dengan cara klik operations → upward continuation
3) Masukkan elevasi-elevasi yang disesuaikan dengan elevasi pengukuran data. Pada
data kali ini, nilai elevasi yang digunakan adalah 150, 400, 650, 900, 1150, 1400, 1650
dengan interval masing-masing 250
4) Simpan masing-masing data regional maupun lokal di setiap elevasi
5) Membuka software surfer → klik contour map pada tab home
6) Memilih file grid regional dan lokal yang telah diperoleh dari aplikasi MagPick
sebelumnya
7) Lakukan langkah 6 pada setiap elevasi pada data grid regional dan lokal sehingga
diperoleh hasil seperti di bawah ini
8) Klik peta → pilih digitize pada tab map tools
9) Digitasi sayatan dengan klik titik pada peta yang memiliki nilai anomaly tertinggi
dan titik yang kedua adalah yang terendah
10) Simpan file digitasi dengan klik file lalu klik save
11) Buka tab grids → pilih menu slice
12) Input grid adalah data lokal 1150, output adalah file [Link], lalu centang output
[Link] dan output [Link]
2.4 Pengolahan Data Mag2dc
1) Membuka aplikasi Mag2dc lalu klik system operations → begin a new model
2) Akan muncul tampilan seperti di bawah, lalu masukkan angka sudur inklinasi dan
deklinasi dari data excel dan klik satuannya menjadi meter
3) Open data DAT slice hasil pengolahan data sebelumnya
4) Ubah nilai Mag. Data column dengan 3 dan ceklis X-Y position data present
5) Akan muncul tampilan seperti di bawah
6) Klik ctrl+A lalu klik kiri untuk memulai pembuatan model 2D dan jika sudah dirasa
cukup, klik kanan kursor
7) Klik edit a body → change body properties untuk mengubah nilai suseptibilitas,
kedalaman, dan lebar body
8) Buat body yang lain, sesuaikan dengan nilai suseptibilitas agar nantinya kurva hijau
bertampalan dengan kurva hitam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Metode Magnetik
Dalam eksplorasi panas bumi, metode magnetik digunakan untuk mengetahui
variasi medan magnet di daerah penelitian. Variasi medan magnet disebabkan oleh sifat
kemagnetan yang tidak homogen dari kerak bumi. Dimana batuan di dalam sistem panas
bumi pada umumnya memiliki magnetisasi rendah dibanding batuan sekitarnya. Hal ini
disebabkan adanya proses demagnetisasi oleh alterasi hidrotermal yang mana proses
tersebut mengubah mineral yang ada menjadi mineral-mineral paramagnetik atau bahkan
diamagnetik. Nilai magnet yang rendah tersebut dapat menginterpretasikan zona-zona
potensial sebagai distribusi dan sumber panas (Putut, 2009).
3.2 Geologi Regional Daerah Penelitian
Lampung adalah salah satu provinsi di bagian ujung Selatan Pulau Sumatera yang
secara geografis terletak antara 1030 40’-1050 50’BT dan 60 45’-3 0 45’LS dengan luas
wilayah 35.288,35 km2 . Lampung berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan, Selat
Sunda di sebelah selatan, Provinsi Bengkulu di sebelah barat, dan Laut Jawa di sebelah
timur (Medi, 2014).
Gambar 1. Lokasi Penelitian
Geologi Bandar Lampung memiliki batuan dasar tersusun oleh batuan metamorf
Formasi Komplek Gunung Kasih berumur Pra-Tersier kurun waktu Paleozoikum sebagai
batuan dasar, dan di beberapa wilayah naik mendekati permukaan. Formasi Komplek
Gunung Kasih yang merupakan satuan batuan malihan atau metamorf yang terdiri dari
beberapa satuan batuan malihan dengan nama lokal sesuai daerah persebarannya.
Kemudian ada Kompleks Gunung Kasih tak terpisahkan atau tidak bisa dipecah
penamaannya dengan kehadiran batuan sekis pelitan, dan sedikit gneiss. Bagian
Kompleks Gunung Kasih pada Lembar Peta Geologi Tanjung Karang dibagi menjadi
beberapa penamaan yaitu Satuan Sekis Way Galih terdapat batuan sekis amfibol hijau,
dan ampfibolit ortogenesis dioritan. Satuan Batupualam Trimulyo terdiri atas runtuhan
sedimen-malihan dari batugamping berupa batupualam (marmer) dan batuan beku-
malihan berupa sekis. Satuan Kuarsit Sidodadi terdapat batuan kuarsit dengan sisipan
batuan berupa sekis-kuarsit serisit, dan yang terkahir Satuan Migmatit Jundeng terdapat
batuan granitoid dan sekis serta gneiss, yang diterobos oleh urat granit. Kurun waktu
Kapur Pra-Tersier terdapat proses pembentukan magmatis yang menyebabkan Formasi
Komplek Gunung Kasih diintrusi oleh batuan granodiorite (Formasi Granodiorit
Seputih/Kgdsn). Masa Eosen (Tersier), Formasi Komplek Gunung Kasih juga diterobos
oleh batuan granit (Formasi Granit Jatibaru/Tejg) dan naiknya lensa-lensa basal (Formasi
Basal/Tpeb). Batuan dasar dan batuan intrusi mengalami penutupan oleh material
sedimen jalur Bukit Barisan menghasilkan Formasi Campang (Tpoc) dan Formasi
Tarahan (Tpot) berumur Eosen. Formasi Campang tersusun dari perselingan
batulempung, serpih, breksi, dan tuf padu, batuan breksi dengan sisipan batupasir,
batulanau, klastika gampingan, tuf dan breksi konglomeratan polimik. Formasi Tarahan
tersusun oleh batuan tuf padu, breksi dengan sisipan rijang, breksi tufaan dengan sedikit
lava andesit-basal. Kurun waktu Kuarter menghasilkan pembentukan Formasi Lampung
(QTI) yang menutupi bagian permukaan sebagian besar wilayah Bandar Lampung.
Formasi ini tersusun dari batuan tuf riolitik, tuf padu, tuf berpatuapung, batulempung
tufan dan batuparis tufan. Produk batuan paling muda adalah Formasi Gunungapi Muda
(Qhv) yang berkaitan dengan keberadaan Gunung Betung dan Gunung Ratai di bagian
barat Bandar Lampung. Endapan Gunungapi Muda tersusun oleh batuan lava andesit-
basal, tuf dan breksi yang bersumber dari Gunung Ratai, Gunung Pesawaran, Gunung
Betung dan Gunung Rajabasa. Di bagian pesisir menghasilkan endapan alluvial pantai
(Qa) yang dipengaruhi pasang surut air laut dan arus aliran run off dari bagian yang
lebitinggi.
Gambar 2. Peta Geologi Bandar Lampung
Secara tektonik regional, Pulau Sumatera terletak di Paparan Sunda (Sundaland)
tepatnya di sepanjang tepi baratdaya (SW), dan terbentuk dari hasil tumbukan subduksi
antar Lempeng Samudera Indo-Australia yang menunjam berarah baratlaut dengan
lempeng Eurasia (Hamilton, 1979). Penunjaman yang terjadi diperkirakan terjadi dan
sudah berlangsung sejak Perem Akhir, atau Perem Awal-Tengah. Pada masa akhir
Paleozoikum dan Mesozoikum, fragmennya tersusun dari lempeng benua serta busur
magmatik yang berasal dari Gondwana (Barber dan Crow, 2003). Setelah fase subduksi,
diteruskan oleh proses pelelehan pada saat penunjaman lempeng benua Maka
menghasilkan busur magmatik di Pulau Sumatera (Mangga dkk., 1993).
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum geofisika eksplorasi acara Magnetik, Praktikan mengkaji
mengenai prinsip metode magnetic yang dapat dimodelkan berdasarkan nilai
suseptibilitas suatu batuan untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan. Praktikan juga
mempelajari bagaimana cara mengolah data magnetic yang kemudian diolah
menggunakan aplikasi surfer, magpick, dan mag2dc. Berdasarkan aplikasi tersebut,
Praktikan akan menginterpretasikan data yang telah dibuat secara kuantitatif dan
kualitatif. Hasil pemodelan metode magnetic daerah Bandar Lampung adalah sebagai
berikut:
4.1 Interpretasi Kualitatif
Peta kontur daerah Bandar Lampung telah diperoleh dari hasil pengolahan data
magnetic menggunakan software surfer. Metode yang digunakan adalah metode krigging
untuk mengetahui persebaran data hasil penelitian yang telah dilakukan.
Gambar 3. Peta Kontur Anomali Hasil Permodelan Surfer
Pada peta di atas di keathui adanya perbedaan nilai anomaly yang ditunjukkan dengan
perbedaan warna peta sesuai dengan parameter di sampingnya. Diketahui nilai tertinggi
ditunjukkan dengan warna merah senilai >400 nT dan warna ungu menunjukkan nilai
terendah sekitar <-45n nT. Jika dilihat secara menyeluruh, warna orange sangat
mendominasi, hal ini menunjukkan daerah Bandar Lampung memiliki nilai anomaly
kemagnetan yang cukup tinggi yakni berada pada interval 100-250 nT. Nilai ini
menunjukkan banyaknya litologi yang memiliki nilai suseptibilitas batuan tinggi. Pada
bagian barat peta, dapat dilihat warna hijau yang mendominasi, ini menunjukkan nilai
anomaly kemagnetan netral yakni sekitar -100-0 nT.
Gambar 4. Peta Kontinuitas ke Atas regional dan lokal (elevasi 900 m)
Kemudian untuk mengurangi perbedaan ketinggian yang signifikan dilakukan kontinuitas
ke atas menggunakan surfer dari data grid yang diolah melalui MagPick. Kontinuitas ke
atas dilakukan terhadap elevasi 150, 400, 650, 900, 1150, 1400, dan 1650 meter.
Dianalisis dari keenam proses tersebut, disimpulkan peta kontur yang paling mirip dengan
peta anomaly kemagnetan adalah pada kontinuitas ke elevasi 900 meter. Pada peta
anomaly regional, menunjukkan nilai anomaly kemagnetan semakin ke barat laut,
semakin kecil nilainya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai dan warna pada scale bar.
Jika dikorelasi dengan geologi regional daerah penelitian, menunjukkan
keselarasan nilai kemagnetan di mana diketahui batuan metamorf dan batuan vulkanik
merupakan batuan penyusun daerah penelitian yang memiliki nilai suseptibilitas cukup
tinggi-sedang. Hal ini selaras dengan hasil pemodelan peta kontur di mana warna orange
sebagai representasi nilai kemagnetasn sedang mendominasi daerah penelitian.
4.2 Interpretasi Kuantitatif
Setelah dilakukan analisis pada peta kontur anomaly kemagnetan, dilakukan
pemodelan 2 dimensi bawah permukaan menggunakan software Mag2dc. Cara ini dapat
dikatakan kurang akurat dan memerlukan ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Adapun
hasil pemodelan tersebut adalah sebagai berikut
Gambar 5. Pemodelan 2 Dimensi menggunakan Mag2dc
Berdasarkan pemodelan yang telah dilakukan, dapat dikorelasikan hasilnya
dengan tabel Telford (1990). Adapun lapisan paling bawah di daerah Bandar Lampung
sesuai dengan geologi regional dan pemodelan merupakan lapisan batu skis dan kuarsit
yang memiliki nilai suseptibilitas 0.256. Kemudian, pada lapisan di atasnya yang lebih
muda, dapat diketahui nilainya adalah granit dengan nilai 0.01 yang memiliki daya
kemagnetan rendah. Diinterpretasi juga adanya intrusi batuan beku diorite dengan nilai
suseptibilitas 0.8. Kemudian lapisan di atasnya dapat diinterpretasi merupakan lapisan
batuan sedimen yang mendominasi penampang daerah penelitian dengan nilai
suseptibilitas rendah yakni 0.01. Apabila dikaji dengan geologi regionalnya, dapat
diinterpretasi daerah Bandar Lampung memiliki base rock berupa batuan metamorf yang
memiliki nilai suseptibilias sedang, kemudian adanya intrusi batu granit yang memiliki
nilai kemagnetan rendah-sedang, dan ditutup dengan lapisan batuan sedimen yang
memiliki nilai kemagnetan rendah. Hal ini dapat diinterpretasikan daerah ini telah
mengalami pelapukan di lapisan bagian atasnya sedang lapisan di bawahnya cenderung
memiliki kompaksi yang kuat dan nilai suseptibilitas yang cukup tinggi.
Tabel 1. Klasifikasi nilai suseptibilitas batuan (Telford, 1990)
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan data metode magnetic serta pemodelan peta kontur dan
pemodelan 2 dimensi kondisi bawah permukaan dengan menggunakan beberapa
perangkat lunak, diketahui bahwa daerah Bandar Lampung memiliki batuan penyusun
dengan nilai suseptibilitas sedang. Hasil yang diperoleh dari pengolahan data
menggunakan surfer ataupun Mag2dc, menunjukkan keselarasan pun dengan kondisi
geologi regionalnya. Interpretasi bawah permukaan antara lain tersusun atas batuan
malihan di paling bawah dan paling tua, kemudian terdapat intrusi batuan beku granit
dan diorite, dan paling atas merupakan batuan sedimen dengan nilai suseptibilitas
yang rendah.
5.2 Saran
Untuk praktikan diharapkan dapat lebih disiplin dan belajar dari kesalahan
sebelumnya. Untuk asisten diharapkan dapat menjelaskan materi dengan lebih jelas
dan perlahan agar dapat tersampaikan dengan baik kepada praktikan.
DAFTAR PUSTAKA
Rasimeng, S. 2008. Analisis Sesar Gunung Rajabasa Lampung Selatan sebagai daerah
Prospek Geothermal berdasarkan Data Anomali Medan magnet Total. Jurnal
Sains MIPA. Vol. 14. Hal. 67-72.
Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., and Keys, D.A., 1976, Applied Geophysics,
Cambridge University Press, London.
Mangga, S.A., Amiruddin, Suwandi, T., Gafoer, S. and Sidarto, 1994. Geology of the
Tanjungkarang Quadrale, Sumatera, Geological Reseach and Development
Centre, Bandung.
LAMPIRAN