BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Kesejahteraan Sosial
Konsep yang berkaitan dengan konsep kesejahteraan sosial tedapat dalam
beberapa pengertian tentang kesejahteraan sosial. Pengertian kesejahteraan sosial
dijelaskan dalam beberapa pengertian yaitu pengertian kesejahteraan sebagai
keadaan atau kondisi, pengertian kesejahteraan sosial sebagai usaha dan sebagai
institusi dan kesejahteraan sebagai suatu disiplin ilmu akademik. Konsep
kesejahteraan sosial juga membicarakan beberapa konsep yang berkaitan
diantaranya terdapat konsep dalam dua pengertian yaitu secara luas dan secara
sempit. Didalam pengertian kesejahteraan sosial dan kaitannya dengan konsep
terdapat juga hubungannya antara kesejahteraan sosial dengan pekerjaan sosial.
2.1.1 Pengertian Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan terdapat definisi yang dijelaskan dalam pengertian yang
terbagi dalam pengertian kesejahteraan sosial sebagai keadaan atau suatu kondisi,
pengertian kesejahteraan sosial sebagai usaha dan sebagai institusi, dan
kesejahteraan sosial sebagai suatu disiplin ilmu akademik. Kesejahteraan sosial
dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang dapat memenuhi
kebutuhannya dan dapat berelasi di lingkungannya secara baik.
Kesejahteraan sosial sebagai suatu kondisi dalam suatu masyarakat
menurut Midgley yang dikutip Adi (2015:23) menyatakan bahwa: “a state
condition of human well-being that exsist when social problems are
managed, when human needs are met, and when social opportunities are
maximized”.
Definisi tersebut menyatakan bahwa suatu keadaan atau kondisi kehidupan
manusia yang tercipta ketika berbagai permasalahan sosial dapat dikelola dengan
baik, ketika kebutuhan manusia dapat terpenuhi dan ketika kesempatan sosial
dapat dimaksimalisasikan.
Kesejahteraan sosial sebagai suatu kondisi dalam suatu masyarakat
dijelaskan dari apa yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial dikutip Adi (2015:23) bahwa:
“Kesejahteraan Sosial ialah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual,
dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri,
sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya”.
Definisi tersebut menjelaskan bahwa setiap individu, kelompok ataupun
masyarakat dikatakan tercapainya suatu kondisi yang sejahtera apabila
terpenuhinya kategori yang disebutkan dalam Undang-Undang yaitu apabila
terpenuhinya kebutuhan material adalah berwujud benda atau material yang
dibutuhkan oleh kebutuhan fisik. Selain terpenuhinya material kebutuhan lainnya
seperti spiritual yaitu kebutuhan dari dalam diri seperti rasa aman, cinta, kasih
sayang, dan kebutuhan beribadah. Sosial dalam arti kebutuhan dimana seseorang
dalam melaksanakan perannya sebagai makhluk sosial dalam masyarakat, seperti
dalam aktivitasnya memiliki relasi, berinteraksi dan komunikasi yang terjadi
secara timbal balik di lingkungan sosial.
Kesejahteraan sosial sebagai suatu usaha dan suatu institusi dijelaskan
dalam pengertian kesejahteraan sosial yang dirumuskan oleh para pakar pekerjaan
sosial oleh Friedlander (1980) yang dikutip Fahrudin (2012:9) adalah:
Social welfare is the organized system of social services and institutions,
designed to aid individuals and groups to attain satisfying standards of life
and health, and personal and social relationships that permit them to
develop their full capaties and to promote their well being in harmony
with the needs of their families and the community.
Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisasi dari pelayanan-
pelayanan sosial dan institusi-institusi yang dirancang untuk membantu individu-
individu dan kelompok-kelompok guna mencapai standar hidup dan kesehatan
yang memadai dan relasi-relasi personal dan sosial sehingga memungkinkan
mereka dapat mengembangkan kemampuan dan kesejahteraan sepenuhnya selaras
dengan kebutuhan-kebutuhan keluarga dan masyarakatnya.
Definisi di atas menjelaskan bahwa suatu tatanan kehidupan yang
memiliki sistem yang teratur yang telah terorganisir beserta dengan pelayanan
sosial serta dirancang untuk membantu seluruh lapisan masyarakat agar dapat
mencapai standar hidup yang normal. Sehingga memungkinkan mereka untuk
memenuhi dan mengembangkan kemampuannya agar terwujudnya atau
tercapainya keberfungsian sosial dan kesejahteraan masyarakat yang selaras.
Kesejahteraan sosial sebagai suatu disiplin akademik merujuk kaitannya
pada ilmu kesejahteraan sosial yang mengembangkan pemikiran serta kontribusi
dalam bentuk praktiknya yang berkaitan dengan pekerjaan sosial. Selain sebagai
keadaan, usaha dan isntitusi kesejahteraan sosial juga merupakan suatu disiplin
akademik, dijelaskan oleh Zastrow (2004) yang dikutip Fahrudin (2012: 31)
menjelaskan bahwa:
Another meaning of social welfare derives from its role as an academic
discipline. In this context, social welfare is “the study of agancies,
programs, personnel, and policies which focus on the delivery of social
services to individuals, groups, and communities”.
Definisi di atas menjelaskan bahwa arti lain dari kesejahteraan sosial
berasal dari peranannya sebagai suatu disiplin akademik. Dalam hubungan ini,
kesejahteraan sosial adalah studi tentang lembaga-lembaga, program-program,
personel, dan kebijakan-kebijakan yang memusatkan pada pemberian pelayanan-
pelayanan sosial kepada individu-individu, kelompok-kelompok, dan masyarakat-
masyarakat. Dijelaskan dalam definisi tersebut bahwa kesejahteraan yaitu
mencakup seluruh yang berkaitan kehidupan sosial, yang diberikan dalam bentuk
pelayanan dalam sebuah program dan kebijakan yang memusatkan pada
pemberian pelayanan kepada seluruh yang membutuhkan pelayanan sosial.
Kesejahteraan sosial dalam kaitannya sebagai disiplin akademik merujuk
dengan ilmu kesejahteraan sosial yang merupakan suatu ilmu yang mencoba
mengembangkan pemikiran, strategi, dan teknik untuk meningkatkan derajat
sejahtera suatu masyarakat. Dikutip oleh Adi (2015: 23) menjelaskan bahwa:
Ilmu kesejahteraan sosial adalah ilmu terapan yang mengkaji dan
menggembangkan kerangka pemikiran serta metodologi yang dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup (kondisi) masyarakat
antara lain melalui pengelolaan masalah sosial; pemenuhan kebutuhan
hidup masyarakat, dan pemaksimalan kesempatan anggota masyarakat
untuk berkembang.
Definisi tersebut menjelaskan bahwa ilmu kesejahteraan sosial merupakan
ilmu terapan yang mengembangkan pemikiran-pemikiran tentang kesejahteraan
sosial dengan berbagai cara atau metode serta teknik penanganan untuk mencapai
suatu kondisi masyarakat yang sejahtera.
Kesejahteraan sosial memiliki tujuan-tujuan yang jelas untuk mencapai
terwujudnya suatu kondisi sejahtera yang diharapkan. Fahrudin (2012:10)
diantaranya:
1) Untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dalam arti tercapainya standar
kehidupan pokok seperti sandang, perumahan, pangan, kesehatan, dan
relasi-relasi sosial yang harmonis dengan lingkungannya.
2) Untuk mencapai penyesuaian diri yang baik khususnya dengan masyarakat
di lingkungannya, misalnya dengan menggali sumber-sumber,
meningkatkan, dan mengembangkan taraf hidup yang memuaskan.
Tujuan utama dari kesejahteraan sosial adalah untuk mewujudkan
keberfungsian sosial manusia, agar dapat terpenuhinya kebutuhan dan tercapainya
relasi serta adaptasi dengan lingkungan secara baik di masyarakat. Kesejahteraan
sosial bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi tekanan-tekanan yang
diakibatkan terjadinya konsekuensi-konsekuensi sosial yang negatif akibat
pembangunan serta menciptakan kondisi-kondisi yang mampu mendorong
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Friendlander & Apte dikutip dari Fahrudin
(2012:12) diantaranya:
1) Fungsi Pencegahan (Preventive)
Kesejahteraan sosial ditujukan untuk memperkuat individu, keluarga,
dan masyarakat supaya terhindar dari masalah-masalah sosial baru.
Dalam masyarakat transisi, upaya pencegahan ditekankan pada
kegiatan-kegiatan untuk membantu menciptakan pola-pola baru dalam
hubungan sosial serta lembaga-lembaga sosial baru.
2) Fungsi Penyembuhan (Curative)
Kesejahteraan sosial ditujukan untuk menghilangkan kondisi-kondisi
ketidakmampuan fisik, emosional, dan sosial agar orang yang
mengalami masalah tersebut dapat berfungsi kembali secara wajar
dalam mayarakat. Dalam fungsi ini tercakup juga fungsi pemulihan
(rehabilitasi).
3) Fungsi Pengembangan (Development)
Kesejahteraan sosial berfungsi untuk memberikan sumbangan
langsung ataupun tidak langsung dalam proses pembangunan atau
pengembangan tatanan dan sumber-sumber daya sosial dalam
masyarakat.
4) Fungsi Penunjang (Supportive)
Fungsi ini mencakup kegiatan-kegiatan untuk membantu mencapai
tujuan sektor atau bidang pelayanan kesejahteraan sosial yang lain.
Fungsi-fungsi tersebut berusaha dicapai untuk mengurangi tekanan dan
mencegah munculnya masalah sosial baru. Secara kompleks fungsi-fungsi
kesejahteraan sosial masing-masing fungsinya memiliki fokus tersendiri. Pada
fungsi pencegahan ditujukan untuk memperkuat setiap orang untuk terhindar dari
masalah baru. Fungsi penyembuhan ditujukan untuk pemulihan bagi setiap orang
pada masalah kondisi pribadi agar berfungsi kembali. Pada fungsi pengembangan
ditujukan ujmtuk memberikan atau membantu pada proses pengembangan sumber
daya sosial masyarakat. Pada fungsi penunjang untuk membantu mencapai sektor
pelayanan sosial lainnya.
2.1.2 Pelayanan Sosial
Pelayanan sosial merupakan suatu pekerjaan yang menjadi suatu
kewajiban dalam tuntutan pekerjaan yang dilakukan secara sistematis sebasgai
upaya untuk peningkatan kesejahteraan sosial dan mewujudkan kembalinya
keberfungsian sosial setiap individu. Sehingga tercapainya tujuan setiap orang dan
terciptanya kondisi yang sejahtera. Pelayanan-pelayanan sosial secara luas
menurut Sainsbury meliputi kesehatan, pendidikan, pemeliharaan penghasilan,
perumahan dan pelayanan sosial personal. Pengertian pelayanan sosial menurut
Sainsbury dikutip Fahrudin (2012: 50) menyatakan bahwa:
Pelayanan-pelayanan sosial adalah pelayanan yang digunakan untuk
semua (communal services) yang berkepentingan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan sosial dan mengurangi jenis-jenis masalah sosial
tertentu khususnya, kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah yang
memerlukan penerimaan publik secara umum atas tanggung jawab sosial
dan yang tergantung pada pengorganisasian hubungan-hungan sosial untuk
pemecahannya.
Definisi tersebut menjelaskan bahwa pelayanan-pelayanan sosial berlaku
untuk semua orang dan dilihat secara luas aspek pelayanan yang diperlukan.
Tujuannya dari pelayanan sosial agar tercapainya seluruh kebutuhan-kebutuhan
setiap orang dan mengurangi serta mengatasi masalah-masalah sosial setiap orang,
agar perannya dimasyarakat dapat diterima dan berfungsi kembali.
Merujuk pada peran individu pelayanan sosial memiliki pelayanan khusus
kepada personal, maka terdapat definisi pelayanan sosial dalam arti sempit
menurut Romanyshyn yang dikutip Fahrudin (2012: 51) pelayanan sosial adalah:
Pelayanan sosial sebagai usaha-usaha untuk mengembalikan,
mempertahankan, dan meningkatkan keberfungsian individu-individu dan
keluarga-keluarga melalui (1) sumber-sumber sosial pendukung, dan (2)
proses-proses yang meningkatkan kemampuan individu-individu dan
keluarga-keluarga untuk mengatasi stress dan tuntutan-tuntutan kehidupan
sosial yang normal.
Definisi tersebut menjelaskan bahwa pelayanan sosial yang mencakup
ruang lingkup yang sempit termasuk dalam kategori pelayanan yang merujuk pada
individu dan keluarga. Untuk membantu meningkatkan kemampuan individu dan
keluarga supaya tercapai kondisi sejahtera dengan terpenuhinya kebutuhan,
melalui penguatan diri dan kemampuan dalam menghadapi segala tuntukan
perubahan hidup di lingkungan bermasyarakat.
Pada intinya pelayanan sosial memiliki konsep dengan dua pengertian
dalam arti luas dan arti sempit. Idealnya, pelayanan-pelayanan kesehatan,
pendidikan, perumahan, jaminan sosial, pelatihan kerja, dan pelayanan sosial
personal (semuanya mencakup sebagai pelayanan sosial dalam arti luas)
disediakan pada tingkat minimal untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan
keberfungsian orang-orang.
2.1.3 Pekerjaan Sosial
Pekerjaan sosial merupakan aktivitas professional yang dilakukan oleh
pekerja sosial dan ahli lainnya dalam upaya untuk mewujudkan keberfungsian
sosial dan mencapai derajat kehidupan yang sejahtera. Pekerjaan sosial adalah
profesi kemanusiaan yang mengalami perkembangan sejalan dengan tuntutan
perubahan dan aspirasi masyarakat. Pekerjaan sosial menurut Zastrow dikutip
Suharto (2009:1) adalah:
Pekerjaan sosial adalah aktivitas profesional untuk menolong individu,
kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki
kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan menciptakan kondisi
masyarakat yang kondusif untuk mencapai tujuan tersebut.
Definisi tersebut menyatakan bahwa praktik pekerjaan sosial yang
dilakukan merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh ahli pekerja sosial
maka disebut sebagai aktivitas professional. Tujuannya dari pekerjaan sosial
adalah fokus pada keberfungsian sosial individu, kelompok dan masyarakat agar
terciptanya suatu kondisi yang sejahtera. Pekerjaan sosial menurut studi
kurikulum yang disponsori oleh the Council on Social Work Education dalam
Fahrudin (2012:59) dinyatakan bahwa:
Social work seeks to enhance the social functioning of individuals, singly
and in groups, by activities focused upon their social relationships which
constitute the interaction between man and his environment. These
activities can be grouped into three functions: restoration of impaired
capacity, provision of individual and social resources, and prevention of
social dysfunction.
Pekerjaan sosial berusaha untuk meningkatkan keberfungsian sosial
individu, secara sendiri-sendiri atau dalam kelompok, dengan kegiatan-kegiatan
yang dipusatkan pada hubungan-hubungan sosial mereka yang merupakan
interaksi antara orang dan lingkungannya. Kegiatan-kegiatan ini dapat
dikelompokan menjadi tiga fungsi: pemulihan kemampuan yang terganggu,
penyediaan sumber-sumber individu dan sosial, dan pencegahan disfungsi sosial.
Kegiatan professional yang dilakukan pekerja sosial berdasarkan
penerapan praktik professional yang memiliki tujuan-tujuan tertentu, sehingga
mampu menciptakan kondisi sosial yang mendukung tujuan tersebut. Pekerja
sosial menurut Asosiasi Nasional Pekerja Sosial Amerika Serikat (NASW) dalam
Fahrudin (2012:60) adalah:
“Social work is the professional activity of helping individuals, groups, or
communities to enchance or restore their capacity for social functioning
and to create societal conditions favorable to their goals. Social work
practice consist of the professional application of social work values,
principles, and techniques to one or more of the following ends: helping
people obtain tangible services; providing counseling and psychotherapy
for individuals, families, and groups; helping communities or groups
provide or improve social and health services; and participating in
relevant legislative processes. The practice of social work requires
knowledge of human development and behavior; of social, economic, and
cultural institutions; and of the interaction of all these factors”.
Pekerjaan sosial adalah kegiatan professional membantu individu,
kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan atau memulihkan kemampuan
mereka berfungsi sosial dan untuk menciptakan kondisi sosial yang mendukung
tujuan-tujuan ini. Praktik pekerjaan sosial terdiri atas penerapan profesional dari
nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan teknik-teknik pekerjaan sosial pada satu atau lebih
dari tujuan-tujuan berikut: membantu orang memperoleh pelayanan-pelayanan
nyata; memberikan konseling dan psikoterapi untuk individu-individu, keluarga-
keluarga, dan kelompok-kelompok; membantu komunitas atau kelompok
memberikan atau memperbaiki pelayanan-pelayanan sosial dan kesehatan; dan
ikut serta dalam proses-proses legislatif yang berkaitan. Praktik pekerjaan sosial
memerlukan pengetahuan tentang perkembangan dan perilaku manusia; tentang
institusi-institusi sosial, ekonomi, dan kultural; dan tentang interaksi antara semua
faktor ini.
Pekerja sosial adalah aktifitas profesional untuk membantu individu,
kelompok ataupun masyarakat dalam pemecahan masalah sosial yang kaitannya
untuk perubahan sosial. Dimana pekerja sosial sebagai profesinya menggunakan
nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan pekerjaan sosial, seperti yang
dinyatakan dalam definisi pekerjaan sosial. Pekerja sosial menurut International
Federation of Social Work (IFSW) dikutip Fahrudin (2012:61) mendefinisikan
sebagai berikut:
“The social work professional promotes problem solving in human
relationships, social change, empowerment and liberation of people, and
the enhancement of society. Utilizing theories of human behavior and
social systems, social work intervenes at the points where people interact
with their environments. Principles of human rights and social justice are
fundamental to social work”.
Profesi pekerjaan sosial mendorong pemecahan masalah dalam kaitannya
dengan relasi kemanusiaan, perubahan sosial, pemberdayaan dan pembebasan
manusia, serta perbaikan masyarakat. Menggunakan teori-teori perilaku manusia
dan sistem-sistem sosial, pekerjaan sosial melakukan intervensi pada titik (atau
situasi) dimana orang berinteraksi dengan lingkungannya. Prinsip-prinsip hak
asasi manusia dan keadilan sosial sangat penting bagi pekerjaan sosial. \
Definisi di atas menjelaskan bahwa profesi pekerjaan sosial dibentuk
untuk membantu masyarakat dalam memecahkan masalah sosial dan mendukung
agar tercapainya suatu perubahan sosial. Selain itu profesi pekerjaan sosial
melakukan profesinya didasarkan pada pengetahuan seperti teori-teori perilaku
manusia dan sistem sosial. Profesi pekerjaan sosial dalam setiap kegiatannya
merujuk pada prinsip hak asasi manusia dan keadilan sosial bagi masyarakat.
Pekerja sosial menurut Kode Etik Asosiasi Pekerjaan Sosial Australia
dalam Adi (2015:30) adalah; “Social workers are dedicated to serve for the
welfare and self-fulfilment of human beings as well as the societies in which they
live. The achievement of social justice is thus co-equal with the attainment of
fulfillment for the individual. The social work prefession takes as its clients
individuals, families, groups, organisations, communities or societies. In this
document ‘client’ may mean any of these and may include those offering or
providing services as well as the person or persons receiving service”.
Pekerja sosial mendedikasikan layanannya untuk kesejahteraan dan
pengembangan diri dari manusia dan juga masyarakat di mana mereka tnggal.
Pencapaian keadilan sosial haruslah sejalan dengan pencapaian pemenuhan
kebutuhan individu. Profesi pekerja sosial mengambil kliennya dari individu,
keluarga, kelompok, organisasi, komunitas ataupun masyarakat yang lebih luas.
Dalam dokumen ini ‘klien’ bisa termasuk apa yang tertulis di atas, dan juga
termasuk mereka yang menertawakan atau menyediakan layanan, serta mereka
yang menerima layanan.
Berdasarkan uraian tersebut dijelaskan bahwa profesi pekerja sosial
berbeda dengan volunteer atau sukarelalawan. Hal ini karena pekerja sosial telah
melewati pendidikan formal, serta memiliki kode etik ketika menjalankan praktik.
Berbeda degan volunteer yang dilakukan hanya didasarkan karena kegiatan amal.
Tujuan utama dari pekerjaan sosial yang melakukan praktik pekerjaan
sosial adalah untuk mengembalikan keberfungsian sosial. Ketika mereka
berfungsi sosialnya, maka mereka bisa melakukan sesuatu hal untuk
mengupayakan kehidupan dengan memenuhi kebutuhan dan mencapai derajat
kehidupan yang lebih baik. Dengan kata lain, nilai, pengetahuan dan keterampilan
profesional yang digunakan pekerja sosial pada dasarnya adalah untuk
meningkatkan keberfungsian sosial (social funcioning) klien yang dibantunya.
Siporin dalam Fahrudin (2011:156) menyatakan bahwa: “social
functioning refers to the way individuals or collectivities (families, associations,
communities and so on) behave in order to carry out their life task and meet their
needs”. Keberfungsian sosial merujuk pada cara-cara individu-individu maupun
kolektivitas dalam rangka melaksanakan tugas-tugas kehidupnnya dan memenuhi
kebutuhannya. Oleh karena itu, keberfungsian sosial orang berkaitan dengan
peranan-peranan sosialnya, maka keberfungsian sosial dapat pula diartikan
sebagai kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dalam menampilkan beberapa
peranan yang diharapkan atau yang seyogianya ditampilkan oleh setiap orang
karena keanggotaannya dalam kelompok-kelompok sosial.
Berdasarkan uraian definisi di atas, menurut Dwi Heru Sukoco (1991),
keberfungsian sosial dapat dipandang dari berbagai segi yang dikutip dari
Fahrudin (2011:157) yaitu:
a. Keberfungsian sosial dipandang sebagi kemampuan melaksanakan
peranan sosial, yaitu sebagai penampilan pelaksanaan peranan yang
diharapkan sebagai anggota suatu kolektifitas.
b. Keberfungsian sosial dipandang sebagai kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan, yaitu mengacu kepada cara-cara yang digunakan oleh individu
maupun kolektivitas dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.
c. Keberfungsian sosial dipandang sebagai kemampuan untuk memecahkan
permasalahan sosial yang dialaminya.
Pekerjaan sosial merupakan suatu aktivitas profesional yang dilakukan
atas dasar kerangka pengetahuan (body of knowledge), kerangka keahlian (body of
skill), dan kerangka nilai (body of values) yang secara integratif membantu
pendekatan pekerja sosial. Pekerjaan sosial memiliki tujuan dan fokusnya, kinerja
pekerja sosial dalam melaksanakan praktiknya untuk membantu mengembalikan
keberfungsian sosial dilihat dari beberapa strategi pekerjaan sosial menurut
Dubois dan milley dikutip Suharto (2009: 5) adalah:
1. Meningkatkan kemampuan orang dalam menghadapi masalah yang
dialaminya.
2. Menghubungkan orang dengan sistem dan jaringan sosial yang
memungkinkan mereka menjangkau atau memperoleh berbagai
sumber, pelayanan dan kesempatan.
3. Meningkatkan kinerja lembaga-lembaga sosial sehingga mampu
memberikan pelayanan sosial secara efektif, berkualitas dan
berperikemanusiaan.
4. Merumuskan dan mengembangkan perangkat hukum dan peraturan
yang mampu menciptakan situasi yang kondusif bagi tercapainya
kemerataan ekonomi dan keadilan sosial.
Pekerja sosial berbeda dengan profesi lain, seperti dengan psikolog, dokter
ataupun sosiolog. Pekerja sosial dalam praktiknya tidak hanya melihat klien
sebagai sasaran perubahan, tetapi juga meilhat dari berbagai ruang lingkup seperti
situasi dan lingkungan sosial dimana klien berada beserta dengan orang-orang
yang terkait di lingkungan sosial yang mempengaruhi klien. Oleh karena itu fokus
utama pekerjaan sosial adalah meningkatkan keberfungsian sosial (social
functioning) melaui intervensi yang bertujuan atau bermakna.
Keberfungsian sosial menurut Skidmore, Thackeray dan Farley dalam dari
Suharto (2009: 5) adalah: “Keberfungsian sosial merupakan konsepsi penting bagi
pekerjaan sosial. Ia merupakan pembeda antara pekerjaan sosial dan profesi
lainnya”. Pekerjaan sosial berusaha untuk mempertahankan, memperbaiki dan
meningkatkan keberfungsian sosial individu, kelompok ataupun masyarakat.
Setiap orang memiliki peranan sosial yang menjadi kapasitas seseorang dalam
menjalankan tugas-tugas kehidupannya sesuai dengan status perannya.
Barlett dalam Fahrudin (2012:62) menyatakan bahwa: “Keberfungsian
sosial merupakan fokus utama pekerjaan sosial. Keberfungsian sosial adalah
kemampuan mengatasi (coping) tuntutan (demands) lingkungan yang merupakan
tugas-tugas kehidupan”. Artinya seseorang dikatakan berfungsi sosialnya apabila
dapat mengatasi dan menjalankan tuntutan sesuai peran sosialnya di
lingkungannya yang merupakan sebagai bagian tugas-tugas kehidupannya.
Siporin dalam fahrudin (2012:62) menyatakan bahwa: “Keberfungsian
sosial merujuk pada cara individu-individu atau kolektivitas-seperti keluarga,
perkumpulan, komunitas, dan sebagainya-berperilaku untuk dapat melaksanakan
tugas-tugas kehidupan mereka dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka”.
Definisi tersebut menjelaskan bahwa seseorang dikatakan berfungsi sosialnya jika
ia mampu memenuhi kebutuhan dan menjalankan kehidupan sesuai peran
sosialnya di lingkungan sesuai tuntutan peranannya.
Peranan sosial dimiliki oleh setiap individu dalam mempertahankan
kehidupannya, maka setiap orang akan berusaha mempertahankan dan memenuhi
kebutuhan hidup dengan cara-caranya serta menjalankan tugas-tugas kehidupan
agar terpenuhinya kehidupan yang sejahtera. Fahrudin (2012:63) menyatakan
bahwa:
Keberfungsian sosial menunjukan keseimbangan pertukaran, kesesuaian,
kecocokan, dan penyesuaian timbal balik antara orang, secara individual
atau secara kolektif, dan lingkungan mereka. Keberfungsian sosial dinilai
berdasarkan apakah keberfungsian sosial tersebut memenuhi kebutuhan
dan memberikan kesejahteraan kepada orang dan komunitasnya, dan
apakah keberfungsian sosial itu normal dan dibenarkan secara sosial.
Hal tersebut menjelaskan bahwa tercapainya dan terpenuhi keberfungsian
sosial seseorang akan mencapai titik keseimbangan hidup dengan terpenuhinya
segala kebutuhan dan tuntutan hidup. Selain itu tidak hanya terpenuhinya
kebutuhan, tetapi juga peranan sosialnya berjalan sesuai dengan tuntutan peran
sosialnya di lingkungan masyarakat. Peranan di lingkungan sosial dengan
kebutuhan saling terkait, karena relasi dengan individu, kelompok ataupun di
masyarakat menjadi suatu kebutuhan dalam status sosial seseorang dalam
hubungan timbal balik. Adanya relasi diantara orang yang saling mempengaruhi
akan membantu memenuhi tuntutan dalam peranan sosial.
Fokus pekerjaan sosial adalah untuk mengembalikan keberfungsian sosial,
maka merujuk pada praktik pekerjaan sosial memiliki tujuan praktik pekerjaan
soisla menurut NASW yang dikutip Fahrudin (2012: 66) adalah:
1) Meningkatkan kemampuan-kemampuan orang untuk memecahkan
masalah, mengatasi (coping), perkembangan.
2) Menghubungkan orang dengan sistem-sistem yang memberikan kepada
mereka sumber-sumber, pelayanan-pelayanan, dan kesempatan-
kesempatan.
3) Memperbaiki keefektifan dan bekerjanya secara manusiawi dari sistem-
sistem yang menyediakan orang dengan sumber-sumber dan pelayanan-
pelayanan.
4) Mengembangkan dan memperbaiki kebijakan sosial.
Penjelasan tersebut menyatakan bahwa profesi pekerjaan sosial berusaha
meningkatkan kesejahteraan sosial individu, kelompok ataupun masyarakat.
Upaya yang dilakukan dalam praktik pekerjaan sosial adalah untuk meningkatkan
kemampuan, mengatasi masalah hingga menghubungkan kepada sistem sumber
dan pelayanan-pelayanan sosial, dan memperbaiki kebijakan sosial yang ada.
Pada intinya tujuan profesi pekerja sosial adalah untuk meningkatkan dan
mewujudkan tercapainya kesejahteraan sosial yaitu kesejahteraan manusia.
Profesi pekerja sosial tentunya dalam menjalankan praktiknya memiliki metode
dan teknik pekerjaan sosial. Pekerja sosial secara tradisional memiliki tiga metode
pokok dan tiga metode pembantu, Fahrudin (2012:71) menyatakan bahwa:
“Metode pokok tersebut adalah social case work, social group work dan
community organization/community development. Metode pembantunya adalah
social work administration, social action, dan social work research”.
Social case work atau metode intervensi sosial pada individu ini merujuk pada
upaya menangani masalah keberfungsian sosial yang dialami individu dengan
melibatkan keluarga ataupun orang-orang terdekat individu. Tujuannya agar
individu dan keluarga dapat menggunakan keberfungsian sosialnya dan
melaksanakan tugas-tugas sesuai perannya di lingkungan sosial. Dikutip dari
Wibhawa, Raharjo dan Budiarti (2010:93) adalah:
Metode social case work bersifat individual- karenanya dikatakan pendekatan
mikro-, yaitu membantu individu-individu yang memiliki masalah, baik yang
bersifat eksternal, artinya memiliki masalah yang bersumber dari lingkungan
sosialnya maupun individu-individu yang mengalami masalah yang bersumber
dari dalam dirinya sendiri. Dalam praktiknya, metode social case work
mengkombinasikan elemen-elemen psikologis dan sosial; dan karenanya
metode social case work mempunyai sifat-sifat psikososial.
Berdasarkan pada metode social case work pekerja sosial menggunakan
pendekatan mikro yaitu dalam konteks yang bersifat individual. Tujuannya adalah
untuk membentuk individu yang memiliki masalah baik yang berasal dari
lingkungan sosial ataupun dari dalam dirinya sendiri dan dalam praktiknya yang
melibatkan perhatian pada sifat psikososial. Berbicara mengenai pendekatan
mikro (metode social case work) dalam profesi pekerjaan sosial, maka kajiannya
dapat dibagi menjadi dua bagian, dikutip dari Wibhawa, Raharjo dan Budiarti
(2010:93) adalah:
Pertama adalah bidang-bidang yang bersifat penyembuhan (problem solving)
dan konseling (therapy) yaitu bagi orang-orang yang memiliki masalah dan
kedua adalah kajian yang bersifat pengembangan diri, baik dalam
meningkatkan aspek pengetahuan, sikap maupun dalam bidang keterampilan.
Social group work atau metode intervensi sosial pada kelompok merupakan
upaya intervensi pada kelompok kecil atau metode pekerjaan sosial yang
menggunakan kelompok sebagai media dalam proses pertolongan profesionalnya.
Suharto (2009: 38) dalam Alissi menyatakan bahwa:
Mengonsentrasikan diri pada pemberian pengalaman-pengalaman
kelompok untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan perkembangan secara
normal, membantu mencegah perpecahan sosial, memudahkan tujuan-
tujuan korektif rehabilitative, serta mendorong keterlibatan dan tanggung
jawab penduduk dalam aksi sosial.
Definisi tersebut menjelaskan bahwa pada terapi kelompok fokus pada
pemberian pengalaman agar mereka sadar akan keberadaan mereka sebagai
anggota kelompok. Tentunya agar dapat memecahkan masalah dan memenuhi
kebutuhan serta tanggung jawab yang didasarkan pada tujuan yang akan dicapai.
Community Organization/Community Development (CO/CD) merupakan
salah satu metode dalam praktik pekerjaan sosial dengan fokus utama adalah level
komunitas atau masyarakat yang lebih luas. Praktik ini berkaitan dengan kegiatan-
kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk meningkatkan tingkat keberfungsian
sosial masyarakat.
Pekerja sosial dalam menjalankan praktiknya tentunya memiliki peran-
peran tertentu, yang bertujuan untuk membantu individu, kelompok atau
komunitas dan masyarakat agar dapat mengungkapkan dan memenuhi kebutuhan,
mengatasai masalah mereka, dan mengembangkan kemampuan mereka. Beberapa
peran pekerja sosial dikutip dari Huda (2009:205) adalah:
1. Enabler: Dalam peran ini, pekerja sosial membentu klien untuk
memenuhi kebutuhannya, mengidentifikasi masalah, mengeksplorasi
solusi-solusi strategi dan mengembangkan kapasitasnya sehingga
masalahnya dapat teratasi secara efektif.
2. Broker: Tidak semua orang mempunyai hubungan yang baik dengan
sumber-sumber pelayanan sosial. Baik karena pengetahuan yang
minim maupun keahliannya yang terbatas. Pekerja sosial dapat
berperan sebagai broker (pialang sosial) yang menghubungkan
seseorang (klien) dengan sitem suber yang dibutuhkan.
3. Advocate: Peran ini dipinjam dari dunia hukum. Hak-hak klien sebagai
warga Negara acap kali terabaikan karena faktor-faktor tertentu.
sebagaimana halnya pengacara (advocate), pekerja sosial dapat
berperan membela kepentingan klien agar hak-hak yang semestinya
diperoleh dapat terpenuhi.
4. Pendidik: Salah satu masalah yang sering dihadapi klien adalh adanya
keterbatasan pengetahuan maupun skill dalam bidang tertentu yang
mengakibatkan klien berada dalam status kelompok masyarakat yang
kurang beruntung (disadvantage group).
5. Memberdayakan: Adanya kekuatan maupun potensi pada diri klien
menjadi prinsip utama dalam proses penyembuhan sosial. Karena itu,
pekerja sosial berperan untuk memberdayakan klien terhadap potensi
maupun kekuatan yang dimilikinya.
6. Aktivis: Sering kali peran menjadi aktivis dapat dilakukan oleh pekerja
sosial. Jadi pada dasarnya aktivis pergerakan sosial seorang pekerja
sosial yang bekerja untuk menjunjung tinggi keadilan sosial ataupun
persamaan hak adalah bagian dari profesi pekerja sosial.
Peran-peran pekerja sosial tidak hanya yang disebutkan di atas, tetapi
terdapat peran lain yang bisa dilakukan pekerja sosial dalam menjalankan praktik
pekerjaan sosial. Menurut parsons, Jorgensen dan Hernandez dalam Suharto
(2010: 97) ada beberapa peran pekerja sosial dalam pembimbingan sosial yang
relevan diketahui oleh pekerja sosial yang akan melakukan pendampingan sosial
yaitu: “Fasilitator, Broker, Mediator, Pembela (advocacy), dan Pelindung
(protector)”.
Fasilitator dalam literature pekerjaan sosial sering disebut sebagai
“pemungkin” (enabler). Menurut Barker dikutip Suharto (2010: 98) adalah:
“Pemungkin atau fasilitator sebagai tanggung jawab untuk membantu klien
menjadi mampu menangani tekanan situasional atau tradisional. Strategi-strategi
khusus untuk mencapai tujuan tersebut meliputi: pemberian harapan, pengurangan
penolakan dan ambivalensi, pengakuan dan pengaturan perasaan-perasaan,
pengidentiifikasian dan pendorongan kekuatan-kekuatan personal dan asset-asset
sosial, pemilahan masalah menjadi beberapa bagian sehingga lebih mudah
dipecahkan, dan pemeliharaan sebuah fokus pada tujuan dan cara-cara
pencapaiannya”.
Broker dalam konteks pendampingan sosial, peran pekerja sosial sebagai
broker tidak jauh berbeda dengan peran broker di pasar modal., terdapat klien atau
konsumen. Pemahaman pekerja sosial sebagai broker mengenai kualitas
pelayanan sosial di sekitar lingkungannya menjadi sangat penting dalam
memenuhi kinginan kliennya memperoleh keuntungan maksimal.
Mediator menjadi salah satu peran-peran pekerja sosial yang sering dilakukan
dalam berbagai kegiatan. Peran mediator diperlukan saat terdapat perbedaan
mencolok dan mengarah pada konflik antara berbagai pihak. Lee dan Swenson
dikutip Suharto (2010:101) adalah: “Pekerja sosial dapat memerankan “fungsi
kekuatan ketiga” untuk menjembatani antara anggota kelompok dan sistem
lingkungan yang menghambatnya”. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan
mediator meliputi kontrak perilaku, negosiasi, pendamai pihak ketiga, serta
berbagai macam resolusi konflik.
Pembela (advocacy) merupakan peran dalam pekerjaan sosial yang
dihadapkan pada sistem politik dalam rangka menjamin kebutuhan dan sumber
yang diperlukan oleh klien atau dalam melaksanakn tujuan-tujuan pendampingan
sosial. Jika terdapat pelayanan-pelayanan dan sumber-sumber yang sulit dijangkau
oleh klien maka pekerja sosial harus memainkan peranannya sebagai pembela.
Pelindung merupakan peran pekerja sosial bahwa tanggung jawab pekerja
sosial terhadap masyarakat didukung oleh hukum. Hukum tersebut memberikan
legitimasi kepada pekerja soial dalam untuk menjadi pelindung (protector)
terhadap orang-orang yang lemah dan rentan. Peran sebagai pelindung mencakup
penerapan berbagai kemampuan yang menyangkut: (a) kekuasaan, (b) pengaruh,
(c) otoritas, dan (d) pengawasan sosial.
Seorang pakar pekerjaan sosial, Soetarso mendefinisikan peranan sebagai
sekumpulan kegiatan altruis yang dilakukan guna tercapainya tujuan yang telah
ditentukan bersama antara penyedia dan penerima pelayanan. Peranan merupakan
cara yang dilakukan oleh seseorang untuk menggunakan kemampuannya dalam
situasi tertentu. Zastrow dalam Huraerah (2008: 149) yaitu:
a. Enabler: peranan sebagai enabler adalah membantu masyarakat agar dapat
mengartikulasikan atau mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan mereka,
menjelaskan dan mengidentifikasikan masalah-masalah mereka, dan
mengembangkan kemampuan mereka agar dapat menangani masalah yang
mereka hadapi secara lebih efektif.
b. Broker: peranan seorang broker adalah menghubungkan individu dan
kelompok yang membutuhkan pertolongan dengan pelayanan masyarakat.
Peranan ini dilakukan oleh seorang broker karena individu atau kelompok
tersebut kerapkali tidak mengetahui dimana dan bagaimana mendapatkan
pertolongan tersebut.
c. Expert: sebagai seorang expert, ia berperan menyediakan informasi dan
memberikan saran-saran dalam berbagai area.
d. Social planner: seorang social planner berperan mengumpulkan fakta-
fakta tentang masalah sosial dan menganalisis fakta-fakta tersebut serta
menyusun alternative tindakan yang rasional dalam menangani masalah
tersebut.
e. Advocat: peranan sebagai advocate dipinjam dari profesi hukum. Peranan
ini adalah peranan yang aktif dan terarah, dimana community organizer
atau community worker melaksanakan fungsinya sebagai advocate yang
mewakili kelompok masyarakat yang membutuhkan pertolongan ataupun
pelayanan, tetapi indtitusi yang seharusnya memberikan pertolongan
tersebut tidak memperdulikan ataupun menolak tuntutan masyarakat.
f. The activist: sebagai activist, ia senantiasa melakukan perubahan yang
mendasar dan sering kali tujuannya adalah pengalihan sumber daya
ataupun kekuasaan pada kelompok masyarakat yang tidak beruntung
(disadvantage group).
2.2 Tinjauan Metode Intervensi Pekerjaan Sosial
2.2.1 Metode Intervensi Pekerjaan Sosial
Metode intervensi sosial dalam ilmu kesejahteraan sosial merupakan suatu
upaya untuk memperbaiki keberfungsian sosial dari individu, kelompok, dan
masyarakat. Menurut Rukminto (2013: 161) metode intervensi sosial, sebagai
berikut :
a. Intervensi Sosial pada individu dan keluarga atau (Casework).
b. Intervensi sosial kelompok atau (Social Grup Work).
c. Intervensi sosial komunitas dan organisasi atau (Community Organization
Community Development). Metode intervensi sosial komunitas merupakan
metode yang diarahkan pada upaya mengubah masyarakat di tingkat yang
lebih luas, seperti di tingkat provinsi. Dengan kata lain metode intervensi
ini berfokus pada stategi dalam pengembangan masyarakat, seperti
pembangunan ekonomi, kebutuhan dasar, dan kesejahteraan sosial rakyat
di suatu negara.
Penjelasan di atas merupakan suatu metode intervensi sosial pada individu
pada dasarnya terkait dengan upaya memperbaiki atau meningkatkan
keberfungsian sosial individu (individual social functioning) agar individu dan
keluarga tersebut dapat berperan dengan baik sesuai dengan tugas sosial dan
individu mereka. Dalam hal ini keluarga menjadi fokus intervensi karena masalah
yang dihadapi individu biasanya dipengaruhi oleh anggota keluarga mereka.
Penjelasan tentang metode intervensi sosial pada kelompok merupakan suatu
metode yang dilakukan terhadap seseorang dalam suatu kelompok untuk
meningkatkan keberfungsian sosialnya di dalam kelompok tersebut. Dengan kata
lain metode sosial kelompok adalah suatu metode untuk mengembangkan relasi
sosial dimana kelompok digunakan sebagai medianya karena kelompok itu
memiliki kekuatan terhadap anggotanya itu sendiri untuk meningkatkan kualitas
hidupnya.
Penjelasan tentang metode intervensi sosial komunitas merupakan metode
yang diarahkan pada upaya mengubah masyarakat di tingkat yang lebih luas
jangkuannya, seperti di tingkat provinsi. Dengan kata lain metode intervensi ini
berfokus pada stategi dalam pengembangan masyarakat, seperti pembangunan
ekonomi, kebutuhan dasar, dan kesejahteraan sosial rakyat di suatu negara.
2.2.2 Tahap-tahap Intervensi Pekerjaan Sosial
Pelayanan sosial dalam prosesnya mengacu pada tahap-tahap intervensi
pekerjaan sosial melalui proses pertolongan dalam beberapa bagian sistem sosial
seperti yang diungkapkan oleh Siporin yang dikutip Iskandar (2013:65), sebagai
berikut :
a. Tahap Engagement, Intake dan Kontrak.
Tahap ini adalah tahap permulaan pekerja sosial bertemu dengan klien.
Dalam proses ini terjadi pertukaran informasi mengenai apa yang
dibutuhkan klien, pelayanan apa yang dapat diberikan oleh pekerja sosial
dan lembaga sosial dalam membantu memenuhi kebutuhan klien atau
memecahkan masalah klien. Kontrak adalah kesepakatan antara pekerja
sosial dengan klien yang di dalamnya dirumuskan hakekat permasalahan
klien, tujuan-tujuan pertolongan yang hendak dicapai, peranan-peranan
dan harapan-harapan pekerja sosial dan klien, metode- metode pertolongan
yang akan digunakan serta pengaturan-pengaturan pertolongan lainnya.
b. Tahap Assesment
Assesment proses pengungkapan dan pemahaman masalah klien, yang
meliputi: bentuk masalah, ciri-ciri masalah, ruang lingkup masalah, faktor-
faktor penyebab masalah, akibat dan pengaruh masalah, upaya pemecahan
masalah yang terdahulu yang pernah dilakukan oleh klien, kondisi
keberfungsian klien saat ini dan berdasarkan hal itu semua maka dapatlah
ditetapkan fokus atau akar masalah klien.
c. Tahap Membuat Perencanaan Intervensi
Rencana intervensi merupakan proses rasional yang disusun dan
dirumuskan oleh pekerja sosial yang meliputi kegiatan-kegiatan apa yang
akan dilakukan untuk memecahkan masalah klien, apa tujuan pemecahan
masalah tersebut,
d. Tahap Melaksanakan Program Berdasarkan rencana intervensi
Pekerja sosial mulai melaksanakan program kegiatan pemecahan masalah
klien .Dalam pelaksanaan pemecahan masalah ini hendaknya pekerja
sosial melibatkan klien secara aktif pada setiap kegiatan.
e. Tahap Evaluasi
Pada tahap ini pekerja sosial harus mengevaluasi kembali semua kegiatan
pertolongan yang telah dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilannya,
kegagalannya atau hambatan-hambatan yang terjadi. Ada dua aspek yang
harus dievaluasi oleh klien, yaitu tujuan hasil dan tujuan proses.
f. Tahap Terminasi
Tahap terminasi dilakukan bilamana tujuan pertolongan telah dicapai atau
bilamana terjadi kegiatan referral atau bilamana karena alasan- alasan yang
rasional klien meminta pengakhiran pertolongan atau karena adanya
faktor-faktor external yang dihadapi pekerja sosial atau karena klien lebih
baik dialihkan ke lembaga-lemabaga atau tenaga ahli lainnya yang lebih
berkompeten. Pembagian kerja yang jelas akan mempermudah
pelaksanaan pelayanan sosial sampai pada tujuan yang diharapkan.
Penjelasan dari enam intervensi pekerjaan sosial di atas merupakan suatu
tahapan-tahapan yang harus dipahami oleh kita sebagai pekerja sosial yang akan
membantu seseorang yang terkena permasalahan baik secara individu, kelompok
maupun komunitas yang membutuhkan pertolongan kita agar permasalahnnya
tersebut dapat terpecahkan dan dapat diselasaikan dengan baik antara klien satu
dengan klien yang terkena masalah tersebut.
2.2.3 Metode Pekerjaan Sosial
Pekerja sosial dalam menanggapi berbagai masalah fenomena sosial
termasuk pembahasan khususnya dalam penelitian yaitu mengenai pekerja sosial
dalam praktiknya dengan menggunakan metode case work dalam menangani klien
atau pasien. Pekerjaan sosial sebagai sebuah ilmu yang memiliki berbagai metode
pemecahan masalah dan dalam praktiknya yang berfokus pada hubungan antar
individu, kelompok dan masyarakat, dengan lingkungan sosial mereka, serta
menjadi profesi yang memberikan bantuan juga berusaha mengatasi masalah-
masalah, maka pekerja sosial memiliki kompetensi yang diperlukan untuk
mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi melalui metode-metode praktiknya.
Profesi pekerjaan sosial tentu membutuhkan metode dan teknik ketika
melakukan praktik pekerjaan sosial dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
sosial. Fahrudin (2014: 71) mengatakan bahwa secara tradisional pekerjaan sosial
mempunyai tiga metode pokok dan tiga metode pembantu, yaitu: “1) Metode
Pokok: Social case work, Social group work, dan Community
Organization/Community Development. 2) Metode Pembantu: Social work
administration, Social action,dan Social work research”
Social casework atau metode intervensi sosial pada individu ini merujuk
pada upaya yang dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan keberfungsian
sosial individu dengan tujuan agar individu atau keluarga dapat berperan dengan
baik sesuai dengan tugas dalam lingkup sosial maupun individu mereka.
Praktek pekerjaan sosial dalam membantu memecahkan masalah pada
individu, ataupun keluarga, dengan menggunakan social case work adalah agar
dapat memecahkan masalahnya secara lebih efektif. Social case work menurut
Aipassa (2011:1) adalah:
Social case work adalah suatu proses yang dipergunakan oleh badan-badan
sosial (human welfare agancies) tertentu untuk membantu individu-
individu agar mereka dapat memecahkan masalah-masalah yang mereka
hadapi di dalam kehidupan sosial mereka secara lebih efektif.
Pemecahan masalah dalam social case work memiliki komponen yang
menjadi sasaran dalam proses mengatasi masalah. Berdasarkan definisi proses
social case work mengandung inti dalam komponen social case work menurut
Aipassa (2011:1) adalah:
a. Person, yang membutuhkan bantuan terhadap beberapa aspek kehidupan
sosial emosionalnya dinamakan klien (client). Ia bisa seorang laki-laki
atau wanita dewasa ataupun anak-anak dan bantuan yang dibutuhkannya
dapat berupa bantuan materil ataupun nasehat.
b. Problem, dapat timbul oleh adanya kebutuhan (need), rintangan-
rintangannya dan kumpulan frustasi atau meladjusment. Sering kali semua
itu telah mengganggu kewajaran situasi hidupnya serta kemampuannya
untuk menghadapi situasi semacam ini.
c. Place, (badan sosial) adalah semacam badan sosial yang tidak berurusan
langsung dengan masalah-masalah sosial yang luas melainkan dengan
masalah manusia yang mengalami kesulitan dalam mengatasi kehidupan
pribadinya. Tujuan badab tersebut adalah membantu individu-individu
yang mengalami rintangan-rintangan sosial tertentu yang mengganggu
kehidupan pribadi dan keluarga yang wajar serta membantu individu-
individu yang mengalmi masalah yang ditimbulkan karena kekeliruan
dalam mengadakan hubungan (relationships) antara pribadi dengan
pribadi (person to person), pribadi dengan kelompok (person to group)
atau pribadi dengan situasi (person to situation).
d. Proses, social case work, memusatkan perhatian pada aspek-aspek yang
diindividualisasikan. Proses ini terdiri dari atas serangkaian usaha
pemecahan masalah (problem solving operations) yang dilakukan melalui
relationships yang diarahkan kepada tujuan tertentu yaitu mempengaruhi
pribadi klien sehingga ia dapat mengembangkan kemampuan untuk
mengatasi masalah yang dihadapinya dan atau mempengaruhi masalah
tersebut agar dapat dipecahkan.
Social group work atau metode intervensi sosial pada kelompok merupakan
suatu upaya intervensi pada kelompok kecil. Kelompok kecil ini bisa diartikan
sebagai kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih dan mereka saling
beinteraksi satu sama lainnya secara langsung, di mana mereka sadar keberadaan
mereka sebagai anggota kelompok, keberadaan anggota kelompok yang lain dan
mempunyai ikatan atau saling ketergantungan satu sama lain, serta mempunyai
keinginan untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok tersebut yang nantinya
dibentuk dengan sengaja dan dapat digunakan untuk meningkatkan keberfungsian
sosial anggotanya.
Community Organization/Community Development (CO/CD) merupakan
salah satu metode dalam praktik pekerjaan sosial dengan fokus utama adalah level
komunitas atau masyarakat yang lebih luas. CO/CD lebih dikenal dengan sebutan
pengembangan masyarakat di Indonesia. Praktik ini berhubungan dengan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan tingkat keberfungsian
sosial suatu masyarakat.