Nama : Anisa Dwi Yulizar
Kelas/Absen : 2A/11
NIM : P17210221011
PROBLEM SOLVING
1. Pengertian
Problem Solving, menurut istilah adalah proses penyelesaian suatu permasalahan
atau kejadian, upaya pemilihan salah satu dari beberapa alternatif atau option yang
mendekati kebenaran dari suatu tujuan [Link] solving juga diartikan sebagai
suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan
berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang
tepat dan cermat.
Problem solving sering disamakan dengan pengambilan keputusan. Tetapi lebih
spesifik kepada pemecahan masalah oleh seorang konselor kepada kliennya dengan
pendekatan psikologi. Hakikat pemecahan masalah (problem solving) adalah seseorang
mengahadapi situasi yang harus memberi respons, tetapi tidak mempunyai informasi,
konsep-konsep, prinsip-prinsip dan cara-cara yang dapat dipergunakan dengan segera
untuk memperoleh pemecahan.
2. Prinsip-Prinsip
a. Keberhasilan dalam memecahkan masalah dapat dicapai jika diarahkan ke masalah
yang ia mampu memecahkannya.
b. Dalam memecahkan masalah, pakailah data/ keterangan yang ada.
c. Titik tolak pemecahan masalah ialah mencari kemungkinan jalan keluar.
d. Menyadari masalah harus didahulukan dari usaha memecahkan masalah.
e. Proses menciptakan ide-ide baru (innovative) hendaknya dipisahkan dari proses
evaluasi ide sebab yang akhir ini menghambat yang pertama.
f. Situasi-situasi pilihan, hendaknya dijadikan situasi masalah.
g. Situasi masalah kadang perlu diubah menjadi situasi pilihan.
h. Pemecahan masalah yang diusulkan oleh pemimpin sering dievaluasi secara kurang
obyektif.
3. Faktor yang Berpengaruh dalam Proses Problem Solving
a. Motivasi
Motivasi yang rendah akan mengalihkan perhatian, sedangkan motivasi yang tinggi
akan membatasi fleksibilitas.
b. Kepercayaan dan Sikap yang Salah
Bila kita percaya bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan kekayaan material, kita
akan mengalami kesulitan ketika memecahkan penderitaan batin kita.
c. Kebiasaan
Kecenderungan untuk mempertahankan pola pikir tertentu atau melihat masalah hanya
dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihanmenimbulkan pemikiran yang
kaku
d. Emosi
Emosi ini mewarnai cara berpikir kita sebagai manusia yang utuh, kita tidak dapat
mengesampingkan emosi
e. Takut mungkin melebih-lebihkan kesulitan persoalan dan menimbulkan sikap resah
yang melumpuhkan tindakan
4. Langkah-Langkah problem Solving
Menurut yang dikemukakan oleh Gray yang dipergunakan ada 6 langkah :
1. Mengerti masalahnya
Langkah ini menandai permulaan penyelidikan ilmiah.
2. Mengumpulkan keterangan atau data
Apabila sudah ada penelitian sebelumnya yang telah memecahkan masalah itu maka
tidak perlu masalah itu dipecahkan. Penyelidikan hanya diulangi apabila hasil yang
didapat meragukan, atau apabila kondisi-kondisinya telah berubah.
3. Menformulasikan atau pemecahan masalah yang mungkin.
Apabila suatu hipotesis nampaknya tidak dapat diharapkan, maka ia meninggalkan
penyelidikan literatur dan melanjutkan langkah-langkahnya
4. Mengevaluasi hipotesis
5. Jika hipotesis tidak dapat berhasil, maka perlu kembali penyelidikan literatur. Tetapi
apabila percobaan berhasil, maka dapat diteruskan ke langkah berikutnya
6. Pembuatan eksperimen
Ketika seorang cendikiawan membuat hipotesis untuk memecahkan suatu
permasalahan, biasanya ia akan melakukan pengujian terhadap hipotesis tersebut dan
mendiskusikannya berdasarkan informasi dan data yang ia miliki.
7. Kesimpulan
Apabila suatu problem telah dipecahkan, maka ahli yang telah memecahkan itu harus
membuat laporan.
5. Kerangka berpikir dalam problem solving
Kerangka berpikir seorang dalam problem solving (pemecahan masalah) adalah dari segi
kognitif dan segi afektif sebagai berikut :
Kerangka berpikir dari segi kognitif Segi Kognitif
1) Keyakinan dan penghayatan bahwa manusia ditakdirkan sebagai makhluk yang paling
indah dan mempunyai derajat yang paling tinggi.
2) Keyakinan dan penghayatan bahwa keindahan derajat paling tinggi itu terwujud
dalam bentuk kesenangan dan kebahagiaan hidup di dunia akhirat dalam arti seluas-
luasnya.
3) Pemahaman dan penghayatan bahwa dalam perjalanan hidupnya, seseorang dapat
mengalami berbagai permasalahan.
4) Pemahaman dan penghayatan bahwa faktor-faktor lingkungan, juga faktor lain, sangat
besar pengaruhnya terhadap perkembangan dimensi kemausiaan dan timbulnya
permasalahan pada diri seseorang di sisi lain.
5) Pemahaman dan penghayatan bahwa pelayanan bimbingan konseling mampu
memberikan bantuan kepada orang ±orang yang sedang mengalami masalah demi
teratasinya masalahmasalah mereka.
6) Seseorang yang sedang mengalami masalah, tidak seharusnya dan tidak serta merta
dianggap sebagai terlibat masalah kriminal perdata atau tidak sehat jasmani-rohani,
atau norma-tidak normal.
7) Dalam menangani masalah perlu dilibatkan berbagai pihak, sumber dan unsur untuk
secara efektif dan efisien mengatasi / memecahkan masalah.
Kerangka berpikir Afektif
1) Memberikan penghargaan setingi-tingginya terhadap kehidupan manusia sebagai
individu atau kelompok.
2) Merasa prihatin dan menaruh simpati kepada orang yang mengalami permasalahan
yang menghambat dimensi kemanusiaan .
3) Berusaha seoptimal mungkin menerapkan keahlian yang dimiliki untuk membantu
agar dapat teratasi dalam waktu cepat dan tepat.
4) Bersikap positif terhadap orang yang mengalami masalah.
5) Tidak menahan masalah untuk ditangani sendiri, atau tidak menutup kemungkinan
untuk dialih tangankan jika ternyata ada pihak yang ahli.(Maulidya, 2018)
Referensi
Maulidya, A. (2018). Berpikir dan Problem Solving. Ihya Al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan
Bahasa Dan Sastra Arab, 4(1), 11–29.