0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan116 halaman

Kajian Kerentanan Mata Air Ciburial

Dokumen ini membahas hasil kajian kerentanan mata air Ciburial di Kabupaten Bogor yang mengalami penurunan debit signifikan. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan yang menyebabkan penurunan dan merekomendasikan rencana aksi konservasi. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan dan aktivitas manusia di kawasan imbuhan berisiko menurunkan kuantitas dan kualitas air. Rencana aksi mencakup peningkatan k

Diunggah oleh

Ahmad Prayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan116 halaman

Kajian Kerentanan Mata Air Ciburial

Dokumen ini membahas hasil kajian kerentanan mata air Ciburial di Kabupaten Bogor yang mengalami penurunan debit signifikan. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan yang menyebabkan penurunan dan merekomendasikan rencana aksi konservasi. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan dan aktivitas manusia di kawasan imbuhan berisiko menurunkan kuantitas dan kualitas air. Rencana aksi mencakup peningkatan k

Diunggah oleh

Ahmad Prayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

USAID IUWASH PLUS

USAID INDONESIA URBAN WATER, SANITATION AND HYGIENE


PENYEHATAN LINGKUNGAN UNTUK SEMUA (IUWASH PLUS)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR


DAN RENCANA AKSI
MATA AIR CIBURIAL, KABUPATEN BOGOR,
PROVINSI JAWA BARAT
JUNI 2020
KAJIAN KERENTANAN MATA AIR
DAN RENCANA AKSI
MATA AIR CIBURIAL, KABUPATEN BOGOR

PROVINSI JAWA BARAT

Dokumen ini dibuat atas dukungan rakyat Amerika melalui United States Agency for International Development (USAID) dengan dukungan
dan kerja sama Pemerintah Indonesia. Isi dari dokumen ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab DAI Global LLC dan tidak selalu
mencerminkan pandangan USAID atau Pemerintah Amerika.
KATA PENGANTAR
Wilayah Kabupaten Bogor sebagai salah satu wilayah penyangga Kota Metropolitan Jakarta telah
mengalami dan akan terus mengalami perkembangan pembangunan dan perekonomian yang sangat
pesat seiring dengan perkembangan kota Metropolitan Jakarta. Resiko perkembangan pembangunan
infrastruktur dan perkotaan maka akan mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk, baik
pertambahan secara alami maupun sebagai akibat urbanisasi dari beberapa wilayah di sekitar Kabupaten
Bogor atau wilayah Jawa Barat bagian Selatan.

Konsekwensi dari pertambahan penduduk dan peningkatan perekonomian masyarakat akan


mengakibatkan bertambahnya kebutuhan dan pelayanan dasar serta kesehatan. Dimana salah satunya
adalah jaminan dan ketersediaan pelayanan air bersih yang menjadi tanggungjawab Pemerintah Daerah
Kabupaten Bogor yang dilaksanakan oleh PDAM Tirta Kahuripan.

Pada tahun 2018, pelayanan air minum di Kabupaten Bogor yang dilaksanakan oleh PDAM Tirta
Kahuripan, baru mencapai 22.90 % dari total jumlah penduduk yang berjumlah 5.7 juta jiwa, dengan
total produksi mencapai 53,0 juta m3/tahun atau setara dengan 1.680 liter per detik, dengan sumber
air baku yang berasal mata air/air tanah dan air permukaan, dimana dari kapasitas produksi tersebut
sekitar 506 liter/detik atau sekitar 30 % dari total produksi berasal dari mata Air Ciburial.

Sejak awal tahun 2000, debit mata air Ciburial mengalami penurunan debit yang sangat cepat dan
signifikan baik secara kuantitas/debit maupun kualitas. Pada tahun 2005, mata air Ciburial memiliki debit
506 liter per detik, akan tetapi pada tahun 2018 debit Ciburial hanya berkisar 330 liter per detik.
Dengan demikian telah terjadi penurunan debit sekitar 176 liter per detik dalam periode 13 tahun atau
setara dengan penurunan debit sekitar 11,3 liter per detik/tahun. Apabila penurunan debit mata air
Ciburial tersebut tidak diatasi, maka diperkirakan dalam periode 29 tahun yang akan datang, mata air
Ciburial akan mengalami kekeringan atau mati.

Secara umum, kondisi iklim dan curah hujan wilayah Kabupaten Bogor memiliki tingkat curah hujan
yang sangat tinggi dimana wilayah Bogor mendapat julukan sebagai “Kota Hujan”. Julukan sebagai kota
hujan tersebut tidak berkorelasi dengan cadangan sumberdaya air, baik air sungai/permukaan maupun
air tanah/mata air, dimana dalam periode dua dekade memperlihatkan kondisi cadangan sumberdaya
air di wilayah Kabupaten Bagor mengalami penurunan yang sangat besar, hal ini dibuktikan dengan
terjadinya permasalahan kekeringan di beberapa wilayah atau kecamatan dan penurunan debit mata air
yang selama ini menjadi andalan utama penyediaan air bersih bagi PDAM Tirta Kahuripan dan
masyarakat lainnya.

Menyadari kondisi dan permasalahan terjadinya penurunan debit sumberdaya air (sungai dan mata air)
maka Pemerintah Kabupaten Bogor dan Program Iuwash Plus, melakukan Kajian Kerentanan Mata Air
dan Rencana Aksi (KKMA-RA) dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami serta mengindentifikasi
semua permasalahan yang terjadi, dan telah mengakibatkan terjadinya penurunan cadangan air
tanah/mata air Ciburial. Dengan diketahuinya semua permasalahan maka diharapkann dapat dilakukan
berbagai langkah pengelolaan dan konservasi untuk mejaga dan menjamin mata air Ciburial dapat
dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Selanjutnya, semua hasil kajian dan rekomendasi KKMA-RA tersebut dapat menjadi acuan teknis
bersama bagi semua pihak, khususnya SKPD/OPD Pemerintah Kabupaten Bogor dalam membuat
kebijakan dan pelaksanaan program mengatasi krisis air baku di Kabupaten Bogor.

ii KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Pemerintah Kabupaten Bogor menyadari dan memiliki berkomitmen yang besar dalam upaya
mewujudkan upaya pengelolaan dan konservasi sumberdaya air di seluruh wilayah Kabupaten Bogor
dalam rangka untuk menjamin ketersediaan dan pelayanan air bersih/air minum bagi seluruh
masyarakat Kabupaten Bogor secara berkesinambungan dan lestari.

Bogor, Oktober 2019.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................................................. iv
DAFTAR TABEL ......................................................................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................................................................. viii
1 PENDAHULUAN .............................................................................................................................................. 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................................................. 1
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN .................................................................................................................... 2
1.3 RUANG LINGKUP KEGIATAN DAN SASARAN........................................................................ 2
2 METODOLOGI ANALISIS KERENTANAN MATA AIR......................................................................... 4
2.1 KONSEP DASAR ................................................................................................................................... 4
2.2 METODE ANALISIS GEOSPASIAL ................................................................................................... 6
3 KONDISI UMUM KABUPATEN BOGOR ................................................................................................ 14
3.1 ADMINISTRASI DAN GEOGRAFI ................................................................................................. 14
3.2 DEMOGRAFI ........................................................................................................................................ 15
3.3 TATA GUNA LAHAN DAN TATA RUANG.............................................................................. 15
3.4 TOPOGRAFI DAN MORFOLOGI ................................................................................................. 20
3.5 KLIMATOLOGI DAN HIDROLOGI .............................................................................................. 22
3.6 GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI ............................................................................................... 24
3.7 SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM (SPAM) KABUPATEN BOGOR .................................. 29
3.8 SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK .................................................................. 44
4 PROFIL MATA AIR CIBURIAL DAN KONDISI EKSISTING KAWASAN IMBUHAN ................. 45
4.1 MATA AIR CIBURIAL ........................................................................................................................ 45
4.2 KONDISI EKSISTING KAWASAN IMBUHAN ........................................................................... 53
5 ANALISIS KERENTANAN MATA AIR CIBURIAL ................................................................................. 68
5.1 ANALISIS KARAKTERISTIK KAWASAN IMBUHAN................................................................ 68
5.2 HASIL ANALISIS KERENTANAN KUANTITAS ......................................................................... 70
5.3 HASIL ANALISIS KERENTANAN KUALITAS ............................................................................. 73
5.4 POTENSI PENGEMBALIAN DEBIT MATA AIR MELALUI PENERAPAN SUMUR
RESAPAN............................................................................................................................................... 75
6 RENCANA AKSI DAN IMPLEMENTASI KAJIAN KERENTANAN MATA AIR CIBURIAL
KABUPATEN BOGOR .................................................................................................................................. 77
6.1 WORKSHOP/SEMINAR/FOCUS GROUP DISCUSSION/PUBLIC HEARING ................... 79
6.2 AUDIENSI DAN DISKUSI DENGAN KEPALA DAERAH DAN SKPD/OPD...................... 80
6.3 DAFTAR RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL KABUPATEN BOGOR ........................ 82

iv KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
7 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KKMA-RA .................................................................................. 86
7.1 KESIMPULAN ....................................................................................................................................... 86
7.2 REKOMENDASI DAN TINDAK LANJUT .................................................................................... 87
LAMPIRAN ................................................................................................................................................................. 89
DOKUMENTASI INSTALASI MA CIBURIAL........................................................................................ 89
PERHITUNGAN TITIK KRITIS ................................................................................................................. 92
PERHITUNGAN SKENARIO 1.000 SUMUR RESAPAN .................................................................... 96
DAFTAR PERUSAHAAN DALAM KAWASAN IMBUHAN ............................................................. 96

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL v
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Ciri Umum dan Khusus Daerah Imbuhan dan Lepasan ................................................................ 6
Tabel 2 Pembobotan Kriteria ............................................................................................................................ 8
Tabel 3 Pengelompokkan dan Pembagian Skor Kriteria Tata Guna Lahan Tahun 2015 ...................... 9
Tabel 4 Pengelompokkan dan Pembagian Skor Kriteria Rencana Tata Ruang
dan Wilayah Tahun 2036................................................................................................................. 10
Tabel 5 Pembagian Skor Kriteria Kelerengan .............................................................................................. 11
Tabel 6 Pengelompokan Jenis Tanah dan Pembagian Skor Kriteria Permeabilitas .............................. 11
Tabel 7 Pembagian Skor Kriteria Curah Hujan ........................................................................................... 12
Tabel 8 Sumber Data Geospasial .................................................................................................................... 13
Tabel 9 Klasifikasi Penggunaan dan Luas Lahan Kabupaten Bogor Tahun 2015 .................................. 15
Tabel 10 Daftar Kecamatan Rencana Kawasan Lindung RPJMD Kabupaten Bogor 2013-2019 ...... 16
Tabel 11 Klasifikasi Penggunaan dan Luas Lahan Kabupaten Bogor Berdasarkan
RTRW 2016-2036............................................................................................................................. 18
Tabel 12 Elevasi Kabupaten Bogor ................................................................................................................. 20
Tabel 13 Kelerengan Wilayah Kabupaten Bogor ........................................................................................ 20
Tabel 14 Data Klimatologi Kabupaten Bogor Tahun 2017 ....................................................................... 23
Tabel 15 Cakupan Pelayanan di Wilayah Pelayanan Tahun 2017 ............................................................ 30
Tabel 16 Status Pelayanan Per Kecamatan Kabupaten Bogor Tahun 2017 .......................................... 33
Tabel 17 Sambungan Langganan Terdaftar Berdasarkan Kelompok Pelanggan.................................... 34
Tabel 18 Pemakaian Air Berdasarkan Kelompok Pelanggan..................................................................... 36
Tabel 19 Inventarisasi IPA, Mata Air, dan Sumur Bor PDAM Tirta Kahuripan.................................... 37
Tabel 20 Proyeksi Kebutuhan Air Kabupaten Bogor ................................................................................. 41
Tabel 21 Sumber Air Baku Skala Individu Kabupaten Bogor Tahun 2014 ............................................ 42
Tabel 22 Sambungan Rumah SPAM Komunal Kabupaten Bogor Tahun 2019 ..................................... 43
Tabel 23 Penyedotan Lumpur Tinja Tangki Septik Oleh Masyarakat ..................................................... 44
Tabel 24 Koordinat Titik-Titik Mata Air dalam Kompleks MA Ciburial ............................................... 45
Tabel 25 Jumlah SR Tersambung ke MA Ciburial Per Cabang Pelayanan ............................................. 47
Tabel 26 Kapasitas MA Ciburial ...................................................................................................................... 49
Tabel 27 Hasil Analisa Air Produksi Instalasi Ciburial Bulan Januari 2019 ............................................ 51
Tabel 28 Hasil Analisa Air Baku Instalasi Ciburial Bulan Januari 2019 ................................................... 52
Tabel 29 Kecamatan dan Kelurahan dalam Kawasan Imbuhan ................................................................ 54
Tabel 30 Data Klimatologi Kecamatan Tamansari dan Ciomas Tahun 2017 ....................................... 57
Tabel 31 Sumber Air Baku Skala Individu di Kecamatan yang Termasuk
Dalam Kawasan Imbuhan ................................................................................................................ 64
Tabel 32 Jumlah SR SPAM Komunal per Desa di Kawasan Imbuhan ..................................................... 64
Tabel 33 Lokasi dan Debit Mata Air untuk Kebutuhan Irigasi ................................................................. 64
Tabel 34 Akses Sanitasi Kelurahan dalam Kawasan Imbuhan................................................................... 65
Tabel 35 Daftar IPAL Komunal dalam Kawasan imbuhan MA Ciburial ................................................. 65

vi KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 36 Daftar Industri dalam Kawasan Imbuhan MA Ciburial ............................................................. 66
Tabel 37 Perusahaan Air Minum Kemasan dalam Kawasan Imbuhan..................................................... 67
Tabel 38 Rekapitulasi Luasan dan Potensi Air Terinfiltrasi Tahun 2015................................................ 71
Tabel 39 Rekapitulasi Luasan Kelas Kerentanan Kuantitas Tahun 2016-2036 ..................................... 72
Tabel 40 Rekapitulasi Luasan Kelas Kerentanan Kualitas Tahun 2015 .................................................. 73
Tabel 41 Potensi Debit Air Limbah Domestik dalam Kawasan Imbuhan .............................................. 74
Tabel 42 Rekapitulasi Luasan Kelas Kerentanan Kualitas Tahun 2016-2036........................................ 75
Tabel [Link] Rencana Aksi Kerentanan Kuantitas dan Kebutuhan Biaya Pelaksanaannya Mata Air
Ciburial, Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor
Tahun 2019 s/d 2023........................................................................................................................ 82

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Tahapan KKMA-RA .............................................................................................................................. 3
Gambar 2 Skema Analisis Geospasial KKMA Ciburial..................................................................................... 7
Gambar 3 Peta Kabupaten Bogor ....................................................................................................................... 14
Gambar 4 Peta Tata Guna Lahan Tahun 2015 ................................................................................................. 17
Gambar 5 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Bogor Tahun 2016-2036............................................... 19
Gambar 6 Peta Kelerengan Kabupaten Bogor ................................................................................................. 21
Gambar 7 Peta Curah Hujan Kabupaten Bogor .............................................................................................. 22
Gambar 8 Peta DAS Kabupaten Bogor ............................................................................................................. 24
Gambar 9 Peta Geologi (batuan) kawasan Gunung Salak dan Imbuhan MA Ciburial,
Kabupaten Bogor ............................................................................................................................ 25
Gambar 10 Peta Jenis Tanah Kabupaten Bogor .............................................................................................. 27
Gambar 11 Peta Wilayah Cakupan Pelayanan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor ............................... 32
Gambar 12 Lokasi Instalasi Produksi dan Distribusi Air PDAM Tirta Kahuripan ................................... 39
Gambar 13 Foto Bangunan Pengolahan SPAM MA. Ciburial Kabupaten Bogor
yang dibangun tahun 1922. ............................................................................................................ 45
Gambar 14 Broncaptering Mata Air Ciburial III dan VII ................................................................................ 46
Gambar 15 Fasilitas Pembubuhan Cairan Desinspektan (Kaporit) SPAM MA. Ciburial
Kabupaten Bogor ............................................................................................................................ 46
Gambar 16 Instalasi Pengolah Air Ciburial ....................................................................................................... 47
Gambar 17 Skematik Instalasi MA Ciburial ...................................................................................................... 48
Gambar 18 Fluktuasi Debit Mata Air Ciburial Tahun 2005-2018 ............................................................... 49
Gambar 19 bangunan V-notch (alat ukur luah air), sebagai bukti MA Ciburial memiliki debit yang
besar dan saat ini sudah mongering/menurun .......................................................................... 50
Gambar 20 Grafik Kondisi Debit/supply dan Kebutuhan/demand Air baku MA Ciburial ..................... 51
Gambar 21 Kawasan Imbuhan MA Ciburial ..................................................................................................... 54
Gambar 22 Peta Kemiringan Lereng di Kawasan Imbuhan ........................................................................... 55
Gambar 23 Peta Jenis Tanah di Kawasan Imbuhan ......................................................................................... 56
Gambar 24 Peta Curah Hujan di Kawasan Imbuhan ...................................................................................... 58
Gambar 25 Penampang Melintang Kawasan Imbuhan MA Ciburial ............................................................ 59
Gambar 26 Penampakan Sungai Ciapus Saat Kering (Kiri) dan Saat Air Mengalir (Kanan) ................... 60
Gambar 27 Peta Tata Guna Lahan di Kawasan Imbuhan Mata Air Ciburial ............................................. 61
Gambar 28 Tata Guna Lahan di Area Terdekat MA Ciburial ...................................................................... 62
Gambar 29 Peta Rencana Pola Ruang di Kawasan Imbuhan ......................................................................... 63
Gambar 30 Tampak Atas Tambang Pasir di Desa Sukaresmi....................................................................... 66
Gambar 31 Diskusi dan verifikasi data dan kondisi lapangan MA. Ciburial, Kabupaten Bogor ............ 70
Gambar 32 Peta Kerentanan Kuantitas Tahun 2015 ...................................................................................... 71
Gambar 33 Peta Kerentanan Kuantitas Berdasarkan RTRW Kab. Bogor Tahun 2016-2036 .............. 73
Gambar 34 Peta Kerentanan Kualitas Tahun 2015......................................................................................... 74
Gambar 35 Peta Kerentanan Kualitas Berdasarkan RTRW Kab. Bogor Tahun 2016-2036 ................. 75
Gambar 36 Grafik Penambahan Cadangan Air Tanah Berdasarkan Skenario 1000 Sumur Resapan
VS Proyeksi Kebutuhan Air .......................................................................................................... 76
Gambar 37 Kegiatan FGD KKMA-RA MA. Ciburial Kabupaten Bogor. .................................................. 79
Gambar 38 Kegiatan FGD analisis Matrik Rencana Aksi (MRA) Mata Air Ciburial,
Kabupaten Bogor. ........................................................................................................................... 80

viii KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Program USAID Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan Untuk Semua
(IUWASH PLUS) adalah program berdurasi lima setengah tahun yang dirancang untuk mendukung
Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan akses air minum dan layanan sanitasi serta perbaikan
perilaku higiene bagi masyarakat miskin dan kelompok rentan di perkotaan. USAID IUWASH PLUS
bekerja sama dengan instansi pemerintah, pihak swasta, LSM, kelompok masyarakat, dan mitra lainnya
untuk mencapai hasil utama, yaitu:

1. Peningkatan sebanyak 1.100.000 juta penduduk perkotaan yang mendapatkan akses kualitas
layanan air minum yang layak, di mana 500.000 di antaranya adalah penduduk dengan 40%
tingkat kesejahteraan terendah dari total populasi (juga disebut sebagai “Bottom 40%” atau
“B40”), kelompok rentan, atau provinsi-provinsi di wilayah timur Indonesia; dan
2. Peningkatan sebanyak 500.000 penduduk perkotaan yang mendapatkan layanan sanitasi aman.

Untuk memastikan peningkatan akses terhadap layanan WASH secara berkelanjutan, USAID IUWASH
PLUS berpegang pada hipotesis pembangunan yang berfokus pada penguatan sistem pemberian layanan,
agar dapat menjangkau segmen penduduk yang paling miskin dan rentan secara lebih efektif. Untuk
mencapai hal tersebut, program ini melakukan sejumlah kegiatan melalui empat komponen yang saling
terkait, yaitu: 1) meningkatkan layanan WASH rumah tangga; 2) memperkuat kinerja kelembagaan
WASH di tingkat kota; 3) memperkuat lingkungan pembiayaan WASH; dan 4) memajukan advokasi,
koordinasi dan komunikasi WASH nasional. Untuk mendukung komponen-komponen tersebut,
USAID IUWASH PLUS juga menjalankan Komponen Keberlanjutan dan Inovasi Lokal (LSIC) yang
dirancang untuk mendorong inovasi WASH yang dapat memperkuat masyarakat, sektor swasta,
pemerintah, dan penyedia layanan WASH.
Pelayanan air minum di Kabupaten Bogor diselenggarakan oleh PDAM Tirta Kahuripan. Pada tahun
2018, tingkat pelayanan air minum Kabupaten Bogor mencapai 22.90 % dari total sekitar 5.7 juta jiwa
penduduk dalam wilayah administratifnya. Sedangkan, total air produksinya mencapai 53,0 juta m3/tahun
atau 1.680 liter per detik dengan sumber air baku yang berasal mata air, air tanah, dan air permukaan.
Upaya peningkatan pelayanan air minum oleh PDAM Tirta Kahuripan saat ini terkendala oleh terjadinya
keterbatasan dan kelangkaan air baku yang memenuhi faktor kuantitas maupun kualitas. Salah satu
sumber air baku utama bagi masyarakat Kabupaten Bogor yang juga terkendala permasalahan yang sama
adalah mata air (MA) Ciburial.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 28 Tahun 2015, garis
sempadan yang mengelilingi mata air setidaknya berjarak 200 meter dari pusat sumber mata air. Namun
hal tersebut belum menjadi acuan tata ruang di sekitar MA Ciburial. Hal ini menunjukkan lemahnya
penegakan regulasi terkait perlindungan sumber mata air di Kabupaten Bogor. Tingginya aktivitas di
sekitar MA Ciburial seperti eksplorasi hutan serta berkembangnya industri dan perumahan
menyebabkan penggunaan air tanah yang berlebihan. Salah satu dampaknya ditunjukkan oleh debit MA
Ciburial yang kian menurun dari tahun ke tahun. Disamping itu, pertambahan penduduk serta
meningkatnya permukiman serta industri meningkatkan resiko pencemaran khususnya oleh bakteri
fecal dalam air limbah ke badan air maupun air tanah.

Menyikapi permasalahan diatas, dilakukan Kajian Kerentanan Mata Air (KKMA) Ciburial sebagai salah
satu upaya perlindungan mata air sehingga diharapkan pemenuhan pelayanan air minum PDAM Tirta

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 1
Kahuripan untuk masyarakat dapat terlaksana dengan baik. Untuk itu, Bupati Bogor telah membentuk
tim KKMA dan Rencana Aksi Pengamanan Mata Air (RAPMA) yang tersusun atas lintas instansi, yaitu
Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang), Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Lingkungan Hidup
(DLH), Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP), Dinas Pertanian Holtikultura
dan Perkebunan (DPHP), Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak), Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD), Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta camat-camat dimana
lokasi MA Ciburial berada. Dokumen KKMA Ciburial ini disusun bersama oleh tim KKMA dan RAPMA
Kabupaten Bogor dan tim USAID IUWASH Plus.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Kegiatan KKMA Ciburial dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kerentanan kuantitas/debit dan
kualitas MA Ciburial. Hal ini dilakukan dengan menganalisa secara komprehensif dan terintegrasi
mengenai sifat dan karakteristik dari semua aktivitas didalam kawasan imbuhan (catchment area)
sehingga dapat diketahui potensi, ancaman, resiko, serta permasalahan MA Ciburial.

Analisis kerentanan mata air akan dilakukan dengan pendekatan geospasial sehingga dapat diketahui
tingkat kontribusi wilayah-wilayah dalam kawasan imbuhan terhadap kerentanan MA Ciburial. Dengan
pemahaman tersebut, selanjutnya dapat disusun rencana kegiatan pengelolaan yang efektif dan efisien
untuk memulihkan debit MA Ciburial sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal dan
berkesinambungan.

1.3 RUANG LINGKUP KEGIATAN DAN SASARAN


Kegiatan KKMA merupakan tahapan ke-2 (dua) dari 7 (tujuh) rangkaian tahapan dalam program
konservasi mata air USAID IUWASH Plus yang disebut dengan Kajian Kerentanan Mata Air dan
Rencana Aksi (KKMA-RA) (Gambar 1).

Kegiatan-kegiatan dalam KKMA Ciburial meliputi:


a. Kajian aspek-aspek:
• Administrasi dan geografi;
• Demografi;
• Tata guna lahan dan tata ruang, serta rencana tata ruang wilayah;
• Klimatologi dan hidrologi;
• Geologi dan hidrogeologi;
• SPAM ekesisting dan proyeksi kebutuhan air PDAM sumber MA Ciburial;
• Potensi resiko dan resiko terhadap kuantitas dan kualitas.
b. Seri diskusi dan workshop/focus group discussion dengan SKPD/OPD Kabupaten Bogor;
c. Pelatihan berbagai keahlian dan informasi bagi tim KKMA-RA Kabupaten Bogor;
d. Berbagai rekomendasi isu dan permasalahan utama yang memerlukan tindakkan lanjutan upaya
perlindungan dan konservasi mata air/air tanah.

2 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 1. Tahapan KKMA-RA

Mekanisme proses KKMA Ciburial melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik yang berasal dari
unsur SKPD/OPD dan juga tokoh/organisasi kemasyarakatan lainnya yang memiliki perhatian terhadap
kondisi MA Ciburial atau air tanah di Kabupaten Bogor.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 3
2 METODOLOGI ANALISIS KERENTANAN MATA AIR
Pada bab ini akan dijelaskan metode analisis kerentanan mata air, dimulai dari konsep dasar air tanah,
mata air dan kerentanan, serta tahapan-tahapan analisis geospasial.

2.1 KONSEP DASAR

2.1.1 AIR TANAH DAN MATA AIR

Air tanah merupakan komponen siklus hidrologi yang terbentuk atas kaitan antar proses-proses
atmosferik, hidrologi permukaan dan hidrologi bawah permukaan. Secara mendasar, air tanah
merupakan air yang berada pada lapisan batuan/tanah (akuifer) yang jenuh air di bawah permukaan
tanah. Air tanah tersebut bergerak pada sistem pori dan rekahan batuan yang berhubungan didalam
akuifer tersebut.

Akuifer merupakan lapisan tanah/batuan yang memiliki sifat porositas dan permeabilitas tinggi atau
mudah dilalui oleh air. Oleh sebab itu, sebuah akuifer akan mampu menampung dan mendistribusikan
air di bawah permukaan tanah dengan baik. Menurut Krussman dan Ridder (1970) dalam Utaya (1990),
terdapat 4 (empat) macam akuifer sebagai berikut:

• Akuifer bebas (unconfined aquifer), yaitu lapisan lolos air yang hanya sebagian terisi oleh air dan
berada di atas lapisan kedap air. Permukaan air tanah dalam akuifer ini memiliki tekanan
hidrostatik yang sama dengan atmosfer.
• Akuifer tertekan (confined aquifer), yaitu akuifer yang seluruh airnya, dengan bagian bawah dan
atasnya diapit oleh lapisan kedap air (impermeable) baik di atas dan di bawah. Air pada akuifer
ini memiliki tekanan jenuh yang lebih besar dibanding tekanan atmosfer.
• Akuifer semi tertekan (semi confined aquifer), yaitu akuifer yang pada bagian atasnya dibatasi
oleh lapisan semi lolos air dan bagian bawahnya merupakan lapisan jenuh air.
• Akuifer semi bebas (semi unconfined aquifer), yaitu akuifer yang bagian bawahnya merupakan
lapisan kedap air dan bagian atasnya berlapis material berbutir halus sehingga masih
memungkinkan untuk terjadi pergerakan air di lapisan penutup akuifer. Akuifer ini merupakan
peralihan antara akuifer bebas dan akuifer semi tertekan.

Aliran air tanah bermula pada daerah resapan air tanah atau dikenal juga sebagai daerah imbuhan air
tanah ('recharge zone'). Daerah ini merupakan wilayah dimana air yang berada di permukaan tanah baik
itu air hujan maupun air permukaan mengalami proses infiltrasi secara gravitasi melalui lubang pori
tanah atau batuan dan melalui celah atau rekahan pada tanah (batuan). Proses resapan ini akan
terakumulasi pada suatu lapisan kedap air (impermeable) dan membentuk zona jenuh air yang sering
disebut sebagai daerah lepasan (discharge zone). Daerah lepasan air tanah dapat dikenali secara visual
dengan kemunculan mata air.

Menurut Hendrayana (1994), mata air didefinisikan sebagai lokasi dimana air tanah merembes atau
mengalir keluar ke permukaan tanah secara alamiah. Hal ini disebabkan oleh terpotongnya lintasan air
tanah oleh topografi tanah (rekahan dan/atau patahan) atau bentang alam.

Menurut Danaryanto dkk. (2008) penentuan daerah imbuhan dan lepasan dapat dilakukan dengan
berbagai metode sebagai berikut :

4 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
• Tekuk Lereng. Tekuk lereng merupakan batas antara morfologi dataran dengan perbukitan
atau pegunungan. Daerah ini biasanya berada di kaki bukit atau kaki pegunungan. Berdasarkan
tekuk lereng, daerah imbuhan berada di atas tekuk lereng, sedangkan daerah lepasan berada di
bawah tekuk lereng.
• Pola aliran sungai. Alur sungai dari daerah hulu ke hilir membentuk pola yang unik. Daerah
imbuhan pada umumnya dicirikan dengan morfologi kawasan yang ditempati oleh beberapa
anak sungai yang relatif pendek. Pada peta topografi alur sungai memperlihatkan pola seperti
rangka daun. Alur yang relatif lurus dan pendek saling bertemu membentuk cabang sungai
utama, sehingga sungai di daerah imbuhan termasuk sungai orde ke tiga dan ke empat atau
orde yang lebih rendah lagi. Pada daerah ini, air sungai menjadi pemasok air tanah, atau disebut
dengan influent stream.
• Daerah limpasan secara sederhana dapat dikenali dalam suatu daerah yang terdiri atas sungai
induk dan beberapa cabang sungai utama yang memiliki alur cukup panjang dan sejajar serta
berkelok-kelok. Daerah limpasan ini ditempati oleh sungai orde pertama dan kedua. Air sungai
di daerah lepasan mendapat pasokan dari air tanah, atau disebut effluent stream.
• Kemunculan mata air. Daerah lepasan air tanah dapat dikenali secara visual di lapangan dari
kemunculan mata air. Mata air pada umumnya banyak terdapat di daerah kaki-kaki pegunungan
atau tekuk lereng serta pada lereng bukit atau lereng pegunungan bagian bawah. Kawasan di
sebelah bawah dari titik mata air merupakan daerah lepasan air tanah, sedangkan daerah yang
berada di atasnya merupakan daerah imbuhan. Beberapa titik kemunculan mata air pada
umumnya terletak pada ketinggian yang sama. Dari deretan titik kemunculan tersebut dapat
ditarik garis yang memisahkan daerah imbuhan dan lepasan air tanah.
• Kedalaman muka air tanah. Berdasarkan kedudukan muka air tanah dan aliran air tanahnya,
maka daerah imbuhan mempunyai ciri dengan aliran air tanah pada lapisan jenuh air menjauhi
muka air tanah. Di daerah imbuhan, aliran air tanah di dekat permukaan mengarah ke bawah.
Hal ini dikarenakan, pada daerah imbuhan, tekanan hidraulik lapisan jenuh air di dekat muka air
tanah lebih besar daripada tekanan hidraulik pada titik yang berada di bawahnya, sehingga
mengakibatkan aliran air tanah menuju ke bawah.
• Isotop alam. Isotop alam yang digunakan dalam penentuan daerah imbuhan adalah isotop stabil
2H (deuterium) dan 18O. Metode ini didasarkan atas adanya hubungan fungsi ketinggian

topografi terhadap komposisi 2H dan 18O dalam air hujan. Komposisi 2H dan 18O dalam air
tanah sesuai dengan harga rata-rata distribusi konsentrasi isotop air hujan yang meresap pada
ketinggian tertentu melalui infiltrasi. Dalam perjalanan air tanah, komposisi 2H dan 18O relatif
tetap dan tidak mengalami perubahan dari komposisi asalnya, air hujan.

Untuk keperluan praktis, aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam menentukan daerah imbuhan air
antara lain:

• Kondisi hidrogeologi yang serasi, meliputi arah aliran air tanah, adanya lapisan pembawa air,
kondisi tanah penutup, dan curah hujan;
• Kondisi morfologi dan topografi. Semakin tinggi dan datar lahan, semakin baik sebagai daerah
resapan air;
• Tata guna lahan. Lahan yang tertutup tumbuhan lebih baik dibanding permukiman.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 5
Tabel 1 Ciri Umum dan Khusus Daerah Imbuhan dan Lepasan

No. Daerah Imbuhan Daerah Limpasan

Ciri Umum

1 Mempunyai arah umum aliran air tanah secara Mempunyai arah umum aliran air tanah secara vertikal
vertikal ke bawah ke atas

2 Air meresap ke dalam tanah sampai muka air tanah Muka air tanah bergerak ke atas mengisi pori-pori tanah
(mengisi akuifer) pada zona tidak jenuh air

3 Kedudukan muka freatik relatif dalam Kedudukan muka freatik relatif dangkal

4 Kedudukan muka freatik lebih dalam dari muka Kedudukan muka freatik lebih dangkal dari muka
pisometrik pada kondisi alamiah pisometrik pada kondisi alamiah

5 Daerah singkapan batuan lolos air tidak jenuh air Daerah sebelah hilir pemunculan mata air permanen

6 Daerah perbukitan atau pegunungan Daerah dataran

7 Kandungan kimia air tanah relatif rendah Kandungan kimia air tanah relatif tinggi

8 Umur air tanah relatif muda Umur air tanah relatif tua

Ciri Khusus

1 Daerah tubuh dan puncak kerucut gunung api Menempati kaki atau dataran kerucut gunung api

2 Daerah karst yang mempunyai retakan dan lubang Menempati kaki atau lereng bawah perbukitan karst dan
pelarutan dijumpai mata air permanen

3 Daerah singkapan batuan pembentuk akuifer


tertekan bagian hulu
Sumber: Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, 2007

2.1.2 KERENTANAN

Kerentanan air tanah merupakan sifat kepekaan alamiah sistem air tanah terhadap berbagai dampak
yang berasal dari lingkungan secara alamiah dan/atau sebagai akibat dampak dari kegiatan manusia. 2
(dua) jenis kerentanan air tanah adalah sebagai berikut:

• Kerentanan intrinsik (alamiah), yaitu kerentanan air tanah, baik air tanah bebas maupun air
tanah bertekanan, yang dipengaruhi dan merupakan hasil interaksi fungsi dari faktor internal
parameter hidrogeologis, seperti karakteristik akuifer, jenis tanah dan mineral di dalam akuifer,
dan berbagai aspek geologis lainnya.
• Kerentanan spesifik (gabungan), yaitu kerentanan air tanah yang diakibatkan oleh adanya
aktivitas manusia baik yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Kerentanan
ini dipengaruhi oleh aspek ruang dan waktu.

Menurut Magat (1987) dalam Vrba dan Zoporozec (1994), kerentanan air tanah sangat dipengaruhi
oleh faktor hidrogeologi, yaitu posisi dan kedalaman muka air tanah, porositas dan permeabilitas
material akuifer, keterkaitan antara tanah dan air permukaan, dan kecepatan aliran air tanah.

2.2 METODE ANALISIS GEOSPASIAL


Analisis geo-spasial merupakan proses analisis keruangan dengan mempergunakan data, informasi, serta
berbagai aspek kebumian (geologi) untuk menentukan maksud atau tujuan tertentu. Dalam kegiatan
KKMA, analisa geospasial ditujukan untuk mengetahui kondisi potensi kerentanan atau resiko dari suatu

6 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
mata air dalam tatanan keruangan kebumian dengan cara menganalisis berbagai parameter, aspek,
informasi dan data geologi wilayah mata air Secara garis besar, analisis kerentanan mata air akan
dilakukan dengan menggabungkan analisis multi-kriteria berdasarkan pemberian bobot dan skor pada
berbagai kriteria dan sub-kriteria, serta pemodelan spasial menggunakan software GIS (Gambar 2).

Dua aspek yang akan dikaji dalam KKMA ini meliputi aspek kuantitas dan aspek kualitas. Kerentanan
kuantitas atau kerentanan pada debit mata air didasari oleh siklus hidrologi, dimana sebagian besar air
hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan menguap ke udara sebagai uap air (evaporasi), sebagian lagi
akan menjadi limpasan air permukaan (run-off) dan sebagian kecilnya akan meresap ke dalam tanah
(infiltrasi) sebagai cadangan air tanah. Sedangkan kerentanan kualitas air tanah diartikan sebagai
kerentanan terhadap difusi atau perkolasi zat pencemar dari permukaan tanah ke dalam muka air tanah.
Pencemar dapat berasal dari limbah rumah tangga atau domestik, limbah perternakan, limbah industri,
dan limbah pupuk atau pestisida.

Gambar 2 Skema Analisis Geospasial KKMA Ciburial

2.2.1 DELINEASI KAWASAN IMBUHAN

Analisis geospasial akan dilakukan terbatas pada wilayah tangkapan hujan (kawasan imbuhan) air
tanah/mata air. Untuk itu, terlebih dahulu dilakukan proses deliniasi untuk mengetahui batasan wilayah
imbuhan yang harus dilindungi atau dikelola untuk mempertahankan debit dan kualitas air serta menjaga
keberlanjutan pendayagunaan mata air.

Delineasi yang dilakukan dalam kajian kali ini menggunakan metode interpretasi visual peta topografi
yaitu dengan memahami terlebih dahulu pola kontur Kabupaten Bogor. Peta kontur adalah peta yang
memperlihatkan kenampakan garis khayal dari titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama di atas
atau di bawah permukaan datum tertentu yang disebut permukaan laut rata-rata. Kontur digambarkan
dengan interval vertikal yang reguler. Peta yang digunakan untuk delineasi KKMA Ciburial adalah peta
kontur Kabupaten Bogor dengan skala 1:25.000. Karakteristik pola kontur yang perlu diperhatikan
antara lain:

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 7
 Punggungan gunung : berupa rangkaian garis kontur berbentuk huruf U;
 Lembah atau sungai : berupa garis kontur berbentuk huruf V (menjorok ke hulu);
 Daerah landai datar : berupa garis kontur dengan tingkat kerapatan yang jarang;
 Daerah terjal/ curam : berupa garis kontur dengan tingkat kerapatan yang rapat;
 Aliran air : garis kontur selalu tegak lurus terhadap aliran air
di permukaan tanah.

Pada dasarnya, air akan mengalir menurut gaya gravitasi secara vertikal masuk ke dalam tanah (infiltrasi),
serta dari daerah elevasi tinggi ke rendah. Meskipun arah aliran air di permukaan dominan tegak lurus
terhadap garis kontur, juga terdapat aliran-aliran yang menyebar ke samping. Apabila meninjau
mekanisme infiltrasi air hujan, aliran ke samping/ horizontal ini disebabkan oleh gaya kapiler yang timbul
akibat permeabilitas lapisan tanah yang tidak seragam sehingga terjadi aliran ke arah lateral. Oleh sebab
itu, kawasan imbuhan mata air tidak hanya meliputi wilayah-wilayah yang tegak lurus mata air, namun
juga meliputi area-area sekitarnya.

2.2.2 ANALISIS MULTI-KRITERIA

Tahapan awal analisis multi-kriteria adalah penentuan kriteria dan sub-kriteria yang dianggap dapat
mempengaruhi tingkat kerentanan mata air. Dipilih 4 (empat) kriteria utama yang dinilai signifikan
terhadap tingkat kerentanan kualitas dan kuantitas mata air, yaitu tata guna lahan, kelerengan,
permeabilitas tanah, dan curah hujan. Masing-masing kriteria tersusun oleh 5 (lima) kelas sub-kriteria,
namun khusus untuk kriteria ‘curah hujan’ hanya terdiri atas 3 (tiga) kelas sub-kriteria.

Tahapan selanjutnya dalam analisis multi kriteria adalah penentuan bobot dan skor. Masing-masing
kriteria akan diberikan bobot 1-100 sesuai dengan tingkat signifikansinya terhadap kerentanan mata air.
Sementara, sub-kriteria akan diberikan skor 1-5 (atau 1-3 khusus kriteria ‘curah hujan’) berdasarkan
tingkat pengaruhnya terhadap kerentanan mata air. Skor terendah (1) akan diberikan untuk sub-kriteria
yang tidak menyebabkan kerentanan atau paling sedikit menyebabkan kerentanan, sementara skor
tertinggi (3 dan 5) akan diberikan untuk sub-kriteria yang paling besar pengaruhnya terhadap
kerentanan. Setelah ditentukan bobot dan skornya, akan dihitung skor kerentanan keseluruhan dengan
persamaan sebagai berikut:

Skor keseluruhan (S) = ∑𝑛𝑛𝑗𝑗=1 𝐵𝐵𝑗𝑗 × 𝑆𝑆𝑖𝑖𝑖𝑖

Dimana n adalah jumlah kriteria, Bj adalah bobot kriteria j, Sij adalah skor sub-kriteria i dalam kriteria j.

Penentuan bobot tersebut didasarkan pada pemahaman ahli atau expert judgement. Pembobotan
keempat kriteria diatas tercantum pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2 Pembobotan Kriteria

No. Kriteria Bobot

1 Tata guna lahan 60

2 Kelerengan 20

3 Permeabilitas 10

4 Curah hujan 10

8 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Penentuan skor untuk masing-masing kriteria adalah sebagai berikut:

1) Tata guna lahan

Pada KKMA ini, akan ditinjau tata guna lahan eksisting dengan menggunakan data tahun 2015. Disamping
itu, akan dikaji pula kondisi penggunaan lahan mendatang berdasarkan Rencana Tata Ruang dan Wilayah
Kabupaten Bogor untuk tahun 2036.

Bermacam jenis penggunaan lahan di Kabupaten Bogor dikelompokkan ke dalam 5 kelompok umum,
yaitu hutan, kebun, badan air, ladang, dan area terbangun (Tabel 3 dan Tabel 4).

Tabel 3 Pengelompokkan dan Pembagian Skor Kriteria Tata Guna Lahan Tahun 2015

Pengelompokan Skor
No. Tata Guna Lahan
Tata Guna Lahan Kuantitas Kualitas
1 Hutan Jarang Hutan 1 1
Hutan Lebat
2 Kebun Campuran Kebun 2 2
Perkebunan
3 Perairan Darat Badan air 3 3
Setu
Sungai
4 Belukar/Semak Padang rumput, sawah dan 4 4
Sawah Irigasi ladang

Sawah Tadah Hujan


Tegalan
Lahan Terbuka
5 Industri Area terbangun 5 5
Permukiman Pedesaan
Permukiman Perkotaan
Tambang Terbuka

Ditinjau dari sisi kuantitas, tata guna lahan menentukan kapasitas peresapan air ke tanah (infiltrasi).
Pada lahan terbangun, kapasitas infiltrasinya lebih terbatas dibanding pada lahan alami. Oleh sebab itu,
dapat dilihat pada Tabel 3, ‘area terbangun’ memiliki skor kerentanan tertinggi (skor 5). Sebaliknya,
untuk lahan alami seperti hutan, kemampuan infiltrasi airnya sangat tinggi sehingga sangat minim
kontribusinya dalam kerentanan air (skor 1).

Dari sisi kualitas, tata guna lahan mempengaruhi pencemar yang dapat masuk ke air tanah. Tipe-tipe
pencemar yang berpotensi masuk ke lingkungan antara lain limbah pestisida, limbah ternak, limbah
rumah tangga, atau pun limbah industri. Oleh sebab itu, area terbangun dinilai paling mempengaruhi
kualitas mata air dan memiliki skor tertinggi (skor 5). Sedangkan potensi pencemaran terendah ada di
lahan alami, seperti hutan.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 9
Tabel 4 Pengelompokkan dan Pembagian Skor Kriteria Rencana Tata Ruang dan Wilayah Tahun 2036

Pengelompokan Skor
No. Tata Guna Lahan
Tata Guna Lahan Kuantitas Kualitas

1 Enclave Kawasan Hutan Hutan 1 1

Hutan Konservasi

Kawasan Hutan Lindung

Kawasan Hutan Produksi Terbatas

Kawasan Hutan Produksi Tetap

2 Kawasan Peruntukan Perkebunan Kebun 2 2

3 Rencana Waduk Badan air 3 3

Situ

4 Kawasan Peruntukan Lahan Basah Padang rumput, sawah 4 4


dan ladang
Kawasan Peruntukan Lahan Kering

5 Kawasan Peruntukan Industri Area terbangun 5 5

Kawasan Peruntukan Permukiman Perdesaan

Permukiman Perkotaan Kepadatan Rendah

Permukiman Perkotaan Kepadatan Sedang

Permukiman Perkotaan Kepadatan Tinggi

Kawasan Khusus Hankam

2) Kelerengan

Kemiringan lahan merupakan kenampakan muka tanah akibat terdapat perbedaan tinggi antara dua
lokasi wilayah. Ketika perbedaan tinggi (vertikal) dibandingkan dengan jarak lurus mendatar
(horizontal), maka diperoleh besar kelerengan wilayah.

Sama halnya dengan parameter penggunaan lahan, kelerengan akan berpengaruh terhadap daya resap
permukaan tanah terhadap air hujan. Wilayah dengan kelerengan yang curam memiliki daya resap air
hujan yang rendah. Daerah dengan kelerengan tinggi akan langsung mengalirkan air ke kawasan yang
lebih rendah sehingga laju air di permukaan tanah (run-off) tinggi dan proses penyerapan air akan sangat
sedikit. Oleh sebab itu, kelerengan tinggi lebih berpotensi menimbulkan kerentanan kuantitas mata air
(skor 5). Sedangkan, penyerapan air pada lahan datar lebih baik karena periode air untuk tergenang di
permukaan lebih lama dibanding pada lereng yang curam.

Apabila ditinjau dari sisi kualitas, semakin curam lahan, semakin sulit materi pencemar masuk ke dalam
tanah karena terdorong run-off sehingga potensi kerentanan kualitasnya lebih rendah (skor 1).
Sedangkan pada lahan datar, semakin tinggi potensi air dan pencemarnya masuk ke dalam tanah (skor
5).

10 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 5 Pembagian Skor Kriteria Kelerengan

Skor
No. Klasifikasi lereng Kelas lereng
Kuantitas Kualitas

1 <8% Sangat rendah 1 5

2 8 – 15% Rendah 2 4

3 15 – 25% Sedang 3 3

4 25 – 40% Tinggi 4 2

5 >40% Sangat tinggi 5 1

3) Permeabilitas

Permeabilitas merupakan kemampuan batuan atau tanah untuk melewatkan atau meloloskan air yang
akan menjadi air tanah. Air tanah akan mengalir melewati rongga-rongga antar butir (porositas) dan
retakan-retakan (fracture/rekahan) batuan. Semakin besar volume dan semakin banyak rongga antar
butir tersebut, maka tingkat porositas dan permeabilitas akan semakin baik, begitu pula sebaliknya.

Analisis permeabilitas dalam KKMA Ciburial didasarkan pada jenis-jenis tanah eksisting. Jenis-jenis tanah
tersebut dikelompokkan ke dalam 5 kelompok umum, yaitu aluvial, latosol, andosol, litosol, dan regosol
(Tabel 6).

Dari aspek kuantitas, semakin tinggi permeabilitas tanah, semakin besar kemampuan tanah melewatkan
air, sehingga semakin banyak air yang masuk sebagai air tanah dan potensi terhadap kerentanan air
tanahnya rendah (skor 1). Sedangkan dari sisi kualitas, semakin besar permeabilitas tanah, semakin
banyak jumlah pencemar yang dapat bergerak mengikuti aliran tanah dan menurunkan kualitas air tanah
(skor 5).

Tabel 6 Pengelompokan Jenis Tanah dan Pembagian Skor Kriteria Permeabilitas

Pengelompokan Kelas Skor


No. Jenis Tanah
Jenis tanah permeabilitas Kuantitas Kualitas

1 Aluvial Aluvial Lambat 5 1

2 Asosiasi Latosol Coklat & Latosol Agak lambat 4 2


Latosol Kemerahan

Asosiasi Latosol Coklat &


Latosol Kekuningan

Asosiasi Latosol Kemerahan &


Latosol Coklat Kemerahan

Asosiasi Podsolik Kuning &


Hidromof Kelabu

Kompleks Podsolik Merah


Kekuningan

Podsolik Kekuningan

Podsolik Merah

Podsolik Merah Kekuningan

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 11
Pengelompokan Kelas Skor
No. Jenis Tanah
Jenis tanah permeabilitas Kuantitas Kualitas

3 Andosol Andosol Sedang 3 3

Grumosol

4 Kompleks Latosol Merah Litosol Agak cepat 2 4


Kekuningan, Latosol Coklat
Kemerahan & Litosol

5 Asosiasi Andosol Regosol Regosol Cepat 1 5

Asosiasi Latosol Coklat &


Regosol

Regosol

Sungai

4) Curah hujan

Hujan merupakan sumber air utama dalam siklus hidrologi. Khusus pada kriteria ini, subkriteria terbagi
menjadi tiga kelas sesuai dengan klasifikasi curah hujan Bappedalitbang Kabupaten Bogor: ‘cukup’,
‘tinggi’ dan ‘tinggi sekali’.

Dari sisi kuantitas, tingkat curah hujan berperan penting dalam proses infiltrasi air ke dalam tanah.
Semakin tinggi curah dan durasi hujan, semakin besar jumlah air yang dapat meresap ke dalam tanah
sehingga berpengaruh baik terhadap cadangan air tanah (skor 1). Sebaliknya, curah hujan yang semakin
sedikit akan membatasi jumlah air yang meresap ke dalam tanah dan berpotensi menyebabkan
kekeringan sehingga skor kerentanan terhadap kuantitas sangat tinggi (skor 3).

Dari sisi kualitas, air hujan yang meresap ke lapisan tanah akan mempengaruhi pergerakan polutan di
dalam tanah. Semakin tinggi curah hujan, semakin tinggi potensi volume peresapan air hujan, dan
semakin luas penyebaran pencemarannya (skor 5), begitu pula sebaliknya.

Tabel 7 Pembagian Skor Kriteria Curah Hujan

Curah hujan tahunan Skor


No. Kelas curah hujan
(mm/tahun) Kuantitas Kualitas
1 <2500 Cukup 3 1
2 2500-5000 Tinggi 2 2
3 >5000 Tinggi sekali 1 3

2.2.3 GIS MODEL

Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul dan tervalidasi, maka semua data dan informasi dalam
bentuk numerik tersebut diolah menjadi data spatial dalam bentuk lembar data atau peta (sheet). Dari
beberapa kriteria data spatial yang telah ditentukan (tata guna lahan, kelerengan, permeabilitas, dan
curah hujan), dilakukan proses superimpose atau tumpang tindih lembar data spatial untuk menghasilkan
irisan-irisan (cluster) dari data yang ada. Data cluster tersebut mencerminkan tingkat kerentanan
berdasarkan perhitungan bobot dan skor.

12 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Hasil proses tumpang-tindih tersebut menghasilkan 4 (empat) peta, yaitu peta kerentanan kuantitas
dan peta kerentanan kualitas masing-masing untuk kondisi tahun 2015 dan 20 tahun mendatang. Peta
kerentanan ini memberikan informasi bahwa dari setiap cluster tersebut berkontribusi terhadap
kerentanan kuantitas dan kuantitas air tanah dan mata air Ciburial. Besarnya pengaruh masing-masing
cluster terhadap kerentanan di mata air Ciburial diklasifikasikan ke dalam 5 (lima) lima tingkatan:

1. Kerentanan sangat tinggi;


2. Kerentanan tinggi;
3. Kerentanan sedang;
4. Kerentanan rendah; dan
5. Kerentanan sangat rendah.

2.2.4 PENGUMPULAN DATA

Data-data yang digunakan dalam keperluan analisis geospasial ini merupakan data-data sekunder yang
diperoleh melalui instansi-instansi Kabupaten Bogor terkait (Tabel 8). Untuk verifikasi dan keperluan
teknis lainnya, data sekunder yang telah terkumpul dan dianalisa selanjutnya diverifikasi di lapangan. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui tingkat akurasi data dan juga sebagai kontrol untuk menghindari deviasi
kualitas data tersebut.

Tabel 8 Sumber Data Geospasial

No. Jenis data Sumber data

1 Peta tata guna lahan Bappedalitbang Kabupaten Bogor


2 Peta pola ruang RTRW Bappedalitbang Kabupaten Bogor
3 Peta kelerengan Bappedalitbang Kabupaten Bogor
4 Peta permeabilitas tanah Bappedalitbang Kabupaten Bogor
5 Peta curah hujan Bappedalitbang Kabupaten Bogor
6 Peta kontur Badan Informasi Geospasial (INA-Geoportal)
7 Peta administrasi Bappedalitbang Kabupaten Bogor

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 13
3 KONDISI UMUM KABUPATEN BOGOR
Pada bab ini akan diuraikan kondisi umum Kabupaten Bogor untuk memberikan gambaran mengenai
karakteristik regional.

3.1 ADMINISTRASI DAN GEOGRAFI


Kabupaten Bogor (Gambar 3) merupakan kabupaten di provinsi Jawa Barat. Luas Kabupaten Bogor
mencapai ± 2.663,81 km2 atau 266.381 Ha. Kabupaten Bogor berada pada kaki Gunung Gede dan
Gunung Salak tepatnya pada koordinat geografis 6º18'0" - 6º47'10" Lintang Selatan dan 106º23'45" -
107º13'30" Bujur Timur. Dalam wilayah administratifnya, Kabupaten Bogor berbatasan dengan:
• Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kabupaten dan Kota Bekasi di
sebelah Utara;
• Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur di sebelah Selatan;
• Kabupaten Lebak di sebelah Barat;
• Kabupaten Karawang, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta di sebelah Timur; dan
• Kota Bogor di bagian Tengah.

Secara administratif, Kabupaten Bogor terdiri atas 40 kecamatan, 417 desa dan 17 kelurahan, dan
terbagi ke dalam 3.882 rukun warga dan 15.561 rukun tetangga. Pusat pemerintahan daerah berada di
kecamatan Cibinong. Kecamatan Cigudeg yang juga merupakan kecamatan terluas, sedangkan
kecamatan Ciomas merupakan kecamatan terkecil.

Gambar 3 Peta Kabupaten Bogor

Sumber: Website Pemerintah Kabupaten Bogor ([Link]

14 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
3.2 DEMOGRAFI
Pada akhir 2017, jumlah penduduk Kabupaten Bogor tercatat mencapai sekitar 5,7 juta jiwa. Angka
tersebut setara dengan pertumbuhan penduduk sebesar 2,28% dalam satu tahun terakhir, atau 2,61%
dari tahun 2010. Jumlah antar gender cukup sebanding, yaitu 2,9 juta pria dan 2,8 juta wanita. Kepadatan
penduduk keseluruhan mencapai 2.145 jiwa/km2. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan
Ciomas (11.093 jiwa/km2), sedangkan terendahnya ditemukan di Kecamatan Tanjungsari (399
jiwa/km2).

3.3 TATA GUNA LAHAN DAN TATA RUANG


Berdasarkan analisa data spasial penggunaan lahan di tahun 2015 (Tabel 9), mayoritas lahan di
Kabupaten Bogor masih berupa hutan (37,1%), diikuti dengan peruntukan kelas padang rumput, sawah,
dan lahan (27,3%). Sedangkan, area terbangun untuk peruntukan industri, perumahan, serta tambang
menempati 17,9% wilayah kabupaten.

Tabel 9 Klasifikasi Penggunaan dan Luas Lahan Kabupaten Bogor Tahun 2015

Pengelompokan Persentase luasan


No. Tata Guna Lahan
Tata Guna Lahan (%)
1 Hutan Hutan Jarang 8,2
Hutan Lebat 28,9
Subtotal 37,1
2 Kebun Kebun Campuran 14,2
Perkebunan 2,6
Subtotal 16,8
3 Badan air Perairan Darat 0,2
Setu 0,1
Sungai 0,6
Subtotal 0,9
4 Padang rumput, sawah dan Belukar/Semak 1,8
ladang Sawah Irigasi 8,8
Sawah Tadah Hujan 10,2
Tegalan 5,8
Lahan Terbuka 0,7
Subtotal 27,3
5 Area terbangun Industri 1,0
Permukiman Pedesaan 6,5
Permukiman Perkotaan 10,2
Tambang Terbuka 0,2
Subtotal 17,9
(Sumber: Peta Tata Guna Lahan Bappedalitbang Kab. Bogor dan Analisa Tim USAID-IUWASH Plus)

Sebaran tata guna lahan Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Gambar 4. Kawasan terbangun banyak
tersebar di bagian Utara Kabupaten Bogor. Kawasan hutan dan kebun banyak tersebar di daerah Selatan
dengan karakteristik lahan dataran tinggi, sedangkan lahan sawah banyak tersebar di bagian Timur
kabupaten.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 15
Korelasi tata ruang terhadap perlindungan mata air dan air tanah tertuang dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor 2013-2018 melalui penetapan ‘Rencana Kawasan
Lindung’ Kabupaten Bogor, yang diantaranya meliputi:

1. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya


Yaitu kawasan yang memiliki kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga berfungsi
sebagai kawasan resapan/ pengisian air bumi (akuifer) yang berguna sebagai sumber air. Hal ini
ditujukan untuk mengurangi laju air limpasan dan mencegah erosi di wilayah hilir. Pembangunan
fisik di wilayah ini sangat dibatasi.
2. Kawasan sekitar mata air
Yaitu kawasan di sekeliling mata air yang berperan penting dalam mempertahankan kelestarian
fungsi mata air. Kriteria kawasan sekitar mata air yaitu sekurang-kurangnya berjarak jari-jari
200 meter di sekitar mata air.

Kecamatan-kecamatan yang termasuk dalam rencana kawasan lindung tersebut tercantum dalam tabel
berikut:

Tabel 10 Daftar Kecamatan Rencana Kawasan Lindung RPJMD Kabupaten Bogor 2013-2019

Rencana Kawasan Lindung


Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap
Kawasan Sekitar Mata Air
kawasan bawahannya
1. Kecamatan Nanggung; 1. Kecamatan Ciawi
2. Kecamatan Jasinga; 2. Kecamatan Cisarua
3. Kecamatan Cigudeg; 3. Kecamatan Megamendung
4. Kecamatan Leuwiliang; 4. Kecamatan Caringin
5. Kecamatan Leuwisadeng; 5. kecamatan Cijeruk
6. Kecamatan Pamijahan; 6. Kecamatan Cigombong
7. Kecamatan Tenjolaya; 7. Kecamatan Tamansari
8. Kecamatan Tamansari; 8. Kecamatan Ciomas
9. Kecamatan Klapa Nunggal; 9. Kecamatan Dramaga
10. Kecamatan Cisarua; 10. Kecamatan Pamijahan
11. Kecamatan Ciawi; 11. Kecamatan Tenjolaya
12. Kecamatan Megamendung; 12. Kecamatan Cibungbulang
13. Kecamatan Caringin; 13. Kecamatan Leuwiliang
14. Kecamatan Cijeruk; 14. Kecamatan Sukajaya
15. Kecamatan Cigombong; 15. Kecamatan Parungpanjang
16. Kecamatan Babakan Madang; 16. Kecamatan Cigudeg
17. Kecamatan Cariu; 17. Kecamatan Rumpin
18. Kecamatan Jonggol; 18. Kecamatan Tenjo
19. Kecamatan Sukamakmur; 19. Kecamatan Cileungsi
20. Kecamatan Tanjungsari. 20. Kecamatan Klapanunggal
21. Kecamatan Jonggol;
22. Kecamatan Sukamakmur.
(Sumber: RPJMD Kabupaten Bogor 2013-2018)

16 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 4 Peta Tata Guna Lahan Tahun 2015

(Sumber: Bappedalitbang Kabupaten Bogor)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 17
Kedepannya, pembangunan untuk Kabupaten Bogor akan mengacu pada Perda Kabupaten Bogor
Nomor 11 Tahun 2016 tentang Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor Tahun 2016-2036. Dalam jangka
waktu 20 tahun, diantisipasi porsi lahan terbangun dalam tata guna lahan Kabupaten Bogor meningkat
mendekati 2 kali lipat dari situasi di tahun 2015 (Tabel 11). Sedangkan, porsi hutan akan sedikit
berkurang, begitu pula dengan kelas padang rumput, sawah dan ladang.

Tabel 11 Klasifikasi Penggunaan dan Luas Lahan Kabupaten Bogor Berdasarkan RTRW 2016-2036

Pengelompokan Persentase luasan


No. Tata Guna Lahan
Tata Guna Lahan (%)

1 Hutan Enclave Kawasan Hutan 9,4


Hutan Konservasi 11,0
Kawasan Hutan Lindung 2,2
Kawasan Hutan Produksi Terbatas 6,9
Kawasan Hutan Produksi Tetap 4,7
Subtotal 34,2
2 Kebun Kawasan Peruntukan Perkebunan 18,5
Subtotal 18,5
3 Badan air Rencana Waduk 0,2
Situ 1,1
Subtotal 1,3
4 Padang rumput, sawah dan Kawasan Peruntukan Lahan Basah 12,0
ladang Kawasan Peruntukan Lahan Kering 8,4
Subtotal 20,4
5 Area terbangun Kawasan Peruntukan Industri 2,0
Kawasan Peruntukan Permukiman Perdesaan 4,5
Permukiman Perkotaan Kepadatan Rendah 8,8
Permukiman Perkotaan Kepadatan Sedang 4,8
Permukiman Perkotaan Kepadatan Tinggi 5,3
Kawasan Khusus Hankam 0,2
Subtotal 25,6
(Sumber: Peta Pola Ruang RTRW 2016-2036 Bappedalitbang Kab. Bogor dan Analisa Tim USAID-IUWASH Plus)

Apabila meninjau peta pola ruang RTRW 2016-2036 (Gambar 5) serta pembagian wilayah
pengembangan (WP) Kabupaten Bogor, dapat terlihat bahwa WP Barat akan didominasi oleh
perkebunan. Pada WP Tengah khususnya kawasan lereng Gunung Salak akan memiliki banyak lahan
basah untuk memenuhi peran konservasi wilayah hulu, serta permukiman penduduk akan banyak
berkembang di perbatasan Kabupaten Bogor dengan Kota Bogor. Sedangkan, WP Timur akan lebih
berkembang sebagai pusat permukiman.

18 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 5 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Bogor Tahun 2016-2036

(Sumber: Bappedalitbang Kabupaten Bogor)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 19
3.4 TOPOGRAFI DAN MORFOLOGI
Kabupaten Bogor berada pada elevasi antara 50 – 3.000 mdpl dengan morfologi yang bervariasi. Secara
umum, Kabupaten Bogor memiliki dataran tinggi di bagian selatannya dengan bentangan lereng yang
menghadap ke utara.

Bagian utara atau kawasan hilir Kabupaten Bogor merupakan wilayah dataran rendah dengan elevasi 15
– 100 meter diatas permukaan laut (mdpl) dan kemiringan lereng 0-8%. Dataran rendah ini terbentang
hingga bagian tengah Kabupaten Bogor yang kemudian bergabung dengan morfologi dataran
bergelombang/ relief halus. Elevasi pada wilayah ini berkisar 100 – 500 mdpl dengan kemiringan lereng
8 – 15%. Sedangkan pada bagian selatan atau kawasan hulu Kabupaten Bogor merupakan daerah
pegunungan rendah hingga tinggi dengan relief yang lebih terjal dari kawasan tengah serta kelerengan
sangat curam. Kawasan ini memiliki elevasi antara 500 – 2.500 mdpl serta kelerengan mencapai >40%.
Gambaran morfologi wilayah Kabupaten Bogor dirangkum pada Tabel 12.

Tabel 12 Elevasi Kabupaten Bogor

Morfologi wilayah
Elevasi (m)
Tipe dataran Persentase
50 – 100 Dataran rendah 29,28
100 – 500 Dataran bergelombang 42,62
500 – 1.000 Perbukitan 19,34
1.000 – 2.000 Pegunungan tinggi 8,54
2.000 – 2.500 Puncak pegunungan 0,22
(Sumber: RTRW Kabupaten Bogor 2013 dalam Penyusunan RISPAM Kabupaten Bogor Tahun 2014)

Berdasarkan peta kelerengan Bappedalitbang Kabupaten Bogor (Gambar 6), Kabupaten Bogor memiliki
5 (lima) kelas kelerengan (Tabel 13). Tabel tersebut menampilkan bahwa mayoritas wilayah di
Kabupaten Bogor merupakan daerah dataran. Namun lereng-lereng curam juga ditemukan pada wilayah
pegunungan dan bukit.

Tabel 13 Kelerengan Wilayah Kabupaten Bogor

Kelerengan (%) Persentase


0-8% 43,6
8 - 15 % 23,4
15 - 25 % 17,9
25 - 40 % 11,8
> 40 % 3,3
Total 100
(Sumber: Peta Kelerengan Kabupaten Bogor dan Analisa Tim USAID IUWASH Plus)

20 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 6 Peta Kelerengan Kabupaten Bogor

(Sumber: Bappedalitbang Kabupaten Bogor)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 21
3.5 KLIMATOLOGI DAN HIDROLOGI

3.5.1 KLIMATOLOGI

Lokasi geografis Kabupaten Bogor yang terletak di antara deretan pegunungan di sebelah Selatan, serta
hamparan laut di sebelah Utara membentuk 2 (dua) iklim yang berbeda di kedua bagian tersebut.
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, bagian selatan Kabupaten Bogor beriklim tipe A, yaitu
iklim tropis yang sangat basah, sedangkan bagian utaranya memiliki iklim tipe B atau tropis basah
sehingga semakin ke arah Selatan (hulu) kabupaten, curah hujan semakin tinggi. Kondisi ini disebabkan
oleh pergerakan naik udara yang banyak membawa uap air akibat berhadapan dengan topografi
pegunungan atau disebut juga dengan efek orografis. Hal ini jugalah yang menimbulkan dominasi hujan
orografi di Kabupaten Bogor.

Curah hujan yang lebih tinggi di wilayah selatan Kabupaten Bogor dapat dilihat pada peta spasial curah
hujan Kabupaten Bogor (Gambar 7), dimana curah hujan bagian selatan tergolong klasifikasi ‘sangat
tinggi’ (>5.000 mm), bagian tengah tergolong tinggi (2.500-5.000 mm), dan di bagian utara tergolong
‘cukup’ (<2.500 mm).

Gambar 7 Peta Curah Hujan Kabupaten Bogor

(Sumber: Bappedalitbang Kabupaten Bogor)

Profil iklim dan curah hujan Kabupaten Bogor tahun 2017 diringkas dalam Tabel 14. Tingkat curah
hujan dan jumlah hari hujan tertinggi tercatat di bulan Februari, sedangkan terkeringnya tercatat pada
bulan Agustus. Dengan suhu udara rata-rata sebesar 25,9°C, laju evaporasi di daerah terbuka rata-rata
regional mencapai 146,2 mm/bulan.

22 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 14 Data Klimatologi Kabupaten Bogor Tahun 2017

Bulan Curah Hujan (mm) Hari Hujan Suhu Udara (°C)


Januari 232 19 25,9
Februari 581 25 25,0
Maret 354 20 25,7
April 349 19 26,1
Mei 300 15 26,4
Juni 298 14 26,3
Juli 247 12 26,0
Agustus 158 5 26,2
September 256 9 25,6
Oktober 379 19 26,5
November 329 19 26,3
Desember 235 15 25,9
Rata-rata: 310 Jumlah: 191 Rata-rata: 25,9
(Sumber: Dokumen Kabupaten Bogor Dalam Angka Tahun 2018 dan analisa Tim USAID IUWASH Plus)

3.5.2 HIDROLOGI

Kawasan hulu, tengah, dan hilir Kabupaten Bogor sebagaimana dijelaskan pada subbab 3.4 memiliki
peranan hidrologisnya masing-masing. Kawasan hulu yang didominasi oleh area pegunungan berfungsi
sebagai kawasan konservasi air. Kawasan tengah dengan karakteristik topografinya lebih berbukit, aliran
sungainya mampu membentuk dataran banjir dan embung sehingga berfungsi penting sebagai daerah
penampungan dan penyerapan air, serta menjaga stabilitas neraca air. Sedangkan daratan rendah dan
rawa pada kawasan hilir menjadi tempat muara air.

Sumberdaya air permukaan Kabupaten Bogor terdiri atas air sungai dan air genangan/situ/danau, baik
alam maupun buatan. Kabupaten Bogor sendiri merupakan kawasan hulu bagi 8 (delapan) daerah aliran
sungai (DAS) (Gambar 8) dimana DAS Cisadane menjadi DAS terluas. Total terdapat 159 sungai di
Kabupaten Bogor, dimana 7 ruas sungai termasuk ke dalam orde 1; 64 ruas sungai termasuk orde 2;
70 ruas sungai termasuk orde 3; dan 18 ruas sungai termasuk sebagai orde 4. Mayoritas sumber air
permukaan tersebut mempunyai hulu di bagian Selatan, yaitu pada bagian tubuh pegunungan seperti di
sekitar Gunung Salak, Gunung Gede Pangranggo dan Gunung Halimun. Sungai-sungai yang dianggap
masih cukup potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan meliputi Sungai Cisadane, Cidurian,
Ciujung, dan Cimanceuri.

Secara umum, kualitas air permukaan Kabupaten Bogor masih cukup baik dan belum ditemukan
pencemaran oleh industri. Sungai Cikaniki, Cianten, Ciapus, Ciampea dan Cidurian umumnya
dimanfaatkan untuk keperluan irigasi. Selain itu, pada sungai-sungai ini juga terdapat praktek
pengambilan air sungai secara langsung oleh masyarakat. Aliran sungai umumnya mengalir sepanjang
tahun, dimana pada saat musim hujan debit yang besar menyebabkan banjir setempat dan pada saat
musim kemarau alur sungai cenderung surut. Debit minimum biasanya terjadi pada bulan Agustus
dengan variasi debit sekitar 0,6 – 7,7 m3/dtk. Sedangkan debit maksimumnya biasanya terjadi di bulan
Januari dengan debit bervariasi antara 23,3 – 261,8 m3/dtk. Permasalahan yang ada pada sungai-sungai
di Kabupaten Bogor adalah adanya sedimentasi sungai akibat erosi pada kawasan imbuhan sehingga
terjadi pendangkalan di muara sungai. Selain itu, terjadi degradasi pada dasar sungai hulu akibat adanya
aktivitas pengambilan pasir dan batu secara liar.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 23
Gambar 8 Peta DAS Kabupaten Bogor

Selain sungai, terdapat badan air lain berupa situ atau telaga. Kabupaten Bogor memiliki 93 situ yang
tersebar di 6 (enam) wilayah dengan luas total 510,2 Ha. Namun jumlah situ dalam kondisi baik kurang
dari setengah jumlah tersebut (36 situ), sedangkan situ dengan kondisi sedang sejumlah 40 buah, situ
kondisi rusak sejumlah 9 buah, dan situ dengan kondisi rusak berat sejumlah 8 buah. Kondisi rusak ini
secara garis besar disebabkan oleh perubahan tataguna lahan, kondisi hidrologis, sedimentasi dan
berkurangnya debit aliran yang masuk, ketidakjelasan pola pengelolaan, dan rendahnya kesadaran
masyarakat untuk memelihara.

3.6 GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI

3.6.1 GEOLOGI

Secara umum, mayoritas wilayah Kabupaten Bogor merupakan dataran tinggi, perbukitan, dan
pegunungan yang terbentuk dari hasil letusan Gunung Salak, serta letusan Gunung Pangrango dan
Gunung Halimun yang berada di bagian Selatan kabupaten. Hal ini menyebabkan dominasi jenis batuan
beku vulkanik di sekitar 90% daerah Kabupaten Bogor yang terdiri atas material gunung api.

Secara lebih mendalam, morfologi batuan Kabupaten Bogor tersusun oleh batuan piroklastik. Kata
‘piroklastik’ diambil dari Bahasa Yunani, yaitu “pyro” yang berarti api dan “klatos” yang berarti pecah.
Mengacu pada arti kata tersebut, batuan piroklastik merupakan batuan yang bersifat klastik (lepas-lepas)
hasil erupsi gunung api yang langsung terendapan. Endapan ini terbentuk secara berlapis bergantung
pada kegiatan erupsi yang berlangsung yang kemudian membentuk garis kontur dengan arah menyebar
secara radial. Tekstur (keseragaman dan ukuran butir) piroklastik bervariasi mulai dari ukuran debu
halus hingga bongkahan dengan bentuk cenderung runcing tidak beraturan.

Mengingat Gunung Salak yang masih berstatus aktif, maka batuan piroklastik yang ada masih berstatus
muda dan belum mengalami pemadatan (kompaksi) atau bersifat lepas. Hal ini menyebabkan ruang antar
butir (porositas) batuan piroklastik tergolong sangat besar atau baik.

24 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 9 Peta Geologi (batuan) kawasan Gunung Salak dan Imbuhan MA Ciburial, Kabupaten Bogor

Meninjau dari sisi geologi permukaan atau tanah pada lapisan terluar sebagai hasil lapukan dari material
dasar (bedrock), secara umum Kabupaten Bogor tersusun atas beragam jenis tanah sebagai berikut:

1. Tanah aluvial
Merupakan tanah yang terbentuk dari material lumpur sungai yang terbawa ke dataran rendah
yang kemudian mengendap dan membentuk tanah. Hal ini menyebabkan sifat batuan yang
bergantung pada daerah asal sungai pembawa material. Unsur mineral dan hara yang dikandung
tanah alluvial cukup tinggi, sehingga pada umumnya jenis tanah ini subur dan cocok
dikembangkan menjadi persawahan.
2. Tanah latosol
Merupakan jenis tanah yang mendominasi wilayah Kabupaten Bogor. Tanah ini memiliki
kandungan zat besi dan aluminium yang cukup tinggi. Umur batuan latosol yang tua
menyebabkan kesuburan tanah tidak terlalu tinggi dan cepat mengeras di udara terbuka. Tanah
ini merupakan tanah yang tipikal ditemukan di daerah tropis dan cocok untuk ditumbuhi padi,
palawija, sayuran, karet, buah-buahan dan sejenisnya.
3. Tanah regosol
Merupakan tanah aluvial yang diendapkan. Tanah ini terdiri atas bukit pasir, batuan sedimen,
dan regosol abu vulkanik. Tanah ini sangat subur sehingga cocok ditanami padi, kelapa, tebu,
dan sebagainya.
4. Tanah andosol
Merupakan tanah yang terbentuk dari abu gunung api dan sering ditemukan di lereng gunung
api. Tanah ini memiliki kesuburan yang baik dan bertekstur menyerupai tanah lempung. Tanah

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 25
ini memiliki pori-pori yang cukup besar sehingga mudah untuk diolah. Tanah ini cocok untuk
dikembangkan menjadi hutan hujan tropis dan cocok untuk ditumbuhi bambu dan rumput.
5. Tanah podsolik
Merupakan tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan yang umumnya terjadi di daerah
dengan curah hujan tinggi (2.500 – 3.000 mm/tahun). Tingkat keasaman (pH) batuan ini cukup
rendah dan mengandung unsur zat besi dan aluminium yang tinggi. Tanah ini memiliki
permeabilitas yang lambat dan sangat peka terhadap erosi. Tingkat kesuburan tanah ini sedang
sehingga kemampuan tanah untuk menyimpan unsur hara relatif rendah.
6. Tanah grumusol
Merupakan tanah yang terbentuk dari batuan induk kapur dan tuffa vulkanik yang umumnya
bersifat basa sehingga tidak ada aktivitas organik didalamnya. Hal ini menyebabkan tanah
grumosol sangat miskin hara dan unsur organik lainnya. Selain itu, sifat kapur dalam tanah
grumosol dapat menyerap semua unsur hara di tanah sehingga kadar kapur yang tinggi dapat
menjadi racun bagi tumbuhan. Tanah ini dicirikan dengan tekstur lempung dan warna kelabu
hitam.

Sebaran jenis tanah Kabupaten Bogor ditampilkan pada Gambar 9. Dari peta tersebut, dapat diketahui
bahwa jenis tanah yang paling banyak ditemui di Kabupaten Bogor adalah asosiasi atau campuran latosol
kemerahan dan latosol coklat kemerahan.

26 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 10 Peta Jenis Tanah Kabupaten Bogor

(Sumber: Bappedalitbang Kabupaten Bogor)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 27
3.6.2 HIDROGEOLOGI

Berdasarkan potensi air bawah tanahnya, sebagian kaki Gunung Salak dan kaki Gunung Pangrango, serta
sebagian Desa Kota Batu, Ciomas memiliki potensi air bawah tanah ‘sedang’ (Qopt=2-10 lt/dtk). Wilayah
tersebut memiliki komposisi batuan akuifer berupa endapan vulkanik muda dengan debit air bawah
tanah kurang dari 5 lt/dtk. Sedangkan, potensi air tanah ‘rendah’ (Qopt <2 lt/dtk) dapat ditemui di bagian
Timur dan Barat Kabupaten Bogor serta sebagian puncak Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Pada
wilayah tersebut, komposisi batuan penyusun utama akuifernya adalah endapan sedimen padat dengan
sifat lempung.

Dalam RISPAM Kabupaten Bogor, disebutkan bahwa pengukuran muka air bawah tanah di 150 sumur
gali menunjukkan kedudukan muka air tanah berkisar antara 1 – 3 meter dibawah muka tanah setempat.
Informasi penduduk setempat menyebutkan bahwa kedudukan muka air tanah meningkat pada musim
penghujan hingga 0,5 – 3 meter di bawah muka tanah setempat. Sedangkan pada kaki perbukitan,
kedudukan air tanah beragam dan mencapai 15 m di bawah permukaan tanah setempat yang
terperangkap pada zona lapukan di bawahnya.

Keberadaan mata air di Kabupaten Bogor bergantung pada penyebaran air tanah dalam rongga antar
butir dan rekahan batuan sebagai berikut:

1. Akuifer dengan aliran melalui ruang atau rongga antar butir


a. Wilayah akuifer produktif tinggi dengan penyebaran luas
Merupakan akuifer yang tersebar di bagian Tengah hingga arah Utara Kabupaten Bogor. Akuifer
ini berkembang pada endapan kipas alluvial, litologi hasil rempah gunung api, pasir, kerikil,
breksi dan tufa. Air tanah pada wilayah akuifer ini berada pada pori-porti antar butir yang
tersusun atas endapan alluvial. Wilayah ini memiliki kelerengan 2-5° dan digunakan sebagai
lahan pemukiman, persawahan, pertanian tanah kering dan tegalan.
b. Wilayah akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas
Merupakan akuifer yang tersebar di bagian Selatan Kota Bogor, kaki lereng Gunung Salak dan
kaki lereng Gunung Pangrango, meliputi Kelurahan Cigombong, Cijeruk, Ciawi, Tamansari,
Ciomas, dan Tenjolaya. Penggunaan lahan berupa permukiman, persawahan, pertanian lahan
kering, tegalan, dan hutan.
c. Setempat, akuifer produktif rendah
Merupakan akuifer yang tersebar di daerah Jonggol, Cibodas, dan Cibarusa. Akuiver ini
berkembang pada endapan kipas alluvial, terutama pada sungai-sungai besar. Litologi batuannya
tersusun dari rombakan bahan gunung api, kerikil, pasir, kerakal, sampai bongkahan. Air tanah
di berada pada endapan sedimen. Wilayah akuifer ini memiliki kelerengan 10-44°.
2. Akuifer yang terdapat dalam rongga antar butir dan celah atau rekahan
a. Akuifer produktif tinggi dengan penyebaran luas
Merupakan akuifer yang tersebar di kaki Gunung Salak bagian utara di sekitar Ciawi, Kota
Bogor dan Ciampea. Pada wilayah ini banyak ditemukan mata air. Akuifer ini berkembang pada
endapan gunung api muda dengan litologi yang terdiri atas breksi, lahar, lava, lavili dan tufa.
Morfologi wilayah ini bergelombang dengan kelerengan 5-21° dan banyak digunakan sebagai
lahan pemukiman, persawahan, pertanian lahan kering, tegalan, dan hutan.
b. Akuifer produktif sedang dengan penyebaran luas

28 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Merupakan akuifer yang tersebar di kaki Gunung Salak dan bagian Selatan Kota Bogor. Akuifer
ini berkembang pada endapan gunung api muda dimana air tanahnya terdapat pada pori-pori
atau rengkahan endapan vulkanik muda. Sedangkan karakteristik lainnya menyerupai akuifer
produktif tinggi dengan penyebaran luas (poin 2.a).
c. Setempat akuifer produktif sedang
Merupakan akuifer yang tersebar di bagian Selatan (kaki Gunung Salak bagian Utara, Barat, dan
Timur Kabupaten Bogor. Akuifer ini berkembang pada satuan endapan gunung api muda dan
litologi batuannya terdiri atas breksi, lahar, lava, lavili and tifa. Wilayah akuifer ini biasa
ditemukan di lereng perbukitan dan gunung api yang ditempati endapan vulkanik. Morfologinya
berbentuk perbukitan terjal dan gunung api dengan kelerengan 21-88°, dengan lahan utama
berupa hutan belukar.
3. Akuifer yang terdapat dalam celah/rekahan/saluran
a. Wilayah akuifer setempat berarti
Merupakan wilayah yang tersebar di bagian Timur Kabupaten Bogor seperti daerah Jonggol,
Cariu, dan Pasir Kalong, dan juga daerah Bukit Gadung dan Ciampea. Akuifer ini berkembang
pada batuan gamping dengan litologi dominannya berupa batuan gamping terumbu. Air tanah
pada wilayah ini berada pada celah endapan sedimen. Penggunaan lahan yang utama adalah
untuk permukiman, lahan pertanian kering, dan tegalan.
b. Wilayah akuifer tidak berarti
Merupakan wilayah yang tersebar di bagian Barat dan Timur Kabupaten Bogor. Pada wilayah
ini, air tanah berada pada celah endapan sedimen tua dan lava.
4. Akuifer bercelah atau sarang
a. Wilayah akuifer produktif kecil, setempat berarti
Akuifer ini berkembang pada satuan gunung api tua dan batuan sedimen tersier. Memiliki
litologi batuan gunung api berupa breksi, lahar, lava, dan batuan sedimen berupa napal, batu
lempung, dan batu pasir. Wilayah ini memiliki morfologi perbukitan hingga terjal dengan
kemiringan 10-44°.
b. Wilayah akuifer langka atau tak berarti
Merupakan wilayah yang tersebar di puncak Gunung Salak, pegununggan Gunung Kempul –
Halimun, Gunung Pangrango. Akuifer ini berkembang pada satuan gunung api muda dan tua,
batuan beku berumur tua, dan formasi-formas batuan tersier. Memiliki litologi batuan rempah
gunung api berupa breksi, lahar, lava, dan batuan sedimen berupa napal, batu lempung, dan batu
pasir. Morfologinya berupa perbukitan hingga terjal dengan kelerengan 21-88°.

3.7 SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM (SPAM) KABUPATEN BOGOR

3.7.1 SPAM PDAM

[Link] Profil umum PDAM Tirta Kahuripang

PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Tingkat II
Kabupaten Bogor Nomor III/DRPD/Ps.012/III/1981 tanggal 2 Maret 1981 tentang Pembentukan
Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Bogor. Berdasarkan ketentuan Keputusan Menteri Negara
Otonomi Daerah No. 8 Tahun 2000 tentang Pedoman Akuntansi PDAM, PDAM Tirta Kahuripan

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 29
tergolong sebagai PDAM tipe E yaitu PDAM dengan lebih dari 100.000 sambungan langganan (SL). Di
tahun 2017, PDAM Tirta Kahuripan memiliki150.072 SL dengan pelanggan aktif sejumlah 134.075 SL.

Keberadaan PDAM Tirta Kahuripan bermula dari pembangunan sarana dan prasarana air bersih di Kota
Depok yang dikelola oleh Badan Pengelolaan Air Minum (BPAM) di tahun 1977. Setelah didirikannya
PDAM Kabupaten Bogor di tahun 1983 dengan pengelolaan yang terpisah dari BPAM, pada tahun 1988,
BPAM dan PDAM Kota Bogor resmi bergabung. Di akhir tahun 1994, pengelolaan sumber mata air
Ciburial diserahterimakan oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta kepada Gubernur
Kepala Daerah Tingkat 1 Provinsi Jawa Barat sehingga hak dan wewenang jatuh sepenuhnya kepada
Pemerintah Kabupaten Bogor. Selanjutnya, Pemerintah Kabupaten Bogor menyerahkan pengelolaan
mata air Ciburial kepada PDAM Tirta Kahuripan.

Semula, PDAM Tirta Kahuripan memberikan pelayanan untuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, DKI
Jakarta, dan Kota Depok. Namun kini wilayah pelayanan PDAM Tirta Kahuripan hanya mencangkup
Kabupaten Bogor dan sebagian Kota Bogor, sedangkan 3 (tiga) cabang pelayanan yang berada di Kota
Depok telah diserahkan ke PDAM Tirta Asasta.

PDAM Tirta Kahuripan memiliki visi untuk ‘terwujudnya pelayanan yang mandiri, handal dan terpercaya.
Sedangkan visi PDAM Tirta Kahuripan meliputi:

1. Memberikan pelayanan dengan kualitas air sesuai dengan persyaratan yang berlaku dan kuantitas
yang memadai secara kontinyu;
2. Membina dan menjalin hubungan baik dengan pelanggan dan stakeholder perusahaan;
3. Meningkatkan kualitas sumber daya perusahaan;
4. Meningkatkan kinerja keuangan perusahaan;
5. Mengutamakan pengembangan pada segmen rumah tangga dengan tetap memperhatikan segmen
non rumah tangga.

[Link] Cakupan Pelayanan SPAM

Wilayah administrasi pelayanan PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor mencangkup 40 kecamatan
dalam wilayah Kabupaten Bogor dan 5 (lima) kecamatan di Kota Bogor dengan total jumlah penduduk
administratifnya yang mencapai 4.294.270 jiwa. Wilayah pelayanan PDAM tersebut kemudian terbagi
ke dalam 8 (delapan) cabang pelayanan yang mencangkup wilayah barat, tengah, dan timur Kabupaten
Bogor, serta sebagian Kota Bogor (Gambar 10). Secara keseluruhan, PDAM Tirta Kahuripan pada
tahun 2017 telah melayani 988.668 jiwa atau sekitar 30,87% dari total penduduk di wilayah
pelayanannya (Tabel 15).

Tabel 15 Cakupan Pelayanan di Wilayah Pelayanan Tahun 2017

Jumlah penduduk (jiwa) Jumlah Cakupan


Cabang Kecamatan SL penduduk Pelayanan
No.
Pelayanan Terlayani Administratif Pelayanan terdaftar terlayani (%)

Wilayah Barat
1 Leuwiliang Leuwiliang 927.327 409.800 10.080 60.480 14,8
Leuwisadeng
Cibungbulang

30 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Jumlah penduduk (jiwa) Jumlah Cakupan
Cabang Kecamatan SL penduduk Pelayanan
No.
Pelayanan Terlayani Administratif Pelayanan terdaftar terlayani (%)

Ciampea
2 Ciomas Dramaga 314.760 314.760 25.830 138.162 56,2
Ciomas
Kota Bogor
3 Parung Panjang Gunungsindur 350.753 295.047 13.904 83.424 28,3
Rumpin
Parungpanjang
Wilayah Tengah
4 Kedunghalang Sukaraja 470.769 242.303 15.553 73.866 50,5
Kemang
Kota Bogor
5 Cibinong Citeureup 849.518 849.518 27.449 201.630 23,7
Cibinong
Bojonggede
Tajurhalang
Babakan
Madang
6 Ciawi Cijeruk 576.347 494.228 7.875 42.006 9,7
Caringin
Ciawi
Cisarua
Megamendung
Kota Bogor
Wilayah Timur
7 Jonggol Cariu 269.839 175.211 20.887 125.280 79,7
Jonggol
8 Cileungsi Cileungsi 534.957 442.774 28.494 170.964 38,6
Gunungputri
Lainnya
Hidran umum - - 1.000
Jumlah 4.294.270 150.072 896.812 30,87
Sumber: Hasil audit BPKP 2017 dalam Business Plan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor 2018-2022

Dari total 40 kecamatan di Kabupaten Bogor, hanya 25 kecamatan yang telah terlayani jaringan oleh
perpipaan PDAM. Status pelayanan dan sambungan untuk masing-masing kecamatan tertera pada Tabel
16.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 31
Gambar 11 Peta Wilayah Cakupan Pelayanan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor

(Sumber: Business Plan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor 2018-2022)

32 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 16 Status Pelayanan Per Kecamatan Kabupaten Bogor Tahun 2017

No. Kecamatan Jumlah SR Keterangan


1 Leuwiliang 4.461 Terlayani
2 Leuwisadeng 520 Terlayani
3 Cibungbulang 1.930 Terlayani
4 Ciampea 2.066 Terlayani
5 Dramaga 1.694 Terlayani
6 Ciomas 17.047 Terlayani
7 Cijeruk 506 Terlayani
8 Caringin 1.408 Terlayani
9 Ciawi 2.434 Terlayani
10 Cisarua 1.869 Terlayani
11 Megamendung 563 Terlayani
12 Sukaraja 3.260 Terlayani
13 Babakan Madang 6.387 Terlayani
14 Cariu 726 Terlayani
15 Jonggol 15.372 Terlayani
16 Cileungsi 4.060 Terlayani
17 Gunungputri 22.264 Terlayani
18 Citeureup 2.479 Terlayani
19 Cibinong 15.206 Terlayani
20 Bojonggede 4.685 Terlayani
21 Tajurhalang 4.747 Terlayani
22 Kemang 2.867 Terlayani
23 Gunungsindur 1.571 Terlayani
24 Rumpin 71 Terlayani
25 Parungpanjang 12.896 Terlayani
26 Cigombong - Rencana 2018-2022
27 Klapanunggal - Rencana 2018-2022
28 Rancabungur - Rencana 2018-2022
29 Parung - Rencana 2018-2022
30 Nanggung - Belum terlayani
31 Pamijahan - Belum terlayani
32 Tenjolaya - Belum terlayani
33 Tamansari - Belum terlayani
34 Sukamakmur - Belum terlayani
35 Tanjungsari - Belum terlayani
36 Ciseeng - Belum terlayani
37 Cigudeg - Belum terlayani
38 Sukajaya - Belum terlayani
39 Jasinga - Belum terlayani
40 Tenjo - Belum terlayani
(Sumber: Business Plan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor 2018-2022)

Dari sisi pelanggan, pelayanan PDAM Tirta Kahuripan masih didominasi oleh pelanggan domestik atau
rumah tangga. Disamping itu, PDAM juga melayani kebutuhan air untuk kegiatan non-domestik seperti
gedung-gedung komersil, industri, dsb. Jenis-jenis pelanggan terdaftar dan jumlah sambungannya untuk
tahun 2016 – 2018 dapat dilihat pada Tabel 17 berikut.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 33
Tabel 17 Sambungan Langganan Terdaftar Berdasarkan Kelompok Pelanggan

Jumlah SL
No Kelompok pelanggan
2016 2017 2018
A Pelanggan Domestik
1 Rumah sangat sederhana (K2B) 897 899 892
2 Rumah sederhana (K3A) 29.970 24.526 22.796
3 Rumah menengah (K3B) 78.284 92.332 104.219
4 Rumah mewah (K4A) 23.165 24.373 25.339
5 Karyawan (K5) 169 157 161
6 Lain-lain / Pensiunan Karyawan 31 44 50
B Pelanggan Non Domestik
1 Sosial umum (K1) 871 923 1.012
2 Sosial khusus (K2A) 397 394 451
3 Instansi pemerintah (K3C) 504 522 1.507
4 Niaga kecil (K4B) 5.294 5.676 6.139
5 Niaga menengah/besar (K4D) 92 111 134
6 Industri kecil (K4C) 35 42 37
7 Industri menengah/besar (K4E) 63 64 67
8 Khusus (K5) 6 5 6
9 PDAM Tirta Asasta Depok 4 4 4
10 Vimala Hills 0 0 458
Jumlah 139.782 150.072 163.272
(Sumber: Laporan Keuangan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 2017 dan 2016; dan
Laporan Keuangan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 2018 dan 2017)

[Link] SPAM PDAM Keseluruhan

Secara garis besar, PDAM Tirta Kahuripan memiliki dua jenis SPAM, yaitu SPAM Ibu Kota Kabupaten
dan SPAM Ibukota Kecamatan (IKK), yang bersumber dari air permukaan, mata air, dan air tanah.

SPAM Ibukota Kabupaten berpusat di ibukota Kabupaten Bogor, yaitu Kecamatan Cibinong. SPAM
Ibukota Kabupaten dimanfaatkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di ibukota
kabupaten dan daerah satelit sekitarnya, seperti Kecamatan Bojong Gede dan Citeureup, serta wilayah
administrasi lainnya yaitu Depok dan Sukaraja. SPAM Ibukota Kabupaten ini utamanya memanfaatkan
air hasil pengolahan IPA Cibinong, dan ditunjang pula oleh sumber mata air (MA) Ciburial dan IPA Tajur
Halang. Khusus untuk IPA Tajur Halang, hanya melayani wilayah Cibinong. IPA Cibinong bersumber
dari Sungai Ciliwung dengan 2 (dua) unit instalasi yang dibangun pada tahun 1995 dan 2001.

SPAM Ibukota Kecamatan (IKK) tersebar di 25 lokasi, dimana 10 lokasi bersumber dari air permukaan
(sungai), 11 lokasi bersumber dari mata air, dan 4 lokasi bersumber dari sumur dalam (Tabel 19).
Kondisi unit-unit air baku (intake), pengolahan, distribusi, dan pelayanan adalah sebagai berikut:

a. Unit air baku (intake)


Sistem pengambilan air baku sumber air sungai dilengkapi dengan intake bendung dengan
konstruksi beton bertulang. Hal ini diterapkan untuk menjamin ketersediaan air akibat fluktuasi
muka air sungai yang cukup signifikan. Sebagai contoh, debit Sungai Ciliwung pada musim

34 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
penghujan adalah sekitar 25 m3/s, namun pada saat musim kemarau dapat menurun mencapai 3
m3/s. Pengumpulan air dari sumber mata air menggunakan bangunan penangkap air (broncaptering),
sedangkan untuk air tanah disedot oleh sumur bor.
b. Unit pengolahan
Pengolahan air disesuaikan dengan sumber airnya. IPA di Kabupaten Bogor berjenis konstruksi
beton dan paket baja dengan pengolahan lengkap mulai dari proses sedimentasi, koagulasi,
flokulasi, filtrasi, hingga desinfeksi menggunakan tawas dan kaporit. Sedangkan untuk SPAM yang
bersumber dari mata air dan air tanah hanya dilakukan penambahan desinfektan.
Secara keseluruhan, kapasitas produksi terpasang (idle) di tahun 2017 adalah sebesar 66.540.960
m3. Menyesuaikan dengan jumlah sambungan langganan yang ada, saat ini PDAM Tirta Kahuripan
belum mencapai kapasitas terpasang tersebut dan baru memanfaatkan 54.496.370 m3 (kapasitas
riil) atau sekitar 81,90% dari kapasitas terpasang.
Sedangkan, volume air yang diproduksi adalah sebesar 53.663.514 m3 sehingga terdapat sekitar
832.862 m3 volume air yang tidak termanfaatkan.
c. Unit distribusi
Air dari 10 mata air eksisting didistribusikan dengan sistem gravitasi, sedangkan untuk keluaran
dari 11 IPA, 4 (empat) sumur bor, dan 1 (satu) mata air lainnya didistribusikan menggunakan sistem
pemompaan. Total panjang pipa distribusi air bersih PDAM Tirta Kahuripan adalah 2.595.538 m.
Distribusi air juga didukung oleh bak penampung air (reservoir) sejumlah 23-unit yang tersebar di
23 lokasi dengan total kapasitas sebesar 22.020 m3.
Dari total volume air produksi sebesar 53.663.514 m3, jumlah air yang didistribusikan ke pelanggan
di tahun 2017 adalah sebesar 51.540.284 m3 yang setara dengan kehilangan produksi air (non-
revenue water/ NRW produksi) sebesar 2.123.230 m3 atau 3.96% dari kapasitas riil. Angka ini naik
sebesar 0,47% dari tahun 2016. Kehilangan air produksi ini disebabkan oleh pengurasan reservoir
atau sumur, pemakaian air untuk pencucian (back wash) instalasi atau filter, pembuangan lumpur
flokulasi, sedimentasi filter dan pemakaian air untuk pelarutan bahan kimia.
Selain itu, dari total 51.540.284 m3 air yang didistribusikan, jumlah air terjual adalah sebesar
36.967.191 m3 sehingga kehilangan air distribusinya 14.573.093 m3 atau setara dengan 28,28%.
Nilai ini meningkat sebesar 0,61% dibanding tahun 2016. Kehilangan air ini disebabkan oleh
kerusakan meter air pelanggan yang belum diganti, kesalahan administrasi/ pencatatan meter air,
kebocoran fisik pada jaringan perpipaan, pemakaian air yang tidak tercatat seperti pemakaian mobil
tangki untuk pelayanan darurat, dan adanya sambungan illegal.
Dari segi kontinuitas, PDAM Tirta Kahuripan telah mampu mendistribusikan air selama 24
jam/hari. Namun, di beberapa lokasi kuantitas pengalirannya belum optimal karena keterbatasan
sumber air yang tersedia. Rata-rata pemakaian air per rumah tangga mencapai 16,36 m3/bulan.
Sedangkan rata-rata pemakaian air untuk seluruh pelanggan adalah 22,98 m3/bulan. Volume
pemakaian air untuk masing-masing pelanggan dapat dilihat pada Tabel 18.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 35
Tabel 18 Pemakaian Air Berdasarkan Kelompok Pelanggan

No Kelompok Pelanggan Pemakaian Air (m3)

A Kelompok Rumah Tangga


1 Rumah sangat sederhana (K2B) 306.636
2 Rumah sederhana (K3A) 4.540.647
3 Rumah menengah (K3B) 15.624.235
4 Rumah mewah (K4A) 4.456.842
5 Karyawan (K5) 42.121
6 Lain-lain / Pensiunan Karyawan 10.019
Subtotal 24.950.500
B Pelanggan Non Domestik
1 Sosial umum (K1) 532.252
2 Sosial khusus (K2A) 332.071
3 Instansi pemerintah (K3C) 1.469.505
4 Niaga kecil (K4B) 1.903.322
5 Niaga menengah/besar (K4D) 720.148
6 Industri kecil (K4C) 197.039
7 Industri menengah/besar (K4E) 1.932.204
8 Khusus (K5) 2.657.073
9 PDAM Tirta Asasta Depok 2.216.077
Subtotal 11.986.691
Jumlah 36.967.191
(Sumber: Laporan Evaluasi Kinerja PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor Tahun 2017)

36 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 19 Inventarisasi IPA, Mata Air, dan Sumur Bor PDAM Tirta Kahuripan

Kapasitas Terpasang Kapasitas Terpakai (Riil) Kapasitas Produksi Kapasitas


Tahun Sumber Air
No Lokasi Instalasi (m3/thn) reservoir
Dibangun Baku (m3) (l/s) (m3) (l/s)
(m3/thn)
A Instalasi Pengolahan Air (IPA)
1 Cibinong 1995 & 2001 S. Ciliwung 15.768.000 500 12.876.789 399 12.607.835 2.600 & 600
2 Satwalpres 1997 S. Ciereng 315.360 10 309.256 9,6 301.435 -
Jonggol/Kujang
3 Kedung Halang 1989 S. Ciliwung 4.099.680 130 3.321.672 102,1 3.220.096 1.000
4 Cibungbulang 1989 S. Cianten 1.892.160 60 2.094.858 64,9 2.205.549 1.000
5 Leuwiliang 1989 S. Citeureup 1.261.440 40 1.275.244 39,4 1.233.362 300
6 Parung Panjang 1998 S. Cimanceuri 3.153.600 100 2.833.840 88,1 2.780.554 1.000
7 Gunung Putri 2001 S. Cikeas 11.037.600 350 8.911.440 277,0 8.736.417 -
8 Bukit Golf 2004 S. Cikeas 1.576.800 50 581.980 17,4 548.717 1.000
9 Cariu 2010 S. Cibeet 630.720 20 420.997 12,7 400.395 350
10 Rumpin 2012 S. Cisadane 1.576.800 50 205.746 6,1 192.092 600
11 Tajur Halang … … 1.576.800 50 665.309 20,8 654.623 600
B Mata Air (MA)
12 MA Ciampea 1989 MA Ciampea 31.534 1 31.547 1 31.547 -
13 MA Ciburial 1922 MA Ciburial 15.137.280 480 13.591.336 430,8 12.560.496 -
14 MA Cijeruk 1995 MA Cijeruk 788.400 25 855.857 27,1 854.477 -
15 MA Citiis 1995 MA Citiis 252.288 8 183.245 5,8 182.885 -
16 MA Cibedug 1995 MA Cibedug 599.184 19 546.009 18,3 575.329 -
17 MA Katulampa 1993 MA Katulampa 378.432 12 337.258 10,6 334.658 -
18 MA GSP 1995 MA GSP 94.608 3 92.917 2,8 88.433 -
19 MA Brujul 1993 MA Brujul 34.539 25 822.939 26,3 820.439 -
20 MA Cikahuripan 1997 MA Cikahuripan 3.784.320 120 3.656.981 116 3.656.141 -

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 37
Kapasitas Terpasang Kapasitas Terpakai (Riil) Kapasitas Produksi Kapasitas
Tahun Sumber Air
No Lokasi Instalasi (m3/thn) reservoir
Dibangun Baku (m3) (l/s) (m3) (l/s)
(m3/thn)
21 MA Sodong 2009 MA Sodong 473.040 15 203.828 6,4 201.297 -
22 MA Binong … MA Binong 630.720 20 310.551 9,8 309.951 -
C Sumur Bor (SB)
23 SB Cileungsi 1994 Sumur dalam 220.752 7 108.344 3,3 103.931 400
24 SB Limus Nunggal 2004 Sumur dalam 63.072 2 88.881 2,8 87.931 200
25 SB Legenda Wisata 2004 Sumur dalam 252.288 8 127.358 4 126.187 400
26 SB Kota Wisata 2001 Sumur dalam 157.680 5 30.194 1,1 28.694 2.000
Total 66.540.960 2.110 54.496.376 1.704,1 53.663.514
(Sumber: RISPAM Kab. Bogor Tahun 2014 dan Business Plan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor 2018-2022 dan Laporan Hasil Evaluasi Kinerja PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor Tahun
2017)

38 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 12 Lokasi Instalasi Produksi dan Distribusi Air PDAM Tirta Kahuripan

(Sumber: Business Plan PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor 2018-2022)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 39
Permasalahan umum SPAM yang dihadapi oleh PDAM Tirta Kahuripan meliputi:

• Belum terpenuhinya target cakupan pelayanan air bersih tahun 2017 sebagaimana direncanakan
dalam business plan (30,08%) akibat luasnya daerah pelayanan PDAM Tirta Kahuripan yang meliputi
Kota Bogor dan Kabupaten Bogor;
• Terhambatnya pengembangan SPAM akibat keterbatasan fiskal PDAM, serta keterbatasan
ketersediaan sumber air baku yang memenuhi kriteria kuantitas dan kualitas.

Disamping permasalahan umum diatas, terdapat pula permasalahan khusus air baku sungai meliputi:

• Tidak seimbangnya ketersediaan air yang cenderung menurun dengan kebutuhan air yang semakin
meningkat;
• Menurunnya kualitas air permukaan (situ/danau dan sungai) akibat meningkatnya aktivitas sosial-
ekonomi, eksploitasi dan komersialisasi sumber daya air yang kurang terkendali;
• Tidak berjalannya mekanisme pengelolaan air limbah yang dibuang ke sungai yang menyebabkan
kondisi air sungai semakin tercemar, terutama saat musim kemarau, sehingga pengelolaannya
semakin mahal;
• Semakin tingginya fluktuasi debit sungai pada kondisi maksimum (musim hujan) dan minimum
(musim kemarau) akibat perubahan tata guna lahan dan kurangnya konservasi lahan di hulu sungai.
(Fluktuasi debit tahunan dalam 2 tahun terakhir dapat mencapai 8-10 kali lipat debit reratanya.
Berdasarkan data Dinas PSDA Kabupaten Bogor tahun 2009, debit maksimum-minimum Sungai
Ciliwung adalah 3.248-42.217 m3/s dan untuk Sungai Cisadane adalah 10,42-28.594 m3/s.);
• Terlalu tingginya debit air sungai saat musim penghujan sehingga mengganggu operasional instalasi.

Sedangkan permasalahan khusus air baku mata air meliputi:

• Telah dikuasainya sebagian sumber mata air Kabupaten Bogor oleh pihak swasta sehingga
membatasi sumber air baku mata air untuk kebutuhan pengembangan SPAM PDAM;
• Sulitnya pembebasan lahan sumber mata air yang akan dimanfaatkan oleh PDAM Kabupaten Bogor;
• Kurangnya sosialisasi ke masyarakat akan penerapan peraturan tentang pengusahaan sumber daya
air sehingga sebagian masyarakat merasa memiliki sumber air;
• Peran negara dalam penguasaan sumber air (terutama mata air) belum terlaksana dengan baik;
• Menurunnya debit sejumlah mata air.

[Link] Proyeksi Pengembangan SPAM PDAM

Rencana pengembangan SPAM dalam 5 tahun kedepan (hingga 2022) tertera dalam dokumen Business
Plan PDAM Tirta Kahuripan. Direncanakan pada akhir tahun 2022 jumlah sambungan langganan
sebanyak 242.284 unit dan melayani 1.659.505 jiwa atau sekitar 42,6 % dari penduduk wilayah pelayanan
Kabupaten Bogor. Untuk mencapai tingkat pelayanan tersebut, kebutuhan air rata-rata pada akhir tahun
2022 adalah sebesar 2.748 lt/dtk atau meningkat sekitar 2 kali lipat dari kebutuhan air di tahun 2017.
Perhitungan proyeksi kebutuhan air dapat dilihat pada Tabel 20.

Di masa mendatang, selain peningkatan pelayanan pada daerah eksisting, cakupan pelayanan akan
diperluas untuk 4 (empat) kecamatan baru, yaitu Cigombong, Klapanunggal, Rancabungur, dan Parung.

40 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 20 Proyeksi Kebutuhan Air Kabupaten Bogor

Eksisting Proyeksi
No Uraian Satuan
2017 2018 2019 2020 2021 2022
1 Penduduk administratif Jiwa 4.294.270 4.401.627 4.511.667 4.624.459 4.740.071 4.858.572
2 Penduduk wilayah % 75 75 75 75 80 80
pelayanan Jiwa 3.205.673 3.296.818 3.418.716 3.624.420 3.768.356 3.899.004
3 Penduduk terlayani % 31,73 33,5 35,4 36,5 38,6 42,6
Jiwa 1.017.211 1.103.440 1.211.133 1.323.243 1.453.602 1.659.506
4 Jumlah Sambungan
Domestik Unit 143.648 155.715 170.877 186.003 203.645 231.850
Non domestik Unit 6.424 6.938 7.717 8.330 9.107 10.434
Jumlah Unit 150.072 162.653 178.594 194.334 212.752 242.284
5 Jumlah Sambungan
Domestik Lt/dtk 824,17 1.109,46 1.210,30 1.317,85 1.446,11 1.642,92
Non domestik Lt/dtk 191 250 291 352 428 504
Jumlah Lt/dtk 1.015 1.360 1.501 1.670 1.874 2.147
6 Kebocoran % 28 27 26 25 23 22
Lt/dtk 391 493 521 542 564 601
7 Kebutuhan rata-rata Lt/dtk 1.406 1.853 2.022 2.212 2.438 2.748
8 Kebutuhan hari maksimum
Fmax - 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
Qmax Lt/dtk 1.547 2.038 2.224 2.433 2.682 3.023
9 Kebutuhan jam puncak
Fpeak - 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Qpeak Lt/dtk 2.109 2.779 3.032 3.318 3.657 4.122
10 Kapasitas terpasang Lt/dtk 2.110 2.490 3.030 3.400 3.410 3.410
11 Kapasitas produksi % 81 74 67 65 72 81
Lt/dtk 1.704 1.853 2.022 2.212 2.438 2.748
(Sumber: Business Plan PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor 2018-2022)

3.7.2 SPAM NON-PDAM

Masyarakat Kabupaten Bogor menggunakan sumber di luar PDAM baik secara individu maupun
komunal (Tabel 22). Sumber air baku individu yang meliputi sumur pompa, sumur gali, serta mata air
kecil mampu melayani sebanyak 3.188.069 jiwa atau sekitar 63% penduduk Kabupaten Bogor (Tabel
21). SPAM komunal dibangun dengan pendekatan berbasis masyarakat melalui program-program
seperti Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dan Water and
Sanitation for Low Income Communities (WSLIC). SPAM-SPAM komunal tersebut dikelola oleh Badan
Pengelola Sarana Air Bersih (BPSAB) di masing-masing desa yang kini berubah nama menjadi Kelompok
Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KP-SPAMS).

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 41
Tabel 21 Sumber Air Baku Skala Individu Kabupaten Bogor Tahun 2014

Jumlah Jiwa Terlayani per Sumber Air Baku Jumlah


Kecamatan (Jiwa)
SPT* SGL* PMA* Lainnya
1 Nanggung 625 49.625 - - 50.250
2 Leuwiliang 650 63.020 1.050 - 64.720
3 Leuwi Sadeng 4.275 35.140 350 320 42.965
4 Pamijahan 29.400 33.000 3.150 2.300 67.850
5 Cibungbulang 47.700 37.420 - - 85.120
6 Ciampea 14.375 53.135 350 - 67.860
7 Tenjolaya 18.300 18.916 1.050 2.300 40.566
8 Dramaga 25.900 31.390 350 1.050 58.690
9 Ciomas 28.275 41.485 700 - 70.460
10 Tamansari 19.400 33.935 - 700 54.035
11 Cijeruk - 61.450 700 - 62.150
12 Cigombong 16.625 37.850 700 35 55.210
13 Caringin 3.100 60.445 2.100 13 65.658
14 Ciawi 13.200 63.995 350 14 77.559
15 Cisarua 44.875 32.215 350 - 78.140
16 Megamendung 16.525 70.520 350 36 87.431
17 Sukaraja 42.850 82.760 - - 125.610
18 Babakan Madang - 79.240 350 - 79.590
19 Sukamakmur 25 50.215 350 - 51.290
20 Cariu 75 36.210 350 700 38.035
21 Tanjungsari - 31.744 700 300 32.745
22 Jonggol 22.150 70.455 350 - 69.545
23 Cileungsi 116.775 54.985 - - 171.760
24 Klapanunggal 23.925 44.855 - 800 69.580
25 Gunung Putri 42.400 154.150 - - 196.550
26 Citeureup 82.425 59.365 - - 141.790
27 Cibinong 134.700 101035 - - 235.735
28 Bojonggede 110.450 86.085 - - 196.535
29 Tajurhalang 30.850 29.265 - - 60.465
30 Kemang 2.925 55.690 - - 58.615
31 Rancabungur 14.200 20.340 - - 34.540
32 Parung 5.050 65.140 - - 70.190
33 Ciseeng 10.575 49.255 - - 59.830
34 Gunung Sindur 150 85.615 - - 85.765
35 Rumpin 900 99.190 350 - 100.440
36 Cigudeg 12.725 51.455 350 1200 65.730
37 Sukajaya 75 33.105 350 350 33.880
38 Jasinga 12.075 46.150 350 400 58.975
39 Tenjo 75 40.040 350 - 40.465
40 Parung Panjang 25 81.370 350 - 81.745
Total 948.625 2.207.846 18.200 13.398 3.188.069
*Keterangan: SPT=Sumur Pompa Tangan; SGL= Sumur Gali; PMA= Penangkap Mata Air
(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Bogor, 2014 dalam Dokumen Penyusunan RISPAM Kabupaten Bogor Tahun 2014)

42 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 22 Sambungan Rumah SPAM Komunal Kabupaten Bogor Tahun 2019

No. Kecamatan Jumlah SR


1 Nanggung 1.700
2 Leuwiliang 641
3 Leuwisadeng 570
4 Pamijahan 3.490
5 Cibungbulang 647
6 Ciampea 820
7 Tenjolaya 1.480
8 Dramaga 860
9 Ciomas 690
10 Tamansari 950
11 Cijeruk 420
12 Cigombong 700
13 Caringin 5.450
14 Ciawi 1.303
15 Cisarua 1.730
16 Megamendung 1.631
17 Sukaraja 460
18 Babakan Madang 120
19 Sukamakmur 1.134
20 Cariu 150
21 Tanjungsari 1.193
22 Jonggol 698
23 Cileungsi 60
24 Klapanunggal 251
25 Gunungputri 540
26 Citeureup 370
27 Cibinong 30
28 Bojonggede 1.079
29 Tajurhalang 30
30 Kemang 260
31 Rancabungur 120
32 Parung 150
33 Ciseeng 225
34 Gunungsindur 213
35 Rumpin 680
36 Cigudeg 1.230
37 Sukajaya 2.472
38 Jasinga 810
39 Tenjo 330
40 Parungpanjang 340
Total 36.027

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 43
3.8 SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK
Sistem pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Bogor menerapkan sistem pengolahan setempat
(onsite) dan pengolahan terpusat (offsite). Pada sistem onsite, air limbah langsung diolah setempat.
Sedangkan pada sistem offsite, air limbah dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju instalasi
pengolahan air limbah (IPAL) untuk selanjutnya diolah.

Sistem offsite yang diterapkan di Kabupaten Bogor berupa IPAL skala komunal yang ditujukan bagi
masyarakat berpenghasilan rendah yang dibangun melalui berbagai program, seperti program DAK,
SANIMAS IDB dan Reguler, serta program bantuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. IPAL komunal
dilengkapi dengan teknologi baffled reactor dan biodigester.

Saat ini mayoritas masyarakat Kabupaten Bogor masih menggunakan sistem onsite dengan toilet yang
terhubung ke tangki septik, cubluk, atau plengsengan. Idealnya, lumpur tinja dalam tangki septik
individual perlu disedot atau dikuras per 3 (tiga) tahun sekali. Namun sebagaimana ditunjukkan pada
Tabel 22, diketahui bahwa sekitar 80% masyarakat tidak pernah mengosongkan atau menyedot lumpur
tinja tangki septiknya. Hal ini mengindikasikan banyaknya tangki septik di Kabupaten Bogor yang rembes
atau bocor. Selain itu, meskipun disebut dengan tangki septik, umumnya tangki septik di Indonesia
adalah berupa lubang tanpa perkerasan dasar (bottomless) atau lebih menyerupai cubluk, sehingga limbah
di dalamnya dapat dengan bebas merembes ke tanah. Oleh sebab itu, terdapat potensi pencemaran air
tanah oleh bakteri dan virus-virus pathogen yang membahayakan kualitas air tanah dan kesehatan
masyarakat, terlebih apabila jarak antara tangki septik dengan air tanah kurang dari 10 meter. Sedangkan
untuk limbah grey water atau limbah cuci kamar mandi dan dapur, mayoritas masyarakat Kabupaten
Bogor mengalirkan limbahnya ke cubluk atau tanah, atau mengalirkannya ke drainase melalui jaringan
perpipaan yang kemudian langsung masuk ke sungai.

Tabel 23 Penyedotan Lumpur Tinja Tangki Septik Oleh Masyarakat

Jangka Waktu Penyedotan Persentase Masyarakat


0-12 bulan 1%
1-5 tahun 3%
5-10 tahun 2%
>10 tahun 1%
Tidak pernah 80%
Tidak tahu 13%
Sumber: Studi EHRA dalam RISPAM Kabupaten Bogor Tahun 2014

Disamping hal-hal diatas, masih terdapat permasalahan sanitasi dari sisi perilaku hygiene masyarakat.
Data akses sanitasi masyarakat dalam website monitoring program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM) menunjukkan bahwa sebanyak 68.7% warga Kabupaten Bogor melakukan praktik buang air
besar sembarangan (BABS) atau open defecation (OD) yang umumnya dilakukan diatas sungai atau lahan.
Meninjau keseluruhan akses sanitasi Jawa Barat, Kabupaten Bogor menjadi salah satu kabupaten dengan
tingkat bebas BABS atau open defecation free (ODF) terendah.

44 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
4 PROFIL MATA AIR CIBURIAL DAN KONDISI EKSISTING
KAWASAN IMBUHAN

4.1 MATA AIR CIBURIAL

4.1.1 PROFIL UMUM

Mata air (MA) Ciburial merupakan salah satu sumber air baku terbesar dan tertua di Kabupaten Bogor.
MA Ciburial telah mulai dimanfaatkan sejak tahun 1922 yang saat itu dikelola oleh Pemerintah DKI
Jakarta. MA Ciburial kemudian diserahterimakan pengelolaannya kepada Pemerintah Kabupaten Bogor
dan PDAM Tirta Kahuripan di akhir tahun 1994.

MA Ciburial berada di kaki Gunung Salak, tepatnya di Desa Pagelaran, Kecamatan Ciomas. MA Ciburial
merupakan sebuah kompleks mata air yang terdiri atas titik-titik mata air dengan jarak yang berdekatan.
Total terdapat 12 titik mata air, namun hanya 9 (sembilan) titik yang kini masih berproduksi (Tabel 24).

Gambar 13 Foto Bangunan Pengolahan SPAM MA. Ciburial Kabupaten Bogor yang dibangun tahun 1922.

Sebanyak 3 (tiga) titik mata air telah berhenti berproduksi sejak diserahterimakan oleh Pemerintah
Kota DKI Jakarta. Penampakan kompleks MA Ciburial dapat dilihat pada Lampiran I.

Tabel 24 Koordinat Titik-Titik Mata Air dalam Kompleks MA Ciburial

Koordinat
No. Mata Air (MA) Status
Lintang Selatan Bujur Timur
1 Mata air 1 06° 36’ 58,2” 106° 45’ 38,8” Berproduksi
2 Mata air II dan VIII 06° 36’ 58,1” 106° 45’ 39,2” Berproduksi
3 Mata air III dan VII 06° 36’ 58,7” 106° 45’ 38,7” Berproduksi
4 Mata air IV 06° 36’ 58,45” 106° 45’ 38,65” Berproduksi
5 Mata air V 06° 36’ 58,74” 106° 45’ 37,63” Berproduksi
6 Mata air VI 06° 36’ 58,83” 106° 45’ 36,95” Berproduksi
7 Mata air IX 06° 36’ 59,4” 106° 45’ 38,9” Berproduksi
8 Mata air X 06° 36’ 57,47” 106° 45’ 40,06” Mati
9 Mata air XI 06° 36’ 58,32” 106° 45’ 42,05” Mati
10 Mata air XII 06° 36’ 55,40” 106° 45’ 41,78” Mati
Sumber: PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 45
4.1.2 INSTALASI MATA AIR CIBURIAL

Kapasitas instalasi Ciburial terpasang adalah 480 lt/dtk. Air baku dari MA Ciburial ditampung dalam
broncaptering atau bangunan penangkap mata air. Intake broncaptering merupakan struktur intake yang
umum digunakan untuk mata air yang muncul dengan arah yang cenderung horizontal. Masing-masing
broncaptering di kompleks MA Ciburial dilengkapi dengan konstruksi peluap (overflow), bangunan
pengukur debit v-notch, lubang periksa (manhole), saluran drainase keliling, dan pipa ventilasi (Gambar
13). Air baku tersebut diolah melalui proses sedimentasi dan desinfeksi dengan penambahan
desinfektan alum dan tawas. Dosis pembubuhan desinfektan tersebut ditentukan melalui analisa
laboratorium secara berkala.

Gambar 14 Broncaptering Mata Air Ciburial III dan VII

Air produksi tersebut ditampung dalam reservoir dan dialirkan ke daerah pelayanan secara gravitasi
melalui pipa GIP dan PVC sepanjang 21 km. Terdapat 3 (tiga) cabang pelayanan MA Ciburial, yaitu
cabang Ciomas, cabang Kedung Halang, dan cabang Cibinong dengan total sambungan rumah (SR) di
tahun 2017 sebanyak 18.163 SR. Cabang pelayanan tersebut meliputi wilayah administratif Kabupaten
Bogor serta beberapa kecamatan dalam Kota Bogor, yang mayoritas termasuk sebagai wilayah cakupan
pelayanan Tengah (Gambar 10).

Gambar 15 Fasilitas Pembubuhan Cairan Desinspektan (Kaporit) SPAM MA. Ciburial Kabupaten Bogor

Masing-masing cabang pelayanan tersebut tidak hanya mengandalkan sumber air dari MA Ciburial,
namun ditunjang pula oleh sumber-sumber air baku lainnya sebagai berikut:

46 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
• Cabang pelayanan Ciomas menggunakan sumber air baku MA Ciburial dan MA Dramaga;
• Cabang pelayanan Kedung Halang menggunakan sumber air baku MA Ciburial, IPA Cibinong (S.
Ciliwung), dan IPA Kedung Halang (S. Ciliwung);
• Cabang pelayanan Cibinong menggunakan sumber air baku MA Ciburial, IPA Cibinong (S.
Ciliwung), dan IPA Tajur Halang.

Tabel 25 Jumlah SR Tersambung ke MA Ciburial Per Cabang Pelayanan

Jumlah sambungan rumah (SR)


No. Cabang Pelayanan
Tahun 2017 Tahun 2018
1 Ciomas 12.626 13.054
2 Kedung Halang 4.675 4.095
3 Cibinong 862 899
Total 18.163 18.498
Sumber: PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor, 2019

Gambar 16 Instalasi Pengolah Air Ciburial

Di tahun 2017, MA Ciburial memproduksi sebesar 430 lt/dtk air. Di tahun yang sama, rata-rata
kehilangan air keseluruhan di setiap cabang-cabang pelayanan mencapai 24,1% untuk cabang Ciomas,
44,1% untuk cabang Kedung Halang, dan 22,6% untuk cabang Cibinong. Sementara itu pada jalur utama
MA Ciburial ke daerah distribusinya mengalami kehilangan air yang cukup besar yaitu sekitar 41,19%.
Angka-angka tersebut masih jauh melebihi standard toleransi kehilangan air nasional PDAM yaitu
sebesar 20%. Umumnya, kehilangan air disebabkan oleh sarana perpipaan yang bocor, rendahnya
akurasi meter air, kesalahan pembacaan meter air, serta adanya sambungan ilegal.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 47
Gambar 17 Skematik Instalasi MA Ciburial

(Sumber: PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor)

48 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Kajian Kerentanan Mata Air dan Rencana Aksi Mata Air Ciburial - Kabupaten Bogor
Propinsi Jawa Barat

4.1.3 PERMASALAHAN MA CIBURIAL

SPAM MA Ciburial saat ini terancam oleh penurunan ketersediaan air baku. Analisa data kapasitas mata
air Ciburial menunjukkan debit mata air fluktuatif setiap tahunnya dengan tren keseluruhan yang
menurun (Gambar 16). Pada tahun 2005, debit MA Ciburial mencapai 506 lt/dtk, namun di tahun 2018
debit rata-ratanya menurun hingga 359 lt/dtk. Angka ini setara dengan rata-rata penurunan debit
sebesar 11,3 liter per tahun atau sekitar 2,5% per tahun dalam 13 tahun terakhir. Berdasarkan
pengamatan monitor di instalasi Ciburial di pertengahan tahun 2019, diketahui bahwa debitnya kini
menurun hingga 330 lt/dtk.

Tabel 26 Kapasitas MA Ciburial

Debit Penurunan Debit


Tahun
(lt/dtk) Lt/dtk %
2005 506
2006 489 17 3%
2007 474 15 3%
2008 493 -19 -4%
2009 470 23 5%
2010 469 1 0%
2011 460 9 2%
2012 467 -7 -2%
2013 471 -4 -1%
2014 479 -8 -2%
2015 460 19 4%
2016 443 17 4%
2017 430 13 3%
2018 359 71 17%
Rata-rata per tahun 11.3 2.49%
(Sumber: PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor)

Gambar 18 Fluktuasi Debit Mata Air Ciburial Tahun 2005-2018

11,3 liter/tahun
2,49 %/tahun

(Sumber: Analisa Tim USAID IUWASH Plus)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 49
Surutnya debit mata air tersebut dapat terlihat secara kasat mata dari tidak adanya air yang melimpah
(overflow) pada alat pengukur debit v-notch terpasang di seluruh titik mata air (Gambar 17). Berdasarkan
pengamatan PDAM Tirta Kahuripang, penyusutan volume mata air Ciburial ini diakibatkan oleh kegiatan
penebangan kayu di daerah hulu dan penyedotan air tanah secara berlebihan oleh industri. Penurunan
debit tersebut menyebabkan penghentian pasokan air bersih dari mata air Ciburial untuk wilayah DKI
Jakarta. Kondisi ini menggambarkan urgensi penanganan masalah ketersediaan air khususnya MA
Ciburial, terlebih mata air merupakan sumber air baku utama bagi masyarakat Kabupaten Bogor.

Gambar 19 bangunan V-notch (alat ukur luah air), sebagai bukti MA Ciburial memiliki debit yang besar dan
saat ini sudah mongering/menurun

Isu keterbatasan ketersediaan air tersebut diidentifikasi dalam business plan sebagai kendala utama
pengembangan SPAM di PDAM Tirta Kahuripan. Sama halnya untuk sumber air baku MA Ciburial,
kendala tersebut menjadi alasan utama PDAM Tirta Kahuripan yang kini belum merencanakan target
detail terkait penambahan SR maupun perluasan jaringan pelayanan MA Ciburial. Meninjau jumlah SR
historis cabang pelayanan MA Ciburial, total SR meningkat sebesar 1,8% dalam kurun waktu satu tahun
terakhir. Apabila debit MA Ciburial dan kebutuhan air cabang pelayanan Ciburial mendatang
diproyeksikan dengan asumsi:

• Laju penambahan sambungan rumah konstan sebesar 1,8% /tahun;


• Jumlah penghuni sejumlah 5 orang/rumah/hari;
• Faktor harian maksimum sebesar 1,1;
• Tingkat kehilangan air konstan sebesar 20%;

maka diperkirakan bahwa titik kritis antara kebutuhan air dengan debit MA Ciburial yang terus
menurun akan terjadi di pertengahan tahun 2032 dan 2033 (Gambar 18), yang berarti pada saat
tersebut debit MA Ciburial tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air pelanggannya. Perlu dicatat
bahwa titik kritis tersebut dihitung dengan asumsi tingkat kehilangan air yang rendah, yaitu 20%. Dengan
tingkat kehilangan air eksisting Ciburial yang mampu mencapai 40%, maka besar kemungkinan titik kritis
pelayanan MA Ciburial terjadi dalam kurun waktu yang lebih cepat.

50

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 20 Grafik Kondisi Debit/supply dan Kebutuhan/demand Air baku MA Ciburial

600

500

400
Debit (lt/dtk)

300

200

100

0
2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038

Debit air MA Ciburial Kebutuhan total air bersih

Dari sisi kualitas, hasil analisa air baku dan air produksi MA Ciburial menunjukkan bahwa keduanya
masih memenuhi kriteria ambang batas (Tabel 27 dan Tabel 28). Namun, menurut diskusi dengan
PDAM Tirta Kahuripan, parameter besi, mangan, nitrit dan nitrat sewaktu-waktu masih menjadi
persoalan. Besi dan mangan merupakan logam berat yang umum dijumpai pada air sumur dan air tanah.
Namun, kandungan mangan dan besi yang berlebih dapat menimbulkan bau kurang sedap serta
menyebabkan bercak noda kuning kecoklatan baik pada bak maupun pakaian. Selain itu, sifat besi yang
korosif dapat menyebabkan pengendapan besi pada saluran pipa dan menimbulkan penyumbatan.
Disamping itu, kandungan logam berat dalam air juga dapat mempengaruhi kesehatan, terutama karena
sifatnya yang karsinogenik. Selain logam berat, pencemar lain yang kerap ditemukan pada air produksi
MA Ciburial adalah E. coli. Keberadaan bakteri fecal koliform dalam air mengindikasikan adanya
kontaminasi patogen dari tinja domestik atau rumah tangga ke sumber air baku MA Ciburial.
Kontaminasi patogen pada air bersih dapat menyebabkan gastroenteritis atau lebih sering dikenal
melalui gejala diare.

Dari segi konstruksi instalasi, penggunaan intake broncaptering di satu sisi sangat baik untuk
meminimalisasi resiko kontaminasi air baku. Namun, broncaptering sangat membatasi akses oksigen ke
sumber air sehingga mengurangi kesegaran air. Selain itu, ditemukan endapan pasir pada dasar intake
broncaptering yang mengurangi kapasitas broncaptering. Hingga kini, belum dilakukan pembersihan atau
pengerukan endapan pasir tersebut karena prosesnya memerlukan pembongkaran konstruksi
permanen broncaptering.

Tabel 27 Hasil Analisa Air Produksi Instalasi Ciburial Bulan Januari 2019

Batas Maksimum yang Hasil


No. Parameter Satuan
Diperbolehkan*) Pengukuran
A. Mikrobiologi
1. Total bakteri koliform MPN/100 ml 0 <1
2. E. coli MPN/100 ml 0 <1

B. Kimia anorganik
1. Arsen mg/l 0,01 <0,005
2. Flourida mg/l 1,5 0,05

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 51
Batas Maksimum yang Hasil
No. Parameter Satuan
Diperbolehkan*) Pengukuran
3. Total kromium mg/l 0,05 <0,03
4. Kadmium mg/l 0,003 <0,001
5. Nitrit (sebagai NO2-) mg/l 3 0,013
6. Nitrat (sebagai NO3-) mg/l 50 6,16
7. Sianida mg/l 0,07 0,001

C. Parameter Fisik
1. Bau - Tidak berbau Tidak berbau
2. Warna TCU 15 0
3. TDS mg/l 500 179
4. Kekeruhan NTU 5 1,42
5. Rasa - Tidak berasa Tidak berasa
6. Suhu °C ± 3°C 27,9

D. Parameter Kimiawi
1. Aluminium mg/l 0,2 0,02
2. Besi mg/l 0,3 0
3. Kesadahan total mg/l 500 116,38
4. Klorida mg/l 250 5,86
5. Mangan mg/l 0,4 0
6. pH mg/l 6,5-8,5 6,78
7. Seng mg/l 3 1,08
8. Sulfat mg/l 250 0
9. Tembaga mg/l 2 0,04
10. Amonia mg/l 1,5 0

E. Parameter Tambahan
1. Angka permanganat mg/l 10 3
2. Sisa Klor mg/l Minimal 0,2 0,6
*) Berdasarkan Permenkes RI No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan
kesehatan Air Untuk Keperluan Hygiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus per Aqua, dan Pemandian Umum (Sumber: PDAM
Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor)

Tabel 28 Hasil Analisa Air Baku Instalasi Ciburial Bulan Januari 2019

Batas Maksimum yang


No. Parameter Satuan Hasil Pengukuran
Diperbolehkan*)
A. Kimia anorganik
1. Arsen mg/l 0,05 <0,005
2. Flourida mg/l 1,5 0,16
3. Total kromium mg/l - <0,05
4. Kadmium mg/l 0,005 <0,006

52

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Batas Maksimum yang
No. Parameter Satuan Hasil Pengukuran
Diperbolehkan*)
5. Nitrit (sebagai NO2-) mg/l 1 0,013
6. Nitrat (sebagai NO3-) mg/l 10 7,04
7. Sianida mg/l 0,1 0,003

B. Parameter Fisik
1. Bau - Tidak berbau Tidak berbau
2. Warna TCU 50 0
3. TDS mg/l 1000 111
4. Kekeruhan NTU 25 0,65
5. Rasa - Tidak berasa Tidak berasa
6. Suhu °C ± 3°C 23,6

C. Parameter Kimiawi
1. Aluminium mg/l - 0,12
2. Besi mg/l 1,0 0
3. Kesadahan total mg/l 500 67,86
4. Klorida mg/l - 3,37
5. Mangan mg/l 0,5 0
6. pH mg/l 6,5-8,5 6,85
7. Seng mg/l 15 2,17
8. Sulfat mg/l 400 0
9. Tembaga mg/l - 0,09
10. Amonia mg/l - 0

D. Parameter Tambahan
1. Angka permanganat mg/l 10 0,15
*) Berdasarkan Permenkes RI No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan
kesehatan Air Untuk Keperluan Hygiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus per Aqua, dan Pemandian Umum (Sumber: PDAM
Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor)

4.2 KONDISI EKSISTING KAWASAN IMBUHAN

4.2.1 BATASAN KAWASAN IMBUHAN MA CIBURIAL

Batasan kawasan imbuhan ditentukan melalui proses delineasi berdasarkan analisa pola kontur. Secara
teoritis, kawasan imbuhan mata air merupakan wilayah dimana air hujan yang masuk menyerap ke
permukaan tanah, mengisi cadangan air tanah, dan muncul dalam bentuk mata air. Oleh sebab itu,
karakteristik wilayah serta kegiatan-kegiatan dalam kawasan imbuhan dianggap berpengaruh terhadap
kondisi MA Ciburial, baik dalam hal ketersediaan air dan kualitasnya.

Dari hasil proses delineasi, diperoleh kawasan imbuhan seluas 1.466 Ha yang berlokasi di sebelah
Selatan Kabupaten Bogor, dimulai dari puncak Gunung Salak hingga lerengnya (Gambar 19). Kawasan

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 53
imbuhan ini meliputi Kecamatan Tamansari dan Kecamatan Ciomas dengan 7 (tujuh) desa/kelurahan
(Tabel 29).

Tabel 29 Kecamatan dan Kelurahan dalam Kawasan Imbuhan

Luas Desa Kepadatan Penduduk


Kecamatan Desa/Kelurahan (Jiwa/km2)
Ha %
Tamansari 1 Tamansari 817,9 55.8 1.371
2 Sukaluyu 81,4 5.5 3.493
3 Sukaresmi 278,1 19.0 4.756
4 Pasireurih 247,2 16.9 4.853
5 Sukamantri 0,3 0.02 3.616
Ciomas 6 Parakan 11,9 0.8 8.448
7 Pagelaran 30,1 2.0 12.430
Total 1466,9 100
(Sumber: Analisa Tim USAID IUWASH-Plus dan Dokumen Dalam Angka 2018)

Gambar 21 Kawasan Imbuhan MA Ciburial

4.2.2 TOPOGRAFI DAN MORFOLOGI

Kawasan imbuhan MA Ciburial dimulai dari dataran tinggi kawasan Gunung Salak hingga dataran rendah
di kaki gunungnya. Kemiringan lereng atau kelerengan kawasan imbuhan MA Ciburial bervariasi mulai
dari 0% hingga lebih dari 40% (Gambar 20). Hal ini disebabkan oleh lokasinya yang berada di kaki
Gunung Salak. Kelerengan sangat curam yakni >40° hanya ditemukan pada sekitaran puncak Gunung
Salak, Kecamatan Tamansari. Pada wilayah ini elevasi mendekati 2.000 mdpl. Semakin ke hilir,
kelerengannya semakin menurun. Bagian selatan hingga tengah Desa Tamansari memiliki kelerengan
yang curam (25 – 40°) dan agak curam (15 – 25°). Kelerengan 8 – 15% atau landai tersebar di 5 (lima)
desa yaitu Desa Tamansari, Desa Sukaluyu, Desa Pasir Eurih, Desa Sukaresmi dan Desa Pagelaran.
Kelerengan landai ini mendominasi kawasan imbuhan MA Ciburial. Sedangkan kelerengan yang lebih
54

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
datar lagi yaitu 0 – 8% atau disebut juga wilayah datar lebih banyak tersebar di hilir kawasan imbuhan.
Elevasi di hilir kawasan imbuhan ini menurun hingga 225 mdpl.

Gambar 22 Peta Kemiringan Lereng di Kawasan Imbuhan

4.2.3 GEOLOGI

Kawasan imbuhan MA Ciburial tersusun atas 3 (tiga) jenis tanah yaitu tanah regosol, tanah andosol dan
podsolik kemerahan. Berbeda dengan mayoritas wilayah Kabupaten Bogor yang tersusun atas tanah
latosol kemerahan, kawasan imbuhan didominasi oleh jenis tanah regosol. Mengingat lokasi kawasan
imbuhan MA Ciburial berada di kaki Gunung Salak, tanah regosol tersebut berjenis regosol abu vulkanik
yang terbentuk dari hasil erupsi vulkanik. Materialnya bertekstur pasir dengan kadar liat <40%. Ciri-ciri
tanah ini berbutir kasar, berwarna keabuan, subur, cenderung gembur, pH netral, dan rentan tererosi.
Sama halnya dengan tanah regosol, tanah andosol yang menyusun bagian barat Desa Tamansari juga
terbentuk dari abu gunung api. Tanah ini berwarna gelap, sangat berpori, dan bertekstur menyerupai
lempung. Tanah Andosol adalah agak asam hingga netral, daya adsorpsi sedang, unsur hara sedang,
kadar bahan organik tinggi, permeabilitas sedang, dan peka terhadap erosi.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 55
Gambar 23 Peta Jenis Tanah di Kawasan Imbuhan

Sebagaimana dijelaskan pada Subbab 3.6.1, wilayah Gunung Salak tersusun atas material piroklastik
muda yang belum terkompaksi atau terpadatkan. Hal ini menyebabkan ruang antar butir (porositas)
batuan piroklastik sangat besar sehingga baik dalam mendukung proses perkolasi air ke dalam tanah.

4.2.4 KLIMATOLOGI

Data klimatologi Kecamatan Tamansari dan Ciomas menunjukkan bahwa kawasan imbuhan MA
Ciburial memiliki rerata intensitas hujan yang lebih tinggi (379 mm/bulan) dibanding Kabupaten Bogor
secara keseluruhan (310 mm/bulan), sedangkan durasi hujannya hampir menyerupai satu sama lain.
Intensitas hujan yang lebih tinggi tersebut disebabkan oleh lokasi kawasan imbuhan di lereng gunung
yang mendukung terjadinya fenomena hujan orografis di sekitar Gunung Salak. Fenomena hujan
orografis tersebut membawa udara beserta uap air dari utara Kabupaten Bogor dan DKI Jakarta ke
arah selatan Kabupaten Bogor, yang kemudian berhadapan dengan Gunung Salak dan terbawa naik,
lalu terkondensasi membentuk awan, hingga kemudian turun menjadi curah hujan di wilayah kawasan
imbuhan.

56

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 30 Data Klimatologi Kecamatan Tamansari dan Ciomas Tahun 2017

Kecamatan Tamansari Kecamatan Ciomas


Bulan Curah Hujan
Curah Hujan (mm) Hari Hujan Hari Hujan
(mm)
Januari 194 17 152 16
Februari 686 27 647 25
Maret 486 18 515 19
April 217 17 233 15
Mei 528 16 577 15
Juni 584 19 492 14
Juli 301 12 386 10
Agustus 101 6 136 5
September 432 11 208 7
Oktober 492 17 482 19
November 332 21 393 14
Desember 190 16 - -
Rerata 379 16 383 14
Total 4543 197 4221 159
Keseluruhan kawasan imbuhan
Curah hujan 4.382 mm/tahun
381 mm/bulan
Hari hujan 178 hari/tahun
Sumber: Kecamatan Tamansari Dalam Angka Tahun 2018 dan Kecamatan Ciomas Dalam Angka Tahun 2018

Berdasar klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, bagian selatan Kabupaten Bogor termaksud kawasan
imbuhan MA Ciburial tergolong ke dalam iklim Tipe A (tropis sangat basah) yakni daerah yang sangat
basah dengan vegetasi hutan hujan tropis. Wilayah iklim tipe A memiliki persentase tingkat kebasahan
sebesar kurang dari 14,3% yang berarti jumlah bulan basah dalam wilayah tersebut sekurang-kurangnya
berjumlah 10 bulan (Q= rata-rata bulan kering/Rata-rata bulan Basah x 100%). Hal ini berlaku bagi kawasan
imbuhan MA Ciburial. Sebagaimana tercantum pada Tabel 19, Kecamatan Tamansari dan Ciomas
memiliki bulan basah (presipitasi >100 mm) sepanjang tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
potensi sumber daya air hujan di kawasan imbuhan MA Ciburial sangat melimpah.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 57
Gambar 24 Peta Curah Hujan di Kawasan Imbuhan

4.2.5 HIDROLOGI DAN HIDROGEOLOGI

Kawasan imbuhan MA Ciburial termasuk ke dalam wilayah DAS Cisadane dan akuifer Bogor. Pada
bagian tengah kawasan imbuhan mengalir sungai Ciapus sepanjang ±1,98 km. Bagian hulu kawasan
imbuhan yang tersusun oleh pegunungan memiliki fungsi hidrologis sebagai kawasan konservasi air,
sedangkan bagian lainnya yang umumnya tersusun oleh dataran bergelombang berperan sebagai daerah
penampungan dan penyerapan air.

58

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 25 Penampang Melintang Kawasan Imbuhan MA Ciburial

Berdasarkan kondisi mata airnya, MA Ciburial termasuk ke dalam wilayah akuifer produktif sedang
(Qopt=2-10 lt/dtk). MA Ciburial merupakan mata air kontak yakni mata air tidak bertekanan yang
terbentuk akibat adanya kontak antara lapisan batuan yang lulus air (permeable) dengan lapisan batuan
yang kedap air (impermeable), yang terpotong muka air tanahnya oleh pemotongan topografi. Dalam
hal ini, air tanah tidak dapat merembes ke lapisan impermeable sehingga keluar ke permukaan tanah
dalam bentuk mata air di lokasi dimana terjadi kontak antara lapisan permeabel dengan lapisan
impermeabel. Air dalam akuifer Ciburial bergerak melalui rongga antar butir. Hal ini didukung oleh
porositas alamiah material piroklastik yang sangat baik.

Keberadaan air sungai dan air tanah saling terkait. Apabila muka air sungai lebih rendah dari muka air
tanah, maka air tanah akan mengisi (recharge) sungai-sungai tersebut. Dengan kondisi ini, maka air sungai
akan mengalir sepanjang tahun atau disebut juga sebagai sungai permanen. Sedangkan apabila muka air
sungai lebih tinggi dibanding muka air tanah, sungai akan mengalirkan airnya untuk mengisi akuifer air
tanah (discharge). Sungai-sungai tersebut tergolong sebagai sungai ephemeral yaitu sungai yang hanya
mengalir pada musim hujan. Apabila curah hujan tidak turun selama periode yang cukup panjang, maka

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 59
sungai ini akan mengering. Hal serupa terjadi pada sungai Ciapus yang beberapa kali dilaporkan dilanda
kekeringan air (Gambar 24).

Gambar 26 Penampakan Sungai Ciapus Saat Kering (Kiri) dan Saat Air Mengalir (Kanan)

(Sumber: [Link]

4.2.6 TATA GUNA LAHAN

Keadaan alam merupakan salah satu faktor yang menentukan pola penggunaan lahan oleh masyarakat.
Kecamatan Tamansari dan Kecamatan Ciomas memiliki 10 (sepuluh) jenis penggunaan lahan, yaitu
hutan lebat, semak belukar, tegalan, kebun campuran, sawah irigasi, sawah tadah hujan, sungai,
permukiman pedesaan, permukiman perkotaan, dan industri. Persebaran tata guna lahan tersebut dapat
dilihat pada Gambar 25.

60

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 27 Peta Tata Guna Lahan di Kawasan Imbuhan Mata Air Ciburial

Diantara jenis penggunaan lahan diatas, hutan lebat merupakan penggunaan lahan yang paling
mendominasi kawasan imbuhan (37%). Hutan alami ini terbentang hingga jarak ± 4 km dari puncak
Gunung Salak. Dominasi tata guna lahan kemudian diikuti oleh permukiman perkotaan dan pedesaan
dengan porsi luasan masing-masing 13%. Tata guna lahan tersebut menunjukkan bahwa daerah dalam
kawasan imbuhan MA Ciburial masih memiliki banyak lahan-lahan terbuka yang mencirikan landscape
perdesaan dengan lahan-lahan produktif berupa kebun, ladang, dan sawah.

Menurut fungsi perlindungan kawasan dalam RPJMD Kabupaten Bogor 2013-2018, Kecamatan Ciomas
tergolong sebagai ‘kawasan sekitar mata air’ yang berperan untuk mempertahankan kelestarian fungsi
mata air. Untuk itu, ditentukan bahwa sekurang-kurangnya pada radius 200 m dari mata air bebas dari
bangunan permanen, semipermanen maupun permukiman. Namun hal ini tidak terpenuhi bagi MA
Ciburial. Sebagai contoh, permukiman penduduk ditemukan pada radius ±50 m dari mata air XI serta
radius ±130 m dari mata air III dan VII (Gambar 26). Untuk kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan
Tamansari, berperan sebagai ‘kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya’
atau merupakan kawasan resapan atau pengisian air akuifer yang berguna sebagai sumber air. Hal ini
didukung dengan keberadaan lahan alami berupa hutan lebat pada bagian hulu. Dibandingkan jenis
tutupan lahan lainnya, lahan alami tanpa intervensi ini memiliki potensi terbaik dalam meresapkan air
ke tanah sehingga berperan sebagai penunjang utama dalam pengisian cadangan air tanah. Menurut
fungsi perlindungan kawasannya, pembangunan fisik di kawasan ini harus dibatasi. Meskipun demikian,
masih ditemukan sejumlah permukiman serta titik-titik industri di Kecamatan Tamansari.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 61
Gambar 28 Tata Guna Lahan di Area Terdekat MA Ciburial

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor untuk 20 tahun mendatang,
kawasan imbuhan MA Ciburial tergolong sebagai wilayah pengembangan (WP) kawasan perkotaan
tengah. Secara umum, WP Tengah ini kedepannya direncanakan lebih condong pemanfaatannya sebagai
lahan basah untuk kepentingan konservasi. Menurut peta rencana pola ruang tahun 2016-2036, kawasan
puncak Gunung Salak masih akan tetap dipertahankan sebagai hutan konservasi. Bagian utara Desa
Tamansari dikembangkan sebagai kawasan peruntukan lahan kering serta permukiman perkotaan
kepadatan rendah. Permukiman perkotaan kepadatan rendah juga tersebar di bagian selatan Desa Pasir
Eurih dan Desa Sukaresmi, serta bagian timur Desa Sukaluyu. Sedangkan permukiman perkotaan
kepadatan sedang akan dikembangkan di hilir kawasan imbuhan, meliputi Desa Pagelaran, dan sebagian
kecil Desa Pasir Eurih dan Desa Sukaresmi. Disamping itu, bagian utara Desa Sukaresmi dan Desa Pasir
Eurih akan diperuntukkan sebagai lahan basah.

62

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 29 Peta Rencana Pola Ruang di Kawasan Imbuhan

4.2.7 AKTIVITAS-AKTIVITAS DOMESTIK DAN NON-DOMESTIK

Disamping karakteristik lingkungan wilayahnya, ulasan berbagai aktivitas dalam kawasan imbuhan
mampu menunjukkan permasalahan eksisting maupun potensi ancaman terhadap kualitas dan kuantitas
mata air/air tanah. Aktivitas-aktivitas dalam kawasan imbuhan yang perlu diperhatikan dalam kaitannya
terhadap kerentanan MA dan air tanah meliputi:

a. Pemenuhan kebutuhan air baku

Meskipun berlokasi di kaki Gunung Salak, warga Kecamatan Tamansari dan Ciomas masih
mengalami permasalahan akses air bersih yang layak secara kualitas maupun kuantitas. Mayoritas
warga masih bergantung pada SPAM individual atau perorangan dengan memanfaatkan sumur
pompa, sumur gali, mata air maupun air sungai sekitar (Tabel 31). Namun, permasalahan krisis
air terus berulang terutama pada saat musim kemarau. Sebagai contoh, di tahun 2015 terjadi
kekeringan berkepanjangan selama 4 bulan. Krisis air tersebut dijumpai setiap tahun dengan
durasi yang berbeda-beda. Selain itu, air baku juga mengalami permasalahan kualitas. Contohnya,
pada tahun 2018 dan 2019, warga Kampung Loa, Desa Tamansari menemui airnya yang
bersumber dari mata air menjadi keruh dan berlumpur.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 63
Tabel 31 Sumber Air Baku Skala Individu di Kecamatan yang Termasuk Dalam Kawasan Imbuhan

Jumlah Jiwa Terlayani per Sumber Air Baku Jumlah


Kecamatan
SPT* SGL* PMA* Lainnya (Jiwa)

1 Tamansari 19.400 33.935 0 700 54035


2 Ciomas 28.275 41.485 700 0 70.460
*Keterangan: SPT=Sumur Pompa Tangan; SGL= Sumur Gali; PMA= Penangkap Mata Air

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Bogor, 2014 dalam Dokumen Penyusunan RISPAM Kabupaten Bogor Tahun 2014)

Untuk menunjang kebutuhan air bersih lainnya, sebagian kecil masyarakat tersambung ke SPAM
komunal yang dibangun dengan pendekatan berbasis masyarakat (Tabel 32), seperti SPAM
komunal PAMSIMAS. Sedangkan, akses air minum perpipaan PDAM masih sangat terbatas dan
saat ini baru menjangkau Kecamatan Ciomas melalui Cabang Pelayanan Ciomas. Kecamatan
Tamansari tidak termasuk dalam daftar kecamatan prioritas perluasan jaringan PDAM untuk
periode 2018-2022 mendatang.

Tabel 32 Jumlah SR SPAM Komunal per Desa di Kawasan Imbuhan

Kecamatan Desa/Kelurahan SR

Tamansari 1 Tamansari 330


2 Sukaluyu 50
3 Sukaresmi 60
4 Pasireurih 230
Ciomas 5 Parakan 200
6 Pagelaran 0
(Sumber: Data Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bogor Tahun 2019)

Selain untuk memenuhi air kebutuhan sehari-hari, air baku juga dibutuhkan untuk kepentingan
irigasi. Irigasi dilakukan dengan memanfaatkan mata air sekitar. Dalam kawasan imbuhan, terdapat
7 (tujuh) titik mata air yang dipergunakan untuk irigasi (Tabel 32).

Tabel 33 Lokasi dan Debit Mata Air untuk Kebutuhan Irigasi

Debit air irigasi


Kecamatan Desa Nama MA
(ltr/dtk)
1 Tamansari Sukaluyu Cibogo 22
Cibodas 45
Cibinong 120
Sukaresmi Cisunte 52
Cipondok 37
Pasireurih Cirangadita 82
2 Ciomas Parakan Sukamanah 30
(Sumber: Data Inventarisasi Bina Marga 2012 dalam Dokumen Penyusunan RISPAM Kabupaten Bogor Tahun 2014)

b. Pengelolaan limbah domestik

Kegiatan domestik merupakan sumber utama pencemaran badan air. Dari data akses Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kabupaten Bogor (Tabel 34), diketahui bahwa 30% warga

64

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
kecamatan yang termasuk dalam kawasan imbuhan masih belum memiliki akses jamban dan masih
melakukan praktik BABs. Sejumlah warga memanfaatkan air dari Sungai Ciapus untuk kegiatan
MCK, termaksud pula sebagai lokasi praktik BABs. Hal tersebut perlu menjadi perhatian karena
praktik BABs ini dapat membawa bakteri patogen dari tinja domestik ke lingkungan secara
langsung tanpa melalui pengolahan, serta menyebabkan masalah kesehatan seperti
gastroenteritis/diare.

Tabel 34 Akses Sanitasi Kelurahan dalam Kawasan Imbuhan

Jamban Jamban
Sharing /
Sehat Sehat Semi Akses
Nama Nama Numpang BABS
Permanen Permanen Jamban
Kecamatan Desa/Kelurahan ke JSP
(JSP) (JSSP)
KK KK KK KK %
Tamansari 1 Tamansari 2.542 564 0 489 86.40
2 Sukaluyu 1.001 36 110 1.073 51.67
3 Sukaresmi 294 1.229 65 368 81.19
4 Pasireurih 2.613 530 0 551 85.08
Ciomas 5 Parakan 2.259 787 655 2.556 59.15
6 Pagelaran 591 782 97 1.334 52.43
Jumlah 9.300 3.928 927 6.371 70%
(Sumber: Website STBM: [Link] diakses tanggal 18 Juni 2019)

Sebagaimana dijelaskan pada subbab 3.8, 80% warga Kabupaten Bogor belum pernah melakukan
penyedotan lumpur tangki septik. Maka, besar kemungkinan bahwa tangki septik bocor dan
rembesannya berpotensi mencemari air tanah. Hal ini menunjukkan bahwa sarana sanitasi yang
ada belum terjamin keamanannya bagi lingkungan. Selain itu, hanya sedikit masyarakat yang
tersambung melalui sistem perpipaan ke IPAL komunal. Dalam kawasan imbuhan MA Ciburial,
hanya terdapat 5 (lima) buah IPAL komunal dengan sambungan SR yang sangat terbatas (Tabel
35).

Tabel 35 Daftar IPAL Komunal dalam Kawasan imbuhan MA Ciburial

Tahun
Kecamatan Desa SR Program
Pembangunan
Tamansari Sukaluyu 50 2019 DAK– Pembangunan baru
Sukaresmi 20 2019 DAK – Pengembangan SR
Sukaluyu 60 2017 Pengembangan SR
Sukaresmi - 2015 SABERMAS [Link] Jawa Barat
Sukaluyu - 2015 SABERMAS [Link] Jawa Barat
(Sumber: Data DPUPR Kabupaten Bogor 2019)

c. Perkebunan dan pertanian

Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten yang fokus mengembangkan agrowisatanya.
Selain dominasi vegetasi tanaman hutan di Kaki Gunung Salak, kawasan imbuhan juga didominasi
tanaman hias dan tanaman pertanian. Komoditas pertanian meliputi padi sawah, palawija, sayur-
sayuran dan buah-buahan. Jenis sayur-sayuran yang banyak ditanam di wilayah kawasan imbuhan
adalah mentimun dan kacang panjang, sedangkan buah-buahan didominasi oleh pisang dan nanas.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 65
Kegiatan perkebunan dan pertanian ini penting untuk diperhatikan mengingat residu pestisida
dapat terbawa oleh air hujan dan melalui mekanisme perkolasi masuk ke dalam tanah sehingga
berpotensi mencemari air tanah. Terlebih lokasi sawah serta perkebunan yang terletak di area
hilir kawasan imbuhan dan relatif dekat dengan mata air.

d. Penambangan

Pada jarak ± 700 m dari MA Ciburial, tepatnya di Kampung Sengked Lebak Jaya, Desa Sukaresmi,
Kecamatan Tamansari, terdapat bekas tambang batu dan pasir terbuka ilegal seluas ± 3.600 m2.
Penambangan ini dihentikan pada akhir tahun 2018 sebab beroperasi tanpa izin penambangan
dan izin lingkungan. Penambangan pasir ini meninggalkan lubang besar pada permukaan lahan
yang beresiko mengakibatkan erosi. Selain itu, penambangan pasir tanpa pengelolaan seperti ini
akan mengganggu keseimbangan dan fungsi lingkungan, seperti pengikisan humus tanah.

Gambar 30 Tampak Atas Tambang Pasir di Desa Sukaresmi

e. Industri

Penting pula untuk meninjau industri yang berada dalam kawasan imbuhan untuk melihat potensi
ancaman limbah berbahaya bagi badan air. Dari data DPMPTSP (Tabel 36), diketahui bahwa
industri-industri yang ada merupakan industri kecil dan menengah yang mayoritas limbahnya
berupa limbah padat, sehingga potensi pencemaran badan air oleh limbah industri minim.

Tabel 36 Daftar Industri dalam Kawasan Imbuhan MA Ciburial

Nama Perusahaan/ Lokasi


No. Peruntukan Jenis izin
Pemohon Izin Desa Kecamatan
1 PT. Advance Packaging Pasir Eurih Taman Sari Industri Produk Tas IPPT
Indonesia (Izin Peruntukan
Penggunaan Tanah)
2 Widianto Pasir Eurih Taman Sari Industri Percetakan IPPT
3 PT. Sumber Alam Sukaluyu Taman Sari Peternakan Kerbau dan Ilok (Izin Lokasi)
Ciapus Sapi

66

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Nama Perusahaan/ Lokasi
No. Peruntukan Jenis izin
Pemohon Izin Desa Kecamatan
4 Tjia Karina Sukaluyu Taman Sari Pabrik Sol IPPT
5 Sugih Martin Taman Sari Taman Sari Industri Bumbu Masak IPPT
6 Firman Azwir Parakan Ciomas Industri Kecil Sepatu dan IPPT
Senda
(Sumber: Data DPMPTSP, 2019)

Disamping industri diatas, terdapat perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) dan beberapa
usaha air curah yang juga memanfaatkan mata air sebagai air bakunya (Tabel 37). Pemanfaatan
air baku ini dilakukan secara gravitasi tanpa menggunakan pompa atau sumur. Keberadaan
perusahaan AMDK ini berpotensi menimbulkan kompetisi penggunaan air tanah, terutama disaat
debit air tanah semakin menurun. Daftar perusahaan lainnya tertera pada Lampiran D.

Tabel 37 Perusahaan Air Minum Kemasan dalam Kawasan Imbuhan

No. Nama Perusahaan Lokasi Produksi


1 PT. Delta Rezeki Abadi Kp. Laladon RT/02/12 Desa Sukaresmi Air kemasan
2 Tirta Sindang Barang RT 04 RW 04 Desa Pasireurih Air curah
3 Tirta Sindang Barang RT 01 RW 02 Desa Pasireurih Air curah
4 Tirta Asep Kp. Remako RT 03/01 Sukaluyu Air curah

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 67
5 ANALISIS KERENTANAN MATA AIR CIBURIAL
Pada bab-bab sebelumnya telah dipaparkan kondisi umum baik secara regional maupun untuk wilayah
dalam batasan kawasan imbuhan MA Ciburial. Dalam bab ini, kondisi-kondisi tersebut dianalisa untuk
memberikan gambaran mengenai bagaimana pengaruh karakteristik wilayah terhadap kerentanan
kualitas dan kuantitas mata air.

5.1 ANALISIS KARAKTERISTIK KAWASAN IMBUHAN

5.1.1 CURAH HUJAN

Curah hujan merupakan komponen utama dalam siklus hidrologi. Berdasarkan keseimbangan neraca
air, curah hujan sebanding dengan komponen-komponen dalam siklus hidrologi lainnya seperti limpasan
dan cadangan air tanah, sehingga semakin besar curah hujan akan semakin besar pula potensi cadangan
air tanahnya. Pada prinsipnya, untuk meningkatkan pengisian cadangan air tanah tersebut, curah hujan
harus diserap sebanyak-banyaknya ke dalam tanah. Hal inilah yang kemudian akan bergantung terhadap
karakteristik lokal masing-masing wilayah.

Lokasi kawasan imbuhan yang berada pada wilayah pegunungan di hulu Kabupaten Bogor menyebabkan
curah hujan di wilayah ini lebih tinggi dibandingkan wilayah di sebelah utara Kabupaten Bogor. Meskipun
demikian, secara keseluruhan curah hujan di seluruh kawasan imbuhan MA Ciburial tergolong sangat
tinggi. Hal ini dapat dilihat pada peta spasial curah hujan kawasan imbuhan (Gambar 22) yang
menunjukkan tingkatan curah hujan yang sangat tinggi dan seragam. Dengan memperhitungkan curah
hujan yang mencapai 4.328 mm/tahun dan luasan kawasan imbuhan sebesar 1.466 Ha, maka dapat
diperkirakan potensi volume air hujan yang jatuh di kawasan imbuhan MA Ciburial mencapai 64.278.787
m3/tahun.

Volume air hujan yang melimpah tersebut merupakan modal awal yang baik bagi upaya pengembalian
debit MA Ciburial. Curah hujan tersebut hanya akan bermanfaat secara optimal dalam mengisi cadangan
air tanah apabila karakteristik-wilayah lainnya menunjang bagi mekanisme infiltrasi air hujan ke dalam
tanah. Karakteristik-karakteristik tersebut meliputi permeabilitas tanah yang tinggi, kelerengan landai,
serta peruntukan lahan alami.

5.1.2 JENIS TANAH DAN BATUAN

Meninjau jenis tanah penyusunnya, kawasan imbuhan MA Ciburial didominasi oleh jenis tanah regosol
serta sebagian kecil tanah andosol dan podsolik kemerahan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa
karakteristik serta permeabilitas tanah di seluruh kawasan imbuhan hampir seragam. Jenis tanah regosol
termasuk tanah dengan kelas permeabilitas tertinggi sehingga mayoritas area catchment memiliki
kemampuan meresapkan air (infiltrasi) dengan cepat. Bagi sebagian kecil daerah yang berjenis tanah
andosol, kapasitas infiltrasinya lebih rendah oleh karena kemampuan permeabilitasnya yang tergolong
‘sedang’. Sedangkan pada tanah podsolik merah dengan permeabilitas ‘agak lambat’ memiliki
kemampuan infiltrasi yang paling rendah dibandingkan daerah lain.

Apabila ditinjau dari aspek kuantitas, kondisi permeabilitas diatas mengindikasikan potensi alami tanah
yang sangat baik bagi mayoritas kawasan imbuhan dalam menunjang penyerapan air hujan ke dalam
tanah sehingga pada akhirnya akan menambah cadangan air tanah. Sedangkan dinilai dari aspek kualitas,
efek permeabilitas tinggi ini akan berbanding terbalik terhadap kualitas air tanah. Permeabilitas tanah
yang baik justru akan mempercepat penyebaran polutan ke dalam air tanah.

68

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Disamping tanah penyusun diatas, perkolasi air di dalam tanah juga ditunjang oleh material piroklastik
dibawahnya. Material piroklastik dalam kawasan imbuhan tersusun dari proses luapan vulkanik yang ada
di Gunung Salak sehingga material piroklastik yang ada bersifat muda dan belum terpadatkan. Oleh
sebab itu, pada material piroklastik ini masih terdapat ruang antar butir (porositas) yang besar yang
mendukung proses perkolasi air dalam tanah.

5.1.3 KELERENGAN

Kelerengan sangat mempengaruhi laju aliran permukaan (run-off). Pada kawasan puncak Gunung Salak
dengan kelerengan yang curam, air hujan yang turun akan dengan cepat mengalir dengan laju limpasan
yang tinggi sebagai run-off menuju wilayah topografi yang lebih rendah. Oleh sebab itu, proses infiltrasi
air di hulu catchment terkendala oleh minimnya waktu untuk air hujan menggenang di permukaan dan
meresap ke tanah.

Sebagian wilayah kawasan imbuhan lainnya memiliki kelerengan curam (25-40°) dan agak curam (15-
25°), sedangkan di sekitar Kecamatan Ciomas tergolong datar (0-8°). Pada lereng landai dan datar ini,
laju run-off air melambat sehingga potensi air tergenang dan terinfiltrasi ke dalam tanah akan lebih besar
dibanding pada lereng yang curam.

5.1.4 TATA GUNA LAHAN

Bagian hulu kawasan imbuhan didominasi oleh hutan lebat, sedangkan pada bagian kawasan imbuhan
lainnya, tata guna lahannya lebih beragam. MA Ciburial dikelilingi semak belukar, namun permukiman
warga sudah dapat ditemukan mulai dari radius ±50 m. Hal ini menimbulkan ancaman tersendiri. Pada
jarak yang relatif dekat ini, limbah tinja domestik akan dengan mudah mencapai akuifer MA Ciburial.
Kondisi tersebut diperberat dengan minimnya penyedotan lumpur tinja dari tangki septik warga serta
masih adanya praktik BABS. Minimnya penyedotan lumpur tinja yang semestinya dilakukan per tiga
tahun sekali mengindikasikan bahwa sejumlah tangki septik warga bocor atau pengolahannya berupa
cubluk yang tidak kedap air dimana air limbahnya dapat merembes ke dalam tanah.

Selain permasalahan kualitas air, keberadaan permukiman juga dapat menimbulkan dampak pada
kuantitas air tanah. Dalam RISPAM Kabupaten Bogor, disebutkan bahwa mayoritas warga Kecamatan
Tamansari dan Ciomas menggunakan air baku yang berasal dari sumur bor. Hal tersebut mampu
menimbulkan kompetisi pemakaian air tanah dalam kawasan imbuhan MA Ciburial. Sebagai gambaran,
apabila dilakukan penyedotan air bawah tanah secara berlebihan pada area permukiman di atas lokasi
MA Ciburial, maka cadangan air tanah dapat berkurang secara signifikan sehingga jumlah air yang dapat
mencapai titik MA Ciburial pun menjadi terbatas. Dengan pertambahan penduduk dan semakin
pesatnya urbanisasi, isu serupa perlu diantisipasi pada tahun-tahun mendatang. Oleh sebab itu,
perlindungan mata air perlu mendapatkan pe

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 69
Gambar 31 Diskusi dan verifikasi data dan kondisi lapangan MA. Ciburial, Kabupaten Bogor

Perlu diingat bahwa batasan kawasan imbuhan hanyalah sebuah garis khayal dan bukan merupakan
batasan yang pasti. Dalam hal ini, tidak dapat dipastikan bahwa air hujan yang turun di kawasan imbuhan
seluruhnya akan masuk mengisi MA Ciburial. Arah aliran air tanah akan dipengaruhi oleh kontur dan
kelerengan daerahnya. Meskipun arah aliran yang dominan adalah tegak lurus garis konturnya, namun
dapat dipastikan bahwa terdapat sebagian kecil aliran air yang mengalir menyamping.

5.2 HASIL ANALISIS KERENTANAN KUANTITAS


Analisis geospasial karakteristik kawasan imbuhan MA Ciburial menghasilkan peta kerentanan kuantitas
baik untuk kondisi tahun 2015 (Gambar 29) maupun kondisi mendatang berdasarkan RTRW Kab.
Bogor 2016-2036 (Gambar 30).

Kerentanan tingkat rendah berarti wilayah tersebut memiliki kontribusi yang rendah (relatif terhadap
wilayah lain dalam kawasan imbuhan) terhadap kerentanan kuantitas mata air. Atau dengan kata lain,
wilayah tersebut lebih sedikit menimbulkan ancaman bagi kuantitas MA dibandingkan dengan wilayah
lainnya dalam kawasan imbuhan. Sedangkan kerentanan tinggi berarti wilayah tersebut memiliki tingkat
kontribusi yang lebih tinggi terhadap kerentanan kuantitas mata air atau berpotensi lebih tinggi untuk
menurunkan kuantitas MA Ciburial.

70

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 32 Peta Kerentanan Kuantitas Tahun 2015

Secara spasial, hilir kawasan imbuhan pada kondisi eksisting memiliki klasifikasi kerentanan yang lebih
tinggi dibandingkan hulunya. Di sekitar puncak Gunung Salak yang dikelilingi oleh hutan memiliki
kerentanan kuantitas tingkat rendah, sedangkan kerentanan kuantitas tingkat tinggi dapat ditemukan
mulai dari bagian tengah menuju hilir kawasan imbuhan. Kerentanan tingkat tinggi tersebut banyak
ditemukan di area terbangun seperti permukiman. Secara keseluruhan, kerentanan kuantitas tingkat
rendah paling mendominasi kawasan imbuhan (34,9%) dari total luasan kawasan imbuhan, namun
angkanya hampir setara dengan kerentanan tingkat tinggi (27,3%). Rekapitulasi kondisi kerentanan
kuantitas di tahun 2015 ditampilkan pada Tabel 39 berikut.

Tabel 38 Rekapitulasi Luasan dan Potensi Air Terinfiltrasi Tahun 2015

Potensi Volume
Potensi aliran air Potensi
Klasifikasi Luas curah hujan evaporasi
permukaan (run-off) air terinfiltrasi
Kerentanan *) *)
Ha % m3/tahun m3/tahun % m3/tahun m3/tahun
Sangat Rendah 190.6 12.9 8.353.242 4.801.427 0 – 20 501.194 4.510.751
Rendah 512.7 34.9 22.467.479 6.668.334 20 – 40 4.044.146 9.436.341
Sedang 177.1 12.1 7.758.234 9.926.842 40 - 60 2.327.470 2.327.470
Tinggi 400.0 27.3 17.528.950 3.470.491 60 - 80 7.362.159 3.155.211
Sangat Tinggi 186.5 12.7 8.170.879 844.148 80 - 100 4.412.275 490.252
Total 1.466,9 100 64.278.786 25.711.515 18.647.245 19.920.026
% 100 40 29.0 31.0
*) Keterangan:
• Curah hujan rata-rata tahunan (kawasan imbuhan): 4.382 mm/tahun
• Laju evaporasi rata-rata pada lahan terbuka (regional): 146,2 mm/bulan ≈ 1.754 mm/tahun ≈ 40%
(Kab. Bogor Dalam Angka, 2018)

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 71
Disamping memberikan gambaran tentang kontribusi wilayah dalam menimbulkan kerentanan kuantitas
mata air, tingkatan kerentanan juga menggambarkan perbedaan kapasitas infiltrasi dan run-off suatu
daerah. Sebagaimana ditampilkan pada Tabel 37, setiap kelas kerentanan memiliki potensi aliran air
permukaan (run off) dan infiltrasi yang berbeda. Wilayah dengan kerentanan tingkat tinggi memiliki
kapasitas infiltrasi yang lebih rendah dan run-off yang lebih tinggi dibandingkan wilayah dengan
kerentanan yang rendah. Hasil analisa menunjukkan bahwa mayoritas curah hujan yang turun akan
menguap (terevaporasi). Sedangkan, fraksi air mampu terinfiltrasi ke tanah hampir sebanding dengan
fraksi air yang mengalir sebagai run-off, yaitu masing-masing sebesar 31% dan 29%.

Gambar 30 menunjukkan kondisi kerentanan yang mungkin terjadi di masa mendatang apabila
perkembangan Kabupaten Bogor sesuai dengan tatanan RTRW-nya. Dari peta tersebut diperoleh
gambaran bahwa meskipun pembangunan dilakukan sesuai dengan tatanan RTRWnya, tanpa upaya-
upaya konservasi air tanah maka peningkatan kerentanan kuantitas di masa mendatang tidak akan
terelakan.

Wilayah dengan kerentanan kuantitas tingkat sangat tinggi meningkat drastis dari sekitar 13% menjadi
42% dari total luas kawasan imbuhan. Mayoritas kerentanan tingkat sangat tinggi ini terpusat di bagian
tengah kawasan imbuhan yang meliputi sekitar bagian selatan Desa Tamansari, serta bagian utara Desa
Sukaluyu, Desa Sukaresmi dan Desa Pasir Eurih. Kerentanan kuantitas tingkat tinggi terdapat pada
sekitar 26% luas kawasan imbuhan. Sedangkan kerentanan kuantitas rendah terdapat pada 22,3% luas
kawasan imbuhan.

Tabel 39 Rekapitulasi Luasan Kelas Kerentanan Kuantitas Tahun 2016-2036

Luas
Klasifikasi Kerentanan
Ha %
Sangat Rendah 94.0 6.4
Rendah 327.1 22.3
Sedang 41.8 2.8
Tinggi 380.2 25.9
Sangat Tinggi 623.8 42.5
Total 1466,9 100

72

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Gambar 33 Peta Kerentanan Kuantitas Berdasarkan RTRW Kab. Bogor Tahun 2016-2036

5.3 HASIL ANALISIS KERENTANAN KUALITAS


Kerentanan kualitas menggambarkan besaran potensi pencemar/kontaminan masuk ke dalam tanah dan
mencemari air tanah. Dengan adanya aliran air dalam tanah, maka pencemar yang masuk ke dalam tanah
ini dianggap mampu mempengaruhi kualitas air MA Ciburial.

Pada tahun 2015, wilayah dengan kerentanan kualitas yang sangat tinggi mencapai sekitar 33% dari
total luas kawasan imbuhan, sedangkan kerentanan tinggi mencapai sekitar 18% dari total luas kawasan
imbuhan. Kedua tingkat kerentanan tersebut banyak dijumpai di hilir kawasan imbuhan yaitu di Desa
Pagelaran serta bagian utara Desa Sukaresmi dan Desa Pasir Eurih (Gambar 31). Mengingat jaraknya
yang relatif dekat dengan lokasi MA Ciburial, maka semakin besar potensi pencemar dari wilayah-
wilayah tersebut mempengaruhi kualitas mata air.

Tabel 40 Rekapitulasi Luasan Kelas Kerentanan Kualitas Tahun 2015

Luas
Klasifikasi Kerentanan
Ha %
Sangat Rendah 366.1 25.0
Rendah 98.6 6.7
Sedang 245.8 16.8
Tinggi 270.4 18.4
Sangat Tinggi 485.9 33.1
Total 1466,9 100

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 73
Gambar 34 Peta Kerentanan Kualitas Tahun 2015

Sumber pencemar utama bagi badan air adalah limbah domestik atau rumah tangga. Berdasarkan tata
guna lahan tahun 2015, potensi timbulan air limbah rumah tangga di kawasan imbuhan cukup besar yang
mencapai 3.519.600 lt/hari (Tabel 41). Angka ini akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya
jumlah penduduk dan permukiman.

Tabel 41 Potensi Debit Air Limbah Domestik dalam Kawasan Imbuhan

Karakteristik
Jumlah Kebutuhan Potensi Air
Kepadatan Luas
No. Tata Guna Lahan Penduduk Air Bersih Limbah
Penduduk (Ha)
(Jiwa) (lt/hari)* (lt/hari)*
(Jiwa/ha)*
1. Permukiman perkotaan 0-50 164,1 4.103 492.300 393.840
2. Permukiman pedesaan 101-300 162,8 32.560 3.907.200 3.125.760
Jumlah 327 36.663 4.399.500 3.519.600
*) Keterangan:
• Kepadatan penduduk berdasarkan Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat No. 11 Tahun 2008 tentang
Pedoman Keserasian Kawasan Perumahan dan Permukiman;
• Kebutuhan air bersih = jumlah penduduk x 120 lt/orang/hari;
• Volume air limbah = 80% x kebutuhan air bersih;

Berdasarkan peta kerentanan kualitas untuk kondisi 20 tahun mendatang (Gambar 32), tingkat
kerentanan kualitas sangat tinggi semakin meningkat hingga hampir mencapai setengah (49,5%) luas
kawasan imbuhan MA Ciburial. Lokasi MA Ciburial sendiri juga termasuk ke dalam klasifikasi
kerentanan kualitas sangat tinggi tersebut. Hal ini menunjukkan signifikansi ancaman kualitas bagi MA
Ciburial di masa mendatang.

74

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tabel 42 Rekapitulasi Luasan Kelas Kerentanan Kualitas Tahun 2016-2036

Luas
Klasifikasi Kerentanan
Ha %
Sangat Rendah 367,1 25,0
Rendah 94,0 6,4
Sedang 0 0
Tinggi 294,7 20,1
Sangat Tinggi 711,1 48,5
Total 1466,9 100

Gambar 35 Peta Kerentanan Kualitas Berdasarkan RTRW Kab. Bogor Tahun 2016-2036

5.4 POTENSI PENGEMBALIAN DEBIT MATA AIR MELALUI PENERAPAN SUMUR


RESAPAN
Tahapan KKMA merupakan tahapan ‘diagnosa’ permasalahan MA Ciburial. Sesuai dengan rangkaian
proses KKMA-RA, langkah selanjutnya ialah Analisis Risk Matrix (ARM) yaitu tahapan pembuatan
rencana aksi dalam rangka penurunan kerentanan MA Ciburial.

Sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya, debit MA Ciburial terus menurun dari tahun ke tahun.
Diperkirakan pada tahun 2032 debit MA Ciburial mecapai titik kritis pelayannya dan tidak dapat lagi
mencukupi kebutuhan air bersih pelanggannya. Oleh sebab itu, diperlukan upaya-upaya peningkatan
debit MA Ciburial. Untuk memberikan gambaran tentang potensi peningkatan cadangan air tanah di
kawasan imbuhan MA Ciburial, berikut akan diulas salah satu opsi solusi yang telah banyak diterapkan
di kota/kabupaten lain, yaitu teknologi sumur resapan.

Pada Tabel 38 ditunjukkan bahwa meskipun curah hujan di Kabupaten Bogor melimpah, jumlah air yang
dapat diserap ke dalam tanah sangat terbatas. Hanya sekitar 31% dari volume air hujan yang jatuh ke

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 75
kawasan imbuhan yang dapat diinfiltrasi ke tanah atau setara dengan 19.920.026 m3/tahun. Agar volume
tersebut dapat diserapkan secara optimal, dibutuhkan sebanyak 2.490.003 unit sumur resapan dengan
volume 8 m3 di kawasan imbuhan.

Apabila disimulasi sejumlah 1.000 sumur resapan mulai dibangun di kawasan imbuhan pada tahun 2020,
maka diperkirakan total air yang dapat terserap ke dalam tanah mencapai 1.424.000 m3/tahun atau
setara dengan 45,15 liter/detik. Volume tersebut akan terakumulasi sebagai cadangan air tanah di
kawasan imbuhan dari tahun ke tahun. Grafik skenario pembangunan 1.000 sumur resapan pada
Gambar 33 menunjukkan bahwa hasil penambahan cadangan air tanah sebagai dampak pembangunan
1.000 sumur resapan akan mencukupi kebutuhan air MA Ciburial di masa mendatang sehingga titik
kritis pelayanan di tahun 2030 akan tertangani.

Gambar 36 Grafik Penambahan Cadangan Air Tanah Berdasarkan Skenario 1000 Sumur Resapan VS
Proyeksi Kebutuhan Air

Disamping meningkatkan cadangan air tanah, sumur resapan juga bermanfaat untuk mengurangi air
limpasan permukaan (run-off) dan genangan air. Sedangkan dari sisi kualitas, bertambahnya cadangan air
tanah dapat membantu pengenceran atau dilusi pencemar-pencemar dalam tanah sehingga mengurangi
konsentrasi pencemar dalam air. Namun di sisi lain, bertambahnya cadangan air tanah juga akan
meningkatkan aliran dalam tanah yang kemudian akan mempermudah penyebaran pencemar dalam air,
hanya saja perlu diingat bahwa pencemar sudah melewati dilusi/pengenceran yang lebih baik dibanding
kondisi semula.

Memperhatikan debit MA Ciburial dimana pada tahun 2005 memiliki debit sebesar 506 liter/detik dan
pada tahun 2018 memiliki debit 330 liter/detik, sehingga selama 14 (empatbelas) tahun mengalami
penurunan debit rata-rata sekitar 11,3 liter/detik, selama 14 tahun secara terus menerus. Dengan
perhitungan tersebut maka dapat ditentukan total penurunan cadangan air tanah didalam wilayah
imbuhan MA Ciburial pertahunnya adalah sekitar 356.356.000 M3/Tahun atau sekitar [Link]
M3/13 Tahun.

Untuk mengembalikan kondisi cadangan air tanah/MA Ciburial seperti pada kondisi tahun 2005 sebesar
506 liter/detik, maka diperlukan pembangunan sumur resapan sebanyak 1.995 buah sumur resapan
yang dibangun didalam wilayah imbuhan MA Ciburial dengan luasan imbuhan sekitar 1.466,9 hektar.

76

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
6 RENCANA AKSI DAN IMPLEMENTASI KAJIAN
KERENTANAN MATA AIR CIBURIAL KABUPATEN BOGOR
Berdasarkan berbagai hasil analisis, kesimpulan dan rekomendasi hasil kajian kerentanan mata air
tersebut, agar tingkat kerentanan kuantitas dan kualitas MA Ciburial tersebut dapat diatasi maka perlu
dilakukan analisis dan pemilihan jenis-jenis kegiatan (Rencana Aksi) baik yang bersifat teknis, fisik dan
non fisik serta advokasi/regulasi lainnya. Mekanisme penentuan dan pemilihan jenis kegiatan (rencana
aksi) tersebut melalui suatu mekanisme diskusi (workshop/Focus Group Discussion) yang melibatkan
semua unsur dan elemen masyarakat, baik yang tergabung dalam Team KKMA-RA MA Ciburial,
SKPD/OPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah/Organisasi Pemerintah Daerah), Legislatif/DPRD,
Pemerhati dan Penggiat Lingkungan/LSM, Media, Pemuka Masyarakat dan berbagai pihak yang memiliki
atensi dan perhatian terhadap perlindungan dan pemeliharaan sumberdaya air di wilayah Kabupaten
Bogor.

Penentuan dan pemilihan jenis kegiatan (rencana aksi) tersebut terbagi dalam 2 (dua) kelompok jenis
kegiatan, yaitu kelomok jenis kegiatan kerentanan kuantitas dan jenis kegiatan kerentanan
kualitas.

Berdasarkan hasil analisis dan rekomendasi serta kesimpulan KKMA tersebut, maka beberapa opsi
pilihan rencana kegiatan (rencana aksi) tersebut sebagai berikut :

1. Kelompok Rencana Aksi Kerentanan Kuantitas :

Dengan maksud dan tujuan untuk menurunkan tingkat kerentanan kuantitas atau meningkatkan
kehandalan cadangan air tanah MA Ciburial tersebut, maka perlu ditentukan berbagai jenis rencana
kegiatan (rencana aksi) antara lain :

a. Kegiatan Teknis Sipil


i. Pembuatan Sumur Resapan
ii. Pembuatan Sumur Resapan dan SPAH
iii. Pembuatan Dam Penahan Erosi/Checkdam Berseri
iv. Pengembangan Terrasering/Terrasering Bangku
v. Pembuatan Rorakan
vi. Melakukan Monitoring dan Evaluasi
b. Kegiatan Advokasi/Regulasi
i. Melakukan Pembuatan Regulasi
ii. Melaksanakan Penegakan Hukum/Peraturan
iii. Melakukan Kampanye/Sosialisasi/Promosi
iv. Melaksanakan Penyuluhan
v. Mendorong Pemberdayaan Masyarakat
vi. Melakukan Penguatan Budaya dan Kearifan Lokal
vii. Melakukan Monitoring dan Evaluasi
c. Kegiatan Vegetatif
i. Melakukan Pelestarian dan Penjagaan Hutan Lindung
ii. Melaksanakan Pengembangan Hutan Rakyat

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 77
iii. Mengembangkan Kebun Rakyat
iv. Melakukan Penanaman Pagar Rapat/Alley Cropping
v. Mendorong Pengenalan dan Penanaman Rumput Vetiper
vi. Melakukan Penguatan Lereng dengan Penanaman Tanaman Perdu
vii. Melakukan Monitoring dan Evaluasi

2. Kelompok Rencana Aksi Kerentanan Kualitas :

Dengan maksud dan tujuan untuk menurunkan tingkat kerentanan kualitas atau meningkatkan
kondisi kualitas cadangan air tanah/mata air Ciburial tersebut, maka perlu ditentukan berbagai jenis
rencana kegiatan (rencana aksi) antara lain :

a. Kegiatan Teknis Sipil


i. Melakukan Upgrade Tangki Septik
ii. Pembangunan Tangki Septik
iii. Pembangunan IPAL Komunal
iv. Pembangunan Drainase Grey Water
v. Pembangunan Drainase Air Hujan
vi. Pembuatan Biopori
vii. Melakukan Monitoring dan Evaluasi
b. Kegiatan Advokasi/Regulasi
i. Melakukan Pembuatan Regulasi
ii. Melaksanakan Penegakan Hukum/Peraturan
iii. Melakukan Kampanye/Sosialisasi/Promosi
iv. Mendorong Pemberdayaan Masyarakat
v. Melakukan Monitoring dan Evaluasi
c. Kegiatan Vegetatif
i. Melakukan Penanaman pohon/reboisasi

Selanjutnya, dalam menentukan urutan pilihan atau prioritas jenis rencana aksi tersebut maka team
KKMA-RA mata air Ciburial mengembangkan dan menyepakati beberapa parameter utama, antara lain
:

1. Aspek Manfaat, dengan pengertian bahwa rencana aksi yang akan dilaksanakan akan
memberikan mafaat yang cepat terhadap perbaikan kondisi kerentanan debit dan kualitas.
Sehingga dalam waktu relative singkat/cepat dapat menunjukan dan memberikan hasil
peningkatan debit dan perbaikan kualitas air dari mata air Ciburial tersebut.
2. Aspek Biaya (murah/biaya kecil), artinya bahwa rencana aksi tersebut tidak membutuhkan
dana/biaya yang besar, sehingga semua pihak (OPD/SKPD dan masyarakat) dapat melaksanakan
kegiatan tersebut secara massal dan serempak sehingga akan menghasilkan dampak yang besar
dan cepat terhadap perbaikan kerentanan debit dan kualitas mata air tersebut.
3. Aspek Durasi Kegiatan, artinya bahwa proses pelaksanaan rencana aksi tersebut dilaksanakan
dalam periode waktu yang singkat/cepat selesai atau bukan kegiatan pekerjaan yang dikerjakan

78

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
dalam waktu yang lama untuk dapat berfungsinya kegiatan pekerjaan tersebut (misal kegiatan
dilaksanakan sehari sampai seminggu, dll).
4. Aspek Ketersediaan dan Penguasaan Teknologi dan Bahan, artinya bahwa pilihan prioritas
pelaksanaan aksi tersebut akan memilih dan mengutamakan teknis pelaksanaan yang telah
umum dan dikuasai oleh masyarakat setempat, sehingga dalam proses nya akan mempermudah
dalam pengerjaannya.
5. Aspek Penerimaan Masyarakat, artinya bahwa rencana aksi tersebut harus dapat difahami dan
dimengerti proses serta manfaatnya oleh masyarakat sekitar sehingga dalam pelaksanaanya
akan mendapat dukungan dan dapat direplikasikan secara mudah oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil diskusi dan analisis berbagai aspek tersebut diatas maka berbagai rencana aksi
penanganan kerentanan mata air (kuantitas dan kualitas) dapat dibagi kedalam 3 (tiga) golongan, yaitu :

1. Prioritas Utama (Urgent) adalah semua rencana aksi yang harus segera dilaksanakan atau
diimplementasikan agar kondisi tingkat kerentanan dapat dikendalikan, akan tetapi apabila tidak
dilaksanakan maka kondisi kerentanan akan semakin memburuk.
2. Prioritas Sedang (short list) adalah semua rencana aksi yang harus dilaksanakan secepatnya agar
kondisi kerentanan dapat diatasi, akan tetapi apabila tidak dilaksanakan maka kondisi
kerentanan tidak semakin memburuk secara cepat.
3. Prioritas rendah (Long List) adalah semua rencana aksi harus dilakukan, akan tetapi
pelaksanaannya dapat dilaksanakan dalam dikerjakan dalam periode yang panjang (sekitar 1 s/d
5 tahun) agar kondisi kerentanan dapat diatasi.

Proses pembuatan, penyusunan dan pemilihan rencana aksi tersebut dilaksanakan melalui mekanisme
diskusi dan komunikasi yang berbentuk Seminar/Workshop/FGD dan audiensi yang melibatkan Team
KKMA-RA Mata Air Ciburial dan berbagai pihak yang memiliki perhatian dan atensi terhadap kondisi
dan situasi sumberdaya air tanah dan mata air Ciburial tersebut.

6.1 WORKSHOP/SEMINAR/FOCUS GROUP DISCUSSION/PUBLIC HEARING


Salah satu workshop/FGD dan public hearing untuk proses penyusunan dan penentuan rencana aksi ini
adalah workshop Analisis Matrik Rencana Aksi Kajian Kerentanan Mata Air Ake Gaale yang
dilaksanakan selama 2 (dua) hari, yaitu hari Kamis dan Jum’at Tanggal 11– 12 Juli 2019 yang bertempat
di Kantor PDAM Kabupaten Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh 92 (sembilanpuluh dua) orang peserta
yang berasal dari berbagai instansi/SKPD/OPD, LSM/NGO,Aparatur Kecamatan Ciomas dan
Kecamatan Tamansari, PDAM dan Team KKMA-RA Kabupaten Bogor.

Gambar 37 Kegiatan FGD KKMA-RA MA. Ciburial Kabupaten Bogor.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 79
Dalam kegiatan diskusi ini terjadi dialog dan komunikasi yang sangat intensif diantara peserta dalam
upaya untuk merumuskan dan menyepakati berbagai rencana aksi dan strategi implementasinya serta
pembagian tugas dan kewenangan yang sesuai dengan tugas dan pokok serta fungsi masing-masing pihak
yang hadir.

Selanjutnya, hasil dari kegiatan workshop / FGD /Publik Hearing ini disepakati menjadi dokumen
Rencana aksi yang akan menjadi acuan para pihak yang akan menjalankan kegiatan penanganan dan
penanggulangan kerentanan kuantitas dan kualitas mata air Ciburial tersebut.

Pada kesempatan workshop ini, juga disepakati bahwa dokumen KKMA-RA Mata Air Ciburial ini akan
dipresentasikan kepada Bupati Bogor dan jajarannya serta PDAM Kabupaten Bogor, dengan tujuan
untuk mendapatkan komitmen dan dukungan untuk pelaksanaan rencana aksi tersebut. Bentuk
dukungan dan komitmen tersebut dimanifestasikan dengan diadopsi dan diintegrasikannya semua
rencana aksi tersebut kedalam rencana kerja OPD/SKPD dan business plan PDAM, juga dialokasikannya
anggaran daerah (APBD) Kabupaten Bogor.

Gambar 38 Kegiatan FGD analisis Matrik Rencana Aksi (MRA) Mata Air Ciburial, Kabupaten Bogor.

6.2 AUDIENSI DAN DISKUSI DENGAN KEPALA DAERAH DAN SKPD/OPD


Untuk mendapatkan legitimasi dan peresmian secara formal, maka dokumen KKMA-RA Mata Air
Ciburial tersebut telah dilakukan pemaparan/Audiensi oleh team KKMA-RA Kabupaten Bogor kepada
Ibu Bupati Bogor, Ibu Kepala Bappeda Kabupaten Bogor dan jajaran OPD/SKPD Kabupaten Bogor.

Kegiatan pemaparan dan audiensi tersebut telah dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu pada tanggal 1
dan 3 September 2019 yang melibatkan team KKMA-RA Kabupaten Bogor dengan difasilitasi oleh
Team IUWASH Plus.

Dalam proses pemaparan tersebut, dijelaskan tentang berbagai proses kajian KKMA sehingga
menghasilkan berbagai rekomendasi kegiatan yang perlu dilakukan oleh semua pihak, termasuk pihak
Pemerintah Kabupaten Bogor serta jajaran OPD/SKPD dalam melaksanakan perlindungan dan
pemeliharaan cadangan air tanah/mata air di seluruh wilayah Kabupaten Bogor, khususnya di mata air
Ciburial.

Beberapa kesimpulan sebagai hasil rangkaian pemaparan dan audiensi tersebut, antara lain :

• Melalui Team KKMA-RA, Pemerintah Kabupaten Bogor menyadari sepenuhnya bahwa di


wilayah Kabupaten Bogor telah terjadi penurunan cadangan/debit dan penurunan air tanah,
sehingga perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan dan antisipasnya ke depan. Khusus nya di

80

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Mata Air Cibruial yang merupakan salah satu sumber utama air baku PDAM Kabupaten Bogor
dalam melayani kebutuhan air bersih/air minum masyarakat.
• Pemerintah Kabupaten Bogor, berkomitmen dan mendukung sepenuhnya semua rencana aksi
yang tertuang dalam dokumen KKMA-RA MA Ciburial, sehingga diharapkan semua OPD/SKPD
yang terkait dapat melaksanakan semua rencana aksi tersebut sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya.
• Pemerintah Kabupaten Bogor juga mendorong kepada semua pihak dan kelompok masyarakat
untuk dapat melaksanakan rencana aksi tersebut agar cadangan air tanah MA Ciburial dapat
meningkat secara cepat, termasuk forum CSR dan para pemangku kepentingan air lainnya
untuk dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
• Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan teknik, diperlukan sekitar 1.995 Sumur resapan yang
harus dibangun dikawasan imbuhan MA Ciburial untuk dapat mengembalikan debit MA Ciburial
pada angka 506 seperti tahun 2005. Untuk keperluan tersebut maka untuk tahun 2020 ini
direncanakan akan dibangun sekitar 600 sumur resapan didalam kawasan imbuhan yang terletak
di Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Tamansari, dan dibangun di areal atau lahan milik
pemerintah Kabupaten Bogor, seperti kantor kecamatan, kantor desa, sekolah, mushala dan
berbagai fasilitas pemerintah daerah lainnya.
• Untuk mengoptimalkan program pelaksanaan rencana aksi tersebut, maka dipandang perlu juga
bahwa team KKMA-RA MA Ciburial melakukan diskusi dan audiensi dengan DPRD Kabupaten
Bogor, sehingga program rencana aksi ini akan mendapat dukungan sehingga semua rencana
aksi dapat dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan dan jajaran pemerintah Kabupaten
Bogor.

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 81
6.3 DAFTAR RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL KABUPATEN BOGOR
Berdasarkan hasil proses diskusi dalam workshop/FGD Matrik Rencana Aksi KKMA-RA MA Ciburial yang dilaksanakan pada tanggal 11-12 Juli 2019 tersebut, maka dihasilkan
berbagai rencana kegiatan yang di sajikan dalam beberapa tabel di bawah ini.

Tabel 43. Tabel Rencana Aksi Kerentanan Kuantitas dan Kebutuhan Biaya Pelaksanaannya Mata Air Ciburial, Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor
Tahun 2019 s/d 2023

Tahun

Leading sector
Dampa

Pendanaan

Pelaksana/
(5 Tahun)

Sumber

Instansi
N k Koordinat

(Juta)
Biaya
Program/Rencana Kegiatan Lokasi Pendukung

2019

2020

2021

2022

2023
o Manfaa or
t

1 A Sipil Teknis
Pembuatan Sumur Resapan 1.995
1 Cepat v v v v v 7,980 APBD, CSR DPUPR Bappeda DLH, DPMD, Camat, Lurah, PDAM
SR
Dam Penahan Erosi/Checkdam (3 APBD, DLH, DPMD, Camat, Lurah, PDAM
2 Cepat v v v v v 1,500 DPUPR Bappeda
lokasi) APBN
APBD, Distanhorbun/UPT DLH, DPMD, Camat, Lurah, PDAM
3 Terasering Sedang Kecamata v v v v v 500 Bappeda
APBN Kehutanan
n
APBD, Distanhorbun/UPT DLH, DPMD, Camat, Lurah, PDAM
4 Teras Bangku Sedang TamanSari v v v v v 500 Bappeda
APBN Kehutanan
(Tamansar
APBD, Distanhorbun/UPT DLH, DPMD, Camat, Lurah, PDAM
5 Rorakan (100) Cepat i, Sukaluyu, v v v v v 300 Bappeda
APBN Kehutanan
Sukaresmi,
Pasireurih,
2 B Vegetasi
Sukamantr
v v v v APBD, Distanhorbun/UPT Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
Lambat i), 250
1 Hutan Rakyat APBN Kehutanan PDAM
Kecamata
v v v v APBD, Distanhorbun/UPT Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
Lambat n Ciomas 200
2 Kebun Rakyat APBN Kehutanan PDAM
(Parakan,
APBD, Distanhorbun/UPT Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
Lambat Pagelaran) v v v v 200
3 Penanaman Pagar Rapat APBN Kehutanan PDAM
APBD, Distanhorbun/UPT Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
Lambat v v v v 250
4 Rumput Vetiver APBN Kehutanan PDAM
Penguatan Lereng dg Tanaman APBD, Distanhorbun/UPT Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
Lambat v v v v 250
5 Perdu APBN Kehutanan PDAM

3 C Regulasi

82 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tahun

Leading sector
Dampa

Pendanaan

Pelaksana/
(5 Tahun)

Sumber

Instansi
N k Koordinat

(Juta)
Biaya
Program/Rencana Kegiatan Lokasi Pendukung

2019

2020

2021

2022

2023
o Manfaa or
t

DPUPR/Distanhorbun/DL Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,


Lambat 100 APBD
1 Sosialisasi v v v v v H PDAM
Lambat Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
v v v v v 100 APBD Bappeda
2 Perdes (5 Desa) PDAM
Lambat Bappeda Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
v v v 100 APBD
3 Peraturan Bupati PDAM
Lambat Bappeda Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
v v v 200 APBD
4 Peraturan Daerah PDAM
Implementasi dan Penegakan Lambat Bappeda Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
v v v 100 APBD
5 Regulasi PDAM
6 Study Banding Lambat v v v v v 100 APBD PDAM/Bappeda Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat
Lambat DPUPR/Distanhorbun/DL Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
v v v v v 50 APBD
7 Advokasi Regulasi H PDAM
Lambat v v v v v APBD DPUPR/Distanhorbun/DL Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
100
8 Pendampingan/Penyuluhan H PDAM
Lambat v v v v v APBD DPUPR/Distanhorbun/DL Bappeda DLH, Camat, Lurah, Masyarakat,
50
9 Pemberdayaan H PDAM

Tabel 31. Tabel Rencana Aksi Kerentanan Kualiitas dan Kebutuhan Biaya Pelaksanaannya Mata Air Ciburial, Kecamatan Ciomas
dan Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor Tahun 2019 s/d 2023

Tahun Biaya
Dampak (5 Instansi Pelaksana/ Leading
No Program / Rencana Kegiatan Lokasi Sumber Pendanaan Koordinator Pendukung
2019

2020

2021

2022

Manfaat 2023 Tahun) sector


(Juta)
1 A Sipil Teknis Kecamatan
SPAL DT (5 Lokasi) Cepat TamanSari v v v v v 500 APBD, APBN, CSR DPUPR/DLH/DPMD/Dinkes Bappeda Camat,
(Tamansari, Kelurahan,
Sukaluyu, Forum
Sukaresmi, Masyarakat,
1 Pasireurih, PDAM

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 83
Tahun Biaya
Dampak (5 Instansi Pelaksana/ Leading
No Program / Rencana Kegiatan Lokasi Sumber Pendanaan Koordinator Pendukung

2019

2020

2021

2022

2023
Manfaat Tahun) sector
(Juta)
SPAL DS (5 Lokasi) Cepat Sukamantri), v v v v v 500 APBD, APBN, CSR DPUPR/DLH/DPMD/Dinkes Bappeda Camat,
Kecamatan Kelurahan,
Ciomas Forum
(Parakan, Masyarakat,
2 Pagelaran) PDAM
Pengelolaan Sampah Lambat v v v v 500 APBD, APBN, CSR DPUPR/DLH/DPMD/Dinkes Bappeda Camat,
Kelurahan,
Forum
Masyarakat,
3 PDAM

2 B Vegetasi
1 Rumput Vetiver Lambat v v v v 250 APBD Distanhorbun Bappeda DLH, Camat,
Lurah,
Masyarakat,
PDAM

3 C Regulasi
Sosialisasi Lambat v v v v v 100 APBD DPUPR/Dinkes/DPMD Bappeda DLH, Camat,
Lurah,
Masyarakat,
1 PDAM
Implementasi dan Penegakan Regulasi Lambat v v v 100 APBD DPUPR/Dinkes/DLH Bappeda DLH, Camat,
Lurah,
Masyarakat,
2 PDAM
Pendampingan/Penyuluhan Lambat v v v v v 100 APBD Distanhorbun Bappeda DLH, Camat,
Lurah,
Masyarakat,
3 PDAM
Pemberdayaan Lambat v v v v v 50 APBD Distanhorbun Bappeda DLH, Camat,
Lurah,
Masyarakat,
4 PDAM

2 D Monitoring dan Evaluasi

84 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Tahun Biaya
Dampak (5 Instansi Pelaksana/ Leading
No Program / Rencana Kegiatan Lokasi Sumber Pendanaan Koordinator Pendukung

2019

2020

2021

2022

2023
Manfaat Tahun) sector
(Juta)
Camat, Camat,
Lambat v v v v v 50 APBD DLH/DPUPR/Dinkes/PDAM Bappeda Kelurahan,
1 Monitoring Kualitas Masyarakat
DLH/DPUPR/Dinkes Bappeda Camat, Camat,
Lambat v v v v v 50 APBD Kelurahan,
2 Bank sampah Masyarakat

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 85
7 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KKMA-RA

7.1 KESIMPULAN
Kegiatan pelaksanaan kajian kerentanan mata air (KKMA) telah dilakukan berdasarkan pada mekanisme
dan system analisis, metoda kajian yang sesuai dengan kaidah kajian ilmiah, yaitu model geo-spatial
dengan memakai berbagai sumber data, baik data sekunder maupun data primer juga melakukan
judgement expert’s dalam hal penilaian yang bersifat analitis diluar model geo-spacial.

Berdasarkan proses dan kajian yang dilakukan maka ada beberapa kesimpulan dan saran yang dapat
dihasilkan, anatara lain :

• Kegiatan kajian kerentanan mata air (KKMA), bertujuan untuk mengetahui kondisi dan
permasalahan serta berbagai potensi resiko terhadap kuantitas dan kualitas air tanah dan mata
air Ciburial, yang selanjutnya dapat dibuat berbagai kebutuhan rencana kerja yang harus
dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan tingkat kerentanan dan potensi resiko
terhadap sumberdaya air tanah tersebut.
• Model geospasial dengan penggabungan metode analisis multi-kriteria dan overlay peta disusun
sedemikian rupa untuk memudahkan duplikasi KKMA untuk mata air – mata air lainnya;
• Debit MA Ciburial di tahun 2018 tercatat sebesar 359 lt/dtk, sedangkan hasil monitoring di
tahun 2019 menunjukkan angka yang lebih rendah lagi yaitu sekitar 330 lt/dtk, tren debit MA
Ciburial kian menurun sepanjang tahun dengan laju penurunan sebesar 11,3 lt/tahun atau 2,49
% per tahun dalam kurun waktu 13 tahun (2005 – 2018), titik kritis peningkatan kebutuhan air
terhadap ketersediaan MA Ciburial diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun 2032 dan
2033.
• Kerentanan kuantitas menggambarkan kapasitas infiltrasi air suatu wilayah serta tingkat
kontribusi wilayahnya dalam merentankan kuantitas debit MA Ciburial;
• Kerentanan kualitas menggambarkan besaran potensi pencemar/kontaminan masuk ke dalam
tanah dan mencemari air tanah;
• Tingkat kerentanan dihitung relatif terhadap wilayah lainnya dalam kawasan imbuhan;
• Peta kerentanan kuantitas di tahun 2015 menunjukkan bahwa kawasan imbuhan didominasi
oleh kerentanan kuantitas tingkat rendah (34,9%) dan tinggi (27,3%);
• Peta kerentanan kualitas di tahun 2015 menunjukkan bahwa kawasan imbuhan didominasi oleh
kerentanan kualitas tingkat sangat tinggi (33%) yang mayoritas terdapat di bagian hilir kawasan
imbuhan;
• Potensi air hujan yang jatuh di kawasan imbuhan mencapai 64.278.787 m3/tahun, dimana 40%-
nya akan menguap, sedangkan 29%-nya akan mengalir sebagai run-off dan hanya 31%-nya atau
sekitar 19.920.026 m3/tahun yang dapat diserap ke dalam tanah;
• Berdasarkan tata guna lahan tahun 2015, potensi timbulan air limbah rumah tangga di kawasan
imbuhan cukup besar yaitu mencapai 3.519.600 lt/hari;
• Permukiman penduduk yang berada mulai dari radius ±50 m dari MA Ciburial menimbulkan
ancaman yang signifikan terhadap kualitas air MA Ciburial;

86 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
• Secara umum, apabila tidak dilakukan upaya-upaya peningkatan cadangan air tanah dan
perlindungan mata air lainnya, tingkat kerentanan kuantitas dan kualitas dalam kawasan
imbuhan akan meningkat;
• Berdasarkan kondisi RTRW 2016 – 2036, kerentanan kuantitas tingkat sangat tinggi akan
meningkat dari 13% menjadi 42% dari total luas kawasan imbuhan;
• Agar volume air hujan dapat diserap ke dalam tanah secara optimal, dibutuhkan sebanyak
2.490.003 unit sumur resapan dengan volume 8 m3 di kawasan imbuhan;
• Pembangunan 1.000-unit sumur resapan mampu menambah cadangan air tanah sebesar
1.424.000 m3/tahun atau setara dengan 45,15 liter/detik;
• Hasil skenario pembangunan 1.000-unit sumur resapan di kawasan imbuhan menunjukkan
bahwa upaya tersebut akan mampu mencukupi kebutuhan air MA Ciburial di masa mendatang
dan titik kritis pelayanan di tahun 2030 akan tertangani.

7.2 REKOMENDASI DAN TINDAK LANJUT


KKMA merupakan tahapan kedua dalam rangkaian kegiatan KKMA-RA yang berperan untuk
‘mendiagnosa’ permasalahan mata air yang ada. Agar kegiatan ini sungguh-sungguh bermanfaat positif
bagi keberlangsungan MA Ciburial, dirumuskan beberapa rekomendasi untuk langkah-langkah
selanjutnya sebagai berikut :

• Memberikan pemahaman akan permasalahan yang ada serta urgensi penangannya kepada
pemangku-pemangku kepentingan meliputi Pemimpin Daerah, SKPD, LSM, tokoh masyarakat,
perusahaan serta instansi-instansi lainnya;
• Menyusun Matriks Analisa Resiko (ARM) serta Rencana Aksi (RA) yang realistis dan rasional
baik dalam aspek sasaran/target, jadwal pelaksanaan, pendanaan/ budgeting, penanggungjawab
kegiatan, serta program evaluasi dan monitoring;
• Memberikan prioritas bagi solusi-solusi yang efektif, efisien, ekonomis, dan tepat guna, dimana
salah satu kegiatannya adalah dengan pembangunan sumur resapan didalam wilayah imbuhan
MA Ciburial yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air hujan kedalam tanah.
• Untuk mengembalikan kondisi cadangan air tanah/MA Ciburial seperti pada kondisi tahun 2005
sebesar 506 liter/detik, maka diperlukan pembangunan sumur resapan sebanyak 1.995 buah
sumur resapan yang dibangun didalam wilayah imbuhan MA Ciburial dengan luasan imbuhan
sekitar 1.466,9 hektar.
• Melakukan pendekatan ke tokoh-tokoh masyarakat, perangkat desa, dan perusahaan-
perusahaan serta mulai menyusun bentuk-bentuk kerjasama yang saling menguntungkan untuk
mendukung implementasi rencana aksi;
• Mengusahakan terbentuknya payung hukum dalam bentuk Peraturan Daerah atau Keputusan
Bupati mengenai hal-hal terkait KKMA-RA sehingga mengikat secara administratif dan dapat
menjadi program implementatif jangka panjang;
• Mereplikasi kegiatan KKMA-RA untuk mata air – mata air di Kabupaten Bogor lainnya, bukan
hanya untuk mengamankan keberlangsungan mata air yang ada, namun juga untuk mencari
solusi permasalahan genangan air atau banjir;

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 87
• Membuat blue print rencana pengelolaan dan konservasi sumber daya air Kabupaten Bogor
sebagai acuan bersama bagi seluruh pemangku kepentingan sehingga program dan kegiatan
tersebut dapat berlanjut secara berkesinambungan.

88 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
LAMPIRAN

DOKUMENTASI INSTALASI MA CIBURIAL

No Gambar Keterangan
1 Bangunan Instalasi Ciburial

2 Broncaptering III & VII

3 Broncaptering IV

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 89
No Gambar Keterangan
4 Broncaptering VI

5 Broncaptering II & VIII

6 Broncaptering IX

90 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
No Gambar Keterangan
7 Bak koagulan

8 Area Ciburial

9 (….menyusul….) Monitoring debit MA


Ciburial di bulan Juni 2019
yang menunjukkan angka
330 lt/dtk

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 91
PERHITUNGAN TITIK KRITIS

Kriteria Unit 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Kapasitas terpasang liter/detik 480 480 480 480 480 480 480 480
Debit air MA Ciburial liter/detik 359 350 341 332 323 314 305 297
Jumlah SL terlayani unit 18498 18831 19170 19515 19866 20224 20588 20958
Jumlah penduduk per SL orang 5 5 5 5 5 5 5 5
Jumlah penduduk terlayani orang 92490 94154.82 95850 97575 99331 101119 102939 104792
Standard kebutuhan air minum liter/orang/hari 120 120 120 120 120 120 120 120
Faktor hari maksimum - 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1
Kebutuhan air bersih liter/hari 12208680 12428436 12652148 12879887 13111725 13347736 13587995 13832579
Faktor kehilangan air % 20 20 20 20 20 20 20 20
liter/hari 15260850 15535545 15815185 16099858 16389656 16684670 16984994 17290724
Kebutuhan total air bersih
liter/detik 177 180 183 186 190 193 197 200

Kriteria Unit 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033
Kapasitas terpasang liter/detik 480 480 480 480 480 480 480 480
Debit air MA Ciburial liter/detik 288 279 270 261 252 243 234 225
Jumlah SL terlayani unit 21336 21720 22111 22509 22914 23326 23746 24174
Jumlah penduduk per SL orang 5 5 5 5 5 5 5 5
Jumlah penduduk terlayani orang 106679 108599 110554 112543 114569 116632 118731 120868
Standard kebutuhan air minum liter/orang/hari 120 120 120 120 120 120 120 120
Faktor hari maksimum - 1.1 1.1 1.1 1.1 1 1 1 1
Kebutuhan air bersih liter/hari 14081565 14335034 14593064 14855739 15123143 15395359 15672476 15954580
Faktor kehilangan air % 20 20 20 20 20 21 22 23
liter/hari 17601957 17918792 18241330 18569674 18903928 19487796 20092917 20720234
Kebutuhan total air bersih
liter/detik 204 207 211 215 219 226 233 240

92 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Kriteria Unit 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041
Kapasitas terpasang liter/detik 480 480 480 480 480 480 480 480
Debit air MA Ciburial liter/detik 216 207 198 189 180 172 163 154
Jumlah SL terlayani unit 24609 25052 25503 25962 26429 26905 27389 27882
Jumlah penduduk per SL orang 5 5 5 5 5 5 5 5
Jumlah penduduk terlayani orang 123044 125258 127513 129808 132145 134523 136945 139410
Standard kebutuhan air minum liter/orang/hari 120 120 120 120 120 120 120 120
Faktor hari maksimum - 1 1 1 1 1 1 1 1
Kebutuhan air bersih liter/hari 16241763 16534114 16831728 17134700 17443124 17757100 18076728 18402109
Faktor kehilangan air % 24 25 26 27 28 29 30 31
liter/hari 21370740 22045486 22745579 23472191 24226561 25010000 25823897 26669724
Kebutuhan total air bersih
liter/detik 247 255 263 272 280 289 299 309

Kriteria Unit 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049
Kapasitas terpasang liter/detik 480 480 480 480 480 480 480 480
Debit air MA Ciburial liter/detik 145 136 127 118 109 100 91 82
Jumlah SL terlayani unit 28384 28895 29415 29944 30483 31032 31591 32159
Jumlah penduduk per SL orang 5 5 5 5 5 5 5 5
Jumlah penduduk terlayani orang 141919 144474 147074 149722 152417 155160 157953 160796
Standard kebutuhan air minum liter/orang/hari 120 120 120 120 120 120 120 120
Faktor hari maksimum - 1 1 1 1 1 1 1 1
Kebutuhan air bersih liter/hari 18733347 19070547 19413817 19763266 20119005 20481147 20849808 21225104
Faktor kehilangan air % 32 33 34 35 36 37 38 39
liter/hari 27549040 28463504 29414875 30405025 31435945 32509757 33628722 34795253
Kebutuhan total air bersih
liter/detik 319 329 340 352 364 376 389 403

Kriteria Unit 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057
Kapasitas terpasang liter/detik 480 480 480 480 480 480 480 480
Debit air MA Ciburial liter/detik 73 64 56 47 38 29 20 11

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 93
Jumlah SL terlayani unit 32738 33327 33927 34538 35160 35793 36437 37093
Jumlah penduduk per SL orang 5 5 5 5 5 5 5 5
Jumlah penduduk terlayani orang 163691 166637 169636 172690 175798 178963 182184 185463
Standard kebutuhan air minum liter/orang/hari 120 120 120 120 120 120 120 120
Faktor hari maksimum - 1 1 1 1 1 1 1 1
Kebutuhan air bersih liter/hari 21607156 21996085 22392014 22795071 23205382 23623079 24048294 24481163
Faktor kehilangan air % 40 41 42 43 44 45 46 47
liter/hari 36011927 37281500 38606921 39991352 41438182 42951052 44533878 46190874
Kebutuhan total air bersih
liter/detik 417 431 447 463 480 497 515 535

Kriteria Unit 2058 2059


Kapasitas terpasang liter/detik 480 480
Debit air MA Ciburial liter/detik 2 -7
Jumlah SL terlayani unit 37760 38440
Jumlah penduduk per SL orang 5 5
Jumlah penduduk terlayani orang 188802 192200
Standard kebutuhan air minum liter/orang/hari 120 120
Faktor hari maksimum - 1 1
Kebutuhan air bersih liter/hari 24921824 25370417
Faktor kehilangan air % 48 49
liter/hari 47926585 49745916
Kebutuhan total air bersih
liter/detik 555 576
Keterangan: : titik kritis kebutuhan air : titik kritis kebutuhan air vs kapasitas terpasang
vs debit mata air
Formula:

• Kebutuhan air bersih (Qmd)

Qmd = Pn x q x fmd

• Kebutuhan total air bersih (Qt)


Qt = Qmd x 100/(100-faktor kehilangan air)
94 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Keterangan:
Qmd : kebutuhan air bersih harian maksimum
Pn : jumlah penduduk tahun-n
q : kebutuhan air per orang per hari (digunakan standard 120 lt/org/hari)
fmd : faktor hari maksimum (1,05-1,15)
Qt : kebutuhan air total

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 95
PERHITUNGAN SKENARIO 1.000 SUMUR RESAPAN

Kriteria Unit 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
Kebutuhan total air bersih liter/detik 177 180 183 186 190 193 197 200
Debit MA Ciburial liter/detik 359 350 341 332 323 314 305 297
Penambahan cadangan air tanah (1.000 sumur resapan) liter/detik 45.15 90 135 181 226 271
Debit MA Ciburial + cadangan air sumur resapan liter/detik 386 423 459 495 531 567

Kriteria Unit 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033
Kebutuhan total air bersih liter/detik 204 207 211 215 219 271 326 384
Debit MA Ciburial liter/detik 288 279 270 261 252 243 234 225
Penambahan cadangan air tanah (1.000 sumur resapan) liter/detik 316 361 406 452 497 542 587 632
Debit MA Ciburial + cadangan air sumur resapan liter/detik 604 640 676 712 749 785 821 857

Kriteria Unit 2034 2035 2036 2037 2038


Kebutuhan total air bersih liter/detik 445 510 579 652 729
Debit MA Ciburial liter/detik 216 207 198 189 180
Penambahan cadangan air tanah (1.000 sumur resapan) liter/detik 677 722 768 813 858
Debit MA Ciburial + cadangan air sumur resapan liter/detik 893 930 966 1002 1038

DAFTAR PERUSAHAAN DALAM KAWASAN IMBUHAN

Luas Lokasi Tanggal


No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

REKAPITULASI IZIN PERUNTUKAN PENGGUNAAN TANAH (IPPT) TERBIT TAHUN : 2009 - 2019
1 Andang Ruhiyat, SH PT. Indosat BTS Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00043/BPT/09 5/29/2009
2 Endi Krisnandi Ismail Rumah Tinggal Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00111/BPT/09 6/23/2009
3 Didi Sulistio PT. Vitcomm Menara Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00088/BPT/09 6/16/2009
4 Devi Pratiwi Mini Market Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00093/BPT/09 6/19/2009
5 Lanny Veronica Rumah Tinggal Pagelaran Ciomas 591.2/002/00143/BPT/09 7/2/2009
96 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

6 H. Hasan Ali Afiff Kantor Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00211-00212/BPT/09 7/22/2009


7 Andang Ruhiat,SH [Link] Bts Tamansari Tamansari 591.2/002/00183/BPT/09 7/14/2009
8 H. Hasan Ali Afiff Kantor Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00211/BPT/09 7/22/2009
9 H. Hasan Ali Afiff Kantor Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00212/BPT/09 7/22/2009
10 Muhamad PT. Advance Packaging Industri Produk Tas Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00281/BPT/09 8/12/2009
Diponegoro Indonesia

11 Hj. Titi Suma Wijaya Kantor & Pengisian Air Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00322/BPT/09 8/28/2009
Empel

12 Judi Ciampiliga Rumah Tinggal Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00326/BPT/09 8/28/2009


13 Zal Yusri Gudang Sepatu Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00330/BPT/09 8/31/2009
14 Fitria A Rahman Ruko Pagelaran Ciomas 591.2/002/00334/BPT/09 9/2/2009
Bajened

15 Yosep Setiawan Rumah Tinggal Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00356/BPT/09 9/7/2009


16 Koko Windianto PT. Telekomunikasi BTS Tamansari Tamansari 591.2/002/00423/BPT/09 9/16/2009
Selular

17 Sudjana Djaya Kerajinan Sepatu Sukaresmi Tamansari 591.2/002/00427/BPT/09 9/16/2009


18 Djoko Suprobo Ruko Parakan Ciomas 591.2/002/00752/BPT/2009 12/28/2009
19 Hj. Romsih Rumah Tinggal - Ruko 478 Pagelaran Ciomas 591.2/002/163/BPT/2010

20 H.A. Sanusi Rumah Tinggal Pagelaran Ciomas 591.2/002/00638/BPT/2010


21 Hj. Neneng Khoerul Rumah Tinggal Pagelaran Ciomas 591.2/002/00741/BPT/2010 9/30/2010
Anwariyah

22 Ir. Ahmad Salim Rumah Tinggal Pagelaran Ciomas 591.2/002/00742/BPT/2010 9/30/2010


23 Hj. Romsih Rumah Tinggal Pagelaran Ciomas 591.2/002/00743/BPT/2010 9/30/2010
24 Widianto Industri Percetakan 1080 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/0226/BPT/2010
25 Tjang Ngak Tjheng Toko Matrial 750 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/0227/BPT/2010
26 Evy Kristanty Home Industri Sepatu Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00998/BPT/2010 12/8/2010

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 97
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

27 Gahtan Karim Degel Rumah Tinggal Sirnagalih Tamansari 591.2/002/01062/BPT/2010 12/29/2010


28 Abraham Hidayat Agrowisata Tamansari Tamansari 591.2/002/00338/BPT/2010
29 Djoni Workshop Sepatu/ Tamansari Tamansari 591.2/002/00846/BPT/2010 10/29/2010
Sandal

30 Tjia Karina Pabrik Sol Sukaluyu Tamansari 591.2/002/01041/BPT/2010 12/23/2010


31 Kuswarno Workshop Peralatan 3135 Taman Sari Taman Sari 591.2/002/00025/BPT/2011 1/13/2011
Rumah Tangga Dari
Almunium

32 Ratna Devi Pembangunan Ruko 350 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00069/BPT/2011 1/25/2011


33 Edy Arifin Gudang Air Minum 654 Pasir Eurih Taman Sari 591.2/002/00108/BPT/2011 2/8/2011
Dalam Kemasan

34 [Link] Toko 400 Sukaresmi Tamansari 591.2/002/00470/BPT/2011 7/1/2011


35 Nasir Ruko 441 Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00520/BPT/2011 7/20/2011
36 [Link] Sumawijaya Pembangunan Rak 700 Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00522/BPT/2011 7/20/2011
Sumber Mata Air
37 [Link] Saepudin Ruko 963 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00559/BPT/2011 8/8/2011
38 PT. Murah Indah Jaya Perumahan 12705 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00722/BPT/2011 10/14/2011
39 Henri Tarihoran Ruko 370 Sirna Galih Taman Sari 591.2/002/00747/BPT/2011 10/25/2011
40 Hasto Nugroho Rumah Tinggal 2201 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00830/BPT/2011 11/25/2011
41 Rahmawansyah Rumah Tinggal 1559 Sukaluyu Taman Sari 591.2/002/00870/BPT/2011 12/6/2011
42 Woerrjanto Budidaya Ikan 2006 Sukaluyu Taman Sari 591.2/002/00990/BPT/2011 12/30/2011
43 Gahtan Karim Degel Rumah Tinggal 3716 Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00226/BPT/2012 3/12/2012
44 Theo Harli Rumah Tinggal 4.600 Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00376/BPT/2012 4/19/2012
45 Topan Trisyanto [Link] Dinamika BTS 150 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00387/BPT/2012 4/20/2012
Komunika

46 Suhardja Pembangunan Mesjid 90 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00488/BPT/2012 5/22/2012

98 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

47 Indra Widjaja Balai Penelitian & 4985 Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00659/BPT/2012 6/28/2012
Budidaya Pertanian

48 Evi Susanti Cv. Indah Selaras Toko 762 Pasir Eurih Taman Sari 591.2/002/00931/BPT/2012 9/20/2012
49 Kesii Wijaya PT. Neoggonindo BTS 234 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00969/BPT/2012 10/8/2012
Perdana

50 Herman Toko 424 Sirna Galih Taman sari 591.2/002/01049/BPT/2012 11/12/2012


51 Yosep Setiawan Gudang Sendal 305 Pasir Eurih Taman sari 591.2/002/01068/BPT/2012 11/12/2012
52 Theo Harli Rumah Tinggal & Mess 4600 Sinargalih Taman sari 591.2/002/01074/BPT/2012 11/22/2012
Karyawan

53 Dwesthi suhascaryo PT Sumber Alfaria Toko 231 Pagelaran Ciomas 591.2/002/01103/BPT/2012 12/5/2012
Trijaya

54 Sonny Adwidjaja Gedung Sarana 2380 Pasir Eurih Taman sari 591.2/002/00056/BPT/2013 21/01/2013
Olahraga

55 H. Asep Saepudin Ruko 963 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00197/BPT/2013 3/15/2013


56 Tjeng Sandra Gudang 8790 Pasir Eurih Taman sari 591.2/002/00298/BPT/2013 4/5/2013
Sunarya
57 Hj. R. Rosito Ruko 630 Pasir Eurih Taman Sari 591.2/002/00524/BPT/2013 8/2/2013
Ningrum

58 Rina Ruko 279 Sirnagalih Taman Sari 591.2/002/00528/BPT/2013 8/2/2013


59 Wiswanaden Villa 1102 Tamansari Tamansari 591.2/002/00553/BPT/2013 9/6/2013
60 Ahmad Syauqi RT 13500 Sukaresmi Tamansari 591.2/002/00673/BPT/2013 10/17/2013
Attamimi

61 Ine Asikin Rumah Tinggal 1055 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00887/BPT/2013 12/31/2013
62 Harun Arrasyid Yayasan Al-Hisbah Masjid 1016 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00891/BPT/2013 12/31/2013
Bogor

63 M. Samsu Rizal KSU Sejahtra Bersama Toko 300 Parakan Ciomas 591.2/002/00009/BPT/2014 1/10/2014

64 Santy lidiawati Rumah Tinggal 2750 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00078/BPT/2014 2/10/2014

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 99
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

65 Sugih Marten Gudang Hasil 8170 Taman Sari Taman sari 591.2/002/00183/BPT/2014 3/6/2014
Pertanian

66 Ananto Budi Rumah Kontrakan 850 Pasir Eurih Taman Sari 591.2/002/00268/BPT/2014 4/4/2014
67 Zahara Zaqiah Villa 8 Taman Sari Taman Sari 591.2/002/00294/BPT/2014 4/17/2014
68 William Sing Ruko dan Gudang 2760 Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00559/BPT/2014 8/27/2014
69 The Hayudin Rumah Tinggal 1535 Taman Sari Taman Sari 591.2/002/00619/BPT/2014 9/9/2014
70 I Gusti Putu Oka Rumah Tinggal 1435 Taman Sari Taman Sari 591.2/002/00638/BPT/2014 10/1/2014
71 Andrew Liberto Gudang Kain 809 Parakan Ciomas 591.2/002/00752/BPT/2014 11/6/2014
72 Oci Anakardiawati Industri Makanan 267 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00807/BPT/2014 11/20/2014
Ringan

73 Rudy Suwanto Rumah Tinggal 1861 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00839/BPT/2014 11/28/2014
74 Ir. Felix Ariodamar PT. Gihon BTS 110 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00880/BPT/2014 12/17/2014
Telekomunikasi
Indonesia

75 Hj. Ai Patmawati Rumah Tinggal 1305 Tamansari Tamansari 591.2/002/00886/BPT/2014 12/18/2014


76 Wiryawan Isjwara PT. Hutchison 3 BTS 325 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00010/BPT/2015 1/9/2015
Indonesia

77 Deny Haryadi Toko Bahan Bangunan 540 Parakan Ciomas 591.2/002/00072/BPT/2015 2/13/2015

78 Mei Lien Toko 887 Pasir Eurih Taman Sari 591.2/002/00076/BPT/2015 2/13/2015
79 Budianto Purwahjo PT. Tower Bersama BTS 74 Sukaresmi Tamansari 591.2/002/00026/BPMPTSP/2015 4/8/2015
80 Sonny Harsono Toko 180 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00034/BPMPTSP/2015 4/14/2015
81 Suwardi Rumah Tinggal 4464 Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00237/BPMPTSP/2015 6/1/2015
82 Tjeng Sandra Gudang 9963 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00535/BPMPTSP/2015 9/14/2015
Sunarya
83 Policarpus Wibi PT. Indomarco Ruko 229 Tamansari Tamansari 591.2/002/00585/BPMPTSP/2015 9/25/2015
Budi Laksono Prismatama

84 Andy Hartono Ruko 1185 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00590/BPMPTSP/2015 9/25/2015

100 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

85 Syamsul Bahri PT. Telekomunikasi BTS 5000 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00593/BPMPTSP/2015 9/28/2015
Indonesia

86 Rudy Warsito Yayasan Qurrota A'yun Sarana Pendidikan 2726 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00704/BPMPTSP/2015 11/2/2015

87 Yayat Supriatin Ruko 200 Tamansari Tamansari 591.2/002/00706/BPMPTSP/2015 11/2/2015


88 Dadang Suhendar Rumah Tinggal Non 3570 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00830/BPMPTSP/2015 12/1/2015
Perumahan

89 Policarpus Wibi PT. Indomarco Toko 225,48 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00837/BPMPTSP/2015 12/7/2015
Budi Laksono Prismatama

90 Antonius Setiawan PT. Sinarmas Multi Kantor 234 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00911/BPMPTSP/2015 12/21/2015
Finance

91 Agus Adinoto Rumah Tinggal Non 2730 Taman Sari Tamansari 591.2/002/00164/BPMPTSP/2016 2/26/2016
Widodo Perumahan

92 H. Rustandi, MSi Puskesmas 2000 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00192/BPMPTSP/2016 3/3/2016


93 Firman Azwir Industri Kecil Sepatu 370 Parakan Ciomas 591.2/002/00281/BPMPTSP/2016 3/31/2016
dan Sendal
94 Hj. Eny Suhaeni Toko 370 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00453/BPMPTSP/2016 5/30/2016
95 Kiky Surya PT Ericson Perumahan 9691 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00688/BPMPTSP/2016 8/31/2016
96 Ir. Ari Sasono PT. Komet Infra BTS 330 Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00763/BPMPTSP/2016 9/23/2016
Nsuantara

97 Yuli Rumah Kontrakan 312 Sirnagalih Tamansari 591.2/002/00854/BPMPTSP/2016 10/27/2016


98 Riky Surya PT. Erescon Perumahan 9964 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002.P/00966/BPMPTSP/2016 12/8/2016
99 Willy Purnama PT. Chandra Lestari Perumahan 8844 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00987/BPMPTSP/2016 12/15/2016
Chandra Realti

100 Lia Meliana Rumah Tinggal 1474 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/01003/BPMPTSP/2016 12/19/2016
101 Lia Meliana Rumah Tinggal 1474 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/01003/BPMPTSP/2017 2/10/2017
102 Effendi Anwar Pesantren 1971 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00035/DPMPTSP/2017 2/1/2017
103 Ricky Martawijaya - Rumah Tinggal 9348 Taman Sari Tamansari 591.2/002/00163/ DPMPTSP/2017 3/13/2017

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 101
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

104 Willy Purnama PT Chandra Lestari Perumahan 2530 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002.P/00183/ DPMPTSP/2017 3/15/2017
Chandra Realti

105 Ferry Hardjanto PT. Indomarco Toko 254 Sukaresmi Tamansari 591.2/002/00476/DPMPTSP/2017 7/3/2017
Prismatama

106 Riky Surya PT. Erescon Perumahan 9988 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002.P/00545/DPMPTSP/2017 7/26/2017
107 Yudy Sofyan, [Link] Toko 1000 Parakan Ciomas 591.2/002/00690/ DPMPTSP/2017 9/18/2017
108 Achmad Mikami Rumah Tinggal 1934 Parakan Ciomas 591.2/002/00702/ DPMPTSP/2017 9/27/2017
109 Riky Surya PT. Erescon Perumahan 9093 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002.P/00713/ DPMPTSP/2017 9/28/2017
110 Sumiyati Ruko dan Bengkel 2183 Parakan Ciomas 591.2/002/00722/ DPMPTSP/2017 9/29/2017
Sepatu

111 Dadang Suhendar Perumahan 3570 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00727/ DPMPTSP/2017 9/29/2017
112 Haerudin Toko 304 Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00778/ DPMPTSP/2017 11/21/2017
113 A. Aziz Ahmad B Rumah Tinggal 3656 Pagelaran Ciomas 591.2/002/00900/ DPMPTSP/2017 11/29/2017
114 Ir. I. Gusti Ketut Jasa Daya Tarik Wisata 16770 Tamansari Tamansari 591.2/002/00024/DPMPTSP/2018 1/8/2018
Oka Wirana Alam dan Budaya

115 Petrus Sujanto Toko 586 Parakan Ciomas 591.2/002/000164/DPMPTSP/2018 2/15/2018


116 Sugih Martin Industri Bumbu Masak 1930 Tamansari Tamansari 591.2/002/00353/DPMPTSP/2018 4/16/2018

117 Tjoa Heng Lie Rumah Tinggal 7295 Tamansari Tamansari 591.2/002/00431/DPMPTSP/2018 5/18/2018
118 Risdianti Villa 3148 Tamansari Tamansari 591.2/002/00558/DPMPTSP/2018 8/22/2018
119 Riza Parsaulian Rumah Tinggal 1137 Tamansari Tamansari 591.2/002/00606/DPMPTSP/2018 7/2/2018
Harahap

120 Deny Haryadi Toko 1045 Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00631/DPMPTSP/2018 7/16/2018


121 Cece Danu Gedung Serbaguna 1521 Tamansari Tamansari 591.2/002/00634/DPMPTSP/2018 7/19/2018
122 Teguh Waskito PT Nurul Fiqri Bina Perluasan Sarana 5904 Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00674/DPMPTSP/2018 7/26/2018
Usaha Pendidikan Dasar
Sampai Menengah
123 Solihin Toko 400 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00764/DPMPTSP/2018 8/22/2018

102 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

124 Harminto Hiu PT Karya Indah Ruko 1224 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00827/DPMPTSP/2018 9/7/2019
Propertindo

125 Suhayati Ganil Rumah Tinggal 1910 Tamansari Tamansari 591.2/002/00838/DPMPTSP/2018 9/17/2019
126 Sumaryoto SE Villa 6588 Tamansari Tamansari 591.2/002/00900/DPMPTSP/2018 10/4/2018
127 Gatot Subagyo PT Inti Bangun BTS 166,5 Sukaresmi Tamansari 591.2/002/01182/DPMPTSP/2018 12/17/2018
Sejahtera

128 Apid Kontrakan Parakan Ciomas 591.2/002/00081/ DPMPTSP/2019 1/31/2019


129 Arief Prawira Rumah Tinggal Non Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00113/DPMPTSP/2019 2/14/2019
Perumahan

130 Padli Rumah Tinggal Non Sukaluyu Tamansari 591.2/002/00134/DPMPTSP/2019 2/18/2019


Perumahan

131 Dr. Santody Hasan Arafah Medika Ciomas Klinik 181 Tamansari Tamansari 591.2/002/00227/DPMPTSP/2019 3/12/2019

132 Sumiyati Ruko 263 Parakan Ciomas 591.2/002/00261/DPMPTSP/2019 3/20/2019


133 Harun Arrosyid Rumah Tinggal Santri 995 Pasir Eurih Tamansari 591.2/002/00259/DPMPTSP/2019 3/20/2019
Putri Tahfidzul Quran

134 Fikri PT Kebun Raya Indah Perumahan 6940 Parakan Ciomas 591.2/002 /00483/DPMPTSP/2019 5/24/2019
REKAPITULASI IZIN TERBIT ILOK 2009 S.D 2019 DI KEC. TAMANSARI
1 PT Sahara Multi PT Sahara Multi Hijau Pembangunan 1300000 Sukaluyu, Tamansari 591.1/001/0085 /BPT/2010 12/9/2010
Hijau Pariwisata Sukajaya,
TamanSari

2 [Link] Lestari Alam Agrowisata Terpadu 500000 Tamansari Tamansari 591.1/001/00033/BPT/2011 4/25/2011
Indah

3 Hadi Riyanto PT. Bumi Daya Perumahan 36000 Sukaresmi Tamansari 591.1/001/00060/BPT/2012 5/7/2012
Anugerah

4 Lim Bun Su PT. Putra Satria Agrowisata 55032 Tamansari Tamansari 591.1/001/00042/BPT/2014 6/4/2014
Berdikari

KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL 103
Luas Lokasi Tanggal
No Nama Pemohon Nama Perusahaan Peruntukan Nomor SK
(M²) Desa Kecamatan Terbit SK

5 Adenan Sutiono PT. Bumi Daya Perumahan 25000 Sukaresmi dan Tamansari dan 591.1/001/00018/BPT/2015 2/6/2015
Anugerah Pagelaran Ciomas

6 Charles Hardono Yayasan Hadaya Vatthu Pusdiklat Olahraga 37850 Tamansari Tamansari 591.1/001/00065/BPMPTSP/2015 7/30/2015
Budiarso

7 Yusak Dwiyanto PT. Sumber Alam Peternakan Kerbau 19930 Sukaluyu Tamansari 591.1/001/00098/BPMPTSP/2015 10/9/2015
Ciapus dan Sapi

8 I Gusti Bagus Wirya Yayasan Giri Taman Pembangunan Pura 32540 Tamansari Tamansari 591.1/001/00017/BPMPTSP/2016 2/10/2016
Sari

9 Dortje Kalesaran PT Dwi Kalsula Perumahan 57900 Sukaluyu Tamansari 591.1/001/00035/BPMPTSP/2016 3/31/2016
10 Fahmy Alaydroes PT Nurul Fikri Bina Sarana pendidikan 70942 Sukaluyu dan Tamansari 591.1/001/00132/BPMPTSP/2016 10/27/2016
Usaha Bersama Dasar Sampai Sukajaya
Menengah

11 Mulyani Sri Utami PT MAHAKARYA Perumahan 70000 Sukaresmi Tamansari 591.1/001/00118/ DPMPTSP/2017 12/11/2017
ALMEERA MUGHNII
DEVELOPMENT

12 Eva Pasaribu PT ROBETTOJAYA Perumahan 27000 Sukaresmi Tamansari 591.1/001/00025/ DPMPTSP/2018 2/20/2018
MAKMUR

13 Nuning Lusiani PT SERASI BANGUN Perumahan 59771 Pasir Eurih Tamansari 591.1/001/00040/ DPMPTSP/2018 3/21/2018
PERSADA

14 Eva Pasaribu PT ROBETTOJAYA BARU / PERUMAHAN 27000 Sukaresmi Tamansari 591.1/001/00096/ DPMPTSP/2018 10/1/2018
MAKMUR

15 Gianni Sumawijaya PT PROPERTINDO BARU-PERUMAHAN 240000 Pasir Eurih Tamansari 591.1/001/00035/DPMPTSP/2019 02/04/2019
Empel ALAM MAKMUR 2,5 HEKTAR

Sumber: Data DPMPTSP Kabupaten Bogor, 2019

104 KAJIAN KERENTANAN MATA AIR DAN RENCANA AKSI MATA AIR CIBURIAL
Kerja Sama USAID IUWASH PLUS dan PemerintahKabupaten Bogor

Anda mungkin juga menyukai