Ciri-Ciri dan Pengertian Kepercayaan Diri
Ciri-Ciri dan Pengertian Kepercayaan Diri
LANDASAN TEORI
A. Kepercayaan Diri
dirinya untuk mengembangkan penilaian positif. Baik terhadap diri sendri maupun
tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seoarang diri, alias ;sakti”.
rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk adanya beberapa aspek dari
kehidupan individu tersebut bahwa ia merasa memilki kkompetensi, yakni mapu dan
percaya bahwa dia bisa karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi
mampu menanggulangi suatu masalah dengan situasi terbaik dan dapat memberikan
hidup. Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang berupa
keyakinan akan kemampuan diri seseorang sehingga tidak terpengaruh oleh orang
lain dan dapat bertindak sesuai kehendak, gembira, oftimis, cukup toleran, dan
1
Marko Santoso, DKK, Hubungan Antara Rasa Percaya Diri dan Agresivitas pada Atlet Bola
Basket, (Jurnal Phornesis, 2005), Volume 7. Nomor 1. 51-64. hlm. 54
1
2
berhubungan dengan kemampuan melakukan sesuatu yang baik. Anggapan seperti ini
membuat individu tidak pernah menjadi orang yang mempunyai kepercayaan diri
yang sejati. Bagimana pun kemampuan terbatas pada sejumlah hal yang dapat
kepribadian yang mengandung arti kayakinan terhadap diri sendiri. Hal ini senada
dengan pendapat Aflatin dan Andayani (1998) yang menyatakan bahwa kpercayaan
pada diri sendiri yang ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang dilalui sejak
kecil. Orang yang percaya pada dirinya sendiri dapatmengatasi segala factor-faktor
dan situasi frustasi, bahkan mungkin frustasi ringan tidak akan terasa sama sekali.
2
M. Nur Ghufron dan Rini Risnawati S, Teori-Teori Psikologi, (Jogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2014), hlm. 34
3
Tapi sebaliknya orang yang kurang percya pada dirinya akan sangat peka terhadap
diri dipengaruhi oleh factor-faktor yang berasal dari dalam individu sendiri, norma
dan pengalaman keluarga, tradisi, kebiasaan dan lingkungan social atau kelompok
proses oleh pikit dan rasa keouasaan jiwa. Artinya kita sudah benar-benar merasa
puas dengan diri kita. Atau dalam artian, sikap maupun perilaku yang kita peragakan
berakar pada suatu postulat bahwa kita adalah individu yang memiliki nilai dalam
banyak segman kehidupan, contohnya lapangan kerja, rumah tangga, keluarga, dunia
adalah keyakinan untuk melakukan sesuatu pada diri subjek sebagai karakakteristik
3
Drajat Zakiah, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1995), hlm. 25
4
Alsa, Asmadi, dkk, Hubungan antara Dukungan Sosial Orang Tua dengan Kepercayaan
Diri Remaja Penyandang Cacat Fisik, (Semarang: Jurnal Psikologi, 2016), No. 1, 47-58, hlm. 48
5
Yusuf Al Usghari, Percaya Diri Pasti, (Jakarta: Jl Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740,
2005), hlm. 9-10.
4
pribadi yang di dalamnya terdapat keyakinan akan kemampuan diri, oftimis, objektif,
Sikap percaya diri yang dimiliki seorang individu memiliki beberapa kriteria yang
penampilannya
k. Memiliki pengalaman hidup yang menipu mentalnya menjadi kuat dan tahan
Suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala fenomena yang terjadi
mengerjakan sesuatu.
seseorang adalah salah satu sifat orang yang percaya diri. Apabila orang yang
mengembangkannya, rasa percaya diri akan timbul bila kita melakukan kegiatan
yang bisa kita lakukan. Artinya keyakinan dan rasa percaya diri itu timbul pada
saat seseorang mengerjakan sesuatu dengan kemampuan yang ada pada dirinya
dilakukan secara mandiri atau tampa adanya keterlibatan orang lain dan mampu
tujuan yang bisa dicapai tidak selalu bergantung pada orang lain untuk
6
Opcit., Alsa, Asmadi, dkk, hlm. 49
6
Adanya penilaian yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pandangan
maupun tindakan yang dilakukan yang menimbulkan rasa positif terhadap diri
sendiri. Sikap menerima diri apa adanya itu akhirnya dapat tumbuh berkembang
sehingga orang percaya diri dan menghargai orang laindengan segala kekurangan
dan kelebihannya.
mereka tetap dapat meninjau kembali sisi positif dari kegagalan itu. Setiap orang
pasti pernah mengalami kegagalan baik kebutuhan, harapan dan cita-cita. Untuk
Adanya suatu sikap untuk mampu mengutarakan sesuatu dalam diri yang
ingin diungkapkan kepada orang lain tampa adanya paksaan atau rasa yang dapat
tampa adanya rasa takut, berbicara dengan memakai nalar dan secara fasih, dapat
berbincang-bincang dari segala usia dan segala jenis latar belakang. Serta
menyatakan kebutuhan secara langsung dan terus terang, berani mengeluh jika
cirri-ciri kepercayaan diri yakni keyakinan atas diri sendiri, dapat bertindak dalam
mengambil keputusan, tidak bergantung pada orang lain,serta mempunyai suatu sikap
dalam bersosialisasi terhadap lingkungan sosialnya serta selalu bereaksi positif dalam
Ada dua jenis kepercayaan diri yaitu percaya diri lahir dan percaya diri batin.
Percaya diri yang memberikan kepada kita perasaan dan anggap bahwa kita dalam
keadaan baik. Jenis kepercayaan diri lahir kemungkinan individu untuk tampil
berprilaku dengan cara menunjukan kepada dunia luar bahwa kita yakin aan diri kita.
a. Cinta diri
Orang cinta diri mencintai dan menghargai diri sendiri dan orang lain. Mereka
akan berusaha memenuhi kebutuhan secara wajar dan selalu menjaga kesehatan
diri. Mereka juga ahli dalam bidang tertentu sehingga kelebihan yang memiliki
dapat dibanggakan, hal ini yang menyebabkan individu tersebut menjadi percaya
diri.
b. Pemahaman diri
8
Orang yang percaya diri batin sangat sadar diri. Mereka selalu intropeksi diri
Orang yang percaya diri selalu tahu tujuan hidupnya. Ini disebabkan karena
mereka punya alas an dan pemikiran yang jelas dari tindakan yang mereka
Orang yang percaya diri biasanya merupakan teman yang menyenangkan. Salah
satu penyebabnya karena mereka terbiasa melihat kehidupan dari sisi yang cerah
dan mereka mengharap serta mencari pengalaman dan hasil yang bagus.7
Percaya diri lahir membuat individu harus dapat memberikan pada dunia luar
a. Komunikasi
Keterampilan komunikasi sebagai dasar yang baik bagi pembentuk sikap percaya
diri. Menghargai pembicaraan orang lain, berani berbicara didepan umum, tahu
kapan harus berganti topic pembicaraan, dan mahir dalam berdiskusi adalah
bagian dari ketermapilan komunikasi yang dapat dilakukan jika individu tersebut
b. Ketegasan
7
Lindenfiel, Gael, Mendidik Anak Percaya Diri, (Jakarta: Arcan, 1997), hlm. 4-7
9
Sikap tegas dalam melakukan suatu tindakan juga diperlukan agar kita terbiasa
untuk menyampaikan aspirasi dari keinginan serta membela hak kita, dan
c. Penampilan diri
baik dari gaya pakaian, aksesoris, dan gaya hidupnya tampa terbatas pada
d. Pengendalian perasaan
kita mengelola perasaan kita dengan baik akan membentuk suatu kekuatan besar
kepercayaan diri meliputi kepercayaan diri batin dan kepercayaan diri lahir.
Kepercayaan diri batin seperti orang yang dicintai diri mencintai, menghargai diri
sendiri, orang lain, dan sadar diri, serta selalu tahu tujuan hidupnya. Sedangkan
kepercayaan diri lahir, individu memiliki keterampilan komunikasi yang baik bagi
spiritual juga harus tertanam sejak usia dini, karena kepercyaan diri spiritual
dan upayakan target yang anda rencanakan itu tidak terlalu muluk-muluk,
c. Jika anda ingin memiliki rasa percya diri yang lebih kuat dalam
berinteraksi dengan orang lain, maka anda terlabih dahulu dituntut untuk
memberikan kepercyaan kepada anda, otomatis rasa percya diri dalam diri
anda akan tumbuh dan semangkin bertambah kuat”. Namun, jika kedua
karakter ini sudah anda temukan dalam diri seorang individu, maka
bkanlah sipat yang positif. Pada umumnya akan menjadikan orang tersebut kuarang
9
Opcit. Yusuf Al Uqshari. Hlm. 39-43
11
berhati-hati dan akan berbuat seenaknya sendiri. Hal ini menjadi sebuah tingkah laku
Menurut Rini orang yang mempunyai kepercayaan diri tinggi akan mampu
bergaul secara fleksibel, mempunyai toleransi yang cukup baik, bersikap positif, dan
tidak mudah terpengaruh orang lain dalam bertindak serta mampu menentukan
Individu yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi akan terlihat lebih
tenang, tidak memiliki rasa takut, dan mampu memperlihatkan kepercayaan dirinya
setiap saat.
Menurut Lauster (1992), orang yang memiliki kepercayaan diri yang positif
Keyakinan kemampuan diri adalah sikap positif diri seseorang tentang dirinya. Ia
b. Optimis
Optimis adalah sikap positif yang dimiliki sesorang yang selalu berpandang baik
c. Objektif
yang semestinya, bukan menurut kebenaran pribadi atau menurut dirinya sendiri.
12
d. Bertanggung jawab
Rasional dan realistis adalah analisis terhadap suatu masalah, sesuatu hal, dan
suatu kejadian dengan menggunakan pemikiran yang dapat diterima akal dan
diri adalah sifat dimiliki seseorang yang memiliki aspek-aspek keyakinan diri,
Kepercayaan diri dipengaruhi oleh bebrapa faktor berikut ini adalah faktor-
faktor tersebut.
a. Konsep diri
dalam suatu kelompok. Hasil interaksi yang terjadi akan menghasilkan konsep
diri.
b. Harga diri
Konsep diri yang positif akan membentuk harga diri yang positif pula. Harga diri
adalah penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Sanso berpendapat bahwa
10
Op. Cit., M. Nur Ghufron dan Rini Risnawati, hlm. 35-36
13
seseorang.
c. Pengalaman
Pengalaman dapat menjadi faktor munculnya rasa percaya diri pula. Sebaliknya,
pengalaman dapt juga menjadi faktor menurunnya rasa percaya diri seseorang.
d. Pendidikan
diri seseorang. Tingkat pendidkan yang rendah akan menjadikan orang tersebut
tergantung dan berada di bawah kekuasaan orang lain yang lebih pandai darinya.
B. Hasil Belajar
Belajar menurut Syaiful Bahri Djamarah ialah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu
11
Ibid., hlm. 37
12
Poerwadarminta, Opcit. Hlm. 108
14
psikomotorik.13
Mustaqim merumuskan belajar ialah perubahan tingkah laku yang relatif tetap
terjadi karena latihan dan pengalaman. 14 Menurut Muhibbin Syah belajar dapat
dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif
menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan
proses kognitif.15 Menurut Seto Mulyadi, dkk. Belajar adalah perubahan prilaku atau
performance yang relatif permanen, sebagai hasil atau pengalaman dan bukan karena
bahwa belajar ialah semua aktivitas yang mental atau psikis yang dilakukan oelh
Adapun teori mengenai hasil belajar. Menurut Nana Sudjana hasil belajar
13
Syaiful Bahri Djamarah, psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka cipta, 2008), hlm.13
14
Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2004), hlm. 34
15
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan baru, (Bandung:Remaja
Rosdakarya,2014), hlm. 90
16
Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Teori-teori Baru dalam
Psikologi, cet. Ke-2, (Jakarta:Rajawali Pers,2016), hlm.36
17
Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar, cet. Ke-1, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 18
18
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2011). Hlm. 22
15
hasil belajar adalah realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau
Hasil belajar siswa terbagi menjadi tiga bagian yaitu kognitif (penguasaan
(kemampuan/keterampilan bertindak/berprilaku).
a. Kognitif
Hasil belajar kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
1). Pengetahuan
2). Pemahaman
19
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi proses Pendidikan, (Bandung:
Rosdakarya, 2009), hlm. 102
20
Nana Sudjana, Opcit.
16
dibaca dan didengarnya, memberi contoh lain dari yang dicontohkan, atau
3). Aplikasi
Aflikasi adalah penggunaan pada situasi kongkret atau situasi yang khusus.
Abtraksi dapat berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi
4). Analisis
5). Sintesis
6). Evaluasi
17
dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode dan lain-
lain.
b. Afektif
Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap
penguasaan kognitif tingkat tinggi. Hasil belajar afektif terbagi menjadi :21
1). Penerimaan
(stimulasi) dari luar yang dating kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi,
2). Jawaban
3). Penilaian
tersebut.
4). Organisasi
21
Ibid, Nana Sudjana, hlm. 29
18
organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan
5). Karakteristik
Karakteristik nilai yakni keterpaduan semua system nilai yang telah dimiliki
c. Psikomotorik
interpretif
yang kompleks
22
Ibid, Nana Sudjana, hlm. 30
19
a. Lingkungan
anak didik hidup dan berinteraksi dalam rantai yang disebut ekosistem. Kemudian
Udara yang terlalu dingin menyebabkan anak didik kedinginan, suhu udara
yang terlalu panas menyebabkan anak didik kepanasan, pengap, dan tidak
Sebagai anggota masyarakat anak didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan
sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat anak didik untuk tunduk pada
Begitupun disekolah anak didik haru mengikuti tata tertib yang ada,
b. Instrumental
23
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta Rineka Cipta, 2002), hlm. 142
20
1). Kurikulum
dengan alokasi waktu yang disediakan relatif sedikit secara psikologis disadari
2). Program
dibuat dirancang sesuai dengan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga,
financial, sarana dan prasarana. Salah satunya kualitas pengajaran, guru yang
andil hasil belajar siswa. Adapun program bimbingan dan penyuluhan, anak
didik yang sulit dalam belajar harus diberi penangan khusus agar ia lebih
kelas, sedangkan jumlah anak didik yang dimiliki jumlahnya banyak melebihi
daya tampung kelas. Adapun gedung sekolah yang berada di dua tempat yang
binaannya yang berada di dua tempat tersebut. Selain itu, kelengkapan buku
4). Guru
tangga guru mempunyai arti yang sangat penting bagi gur, sehingga tidak
c. Fisiologis
Anak didik akan belajar dengan efektif apabila memiliki fungsi indera yang baik,
dudukpun harus diamati dengan cermat, anak yang memiliki postur tubuh yang
rendah/pendek. Hal ini dimaksudkan agar pandangan anak kepapan tulis tidak
d. Psikologis
25
Syaiful Bahri Djamarah, Opcit, hlm. 155
22
timbulnya minat dalam diri anak disebabkan oleh berbagai hal, antara lain karena
keinginan kuat untuk menaikan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik
serta ingin hidup senang dan bahagia : kecerdasan, seorang yang memiliki
intelegensi yang baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun
belajrnya rendah. Bakat anak yang memiliki bakat terlihat dari mata pelajaran
yang nilainya tinggi. Bila demikian, maka langkah selanjutnya ialah memberi
mereka waktu agr bisa mengembangkan bakat tersebut. Seperti anak yang
pengalaman serta dorongan agar terbentuk bakat anak tersebut. Motivasi, kuat
Karena itu, motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari dalam
diri (intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh
tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita dapat dicapai dengan
belajar.26
e. Besarnya Kelas
Artinya banyak sedikitnya jumlah siswa yang belajar. Ukuran yang biasa
digunakan ialah ratio guru dengan siswa. Pada umumnya dipakai ratio 1 : 40,
artinya satu orang guru melayani empat puluh siswa. Diduga semangkin besar
26
Syaiful Bahri Djamarah, Opcit,Cet-2, hlm. 190
23
jumlah siswa yang harus dilayani oleh guru dalam satu kelas, secara logika tidak
f. Suasana Belajar
Suasana belajar yang demokratis akan memberi peluang mencapai hasil belajar
yang optimal,dibandingkan suasana belajar yang kaku, disiplin yang ketat dengan
otoritas ada pada guru. Dalam suasana belajar yang demokratis ada kebebasan
siswa belajar, mengajukan pendapat, berdialog dengan teman sekelas dan lain-
lain. Perasaan cemas dan khawatir siswa sering tidak menumbuhkan kreativitas
belajar siswa.
Sering kita temukan bahwa guru merupakan satu-satunya sumber belajar dikelas.
dicapai siswa tidak optimal. Selain kelas harus menyediakan berbagi sumber buku
seperti buku pelajaran, alat peraga dan lain-lain. Namun, siswalah yang harus
Menurut Nana Sudjana, hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua
faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar
a. Adanya pengaruh dari dalam diri siswa merupakan hal yang logis dan wajar,
sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang
pengajaran adalah guru. Dari variable guru yang paling dominant mempengaruhi
2). Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesedian guru terhadap berbagai
hal yang berkenaan dengan tugas dan prufesinya. Misalnya sikap menghargai
28
Nana Sudjana. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algesindo,
2002), hlm. 42
25
29
Ibid. Nana Sudjana, hlm. 18