0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan11 halaman

Pendidikan Moral dalam Kamen Rider Decade

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan nilai moral dalam film Kamen Rider Decade. Film ini menampilkan nilai-nilai moral Jepang seperti tanggung jawab, kepedulian terhadap orang lain, kejujuran, dan kerja keras melalui adegan-adegan tertentu. Penelitian ini menggunakan metode observasi untuk mengamati makna moral dalam film tersebut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
56 tayangan11 halaman

Pendidikan Moral dalam Kamen Rider Decade

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan nilai moral dalam film Kamen Rider Decade. Film ini menampilkan nilai-nilai moral Jepang seperti tanggung jawab, kepedulian terhadap orang lain, kejujuran, dan kerja keras melalui adegan-adegan tertentu. Penelitian ini menggunakan metode observasi untuk mengamati makna moral dalam film tersebut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDIDIKAN NILAI MORAL DALAM FILM TOKUSATSU

“KAMEN RIDER DECADE”


Yessy Harun, Okky Pratama Aditya Ananza
Jurusan Sastra Jepang / Fakultas Sastra
(iessy_alun@[Link])
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan nilai moral di [Link] bentuk
pendidikan nilai moral yang ditampilkan dalam film Tokusatsu Kamen Rider Decade. Penelitian ini
menggunakan kerangka teoritis yang memfokuskan pada penelitian tentang pendidikan nilai moral
dalam film tokusatsu kamen rider decade. Penjelasan mengenai hal tersebut akan mencakupi dari
berbagai segi seperti yang terdapat dalam masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan metode
observasi, menonton film tokusatsu kamen rider decade, dengan cara mengamati, memahami dan
menganalisa makna dari film tersebut.
Dari hasil observasi dan pengamatan tersebut, terdapat nilai – nilai moral di Jepang yang dibentuk
melalui pendidikan di rumah, di sekolah, dan lingkungan masyarakat dalam film tokusatsu kamen
rider decade, hal itu ditunjukkan dari beberapa adegan yang memberikan nilai moral seperti
tanggung jawab, mementingkan kepentingan orang lain dari kepentingan diri sendiri, rela
berkorban, setia, peduli, bekerja keras, menepati janji, membantu satu sama lain, jujur.
Kata kunci : Pendidikan, moral
ABSTRACT
This research aims to know the moral value of education in Japan. and forms of education of the
moral values are displayed in the Tokusatsu film Kamen Rider Decade. This research uses a
theoretical framework that focuses on research on the education of moral values in the tokusatsu
film kamen rider decade. The explanation of it will cover all of the various establishments such as
contained in the research issues. This research uses the methods of observation, watching the
movie tokusatsu kamen rider decade, with how to observe, understand and analyze the meaning of
the film.
From the results of observation and the observation, there are values – moral values in Japan are
shaped through education at home, school, and community environments in the tokusatsu film
kamen rider decade, it was shown from multiple scenes provide moral values such as
responsibility, concerned with the interests of people other than themselves, willing to sacrifice,
faithful, caring, hard-working, keeping our promises, help one another, to be honest.
Keywords : Education, moral

PENDAHULUAN
Jepang sebagaimana sudah banyak diketahui oleh negara di dunia merupakan
negara maju dan sangat mengedepankan kebudayaannya, baik yang modern maupun
tradisional. Kebudayaan Jepang tradisional sebagai contoh, Upacara Minum Teh, Kendo,
Judo, Ikebana, Sumo, Matsuri, Kabuki, sedangkan kebudayaan Jepang Modern adalah
Manga, Anime, Cosplay dan salah satunya berada dalam dunia perfilman. Dari sekian
ragam film yang disajikan untuk masyarakat, seperti anime, drama, dan komedi, salah

~ 50 ~
satunya adalah serial tokusatsu ([Link]
menurut_genre).

Tokusatsu (特撮) adalah singkatan dari Tokushu Satsuei (特殊撮影) yang memiliki

arti ―Special Photography‖. Fotografi yang dimaksud adalah pengambilan gambar


bergerak (video) dalam pembuatan efek film agar menciptakan suatu hal yang bersifat
imajinatif. Pembuatan efek film tersebut menggunakan teknik komputer dan menghasilkan
gambar animasi yang menarik. Sebagai contoh, adalah membuat efek sinar yang terlihat
seperti sambaran petir dari pukulan – pukulan yang merupakan jurus para tokohnya
([Link]
Menurut majalah Japanese Station edisi 2014 rata – rata film Tokusatsu adalah
bergenre Action, dengan mengandalkan karakter yang heroik dan monster yang
menampilkan adegan – adegan perkelahian dengan memunculkan karakter super hero juga
monster – monster. Beberapa dari film Tokusatsu juga menambahkan unsur – unsur drama
di dalamnya yang menjadikan cerita dari film Tokusatsu menjadi lebih kompleks dan lebih
bisa dinikmati kalangan dewasa ([Link]
otakuarena/)
Tokusatsu adalah serial TV Jepang yang dibuat pertama kali pada 1901 oleh salah
satu produser perfilman di Jepang yaitu Eiji Tsuburaya. Berdasarkan web
[Link] karya pertama dari Eiji Tsuburaya adalah Godzilla (1950). Menurut
buku Japanese Station edisi 2014, Tokusatsu terkenal di kalangan anak – anak, namun
dewasa ini tidak sedikit para penggemar Tokusatsu dari kalangan dewasa. Sejak saat itu
industri Tokusatsu terus berkembang hingga saat ini. Berikut adalah gambar Eiji Tsuburaya
dan karya pertamanya ―Godzilla‖
Tokusatsu memiliki banyak jenis seri film seperti Serial Garo, Metal Heroes, Super
Sentai, Ultraman, dan Kamen Rider. Garo adalah serial yang menceritakan sosok orang
yang mempunyai kekuatan merubah wujud mejadi ksatria serigala. Serial Garo
ditayangkan untuk orang dewasa ([Link] Metal Heroes
menceritakan tentang pahlawan super yang memiliki kemampuan atau kesaktian di atas
rata-rata manusia, dan memakai pakaian yang khas dan menyolok seperti armor dari baja
serta nama yang khas, dan digambarkan sebagai penolong yang lemah dan pembasmi

~ 51 ~
kejahatan. Serial Metal Heroes mulai tayang di Jepang pada 1990 ([Link]
[Link]/mengenal-metal-heroes-part-1/).
Kamen Rider adalah serial yang muncul dari ide Shoutarou Ishinomori. Biasanya
genre ini menampilkan seorang manusia yang diubah menjadi cyborg atau memiliki
seperangkat peralatan jubah atau topeng. Ciri khas dari topeng Kamen Rider adalah
matanya yang menyerupai mata serangga dan memiliki antena, namun dewasa ini kostum
kamen rider telah berkembang dan tidak hanya fokus pada desain serangga
([Link]/7419/3/0442005_Chapter1.pdf).
Perkembangan Kamen Rider dimulai pada 1971 era Showa dalam tahun Jepang di

mana karakter Kamen rider ichigo (仮⾯ライダー⼀号) lahir sebagai pahlawan yang

membasmi organisasi kejahatan bernama Shocker. Shocker adalah sekelompok makhluk


yang meneror manusia di bumi. Keberadaan Kamen Rider Ichigo di sini sebagai pelindung
manusia di bumi dari teror tersebut. Ichigo memiliki arti ―Nomor Satu‖
([Link]
Dari beberapa film yang disebutkan di atas, penulis tertarik meneliti tentang film
Kamen Rider, karena di dalamnya ada pelajaran tentang nilai moral yang merupakan
kebudayaan Jepang yang dikedepankan di Jepang dan ingin disampaikan kepada penonton,
di mana di setiap film Kamen Rider menampilkan adegan yang bersifat heroik, saling
membantu, dan menolong yang lemah dan mempunyai banyak pesan moral rela berkorban
dan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, sehingga hal ini
menarik untuk menjadikan Kamen Rider terutama Kamen Rider Decade sebagai film yang
layak untuk ditonton.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan kerangka teoritis yang memfokuskan pada penelitian


tentang pendidikan nilai moral dalam film tokusatsu kamen rider decade. Penjelasan
mengenai hal tersebut akan mencakupi dari berbagai segi seperti yang terdapat dalam
masalah penelitian.
Dalam hal ini penelitian berlandaskan teori yang dikemukakan oleh Sonny Keraf
mengatakan moral merupakan sebuah tolak ukur. Moral dapat digunakan untuk mengukur
kadar baik dan buruknya sebuah tindakan manusia sebagai manusia, mungkin sebagai

~ 52 ~
anggota masyarakat (member of society) atau sebagai manusia yang memiliki posisi
tertentu atau pekerjaan tertentu (Djuretna A Imam, 1994:114).

Tokusatsu (特撮) adalah singkatan dari Tokushu Satsuei (特殊撮影) yang memiliki

arti ―Special Photography‖. Fotografi yang dimaksud adalah pengambilan gambar


bergerak (video) dalam pembuatan efek film agar menciptakan suatu hal yang bersifat
imajinatif. Pembuatan efek film tersebut menggunakan teknik komputer dan menghasilkan
gambar animasi yang menarik. Sebagai contoh, adalah membuat efek sinar yang terlihat
seperti sambaran petir dari pukulan – pukulan yang merupakan jurus para tokohnya
([Link]

NILAI MORAL DALAM MASYARAKAT JEPANG


Jepang merupakan negara yang mengedepankan tentang nilai moral dalam
kehidupan sehari-hari dan kehidupan bernegara, meski tidak dapat dikatakan semuanya
mempunyai nilai moral seperti orang Jepang yang sering dijumpai di Indonesia. Nilai
moral bangsa Jepang dipercaya oleh masyarakat Jepang dan dunia merupakan modal
menjadikan Jepang sebagai negara maju. Masyarakat Jepang dikenal mempunyai budaya
disiplin, kerja keras, menghargai orang lain dan lain-lain.
Nilai moral masyarakat Jepang terangkum dalam budaya Jepang yang dikenal
dengan nama Bushido. Menurut Benedict, Bushido adalah tata cara Samurai yang
merupakan sebuah perilaku tradisional yang ideal. Inazo Nitobe dalam Benedict
mengatakan Bushido adalah perpaduan antara kehormatan, kesopanan, kesetiaan dan
pengendalian diri. Bushido berasal dari kata ―bu‖ yang memiliki arti beladiri, sedangkan
―shi‖ memiliki arti Samurai (manusia) dan ―do‖ yang berarti jalan. Secara garis besar
Bushido berarti jalan terhormat yang harus ditempuh seorang Samurai (Benedict,1982 :
335). Bushido tidak sekedar aturan dan tatacara berperang dan mengalahkan musuh, tetapi
Bushido memiliki makna yang dalam tentang prilaku yang ditanamkan untuk
kesempurnaan dan kesempurnaan seorang prajurit atau Samurai. Dalam etika Bushido
terkandung berbagai macam ajaran tentang moral yang tinggi yang erat hubungan dengan
tanggung jawab, kesetiaan, sopan santun, tata krama, disiplin, rela berkorban, pengabdian,
kerja keras, kebersihan, hemat, kesabaran, ketajaman berpikir, kesederhanaan, kesehatan
jasmani dan rohani, kejujuran, pengendalian diri (Tsunenari dan Nakamura, 2007 : 53-56).

~ 53 ~
Nilai-nilai Bushido yang diberlakukan di Jepang, di mana nilai-nilai tersebut
dibudayakan, diajarkan dan ditanamkan kepada semua masyarakat Jepang sejak dini.
Awalnya nilai moral tersebut yang diberlakukan kepada para Samurai terdiri dari 4 nilai –
nilai yaitu; On, Gimu, Giri dan, Ninjo. On yang berarti hutang budi, Gimu yang berarti
kewajiban, Giri yang berarti kebaikan dan Ninjo yang berarti kasih sayang. On yang
berarti hutang budi, Gimu yang berarti kewajiban, Giri yang berarti kebaikan dan Ninjo
yang berarti kasih sayang. Namun selain 4 nilai – nilai tersebut, Etika Bushido dirumuskan
menjadi nilai – nilai hidup sebagai berikut.

1. Gi ( 義 – Integritas) Menjaga kejujuran, seorang Samurai senantiasa

mempertahankan etika, moralitas, dan kebenaran. Integritas merupakan nilai


Bushido yang paling utama. Kata integritas mengandung arti jujur dan utuh.
Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan seluruh aspek kehidupan, terutama
antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Nilai ini sangat dijunjung tinggi dalam
falsafah Bushido.

2. Yuu (勇 – Keberanian) Berani dalam menghadapi kesulitan, keberanian merupakan

sebuah karakter dan sikap untuk bertahan demi prinsip kebenaran yang dipercayai
meski mendapat berbagai tekanan dan kesulitan. Keberanian juga merupakan ciri
para Samurai, mereka siap dengan resiko apapun termasuk mempertaruhkan nyawa
demi memperjuangkan keyakinan. Keberanian mereka tercermin dalam prinsipnya
yang menganggap hidupnya tidak lebih berharga dari sebuah bulu. Namun,
keberanian Samurai tidak membabibuta, tapi keberanian Samurai dilandasi dengan
latihan yang keras dan penuh disiplin.

3. Jin ( 仁 – Kemurahan hati) Memiliki sifat kasih sayang, Bushido memiliki aspek

keseimbangan antara maskulin (Yin) dan feminin (Yang). Jin mewakili sifat
feminin yaitu mencintai. Meski berlatih ilmu pedang dan strategi berperang, para
Samurai harus memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang dan, perduli. Kasih
sayang yang perduli tidak hanya ditujukan kepada atasan maupun pimpinan, namun
pada kemanusiaan adalah hal yang juga harus diterapkan. Sikap ini harus
ditunjukkan dalam keadaan apapun dan dalam waktu kapanpun. Kemurahan hati
juga ditunjukkan dalam hal memaafkan.

~ 54 ~
4. Rei ( 礼 – Menghormati) Hormat kepada orang lain, seorang Samurai tidak pernah

bersikap kasar dan ceroboh, namun senantiasa menggunakan kode etiknya secara
sempurna setiap waktu dan sepanjang perjalanan hidup. Sikap santun dan hormat
tidak hanya ditunjukkan kepada pimpinan dan orang tua, namun kepada tamu atau
siapapun yang ditemui bahkan kepada musuh. Sikap santun juga meliputi cara
duduk, berbicara, bahkan dalan memperlakukan benda atau senjata.

5. Makoto atau Shin ( 信 – Kejujuran dan tulus ikhlas) Makoto atau Shin merupakan

etika Samurai yang sangat menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran. Samurai
selalu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, dan melakukan apa yang
mereka katakan. Samurai sangat menjaga ucapannya tidak berkata buruk pada
keburukan orang meski dalam keadaan sulit atau situasi yang tidak
menguntungkan. Janji yang diucapkan seorang Samurai harus ditepati sekalipun itu
janji yang sulit, karena bagi para Samurai janji adalah hutang yang harus dibayar.
Selain kejujuran, konsep Makoto atau Shin juga mengajarkan ketulusan dalam
melaksanakan suatu perbuatan. Ketulusan, yang memiliki arti sikap yang
menjunjung tinggi kemurnian dalam batin. Ketulusan tidak mengenal cara berpikir
paling benar. Dalam sikap tulus yang paling penting bukan sasaran, tapi cara
bertindak demi mendapatkan sasaran tersebut.

6. Meiyo ( 名 誉 – Kehormatan) Menjaga kehormatan diri, bagi para kaum Samurai

cara untuk mejaga kehormatan adalah menjalankan etika Bushido secara konsisten
sepanjang waktu dan tanpa menggunakan jalan pintas apapun yang dapat
melanggar moralitas. Seorang Samurai memiliki harga diri yang tinggi, yang
mereka jaga dengan melakukan perilaku terhormat. Salah satu cara mereka menjaga
kehormatan adalah dengan tidak menyia – nyiakan waktu dan menghindari perilaku
tidak berguna.

7. Chuugi ( 忠 義 – Loyal) Menjaga kesetiaan kepada satu pimpinan dan guru,

kesetiaan kepada pimpinan dilakukan secara total dan penuh kesungguhan dalam
menjalankan tugas. Kesetiaan seorang ksatria tidak hanya pada masa kejayaan
tuannya. Bahkan saat tuannya mengalami kondisi yang tidak diinginkan atau
mengalamai banyak beban permasalahan, seorang ksatria tetap setia pada

~ 55 ~
pimpinannya dan tidak meninggalkannya. puncak kehormatan seorang Samurai
adalah mati dalam menjalankan tugasnya.

8. Tei (悌 – Menghormati orang tua) Menghormati orang tua dan rendah hati, Samurai

sangat menghormati dan perduli pada orang yang lebih tua. Baik kepada orang tua
sendiri, pimpinan, maupun kepada para leluhur. Mereka harus memahami silsilah
keluarga dan asal – usulnya. Mereka fokus melayani dan tidak memikirkan
kepentingan jiwa dan raganya pribadi
([Link]

Pembentukan Nilai Moral di Jepang melalui Pendidikan


Perilaku etis atau nilai moral memiliki kaitan erat dengan pendidikan. Pendidikan
adalah hal yang paling penting dalam kehidupan seseorang. Pendidikan dapat dimulai sejak
bayi masih berada dalam kandungan, dengan contoh yang banyak dilakukan, yaitu
memperdengarkan musik, membaca untuk sang bayi yang masih berada dalam kandungan
dan mengajaknya berbicara. Hal ini merupakan harapan dapat memberi masukan ilmu
kepada sang bayi sebelum proses kelahiran. Melalui pendidikan, seseorang dapat
dipandang terhormat, memiliki karir yang baik serta diharapkan dapat bertingkah sesuai
norma – norma yang berlaku. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana secara etis.
Sistematis, intensional dan kreatif di mana peserta didik mengembangkan potensi diri,
kecerdasan, pengendalian diri dan keterampilan untuk membuat dirinya berguna dalam
kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan Nilai Moral Melalui Film Kamen Rider Decade
Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa Jepang sangat mengedepankan nilai
moral bagi masyarakatnya. Pendidikan nilai moral bukan saja diberikan di rumah, di
sekolah dan lingkungan masyarakat, salah satunya pendidikan moral juga ternyata
diberikan melalui film. Menurut analisa penulis, hal ini dilakukan karena pendidikan moral
tidak hanya merupakan kewajiban pemerintah, tapi kewajiban semua masyarakat. Salah
satu unsur masyarakat, adalah dari dunia film. Mereka merasa terpanggil untuk
memberikan pendidikan moral dalam film-filmnya. Pendidikan moral melalui film
dianggap dapat dijangkau oleh lapisan masyarakat, dan dipelejarinya dengan kesenangan
yang ditimbulkan dari cerita film tersebut. Sebagai contoh nilai moral ada dalam film
Tokusatsu Kamen Rider Decade.

~ 56 ~
Sinopsis Film Kamen Rider Decade
Kamen Rider memiliki seri yang berbeda – beda dengan jalan cerita yang juga
berbeda pada tahun 2009 adalah kemunculan seri Kamen Rider Decade yang menceritakan
tentang perjalanannya menjelajahi sembilan dunia Kamen Rider era Heisei tahun Jepang
dari seri tahun 2000 hingga seri 2009 yaitu ada Kamen Rider Kuuga, Agito, Ryuki, Faiz,
Blade, Hibiki, Kabuto, Den-O dan Kiva. Dalam seri Kamen Rider Decade para Kamen
Rider tersebut dimunculkan kembali
Cerita berawal pada saat sembilan dunia dari sembilan Kamen Rider akan
berbenturan dan menjadi satu, kekacauan mulai terjadi. Kadoya Tsukasa berubah menjadi
Kamen Rider Decade demi mencegah kehancuran dari sembilan dunia tersebut dan juga
dunia ia sendiri, dengan cara mengunjungi sembilan dunia tersebut dan mengalahkan
sembilan Kamen Rider pada masing – masing dunia itu sebagai persyaratan untuk
menyelamatkan dunia yang akan hancur. Namun, bagi para Rider lain keberadaan Tsukasa
adalah bencana bagi mereka karena rumor yang mengatakan akan datang Rider yang
bernama Kamen Rider Decade yang akan menghancurkan dunia. Cerita juga berawal dari
dunia dimana tempat tinggal Tsukasa terjadi keanehan, di dalam dunia tersebut monster –
monster mulai bermunculan dan mimpi aneh dari teman tsukasa yang bernama Natsumi
yang memperlihatkan tentang pertempuran para Kamen Rider dan semuanya dikalahkan
oleh Kamen Rider Decade.
Perjalanan Tsukasa dimulai dengan hati penuh tanya siapa dia sebenarnya, karena
ada pula rumor yang mengatakan dunia akan hancur karena keberadaan dia di dunia dan
untuk mencegahnya dia harus menghilang dari dunia. Dengan kata lain Tsukasa harus
mati, namun teman – teman Tsukasa mengatakan bahwa semua itu salah dan mereka harus
melakukan perjalanan demi mengetahui penyebab sebenarnya saling tolong menolong
demi membuktikan kebenaran yang seharusnya. Didalam perjalanan menjelajahi sembilan
dunia, Tsukasa bertemu dengan beragam orang – orang dan Kamen Rider, bahkan Tsukasa
malah berteman dengan para Rider tersebut, beberapa orang yang Tsukasa temui dan
memberikan pesan – pesan nilai moral antara lain adalah Detektif Yashiro, Kazuma, Souji,
Asumu, Jii dan Takeru. Tsukasa menemukan banyak pelajaran berharga dan arti hidup
untuk terus berjuang dan tidak menyerah dalam menanggung beban yang ia hadapi dari

~ 57 ~
awal perjalanannya memegang tanggung jawab yang harus ia lakukan walaupun banyak
masalah selalu sabar menghadapi demi kesadarannya untuk menyelamatkan dunia.

Nilai Moral dalam Film Tokusastsu Kamen Rider Decade


Menurut analisa penulis nilai moral dalam film Tokusastsu Kamen Rider Decade
terdapat dalam cuplikan film sebagai berikut:

Cuplikan (Eps.1)
Saat kekacauan dunia dimulai dan Tsukasa mulai bertarung melawan monster –
monster, setelah itu Natsumi bertanya. ―jadi apakah memang harus kamu yang melakukan
semuanya (perjalanan) untuk menyelamatkan dunia‖. Tsukasa menjawab walaupun dengan
keadaan tidak yakin, ―sepertinya begitu‖

Analisis
Dalam cuplikan film di atas terdapat konsep pendidikan yang dikatakan oleh M.J.
Langeveld dan berhubungan dengan moralitas Bushido tentang pendidikan, adalah suatu
usaha dalam menolong anak atau orang untuk melakukan tugas – tugas hidupnya, agar
mandiri dan bertanggung jawab secara susila‖. Dalam cuplikan di atas secara tidak langsung
mengajarkan para pemirsa yang menonton film untuk memiliki sikap tanggung jawab pada
apa yang sudah menjadi kewajiban, walaupun sebenarnya tidak menginginkannya.

Cuplikan (Eps.3)
Ketika Detektif Yashiro sedang dalam keadaan sekarat, karena kejadian buruk yang
terjadi di dunia Kamen Rider Kuuga Yusuke berkata ―aku sangat senang saat kau (Detektif
Yashiro) mengomeli aku, aku bertarung dan menjadi kuat hanya karena ingin membuatmu
tersenyum‖ pada saat itu juga Detektif Yashiro menjawab ―sebentar lagi aku akan mati,
dan tubuh ini akan berubah menjadi monster. Kau akan membunuhku pada saat itu.―Aku
tidak bisa‖ timpal Yusuke. Lalu Detektif Yashiro berkata ―jika kau bertarung dan menjadi
kuat hanya untuk senyumku, pasti kau akan lebih kuat jika itu untuk semua orang.

~ 58 ~
Analisis
Pada cuplikan di atas, dalam perkataan Detektif Yashiro yang terakhir mengajarkan
teori moral dalam Filsafat Bergson yang menyatakan tentang kewajiban dan berhubungan
dengan nilai moral bushido, dikatakan bahwa yang dinilai pengikat antar manusia, yakni
kewajiban itu sebenarnya pertama – tama mengikat diri sendiri. yang berarti saat
seseorang melakukan sesuatu demi orang lain tanpa disadari itu akan berpengaruh terhadap
individu sendiri tersebut. Saat orang melakukan hal baik untuk orang lain tanpa sadar ia
telah memiliki moral yang baik terhadap diri sendiri juga.

Cuplikan (Eps.17)
Tsukasa mengeluarkan pernyataan tentang apa yang dilakukan Souji terhadap
keluarganya. ―walaupun dunia menjadi musuh, laki – laki ini akan bertarung dan berjuang
untuk keluarganya‖
Analisis
Dalam cuplikan episode di atas terdapat pernyataan yang menggambarkan

pendidikan moralitas Bushido yang merupakan nilai – nilai Bushido Yuu ( 勇 ) atau

keberanian dan Jin ( 仁 ) kemurahan hati, berani dalam menghadapi kesulitan, keberanian

merupakan sebuah karakter dan sikap untuk bertahan demi prinsip kebenaran yang
dipercayai meski mendapat berbagai tekanan dan kesulitan. Termasuk mempertaruhkan

nyawa demi memperjuangkan keyakinan. Nilai Jin (仁) dalam cuplikan diatas adalah sifat

mencintai sesama, kasih sayang dan perduli.


Cuplikan di atas juga memiliki unsur teori Bushido menurut Benedict yang
mengatakan bahwa Bushido adalah perpaduan antara kehormatan, kesopanan kesetiaan dan
pengandalian diri.
KESIMPULAN
Berdasarkan pada pembahasan dalam penelitian, dapat disimpulkan bahwa Jepang
sangat mengedepankan nilai – nilai moral dalam kehidupan masyarakatnya. Nilai moral di
Jepang diantaranya adalah disiplin, bekerja keras,bertanggung jawab, loyal terhadap
pekerjaan dan pimpinan, rela berkorban, dan mementingkan orang lain.
Nilai – nilai moral di Jepang dibentuk melalui pendidikan di rumah, di sekolah, dan
lingkungan masyarakat. Pendidikan nilai moral dalam masyarakat adalah salah satunya
terdapat dalam film Kamen Rider Decade, hal itu ditunjukkan dari beberapa adegan yang

~ 59 ~
memberikan nilai moral seperti tanggung jawab, mementingkan kepentingan orang lain
dari kepentingan diri sendiri, rela
berkorban, setia, peduli, bekerja keras, menepati janji, membantu satu sama lain,
jujur. Adapun tujuan pendidikan nilai moral adalah, demi membentuk suatu pribadi yang
baik bagi yang menerapkan dan mengajarkan hidup yang penuh makna, berpikir lebih
tajam, memiliki hati yang kuat yang dapat membawa pada kesempurnaan bagi pribadi yang
menerapkan prinsip – prinsip tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Benedict, Ruth. 1982. Pedang Samurai dan Bunga Seruni : Pola-pola kebudayaan Jepang,
Jakarta : Sinar Harapan.
Columbus Picture Analysis of Growth Towards Maturity: A Series of 24).
Mattulada, 1979. Pedang dan [Link] penerbit.
Moral & Religi, Djureta [Link] Muhni, 1994 : 88.
Nitobe, Inazo.1972. The Work of Nitobe Inazo. Tokyo : University Of Tokyo Press.
Riduwan, Metode Riset, Jakarta : Rineka Cipta, 2004, hal.104.
Situmorang, Hamzon. 1995. Perubahan Kesetiaan Bushi dari Tuan Kepada.
Keshogunandalam Feodalisme Zaman Edo di Jepang (1603-1868). Medan: USU
Press.
Suryohadiprojo, Sayidiman.1981. Manusia dan Masyarakat Jepang Dalam Perjoangan
Hidup. Jakarta : UIP
Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar : Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral.
Yogyakarta : Kanisius.
The Chrysanthemum and the sword: patterns of Japanese Culture, 1946 : 256-258.
Tsunenari, Tokugawa dan Nakamura, 2007. Bushido as character Education,Japan Echo.

~ 60 ~

Common questions

Didukung oleh AI

Bushido, as a way of life for the Samurai, infuses Japanese society with values such as loyalty, discipline, and honor, influencing moral education at various levels—home, school, and society. The film 'Kamen Rider Decade' reflects these values by emphasizing character traits such as responsibility, sacrifice, and loyalty. Through its narrative, characters embody the ideals of honor and courage central to Bushido, illustrating these principles to the audience .

'Kamen Rider Decade' effectively uses its characters and plot to convey philosophical insights into moral responsibility, portraying complex ethical dilemmas through Tsukasa's interactions with others. Each character represents different moral aspects, providing audiences with various perspectives on ethical choices. This narrative complexity invites engagement with philosophical questions about duty and the implications of one's actions, fostering a rich environment for ethical reflection .

'Kamen Rider Decade' aligns with traditional Japanese values by mirroring Bushido principles like loyalty, honor, and self-discipline through its characters' actions and choices. The dedication to protecting others and self-sacrifice depicted in the film reflects broader cultural values of prioritizing community welfare and personal integrity, central to both Bushido and Japanese societal expectations .

In 'Kamen Rider Decade', battles symbolize internal and external conflicts representing moral dilemmas faced by individuals. The action sequences are not just visual spectacles but narrative tools emphasizing moral teachings like perseverance and integrity. This reflects a broader trend in Japanese action media where extraordinary conflicts metaphorically communicate ethical truths, encouraging audiences to derive insights about courage and moral tenacity .

'Kamen Rider Decade' exemplifies imparting moral values through media by embedding moral lessons within its action-packed narrative, accessible entertainment that bridges cultural values with global appeal. Scenes demonstrating loyalty, responsibility, and self-sacrifice serve to subtly educate audiences, aligning with Japanese societal norms emphasizing underpinnings of Bushido—like integrity and courage—as foundational to personal and communal development .

Tsukasa's character development is central to the film's educational aim of promoting moral responsibility. Starting as a reluctant hero, his encounters and experiences across different worlds teach him valuable lessons on resilience, integrity, and the importance of community. His gradual acceptance of his duty to prevent destruction aligns with educational themes of cultivating responsible individuals who prioritize societal over personal interests, thereby portraying these values to viewers effectively .

'Kamen Rider Decade' incorporates historical and cultural elements, such as Bushido and traditional hero narratives, to enrich its moral storytelling. By drawing upon Japan’s rich cultural tapestry, the series contextualizes moral lessons within familiar frameworks, enhancing their resonance and authenticity. The cultural artifacts and historical references deepen viewers' engagement and understanding of the themes explored, subtly reinforcing messages of honor and social duty .

'Kamen Rider Decade' employs its storyline to explore ethical responsibility and sacrifice through the protagonist Tsukasa’s journey, where he is compelled to combat adversities to save various worlds. This narrative resonates with the Bushido principle of self-sacrifice for the greater good. Tsukasa’s interactions emphasize placing communal welfare above personal gain, a reflection of Japanese cultural ideals that encourage altruism and social responsibility .

A serialized format enables 'Kamen Rider Decade' to explore moral themes with depth and nuance, allowing for gradual character arcs and thematic progression that single-feature films may rush. The prolonged engagement offers audiences ample opportunity to reflect on moral lessons, such as sacrifice and responsibility, through evolving storylines and character relationships, showcasing the narrative's educational potential and cultural sophistication .

'Kamen Rider Decade' portrays the tension between individual desires and collective responsibility through Tsukasa’s journey, where he must set aside personal interests to avert disaster across multiple dimensions. This reflects the Japanese notion of 'wa' (harmony), emphasizing societal over individual fulfillment. Tsukasa’s initial reluctance evolving into a sense of duty captures this cultural valuation of collective wellbeing over personal inclination .

Anda mungkin juga menyukai