0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan4 halaman

Chapter 138

Cerita ini menceritakan tentang interaksi antara beberapa karakter. Shawn merasa kecewa dengan Kiran karena berinteraksi dengan pria lain. Amy mengungkapkan perasaannya pada Shawn meskipun Shawn sudah menikah. Blake bertemu Amy di klub malam dan saling berbagi cerita.

Diunggah oleh

mey mey
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan4 halaman

Chapter 138

Cerita ini menceritakan tentang interaksi antara beberapa karakter. Shawn merasa kecewa dengan Kiran karena berinteraksi dengan pria lain. Amy mengungkapkan perasaannya pada Shawn meskipun Shawn sudah menikah. Blake bertemu Amy di klub malam dan saling berbagi cerita.

Diunggah oleh

mey mey
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Shawn berjongkok di samping lutut Kiran yang terbuka karena ia memakai

rok sepaha. Tangannya sedang membuka tali sepatu pump heels milik
Kiran lalu melepaskannya. Shawn melepaskan sepatu tersebut dengan
lembut satu persatu tanpa menaikkan pandangannya pada Kiran.

“Admiral,” tegur Kiran lembut agar Shawn melihatnya. Shawn menaikkan


pandangan dan mendengus tapi ia tak tersenyum dan itu membuat Kiran
jadi sedih. Ia seakan sudah melakukan dosa yang begitu besar sehingga
membuat suaminya kecewa.

“Kamu sudah berjanji padaku tidak akan dekat-dekat dengan pria itu lagi.
Kenapa kamu masih bicara padanya dan membiarkan dia mencium
tanganmu!” Shawn terdengar kesal dan masih berlutut di dekat kaki Kiran.

“Robert adalah partnerku di kejaksaan, Admiral. Aku tidak mungkin tidak


bicara dengannya,” sanggah Kiran mencoba memberikan alasan.

“Kamu kan bisa menghindar!” cetus Shawn juga tak mau kalah. Kiran
sedikit meringis tapi mencoba memaklumi. Mungkin Shawn terlalu
khawatir padanya.

“Maafkan aku, Admiral. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa,” jawab


Kiran lagi. Shawn membuang pandangannya ke arah lain dan mendengus
kesal.

Ia pun bangun dan mata Kiran mengikutinya sedikit menengadah. Tampak


Shawn memang kecewa. Namun yang paling mengejutkan Kiran adalah
saat Shawn membuka tudung dan hoodienya.

“Admiral! Apa yang terjadi padamu!” pekik Kiran spontan bangun dan
memegang wajah suaminya. Terdapat beberapa bercak darah yang sudah
mengering di kaos lengan pendek yang ia gunakan.

“Uhm ... aku sudah bilang aku ada misi kan?” sahut Shawn memandang
tertegun pada Kiran. Kiran langsung meraba wajah dan pundak Shawn
memeriksa luka-luka di tubuhnya. Tapi tubuhnya tak terluka namun
berdarah.

“Ini ...” tunjuk Kiran pada darah dibagian leher Shawn.

“Itu bukan milikku. James menembak sasaranku dan darahnya mengenai


pakaianku,” jawab Shawn dengan santai. Kiran jadi makin aneh dan
matanya mulai berkaca-kaca.

“Little Flower aku tidak apa-apa, jangan menangis. Aku tidak terluka ...
lihat!” Shawn langsung panik saat melihat Kiran akan menangis dan ia
langsung membuka kaosnya yang sudah berdarah itu agar Kiran tak takut.
Shawn kemudian mendekat dan mendekap Kiran dengan lembut. Kiran
ikut melingkarkan kedua lengan di punggung Shawn lalu menyandarkan
pipi dan menangis.

“Kenapa pekerjaanmu jadi menakutkan?” gumam Kiran dan itu membuat


Shawn tersenyum. Ia memalingkan wajah dan mencium kepala Kiran
sebelum mendekapnya lebih erat.

“Jika aku jadi senator, mungkin akan jauh lebih berbahaya dari ini!” Kiran
langsung memukul punggung Shawn dan ia tergelak karena candaannya
berhasil.

“Aku hanya bercanda!”

ESTRELA NIGHT CLUB

“AKU BENCI PADAMU!” teriak Amy dengan kencang. Tapi suaranya masih
kalah kencang dengan dentuman musik dari DJ terkenal yang tengah
bermain di atas panggung.

“Hei ... apa yang kamu lakukan disini!” Blake mencolek lengan Amy dan
gadis itu akhirnya menoleh padanya.

“Oh, Davviiidddd!” celetuk Amy asal memanggil nama tebakannya dulu saat
Blake menolong di parkiran McD.

“Blake ... namaku Blake!” Blake mengkoreksi namanya yang dipanggil


sembarangan oleh Amy.

“Oh iya aku lupa!” Amy terlihat mabuk karena ia terhuyung-huyung


beberapa kali. Blake jadi heran menatap Amy yang berdandan sederhana
tapi rambut panjang indahnya sedikit acak.

“Kamu mabuk ya?” Amy menggelengkan kepala dan Blake pun mengangguk
mengerti. Untuk apa ia mengurusi Amy Baker, lebih baik dia meneruskan
minum untuk mengobati harinya yang buruk.

“Apa yang terjadi padamu? Kamu berguling di jalanan ya!” tegur Amy
sambil menarik bagian pundak dari hoodie milik Blake.

“Apa aku selusuh itu?” Amy mengangguk lalu menyengir seperti orang
bodoh. Blake sedang tak berminat untuk bertengkar jadi ia hanya
menggelengkan saja kepalanya dan meneruskan minum.

“YAH ... Aku bicara padamu, David!”

“Blake namaku ... Blake bukan David!” potong Blake kesal sambil mendelik.
“Lalu siapa David?”

Ingin rasanya Blake mengantukkan kepala Amy ke dinding. Gadis itu


benar-benar membuatnya kesal. Jika saja ia tak ingat siapa Amy maka ia
pasti sudah melakukannya.

“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Amy kemudian dengan suara
mabuk.

“Minum!” jawab Blake singkat.

“Apa suasana hatimu sedang jelek?” Blake mengangguk lagi. Amy pura-
pura berpikir dengan mengetukkan ujung jarinya ke kening.

“Ehm, pasti kamu diputuskan kekasihmu ya? Atau kekasihmu


berselingkuh!” tunjuk Amy berhasil membuat Blake tertegun. Bagaimana
dia bisa tau?

“Bagaimana kamu bisa tau?” Amy malah tertawa dan mengangguk-angguk


tak jelas.

“Tebakanku selalu benar. Kecuali soal Shawn Miller!” alis Blake bertaut
masih menatap Amy dengan heran. Kenapa Shawn Miller dibawa-bawa?

“Apa hubungannya dengan Shawn Miller?” Amy menoleh pada Blake tapi
matanya berkaca-kaca.

“Aku jatuh cinta padanya, tapi tak boleh. Itu terlarang!” gumam Amy
dengan wajah begitu sedih dan pipi yang memerah.

Blake masih terus menatap Amy lekat dengan jarak yang hanya terpaut
beberapa centimeter saja. Baru kali itu, Blake bisa melihat betapa
cantiknya Amy sesungguhnya.

Hidungnya sempurna, tak besar tak kecil dengan garis lurus dan tulang
hidung yang menjadi impian setiap wanita di dunia ini. Matanya berwarna
hijau dan alisnya yang coklat membingkainya dengan indah.

Blake tersadar dan memalingkan wajahnya. Ia mengambil gelas Whiskey


dan meneguknya lagi, kali ini lebih perlahan sambil mengutuki dirinya
sendiri.

“Admiral Miller sudah menikah, apa kamu tau?” tanya Blake mengalihkan
pembicaraan. Amy tak menjawab. Jelas yang dipikirkan Blake dan Amy
adalah dua hal yang berbeda.

“Apa dia menikah dengan kekasihnya? Kiran Kanishka?” gumam Amy


memendang gelas di depannya dengan wajah sendu.
“Yah, aku pikir kamu sudah tau karena kamu orang yang dekat dengannya.
Aku dengar kalian pernah pacaran.” Amy memandang Blake lagi mulai
menangis. Amy langsung sesegukan sambil menutup wajah dengan kedua
tangannya.

Blake ikut memandang Amy yang menangis begitu kencang di tengah


dentuman musik riang.

“Kamu pasti sangat kecewa ya?” Amy mengangguk dan Blake menghela
napas dengan berat.

“Aku juga. Wanita yang kucintai meninggalkanku karena dia pikir aku
hanya orang miskin yang tak punya apapun.” Amy tiba-tiba bangun dan
menoleh pada Blake sambil menarik isakannya.

“Balas dia!” celetuk Amy dengan suara bergetar.

“Hah!”

“Tunjukkan siapa dirimu. Jika kamu mau, kamu bisa mengatakan padanya
jika kita pacaran. Dia pasti akan menyembah untuk kembali padamu!”
Blake jadi makin bingung. Maksudnya apa?

“Aku tidak mengerti!” Amy mendengus kesal pada Blake yang terlalu lambat
menangkap maksudnya.

“Berikan ponselmu!” Blake mengeluarkan ponselnya lalu Amy merebutnya.


Ia menyeka airmatanya dengan cepat lalu membuka aplikasi kamera dan
merangkul Blake.

“Berikan senyuman yang paling tampan!” Blake tak mengerti tapi melihat
ke arah kamera dan ia berpose mesra dengan Amy. Wajah Blake masih
datar dan aneh. Jadi Amy mencium pipi Blake pada pose kedua. Dan pada
pose terakhir Blake yang kaget dicium oleh Amy, sontak berpaling dan
momen itu ditangkap kamera dengan baik.

“Kirim itu ke media sosial, besok dia akan mengemis untuk kembali
padamu!”

Anda mungkin juga menyukai