0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan37 halaman

Karakteristik Produk Spare Part Sepeda

Dokumen tersebut membahas karakteristik produk dan kualitas produk yang dijual oleh toko E-ebike Sidoarjo. Karakteristik produk meliputi bentuk, fitur, kualitas kinerja, keandalan, dan kesesuaian spesifikasi. Kualitas produk penting untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mempertahankan daya saing di tengah pandemi.

Diunggah oleh

DL VL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan37 halaman

Karakteristik Produk Spare Part Sepeda

Dokumen tersebut membahas karakteristik produk dan kualitas produk yang dijual oleh toko E-ebike Sidoarjo. Karakteristik produk meliputi bentuk, fitur, kualitas kinerja, keandalan, dan kesesuaian spesifikasi. Kualitas produk penting untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mempertahankan daya saing di tengah pandemi.

Diunggah oleh

DL VL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Karakteristik Produk

Produk ialah segala sesuatu (meliputi obyek fisik, jasa, tempat,

organisasi, gagasan, ataupun pribadi) yang dapat atau mampu ditawarkan

produsen untuk diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikosumsi pasar

sebagai pemenuhan kebutuhan dan keinginannya. Dalam tinjuan yang

lebih mendalam, faktor-faktor penentu kepuasan konsumen terhadap

produk yang diproduksi tidak hanya meliputi atribut fisik saja, tetapi juga

mencangkup sifat-sifat non fisik seperti harga, nama penjual, dan

sebagainya. Semua unsur tersebut dipandang sebagai alat pemuas

kebutuhan manusia atau pembelinya.1

Produk yang diperjual belikan oleh toko E-ebike Sidoarjo adalah

spare part sepeda. Spare part sepeda yang bukan merupakan kebutuhan

pokok menjadi tantangan tersendiri bagi toko E-ebike Sidoarjo untuk

menentukan kelangsungan usahanya. Ditengah wabah virus Covid-19

yang membuat beberapa sektor perekonomian di Indonesia bahkan dunia

mengalami kemunduran dikarenakan tidak bisa bekerja secara maksimal.

Produk adalah sesuatu yang ditawarkan pada pasar baik produk

nyata ataupun produk tidak nyata (jasa) sehingga dapat memuaskan

1
Budi Rahayu Tanama Putri, Manajemen Pemasaran, (Bali: Fakultas Peternakan
Universitas Udayana, 2016) Hal. 19

19
20

keinginan dan kebutuhan pasar. Ada 2 macam kelompok product/goods

yaitu: Consumer’s Goods/Organisasi Konsumsi yaitu barang yang

digunakan secara langsung oleh konsumen dan tidak dijual kembali dan

Industrial Goods/Barang Produsen yaitu barang-barang yang dibeli untuk

diperdagangkan lebih lanjut atau barang yang akan dipakai dalam proses

pengohalan lebih lanjut.2

Pengelolaan kegiatan pengembangan produk ini bukanlah tugas

yang mudah apalagi bagi perusahaan yang telah berhasil dengan produk

barunya. Masalah-masalah yang sering dihadapi banyak bersangkut-paut

dengan tanggung jawab, komunikasi, dan koordinasi hubungan kerja

diantara berbagai departemen dalam perusahaan. Agar pengembangan

produk dapat efektif maka kegiatan produksi, pemasaran dan penelitian

harus saling bekerja sama meskipun mempunyai tujuan yang berbeda3.

Tingginya persaingan ditengah pandemi Covid-19 ini sangat

menuntut pemilik usaha untuk menentukan kelangsungan hidup

usahanya. Meningkatkan kualitas produk serta pelayanan diharapkan

mampu mempertahankan konsumen dan tidak merugi. Produk juga

memiliki konsep, yang mana produk yang ditawarkan harus memiliki

mutu, performansi dan ciri – ciri yang baik.

Karakteristik produk merupakan hal yang sangat penting untuk

diketahui dalam menganalisis hubungan antara konsumen dengan produk

yang digunakan. Sebagian dari karakteristik tersebut terbukti dapat


2
Ir. Agustina Shinta, M.P, Manajemen Pemasaran.., Hal. 76-77
3
Budi Rahayu Tanama Putri, Manajemen Pemasaran, (Bali: Fakultas Peternakan
Universitas Udayana, 2016) Hal. 72
21

memhubungani keberhasilan suatu produk atau merek. Pemelitian ini

didukung oleh teori yang diungkapkan oleh Paul dan Olson mengenai

karakteristik produk yaitu4 kompabilitas adalah sejauh mana suatu produk

konsisten dengan afeksi, kognisi, dan perilaku konsumen saat ini,

kemampuan untuk di uji coba Kemampuan untuk di uji coba menjelaskan

sejauh mana suatu produk dapat dicoba dalam jumlah yang terbatas atau

dipilih-pilih ke dalam jumlah-jumlah yang lebih kecil jika untuk

melakukan uji coba ternyata membutuhkan biaya yang tinggi,

kemampuan untuk di teliti mengacu pada sejauh mana produk atau

dampak yang dihasilkan produk tersebut dapat dirasakan oleh konsumen

lain, Kecepatan adalah seberapa cepat manfaat suatu produk dipahami

oleh konsumen, karena sebagian konsumen masih berorientasi pada

kepuasan yang dengan cepat dirasakan ketimbang yang ditunda, produk

yang dapat memberikan manfaat lebih cenderung berkemungkinan lebih

tinggi untuk paling tidak dicoba oleh konsumen, kesederhanaan adalah

sejauh mana suatu produk dengan mudah dimengerti dan digunakan

konsumen, manfaat relative adalah sejauh mana suatu produk memiliki

keunggulan bersaing yang bertahan atas kelas produk, bentuk produk, dan

merek lainnya, simbolisme produk apakah makna suatu produk atau

merek bagi konsumen dan bagaimanakah pengalaman konsumen ketika

membeli dan menggunakannya.

4
Jerry C. Olson dan Peter J. Paul, Perilaku konsumen dan strategi pemasaran. Edisi
Sembilan. Buku 2, (Jakarta: Salemba Empat), Hal 170.
22

Menurut American Society for Quality Control mendefinisikan

kualitas (quality) adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa

yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang

dinyatakan atau tersirat5. Kualitas produk adalah kemampuan sebuah

produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan

ketahanan, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi

produk juga atribut produk lainnya6.

Setiap pemilik usaha pasti memerlukan quality control untuk

mengetahui seberapa bagus kualitas produk yang akan dijual. Kualitas

produk tidak hanya harus baik dalam kategori daya tahan saja, apalagi

produk spare part dan sepeda yang dijual oleh Toko E-ebike Sidoarjo.

Spare part dan sepeda membutuhkan beberapa tolak ukur untuk

menjadikannya produk yang berkualitas.

Produk yang baik merupakan hal yang paling diinginkan oleh

konsumen, dimana konsumen ingin mendapatkan kepuasan atas kinerja

dari suatu produk yang dipilih terdapat beberapa tolak ukur produk, yang

terdiri dari7:

a. Bentuk

Banyak produk dapat didiferensiasikan berdasarkan bentuk

(form) ukuran, bentuk, atau struktur fisik produk.

b. Fitur

5
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, Manajemen Pemasaran [Link] Belas . Jilid 2
Terjemahan oleh BOB Sabran MM, (Erlangga, 2012) Hal. 143
6
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller,,,,,,Hal. 145
77
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller,,,,,,Hal. 8
23

Sebagian besar produk dengan memvariasikan fitur (feature)

yang melengkapi fungsi dasar mereka.

c. Penyesuaian

Pemasar dapat mendiferensiasikan produk dengan

menyesuaikan produk tersebut dengan keinginan perorangan.

d. Kualitas kinerja (performance quality)

Tingkat di mana kualitas produk menjadi dimensi yang semakin

penting untuk diferensiasi ketika perusahaan menerapkan

sebuah model nilai dan memberikan kualitas yang lebih tinggi

dengan uang yang lebih rendah.

e. Kualitas kesesuaian

Pembeli mengharapkan produk mempunyai kualitas kesesuaian

(conformance quality) yang tinggi, yaitu tingkat di mana semua

unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang

dijanjikan.

f. Ketahanan

Ketahanan (durability) adalah ukuran umur operasi harapan

produk dalam kondisi biasa atau penuh tekanan, merupakan

atribut berharga untuk produk-produk tertentu.

g. Keandalan

Keandalan (reliability) adalah ukuran profitabilitas bahwa

produk tidak akan mengalami malafungsi atau gagal dalam

periode waktu tertentu.


24

h. Kemudahan perbaikan

Kemudahan perbaikan (repairability) adalah ukuran kemudahan

perbaikan produk ketika produk tidak berfungsi atau gagal.

i. Gaya

Gaya (style) menggambarkan penampilan dan rasa produk

kepada pembeli8.

Karakteristik adalah sebagai gambaran langsung dari suatu produk

seperti kinerja, keandalan, mudah dalam penggunaan, estetika dan

sebagainya9. Karakteristik adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi

keinginan atau kebutuhan pelanggan (meeting the needs of consumer10).

Ada delapan dimensi karakteristik produk yaitu:

a. Kinerja (performance), yaitu karakteristik operasi pokok dari

produk inti (core product) yang dibeli.

b. Fitur atau ciri-ciri tambahan (features), yaitu karakteristik

sekunder atau pelengkap.

c. Reliabilitas (reliability), yaitu kemungkinan kecil akan

mengalami kerusakan atau gagal dipakai.

d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesification),

yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi

standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

8
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller,,,,,,Hal. 8
9
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran ed. 3, (Andi: Yogyakarta, 2012), Hal. 121
10
Ibid., Hal. 130
25

e. Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa lama produk

tersebut dapat terus digunakan.

f. Serviceability, meliputi penanganan keluhan secara memuaskan.

Layanan yang diberikan tidak hanya sebatas sebelum penjualan,

tetapi juga selama proses penjualan dan purnajual.

g. Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap pancaindra, misalnya:

bentuk fisik, model, desain yang artistik, dan sebagainya.

h. Kualitas yang di persepsikan (percieved quality), yaitu citra dan

reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya.

Dari beberapa definisi di atas bisa ditarik kesimpulan

bahwa karakteristik produk produk merupakan upaya suatu produk

dalam memperagakan fungsi-fungsinya. Berdasarkan dimensi-

dimensi karakteristik produk di atas maka penulis menarik

beberapa indikator yang relevan dalam penelitian ini yaitu sebagai

berikut:

1. Bentuk produk

2. Kualitas kinerja produk

3. Ketahanan produk

4. Fitur Produk

5. Reability

6. Trend/Gaya
26

B. Harga

Penetapan harga merupakan hal utama yang harus diperhatikan

dalam mementukan harga suatu produk. Perusahaan harus memutuskan

apa yang ingin dicapainya dengan menawarkan produk tertentu. Tujuan-

tujuan ini mungkin berbeda-beda untuk setiap perusahaan. Tujuan-tujuan

tersebut antara lain:

1. Mendapatkan posisi pasar. Misalnya: penentuan harga murah untuk

meningkatkan penjualan dan pangsa pasar. Caranya adalah dengan

melakukan perang harga dan pengurangan kontribusi laba.

2. Mencapai kinerja keuangan. Harga-harga dipilih untuk membantu

pencapaian tujuan keuangan seperti kontribusi laba dan arus kas.

Harga yang terlalu tinggi mungkin tidak akan didrespon oleh para

pembeli.

3. Penentuan posisi produk. Harga dapat digunakan untuk membentu

meningkatkan citra produk, mempromosikan kegunaan produk,

menciptakan kesadaran, dan tujuan penentuan posisi lainnya.

4. Merangsang permintaan. Harga dapat digunakan untuk mendorong

para pembeli untuk mencoba produk atau merek tertentu saat penjualan

sedang lesu.

5. Mempengaruhi persaingan. Harga dapat dimanfaatkan untuk

mempengaruhi persaingan yang ada atau calon pembeli, dengan cara


27

menghambat masuknya pesaing baru ataupun bertambahnya market

share pesaing yang ada11.

Harga merupakan satu satunya unsur bauran pemasaran yang

merupakan penyumbang tertinggi pendapatan dalam sebuah perusahaan.

Harga juga bersifat fleksibel yang bisa diubah ubah sesuai kebutuhan dan

pasar. Sebuah perusahaan diharuskan bisa menentukan harga dari sbuah

produk secara tepat agar bisa memberikan keuntungan bagi perusahaan itu

sendiri.

Sebagai distributor spare part sepeda, toko E-ebike Sidoarjo

mengalami kesulitan dalam menentukan harga jualnya. Pandemi Covid-19

menjadikan harga spare part sepeda menjadi fluktuatif ditambah dengan

biaya promosi yang meningkat, mengharuskan toko E-ebike Sidoarjo

harus pintar dalam menetapkan harga jualnya. Penetapan harga jual tidak

hanya bertujuan untuk mencari laba, melainkan juga manfaat bukan laba.

Manfaat bukan laba yang dicari oleh toko E-ebike Sidoarjo yaitu

krediblitasnya sebagai distributor spare part sepeda dan kepuasan dari

konsumen itu sendiri.

1. Metode Penetapan Harga

a. Skimming Pricing yaitu membuat penetapan harga jasa yang cukup

tinggi di masa perkenalan atau pertumbuhan awal dari produk jasa,

kemudian menurunkan harga tersebut ketika tingkat persaingan

11
Budi Rahayu Tanama Putri, Manajemen Pemasaran, (Bali: Fakultas Peternakan
Universitas Udayana, 2016) Hal. 104
28

mulai naik, atau pasar sudah mulai turun daya tarik-nya. Atau

kadang diterapkan dengan dasar melayani segmen yang lebih

menarik dan potensial terlebih dahulu (daya beli tinggi), jika sudah

mulai jenuh, maka akan merambah ke pasar dengan daya beli

dibawahnya atau yang price sensitif.

b. Penetration Pricing menerapkan penetapan harga produk rendah di

awal jasa dipasarkan, dengan harapan tercapai volume penjualan

yang tinggi sehingga perusahaan jasa bisa mencapai skala

ekonomis dalam waktu yang singkat, dan penetrasi ini membentuk

barrier bagi pesaing untuk masuk dalam pasar ini.

c. Prestige Pricing menerapkan tingkat harga yang tinggi, relatif

tinggi dengan harapan konsumen yang sangat peduli dengan status

akan tertarik dengan produk tersebut. Konsep dasar dari penetapan

harga prestige ini adalah, harga dapat digunakan untuk ukuran

kualitas jasa, di mana jika harga diturunkan atau dinaikkan sampai

dengan tingkat tertentu, maka ketertarikan konsumen akan

menurun juga. 12

Metode penetapan harga yang sekarang sedang dipakai oleh

Toko E-ebike Sidoarjo adalah metode Prestige pricing dimana

harga yang ditentukan relatif tinggi dengan harapan konsumen

memiliki kepedulian ditengah pandemi Covid-19 yang membuat

penjualan menurun. Pandemi Covid-19 membuat beberapa bahkan

12
Didin Fatihudin dan M. Anang Firmansyah, Pemasaran Jasa, (Deepublish: Sleman,
2019), Hal. 114
29

hamper keseluruhan produk yang dijual oleh Toko E-ebike

Sidoarjo mengalami kenaikan yang signifikan bahkan terletak

diharga tertinggi.

2. Memilih Harga Akhir

Memilih harga untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yaitu:

a. Bertahan Hidup (Survival)

Dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup, misalnya

karena ketatnya persaingan, cepat berubahnya selera konsumen,

maka produsen harus menetapkan harga yang rendah untuk

menjaga atau meningkatkan permintaan.

b. Memaksimumkan Laba (Maximum Current Profit)

Penetapan harga sebesar angka tertentu yang akan mendatangkan

laba jangka pendek juga sering menjadi tujuan. Hal itu ditempuh

dengan jalan memperkirakan permintaan dan biaya yang

dikeluarkan dihubungkan dengan harga yang akan mendatangkan

laba atau arus kas. Dalam tujuan ini perusahaan jasa diasumsikan

mengetahui fungsi biaya dan permintaannya, walaupun dalam

kenyataannya keduanya sukar diperkirakan.13

Pandemi Covid-19 membuat beberapa pemilik usaha memilih

bertahan dengan kondisi yang ada dan memaksimalkan laba

(keuntungan) sebanyak banyaknya dengan tetap melihat daya beli

13
Didin Fatihudin dan M. Anang Firmansyah., Hal 118
30

konsumen. Seperti halnya Toko E-ebike Sidoarjo, mengalami kenaikan

harga yang sangat drastis sehingga mempunyai tujuan-tujuan yang

diutamakan yaitu bertahan ditengah pandemi Covid-19 dan mencari

laba sebanyak-banyaknya guna mempertahankan kelangsungan hidup

usahanya.

Harga dapat diartikan sebagai jumlah uang (satuan moneter)

dan /atau aspek lain non moneter yang mengandung utilitas / kegunaan

tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan suatu jasa. Istilah yang

digunakan untuk mengacu pada harga bisa beraneka-ragam. Ini

menunjukkan bahwa penetapan harga sangat tergantung kepada jenis

Jasa spesifik yang dijual. Biasanya para pemasar menetapkan harga

untuk kombinasi antara lain: Jasa spesifik yang menjadi objek

transaksi. Sejumlah layanan pelengkap (seperti pengiriman, instalasi,

pelatihan, reparasi, pemeliharaan, dan garansi). Manfaat pemuasan

kebutuhan yang diberikan oleh produk bersangkutan.

3. Dimensi Harga

Sebagai salah satu elemen bauran pemasaran, harga membutuhkan

pertimbangan cermat, sehubungan dengan sejumlah dimensi strategis

harga berikut ini14:

a. Harga merupakan pernyataan nilai dari suatu produk (a statement

of value). Nilai adalah rasio atau perbandingan antara persepsi

terhadap manfaat dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk

14
Didin Fatihudin dan M. Anang Firmansyah.., Hal. 119
31

mendapatkan jasa. Istilah nilai dari suatu jasa mencerminkan jasa

tertentu yang memiliki tipe dan jumlah manfaat potensial (seperti

kualitas, citra, dan kenyamanan berbelanja) yang diharapkan

konsumen pada tingkat harga tertentu. Pada Toko E-ebike Sidoarjo

kenyamanan serta keamanan belanja melalui media sosial atau

bahkan E-commerce sendiri sudah bisa dikatakan sangat baik.

Rating baik dan buruknya sebuah toko yang diberikan oleh

konsumen bisa langsung dilihat oleh calon konsumen lainnya.

b. Harga merupakan aspek yang tampak jelas (visible) bagi para

pembeli. Bagi konsumen yang tidak terlalu paham hal-hal teknis

pada pembelian jasa riset pasar, pengacara, notaris, atau konsultan

pajak, seringkali harga menjadi satu-satunya faktor yang bisa

mereka pahami. Tidak jarang pula harga dijadikan semacam

indikator kualitas dari produk. Harga spare part yang melambung

tinggi dan banyaknya konsumen baru yang benar benar baru ingin

memulai dunia sepeda membuat Toko E-ebike Sidoarjo

memberikan pemahaman tentang produk harga yang ditawarkan.

c. Harga adalah determinan utama permintaan. Berdasarkan hukum

permintaan, besar kecilnya harga mempengaruhi kuantitas produk

yang dibeli konsumen. Semakin mahal harga, semakin sedikit

jumlah permintaan atas produk bersangkutan dan sebaliknya.

Meskipun demikian, itu tidak selalu berlaku pada semua situasi.

Sebagai contoh, dokter spesialis ternama yang tarifnya mahal bisa


32

saja memiliki banyak pasien reguler yang selalu mengantre di

tempat praktiknya15.

d. Harga berkaitan langsung dengan pendapatan dan laba. Harga

adalah satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan

pemasukan bagi perusahaan, yang pada gilirannya berpengaruh

pada besar kecilnya laba dan pangsa pasar yang diperoleh.

Ditengah pandemi Covid-19 pendapatan laba sangat berpengaruh

dalam kelangsungan hidup Toko E-ebike Sidoarjo. Dimana

penjualan yang mengalami penurunan secara drastis dikarenakan

kenaikan harga yang signifikan yang membuat Toko E-ebike

Sidoarjo harus bisa memaksimalkan laba.

e. Harga bersifat fleksibel, artinya bisa disesuaikan dengan cepat.

Dari empat unsur bauran pemasaran tradisional, harga adalah

elemen yang paling mudah diubah dan diadaptasikan dengan

dinamika pasar. Kendati demikian, fleksibilitas harga tergantung

pada empat faktor utama, yakni struktur biaya, permintaan

pelanggan, kompetisi, dana aspek lega (etika).

f. Harga mempengaruhi citra dan strategi positioning. Dalam

pemasaran jasa, prestisius yang mengutamakan citra kualitas dan

eksklusivitas, harga menjadi unsur penting. Konsumen cenderung

mengasosiasikan harga dengan tingkat kualitas jasa. Harga yang

15
Didin Fatihudin dan M. Anang Firmansyah.., Hal. 119
33

mahal dipersepsikan mencerminkan kualitas ynag tinggi dan

sebaliknya.

g. Harga merupakan masalah nomor satu yang dihadapi para manajer.

Setidaknya, ini ditunjukkan oleh adanya empat level konflik

potensial menyangkut aspek harga.

Konflik internal perusahaan ada 3 jenis yang kemungkinan konflik

menyangkut penetapan harga dalam perusahaan. Pertama, pada banyak

perusahaan seringkali terjadi ketidaksepakatan mengenai fungsi utama

strategi penetapan harga apakah mendorong pertumbuhan volume

penjualan atau menghasilkan laba. Kedua, melibatkan individu-

individu dalam perusahaan yang mengutamakan rate of return,

payback, atau aliran kas dan harga ditetapkan tinggi karena

pertimbangan biaya. Ketiga, melibatkan para staf yang mengutamakan

pangsa pasar dan peningkatan volume penjualan, mereka cenderung

menekan harga murah demi tercapainya skala ekonomis16.

Konflik dalam saluran distribusi. Anggota saluran distribusi bisa

berperan ganda, yakni sebagai pembeli dan sekaligus resellers. Peran

ganda ini bisa menimbulkan ketidaksepakatan dengan kebijakan

penetapan harga pemanufakturan maupun franchisor jasa. Saat

bertindak sebagai pembeli, anggota saluran distribusi hampir selalu

menginginkan harga yang murah. Sedangkan saat bertindak sebagai

resellers, mereka seringkali ingin memaksimumkan aliran pendapatan,

16
Didin Fatihudin dan M. Anang Firmansyah.., Hal. 120
34

yang mengarah pada keinginan akan harga yang mahal. Konflik

dengan pesaing, penetapan harga yang diterapkan oleh sebuah

perusahaan jasa, bisa saja menimbulkan konflik dengan lembaga

pemerintah atau kebijakan publik. Salah satunya yang paling sering

menimbulkan masalah adalah kebijakan menaikkan harga. Kebijakan

ini sering mengundang reaksi keras dari publik, terutama bila

produknya menyangkut kepentingan masyarakat umum seperti jasa

pendidikan dan jasa kesehatan.

4. Peranan Harga

Harga berperan penting secara makro (bagi perekonomian secara

umum) dan secara mikro (bagi konsumen dan perusahaan)17.

a. Bagi perekonomian. Harga produk mempengaruhi tingkat upah,

sewa, bunga, dan laba. Harga merupakan regulator dasar dalam

sistem perekonomian karena harga berpengaruh terhadap alokasi

faktor-faktor produksi. Sebagai alokator sumber daya, harga

menentukan apa yang akan diproduksi (penawaran) dan siapa yang

akan membeli jasa yang dihasilkan (permintaan).

b. Bagi konsumen. Mayoritas konsumen agak sensitif terhadap harga,

namun juga mempertimbangkan faktor lain (seperti citra merek,

lokasi toko, layanan, nilai, fitur produk, dan kualitas). Selain itu,

persepsi konsumen terhadap kualitas jasa seringkali dipengaruhi

oleh harga. Dalam beberapa kasus, harga yang mahal dianggap

17
Didin Fatihudin dan M. Anang Firmansyah, Pemasaran Jasa, (Deepublish: Sleman,
2019), Hal. 121
35

mencerminkan kualitas tinggi, terutama dalam kategori specialty

products.

c. Bagi perusahaan. Dibandingkan dengan bauran pemasaran lainnya

yang membutuhkan pengeluaran dana dalam jumlah besar, harga

merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang

mendatangkan pendapatan. Harga produk adalah determinan utama

bagi permintaan pasar atas jasa bersangkutan. Harga

mempengaruhi posisi bersaing dan pangsa pasar perusahaan.

Dampaknya, harga berpengaruh pada pendapatan dan laba bersih

perusahaan.

Harga memiliki peran yang penting dalam menentukan keputusan

pembelian dimana harga memiliki dua peranan utama dalam proses

pengambilan keputusan para pembeli, Jika harga suatu barang dan jasa

meningkat, pengusaha akan tergerak untuk mengetahui pola konsumsi

masyarakat terhadap barang dan jasa yang bersangkutan18. Secara garis

besar, peranan harga dapat dijabarkan sebagai berikut :

a. Harga yang dipilih berpengaruh langsung terhadap tingkat

permintaan dan menentukan tingkat aktivitas. Harga yang

terlampau mahal atau sebaliknya terlalu berpotensi menghambat

pengembangan produk. Oleh sebab itu, pengukuran sensitivitas

harga amat penting dilakukan.

b. Harga jual secara langsung menentukan profitabilitas operasi.

18
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran Edisi 4, (Yogyakarta: Andi, 2015) Hal. 291
36

c. Harga yang ditetapkan oleh perusahaan mempengaruhi persepsi

umum terhadap produk atau merek dan berkontribusi pada

positioning merek dalam oveked set konsumen potensial.

Konsumen acapkali menjadi harga sebagai indikator kualitas,

khususnya dalam pasar produk konsumen.

d. Harga merupakan alat atau wahana langsung untuk melakukan

perbandingan antar produk atau merek yang saling bersaing.

Dengan kata lain, harga adalah “forced point of contact between

competitors”

e. Strategi penetapan harga harus selaras dengan komponen bauran

pemasaran lainnya. Harga harus dapat menutup biaya

pengembangan, promosi dan distribusi produk.

f. Akselerasi perkembangan teknologi dan semakin singkatnya siklus

hidup produk menuntut penetapan harga yang akurat sejak awal.

g. Proliferasi merek dan produk yang seringkali tanpa dibarengi

diferensiasi memadai berimplikasi pada pentingya positioning

harga yang tepat.

h. Peraturan pemerintah, etika, dan pertimbangan sosial (seperti

pengendalian harga, penetapan margin laba maksimum, otorisasi

kenaikan harga, dan seterusnya) membatasi otonomi dan

fleksibilitas perusahaan dalam penetapan harga.

i. Berkurangnya daya beli di sejumlah kawasan dunia berdampak

pada semakin tingginya sensitivitas harga, yang pada gilirannya


37

memperkuat peranan harga sebagai instrumen pendorong penjualan

dan pangsa pasar.

Adapun indikator – indikator dari variabel harga yang

mempengaruhi keputusan pembelian:

1. Harga produk beragam

2. Harga produk mengalami kenaikan

C. Promosi

Sebuah produk diciptakan untuk dikenal masyarakat luas. Jika

suatu produk tidak dikenalkan dimasyarakat, maka kerja dari perusahaan

akan sia-sia. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk mengenalkan

produknya dengan cara mempromosikan atau mengiklankan produknya

tersebut kepada konsumen dan berusaha untuk dimengerti dan dikenal

dengan usaha yang semaksimal mungkin agar bisa mempengaruhi atau

membujuk konsumen agar mau membeli dan mengerti produk yang sudah

diciptakan oleh sebuah perusahaan.

Iklan/Advertising merupakan semua bentuk terbayar dari persentasi

nonpersonal dan promosi ide, barang atau jasa melalui sponsor yang jelas

melalui media cetak (koran dan majalah), media penyiaran (radio dan

televisi), media jaringan (telepon, kabel, satellite, wireless), dan media


38

elektronik (rekaman suara, rekaman video, CD-ROM, halaman website),

dan media pameran (billboard, papan petunjuk, dan poster).19

Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar orang melakukan

kegiatannya dari rumah. Dimulai dari kerja dari rumah, sekolah dari rumah

dan beberapa kegiatan lainnya. Hal ini mengharuskan setiap orang yang

berkegiatan dirumah membutuhkan akses internet yang memadai.

Seringnya melakukan hal hal yang berbau internet dan media sosial, maka

sebagai distributor sebuah spare part sepeda, toko E-ebike mau tidak mau

harus melakukan segala bentuk kegiatan promosinya melaui media sosial.

Promosi Penjualan/Sales Promotion, merupakan berbagai insentif

jangka pendek untuk mendorong percobaan atau pembelian produk atau

jasa termasuk promosi konsumen (seperti sampel, kupon, dan premi),

promosi perdagangan (iklan dan tunjangan), dan bisnis dan promosi tenaga

penjualan (kontes untuk reputasi penjualan).20 Kegiatan promosi yang

dilakukan dengan baik diharapkan mampu memberikan dampak yang baik

pula bagi perusahaan.

Tujuan dilakukannya kegiatan promosi yaitu:

1. Memberikan informasi kepada pihak lain terutama konsumen

mengenai hasil yang telah dikeluarkan oleh perusahaan yang

sebaiknya diketahui oleh pihak lain terutama konsumen.

19
Marceline Livia Hedynata dan Wirawan [Link], Strategi Promosi Dalam
Meningkatkan Penjualan Lucious Chocolate Potato Snack, Jurnal Manajemen dan Start-Up Bisnis
Volume 1, Nomor 1, April 2016.
20
Ibid., Jurnal Manajemen dan Start-Up Bisnis Volume 1, Nomor 1, April 2016.
39

2. Memberitahukan persepsi produk yang dibutuhkan kepada

pelanggan.

3. Memperkenalkan dan memberikan pemahaman tentang produk

kepada pihak lain terutama konsumen.

4. Mendorong untuk memilih dan membeli suatu produk yang

dihasilkan.

5. Membujuk pelanggan untuk memilih dan membeli suatu

produk yang dihasilkan.

6. Mengimbangi kelemahan unsur bauran pemasaran yang lain.

7. Menanamkan citra yang baik yang telah dihasilkan.21

Sebelum menggunakan media online dalam melakukan kegiatan

promosinya, toko E-ebike menggunakan cara personal selling yang mana

personal selling adalah interaksi antara individu dengan tujuan yang bisa

menimbulkan penjualan. Pandemi Covid-19 membuat toko E-ebike

kesulitan melakukan promosi dengan personal selling yang

mengharuskannya memperkuat promosinya diberbagai media sosial.

Adapun indikator – indikator dari variabel promosi yang

mempengaruhi keputusan pembelian:

1. Persepsi produk

2. Menanamkan citra baik

21
Kementrian Pendidikan Nasional, Modul 3 Manajemen Usaha Kecil, (Jakarta, 2010)
Hal. 35
40

D. Lokasi

Lokasi tempat untuk setiap bisnis merupakan suatu tugas penting

bagi pemasar, karena keputusan yang salah dapat mengakibatkan

kegagalan sebelum bisnis dimulai. Memilih lokasi berdagang merupakan

keputusan penting bagi suatu bisnis yang harus membujuk pelanggan

untuk datang ke tempat bisnis dalam pemenuhan kebutuhannya. Pemilihan

lokasi memiliki mempunyai fungsi yang strategis karena dapat ikut

menentukan tercapainya tujuan dari bisnis itu sendiri.22

Lokasi bukan hanya tempat usaha dijalankan, melainkan juga

segala kegiatan penyaluran produk dari distributor ke konsumennya.

Lokasi penjualan yang dilakukan oleh toko E-ebike Sidoarjo sementara ini

hanya melalui media sosial dan E-commerce seperti Facebook dan

Bukalapak. Sebagai distributor, toko E-ebike Sidoarjo juga harus tetap

mematuhi anjuran pemerintah yang tidak membuat kerumunan dan harus

selalu menjaga jarak dengan melakukan kegiatan jual belinya melalui

media sosial dan E-commerce saja.

Menetukan lokasi tempat untuk setiap bisnis merupakan suatu

tugas penting bagi pemasar, karena keputusan yang salah dapat

mengakibatkan kegagalan sebelum bisnis dimulai. Memilih lokasi

berdagang merupakan keputusan penting bagi suatu bisnis yang harus

membujuk pelanggan untuk datang ke tempat bisnis dalam pemenuhan

22
Emik Iriyanti, dkk, PENGARUH HARGA, KUALITAS PRODUK DAN LOKASI
TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN MELALUI KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING PADA DEPOT MIE PANGSIT JEMBER, Jurnal Manajemen Dan Bisnis
Indonesia Vol 2. No. 1 Juni 2016
41

kebutuhannya. Pemilihan lokasi memiliki mempunyai fungsi yang

strategis karena dapat ikut menentukan tercapainya tujuan dari bisnis itu

sendiri.23

Lokasi Toko E-ebike Sidoarjo tidak hanya mementingkan

kenyamanan dan keamanan saja. Toko E-ebike Sidoarjo memiliki tempat

parkir yang luas dan aman sehingga konsumen tidak ragu untuk

meninggalkan kendaraannya. Disamping tempat parkir yang aman, Toko

E-ebike Sidoarjo juga memperhatikan kesejukan, karena dilokasi Toko E-

ebike Sidoarjo mempunyai beberapa pepohonan yang membuat udara

menjadi sejuk.

Faktor-Faktor Penentu Lokasi, pemilihan lokasi fisik memerlukan

pertimbangan cermat terhadap faktor-faktor berikut:24

1. Akses, yaitu lokasi yang dilalui mudah dijangkau sarana transportasi

umum.

2. Visibilitas, yaitu lokasi atau tempat yang dapat dilihat dengan jelas

dari jarak pandang normal.

3. Lalu lintas, menyangkut dua pertimbangan utama, yaitu:

a. Banyak orang yang berlalu lalang bisa memberikan peluang besar

terjadinya impulse buying, yaitu keputusan pembelian yang sering

terjadi spontan atau tanpa perencanaan.

b. Kepadatan dan kemacetan lalu lintas bisa juga menjadi hambatan.

23
Emik Iriyanti, dkk, PENGARUH HARGA, KUALITAS PRODUK DAN LOKASI
TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN MELALUI KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING PADA DEPOT MIE PANGSIT JEMBER, Jurnal Manajemen Dan Bisnis Indonesia
Vol 2. No. 1 Juni 2016.
24
Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, (Yogyakarta : Andi Offset) Hal. 92
42

4. Tempat parkir yang luas, nyaman dan aman.

5. Ekspansi, yaitu tersedia tempat yang cukup luas untuk perluasan usaha

di kemudian hari.

Tujuan strategi lokasi adalah untuk memaksimalkan keuntungan

lokasi bagi perusahaan. Keputusan lokasi sering bergantung kepada tipe

bisnis. Pada analisa lokasi di sektor industri strategi yang dilakukan

terfokus pada minimisasi biaya, sementara pada sektor jasa,

fokusditujukan untuk memaksimalkan pendapatan. Pengusaha akan selalu

memperhatikan kesetrategisan sebuah wilayah. Faktor-faktor seperti

kepadatan lalu lintas, kepadatan populasi dan taraf kehidupan disekitar

lokasi juga menjadi faktor penting dalam pemilihan lokasi.

Lokasi memegang peranan yang penting dalam melakukan usaha.

Karena berkaitan dengan dekatnya lokasi usaha dengan pusat keramaian,

mudah dijangkau (aksesbilitas), aman, dan tersedianya tempat parkir yang

luas, pada umumnya lebih disukai konsumen. Lokasi yang strategis

membuat konsumen lebih mudah dalam menjangkau dan juga keamanan

yang terjamin.

Adapun indikator – indikator dari variabel lokasi yang

mempengaruhi keputusan pembelian:

1. Strategis

2. Keamanan
43

E. Keputusan Pembelian

Perilaku pembelian bisa sangat bervariasi melintasi berbagai tipe

produk dan keputusan pembelian, antara lain: Perilaku pembelian

kompleks, Perilaku pengurangan disonansi, Perilaku pembelian

kebiasaan, Perilaku pembelian mencari keragaman. Konsumen

mempunyai perilaku pembelian kompleks ketika mereka sangat terlibat

dalam sebuah pembelian dan melihat perbedaan di antara mereka.

Perilaku pengurangan disonansi terjadi ketika konsumen sangat

terlibat tetapi melihat sedikit perbedaan di antara merek. Perilaku

pembelian kebiasaan terjadi dalam kondisi keterlibatan rendah dan sedikit

perbedaan merek. Dalam situasi yang mempunyai karakteristik

keterlibatan rendah tetapi anggapan perbedaan merek yang signifikan,

konsumen teriibat dalam perilaku pembelian mencari keragaman.

Pembeli melalui proses keputusan yang terdiri dari: Pengenalan

kebutuhan, Pencarian informasi, Evaluasi alternative, Keputusan

pembelian, Perilaku pascapembelian, Tugas pemasar adalah memahami

perilaku pembeli pada masing-masing tahap dan pengaruh yang berlaku.

Selama pengenalan kebutuhan, konsumen mengenali masalah atau

kebutuhan yang dapat dipuaskan oleh sebuah produk atau jasa di pasar.

Setelah kebutuhan itu dikenali, konsumen berusaha mencari lebih banyak

informasi dan berpindah ke tahap pencarian informasi.

Informasi yang sudah di tangan, konsumen melanjutkan usahanya

ke evaluasi alternatif, di mana selama tahap ini informasi digunakan


44

untuk mengevaluasi merek dalam sekelompok pilihan. Kemudian,

konsumen membuat keputusan pembelian dan benarbenar membeli

produk. Di tahap akhir proses keputusan pembeli, perilaku

pascapembelian, konsumen mengambil tindakan berdasarkan kepuasan


25
atau ketidakpuasan.

Keputusan Pembelian yang dilakukan konsumen dibagi dalam

beberapa keputusan pembelian26, yaitu:

a. Keputusan pembelian yang rumit

Perilaku pembelian yang rumit terdiri dari proses tiga

langkah. Pertama, pembeli mengembangkan keyakinan tentang

produk tersebut. Kedua, pembeli membangun sikap tentang

produk tersebut. Ketiga, pembeli membuat pilihan pembelian

yang cermat. Konsumen terlibat dalam perilaku pembelian

yang rumit bila mereka sangat terlibat dalam pembelian dan

sadar akan adanya perbedaan-perbedaan besar di antara merek.

Perilaku pembelian yang rumit itu sering terjadi bila produknya

mahal, jarang dibeli, berisiko dan sangat mengekspresikan diri.

Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki pengaruhnya adalah:

kepercayaan, evaluasi, dan perilaku. Konsumen yang

melakukan pembeliannya dengan pembuatan keputusan (timbul

kebutuhan, mencari informasi dan mengevaluasi merek serta

25
Darmanto dan Sri Wardaya, Manajemen Pemasaran Untuk Mahasiswa, Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah.., Hal. 143
26
Farida Yulianti, Lamsah, Pariyadi, Manajemen Pemasaran, (Sleman: Deepublish,
2019) Hal. 110
45

memutuskan pembelian), dan dalam pembeliannya

memerlukan keterlibatan tinggi. Dua interaksi ini menghasilkan

tipe perilaku pembelian yang kompleks (Complex Decision

Making). Para konsumen makin terlibat dalam kegiatan

membeli bila produk yang akan dibeli itu mahal, jarang dibeli,

beresiko, dan amat berkesan. Biasanya konsumen tidak hanya

mengetahui tentang penggolongan produk dan tidak banyak

belajar tentang produk. Sebagai contoh, seseorang membeli

sepeda lipat walau mungkin tidak mengetahui sama sekali ciri-

ciri yang harus dicari.

b. Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan

Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam sebuah

pembelian namun melihat sedikit perbedaan di antara berbagai

merek. Keterlibatan yang tinggi didasari oleh fakta bahwa

pembelian tersebut mahal, jarang dilakukan dan berisiko.

Dalam kasus ini, pembeli akan berkeliling untuk mempelajari

apa yang tersedia namun akan membeli dengan cukup cepat,

barangkali pembeli sangat peka terhadap harga atau terhadap

kenyamanan berbelanja27.

Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki pengaruhnya adalah:

perilaku. Perilaku konsumen tipe ini adalah melakukan

pembelian terhadap satu merek tertentu secara berulang-ulang

27
Farida Yulianti, Lamsah, Pariyadi,,. Hal. 110
46

dan konsumen mempunyai keterlibatan yang tinggi dalam

proses pembeliannya. Perilaku pembelian seperti ini

menghasilkan tipe perilaku konsumen yang loyal terhadap

merek (Brand Loyalty). Sebagai contoh, seseorang yang

berbelanja untuk membeli spare part sepeda. Pembelian spare

part sepeda merupakan suatu keputusan keterlibatan karena

harganya mahal dan berkaitan dengan identifikasi diri, namun

pembeli kemungkinan besar berpendapat bahwa spare part

sepeda dengan harga yang hampir sama, memiliki kualitas

yang sama.

c. Perilaku pembelian yang mencari variasi

Banyak produk dibeli dengan kondisi rendahnya

keterlibatan konsumen dan tidak adanya perbedaan merek

yang signifikan. Mereka pergi ke toko dan mengambil merek

tertentu. Jika mereka tetap mengambil merek yang sama, hal itu

karena kebiasaan, bukan karena kesetiaan terhadap merek yang

kuat. Terdapat bukti yang cukup bahwa konsumen memiliki

keterlibatan yang rendah dalam pembelian sebagian besar

produk yang murah dan sering dibeli.

Konsumen pada tipe ini, hirarki pengaruhnya adalah

kepercayaan, perilaku dan evaluasi. Tipe ini adalah perilaku

konsumen yang melakukan pembeliannya dengan pembuatan

keputusan, dan pada proses pembeliannya konsumen merasa


47

kurang terlibat. Perilaku pembelian seperti ini menghasilkan

tipe perilaku konsumen limited decision making. Konsumen

dalam tipe ini akan mencari suatu toko yang menawarkan

produk berharga murah, jumlahnya banyak, kupon, contoh

cuma-cuma, dan mengiklankan ciri-ciri suatu produk sebagai

dasar atau alasan bagi konsumen untuk mencoba sesuatu yang

baru.

d. Perilaku pembelian karena kebiasaan

Beberapa situasi pembelian ditandai oleh keterlibatan

konsumen yang rendah namun perbedaan merek yang

signifikan. Dalam situasi itu, konsumen sering melakukan

peralihan merek28.

Konsumen pada tipe ini, urutan hirarki pengaruhnya adalah:

kepercayaan kemudian perilaku. Konsumen ini tidak

melakukan evaluasi sehingga dalam melakukan pembelian

suatu merek produk hanya berdasarkan kebiasaan dan pada saat

pembelian konsumen ini kurang terlibat. Perilaku seperti ini

menghasilkan perilaku konsumen tipe inertia. Sebagai contoh,

pembelian spare part sepeda. Para konsumen sedikit sekali

terlibat dalam membeli jenis produk tersebut. Mereka pergi ke

toko dan langsung memilih satu merek. Bila mereka

mengambil merek yang sama, katakanlah, spare part Shimano,

28
Farida Yulianti, Lamsah, Pariyadi,,. Hal. 111
48

hal ini karena kebiasaan, bukan karena loyalitas merek. Tetapi

cukup bukti bahwa para konsumen tidak terlibat dalam

pembuatan keputusan yang mendalam bila membeli sesuatu

yang harganya murah, atau produk yang sudah sering mereka

beli.

e. Proses Pengambilan Keputusan

Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah

masalah atau kebutuhan, yang dapat berupa kebutuhan

eksternal dan internal. Pemasar perlu mengidentifikasi keadaan

yang memicu kebutuhan tertentu. Dengan mengumpulkan

informasi dari sejumlah konsumen, pemasar dapat

mengidentifikasikan rangsangan yang paling sering

membangkitkan minat akan suatu kategori.

Adapun indikator – indikator dari variabel lokasi yang

mempengaruhi keputusan pembelian:

1. Pembelian karena kebiasaan

2. Pengambilan keputusan
49

F. Kajian Peneliti Terdahulu

Pendahuluan terlebih dahulu dapat memberikan gambaran untuk

jawaban sementara pada penelitian ini, selain itu penelitian terdahulu bisa

dibuat perbandingan dalam penelitian ini. Tujuan dicantumkannya

penelitian terdahulu adalah untuk mengetahui bangunan keilmuan yang

sudah diletakkan oleh orang lain, sehingga penelitian yang akan

dilakukan benar-benar baru dan belum diteliti oleh orang lain.

Berikut beberapa penelitian terdahulu yang didapat dari jurnal dan

internet sebagai perbandingan agar diketahui persamaan dan

perbedaannya. Judul penelitian yang diambil sebagai perbandingan

adalah variable karakteristik produk, harga, promosi, lokasi, dan

keputusan pembelian sebagai berikut:

1. Aditya Halim Perdana Kusuma Putra, dkk (2017), “PENGARUH

KARAKTERISTIK TOKO DAN PRODUK BAGI KONSUMEN DI

INDONESIA TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF”29. Hasil dari

penelitian ini adalah Konsumen di Kota Makassar masuk dalam

kategori konsumen yang memiliki kecenderungan relatif tidak

terlalu peka terhadap harga suatu barang, sedangkan konsumen

di Pulau Jawa adalah konsumen yang sangat peka terhadap

perubahan harga. Konsumen pria cenderung berperilaku impulsif

untuk kepuasan diri, sedangkan konsumen wania lebih keproduk

yang menginterprestasikan diri sendiri. Persamaan penelitian ini ada


29
Aditya Halim Perdana Kusuma Putra, dkk, PENGARUH KARAKTERISTIK TOKO
DAN PRODUK BAGI KONSUMEN DI INDONESIA TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF,
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, Vol. 5 No. 7, 2017.
50

di variabel bebas yaitu sama sama membahas tentang karakteristik

produk. Perbedaan penelitian ini terletak pada variable bebas

dimana disini hanya membahas tentang karakteristik took dan

produk serta variable terikatnya tentang pembelian impulsive.

2. Rachma Nirmasarie dan Sri Setyo Iriani (2013), “PENGARUH

PROMOSI PENJUALAN DAN PENJUALAN PERSEORANGAN

TERHADAP KEPUTUSAN BELANJA TIDAK TERENCANA”30.

Hasil penelitian ini adalah promosi penjualan dan penjualan

perseorangan secara bersama-sama mempengaruhi keputusan

belanja tidak terencana. Persamaan dari penelitian ini adalah variabel

bebas yang digunakan sama yaitu promosi, sedangkan perbedaan

penelitian ini terletak pada lokasi penelitian yang digunakan.

Penelitian yang dilakukan ini dilakukan di Hypermart Royal Plaza

Surabaya.

3. Faisal Reza (2016), “STRATEGI PROMOSI PENJUALAN

ONLINE [Link].ID31”. Hasil penelitian ini adalah promosi

penjualan ini bermanfaat dalam proses komunikasi bahwa promosi

penjualan mampu menarik perhatian, memberi informasi yang

memperkenalkan pelanggan terhadap produk dan dapat merangsang

atau mendorong konsumen untuk melakukan transaksi serta tidak

memerlukan biaya yang besar di lazada Indonesia. Persamaan dari

30
Rachma Nirmasarie dan Sri Setyo Iriani, PENGARUH PROMOSI PENJUALAN DAN
PENJUALAN PERSEORANGAN TERHADAP KEPUTUSAN BELANJA TIDAK TERENCANA,
Jurnal Ilmu Manajemen Volume 1 Nomor 2 Maret 2013.
31
Faisal Reza, STRATEGI PROMOSI PENJUALAN ONLINE [Link], Jurnal
Kajian Komunikasi, Volume 4, No. 1, Juni 2016, hlm 64 – 74.
51

penelitian ini terletak pada variabel bebas yang sama sama

membahas tentang promosi. Perbedaan dari penelitian ini sendiri

terletak pada lokasi penelitian dimana penelitian ini hanya

menggunakan media online saja atau biasa dikenal dengak e-

commerce.

4. Siti Ngainnur Rohmah (2020), “Adakah Peluang Bisnis di Tengah

Kelesuan Perekonomian Akibat Pandemi Coronavirus Covid-19?”32.

Hasil dari penelitian ini adalah banyaknya peluang usaha di

tengah-tengah terpuruknya perekonomian saat ini. Bisnis di bidang

kesehatan, dan kebersihan lingkungan memiliki peluang yang

sangat menjanjikan. Begitu juga bisnis makanan beku dan

minuman juga tidak kalah prospektif.. Persamaan dari penelitian

ini adalah sama sama membahas tentang peluang perekonomian

ditengah pandemi Covid-19. Perbedaan disini terlihat jelas bahwa

variabel yang digunakan disini hanya peluang bisnis saja.

5. Alfanda Andika dan Febsri Susanti “PENGARUH MARKETING

MIX TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PARFUM DI

AZZWARS PARFUM LUBEG PADANG”33. Hasil penelitian ini

adalah Produk tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan

pembelian konsumen Azzwars Parfum Lubeg Padang.. Persamaan

penelitian ini yaitu variabel terikat sama sama mengenai keputusan

32
. Siti Ngainnur Rohmah, Adakah Peluang Bisnis di Tengah Kelesuan Perekonomian
Akibat Pandemi Coronavirus Covid-19?, ISSN: 2338 4638, Volume 4 Nomor 1 2020.
33
Alfanda Andika dan Febsri Susanti, Pengaruh Marketing Mix Terhadap Keputusan
Pembelian Parfum di Azzwars Parfum Lubeg Padang, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi KBP Padang.
52

pembelian. Perbedaan penelitian ini adalah terletak pada lokasi

penelitian yaitu penjualan parfum.

6. Emik Iriyanti, Nurul Qomariah, dan Akhmad Suharto (2016),

“PENGARUH HARGA, KUALITAS PRODUK DAN LOKASI

TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN MELALUI

KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA

DEPOT MIE PANGSIT JEMBER”34. Hasil penelitian ini yaitu

harga, kualitas produk dan lokasi berpengaruh secara parsial

terhadap loyalitas pelanggan melalui kepuasan pada Depot Mie

Pangsit Jember. Persamaan dari penelitian ini terletak pada variabel

bebas yang sama sama membahas tentang harga dan lokasi.

Perbedaan penelitian ini terletak pada variabel terikat, dimana

variabel terikat pada penelitian ini yaitu loyalitas pelanggan dan

lokasi penelitian yang berbeda.

34
Emik Iriyanti, Nurul Qomariah, dan Akhmad Suharto, PENGARUH HARGA,
KUALITAS PRODUK DAN LOKASI TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN MELALUI
KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA DEPOT MIE PANGSIT JEMBER,
Jurnal Manajemen Dan Bisnis Indonesia Vol 2. No. 1 Juni 2016.
53

G. Kerangka Konseptual

Mengenai pengaruh maupun hubungan antara variabel yang diteliti

akan dibahas didalam kerangka konseptual dengan tujuan memudahkan

pembaca untuk memahami metode penelitian, hipotesis dan rumusan

masalah dalam penelitian yang dilakukan35. Adapun variabel penelitian

sebagai berikut:

1. Variabel Bebas

Independence variable mempengaruhi variabel terikat atau dependent

variable dan memiliki notasi simbol X. Variabel bebas penelitian ini

yaitu Karakteristik Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), dan

Lokasi (X4).

2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Dependent variable dipengaruhi oleh faktor lain, jadi sebagai

faktor utama dan memiliki notasi simbol Y36. Variabel terikat

penelitian ini adalah keputusan pembelian yang dilakukan konsuman

pada toko E-ebike Sidoarjo.

35
Sarmanu, Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Statistika,
(Surabaya: Airlangga University Press, 2017), hlm. 36.
36
Ibid., Hal 48
54

H. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan karakteristik produk terhadap

keputusan pembelian yang dilaukan konsumen pada toko E-ebike

Sidoarjo.

H1 : Terdapat pengaruh signifikan karakteristik produk terhadap

keputusan pembelian yang dilaukan konsumen pada toko E-ebike

Sidoarjo.

2. H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan harga terhadap keputusan

pembelian yang dilakukan konsumen pada toko E-ebike Sidoarjo.

H2 : Terdapat pengaruh signifikan harga terhadap keputusan

pembelian yang dilakukan konsumen pada toko E-ebike Sidoarjo.

3. H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan promosi terhadap keputusan

pembelian yang dilakukan konsumen pada toko E-ebike Sidoarjo.

H3 : Terdapat pengaruh signifikan harga terhadap keputusan

pembelian yang dilakukan konsumen pada toko E-ebike Sidoarjo.

4. H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan lokasi terhadap keputusan

pembelian yang dilakukan konsumen pada toko E-ebike Sidoarjo.

H4 : Terdapat pengaruh signifikan lokasi terhadap keputusan

pembelian yang dilakukan konsumen pada toko E-ebike Sidoarjo.

5. H0 : Tidak terdapat pengaruh signifikan karakteristik produk dan

penetapan harga terhadap keputusan pembelian yang dilakukan

konsumen pada toko E-ebike Sidoarjo.


55

H5 : Terdapat pengaruh signifikan karakteristik produk dan penetapan

harga terhadap keputusan pembelian yang dilakukan konsumen pada

toko E-ebike Sidoarjo.

Untuk hipotesis statistik sebagai acuan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

Jika Probabilitas > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak

Jika Probabilitas < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima

Anda mungkin juga menyukai