0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan9 halaman

Strategi Komunikasi Atasi Konflik Humas Medan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan9 halaman

Strategi Komunikasi Atasi Konflik Humas Medan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JAKA

Jurnal Akuntansi, Keuangan dan Auditing, Vol.3 (No.2), 2022, Hal: 223-231

[Link]

Strategi Dan Efektifitas Komunikasi Organisasi Dalam Mengatasi Konflik


Kerja Di Lingkungan Humas Pemko Medan

Andika Suhartono1, Wardayani2


1
Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma
2
Program Studi Manajemen Perusahaan, Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma
E-mail: Kintonrxking@gmail.com1, cici_wardayani@[Link].id2

ABSTRACT
This study aims to find out how the strategy and effectiveness of organizational communication in overcoming work conflicts in the
Pemko Medan Public Relations environment. Managing individual behavior towards the internal organization really needs to be
done so that the communication that is established becomes effective. Effective communication will determine the quality of results
and the process of achieving organizational goals. But on the contrary, if individuals cannot minimize the conflicts that occur
within an organization, it will be able to have adverse effects such as feelings of discomfort and decreased work motivation of every
member of the organization. Individuals who understand organizational management have a role in reducing and resolving
conflicts that occur within the organization. And by maintaining effective communication, it will be able to reduce conflicts that
occur within the organization.

Keywords: Effectiveness of Organizational Communication, Work Conflict, Public Relations Pemko Medan

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi dan efektifitas komunikasi organisasi dalam mengatasi
konflik kerja di lingkungan Humas Pemko Medan. Mengelola perilaku individu terhadap internal organisasi sangat perlu dilakukan
agar komunikasi yang terjalin menjadi efektif. Kmunikasi yang efektif akan menentukan kualitas hasil serta proses pencapaian
tujuan organisasi. Namun sebaliknya, jika individu tidak dapat meminimalisir konflik yang terjadi dalam suatu organisasi, maka
akan dapat memberikan dampak buruk seperti rasa ketidaknyamanan dan penurunan motivasi kerja dari setiap anggota organisasi
tersebut. Individu yang paham manajemen organisasi, memiliki peran dalam mengurangi dan menyelesaikan konflik yang terjadi
di internal organisasi. Dan dengan mempertahankan komunikasi yang efektif, akan dapat mengurangi konflik yang terjadi dalam
organisasi.

Kata Kunci: Efektifikas Komunikasi Organisasi, Konflik Kerja, Humas Pemko Medan

ISSN
2723-2522 (Online)
Jurnal Akuntansi, Keuangan dan Auditing, Vol.3 (No.2), 2022, Hal: 223-231

PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan kegiatan yang tak pernah dapat dipisahkan dari manusia sebagai
makhluk (Syamsul, 2018). Komunikasi sendiri dimanfaatkan manusia untuk memenuhi segala
kebutuhan hidupnya sosial (Weber, 2008). Sama halnya dengan lahirnya organisasi yang bertujuan
untuk memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan orang-orang yang ada di dalamnya. Organisasi yang
terdiri dari berbagai macam individu yang memiliki latar belakang, watak maupun potensi yang
beragam tentunya membutuhkan komunikasi untuk meminimalisir terjadinya kesalah fahaman
yang dapat berujung terjadinya konflik di dalam organisasi (Andersson & Zbirenko, 2014).
Interaksi yang terjadi diantara individu-individu dalam kelompok pada setiap organisasi
pada akhirnya dapat memunculkan harapan-harapan. Harapan yang muncul akan mengakibatkan
terciptanya peranan-peranan tertentu yang diemban oleh setiap individu dalam upaya mewujudkan
visi, misi, dan tujuan organisasi. Organisasi itu sendiri pada dasarnya terbentuk sebagai wadah
berkumpulnya sejumlah individu yang melaksanakan berbagai rangkaian aktivitas tertentu secara
teratur guna tercapainya tujuan bersama yang telah disepakati.
Dalam kehidupan masyarakat modern, kebutuhan manusia akan keteraturan menjadi begitu
penting hingga mereka merasa bahwa selain butuh akan keteraturan dirinya sendiri, manusia juga
perlu mengatur lingkungan sekitarnya, menjaga ketertiban, mengelola dan mengontrolnya lewat
berbagai rangkaian aktifitas yang kita kenal dengan manajemen dan organisasi. Keteraturan yang
terjadi pada suatu organisasi merupakan indikasi berfungsinya komunikasi. Mustahil orang-orang
dapat bergerak dan saling bekerja sama di dalam keteraturan tanpa melibatkan komunikasi.
Pemahaman terhadap komunikasi itu sendiri menjadi modal penting bagi pemimpin organisasi
dalam menjalankan perannya sebagai orang yang mengarahkan sumber daya manusia dalam
organisasi.
Komunikasi merupakan proses penyampaian atau penerimaan pesan dari satu orang kepada
orang lain baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, secara tertulis, lisan,
maupun bahasa nonverbal. Komunikasi bagi organisasi merupakan unsur yang memiliki peranan
krusial, pentingnya komunikasi berperan penting dalam menentukan keberhasilan organisasi
dalam mencapai tujuannya. Efektivitas dan efisiensi ketercapaian tujuan organisasi dapat
dipengaruhi oleh seberapa efektif komunikasi dilakukan. Hal ini berkaitan dengan penggerakan
kegiatan orang-orang yang ada di dalam organisasi kearah ketercapaian tujuan organisasi.

224
Andika Suhartono, Wardayani: Strategi Dan Efektifitas Komunikasi Organisasi Dalam Mengatasi Konflik Kerja Di
Lingkungan Humas Pemko Medan

TINJAUAN TEORITIS
Komunikasi Organisasi
Proses komunikasi yang dimulai dari pengiriman pesan oleh komunikator perlu dikelola
dengan baik hingga pesan sampai pada komunikan dan difahami sesuai dengan apa yang
dimaksudkan oleh komunikator. Dalam organisasi komunikasi juga berperan sebagai penghubung
antara struktur organisasi yang memiliki wewenang, tugas dan tanggung jawab yang berbedabeda
agar dapat berjalan bersama sehingga tercipta harmoni pada kinerja orang-orang yang berada pada
masing-masing struktur organisasi.
Komunikasi yang efektif dan koordinasi yang bersifat langsung dapat meningkatkan
motivasi kerja. Komunikasi yang efektif dan koordinasi yang bersifat langsung dapt meningkatkan
kinerja. Komunikasi dan koordinasi yang efektif melalui motivasi kerja secara tidak langsung tidak
berpengaruh pada kinerja (Ariyanti, 2019). Dampak dari komunikasi yang berjalan dengan baik
adalah terjalinnya hubungan yang baik (human relation) diantara individu-individu didalam
organisasi yang juga berdampak pada kerja sama yang baik. Sebaliknya ketika komunikasi
menemui hambatan yang mengakibatkan pesan tidak sampai atau bahkan komunikan salah
mengartikan dan memahami pesan yang dimaksud oleh komunikator, maka hal ini dapat
menyebabkan terjadinya konflik di dalam organisasi.
Menurut Wacjman (2016), komunikasi organisasi adalah “suatu bidang studi yang
berfokus pada komunikasi dan arus informasi dalam suatu organisasi melalui peran media yang
berbeda”. Sejalan dengan itu, Clampitt (2016) memberikan pernyataannya bahwa “komunikasi
organisasi merupakan suatu proses mengirimkan dan menerima informasi atau pesan dan
pemindahan arti dalam k elompok formal ataupun informal pada suatu organisasi”. Adapun
Atmaja dan Dewi (2018) menambahkan bahwa komunikasi organisasi adalah “bagaimana
organisasi mewakili, menghadirkan, dan membentuk iklim dan budaya organisasi mereka dari
sikap, nilai, dan tujuan yang menjadi ciri organisasi dan anggotanya”
Dari ketiga definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi organisasi adalah
suatu proses interaksi antar individu dalam kelompok yang memiliki kemampuan, hubungan, dan
perasaan yang sama meliputi pesan, tujuan, arus dan media komunikasi yang terjadi dalam suatu
sistem kelompok dan dapat dipengaruhi oleh pihak internal maupun eksternal.

225
Jurnal Akuntansi, Keuangan dan Auditing, Vol.3 (No.2), 2022, Hal: 223-231

Konflik Dalam Organisasi


Konflik berasal dari bahasa Latin confligo, dan terdiri dari dua kata penyusun yaitu “con”
yang berarti bersama-sama dan “fligo” yang berarti pemogokan, penghancuran, atau peremukan.
Menurut Pace (2001), konflik merupakan “perjuangan yang diekspresikan antara sekurang-
kurangnya dua pihak yang saling bergantung, mempersepsi tujuan-tujuan yang tidak sepadan,
imbalan yang langka, dan gangguan dari pihak lain dalam mencapai tujuan mereka, dan perjuangan
tersebut menggambarkan perbedaan diantara kedua pihak ”. Sementara itu menurut Zalabak
(2014), konflik tersebut merupakan “proses yang terjadi ketika individu, anggota kelompok, dan
organisasi merasa frustasi dalam mencapai tujuan dan apa yang diinginkan”. Adapun Gibson
(1997), menambahkan persepsi konflik seperti “Hubungan yang selain dapat menciptakan
kerjasama dan sikap saling ketergantungan, dapat pula melahirkan konflik. Namun sebenarnya
konflik mengandung banyak pengertian, seperti pengertian negatif, netral, serta positif.”
Konflik adalah sesuatu yang biasa terjadi dalam organisasi mana pun karena individu-
individu yang ada di dalamnya memiliki pendapat yang berbeda di antara mereka, ada orang yang
tidak dapat menerima pendapat orang lain yang berbeda. Pada awalnya, konflik dianggap sebagai
sesuatu yang dapat menghancurkan otoritas manajer, namun studi pada tahun 1970-an
menunjukkan bahwa konflik dapat memiliki sisi positif dan juga sisi negatif. Ada kesepakatan
bersama bahwa sangat berbahaya bagi sebuah organisasi untuk memiliki terlalu banyak konflik
dan juga tidak memiliki konflik (Spaho, 2013). Konflik dalam organisasi yang tidak dikelola
dengan beik tentunya menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat ketercapaian tujuan
organisasi perlu diantisipasi dan dikelola agak tidak berdampak negatif pada ketercapaian tujuan
organisasi melalui upaya maksimalkan fungsi dan peran maupun tujuan komunikasi (Mukhtar &
Prasetyo, 2020).
Dari berbagai definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa konflik merupakan segala
macam interaksi pertentangan atau antagonistik mengenai persepsi atau tindakan diantara dua
belah pihak atau lebih mengenai apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap diriya, orang lain,
maupun organisasi dengan kenyataan apa yang dihadapinya.

226
Andika Suhartono, Wardayani: Strategi Dan Efektifitas Komunikasi Organisasi Dalam Mengatasi Konflik Kerja Di
Lingkungan Humas Pemko Medan

METODE PELAKSANAAN
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kepustakaan (library research), yakni
penelitian yang kegiatan penelitiannya berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, atau
penelitian yang menggali obyek penelitiannya berdasarkan beragam informasi yang bersumber
dari kepustakaan (ensiklopedi, buku, jurnal ilmiah, majalah, koran dan dokumen) (Moleong,
2019). Penelitian kepustakaan atau kajian literatur (literature review, literature research)
merupakan penelitian yang menelaah atau meninjau secara kritis gagasan, pengetahuan maupun
temuan-temuan yang terdapat pada suatu bagian literatur berorientasi akademik (academic-
oriented literature), serta merumuskan kontribusi teoritis dan metodologisnya untuk topik tertentu.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Peran Komunikasi di Lingkungan Humas Pemko Medan
Komunikasi sangat berperan penting untuk menjalin koordinasi dan hubungan kerja sama
yang baik antar individu maupun kelompok yang terlibat di Humas Pemko Medan. Komunikasi
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan kualitas dari proses pencapaian tujuan
Humas Pemko Medan. Permasalahan yang lazim dihadapi Humas Pemko Medan pada umumnya
adalah konflik. Komunikasi dalam organisasi yang akhirnya menimbulkan konflik bisa disebut
juga sebagai kegagalan informasi. Kegagalan informasi biasanya terjadi ketika kita menyampaikan
pendapat/ interpretasi/ penafsiran antara komunikator dan komunikan yang berbeda satu sama lain.
Dalam sebuah organisasi, pekerjaan dari seorang individu maupun kelompok saling terhubung
dengan pekerjaan dari pihak lainnya. Dan ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi,
penyebabnya sangat erat kaitannya dengan komunikasi yang kurang baik.
Konflik merupakan realita yang tidak dapat dihindari. Dalam aktivitas komunikasi Humas
Pemko Medan, konflik yang muncul akan mengganggu proses kelancaran hubungan antar individu
dan mengakibatkan suasana kerja menjadi tertekan. Akibatnya, penurunan tingkat motivasi dan
prestasi kerja berkurang, sehingga produktivitas kerja individu dan Humas Pemko Medan
menurun. Sebenarnya dalam berkomunikasi sangat wajar jika suatu pesan memiliki makna yang
berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Karena makna dari sebuah pesan berkaitan
dengan penafsiran makna yang menerimanya. Untuk itu, individu di dalam organisasi sebaiknya
dibekali kemampuan untuk memanajemen konflik berdasarkan analisa penyebab dan cara
menanggulangi konflik yang ditinjau dari besar kecilnya tingkat konflik yang dihadapi.

227
Jurnal Akuntansi, Keuangan dan Auditing, Vol.3 (No.2), 2022, Hal: 223-231

Setiap individu yang ada di dalam Humas Pemko Medan harus mampu menyelesaikan
konflik yang muncul dengan bijak dan baik agar lingkungan organisasi tetap berjalan dengan
efektif. Diperlukan teknik untuk manajemen konflik yang baik dan benar dalam suatu komunikasi
organisasi. Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara individu maupun
kelompok yang sedang berkonflik, dengan melihat pendekatan yang berorientasi pada proses atau
bentuk-bentuk komunikasi dalam mempengaruhi kepentingan atau interpretasi. Komunikasi yang
efektif dapat terwujud apabila strategi dan metode komunikasi yang digunakan tepat.
Strategi komunikasi yang efektif sangat penting diperhatikan dalam sebuah proses
komunikasi. Suatu organisasi dapat berjalan lancar dan dikatakan efektif, apabila proses
komunikasi berlangsung dengan baik. Jika komunikasi dapat berjalan secara efektif, maka
informasi dalam dinamika organisasi pun akan berjalan dengan lancar sehingga dapat
mempercepat proses penyelesaian tujuan dalam organisasi. Sebaliknya, jika komunikasi berjalan
tidak efektif, maka tidak menutup kemungkinan bagi Humas Pemko Medan untuk mengalami
gangguan arus informasi sehingga mengakibatkan terhambatnya tujuan dalam organisasi. Namun
perlu diperhatikan bahwa konflik tidak selalu merugikan tetapi juga dapat menguntungkan
organisasi dalam jangka panjang karena dapat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi
tersebut apabila distimulasi. Konflik dapat mengubah perilaku dan dapat menyadarkan pihak-
pihak yang berkonflik atas kesalahannya, sehingga akan mampu meningkatkan produktivitas di
dalam organisasi.
Strategi Mengatasi Konflik
Menurut Heridiansyah (2014), terdapat lima langkah dalam meraih kedamaian dalam
konflik. Apapun sumber masalahnya, lima langkah berikut ini bersifat mendasar dalam mengatasi
kesulitan, seperti:
a. Pengenalan kesenjangan antara keadaan yang sudah ada, diidentifikasikan dengan
bagaimana keadaan yang seharusnya;
b. Melakukan diagnosis pengujian mengenai 5W+1H tentang bagaimana berhasil dengan
sempurna;
c. Menyepakati suatu solusi dengan cara mengumpulkan masukan-masukan untuk mencari
solusi atau jalan keluar dan menyaring penyelesaian yang tidak dapat diterapkan;
d. Pelaksanaan dengan konsekuensi adanya keuntungan maupun kerugian;

228
Andika Suhartono, Wardayani: Strategi Dan Efektifitas Komunikasi Organisasi Dalam Mengatasi Konflik Kerja Di
Lingkungan Humas Pemko Medan

e. Evaluasi jika penyelesaiannya tidak berhasil, kembali ke langkah sebelumnya dan


mencoba kembali.
Menurut Zalaback (2014), terdapat empat cara untuk mengurangi adanya konflik,
diantaranya adalah mengidentifikasi kemungkinan sejumlah isu dan fokus pada pendekatan
mengenai isu yang dihadapi, menjabarkan perilaku dan dampak untuk dihindari selama konflik
berlangsung, menunjukkan kepedulian terhadap data yang diperoleh dan perasaan dari individu,
menawarkan bentuk kompromi jabatan atau fungsi yang tepat.
Pemimpin harus menguasai keterampilan manajemen konflik, sehingga konflik yang
terjadi dapat berdampak positif bagi tercapainya tujuan organisasi. Adapun yang menjadi tujuan
manajemen konflik dalam organisasi adalah untuk mengembangkan dan memelihara kerjasama
yang harmonis antar anggota organisasi. Strategi penyelesaian konflik apat dilakukan dengan
teknik sebagai berikut:
a. Menghindar; dengan menghindati isu atau masalah yang dapat menyebabkan terjadinya
konflik. Menghindar perlu dilakukan jika isu atau masalah tidak terlalu penting atau jika
potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang ditimbulkannya;
b. Mengakomodasi; merupakan tindakan memberi kesempatan pada orang lain untuk
membuat kesepakatan yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang terjadi, cara ini
perlu dilakukan jika konflik tersebut penting bagi orang lain sehingga memungkinkan
terjadinya kerjasama dengan cara memberi kesempatan kepada mereka yang
berkonfrontasi untuk membuat keputusan bersama;
c. Kompetisi; metode perlu dilakukan jika seseorang memiliki lebih banyak informasi dan
keahlian yang unggul jika dibandingkan dengan lawan konfrontasinya. Cara ini mungkin
bisa memunculkan konflik yang lebih besar dan berkelanjutan, namun cara ini bisa jadi
merupakan cara yang penting untuk alasan keamanan;
d. Kompromi atau Negosiasi; metode ini dilakukan dengan masing-masing pihak yang
berkonfrontasi memberikan atau menawarkan sesuatu sehingga memungkinkan terjadinya
saling memberi dan menerima diantara pihak-pihak yang berkonfrontasi
e. Kolaborasi; merupakan cara menyelesaikan konflik dengan mengutamakan terciptanya
kerja yang sama diantara pihak-pihak yang berkonfrontasi. Dalam melaksanakan metode
ini dibutuhkan komitmen masing-masing pihak untuk saling mendukung satu sama lain
(Muspawi, 2014).

229
Jurnal Akuntansi, Keuangan dan Auditing, Vol.3 (No.2), 2022, Hal: 223-231

Strategi-strategi dalam penyelesaian konflik yang terjadi dalam organisasi perlu


melibatkan komunikasi yang berfungsi sebagai alat dalam mengubah dan mengarahkan persepesi
maupun prilaku orang-orang yang berkonfrontasi kepada redanya konflik yang terjadi.
Komunikasi organisasi menjadi kunci utama dalam kegiatan berorganisasi, hal ini karena
komunikasi organisasi dapat dijadikan sebagai media bagi para pengurus dan anggota organisasi
dalam menyampaikan perintah, nasihat, informasi, kritik, saran maupun ide-ide (Dewi &
Handayani, 2013).

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


Komunikasi memiliki peran sebagai langkah preventif dan langkah represif dalam
mengelola konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sebagai langkah preventif komunikasi dapat
dilakukan dengan mengelola dan menerapkan strategi komunikasi yang tepat, sehingga mencegah
terjadinya misskomunikasi yang dapat memicu terjadinya konflik diantara anggota organisasi.
Mengelola perilaku individu terhadap internal organisasi sangat perlu dilakukan agar komunikasi
yang terjalin menjadi efektif. Komunikasi yang efektif akan menentukan kualitas hasil serta proses
pencapaian tujuan organisasi. Namun sebaliknya, jika individu tidak dapat meminimalisir konflik
yang terjadi dalam suatu organisasi, maka akan dapat memberikan dampak buruk seperti rasa
ketidaknyamanan dan penurunan motivasi kerja dari setiap anggota organisasi tersebut. Individu
yang paham manajemen organisasi, memiliki peran dalam mengurangi dan menyelesaikan konflik
yang terjadi di internal organisasi. Dan dengan mempertahankan komunikasi yang efektif, akan
dapat mengurangi konflik yang terjadi dalam organisasi. Namun konflik juga tidak selalu
merugikan, akan tetapi juga dapat menguntungkan organisasi dalam jangka panjang karena dapat
mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi tersebut apabila distimulasi. Konflik dapat
mengubah perilaku dan dapat menyadarkan pihak-pihak yang berkonflik atas kesalahannya,
sehingga akan mampu meningkatkan produktivitas di dalam organisasi.

230
Andika Suhartono, Wardayani: Strategi Dan Efektifitas Komunikasi Organisasi Dalam Mengatasi Konflik Kerja Di
Lingkungan Humas Pemko Medan

DAFTAR PUSTAKA
Andersson, J., & Zbirenko, A. (2014). Effect of organizational structure, leadership and
communication on efficiency and productivity. Umeå School of Business and Economics,
1–54.
Ariyanti, A. (2019). Analisis Pengaruh Komunikasi Efektif dan Koordinasi Terhadap Motivasi
Kerja Dampaknya Terhadap Kinerja Karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Jurnal
Ilmiah M-Progress, 9(2).
Atmaja, S., & Dewi, R. (2018). Komunikasi Organisasi (Suatu Tinjauan Teoritis Dan Praktis).
Inter Komunika, 3(2), 192–206.
Clampitt, P. G. (2016). Communicating for Managerial Effectiveness: Challenges| Strategies|
Solutions. Sage Publications.
Dewi, T. H., & Handayani, A. (2013). Kemampuan mengelola konflik interpersonal di tempat
kerja ditinjau dari persepsi terhadap komunikasi interpersonal dan tipe kepribadian
ekstrovert. Jurnal Psikologi, 12(1), 1–12.
Heridiansyah, J. (2014). Manajemen konflik dalam sebuah organisasi. Jurnal STIE Semarang
(Edisi Elektronik), 6(1), 28–41.
Moleong, L. J. (2019). Moleong,” Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi”. Bandung:
Remaja Rosdakarya. PT. Remaja Rosda Karya.
Mukhtar, H., & Prasetyo, M. A. M. (2020). Pesantren Efektif Model Teori Integratif
Kepemimpinan–Komunikasi-Konflik Organisasi. Deepublish.
Muspawi, M. (2014). Manajemen konflik (upaya penyelesaian konflik dalam organisasi) (Vol.
16). Jambi University.
Pace, R. W., & Faules, D. F. (2001). Komunikasi Organisasi: strategi menibgkatkan kinerja
perusahaan.
Shockley-Zalabak, P. S. (2014). Fundamentals of organizational communication. Pearson Higher
Ed.
Spaho, K. (2013). Organizational communication and conflict management. Management-Journal
of Contemporary Management Issues, 18(1), 103–118.
Syamsul, M. (2018). Education as a Foundation of Humanity: Learning from the Pedagogy of
Pesantren in Indonesia. Journal of Social Studies Education Research, 9(2), 104–123.
Wajcman, J., & Dodd, N. (2016). The sociology of speed: Digital, organizational, and social
temporalities. Oxford University Press.
Weber, T. (2008). Handbook of interpersonal communication (Vol. 2). Walter de Gruyter.

231

Anda mungkin juga menyukai