0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan25 halaman

Ciri-Ciri dan Pengertian Kepercayaan Diri

Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori kepercayaan diri, meliputi pengertian kepercayaan diri menurut beberapa ahli, ciri-ciri seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi seperti memiliki keyakinan pada diri sendiri, mampu bertindak mandiri, dan bereaksi positif terhadap berbagai masalah.

Diunggah oleh

Mutiara 93
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan25 halaman

Ciri-Ciri dan Pengertian Kepercayaan Diri

Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori kepercayaan diri, meliputi pengertian kepercayaan diri menurut beberapa ahli, ciri-ciri seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi seperti memiliki keyakinan pada diri sendiri, mampu bertindak mandiri, dan bereaksi positif terhadap berbagai masalah.

Diunggah oleh

Mutiara 93
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kepercayaan Diri

1. Pengertian Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan

dirinya untuk mengembangkan penilaian positif. Baik terhadap diri sendri maupun

terhadap lingkungan/situasi yang [Link] ini bukan berarti bahwa individu

tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seoarang diri, alias ;sakti”.

rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk adanya beberapa aspek dari

kehidupan individu tersebut bahwa ia merasa memilki kkompetensi, yakni mapu dan

percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi

serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.1

Menurut Willis (1985) kepercayaan diri adalah keyakinan bahwa seseorang

mampu menanggulangi suatu masalah dengan situasi terbaik dan dapat memberikan

sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain.

Lauster (1992) mendefinisikan kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman

hidup. Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang berupa

keyakinan akan kemampuan diri seseorang sehingga tidak terpengaruh oleh orang

lain dan dapat bertindak sesuai kehendak, gembira, oftimis, cukup toleran, dan

1
Marko Santoso, DKK, Hubungan Antara Rasa Percaya Diri dan Agresivitas pada Atlet Bola
Basket, (Jurnal Phornesis, 2005), Volume 7. Nomor 1. 51-64. hlm. 54

1
2

bertanggung jawab. Lauster (1992) menambahkan bahwa keprcayaan diri

berhubungan dengan kemampuan melakukan sesuatu yang baik. Anggapan seperti ini

membuat individu tidak pernah menjadi orang yang mempunyai kepercayaan diri

yang sejati. Bagimana pun kemampuan terbatas pada sejumlah hal yang dapat

dilakukan dengan baik dan sejumlah kemampuan yang dikuasi.

Anthony (1992) berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan sikap pada

diri seseorang yang dapat menerima kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran

diri, berpikir positif, memiliki kemandirian, dan mempunyai kemampuan untuk

memiliki serta mencapai segala sesuatu yang diinginkan.

Kumara (1998) menyatakan bahwa kepercayaan diri merupakan ciri

kepribadian yang mengandung arti kayakinan terhadap diri sendiri. Hal ini senada

dengan pendapat Aflatin dan Andayani (1998) yang menyatakan bahwa kpercayaan

diri merupakan aspek kepribadian yang berisi keyakinan tentang kekuatan,

kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya.2

Kepercayaan diri menurut Zakiah Daradjat kepercayaan diri adalah percaya

pada diri sendiri yang ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang dilalui sejak

kecil. Orang yang percaya pada dirinya sendiri dapatmengatasi segala factor-faktor

dan situasi frustasi, bahkan mungkin frustasi ringan tidak akan terasa sama sekali.

2
M. Nur Ghufron dan Rini Risnawati S, Teori-Teori Psikologi, (Jogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2014), hlm. 34
3

Tapi sebaliknya orang yang kurang percya pada dirinya akan sangat peka terhadap

bermacam-macam situasi yang menekan.3

Loekmono (dalam Asmadi Alsa) kepercayaan diri tidak terbentuk dengan

sendirinya melainkan berkaitan dengan kepribadian dengan seseorang. Kepercayaan

diri dipengaruhi oleh factor-faktor yang berasal dari dalam individu sendiri, norma

dan pengalaman keluarga, tradisi, kebiasaan dan lingkungan social atau kelompok

dimana keluarga itu berasal.4

Menurut Yusuf Al Uqshari rasa percaya diri adalah persenyawaan antara

proses oleh pikit dan rasa keouasaan jiwa. Artinya kita sudah benar-benar merasa

puas dengan diri kita. Atau dalam artian, sikap maupun perilaku yang kita peragakan

berakar pada suatu postulat bahwa kita adalah individu yang memiliki nilai dalam

banyak segman kehidupan, contohnya lapangan kerja, rumah tangga, keluarga, dunia

pergaulan, dan lain sebagainnya.5

Kepercayaan diri merupakan sikap mental seseorang dalam menilai diri

maupun objek disekitarnya sehingga orang tersebut mempunyai keyakinan akan

kemampuan dirinya untuk dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri

adalah keyakinan untuk melakukan sesuatu pada diri subjek sebagai karakakteristik

3
Drajat Zakiah, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1995), hlm. 25
4
Alsa, Asmadi, dkk, Hubungan antara Dukungan Sosial Orang Tua dengan Kepercayaan
Diri Remaja Penyandang Cacat Fisik, (Semarang: Jurnal Psikologi, 2016), No. 1, 47-58, hlm. 48
5
Yusuf Al Usghari, Percaya Diri Pasti, (Jakarta: Jl Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740,
2005), hlm. 9-10.
4

pribadi yang di dalamnya terdapat keyakinan akan kemampuan diri, oftimis, objektif,

bertanggung jawab, rasional, dan realistis.

2. Ciri-ciri Kepercayaan Diri

Seorang individu yang memiliki kepercayaan diri akan memiliki cirri-ciri

seperti yang dikemukakan oleh Hakim :

Sikap percaya diri yang dimiliki seorang individu memiliki beberapa kriteria yang

menonjol. Hakim (dalam Asmadi Alsa) mengemukakan beberapa cirri-ciri tertentu

dari orang-orang yang memiliki kepercayaan diri yaitu :

a. Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu

b. Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai

c. Mampu menetralisir ketegangan yang muncul dalam berbagai situasi

d. Mampu menyesuikan diri dan berkomunikasi diberbagai situasi

e. Memilikikondisi mental dan fisik yang cukup baik untuk menunjang

penampilannya

f. Memiliki kecerdasan yang cukup

g. Memiliki tingkatpendidikan yang formal yang cukup

h. Memiliki keterampilan atau keahlian berbasa asing

i. Memiliki kemampuan bersosialisasi

j. Memiliki latar belakang yang baik

k. Memiliki pengalaman hidup yang menipu mentalnya menjadi kuat dan tahan

didalam menghadapi cobaan


5

l. Selalu bereaksi positif dalam menghadapi berbagai masalah, misalanya : tegar,

sabar dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup.6

Sedangkan menurut Lauster, cirri-ciri yang mempunyai kepercayaan diri :

1). Percaya pada kemampuan sendiri

Suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala fenomena yang terjadi

berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengevaluasi serta mengatasi

fenomena yang terjadi tersebut. Kemampuan adalah potensi yang dimiliki

seseorang untuk meraih atau dapat diartikan sebagai bakat, kreativitas,

kepandaian, prestasi, kepemimpinan dan lain-lain yang dipakai untuk

mengerjakan sesuatu.

Kepercayaan atau keyakinan pada kemampuan yang ada pada diri

seseorang adalah salah satu sifat orang yang percaya diri. Apabila orang yang

percaya diri telah meyakini kemampuan dirinya dan sanggup untuk

mengembangkannya, rasa percaya diri akan timbul bila kita melakukan kegiatan

yang bisa kita lakukan. Artinya keyakinan dan rasa percaya diri itu timbul pada

saat seseorang mengerjakan sesuatu dengan kemampuan yang ada pada dirinya

2). Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan

Dapat bertindak dalam mengambil keputusan terhadap diri yang

dilakukan secara mandiri atau tampa adanya keterlibatan orang lain dan mampu

untuk meyakini tindakan yang diambil. Individu terbiasa menentukan sendiri

tujuan yang bisa dicapai tidak selalu bergantung pada orang lain untuk
6
Opcit., Alsa, Asmadi, dkk, hlm. 49
6

menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Serta mempunyai banyak energi dan

semangat karena mempunyai motivasi yang tinggi untuk bertindak mandiri

dalam mengambil keputusan seperti yang ia inginkan dan butuhkan.

3). Memiliki rasa positif terhadap diri sendiri

Adanya penilaian yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pandangan

maupun tindakan yang dilakukan yang menimbulkan rasa positif terhadap diri

sendiri. Sikap menerima diri apa adanya itu akhirnya dapat tumbuh berkembang

sehingga orang percaya diri dan menghargai orang laindengan segala kekurangan

dan kelebihannya.

Seorang yang memiliki kepercayaan diri, jika terdapatkegagalan biasanya

mereka tetap dapat meninjau kembali sisi positif dari kegagalan itu. Setiap orang

pasti pernah mengalami kegagalan baik kebutuhan, harapan dan cita-cita. Untuk

menyikapi kegagalan dengan bijak diprlukan sebuah keteguhan hati dan

semangat untuk bersikap positif.

4). Berani mengungkapkan pendapat

Adanya suatu sikap untuk mampu mengutarakan sesuatu dalam diri yang

ingin diungkapkan kepada orang lain tampa adanya paksaan atau rasa yang dapat

menghambat pengungkapan tersebut. Individu dapat berbicara didepan umum

tampa adanya rasa takut, berbicara dengan memakai nalar dan secara fasih, dapat

berbincang-bincang dari segala usia dan segala jenis latar belakang. Serta

menyatakan kebutuhan secara langsung dan terus terang, berani mengeluh jika

merasa tidak nyaman dan dapat berkampanye didepan orang lain.


7

Setelah menyimak beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa

cirri-ciri kepercayaan diri yakni keyakinan atas diri sendiri, dapat bertindak dalam

mengambil keputusan, tidak bergantung pada orang lain,serta mempunyai suatu sikap

untuk mampu mengutarakan sesuatu dalam [Link] kemampuan dan keberanian

dalam bersosialisasi terhadap lingkungan sosialnya serta selalu bereaksi positif dalam

menghadapi berbagai macam masalah.

3. Bentuk-bentuk Kepercayaan Diri

Ada dua jenis kepercayaan diri yaitu percaya diri lahir dan percaya diri batin.

Percaya diri yang memberikan kepada kita perasaan dan anggap bahwa kita dalam

keadaan baik. Jenis kepercayaan diri lahir kemungkinan individu untuk tampil

berprilaku dengan cara menunjukan kepada dunia luar bahwa kita yakin aan diri kita.

Lindenfield, mengemukakan empat cirri utama seseorang yang memiliki

percaya diri batin yang sehat, keempat cirri itu adalah :

a. Cinta diri

Orang cinta diri mencintai dan menghargai diri sendiri dan orang lain. Mereka

akan berusaha memenuhi kebutuhan secara wajar dan selalu menjaga kesehatan

diri. Mereka juga ahli dalam bidang tertentu sehingga kelebihan yang memiliki

dapat dibanggakan, hal ini yang menyebabkan individu tersebut menjadi percaya

diri.

b. Pemahaman diri
8

Orang yang percaya diri batin sangat sadar diri. Mereka selalu intropeksi diri

agar setiap tindakan yang dilakukan tidak merugikan orang lain.

c. Tujuan yang jelas

Orang yang percaya diri selalu tahu tujuan hidupnya. Ini disebabkan karena

mereka punya alas an dan pemikiran yang jelas dari tindakan yang mereka

lakukan serta hasil apa yang mereka dapatkan.

d. Pemikiran yang positif

Orang yang percaya diri biasanya merupakan teman yang menyenangkan. Salah

satu penyebabnya karena mereka terbiasa melihat kehidupan dari sisi yang cerah

dan mereka mengharap serta mencari pengalaman dan hasil yang bagus.7

Percaya diri lahir membuat individu harus dapat memberikan pada dunia luar

bahwa ia yakin akan dirinya sendiri, melalui pengembangan keterampilan dalam

empat bidang sebagai berikut :

a. Komunikasi

Keterampilan komunikasi sebagai dasar yang baik bagi pembentuk sikap percaya

diri. Menghargai pembicaraan orang lain, berani berbicara didepan umum, tahu

kapan harus berganti topic pembicaraan, dan mahir dalam berdiskusi adalah

bagian dari ketermapilan komunikasi yang dapat dilakukan jika individu tersebut

memiliki kepercayaan diri.

b. Ketegasan

7
Lindenfiel, Gael, Mendidik Anak Percaya Diri, (Jakarta: Arcan, 1997), hlm. 4-7
9

Sikap tegas dalam melakukan suatu tindakan juga diperlukan agar kita terbiasa

untuk menyampaikan aspirasi dari keinginan serta membela hak kita, dan

menghindari terbentuknya tindakan agresif dan fasif dalam diri.

c. Penampilan diri

Seorang individu yang percaya diri selalu memperhatikan penampilan dirinya,

baik dari gaya pakaian, aksesoris, dan gaya hidupnya tampa terbatas pada

keinginan untuk selalu ingin menyenangkan orang lain.

d. Pengendalian perasaan

Pengendalian perasaan juga diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari, dengan

kita mengelola perasaan kita dengan baik akan membentuk suatu kekuatan besar

yang pastinya menguntungkan individu tersebut.8

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk bentuk

kepercayaan diri meliputi kepercayaan diri batin dan kepercayaan diri lahir.

Kepercayaan diri batin seperti orang yang dicintai diri mencintai, menghargai diri

sendiri, orang lain, dan sadar diri, serta selalu tahu tujuan hidupnya. Sedangkan

kepercayaan diri lahir, individu memiliki keterampilan komunikasi yang baik bagi

pembentukan sikap percaya [Link] individu yang percaya diri selalu

memperhatikan penampilan dirinya dan bersikap tenang. Dan kepercayaan diri

spiritual juga harus tertanam sejak usia dini, karena kepercyaan diri spiritual

merupakan hal yang sangat penting bagi individu.

4. Prinsip-prinsip Kepercayaan Diri


8
Ibid. hlm. 7-11
10

a. Cara terbaik untuk memperoleh percya diri adalah dengan jalan

menumbuhkan dalam diri anda mental-mental positif yang mampu

mengantarkan anda menuju kesuksesan.

b. Bersikaplah secar bijaksana dalam merencanakan target-target kehidupan,

dan upayakan target yang anda rencanakan itu tidak terlalu muluk-muluk,

melebihi potensi dan kemampuan yang anda miliki.

c. Jika anda ingin memiliki rasa percya diri yang lebih kuat dalam

berinteraksi dengan orang lain, maka anda terlabih dahulu dituntut untuk

belajar bagaimana cara bergaul yang baik dengan orang lain.

d. Untuk memperoleh rasa percaya diri, agar anda senantiasa memperhatikan

penampilan psikis dan fisik anda dengan baik.

e. Pilihlah teman yang siap memberikan kepercyaannya kepada anda.

“karena jika anda sudah berhasil mendapatkan teman yang bisa

memberikan kepercyaan kepada anda, otomatis rasa percya diri dalam diri

anda akan tumbuh dan semangkin bertambah kuat”. Namun, jika kedua

karakter ini sudah anda temukan dalam diri seorang individu, maka

jadikanlah ia sebagai teman karib anda.9

5. Aspek-aspek Kepercayaan Diri

Lauster (1992) berpendapat bahwa kepercayaan diri yang sangat berlebihan,

bkanlah sipat yang positif. Pada umumnya akan menjadikan orang tersebut kuarang

9
Opcit. Yusuf Al Uqshari. Hlm. 39-43
11

berhati-hati dan akan berbuat seenaknya sendiri. Hal ini menjadi sebuah tingkah laku

yang menyebabkan konflik dengan orang lain.

Menurut Rini orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi akan mampu

bergaul secara fleksibel, mempunyai toleransi yang cukup baik, bersikap positif, dan

tidak mudah terpengaruh orang lain dalam bertindak serta mampu menentukan

langkah-langkah pasti dalm kehidupannya.

Individu yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi akan terlihat lebih

tenang, tidak memiliki rasa takut, dan mampu memperlihatkan kepercayaan dirinya

setiap saat.

Menurut Lauster (1992), orang yang memiliki kepercayaan diri yang positif

adalah yang disebutkan dibawah ini.

a. Keyakinan kemampuan diri

Keyakinan kemampuan diri adalah sikap positif diri seseorang tentang dirinya. Ia

mampu secara sunggu-sungguh akan apa yang dilakukannya.

b. Optimis

Optimis adalah sikap positif yang dimiliki sesorang yang selalu berpandang baik

dalam menghadapi segala hal tentang diri dan kemampuan.

c. Objektif

Orang yang memandang permasalahan atau sesuatu sesuai dengan kebenaran

yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri.
12

d. Bertanggung jawab

Bertanggung jawab adalah kesedian orang untuk menanggung segala sesuatu

yang menjadi konsekuensinya.

e. Rasional dan realistis

Rasional dan realistis adalah analisis terhadap suatu masalah, sesuatu hal, dan

suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima akal dan

sesuai dengan kenyataan.10

Berdasarkan pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan

diri adalah sifat dimiliki seseorang yang memiliki aspek-aspek keyakinan diri,

optimis, objektif, bertanggung jawab, rasional, dan realistis.

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri dipengaruhi oleh bebrapa faktor berikut ini adalah faktor-

faktor tersebut.

a. Konsep diri

Menurut Anthony (1992) terbentuknya kepercayaan diri pada diri seseorang

diawali dengan perkembangn konsep diri yang diperoleh dalam pergaulannya

dalam suatu kelompok. Hasil interaksi yang terjadi akan menghasilkan konsep

diri.

b. Harga diri

Konsep diri yang positif akan membentuk harga diri yang positif pula. Harga diri

adalah penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Sanso berpendapat bahwa
10
Op. Cit., M. Nur Ghufron dan Rini Risnawati, hlm. 35-36
13

tingkat harga diri seseorang akan mempengaruhi tingkat kepercayaan diri

seseorang.

c. Pengalaman

Pengalaman dapat menjadi faktor munculnya rasa percaya diri pula. Sebaliknya,

pengalaman dapt juga menjadi faktor menurunnya rasa percaya diri seseorang.

Anthony (1992) mengemukakan bahwa pengalaman masa lalu adalah hal

terpenting untuk mengembangkan kepribadian sehat.

d. Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan

diri seseorang. Tingkat pendidkan yang rendah akan menjadikan orang tersebut

tergantung dan berada di bawah kekuasaan orang lain yang lebih pandai darinya.

Sebaliknya, orang yang mempunyai pendidikan tinggi akan memiliki tingkat

kepercayaan diri yang lebih dibandingkan yang berpendidikan rendah.11

B. Hasil Belajar

1. Definisi Hasil Belajar Menurut Para Ahli

Belajar adalah berusaha atau berlatih supaya mendapatkan kepandaian. 12

Belajar menurut Syaiful Bahri Djamarah ialah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk

memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu

11
Ibid., hlm. 37
12
Poerwadarminta, Opcit. Hlm. 108
14

dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan

psikomotorik.13

Mustaqim merumuskan belajar ialah perubahan tingkah laku yang relatif tetap

terjadi karena latihan dan pengalaman. 14 Menurut Muhibbin Syah belajar dapat

dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif

menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan

proses kognitif.15 Menurut Seto Mulyadi, dkk. Belajar adalah perubahan prilaku atau

performance yang relatif permanen, sebagai hasil atau pengalaman dan bukan karena

pertumbuhan, kelelahan atau karena obat-obatan. 16 Rohmalina Wahab berpendapat

bahwa belajar ialah semua aktivitas yang mental atau psikis yang dilakukan oelh

seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara

sesudah belajar dan sebelum belajar.17

Adapun teori mengenai hasil belajar. Menurut Nana Sudjana hasil belajar

adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman

belajarnya.18 Nana Syaodih Sukmadinata juga merumuskan hasil belajar. Menurtnya

13
Syaiful Bahri Djamarah, psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka cipta, 2008), hlm.13
14
Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004), hlm. 34
15
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru, (Bandung:Remaja
Rosdakarya,2014), hlm. 90
16
Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Teori-teori Baru dalam
Psikologi, cet. Ke-2, (Jakarta:Rajawali Pers,2016), hlm.36
17
Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar, cet. Ke-1, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 18
18
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011). Hlm. 22
15

hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau

kapasitas yang dimiliki seseorang. 19

2. Macam-macam Hasil Belajar

Hasil belajar siswa terbagi menjadi tiga bagian yaitu kognitif (penguasaan

intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai), dan psikomotorik

(kemampuan/keterampilan bertindak/berprilaku).

a. Kognitif

Hasil belajar kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri

sebagai berikut :20

1). Pengetahuan

Hasil belajar pengetahuan termasuk kognitif tingkat rendah, yakni dengan

cara menghafal pengetahuan factual disamping pengetahuan hapalan atau

untuk diingat seperti rumus, definisi, istilah, pasal dalam undang-undang,

nama-nama tokoh, dan lain sebagainya.

2). Pemahaman

Hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan adalah pemahaman.

Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang

19
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi proses Pendidikan, (Bandung:
Rosdakarya, 2009), hlm. 102
20
Nana Sudjana, Opcit.
16

dibaca dan didengarnya, memberi contoh lain dari yang dicontohkan, atau

menggunakan petunjuk penerapan kasus lain.

3). Aplikasi

Aflikasi adalah penggunaan pada situasi kongkret atau situasi yang khusus.

Abtraksi dapat berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi

kedalam situasi baru disebut aflikasi.

4). Analisis

Analisis adalah usaha memilah integritas menjadi unsure-unsur atau bagian-

bagian sehingga jenis hirarkinya atau susunannya. Dengan analisis diharapkan

seseorang mempunyai pemahaman yang komprehensif dan dapat memilah

integritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpadu, untukbeberapa hal lain

memahami cara bekerjanya, untuk hal lain lagi memahami sistematikanya.

5). Sintesis

Penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian kedalam bentuk menyeluruh

disebut sintesis. Berpikir berdasarkan pengetahuan hapalan, berpikir

pemahaman, berpikir aplikasi dan berpikir analisis dapat dipandang sebagai

berpikir konvergen. Dalam berpikir konvergen, pemecahan atau jawabannya

akan sudah diketahui berdasarkan yang sudah dikenalnya. Berpikir sintesis

merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif.

6). Evaluasi
17

Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin

dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode dan lain-

lain.

b. Afektif

Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap

seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah memiliki

penguasaan kognitif tingkat tinggi. Hasil belajar afektif terbagi menjadi :21

1). Penerimaan

Penerimaan adalah semacam kepekaan dalam menerima rangsangan

(stimulasi) dari luar yang dating kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi,

gejala, dan lain-lain.

2). Jawaban

Jawaban merupakan reaksi yang diberiakn seseorang terhadap stimulasi yang

dating dari luar.

3). Penilaian

Penilaian berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau

stimulasi tadi, termasuk didalamnya kesedian menerima nilai, latar belakang

atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai

tersebut.

4). Organisasi

21
Ibid, Nana Sudjana, hlm. 29
18

Organisasi merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu system

organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan

proritas nilai yang telah dimilikinya.

5). Karakteristik

Karakteristik nilai yakni keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki

seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

c. Psikomotorik

Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan dan kemampuan

bertindak individu. Ada enam keterampilan, yakni :22

1). Gerakan refleks ( keterampilan pada gerakan yang tidak sadar)

2). Ketersampilan pada gerakan-gerakan tertentu

3). Kemampuan perceptual, termasuk didalamnya membedakan visual, auditif,

motoris, dan lain-lain

4). Kemampuan bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketetapan

5). Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi seperti ekspresif dan

interpretif

6). Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana pada keterampilan

yang kompleks

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

22
Ibid, Nana Sudjana, hlm. 30
19

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar terbagi menjadi berapa hal

sebagai berikut :23

a. Lingkungan

Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Dalam lingkunganlah

anak didik hidup dan berinteraksi dalam rantai yang disebut ekosistem. Kemudian

lingkungan terbagi lagi dalam beberapa bagian yaitu :

1). Lingkungan alami

Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat mengganggu pernapasan.

Udara yang terlalu dingin menyebabkan anak didik kedinginan, suhu udara

yang terlalu panas menyebabkan anak didik kepanasan, pengap, dan tidak

betah tinggal didalamnya. Inilah yang disebut lingkungan alami.

2). Lingkungan sosial budaya

Sebagai anggota masyarakat anak didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan

sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat anak didik untuk tunduk pada

norma-norma sosial, susila, dan hokum yang berlaku dalam masyarakat.

Begitupun disekolah anak didik haru mengikuti tata tertib yang ada,

pelanggaran yang dilakukan oelh anak didik akan dikenakan snksi/hukuman.

Peraturan tersebut bertujuan untuk mengatur dan membentuk prilaku anak

didik yang menunjang keberhasilan belajar disekolah.

b. Instrumental

23
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta Rineka Cipta, 2002), hlm. 142
20

Dalam rangka mewujudkan tujuan pembelajaran perlu digunakan seperangkat

kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya seperti :24

1). Kurikulum

Kurikulum merupakan substansi dalam pendidikan. Pemadatan kurikulum

dengan alokasi waktu yang disediakan relatif sedikit secara psikologis disadari

atau tidak menggiring guru pada pilihan untuk melaksanakan percepatan

belajar anak didik untuk mencapai target kurikulum.

2). Program

Setiap sekolah memiliki program pendidikan masing-masing. Program yang

dibuat dirancang sesuai dengan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga,

financial, sarana dan prasarana. Salah satunya kualitas pengajaran, guru yang

memiliki latar belakangnya sesuai mata pelajaran dapat mempengaruhi secara

andil hasil belajar siswa. Adapun program bimbingan dan penyuluhan, anak

didik yang sulit dalam belajar harus diberi penangan khusus agar ia lebih

tenang dalam belajar.

3). Sarana dan fasilitas

Kegiatan belajar akan kurang kondusif ketika sekolah kekurangan ruangan

kelas, sedangkan jumlah anak didik yang dimiliki jumlahnya banyak melebihi

daya tampung kelas. Adapun gedung sekolah yang berada di dua tempat yang

berjauhan cenderung sukar dikelola. Pengawasan sukar dilaksanakan dengan

efektif, kepala sekolah harus membagi waktu untuk mengunjungi sekolah


24
Syaiful Bahri Djamarah, Opcit. Cet-2, hlm. 180
21

binaannya yang berada di dua tempat tersebut. Selain itu, kelengkapan buku

diperpustakaan mempengaruhi hasil belajar siswa, kapan dan dimana ada

waktu luang ia membaca atau meminjam buku.

4). Guru

Kekurangan guru akan berakibat sejumlah mata pelajran akan menjadi

kosong, sehingga seringkali guru memegang mata pelajaran lebih dari

[Link] jumlah jam mengajar dalam seminggu melebihi delapan belas

jam dalam wajib mengajar. Sehingga mutu pengajaran tidak dipersoalkan,

yang penting kekurangan guru dapat terpecahkan. Perbaikan ekonomi rumah

tangga guru mempunyai arti yang sangat penting bagi gur, sehingga tidak

merasa khawatir akan kekurangan keuangan setiap bulan dan persiapan

mengajar dapat ditingkatkan guan perbaikan mutu mengajar serta bahkan

peluang membaca buku lebih terbuka di rumah.

c. Fisiologis

Anak didik akan belajar dengan efektif apabila memiliki fungsi indera yang baik,

seperti peranan fungsi indera penglihatan dan pendengaran. Penempatan posisi

dudukpun harus diamati dengan cermat, anak yang memiliki postur tubuh yang

tinggi ditempatkan di belakang anak yang mempunyai postur tubuh yang

rendah/pendek. Hal ini dimaksudkan agar pandangan anak kepapan tulis tidak

terhalang oleh anak yang bertubuh tinngi.25

d. Psikologis
25
Syaiful Bahri Djamarah, Opcit, hlm. 155
22

Faktor psikologis dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, seperti : minat,

timbulnya minat dalam diri anak disebabkan oleh berbagai hal, antara lain karena

keinginan kuat untuk menaikan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik

serta ingin hidup senang dan bahagia : kecerdasan, seorang yang memiliki

intelegensi yang baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun

cenderung baik. Sebaliknya, orang yang memiliki intelegensinya rendah,

cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir sehingga hasil

belajrnya rendah. Bakat anak yang memiliki bakat terlihat dari mata pelajaran

yang nilainya tinggi. Bila demikian, maka langkah selanjutnya ialah memberi

mereka waktu agr bisa mengembangkan bakat tersebut. Seperti anak yang

mnyukai keahlian menggambar ini harus diberi latihan, pengetahuan, dan

pengalaman serta dorongan agar terbentuk bakat anak tersebut. Motivasi, kuat

lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar.

Karena itu, motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari dalam

diri (intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh

tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita dapat dicapai dengan

belajar.26

e. Besarnya Kelas

Artinya banyak sedikitnya jumlah siswa yang belajar. Ukuran yang biasa

digunakan ialah ratio guru dengan siswa. Pada umumnya dipakai ratio 1 : 40,

artinya satu orang guru melayani empat puluh siswa. Diduga semangkin besar
26
Syaiful Bahri Djamarah, Opcit,Cet-2, hlm. 190
23

jumlah siswa yang harus dilayani oleh guru dalam satu kelas, secara logika tidak

mungkin guru mengoptimalakan hasil belajar yang baik.

f. Suasana Belajar

Suasana belajar yang demokratis akan memberi peluang mencapai hasil belajar

yang optimal,dibandingkan suasana belajar yang kaku, disiplin yang ketat dengan

otoritas ada pada guru. Dalam suasana belajar yang demokratis ada kebebasan

siswa belajar, mengajukan pendapat, berdialog dengan teman sekelas dan lain-

lain. Perasaan cemas dan khawatir siswa sering tidak menumbuhkan kreativitas

belajar siswa.

g. Sumber Belajar yang Tersedia

Sering kita temukan bahwa guru merupakan satu-satunya sumber belajar dikelas.

Situasi in I kurang menunjang kualitas pengajaran, sehingga hasil belajar yang

dicapai siswa tidak optimal. Selain kelas harus menyediakan berbagi sumber buku

seperti buku pelajaran, alat peraga dan lain-lain. Namun, siswalah yang harus

diberi kesempatan untuk berperan sebagai sumber belajar.27

Menurut Nana Sudjana, hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua

faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar

diri siswa atau faktor lingkungan :

a. Adanya pengaruh dari dalam diri siswa merupakan hal yang logis dan wajar,

sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang

diniati dan diusadari.


27
Nana Sudjana, Opcit, hlm. 42
24

b. Faktor lingkungan yang mempengaruhi hasil belajar siswa ialah kualitas

pengajaran. Kualitas pengajaran ialah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya

proses belajar-mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran.28

Belajar ialah kualitas pengajaran, salah satu yang mempengaruhi kualitas

pengajaran adalah guru. Dari variable guru yang paling dominant mempengaruhi

kualitas pengajaran adalah kompetensi guru yang dimilikinya. Kemudian kompetensi

guru terbagi menjadi tiga bidang yaitu :

1). Kompetensi bidang kognitif, artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan

mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan mengenai

belajar dan tingkah laku individu, pengetahuan tentang bimbingan

penyuluhan,pengetahuan tentang administrasi kelas, pengetahuan tentang

kemasyarakatan, serta pengetahuan umum lainnya.

2). Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesedian guru terhadap berbagai

hal yang berkenaan dengan tugas dan prufesinya. Misalnya sikap menghargai

pekerjaannya, mencintai dan memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran

yang dibinanya, sikap toleransi terhadap sesame teman profesinya, memiliki

kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaaannya.

Kompetensi prilaku/performance, artinya kemampuan guru dalam berbagai


keterampilan/berperilaku, seperti mengajar membimbing, menilai, menggunakan alat
Bantu pengajaran, bergaul atau berkomunikasi dengan siswa termasuk didalamnya

28
Nana Sudjana. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algesindo,
2002), hlm. 42
25

guru memilki kewibawaan, keterampilan menumbuhkan semangat, keterampilan


menyusun persiapan/perencanaan mengajar dan lain-lain.29

29
Ibid. Nana Sudjana, hlm. 18

Anda mungkin juga menyukai