RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN
BIMBINGAN KLASIKAL
SEMESTER 1 (GANJIL) TAHUN PELAJARAN 2021/2022
A Komponen Layanan : Layanan Dasar
B Bidang Layanan : Sosial
C Topik Layanan : Asertif yuuuk
D Fungsi Layanan : Pemahaman
E Tujuan Umum : Peserta didik mengembangkan perilaku asertif
untuk menunjang prestasi belajar
F Tujuan Khusus : 1. Peserta didik menganalisis kasus perilaku
asertif
2. Peserta didik menunjukan ciri-ciri perilaku
asertif yang ada pada individu
3. Peserta didik mengembangkan aspek-aspek
perilaku asertif yang ada dalam dirinya
G Sasaran Layanan : X /IPS
H Materi Layanan : 1. Pengertian asertif
2. Ciri-ciri perilaku asertif
3. Aspek-aspek perilaku asertif
I Waktu : 1 x 45 menit
J Sumber : 1. Slamet, dkk (2016) Materi Layanan Klasikal
Bimbingan dan Konseling untuk SMA-MA
kelas 10, Yogyakarta, Paramitra Publishing
2. Triyono, Mastur (2014).Materi Layanan
Klasikal Bimbingan dan Konseling bidang
pribadi, Yogyakarta, Paramitra
3. Adam. (2020). Sikap dan Perilaku Asertif.
Diunggah pada tanggal, 3 Oktober 2020
[Link]
[Link]. (2020). Asertif Yuk. Diunggah
pada tanggal, 3 Oktober 2020
[Link] &
[Link]
K Metode/ Teknik : Brainstorming dan refleksi diri
L Media/ Alat : Laptop terhubung internet dan pedlet
M Semester/Kelas/Peminatan : Ganjil/X /IPS
N Pelaksanaan
1. Tahap Awal/ Pendahuluan (5 menit)
a. Pernyataan Tujuan : Guru BK menyampaikan tujuan khusus yang akan
dicapai selama proses layanan bimbingan yang
akan dilakukan
b. Penjelasan tentang : Guru BK menjelaskan langkah-langkah kegiatan,
langkah-langkah tugas dan tanggung jawab peserta didik.
kegiatan 1. Guru BK menyapa peserta didik dengan
kaliamat yang membangun semangat peserta
didik/ siswa
2. Dapat dilakukan ice breaking/ games
sederhana
3. Guru BK menyampaikan tentang tujuan
khusus yang akan dicapai
c. Mengarahkan kegiatan : Guru BK memberikan penjelasan tentang topik
(konsolidasi) yang akan dibicarakan atau Guru BK melakukan
apersepsi yaitu dengan melakukan pengumpulan
informasi awal terkait dengan tema
d. Tahap peralihan : Guru BK menanyakan kesiapan peserta didik
(Transisi) melaksanakan kegiatan dan memulai tahap inti
4. Tahap Inti (35 menit)
a. Kegiatan peserta didik : 1. Peserta didik menyimak kasus kisah
perilaku si bodoh
2. Peserta didik menonton video perilaku
asertif
3. Peserta didik menonton video tips asertif
yuuk
4. Melakukan Brainstorming/curah pendapat
5. Menerima tugas LKPD yang diberikan
6. Memperhatikan arahan pengerjaan LKPD
7. Bergantian menjawab soal perintah di
LKPD secara bergantian dengan kocokan
no. absen
8. Peserta didik menganalisis kasus perilaku
asertif
9. Peserta didik menunjukan ciri-ciri perilaku
asertif pada individu
10. Peserta didik mulai mengembangkan
aspek-aspek perilaku asertif yang ada
dalam dirinya
11. Memberikan evaluasi melalui LKPD
12. Menjawab pertanyaan dengan cepat
b. Kegiatan Guru BK : 1. Sehubungan dengan ice breaking yang
diberikan, guru bk menanyakan kesiapan
peserta didik untuk memulai pembelajaran
2. Menanyangkan kasus perilaku asertif
3. Menayangkan media slite video perilaku
asertif
4. Menayangkan media slite video tips perilaku
asertif
5. Menanyakan pemahaman siswa terhadap
video yang telah ditampilkan
6. Mengajak peserta didik untuk
brainstorming/curah pendapat
7. Membagikan LKPD
8. Menjelaskan cara mengerjakan tugas
9. Membuat siswa menjawab pertanyaan dari
LKPD tersebut dengan cara kocokan no. absen
10. Mengevaluasi pemahaman peserta didik
melalui LKPD
11. Memberikan pertanyaan siapa cepat
5. Tahap Penutup (5 menit)
a. Peserta didik menyimpulkan hasil kegiatan
b. Peserta didik merefleksi kegiatan dengan
mengungkapkan kemanfaatan dan
kebermaknaan kegiatan secara lisan
c. Guru BK memberi penguatan dan rencana
tindak lanjut
d. Guru BK menutup kegiatan layanan dengan
mengajak peserta didik bersyukur/berdoa dan
mengakhiri dengan salam
O Evaluasi
1. Evaluasi Proses : Guru BK atau konselor melakukan evaluasi
dengan memperhatikan proses yang terjadi :
1. Melakukan Refleksi hasil, setiap peserta didik
menuliskan di kertas yang sudah disiapkan.
2. Mengamati sikap atau atusias peserta didik
dalam mengikuti kegiatan
3. Mengamati cara peserta didik dalam
menyampaikan pendapat atau bertanya
4. Mengamati cara peserta didik dalam
memberikan penjelasan terhadap pertanyaan guru
BK
2. Evaluasi Hasil : Evaluasi dengan instrumen yang sudah
disiapkan, antara lain :
1. Evaluasi tentang suasana pertemuan dengan
instrumen: menyenangkan/kurang
menyenangkan/tidak menyenangkan.
2. Evaluasi terhadap topik yang dibahas : sangat
penting/kurang penting/tidak penting
3. Evaluasi terhadap cara Guru BK dalam
menyampaikan materi: mudah dipahami/tidak
mudah/sulit dipahami
4. Evaluasi terhadap kegiatan yang diikuti :
menarik/kurang menarik/tidak menarik untuk
diikuti
Lampiran :
1. Media video mengenai pengertian Perilaku Asertif [Link]
2. Media video tips asertif yuk [Link] & [Link]
3. Lembar evaluasi hasil [Link]
4. Lembar evaluasi proses [Link]
5. Lembar kerja peserta didik (LKPD) [Link]
6. Media ICT Pedlet
Mengetahui Jakarta, Juli 2021
Kepala Sekolah SMAS AL Muhajirin Guru BK/ Konselor
Rudi Khoerudin, [Link].I Siti Nurmadinah, [Link]
1. URAIAN MATERI
SIKAP DAN PRILAKU ASERTIF
a. Pengertian Perilaku Asertif
Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan,
dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta
perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur
pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada
maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun merugikan pihak lainnya Pratanti(dalam Slamet
, 2016).
Menurut prtanti (dalam Slamet,2016) Seorang yang asertif memiliki kriteria:
1. Merasa bebas untuk mengekspresikan perasaan, pikiran dan keinginan.
2. Mengetahui hak mereka.
3. Mampu mengontrol kemarahan. Tidak berarti me-repress perasaan ini, akan tetapi mengontrol dan
membicarakannya kembali dengan logis dan tidak dilandasi emosi semata.
Perilaku asertif Menurut Beberapa Ahli
1. Menurut Pratanti (dalam slamet, 2016) sikap atau pun perilaku agresif cenderung akan merugikan
pihak lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara
verbal ataupun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya kritikan dan komentar
yang tidak enak didengar), sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip.
2. Menurut Lazarus (dalam triyono,2014) perilaku asertif mengandung suatu tingkah laku yang
penuh ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dan keadaan efektif yang mendukung
yang antara lain meliputi :
a. Menyatakan hak-hak pribadi.
b. Berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut
c. Melakukan hal tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan
emosi.
Seseorang dikatakan bersikap tidak asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan
pandangan/keyakinannya; atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian rupa hingga
orang lain malah memberikan respon yang tidak dikehendaki atau negatif (Pratanti dalam slamet,
2016).
Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik
tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif. Orang yang memiliki tingkah laku atau
perilaku asertif orang yang berpendapat dari orientasi dari dalam, yaitu :
a. Memiliki kepercayan diri yang baik.
b. Dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut.
c. Berkomunikasi dengan orang lain secara lancar.
Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri - ciri a). terlalu mudah
mengalah/ lemah, b). mudah tersinggung, cemas, c). kurang yakin pada diri sendiri, d). sukar
mengadakan komunikasi dengan orang lain
Perilaku asertif adalah suatu tindakan yang sesuai dengan keinginan serta tetap menjaga dan
menghargai perasaan dan hak orang lain, mengekspresikan pendapat, saran, dan perasaan secara jujur
dan nyaman, serta dalam bertindak dapat memelihara hubungan interpersonal yang harmonis dan
efektif.
b. Ciri-ciri perilaku Asertif
Menurut Fensterheim dan Baer (dalam triyono, 2014), ciri-ciri individu yang berperilaku asertif adalah
sebagai berikut :
1. Bebas mengemukakan pikiran dan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tindakan.
2. Dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.
3. Mampu memulai, melanjutkan dan mengakhiri suatu pembicaraan dengan baik.
4. Mampu menolak dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendapat oranglain, atau segala
sesuatu yang tidak beralasan dan cenderung bersifat negatif.
5. Mampu mengajukan permintaan dan bantuan kepada orang lain ketika membutuhkan.
6. Mampu menyatakan perasaan, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan
cara yang tepat.
7. Memiliki sikap dan pandangan yang aktif terhadap kehidupan.
8. Menerima keterbatasan yang ada di dalam dirinya dengan tetap berusaha untuk mencapai apa yang
diinginkannya sebaik mungkin, sehingga baik berhasil maupun gagal ia akan tetap memiliki harga
diri (self esteem) dan kepercayaan diri (self confidence).
Berdasarkan ciri-ciri tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki sikap asertif
adalah orang yang memiliki keberanian untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan hak-hak
pribadinya, serta tidak menolak permintaan-permintaan yang tidak beralasan. Asertif bukan hanya
berarti seseorang dapat bebas berbuat sesuatu seperti yang diinginkannya, di dalam asertivitas juga
terkandung berbagai pertimbangan positif mengenai baik dan buruknya suatu sikap dan perilaku yang
akan dimunculkan.
c. Aspek-aspek perilaku Asertif
Alberti & Emmons (dalam slamet, 2016) menyebutkan ada sepuluh kunci pokok yang merupakan
aspek-aspek yang harus ada pada setiap perilaku asertif yang dimunculkan oleh seseorang. Kesepuluh
kunci pokok tersebut adalah :
1. Pengungkapan diri.
2. Penghormatan terhadap orang lain.
3. Jujur.
4. Langsung.
5. Tidak membedakan, menguntungkan semua pihak.
6. Verbal, termasuk isi pesan (perasaan, hak-hak, fakta, pendapat-pendapat, permintaan-permintaan,
dan batasan-batasan).
7. Nonverbal, termasuk gaya dan pesan (kontak mata, suara, postur, ekspresii muka, jarak, waktu,
kelancaran, dan mendengarkan).
8. Bukan suatu yang universal.
9. Bertanggung jawab secara social.
10. Dipelajari, bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir.
Menurut Rakos (dalam Triyono, 2014), aspek-aspek perilaku asertif dapat dikategorikan sebagai
berikut :
1. Content (isi), yaitu: perilaku verbal atau apa yang dikatakan oleh seseorang kepada orang lain dalam
mengungkapkan hak dan kesungguhan.
2. Paralinguistic, yaitu keberagaman berbicara yang berbeda dari kata-kata aktual atau tata kalimat,
memuat banyak arti seperti nada suara, keras lembutnya, intonasi, irama, serta sikap ragu-ragu
menyampaikan informasi.
3. Perilaku non verbal.
4. Kemampuan berinteraksi.
Sungguh keliru jika kita mengira bahwa bersikap asertif sama dengan tegas dalam menyatakan
perasaan atau pikiran secara blak-blakan, tak peduli orang lain menjadi kecewa atau sakit hati. Jadi
selain mampu menyatakan keadaan apa adanya, dalam situasi yang tepat, kita juga harus mampu
memahami orang lain. Inilah ciri khas perilaku asertif.
Situasi yang tidak sesuai dengan kebenaran yang kita yakini tentu menimbulkan kekecewaan.
Bila hal ini terlalu sering kita alami dan membuat suasana hati menjadi negatif, kita perlu bertanya
pada diri sendiri: "Mengapa aku mudah kecewa dengan keadaan yang aku alami?" Tidakkah ini berarti
kita lebih fokus pada faktor eksternal dalam diri kita? Sementara kesehatan psikologis diketahui lebih
banyak ditentukan oleh faktor internal dalam diri sendiri, seperti konsep diri positif, berpikir positif,
kecerdasan emosi, dan sebagainya? Bila memiliki konsep diri positif, kita akan merasa nyaman dengan
diri sendiri dan cenderung dapat berpikir positif. Bila menghadapi orang atau situasi yang secara
objektif tidak sesuai dengan norma standar kebenaran universal, lewat kecerdasan emosi kita dapat
menanggapinya dengan kepala dingin dan memahami apa yang terjadi secara menyeluruh dan memilih
respon yang tepat. Dengan demikian, hubungan dengan orang lain akan berkembang positif dan hidup
terasa lebih menyenangkan. Sebaliknya, tanpa mengembangkan modalitas internal seperti itu kita
cenderung mudah kecewa dan marah. Kita bisa menyerang orang lain dengan kata-kata yang
menyakitkan, bahkan mungkin secara fisik.
Alkisah, seorang pria pimpinan sebuah perusahaan, telah sepuluh tahun dikenal sebagai
pemimpin yang pemarah dan otoriter. Ia mudah sekali menjadi marah bila menghadapi anak buah yang
meminta penjelasan atas uraiannya (yang sebetulnya memang sering membingungkan), yang
menyanggah pandangannya, kurang menyimak saat diajak bicara, atau dianggap tidak patuh. Ia juga
mudah sekali marah pada kolega yang memiliki pandangan berbeda dengan dirinya dan yang mencoba
mengkritisi pandangannya
Pendek kata, ia sangat sensitif terhadap sikap orang lain yang dirasa kurang hormat dan kurang
patuh. Dalam kemarahannya (seringkali tubuhnya sampai gemetaran, raut wajah merah maron, kata-
kata tidak terkontrol, dll), dengan kata-kata ia menyerang pihak lain menuduh pihak lain menghinanya,
menfitnahnya, mezalimi, atau mau menang sendiri. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bisa beradu
fisik. Dalam suasana demikian akhirnya ia justru menjadi bahan pembicaraan buruk, menjadi populer
dari sisi negatifnya, orang lain menjadi apatis diam semu, dan cenderung dihindari orang lain.
Untunglah dalam perjalanan selanjutnya ia memiliki kesadaran akan pentingnya memperbaiki
hubungan dengan berbagai pihak. Ia dapat merasakan bahwa kepemimpinannya menjadi tidak efektif
karena rusaknya hubungan dengan orang lain. Dalam setengah tahun terakhir ini ia tidak lagi memaksa
orang lain untuk tunduk kepadanya, dan mulai lebih terbuka menerima masukan, terutama dari para
kolega dan anak buah yang ia percayai. Saat mengemukakan pendapat pribadinya kepada anak buah,
belakangan ia sering memulai dengan menyatakan pujian atau persetujuan atas pandangan yang telah ia
tampung sebelumnya. Akhirnya ia menjadi pribadi yang disukai dan kepemimpinannya lebih didukung.
Kisah penyesuaian diri ini merupakan contoh konkrit efektivitas mengubah pendekatan dari agresif
menjadi asertif. Istilah asertif seringkali diartikan sebagai "tegas". Bahkan, orang asertif juga sering
digambarkan senang berbicara blak-blakan, menyatakan pikiran dan perasaan apa adanya, tidak peduli
respon orang lain. Ini merupakan gambaran yang sungguh tidak tepat. Perilaku asertif merupakan
bentuk pengembangan hubungan interpersonal yang bersifat memberi (menyatakan kebutuhan,
perasaan, dan pikiran secara langsung, jujur, dan dalam kesempatan yang tepat), dan juga menerima
(mendengarkan secara aktif apa yang menjadi kebutuhan, pikiran, dan perasaan orang lain).
Bagaimanapun, tujuan perilaku asertif adalah :
a. Membuat proses komunikasi berjalan efektif;
b. Membangun hubungan yang kesetaraan, kesejajaran, dan saling menghormati.
1. KEGIATAN (ACTIVITY) PESERTA DIDIK
NAMA KEGIATAN : KISAH KECERDASAN DI BODOH
Suatu ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang
berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari
dan melompat-lompat di depan mereka.
Tukang cukur berkata, "Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal" Masak, apa iya?"
jawab pengusaha Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan
mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, "Benu, kamu
boleh pilih & ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!"
Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat
tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.
Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan
berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui.
Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam
yang nilainya lebih kecil."
Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu
dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil
Benu dan bertanya, "Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran
Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang
Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?"
Benu pun tertawa kecil berkata, "Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang
cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000,
berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari..."
HIKMAH :
Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain,
sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain.
Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak
menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain.
Di atas langit masih ada langit yang lain.
ANGKET EVALUASI HASIL LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL
Nama Konseli : .............................................
Jenis Kelamin : ………………………………………….
Kelas : .............................................
Petunjuk :
1. Beri tanda centang ( √ ) pada kolom skor sesuai dengan diri Anda.
2. Kolom skor angka 1= Kurang, 2= Cukup, 3= Baik, 4= Sangat baik
SKOR
NO PERNYATAAN
1 2 3 4
1 Saya memahami dengan baik tujuan yang
diharapkan dari materi perilaku asertif yang
disampaikan
2 Saya memperoleh banyak pengetahuan dan
informasi dari materi perilaku asertif yang
disampaikan
3 Saya menyadari pentingnya bersikap sesuai
dengan materi perilaku asertif yang disampaikan
4 Saya meyakini diri akan lebih baik, apabila
bersikap sesuai dengan materi perilaku asertif
yang disampaikan
5 Saya dapat mengembangkan perilaku yang lebih
positif setelah mendapatkan materi perilaku asertif
yang disampaikan
6 Saya dapat mengubah perilaku sehingga
kehidupan saya menjadi lebih asertif
JUMLAH
TOTAL SKOR
Keterangan:
1. Skor minimal 4 (1 x 4), dan skor maksimal 20 (5 x 4)
2. Kategori hasil
a. Sangat baik : 20
b. Baik : 15 – 19
c. Cukup : 10 – 14
d. Kurang :5–9
e. Sangat kurang : 4
........................., ............
Mengetahui
Guru BK/Konselor Peserta didik/Konseli
................................ ..................................
EVALUASI PROSES
EVALUASI PROSES BIMBINGAN KLASIKAL
Petunjuk
Berilah tanda cek (v) pada kolom skor sesuai situasi peserta didik dengan kriteria sebagai
berikut :
5 = selalu
4 = sering
3 = kadang-kadang
2 = Jarang
1 = tidak pernah
Nama Siswa : ………………….
Kelas /NIS : ………………….
Tanggal :…………………..
Materi Pelajaran :…………………..
No. Aspek yang SKOR
Dinilai 5 4 3 2 1
1. Peserta didik terlibat antusias memperhatikan penjelasan
Guru
2. Peserta didik aktif dalam mengikuti kegiatan (berpendapat,
bertanya dan menjawab pertanyaan)
3. Peserta didik saling menghargai
4. Peserta didik kreatif dan inovatif dalam menyelasaikan tugas
5. Peserta didik memiliki daya juang tinggi (pantang menyerah)
JUMLAH SKOR
Keterangan:
3. Skor minimal 5 (1 x 5), dan skor maksimal 25 (5 x 5)
4. Kategori hasil
a. Sangat baik : 21 – 25
b. Baik : 16 – 20
c. Cukup : 11 – 15
d. Kurang : 6 – 10
e. Sangat kurang : 5
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
Nama :
Kelas :
1. Cobalah menganalisa pengertian perilaku asertif
a. ______________________________________________________
b. ______________________________________________________
2. Tunjukan beberapa ciri perilaku asertif yang dimiliki individu
a.__________________________________________________
b.__________________________________________________
3. Bagaimanakah cara anda mengembangkan perilaku asertif yang ada di dalam diri anda tersebut
a. ______________________________________________________
b. ______________________________________________________