0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan19 halaman

Contoh dan Definisi Produk Biosimilar

Makalah ini membahas tentang produk biosimilar. Produk biosimilar adalah obat biologis yang mirip dengan obat biologis yang sudah disetujui atau obat originator. Makalah ini menjelaskan definisi, regulasi, contoh produk, dan persyaratan pengembangan produk biosimilar.

Diunggah oleh

Zati Hulwani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan19 halaman

Contoh dan Definisi Produk Biosimilar

Makalah ini membahas tentang produk biosimilar. Produk biosimilar adalah obat biologis yang mirip dengan obat biologis yang sudah disetujui atau obat originator. Makalah ini menjelaskan definisi, regulasi, contoh produk, dan persyaratan pengembangan produk biosimilar.

Diunggah oleh

Zati Hulwani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRODUK BIOSIMILAR

MAKALAH TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan


memenuhi syarat-syarat kelulusan mata kuliah bioteknologi

Oleh:

KELOMPOK 6
AUFA SABRINA THAHAR (2108109010011)
ARSYFA ZALZALA (2108109010013)
NURUL MUSALLY (2108109010021)
KHAIRINA MUTIA OKTASYA (2108109010031)

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN IlMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SYIAH KUALA, BANDA ACEH

FEBRUARI, 2023
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah dipanjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan


rahmat-NyA sehingga Makalah Tinjauan Kepustakaan yang berjudul Produk Biosimilar dapat
diselesaikan. Salawat dan salam disanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Makalah ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk kelulusan mata
kuliah Bioteknologi di Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Syiah Kuala. Penyelesaian penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan
dorongan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Pada kesempatan ini, ucapan
terimakasih diucapkan kepada:

1. Bapak Dr. Muhammad Ali Husni, [Link]., [Link] selaku Dosen Pengampu mata kuliah
Bioteknologi farmasi

2. Orang Tua penulis yang selalu mendoakan dan menyemangati

3. Teman sejawat yang telah mendukung dann memotivasi

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Banda Aceh, 25 Februari 2023


a.n Kelompok 6

Kelompok 6

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul.............................................................................................................................i
Kata Pengantar............................................................................................................................ii
Daftar Isi....................................................................................................................................iii

I. PENDAHULUAN...................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang.................................................................................................................1
1.2. Tujuan Penulisan..............................................................................................................2
1.3. Manfaat Penulisan............................................................................................................2

II. TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................................3


2.1. Pengertian Produk Biosimilar..........................................................................................3
2.2. Regulasi dan Situasi Paten Produk Biosimilar.................................................................5
2.3. Contoh-Contoh Produk Biosimilar...................................................................................6
2.4. Pengembangan Produk Biosimilar dan Persyaratannya...................................................7
2.4.1. Persyaratan Umum....................................................................................................7
2.4.2. Persyaratan Khusus....................................................................................................8
2.5. Produk Pembanding Biosimilar.....................................................................................12
2.5.1. Evaluasi Mutu..........................................................................................................13

III. KESIMPULAN...................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................16

iii
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Berkembangnya era globalisasi di Indonesia telah banyak membawa perubahan baik

pada perilaku dan gaya hidup masyarakat serta kondisi lingkungan yang menjadi parah akibat

meningkatnya polusi. Pada masa kini masyarakat cenderung memiliki gaya hidup yang

kurang aktif, merokok, mengkonsumsi produk-produk yang tidak sehat seperti makanan dan

minuman siap saji dengan kandungan kalori tinggi dan konsumsi minuman beralkohol.

Terjadinya perubahan tersebut seiring dengan waktu mengakibatkan terjadinya transisi

epidemiologi.

Seiring semakin bertambahnya pola penyakit di masyarakat modern, kebutuhan akan

obat biosimilar akan semakin bertambah pula. Hal ini disebabkan karena pola perkembangan

penyakit di masyarakat mulai bergeser dari penyakit infeksi menuju penyakit degeneratif

(yaitu penyakit yang terjadi akibat bertambahnya usia seseorang) dan penyakit-penyakit

serius. Contoh penyakit ini adalah: stroke, kanker, dan diabetes. Obat biosimilar, diharapkan

dapat bersaing secara harga dengan obat-obat kimia yang relatif berbiaya tinggi. Munculnya

produk-produk biosimilar di pasaran harus dipandang sebagai peluang untuk memperoleh

produk obat biologi dengan harga yang lebih murah dan dengan manfaat yang sama atau

mendekati produk originatornya. Kondisi ini tentu saja sangat menggiurkan bagi industri

farmasi di negara-negara maju dan berkembang.

iv
1.2. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk memahami definisi produk biosimilar.

2. Untuk mengetahui Regulasi dan situasi paten produk biosimilar.

3. Untuk mengetahui contoh-contoh produk biosimilar.

4. Untuk mengetahui pengembangan produk biosimilar dan peryaratannya.

1.3. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah:

1. Agar mahasiswa dapat memahami definisi produk biosimilar.

2. Agar mahasiswa dapat mengetahui Regulasi dan situasi paten produk biosimilar.

3. Agar mahasiswa dapat mengetahui contoh-contoh produk biosimilar.

4. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengembangan produk biosimilar dan

peryaratannya.

v
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Produk Biosimilar

Biosimilar menurut badan kesehatan dunia (WHO) adalah istilah yang dipakai untuk

obat biologis yang memiliki karakteristik yang mirip dengan obat biologis yang sudah

disetujui (originator) atau dapat dibuat ketika masa paten obat originatornya sudah habis,

namun tidak identik. Kemiripan tersebut meliputi regulasi, proses produksi, kualitas,

keamanan, kemurnian dan potensi atau kemanjurannya. Biosimilar dapat berupa rekombinan

protein terapetik, hormon dan antibodi. Obat biologis adalah zat aktif yang terbuat atau

diperoleh dari sel-sel hidup melalui proses biologi sebagai contoh adalah insulin dapat

diproduksi oleh mahluk hidup (seperti bakteri dan yeast) melalui teknik rekayasa genetika.

Efek produk biologis ini diyakini lebih mudah dicerna tubuh karena terbuat dari bahan-

bahan makhluk hidup.

Protein terapeutik juga dikenal sebagai biologis yaitu agen farmasi yang dibuat di

laboratorium untuk meniru struktur protein yang diproduksi secara alami di dalam tubuh.

Mereka dapat meniru fungsi protein alami atau memusuhi fungsi protein alami. Obat-obatan

ini diproduksi dalam sistem sel hidup, dan telah terbukti menjadi pengobatan yang efektif

untuk banyak penyakit termasuk rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, dan penyakit

radang usus. Tingginya biaya protein terapeutik memberikan beban keuangan yang berat pada

sistem perawatan kesehatan dan membatasi jumlah pasien yang dapat ditanggung. Contoh

jenis protein terapeutik yaitu terapi antibodi monoklonal diproyeksikan mencapai $125 miliar

dalam penjualan global pada tahun 2020. Setelah paten obat biologis berakhir, obat biosimilar

dikembangkan dan membantu mengatasi masalah yang berkembang ini. Badan Pengawas

Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mendefinisikan biosimilar sebagai "produk

biologis yang sangat mirip dengan dan tidak memiliki perbedaan yang berarti secara klinis
6
dari produk referensi yang disetujui FDA yang ada." Obat-obatan ini masih dibuat dengan

menggunakan sel hidup, tetapi jalur sintesis biologis referensi adalah hak milik. Pengembang

biosimilar menganalisis biologis terakhir dan berupaya merekayasa balik jalur sintesis yang

layak (Kaida, et al., 2018).

Undang-Undang Perawatan Terjangkau menciptakan jalur lisensi yang lebih efisien

untuk obat biosimilar ini asalkan dapat dibuktikan bahwa obat biosimilar tidak berbeda secara

signifikan dari produk rujukannya dalam hal efektivitas atau keamanan. Proses persetujuan

biosimilar di Eropa ditetapkan sebelum Amerika Serikat. European Medicine Agency

(EMEA) dan Committee for Medicinal Products for Human Use (CHMP) terkait

mengevaluasi data yang dikumpulkan oleh perusahaan farmasi yang meminta persetujuan

untuk biosimilar prospektif. Di Amerika Serikat dan di Eropa, obat biosimilar harus menjalani

analisis struktural, uji fungsional, studi hewan, dan akhirnya studi klinis. Sepanjang setiap

langkah proses persetujuan singkat, obat biosimilar dibandingkan dengan referensi

biologisnya dan dinilai kesamaannya. Sebaliknya, produk biologis standar menjalani

serangkaian uji coba yang lebih tradisional yang melibatkan pengujian laboratorium dan

hewan untuk menentukan keamanan pada manusia yang diikuti dengan uji klinis (Kaida, et

al., 2018).

Sebuah studi di Eropa yang meneliti penerimaan biosimilar menemukan bahwa sangat

sedikit pasien yang mau beralih ke biosimilar jika mereka sudah mengonsumsi obat biologis.

Peningkatan prevalensi pengobatan biosimilar terutama didorong oleh pasien baru yang

memulai pengobatan biosimilar terlebih dahulu. Bahkan pada populasi pasien baru,

pengurangan harga yang signifikan, terkadang 50% atau lebih, harus dilakukan agar dokter

dapat mempertimbangkan untuk meresepkan biosimilar. Pangsa pasar untuk biosimilar

meningkat perlahan. Misalnya, filgrastim biosimilar Zarxio menguasai 15% pasar filgrastim

Amerika Serikat pada tahun 2016 dan biosimilar infliximab Inflectra menguasai kurang dari

7
10% pasar infliximab (pasar biosimilar Amerika Serikat). Gastroenterologi memiliki banyak

manfaat potensial dari biosimilar dalam hal meningkatkan akses pengobatan sekaligus

mengurangi biaya pengobatan. Penyakit radang usus dan kanker gastrointestinal

memanfaatkan biologis secara teratur. Dalam fungsi endokrinologi gastroenterologi, insulin

biosimilar juga merupakan bidang penyelidikan aktif karena biaya insulin dan prevalensi

diabetes terus meningkat.

2.2. Regulasi dan Situasi Paten Produk Biosimilar

a. Regulasi Produk Biosimilar diatur dalam PKBPOM No. 17 Tahun 2015 Tentang

Pedoman Penilaian Produk Biosimiliar.

Ketentuan Umum, Pasal 1 Ayat 3:

Produk Biosimilar atau Similar Biotherapeutic Product (SBP) atau Produk Biologi

Sejenis (PBS), yang untuk selanjutnya disebut Produk Biosimilar, adalah produk biologi

dengan profil khasiat, keamanan, dan mutu yang similar/serupa dengan produk biologi

yang telah disetujui.

b. Situasi Paten

Jika masa paten sebuah produk biologi originator habis, industri farmasi lain dapat

mendaftarkan produk biologi tersebut yang biasanya dikenal dengan produk biosimilar.

Indonesia berpotensi dalam mengembangkan produk biosimilar tersebut karena indikasi

dari produk tersebut sesuai untuk pengobatan penyakit tidak menular yang memiliki

prevalensi tinggi di Indonesia, paten dari produk biologi originator sudah habis, telah

tersedianya pedoman pengembangan dan perijinan produk biosimilar yang dimuat dalam

PP Kepala Badan POM No. 17 tahun 2015 tentang Pedoman Penilaian Produk Biosimilar

serta telah adanya rancangan pengembangan beberapa produk biosimilar yang disusun oleh

8
Kementerian Kesehatan RI.

2.3. Contoh-Contoh Produk Biosimilar

1. EPO (Erythropoetin)

Erythropoetin merupakan salah satu dari sejumlah glycoprotein yang berperan

sebagai stimulus atau perangsang dalam pertumbuhan dari tipe-tipe spesifik dan sel sel

darah merah di dalam sumsum tulang belakang. Sebagian besar hormon erythropoetin

di produksi oleh ginjal, namun hormon ini sebagian kecil juga diproduksi melalui hati.

Dalam tubuh erythropoetin bertugas dalam menstimulasi sumsum tulang belakang bone

marrow untuk menghasilkan lebih banyak sel darah merah.

2. CSFs

Colony Stimulating Factor adalah glycoprotein sekresi yang terikat pada reseptor

permukaan sel induk hemopoietik, sehingga mengaktifkan jalur sinyal intraselular yang

dapat menyebabkan sel berkembang dan berdiferensiasi menjadi sel darah spesifik.

3. hGH

Human Growth Hormone adalah suatu hormone yang diproduksi oleh tubuh

manusia, yaitu kelenjar pituitary. Kelenjar ini adalah suatu kelenjar yang letaknya di

dasar otak.

4. Insulin

Hormon alami berupa hormone polipeptida yang diproduksi oleh organ pancreas

yang berfungsi dalam mengatur metabolism karbohidrat dan tingkat gula darah dalam

tubuh.

5. Vaksin Hepatitis B

9
Vaksin untuk mencegah penyakit hepatitis B yang berisi HbsAg, yaitu suatu protein

virus hepatitis B yang dapat merangsang pembentukan kekebalan tubuh terhadap virus

hepatitis B.

6. IFN

Hormon berjenis glikoprotein yang diproduksi secara alami oleh sel - sel vertebrata

akibat rangsangan biologis seperti virus, bakteri, dan protozoa dimana tampaknya virus

adalah sumver rangsangan utama produksi interferon.

7. Faktor VIII

Suatu glikoprotein yang dibentuk di sel sinusoidal hati. Produksi Faktor VIII dikode

oleh gen yang terletak pada kromosom X (Niazior, et al., 2017).

2.4. Pengembangan Produk Biosimilar dan Persyaratannya

Pengembangan produk biologi tidaklah sederhana dan tidak seperti obat kimia sintesis.

Perubahan sangat kecil dalam produksi, transportasi atau bahkan dalam penyimpanan, dapat

mnegakibatkan perubahan profil keamanan dan khasiat produk akhir. Berikut merupakan

persyaratan pendaftaran produk biosimilar:

2.4.1. Persyaratan Umum

[Link]. Bingkai Kerja Administratif

Registrasi produk biosimilar dilakukan mengikuti peraturan mengenai kriteria dan

tata laksana registrasi obat yang berlaku.

[Link]. Prinsip Evaluasi

a. Pendaftaran Produk Biosimilar

Berbeda dengan obat yang disintesis secara kimiawi, produk biosimilar bersifat

sangat kompleks, rumit, dan melalui proses produksi yang sangat khusus. Oleh sebab itu cara

10
penilaian produk biosimilar tidak dapat disamakan dengan konsep obat copy yang disintesis

secara kimiawi. Sebagai gantinya, produk biosimilar harus mengadopsi pendekatan

berdasarkan studi komparabilitas. Syarat keamanan dan efikasi bersifat mutlak. Oleh karena

itu, kebutuhan akan informasi dari studi non-klinik dan klinik diperlukan. Mengingat hingga

saat ini teknologi yang ada belum bisa secara spesifik mengidentifikasi perbedaan antara

produk biosimilar dengan originatornya, maka produsen produk biosimilar harus melakukan

studi farmakovigilans.

b. Studi komprabilitas yang memperkuat kemiripan atau kesetaraan biologis

Studi komparabilitas untuk produk biosimilar dirancang untuk menunjukkan bahwa

produk biosimilar memiliki atribut mutu yang sangat mirip bila dibandingkan dengan produk

pembanding, termasuk data non-klinik dan klinik untuk menyediakan data komparatif dalam

sebuah sebuah paket terpadu. Data mutu komparatif dapat dianggap sebagai paket tambahan

dari data melebihi apa yang biasanya diperlukan oleh produk originator untuk dikembangkan

sebagai produk baru dan independen. Ini adalah dasar untuk mengurangi persyaratan data

non-klinik dan klinik.

c. Produk pembanding untuk produk biosimilar

Produk pembanding adalah produk yang sudah memperoleh ijin edar berdasarkan pada

data mutu, keamanan, dan efikasi lengkap. Oleh karena itu, suatu produk biosimilar tidak

layak dipertimbangkan sebagai pilihan untuk produk pembanding.

2.4.2. Persyaratan Khusus

[Link]. Evaluasi mutu

Perbandingan mutu yang menunjukkan kemiripan pada tingkat molekuler antara produk

biosimilar dan produk pembanding sangat penting sebagai dasar untuk memprediksi keamanan

klinik dan profil efikasi produk pembanding terhadap produk biosimilar sehingga banyaknya

data non-klinik dan klinik yang diperlukan untuk produk biosimilar dapat dikurangi.

11
a. Proses Pembuatan

Produksi suatu produk biosimilar harus berdasarkan pada proses produksi yang

dirancang secara komprehensif dengan mempertimbangkan semua pedoman terkait. Produsen

harus menunjukkan konsistensi dan kehandalan proses produksi dengan menerapkan Cara

Produksi Obat yang Baik (CPOB) terkini, prosedur pengujian dan pemastian mutu terkini, uji

IPC dan validasi proses.

b. Karakterisasi

Karakterisasi lengkap untuk kedua produk pembanding dan produk biosimilar harus

dilakukan menggunakan teknik analisis biologi, biofisika, biokimia yang sesuai. Untuk zat

aktif (yaitu produk yang diinginkan), rincian struktur primer dan tingkat yang lebih tinggi,

modifikasi pasca translasi (termasuk tetapi tidak terbatas pada glikoform), aktivitas biologi,

kemurnian, cemaran, senyawa terkait produk (aktif maupun variannya), dan sifat imunokimia,

bila relevan, harus diberikan.

c. Spesifikasi

Spesifikasi digunakan lebih untuk memverifikasi kualitas rutin senyawa aktif dan obat

dari pada untuk mengkarakterisasi secara lengkap. Spesifikasi produk biosimilar tidak akan

sama dengan produk pembanding karena proses pembuatannya akan berbeda dan digunakan

metode analisis dan laboratorium yang berbeda untuk pengujian. Penetapan spesifikasi harus

didasarkan pada pengalaman produsen dengan produk biosimilar (contoh: sejarah produksi,

kemampuan uji, profil keamanan dan efikasi produk) dan hasil eksperimen yang diperoleh

melalui pengujian dan pembandingan produk biosimilar dan produk pembanding. Spesifikasi

harus ditetapkan menggunakan lot dengan jumlah yang memadai.

d. Teknik analisis

Serangkaian metode analisis terbaik diperlukan untuk dapat menetapkan struktur,

fungsi, kemurnian dan heterogenitas produk. Metode yang digunakan harus memisahkan dan

12
menganalisis varian berbeda dari produk berdasarkan adanya perbedaan sifat kimia, fisika dan

biologi dari molekul protein.

e. Stabilitas

Uji stabilitas harus mengikuti pedoman yang relevan sebagaimana direkomendasikan

oleh Badan POM. Ada uji yang harus dilakukan untuk menunjukkan metode pelulusan dan

karakterisasi mana yang mengindikasikan stabilitas produk. Secara umum, uji stabilitas harus

diringkas dalam format yang sesuai seperti bentuk tabel, dan harus mencakup hasil dari uji

degradasi dipercepat dan uji pada kondisi stress yang bervariasi (contoh: suhu, cahaya,

kelembaban, pengocokan mekanis).

[Link]. Evaluasi Non Klinik

Bagian non-klinik dari pedoman ini berisi penilaian farmakotoksikologik produk

biosimilar. Pembuktian efikasi dan keamanan produk biosimilar mensyaratkan adanya data

non-klinik produk biosimilar

a. Pertimbangan umum

Oleh karena zat aktifnya berupa protein, maka untuk menilai keamanan uji non-

klinik produk biosimilar perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: - Perlu diidentifikasi

spesies yang relevan untuk evaluasi farmakodinamik dan toksikologi; dan/atau - Perlu

diperhatikan bahwa sebagai suatu protein asing, produk biosimilar dapat membangkitkan

respon pembentukan antibodi pada studi hewan jangka panjang. Ini dapat menimbulkan

kesulitan dalam menafsirkan hasil studi. Sebagai contoh hasil dari uji dosis berulang kronik

dan subkronik mungkin tidak cukup untuk menyimpulkan keamanannya karena potensi

terbentuknya kompleks antibodi dengan zat aktif.

b. Pertimbangan khusus

Evaluasi non-klinik terhadap produk bioterapeutik baru biasanya meliputi uji

farmakodinamik, farmakokinetik dan toksikologi. Jumlah data non-klinik tambahan yang

13
diperlukan untuk membuktikan keamanan dan efikasi suatu produk biosimilar sangat

tergantung pada produk dan kelas terapinya. Uji non-klinik tambahan yang diperlukan antara

lain: 1. Aspek mutu

2. Aspek farmakotoksikologi zat aktif

[Link]. Evaluasi Klinik

Studi komparabilitas klinik terdiri dari studi farmakokinetik, uji farmakodinamik dan

uji klinik (studi efikasi). Jika ditemukan perbedaan yang relevan antara produk biosimilar

dengan produk pembanding, maka harus dijelaskan alasannya.

a. Studi Farmakokinetik (PK)

Studi PK harus dilakukan dengan cara pemberian dan dosis dalam rentang terapi yang

sama dengan produk pembanding. Studi PK sebaiknya dilakukan dengan desain menyilang

dosis tunggal pada relawan sehat. Jika produk biosimilar yang diteliti diketahui menimbulkan

risiko yang tidak dapat diterima untuk relawan sehat, maka studi PK dilakukan pada populasi

pasien yang sesuai dengan indikasi.

b. Studi Farmakodinamik (PD)

Uji PD disarankan dilakukan jika terdeteksi adanya perbedaan profil PK yang

relevansi kliniknya tidak diketahui. Dalam studi PD komparatif, dosisnya dipilih di bagian

kurva dosis-respons yang curam, dan penanda PD dipilih berdasarkan relevansi kliniknya.

c. Studi Efikasi

Efikasi yang setara antara produk biosimilar dengan produk originator harus

ditunjukkan dalam uji klinik yang langsung (head-to-head) pada populasi studi yang sesuai

(sensitif), dengan desain ekivalensi atau noninferioritas, acak, tersamar ganda atau paling

tidak penilainya tersamar, dan dengan power yang cukup.

d. Keamanan

14
Data keamanan suatu produk biosimilar sebelum mendapat ijin edar harus diperoleh

dari jumlah pasien yang memadai. Tidak setiap uji klinik efikasi dikatakan cukup untuk

database keamanan, kecuali uji klinik tersebut dilakukan dalam jangka panjang dan dengan

jumlah sampel yang besar.

e. Imunogenisitas

Imunogenisitas suatu produk biologi harus selalu diteliti pada manusia karena data

hewan biasanya tidak dapat memprediksi respon imun pada manusia.

f. Ektrapolasi Data Efikasi dan keamanan indikais Klinik Lain

[Link]. Farmakovigilans

Rencana farmakovigilans harus menggambarkan kegiatan dan metode pasca-

pemasaran yang terencana berdasarkan spesifikasi keamanan. Dalam beberapa kasus

dibutuhkan tindakan untuk meminimalkan risiko, misalnya memberikan pendidikan untuk

pasien dan/atau dokter yang merawat.

2.5. Produk Pembanding Biosimilar

Produk pembanding adalah produk yang sudah memperoleh izin edar berdasarkan

pada data mutu, keamanan dan efikasi lengkap. Oleh karena itu produk biosimilar tidak layak

dipertimbangkan sebagai pilihan untuk produk pembanding. Produk standar yang terdapat

dalam farmakopi seperti USP BP ph eur atau WHO mungkin bukan produk pembanding yang

tepat untuk studi komparabilitas bahan aktif produk biosimilar karena data klinik keamanan

dan efikasi atau tidak diketahui atau dapat disimpulkan. Produk pembanding yang digunakan

dalam uji kompabilitas produk biosimilar sedapat mungkin menggunakan produk pembanding

yang sudah disetujui di Indonesia. Kriteria berikut yang dipertimbangkan ketika

15
melaksanakan pengujian komparabilitas pada produk biosimilar yaitu;

a) Sifat fisika kimia

Karakterisasi fisika kimia harus mencakup penentuan struktur primer dan tingkat yang

lebih tinggi menggunakan metode analisis yang sesuai contohnya spektrofotometri

massa nuklear magnetik resonance atau nmr dan sifat biofisika lainnya.

b) Aktivitas biologi

Aktivitas biologi adalah kemampuan atau kapasitas spesifik produk untuk

mencapai efek biologi yang ditetapkan uji biologi ini adalah ukuran kualitas fungsi

protein dan dapat digunakan untuk menentukan apakah varian memiliki tingkat

aktivitas yang sesuai atau tidak aktif.

Proses produksi produk biosimilar harus memenuhi standar yang sama dengan yang

dipersyaratkan otoritas regulatory nasional untuk produk originator. Proses produk

biosimilar harus dioptimasi untuk meminimumkan perbedaan antara biosimilar dan

produk pembanding agar memaksimumkan untuk mengurangi persyaratan uji klinik

untuk produk biosimilar berdasarkan sejarah klinik produk pembanding dan

meminimumkan pengaruh yang dapat diprediksi terhadap keamanan dan efikasi

produk

c) Sifat imunokimia

Sifat imunokimia adalah bagian dari karakterisasi contoh antibodi produsen harus

mengkonfirmasi bahwa produk bio senior sebanding dengan produk pembanding

dalam hal spesifitas, afinitas, kinetika pengikatan dan aktivitas fungsional (Azevedo,

et al., 2012).

2.5.1. Evaluasi Mutu

Perbandingan mutu yang menunjukkan kemiripan pada tingkat molekuler antara

16
produk biosimilar dan produk pembanding sangat penting sebagai dasar untuk memprediksi

keamanan klinik dan profil efikasi produk banding terhadap produk biosimilar sehingga data

non klinik dan klinik yang diperlukan untuk produk biosimilar dapat dikurangi. Proses

pembuatan produk biosimilar harus berdasarkan pada proses produksi yang dirancang secara

komprehensif dengan mempertimbangkan semua pedoman yang terkait. Produsen harus

menunjukkan konsistensi dan kehandalan proses produksi dengan menerapkan cpob, terkini

prosedur pengujian, dan pemastian mutu terkini (Azevedo, et al., 2012).

Gambar [Link]. Perbandingan struktur antara produk referensi dengan produk biosimilar

17
Gambar [Link]. Contoh penggunaan produk biosimilar pada transplantasi ginjal.

III. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah:

1. Produk Biosimilar adalah obat biologis yang memiliki karakteristik yang mirip dengan

obat biologis yang sudah disetujui (originator) atau dapat dibuat ketika masa paten

obat originatornya sudah habis, namun tidak identik. Kemiripan tersebut meliputi

regulasi, proses produksi, kualitas, keamanan, kemurnian dan potensi atau

kemanjurannya

2. Regulasi Produk Biosimilar diatur dalam PKBPOM No. 17 Tahun 2015 Tentang

Pedoman Penilaian Produk Biosimiliar.

3. Ada beberapa contoh produk biosimilar yaitu EPO (Erythropoetin), CSFs, hGH,

Insulin, vaksin hepatitis B, IFN, dan faktorVIII.

4. Pengembangan produk biologi tidak sederhana dan tidak seperti obat kimia sintesis.

5. Produk biosimilar bersifat sangat kompleks, rumit, dan melalui proses produksi yang

sangat khusus berbeda dengan obat yang disintesis secara kimiawi.

18
DAFTAR PUSTAKA

Azevedo, V. F., Sandorff, E., Siemak, B., & Halbert, R. J. (2012). Potential Regulatory and
Environment for Biosimilars in Latin America. Value in Health Regional Issues, 1(2),
228–234.

BPOM RI. (2015). Pedoman Penilaian Produk Similar. Peraturan Kepala Badan Pengawasan
Obat dan Makanan Republik Indonesia, Indonesia, p. 1-34.

Herawati, N. (2016). Biosimilar: Trend Obat Masa Kini. Biotrends, 7 (1): 14-16.

Kaida-Yip, F., Deshpande, K., Saran, T., & Vyas, D. (2018). Biosimilars: Review of Current
Applications, Obstacles, And Their Future in Medicine. World journal of clinical
cases, 6(8), 161–166.

Kuhlmann, M., & Covic, A. (2006). The Protein Science of Biosimilars. Nephrol Dial
Transplant, 21 (5): 4-8.

Niazior, A. K., Upton, R. N., & Semple, S. J. (2017). Biosimilars: A Review of Current
Developments and Potential Impact on Healthcare Access. Journal of Pharmacy
Practice, 30(6), 639-648.

Tazkia, G. R., & Dina, M., & Armini, S. (2022). Studi Literatur Potensi Pengembangan
Produk Biosimilar untuk Pengobatan Penyakit Tidak Menular di Indonesia. Bandung
Conference Series: Pharmacy, 2 (2): 1-4.

19

Anda mungkin juga menyukai