0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan102 halaman

Karakteristik Reservoir Seismik RST

Skripsi ini membahas karakterisasi reservoir di lapangan RST Cekungan Taranaki, New Zealand menggunakan metode inversi akustik impedansi dan atribut seismik. Tujuannya adalah menentukan sebaran hidrokarbon, zona target, dan mengkarakterisasi reservoir. Metode yang digunakan adalah analisis atribut seismik dan inversi akustik impedansi untuk mengetahui sifat reservoir.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
83 tayangan102 halaman

Karakteristik Reservoir Seismik RST

Skripsi ini membahas karakterisasi reservoir di lapangan RST Cekungan Taranaki, New Zealand menggunakan metode inversi akustik impedansi dan atribut seismik. Tujuannya adalah menentukan sebaran hidrokarbon, zona target, dan mengkarakterisasi reservoir. Metode yang digunakan adalah analisis atribut seismik dan inversi akustik impedansi untuk mengetahui sifat reservoir.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Skripsi Geofisika

KARAKTERISTIK RESERVOIR MENGGUNAKAN METODE SEISMIK

INVERSI AKUSTIK IMPEDANSI DAN ATRIBUT SEISMIK DI

LAPANGAN “RST” CEKUNGAN TARANAKI, NEW ZEALAND

OLEH :

HARISTA BR GINTING

H221 13 304

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
KARAKTERISTIK RESERVOIR MENGGUNAKAN METODE SEISMIK

INVERSI AKUSTIK IMPEDANSI DAN ATRIBUT SEISMIK DI

LAPANGAN “RST” CEKUNGAN TARANAKI, NEW ZEALAND

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains
pada Program Studi Geofisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Hasanuddin

OLEH :

HARISTA BR GINTING

H221 13 304

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGATAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

KARAKTERISTIK RESERVOIR MENGGUNAKAN METODE SEISMIK


INVERSI AKUSTIK IMPEDANSI DAN ATRIBUT SEISMIK DI
LAPANGAN “RST” CEKUNGAN TARANAKI, NEW ZEALAND

OLEH :

HARISTA BR GINTING
H221 13 304

Makassar, Januari 2018

Disetujui Oleh :

Pembimbing Utama Pembimbing Pertama

Sabrianto Aswad, [Link], MT Dr. Lantu, [Link]. Sc, DESS


NIP. 19780524 200501 1 002 NIP. 19540717 197901 1 003

ii
PERNYATAAN KEASLIAN

Dengan ini saya menyatakaan bahwa skripsi ini merupakan karya orisinil

saya dan sepanjang pengetahuan saya tidak memuat bahan yang pernah dipublikasi

atau ditulis oleh orang lain dalam rangka tugas akhir untuk sesuatu gelar akademik

di Universitas Hasanuddin atau di lembaga pendidikan lainya, kecuali bagian yang

telah dikutip sesuai kaidah yang berlaku. Saya juga menyatakan bahwa skripsi ini

merupakan hasil karya saya sendiri dan dalam batas tertentu dibantu oleh pihak

pembimbing.

Penulis,

Harista Br Ginting

iii
“Success Or Not Doesn’t Matter, The Points Are

Never Regret and Always Try”

iv
SARI BACAAN

Lapangan “RST” Cekungan Taranaki New Zealand merupakan lapangan produksi


pada Formasi Mahoenui, Formasi Kaiata, dan Bottom Kaiata yang merupakan
reservoirnya adalah batupasir yang cukup baik sebagai tempat terakumulasinya
hidrokarbon. Tujuan penelitian ini adalah menentukan sebaran hidrokarbon, zona
target dan mengkarakterisasi reservoir. Dalam penelitian ini metode yang
digunakan adalah Analisis Atribut Seismik dan Inversi Akustik Impedansi untuk
mengetahui penampang dibawah permukaan bumi dan untuk mengetahui sifat
poros dan kompak dari suatu lapisan batuan. Analisis Atribut seismik adalah
metode untuk mengindikasikan dan menggambarkan beberapa properti fisik dari
penampang bumi yang lebih akurat, atribut seismik yang digunakan adalah trace
envelope, instantaneouse frequency, instantaneouse phase, dan spektral
dekomposisi. Metode inversi simulated annealing dan coloured inversion
merupakan salah satu teknik pemodelan kebelakang untuk mendapatkan
penampang akustik. Metode Coloured inversion merupakan teknik inversi dengan
output impedansi relatif, mudah dan cepat untuk melihat anomali. Metode inversi
simulated annealing merupakan teknik inversi dengan output impedansi absolut
melalui pendekatan statistik dan probabilistik. Metode simulated annealing
memiliki kelebihan dibandingkan dengan teknik inversi yang lain, pada inversi
simulated annealing mendapatkan global optimisasi dengan penampang akustik
yang memiliki resolusi yang lebih baik secara vertikal dan horizontal. Hasil proses
inversi yang dilakukan pada data seismik 3D dilapangan RST diperoleh nilai Cut-
Off akustik impedansi untuk reservoir pada Formasi Mahoenui, Formasi Kaiata,
dan Bottom Kaiata antara 9000 kgm-2s-1 - 15.000 kgm-2s-1, nilai Cut-off Densitas
berkisar 2.1 kg/m3 – 2.7 kg/m3 dan neutron porositynya 40 % - 50%. Persebaran
hidrokarbon terjadi pada struktur geologi yang kompleks dengan arah penyebaran
hidrokarbonnya dari arah Barat-Daya menuju arah Timur Laut.
Kata Kunci: Karakterisasi reservoir, inversi akustik impedansi, atribut seismik,
coloured inversion, inversi simulated annealing.

v
ABSTRACT

The "RST" field of the Taranaki Basin New Zealand is a production field in the
Mahoenui Formation, Kaiata Formation, and Bottom Kaiata which is a good
enough sandstone reservoir for accumulating hydrocarbons. The purpose of this
research is to determine the distribution of hydrocarbon, target zone and to
characterize reservoir. The method used in this study are Seismic Attribute Analysis
and Impedance Acoustic Inversion to know the geometry of reservoir and porosity
from target zone. Seismic Attribute Analysis is done describe some of the physical
properties of the earth more accurately, the seismic attributes that used are trace
envelope, instantaneous frequency, instantaneous phase, and decomposition
spectrum. The simulated annealing and colored inversion method is inverse
modeling techniques with the result acoustic cross-section. The Colored inversion
method is an inversion technique relative impedance output that easy and to see
anomalys more faster. The simulated annealing inversion method is an inversion
technique with an absolute impedance output through a statistical and probabilistic
approach. The simulated annealing method has advantages over other inversion
techniques, the simulated annealing inversion gets global optimization with an
acoustic cross-section that has better vertical and horizontal resolution. The result
of inversion process done on 3D seismic data in RST field obtained by Cut-Off
acoustic impedance value for reservoir at Mahoenui Formation, Kaiata Formation,
and Bottom Kaiata between 9000 kgm-2s-1 - 15.000 kgm-2s-1, Cut-off Density
ranged from 2.1 kg/m3 - 2.7 kg/m3 and neutron porosity 40% - 50%. The
distribution of hydrocarbons occurs in a complex geological structure with the
direction of the accumulation of its hydrocarbons from the Southwest - Northeast.

Keywords : Reservoir characterization, impedance acoustic inversion, seismic


attribute, color inversion, inversion simulated annealing.

vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

segala berkat dan pimpinan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir

yang berjudul “KARAKTERISTIK RESERVOAR MENGGUNAKAN METODE

SEISMIK INVERSI AKUSTIK IMPEDANSI DAN ATRIBUT SEISMIK DI

LAPANGAN “RST” CEKUNGAN TARANAKI, NEW ZEALAND”, sebagai

salah satu syarat yang diajukan untuk menyelesaikan studi pada Program Studi

Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam Universitas

Hasanuddin.

Penulis menyadari bahwa, selesainya skripsi ini tidak terlepas dari didukung

oleh berbagai pihak yang memberikan semangat, ide, dukungan moril, dan doa.

Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih, terkhusus untuk kedua

orang tua tercinta penulis, Papa tersayang Hermanto Ginting dan Mama tercinta

Arny Setty Br Sembiring penulis mengucapkan terimakasih buat segala doa,

pengorbanan, tetesan keringat, semangat dan motivasinya yang selama ini menjadi

penyemangat penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini, terima kasih untuk

selalu ada dan selalu berdoa untuk kelancaran segala urusan penulis. Terima kasih

juga untuk saudara-saudara penulis, kakak tersayang Nia Cristina Br Ginting

(Alm), Hery Handika Ginting, Herany Br Ginting, dan Frienty Dinda Zaneta

Br Sitepu terima kasih untuk selalu memotivasi, memberi nasehat, dan mendukung

penulis. Terima kasih juga buat seluruh keluarga besar Ginting Family dan

Sembiring Family atas semangat dan dukungan moril yang senantiasa diberikan

kepada penulis.

vii
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya tugas akhir ini berkat

bantuan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati, penulis juga ingin

menyampaikan terima kasih serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Sabrianto Aswad, [Link], MT dan Bapak Dr. Lantu, [Link]. Sc, DESS

selaku pembimbing utama dan pembimbing pertama yang dengan tulus dan

sabar memberikan bimbingan, serta menuntun penulis hingga selesainya

skripsi ini.

2. Davis Reza Siregar, S.T, selaku pembimbing penulis di [Link]

Jakarta Pusat yang telah tulus dan sabar membimbing dan memberikan waktu

untuk penulis di sela-sela kesibukannya. Terimakasi penulis kepada Bapak

Jonathan Mah selaku President Director [Link] Jakarta Pusat

yang telah mengizinkan penulis untuk melaksanakan penelitian Tugas Akhir

serta tak lupa juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh

staf pegawai Cahya Ryan Zulistiar, I Putu A Wijaya, k’Bella, k’ Adi,

k’Rena, k’Reny, k’Idris, k’Dixy, k’Rangga, mas Gufron, k’Cintia(cen-

cen), k’Rachman, k’Servia, k’Novian, mba’Nini, k’Grace, mba’Maya,

k’tata, mba’ Tari yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu, trimakasih

telah membantu dan menghibur penulis selama penelitian.

3. Martinus Sembiring dan Daniel Surbakti beserta keluarga yang telah

banyak memotivasi dan memberikan nasehat, masukan,dan bimbingannya

kepada penulis selama melaksanakan TA di Jakarta.

viii
4. Ander perangin –angin, S.T yang selalu siap sedia meluangkan waktunya

dalam membimbing dan memberi semangat kepada penulis.

5. Bapak Syamsuddin, [Link], MT dan ibu Dra. Maria, Msi, ibu Makhrani,

[Link], [Link] selaku tim penguji skripsi geofisika yang telah memberi masukan

serta saran kepada penulis.

6. Bapak Dr. Eng. Amiruddin, [Link], [Link] selaku Dekan Fakultas Matematika

dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin.

7. Bapak Dr. Muh. Altin Massinai, [Link] selaku Ketua Program Studi

Geofisika FMIPA UNHAS.

8. Bapak Dr. Paharuddin, [Link] selaku Penasehat Akademik yang banyak

memberikan nasehat kepada penulis.

9. Dosen-dosen pengajar yang telah membagikan ilmunya serta memberi

bimbingan selama perkuliahan.

10. Teman seperjuangan KP dan TA di [Link]. Jennifer Claudia

Patty, Widya Anggreni, Agung Laksono dan pebimbing selama KP kak

handoyo dan kak Hanif terima kasih untuk tetap selalu berjuang bersama

penulis hingga terselesaikannya tugas akhir ini.

11. Teman saat menjadi mahasiswi baru Geofisika 2013, Nurul Alfiah Arna,

[Link] dan Oktavia, [Link], Nur Hilda amelia yang telah banyak memberikan

semangat, jadi tempat berkeluh kesah, terima kasih selalu ada di sisi penulis

dari Maba hingga sekarang.

ix
12. Teman ‘adwitiya catering’ yang penulis kenal Suarni, [Link], Nurhilda

Amelia, Rahmi Rizqi Amalia, [Link], Nurfiah Anwar (keep strong),

Nurlindah, [Link], terima kasih selalu ada di sisi penulis dalam keadaan susah

dan senang, terutama untuk motivasi yang saling menyemangati dalam

mengerjakan skripsi.

13. Teman-teman dari MABA sekaligus saudaraku ”ANGKER 013” yang

selalu membantu untuk setiap urusan perkuliahan. Terimakasih buat

kebersamaannya dan menjadi keluarga baru penulis.

14. Teman- teman KKN Gel.93 Kab. Gowa, Kec. Pattallassang terkhusus

untuk Posko Desa Pattallassang : Saldy Budianto, [Link], Ratih Kusuma W,

S.E, Nadiah, Nurul Muhlisa, Nurul Hidayah, Riska, Nur awaliyah,

Fathun, Ismail. Terima kasih buat kebersamaannya selama kurang lebih 1

bulan 2 minggu.

15. Kepada adik-adik 2014, 2015 dan 2016, 2017 KM FMIPA Unhas salam

USE YOUR MINE BE THE BEST dan Himafi FMIPA Unhas “Jayalah

Himafi, Fisika Nan Jaya”.

16. Teman-teman serta Adik-adik Pengurus European Association of

Geoscientist and Engineers Hasanuddin University Student Chapter

(EAGE).

17. Adik – adik Rabbani Squad Dianti aputri Br Tarigan, Dian Utari, Bulan,

Jenni, Devi yang selalu ada dan memotivasi penulis selama mengerjakan

skripsi.

x
18. Kakak – kakak NAVAL 2008, 2011 k’Fitrah, k’anto, k’uga, k’ray, k’afdal,

k’ari, k’uttang, k’cau’, k’riknal, k’asmar dan yang tak dapat penulis

sebutkan satu-persatu, terimakasih kebersamaanya dan sebagai keluarga

penulis.

19. Kakak-kakak, Teman – teman dan adik – adik ‘PERANTAU SUMUT’

Reviko Lorensius Ginting, S.T, Hery handika Ginting, k’Rumelia

sembiring, k’Dama, k’Lila, k’Mely, k’Christiansen, k’Trie, k’Vera,

k’Emi barus, [Link], k’Novita Ginting, [Link], k’kiky, [Link], Dianti

Saputri Br Tarigan yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu, dan

trimakasih penulis buat semangat dan motivasi yang telah diberikan.

20. Teman – teman dan adik –adik KMK UNHAS, KMKT UNHAS, KMK

MIPA UNHAS k’laurent, k’ Johanes Gedo sea, [Link], k’Marlin, k’Sernita,

bernadet, ave, Sartika dan yang tak dapat penulis sebutkan satu-persatu,

yang membimbing dan memberi motivasi kepada penulis. Dan terkhusus

kepada Ray Sandhi Taulangi yang selalu setia mendengarkan keluh kesah,

menghibur, membimbing dan memotivasi penulis selama menyelesaikan

skripsi.

Serta kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu terima

kasih untuk semuanya.

Makassar, Januari 2018

Penulis

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... ii

PERNYATAAN KEASLIAN .............................................................................. iii

SARI BACAAN ......................................................................................................v

ABSTRACT .......................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR ......................................................................................... vii

DAFTAR ISI........................................................................................................ xii

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvii

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xix

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................xx

BAB I PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang ..............................................................................................1

I. 2. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................................2

I. 3. Tujuan Penelitian ..........................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Geologi Regional Daerah Penelitian .............................................................3

II.2 Geologi Lokal Daerah Penelitian ..................................................................4

II.3 Stratigrafi Cekungan Taranaki New Zealand . ..............................................8

II.4 Sistem Petroleum Cekungan Taranaki New Zealand..................................11

xii
II.5 Konsep Dasar Seismik Refleksi................................................................10

II.6 Prinsip Seismik..........................................................................................11

II.6.1 Prinsip Huygen's.............................................................................11

II.6.2 Prinsip Fermat.................................................................................11

II.6.3 Hukum Snellius..............................................................................11

II.7 Komponen Seismik Refleksi.....................................................................13

II.7.1 Akustik Impedansi..........................................................................13

II.7.2 Koefisien Refleksi..........................................................................13

II.7.3 Wavelet...........................................................................................13

II.7.4 Polaritas..........................................................................................16

II.8 Resolusi Seismik.......................................................................................16

II.8.1 Resolusi Vertikal............................................................................16

II.8.2 Resolusi Horisontal........................................................................17

II.9 Seismogram Sinetik..................................................................................18

II.10 Sifat - Sifat Fisika Batuan.......................................................................19

II.10.1 Densitas.......................................................................................19

II.10.2 Porositas Batuan..........................................................................19

II.10.3 Kecepatan....................................................................................20

II.11 Checkshot................................................................................................20

xiii
II.12 Pengikatan Data Seismik dan Sumur.......................................................21

II.13 Analisis Atribut Seismik………..............................................................21

II.13.1 Trace Envelope…….....................................................................22

II.13.2 Fase Sesaat...………....................................................................22

II.13.3 Frekuensi Sesaat.......…................................................................22

II.13.4 Spektral Dekomposisi……...........................................................23

II.14 Cross-Plot…………................................................................................24

II.15 Well Logging…...….................................................................................24

II.15.1 Log Gamma Ray…………............................................................24

II.15.2 Log Neutron Porositas…..............................................................25

II.15.3 Log Bulk Densitas…….................................................................25

II.15.4 Log Sonic……………....................................................................25

II.15.5 Log Resistivitas…….....................................................................25

II.16 Konsep Dasar Inversi Seismik.................................................................26

II.16.1 Metode Inversi Akustik Impedansi...............................................28

II.17 Coloured Inversion..................................................................................30

II.18 Metode Simulated Annealing...................................................................33

II.18 Transformasi Fast Fourier.......................................................................39

xiv
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Waktu dan Lokasi Penelitian....................................................................40

III.2 Data dan Perangkat Pengolahan..............................................................41

III.2.1 Data................................................................................................41

III.2.2 Perangkat Pengolahan Data............................................................43

III.3 Pengolahan Data.......................................................................................43

III.3.1 Pengolahan Data Sumur................................................................43

III.3.2 Pengolahan Data Seismik…..........................................................44

III.3.3 Bagan Alir Penelitian…................................................................49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil dan Pembahasan…..........................................................................49

IV.1.1 Analisis Sumur…..........................................................................49

IV.1.1.1 Analisis Zona Target…..................................................50

IV.1.1.2 Analisis Well Tie Seismic…...........................................52

IV.1.1.3 Analisis Picking Horizon…...........................................54

IV.1.1.4 Analisis Stratigrafi Seismik…........................................56

IV.[Link] Analisis Tuning Thickness.....................................56

IV.1.1.5 Analisis Sensitivitas…...................................................58

IV.1.1.6 Analisis Coloured Inversion…......................................62

xv
IV.1.1.7 Analisis Coloured Inversion Horizon Slice…................63

IV.1.1.8 Analisis Inversion Simulated Annealing…....................65

IV.1.1.9 Analisis Atribut Seismik…............................................66

IV.[Link] Trace Envelope…..................................................67

IV.[Link] Frekuensi Sesaat....................................................68

IV.[Link] Fase Sesaat…........................................................69

IV.[Link] Spektral Dekomposisi...........................................70

BAB V PENUTUP

[Link]...............................................................................................71

[Link]......................................................................................................... 72

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 73

xvi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur Cekungan Taranaki New Zealand...................................3


Gambar 2.2 Peta Geologi Lokal Penelitian.......................................................4

Gambar 2.3 Stratigrafi Cekungan Taranaki New Zealand................................8

Gambar 2.4 Petroleum System Cekungan Taranaki .......................................10

Gambar 2.5 Prinsip Huygen's..........................................................................11

Gambar 2.6 Prinsip Fermat ............................................................................12

Gambar 2.7 Prinsip Snellius ...........................................................................12

Gambar 2.8 Jenis-Jenis Wavelet .....................................................................15

Gambar 2.9 Konvensi Polaritas ......................................................................16

Gambar 2.10 Seismogram Sintetik .. ..............................................................18

Gambar 2.11 Survei Checkshot.......................................................................21

Gambar 2.12 Complex Trace..........................................................................22

Gambar 2.13 Diagram Konsep Dasar Inversi Seismik...................................27

Gambar 2.14 Diagram Alir Inversi Pemodelan kedepan................................27

Gambar 2.15 Diagram Model Teknik Inversi Seismik...................................27

Gambar 2.16 Inversi Model Sparse Spike dan Coloured Inversion................31

Gambar 2.17 Coloured Inversion filter Butterworth......................................32

Gambar 2.18 Coloured Inversion Seismik log Spektrum..............................32

Gambar 2.19 Proses Pembentukan Kristal.....................................................34

Gambar 2.20 Proses Iterasi Pada Inversi Simulated Annealing.....................35

Gambar 2.21 Grafik Global Minimum dan Lokal Maksimum......................36

Gambar 2.22 Grafik Iterasi vs Misfit menggunakan Simulated Annealing....37

Gambar 3.1 Lokasi Sumur Penelitian Cekungan Taranaki............................40

Gambar 3.3 Bagan Alir Penelitian.................................................................49

xvii
Gambar 4.1 Log Menganalisis Zona Target....................................................51

Gambar 4.2 Well Seismic Tie..........................................................................53

Gambar 4.3 Hasil Picking Horizon inline 1404..............................................54

Gambar 4.4 Map Setiap Formasi.....................................................................55

Gambar 4.5 Analisis Seismik Menentukan zona Target.................................56

Gambar 4.6 Spektrum Amplitudo ..................................................................57

Gambar 4.7 Analisis Cross-Plot sonik vs Densitas .......................................59

Gambar 4.8 Analisis Cros-Plot AI vs Neutron................................................61

Gambar 4.9 Penampang Akustik Coloured Inversion....................................62

Gambar 4.10 Horizon Slice Coloured Inversion Formasi Mahoenui..............63

Gambar 4.11 Horizon Slice Coloured Inversion Formasi Kaiata...................64

Gambar 4.12 Horizon Slice Coloured Inversion Bottom Formasi Kaiata.......65

Gambar 4.13 Penampang Seismik AI Simulated Annealing...........................66

Gambar 4.14 Penampang Seismik Trace Envelope........................................67

Gambar 4.15 Penampang Seismik Frekuensi Sesaat......................................68

Gambar 4.16 Penampang Seismik Fasa Sesaat...............................................69

Gambar 4.17 Penampang Seismik Spektral Dekomposisi..............................70

xviii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Skema Nilai Porositas Batuan Reservoar........................................20

Tabel 3.1 Ketersediaan Data Sumur ...............................................................42

Tabel 4.1 Tabel Analisis Tunning Thickness...................................................57

xix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Horizon Slice Trace Envelove Formasi Mahoenui

Lampiran 2 Horizon Slice Trace Envelove Formasi Kaiata

Lampiran 3 Horizon Slice Trace Envelove Bottom Kaiata

Lampiran 4 Horizon Slice Spektral Dekomposisi 8 Hz Formasi Mahoenui

Lampiran 5 Horizon Slice Spektral Dekomposisi 8 Hz Formasi Kaiata

Lampiran 6 Horizon Slice Spektral Dekomposisi 8 Hz Bottom Kaiata

Lampiran 7 Horizon Slice Spektral Dekomposisi 10 Hz Formasi Mahoenui

Lampiran 8 Horizon Slice Spektral Dekomposisi 10 Hz Formasi Kaiata

Lampiran 9 Horizon Slice Spektral Dekomposisi 10 Hz Bottom Kaiata

Lampiran 10 Horizon Slice Simulated Annealing Formasi Mahoenui

Lampiran 11 Horizon Slice Simulated Annealing Formasi Kaiata

Lampiran 12 Horizon Slice Simulated Annealing Bottom Kaiata

xx
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Lapangan ”RST” terletak di sepanjang sisi bagian barat cekungan Taranaki New

Zealand. Daerah penelitian ini tersusun dari batuan sedimen yang didominasi oleh

batuserpih, batupasir glaukonitik dengan sisipan batugamping dan batubara.

Cekungan ini pertama kali terbentuk karena terjadinya pergerakan antara lempeng

Autralia dengan lempeng Pasifik sehingga menyebabkan terjadinya subduksi antar

lempeng. Lempeng Australia bergerak kearah Timur berada pada bagian pulau

Selatan lempeng Pasifik dan lempeng Pasifik bergerak kearah Barat Daya berada

dibagian pulau Utara lempeng Australia, interaksi kedua lempeng tersebut berada

pada zona subduksi disepanjang Alphine Fault.

Pencarian daerah prospek merupakan hal yang penting dalam pengembangan

produksi hidrokarbon selanjutnya. Oleh karena itu, peningkatan kebutuhan energi

khususnya minyak dan gas bumi menyebabkan sumber daya alam perlu semakin

diefektifkan. Salah satu metode analisis karakterisasi reservoar adalah inversi

seismik dan atribut seismik. Inversi seismik menghasilkan tampilan impedansi

akustik yang lebih akurat dalam menggambarkan keadaan bawah permukaan bumi,

Sedangkan atribut seismik adalah penggunaan atribut seismik sehingga atribut ini

digunakan untuk mengetahui keseluruhan informasi yang diperoleh dari data

seismik. Salah satu metode yang digunakan dalam melakukan interpretasi data

1
seismik adalah metode inversi impedansi akustik. Metode inversi impedansi akustik

merupakan suatu proses konversi dari data seismik menjadi data impedansi akustik

yang merupakan sifat dasar dari batuan.

I.2 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Data seismik dan data sumur yang digunakan dalam penelitian ini

merupakan data sekunder dari lapangan “RST” pada Formasi Mahoenui,

Formasi Kaiata dan Bottom Kaiata, yang terletak pada Cekungan Taranaki

New Zealand.

2. Data seismik yang digunakan adalah data seismik sekunder 3D post-stack.

3. Pada penelitian ini metode inversi yang digunakan adalah metode inversi

Simulated Annealing menggunakan Maromodel Log , metode Coloured

Inversion, metode inversi AI (Acoustic Impedance) dan atribut seismik

untuk mengkarakterisasi reservoar.

I.3 Tujuan Penelitian

1. Menentukan zona target hidrokarbon berdasarkan nilai AI (Acoustic

Impedance).

2. Menentukan sebaran hidrokarbon berdasarkan nilai AI (Acoustic

Impedance) pada peta horizon slice.

3. Analisa metode inversi Simulated Annealing, Coloured Inversion, dan

inversi AI (Acoustic Impedance) untuk mengkarakterisasi reservoar.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Geologi Regional Daerah Penelitian

Gambar 2.1 Struktur Map cekungan Taranaki, New Zealand (King dan
Thraser,1988)

Cekungan Taranaki pada Gambar 2.1 adalah cekungan sedimen yang terbesar dan

terletak di sepanjang sisi bagian Barat dari New Zealand. Cekungan ini terdapat

pada bagian off-shore, dan sebagian besar didasari oleh continental shelft, disebelah

Barat bagian Pulau Utara New Zealand merupakan salah satu produksi hidrokarbon

terbesar. Produksi hidrokarbon pada cekungan Taranaki dimulai pada tahun 1866.

Penemuan ini membuktikan bahwa cekungan ini berisi sedimen seumur dengan

3
Eosen dan memiliki ketebalan sedimennya sekitar 3.5 km. Cekungan Taranaki ini

terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian Utara – bagian Selatan. Pada bagian Utara

terdapat lempeng Australia dan pada bagian Selatan terdapat lempeng Pasifik kedua

lempeng ini terjadinya subduksi antar lempeng, lempeng Pasifik bergerak kearah

Barat Daya berada pada bagian pulau Utara lempeng Australia, dan lempeng

Australia bergerak kearah Timur berada pada bagian pulau Selatan lempeng

Pasifik. Cekungan ini pertama kali terbentuk pada akhir kapur terdapat sepanjang

celah pada pinggiran Gondwanaland yang terbentuk pada awal Mesozoic.

II.2 Geologi Lokal Daerah Penelitian

Gambar 2.2 Peta geologi lokal penelitian (King dan Thraser,1988)

Pada Gambar 2.2 daerah penelitian ini terdapat tiga horizon yang menjadi zona

target yaitu terletak pada Formasi Mahoenui, Formasi Kaiata dan Bottom Kaiata

4
telah diidentifikasi mengandung reservoar. Pada lokasi penelitian ini didominasi

dengan batupasir, batugamping, batuserpih karbonat, dan batubara diperkirakan

terbentuk pada awal paleosene sampai akhir Miosene yang terjadi akibat transgresi

dari muka air laut sehingga penyebarannya sampai ke cekungan Taranaki.

Berdasarkan data seismik dapat diinterpretasikan bahwa hidrokarbon terperangkap

pada struktur yang tidak selaras dan daerah yang Brightspot. Zona yang menjadi

target terdapatnya hidrokarbon adalah Formasi Mahoenui, Formasi Kaita dan

Bottom Kaiata, Formasi Kaiata adanya plankton – plankton atau bethonic yang

terendapkan selama Eosen sehingga sedimen pada Formasi ini memiliki karbonat

yang baik.

II.3 Stratigrafi Cekungan Taranaki New Zealand

Secara umum, pada Gambar 2.3 startigrafi regional cekungan Taranaki New

Zealand menurut (Hart, 2001), tersusun atas beberapa unit Formasi yaitu sebagai

berikut :

1. Batuan Dasar (Basement)

Batuan dasar ini terbentuk pada awal Kapur yang berfungsi sebagai

landasan dari cekungan Taranaki New Zealand, yang terdiri dari batuan

beku intrusi, kuarsa, Feldspar, biotit dan tekstur yang Granula.

2. Formasi Pakawa Group

Formasi Pakawa Group terdiri dari Formasi Rakopi dan Formasi North

Cape. Formasi ini terlihat pada data seismik kedalaman 780 ft – 970 ft, dan

terbentuk pada akhir kapur – awal Paleosene. Sedimen tertua pada Formasi

5
ini berisi palynomorphs dan dinoflagellate diindikasikan pada endapan

akhir kapur sampai mendekati paleosene.

3. Formasi Urenui

Formasi urenui ini terbentuk pada akhir Miosene pada kedalaman 1170 ft –

1351 ft. Pada Formasi ini terdiri dari batupasir mengandung kapur yang

cukup kuat, memiliki warna abu-abu terang.

4. Formasi Mokau

Formasi Mokau ini terbentuk pada pertengahan sampai akhir Miosene pada

kedalaman 1532 ft – 2880 ft. Terdiri dari batupasir sekitar 55%, batusilica,

batulanau warna abu-abu terang sampai abu-abu gelap dan batulumpur yang

berada pada bagian bawah sebagai dasar pada Formasi Mokau.

5. Formasi Mahoenui

Formasi Mahoenui ini terbentuk pada pertengahan Miosene pada kedalaman

2880 ft – 2925 ft. Pada formasi Mahoenui lebih dominan batulumpur.

Batulanau dan batupasir yang memiliki warna abu – abu kehijauan, adanya

batulumpur yang keras, batulumpur yang homogen, adanya facies distal

pada batukapur, dan terdapat banyaknya plankton foraminifera.

6. Formasi Kaiata

Formasi Kaiata pada kedalaman 2925 ft – 3026 ft ini terbentuk pada

pertengahan Eosene sampai akhir Eosene. Pada Formasi ini terbagi menjadi

dua unit menurut kedalamannya yaitu :

6
1. Pada kedalaman 3026 ft – 3059 ft

Terjadinya perubahan batugamping menjadi warna abu-abu

gelap sampai serpih berwarna hitam pada kedalaman 3026 ft.

Pada bagian Top dari Formasi Kaiata adanya batuserpih yang

mengandung sedikit batukapur dan didominasi oleh batupasir.

2. Pada kedalaman 3059 ft – 3206 ft

Terdapat serpih yang berubah menjadi lanau yang berwarna

hijau, adanya Gluconite yang sangat mencolok, batupasir

ukuran butir yang bulat, pyrite dengan kristal yang berbentuk

euhedral.

7. Formasi Kapuni

Formasi Kapuni terdiri dari Formasi Farewell, Formasi Kaimiro, Formasi

Manghewa, Formasi McKee, yang terbentuk pada paleosene sampai

pertengahan Eosene pada kedalaman 3206 ft – 3688 ft. Formasi kapuni

terdiri dari batubara, batupasir, batuserpih karbonat, pada batupasir dan

kuarsit berwarna abu-abu cerah menyerupai warna putih, mengandung

feldspar sekitar 10%.

7
Gambar 2.3 Stratigrafi cekungan taranaki, New Zealand (Hart, 2001)

II.4 Sistem Petroleum Cekungan Taranaki New Zealand

Cekungan Taranaki merupakan lapangan penghasil minyak dan gas bumi terbesar

di daerah New Zealand, hal itu menunjukkan bahwa cekungan tersebut adanya

akumulasi minyak dan gas yang memenuhi syarat dalam sistem petroleum seperti

pada Gambar 2.4, yaitu adanya batuan Induk, batuan reservoar, perangkap (Trap),

lapisan tudung, dan migrasi. Sistem petroleum pada cekungan Taranaki menurut

(Hart, 2001) adalah sebagai berikut :

8
a. Batuan Induk

Sebagian besar dari cekungan Taranaki ini dihasilkan oleh batubara yang

terbentuk pada akhir kapur sampai dengan Paleogene. Batuan yang

mengandung lacustrine terdapat pada Formasi Mokau terbentuk pada awal

Eosene sebagai serpih sumber terakumulasinya minyak. Batubara terbentuk

pada periode Jurassic sampai miosen. Dan sebagian besar minyak

ditemukan sekitar awal kapur sampai Paleogene.

b. Batuan reservoar atau batuan Tudung

Batuan reservoar yang terdapat pada cekungan Taranaki ini adalah batupasir

yang terbentuk akibat proses transgresi dan regresi terbentuk pada akhir

kapur. Formasi Kaiata dan Bottom Kaiata memiliki litologi batupasir,

batugamping dan serpih karbonat terbentuk pada awal Paleogen sampai

akhir Eosene.

c. Migrasi

Migrasi yang terjadi pada cekungan ini adalah ketika terjadinya pergerakan

lempeng sehingga menyebabkan terbentuknya struktur-struktur yang tidak

selaras (unconformity) dan adanya patahan dan antiklin, maka proses ini

dianggap sebagai jalur migrasi hidrokarbon.

d. Perangkap

Jenis perangkap hidrokarbon yang terdapat pada cekungan ini adalah

perangkap struktur yang terbentuk pada awal Neogene. Jenis perangkap

struktur pada cekungan ini dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu

sebagai berikut :

9
1. Antklin yang memiliki relief yang sedang terbentuk pada awal

Miosene.

2. Lipatan – lipatan yang terdapat pada cekungan bagian Barat

yaitu lipatan Dip-closed dan lipatan antiklin thrust-bound yang

terbentuk pada awal Miosene.

Gambar 2.4 Petroleum system Taranaki basin (King dan Robinson,1988)

II.5 Konsep Dasar Seismik Refleksi

Metode seismik refleksi merupakan metode geofisika yang memanfaatkan

gelombang pantul (refleksi) dari batuan bawah permukaan bumi. Hal ini dapat

dilakukan dengan cara mengirimkan sinyal (gelombang) ke dalam bumi.

(Sukmono, 2000).

10
II.6 Prinsip Seismik

II.6.1 Prinsip Huygen’s

Pinsip Huygen’s menerangkan bahwa setiap muka gelombang dapat dianggap

memproduksi wavelet atau gelombang-gelombang baru dengan panjang

gelombang yang sama dengan panjang gelombang sebelumnya.

Gambar 2.5 Prinsip Huygen’s (Oktvinta,2008)

II.6.2 Prinsip Fermat

Prinsip fermat menyatakan bahwa jika sebuah gelombang merambat dari satu

titik ke titik yang lain maka gelombang tersebut akan memilih jejak tercepat.

Dengan demikian jika gelombang melewati sebuah medium yang memiliki

variasi kecepatan gelombang seismik, maka gelombang tersebut akan

cenderung melalui zona kecepatan tinggi dan menghindari zona kecepatan

rendah.

11
Gambar 2.6 Prinsip Fermat (Oktavinta, 2008)

II.6.3 Hukum Snellius


Suatu gelombang yang melewati dua medium yang berbeda maka sebagian

gelombang akan dibiaskan dan sebagian akan dipantulkan, jika sudut datang

lebih kecil atau sama dengan sudut kritisnya gelombang akan dipantulkan dan

jika sudut datang lebih besar dari sudut kritis maka gelombang akan dibiaskan.

Gambar 2.7 Prinsip Snellius (Oktavinta, 2008)

12
Penjalaran gelombang seismik mengikuti hukum snellius yang menyatakan

bahwa sudut pantul dan sudut bias merupakan fungsi dari sudut datang dan

kecepatan gelombang. Gambar 2.7 memperlihatkan peristiwa gelombang

refleksi dan refraksi yang ditunjukan pada persamaan 2.1

(2.1)

II.7 Komponen Seismik Refleksi

II.7.1 Akustik Impedansi

Impedansi Akustik (AI) dapat didefinisikan sebagai sifat fisis batuan yang

nilainya dipengaruhi oleh jenis litologi, porositas, kandungan fluida,

kedalaman, tekanan, dan temperatur. Akustik impedansi memiliki kemampuan

untuk melewatkan gelombang elastik. Secara matematis akustik impedansi

dapat dirumuskan sebagai berikut :

AI = ρ.v (2.2)

Dengan,

AI = Impedansi Akustik (kg/m2s)

ρ = densitas (kg/m3)

v = kecepatan gelombang seismik (m/s)

13
II.7.2 Koefisien refleksi

Refleksi gelombang seismik terjadi ketika ada perubahan akustik impedansi

sebagai fungsi dari kecepatan dan densitas pada kedudukan sinar datang yang

tegak lurus (Sukmono, 2000). Pulsa seismik dipancarkan melalui batuan dalam

bentuk gelombang elastis yang mentransfer energi menjadi pergerakan partikel

batuan, sehingga pergerakan partikel tersebut mengalirkan energi yang

menentukan kecepatan gelombang seismik dalam batuan. Persamaan dasar

dari koefisien refleksi adalah:

(𝐴𝐼2−𝐴𝐼1)
KR = (2.3)
(𝐴𝐼1+ 𝐴𝐼2)

Dimana :

𝐾𝑅 = koefisien refleksi

AI1 = impedansi akustik lapisan atas

AI2 = impedansi akustik lapisan bawah

II.7.3 Wavelet

Wavelet atau disebut juga sebagai sinyal seismik merupakan kumpulan dari

sejumah gelombang seismik yang memperoleh amplitudo, frekuensi, dan fasa

tertentu. Ada empat jenis wavelet yang diketahui, yaitu zero phase, minimum

phase, maximum phase, dan mixed phase.

14
Gambar 2.8 Jenis-jenis wavelet (1) zero phase wavelet (2) maximum phase
wavelet (3) Minimum phase wavelet (4) Mixed pase wavelet (sukmono,
1999)

Berdasarkan konsentrasinya wavelet dapat dibagi atas beberapa jenis


(Sukmono,1999):
1. Zero Phase, wavelet berfase nol (disebut juga wavelet simetris), yaitu

wavelet yang energinya terkonsentrasi pada titik refrensi nol (peak pada

batas impedansi akustik). Wavelet ini mempunyai resolusi maksimum.

2. Maximum phase, yaitu wavelet yang energinya terpusat secara maksimal

dibagian akhir dari wavelet.

3. Minimum phase,yaitu wavelet yang energinya terkonsentrasi di depan

sedekat mungkin dengan titik refrensi nol (t=0) dan tidak ada energi

sebelum t=0

4. Mix phase, merupakan wavelet yang energinya tidak terkonsentrasi di

bagian depan maupun dibagian belakang

15
II.7.4 Polaritas
Penentuan polaritas sangat penting dalam proses well seismic tie dan picking

horizon. Menggunakan konvensi ini, dalam sebuah penampang seismik

dengan tampilan polaritas normal SEG maka diharapkan :

1. Batas refleksi berupa trough pada penampang seismik, jika AI2 >AI1

2. Batas refleksi berupa peak pada penampang seismik, jika AI1>AI2

(a) (b)

Gambar 2.9 Contoh konvensi polaritas menurut SEG. (a) zero-phase, (b)
fasa minimum (Sukmono, 1999).

II.8 Resolusi Seismik

Resolusi adalah jarak minimum antara dua objek yang dapat dipisahkan oleh

gelombang seismik, resolusi terbagi menjadi resolusi vertikal dan resolusi

horisontal (Sukmono, 1999).

II.8.1 Resolusi Vertikal

Resolusi vertikal merupakan kemampuan akuisisi seismik untuk dapat

memisahkan atau membedakan dua bidang batas perlapisan batuan secara

16
vertikal. Resolusi ini dicerminkan oleh suatu batas yaitu kedua reflektor masih

dapat dipisahkan dan besarnya tergantung pada ketebalan dan panjang

gelombang. Nilai dari resolusi vertikal adalah :

𝑣
rv = (2.4)
4𝑓

Dimana,

rv = resolusi vertikal (m)

v = kecepatan rata-rata (m/s)

f = frekuensi (Hz)

Resolusi minimum yang masih ditampilkan oleh gelombang seismik adalah ¼

λ disebut juga ketebalan (tunning thickness), dimana λ adalah panjang

gelombang minimum yang masih dapat dibedakan oleh gelombang seismik.

II.8.2 Resolusi Horisontal

Resolusi horisontal merupakan kemampuan akuisisi seismik untuk dapat

memisahkan dua permukaan reflektor, meskipun penyederhanaan sering

dilakukan dengan mengasumsikan bahwa gelombang seismik pantul berasal

dari satu titik tetapi sebenarnya refleksi tersebut berasal dari daerah dimana

terjadinya interaksi antara muka gelombang dan bidang reflektor (Sukmono,

1999). Magnitudo zona Fresnel dapat diperkirakan dari

rf = 𝑣2 √𝑓𝑡 (2.5)

17
Dimana,

rf = radius zona Fresnel (m)

v = kecepatan rata-rata (m/s)

t = Two Way Traveltime (s)

f = frekuensi domain (Hz)

II.9 Seismogram Sintetik

Seismogram sintetik adalah rekaman seismik buatan yang dibuat dari data log

kecepatan dan densitas tujuannya untuk mengidentifikasi horizon seismik yang

sesuai dengan geologi bawah permukaan yang diketahui dalam sumur hidrokarbon.

Seismogram sintetik diperoleh dari data kecepatan dan densitas membentuk fungsi

koefisien refleksi yang selanjutnya dikonvolusikan dengan wavelet.

Gambar 2.10 Seismogram Sintetik yang diperoleh dari konvolusi koefisien


refleksi dan wavelet (Sukmono,1999)

18
II.10 Sifat – sifat Fisika Batuan

II.10.1 Densitas

Densitas merupakan sifat fisis yang secara signifikan oleh porositas. Jika

distribusi densitas batuan dibawah permukaan diketahui maka secara

potensial informasi perlapisan dapat diketahui. Besarnya densitas batuan

poros yang disusun oleh mineral dan fluida yang seragam dapat diperoleh

dengan menggunakan persamaan Wylie :

ρsat = ρma ( 1 – ϕ) + ρwSw ϕ + ρhc (1 – Sw) ϕ (2.6)

dimana,

ρsat = densitas batuan yang tersaturasi fluida (gr/cc)

ρma = densitas matriks (gr/cc)

ϕ = porositas batuan (%)

Sw = saturasi air(%)

ρw = densitas air ( mendekati 1 g/cm3)

ρhc = densitas hidrokarbon (gr/cc)

II.10.2 Porositas Batuan


Porositas suatu medium adalah perbandingan volume rongga – rongga

pori terhadap volume total seluruh batuan yang dinyatakan dalam persen

(%).

𝑉𝑡 − 𝑉𝑠 𝑉𝑝
Ф= = (2.7)
𝑉𝑡 𝑉𝑡

19
Dimana,

Ф = porositas (%)

Vp = volume ruang kosong, biasanya terisi fluida (cc)

Vs = volume yang terisi oleh zat padat (cc)

Vt = volume total batuan (cc)

Tabel 2.1 Skala penentuan baik tidaknya kualitas nilai porositas


batuan suatu reservoar (Koesoemadinata, 1978).
Harga porositas
Skala
(%)
0-5 Diabaikan (negligible)
5 - 10 Buruk (poor)
10 - 15 Cukup (fair)
15 - 20 Baik ( good)
20 - 25 Sangat baik (very good)
>25 Istimewa (excellent)

II.10.3 Kecepatan

Terdapat dua jenis kecepatan gelombang seismik yang berperan penting

dalam interpretasi data seismik, yaitu kecepatan gelombang P (gelombang

kompresi) dan gelombang S (gelombang shear).

II. 11 Checkshot

Checkshot dilakukan untuk mendapatkan hubungan antara waktu dan kedalaman

yang diperlukan dalam proses pengikatan data sumur terhadap data seismik. Prinsip

kerjanya dapat dilihat Gambar 2.11.

20
Gambar 2.11 Survei Checkshot (Sukmono, 2007)

II. 12 Pengikatan Data Seismik dan Sumur

Suatu penampang seismik memperlihatkan horizon yang dihasilkan dari adanya

perbedaan impedansi akustik dari batuan yang bertujuan untuk mengikat horizon

tersebut sehingga horizon seismik (skala waktu) dapat diletakkan pada posisi

kedalaman sebenarnya agar dapat dikorelasikan dengan data geologi lainnya yang

umum diplot pada skala kedalaman (Sukmono, S ,1999).

II.13 Analisis Atribut seismik

Analisa atribut seismik adalah salah satu metode statistik menggunakan beberapa

atribut untuk memprediksi beberapa properti fisik dari bumi. Pada analisa ini dicari

hubungan antara data sumur dengan data seismik pada lokasi sumur dan

menggunakan hubungan tersebut untuk memprediksi atau mengestimasikan

volume dari properti log pada semua lokasi pada volum seismik. Sehingga Gambar

2.12 menjelaskan bahwa atribut seismik terdapat pada complex trace.

21
Gambar 2.12 Complex Trace (Taner et al. Geophysics, June, 1979)

II.13.1 Trace Envelope

Mempresentasikan total energi sesaat (Instantaneous), nilai amplitudonya

bervariasi antara nol sampai amplitudo maksimum tras seismik. Digunakan

untuk melihat kontras Imedansi Akustik (AI), Brights–Spot,

ketidakselarasan. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :

A (t) = [q2(t) + r2(t)]1/2 (2.8)

Dimana :

A (t) = kompleks seismik trace (m)

q2(t) = quadrature trace (m)

r2(t) = real trace seismik (m)

II.13.2 Fase Sesaat

Dalam interpretasi digunakan untuk melihat lapisan secara lateral,

ketidakmenerusan, batas sekuen, konfigurasi perlapisan.

θ(t) = tan-1[q(t) / r(t)] (2.9)

22
Dimana,

θ(t) = fase sesaat (rad/s)

q(t) = quadrature trace (m)

r(t) = real trace seismik (m)

II.13.3 Frekuensi Sesaat

Frekuensi sesaat merepresentasikan besarnya perubahan fasa sesaat

terhadap waktu sebagai slope jarak, pada frekuensi sesaat ini memberikan

informasi tentang perilaku gelombang seismik. Frekuensi sesaat digunakan

untuk melihat anomali hidrokarbon yang akan ditunjukkan dengan anomali

frekuensi rendah.

ω(t) = dθ(t) / dt (2.10)

Dimana,

ω(t) = kecepatan sudut (rad/s2)

II. 13.4 Spektral Dekomposisi

Spektral dekomposisi adalah suatu metode yang digunakan untuk

mengubah data seismik kedalam komponen spektralnya sehingga dapat

memperlihatkan fitur stratigrafidan struktur yang pada data seismik biasa

tidak terlihat. Dengan mengubah data seismik kedalam domain frekuensi,

spektrum amplitudo akan melihat ketebalan lapisan dalam domain waktu.

Oleh karena itu, metode ini dapat menggambarkan fitur stratigrafi seperti

channel dan fitur struktural seperti sistem sesar.

23
II.14 Cross-Plot

Sebelum memasuki tahap inversi terlebih dahulu dilakukan pengecekan zona

litologi berdasarkan nilai impedansi dengan cross-plot. Tujuan dilakukan cross-plot

ini untuk memisahkan litologi nya antara batupasir atau batuserpih. Jika nilai dari

cross-plot mampu memisahkan litologinya kemungkinan akan dilakukan inversi,

selanjutnya hasil inversi akan digunakan untuk mengkarakteristik reservoar.

II. 15 Well Logging

Menurut Harsono (1997), log adalah suatu grafik dalam satuan kedalaman yang

menunjukkan parameter fisik, yang diukur secara berkesinambungan dalam sebuah

sumur. Menurut Schlumberger (1986), logging adalah pengukuran atau pencatatan

sifat – sifat fisika batuan di sekitar lubang bor secara tepat dan kontinu pada interval

kedalaman tertentu. Ada 4 (empat) jenis log yang sering digunakan dalam

interpretasi yaitu :

1. Log listrik, terdiri dari log resistivitas dan log SP (Spontaneous Potential).

2. Log radioaktif, terdiri dari log GR (Gamma Ray), log porositas yaitu terdiri

dari log densitas (RHOB) dan log neutron (NPHI).

3. Log akustik berupa log sonic.

II.15.1 Log Sinar Gamma (Gamma ray)

Fungsi utama log gamma ray adalah aplikasi stratigrafi dan geologi minyak

bumi yaitu bahwa log gamma ray digunakan sebagai “log lempung” untuk

membedakan antara lempung dan Formasi “bersih” dan juga untuk

mengevaluasi lempung (Vshale) dalam Formasi serpih. Radioaktif gamma

24
ray berasal dari 3 unsur radioaktif yang ada dalam batuan yaitu Uranium-

U, Thorium-Th dan Potasium-K.

II.15.2 Log Neutron Porosity

Tingkat konsentrasi Hidrogen di setiap Formasi berbeda (disebut dengan

Hydrogen Index = HI), dan berdasarkan hal ini log neutron bekerja. Log

neutron dapat dijadikan indikator porositas, pada batugamping, porositas

neutron merupakan porositas sesungguhnya pada batuan ini, tapi pada

batuan yang lain diperlukan faktor konversi tersendiri (Rider, 1996).

II.15.3 Log Bulk Density (RHOB)

Prinsip kerja log ini adalah memancarkan sinar gamma energi menengah

kedalam suatu Formasi sehingga akan bertumbukan dengan elektron-

elektron yang ada. Kegunaan dari log densitas yang lain adalah menentukan

harga porositas dan densitas batuan, mendeteksi adanya gas, dan

hidrokarbon serta bersama-sama log neutron dapat digunakan untuk

menentukan kandungan lempung dan jenis fluida.

II.15.4 Log Sonik

Log Sonik adalah log yang bekerja berdasarkan kecepatan rambat

gelombang suara. Gelombang suara yang dipancarakan kedalam suatu

Formasi kemudian akan dipantulkan kembali dan diterima oleh penerima.

Log ini bertujuan untuk mengetahui porositas suatu batuan, untuk

membantu interpretasi data seismik, menentukan jenis batuan.

25
II.15.5 Log Resistivitas

Log Resistivitas adalah pengukuran resistivitas batuan pada sumur bor.

Kegunaan dari log resistivitas ini adalah untuk mengukur resistivitas dari

formasi batuan jika suatu Formasi yang mengandung salty water (air asin),

dalam beberapa analisis diantaranya, analisis saturasi fluida, fasies, dan

lainnya maka respon log resistivitasnya akan rendah, berbeda dengan

Formasi yang sama namun yang terkandung adalah hidrokarbon, maka akan

memberikan respon yang tinggi (Rider, 1996).

II.16 Konsep Dasar Inversi Seismik

Pengertian secara lebih spesifik tentang inversi seismik dapat didefinisikan sebagai

suatu teknik pembuatan model bawah permukaan dengan menggunakan data

seismik sebagai input dan data sumur sebagai kontrol (Sukmono, 2000). Metode

inversi seismik ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu inversi pre-stack dan inversi

post-stack. Inversi post-stack terdiri dari inversi rekursif (bandlimited), inversi

berbasis model (Model-Based) dan inversi Sparse Spike (Russel, 1998). Pada

metode inversi seismik penampang seismik dikonversi kedalam bentuk akustik

impedansi yang merepresentasikan sifat fisis batuan sehingga lebih mudah untuk

diinterpretasi menjadi parameter-paramater petrofisik misalnya untuk menentukan

ketebalan, porositas dan penyebarannya.

26
Gambar 2.13 Diagram konsep dasar inversi seismik (Sukmono, 2000)

Diagram perbandingan antara teknik inversi dan teknik pemodelan kedepan adalah,

Gambar 2.14 Diagram alir pemodelan kedepan dan inversi (Sukmono, 1999)

Metode inversi seismik dikembangkan membantu interpretasi seismik berdasarkan

pada prioritas data masukan (pre-stack analysis atau post-stack analysis), efisien

biaya dan waktu, objek fisis yang dianalisis. Model awal yang dilakukan sebelum

inversi adalah model akustik impedansi (AI) yang merupakan hasil perkalian antara

kecepatan gelombang P (Vp) dari log sonik dengan densitasnya (ρ) dari log

densitas.

27
Gambar 2.15 Diagram berbagai jenis model teknik inversi seismik
(Sukmono, 1999)

II.16.1 Metode Inversi Akustik Impedansi

Akustik Impedansi (AI) merupakan sifat batuan yang dipengaruhi oleh jenis

litologi, porositas, kedalaman, tekanan dan temperatur. Hal tersebut

menyebabkan akustik impedansi dapat digunakan sebagai indikator litologi.

Apabila data seismik konvensional melihat batuan dibawah permukaan

sebagai batas antar lapisan batuan, maka data akustik impedansi melihat

batuan dibawah permukaan bumi sebagai susunan lapisan batuan itu sendiri.

1. Metode inversi Model Based (Blocky)

Metode ini dilakukan dengan cara membandingkan data seismik sintetik

yang telah dibuat dari hasil konvolusi reflektifitas (model geologi) dengan

wavelet tertentu dengan data seismik riil. Penerapan metode ini dimulai

dengan asumsi awal yang diperbaiki dengan iteratif. Teknik ini dilakukan

dengan cara berikut;

28
1. Membuat model inisial dan versi blocky dari model tersebut dengan

merata-ratakan AI sepanjang lapisan blocky yang digunakan.

2. Nilai AI diubah menjadi reflektivitas.

3. Mengembangkan model konvolusi antara nilai reflektifitas yang

didapat dengan suatu wavelet untuk mendapatkan seismogram

sintetik. Bentuk konvolusinya adalah,

S(t) = w(t) * r(t) (2.11)

Dimana,

S(t) = seismogram sintetik

w(t) = wavelet

r(t) = deret koefisien refleksi

4. Memodifikasi nilai AI dan ketebalan dengan menggunakan metode

Generalized Linear Inversion (GLI), sehingga error yang dihasilkan

berkurang. Proses inversi linear umum (GLI) merupakan proses

untuk menghasilkan model akustik impedansi yang paling cocok

dengan data hasil pengukuran rata-rata kesalahan terkecil/least

square (Russel, 1991). Secara matematis, model dan data pengukuran

dapat dirumuskan sebagai vektor:

d = [d1, d2,…..dn] T (2.12)

m=[m1,m2…...,mk]T (2.13)

Hubungan antara model dan data pengukuran dinyatakan dengan

persamaan :

d= F (m), i = 1, 2, 3,….,n (2.14)

29
Dengan F adalah suatu fungsi hubungan antara model dan data

pengukuran dapat dituliskan sebagai berikut :

𝝏𝑭 (𝑴𝟎 )
F(M) = F (M0) + Δ𝑀 (2.15)
𝝏𝑴

Dengan,

M0 = model dugaan awal


M = model bumi sebenarnya

Δ𝑀 = perubahan parameter model

F(M) = data pengukuran

F (M0) = harga perhitungan dari model dugaan

𝝏𝑭 (𝑴𝟎 )
= perubahan harga perhitungan terhadap model
𝝏𝑴

5. Dilakukan iterasi hingga didapatkan kecocokan yang baik antara

seismogram sintetik dan tras seismik.

II. 17 Coloured Inversion

Coloured inversion merupakan jenis seismik inversi deterministik yang cepat dan

mudah seperti inversi rekursif tetapi mempunyai tampilan yang lebih baik dari

inversi rekursif bahkan hampir sama dengan tampilan sparse spike. Colured

inversion ini biasanya digunakan untuk melihat anomali pada daerah penelitian

tersebut.

30
Gambar 2.16 (a) Inversion model Sparse Spike (b) Coloured Inversion
(modifikasi dari Williams,2016)

Metode Coloured Inversion seperti Gambar 2.16 menggunakan alogaritma robust

untuk mendapatkan nilai impedansi akustik yang relatif (relative acoustic

impedance). Nilai akustik impedansi terbagi menjadi dua yaitu relatif impedansi

akustik dan absolut impedansi akustik. Metode coloured inversion dapat berfungsi

sebagai quick look untuk melihat anomali pada daerah penelitian. Apabila terdapat

anomali pada daerah penelitian tersebut maka dapat menggunakan metode inversi

yang lebih baik seperti simulated annealing. Coloured inversion menampilkan

resolusi horisontal dan vertikal yang lebih baik dari pada seismik konvensional.

31
A B

C D

Gambar 2.17 (A) Log impedansi dalam domain waktu (B). filter Butterworth
(C). Grafik log amplitudo dengan frekuensi dalam bentuk log (D). model yang
diinginkan yang sudah difilter dengan butterworth (Williams, 2016)

A B

C D

Gambar 2.18 (A). Rata-rata dari spektrum overlay dengan spektrum yang
diinginkan (B). Operator didomain frekuensi (C). Operator di domain waktu (D).
Seismik spektrum overlay dengan log spektrum (Williams, 2016).

32
Proses teknik diatas adalah teknik alogaritma yang dilakukan termasuk cepat dan

sederhana karena hanya berdasarkan teknik konvolusi. Pada coloured inversion,

seperti Gambar 2.17 (C) persamaan garis lurus yang didapatkan dari spektrum

seismik kemudian dikonvolusikan dengan rata-rata seismik untuk mendapatkan

atau mendesain match operator yang terlebih dahulu dilakukan filter butterworth.

sehingga didapatkan hasil pada Gambar (2.17) (B) pada frekuensi domain.

Operator tersebut ditampilkan dalam domain waktu yang digambarkan pada

wavelet Gambar (2.18) (C) dan (D) terlihat overlay antara seismik yang telah

dilakukan inversi kemudian overlay dengan data well dalam bentuk spektrum. Hasil

dari match operator tersebut kemudian diaplikasikan keseluruh seismik untuk

mendapatkan penampang akustik impedansi.

II. 18 Metode Simulated Annealing

Metode ini merupakan berdasarkan dari konsep ilmu metalurgi. Ilmu metalurgi

dianalogikan dengan proses pembentukan metal atau kristal dipanaskan pada

temperatur yang sangat tinggi. Proses pendinginan kristal yang dipanaskan pada

temperatur tinggi tersebut berlangsung secara perlahan-lahan. Ketika penurunan

temperatur berhenti, kristal telah berada pada kondisi dengan energi yang sangat

rendah.

33
Gambar 2.19 Proses pembentukan kristal (modifikasi dari Herdiana, 2007)

Maka yang berperan penting dalam pembentukan kristal adalah suhu. Suhu sebagai

faktor pengontrol dari pemanasan sampai pendinginan. Hal ini dinyatakan dengan

rumus :

P (𝛥E) = e- 𝛥E / T (2.16)

Dimana ;

P (𝛥E) = Probabilitas

Exp = Eksponensial

𝛥E = perubahan fungsi objektif

T = Suhu (oC)

Metode Simulated Annealing kemudian diterapkan kepada seismik konvensional

untuk inversi yang disebut sebagai inversi simulated annealing. Harapan dari

inversi ini mendapatkan penampang seismik konvensional sama dengan kondisi

yang baik seperti kristal. Proses data seismik dengan menerapkan iterasi untuk

mendapatkan model selanjutnya apabila model sudah baik maka proses iterasi akan

berlanjut.

34
Gambar 2.20 Proses iterasi pada inversi Simulated Annealing (Williams, 2016)

Pada Gambar 2.20 merupakan bagaimana simulated annealing diterapkan di

dalam seismik. Gambar 2.20 terdiri dari 3 proses yaitu sebelum diiterasi, saat

diiterasi yang ke 1821 dan selesai diiterasi. Setiap proses memiliki tras seismik

(trace pertama) yang merupakan salah satu tras dari seismik konvensional,

kemudian tras yang kedua ada estimeted impedance merupakan impedansi yang

diestimasi (macromodel). Macromodel yang diperoleh dari velocity model atau dari

log. Pada tras kedua ini menjadi ukuran yang sangat penting karena estimasi dari

impedansi ini yang akan diiterasi untuk menjadi model. Tras ketiga adalah estimasi

koefisien refleksi merupakan batas lapisan yang diestimasi, dimana tras ini

35
didapatkan dari rumus akustik impedansi dan tras keempat merupakan wavelet

yang telah diestimasi yang kemudian dikonvolusikan dengan koefisien refleksi

sehingga mendapatkan sintetik tras pada tras yang keempat. Hasil selisih antara

sintetik tras dengan seismik ditampilkan dalam bentuk error pada tras yang kelima.

Proses sebelum diiterasi akan cenderung flat karena diawali dengan frekuensi yang

rendah sehingga hasil error pun masih besar. Setelah dilakukan proses iterasi maka

impedansi model akan mengalami perturbasi hingga error antara sintetik tras dan

seismik kecil.

Gambar 2.21 grafik global minimum dan lokal maksimum (modifikasi dari
Herdiana, 2007)

𝑀𝑖𝑠𝑓𝑖𝑡𝑚𝑜𝑑𝑒𝑙 = ∑[(𝐼𝑝𝑖 − 𝐼𝑝𝑏𝑎𝑐𝑘 )] (2.17)

𝑀𝑖𝑠𝑓𝑖𝑡𝑠𝑒𝑖𝑠𝑚𝑖𝑐 = ∑[(𝑆𝑜𝑏𝑠 − 𝑆𝑠𝑦𝑛 )] (2.18)

Dimana,

Misfit = Hubungan Korelasi antara model seismik dengan model objektif

Sobs = Seismik Observasi

Ssyn = Seismik Sintetik

Ipi = Model Perturbasi

36
Ipback = Model Perturbasi sebelumya

Analogi kristal dengan penurunan suhu yang bertahap akan mendapatkan kristal

yang baik seperti Gambar 2.21 pada posisi global minimum. Apa bila

diaplikasikan terhadap seismik iterasi akan mendapatkan global minimum yang

merupakan error terkecil setelah dilakukan iterasi.

Gambar 2.22 grafik iterasi vs misfit menggunakan simulated annealing


(modifikasi dari Williams, 2016)

Iterasi yang dilakukan berdasarkan iterasi monte carlo dimana hal pertama yang

dilakukan adalah penentuan kecepatan yang baru secara acak hasil dari iterasi.

Penentuan model secara acak berdasarkan rumus yaitu:

x’ = x + r vi (2.19)

dimana ;

x’ = Posisi setelah iterasi

37
x = Posisi Awal

r = Nilai Random

vi = Nilai Vektor

Pada saat penurunan suhu dilakukan dengan bertahap untuk mendapatkan nilai

yang baik sesuai dengan kaidah dari proses pembentukan kristal ditulis dengan

rumus :

T’ = kTo (2.20)

Dimana ;

T’ = suhu setelah diiterasi

k = konstanta Bolztman (k=1)

To = suhu awal

Mekanisme penurunan temperatur merupakan salah satu faktor yang harus

dilakukan (tuning) agar sesuai dengan permasalahan yang ditinjau. Maka

penurunan suhu secara logaritmik dan geometrik dirumuskan sebagai berikut :

Tn = To / log (n) (2.21)

Tn = α Tn-1 atau Tn = T0 αn (2.22)

Dimana :
T0 = temperatur awal
n = iterasi

α = faktor penurunan temperatur (nilainya antara 0.9 – 0.99)

38
II. 19 Transformasi Fourier Fast (FFT)

Fast Fourier Trnsform adalah suatu alogaritma untuk menghitung transformasi

fourier diskrit dengan cepat dan efisien. Transformasi fourier cepat diterapkan

dalam beragam bidang, mulai dari pengolahan sinyal digital.

Setiap alogaritma FFT, dengan penyesuaian, dapat diterapkan untuk menhitung

DFT, namun dengan tanda eksponen berlawanan dan dikalikan dengan faktor 1/N.

Dapat dituliskan dalam bentuk sinusoidal sebagai berikut:

(2.23)

39
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Lokasi Sumur pada penelitian ini berada pada 172 ° 141’ 53.43”E 39 ° 48’ 39.35”S.

Lapangan “RST” cekungan Taranaki ini berada 103 km dari Pulau bagian Utara

lempeng Australia, dan 145 km pada bagian Selatan-Barat berbatasan dengan

lempeng Pasifik dan New Plymouth.

Gambar 3.1 Lokasi penelitian cekungan Taranaki, New Zealand

Taranaki terbagi menjadi dua bagian yaitu Pulau bagian Selatan dan Pulau bagian

Utara, pada bagian Utara terdapat lempeng Australia dan pada bagian Selatan

terdapat lempeng Pasifik. Pergerakan lempeng Pasifik kearah Barat Daya bergerak

ke bawah lempeng Australia dan lempeng Australia bergerak kearah Timur berada

40
dibawah Pulau Selatan dihubungkan dengan Alphine Fault. Penelitian ini dilakukan

selama 3 bulan (Mei – Juli) 2017.

III.2 Data dan Perangkat Pengolahan Data

III.2.1 Data

Data yang diolah dalam penelitian ini meliputi data sekunder seismik 3D,

data sumur, data checkshot, peta dasar (Basemap) dan data marker.

Parameter-parameter maupun ketersediaan data meliputi pengaruh besar

terhadap hasil dari proses penelitian ini. Berikut ini akan diuraikan data

masukan yang digunakan.

1. Data Seismik 3D

Data seismik yang digunakan adalah berupa data sekunder berupa data

seismik 3D post-stack time migration (PSTM) dalam format SEG-Y

dengan asumsi bahwa data seismik tersebut sudah melewati tahapan

processing sesuai prosedur. Pada data seismik ini terdapat jumlah inline

yang terhitung dari 1402 dan terdapat jumlah crossline 1883.

2. Data Sumur

Data sumur yang digunakan adalah data sekunder dalam format data log

ASCII Standar (LAS). Data sumur meliputi log yang tersedia dan

koordinat dari sumur termasuk Kelly bushing. Seluruh skala kedalaman

sumur menggunakan satuan feet. Ketersedian data log dapat dilihat pada

Tabel 3.1 berikut ini.

41
Nama Well Log Log Log Log Log
GR RESS DENS NEUT DT
KIWA-1 √ √ √ √ √

Tabel 3.1 Ketersediaan data sumur

Keterangan : √ = tersedia

3. Base map

Base map atau peta dasar merupakan suatu penampang yang

menunjukkan kerangka dari survei seismik daerah penelitian. Pada peta

dasar ini juga ditunjukkan skala peta dan posisi sumur pada lintasan

seismik.

4. Data Marker

Data marker merupakan penanda kedalaman pada sebuah formasi. Data

marker ini sangat penting untuk mengetahui waktu dari formasi tersebut

pada kedalaman data seismik setelah dilakukan proses well seismic tie.

Jika daerah target merupakan salah satu formasi dari marker, maka akan

mempermudah dalam melakukan picking horizon.

5. Data Checkshot

Data Checkshot merupakan data yang didapatkan dengan cara

meletakkan geophone kedalam lubang bor sebagai receiver, dan

mentransmisikan gelombang diatas permukaan. Fungsi dari checkshot

adalah sebagai langkah awal dalam pengikatan antar seismik dan data

sumur (seismic well tie). Bahwa kita ketahui seismik merupakan domain

waktu, dan data sumur merupakan domain kedalaman sehingga

42
dibutuhkan konversi dari domain kedalaman menjadi domin waktu,

konversi tersebut merupakan proses dari checkshot.

III.2.2 Perangkat Pengolahan Data

Berikut ini perangkat pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini.

1. Satu unit komputer dengan sistem operasi Windows 7 Ultimate.

2. Software IHS Kingdom 2016 merupakan salah satu software yang

digunakan dalam penelitian ini.

III. 3 Pengolahan Data

III. 3.1 Pengolahan Data Sumur

1. Loading data

Mengumpulkan serta memeriksa kelengkapan data sumur serta

penempatan posisi sumur pada data seismik, serta penentuan satuannya

dalam domain waktu atau domain kedalaman.

2. Input data log, data Marker, data Checkshot

Log yang digunakan adalah data log yang berasal dari sumur yaitu: log

sonic, log gamma ray (GR), log densitas (RHOB), log neutron (NPHI),

log resistivitas, log acousticimpedance (AI).

Data marker dan data checkshot yang digunakan dalam penelitian ini

yang telah diinterpretasi sebelumnya.

3. Analisa log

Dalam menganalisa log ini digunakan untuk mengetahui karakter-

karakter log tersebut dalam data sumur.

43
4. Analisa crossplot

Dilakukan untuk menguji sensitifitas dari parameter-parameter dalam

membedakan litologi dan identifikasi keberadaan kandungan fluida

yang terdapat pada sumur. Crossplot yang dilakukan antara log densitas

dan log Resistivitas, log sonic dan log neutron, log densitas dan log

sonic, log AI dan log neutron, log AI dan log densitas, log AI dan log

neutron, log densitas dan log neutron.

III. 3.2 Pengolahan Data Seismik

1. Loading data seismic

Data seismik yang digunakan adalah data seismik sekunder 3D post-

stack time migration (PSTM) dalam format SEG-Y. Jumlah inline data

seismik terhitung 1402 dan jumlah crossline 1883.

2. Penentuan zona target

Dalam penentuan zona target ini ditentukan berdasarkan informasi log

yang tersedia. Pada data sumur yang berpotensi menjadi zona target

adalah Formasi Mahoenui pada kedalaman 2880 ft – 2950 ft, Formasi

Kaiata pada kedalaman 3026 ft - 3206 ft, dan formasi bottom Kaiata

pada kedalaman 3206 ft - 3560 ft.

3. Ekstraksi wavelet

Ekstraksi wavelet merupakan proses yang dilakukan untuk

mengestimasi bentuk gelombang dari sumber getar yang telah

terkonvolusi kedalam seismik. Wavelet ini akan dikonvolusikan dengan

reflektifitas dari data sumur sehingga menghasilkan sintetik yang akan

44
digunakan untuk proses korelasi dengan data seismik. Pada tahapan ini,

fasa yang digunakan adalah zerophase, dengan sampling rate 4.0 ms.

4. Seismogram sintetik

adalah rekaman seismik buatan yang dibuat dari data log kecepatan dan

densitas, dari data kecepatan dan densitas akan menghasilkan koefisien

refleksi yang selanjutnya dikonvolusikan dengan wavelet. Pada tahap

well seismic tie ini terdapat beberapa perlakuan untuk memperoleh hasil

korelasi data sintetik dengan rill yang berkualitas baik. Perlakuan

tersebut adalah shifting, stretching, dan squeezing.

5. Well Seismic Tie

Well Seismic Tie dilakukan untuk mengikat data sumur yang terdapat

pada skala kedalaman dengan data seismik yang berada pada skala

waktu. Proses pengikatan ini dilakukan pada data sumur terhadap data

seismik agar horizon seismik dapat ditempatkan pada posisi kedalaman

sebenarnya.

6. Picking Horizon

Tahapan ini dilakukan dengan menarik garis secara horisontal pada

kemenerusan lapisan yang terlihat pada penampang seismik. Penarikan

horison seismik yang akan diinterpretasi pertama kali dilakukan dengan

menampilkan penampang seismik dan log sumur yang telah dilakukan

well seismic tie sebelumnya. Picking horizon dilakukan pada Formasi

Mahoenui, Formasi Kaiata dan bottom Kaiata.

45
7. Inversi Impedansi Akustik

Pada proses ini, langkah pertama dilakukan adalah membuat model,

model yang dipakai pada akustik impedansi yaitu membuat penyebaran

nilai p-impedance pada seismik. Nilai p-impedance ini berasal dari

kurva p-wave (kecepatan batuan) dikalikan dengan nilai densitas yang

berasal dari sumur yang kemudian di- generate keseluruh seismik.

Dalam inversi acoustic impedance (AI) digunakan juga coloured

inversion Proses ini tidak menggunakan model awal sebagai inputan

untuk model imepdansi. Hal pertama yang dilakukan untuk proses ini

yaitu input log Densitas, log sonik, log impedansi dan checkshot sebagai

inputan dan output daricoloured inversion ini adalah acoustic

impedence (AI) relatif. Simulated annealing adalah proses metalurgi.

Pada proses ini model yang digunakan adalah model macromodel log.

Pada proses ini diterapkan kepada seismik konvensional untuk

mendapatkan penampang seismik yang baik, Apabila model tersebut

sudah baik maka proses tersebut akan berlanjut, apabila model tidak

baik maka akan masih menggunakan model pertama untuk di iterasi

kembali. Proses seismik tersebut dengan melakukan iterasi untuk

mendapatkan model selanjutnya, Saat proses iterasi berjalan sampai

menunjukkan error bernilai rendah pada proses ini akan terus

melakukan iterasi sampai mendapatkan global minimum yang berhenti

pada iterasi dimana hasil iterasi tersebut memiliki error terkecil antara

46
model dengan seismik dengan hasil resolusi yang tinggi. Frekuensi yang

dipakai adalah frekuensi model adalah 8-80 Hz.

8. Slice (horizon slice)

Slice (horizon slice) merupakan proses yang dilakukan untuk melihat

penampang volume seismic dalam melihat penyebaran hidrokarbonnya

secara lateral. Pada horizon slice ini dilakukan setelah mendapatkan

hasil inversi acoustic impedance (AI), proses ini lebih akurat dari pada

dilakukan time slice karena horizon slice merupakan penggambaran

horizon itu sendiri sehingga pada saat dilakukan display terhadap peta

maka hasilnya lebih akurat dan lebih bagus

9. Atribut seismik

Atribut seismik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ; trace

envelope dimana digunakan untuk melihat brights-spot, akumulasi gas,

ketidakselarasan, atribut instantaneous frequency (frekuensi sesaat)

digunakan melihat anomali hidrokarbon, indikator ketebalan lapisan.

Atribut instantaneous phase (fase sesaat) digunakan untuk melihat

lapisan secara lateral, batas sekuen, channels. Atribut spectral

dekomposisi digunakan untuk melihat lapisan tipis dengan frekuensi

tertentu sehingga frekuensi yang digunakan 8 Hz, 10 Hz, dan 13 Hz

tersebut akan di tampilkan pada gambar penampang seismik sehingga

akan terlihat lebih jelas pada lapisan tipisnya.

47
10. Analisa Atribut Seismik

Dalam analisis atribut seismik ini dilakukan analisis pada setiap atribut

yang digunakan tujuan nya untuk melihat keberadaan hidrokarbon dan

lapisan tipis yang tidak kelihatan. Bahwa dengan melakukan analisis ini

dapat diketahui daerah yang menjadi prosfek hidrokarbon nya dengan

melihat respon beberapa atribut terhadap proses tampilan pada

penampang seismik.

48
III. 3 BAGAN ALIR PENELITIAN

Mulai

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Data Seismik 3D Data Sumur

Ekstrak Wavelet
Marker Checkshot Data Log

Seismogram Sintetik

Well Tie Seismik Analisa Log

Picking Horizon

Inversi AI Analisa Crosplot

 Coloured Inversion
 Simulated Annealing
(Absoluted AI,
Relative AI)

Atribut Seismik Slice (horizon Slice)

 Trace Envelope Analisa Atribut


 Instantaneous
Frequency
 Instantaneous Phase Hasil
 Spectral
Decomposition
Selesai

49
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil dan Pembahasan

IV.1.1 Analisis Sumur

IV.1.1.1 Analisis zona Target

Ada beberapa data log dari sumur KIWA-1, diantaranya log gamma ray (GR),

log sonik (P-wave), log acoustic impedance (AI), log resistivitas, log densitas

(RHOB), data marker dan data checkshot. Beberapa data log tersebut digunakan

untuk menganalisa zona target. Zona target pada penelitian ini ditunjukkan pada

Formasi Mahoenui, Formasi Kaiata dan Bottom Kaiata dengan kedalaman

(2880 ft - 3206 ft) pada cekungan Taranaki New Zealand.

Log yang sering digunakan sebagai analisis zona target yaitu log gamma ray,

log densitas (RHOB), log resistivitas, log porositas (NPHI). Fungsi utama log

gamma ray yaitu untuk membedakan antara lapisan permeable (reservoir rock)

dan lapisan impermeable (cap rock). Umumnya batupasir, batugamping, dan

dolomit memiliki konsentrasi isotop radioaktif (U, Th, K) dengan jumlah yang

relatif lebih sedikit dari pada lempung.

50
Gambar 4.1 Log yang digunakan untuk menganalisis zona Target

Beberapa respon log gamma ray pada (Gambar 4.1) diidentifikasikan bahwa

zona target daerah penelitian mempunyai nilai gamma ray rendah yang

diinterpretasikan sebagai lapisan reservoir dengan nilai gamma ray yang tinggi

diinterpretasikan sebagai lapisan impermeabel (shale). Pada log gamma ray

pada Formasi Mahoenui pada kedalaman 2880 ft - 2945 ft, Formasi Kaiata pada

kedalaman 3054 ft - 3206 ft, Formasi Bottom Kaiata pada kedalaman 3206 ft -

3688 ft menunjukkan nilai gamma ray rendah yang diinterpretasikan sebagai

batupasir (sand rock) yang berpotensi sebagai reservoar. Log densitas

menunjukkan nilai rendah pada batupasir (sand rock) jika dibandingkan dengan

densitas serpih (shale) memiliki porositas dan permeabelitas yang bagus

sehingga memungkinkan berpotensi sebagai resservoar. Log resistivitas

menunjukkan nilai resistivitas atau tahanan pada batuan. Nilai resistivitas yang

51
tinggi diindikasikan adanya kandungan fluida hidrokarbon. Pada zona target

daerah penelitian diindikasikan nilai resistivitas yang tinggi menunjukkan

adanya kandungan hidrokarbon pada kedalaman 2880 ft - 3688 ft, pada

kedalaman 3055 ft menjadi zona reservoir yang baik. Log akustik impedansi

(AI) tinggi pada kedalaman menandakan kompak dan akustik impedansi rendah

pada kedalaman 3010 ft - 3061 ft menandakan poros.

IV.1.1.2 Analisis Well tie seismic

Well seismic tie merupakan proses untuk mengikat data seismik dengan data

sumur untuk membantu interpretasi. Pengikatan tersebut merupakan proses

untuk mendapatkan domain dari kedua data tersebut. Data seismik mempunyai

resolusi yang baik secara lateral dan tidak baik secara vertikal, sementara itu

data sumur mempunyai resolusi yang baik secara vertikal dan tidak baik secara

lateral. Maka ketika melakukan well seismic tie akan menyamakan domain dari

kedua data tersebut, sehingga kedua data dapat dioverlay dan memiliki resolusi

yang lebih baik untuk dapat melakukan interpretasi. Proses pertama well

seismic tie melakukan konversi domain waktu ke kedalaman setelah melakukan

konversi selanjutnya melakukan ekstraksi wavelet dari data seismik kemudian

dilakukan pemotongan (stretch)- tekanan (squeeze), ekstraksi wavelet yang

digunakan ialah ekstraksi wavelet theoritical setelah itu didapatkan hasil terbaik

yaitu ekstraksi seismik wavelet sekitar lubang bor lebih baik karena resolusi

yang diperoleh akan seperti resolusi pada sumur. Perkalian antara log densitas

dan log sonik sehingga menghasilkan log akustik impedansi sebagai input untuk

mendapatkan seismogram sintetik. Nilai korelasi menunjukkan hasil

52
perbandingan antara seismogram sintetik dengan data seismik. Kelayakan dari

hasil well seismic tie ditunjukkan dengan nilai korelasi maksimal (0,607).

Gambar 4.2 Well seismic tie

Pada Gambar 4.2 Well tie seismic menunjukkan nilai korelasi hasil yang

maksimal 0,607, sample rate 0,02 ms, interval length 4 ms menggambarkan

bahwa hasil Well tie seismic maksimal, bahwa nilai korelasi menunjukkan

53
semakin besar nilai korelasi atau mendekati 1 dan nilai pergeserannya 0 atau

mendekati 0 maka amplitudo dan polaritas pada seismogram sintetik akan

sesuai atau sama dengan sintetik seismik atau amplitudo seismik , khususnya

pada zona target.

IV.1.1.3 Analisis Picking Horizon

Picking horizon digunakan untuk analisis struktural dan analisis stratigrafi.

Picking horizon dilakukan dengan cara membuat garis horizon pada

kemenerusan lapisan pada penampang seismik seperti pada gambar 4.3.

Informasi mengenai keadaan litologi, lingkungan pengendapan dan penyebaran

dari reservoir sangat dibutuhkan dalam melakukan picking horizon ini.

Gambar 4.3 hasil picking horizon pada inline 1404

Picking horizon dilakukan horizon slice pada zona target yaitu pada gambar

4.3 A Formasi Mahoenui kedalaman 2935 m inline 1404 crossline 1857, B

54
Formasi Kaiata kedalaman 2996 m inline 1404 crossline 1855, dan C bottom

Kaiata kedalaman 3070 m inline 1404 crossline 1856, D merupakan basemap.

Gambar 4.4 (A) map view Formasi Mahoenui, (B) map view Formasi Kaiata, (C)
map view Formasi bottom Kaiata, (D) basemap

55
IV.1.1.4 Analisis Stratigrafi Seismik

Gambar 4.5 Analisis seismik menentukkan zona target

Pada (Gambar 4.5) merupakan gambar penampang seismik inline 1402 dan

crosline 1883. Penampang seismik tersebut terdiri 3 data marker yaitu Formasi

Mahoenui, Formasi Kaiata, Bottom Kaiata terlihat warna hijau yang menjadi

zona target. Seismik tersebut bertekstur paralel yang disebabkan oleh

pengendapan sedimen rate yang seragam, tekstur pengisian channel nya yang

divergent fill.

IV.[Link] Analisis Tuning Thickness

Analisis tuning thickness dilakukan untuk mengetahui ketebalan lapisan

reservoir dari target penelitian yang bisa dibaca panjang gelombang seismik

56
secara vertikal. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui ketebalan batupasir

dari setiap Formasi yaitu Formasi Mahoenui 84.9403 ft, pada Formasi Kaiata

dan bottom Kaiata 121.4854 ft. Setelah mengetahui ketebalan batupasir dari

setiap Formasi kemudian mencari nilai kecepatan rata-rata di sepanjang

ketebalan lapisan reservoir yaitu 11772.97 ft/s pada Formasi Mahoenui,

8231.44 ft/s pada Formasi Kaiata sampai dengan bottom Kaiata. Dengan

mengetahui frekuensi dominan dari analisis spektrum amplitudo seismik

lapangan penelitian tersebut sebesar 20 Hz, gambar 4.6 maka didapatkan

panjang gelombang (λ) pada ketebalan lapisan reservoar yaitu pada Formasi

Mahoenui panjang gelombang 588.64 ft, 411.57 ft pada Formasi Kaiata.

Gambar 4.6 Spektrum amplitudo

Tabel 4.1 Tabel analisis tunning thickness

Formasi Ketebalan Vp Rata-rata Frekuensi Tunning


batupasir (ft/s) Dominan Thickness (λ/4)
(ft) (Hz)

Formasi 84.9403 11772.97 20 147.15


Mahoenui

Formasi Kaiata 121.4854 8231.44 20 102.89

57
IV.1.1.5 Analisis Sensitivitas

Analisa sensitivitas adalah analisa dari suatu sumur, apakah sumur tersebut sensitif

atau tidak. Sumur tersebut dapat disebut sensitif apabila dapat memisahkan

batupasir dan batuserpih sehingga proses inversi akustik impedansi (AI) dapat

dilakukan. Pada Gambar 4.7 dilakukan analisis cross-plot antara sonik (DT) vs

densitas (RHOB) vs gamma ray (GR) (A), analisis cross-plot neutron vs densitas

vs gamma ray (B), analisis cross-plot sonik vs neutron vs gamma ray (C). Pada

gambar terdiri dari gambar cross-plot merupakan cross-plot yang dilakukan antara

dua atau tiga log digambarkan dalam diagram, gambar color bar merupakan tingkat

nilai dari respon suatu log sebagai z cross-plot yang menandakan respon log gamma

ray.

58
A

Sand Shale

Crossplot Respon log Color Bar

Shale

Color Bar Sand

Crossplot Respon log Color Bar

Shale

Sand

Crossplot Respon log Color Bar

Gambar 4.7 Analisis cross-plot antara sonik vs densitas vs gamma ray (A).
Analisis cross-plot neutron vs densitas vs gamma ray (B). Analisis cross-plot sonik
vs neutron vs gamma ray (C).

59
Pada Gambar 4.7 (A) cross-plot antara log sonik vs log densitas vs log gamma ray

nilai (pembatas) cut off log densitas yaitu 2,1 kg/m3 - 2,7 kg/m3, apabila nilai log

densitas lebih besar dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut batupasir, jika nilai cut off log

densitas lebih kecil dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut serpih. Nilai cut off log sonik

yaitu 90 ms/ft – 120 ms/ft, apabila nilai log sonik lebih besar dari nilai 90 ms/ft

litologi tersebut serpih, jika nilai cut off log sonik lebih kecil dari 90 ms/ft litologi

tersebut batupasir. Gambar 4.7 (B) cross-plot neutron vs densitas vs gamma ray

nilai cut off log neutron yaitu 0,4 V/V – 0,7 V/V, apabila nilai neutron lebih besar

dari 0,4 V/V litologi tersebut serpih, jika nilai cut off neutron lebih kecil dari 0,4V/V

litologi tersebut batupasir. Nilai cut off log densitas yaitu 2,1 kg/m3 – 2,7 kg/m3,

apabila nilai log densitas lebih besar dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut batupasir, jika

nilai cut off log densitas lebih kecil dari 2,1 kg/m3 litologi tersebut serpih.

Pada Gambar 4.7 (C) cross-plot antara log sonik vs log neutron vs log gamma ray

nilai cut off log sonik yaitu 60 ms/ft – 120 ms/ft, apabila nilai log sonik lebih besar

dari nilai 60 ms/ft, litologi tersebut adalah Vserpih, jika nilai cut off log sonik lebih

kecil dari 90 ms/ft, litologi tersebut adalah batupasir. Nilai cut off log neutron yaitu

0,1 V/V – 0,45 V/V, apabila nilai neutron lebih besar dari 0,1 V/V litologi tersebut

serpih, jika nilai cut off neutron lebih kecil dari 0,1V/V litologi tersebut batupasir.

60
A

Crossplot Respon log Color Bar

Crossplot Respon log Color Bar

Crossplot Respon log Color Bar

Gambar 4.8 Analisis crossplot antara AI vs neutron (A). Analisis crossplot AI vs


densitas (B). Analisis crossplot AI vs sonic (C).

61
Pada Gambar 4.8 cross-plot antara log akustik impedansi (AI) vs neutron (A) nilai

cut off log akustik impedansi yaitu 12.000 kgm-2s-1 – 43.000 kgm-2s-1. Nilai cut off

log neutron yaitu 0,4 V/V – 0,5 V/V. cross-plot antara log akustik impedansi (AI)

vs densitas (B) Nilai cut off log akustik impedansi yaitu 12.000 kgm-2s-1 – 43.000

kgm-2 s-1. Nilai cut off log densitas yaitu 2,1 kgm3 – 2,7 kgm3. Cross-plot antara log

akustik impedansi (AI) vs sonik (C) Nilai cut off log akustik impedansi yaitu 12.000

kgm-2s-1 – 43.000 kgm-2s-1. Nilai cut off log sonik yaitu 90 ms/ft – 120 ms/ft.

IV.1.1.6 Analisis Coloured Inversion

Pada proses coloured inversion tidak menggunakan model awal sebagai inputan

untuk model impedansi. Hal pertama yang dilakukan untuk poses coloured

inversion dengan menginput log sonik, log densitas, log impedansi dan checkshot

sebagai inputan coloured inversion.

Gambar 4.9 penampang akustik hasil dari coloured inversion

62
Pada Gambar 4.9 tersebut adanya anomali yang berwarna kuning terlihat secara

lateral yang diinterpretasikan sebagai batupasir yang mengandung hidrokarbon

pada penampang tersebut terlihat anomali secara lateral pada Formasi Kaiata pada

kedalaman 2996 ft yang memiliki nilai akustik impedansi yang relatif dan resolusi

yang kurang baik.

IV.1.1.7 Analisis Coloured Inversion horizon slice

Dilakukan untuk melihat penyebaran nilai akustik impedansi dan untuk melihat

anomaly secara lateral pada cekungan Taranaki, New Zealand. Oleh karena itu,

dilakukan slicing pada horizon Mahoenui, Kaiata dan bottom Kaiata.

Gambar 4.10 Horizon slice Coloured inversion pada formasi Mahoenui

63
Pada Gambar 4.10 Horizon slice hasil inversi dari formasi Mahoenui tersebut

menunjukkan persebaran hidrokarbonnya secara lateral dapat dilihat anomali pada

nilai colour bar berkisar -90.215 kgm-2s-1 – 59.971 kgm-2s-1 bahwa pada daerah

sumur KIWA-1 dapat dilihat persebaran hidrokarbon berdasarkan horizon slice.

Gambar 4.11 Horizon slice Coloured inversion pada formasi Kaiata

Pada Gambar 4.11 formasi Kaiata menunjukkan bahwa persebaran hidrokarbon

secara lateral dapat dilihat pada nilai color bar berkisar -10.042 kgm-2s-1 – 153.221

kgm-2s-1 berwarna kuning dan merah bahwa Formasi Kaiata lebih dominan

mengandung batupasir dan berfungsi sebagai reservoir.

64
Gambar 4.12 Horizon slice Coloured inversion pada Formasi bottom Kaiata

Pada Gambar 4.12 persebaran hidrokarbon secara lateral kearah timur, pada nilai

color bar -578.652 kgm-2s-1 sampai – 272.371 kgm-2s-1 menunjukkan bahwa daerah

tersebut mengandung reservoir ditandai dengan warna yang terdapat pada horizon

slice.

IV.1.1.8 Analisis Inversion Simulated Annealing

Simulated annealing merupakan proses inversi yang memerlukan model awal

sebagai inputnya berbeda dengan coloured inversion yang tidak memerlukan model

awal dengan parameter macromodel log. Frekuensi rendah dilakukan untuk melihat

kenampakan lebih akurat dengan adanya hidrokarbon dilakukan inversi untuk

mendapatkan penyebaran nilai akustik impedansi secara lateral. Gambar 4.13

65
Hasil inversi pada inline 1229 crossline 1864 menunjukkan adanya nilai akustik

impedansi rendah bernilai 6000 kgm-2s-1disekitar sumur bahwa menandakan ada

hidrokarbon.

Gambar 4.13 penampang seismik akustik impedansi simulated annealing dengan


macromodel log.

IV.1.1.9 Analisis Atribut Seismik

Dalam melakukan analisis atribut seismik digunakan untuk mendukung hasil dari

inversi yang telah dilakukan agar lebih akurat terutama lapisan tipis yang tidak

dapat di deteksi oleh inversi.

66
IV.[Link] Trace Envelope

Trace Envelope digunakan untuk melihat kontras AI, Brights–Spot,

ketidakselarasan. Pada metode trace envelope kontras AI formasi Mahoenui

pada kedalaman 2880- 2945 ft berwarna birumuda memiliki nilai

2363.904, Formasi Kaiata pada kedalaman 3054-3206 ft berwarna kuning

memiliki nilai 8584.703 dan merah memiliki nilai 11446.271, dan Formasi

Bottom Kaiata pada kedalaman 3206-3688 ft berwarna hijau memiliki nilai

3794.688.

Gambar 4.14 penampang seismik trace envelope

67
IV.[Link] Frekuensi Sesaat

Frekuensi sesaat digunakan untuk melihat anomali hidrokarbon yang akan

ditunjukkan dengan anomali frekuensi rendah bernilai -28.520 Hz. Formasi

Mahoenui pada kedalaman 2880- 2945 ft pada colour bar berwarna hijau

frekuensi sesaat ini menunjukkan bahwa ada anomali pada zona target

Formasi Mahoenui, Formasi Kaiata, dan Bottom Kaiata. Pada penampang

seismik dimulai pada line 1002 pada tras 1198 dan line akhir 1640 tras 3559

Gambar 4.15 penampang seismik pada frekuensi sesaat

68
IV.[Link] Fase Sesaat

Fase sesaat digunakan untuk melihat lapisan secara lateral,

ketidakmenerusan dan batas sekuen, pada penampang seismik fase sesaat

ini dapat dilihat ketika frekuensi secara lateral memiliki anomali yang sama.

Fase dari data yang digunakan adalah -157o dengan lebar window yang

digunakan dimulai pada waktu 564 ms sampai 2564 ms.

Gambar 4.16 penampang seismik pada fase sesaat

Gambar 4.17 penampang seismik fasa sesaat

69
IV.[Link] Dekomposisi spektral

Metode yang digunakan untuk menentukan secara kualitatif tubuh

stratigrafi batas struktural sebagaimana penebalan/penipisan lapisan secara

lateral. Dekomposisi spektral adalah penggambaran reservoir dan teknologi

interpretasi yang dapat membantu kita melihat resolusi yang lebih baik dari

properti reservoir dari pada display seismik biasa. Respon frekuensi tinggi

pada sebuah reflektor dapat teratenuasi oleh kehadiran kompresi fluida,

dekomposisi spektral dapat membantu mendeteksi keberadaan hidrokarbon.

Gambar 4.17 penampang seismik spektral dekomposisi

70
BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Dari hasil inversi seismik dan atribut seismik untuk karakterisasi reservoir di

lapangan “RST”, Cekungan Taranaki New Zealand dapat disimpulkan bahwa :

1. Menentukan zona target hidrokarbon dapat dilihat dari nilai resistivitas yang

tinggi menunjukkan bahwa adanya kandungan hidrokarbon pada kedalaman

2880 ft -3688 ft. Nilai log akustik impedansi (AI) yang tinggi pada

kedalaman 3054 ft – 3206 ft formasi Kaiata menandakan tight (kompak)

dan akustik impedansi rendah pada kedalaman 3010 ft - 3061 ft

menandakan porous (poros). Nilai Cut-Off AI (acustic impedance) 9000

kgm-2s-1 - 15.000 kgm-2s-1, nilai Cut-off Densitas berkisar 2.1 kg/m3 – 2.7

kg/m3 dan neutron porositynya 40 % - 50%.

2. Hasil inversi menunjukkan sebaran AI pada reservoar karbonat yang

memiliki nilai AI untuk reservoar Formasi Mahoenui, Kaiata dan Bottom

Kiata berkisar 9.000 kgm-2s-1 – 15.000 kgm-2s-1 merupakan karbonat yang

poros. Persebaran hidrokarbon terjadi dari arah Barat-Daya menuju arah

Timur Laut lapangan “RST” cekungan Taranaki New Zealand.

3. Inversi simulated annealing mempunyai kelebihan yaitu dapat mendeteksi

lapisan tipis dari pada coloured inversion sehingga inversi simulated

71
annealing lebih efektif dalam interpretasi geologi bawah permukaan.. hasil

Inversi AI pada inline 1402 menunjukkan bahwa hasil inversi cukup baik

dalam mengkarakterisasi reservoir pada Formasi Mahoenui, Formasi Kaiata

dan bottom Kaiata bahwa Formasi tersebut mengandung hidrokarbon

batupasir.

V.2 Saran

1. Sebaiknya pada penelitian berikutnya dilakukan korelasi antara

beberapa sumur dan menentukan purposed well (sumur baru).

2. Sebaiknya dilakukan studi terpadu karakterisasi reservoir dengan

menyertakan pemetaan fasies dan analisis petrofisika.

72
DAFTAR PUSTAKA

Bernando, A.P.2017. Karakterisasi Reservoir dan Penyebaran Hidrokarbon


Menggunakan Inversi Simulated Annealing dan Coloured Inversion Lapangan
Ma Nangin Cekungan Powder River Wyoming. Yogyakarta: Universitas
Pembangunan Nasional.

Badley, M.E. 1985. Practical seismic interpretation, Prentice Hall.

Hart, B.S 2008, Channel detection in 3-D seismic data using sweetness, AAPG
Bulletin, v. 92, no.6, p.733-742, doi:10.1306/02050807127.

Hilterman, F.J 1997. Seismic Amplitude Interpretation, Distinguished Instructor


Short Course, EAGE.

Harsono, A., 1997, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Schlumberger Oilfield
Services, Jakarta.

Herdiana, Yudi. 2007. Inversi Geostatistik dengan Menggunakan Gabungan


Metode Sequential Gaussian Simulation (Sgs) dan Simulated Annealling (Sa).
Bandung: Digilib ITB.

King, P .R., dan G.P. Thraser, 1988, Cretaceous-Cenozoic geology and petroleum
systems of the Taranaki Basin, New Zealand, Lower Hutt: Institute of
Geological & Nuclear Sciences, Institute of Geological & Nuclear Sciences,
monograph 13, p.243.

King, P.R., dan P.H Robinson, 1988, An overview of Taranaki Basin geology, New
Zealand, Energy Exploration and Exploitation, 6 (3), p.213-232.

Koesomadinata, R. P., 1978. Geologi Minyak dan Gas Bumi, Bandung: Institut
Teknologi Bandung.

Oktavinta, A., 2008. Konsep Gelombang Seismik, Jakarta: Teknik Geofisika


Universitas Indonesia.

73
Russel, B.H., 1991. Introduction to Seismic Inversion Methods, S.N. Domenico,
Editor Course Notes Series, Volume 2rd, 3rd edition.

Russel, B.H., 1996. Strata Workshop, Hampson-Russel Software Services Ltd.

Rider, M. 1996. The Geological Interpretation of Well Logs, 2nd edition. Malta:
Whittles Publishing.

Sukmono, S . 1999. Interpretation Seismik Refleksi. Bandung: Teknik Geofisika


Institut Teknologi Bandung.

Sukmono, S . 2000. Seismic Inversi untuk Karakterisasi Reservoar, Bandung:


Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung.

Sismanto. 2006, Dasar-Dasar Akusisi DAN Pemrosesan Data Seismik


Laboratorium Geofisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Schlumberger, 2006 Oil Field, [Link], 2 Juni 2017Pukul 15.40.

Taner, M.T., dan R.E. Sheriff, 1977,Application of amplitude, frequency, and other
attributes to stratigraphic and hydrocarbon exploration, in C. E. Payton. Ed.,
Seismic stratigraphy – Applications to hydrocarbon exploration: AAPG
Memoir v. 26, p.301-327.

Sismanto, 2006. Dasar-Dasar Akuisisi dan Pemroresan Data Seismik,


Laboratorium Geofisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
PengetahuanAlam, Universitas Gajah Mada,Yogyakarta.

Williams, 2016. Robust Post-StacksEISMIC Inversion for the Interpreter. London:


Equipose Software.

74
LAMPIRAN

75
Lampiran 1 : horizon slice Trace envelope formasi Mahoenui

Lampiran 2 : horizon slice Trace envelope formasi Kaiata

76
Lampiran 3 : horizon slice Trace envelope Bottom Kaiata

Lampiran 4 : horizon slice Spektral Dekomposisi 8 Hz formasi Mahoenui

77
Lampiran 5 : horizon slice Spektral Dekomposisi 8 Hz formasi Kaiata

Lampiran 6 : horizon slice Spektral Dekomposisi 8 Hz Bottom Kaiata

78
Lampiran 7 : horizon slice Spektral Dekomposisi 10 Hz formasi Mahoenui

Lampiran 8 : horizon slice Spektral Dekomposisi 10 Hz formasi Kaiata

79
Lampiran 9 : horizon slice Spektral Dekomposisi 10 Hz Bottom Kaiata

Lampiran 10 : horizon slice Simulated Annealing formasi Mahoenui

80
Lampiran 11 : horizon slice Simulated Annealing formasi Kaiata

Lampiran 12 : horizon slice Simulated Annealing Bottom Kaiata

81

Anda mungkin juga menyukai