0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan4 halaman

Piagam Jakarta dan UUD 1945: Sejarah dan Proses

Panitia Delapan membuat klasifikasi usulan untuk UUD. Panitia Sembilan merumuskan Piagam Jakarta yang berisi lima pokok Pancasila. Piagam Jakarta disetujui dalam sidang BPUPK kecuali kalimat tentang syariat Islam yang kemudian direvisi.

Diunggah oleh

Wina Elvira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan4 halaman

Piagam Jakarta dan UUD 1945: Sejarah dan Proses

Panitia Delapan membuat klasifikasi usulan untuk UUD. Panitia Sembilan merumuskan Piagam Jakarta yang berisi lima pokok Pancasila. Piagam Jakarta disetujui dalam sidang BPUPK kecuali kalimat tentang syariat Islam yang kemudian direvisi.

Diunggah oleh

Wina Elvira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

PIAGAM JAKARTA DAN PEMBUKAAN UUD NRI TAHUN


1945
Yang ditujukan untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila

Guru Mata Pelajaran : Ummu Rohmah, [Link]

Disusun oleh :
Kelompok 2 :
Al vira Lingga Ramadhani
Cantika Nada Zhafira
Fitri Rahmawati Nurfadilah
Irena Nazwa Nurul Huda
Melana Jahrotus Syifa
Nafisa Khalila Setiananda
Nopita Apriani
Putri Lila Nurma'iza
Raisya Syahranni Ibrahim
Wina Elvira

a. Panitia delapan
Di akhir masa persidangan pertama, Ketua BPUPK membentuk panitia kecil
yang berjumlah delapan orang. Panitia kecil ini disebut juga dengan Panitia
Delapan. Anggota Panitia Delapan ini terdiri dari golongan kebangsaan dan
golongan [Link] yang termasuk golongan kebangsaan, yaitu Soekarno
(Ketua), Mohammad Hatta. Muhammad Yamin, A. A. Maramis, M. Sutardjo
Kartohadikoesoemo, dan Oto Iskandar di Nata. Sementara itu, golongan
keagamaan mencakup Ki Bagoes Hadikoesoemo dan K. H. Wahid Hasyim. Tugas
Panitia Delapan adalah memeriksa dan mengklasifikasikan usul-usul, baik lisan
maupun tulisan, untuk dibahas pada masa sidang BPUPK yang kedua (10-17 Juli
1945).
Dari usulan yang diperoleh, Panitia Delapan membuat klasifikasi usulan. Dari
klasifikasi yang dilakukan, ada sembilan kategori usulan, yaitu sebagai berikut.
1) Usulan terkait Indonesia merdeka selekas-lekasnya.
2) Usulan terkait dasar negara.
3) Usulan terkait masalah unifikasi atau federasi.
4) Usulan terkait bentuk negara dan kepala negara.
5) Usulan terkait warga negara.
6) Usulan terkait daerah.
7) Usulan terkait agama dan negara.
8) Usulan terkait pembelaan.
9) Usulan terkait keuangan.

b. Panitia Sembilan dan Piagam Jakarta


Pada akhir pertemuan, 38 orang anggota BPUPK yang hadir membentuk Panitia
Sembilan. Panitia Sembilan bertugas menyusun rancangan pembukaan undang-
undang dasar Negara Republik Indonesia yang memuat dasar negara.
Ketika melaksanakan tugasnya, Panitia Sembilan berikhtiar mempertemukan
pandangan antara golongan kebangsaan dan golongan keagamaan terkait dengan
dasar negara. Pada awalnya, menurut Soekarno, pandangan golongan kebangsaan
dan golongan keagamaan sukar dipertemukan. Namun pada akhirnya, titik temu
pandangan kedua golongan tersebut berhasil didapatkan. Hal ini terjadi ketika
Panitia Sembilan mengadakan rapat di rumah Soekarno pada malam hari tanggal
22 Juni 1945, Pada rapat ini, mereka berhasil merumuskan rancangan pembukaan
undang-undang dasar, Rancangan ini diberi nama "Mukadimah" oleh Soekarno,
"Piagam Jakarta" atau "Jakarta Charter" oleh Muhammad Yamin, dan
"Gentlemen's Agreement" oleh Sukiman Wirjosandjojo.
Adapun isi dari Piagam Jakarta, yaitu sebagai berikut.
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hasil rumusan Piagam Jakarta kemudian disampaikan dalam sidang BPUPK yang
kedua. Sidang ini berlangsung pada tanggal 10-17 Juli 1945.
Agenda sidang kedua BPUPK, di antaranya rancangan undang- undang dasar,
bentuk negara, wilayah negara, dan kewarganegaraan; serta susunan
pemerintahan, unitarisme, dan federalisme. Untuk membahas agenda dari sidang
kedua BPUPK tersebut, dibentuk tiga panitia, yakni Panitia Perancang UUD yang
diketuai Soekarno, Panitia Pembelaan Tanah Air dipimpin Abikusno
Tjokrosoejoso, dan Panitia Ekonomi dan Keuangan dipimpin Mohammad Hatta.
Setelah dibentuk, panitia mulai melaksanakan sidang pada 10 Juli 1945. Secara
umum, tiga hal yang dikerjakan oleh panitia tersebut adalah pernyataan
kemerdekaan, preambule atau pembukaan, dan undang-undang dasar.
Dalam sidang kedua tersebut, Ketua BPUPK, Radjiman Wedyodiningrat, juga
meminta para anggota untuk kembali mempertimbangkan rumusan Piagam
Jakarta yang sebelumnya disepakati oleh Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945.
Pada 11 Juli 1945, anggota BPUPK yang berasal dari Maluku, Johannes
Latuharhary keberatan dengan isi piagam yang berbunyi "Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Menurut
Latuharhary, kalimat itu dapat memberikan dampak besar terhadap umat
beragama lain.

Terhadap keberatan Latuharhary, Soekarno mengatakan bahwa Piagam Jakarta


sudah dibuat berdasarkan kompromi antara golongan Islam dan nasionalis
sehingga tidak dapat diubah. Kendati demikian, tokoh-tokoh dari Indonesia
bagian timur, yang diwakili oleh Latuharhary, tetap keberatan dengan bunyi
piagam tersebut.
Untuk sementara, para tokoh memusatkan perhatian pada agenda- agenda yang
lain. Pada 16 Juli 1945, BPUPK menyetujui undang-undang dasar negara, dengan
isi: sebagai berikut..
1. Pernyataan Indonesia merdeka.
2. Pembukaan yang memuat Pancasila secara lengkap.
3. Batang tubuh UUD negara yang tersusun atas pasal-pasal.
Dengan disepakatinya RUU, tugas BPUPK dinyatakan selesai. Sidang kedua
BPUPK berakhir tanggal 17 Juli 1945 yang sekaligus menandai berakhirnya
BPUPK. Hasil-hasil sidang diserahkan kepada pemerintah Jepang. Pemerintah
Jepang kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
untuk melanjutkan kerja BPUPK. (Catatan: Kelak, dalam sidang pertama PPKI
pada 18 Agustus 1945 (sehari setelah kemerdekaan, Plagam Jakarta direvisi untuk
mengakomodasi aspirasi kalngan Kristiani, terutama yang berasal dari Indonesia
bagian timur.)

Common questions

Didukung oleh AI

The nationalist and religious groups primarily clashed over the state's ideological foundations. Nationalists preferred a secular state focusing on unity, while religious figures emphasized integrating Islamic elements. This ideological divide manifested in the debates over the Jakarta Charter's wording about Islamic law. The Panitia Sembilan, spearheaded by prominent leaders like Soekarno, ultimately reached a compromise incorporating religious obligations for Muslims within the Charter. This resolution, however, faced further modification to accommodate wider religious inclusion during PPKI meetings after objections from Christian-majority provinces .

The BPUPK laid the foundational framework for independence through extensive discussions and formulations like the Jakarta Charter during its sessions, which culminated in a draft constitution and other fundamental national plans. The PPKI complemented this by operationalizing these frameworks, modifying elements to ensure inclusivity—such as amending religious clauses in the Jakarta Charter—and overseeing Indonesia's transformative steps from colony to a sovereign nation-state, thus playing a crucial role in the independence transition .

The Panitia Sembilan aimed to reconcile differences between nationalist and religious groups regarding the state's foundation. Despite initial difficulties, the committee successfully reached a compromise on June 22, 1945, during a night meeting at Soekarno's residence. The resulting document, known as the Jakarta Charter, was agreed upon by merging these perspectives. It included the obligation of implementing Islamic law for its adherents, reflecting a delicate balance between the two groups' views .

The BPUPK sessions highlighted challenges in accommodating diverse religious views, as evidenced by conflicts over the phrasing 'Ketuhanan with the obligation to implement Islamic law for its adherents.' This wording prompted concerns from members representing Christian-majority areas, such as Johannes Latuharhary from Maluku, fearing potential religious implications for non-Muslims. Consequently, while the initial Jakarta Charter reflected a compromise between Islamists and nationalists, the resistance from Indonesia's eastern representatives necessitated further revisions in the subsequent PPKI meeting on August 18, 1945, to better accommodate Christian communities .

The Jakarta Charter, formulated by the Panitia Sembilan on June 22, 1945, was instrumental in establishing the philosophical foundation for Indonesia as an independent state. It reflected a compromise between nationalist and Islamic groups, incorporating the principles of Pancasila—though originally mandating Islamic law for Muslims, which later required revision. The Charter's evolution signified attempts to unify diverse regional and religious views under a singular national ideology, ultimately influencing the preamble of the Indonesian Constitution .

The Panitia Pembelaan Tanah Air, led by Abikusno Tjokrosoejoso, focused on national defense matters, whereas the Panitia Ekonomi dan Keuangan, led by Mohammad Hatta, concentrated on economic and financial affairs. These committees, along with the Panitia Perancang UUD, played crucial roles during the BPUPK's second session starting on July 10, 1945. They addressed critical issues such as the declaration of independence, drafting the preamble, and shaping the constitutional framework, culminating in an agreed-upon Basic Law draft by July 16, 1945 .

The second BPUPK session resulted in a comprehensive outline of Indonesia's governance framework, including a declaration of independence, the introduction of Pancasila within the preamble, and the drafting of the Constitution's body comprising articles. These elements provided a structural basis for Indonesia's political and legal systems, laying the groundwork for subsequent state-building processes and facilitating the transfer of authority to the PPKI .

The PPKI was established by the Japanese government to continue the BPUPK's initiatives. Upon the BPUPK concluding its work on July 17, 1945, the PPKI was tasked with implementing the proposals and drafts developed during BPUPK sessions. This included revising the Jakarta Charter to accommodate Indonesia's Christian communities, especially from eastern regions, during its first meeting on August 18, 1945, ensuring broader national acceptance of foundational legal documents .

Johannes Latuharhary objected to the Jakarta Charter's provision mandating Islamic law for Muslims, fearing adverse effects on religious minorities and national unity. His concerns reflected the wider anxieties of Eastern Indonesian representatives in maintaining religious parity. In response, Soekarno highlighted the Charter's nature as a balanced compromise. Despite initial resistance, these objections led to the Charter's revision during the PPKI's first meeting, where clauses were amended to better incorporate diverse religious interests, highlighting early efforts to create inclusive national policies .

The Panitia Delapan was tasked with examining and classifying proposals, both oral and written, for discussion in the second BPUPK session held from July 10 to 17, 1945. The committee, consisting of representatives from both nationalist and religious groups, classified proposals into nine categories, including immediate independence, the foundation of the state, state form and head, citizenship, regional issues, religion and state, defense, and finance .

Anda mungkin juga menyukai