PENINGKATAN KINERJA KARYAWAN DITINJAU DARI
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PADA PERUSAHAAN
DAERAH AIR MINUM (PDAM) KABUPATEN GOWA
PROPOSAL
ERWIN
NIM: 105721142017
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIAH MAKASSAR
2021
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
Jl. Sultan Alauddin No. 259 GedungIqra Lt. 7 Telp. (0411) 866972 Makassar
HALAMAN PERSETUJUAN
Judul Penelitian : Peningkatan Kinerja Karyawan Ditinjau Dari Pendidikan
dan Pelatihan Pada perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Kabupaten Gowa
Nama Mahasiswa : Erwin
No. Stambuk/NIM : 105721142017
Program Studi : Manajemen
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Perguruan tinggi : Universitas Muhammadiyah Makassar
Telah disetujui untuk dapat diseminarkan serta direview pada Seminar Proposal
Penelitian.
Makassar,12 Zhulkaidah
1442 H,12 Juni 2021 M
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Agus Salim HR, S.E.,M.M [Link], S.E.,M.M
NIDN : 091111570 NIDN : 0909059001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Manajemen
Muh. Nur Rasyid, S.E., M.M
NBM : 1085576
ii
iii
DAFTAR ISI
SAMPUL
LEMBARAN PERSETUJUAN..............................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................iii
DAFTAR TABEL ..................................................................................v
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................vi
I. PENDAHULUAN................................................................................1
A. Latar Belakang ...........................................................................1
B. Rumusan Masalah .....................................................................4
C. Tujuan ........................................................................................4
D. Manfaat ......................................................................................4
II. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................6
A. Kinerja ........................................................................................6
B. Pendidikan .................................................................................11
C. Pelatihan.....................................................................................15
D. Tinjauan Emperis........................................................................25
E. Kerangka Pikir.............................................................................27
F. Hipotesis.....................................................................................28
III. METODE PENELITIAN....................................................................30
A. Jenis Penelitian ..........................................................................29
B. Lokasi dan Waktu Penelitian .....................................................29
iii
C. Sumber Data ..............................................................................29
D. Defenisi Operasional...................................................................29
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................30
F. Jenis dan Sumber Data .............................................................31
G. Metode Analisis ..........................................................................32
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................39
LAMPIRAN
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Tinjauan Empiris....................................................................25
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Proses Pelatihan ..............................................................25
Gambar 2.2 Kerangka Konsep .............................................................28
vi
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang semakin maju dari masa ke masa
membuat persaingan dalam dunia pekerjaan semakin meningkat, pekerjaan
seseorang juga sangat menentukan pendidikan yang dimiliki. Pendidikan
tidak dapat dipisahkan dengan pembangunan manusia yang seutuhnya.
Karena manusia jugalah yang mempertimbangkan tujuan akhir semua usaha
pembangunan, baik sebagai perseorangan maupun sebagai anggota
masyarakat. Manusia harus menjadi perhatian dan disiapkan untuk dapat
melaksanakan berbagai macam tugas dan tanggung jawab yang akan
diembannya, sehingga setiap lembaga atau instansi dituntut untuk memiliki
sumber daya manusia yang mempunyai kinerja yang tinggi agar dapat
membangun suatu lembaga atau instansi kearah yang lebih baik.
Muhammad Priyatna (2016), Sumber daya manusia merupakan unsur
yang sangat vital dalam setiap organisasi, karena faktor sumber daya
manusia sangat dominan dalam proses kerja organisasi, maka untuk
mencapai tujuan organisasi perlu diadakan pengembanga sumber daya
manusia yang dilakuakn untuk meningkatkan kinerja, keterampilan prilaku
serta pengetahuan pegawai. Sdm memegan peran penting terhadap
pertumbuhan suatu bangsa. Untuk itu sebagai sumber daya utama
organisasi, perhatian penuh terhadap sumber daya manusia suatu
keniscayaan, karena kondisi lingkungan yang dinamis penempatan pegawai
tidak selalu menyebabkan keberhasilan, kondisi lingkungan yang cenderung
berubah mengharuskan organisasi secara kontinyu melakukan penyesuaian
dan pengembangan sumber daya manusia sesuai kebutuhan organisasi.
1
Kinerja pegawai merupakan salah satu tolak ukur dari keberhasilan suatu
instansi atau lembaga, dan demi tercapainya suatu tujuan instansi atau
lembaga yang optimal, dibutuhkan kemampuan dari pucuk pimpinan untuk
memperhatikan kecakapan hubungan antara staf/pegawai yang tentunya
mengarah pada pembinaan kepada pegawai, sehingga pegawai dapat pula
memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing serta mematuhi
aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam instansi atau perusahaan tersebut.
Berdasarkan Pengamatan dikantor Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Kabupaten Gowa, pada saat melaksanakan Kuliah Kerja Profesi
(KKP), dengan melihat fenomena yang terjadi pada Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) Kabupaten Gowa, sebagai tolak ukur dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa, prestasi kerja pegawai belum maksimal, hal ini dapat
dilihat dengan ditemukannya beberapa pegawai yang belum memahami
tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Sehingga hal tersebut akan
berdampak terhadap tanggungjawab pegawai dalam menyelesaikan
pekerjaannya. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kinerja
pegawai adalah kurangnya pendidikan dan pelatihan yang didapatkan oleh
pegawai oleh karena itu perlu peningkatan pendidikan dan pelatihan untuk
menunjang peningkatan kinerja pegawai .
Hal-hal lain juga yang perlu diperhatikan bahwa pendidikan dan pelatihan
adalah kebijaksanaan mengenai prioritas program dalam pendidikan dan
pelatihan agar dapat meningkatkan dan memperbaiki kelemahan, serta
meningkatkan kinerja pegawai, yang profesional sesuai bidang tugasnya dan
memiliki etos kerja yang disiplin, efesien, efektif, kreatif, produktif, serta
tanggung jawab. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya
2
pendidikan dan pelatihan yang sering diikuti oleh pegawai, maka dapat
meningkatkan kinerja pegawai.
Pendidkan dan pelatihan merupakan objek penunjan dalam peningkata
kinerja dimana pendidikan dan pelatihan merupakan usaha mengurangi atau
menghilangkan terjadinya kesenjangan antara kemampuan karyawan dengan
yang dikehendaki organisasi. Usaha tersebut dilakuakan melaluai
peningkatan kemampuan kerja yang dimiliki karyawan dengan cara
menambah pengetahuan dan keterampialan serta merubah sikap. Pegawai
ataupun karyawan dapat terus dilatih dan dikembangkan, sehingga dapat
lebih berdaya guna, prestasinya menjadi semakin optimal untuk mencapai
tujuan organisasi. Adanya kesenjangan antara kemampuan karyawan
dengan yang dikehendaki organisasi, menyebabkan perlunya organisasi
menjembatangi kesenjangan tersebut, salah satu caranya dengan pendidikan
dan pelatihan dengan demikian diharapkan seluruh potensi yang dimilki
pegawai atau karyawan, baik yang direkrut, dipilh oleh organisasi dapat
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dapat ditingkatkan,
akhirnya kesenjangan berkurang atau tidak terjadi lagi kesenjangan. Nurrul
Fatur Rohmah (2018).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti memfokuskan penelitian pada
pendidikan dan pelatihan yang dimana merupakan salah satu faktor yang
dapat meningkatkan kinerja Karyawan, sehingga peneliti termotivasi
mengadakan penelitian dengan judul “Peningkatan Kinerja Karyawan Ditinjau
Dari Pendidikan dan Pelatihan Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Kabupaten Gowa.
3
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas maka rumusan masalah
yang didapatkan yaitu:
1. Apakah ada pengaruh pendidikan terhadap kinerja pegawai pada
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gowa?
2. Apakah ada pengaruh pelatihan terhadap kinerja pegawai pada
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gowa?
C. Tujuan
Berikut tujuan penelitian antara lain:
1. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap
peningkatan kinerja pegawai pada Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) Kabupaten Gowa.
2. Agar perusahaan tersebut dapat berkembang dan mengurangi
hambatan dalam bekerja.
D. Manfaat
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari peneliti adalah:
1. Manfaat teoritis Sebagai masukan atau bahan pertimbangan bagi
lembaga/instansi dalam upaya peningkatan kinerja para pegawai pada
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Gowa.
2. Manfaat praktis
a) Sebagai bahan informasi bagi pegawai pada Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM) Kabupaten Gowa untuk lebih meningkatkan
pendidikan dan pelatihan agar menjadi bahan evaluasi dalam
membina para pegawai.
4
b) Sebagai bahan pengetahuan bagi peneliti khususnya dalam
kegiatan ilmiah.
c) Sebagai bahan referensi bagi peneliti yang berminat mengkaji
masalah pendidikan dan pelatihan dan kinerja pegawai.
5
II. TUJUAN PUSTAKA
A. Kinerja
1. Kinerja Pegawai
Kinerja Menurut Mangkunegara (2007: 67) bahwa, “Kinerja adalah
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya”.
Menurut Wilson (2012: 231) bahwa, “ Kinerja adalah hasil pekerjaan
yang dicapai seseorang berdasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan
(job requitment)”.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat diketahui bahwa pengertian
kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara
keselurahan melalui aktifitas yang dilakukan manusia dalam mencapai
sebuah tujuan.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Perusahaan sebagai suatu organisasi mempunyai tujuan yakni
memperoleh keuntungan. Organisasi dapat beroperasi karena kegiatan
atau aktivitas yang dilakukan oleh para karyawan yang ada di dalam
organisasi tersebut.
Menurut Prawirosentono dalam Wahyudi (2012: 130), “salah satu
faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah efisiensi. Efesiensi
berkaitan dengan jumlah pengorbanan yang dikeluarkan dalam upaya
mencapai tujuan organisasi”.
Menurut Faustino (2003: 199) pendidikan dan pelatihan adalah
“solusi yang dapat dilakukan unuk meningkatkan kecakapan-kecakapan
6
yang berkaitan dengan pekerjaan pegawai agar dapat memenuhi standar
kinerja”.
Menurut The Liang Gie (1981: 44), ada 3 syarat-syarat yang harus
dimiliki dalam diri seseorang pegawai untuk memungkinkannya bekerja
efisien, yaitu:
a. Keinginan kerja.
b. Kemampuan bekerja.
c. Kemahiran bekerja
Disini tampak jelas bahwa dengan adanya beberapa faktor yang
mempengaruhi kinerja, maka akan dihasilkan tingkat prestasi kerja tinggi
yang disebut sebagai orang yang produktif, dan sebaliknya orang yang
tingkat prestasinya rendah, dikatakan sebagai tidak produktif atau
dikatakan kinerjanya rendah
3. Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja merupakan suatu proses yang dilakukan secara
sistematis terhadap kinerja pegawai atau sumber daya manusia
berdasarkan pekerjaan yang ditugaskan atau dibebankan kepada
mereka. Termasuk didalamnya mencakup penilaian terhadap seluruh
kegiatan program dan proyek yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah
dalam kurun waktu tertentu.
Menurut Wilson (2012: 231) penilaian kinerja adalah “proses yang
dilakukan organisasi untuk mengevaluasi atau menilai keberhasilan
karyawan dalam melaksanakan tugasnya”.
Sedangkan menurut Mangkunegara ( 2007: 69) “penilaian prestasi
pegawai adalah suatu proses penilaian prestasi kerja pegawai yang
7
dilakukan pemimpin perusahaan/lembaga secara sistematik berdasarkan
pekerjaan yang ditugaskan kepadanya”.
Tujuan penilaian kinerja adalah untuk mengetahui keberhasilan atau
ketidakberhasilan seorang Pegawai, dan untuk mengetahui kekurangan-
kekurangan dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Pegawai yang
bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya. Hasil penilaian kinerja
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembinaan pegawai,
antara lain pengangkatan, kenaikan pangkat, pengangkatan dalam
jabatan, pendidikan dan pelatihan, serta pemberian penghargaan.
Penilaian kinerja Pegawai. Sipil dilaksanakan berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 46 Tahun 2010 tentang Penilaian Pekerjaan Pegawai
Negeri Sipil.
Menurut Wilson (2012: 233) manfaat penilaian kinerja adalah:
a. Melakukan evaluasi antar individu dalam organisasi
b. Pengembangan diri setiap individu dalam organisasi
c. Pemeliharaan sistem
d. Dokumentasi
Menurut Hardiyansyah (2012: 93) unsur-unsur yang dinilai dalam
melaksanakan dari kinerja adalah:
a. Kesetiaan
b. Prestasi Kerja
c. Tanggung jawab
d. Ketaatan
e. Kejujuran
f. Kerjasama
8
g. Prakarsa
Pengukuran kinerja merupakan aktivitas menilai kinerja yang
dicapai oleh organisasi berdasarkan indikator kinerja yang telah
ditetapkan. Hakikat penilaian yakni membandingkan antara data realita
dengan standar yang ada. Terkait dengan data kinerja, Umar (2005: 102)
mengemukakan komponen data kinerja, yaitu:
1) Pengetahuan tentang pekerjaan
Pengetahuan tentang pekerjaan yaitu, kadar pengetahuan dan
pemahaman tentang tugas yang diemban meliputi: prosedur kerja,
sistem kerja, keahlian teknis, penggunaan informasi dan sarana secara
benar. Misalnya: mengetahui secara teknis operasional yang
berhubungan dengan bidang tugas yang dibebankan kepadanya.
2) Kemampuan kerja sama
Kemampuan kerja sama yaitu, kadar kemampuan menjalin
hubungan kerja baik dalam unit kerjanya maupun unit lainnya,
bersedia memberidan menerima pendapat, bantuan, dan dukungan
kepada orang lain, serta mengakui kesalahan dan mau belajar dari
kesalahan tersebut. Misalnya: rasa kebersamaan dan pengabdian
terhadap instansinya, menjalin hubungan kerja, mau memberi dan
menerima pendapat orang lain.
3) Inisiatif
Prakarsa atau inisiatif yaitu kadar semangat untuk
melaksanakan tugas-tugas baru dalam memperbesar
tanggungjawabnya untuk kemajuan instansinya. misalnya: bekerja
9
keras dengan ide-ide baru dalam menyelesaikan tugas untuk
kemajuan instansinya.
4) Disiplin dan keteraturan kerja
Disiplin dan keteraturan kerja, yaitu kadar pelaksanaan setiap
kegiatan yang selalu mengikuti ketentuan yang berlaku dan tidak
menghambat pelaksanaan tugas. Misalnya: melaksanakan tugas tidak
lepas dari peraturan, prosedur kerja, penggunaan waktu dan
sumbersumber pekerjaan.
5) Pemanfaatan waktu
Pemanfaatan waktu, yaitu kadar penyelesaian suatu pekerjaan
dengan penggunaan waktu yang singkat. Misalnya, datang dan pulang
sesuai waktunya, menyelesaikan tugas dengan tepat waktu.
6) Tanggung jawab
Tanggung jawab, yaitu kadar tindakan-tindakan yang
didasarkan pada niat yang baik dan benar, serta dengan kesadaran
pribadi bersedia menerima konsekuensi atas tindakannya tersebut.
Misalnya: berani menghadapi konsekuensi dari segala tindakan yang
dilakukan, menyelesaikan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya,
melaksanakan tugas sampai tuntas dan sebaik mungkin.
John Minner dalam Sutrisno (2010: 172) mengemukakan ada 4
dimensi yang dapat disajikan sebagai tolok ukur dalam menilai kinerja,
yaitu: “kualitas, kuantitas, waktu kerja, dan kerja sama”. Dari empat
dimensi kinerja yang dikemukakan oleh Minner itu,
Sudarmanto (2009: 11) mengemukakan dua hal terkait dengan
aspek keluaran atau hasil pekerjaan, yaitu: kualitas hasil, kuantitas
10
keluaran, dan dua hal terkait aspek perilaku individu atau unjuk kerja
pegawai, yaitu: penggunaan waktu dalam kerja (tingkat kepatuhan
terhadap jam kerja, disiplin) dan kerja sama. Dari empat dimensi kinerja
tersebut cenderung mengukur kinerja pada level individu.
Adapun aspek-aspek standar pekerjaan, menurut Mangkunegara
(2009: 18) yaitu “aspek kuantitatif dan aspek kualitatif”. Aspek kuantitatif
meliputi:
a. Proses kerja dan kondisi pekerjaan.
b. Waktu yang dipergunakan atau lamanya melaksanakan pekerjaan.
c. Jumlah kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan.
d. Jumlah dan jenis pemberian pelayanan dalam bekerja.
Sedangkan aspek kualitatif meliputi:
a. Ketetapan kerja dan kualitas pekerjaan.
b. Tingkat kemampuan dalam bekerja.
c. Kemampuan mengevaluasi (keluahan/keberatan konsumen).
B. Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah bagian penting untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia, karena baik buruknya suatu generasi dilihat dari
segi pendidikan. Jika pendidikanya baik maka lahirlah generasi baik,
begitupun sebaliknya. Menurut Tim pengembangan MKDK IKIP
Semarang, pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan oleh manusia
untuk meningkatkan kepribadiannya dengan cara membina potensi-
potensi yang ada didalam diri (cinta, rasa, karsa, piker, dan budi burani)
serta jasmani (panca indra dan keterampilan).
11
Menurut Zainun dalam Sukoco (2010) pendidikan adalah untuk
mempersiapkan SDM sebelum memasuki pasar kerja, dengan
pengetahuan yang diperolehnya dari pendidikan yang diharapkan sesuai
dengan syarat-syarat yang dituntut oleh suatu pekerjaan.
Menurut Mangkunegara “pendidikan adalah suatu proses jangka
panjang yang menggunkan prosedur sistematis, dan terorganisir, yang
mana tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan
teoritis untuk tujuan-tujuan umum”.
Sedangkan menurut Irianto menyatakan bahwa “pendidikan
adalah jenjang pendidikan formal yang telah ditamatkan oleh pegawai.”
Irianto juga menyatakan bahwa pendidikan merupakan fungsi sebagai
penggerak kemampuan sumber daya manusia dalam meningkatkan
kinerja.
Dari berbagai pendapat mengenai pendidikan dapat disimpulkan
bahwa pendidikan adalah proses penting yang ditempuh oleh manusia,
untuk meningkatkan kepampuan guna mempersiapkan kehidupan dimasa
yang akan datang
2. Latar Belakang Pendidikan
Latar belakang pendidikan merupakan salah satu faktor yang
dilihat oleh perusahaan ketika melaksanakan proses seleksi masuk
karyawan. Sumber daya manusia yang memiliki latar belakang tertentu
akan terlihat pada saat proses seleksi mengenai bidang yang
dikuasainya, sehingga dapat meyakinkan manajer SDM untuk
menempatkan orang tersebut pada tempat yang tepat. Selain dipengaruhi
oleh latar belakang pendidikan dalam proses penembatan karyawan,
12
prestasi akademik yang pernah diraih juga mepengaruhi beban kerja dan
tanggung jawab yang diberikan oleh perusahaan. Latar belakang
pendidikan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu kesesuaian antara bidang ilmu
yang ditempuh dan jenjang pendidikan.
Menurut Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No.
20 Tahun 2003, jenjang pendidikan formal adalah suatu tahapan
pendidikan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. Jejang
pendidikan terdiri dari:
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar yaitu pendidikan awal Sembilan Tahunpertama
sekolah, meliputi enam Tahun SD dan dan tiga tahun SMP.
b. Pendidikan Menengah Pertama
Pendidikan menengah adalah pendidikan lanjutan setelah
pendidikan dasar, yaitu tingkat SLTA. Pada pendidikan ini sumber
daya manusia agar mempersiapkan diri untuk memasuki pasar kerja.
c. Pendidikan Menengah Atas
Pendidikan tinggi merupakan lanjutan dari pendidikan menengah.
Pendidikan ini dilakukan untuk menciptakan sumber daya manusia
agar mempunyai kemampuan akademik atau non akademik yang
dapat diterapkan dalam hal pekerjaan. Pendidikan tinggi dalam hal ini
adalah perguruan tinggi yang berbentuk universitas, akademi, institut,
sekolah tinggi, dll.
d. Spesifikasi/Jurusan
Keilmuan Kesesuaian jurusan adalah sebelum karyawan direkrut
dan diseleksi, terlebih dahulu perusahaan melakukan analisis tentang
13
kesesuaian jurusan sumber daya manusia dengan kebutuhan
perusahaan mengenai spesifikasi-spesifikasi untuk menempati posisi
yang dibutuhkan agar sesuai.
e. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan bagian dari penunjang arah masa
depan baik itu individu ataupun kelompok Adapun tujuan dari
pendidikan adalah:
1) Tujuan umum pendidikan nasional adalah untuk membentuk
manusia pancasila.
2) Tujuan institusional adalah tujuan yang menjadi tugas lembaga
pendidikan tertentu untuk mencapainya.
3) Tujuan kurikuler adalah tujuan studi atau mata pelajaran.
4) Tujuan instruksional adalah tujuan materi kurikulum yang berupa
bidang. Berupa bahasan atau sub bahasan.
f. Indikator Pendidikan
Berdasarkan berbagai macam pendapat diatas mengenai
pendidikan maka indikator dari pendidikan menurut Liza dan Suktiarti
dalam skripsi Citra Rahayu Ningsih indikator pendidikan terbagi
menjadi dua yaitu:
1) Pendidikan formal, Yaitu pendidikan yang pernah ditempuh
dibangku sekolah baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas maupun Perguruan Tinggi yang
dapat dibuktikan dengan ijazah kelulusan.
2) Pendidikan non, formal Yaitu pendidikan yang didapat dengan
mengikuti kursus maupun pelatihan
14
C. Pelatihan
1. Pengertian Pelatihan
Pelatihan merupakan bentuk upaya perusahaan untuk
meningkatkan kualitas karyawan dengan harapan kinerja yang dihasilkan
dapat meningkat. Akan tetapi kebanyakan perusahaan ketika sudah
mendapatkan sumber daya manusia yang di inginkan, perusahaan
kurang memperhatikan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki.
Sehingga kemampuan alamiah yang dimiliki karyawan yang semakin
lama semkin memudar. Oleh karena itu diperlukan pelatihan yang
bertujuan untuk memperbaiki kinerja karyawan.
Kepedulian terhadap kualitas dan peran Sumber Daya Manusia
(SDM) dapat dijumpai pada semboyan dan doktrin militer, yaitu man
behind the gun yang artinya senjata secanggih apapun tidak berarti,
apabila tidak disertai kualitas sumber daya manusia berkualitas yang
berada dibelakang senapan atau senjata tersebut.
Menurut Mondy (2008) “pelatihan adalah aktivitas-aktivitas yang
dirancang untuk memberi para pembelajar pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan mereka saat ini”.
Menurut Raymond (2013) Pelatihan (training) adalah upaya yang
telah direncanakan untuk membantu karyawan tentang pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut
agar lebih mudah dalam menyelesaikannya. Dari beberapan pengertian
yang telah dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah
kegiatan yang dilakukan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan
sehingga dapat
15
memaksimalkan kemampuan karyawan guna meningkatkan kualitas diri
sebagai usaha untuk mencapai tujuan perusahaan.
Adapun tujuan dan manfaat pelatihan yaitu
a. Produktivitas (productivity)
Dengan pelatihan akan dapat meningkatkan kemampuan,
pengetahuan, keterampilan dan perubahan tingkah laku. Hal ini
diharapkan dapat meningkatkan produktivitas organisasi.
b. Kualitas (quality)
Penyelenggaraan pelatihan tidak hanya memperbaiki kualitas
pegawai namun diharapkan dapat memperkecil kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam bekerja. Dengan demikian kualitas dari
output yng dihasilkan akan tetap terjaga bahkan meningkat.
c. Perencanaan Tenaga Kerja (human resource planning)
Pelatihan akan memudahkan pegawai untuk mengisi
kekosongan jabatan dalam suatu organisasi, sehingga perencanaan
pegawai dapat dilakukan sebaik-baiknya. Dalam perencanaan sumber
daya manusia salah satu diantaranya mengenai kualitas dan kuantitas
dari pegawai dengan kualitas yang sesuai dengan yang diarahakan.
d. Moral (morale)
Diharapkan dengan adanya pelatihan akan dapat
meningkatkan prestasi kerja dari pegawai sehingga akan dapat
menimbulkan peningkatan upah pegawai. Hal tersebut akan dapat
meningkatkan moril kerja pegawai untuk lebih bertanggung jawab
terhadap tugasnya.
16
e. Kompensasi Tidak Langsung (Indirect Compensation)
Pemberian kesempatan kepada pegawai untuk mengikuti
pelatihan dapat diartikan sebagai pemberian balas jasa atas prestasi
yang telah dicapai pada waktu yang lalu, dimana dengan mengikuti
program tersebut pegawai yang bersangkutan mempunyai
kesempatan untuk lebih dapat megembangkan diri.
f. Keselamatan dan Kesehatan (health and safety)
Merupakan langkah terbaik dalam mencegah atau mengurangi
terjadinya kecelakaan kerja dalam suatu organisasi sehingga akan
menciptakan suasana kerja yang tenang, aman dan adanya stabilitas
pada sikap mental mereka.
g. Pencegahan Kadaluarsa (obsolescence prevention)
Pelatihan akan mendorong inisiatif dan kreatifitas pegawai,
langkah ini diharapkan akan mencegah pegawai dari sifat kadaluarsa.
Artinya kemampuan yang dimiliki oleh pegawai dapat menyesuaikan
diri dengan perkembangan teknologi.
h. Perkembangan Pribadi (personal growth)
Memberikan kesempatan bagi pegawai untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemempuan yang dimiliki pegawai termasuk
meningkatkan perkembangan pribadinya. Bentuk-Bentuk
Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam program
pengembangan harus dituangkan sasaran, kebijaksanaan prosedur,
anggaran, peserta, kurikulum, dan waktu pelaksanaannya. Program
pengembangan harus berprinsipkan pada peningkatan efektivitas dan
efisiensi kerja masing-masing karyawan pada jabatannya. Program
17
pengembangan suatu organisasi hendaknya diinformasikan secara
terbuka kepada semua karyawan atau anggota supaya mereka
mempersiapkan dirinya masing – masing.
2. Jenis – Jenis Pelatihan
Menurut Simamoro jenis pelatihan terdapat Lima macam yaitu:
a. Skill Training (Pelatihan Keahlian)
Adalah jenis pelatihan yang diadakan untuk mempelajari hal baru
yang berhubungan dengan pekerjaannya.
b. Retraining (Pelatihan Ulang)
Adalah jenis pelatihan yang diberikan kepada karyawan yang
menghadapi tuntutan yang terus berkembang seperti teknologi dan
ilmu pengetahuan.
c. Cross Functional Training (Pelatihan Lintas Fungsional)
Adalah jenis pelatihan yang menganjurkan karyawan lain untuk
menguasai aktivitas diluar pekerjaannya, contohnya adalah meminta
staff bagian keuangan untuk membantu HRD dalam proses seleksi
karyawan.
d. Creativy Training (Pelatihan Kreativitas)
Adalah jenis pelatihan yang menjelaskan bahwa kreatifitas
merupakan bukan sebuat bakat, melainkan sebuah skill yang bias
untuk dipelajari, seperti marketing, dll.
e. Team Training (Pelatihan Tim)
Adalah jenis pelatihan yang bertujuan untuk mengajarkan
keryawan agar mempunyai kerjasama Tim dengan baik, sehingga
tujuan bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat
18
3. Metode Pelatihan
Dalam prakteknya, masing-masing metode pelatihan memiliki cara
tersendiri untuk menyampaikan materi guna mencapai tujuan dan
memberikan ilmu atau keahlian tambahan bagi karyawan. Untuk itu
program-program pelatihan dan pengambangan dirancang untuk
meningkatkan prestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran, serta
memperbaiki kepuasan kerja. Masing-masing metode memiliki tujuan
umun yang relatif sama yaitu guna mempersiapkan karyawan agar
memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh perusahaan, namun
beberapa metode pelatihan juga memiliki tujuan khusus yang secara
spesifik merupakan tujuan utama dari metode kegiatan pelatihan tersebut.
Untuk lebih memaksimalkan hasil dari kegiatan pelatihan, tidak jarang
sebuah perusahaan menggabungkan beberpa metode pelatihan untuk
memenuhi kemampuan karyawan yang dibutuhkan dalam perusahaan
tersebut. Diantaranya yaitu menurut Bamabang (2011) yaitu:
a. Pelatihan ditempat kerja (On The Job Training)
Program pelatihan dan pengembangan dirancang untuk
meningkatkan prestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran,
serta memperbaiki kepuasan kerja. On the job training, meliputi Rotasi
jabatan, Latihan Instruksi pekerjaan, Magang, coaching dan
penugasan sementara.
1) Coaching (Bimbingan)
Adalah suatu pelatihan dimana pelaksanaanya tidak
direncanakan. Metode ini biasanya berlangsung ditempat kerja
yang dilakukan oleh atasan dengan peserta pelatihan yang
19
dibimbing bagaimana cara untuk melakukan pekerjaan dan
memecahkan suatu masalah.
2) Rotasi Jabatan
Adalah program yang direncanakan oleh bidang Sumber
Daya Manusia (SDM) dengan memindahkan karyawan dari satu
pekerjaan ke bagian yang lainya dalam struktur organisasi yang
sejajar.
3) Penugasan Sementara
Adalah suatu penempatan karyawan ke suatu bidang
secara sementara dengan jangka waktu yang telah ditetapkan.
Dalam hal ini karyawan ikut andil dan berperan dalam
pengambilan keputusan.
4) Instruksi Pekerjaan
Adalah teknik pelatihan yang terdapat seorang supervisor
atau bisa dikatakan sebagai pelatih yang bertugas untuk
memberikan instruksi mengenai bagaimana melakukan suatu
pekerjaan.
5) Apprenticeship (Program Magang)
Adalah metode pelatihan yang mengkomparasikan antara
pelajaran yang sudah didapat di ruang kelas kemudian di
aplikasikan ke lapangan
b. Pelatihan diluar tempat kerja (Off The Job Training)
Metode yang berlangsung jauh dari situasi kerja normal. Dilakuka
tidak berkenaan dengan pekerjaan, tapi menyiratkan bahwa dalam
training tersebut seorang karyawan tidak lagi diposisikan pada tugas
20
dan fungsi seperti biasanya. Off The Job Training meliputi metode
studi kasus, role playing, business games, pembelajaran aksi, latihan
laboratorium, kuliah, presentasi video, metode konferensi, studi
sendiri & programmed instruction.
1) Teknik Simulasi
Adalah teknik pelatihan yang dilakukan di suatu tempat
yang dirancang dengan keadaan seperti nyata. Mulai dari
peralatan dan perlengkapan dibuat seperti tempat kerja yang
sesungguhnya.
2) Permainan Peranan (Role Playing)
Dalam metode ini calon karyawan diberi satu peranan
khusus, misalnya menjadi atasan, rekan kerja, atau yang lain.
Dengan tujuan agar dapat calon karyawan dapat merasakan apa
yang dirasakan orang lain, sehingga nantinya calon karyawan
dapat berinteraksi dengan orang lain secara baik.
3) Studi Kasus (Case Study)
Adalah suatu teknik dimana peserta dihadapkan dengan
berbagai macam kasus yang berbeda kemudian calon karyawan
diminta untuk memecahkan kasus tersebut dengan cara
melakukan diskusi kelompok.
4) Latihan Laboratorium
Adalah suatu teknik pelatihan berkelompok yang dilakukan
dengan tujuan untuk meningkatkan hubungan antar pribadi satu
dengan lainya. Melalui sharing tentang pengalaman, perasaa,
21
persepsi, dan perilaku. Sehingga calon karyawan mempunyai
perasaan peka. Peka terhadap perasaan dan lingkungan sekitar.
5) Vestibule
Adalah bentuk pelatihan yang disedikan ruangan khusus
atau ruang isolasi terpisah yang digunakan untuk tempat
pelatihan. Matode ini dilaksanakan bisa sampai beberapa hari
hingga beberapa bulan dengan pengawasan instruktur.
6) Presentasi Informasi
Model dari metode presentasi informasi ini adalah
penyajian informasi yang bertujuan untuk menyampaikan suatu
konsep yang berisikan keterampilan bagi calon karyawan
4. Proses Pelatihan
Penerapan pelatihan dikatakan efektif yaitu apabila diterapkanya
proses pelatihan yang sistematis karena dengan hal tersebut dapat
mendekatkan kepada tujuan perusahaan. Menurut Wilson Bangun (2012)
terdapat 4 (empat) langkah dalam pelaksanaan proses pelatihan yang
terdiri dari kebutuhan pelatihan, perancangan pelatihan, pelaksnaan, dan
penilaian.
a. Kebutuhan Pelatihan
Telah dijelaskan diatas bahwa salah satu tujuan pelatihan adalah
sebagai langkah untuk mencapai visi perusahaan. Oleh karena itu
sebelum melaksanakan pelatihan harus terlebih dahulu dilakukan
diagnosa dan analisis mengenai masalahmasalah kinerja karyawan.
Karena selain pelatihan terdapat banyak faktor lain yang dapat
mempengaruhi kinerja karyawan, seperti motivasi, pemberian
22
kompensasi, dll. Dalam hal mendiagnosa kebutuhan pelatihan
terdapat tiga sumber yang dapat menjadi pertimbangan, yaitu:
1) Analisis organisasional
Adalah proses dimana pihak manajemen melakukan
analisis yang dapat dilihat melalui keterampilan dan kemampuan
karyawan dalam melaksanakan tugas dalam periode sekarang
untuk disesuaikan dengan periode dimasa yang akan datang.
2) Analisis pekerjaan
Adalah cara membandingkan kemampuan, keterampilan,
dan pengetahuan karyawan dengan standar pekerjaan.
3) Analisis individual
Adalah cara menganalisis karyawan dengan cara
melakukan survey terhadap individu karyawan. Karena dengan
melakukan survey maka pihak manajemen akan memperoleh
informasi penting mengenai kebutuhan pelatihan.
b. Perencanaan Pelatihan
Dalam merancang sebuah pelatihan terdapat tiga faktor yang
perlu diperhatikan, yaitu:
1) Kesiapan peserta
Kegiatan pelatihan akan berhasil jika adanya kesiapan dari
karyawan. Karena jika karyawan sudah memiliki kesiapan maka
akan berkeinginan untuk memahami materi dan mengikuti
pelatihan dengan percaya diri.
2) Kemampuan pelatih
23
Kemampuan palatih merupakan bagian yang mempunyai
pengaruh besar terhadap pelatihan. Pelatih dituntut memahami
materi agar peserta pelatihan dapat memperoleh ilmu yang
banyak ketika pelatih menyampaikan materi.
3) Materi pelatihan
Materi pelatihan yang disampaikan memberikan pengaruh
besar terhadap hasil pelatihan. Materi yang disampaikan harus
sesuai dengan standar pekerjaan atau sesuai dengan
kebutuhanya dan mudah untuk dipahami.
4) Pelaksanaan
Pelatihan Setelah melewati proses perancangan pelatihan
dengan berbagai poin, selanjutnya adalah pelaksanaan pelatihan.
Yang mana dalam hal ini dilakukan pengujian perihal matode
pelatihan apa yang akan digunakan yang sesuai dengan
kebutuhan.
5) Penilaian
Pelatihan Penilaian pelatihan dilakukan setelah proses
pelatihan dilaksanakan. Dalam proses ini dilakukan perbandingan
antara sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan. Mengingat
pelaksanaan pelatihan memakan waktu lama dan biaya pelatihan
yang tidak sedikit maka penilaian perlu dilakukan guna
meningkatkan kinerja karyawan.
24
Kebutuhan Organisasi
Analisis Perencanaan pelatihan
organisasi
Analisis Kesiapan Peserta Pelaksaan Pelatihan
Pekerja Kemampuan pelatihan
Analisis Materi Pelatihan
Individu
Penilaian Pelatihan
Gambar 2.1
Proses Pelatihan
D. Tinjauan Empiris
Adapun dari penelitian-penelitian terdahulu mengenai bahasan yang
berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut;
Tabel 2.1
Tinjauan Empiris
25
No Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian
Kinerja karyawan Kinerja karyawan pada PT.
ditinjau dari memiliki dampak positif dan
pelatihan dan signifikan. Insentif industry
motivasi pada PT. kapal Indonesia (persero)
1. Munawir Nasir industri kapal Makassar (H2) memiliki
(2019) Indonesia dampak dan signifikan
(persero) terhadap kinerja karyawan
Makassar PT. pelatihan dan motivasi
industry kapal Indonesia
(persero) Makassar (H3)
memiliki dampak signifikan
terhadap kierja karyawan.
Pengaruh Terdapat pengaruh yang
Program signifikan dari pendidikan
Pendidikan dan (X1) dan pelatihan (X2)
Pelatihan terhadap kinerja (Y)
2. Flavia Da terhadap Kinerja
Costa Pegawai (Studi
Henriques Kasus Pada
(2014) Instituto Nacional
da administraytion
Publica Timor
Leste)
Pengaruh Hasil penelitian yang
pendidikan dan diperoleh bahwa ada
pelatihan hubungan yang signifikan
terhadap kinerja antara pendidikan dan
3. Andi kamrida, pegawai pada pelatihan terhadap kinerja
Muh. Nasrullah kantor lembaga pegawai pada kantor
(2016) penjaminan mutu lembaga penjaminan mutu
pendidikan pendidikan provinsi
provinsi Sulawesi Sulawesi selatan sebesar
selatan 29,70 persen berarti tingkat
hubungannya dalam
kategori sedang.
Pengaruh Penguji menunjukan bahwa
Pendidikan dan variable pendidikan
Pelatihan berpengaruh signifikan
Terhadap Kinerja terhadap kinerja,
Pegawai (studi sedangkan variable
4. Edi Saputra badan pelatihan tidak berpengaruh
Pakpahan, kepagawaian signifikan terhadap kinerja
Siswidiyanto, daerah kota pegawai.
Sukanto (2014) Malang)
Pengaruh Pelatihan (X1) berpengaruh
Pelatihan dan positif dan signifikan
Motivasi kerja terhadap kinerja karyawan
Leonando terhadap (Y) pada CV Haragon
5. Agusta dan karyawan CV Surabaya. Dengan
Eddy Madiono Haragon26 demikian maka H0 di tolak
Sutanto (2013) Surabaya dan Ha di terima.
E. Kerangka Pikir
Untuk meningkatkan kinerja pegawai/karyawan dalam suatu
lembaga/instansi, maka diperlukan suatu pendidikan dan pelatihan yang
bertujuan untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh
pegawai/karyawa yang sesuai dengan tuntutan persyaratan jabatan dan
pekerjaan, dengan pendidikan dan pelatihan, setiap pegawai akan
menghasilkan pekerjaan yang lebih baik dengan hasil yang optimal.
pendidikan dan pelatihan hendaknya dilakukan agar aktualisasi dalam
melakukan pekerja lebih maksimal dan dapat menunjang peningkatan
kinerja pegawai/karyawan sesuai apa yang dibutuhkan oleh
lembaga/instansi saat ini maupun untuk masa depan.
Pendidikan dan Pelatihan adalah segala usaha untuk membina
kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia melalui proses
belajar demi peningkatan keterampilan yang dimilki oleh pegawai yang
dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat dengan metode yang lebih
mengutamakan praktek daripada teori.
Pada variabel pendidikan dan pelatihan terdapat beberapa tujuan yang
hendak dicapai yaitu peningkatan kinerja Pegawai yang sering mengikuti
pendidikan dan pelatihan akan memberikan pengaruh positif dalam
melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Kinerja pegawai merupakan
patokan yang dapat menunjukkan tingkat keberhasilan kegiatan manajeman
dalam pencapaian tujuan perusahaan. Untuk variabel kinerja pegawai dapat
diukur melalui indikator-indikator pengetahuan tentang pekerjaan,
kemampuan kerja sama, inisiatif, disiplin dan keteraturan kerja, pemanfaatan
waktu dan tanggungjawab.
27
Berdasarkan uraian diatas adapun skema kerangka pikir mengenai
Peningkatan Kinerja ditinjau dari pendidikan dan pelatihan Perusahaan
Daerah Air Minum PDAM Kabupaten Gowa, dapat dilihat dari kerangka
konsep dibawa ini.
Pendidikan
(X1)
Peningkatan Kinerja
(Y)
Pelatihan
(X2)
Gambar 2.2
Kerangka Pikir
F. Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Diduga bahwa pendidikan pelatihan berpengaruh signifikan dalam
peningkatan kinerja karyawan pada perusahaan daerah air minum
(PDAM) kabupaten Gowa.
2. Diduga bahwa pelatihan berpengaruh signifikan dalam peningktan kinerja
karyawan pada perusahaan daerah air minum (PDAM) kabupaten Gowa.
28
III. METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuantitatif. Yaitu data yang berbentuk angka-angka dan secara langsung
dapat di diukur Terkait Peningkatan kinerja pegawai yang ditinjau dari
pendidikan dan pelatihan yang ada pada perusahaan daerah air minum PDAM
kabupaten Gowa.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Perusahaan Daerah Air Minum PDAM
Kabupaten Gowa, yang berada di Jl. Tirta Jeneberang, Sungguminasa,
Gowa, Tompobalang, Kec. Somba Opu.
2. Waktu
Penelitian ini direncanakan pada bulan Juli – Agustus 2021 M
C. Sumber Data
Jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Data Primer
Adalah data yang diperoleh dari observasi dan pra riset yang
dilakukan oleh peneliti secara langsung pada perusahaan selama satu
bulan.
2. Data Sekunder
Adalah data yang didapat dari literatur buku dan dokumen-dokumen
perusahaan seperti struktur organisasi, sejarah perusahaan, dll.
D. Definisi Operasional Variabel
Dalam penelitian ini variable yang digunakan antara lain:
29
1. Variabel bebas (Independent Variabel), yang termasuk variable bebas
(Independent Variabel) adalah pendidikan (X1) dan pelatihan (X2) yang
disebut variable variable yang tidak mempunyai ketergantungan.
2. Variabel terikat (Dependent Variabel), yang termasuk variable terikat
(Dependent Variabel) yaitu Kinerja Pegawai (Y), yang merupakan variabel
yang memiliki ketergantungan antara variabel yang satu dengan yang lain.
Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini sebagai berikut:
a) Pendidikan (X1) dan pelatihan (X2) adalah suatu aktivitas yang
dilakuakan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan para pegawai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Kabupaten Gowa.
b) Kinerja pegawai (Y) hasil kerja yang baik secara mutu maupun
kuantitas dilihat dari segi pencapaian pegawai dalam melaksanakan
tugas-tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
perusahaan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Menurut sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan
langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari
penelitian adalah mendapatkan data. dalam penelitian ini penulis
menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
1. Penelitian kepustakaan (library research), yaitu pengumpulan data secara
teoritis dengan cara menelaah berbagai literatur dan bahan teori lainnya
yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
2. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu pengumpulan data lapangan
dengan cara sebagai berikut:
a. Kuesioner
30
Sugiyono (2012:230) berpendapat bahwa kuesioner merupakan
teknik pengambilan data yang dilakuakan dengan cara memberi
seperangakat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya. dalam penelitian ini penyebaran kuesioner kepada
pegawai kantor pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Kabupaten Gowa.
b. Dokumen
Menurut Sugiyono (2013:240) dokumen merupakan catatan
peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan,
gambaran, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen
yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life
histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang
berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain.
F. Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Jenis data
a. Data kualitatif adalah data yang diperoleh berupa keterangan-
keterangan yang mendukung penelitian ini, seperti gambaran umum
karyawan perusahaan sebagai sampel objek penelitian.
b. Data kuantitatif adalah data yang dapat diukur atau dihitung
secaralangsung dalam bentuk angka-angka melalui penyebaran
kuesioner.
2. Sumber data
a. Data Primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber
asli (tanpa melalui perantara).
31
b. Data sekunder yaitu data penelitian yang diperoleh secara tidak
langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak
lain). Data sekunder dalam penelitian ini merupakan data arsip yang
ada di Perusahaan Daerah Air Minum PDAM Kabupaten Gowa yang
berkaitan dengan penelitian.
G. Metode Analisis
Untuk mendukung dalam penunjukan Hipotesis penelitian yang
dikemukakan, data yang telah dikumpulkan dengan angket yang telah dibuat,
maka selanjutnya untuk melihat sejauh mana signifikan hipotesis yang dibuat
dapat terbukti dengan kegiatan penelitian yang dilakukan. Adapun alat analisis
yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif yaitu analisis yang ditunjukan pada
perkembangan dan pertumbuhan dari suatu keadaan dan hanya
memberikan gambaran tentang keadaan tertentu dengan cara
menguraikan tentang sifat-sifat dari obyek penelitian tersebut.
2. Uji Instrument Penelitian
a) Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang
telah disusun benar-benar mampu mengukur apa yang harus diukur.
Uji Validitas digunakan untuk menguji seberapa cermat suatu alat ukur
dalam melakukan fungsi ukurannya. Menurut Sugiyono (2012 : 248),
“valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa
saja yang seharusnya diukur”. Pengujian validitas data dalam
penelitian ini dilakukan secara statistik yaitu korelasi antara masing-
masing pertanyaan dengan skor total. Menurut Priyatno (2012) bahwa
32
batas nilai minimal korelasi sehingga suatu instrumen penelitian dapat
dikatakan sah (valid) sebesar 0,30.
b) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan alat untuk mengukur suatu kuesioner
yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner
dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap
pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu
Pengukuran reliabilitas dilakukan dengan cara one shot atau
pengukuran sekali saja dengan alat bantu SPSS uji statistik Cronbach
Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliable jika
memberikan nilai Cronbach Alpha > 0.60.3.
3. Analisis Regresi Linear Berganda
Pengujian model dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi
linier berganda. Uji ini digunakan untuk menguji adanya peningkatan
kinerja ditinjau dari pendidikan dan pelatihan pada Perusahaan Daerah
Air Minum PDAM Kabupaten Gowa. Model penelitian dirumuskan
sebagai berikut:
Y = a + β1 + X1 + β2 X2 + e
Keterangan :
Y = Kinerja Pegawai
a = Konstanta
β1, β2 = Koefisien Regresi
33
X1 = Tingkat Pendidikan
X2 = Pelatihan Kerja
e = Error
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini yaitu uji signifikan pengaruh
secara parsial (uji t).uji t digunakan untuk menguji signifikan hubungan
antara variable X dan Y,apakah variable X1 dan X2 (tingkat pendidikan dan
pelatihan kerja) benar-benar berpengaruh terhadap variable Y (kinerja
pegawai) secara terpisah atau parsial. Dasar pengambilan keputusan
(Ghozali, dalam ini imam Ariono 2017) adalah dengan menggunakan
angka probabilitas angka signifikan yaitu:
a) apabila angka probabilitas signifikansi >0,50 maka Ho di terima dan
Ha di tolak.
b) apabila angka probabilitas signifikansi <0,05,maka Ho ditolak dan Ha
diterima.
4. Uji t
Menentukan koefisien spesifik yang mana yang tidak sama dengan
nol, uji tambahan diperlukan yaitu dengan mengguna-kan uji t. Uji statistik
t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variable
independen secara individual dalam me-nerangkan variasi variable
dependen (Ghozali, dalam ini Samsudin 2017 ). Sigifikansi koefisien
parsial ini memiliki distribusi t dengan derajat kebebasan nk-1, dan
signifikan pada α = 0,05.
5. Uji F
Untuk mengetahui bahwa variabel bebas yang dirumuskan
memiliki pengaruh simultan atau secara bersama-sama berpengaruh
34
terhadap variabel terikat maka dilakukan uji f atau uji Fisher (Lind et al,
dalam ini Widya exsa marita 2015). Uji f ini juga dapat digunakan untuk
mengetahui apakah model regresi yang telah dirumuskan mampu
memprediksi variabel terikatnya. Ketentuan yang digunakan adalah jika
nilai signifikansi f lebih kecil dari alpha (0,05), maka model regresi yang
dirumuskan sudah cocok dan mampu memprediksi kinerja karyawan
sebagai variable terikat.
6. Koefisien determinasi (R2)
pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan sebuah model
menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi
adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variable dependen
sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variable-variabel
independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, dalam ini Samsudin
2017). Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi R2
adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke
dalam model. Setiap penambahan satu variabel independen, maka R2
pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh
signifikan terhadap variable dependen atau tidak. Karena itu, banyak
peneliti menganjurkan untuk meng-gunakan nilai adjusted R 2 pada saat
mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai adjusted
R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan
kedalam model. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan adjusted R 2
agar tidak terjadi bias dalam mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variable dependen.
35
7. Uji Asumsi Klasik
a) Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas, seperti halnya uji Normalitas, cara yang
sering digunakan dalam menentukan apakah suatu model terbebas dari
masalah heteroskedastisitas atau tidak hanya dengan melihat pada
Scatter Plot dan dilihat apakah residual memiliki pola tertentu atau
tidak. Cara ini menjadi fatal karena pengambilan keputusan apakah
suatu model terbebas dari masalah heteroskedastisitas atau tidak
hanya berpatok pada pengamatan gambar saja tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Banyak metoda statistik yang
dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu model terbebas dari
masalah heteroskedastisitas atau tidak, seperti misalnya Uji White, Uji
Park, Uji Glejser, dan lain-lain. Modul ini akan memperkenalkan salah
satu uji heteroskedastisitas yang mudah yang dapat diaplikasikan di
SPSS.
b) Uji Multikolerinitas
Pengujian ada tidaknya hubungan atau korelasi antar variabel
bebas penelitian disebut uji multikolinieritas (Lind et al, dalam ini Widya
exsa marita 2015). Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan
nilai variance inflation factor (VIF) pada masing-masing variabel
bebasnya, dengan ketentuan jika nilai (VIF) lebih besar dari 10 maka
dikatakan bahwa antar variabel bebas telah terjadi multikolinieritas.
c) Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk
memastikan bahwa residual mengikuti pola distribusi normal (Lind et al,
36
dalam ini Widya exsa marita 2015). Hal ini perlu dilakukan untuk
memperkuat keyakinan bahwa hasil uji hipotesis dalam penelitian ini
benar-benar akurat dan sahih. Pengujian normalitas dilakukan dengan
menggunakan uji Kolomogorov-Smirnov (Lind et al, dalam ini Widya
exsa marita 2015). Dalam pengujian ini, hipotesis yang dirumuskan
adalah :
Ho : data berdistribusi normal
Ha : data tidak berdistribusi normal
Nilai yang dijadikan acuan dalam pengujian normalitas adalah nilai
[Link] (2-tailed) dalam hasil output SPSS 23 for Windows. Jika
nilai dalam tersebut lebih besar dari alpha atau (Sig) > 0,05, maka
disimpulkan bahwa H0 diterima dan dengan kata lain data telah
berdistribusi normal. Sebaliknya jika nilai dalam perhitungan lebih kecil
dari alpha atau (Sig) < 0,05, ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima
dengan kesimpulan bahwa data tidak berdistribusi normal (Lind et al,
dalam ini Widya exsa marita 2015). Selain menggunakan uji
kolomogorov smirnov, uji normalitas juga dapat ditunjukkan dengan
melihat normal probability plot. Dalam melihat grafik tersebut, maka
dasar pengambilan keputusan yang digunakan yang digunakan
menurut (Ghozali, dalam ini Widya exsa marita 2015). adalah sebagai
berikut:
a) Jika titik-titik dalam grafik menyebar disekitar garis diagonal
dan mengikuti arah garis diagonal atau gambar histogramnya
menunjukkan distribusi normal, maka dikatakan bahwa model
regresi telah memenuhi asumsi normalitas.
37
b) Jika titik-titik dalam grafik menyebar jauh dan tidak mengikuti
arah garis diagonal atau gambar histogramnya tidak
menunjukkan distribusi normal, maka dikatakan bahwa model
regresi telah melanggar asumsi normalitas.
38
DAFTAR PUSTAKA
Ayuk Wahdanfari, (2014) “Pengaruh Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman
TerhadapEtos Kerja Karyawan Bank BNI Kantor Cabang
Kediri (Skripsi--IAIN Tulungagung), hal 33
Bambang Swasto (2011), Manajemen Sumber Daya Manusia, Malang, hal 67
Bangun. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Erlangga, hlm 231
Citra Rahayu, (2017) “Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kompetensi
Karyawan PT Antam Pomalaa” (Skripsi—Universitas Halu
Oleo, Kendari), hal 13
Edi Saputra Pakpahan,Siswidiyanto,Sukanto (2014), Pengaruh Pendidikan dan
Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai (Studi Kadan
Kepegawaian Daerah Kota Malang), Junal Administrasi
Publik
Flavia Costa Henriques, Syamsudin (2017), : Pengaruh Pendidikan Dan
Pelatihan Terhadap Peningkatan Kinerja Pada PLN
(persero) Wilayah Sulselrabar, Skripsi Ekonomi dan Bisnis,
UIN Alauddin Makassar, hal 36
Gomes, Cordose Fanstino. (2003). Manajemen Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta: [Link] Offset, hlm 199.
Ghozali, Samsudin 2017, Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan Terhadap
Peningkatan Kinerja , Skripsi UIN Alauddin [Link]
44-49
Irianto, J., Tema-Tema Pokok Manajemen Sumber Daya Manusia (Surabaya:
Insan Cendikia, 2001)
Kamrida, A., & Nasrullah, M. (2016). Pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap
kinerja pegawai pada kantor lembaga penjaminan mutu
pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Office, 2(2),
149-154.
Larius, Kosay, Andi Kamrida (2016) pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan terhadap
Kinerja Pegawai Pada Kantor Lembaga Penjaminan Mutu
Pendidikan ( LPMP) Provinsi Sulawesi Selatan skripsi
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar
Leonando Agusta dan Eddy Madiono Sutanto, (2013), Pengaruh Pelatihan dan
Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan [Link]
Surabaya Program Studi Manajemen, Universitas Kristen,
Surabaya, vol. 1, no. 3
39
Lind et al, Widya exsa marita (2015), Pengaruh Struktur Organisasi dan Ukuran
Perusahaan Terhadap Penerapan Business Entity Concept,
Jurnal Akuntansi, [Link] hal
26
Muhammad priyatna, (2016), Manajemen Pengembangan SDM pada lembaga
pendidikan islam, Vol 5 No 09
Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. (2007). Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya, hal 9-69
Marihot Tua E. H. (2002), Manajemen Sumber Daya Manusia, PT. Garamedia
Widia Sarana Indonesia, Jakarta, hal 185
Muhammad darari bariqi (2018), pelatihan dan pengembangan manajemen
sumber daya manusia. Jurnal Studi Manajemen dan Bisnis)
hal 66
Munawir Nasir, (2019), Kinerja Karyawan Ditinjau dari Pelatihan dan Motivasi
pada [Link] Kapal Indonesia (Persero) Makassar,
Universitas Muslim Indonesia, vol 6 no 2,
Nurrul fatur Rohmah (2018), Pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia
Lain Kediri, hal 3
R. Wayne Mondy (2008), Manajemen sumber Daya Manusia Edisi 6 (Jakarta:
Erlangga), hal 210
Raymond dkk, (2013), Manajemen Sumber Daya Manusia Mencapai Keunggulan
Bersaing (Jakarta: Salemba Empat,), hal 351
Simamora, (2004). Manajemen Sumber Daya Manusia (Yogyakarta, STIE YKPN),
hal 278
Sudarmanto. (2009). Kinerja dan Pengembangan Kompetensi SDM: Teori
Dimensi Pengukuran, dan Implementasi dalam Organisasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm 11.
Sukoco, (2010). Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan, Pembelajaran Organisasi
Terhadap Kinerja Dengan Kompetensi Sebagai Mediasi,
Jurnal Bisnis dan Ekonomi Universitas Stikubank Semaran
Sutrisno, Edy. (2010). Budaya Organisasi.(ke-1) Jakarta: Kencan, hlm 172.
The Liang Gie, Andi Kamrida (2016), Pengaruh Pendidikan Dan Pelatihan
Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Sulawesi
Selatan, Skripsi Sosial Politik Universitas Negeri Makassar.
Tika, Moh Pabundu. (2012). Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja
Perusahaan. Jakarta: [Link] Aksara
40
Tim Pengembangan MKKD, Dasar-Dasar Kependidikan (Semarang: IKIP
Semarang Press, 1995), hal 5
Umar, Husein. (2005). Evaluasi Kinerja Perusahaan: Teknik Evaluasi Bisnis dan
Kerja Perusahaan Secara Komprehensif, Kuantitatif, dan Modern.
Jakarta: Pustaka Utama, hlm 102.
Wilson Bangun, (2012), Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Erlangga),
hal 203
Wilson, Bangun. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Erlangga
hlm 233.
Wilson, Wahyudi, Imam. (2012).Pengembangan Pendidikan Strategi, Inovatif dan
Kreatif dalam mengelola Pendidikan secara Komprehensif. Jakarta:
PT. Prestasi Pustakarya, hlm 130.
41
LAMPIRAN
42