Karakteristik Reservoir Seismik RST
Karakteristik Reservoir Seismik RST
OLEH :
HARISTA BR GINTING
H221 13 304
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains
pada Program Studi Geofisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Hasanuddin
OLEH :
HARISTA BR GINTING
H221 13 304
i
HALAMAN PENGESAHAN
OLEH :
HARISTA BR GINTING
H221 13 304
Disetujui Oleh :
ii
PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan ini saya menyatakaan bahwa skripsi ini merupakan karya orisinil
saya dan sepanjang pengetahuan saya tidak memuat bahan yang pernah dipublikasi
atau ditulis oleh orang lain dalam rangka tugas akhir untuk sesuatu gelar akademik
telah dikutip sesuai kaidah yang berlaku. Saya juga menyatakan bahwa skripsi ini
merupakan hasil karya saya sendiri dan dalam batas tertentu dibantu oleh pihak
pembimbing.
Penulis,
Harista Br Ginting
iii
“Success Or Not Doesn’t Matter, The Points Are
iv
SARI BACAAN
v
ABSTRACT
The "RST" field of the Taranaki Basin New Zealand is a production field in the
Mahoenui Formation, Kaiata Formation, and Bottom Kaiata which is a good
enough sandstone reservoir for accumulating hydrocarbons. The purpose of this
research is to determine the distribution of hydrocarbon, target zone and to
characterize reservoir. The method used in this study are Seismic Attribute Analysis
and Impedance Acoustic Inversion to know the geometry of reservoir and porosity
from target zone. Seismic Attribute Analysis is done describe some of the physical
properties of the earth more accurately, the seismic attributes that used are trace
envelope, instantaneous frequency, instantaneous phase, and decomposition
spectrum. The simulated annealing and colored inversion method is inverse
modeling techniques with the result acoustic cross-section. The Colored inversion
method is an inversion technique relative impedance output that easy and to see
anomalys more faster. The simulated annealing inversion method is an inversion
technique with an absolute impedance output through a statistical and probabilistic
approach. The simulated annealing method has advantages over other inversion
techniques, the simulated annealing inversion gets global optimization with an
acoustic cross-section that has better vertical and horizontal resolution. The result
of inversion process done on 3D seismic data in RST field obtained by Cut-Off
acoustic impedance value for reservoir at Mahoenui Formation, Kaiata Formation,
and Bottom Kaiata between 9000 kgm-2s-1 - 15.000 kgm-2s-1, Cut-off Density
ranged from 2.1 kg/m3 - 2.7 kg/m3 and neutron porosity 40% - 50%. The
distribution of hydrocarbons occurs in a complex geological structure with the
direction of the accumulation of its hydrocarbons from the Southwest - Northeast.
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
segala berkat dan pimpinan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir
salah satu syarat yang diajukan untuk menyelesaikan studi pada Program Studi
Hasanuddin.
Penulis menyadari bahwa, selesainya skripsi ini tidak terlepas dari didukung
oleh berbagai pihak yang memberikan semangat, ide, dukungan moril, dan doa.
Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih, terkhusus untuk kedua
orang tua tercinta penulis, Papa tersayang Hermanto Ginting dan Mama tercinta
pengorbanan, tetesan keringat, semangat dan motivasinya yang selama ini menjadi
penyemangat penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, terima kasih untuk
selalu ada dan selalu berdoa untuk kelancaran segala urusan penulis. Terima kasih
(Alm), Hery Handika Ginting, Herany Br Ginting, dan Frienty Dinda Zaneta
Br Sitepu terima kasih untuk selalu memotivasi, memberi nasehat, dan mendukung
penulis. Terima kasih juga buat seluruh keluarga besar Ginting Family dan
Sembiring Family atas semangat dan dukungan moril yang senantiasa diberikan
kepada penulis.
vii
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya tugas akhir ini berkat
bantuan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, penulis juga ingin
1. Bapak Sabrianto Aswad, [Link], MT dan Bapak Dr. Lantu, [Link]. Sc, DESS
selaku pembimbing utama dan pembimbing pertama yang dengan tulus dan
skripsi ini.
Jakarta Pusat yang telah tulus dan sabar membimbing dan memberikan waktu
serta tak lupa juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh
k’tata, mba’ Tari yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu, trimakasih
viii
4. Ander perangin –angin, S.T yang selalu siap sedia meluangkan waktunya
5. Bapak Syamsuddin, [Link], MT dan ibu Dra. Maria, Msi, ibu Makhrani,
[Link], [Link] selaku tim penguji skripsi geofisika yang telah memberi masukan
6. Bapak Dr. Eng. Amiruddin, [Link], [Link] selaku Dekan Fakultas Matematika
7. Bapak Dr. Muh. Altin Massinai, [Link] selaku Ketua Program Studi
handoyo dan kak Hanif terima kasih untuk tetap selalu berjuang bersama
11. Teman saat menjadi mahasiswi baru Geofisika 2013, Nurul Alfiah Arna,
[Link] dan Oktavia, [Link], Nur Hilda amelia yang telah banyak memberikan
semangat, jadi tempat berkeluh kesah, terima kasih selalu ada di sisi penulis
ix
12. Teman ‘adwitiya catering’ yang penulis kenal Suarni, [Link], Nurhilda
Nurlindah, [Link], terima kasih selalu ada di sisi penulis dalam keadaan susah
mengerjakan skripsi.
14. Teman- teman KKN Gel.93 Kab. Gowa, Kec. Pattallassang terkhusus
bulan 2 minggu.
15. Kepada adik-adik 2014, 2015 dan 2016, 2017 KM FMIPA Unhas salam
USE YOUR MINE BE THE BEST dan Himafi FMIPA Unhas “Jayalah
(EAGE).
17. Adik – adik Rabbani Squad Dianti aputri Br Tarigan, Dian Utari, Bulan,
Jenni, Devi yang selalu ada dan memotivasi penulis selama mengerjakan
skripsi.
x
18. Kakak – kakak NAVAL 2008, 2011 k’Fitrah, k’anto, k’uga, k’ray, k’afdal,
k’ari, k’uttang, k’cau’, k’riknal, k’asmar dan yang tak dapat penulis
penulis.
20. Teman – teman dan adik –adik KMK UNHAS, KMKT UNHAS, KMK
bernadet, ave, Sartika dan yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu,
kepada Ray Sandhi Taulangi yang selalu setia mendengarkan keluh kesah,
skripsi.
Serta kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu terima
Penulis
xi
DAFTAR ISI
ABSTRACT .......................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
xii
II.5 Konsep Dasar Seismik Refleksi................................................................10
II.7.3 Wavelet...........................................................................................13
II.7.4 Polaritas..........................................................................................16
II.10.1 Densitas.......................................................................................19
II.10.3 Kecepatan....................................................................................20
II.11 Checkshot................................................................................................20
xiii
II.12 Pengikatan Data Seismik dan Sumur.......................................................21
II.14 Cross-Plot…………................................................................................24
xiv
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.2.1 Data................................................................................................41
xv
IV.1.1.7 Analisis Coloured Inversion Horizon Slice…................63
BAB V PENUTUP
[Link]...............................................................................................71
[Link]......................................................................................................... 72
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 73
xvi
DAFTAR GAMBAR
xvii
Gambar 4.1 Log Menganalisis Zona Target....................................................51
xviii
DAFTAR TABEL
xix
DAFTAR LAMPIRAN
xx
BAB I
PENDAHULUAN
Lapangan ”RST” terletak di sepanjang sisi bagian barat cekungan Taranaki New
Zealand. Daerah penelitian ini tersusun dari batuan sedimen yang didominasi oleh
Cekungan ini pertama kali terbentuk karena terjadinya pergerakan antara lempeng
lempeng. Lempeng Australia bergerak kearah Timur berada pada bagian pulau
Selatan lempeng Pasifik dan lempeng Pasifik bergerak kearah Barat Daya berada
dibagian pulau Utara lempeng Australia, interaksi kedua lempeng tersebut berada
khususnya minyak dan gas bumi menyebabkan sumber daya alam perlu semakin
akustik yang lebih akurat dalam menggambarkan keadaan bawah permukaan bumi,
Sedangkan atribut seismik adalah penggunaan atribut seismik sehingga atribut ini
seismik. Salah satu metode yang digunakan dalam melakukan interpretasi data
1
seismik adalah metode inversi impedansi akustik. Metode inversi impedansi akustik
merupakan suatu proses konversi dari data seismik menjadi data impedansi akustik
1. Data seismik dan data sumur yang digunakan dalam penelitian ini
Formasi Kaiata dan Bottom Kaiata, yang terletak pada Cekungan Taranaki
New Zealand.
3. Pada penelitian ini metode inversi yang digunakan adalah metode inversi
Impedance).
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gambar 2.1 Struktur Map cekungan Taranaki, New Zealand (King dan
Thraser,1988)
Cekungan Taranaki pada Gambar 2.1 adalah cekungan sedimen yang terbesar dan
terletak di sepanjang sisi bagian Barat dari New Zealand. Cekungan ini terdapat
pada bagian off-shore, dan sebagian besar didasari oleh continental shelft, disebelah
Barat bagian Pulau Utara New Zealand merupakan salah satu produksi hidrokarbon
terbesar. Produksi hidrokarbon pada cekungan Taranaki dimulai pada tahun 1866.
Penemuan ini membuktikan bahwa cekungan ini berisi sedimen seumur dengan
3
Eosen dan memiliki ketebalan sedimennya sekitar 3.5 km. Cekungan Taranaki ini
terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian Utara – bagian Selatan. Pada bagian Utara
terdapat lempeng Australia dan pada bagian Selatan terdapat lempeng Pasifik kedua
lempeng ini terjadinya subduksi antar lempeng, lempeng Pasifik bergerak kearah
Barat Daya berada pada bagian pulau Utara lempeng Australia, dan lempeng
Australia bergerak kearah Timur berada pada bagian pulau Selatan lempeng
Pasifik. Cekungan ini pertama kali terbentuk pada akhir kapur terdapat sepanjang
Pada Gambar 2.2 daerah penelitian ini terdapat tiga horizon yang menjadi zona
target yaitu terletak pada Formasi Mahoenui, Formasi Kaiata dan Bottom Kaiata
4
telah diidentifikasi mengandung reservoar. Pada lokasi penelitian ini didominasi
terbentuk pada awal paleosene sampai akhir Miosene yang terjadi akibat transgresi
pada struktur yang tidak selaras dan daerah yang Brightspot. Zona yang menjadi
Bottom Kaiata, Formasi Kaiata adanya plankton – plankton atau bethonic yang
terendapkan selama Eosen sehingga sedimen pada Formasi ini memiliki karbonat
yang baik.
Secara umum, pada Gambar 2.3 startigrafi regional cekungan Taranaki New
Zealand menurut (Hart, 2001), tersusun atas beberapa unit Formasi yaitu sebagai
berikut :
Batuan dasar ini terbentuk pada awal Kapur yang berfungsi sebagai
landasan dari cekungan Taranaki New Zealand, yang terdiri dari batuan
Formasi Pakawa Group terdiri dari Formasi Rakopi dan Formasi North
Cape. Formasi ini terlihat pada data seismik kedalaman 780 ft – 970 ft, dan
terbentuk pada akhir kapur – awal Paleosene. Sedimen tertua pada Formasi
5
ini berisi palynomorphs dan dinoflagellate diindikasikan pada endapan
3. Formasi Urenui
Formasi urenui ini terbentuk pada akhir Miosene pada kedalaman 1170 ft –
1351 ft. Pada Formasi ini terdiri dari batupasir mengandung kapur yang
4. Formasi Mokau
Formasi Mokau ini terbentuk pada pertengahan sampai akhir Miosene pada
kedalaman 1532 ft – 2880 ft. Terdiri dari batupasir sekitar 55%, batusilica,
batulanau warna abu-abu terang sampai abu-abu gelap dan batulumpur yang
5. Formasi Mahoenui
Batulanau dan batupasir yang memiliki warna abu – abu kehijauan, adanya
6. Formasi Kaiata
pertengahan Eosene sampai akhir Eosene. Pada Formasi ini terbagi menjadi
6
1. Pada kedalaman 3026 ft – 3059 ft
euhedral.
7. Formasi Kapuni
7
Gambar 2.3 Stratigrafi cekungan taranaki, New Zealand (Hart, 2001)
Cekungan Taranaki merupakan lapangan penghasil minyak dan gas bumi terbesar
di daerah New Zealand, hal itu menunjukkan bahwa cekungan tersebut adanya
akumulasi minyak dan gas yang memenuhi syarat dalam sistem petroleum seperti
pada Gambar 2.4, yaitu adanya batuan Induk, batuan reservoar, perangkap (Trap),
lapisan tudung, dan migrasi. Sistem petroleum pada cekungan Taranaki menurut
8
a. Batuan Induk
Sebagian besar dari cekungan Taranaki ini dihasilkan oleh batubara yang
Batuan reservoar yang terdapat pada cekungan Taranaki ini adalah batupasir
yang terbentuk akibat proses transgresi dan regresi terbentuk pada akhir
akhir Eosene.
c. Migrasi
Migrasi yang terjadi pada cekungan ini adalah ketika terjadinya pergerakan
selaras (unconformity) dan adanya patahan dan antiklin, maka proses ini
d. Perangkap
sebagai berikut :
9
1. Antklin yang memiliki relief yang sedang terbentuk pada awal
Miosene.
gelombang pantul (refleksi) dari batuan bawah permukaan bumi. Hal ini dapat
(Sukmono, 2000).
10
II.6 Prinsip Seismik
Prinsip fermat menyatakan bahwa jika sebuah gelombang merambat dari satu
titik ke titik yang lain maka gelombang tersebut akan memilih jejak tercepat.
rendah.
11
Gambar 2.6 Prinsip Fermat (Oktavinta, 2008)
gelombang akan dibiaskan dan sebagian akan dipantulkan, jika sudut datang
lebih kecil atau sama dengan sudut kritisnya gelombang akan dipantulkan dan
jika sudut datang lebih besar dari sudut kritis maka gelombang akan dibiaskan.
12
Penjalaran gelombang seismik mengikuti hukum snellius yang menyatakan
bahwa sudut pantul dan sudut bias merupakan fungsi dari sudut datang dan
(2.1)
Impedansi Akustik (AI) dapat didefinisikan sebagai sifat fisis batuan yang
AI = ρ.v (2.2)
Dengan,
ρ = densitas (kg/m3)
13
II.7.2 Koefisien refleksi
sebagai fungsi dari kecepatan dan densitas pada kedudukan sinar datang yang
tegak lurus (Sukmono, 2000). Pulsa seismik dipancarkan melalui batuan dalam
(𝐴𝐼2−𝐴𝐼1)
KR = (2.3)
(𝐴𝐼1+ 𝐴𝐼2)
Dimana :
𝐾𝑅 = koefisien refleksi
II.7.3 Wavelet
Wavelet atau disebut juga sebagai sinyal seismik merupakan kumpulan dari
tertentu. Ada empat jenis wavelet yang diketahui, yaitu zero phase, minimum
14
Gambar 2.8 Jenis-jenis wavelet (1) zero phase wavelet (2) maximum phase
wavelet (3) Minimum phase wavelet (4) Mixed pase wavelet (sukmono,
1999)
wavelet yang energinya terkonsentrasi pada titik refrensi nol (peak pada
sedekat mungkin dengan titik refrensi nol (t=0) dan tidak ada energi
sebelum t=0
15
II.7.4 Polaritas
Penentuan polaritas sangat penting dalam proses well seismic tie dan picking
1. Batas refleksi berupa trough pada penampang seismik, jika AI2 >AI1
(a) (b)
Gambar 2.9 Contoh konvensi polaritas menurut SEG. (a) zero-phase, (b)
fasa minimum (Sukmono, 1999).
Resolusi adalah jarak minimum antara dua objek yang dapat dipisahkan oleh
16
vertikal. Resolusi ini dicerminkan oleh suatu batas yaitu kedua reflektor masih
𝑣
rv = (2.4)
4𝑓
Dimana,
f = frekuensi (Hz)
dari satu titik tetapi sebenarnya refleksi tersebut berasal dari daerah dimana
rf = 𝑣2 √𝑓𝑡 (2.5)
17
Dimana,
Seismogram sintetik adalah rekaman seismik buatan yang dibuat dari data log
sesuai dengan geologi bawah permukaan yang diketahui dalam sumur hidrokarbon.
Seismogram sintetik diperoleh dari data kecepatan dan densitas membentuk fungsi
18
II.10 Sifat – sifat Fisika Batuan
II.10.1 Densitas
Densitas merupakan sifat fisis yang secara signifikan oleh porositas. Jika
poros yang disusun oleh mineral dan fluida yang seragam dapat diperoleh
dimana,
Sw = saturasi air(%)
pori terhadap volume total seluruh batuan yang dinyatakan dalam persen
(%).
𝑉𝑡 − 𝑉𝑠 𝑉𝑝
Ф= = (2.7)
𝑉𝑡 𝑉𝑡
19
Dimana,
Ф = porositas (%)
II.10.3 Kecepatan
II. 11 Checkshot
yang diperlukan dalam proses pengikatan data sumur terhadap data seismik. Prinsip
20
Gambar 2.11 Survei Checkshot (Sukmono, 2007)
perbedaan impedansi akustik dari batuan yang bertujuan untuk mengikat horizon
tersebut sehingga horizon seismik (skala waktu) dapat diletakkan pada posisi
kedalaman sebenarnya agar dapat dikorelasikan dengan data geologi lainnya yang
Analisa atribut seismik adalah salah satu metode statistik menggunakan beberapa
atribut untuk memprediksi beberapa properti fisik dari bumi. Pada analisa ini dicari
hubungan antara data sumur dengan data seismik pada lokasi sumur dan
volume dari properti log pada semua lokasi pada volum seismik. Sehingga Gambar
21
Gambar 2.12 Complex Trace (Taner et al. Geophysics, June, 1979)
Dimana :
22
Dimana,
terhadap waktu sebagai slope jarak, pada frekuensi sesaat ini memberikan
frekuensi rendah.
Dimana,
Oleh karena itu, metode ini dapat menggambarkan fitur stratigrafi seperti
23
II.14 Cross-Plot
ini untuk memisahkan litologi nya antara batupasir atau batuserpih. Jika nilai dari
Menurut Harsono (1997), log adalah suatu grafik dalam satuan kedalaman yang
sifat – sifat fisika batuan di sekitar lubang bor secara tepat dan kontinu pada interval
kedalaman tertentu. Ada 4 (empat) jenis log yang sering digunakan dalam
interpretasi yaitu :
1. Log listrik, terdiri dari log resistivitas dan log SP (Spontaneous Potential).
2. Log radioaktif, terdiri dari log GR (Gamma Ray), log porositas yaitu terdiri
Fungsi utama log gamma ray adalah aplikasi stratigrafi dan geologi minyak
bumi yaitu bahwa log gamma ray digunakan sebagai “log lempung” untuk
24
ray berasal dari 3 unsur radioaktif yang ada dalam batuan yaitu Uranium-
Hydrogen Index = HI), dan berdasarkan hal ini log neutron bekerja. Log
Prinsip kerja log ini adalah memancarkan sinar gamma energi menengah
elektron yang ada. Kegunaan dari log densitas yang lain adalah menentukan
25
II.15.5 Log Resistivitas
Kegunaan dari log resistivitas ini adalah untuk mengukur resistivitas dari
formasi batuan jika suatu Formasi yang mengandung salty water (air asin),
Formasi yang sama namun yang terkandung adalah hidrokarbon, maka akan
Pengertian secara lebih spesifik tentang inversi seismik dapat didefinisikan sebagai
seismik sebagai input dan data sumur sebagai kontrol (Sukmono, 2000). Metode
inversi seismik ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu inversi pre-stack dan inversi
berbasis model (Model-Based) dan inversi Sparse Spike (Russel, 1998). Pada
impedansi yang merepresentasikan sifat fisis batuan sehingga lebih mudah untuk
26
Gambar 2.13 Diagram konsep dasar inversi seismik (Sukmono, 2000)
Diagram perbandingan antara teknik inversi dan teknik pemodelan kedepan adalah,
Gambar 2.14 Diagram alir pemodelan kedepan dan inversi (Sukmono, 1999)
pada prioritas data masukan (pre-stack analysis atau post-stack analysis), efisien
biaya dan waktu, objek fisis yang dianalisis. Model awal yang dilakukan sebelum
inversi adalah model akustik impedansi (AI) yang merupakan hasil perkalian antara
kecepatan gelombang P (Vp) dari log sonik dengan densitasnya (ρ) dari log
densitas.
27
Gambar 2.15 Diagram berbagai jenis model teknik inversi seismik
(Sukmono, 1999)
Akustik Impedansi (AI) merupakan sifat batuan yang dipengaruhi oleh jenis
sebagai batas antar lapisan batuan, maka data akustik impedansi melihat
batuan dibawah permukaan bumi sebagai susunan lapisan batuan itu sendiri.
yang telah dibuat dari hasil konvolusi reflektifitas (model geologi) dengan
wavelet tertentu dengan data seismik riil. Penerapan metode ini dimulai
dengan asumsi awal yang diperbaiki dengan iteratif. Teknik ini dilakukan
28
1. Membuat model inisial dan versi blocky dari model tersebut dengan
Dimana,
w(t) = wavelet
m=[m1,m2…...,mk]T (2.13)
persamaan :
29
Dengan F adalah suatu fungsi hubungan antara model dan data
𝝏𝑭 (𝑴𝟎 )
F(M) = F (M0) + Δ𝑀 (2.15)
𝝏𝑴
Dengan,
𝝏𝑭 (𝑴𝟎 )
= perubahan harga perhitungan terhadap model
𝝏𝑴
Coloured inversion merupakan jenis seismik inversi deterministik yang cepat dan
mudah seperti inversi rekursif tetapi mempunyai tampilan yang lebih baik dari
inversi rekursif bahkan hampir sama dengan tampilan sparse spike. Colured
inversion ini biasanya digunakan untuk melihat anomali pada daerah penelitian
tersebut.
30
Gambar 2.16 (a) Inversion model Sparse Spike (b) Coloured Inversion
(modifikasi dari Williams,2016)
impedance). Nilai akustik impedansi terbagi menjadi dua yaitu relatif impedansi
akustik dan absolut impedansi akustik. Metode coloured inversion dapat berfungsi
sebagai quick look untuk melihat anomali pada daerah penelitian. Apabila terdapat
anomali pada daerah penelitian tersebut maka dapat menggunakan metode inversi
resolusi horisontal dan vertikal yang lebih baik dari pada seismik konvensional.
31
A B
C D
Gambar 2.17 (A) Log impedansi dalam domain waktu (B). filter Butterworth
(C). Grafik log amplitudo dengan frekuensi dalam bentuk log (D). model yang
diinginkan yang sudah difilter dengan butterworth (Williams, 2016)
A B
C D
Gambar 2.18 (A). Rata-rata dari spektrum overlay dengan spektrum yang
diinginkan (B). Operator didomain frekuensi (C). Operator di domain waktu (D).
Seismik spektrum overlay dengan log spektrum (Williams, 2016).
32
Proses teknik diatas adalah teknik alogaritma yang dilakukan termasuk cepat dan
seperti Gambar 2.17 (C) persamaan garis lurus yang didapatkan dari spektrum
atau mendesain match operator yang terlebih dahulu dilakukan filter butterworth.
sehingga didapatkan hasil pada Gambar (2.17) (B) pada frekuensi domain.
wavelet Gambar (2.18) (C) dan (D) terlihat overlay antara seismik yang telah
dilakukan inversi kemudian overlay dengan data well dalam bentuk spektrum. Hasil
Metode ini merupakan berdasarkan dari konsep ilmu metalurgi. Ilmu metalurgi
temperatur yang sangat tinggi. Proses pendinginan kristal yang dipanaskan pada
temperatur berhenti, kristal telah berada pada kondisi dengan energi yang sangat
rendah.
33
Gambar 2.19 Proses pembentukan kristal (modifikasi dari Herdiana, 2007)
Maka yang berperan penting dalam pembentukan kristal adalah suhu. Suhu sebagai
faktor pengontrol dari pemanasan sampai pendinginan. Hal ini dinyatakan dengan
rumus :
P (𝛥E) = e- 𝛥E / T (2.16)
Dimana ;
P (𝛥E) = Probabilitas
Exp = Eksponensial
T = Suhu (oC)
untuk inversi yang disebut sebagai inversi simulated annealing. Harapan dari
yang baik seperti kristal. Proses data seismik dengan menerapkan iterasi untuk
mendapatkan model selanjutnya apabila model sudah baik maka proses iterasi akan
berlanjut.
34
Gambar 2.20 Proses iterasi pada inversi Simulated Annealing (Williams, 2016)
dalam seismik. Gambar 2.20 terdiri dari 3 proses yaitu sebelum diiterasi, saat
diiterasi yang ke 1821 dan selesai diiterasi. Setiap proses memiliki tras seismik
(trace pertama) yang merupakan salah satu tras dari seismik konvensional,
kemudian tras yang kedua ada estimeted impedance merupakan impedansi yang
diestimasi (macromodel). Macromodel yang diperoleh dari velocity model atau dari
log. Pada tras kedua ini menjadi ukuran yang sangat penting karena estimasi dari
impedansi ini yang akan diiterasi untuk menjadi model. Tras ketiga adalah estimasi
koefisien refleksi merupakan batas lapisan yang diestimasi, dimana tras ini
35
didapatkan dari rumus akustik impedansi dan tras keempat merupakan wavelet
sehingga mendapatkan sintetik tras pada tras yang keempat. Hasil selisih antara
sintetik tras dengan seismik ditampilkan dalam bentuk error pada tras yang kelima.
Proses sebelum diiterasi akan cenderung flat karena diawali dengan frekuensi yang
rendah sehingga hasil error pun masih besar. Setelah dilakukan proses iterasi maka
impedansi model akan mengalami perturbasi hingga error antara sintetik tras dan
seismik kecil.
Gambar 2.21 grafik global minimum dan lokal maksimum (modifikasi dari
Herdiana, 2007)
Dimana,
36
Ipback = Model Perturbasi sebelumya
Analogi kristal dengan penurunan suhu yang bertahap akan mendapatkan kristal
yang baik seperti Gambar 2.21 pada posisi global minimum. Apa bila
Iterasi yang dilakukan berdasarkan iterasi monte carlo dimana hal pertama yang
dilakukan adalah penentuan kecepatan yang baru secara acak hasil dari iterasi.
x’ = x + r vi (2.19)
dimana ;
37
x = Posisi Awal
r = Nilai Random
vi = Nilai Vektor
Pada saat penurunan suhu dilakukan dengan bertahap untuk mendapatkan nilai
yang baik sesuai dengan kaidah dari proses pembentukan kristal ditulis dengan
rumus :
T’ = kTo (2.20)
Dimana ;
To = suhu awal
Dimana :
T0 = temperatur awal
n = iterasi
38
II. 19 Transformasi Fourier Fast (FFT)
fourier diskrit dengan cepat dan efisien. Transformasi fourier cepat diterapkan
DFT, namun dengan tanda eksponen berlawanan dan dikalikan dengan faktor 1/N.
(2.23)
39
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Sumur pada penelitian ini berada pada 172 ° 141’ 53.43”E 39 ° 48’ 39.35”S.
Lapangan “RST” cekungan Taranaki ini berada 103 km dari Pulau bagian Utara
Taranaki terbagi menjadi dua bagian yaitu Pulau bagian Selatan dan Pulau bagian
Utara, pada bagian Utara terdapat lempeng Australia dan pada bagian Selatan
terdapat lempeng Pasifik. Pergerakan lempeng Pasifik kearah Barat Daya bergerak
ke bawah lempeng Australia dan lempeng Australia bergerak kearah Timur berada
40
dibawah Pulau Selatan dihubungkan dengan Alphine Fault. Penelitian ini dilakukan
III.2.1 Data
Data yang diolah dalam penelitian ini meliputi data sekunder seismik 3D,
data sumur, data checkshot, peta dasar (Basemap) dan data marker.
terhadap hasil dari proses penelitian ini. Berikut ini akan diuraikan data
1. Data Seismik 3D
Data seismik yang digunakan adalah berupa data sekunder berupa data
processing sesuai prosedur. Pada data seismik ini terdapat jumlah inline
2. Data Sumur
Data sumur yang digunakan adalah data sekunder dalam format data log
ASCII Standar (LAS). Data sumur meliputi log yang tersedia dan
sumur menggunakan satuan feet. Ketersedian data log dapat dilihat pada
41
Nama Well Log Log Log Log Log
GR RESS DENS NEUT DT
KIWA-1 √ √ √ √ √
Keterangan : √ = tersedia
3. Base map
dasar ini juga ditunjukkan skala peta dan posisi sumur pada lintasan
seismik.
4. Data Marker
marker ini sangat penting untuk mengetahui waktu dari formasi tersebut
pada kedalaman data seismik setelah dilakukan proses well seismic tie.
Jika daerah target merupakan salah satu formasi dari marker, maka akan
5. Data Checkshot
adalah sebagai langkah awal dalam pengikatan antar seismik dan data
sumur (seismic well tie). Bahwa kita ketahui seismik merupakan domain
42
dibutuhkan konversi dari domain kedalaman menjadi domin waktu,
Berikut ini perangkat pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini.
1. Loading data
Log yang digunakan adalah data log yang berasal dari sumur yaitu: log
sonic, log gamma ray (GR), log densitas (RHOB), log neutron (NPHI),
Data marker dan data checkshot yang digunakan dalam penelitian ini
3. Analisa log
43
4. Analisa crossplot
yang terdapat pada sumur. Crossplot yang dilakukan antara log densitas
dan log Resistivitas, log sonic dan log neutron, log densitas dan log
sonic, log AI dan log neutron, log AI dan log densitas, log AI dan log
stack time migration (PSTM) dalam format SEG-Y. Jumlah inline data
yang tersedia. Pada data sumur yang berpotensi menjadi zona target
Kaiata pada kedalaman 3026 ft - 3206 ft, dan formasi bottom Kaiata
3. Ekstraksi wavelet
44
digunakan untuk proses korelasi dengan data seismik. Pada tahapan ini,
fasa yang digunakan adalah zerophase, dengan sampling rate 4.0 ms.
4. Seismogram sintetik
adalah rekaman seismik buatan yang dibuat dari data log kecepatan dan
well seismic tie ini terdapat beberapa perlakuan untuk memperoleh hasil
Well Seismic Tie dilakukan untuk mengikat data sumur yang terdapat
pada skala kedalaman dengan data seismik yang berada pada skala
waktu. Proses pengikatan ini dilakukan pada data sumur terhadap data
sebenarnya.
6. Picking Horizon
45
7. Inversi Impedansi Akustik
untuk model imepdansi. Hal pertama yang dilakukan untuk proses ini
yaitu input log Densitas, log sonik, log impedansi dan checkshot sebagai
Pada proses ini model yang digunakan adalah model macromodel log.
sudah baik maka proses tersebut akan berlanjut, apabila model tidak
pada iterasi dimana hasil iterasi tersebut memiliki error terkecil antara
46
model dengan seismik dengan hasil resolusi yang tinggi. Frekuensi yang
hasil inversi acoustic impedance (AI), proses ini lebih akurat dari pada
horizon itu sendiri sehingga pada saat dilakukan display terhadap peta
9. Atribut seismik
47
10. Analisa Atribut Seismik
Dalam analisis atribut seismik ini dilakukan analisis pada setiap atribut
lapisan tipis yang tidak kelihatan. Bahwa dengan melakukan analisis ini
penampang seismik.
48
III. 3 BAGAN ALIR PENELITIAN
Mulai
Studi Literatur
Pengumpulan Data
Ekstrak Wavelet
Marker Checkshot Data Log
Seismogram Sintetik
Picking Horizon
Coloured Inversion
Simulated Annealing
(Absoluted AI,
Relative AI)
49
BAB IV
Ada beberapa data log dari sumur KIWA-1, diantaranya log gamma ray (GR),
log sonik (P-wave), log acoustic impedance (AI), log resistivitas, log densitas
(RHOB), data marker dan data checkshot. Beberapa data log tersebut digunakan
untuk menganalisa zona target. Zona target pada penelitian ini ditunjukkan pada
Log yang sering digunakan sebagai analisis zona target yaitu log gamma ray,
log densitas (RHOB), log resistivitas, log porositas (NPHI). Fungsi utama log
gamma ray yaitu untuk membedakan antara lapisan permeable (reservoir rock)
dolomit memiliki konsentrasi isotop radioaktif (U, Th, K) dengan jumlah yang
50
Gambar 4.1 Log yang digunakan untuk menganalisis zona Target
Beberapa respon log gamma ray pada (Gambar 4.1) diidentifikasikan bahwa
zona target daerah penelitian mempunyai nilai gamma ray rendah yang
diinterpretasikan sebagai lapisan reservoir dengan nilai gamma ray yang tinggi
pada Formasi Mahoenui pada kedalaman 2880 ft - 2945 ft, Formasi Kaiata pada
kedalaman 3054 ft - 3206 ft, Formasi Bottom Kaiata pada kedalaman 3206 ft -
menunjukkan nilai rendah pada batupasir (sand rock) jika dibandingkan dengan
menunjukkan nilai resistivitas atau tahanan pada batuan. Nilai resistivitas yang
51
tinggi diindikasikan adanya kandungan fluida hidrokarbon. Pada zona target
kedalaman 3055 ft menjadi zona reservoir yang baik. Log akustik impedansi
(AI) tinggi pada kedalaman menandakan kompak dan akustik impedansi rendah
Well seismic tie merupakan proses untuk mengikat data seismik dengan data
untuk mendapatkan domain dari kedua data tersebut. Data seismik mempunyai
resolusi yang baik secara lateral dan tidak baik secara vertikal, sementara itu
data sumur mempunyai resolusi yang baik secara vertikal dan tidak baik secara
lateral. Maka ketika melakukan well seismic tie akan menyamakan domain dari
kedua data tersebut, sehingga kedua data dapat dioverlay dan memiliki resolusi
yang lebih baik untuk dapat melakukan interpretasi. Proses pertama well
digunakan ialah ekstraksi wavelet theoritical setelah itu didapatkan hasil terbaik
yaitu ekstraksi seismik wavelet sekitar lubang bor lebih baik karena resolusi
yang diperoleh akan seperti resolusi pada sumur. Perkalian antara log densitas
dan log sonik sehingga menghasilkan log akustik impedansi sebagai input untuk
52
perbandingan antara seismogram sintetik dengan data seismik. Kelayakan dari
hasil well seismic tie ditunjukkan dengan nilai korelasi maksimal (0,607).
Pada Gambar 4.2 Well tie seismic menunjukkan nilai korelasi hasil yang
bahwa hasil Well tie seismic maksimal, bahwa nilai korelasi menunjukkan
53
semakin besar nilai korelasi atau mendekati 1 dan nilai pergeserannya 0 atau
sesuai atau sama dengan sintetik seismik atau amplitudo seismik , khususnya
Picking horizon dilakukan horizon slice pada zona target yaitu pada gambar
54
Formasi Kaiata kedalaman 2996 m inline 1404 crossline 1855, dan C bottom
Gambar 4.4 (A) map view Formasi Mahoenui, (B) map view Formasi Kaiata, (C)
map view Formasi bottom Kaiata, (D) basemap
55
IV.1.1.4 Analisis Stratigrafi Seismik
Pada (Gambar 4.5) merupakan gambar penampang seismik inline 1402 dan
crosline 1883. Penampang seismik tersebut terdiri 3 data marker yaitu Formasi
Mahoenui, Formasi Kaiata, Bottom Kaiata terlihat warna hijau yang menjadi
pengendapan sedimen rate yang seragam, tekstur pengisian channel nya yang
divergent fill.
reservoir dari target penelitian yang bisa dibaca panjang gelombang seismik
56
secara vertikal. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui ketebalan batupasir
dari setiap Formasi yaitu Formasi Mahoenui 84.9403 ft, pada Formasi Kaiata
dan bottom Kaiata 121.4854 ft. Setelah mengetahui ketebalan batupasir dari
8231.44 ft/s pada Formasi Kaiata sampai dengan bottom Kaiata. Dengan
panjang gelombang (λ) pada ketebalan lapisan reservoar yaitu pada Formasi
57
IV.1.1.5 Analisis Sensitivitas
Analisa sensitivitas adalah analisa dari suatu sumur, apakah sumur tersebut sensitif
atau tidak. Sumur tersebut dapat disebut sensitif apabila dapat memisahkan
batupasir dan batuserpih sehingga proses inversi akustik impedansi (AI) dapat
dilakukan. Pada Gambar 4.7 dilakukan analisis cross-plot antara sonik (DT) vs
densitas (RHOB) vs gamma ray (GR) (A), analisis cross-plot neutron vs densitas
vs gamma ray (B), analisis cross-plot sonik vs neutron vs gamma ray (C). Pada
gambar terdiri dari gambar cross-plot merupakan cross-plot yang dilakukan antara
dua atau tiga log digambarkan dalam diagram, gambar color bar merupakan tingkat
nilai dari respon suatu log sebagai z cross-plot yang menandakan respon log gamma
ray.
58
A
Sand Shale
Shale
Shale
Sand
Gambar 4.7 Analisis cross-plot antara sonik vs densitas vs gamma ray (A).
Analisis cross-plot neutron vs densitas vs gamma ray (B). Analisis cross-plot sonik
vs neutron vs gamma ray (C).
59
Pada Gambar 4.7 (A) cross-plot antara log sonik vs log densitas vs log gamma ray
nilai (pembatas) cut off log densitas yaitu 2,1 kg/m3 - 2,7 kg/m3, apabila nilai log
densitas lebih besar dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut batupasir, jika nilai cut off log
densitas lebih kecil dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut serpih. Nilai cut off log sonik
yaitu 90 ms/ft – 120 ms/ft, apabila nilai log sonik lebih besar dari nilai 90 ms/ft
litologi tersebut serpih, jika nilai cut off log sonik lebih kecil dari 90 ms/ft litologi
tersebut batupasir. Gambar 4.7 (B) cross-plot neutron vs densitas vs gamma ray
nilai cut off log neutron yaitu 0,4 V/V – 0,7 V/V, apabila nilai neutron lebih besar
dari 0,4 V/V litologi tersebut serpih, jika nilai cut off neutron lebih kecil dari 0,4V/V
litologi tersebut batupasir. Nilai cut off log densitas yaitu 2,1 kg/m3 – 2,7 kg/m3,
apabila nilai log densitas lebih besar dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut batupasir, jika
nilai cut off log densitas lebih kecil dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut serpih.
Pada Gambar 4.7 (C) cross-plot antara log sonik vs log neutron vs log gamma ray
nilai cut off log sonik yaitu 60 ms/ft – 120 ms/ft, apabila nilai log sonik lebih besar
dari nilai 60 ms/ft, litologi tersebut adalah Vserpih, jika nilai cut off log sonik lebih
kecil dari 90 ms/ft, litologi tersebut adalah batupasir. Nilai cut off log neutron yaitu
0,1 V/V – 0,45 V/V, apabila nilai neutron lebih besar dari 0,1 V/V litologi tersebut
serpih, jika nilai cut off neutron lebih kecil dari 0,1V/V litologi tersebut batupasir.
60
A
61
Pada Gambar 4.8 cross-plot antara log akustik impedansi (AI) vs neutron (A) nilai
cut off log akustik impedansi yaitu 12.000 kgm-2s-1 – 43.000 kgm-2s-1. Nilai cut off
log neutron yaitu 0,4 V/V – 0,5 V/V. cross-plot antara log akustik impedansi (AI)
vs densitas (B) Nilai cut off log akustik impedansi yaitu 12.000 kgm-2s-1 – 43.000
kgm-2 s-1. Nilai cut off log densitas yaitu 2,1 kgm3 – 2,7 kgm3. Cross-plot antara log
akustik impedansi (AI) vs sonik (C) Nilai cut off log akustik impedansi yaitu 12.000
kgm-2s-1 – 43.000 kgm-2s-1. Nilai cut off log sonik yaitu 90 ms/ft – 120 ms/ft.
Pada proses coloured inversion tidak menggunakan model awal sebagai inputan
untuk model impedansi. Hal pertama yang dilakukan untuk poses coloured
inversion dengan menginput log sonik, log densitas, log impedansi dan checkshot
62
Pada Gambar 4.9 tersebut adanya anomali yang berwarna kuning terlihat secara
pada penampang tersebut terlihat anomali secara lateral pada Formasi Kaiata pada
kedalaman 2996 ft yang memiliki nilai akustik impedansi yang relatif dan resolusi
Dilakukan untuk melihat penyebaran nilai akustik impedansi dan untuk melihat
anomaly secara lateral pada cekungan Taranaki, New Zealand. Oleh karena itu,
63
Pada Gambar 4.10 Horizon slice hasil inversi dari formasi Mahoenui tersebut
nilai colour bar berkisar -90.215 kgm-2s-1 – 59.971 kgm-2s-1 bahwa pada daerah
secara lateral dapat dilihat pada nilai color bar berkisar -10.042 kgm-2s-1 – 153.221
kgm-2s-1 berwarna kuning dan merah bahwa Formasi Kaiata lebih dominan
64
Gambar 4.12 Horizon slice Coloured inversion pada Formasi bottom Kaiata
Pada Gambar 4.12 persebaran hidrokarbon secara lateral kearah timur, pada nilai
color bar -578.652 kgm-2s-1 sampai – 272.371 kgm-2s-1 menunjukkan bahwa daerah
tersebut mengandung reservoir ditandai dengan warna yang terdapat pada horizon
slice.
sebagai inputnya berbeda dengan coloured inversion yang tidak memerlukan model
awal dengan parameter macromodel log. Frekuensi rendah dilakukan untuk melihat
65
Hasil inversi pada inline 1229 crossline 1864 menunjukkan adanya nilai akustik
hidrokarbon.
Dalam melakukan analisis atribut seismik digunakan untuk mendukung hasil dari
inversi yang telah dilakukan agar lebih akurat terutama lapisan tipis yang tidak
66
IV.[Link] Trace Envelope
memiliki nilai 8584.703 dan merah memiliki nilai 11446.271, dan Formasi
3794.688.
67
IV.[Link] Frekuensi Sesaat
Mahoenui pada kedalaman 2880- 2945 ft pada colour bar berwarna hijau
frekuensi sesaat ini menunjukkan bahwa ada anomali pada zona target
seismik dimulai pada line 1002 pada tras 1198 dan line akhir 1640 tras 3559
68
IV.[Link] Fase Sesaat
ini dapat dilihat ketika frekuensi secara lateral memiliki anomali yang sama.
Fase dari data yang digunakan adalah -157o dengan lebar window yang
69
IV.[Link] Dekomposisi spektral
interpretasi yang dapat membantu kita melihat resolusi yang lebih baik dari
properti reservoir dari pada display seismik biasa. Respon frekuensi tinggi
70
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil inversi seismik dan atribut seismik untuk karakterisasi reservoir di
1. Menentukan zona target hidrokarbon dapat dilihat dari nilai resistivitas yang
2880 ft -3688 ft. Nilai log akustik impedansi (AI) yang tinggi pada
kgm-2s-1 - 15.000 kgm-2s-1, nilai Cut-off Densitas berkisar 2.1 kg/m3 – 2.7
71
annealing lebih efektif dalam interpretasi geologi bawah permukaan.. hasil
Inversi AI pada inline 1402 menunjukkan bahwa hasil inversi cukup baik
batupasir.
V.2 Saran
72
DAFTAR PUSTAKA
Hart, B.S 2008, Channel detection in 3-D seismic data using sweetness, AAPG
Bulletin, v. 92, no.6, p.733-742, doi:10.1306/02050807127.
Harsono, A., 1997, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger Oilfield
Services, Jakarta.
King, P .R., dan G.P. Thraser, 1988, Cretaceous-Cenozoic geology and petroleum
systems of the Taranaki Basin, New Zealand, Lower Hutt: Institute of
Geological & Nuclear Sciences, Institute of Geological & Nuclear Sciences,
monograph 13, p.243.
King, P.R., dan P.H Robinson, 1988, An overview of Taranaki Basin geology, New
Zealand, Energy Exploration and Exploitation, 6 (3), p.213-232.
Koesomadinata, R. P., 1978. Geologi Minyak dan Gas Bumi, Bandung: Institut
Teknologi Bandung.
73
Russel, B.H., 1991. Introduction to Seismic Inversion Methods, S.N. Domenico,
Editor Course Notes Series, Volume 2rd, 3rd edition.
Rider, M. 1996. The Geological Interpretation of Well Logs, 2nd edition. Malta:
Whittles Publishing.
Taner, M.T., dan R.E. Sheriff, 1977,Application of amplitude, frequency, and other
attributes to stratigraphic and hydrocarbon exploration, in C. E. Payton. Ed.,
Seismic stratigraphy – Applications to hydrocarbon exploration: AAPG
Memoir v. 26, p.301-327.
74
LAMPIRAN
75
Lampiran 1 : horizon slice Trace envelope formasi Mahoenui
76
Lampiran 3 : horizon slice Trace envelope Bottom Kaiata
77
Lampiran 5 : horizon slice Spektral Dekomposisi 8 Hz formasi Kaiata
78
Lampiran 7 : horizon slice Spektral Dekomposisi 10 Hz formasi Mahoenui
79
Lampiran 9 : horizon slice Spektral Dekomposisi 10 Hz Bottom Kaiata
80
Lampiran 11 : horizon slice Simulated Annealing formasi Kaiata
81