REFERAT MID TEST
INSECT BITE
Referat ini dibuat untuk melengkapi persyaratan mengikuti kepaniteraan klinik senior
(KKS) di bagian ilmu kedokteran kulit dan kelamin di RSUD [Link]. Djoelham Binjai
Disusun Oleh:
RISMA ARDIANTI
102119073
Pembimbing :
dr. Hj. Hervina, [Link], FINSDV, MKM
KKS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
[Link].R.M. DJOELHAM BINJAI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala
nikmat dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Mid test dengan
judul“ INSECT BITE ” yang diajukan sebagai persyarat untuk mengikuti KKS
Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada dr.
[Link], [Link] selaku pembimbing saya sehingga Mid test ini dapat selesai
pada waktunya.
Mohon maaf jika dalam penulisan Mid test ini masih terdapat kesalahan.
Kritikan dan saran sangat saya harapkan sebagai penyempurnaan laporan kasus
ini. Atas perhatian dan sarannya saya ucapkan terima kasih.
Binjai, Januari 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I ……………...........................................................................................1
1.1. Latar Belakang......................................................................................1
BAB II ...............................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................3
2.1. Definisi....................................................................................................3
2.2. Etiologi....................................................................................................3
2.3. Epidemiologi...........................................................................................5
2.4. Cara Penularan.........................................................................................5
2.5. Diagnosis.................................................................................................5
2.6. Patogenesis..............................................................................................6
2.7. Patofisiologi.............................................................................................6
2.8. Diagnosa Banding...................................................................................6
2.9. Penatalaksanaan.......................................................................................7
2.9.1 Non Farmakologi…………………...……………………………...7
2.9.2 Farmakologi……………………………………………………..…7
2.10. Komunikasi dan Edukasi……………………...………………………….…..7
2.11. Komplikasi.............................................................................................7
2.12. Prognosis...............................................................................................7
2.13. Profesionalisme.....................................................................................8
BAB III ...............................................................................................................9
KESIMPULAN........................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Insect bite reaction (reaksi gigitan serangga) adalah reaksi yang
disebabkan oleh gigitan yang biasanya berasal dari bagian mulut serangga
dan terjadi saat serangga berusaha untuk mempertahankan diri atau saat
serangga tersebut mencari makanannya. Gigitan serangga juga
mengakibatkan kemerahan dan bengkak di lokasi yang tersengat.
Kebanyakan gigitan dan sengatan dilakukan untuk pertahanan. Sebuah
gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa (racun) yang tersusun dari
protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada
penderita (Lee et al., 2016)
Insect bite reaction disebabkan oleh artropoda kelas insekta. Insekta
memiliki tahap dewasa dengan karakter eksoskeleton yang keras, 3 pasang
kaki, dan tubuh bersegmen dimana kepala, toraks, dan abdomennya
menyatu. Reaksi paling sering dilaporkan terjadi setelah digigit nyamuk dan
sejenisnya. Gigitan dan sengatan serangga mempunyai prevalensi yang
sama diseluruh dunia. Dapat terjadi pada iklim tertentu dan hal ini juga
merupakan fenomena musiman, meskipun tidak menutup kemungkinan
kejadian ini dapat terjadi di sekitar kita. Prevalensi antara pria dan wanita
sama (Oliveira et al., 2015).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
. Insect bite reaction (reaksi gigitan serangga) adalah reaksi yang
disebabkan oleh gigitan yang biasanya berasal dari bagian mulut serangga
dan terjadi saat serangga berusaha untuk mempertahankan diri atau saat
serangga tersebut mencari makanannya (Feingold et al., 2016)
2.2 Etiologi
. Insect bite reaction disebabkan oleh artropoda kelas insekta. Insekta
memiliki tahap dewasa dengan karakter eksoskeleton yang keras, 3 pasang
kaki, dan tubuh bersegmen dimana kepala, toraks, dan abdomennya
menyatu. Insekta merupakan golongan hewan yang memiliki jenis paling
banyak dan paling beragam. Oleh karena itu, kontak antara manusia dan
serangga sulit dihindari. Paparan terhadap gigitan atau sengatan serangga
dan sejenisnya dapat berakibat ringan atau hampir tidak disadari ataupun
dapat mengancam nyawa (Fettelschoss-Gabriel et al., 2018)
Secara sederhana gigitan dan sengatan serangga dibagi menjadi 2 grup
yaitu Venomous (beracun) dan non-venomous (tidak beracun). Serangga
yang beracun biasanya menyerang dengan cara menyengat, misalnya tawon
atau lebah. Ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri yakni
dengan cara menyuntikkan racun atau bisa melalui alat penyengatnya.
Sedangkan serangga yang tidak beracun menggigit atau menembus kulit dan
masuk menghisap darah, ini biasanya yang menimbulkan rasa gatal (Cindy,
2554)
2.3 Epidemiologi
Gigitan dan sengatan serangga mempunyai prevalensi yang sama
diseluruh dunia. Dapat terjadi pada iklim tertentu dan hal ini juga
merupakan fenomena musiman, meskipun tidak menutup kemungkinan
kejadian ini dapat terjadi di sekitar kita. Prevalensi antara pria dan wanita
sama. Bayi dan anak-anak lebih rentan terkena gigitan serangga
dibandingkan orang dewasa. Salah satu faktor yang mempengaruhi
timbulnya penyakit ini adalah lingkungan sekitar seperti tempat mencari
mata pencaharian yaitu perkebunan, persawahan dan lain-lain (Jayaraj &
Walton, 2016)
2.4 Faktor Risiko
Gigitan serangga biasanya dijumpai pada orang-orang yang tinggal di
lingkungan dengan banyak serangga, seperti perkebunan, rawa-rawa, dan
tempat lainnya. Adanya riwayat alergi pada diri sendiri dan keluarga
meningkatkan risiko munculnya reaksi gigitan serangga (Tzizik &
Borchardt, 2018).
2.5 Cara Menegakkan Diagnosis
2.5.1 Anamnesis
Kebanyakan pasien sadar dengan adanya gigitan serangga ketika
terjadi reaksi atau tepat setelah gigitan, namun paparannya sering tidak
diketahui kecuali terjadi reaksi yang berat atau berakibat sistemik. Pasien
yang memiliki sejarah tidak memiliki rumah atau pernah tinggal di tempat
penampungan mungkin mengalami paparan terhadap organisme, seperti
serangga kasur. Pasien dengan penyakit mental juga memungkinkan adanya
riwayat paparan dengan parasit serangga. Paparan dengan binatang liar
maupun binatang peliharaan juga dapat menyebabkan paparan terhadap
gigitan serangga (Fettelschoss-Gabriel et al., 2018).
2.5.2 Pemeriksaan Fisik
Lokasi : Di mana saja di seluruh tubuh.
Efloresensi : Berupaeritema morbiliformis atau bula yang dikelilingi
eritema dan iskemia, kemudian terjadi nekrosis luas dan gangren.
Kadang-kadang berupa pustula miliar sampai lentikular menyeluruh
atau pada sebagian tubuh (Siregar, 2018).
2.5.3 Pemeriksaan Penunjang
1. Histopatologi
Edema antara sel-sel epidermis, spongiosis, serta sebukan sel
polimorfonuklear. Pada dermis ditemukan pelebaran ujung pembuluh
darah dan sebukan sel radang akut.
2. Laboratorium
Pemeriksaan darah melihat eosinophil dan Tes tusuk dan goresan
dengan alergen tersangka (Surbakt, 2017).
2.6 Patogenesis
Saliva pada serangga dapat membantu dalam pencernaannya,
menghambat koagulasi, meningkatkan aliran darah pada tempat gigitan,
atau menganestesi daerah gigitan. Banyak lesi yang terjadi biasanya
merupakan akibat dari respon imun terhadap sekret insekta ini. Kebanyakan
gigitan serangga bentuknya kecil dan hanya menghasilkan luka tusuk
superfisial. Gigitan atau serangan serangga akan menyebabkan kerusakan
kecil pada kulit, lewat gigian atau sengatan antigen yang akan masuk
langsung direspon oleh sistem imun tubuh. Racun dari serangga
mengandung zat-zat yang kompleks. Reaksi terhadap antigen tersebut
biasanya akan melepaskan histamin, serotonin, asam formic atau kinin. Lesi
yang timbul disebabkan oleh respon imun tubuh terhadap antigen yang
dihasilkan melalui gigitan atau sengatan serangga. Reaksi yang timbul
melibatkan mekanisme imun. Reaksi yang timbul dapat dibagi dalam dua
kelompok : reaksi imediate dan reaksi delayed (Oliveira et al., 2015)
2.7 Patofisiologi
Reaksi imediate merupakan reaksi yang sering terjadi dan ditandai
dengan reaksi lokal atau reaksi sistemik. Lesi juga timbul karena adanya
toksin yang dihasilkan oleh gigitan atau sengatan serangga. Nekrosis
jaringan yang lebih luas dapat disebabkan karena trauma endotel yang
dimediasi oleh pelepasan neutofil. Spingomyelinase D adalah toksin yang
berperan dalam timbulnya reaksi neutrofilk. Enzim hyluronidase yang juga
ada pada racun serangga akan merusak lapisan dermis sehingga dapat
mempercepat penyebaran racun tersebut (Tzizik & Borchardt, 2018)
2.8 Diagnosis Banding
1. Pedikulosis Korporis
Penyakit kulit yang disebabkan oleh pediculus humanus
var. Corporis. Umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas-
bekas garukan pada badan, karena gatal baru berkurang dengan
garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang timbul infeksi sekunder
dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. (Elston DM,
Berger TG 2015)
2. Skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi Sarcoptes scabiei var. hominis. Sarcoptes scabiei
termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Acarina, famili
Sarcoptidae. Seseorang mengalami gejala skabies ketika tungau
masuk ke dalam lapisan kulitnya. Lesi primer yang terbentuk akibat
infeksi skabies pada umumnya berupa terowongan yang berisi
tungau, telur, dan hasil metabolisme. Terowongan berwarna putih
abu-abu, tipis dan kecil seperti benang dengan struktur linear atau
berkelok-kelok kurang lebih 1-10 mm yang merupakan hasil dari
pergerakan tungau di dalam stratum korneum. Di ujung terowongan
dapat ditemukan vesikel atau papul kecil. Terowongan dapat
ditemukan bila belum terdapat infeksi sekunder (Prima, 2015)
3.
2.9 Penatalaksanaan
2.9.2 Non Farmakologi
Tidak ada
2.9.3 Farmakologi
Topikal : Jika reaksi lokal ringan, dikompres dengan larutan asam borat 3%,
atau kortikosteroid topikal seperti krim hidrokortison 1-2%. Jika reaksi
berat dengan gejala sistemik, lakukan pemasangan torniket proksimal dari
tempat gigitan, dan diberi obat sistemik.
Sistemik : Injeksi antihistamin seperti klorfeniramin 10 mg atau
difenhidramin 50 mg. Adrenalin 1% 0,3-0,5 ml subkutan. Kortikosteroid
sistemik diberikan pada penderita yang tak tertolong dengan antihistamin
atau adrenalin (Siregar, 2018).
2.10 Edukasi dan Komunikasi
1. kompres setelah perawatan luka rutin dengan sabun dan air untuk
meminimalisasi kemungkinan infeksi.
2. Untuk reaksi lokal yang luas, kompres es dapat meminimalisasi
pembengkakan. Pemberian kompres es tidak boleh dilakukan lebih dari
15 menit dan harus diberikan dengan pembatas baju antara es dan kulit
untuk mencegah luka langsung akibat suhu dingin pada kulit (M et al.,
2018)
2.11 Komplikasi
Jika gigitan atau sengatan serangga tidak menyebabkan syok
anafilaksis, umumnya tidak akan menyebabkan komplikasi yang berarti.
Kendati demikian, pada syok anafilaksis yang tidak segera ditangani,
komplikasi dapat berupa kematian (Surbakt, 2017).
2.12 Prognosis
Prognosis dari insect bite reaction bergantung pada jenis insekta yang
terlibat dan seberapa besar reaksi yang terjadi. Sedangkan untuk reaksi
sistemik berat, penanganan medis darurat yang tepat memberikan prognosis
baik (Oliveira et al., 2015)
2.13 Profesionalisme
Membantu mengontrol kesembuhan pasien dengan pemberian obat
dan dosis yang tepat.
Bila keluhan masih berlanjut bisa konsultasi pada spesialis bedah
umum
BAB III
KESIMPULAN
Insect bite reaction (reaksi gigitan serangga) adalah reaksi yang disebabkan
oleh gigitan yang biasanya berasal dari bagian mulut serangga dan terjadi saat
serangga berusaha untuk mempertahankan diri atau saat serangga tersebut mencari
makanannya. Kebanyakan pasien sadar dengan adanya gigitan serangga ketika
terjadi reaksi atau tepat setelah gigitan, namun paparannya sering tidak diketahui
kecuali terjadi reaksi yang berat atau berakibat sistemik. Pasien yang memiliki
sejarah tidak memiliki rumah atau pernah tinggal di tempat penampungan
mungkin mengalami paparan terhadap organisme, seperti serangga kasur. Pasien
dengan penyakit mental juga memungkinkan adanya riwayat paparan dengan
parasit serangga. Paparan dengan binatang liar maupun binatang peliharaan juga
dapat menyebabkan paparan terhadap gigitan serangga.
Jika reaksi lokal ringan, dikompres dengan larutan asam borat 3%, atau
kortikosteroid topikal seperti krim hidrokortison 1- 2%. Jika reaksi berat dengan
gejala sistemik, lakukan 10 pemasangan torniket proksimal dari tempat gigitan
dan diberi obat sistemik. Kebanyakan gigitan serangga dapat dirawat pada saat
akut dengan memberikan kompres setelah perawatan luka rutin dengan sabun dan
air untuk meminimalisasi kemungkinan infeksi. Untuk reaksi lokal yang luas,
kompres es dapat meminimalisasi pembengkakan. Pemberian kompres es tidak
boleh dilakukan lebih dari 15 menit dan harus diberikan dengan pembatas baju
antara es dan kulit untuk mencegah luka.
Jika gigitan atau sengatan serangga tidak menyebabkan syok anafilaksis,
umumnya tidak akan menyebabkan komplikasi yang berarti. Kendati demikian,
pada syok anafilaksis yang tidak segera ditangani, komplikasi dapat berupa
kematian. Prognosis dari insect bite reaction bergantung pada jenis insekta yang
terlibat dan seberapa besar reaksi yang terjadi. Sedangkan untuk reaksi sistemik
berat, penanganan medis darurat yang tepat memberikan prognosis baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Cindy. (2554). insect bite. 1–13.
[Link]
2. Feingold, B. F., Benjamini, E., & Michaeli, D. (2016). The Allergic
Responses to Insect Bites. Annual Review of Entomology.
[Link]
3. Fettelschoss-Gabriel, A., Fettelschoss, V., Thoms, F., Giese, C., Daniel, M.,
Olomski, F., Kamarachev, J., Birkmann, K., Bühler, M., Kummer, M.,
Zeltins, A., Marti, E., Kündig, T. M., & Bachmann, M. F. (2018). Treating
insect-bite hypersensitivity in horses with active vaccination against IL-5.
Journal of Allergy and Clinical Immunology.
[Link]
4. Jayaraj, R., & Walton, S. F. (2016). Insect bite infestations. August.
5. Lee, H., Halverson, S., & Mackey, R. (2016). Insect Allergy. In Primary
Care - Clinics in Office Practice. [Link]
6. M, S. Y., Gustia, R., & Anas, E. (2018). Faktor-faktor yang Berhubungan
dengan Kejadian Skabies di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota
Padang Tahun 2015. Jurnal Kesehatan Andalas.
[Link]
7. Oliveira, F., Doelle, K., List, R., & Reilly, J. R. O. (2015). Assessment of
Diptera : Stratiomyidae , genus Hermetia illucens ( L ., 1758 ) using electron
microscopy. Journal of Entomology and Zoology Studies.
8. Prima. (2015). skabies. 8–17.
9. Siregar, R. (2018). Atlas Bewarna Saripati Penyakit Kulit. In Atlas Bewarna
Saripati Penyakit Kulit.
10. Surbakt, M. M. P. (2017). Hipersensitivitas akut et causa sengatan tawon.
11. Tzizik, D. M., & Borchardt, R. A. (2018). Chagas disease. Journal of the
American Academy of Physician Assistants.
[Link]