0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan8 halaman

Sifat Tanah Habitat Bambu di Hulu Banyu

This study examined the physical and chemical properties of soil in bamboo habitat areas in Hulu Banyu Village, Indonesia. Soil samples were taken from two locations near bamboo plants and analyzed in a laboratory. The study found that soil textures included sandy clay, clayey sand, and clay. Nutrient levels of nitrogen and phosphorus were average, while potassium levels were high. Soil pH indicated slightly acidic levels. The highest bamboo growth potential was found for sweet bamboo, while the lowest was for bamboo haur. The results provide information about suitable soil conditions for bamboo cultivation in the area.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan8 halaman

Sifat Tanah Habitat Bambu di Hulu Banyu

This study examined the physical and chemical properties of soil in bamboo habitat areas in Hulu Banyu Village, Indonesia. Soil samples were taken from two locations near bamboo plants and analyzed in a laboratory. The study found that soil textures included sandy clay, clayey sand, and clay. Nutrient levels of nitrogen and phosphorus were average, while potassium levels were high. Soil pH indicated slightly acidic levels. The highest bamboo growth potential was found for sweet bamboo, while the lowest was for bamboo haur. The results provide information about suitable soil conditions for bamboo cultivation in the area.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Sylva Scienteae Vol. 02 No.

4 Agustus 2019 ISSN 2622-8963 (media online)

STUDI SIFAT FISIK DAN KIMIA TANAH HABITAT BAMBU DI DESA


HULU BANYU KECAMATAN LOKSADO KABUPATEN HULU SUNGAI
SELATAN
Study Of Physical And Chemical Properties Of Bamboo Habitat Land In Hulu
Banyu Village Loksado Subdistrict Hulu Sungai Selatan District
Noorhasanah, Yudi Firmanul Arifin, dan Muhammad Muchtar Effendy
Jurusan Kehutanan
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurata
ABSTRACT. Bamboo is one of the Non-Timber Forest Products (NTFPs) which has meaning
and an important role in people's lives, especially in rural areas. The aim of this research is to
describe the physical and chemical properties of bamboo habitat in Hulu Banyu Village,
Loksado Subdistrict, Hulu Sungai Selatan District. The method used in this research is survey
method. The determination of the survey location was based on the finding of certain types of
bamboo found in the location. The location of the sampling point was determined by purposive
sampling to represent the state of the bamboo habitat. The parameters observed in this study
are the physical and chemical properties of the soil. The physical properties of the soil include:
soil texture, soil structure, bulk density, particle density, and soil moisture content. Soil chemical
properties include: soil macro nutrients (N, P, K), soil pH, and Cation Exchange Capacity (CEC).
Soil texture in bamboo habitat in Hulu Banyu Village, sandy clay, sandy clay, clay and clay
sand. Granular soil structure. Nutrients of N and P at both locations are average. The K content
in both locations is high. The CEC values in both locations were categorized as very high and
the pH values in both locations were categorized as somewhat sour. The highest bamboo
potential is sweet bamboo while the smallest bamboo potential is bamboo haur.
Keywords ; Bamboo; physical properties of soil; chemical properties of soil
ABSTRAK. Bambu merupakan salah satu Hasil Hutan Non Kayu (HHNK) yang memiliki arti
dan peranan penting dalam kehidupan masyarakat khususnya di pedesaan. Tujuan yang ingin
dicapai dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sifat fisik dan kimia tanah habitat
bambu di Desa Hulu Banyu Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penentuan lokasi survei didasarkan pada
ditemukannya jenis bambu tertentu yang terdapat di lokasi tersebut. Lokasi titik pengambilan
sampel ditentukan secara purposive sampling untuk mewakili keadaan habitat bambu.
Parameter yang diamati dalam penelitian ini yakni sifat fisik dan kimia tanah. Sifat fisik tanah
meliputi: tekstur tanah, struktur tanah, bulk density, partikel density, dan kadar air tanah. Sifat
kimia tanah meliputi: unsur hara makro tanah (N, P, K), pH tanah, dan Kapasitas Tukar Kation
(KTK). Tekstur tanah pada habitat bambu di Desa Hulu Banyu yaitu lempung berpasir, lempung
liat berpasir, lempung berliat dan pasir berlempung. Struktur tanahnya granular. Kandungan
hara N dan P pada kedua lokasi rata-rata sedang. Kandungan K pada kedua lokasi
ketersediaannya tinggi. Nilai KTK pada kedua lokasi dikategorikan sangat tinggi dan nilai pH
pada kedua lokasi sebagian besar dikategorikan agak masam. Potensi bambu yang tertinggi
adalah bambu buluh sedangkan potensi bambu terkecil adalah bambu haur.

Kata Kunci:Bambu; Sifat fisik tanah; Sifat kimia tanah


Penulis untuk korespondensi: surel: nhasanah076@[Link]

PENDAHULUAN (Widjaja et al., 2014; Widjaja, 2015). 50%


bamboo di Indonesia termasuk jenis yang
memiliki ciri khas dan lebih dari 50 %
Keanekaragamannbambu diodunia termasuk jenis bambuoyang digunakan oleh
setidaknya terdirikatas 116 marga dan 1.439 masyarakat (Widjaja, 2006).
jenis (Bamboo Phylogeny Group,o2012). Bambu yaitu Hasil Hutan Non Kayu
DinIndonesia memiliki 161 jenis bambu dari (HHNK) yang memiliki arti dan peranan
11,5 % jenis bambu yang ada di dunia

757
Jurnal Sylva Scienteae Volume. 02 No. 4 Edisi Agustus 2019

[Link] kehidupan masyarakat Alat dan BahanPenelitian


[Link] pedesaan. Bambu
[Link] sekali manfaat baik Alat yang digunakan dalam penelitian ini
secara ekonomis, ekologis, dan sosial sebagai berikut. GPS untuk mengukur
budaya. ketinggian tempat dan mengambil titik
koordinat, pH meter untuk mengukur
Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu
kemasaman tanah, ring sampel untuk
Sungai Selatan yaitu salah satu daerah di
mengambil sampel tanah, cangkul, parang
Kalimantan Selatan yang banyak terdapat
untuk membersihkan serasah, kamera untuk
bambu. Loksado terkenal akan wisata
dokumentasi, meteran untuk mengukur jarak
mengarungi sungai dengan menggunakan
pengambilan sampel, alat tulis menulis
[Link] (bamboo rafting) atau disebut
untuk mencatat data, kertas label untuk
juga lanting oleh masyarakat setempat.
pemberian label sampel tanah, kantong
[Link] di Desa Hulu Banyu
plastik untuk menyimpan sampel tanah.
Kecamatan Loksado, [Link]
Selain menggunakan peralatan tersebut,
Sungai Selatan ditemukan 5 jenis bambu
penelitian ini juga memerlukan tenaga bantu
dari 3 marga yaitu Bambu banar/rabungan
seperti pengenal jenis sebagai pelaksana
(Gigantochloa psendianumlinoceae), Bambu
kegiatan.
buluh (Schizoseyum brchyicladum), Bambu
tali (Gigantochloa apus), Bambu tamiang
(Schizoseyum blamel), dan Bambu haur Prosedur Penelitian
(Bambusa vulgaris) [Link] disekitar
sungai [Link] (Peran, 2008). Menyiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan. Menentukan titik sampel
Bambuumempunyaiusifataadaptasi yang pengamatan yang ditandai dengan
tinggi serta dapatotumbuhadi setiap jenis ditemukannya jenis bambu tertentu.
tanah kecuali rawa dan tanah yang kadar Selanjutnya pada areal tersebut diambil dua
alkalinya tinggi. (Arinana, 1997). titik sampel tanah. Untuk sampel tanah yang
Berdasarkan paparan di atas, maka penulis terusik dilakukan dengan cara komposit.
tertarik untuk melakukan penelitian terhadap Untuk pengambilan sampel tanah yang tidak
sifat fisik dan kimia tanah habitat bambu di terusik dilakukan dengan menggunakan ring
Desa Hulu Banyu Kecamatan Loksado, sampel di atas tanah yang sudah
Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang dibersihkan dari serasah sedalam 10 cm.
hingga kini belum ada penelitian tentang hal Ring sampel diletakkan papan di atasnya
tersebut agar dapat diketahui jenis tanah kemudian dipukul dengan palu hingga ring
yang sesuai untuk pembudidayaanobambu. sampel tenggelam seluruhnya, kemudian
ring sampel diambil dan dimasukkan
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian
kedalam kantong plastik agar sampel
ini adalah untuk mendeskripsikan sifat fisik
tanahnya tidak rusak tetap kokoh pada ring.
dan kimia tanah habitat bambu di Desa Hulu
Banyu Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sampel tanah dilakukan pengamatan di
Sungai Selatan. Manfaat dari penelitian ini Laboratorium Tanah untuk menganalisis
yaitu sebagai bahan informasi kepada sifat fisik dan kimia tanah masing-masing
masyarakat dan instansi terkait mengenai habitat bambu.
habitat bambu yang akan berguna dalam
proses budidaya.
AnalisiskData

METODE PENELITIANg Penelitian ini menggunakan metode


secara [Link] pengujian dari
Laboratorium dibandingkan dengan kriteria
Tempatdan Waktu Penelitiang penilaian sifat kimia tanah menurut
Lembaga Pusat Penelitian Tanah (LPPT)
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Hulu Bogor. Data-data tersebut nantinya akan
Banyu Kecamatan Loksado, Kabupaten diterjemahkan menggunakan kalimat
Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan penjelasan atau deskriptif secara sistematis
Selatan. Penelitian ini dilaksanakan selama sehingga memudahkan memahami
3 bulan meliputi tahap persiapan, penelitian.
pengambilan data dan pengolahan data.

758
Noorhasanah. et al. 2019. Studi Sifat Fisik … (04): 757-764

Tabel 1. Kriteria penilaian sifat kimia tanah menurut Lembaga Pusat Penelitian Tanah (LPPT)
Bogor
Sangat Sangat
Sifat Tanah Rendah Sedang Tinggi
Rendah Tinggi
N (%) < 0,10 0,10-0,20 0,21-0,50 0,51-0,75 > 0,75
P2O5 HCl
< 10 10-20 21-40 41-60 > 60
(me/100gr)
K2O HCl 25%
< 10 10-20 21-40 41-60 > 60
(me/100gr)
Ca (me/100gr) <2 2-5 6-10 11-20 > 20
Mg (me/100gr) < 0,4 0,4-1,0 1,1-2,0 2,1-8,0 > 8,0
Sumber ; Survey kapabilitas tanah LPPT Bogor (Soepraptohardjo, 1983)

HASIL DAN PEMBAHASAN


2. Struktur tanah
Sifat Fisik Tanah Struktur tanah merupakan sifat yang
sangat penting dan berkaitan dengan
1. Tekstur tanah kemampuan tanah dalam menahan air,
drainase, aerasi, perkembangan akar
Adapun hasil dari uji analisis tekstur tanaman, mudah tidaknya tanah diolah
tanah bambu yang ada di Desa Hulu Banyu dan berpengaruh pada tingkat kesuburan
Kecamatan Loksado dapat dilihat pada tanah. Struktur tanah pada semua sampel
Gambar 1. memiliki sampel [Link] dengan
strukturubaik (granuler, remah) memilik
tata udara yangkbaik, unsur-unsur hara
yang tersedia lebih mudah serta
mudahodiolah. Struktur tanah yang baik
memiliki bentuk yang membulatoagar tidak
bisa salingubersinggungan dengan rapat.

3. Bulk density

Adapun hasil dari uji analisis bulk density


bambu yang ada di Desa Hulu Banyu
Kecamatan Loksado dapat dilihat pada
Gambar 1. Kelas tekstur tanah. Gambar 2.
Hasil uji analisis tanah dapat dilihat
bahwa bambu yang ada di Desa Hulu Banyu
Kecamatan Loksado yang tertinggi terdapat
4 bambu ditemukan pada kelas tekstur
tanah lempung berpasir dan yang terendah
ditemukan satu bambu haur dilokasi yang
berada didekat sungai pada kelas tekstur
tanah pasir berlempung dan satu bambu
buluh dilokasi yang jauh dari sungai pada
kelas tekstur tanah lempung liat berpasir. Gambar 2. Kandungan bulk density.
Kelas tekstur tanah lempung berliat
ditemukan pada dua bambu yang berada
dilokasi jauh dari [Link] ini berarti Keterangan:
habitat bambu yang sesuai adalah tanah A : Jauh dari sungai (±5 km)
dengan yang mempunyai kandungan pasir B : Dekat dengan sungai (±3 m)
tinggi. BB 1 : Bambu Buluh titik 1
BB 2 : Bambu Buluh titik 2
BH 1 : Bambu Haur titik 1
BH 2 : Bambu Haur titik 2

759
Jurnal Sylva Scienteae Volume. 02 No. 4 Edisi Agustus 2019

Kepadatan tanah dapat dilihat dari bulk yang berada jauh dari sungai pada titik dua.
densitynya,apabila suatu tanah makin padat Partikel density dipengaruhi oleh beberapa
maka nilai bulk densitynya pun akan makin faktor yaitu [Link], tekstur tanah,
tinggi. Dari hasil uji analisis tanah diperoleh [Link], topografi [Link] organik
nilai kandungan bulk density tertinggi (Hanafiah, 2005).
sebesar 1,29 g/ cm3 terdapat pada lokasi
ditemukannya bambu buluh yang berada
jauh dari sungai pada titik satu sedangkan 5. Kadar air tanah
yang terendah sebesar 0,93 g/ cm 3terdapat
pada lokasi ditemukannya bambu haur yang Adapun hasil dari uji analisis kadar air
tanah bambu yang ada di Desa Hulu Banyu
berada didekat sungai pada titik dua.
Kecamatan Loksado dapat dilihat pada
Faktor yang mempengaruhi bulk Gambar 4.
densityialah tekstur, struktur dan kandungan
bahan organik, selain itu juga oleh kadar air
tanah dan bahan mineral tanah.

4. Partikel density
Adapun hasil dari uji analisis partikel
density bambu yang ada di Desa Hulu
Banyu Kecamatan Loksado dapat dilihat
pada Gambar 3.
Gambar 4. Kadar air tanah.
Keterangan:
A : Jauh dari sungai (±5 km)
B : Dekat dengan sungai (±3 m)
BB 1 : Bambu Buluh titik 1
BB 2 : Bambu Buluh titik 2
BH 1 : Bambu Haur titik 1
BH 2 : Bambu Haur titik 2

Hasil uji analisis tanah diperoleh nilai


kandungan kadar air tertinggi sebesar 5,22
% terdapat pada lokasi ditemukannya
Gambar 3. Kandungan partikel density. bambu buluh yang berada jauh dari sungai
pada titik dua sedangkan yang terendah
Keterangan: sebesar 0,49 % terdapat pada lokasi
ditemukannya bambu haur yang berada
A : Jauh dari sungai (±5 km) dekat dengan sungai pada titik dua.
B : Dekat dengan sungai (±3m) Tersedianya air dalam tanah dipengaruhi
BB 1 : Bambu Buluh titik 1 olehscurah hujan atau air irigasi,
BB 2 : Bambu Buluh titik 2 kemampuan tanah menahan air, besarnya
BH 1 : Bambu Haur titik 1 evapotranspirasi, tingginyao permukaan
BH 2 : Bambu Haur titik 2 airptanah, kadarobahannorganik tanah,
Hasil uji analisis tanah diperoleh senyawa kimiawi atauukandungan garam,
nilai kandungan partikel density tertinggi dannkedalaman solum atau lapisan tanah
sebesar 2,28 g/cm 3 terdapat pada lokasi (Buckman, 1982).
ditemukannya bambu haur yang berada
didekat sungai pada titik satu sedangkan Sifat Kimia Tanah
yang terendah sebesar 1,61 g/ cm 3 terdapat
lokasi pada ditemukannya bambu buluh 1. Unsur hara makro tanah (N, P, K)
Adapun hasil dari uji analisis kandungan
nitrogen bambu yang ada di Desa Hulu
Banyu Kecamatan Loksado dapat dilihat
pada Gambar 5.

760
Noorhasanah. et al. 2019. Studi Sifat Fisik … (04): 757-764

Keterangan:
A : Jauh dari sungai (±5 km)
B : Dekat dengan sungai (±3 m)
BBC : Bambu Buluh Campuran
BHC : Bambu Haur Campuran

Kandungan P2O5 (mg/ 100 gr): Sangat


Rendah: < 10, Rendah: 10 – 20, Sedang: 21
– 40, Tinggi: 41 – 60, Sangat Tinggi: > 60
: Standar kesuburan tanah
Gambar 5. Kandungan nitrogen. Hasil uji analisis tanah diperoleh nilai
kandungan P2O5 tertinggi sebesar 45,17
Keterangan: mg/100 gr terdapat pada lokasi
A : Jauh dari sungai (±5 km) ditemukannya bambu haur yang berada
B : Dekat dengan sungai (±3 m) didekat sungai sedangkan yang terendah
BBC : Bambu Buluh Campuran sebesar 21,66 mg/ 100 gr terdapat pada
BHC : Bambu Haur Campuran lokasi ditemukannya bambu buluh yang
berada jauh dari sungai. Kedua bambu
Kandungan N (%): Sangat Rendah:< 0,10, tersebut memiliki nilai kandungan P2O5 yang
Rendah: 0,10 – 0,20, Sedang: 0,21 – 0,50, tinggi dan sedang. Hal ini berarti tersedianya
Tinggi: 0,51 – 0,75, Sangat Tinggi:> 0,75 kandungan unsur hara P2O5 yang cukup
: Standar kesuburan tanah dalampenyediaannya untuk kebutuhan
tanaman.
Hasil uji analisis tanah diperoleh nilai
kandungan nitrogen tertinggi sebesar 0,56 Adapun hasil dari uji analisis kandungan
% terdapat pada lokasi ditemukannya K2O bambu yang ada di Desa Hulu Banyu
bambu haur yang berada jauh dari sungai, Kecamatan Loksado dapat dilihat pada
sedangkan nilai kandungan Nitrogen Gambar 7.
terendah sebesar 0,33 % terdapat pada
lokasi ditemukannya bambu haur yang
berada didekat sungai. Kandungan nitrogen
yang sedang dapat mengakibatkan
terganggunya pertumbuhan tanaman
bahkan dapat mati. Salah satu faktor yang
mempengaruhi kandungan nitrogen yaitu
bahan organik, karena jika kadar bahan
organik terjadi peningkatan maka nitrogen
dalam tanah juga akan meningkat (Kemas,
2005).
Adapun hasil dari uji analisis kandungan Gambar 7. Kandungan K2O.
P2O5 bambu yang ada di Desa Hulu Banyu Keterangan:
Kecamatan Loksado dapat dilihat pada
Gambar 6. A : Jauh dari sungai (±5 km)
B : Dekat dengan sungai (±3 m)
BBC : Bambu Buluh Campuran
BHC : Bambu Haur Campuran

Kandungan K2O (mg/ 100 gr): Sangat


Rendah: < 10, Rendah: 10 – 20, Sedang: 21
– 40, Tinggi: 41 – 60, Sangat Tinggi:> 60
: Standar kesuburan tanah

Hasil uji analisis tanah diperoleh nilai


kandungan K2O tertinggi sebesar 49,52 mg/
100 gr terdapat padalokasi ditemukannya
bambu haur yang berada jauh dari sungai
Gambar 6. Kandungan P2O5.
sedangkan yang terendah sebesar 48,28
mg/ 100 gr terdapat pada lokasi

761
Jurnal Sylva Scienteae Volume. 02 No. 4 Edisi Agustus 2019

ditemukannya bambu haur yang berada keadaan kimia tanah tersebut. Tinggi
didekat sungai. Dilihat dari diagram semua rendahnya nilai pH erat pula kaitannya
bambu memiliki nilai kandungan K2O yang dengan kandungan bahan organik. Menurut
tinggi. Kumalasari (2011) menyatakan bahwa
banyaknya seresah menyebabkan
2. pH tanah
peningkatan kemasaman pH tanah. Nilai pH
pH tanah dapat menjadi tambahan tanah dari hasil pengamatan di lapangan
informasi dalam mengidentifikasi tanah dan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai pH tanah

pH
No. Jenis Bambu Kriteria
Tanah
1. Bambu Buluh 1 (A) 5,8 Agak masam
2. Bambu Buluh 1 (B) 6,4 Agak masam
3. Bambu Buluh 2 (A) 5,8 Agak masam
4. Bambu Buluh 2 (B) 6,6 Netral
5. Bambu Haur 1 (A) 5,2 Masam
6. Bambu Haur 1 (B) 6,0 Agak masam
7. Bambu Haur 2 (A) 5,2 Masam
8. Bambu Haur 2 (B) 6,2 Agak masam
Keterangan:
A : Jauh dari sungai (±5 km)
B : Dekat dengan sungai (±3 m)
Nilai pH : Sangat Masam: < 4,5, Masam: 4,5 – 5,5, Agak Masam: 5,6 – 6,5, Netral: 6,6 – 7,5,
Agak Alkalis: 7,6 – 8,5, Alkalis:> 8,5

Berdasarkan hasil tersebut sebagian Keterangan:


besar bambu memiliki pH tanah agak
A : Jauh dari sungai (±5 km)
masam sedangkan pH tanah terendah pada
B : Dekat dengan sungai (±3 m)
nilai 5,2 dikondisi masam dan pH tanah
BBC : Bambu Buluh Campuran
tertinggi pada nilai 6,6 dikondisi netral. Hal
BHC : Bambu Haur Campuran
ini sesuai dengan kondisi tempat
tumbuhbambu yaitu pada tanah yang
Kandungan KTK (me/ 100 g): Sangat
memiliki pH 5,6 – 6,5. Bambu buluh hidup
Rendah: < 5, Rendah: 5,0 – 16, Sedang: 17
pada pH 5,8 – 6,6 (agak masam - netral),
– 24, Tinggi: 25 – 40, Sangat Tinggi:> 40
bambu haur hidup pada pH 5,2 – 6,2
: Standar kesuburan tanah
(masam – agak masam).
Hasil uji analisis tanah diperoleh nilai
3. Kapasitas Tukar Kation (KTK)
kandungan KTK tertinggi sebesar 53,33 me/
Adapun hasil dari uji analisis kandungan 100 g terdapat pada lokasi ditemukannya
KTK bambu yang ada di Desa Hulu Banyu bambu haur yang berada jauh dari sungai
Kecamatan Loksado dapat dilihat pada sedangkan yang terendah sebesar 32,18
Gambar 8. me/ 100 g terdapat pada lokasi
ditemukannya bambu buluh yang berada
jauh dari sungai. Bambu buluh yang yang
berada didekat sungai memiliki nilai
kandungan KTK sangat tinggi dan bambu
haur yang berada di dekat sungai saja yang
nilai kandungan KTKnya tinggi. Umumnya
semua bambu hidup memerlukan KTK yang
tinggi.
KTK saling berkaitan dengan kesuburan
Gambar 8. Kandungan KTK. tanah. Tanah yang memiliki KTK lebih

762
Noorhasanah. et al. 2019. Studi Sifat Fisik … (04): 757-764

tinggi umumnya kadar liatnya lebih tinggi beranekaragam jenis bambu serta
dibandingkan tanah berpasir. banyaknya manfaat bambu tetapi belum
(Hardjowigeno, 2007). dikembangkan secara optimal. Berdasarkan
hasil pengamatan pada plot contoh yang
Potensi Bambu dibuat di lapangan, di kedua lokasi
penelitian ditemukan 2 jenis bambu yang
Potensi bambu di Desa Hulu Banyu dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.
mempunyai peluang yang besar karena

Tabel 3. Jumlah rumpun masing-masing bambu yang berada dekat sungai


Rata-rata jumlah Rata-rata jumlah batang
Plot No. Jenis Bambu Total
rumpun per jenis per rumpun
1, 2 1. Bambu buluh 7 15 105
2 2. Bambu haur 1 10 10

Tabel 4. Jumlah rumpun masing-masing bambu yang berada jauh dari sungai
Rata-rata jumlah Rata-rata jumlah
Plot No. Jenis Bambu Total
rumpun per jenis batang per rumpun
3 1. Bambu haur 1 12 12
4 2. Bambu buluh 4 12 48

Potensi bambu dalam penelitian ini dilihat tinggi yaitu 47,27 me/100 g – 53,33 me/100g
dari jumlah rumpun per jenis dan jumlah dan nilai pH pada kedua lokasi sebagian
batang per rumpun. Dilihat dari tabel, jumlah besar dikategorikan agak masam dengan
bambu terbanyak yang ditemukan pada nilai 5,6 – 6,4. Potensi bambu yang tertinggi
kedua lokasi penelitian adalah jenis bambu adalah bambu buluh karena banyak
buluh dengan total 105 batang per rumpun ditemukan di kedua lokasi penelitian (dekat
sedangkan yang paling sedikit ditemukan sungai dan jauh dari sungai) dengan total
pada kedua lokasi penelitian adalah jenis 105 batang per rumpun, sedangkan potensi
bambu haur dengan total 10 batang per bambu terkecil adalah bambu haur dengan
rumpun. Dilihat dari tabel, bambu haur total 10 batang per rumpun. Tempat tumbuh
mempunyai potensi yang kecil karena jenis terbaik jenis bambu yang ada di Desa Hulu
bambu tersebut jarang ditemukan pada saat Banyu adalah tanah yang bertekstur
penelitian. Bambu buluh banyak digunakan lempung berpasir dan dekat dengan sungai.
masyarakat untuk pembuatan lamang.
Saran

KESIMPULAN DAN SARAN Perlunya ketelitian pada saat menghitung


jumlah batang per rumpun serta perlu
pengkajian lebih lanjut mengenai seberapa
Kesimpulan besar pengaruh jenis tanah dan iklim
terhadap sifat-sifat bambu.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut. Tekstur tanah pada habitat
bambu di Desa Hulu Banyu yaitu lempung DAFTAR PUSTAKA
berpasir, lempung liat berpasir, lempung
berliat dan pasir berlempung. Struktur
tanahnya granular. Kandungan hara N dan Arinana, 1997. Pengaruh Pengawetan
P pada kedua lokasi rata-rata sedang (0,33 Bambu Betung Dendrocalamus asper
% - 0,49 %) dan (21,66 mg / 100 gr – 36,81 (Schultes f.) Backer ex Hayne., dengan
mg / 100 gr). Kandungan K pada kedua Metode Boucherie Terhadap Sifat Fisis
lokasi ketersediaannya tinggi sebesar 48,28 dan Keteguhan Mekaniknya. Jurusan
mg/ 100 gr – 49,52 mg / 100 gr. Nilai KTK Teknologi Hasil Hutan, Fakultas
pada kedua lokasi dikategorikan sangat

763
Jurnal Sylva Scienteae Volume. 02 No. 4 Edisi Agustus 2019

Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Widjaja, E. A. 2006. Pelajaran Terpetik dari


hal.112. Mendalami Bambu Indonesia Untuk
Pengembangannya di Masa Depan.
Bamboo Phylogeny Group, 2012. An
Berita Biologi, 8(3).
Updated Tribal and Subtribal
Classification of the Bamboos (Poaceae: Widjaja, E. A., Rahayuningsih, Y., Rahajoe,
Bambusoideae). Bamboo Science and J. S., Ubaidillah, R., Maryanto, L.,
Culture: The Journal of The American Walujo, E. B., & Semiadi, G. 2014.
Bamboo Society 24(1):1-10. Kekinian Keanekaragaman Hayati
Indonesia 2014 (pp. 88-91). Jakarta: LIPI
Buckman, H. O., and Brady. 1982. Ilmu
Press.
Tanah. Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Widjaja, E. A., 2015. Pemanfaatan Bambu
Hanafiah, K.A, 2005. Dasar-dasar Ilmu
Bagi Ahli Teknologi. Dipresentasikan di
Tanah. Penerbit PT. Raja Grafindo
Workshop dan Talkshow Arsitektur
Persada, Jakarta
(Orientasi Pemanfaatan Teknologi
Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Bambu) Tumpang, Malang tgl. 3-5 April
Penerbit Akademika Pressindo, Jakarta. 2015.
Kumalasari, S. W., J. Syamsiah. 2011. Studi
Beberapa Sifat Fisika Dan Kimia Tanah
Pada Berbagai Komposisi Tegakan
Tanaman Di Sub DAS Solo Hulu. J.
Ilmiah Ilmu Tanah dan Agroklimatologi
8(2) : 119 – 124.
Peran, S. B. 2008. Jenis-Jenis Bambu Di
Sekitar Sungai dan Pegunungan Desa
Hulu Banyu. Jurnal Hutan Tropis Borneo,
(23), 83-86.
Soepraptohardjo, 1983. Survei Kapabilitas
Tanah. Lembaga Pusat Penelitian
Tanah, Bogor

764

Anda mungkin juga menyukai