Sejarah Kesarjanaan Barat Al-Qur'an
Sejarah Kesarjanaan Barat Al-Qur'an
kekalahan yang dialami oleh orang-orang Kristen dalam Perang Salib, para sarjana
Barat mulai memulai interaksi mereka dengan al-Qur’an untuk mengetahui lebih
lanjut tentang ajaran Islam. Selama hampir sepuluh abad, kaum Orientalis telah
anda melihat lebih dekat, menjadi jelas bahwa bahkan di antara para peneliti Barat
ada dialektika yang tak ada habisnya. Dialektika ini, baik berupa dukungan maupun
kritik, membuat kajian al-Qur'an tampak lebih hidup dan dinamis di Barat.1
Ketertarikan para peneliti Barat untuk mempelajari Islam secara umum dan
mempelajari al-Qur'an secara khusus telah berlangsung sangat lama. Sejak abad ke-
12, para sarjana Barat mulai melakukan kajian terhadap al-Qur’an, yang di sisi lain
masih bersifat pembelaan dan penuh nuansa polemik. Studi ini pertama
kali dipelopori oleh para sarjana Yahudi dan Kristen yang memulai gerakan yang
bahasa Eropa. Dan orang pertama yang memiliki ide untuk menerjemahkan al-Qur’an
1
Ihwan Agustono, “Potre Perkembangan Metodologis Kelompok Orientalis Dalam Studi Al-
Qur’an”, Studia Quranika 4, no.2 (Januari 2019).
2
Evi Yanti, “Kajian Sarjana Barat Terhadap Pendekatan Studi Al-Qur’an”, [Link],
[Link] sarjana barat terhadap pendekatan studi al-quran/ (17 Juni 2023)
16
17
Saat berkunjung ke Spanyol pada tahun 1142 Masehi Petrus terpesona dengan
kalangan katolik yang berbahasa Arab mereka hidup di bawah pemerintahan dinasti
bahasa Latin. Proyek ini direalisasikan oleh Pedro de Toledo, Herman de Dalmatie,
pendeta Inggris Robert Kennet dan dibantu oleh seorang Muslim dengan nama
penerjemah teks bahasa Arab ke bahasa Spanyol, kemudian orang lain mengedit
terjemahannya. Kemudian proyek itu selesai pada tahun 1143 M. Kemudian, kajian
al-Qur’an diikuti oleh berbagai kajian Islam yang lebih sering menggunakan metode
filologis.3
Sejak seperempat terakhir abad ke-20, Studi tentang al-Qur’an telah meningkat
tokoh-tokoh yang tidak kalah modern seperti Fazrul Rahman, Quraish Shihab, Farid
Esack, Asghar Ali Engineer dan lain-lain.4 Tak mau kalah dengan sarjana Muslim,
sama. Hal ini terbentuk oleh munculnya kajian al-Qur’an timur dari barat, seperti
Arthur Jhon Arberry, Richard Martin, John Wansbrough, Andrew Rippin, Jane
3
Evi Yanti, “Kajian Sarjana Barat Terhadap Pendekatan Studi Al-Qur’an”, [Link],
[Link] sarjana barat terhadap pendekatan studi al-quran/ (17 Juni 2023)
4
Abdul Mustaqim dan Sahiron Syamsuddin, “Studi Al-Qur’an Kontemporer: Wacana Baru
Berbagai Metode Tafsir”, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002),
18
yang disajikan dalam berbagai seminar, artikel yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah
Berbeda dengan kajian tafsir dalam tradisi Islam, dikemukakan bahwa kajian
al-Qur'an dalam tradisi orientalis barat memiliki bidang kajian dan ruang lingkup
yang lebih bervariasi dari pada kajian tafsir. Kajian tersebut meliputi kajian teks al-
kajian al-Qur’an dalam tradisi keilmuan Barat pada umumnya terbagi menjadi dua
topik utama, yaitu: Pertama, kajian al-Qur'an sebelum kodifikasi (kajian al-Qur'an
sebagai tradisi lisan); dan kedua, kajian al-Qur'an setelah kodifikasi (kajian al-Qur'an
sebagai teks tertulis). Tema pertama ini, menurut beberapa orientalis Barat,
merupakan kelemahan tradisi kajian al-Qur'an di dunia Islam, karena belum banyak
disikapi oleh para mufassir Islam, padahal di dunia Barat ia selalu mewarnai kajian-
kajian dari para akademisi studi al-Qur’an, terlepas dari beragamnya isuisu yang
Dunia Barat
5
Abdullah Saeed, The Qur’an: an Introdution, terj. Sulkhah dan Sahiron Syamsuddin,
Pengantar Studi al-Qur’an (Yogyakarta: Baitul Hikmah Press, 2016), 153-165.
6
Yusuf Rahman, “Trend Kajian al-Qur’an di Dunia Barat”, Studia Insania 1, no. (1 April
2013), 1-2.
7
Zayad Abd. Rahman, “Angelika Neuwirth: Kajian Intertekstualitas dalam QS. Al-Rahman
dan Mazmur 136”, Empirisma 24, no. 1 (Januari 2015), 113.
19
pertama dan paling representatif adalah bahwa lahirnya Orientalisme disebabkan oleh
perang berdarah yang berkecamuk di Andalusia antara pasukan Muslim dan Kristen,
Akibat dari peristiwa tersebut, lahirlah gerakan tobat masal dan penghapusan
gereja dan para pendeta Venesia di bawah pimpinan Santo Peter the Venerable dari
Prancis (1092-1156). Dari tempat suci Kristen ini tumbuh semacam tradisi
ritualnya. Mereka juga mendirikan sekte Kristen Katolik sebagai agama resmi yang
langsung dan murni. Gereja mengklaim bahwa kekristenan Spanyol yang ada dinodai
oleh percampurannya dengan unsur-unsur Islam. Para pendeta biara Cluny juga
Kemudian gerakan Kristen Cluny memulai perang suci (perang salib) melawan
Kristen Spanyol yang dianggap sesat dan kemudian melawan Muslim Spanyol.
Padahal, bangsa Eropa yang menjadi penduduk asli Andalusia, meski umumnya
peradaban ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka yang berbicara bahasa
Arab, mengenakan pakaian Arab, mempraktikkan adat Arab, dan kuliah di universitas
Arab. Bahasa Arab dikenal dan digunakan oleh mereka tidak hanya sebagai bahasa
8
Agustono, Potre, 163.
9
Qasim Assamurai, Al-Istisyraaqu Bainal Maudhu’iyyati wal-Ifti’aaliyyah, terj. Syuhudi
Ismail, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), 29.
20
sehari-hari, tetapi juga sebagai bahasa ilmiah. Bahkan raja Spanyol sendiri, Raja Peter
I dari Aragon (lahir tahun 1104), hanya bisa membaca dan menulis dalam bahasa
Arab. Orang-orang Spanyol Kristen benar-benar terpesona oleh peradaban Islam yang
agung.10
Selain itu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa lahirnya orientalisme
politik antara Islam dan Barat semakin memuncak pada era Nur al-Dîn Mahmud al-
dan politik berlanjut sebagai akibat kekalahan beruntun pasukan Kristen melawan
Muslim. Ini meninggalkan kebencian yang mendalam dan memaksa dunia Barat
tentara salib dan tentara Kristen yang menunggang kuda berhamburan keluar dari
mendalam atas kehilangan Baitul Maqdis dari tangan mereka. Kelompok tersebut
penduduknya dan mendesak mereka untuk membalas kerugian orang Kristen. Dalam
hal ini, Yesus Kristus digambarkan sedang dipukul oleh seseorang. Lukisan itu juga
memperlihatkan darah mengalir dari tubuh Yesus Kristus. Tujuan dari lukisan ini
10
Agustono, Potre, 164.
11
Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan, 28.
21
adalah sebagai simbol dan pesan kepada semua orang Kristen bahwa Jesus Kristus
sedang disakiti oleh Muhammad. Menurut mereka juga, Yesus dilukai dan dibunuh.12
kebutuhan Barat untuk menolak Islam, dan kedua, untuk menemukan alasan kekuatan
yang memotivasi umat Islam, terutama setelah jatuhnya Konstantinopel pada tahun
857 (1453 M) serta tibanya pasukan Turki Usmani ke perbatasan Wina. Islam
bahwa asal mula Orientalisme, terutama di kalangan teolog terletak pada kebutuhan
mereka untuk memahami kaum intelektual Semit yang berhubungan dengan Taurat
dan Injil. Untuk tujuan ini, mereka melakukan upaya serius unntuk mempelajari
bahasa Ibrani, Aram dan Arab, serta literatur bahasa-bahasa tersebut. Dalam konteks
ini, maksudnya adalah pengetahuan bahasa Arab tidak boleh lebih rendah dari
pengetahuan bahasa Ibrani untuk menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke
bahasa Latin dengan terjemahan yang baik. Bahkan, Schultens, seorang orientalis
menafsirkan Injil.14
Eropa atas negara-negara Arab dan Muslim di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia
bangsa jajahan itu demi memperkokoh kekuasaan dan dominasi ekonomi mereka
12
Ibid, 28.
13
Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan, 32.
14
Ibid, 32.
22
Studi Ketimuran.15
bahasa timur di setiap ibu kota dan menunjuk seorang guru profesional untuk
membela dan mempertahankan pendapat yang dianggap benar. Dengan kata lain,
argumentasi. Semua pendapat harus diterima untuk diskusi lebih lanjut. Baru jika
Mereka juga tidak menyebutkan pemikiran Islam dalam Gereja Katolik dan bekas-
15
Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan, 32-33.
16
Ibid, 33.
23
bekasnya di Vatikan dalam kekuasaan keagamaan dan keduniawian. Semua ini dapat
dibuktikan dengan dokumen palsu Kaisar Konstantinus dan para uskup Roma
terdahulu.17
Provokasi semacam inilah yang diyakini menjadi salah satu faktor dari lahirnya
tersebut, bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang harus dipelajari dan karena itu
tahun 1076, di Chartres (Prancis) pada tahun 1117 dan di Oxford (Inggris). Pada
tahun 1167 dan Universitas Paris pada tahun 1170. Perhatian Eropa terhadap
Roma pada tahun 1303, di Florence pada tahun 1321, dan di Gregory pada tahun
1553. Di Prancis pada tahun 1217, di Montpellier pada tahun 1220, dan di Bordeaux
pada tahun 1441. Adapun Cambridge, pengajaran bahasa Inggris dimulai pada 1209
dengan pengajaran bahasa Arab. Di bagian lain Eropa, pengajaran bahasa Arab
Dari uraian di atas jelas bahwa gerakan orientalis yang tujuan utamanya
mengkaji peradaban Islam dan bahasa Arab memang menjadi sumber inspirasi bagi
generasi masyarakat Eropa dan Barat sekaligus sebagai tindak lanjut dari tragedi
Perang Salib. Lambat laun, penelitian itu dikaitkan dengan materi ilmiah yang diakui
akademisi. Orientalisme hampir dapat dijumpai pada setiap Universitas Barat, hal ini
dapat dilihat dengan banyaknya jumlah sarjana dan pengkaji di berbagai bidang
17
Assmurai, Bukti-bukti Kebohongan, 33.
18
Agustono, Potre, 165-166.
24
spesifikasi ketimuran yang memperoleh dana sebagai jaminan masa depan mereka
ideologis, bidang ilmu ini memiliki keuntungan yang sangat besar bagi negara-negara
Barat. Memang, perhatian serius dan dukungan penuh yang diberikan kepada
tentang tujuan dan manfaat Studi Oriental. Selain itu, Mustafa Maufur menjelaskan
bahwa fenomena ini merupakan bukti nyata bahwa gerakan orientalisme hampir
digunakan para orientalis dalam mengkaji al-Qur'an, mulai dari tahap awal Studi al-
Qur'an di Barat hingga saat ini (abad ke-20), penegasan definisi Terminologi Studi al-
lebih khusus lagi academic study of the Qur’an (kajian akademik tentang al-
20
Mustafa Maufur, Orientalisme Serbuan Ideologi dan Intelektual, (Jakarta: Pustaka Kautsar,
1995) 18.
25
pada argumentasi rasional yang didukung oleh penelitian. Hal ini untuk membedakan
studi akademik al-Qur'an dari studi apologetik yang dilakukan oleh orientalis secara
intensif dari abad ke-12 hingga akhir abad ke-18. Selain itu, dari pengertian di atas
bagian dari Studi al-Qur'an.22
mempelajari al-Qur'an secara khusus telah ada sejak lama. Sejak abad ke-12, para
apologetik dan penuh dengan nuansa polemik. Kajian yang dipelopori oleh para
sarjana Yahudi dan Kristen, kajian ini biasanya mengambil bentuk awalnya sebagai
21
Manfred S. Kroop (ed.), Results of Contemporary Research on the Qur’an: The Question of
a Historico-Critical Text of the Qur’an, (Beirut: Orient-Institute Beirut, 2007), 1.
22
M. Amin Abdullah, Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M.
Amin Abdullah, ed. Moch. Nur Ikhwan dan Ahmad Muttaqin, (Yogyakarta: CISForm, 2013), 96.
23
Agustono, Potre, 169.
26
serta kesalahan penerjemahan yang hampir pasti mencemari karya terjemahan mereka
dan tentu saja semakin menjauhkan masyarakat Eropa dari hakikat Islam yang
ini tidak lepas dari paradigma normatif yang dilandasi oleh semangat keagamaan
yang sangat kuat. Adams secara umum menyebut pendekatan ini sebagai model
pendekatan apologetik.24 Semangat di balik ini adalah semangat membela agama dan
keyakinan pengkaji (yaitu Kristen) bahwa itu adalah agama yang paling benar dan
asli dari Tuhan. Dalam kenyataannya, pendekatan semacam ini juga sangat erat
kaitannya dengan orientasi polemik keagamaan. Konteks inilah yang selalu turut
mewarnai tragedi Perang Salib yang sedang berkecamuk antara Islam dan Kristen
ketika itu.25
Inggris pada akhir periode ini, yaitu tahun 1779. Meski nama bidang kajian
orientalisme baru diberikan pada abad ke 18, namun telah aktif sejak abad ke-8.
Padahal, kajian serius tentang Orientalisme baru bisa ditelusuri kembali ke abad ke-
16.26 Oleh karena itu, perkembangan Orientalisme dibagi menjadi empat fase: Fase
pertama dimulai pada abad ke-16. Pada fase ini dapat dikatakan bahwa Orientalisme
merupakan simbol dari gerakan anti-Islam yang dipimpin oleh Yudais dan Kristen.
Bagi orang Eropa, Islam adalah trauma yang tidak akan pernah berakhir. Southern
menulis dalam bukunya Western Views of Islam in the Middle Ages bahwa Kristen
24
Ibid, 169.
25
Ibid, 169.
26
Hamid Fahmy Zarkasyi, “Tradisi Orientalis dan Framework Studi Al-Qur’an”, Jurnal
Tsaqafah 7, no. 1 (April 2011) 5.
27
yang sesat (misguided version of Christianity). Bahkan tidak sedikit yang menulis
Fase kedua Orientalisme terjadi pada abad ke-17 dan ke-18 Masehi. Fase kedua
bisa menjadi peradaban yang andal selama 7 abad. Selama periode ini, raja dan ratu
ketimuran. Meski Barat membutuhkan Islam, api permusuhan tetap menyala. Oleh
karena itu, mereka tidak hanya mengumpulkan informasi tentang Timur, tetapi juga
20, fase ini merupakan fase terpenting Orientalisme baik bagi umat Islam maupun
Orientalis itu sendiri. Karena pada saat itu, Barat sebenarnya menguasai negara-
negara Muslim secara politik, militer, budaya, dan ekonomi. Mungkin karena orang-
mudah mendapatkan materi tentang Islam. Oleh karena itu, pada waktu yang hampir
berubah dari fase caci maki menjadi serangan yang sistematis dan ilmiah. Tetapi
sistematis dan ilmiah tidak berarti sempurna dan bias. 29 Fase keempat Orientalisme
27
Zarkasyi, Tradisi, 5.
28
Ibid, 5.
29
Zarkasyi, Tradisi, 6.
28
yang populer, terutama di Amerika. Penelitian ini tidak hanya melayani tujuan
baru saja mulai memperlembut (sikapnya terhadap Islam) dan bahkan menarik kata
‘tidak’nya”.31
lebih banyak menggunakan metode filologis dalam melakukan berbagai kajian Islam.
bahasa Eropa modern agar lebih mudah untuk dikonsumsi oleh mereka, sebagaimana
yang lazim dilakukan oleh para pendahulu mereka. Inilah salah bentuk pendekatan
filologi kesarjanaan Barat ketika itu. Bahkan, Endress dengan tegas menyebutkan
bahwa pada akhir abad ke-18, pendekatan oriental-filologi ini secara masif mulai
dimunculkan (the rise of oriental philology).32 Namun demikian, metode filologi ini
Islam yang selalu berujung pada berbagai pandangan negatif seputar Islam dan al-
30
Ibid, 6.
31
W. Cantwell Smith, On Understanding Islam-Selected Studies, (the Hague: Mounton
Publishers 1981), 296.
32
Agustono, Potre, 170.
29
abad ke-19 ditandai dengan karya Abraham Geiger “What Did Mohammad Gather
kontroversi, karya Geiger ini menurut Angelika Neuwirth dianggap sebagai karya
akademik pertama tentang Qur’anic studies yang pernah ditulis oleh seorang
orientalis di Barat. Hal ini karena ia mulai meninggalkan sifat apologetiknya dan
(kritik historis).34
Barat (Biblical Criticism). Ketika pendekatan ini diterapkan pada Bibel, pendekatan
ini, ada beberapa jenis kritik lain yang berkaitan dengan metode kritik historis, antara
33
Abdullah, Islam, Agama-agama, dan Nilai Kemanusiaan: Festschrift untuk M. Amin
Abdullah, 97.
34
Agustono, Potre, 170-171.
30
lain kritik teks (textual criticism), kajian filologis (philological study), kritik sastra
(literary criticism), kritik bentuk (form criticism), dan kritik redaksi (redaction
criticism). Model pendekatan inilah yang kemudian ingin diterapkan para orientalis
menunjukkan pengaruh tradisi Yahudi dan Kristen yang terkandung dalam al-Qur’an.
Dengan kata lain, Geiger mencoba mengatakan bahwa al-Qur’an bukanlah produk
terinspirasi (jiplak) dari tulisan Yahudi-Kristen dan tradisi Jahiliyah. Baginya, al-
Qur’an tidak lebih dari tiruan dari kitab-kitab yang ada sebelumnya yang diadopsi
oleh Muhammad. Adapun bukti yang ia hadirkan berupa kumpulan kata-kata yang ia
peroleh dari analisis filologis ayat-ayat al-Qur’an, yang menurutnya memiliki banyak
kesamaan dengan kosa kata yang diyakininya berasal dari tradisi Yahudi-Kristen.36
kembali ke zaman kuno akhir dan mempertanyakan orisinalitas dan historisitas dari
kata atau frase dalam al-Qur’an yang dicurigainya merupakan hasil imitasi dari
35
Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Kajian Kritis (Jakarta: Gema
Insani Press, 2005), 44-47.
36
Abraham Geiger, Judaism and Islam. A Prize Essay (Banglore: Madras: Printed at the
M.D.C.S.P.C.K. press and sold at their depository, Vepery, 1898) 75-151.
31
mencoba mencari asal-usul al-Qur'an dalam kitab-kitab dan tradisi keagamaan yang
dalam edisi bahasa Arab), Arthur Jeffery dengan karyanya The Foreign Vocabulary of
the Qur'an (terbit tahun 1938 ), Juga karya Juedische Elements in the Quran (Elemen
yang sama: dengan fokus pada studi tentang what is behind the text (apa yang berada
yang terinspirasi oleh tradisi yang sudah ada sebelumnya. Dalam bahasa yang lebih
Fazlur Rahman dalam The Major Themes of the Qur’an menyebutkan 3 tipe
karya-karya yang mencoba untuk membuat urutan kronologis dari ayat-ayat al-
37
Agustono, Potre, 172.
38
Rahman, Trend, 1-2.
39
Nur Fahrizi dan Muhammad zubir, “Historitas dan Otentisitas Al-Qur’an (Studi Komparatif
Antara Arthur Jeffery Dengan Manna’ Al-Qathan)” QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies 1, no.
2 (2022), 185-186
32
pendekatan semacam itu yang selalu menghubungkan al-Qur’an dengan teks Yahudi
dan Nasrani juga disebut sebagai teori peminjaman dan keterpengaruhan (theoris of
kajian al-Qur’an diwarnai dengan pertanyaan terkait dan penelitian tentang asal usul
pada periode ini sosok pribadi Nabi Muhammad dijadikan sebagai titik pusat utama
Muhammad at Medina (terbit 1956). Ada juga Mohammed und der Koran oleh Rudi
Paret (1901-1983), diterbitkan pada tahun 1957, dan Mohamet oleh Maxime
Rodinson (diterbitkan 1961), yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh
Anne Carter pada tahun 1971. Hampir semua karyanya tersebut secara lugas
menyatakan dengan tegas bahwa al-Qur’an tidak lain adalah cermin atau gambaran
sebagai salah satu objek kajian yang penting, dan tidak dapat dipisahkan dari bidang
kajian al-Qur'an. Ringkasnya, pada periode ini, Qur’anic scholarship telah bergeser
Kajian al-Qur’an pada akhir abad ke-20 ditandai dengan sebuah karya
kontroversial yang berpengaruh besar bagi kajian al-Qur’an di Barat era sesudahnya,
40
Syamsudin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: Gema Insani, 2008), 6.
41
Agustono, Potre, 173.
33
tidak terjadi pada abad pertama Hijriah seperti yang diyakini umat Islam sebelumnya,
melainkan pada abad kedua Hijriah, karena memang tidak ada bukti sejarah yamg
netral, terlepas dari sumber-sumber Islamm yang dimotivasi oleh kepentingan atau
motif keagamaan.42
criticism) untuk mengkritisi kualitas semua sumber pengetahuan sejarah Islam yang
melakukan ini untuk sepenuhnya melindungi tradisi sejarah Islam dari berbagai
pengaruh teologis. Oleh karena itu pertanyaan pertamanya, yang tidak pernah
tersebut diajukan ke al-Qur'an, itu adalah: “Bukti apakah yang ada untuk mendukung
Apakah ada bukti-bukti netral yang tidak sarat muatan kepentingan keagamaan yang
42
John Wansbrough, Qur’anic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation, (New
York: Prometheus Books, 2004), 61.
43
Yusuf Rahman, “Pendekatan Tradisionalis dan Revisionis dalam Kajian Sejarah
Pembentukan al-Qur’an dan Tafsir pada Masa Islam Awal”, Journal of Qur’an and Hadith Studies 4,
no. 1 (2015) 136.
34
Wansbrough dalam mengkaji al-Qur'an tidak jauh berbeda dengan para orientalis
periode sebelumnya.
Salah satu tokoh viral dikalangan Muslim maupun Non Muslim yang
tentang Islam terutama kajian orisinalitas terhadap al-Qur’an ialah Arthur Jeffery. Dia
dikenal sebagai ahli sejarah Timur Tengah dan professor bahasa Semit di School of
Oriental Studies di Kairo.45 Arthur Jeffery mulai mempelajari kritik historis al-Qur’an
sejak tahun 1926 dengan menbumpulkan informasi yang bisa didapatkan dari
berbagai sumber seperti tafsir, hadits, kamus qira’ah, karya-karya filologi dan
menyangka bahwa seorang Australia termasuk dalam kelompok orientalis Islam yang
mungkin setingkat dan sekelas dengan Theodore Noldeke, Rev Mingana, Snouck
44
Muhammad Alfatih Suryadilaga, “Kajian atas Pemikiran John Wansbrough tentang al-
Qur’an dan Nabi Muhammad”, Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam 7, no. 1 (April 2011) 95.
45
Muhammad Luthfi Dhulkifli, Kontroversi Surat Al-Fatihah Dalam Pandangan Arthur
Jeffery, Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Al-Hadits 13, no. 2, (Desember 2019).
46
Taufik Adnan Amal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi,
2011), 435.
47
Nur Fahrizi dan Muhammad zubir, “Historitas dan Otentisitas Al-Qur’an (Studi Komparatif
Antara Arthur Jeffery Dengan Manna’ Al-Qathan)” QiST: Journal of Quran and Tafseer Studies 1, no.
2 (2022), 188.
35
yang melakukan studi kritis terhadap al-Qur'an atau studi Islam secara umum
1940), [Link]. Clair-Tisdall (1859-1928), Louis Cheikho (1859- 1927), Paul Casanova
dan lain-lain.48
1. Abraham Geiger
Abraham Geiger lahir pada tahun 1810. Dia adalah tokoh Reformasi
48
Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Kajian Kritis (Jakarta: Gema
Insani Press, 2005), 47-48.
36
Di sana ia banyak belajar filologi, Arkeologi, Filsafat dan Studi Bible. Setelah
yang membahas historis kritis terhadap konsep origin al-Qur’an. Dikenal sebagai
mencoba mereformasi di tubuh Yahudi agar menjauh dari konsep agama ritualis.
Geiger juga menjadi pelopor pengakuan kedudukan wanita dalam ruang sosial
49
Wendi Parwanto. "Pemikiran Abraham Geiger Tentang al-Qur'an (Studi Atas Akulturasi
Linguistik, Doktri Dan Kisah Dalam Al-Qur'an Dari Tradisi Yahudi)”, Ilmu Ushuluddin 18, no. 1
(Januari-Juni 2019) 52.
50
Ibid, 52.
37
oleh agama Yahudi dalam hal-hal berikut: (1) linguistik, keimanan dan doktrin,
(2) peraturan-peraturan hukum dan moral, (3) pandangan tentang kehidupan, dan
kosa kata al-Qur’an yang diadopsi dari bahasa Ibrani, di antaranya; sakinah,
taagut, furqan, ma’un, masani, malakut, darasa, tabut, jannatu ‘adn, taurat,
keagamaan yang diadopsi Nabi Muhammad dari ajaran sebelum Islam, seperti;
tentang penciptaan langit dan bumi beserta segala isinya dalam enam hari. Ia
mengatakan bahwa dalam hal ini pemikiran Nabi Muhammad sejalan dengan
ajaran Bibel. Namun di ayat lain, Nabi Muhammad juga mengatakan bahwa
bumi diciptakan selama dua hari. Ayat ini menurut Abraham, kontradiktif dengan
51
Sara E. Karesh dan Mitchell M. Hurvitz, Encyclopedia of Judaism, (New York: Facts on
File, Inc., 2006), 168.
52
Geiger, Judaism, 45-72.
53
Ibid, 53.
38
ayat pertama. Maka dari itu, ia menganggap Nabi Muhammad sangat sedikit
2. Thedore Noldeke
sastra Yunani, dan mendalami tiga bahasa Semmit, yaitu Arab, Suryani, dan
Ibrani. Noldeke termasuk ilmuwan yang berumur panjang sekitar 94 tahun, dan
Theodor Noldeke lahir pada 2 Maret 1837 di kota Harburg, sejak 1977
menengah di kota Lingen sejak tahun 1849 hingga 1866. Di kota Lingen inilah
bawah arahan ayahnya, dengan mempelajari sastra klasik, yunani, dan latin
alasannya adalah ketika Noldeke hendak masuk Unversitas Gottingen pada tahun
54
Lenni Lestari, "Abraham Geiger dan Kajian al-Qur'an Telaah Metodologi atas Buku Judaism
and Islam", Suhuf 7, no. 1, (Juni 2014) 48.
55
Abdurrahman Badawi, Mawsu al-Mutasyriqin, terj. Amroeni Drajat, Ensiklopedi Tokoh
Orientalis (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2003), 413.
39
terlebih dahulu menekunni dua bahasa Semit, yaitu Arab dan Persia beserta
sastranya.56
Noldeke meraih gelar sarjana pertama pada usia 20 tahun, setelah itu ia
Wina dan menetap di sana selama satu tahun (1856-1857) untuk mempelajari dan
dingin tahun 1857 hingga musim semi tahun 1858. Di sinilah Noldeke
orientalis yang sangat mumpuni, seperti Dozy, Juynboll, Matyys de Vries, dan
Kuenen. Setelah menetap di Leiden, Noldeke pergi menuju Goeta, Jerman untuk
Noldeke tidak baik, sejak kecil hingga akhir hayatnya selalu dirundung penyakit,
bahasa Semit di Universitas Kiel. Pada musim semi tahun 1872, dia diangkat
posisi yang sama, di antaranya Universitas Berlin tahun 1875, Universitas Wina
tahun 1879 untuk yang kedua kalinya, dan Universitas Leipzig tahun 1888. Pada
musim bunga tahun 1920, Noldeke pindah ke kota Karlsruhe kawasan Rien Atas,
tinggal di rumah anaknya yang ketika itu menjadi direktur Jawatan Kareta Api
56
Badawi, Ensiklopedia, 413-414.
57
Ibid, 414-415.
40
yang dinikahi tahun 1864, meninggal terlebih dahulu pada tahun 1916. Dari
yang selama ini diyakini umat Islam salah. Ia mengatakan bahwa al-Qur’an tidak
dengan seni menulis yang saat itu dianggap sebagai bukti orang yang berilmu.
kata ummī dipahami sebagai kebalikan dari “orang yang bisa membaca dan
menulis”. Yang benar adalah bahwa ummī lebih baik dipahami sebagai kebalikan
dari "orang yang mengetahui kitab suci".60 Theodor Nöldeke berkata: “Setelah
58
Badawi, Ensiklopedia, 416-417.
59
Theodor Noldeke, The Geschichte des Qorans, terj. Wolfgan H. Behn, The History of The
Qur’an, edisi baru (Leiden: Brill, 2003), 3.
60
Muhammad Rafi, “Theodor Noldeke: Sarjana German Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur'an”,
tafsiralqur'[Link], [Link] theodor noldeke sarjana german pelopor kajian sejarah al-
quran/ (26 Juni 2023)
41
dari “orang yang bisa menulis”, tetapi sebagai kebalikan dari “orang-orang yang
memiliki dua karakterisik dalam mengimpor ajaran dari kitab Yahudi dan
menurut pemahamannya yang terbatas, karena dia tidak bisa melihat kitab-kitab
mengatakan bahwa al-Qur’an terpengaruh oleh agama Yahudi. Ada beberapa hal,
pertama, dalam hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, yang kedua,
kehidupan.
3. Jhon Wansbrough
61
Muhammad Rafi, “Theodor Noldeke: Sarjana German Pelopor Kajian Sejarah Al-Qur'an”,
tafsiralqur'[Link], [Link] theodor noldeke sarjana german pelopor kajian sejarah al-
quran/ (26 Juni 2023)
62
Theodor Noldeke, The Geschichte des Qorans, terj. Wolfgan H. Behn, The History of The
Qur’an, edisi baru (Leiden: Brill, 2003), 14.
42
memulai karir akademiknya pada tahun 1960. Saat itu ia bekerja sebagai
ini ditulis oleh John Wansbrough dalam kurun 1968 sampai Juli 1972 dan dicetak
oleh Oxford University Press pada tahun 1977. Karya lain yang ditulis John
Symposium fur Rudolf Suhnel, “Arabic Rethoric and Qur’anic Exegesis”, dalam
Islamic Salvation History. Dari sini nampak bahwa John Wansbrough sangat
intens dalam mengkaji al-Qur’an dan yang terkait di dalamnya. Sampai di sini,
tidak banyak hal yang ditemukan berkenaan dengan pribadi John Wansbrough
Secara umum karya John Wansbrough memberikan kritik yang tajam atas
63
Suryadilaga, Kajian atas Pemikiran Jhon Wansbrough, 91-92.
64
Ibid, 92.
43
imitasi (tiruan) dari kenabian Nabi Musa as. yang dikembangkan secara teologis
disusun sebagai teologi Islam tentang kenabian.65 Oleh karena itu, pemikiran
lainnya baik di kalangan orientalis Barat maupun umat Islam pada khususnya.
tentang al-Qur'an yaitu;
awal Islam, khususnya proses turunnya wahyu dan era kodifikasi al-Qur’an.
Tidak ada bukti literal atau manuskrip sederhana yang dapat memberikan fakta
65
John Wansbrough, Quranic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation
(Oxford: Oxford University Press, 1977), 56-57.
44
bahwa sistem kodifikasi al-Qur'an sama dengan sistem kodifikasi Kitab Suci dan
66
Ulfiana, "Otentisitas Al-Qur'an Perspektif John Wansbrough", Ushuluna: Jurnal Ilmu
Ushuluddin 5, no. 2, (Desember 2019), 215-216.